RENCANA PENGELOLAAN JANGKA PANJANG TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA PERIODE 2010 s/d 2029

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RENCANA PENGELOLAAN JANGKA PANJANG TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA PERIODE 2010 s/d 2029"

Transkripsi

1 RENCANA PENGELOLAAN JANGKA PANJANG TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA PERIODE 2010 s/d 2029 KABUPATEN : SINTANG MELAWI KATINGAN PROVINSI : KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN TENGAH Kepala Balai Ir. Erwin Effendy NIP BALAI TAMAN NASIONAL BUKIT BAKA BUKIT RAYA Jln. Dr. Wahidin Sudirohusodo No. 75 Phone/Fax (0565) Sintang Kalimantan Barat SINTANG, OKTOBER 2009

2 DAFTAR ISI Teks Halaman Sampul Halaman Pengesahan Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Gambar Daftar Lampiran i ii iii iv v vi BAB I. BAB II. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Maksud, Tujuan dan Sasaran C. Ruang Lingkup D. Batasan Pengertian DESKRIPSI KAWASAN A. Risalah Kawasan B. Potensi Hayati dan Non Hayati C. Posisi Kawasan TN Dalam Perspektif Tata Ruang dan Pembangunan Daerah D. Permasalahan dan Isu-Isu Strategis Terkait Kawasan E. Kelembagaan BAB III. KEBIJAKAN PEMERINTAH... A. Pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam... B. Pembangunan Pemerintah Kabupaten Kabupaten Sintang Kabupaten Melawi Kabupaten Katingan ii

3 BAB IV. VISI DAN MISI PENGELOLAAN A. Visi B. Misi C. Tujuan Pengelolaan D. Pendekatan Strategi Pengelolaan BAB V. ANALISIS DAN PROYEKSI... A. Analisis Faktor Internal Faktor Eksternal... B. Proyeksi BAB VI. RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN... A. Pengembangan Organisasi Kelembagaan TNBBBR... B. Pemantapan Kebijakan Pengelolaan TNBBBR... C. Peningkatan Kapasitas Personil... D. Penambahan Staf Pengelola Taman Nasional... E. Penyusunan Prosedur Kerja (SOP) dan Petunjuk Teknis... F. Peningkatan Sarana Dan Prasarana... G. Pengukuhan Tata Batas Kawasan... H. Penataan Zonasi... I. Membangun Pusat Data... J. Membangun Sinergi Program TNBBBR dengan Strategic Plan of Action (SPA) Heart of Borneo (HoB)... K. Membangun Jaringan Kemitraan... L. Menggalang Sumber Dana Para Pihak... M. Meningkatkan Konsultasi dan Kordinasi... N. Membangun Media Komunikasi Bersama... O. Pengamanan Kawasan dari Aktifitas Illegal iii

4 P. Penegakan Hukum... Q. Pengendalian Kebakara Hutan dan Lahan... R. Penyuluhan Kehutanan... S. Pengembagan Pemanfaatan Jasa Lingkungan... T. Membangun Pusat Riset TNBBBR... U. Pengembangan Wisata Alam... V. Pembinaan Daerah Penyangga... W.Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat... X. Monitoring dan Evaluasi BAB VII. PEMBINAAN, PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN... A. Pembinaan... B. Pengawasan... C. Pengendalian BAB VIII PEMANTAUAN, EVALUASI DAN PELAPORAN LAMPIRAN... iv

5 DAFTAR TABEL Nomor Uraian Halaman Tabel 1. Aksesibilitas ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dari Kalimantan Barat... 9 Tabel 2. Aksesibilitas ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dari Kalimantan Tengah Tabel 3. Unit tanah berdasarkan peta jenis tanah Kalimantan (FAO) Tabel 4. Perkembangan PNS/CPNS, Tenaga Upah dan Kontrak Balai TNBBBR Lima Tahun Terakhir ( ) Tabel 5. Keadaan PNS/CPNS BTNBBBR berdasarkan Golongan/Ruang Tahun Tabel 6. Sebaran PNS/CPNS berdasarkan Golongan/Ruang Tahun Tabel 7. Identifikasi Faktor Internal dan Eksternal Balai TN BBR Tabel 8. Kombinasi Faktor Lingkungan Internal dan Eksternal Dalam Analisis SWOT Tabel 9. Tabel 10. Tabel 11. Koherensi Kombinasi Strenght (Kekuatan) dan Opportunity (Peluang) Dalam Analisis SWOT Strategi Kombinasi Weakness (Kelemahan) dan Opportunity (Peluang) Dalam Analisis SWOT Strategi Kombinasi Strenght (Kekuatan) dan Threat (Ancaman) Dalam Analisis SWOT Tabel 12. Strategi Kombinasi Weakness (Kelemahan) dan Threat (Ancaman) Dalam Analisis SWOT v

6 Tabel 13. Koherensi Antara Visi, Misi, Tujuan, KombinasiA Faktor (Strategi) dan Sasaran Program Indikatif Tabel 14. Misi, Sasaran, Program dan Kegiatan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang vi

7 DAFTAR GAMBAR Nomor Uraian Halaman Gambar 1. Struktur Organisasi Balai TNBBBR Gambar 2. Grafik Perkembangan PNS/CPNS, Tenaga Upah dan Kontrak Lima Tahun Terakhir ( ) Gambar 3. Keadaan Pegawai berdasarkan Golongan/Ruang Tahun Gambar 4. Sebaran PNS/CCPNS berdasarkan Golongan/Ruang Tahun vii

8 DAFTAR LAMPIRAN Nomor Uraian Halaman Lampiran 1. Lampiran 2. Lampiran 3. Lampiran 4. Lampiran 5. Lampiran 6. Lampiran 7. Peta Batas kawasan TNBBBR Peta Geologi Peta Tanah Peta Topografi Peta Penutupan Lahan Peta Penggunaan Lahan Peta Indikasi Penataan Zonasi viii

9 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (TNBBBR) merupakan salah satu dari 50 (lima puluh) taman nasional yang terdapat di Indonesia, yang penunjukannya melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No: 281/Kpts-II/1992 tanggal 26 Pebruari 1992, dengan luas Ha. Kawasan TNBBBR memiliki posisi strategis yang berada di 2 (dua) wilayah Propinsi yaitu kawasan Bukit Baka di Propinsi Kalimantan Barat dan kawasan Bukit Raya di propinsi Kalimantan Tengah. Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya juga masuk dalam wilayah kerja Heart of Borneo yang memiliki inisiatif pemanfaatan berkelanjutan dan konservasi yang bertujuan untuk melestarikan manfaat hutan-hutan terbaik yang masih tersisa di Borneo. Pengelolaan kawasan ini berada pada Balai Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya yang dibentuk melalui Surat keputusan Menteri kehutanan No : 185/Kpts-II/1997 tanggal 31 Maret Kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya memiliki tipe hutan hujan tropis yang berada pada daerah perbukitan juga meliputi daerah dataran rendah pada bagian selatan pegunungan Schwaner, serta wilayah perhuluan dari sungai-sungai seperti sungai Mentatai, sungai Ella, dan sungai Jelundung yang bermuara pada sungai Melawi di Kalimantan Barat, kemudian sungai Bemban, sungai Hiran, sungai Tae dan sungai Samba yang bermuara pada sungai Katingan di Kalimantan Tengah. Sehingga kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya berfungsi sebagai sistem tata air pada daerah aliran sungai Melawi DAS Kapuas dan DAS Katingan. Data hasil survey menunjukkan bahwa kawasan TNBBBR memiliki keanekaragaman hayati yang cukup tinggi. Keadaan topografi dan keberadaan berbagai jenis tumbuhan dan satwa yang membuat kawasan ini sangat menarik untuk dijadikan sebagai obyek wisata hayati. Dari 9 (sembilan) jenis Rangkong yang ada di Kalimantan, 7 (tujuh) jenis diantaranya terdapat dikawasan ini, dan empat jenis sering dijumpai yaitu 1

10 Aceros undulatus, Anthracoceros malayanus, Buceros rhinoceros dan Buceros vigil yang merupakan maskot Kalimantan Barat. Selain itu masih ditemukan pula Barbourula kalimantanensis, sejenis katak yang tidak memiliki paru-paru (Bickford et al, 2007). Selain potensi keanekaragaman hayati, di sekitar kawasan ini terdapat juga masyarakat yang hidup dengan adat dan ragam budaya, yang menjadi suatu daya tarik tersendiri sebagai wisata budaya. Keberadaan berbagai potensi dan keanekaragaman hayati yang dimiliki kawasan ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat luas dan di sekitar kawasan, sehingga dibutuhkan perencanaan yang komprehensif dalam pengelolaannya. B. Maksud, Tujuan dan Sasaran Maksud dari penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya adalah mewujudkan rencana pengelolaan periode tahun , yang pencapaiannya dilaksanakan oleh Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya sebagai pemegang kewenangan pengelolaan, bersama para pihak pemangku kepentingan yang terkait dan bersinergi didalam pengelolaan. Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya disusun secara sistematis yang bertujuan untuk memberikan arah yang tepat didalam pelaksanaan pengelolaan taman nasional dalam kurun waktu 20 (dua puluh) tahun. Sehingga dengan rencana pengelolaan tersebut Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya memiliki kerangka kerja yang terpadu dan komprehensif didalam pelaksanaan pengelolaan yang lebih efektif, efisien dan bermanfaat. Sasaran yang akan dicapai dalam penyusunan Rencana Pengelolaan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya adalah tersusunnya suatu kerangka formal pengelolaan untuk dua puluh tahun ke depan yang menjadi acuan bagi rencana pengelolaan jangka menengah (5 tahun) dan jangka pendek (1 tahun) dalam mewujudkan kelestarian fungsi dan 2

11 manfaat dari kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, serta memberikan kontribusi terhadap pelaksanaan program pembangunan daerah melalui pemanfaatan sumber daya alam guna pengembangan ekonomi pembangunan. C. Ruang Lingkup Penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Panjang Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya ditetapkan untuk jangka waktu dua puluh tahun berdasarkan kajian aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya dengan memperhatikan partisipasi, aspirasi, budaya masyarakat dan rencana pembangunan daerah/wilayah. Rencana Pengelolaan Jangka Panjang ini menjadi dasar bagi penyusunan Rencana Pengelolaan Jangka Menengah dan Rencana Pengelolaan Jangka Pendek yang selanjutnya akan diwujudkan kembali dalam bentuk strategi pengelolaan yang memuat program-program dan usulan kegiatan operasional. D. Batasan Pengertian 1. Kawasan Pelestarian Alam adalah kawasan dengan ciri khas tertentu, baik daratan maupun perairan yang mempunyai fungsi pokok perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. 2. Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi alam. 3. Pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam adalah upaya terpadu dalam perencanaan, penataan, pengembangan, pemanfaatan, pemeliharaan, pengawasan, perlindungan, dan pengendaliannya. 3

12 4. Rencana Pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam adalah panduan yang memuat tujuan, kegiatan dan perangkat yang diperlukan untuk pengelolaan kawasan peletarian alam. 5. Rencana Pengelolaan Jangka Panjang adalah rencana pengelolaan makro yang bersifat indikatif disusun berdasarkan kajian aspek ekologi, ekonomi dan sosial budaya dengan memperhatikan partisipasi, aspirasi, budaya masyarakat dan rencana pembangunan daerah/wilayah. 6. Rencana Pengelolaan Jangka Menengah adalah rencana pengelolaan strategis, kualitatif dan kuantitatif, disusun berdasarkan rencana pengelolaan jangka panjang. 7. Rencana Pengelolaan Jangka Pendek adalah rencana pengelolaan teknis operasional, kualitatif dan kuantitatif, disusun berdasarkan dan merupakan penjabaran dari rencana pengelolaan jangka menengah. 8. Visi adalah rumusan umum mengenai keadaan yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. 9. Misi adalah rumusan umum mengenai upaya-upaya yang akan dilaksanakan untuk mewujudkan visi. 10. Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. 11. Kebijakan adalah arah/tindakan yang diambil untuk mencapai tujuan. 12. Sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya adalah unsur-unsur hayati di alam yang terdiri dari sumberdaya alam nabati (tumbuhan) dan sumberdaya alam hewani (satwa) yang bersama dengan unsur non-hayati di sekitarnya secara keseluruhan membentuk ekosistem. 13. Menteri adalah Menteri yang diserahi tugas dan bertanggung jawab di bidang kehutanan. 14. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal yang diserahi tugas dan bertanggung jawab di bidang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya. 4

13 15. Direktur Teknis adalah Direktur yang diserahi tugas dan bertanggung jawab di bidang konservasi kawasan. 16. Unit Pelaksana Teknis konservasi sumberdaya alam adalah organisasi pelaksana tugas teknis di bidang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 17. Unit Pelaksana Teknis Taman Nasional organisasi pelaksana teknis pengelolaan taman nasional yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam. 18. Pemerintah Pusat, yang selanjutnya disebut sebagai pemerintah, adalah perangkat Negara Kesatuan RI yang tediri dari Presiden beserta Menteri. 19. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah beserta perangkat daerah otonom yang lain sebagai badan eksekutif daerah. 20. Dinas adalah Dinas Propinsi/Kabupaten/Kota yang menangani bidang kehutanan. 21. Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam adalah pelaksanaan suatu kegiatan atau penanganan suatu masalah dalam rangka membantu meningkatkan efektivitas pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam secara bersama dan sinergis oleh para pihak atas dasar kesepahaman dan kesepakatan bersama sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 22. BAPPEDA adalah Badan pada Propinsi/Kabupaten/Kota yang menangani dan bertanggungjawab dibidang Perencanaan Pembangunan Daerah. 23. Para Pihak adalah semua pihak yang memiliki minat, kepedulian, atau kepentingan terhadap eksistensi kawasan pelestarian alam. Para pihak dapat berasal dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, kelompok masyarakat, perorangan baik lokal, nasional, maupun 5

14 internasional, LSM, BUMN/BUMD, BUMS, perguruan pendidikan tinggi, lembaga ilmiah dan media massa. 24. Peran serta para pihak adalah kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan oleh para pihak yang timbul atas minat, kepedulian, kehendak dan atas keinginan sendiri untuk bertindak dan membantu dalam mendukung pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam. 25. Kelembagaan Kolaborasi dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan Kawasan Pelestarian Alam adalah pengaturan yang meliputi wadah (organisasi), sarana pendukung, pembiayaan termasuk mekanisme kerja dalam rangka melaksanakan pengelolaan kolaborasi yang ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak. 26. Analisis SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities, Threats) adalah salah satu metode analisa yang didasarkan pada kajian tehadap Lingkungan Internal yaitu aspek kekuatan (Strength), dan kelemahan (Weaknesses), serta terhadap lingkungan Eksternal yaitu aspek peluang (Opportunities), dan ancaman (Threats) untuk pengambilan keputusan. 27. Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) merupakan suatu alat yang berisi kerangka dasar bagi upaya pengalokasian ruang berdasarkan fungsi, struktur dan hirarki ruang, serta sebagai pengendalian pemanfaatan ruang. 28. Satuan Wilayah Pengembangan (SWP) merupakan salah satu struktur tata ruang yang merupakan bentuk sasaran dalam penetapan kebijaksanaan penataan ruang wilayah. 6

15 II. DESKRIPSI KAWASAN A. Risalah Kawasan 1. Letak Dan Luas Taman Nasional Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya ditunjuk sebagai Kawasan Pelestarian Alam dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 281/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari Secara geografis terletak antara 112 o o Bujur Timur dan 0 o o Lintang Selatan. Secara administrasi Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya berada pada dua Provinsi, yaitu Provinsi Kalimantan Barat dan Provinsi Kalimantan Tengah. Bagian Selatan kawasan ini termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Katingan di Kalimantan Tengah dengan luas Ha, sedangkan bagian Utara berada dalam wilayah Kabupaten Sintang dan Kabupaten Melawi di Provinsi Kalimantan Barat dengan luas Ha, sehingga total luasnya adalah ha. Namun demikian berdasarkan Peta Rekonstruksi Batas Kawasan Hutan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (BPKH Wilayah III tahun 2005) lembar 1-7 wilayah Kalimantan Barat dan Peta Rekonstruksi Batas Kawasan Hutan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya lembar 1-3 serta Peta Orientasi Batas Kawasan Hutan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya wilayah Kalimantan Tengah (BPKH Wilayah V), Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya memiliki luas ,48 Ha. 2. Sejarah Kawasan Sebelum berubah status menjadi Taman Nasional, pada awalnya merupakan kawasan Cagar Alam Bukit Raya seluas ha yang ditetapkan melalui keputusan Menteri Pertanian No. 409/Kpts/Um/6/1978 tanggal 6 Juni Setahun kemudian Cagar Alam yang berlokasi di Daerah Tingkat II Kota Waringin Timur, Daerah Tingkat I Kalimantan Tengah ini diperluas menjadi ha melalui Keputusan Menteri Pertanian No. 781/Kpts/Um/12/1979 tanggal 17 Desember 1979, dimana 7

16 pengelolaan kawasan ini berada di bawah Sub Balai KSDA Kalimantan Tengah. Pada tahun 1981 kawasan Bukit Baka mulai ditetapkan sebagai Cagar Alam melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor : 1050/Kpts/Um/12/1981 tanggal 24 Desember Cagar Alam ini terdiri dari komplek hutan Serawai dan Menukung, yang terletak di Daerah Tingkat II Sintang, Daerah Tingkat I Kalimantan Barat dan memiliki luas ha. Luas Cagar Alam Bukit Baka kemudian dikurangi sebagian untuk konsesi HPH PT. Kurnia Kapuas Plywood (KKP) hingga tersisa Ha. Pengurangan luas ini dikukuhkan melalui Keputusan Menteri Kehutanan No. 192/Kpts-II/1987 tanggal 9 Juni 1987 Tentang : Perubahan Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 1050/Kpts/Um/12/1981. Kawasan Cagar Alam ini dikelola oleh Sub Balai KSDA Kalimantan Barat. Mengingat pengelolaan kawasan tidak dibatasi oleh wilayah administrasi pemerintahan dan untuk tujuan lebih meningkatkan efektivitas serta efisiensi, dua cagar alam ini kemudian digabungkan menjadi Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 281/Kpts-II/1992 tanggal 26 Pebruari Pengelolaan kawasan tidak lagi dibawah tanggung jawab Sub Balai KSDA tetapi menjadi tanggung jawab Unit Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (SK Menhut No 185/Kpts-II/1997 tanggal 31 Maret 1997) dan memiliki kantor di Sintang. Dalam upaya mendukung dan memperkuat kelembagaan maka Menteri Kehutanan melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan nomor 6186/Kpts-II/2002 tanggal 10 Juni 2002 melakukan peningkatan eselon IV ke eselon III sehingga berubah dari Unit menjadi Balai Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Peningkatan eselon ini meningkatkan kemampuan kelembagaan untuk berkoordinasi internal dan eksternal sekaligus meningkatkan sinergisitas dengan para pihak dalam pengelolaan kawasan. 8

17 3. Aksesibilitas Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dapat dicapai dari arah Utara melalui Provinsi Kalimantan Barat dan dari Selatan melalui Kalimantan Tengah. Cara pencapaian lokasi dari Pontianak ke Sintang menggunakan jalur darat 399 km ditempuh selama sembilan jam dan dilanjutkan dari Sintang ke Nanga Pinoh selama dua jam dan atau Sintang Nanga Serawai selama enam jam. Perjalanan dilanjutkan dari Nanga Pinoh ke Nanga Popay yaitu Logpond PT. Sari Bumi Kusuma (SBK) dengan speedboat selama dua jam atau dengan menggunakan kendaraan darat selama kurang lebih dua jam, kemudian dilanjutkan menuju kawasan melalui main road PT. SBK kurang lebih dua jam. Perjalanan dari Serawai menuju kawasan dapat ditempuh melalui jalur Sungai Serawai ke Desa Rantau Malam menggunakan long boat selama kurang lebih enam jam. Perjalanan dari Palangkaraya menuju Kasongan menggunakan kendaraan darat selama satu setengah jam, dilanjutkan dengan menggunakan kendaraan air melewati kota Kecamatan Tumbang Samba, Tumbang Hiran dan kota Kecamatan Tumbang Senamang ditempuh selama delapan jam. Informasi aksesibilitas menuju Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dapat dilihat pada Tabel 1 dan 2. Tabel 1. Aksesibilitas ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dari Kalimantan Barat No Rute Jarak (Km) Jenis Sarana Perhubungan Waktu Tempuh Pontianak Sintang 400 Bus Umum/Mobil 9 jam 2. Pontianak Nanga Pinoh 450 Bus Umum 9-10 jam 3. Sintang Nanga Pinoh 80 Bus Umum 2 jam 4. Sintang Nanga Serawai 178 Darat/Sungai 6 jam 5. Nanga Pinoh Ng. Popay 50 Darat/Sungai 2 jam 6. Nanga Popay Kawasan Main Road PT. SBK 2-4 jam 7. Nanga Pinoh Menukung Speed Boat 3 jam 8. Nanga Popay - Menukung Sepeda Motor 2 jam 9. Menukung Kawasan Sungai / Darat 6 jam 9

18 Nanga Serawai Nanga Long Boat/Klotok 6 jam Jelundung 11. Nanga Jelundung Long Boat/Klotok 1 jam Rantau Malam 12. Rantau Malam Jalan Kaki 2 jam Kawasan 13. Nanga Serawai Speed Boat 1 jam Tontang 14. Tontang Nanga Riyoi Main Road 3 jam 15. Nanga Riyoi Kawasan Jalan kaki 6 jam Tabel 2. Aksesibilitas ke Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dari Kalimantan Tengah No Rute Jarak (Km) Jenis Sarana Perhubungan Waktu Tempuh 1. Palangkaraya-Kasongan 85 Bus umum 1,5 jam 2. Kasongan - Tb. Samba Speed Boat 3 jam 3. Tb. Samba -Tb. Hiran Long Boat 3 jam 4. Tb. Hiran-Tb.Tae Long Boat/Klotok 1 jam 5. Tb. Hiran-Batu Panahan Long Boat 6 jam 6. Batu Panahan-Kawasan Long Boat/jalan Kaki 2 jam 7. Tb. Hiran Tb. Long Boat 3 jam Senamang 8. Tb. Senamang Kuluk Long Boat 3 jam Sepangi 9. Kuluk Sepangi-Kiham Long Boat/Klotok 1 jam batang 10. Kiham Batang- Tb. Long Boat/Klotok 1 jam Kaburai 11. Tb.Kaburai-Kawasan Jalan kaki 1 jam 12. Tb. Samba-Tb. Manggu Long Boat 1,5 jam 13. Tb. Manggu Tb. Main Road 3 jam Habangoi 14. Tb. Manggu Tb. Hiran Main Road 2 jam 15. Tb. Manggu Batu Main Road 5 jam Panahan 16. Tb. Manggu Tb. Tae Main Road 2,5 jam 17. Tb. Tae Kawasan Jalan Kaki 1 jam 10

19 4. Kondisi Fisik Kawasan a. Topografi Dari hasil laporan akhir pengadaan Citra Landsat/Satelit Imagery Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya (1985) dinyatakan bahwa berdasarkan hasil interprestasi data Citra Lansat TMFCC skala 1: yang didukung dengan peta topografi skala 1: dan peta landsat system skala 1: , bentuk lapangan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dapat dibedakan menjadi 3 sistem fisiografi, yaitu sistem dataran, sistem perbukitan dan sistem pegunungan. 1. Sistem Dataran Sistem ini mempunyai bentuk lahan berupa dataran berbukit kecil, lahan seperti ini terbentuk oleh aktivitas sungai yang membawa bahan-bahan dari perbukitan dan pengunungan yang dilaluinya. Berdasarkan analisis sistem fisiografi daratan dalam Taman Nasional terdapat 4 satuan lahan dengan luas Ha atau hanya 1,6% dari total luas kawasan. Kemiringan lahan dataran ini berkisar antara %. 2. Sistem Perbukitan Sistem ini mempunyai bentukan lahan berupa perbukitan memanjang, kelompok perbukitan yang tidak teratur dan lereng struktural memanjang. Proses orogenetik dan tenaga eksogen berupa erosi biasanya akan membentuk lahan berupa bukit-bukit kecil dan bukitbukit memanjang serta kuesta (bagian Utara taman nasional). Proses struktural akan membentuk lereng yang memanjang seperti yang dijumpai di bagian Utara Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Sistem fisiografi ini menurunkan 14 satuan lahan seluas ha atau 23,7% dari total luas Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Kemiringan lereng dari lahan perbukitan ini berkisar antara 30% sampai dengan 75%, kecuali lereng pada permukaan kuesta yang rata-rata berkisar 18%. 11

20 3. Sistem Pegunungan Sistem ini adalah bagian paling luas. Luasannya mencakup 74,7 % dari total luas kawasan atau ± ha. Sistem fisiografi pegunungan ini menurunkan 13 satuan lahan seluas tersebut. Bentuk lahan pegunungan ini yaitu berupa kelompok punggung pengunungan yang tidak teratur dan punggung pengunungan berbukit-bukit kecil. Kemiringan lereng dari lahan pegunungan ini berkisar antara 50% sampai dengan 80%. Berdasarkan ketiga sistem fisiografi hasil citra landsat tersebut jelas terlihat bahwa Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya terdiri atas serangkaian daerah pegunungan patahan dengan topografi yang umumnya terjal, terutama pada jajaran pegunungan Schwaner dan arah lereng yang menuju ke puncak-puncak pegunungannya. Bentuk topografi yang terjal tersebut sebagian besar berada pada batas kawasan di sebelah Utara (Kalimantan Barat) sedangkan batas di sebelah Selatan (Kalimantan Tengah) topografinya relatif lebih landai. Variasi ketinggian pada kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, yaitu antara 100 m dpl di bagian Selatan hingga m dpl pada puncak Bukit Raya. Beberapa puncak bukit yang memiliki ketinggian di atas m dpl adalah Bukit Melabanbun (1.850 m dpl), Bukit Asing (1.750 m dpl), Bukit Panjing (1.620 m dpl), Bukit Baka (1.650 m dpl), Bukit Lusung (1.600 m dpl) dan Penjake (1.450 m dpl). b. Penutupan lahan Berdasarkan hasil analisis Citra Landsat 5 TM tahun 2008, yang dikeluarkan BIOTROP 2008, kawasan Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya dibedakan kedalam lima tipe klasifikasi penutupan lahan, Hutan Primer seluas ,11 Ha, Hutan Primer di atas batuan Ultra Basik seluas 4.305,41 Ha, Hutan Sekunder seluas 5.156,16 Ha, Lahan Pertanian/Ladang Berpindah seluas 1.208,53, dan Semak Belukar seluas 4.426, 27 Ha. 12

21 c. Geologi Berdasarkan peta geologi skala 1: yang dikeluarkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi, Departemen Pertambangan dan Energi, yang dikutip dari hasil Laporan Akhir Pengadaan Citra Landsat/Satelit Imagery (1985), Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya terbagi menjadi 5 formasi geologi sebagai berikut: 1. Mentemoi Formation (Teme): Luas ± 2.822,76 Ha. Di bagian bawah didominasi oleh batu pasir, sedangkan di bagian atas batu pasir arkosa yang berbutir halus-kasar, kemerahan, terdapat struktur silang siur dan gelembur gelombang. Umur dari formasi ini adalah Eosen Oligosen. 2. Pinoh Metamorphics (PzTRp): Luas ± ,26 Ha. Formasi ini tersusun dari skist, muskovit, kuarsit, fillit serisit-kuarsa, batu sabak dan tufa malihan. Analusit, biotit dan kordierit masingmasing setempat: jarang yakut atau silimanit, terbentuk pada masa Paleozoikum sampai Trias. Bahan induk batuan Malihan Pinoh (PzRp) ini terdapat pada kelompok perbukitan yang tidak teratur yang terletak di bagian Selatan dan pada kelompok punggung pegunungan berbukit-bukit kecil yang teletak di bagian tengah, Barat Laut, Utara dan Selatan kawasan taman nasional. Bahan induk hasil pengendapan dari batu Malihan Pinoh ini terdapat pada dataran berbukit-bukit kecil yang terletak di bagian tengah kawasan Taman Nasional. 3. Sepauk Tonalite (Kls): Luas ± ,80 Ha Formasi ini tersusun dari tonalit dan granodiorit hornblende-biotit kelabu muda, beberapa dioririt-granit, monzodiorit dan diorite kwarsa yang terbentuk pada masa Kapur Awal. Bahan induk batuan Tonalit Sepauk (Kls) ini sebagian besar terdapat pada kelompok perbukitan memanjang yang terletak di bagian Selatan dan sebagian lagi di bagian Utara, Timur dan Barat Laut taman nasional. Di samping itu bahan induk Toalit Sepauk (Kls) ini juga terdapat pada 13

22 kelompok punggung pegunungan berbukit-bukit kecil yang teletak di bagian Utara, Timur dan Selatan kawasan taman nasional. Sedangkan hasil pegendapan dari batuan Tonalit Sepauk ini terdapat pada dataran berbukit-bukit kecil yang terletak di bagian Barat Daya kawasan taman nasional. 4. Sintang Intrusives (Toms). Sintang Intrusives (Toms) terdiri dari andesit, desit, rhyolit, diorite kwarsa, granodiorit dan jarang granit berbutir halus, sill, retas dan sumbat yang terbentuk pada masa Oligosen Akhir sampai Miosen Awal. Bahan induk batuan Terobosan Sintang (Toms) terdapat pada kelompok punggung pengunungan berbukit-bukit kecil yang teletak di bagian Utara kawasan taman nasional, serta untuk bahan induk hasil pengendapan dari batuan Terobosan Sintang (Toms) ini terdapat pada dataran berbukit-bukit kecil yang teletak di bagian Timur Laut. Luas ± 4.984,71 Ha 5. Sukadana Granite (Kus). Formasi ini tersusun dari granit biotit merah muda, granit feldspar alkali dan monzogranit yang terbentuk pada masa Kapur akhir. Sebaran formasi bahan induk batuan Granit Sukadana (Kus) ini meliputi daerah kelomok perbukitan yang tidak teratur yang terletak di bagian Timur Kawasan taman nasional seluas ± 2.640,95 Ha. d. Tanah Jenis tanah yang mendominasi kawasan dan daerah di sekitar taman nasional adalah Podsolik Merah Kuning, Latosol dan Litosol dengan bahan induk batuan beku endapan dan metamorf (Lembaga Penelitian Tanah Bogor, 1972). Fraksi tanah di kawasan taman nasional pada umumnya kasar, permeable dan sangat mudah tererosi. Tanah lapisan atas umumnya granular dengan warna yang cenderung gelap, hal ini menunjukkan bahwa pada permukaan tanah tersebut kaya akan bahan organik. Hal ini 14

23 menandakan juga bahwa pada tempat tersebut terdapat aktifitas biologi yang berlangsung secara intensif dan selalu mengadakan recycling di tempat tersebut. Sedangkan tanah pada lapisan di bawah permukaan (subsoil) berwarna merah hingga kuning; hal ini menandakan bahwa pada lapisan tersebut tidak terdapat bahan organik, yang ada hanya oksidaoksida hemaiti (besi) atau goehite. Berdasarkan hasil Citra Landsat/Satelit imagery (1985) pengelompokan jenis tanah menurut pengelompokan grup besar USDA. Sebaran jenis tanah yang berada di kawasan taman nasional, yaitu: pada dataran berbukit-bukit kecil yang terletak di bagian Barat Daya, Tenggara, Timur Laut serta pada bagian tengah kawasan taman nasional, jenis tanah pada umumnya didominasi oleh Tropudults. Tekstur tanah pada umumnya kasar hingga sedang, kandungan bahan organiknya sedang dan kadar kapur umumnya rendah sampai sedang dengan ph berkisar antar 5-5,5. Pada kelompok perbukitan memanjang yang teletak di bagian Selatan kawasan dan pada kelompok perbukitan yang tidak teratur di bagian Timur, Selatan dan Barat Laut kawasan taman nasional, tanah umumnya didominasi oleh Dystropepts. Tekstur tanah umumnya sedang hingga halus, kandungan bahan organiknya tinggi dan kadar kapurnya rendah dengan ph berkisar antara 4-5, sedangkan pada kuesta yang terletak di bagian Utara kawasan taman nasional, tanahnya terdiri atas asosiasi antara Tropudults, Dystropepts dan Troporthods. Tekstur tanahnya halus, kandungan bahan organiknya tinggi dan kadar kapur rendah dengan ph 5. Ada lereng struktural memanjang yang terletak di bagian Utara kawasan taman nasional, tanah didominasi oleh Tropudults. Tekstur tanah sedang hingga halus, kadar bahan organik tinggi dan kadar kapur rendah dengan ph 5. Pada kelompok punggung pengunungan yang tidak teratur yang terletak di bagian Timur Laut kawasan taman nasional, tanahnya terdiri atas asosiasi natar Tropudults dan Dystropepts. Tekstur tanah halus, 15

24 kadar bahan organik tinggi dengan kadar kapur rendah, ph berkisar antara Sedangkan pada kelompok punggung pegunungan berbukit-bukit kecil yang teletak di bagian Selatan, Utara, Timur laut, Barat Laut, dan bagian tengah kawasan taman nasional, tanahnya didominasi oleh Dystropepts. Tekstur tanah sedang hingga halus, kadar bahan organik tinggi dan kadar kapur rendah dengan ph berkisar antara 4 5 dan pada tempat tertentu ada yang mencapai 5,5. Sementara itu bila mengacu pada Peta Jenis Tanah Kalimantan yang di keluarkan FAO skala 1: , taman nasional memiliki unit tanah seperti pada tabel 3. Tabel 3. Unit tanah berdasarkan peta jenis tanah Kalimantan (FAO) Unit Tanah Luas (Ha) Humic Acrisols Humic Ferralsols Orthic Acrisols e. Iklim. Menurut klasifikasi Schimidt dan Ferguson, taman nasional termasuk tipe iklim A dengan nilai sq berkisar antara 0 sampai dengan 14,3 dan menurut klasifikasi Koppen termasuk tipe Af. Dari hasil pemantauan curah hujan selama 5 tahun ( ) di stasiun pengamat di Nanga Pinoh yang terletak di sebelah Barat Laut kawasan taman nasional, memperlihatkan bahwa curah hujan pertahun rata-rata 302,98 mm berkisar antara 252,7 352,9 mm. Sepanjang tahun 2002, jumlah curah hujan sekitar 4031,8 mm atau rata-rata 252,6 mm menurut Stasiun Meteorologi Nanga Pinoh. Rata-rata bulanan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Nopember 2001 dengan curah hujan rata-rata 503,3 mm dengan hari hujan sebanyak 25 hari, sedangkan rata-rata curah hujan terendah terjadi pada bulan Juli 2002 yaitu hanya mencapai 17,7 mm dengan hari hujan sebanyak 6 hari. 16

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya

Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya merupakan kawasan konservasi yang terletak di jantung Pulau Kalimantan. Kawasan ini memiliki peranan penting dalam fungsi hidrologis

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013

SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013 SAMBUTAN MENTERI KEHUTANAN PADA ACARA FINALISASI DAN REALISASI MASTERPLAN PUSAT KONSERVASI KEANEKARAGAMAN HAYATI (PPKH) Pongkor, Selasa, 23 April 2013 Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Yang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Aspek Geografi Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu Kabupaten dalam Provinsi Sumatera Selatan yang secara geografis terletak

Lebih terperinci

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya juga memiliki

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI KATA PENGANTAR Booklet Data dan Informasi Propinsi Bali disusun dengan maksud untuk memberikan gambaran secara singkat mengenai keadaan Kehutanan di Propinsi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA PULAU BALI 1. Letak Geografis, Batas Administrasi, dan Luas Wilayah Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8 3'40" - 8 50'48" Lintang Selatan dan 114 25'53" -

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme)

PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme) LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme) Diajukan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG

GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG GUBERNUR ACEH PERATURAN GUBERNUR ACEH NOMOR 20 TAHUN 2013 TENTANG SUSUNAN ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS DINAS PADA DINAS KEHUTANAN ACEH GUBERNUR ACEH, Menimbang : a. bahwa dengan ditetapkannya

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Secara geografis KPHL Batutegi terletak pada 104 27-104 55 BT dan 05 48 -

IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN. Secara geografis KPHL Batutegi terletak pada 104 27-104 55 BT dan 05 48 - 24 IV. GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN A. Letak dan Luas Wilayah Secara geografis KPHL Batutegi terletak pada 104 27-104 55 BT dan 05 48-5 22 LS. Secara administrasif KPHL Batutegi, berada di empat Kabupaten,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM LAMPIRAN : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM NOMOR : P. 01/IV- SET/2012 TANGGAL : 4 Januari 2012 TENTANG : PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM, RENCANA

Lebih terperinci

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 5 TAHUN 1990 (5/1990) Tanggal : 10 AGUSTUS 1990 (JAKARTA) Sumber :

Lebih terperinci

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-5 1 Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta Dwitanti Wahyu Utami dan Retno Indryani Jurusan Teknik

Lebih terperinci

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh I. Latar Belakang Tanaman pala merupakan tanaman keras yang dapat berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun. Tanaman pala tumbuh dengan baik di daerah tropis.

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Jl. Surabaya 2 A, Malang Indonesia 65115 Telp. 62-341-551976, Fax. 62-341-551976 http://www.jasatirta1.go.id

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab Bab IX Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi Sumber: hiemsafiles.wordpress.com Gb.9.1 Lembah dan pegunungan merupakan contoh bentuk muka bumi Perlu kita ketahui bahwa bentuk permukaan bumi

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN : BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

MEMUTUSKAN : BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumber daya alam dan lingkungan tidak pernah lepas dari kepentingan seperti kepentingan negara, pemilik modal, rakyat maupun kepentingan lingkungan itu sendiri (Handayani,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.85/Menhut-II/2014 TENTANG TATA CARA KERJASAMA PENYELENGGARAAN KAWASAN SUAKA ALAM DAN KAWASAN PELESTARIAN ALAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM DAS Bengawan Solo merupakan salah satu DAS yang memiliki posisi penting di Pulau Jawa serta sumber daya alam bagi kegiatan sosial-ekonomi

Lebih terperinci

Pengalaman Melaksanakan Program Restorasi di Hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Resort Sei Betung 2007-2011

Pengalaman Melaksanakan Program Restorasi di Hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Resort Sei Betung 2007-2011 Pengalaman Melaksanakan Program Restorasi di Hutan Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) Resort Sei Betung 2007-2011 Kondisi Umum Sei Betung Hutan primer Sei Betung, memiliki keanekaragaman hayati yang

Lebih terperinci

Pertimbangan Teknis Perlindungan Kawasan Nilai Konservasi Tinggi Sungai Besar-Pelang, Kabupaten Ketapang

Pertimbangan Teknis Perlindungan Kawasan Nilai Konservasi Tinggi Sungai Besar-Pelang, Kabupaten Ketapang Pertimbangan Teknis Perlindungan Kawasan Nilai Konservasi Tinggi Sungai Besar-Pelang, Kabupaten Ketapang Hasil survei Nilai Konservasi Tinggi, yang dilakukan Fauna flora International di Kabupaten Ketapang,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka konservasi sungai, pengembangan

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar KOTA BALIKPAPAN I. KEADAAN UMUM KOTA BALIKPAPAN 1.1. LETAK GEOGRAFI DAN ADMINISTRASI Kota Balikpapan mempunyai luas wilayah daratan 503,3 km 2 dan luas pengelolaan laut mencapai 160,1 km 2. Kota Balikpapan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dibidang kehutanan saat ini terus ditingkatkan dan diarahkan untuk menjamin kelangsungan tersedianya hasil hutan, demi kepentingan pembangunan industri, perluasan

Lebih terperinci

Estimasi Populasi Orang Utan dan Model Perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau, Kalimantan Timur

Estimasi Populasi Orang Utan dan Model Perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau, Kalimantan Timur Estimasi Populasi Orang Utan dan Model Perlindungannya di Kompleks Hutan Muara Lesan Berau, Kalimantan Timur M. Bismark Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor ABSTRACT Orang

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 1 TAHUN 1997 TENTANG PEMETAAN PENGGUNAAN TANAH PERDESAAN, PENGGUNAAN TANAH

Lebih terperinci

KONDISI EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA ALAM HAYATI PESISIR DI KABUPATEN ALOR

KONDISI EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA ALAM HAYATI PESISIR DI KABUPATEN ALOR RINGKASAN EKSEKUTIF KAJIAN KONDISI EKOSISTEM DAN SUMBERDAYA ALAM HAYATI PESISIR DI KABUPATEN ALOR Ir. Jotham S. R. Ninef, M.Sc. (Ketua Tim Pengkajian dan Penetapan Kawasan Konservasi Laut Provinsi NTT)

Lebih terperinci

Manfaat hutan kota diantaranya adalah sebagai berikut :

Manfaat hutan kota diantaranya adalah sebagai berikut : BENTUK DAN FUNGSI HUTAN KOTA 1. Bentuk Hutan Kota Pembangunan hutan kota dan pengembangannya ditentukan berdasarkan pada objek yang dilindungi, hasil yang dicapai dan letak dari hutan kota tersebut. Berdasarkan

Lebih terperinci

HUTAN-HUTAN INDONESIA: APA YANG DIPERTARUHKAN?

HUTAN-HUTAN INDONESIA: APA YANG DIPERTARUHKAN? 1 HUTAN-HUTAN INDONESIA: APA YANG DIPERTARUHKAN? doc. FWI Simpul Sulawesi 1.1. Hutan Tropis Seratus Juta Hektar Sebagian dari hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia. Dalam hal luasnya, hutan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah

Lebih terperinci

BAB 4 POLA PEMANFAATAN RUANG

BAB 4 POLA PEMANFAATAN RUANG BAB 4 POLA PEMANFAATAN RUANG Pola pemanfaatan ruang berisikan materi rencana mengenai: a. Arahan pengelolaan kawasan lindung b. Arahan pengelolaan kawasan budidaya kehutanan c. Arahan pengelolaan kawasan

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT UNTUK BUDIDAYA KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

Kebijakan pengelolaan zona khusus Dapatkah meretas kebuntuan dalam menata ruang Taman Nasional di Indonesia?

Kebijakan pengelolaan zona khusus Dapatkah meretas kebuntuan dalam menata ruang Taman Nasional di Indonesia? Brief CIFOR memberi informasi mengenai topik terkini di bidang penelitian kehutanan secara ringkas, akurat dan ilmiah. CIFOR No. 01, April 2010 www.cifor.cgiar.org Kebijakan pengelolaan zona khusus Dapatkah

Lebih terperinci

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan

Profil Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Provinsi Sumatera Selatan 1 A. GAMBARAN UMUM 1. Nama Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 2. Permukiman Transmigrasi Simpang Tiga SP 3 Terletak di Kawasan a. Jumlah Transmigran (Penempatan) Penempata 2009 TPA : 150 KK/563

Lebih terperinci

Kerangka landasan pendekatan DAS: Merupakan ekologi bentang lahan (Landscape ecology), suatu subdisiplin ekologi yang mengamati sebab dan akibat

Kerangka landasan pendekatan DAS: Merupakan ekologi bentang lahan (Landscape ecology), suatu subdisiplin ekologi yang mengamati sebab dan akibat Kerangka landasan pendekatan DAS: Merupakan ekologi bentang lahan (Landscape ecology), suatu subdisiplin ekologi yang mengamati sebab dan akibat ekologi dari pola ruang, proses dan perubahan dalam suatu

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional; PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.16/MEN/2008 TENTANG PERENCANAAN PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008

UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008 UJIAN NASIONAL TAHUN PELAJARAN 2007/2008 PANDUAN MATERI SMA DAN MA G E O G R A F I PROGRAM STUDI IPS PUSAT PENILAIAN PENDIDIKAN BALITBANG DEPDIKNAS KATA PENGANTAR Dalam rangka sosialisasi kebijakan dan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP.68/MEN/2009 TENTANG PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN NASIONAL KEPULAUAN PADAIDO DAN LAUT DI SEKITARNYA DI PROVINSI PAPUA MENTERI

Lebih terperinci

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon)

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) Happy Mulya Balai Wilayah Sungai Maluku dan Maluku Utara Dinas PU Propinsi Maluku Maggi_iwm@yahoo.com Tiny Mananoma

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 33/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 33/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P. 33/Menhut-II/2010 TENTANG TATA CARA PELEPASAN KAWASAN HUTAN PRODUKSI YANG DAPAT DIKONVERSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

EVALUASI KETAHANAN HIDUP TANAMAN UJI SPESIES DAN KONSERVASI EK-SITU DIPTEROCARPACEAE DI RPH CARITA BANTEN

EVALUASI KETAHANAN HIDUP TANAMAN UJI SPESIES DAN KONSERVASI EK-SITU DIPTEROCARPACEAE DI RPH CARITA BANTEN EVALUASI KETAHANAN HIDUP TANAMAN UJI SPESIES DAN KONSERVASI EK-SITU DIPTEROCARPACEAE DI RPH CARITA BANTEN Evaluation of Survival Plantation Try Species of Dipterocarpaceae in Carita Forest Resort Banten

Lebih terperinci

RENCANA INDUK (MASTER PLAN)

RENCANA INDUK (MASTER PLAN) RENCANA INDUK (MASTER PLAN) REHABILITASI DAN KONSERVASI KAWASAN PENGEMBANGAN LAHAN GAMBUT DI PROVINSI KALIMANTAN TENGAH PUSAT RENCANA DAN STATISTIK KEHUTANAN BADAN PLANOLOGI KEHUTANAN DEPARTEMEN KEHUTANAN

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN PELAKSANAAN EVALUASI AKHIR PROGRAM MITRA TFCA- SUMATERA PADA SIKLUS HIBAH 1

KERANGKA ACUAN PELAKSANAAN EVALUASI AKHIR PROGRAM MITRA TFCA- SUMATERA PADA SIKLUS HIBAH 1 KERANGKA ACUAN PELAKSANAAN EVALUASI AKHIR PROGRAM MITRA TFCA- SUMATERA PADA SIKLUS HIBAH 1 1. PENDAHULUAN Program TFCA- Sumatera merupakan program hibah bagi khususnya LSM dan Perguruan Tinggi di Indonesia

Lebih terperinci

BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN

BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN 8.1. Beberapa Konsep Dasar Ekonomi Lahan Lahan mempunyai tempat yang khusus dalam kelompok sumber daya, karena lahan diperlukan dalam semua aspek kehidupan manusia dan lahan juga

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perairan Indonesia merupakan perairan yang sangat unik karena memiliki keanekaragaman Cetacea (paus, lumba-lumba dan dugong) yang tinggi. Lebih dari sepertiga jenis paus

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN BERBAGAI JENIS PADA IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI

Lebih terperinci

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme :

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme : TANAH Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah Hubungan tanah dan organisme : Bagian atas lapisan kerak bumi yang mengalami penghawaan dan dipengaruhi oleh tumbuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuklahan dan proses proses yang mempengaruhinya serta menyelidiki hubungan timbal balik antara bentuklahan dan proses

Lebih terperinci

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO DINAS PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN JL. RAYA DRINGU 81 TELPON 0335-420517 PROBOLINGGO 67271 MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU Oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Model Genesi dalam Jurnal : Berkala Ilmiah Teknik Keairan Vol. 13. No 3 Juli 2007, ISSN 0854-4549.

BAB I PENDAHULUAN. Model Genesi dalam Jurnal : Berkala Ilmiah Teknik Keairan Vol. 13. No 3 Juli 2007, ISSN 0854-4549. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Wilayah pesisir merupakan pertemuan antara wilayah laut dan wilayah darat, dimana daerah ini merupakan daerah interaksi antara ekosistem darat dan ekosistem laut yang

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.63/Menhut-II/2013 TENTANG TATA CARA MEMPEROLEH SPESIMEN TUMBUHAN DAN SATWA LIAR UNTUK LEMBAGA KONSERVASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 13 PERENCANAAN TATA RUANG BERBASIS MITIGASI BENCANA GEOLOGI 1. Pendahuluan Perencanaan tataguna lahan berbasis mitigasi bencana geologi dimaksudkan untuk mengantisipasi

Lebih terperinci

Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting

Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: / / Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan

Lebih terperinci

Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Lingkungan Hidup BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Peta Orientasi Kota Bandung

Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Lingkungan Hidup BAB I PENDAHULUAN. Gambar 1.1 Peta Orientasi Kota Bandung BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Secara geografis, Kota Bandung terletak pada koordinat 107º 36 Bujur Timur dan 6º 55 Lintang Selatan dengan luas wilayah sebesar 16.767 hektar. Wilayah Kota Bandung

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 11 TAHUN 2004 TENTANG PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG SUNGAI WAIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 11 TAHUN 2004 TENTANG PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG SUNGAI WAIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KOTA BALIKPAPAN NOMOR 11 TAHUN 2004 TENTANG PENGELOLAAN HUTAN LINDUNG SUNGAI WAIN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA BALIKPAPAN, Menimbang : a. bahwa Hutan Lindung Sungai Wain

Lebih terperinci

Undang Undang No. 24 Tahun 1992 Tentang : Penataan Ruang

Undang Undang No. 24 Tahun 1992 Tentang : Penataan Ruang Undang Undang No. 24 Tahun 1992 Tentang : Penataan Ruang Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 24 TAHUN 1992 (24/1992) Tanggal : 13 OKTOBER 1992 (JAKARTA) Sumber : LN 1992/115; TLN NO. 3501 DENGAN

Lebih terperinci

Cover Page. The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation.

Cover Page. The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation. Cover Page The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation. Author: Becking, Leontine Elisabeth Title: Marine lakes of Indonesia Date: 2012-12-04

Lebih terperinci

ANALISIS VEGETASI HUTAN PRODUKSI TERBATAS BOLIYOHUTO PROVINSI GORONTALO

ANALISIS VEGETASI HUTAN PRODUKSI TERBATAS BOLIYOHUTO PROVINSI GORONTALO ANALISIS VEGETASI HUTAN PRODUKSI TERBATAS BOLIYOHUTO PROVINSI GORONTALO Marini Susanti Hamidun, Dewi Wahyuni K. Baderan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan IPA Universitas Negeri GorontaloJalan Jendral

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PENGESAHAN NAGOYA PROTOCOL ON ACCESS TO GENETIC RESOURCES AND THE FAIR AND EQUITABLE SHARING OF BENEFITS ARISING FROM THEIR UTILIZATION TO THE

Lebih terperinci

I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan

I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Formasi Latih tersusun dari perselang-selingan antara batupasir kuarsa, batulempung, batulanau dan batubara dibagian atas, dan bersisipan dengan serpih pasiran dan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR. P.47/Menhut -II/2010 TENTANG PANITIA TATA BATAS KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR. P.47/Menhut -II/2010 TENTANG PANITIA TATA BATAS KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR. P.47/Menhut -II/2010 TENTANG PANITIA TATA BATAS KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

USAHA KEBUN KAYU DENGAN JENIS POHON CEPAT TUMBUH

USAHA KEBUN KAYU DENGAN JENIS POHON CEPAT TUMBUH USAHA KEBUN KAYU DENGAN JENIS POHON CEPAT TUMBUH Atok Subiakto PUSKONSER, Bogor Antusias masyarakat menanam jabon meningkat pesat Mudah menanamnya Dapat ditanam dimana saja Pertumbuhan cepat Harga kayu

Lebih terperinci

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 10/PRT/M/2015 TANGGAL : 6 APRIL 2015 TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BAB I TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam 10 tahun terakhir, jumlah kebutuhan ikan di pasar dunia semakin meningkat, untuk konsumsi dibutuhkan 119,6 juta ton/tahun. Jumlah tersebut hanya sekitar 40 %

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.43/ Menhut-II/ 2008 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.43/ Menhut-II/ 2008 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN Nomor : P.43/ Menhut-II/ 2008 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN, Menimbang : a. bahwa berdasarkan Peraturan Menteri

Lebih terperinci

VISI KALTIM BANGKIT 2013

VISI KALTIM BANGKIT 2013 VISI KALTIM BANGKIT 2013 Mewujudkan Kaltim Sebagai Pusat Agroindustri Dan EnergiTerkemuka Menuju Masyarakat Adil Dan Sejahtera MENCIPTAKAN KALTIM YANG AMAN, DEMOKRATIS, DAN DAMAI DIDUKUNG PEMERINTAHAN

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM Nomor : SK. 192/IV- Set/Ho/2006 TENTANG

PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM Nomor : SK. 192/IV- Set/Ho/2006 TENTANG PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERASI ALAM Nomor : SK. 192/I- Set/Ho/2006 TENTANG IZIN MASUK KAWASAN SUAKA ALAM, KAWASAN PELESTARIAN ALAM DAN TAMAN BURU DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelaksanaan otonomi daerah secara luas, nyata dan bertanggungjawab telah menjadi tuntutan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah memiliki hak dan kewenangan dalam mengelola

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 TENTANG PERIZINAN REKLAMASI DI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan, perlu perubahan secara mendasar, terencana dan terukur. Upaya

Lebih terperinci

Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT.

Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT. Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH Oleh : PT. Sari Bumi Kusuma PERKEMBANGAN HPH NASIONAL *) HPH aktif : 69 % 62% 55%

Lebih terperinci

RINGKASAN DISERTASI. Oleh : Sayid Syarief Fathillah NIM 06/240605/SPN/00217

RINGKASAN DISERTASI. Oleh : Sayid Syarief Fathillah NIM 06/240605/SPN/00217 PENILAIAN TINGKAT BAHAYA EROSI, SEDIMENTASI, DAN KEMAMPUAN SERTA KESESUAIAN LAHAN KELAPA SAWIT UNTUK PENATAGUNAAN LAHAN DAS TENGGARONG, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA RINGKASAN DISERTASI Oleh : Sayid Syarief

Lebih terperinci

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan - 2011

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan - 2011 Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan - 2011 Sekilas Tentang Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Padekanmalang, Situbondo - Jawa Timur SEKILAS TENTANG Kawasan Hutan Dengan Tujuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI MENTERI PEKERJAAN UMUM Menimbang : a. Bahwa sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.18/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.18/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.18/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (6) Undang-Undang

Lebih terperinci

memerintahkan untuk merancang Banjarbaru sebagai alternatif ibukota Provinsi Kalimantan Selatan.

memerintahkan untuk merancang Banjarbaru sebagai alternatif ibukota Provinsi Kalimantan Selatan. Bab 2 Kantor Balai Kota Banjarbaru Cikal bakal lahirnya Kota Banjarbaru bermula pada tahun 1951 saat gubernur Dr. Murdjani memimpin apel di halaman kantor gubernur di Banjarmasin, saat itu hujan turun

Lebih terperinci