MANAJEMEN LABA RIIL DAN BERBASIS AKRUAL: DAPATKAH AUDITOR YANG BERKUALITAS MENDETEKSINYA?

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MANAJEMEN LABA RIIL DAN BERBASIS AKRUAL: DAPATKAH AUDITOR YANG BERKUALITAS MENDETEKSINYA?"

Transkripsi

1 MANAJEMEN LABA RIIL DAN BERBASIS AKRUAL: DAPATKAH AUDITOR YANG BERKUALITAS MENDETEKSINYA? Dwi Ramono Universias Diponegoro Absrac This sudy examines wheher managemen of public companies in Indonesia engage real earnings managemen o mee earnings benchmarks. This paper documens evidence consisen wih real aciviies manipulaion around earnings hreshold for poor performance firms. Manager opporunisically uilize price discouns o emporarily increase sales, overproducion o repor lower cos of goods sold, and reducion of discreionary expendiures o improve repored margins. Consisen wih he conjecure of Roychowdhury (2006, p. 338) and Cohen & Zarowin (2010, p.3), audiors are more difficul o deec real earnings managemen han accrual-based earnings managemen. The resuls of his sudy indicae ha drawing inferences abou earnings managemen by analyzing only accrual manipulaion is inappropriae. This sudy conribues o lieraure by presening evidence on he real earnings managemen, which has received lile aenion o dae. Keywords: real earnings managemen, accrual-based earnings managemen, abnormal CFO, abnormal discreionary expenses, abnormal producion cos, audi qualiy Pendahuluan Manajemen laba merupakan opik yang elah banyak mendapa perhaian dalam peneliian akunansi. Namun, kebanyakan peneliian manajemen laba erdahulu hanya memfokuskan pada eknik manajemen laba berbasis akrual (accrual-based earnings managemen) (Cohen dan Zarowin, 2010; Mc Vay, 2006; Roychowdhury, 2006). Zang (2006) menunjukkan bahwa perusahaan menggunakan berbagai eknik manajemen laba, idak hanya sau eknik saja unuk mencapai arge laba. Selain iu, hasil survei Graham e al. (2005) menunjukkan bahwa manajer puncak cenderung lebih memilih manajemen laba riil 1 (real earnings managemen) daripada manajemen laba berbasis akrual unuk mencapai arge 1 Manajemen laba riil ini disebu juga sebagai manipulasi akivias riil (real aciviies manipulaion) ((Roychowdhury, 2006; Cohen dan Zarowin, 2010). Kedua isilah ersebu akan digunakan secara berganian dalam peneliian ini. 1

2 laba. Oleh karena iu, peneliian akunansi yang mengambil kesimpulan enang manajemen laba dengan hanya mendasarkan pada pengauran akrual saja mungkin menjadi idak valid (Roychowdhury, 2006). Beberapa peneliian manajemen laba erkini menyaakan peningnya memahami bagaimana perusahaan melakukan manajemen laba melalui manipulasi akivias riil selain manajemen laba berbasis akrual (Roychowdhury, 2006; Gunny, 2005; Zhang, 2006; Cohen e al., 2008; Cohen dan Zarowin, 2010). 2 Hal ini pening karena hasil peneliian Cohen e al. (2008) menunjukkan bahwa manajer elah beralih dari manajemen laba berbasis akrual ke manajemen laba riil seelah periode Sarbanes-Oxley Ac (SOX) unuk menghindari deeksi yang dilakukan audior dan regulaor. Dalam koneks Indonesia, hasil rise Leuz e al. (2003) menunjukkan bahwa karena lingkungan perlindungan invesor yang lemah maka prakek manajemen laba di Indonesia cenderung lebih inensif dilakukan dibanding negara-negara lain dengan perlindungan invesor yang kua. Namun Leuz e al. (2003) mendasarkan pada proksi-proksi manajemen laba berbasis akrual. Oleh karena iu, masih menjadi peranyaan peneliian yang pening adalah apakah manajemen laba riil juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia unuk mencapai arge laba. Tujuan perama dalam peneliian ini adalah memberikan buki empiris enang prakek manajemen laba riil yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan publik di Indonesia. Peneliian ini mengikui saran dari Cohen dan Zarowin (2010, hal. 18) agar peneliian manajemen laba mendaang seharusnya memfokuskan pada pengujian manajemen laba riil, idak hanya manajemen laba berbasis akrual saja. Hasil peneliian erdahulu elah mendokumenasikan bahwa kualias audi yang inggi mampu meningkakan kualias laba klien (Balsam e al. 2003; Francis e al. 2002, 2006; 2 Cohen dan Zarowin (2010) menyaakan manajer lebih memilih melakukan manajemen laba riil daripada manajemen laba berbasis akrual karena kurang menarik perhaian audior dan regulaor. 2

3 Khrisnan 2003a). Hasil peneliian ersebu menyimpulkan bahwa audior mampu mendeeksi manajemen laba berbasis akrual yang dilakukan klien sehingga audior melakukan pembaasan erhadap akunansi akrual yang agresif (Balsam e al. 2003; Francis e al. 2006). Meskipun demikian, sudi ersebu hanya menggunakan sau proksi kualias laba yang mendasarkan pada pengauran akrual yaiu akrual diskresionari (discreionary accrual). Cohen dan Zarowin (2010, hal. 3) sera Roychowdhury (2006, hal. 338) berargumen bahwa manajemen laba riil kurang menarik perhaian audior dibandingkan pengauran akrual karena manajemen laba riil merupakan kepuusan riil enang penenuan harga produk dan jumlah produksi perusahaan yang belum enu menjadi lingkup pemeriksaan audior. Namun baik Cohen dan Zarowin (2010) maupun Roychowdhury (2006) belum menguji secara empiris dugaan bahwa manajemen laba riil ersebu akan lebih suli dideeksi oleh audior daripada manajemen laba berbasis akrual. Oleh karena iu, masih menjadi peranyaan peneliian yang pening apakah manajemen laba riil secara empiris erbuki lebih suli dideeksi oleh audior dibandingkan manajemen laba berbasis akrual. Tujuan kedua dari peneliian ini adalah memberikan buki empiris enang apakah manajemen laba riil lebih suli dideeksi oleh audior daripada manajemen laba berbasis akrual. Konribusi Peneliian Peneliian ini, yang berujuan menguji lebih lanju emuan peneliian manajemen laba riil erdahulu (Roychowdhury, 2006; Zhang, 2006; Cohen e al., 2008; Cohen dan Zarowin, 2010) ke koneks yang berbeda, pening karena dapa memberikan buki empiris bahwa manajemen laba berbasis akrual belum enu merupakan sau-saunya eknik manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan publik di Indonesia. Dengan buki empiris 3

4 ersebu diharapkan akan dapa diunjukkan bahwa peneliian-peneliian manajemen laba di Indonesia yang mengambil kesimpulan enang manajemen laba dengan hanya menganalisis akrual saja mungkin belum enu epa. Pengujian ke koneks Indonesia, pening karena hasil peneliian Leuz e al. (2003) menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam kluser negaranegara dengan perlindungan invesor yang lemah sehingga mempunyai prakek manajemen laba yang lebih inensif. Oleh karena iu, pening unuk menguji lebih lanju emuan peneliian manajemen laba riil erdahulu (Roychowdhury, 2006; Zhang, 2006; Cohen e al., 2008; Cohen dan Zarowin, 2010) ke koneks negara dengan lingkungan perlindungan invesor yang kurang kua seperi Indonesia. Peneliian ini juga pening karena memperluas peneliian Cohen dan Zarowin (2010) sera Roychowdhury (2006) yaiu dengan menguji dugaan mereka, yang belum diuji secara empiris, bahwa audior akan lebih suli mendeeksi manajemen laba riil daripada manajemen laba berbasis akrual. Dari sisi meodologi, peneliian ini juga pening karena jika buki empiris peneliian ini menunjukkan bahwa manajemen laba riil juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan publik di Indonesia, maka peneliian mendaang perlu memperimbangkan penggunaan proksi-proksi selain akrual diskresionari yang selama ini banyak digunakan dalam peneliian manajemen laba di Indonesia. Tinjauan Pusaka dan Pengembangan Hipoesis Manajemen Laba Riil Manajemen laba riil dapa didefinisikan sebagai indakan-indakan manajemen yang menyimpang dari prakek bisnis yang normal yang dilakukan dengan ujuan uama unuk 4

5 mencapai arge laba (Cohen dan Zarowin, 2010; Roychowdhury, 2006). Manajemen laba riil dapa dilakukan dengan 3 (iga) cara yaiu: a. Manipulasi penjualan Manipulasi penjualan merupakan usaha unuk meningkakan penjualan secara emporer dalam periode erenu dengan menawarkan diskon harga produk secara berlebihan aau memberikan persyaraan kredi yang lebih lunak. Sraegi ini dapa meningkakan volume penjualan dan laba periode saa ini, dengan mengasumsikan marginnya posiif. Namun pemberian diskon harga dan syara kredi yang lebih lunak akan menurunkan aliran kas periode saa ini. b. Penurunan beban-beban diskresionari (dicreionary expendiures) Perusahaan dapa menurunkan discreionary expendiures seperi beban peneliian dan pengembangan, iklan, dan penjualan, adminsrasi, dan umum eruama dalam periode di mana pengeluaran ersebu idak langsung menyebabkan pendapaan dan laba. Sraegi ini dapa meningkakan laba dan arus kas periode saa ini namun dengan resiko menurunkan arus kas periode mendaang. c. Produksi yang berlebihan (overproducion) Unuk meningkakan laba, manajer perusahaan dapa memproduksi lebih banyak daripada yang diperlukan dengan asumsi bahwa ingka produksi yang lebih inggi akan menyebabkan biaya eap per uni produk lebih rendah. Sraegi ini dapa menurunkan kos barang erjual (cos of goods sold) dan meningkakan laba operasi. Manajemen laba riil merupakan penyimpangan dari prakek operasional perusahaan yang normal. Keiga cara manipulasi akivias riil di aas mungkin merupakan kepuusan yang opimal dalam kondisi ekonomi erenu. Namun, jika manajer melakukan akivias- 5

6 akivias ersebu secara lebih inensif daripada yang opimal dengan ujuan mencapai arge laba, maka indakan ersebu dapa didefinisikan sebagai eknik manajemen laba (Roychowdhury, 2006; Cohen e al., 2008; Cohen dan Zarowin, 2010). Keiga cara manipulasi akivias riil di aas biasanya dilakukan oleh perusahaanperusahan dengan kinerja yang buruk sehingga idak banyak memiliki akrual unuk dimanipulasi. Sau-saunya cara adalah dengan manipulasi akivias riil ersebu eruama unuk mencapai laba sediki di aas nol. Dengan keiga cara di aas perusahaan-perusahaan yang diduga (suspec) melakukan manipulasi akivias riil akan mempunyai abnormal cash flow operaions (CFO) dan abnormal discreionary expenses yang lebih kecil sera abnormal producion cos yang lebih besar dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. Beberapa peneliian manajemen laba erkini elah mendokumenasikan indakan manajemen laba riil unuk mencapai arge laba. Roychowdhury (2006) memberikan buki empiris bahwa perusahaan melakukan manajemen laba riil unuk menghindari melaporkan kerugian. Zang (2006) menunjukkan buki empiris bahwa indakan manajemen laba riil dilakukan sebelum manajemen laba berbasis akrual. Selain iu, Zang (2006) menunjukkan bahwa manajer menggunakan kedua eknik manajemen laba ersebu sebagai sraegi subiusi. Gunny (2005) memberikan buki empiris bahwa manajemen laba riil yang dilakukan perusahaan pada periode ini mempunyai dampak negaif signifikan pada kinerja operasi periode berikunya. Sedangkan Cohen e al. (2008) menunjukkan bahwa manajemen laba berbasis akrual yang dilakukan perusahaan meningka sebelum periode SOX (2002) dan menurun seelahnya. Sebaliknya, manajemen laba riil menurun sebelum SOX dan meningka secara signifikan seelahnya. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang ingin mencapai arge laba elah beralih dari sraegi manajemen laba berbasis akrual ke manajemen laba riil 6

7 seelah periode SOX. Cohen dan Zarowin (2010) memberikan buki empiris bahwa perusahaan melakukan manajemen laba riil dan berbasis akrual di sekiar periode seasoned equiy offerings (SEO) dan penurunan kinerja seelah SEO karena manajemen laba riil lebih buruk daripada manajemen laba berbasis akrual. Prakek Manajemen Laba Riil Perusahaan-perusahaan Publik Indonesia Leuz e al. (2003) menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam kluser negara-negara dengan perlindungan invesor yang lemah sehingga mempunyai prakek manajemen laba yang lebih inensif. Dengan demikian, dapa diajukan argumenasi, karena lingkungan perlindungan invesor yang lemah ersebu maka perusahaan-perusahaan publik di Indonesia juga melakukan manajemen laba riil. Selain iu, hasil peneliian Graham e al. (2005) menunjukkan buki empiris bahwa manajer lebih memilih melakukan manajemen laba riil daripada manajemen laba berbasis akrual. Cohen dan Zarowin (2010) berargumen bahwa hal ersebu disebabkan karena: (i) manajemen laba berbasis akrual cenderung lebih menarik perhaian audior dan regulaor, dan (ii) menggunakan sraegi manajemen laba berbasis akrual saja mungkin idak cukup unuk mencapai arge laba sehingga harus dilengkapi dengan sraegi manajemen laba riil. Cohen e al. (2008) menunjukkan bahwa manajer elah beralih dari menggunakan manajemen laba berbasis akrual ke manajemen laba riil seelah periode SOX. Hal ini disebabkan manajer ingin menghindari erdeeksi melakukan manajemen laba berbasis akrual oleh regulaor seelah erjadinya berbagai skandal akunansi yang menarik perhaian publik. Berdasar argumenasi ersebu maka diajukan hipoesis beriku: 7

8 H 1 : Perusahaan-perusahaan publik di Indonesia dengan kinerja keuangan yang buruk melakukan manajemen laba riil Deeksi Audior erhadap Manajemen Laba berbasis Akrual Balsam e al. (2003) menunjukkan bahwa kualias audior merupakan salah sau fakor yang dapa membaasi ingka diskresi yang dilakukan klien. Reynold dan Francis (2001) berargumen bahwa audior yang berkualias inggi (diproksi dengan brand name yaiu audior Big 6 dalam peneliian mereka) mampu mendeeksi manajemen laba dan membaasi perilaku opporunis manajer karena audior ersebu mempunyai pengeahuan yang superior dibandingkan audior yang kurang berkualias. Francis dan Wang (2006) juga berargumen bahwa audior Big 4 akan menekankan ingka kualias laba klien yang inggi unuk menjaga repuasi nama mereka dari unuan liigasi. Hasil-hasil peneliian erdahulu elah menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang menjadi klien audior yang mempunyai brand name yang inggi (misal Big 4) mempunyai akrual diskresionari yang lebih rendah (Francis dan Wang, 2006). Hal ini konsisen dengan dugaan bahwa audior Big 4 membaasi prakek manajemen laba yang agresif sehingga menghasilkan laba yang berkualias. Selain dengan brand name audior, kualias audi juga dapa diukur dengan spesialiasi indusri audior (misal Balsam e al. 2003). Dengan menggunakan berbagai proksi unuk mengukur spesialisasi indusri audior, Balsam e al. (2003) menunjukkan bahwa perusahaan yang diaudi oleh audior spesialis indusri mempunyai akrual diskresionari yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang diaudi oleh audior yang bukan spesialis dalam indusri ersebu. Temuan-emuan di aas menunjukkan bahwa audior yang berkualias (baik diukur dengan brand name audior maupun spesialiasi indusri) yang inggi mampu 8

9 membaasi indakan opporunis manajemen laba berbasis akrual yang dilakukan klien perusahaan. Hipoesis kedua yang diajukan: H 2 : Audior yang berkualias mampu mendeeksi indakan manajemen laba berbasis akrual yang dilakukan klien. Semakin inggi kualias audior, semakin rendah akrual diskresionari klien. Deeksi Audior erhadap Manajemen Laba Riil Roychowdhury (2006) sera Cohen dan Zarowin (2010) berargumen bahwa manajemen laba riil kurang menarik perhaian audior dibandingkan manajemen laba berbasis akrual karena manipulasi akivias riil merupakan kepuusan operasional yang dilakukan perusahaan enang penenuan harga produk, pembaasan pengeluaran, dan jumlah produksi yang bukan menjadi anggung jawab audior. Namun, baik Roychowdhury (2006) maupun Cohen dan Zarowin (2010) belum menguji secara empiris dugaan ersebu. Hasil rise Dechow e al. (1996) menunjukkan bahwa dalam menginvesigasi perusahaan-perusahaan yang diduga melakukan manipulasi laba, oorias pasar modal-pun (dalam hal ini SEC) idak menyelidiki kepuusan-kepuusan yang erkai dengan penenuan harga dan produksi. Selain iu, indakan manipulasi akivias riil biasanya juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dengan kinerja keuangan yang kurang baik dengan ujuan semaa-maa mencapai arge laba sediki di aas nol. Audior karenanya idak akan erlalu memperhaikan indakan manipulasi akivias riil ersebu karena laba perusahaan idak akan erlalu mencolok besarannya. Oleh karena iu, dapa diajukan dugaan bahwa meskipun audior mempunyai kualias yang inggi, ia belum enu mampu mendeeksi manajemen laba riil yang dilakukan klien. Hasil peneliian Cohen 9

10 dan Zarowin (2010) menunjukkan bahwa audior yang mempunyai ingka kewaspadaan yang inggi-pun 3 idak mampu mendeeksi manajemen laba riil yang dilakukan klien. H 3 : Audior yang berkualias idak mampu mendeeksi manajemen laba riil yang dilakukan klien. Kualias audior idak berhubungan dengan besarnya manajemen laba riil yang dilakukan klien. 4 Meode Peneliian Sampel Targe populasi dalam peneliian ini adalah seluruh perusahaan publik yang erdafar di Bursa Efek Indonesia pada ahun Pemilihan sampel akhir perusahaan menggunakan krieria-krieria sebagai beriku: a. Perusahaan-perusahaan yang berada dalam indusri keuangan dan perbankan dikeluarkan dari sampel karena mempunyai karakerisik ase yang sanga berbeda dengan indusri lain. Ase yang sanga berbeda ersebu menyebabkan analisis akrual diskresionari menjadi suli dilakukan unuk indusri keuangan dan perbankan; b. Sampel perusahaan memenuhi krieria kecukupan daa unuk pengukuan masing-masing variabel; c. Seiap sampel perusahaan harus mempunyai daa arus kas operasi unuk perhiungan akrual secara langsung. Perhiungan akrual secara langsung dengan mengurangkan laba dari arus kas operasi seperi saran Hribar dan Collins (2002) unuk mengurangi kesalahan pengukuran (measuremen error) dalam perhiungan akrual; dan 3 Audior yang mempunyai ingka kewaspadaan yang inggi diproksi oleh Cohen dan Zarowin (2010) dengan: (i) audior Big 8 dan (ii) lamanya audior elah mengaudi klien (audi enure). 4 Perusahaan yang melakukan manajemen laba riil mempunyai paling idak salah sau dari 3 indikaor beriku: (i) unusually low Cash Flow from Operaion (CFO), (ii) unusually low discreionary expenses, dan (iii) unusually high producion cos. Keiga proksi ersebu digunakan unuk mengukur ingka manajemen laba riil yang dilakukan perusahaan. 10

11 d. Minimal harus ersedia 15 amaan (observasi) per indusri per ahun unuk menjamin pooling daa yang memadai dalam esimasi proksi-proksi manajemen laba. Peneliian ini akan menggunakan sample es yang berbeda unuk masing-masing eknik manajemen laba, yaiu: a. Unuk manajemen laba berbasis akrual (H 2 ), es sample yang akan digunakan adalah seluruh perusahaan yang memenuhi krieria-krieria sampel di aas. b. Unuk manajemen laba riil (H 1 dan H 3 ), es sample yang akan digunakan adalah seluruh perusahaan yang memenuhi krieria-krieria di aas dan mempunyai kinerja keuangan idak erlalu baik (diukur dengan nilai laba bersih/oal ase 0-0,005) 5, sedangkan yang menjadi conrol sample adalah seluruh perusahaan yang menjadi sisa sampel (res of he sample). Pemilihan suspec firms ini mengikui prosedur yang dilakukan Roychowdhury (2006). Sumber Daa Daa yang digunakan diperoleh dari laporan ahunan seiap perusahaan, Indonesian Capial Marke Direcory (ICMD), dan IDX Fac Book ahun Pengukuran Variabel-variabel Peneliian Proksi Manajemen Laba Berbasis Akrual Seperi peneliian erdahulu yang menginvesigasi manajemen laba berbasis akrual dengan mendasarkan pada proksi akrual diskresionari (discreionary accruals), peneliian ini juga akan menggunakan model Jones (1991) dalam mengesimasi akrual diskresionari, yaiu: ( TA )/( A 1 ) 0(1/ A 1( REV )/( A 2( PPE )/( A (1) dengan: 5 Tes sample ini merupakan sampel perusahaan-perusahaan yang diduga (suspec firms) melakukan manajemen laba riil. 11

12 REV = pendapaan ahun dikurangi -1 unuk perusahaan i PPE = nilai bersih ase eap perusahaan i pada ahun A 1 = ase oal perusahaan i pada ahun -1 TA = akrual oal perusahaan i pada ahun yang dihiung dengan mengurangkan laba bersih dengan arus kas operasi Model (1) akan diesimasi dengan pooling seluruh perusahaan pada seiap indusri pada seiap ahun. Residual dari hasil esimasi ersebu merupakan akrual diskresionari unuk seiap amaan. Proksi-Proksi Manajemen Laba Riil Proksi-proksi manajemen laba riil adalah abnormal CFO, abnormal discreionary expenses, dan abnormal producion coss yang masing-masing dihiung dengan pendekaan yang digunakan Roychowdhury (2006) sebagai beriku: a. Abnormal CFO CFO / A 1 0 1(1/ A 2( S / A 3( S / A (2) CFO = arus kas operasi perusahaan i pada ahun A 1 = ase oal perusahaan i pada ahun -1 S = penjualan oal perusahaan i pada ahun -1 Model (2) akan akan diesimasi seiap indusri seiap ahun. Residual dari hasil esimasi (2) merupakan abnormal CFO perusahaan i pada ahun. b. Abnormal Discreionary Expenses DISEXP / A 1 0 1(1/ A 2( S 1 / A (3) DISEXP = discreionary expenses yaiu beban peneliian dan pengembangan+beban iklan+beban penjualan, adminisrasi, dan umum. Model (3) akan akan diesimasi seiap indusri seiap ahun. Residual dari hasil esimasi (3) merupakan abnormal discreionary expenses perusahaan i pada ahun. 12

13 c. Abnormal Producion Coss PROD / A 1 0 1(1/ A 2( S / A 3( S / A 3( S 1 / A (4) PROD = producion coss yaiu harga pokok penjualan + perubahan persediaan Model (4) akan akan diesimasi seiap indusri seiap ahun. Residual dari hasil esimasi (4) merupakan abnormal producion coss perusahaan i pada ahun. Proksi Kualias Audior Kualias audior diukur dengan proksi spesialiasi keahlian indusri audior. Ukuran indusry experise menggunakan proksi marke shares yang digunakan oleh Khrisnan (2003a) yaiu: IMS ik Jik ik j Ik Jk ik SALESijk 1 (5) I 1 j 1 SALES ijk IMS ik = Pangsa Pasar Indusri (Indusry Marke Share) KAP i pada indusri k Jik ik j 1 Ik I 1 j 1 SALES ijk Jk ik SALES indusri k. = jumlah penjualan perusahaan klien J ik dari KAP i dalam indusri k ijk = penjualan J ik perusahaan klien dalam indusri k unuk seluruh I k KAP dalam Pengujian Hipoesis Pengujian H 1 Pengujian H 1 dilakukan mengikui Roychowdhury (2006) yaiu dengan menggunakan analisis regresi unuk membandingkan abnormal CFO, abnormal discreionary expenses, dan 13

14 abnormal producion cos (sebagai proksi-proksi manajemen laba riil) anara perusahaan suspec dengan non suspec dengan persamaan: Y 0 1Suspec _ NI 2NI 3CL (6) Y = proksi-proksi manajemen laba riil (yaiu masing-masing abnormal CFO, abnormal discreionary expenses, dan abnormal producion cos) Suspec _ NI = variabel indikaor yaiu dengan nilai 1 unuk perusahaan suspec (perusahaan dengan laba/ase oal bernilai 0-0,005, diasumsikan mempunyai moivasi melakukan manajemen laba riil karena kinerjanya yang buruk) dan diberi nilai 0 unuk yang lain (non suspec firms/ res of he sample) NI (Ne Income) = laba sebelum exraordinary iems dibagi dengan ase oal CL (Curren Liabiliies) = kewajiban lancar dibagi dengan ase oal NI dan CL merupakan variabel-variabel konrol. Pengambilan kesimpulan pengujian H 1 : - Unuk Y = abnormal CFO, jika 1 bernilai negaif dan signifikan maka H 1 didukung aau dengan kaa lain perusahaan-perusahaan suspec melakukan manipulasi penjualan sehingga mempunyai abnormal CFO yang lebih rendah dibandingkan perusahaanperusahaan lain. - Unuk Y = abnormal discreionary expenses, jika 1 bernilai negaif dan signifikan maka H 1 didukung aau dengan kaa lain perusahaan-perusahaan suspec melakukan manipulasi discreionary expenses sehingga mempunyai abnormal discreionary expenses yang lebih rendah dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. - Unuk Y = abnormal producion cos, jika 1 bernilai posiif dan signifikan maka H 1 didukung aau dengan kaa lain perusahaan-perusahaan suspec melakukan manipulasi dengan memproduksi secara berlebihan sehingga mempunyai abnormal producion cos yang lebih inggi dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. Pengujian H 2 Pengujian H 2 mengikui prosedur yang dilakukan Balsam e al. (2003) yaiu dengan persamaan: 14

15 Abs( DAC) 0 1dum _ man 2 A 3CFO 4Lev 5 dum_ rugi 6 Abs( TA) (7) Abs( TA) KA 6 7 Abs ( DAC ) =nilai absolu discreionary accruals yang diperoleh dari hasil esimasi (1) Dum_man = variabel dummy, diberi nilai 1 jika ermasuk dalam indusri manufakur, 0 jika lainnya A = ase oal CFO = arus kas operasi Lev = rasio uang jangka panjang erhadap ase oal Abs(TA)=nilai absolu dari akrual oal Dum_rugi = diberi nilai 1 jika melaporkan kerugian, 0 jika lainnya KA = kualias audior yang diproksi dengan spesialiasi indusri audior (marke share) Dummy manufakur, ase oal, arus kas operasi, rasio uang jangka panjang erhadap ase oal, dummy rugi, dan nilai absolu dari akrual oal merupakan variabel konrol yang dipilih unuk meningkakan validias inernal. Jika 7 bernilai negaif dan signifikan maka H 2 didukung aau dengan kaa lain perusahaan-perusahaan yang diaudi oleh audior yang berkualias mempunyai akrual diskresionari yang lebih rendah. Dengan kaa lain, audior yang berkualias mampu mendeeksi manajemen laba dengan pengauran akrual yang dilakukan kliennya. Pengujian H 3 Mengikui Roychowdhury (2006), pengujian H 3 menggunakan persamaan beriku: Y 0 1Laba Bersih 2Suspec _ NI 3 Kualias Audi 4 Suspec _ NI * Kualias Audi (8) - Unuk Y = abnormal CFO, jika 4 idak bernilai posiif dan signifikan maka H 3 didukung aau dengan kaa lain audior yang berkualias idak dapa mendeeksi indakan manipulasi penjualan yang dilakukan perusahaan-perusahaan suspec sehingga perusahaan-perusahaan ersebu mempunyai abnormal CFO yang lebih rendah dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. 15

16 - Unuk Y = abnormal discreionary expenses, jika 4 idak bernilai posiif dan signifikan maka H 3 didukung aau dengan kaa lain audior yang berkualias idak dapa mendeeksi indakan manipulasi pengurangan pengeluaran yang dilakukan perusahaan-perusahaan suspec sehingga perusahaan-perusahaan ersebu mempunyai abnormal discreionary expenses yang lebih rendah dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. - Unuk Y = abnormal producion cos, jika 4 idak bernilai negaif dan signifikan maka H 3 didukung aau dengan kaa lain audior yang berkualias idak dapa mendeeksi indakan manipulasi produksi yang berlebihan yang dilakukan perusahaan-perusahaan suspec sehingga perusahaan-perusahaan ersebu mempunyai abnormal producion cos yang lebih inggi dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. Hasil dan Pembahasan Prakek Manajemen Laba Riil Perusahaan-perusahaan Publik di Indonesia Dengan mendasarkan pada krieria-krieria penyampelan seperi disebukan pada bagian sebelumnya, sampel akhir unuk pengujian ada idaknya prakek laba manajemen riil yang dilakukan perusahaan-perusahan publik di Indonesia, erdiri dari amaan (observasi) perusahaan-ahun (Tabel 1 pada Lampiran). Dari sampel akhir ersebu, erdapa 420 perusahaan yang diduga (suspec) melakukan manipulasi riil dan 594 sisanya (res of he sample) bukan ergolong perusahaan suspec. Perusahaan suspec adalah perusahaaan yang mempunyai kinerja keuangan idak erlalu baik (diukur dengan nilai laba bersih/oal ase 0-0,005), sisa sampel adalah perusahaan-perusahan di luar krieria ersebu. Pemilihan suspec firms ini mengikui krieria Roychowdhury (2006). Tabel 2 membandingkan karakerisik perusahaan-perusahaan suspec dan perusahaan-perusahaan non suspec Tabel

17 Dari Tabel 2 nampak bahwa raa-raa kinerja perusahaan suspec idak berbeda jauh dengan perusahaan non suspec. Konsisen dengan hipoesis Roychowdhury (2006), perusahaan-perusahaan yang diduga melakukan manajemen laba riil mempunyai raa-raa arus kas operasi yang diskala dengan ase oal dan raa-raa beban diskresionari (discreionary expenses) yang diskala dengan ase oal yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan sampel keseluruhan. Perusahaan-perusahaan suspec juga mempunyai raa-raa producion cos yang diskala dengan ase oal yang lebih inggi dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan non suspec (meskipun perbedaan ersebu idak signifikan secara saisis). Sama seperi halnya peneliian manajemen laba berbasis akrual yang mendasarkan pada keepaan spesifikasi model Jones (1991), peneliian manajemen laba riil juga mendasarkan pada keepaan spesifikasi model yang digunakan unuk mengukur proksiproksi manipulasi riil. Tabel 3 melaporkan hasil esimasi koefisien regresi yang digunakan unuk mengesimasi normal levels (persamaan 2, 3, dan 4) dan membandingkannya dengan hasil esimasi Roychowdhury (2006) Tabel Dari Tabel 3 nampak bahwa hasil esimasi parameer model peneliian ini cukup baik. Arah dan ingka signifikansi parameer-parameer model normal discreionary expenses dan normal producion cos hampir seara dengan hasil esimasi Roychowdhury (2006). Tabel 3 menunjukkan bahwa hasil esimasi parameer-parameer model cukup baik sehingga proksi-proksi manajemen laba riil yang dihasilkan dapa diyakini validias konsruknya. Tabel 4 melaporkan korelasi anar variabel. Konsisen dengan prediksi, perusahaanperusahaan suspec (diproksi dengan variabel dummy Suspec_NI) berkorelasi negaif dengan 17

18 abnormal arus kas operasi (abnormal CFO) dan abnormal discreionary expenses (abnormal DISEXP) dan berkorelasi posiif dengan abnormal producion cos (abnormal PROD). Konsisen dengan argumenasi Roychowdhury (2006), produksi yang berlebihan akan berhubungan negaif dengan arus kas operasi dan pemoongan beban-beban diskresionari akan berhubungan posiif dengan arus kas operasi. Koefisien korelasi anara abnormal producion cos dan abnormal discreionary expenses menunjukkan hubungan negaif yang cukup kua (-0,718). Hal ini erjadi karena mungkin manajer, secara bersamaan, melakukan akivias-akivias yang menyebabkan kos produksi menjadi lebih inggi secara idak normal dan melakukan akivias-akivias yang menyebabkan beban-beban diskresionari menjadi lebih rendah secara idak normal. Keduanya dilakukan secara bersama-sama unuk ujuan akhir mencapai laba yang lebih inggi Tabel Tabel 5 melaporkan hasil pengujian H 1. Konsisen dengan hipoesis, perusahaanperusaahan suspec melakukan manajemen laba riil diunjukkan dengan abnormal CFO dan abnormal discreionary expenses yang lebih rendah secara signifikan dan abnormal producion cos yang lebih inggi secara signifikan dibandingkan perusahaan-perusahaan non suspec. Unuk Y berupa abnormal CFO, koefisien Suspec_NI adalah negaif (-0,027) dan signifikan pada ingka 1%. Unuk Y berupa abnormal discreionary expenses, koefisien Suspec_NI adalah negaif (-0,036) dan signifikan pada ingka 1%. Unuk Y berupa abnormal producion cos, koefisien Suspec_NI adalah posiif (0,049) dan signifikan pada ingka 10%. Hasil ini mendukung hipoesis perama yaiu bahwa perusahaan-perusahaan publik di Indonesia dengan kinerja keuangan yang buruk melakukan manajemen laba riil. 18

19 Tabel Deeksi Audior erhadap Manajemen Laba Berbasis Akrual Saisik deskripif variabel-variabel unuk pengujian H 2 disajikan pada Tabel 6. Dari Tabel 6 nampak bahwa nilai raa-raa akrual diskresionari adalah posiif sebesar 0, Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan adanya pengauran akrual dengan pola income maximizaion Tabel Tabel 7 melaporkan hasil pengujian H 2. Pengujian mendasarkan pada prosedur Balsam e al. (2003) dengan variabel independen kualias audior dan variabel konrol berupa dummy indusri manufakur, ase oal, arus kas operasi, leverage, dummy rugi, dan absolu oal akrual. Syara agar H 2 didukung adalah koefisien kualias audior harus bernilai negaif signifikan dalam mempengaruhi akrual diskresionari Tabel Hasil esimasi menunjukkan bahwa spesifikasi model cukup baik diunjukkan nilai F yang signifikan dan kekuaan penjelas (Adjused R 2 ) yang cukup inggi. Koefisien regresi variabel kualias audior berpengaruh negaif (-0,048) dan signifikan pada ingka 5%. Buki empiris pada Tabel 7 mendukung Hipoesis 2. Hal ini menunjukkan bahwa audior yang berkualias mampu mendeeksi indakan manajemen laba berbasis akrual yang dilakukan klien sehingga melakukan pembaasan erhadap besarnya akrual diskresionari. 19

20 Deeksi Audior erhadap Manajemen Laba Riil Tabel 8 melaporkan hasil pengujian H 3. Pengujian mendasarkan pada prosedur yang digunakan Roychowdhury (2006) dengan memfokuskan pada koefisien ineraksi anara variabel Suspec_NI dan kualias audior. Hasil pengujian Hipoesis 3 disajikan pada Tabel Tabel Tabel 8 menunjukkan bahwa koefisien ineraksi anara variabel Suspec_NI dan variabel kualias audior idak signifikan mempengaruhi proksi-proksi manajemen laba riil. Buki empiris pada Tabel 8 ersebu menunjukkan adanya dukungan erhadap Hipoesis 3 aau dengan kaa lain mendukung dugaan Roychowdhury (2006) sera Cohen dan Zarowin (2010) bahwa audior yang berkualias-pun (spesialis indusri) idak mampu mendeeksi manajemen laba riil yang dilakukan klien. Analisis Sensiivias Unuk memperoleh hasil peneliian yang kokoh (robus), peneliian ini melakukan analisis sensiivias dengan menggunakan ukuran kualias audior berupa brand name audior. Balsam e al. (2003) berargumen bahwa brand name, sama seperi halnya spesialisasi indusri, merupakan proksi kualias audior. Peneliian ini menggunakan variabel indikaor yang diberi nilai 1 unuk audior-audior yang ermasuk dalam KAP Big 4 dan 0 unuk audior-audior yang ermasuk dalam Big 4 6. Hasil analisis sensiivias (idak diampilkan) menunjukkan hasil yang konsisen dengan emuan pada Tabel 7 dan Tabel 8. 6 KAP yang dikaegorikan sebagai Big 4 dalam peneliian ini adalah KAP yang berafiliasi dengan PriceWaerhouseCoopers, Erns & Young, KPMG, aau Deloie & Touche. 20

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Kerangka Pemikiran Salah sau ujuan didirikannya perusahaan adalah dalam rangka memaksimalkan firm of value. Salah sau cara unuk mengukur seberapa besar perusahaan mencipakan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan di PT Panafil Essenial Oil. Lokasi dipilih dengan perimbangan bahwa perusahaan ini berencana unuk melakukan usaha dibidang

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian dan Manfaa Peramalan Kegiaan unuk mempeirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang disebu peramalan (forecasing). Sedangkan ramalan adalah suau kondisi yang

Lebih terperinci

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan BAB 2 URAIAN EORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan aau memprediksi apa yang erjadi pada waku yang akan daang, sedangkan rencana merupakan penenuan apa yang akan dilakukan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode 20 BAB 2 LADASA TEORI 2.1. Pengerian Peramalan Meode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Saisika. Salah sau meode peramalan adalah dere waku. Meode ini disebu sebagai meode peramalan dere waku karena

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoriis 3.1.1 Daya Dukung Lingkungan Carrying capaciy aau daya dukung lingkungan mengandung pengerian kemampuan suau empa dalam menunjang kehidupan mahluk hidup secara

Lebih terperinci

PENGARUH GAJI, UPAH, DAN TUNJANGAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. XYZ

PENGARUH GAJI, UPAH, DAN TUNJANGAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. XYZ PENGARUH GAJI, UPAH, DAN TUNJANGAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. XYZ Khairunnisa aubara 1, Ir. Sugiharo Pujangkoro, MM 2, uchari, ST, M.Kes 2 Deparemen Teknik Indusri, Fakulas Teknik, Universias

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Jurnal Lensa Kependidikan Fisika Vol. 1 Nomor 1, Juni 13 ISSN: 338-4417 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 1/13

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan pada kasus pengolahan ikan asap IACHI Peikan Cia Halus (PCH) yang erleak di Desa Raga Jaya Kecamaan Ciayam, Kabupaen Bogor,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perekonomian dunia telah menjadi semakin saling tergantung pada

BAB I PENDAHULUAN. Perekonomian dunia telah menjadi semakin saling tergantung pada BAB I PENDAHULUAN A. Laar Belakang Masalah Perekonomian dunia elah menjadi semakin saling erganung pada dua dasawarsa erakhir. Perdagangan inernasional merupakan bagian uama dari perekonomian dunia dewasa

Lebih terperinci

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun 43 BAB METODE PEMUUAN EKPONENA TRPE DAR WNTER Meode pemulusan eksponensial elah digunakan selama beberapa ahun sebagai suau meode yang sanga berguna pada begiu banyak siuasi peramalan Pada ahun 957 C C

Lebih terperinci

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II 3.1 Pendahuluan Daa dere waku adalah daa yang dikumpulkan dari waku ke waku unuk menggambarkan perkembangan suau kegiaan (perkembangan produksi, harga, hasil penjualan,

Lebih terperinci

Analisis Model dan Contoh Numerik

Analisis Model dan Contoh Numerik Bab V Analisis Model dan Conoh Numerik Bab V ini membahas analisis model dan conoh numerik. Sub bab V.1 menyajikan analisis model yang erdiri dari analisis model kerusakan produk dan model ongkos garansi.

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan BAB II LADASA TEORI 2.1 Pengerian peramalan (Forecasing) Peramalan (Forecasing) adalah suau kegiaan yang mengesimasi apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang dengan waku yang relaif lama (Assauri,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Desain Peneliian Peneliian ini adalah peneliian Quasi Eksperimenal Design dengan kelas eksperimen dan kelas conrol dengan desain Prees -Poses Conrol Group Design

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 35 BAB LANDASAN TEORI Meode Dekomposisi biasanya mencoba memisahkan iga komponen erpisah dari pola dasar yang cenderung mencirikan dere daa ekonomi dan bisnis. Komponen ersebu adalah fakor rend (kecendrungan),

Lebih terperinci

SUPLEMEN 3 Resume Hasil Penelitian: Analisis Respon Suku Bunga dan Kredit Bank di Sumatera Selatan terhadap Kebijakan Moneter Bank Indonesia

SUPLEMEN 3 Resume Hasil Penelitian: Analisis Respon Suku Bunga dan Kredit Bank di Sumatera Selatan terhadap Kebijakan Moneter Bank Indonesia SUPLEMEN 3 Resume Hasil Peneliian: Analisis Respon Suku Bunga dan Kredi Bank di Sumaera Selaan erhadap Kebijakan Moneer Bank Indonesia Salah sau program kerja Bank Indonesia Palembang dalam ahun 2007 adalah

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Industri pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan

III. METODE PENELITIAN. Industri pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan 40 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Baasan Operasional Konsep dasar dan baasan operasional pada peneliian ini adalah sebagai beriku: Indusri pengolahan adalah suau kegiaan ekonomi yang melakukan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk yang

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk yang III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengerian dan peunjuk yang digunakan unuk menggambarkan kejadian, keadaan, kelompok, aau

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. Sedangkan ramalan adalah suau aau kondisi yang diperkirakan akan erjadi

Lebih terperinci

ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI

ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI Yusep Suparman Universias Padjadjaran yusep.suparman@unpad.ac.id ABSTRAK.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Dalam perencanaan pembangunan, daa kependudukan memegang peran yang pening. Makin lengkap dan akura daa kependudukan yang esedia makin mudah dan epa rencana pembangunan

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan di Tempa Pelayanan Koperasi (TPK) Cibedug, Kecamaan Lembang, Kabupaen Bandung, Jawa Bara. Pemilihan lokasi dilakukan secara

Lebih terperinci

BAB III. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tahapan perhitungan untuk menilai

BAB III. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tahapan perhitungan untuk menilai BAB III PENILAIAN HARGA WAJAR SAHAM PAA SEKTOR INUSTRI BATUBARA ENGAN MENGGUNAKAN TRINOMIAL IVIEN ISCOUNT MOEL 3.. Pendahuluan Pada bab ini akan dijelaskan mengenai ahapan perhiungan unuk menilai harga

Lebih terperinci

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun Pemodelan Daa Runun Waku : Kasus Daa Tingka Pengangguran di Amerika Serika pada Tahun 948 978. Adi Seiawan Program Sudi Maemaika, Fakulas Sains dan Maemaika Universias Krisen Saya Wacana, Jl. Diponegoro

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada BAB I PENDAHULUAN A. Laar Belakang Disparias pembangunan ekonomi anar daerah merupakan fenomena universal, disemua negara anpa memandang ukuran dan ingka pembangunannya. Disparias pembangunan merupakan

Lebih terperinci

MODUL III ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI

MODUL III ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 3.. Tujuan Ö Prakikan dapa memahami perhiungan alokasi biaya. Ö Prakikan dapa memahami analisis kelayakan invesasi dalam pendirian usaha. Ö Prakikan dapa menyusun proyeksi/proforma

Lebih terperinci

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA ISSN 5-73X PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ISIKA SISWA Henok Siagian dan Iran Susano Jurusan isika, MIPA Universias Negeri Medan Jl. Willem Iskandar, Psr V -Medan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 14 BAB III METODOLOGI PENELITIAN Peneliian ini ialah berujuan (1) unuk menerapkan model Arbirage Pricing Theory (APT) guna memprediksi bea (sensiivias reurn saham) dan risk premium fakor kurs, harga minyak,

Lebih terperinci

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi Bab II Dasar Teori Kelayakan Invesasi 2.1 Prinsip Analisis Biaya dan Manfaa (os and Benefi Analysis) Invesasi adalah penanaman modal yang digunakan dalam proses produksi unuk keunungan suau perusahaan.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi Persediaan Persediaan adalah barang yang disimpan unuk pemakaian lebih lanju aau dijual. Persediaan dapa berupa bahan baku, barang seengah jadi aau barang jadi maupun

Lebih terperinci

PENERAPAN PROGRAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DISKRIT BERBASIS AKTIVITAS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS MAHASISWA

PENERAPAN PROGRAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DISKRIT BERBASIS AKTIVITAS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS MAHASISWA JPPM Vol. 9 No. 2 (2016) PENERAPAN PROGRAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DISKRIT BERBASIS AKTIVITAS UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PENALARAN MATEMATIS MAHASISWA Rika Mulyai Musika Sari Program Sudi Pendidikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Perumbuhan ekonomi merupakan salah sau ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Perumbuhan ersebu merupakan rangkuman laju perumbuhan

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH RESHUFFLE KABINET INDONESIA BERSATU II TERHADAP HARGA SAHAM LQ45 DI BURSA EFEK INDONESIA

ANALISIS PENGARUH RESHUFFLE KABINET INDONESIA BERSATU II TERHADAP HARGA SAHAM LQ45 DI BURSA EFEK INDONESIA 1279 ANALISIS PENGARUH RESHUFFLE KABINET INDONESIA BERSATU II TERHADAP HARGA SAHAM LQ45 DI BURSA EFEK INDONESIA Ni Komang Dian Trisnawai ¹ Ni Nyoman Ayu Dianini ² ¹ Fakulas Ekonomi Universias Dhyana Pura

Lebih terperinci

BAB II MATERI PENUNJANG. 2.1 Keuangan Opsi

BAB II MATERI PENUNJANG. 2.1 Keuangan Opsi Bab II Maeri Penunjang BAB II MATERI PENUNJANG.1 Keuangan.1.1 Opsi Sebuah opsi keuangan memberikan hak (bukan kewajiban) unuk membeli aau menjual sebuah asse di waku yang akan daang dengan harga yang disepakai.

Lebih terperinci

Pengaruh variabel makroekonomi..., 24 Serbio Harerio, Universitas FE UI, 2009Indonesia

Pengaruh variabel makroekonomi..., 24 Serbio Harerio, Universitas FE UI, 2009Indonesia BAB 3 DATA DAN METODOLOGI 3.1 Variabel-Variabel Peneliian 3.1.1 Variabel dependen Variabel dependen yang digunakan adalah reurn Indeks Harga Saham Gabungan yang dihiung dari perubahan logarima naural IHSG

Lebih terperinci

*Corresponding Author:

*Corresponding Author: Prosiding Seminar Tugas Akhir FMIPA UNMUL 5 Periode Mare 6, Samarinda, Indonesia ISBN: 978-6-7658--3 Penerapan Model Neuro-Garch Pada Peramalan (Sudi Kasus: Reurn Indeks Harga Saham Gabungan) Applicaion

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR LOKASI DAN PROMOSI TERHADAP PENJUALAN PRODUK

ANALISIS FAKTOR LOKASI DAN PROMOSI TERHADAP PENJUALAN PRODUK ANALISIS FAKTOR LOKASI DAN PROMOSI TERHADAP PENJUALAN PRODUK Oleh : Bambang Sarjono Saf Pengajar Jurusan Teknik Elekro Polieknik Negeri Semarang Jl. Prof. Sudaro SH. Tembalang. Semarang 50275 Absrak Analisis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembicaraan sehari-hari, bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam pembicaraan sehari-hari, bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Dalam pembicaraan sehari-hari, bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang kegiaan uamanya menerima simpanan giro, abungan dan deposio. Kemudian bank juga dikenal sebagai

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 23 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waku dan Lokasi Peneliian dilaksanakan di iga empa berbeda. Unuk mengeahui ingka parisipasi masyaraka penelii mengambil sampel di RT 03/RW 04 Kelurahan Susukan dan RT 05/RW

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN III METODOLOGI PENELITIN Meode adalah suau prosedur aau cara unuk mengeahui sesuau yang mempunyai langkah-langkah sisemais. 1 Meode peneliian adalah semua asas, perauran, dan eknik-eknik yang perlu diperhaikan

Lebih terperinci

KOINTEGRASI DAN ESTIMASI ECM PADA DATA TIME SERIES. Abstrak

KOINTEGRASI DAN ESTIMASI ECM PADA DATA TIME SERIES. Abstrak KOINTEGRASI DAN ESTIMASI ECM PADA DATA TIME SERIES Universias Muhammadiyah Purwokero malim.muhammad@gmail.com Absrak Pada persamaan regresi linier sederhana dimana variabel dependen dan variabel independen

Lebih terperinci

KENDALI OPTIMAL PADA PENGADAAN BAHAN MENTAH DENGAN KEBIJAKAN PENGADAAN TEPAT WAKTU, PERGUDANGAN, DAN PENUNDAAN. Oleh: Darsih Idayani

KENDALI OPTIMAL PADA PENGADAAN BAHAN MENTAH DENGAN KEBIJAKAN PENGADAAN TEPAT WAKTU, PERGUDANGAN, DAN PENUNDAAN. Oleh: Darsih Idayani KENDALI OPTIMAL PADA PENGADAAN BAHAN MENTAH DENGAN KEBIJAKAN PENGADAAN TEPAT WAKTU, PERGUDANGAN, DAN PENUNDAAN Oleh: Darsih Idayani 126 1 4 Dosen Pembimbing: Subchan, Ph.D Jurusan Maemaika Fakulas Maemaika

Lebih terperinci

Pengaruh Kualitas Audit Terhadap Manajemen Laba

Pengaruh Kualitas Audit Terhadap Manajemen Laba Jurnal Akunansi dan Keuangan, Vol. 16, No. 1, Mei 2014, 52-62 ISSN 1411-0288 prin / ISSN 2338-8137 online DOI: 10.9744/jak.16.1.52-62 Pengaruh Kualias Audi Terhadap Manajemen Laba Ingrid Chrisiani 1 ;

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian yang dilakukan mengenai analisis perencanaan pengadaan una berdasarkan ramalan ime series volume ekspor una loin beku di PT Tridaya Eramina

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK UMUR PRODUK PADA MODEL WEIBULL. Sudarno Staf Pengajar Program Studi Statistika FMIPA UNDIP

KARAKTERISTIK UMUR PRODUK PADA MODEL WEIBULL. Sudarno Staf Pengajar Program Studi Statistika FMIPA UNDIP Karakerisik Umur Produk (Sudarno) KARAKTERISTIK UMUR PRODUK PADA MODEL WEIBULL Sudarno Saf Pengajar Program Sudi Saisika FMIPA UNDIP Absrac Long life of produc can reflec is qualiy. Generally, good producs

Lebih terperinci

post facto digunakan untuk melihat kondisi pengelolaan saat ini berdasarkan

post facto digunakan untuk melihat kondisi pengelolaan saat ini berdasarkan 3. METODE PENELITIAN 3.1. Pendekaan dan Meode Peneliian Jenis peneliian yang digunakan adalah jenis peneliian kualiaif dengan menggunakan daa kuaniaif. Daa kualiaif adalah mengeahui Gambaran pengelolaan

Lebih terperinci

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND Noeryani 1, Ely Okafiani 2, Fera Andriyani 3 1,2,3) Jurusan maemaika, Fakulas Sains Terapan, Insiu Sains & Teknologi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. A. Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan Pengembangan Usaha Agribisnis Perdesaan (PUAP) merupakan program sraegis Kemenerian Peranian dalam rangka mengurangi ingka kemiskinan,

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Teori Risiko Produksi Dalam eori risiko produksi erlebih dahulu dijelaskan mengenai dasar eori produksi. Menuru Lipsey e al. (1995) produksi adalah suau kegiaan yang mengubah

Lebih terperinci

1.4 Persamaan Schrodinger Bergantung Waktu

1.4 Persamaan Schrodinger Bergantung Waktu .4 Persamaan Schrodinger Berganung Waku Mekanika klasik aau mekanika Newon sanga sukses dalam mendeskripsi gerak makroskopis, eapi gagal dalam mendeskripsi gerak mikroskopis. Gerak mikroskopis membuuhkan

Lebih terperinci

PENGARUH ENVIRONMENT PERFORMANCE TERHADAP ECONOMIC PERFORMANCE. Kartika Hendra Titisari - Khara Alviana

PENGARUH ENVIRONMENT PERFORMANCE TERHADAP ECONOMIC PERFORMANCE. Kartika Hendra Titisari - Khara Alviana PENGARUH ENVIRONMENT PERFORMANCE TERHADAP ECONOMIC PERFORMANCE Karika Hendra Tiisari - Khara Alviana ABSTRACT This sudy examined he relaionship of environmenal performance agains he economic performance

Lebih terperinci

Tumpal Manik, SPd, MSi (Universitas Maritim Raja Ali Haji) ABSTRAKSI

Tumpal Manik, SPd, MSi (Universitas Maritim Raja Ali Haji) ABSTRAKSI JEMI, Vol., No., Desember 200 PENGARUH PRAKTEK EARNING MANAGEMENT MELALUI ACCRUAL DAN MANIPULASI OPERASIONAL TERHADAP KINERJA JANGKA PANJANG PERUSAHAAN SAAT PENAWARAN SAHAM TAMBAHAN (Sudi Empiris Periode

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang. Ramalan adalah sesuau kegiaan siuasi aau kondisi yang diperkirakan akan erjadi

Lebih terperinci

B a b 1 I s y a r a t

B a b 1 I s y a r a t TKE 305 ISYARAT DAN SISTEM B a b I s y a r a Indah Susilawai, S.T., M.Eng. Program Sudi Teknik Elekro Fakulas Teknik dan Ilmu Kompuer Universias Mercu Buana Yogyakara 009 BAB I I S Y A R A T Tujuan Insruksional.

Lebih terperinci

PENGGUNAAN KONSEP FUNGSI CONVEX UNTUK MENENTUKAN SENSITIVITAS HARGA OBLIGASI

PENGGUNAAN KONSEP FUNGSI CONVEX UNTUK MENENTUKAN SENSITIVITAS HARGA OBLIGASI PENGGUNAAN ONSEP FUNGSI CONVEX UNU MENENUAN SENSIIVIAS HARGA OBLIGASI 1 Zelmi Widyanuara, 2 Ei urniai, Dra., M.Si., 3 Icih Sukarsih, S.Si., M.Si. Maemaika, Universias Islam Bandung, Jl. amansari No.1 Bandung

Lebih terperinci

Volume 1, Nomor 1, Juni 2007 ISSN

Volume 1, Nomor 1, Juni 2007 ISSN Volume, Nomor, Juni 7 ISSN 978-77 Barekeng, Juni 7 hal6-5 Vol No ANALISIS VARIANS MULTIVARIAT PADA EKSPERIMEN DENGAN RANCANGAN ACAK LENGKAP (Variance Mulivaria Analysis for Experimen wih Complee Random

Lebih terperinci

PENELUSURAN EMPIRIS KETERKAITAN PASAR KEUANGAN DAN KOMPONEN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA,

PENELUSURAN EMPIRIS KETERKAITAN PASAR KEUANGAN DAN KOMPONEN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA, PENELUSURAN EMPIRIS KETERKAITAN PASAR KEUANGAN DAN KOMPONEN PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA, 2004-2008 Banoon Sasmiasiwi, Program MSi FEB UGM Malik Cahyadin, FE UNS Absraksi Perkembangan ekonomi akhir-akhir

Lebih terperinci

PERHITUNGAN PARAMETER DYNAMIC ABSORBER

PERHITUNGAN PARAMETER DYNAMIC ABSORBER PERHITUNGAN PARAMETER DYNAMIC ABSORBER BERBASIS RESPON AMPLITUDO SEBAGAI KONTROL VIBRASI ARAH HORIZONTAL PADA GEDUNG AKIBAT PENGARUH GERAKAN TANAH Oleh (Asrie Ivo, Ir. Yerri Susaio, M.T) Jurusan Teknik

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kerangka Pemikiran Teoriis Pengerian proyek menuru Arifin yang dikuip dari Mariyanne (2006) adalah suau akivias di mana dikeluarkannya uang dengan harapan unuk mendapakan hasil

Lebih terperinci

Jurnal Edik Informatika. Peramalan Kebutuhan Manajemen Logistik Pada Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Al-Fitrah

Jurnal Edik Informatika. Peramalan Kebutuhan Manajemen Logistik Pada Usaha Depot Air Minum Isi Ulang Al-Fitrah Jurnal Edik Informaika Peneliian Bidang Kompuer Sains dan Pendidikan Informaika V.i(5-4) Peramalan Kebuuhan Manajemen Logisik Pada Usaha Depo Air Minum Isi Ulang Al-Firah Henny Yulius, Islami Yei Universias

Lebih terperinci

BAB II PERTIDAKSAMAAN CHERNOFF

BAB II PERTIDAKSAMAAN CHERNOFF BAB II PERTIDAKSAMAAN CHERNOFF.1 Pendahuluan Di lapangan, yang menjadi perhaian umumnya adalah besar peluang dari peubah acak pada beberapa nilai aau suau selang, misalkan P(a

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN NUMERIK DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP

HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN NUMERIK DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP HUBUNGAN ANTARA KEMAMPUAN AWAL DAN KEMAMPUAN NUMERIK DENGAN HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMP Halima Rosida 1, Widha Sunarno 2, Supurwoko 3 Program Sudi Pendidikan Fisika PMIPA FKIP UNS Surakara, 57126, Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN II. LANDASAN TEORI

I. PENDAHULUAN II. LANDASAN TEORI I. PENDAHULUAN. Laar Belakang Menuru Sharpe e al (993), invesasi adalah mengorbankan ase yang dimiliki sekarang guna mendapakan ase pada masa mendaang yang enu saja dengan jumlah yang lebih besar. Invesasi

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PEMILIHAN TEMPAT KOST DENGAN METODE PEMBOBOTAN ( STUDI KASUS : SLEMAN YOGYAKARTA)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PEMILIHAN TEMPAT KOST DENGAN METODE PEMBOBOTAN ( STUDI KASUS : SLEMAN YOGYAKARTA) SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PEMILIHAN TEMPAT KOST DENGAN METODE PEMBOBOTAN ( STUDI KASUS : SLEMAN YOGYAKARTA) I Wayan Supriana Program Pascasarjana Ilmu Kompuer Fakulas MIPA Universias Gadjah Mada

Lebih terperinci

PENGUJIAN HIPOTESIS. pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi.

PENGUJIAN HIPOTESIS. pernyataan atau dugaan mengenai satu atau lebih populasi. PENGUJIAN HIPOTESIS 1. PENDAHULUAN Hipoesis Saisik : pernyaaan aau dugaan mengenai sau aau lebih populasi. Pengujian hipoesis berhubungan dengan penerimaan aau penolakan suau hipoesis. Kebenaran (benar

Lebih terperinci

Universitas Indonesia

Universitas Indonesia Universias Indonesia Analisis Pengaruh...Vanessa Juwia, FE-UI, 203 Analisis Pengaruh Paokan Laba erhadap Manajemen Laba melalui Diskresi Pengakuan Pendapaan (Sudi Empiris pada Perusahaan Nonfinansial yang

Lebih terperinci

2014 LABORATORIUM FISIKA MATERIAL IHFADNI NAZWA EFEK HALL. Ihfadni Nazwa, Darmawan, Diana, Hanu Lutvia, Imroatul Maghfiroh, Ratna Dewi Kumalasari

2014 LABORATORIUM FISIKA MATERIAL IHFADNI NAZWA EFEK HALL. Ihfadni Nazwa, Darmawan, Diana, Hanu Lutvia, Imroatul Maghfiroh, Ratna Dewi Kumalasari 2014 LAORATORIUM FISIKA MATERIAL IHFADNI NAZWA EFEK HALL Ihfadni Nazwa, Darmawan, Diana, Hanu Luvia, Imroaul Maghfiroh, Rana Dewi Kumalasari Laboraorium Fisika Maerial Jurusan Fisika, Deparemen Fisika

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengerian Persediaan (Invenory) Persediaan didefinisikan sebagai barang jadi yang disimpan aau digunakan unuk dijual pada periode mendaang, yang dapa berbenuk bahan baku yang

Lebih terperinci

Penduga Data Hilang Pada Rancangan Bujur Sangkar Latin Dasar

Penduga Data Hilang Pada Rancangan Bujur Sangkar Latin Dasar Kumpulan Makalah Seminar Semiraa 013 Fakulas MIPA Universias Lampung Penduga Daa Pada Rancangan Bujur Sangkar Lain Dasar Idhia Sriliana Jurusan Maemaika FMIPA UNIB E-mail: aha_muflih@yahoo.co.id Absrak.

Lebih terperinci

t I I I I I t I I t I I Benarkah Bantuan Luar Negeri Berdampak Negatif terhadap Pertumbuhan? Oleh : Bambang Prijambodo

t I I I I I t I I t I I Benarkah Bantuan Luar Negeri Berdampak Negatif terhadap Pertumbuhan? Oleh : Bambang Prijambodo l: l,' Benarkah Banuan Luar Negeri Berdampak Negaif erhadap Perumbuhan? Oleh : Bambang Prijambodo Hubungan anara huang luar negeri pemerinah dengan perumbuhan ekonomi dapa negaif aau posiif. Bagaimana

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Proses Die Casing Dasar dari die casing proses erdiri dari injeksi logam cair dalam ekanan yang inggi ke dalam ceakan yang disebu die dan dibiarkan membeku. Tipe Mesin die

Lebih terperinci

LIMIT FUNGSI. 0,9 2,9 0,95 2,95 0,99 2,99 1 Tidak terdefinisi 1,01 3,01 1,05 3,05 1,1 3,1 Gambar 1

LIMIT FUNGSI. 0,9 2,9 0,95 2,95 0,99 2,99 1 Tidak terdefinisi 1,01 3,01 1,05 3,05 1,1 3,1 Gambar 1 LIMIT FUNGSI. Limi f unuk c Tinjau sebuah fungsi f, apakah fungsi f ersebu sama dengan fungsi g -? Daerah asal dari fungsi g adalah semua bilangan real, sedangkan daerah asal fungsi f adalah bilangan real

Lebih terperinci

Pemodelan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menggunakan Data Panel Dinamis dengan Pendekatan Generalized Method of Moment Arellano-Bond

Pemodelan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Menggunakan Data Panel Dinamis dengan Pendekatan Generalized Method of Moment Arellano-Bond JURAL SAIS DA SEI ITS Vol. 5 o. 2 (2016) 2337-3520 (2301-928X Prin) D-205 Pemodelan Perumbuhan Ekonomi Indonesia Menggunakan Daa Panel Dinamis dengan Pendekaan Generalized Mehod of Momen Arellano-Bond

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 39 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waku dan Meode Peneliian Pada bab sebelumnya elah dibahas bahwa cadangan adalah sejumlah uang yang harus disediakan oleh pihak perusahaan asuransi dalam waku peranggungan

Lebih terperinci

Pemodelan Indeks Harga Konsumen Kelompok Bahan Makanan menggunakan Metode Intervensi dan Regresi Spline ABSTRAK

Pemodelan Indeks Harga Konsumen Kelompok Bahan Makanan menggunakan Metode Intervensi dan Regresi Spline ABSTRAK Pemodelan Indeks Harga Konsumen Kelompok Bahan Makanan menggunakan Meode Inervensi dan Regresi Spline Rina Andriani, Dr. Suharono, M.Sc 2 Mahasiswa Jurusan Saisika FMIPA-ITS, 2 Dosen Jurusan Saisika FMIPA-ITS

Lebih terperinci

(Indeks Rata-rata Harga Relatif, Variasi Indeks Harga, Angka Indeks Berantai, Pergeseran waktu dan Pendeflasian) Rabu, 31 Desember 2014

(Indeks Rata-rata Harga Relatif, Variasi Indeks Harga, Angka Indeks Berantai, Pergeseran waktu dan Pendeflasian) Rabu, 31 Desember 2014 ANGKA NDEKS (ndeks Raa-raa Harga Relaif, Variasi ndeks Harga, Angka ndeks Beranai, Pergeseran waku dan Pendeflasian) Rabu, 31 Desember 2014 NDEKS RATA-RATA HARGA RELATF Rumus, 1 P 100% n P,0 = indeks raa-raa

Lebih terperinci

Proyeksi Penduduk Provinsi Riau Menggunakan Metode Campuran

Proyeksi Penduduk Provinsi Riau Menggunakan Metode Campuran Saisika, Vol. 10 No. 2, 129 138 Nopember 2010 Proyeksi Penduduk Provinsi Riau 2010-2015 Menggunakan Meode Campuran Ari Budi Uomo, Yaya Karyana, Tei Sofia Yani Program Sudi Saisika, Universias Islam Bandung

Lebih terperinci

Integral dan Persamaan Diferensial

Integral dan Persamaan Diferensial Sudaryano Sudirham Sudi Mandiri Inegral dan Persamaan Diferensial ii Darpublic 4.1. Pengerian BAB 4 Persamaan Diferensial (Orde Sau) Persamaan diferensial adalah suau persamaan di mana erdapa sau aau lebih

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengangguran atau tuna karya merupakan istilah untuk orang yang tidak mau bekerja

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengangguran atau tuna karya merupakan istilah untuk orang yang tidak mau bekerja BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Pengangguran Pengangguran aau una karya merupakan isilah unuk orang yang idak mau bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu,

Lebih terperinci

Bab 2 Landasan Teori

Bab 2 Landasan Teori Bab 2 Landasan Teori 2.1 Keseimbangan Lini 2.1.1 Definisi Keseimbangan Lini Penjadwalan dari pekerjaan lini produksi yang menyeimbangkan kerja yang dilakukan pada seiap sasiun kerja. Keseimbangan lini

Lebih terperinci

SEBARAN STASIONER PADA SISTEM BONUS-MALUS SWISS SERTA MODIFIKASINYA (Cherry Galatia Ballangan)

SEBARAN STASIONER PADA SISTEM BONUS-MALUS SWISS SERTA MODIFIKASINYA (Cherry Galatia Ballangan) SEBARAN STASIONER PADA SISTEM BONUS-MALUS SWISS SERTA MODIFIKASINYA (Cherry Galaia Ballangan) SEBARAN STASIONER PADA SISTEM BONUS-MALUS SWISS SERTA MODIFIKASINYA (Saionary Disribuion of Swiss Bonus-Malus

Lebih terperinci

PERAMALAN FUNGSI TRANSFER SINGLE INPUT INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN TERHADAP SAHAM NEGARA TERDEKAT

PERAMALAN FUNGSI TRANSFER SINGLE INPUT INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN TERHADAP SAHAM NEGARA TERDEKAT Saisika, Vol. 2, No. 2, November 24 PERAMALAN FUNGSI TRANSFER SINGLE INPUT INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN TERHADAP SAHAM NEGARA TERDEKAT Sri Wahyuni, 2 Farikhin, Iswahyudi Joko Suprayino Program Sudi Saisika

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN Dalam peneliian ini, penulis akan menggunakan life cycle model (LCM) yang dikembangkan oleh Modigliani (1986). Model ini merupakan eori sandar unuk menjelaskan perubahan dari

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau

BAB II LANDASAN TEORI. Persediaan dapat diartikan sebagai barang-barang yang disimpan untuk digunakan atau BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Persediaan Persediaan dapa diarikan sebagai barang-barang yang disimpan unuk digunakan aau dijual pada masa aau periode yang akan daang. Persediaan erdiri dari bahan

Lebih terperinci

Bab IV Pengembangan Model

Bab IV Pengembangan Model Bab IV engembangan Model IV. Sisem Obyek Kajian IV.. Komodias Obyek Kajian Komodias dalam peneliian ini adalah gula pasir yang siap konsumsi dan merupakan salah sau kebuuhan pokok masyaraka. Komodias ini

Lebih terperinci

Estimasi Fungsi Tahan Hidup Virus Hepatitis di Kabupaten Jember (Estimating of Survival Function of Hepatitis Virus in Jember)

Estimasi Fungsi Tahan Hidup Virus Hepatitis di Kabupaten Jember (Estimating of Survival Function of Hepatitis Virus in Jember) Jurnal ILMU DASAR Vol. 8 No. 2, Juli 2007 : 135-141 135 Esimasi Fungsi Tahan Hidup Virus Hepaiis di Kabupaen Jember (Esimaing of Survival Funcion of Hepaiis Virus in Jember) Mohamad Faekurohman Saf Pengajar

Lebih terperinci

BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR

BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR Karakerisik gerak pada bidang melibakan analisis vekor dua dimensi, dimana vekor posisi, perpindahan, kecepaan, dan percepaan dinyaakan dalam suau vekor sauan i (sumbu

Lebih terperinci

PENGARUH UKURAN KAP DAN SPESIALISASI INDUSTRI KAP TERHADAP KUALITAS AUDIT: TINGKAT RISIKO LITIGASI PERUSAHAAN SEBAGAI VARIABEL MODERASI

PENGARUH UKURAN KAP DAN SPESIALISASI INDUSTRI KAP TERHADAP KUALITAS AUDIT: TINGKAT RISIKO LITIGASI PERUSAHAAN SEBAGAI VARIABEL MODERASI DIPONEGORO JOURNAL OF ACCOUNTING Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012, Halaman 1-15 hp://ejournal-s1.undip.ac.id/index.php/accouning PENGARUH UKURAN KAP DAN SPESIALISASI INDUSTRI KAP TERHADAP KUALITAS AUDIT:

Lebih terperinci

Sholawatun et al., Pengaruh Kompetensi, Independensi dan Jenis Kelamin Auditor Terhadap...

Sholawatun et al., Pengaruh Kompetensi, Independensi dan Jenis Kelamin Auditor Terhadap... 1 Pengaruh Kompeensi, Independensi dan Jenis Kelamin Audior Terhadap Kualias Audi dengan Kecerdasan Emosional Sebagai Variabel Moderasi: Sudi Empiris pada Kanor Akunan Publik di Malang (The Effec Of Compeence,

Lebih terperinci

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF Pada bab ini akan dibahas mengenai sifa-sifa dari model runun waku musiman muliplikaif dan pemakaian model ersebu menggunakan meode Box- Jenkins beberapa ahap

Lebih terperinci

Eviani Damastuti-Penerapan Strategi KWL untuk..

Eviani Damastuti-Penerapan Strategi KWL untuk.. PENERAPAN STRATEGI KWL (KNOW-WANT TO KNOW-LEARNED) UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA INTENSIF SISWA BERKESULITAN BELAJAR KELAS III SDN MANAHAN SURAKARTA Eviani Damasui dan Sugini *) sugini@fkip.uns.ac.id

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI INVENTORY DAN PREDIKSI JUMLAH PENJUALAN BARANG (STUDI KASUS KOPEGTEL MOJOKERTO)

RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI INVENTORY DAN PREDIKSI JUMLAH PENJUALAN BARANG (STUDI KASUS KOPEGTEL MOJOKERTO) RANCANG BANGUN SISTEM INFORMASI INVENTORY DAN PREDIKSI JUMLAH PENJUALAN BARANG (STUDI KASUS KOPEGTEL MOJOKERTO) Arseo Pramono 1) 1) S1/Jurusan Sisem Informasi, STIKOM Surabaya, email: oejayaraya@gmail.com

Lebih terperinci

PERANCANGAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DENGAN METODE BOBOT UNTUK MENILAI KENAIKAN GOLONGAN PEGAWAI

PERANCANGAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DENGAN METODE BOBOT UNTUK MENILAI KENAIKAN GOLONGAN PEGAWAI Seminar Nasional Informaika PERANCANGAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DENGAN METODE BOBOT UNTUK MENILAI KENAIKAN GOLONGAN PEGAWAI Evri Ekadiansyah Program Sudi D Manajemen Informaika, STMIK Poensi Uama evrie9@gmail.com

Lebih terperinci

PENGARUH MEKANISME GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN FINANCIAL DISTRESS TERHADAP EARNING MANAGEMENT (STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG

PENGARUH MEKANISME GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN FINANCIAL DISTRESS TERHADAP EARNING MANAGEMENT (STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG PENGARUH MEKANISME GOOD CORPORATE GOVERNANCE DAN FINANCIAL DISTRESS TERHADAP EARNING MANAGEMENT (STUDI EMPIRIS PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA) By: Dewi Arum Sari Edyanus

Lebih terperinci

Indah Nursuprianah, Darsono

Indah Nursuprianah, Darsono Perbedaan Kemampuan Komunikasi Maemaika Siswa Yang Menggunakan Pendekaan Pembelajaran Realisic Mahemaic Educaion (RME) Dan Pendekaan Konvensional Indah Nursuprianah, Darsono Program Sudi Pendidikan Maemaika,

Lebih terperinci

ANALISIS PERAMALAN INDEKS HARGA SAHAM KOSPI DENGAN MENGGUNAKAN METODE INTERVENSI

ANALISIS PERAMALAN INDEKS HARGA SAHAM KOSPI DENGAN MENGGUNAKAN METODE INTERVENSI Seminar Nasional Saisika IX Insiu Teknologi Sepuluh Nopember, 7 November 009 XV-1 ANALISIS PERAMALAN INDEKS HARGA SAHAM KOSPI DENGAN MENGGUNAKAN METODE INTERVENSI Muhammad Sjahid Akbar, Jerry Dwi Trijoyo

Lebih terperinci

Kombinasi Fitting Sinusoids dan Metode Dekomposisi dalam Memprediksi Besar Permintaan Kredit

Kombinasi Fitting Sinusoids dan Metode Dekomposisi dalam Memprediksi Besar Permintaan Kredit Kombinasi Fiing Sinusoids dan Meode Dekomposisi dalam Memprediksi Besar Perminaan Kredi (Sudi Kasus: Koperasi Simpan Pinjam X Salaiga, Jawa Tengah) Rahayu Prihanini Fakulas Teknologi Informasi Universias

Lebih terperinci

Tata Kelola Perusahaan dan Manajemen Laba pada Initial Public Offering

Tata Kelola Perusahaan dan Manajemen Laba pada Initial Public Offering Taa Kelola Perusahaan dan Manajemen Laba pada Iniial Public Offering ARI SITA NASTITI TATANG ARY GUMANTI Universias Jember Absrac: This sudy invesigaes he relaionship beween Corporae Governance and earnings

Lebih terperinci

BAHAN AJAR GERAK LURUS KELAS X/ SEMESTER 1 OLEH : LIUS HERMANSYAH,

BAHAN AJAR GERAK LURUS KELAS X/ SEMESTER 1 OLEH : LIUS HERMANSYAH, BAHAN AJAR GERAK LURUS KELAS X/ SEMESTER 1 OLEH : LIUS HERMANSYAH, S.Si NIP. 198308202011011005 SMA NEGERI 9 BATANGHARI 2013 I. JUDUL MATERI : GERAK LURUS II. INDIKATOR : 1. Menganalisis besaran-besaran

Lebih terperinci