MANAJEMEN LABA RIIL DAN BERBASIS AKRUAL: DAPATKAH AUDITOR YANG BERKUALITAS MENDETEKSINYA?

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MANAJEMEN LABA RIIL DAN BERBASIS AKRUAL: DAPATKAH AUDITOR YANG BERKUALITAS MENDETEKSINYA?"

Transkripsi

1 MANAJEMEN LABA RIIL DAN BERBASIS AKRUAL: DAPATKAH AUDITOR YANG BERKUALITAS MENDETEKSINYA? Dwi Ramono Universias Diponegoro Absrac This sudy examines wheher managemen of public companies in Indonesia engage real earnings managemen o mee earnings benchmarks. This paper documens evidence consisen wih real aciviies manipulaion around earnings hreshold for poor performance firms. Manager opporunisically uilize price discouns o emporarily increase sales, overproducion o repor lower cos of goods sold, and reducion of discreionary expendiures o improve repored margins. Consisen wih he conjecure of Roychowdhury (2006, p. 338) and Cohen & Zarowin (2010, p.3), audiors are more difficul o deec real earnings managemen han accrual-based earnings managemen. The resuls of his sudy indicae ha drawing inferences abou earnings managemen by analyzing only accrual manipulaion is inappropriae. This sudy conribues o lieraure by presening evidence on he real earnings managemen, which has received lile aenion o dae. Keywords: real earnings managemen, accrual-based earnings managemen, abnormal CFO, abnormal discreionary expenses, abnormal producion cos, audi qualiy Pendahuluan Manajemen laba merupakan opik yang elah banyak mendapa perhaian dalam peneliian akunansi. Namun, kebanyakan peneliian manajemen laba erdahulu hanya memfokuskan pada eknik manajemen laba berbasis akrual (accrual-based earnings managemen) (Cohen dan Zarowin, 2010; Mc Vay, 2006; Roychowdhury, 2006). Zang (2006) menunjukkan bahwa perusahaan menggunakan berbagai eknik manajemen laba, idak hanya sau eknik saja unuk mencapai arge laba. Selain iu, hasil survei Graham e al. (2005) menunjukkan bahwa manajer puncak cenderung lebih memilih manajemen laba riil 1 (real earnings managemen) daripada manajemen laba berbasis akrual unuk mencapai arge 1 Manajemen laba riil ini disebu juga sebagai manipulasi akivias riil (real aciviies manipulaion) ((Roychowdhury, 2006; Cohen dan Zarowin, 2010). Kedua isilah ersebu akan digunakan secara berganian dalam peneliian ini. 1

2 laba. Oleh karena iu, peneliian akunansi yang mengambil kesimpulan enang manajemen laba dengan hanya mendasarkan pada pengauran akrual saja mungkin menjadi idak valid (Roychowdhury, 2006). Beberapa peneliian manajemen laba erkini menyaakan peningnya memahami bagaimana perusahaan melakukan manajemen laba melalui manipulasi akivias riil selain manajemen laba berbasis akrual (Roychowdhury, 2006; Gunny, 2005; Zhang, 2006; Cohen e al., 2008; Cohen dan Zarowin, 2010). 2 Hal ini pening karena hasil peneliian Cohen e al. (2008) menunjukkan bahwa manajer elah beralih dari manajemen laba berbasis akrual ke manajemen laba riil seelah periode Sarbanes-Oxley Ac (SOX) unuk menghindari deeksi yang dilakukan audior dan regulaor. Dalam koneks Indonesia, hasil rise Leuz e al. (2003) menunjukkan bahwa karena lingkungan perlindungan invesor yang lemah maka prakek manajemen laba di Indonesia cenderung lebih inensif dilakukan dibanding negara-negara lain dengan perlindungan invesor yang kua. Namun Leuz e al. (2003) mendasarkan pada proksi-proksi manajemen laba berbasis akrual. Oleh karena iu, masih menjadi peranyaan peneliian yang pening adalah apakah manajemen laba riil juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di Indonesia unuk mencapai arge laba. Tujuan perama dalam peneliian ini adalah memberikan buki empiris enang prakek manajemen laba riil yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan publik di Indonesia. Peneliian ini mengikui saran dari Cohen dan Zarowin (2010, hal. 18) agar peneliian manajemen laba mendaang seharusnya memfokuskan pada pengujian manajemen laba riil, idak hanya manajemen laba berbasis akrual saja. Hasil peneliian erdahulu elah mendokumenasikan bahwa kualias audi yang inggi mampu meningkakan kualias laba klien (Balsam e al. 2003; Francis e al. 2002, 2006; 2 Cohen dan Zarowin (2010) menyaakan manajer lebih memilih melakukan manajemen laba riil daripada manajemen laba berbasis akrual karena kurang menarik perhaian audior dan regulaor. 2

3 Khrisnan 2003a). Hasil peneliian ersebu menyimpulkan bahwa audior mampu mendeeksi manajemen laba berbasis akrual yang dilakukan klien sehingga audior melakukan pembaasan erhadap akunansi akrual yang agresif (Balsam e al. 2003; Francis e al. 2006). Meskipun demikian, sudi ersebu hanya menggunakan sau proksi kualias laba yang mendasarkan pada pengauran akrual yaiu akrual diskresionari (discreionary accrual). Cohen dan Zarowin (2010, hal. 3) sera Roychowdhury (2006, hal. 338) berargumen bahwa manajemen laba riil kurang menarik perhaian audior dibandingkan pengauran akrual karena manajemen laba riil merupakan kepuusan riil enang penenuan harga produk dan jumlah produksi perusahaan yang belum enu menjadi lingkup pemeriksaan audior. Namun baik Cohen dan Zarowin (2010) maupun Roychowdhury (2006) belum menguji secara empiris dugaan bahwa manajemen laba riil ersebu akan lebih suli dideeksi oleh audior daripada manajemen laba berbasis akrual. Oleh karena iu, masih menjadi peranyaan peneliian yang pening apakah manajemen laba riil secara empiris erbuki lebih suli dideeksi oleh audior dibandingkan manajemen laba berbasis akrual. Tujuan kedua dari peneliian ini adalah memberikan buki empiris enang apakah manajemen laba riil lebih suli dideeksi oleh audior daripada manajemen laba berbasis akrual. Konribusi Peneliian Peneliian ini, yang berujuan menguji lebih lanju emuan peneliian manajemen laba riil erdahulu (Roychowdhury, 2006; Zhang, 2006; Cohen e al., 2008; Cohen dan Zarowin, 2010) ke koneks yang berbeda, pening karena dapa memberikan buki empiris bahwa manajemen laba berbasis akrual belum enu merupakan sau-saunya eknik manajemen laba yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan publik di Indonesia. Dengan buki empiris 3

4 ersebu diharapkan akan dapa diunjukkan bahwa peneliian-peneliian manajemen laba di Indonesia yang mengambil kesimpulan enang manajemen laba dengan hanya menganalisis akrual saja mungkin belum enu epa. Pengujian ke koneks Indonesia, pening karena hasil peneliian Leuz e al. (2003) menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam kluser negaranegara dengan perlindungan invesor yang lemah sehingga mempunyai prakek manajemen laba yang lebih inensif. Oleh karena iu, pening unuk menguji lebih lanju emuan peneliian manajemen laba riil erdahulu (Roychowdhury, 2006; Zhang, 2006; Cohen e al., 2008; Cohen dan Zarowin, 2010) ke koneks negara dengan lingkungan perlindungan invesor yang kurang kua seperi Indonesia. Peneliian ini juga pening karena memperluas peneliian Cohen dan Zarowin (2010) sera Roychowdhury (2006) yaiu dengan menguji dugaan mereka, yang belum diuji secara empiris, bahwa audior akan lebih suli mendeeksi manajemen laba riil daripada manajemen laba berbasis akrual. Dari sisi meodologi, peneliian ini juga pening karena jika buki empiris peneliian ini menunjukkan bahwa manajemen laba riil juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan publik di Indonesia, maka peneliian mendaang perlu memperimbangkan penggunaan proksi-proksi selain akrual diskresionari yang selama ini banyak digunakan dalam peneliian manajemen laba di Indonesia. Tinjauan Pusaka dan Pengembangan Hipoesis Manajemen Laba Riil Manajemen laba riil dapa didefinisikan sebagai indakan-indakan manajemen yang menyimpang dari prakek bisnis yang normal yang dilakukan dengan ujuan uama unuk 4

5 mencapai arge laba (Cohen dan Zarowin, 2010; Roychowdhury, 2006). Manajemen laba riil dapa dilakukan dengan 3 (iga) cara yaiu: a. Manipulasi penjualan Manipulasi penjualan merupakan usaha unuk meningkakan penjualan secara emporer dalam periode erenu dengan menawarkan diskon harga produk secara berlebihan aau memberikan persyaraan kredi yang lebih lunak. Sraegi ini dapa meningkakan volume penjualan dan laba periode saa ini, dengan mengasumsikan marginnya posiif. Namun pemberian diskon harga dan syara kredi yang lebih lunak akan menurunkan aliran kas periode saa ini. b. Penurunan beban-beban diskresionari (dicreionary expendiures) Perusahaan dapa menurunkan discreionary expendiures seperi beban peneliian dan pengembangan, iklan, dan penjualan, adminsrasi, dan umum eruama dalam periode di mana pengeluaran ersebu idak langsung menyebabkan pendapaan dan laba. Sraegi ini dapa meningkakan laba dan arus kas periode saa ini namun dengan resiko menurunkan arus kas periode mendaang. c. Produksi yang berlebihan (overproducion) Unuk meningkakan laba, manajer perusahaan dapa memproduksi lebih banyak daripada yang diperlukan dengan asumsi bahwa ingka produksi yang lebih inggi akan menyebabkan biaya eap per uni produk lebih rendah. Sraegi ini dapa menurunkan kos barang erjual (cos of goods sold) dan meningkakan laba operasi. Manajemen laba riil merupakan penyimpangan dari prakek operasional perusahaan yang normal. Keiga cara manipulasi akivias riil di aas mungkin merupakan kepuusan yang opimal dalam kondisi ekonomi erenu. Namun, jika manajer melakukan akivias- 5

6 akivias ersebu secara lebih inensif daripada yang opimal dengan ujuan mencapai arge laba, maka indakan ersebu dapa didefinisikan sebagai eknik manajemen laba (Roychowdhury, 2006; Cohen e al., 2008; Cohen dan Zarowin, 2010). Keiga cara manipulasi akivias riil di aas biasanya dilakukan oleh perusahaanperusahan dengan kinerja yang buruk sehingga idak banyak memiliki akrual unuk dimanipulasi. Sau-saunya cara adalah dengan manipulasi akivias riil ersebu eruama unuk mencapai laba sediki di aas nol. Dengan keiga cara di aas perusahaan-perusahaan yang diduga (suspec) melakukan manipulasi akivias riil akan mempunyai abnormal cash flow operaions (CFO) dan abnormal discreionary expenses yang lebih kecil sera abnormal producion cos yang lebih besar dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. Beberapa peneliian manajemen laba erkini elah mendokumenasikan indakan manajemen laba riil unuk mencapai arge laba. Roychowdhury (2006) memberikan buki empiris bahwa perusahaan melakukan manajemen laba riil unuk menghindari melaporkan kerugian. Zang (2006) menunjukkan buki empiris bahwa indakan manajemen laba riil dilakukan sebelum manajemen laba berbasis akrual. Selain iu, Zang (2006) menunjukkan bahwa manajer menggunakan kedua eknik manajemen laba ersebu sebagai sraegi subiusi. Gunny (2005) memberikan buki empiris bahwa manajemen laba riil yang dilakukan perusahaan pada periode ini mempunyai dampak negaif signifikan pada kinerja operasi periode berikunya. Sedangkan Cohen e al. (2008) menunjukkan bahwa manajemen laba berbasis akrual yang dilakukan perusahaan meningka sebelum periode SOX (2002) dan menurun seelahnya. Sebaliknya, manajemen laba riil menurun sebelum SOX dan meningka secara signifikan seelahnya. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan yang ingin mencapai arge laba elah beralih dari sraegi manajemen laba berbasis akrual ke manajemen laba riil 6

7 seelah periode SOX. Cohen dan Zarowin (2010) memberikan buki empiris bahwa perusahaan melakukan manajemen laba riil dan berbasis akrual di sekiar periode seasoned equiy offerings (SEO) dan penurunan kinerja seelah SEO karena manajemen laba riil lebih buruk daripada manajemen laba berbasis akrual. Prakek Manajemen Laba Riil Perusahaan-perusahaan Publik Indonesia Leuz e al. (2003) menunjukkan bahwa Indonesia berada dalam kluser negara-negara dengan perlindungan invesor yang lemah sehingga mempunyai prakek manajemen laba yang lebih inensif. Dengan demikian, dapa diajukan argumenasi, karena lingkungan perlindungan invesor yang lemah ersebu maka perusahaan-perusahaan publik di Indonesia juga melakukan manajemen laba riil. Selain iu, hasil peneliian Graham e al. (2005) menunjukkan buki empiris bahwa manajer lebih memilih melakukan manajemen laba riil daripada manajemen laba berbasis akrual. Cohen dan Zarowin (2010) berargumen bahwa hal ersebu disebabkan karena: (i) manajemen laba berbasis akrual cenderung lebih menarik perhaian audior dan regulaor, dan (ii) menggunakan sraegi manajemen laba berbasis akrual saja mungkin idak cukup unuk mencapai arge laba sehingga harus dilengkapi dengan sraegi manajemen laba riil. Cohen e al. (2008) menunjukkan bahwa manajer elah beralih dari menggunakan manajemen laba berbasis akrual ke manajemen laba riil seelah periode SOX. Hal ini disebabkan manajer ingin menghindari erdeeksi melakukan manajemen laba berbasis akrual oleh regulaor seelah erjadinya berbagai skandal akunansi yang menarik perhaian publik. Berdasar argumenasi ersebu maka diajukan hipoesis beriku: 7

8 H 1 : Perusahaan-perusahaan publik di Indonesia dengan kinerja keuangan yang buruk melakukan manajemen laba riil Deeksi Audior erhadap Manajemen Laba berbasis Akrual Balsam e al. (2003) menunjukkan bahwa kualias audior merupakan salah sau fakor yang dapa membaasi ingka diskresi yang dilakukan klien. Reynold dan Francis (2001) berargumen bahwa audior yang berkualias inggi (diproksi dengan brand name yaiu audior Big 6 dalam peneliian mereka) mampu mendeeksi manajemen laba dan membaasi perilaku opporunis manajer karena audior ersebu mempunyai pengeahuan yang superior dibandingkan audior yang kurang berkualias. Francis dan Wang (2006) juga berargumen bahwa audior Big 4 akan menekankan ingka kualias laba klien yang inggi unuk menjaga repuasi nama mereka dari unuan liigasi. Hasil-hasil peneliian erdahulu elah menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan yang menjadi klien audior yang mempunyai brand name yang inggi (misal Big 4) mempunyai akrual diskresionari yang lebih rendah (Francis dan Wang, 2006). Hal ini konsisen dengan dugaan bahwa audior Big 4 membaasi prakek manajemen laba yang agresif sehingga menghasilkan laba yang berkualias. Selain dengan brand name audior, kualias audi juga dapa diukur dengan spesialiasi indusri audior (misal Balsam e al. 2003). Dengan menggunakan berbagai proksi unuk mengukur spesialisasi indusri audior, Balsam e al. (2003) menunjukkan bahwa perusahaan yang diaudi oleh audior spesialis indusri mempunyai akrual diskresionari yang lebih rendah dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan yang diaudi oleh audior yang bukan spesialis dalam indusri ersebu. Temuan-emuan di aas menunjukkan bahwa audior yang berkualias (baik diukur dengan brand name audior maupun spesialiasi indusri) yang inggi mampu 8

9 membaasi indakan opporunis manajemen laba berbasis akrual yang dilakukan klien perusahaan. Hipoesis kedua yang diajukan: H 2 : Audior yang berkualias mampu mendeeksi indakan manajemen laba berbasis akrual yang dilakukan klien. Semakin inggi kualias audior, semakin rendah akrual diskresionari klien. Deeksi Audior erhadap Manajemen Laba Riil Roychowdhury (2006) sera Cohen dan Zarowin (2010) berargumen bahwa manajemen laba riil kurang menarik perhaian audior dibandingkan manajemen laba berbasis akrual karena manipulasi akivias riil merupakan kepuusan operasional yang dilakukan perusahaan enang penenuan harga produk, pembaasan pengeluaran, dan jumlah produksi yang bukan menjadi anggung jawab audior. Namun, baik Roychowdhury (2006) maupun Cohen dan Zarowin (2010) belum menguji secara empiris dugaan ersebu. Hasil rise Dechow e al. (1996) menunjukkan bahwa dalam menginvesigasi perusahaan-perusahaan yang diduga melakukan manipulasi laba, oorias pasar modal-pun (dalam hal ini SEC) idak menyelidiki kepuusan-kepuusan yang erkai dengan penenuan harga dan produksi. Selain iu, indakan manipulasi akivias riil biasanya juga dilakukan oleh perusahaan-perusahaan dengan kinerja keuangan yang kurang baik dengan ujuan semaa-maa mencapai arge laba sediki di aas nol. Audior karenanya idak akan erlalu memperhaikan indakan manipulasi akivias riil ersebu karena laba perusahaan idak akan erlalu mencolok besarannya. Oleh karena iu, dapa diajukan dugaan bahwa meskipun audior mempunyai kualias yang inggi, ia belum enu mampu mendeeksi manajemen laba riil yang dilakukan klien. Hasil peneliian Cohen 9

10 dan Zarowin (2010) menunjukkan bahwa audior yang mempunyai ingka kewaspadaan yang inggi-pun 3 idak mampu mendeeksi manajemen laba riil yang dilakukan klien. H 3 : Audior yang berkualias idak mampu mendeeksi manajemen laba riil yang dilakukan klien. Kualias audior idak berhubungan dengan besarnya manajemen laba riil yang dilakukan klien. 4 Meode Peneliian Sampel Targe populasi dalam peneliian ini adalah seluruh perusahaan publik yang erdafar di Bursa Efek Indonesia pada ahun Pemilihan sampel akhir perusahaan menggunakan krieria-krieria sebagai beriku: a. Perusahaan-perusahaan yang berada dalam indusri keuangan dan perbankan dikeluarkan dari sampel karena mempunyai karakerisik ase yang sanga berbeda dengan indusri lain. Ase yang sanga berbeda ersebu menyebabkan analisis akrual diskresionari menjadi suli dilakukan unuk indusri keuangan dan perbankan; b. Sampel perusahaan memenuhi krieria kecukupan daa unuk pengukuan masing-masing variabel; c. Seiap sampel perusahaan harus mempunyai daa arus kas operasi unuk perhiungan akrual secara langsung. Perhiungan akrual secara langsung dengan mengurangkan laba dari arus kas operasi seperi saran Hribar dan Collins (2002) unuk mengurangi kesalahan pengukuran (measuremen error) dalam perhiungan akrual; dan 3 Audior yang mempunyai ingka kewaspadaan yang inggi diproksi oleh Cohen dan Zarowin (2010) dengan: (i) audior Big 8 dan (ii) lamanya audior elah mengaudi klien (audi enure). 4 Perusahaan yang melakukan manajemen laba riil mempunyai paling idak salah sau dari 3 indikaor beriku: (i) unusually low Cash Flow from Operaion (CFO), (ii) unusually low discreionary expenses, dan (iii) unusually high producion cos. Keiga proksi ersebu digunakan unuk mengukur ingka manajemen laba riil yang dilakukan perusahaan. 10

11 d. Minimal harus ersedia 15 amaan (observasi) per indusri per ahun unuk menjamin pooling daa yang memadai dalam esimasi proksi-proksi manajemen laba. Peneliian ini akan menggunakan sample es yang berbeda unuk masing-masing eknik manajemen laba, yaiu: a. Unuk manajemen laba berbasis akrual (H 2 ), es sample yang akan digunakan adalah seluruh perusahaan yang memenuhi krieria-krieria sampel di aas. b. Unuk manajemen laba riil (H 1 dan H 3 ), es sample yang akan digunakan adalah seluruh perusahaan yang memenuhi krieria-krieria di aas dan mempunyai kinerja keuangan idak erlalu baik (diukur dengan nilai laba bersih/oal ase 0-0,005) 5, sedangkan yang menjadi conrol sample adalah seluruh perusahaan yang menjadi sisa sampel (res of he sample). Pemilihan suspec firms ini mengikui prosedur yang dilakukan Roychowdhury (2006). Sumber Daa Daa yang digunakan diperoleh dari laporan ahunan seiap perusahaan, Indonesian Capial Marke Direcory (ICMD), dan IDX Fac Book ahun Pengukuran Variabel-variabel Peneliian Proksi Manajemen Laba Berbasis Akrual Seperi peneliian erdahulu yang menginvesigasi manajemen laba berbasis akrual dengan mendasarkan pada proksi akrual diskresionari (discreionary accruals), peneliian ini juga akan menggunakan model Jones (1991) dalam mengesimasi akrual diskresionari, yaiu: ( TA )/( A 1 ) 0(1/ A 1( REV )/( A 2( PPE )/( A (1) dengan: 5 Tes sample ini merupakan sampel perusahaan-perusahaan yang diduga (suspec firms) melakukan manajemen laba riil. 11

12 REV = pendapaan ahun dikurangi -1 unuk perusahaan i PPE = nilai bersih ase eap perusahaan i pada ahun A 1 = ase oal perusahaan i pada ahun -1 TA = akrual oal perusahaan i pada ahun yang dihiung dengan mengurangkan laba bersih dengan arus kas operasi Model (1) akan diesimasi dengan pooling seluruh perusahaan pada seiap indusri pada seiap ahun. Residual dari hasil esimasi ersebu merupakan akrual diskresionari unuk seiap amaan. Proksi-Proksi Manajemen Laba Riil Proksi-proksi manajemen laba riil adalah abnormal CFO, abnormal discreionary expenses, dan abnormal producion coss yang masing-masing dihiung dengan pendekaan yang digunakan Roychowdhury (2006) sebagai beriku: a. Abnormal CFO CFO / A 1 0 1(1/ A 2( S / A 3( S / A (2) CFO = arus kas operasi perusahaan i pada ahun A 1 = ase oal perusahaan i pada ahun -1 S = penjualan oal perusahaan i pada ahun -1 Model (2) akan akan diesimasi seiap indusri seiap ahun. Residual dari hasil esimasi (2) merupakan abnormal CFO perusahaan i pada ahun. b. Abnormal Discreionary Expenses DISEXP / A 1 0 1(1/ A 2( S 1 / A (3) DISEXP = discreionary expenses yaiu beban peneliian dan pengembangan+beban iklan+beban penjualan, adminisrasi, dan umum. Model (3) akan akan diesimasi seiap indusri seiap ahun. Residual dari hasil esimasi (3) merupakan abnormal discreionary expenses perusahaan i pada ahun. 12

13 c. Abnormal Producion Coss PROD / A 1 0 1(1/ A 2( S / A 3( S / A 3( S 1 / A (4) PROD = producion coss yaiu harga pokok penjualan + perubahan persediaan Model (4) akan akan diesimasi seiap indusri seiap ahun. Residual dari hasil esimasi (4) merupakan abnormal producion coss perusahaan i pada ahun. Proksi Kualias Audior Kualias audior diukur dengan proksi spesialiasi keahlian indusri audior. Ukuran indusry experise menggunakan proksi marke shares yang digunakan oleh Khrisnan (2003a) yaiu: IMS ik Jik ik j Ik Jk ik SALESijk 1 (5) I 1 j 1 SALES ijk IMS ik = Pangsa Pasar Indusri (Indusry Marke Share) KAP i pada indusri k Jik ik j 1 Ik I 1 j 1 SALES ijk Jk ik SALES indusri k. = jumlah penjualan perusahaan klien J ik dari KAP i dalam indusri k ijk = penjualan J ik perusahaan klien dalam indusri k unuk seluruh I k KAP dalam Pengujian Hipoesis Pengujian H 1 Pengujian H 1 dilakukan mengikui Roychowdhury (2006) yaiu dengan menggunakan analisis regresi unuk membandingkan abnormal CFO, abnormal discreionary expenses, dan 13

14 abnormal producion cos (sebagai proksi-proksi manajemen laba riil) anara perusahaan suspec dengan non suspec dengan persamaan: Y 0 1Suspec _ NI 2NI 3CL (6) Y = proksi-proksi manajemen laba riil (yaiu masing-masing abnormal CFO, abnormal discreionary expenses, dan abnormal producion cos) Suspec _ NI = variabel indikaor yaiu dengan nilai 1 unuk perusahaan suspec (perusahaan dengan laba/ase oal bernilai 0-0,005, diasumsikan mempunyai moivasi melakukan manajemen laba riil karena kinerjanya yang buruk) dan diberi nilai 0 unuk yang lain (non suspec firms/ res of he sample) NI (Ne Income) = laba sebelum exraordinary iems dibagi dengan ase oal CL (Curren Liabiliies) = kewajiban lancar dibagi dengan ase oal NI dan CL merupakan variabel-variabel konrol. Pengambilan kesimpulan pengujian H 1 : - Unuk Y = abnormal CFO, jika 1 bernilai negaif dan signifikan maka H 1 didukung aau dengan kaa lain perusahaan-perusahaan suspec melakukan manipulasi penjualan sehingga mempunyai abnormal CFO yang lebih rendah dibandingkan perusahaanperusahaan lain. - Unuk Y = abnormal discreionary expenses, jika 1 bernilai negaif dan signifikan maka H 1 didukung aau dengan kaa lain perusahaan-perusahaan suspec melakukan manipulasi discreionary expenses sehingga mempunyai abnormal discreionary expenses yang lebih rendah dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. - Unuk Y = abnormal producion cos, jika 1 bernilai posiif dan signifikan maka H 1 didukung aau dengan kaa lain perusahaan-perusahaan suspec melakukan manipulasi dengan memproduksi secara berlebihan sehingga mempunyai abnormal producion cos yang lebih inggi dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. Pengujian H 2 Pengujian H 2 mengikui prosedur yang dilakukan Balsam e al. (2003) yaiu dengan persamaan: 14

15 Abs( DAC) 0 1dum _ man 2 A 3CFO 4Lev 5 dum_ rugi 6 Abs( TA) (7) Abs( TA) KA 6 7 Abs ( DAC ) =nilai absolu discreionary accruals yang diperoleh dari hasil esimasi (1) Dum_man = variabel dummy, diberi nilai 1 jika ermasuk dalam indusri manufakur, 0 jika lainnya A = ase oal CFO = arus kas operasi Lev = rasio uang jangka panjang erhadap ase oal Abs(TA)=nilai absolu dari akrual oal Dum_rugi = diberi nilai 1 jika melaporkan kerugian, 0 jika lainnya KA = kualias audior yang diproksi dengan spesialiasi indusri audior (marke share) Dummy manufakur, ase oal, arus kas operasi, rasio uang jangka panjang erhadap ase oal, dummy rugi, dan nilai absolu dari akrual oal merupakan variabel konrol yang dipilih unuk meningkakan validias inernal. Jika 7 bernilai negaif dan signifikan maka H 2 didukung aau dengan kaa lain perusahaan-perusahaan yang diaudi oleh audior yang berkualias mempunyai akrual diskresionari yang lebih rendah. Dengan kaa lain, audior yang berkualias mampu mendeeksi manajemen laba dengan pengauran akrual yang dilakukan kliennya. Pengujian H 3 Mengikui Roychowdhury (2006), pengujian H 3 menggunakan persamaan beriku: Y 0 1Laba Bersih 2Suspec _ NI 3 Kualias Audi 4 Suspec _ NI * Kualias Audi (8) - Unuk Y = abnormal CFO, jika 4 idak bernilai posiif dan signifikan maka H 3 didukung aau dengan kaa lain audior yang berkualias idak dapa mendeeksi indakan manipulasi penjualan yang dilakukan perusahaan-perusahaan suspec sehingga perusahaan-perusahaan ersebu mempunyai abnormal CFO yang lebih rendah dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. 15

16 - Unuk Y = abnormal discreionary expenses, jika 4 idak bernilai posiif dan signifikan maka H 3 didukung aau dengan kaa lain audior yang berkualias idak dapa mendeeksi indakan manipulasi pengurangan pengeluaran yang dilakukan perusahaan-perusahaan suspec sehingga perusahaan-perusahaan ersebu mempunyai abnormal discreionary expenses yang lebih rendah dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. - Unuk Y = abnormal producion cos, jika 4 idak bernilai negaif dan signifikan maka H 3 didukung aau dengan kaa lain audior yang berkualias idak dapa mendeeksi indakan manipulasi produksi yang berlebihan yang dilakukan perusahaan-perusahaan suspec sehingga perusahaan-perusahaan ersebu mempunyai abnormal producion cos yang lebih inggi dibandingkan perusahaan-perusahaan lain. Hasil dan Pembahasan Prakek Manajemen Laba Riil Perusahaan-perusahaan Publik di Indonesia Dengan mendasarkan pada krieria-krieria penyampelan seperi disebukan pada bagian sebelumnya, sampel akhir unuk pengujian ada idaknya prakek laba manajemen riil yang dilakukan perusahaan-perusahan publik di Indonesia, erdiri dari amaan (observasi) perusahaan-ahun (Tabel 1 pada Lampiran). Dari sampel akhir ersebu, erdapa 420 perusahaan yang diduga (suspec) melakukan manipulasi riil dan 594 sisanya (res of he sample) bukan ergolong perusahaan suspec. Perusahaan suspec adalah perusahaaan yang mempunyai kinerja keuangan idak erlalu baik (diukur dengan nilai laba bersih/oal ase 0-0,005), sisa sampel adalah perusahaan-perusahan di luar krieria ersebu. Pemilihan suspec firms ini mengikui krieria Roychowdhury (2006). Tabel 2 membandingkan karakerisik perusahaan-perusahaan suspec dan perusahaan-perusahaan non suspec Tabel

17 Dari Tabel 2 nampak bahwa raa-raa kinerja perusahaan suspec idak berbeda jauh dengan perusahaan non suspec. Konsisen dengan hipoesis Roychowdhury (2006), perusahaan-perusahaan yang diduga melakukan manajemen laba riil mempunyai raa-raa arus kas operasi yang diskala dengan ase oal dan raa-raa beban diskresionari (discreionary expenses) yang diskala dengan ase oal yang lebih rendah secara signifikan dibandingkan sampel keseluruhan. Perusahaan-perusahaan suspec juga mempunyai raa-raa producion cos yang diskala dengan ase oal yang lebih inggi dibandingkan dengan perusahaan-perusahaan non suspec (meskipun perbedaan ersebu idak signifikan secara saisis). Sama seperi halnya peneliian manajemen laba berbasis akrual yang mendasarkan pada keepaan spesifikasi model Jones (1991), peneliian manajemen laba riil juga mendasarkan pada keepaan spesifikasi model yang digunakan unuk mengukur proksiproksi manipulasi riil. Tabel 3 melaporkan hasil esimasi koefisien regresi yang digunakan unuk mengesimasi normal levels (persamaan 2, 3, dan 4) dan membandingkannya dengan hasil esimasi Roychowdhury (2006) Tabel Dari Tabel 3 nampak bahwa hasil esimasi parameer model peneliian ini cukup baik. Arah dan ingka signifikansi parameer-parameer model normal discreionary expenses dan normal producion cos hampir seara dengan hasil esimasi Roychowdhury (2006). Tabel 3 menunjukkan bahwa hasil esimasi parameer-parameer model cukup baik sehingga proksi-proksi manajemen laba riil yang dihasilkan dapa diyakini validias konsruknya. Tabel 4 melaporkan korelasi anar variabel. Konsisen dengan prediksi, perusahaanperusahaan suspec (diproksi dengan variabel dummy Suspec_NI) berkorelasi negaif dengan 17

18 abnormal arus kas operasi (abnormal CFO) dan abnormal discreionary expenses (abnormal DISEXP) dan berkorelasi posiif dengan abnormal producion cos (abnormal PROD). Konsisen dengan argumenasi Roychowdhury (2006), produksi yang berlebihan akan berhubungan negaif dengan arus kas operasi dan pemoongan beban-beban diskresionari akan berhubungan posiif dengan arus kas operasi. Koefisien korelasi anara abnormal producion cos dan abnormal discreionary expenses menunjukkan hubungan negaif yang cukup kua (-0,718). Hal ini erjadi karena mungkin manajer, secara bersamaan, melakukan akivias-akivias yang menyebabkan kos produksi menjadi lebih inggi secara idak normal dan melakukan akivias-akivias yang menyebabkan beban-beban diskresionari menjadi lebih rendah secara idak normal. Keduanya dilakukan secara bersama-sama unuk ujuan akhir mencapai laba yang lebih inggi Tabel Tabel 5 melaporkan hasil pengujian H 1. Konsisen dengan hipoesis, perusahaanperusaahan suspec melakukan manajemen laba riil diunjukkan dengan abnormal CFO dan abnormal discreionary expenses yang lebih rendah secara signifikan dan abnormal producion cos yang lebih inggi secara signifikan dibandingkan perusahaan-perusahaan non suspec. Unuk Y berupa abnormal CFO, koefisien Suspec_NI adalah negaif (-0,027) dan signifikan pada ingka 1%. Unuk Y berupa abnormal discreionary expenses, koefisien Suspec_NI adalah negaif (-0,036) dan signifikan pada ingka 1%. Unuk Y berupa abnormal producion cos, koefisien Suspec_NI adalah posiif (0,049) dan signifikan pada ingka 10%. Hasil ini mendukung hipoesis perama yaiu bahwa perusahaan-perusahaan publik di Indonesia dengan kinerja keuangan yang buruk melakukan manajemen laba riil. 18

19 Tabel Deeksi Audior erhadap Manajemen Laba Berbasis Akrual Saisik deskripif variabel-variabel unuk pengujian H 2 disajikan pada Tabel 6. Dari Tabel 6 nampak bahwa nilai raa-raa akrual diskresionari adalah posiif sebesar 0, Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan adanya pengauran akrual dengan pola income maximizaion Tabel Tabel 7 melaporkan hasil pengujian H 2. Pengujian mendasarkan pada prosedur Balsam e al. (2003) dengan variabel independen kualias audior dan variabel konrol berupa dummy indusri manufakur, ase oal, arus kas operasi, leverage, dummy rugi, dan absolu oal akrual. Syara agar H 2 didukung adalah koefisien kualias audior harus bernilai negaif signifikan dalam mempengaruhi akrual diskresionari Tabel Hasil esimasi menunjukkan bahwa spesifikasi model cukup baik diunjukkan nilai F yang signifikan dan kekuaan penjelas (Adjused R 2 ) yang cukup inggi. Koefisien regresi variabel kualias audior berpengaruh negaif (-0,048) dan signifikan pada ingka 5%. Buki empiris pada Tabel 7 mendukung Hipoesis 2. Hal ini menunjukkan bahwa audior yang berkualias mampu mendeeksi indakan manajemen laba berbasis akrual yang dilakukan klien sehingga melakukan pembaasan erhadap besarnya akrual diskresionari. 19

20 Deeksi Audior erhadap Manajemen Laba Riil Tabel 8 melaporkan hasil pengujian H 3. Pengujian mendasarkan pada prosedur yang digunakan Roychowdhury (2006) dengan memfokuskan pada koefisien ineraksi anara variabel Suspec_NI dan kualias audior. Hasil pengujian Hipoesis 3 disajikan pada Tabel Tabel Tabel 8 menunjukkan bahwa koefisien ineraksi anara variabel Suspec_NI dan variabel kualias audior idak signifikan mempengaruhi proksi-proksi manajemen laba riil. Buki empiris pada Tabel 8 ersebu menunjukkan adanya dukungan erhadap Hipoesis 3 aau dengan kaa lain mendukung dugaan Roychowdhury (2006) sera Cohen dan Zarowin (2010) bahwa audior yang berkualias-pun (spesialis indusri) idak mampu mendeeksi manajemen laba riil yang dilakukan klien. Analisis Sensiivias Unuk memperoleh hasil peneliian yang kokoh (robus), peneliian ini melakukan analisis sensiivias dengan menggunakan ukuran kualias audior berupa brand name audior. Balsam e al. (2003) berargumen bahwa brand name, sama seperi halnya spesialisasi indusri, merupakan proksi kualias audior. Peneliian ini menggunakan variabel indikaor yang diberi nilai 1 unuk audior-audior yang ermasuk dalam KAP Big 4 dan 0 unuk audior-audior yang ermasuk dalam Big 4 6. Hasil analisis sensiivias (idak diampilkan) menunjukkan hasil yang konsisen dengan emuan pada Tabel 7 dan Tabel 8. 6 KAP yang dikaegorikan sebagai Big 4 dalam peneliian ini adalah KAP yang berafiliasi dengan PriceWaerhouseCoopers, Erns & Young, KPMG, aau Deloie & Touche. 20

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengerian Persediaan (Invenory) Persediaan didefinisikan sebagai barang jadi yang disimpan aau digunakan unuk dijual pada periode mendaang, yang dapa berbenuk bahan baku yang

Lebih terperinci

Analisis Gerak Osilator Harmonik Dengan Gaya pemaksa Bebas Menggunakan Metode Elemen Hingga Dewi Sartika junaid 1,*, Tasrief Surungan 1, Eko Juarlin 1

Analisis Gerak Osilator Harmonik Dengan Gaya pemaksa Bebas Menggunakan Metode Elemen Hingga Dewi Sartika junaid 1,*, Tasrief Surungan 1, Eko Juarlin 1 Analisis Gerak Osilaor Harmonik Dengan Gaya pemaksa Bebas Menggunakan Meode Elemen Hingga Dewi Sarika junaid 1,*, Tasrief Surungan 1, Eko Juarlin 1 1 Jurusan Fisika FMIPA Universias Hasanuddin, Makassar

Lebih terperinci

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks)

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks) MODUL PERTEMUAN KE 3 MATA KULIAH : (4 sks) MATERI KULIAH: Jarak, Kecepaan dan Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Gerak Lurus Berubah Berauran POKOK BAHASAN: GERAK LURUS 3-1

Lebih terperinci

KINEMATIKA. gerak lurus berubah beraturan(glbb) gerak lurus berubah tidak beraturan

KINEMATIKA. gerak lurus berubah beraturan(glbb) gerak lurus berubah tidak beraturan KINEMATIKA Kinemaika adalah mempelajari mengenai gerak benda anpa memperhiungkan penyebab erjadi gerakan iu. Benda diasumsikan sebagai benda iik yaiu ukuran, benuk, roasi dan gearannya diabaikan eapi massanya

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR RUPIAH. Oleh: Tri Wibowo & Hidayat Amir 1. Abstraksi

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR RUPIAH. Oleh: Tri Wibowo & Hidayat Amir 1. Abstraksi FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR RUPIAH Oleh: Tri Wibowo & Hidaya Amir 1 Absraksi Salah sau indikaor makro pening dalam penyusunan APBN adalah asumsi nilai ukar rupiah erhadap US$. Asumsi besaran

Lebih terperinci

Jawaban Soal Latihan

Jawaban Soal Latihan an Soal Laihan 1. Terangkanlah ari grafik-grafik di bawah ini. dan ulis persamaan geraknya. an: a. Merupakan grafik kecepaan erhadap waku, kecepaan eap. Persamaan v()=v b. Merupakan grafik jarak erhadap

Lebih terperinci

PELAYANAN HIV/AIDS DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

PELAYANAN HIV/AIDS DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Working Paper Series No. 16 July 2007, Firs Draf PELAYANAN HIV/AIDS DI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Andris Purwaningias, Yanri Wijayani Subrono, Mubasysyir Hasanbasri Kaakunci: hospials, HIV/AIDS, healh

Lebih terperinci

II. Penggunaan Alat Peraga. segitiga, kemudian guru bertanya Berapakah alasnya? (7) Berapakah tingginya? (2), Bagaimanakah cara mendapatkannya?

II. Penggunaan Alat Peraga. segitiga, kemudian guru bertanya Berapakah alasnya? (7) Berapakah tingginya? (2), Bagaimanakah cara mendapatkannya? rumus luas layang-layang dengan pendekaan luas segiiga 1. Memahami konsep luas segiiga 2. Memahami layang-layang dan unsur-unsurnya (pengerian layanglayang dan diagonal-diagonalnya) Langkah 1 Gb. 11.2

Lebih terperinci

PENGUJIAN PEMBERLAKUAN RUMUS SEGITIGA BOLA DALAM PENENTUAN ARAH KIBLAT SHOLAT

PENGUJIAN PEMBERLAKUAN RUMUS SEGITIGA BOLA DALAM PENENTUAN ARAH KIBLAT SHOLAT PENGUJIAN PEMBERLAKUAN RUMUS SEGITIGA BOLA DALAM PENENTUAN ARAH KIBLAT SHOLAT Galuh Kusuma Wardhani, Wahyu Kurniawan, Naalia Dianing Gulia, Wahyu Hari Krisiyano Progdi Fisika dan Pendidikan Fisika, FSM,

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN APLIKASI ANDROID UNTUK MENGHITUNG BIAYA LISTRIK RUMAH TANGGA

RANCANG BANGUN APLIKASI ANDROID UNTUK MENGHITUNG BIAYA LISTRIK RUMAH TANGGA RANCANG BANGUN APLIKASI ANDROID UNTUK MENGHITUNG BIAYA LISTRIK RUMAH TANGGA skripsi disajikan sebagai salah sau syara unuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Program Sudi Pendidikan Teknik Elekro oleh

Lebih terperinci

PERAMALAN DENGAN MODEL SVAR PADA DATA INFLASI INDONESIA DANNILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP KURS DOLAR AMERIKA

PERAMALAN DENGAN MODEL SVAR PADA DATA INFLASI INDONESIA DANNILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP KURS DOLAR AMERIKA PERAMALAN DENGAN MODEL SVAR PADA DATA INFLASI INDONESIA DANNILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP KURS DOLAR AMERIKA Daivi S. Wardani, Adi Seiawan, Didi B. Nugroho Program Sudi Maemaika Fakulas Sains dan Maemaika,

Lebih terperinci

VERIFIKASI PERHITUNGAN PERANGKAT HOOK (KAIT) OVERHEAD TRAVELLING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 25 TON PADA PABRIK ELEMEN BAKAR NUKLIR

VERIFIKASI PERHITUNGAN PERANGKAT HOOK (KAIT) OVERHEAD TRAVELLING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 25 TON PADA PABRIK ELEMEN BAKAR NUKLIR PRPN BATAN, 4 November 03 VERIFIKASI PERHITUNGAN PERANGKAT HOOK (KAIT) OVERHEAD TRAVELLING CRANE DENGAN KAPASITAS ANGKAT 5 TON PADA PABRIK ELEMEN BAKAR NUKLIR Syamsurrijal Ramdja dan Perus Zacharias PRPN

Lebih terperinci

10/10/2009 ARIERAHAYU@GMAIL.COM MODEL JONES 1991. Paper Deskriptif arierahayu

10/10/2009 ARIERAHAYU@GMAIL.COM MODEL JONES 1991. Paper Deskriptif arierahayu 10/10/2009 ARIERAHAYU@GMAIL.COM MODEL JONES 1991 Paper Deskriptif arierahayu MODEL JONES 1991 Jones mengembangkan model pengestimasi akrual diskresioner untuk mendeteksi manipulasi laba Jones 1991 1 yang

Lebih terperinci

Indikator Ketercapaian Kompetensi Merumuskan. Alokas i Waktu 8x45. Tingkat Ranah. Tingkat Ranah. Materi Pembelajaran

Indikator Ketercapaian Kompetensi Merumuskan. Alokas i Waktu 8x45. Tingkat Ranah. Tingkat Ranah. Materi Pembelajaran SILABUS Nama Sekolah : SMA N 78 JAKARTA Maa Pelajaran : MATEMATIKA LANJUTAN Beban Belajar : 2 sks STANDAR KOMPETENSI: 1. Menyusun lingkaran dan garis singgungnya. Dasar 1.1 Menyusun lingkaran yang memenuhi

Lebih terperinci

Hubungan Karakteristik Perawat Dengan Tingkat Kepatuhan Perawat Melakukan Cuci Tangan di Rumah Sakit Columbia Asia Medan

Hubungan Karakteristik Perawat Dengan Tingkat Kepatuhan Perawat Melakukan Cuci Tangan di Rumah Sakit Columbia Asia Medan ` Hubungan Karaerisi Perawa Dengan Tinga Kepauhan Perawa Melauan Cuci Tangan di Rumah Sai Columbia Asia Medan Rosia Saragih SKM, MKes 1, Naalina Rumapea 2 1 Dosen Faulas Ilmu Keperawaan Universias Darma

Lebih terperinci

TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS KLUSTER UNTUK SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI TEKS BAHASA INDONESIA

TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS KLUSTER UNTUK SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI TEKS BAHASA INDONESIA TEMU KEMBALI INFORMASI BERBASIS KLUSTER UNTUK SISTEM TEMU KEMBALI INFORMASI TEKS BAHASA INDONESIA Amir Hamzah Jurusan Teknik Informaika, Fakulas Teknologi Indusri Insiu Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakara

Lebih terperinci

MODEL OSILASI HARMONIK LOGARITMIK PADA GERAK BEBAN DENGAN MASSA YANG BERUBAH SECARA LINIER TERHADAP WAKTU

MODEL OSILASI HARMONIK LOGARITMIK PADA GERAK BEBAN DENGAN MASSA YANG BERUBAH SECARA LINIER TERHADAP WAKTU 1 MODEL OSILASI HARMONIK LOGARITMIK PADA GERAK BEBAN DENGAN MASSA YANG BERUBAH SECARA LINIER TERHADAP WAKTU MODEL OF HARMONIC LOGARITHMIC MOTION OSCILLATION WITH THE MASSCHANGING LINEARLY WITH TIME Kunlesiowai

Lebih terperinci

KONSTRUKSI DAN PENOMORAN BENANG

KONSTRUKSI DAN PENOMORAN BENANG e Geomer : Yarn and wine wine srengh Shape & area of ne locked area e weigh Load disribuion Soal KOSRUKSI DA PEOMORA EAG SIGLE YAR S S - wis PLY Z PLY Z - wis WIE (S-wis) 3 ex X 3 Z x 3 S DIREC UMERIG

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. dimana investor memberi otoritas pengambilan keputusan kepada manajer.

BAB 1 PENDAHULUAN. dimana investor memberi otoritas pengambilan keputusan kepada manajer. BAB 1 PENDAHULUAN Dunia bisnis sangat sulit terlepas dengan utang karena perusahaan ingin bertahan dan mampu menguasai pangsa pasar di tengah persaingan. Salah satu cara perusahaan adalah memperluas usahanya.

Lebih terperinci

ANALISIS BEDA Fx F.. S u S g u i g y i an a t n o t da d n a Ag A u g s u Su S s u wor o o

ANALISIS BEDA Fx F.. S u S g u i g y i an a t n o t da d n a Ag A u g s u Su S s u wor o o ANALII BEDA Fx. ugiyao da Agus usworo Kosep Peeliia bermaksud meguji keadaa (sesuau) yag erdapa dalam suau kelompok dega kelompok lai Meguji apakah erdapa perbedaa yg Meguji apakah erdapa perbedaa yg sigifika

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran variabel. variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti atau menspesifikasi

BAB III METODE PENELITIAN. 3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran variabel. variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti atau menspesifikasi BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran variabel Definisi operasional adalah definisi yang diberikan kepada suatu variabel atau konstrak dengan cara memberikan arti atau menspesifikasi

Lebih terperinci

PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN KECERDASAN INVESTOR SEBAGAI VARIABEL MODERATING

PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN KECERDASAN INVESTOR SEBAGAI VARIABEL MODERATING PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP RETURN SAHAM DENGAN KECERDASAN INVESTOR SEBAGAI VARIABEL MODERATING (Studi Empiris Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2004-2008)

Lebih terperinci

ANALISIS BEDA. Konsep. Uji t (t-test) Teknik Uji Beda. Agus Susworo Dwi Marhaendro

ANALISIS BEDA. Konsep. Uji t (t-test) Teknik Uji Beda. Agus Susworo Dwi Marhaendro ANALII BEA Agus usworo wi Marhaedro Kosep Peeliia bermaksud meguji keadaa (sesuau) yag erdapa dalam suau kelompok dega kelompok lai Meguji apakah erdapa perbedaa yg sigifika di aara kelompok-kelompok Tekik

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign BAB II URAIAN TEORI A. Penelitian Terdahulu Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign Exchange Exposure pada Bank-Bank yang Go Public di Bursa Efek Jakarta menunjukkan adanya foreign

Lebih terperinci

PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI

PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI PENGARUH MANAJEMEN LABA TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN MEKANISME CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI INFLUENCE OF EARNINGS MANAGEMENT TO FIRM VALUE WITH CORPORATE GOVERNANCE MECHANISM AS

Lebih terperinci

ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN

ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN IKHTISAR 2014 adalah tahun di mana Perseroan kembali mencapai rekor pertumbuhan dan proitabilitas. Perseroan mempertahankan posisinya sebagai Operator berskala terkemuka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keuangan. Laporan keuangan merupakan media komunikasi bagi perusahaan

BAB I PENDAHULUAN. keuangan. Laporan keuangan merupakan media komunikasi bagi perusahaan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Informasi mengenai kinerja perusahaan dapat diperoleh dalam laporan keuangan. Laporan keuangan merupakan media komunikasi bagi perusahaan dengan pihak eksternal dan

Lebih terperinci

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER STATISTIK CUKUP Oleh: Ramayai Rizka M (11810101003), Dey Ardiao (1181010101), Ikfi Ulyawai (1181010103), Falviaa Yulia Dewi (1181010106), Ricki Dio Rosada (11810101034), Nurma Yuia D (11810101035), Wula

Lebih terperinci

PENENTUAN UMUR SIMPAN PADA PRODUK PANGAN. Heny Herawati

PENENTUAN UMUR SIMPAN PADA PRODUK PANGAN. Heny Herawati PENENTUAN UMUR SIMPAN PADA PRODUK PANGAN Heny Herawai Balai Pengkajian Teknologi Peranian Jawa Tengah, Buki Tegalepek, Koak Po 101 Ungaran 50501 ABSTRAK Pengolahan pangan pada induri komerial anara lain

Lebih terperinci

Konsep Siklus Hidup Perusahaan dalam Pengujian Value Relevance dari Earnings dan Cash Flow (Bukti Setelah Periode Krisis dengan Analisis Faktor)

Konsep Siklus Hidup Perusahaan dalam Pengujian Value Relevance dari Earnings dan Cash Flow (Bukti Setelah Periode Krisis dengan Analisis Faktor) Konsep Siklus Hidup Perusahaan dalam Pengujian Value Relevance dari Earnings dan Cash Flow (Bukti Setelah Periode Krisis dengan Analisis Faktor) Erwin Saraswati Abdul Ghofar Fakultas Ekonomi Universitas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam upaya pelaksanaan penelitian, maka peneliti melakukannya pada :

BAB III METODE PENELITIAN. Dalam upaya pelaksanaan penelitian, maka peneliti melakukannya pada : 38 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Dalam upaya pelaksanaan penelitian, maka peneliti melakukannya pada : 1. Tempat Penelitian Guna memperoleh data yang diperlukan dalam penulisan

Lebih terperinci

Abstrak. Ikan nila dapat berkembans biak dcnsan rnudah secara alarni cli kolarn. tantbak. alau pun

Abstrak. Ikan nila dapat berkembans biak dcnsan rnudah secara alarni cli kolarn. tantbak. alau pun M;{alah llmiah sriwijaya, valume XIX, No.I2, iuli 2011 rssn 0r26_468ii Majal, i?i,r;i ls.lrrabec PBNGARUH IIORMON TESTOSTBRON TERIHDAP MASKULIMSASI BENIH IKAN NILA (oreochromis niroicus) DENGAN METODE

Lebih terperinci

SISTEM USAHA TANI TERINTEGRASI TANAMAN-TERNAK SEBAGAI RESPONS PETANI TERHADAP FAKTOR RISIKO. Tjeppy D. Soedjana

SISTEM USAHA TANI TERINTEGRASI TANAMAN-TERNAK SEBAGAI RESPONS PETANI TERHADAP FAKTOR RISIKO. Tjeppy D. Soedjana SISTEM USAHA TANI TERINTEGRASI TANAMAN-TERNAK SEBAGAI RESPONS PETANI TERHADAP FAKTOR RISIKO Tjeppy D. Soedjana Pua Peneliian dan Pengembangan Peernakan, Jalan Raya Pajajaran Kav. E. 59, Bogor 16151 ABSTRAK

Lebih terperinci

MANA YANG LEBIH MEMILIKI VALUE- RELEVANT: NET INCOME ATAU CASH FLOWS (Studi Terhadap Siklus Hidup Organisasi)

MANA YANG LEBIH MEMILIKI VALUE- RELEVANT: NET INCOME ATAU CASH FLOWS (Studi Terhadap Siklus Hidup Organisasi) MANA YANG LEBIH MEMILIKI VALUE- RELEVANT: NET INCOME ATAU CASH FLOWS (Studi Terhadap Siklus Hidup Organisasi) Juniarti Staf Pengajar Fakultas Ekonomi-Universitas Kristen Petra E-mail: yunie@petra.ac.id

Lebih terperinci

PENGARUH STATUS INTERNASIONAL, DIVERSIFIKASI OPERASI DAN LEGAL ORIGIN TERHADAP MANAJEMEN LABA (STUDI PERUSAHAAN ASIA YANG TERDAFTAR DI NYSE)

PENGARUH STATUS INTERNASIONAL, DIVERSIFIKASI OPERASI DAN LEGAL ORIGIN TERHADAP MANAJEMEN LABA (STUDI PERUSAHAAN ASIA YANG TERDAFTAR DI NYSE) PENGARUH STATUS INTERNASIONAL, DIVERSIFIKASI OPERASI DAN LEGAL ORIGIN TERHADAP MANAJEMEN LABA (STUDI PERUSAHAAN ASIA YANG TERDAFTAR DI NYSE) Ratih Indraswari, S.E., M.Sc. ABSTRACT This study aims to provide

Lebih terperinci

Farihatus Sholiha Progam Studi Akuntansi S1, Univesitas Dian Nuswantoro Semarang

Farihatus Sholiha Progam Studi Akuntansi S1, Univesitas Dian Nuswantoro Semarang ANALISIS PENGARUH CURRENT RATIO, DEBT TO EQUITY RATIO, TOTAL ASSETS TURN OVER, DAN NET PROFIT MARGIN TERHADAP PERUBAHAN LABA (Studi kasus perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2010-2012)

Lebih terperinci

3.1 Kerangka Berpikir. Isu corporate governance. muncul karena terjadi. seringkali dikenal dengan istilah agency. problem. Agency problem dalam

3.1 Kerangka Berpikir. Isu corporate governance. muncul karena terjadi. seringkali dikenal dengan istilah agency. problem. Agency problem dalam 1 BAB III KERANGKA BERPIKIR, KONSEP, DAN HIPOTESIS PENELITIAN 3.1 Kerangka Berpikir Isu corporate governance muncul karena terjadi pemisahan antara kepemilikan dengan pengendalian perusahaan, atau seringkali

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nilai perusahaan pada dasarnya dapat diukur melalui beberapa aspek, salah

BAB I PENDAHULUAN. Nilai perusahaan pada dasarnya dapat diukur melalui beberapa aspek, salah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nilai perusahaan pada dasarnya dapat diukur melalui beberapa aspek, salah satunya adalah harga pasar saham perusahaan karena harga pasar saham perusahaan mencerminkan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Definisi konseptual, Operasional dan Pengukuran Variabel

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Definisi konseptual, Operasional dan Pengukuran Variabel BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi konseptual, Operasional dan Pengukuran Variabel 1. Definisi Konseptual Menurut teori teori yang di uraikan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud

Lebih terperinci

Kata kunci : harga saham, volume perdagangan, ukuran perusahaan, bid ask spread.

Kata kunci : harga saham, volume perdagangan, ukuran perusahaan, bid ask spread. PENGARUH HARGA SAHAM, VOLUME PERDAGANGAN DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP BID-ASK SPREAD PADA PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGE YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA Viri Anggraini (virianggraini@ymail.com)

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan dikatakan memiliki tujuan yang bermacam-macam. Ada yang mengatakan bahwa perusahaan berfokus pada pencapaian keuntungan atau laba maksimal atau laba yang

Lebih terperinci

PENGARUH EPS, DPR, ROI, DAN ROE TERHADAP HARGA S AHAM PAD A PERUS AHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI)

PENGARUH EPS, DPR, ROI, DAN ROE TERHADAP HARGA S AHAM PAD A PERUS AHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) PENGARUH EPS, DPR, ROI, DAN ROE TERHADAP HARGA S AHAM PAD A PERUS AHAAN MANUFAKTUR DI BURSA EFEK INDONESIA (BEI) NAS KAH PUBLIKAS I Disusun Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

KORELASI DAN REGRESI LINIER SEDERHANA

KORELASI DAN REGRESI LINIER SEDERHANA KORELASI DAN REGRESI LINIER SEDERHANA 1. Pendahuluan Istilah "regresi" pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton pada tahun 1886. Galton menemukan adanya tendensi bahwa orang tua yang memiliki

Lebih terperinci

PENGARUH TUNTUTAN GANTI RUGI TERHADAP KEBIJAKAN PENENTUAN LABA DALAM LAPORAN KEUANGAN: PENGUJIAN LITIGATION HYPOTHESIS PERUSAHAAN INDONESIA

PENGARUH TUNTUTAN GANTI RUGI TERHADAP KEBIJAKAN PENENTUAN LABA DALAM LAPORAN KEUANGAN: PENGUJIAN LITIGATION HYPOTHESIS PERUSAHAAN INDONESIA PENGARUH TUNTUTAN GANTI RUGI TERHADAP KEBIJAKAN PENENTUAN LABA DALAM LAPORAN KEUANGAN: PENGUJIAN LITIGATION HYPOTHESIS PERUSAHAAN INDONESIA The Influence of Legal Cost to Accounting Choices in Financial

Lebih terperinci

PERCOBAAN I HUKUM NEWTON

PERCOBAAN I HUKUM NEWTON PERCOBAAN I HUKUM NEWTON I. Tujuan Mepelajai geak luus beubah beauan pada bidang daa dengan banuan ai ack ail unuk enenukan hubungan anaa jaak, waku, kecepaan, dan waku, sea hubungan anaa assa, pecepaan

Lebih terperinci

PENGARUH ECONOMIC VALUE ADDED, ARUS KAS OPERASI, RESIDUAL INCOME, EARNINGS, OPERATING LEVERAGE DAN MARKET VALUE ADDED TERHADAP RETURN SAHAM

PENGARUH ECONOMIC VALUE ADDED, ARUS KAS OPERASI, RESIDUAL INCOME, EARNINGS, OPERATING LEVERAGE DAN MARKET VALUE ADDED TERHADAP RETURN SAHAM JURNAL BISNIS DAN AKUNTANSI Vol. 11, No. 1, April 2009, Hlm. 65-78 PENGARUH ECONOMIC VALUE ADDED, ARUS KAS OPERASI, RESIDUAL INCOME, EARNINGS, OPERATING LEVERAGE DAN MARKET VALUE ADDED TERHADAP RETURN

Lebih terperinci

< < < < ry14 < < < +i- -9 -g. 1. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha

< < < < ry14 < < < +i- -9 -g. 1. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha lha ry rq 9 g rrq hq rr! L, +, : F L ah{ _ L.{ b.{ PRATURAN DRKS PRUSAHAAN UMUM PRUM) JAMNAN KRDTT NDONSA NOMOR : 2 /PerDrp{ll2ml TNTANG STANDARD OPRATNG PROCD,R (SOP) PMAMNAN KRDT UMUM BRBASS RJSKO PRUSAHAAN

Lebih terperinci

PENGARUH KEBIJAKAN HUTANG JANGKA PANJANG DAN KEBIJAKAN DIVIDEN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN ARTIKEL ILMIAH

PENGARUH KEBIJAKAN HUTANG JANGKA PANJANG DAN KEBIJAKAN DIVIDEN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN ARTIKEL ILMIAH PENGARUH KEBIJAKAN HUTANG JANGKA PANJANG DAN KEBIJAKAN DIVIDEN TERHADAP NILAI PERUSAHAAN ARTIKEL ILMIAH Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Penyelesaian Program Pendidikan Strata Satu Jurusan Akuntansi

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian atas Pengukuran profitabilitas perusahaan ini adalah jenis penelitian

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian atas Pengukuran profitabilitas perusahaan ini adalah jenis penelitian BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian Penelitian atas Pengukuran profitabilitas perusahaan ini adalah jenis penelitian komparatif yakni penelitian yang dilakukan dengan maksud

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. dengan menggunakan bantuan program SPSS, sebagaimana telah diketahui

BAB IV ANALISIS DATA. dengan menggunakan bantuan program SPSS, sebagaimana telah diketahui BAB IV ANALISIS DATA A. Pengujian Hipotesis Sebelum menjabarkan tentang analisis data dalam bentuk perhitungan dengan menggunakan bantuan program SPSS, sebagaimana telah diketahui hipotesapenelitian sebagai

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Tabel 3.1 Desain Penelitian Tujuan Desain Penelitian Penelitian Jenis dan Metode Unit Analisis Time Horizon Penelitian T-1 Asosiatif/survey Organisasi-Departemen

Lebih terperinci

PENGARUH TRANSAKSI PIHAK-PIHAK ISTIMEWA TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN. Fransiska Jenjang Sri Lestari

PENGARUH TRANSAKSI PIHAK-PIHAK ISTIMEWA TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN. Fransiska Jenjang Sri Lestari PENGARUH TRANSAKSI PIHAK-PIHAK ISTIMEWA TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN Fransiska Jenjang Sri Lestari Prgram Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta Jalan Babarsari 43-44,

Lebih terperinci

MODEL MATEMATIKA REAKSI SINTESIS DIASILGLISEROL MENGGUNAKAN BIOKATALIS MELALUI MEKANISME ESTERIFIKASI TAK REVERSIBLE

MODEL MATEMATIKA REAKSI SINTESIS DIASILGLISEROL MENGGUNAKAN BIOKATALIS MELALUI MEKANISME ESTERIFIKASI TAK REVERSIBLE MAKARA, SAINS, VOL. 15, NO. 1, APRIL 2011: 28-32 MODEL MATEMATIKA REAKSI SINTESIS DIASILGLISEROL MENGGUNAKAN BIOKATALIS MELALUI MEKANISME ESTERIFIKASI TAK REVERSIBLE Heri Hermansyah *), Tania Surya Uami,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan berada dalam lingkungan masyarakat dimana setiap aktivitas

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan berada dalam lingkungan masyarakat dimana setiap aktivitas BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tanggung jawab sosial perusahaan memegang peranan yang penting karena perusahaan berada dalam lingkungan masyarakat dimana setiap aktivitas perusahaan tersebut

Lebih terperinci

PENGARUH ASIMETRI INFORMASI DAN UKURAN PERUSAHAAN PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA DI PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PENGARUH ASIMETRI INFORMASI DAN UKURAN PERUSAHAAN PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA DI PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA TESIS PENGARUH ASIMETRI INFORMASI DAN UKURAN PERUSAHAAN PADA PRAKTIK MANAJEMEN LABA DI PERUSAHAAN PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA NI KETUT MULIATI PROGRAM MAGISTER PROGRAM STUDI AKUNTANSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan ekonomi tidak akan pernah terlepas dari aktivitas investasi. Berbagai

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan ekonomi tidak akan pernah terlepas dari aktivitas investasi. Berbagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kegiatan ekonomi tidak akan pernah terlepas dari aktivitas investasi. Berbagai kegiatan investasi di seluruh dunia yang dilaksanakan dalam skala internasional,

Lebih terperinci

PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI

PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI Oleh : ADITYA RAHMAN HAKIM 2005210181 SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS

Lebih terperinci

FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECENDERUNGAN PENERIMAAN OPINI AUDIT GOING CONCERN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECENDERUNGAN PENERIMAAN OPINI AUDIT GOING CONCERN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA FAKTOR - FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KECENDERUNGAN PENERIMAAN OPINI AUDIT GOING CONCERN PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA Abdul Rahman Baldric Siregar Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi

Lebih terperinci

Kajian Teoritik Sistem Peredam Getaran Satu Derajat Kebebasan

Kajian Teoritik Sistem Peredam Getaran Satu Derajat Kebebasan JURNL TEKNIK MESIN Vol., No., Oober 999 : 56-6 Kajian Teorii Sise Pereda Gearan Sau Deraja Kebebasan Joni Dewano Dosen Faulas Teni, Jurusan Teni Mesin Universias Krisen Pera bsra Gearan yang erjadi pada

Lebih terperinci

UJI ASUMSI KLASIK DENGAN SPSS 16.0. Disusun oleh: Andryan Setyadharma

UJI ASUMSI KLASIK DENGAN SPSS 16.0. Disusun oleh: Andryan Setyadharma UJI ASUMSI KLASIK DENGAN SPSS 16.0 Disusun oleh: Andryan Setyadharma FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2010 1. MENGAPA UJI ASUMSI KLASIK PENTING? Model regresi linier berganda (multiple regression)

Lebih terperinci

Oleh : Hasni Yusrianti. Abstrak

Oleh : Hasni Yusrianti. Abstrak Pengaruh Tingkat Profitabilitas, Struktur Asset, dan Growth Opportunity Terhadap Struktur Modal Pada Perusahaan Manufaktur yang Telah Go Public Di Bursa Efek Indonesia Oleh : Hasni Yusrianti Abstrak Penelitian

Lebih terperinci

PENGARUH EVA DAN RASIO-RASIO PROFITABILITAS TERHADAP HARGA SAHAM

PENGARUH EVA DAN RASIO-RASIO PROFITABILITAS TERHADAP HARGA SAHAM PENGARUH EVA DAN RASIO-RASIO PROFITABILITAS TERHADAP HARGA SAHAM Noer Sasongko & Nila Wulandari Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta Jalan Ahmad Yani, Tromol Pos I, Surakarta 57102 Jawa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri sekarang ini, menunjukkan banyaknya. perusahaan-perusahaan baru yang bermunculan. Hal ini menyebabkan kondisi

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri sekarang ini, menunjukkan banyaknya. perusahaan-perusahaan baru yang bermunculan. Hal ini menyebabkan kondisi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan industri sekarang ini, menunjukkan banyaknya perusahaan-perusahaan baru yang bermunculan. Hal ini menyebabkan kondisi lingkungan bisnis semakin

Lebih terperinci

PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, PROFITABILITAS, LEVERAGE, DAN TIPE KEPEMILIKAN PERUSAHAAN TERHADAP LUAS VOLUNTARY DISCLOSURE LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN

PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, PROFITABILITAS, LEVERAGE, DAN TIPE KEPEMILIKAN PERUSAHAAN TERHADAP LUAS VOLUNTARY DISCLOSURE LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN PENGARUH UKURAN PERUSAHAAN, PROFITABILITAS, LEVERAGE, DAN TIPE KEPEMILIKAN PERUSAHAAN TERHADAP LUAS VOLUNTARY DISCLOSURE LAPORAN KEUANGAN TAHUNAN Ardi Murdoko 1 Lana Sularto 2 1 Taman Manggis Indah F No.

Lebih terperinci

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknis ini menitik beratkan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data 3.1.1. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kuantitatif, karena data yang diperoleh nantinya berupa angka. Dari angka

Lebih terperinci

MANFAAT RASIO KEUANGAN UNTUK MEMPREDIKSI PERTUMBUHAN LABA (Study Kasus Pada Perusahaan Real Estate dan Property yang terdaftar di BEJ)

MANFAAT RASIO KEUANGAN UNTUK MEMPREDIKSI PERTUMBUHAN LABA (Study Kasus Pada Perusahaan Real Estate dan Property yang terdaftar di BEJ) MANFAAT RASIO KEUANGAN UNTUK MEMPREDIKSI PERTUMBUHAN LABA (Study Kasus Pada Perusahaan Real Estate dan Property yang terdaftar di BEJ) Disusun Oleh: GATOT WIDYANTO Nim: B 200 020 064 JURUSAN AKUNTANSI

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. penjelasan tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih.. Dalam

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. penjelasan tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih.. Dalam BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 21 Pengertian Regresi Linier Pengertian regresi secara umum adalah sebuah alat statistik yang memberikan penjelasan tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih

Lebih terperinci

SOLUSI SISTEM PERSAMAAN DIFFERENSIAL NON LINEAR MENGGUNAKAN METODE EULER BERBANTUAN PROGRAM MATLAB SKRIPSI

SOLUSI SISTEM PERSAMAAN DIFFERENSIAL NON LINEAR MENGGUNAKAN METODE EULER BERBANTUAN PROGRAM MATLAB SKRIPSI SOLUSI SISTEM PERSAMAAN DIFFERENSIAL NON LINEAR MENGGUNAKAN METODE EULER BERBANTUAN PROGRAM MATLAB SKRIPSI oleh: RILA DWI RAHMAWATI NIM: 0350050 JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perkembangan zaman yang semakin modern ini data adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan baik individu, instansi, organisasi dan perusahaan. Sebuah perusahaan sangat

Lebih terperinci

BAB II DIVERSIFIKASI USAHA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

BAB II DIVERSIFIKASI USAHA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS BAB II DIVERSIFIKASI USAHA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS 2.1 Diversifikasi Usaha Diversifikasi usaha merupakan memperluas pasar dengan mengembangkan produk baru yang sesuai dengan pasar agar memiliki keunggulan

Lebih terperinci

CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA SATU JALUR CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA DUA JALUR

CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA SATU JALUR CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA DUA JALUR CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA SATU JALUR Data Sampel I Data Sampel II Data Sampel III 5 4 7 9 8 5 9 4 6 CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA DUA JALUR Kategori Data Sampel I Data Sampel

Lebih terperinci

Penggunaan Komponen-Komponen Pembentuk Pajak Tangguhan dalam Mendeteksi Manajemen Laba: Sebuah Pendekatan Baru di Indonesia

Penggunaan Komponen-Komponen Pembentuk Pajak Tangguhan dalam Mendeteksi Manajemen Laba: Sebuah Pendekatan Baru di Indonesia Penggunaan Komponen-Komponen Pembentuk Pajak Tangguhan dalam Mendeteksi Manajemen Laba: Sebuah Pendekatan Baru di Indonesia Irreza Universas Indonesia Yulianti Universas Indonesia ABSTRACT This study is

Lebih terperinci

BAB II ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN

BAB II ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN BAB II ANALISIS LAPORAN KEUANGAN PERUSAHAAN A. Arti Penting Analisis Laporan Keuangan Analisis terhadap laporan keuangan suatu perusahaan pada dasarnya karena ingin mengethaui tingkat profitabilitas (keuntungan)

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Uji Asumsi. Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi,

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Hasil Uji Asumsi. Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi, BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Uji Asumsi Sebelum melakukan analisis dengan menggunakan analisis regresi, terlebih dahulu perlu dilakukan uji asumsi terhadap data penelitian. Uji asumsi yang dilakukan

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN 1 BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Statistik Deskriptif Penelitian ini menggunakan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, baik perusahaan dibidang keuangan maupun bidang non-keuangan sebagai sampel

Lebih terperinci

Mohamad Djasuli, SE.,M.Si.,QIA Gabrila Aniza Putri Gita Arasy Harwida, SE.,Ak.,M.Tax.,QIA

Mohamad Djasuli, SE.,M.Si.,QIA Gabrila Aniza Putri Gita Arasy Harwida, SE.,Ak.,M.Tax.,QIA PENGARUH TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK, TINGKAT HUTANG, PROFITABILITAS DAN UKURAN PERUSAHAAN TERHADAP KEBIJAKAN DIVIDEN (STUDI PADA PERUSAHAAN BUMN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA) Mohamad Djasuli,

Lebih terperinci

PENGARUH LABA AKUNTANSI DAN KOMPONEN ARUS KAS TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

PENGARUH LABA AKUNTANSI DAN KOMPONEN ARUS KAS TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA PENGARUH LABA AKUNTANSI DAN KOMPONEN ARUS KAS TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN MANUFAKTUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA Satria Pratama (satriapratama582@gmail.com) Dinnul Alfian Akbar (dinnul_alfian_akbar@yahoo.com)

Lebih terperinci

PENGARUH MANAJEMEN LABA SEBELUM INITIAL PUBLIC OFFERINGS TERHADAP KINERJA KEUANGAN SERTA DAMPAKNYA TERHADAP RETURN

PENGARUH MANAJEMEN LABA SEBELUM INITIAL PUBLIC OFFERINGS TERHADAP KINERJA KEUANGAN SERTA DAMPAKNYA TERHADAP RETURN TESIS PENGARUH MANAJEMEN LABA SEBELUM INITIAL PUBLIC OFFERINGS TERHADAP KINERJA KEUANGAN SERTA DAMPAKNYA TERHADAP RETURN SAHAM PADA PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA RAHAYU KARTIKA DEWI PROGRAM PASCASARJANA

Lebih terperinci

PENGARUH ARUS KAS BEBAS DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN LABA

PENGARUH ARUS KAS BEBAS DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN LABA PENGARUH ARUS KAS BEBAS DAN KOMITE AUDIT TERHADAP MANAJEMEN LABA AKHMAD BAKKRUDIN ZUHRI TRI JATMIKO WAHYU PRABOWO, SE., M.Si., Akt., ABSTRACT This study was aimed to analyze the effect of free cash flow

Lebih terperinci

PENDEKATAN MODEL MATEMATIS UNTUK MENENTUKAN PERSENTASE MARKUP HARGA JUAL PRODUK

PENDEKATAN MODEL MATEMATIS UNTUK MENENTUKAN PERSENTASE MARKUP HARGA JUAL PRODUK PENDEKATAN MODEL MATEMATIS UNTUK MENENTUKAN PERSENTASE MARKUP HARGA JUAL PRODUK Oviliani Yenty Yuliana Dosen Fakultas Ekonomi, Jurusan Akuntansi Universitas Kristen Petra Siana Halim Dosen Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

Usulan Perubahan Anggaran Dasar Bank Permata

Usulan Perubahan Anggaran Dasar Bank Permata Usulan Perubahan Anggaran Dasar Bank Permata No. ANGGARAN DASAR PT BANK PERMATA Tbk USULAN PERUBAHAN ANGGARAN DASAR PT BANK PERMATA Tbk Peraturan 1. Pasal 6 ayat (4) Surat saham dan surat kolektif saham

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI LUAS PENGUNGKAPAN SUKARELA PADA LAPORAN TAHUNAN PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA. Skripsi

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI LUAS PENGUNGKAPAN SUKARELA PADA LAPORAN TAHUNAN PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA. Skripsi FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI LUAS PENGUNGKAPAN SUKARELA PADA LAPORAN TAHUNAN PERUSAHAAN DI BURSA EFEK INDONESIA Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjana Ekonomi (S1) Pada

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 3.1.1 Definisi Konseptual Kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan kinerja organisasi

Lebih terperinci

PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN DAN KUALITAS AUDIT TERHADAP MANAJEMEN LABA

PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN DAN KUALITAS AUDIT TERHADAP MANAJEMEN LABA PENGARUH STRUKTUR KEPEMILIKAN DAN KUALITAS AUDIT TERHADAP MANAJEMEN LABA (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2009-2011) SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Laporan keuangan merupakan proses akhir dalam proses akuntansi yang

BAB I PENDAHULUAN. Laporan keuangan merupakan proses akhir dalam proses akuntansi yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Laporan keuangan merupakan proses akhir dalam proses akuntansi yang mempunyai peranan penting bagi pengukuran dan penilaian kinerja sebuah perusahaan. Perusahaan

Lebih terperinci

REGRESI LINEAR SEDERHANA

REGRESI LINEAR SEDERHANA REGRESI LINEAR SEDERHANA DAN KORELASI 1. Model Regresi Linear 2. Penaksir Kuadrat Terkecil 3. Prediksi Nilai Respons 4. Inferensi Untuk Parameter-parameter Regresi 5. Kecocokan Model Regresi 6. Korelasi

Lebih terperinci

PENGENDALIAN VARIABEL PENGGANGGU / CONFOUNDING DENGAN ANALISIS KOVARIANS Oleh : Atik Mawarni

PENGENDALIAN VARIABEL PENGGANGGU / CONFOUNDING DENGAN ANALISIS KOVARIANS Oleh : Atik Mawarni PENGENDALIAN VARIABEL PENGGANGGU / CONFOUNDING DENGAN ANALISIS KOVARIANS Oleh : Atik Mawarni Pendahuluan Dalam seluruh langkah penelitian, seorang peneliti perlu menjaga sebaik-baiknya agar hubungan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggung jawab yang berpijak pada single bottom BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penelitian Tanggung jawab sosial merupakan tanggung jawab perusahan terhadap lingkungan dan para pemangku kepentingan. Tanggung jawab sosial menjadikan perusahaan

Lebih terperinci

NILAI AKUMULASI ANUITAS AKHIR DENGAN ASUMSI DISTRIBUSI UNIFORM UNTUK m KALI PEMBAYARAN

NILAI AKUMULASI ANUITAS AKHIR DENGAN ASUMSI DISTRIBUSI UNIFORM UNTUK m KALI PEMBAYARAN NILAI AKUMULASI ANUITAS AKHIR DENGAN ASUMSI DISTRIBUSI UNIFORM UNTUK m KALI PEMBAYARAN Nomi Kelari *, Hasriai 2, Musraii 2 Mahasiswa Program S Maemaika 2 Dose Jurusa Maemaika Fakulas Maemaika da Ilmu Pegeahua

Lebih terperinci

ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MEMPREDIKSI KONDISI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN MANUFATUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA DIAN MARWATI

ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MEMPREDIKSI KONDISI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN MANUFATUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA DIAN MARWATI ANALISIS RASIO KEUANGAN UNTUK MEMPREDIKSI KONDISI FINANCIAL DISTRESS PADA PERUSAHAAN MANUFATUR YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA DIAN MARWATI UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO SEMARANG ABSTRAK Tujuan penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi peristiwa. Studi peristiwa menurut Jogiyanto

BAB III METODELOGI PENELITIAN. Penelitian ini merupakan studi peristiwa. Studi peristiwa menurut Jogiyanto 37 BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan studi peristiwa. Studi peristiwa menurut Jogiyanto (2010) merupakan studi yang mempelajari reaksi pasar terhadap suatu peristiwa

Lebih terperinci

PENGGUNAAN METODE BY PURCHASE DAN POOLING OF INTEREST DALAM RANGKA PENGGABUNGAN USAHA (BUSINESS COMBINATION) DAN EFEKNYA TERHADAP PAJAK PENGHASILAN

PENGGUNAAN METODE BY PURCHASE DAN POOLING OF INTEREST DALAM RANGKA PENGGABUNGAN USAHA (BUSINESS COMBINATION) DAN EFEKNYA TERHADAP PAJAK PENGHASILAN Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 1, No. 2, Nopember 1999: 132-143 132 PENGGUNAAN METODE BY PURCHASE DAN POOLING OF INTEREST DALAM RANGKA PENGGABUNGAN USAHA (BUSINESS COMBINATION) DAN EFEKNYA TERHADAP PAJAK

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN

SATUAN ACARA PERKULIAHAN FR-FE-1.1-R0 SATUAN ACARA PERKULIAHAN FAKULTAS : EKONOMI JURUSAN : S1. AKUNTANSI MATA KULIAH : STANDAR DAN ANALISIS LAPORAN KEUANGAN KODE MATA KULIAH : EA33471 BEBAN KREDIT : 2 sks TAHUN AKADEMIK : 2011/2012

Lebih terperinci

VARIABEL BEBAS DAN VARIABEL TERIKAT. Oleh : Amin Budiamin

VARIABEL BEBAS DAN VARIABEL TERIKAT. Oleh : Amin Budiamin VARIABEL BEBAS DAN VARIABEL TERIKAT Oleh : Amin Budiamin Capter 12 Mendesain dan Mengevaluasi Variabel Bebas Cepter 13 Mendesain atau Memilih Variabel Terikat Mendesain dan Mengevaluasi Variabel Bebas

Lebih terperinci

ANALISIS PENGARUH RASIO PROFITABILITAS TERHADAP HARGA SAHAM PADA SEKTOR PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA

ANALISIS PENGARUH RASIO PROFITABILITAS TERHADAP HARGA SAHAM PADA SEKTOR PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA ANALISIS PENGARUH RASIO PROFITABILITAS TERHADAP HARGA SAHAM PADA SEKTOR PERBANKAN YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA Nanik Lestari 1), Elsis Sabrina 2) 1) Jurusan Manajemen Bisnis, Politeknik Negeri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan nilai perusahaan. Tingginya nilai perusahaan dapat

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan nilai perusahaan. Tingginya nilai perusahaan dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Tujuan utama perusahaan adalah memaksimalkan profit atau laba untuk meningkatkan nilai perusahaan. Tingginya nilai perusahaan dapat memberikan kemakmuran

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Untuk menguji apakah alat ukur (instrument) yang digunakan memenuhi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Untuk menguji apakah alat ukur (instrument) yang digunakan memenuhi BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil uji itas dan Reliabilitas Untuk menguji apakah alat ukur (instrument) yang digunakan memenuhi syarat-syarat alat ukur yang baik, sehingga mengahasilkan

Lebih terperinci

PENGARUH EARNINGS MANAGEMENT TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI

PENGARUH EARNINGS MANAGEMENT TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI PENGARUH EARNINGS MANAGEMENT TERHADAP NILAI PERUSAHAAN DENGAN CORPORATE GOVERNANCE SEBAGAI VARIABEL PEMODERASI SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) pada Program

Lebih terperinci

NILAI DAN STANDAR MERCK

NILAI DAN STANDAR MERCK Be well NILAI DAN SANDAR MERCK DASAR KEBERHASILAN KIA ata ertib Edisi III BANUAN LAIN Sumber Daya untuk Karyawan Supervisor atau Manajer Mulailah dengan berkonsultasi kepada orang yang paling memahami

Lebih terperinci