PENGARUH SEBARAN SUHU UDARA DARI AUSTRALIA TERHADAP SUHU UDARA DI BALI. Oleh, Erasmus Kayadu

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENGARUH SEBARAN SUHU UDARA DARI AUSTRALIA TERHADAP SUHU UDARA DI BALI. Oleh, Erasmus Kayadu"

Transkripsi

1 PENGARUH SEBARAN SUHU UDARA DARI AUSTRALIA TERHADAP SUHU UDARA DI BALI Oleh, Erasmus Kayadu BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Ngurah Rai Denpasar Bali 1. PENDAHULUAN Suhu udara di suatu tempat dapat mempengaruhi pola kehidupan ditempat tersebut. Suhu udara yang dingin dan suhu udara panas dapat menyebabkan ketidaknyamanan dalam beraktivitas. Maka manusia selalu menyesuaikan perilakunya dengan keadaan suhu udara. Ketika musim dingin dan musim panas khususnya di belahan utara dan selatan bumi maka aktivitas dan pola hidup akan diselaraskan dengan pola suhu udara saat itu. Daerah beriklim tropis cenderung hangat sepanjang tahun, aktivitas dan pola hidup masyarakat yang hidup di daerah tropispun disesuaikan dengan pola suhu yang selalu hangat. Dengan demikian unsur meteorologi suhu udara sangat mempengaruhi aktivitas dan pola kehidupan. Besaran suhu udara ditentukan oleh letak suatu tempat. Untuk daerah yang letaknya pada ketinggian maka suhu udara cenderung lebih dingin. Hal ini karena adanya penurunan suhu terhadap ketinggian yang dikenal sebagai lapse rate, tidaklah mengherankan apabila di daerah pegunungan suhu udara lebih rendah dibandingkan dengan daerah yang terletak pada mean sea level. Suhu udarapun ditentukan oleh peredaran semu matahari dari utara ke selatan dan sebaliknya. Pergerakan semu matahari ini menyebabkan perbedaan penerimaan sinaran matahari sehingga terjadi perbedaan suhu udara. Maka terjadilah pola musim dibelahan utara dan selatan bumi maupun daerah disekitar ekuator. Suhu udara juga dapat dipengaruhi oleh pergerakan massa udara disekitarnya baik secara konveksi, adveksi maupun turbulensi. Pergerakan massa udara selain adveksi, konveksi dan turbulensi juga akan membawa massa, energi dan momentum. Pulau Bali terletak dikisaran 8 o LS dan 115 o BT. Pulau yang menjadi destinasi wisata utama di Indonesia ini, memiliki pola suhu udara yang dipengaruhi oleh letak, pergerakan semu matahari dan pergerakan massa udara. Hal ini ditunjukkan dengan suhu yang cenderung lebih panas pada bulan Oktober sampai April dan suhu yang cenderung lebih dingin pada bulan Mei sampai dengan September. Pola suhu ini merujuk pada pola monsunal, hanya saja ketika musim kemarau suhu cenderung dingin, musim penghujan suhu udara cenderung panas. Daerah destinasi wisata seperti Bedugul dengan Pura Danau Beratan dan Kintamani dengan Gunung Batur memiliki suhu yang cenderung sejuk sepanjang tahun. Tulisan ini bertujuan mempelajari pengaruh sebaran suhu udara di Australia terhadap suhu udara di Bali dengan mengambil studi kasus tanggal 3 10 Februari Pemilihan unsur suhu udara karena massa udara sangat identik dengan suhu udara. Selain itu, apakah kondisi massa udara akibat tekanan tinggi di Australia yang panas, kering dan stabil berpengaruh di Bali pada musim penghujan. Pengambilan sampel data 3 10 Februari 2015 didasari pada klimatologis suhu udara di Stasiun Meteorologi Kelas I Ngurah Rai Denpasar, suhu maksimum absolut terjadi pada bulan Februari. Selain itu terdapat jeda musim hujan pada monsun dingin yang menyebabkan berkurangnya curah hujan hingga 88 % pada dasarian I Februari 2015 di Stasiun Meteorologi Kelas I Ngurah Rai Denpasar, Bali.

2 2. DATA DAN METODE Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data suhu udara tiap setengah jam. Data tersebut diambil dari meteorologi report ( Metar ). Data metar dipertukarkan secara internasional untuk keselamatan penerbangan sesuai dengan Civil Aviation Sefety Regulation Part 174 dari International Civil Aviation Organisation ( ICAO ) tentang Aeronautical Meteorological Information Services. Data suhu udara yang digunakan adalah Stasiun Meteorologi Kelas I Ngurah Rai Denpasar Bali dengan location indicator ICAO WADD dan Meteorology Office Port Hedland Australia dengan location indicator ICAO YPPD. Metodologi penelitian dilakukan sebagai berikut : a. Validasi Data Dilakukan uji validasi terhadap data suhu udara Stasiun Meteorologi Kelas I Ngurah Rai maupun dari suhu udara Port Hedland. Data meteorologi adalah hasil pengamatan sehingga merupakan data interval. Data ini diperoleh dengan menggunakan alat yang dikalibarasi sesuai standar kalibrasi yang dipersyaratkan oleh World Meteorology Organisation. Pada Annex 3 ICAO, data meteorologi metar yang digunakan untuk pelayanan keselamatan penerbangan adalah data yang wajib diperoleh dari alat yang terkalibrasi. Bagaimanapun dalam penelitian ini akan dilakukan uji statistika apakah data yang digunakan valid. Untuk itu akan dilakukan uji validasi dengan membandingkan nilai r hitung korelasi Pearson Product Moment dengan r tabel. Apabila r hitung > r tabel maka data valid, r hitung < r tabel maka data tidak valid. Perhitungan validasi menggunakan SPSS 20. b. Uji Hipotesa Melakukan uji hipotesa dengan melakukan uji t dengan df = n-2 melalui pengujian 2 sisi dan signifikansi α = 0,05 dengan hipotesa : Ho :b1 =0, Tidak ada pengaruh sebaran suhu udara di Australia terhadap Suhu udara di Bali H1 : b1 0, Ada pengaruh sebaran suhu udara di Australia terhadap suhu udara di Bali. Jika t hitung > t tabel maka hipotesa diterima, bahwa ada pengaruh dari sebaran suhu udara di Australia terhadap suhu udara di Bali. Jika t hitung < t tabel maka hipotesa ditolak, bahwa tidak ada pengaruh dari sebaran suhu udara di Australia terhadap Suhu udara di Bali. Untuk menentukan t hitung digunakan : t hitung = (r (n 2))/ (1 r^2 ) Pengujian hipotesa hanya dilakukan pada suhu udara rata-rata dan suhu udara harian antara Stasiun Meteorologi Kelas I Ngurah Rai dan Port Hedland. Untuk mendapatkan nilai r korelasi suhu udara rata-rata dan suhu harian antara Ngurah Rai dan Port Hedland. Perhitungan menggunakan SPSS 20.

3 c. Karakteristik Pengaruh Dalam mengukur besarnya pengaruh digunakan : Koefisien Determinasi K= r 2 x 100 % Dengan karakteristik pengaruh KD = sangat kuat, KD = 60 79,9 kuat, KD = 40 59,9 sedang, KD = 20 39,9 lemah dan KD = 00 19,9 sangat lemah. d. Analisis fisis dan dinamis Analisis fisis dan dinamis dilakukan dengan interpretasi terhadap grafik suhu udara, grafik seruakan dingin, angin, citra satelit dan grafik hujan. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN a. Validasi Data Hasil validasi data ditunjukkan pada gambar 1 dan gambar 2 berikut : 1 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 0,978 0,968 0,954 0,964 0,97 0,881 0,946 0,917 0,368 0,368 0,368 0,368 0,368 0,368 0,368 0,368 3feb 4feb 5feb 6feb 7feb 8feb 9feb 10feb r Tabel r Hitung Gambar 1. r Hitung dan r Tabel Validasi Data Ngurah Rai 1 0,9 0,8 0,7 0,6 0,5 0,4 0,3 0,2 0,1 0 0,93 0,97 0,933 0,976 0,97 0,956 0,974 0,83 0,368 0,368 0,368 0,368 0,368 0,368 0,368 0,368 3feb 4feb 5feb 6feb 7feb 8feb 9feb 10feb r tabel r hitung Gambar 2. r Hitung dan r Tabel Validasi Data Port Hedland Dari hasil validasi, r hitung lebih besar dari r tabel. Pada Gambar 1, Ngurah Rai dengan jumlah data 48, setelah dihitung Korelasi Pearson Product Moment, uji satu arah untuk tanggal 3 10 Februari 2015 diperoleh r antara 0,881 sampai dengan

4 0,978 dengan signifikan 0,00. R tabel 0,368 diperoleh dari df=48 Signifikan α = 0,01. Nilai korelasi diterima karena signifikansi hitung 0,00 lebih kecil dari signifikansi tabel 0,01. Karena semua r hitung lebih besar dari r tabel maka data valid. Pada Gambar 2, Port Hedland dengan jumlah data 48, setelah dihitung Korelasi Pearson Product Moment, uji satu arah untuk tanggal 3 10 Februari 2015 diperoleh r antara 0,88 sampai dengan 0,976 dengan signifikan 0,00. R tabel 0,368 diperoleh dari df=48 Signifikan 0,01. Nilai korelasi diterima karena signifikansi hitung 0,00 lebih kecil dari signifikansi tabel α = 0,01. Karena semua r hitung lebih besar dari r tabel maka data valid. Data yang merupakan hasil pengamatan dengan alat yang terkalibrasi adalah data yang valid. Jika semua peralatan terkalibrasi sesuai standar maka datanya sangat berguna untuk memberikan informasi yang benar. Data input benar maka output diharapkan mendekati kebenaran. Hal ini memberikan keyakinan bahwa menggunakan data dari peralatan yang dikalibrasi sesuai dengan standar yang sudah ditentukan adalah data yang valid. b. Uji Hipotesa Untukmelakukan pengujian terhadap hipotesa maka t hasil perhitungan dan t tabel seperti gambar 3. 25,00 20,00 15,00 10,00 5,00 0,00 20,63 14,34 14,89 12,26 10,76 9,40 7,42 5,23 5,97 2,013 2,013 2,013 2,013 2,013 2,013 2,013 2,013 2,013 3feb 4feb 5feb 6feb 7feb 8feb 9feb 10feb Rata2 t Hitung t Tabel Gambar 3. t hitung dan t tabel Korelasi Port Hedland dan Ngurah Rai Hasil korelasi antara Port Hedland dan Ngurah Rai signifikansi 0.00, t hitung terendah 5,23 pada tanggal 8 Februari 2015, t hitung terbesar 20,63 pada tanggal 3 Februari Untuk t tabel = 2,013 diperoleh dari df=n-2 =46 dan signifikan pada α = 0,05. Karena signifikansi hitung lebih kecil dari segnifikansi tabel maka uji t dapat diterima. Karena t hitung lebih besar dari t tabel maka hipotesa diterima bahwa ada pengaruh dari sebaran suhu udara di Australia terhadap suhu udara di Bali. c. Karakteristik Pengaruh NO TANGGAL NILAI KD KARAKTERISTIK PENGARUH 1 3 Februari ,3 Sangat Kuat 2 4 Februari ,6 Kuat 3 5 Februari ,5 Sedang 4 6 Februari ,7 Sangat Kuat 5 7 Februari ,8 Sangat Kuat 6 8 Februari ,3 Lemah 7 9 Februari ,7 sedang 8 10 Februari ,8 Kuat Tabel 1. Karakteristik Pengaruh Suhu Udara Australia di Bali Selanjutnya seberapakah pengaruh sebaran suhu udara dari Australia yang bisa menginduksi suhu udara di Bali?. Dari Tabel 1, jumlah 8 hari penelitian diperoleh 3

5 3 Feb 4 Feb 5 Feb 6 Feb 7 Feb 8 Feb 9 Feb 10 Feb hari pengaruh sangat kuat, 2 hari pengaruh kuat, 2 hari sedang dan 1 hari lemah. Pengaruh sangat kuat dari sebaran suhu udara Australia di Bali pada tanggal 3, 6 dan 7 Februari Pengaruh kuat dari sebaran suhu udara Australia di Bali pada tanggal 4 dan 10 Februari Pengaruh suhu udara sedang pada tanggal 5 dan 9 Februari Pengaruh suhu udara lemah pada tanggal 8 Februari ,0 80,0 60,0 40,0 20,0 0,0 90,3 81,7 82,8 71,6 62,7 65,8 54,5 56,3 45,5 43,7 37,3 34,2 28,4 9,7 18,3 17,2 3feb 4feb 5feb 6feb 7feb 8feb 9feb 10feb Koefisien diterminasi (Pengaruh Dominan ) Pengaruh dari faktor lain Gambar 4. Koefisien Determinasi Korelasi Port Hedland dan Ngurah Rai Dari indikator karakteristik pengaruh, ketika pengaruh sangat kuat dan kuat maka massa udara dari Australia mendominasi atmosfir di Bali. Massa udara yang panas, kering dan stabil dapat dirasakan di Bali dengan suhu udara yang terasa panas, musim penghujan seolah olah berubah menjadi musim kemarau. Ketika pengaruh massa udara Australia melemah maka akan berganti dengan massa udara lain. Pengaruh massa udara Australia berubah intensitasnya dari hari ke hari. Dengan demikian dalam suatu perioda di musim penghujan, pengaruh massa udara dari Australia berubahubah. d. Analisis Fisis dan Dinamis Atmosfer tanggal 3 10 Februari Kondisi atmosfer tanggal 3 10 Februari 2015 menunjukkan : Suhu Port Hedland Suhu Ngurah Rai Gambar 5. Grafik Suhu Udara di Port Hedland dan Ngurah Rai Dari gambar 5, suhu udara di Port Hedland dalam periode 3-10 Februari 2015 cenderung naik. Pada periode yang sama suhu udara di Ngurah Rai cenderung menurun terutama tanggal 8 10 Februari Pada gambar 6, penurunan suhu udara ini bersamaan dengan menguatnya seruakan dingin dari monsun dingin yang terjadi tanggal 8 9 Februari Dengan demikian karakteristik pengaruh sebaran massa udara Australia menjadi sedang dan lemah karena ada fakfor lain yang mempengaruhi atmosfer di Bali.

6 Gambar 6. Indeks Seruakan Dingin tanggal 1 9 Februari 2015 Sumber BMKG: Analisis Kejadian Banjir DKI Jakarta 9 Feb Gambar 7, Angin Gradien Valid 4 Februari 2015 Gambar 8. Windrose di Ngurah Rai Tanggal 3 10 Februari 2015 Dari gambar 7, arah angin pada periode 3 10 Februari 2015 umumnya dari arah tenggara hingga barat daya. Angin tenggara dan selatan yang memasuki daerah NTT, NTB dan Bali mendesak pumpun antar tropis ( ITCZ) hingga ke selatan Sulawesi dan

7 Laut Banda. Gambar 8, menunjukkan gambar kembang angin ( windrose ) tanggal 3 10 Februari 2015 di Ngurah Rai yang berubah-ubah arah. Pada periode 3 10 Februari 2015 sekitar 34 % arah angin dari timur hingga selatan. Kecepatan angin maksimum selama periode ini knots, arahnya dari timur hingga tenggara. Bulan Februari yang identik dengan angin baratan akibat kuatnya monsun dingin seolah-olah berhenti sejenak dan memberi kesempatan kepada angin timuran untuk masuk hingga ke Bali. Pergerakan angin yang membawa energi, massa, momentum akan membawa massa udara Australia yang panas, kering dan stabil hingga ke daerah Bali.Hal ini ditunjukkan dengan karakteristik pengaruh yang sedang hingga sangat kuat pada tanggal 3 7 Februari Oleh karena itu pada periode 3 8 Februari atmosfer di Bali seolah-olah sedang terjadi musim kemarau yang panas. Gambar 9, Citra Satelit Tanggal 3 10 Februari 2015 Jam UTC Gambar 9 adalah citra satelit cuaca tanggal 3 10 Februari 2015 jam UTC. Kotak merah menunjukkan area minimum tutupan awan. Mulai tanggal 3 Februari 2014 sampai dengan 8 Februari 2015, udara kering, panas dan stabil sebaran dari massa udara Australia menguasai bagian selatan Indonesia Tengah hingga Indonesia Timur. Pias Pumpun Antar Tropis ( ITCZ ) didesak kearah utara sehingga daerah liputan awan lebih dominan di bagian utara Indonesia Tengah dan Indonesia Timur. Jadi dari citra satelit terlihat bahwa pengaruh massa udara Australia yang panas kering dan stabil sangat dominan pada periode 3 8 Februari Hal ini ditunjukkan dengan karakterisrik pengaruh yang sedang hingga sangat kuat pada tanggal 3-7 Februari Dari gambar 10, terdapat jeda hujan antara tanggal 2 8 Februari Jeda hujan ini dikarenakan melemahnya monsun dingin Asia.Hal ini biasanya disebut fase jeda monsun ( Break Monsoon Phase ). Dari perhitungan pengaruh dengan koefisien determinasi pada rentang waktu 3 7 Februari 2015 maka jeda monsun fase di Bali disebabkan pengaruh yang sedang hingga sangat kuat dari sebaran suhu massa udara Australia. Sebaran massa udara Australia ini, seolah-olah menjadi penghalang yang tdk dapat dilalui oleh sirkulasi udara monsun dingin. Jeda monsun fase berakhir di Bali dimulai tanggal 9 Februari 2015 dengan puncaknya hujan tanggal 11 Februari Hal ini terjadi karena melemahnya pengaruh massa udara Australia pada tanggal 8 9 Februari Jika puncak hujan di Jakarta tanggal 9 10 Februari 2015 maka puncak hujan untuk Ngurah Rai mengalami keterlambatan 1 2 hari, jika dibandingkan dengan Jakarta dan sekitarnya.

8 19Jan 20Jan 21Jan 22Jan 23Jan 24Jan 25Jan 26Jan 27Jan 28Jan 29Jan 30Jan 31Jan 1Feb 2Feb 3Feb 4Feb 5Feb 6Feb 7Feb 8Feb 9Feb 10Feb 11Feb 12Feb '13Feb 14Feb mm ,7 17,1 16,6 0,4 15,1 1,7 18,2 0 7,8 14,7 5, ,4 11,3 Break Monsoon Phase 0 0 0, ,4 2,1 40,2 0,2 6,2 10,8 tanggal Gambar 10. Curah Hujan di Ngurah Rai Tanggal 19 Januari 14 Februari Gambar 11. Anomali Curah Hujan Dasarian I Februari 2015 di Bali Sumber: Stasiun Klimatologi Klas II Negara Bali Gambar 11 menunjukkan pengurangan curah hujan hampir di seluruh Bali pada Dasarian I Februari Kabupaten Badung, Kota Denpasar, Kabupaten Bangli, Kabupaten Tabanan, Kabupaten Jembrana Bagian Barat, Buleleng Bagian Timur mengalami pengurangan curah hujan yang sangat signifikan. Pengurangan yang signifikan ini karena adanya break monsoon phase. Untuk Stasiun Meteorologi Ngurah Rai Kelas I Denpasar, reduksi curah hujan hingga 105,7 mm atau 88 %. Fase jeda musim hujan di Bali karena monsun dingin melemah dan sangat kuat dan kuatnya pengaruh sebaran suhu dari massa udara Australia di Bali. Hal ini ditunjukkan dengan karakterisrik pengaruh yang sedang hingga sangat kuat pada tanggal 3-7 Februari Akhirnya terjadi pengurangan curah hujan yang signifikan pada dasarian I Februari 2015.

9 4. KESIMPULAN a. Data meteorologi yang diperoleh dari pengamatan dalam penelitian ini valid, sehingga tidak ada keraguan dalam menggunakan data meteorologi untuk berbagai keperluan pembangunan. b. Karena t hitung lebih besar dari t tabel maka hipotesa diterima bahwa ada pengaruh sebaran suhu udara Australia terhadap suhu udara di Bali. c. Pengaruh sebaran suhu udara Australia terhadap suhu udara di Bali berbeda intensitasnya dari hari ke hari. Ada pengaruh yang sangat kuat, kuat, sedang dan lemah. Untuk periode 3 10 Februari 2015, pengaruh sangat kuat 3 hari, kuat 2 hari sedang 2 hari dan lemah 1 hari. d. Terdapat break monsoon phase ( fase jeda monsun ) karena sangat kuat dan kuatnya pengaruh massa udara Australia di Bali. e. Masuknya massa udara Australia ditandai dengan kuatnya angin timuran, daerah stabil yang luas di NTB, NTT dan Bali. f. Massa udara Australia yang masuk di Bali menyebabkan tereduksinya jumlah curah hujan di Provinsi Bali. 5. DAFTAR PUSTAKA Bayong Tjasyono. Meteorologi Indonesia 1. BMG, Civil Aviation Sefety Regulation Part 174. Aeronautical Meteorological Information Services. International Civil Aviation Organisation ( ICAO ). Fajar Nurul. Pola Gerakan Udara. Lapan Bandung. Monsun.www.moklim.bdg.lapan.go.id Riduan. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Alfabeta, Bandung, Sasmito A, et al. Kajian Curah Hujan Tinggi 9 10 Februari Staklim Pondok Betung. Analisis Hujan Kejadian Banjir di Provinsi DKI Jakarta Sugiyono. Metode Penelitian Administrasi. Alfabeta, Bandung Wirjohamidjoyo,S. Mengenali Monsun di Indonesia. Pustaka Cuaca, 2010.

ANALISIS BANJIR DI WILAYAH BIREUEN TANGGAL 12 JUNI 2015. Oleh : Syahrir Stamet kelas 1 Blang bintang Banda Aceh

ANALISIS BANJIR DI WILAYAH BIREUEN TANGGAL 12 JUNI 2015. Oleh : Syahrir Stamet kelas 1 Blang bintang Banda Aceh ANALISIS BANJIR DI WILAYAH BIREUEN TANGGAL 12 JUNI 2015 Oleh : Syahrir Stamet kelas 1 Blang bintang Banda Aceh 1. INFORMASI KEJADIAN HUJAN LEBAT LOKASI Kabupaten Aceh Jeumpa (Bireuen) TANGGAL 12 Juni 2015

Lebih terperinci

2. Awal Musim kemarau Bilamana jumlah curah hujan selama satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter serta diikuti oleh dasarian berikutnya.

2. Awal Musim kemarau Bilamana jumlah curah hujan selama satu dasarian (10 hari) kurang dari 50 milimeter serta diikuti oleh dasarian berikutnya. I. PENGERTIAN A. DEFINISI AWAL MUSIM 1. Awal Musim hujan Bilamana jumlah curah hujan selama satu dasarian (10 hari) sama atau lebih dari 50 milimeter serta diikuti oleh dasarian berikutnya. 2. Awal Musim

Lebih terperinci

INDIKASI PERUBAHAN IKLIM DARI PERGESERAN BULAN BASAH, KERING, DAN LEMBAB

INDIKASI PERUBAHAN IKLIM DARI PERGESERAN BULAN BASAH, KERING, DAN LEMBAB ISBN : 978-979-79--8 INDIKASI PERUBAHAN IKLIM DARI PERGESERAN BULAN BASAH, KERING, DAN LEMBAB Lilik Slamet S., Sinta Berliana S. Pusat Pemanfaatan Sains Atmosfer dan Iklim LAPAN, lilik_lapan@yahoo.com,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI APRIL 2014

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI APRIL 2014 PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI APRIL 2014 35/06/51/Th. VIII, 2 Juni 2014 Kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pada bulan 2014 mencapai 280.096 orang, dengan wisman yang datang melalui bandara

Lebih terperinci

Mengenal Lebih Dekat Informasi Cuaca Penerbangan

Mengenal Lebih Dekat Informasi Cuaca Penerbangan Mengenal Lebih Dekat Informasi Cuaca Penerbangan Oleh: Tuwamin Mulyono Kecelakaan pesawat Air Asia dengan nomor penerbangan QZ 8501 telah menyedot sebagian besar perhatian kita oleh pemberitaan tentang

Lebih terperinci

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam

Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam Edisi 9, September 2014 BMKG Stasiun Meteorologi Hang Nadim Batam BULETIN K A T A P E N G A N T A R Bumi adalah tempat kita berpijak, berbagai kebutuhan kita disediakan oleh bumi. Yang lahir dan hidup

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI JANUARI 2015

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI JANUARI 2015 No. 19/03/51/Th. IX, 2 Maret PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI JANUARI Kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pada bulan mencapai 301.748 orang, dengan wisman yang datang melalui bandara sebanyak

Lebih terperinci

Prakiraan Musim Kemarau 2015 KATA PENGANTAR

Prakiraan Musim Kemarau 2015 KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Prakiraan Musim Kemarau 2015 Prakiraan Musim Kemarau 2015 Provinsi Kalimantan Selatan ini disusun berdasarkan hasil pantauan kondisi fisis atmosfer dan data curah hujan yang diterima dari

Lebih terperinci

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA PULAU BALI 1. Letak Geografis, Batas Administrasi, dan Luas Wilayah Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8 3'40" - 8 50'48" Lintang Selatan dan 114 25'53" -

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar KOTA BALIKPAPAN I. KEADAAN UMUM KOTA BALIKPAPAN 1.1. LETAK GEOGRAFI DAN ADMINISTRASI Kota Balikpapan mempunyai luas wilayah daratan 503,3 km 2 dan luas pengelolaan laut mencapai 160,1 km 2. Kota Balikpapan

Lebih terperinci

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI KATA PENGANTAR Booklet Data dan Informasi Propinsi Bali disusun dengan maksud untuk memberikan gambaran secara singkat mengenai keadaan Kehutanan di Propinsi

Lebih terperinci

[Sabu yang Lestari] Cabrejou Foundation

[Sabu yang Lestari] Cabrejou Foundation [Sabu yang Lestari] Cabrejou Foundation Dimanakah kita pernah menyadari adanya suatu masyarakat yang lestari (berkelanjutan) hanya dengan menggunakan energi matahari dan angin? Barangkali ini hanya dapat

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. 5.1.1. Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen. a. Analisis Uji Validitas Instrumen

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN. 5.1.1. Analisis Validitas dan Reliabilitas Instrumen. a. Analisis Uji Validitas Instrumen kategori cukup yaitu pada interval 50-57 dengan nilai rata-rata 55. BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN Berdasarkan data yang penulis peroleh selama mengadakan penelitian, maka pada bab ini akan dianalisa dengan

Lebih terperinci

Prediksi Beban Listrik Pulau Bali Dengan Menggunakan Metode Backpropagasi

Prediksi Beban Listrik Pulau Bali Dengan Menggunakan Metode Backpropagasi Prediksi Beban Listrik Pulau Bali Dengan Menggunakan Metode Backpropagasi Qoriatul Fitriyah 1),Didi Istardi 2) 1) Jurusan Teknik Elektro Politeknik Batam, Batam 29461, email: fitriyah@polibatam.ac.id Jurusan

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN SISTEM TELEMETRI SUHU DAN KELEMBABAN MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER ATMEGA8535 DENGAN ANTARMUKA KOMPUTER

RANCANG BANGUN SISTEM TELEMETRI SUHU DAN KELEMBABAN MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER ATMEGA8535 DENGAN ANTARMUKA KOMPUTER RANCANG BANGUN SISTEM TELEMETRI SUHU DAN KELEMBABAN MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER ATMEGA8535 DENGAN ANTARMUKA KOMPUTER Skripsi Sebagai persyaratan untuk memperoleh derajat Sarjana S1 Fisika pada Jurusan Fisika,

Lebih terperinci

ANALISIS VARIABILITAS CURAH HUJAN DAN SUHU DI BALI (Rainfall and Temperature Variability Analysis in Bali)

ANALISIS VARIABILITAS CURAH HUJAN DAN SUHU DI BALI (Rainfall and Temperature Variability Analysis in Bali) ANALISIS VARIABILITAS CURAH HUJAN DAN SUHU DI BALI (Rainfall and Temperature Variability Analysis in Bali) Oleh / By : Balai Penelitian Teknologi Hasil Hutan Bukan Kayu, Jl. Dharma Bhakti No. 7, Desa Langko,

Lebih terperinci

Kredit Foto: WWF-Canon / Paul FORSTER. WWF-Canon / André BÄRTSCHI. WWF-Canon / Mark EDWARDS. Design and Layout: Aulia Rahman

Kredit Foto: WWF-Canon / Paul FORSTER. WWF-Canon / André BÄRTSCHI. WWF-Canon / Mark EDWARDS. Design and Layout: Aulia Rahman Kredit Foto: WWF-Canon / Paul FORSTER WWF-Canon / André BÄRTSCHI WWF-Canon / Mark EDWARDS Design and Layout: Aulia Rahman Daftar Isi Daftar Isi Daftar Gambar 2 Daftar Tabel 3 BAB 1 PENDAHULUAN 4 1.1 Latar

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 : Prosedur Identifikasi Awan dengan Citra Satelit MTSAT

LAMPIRAN 1 : Prosedur Identifikasi Awan dengan Citra Satelit MTSAT LAMPIRAN 1 : Prosedur Identifikasi Awan dengan Citra Satelit MTSAT 1. Pengertian dasar identifikasi jenis awan dengan satelit Berbeda dengan pengamatan dari permukaan bumi, dimana pengamatan awan menggunakan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PRESIDEN NOMOR 88 TAHUN 2012 TENTANG KEBIJAKAN PENGELOLAAN SISTEM INFORMASI HIDROLOGI, HIDROMETEOROLOGI, DAN HIDROGEOLOGI PADA TINGKAT NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang:

Lebih terperinci

Luas (km 2 ) Pontianak Selatan 14,54 13,49. Pontianak Tenggara 14,83 13,75. Pontianak Timur 8,78 8,14. Pontianak Barat 16,94 15,71

Luas (km 2 ) Pontianak Selatan 14,54 13,49. Pontianak Tenggara 14,83 13,75. Pontianak Timur 8,78 8,14. Pontianak Barat 16,94 15,71 1.1.1 Luas Wilayah Kota Pontianak Menurut Kecamatan, 2012 Total Area of Pontianak City by Subdistrict, 2012 Kecamatan Subdistrict Luas (km 2 ) Persentase Area (km 2 ) Percentage (2) (3) Pontianak Selatan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Metode memiliki arti suatu jalan yang dilalui untuk mencapai tujuan.1 Sedangkan penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 3.1.1 Definisi Konseptual Kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan kinerja organisasi

Lebih terperinci

KECELAKAAN AIRASIA QZ 8501 ANALISIS METEOROLOGIS

KECELAKAAN AIRASIA QZ 8501 ANALISIS METEOROLOGIS KECELAKAAN AIRASIA QZ 8501 ANALISIS METEOROLOGIS (Errata) Oleh : Prof. Edvin Aldrian, Ferdika Amsal, Jose Rizal, Kadarsah PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN I. Pendahuluan Pesawat Air Asia dengan nomor

Lebih terperinci

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C)

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C) Pengaruh Kadar Gas Co 2 Pada Fotosintesis Tumbuhan yang mempunyai klorofil dapat mengalami proses fotosintesis yaitu proses pengubahan energi sinar matahari menjadi energi kimia dengan terbentuknya senyawa

Lebih terperinci

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I 1 laporan monitoring realisasi APBD dan dana idle Tahun 2013 Triwulan I RINGKASAN EKSEKUTIF Estimasi realisasi belanja daerah triwulan I Tahun 2013 merupakan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Untuk menguji apakah alat ukur (instrument) yang digunakan memenuhi

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Untuk menguji apakah alat ukur (instrument) yang digunakan memenuhi BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil uji itas dan Reliabilitas Untuk menguji apakah alat ukur (instrument) yang digunakan memenuhi syarat-syarat alat ukur yang baik, sehingga mengahasilkan

Lebih terperinci

MINIMALISASI KONSENTRASI PENYEBARAN ASAP AKIBAT KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DENGAN METODE MODIFIKASI CUACA

MINIMALISASI KONSENTRASI PENYEBARAN ASAP AKIBAT KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DENGAN METODE MODIFIKASI CUACA Minimalisasi Konsentrasi Penyebaran Asap (Nugroho) 1 MINIMALISASI KONSENTRASI PENYEBARAN ASAP AKIBAT KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DENGAN METODE MODIFIKASI CUACA Sutopo Purwo Nugroho 1. Abstract Forest and

Lebih terperinci

INFORMASI KEHIDUPAN BERBAGAI BAHASA

INFORMASI KEHIDUPAN BERBAGAI BAHASA 2 Waktu Terjadinya Bencana Alam 2-6 Akses Informasi yang Dapat Diterima Mengenai Bencana Untuk mencegah keadaan mengenai bencana alam, yang pertama adalah mendapatkan info dari badan perkiraan cuaca tentang

Lebih terperinci

UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN

UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS INSTRUMEN A. Validitas a. Pengertian Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan kevalidan atau kesahihan suatu instrument. Jadi pengujian validitas itu mengacu pada

Lebih terperinci

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM AHAD, 19 APRIL 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAJAB 1436 H

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM AHAD, 19 APRIL 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAJAB 1436 H INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM AHAD, 19 APRIL 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAJAB 1436 H Keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi juga Bumi dan Bulan dalam mengelilingi Matahari memungkinkan

Lebih terperinci

SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR

SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR PEGUNUNGAN udara bersih, bebas polusi air hujan mengandung CO 2, O 2, N 2, debu & partikel dr atmosfer AIR

Lebih terperinci

APLIKASI REGRESI SEDERHANA DENGAN SPSS. HENDRY admin teorionline.net Phone : 021-834 14694 / email : klik.statistik@gmail.com

APLIKASI REGRESI SEDERHANA DENGAN SPSS. HENDRY admin teorionline.net Phone : 021-834 14694 / email : klik.statistik@gmail.com APLIKASI REGRESI SEDERHANA DENGAN SPSS HENDRY admin teorionline.net Phone : 02-834 4694 / email : klik.statistik@gmail.com Tentang Regresi Sederhana Analisis regresi merupakan salah satu teknik analisis

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - 1 LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 TRIWULAN III KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Uji Instrumen Data Validitas menunjukkan sejauh mana alat pengukur yang dipergunakan untuk mengukur apa yang diukur. Adapun caranya adalah dengan mengkorelasikan antara

Lebih terperinci

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM SELASA, 16 DAN RABU, 17 JUNI 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAMADLAN 1436 H

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM SELASA, 16 DAN RABU, 17 JUNI 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAMADLAN 1436 H INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM SELASA, 16 DAN RABU, 17 JUNI 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAMADLAN 1436 H Keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi juga Bumi dan Bulan dalam mengelilingi

Lebih terperinci

STABILISASI HARGA PANGAN

STABILISASI HARGA PANGAN STABILISASI HARGA PANGAN Oleh : Dr.Ir. Nuhfil Hanani AR DEWAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2008 PERANAN KOMODITAS PANGAN PRODUSEN KESEMPATAN KERJA DAN PENDAPATAN KONSUMEN RUMAH TANGGA AKSES UNTUK GIZI KONSUMEN

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Masyhuri

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Masyhuri BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Berdasarkan pada permasalahan yang diteliti, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Masyhuri

Lebih terperinci

Aplikasi Klimatologi

Aplikasi Klimatologi Aplikasi Klimatologi Departemen Geofisika dan Meteotologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Pertanian Bogor Meteorology for better life Ruang Lingkup Sejalan dengan berlakunya sistem

Lebih terperinci

Karakteristik Oseanografi Dalam Kaitannya Dengan Kesuburan Perairan di Selat Bali

Karakteristik Oseanografi Dalam Kaitannya Dengan Kesuburan Perairan di Selat Bali Karakteristik Oseanografi Dalam Kaitannya Dengan Kesuburan Perairan di Selat Bali B. Priyono, A. Yunanto, dan T. Arief Balai Riset dan Observasi Kelautan, Jln Baru Perancak Negara Jembrana Bali Abstrak

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN BB 3 METODE PENELITIN 3.1 Desain/Kerangka Penelitian Berdasarkan dari uraian latar belakang, perumusan masalah, dan teori-teori yang telah dijelaskan sebelumnya, maka kerangka pemikiran dari penelitian

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I 1 KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin diwujudkan dalam pengelolaan APBD. Untuk mendorong tercapainya tujuan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh penyerapan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. 1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian 49 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian a. Persiapan Awal Persiapan awal yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah mematangkan konsep

Lebih terperinci

Jakarta, 27 April 2015

Jakarta, 27 April 2015 Jakarta, 27 April 2015 SELASA, 28 APRIL 2015 GELOMBANG DAPAT TERJADI 2,0 M S/D 3,0 M DI : SAMUDERA HINDIA SELATAN PULAU JAWA, PERAIRAN KEP. TALAUD, PERAIRAN KEP. WAKATOBI, SAMUDERA HINDIA SELATAN BALI

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah SMP Negeri 1 Limboto dan SMP

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di sekolah SMP Negeri 1 Limboto dan SMP 34 BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di sekolah SMP Negeri 1 Limboto dan SMP Negeri 2 Limboto, Kabupaten Gorontalo Provinsi Gorontalo dengan waktu penelitian

Lebih terperinci

ESENSI Volume 13 No.2 Desember 2010

ESENSI Volume 13 No.2 Desember 2010 PERSEPSI MAHASISWA S1 AKUNTANSI TENTANGPENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI (PPAk) (Studi Kasus Mahasiswa Program S1 Akuntansi IBN) Albertus Karjono Institut Bisnis Nusantara Jl. D.I.Panjaitan Kav. 24 Jakarta

Lebih terperinci

Ifa Atiyah Nur Alimah

Ifa Atiyah Nur Alimah ANALISIS KUALITAS PELAYANAN PROGRAM RASKIN TERHADAP PENCAPAIAN INDIKATOR 6T ( TEPAT SASARAN,TEPAT JUMLAH,TEPAT HARGA,TEPAT WAKTU,TEPAT KUALITAS,TEPAT ADMINISTRASI) PADA PERUM BULOG SUB DIVISI REGIONAL

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Definisi konseptual, Operasional dan Pengukuran Variabel

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. A. Definisi konseptual, Operasional dan Pengukuran Variabel BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi konseptual, Operasional dan Pengukuran Variabel 1. Definisi Konseptual Menurut teori teori yang di uraikan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. dengan menggunakan bantuan program SPSS, sebagaimana telah diketahui

BAB IV ANALISIS DATA. dengan menggunakan bantuan program SPSS, sebagaimana telah diketahui BAB IV ANALISIS DATA A. Pengujian Hipotesis Sebelum menjabarkan tentang analisis data dalam bentuk perhitungan dengan menggunakan bantuan program SPSS, sebagaimana telah diketahui hipotesapenelitian sebagai

Lebih terperinci

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1

TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 TINJAUAN HIDROLOGI DAN SEDIMENTASI DAS KALI BRANTAS HULU 1 Perusahaan Umum (Perum) Jasa Tirta I Jl. Surabaya 2 A, Malang Indonesia 65115 Telp. 62-341-551976, Fax. 62-341-551976 http://www.jasatirta1.go.id

Lebih terperinci

ANALISA HUBUNGAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA JUAL MINYAK KELAPA SAWIT PADA PT. LANGKAT NUSANTARA KEPONG PKS PADANG BRAHRANG

ANALISA HUBUNGAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA JUAL MINYAK KELAPA SAWIT PADA PT. LANGKAT NUSANTARA KEPONG PKS PADANG BRAHRANG ANALISA HUBUNGAN FAKTOR YANG MEMPENGARUHI HARGA JUAL MINYAK KELAPA SAWIT PADA PT. LANGKAT NUSANTARA KEPONG PKS PADANG BRAHRANG Lina Arliana Nur Kadim, SE., MM Program Studi D3- Komputerisasi Akuntansi

Lebih terperinci

f. kegiatan pendidikan dan penelitian non komersial; dan g. kegiatan pemerintah atau pemerintah daerah atas kerjasama dengan Badan.

f. kegiatan pendidikan dan penelitian non komersial; dan g. kegiatan pemerintah atau pemerintah daerah atas kerjasama dengan Badan. 4. Peraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2008 tentang Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika; 5. Keputusan Kepala Badan Meteorologi dan Geofisika Nomor KEP.003 Tahun 2004 tentang Organisasi dan Tata

Lebih terperinci

Raharjo Raharjo@gmail.com http://raharjo.ppknunj.org

Raharjo Raharjo@gmail.com http://raharjo.ppknunj.org Uji Validitas dan Reliabilitas Raharjo Raharjo@gmail.com http://raharjo.ppknunj.org Lisensi Dokumen: Seluruh dokumen di StatistikaPendidikan.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

KU = kutub utara bumi KS = kutub selatan bumi

KU = kutub utara bumi KS = kutub selatan bumi BABV TEKANAN UDARA Pada prinsipnya, maka tekanan udara adalah sama dengan berat udara yang berada tegak lurus diatas tempat penilik yang bersangkutan, dengan demikian, maka dapatlah dimengerti bahwa, jika

Lebih terperinci

Wahyu Setyawan. Pendahuluan. Lisensi Dokumen: Abstrak. Wahyu.gtx21@gmail.com http://wahyu-setyawan.blogspot.com

Wahyu Setyawan. Pendahuluan. Lisensi Dokumen: Abstrak. Wahyu.gtx21@gmail.com http://wahyu-setyawan.blogspot.com Uji Korelasi Wahyu Setyawan Wahyu.gtx1@gmail.com http://wahyu-setyawan.blogspot.com Lisensi Dokumen: m Seluruh dokumen di StatistikaPendidikan.Com dapat digunakan, dimodifikasi dan disebarkan secara bebas

Lebih terperinci

PENGGUNAAN HIGH TEMPORAL AND SPASIAL IMAGERY DALAM UPAYA PENCARIAN PESAWAT YANG HILANG

PENGGUNAAN HIGH TEMPORAL AND SPASIAL IMAGERY DALAM UPAYA PENCARIAN PESAWAT YANG HILANG PENGGUNAAN HIGH TEMPORAL AND SPASIAL IMAGERY DALAM UPAYA PENCARIAN PESAWAT YANG HILANG Oleh : Yofri Furqani Hakim, ST. Ir. Edwin Hendrayana Kardiman, SE. Budi Santoso Bidang Pemetaan Dasar Kedirgantaraan

Lebih terperinci

KALOR. Keterangan Q : kalor yang diperlukan atau dilepaskan (J) m : massa benda (kg) c : kalor jenis benda (J/kg 0 C) t : kenaikan suhu

KALOR. Keterangan Q : kalor yang diperlukan atau dilepaskan (J) m : massa benda (kg) c : kalor jenis benda (J/kg 0 C) t : kenaikan suhu KALOR Standar Kompetensi : Memahami wujud zat dan perubahannya Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan peran kalor dalam mengubah wujud zat dan suhu suatu benda serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari

Lebih terperinci

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon)

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) Happy Mulya Balai Wilayah Sungai Maluku dan Maluku Utara Dinas PU Propinsi Maluku Maggi_iwm@yahoo.com Tiny Mananoma

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK CURAH HUJAN ABAD 20 DI JAKARTA BERDASARKAN KEJADIAN IKLIM GLOBAL

KARAKTERISTIK CURAH HUJAN ABAD 20 DI JAKARTA BERDASARKAN KEJADIAN IKLIM GLOBAL KARAKTERISTIK CURAH HUJAN ABAD 20 DI JAKARTA BERDASARKAN KEJADIAN IKLIM GLOBAL 20th CENTURY RAINFALL CHARACTERISTIC IN JAKARTA BASED ON GLOBAL CLIMATE EVENTS Danang Eko Nuryanto Pusat Penelitian dan Pengembangan,

Lebih terperinci

BANJIR JAKARTA 9-10 FEBRUARI 2015

BANJIR JAKARTA 9-10 FEBRUARI 2015 BANJIR JAKARTA 9-10 FEBRUARI 2015 WILAYAH YANG TERDAMPAK BANJIR PROVINSI DKI JAKARTA 9-11 FEB 2015 WILAYAH KEC KEL RW KK JIWA TERDAMPAK PENGUNGSI JAKARTA BARAT JAKARTA PUSAT JAKARTA SELATAN JAKARTA TIMUR

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 No. 17/03/34/Th.XVII, 2 Maret 2015 NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Pada Februari 2015, NTP

Lebih terperinci

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ketinggian Muka Laut Di Wilayah Banjarmasin

Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ketinggian Muka Laut Di Wilayah Banjarmasin Dampak Perubahan Iklim Terhadap Ketinggian Muka Laut Di Wilayah Banjarmasin Dr. Armi Susandi, MT., Indriani Herlianti, S.Si., Mamad Tamamadin, S.Si. Program Studi Meteorologi - Institut Teknologi Bandung

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 270 sampel di wilayah usaha

BAB V PEMBAHASAN. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 270 sampel di wilayah usaha 69 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Pemakaian Air Bersih 5.1.1 Pemakaian Air Untuk Domestik Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel di wilayah usaha PAM PT. TB, menunjukkan bahwa pemakaian air bersih

Lebih terperinci

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat Standar Nasional Indonesia Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat ICS 91.100.15 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci

CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA SATU JALUR CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA DUA JALUR

CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA SATU JALUR CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA DUA JALUR CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA SATU JALUR Data Sampel I Data Sampel II Data Sampel III 5 4 7 9 8 5 9 4 6 CONTOH DATA YANG DIANALISIS DENGAN ANAVA DUA JALUR Kategori Data Sampel I Data Sampel

Lebih terperinci

Banjir berdampak paling besar di Februari. Angin puting beliung hampir mencapai kisaran sepertiga dari bencana alam

Banjir berdampak paling besar di Februari. Angin puting beliung hampir mencapai kisaran sepertiga dari bencana alam Buletin Kemanusiaan Indonesia Issue 02 01 29 Februari 2012 SOROTAN 19 kejadian banjir menyebabkan 558 orang mengungsi sementara di bulan Februari. 21 dari 33 provinsi berisiko banjir sampai Maret 2012.

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. bulan, sejak bulan Oktober 2007 sampai dengan bulan April 2008. Tabel 1 Jadwal Penelitian Tahapan

METODE PENELITIAN. bulan, sejak bulan Oktober 2007 sampai dengan bulan April 2008. Tabel 1 Jadwal Penelitian Tahapan 14 BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian Tempat pelaksanaan penelitian ini adalah di SMK Negeri 1 Ngawen Kabupaten Gunungkidul.. Waktu Penelitian Aktivitas penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia merupakan salah satu negara berkembang, yang tidak terlepas dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa keterbukaan perdagangan

Lebih terperinci

STATISTIK NON PARAMTERIK

STATISTIK NON PARAMTERIK STATISTIK NON PARAMTERIK PROSEDUR PENGOLAHAN DATA : PARAMETER : Berdasarkan parameter yang ada statistik dibagi menjadi Statistik PARAMETRIK : berhubungan dengan inferensi statistik yang membahas parameterparameter

Lebih terperinci

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI

PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI. Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI PRINSIP KONSERVASI ENERGI PADA PROSES PRODUKSI Ir. Parlindungan Marpaung HIMPUNAN AHLI KONSERVASI ENERGI Elemen Kompetensi III Elemen Kompetensi 1. Menjelaskan prinsip-prinsip konservasi energi 2. Menjelaskan

Lebih terperinci

BAB m METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel. Sesuai dengan hipotesis yang diajiikan, variabel-variabel yang digunakan

BAB m METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel. Sesuai dengan hipotesis yang diajiikan, variabel-variabel yang digunakan BAB m METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Sesuai dengan hipotesis yang diajiikan, variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1. Variabel dependent : Kepercayaan Diri 2. Variabel

Lebih terperinci

KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU. Trisna Anggreini 1)

KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU. Trisna Anggreini 1) KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU Trisna Anggreini 1) Abstract. The purpose of this research are acessing the correlation of attitudes

Lebih terperinci

PENGARUH JAM PELAJARAN KOSONG TERHADAP KENAKALAN PESERTA DIDIK DI SMAN 1 REJOTANGAN TAHUN 2013 Oleh : Supriadi Guru SMAN 1 Rejotangan

PENGARUH JAM PELAJARAN KOSONG TERHADAP KENAKALAN PESERTA DIDIK DI SMAN 1 REJOTANGAN TAHUN 2013 Oleh : Supriadi Guru SMAN 1 Rejotangan PENGARUH JAM PELAJARAN KOSONG TERHADAP KENAKALAN PESERTA DIDIK DI SMAN 1 REJOTANGAN TAHUN 2013 Oleh : Supriadi Guru SMAN 1 Rejotangan ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan besarnya pengaruh

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi Tabel., dan Padi Per No. Padi.552.078.387.80 370.966 33.549 4,84 4,86 2 Sumatera Utara 3.48.782 3.374.838 826.09 807.302 4,39 4,80 3 Sumatera Barat.875.88.893.598 422.582 423.402 44,37 44,72 4 Riau 454.86

Lebih terperinci

Buletin Kemanusiaan Indonesia

Buletin Kemanusiaan Indonesia Buletin Kemanusiaan Indonesia Januari Maret 2014 SOROTAN Dampak bencana alam meningkat Ribuan telah diungsikan berbulanbulan karena letusan vulkanik Gunung Sinabung Harmonisasi klaster berlanjut Penutupan

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PENANGANAN

BAB V RENCANA PENANGANAN BAB V RENCANA PENANGANAN 5.. UMUM Strategi pengelolaan muara sungai ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah pemanfaatan muara sungai, biaya pekerjaan, dampak bangunan terhadap

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Lokasi Penelitian Yang menjadi obyek dalam peneitian ini adalah Bait Maal Wa Tamwil (BMT Ikhlasul Amal Indramayu). Penelitian ini dilakukan di BMT Ikhlasul Amal Indramayu

Lebih terperinci

Prolog Gurn dan Eartixo

Prolog Gurn dan Eartixo Prolog Gurn dan Eartixo (GURN - ERTIXO) Ruang angkasa yang sunyi beberapa juta satuan astronomi dari galaksi Bimasakti. Di suatu tempat yang belum bisa dijangkau oleh manusia Bumi, bintang biru memancarkan

Lebih terperinci

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS Hasil kajian dan analisis sesuai dengan tujuan dijelaskan sebagai berikut: 1. Profil Koperasi Wanita Secara Nasional Sebagaimana dijelaskan pada metodologi kajian ini maka

Lebih terperinci

TEKNIK PENGUJIAN VALIDITAS DAN RELIABILITAS

TEKNIK PENGUJIAN VALIDITAS DAN RELIABILITAS TEKNIK PENGUJIAN VALIDITAS DAN RELIABILITAS PENGUJIAN VALIDITAS MENGGUNAKAN EXCEL Berikut ini adalah contoh pengujian validitas konstruk, yang digunakan untuk menilai apakah data hasil angket/kuisioner

Lebih terperinci

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 Indonesia cukup beruntung, karena menjadi negara yang masih dapat mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif tahun 2009 sebesar 4,4 % di tengah krisis keuangan global

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 2007 TENTANG JARINGAN DATA SPASIAL NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 2007 TENTANG JARINGAN DATA SPASIAL NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 2007 TENTANG JARINGAN DATA SPASIAL NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Data Spasial sebagai

Lebih terperinci

Aplikasi Analisis Komponen Utama dalam Pemodelan Penduga Lengas Tanah dengan Data Satelit Multispektral

Aplikasi Analisis Komponen Utama dalam Pemodelan Penduga Lengas Tanah dengan Data Satelit Multispektral Jurnal Matematika dan Sains Vol. 9 No. 1, Maret 2004, hal 215 222 Aplikasi Analisis Komponen Utama dalam Pemodelan Penduga Lengas Tanah dengan Data Satelit Multispektral Erna Sri Adiningsih 1),Mahmud 2),dan

Lebih terperinci

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian

Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Program Studi Meteorologi PENERBITAN ONLINE AWAL Paper ini adalah PDF yang diserahkan oleh penulis kepada Program Studi Meteologi sebagai salah satu syarat kelulusan

Lebih terperinci

BAB IV PRINSIP-PRINSIP KONVEKSI

BAB IV PRINSIP-PRINSIP KONVEKSI BAB IV PRINSIP-PRINSIP KONVEKSI Aliran Viscous Berdasarkan gambar 1 dan, aitu aliran fluida pada pelat rata, gaa viscous dijelaskan dengan tegangan geser τ diantara lapisan fluida dengan rumus: du τ µ

Lebih terperinci

PENGARUH ELNINO PADA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN

PENGARUH ELNINO PADA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN PENGARUH ELNINO PADA KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN DEPUTI BIDANG PENGENDALIAN KERUSAKAN DAN PERUBAHAN IKLIM KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP Jakarta, 12 Juni 2014 RUANG LINGKUP 1. KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN (KARHUTLA)

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT No. 46/07/52/Th.V, 1 Juli 2015 STATISTIK TRANSPORTASI MEI 2015 Data transportasi yang disajikan adalah data yang diolah dari dokumen Pelabuhan Udara

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengambil lokasi di Matahari Department Store Mall Ratu Indah. Waktu yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengambil lokasi di Matahari Department Store Mall Ratu Indah. Waktu yang 57 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah dimana penelitian tersebut akan dilakukan. Adapun penelitian yang dilakukan oleh penulis

Lebih terperinci

Dampak Banjir Terhadap Inflasi

Dampak Banjir Terhadap Inflasi Dampak Banjir Terhadap Inflasi Praptono Djunedi, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Siapa yang merusak harga pasar hingga harga itu melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Sumber Data 3.1.1. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan penelitian kuantitatif, karena data yang diperoleh nantinya berupa angka. Dari angka

Lebih terperinci

BAB III PRAKTEK USAHA PERSEWAAN MOBIL DI DUSUN BUARAN KEBOGUYANG KECAMATAN JABON KABUPATEN SIDOARJO

BAB III PRAKTEK USAHA PERSEWAAN MOBIL DI DUSUN BUARAN KEBOGUYANG KECAMATAN JABON KABUPATEN SIDOARJO BAB III PRAKTEK USAHA PERSEWAAN MOBIL DI DUSUN BUARAN KEBOGUYANG KECAMATAN JABON KABUPATEN SIDOARJO A. Sekilas Desa Keboguyang 1. Keadaan Geografis Desa Keboguyang adalah salah satu Desa yang berada di

Lebih terperinci

PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI

PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI Disusun Oleh: NANDANG FAHMI JALALUDIN MALIK NIM. J2E 009

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Geodesi dan Keterkaitannya dengan Geospasial

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Geodesi dan Keterkaitannya dengan Geospasial BAB II DASAR TEORI 2.1 Geodesi dan Keterkaitannya dengan Geospasial Dalam konteks aktivitas, ruang lingkup pekerjaan ilmu geodesi umumnya mencakup tahapan pengumpulan data, pengolahan dan manipulasi data,

Lebih terperinci

Analisis Ragam & Rancangan Acak Lengkap Statistik (MAM 4137)

Analisis Ragam & Rancangan Acak Lengkap Statistik (MAM 4137) 10th Meeting Analisis Ragam & Rancangan Acak Lengkap Statistik (MAM 4137) by Ledhyane I.H Tujuan Instruksional Khusus Mahasiswa akan dapat menggunakan rangkaian prosedur percobaan dengan menggunakan analisis

Lebih terperinci

Pengkajian salinitas tanah secara cepat di daerah yang terkena dampak tsunami Pengalaman di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Pengkajian salinitas tanah secara cepat di daerah yang terkena dampak tsunami Pengalaman di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Pengkajian salinitas tanah secara cepat di daerah yang terkena dampak tsunami Pengalaman di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tsunami yang terjadi di Samudra Hindia pada tanggal 26 Desember 2004 mengakibatkan

Lebih terperinci

MONITORING DAN EVALUASI TATA AIR

MONITORING DAN EVALUASI TATA AIR MONITORING DAN EVALUASI TATA AIR Rahardyan Nugroho Adi BPTKPDAS Pengertian Pengertian : Air adalah semua air yang terdapat di atas, ataupun di bawah permukaan tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan,

Lebih terperinci

Manfaat hutan kota diantaranya adalah sebagai berikut :

Manfaat hutan kota diantaranya adalah sebagai berikut : BENTUK DAN FUNGSI HUTAN KOTA 1. Bentuk Hutan Kota Pembangunan hutan kota dan pengembangannya ditentukan berdasarkan pada objek yang dilindungi, hasil yang dicapai dan letak dari hutan kota tersebut. Berdasarkan

Lebih terperinci

KORELASI DAN REGRESI LINIER SEDERHANA

KORELASI DAN REGRESI LINIER SEDERHANA KORELASI DAN REGRESI LINIER SEDERHANA 1. Pendahuluan Istilah "regresi" pertama kali diperkenalkan oleh Sir Francis Galton pada tahun 1886. Galton menemukan adanya tendensi bahwa orang tua yang memiliki

Lebih terperinci