BANK INDONESIA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI BALI TRIWULAN I 2014

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BANK INDONESIA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI BALI TRIWULAN I 2014"

Transkripsi

1 BANK INDONESIA KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL PROVINSI BALI TRIWULAN I 2014 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

2 Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Tim Asesmen Ekonomi dan Keuangan Divisi Asesmen Ekonomi Keuangan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah III Jl. Letda Tantular No. 4 Denpasar Bali, Tel. (0361) Fax. (0361) Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

3 Kata Pengantar Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala rahmat dan karunia-nya, sehingga kami dapat menyusun Laporan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali triwulan I Laporan ini disusun untuk memenuhi kebutuhan stakeholder internal maupun eksternal Bank Indonesia mengenai informasi perkembangan ekonomi, moneter, perbankan dan sistem pembayaran di Provinsi Bali. Bank Indonesia menilai bahwa perekonomian daerah khususnya Bali mempunyai posisi dan peran yang strategis terhadap pembangunan ekonomi nasional serta dalam upaya menstabilkan nilai rupiah. Hal ini didasari oleh fakta semakin meningkatnya proporsi inflasi daerah dalam menyumbang inflasi nasional. Oleh sebab itu Bank Indonesia, sebagai bank sentral Republik Indonesia, memiliki perhatian yang besar terhadap upaya-upaya mendorong pertumbuhan ekonomi daerah guna semakin mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Salah satu wujud dari kepedulian Bank Indonesia terhadap dinamika perekonomian daerah adalah melalui diseminasi hasil-hasil kajian kepada stakeholders, sebagaimana KEKR ini, dengan harapan informasi mengenai perekonomian daerah dapat dipahami secara luas oleh seluruh pihak terkait. Selanjutnya, stakeholders dapat memanfaatkan informasi dari KEKR ini untuk mengambil perannya dalam upaya perbaikan kinerja ekonomi di masa depan. Kami juga berharap akan muncul ide-ide konstruktif yang bermula dari kajian ini yang akan memberikan nilai tambah serta dapat menjadi stimulus upaya-upaya pengembangan daerah melalui kajian-kajian lanjutan. Pada kesempatan ini, kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu dalam penyediaan data dan informasi yang kami perlukan antara lain Pemerintah Daerah Provinsi Bali, Badan Pusat Statistik (BPS), perbankan, akademisi, dan instansi pemerintah lainnya. Kami menyadari bahwa cakupan dan analisis dalam Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional masih belum sepenuhnya sempurna, sehingga saran, kritik dan dukungan informasi/data dari Bapak/Ibu sekalian sangat diharapkan guna peningkatan kualitas dari kajian tersebut. Akhir kata, kami berharap semoga Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional ini bermanfaat bagi para pembaca. Denpasar, Mei 2014 KANTOR PERWAKILAN BANK INDONESIA WILAYAH III (BALI DAN NUSA TENGGARA) Kepala Perwakilan Benny Siswanto Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

4 Daftar Isi Tabel Indikator Ekonomi Provinsi Bali Ringkasan Umum Ekonomi Makro Regional SISI PENAWARAN Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) Sektor Pertanian Sektor Jasa-jasa Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Sektor Industri Pengolahan Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Sektor Bangunan Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih (LGA) SISI PERMINTAAN Konsumsi Investasi Ekspor Impor Perkembangan Inflasi PERKEMBANGAN UMUM INFLASI Inflasi Tahunan Inflasi Triwulanan Inflasi Bulanan DISAGREGASI INFLASI Volatile Foods Administered Price Core Inflation PERKEMBANGAN INFLASI KOTA Inflasi Kota Denpasar Inflasi Kota Singaraja Perbankan dan Sistem Pembayaran Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

5 3.1. PERKEMBANGAN INDUSTRI PERBANKAN Pelaksanaan Fungsi Intermediasi Non Performing Loan (NPL) PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Perkembangan Transaksi Pembayaran Tunai Perkembangan Transaksi Pembayaran Non Tunai Keuangan Pemerintah ANGGARAN PENDAPATAN PEMERINTAH PROVINSI BALI ANGGARAN BELANJA PEMERINTAH PROVINSI BALI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA PEMERINTAH TIAP DAERAH DI PROVINSI BALI SERTA ANGGARAN PEMERINTAH PUSAT DI DAERAH Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan PERKEMBANGAN NTP BALI PENGURANGAN ANGKA PENGANGGURAN Prospek Perekonomian MAKRO EKONOMI REGIONAL TRIWULAN II INFLASI REGIONAL TRIWULAN II Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

6 Daftar Grafik Grafik 1.1 Nominal PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Bali Grafik 1.2 Pangsa Sektor Ekonomi terhadap PDRB Provinsi Bali di Tahun Grafik 1.3 Andil Sektor terhadap Perekonomian Provinsi Bali di Tahun Grafik 1.4 Penyaluran Kredit Sektor PHR Grafik 1.5 Kunjungan Wisman ke Bali Grafik 1.6 Tingkat Penghunian Kamar dan Rata-rata Lama Menginap di Hotel Grafik 1.7 Penerimaan Visa On Arrival Grafik 1.8 Asal Wisman yang Berkunjung ke Bali Grafik 1.9 Perkembangan Kunjungan Wisman Berdasarkan Negara Grafik 1.10 Perkembangan Total Penjualan Grafik 1.11 Pertumbuhan Indeks Penjualan Grafik 1.12 Penyaluran Kredit Subsektor Perdagangan Grafik 1.13 Perkembangan Arus Bongkar Muat Grafik 1.14 Perkembangan Produksi Perikanan Grafik 1.15 Perkembangan Kredit Sektor Pertanian Grafik 1.16 Prognosa Beras (Stok) Bali Grafik 1.17 Perkembangan Luas Panen Padi di Bali Grafik 1.18 Perkembangan Nilai Ekspor Perikanan Grafik 1.19 Perkembangan Volume Ekspor Perikanan Grafik 1.20 Penyaluran Kredit di Sektor Jasa Grafik 1.21 Jumlah Penumpang Laut Grafik 1.22 Jumlah Penumpang Pesawat Udara Grafik 1.23 Perkembangan Industri Besar dan Sedang Grafik 1.24 Nilai Ekspor Kayu dan Olahan Kayu Grafik 1.25 Nilai Ekspor Luar Negeri Pakaian Jadi Grafik 1.26 Nilai Ekspor Luar Negeri Tekstil Grafik 1.27 Kredit Sektor Industri Grafik 1.28 Konsumsi Listrik Industri Grafik 1.29 Perkembangan Inflasi Komoditas Sewa Rumah Grafik 1.30 Kredit Bank Umum Grafik 1.31 Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Grafik 1.32 Perkembangan Konsumsi Semen Grafik 1.33 Kredit Sektor Bangunan Grafik 1.34 Konsumsi Listrik di Bali Grafik 1.35 Jumlah Pelanggan Listrik Grafik 1.36 Indeks Keyakinan Konsumen Grafik 1.37 Komponen Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini Grafik 1.38 Indeks Tendensi Konsumen Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

7 Grafik 1.39 Konsumsi Listrik Rumah Tangga Grafik 1.40 Kredit Konsumsi Grafik 1.41 Perkembangan Nilai Tukar Petani Grafik 1.42 Kredit Investasi Grafik 1.43 Perkembangan Impor Barang Modal Grafik 1.44 Perkembangan Nilai Ekspor Bali Grafik 1.45 Perkembangan Volume Ekspor Bali Grafik 1.46 Pangsa Nilai Ekspor Komoditas Utama Grafik 1.47 Pertumbuhan Nilai Ekspor Komoditas Utama Grafik 1.48 Pangsa Ekspor Berdasarkan Negara Tujuan Grafik 1.49 Pertumbuhan Ekspor berdasarkan Grafik 1.50 Perkembangan Nilai Impor Bali Grafik 1.51 Perkembangan Volume Impor Bali Grafik 1.52 Pangsa Impor Berdasarkan Klasifikasi BEC Grafik 1.53 Perkembangan Impor Berdasarkan Klasifikasi BEC Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi Provinsi Bali Grafik 2.2 Perkembangan Inflasi Tahunan Nasional dan Provinsi Bali Grafik 2.3 Perkembangan Inflasi Tahunan Provinsi Bali Menurut Kelompok Barang Grafik 2.4 Perkembangan Harga di Provinsi Bali Grafik 2.5 Inflasi Berdasarkan Kelompok di Provinsi Bali Januari Grafik 2.6 Sumbangan Kelompok Terhadap Inflasi di Provinsi Bali Januari Grafik 2.7 Inflasi Berdasarkan Kelompok di Provinsi Bali Februari Grafik 2.8 Sumbangan Kelompok Terhadap Inflasi di Provinsi Bali Februari Grafik 2.9 Inflasi Berdasarkan Kelompok di Provinsi Bali Maret Grafik 2.10 Sumbangan Kelompok Terhadap Inflasi di Provinsi Bali Maret Grafik 2.11 Sumbangan Inflasi Berdasarkan Penyebabnya (% mtm) Grafik 2.12 Disagregasi Inflasi Bulanan Grafik 2.13 Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Grafik 2.14 Interaksi Permintaan dan Penawaran Grafik 2.15 Ekspektasi Pedagang Grafik 2.16 Ekspektasi Konsumen Grafik 2.17 Bobot Tahun Dasar (2012=100) Grafik 2.18 Bobot Tahun Dasar (2012=100) Grafik 3.1 Pertumbuhan Tahunan Aset, DPK dan Kredit Grafik 3.2 Komposisi dan Pertumbuhan Aset Menurut Kelompok Bank Grafik 3.3 Perkembangan LDR dan Komposisi Kredit Terhadap Aset Bank Umum Grafik 3.4 Perkembangan Share Kredit terhadap PDRB Grafik 3.5 Perkembangan LDR menurut Kelompok Bank Grafik 3.6 Komposisi Kredit terhadap Aset menurut Kelompok Bank Grafik 3.7 Pertumbuhan DPK Menurut Kelompok Bank Grafik 3.8 Pertumbuhan DPK Grafik 3.9 Pertumbuhan Kredit Perbankan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

8 Grafik 3.10 Komposisi Kredit Grafik 3.11 Perkembangan NPL Kredit Grafik 3.12 NPL Berdasarkan Kelompok Bank Grafik 3.13 Perkembangan Uang Kartal di Bali Grafik 3.14 Perkembangan Kegiatan Kas Keliling Grafik 3.15 Perkembangan Uang Tidak Layak Edar Grafik 3.16 Temuan Uang Palsu Grafik 3.17 Perkembangan Kliring Grafik 3.18 Perkembangan Tolakan Cek/BG kosong Grafik 3.19 Perkembangan Transaksi RTGS dari Bali Grafik 3.20 Perkembangan Transaksi RTGS ke Bali Grafik 5.1 NTP Provinsi Bali dan Nasional Grafik 5.2 Perkembangan Jumlah Pengangguran Provinsi Bali Grafik 5.3 Perkembangan Penggunaan Tenaga Kerja Grafik 6.1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Bali Grafik 6.2. Perkembangan Dunia Usaha Grafik 6.3. Ekspektasi Situasi Bisnis Ke depan Grafik 6.4 Proyeksi Inflasi Bali Grafik 6.5 Perkembangan Perkiraan Penawaran dan Permintaan Provinsi Bali Grafik 6.6 Ekspektasi Pedagang terhadap Perubahan Barang dan Jasa Grafik 6.7 Ekspektasi Konsumen terhadap Perubahan Harga Barang & Jasa Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

9 Daftar Tabel Tabel 1.1 Pertumbuhan PDRB Provinsi Bali dari Sisi Penawaran, (%, yoy) Tabel 1.2 Pertumbuhan PDRB Provinsi Bali di Sisi Permintaan, (%, yoy) Tabel 2.1 Inflasi Triwulanan menurut Kelompok Barang (%, yoy) Tabel 2.2. Perkembangan Inflasi Kota Denpasar Per Kelompok Pengeluaran Tabel 2.3. Perkembangan Inflasi Kota Denpasar Per Kelompok Pengeluaran Tabel 3.1 Perkembangan Usaha Bank Umum Di Bali Tabel 3.2 Perkembangan Kredit Menurut Sektor Tabel 3.3 Perkembangan Transaksi Uang Kartal di Bali Tabel 3.4 Perkembangan Perputaran Kliring dan Cek/BG Kosong Tabel 3.5 Perkembangan Transaksi RTGS Tabel 4.1 Rata-rata Realisasi Pendatan dan Belanja Daerah Triwulan I Periode Tabel 4.2 APBD Provinsi Bali Tabel 6.1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Negara Tujuan Ekspor Utama Bali Daftar Boks BOKS A Daya Saing Ekspor Industri Pengolahan BOKS B Potensi El-Nino dan Dampaknya terhadap Produksi Pangan Daerah BOKS C Dampak Implementasi Kebijakan Loan to Value (LTV) dan Down Payment (DP) terhadap KPR dan KKB Provinsi Bali Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

10 Tabel Indikator Ekonomi Provinsi Bali PDRB dan Inflasi : Indikator I II III IV I II III IV I EKONOMI MAKRO REGIONAL Produk Domestik Regional Bruto (%) Berdasarkan Sektor : - Pertanian Pertambangan dan Penggalian (5.70) - Industri Pengolahan Listrik, Gas, dan Air Bersih Bangunan (1.28) (3.94) (5.27) - Perdagangan, Hotel, dan Restoran Pengangkutan dan Komunikasi Keuangan dan Persewaan Jasa-jasa Berdasarkan Permintaan : - Konsumsi Konsumsi Rumah Tangga (0.03) Konsumsi Lembaga Nirlaba Konsumsi Pemerintah Investasi (1.06) (3.86) - PMTB (6.13) - Perub. Stok (35.70) (71.01) (62.70) (63.35) (69.46) (28.46) (103.49) - Ekspor Impor Ekspor Nilai Ekspor Nonmigas (USD Juta) Volume Ekspor Nonmigas (ribu ton) Impor Nilai Impor Nonmigas (USD Juta) Volume Impor Nonmigas (ribu ton) Laju Inflasi Provinsi Bali (% yoy) Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

11 PERBANKAN Indikator I II III IV I II III IV I PERBANKAN Total Aset (Rp Triliun) DPK (Rp Triliun) Giro (Rp Triliun) Tabungan (Rp Triliun) Deposito (Rp Triliun) Kredit (Rp Triliun) - lokasi bank Modal Kerja Investasi Konsumsi Kredit UMKM (Rp Triliun) Loan to Deposit Ratio (%) NPL gross (%) Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

12 SISTEM PEMBAYARAN Indikator I II III IV I II III IV I SISTEM PEMBAYARAN Transaksi Tunai Inflow (Rp Triliun) 2,281 1,901 2,131 1,830 2,906 2,503 2, Outflow (Rp Triliun) 1,623 2,790 3,125 3,242 2,280 2,468 4, RTGS : RTGS From : Nom. Transaksi RTGS From (Mil Rp) 15,550 22,231 28,185 30,382 29,941 33,865 34, Vol.Transaksi RTGS From (Lembar) 15,813 20,373 22,531 25,534 21,235 24,172 34,726 23, RTGS To : Nom. Transaksi RTGS To (Mil Rp) 9,620 14,134 17,969 20,675 21,187 23,450 45,831 21, Vol. Transaksi RTGS To (Lembar) 17,710 20,004 21,061 23,039 20,623 22,580 42,415 21, RTGS From-To : Nom. Transaksi RTGS To (Mil Rp) 2,764 3,369 3,858 4,356 3,990 4,144 9,280 4, Vol. Transaksi RTGS To (Lembar) 4,282 4,789 5,078 5,763 5,107 5,630 9,692 5, Kliring : Nom. Kliring (Juta Rp) 10,305 11,977 11,525 12,871 11,782 12,467 13,009 13, Vol. Kliring (Rb Lbr) Nom. Tolakan Cek/BG Kosong (Jt Rp) Vol Tolakan Cek/BG Kosong (Rb Lbr) Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

13 Ringkasan Umum Perekonomian Bali tumbuh melambat dari 5,49% pada triwulan sebelumnya menjadi 5,43% (yoy) pada triwulan I Walaupun tumbuh melambat, perekonomian Bali tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,21% (yoy). Dari sisi penawaran, perlambatan ekonomi Bali dipicu oleh perlambatan yang terjadi di sektor jasa-jasa, pengangkutan dan komunikasi, serta bangunan. Sedangkan dari sisi permintaan, perlambatan pertumbuhan dipicu oleh perlambatan komponen konsumsi swasta serta kontraksi pertumbuhan yang terjadi pada komponen investasi. Perekonomian Bali triwulan I 2014 tumbuh melambat sebesar 5,43% (yoy) Setelah mengalami inflasi cukup tinggi di tahun 2013, inflasi Provinsi Bali pada triwulan I 2014 melandai sehingga tercatat sebesat 6,09% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 7,35% (yoy) maupun periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 6,47% (yoy). Berdasarkan disagregasinya, tekanan inflasi pada tahun 2014 terutama didorong oleh kelompok volatile foods dan core inflation. Sementara tekanan inflasi administered price relatif stabil, tercermin pada pergerakan inflasi kelompok ini yang berada pada level moderat. Laju inflasi di triwulan I 2014 sebesar 6,09% (yoy), lebih rendah dibanding laju inflasi triwulan sebelumnya Pada awal tahun 2014, industri perbankan masih belum menunjukkan ada peningkatan kegiatan usaha. Kinerja perbankan masih cenderung melanjutkan perlambatan sejak akhir 2013 yang dipicu oleh melambatnya kinerja perekonomian makro. Hal ini terindikasi dari perlambatan pada dua indikator utama kinerja perbankan yaitu pengerahan dana pihak ketiga (DPK) dan penyaluran kredit kepada masyarakat. Beberapa indikator kinerja perbankan menunjukkan perlambatan di triwulan I 2014 Perlambatan ekonomi dan industri perbankan juga terkonfirmasi dari melambatnya peredaran uang baik kartal maupun giral di provinsi Bali. Pada sisi uang kartal, sebagai indikator transaksi tunai, tercatat uang masuk ke Bank Indonesia lebih besar dibanding yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, sedangkan pada transaksi non tunai terjadi penurunan jumlah nominal baik pada transaksi yang dilakukan melalui kliring maupun real time gross settlement (RTGS). Sistem pembayaran tunai maupun non tunai juga cenderung mengalami perlambatan di triwulan I 2014 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

14 Realisasi pendapatan dan belanja pada Triwulan I 2014 meningkat dibanding triwulan sebelumnya Realisasi anggaran pendapatan daerah Provinsi Bali pada triwulan I 2014 mencapai 26,51% lebih tinggi dibandingkan realisasi periode yang sama tahun 2013 sebesar 25,52%. Sementara itu, realisasi anggaran belanjanya sebesar 9,58%, juga lebih tinggi dibandingkan realisasi belanja triwulan I 2013 sebesar 8,63%. Realisasi belanja langsung pada triwulan I 2014 sebesar 5,57% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar 4,66%. Hal ini menunjukkan realisasi belanja guna menstimulasi mesin perekonomian semakin baik. Tingkat kesejahteraan petani triwulan I 2014 menunjukkan penurunan, begitu juga dengan tingkat pengangguran Nilai Tukar Petani (NTP) yang menggambarkan kesejahteraan petani pada akhir triwulan I 2014 mengalami penurunan 0,11% dibandingkan akhir triwulan sebelumnya. Inflasi perdesaan juga tercatat relatif tinggi yaitu 0,42% (mtm) pada akhir triwulan I 2014 lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi perdesaan nasional sebesar 0,19% (mtm). Tingkat pengangguran di Provinsi Bali mengalami penurunan dari 1,79% pada Agustus 2013 menjadi 1,37% pada Februari Perekonomian Bali triwulan II 2014 diperkirakan tumbuh kisaran 5,2 5,8% (yoy) Perekonomian Bali triwulan II 2014 diperkirakan relatif meningkat dibandingkan dengan perekonomian triwulan I 2014 yang tumbuh sebesar 5,43% (yoy). Perekonomian Bali triwulan II 2014 diperkirakan tumbuh di kisaran 5,2 5,8% (yoy). peningkatan pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan sektor-sektor utama yang diperkirakan meningkat di triwulan II Dari sisi permintaan, pertumbuhan konsumsi swasta dan ekspor diperkirakan akan kembali menunjukkan peningkatan. Selain itu, kontraksi yang terjadi pada komponen investasi diperkirakan tidak sedalam kontraksi pada triwulan sebelumnya. Perekonomian Bali tahun 2014 diperkirakan tumbuh kisaran 5,35 5,95% (yoy) Untuk keseluruhan tahun 2014, perekonomian Bali diperkirakan tumbuh di kisaran 5,35 5,95% (yoy). Proyeksi pertumbuhan tersebut melambat dibandingkan dengan realisasi pertumbuhan ekonomi Bali tahun 2013 yang sebesar 6,05% (yoy). Hal tersebut salah satunya disebabkan oleh realisasi perekonomian Bali triwulan I 2014 yang masih tumbuh melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Selain itu, komponen investasi diperkirakan belum menunjukkan perbaikan sehingga berdampak pada perlambatan pertumbuhan sektor bangunan. 14 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

15 Tekanan inflasi pada triwulan II 2014 diperkirakan masih cukup tinggi. Berdasarkan disagregasinya, upside risk inflasi diperkirakan bersumber dari core inflation dan administered price,sedangkan tekanan inflasi volatile foods diperkirakan mereda. Dengan demikian inflasi Bali diperkirakan akan berada dalam rentang 6,3 6,8% (yoy). Tekanan inflasi triwulan II 2014 diperkirakan berada di kisaran 6,3 6,8% (yoy) Tekanan inflasi Provinsi Bali pada tahun 2014 diperkirakan sebesar 5,2 6,2% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2013 seiring dengan hilangnya dampak kenaikan BBM bersubsidi. Namun terdapat sejumlah risiko yang dapat mengganggu pencapaian sasaran inflasi, seperti penyesuaian administered prices, dan potensi peningkatan harga pangan akibat musim kemarau di beberapa daerah, termasuk adanya indikasi kemungkinan terjadinya El Nino dengan intensitas lemah di bulan Agustus Tekanan inflasi tahun 2014 diperkirakan sebesar 5,2 6,2% (yoy) Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

16 Halaman ini sengaja dikosongkan 16 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

17 Bab 1 1. Ekonomi Makro Regional Perekonomian Bali triwulan I 2014 kembali menunjukkan perlambatan. Perekonomian Bali tumbuh melambat dari 5,49% pada triwulan sebelumnya menjadi 5,43% (yoy) pada triwulan I 2014 (Grafik 1.1). Walaupun tumbuh melambat, perekonomian Bali tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi nasional yang sebesar 5,21% (yoy). Dari sisi penawaran, perlambatan ekonomi Bali dipicu oleh perlambatan yang terjadi di sektor jasa-jasa, pengangkutan dan komunikasi, serta bangunan. Namun sektor-sektor utama provinsi Bali, yaitu sektor PHR dan pertanian, menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sehingga menahan perlambatan yang lebih dalam di triwulan I Sedangkan dari sisi permintaan, perlambatan pertumbuhan dipicu oleh perlambatan komponen konsumsi swasta serta kontraksi pertumbuhan yang terjadi pada komponen investasi, sedangkan pertumbuhan komponen ekspor menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Grafik 1.1 Nominal PDRB dan Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Bali Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah 1.1. SISI PENAWARAN Ditinjau dari sisi penawaran, pertumbuhan sektor jasa-jasa, pengangkutan dan komunikasi, serta bangunan mengalami perlambatan di triwulan I Perlambatan tersebut menyebabkan perekonomian Bali tumbuh melambat dari 5,49% pada triwulan IV 2013 menjadi 5,43% (yoy) pada triwulan I Walaupun total pangsa ketiga sektor tersebut hanya sebesar 30,71%, namun perlambatan yang cukup dalam di sektor jasajasa serta kontraksi sektor bangunan yang masih berlangsung sejak triwulan III 2013 mendorong perlambatan pertumbuhan yang terjadi di sisi lain. Di sisi lain, pertumbuhan sektor-sektor utama Bali, yaitu Sektor PHR dan Pertanian, menunjukkan peningkatan sehingga menahan perlambatan yang lebih dalam di triwulan I Detail pertumbuhan PDRB dari sisi penawaran dapat dilihat pada Tabel 1.1. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

18 Tabel 1.1 Pertumbuhan PDRB Provinsi Bali dari Sisi Penawaran, (%, yoy) Sektor Tw I Tw II Tw III Tw IV 2013 Tw I Pertanian Pertambangan (5.70) Industri Listrik, Gas & Air Bangunan (1.28) (3.94) 6.20 (5.27) Perdg, Hotel & Rest Pengangkutan & Kom Keuangan & Persewaan Jasa-Jasa PDRB Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Bali Jika ditinjau dari pangsanya, perekonomian Bali di triwulan I 2014 masih ditopang oleh tiga sektor utamanya, yaitu Sektor PHR, Pertanian, serta Jasa-Jasa, dengan pangsa masing-masing sebesar 32,41%, 17,03%, 15,15% terhadap total perekonomian provinsi Bali (Grafik 1.2). Komposisi yang menggambarkan struktur perekonomian provinsi Bali tersebut relatif tidak mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Adapun total sumbangan (andil) ketiga sektor tersebut mencapai 3,61% terhadap pertumbuhan ekonomi Bali di triwulan I 2014 (Grafik 1.3). Namun pangsa sektor PHR cenderung meningkat, sedangkan di sisi lain pangsa sektor pertanian cenderung mengalami penurunan seiring dengan alih fungsi lahan pertanian yang masih berlangsung hingga saat ini. Berdasarkan kelompoknya, andil sektor primer (sektor pertanian dan pertambangan) terhadap pertumbuhan ekonomi Bali hanya sebesar 0,13%, jauh lebih kecil dibandingkan dengan andil sektor tersier (sektor PHR, pengangkutan, keuangan, dan jasa-jasa) yang mencapai 4,80% terhadap pertumbuhan ekonomi Bali. Hal tersebut menunjukkan bahwa perekonomian Bali ditopang oleh sektor tersier, khususnya sektor PHR yang didorong oleh industri pariwisata. Grafik 1.2 Pangsa Sektor Ekonomi terhadap PDRB Provinsi Bali di Tahun 2013 Grafik 1.3 Andil Sektor terhadap Perekonomian Provinsi Bali di Tahun 2013 Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah 18 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

19 Berdasarkan Tabel 1.1, dapat dilihat bahwa sejak triwulan III 2013, laju pertumbuhan paling tinggi masih disumbang oleh pertumbuhan sektor jasa-jasa. Namun walaupun masih tumbuh tinggi sebesar 9,23% (yoy), pertumbuhan tersebut mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sedangkan di sisi lain, sektor bangunan kembali mengalami kontraksi yang lebih dalam hingga 5,27% (yoy). Kontraksi di sektor bangunan tersebut terkait dengan perlambatan investasi di awal tahun 2014 seiring berakhirnya booming investasi MP3EI dalam rangka penyelenggaraan KTT APEC di tahun Selain itu, tingginya harga properti diperkirakan menjadi faktor pendorong perlambatan di sektor bangunan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran (PHR) Pertumbuhan Sektor PHR di triwulan I 2014 meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya. Sektor PHR tumbuh sebesar 6,48%, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan sebelumnya yang sebesar 5,44% (yoy). Meningkatnya pertumbuhan tersebut mendorong andil sektor PHR terhadap pertumbuhan ekonomi Bali dari 1,74% menjadi sebesar 2,08%. Baik subsektor perdagangan, hotel, maupun restoran menunjukkan peningkatan pertumbuhan di triwulan I Dari sisi kredit, nominal penyaluran kredit di triwulan I 2014 juga mengalami peningkatan, dengan outstanding kredit sebesar Rp 20,35 triliun (Grafik 1.4). Namun pertumbuhannya cenderung melambat seiring dengan trend perlambatan kredit yang terjadi sejak pertengahan tahun Peningkatan pertumbuhan sektor PHR tersebut sejalan dengan peningkatan pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di awal tahun. Pada triwulan I 2014, pertumbuhan jumlah kunjungan wisman meningkat dari 14,00% menjadi sebesar 14,87% (yoy), dengan jumlah kunjungan sebanyak orang. Pertumbuhan tersebut didorong oleh masuknya libur awal tahun serta libur panjang di bulan Januari dan Maret. Selain itu, adanya beberapa kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition (MICE) di triwulan I 2014, salah satunya Fourth International Conference on Industrial Engineering and Operations Management (IEOM 2014) pada Januari 2014 ikut mendorong pertumbuhan sektor PHR triwulan I Grafik 1.4 Penyaluran Kredit Sektor PHR Grafik 1.5 Kunjungan Wisman ke Bali Sumber : Dinas Pariwisata Provinsi Bali, diolah Namun di sisi lain, walaupun pertumbuhan jumlah kunjungan wisman menunjukkan peningkatan, namun Tingkat Penghunian Kamar (TPK) dan rata-rata lama menginap di hotel cenderung mengalami penurunan pada triwulan I TPK triwulan I 2014 mengalami penurunan dari 61,35% menjadi 58,92%, sedangkan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

20 rata-rata lama menginap turun dari 3,48 hari menjadi 3,17 hari (Grafik 1.6). Meningkatnya pertumbuhan jumlah kunjungan wisman sedangkan TPK menurun kemungkinan disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya semakin maraknya pembangunan hotel khususnya di Kabupaten sehingga TPK menjadi menurun, beralihnya preferensi wisman dari menginap di hotel bintang maupun non bintang ke villa maupun city hotel, atau disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan domestik di awal tahun. Namun meningkatnya pertumbuhan jumlah kunjungan wisman masih sejalan dengan meningkatnya penerimaan visa on arrival di triwulan II 2014 dari ribu USD pada triwulan sebelumnya menjadi sebesar USD, dengan tingkat pertumbuhan mencapai 32,27% (yoy) (Grafik 1.7). Tingkat pertumbuhan tersebut merupakan yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Grafik 1.6 Tingkat Penghunian Kamar dan Rata-rata Lama Menginap di Hotel Grafik 1.7 Penerimaan Visa On Arrival Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Sumber : PT Bank Rakyat Indonesia, diolah Kunjungan wisman ke Bali pada triwulan I 2014 masih didominasi oleh wisman asal Australia dan Tiongkok, dengan pangsa masing-masing sebesar 24,84% dan 18,09% terhadap total kunjungan wisman ke Bali. Pangsa wisman asal Australia cenderung menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, begitu juga dengan pangsa wisman asal Malaysia dan Jepang. Namun di sisi lain, pangsa wisman asal Tiongkok menunjukkan peningkatan yang signifikan dari sebelumnya 9,85% menjadi sebesar 18,09%. Peningkatan kunjungan wisman asal Tiongkok tersebut salah satunya didorong oleh perekonomian Tiongkok yang perlahan menunjukkan arah perbaikan, dimana perekonomian Tiongkok triwulan I 2014 masih tumbuh tinggi sebesar 7,4% (yoy). Selain itu, banyaknya hari libur nasional di Tiongkok pada triwulan I 2014, diantaranya libur tahun baru serta libur imlek (31 Januari 6 Februari) menjadi faktor pendorong meningkatnya pertumbuhan wisman asal Tiongkok di triwulan I Secara keseruhan, pangsa negara asal kunjungan wisman ke Bali dapat dilihat pada Grafik 1.8. Sedangkan ditinjau dari pertumbuhan jumlah kunjungannya, hampir seluruh wisman dari tiap negara menunjukkan pertumbuhan kunjungan yang positif, kecuali wisman asal Jepang, Singapore, Taiwan, Rusia dan Jerman yang mengalami kontraksi. Pertumbuhan kunjungan wisman asal Austalia dan Tiongkok yang memiliki pangsa terbesar mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan wisman asal Australia meningkat dari 4,46% menjadi 15,67% (yoy). Namun pertumbuhan paling tinggi ditunjukkan oleh wisman asal Tiongkok dan Singapore, yang masing-masing tumbuh sebesar 50,17% dan 48,72% (yoy). Hal tersebut menunjukkan hal yang positif dan dapat menjadi peluang besar bagi para pelaku usaha industri pariwisata maupun pemerintah daerah dalam mengembangkan pariwisata Bali ke depannya. Perkembangan pertumbuhan kunjungan wisman berdasarkan negara asalnya dapat dilihat pada Grafik Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

21 Grafik 1.8 Asal Wisman yang Berkunjung ke Bali Grafik 1.9 Perkembangan Kunjungan Wisman Berdasarkan Negara Sumber : Dinas Pariwisata Provinsi Bali, diolah Sumber : Dinas Pariwisata Provinsi Bali, diolah Sejalan dengan pertumbuhan sektor PHR, pertumbuhan subsektor perdagangan triwulan I 2014 juga mengalami peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan subsektor perdagangan meningkat dari 7,54% menjadi sebesar 8,39% (yoy). Berdasarkan hasil Survei Penjualan Eceran (SPE) Bank Indonesia, terjadi kenaikan total penjualan di triwulan I 2014, dengan pertumbuhan total penjualan mencapai 61,65% (yoy) (Grafik 1.10). Walaupun pertumbuhannya sedikit melambat, namun pertumbuhan tersebut masih tergolong tinggi, dengan hasil survei nilai total penjualan yang meningkat pesat dari Rp 162 miliar menjadi Rp 198 miliar. Sama seperti triwullan sebelumnya, peningkatan total penjualan tersebut didorong oleh kenaikan total penjualan suku cadang di triwulan I 2014 (Grafik 1.11). Grafik 1.10 Perkembangan Total Penjualan Grafik 1.11 Pertumbuhan Indeks Penjualan Sumber : Survei Penjualan Eceran (SPE), KpwBI Wilayah III Sumber : Survei Penjualan Eceran (SPE), KpwBI Wilayah III Walaupun pertumbuhannya cenderung meningkat di triwulan I 2014, namun beberapa indikator lain terkait subsektor perdagangan menunjukkan perlambatan pertumbuhan, salah satunya indikator penyaluran kredit. Sejalan dengan penyaluran kredit sektor PHR, pertumbuhan penyaluran kredit subsektor perdagangan juga menunjukkan perlambatan. Pada triwulan I 2014, penyaluran kredit subsektor perdagangan tumbuh melambat dari 30,41% menjadi sebesar 28,68% (yoy), dengan outstanding kredit sebesar Rp 14,7 triliun (Grafik 1.12). Walaupun tumbuh melambat, namun pertumbuhan kredit tersebut masih tergolong tinggi. Selain itu, pertumbuhan arus bongkar muat di Pelabuhan Benoa kembali mengalami kontraksi di triwulan I Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

22 2014 (Grafik 1.13). Kontraksi pertumbuhan arus bongkar muat tersebut salah satunya disebabkan oleh cuaca yang kurang kondusif di awal tahun sehingga menggangu kelancaran distribusi dari dan ke Pelabuhan Benoa. Grafik 1.12 Penyaluran Kredit Subsektor Perdagangan Grafik 1.13 Perkembangan Arus Bongkar Muat Sumber : PT Pelindo III, diolah Sektor Pertanian Setelah mengalami perlambatan di sepanjang tahun 2013, pertumbuhan sektor pertanian di triwulan I 2014 menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Sektor pertanian tumbuh sebesar 1,00% pada triwulan I 2014, sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 0,87% (yoy). Peningkatan tersebut menyebabkan andil sektor pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi Bali sedikit meningkat dari 0,16% menjadi 0,18%. Walaupun meningkat, namun pertumbuhan serta andil sektor pertanian terhadap perekonomian Bali masih tergolong rendah. Peningkatan pertumbuhan sektor pertanian didorong oleh peningkatan subsektor perikanan, yang tumbuh dari 1,64% menjadi 6,68% (yoy). Sedangkan pertumbuhan subsektor lainnya, yaitu subsektor tanaman bahan makanan (tabama), tanaman perkebunan, peternakan, serta kehutanan cenderung melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Meningkatnya kinerja subsektor perikanan didorong oleh meningkatnya jumlah tangkapan ikan di bulan Maret Pada periode tersebut, jumlah tangkapan ikan mencapai kilogram sehingga mendorong pertumbuhan jumlah tangkapan ikan di triwulan I 2014 tetap tumbuh tinggi lebih dari 100% (yoy) (Grafik 1.1.4). Sedangkan dari sisi kredit, pertumbuhan penyaluran kredit ke sektor pertanian juga menunjukkan perlambatan dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada triwulan I 2014, pertumbuhan kredit sektor pertanian tumbuh melambat dari 15,75% menjadi 11,88% (yoy), dengan outstanding kredit sebesar Rp 1,1 triliun. (Grafik 1.15). 22 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

23 Grafik 1.14 Perkembangan Produksi Perikanan Grafik 1.15 Perkembangan Kredit Sektor Pertanian Sumber : Untuk subsektor tanaman bahan makanan (tabama), subsektor tersebut kembali tumbuh melambat pada triwulan I Pertumbuhan subsektor tabama melambat dari 1,53% menjadi sebesar 0,90% (yoy). Perlambatan tersebut telah terjadi secara konsisten dalam beberapa triwulan terakhir. Pangsa subsektor tabama terhadap total sektor pertanian mencapai 45,95%. Berdasarkan data prognosa kebutuhan pokok masyarakat di daerah Bali periode Januari sampai dengan Juni 2014, diperoleh bahwa jumlah stok beras di akhir triwulan I 2014 sebesar ton (Grafik 1.16). Sedangkan berdasarkan data terakhir luas panen padi di akhir tahun 2013, pertumbuhan luas panen padi menunjukkan perlambatan pada akhir tahun 2013 (Grafik 1.17) dan diperkirakan luas panen akan sedikit berkurang di tahun Isu alih fungsi lahan pertanian di Bali yang sedang marak beberapa waktu ini dinilai menjadi salah satu faktor pendorong berkurangnya luas panen di tahun Selain itu kondusi cuaca yang kurang kondusif di awal tahun 2014 juga menjadi pemicu berkurangnya luas panen padi di awal tahun Grafik 1.16 Prognosa Beras (Stok) Bali 2014 Grafik 1.17 Perkembangan Luas Panen Padi di Bali Sumber : Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali Sumber : Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali Selain subsektor tabama, subsektor peternakan yang memiliki pangsa terbesar ke dua pada sektor pertanian sebesar 27,40% juga tumbuh melambat pada triwulan I Pertumbuhan subsektor peternakan mengalami kontraksi yang lebih dalam dari triwulan sebelumnya kontraksi 1,74% menjadi kontraksi 3,00% (yoy) pada triwulan I Banyaknya bibit sapi yang dijual pada usia muda menyebabkan jumlah sapi berkurang sehingga mendorong perlambatan di subsektor peternakan. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

24 Sedangkan untuk subsektor perikanan, subsektor tersebut merupakan satu-satunya subsektor pada sektor pertanian yang mengalami peningkatan pertumbuhan sehingga mendorong peningkatan pertumbuhan sektor pertanian secara keseluruhan pada triwulan I Pertumbuhan subsektor perikanan meningkat dari 1,64% menjadi sebesar 6,68% (yoy). Pangsa subsektor tersebut terhadap total sektor pertanian sebesar 21,85% (yoy). Membaiknya pertumbuhan subsektor perikanan dipicu oleh perbaikan kondisi cuaca di bulan Maret 2014 sehingga mendorong peningkatan produksi perikanan di triwulan I Hal tersebut berdampak pada meningkatnya pertumbuhan ekspor perikanan, dengan total nilai ekspor mencapai 27,14 juta USD (Grafik 1.18). Sedangkan dari sisi volume, pertumbuhan volume ekspor perikanan cenderung melambat dari 10,07% menjadi sebesar 2,20% (yoy), dengan total volume ekspor sebesar 7,94 ribu ton (Grafik 1.19). Grafik 1.18 Perkembangan Nilai Ekspor Perikanan Grafik 1.19 Perkembangan Volume Ekspor Perikanan Sektor Jasa-jasa Seperti pada triwulan sebelumnya, pertumbuhan sektor jasa-jasa di triwulan I 2014 kembali mengalami perlambatan. Pertumbuhan sektor tersebut melambat dari 11,52% menjadi 9,23% (yoy), dengan andil terhadap pertumbuhan yang berkurang dari 1,68% menjadi 1,35%. Perlambatan yang terjadi di sektor jasajasa dipicu oleh perlambatan subsektor pemerintahan umum, sedangkan pertumbuhan subsektor jasa swasta cenderung menunjukkan peningkatan. Subsektor jasa pemerintahan umum tumbuh melambat dari 15,37% menjadi sebesar 11,02% (yoy). Subsektor tersebut menunjukkan trend perlambatan pasca pembayaran gaji ke 13 di pertengahan tahun Sedangkan dari sisi jasa swasta, pertumbuhan jasa hiburan dan rekreasi menunjukkan peningkatan seiring dengan peningkatan pertumbuhan di Sektor PHR. Walaupun pertumbuhan sektor jasa-jasa cenderung melambat, namun pertumbuhan sebesar 9,23% (yoy) pada sektor tersebut merupakan yang paling tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan sektor-sektor lainnya. 24 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

25 Grafik 1.20 Penyaluran Kredit di Sektor Jasa Sejalan dengan perlambatan sektor jasa-jasa, pertumbuhan penyaluran kredit ke sektor jasa di triwulan I 2014 juga menunjukkan perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan penyaluran kredit ke sektor jasa melambat dari 2,91% menjadi 2,56% (yoy), dengan outstanding kredit sebesar Rp 1,97 triliun (Grafik 1.20). Penyaluran kredit ke sektor jasa tersebut ditujukan untuk jasa administrasi pemerintahan dan pertahanan, jasa pendidikan, jasa kesehatan, jasa kemasyarakatan, sosial budaya dan hiburan, serta jasa perorangan dan rumah tangga. Berdasarkan klasifikasinya, kredit ke sektor jasa administrasi pertahanan tumbuh melambat, sedangkan kredit ke jasa kemasyarakatan, sosial budaya dan hiburan serta jasa perorangan dan rumah tangga tumbuh meningkat. Hal tersebut sejalan dengan pertumbuhan ekonomi di subsektor tersebut Sektor Pengangkutan dan Komunikasi Setelah menunjukkan peningkatan pertumbuhan pada tiga triwulan terakhir, pertumbuhan sektor pengangkutan dan komunikasi di triwulan I 2014 sedikit melambat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Berbeda dengan sektor PHR, sektor pengangkutan dan komunikasi tumbuh melambat dari 7,31% menjadi sebesar 7,11% (yoy). Perlambatan tersebut menyebabkan andil sektor pengangkutan dan komunikasi terhadap pertumbuhan ekonomi Bali berkurang dari 0,80% menjadi 0,78%. Perlambatan dipicu oleh subsektor pengangkutan yang memilki pangsa 81,44% terhadap sektor pengangkutan dan komunikasi, sedangkan pertumbuhan subsektor komunikasi sedikit meningkat. Pertumbuhan subsektor pengangkutan triwulan I 2014 melambat dari 7,59% menjadi sebesar 7,30% (yoy). Namun berdasarkan data PT. Pelindo III, pertumbuhan arus penumpang laut triwulan I 2014 meningkat dari 21,52% menjadi sebesar 39,84% (yoy), dengan jumlah penumpang mencapai orang (Grafik 1.21). Peningkatan pertumbuhan arus penumpang laut tersebut sejalan dengan peningkatan pertumbuhan jumlah kunjungan wisatawan di triwulan I Sedangkan jumlah penumpang pesawat udara yang berangkat dari Bandara Ngurah Rai Bali sedikit berkurang dibandingkan dengan triwulan sebelumnya menjadi sebesar orang, dengan tingkat pertumbuhan yang masih tinggi sebesar 19,15% (yoy). (Grafik 1.22). Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

26 Grafik 1.21 Jumlah Penumpang Laut Sumber : PT Pelindo III, diolah Grafik 1.22 Jumlah Penumpang Pesawat Udara Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Sektor Industri Pengolahan Pada triwulan I 2014, pertumbuhan sektor industri pengolahan kembali menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan sektor industri pengolahan meningkat dari 6,40% menjadi sebesar 7,03% (yoy) sehingga andil sektor industri pengolahan terhadap pertumbuhan ekonomi Bali turut meningkat dari 0,63% menjadi sebesar 0,70%. Hampir seluruh komponen dalam subsektor industri non migas mengalami pertumbuhan yang meningkat, diantaranya industri tekstil, barang kayu, serta industri makanan, minuman, dan tembakau. Hal tersebut sejalan dengan hasil publikasi BPS yang menunjukkaan bahwa terdapat kenaikan indeks pada industri makanan dan kayu, sedangkan indeks industri tekstil masih menunjukkan kontraksi pada triwulan I 2014 (Grafik 1.23). Grafik 1.23 Perkembangan Industri Besar dan Sedang Grafik 1.24 Nilai Ekspor Kayu dan Olahan Kayu Sumber : Badan Pusat Statistik Jika ditinjau berdasarkan masing-masing komponennya, peningkatan pertumbuhan industri barang kayu dan hasil hutan lainnya sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekspor luar negeri kayu olahan (wood manufacture). Setelah mengalami kontraksi dalam satu setengah tahun terakhir, ekspor luar negeri kayu olahan mampu tumbuh tinggi di triwulan I Pertumbuhan ekspor luar negeri kayu olahan meningkat dari kontraksi 0,42% menjadi tumbuh positif sebesar 43,03% (yoy), dengan nilai nominal mencapai 19,48 juta USD (Grafik 1.24). Meningkatnya ekspor kayu tersebut diperkirakan terkait dengan penandatanganan 26 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

27 Tata Kelola dan Perdagangan Sektor Kehutanan (FLEGT-VPA) yang berupa Perjanjian Kemitraan Indonesia Uni Eropa tentang Penegakan Hukum, Tata Kelola dan Perdagangan Sektor Kehutanan. FLEGT-VPA tersebut bertujuan untuk menghentikan perdagangan kayu ilegal dan memastikan hanya kayu dan produk kayu yang telah diverifikasi legalitasnya yang boleh diimpor oleh Uni Eropa dari Indonesia. Indonesia merupakan negara Asia pertama yang memiliki VPA dengan Uni Eropa dan hal ini memberikan keunggulan komparatif kayu dan produk kayu Indonesia, termasuk kerajinan kayu dari sektor UKM untuk bersaing dengan produk negara lain di pasar Uni Eropa. Ekspor kayu sendiri merupakan ekspor terbesar ke dua Bali setelah tekstil dan pada triwulan I 2014 pangsanya terhadap total ekspor luar negeri Bali sebesar 21,13%. Grafik 1.25 Nilai Ekspor Luar Negeri Pakaian Jadi Grafik 1.26 Nilai Ekspor Luar Negeri Tekstil Sejalan dengan pertumbuhan ekspor kayu, nilai total ekspor luar negeri pakaian jadi juga mengalami peningkatan pada triwulan I Sesuai dengan polanya, ekspor pakaian jadi meningkat di triwulan I, dengan nilai total ekspor mencapai 28,12 juta USD, meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 21,79 juta USD. Walaupun nilainya meningkat, namun pertumbuhan ekspor luar negeri pakaian jadi sedikit melambat dari 1,79% menjadi 0,63% (yoy) (Grafik 1.25). Sedangkan untuk tekstil, nilai total ekspor luar negeri tekstil sedikit menurun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Nilai total ekspor luar negeri tekstil pada triwulan I 2014 sebesar 5,19 juta USD (Grafik 1.26). Penurunan ekspor luar negeri tekstil tersebut sesuai dengan polanya dimana pada triwulan I, total ekspor tekstil cenderung menunjukkan penurunan dibandingkan dengan ekspor di akhir tahun. Melambatnya pertumbuhan ekspor luar negeri tekstil menunjukkan bahwa pertumbuhan industri tekstil triwulan I 2014 lebih didorong oleh ekspor tekstil dalam negeri. Namun walaupun tumbuh melambat, total ekspor luar negeri pakaian jadi dan tekstil mencapai 25,20% terhadap total ekspor luar negeri Bali di triwulan I Produk Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Bali yang menembus pasar luar negeri berupa pakaian jadi (busana) yang sangat diminati konsumen mancanegara karena rancangannya didesain secara unik dan menarik. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

28 Grafik 1.27 Kredit Sektor Industri Grafik 1.28 Konsumsi Listrik Industri Sumber : PT PLN Distribusi Bali, diolah Sedangkan dari sisi kredit, sejalan dengan trend perlambatan kredit secara umum, penyaluran kredit bank umum ke sektor industri pengolahan tumbuh melambat di triwulan I Pertumbuhan kredit ke sektor industri melambat dari 15,33% menjadi sebesar 11,96% (yoy), dengan outstanding kerdit sebesar Rp 1.62 triliun (Grafik 1.27). Pertumbuhan konsumsi listrik industri juga menunjukkan perlambatan pada triwulan I Total konsumsi listrik industri berkurang dari 40,55 juta KwH pada triwulan IV 2013 menjadi sebesar 37,01 juta KwH pada triwulan I 2014 (Grafik 1.28) Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan Seperti pada triwulan sebelumnya, pertumbuhan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahan kembali menunjukkan peningkatan pada triwulan I Pertumbuhan sektor tersebut meningkat dari 7.36% menjadi sebesar 7,99% (yoy). Andil sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan terhadap pertumbuhan ekonomi Bali pun ikut meningkat dari 0.54% menjadi 0,58%. Ditinjau berdasarkan subsektornya, peningkatan tersebut didorong oleh pertumbuhan subsektor sewa bangunan, lembaga keuangan tanpa bank, serta jasa penunjang keuangan, sedangkan pertumbuhan subsektor bank dan jasa perusahaan cenderung menunjukkan perlambatan. Pada triwulan I 2014, subsektor sewa bangunan yang memiliki pangsa sebesar 46,65% terhadap total sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan mampu tumbuh sebesar 9,01%, lebih tinggi dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 7,32% (yoy). Peningkatan pertumbuhan sewa bangunan tersebut sejalan dengan inflasi komoditas sewa rumah yang cukup tinggi, khususnya di bulan Maret 2014 yang mencaai 0,17% (mtm) (Grafik 1.29). Walaupun secara keseluruhan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan tumbuh meningkat, pertumbuhan tersebut sedikit tertahan oleh melambatnya pertumbuhan subsektor bank di triwulan I Subsektor bank tumbuh melambat dari 7,44% menjadi sebesar 6,86% (yoy). Perlambatan tersebut terjadi secara konsisten dan sejalan dengan perlambatan penyaluran kredit bank umum yang telah terjadi sejak tahun Namun perlambatan tersebut sejalan dengan tingkat suku bunga BI rate sebesar 7,5% yang ditetapkan dengan tujuan untuk menekan inflasi serta memperbaiki kondisi neraca perdagangan nasional. 28 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

29 Grafik 1.29 Perkembangan Inflasi Komoditas Sewa Rumah Grafik 1.30 Kredit Bank Umum Sumber : BPS Pada triwulan I 2014, penyaluran kredit bank umum tumbuh melambat dari 24,18% menjadi sebesar 21,51% (yoy), dengan outstanding kredit sebesar Rp 50,33 triliun (Grafik 1.30). Walaupun tumbuh melambat, namun nominal total kredit bank umum di triwulan I 2014 masih meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar Rp 49,25 triliun. Trend perlambatan pertumbuhan kredit tersebut dan saat ini tumbuh sebesar 21,51% (yoy) diharapkan dapat mencapai sasaran pertumbuhan kredit nasional yang sebesar 15 18% (yoy) dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi neraca perdagangan nasional secara umum Sektor Bangunan Pertumbuhan sektor bangunan kembali mengalami kontraksi pada triwulan I 2014 dan telah mengalami kontraksi selama tiga triwulan terakhir sejak triwulan III Pertumbuhan sektor bangunan pun telah menunjukkan perlambatan sejak awal tahun Pada triwulan I 2014, pertumbuhan sektor bangunan mengalami kontraksi sebesar 5,27%, lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi triwulan sebelumnya yang sebesar 3,94% (yoy). Kontraksi tersebut menyebabkan sektor bangunan kembali menyumbangkan angka pertumbuhan negatif terhadap total pertumbuhan ekonomi Bali, dengan andil sebesar -0.26%. Belum adanya proyek pembangunan berskala besar, khususnya pembangunan infrastruktur terkait MP3EI pasca booming investasi menjelang KTT APEC di akhir tahun 2013, menyebabkan pertumbuhan sektor bangunan terus menunjukkan perlambatan. Namun pada awal tahun 2014 telah diresmikan beberapa proyek infrastruktur PU di provinsi Bali, diantaranya proyek pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Petanu dengan kapasitas 300 liter/detik, dua buah SPAM IKK di Kabupaten Tabanan dan Badung serta satu SPAM pedesaan di Kabupaten Jembrana dan Tabanan dengan total kapasitas 40 liter per detik, pembangunan sistem drainase Tukad Teba, serta program sanitasi berbasis masyarakat di Kabupaten tabanan. Rencana pembangunan proyek infrastruktur tersebut diharapkan dapat meningkatkan kinerja sektor bangunan di pertengahan dan akhir tahun Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

30 Grafik 1.31 Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) Grafik 1.32 Perkembangan Konsumsi Semen Sumber : Survei Harga Porperti Residensial, Bank Indonesia Sumber : Asosiasi Semen Indonesia Perlambatan dan kontraksi yang terjadi di sektor bangunan sejalan dengan hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia di triwulan I Hasil SHPR menunjukkan terjadi perlambatan pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan I 2014 (Grafik 1.31). Hal tersebut menunjukkan bahwa permintaan terhadap properti residensial di Bali kembali mengalami penurunan. Fenomena terus meningkatnya harga properti khususnya di Bali menjadi salah satu pemicu perlambatan sektor bangunan dalam beberapa periode terakhir. Tingginya harga porperti khususnya di Kota Denpasar dan Kabupaten Badung tidak terlepas dari semakin terbatasnya lahan yang tersedia di daerah-daerah tersebut. Grafik 1.33 Kredit Sektor Bangunan Selain itu, berdasarkan data Asosiasi Semen Indonesia, pertumbuhan konsumsi semen di Bali juga masih mengalami kontraksi seperti pada triwulan sebelumnya, dengan total konsumsi di sepanjang triwulan I 2014 sebesar 430,12 ribu ton semen. Namun kontraksi yang terjadi tidak sedalam sebelumnya. Kontraksi pertumbuhan konsumsi semen di triwulan I 2014 sebesar 1,54%, jauh lebih baik dibandingkan dengan kontraksi triwulan sebelumnya yang sebesar 21,88% (yoy) (Grafik 1.32). Sejalan dengan hal tersebut, pertumbuhan penyaluran kredit ke sektor bangunan juga mengalami perlambatan. Pada triwulan I 2014, penyaluran kredit sektor bangunan tumbuh melambat dari 45,72% menjadi sebesar 25,83% (yoy), dengan outstanding kredit sebesar Rp 1,76 triliun (Grafik 1.33). Relatif berkurangnya proyek pembangunan di awal tahun 2014 serta penerapan kebijakan Loan to Value (LTV) dinilai masih efektif dalam menahan laju pertumbuhan kredit dalam rangka mencapai sasaran pertumbuhan kredit nasional. 30 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

31 Sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih (LGA) Sektor Listrik, Gas, dan Air bersih (LGA) tumbuh melambat di triwulan I Pertumbuhan sektor LGA melambat dari 7,01% pada triwulan sebelumnya menjadi sebesar 3,30% (yoy). Angka pertumbuhan tersebut merupakan yang terendah dalam lima tahun terakhir. Perlambatan terus menyebabkan andil sektor LGA terhadap pertumbuhan ekonomi Bali berkurang dari 0,11% menjadi 0,05%. Perlambatan tersebut terjadi baik pada subsektor listrik maupun air bersih. Khusus untuk subsektor listrik yang memiliki pangsa sebesar 72,94% terhadap total sektor LGA, subsektor tersebut tumbuh melambat dari 6,54% menjadi sebesar 2,04% (yoy). Perlambatan tersebut sejalan dengan data yang diperoleh dari PLN, dimana pertumbuhan konsumsi listrik maupun jumlah pelanggan listrik di Bali mengalami perlambatan pada triwulan I Pertumbuhan konsumsi listrik mengalami kontraksi sebesar 15,64% (yoy), dengan jumlah konsumsi listrik sebesar 1.032,04 juta KwH (Grafik 1.34). Kontraksi tersebut terjadi seiring dengan tingginya pertumbuhan jumlah konsumsi listrik di periode yang sama tahun sebelumnya pada saat terjadinya booming investasi pembangunan infrastruktur di tahun 2013 (base effect) sehingga jumlah listrik yang dibutuhkan pada periode tersebut relatif lebih besar dibandingkan dengan periode pelaporan. Selain itu, pertumbuhan jumlah pelanggan listrik di triwulan I 2014 juga melambat dari 9,09% menjadi sebesar 8,92% (yoy), dengan jumlah pelanggan sebesar unit (Grafik 1.35). Grafik 1.34 Konsumsi Listrik di Bali Grafik 1.35 Jumlah Pelanggan Listrik Sumber : PLN Distribusi Bali, diolah Sumber : PLN Distribusi Bali, diolah 1.2. SISI PERMINTAAN Dari sisi permintaan, perlambatan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2014 dari 5,49% menjadi sebesar 5,43% (yoy) didorong oleh perlambatan konsumsi swasta (konsumsi swasta dan lembaga nirlaba) serta komponen investasi. Konsumsi swasta tumbuh melambat dari 10,07% menjadi sebesar 6,37% (yoy), sedangkan pertumbuhan investasi terkontraksi lebih dalam dari kontraksi 1,06% menjadi sebesar 3,86% (yoy). Trend perlambatan investasi tersebut telah terjadi dalam satu tahun terakhir. Namun perlambatan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2014 sedikit tertahan oleh peningkatan pertumbuhan konsumsi pemerintah serta komponen ekspor. Konsumsi pemerintah masih tumbuh tinggi dan meningkat dari 33,67% menjadi sebesar 39,47% (yoy), sedangkan pertumbuhan ekspor meningkat dari 15,35% menjadi sebesar 16,30% (yoy). Detail perkembangan pertumbuhan PDRB dari sisi permintaan dapat dilihat pada Tabel 1.2. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

32 Tabel 1.2 Pertumbuhan PDRB Provinsi Bali di Sisi Permintaan, (%, yoy) Komponen Tw I Tw II Tw III Tw IV I Konsumsi Konsumsi Rumah Tangga Konsumsi Lembaga Nirlaba Konsumsi Pemerintah Investasi (1.06) (3.86) PMTB (6.13) Perub. Stok (59.29) (69.46) (28.46) (25.18) (103.49) Ekspor Impor PDRB Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Konsumsi Secara umum, pertumbuhan konsumsi triwulan I 2014 mengalami perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Konsumsi tumbuh melambat dari 13,46% menjadi sebesar 10,78% (yoy). Perlambatan tersebut didorong oleh perlambatan konsumsi swasta (rumah tangga dan lembaga nirlaba), sedangkan pertumbuhan konsumsi pemerintah menunjukkan peningkatan. Konsumsi rumah tangga tumbuh melambat dari 9,72% menjadi sebesar 6,11% (yoy), sedangkan pertumbuhan konsumsi lembaga nirlaba melambat dari 30,33% menjadi sebesar 20,79% (yoy). Perlambatan pertumbuhan konsumsi di triwulan I 2014 tersebut sejalan dengan beberapa prompt indicator konsumsi, diantaranya hasil Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia, Indeks Tendensi Konsumen, penyaluran kredit konsumsi, serta Nilai Tukar Petani (NTP) di triwulan I Grafik 1.36 Indeks Keyakinan Konsumen Grafik 1.37 Komponen Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini Sumber : Survei Konsumen, KPwBI Wilayah III Sumber : Survei Konsumen, KPwBI Wilayah III 32 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

33 Berdasarkan hasil Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia, hampir seluruh indikator menunjukkan adanya penurunan tingkat optimisme konsumen terhadap kondisi ekonomi maupun ekspektasi kondisi ekonomi ke depan. Walaupun masih di atas level optimis (indeks di atas 100), hasil Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), Indeks Kondisi Ekonomi (IKE), maupun Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) menunjukkan penurunan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, dengan nilai untuk masing-masing indeks sebesar 111,64, 104,94, dan 118,33 (Grafik 1.36). Selain itu berdasarkan hasil survei tersebut, diperoleh adanya indikasi penurunan tingkat penghasilan, supply (persediaan) kerja, serta konsumsi durable goods (barang tahan lama) pada triwulan I 2014 (Grafik 1.37). Grafik 1.38 Indeks Tendensi Konsumen Grafik 1.39 Konsumsi Listrik Rumah Tangga Sumber : Badan Pusat Statistik Sumber : PT PLN Distribusi Bali, diolah Melambatnya pertumbuhan konsumsi di triwulan I 2014 juga terkonfirmasi dari menurunnya Indeks Tendensi Konsumen (ITK) hasil publikasi BPS. Tingkat optimisme konsumen pada triwulan I 2014 berada pada level 114,98, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan indeks triwulan sebelumnya yang sebesar 115,03 (Grafik 1.38). Selain itu, pertumbuhan konsumsi listrik rumah tangga juga menunjukkan perlambatan pada triwulan I Pertumbuhan konsumsi listrik mengalami kontraksi sebesar 13,77% (yoy), dengan total konsumsi listrik sebesar 441,96 juta KwH (Grafik 1.39). Grafik 1.40 Kredit Konsumsi Grafik 1.41 Perkembangan Nilai Tukar Petani Sumber : Badan Pusat Statistik Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

34 Dari sisi kredit, pertumbuhan penyaluran kredit konsumsi triwulan I 2014 juga menunjukkan perlambatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Kredit konsumsi tumbuh melambat dari 20,95% menjadi sebesar 17,95% (yoy), dengan total outstanding kredit sebesar Rp 18,99 triliun (Grafik 1.40). Indikator konsumsi lainnya berupa Nilai Tukar Petani (NTP) hasil publikasi BPS juga menunjukkan penurunan indeks pada triwulan I Indeks NTP triwulan I 2014 menurun dari 105,93 menjadi sebesar 103,83 (Grafik 1.41). Walaupun menunjukkan penurunan, namun indeks yang masih berada di atas 100 tersebut mengindikasikan tingginya daya beli masyarakat pada sektor pertanian Investasi Pada triwulan I 2014, pertumbuhan komponen investasi kembali mengalami perlambatan, dengan kontraksi pertumbuhan yang lebih dalam dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Pertumbuhan investasi mengalami kontraksi sebesar 3,86%, lebih dalam dibandingkan dengan kontraksi triwulan sebelumnya yang sebesar 1,06% (yoy). Perlambatan investasi didorong oleh perlambatan Pembentukkan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh melambat dari 0,57% menjadi kontraksi sebesar 6,13% (yoy). Kontraksi pertumbuhan yang terjadi pada komponen investasi sejalan dengan kontraksi pertumbuhan sektor bangunan yang terjadi pada triwulan I Melambatnya pertumbuhan investasi telah terjadi dalam satu tahun terakhir (sejak triwulan I 2014), dimana berakhirnya proyek-proyek infrastruktur berskala besar dalam rangka KTT APEC pada tahun 2013 menyebabkan investasi terus tumbuh melambat di akhir tahun 2013 hingga awal tahun Selain itu, tingginya harga tanah di Bali diperkirakan juga berpengaruh terhadap melambatnya pertumbuhan pembangunan di awal tahun Namun rencana realisasi proyek SPAM Bali di tahun 2014 diharapkan dapat kembali meningkatkan pertumbuhan investasi di tahun Grafik 1.42 Kredit Investasi Grafik 1.43 Perkembangan Impor Barang Modal Melambatnya pertumbuhan investasi tersebut terkonfirmasi dari pertumbuhan penyaluran kredit investasi yang kembali menunjukkan perlambatan pada triwulan I Penyaluran kredit investasi tumbuh melambat dari 28,10% menjadi sebesar 10,54% (yoy), dengan outstanding kredit sebesar Rp 11,35 triliun (Grafik 1.42). Seperti halnya pertumbuhan investasi, pertumbuhan penyaluran kredit investasi juga sudah menunjukkan trend perlambatan sejak pertengahan tahun Selain itu, melambatnya pertumbuhan impor barang modal juga sejalan dengan perlambatan pertumbuhan investasi triwulan I Walaupun masih tumbuh tinggi, pertumbuhan impor luar negeri barang modal melambat dari 559% menjadi sebesar 437% (yoy), 34 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

35 dengan total nilai impor sebesar 88,28 juta USD (Grafik 1.43). Perlambatan impor barang modal tersebut diantaranya terdiri dari impor komponen transportasi (transportation equipment), baik untuk kebutuhan industri maupun lainnya Ekspor Impor Setelah tumbuh melambat pada triwulan sebelumnya, pertumbuhan ekspor kembali meningkat pada triwulan I 2014, sedangkan pertumbuhan impor tetap pada trend melambat. Pertumbuhan ekspor meningkat dari 15,35% menjadi sebesar 16,30% (yoy), sedangkan pertumbuhan impor melambat dari 20,12% menjadi sebesar 16,80% (yoy). Walaupun pertumbuhan ekspor meningkat dan impor melambat, namun total nominal impor masih lebih besar dibandingkan dengan ekspor sehingga pada triwulan I 2014, provinsi Bali masih berada pada net impor sebesar Rp 267,94 miliar. Grafik 1.44 Perkembangan Nilai Ekspor Bali Grafik 1.45 Perkembangan Volume Ekspor Bali Berdasarkan data ekspor luar negeri, pertumbuhan ekspor luar negeri masih mengalami kontraksi sejak setahun terakhir. Pertumbuhan ekspor luar negeri triwulan I 2014 mengalami kontraksi sebesar 9,37% (yoy) dengan total nilai ekspor sebesar 132,19 juta USD. Kontraksi tersebut sedikit lebih dalam dibandingkan kontraksi triwulan sebelumnya yang sebesar 8,34% (yoy) (Grafik 1.44). Hal tersebut menunjukkan bahwa peningkatan pertumbuhan ekspor lebih didorong oleh pertumbuhan ekspor antar daerah dibandingkan dengan ekspor luar negeri. Kontraksi ekspor luar negeri yang lebih dalam tersebut didorong oleh komoditas pakaian jadi, perhiasan, dan tekstil, sedangkan pertumbuhan ekspor kayu olahan dan furniture menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Dilihat dari volumenya, pertumbuhan volume ekspor menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Setelah pertumbuhan volume ekspor mengalami kontraksi dalam tiga tahun terakhir, volume ekspor triwulan I 2014 mampu tumbuh sebesar 1,78% (yoy), dengan volume ekspor mencapai 27,57 ribu ton (Grafik 1.45). Jika dilihat berdasarkan komoditasnya, terdapat sedikit perbedaan komposisi ekspor di triwulan I 2014 dibandingkan dengan beberapa triwulan sebelumnya. Jika sebelumnya komoditas perikanan memiliki pangsa terbesar, maka pada triwulan I 2014 pangsa ekspor Bali didominasi oleh komoditas pakaian jadi sebesar 21,27%, kemudian disusul komoditas perikanan sebesar 20,53%, komoditas perhiasan sebesar 16,32%, komoditas kayu olahan sebesar 14,74%, dan disusul oleh berbagai komoditas lainnya (Grafik 1.46). Sedangkan untuk pertumbuhan masing-masing komponen, peningkatan pertumbuhan ekspor luar negeri ditunjukkan oleh komoditas kayu olahan (wood manufacture) yang tumbuh meningkat dari kontraksi 0,42% Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

36 menjadi tumbuh positif sebesar 43,04% (yoy), dengan nilai ekspor mencapai 19,48 juta USD. Sedangkan ekspor komoditas utama lainnya cenderung tumbuh melambat (Grafik 1.47). Meningkatnya pertumbuhan ekspor kayu olahan tersebut selain didorong oleh penandatanganan Tata Kelola dan Perdagangan Sektor Kehutanan (FLEGT-VPA), juga didukung oleh membaiknya perekonomian negara-negara utama tujuan ekspor Bali. Grafik 1.46 Pangsa Nilai Ekspor Komoditas Utama Grafik 1.47 Pertumbuhan Nilai Ekspor Komoditas Utama Jika ditinjau dari negara tujuan ekspornya, negara tujuan ekspor utama Bali masih didominasi oleh USA sebesar 19,61%, Jepang 14,41%, Australia 8,92%, dan Singapore 7,93% (Grafik 1.48). Pangsa ekspor ke negeara Jepang cenderung meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang sebesar 12,73%. Jika ditinjau dari pertumbuhannya, pertumbuhan ekspor ke USA, Jepang, dan Hongkong meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya, sedangkan pertumbuhan ekspor ke Australia dan Singapore melambat pada triwulan I 2014 (Grafik 1.49). Grafik 1.48 Pangsa Ekspor Berdasarkan Negara Tujuan Grafik 1.49 Pertumbuhan Ekspor berdasarkan Negara Tujuan Dari sisi impor, nilai impor luar negeri Bali triwulan I 2014 sedikit lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Namun pertumbuhan impor luar negeri meningkat dari 142,71% menjadi sebesar 174,28% (yoy) dengan total nilai impor sebesar 122,10 juta USD (Grafik 1.50). Meningkatnya pertumbuhan impor luar negeri menunjukkan bahwa perlambatan impor dalam komponen PDRB lebih didominasi oleh perlambatan impor antar daerah. Sejalan dengan pertumbuhan nilai impor, pertumbuhan volume impor triwulan I Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

37 juga menunjukkan peningkatan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Walaupun masih mengalami kontraksi, kontraksi volume impor luar negeri triwulan I 2014 tidak sedalam triwulan sebelumnya, yaitu terkontraksi sebesar 12,02% (yoy) dengan total volume impor mencapai 11,67 ribu ton (Grafik 1.51). Grafik 1.50 Perkembangan Nilai Impor Bali Grafik 1.51 Perkembangan Volume Impor Bali Jika dilihat berdasarkan kelompoknya, impor luar negeri triwulan I 2014 masih didominasi oleh impor barang modal (capital goods). Pangsa impor barang modal mencapai 72,30% terhadap total impor luar negeri, disusul oleh impor bahan mentah (raw material) sebesar 24,77%, dan terakhir impor barang konsumsi (consumption goods) sebesar 2,92% (Grafik 1.52). Pertumbuhan impor capital goods, raw material, dan consumption goods masing-masing sebesar 437,21%, 64,37%, dan kontraksi 63,13% (yoy) (Grafik 1.53). Grafik 1.52 Pangsa Impor Berdasarkan Klasifikasi BEC Grafik 1.53 Perkembangan Impor Berdasarkan Klasifikasi BEC Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

38 BOKS A Daya Saing Ekspor Industri Pengolahan Kinerja ekspor wilayah Bali-Nustra secara umum dalam tiga tahun terakhir cenderung mengalami penurunan. Sepanjang 2014 ekspor tercatat mengalami kontraksi sebesar 20,5%. Kontraksi ekspor terjadi seiring dengan menurunnya aktivitas ekspor bahan mentah khususnya komoditas biji tembaga yang merupakan komoditas ekspor Utama di wilayah Bali-Nustra. Berdasarkan klasifikasinya ekspor bahan mentah masih memiliki pangsa terbesar dengan rata-rata pangsa pada tiga tahun terakhir mencapai 60,7%, sedangkan ekspor komoditas industry pengolahan dalam periode yang sama memiliki pangsa 39,3%. Sejalan dengan kinerja ekspor secara umum, kinerja ekspor komoditas industry pengolahan pada tiga tahun terakhir juga memiliki kecenderungan yang sama. Pada tahun 2013 ekspor komoditas industri pengolahan tercatat mengalami kontraksi sebesar 11,7% sedangkan sepanjang 2014 kontraksi sebesar 15,5%. Faktor pelemahan permintaan global diperkirakan menjadi penyebab kontraksi ekspor komoditas industry pengolahan yang terjadi pada beberapa tahun terakhir. Berdasarkan jenis komoditasnya, ekspor komoditas industri pengolahan didominasi oleh eskpor tekstil dengan rata-rata pangsa tiga tahun terakhir mencapai 225,5%, diikuti oleh kayu olahan dan makanan olahan yang masing-masing memiliki pangsa sebesar 14,4% dan 10,3%. Adapun Negara tujuan ekspor Utama untuk komoditas industry adalah Amerika serikat, Australia dan Singapura. Komoditas tekstil sebagai komoditas ekspor Utama, dalam empat tahun terakhir nilai ekspor komoditas ini mengalami penurunan yang berkelanjutan. Ekspor tekstil ke pasar Utama, Amerika, Eropa dan Australia cenderung mengalami kontraksi dari tahun ke tahun, namun ekspor ke pasar Asia khususnya Singapura tercatat menglami peningkatan. Dari informasi pelaku di industry tekstil dan produk tekstil (TPT), penurunan ekspor tekstil ke benua Amerika dan Eropa lebih dipengaruhi oleh melemahnya demand di kedua benua tersebut. Meskipun karakteristik produk tekstil yang diekspor oleh wilayah Bali-Nustra umumnya berupa barang pesanan khusus yang menyebabkan persaingan menjadi lebih terbatas, namun kondisi perekonomian di Negara mitra yang belum kunjung pulih menyebabkan berkurangnya permintaan. Volatilitas belum mempengaruhi kinerja ekspor secara signifikan. Hal ini mengingat kontrak pengadaan dan pengiriman produk tekstil dilakukan untuk suatu periode tertentu, umumnya dapat mencapai 6 bulan. Adapun penguatan nilai tukar pada beberapa bulan terakhir masih belum mempengaruhi volume ekspor maupun harga jual komoditas produk tekstil yang dipasarkan. Namun, volatilitas nilai tukar ditengarai akan mempengaruhi kinerja perusahaan, melalui variable bahan baku yang masih masih didatangkan dari beberapa Negara seperti China dan India. Sehingga pelemahan nilai tukar yang sempat terjadi pada awal tahun diperkirakan telah mempengaruhi kinerja keuangan perusahaan. Mengingat produk tekstil yang dipasarkan umumnya merupakan pesanan khusus, maka menurut kontak liason, harga jual produk tekstil tersebut lebih ditentukan oleh motif dan atribut dari produk yang dipesan. Tingkat kesulitan dan jenis bahan baku menjadi salah satu faktor yang mentukan dalam pembentukan harga jual suatu produsk tekstil. Secara spesifik, ekspor komoditas kayu olahan dan makanan jadi, sangat dipengaruhi oleh kemampuan supply dari wilayah Bali-Nustra. Dari hasil liason dengan kontak pada industry pengalengan ikan, permintaan ekspor komoditas ikan kaleng terindikasi stabil tinggi. Pergerakan nilai tukar yang terjadi sepanjang pertengahan 2013 dan awal 2014 dipandang belum mempengaruhi permintaan maupun kinerja 38 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

39 keuangan perusahaan secara umum. Sementara, perubahan harga komoditas lebih ditentukan oleh pasar, pengusaha atau industry cenderung untuk mengikuti harga yang berlaku di pasar. Adapun faktor Utama yang mempengaruhi kinerja ekspor lebih bersumber pada ketersediaan bahan baku. Baik untuk komoditas ikan kaleng, maupun kayu olahan, memiliki kendala yang relatif sama, yaitu ketersediaan bahan baku secara berkelanjutan. Khusus untuk komoditas ikan kaleng, kelangkaan bahan baku berupa ikan segar harus dipenuhi melalui impor baik China maupun India. Sedangkan untuk kayu olahan, ketersediaan bahan baku berupa kayu gelondong semakin sulit ditemukan, hal ini dipengaruhi oleh semakin menyusutnya lahan hutan produksi untuk komoditas kayu, serta adanya ketentuan sertifikasi kayu yang mengatur pemanfaatan kayu secara ketat. Kondisi kelangkaan bahan baku tersebut ditengarai dapat mengubah struktur biaya produsen, sehingga berpotensi mengubah harga yang ditawarkan oleh industry. Namun, kekhasan komoditas ekspor wilayah Bali-Nustra, khususnya untuk komoditas tekstil dan kayu olahan, dianggap sebagai keunggulan komparatif yang sulit disaingi oleh eksportir lain. Secara umum, pelaku usaha beranggapan bahwa nilai tukar yang dipandang paling ideal untuk melakukan kegiatan usaha adalah berkisar diantara Rp ,00 Rp ,00. Nilai ini dianggap ideal, mengingat pada besaran ini pelaku usaha masih mampu melakukan impor bahan baku dan barang modal serta barang pendukung lainnya, sejalan dengan hal tersebut, pada level tersebut, harga komoditas ekspor juga dipandang masih mampu bersaing dengan eksportir lain. Namun hal yang dipandang lebih penting dibandingkan besaran nilai tukar tersebut adalah stabililitas nilai tukar itu sendiri. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

40 Halaman ini sengaja dikosongkan 40 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

41 Bab 2 1. Perkembangan Inflasi Setelah mengalami inflasi cukup tinggi di tahun 2013, inflasi Provinsi Bali pada triwulan I 2014 melandai sehingga tercatat sebesat 6,09% (yoy), jauh lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 7,35% (yoy) maupun periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 6,47% (yoy). Berdasarkan disagregasinya, tekanan inflasi pada tahun 2014 terutama didorong oleh kelompok volatile foods dan core inflation. Sementara tekanan inflasi administered price relatif stabil, tercermin pada pergerakan inflasi kelompok ini yang berada pada level moderat PERKEMBANGAN UMUM INFLASI Tekanan inflasi Bali pada triwulan I 2014 lebih rendah dibandingkan dengan triwulan sebelumnya maupun dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Inflasi Bali yang dihitung berdasarkan Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Denpasar dan Kota Singaraja pada triwulan I 2014 tercatat sebesar 6,09% (yoy). Tingkat inflasi Bali tersebut masih lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 7,32% (yoy). Inflasi akumulasi Provinsi Bali sepanjang triwulan I 2014 tercatat telah mencapai 1.86% (ytd) yang terutama didorong oleh peningkatan harga pada kelompok kesehatan, bahan makanan dan makanan jadi serta kelompok transpor, komunikasi dan jasa. Grafik 2.1 Perkembangan Inflasi Provinsi Bali Grafik 2.2 Perkembangan Inflasi Tahunan Nasional dan Provinsi Bali inflasi (%) I II III IV I II III IV I II III IV I II III IV I mtm yoy ytd Nasional Bali Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Inflasi Tahunan Seiring dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi pada triwulan I 2014, inflasi Bali mengalami penurunan, hingga tercatat sebesar 6,09% (yoy). Inflasi Bali kembali tercatat berada dibawah inflasi nasional yang sebesar 7,32% (yoy) maupun tingkat inflasi tahun lalu yang sebesar 6.47% (yoy). Inflasi terjadi pada seluruh Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

42 kelompok, terutama pada kelompok Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan, kelompok Makanan Jadi, Minuman, Rokok, & Tembakau serta kelompok Kesehatan sebagaimana tercermin pada Grafik 2.3. Grafik 2.3 Perkembangan Inflasi Tahunan Provinsi Bali Menurut Kelompok Barang Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw III Tw I UMUM Kesehatan Bahan Makanan Makanan Jadi Transportasi & Komunikasi Perumahan, Air, LGA Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan tercatat sebagai kelompok yang mengalami inflasi tertinggi bersumber pada kenaikan ongkos angkutan udara. Mulai tanggal 1 Maret 2014 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 2 Tahun 2014 tentang Besaran Biaya Tambahan Tarif Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri diimplementasikan. Kebijakan menaikkan harga tiket disebabkan oleh adanya biaya tambahan (surcharge) yang digunakan untuk menutupi kerugian biaya operasional akibat kenaikan harga avtur dan melemahnya nilai tukar rupiah hingga mencapai di atas Rp jelang akhir tahun Biaya operasional yang dimaksud antara lain perawatan pesawat, sewa pesawat, asuransi, suku cadang, dan gaji pilot yang bergantung pada dollar AS. Disamping itu, Hari Raya Nyepi 2014 mendorong peningkatan arus penumpang pesawat udara dari Bali ke luar daerah. Selanjutnya tekananan inflasi kelompok bahan makanan jadi juga mengalami peningkatan yang lebih disebabkan oleh penyesuaian harga oleh pelaku usaha di awal tahun. Peningkatan ongkos produksi sebagai dampak penyesuaian LPG dan kenaikan Upah Minimum Provinsi mendorong pelaku usaha untuk melakukan penyesuaian harga pada level yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata normalnya. Disamping itu, beberapa pelaku usaha juga mulai merespon tren depresiasi Rupiah yang mulai terjadi sejak pertengahan tahun Beberapa kondisi tersebut juga mendorong kenaikan pada kelompok kesehatan, terutama komoditas obat dengan resep. Sementara itu, kelompok lainnya mengalami inflasi pada level moderat, dan mengalami penurunan tekanan dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tekanan inflasi pada sewa kontrak rumah yang umumnya terjadi pada awal tahun belum terlihat pada triwulan I 2014, sehingga tekanan inflasi kelompok ini lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Tekanan inflasi kelompok bahan makanan juga tercatat jauh lebih rendah dibandingkan dengan triwulan yang sama tahun sebelumnya. Meskipun terjadi gangguan produksi akibat kondisi cuaca yang kurang kondusif disertai dengan bencana alam, kondisi suplai triwulan ini jauh lebih baik dibandingkan dengan kondisi tahun lalu yang tersendat akibat implementasi UU Hortikultura. 42 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

43 Grafik 2.4 Perkembangan Harga di Provinsi Bali Rp % (yoy) Nominal Beras Growth Beras Nominal Bawang Merah Growth Bawang Merah Rp % (yoy) Rp % (yoy) Nominal Cabe Merah Growth Cabe Merah Nominal Gula Pasir Growth Gula Pasir Sumber : Survei Pemantauan Harga, Bank Indonesia Inflasi Triwulanan Secara triwulanan, tekanan inflasi Provinsi Bali pada triwulan I 2014 mengalami peningkatan, dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Faktor seasonal awal tahun menyebabkan terjadi kenaikan harga beberapa komoditas seperti makanan jadi dan kesehatan. Berdasarkan kelompoknya inflasi terjadi pada semua kelompok dengan inflasi tertinggi terjadi pada kelompok kesehatan. Disamping itu kelompok bahan makanan dan makanan jadi juga mencatat inflasi dengan level yang jauh lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya. No. Tabel 2.1 Tabel 2.1 Inflasi Triwulanan menurut Kelompok Barang (%, yoy) Inflasi Triwulanan Menurut Kelompok Barang (%) Kelompok Barang Tw IV Tw I Tw II Tw III Tw IV Tw I Tw IV 1 Bahan Makanan (5.03) Makanan Jadi, Minuman, Rokok, & Tembakau Perumahan, Air, Listrik, Gas, & Bahan Bakar Sandang 1.03 (0.14) (1.42) (1.03) Kesehatan (0.21) Pendidikan, Rekreasi, & Olahraga 4.94 (0.10) (0.02) Transportasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan UMUM (0.31) Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

44 Inflasi Bulanan Inflasi bulanan Provinsi Bali di sepanjang triwulan I 2014, menunjukkan tren penurunan. Di awal triwulan I 2014 Bali mencatat inflasi sebesar 1,19% (mtm). Selanjutnya, inflasi pada Februari dan Maret 2014 tercatat berada pada level moderat, yakni berturut-turut sebesar0.37% (mtm) dan 0.29% (mtm). Tingginya risiko inflasi di awal tahun sebagai pengaruh terganggunya distribusi dan produksi bahan makanan di tengah cuaca yang tidak kondusif dan bencana alam yang terjadi pada beberapa wilayah sentra pangan di Indonesia. Namun demikian terganggunya distribusi dan produksi dapat tertangani dengan baik sehingga ketersediaan bahan pangan kembali membaik. Hal ini tidak lepas dari upaya pengendalian inflasi dari Tim Koordinasi Pengendali Inflasi Daerah (TKPID) Provinsi Bali. Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan pada triwulan I 2014 mampu membawa inflasi Bali kembali ke rata-rata normalnya. Januari 2014 Grafik 2.5 Inflasi Berdasarkan Kelompok di Provinsi Bali Januari 2014 Grafik 2.6 Sumbangan Kelompok Terhadap Inflasi di Provinsi Bali Januari UMUM Bahan Makanan Makanan Jadi Perumahan,LGA, Bahan Bakar Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi, & OR Transportasi & Komunikasi Transportasi & Pendidikan, Kesehatan Sandang Perumahan,LGA, Makanan Jadi Bahan Makanan Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Badan Pusat Statistik, diolah Catatan awal tahun inflasi Bali menunjukkan peningkatan, tercatat sebesar 1,19% (mtm) atau 7.17% (yoy). Sesuai dengan pola musimannya di awal tahun, tekanan inflasi mengalami peningkatan akibat cuaca yang kurang kondusif dan penyesuaian harga oleh pelaku usaha di awal tahun. Inflasi pada Januari 2014 lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata historisnya selama 5 tahun terakhir yang sebesar 0,82% (mtm) disebabkan oleh adanya bencana banjir serta kenaikan harga bahan bakar dan UMP yang meningkatkan ongkos produksi sehingga pelaku usaha melakukan penyesuaian harga yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata historisnya. Berdasarkan kelompoknya, inflasi Januari terutama disumbangkan oleh kelompok bahan makanan. Hargaharga komoditas bahan makanan melambung akibat curah hujan yang tinggi, bencana alam dan banjir yang kemudian mengganggu produksi dan distribusi pangan di berbagai daerah termasuk di Pulau Bali. Beberapa komoditas yang tercatat mengalami peningkatan harga signifikan diantaranya daging ayam ras, cabai rawit, ikan kembung dan bayam. 44 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

45 Kelompok lainnya yang memberikan sumbangan cukup besar terhadap inflasi Bali Januari 2014 adalah kelompok Perumahan, LGA dan Bahan Bakar akibat kenaikan LPG 12 kg. Peningkatan inflasi kelompok kesehatan dan makanan jadi didorong oleh peningkatan ongkos produksi terkait dengan depresiasi Rupiah, kenaikan LPG 12 kg dan kenaikan UMP. Februari 2014 Pada Februari 2014, Provinsi Bali mencatat inflasi pada level moderat, yakni sebesar 0,37% (mtm) atau 6.67% (yoy), menurun dibandingkan dengan Januari Perkembangan ini dipengaruhi berbagai kebijakan Pemerintah Pusat dan Daerah dalam meminimalkan dampak lanjutan bencana alam yang terjadi di awal tahun sehingga tingkat inflasi bahan makanan pada bulan Februari 2014 berada pada level yang rendah.selain itu, penurunan tekanan inflasi juga didorong oleh beberapa faktor berikut : (i) menurunnya tekanan permintaan pada low season kunjungan wisatawan (ii) mulai meredanya tekanan terhadap Rupiah (iii) koreksi terhadap harga LPG 12 kg. Grafik 2.7 Inflasi Berdasarkan Kelompok di Provinsi Bali Februari 2014 Grafik 2.8 Sumbangan Kelompok Terhadap Inflasi di Provinsi Bali Februari UMUM Bahan Makanan Makanan Jadi Perumahan,LGA, Bahan Bakar Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi, & OR Transportasi & Komunikasi Transportasi & Pendidikan, Rekreasi, & Kesehatan Sandang Perumahan,LGA, Bahan Makanan Jadi Bahan Makanan Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Badan Pusat Statistik, diolah Maret 2014 Tren penurunan inflasi Provinsi Bali berlanjut hingga Maret Inflasi Provinsi Bali tercatat sebesar 0,29% (mtm) atau 6.09% (yoy). Tingkat inflasi pada Maret 2014 jauh lebih rendah dibandingkan dengan rataratanya selama 5 tahun terakhir yang sebesar 0,61% (mtm).meskipun terjadi peningkatan aktivitas konsumsi terkait perayaan Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 31 Maret 2014, melimpahnya pasokan seiring dengan kondisi cuaca yang kondusif dapat meredam laju kenaikan komponen bahan makanan secara umum. Penurunan harga terutama terjadi pada daging ayam ras ; sawi hijau; tomat sayur; ikan tongkol ; serta bawang merah serta kelompok ikan-ikanan. Laju penurunan harga kelompok bahan makanan tertahan oleh peningkatan beberapa harga komoditas seperti cabai rawit, beras, dan telur ayam. Penurunan harga emas perhiasan menyumbang deflasi pada kelompok sandang. Berdasarkan hasil SPH, emas perhiasan mengalami tren penurunan hingga mencapai Rp. 492 ribu/gram pada akhir Maret Sementara itu,kelompok transpor, komunikasi dan jasa keuangan mencatat peningkatan tekanan inflasi yang disebabkan oleh kenaikan ongkos angkutan udara. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

46 Grafik 2.9 Inflasi Berdasarkan Kelompok di Provinsi Bali Maret 2014 Grafik 2.10 Sumbangan Kelompok Terhadap Inflasi di Provinsi Bali Maret UMUM Bahan Makanan Makanan Jadi Perumahan,LGA, Bahan Bakar Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi, & OR Transportasi & Komunikasi Transportasi & Komunikasi Pendidikan, Rekreasi, & Kesehatan Sandang Perumahan,LGA, Bahan Makanan Jadi Bahan Makanan Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Badan Pusat Statistik, diolah 2.2. DISAGREGASI INFLASI Berdasarkan disagregasi inflasi, tekanan inflasi pada triwulan I 2014 terutama bersumber pada kelompok core inflation dan volatile foods. Sementara itu, tekanan administered price relatif terkendali. Grafik 2.11 Sumbangan Inflasi Berdasarkan Penyebabnya (% mtm) Grafik 2.12 Disagregasi Inflasi Bulanan Volatile Administered Core IHK 8 % mtm Inflasi IHK (mtm) Inflasi Volatile (mtm) Inflasi Core (mtm) Inflasi Adm Price (mtm) Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Volatile Foods Kelompok Volatile Foods mengalami tekanan inflasi cukup tinggi. Meskipun melandai dibandingkan tahun sebelumnya, inflasi kelompok ini tercatat meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Apabila dilihat pergerakannya sepanjang tahun triwulan I 2014, tekanan inflasi kelompok volatile foods mulai mengalami tren peningkatan sejak awal tahun 2014, dan berangsur-angsur melandai sampai dengan akhir Maret Faktor utama yang mempengaruhi pergerakan harga kelompok ini adalah minimnya pasokan baik yang bersumber pada sisi lokal maupun impor antar pulau. Beberapa faktor yang tercatat memicu 46 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

47 kelangkaan pasokan di triwulan I 2014 diantaranya tingginya curah hujan dan bencana alam yang terjadi pada beberapa sentra pangan di Indonesia Administered Price Tekanan inflasi kelompok administered price pada triwulan I 2014 terutama bersumber pada kenaikan ongkos angkutan udara dan penyesuaian harga LPG 12 kg. Kenaikan ongkos udara di Bali disebabkan oleh adanya penyesuaian Besaran Biaya Tambahan Tarif Penumpang Kelas Ekonomi Angkutan Udara Niaga Berjadwal Dalam Negeri. Disamping itu, meningkatnya arus penumpang pada saat perayaan Nyepi juga turut andil dalam mengakselerasi inflasi administered price pada triwulan I Core Inflation Inflasi kelompok inti pada triwulan I 2014 didorong oleh mulai dilakukannya penyesuaian harga oleh pelaku usaha sebagai respon atas tren depresiasi Rupiah yang terjadi semenjak pertengahan tahun Disamping itu, peningkatan ongkos produksi sebagai dampak kenaikan harga LPG 12 kg dan kenaikan UMP turut berkontribusi dalam peningkatan inflasi kelompok ini. Laju inflasi kelompok inti tertahan oleh kondisi permintaan yang dapat direspon dengan baik oleh sisi penawaran serta kondisi ekspektasi inflasi yang masih terjaga. Grafik 2.13 Pergerakan Nilai Tukar Rupiah Grafik 2.14 Interaksi Permintaan dan Penawaran Supply 1 bln yad Demand 1 bln yad Interaksi permintaan dan penawaran Tekanan permintaan dapat direspon dengan baik oleh sisi penawaran. Hal ini terindikasi dari hasil Survei Pedagang Eceran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah III Bali-Nusa Tenggara sebagaimana tercerminpada grafik Ekspektasi Inflasi Ekspektasi inflasi masyarakat Bali, baik dari sisi konsumen maupun pedagang cukup terjaga, meskipun sedikit mengalami peningkatan.hal ini tercermin pada hasil Survei Konsumen maupun Survei Pedagang Eceran Kantor Perwakilan Bank Indonesia Wilayah III Bali-Nusa Tenggara (grafik 2.18 dan grafik 2.19). Konsumen dan Pedagang berpendapat akan terjadi kenaikan harga secara umum dalam 3 dan 6 bulan yang akan datang, tercermin dari indeks net balanceperkiraan harga 3 dan 6 bulan yang akan datang dibandingkan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

48 dengan saat ini yang berada diatas 100. Dengan demikian, pengendalian ekspektasi inflasi sebagai langkah antisipatif menjadi sangat penting untuk dilaksanakan.optimalisasi forum strategis TPID dalam pemeliharaan ekspektasi inflasi masyarakat dapat menjadi salah satu alternatif solusi. Indeks Grafik 2.15 Ekspektasi Pedagang Indeks Ekspektasi Harga Pedagang 3 bln yad Indeks Ekspektasi Harga Pedagang 6 bln yad %yoy Indeks Grafik 2.16 Ekspektasi Konsumen % yoy Indeks Ekspektasi Harga Konsumen 3 bln yad Indeks Ekspektasi Harga Konsumen 6 bln yad Inflasi IHK (skala tahunan) - RHS Sumber : Survei Penjualan Eceran, Bank Indonesia Sumber : Survei Konsumen, Bank Indonesia 2.3. PERKEMBANGAN INFLASI KOTA Mulai 1 Januari 2014 terjadi penambahan cakupan kota perhitungan inflasi di Bali. Selain Denpasar, Kota Singaraja kini menjadi kota sampel perhitungan inflasi Bali. Berdasarkan SBH 2012 bobot Kota Denpasar adalah sebesar 1,78 sedangkan bobot Kota Singaraja sebesar 0,58. Karakteristik inflasi Kota Denpasar maupun Singaraja terutama dipengaruhi oleh kelompok pengeluaran bahan makanan, makanan jadi dan perumahan sebagaimana tercermin pada dominannya bobot kelompok pengeluaran tersebut dalam keranjang IHK Kota Denpasar maupun Singaraja (Grafik 2.17 dan 2.18). Grafik 2.17 Bobot Tahun Dasar (2012=100) Kelompok Pengeluaran Kota Denpasar Grafik 2.18 Bobot Tahun Dasar (2012=100) Kelompok Pengeluaran Kota Singaraja 9% 19% 26% 19% 16% BAHAN MAKANAN MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK, DAN TEMBAKAU PERUMAHAN, AIR, LISTRIK, GAS, DAN BAHAN BAKAR SANDANG 5% 6% 27% 12% 26% 19% I. BAHAN MAKANAN II MAKANAN JADI, MINUMAN, ROKOK, DAN TEMBAKAU III. PERUMAHAN, AIR, LISTRIK, GAS, DAN BAHAN BAKAR IV. SANDANG 6% 5% KESEHATAN PENDIDIKAN, REKREASI, DAN OLAHRAGA TRANSPOR, KOMUNIKASI, DAN JASA KEUANGAN 4% V. KESEHATAN VI. PENDIDIKAN, REKREASI, DAN OLAHRAGA VII. TRANSPOR, KOMUNIKASI, DAN JASA KEUANGAN Sumber : Bank Indonesia Sumber : Bank Indonesia 48 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

49 Inflasi Kota Denpasar Pada bulan Maret 2014 Kota Denpasar mengalami inflasi sebesar 0,32% (mtm) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 109,89. Tingkat inflasi tahun kalender Maret 2014 sebesar 1,96% dan tingkat inflasi tahun ke tahun sebesar 5,66%. Sepanjang triwulan I 2014 kelompok kesehatan mengalami inflasi tertinggi, tercatat sebesar 5,98% (ytd) yang didorong oleh kenaikan obat dengan resep. Kelompok lainnya yang juga mengalami tekanan cukup tinggi adalah kelompok bahan makanan dan makanan jadi yang masing-masing mengalami inflasi sebesar 3,58% (ytd) dan 2,98% (ytd) No. Kelompok Barang Januari Februari Maret mtm ytd yoy mtm ytd yoy mtm ytd yoy UMUM Bahan Makanan Makanan Jadi Perumahan, Air, LGA Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi, & OR Transportasi & Komunikasi Sumber : BPS, diolah Tabel 2.2. Perkembangan Inflasi Kota Denpasar Per Kelompok Pengeluaran Inflasi Kota Singaraja Inflasi Kota Singaraja pada Maret 2014 tercatat sebesar 0,17% (mtm) dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar Tingkat inflasi tahun kalender Maret 2014 sebesar 1,38%, lebih rendah dibandingkan dengan tingkat inflasi Denpasar. Namun demikian, secara tahunan inflasi Kota Singaraja berada jauh diatas inflasi Denpasar. Pada Maret 2014 inflasi Singaraja tercatat sebesar 8.2% (yoy). Sepanjang triwulan I 2014 kelompok makanan jadi mengalami inflasi tertinggi, tercatat sebesar 2,32% (ytd). Kelompok lainnya yang juga mengalami tekanan cukup tinggi adalah kelompok perumahan, air dan LGA dan makanan jadi yang masing-masing mengalami inflasi sebesar 2,16% (ytd) dan 0,76% (ytd). Tabel 2.3. Perkembangan Inflasi Kota Denpasar Per Kelompok Pengeluaran No Kelompok Barang Januari Februari Maret mtm ytd yoy mtm ytd yoy IHK mtm ytd yoy UMUM Bahan Makanan Makanan Jadi Perumahan, Air, LGA Sandang Kesehatan Pendidikan, Rekreasi, & OR Transportasi & Komunikasi Sumber : BPS, diolah Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

50 BOKS B Potensi El-Nino dan Dampaknya terhadap Prospek Produksi Pangan Daerah El- Nino berpotensi akan terjadi pada saat musim kemarau sehingga musim kemarau dikhawatirkan menjadi lebih panjang. Dampaknya adalah produktivitas pertanian dikawatirkan ikut menurun. Untuk mengkaji dan mendalami fenomena El-Nino ini, telah dilaksanakan diskusi terbatas dengan berbagai elemen mengenai potensi dampak El-Nino bagi produktivitas pertanian. Lingkup diskusi diperluas mencakup potensi dampak El-Nino bagi produktivitas pertanian di provinsi Bali Dampak El-Nino tahun 2014 dibandingkan dengan El-Nino tahun-tahun sebelumnya. BMKG yang mempunyai wilayah tugas Bali, Nusa Tenggara hingga Kalimantan menyatakan bahwa El-Nino yang terjadi tahun 2014 ini berada pada level yang lemah (weak) sehingga pengaruhnya pada produktivitas pertanian tidak sebesar dampak El-Nino pada tahun-tahun sebelumnya. Dinas Pertanian Provinsi Bali menyampaikan optimismenya dalam mendukung pencapaian surplus beras nasional sebesar 10 juta ton pada tahun Sejalan dengan hal tersebut, Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) juga menyampaikan bahwa dampak langsung El-Nino diperkirakan sangat minim menginat sistem irigasi pertanian Bali melalui Subak sudah sangat baik. Sumber air sebagian besar berasal dari danau sehingga kekurangan pasokan air dapat diminimalkan. Strategi peningkatan kinerja sektor pertanian Dalam rangka meningkatkan produktivitas pertanian guna mengantisipasi berbagai potensi resiko seperti kondisi cuaca, pemerintah daerah bekerja sama dengan berbagai intansi milik masyarakat terus berupaya mengembangkan teknologi hemat air, pembuatan embung, cubang dan perbaikan jaringan irigasi. Selain itu, pemerintah melalui Dinas Pertanian juga berupaya untuk mengurangi kehilangan hasil pasca penanganan pasca panen dengan memfasilitasi alat pasca panen berupa: Power Threser, Chombine dan Revitalisasi Penggilingan. BMKG juga memperkenalkan meningkatkan produktivitas pertanian dengan cara pola tanam yang sesuai dengan kondisi cuaca dan iklim yang ada. Hambatan peningkatkan produktivitas pangan Hambatan psikologis petani yaitu prospek keuntungan petani yang relatif rendah sehingga mengurangi minat petani untuk terus beraktivitas di sektor pertanian. Instansi terkait seperti dinas pertanian sudah berupaya memberikan subsidi pupuk dan memasarkan hasil-hasil pertanian sehingga keuntungan para petani seharusnya sudah cukup besar. Hambatan psikologis lainnya seperti penanganan pasca panen yang kurang tepat guna mengejar keuntungan yang lebih cepat meskipun lebih sedikit. Salain itu, pola usaha tani yang masih menjaga tradisi dan bersifat turun menurun menyebabkan petani tradisional kurang cepat menerima perubahan. Peran penyuluh pertanian sangat diperlukan untuk merubah efektifitas pelaku usaha tani di provinsi Bali. 50 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

51 Menjaga kecukupan pasokan barang di provinsi Bali Pemerintah daerah melalui jajaran teknisnya belum dapat memantau dengan tepat arus barang yang keluar masuk Provinsi Bali. Upaya merealisasikan pantauan arus keluar masuk barang terkendala biaya. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan antara lain menggunakan jumlah stok di pedagang untuk memantau kecukupan pasokan barang yang ada. Upaya mengantisipasi kurangnya pasokan dari sentra produksi pangan belum distrategikan secara khusus sehingga masih terdapat resiko kenaikan harga yang mengikuti harga yang ditetapkan oleh pemasok. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

52 Halaman ini sengaja dikosongkan 52 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

53 Bab 3 Perbankan dan Sistem Pembayaran Pada awal tahun 2014, industri perbankan masih belum menunjukkan ada peningkatan kegiatan usaha. Kinerja perbankan masih cenderung melanjutkan perlambatan sejak akhir 2013, yang dipicu oleh melambatnya kinerja perekonomian makro. Hal ini terindikasi dari perlambatan pada dua indikator utama kinerja perbankan yaitu pengerahan dana pihak ketiga (DPK) dan penyaluran kredit kepada masyarakat. Perlambatan ekonomi dan industri perbankan juga terkonfirmasi dari melambatnya peredaran uang baik kartal maupun giral di provinsi Bali. Pada sisi uang kartal, sebagai indikator transaksi tunai, tercatat uang masuk ke Bank Indonesia lebih besar dibanding yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, sedangkan pada transaksi non tunai terjadi penurunan jumlah nominal baik pada transaksi yang dilakukan melalui kliring maupun real time gross settlement (RTGS) PERKEMBANGAN INDUSTRI PERBANKAN Melemahanya kinerja sektor riil yang tercermin dari perlambatan pertumbuhan ekonomi, secara langsung mempengaruhi kinerja sektor keuangan khususnya perbankan. Hal ini tercermin dari perlambatan kinerja asset dari 18,74% (yoy) pada triwulan IV 2013, menjadi 15,77% (yoy) (Grafik 3.1). Perlambatan asset terutama dipicu oleh melambatnya penyerapan DPK. Selain itu, ekspansi kredit juga tertahan sebagai akibat melemahnya kegiatan ekonomi. Perlambatan asset terbesar terjadi pada kelompok bank pemerintah (bank persero dan BPD). Asset kelompok bank pemerintah melambat dari 18,05% (yoy) menjadi 12,88% (yoy). Tabel 3.1 Perkembangan Usaha Bank Umum Di Bali (dalam miliar Rp) Indikator II III IV I II III IV I Aset 57,091 60,983 63,625 64,846 68,041 73,186 75,549 75,071 Kredit Umum 34,337 36,684 39,662 41,421 44,770 47,163 49,251 50,329 Modal Kerja 14,518 15,182 16,512 16,669 17,373 18,319 19,705 19,989 Investasi 6,404 7,110 7,884 8,652 10,269 10,658 11,083 11,351 Konsumsi 13,415 14,392 15,266 16,100 17,128 18,186 18,463 18,989 Kredit MKM 27,599 29,257 31,274 32,345 34,953 36,155 37,503 38,843 Pangsa Kredit MKM Kredit UMKM 14,411 14,873 15,959 16,116 17,782 18,677 19,740 20,210 Pangsa Kredit UMKM Dana Pihak Ketiga 49,577 52,988 54,948 55,982 57,840 62,259 64,234 63,896 Deposito 15,412 15,893 16,430 16,541 16,971 18,044 19,767 20,494 Giro 10,347 11,505 10,490 11,901 12,045 13,379 11,714 12,229 Tabungan 23,818 25,590 28,028 27,540 28,824 30,835 32,753 31,174 NPL (Gross) LDR Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan IV

54 Grafik 3.1 Pertumbuhan Tahunan Aset, DPK dan Kredit Grafik 3.2 Komposisi dan Pertumbuhan Aset Menurut Kelompok Bank Walaupun asset bank pemerintah dan bank asing cenderung melambat, namun bank swasta tercatat mengalami peningkatan meskipun terbatas. Asset bank swasta meningkat dari 19,72% menjadi 20,43%, hal ini ditengarai akibat peningkatan kegiatan antar kantor seiring dengan peningkatan jaringan bank swasta Pelaksanaan Fungsi Intermediasi Tingkat LDR sebagai ukuran pelaksanaan fungsi intermediasi, pada triwulan I 2014 tercatat mengalami peningkatan dari 76,67% menjadi 78,77%. Namun peningkatan LDR tersebut lebih disebabkan karena perlambatan penghimpunan dana masyarakat yang lebih besar dibanding perlambatan kredit. Sejalan dengan peningkatan LDR tersebut, share kredit terhadap asset perbankan juga cenderung mengalami peningkatan (Grafik 3.3). Peningkatan rasio kredit terhadap aset menunjukkan bahwa bank cenderung meningkatkan fungsi intermediasinya. Grafik 3.3 Perkembangan LDR dan Komposisi Kredit Terhadap Aset Bank Umum Grafik 3.4 Perkembangan Share Kredit terhadap PDRB Walaupun rasio kredit terhadap asset cenderung meningkat, namun hal ini belum mampu medorong peningkatan share kredit terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) (Grafik 3.4). Hal ini disebabkan oleh perlambatan kredit yang lebih besar dibandingkan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Rasio pertumbuhan kredit terhadap nominal PDRB pada triwulan I 2014 tecatat sebesar 35,61% lebih rendah 54 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

55 dibanding triwulan sebelumnya sebesar 38,99%. Penuranan ini mengindikasikan bahwa sumber pendanaan sektor riil yang berasal dari perbankan semakin kecil. Grafik 3.5 Perkembangan LDR menurut Kelompok Bank Grafik 3.6 Komposisi Kredit terhadap Aset menurut Kelompok Bank Peningkatan LDR pada triwulan I 2014 didukung oleh peningkatan pada seluruh kelompok bank, terutama bank swasta yang meningkat dari 71,87% menjadi 74,25%. Sementara itu bank pemerintah yang memiliki LDR tertinggi, tercatat meningkat dari 81,73% menjadi 83,55%. Hal serupa juga terjadi pada rasio kredit terhadap asset masing-masing kelompok bank. (Grafik 3.5 dan Grafik 3.6) Penghimpunan Dana Pengerahan dana masyarakat oleh perbankan mengalami perlambatan dari 16,90% (yoy) menjadi 14,14% (yoy). Perlambatan ini ditengarai sebagai akibat melemahnya kegiatan ekonomi pada awal 2014, hal ini mengingat pada periode tersebut tingkat suku bunga simpanan masih relative tinggi. Suku bunga yang relatif tinggi tersebut dipandang mampu menarik DPK, namun pada triwulan laporan DPK cenderung terus melambat dan pengaruh dari peningkatan suku bunga ini menjadi kurang terlihat. Perlambatan DPK terutama terjadi pada kelompok bank asing campuran dari 18,71% menjadi 12,03%, diikuti oleh bank pemerintah yang melambat dari 14,04% menjadi 10,53%. Sementara itu, kelompok bank bank swasta nasional, walaupun tercatat melambat namun tidak sedalam kelompok bank lainnya. Pertumbuhan dana bank swasta tercatat masih sebesar 20,21% melambat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 21,29%. Kemampuan bank swasta untuk menjaga pertumbuhan DPK diperkirakan didukung oleh ekspansi pengerahan DPK yang cepat terutama dengan mengoptimalkan teknologi, seperti penambahan ATM setoran tunai (cash deposit machine). Selain peningkatan fasilitas tabungan, masih tingginya pertumbuhan DPK bank swasta juga didukung oleh suku bunga simpanan, khususnya dalam bentuk deposito yang relative lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok bank lainnya. Hal tersebut terindikasi dari pertumbuhan deposito bank swasta yang mencapai 35,66%, meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 30,09%. Berdasarkan jenis simpanannya, perlambatan DPK terutama disebabkan oleh simpanan dalam bentuk giro. DPK giro pada triwulan I 2014 tercatat melambat dari 11,67% menjadi 2,76%, yang dipengaruhi oleh berkurangnya simpanan giro pemda. Demikian pula simpanan dalam bentuk tabungan tercatat melambat Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

56 dari 16,86% menjadi 13,19%. Perlambatan ini terjadi seiring dengan kecenderungan berkurangnya share tabungan dalam pembentukan DPK perbankan. Hal ini diperkirakan terjadi karena adanya pengalihan bentuk simpanan masyarakat dari tabungan menjadi deposito. Simpanan dalam bentuk deposito tercatat mengalami peningkatan dari 20,31% menjadi 23,89%, peningkatan yang diperkirakan dipengaruhi oleh peningkatan suku bunga menyebabkan terjadinya peningkatan share deposito dalam pembentukan DPK. Share deposito dalam pembentukan DPK pada triwulan I 2014 tercatat sebesar 32,1% meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 29,5%. Grafik 3.7 Pertumbuhan DPK Menurut Kelompok Bank Grafik 3.8 Pertumbuhan DPK Penyaluran Kredit Seiring dengan perlambatan pengerahan DPK, ekspansi kredit perbankan pada triwulan I 2014 juga tercatat mengalami perlambatan. Pertumbuhan kredit tercatat sebesar 21,51% (yoy) melambat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 24,18% (yoy). Dari hasil liason kepada perbankan, perlambatan pertumbuhan kredit ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti perlambatan pertumbuhan ekonomi, kecenderungan peningkatan suku bunga seiring dengan peningkatan suku bunga dana. Perlambatan ekonomi ditengarai sebagai faktor Utama penahan laju ekspansi kredit, mengingat perlambatan ini menyebabkan melambatnya konsumsi masyarakat dan investasi. Perlambatan kredit terjadi di seluruh kelompok bank, terutama terjadi pada kelompok bank asing yang tercatat melambat dari 95,15% menjadi 13,79%. Diikuti oleh bank pemerintah yang tercatat melambat dari 22,82% menjadi 20,71%. Sementara bank swasta meskipun tercatat melambat dari 25,02% menjadi 23,15% namun memiliki pertumbuhan tertinggi diantara kelompok bank lainnya. Berdasarkan jenis penggunaannya, kredit investasi tercatat mengalami perlambatan terbesar dari 40,57% menjadi 31,20%. Perlambatan kredit investasi yang telah terjadi sejak pertengahan 2013 menyebabkan share kredit investasi menurun hingga 22,55%. Faktor yang diperkirakan menjadi penyebab perlambatan kredit investasi adalah berkurangnya kegiatan pembangunan infrastruktur baik yang dibiayai oleh anggaran pemerintah maupun oleh swasta. Dari hasil survei properti residential, terbatasnya kegiatan pengembang baik untuk perumahan maupun bisnis, ditengarai sebagai salah satu faktor melambatnya kredit investasi. Demikian halnya kredit konsumsi pada triwulan I 2014 tercatat melambat dari 20,95% menjadi 17,95%. Peningkatan suku bunga yang terjadi sejak pertengahan 2013 diperkirakan menjadi penyebab melambatnya kredit konsumsi. Sementara itu kredit modal kerja yang pada triwulan sebelumnya sempat melambat pada 56 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

57 triwulan laporan tercatat mengalami peningkatan walaupun sangat terbatas. Kredit modal kerja meningkat dari 19,33% menjadi 19,91%. Grafik 3.9 Pertumbuhan Kredit Perbankan Grafik 3.10 Komposisi Kredit Berdasarkan sebarannya, sebagian besar kredit disalurakan oleh perbankan di Denpasar, hal ini disebabkan oleh konsentrasi perbankan yang tinggi di Kota Denpasar. Sementara daerah yang relatif mendapatkan kredit cukup besar adalah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung, masing-masing sebesar 39,83% dan 21,99%. Tingginya kredit yang disalurkan di kedua kota/kabupaten tersebut disebabkan oleh konsentrasi kegiatan usaha di kedua daerah tersebut yang sangat tinggi dibandingkan dengan daerah lain. Berdasarkan sebaran kredit tersebut, perlambatan terbesar terjadi di Kabupaten Badung yang melambat dari 40,81% menjadi 36,48%, diikuti oleh Kota Denpasar. Perlambatan penyaluran kredit di kedua daerah tersebut sangat dipengaruhi oleh melemahnya kegiatan investasi, khususnya di investasi oleh industri pariwisata. Tabel 3.2 Perkembangan Kredit Menurut Sektor (dalam miliar Rp) Indikator III IV I II III IV I Perdagangan Besar dan Eceran 10,255 11,045 11,452 12,913 13,518 14,403 14,736 Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum 3,526 3,937 4,081 5,015 5,225 5,526 5,614 Real Estate, Usaha Persewaan, Jasa Perusahaan 1,128 1,164 1,253 1,499 1,545 1,563 1,689 Industri Pengolahan 1,346 1,427 1,446 1,532 1,586 1,646 1,619 Perantara Keuangan 1,304 1,536 1,415 1,615 1,746 1,866 2,227 Jasa Kemasyarakatan 1,354 1,433 1,481 1,118 1,215 1,683 1,330 Konstruksi 851 1,220 1,450 1,666 1,758 1,778 1,825 Pertanian Lainnya 16,237 17,148 18,043 18,564 19,689 19,879 20,342 Menurut bidang kegiatannya, penyaluran kredit terutama disalurkan untuk kegiatan perdagangan dengan share mencapai 29,28% dan tercatat meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 29,24%. Meskipun melambat, pertumbuhan sektor masih tercatat tinggi mencapai 28,68% (yoy). Tingginya penyaluran kredit untuk sektor ini sejalan dengan struktur perekonomian Bali yang sangat dipengaruhi oleh sub sektor perdagangan, bersama-sama dengan sub sektor hotel dan restoran. Kondisi ini tidak terlepas dari tingginya aktivitas industri pariwisata di Bali. Penyaluran kredit terbesar kedua adalah untuk sektor peyediaan akomodasi dan makan minum yang tercatat memiliki share sebesar 11,15%. Kredit untuk kegiatan penyediaan akomodasi dan makan minum tumbuh Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

58 sebesar 37,58% (yoy). Meskipun melambat namun pertumbuhan kredit sektor ini masih tercatat tinggi, hal ini diperkirakan dipengaruhi oleh tingginya kunjungan wisatwan ke Bali pada triwulan I Non Performing Loan (NPL) Risiko kredit masih terpelihara, hal ini terindikasi dari tingkat NPL yang masih rendah sebesar 0,70%. Walapun cenderung meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang mencapai 0,49%, namun NPL perbankan Bali masih sangat rendah, hal ini didukung oleh upaya bank untuk menjaga kualitas debitur. Peningkatan rasio NPL ditengarai sebagai akibat pelemahan perekonomian dan kecederungan peningkatan suku bunga yang membebani debitur dan menekan kemampuan membayar debitur. Grafik 3.11 Perkembangan NPL Kredit Grafik 3.12 NPL Berdasarkan Kelompok Bank Berdasarkan jenis kreditnya, NPL terendah tercatat pada kredit jenis konsumsi yang mencapai 0,49%, namun sedikit meningkat apabila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya sebesar 0,43%. Sementara untuk kredit investasi memiliki rasio NPL sebesar 0,50%, meningkat dibanding triwulan sebelumnya sebesar 0,27%. Catatan NPL tertinggi terjadi pada kredit jenis modal kerja yang mencapai 1,03%, meningkat dari 0,66% pada triwulan IV Peningkatan NPL pada kredit modal kerja diperkirakan terjadi akibat peningkatan suku bunga pinjaman yang menyebabkan meningkatnya jumlah angsuran yang harus dibayarkan oleh debitur, sehingga hal ini secara mengurangi kemampuan membayar debitur PERKEMBANGAN SISTEM PEMBAYARAN Melambatnya kinerja perekonomian Bali pada triwulan I 2014 menyebabkan berkurangnya volume kegiatan sistem pembayaran baik tunai maupun non tunai. Kegiatan system pembayaran tunai yang direpresentasikan oleh jumlah uang yang diedarkan oleh Bank Indonesia dan uang yang disetorkan oleh bank umum ke Bank Indonesia, terindikasi terjadi penurunan uang yang diedarkan oleh Bank Indonesia dan peningkatan jumlah uang yang masuk ke Bank Indonesia sehingga terjadi net inflow. Demikian pula pada sisi pembayaran giral, baik transaksi kliring maupun RTGS mengindikasikan adanya penurunan jumlah transaksi dibandingkan triwulan sebelumnya. 58 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

59 Perkembangan Transaksi Pembayaran Tunai Perkembangan Aliran Masuk (Inflow) dan Keluar (Outflow) serta Kegiatan Penukaran Aliran uang kartal antara Bank Indonesia dengan perbankan di Provinsi Bali pada triwulan I 2014 mengalami net inflow. Net inflow pada triwulan laporan disebabkan oleh peningkatan inflow dan penurunan outflow, hal ini ditengarai sebagai akibat dari meredanya kegiatan ekonomi pada triwulan I Uang kartal keluar dari Bank Indonesia ke masyarakat (outflow) menurun tajam setelah pada triwulan sebelumnya terjadi outflow yang cukup besar terkait dengan perayaan hari besar keagamaan dan musim libur akhir tahun Sebagai akibatnya, aliran uang keluar yang tinggi pada triwulan sebelumnya diperkirakan kembali masuk ke perbankan dan bermuara ke Bank Indonesia (inflow) sehingga menyebabkan net inflow yang mencapai Rp 949 miliar (Grafik 3.13). Pada triwulan I 2014 inflow yang berasal dari setoran bank mencapai Rp miliar, meningkat 14,64% dibanding transaksi pada periode yang sama tahun 2013 atau meningkat 51,86% dibanding triwulan sebelumnya. Sementara outflow tercatat meningkat sebesar 4,51% dibanding triwulan I-2013 namun mengalami kontraksi sebesar 31,82% dibanding triwulan sebelumnya. Tabel 3.3 Perkembangan Transaksi Uang Kartal di Bali (Rp Miliar) Indikator I II III IV I II III IV I Inflow 2,281 1,901 2,131 1,830 2,906 2,503 2,797 2,194 3,331 Outflow 1,623 2,790 3,125 3,242 2,280 2,468 4,154 3,494 2,382 Net Inflow/(Outflow) 658 (888) (994) (1,412) (1,357) (1,301) 949 Penukaran Uang Palsu (Lembar) , ,064 Grafik 3.13 Perkembangan Uang Kartal di Bali Grafik 3.14 Perkembangan Kegiatan Kas Keliling Sementara kegiatan penukaran dan kas keliling, sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan uang yang layak edar di masyarakat, tercatat mengalami peningkatan. Kegiatan penukaran yang dilakukan melalui loket di Bank Indonesia tercatat meningkat 33,61% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya atau 15,81% dibandingkan triwulan sebelumnya. Sementara kegiatan kas keliling yang merupakan layanan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

60 perkasan untuk daerah-daerah yang relative jauh dari Bank Indonesia juga terindikasi meningkat. Nominal kegiatan kas keliling pada triwulan I 2014 mencapai Rp 6,9 miliar, meningkat 112,58% dibanding triwulan sebelumnya, adapun frakuensi pelaksanaan kegiatan ini mencapai 9 kali Perkembangan Uang Tidak Layak Edar Sejalan dengan kebijakan Bank Indonesia tentang clean money policy, yang bertujuan untuk menjaga kualitas uang kartal yang diedarkan dan mempertahankan uang beredar dalam keadaan layak edar, Bank Indonesia melakukan penarikan uang yang tidak layak edar (lusuh/rusak). Upaya penarikan uang tidak layak edar yang dilakukan oleh Bank Indonesia juga diiringi dengan berbagai kebijakan untuk mendorong masyarakat memperlakukan uang kartal secara lebih bijaksana. Jumlah lembar uang kertas tidak layak edar sepanjang triwulan I 2014 meningkat 44,97% dibanding dengan triwulan sebelumnya dan 17,27% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan jumlah lembar uang tidak layak edar yang ditarik oleh Bank Indonesia, sejalan dengan tingginya inflow dari bank komersial ke Bank Indonesia. Tingginya penarikan uang tidak layak edar oleh Bank Indonesia, menunjukkan komitmen Bank Indonesia untuk menjaga tingkat kualitas uang yang diedarkan di masyarakat Perkembangan Temuan Uang Palsu Jumlah lembar uang palsu yang ditemukan di Bali pada triwulan laporan tercatat mengalami peningkatan. Temuan uang palsu pada triwulan I 2014 mencapai lembar, meningkat 15,78% dibanding dengan triwulan sebelumnya atau 15,03% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Uang palsu yang ditemukan umumnya uang kertas pecahan besar Rp ,- dan pecahan Rp ,-. Sementara itu, uang palsu untuk jenis pecahan kecil relatif jarang ditemukan. Peningkatan jumlah uang palsu yang ditemukan salah satunya merupakan hasil dari intensifnya kegiatan pengenalan ciri-ciri keaslian uang rupiah. Selain hal itu, peningkatan pemahaman masyarakat terhadap temuan uang palsu juga menjadi alasan tingginya uang palsu yang dilaporkan. Grafik 3.15 Perkembangan Uang Tidak Layak Edar Grafik 3.16 Temuan Uang Palsu Perkembangan Transaksi Pembayaran Non Tunai Perkembangan Kliring Transaksi melalui kliring pada triwulan I 2014 tercatat menglami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, namun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya tercatat kontraksi. Kliring pada triwulan laporan mencapai Rp 12,881 miliar meningkat 9,33% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dan kontraksi sebesar 60 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

61 5,40% dibanding triwulan sebelumnya. Adapun jumlah lembar transaksi kliring mencapai 545 ribu lembar, tercatat kontraksi sebesar 1,24% dibanding triwulan sebelumnya. Penurunan kegiatan kliring tersebut terjadi seiring dengan perlambatan perekonomian, hal ini ditengarai menurunkan aktivitas pembayaran antar agenagen ekonomi. Penurunan kegiatan kliring juga terlihat dari rata-rata jumlah kliring harian. Rata-rata jumlah lembar per hari pada triwulan I 2014 tercatat sebesar 8,93 ribu lembar, lebih rendah di banding rata-rata triwulan sebelumnya sebesar 9,20 ribu lembar maupun rata-rata triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 9,29 ribu lembar. Sementara rata-rata nominal perhari yang mencapai Rp 644 miliar perhari tercatat lebih besar dibanding triwulan I tahun sebelumnya sebesar Rp 207 miliar atau meningkat 211,58%, namun dibandingkan dengan triwulan sebelumnya tercatat kontraksi sebesar 5,40% Tabel 3.4 Perkembangan Perputaran Kliring dan Cek/BG Kosong Indikator I II III IV I II III IV I PERPUTARAN KLIRING Lembar (Ribu Lembar) Nominal Kliring (Miliar Rp) 10,305 11,977 11,525 12,871 11,782 12,467 13,009 13,616 12,881 - Rata-rata lembar per hari (ribu lbr) Rata-rata nominal per hari (Juta Rp) TOLAKAN CEK/BG KOSONG Lembar (Ribu Lembar) Nominal Cek/ BG kosong (Juta Tp) Rata-rata lembar per hari (Ribu Lbr) Rata-rata nominal per hari (Juta Rp) Jumlah tolakan cek/bilyet giro kosong pada triwulan I 2014 tercatat sebanyak 8,06 ribu lembar dengan nominal penolakan sebesar Rp 321 miliar. Baik jumlah lembar maupun nominal penolakan tersebut tercatat lebih rendah dibanding tahun sebelumnya. Jumlah lembar penolahan tercatat kontraksi 3,93% dibanding triwulan sebelumnya dan kontraksi 1,33% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Lembar penolakan mencapai 1,48% terhadap keseluruhan lembar kliring yang ditransaksikan sepanjang triwulan I Sementara itu, nominal penolakan yang tercatat sebesar Rp 321 miliar juga mengalami kontraksi 21,63% dibanding triwulan sebelumnya dan kontraksi 0,50% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nominal transaksi penolakan tersebut mencapai 2,49% dari keseluruhan nominal kliring sepanjang triwulan laporan. Penurunan jumlah lembar maupun nominal tolakan cek/bilyet giro kosong serta jumlah tolakan yang terbilang rendah mengindikasikan bahwa sistem pembayaran yang diselenggarakan Bank Indonesia dapat dikatakan handal. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

62 Grafik 3.17 Perkembangan Kliring Grafik 3.18 Perkembangan Tolakan Cek/BG kosong Perkembangan Real Time Gross Settlement (RTGS) Kegiatan penyelesaian transaksi nominal besar menggunakan RTGS, pada triwulan I 2014 tercatat beragam. Baik transaksi ke Bali (RTGS to) maupun transaksi di dalam Bali (RTGS from-to) tercatat mengalami penurunan transaksi atau kontraksi. Sedangkan transaksi dari Bali (RTGS from) tercatat meningkat tajam. Nilai RTGS from pada triwulan I 2014 tercatat sebesar Rp miliar atau mengalami peningkatan 50,76% dibanding dengan triwulan sebelumnya, atau meningkat 40,36% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara jumlah transaksinya tercatat sebesar transaksi, atau terkontraksi 13,25% (qtq) dan 3,43% (yoy). Adapun, nilai RTGS to tercatat mengalami kontraksi 11,52% dibanding triwulan sebelumnya dengan nilai RTGS sepanjang Triwulan I-2014 sebesar Rp miliar. Jumlah transaksi pada triwulan I tercatat sebesar transaksi, atau mengalami kontraksi sebesar 6,44% dibanding triwulan sebelumnya. Tabel 3.5 Perkembangan Transaksi RTGS Indikator I II III IV I II III IV I RTGS dari Bali Nilai Transaksi (Miliar Rp) 15,550 22,231 28,185 30,382 29,941 33,865 34,940 27,875 42,024 Jumlah Transaksi 15,813 20,373 22,531 25,534 21,235 24,172 34,726 23,638 20,507 RTGS ke Bali Nilai Transaksi (Miliar Rp) 9,620 14,134 17,969 20,675 21,187 23,450 45,831 21,702 19,201 Jumlah Transaksi 17,710 20,004 21,061 23,039 20,623 22,580 42,415 21,221 19,855 RTGS Antara Nilai Transaksi (Miliar Rp) 2,764 3,369 3,858 4,356 3,990 4,144 9,280 4,038 3,866 Jumlah Transaksi 4,282 4,789 5,078 5,763 5,107 5,630 9,692 5,029 4,631 Transaksi menggunakan RTGS untuk di dalam Bali (RTGS from-to) sepanjang triwulan I cenderung lebih rendah dibanding triwulan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan adanya penurunan transaksi non tunai bernilai besar yang dilakukan oleh agen ekonomi di Bali. Nilai RTGS from-to pada triwulan laporan mencapai Rp miliar terkontraksi 4,27% (qtq) atau kontraksi 3,12% (yoy). Sedangkan jumlah transaksi tercatat terkontrasksi 7,91% (qtq) dan terkontraksi 9,32% (yoy). 62 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

63 Grafik 3.19 Perkembangan Transaksi RTGS dari Bali Grafik 3.20 Perkembangan Transaksi RTGS ke Bali Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

64 Dampak Implementasi Kebijakan Loan To Value (LTV) dan Down Payment (DP) Terhadap Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit Kendaraan Bermotor di Provinsi Bali BOKS C Dalam perkembangan binis properti nasional, provinsi Bali adalah salah satu wilayah yang cukup diperhitungkan. Sebagai salah satu tempat tujuan wisata, pengembangan properti di Bali sangat menarik investor dari dalam maupun luar negeri yang tercermin dari peningkatan harga dari tahun ke tahun. Tentunya bank sebagai salah satu sumber pembiayaan sektor ini cukup diuntungkan dalam perkembangan bisnis ini. Namun, risiko yang dihadapi dari perkembangan sektor ini juga tidak kalah besar. Seiring dengan peningkatan permintaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan juga Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), selain sebagai peluang bagi setor keuangan perbankan juga sebagai tantangan karena risiko akan semakin meningkat seiring dengan peningkatan permintaan kredit. Pertumbuhan KPR dan KKB yang terlalu tinggi juga dapat mendorong peningkatan harga aset properti yang tidak mencerminkan harga sebenarnya (bubble) sehingga dapat meningkatkan risiko kredit bagi bank-bank dengan eksposur kredit properti yang besar. Sehingga, perbankan perlu untuk meningkatkan kehati-hatian dalam penyaluran KPR maupun KKB. Oleh sebab itu, untuk menjaga perekonomian yang produktif dan menjawab tantangan sektor keuangan, Bank Indonesia (BI) membuat suatu kebijakan untuk menjaga ketahanan sektor keuangan dari risiko yang timbul pada penyaluran KPR dan KKB. Kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) BI No. 14/10/DPNP perihal Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit Kendaraan Bermotor kepada Semua Bank Umum yang mulai berlaku pada 15 Juni 2012 dan diperbaharui dengan SE No. 15/40/DKMP tanggal 24 September 2013 perihal Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit atau Pembiayaan Konsumsi Beragun Properti dan Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor kepada Semua Bank Umum. Ketentuan tersebut membatasi pemberian Kredit Pemilikan Rumah (KPR) untuk rumah ke-1 fasilitas kredit maksimal 70%, rumah ke-2 fasilitas kredit maksimal 60%, dan rumah ke-3 dan seterusnya fasilitas kredit maksimal 50%. Ruang lingkup KPR yang dimaksud meliputi kepemilikan rumah tinggal, termasuk rumah susun atau apartemen namun tidak termasuk rumah kantor dan rumah toko, dengan tipe bangunan lebih dari 70m (tujuh puluh meter persegi). Pengaturan mengenai LTV dikecualikan terhadap KPR dalam rangka pelaksanaan program perumahan pemerintah. Sedangkan Down Payment (DP) untuk KKB sebagaimana diatur dalam SE dimaksud adalah: untuk pembelian kendaraan bermotor roda dua DP minimal 25%, untuk pembelian kendaraan roda empat untuk keperluan non produktif DP minimal 30%, untuk pembelian kendaraan bermotor roda empat atau lebih untuk keperluan produktif DP minimal 20%. Perkembangan KPR dan KKB di Provinsi Bali Pada triwulan I-2014 total KPR (termasuk apartemen, ruko dan rukan) di Prov. Bali mencapai Rp miliar atau tumbuh 20,5% (yoy). Pertumbuhan tersebut relatif stabil dibanding pertumbuhan akhir tahun 2013 dan akhir tahun 2012 yang masing-masing sebesar 19,98% (yoy) dan 20,58% (yoy). Sedangkan untuk KKB pada triwulan I-2014 total kredit pemilikan kendaraan bermotor (KKB) mencapai Rp435 miliar atau mengalami penurunan 3,86% (yoy). 64 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

65 % (10.00) I II III IV I II III IV I II III IV I Pertumbuhan KPR Tipe s.d Pertumbuhan KPR Tipe di atas 70 Pertumbuhan Kredit Konstruksi Pertumbuhan Kredit Multi Guna Pertumbuhan Kredit Kendaraan Bermotor Gambar C.1. Pertumbuhan KPR, KKB, Kredit Multiguna, dan Kredit Konstruksi Khusus KPR Rumah Tinggal tipe di atas 70, jumlah outstanding pada triwulan I 2014 mencapai Rp miliar atau tumbuh 26,38% (yoy). Pertumbuhan kredit tersebut masih cukup tinggi (di atas 20% yoy) namun telah mengalami perlambatan pertumbuhan sejak pertengahan tahun Proporsi KPR Rumah Tinggal tipe di atas 70 terhadap total KPR (termasuk apartemen, ruko dan rukan) saat ini mencapai 31,88%. Sedangkan KPR Rumah Tinggal tipe s.d 70 jumlah outstanding mencapai Rp6.300 miliar atau tumbuh 17,27% (yoy). Pertumbuhan tersebut relatif meningkat dibandingkan tahun 2012 dan tahun 2013 yang masing-masing mencapai 2,95% (yoy) dan 14,43% (yoy). Proporsi KPR Rumah Tinggal tipe sampai dengan 70 terhadap total KPR (termasuk apartemen, ruko dan rukan) mencapai 64,52%. Ketika implementasi kebijakan LTV pertama kali diterapkan pada 15 Juni 2012, pertumbuhan kredit KPR Rumah Tinggal tipe di atas 70 mengalami sedikit perlambatan pada triwulan III-2012 s.d triwulan II Namun perlambatan KPR Rumah Tinggal tipe di atas 70 tersebut dibarengi dengan peningkatan Kredit Multiguna pada periode tersebut. Hal mengindikasikan terjadinya shifting KPR ke Kredit Multiguna. Tentunya hal ini menimbulkan risiko tersendiri terutama bagi bank-bank yang memiliki eksposur KPR yang besar. Melihat perkembangan KPR dan mulai beralihnya rumah menjadi barang investasi, pada triwulan III 2013, BI mengeluarkan aturan baru mengenai besaran pinjaman atau LTV. Pergeseran pemilikan rumah menjadi barang investasi dapat memberikan dampak yang tidak sehat pada pertumbuhan bisnis properti. Masyarakat berpenghasilan rendah yang ingin memiliki rumah semakin sulit kerena harga yang semakin tinggi. Kenaikan harga yang cukup tinggi dikhawatirkan dapat menjadi pemicu instabilitas keuangan apabila terjadi gagal bayar oleh masyarakat yang memanfaatkan jasa perbankan sebagai sumber pembiayaan dalam pembelian properti. Pada tanggal 24 September 2013 Bank Indonesia mengeluarkan SE BI No. 15/40/DKMP perihal Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit atau Pembiayaan Konsumsi Beragun Properti dan Kredit atau Pembiayaan Kendaraan Bermotor. Dalam aturan baru tersebut terdapat pembatasan pada kredit untuk rumah ke-2, rumah ke-3 dan seterusnya. Selain itu dalam aturan tersebut Bank Umum dilarang memberikan fasilitas kredit atau pembiayaan untuk pemenuhan uang muka pembelian properti yang dibiayai dengan Kredit Pemilikan Properti (KPP). Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

66 Pasca implementasi kebijakan mengenai besaran pinjaman atau LTV pada triwulan III 2013, pertumbuhan outstanding kredit KPR Rumah tinggal tipe di atas 70 pada triwulan IV 2013 samapi dengan triwulan I 2014 tumbuh melambat. Perlambatan KPR Rumah Tinggal di atas tipe 70 tersebut juga dibarengi dengan melambatnya kredit multiguna yang sebelumnya tumbuh cukup tinggi. Namun implementasi aturan tersebut tidak berdampak pada KPR Rumah tinggal tipe sampai dengan 70 yang ditujukan untuk masyarakat golongan menengah ke bawah. Ke depan dengan adanya implementasi kebijakan mengenai LTV untuk KPR dan DP untuk KKB diharapkan perlindungan konsumen akan semakin terjaga, dan stabilitas sistem keuangan dan perbankan akan semakin kokoh. Selain itu, bank diharapkan lebih berhati-hati dalam pemberian kredit atau pembiayaan pemilikan properti, kredit konsumsi beragun properti, dan kredit atau pembiayaan kendaraan bermotor. 66 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

67 Bab 4 4. Keuangan Pemerintah Realisasi anggaran pendapatan daerah provinsi Bali pada triwulan I 2014 mencapai 26,51% lebih tinggi dibandingkan realisasi periode yang sama tahun 2013 sebesar 25,52%. Sementara itu, realisasi anggaran belanjanya sebesar 9,58%, juga lebih tinggi dibandingkan realisasi belanja triwulan I 2013 sebesar 8,63%. Realisasi belanja langsung pada triwulan I 2014 sebesar 5,57% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar 4,66%. Hal ini menunjukkan realisasi belanja guna menstimulasi mesin perekonomian semakin baik. 4.1 ANGGARAN PENDAPATAN PEMERINTAH PROVINSI BALI Anggaran Pendapatan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali pada tahun 2014 direncanakan sebesar Rp 3,96 triliun naik lebih dari 10% dibandingkan dengan anggaran pendapatan tahun Sumber utama pendapatan daerah tahun 2014 adalah pendapatan pajak daerah yang memberikan kontribusi lebih dari 53% bagi seluruh total pendapatan. Realisasi hingga triwulan I 2014 menunjukkan bahwa realisasi pendapatan daerah Pemerintah Daerah Provinsi Bali mencapai Rp 1,05 triliun atau sebesar 26,51% dari total pendapatan yang ditargetkan. Realisasi ini melebihi realisasi pendapatan tahun sebelumnya sebesar 25,52%. Tingkat realisasi pendapatan yang terbesar dibandingkan dengan pos-pos pendapatan lainnya adalah pada pos pendapatan retribusi daerah dengan realisasi mencapai 43,61% dari yang direncanakan. Tingkat realisasi pos pendapatan restribusi daerah pada triwulan I 2014 berbeda dengan kondisi pada tahun Pada triwulan I 2013 pos pendapatan pajak daerah direalisasikan relatif lebih cepat dibandingkan pos-pos pendapatan lainnya. Tingkat realisasi pendapatan yang relatif besar lainnya adalah pos-pos yang sifatnya rutin yaitu berkaitan dengan dana perimbangan. Pos-pos tersebut antara lain pos dana alokasi umum dengan tingkat realisasi sebesar 33,33% dana alokasi khusus dengan tingkat realisasi 30%. 4.2 ANGGARAN BELANJA PEMERINTAH PROVINSI BALI Anggaran Belanja Daerah Pemprov Bali Perubahan pada tahun 2014 ditargetkan sebesar Rp 4,49 triliun yang dialokasikan dalam dua bagian yaitu belanja tidak langsung yang sifatnya rutin dengan porsi 68,21% dan belanja langsung dengan porsi 31,79%. Sebagian besar belanja tidak langsung dialokasikan pada pos belanja pegawai sebesar 29,53% dari total belanja tidak langsung diikuti oleh pos belanja bagi hasil kepada provinsi, kabupaten, kota dan pemerintah daerah sebesar 24,68%. Anggaran tahun 2014 ini relatif berbeda dengan tahun sebelumnya dimana alokasi belanja tidak langsung adalah pada pos belanja hibah. Sementara itu, belanja langsung sebagian besar dialokasikan pada belanja barang dan jasa dengan porsi sebesar 66,07% dari total belanja langsung atau 21% dari total belanja. Alokasi belanja modal relatif lebih kecil dibandingkan dengan tahun 2013 yaitu hanya 9,73% dari total belanja berbanding 11,75% pada tahun sebelumnya. Pengamatan hingga triwulan I 2014 menunjukkan bahwa realisasi belanja diperkirakan sebesar 9,58%, lebih besar jika dibandingkan dengan realisasi pada triwulan I 2014 sebesar 8,63%. Realisasi belanja langsung mencapai 5,57% sementara realisasi belanja tidak langsungnya sebesar 11,45%. Realisasi belanja langsung Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

68 triwulan I-2014 lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya sebesar 4,66%. Pada sisi anggaran belanja langsung, realisasi belanja modal yang menggambarkan investasi pemerintah pada perekonomian daerah jauh lebih rendah dibandingkan triwulan I Realisasi belanja modal pada triwulan I 2014 masih sebesar 0,09%, jauh lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,59%. Rendahnya realisasi belanja modal diperkirakan sejalan dengan kondisi politik tahun 2014 yang masih dalam suasana pemilu sehingga perhatian pemerintah daerah tertuju pada pesta demokrasi tersebut. URAIAN Tabel 4.1 Rata-rata Realisasi Pendatan dan Belanja Daerah Triwulan I Periode % REALISASI APBD TW I 2011 % REALISASI APBD TW I 2012 % REALISASI APBD TW I 2013 % REALISASI APBD TW I 2014 RATA-RATA % REALISASI APBD TW I PENDAPATAN DAERAH PENDAPATAN PAJAK DAERAH BELANJA DAERAH BELANJA TIDAK LANGSUNG BELANJA MODAL Sumber : Pemda Provinsi Bali 4.3 ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA PEMERINTAH TIAP DAERAH DI PROVINSI BALI SERTA ANGGARAN PEMERINTAH PUSAT DI DAERAH Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah pemerintah daerah (pemda) seluruh Bali disumbangkan dari 8 pemerintah daerah Kabupaten, 1 pemerintah daerah Kota, dan 1 pemerintah daerah Provinsi. Menurut data yang diperoleh dari Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, anggatan pendapatan pemda seluruh Bali mencapai Rp 15,42 triliun meningkat 11,98% dibandingkan dengan anggaran pendapatan tahun sebelumnya. Anggaran pendapatan Provinsi Bali mengambil porsi lebih dari 25% dari total anggaran pendapatan seluruh Bali. Sementara itu anggaran belanja pemda seluruh Bali mencapai Rp 16,94 triliun meningkat 10,45% dibandingkan anggaran belanja tahun sebelumnya. Dengan demikian terdapat defisit anggaran sebesar Rp 1,52 triliun. Selain belanja pemerintah daerah di Provinsi Bali, injeksi pemerintah pada perekonomian juga disumbang oleh pemerintah pusat melalui realisasi APBN di daerah. APBN yang realisasinya ada di Provinsi Bali pada tahun 2014 direncanakan sebesar Rp 8,02 triliun meningkat 0,33% dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagian besar realisasi pegawai tersebut digunakan untuk belanja pegawai denga porsi 38,01%. Porsi untuk belanja barang dan modal sebesar 58,91% dan sisanya adalah untuk bantuan sosial. Realisasi anggaran pemerintah pusat di daerah pada triwulan I 2014 adalah sebesar 11,3% lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 10,2%. Realisasi terbesar adalah anggaran belanja pegawai dengan realisasi mencapai 18,9%. Anggaran belanja modal baru direalisasikan sebesar 5,4%. 68 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

69 Tabel 4.2 APBD Provinsi Bali URAIAN APBD 2013 APBD 2014 REALISASI APBD TW I 2014 % Realisasi PENDAPATAN DAERAH 3,568,393 3,958,173 1,049, PEND. ASLI DAERAH (PAD) 1,930,000 2,303, , Pendapatan Pajak Daerah 1,751,570 2,104, , Retribusi Daerah 13,336 35,031 15, Hsl PMD & Hsl Pengel. Kek. Daerah yg dipisahkan 79,211 74, ,960 1, Lain-Lain PAD yg Sah 85,883 89,924 36, DANA PERIMBANGAN 928,192 1,065, , Bagi hasil pajak dan bukan pajak 91, , Dana Alokasi Umum (DAU) 792, , , Dana Alokasi Khusus (DAK) 43,835 41,601 12, Dana Penguatan Infrastruktur Daerah LAIN-LAIN PENDAPATAN YG SAH 710, , , Pendapatan Hibah 30,115 4, Dana bagi hsl pajak dr Prov & pemda lainnya Dana Penyesuaian & otonomi khusus 388, ,319 95, Bantuan Keuangan dr Prov atau Pemda lain 291, ,193 21, Sumbangan Pihak Ketiga Alokasi Kurang Bayar DAK BELANJA DAERAH 4,316,449 4,489, , BELANJA TIDAK LANGSUNG 2,741,116 3,062, , Belanja Pegawai 778, , , Belanja Barang Belanja Subsidi 4,000 10, Belanja Hibah 796, , , Belanja Bantuan Sosial 147, , Belanja Bagi Hsl kpd Prov/Kab/Kota & Pemda - Belanja Bantuan Keuangan kpd Prov/Kab/Kota/Desa 618, , , , Belanja Tidak Terduga 15,347 22, BELANJA LANGSUNG 1,575,333 1,427,233 79, Belanja Pegawai 43,210 47,283 3, Belanja Barang dan Jasa 847, ,988 75, Belanja Modal 684, , SURPLUS/(DEFISIT) (748,056) (531,494) 618,885 (116.44) PENERIMAAN DAERAH 783, ,494 1,039, Penggunaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) 741, ,494 1,039, Pencairan dana cadangan - PENGELUARAN DAEARAH 35, , Penyertaan Modal (Investasi) Pemerintah Daerah 35, , Penguatan Modal Pemerintah Daerah - - PEMBIAYAAN NETTO 531, ,039, SISA LEBIH PEMBIAYAAN ANGGARAN (SILPA) - 1,658, (dalam Juta Rupiah) Sumber : Pemda Provinsi Bali Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

70 Halaman ini sengaja dikosongkan 70 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

71 Bab 5 4. Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Nilai Tukar Petani (NTP) yang menggambarkan kesejahteraan petani pada akhir triwulan I 2014 mengalami penurunan 0,11% dibandingkan akhir triwulan sebelumnya. Inflasi perdesaan juga tercatat relatif tinggi yaitu 0,42% (mtm) pada akhir triwulan I 2014 lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi perdesaan nasional sebesar 0,19% (mtm). Tingkat pengangguran di Provinsi Bali mengalami penurunan dari 1,79% pada Agustus 2013 menjadi 1,37% pada Februari PERKEMBANGAN NTP BALI NTP Bali mulai dihitung berdasarkan tahun dasar baru (2012 = 100). Perkembangan NTP berdasarkan tahun dasar baru pada akhir triwulan I 2014 lebih tinggi dibandingkan dengan akhir triwulan sebelumnya yaitu 104,33 dibandingkan dengan 103,37 atau meningkat 0,93%. NTP Bali selama triwulan laporan cenderung mengalami peningkatan (Gambar 5.1). Kenaikan NTP dipicu oleh kenaikan indeks yang diterima sepanjang triwulan I 2014 pada seluruh sub sektor kecuali sub sektor tanaman pangan yang mengalami penurunan - 0,27%. Kenaikan indeks yang diterima tertinggi adalah sub sektor hortikultura yang mengalami kenaikan di atas 4%. Sementara itu, indeks yang dibayar juga mengalami peningkatan namun sebagian besar peningkatannya tidak melebihi peningkatan indeks yang diterima. Secara umum peningkatan indeks yang dibayar sekitar 1,5%. Grafik 5.1 NTP Provinsi Bali dan Nasional Bali Nasional I II III IV I II III IV I Sumber : BPS *nilai NTP masih disetarakan dengan tahun 2012 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

72 Perkembangan NTP Bali dari waktu ke waktu mengalami fluktuasi. Sejak pertengahan tahun 2012, NTP Bali cenderung mengalami penurunan. Namun demikian, sejak awal triwulan II 2013 NTP Bali cenderung mengalami kenaikan hingga akhir triwulan I NTP dengan nilai terendah terjadi pada awal tahun 2014, sementara titik tertinggi NTP selama tahun adalah pada awal triwulan IV Selain itu, selama kurun waktu tersebut, NTP Bali selalu berada di atas nasional. NTP yang lebih tinggi mengindikasikan daya beli yang lebih besar atau dengan kata lain kesejahteraan petani yang sebagian besar adalah penduduk desa lebih tinggi. Data inflasi perdesaan menunjukkan bahwa inflasi di perdesaan Bali pada akhir triwulan I 2014 lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi perdesaan nasional yaitu 0,42% (mtm) dibandingkan dengan 0,19% (mtm). Apabila dibandingkan dengan inflasi Denpasar, inflasi perdesaan Bali selalu lebih rendah sepanjang triwulan laporan kecuali pada Maret PENGURANGAN ANGKA PENGANGGURAN Tingkat pengangguran di Bali pada Februari 2014 berada pada level 1,37% atau sebanyak orang. Jika bandingkan periode sebelumnya yang mencapai 1,79% (Agustus 2013) dan 1,89% (Februari 2013), telah terjadi penurunan tingkat pengangguran. Tren penurunan tingkat pengangguran sudah terjadi sejak Februari Sebagian besar pekerja bekerja di bidang perdagangan dengan proporsi mencapai 28,38% diikuti dengan sektor pertanian dalam arti luas dengan proporsi 24,82%. Kedua proporsi tersebut sejalan dengan besarnya kontribusi kedua sektor tersebut terhadap pembentukan output perekonomian. Porsi tenaga kerja di sektor pertanian sedikit meningkat dibandingkan periode Februari 2013 yang sebesar 24,69%. Meskipun demikian, proporsinya belum mampu menyamai proporsi pada tahun 2010 yang mencapai kisaran 30%. Grafik 5.2 Perkembangan Jumlah Pengangguran Provinsi Bali ribu jiwa jumlah pengangguran % tingkat pengangguran (rhs) Feb 10 Ags 10 Feb 11 Ags 11 Feb 12 Ags 12 Feb 13 Ags 13 Feb Sumber : BPS 72 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

73 Sektor dengan peningkatan proporsi jumlah tenaga kerja antara lain adalah sektor perdagangan dan sektor kontruksi. Sementara itu, rasio jumlah pekerja yang bekerja secara penuh (full time) terhadap total pekerja pada Februari 2014 adalah sebesar 77,04% lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya yaitu Agustus 2013 sebesar 73,17% dan Februari 2013 sebesar 76,0%. Jumlah tenaga kerja penuh di Bali juga meningkat dari ribu orang pada Agustus 2013 menjadi ribu orang pada Februari Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) triwulan I 2014 menunjukkan peningkatan penggunaan tenaga kerja yang relatif pesat dibandingkan triwulan sebelumnya. Nilai survey yang menunjukkan angka di atas nol menunjukkan bahwa terdapat peningkatan jumlah karyawan tetap yang dipekerjakan. Setelah selalu berada di bawah nol sejak awal tahun 2012, indikator penyerapan tenaga kerja mulai bernilai positif pada triwulan laporan (lihat Gambar 5.3). Peningkatan penggunaan tenaga kerja terutama terjadi di sektor keuangan dan jasa-jasa. Sementara itu, sektor pertanian, sektor listrik, gas dan air bersih serta sektor perdagangan dan restoran. Untuk perkiraan penggunaan tenaga kerja triwulan II 2014 mendatang, hasil survey menunjukkan terdapat rencana peningkatan penggunaan tenaga kerja yang lebih besar. Peningkatan penyerapan tenaga kerja diharapkan mampu memberikan efek pengganda bagi upaya peningkatan output perekonomian secara keseluruhan. Grafik 5.3 Perkembangan Penggunaan Tenaga Kerja Sumber : SKDU triwulan I 2014 Hasil survei yang sama menunjukkan bahwa dunia usaha masih belum bekerja pada kapasitas penuh. Penggunaan kapasitas produksi menurun pada level 63,80% pada Triwulan I 2014 lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang berada pada level 74,5%. Meskipun penggunaan kapasitas produksi, mengalami penurunan, sejak awal tahun 2011 menunjukkan penggunaan kapasitas produksi di atas 60%. Titik terendahnya terjadi pada triwulan III 2010 yang hanya sebesar 53% dan titik tertingginya pada triwulan I 2010 sebesar 81,30%. Penurunan penggunaan kapasitas produksi sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan laporan. Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

74 Halaman ini sengaja dikosong 74 Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I 2014

75 Bab 6 Prospek Perekonomian Perekonomian Bali triwulan II 2014 diperkirakan relatif meningkat dibandingkan dengan perekonomian triwulan I 2014 yang tumbuh sebesar 5,43% (yoy). Perekonomian Bali triwulan II 2014 diperkirakan tumbuh di kisaran 5,2 5,8% (yoy). Peningkatan pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan sektor-sektor utama yang diperkirakan meningkat di triwulan II Dari sisi permintaan, pertumbuhan konsumsi swasta dan ekspor diperkirakan akan kembali menunjukkan peningkatan. Selain itu, kontraksi yang terjadi pada komponen investasi diperkirakan tidak sedalam kontraksi pada triwulan sebelumnya. Sedangkan untuk keseluruhan tahun 2014, pertumbuhan ekonomi diperkirakan berada pada kisaran 5,35 5,95% (yoy). Tekanan inflasi pada triwulan II 2014 diperkirakan masih cukup tinggi. Berdasarkan disagregasinya, upside risk inflasi diperkirakan bersumber dari core inflation dan administered price,sedangkan tekanan inflasi volatile foods diperkirakan mereda. Dengan demikian inflasi Bali diperkirakan akan berada dalam rentang 6,3 6,8% (yoy). sedangkan di akhir tahun 2014 inflasi diperkirakan berada pada kisaran 5,2 6,2% (yoy) MAKRO EKONOMI REGIONAL TRIWULAN II 2014 Pertumbuhan ekonomi Bali triwulan II 2014 diperkirakan relatif meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi triwulan I 2014 yang tumbuh sebesar 5,43% (yoy). Perekonomian Bali triwulan II 2014 diperkirakan tumbuh di kisaran 5,2 5,8% (yoy) (Grafik 6.1). Peningkatan pertumbuhan tersebut didorong oleh pertumbuhan sektor pertanian yang diperkirakan meningkat di triwulan II Selain itu, pertumbuhan sektor PHR, pengangkutan, serta jasa-jasa diperkirakan sedikit meningkat dibandingkan dengan triwulan sebelumnya. Dari sisi permintaan, pertumbuhan konsumsi swasta dan ekspor diperkirakan akan kembali menunjukkan peningkatan. Selain itu, kontraksi yang terjadi pada komponen investasi diperkirakan tidak sedalam kontraksi pada triwulan sebelumnya. Grafik 6.1. Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Bali Sumber : Badan Pusat Statistik, diolah Keterangan : *) Angka Proyeksi Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Bali Triwulan I

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Sumatera Barat

KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Sumatera Barat KAJIAN EKONOMI DAN KEUANGAN REGIONAL Provinsi Sumatera Barat Triwulan I 215 Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Barat i Halaman ini sengaja dikosongkan This page is intentionally blank ii

Lebih terperinci

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik

M E T A D A T A. INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2 Penyelenggara Statistik : Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter, Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No.

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2015 No. 34/05/51/Th. IX, 5 Mei 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI BALI TRIWULAN I 2015 EKONOMI BALI TRIWULAN I-2015 TUMBUH SEBESAR 6,20% (Y-ON-Y) NAMUN MENGALAMI KONTRAKSI SEBESAR 1,53% (Q-TO-Q) Total perekonomian Bali

Lebih terperinci

Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi

Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi Edisi 49 Juni 2014 Laporan Bulanan Data Sosial Ekonomi ISSN: 2087-930X Katalog BPS: 9199017 No. Publikasi: 03220.1407 Ukuran Buku: 18,2 cm x 25,7 cm Jumlah Halaman: xix + 135 halaman Naskah: Direktorat

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI JANUARI 2015

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI JANUARI 2015 No. 19/03/51/Th. IX, 2 Maret PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI JANUARI Kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pada bulan mencapai 301.748 orang, dengan wisman yang datang melalui bandara sebanyak

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI APRIL 2014

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI APRIL 2014 PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI APRIL 2014 35/06/51/Th. VIII, 2 Juni 2014 Kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pada bulan 2014 mencapai 280.096 orang, dengan wisman yang datang melalui bandara

Lebih terperinci

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB 3 KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka Ekonomi Makro dan Pembiayaan Pembangunan pada Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Tahun 2006 disempurnakan untuk memberikan gambaran ekonomi

Lebih terperinci

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81

Tabel-Tabel Pokok TABEL-TABEL POKOK. Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 TABEL-TABEL POKOK Analisis Pertumbuhan Ekonomi Kab. Lamandau Tahun 2013 / 2014 81 Tabel 1. Tabel-Tabel Pokok Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Lamandau Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001

PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001 REPUBLIK INDONESIA PERKEMBANGAN EKONOMI MAKRO SAMPAI DENGAN BULAN JUNI 2001 Kondisi ekonomi makro bulan Juni 2001 tidak mengalami perbaikan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Kepercayaan masyarakat

Lebih terperinci

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011

Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Analisis Asumsi Makro Ekonomi RAPBN 2011 Nomor. 30/AN/B.AN/2010 0 Bagian Analisa Pendapatan Negara dan Belanja Negara Biro Analisa Anggaran dan Pelaksanaan APBN SETJEN DPR-RI Analisis Asumsi Makro Ekonomi

Lebih terperinci

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2006

BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 2006 BAB I KONDISI EKONOMI MAKRO TAHUN 26 Kondisi ekonomi makro pada tahun 26 dapat disimpulkan sebagai berikut. Pertama, memasuki tahun 26, stabilitas moneter di dalam negeri membaik tercermin dari stabilnya

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... i DAFTAR GRAFIK... iii DAFTAR TABEL... v BAB I PENDAHULUAN... 1

DAFTAR ISI. DAFTAR ISI... i DAFTAR GRAFIK... iii DAFTAR TABEL... v BAB I PENDAHULUAN... 1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... i DAFTAR GRAFIK... iii DAFTAR TABEL... v BAB I PENDAHULUAN... 1 A. Kinerja Perekonomian 2010 dan Proyeksi 2011... 1 B. Tantangan dan Sasaran Pembangunan Tahun 2012... 4 C. Asumsi

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2015

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2015 BADAN PUSAT STATISTIK No. 5/5/Th.XVIII, 5 Mei 5 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-5 EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-5 TUMBUH,7 PERSEN MELAMBAT DIBANDING TRIWULAN I- Perekonomian Indonesia yang diukur

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN PENOPANG PEREKONOMIAN BANGKA BELITUNG

SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN PENOPANG PEREKONOMIAN BANGKA BELITUNG Suplemen 4. Sektor-Sektor Unggulan Penopang Perekonomian Bangka Belitung Suplemen 4 SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN PENOPANG PEREKONOMIAN BANGKA BELITUNG Salah satu metode dalam mengetahui sektor ekonomi unggulan

Lebih terperinci

BABI PENDAHULU~ Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat

BABI PENDAHULU~ Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat BABI PENDAHULU~ 1.1 Latar Belakang Jumlah uang beredar teramat penting karena peranannya sebagai alat transaksi penggerak perekonomian. Besar kecilnya jumlah uang beredar akan mempengaruhi daya beli riil

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 15/15/PBI/2013 TENTANG GIRO WAJIB MINIMUM BANK UMUM DALAM RUPIAH DAN VALUTA ASING BAGI BANK UMUM KONVENSIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) JAWA TIMUR TRIWULAN 3 2013

PERKEMBANGAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) JAWA TIMUR TRIWULAN 3 2013 BPS PROVINSI JAWA TIMUR No. 75/11/35/Th. XI, 6 November PERKEMBANGAN INDEKS TENDENSI KONSUMEN (ITK) JAWA TIMUR TRIWULAN 3 ITK Triwulan 3 Jawa Timur sebesar 114,17 dan Perkiraan ITK Triwulan 4 sebesar 110,37

Lebih terperinci

Sektor Pertanian: Perlu Upaya Akselerasi Pertumbuhan. Oleh: Hidayat Amir

Sektor Pertanian: Perlu Upaya Akselerasi Pertumbuhan. Oleh: Hidayat Amir Sektor Pertanian: Perlu Upaya Akselerasi Pertumbuhan Oleh: Hidayat Amir Peneliti Madya pada Pusat Pengelolaan Risiko Fiskal, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan Email: hamir@fiskal.depkeu.go.id

Lebih terperinci

FREQUENTLY ASKED QUESTIONS

FREQUENTLY ASKED QUESTIONS FREQUENTLY ASKED QUESTIONS SURAT EDARAN BANK INDONESIA NOMOR 17/11 1 11/DKSP TANGGAL 1 JUNI 2015 PERIHAL KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA A. UMUM 1. Apa saja pertimbangan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN BPS PROVINSI JAWA BARAT No. 26/5/32/Th XVII, 4 Mei 2015 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI, HARGA PRODUSEN GABAH DAN HARGA BERAS DI PENGGILINGAN NILAI TUKAR PETANI APRIL 2015 SEBESAR 102,78 (2012=100) Nilai

Lebih terperinci

Analisa & Pembahasan Manajemen

Analisa & Pembahasan Manajemen Pembuka Pesan Utama Pembahasan Rencana & Strategi Laporan Bisnis Tinjauan Pendukung Bisnis & Manajemen Risiko Pura Ulun Danau Bratan - Bali Sebuah candi air besar yang terletak di tepi barat laut Danau

Lebih terperinci

No. 17/ 11 /DKSP Jakarta, 1 Juni 2015 SURAT EDARAN. Perihal : Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

No. 17/ 11 /DKSP Jakarta, 1 Juni 2015 SURAT EDARAN. Perihal : Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia No. 17/ 11 /DKSP Jakarta, 1 Juni 2015 SURAT EDARAN Perihal : Kewajiban Penggunaan Rupiah di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia Sehubungan dengan berlakunya Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015

Lebih terperinci

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Analisis fundamental. Daftar isi. [sunting] Analisis fundamental perusahaan. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Teknis ini menitik beratkan

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pendapatan pajak, bea cukai, BUMN, dan Migas, pariwisata juga menjadi andalan. Kayu olahan 3.3% Karet olahan 9.0%

I. PENDAHULUAN. pendapatan pajak, bea cukai, BUMN, dan Migas, pariwisata juga menjadi andalan. Kayu olahan 3.3% Karet olahan 9.0% I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pariwisata memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, baik sebagai salah satu sumber penerimaan devisa maupun penciptaan lapangan kerja serta kesempatan

Lebih terperinci

Dampak Banjir Terhadap Inflasi

Dampak Banjir Terhadap Inflasi Dampak Banjir Terhadap Inflasi Praptono Djunedi, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Siapa yang merusak harga pasar hingga harga itu melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari

Lebih terperinci

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK 1. Q: Apa latar belakang diterbitkannya PBI

Lebih terperinci

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I 1 laporan monitoring realisasi APBD dan dana idle Tahun 2013 Triwulan I RINGKASAN EKSEKUTIF Estimasi realisasi belanja daerah triwulan I Tahun 2013 merupakan

Lebih terperinci

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010

MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 MEMILIH INVESTASI REKSA DANA TAHUN 2010 Indonesia cukup beruntung, karena menjadi negara yang masih dapat mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif tahun 2009 sebesar 4,4 % di tengah krisis keuangan global

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

KODEFIKASI RPI 25. Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan

KODEFIKASI RPI 25. Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan KODEFIKASI RPI 25 Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan Lembar Pengesahan Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan 851 852 RENCANA PENELITIAN INTEGRATIF 2010-2014

Lebih terperinci

STABILISASI HARGA PANGAN

STABILISASI HARGA PANGAN STABILISASI HARGA PANGAN Oleh : Dr.Ir. Nuhfil Hanani AR DEWAN KETAHANAN PANGAN TAHUN 2008 PERANAN KOMODITAS PANGAN PRODUSEN KESEMPATAN KERJA DAN PENDAPATAN KONSUMEN RUMAH TANGGA AKSES UNTUK GIZI KONSUMEN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BANYUWANGI MARET 2015 INFLASI 0,09 PERSEN

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BANYUWANGI MARET 2015 INFLASI 0,09 PERSEN BPS KABUPATEN BANYUWANGI No. 03/April/3510/Th.II, 03 April PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI BANYUWANGI MARET INFLASI 0,09 PERSEN Pada bulan Banyuwangi mengalami inflasi sebesar 0,09 persen, lebih

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN i iii v vii Bab I Pendahuluan I-1 1.1. Latar Belakang I-1 1.2. Maksud dan Tujuan I-2 1.3. Dasar Hukum I-3 1.4. Hubungan Antar Dokumen I-6

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Neraca Berjalan Dapat Membaik Lebih Cepat

Neraca Berjalan Dapat Membaik Lebih Cepat Jakarta, 23 Februari 2015 Neraca Berjalan Dapat Membaik Lebih Cepat Walau sejak awal memprediksikan BI rate bakal turun, namun saya termasuk economist yang terkejut dengan keputusan BI menurunkan bunga

Lebih terperinci

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI Pengembangan ekspor tidak hanya dilihat sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga untuk mengembangkan ekonomi nasional. Perkembangan

Lebih terperinci

ARAH DAN KEBIJAKAN FISKAL JANGKA MENENGAH 2015-2019

ARAH DAN KEBIJAKAN FISKAL JANGKA MENENGAH 2015-2019 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA ARAH DAN KEBIJAKAN FISKAL JANGKA MENENGAH 2015-2019 Paparan Menteri Keuangan Rakorbangpus Penyusunan Rancangan Awal RPJMN 2015-2019 Jakarta, 25 November 2014 TOPIK

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2005 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2006 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BERITA RESMI STATISTIK

BERITA RESMI STATISTIK BERITA RESMI STATISTIK BPS PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT No. 46/07/52/Th.V, 1 Juli 2015 STATISTIK TRANSPORTASI MEI 2015 Data transportasi yang disajikan adalah data yang diolah dari dokumen Pelabuhan Udara

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/201 /PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/201 /PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA FREQUENTLY ASKED QUESTIONS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 17/3/PBI/201 1 /PBI/2015 TENTANG KEWAJIBAN PENGGUNAAN RUPIAH DI WILAYAH NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA 1. Apa saja pertimbangan diterbikannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. 1 Dalam

Lebih terperinci

Bab 4 TEORI MONETER (Lanjutan)

Bab 4 TEORI MONETER (Lanjutan) Bab 4 TEORI MONETER (Lanjutan) 1. Teori Jumlah Uang Beredar Mempelajari Teori Jumlah Uang Beredar, berarti mempelajari teori moneter dari sisi penawaran, dan ini merupakan perkembangan baru dalam Teori

Lebih terperinci

Masterplan P3EI. Koridor Ekonomi Bali-Nusa Tenggara

Masterplan P3EI. Koridor Ekonomi Bali-Nusa Tenggara 139 14 Masterplan P3EI Koridor Ekonomi Bali Nusa Tenggara Tema Pembangunan: Terdiri dari 4 Pusat Ekonomi: Pintu Gerbang Pariwisata dan Pendukung Pangan Nasional Denpasar Lombok Kupang Mataram Kegiatan

Lebih terperinci

Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa :

Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa : ISI FORM D *Semua Informasi Wajib Diisi *Mengingat keterbatasan memory database, harap mengisi setiap isian dengan informasi secara general, singkat dan jelas. A. Uraian Kegiatan Deskripsikan Latar Belakang

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

R i D MARET 20 MARKET SC REEN, 2 M. dmia.danare. eksaonline. com. ke level. sebesar. persen ke. Dow. satu. guna industri.

R i D MARET 20 MARKET SC REEN, 2 M. dmia.danare. eksaonline. com. ke level. sebesar. persen ke. Dow. satu. guna industri. MARKET SC REEN, 2 M R i D MARET 20 Danareksa Research Institute 015 Prediksi periode minor (1-5 hari) : Menguat Prediksi periode intraday: Sideways menguat Level support-resistance: 5,428.88-5,475.0 Saham

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i vii xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4 1.3.1 Hubungan RPJMD

Lebih terperinci

SMAM 3 LHOKSEUMAWE ALAT PEMBAYARAN TUNAI & NON JUDUL MATERI LAT. SELESAI TUNAI. Indikator: Alat pembyrn tunai & non tunai

SMAM 3 LHOKSEUMAWE ALAT PEMBAYARAN TUNAI & NON JUDUL MATERI LAT. SELESAI TUNAI. Indikator: Alat pembyrn tunai & non tunai ALAT PEMBAYARAN TUNAI & NON & non TUNAI Pengertian Uang Menurut Para Ahli & non a. TRI KUNAWANGSIH & ANTO PRACOYO Uang merupakan alat tukar yang diterima pleh masyarakat sebagai alat pembayaran yang sah

Lebih terperinci

PDRB HIJAU (KONSEP DAN METODOLOGI )

PDRB HIJAU (KONSEP DAN METODOLOGI ) PDRB HIJAU (KONSEP DAN METODOLOGI ) Oleh: M. Suparmoko Materi disampaikan pada Pelatihan Penyusunan PDRB Hijau dan Perencanaan Kehutanan Berbasis Penataan Ruang pada tanggal 4-10 Juni 2006 1 Hutan Indonesia

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - 1 LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 TRIWULAN III KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK. diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut

BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK. diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut BAB 2 GAMBARAN UMUM OBJEK 2.1 Rupiah Rupiah (Rp) adalah mata uang Indonesia (kodenya adalah IDR). Nama ini diambil dari mata uang India Rupee. Sebelumnya di daerah yang sekarang disebut Indonesia menggunakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB IV METODA PENELITIAN

BAB IV METODA PENELITIAN BAB IV METODA PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi dan kateristik obyek penelitian, maka penjelasan terhadap lokasi dan waktu penelitian

Lebih terperinci

Pembahasan Hasil Kinerja Keuangan

Pembahasan Hasil Kinerja Keuangan Pendahuluan Tinjauan Bisnis Pendukung Bisnis Tinjauan Tata Kelola Perusahaan Pembahasan Hasil Kinerja Keuangan TINJAUAN EKONOMI MAKRO INDONESIA TAHUN 2012 Perekonomian Indonesia tumbuh 6,2% di tahun 2012,

Lebih terperinci

PENGGUNAAN SPN 3 BULAN SEBAGAI PENGGANTI SBI 3 BULAN DALAM APBN (Perspektif Bank Indonesia)

PENGGUNAAN SPN 3 BULAN SEBAGAI PENGGANTI SBI 3 BULAN DALAM APBN (Perspektif Bank Indonesia) 1. SBI 3 bulan PENGGUNAAN SPN 3 BULAN SEBAGAI PENGGANTI SBI 3 BULAN DALAM APBN (Perspektif Bank Indonesia) SBI 3 bulan digunakan oleh Bank Indonesia sebagai salah satu instrumen untuk melakukan operasi

Lebih terperinci

BAB 14 PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN

BAB 14 PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN BAB 14 PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN 14.1. PEMBANGUNAN WILAYAH NASIONAL Pembangunan wilayah nasional diarahkan pada pemerataan pembangunan di seluruh wilayah dengan mengoptimalkan potensi dan keunggulan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 2013 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 2013 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 2013 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA I. UMUM Pembangunan subsektor Hortikultura memberikan sumbangan

Lebih terperinci

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014

DEWAN ENERGI NASIONAL OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014 OUTLOOK ENERGI INDONESIA 2014 23 DESEMBER 2014 METODOLOGI 1 ASUMSI DASAR Periode proyeksi 2013 2050 dimana tahun 2013 digunakan sebagai tahun dasar. Target pertumbuhan ekonomi Indonesia rata-rata sebesar

Lebih terperinci

Layanan Bebas Biaya Layanan perbankan yang cepat, mudah dan ekonomis

Layanan Bebas Biaya Layanan perbankan yang cepat, mudah dan ekonomis Layanan Bebas Biaya Layanan perbankan yang cepat, mudah dan ekonomis DBS Treasures merupakan layanan perbankan prioritas yang tidak hanya menyediakan pilihan produk perbankan tetapi juga produk investasi

Lebih terperinci

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign

BAB II URAIAN TEORI. Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign BAB II URAIAN TEORI A. Penelitian Terdahulu Anggraeni (2003) melakukan penelitian dengan judul The Foreign Exchange Exposure pada Bank-Bank yang Go Public di Bursa Efek Jakarta menunjukkan adanya foreign

Lebih terperinci

M E T A D A T A INFORMASI DASAR

M E T A D A T A INFORMASI DASAR M E T A D A T A INFORMASI DASAR 1 Nama Data : Uang Primer 2 Penyelenggara Statistik : Departemen Statistik Bank Indonesia 3 Alamat : Jl. M.H. Thamrin No. 2 Jakarta 4 Contact : Divisi Statistik Moneter

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I 1 KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin diwujudkan dalam pengelolaan APBD. Untuk mendorong tercapainya tujuan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh penyerapan

Lebih terperinci

PERAN KELEMBAGAAN PERBANKAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH NASIONAL BANK MANDIRI

PERAN KELEMBAGAAN PERBANKAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH NASIONAL BANK MANDIRI PERAN KELEMBAGAAN PERBANKAN DALAM PENGEMBANGAN USAHA MIKRO, KECIL DAN MENENGAH NASIONAL POKOK BAHASAN I II KONDISI UMKM PERBANKAN KOMITMEN III POLA PEMBIAYAAN UMKM IV KESIMPULAN I KONDISI UMKM PERBANKAN

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 No. 17/03/34/Th.XVII, 2 Maret 2015 NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Pada Februari 2015, NTP

Lebih terperinci

PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI

PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI 1. Permasalahan Penerapan aturan PBBKB yang baru merupakan kebijakan yang diperkirakan berdampak

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 5.1. Arah Pengelolaan Pendapatan Daerah Dalam pengelolaan anggaran pendapatan daerah harus diperhatikan upaya untuk peningkatan pendapatan pajak dan retribusi daerah

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/ 20 /PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA,

Lebih terperinci

RENCANA KERJA TAHUNAN BADAN PUSAT STATISTIK KOTA CILEGON TAHUN ANGGARAN 2014

RENCANA KERJA TAHUNAN BADAN PUSAT STATISTIK KOTA CILEGON TAHUN ANGGARAN 2014 RENCANA KERJA TAHUNAN BADAN PUSAT STATISTIK KOTA CILEGON TAHUN ANGGARAN 2014 BADAN PUSAT STATISTIK KOTA CILEGON KATA PENGANTAR KATA PENGANTAR Pada era reformasi birokrasi sebagaimana telah dicanangkan

Lebih terperinci

Selamat Datang. PT Indosat Tbk Paparan Publik Tahun 2014

Selamat Datang. PT Indosat Tbk Paparan Publik Tahun 2014 Selamat Datang PT Indosat Tbk Disklaimer PT Indosat Tbk mengingatkan para investor bahwa dokumen ini memuat keinginan, harapan kepercayaan, ekspektasi atau proyeksi perusahaan kedepan dari manajemen. Manajemen

Lebih terperinci

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA Jenis : Tugas Akhir Tahun : 2008 Penulis : Soly Iman Santoso Pembimbing : Ir. Haryo

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 270 sampel di wilayah usaha

BAB V PEMBAHASAN. Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap 270 sampel di wilayah usaha 69 BAB V PEMBAHASAN 5.1 Pemakaian Air Bersih 5.1.1 Pemakaian Air Untuk Domestik Dari hasil penelitian yang dilakukan terhadap sampel di wilayah usaha PAM PT. TB, menunjukkan bahwa pemakaian air bersih

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI,

GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI, GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa Pembangunan Kepariwisataan di

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

Sistem Pembayaran dan Pengedaran Uang

Sistem Pembayaran dan Pengedaran Uang Laporan Sistem Pembayaran dan Pengedaran Uang 2009 Bank Indonesia Direktorat Akunting dan Sistem Pembayaran Direktorat Pengedaran Uang Halaman ini sengaja dikosongkan DAFTAR ISI RINGKASAN EKSEKUTIF...

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG K E M E N T E R I A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L / B A D A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L ( B A

Lebih terperinci

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO Judul : Dampak Pertumbuhan Industri Terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Sidoarjo SKPD : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Pembangunan

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR 16/21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM

PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM PENJELASAN ATAS PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM UMUM Kegiatan usaha Bank senantiasa dihadapkan pada risiko-risiko yang berkaitan erat dengan

Lebih terperinci

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8

STRUK UK UR O R O GANISA GANISA DIN DI AS AS DAE RAH KABUP UP TEN N A B NGKA T HUN UN 0 2 0 0 8 DINAS DAERAH TAHUN 2008 DINAS PENDIDIKAN LAMPIRAN I : PERATURAN DAERAH PERNCANAN DAN TAMAN KANAK-KANAK DAN SEKOLAH DASAR SEKOLAH MENENGAH PENDIDIKAN NON FORMAL PERENCANAAN KURIKULUM KURIKULUM PENDIDIKAN

Lebih terperinci

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam Abstrak UPAYA PENGEMBANGAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) Oleh : Dr. Ir. Mohammad Jafar Hafsah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH SERTA KERANGKA PENDANAAN Keuangan daerah merupakan semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

KECAMATAN KELAPA LIMA DALAM ANGKA 2005/2006

KECAMATAN KELAPA LIMA DALAM ANGKA 2005/2006 Katalog BPS : 1403.5371040 KECAMATAN KELAPA LIMA DALAM ANGKA 2005/2006 Pantai Lasiana BADAN PUSAT STATISTIK KOTA KUPANG KECAMATAN KELAPA LIMA DALAM ANGKA 2005/2006 No. Publikasi : 5371.0504 Katalog BPS

Lebih terperinci

LIABILITAS DAN EKUITAS LIABILITAS

LIABILITAS DAN EKUITAS LIABILITAS Laporan Keuangan Publikasi triwulanan Laporan Posisi Keuangan/Neraca PT BANK SINAR HARAPAN BALI JL MELATI NO 65 DENPASAR BALI 80233 Telp (0361) 227076 FAX (0361) 227783 per March 2014 dan 2013 (Dalam Jutaan

Lebih terperinci

No. 14/ 10 /DPNP Jakarta, 15 Maret 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA

No. 14/ 10 /DPNP Jakarta, 15 Maret 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA No. 14/ 10 /DPNP Jakarta, 15 Maret 2012 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM DI INDONESIA Perihal : Penerapan Manajemen Risiko pada Bank yang Melakukan Pemberian Kredit Pemilikan Rumah dan Kredit

Lebih terperinci

Tinjauan Ekonomi. Keuangan Daerah

Tinjauan Ekonomi. Keuangan Daerah KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN Tinjauan Ekonomi & Keuangan Daerah Provinsi bali Peta Bali 2 Tinjauan Ekonomi dan Keuangan Daerah Provinsi BALI Daftar Isi

Lebih terperinci

7. Memastikan sistem pengendalian internal telah diterapkan sesuai ketentuan.

7. Memastikan sistem pengendalian internal telah diterapkan sesuai ketentuan. 7. Memastikan sistem pengendalian internal telah diterapkan sesuai ketentuan. 8. Memantau kepatuhan BCA dengan prinsip pengelolaan bank yang sehat sesuai dengan ketentuan yang berlaku melalui unit kerja

Lebih terperinci

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (ANGKA SEMENTARA TAHUN 2014)

PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (ANGKA SEMENTARA TAHUN 2014) BPS PROVINSI JAWA BARAT No. 19/03/32/Th. XVII, 2 Maret 2015 PRODUKSI PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI (ANGKA SEMENTARA TAHUN ) PRODUKSI PADI TAHUN (ANGKA SEMENTARA) DIPERKIRAKAN TURUN 3,63 PERSEN PADI Menurut

Lebih terperinci