ISBN: A R A C E A E D I P U L A U B A L I

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ISBN: 978-979-799-714-4 A R A C E A E D I P U L A U B A L I"

Transkripsi

1 ISBN: A R A C E A E D I P U L A U B A L I e-book

2 Halaman Kosong

3 ARACEAE DI PULAU BALI Agung Kurniawan Ni Putu Sri Asih LIPI Press

4 2012 Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Eka Karya Bali Katalog dalam Terbitan Araceae di Pulau Bali/ Agung Kurniawan dan Ni Putu Sri Asih. Jakarta: LIPI Press, x ; 14,8 x 21 cm ISBN Araceae 2. Bali Editor : Bayu Adji Ida Bagus Ketut Arinasa Kopieditor : Risma Wahyu Hartiningsih Penata Letak : Penata Sampul : Fotografer : Gede Suji Sastrawan Agung Kurniawan Ni Putu Sri Asih I Gede Tirta Diterbitkan oleh: LIPI Press, anggota Ikapi Jln. Gondangdia Lama 39, Menteng, Jakarta Telp. (021) , Faks. (021) iv

5 Kata Pengantar Araceae merupakan tumbuhan yang mempunyai nilai tinggi, baik dari segi ekonomi maupun dari segi ilmiah. Tumbuhan ini memiliki banyak manfaat, mulai dari tanaman hias, obat-obatan maupun sumber pangan. Tingkat keragamannya pun sangat tinggi dan keberadaannya di Indonesia tersebar di semua pulau, salah satunya di Pulau Bali. E-book ini disusun secara visual lewat gambar gambar yang menarik dalam bentuk buku panduan/fieldguide agar dapat memudahkan pembaca dalam mengidentifikasi jenis-jenis araceae ketika berada di alam. Pada kesempatan ini kami juga ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar besarnya kepada seluruh pihak yang secara langsung maupun tidak langsung atas dukungan serta informasi yang diberikan kepada kami untuk menyelesaikan e-book ini. Harapan kami e-book ini dapat bermanfaat bagi semua kalangan, baik dari kalangan akademik maupun masyarakat dalam pengidentifikasian maupun informasi mengenai keragaman jenis dan sebaran Araceae yang ada di Pulau Bali. Penyusun Desember 2011 v

6 KATA PENGANTAR (v) DAFTAR ISI (vi) DAFTAR GAMBAR (vii) DAFTAR TABEL (xii) PENDAHULUAN (1) JENIS-JENIS (13) Aglaonema simplex (Blume) Blume (14) Alocasia longiloba Miq. (17) Alocasia macrorrhizos (L.) G.Don (21) Alocasia sp. 1 (29) Alocasia sp. 2 (33) Amorphophallus muelleri Blume (36) Amorphophallus paeoniifolius (Dennst.) Nicolson (40) Amorphophallus variabilis Blume (43) Arisaema filiforme (Reinw.) Blume (47) Colocasia esculenta (L.) Schott (51) Colocasia gigantea (Blume) Hook.f. (55) Epipremnum pinnatum (L.) Engl. (58) Homalomena cordata Schott (62) Remusatia vivipara (Roxb.) Schott (65) Rhaphidophora sp. (70) Schismatoglottis calyptrata (Roxb.) Zoll. & Moritzi (73) Scindapsus hederaceus Miq. (76) Scindapsus sp. (78) Typhonium blumei Nicolson & Sivad. (80) Typhonium flagelliforme (Lodd.) Blume (82) Typhonium horsfieldii (Miq.) Steenis (86) Typhonium roxburghii Schott (89) PENUTUP (91) DAFTAR PUSTAKA (93) INDEX (96) Daftar Isi vi

7 Daftar Gambar Gambar 1. Pulau Bali (6) Gambar 2. Bentuk-bentuk daun Araceae (8) Gambar 3. Tipe bunga Araceae (10) Gambar 4. Araceae yang habitatnya di daratan (11) Gambar 5. Araceae yang habitatnya bersifat epifit (merambat) (12) Gambar 6. Araceae yang habitatnya hidup di air (12) Gambar 7. Sebaran Aglaonema simplex (Blume) Blume di Pulau Bali (14) Gambar 8. Aglaonema simplex (15) Gambar 9. Pembungaan Aglaonema simplex (16) Gambar 10. Anomali tongkol bunga Aglaonema simplex (16) Gambar 11. Sebaran Alocasia longiloba Miq. di Pulau Bali (17) Gambar 12. Alocasia longiloba Miq. (18) Gambar 13. Morfologi Alocasia longiloba Miq muda (19) Gambar 14. Penampang permukaan bawah daun Alocasia longiloba Miq (19) Gambar 15. Pangkal tangkai daun Alocasia longiloba Miq (20) Gambar 16. Sebaran Alocasia macrorrhizos (L.) G. Don di Pulau Bali (21) Gambar 17. Alocasia macrorrhizos (L.) G. Don (22) Gambar 18. Penampang permukaan bawah daun Alocasia macrorrhizos (L.) G. Don (23) Gambar 19. Pangkal tangkai daun Alocasia macrorrhizos (L.) G. Don yang berwarna hijau (24) Gambar 20. Alocasia macrorrhizos (L.) G. Don dengan batang dan tulang daun berwarna ungu serta daun berwarna hijau (25) Gambar 21. Alocasia macrorrhizos (L.) G. Don dengan daun, tulang daun, dan batang berwarna ungu (26) vii

8 Gambar 22. Pangkal tangkai daun Alocasia macrorrhizos (L.) G. Don yang berwarna ungu dengan daun berwarna hijau (27) Gambar 23. Pangkal tangkai daun Alocasia macrorrhizos (L.) G. Don berwarna ungu (28) Gambar 24. Penampang dalam bunga Alocasia macrorrhizos (L.) G. Don (28) Gambar 25. Pembungaan Alocasia macrorrhizos (L.) G. Don (28) Gambar 26. Sebaran Alocasia sp. 1 di Pulau Bali (29) Gambar 27. Alocasia sp. 1 (30) Gambar 28. Morfologi daun Alocasia sp. (131) Gambar 29. Permukaan bawah daun Alocasia sp. (131) Gambar 30. Bunga Alocasia sp. (132) Gambar 31. Tongkol Alocasia sp. (132) Gambar 32. Penampang dalam bunga Alocasia sp. (132) Gambar 33. Sebaran Alocasia sp. 2 di Pulau Bali (33) Gambar 34. Daun Alocasia sp. 2 muda (34) Gambar 35. Tangkai daun Alocasia sp. 2 (35) Gambar 36. Sebaran Amorphophallus muelleri Blume di Pulau Bali. (36) Gambar 37. Amorphophallus muelleri Blume (37) Gambar 38. Daun Amorphophallus muelleri Blume (38) Gambar 39. Umbi Amorphophallus muelleri Blume pada tangkai daun (39) Gambar 40. Corak batang Amorphophallus muelleri Blume (39) Gambar 41. Sebaran Amorphophallus paeoniifolius (Dennst) Nicolson di Pulau Bali (40) Gambar 42. Amorphophallus paeoniifolius (Dennst) Nicolson (41) Gambar 43. Corak Batang Amorphophallus paeoniifolius (Dennst) Nicolson (42) Gambar 44. Sebaran Amorphophallus variabilis Blume di Pulau Bali (43) Gambar 45. Amorphophallus variabilis Blume (44) Gambar 46. Daun Amorphophallus variabilis Blume (45) Gambar 47. Corak batang Amorphophallus variabilis Blume (46) Gambar 48. Sebaran Arisaema filiforme (Reinw.) Blume (47) viii

9 Gambar 49. Arisaema filiforme (Reinw.) Blume (48) Gambar 50. Penampang dalam bunga Arisaema filiforme (Reinw.) Blume (49) Gambar 51. Corak batang Arisaema filiforme (Reinw.) Blume (50) Gambar 52. Sebaran Colocasia esculenta (L.) Schott di Pulau Bali (51) Gambar 53. Colocasia esculenta (L.) Schott (52) Gambar 54. Bunga Colocasia esculenta (L.) Schott dengan serangga penyerbuknya (53) Gambar 55. Bunga Colocasia esculenta (L.) Schott (54) Gambar 56. Penampang dalam bunga Colocasia esculenta (L.) Schott (54) Gambar 57. Sebaran Colocasia gigantea (Blume) Hook.f. (55) Gambar 58. Tinggi Colocasia gigantea (Blume) Hook.f. bisa melebihi tinggi manusia dewasa (56) Gambar 59. Colocasia gigantea (Blume) Hook.f. (56) Gambar 60. Pembungaan Colocasia gigantea (Blume) Hook.f. (57) Gambar 61. Bunga Colocasia gigantea (Blume) Hook.f. yang sedang mekar (57) Gambar 62. Sebaran Epipremnum pinnatum (L.) Engl. (58) Gambar 63. Epipremnum pinnatum (L.) Engl. (59) Gambar 64. Epipremnum pinnatum (L.) Engl. muda (60) Gambar 65. Epipremnum pinnatum (L.) Engl. dengan akar rambatnya (61) Gambar 66. Sebaran Homalomena cordata Schott di Pulau Bali (62) Gambar 67. Homalomena cordata Schott (63) Gambar 68. Homalomena cordata Schott (63) Gambar 69. Tongkol bunga Homalomena cordata Schott (64) Gambar 70. Bentuk daun Homalomena cordata Schott (64) Gambar 71. Pembungaan Homalomena cordata Schott (64) Gambar 72. Sebaran Remusatia vivipara (Roxb.) Schott di Pulau Bali (65) Gambar 73. Bunga Remusatia vivipara (Roxb.) Schott (66) Gambar 74. Daun Remusatia vivipara (Roxb.) Schott (67) Gambar 75. Bulbil Remusatia vivipara (Roxb.) Schott (68) ix

10 Gambar 76. Penampang dalam bunga Remusatia vivipara (Roxb.) Schott (69) Gambar 77. Sebaran Rhaphidophora sp. (70) Gambar 78. Rhaphidophora sp. (71) Gambar 79. Daun Rhaphidophora sp. (72) Gambar 80. Batang dan permukaan bawah daun Rhaphidophora sp. (72) Gambar 81. Sebaran Schismatoglottis calyptrata (Roxb.) Zoll. & Moritzi di Pulau Bali (73) Gambar 82. Schismatoglottis calyptrata (Roxb.) Zoll. & Moritzi (74) Gambar 83. Daun Schismatoglottis calyptrata (Roxb.) Zoll. & Moritzi (74) Gambar 84. Bunga Schismatoglottis calyptrata (Roxb.) Zoll. & Moritzi yang telah lewat penyerbukannya (75) Gambar 85. Penampang dalam bunga Schismatoglottis calyptrata (Roxb.) Zoll. & Moritzi (75) Gambar 86. Sebaran Scindapsus hederaceus Miq di Pulau Bali (76) Gambar 87. Scindapsus hederaceus Miq (77) Gambar 88. Batang Scindapsus hederaceus Miq (77) Gambar 89. Sebaran Scindapsus sp. di Pulau Bali (78) Gambar 90. Scindapsus sp. tumbuh merambat pada tebing batu yang basah (79) Gambar 91. Scindapsus sp. tumbuh menggantung pada tangkai pohon (79) Gambar 92. Sebaran Typhonium blumei Nicolson & Sivad di Pulau Bali (80) Gambar 93. Typhonium blumei Nicolson & Sivad (81) Gambar 94. Bunga Typhonium blumei Nicolson & Sivad (81) Gambar 95. Penampang dalam bunga Typhonium blumei Nicolson & Sivad (81) Gambar 96. Sebaran Typhonium flagelliforme (Lodd.) Blume di Pulau Bali (82) Gambar 97. Typhonium flagelliforme (Lodd.) Blume (83) Gambar 98. Daun Typhonium flagelliforme (Lodd.) Blume (84) Gambar 99. Bunga Typhonium flagelliforme (Lodd.) Blume (85) Gambar 100. Penampang dalam bunga Typhonium flagelliforme (Lodd.) Blume (85) Gambar 101. Sebaran Typhonium horsfieldii (Miq.) Steenis di Pulau Bali (86) x

11 Gambar 102. Typhonium horsfieldii (Miq.) Steenis (87) Gambar 103. Bunga Typhonium horsfieldii (Miq.) Steenis (88) Gambar 104. Penampang dalam bunga Typhonium horsfieldii (Miq.) Steenis (88) Gambar 105. Sebaran Typhonium roxburghii Schott di Pulau Bali (89) Gambar 106. Typhonium roxburghii Schott dengan bunganya yang berwarna merah hati (90) Gambar 106. Zona jantan bunga Typhonium roxburghii Schott (90) xi

12 Daftar Tabel Tabel 1. Daftar Jenis Araceae yang Tersebar di Kepulauan Sunda Kecil (termasuk Bali) (3) Tabel 2. Jenis-jenis Tumbuhan Araceae di Pulau Bali (5) xii

13 Pendahuluan Suku Araceae Morfologi Habitat 1

14 Suku Araceae Suku Araceae atau keluarga talas-talasan merupakan tumbuhan yang umum bagi masyarakat di Indonesia. Keluarga talas-talasan bisa diketahui berdasarkan ciri utama, yaitu berbatang basah (herba) dan bunga yang terdiri atas seludang (spathe) dan tongkol (spadix). Umumnya hidup di tempat yang lembab dan terlindung, walaupun ada beberapa jenis yang mampu tumbuh di tempat kering dan terbuka. Ada yang hidup di darat (terestrial), seperti jenis-jenis Homalomena dan Schismatoglottis; mengapung di perairan (akuatik), seperti Pistia stratiotes L.; merambat pada pepohonan (epifit) seperti jenis-jenis Epipremnum dan Rhaphidophora; dan sebagainya (Mayo et al., 1997). Beberapa jenis di antaranya dimanfaatkan sebagai bahan makanan alternatif, contohnya dari jenis Colocasia esculenta (L.) Schott (talas), Amorphophallus paeoniifolius (Dennst.) Nicolson (suweg), dan Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott (keladi); sebagai tanaman hias karena berdaun dan berbunga indah, contohnya jenis-jenis Anthurium dan Alocasia; dan berkhasiat sebagai obat antibakteri, antioksidan, dan antikanker, yaitu Typhonium flagelliforme Blume (keladi tikus) (Mohan et al., 2008; Mayo et al., 1997). Kawasan beriklim tropik seperti Indonesia merupakan habitat yang sangat cocok bagi tumbuhan ini. Sekitar 90% marga dan 95% jenis Araceae hidup di kawasan tropik. Keluarga ini mempunyai 105 marga dan lebih dari jenis di seluruh dunia (Mayo et al., 1997). Hingga kini, di Indonesia belum memiliki data yang 2

15 pasti, baik tentang jumlah jenis maupun marga dari suku Araceae. Berdasarkan pangkalan data sebaran tumbuhan Araceae sedunia di situs (per Desember 2011), terdapat 297 spesies suku Araceae di Borneo (termasuk Kalimantan), 159 spesies di Sumatra, 49 spesies di Sulawesi, 22 spesies di Kepulauan Sunda Kecil (termasuk Bali dan Nusa Tenggara), 67 spesies di Jawa, 35 spesies di Maluku, dan 114 spesies di Papua-New Guinea (termasuk Papua) (Haigh et al., 2009). Mengacu pada data tersebut secara geografis Pulau Bali tergolong ke dalam kawasan Kepulauan Sunda Kecil (Lesser Sunda Island) yang memiliki 22 spesies Araceae dan 14 marga (Tabel 1). Tabel 1. Daftar Jenis Araceae yang Tersebar di Kepulauan Sunda Kecil (termasuk Bali) No. Nama Ilmiah 1. Aglaonema simplex (Blume) Blume 2. Alocasia macrorrhizos (L.) G.Don 3. Amorphophallus muelleri Blume 4. Amorphophallus paeoniifolius (Dennst.) Nicolson 5. Apoballis rupestris (Zoll. & Moritzi ex Zoll.) S.Y.Wong & P.C.Boyce 6. Arisaema inclusum (N.E.Br.) N.E.Br. ex B.D.Jacks. 7. Arisaema laminatum Blume 8. Arisaema microspadix Engl. 3

16 No. Nama Ilmiah 9. Arisaema ramulosum Alderw. 10. Epipremnum pinnatum (L.) Engl. 11. Homalomena pendula (Blume) Bakh.f. 12. Lemna aequinoctialis Welw. 13. Pothos scandens L. 14. Rhaphidophora floresensis P.C.Boyce 15. Rhaphidophora montana (Blume) Schott 16. Rhaphidophora puberula Engl. 17. Rhaphidophora sylvestris (Blume) Engl. 18. Schismatoglottis calyptrata (Roxb.) Zoll. & Moritzi 19. Spirodela polyrrhiza (L.) Schleid. 20. Typhonium flagelliforme (Lodd.) Blume 21. Typhonium roxburghii Schott 22. Wolffia globosa (Roxb.) Hartog & Plas Sumber: per Desember Berdasarkan studi lapangan, penelusuran data dari laporanlaporan perjalanan Kebun Raya Eka Karya, koleksi tumbuhan, dan spesimen herbarium, tercatat 21 spesies Araceae yang tersebar di Pulau Bali (Tabel 2). Jumlah ini terbagi ke dalam 18 spesies Araceae yang sudah teridentifikasi sampai level jenis dan tiga spesies yang teridentifikasi hingga level marga. 4

17 Tabel 2. Jenis-jenis Tumbuhan Araceae di Pulau Bali No. Nama Ilmiah 1. Aglaonema simplex (Blume) Blume 2. Alocasia longiloba Miq. 3. Alocasia macrorrhizos (L.) G.Don 4. Alocasia sp Alocasia sp Amorphophallus muelleri Blume 7. Amorphophallus paeoniifolius (Dennst.) Nicolson 8. Amorphophallus variabilis Blume 9. Arisaema filiforme (Reinw.) Blume 10. Colocasia esculenta (L.) Schott 11. Colocasia gigantea (Blume) Hook.f. 12. Epipremnum pinnatum (L.) Engl. 13. Homalomena cordata Schott 14. Rhaphidophora sp. 15. Remusatia vivipara (Roxb.) Schott 16. Schismatoglottis calyptrata (Roxb.) Zoll. & Moritzi 17. Scindapsus hederaceus Miq. 18. Scindapsus sp. 19. Typhonium blumei Nicolson & Sivad. 20. Typhonium flagelliforme (Lodd.) Blume 21. Typhonium horsfieldii (Miq.) Steenis 22. Typhonium roxburghii Schott 5

18 Lebih dari 50% atau 13 spesies di antaranya merupakan catatan baru bagi Pulau Bali, yaitu Alocasia longiloba, Alocasia sp. 1, Alocasia sp. 2, Amorphophallus variabilis, Arisaema filiforme, Colocasia esculenta, C. gigantea, Homalomena cordata, Remusatia vivipara, Scindapsus hederaceus, Scindapsus sp., Typhonium blumei, dan T. horsfieldii. Ketiga belas jenis tersebut tidak tertera dalam daftar jenis Araceae di kawasan Kepulauan Sunda Kecil (Tabel 1). C. esculenta, yang dikenal secara luas sebagai tanaman budi daya, sedangkan spesies liarnya masih dapat ditemukan di kawasan hutan di Pulau Bali. Kab. Buleleng Kab. Bangli Kab. Negara Kab. karangasem Kab. tabanan Kab. badung Kab. klungkung Kab. Gianyar kota. denpasar Gambar 1. Pulau Bali 6

19 Morfologi Dilihat dari penampakan morfologi, suku ini memiliki variasi bentuk yang beragam, baik daun dan bunganya. Secara umum, daun dibedakan menjadi dua bagian, yaitu bagian anterior dan posterior. Bagian anterior adalah helaian daun yang mengelilingi ibu tulang daun, sedangkan bagian posterior adalah helaian daun yang melebar ke bawah dan terletak di kedua sisi tempat melekatnya tangkai daun pada helaian daun. Pada umumnya helaian daun Araceae memiliki bagian anterior yang lebih besar dari posterior, misalnya dari marga Alocasia, Colocasia, Homalomena, Remusatia, dan Schismatoglottis. Akan tetapi, ada pula yang hanya memiliki bagian anterior saja tanpa bagian posterior, seperti pada Aglaonema, Epipremnum, beberapa Homalomena dan Scindapsus, atau ada pula yang bagian posteriornya lebih besar dari anteriornya seperti Typhonium horsfieldii. Daun pada suku ini memiliki bentuk, pola, warna, dan ukuran yang beragam dari ukuran kecil hingga berukuran besar dan dari bentuk yang sederhana seperti pita, elips, bulat telur, perisai, anak panah, dan berbelah seperti pada marga Epipremnum hingga bentuk yang kompleks seperti pada marga Amorphophallus. 7

20 Gambar 2. Bentuk-bentuk daun Araceae (Mayo et al, 1997) Araceae selain memiliki variasi daun, juga memiliki variasi bunga yang beragam dan unik. Bunga atau tepatnya perbungaan terdiri atas dua bagian, yaitu bagian seludang yang berupa helaian dan bagian tongkol yang terdiri atas susunan bunga berukuran sangat kecil dan berjumlah banyak. Keragaman variasi bunga 8

21 ini tampak pada bentuk dan warna seludang, di antaranya ada yang seludangnya tampak terbagi menjadi dua bagian, ada pula yang hanya satu bagian. Seludang memiliki variasi warna yang beragam dan terkadang dihiasi bercak warna yang berlainan. Jika kita buka bagian seludang maka kita bisa melihat bagian tongkol bunga yang memiliki aneka bentuk dan warna yang berbeda. Pada bagian inilah kita bisa membedakan antara jenis yang satu dengan yang lainnya dan menjadi salah satu penanda yang penting untuk keperluan identifikasi jenis. Secara garis besar bunga Araceae terbagi menjadi dua tipe bunga, yaitu bunga banci dan tidak banci. Dikatakan bunga banci karena pada tongkol bunga memiliki dua kelamin yang matang secara bergantian (tidak bersamaan), biasanya bunga betina lebih dahulu matang dan diikuti bunga jantan yang matang. Tipe ini dapat dijumpai pada jenis-jenis Anthurium, Epipremnum, Rhaphidophora, Scindapsus, dan Spathiphyllum. Tipe bunga tidak banci adalah tipe bunga yang zona kelaminnya sudah terpisah menjadi dua. Kelompok bunga jantan terletak di bagian atas, sedangkan kelompok bunga betina terdapat di bawahnya dan terkadang terdapat zona steril yang memisahkan kedua zona tersebut (Mayo et al., 1997). Pada umumnya tipe bunga ini terdapat pada sebagian besar anggota suku Araceae. 9

22 Spadik Flowers Stipe Spathe Spathe constriction Spathe tube Peduncle a. b. Spathe blade Male zone Sterile zone Female zone Stipe Peduncle Gambar 3. Bentuk bunga Araceae (a) bunga banci; (b) bunga tidak banci. (Mayo et al, 1997) et al Habitat Araceae memiliki rentang hidup yang luas, kecuali pada tempat tempat yang ekstrem. Umumnya, di alam Araceae ditemukan pada 3 habitat, yaitu hidup di daratan, di perairan, dan hidup epifit. Sebagian besar suku ini hidup di daratan, baik pada lantai hutan, pinggir sungai maupun bebatuan. Jenis yang hidup di air biasanya ada yang mengapung, tenggelam, ataupun separuh terendam air. Sementara itu, yang epifit hidup merambat pada pepohonan, seperti Epipremnum, Rhaphidophora, Photos, dan Scindapsus (Yuzammi dan Tim Flona, 2007). Suku ini biasanya tumbuh sepanjang tahun, namun ada pula yang mengalami fase 10

23 istirahat (dormansi) pada musim tertentu. Contoh marga yang dapat mengalami masa dormansi adalah Alocasia, Arisaema, Amorphophallus, Caladium, dan spesies-spesies Araceae yang berumbi atau rhizoma lainnya. Spesies tersebut mengalami fase istirahat pada musim kemarau dan tumbuh kembali pada awal musim penghujan. Mekanisme dormansi ini terjadi sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan yang kurang baik. Gambar 4. Araceae yang habitatnya di daratan 11

24 Gambar 5. Araceae yang habitatnya bersifat epifit (merambat) Gambar 6. Araceae yang habitatnya hidup di air 12

25 Jenis jenis Araceae di Pulau Bali Aglaonema simplex (Blume) Blume Alocasia longiloba Miq. Alocasia macrorrhizos (L.) G.Don Alocasia sp. 1 Alocasia sp. 2 Amorphophallus muelleri Blume Amorphophallus paeoniifolius (Dennst.) Nicolson Amorphophallus variabilis Blume Arisaema filiforme (Reinw.) Blume Colocasia esculenta (L.) Schott Colocasia gigantea (Blume) Hook.f. Epipremnum pinnatum (L.) Engl. Homalomena cordata Schott Rhaphidophora sp. Remusatia vivipara (Roxb.) Schott Schismatoglottis calyptrata (Roxb.) Zoll. & Moritzi Scindapsus hederaceus Miq. Scindapsus sp. Typhonium blumei Nicolson & Sivad. Typhonium flagelliforme (Lodd.) Blume Typhonium horsfieldii (Miq.) Steenis Typhonium roxburghii Schott 13

26 Aglaonema simplex (Blume) Blume Tinggi dapat mencapai 100 cm, berbatang putih abuabu. Daun berbentuk elips hingga memanjang, berwarna hijau polos, seperti kulit. Seludang bunga berwarna hijau kekuningan, panjang tongkol 5 7 cm dengan buah masak berwarna merah. Sebaran: Dewasana (Jembrana); Gitgit (Buleleng), Perean (Tabanan). Habitat: Tumbuh pada lantai hutan sekunder dan primer, terlindung, tumbuh pada tanah berhumus, pada ketinggian m dpl. Persebaran Gambar 7. Sebaran Aglaonema simplex (Blume) blume di Pulau Bali 14

27 Gambar 8. Aglaonema simplex 15

28 Gambar 9. Pembungaan Aglaonema simplex Gambar 10. Anomali tongkol bunga Aglaonema simplex 16

29 Alocasia longiloba Miq. Tinggi dapat mencapai lebih dari 100 cm; daun berbentuk perisai, seperti kulit; daun bagian atas berwarna hijau tua mengkilat dengan bagian tulang daun bagian atas berwarna putih-perak, memiliki variasi yang sangat beragam, dan tangkai daun berwarna hijau hingga ungu kecokelatan. Sebaran: Negara (Jembrana). Habitat: Tumbuh terlindung di lantai hutan, dekat aliran sungai, pada ketinggian m dpl. Persebaran Gambar 11. Sebaran Alocasia longiloba Miq. di Pulau Bali 17

30 Gambar 12. Alocasia longiloba Miq. 18

31 Gambar 13. Morfologi Alocasia longiloba Miq. muda Gambar 14. Penampang permukaan bawah daun Alocasia longiloba Miq. 19

32 Gambar 15. Pangkal tangkai daun Alocasia longiloba Miq. 20

33 Alocasia macrorrhizos (L.) G.Don Tinggi mencapai lebih dari 100 cm, daun tegak, kaku, berbentuk anak panah, daun dan tangkai memiliki beragam warna, seperti hijau, ungu, dan percampuran hijau ungu. Seludang bunga berwarna hijau atau ungu, berukuran besar dan kokoh. Sebaran: Di seluruh Pulau Bali. Habitat: Menyukai tempat terbuka pada ketinggian m dpl. Tumbuhan ini banyak digunakan sebagai tanaman hias sehingga ditemukan juga di pekarangan rumah dan tersebar alami di tegalan. Persebaran Gambar 16. Sebaran Alocasia macrorrhizos (L) G.Don di Pulau Bali 21

34 Gambar 17. Alocasia macrorrhizos (L) G.Don 22

35 Gambar 18. Penampang permukaan bawah daun Alocasia macrorrhizos (L) G.Don 23

36 Gambar 19. Pangkal tangkai Alocasia macrorrhizos (L) G.Don yang berwarna hijau 24

37 Gambar 20. Alocasia macrorrhizos dengan batang dan tulang daun berwarna ungu serta daun berwarna hijau 25

38 Gambar 21. Alocasia macrorrhizos dengan daun, tulang daun, dan batang berwarna ungu 26

39 Gambar 22. Pangkal tangkai daun Alocasia macrorrhizos yang berwarna ungu dengan daun berwarna hijau 27

40 Gambar 23. Pangkal tangkai daun Alocasia macrorrhizos berwarna ungu Gambar 24. Penampang dalam bunga Alocasia macrorrhizos Gambar 25. Pembungaan Alocasia macrorrhizos 28

41 Alocasia sp. 1 Tinggi mencapai 75 cm dan dapat mencapai tinggi lebih dari 100 cm, kokoh, daun berbentuk membulat, agak kaku, berwarna hijau, tangkai hijau keunguan. Seludang bunga berwarna hijau-hijau muda, tongkol dengan bunga berwarna putih. Sebaran: Bukit Pengelengan (Buleleng), Munduk Pengubengan (Karangasem) Habitat: Tumbuh di hutan alam, pada tempat terlindung, berhumus, pada ketinggian m dpl. Persebaran Gambar 26. Sebaran Alocasia sp. 1 di Pulau Bali 29

42 Gambar 27. Alocasia sp. 1 30

43 Gambar 28. Morfologi daun Alocasia sp. 1 Gambar 29. Permukaan bawah daun Alocasia sp. 1 31

44 Gambar 30. Bunga Alocasia sp. 1 Gambar 31. Tongkol Alocasia sp. 1 Gambar 32. Penampang dalam bunga Alocasia sp. 1 32

45 Alocasia sp. 2 Tinggi mencapai 60 cm, daun berbentuk perisai, seperti kulit, berwarna hijau, tangkai hijau tua. Sebaran: Gitgit (Buleleng) Habitat: Tumbuh pada tempat terlindung, pada tebing berbatu di dekat aliran sungai, pada ketinggian m dpl. Persebaran Gambar 33. Sebaran Alocasia sp. 2 di Pulau Bali 33

46 Gambar 34. Daun Alocasia sp. 2 muda 34

47 Gambar 35. Tangkai daun Alocasia sp. 2 35

48 Amorphophallus muelleri Blume Tinggi mencapai 150 cm, tangkai hijau bercorak putih tidak teratur atau garis vertikal, terdapat umbi berwarna cokelat pada tangkai daun. Seludang bunga sempit, lebih pendek dari tongkolnya. Buah berwarna merah. Sebaran: Negara (Jembrana), Lempuyang (Karangasem), Perean (Tabanan), Sukasada (Buleleng), Kintamani (Bangli). Habitat: Tumbuh pada tempat agak terlindung, pada ketinggian m dpl. Persebaran Gambar 36. Sebaran Amorphophallus muelleri Blume di Pulau Bali 36

49 Gambar 37. Amorphophallus muelleri Blume 37

50 Gambar 38. Daun Amorphophallus muelleri Blume 38

51 Gambar 39. Umbi Amorphophallus muelleri Blume pada tangkai daun Gambar 40. Corak batang Amorphophallus muelleri 39

52 Amorphophallus paeoniifolius (Dennst.) Nicolson Tinggi mencapai 150 cm,dengan dua varian, yaitu budi daya (tangkai halus) dan liar (tangkai kasar). Bunga mekar dekat dengan tanah, seludang besar berwarna merah hati, ujung tongkol berwarna cokelat dan berkerut, mengeluarkan bau busuk ketika mekar. Sebaran: Melaya dan Mendoyo (Jembrana), Kerambitan dan Perean (Tabanan), Banjar, dan Sukasada (Buleleng) serta Manggis (Karangasem). Habitat: Mudah ditemukan di semak belukar, tempat kering, atau pada daerah terbuka hingga agak terlindung pada ketinggian m dpl. Persebaran Gambar 41. Sebaran Amorphophallus paeoniifolius (Dennst.) Nicolson di Pulau Bali 40

53 Gambar 42. Amorphophallus paeoniifolius (Dennst.) Nicolson 41

54 Gambar 43. Corak batang Amorphophallus paeoniifolius (Dennst.) Nicolson 42

55 Amorphophallus variabilis Blume Tinggi mencapai 100 cm, tangkai halus, beragam warna, putih atau cokelat muda dengan corak tidak beraturan, relatif lebih kecil dibanding Amorphophallus muelleri dan A. paeoniifolius. Seludang bunga sempit panjang, kecil, berwarna putih; Tongkol bunga kecil dan panjang, jauh lebih panjang dari seludangnya. Sebaran: Gitgit dan Sukasada (Buleleng), Manggis (Karangasem), dan Dewasana (Jembrana). Habitat: Tumbuh di tempat terlindung atau terbuka pada ketinggian m dpl. Persebaran Gambar 44. Sebaran Amorphophallus variabilis Blume di Pulau Bali 43

56 Gambar 45. Amorphophallus variabilis Blume 44

57 Gambar 46. Daun Amorphophallus variabilis Blume 45

58 Gambar 47. Corak batang Amorphophallus variabilis Blume 46

59 Arisaema filiforme (Reinw.) Blume Tinggi kurang dari 50 cm, beranak daun tiga, tangkai cokelat tua, seludang bunga berwarna keunguan, seperti kantung, dan tongkol bunga kecil, berwarna kuning. Sebaran: Cagar Alam Batukahu dan Baturiti (Tabanan), Bukit Pengelengan dan Sukasada (Buleleng). Habitat: Tumbuh liar terlindung di hutan, muncul pada saat musim hujan, tanah berhumus/berseresah tebal, pada kisaran m dpl. Persebaran Gambar 48. Sebaran Arisaema filiforme (Reinw.) Blume di Pulau Bali 47

60 Gambar 49. Arisaema filiforme (Reinw.) Blume 48

61 Gambar 50. Penampang dalam bunga Arisaema filiforme (Reinw.) Blume 49

62 Gambar 51. Corak batang Arisaema filiforme (Reinw.) Blume 50

63 Colocasia esculenta (L.) Schott Tumbuh bisa mencapai 100 cm, daun seperti perisai, memiliki banyak varian warna daun dan tangkai, dikenal luas dengan nama talas. Seludang bunga bervarisasi antara kuning, putih, dan hijau. Sebaran: Di seluruh Pulau Bali. Habitat: Tumbuh pada tempat terbuka hingga agak terlindung pada ketinggian m dpl. Tumbuhan ini memiliki banyak kultivar yang tersebar alami di tegalan maupun pekarangan penduduk. Akan tetapi, jenis liarnya banyak ditemukan di lantai hutan sekunder. Persebaran Gambar 52. Sebaran Colocasia esculenta (L.) Schott di Pulau Bali 51

64 Gambar 53. Colocasia esculenta (L.) Schott 52

65 Gambar 54. Bunga Colocasia esculenta dengan serangga penyerbuknya 53

66 Gambar 55. Bunga Colocasia esculenta Gambar 56. penampang dalam bunga Colocasia esculenta 54

67 Colocasia gigantea (Blume) Hook.f. Tinggi mencapai 300 cm, daun berukuran sangat besar, lebih kokoh dibanding C. esculenta. Seludang bunga berwarna putih dan hijau. Sebaran: Melaya dan Dauh waru (Jembrana), Sukasada (Buleleng), Manggis (Karangasem). Habitat: Tumbuh di tempat terbuka, pada ketinggian m dpl. Persebaran Gambar 57. Sebaran Colocasia gigantea (Blume) Hook.f. di Pulau Bali 55

68 Gambar 58. Tinggi Colocasia gigantea (Blume) Hook.f. bisa melebihi tinggi manusia dewasa Gambar 59. Alocasia gigantea (Blume) Hook.f. 56

69 Gambar 60. Pembungaan Alocasia gigantea (Blume) Hook.f. Gambar 61. Pembungaan Alocasia gigantea (Blume) Hook.f. 57

70 Epipremnum pinnatum (L.) Engl. Epifit, daun muda berbentuk seperti anak panah hingga lonjong, daun dewasa menjadi terbelah mendekati ibu tulang daun, sering kali berlubang kecil secara alami. Sebaran: Cagar Alam Batukahu (Tabanan), Dauhwaru (Jembrana), Plaga (Badung), Bukit Pengelengan dan Sukasada (Buleleng). Habitat: Tumbuh merambat pada pohon, pada ketinggian m dpl. Persebaran Gambar 62. Sebaran Epipremnum pinnatum (L.) Engl. di Pulau Bali 58

71 Gambar 63. Epipremnum pinnatum (L.) Engl. 59

72 Gambar 64. Epipremnum pinnatum muda 60

73 Gambar 65. Epipremnum pinnatum dengan akar rambatnya 61

74 Homalomena cordata Schott Daun berbentuk hati, beraroma ketika daun diremas, tangkai berwarna hijau hingga kemerahan, seludang bunga berwarna hijau hingga ungu kemerahan. Sebaran: Di seluruh Pulau Bali. Habitat: Tumbuh pada tempat terlindung, sering kali di hutan atau tepi sungai, pada ketinggian m dpl. Persebaran Gambar 66. Sebaran Homalomena cordata Schott di Pulau Bali 62

75 Gambar 67. Homalomena cordata Schott Gambar 68. Homalomena cordata Schott 63

76 Gambar 70. Bentuk daun Homalomena cordata Schott Gambar 69. Tongkol bunga Homalomena cordata Schott Gambar 71. Pembungaan Homalomena cordata Schott 64

77 Remusatia vivipara (Roxb.) Schott e-book Tinggi mencapai 50 cm. Daun seperti perisai, agak kaku, tulang daun berwarna hijau muda putih tampak kontras dengan warna helaian daun yang hijau mengkilat, memiliki stolon tegak berbuku-buku, di dalamnya ada semacam umbi (bulbil). Bulbil tersebut memiliki duri halus yang berguna sebagai alat persebaran. Remusatia vivapara (Roxb.) Schott berkembang biak melalui bulbil sehingga jenis ini biasa disebut vivipar. Sebaran: Cagar Alam Batukahu (Tabanan), Gesing, Gitgit, Bukit Silangjana, dan Bukit Pengelengan (Buleleng) serta Penelokan (Bangli). Habitat: Tumbuh di hutan pada tempat yang terlindung, pada humus yang tebal, pada tebing tebing basah, dan sering kali tumbuh pada percabangan pohon yang berhumus, dapat ditemukan pada ketinggian m dpl. Persebaran Gambar 72. Sebaran Remusatia vivipara (Roxb.) Schott di Pulau Bali 65

78 Gambar 73. Bunga Remusatia vivipara (Roxb.) Schott 66

79 Gambar 74. Daun Remusatia vivipara (Roxb.) Schott 67

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari sebuah akar tunggang yang terbentuk dari calon akar,

Lebih terperinci

Bagian-Bagian Tumbuhan dan Fungsinya IPA SD Kelas IV

Bagian-Bagian Tumbuhan dan Fungsinya IPA SD Kelas IV Materi Pembelajaran Ringkasan Materi: Bagian-Bagian Tumbuhan dan Fungsinya IPA SD Kelas IV Berikut ini adalah pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) untuk Sekolah Dasar kelas IV yaitu tentang bagian-bagian

Lebih terperinci

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA PULAU BALI 1. Letak Geografis, Batas Administrasi, dan Luas Wilayah Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8 3'40" - 8 50'48" Lintang Selatan dan 114 25'53" -

Lebih terperinci

F. Kunci Identifikasi Bergambar kepada Bangsa

F. Kunci Identifikasi Bergambar kepada Bangsa MILLI-PEET, kunci identifikasi dan diagram alur, Page 1 F. Kunci Identifikasi Bergambar kepada Bangsa 1A Tubuh lunak, tergit mengandung rambut seperti kuas atau rambut sikat, sepasang kuas terdapat bagian

Lebih terperinci

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh

Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh Hercules si Perusak Tanaman Pala dan Cengkeh I. Latar Belakang Tanaman pala merupakan tanaman keras yang dapat berumur panjang hingga lebih dari 100 tahun. Tanaman pala tumbuh dengan baik di daerah tropis.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kelas: Monocotyledoneae. Familia: Poaceae.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kelas: Monocotyledoneae. Familia: Poaceae. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Klasifikasi dan Morfologi Jagung Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kerajaan: Plantae Divisio: Angiospermae Kelas: Monocotyledoneae Ordo: Poales

Lebih terperinci

Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Teknologi Tepat Guna

Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Teknologi Tepat Guna Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Oleh Kharistya - http://kharistya.wordpress.com Teknologi Tepat Guna Teknologi tepat guna, mengutip dari wikipedia, merupakan teknologi

Lebih terperinci

Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118

Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia Agung Wahyu Susilo 1) 1) Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Keberadaan hama penggerek buah

Lebih terperinci

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus:

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus: 108 4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen Tujuan Intruksional Khusus: Setelah mengikuti course content ini mahasiswa dapat menjelaskan kriteria, komponen dan cara panen tanaman semusim dan tahunan

Lebih terperinci

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO DINAS PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN JL. RAYA DRINGU 81 TELPON 0335-420517 PROBOLINGGO 67271 MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU Oleh

Lebih terperinci

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR)

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) Benteng, Selayar 22-24 Agustus 2006 TRANSPLANTASI KARANG Terumbu

Lebih terperinci

Mengenal Wakil Anda di DPRD Provinsi Bali

Mengenal Wakil Anda di DPRD Provinsi Bali Mengenal Wakil Anda di DPRD Provinsi Bali 2009 KOMPOSISI PIMPINAN DPRD PROVINSI BALI Ketua Wakil KetuaI Wakil Ketua II Wakil Ketua III : AA. Ngurah Oka Ratmadi, SH : I Ketut Suwandhi, S. Sos : I Gusti

Lebih terperinci

Setiap organisme dikenali berdasar nama

Setiap organisme dikenali berdasar nama Identifikasi Tumbuhan Ahmad Shobrun Jamil, S.Si, Si MP. Pengantar Setiap organisme dikenali berdasar nama Masing masing punya nama Masing masing punya nama spesifik... Kita biasa membayangkan satu bentuk

Lebih terperinci

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya juga memiliki

Lebih terperinci

Mengenal Gulma di Pertanaman Tebu

Mengenal Gulma di Pertanaman Tebu Mengenal Gulma di Pertanaman Tebu Gulma tumbuh di sela barisan tanaman tentu merupakan pemandangan yang seringkali terlihat di lahan tebu. Meskipun lumrah namun keberadaannya ternyata cukup mengganggu,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunitas Tumbuhan Bawah Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupannya

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN PARI MANTA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN PARI MANTA KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN PARI MANTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

- 2 - Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2013 MENTERl KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. SHARIF C. SUTARDJO

- 2 - Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 20 Mei 2013 MENTERl KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, ttd. SHARIF C. SUTARDJO KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/KEPMEN-KP/2013 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN HIU PAUS (Rhincodon typus) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

LAMPIRAN Lampiran 1. Prosedur Pembuatan Ekstrak Cabai Rawit

LAMPIRAN Lampiran 1. Prosedur Pembuatan Ekstrak Cabai Rawit 37 LAMPIRAN Lampiran 1. Prosedur Pembuatan Ekstrak Cabai Rawit Pembuatan ektrak dilakukan di Laboratorium Farmasi Institut Teknologi Bandung Simplisia yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cabai rawit

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

Kulit masohi SNI 7941:2013

Kulit masohi SNI 7941:2013 Standar Nasional Indonesia ICS 65.020.99 Kulit masohi Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini

Lebih terperinci

MENGINDENTIFIKASI TANGAN, KAKI DAN KUKU

MENGINDENTIFIKASI TANGAN, KAKI DAN KUKU KEGIATAN BELAJAR I MENGINDENTIFIKASI TANGAN, KAKI DAN KUKU A. LEMBAR INFORMASI 1. Anatomi Kuku (Onyx ) Keadaan kuku seperti halnya keadaan kulit, dapat menentukan kesehatan umum dari badan. Kuku yang sehat

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. (tumbuhan), Divisi: Tracheophyta, Kelas: Magnoliophyta, Ordo: Leguminales,

II. TINJAUAN PUSTAKA. (tumbuhan), Divisi: Tracheophyta, Kelas: Magnoliophyta, Ordo: Leguminales, II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Tanaman Kacang Tanah 2.1.1. Botani Tanaman Kacang Tanah Berdasarkan klasifikasi tanaman kacang tanah terdiri atas Kingdom: Plantae (tumbuhan), Divisi: Tracheophyta, Kelas: Magnoliophyta,

Lebih terperinci

JENIS-JENIS POHON DI SEKITAR MATA AIR DATARAN TINGGI DAN RENDAH (Studi Kasus Kabupaten Malang)

JENIS-JENIS POHON DI SEKITAR MATA AIR DATARAN TINGGI DAN RENDAH (Studi Kasus Kabupaten Malang) JENIS-JENIS POHON DI SEKITAR MATA AIR DATARAN TINGGI DAN RENDAH (Studi Kasus Kabupaten Malang) Siti Sofiah dan Abban Putri Fiqa UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi-LIPI Jl. Raya Surabaya

Lebih terperinci

RISET KESEHATAN DASAR 2010 ( RISKESDAS 2010 ) DAFTAR SAMPEL BLOK SENSUS

RISET KESEHATAN DASAR 2010 ( RISKESDAS 2010 ) DAFTAR SAMPEL BLOK SENSUS DAFTAR SENSUS 01 JEMBRANA KLASIFIKASI MOR MOR 010 MELAYA 004 TUWED 2 005B 100018 2 DUSUN MUNDUK BAYUR ASHADI 020 NEGARA 013 LELATENG 1 029B 105081 3 LINGKUNGAN KETAPANG I GST NGR PUTRA 021 JEMBRANA 001

Lebih terperinci

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan

Lebih terperinci

BAB VII PENGHIJAUAN JALAN

BAB VII PENGHIJAUAN JALAN BAB VII PENGHIJAUAN JALAN Materi tentang penghijauan jalan atau lansekap jalan, sebagian besar mengacu buku "Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan No.033/TBM/1996" merupakan salah satu konsep dasar

Lebih terperinci

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI

DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI DATA DAN INFORMASI KEHUTANAN PROPINSI BALI KATA PENGANTAR Booklet Data dan Informasi Propinsi Bali disusun dengan maksud untuk memberikan gambaran secara singkat mengenai keadaan Kehutanan di Propinsi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, SALINAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEMBRANA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG LAMBANG DAERAH KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah Kabupaten Jembrana

Lebih terperinci

USAHA KEBUN KAYU DENGAN JENIS POHON CEPAT TUMBUH

USAHA KEBUN KAYU DENGAN JENIS POHON CEPAT TUMBUH USAHA KEBUN KAYU DENGAN JENIS POHON CEPAT TUMBUH Atok Subiakto PUSKONSER, Bogor Antusias masyarakat menanam jabon meningkat pesat Mudah menanamnya Dapat ditanam dimana saja Pertumbuhan cepat Harga kayu

Lebih terperinci

SUATU PANDUAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI IKAN-IKAN PARUH PANJANG DI LAPANGAN

SUATU PANDUAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI IKAN-IKAN PARUH PANJANG DI LAPANGAN SUATU PANDUAN UNTUK MENGIDENTIFIKASI IKAN-IKAN PARUH PANJANG DI LAPANGAN Sumber informasi di presentasi ini: A Field Guide to the Indo-Pacific Billfishes Julian Pepperell and Peter Grewe (1999) Beberapa

Lebih terperinci

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme :

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme : TANAH Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah Hubungan tanah dan organisme : Bagian atas lapisan kerak bumi yang mengalami penghawaan dan dipengaruhi oleh tumbuhan

Lebih terperinci

Tanaman Yang Kurang Dimanfaatkan: Cara Untuk Mengidentifikasikan

Tanaman Yang Kurang Dimanfaatkan: Cara Untuk Mengidentifikasikan Tanaman Yang Kurang Dimanfaatkan: Cara Untuk Mengidentifikasikan Shining the light on local food knowledge By Abram Bicksler, Rick Burnette, and Ricky Bates Pengurangan Keragaman Hayati Spesies Tanaman

Lebih terperinci

Deskripsi Padi Varietas Cigeulis Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Deskripsi Padi Varietas Cigeulis Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Deskripsi Padi Varietas Cigeulis Informasi Ringkas Bank Pengetahuan Padi Indonesia Sumber: Balai Besar Penelitian Tanaman Padi 2008 Nama Varietas Tahun Tetua Rataan Hasil Pemulia Golongan Umur tanaman

Lebih terperinci

Tali Satin RANGKAIAN BUNGA OLGA JUSUF. dari

Tali Satin RANGKAIAN BUNGA OLGA JUSUF. dari RANGKAIAN BUNGA dari Tali Satin OLGA JUSUF RANGKAIAN BUNGA dari Tali Satin Penerbit PT Gramedia pustaka Utama Jakarta oleh: OLGA JUSUF GM 210 01100049 Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Kompas Gramedia

Lebih terperinci

PROVINSI BALI. Tanah Lot

PROVINSI BALI. Tanah Lot PROVINSI BALI BY: SUVI Pantai Kuta (Atas) Garuda Wisnu Kencana Pantai Nusa dua (Bawah) Ada patung yang sangat gede, patung itu berwarna biru campur sama abu abu. Ada orang yang melihat patung itu. Ada

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT UNTUK BUDIDAYA KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

BAB III ZAMAN PRASEJARAH

BAB III ZAMAN PRASEJARAH 79 BAB III ZAMAN PRASEJARAH Berdasarkan geologi, terjadinya bumi sampai sekarang dibagi ke dalam empat zaman. Zaman-zaman tersebut merupakan periodisasi atau pembabakan prasejarah yang terdiri dari: A.

Lebih terperinci

S E H A T, L E Z A T, & P R A K T I S MENU LENGKAP CITA RASA

S E H A T, L E Z A T, & P R A K T I S MENU LENGKAP CITA RASA masak! idemasak S E H A T, L E Z A T, & P R A K T I S MENU LENGKAP CITA RASA DAPUR BORNEO prakata Dapur Borneo adalah aneka resep masakan yang berasal dari daerah Kalimantan wilayah Indonesia. Ini mencakup,

Lebih terperinci

Kayu gergajian Bagian 1: Istilah dan definisi

Kayu gergajian Bagian 1: Istilah dan definisi Standar Nasional Indonesia Kayu gergajian Bagian 1: Istilah dan definisi ICS 79.040 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah

Lebih terperinci

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab Bab IX Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi Sumber: hiemsafiles.wordpress.com Gb.9.1 Lembah dan pegunungan merupakan contoh bentuk muka bumi Perlu kita ketahui bahwa bentuk permukaan bumi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting

Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting Keputusan Kepala Bapedal No. 56 Tahun 1994 Tentang : Pedoman Mengenai Dampak Penting Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Menimbang : Bahwa untuk melaksanakan Peraturan Pemerintah Nomor 51 Tahun

Lebih terperinci

Manfaat hutan kota diantaranya adalah sebagai berikut :

Manfaat hutan kota diantaranya adalah sebagai berikut : BENTUK DAN FUNGSI HUTAN KOTA 1. Bentuk Hutan Kota Pembangunan hutan kota dan pengembangannya ditentukan berdasarkan pada objek yang dilindungi, hasil yang dicapai dan letak dari hutan kota tersebut. Berdasarkan

Lebih terperinci

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA. Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008

PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA. Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT SEMANGKA Dr. M. SYUKUR, SP, MSi INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 Hama Penting Semangka Hama penting pada semangka: 1. Thrips (Thrips parvispinus Karny) 2. Ulat perusak daun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dibidang kehutanan saat ini terus ditingkatkan dan diarahkan untuk menjamin kelangsungan tersedianya hasil hutan, demi kepentingan pembangunan industri, perluasan

Lebih terperinci

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22 Dikenal sebagai nila merah taiwan atau hibrid antara 0. homorum dengan 0. mossombicus yang diberi nama ikan nila merah florida. Ada yang menduga bahwa nila merah merupakan mutan dari ikan mujair. Ikan

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN : BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1

MEMUTUSKAN : BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI JANUARI 2015

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI JANUARI 2015 No. 19/03/51/Th. IX, 2 Maret PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI JANUARI Kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pada bulan mencapai 301.748 orang, dengan wisman yang datang melalui bandara sebanyak

Lebih terperinci

Cover Page. The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation.

Cover Page. The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation. Cover Page The handle http://hdl.handle.net/1887/20260 holds various files of this Leiden University dissertation. Author: Becking, Leontine Elisabeth Title: Marine lakes of Indonesia Date: 2012-12-04

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.03/ MEN/2010 TENTANG TATA CARA PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN JENIS IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon)

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) Happy Mulya Balai Wilayah Sungai Maluku dan Maluku Utara Dinas PU Propinsi Maluku Maggi_iwm@yahoo.com Tiny Mananoma

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 : Prosedur Identifikasi Awan dengan Citra Satelit MTSAT

LAMPIRAN 1 : Prosedur Identifikasi Awan dengan Citra Satelit MTSAT LAMPIRAN 1 : Prosedur Identifikasi Awan dengan Citra Satelit MTSAT 1. Pengertian dasar identifikasi jenis awan dengan satelit Berbeda dengan pengamatan dari permukaan bumi, dimana pengamatan awan menggunakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1990 TENTANG KONSERVASI SUMBER DAYA ALAM HAYATI DAN EKOSISTEMNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber

Lebih terperinci

Karakterisasi dan Deskripsi Plasma Nutfah Kacang Panjang

Karakterisasi dan Deskripsi Plasma Nutfah Kacang Panjang Karakterisasi dan Deskripsi Plasma Nutfah Kacang Panjang Suryadi, Luthfy, Yenni Kusandriani, dan Gunawan Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang ABSTRACT To increase the variability of yard-long bean

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEKERASAN DAN WAKTU PEMECAHAN DAGING BUAH KAKAO (THEOBROMA CACAO L) 1) MUH. IKHSAN (G 411 9 272) 2) JUNAEDI MUHIDONG dan OLLY SANNY HUTABARAT 3) ABSTRAK Permasalahan kakao Indonesia

Lebih terperinci

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU Diarsi Eka Yani (diarsi@ut.ac.id) PS Agribisnis, FMIPA, Universitas Terbuka ABSTRAK Abrasi pantai yang terjadi

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI APRIL 2014

PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI APRIL 2014 PERKEMBANGAN PARIWISATA BALI APRIL 2014 35/06/51/Th. VIII, 2 Juni 2014 Kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Bali pada bulan 2014 mencapai 280.096 orang, dengan wisman yang datang melalui bandara

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL CIPTA KARYA NOMOR: 111/KPTS/CK/1993 TANGGAL 28 SEPTEMBER 1993 TENTANG: PEDOMAN PEMBANGUNAN BANGUNAN TAHAN GEMPA A. DASAR DASAR PERENCANAAN BANGUNAN TAHAN GEMPA

Lebih terperinci

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014

PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 No.50/08/71/Th.IX, 3 Agustus 2015 PRODUKSI CABAI BESAR, CABAI RAWIT, DAN BAWANG MERAH TAHUN 2014 PRODUKSI CABAI BESAR SEBESAR 5.451 TON, CABAI RAWIT SEBESAR 8.486 TON DAN BAWANG MERAH SEBESAR 1.242 TON

Lebih terperinci

PENGARUH SEBARAN SUHU UDARA DARI AUSTRALIA TERHADAP SUHU UDARA DI BALI. Oleh, Erasmus Kayadu

PENGARUH SEBARAN SUHU UDARA DARI AUSTRALIA TERHADAP SUHU UDARA DI BALI. Oleh, Erasmus Kayadu PENGARUH SEBARAN SUHU UDARA DARI AUSTRALIA TERHADAP SUHU UDARA DI BALI Oleh, Erasmus Kayadu BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Ngurah Rai Denpasar Bali 1. PENDAHULUAN Suhu udara di suatu tempat dapat mempengaruhi

Lebih terperinci

ANALISIS TEMPAT KERJA

ANALISIS TEMPAT KERJA II. ANALISIS TEMPAT KERJA Untuk dapat membuat rencana kerja yang realistis, rapi, dan teratur, sebelum menjatuhkan pilihan jenis alat yang akan digunakan, perlu dipelajari dan penelitian kondisi lapangan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Aspek Geografi Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu Kabupaten dalam Provinsi Sumatera Selatan yang secara geografis terletak

Lebih terperinci

Tetapi pemandangan sekitar yang indah dan udara yang begitu sejuk membuat para wisatawan tak jemu dengan perjalanan yang cukup menguras tenaga.

Tetapi pemandangan sekitar yang indah dan udara yang begitu sejuk membuat para wisatawan tak jemu dengan perjalanan yang cukup menguras tenaga. Wisata Alam merupakan salah satu pilihan wisata yang menarik bagi para wisatawan, baik wisatawan asing maupun wisatawan lokal. Bagi sebagian orang, wisata alam bisa di jadikan sebagai alternatif untuk

Lebih terperinci

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI Teknik Pembuatan Pupuk Bokashi @ 2012 Penyusun: Ujang S. Irawan, Senior Staff Operation Wallacea Trust (OWT) Editor: Fransiskus Harum, Consultant

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/PRT/M/2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/PRT/M/2015 TENTANG PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18/PRT/M/2015 TENTANG IURAN EKSPLOITASI DAN PEMELIHARAAN BANGUNAN PENGAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Perairan Indonesia merupakan perairan yang sangat unik karena memiliki keanekaragaman Cetacea (paus, lumba-lumba dan dugong) yang tinggi. Lebih dari sepertiga jenis paus

Lebih terperinci

RIAP POHON JENIS DAUN JARUM DAN POHON JENIS DAUN LEBAR MUHDI. Program Ilmu Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara I.

RIAP POHON JENIS DAUN JARUM DAN POHON JENIS DAUN LEBAR MUHDI. Program Ilmu Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara I. RIAP POHON JENIS DAUN JARUM DAN POHON JENIS DAUN LEBAR MUHDI Program Ilmu Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Terdapat dua kelompok pohon penghasil kayu komersil, yaitu

Lebih terperinci

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan Pasang Surut Penyusun IPG Widjaja-Adhi NP Sri Ratmini I Wayan Swastika Penyunting Sunihardi Setting & Ilustrasi Dadang

Lebih terperinci

ANALISIS VEGETASI HUTAN PRODUKSI TERBATAS BOLIYOHUTO PROVINSI GORONTALO

ANALISIS VEGETASI HUTAN PRODUKSI TERBATAS BOLIYOHUTO PROVINSI GORONTALO ANALISIS VEGETASI HUTAN PRODUKSI TERBATAS BOLIYOHUTO PROVINSI GORONTALO Marini Susanti Hamidun, Dewi Wahyuni K. Baderan Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan IPA Universitas Negeri GorontaloJalan Jendral

Lebih terperinci

Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT.

Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT. Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH Oleh : PT. Sari Bumi Kusuma PERKEMBANGAN HPH NASIONAL *) HPH aktif : 69 % 62% 55%

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03 TAHUN 2012 TENTANG TAMAN KEANEKARAGAMAN HAYATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-5 1 Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta Dwitanti Wahyu Utami dan Retno Indryani Jurusan Teknik

Lebih terperinci

Mengenal kaki seribu secara mudah

Mengenal kaki seribu secara mudah A. Pendahuluan MILLI-PEET, kunci identifikasi dan diagram alur Mengenal kaki seribu secara mudah Kelas Diplopoda atau yang dikenal dengan luing (keluing) ataupun lintibang, mempunyai anggota yang sangat

Lebih terperinci

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA SISTEM INFORMASI IDENTIFIKASI IKAN BERBASIS WEBSITE. Bidang Kegiatan : PKM Gagasan Tertulis.

PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA SISTEM INFORMASI IDENTIFIKASI IKAN BERBASIS WEBSITE. Bidang Kegiatan : PKM Gagasan Tertulis. i PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA SISTEM INFORMASI IDENTIFIKASI IKAN BERBASIS WEBSITE Bidang Kegiatan : PKM Gagasan Tertulis Diusulkan Oleh : Nimas Utariningsih Precia Anita Andansari (C24080077/2008) (C24080029/2008)

Lebih terperinci

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya

Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya Undang Undang No. 5 Tahun 1990 Tentang : Konservasi Sumberdaya Alam Hayati Dan Ekosistemnya Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 5 TAHUN 1990 (5/1990) Tanggal : 10 AGUSTUS 1990 (JAKARTA) Sumber :

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai

BAB 1 PENDAHULUAN. Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah kersen merupakan buah yang keberadaannya sering kita jumpai di mana-mana. Biasanya banyak tumbuh di pinggir jalan, retakan dinding, halaman rumah, bahkan di kebun-kebun.

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.63/Menhut-II/2013 TENTANG TATA CARA MEMPEROLEH SPESIMEN TUMBUHAN DAN SATWA LIAR UNTUK LEMBAGA KONSERVASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

Sabtu, 1 Desember 2012

Sabtu, 1 Desember 2012 BlanKonf #4 Desain Grafis Sabtu, 1 Desember 2012 princeofgiri@di.blankon.in @princeofgiri Komponen Desain Grafis Garis Bentuk (Shape) Warna Ilustrasi / Gambar Huruf (Teks) / Tipografi Ruang (Space) Garis

Lebih terperinci

FISIOLOGI TUMBUHAN 5 Reproduksi Tumbuhan. Delayota Science Club April 2011

FISIOLOGI TUMBUHAN 5 Reproduksi Tumbuhan. Delayota Science Club April 2011 FISIOLOGI TUMBUHAN 5 Reproduksi Tumbuhan Delayota Science Club April 2011 Reproduksi Tumbuhan Tumbuhan melakukan perkembangbiakan (reproduksi) sebagai bagian dari siklus hidupnya. Reproduksi tumbuhan dibagi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Fokusnya adalah

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Fokusnya adalah 33 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif-kualitatif. Fokusnya adalah penggambaran secara menyeluruh tentang bentuk, fungsi, dan makna ungkapan

Lebih terperinci

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS Hasil kajian dan analisis sesuai dengan tujuan dijelaskan sebagai berikut: 1. Profil Koperasi Wanita Secara Nasional Sebagaimana dijelaskan pada metodologi kajian ini maka

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan - 2011

Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan - 2011 Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan - 2011 Sekilas Tentang Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Padekanmalang, Situbondo - Jawa Timur SEKILAS TENTANG Kawasan Hutan Dengan Tujuan

Lebih terperinci

KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung

KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung MODUL PELATIHAN KONSTRUKSI DINDING BAMBU PLASTER Oleh Andry Widyowijatnoko Mustakim Departemen Arsitektur Institut Teknologi Bandung Pendahuluan Konsep rumah bambu plester merupakan konsep rumah murah

Lebih terperinci

SIFAT MEKANIK KAYU. Angka rapat dan kekuatan tiap kayu tidak sama Kayu mempunyai 3 sumbu arah sumbu :

SIFAT MEKANIK KAYU. Angka rapat dan kekuatan tiap kayu tidak sama Kayu mempunyai 3 sumbu arah sumbu : SIFAT MEKANIK KAYU Angka rapat dan kekuatan tiap kayu tidak sama Kayu mempunyai 3 sumbu arah sumbu : Sumbu axial (sejajar arah serat ) Sumbu radial ( menuju arah pusat ) Sumbu tangensial (menurut arah

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMANFAATAN AIR HUJAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air hujan merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 16 TAHUN 2009

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 16 TAHUN 2009 PEMERINTAH PROVINSI BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 16 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI BALI TAHUN 2009-2029 DAFTAR ISI BAB I Ketentuan Umum... 10 BAB II BAB III Kedudukan,

Lebih terperinci

Kajian Perda Provinsi Bali Tentang Bagi Hasil Pajak Provinsi kepada Kab./Kota

Kajian Perda Provinsi Bali Tentang Bagi Hasil Pajak Provinsi kepada Kab./Kota Kajian Perda Provinsi Bali Tentang Bagi Hasil Pajak Provinsi kepada Kab./Kota Pengantar K ebijakan perimbangan keuangan, sebagai bagian dari skema desentralisasi fiskal, memiliki paling kurang dua target

Lebih terperinci

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM LAMPIRAN : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM NOMOR : P. 01/IV- SET/2012 TANGGAL : 4 Januari 2012 TENTANG : PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM, RENCANA

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 16 TAHUN 2009 RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI BALI TAHUN 2009-2029 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 16 TAHUN 2009 RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI BALI TAHUN 2009-2029 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 16 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI BALI TAHUN 2009-2029 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa ruang merupakan

Lebih terperinci