Daya Serap Rendah, DPR Kritik BPK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Daya Serap Rendah, DPR Kritik BPK"

Transkripsi

1 AKSENTUASI Daya Serap Rendah, DPR Kritik BPK Daya serap anggaran BPK pada 2010 dinilai masih rendah. Bahkan, lebih rendah dibandingkan dengan tahun anggaran Ini menjadi sorotan anggota DPR saat dengar pendapat Komisi XI DPR dengan Sekretariat Jenderal BPK, medio Juli. Sekjen BPK RI Hendar Ristriawan. Antara anggaran dan realisasi, kami lebih concern, pertamakali, sebelum diperiksa laporan keuangan itu wajar atau tidak wajar adalah antara perencanaan dan pelaksanaannya. Kami melihat bahwa perencanaan Rp2,3 triliun, sedangkan realisasi bruto adalah Rp1,9 triliun. Dan, ini tidak hanya penjelasannya, mengapa penyerapannya di bawah itu. Ini terjadi di hampir semua kementerian. Pertanyaannya, apakah ini perencanaannya buruk atau realisasinya buruk, atau dua-duanya perencanaan buruk dan realisasi juga buruk, kritik Anggota XI DPR Sadar Subagyo. Anggaran BPK pada 2009 mencapai Rp1,7 triliun dan realisasi sebesar Rp1,5 triliun atau sekitar 91,63%. Jika dibandingkan dengan 2010, penyerapannya hanya 85, 61%. Untuk tahun lalu, anggaran BPK memang naik dari Rp1,7 triliun men- jadi Rp2,3 triliun. Dana yang terserap hanya Rp1,9 triliun. Ada sisa sekitar Rp331 miliar lebih. Adapun, sisa anggaran 2009 sekitar Rp146 miliar. Jika dilihat dari tiga pos belanja, belanja pegawai masih menjadi pos anggaran dengan daya serap rendah. Pada anggaran 2009, belanja pegawai sekitar Rp553,327 miliar dengan realisasi mencapai Rp475,033 miliar atau 85,85%. Jadi ada sekitar Rp78, 294 miliar yang tidak terserap. Anggaran pos belanja barang, menduduki tempat kedua dengan daya serap rendah. Nilai anggaran mencapai Rp626,637 miliar, realisasinya Rp568,918 miliar atau 90,79%. Sisa anggaran yang tidak terserap sebesar Rp57,719 miliar. Selanjutnya, pos belanja modal merupakan pos tertinggi dengan daya serap 98,32%. Dengan rincian anggaran Rp556,314 miliar, terserap Rp546,969 miliar, dengan sisa Rp9,345 miliar.. Untuk tahun anggaran 2010, daya serap pos belanja pegawai masih yang terendah sekitar 77,19%. Selanjutnya pos belanja barang 80,35%, dan belanja modal 98,21%. Di sisi lain, dari jumlah nilai anggaran, pos belanja barang justru menyisakan jumlah anggaran lebih besar yang tidak terserap. Anggaran untuk belanja pegawai mencapai Rp674,261 miliar. Sementara realisasinya hanya Rp520,435 miliar dan Rp153,826 miliar tidak terserap. Anggota Komisi XI DPR Sadar Subagyo mengkritik BPK. Dari persentase memang belanja pegawai punya daya serap rendah, akan tetapi untuk belanja barang juga jumlahnya hampir sama. Ada sekitar Rp163 miliar untuk belanja barang yang tidak terserap. Belanja pegawai Rp153 miliar, dan belanja modal sekitar Rp14,3 miliar. Padahal, belanja barang ini sesuatu sangat mudah untuk diimplementasikan. Kami hanya melihat, tolong ini diperbaiki, ujarnya. Menanggapi hal itu, Sekjen BPK Hendar Ristriawan menyatakan bahwa nilai anggaran belanja barang 61

2 AKSENTUASI yang tidak terserap lebih banyak anggaran untuk PHLN (Pinjaman dan Hibah Luar Negeri). BPK memang mulai 2011 masih berhitung menolak PHLN ini. Jadi, itu yang menyebabkan penyerapannya rendah, ujarnya. Terkait dengan anggaran dan realisasi anggaran BPK untuk tahun lalu, dia menjelaskan bahwa realisasinya hanya mencapai 85,61% dengan belanja pegawai sebagai pos terkecil. Untuk anggaran 2010, BPK sebetulnya sudah mengusulkan untuk dilakukan kenaikan remunerasi pegawai BPK. Namun, sampai saat ini, permohonan kepada Kementerian PAN dan RB untuk dilakukan evaluasi terhadap kinerja BPK, belum ditindaklanjuti. Salah satu alasannya adalah pedoman untuk pelaksanaan reformasi birokrasi itu baru diterbitkan Menpan sekitar Juli, jelasnya. Hendar menambahkan pedoman itu belum ditindaklanjuti dengan juklak dan juknis untuk melakukan evaluasi. Sehingga mereka minta waktu, dan kemungkinan BPK ini akan dievaluasi pada semester II tahun anggaran 2011, ungkapnya. Penyerapan Nasional Kementerian Keuangan mencatat ada 11 Kementerian/Lembaga (K/L) yang penyerapan anggarannya di bawah 80% pada BUMN menduduki posisi terendah dari 11 K/L. Adapun 11 K/L itu adalah MPR (daya serap 78,8%), DPR (76%), Mahkamah Agung (74,7%), Kementerian Luar Negeri (67,4%), Kementerian ESDM (69,3%), Kementerian BUMN (55,8%), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (64,8%), PPN/Bappenas (67,4%), Badan Pertanahan Nasional (77,8%), Kementerian Komunikasi dan Informasi (76,1%), dan Lembaga Ketahanan Nasional (66,1%). Sementara untuk K/L dengan daya serap cukup tinggi ada enam yaitu Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal (98,6%), Polri (98%), Kementerian Pemuda dan Olahraga (96,5%), Kementerian Lingkungan Hidup (95,7%), Kementerian Riset dan Teknologi (95,6%), Kementerian Kesehatan (94,3%). Kementerian Keuangan sendiri yang notabene penyalur anggaran, penyerapan anggarannya mencapai 84,4%, lebih rendah 1,2% dibandingkan dengan BPK sebesar 85,61%. Di sisi lain, ada tujuh K/L yang memperoleh anggaran besar yaitu Anggota Komisi XI DPR Sadar Subagyo. Kementerian Pendidikan Nasional (Rp63,4 triliun), Kementerian Pertahanan (Rp42,9 triliun), Kementerian Pekerjaan Umum (Rp36,1 triliun), Polri (Rp27,8 triliun), Kementerian Kesehatan (Rp23,8 triliun), Kementerian Perhubungan (Rp17,6 triliun), dan Kementerian Keuangan (Rp15.4 triliun). Secara keseluruhan, total alokasi anggaran yang disediakan untuk ketujuh K/L tersebut sebesar Rp227 triliun. Dengan jumlah itu porsi yang dimiliki tujuh K/L kurang lebih 70% dari total alokasi belanja yang disalurkan untuk K/L sebagai instansi pusat. Reward and Punishment Sebagai tekanan politik untuk memperbaiki sistem penyerapan anggaran di berbagai K/L, pemerintah akan mulai menerapkan sistem reward and punishment dalam pengelolaan anggaran. Instansi yang gagal memaksimalkan penyerapan anggaran akan mendapat sanksi. Untuk mempersiapkan diri, Kementerian Keuangan akan memutuskan penghargaan atau sanksi itu pada akhir semester I/2011. Bertepatan dengan pembahasan APBN Perubahan 2011 dengan Panitia Anggaran DPR. Sanksi dan penghargaan itu didasarkan kinerja anggaran kementerian dan lembaga pada tahun Aturan tentang pemberian sanksi atau penghargaan terhadap K/L itu ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 38/ PMK.02/2011 tentang Tata Cara Penggunaan Hasil Optimalisasi Anggaran Belanja Kementerian Negara atau Lembaga Tahun Anggaran 2010 pada Tahun Anggaran 2011 dan Pemotongan Pagu Belanja Kementerian Negara atau Lembaga pada Tahun Anggaran 2011 yang Tidak Sepenuhnya Melaksanakan Anggaran Belanja Tahun Anggaran Dalam regulasi tersebut, diatur bahwa K/L yang mampu melakukan optimalisasi anggaran, menyelesaikan program atau proyeknya dengan biaya di bawah pagu APBN Perubahan 2010, dapat menggunakan hasil optimalisasinya pada Dana hasil optimalisasi merupakan penghargaan (reward) atas penghematan anggaran yang dapat diraihnya. Peraturan Menteri Keuangan itu juga mengatur bahwa K/L yang tidak berhasil melaksanakan program atau proyek sehingga pagu anggaran yang menjadi jatahnya tidak terpakai, akan mendapatkan sanksi. Atas dasar kegagalannya itu, K/L tersebut dapat dikenakan pemotongan pagu anggaran pada Pemotongan ini merupakan sanksi bagi mereka. and 62 JULI 2011 Warta BPK

3 INTERNASIONAL Anggota II BPK Taufiequrachman Ruki bersama dengan pejabat eselon I BPK berfoto bersama dengan peserta technical meeting pembentukan ASEAN SAI. ASEAN SAI Segera Terbentuk Pada Juli, sembilan Supreme Audit Institutions (SAI) se- Asia Tenggara atau BPK-nya negara-negara itu, berkumpul dalam suatu pertemuan teknis. Tujuannya, untuk mewujudkan terbentuknya Association of Southeast Asian Nations Organization of Supreme Audit Institutions (ASEAN SAI). Pertemuan dibuka oleh Anggota II BPK Taufiequrachman Ruki. Hadir juga Direktur Jenderal Kerjasama Asean Kementerian Luar Negeri Djauhari Oratmangun, beberapa pejabat ese lon I BPK, dan sembilan delegasi SAI se-asia Tenggara. Kesembilan delegasi SAI tersebut adalah BPK Jabatan Audit Negara (JAN) Malaysia, Audit Department of Brunei Darussalam (ADB), Office of Auditor General (OAG) of Myanmar, National Audit Authority of Cambodia (NAA), the Office of the Auditor General of Thailand (OAG), The Commission on Audit of Phillipine (COA), The State Audit Office of Vietnam (SAV), dan State Audit Organization of Laos. Salah satu topik yang dibahas adalah penyusunan anggaran dasar ASEAN SAI. Rencananya, pembentukan ASEAN SAI sendiri akan dideklarasikan di Bali pada November, bersamaan dengan gelaran ASEAN Summit. Selain perundingan kali ini, akan diadakan pula pertemuan lanjutansenior Officer Meeting (SOM) yaitu pada bulan Oktober. Pertemuan antara pejabat-pejabat eselon I kalangan SAI se- Asean. Setelah itu, baru para pimpinan SAI akan bertemu untuk mendeklarasikan pembentukan organisasi baru ini yang bertepatan ASEAN Sumit pada bulan November. Hari ini masih menyusun draf pernyataannya, perjanjiannya, apa yang akan mau kita lakukan, jelas Taufiequrachman Ruki. ASEAN SAI dirancang sebagai sebuah forum SAI-SAI se-asean yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan kerja sama teknis di antara sesama anggota serta untuk mendu- 63

4 INTERNASIONAL kung Asean dalam memajukan tata kelola pemerintahan yang baik. Ke depan, organisasi regional ini juga bisa diharapkan sebagai auditor eksternal Asean seperti halnya Uni Eropa dengan EUROSAI. Diharapkan akan ke sana. Jadi, ada BPK-nya tersendiri untuk Eropa. Asean belum sampai ke situ. Namun, kita masih melihat sejauh mana perkembangannya nanti, ujar Kepala Ditama Revbang Daeng M. Nazier. Direktur Jenderal Kerjasama Asean Kementerian Luar Negeri Djauhari Oratmangun menjelaskan pembentukan ASEAN SAI ini merupakan sebuah inisiatif dalam menghadapi ASEAN community yang ditargetkan terbentuk pada ASEAN community ini mengusung tiga pilar yaitu komunitas politik-keamanan, komunitas ekonomi, dan komunitas sosial-budaya. Nah, isu good governance across the world di tiga pilar ini. Dengan demikian, saya kira, pertemuan awal ini untuk menuju ke pembentukan ASEAN SAI, akan memainkan peran yang signifikan dalam community building by 2015, ucap Djauhari. Hal ini juga selaras dengan ASEAN Charter artikel 1 yang menyebutkan salah satu tujuan Asean adalah menguatkan demokrasi, good governance, aturan hukum, dan mendorong dan melindungi HAM dan kebebasan fundamental. Jadi, dalam konteks inilah, kenapa kita memerlukan forum seperti ini, jelasnya. Sementara itu, Anggota II BPK Taufiequrachman Ruki menyatakan bahwa pembentukan ASEAN SAI ini sebenarnya bermula dari pertemuan yang diadakan INTOSAI (International Organization of Supreme Audit Institutions) dan Asian Organization of Supreme Audit Institutions (ASOSAI). Dari situlah pimpinan-pimpinan SAI di Asia Tenggara kerap bertemu. Lalu, pembicaraan berlanjut dengan inisiatif pembentukan ASEAN SAI. Kepala Ditama Revbang BPK Daeng M. Nazier menambahkan bahwa realisasi pembentukan ASEAN SAI ini diinisiasi oleh SAI empat negara, Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Vietnam. Dan dengan pertemuan teknis ini, sudah mulai merumuskan pembentukannya. Tata Kelola Pemerintahan Salah satu tujuan utama dibentuknya ASEAN SAI adalah memajukan tata kelola pemerintahan yang baik. Tata pemerintahan yang baik ini mencerminkan indeks persepsi korupsi yang rendah. Dimana, indeks persepsi korupsi ini merupakan ukuran dari pelayanan publik. Semakin buruk pelayanan publik, semakin ditengarai adanya praktek korupsi. Dengan begitu tata kelola pemerintahan pula terimbas buruk. Pengelolaan keuangan pun terindikasi buruk. Negara-negara Asean, pada umumnya memiliki indeks persepsi korupsi yang rendah, kecuali Singapura. Oleh karena itu, dengan adanya ASEAN SAI ini diharapkan adanya kerjasama yang baik dalam memperbaiki hal ini. Dengan kerja sama ASEAN SAI ini, saya berharap kita masing-masing mempromosikan sebuah upaya-upaya pemerintah untuk melakukan good governance sehingga bisa menjadi negara-negara yang lebih baik dalam ukuran indeks persepsi ini, ucap Ruki. Sebagai mantan Ketua KPK, Taufiequrachman Ruki tahu betul bagaimana memerangi korupsi. Memerangi korupsi, ucapnya, hanya dengan memakai pendekatan hukum saja, tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Salah satu upaya yang yang harus diperbaiki adalah tata kelola pemerintahan, khususnya tata kelola pengelolaan keuangan negara. Sering saya katakan, senior corruptor ditahan, muncul junior corruptor. Gubernur ditahan karena korupsi, gubernur penggantinya korupsi lagi. Bupati lama ditahan karena korupsi, bupati barunya korupsi lagi. Kenapa ini terjadi? Karena tidak diterapkannya prinsip-prinsip clean government dan good governance, tegasnya. Oleh karena itulah, dengan pembentukan ASEAN SAI ini dapat melakukan sharing informasi terkait dengan kondisi korupsi di negara masing-masing. Dengan sharing informasi ini akan Anggota II BPK Taufiequrachman Ruki saat diwawancarai para wartawan. bisa memperbaiki usaha-usaha SAI di negara masing-masing agar pengelolaan negara dan pengelolaan keuangan negara menjadi lebih bersih dan lebih baik. Apabila ini (ASEAN SAI) sudah terbentuk dengan kemampuan kapasitas kita sudah baik, tentunya pelaksanaan pemeriksaannya menjadi lebih baik, dengan begitu kita di dalam mendorong terlaksananya pengelolaan keuangan negara yang akuntabel dan transparan menjadi lebih baik. Dan, akhirnya bisa menuju kepada penerapan good governance, papar Daeng. and warta bpk: riyanto 64 JULI 2011 Warta BPK

5 istimewa LNS Membludak, Anggaran Membengkak Kecenderungan semakin berkembangnya jumlah lembaga nonstruktural (LNS) dan semakin bervariasinya dasar hukum, tujuan pembentukan, serta tugas dan fungsi sering menimbulkan duplikasi pelaksanaan tugas dengan kementerian/lembaga pemerintah. E.E Mangindaan. Selain itu, jumlah LNS yang melebihi jumlah kementerian/lembaga juga berimplikasi ter hadap besarnya beban anggaran negara. Berdasarkan data dari Kementerian Keuangan pada 2010, APBN yang telah dialokasikan untuk pembiayaan LNS sebesar Rp14,9 triliun. Demikian terungkap dalam raker Komisi II DPR dan Kementerian Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, di Jakarta, belum lama ini. Dari hasil evaluasi, tidak seluruh LNS memiliki kontribusi signifikan terhadap proses penyelenggaraan negara, ujar Menteri PAN dan RB E.E Mangindaan. Hal ini, tegasnya, bertentangan dengan prinsip-prinsip reformasi birokrasi, yang antara lain menekankan penataan organisasi yang proporsional, efektif dan efisien dalam mewujudkan good governance dan pelayanan publik yang lebih baik. Saat ini, terdapat 88 LNS yang dasar hukum pembentukannya bervariasi. Sebanyak 39 LNS dibentuk atas dasar undang-undang, delapan LNS berdasarkan peraturan pemerintah, dan 41 LNS berdasarkan Keputusan Pre siden. Setelah dilakukan pengkajian dan verifikasi ulang, pihak Kemenpan dan RB kemudian merekomendasikan menghapus empat LNS, yakni Komite Antar Departemen Bidang Kehutanan, Dewan Buku Nasional, Badan Kebijakan dan Pengendalian Perumahan dan Pemukiman Nasional, dan Lembaga Koordinasi dan Pengendalian Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat. Keempat LNS tersebut sudah tidak melakukan tugas dan fungsi sebagaimana diamanatkan, dan tidak ada dukungan anggaran, SDM maupun sarana, prasarana, tegas Mangindaan. Selain keempat LNS tersebut, juga direkomendasikan tujuh LNS untuk dialihkan kepada kementerian/ lembaga yang bersesuaian tugas dan fungsinya. Pasalnya, tugas dan fungsi LNS-LNS itu tumpang tindih dengan kementerian/lembaga terkait. Selain itu, SDM, anggaran serta sarana dan prasarananya juga menempel pada kementerian/lembaga lain. Tujuh LNS itu adalah Komite Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk pada Anak dialihkan ke Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Komisi Hukum Nasional dialihkan ke Kementerian Hukum dan HAM, Dewan Gula Indonesia dialihkan ke Kementerian Pertanian, Badan Pengembangan Ka UMUM wasan Ekonomi Terpadu dialihkan ke Kementerian Pekerjaan Umum, Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional dialihkan ke Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia dialihkan ke Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Komite Standar Nasional untuk Satuan Ukuran, akan dialihkan ke Badan Standardisasi Nasional. Komite Standar Nasional untuk Satuan Ukuran, diarahkan untuk dilaksanakan pada penataan LNS tahap berikutnya, karena pembentukannya didasarkan pada peraturan pemerintah, tambahnya. Hindari Lembaga Baru Agar penataan LNS dapat berjalan lancar dan efektif, lanjut Mangindaan, pihaknya akan melakukan dialog dengan masing-masing pimpinan dan anggota LNS, menyangkut pengalihan pegawai, perlengkapan, pembiayaan dan dokumentasi/arsip, agar tidak menimbulkan persoalan baru. Menurut dia, rekomendasi hasil penataan LNS tersebut dalam waktu dekat akan dilaporkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Termasuk, menyiapkan rancangan perpres tentang penghapusan/pengalihan LNS dimaksud. Kami mohon dukungan DPR untuk starting point penataan tahap berikutnya, terutama LNS yang dibentuk berdasarkan undang-undang. Selain itu, perlu adanya kesepahaman antara pemerintah dengan DPR, bahwa di masa depan dalam menetapkan UU agar menghindari adanya pembentukan lembaga baru, paparnya. Dikatakannya, sebagai bagian dari reformasi birokrasi, pelaksanaan evaluasi LNS merupakan kebijakan yang harus dilakukan secara kontinyu dan berkesinambungan. Ke depan, pihaknya merencanakan evaluasi tidak hanya dilakukan pada LNS yang dibentuk berdasarkan keppres atau perpres seperti 11 LNS tersebut, tetapi juga akan mengarah pada LNS 65

6 UMUM yang dibentuk dengan peraturan lebih tinggi. Dalam raker tersebut, Komisi II mendukung upaya penataan LNS dan mendesak Menpan dan RB untuk menyusun grand design penataan seluruh LNS. Terhadap LNS yang dibentuk berdasarkan UU, Komisi II meminta Menpan dan RB, Mensesneg dan Menkumham untuk segera meng antisipasi revisi ketentuan UU yang mengamanatkan pembentukan LNS. Komisi II juga meminta agar pemerintah segera mengajukan RUU tentang lembaga nonstruktural dalam Prolegnas dan mengajukan sebagai prioritas tahun 2012, ujar Ketua Komisi II DPR, Chaeruman Harahap. dr Rapat kerja Komisi II istimewa Verifikasi Ulang LNS RUPANYA hasil kajian terhadap LNS-LNS ini bocor. Sehingga beberapa LNS berupaya menunjukkan eksistensinya. Ada yang meminta audiensi, ada yang meminta kami sebagai narasumber dalam berbagai seminar yang mereka selenggarakan, cetus Menpan dan RB EE Mangindaan, belum lama ini. Oleh karena itu, pihaknya memandang perlu dilakukan verifikasi kembali terhadap LNS yang akan ditata itu untuk menghindari keresahan ataupun hal-hal yang tidak diinginkan. Dia menjelaskan latar belakang penataan LNS merupakan hasil rapat kerja Komisi II DPR dengan Menteri Sekreariat Negara pada 7 April 2008 dan 1 Juni 2009, untuk melakukan pengkajian lebih mendalam terhadap LNS. Menindaklanjuti hal itu, Sekretariat Negara telah melakukan berbagai forum untuk memperoleh berbagai pandangan para pakar pada 14 perguruan tinggi negeri serta sejumlah pejabat yang kompeten mengenai keberadaan LNS. Sejalan dengan rekomendasi para pakar, dalam raker pada 2 Desember 2009, Komisi II DPR menyampaikan agar Sekretariat Negara melakukan pengkajian lebih mendalam, dan diprioritaskan pada LNS yang pembentukannya berdasarkan perpres/keppres. Setelah dilakukan pengkajian lebih lanjut, menghasilkan adanya 11 LNS yang menjadi prioritas untuk ditata. Pertimbangannya antara lain, dasar hukum pembentukan, potensi tumpang tindih dengan kementerian/ lembaga, alokasi anggaran negara dan kinerja LNS yang bersangkutan. Langkah berikutnya, Menteri Sekretaris Negara membentuk Tim Antar Kementerian, dengan anggota wakil dari Kementerian Keuangan, Kementerian PAN dan RB, Sekreatriat Kabinet, LAN dan BKN. Tim ini bertugas melakukan kajian lebih lanjut dan menyamakan persepsi jumlah LNS yang didasarkan keanggotaan, anggaran dan status kesekretariatan, sehingga disepakati ada 85 LNS. Namun dalam perkembangannya, hingga 2011, bertambah tiga LNS baru yaitu Komisi Inovasi Nasional, Komisi Ekonomi Nasional, dan Dewan Nasional Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), sehingga jumlah seluruhnya menjadi 88 LNS. Pada Juni 2010, tim antarkementerian ini melakukan verifikasi data dengan masing-masing LNS yang akan ditata. Hasilnya, kinerja 11 LNS tidak efektif, sebagian tugas dan fungsinya tumpang tindih dengan kementerian/lembaga, dasar hukum pembentukan beberapa LNS tidak sesuai dengan UU No 39/2008 tentang kementerian negara, dan untuk beberapa LNS tidak ada lagi alokasi anggaran. Melalui surat Mensesneg No B 925/M.Sesneg/D-3/08/2010 tanggal 4 Agustus 2010, hasil kajian tersebut disampaikan kepada Menteri Negara PAN dan RB. Ternyata hasil kajian sudah diketahui oleh beberapa LNS. Guna menghindari keresahan atau hal-hal yang tidak diinginkan, akhirnya dilakukan verifikasi ulang. Hasilnya, empat LNS direkomendasikan untuk dihapus, dan tujuh LNS dialihkan pada kementerian/lembaga yang sesuai dengan tugas dan fungsinya. dr 66 JULI 2011 Warta BPK

7 Bank Mutiara Mulai Dijual Proses penjualan Bank Mutiara mulai digelar. Sebanyak tiga investor sudah menyatakan minatnya. Ada anjuran bagi bank BUMN untuk mengakuisisi bank eks Bank Century ini. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memastikan ada tiga investor yang berminat membeli Bank Mutiara. Namun sampai artikel ini dibuat belum terungkap nama tiga investor eks Bank Century itu. Hanya saja yang sudah menyatakan minatnya sebelum LPS melansir statement resmi mengenai jumlah investor, baru Bank Mandiri. Bank ini tengah mengkaji pembayaran dengan obligasi rekapitalisasi. Apakah dimungkinkan? Dalam UU LPS, hanya disebutkan Bank Mutiara dilepas senilai Rp6,7 triliun selama 3 tahun. Di sana tak diatur tata cara pembayaran, termasuk soal obligasi rekapitalisasi, kata ketua panitia penjualan Bank Mutiara Mirza Mochtar di kantornya belum lama ini. Pengamat perbankan Ryan Kiryanto berpendapat pembelian dengan menggunakan obligasi rekapitalisasi menjadi feasible jika ada payung hukumnya. Soalnhya, nanti ada kesulitan menetapkan nilai pasar apabila harus dilakukan mark to market. Harus diingat bahwa nilai pasar suatu surat utang selalu fluktuatif bergantung pada situasi makroekonomi, tuturnya. Menurut dia, yang pasti dalam hal ini adalah keputusan politik DPR mengamanatkan Bank Mutiara harus dijual tahun ini senilai Rp6,7 triliun. Lebih penting bagi manajemen Bank Mutiara adalah pembayaran dalam bentuk fresh fund karena tingkat likuiditasnya tinggi ketimbang obligasi, tambahnya. LPS, sebagai pemilik 99,9% saham, berencana mengumumkan penjualan Bank Mutiara pada Agustus. LPS berharap Mutiara terjual dengan harga Rp6,7 triliun, sesuai dengan 67

8 UMUM besaran dana talangan yang dikeluarkan saat mengambil alih Bank Century pada Jika pada Agustus harga jual Mutiara tidak sesuai dengan yang diharapkan, LPS akan mengulang kembali proses penjualan pada Sebenarnya minat untuk membeli itu sudah terlihat dari bank-bank pemerintah. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan tak ada hambatan bagi bankbank negara ikut serta membeli Bank Mutiara. Hanya saja anjuran bagi bank pelat merah itu ada yang mengartikan sebagai bentuk intervensi dalam penjualan Bank Mutiara. Anggota Komisi VI DPR Ecky Awal Mucharam berpendapat bukan masanya bagi BUMN diintervensi oleh pemerintah. Lagipula, penjualan bank itu kepada BUMN harus sejalan dengan rencana tahunan yang sudah disampaikan bank BUMN kepada Bank Indonesia. Bank-bank BUMN itu sudah menyampaikan rencana tahunan mereka ke BI, lihat saja ada tidak rencana ekspansi dengan akuisisi bank lain. Semua proyek bank harus sesuai dengan rencana yang telah mereka sampaikan, katanya seperti dikutip okezone belum lama ini. Menurut dia, sebaiknya bank pelat merah tidak didorong untuk membeli Bank Mutiara. Kalaupun bank BUMN berminat, harus atas pertimbangan bisnis, bukan karena intervensi pemerintah. Anjuran Menteri Keuangan agar bank pemerintah membeli Bank Mutiara bisa dianggap sebagai intervensi halus. Apa dasar anjuran itu? Masa hanya karena sama-sama milik negara, harusnya anjuran itu karena alasan kuat dan mempertimbangkan aspek bisnis bagi bank, seperti tingkat harga dan sinergisitas bisnis. Selain itu, tambahnya, penjualan Bank Mutiara juga harus diusahakan Ecky Awal Mucharam secepat mungkin. Pasalnya, angka sebesar Rp6,7 triliun itu tentu nilainya akan berbeda antara tahun ini dengan tahun berikutnya. LPS tentu akan rugi kalau penjualan ini berlarut-larut, kata Ecky. LPS menunjuk PT Danareksa Sekuritas sebagai penasihat keuangan dalam penjualan ini. Kepala Eksekutif LPS Firdaus Djaelani menargetkan penjualan Bank Mutiara rampung pada November tahun ini. Mengenai seleksi calon pembeli, Mirza menjelaskan investor yang sudah menyampaikan surat konfirmasi akan mengikuti seleksi awal. Penitia penjualan Bank Mutiara dan penasihat keuangan akan melihat apakah investor memenuhi kriteria yang disyaratkan dan memenuhi ketentuan BI. Kalau lolos, proses selanjutnya adalah due diligence yang akan dilakukan pada Agustus hingga September, ujarnya seperti dikutip Tempo. Mereka juga diminta untuk mengumumkan bukti kepemilikan dana minimal Rp6,7 triliun, sesuai dengan harga penawaran dan menjalani uji kepatutan serta kelayakan. Bila tidak lolos tes ini, investor dinyatakan gugur. Kalau prosesnya lancar, kami perkirakan akan selesai November, ungkapnya. Mirza menegaskan calon pembeli tidak diperkenankan memiliki hubungan dengan pemegang saham lama Bank Mutiara. LPS bekerjasama dengan BI, Badan Pengawas Pasar Modal, Bursa Efek Indonesia untuk menelisik calon pembeli. Pemegang saham Bank Mutiara sebelumnya adalah Robert Tantular. aiz 68 JULI 2011 Warta BPK

9 Penyebab Borosnya Ongkos Birokrasi Pada 24 Juli lalu, Sekretariat Nasional Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA) melansir 10 penyebab borosnya ongkos birokrasi. Kesepuluh penyebab borosnya ongkos birokrasi tersebut, menurut FITRA, merupakan indikasi kegagalan reformasi birokrasi. Untuk efisiensi juga tak cukup hanya dengan moratorium. Lansiran FITRA ini didasarkan pada pernyataan Menteri Keuangan Agus D.W. Martowardojo, yang mengatakan bahwa belanja pegawai semakin membebani anggaran. Belanja pegawai pada APBN 2011 membengkak hingga 233% atau Rp. 126,5 trilyun dibandingkan tahun Namun, peningkatan belanja ini tidak dirasakan dampaknya terhadap perbaikan layanan birokrasi. Potret yang sama terjadi di daerah. FITRA menemukan 124 daerah yang belanja pegawainya di atas 60% dan 16 daerah diantarany abahkan di atas 70%. Jika kondisi ini dibiarkan terjadi, maka tujuan anggaran sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, sebagaimana diamanatkan pasal 23 konstitusi berpotensi untuk dilanggar. Adapun kesepuluh penyebab borosnya ongkos birokrasi tersebut, pertama, pemberian remunerasi. Pemberian remunerasi sebagai bagian reformasi birokrasi, karena dianggap rendahnya gaji merupakan penyebab birokrasi yang korup dan kinerja rendah. Mulai tahun 2007, Kemkeu mempelopori pemberian remunerasi pejabat dengan grade I di Kemenkeu memperoleh remunerasi hinga, Rp. 46,9 juta. Remunerasi terus diberlakukan ke Kementerian lain, termasuk Polri dan Mahkamah Agung. Bahkan pada APBN-P 2010 dianggarkan Rp. 13,4 trilyun untuk remunerasi. Besarnya ongkos remunerasi yang dikeluarkan mengekang birokrasi korup. Kasus Gayus dan Hakim Imas mengkonfirmasi hal ini. Kedua, Kenaikan Gaji Pegawai. Dalam lima tahun terakhir berturutturut Pemerintah meningkatkan gaji PNS, TNI/Polri antara 5% sampai 15%, terakhir Kenaikan tunjangan structural dan fungsional, pemberian gaji ke-13, pemberian uang makan mulai tahun 2007, penyesuaian pokok pension dan pemberian bulan ke-13 untuk pensiun. Ketiga, Istana menggemukan birokrasi. Disadari atau tidak, lingkaran istana tidak menjadi lokomotif reformasi birokrasi. Sejak Presiden terpilih keduakalinya, membentuk Kabinet yang mengakomodasi seluruh anggota Koalisinya denganjumlah 34, meskipun Kementerian ini merupakan batas maksimal yang diberikan UU No. 39 tahun 2008 tentang Kementerian/ Lembaga. Tidak cukup sampai disana, Presiden pun menambah 10 jabatan WakilMenteri yang sampai saat ini belum jelas pembagian kerjanya dengan Menteri maupun Pejabat Esselon I. Keempat, Banjir Komisi. Lembaga Kepresidenan justru tidak mampu memberikan contoh bagi Kementerian/Lembaga lain. Lembaga Kepresidenan semakin gemuk dengan struktur. Maka dibentuk lagi, lembaga di lingkungan istana Presiden, seperti: staff khusus, staff pribadi, jurubicara, unit kerja, dewan pertimbangan Presiden, satgas mafia hukum dan terakhir Satgas TKI (tenagakerja Indonesia). Ironisnya, pembentukan lembaga-lembaga ini tidak pernah dievaluasi efektifitasnya. Bahkan cenderung menambah beban anggaran Negara. Dari catatan FITRA, setidaknya terdapat 9 badan, komisi, satuan ataupun Tim yang berada di lingkungan istana. Kelima, Kebijakan Pegawai tanpa mempertimbangkan anggaran. Sebagai bendahara Negara seharusnya Menkeu mampu memprediksi setiap kebijakan berkaitan dengan pegawai akan berdampak pada belanja pegawai budget constraint. Terlebih belanja ini bersifat fix cost yang mudah diprediksi. Kem 69

10 UMUM keu seharusnya sudah memprediksi, kebijakan sektoral yang berimplikasi pada beban belanja pegawai seharusnya sudah dapat dilihat bebannya terhadap anggaran, seperti kebijakan pengangkatan Sekdes menjadi PNS dan sertifikasi Guru, serta pengangkatan pegawai honorer. Keenam, tunjangan Pegawai Daerah. PP No 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah memperbolehkan daerah memberikan tambahan tunjangan pada pegawai daerah. Di DKI Jakarta, pejabat eselon I mendapatkan tambahan penghasilan sampai dengan Rp. 50 Juta, dan staff mendapat tambahan antara Rp. 4,7 2,9 juta. Perbedaan tambahan tunjangan ini menjadi penyebab beratnya belanja pegawai dan distribusi pegawai yang tidak merata, untuk mengejar tambahan penghasilan, sehingga pada daerah-daerah dengan tambahan penghasilan akan semakin berat beban belanja pegawainya. Ketidak jelasan batasan pemberian tunjangan daerah menyebabkan belanja pegawai membengkak. Ketujuh, Skema Dana Perimbangan. Skema dana perimbangan saat ini belum berpihak pada daerah. Sejak otonomi daerah sebanyak 70% urusan didesentralisasikan ke Daerah, sementara pusat memegang lima kewenangan utama. Namun berbanding terbalik dari sisi fiscal, sejak tahun 2005 rata-rata belanja transfer daerah 31% dari APBN. Membengkaknya belanja pegawai, juga disebabkan oleh formula DAU yang tidak memberikan insentif daerah. Formula DAU saat ini memperhitungkan kebutuhan belanja pegawai sebagai alokasi dana dasar dan selisih antara kebutuhan dengan kapasitas fiscal suatu daerah. Dengan formula ini daerah yang mampu melakukan efisiensi belanja pegawai dan meningkatkan kapasitas fiskalnya, otomatis akan berkurang jatah DAU-nya. Ini membuat daerah malas melakukan perampingan birokrasi dan meningkatkan PAD-nya. Kedelapan, Politisasi Birokrasi. Sistem rekrutment yang sarat KKN terhadap PNSD dan politisasi birokrasi masih terjadi di daerah. Meski pusat memiliki control untuk menilai formasi pegawai yang dibutuhkan dan rekrutment, namun tidak dapat dibantah aroma suap masih tercium saat rekurtmen. Rekrutmen juga tidak terlepas dari politisasi, menjelang Pilkada, Kepala Daerah sebagai Pembina PNSD akan merekrut lebih banyak PNSD untuk meraih dukungan. Juga paska Pilkada, sebagai imbal jasa tim sukses Kepala Daerah menjadi PNSD tanpa melalui mekanisme juga terjadi. Kesembilan, tidak ada rasio pegawai berdasarkan karakteristik daerah. Sampai saat ini pemerintah belum memiliki rasio jumlah pegawai yang ideal untuk melakukan pelayanan public. Ketiadaan rasio ini menjadi penyebab terus menerus dilakukan rekurtment pegawai tanpa memperhatikan kebutuhan. Kesepuluh, Pemekaran Daerah. Pemekaran daerah juga menjadi pemicu membengkaknya belanja pegawai di daerah. Sebagai konsekuensi daerah baru, kebutuhan akan pegawai merupakan keharusan, ditambah rekrutment yang masih mengutamakan putra daerah dibandingkan profesionalitas. DAU yang menjadi tumpuan membiayai pegawai daerah, secara tidak langsung berkurang. Sebagai contoh, pada tahun 2008 terdapat 481 daerah dan tahun 2009 naik menjadi 477 daerah, karena terjadinya pemekaran, rata-rata penerimaan DAU berkurang, dari 358 milyar pada tahun 2008 menjadi 351,7 miliar pada tahun Enam Langkah Pembenahan Pelaksanaan moratorium terhadap rekrutmen PNS mendapat sambutan positif dari FITRA. Namun, itu tidak cukup. Dari hasil kajian FITRA, rata-rata kenaikan jumlah pegawai dalam 5 tahun terakhir sebesar 2 persen. Sementara kenaikan belanja pegawai jauh lebih signifikan, yakni sebesar 20%. Artinya, beratnya belanja pegawai lebih disebabkan semakin meningkatnya ongkos pegawai dibandingkan jumlah Pegawai. Dengan kata lain, pemberlakuan moratorium tersebut tidak cukup signifikan untuk mengurangi beban anggaran negara untuk belanja pegawai dan persoalan sebenarnya tidak hanya pada jumlah pegawai yang terus meningkat. Oleh karena itu, langkah yang diambil pemerintah ini (moratorium), hanya sebagai pintu masuk untuk melakukan berbagai pembenahan berbagai sistem kepegawaian yang menyebabkan membengkaknya anggaran untuk belanja pegawai. FITRA menyarankan enam langkah yang bisa ditempuh pemerintah untuk mengurangi beban anggaran belanja pegawai. Di sisi lain, untuk mengefisienkan dan mengefektifkan birokrasi sebagai wujud pembenahan berbagai sistem kepegawaian yang menjadi penyebab membengkaknya belanja pegawai. Keenam langkah yang disarankan FITRA tersebut, yaitu: Mengkaji ulang pemberlakuan remunerasi. Pemberian remunerasi tanpa disertai punishment tidak akan efektif meningkatkan kinerja birorkasi dan mengurangi korupsi. Terbuknya kasusgayus dan hakim Imas, menunjukan remunerasi di Kemenkeu dan MA tidak mampu menahan laju korupsi di birokrasi. Pembuktian terbalik terhadap Pegawai yang memiliki harta tidak wajar. Penyusunan rasio jumlah pegawai berdasarkan variable jumlah penduduk, kondisi geografis, kemampuan keuangan danfungsi. Reformulasi skema dana perimbangan yang memberikan insentif bagi daerah yang melakukan efisiensi jumlah pegawai dan disisentif bagi terjadinya pemekaran daerah baru. Pengaturan pemberian tunjangan pejabat dan PNS daerah. Pembenahan dan Pembatasan pembentukan lembaga-lembaga ad hoc (Tim, Satgas, Komite, badan, dewan, komisi) dan Lembaga Non Struktural lainnya. and 70 JULI 2011 Warta BPK

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efektivitas dan

Lebih terperinci

PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR DALAM RANGKA REFORMASI BIROKRASI BIRO KEPEGAWAIAN

PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR DALAM RANGKA REFORMASI BIROKRASI BIRO KEPEGAWAIAN PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR DALAM RANGKA REFORMASI BIROKRASI BIRO KEPEGAWAIAN SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN OKTOBER 2012 1. Krisis ekonomi Tahun 1997 berkembang menjadi krisis multidimensi.

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2006-2010 Sambutan Ketua BPK Pengelolaan keuangan negara merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, INSTRUKSI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2014 TENTANG LANGKAH-LANGKAH PENGHEMATAN DAN PEMOTONGAN BELANJA KEMENTERIAN/LEMBAGA DALAM RANGKA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2014 TENTANG PENJUALAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH BERUPA KENDARAAN PERORANGAN DINAS

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2014 TENTANG PENJUALAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH BERUPA KENDARAAN PERORANGAN DINAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 84 TAHUN 2014 TENTANG PENJUALAN BARANG MILIK NEGARA/DAERAH BERUPA KENDARAAN PERORANGAN DINAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG HIBAH DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN

RANCANGAN KESIMPULAN/KEPUTUSAN RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI III DPR RI DENGAN JAKSA AGUNG MUDA PEMBINAAN KEJAKSAAN AGUNG RI --------------------------------------------------- (BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN)

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN NOMOR: KM 60 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PERHUBUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. bahwa sebagai tindak

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI 2010-2014

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI 2010-2014 PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG ROAD MAP REFORMASI BIROKRASI 2010-2014 MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI

Lebih terperinci

KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3/K/I-XIII.2/7/2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELAKSANA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3/K/I-XIII.2/7/2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELAKSANA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN KEPUTUSAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3/K/I-X.2/7/2014 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA PELAKSANA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

DATA POKOK APBN 2007 2013 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DATA POKOK APBN 2007 2013 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DATA POKOK APBN 2007 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1 : Asumsi Ekonomi Makro, 2007... 1 Tabel 2 : Ringkasan APBN, 2007... 2 Tabel 3 : Pendapatan Negara dan Hibah, 2007...

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 156 TAHUN 2014 TENTANG TUNJANGAN KINERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 156 TAHUN 2014 TENTANG TUNJANGAN KINERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 156 TAHUN 2014 TENTANG TUNJANGAN KINERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2015 TENTANG TUNJANGAN KINERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2015 TENTANG TUNJANGAN KINERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK SALINAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2015 TENTANG TUNJANGAN KINERJA PEGAWAI DI LINGKUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PAJAK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PROGRAM PENYUSUNAN PERATURAN PRESIDEN PRIORITAS TAHUN 2014

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PROGRAM PENYUSUNAN PERATURAN PRESIDEN PRIORITAS TAHUN 2014 KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG PROGRAM PENYUSUNAN PERATURAN PRESIDEN PRIORITAS TAHUN 2014 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF KEMENTERIAN PARIWISATA DAN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG DANA ALOKASI UMUM DAERAH PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA TAHUN ANGGARAN 2013

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG DANA ALOKASI UMUM DAERAH PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA TAHUN ANGGARAN 2013 PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG DANA ALOKASI UMUM DAERAH PROVINSI DAN KABUPATEN/KOTA TAHUN ANGGARAN 2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.178, 2012 KEUANGAN NEGARA. Pertanggungjawaban. APBN 2011. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5341) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN)

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN) RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI III DPR RI DENGAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN PERWAKILAN DAERAH, SEKRETARIS JENDERAL MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT DAN SEKRETARIS JENDERAL MAHKAMAH

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk mewujudkan perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang terwujudnya perekonomian

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH. BAB I KETENTUAN UMUM

MEMUTUSKAN: Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH. BAB I KETENTUAN UMUM www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PENGADAAN PINJAMAN LUAR NEGERI DAN PENERIMAAN HIBAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SEBAGAI BADAN HUKUM MILIK NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SEBAGAI BADAN HUKUM MILIK NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2006 TENTANG PENETAPAN UNIVERSITAS AIRLANGGA SEBAGAI BADAN HUKUM MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 78/PMK.06/2014 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PEMANFAATAN BARANG MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN ANGGARAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2011

ARAH KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN ANGGARAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2011 ARAH KEBIJAKAN UMUM PENGELOLAAN ANGGARAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA TAHUN ANGGARAN 2011 A. PENDAHULUAN Kebijakan Pengelolaan Anggaran DPR RI memiliki arti yang sangat penting dan strategis

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1

Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Tinjauan Konstitusional Penataan Lembaga Non-Struktural di Indonesia 1 Hamdan Zoelva 2 Pendahuluan Negara adalah organisasi, yaitu suatu perikatan fungsifungsi, yang secara singkat oleh Logeman, disebutkan

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI PELAKSANAAN ANGGARAN PENDIDIKAN NASIONAL

IMPLEMENTASI PELAKSANAAN ANGGARAN PENDIDIKAN NASIONAL IMPLEMENTASI PELAKSANAAN ANGGARAN PENDIDIKAN NASIONAL I. Latar Belakang Setiap orang berhak mengembangkan dirinya melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat

Lebih terperinci

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia

Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Pemetaan Pendanaan Publik untuk Perubahan Iklim di Indonesia Juli 2014 Komitmen Pemerintah Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus mengurangi risiko perubahan iklim tercermin melalui serangkaian

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 60 TAHUN 2014 TENTANG DANA DESA YANG BERSUMBER DARI ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI KEMENTERIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI KEMENTERIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI KEMENTERIAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mewujudkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2007 TENTANG ORGANISASI PERANGKAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PERATURAN MENTERI NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENILAIAN MANDIRI PELAKSANAAN REFORMASI BIROKRASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI, Menimbang : Mengingat : bahwa untuk melaksanakan Pasal

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2011 TENTANG BANTUAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa negara menjamin hak konstitusional setiap orang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA PERWAKILAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN

KEPUTUSAN KEPALA PERWAKILAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN PERWAKILAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Jalan Jenderal Ahmad Yani kilometer 32,5 Banjarbaru 70711 Telp: (0511) 4781116 Faksimili : (0511) 4774501 email : kalsel@bpkp.go.id,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUNGAI PENUH DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUNGAI PENUH DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2008 TENTANG PEMBENTUKAN KOTA SUNGAI PENUH DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk memacu

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PMK.02/2015 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PMK.02/2015 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PMK.02/2015 TENTANG TATA CARA PEMBERIAN DAN PEMANFAATAN INSENTIF ATAS PENCAPAIAN KINERJA DI BIDANG CUKAI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG KEDUDUKAN PROTOKOLER DAN KEUANGAN PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

I... 1 PENDAHULUAN... 1 BAB II... 2 TATA CARA PELAKSANAAN PERTEMUAN TIGA PIHAK...

I... 1 PENDAHULUAN... 1 BAB II... 2 TATA CARA PELAKSANAAN PERTEMUAN TIGA PIHAK... ii DAFTAR ISI DAFTAR ISTILAH... iii BAB I... 1 PENDAHULUAN... 1 BAB II... 2 TATA CARA PELAKSANAAN PERTEMUAN TIGA PIHAK... 2 2.1 Mekanisme Pelaksanaan Pertemuan Tiga Pihak... 2 2.2 Institusi Peserta Pertemuan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR...TAHUN... TENTANG KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pengelolaan keuangan negara digunakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 72 TAHUN 2012 TENTANG PERUSAHAAN UMUM (PERUM) PERCETAKAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Standar Pelayanan [SP]

Standar Pelayanan [SP] Standar Pelayanan [SP] Pusat Pembinaan, Pendidikan dan Pelatihan Perencana Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Tahun 2013 KATA PENGANTAR Pusbindiklatren mengemban fungsi sebagai pembina perencana dan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR 30 TAHUN 2012

PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR 30 TAHUN 2012 MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2004 TENTANG LEMBAGA PENJAMIN SIMPANAN UMUM Industri perbankan merupakan salah satu komponen sangat penting dalam perekonomian nasional demi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN

PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4 TAHUN 2008 TENTANG JARING PENGAMAN SISTEM KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilaksanakan untuk mencapai

Lebih terperinci

Membanguan Keterpaduan Program Legislasi Nasional dan Daerah. Oleh : Ketua Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh Indonesia

Membanguan Keterpaduan Program Legislasi Nasional dan Daerah. Oleh : Ketua Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh Indonesia Membanguan Keterpaduan Program Legislasi Nasional dan Daerah Oleh : Ketua Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh Indonesia Pendahuluan Program Legislasi Nasional sebagai landasan operasional pembangunan hukum

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMILIHAN GUBERNUR, BUPATI, DAN WALIKOTA MENJADI UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2005 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2006 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

K E M E N T E R I A N P E K E R J A A N U M U M 2 1/28/2014

K E M E N T E R I A N P E K E R J A A N U M U M 2 1/28/2014 PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 15/PRT/M/2013 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PEMBERIAN TUNJANGAN KINERJA BAGI PEGAWAI DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM BIRO KEPEGAWAIAN & ORTALA K E M E N

Lebih terperinci

BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN

BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN YANG BERSIH DAN BERWIBAWA Salah satu agenda pembangunan nasional adalah menciptakan tata pemerintahan yang bersih, dan berwibawa. Agenda tersebut merupakan upaya untuk

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG POLITIK, HUKUM, DAN KEAMANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2015 TENTANG PEMBERIAN GAJI/PENSIUN/TUNJANGAN BULAN KETIGA BELAS DALAM TAHUN ANGGARAN 2015 KEPADA PEGAWAI NEGERI SIPIL, ANGGOTA TENTARA NASIONAL

Lebih terperinci

PERATURAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG M ENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORM ASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2015 TENTANG

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 46 TAHUN 2013 TENTANG BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA

MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/I/2011 TENTANG PEMBINAAN DAN KOORDINASI PELAKSANAAN PENGAWASAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BPK RI DAN KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK. Hasan Bisri Wakil Ketua BPK RI

BPK RI DAN KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK. Hasan Bisri Wakil Ketua BPK RI BPK RI DAN KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK Hasan Bisri Wakil Ketua BPK RI 1 Agenda Latar Belakang Sekilas tentang BPK BPK & Prinsip Keterbukaan Informasi BPK & Program Diseminasi Informasi Publik Tantangan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR : PER/ 15 /M.PAN/7/2008 TENTANG PEDOMAN UMUM REFORMASI BIROKRASI

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR : PER/ 15 /M.PAN/7/2008 TENTANG PEDOMAN UMUM REFORMASI BIROKRASI PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR : PER/ 15 /M.PAN/7/2008 TENTANG PEDOMAN UMUM REFORMASI BIROKRASI MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL

BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ KEPALA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL NOMOR 4

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN

BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN BAB III ARAH STRATEGI DAN KEBIJAKAN 3.1 Arah Strategi dan kebijakan Nasional Arah strategi dan kebijakan umum pembangunan nasional 2010-2014 adalah sebagai berikut: 1. Melanjutkan pembangunan mencapai

Lebih terperinci

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR 17 TAHUN 2014

MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR 17 TAHUN 2014 SALINANAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2014

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 790 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN EMPAT LAWANG DI PROVINSI SUMATERA SELATAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN EMPAT LAWANG DI PROVINSI SUMATERA SELATAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2007 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN EMPAT LAWANG DI PROVINSI SUMATERA SELATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015 SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2014 TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA NEGARA TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 257/PMK.02/2014 TENTANG TATA CARA REVISI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2015

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 257/PMK.02/2014 TENTANG TATA CARA REVISI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2015 SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 257/PMK.02/2014 TENTANG TATA CARA REVISI ANGGARAN TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa dalam rangka pelaksanaan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA

KEPUTUSAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA KEPUTUSAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA Nomor : KEP-117/M-MBU/2002 TENTANG PENERAPAN PRAKTEK GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA, Menimbang

Lebih terperinci

ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM MENTERI PEKERJAAN UMUM REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 08/PRT/M/2010 TANGGAL 8 JULI 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 S T U D I K A S U S Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 F R A N C I S I A S S E S E D A TIDAK ADA RINTANGAN HUKUM FORMAL YANG MENGHALANGI PEREMPUAN untuk ambil bagian dalam

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan

Lebih terperinci

SELAMAT DATANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN

SELAMAT DATANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN SELAMAT DATANG STANDAR AKUNTANSI PEMERINTAHAN (Oleh: Jamason Sinaga, Ak.*) 1. Pendahuluan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) telah ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tanggal 13

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2014 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Hidup dan Sumber Daya Alam

Hidup dan Sumber Daya Alam KERTAS POSISI Lima Tahun Pemberlakuan UU Keterbukaan Informasi Publik Buka Informasi, Selamatkan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam April 2015 Pengantar Masyarakat sipil Indonesia mengapresiasi langkah

Lebih terperinci

Bab II Tim Evaluasi, Mekanisme Evaluasi, Instrumen Evaluasi, dan Hasil Evaluasi

Bab II Tim Evaluasi, Mekanisme Evaluasi, Instrumen Evaluasi, dan Hasil Evaluasi Bab II Tim Evaluasi, Mekanisme Evaluasi, Instrumen Evaluasi, dan Hasil Evaluasi A. Tim Evaluasi T im Evaluasi ditetapkan dengan Keputusan Deputi Menteri Sekretaris Negara Nomor 3 Tahun 2010 tentang Pembentukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini akan di bahas mengenai latar belakang masalah, rumusan

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini akan di bahas mengenai latar belakang masalah, rumusan BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan di bahas mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, motivasi penelitian, batasan penelitan dan sistematika penelitian.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2005 TENTANG GURU DAN DOSEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional dalam bidang pendidikan

Lebih terperinci

Asumsi : Satker Ditetapkan pada Tahun 2010

Asumsi : Satker Ditetapkan pada Tahun 2010 LANGKAH-LANGKAH SETELAH DITETAPKAN MENJADI SATUAN KERJA PK BLU SETELAH DITETAPKAN MENJADI SATKER BLU APA YANG HARUS DILAKUKAN Asumsi : Satker Ditetapkan pada Tahun 2010 Menyetorkan seluruh PNBP TA 2010

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2004 TENTANG PEMERIKSAAN PENGELOLAAN DAN TANGGUNG JAWAB KEUANGAN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci