SIGIT SULISTYA, A.Md, AK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SIGIT SULISTYA, A.Md, AK"

Transkripsi

1 PEMANTAPAN MUTU INTERNAL LABORATORIUM DAN PROGRAM PEMANTAPAN MUTU EKSTERNAL MIKROSKOPIS MALARIA SIGIT SULISTYA, A.Md, AK BALAI LABORATORIUM KESEHATAN YOGYAKARTA

2 PENYAKIT MALARIA Merupa k a n ma s a la h k es eh a ta n mas ya ra k at di Indones ia An g k a k es a k ita n cuk up ting g i da era h lua r J a wa B a li Terutama da era h Indones ia timur da n da era h tra ns mig ra s i ba g ia n

3 PEMERIKSAAN LABORATORIUM Diag nos is S urveilans epidemiolog i Upaya penang g ulan g an Mempeng aruh i : K ebij ak an K eberh as ilan Peng obatan Pen ang g ulan g an

4 MUTU PEMERIKSAAN LABORATORIUM Apakah hasil pemeriksaan bermutu Apakah hasil pemeriksaan benar Apa yang harus dikerjakan untuk peningkatan hasil pemeriksaan

5 PENINGKATAN MUTU HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM Pening k ata n k ema mpua n ma nag ement K emampuan tek nis tena g a la bora torium k es eh ata n Pening k ata n tek nolog i la bora torium Pening k ata n ruj uk a n Pening k ata n pema ntapa n mutu

6 PEMANTAPAN MUTU SEMUA KEGIATAN YANG DITUJUKAN MENJAMIN : Ketelitian Ketepatan hasil pemeriksaan laboratorium

7 PEMANTAPAN MUTU Mengevaluasi dan Mengurangi Kesalahan Analitis

8 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU Peng ambilan s pes imen yang benar Pemilih an metodh e yang tepat Pemerik s a laboratorium oleh tenag a yang berkompoten Pemantapan mutu Internal Pemantapan mutu ek s ternal

9 UPAYA PENINGKATAN MUTU PELAYANAN LABORATORIUM 1. Pendidikan dan Pelatihan 2. Pelaksana Kegiatan Pemantapan Mutu Internal 3. Mengikuti Kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal 4. Melakukan validasi hasil 5. Melaksanakan Audit 6. Melaksanakan Keamanan Laboratorium 7. Melaksanakan Praktek Laboratorium yang Benar 8. Melaksanakan Praktek Pembuatan Reagen yang Benar

10 Pendidikan dan Pelatihan Kemampuan Tenaga Pemeriksa : Kualitas Pendidikan dan Pelatihan Pengalaman Kerja Kondisi Kerja Upaya Meningkatkan Kemampuan dan Keterampilan : Pendidikan Latihan Berkelanjutan Baik di dalam maupun luar laboratorium

11 PelaksanaAN Kegiatan Pemantapan Mutu Internal Harus dilaksanakan secara benar dan teratur Terhadap Seluruh Proses Kegiatan Tahap Pra Analitik Analitik Pasca Analitik Cakupan Kegiatan Persiapan pasien dan pengambilan spesimen sampai pada pencatatan dan pelaporan hasil

12 Mengikuti Kegiatan Pemantapan Mutu Eksternal Mengetahui penampilan laboratorium dalam pemeriksaan tertentu Harus di ikuti secara teratur bidang

13 MELAKUKAN VALIDASI HASIL Mengetahui Kualitas Hasil Pemeriksaan Melalui : Pemeriksaan uji silang (cross check) Pemeriksaan ulang terhadap persentasi

14 Melaksanakan Audit Pemeriksaan Terhadap Proses Kegiatan Laboratorium Dilakukan Petugas Senior Laboratorium Tenaga Ahli Dari Luar Laboratorium Yang Bersangkutan

15 MELAKSANAKAN KEAMANAN LABORATORIUM Tujuan Melindungi : Petugas Laboratorium Lingkungan Laboratorium Dari : Resiko penyakit atau gangguan kesehatan akibat melakukan kegiatan pelayanan laboratorium

16 MeLAKSANAKAN praktek Laboratorium Yang benar Setiap Petugas Laboratorium : Bekerja sesuai ketentuan laboratorium yang benar dalam Baik dalam laboratorium maupun management praktek teknis

17 MeLAKSANAKAN praktek PEMBUATAN REAGEN YANG BENAR Reagen harus dibuat dengan cara yang benar

18 PEMANTAPAN MUTU internal Kegiatan Pencegahan Dan Pengawasan Kapan Secara Terus Menerus Harapannya Diperoleh Hasil Pemeriksaan Yang Tepat dan Teliti Siapa sebagai pelaksana? Petugas Laboratorium

19 MISI : LABORATORIUM KLINIK Setiap Laboratorium Klinik Memiliki Kewajiban Untuk Menyajikan Hasil Pemeriksaan Yang Baik, Tepat dan Teliti Laboratorium Klinik Harus Melaksanakan Program Pemantapan Mutu

20 HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM TEPAT TELITI CEPAT TERJANGKAU

21 PENGUKURAN TELITI TAPI TIDAK TEPAT

22 PENGUKURAN TEPAT TAPI TIDAK TELITI

23 PENGUKURAN TEPAT DAN TELITI

24 TUJUAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL Mendeteksi dan Mengidentifikasi Adanya Kesalahan Yang Mungkin Terjadi Pada Seluruh Proses Kegiatan Pelayanan Laboratorium Cakupan Proses Penyiapan Pasien Pengambilan Spesimen Penanganan Spesimen Pemeriksaan Spesimen Pencatatan & Pelaporan Tahap Pra Analitik Tahap Analitik Tahap Post Analitik

25 HARAPAN PELAKSANAAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL Terdeteksinya Kesalahan Suatu Tahap Pemeriksaan Diketahui Penyebabnya Segera Dilakukan Upaya Perbaikan Menentukan Langkah-Langkah Yang Perlu Ditempuh Intruksi Tugas Yang Jelas Untuk Tindakan Perbaikan Mencegah dan Menghindari Kesalahan Yang Sama

26 KEBERHASILAN DALAM MENGELIMINASI DAN MENCEGAH FAKTOR-FAKTOR YANG BERPENGARUH TERHADAP HASIL PEMERIKSAAN LABORATORIUM Memberikan Jaminan Terhadap Mutu Hasil Pemeriksaan Laboratorium Ketepatan Dan Ketelitian Hasil Pemeriksaan Laboratorium Dapat Dipercaya

27 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL Persiapan Pasien Pengambilan dan Penanganan Spesimen Pemeliharaan Peralatan Uji Kualitas Reagen Giemsa Pembuatan Prosedur Tetap (Protap) Pencatatan dan Pelaporan

28 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 1. Persiapan Pasien Sebelum Pengambilan Darah Diberi Penjelasan

29 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 2. Pengambilan dan Penanganan Spesimen Pemberian Identitas Pasien : Hal Penting Baik Pada Saat Pengisian Formulir Pemeriksaan Pendaftaran Label Sediaan Pelaporan

30 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 2. Pengambilan dan Penanganan Spesimen Formulir Permintaan Pemeriksaan : Identitas Pasien (Nama, Umur, Jenis Kelamin, Alamat) Tanggal Permintaan Identitas Pengirim Diagnosa / Keterangan Klinis

31 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 2. Pengambilan dan Penanganan Spesimen Label Sediaan Yang Diambil Di laboratorium : Tanggal Pengambilan Sediaan Nomor / Kode Sediaan

32 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 2. Pengambilan dan Penanganan Spesimen Formulir Hasil Pemeriksaan : Tanggal Pemeriksaan Identitas Pasien Nomor / Kode Laboratorium Hasil Pemeriksaan Keterangan Lain Yang Dianggap Perlu Tanggal Hasil Dikeluarkan Paraf / Tanda Tangan Petugas Laboratorium

33 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 2. Pengambilan dan Penanganan Spesimen Cara Pengambilan Darah : Dilaksanakan Tenaga Yang Terampil Dengan Cara Yang Benar Lokasi Pengambilan Darah : Ditetapkan Lokasi Pengambilan Yang Tepat Dewasa : Jari Manis / Tengah Tangan Kiri Bayi 6 12 Bulan : Ujung Jempol Kaki Bayi Kurang Dari 6 Bulan : Tumit Kaki

34 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 2. Pengambilan dan Penanganan Spesimen Pembuatan Sediaan Darah : Mutu Sediaan Darah Menentukan Penemuan dan Ketepatan Diagnosa Parasit Malaria

35 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 2. Pengambilan dan Penanganan Spesimen Kaca Sediaan : Bersih Tidak Berdebu Bebas Lemak dan Alkohol Tidak Ada Goresan / Jernih Hanya Dipergunakan 1 Kali Tebal Kaca Sediaan 1,1 1,3 MM

36 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 2. Pengambilan dan Penanganan Spesimen Kualitas Sediaan Darah : Harus Bersih Volume Cukup (0,5 Ml = 2 3 Tetes) Ketebalan Sediaan Harus Baik Darah Tidak Boleh Terfiksasi Proses Hemolisa Harus Sempurna

37 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 2. Pengambilan dan Penanganan Spesimen Faktor Yang Menentukan Mutu Pewarnaan : Kualitas Giemsa Baik dan Tidak Tercemar Air Larutan Pengencer ph Ideal 7.2 Pengenceran Giemsa Dengan Perbandingan Tepat Waktu Pewarnaan Ketebalan Sediaan Kebersihan Sediaan

38 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 2. Pengambilan dan Penanganan Spesimen Pengiriman Sediaan : Slide Cover (Wadah Terbuat dari Karton) Box Slide

39 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 3. Pemeliharaan Peralatan Mikroskop: Letakkan Mikroskop Ditempat Yang Datar dan Tidak Licin Menggunakan Cahaya Matahari Ditempatkan Yang Cukup Cahaya Dibiasakan Dengan Menggunakan Lensa Obyektif 10 X Kemudian 40 X atau 100 X Dengan Imensi Lensa Obyektif 100 X Dibersihkan Dengan Xylol Setiap Selesai Bekerja Jangan Membersihkan / Merendam Lensa Dengan Alkohol Lumasi Penyangga Setiap Minggu Periksa Kelurusan Sumbu Kondensor Setiap Bulan Simpan Mikroskop Ditempat Yang Tingkat Kelembabannya Rendah

40 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 4. Uji Kualitas Reagen Giemsa Menggunakan Kertas Saring Whatman No. 2 Kertas Saring Diletakkan Diatas Gelas atau Petri Disk Ditetesi 1 2 Tetes Giemsa Biarkan meresap dan melebar serta kering Ditetesi 3 4 Tetes Metil Alcohol Sampai Diameter Tetesan 5 7 CM

41 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 4. Uji Kualitas Reagen Giemsa Interpretasi : Giemsa Baik Lingkaran Tengah Lingkaran Kedua Lingkaran Pinggir : Biru (Methilin Biru) : Ungu (Methilin Azzur) : Merah (Eosin) Giemsa Sudah Rusak Tidak Terbentuk Warna Ungu Atau Merah

42 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 4. Uji Kualitas Reagen Giemsa Uji Kualitas Harus Dilakukan : Setiap Minggu Setiap Kali Menggunakan Reagen Baru Reagen Sudah Mendekati Kadaluwarsa Ada Tanda-TandaKerusakan Perubahan Warna Terjadi Endapan Terdapat Kecurigaan Terhadap Hasil Pemeriksaan

43 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 5. Prosedur Tetap (Protap) Dibuat Untuk Setiap Proses Kegiatan Pelayanan Laboratorium : Penyiapan Pasien Penanganan Spesimen Pemeriksaan Pencatatan dan Pelaporan

44 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 5. Prosedur Tetap (Protap) Memuat Rincian Prosedur Yang Harus Dikerjakan Dibuat dalam bentuk Bagan Ditinjau Ulang dan Diganti Apabila Terjadi Perubahan Methoda Diletakkan Ditempat Yang Mudah Terbaca

45 KEGIATAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL 6. Pencatatan dan Pelaporan Harus Dilakukan Dengan Teliti Diperiksa Kesesuaian Pasien Yang Diperiksa dan Di Catat Diperiksa Hasil Yang Di Catat Dengan Yang Dilaporkkan Selesai Pemeriksaan Hasil Harus Segera Di Sampaikan Secepat Mungkin

46 PEMANTAPAN MUTU EKSTERNAL MIKROSKOPIS MALARIA PEMANTAPAN MUTU EKSTERNAL Kegiatan Pemantapan Mutu Diselenggarakan Secara Periodik Pihak Luar Laboratorium Menilai Penampilan Dari Suatu Laboratorium Terhadap Jenis Pemeriksaan Tertentu

47 PEMANTAPAN MUTU EKSTERNAL MIKROSKOPIS MALARIA PME M MM Diselenggarakan Oleh Departemen Kesehatan (PUSLABKES) Tahun 1994 / 1995 Diselenggarakan 2 Kali Setahun Peserta Laboratorium RSU Dati II Dan Laboratorium Puskesmas Setiap Siklus 1 Slide Sediaan Tebal dan Tipis Hasil Pemeriksaan Dianggap Baik Bila Skor Dari Peserta 12.

48 Morfologi Parasit Malaria Dalam Darah Morfologi Parasit Malaria Berdasarkan Kepada Ciri Yang Dapat Dilihat Dalam Sediaan Darah Tipis. Diwarnai Dengan Pengecatan Giemsa

49 Penilaian Morfologi Parasit Malaria Berdasarkan : Sitoplasma Parasit Kromatin / Nukleus Pigmen Parasit Bintik-Bintik Yang Terbentuk (Sel Eritrosit Yang Terinfeksi) Bentuk Sel Eritrosit Yang Terinfeksi

50 Penilaian Morfologi Parasit Malaria Sitoplasma Parasit dan Kromatin Basofilik Yang Diwarnai Dengan Zat Warna Biru Bentuk Sesuai Dengan Tingkatan Umur Spesies Pada Spesimen Yang Disimpan Lama Warna Biru Pudar Kromatin Nukleus Berwarna Kemerah-Merahan, Warna Lebih Jelas Pada Parasit Muda

51 Penilaian Morfologi Parasit Malaria Pigmen (Hematin / Hemazoin) Terbentuk Apabila Parasit Membesar Dalam Sel Hemoglobin Pigmen Tidak Menyerap Warna Warna Kuning Keemasan atau Merah Trengguli Mulai Terbentuk Pada Trofozoit Sedang Membesar Dijumpai Semua Tingkatan Perkembangan Kecuali Sporozoit, Merozoit, Bentuk Cincin Awal dan Perkembangan Parasit Dihati

52 Penilaian Morfologi Parasit Malaria Bintik-Bintik Sel Terinfeksi Keberadaan Yang Kekal Berguna Untuk Mengenali Spesies Pewarnaan Tepat dan ph Yang Te pat Merupakan Kriteria Penting Untuk Dapat Melihat Dengan Jelas Bintik-Bintik Tersebut

53 Penilaian Morfologi Parasit Malaria Sel Darah Terinfeksi Mengalami Perubahan Ukuran dan Bentuk Penyerapan Zat Warna : Terlihat Lebih Ungu Tapi Pucat, Berwarna Gelap, Bergerigi dan Menebal Ciri-Ciri Tersebut Sangat Berguna Untuk Diagnosis

54 IDENTIFIKASI MORFOLOGI PARASIT MALARIA

55 SEDIAAN DARAH TIPIS

56 PLASMODIUM VIVAX

57 P. VIVAX ERITROSIT NORMAL RETIKULOSIT DAN SELSEL MUDA ERITROSIT

58 P. VIVAX TROFOZOIT SITOPLASMA DAN INTI ERITROSIT MEMBESAR BENTUK CINCIN MEMPUNYAI VAKUOL

59 P. VIVAX BENTUK AMOEBOID TITIK-TITIK SCHUFFNER PIGMEN KUNING KEEMASAN

60 P. VIVAX SKIZON MEROZOIT 12-24M SKIZON MATANG >16 MEROZOIT PIGMEN DITENGAH/PINGGIR

61 P. VIVAX GAMETOSIT SITOPLASMA BIRU INTI PADAT TERLETAK DIPINGGIR PIGMEN TERSEBAR/MENGUMPUL TITIK-TITIK SCHUFFNER DITEPI ERITROSIT > GAMETOSIT (4 : 1)

62 P. VIVAX GAMETOSIT SITOPLASMA MERAH MUDA INTI TERSEBAR DAN SAMAR TERLETAK DITENGAH

63 PLASMODIUM FALCIPARUM

64 P. FALCIPARUM ERITROSIT NORMAL SELURUH ERITROSIT MUDA DAN TUA BERLANSUNG DIKAPILER ORGANORGAN DALAM

65 P. FALCIPARUM BENTUK CINCIN SITOPLASMA HALUS, TERDAPAT VAKUOL BENTUK MARGINAL/ACCOLE INFEKSI MULTIPLE 2-4 ERITROSIT TIDAK MEMBESAR MENGKERUT,BERGERIGI

66 P. FALCIPARUM TROFOZOIT TITIK-TITIK MAURER PADA TROFOZOIT MUDA TIDAK MEMPUNYAI TITIKTITIK MAURER

67 P. FALCIPARUM SKIZON SITOPLASMA MEMBESAR,VAKUOL HILANG PIGMEN MULAI TERLIHAT PIGMEN MULANYA TERSEBAR DISELURUH SITOPLASMA, AKHIR MENGUMPUL DITENGAH MEROZOIT JUMLAH 8-30

68 P. FALCIPARUM GAMETOSIT PANJANG RUNCING SITOPLASMA BIRU KROMATIN TERKUMPUL DITENGAH WARNA GELAP > GAMETOSIT (4 : 1)

69 P. FALCIPARUM GAMETOSIT PENDEK GEMUK UJUNG MEMBULAT SITOPLASMA KEUNGUAN MERAH MUDAH KROMATIN TERSEBAR SEPARUH PARASIT PUDAR PIGMEN DALAM NUKLEUS

70 P. FALCIPARUM CIRI KHAS : INFEKSI HANYA DIKETEMUKAN BENTUK CINCIN DAN GAMETOSIT SKIZON DIKETEMUKAN PADA INFEKSI BERAT

71 PLASMODIUM MALARIAE

72 P. MALARIAE ERITROSIT NORMAL MIRIP Plasmodium vivax SEL ERITROSIT TIDAK MEMBESAR JARANG DIKETEMUKAN PADA INFEKSI MALARIA

73 P. MALARIAE BENTUK CINCIN TIDAK JELAS SITOPLASMA LEBIH PADAT DARI Plasmodium vivax BENTUK PARASIT MATA BURUNG DITENGAH VAKUOL TERDAPAT KROMATIN

74 P. MALARIAE TROFOZOIT BERKEMBANG BENTUK PITA TERDAPAT TITIKTITIK ZEIMAN PIGMEN TERBENTUK PADA SITOPLASMA

75 P. MALARIAE SKIZON MEROZOIT 6-12 RATA-RATA 8 NUKLEUS METROZOIT TERSUSUN RAPI MENYERUPAI BENTUK ROSET

76 P. MALARIAE GAMETOSIT SITOPLASMA BIRU NUKLEUS KECIL PADAT TERLETAK DIPINGGIR

77 P. MALARIAE GAMETOSIT SITOPLASMA KABUR NUKLEUS BESAR DAN TERSEBAR

78 PLASMODIUM OVALE

79 P. OVALE ERITROSIT NORMAL SEDIKIT MEMBESAR JARANG DIKETEMUKAN PADA INFEKSI MALARIA

80 P. OVALE TROFOZOIT VAKUOL SITOPLASMA KECIL TEPI SEL ERITROSIT BERGERIGI

81 P. OVALE TROFOZOIT BERKEMBANG KURANG AMOEBOID PIGMEN HALUS TITIK-TITIK SCHUFFNER LEBIH JELAS

82 P. OVALE SKIZON MEROZOIT 6-12 RATA-RATA 8

83 P. OVALE GAMETOSIT SITOPLASMA BIRU INTI PADAT TERLETAK DIPINGGIR PIGMEN TERSEBAR/ MENGUMPUL TITIK-TITIK SCHUFFNER DITEPI ERITROSIT > GAMETOSIT (4 : 1)

84 P. OVALE GAMETOSIT SITOPLASMA MERAH MUDA INTI TERSEBAR DAN SAMAR TERLETAK DITENGAH

85

Pemeriksaan mikroskopis tinja terhadap parasit metode kwantitatif : 1. Metode Stoll 2. Metode Kato-Katz

Pemeriksaan mikroskopis tinja terhadap parasit metode kwantitatif : 1. Metode Stoll 2. Metode Kato-Katz PRAKTIKUM PARASITOLOGI (TM-Pr.4) Praktikum I: Menghitung Telur Cacing Pada Sediaan Tinja Pemeriksaan mikroskopis tinja terhadap parasit metode kwantitatif : 1. Metode Stoll 2. Metode Kato-Katz Membuat

Lebih terperinci

MODUL PRAKTIKUM PARASITOLOGI PARASIT DARAH DAN JARINGAN BLOK 14 (AGROMEDIS DAN PENYAKIT TROPIS)

MODUL PRAKTIKUM PARASITOLOGI PARASIT DARAH DAN JARINGAN BLOK 14 (AGROMEDIS DAN PENYAKIT TROPIS) MODUL PRAKTIKUM PARASITOLOGI PARASIT DARAH DAN JARINGAN BLOK 14 (AGROMEDIS DAN PENYAKIT TROPIS) Oleh: Dr.rer.biol.hum. dr. Erma Sulistyaningsih, M.Si NAMA :... NIM :... FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

CSL5_Manual apusan darah tepi_swahyuni 2015 Page 1

CSL5_Manual apusan darah tepi_swahyuni 2015 Page 1 1 MANUAL KETERAMPILAN PENGAMBILAN DARAH TEPI, MEMBUAT APUSAN, PEWARNAAN GIEMSA DAN PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK APUSAN DARAH TEPI Sitti Wahyuni, MD, PhD Bagian Parasitologi Universitas Hasanuddin, sittiwahyunim@gmail.com

Lebih terperinci

DESKRIPSI KEGIATAN Kegiatan Waktu Deskripsi 1. Pendahuluan 10 menit Instruktur menelaskan tujuan dari kegiatan ini

DESKRIPSI KEGIATAN Kegiatan Waktu Deskripsi 1. Pendahuluan 10 menit Instruktur menelaskan tujuan dari kegiatan ini 1 KETERAMPILAN PENGAMBILAN DARAH TEPI, MEMBUAT APUSAN, PEWARNAAN GIEMSA DAN PEMERIKSAAN MIKROSKOPIK APUSAN DARAH TEPI (Dipersiapkan oleh Sitti Wahyuni) TUJUAN Umum: Setelah selesai melaksanakan kegiatan

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Direktur Jenderal PP & PL. Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE NIP

KATA PENGANTAR. Direktur Jenderal PP & PL. Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE NIP KATA PENGANTAR Di Indonesia, malaria merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang mempengaruhi angka kematian bayi, anak umur dibawah lima tahun dan ibu melahirkan serta menurunkan produktifitas

Lebih terperinci

3 BAHAN DAN METODE 3.1 Lokasi Penelitian Gambar 3.2 Waktu Penelitian 3.3 Metode Penelitian

3 BAHAN DAN METODE 3.1 Lokasi Penelitian Gambar 3.2 Waktu Penelitian 3.3 Metode Penelitian 17 3 BAHAN DAN METODE 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian dilaksanakan di sekitar Pusat Reintroduksi Orangutan Nyaru Menteng yaitu Kelurahan Tumbang Tahai Kecamatan Bukit Batu Kota Palangka Raya (Gambar 1).

Lebih terperinci

Dosen Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Dosen Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Yogyakarta PENGARUH VARIASI KONSENTRASI GIEMSA TERHADAP HASIL PEWARNAAN SEDIAAN APUS DARAH TIPIS PADA PEMERIKSAAN Plasmodium sp Suryanta 1, Soebiyono 2, Eni Kurniati 3 1,2,3 Dosen Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes

Lebih terperinci

Keterampilan Laboratorium PADA BLOK 2.2 HEMATOIMUNOLIMFOPOETIK:

Keterampilan Laboratorium PADA BLOK 2.2 HEMATOIMUNOLIMFOPOETIK: Keterampilan Laboratorium PADA BLOK 2.2 HEMATOIMUNOLIMFOPOETIK: DARAH 2: -LED -Membuat & memeriksa sediaan apus darah tepi -Evaluasi DARAH 3: - Pemeriksaan gol.darah -Tes inkompatibilitas DARAH 4: Bleeding

Lebih terperinci

LAPORAN AKHIR PENELITIAN HUBUNGAN RIWAYAT INFEKSI MALARIA DAN MALARIA PLASENTA DENGAN HASIL LUARAN MATERNAL DAN NEONATAL

LAPORAN AKHIR PENELITIAN HUBUNGAN RIWAYAT INFEKSI MALARIA DAN MALARIA PLASENTA DENGAN HASIL LUARAN MATERNAL DAN NEONATAL LAPORAN AKHIR PENELITIAN HUBUNGAN RIWAYAT INFEKSI MALARIA DAN MALARIA PLASENTA DENGAN HASIL LUARAN MATERNAL DAN NEONATAL dr. Waode Mariyana dr. Isra Wahid, PhD FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

Lebih terperinci

MIKROSKOP A. PENDAHULUAN

MIKROSKOP A. PENDAHULUAN MIKROSKOP A. PENDAHULUAN Mikroskop merupakan salah satu alat yang penting pada kegiatan laboratorium sains, khususnya biologi. Mikroskop merupakan alat bantu yang memungkinkan kita dapat mengamati obyek

Lebih terperinci

LAJU FOTOSINTESIS PADA BERBAGAI PANJANG GELOMBANG CAHAYA. Tujuan : Mempelajari peranan jenis cahaya dalam proses fotosintesis.

LAJU FOTOSINTESIS PADA BERBAGAI PANJANG GELOMBANG CAHAYA. Tujuan : Mempelajari peranan jenis cahaya dalam proses fotosintesis. LAJU FOTOSINTESIS PADA BERBAGAI PANJANG GELOMBANG CAHAYA Tujuan : Mempelajari peranan jenis cahaya dalam proses fotosintesis. Pendahuluan Fotosintesis merupakan proses pemanfaatan enegi matahari oleh tumbuhan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.1. Malaria Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh protozoa parasit yang merupakan golongan Plasmodium, dimana proses penularannya melalui gigitan nyamuk Anopheles.

Lebih terperinci

PENERAPAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL LABORATORIUM TUBERKULOSIS PADA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA MATARAM TAHUN 2014

PENERAPAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL LABORATORIUM TUBERKULOSIS PADA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA MATARAM TAHUN 2014 ISSN No. 1978-3787 Media Bina Ilmiah57 PENERAPAN PEMANTAPAN MUTU INTERNAL LABORATORIUM TUBERKULOSIS PADA FASILITAS PELAYANAN KESEHATAN DI KOTA MATARAM TAHUN 2014 Oleh : Erna Haryati A.A Istri Agung Trisnawati

Lebih terperinci

KOMPOSISI PARASIT MALARIA DI DAERAH LOMBOK BARAT BERDASARKAN MALARIOMETRIC SURVEY (MS)

KOMPOSISI PARASIT MALARIA DI DAERAH LOMBOK BARAT BERDASARKAN MALARIOMETRIC SURVEY (MS) KOMPOSISI PARASIT MALARIA DI DAERAH LOMBOK BARAT BERDASARKAN MALARIOMETRIC SURVEY (MS) Wigati 1, S. Sukowati 2, Enny W. Lestari 3, Herry Andries 2 1) Balai Besar Penelitian Vektor dan Reservoir Penyakit,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Menurut White dan Breman (2008) dalam buku Harrison s Principles of

BAB 2 LANDASAN TEORI. Menurut White dan Breman (2008) dalam buku Harrison s Principles of BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Malaria Menurut White dan Breman (2008) dalam buku Harrison s Principles of Internal Medicine edisi 17 Bab Malaria, malaria adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh parasit

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1406/MENKES/SK/XI/2002 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1406/MENKES/SK/XI/2002 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1406/MENKES/SK/XI/2002 TENTANG STANDAR PEMERIKSAAN KADAR TIMAH HITAM PADA SPESIMEN BIOMARKER MANUSIA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Darah 1. Definisi darah Darah merupakan bagian penting dari sistem transportasi zat-zat dalam tubuh. Darah merupakan jaringan yang berbentuk cairan terdiri dari dua bagian besar,

Lebih terperinci

III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Induk 3.3 Metode Penelitian

III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat 3.2 Induk 3.3 Metode Penelitian III. METODOLOGI 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2009 sampai dengan Februari 2010 di Stasiun Lapangan Laboratorium Reproduksi dan Genetika Organisme Akuatik, Departemen

Lebih terperinci

MAKALAH. PEWARNAAN SEDERHANA, NEGATIF, KAPSUL dan GRAM. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi yang Diampu Oleh. Drs. Bambang Iskamto, M.

MAKALAH. PEWARNAAN SEDERHANA, NEGATIF, KAPSUL dan GRAM. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi yang Diampu Oleh. Drs. Bambang Iskamto, M. MAKALAH PEWARNAAN SEDERHANA, NEGATIF, KAPSUL dan GRAM Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi yang Diampu Oleh Drs. Bambang Iskamto, M.Si Disusun Oleh : RINA LESTARI 122100249 PROGRAM STUDI D3 KEBIDANAN

Lebih terperinci

PENUNTUN KETRAMPILAN KLINIS PEWARNAAN BASIL TAHAN ASAM ( BTA ) Acid Fast Staining

PENUNTUN KETRAMPILAN KLINIS PEWARNAAN BASIL TAHAN ASAM ( BTA ) Acid Fast Staining PENUNTUN KETRAMPILAN KLINIS PEWARNAAN BASIL TAHAN ASAM ( BTA ) Acid Fast Staining BLOK 2.6 GANGGUAN RESPIRASI Edisi 1, 2016 KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI & PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS ANDALAS FAKULTAS

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di laboratorium Biologi dan Fisika FMIPA Universitas

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilakukan di laboratorium Biologi dan Fisika FMIPA Universitas 17 III. METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di laboratorium Biologi dan Fisika FMIPA Universitas Lampung dan pembuatan preparat histologi hati dilaksanakan di Balai Penyidikan

Lebih terperinci

, No.1858 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166,

, No.1858 Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2008 tentang Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 166, No.1858, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENKES. Mutu. Labotarium Malaria. Jejaring dan Pemantapan. Pedoman. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 2015 TENTANG PEDOMAN JEJARING

Lebih terperinci

Teknik Pewarnaan Bakteri

Teknik Pewarnaan Bakteri MODUL 5 Teknik Pewarnaan Bakteri POKOK BAHASAN : Teknik Pewarnaan GRAM (Pewarnaan Differensial) TUJUAN PRAKTIKUM : 1. Mempelajari cara menyiapkan apusan bakteri dengan baik sebagai prasyarat untuk mempelajari

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTEK LABORATORIUM HISTOTEKNIK TISSUE PROCESSING DAN PEWARNAAN

LAPORAN PRAKTEK LABORATORIUM HISTOTEKNIK TISSUE PROCESSING DAN PEWARNAAN LAPORAN PRAKTEK LABORATORIUM HISTOTEKNIK TISSUE PROCESSING DAN PEWARNAAN Nama : Yulia Fitri Djaribun NIM : 127008005 Tanggal : 22 September 2012 A.Tujuan Praktikum : 1. Agar mahasiswa mampu melakukan proses

Lebih terperinci

BAB 3 METODE PENELITIAN

BAB 3 METODE PENELITIAN 16 BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain cross sectional (potong lintang) untuk membandingkan pemeriksaan mikroskopik dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksinya parasit malaria terhadap sel darah merah. Parasit malaria tergolong jenis parasit dari genus Plasmodium,

Lebih terperinci

Bahasa Indonesia version of: A Handbook for the Identification of Yellowfin and Bigeye Tunas in Fresh Condition

Bahasa Indonesia version of: A Handbook for the Identification of Yellowfin and Bigeye Tunas in Fresh Condition Bahasa Indonesia version of: A Handbook for the Identification of Yellowfin and Bigeye Tunas in Fresh Condition David G. Itano 1 1 Pelagic Fisheries Research Programme, Honolulu, Hawaii Translation by

Lebih terperinci

II. METODE PENELITIAN

II. METODE PENELITIAN II. METODE PENELITIAN A. Materi dan Deskripsi Lokasi 1. Bahan Bahan yang diperlukan dalam penelitian ini adalah daun 10 kultivar kacang tanah ( kultivar Bima, Hypoma1, Hypoma2, Kancil, Kelinci, Talam,

Lebih terperinci

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

BAB I TINJAUAN PUSTAKA PENDAHULUAN Malaria merupakan penyakit parasit dengan kasus 300 juta orang per tahun menderita malaria dan lebih dari 1 juta diantaranya meninggal dunia (Ouattara, 2006). Penyakit ini disebabkan oleh protozoa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Malaria masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat menyebabkan kematian terutama pada kelompok risiko tinggi, yaitu bayi, anak balita dan ibu

Lebih terperinci

Kayu lapis dan papan blok bermuka kertas indah

Kayu lapis dan papan blok bermuka kertas indah Standar Nasional Indonesia Kayu lapis dan papan blok bermuka kertas indah ICS 79.060.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN

BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN BAB IV ANALISIS DAN PERANCANGAN Pada penilitian ini, penulis akan menggunakan ekstraksi tekstur dan warna untuk mengidentifikasi jenis parasit plasmodium vivax. Dengan menggunakan kedua ekstraksi ciri

Lebih terperinci

bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN A. Materi 1. Materi Penelitian

bio.unsoed.ac.id III. METODE PENELITIAN A. Materi 1. Materi Penelitian III. METODE PENELITIAN A. Materi 1. Materi Penelitian Materi penelitian berupa benih ikan nilem (Osteochilus hasselti C.V.) berumur 1, 2, 3, dan 4 bulan hasil kejut panas pada menit ke 25, 27 atau 29 setelah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Besar Veteriner Wates sebagai tempat pembuatan preparat awetan testis.

BAB III METODE PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Besar Veteriner Wates sebagai tempat pembuatan preparat awetan testis. BAB III METODE PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2004 Pebruari 2005 di Sub Laboratorium Biologi Laboratorium Pusat MIPA UNS Surakarta sebagai tempat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Dan Metode Pendekatan Jenis penelitian ini adalah eksplanatori research adalah menjelaskan hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan melalui

Lebih terperinci

BAKTERI PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN

BAKTERI PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN Tujuan:i) ii) iii) iv) Mengetahui dan mampu melakukan teknik-teknik mengisolasi / inokulasi bakteri di media Menggunakan alat mikroskop dengan benar. Meneliti efek bahan atau

Lebih terperinci

Buku Penuntun untuk Identifikasi Madidihang dan Matabesar dalam Keadaan Segar, tetapi Kondisinya Kurang Ideal (v7)

Buku Penuntun untuk Identifikasi Madidihang dan Matabesar dalam Keadaan Segar, tetapi Kondisinya Kurang Ideal (v7) 1 Buku Penuntun untuk Identifikasi Madidihang dan Matabesar dalam Keadaan Segar, tetapi Kondisinya Kurang Ideal (v7) Siosifa Fukofuka Program Perikanan Oseanik Noumea New Caledonia dan David G Itano Program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk melihat kenampakan sel secara utuh. Maserasi pada jaringan tumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. untuk melihat kenampakan sel secara utuh. Maserasi pada jaringan tumbuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Maserasi merupakan salah satu teknik pembuatan preparat yang digunakan untuk melihat kenampakan sel secara utuh. Maserasi pada jaringan tumbuhan dengan cara memisahkan

Lebih terperinci

Laporan Praktikum Histotehnik. Oleh: Lucia Aktalina. Jum at, 14 September WIB

Laporan Praktikum Histotehnik. Oleh: Lucia Aktalina. Jum at, 14 September WIB Laporan Praktikum Histotehnik Oleh: Lucia Aktalina Jum at, 14 September 2012 14.00 17.00 WIB Tujuan Praktikum: Melihat demo tehnik-tehnik Histotehnik,mulai dari pemotongan jaringan organ tikus sampai bloking,

Lebih terperinci

MODUL IV REPRODUKSI SEL

MODUL IV REPRODUKSI SEL 24 MODUL IV REPRODUKSI SEL TUJUAN mitosis. Memahami terjadinya proses dan fase-fase pembelahan sel, terutama secara TEORI Terdapat dua tipe sel yaitu prokariota dan eukariota.sel prokariota umumnya berukuran

Lebih terperinci

Epidemiologi dan aspek parasitologis malaria. Ingrid A. Tirtadjaja Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti

Epidemiologi dan aspek parasitologis malaria. Ingrid A. Tirtadjaja Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Epidemiologi dan aspek parasitologis malaria Ingrid A. Tirtadjaja Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Malaria Sudah diketahui sejak jaman Yunani Kutukan dewa wabah disekitar Roma Daerah rawa berbau

Lebih terperinci

POPPY SISKA ISABELLA

POPPY SISKA ISABELLA POPPY SISKA ISABELLA KULTUR SINAMBUNG DAN UJI AKTIVITAS EKSTRAK DAUN SERAI, RIMPANG LEMPUYANG WANGI, SERTA RIMPANG LEMPUYANG PAHIT TERHADAP PLASMODIUM FALCIPARUM INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG 2 0 0 8 Pada

Lebih terperinci

TRANSPIRASI TUMBUHAN. Tujuan : - Mengukur laju transpirasi pada dua jenis tumbuhan, yaitu Acalypha sp. dan Bauhemia sp.

TRANSPIRASI TUMBUHAN. Tujuan : - Mengukur laju transpirasi pada dua jenis tumbuhan, yaitu Acalypha sp. dan Bauhemia sp. TRANSPIRASI TUMBUHAN Tujuan : - Mengukur laju transpirasi pada dua jenis tumbuhan, yaitu Acalypha sp. dan Bauhemia sp. - Membandingkan laju transpirasi pada dua jenis tumbuhan. - Mengamati jumlah stomata

Lebih terperinci

Gejala dan Tanda Klinis Malaria di Daerah Endemis

Gejala dan Tanda Klinis Malaria di Daerah Endemis Artikel Penelitian Gejala dan Malaria di Daerah Endemis Lambok Siahaan Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Medan Abstrak: Sebuah penelitian cross-sectional dilakukan

Lebih terperinci

Untuk terang ke 3 maka Maka diperoleh : adalah

Untuk terang ke 3 maka Maka diperoleh : adalah JAWABAN LATIHAN UAS 1. INTERFERENSI CELAH GANDA YOUNG Dua buah celah terpisah sejauh 0,08 mm. Sebuah berkas cahaya datang tegak lurus padanya dan membentuk pola gelap terang pada layar yang berjarak 120

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN MIKROSKOP DAN TES DIAGNOSTIK CEPAT DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS MALARIA

PEMERIKSAAN MIKROSKOP DAN TES DIAGNOSTIK CEPAT DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS MALARIA PEMERIKSAAN MIKROSKOP DAN TES DIAGNOSTIK CEPAT DALAM MENEGAKKAN DIAGNOSIS MALARIA Wijaya Kusuma, A.A. Wiradewi Lestari, Sianny Herawati, I Wayan Putu Sutirta Yasa Bagian/SMF Patologi Klinik Fakultas Kedokteran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Demam tifoid merupakan suatu penyakit infeksi sistemik yang disebabkan oleh bakteri Salmonella sp. Demam tifoid merupakan masalah yang serius di negara berkembang,

Lebih terperinci

KONSEP DASAR PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN APA PERBEDAAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN

KONSEP DASAR PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN APA PERBEDAAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN KONSEP DASAR PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN APA PERBEDAAN PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN PERTUMBUHAN (GROWTH) BERKAITAN DG. PERUBAHAN DALAM BESAR, JUMLAH, UKURAN DAN FUNGSI TINGKAT SEL, ORGAN MAUPUN INDIVIDU

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Data penetapan kadar larutan baku formaldehid dapat dilihat pada

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Data penetapan kadar larutan baku formaldehid dapat dilihat pada BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PERCOBAAN 1. Penetapan kadar larutan baku formaldehid Data penetapan kadar larutan baku formaldehid dapat dilihat pada tabel 2. Hasil yang diperoleh dari penetapan

Lebih terperinci

KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA

KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA SUPLEMEN UNIT 1 KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA Mintohari Suryanti Wahono Widodo PENDAHULUAN Dalam modul Pembelajaran IPA Unit 1, Anda telah mempelajari hakikat IPA dan pembelajarannya. Hakikat IPA terdiri

Lebih terperinci

II. METODE PENELITIAN

II. METODE PENELITIAN II. METODE PENELITIAN 2.1 Persiapan Ikan Uji Ikan nila (Oreochromis niloticus) BEST didatangkan dari Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar Bogor yang berukuran rata-rata 5±0,2g, dipelihara selama ±

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2011, di

III. MATERI DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2011, di III. MATERI DAN METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Oktober 2011, di Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung. B.

Lebih terperinci

3. METODE PENELITIAN

3. METODE PENELITIAN 14 3. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari sampai dengan Maret 2012 dengan selang waktu pengambilan satu minggu. Lokasi pengambilan ikan contoh

Lebih terperinci

KEGUNAAN SURVEILANS TUJUAN SUMBER INFORMASI 15/11/2013. PENGERTIAN (Surveilans Malaria)

KEGUNAAN SURVEILANS TUJUAN SUMBER INFORMASI 15/11/2013. PENGERTIAN (Surveilans Malaria) PENGERTIAN (Surveilans Malaria) Surveilans malaria dapat diartikan sebagai pengawasan yang dilakukan secara terus-menerus dan sistematik terhadap distribusi penyakit malaria dan faktor-faktor penyebab

Lebih terperinci

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II Catatan Fasilitator Rangkuman Kasus: Agus, bayi laki-laki berusia 16 bulan dibawa ke Rumah Sakit Kabupaten dari sebuah

Lebih terperinci

PEMISAHAN ZAT WARNA SECARA KROMATORAFI. A. Tujuan Memisahkan zat-zat warna yang terdapat pada suatu tumbuhan.

PEMISAHAN ZAT WARNA SECARA KROMATORAFI. A. Tujuan Memisahkan zat-zat warna yang terdapat pada suatu tumbuhan. PEMISAHAN ZAT WARNA SECARA KROMATORAFI A. Tujuan Memisahkan zat-zat warna yang terdapat pada suatu tumbuhan. B. Pelaksanaan Kegiatan Praktikum Hari : Senin, 13 April 2009 Waktu : 10.20 12.00 Tempat : Laboratorium

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Hasil determinasi tanaman yang dilakukan di Herbarium Bandungense, Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati, Institut Teknologi Bandung menyatakan bahwa tanaman yang digunakan

Lebih terperinci

Dalam penelitian ini akan dilakukan uji aktivitas ekstrak air dan ekstrak etanol dari daun serai, rimpang lempuyang wangi, dan rimpang lempuyang

Dalam penelitian ini akan dilakukan uji aktivitas ekstrak air dan ekstrak etanol dari daun serai, rimpang lempuyang wangi, dan rimpang lempuyang PENDAHULUAN Malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan parasit protozoa dari genus Plasmodium. Pada manusia malaria disebabkan oleh Plasmodium falciparum, Plasmodium malariae, Plasmodium ovale,

Lebih terperinci

2.1. Supervisi ke unit pelayanan penanggulangan TBC termasuk Laboratorium Membuat Lembar Kerja Proyek, termasuk biaya operasional X X X

2.1. Supervisi ke unit pelayanan penanggulangan TBC termasuk Laboratorium Membuat Lembar Kerja Proyek, termasuk biaya operasional X X X 26/03/08 No. 1 2 3 4 5 6 URAIAN TUGAS PROGRAM TBC UNTUK PETUGAS KABUPATEN/KOTA URAIAN TUGAS Ka Din Kes Ka Sie P2M Wasor TBC GFK Lab Kes Da Ka Sie PKM MEMBUAT RENCANA KEGIATAN: 1.1. Pengembangan unit pelayanan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis

TINJAUAN PUSTAKA. menjadi tegas, kering, berwarna terang segar bertepung. Lembab-berdaging jenis 16 TINJAUAN PUSTAKA Botani Tanaman Ada 2 tipe akar ubi jalar yaitu akar penyerap hara di dalam tanah dan akar lumbung atau umbi. Menurut Sonhaji (2007) akar penyerap hara berfungsi untuk menyerap unsur-unsur

Lebih terperinci

III. TEKNIK PEWARNAAN GRAM IDENTIFIKASI BAKTERI

III. TEKNIK PEWARNAAN GRAM IDENTIFIKASI BAKTERI III. TEKNIK PEWARNAAN GRAM IDENTIFIKASI BAKTERI Tujuan: 1. Mempelajari cara menyiapkan olesan bakteri dengan baik sebagai prasyarat untuk memeplajari teknik pewarnaan 2. Mempelajari cara melakukan pewarnaan

Lebih terperinci

SNI 7273:2008. Standar Nasional Indonesia. Kertas koran. Badan Standardisasi Nasional ICS

SNI 7273:2008. Standar Nasional Indonesia. Kertas koran. Badan Standardisasi Nasional ICS Standar Nasional Indonesia Kertas koran ICS 85.080.99 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi... 1 4 Simbol

Lebih terperinci

PETUNJUK PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI DASAR (TPP 1207) Disusun oleh : Dosen Pengampu

PETUNJUK PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI DASAR (TPP 1207) Disusun oleh : Dosen Pengampu PETUNJUK PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI DASAR (TPP 1207) Disusun oleh : Dosen Pengampu KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2016 ACARA

Lebih terperinci

BUPATI JEMBRANA PERATURAN BUPATI JEMBRANA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG ELIMINASI MALARIA DI KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI JEMBRANA PERATURAN BUPATI JEMBRANA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG ELIMINASI MALARIA DI KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA PERATURAN BUPATI JEMBRANA NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG ELIMINASI MALARIA DI KABUPATEN JEMBRANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEMBRANA, Menimbang : a. bahwa malaria merupakan penyakit

Lebih terperinci

Training guide for the identification of yellowfin and bigeye tunas to assist Indonesian port sampling and observer programs

Training guide for the identification of yellowfin and bigeye tunas to assist Indonesian port sampling and observer programs Training guide for the identification of yellowfin and bigeye tunas to assist Indonesian port sampling and observer programs Merta, G.S. 1, Itano, D.G. 2 and Proctor, C.H. 3 1 Research Institute of Marine

Lebih terperinci

EFEK EKSTRAK BIJI Momordica charantia L TERHADAP LEVEL GAMMA GLUTAMYL TRANSFERASE SERUM MENCIT SWISS YANG DIINFEKSI Plasmodium berghei SKRIPSI

EFEK EKSTRAK BIJI Momordica charantia L TERHADAP LEVEL GAMMA GLUTAMYL TRANSFERASE SERUM MENCIT SWISS YANG DIINFEKSI Plasmodium berghei SKRIPSI EFEK EKSTRAK BIJI Momordica charantia L TERHADAP LEVEL GAMMA GLUTAMYL TRANSFERASE SERUM MENCIT SWISS YANG DIINFEKSI Plasmodium berghei SKRIPSI Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Lebih terperinci

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN

II. MATERI DAN METODE PENELITIAN 8 II. MATERI DAN METODE PENELITIAN 1. Materi, Lokasi, dan Waktu Penelitian 1.1 Materi Penelitian 1.1.1 Bahan Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah jamur yang bertubuh buah, serasah daun, batang/ranting

Lebih terperinci

Dasar-dasar Diagnosa Penyakit

Dasar-dasar Diagnosa Penyakit TOPIK 5. Dasar-dasar Diagnosa Penyakit Pengendalian penyakit adalah usaha untuk melindungi ternak dan manusia melalui sistem pencegahan dan pengobatan terhadap gangguan penyakit baik yang bersifat menular

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA

BAB III BAHAN DAN CARA KERJA BAB III BAHAN DAN CARA KERJA A. ALAT 1. Kertas saring a. Kertas saring biasa b. Kertas saring halus c. Kertas saring Whatman lembar d. Kertas saring Whatman no. 40 e. Kertas saring Whatman no. 42 2. Timbangan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan pola faktorial dengan dua faktor, yaitu suhu dan lama thawing, dengan

BAB III METODE PENELITIAN. Rancangan pola faktorial dengan dua faktor, yaitu suhu dan lama thawing, dengan 36 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang menggunakan Rancangan pola faktorial dengan dua faktor, yaitu suhu dan lama thawing, dengan

Lebih terperinci

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Objek penelitian menggunakan semen kambing Peranakan Etawah

III BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Objek penelitian menggunakan semen kambing Peranakan Etawah III BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1. Bahan Penelitian 3.1.1 Objek Penelitian Objek penelitian menggunakan semen kambing Peranakan Etawah berumur 2-3 tahun sebanyak lima ekor. 3.1.2. Bahan Penelitian Bahan

Lebih terperinci

1. Contoh desain pembelajaran tentang keterampilan mengobservasi, mengklasifikasi, mengukur, dan desain dan langkah-langkah evaluasi pembelajaran

1. Contoh desain pembelajaran tentang keterampilan mengobservasi, mengklasifikasi, mengukur, dan desain dan langkah-langkah evaluasi pembelajaran Nama : NIKEN PALUPI UTAMI NIM : 836762484 POKJAR : GANTIWARNO Mata Kuliah : Pembelajaran IPA di SD 1. Contoh desain pembelajaran tentang keterampilan mengobservasi, mengklasifikasi, mengukur, dan desain

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. benar sehingga memberikan hasil yang teliti dan akurat dengan validasi

BAB I PENDAHULUAN. benar sehingga memberikan hasil yang teliti dan akurat dengan validasi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemeriksaan hematologi merupakan pemeriksaan yang sering dilakukan disuatu laboratorium klinik. Pemeriksaan hematologi ini digunakan oleh klinisi sebagai dasar untuk

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 25 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini merupakan penelitian eksperimen. Penelitian eksperimen adalah penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kering, dengan hasil sebagai berikut: Table 2. Hasil Uji Pendahuluan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. kering, dengan hasil sebagai berikut: Table 2. Hasil Uji Pendahuluan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Uji Flavonoid Dari 100 g serbuk lamtoro diperoleh ekstrak metanol sebanyak 8,76 g. Untuk uji pendahuluan masih menggunakan serbuk lamtoro kering,

Lebih terperinci

SNI 0123:2008. Standar Nasional Indonesia. Karton dupleks. Badan Standardisasi Nasional ICS

SNI 0123:2008. Standar Nasional Indonesia. Karton dupleks. Badan Standardisasi Nasional ICS Standar Nasional Indonesia Karton dupleks ICS 85.060 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi... 1 4 Simbol

Lebih terperinci

26 Media Bina Ilmiah ISSN No

26 Media Bina Ilmiah ISSN No 26 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 PERBEDAAN KADAR SGOT (SERUM GLUTAMIC OXALOACETIC TRANSAMINASE) PADA PENDERITA MALARIA FALCIPARUM DAN MALARIA VIVAX oleh: Ida Bagus Rai Wiadnya Jurusan Analis Kesehatan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah E. histolytica Penyebab amebiasis adalah parasit Entamoeba histolytica yang merupakan anggota kelas rhizopoda (rhiz=akar, podium=kaki). 10 Amebiasis pertama kali diidentifikasi

Lebih terperinci

autologous control yang positif mengindikasikan adanya keabnormalan pada pasien itu sendiri yang disebabkan adanya alloantibody di lapisan sel darah

autologous control yang positif mengindikasikan adanya keabnormalan pada pasien itu sendiri yang disebabkan adanya alloantibody di lapisan sel darah SCREENING ANTIBODY Screening antibody test melibatkan pengujian terhadap serum pasien dengan dua atau tiga sampel reagen sel darah merah yang disebut sel skrining/sel panel. Sel panel secara komersial

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM. ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA

LAPORAN PRAKTIKUM. ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA LAPORAN PRAKTIKUM ph METER DAN PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA Hari/Tanggal Praktikum : Kamis/ 17 Oktober 2013 Nama Mahasiswa : 1. Nita Andriani Lubis 2. Ade Sinaga Tujuan Praktikum : Teori 1. Mengetahui pembuatan

Lebih terperinci

Distribution Distribution

Distribution Distribution Incidence Malaria Each year Malaria causes 200-300 million cases It kills over 1 million people every year It is causes by a parasite called plasmodium (4 types) It is spread by the anopheles mosquito

Lebih terperinci

Lampiran I. Soal. 2. Gambarkan garis normal apabila diketahui sinar datangnya! 3. Gambarkan garis normal apabila diketahui sinar datangnya!

Lampiran I. Soal. 2. Gambarkan garis normal apabila diketahui sinar datangnya! 3. Gambarkan garis normal apabila diketahui sinar datangnya! LAMPIRAN Tahap I : Menggambarkan garis normal dari bidang batas yang datar No. Soal No. Soal 1. Gambarkan garis normal apabila diketahui sinar datangnya! 2. Gambarkan garis normal apabila diketahui sinar

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Penelitian akan dilakukan di Pusat Riset Biomedik ( Center for Biomedical

BAB 4 METODE PENELITIAN. Penelitian akan dilakukan di Pusat Riset Biomedik ( Center for Biomedical BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian ini mencakup bidang ilmu Genetika Dasar, Obstetri Ginekologi, dan Endokrinologi. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian akan dilakukan di Pusat

Lebih terperinci

STATUS HEMATOLOGI PENDERITA MALARIA SEREBRAL

STATUS HEMATOLOGI PENDERITA MALARIA SEREBRAL STATUS HEMATOLOGI PENDERITA MALARIA SEREBRAL Nurhayati Parasitologi FK UNAND E-mail: nurhayatikaidir@yahoo.co.id ARTIKEL PENELITIAN Abstrak Malaria masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia. Berdasarkan

Lebih terperinci

SNI 2404:2015 dan SNI 2405:2015 SEBAGAI WUJUD IPTEK YANG BERKELANJUTAN UNTUK MENDUKUNG INFRASTRUKTUR BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN YANG HANDAL

SNI 2404:2015 dan SNI 2405:2015 SEBAGAI WUJUD IPTEK YANG BERKELANJUTAN UNTUK MENDUKUNG INFRASTRUKTUR BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN YANG HANDAL SNI 2404:2015 dan SNI 2405:2015 SEBAGAI WUJUD IPTEK YANG BERKELANJUTAN UNTUK MENDUKUNG INFRASTRUKTUR BIDANG PERUMAHAN DAN PERMUKIMAN YANG HANDAL K E M E N T E R I A N P E K E R J A A N U M U M D A N P

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. data dilakukan dengan menulis pada lembar-lembar buku. Jika sistem pencatatan data

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. data dilakukan dengan menulis pada lembar-lembar buku. Jika sistem pencatatan data BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pencatatan Pencatatan data adalah proses memasukkan data ke dalam media sistem pencatatan data. Jika media sistem pencatatan data tersebut berupa buku, pencatatan data dilakukan

Lebih terperinci

I. NAMA PERCOBAAN Nama percobaan : C4 Mikroskop

I. NAMA PERCOBAAN Nama percobaan : C4 Mikroskop I. NAMA PERCOBAAN Nama percobaan : C4 Mikroskop II. TUJUAN PERCOBAAN 1. Mampu menera mikroskop dengan bermacam-macam kombinasi okuler dan objektif 2. Mampu melakukan pengukuran benda / partikel yang Berukuran

Lebih terperinci

UJI DAYA RACUN BAHAN PENGAWET. 1. Uji Kultur Agar

UJI DAYA RACUN BAHAN PENGAWET. 1. Uji Kultur Agar UJI DAYA RACUN BAHAN PENGAWET 1. Uji Kultur Agar Uji daya racun bahan pengawet dilakukan di laboratorium dan di lapangan. Uji kultur agar adalah uji bahan pengawet di laboratorium untuk serangan cendawan.

Lebih terperinci

III. METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian, Pilot. Plant, dan Laboratorium Analisis Politeknik Negeri Lampung.

III. METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian, Pilot. Plant, dan Laboratorium Analisis Politeknik Negeri Lampung. III. METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian, Pilot Plant, dan Laboratorium Analisis Politeknik Negeri Lampung. Penelitian dilaksanakan pada bulan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya.

BAB III METODE PENELITIAN. Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Teknologi, Universitas Airlangga, Surabaya. Pelaksanaan

Lebih terperinci

Proses Pembuatan Biodiesel (Proses Trans-Esterifikasi)

Proses Pembuatan Biodiesel (Proses Trans-Esterifikasi) Proses Pembuatan Biodiesel (Proses TransEsterifikasi) Biodiesel dapat digunakan untuk bahan bakar mesin diesel, yang biasanya menggunakan minyak solar. seperti untuk pembangkit listrik, mesinmesin pabrik

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset, Jurusan Pendidikan Kimia,

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset, Jurusan Pendidikan Kimia, BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Riset, Jurusan Pendidikan Kimia, Universitas Pendidikan Indonesia yang bertempat di jalan Dr. Setiabudhi No.

Lebih terperinci

PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA BAYI DAN ANAK

PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA BAYI DAN ANAK PEMERIKSAAN LABORATORIUM INFEKSI HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS PADA BAYI DAN ANAK Endang Retnowati Departemen/Instalasi Patologi Klinik Tim Medik HIV FK Unair-RSUD Dr. Soetomo Surabaya, 15 16 Juli 2011

Lebih terperinci

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Malaria merupakan penyakit infeksi yang bersifat akut maupun kronis

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA. Malaria merupakan penyakit infeksi yang bersifat akut maupun kronis BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Malaria merupakan penyakit infeksi yang bersifat akut maupun kronis yang disebabkan oleh protozoa intrasel dari genus Plasmodium. Ada empat parasit yang dapat menginfeksi

Lebih terperinci

SNI Standar Nasional Indonesia. Saus cabe

SNI Standar Nasional Indonesia. Saus cabe Standar Nasional Indonesia Saus cabe ICS 67.080.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi... 1 4 Syarat

Lebih terperinci

LAPORAN PRATIKUM FARMASETIKA II SEDIAAN INJEKSI AMINOPHYLLIN 2,4%

LAPORAN PRATIKUM FARMASETIKA II SEDIAAN INJEKSI AMINOPHYLLIN 2,4% LAPORAN PRATIKUM FARMASETIKA II SEDIAAN INJEKSI AMINOPHYLLIN 2,4% Di susun oleh: Nama : Linus Seta Adi Nugraha No. Mahasiswa : 09.0064 Tgl. Pratikum : 28 Oktober-4 November 2010 LABORATORIUM TEKNOLOGI

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) Kompetensi Dasar 3.1 Menganalisis alat-alat optik secara kualitatif dan kuantitatif.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) Kompetensi Dasar 3.1 Menganalisis alat-alat optik secara kualitatif dan kuantitatif. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP ) Sekolah : SMA... Kelas / Semester : X (sepuluh) / Semester II Mata Pelajaran : FISIKA Alokasi Waktu : 4 Jam Pelajaran Standar Kompetensi 3. Menerapkan prinsip kerja

Lebih terperinci

PROSEDUR MOBILISASI DAN PEMASANGAN PIPA AIR MINUM SUPLEMEN MODUL SPAM PERPIPAAN BERBASIS MASYARAKAT DENGAN POLA KKN TEMATIK

PROSEDUR MOBILISASI DAN PEMASANGAN PIPA AIR MINUM SUPLEMEN MODUL SPAM PERPIPAAN BERBASIS MASYARAKAT DENGAN POLA KKN TEMATIK PROSEDUR MOBILISASI DAN PEMASANGAN PIPA AIR MINUM SUPLEMEN MODUL SPAM PERPIPAAN BERBASIS MASYARAKAT DENGAN POLA KKN TEMATIK A. DEFINISI - Pengangkutan Pekerjaan pemindahan pipa dari lokasi penumpukan ke

Lebih terperinci

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III. Olimpiade Kimia Indonesia. Kimia UJIAN PRAKTEK

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III. Olimpiade Kimia Indonesia. Kimia UJIAN PRAKTEK OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III Olimpiade Kimia Indonesia Kimia UJIAN PRAKTEK Petunjuk : 1. Isilah Lembar isian data pribadi anda dengan lengkap (jangan disingkat) 2. Soal Praktikum terdiri dari 2 Bagian:

Lebih terperinci

Ini Dia Si Pemakan Serangga

Ini Dia Si Pemakan Serangga 1 Ini Dia Si Pemakan Serangga N. bicalcarata Alam masih menyembunyikan rahasia proses munculnya ratusan spesies tanaman pemakan serangga yang hidup sangat adaptif, dapat ditemukan di dataran rendah sampai

Lebih terperinci