Petunjuk Teknis. Penerapan Pembalakan Berdampak Rendah-Carbon (RIL-C) Pada Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam (IUPHHK-HA) Ruslandi

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Petunjuk Teknis. Penerapan Pembalakan Berdampak Rendah-Carbon (RIL-C) Pada Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam (IUPHHK-HA) Ruslandi"

Transkripsi

1 Penerapan Pembalakan Berdampak Rendah-Carbon (RIL-C) Ruslandi Petunjuk Teknis Pada Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam (IUPHHK-HA)

2 Panduan ini diproduksi oleh The Nature Conservancy dengan dukungan dari Pemerintah Australia melalui Program Responsible Asia Forestry & Trade (RAFT).

3 Petunjuk Teknis Penerapan Pembalakan Berdampak Rendah- Carbon (RIL-C) Pada Ijin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Hutan Alam (IUPHHK-HA) Penulis: Ruslandi

4

5 KATA PENGANTAR Hutan alam menunjang keberlangsungan kehidupan di muka bumi. Hutan menghasilkan oksigen, mengatur iklim, mencegah erosi dan banjir, menyediakan habitat bagi jutaan jenis flora dan fauna, menyediakan berbagai sumber pangan, papan, bahan bakar, obat-obatan yang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar, dan lainnya. Devisa dari hasil penjualan hasil hutan kayu dan non-kayu juga telah ikut mendorong pembangunan di Indonesia selama beberapa dasawarsa. Mengingat besarnya fungsi yang dimainkan, hutan alam harus dijaga dan dikelola dengan baik. Pemegang Izin Usaha Pengelolaan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA) dapat memainkan peranan penting dalam mengelola hutan alam di Indonesia secara berkelanjutan. Saat ini sekitar 260 perusahaan mengelola sekitar 24 juta hektar kawasan hutan produksi dan hutan produksi terbatas. Sungguh suatu tanggung jawab yang besar. Pemegang IUPHHK-HA tentunya juga berkepentingan untuk mengemban tanggung jawab tersebut dengan baik. Keberlanjutan usaha mereka sangat ditentukan oleh kinerjanya dalam mengelola hutan secara lestari. Sejarah pengelolaan hutan di Indonesia menunjukkan bahwa tanggung jawab yang diberikan oleh pemerintah kepada pemegang IUPHHK-HA terus meningkat. Sebelum tahun 1990, pemegang IUPHHK-HA melakukan pembalakan hutan dengan sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia. Lemahnya tata kelola dan penegakan hukum menyebabkan kerusakan tegakan tinggal atau limbah sampai dengan 50% dari volume kayu yang diproduksi. Pada era 1990-an, para pemegang IUPHHK-HA diberi tanggung jawab untuk memperbaiki sistem pembalakannya, dan selanjutnya diminta untuk menerapkan pembalakan berdampak rendah (Reduced Impact Logging, RIL). Konsep RIL ini bertujuan untuk mengurangi kerusakan tegakan tinggal dan dampak pembalakan terhadap tanah dan air. Dengan meningkatnya perhatian dunia terhadap pemanasan global dan perubahan iklim, pemerintah semakin memperhatikan sistem pengelolaan hutan produksi oleh pemegang IUPHHK-HA. Terkait dengan perkembangan tersebut, The Nature Conservancy (TNC) membantu mengembangkan konsep RIL rendah karbon (Reduced Impact Logging-Carbon, RIL-C). Praktik-praktik RIL-C bertujuan untuk makin menurunkan emisi karbon akibat pembalakan dan meningkatkan penyerapan emisi

6 karbon dari atmosfer paska pembalakan. Hasil uji coba yang dilakukan TNC menunjukkan bahwa emisi dapat diturunkan 40% tanpa mengurangi volume produksi. Penerapan RIL-C akan meningkatkan kontribusi sektor kehutanan dalam mendukung Rencana Aksi Nasional untuk menurunkan Gas Rumah Kaca (RAN-GRK). Buku ini memberikan panduan teknis dan prosedur dasar pelaksanaan RIL-C. Mengingat konsep RIL-C merupakan konsep yang relatif baru, buku ini diharapkan bermanfaat bagi pemegang IUPHHK- HA dalam mempelajari dan mengkaji konsep ini. Kami berharap buku ini juga memungkinkan bagi para pelaksana pembalakan untuk menerapkan konsep RIL-C dalam kawasan hutan alam dengan baik. Dengan demikian, pemegang IUPHHK-HA betul-betul memainkan peranan pentingnya dalam mengelola hutan alam di Indonesia secara lestari. Jakarta, 1 Desember 2013 Herlina Hartanto, PhD. Direktur Program Terestrial The Nature Conservancy

7 DAFTAR ISI Halaman judul i Kata Pengantar iii Daftar Isi v Daftar Tabel vii Daftar Gambar viii A. PENDAHULUAN 1 A.1 Latar belakang 1 A.2 Maksud dan tujuan 2 A.3 Cakupan dan batasan 2 A.4 Rujukan singkat RIL-C dan kaitannya dengan RIL 3 A.5 Tata waktu dan tahapan kegiatan RIL-C 9 A.6 Cara penggunaan petunjuk teknis 10 B. PERSIAPAN DATA DAN INFORMASI UNTUK PERENCANAAN PEMBALAKAN 13 B.1 ITSP, survei topografi dan pemotongan liana 13 B.2 Pembuatan peta topografi dan posisi pohon 17

8 C. PERENCANAAN DAN KONTRUKSI JALAN ANGKUTAN KAYU 21 C.1 Pembuatan rencana trase jalan angkutan kayu di atas peta 23 C.2 Survei pengenalan dan penandaan trase jalan angkutan kayu di lapangan 25 C.3 Survei dan desain jalan angkutan kayu 26 C.4 Konstruksi jalan angkutan kayu 26 D. PERENCANAAN OPERASIONAL PEMBALAKAN 31 D.1 Pembuatan rencana pembalakan di atas peta 31 D.2 Penandaan jalan sarad dan TPn di lapangan 36 D.3 Distribusi peta rencana pembalakan kepada bagian produksi 38 E. OPERASIONAL PEMBALAKAN 39 E.1 Pembukaan jalan sarad sebelum penebangan 39 E.2 Penebangan dan pembagian batang 42 E.3 Penyaradan 47 E.4 Kegiatan pasca pembalakan 49 F. MONITORING DAN EVALUASI PEMBALAKAN 53 F.1 Monitoring selama kegiatan pembalakan 53 F.2 Evaluasi setelah kegiatan pembalakan 54 Daftar Pustaka 57 Lampiran: Implementasi RIL-C menggunakan teknologi pancang tarik (monocable winch) 59

9 DAFTAR TABEL Tabel A-1. Perbedaan RIL dan RIL-C 4 Tabel A-2. Perkiraan pengurangan emisi karbon dari praktek RIL-C 6 Tabel C-1. Standar jalan hutan 24 Tabel E-1. Standar jarak antar sudetan 50

10 DAFTAR GAMBAR Gambar A-1: Perbedaan aspek-aspek utama dari pembalakan konvensional, RIL dan RIL-C 4 Gambar B-1: Menggunakan satu sisi petak tebangan sebagai baseline 15 Gambar B-2: Survei topografi menggunakan keempat sisi petak tebangan sebagai baseline 15 Gambar B-3: Contoh pembuatan titik ikat 16 Gambar B-4: Contoh peta kontur dan posisi pohon, hasil dari penggambaran secara manual 19 Gambar B-5: Contoh peta topografi dan posisi pohon hasil pemprosesan dengan koterisasi 20 Gambar C-1: Penampang melintang jalan angkutan kayu 22 Gambar D-1: Perencanaan operasional pembalakan pada satu petak tebangan, dengan mempertimbangkan kondisi petak tebangan di sebelahnya 33 Gambar D-2: Hasil delineasi daerah penyangga sempadan sungai dan lereng terjal, be rupa sub-sub petak pembalakan 35 Gambar D-3: Peta rencana operasional pembalakan 36 Gambar D-4: Ilustrasi jalan sarad yang sejajar berdekatan atau berpotongan 36 Gambar D-5: Contoh penandaan jalan sarad di lapangan (cabang dan ujung jalan sarad) 37 Gambar E-1: Pembukaan jalan sarad sebelum penebangan (tidak ada penggusuran tanah) 40 Gambar E-2: Arah rebah pohon sesuai dengan arah condong pohon 44 Gambar E-3: Arah rebah pohon membentuk sudut maksimum 80 o terhadap jalan sarad 45 Gambar E-4: Jalur penyelamatan penebangan 46 Gambar E-5: Teknik penebangan pohon 46 Gambar E-6: Batang log patah akibat rebah pohon pada permukaan yang tidak rata 47 Gambar E-7: Sudetan (cross ditching) pada bekas jalan sarad 49 Gambar E-8: Rehabilitasi bekas TPn 51

11 A PENDAHULUAN A.1 Latar Belakang Pembalakan hutan secara konvensional 1 di hutan alam tropis mengakibatkan kerusakan tegakan tinggal sampai dengan 50% dan kerusakan lingkungan lainnya (Abdulhadi et.al. 1981, Bertault dan Sist 1997). Pembalakan secara konvensional juga meninggalkan limbah pembalakan secara berlebihan. Sebagai dampaknya, praktik pembalakan konvensional ini menghasilkan emisi karbon yang cukup besar. Pembalakan berdampak Rendah (Reduced impact logging RIL) dikembangkan untuk mengurangi dampak negatif lingkungan seperti yang disebutkan di atas dan berpotensi untuk mengurangi emisi karbon. Berdasarkan hasil penelitian di Malaysia, RIL mampu mengurangi emisi karbon sebesar lebih dari 42 ton/ha dibandingkan dengan pembalakan konvensional (Pinard and Putz 1996). Saat ini praktek pembalakan pada ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam (IUPHHK-HA) di Indonesia sudah banyak yang mengadopsi RIL dan terbukti bahwa praktik RIL mampu mengurangi kerusakan tegakan tinggal dan lingkungan, seperti: tanah dan sedimentasi air sungai (TFF 2005). Namun demikian, berdasarkan kajian yang dilakukan oleh the Nature Conservancy pada 9 IUPHHK-HA di Kalimantan Timur (Griscom et. al. 2013) 2 menyatakan bahwa penyempurnaan RIL untuk penerapan di IUPHHK-HA masih memungkinkan, khususnya untuk lebih mengurangi emisi karbon akibat pembalakan dan meningkatkan penyerapan emisi karbon dari atmosfir pasca pembalakan. Penyempurnaan RIL dapat beru- 1 Pembalakan hutan secara konvensional merujuk kepada praktek pembalakan yang secara umum diterapkan pada hutan alam tropis, yaitu tanpa perencanaan pembalakan dan tidak dilakukan oleh pekerja yang terlatih sehingga menimbulkan dampak yang berlebihan terhadap tegakan tinggal dan lingkungan (Lihat Putz et. al. 2008). 2 Rata-rata emisi karbon dari kegiatan pembalakan adalah 51,1 ton per ha (kisaran ton/ha). Akan tetapi, IUPHHK dengan emisi karbon pembalakan terendah tidak selalu menempati ranking satu terendah untuk tiaptiap tahapan kegiatan pembalakan (penebangan, penyaradan dan pengangkutan kayu). Dengan demikian, emisi karbon pembalakan berpeluang untuk lebih diturunkan lagi, jika emisi karbon pada setiap tahapan pembalakan diminimalkan (dibuat rangking satu terendah untuk setiap tahapan pembalakan).

12 2 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha pendahuluan pa meninggikan standar pencapaian pada sejumlah elemen/tahapan kegiatan RIL maupun penambahan prosedur serta penggunaan teknologi pembalakan yang lebih ramah lingkungan. Penyempunaan RIL untuk memaksimalkan manfaat karbon hutan ini disebut sebagai Reduced impact logging carbon (RIL-C). Sejalan dengan komitmen Pemerintah Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar % dari business as usual (BAU) pada tahun 2020 (Peraturan Pre siden RI No. 61/2011), penerapan RIL-C ini akan berkontribusi cukup besar dalam pencapaian komitmen tersebut. Meskipun penurunan emisi per unit luasan hutan (ton/ha) dari penerapan RIL-C ini lebih rendah dibandingkan dengan aktivitas penghindaran deforestasi (avoid deforestation), tetapi dengan luasan hutan produksi yang dimiliki Indonesia saat ini, maka secara total penerapan RIL-C akan berkontribusi besar dalam pengurangan emisi GRK dari sektor kehutanan. Sampai saat ini, belum ada pedoman/panduan/petunjuk teknis yang dimaksudkan secara khusus untuk mengurangi emisi karbon 3 hutan secara maksimal dari kegiatan pembalakan hutan alam tropis. Untuk itu, dipandang cukup penting untuk menyediakan Petunjuk teknis penerapan pembalakan berdampak rendah - karbon (RIL-C) pada ijin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam (IUPHHK-HA), yang dimaksudkan untuk memberikan arahan dan prosedur dasar dalam penerapan RIL-C bagi para pelaksana perencanaan dan operasional pemba lakan pada IUPHHK-HA di Indonesia. Dengan tersedianya petunjuk teknis ini, diharapkan bahwa penerapan RIL-C pada IUPHHK-HA menjadi lebih jelas dan mudah sehingga banyak IUPHHK-HA menerapkan sistem pembalakan ini dan lebih banyak pengurangan emisi karbon hutan yang akan dihasilkan. A.2 Maksud dan Tujuan Maksud dari penyusunan petunjuk teknis RIL-C adalah untuk memberikan panduan dan prosedur dasar dalam penerapan RIL-C pada IUPHHK-HA di Indonesia. Penyusunan petunjuk teknis RIL-C ini bertujuan untuk memperbaiki praktik pembalakan pada IUPHHK-HA di Indonesia sehingga mampu mengurangi secara maksimal emisi karbon yang diakibatkan oleh kegiatan pembalakan hutan, serta sekaligus memberikan arahan kepada pemegang izin IUPHHK-HA untuk berkontribusi dalam usaha penurunan emisi GRK. A.3 Cakupan dan batasan Dokumen yang menjelaskan tentang aspek non-teknis dari penerapan RIL, seperti: manfaat, kebijakan dan manajemen terkait dengan penerapan RIL sudah banyak tersedia (Misalnya: 3 Emisi karbon merupakan salah satu komponen dari emisi gas rumah kaca (GRK).

13 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha pendahuluan 3 Departemen Kehutanan dan Perkebunan 1999, dan Elias et. al. 2001, TFF 2006, Kementerian Kehutanan Menyangkut hal tersebut di atas, penerapan RIL-C tidak berbeda dengan RIL pada umumnya. Untuk itu, petunjuk teknis ini sengaja difokuskan dan hanya mencakup aspek teknis dari penerapan RIL-C. Petunjuk teknis ini mencakup tahapan kegiatan RIL-C dimulai dari inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP), pembukaan wilayah hutan/kontruksi jalan angkutan kayu, perencanaan operasional pembalakan, operasional pembalakan serta monitoing and evaluasi pembalakan. Kegiatan pengangkutan kayu dan tata usaha kayu tidak dicakup dalam petunjuk teknis ini, karena kegiatan-kegiatan tersebut tidak secara langsung berdampak pada pelepasan emisi karbon hutan. Untuk aspek perencanaan, petunjuk teknis ini hanya mencakup perencanaan operasional pembalakan (rencana tahunan). Aspek perencanaan strategis (jangka panjang) pengelolaan hutan dapat ditemukan pada buku Petunjuk Teknis TPTI (1993), Manual RIL dari TFF (2005) dan Pedoman RIL Indonesia (2001). Petunjuk teknis ini dibatasi untuk penerapan pada hutan alam tropis. Untuk penerapan pada tipe hutan yang lain harus dilakukan berbagai modifikasi dan penyesuaian. A.4 Rujukan singkat RIL-C dan kaitannya dengan RIL RIL merupakan praktik dan teknologi pembalakan yang dimaksudkan untuk mengura ngi dampak negatif terhadap lingkungan yang diakibatkan oleh kegiatan pembalakan hutan, khususnya pada hutan alam tropis (TFF 2006). Operasional pembalakan berdasarkan pe rencanaan pembalakan yang baik, tindakan deaktivasi pasca pembalakan serta tersedianya sistem monitoring dan evaluasi pembalakan merupakan aspek-aspek penting RIL sehingga RIL mampu mengurangi kerusakan lingkungan dan lebih efisien dibandingkan dengan pembalakan konvensional (Gambar A-1). RIL-C merupakan praktek dan/atau teknologi pembalakan dengan tujuan utama memaksimalkan penyimpanan karbon hutan dan merupakan hasil modifikasi terhadap RIL. Dengan demikian, prinsip dan prosedur dasar RIL-C tidak berbeda dengan RIL yang sudah ada. Perbedaan keduanya terletak pada standar/target pada setiap tahapan kegiatan pembalakan. Pada sejumlah tahapan kegiatan, standar RIL-C ditetapkan lebih tinggi dibandingkan dengan RIL sehingga pengurangan emisi karbon dan/atau penyerapan emisi karbon dari atmosfer lebih dimaksimalkan. RIL-C juga dapat diterapkan dengan menggunakan teknologi pembalakan yang lebih ramah lingkungan, misalnya dengan menggunakan pancang tarik (monocable winch). 4 Surat Edaran Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi No. 274/VI-PHA/2001.

14 4 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha pendahuluan Gambar A-1: Perbedaan aspek-aspek utama dari pembalakan konvensional, RIL dan RIL-C. Berikut adalah standar dan/atau prosedur yang ditambahkan atau lebih ditekankan, yang membedakan RIL-C dari RIL: Tabel A-1. Perbedaan RIL and RIL-C. Standar/prosedur RIL RIL-C Pemotongan liana Hanya untuk pohon panen. Pembebasan dari liana dilakukan baik untuk pohon panen maupun pohon inti. Tidak secara jelas harus dilakukan. Harus dilakukan saat bersamaan dengan kegiatan inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP).

15 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha pendahuluan 5 Lebar koridor jalan angkutan kayu (lebar badan jalan + bahu jalan + tebangan matahari) -Jalan utama -Jalan cabang -Jalan ranting 34 meter 1 34 meter 34 meter meter meter meter Sistem saluran pembuangan air (drainase) dan pemadatan/ pengerasan permukaan jalan harus dibuat sebaik mungkin untuk mempercepat proses pengeringan jalan Lebar sempadan sungai untuk masingmasing kelas sungai: Kelas 1 (> 30 m) - Kelas 2 ( m) - Kelas 3 ( 5 10 m) - Kelas 4 (< 5 m) 50 meter 50 meter 20 meter 10 meter 100 meter 2 50 meter 20 meter 10 meter Untuk sungai dengan minimal 2 bulan dalam setahun berisi air Seluruh kategori sungai Areal dengan kelerengan terjal 40 atau 50% Tidak ada ukuran spesifik minimum luasan areal lereng terjal yang harus didelineasi 40% 3 Areal lereng terjal dengan luasan 0,25 ha atau lebih harus didelineasi

16 6 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha pendahuluan Areal hutan dengan nilai konservasi tinggi (HCVF) Tidak secara spesifik bagaimana pembalakan dilakukan (untuk areal HCVF yang boleh dilakukan kegiatan pembalakan) Delineasi areal HCVF yang tidak boleh dilakukan kegiatan pembalakan. Menggunakan teknik dan teknologi pembalakan yang ramah lingkungan, misalnya: monocable winch. Sama dengan RIL Pengetesan pohon rusak/gerowong sebelum penebangan Kurang ditekankan pentingnya. Dijadikan prosedur wajib. (Tidak ada ketentuan mengenai toleransi berapa persen pohon yang ditebang, tetapi ditinggal di hutan) (Standar toleransi untuk pohon ditebang, tetapi ditinggal di hutan adalah maskimal 5%) Tinggi tunggak pohon panen Tidak ada ketentuan spesifik Maksimum 30 cm di atas permukaan tanah untuk pohon tidak berbanir. Tepat di atas ujung banir untuk pohon berbanir Sama dengan RIL (Tidak ada ketentuan berapa persen limbah pembalakan yang diperbolehkan) (Upaya untuk mencapai limbah pembalakan maksimum 5%)

17 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha pendahuluan 7 Pemotongan ujung log Tepat sebelum cabang besar pertama. Batang utama sampai dengan diameter 30 cm (Tidak ada ketentuan berapa persen limbah pembalakan yang diperbolehkan) (Toleransi limbah pembalakan maksimum 5%) Kualitas log minimal yang harus dimanfaatkan Tidak ada kejelasan mengenai kualitas log minimum yang dapat dimanfaatkan. Kualitas log untuk pemanfaatan plywood dan penggergajian (sawn timber). Penggergajian mensyaratkan kualitas log lebih rendah dibadingkan plywood. (Tidak ada ketentuan berapa persen limbah pembalakan yang diperbolehkan) (Toleransi limbah pembalakan maksimum 5%) Penebangan terarah Utamakan keselamatan Arah rebah memudahkan kegiatan penyaradan dan mengurangi kerusakan tegakan tinggal akibat penyaradan Menghindari kerusakan pohon yang ditebang Mengurangi kerusakan tegakan tinggal Sama dengan RIL (lebih ditekankan) Penyaradan Mengikuti trase jalan yang sudah ditetapkan. Mengindari penggusuran tanah Tetap di lintasan sarad, gunakan winching secara maksimal. Sama dengan RIL (lebih ditekankan) Penggunaan teknologi pembalakan ramah lingkungan, misalnya: monocable winch

18 8 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha pendahuluan Tempat penimbunan kayu (TPn) Disesuaikan dengan kayu yang akan keluar ke TPn yang bersangkutan. Apabila jumlahnya sedikit (< 20) cukup diletakan di kanan kiri jalan angkutan Maksimum luas TPn 900 m 2 Sama dengan RIL (lebih ditekankan) Deaktivasi Pembuatan sudetan Pembongkaran matingmating Rehabilitasi bekas TPn Sama dengan RIL (lebih ditekankan) Tabel A-2 berikut ini menunjukan perkiraan pengurangan emisi karbon hutan 5 dari penerapan RIL-C dibandingkan dengan pembalakan konvensional sebagai baseline: Tabel A-2. Perkiraan pengurangan emisi karbon dari praktek RIL-C. Tahapan kegiatan Pembalakan Pengurangan emisi karbon (ton/ha) Pengujian pohon berlubang (tidak menebang pohon rusak) 5 10 Perbaikan tehnik penebangan (pemotongan liana, penebangan terarah, pemanfaatan limbah pembalakan) Penyaradan Jalan angkutan kayu 5 10 TPn 1 2 TOTAL Catatan: Penerapan teknologi pancang tarik (monocable winch) dapat mengurangi emisi karbon sebesar ton/ha Grismcom et al. 2008; Pinard and Putz 1996

19 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha pendahuluan 9 A.5 Tata waktu dan tahapan kegiatan RIL-C Mengacu pada petunjuk teknis TPTI (SK Dirjen PH Nomor 151/Kpts-BPHH/1993 dan SK Dirjen BPK P.9/VI-BPHA/2009) dan kegiatan pembalakan dengan metode RIL secara umum, tata waktu, tahapan dan pelaksana kegiatan RIL-C ditetapkan sebagai berikut: TATA WAKTU TAHAPAN KEGIATAN PELAKSANA t-2 ITSP, survey tofografi dan pemotongan liana Bidang Perencanaan t-2 s.d. t-1 Pembuatan peta kontur dan posisi pohon Bidang Perencanaan t-1 Perencanaan dan kontruksi serta pemeliharaan jalan angkutan kayu Bidang Perencanaan dan bidang Produksi t-1 s.d. t0 Perencanaan operasional pembalakan di atas peta Penandaan jalan sarad dan TPn di Lapangan Bidang Perencanaan t0 Pembukaan jalan sarad dan pembuatan TPn sebelum penebangan Penebangan dan pembagian batang Penyaradan Deaktivasi Bidang Produksi t0 Monitoring dan evaluasi pembalakan Bidang Perencanaan dan bidang produksi Keterangan: t0 = Waktu pembalakan t-1 = Satu tahun sebelum pembalakan t-2 = Dua tahun sebelum pembalakan

20 10 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha pendahuluan A.6 Cara Penggunaan petunjuk teknis RIL-C Petunjuk teknis ini disusun mengikuti tahapan kegiatan RIL-C seperti yang ditampilkan pada A.5. Pada masing-masing tahapan kegiatan tersebut akan berisi: tujuan atau sasaran, persyaratan atau prinsip yang harus dipatuhi dan prosedur dasar untuk mencapai tujuan tersebut. Apabila, prosedur suatu tahapan kegiatan dianggap sudah tersedia dalam buku-buku RIL yang sudah diterbitkan sebelumnya maka dalam petunjuk teknis ini hanya dijelaskan prosedur dasar. Untuk rinciannya akan diberikan rujukan kepada dokumen RIL yang relevan. Saat ini telah tersedia cukup banyak dokumen (pedoman/petunjuk teknis/manual) untuk penerapan pembalakan berdampak rendah/ pembalakan ramah lingkungan (reduced impact logging RIL) untuk hutan alam tropis di Indonesia. Lebih dari tujuh (7) dokumen terkait dengan prosedur penerapan RIL telah dilakukan penelaahan (lihat daftar pustaka), namun demikian tiga (3) dokumen RIL berikut ini akan dijadikan rujukan utama dalam petunjuk teknis ini, yaitu: 1. Principles and Practices for Forest Harvesting in Indonesia (Departemen Kehutanan dan Perkebunan 1999). 2. Pedoman Reduced Impact Logging Indonesia (Elias et al. 2001). 3. Manual RIL dari TFF ( 5 buku, tahun terbit ). Dari ketiga dokumen di atas, manual RIL dari TFF merupakan dokumen yang paling lengkap dan banyak digunakan untuk pelatihan penerapan RIL di IUPHHK-HA di Indonesia. Untuk itu, petunjuk teknis ini akan banyak merujuk kepada buku manual RIL yang diterbitkan oleh TFF, meskipun prosedur dari buku RIL terbitan lainnya juga akan dirujuk apabila memang akan melengkapi informasi yang tidak dicakup dalam buku manual RIL dari TFF. Petunjuk teknis RIL-C ini juga dapat digunakan sebagai bahan untuk pelatihan penerapan RIL- C. Berikut ini adalah usulan modul-modul pelatihan dan rujukan bahan pelatihan dari dokumen ini, sesuai dengan tingkat keterampilan yang sudah dimiliki oleh IUPHHK-HA. IUPHHK-HA belum mampu membuat petak kontur dan posisi pohon, dengan akurasi yang memadai untuk perencanaan operasional pembalakan Pelatihan modul 1, mencakup materi: B.1 ITSP, survei tofografi dan pemotongan liana B.2. Pembuatan peta tofografi dan posisi pohon

21 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha pendahuluan 11 IUPHHK-HA sudah mampu menghasilkan petak kontur dan posisi pohon yang memadai untuk perencanaan operasional pembalakan, tetapi belum mampu membuat dan mengimplementasikan RIL/RIL-C Pelatihan modul 2, mencakup materi: D.1 D.1 Perencanaan pembalakan. D.2 Penandaan jalan sarad dan TPn di lapangan. E.1 Pembukaan jalan sarad sebelum penebangan dan pembuatan TPn E.2 Penebangan dan pembagian batang E.3 Penyaradan E.4 Kegiatan pasca pembalakan F. Monitoring dan Evaluasi Pembalakan IUPHHK-HA belum mampu melakukan penilaian kerusakan dan efisiensi dari kegiatan pembalakan Pelatihan modul 3, mencakup materi: RIL-C methodology dari TNC Pelatihan modul 3 TFF (studi produktivas pembalakan dan penilaian kerusakan tegakan dan tanah hutan akibat pembalakan Keterampilan yang diperoleh dari pelatihan modul 1 dan 2 merupakan kemampuan yang harus dimiliki oleh IUPHHK agar mampu menerapkan RIL maupun RIL-C. Kemampuan ini secara rutin digunakan dalam operasional pembalakan. Sedangkan kemampuan yang diperoleh dari pelatihan modul 3, bukan merupakan persyaratan untuk penerapan RIL/RIL-C dan pekerjaan ini dapat dilakukan oleh pihak external dari IUPHHK-HA. Pelatihan untuk perencanaan dan kons truksi jalan angkutan kayu merupakan modul terpisah dari modul modul pelatihan di atas.

22

23 B PENYIAPAN DATA DAN INFORMASI UNTUK PERENCANAAN PEMBALAKAN B.1 Inventarisasi tegakan sebelum penebangan, survei topografi dan pemotongan liana B.1.1 Tujuan Syarat dari penerapan pembalakan dengan RIL-C adalah tersedianya rencana operasional pembalakan yang baik. Agar dapat membuat rencana operasional pembalakan yang baik maka diperlukan peta topografi/kontur dan posisi pohon yang akurat. Sesuai dengan ketentuan TPTI, maka peta topografi dan posisi pohon akan dihasilkan melalui kegiatan inventarisasi tegakan sebelum penebangan (ITSP). Sebagai persyaratan penerapan RIL-C ini, ITSP akan dikombinasikan dengan survei topografi dan pemotongan liana. Untuk itu tujuan dari kegiatan ini adalah: 1. Untuk mendapatkan data topografi dan pohon (pohon panen, pohon inti dan pohon dilindungi) serta data-data lainnya yang berpengaruh terhadap operasional pembalakan. 2. Membebaskan pohon panen dan pohon inti dari lilitan liana (tumbuhan merambat) sehingga akan mengurangi kerusakan dan bahaya dalam kegiatan penebangan serta memacu pertumbuhan pohon inti untuk siklus tebangan berikutnya.

24 14 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha PERSIAPAN DATA DAN INFORMASI UNTUK PERENCANAAN PEMBALAKAN Kotak B-1 Pembebasan pohon panen dan pohon inti dari lilitan liana, yang dilakukan bersamaan dengan kegiatan ITSP bermanfaat untuk: 1. Mengurangi bahaya kegiatan penebangan, yang diakibatkan oleh tertariknya pohon lain oleh pohon yang ditebang, karena terhubung oleh liana. 2. Mengurangi kerusakan tegakan tinggal. 3. Mampercepat pertumbuhan pohon inti setelah pembalakan. Pentingnya pemotongan liana dari pohon panen telah ditegaskan dalam FAO model code of forest harvesting practice (Dykstra and Heinrich 1996). RIL-C mewajibkan tahapan kegiatan ini dan pembebasan dari liana juga diperluas untuk pohon inti. B.1.2 Prinsip 1. Pelaksanaan survei lapangan akan menggunakan peralatan sederhana sehingga sejumlah kesalahan-kesalahan (errors) akan ditemui, baik yang bersumber dari alat yang digunakan, orang yang mengukur maupun prosedur yang diterapkan. Dengan demikian, hasil pengukuran lapangan harus ditampilkan apa adanya. Manipulasi hasil pengukuran, dengan tidak mencatat kesalahan pengukuran mengakibatkan pengolahan data menjadi sulit, yaitu sangat sulit untuk dilakukan koreksi. Ketelitian dan kedisiplinan mengikuti prosedur dalam melakukan survei lapangan merupakan kunci untuk mengu rangi kesalahan-kesalahan tersebut. 2. Survei topografi harus dilakukan dengan membuat poligon tertutup. Prosedur survei topografi TFF (2007) menggunakan definisi satu poligon tertutup untuk satu pasang jalur survei, sedangkan prosedur survei topografi dari TNC dan BFMP (2000) menggunakan definisi satu poligon tertutup untuk setiap petak tebangan. Pada prosedur TFF, jalur baseline cukup menggunakan salah satu dari sisi petak tebangan (Gambar B-1). Sedangkan pada prosedur TNC dan BFMP, jalur baseline harus menggunakan keempat sisi dari petak tebangan tersebut (Gambar B-2). Pada prosedur TFF, jalur survei pohon dapat dibuat setelah dilakukan pembuatan baseline pada salah satu sisi petak tebang. Sedangkan pada prosedur TNC dan BFMP, jalur survei pohon baru dapat dibuat setelah pembuatan baseline di sekeliling petak tebangan selesai dilakukan.

25 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha PERSIAPAN DATA DAN INFORMASI UNTUK PERENCANAAN PEMBALAKAN 15 Gambar B-1: Survei topografi menggunakan satu sisi petak tebangan sebagai baseline ( prosedur TFF) Gambar B-2: Survei topografi menggunakan keempat sisi petak tebangan sebagai baseline ( prosedur TNC dan BFMP)

26 16 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha PERSIAPAN DATA DAN INFORMASI UNTUK PERENCANAAN PEMBALAKAN B.1.3 Prosedur Prosedur ITSP, survei topografi dan pemotongan liana dalam petunjuk teknis RIL-C ini dapat dijelaskan sebagai berikut: Regu kerja: Secara umum pekerjaan ini dibagi menjadi dua (2) regu yaitu regu survei pohon/ ITSP dan regu survei topografi. Dalam prosedur ini ditambah dengan personil yang bertugas memotong liana. Dengan demikian regu kerja terdiri dari 3 sub-regu sebagai berikut: Pengukuran dan pemetaan pohon : 4 orang Survei topografi : 4 orang Pemotong liana : 1-2 orang Langkah langkah dasar: 1. Pembuatan titik ikat ke peta dasar. Titik ikat harus berupa obyek yang mudah dikenali baik di peta dasar maupun di lapangan, misalnya: pertemuan sungai, jalan atau obyek yang permanen lainnya. Dengan adanya Geographical Position System (GPS), titik awal survei pada petak tebangan dapat dijadikan sebagai titik ikat, karena lokasi GPS dari titik awal tersebut dapat dihubungkan dengan peta dasar. Catat posisi geografis and ketinggian tempat (elevasi) pada titik ikat atau titik awal survei tersebut. Gambar B-3: Contoh pembuatan titik ikat 2. Buat baseline untuk survei topografi, dengan melakukan pengukuran titik-titik ketinggian di sepanjang baseline (Lihat Gambar B-1 dan Gambar B-2). Jalur baseline merupakan jalur hasil pengukuran yang dianggap benar, dengan demikian hasil pengukuran jalurjalur survei yang lain harus dikoreksi terhadap jalur baseline ini.

27 Petunjuk Teknis Penerapan RIL-C pada iuphhk-ha PERSIAPAN DATA DAN INFORMASI UNTUK PERENCANAAN PEMBALAKAN Lakukan pengukuran titik-titik ketinggian di sepanjang jalur survei hingga terikat kembali ke jalur baseline (lihat Gambar B-1, Gambar B-2, Gambar B-3), dengan interval 20 meter jarak datar antar titik survei. Prosedur pengukuran titik-titik ketinggian pada jalur survei sama dengan prosedur pengukuran pada baseline. 4. Selain titik-titik ketinggian, informasi tentang kondisi alam yang mempengaruhi operasional pembalakan juga harus dicatat, misalnya: sungai atau parit, rawa-rawa, areal berbatu serta situs situs sosial dan ekologi. 5. Mengikuti jalur survei topografi, survei pohon dilakukan dengan mencacah pohon (pohon panen, pohon inti dan pohon dilindungi) dengan diameter setinggi data (diameter breast height dbh) > 20 cm, yang ditemui di sepanjang jalur survei. Data pohon yang dicatat meliputi: nomor pohon dalam petak, jenis, dbh, tinggi bebas cabang dan posisi pohon. 6. Pohon juga diberi label (merah untuk pohon panen dan kuning untuk pohon inti atau dilindungi). 7. Apabila dijumpai pohon panen dan/atau pohon inti terlilit liana (tumbuhan merambat), lakukan pemotongan liana untuk membebaskannya. Catatan: Meskipun secara prinsip sama, dalam prakteknya prosedur survei topografi secara rinci dapat bervariasi. Khusus untuk prosedur survei yang nantinya akan diolah dengan komputerisasi, pelaksanaan survei harus benar-benar sesuai dengan format yang akan dimasukan (entry) ke komputer. Titik awal dan akhir dari survei tidak boleh terbalik. B.2 Pembuatan peta topografi dan posisi pohon B.2.1 Tujuan Tujuan dari tahapan kegiatan ini adalah untuk membuat peta kontur dan posisi pohon dengan skala, akurasi dan ketersediaan informasi yang memenuhi syarat untuk penyiapan rencana operasional pembalakan. B.2.2 Persyaratan peta skala operasional Untuk perencanaan operasional pembalakan diperlukan persyaratan peta topografi/kontur dan posisi pohon sebagai berikut: Skala peta 1: : 5000 Interval kontur 1 5 meter

RANCANG BANGUN JALAN USAHATANI

RANCANG BANGUN JALAN USAHATANI RANCANG BANGUN JALAN USAHATANI JALAN USAHA TANI TRANSPORTASI SARANA PRODUKSI PERTANIAN: BENIH PUPUK PESTISIDA MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN TRANSPORTASI HASIL PRODUKSI PERTANIAN TRANSPORTASI KEGIATAN OPERASI

Lebih terperinci

PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM INDONESIA (TPTI)

PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM INDONESIA (TPTI) LAMPIRAN 1. PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BINA PRODUKSI KEHUTANAN NOMOR : P.9/VI-BPHA/2009 TANGGAL : 21 Agustus 2009 PEDOMAN PELAKSANAAN SISTEM SILVIKULTUR TEBANG PILIH TANAM INDONESIA (TPTI) 1 PEDOMAN PELAKSANAAN

Lebih terperinci

Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT.

Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH. Oleh : PT. Kenapa Perlu Menggunakan Sistem Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ) Teknik Silvikultur Intensif (Silin) pada IUPHHK HA /HPH Oleh : PT. Sari Bumi Kusuma PERKEMBANGAN HPH NASIONAL *) HPH aktif : 69 % 62% 55%

Lebih terperinci

Sepuluh Tahun Riset Hutan Hujan Tropica Dataran Rendah di Labanan, Kalimantan Timur Plot Penelitian STREK

Sepuluh Tahun Riset Hutan Hujan Tropica Dataran Rendah di Labanan, Kalimantan Timur Plot Penelitian STREK European Union Ministry of Forestry and Estate Crops Sepuluh Tahun Riset Hutan Hujan Tropica Dataran Rendah di Labanan, Kalimantan Timur Plot Penelitian STREK 1999 Graham Tyrie Manggala Wanabakti, Jakarta

Lebih terperinci

BAB 2 PENAMPANG MELINTANG JALAN

BAB 2 PENAMPANG MELINTANG JALAN BAB 2 PENAMPANG MELINTANG JALAN Penampang melintang jalan adalah potongan melintang tegak lurus sumbu jalan, yang memperlihatkan bagian bagian jalan. Penampang melintang jalan yang akan digunakan harus

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 14/Permentan/PL.110/2/2009 TENTANG PEDOMAN PEMANFAATAN LAHAN GAMBUT UNTUK BUDIDAYA KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PENANGANAN

BAB V RENCANA PENANGANAN BAB V RENCANA PENANGANAN 5.. UMUM Strategi pengelolaan muara sungai ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah pemanfaatan muara sungai, biaya pekerjaan, dampak bangunan terhadap

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 13 PERENCANAAN TATA RUANG BERBASIS MITIGASI BENCANA GEOLOGI 1. Pendahuluan Perencanaan tataguna lahan berbasis mitigasi bencana geologi dimaksudkan untuk mengantisipasi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P. 20/Menhut-II/2012 TENTANG PENYELENGGARAAN KARBON HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, : a. bahwa

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT. PUTERA BARAMITRA BATULICIN KALIMANTAN SELATAN Oleh Riezki Andaru Munthoha (112070049)

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.59/Menhut-II/2011 TENTANG HUTAN TANAMAN HASIL REHABILITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.59/Menhut-II/2011 TENTANG HUTAN TANAMAN HASIL REHABILITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.59/Menhut-II/2011 TENTANG HUTAN TANAMAN HASIL REHABILITASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PETUNJUK TERTIB PEMANFAATAN JALAN NO. 004/T/BNKT/1990

PETUNJUK TERTIB PEMANFAATAN JALAN NO. 004/T/BNKT/1990 PETUNJUK TERTIB PEMANFAATAN JALAN NO. 004/T/BNKT/1990 DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA DIREKTORAT PEMBINAAN JALAN KOTA PRAKATA Dalam rangka mewujudkan peranan penting jalan dalam mendorong perkembangan kehidupan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Jalan raya Cibarusah Cikarang, Kabupaten Bekasi merupakan jalan kolektor

BAB I PENDAHULUAN. Jalan raya Cibarusah Cikarang, Kabupaten Bekasi merupakan jalan kolektor BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jalan raya Cibarusah Cikarang, Kabupaten Bekasi merupakan jalan kolektor primer yang menghubungkan antar Kecamatan di Bekasi sering diberitakan kerusakan yang terjadi

Lebih terperinci

Pengantar. Dennis P. Dykstra Deputy Director General for Research

Pengantar. Dennis P. Dykstra Deputy Director General for Research Pengantar Pedoman ini disiapkan oleh CIFOR yang bekerjasama dengan CIRAD-Forêt, Wildlife Conservation Society, Departemen Kehutanan dan Perkebunan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan dan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA USAHA KEHUTANAN

KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA USAHA KEHUTANAN KEMENTERIAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA USAHA KEHUTANAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BINA USAHA KEHUTANAN NOMOR : P.9/VI-BUHA/2014 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN, PENILAIAN DAN PERSETUJUAN RENCANA KERJA

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 1 TAHUN 1997 TENTANG PEMETAAN PENGGUNAAN TANAH PERDESAAN, PENGGUNAAN TANAH

Lebih terperinci

MEMASANG RANGKA DAN PENUTUP PLAFON

MEMASANG RANGKA DAN PENUTUP PLAFON KODE MODUL KYU.BGN.214 (2) A Milik Negara Tidak Diperdagangkan SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK BANGUNAN PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK INDUSTRI KAYU MEMASANG RANGKA DAN PENUTUP PLAFON DIREKTORAT

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dibidang kehutanan saat ini terus ditingkatkan dan diarahkan untuk menjamin kelangsungan tersedianya hasil hutan, demi kepentingan pembangunan industri, perluasan

Lebih terperinci

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan Pasang Surut Penyusun IPG Widjaja-Adhi NP Sri Ratmini I Wayan Swastika Penyunting Sunihardi Setting & Ilustrasi Dadang

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 63/PRT/1993 TENTANG GARIS SEMPADAN SUNGAI, DAERAH MANFAAT SUNGAI, DAERAH PENGUASAAN SUNGAI DAN BEKAS SUNGAI MENTERI PEKERJAAN UMUM Menimbang : a. Bahwa sebagai

Lebih terperinci

KONSEP DAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI DAN IMPLEMENTASINYA

KONSEP DAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI DAN IMPLEMENTASINYA MODUL: KONSEP DAN KEBIJAKAN PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI DAN IMPLEMENTASINYA (SUSTAINABLE FOREST MANAGEMENT/SFM) Disusun Oleh : Natural Resources Development Center Tim Penyusun: Nurtjahjawilasa

Lebih terperinci

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab Bab IX Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi Sumber: hiemsafiles.wordpress.com Gb.9.1 Lembah dan pegunungan merupakan contoh bentuk muka bumi Perlu kita ketahui bahwa bentuk permukaan bumi

Lebih terperinci

Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan

Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan No Bidang kategori 1 Pemerintahan Peningkatan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran Pemeliharaan Hydrant Pembangunan Hydrant Kering Pemeliharaan pertitik

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

BAB III METODE & DATA PENELITIAN

BAB III METODE & DATA PENELITIAN BAB III METODE & DATA PENELITIAN 3.1 Distribusi Jaringan Tegangan Rendah Pada dasarnya memilih kontruksi jaringan diharapkan memiliki harga yang efisien dan handal. Distribusi jaringan tegangan rendah

Lebih terperinci

Berbagi Pengalaman Menghitung Potensi Kayu dan Karbon di Hutan Desa Talang Tembago

Berbagi Pengalaman Menghitung Potensi Kayu dan Karbon di Hutan Desa Talang Tembago Berbagi Pengalaman Menghitung Potensi Kayu dan Karbon di Hutan Desa Talang Tembago SAMSUN LEMBAGA PENGELOLA HUTAN DESA TALANG TEMBAGO Sekilas Pandang Desa Talang Tembago dan Usulan Hutan Desa Desa Talang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM LAMPIRAN : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM NOMOR : P. 01/IV- SET/2012 TANGGAL : 4 Januari 2012 TENTANG : PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM, RENCANA

Lebih terperinci

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 36 TAHUN 2012

GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 36 TAHUN 2012 GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN TENGAH NOMOR 36 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA AKSI DAERAH PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA (RAD - GRK) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.18/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.18/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA Nomor : P.18/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PINJAM PAKAI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP

- 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP - 283 - H. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG LINGKUNGAN HIDUP SUB BIDANG SUB SUB BIDANG PEMERINTAH 1. Pengendalian Dampak Lingkungan 1. Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) 1. Menetapkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2007 TENTANG TATA HUTAN DAN PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN HUTAN, SERTA PEMANFAATAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

RENCANA PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA, SERTA PRASARANA DAN SARANA UMUM

RENCANA PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA, SERTA PRASARANA DAN SARANA UMUM RENCANA PENYEDIAAN DAN PEMANFAATAN RUANG TERBUKA, SERTA PRASARANA DAN SARANA UMUM 6 6.1 Rencana Penyediaan Ruang Terbuka Tipologi Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung berdasarkan kepemilikannya terbagi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMEN-KP/2013 TENTANG PERIZINAN REKLAMASI DI WILAYAH PESISIR DAN PULAU-PULAU KECIL Menimbang DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 62 TAHUN 2013 TENTANG BADAN PENGELOLA PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA DARI DEFORESTASI, DEGRADASI HUTAN DAN LAHAN GAMBUT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas

Ayat (3) Cukup jelas. Ayat (4) Cukup jelas Ayat (4) Pasal 18 Pasal 19 Pasal 20 Pasal 21 TAMBAHAN LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA NOMOR 3 Menimbang LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BARITO UTARA TAHUN 2011 NOMOR 4 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BARITO

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2011 TENTANG SUNGAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dalam rangka konservasi sungai, pengembangan

Lebih terperinci

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-5 1 Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta Dwitanti Wahyu Utami dan Retno Indryani Jurusan Teknik

Lebih terperinci

Pengukuran Diameter dan Tinggi Pohon

Pengukuran Diameter dan Tinggi Pohon Pengukuran Diameter dan Tinggi Pohon Pengukuran Diameter (DBH) Diameter atau keliling merupakan salahsatu dimensi batang (pohon) yang sangat menentukan luas penampang lintang batang pohon saat berdiri

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN

BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN BAB 8 SUMBER DAYA LAHAN 8.1. Beberapa Konsep Dasar Ekonomi Lahan Lahan mempunyai tempat yang khusus dalam kelompok sumber daya, karena lahan diperlukan dalam semua aspek kehidupan manusia dan lahan juga

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR: P. 9/Menhut-II/2009 TENTANG PERUBAHAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR P.35/MENHUT-II/2008 TENTANG IZIN USAHA INDUSTRI PRIMER HASIL HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMANFAATAN AIR HUJAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air hujan merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

Metode Standar untuk Pendugaan Emisi Gas Rumah Kaca dari Sektor Kehutanan di Indonesia (Versi 1)

Metode Standar untuk Pendugaan Emisi Gas Rumah Kaca dari Sektor Kehutanan di Indonesia (Versi 1) Metode Standar untuk Pendugaan Emisi Gas Rumah Kaca dari Sektor Kehutanan di Indonesia (Versi 1) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Pusat Penelitian

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 13 TAHUN 2014 TENTANG RAMBU LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 13 TAHUN 2014 TENTANG RAMBU LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PM 13 TAHUN 2014 TENTANG RAMBU LALU LINTAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERHUBUNGAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

ILMU UKUR TANAH. Oleh: IDI SUTARDI

ILMU UKUR TANAH. Oleh: IDI SUTARDI ILMU UKUR TANAH Oleh: IDI SUTARDI BANDUNG 2007 1 KATA PENGANTAR Ilmu Ukur Tanah ini disajikan untuk Para Mahasiswa Program Pendidikan Diploma DIII, Jurusan Geologi, Jurusan Tambang mengingat tugas-tugasnya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

Bahan ajar On The Job Training. Penggunaan Alat Total Station

Bahan ajar On The Job Training. Penggunaan Alat Total Station Bahan ajar On The Job Training Penggunaan Alat Total Station Direktorat Pengukuran Dasar Deputi Bidang Survei, Pengukuran dan Pemetaan Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia 2011 Pengukuran Poligon

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 32 / PRT / M / 2007 TENTANG PEDOMAN OPERASI DAN PEMELIHARAAN JARINGAN IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang Mengingat : bahwa

Lebih terperinci

METHODE PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN GROIN GEOBAG

METHODE PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN GROIN GEOBAG RAPAT PENJELASAN METHODE PELAKSANAAN PEKERJAAN PEMBANGUNAN GROIN GEOBAG Latar Belakang Sand bag ±100 kg 100 meter Laut Sa luran Groin Pantai METODE PELAKSANAAN PEMBANGUNAN GROIN SAND BAGS Direkomendasikan

Lebih terperinci

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Kalimantan Tengah Central Kalimantan Province Indonesia

Governors Climate & Forests Task Force. Provinsi Kalimantan Tengah Central Kalimantan Province Indonesia Governors limate & Forests Task Force Provinsi Kalimantan Tengah entral Kalimantan Province Indonesia Kata pengantar Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang, SH entral Kalimantan Governor Preface

Lebih terperinci

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2002. Tentang

Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2002. Tentang Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 55 Tahun 2002 Tentang PENGELOLAAN PELABUHAN KHUSUS MENTERI PERHUBUNGAN, Menimbang : a. Bahwa dalam Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhan telah

Lebih terperinci

RINGKASAN DISERTASI. Oleh : Sayid Syarief Fathillah NIM 06/240605/SPN/00217

RINGKASAN DISERTASI. Oleh : Sayid Syarief Fathillah NIM 06/240605/SPN/00217 PENILAIAN TINGKAT BAHAYA EROSI, SEDIMENTASI, DAN KEMAMPUAN SERTA KESESUAIAN LAHAN KELAPA SAWIT UNTUK PENATAGUNAAN LAHAN DAS TENGGARONG, KABUPATEN KUTAI KARTANEGARA RINGKASAN DISERTASI Oleh : Sayid Syarief

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: / / Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan

Lebih terperinci

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon)

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) Happy Mulya Balai Wilayah Sungai Maluku dan Maluku Utara Dinas PU Propinsi Maluku Maggi_iwm@yahoo.com Tiny Mananoma

Lebih terperinci

IMPLEMENTA IMPLEMENT S A I S IRENCANA RENCAN A AKSI AKSI NAS NA I S O I NA N L PENURU PENUR NA N N EMISI EMISI GAS RUMA M H H KACA

IMPLEMENTA IMPLEMENT S A I S IRENCANA RENCAN A AKSI AKSI NAS NA I S O I NA N L PENURU PENUR NA N N EMISI EMISI GAS RUMA M H H KACA IMPLEMENTASI RENCANA AKSI NASIONAL PENURUNAN EMISI GAS RUMAH KACA Ir. Wahyuningsih Darajati, M.Sc Direktur Lingkungan Hidup Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas Disampaikan ik dalam Diskusi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I - 1

BAB I PENDAHULUAN I - 1 I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 TINJAUAN UMUM Ketersediaan jembatan sebagai salah satu prasarana transportasi sangat menunjang kelancaran pergerakan lalu lintas pada daerah-daerah dan berpengaruh terhadap

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 2006 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 6, Pasal 7,

Lebih terperinci

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT DIREKTORAT BINA SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN. Penempatan Fasilitas Perlengkapan Jalan

DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT DIREKTORAT BINA SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN. Penempatan Fasilitas Perlengkapan Jalan DEPARTEMEN PERHUBUNGAN DIREKTORAT JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT DIREKTORAT BINA SISTEM TRANSPORTASI PERKOTAAN Panduan Penempatan Fasilitas Perlengkapan Jalan Panduan Penempatan Fasilitas Perlengkapan Jalan

Lebih terperinci

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA IV.1 TINJAUAN UMUM Pengambilan sampel air dan gas adalah metode survei eksplorasi yang paling banyak dilakukan di lapangan geotermal.

Lebih terperinci

Pertimbangan Teknis Perlindungan Kawasan Nilai Konservasi Tinggi Sungai Besar-Pelang, Kabupaten Ketapang

Pertimbangan Teknis Perlindungan Kawasan Nilai Konservasi Tinggi Sungai Besar-Pelang, Kabupaten Ketapang Pertimbangan Teknis Perlindungan Kawasan Nilai Konservasi Tinggi Sungai Besar-Pelang, Kabupaten Ketapang Hasil survei Nilai Konservasi Tinggi, yang dilakukan Fauna flora International di Kabupaten Ketapang,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.62/Menhut-II/2011 TENTANG PEDOMAN PEMBANGUNAN HUTAN TANAMAN BERBAGAI JENIS PADA IZIN USAHA PEMANFAATAN HASIL HUTAN KAYU PADA HUTAN TANAMAN INDUSTRI

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

ANALISIS TEMPAT KERJA

ANALISIS TEMPAT KERJA II. ANALISIS TEMPAT KERJA Untuk dapat membuat rencana kerja yang realistis, rapi, dan teratur, sebelum menjatuhkan pilihan jenis alat yang akan digunakan, perlu dipelajari dan penelitian kondisi lapangan

Lebih terperinci

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR

TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR LAMPIRAN I PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR : 10/PRT/M/2015 TANGGAL : 6 APRIL 2015 TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR BAB I TATA CARA PENYUSUNAN POLA PENGELOLAAN

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. durasi parkir, akumulasi parkir, angka pergantian parkir (turnover), dan indeks parkir. 3.2. Penentuan Kebutuhan Ruang Parkir

BAB III LANDASAN TEORI. durasi parkir, akumulasi parkir, angka pergantian parkir (turnover), dan indeks parkir. 3.2. Penentuan Kebutuhan Ruang Parkir BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Uraian Umum Maksud dari pelaksanaan studi inventarisasi ruang parkir yaitu untuk mengetahui fasilitas ruang parkir yang tersedia. Dalam studi tersebut dapat diperoleh informasi

Lebih terperinci

Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF

Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era Otonomi Daerah POLICY BRIEF Dana Alokasi Khusus Lingkungan Hidup: Mewujudkan Pembangunan yang Berkelanjutan di Era

Lebih terperinci

http://www.jasling.dephut.go.id DIREKTORAT PJLKKHL-DITJEN PHKA KEMENTERIAN KEHUTANAN R.I.

http://www.jasling.dephut.go.id DIREKTORAT PJLKKHL-DITJEN PHKA KEMENTERIAN KEHUTANAN R.I. 3/21/14 http://www.jasling.dephut.go.id DIREKTORAT PJLKKHL-DITJEN PHKA KEMENTERIAN KEHUTANAN R.I. OUTLINE : 1. PERMENHUT NOMOR : P.64/MENHUT-II/2013 TENTANG PEMANFAATAN AIR DAN ENERGI AIR DI SUAKA MARGASATWA,

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Geodesi dan Keterkaitannya dengan Geospasial

BAB II DASAR TEORI. 2.1 Geodesi dan Keterkaitannya dengan Geospasial BAB II DASAR TEORI 2.1 Geodesi dan Keterkaitannya dengan Geospasial Dalam konteks aktivitas, ruang lingkup pekerjaan ilmu geodesi umumnya mencakup tahapan pengumpulan data, pengolahan dan manipulasi data,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2014 TENTANG ANGKUTAN JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 137

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara A. Dasar Pemikiran Sejak satu dasawarsa terakhir masyarakat semakin

Lebih terperinci

TATA CARA PERENCANAAN FASILITAS PEJALAN KAKI DI KAWASAN PERKOTAAN

TATA CARA PERENCANAAN FASILITAS PEJALAN KAKI DI KAWASAN PERKOTAAN J A L A N NO.: 011/T/Bt/1995 TATA CARA PERENCANAAN FASILITAS PEJALAN KAKI DI KAWASAN PERKOTAAN DER P A R T E M EN PEKERJAAN UMUM DIRE KTORAT JENDERAL BINA MARGA D I R E K T O R A T B I N A T E K N I K

Lebih terperinci

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR)

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) Benteng, Selayar 22-24 Agustus 2006 TRANSPLANTASI KARANG Terumbu

Lebih terperinci

BAB VII PENGHIJAUAN JALAN

BAB VII PENGHIJAUAN JALAN BAB VII PENGHIJAUAN JALAN Materi tentang penghijauan jalan atau lansekap jalan, sebagian besar mengacu buku "Tata Cara Perencanaan Teknik Lansekap Jalan No.033/TBM/1996" merupakan salah satu konsep dasar

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah

Lebih terperinci

Kade Sidiyasa Zakaria Ramses Iwan

Kade Sidiyasa Zakaria Ramses Iwan Hutan Desa Setulang dan Sengayan Malinau, Kalimantan Timur Potensi dan identifi kasi langkah-langkah perlindungan dalam rangka pengelolaannya secara lestari Kade Sidiyasa Zakaria Ramses Iwan Hutan Desa

Lebih terperinci

BAB I Bab 1 PENDAHULUAN

BAB I Bab 1 PENDAHULUAN BAB I Bab 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dari pertengahan tahun 1980-an hingga 1997 perekonomian Indonesia mengalami tingkat pertumbuhan lebih dari 6% per tahun. Dengan tingkat pertumbuhan seperti ini,

Lebih terperinci

Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material, dan Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi

Deputi Bidang Teknologi Informasi, Energi, Material, dan Lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Deputi Big Informasi, Energi, Material, Ba Pengkajian Penerapan Pusat Pengkajian Penerapan (P3TL) mempunyai tugas melaksanakan pengkajian, penerapan, koordinasi penyiapan penyusunan kebijakan nasional

Lebih terperinci

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya;

2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya; PERATURAN BERSAMA MENTERI TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI DAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR : PER-23/MENIXI/2007 NOMOR : P.52 IVIENHUT-II/2007 TENTANG PELEPASAN KAWASAN HUTAN DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN TRANSMIGRASI

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR

PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR PEMERINTAH KOTA DENPASAR TPST-3R DESA KESIMAN KERTALANGU DINAS KEBERSIHAN DAN PERTAMANAN KOTA DENPASAR VISI DAN MISI VISI Meningkatkan Kebersihan dan Keindahan Kota Denpasar Yang Kreatif dan Berwawasan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 41 Undang-Undang

Lebih terperinci

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA

KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA Lampiran IV : Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 01 Tahun 2009 Tanggal : 02 Februari 2009 KRITERIA, INDIKATOR DAN SKALA NILAI FISIK PROGRAM ADIPURA NILAI Sangat I PERMUKIMAN 1. Menengah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 1999 TENTANG KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa hutan, sebagai karunia dan amanah Tuhan Yang Maha

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2003 TENTANG PENATAGUNAAN TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 16 ayat (2) Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN EMPAT LAWANG

PEMERINTAH KABUPATEN EMPAT LAWANG PEMERINTAH KABUPATEN EMPAT LAWANG PERATURAN DAERAH KABUPATEN EMPAT LAWANG NOMOR 13 TAHUN 2009 TENTANG PENETAPAN DAN PENEGASAN BATAS DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI EMPAT LAWANG, Menimbang

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

ACEH: Proyek Uji Coba REDD+ Ulu Masen

ACEH: Proyek Uji Coba REDD+ Ulu Masen Seri briefing hak-hak, hutan dan iklim Oktober 2011 ACEH: Proyek Uji Coba REDD+ Ulu Masen Proyek Ulu Masen dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Aceh dengan bantuan Fauna and Flora International (FFI)

Lebih terperinci

Tata ruang Indonesia

Tata ruang Indonesia Tata ruang Indonesia Luas 190,994,685 Ha Hutan Produksi Kawasan Non-hutan Hutan Produksi Terbatas Hutan konservasi Hutan dilindungi Sumber: Statistik Kehutanan Indonesia 2008, Departemen Kehutanan Indonesia

Lebih terperinci

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan

Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan Keberadaan lahan gambut selalu dikaitkan dengan keanekaragaman hayati yang ada di dalamnya. Kondisi lahan gambut yang unik dan khas menjadikan keanekaragaman hayati yang terdapat di dalamnya juga memiliki

Lebih terperinci