FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV."

Transkripsi

1 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA PASIEN HARGA DIRI RENDAH DI RUMAH SAKIT KHUSUS DAERAH PROV. SULAWESI SELATAN Beatris F. Lintin 1. Dahrianis 2. H. Muh. Nur 3 1 Stikes Nani Hasanuddin Makassar 2 Stikes Nani Hasanuddin Makassar 3 Poltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan dirinya. Tujuan penelitain ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perubahan konsep diri pada pasien harga diri rendah Di Ruang Rancangan penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif analitik, dengan teknik pengambilan sampel total sampling yaitu berdasarkan jumlah pasien harga diri rendah dengan jumlah responden sebanyak 30 responden sesuai dengan kriteria inklusi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Kemudian hasilnya dilakukan dengan uji statistic Chi Square dengan tingkat kemaknaan α=0,05, dari kelima komponen konsep diri semuanya mengalami perubahan ke arah negatif. Sehingga diperoleh gambaran harga diri rendah berdasarkan gambaran diri terjadi perubahan ke arah negatif sebanyak 23 orang (76,7%) dan responden dengan gambaran diri positif 7 orang (23,3%), ideal diri kearah negatif 22 orang(73,3%) dan kearah positif 8 orang (26,7%), harga diri kearah negatif 20 orang (66,7%) dan kearah positif 10 orang (33,3%), peran ke arah negatif 23 orang (76,7%) dan ke arah positif 7 orang (23,3%), diri ke arah negatif 21 orang (70%) dan ke arah positif 9 orang (30%). Kesimpulan dalam penelitian ini adalah terdapat hubungan perubahan konsep diri pada pasien harga diri rendah di ruang Kenanga Rumah Sakit Khusus Daerah Kata kunci : konsep diri, harga diri rendah. PENDAHULUAN Definisi kesehatan jiwa menurut UU No.3 tahun 1996 yang dikutip Yosep (2009) adalah kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual, emosional secara optimal dari seseorang dan perkembangan ini berjalan selaras dengan orang lain. Salah satu bentuk gangguan jiwa adalah harga diri rendah. Harga diri rendah adalah persaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah diri yang berkepanjangan akibat evaluasi yang negatif terhadap diri sendiri atau kemampuan dirinya. Harga diri seseorang diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Gangguan harga diri rendah akan terjadi jika kehilangan kasih sayang, perlakuan orang lain yang mengancam dan hubungan interpersonal yang buruk. Tingkat harga diri seseorang berada dalam rentang tinggi sampai rendah. Individu yang memiliki harga diri tinggi menghadapi lingkungan secara aktif dan mampu beradaptasi secara efektif untuk berubah serta cenderung merasa aman. Individu yang memiliki harga diri rendah melihat lingkungan dengan cara negatif dan menganggap sebagai ancaman. Secara umum gangguan konsep diri harga diri rendah ini dapat terjadi secara situasional atau kronik. Secara situasional misalnya karena trauma yang muncul secara tiba-tiba misalnya harus dioperasi,kecelakaan, perkosaan atau dipenjara. Harga diri rendah kronik, biasanya dirasakan klien sebelum sakit atau sebelum dirawat klien sudah memiliki pikiran negatif dan meningkat saat dirawat. Konsep diri adalah semua ide, pikiran, keyakinan, kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya dengan orang lain (Stuart & Sundeen, 2009). Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil dari pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat dan dengan realitas dunia. Konsep diri adalah merupakan dasar yang perlu diketahui perawat untuk mengerti perilaku dan pandangan klien terhadap dirinya, maslahnya dan lingkungannya. Dalam 1

2 memberikan asuhan keperawatan perawat harus dapat menyakini bahwa klien adalah makhluk bio psiko sosial spiritual yang utuh dan unik sebagai satu kesatuan dalam berinteraksi terhadap lingkungannya dan dirinya sendiri. Berdasarkan data dari Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan tahun 2011 tercatat jumlah penduduk Indonesia sebesar orang sedangkan sekitar orang (7,2%) mengalami gangguan jiwa (Depkes RI, 2011). Riset Kesehatan Dasar tahun 2012 menunjukkan bahwa sebanyak 0,46% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar satu juta orang menderita gangguan psikotik dan 11,6% menderita gangguan emosional perilaku terhadap responden usia tahun sehingga diperkirakan penderita gangguan jiwa mencapai 19 juta orang. Hal ini menunjukkan bahwa pada setiap 1000 orang penduduk terdapat empat sampai lima orang menderita gangguan jiwa. Data tersebut menunjukkan bahwa data pertahun di Indonesia yang mengalami gangguan jiwa selalu meningkat (Depkes RI, 2012). Adapun di Provinsi Sulawesi Selatan, berdasarkan Profil Kesehatan tahun 2010, tercatat sebanyak orang (0,69%) menderita gangguan jiwa dari jumlah penduduk secara keseluruhan (Dinkes SULSEL, 2010). Sedangkan tahun 2011, data Profil Kesehatan mencatat penderita gangguan jiwa sebesar orang yaitu 1,3 % dari penduduk Sulawesi Selatan yang berjumlah sekitar orang (Dinkes SULSEL, 2012). Pelayanan kesehatan jiwa berpusat di Rumah Sakit Khusus Daerah (RSKD) Berdasarkan hasil pencatatan jumlah penderita yang mengalami gangguan jiwa di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2010 adalah sebanyak orang yang diantaranya terdapat penderita harga diri rendah 2652 orang (20,5%). Tahun 2011 sebanyak orang dan jumlah harga diri rendah 1151 orang (10,1%). Sedangkan pada triwulan pertama (Januari sampai Maret) tahun 2012, jumlah pasien adalah sebanyak 3337 orang yang terdiri dari penderita harga diri rendah sebanyak 417 orang (12.5%). (Medical Record Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, BAHAN DAN METODE Jenis penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif analitik yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perubahan konsep diri pada pasien harga diri rendah di Bangsal Penelitian ini dilaksanakan di Ruang Kenanga Rumah Sakit Khusus Daerah Populasi dari penelitian ini adalah seluruh pasien penderita yang rawat di Ruang Rata rata jumlah pasien yang di rawat dalam 1 bulan 30 orang. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 30 responden. Teknik Sampling yang digunakan yaitu total sampling yaitu dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sampel dalam hal ini adalah semua pasien yang dirawat di Ruang Kenanga Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sul-Sel. a. Kriteria Sampel 1) Kriteria inklusi: a) Pasien b) Sedang menjalani perawatan di ruangan c) Bersedia menjadi responden 2) Kriteria eksklusi a) Tidak bersedia menjadi responden b) Tidak dapat membaca dan menulis c) Pasien yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik. Dalam melakukan pengumpulan data, peneliti menggunakan teknik wawancara yang berisi pokok- pokok pikiran tentang perubahan konsep diri. Dalam penelitian ini digunakan cara pengolahan data antara lain dengan: 1. Editing dilakukan untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau yang telah di kumpulkan. 2. Koding, data yang telah terkumpul diberi kode atau simbol menurut pengamatan yang telah dilakukan. 3. Tabulasi data dilakukan ntuk memudahkan analisa data, maka dapat di kumpulkan ke dalam tabel sesuai dengan karakteristik masing-masing. 4. Analisa data a. Analisa univariate Analisa univariate dilakukan terhadap setiap variabel dari hasil penelitian yang menghasilkan distribusi dan presentase dari tiap variabel yang diteliti. b. Analisa Bivariate Untuk melihat hubungan dari tiap variabel dengan uji statistik Chi Square dengan tingkat kemaknaan α = 0,05 dengan menggunakan komputer program komputer SPSS. 2

3 HASIL PENELITIAN 1. Karakteristik responden Tabel 5.1. Karakteristik responden di ruang Provinsi Sulawesi Selatan bulan Januari (n=30) Karakteristik Tingkat pendidikan a. SD b. SMP c. SMA umur a tahun b tahun c. >50 tahun Pekerjaan a. Tidak kerja/irt Status pernikahan a. belum kawin b. kawin c. janda/duda Jumlah (n) Persentase (%) 46,7 20,0 33,3 63,3 26,7 10, ,0 56,7 3,3 Tabel 5.1 menggambarkan distribusi frekuensi hasil penelitian berdasarkan karakteristik responden, yaitu diketahui bahwa jumlah responden terbanyak memiliki tingkat pendidikan pada jenjang sekolah dasar (SD) yaitu 14 orang (46,7%). Jumlah responden terbanyak berada pada rentang umur tahun yaitu 19 orang (63,3%), dan 30 orang responden (100%) tidak bekerja atau sebagai IRT, sebagian besar responden 17 orang (56,7%) memiliki status pernikahan menikah. 2. Analisa univariat Bagian ini menguraikan hasil distribusi untuk masing-masing variabel yang digunakan dalam penelitian, yakni gambaran diri, ideal diri, harga diri, peran dan diri. a. Gambaran diri Tabel 5.2. Distribusi responden berdasarkan gambaran diri pada pasien harga diri rendah di ruang Kenanga Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan bulan Januari (n=30) Gambaran diri Jumlah (n) Persentase (%) ,3 76,7 Tabel 5.2 menggambarkan berdasarkan gambaran diri, yang menunjukkan responden terbanyak adalah responden dengan gambaran diri negatif yaitu 23 orang (76,7%) dan responden dengan gambaran diri positif 7 orang (23,3%). b. Ideal diri Tabel 5.3. Distribusi responden berdasarkan ideal diri pada pasien harga diri rendah di Ruang Kenanga Rumah Sakit Selatan bulan Januari (n=30) Ideal diri Jumlah Persentase (n) (%) ,7 73,3 Tabel 5.3 menggambarkan berdasarkan ideal diri, yang menunjukkan responden terbanyak adalah responden dengan ideal diri negatif yaitu 22 orang (73,3%) dan responden dengan ideal diri positif 8 orang (26,7%). c. Harga diri Tabel 5.4. Distribusi responden berdasarkan harga diri pada pasien harga diri rendah di Ruang Kenanga Rumah Sakit Selatan bulan Januari (n=30) Harga diri Jumlah Persentase (n) (%) ,3 66,7 Tabel 5.4 menggambarkan berdasarkan harga diri, yang menunjukkan responden terbanyak adalah responden dengan harga diri negatif yaitu 20 orang (66,7%) dan responden dengan ideal diri positif yaitu 10 orang (33,3%). d. Peran Tabel 5.5. Distribusi responden berdasarkan peran pada pasien harga diri Selatan bulan Januari (n=30) 3

4 Peran Jumlah (n) Persentase (%) ,3 76,7 Tabel 5.5 menggambarkan berdasarkan peran, yang menunjukkan responden terbanyak adalah responden dengan peran negatif yaitu 23 orang (76,7%) dan responden dengan peran positif yaitu 7 orang (23,3%). e. Identitas DIRI Tabel 5.6. Distribusi responden berdasarkan diri pada pasien harga diri rendah di Ruang Kenanga Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan bulan Januari (n=30) Identitas diri Jumlah (n) Persentase (%) ,0 70,0 Tabel 5.6 menggambarkan berdasarkan diri, yang menunjukkan responden terbanyak adalah responden dengan diri negatif yaitu 21 orang (70,0%) dan responden dengan diri positif yaitu 9 orang (30,0%). 3. Analisa bivariat a. Hubungan gambaran diri dengan konsep diri rendah pada pasien harga diri rendah di Daerah Tabel 5.7. Hubungan gambaran diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah di Ruang Kenanga Rumah Sakit Gambaran diri & kerancuan Deperso nalisasi Total N % N % N % 6 20,0 1 3,3 7 23,3 4 13, , ,7 Total 10 33, , p = Tabel 5.7, menunjukkan bahwa pada gambaran diri yang negatif lebih banyak terjadi depersonalisasi sejumlah 19 orang (63,3%) dan rentang dari harga diri rendah sampai dengan kerancuan sejumlah 4 orang (13,4). Hasil uji statistik chi square diperoleh nilai p = 0,002, yang berarti hubungan perubahan gambaran diri dengan harga diri rendah pada pasien harga diri rendah dan OR= 28,5 yang berarti pasien dengan gambaran diri yang negatif memiliki kemungkinan 28,5 kali untuk mengalami depersonalisasi dibandingkan dengan pasien yang memiliki gambaran diri positif, atau probabilitasnya adalah 96% untuk pasien dengan gambaran diri negatif di Ruang Provinsi Sulawesi Selatan di bulan Januari b. Hubungan ideal diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah di Ruang Tabel 5.8. Hubungan ideal diri dengan konsep diri pada pasien harga diri Ideal diri & kerancuan Deperson alisasi Total N % N % N % 7 23,4 1 3,3 8 26,7 3 10, , ,3 Total 8 33, , p = Tabel 5.8, menunjukkan bahwa pada ideal diri yang negatif lebih banyak terjadi depersonalisasi sejumlah 19 orang (63,3%) dan rentang dari harga diri rendah sampai dengan kerancuan sejumlah 3 orang (10,0%). Hasil uji statistic chi square diperoleh nilai p = 0,001, yang berarti hubungan perubahan ideal diri dengan harga diri rendah pada pasien harga diri rendah dan OR= 44,3 yang berarti pasien dengan ideal diri yang negatif memiliki kemungkinan 44,3 kali untuk mengalami depersonalisasi dibandingkan dengan pasien yang memiliki ideal diri positif, atau probabilitasnya adalah 97% 4

5 untuk pasien dengan ideal diri negatif di Daerah Provinsi Sulawesi Selatan di bulan Januari c. Hubungan harga diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah di Ruang Tabel 5.9. Hubungan harga diri dengan konsep diri pada pasien harga diri Harga diri & kerancuan deperson alisasi Total N % n % N % 9 30,0 1 3, ,3 1 3, , ,7 Total 10 33, , p = Tabel 5.9, menunjukkan bahwa pada harga diri yang negatif lebih banyak terjadi depersonalisasi sejumlah 19 orang (63,4%) dan rentang dari harga diri rendah sampai dengan kerancuan sejumlah 1 orang (3,3%). Hasil uji statistic chi square diperoleh nilai p = 0,001, yang berarti hubungan perubahan harga diri dengan harga diri rendah pada pasien harga diri rendah OR= 171 yang berarti pasien dengan harga diri yang negatif memiliki kemungkinan 171 kali untuk mengalami depersonalisasi dibandingkan dengan pasien yang memiliki harga diri positif, atau probabilitasnya adalah 99% untuk pasien dengan harga diri negatif di Daerah Provinsi Sulawesi Selatan di bulan Januari 2013 d. Hubungan peran dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah di Ruang Tabel Hubungan peran dengan konsep diri pada pasien harga diri Peran depersona Total & kerancuan lisasi N % N % N % 7 23, ,3 3 10, , ,7 Total 10 33, , p = Tabel 5.10, menunjukkan bahwa pada peran yang negatif lebih banyak terjadi depersonalisasi sejumlah 20 orang (66,7%) dan rentang dari harga diri rendah sampai dengan kerancuan sejumlah 3 orang (10,0%). Hasil uji statistic chi square diperoleh nilai p = 0,001, yang berarti hubungan perubahan peran dengan harga diri rendah pada pasien harga diri Selatan di bulan Januari e. Hubungan diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah di Daerah Tabel Hubungan diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah di Ruang Kenanga Rumah Sakit Identitas Deperson Total & kerancuan diri alisasi N % N % N % 8 26,7 1 3,3 9 30,0 2 6, , ,0 Total 10 33, , p = Tabel 5.11, menunjukkan bahwa pada diri yang negatif lebih banyak terjadi depersonalisasi sejumlah 19 orang (63,3%) dan rentang dari harga diri rendah sampai dengan kerancuan sejumlah 2 orang (6,7%). Hasil uji statistic chi square diperoleh nilai p = 0,001, yang berarti hubungan perubahan diri dengan harga diri rendah pada pasien harga diri rendah OR= 76 yang berarti pasien dengan diri yang negatif 5

6 memiliki kemungkinan 76 kali untuk mengalami depersonalisasi dibandingkan dengan pasien yang memiliki diri positif, atau probabilitasnya adalah 98% untuk pasien dengan diri negatif di Ruang Kenanga Rumah Sakit Selatan di bulan Januari PEMBAHASAN 1. Hubungan gambaran diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah. pada gambaran diri yang negatif lebih banyak terjadi depersonalisasi sejumlah 19 orang (63,3%) dan rentang dari harga diri rendah sampai dengan kerancuan sejumlah 4 orang (13,4%). Hasil uji statistik chi square diperoleh nilai p = 0,002, yang berarti nilai p perubahan gambaran diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah. Harga diri merupakan evaluasi individu terhadap dirinya sendiri secara rendah atau tinggi. Penilaian tersebut terlihat dari penghargaan mereka terhadap keberadaan dan keberartian dirinya. Individu yang memiliki harga diri yang tinggi akan menerima dan menghargai dirinya sendiri apa adanya. Dalam harga diri tercakup evaluasi dan penghargaan terhadap diri sendiri dan menghasilkan penilaian tinggi atau rendah terhadap dirinya sendiri. Penilaian tinggi terhadap diri sendiri adalah penilaian terhadap kondisi diri, menghargai kelebihan dan potensi diri, serta menerima kekurangan yang ada, sedangkan yang dimaksud dengan penilaian rendah terhadap diri sendiri adalah penilaian tidak suka atau tidak puas dengan kondisi diri sendiri, tidak menghargai kelebihan diri dengan melihat diri sebagai sesuatu yang selalu kurang (Riyadi & Purwanto, 2009; Fajariyah, 2012). Gambaran diri adalah kumpulan sikap individu terhadap tubuhnya yang disadarinya atau tidak disadari. termasuk persepsi dan perasaan masa lalu dan sekarang tentang ukuran dan bentuk, fungsi, penampilan dan potensi (Stuart dan Sundeen, 2008 dalam Riyadi & Purwanto, 2009). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden adalah pada rentang umur tahun yaitu 19 orang. Pada usia ini, penampilan menjadi salah satu hal utama yang mempengaruhi pandangan terhadap diri sendiri, sehingga bila ada gangguan pada penampilan diri, misalnya kecacatan atau adanya anggapan tentang keterbatasan pada fisik yang membuat tidak menarik, akan menyebabkan terciptanya gambaran diri negatif. Hal ini bila terjadi dalam rentang waktu yang lama akan merusak kepercayaan diri seseorang yang menyebabkan seseorang memiliki harga diri yang rendah. 2. Hubungan ideal diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah. pada ideal diri yang negatif lebih banyak terjadi depersonalisasi sejumlah 19 orang (63,3%) dan rentang dari harga diri rendah sampai dengan kekacauan sejumlah 3 orang (10,0%). Hasil uji statistic chi square diperoleh nilai p = 0,001, yang berarti nilai p perubahan ideal diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah. Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana ia harus berperilaku berdasarkan standart, aspirasi, tujuan atau penilaian personal tertentu. Standart dapat berhubungan dengan tipe orang yang akan diinginkan atau sejumlah aspirasi, cita-cita, nilai- nilai yang ingin di capai Ideal diri akan mewujudkan cita-cita, nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri akan mewujudkan cita cita dan harapan pribadi berdasarkan norma sosial (keluarga budaya) dan kepada siapa ingin dilakukan. Ideal diri mulai berkembang pada masa kanak kanak yang di pengaruhi orang yang penting pada dirinya yang memberikan keuntungan dan harapan pada masa remaja ideal diri akan di bentuk melalui proses identifikasi pada orang tua, guru dan teman (Fajariyah, 2012). Ideal diri berhubungan dengan standar yang diberikan pada diri sendiri. Penetapan ideal diri sebaiknya dalam batas kemampuan yang dicapai. Gangguan ideal diri terjadi karena ideal diri terlalu tinggi, sukar dicapai dan tidak realistis. Gangguan konsep diri yang terjadi, sebagian besar adalah depersonalisasi, yang dialami oleh 19 orang. Depersonalisasi adalah perasaan yang tidak realistis terhadap diri sendiri yang berhubungan dengan kecemassan, kepanikan, serta tidak dapat membedakan dirinya dengan orang lain (Fajariyah, 2012). Hal ini dapat dialami oleh sebagian besar responden yang mengalami harga diri rendah di Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan, dimana 100% responden tidak bekerja dan hanya sebagai ibu rumah tangga biasa dan sebagian memiliki tingkat pendidikan sekolah dasar 6

7 (SD), yang tidak bisa mewujudkan keinginan dan cita-cita yang kadang tidak sesuai dengan kemampuan baik secara ekonomi maupun pengetahuan, sehingga ketika standar yang dibuat tidak dapat dicapai, menyebabkan terganggunya konsep diriharga diri rendah. 3. Hubungan perubahan harga diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah pada harga diri yang negatif lebih banyak terjadi depersonalisasi sejumlah 19 orang (63,4%) dan rentang dari harga diri rendah sampai dengan kerancuan sejumlah 1 orang (3,3%). Hasil uji statistic chi square diperoleh nilai p = 0,001, yang berarti nilai p perubahan harga diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah. Harga diri adalah penilaian pribadi terhadap hasil yang dicapai dengan menganalisa seberapa jauh prilaku memenuhi ideal diri (Stuart and Sundeen,2008). Frekuensi pencapaian tujuan akan menghasilkan harga diri yang rendah atau harga diri yang tinggi. Jika individu sering gagal, maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain. Aspek utama adalah di cintai dan menerima penghargaan dari orang lain (Keliat, 1992). Hasil penelitian ini sejalan dengan teori dan penelitian yang dikemukakan oleh Riyadi, 2009, dimana harga diri rendah terjadi bila kurangnya apresiasi dan perhatian dari lingkungan sekitarnya, serta hubungan interpersonal yang buruk yang menyebabkan harga diri menjadi negatif. 4. Hubungan perubahan peran dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah. pada peran yang negatif lebih banyak terjadi depersonalisasi sejumlah 20 orang (66,7%) dengan rentang dari harga diri rendah sampai dengan kerancuan sejumlah 3 orang (10,0%). Hasil uji statistic chi square diperoleh nilai p = 0,001, yang berarti nilai p perubahan peran dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah di Ruang Kenanga Rumah Sakit Khusus Daerah Provinsi Sulawesi Selatan di bulan januari Peran adalah sikap dan perilaku nilai serta tujuan yang diharapkan dari seseorang berdasarkan posisinya di masyarakat (Keliat, 2005).Posisi dibutuhkan oleh individu sebagai aktualisasi diri. Harga diri yang tinggi merupakan hasil dari peran yang memenuhi kebutuhan dan cocok dengan ideal diri. Posisi di masyarakat dapat merupakan stresor terhadap peran karena struktur sosial yang menimbulkan kesukaran, tuntutan serta posisi yang tidak mungkin dilaksanakan (Keliat, 2005). Stress peran terdiri dari konflik peran yang tidak jelas dan peran yang tidak sesuai atau peran yang terlalu banyak. Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang ada bahwa adanya gangguan pada pemenuhan peran individu dapat menyebabkan terganggunya konsep diri yang menyebabkan seseorang mengalami harga diri rendah, hal ini disebabkan munculnya stress pada seseorang yang tidak mampu berfungsi secara optimal, sehingga pada akhirnya muncul perasaan tidak mampu untuk melakukan sesuatu dan tidak percaya diri. 5. Hubungan perubahan diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah. pada diri yang negatif lebih banyak terjadi depersonalisasi sejumlah 19 orang (63,3%) dan rentang dari harga diri rendah sampai dengan kekacauan sejumlah 2 orang (6,7%). Hasil uji statistic chi square diperoleh nilai p = 0,001, yang berarti nilai p perubahan diri dengan konsep diri pada pasien harga diri rendah. Identitas adalah kesadaran akan diri sendiri yang bersumber dari observasi dan penilaian yang merupakan sintesa dari semua aspek konsep diri sendiri sebagai satu kesatuan yang utuh (Stuart and Sudeen, 2008). Seseorang yang mempunyai perasaan diri yang kuat akan yang memandang dirinya berbeda dengan orang lain. Kemandirian timbul dari perasaan berharga (aspek diri sendiri), kemampuan dan penyesuaian diri. Seseorang yang mandiri dapat mengatur dan menerima dirinya. Identitas diri terus berkembang sejak masa kanak-kanak bersamaan dengan perkembangan konsep diri. Hal yang penting dalam adalah jenis kelamin (Fajariyah, 2012). Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang ada, bahwa ketidakmampuan seseorang untuk mengenal dirinya sendiri akan menyebabkan terjadinya kerancuan terhadap nya sampai dengan depersonalisasi yang salah satu di dalamnya adalah ketidakmampuan seseorang untuk membedakan dirinya dengan orang lain. Hal ini termasuk dalam 7

8 rentang respon yang maladaptif pada harga diri rendah. KESIMPULAN Dari hasil pengolahan data penelitian yang telah dilakukan diperoleh kesimpulan bahwa : 1. Ada hubungan perubahan gambaran diri dengan konsep diri pada pasien di Daerah 2. Ada hubungan perubahan ideal diri dengan konsep diri pada pasien di Ruang 3. Ada hubungan perubahan harga diri dengan konsep diri pada pasien di Ruang 4. Ada hubungan perubahan peran dengan konsep diri pada pasien di Ruang Provinsi Sulawesi Selatan Kenanga Ruma 5. Ada hubungan perubahan diri dengan konsep diri pada pasien di Daerah Provinsi Sulawesi Selatan SARAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diberikan beberapa saran kepada pihak yang terkait : 1. Bagi pelayanan kesehatan Agar dalam memberikan pelayanan asuhan keperawatan dapat memperhatikan aspek psikologis dari penderita khususnya masalah konsep diri. Dengan demikian asuhan keperawatan yang diberikan akan bersifat holistik dengan memperhatikan bio, psiko, sosial dan spiritual dari penderita. 2. Bagi peneliti Perlu melakukan penelitian dengan menggunakan metode yang lain dan memiliki sampel yang lebih banyak dan area penelitian yang lebih luas. DAFTAR PUSTAKA Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan, Pedoman Skripsi, Tesis dan Instrumen Penelitian Keperawatan. Salemba Medika: Jakarta Stuart, Gail. W. (2007). Buku Saku Keperawatan Jiwa. Edisi 5. Buku Kedokteran EGC: Jakarta. Videbeck (2008). Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Buku Kedokteran EGC: Jakarta. Yosep I (2009). Keperawatan Jiwa (Edisi Revisi). Refika Aditama: Bandung Riyadi Sujono dkk, (2009). Asuhan Keperawatan Jiwa. EGC: Jakarta. Keliat, Budi Anna dkk. (2005). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. EGC: Jakarta. Stuart & Sundeen, (2008) Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 5, EGC: Jakarta Suliswati dkk, (2005) Konsep Keperawatan Kesehatan Jiwa, EGC Jakarta Nursalam.(2005) Pendekatan Praktis Metedologi Keperawatan. EKG, Jakarta Keliat, Budi A. (2008) Gangguan, EGC: Jakarta Saryono, (2008) Metodologi Penelitian Kesehatan, Mitra Cendikia Press, Jakarta Suyanto. (2011) Metedeologi dan Aplikasi Penelitian Keperawatan, Nuha Medika: Yogyakarta Notoatmojo S, (2010). Ilmu Perilaku Kesehatan. PT. Rineka Cipta, Jakarta Dalami, dkk (2009). Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Jiwa. Penerbit Trans Info Media Jakarta Damaiyanti, M (2005). Komunikasi Terapeutik dalam Praktek Keperawatan. Jakarta: Penerbit Refika Aditama. Hamid AY, (2008). Buku Ajar Riset Keperawatan, Konsep, Etika dan Instrumental. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Sastroasmoro S & Ismael S (2008). Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Jakarta: Penerbit Sagung Seto. Townsend, MC. (2009). Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri, Pedoman untuk Pembuatan Rencana Perawatan Edisi 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC: Jakarta 8

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR

GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR GAMBARAN PENGETAHUAN IBU TENTANG TUMBUH KEMBANG BAYI DI PUSKSMAS ANTANG KOTA MAKASSAR Novendra Charlie Budiman, Muh. Askar, Simunati Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar Dosen

Lebih terperinci

Jurnal Kesehatan Kartika 27

Jurnal Kesehatan Kartika 27 HUBUNGAN MOTIVASI KERJA BIDAN DALAM PELAYANAN ANTENATAL DENGAN KEPATUHAN PENDOKUMENTASIAN KARTU IBU HAMIL DI PUSKESMAS UPTD KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2008 Oleh : Yulia Sari dan Rusnadiah STIKES A. Yani Cimahi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang World Health Organitation (WHO) mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sehat fisik, mental, dan sosial, bukan semata-mata keadaan tanpa penyakit atau kelemahan. Definisi

Lebih terperinci

BAB VI PEMBAHASAN. RSPAD Gatot Soebroto. Cara pengambilan data menggunakan metode Cross

BAB VI PEMBAHASAN. RSPAD Gatot Soebroto. Cara pengambilan data menggunakan metode Cross BAB VI PEMBAHASAN Pembahasan adalah kesenjangan yang muncul setelah peneliti melakukan penelitian kemudian membandingkan antara teori dengan hasil penelitian. Penelitian ini merupakan penelitian tentang

Lebih terperinci

Nopia, Mahyudin, Yasir Haskas Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Nopia, Mahyudin, Yasir Haskas Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani Hasanuddin Makassar FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN PERAWAT DALAM MENJALANKAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMASANGAN KATETER URETRA DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT ISLAM FAISAL MAKASSAR Nopia, Mahyudin, Yasir Haskas

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. 1.1. Latar Belakang Masalah...1. 1.2. Identifikasi Masalah... 11. 1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian... 11. 1.3.1. Maksud Penelitian...

DAFTAR ISI. 1.1. Latar Belakang Masalah...1. 1.2. Identifikasi Masalah... 11. 1.3. Maksud dan Tujuan Penelitian... 11. 1.3.1. Maksud Penelitian... ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran mengenai derajat tingkah laku prososial pada remaja usia 13-15 tahun dalam masyarakat Kasepuhan kawasan Gunung Halimun Jawa Barat. Sesuai dengan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS BEBAS DI SMA NEGERI 1 BULA KABUPATEN SERAM BANGIAN TIMUR AMBON

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS BEBAS DI SMA NEGERI 1 BULA KABUPATEN SERAM BANGIAN TIMUR AMBON HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP REMAJA TENTANG SEKS BEBAS DI SMA NEGERI 1 BULA KABUPATEN SERAM BANGIAN TIMUR AMBON Saharbanun Rumbory 1, Chaeruddin², Sri Darmawan³ 1 STIKES Nani Hasanuddin Makassar 2 STIKES

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN. Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN. Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com) FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com) Jurusan Kesehatan Masyarakat FIKK Universitas Negeri Gorontalo ABSTRAK: Dalam upaya penurunan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENERAPAN METODE TIM (MPKP) DENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP DI RSUD KABUPATEN MAJENE

HUBUNGAN PENERAPAN METODE TIM (MPKP) DENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP DI RSUD KABUPATEN MAJENE HUBUNGAN PENERAPAN METODE TIM (MPKP) DENGAN KINERJA PERAWAT PELAKSANA DI RUANG RAWAT INAP DI RSUD KABUPATEN MAJENE Hardianti Anthon. P, Muh. Yassir, Adriani Kadir Mahasiswa S1 Ilmu Keperawatan STIKES Nani

Lebih terperinci

Rauf Harmiady. Poltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK

Rauf Harmiady. Poltekkes Kemenkes Makassar ABSTRAK FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PELAKSANAAN PRINSIP 6 BENAR DALAM PEMBERIAN OBAT OLEH PERAWAT PELAKSANA DI RUANG INTERNA DAN BEDAH RUMAH SAKIT HAJI MAKASSAR Rauf Harmiady Poltekkes Kemenkes Makassar

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013 Zuraidah, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik

Lebih terperinci

PENGARUH PELATIHAN METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) TIM TERHADAP PENERAPAN MAKP TIM DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN.

PENGARUH PELATIHAN METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) TIM TERHADAP PENERAPAN MAKP TIM DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN. PENGARUH PELATIHAN METODE ASUHAN KEPERAWATAN PROFESIONAL (MAKP) TIM TERHADAP PENERAPAN MAKP TIM DI RSUD DR. SOEGIRI LAMONGAN Suratmi.......ABSTRAK....... Kinerja perawat merupakan salah satu faktor penting

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. fungsinya ditandai dengan adanya mutu pelayanan prima rumah. factor.adapun factor yang apling dominan adalah sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. fungsinya ditandai dengan adanya mutu pelayanan prima rumah. factor.adapun factor yang apling dominan adalah sumber daya 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan salah satu bentuk sarana kesehatan yang diselenggarakan oleh pemerintah berfungsi untuk melakukan upaya kesehatan, rujukan dan atau upaya penunjang,

Lebih terperinci

Imelda Erman, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik Kesehatan Palembang ABSTRAK

Imelda Erman, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik Kesehatan Palembang ABSTRAK HUBUNGAN PARITAS DAN SIKAP AKSEPTOR KB DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI JANGKA PANJANG DI KELURAHAN MUARA ENIM WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERUMNAS KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2012 Imelda Erman, Yeni Elviani

Lebih terperinci

Diah Eko Martini ...ABSTRAK...

Diah Eko Martini ...ABSTRAK... PERBEDAAN LAMA PELEPASAN TALI PUSAT BAYI BARU LAHIR YANG MENDAPATKAN PERAWATAN MENGGUNAKAN KASSA KERING DAN KOMPRES ALKOHOL DI DESA PLOSOWAHYU KABUPATEN LAMONGAN Diah Eko Martini.......ABSTRAK....... Salah

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN. A. Gambaran Umum Klinik Herbal Insani Depok. Bulan Maret 2007. Di atas tanah seluas 280 m 2 dengan luas bangunan

BAB V HASIL PENELITIAN. A. Gambaran Umum Klinik Herbal Insani Depok. Bulan Maret 2007. Di atas tanah seluas 280 m 2 dengan luas bangunan BAB V HASIL PENELITIAN Hasil penelitian ini terlebih dahulu akan membahas gambaran umum wilayah penelitian, proses penelitian dan hasil penelitian yang mencakup analisa deskriptif (univariat) serta analisa

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini berjudul Studi deskriptif mengenai tingkat kematangan bawahan pada pramugara PT X Bandung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai tingkat kematangan

Lebih terperinci

HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH

HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH NURLAILA RAMADHAN 1 1 Tenaga Pengajar Pada STiKes Ubudiyah Banda Aceh Abtract

Lebih terperinci

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK

KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK KAJIAN PELAKSANAAN REKAM MEDIS GIGI RAWAT JALAN DI PUSKESMAS KOTA PONTIANAK Sri Rezki Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Pontianak ABSTRAK Latar Belakang: Rekam medis merupakan berkas yang berisi catatan

Lebih terperinci

FACTORS-FACTORS WITH ROLE RELATED MIDWIFE VILLAGE IN EFFORT DERIVE MATERNAL MORTALITY WORKING WOMEN HEALTH REGION LHOONG DISTRICT OF ACEH BESAR

FACTORS-FACTORS WITH ROLE RELATED MIDWIFE VILLAGE IN EFFORT DERIVE MATERNAL MORTALITY WORKING WOMEN HEALTH REGION LHOONG DISTRICT OF ACEH BESAR FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERAN BIDAN DESA DALAM UPAYA MENURUNKAN ANGKA KEMATIAN IBU HAMIL DIWILAYAH KERJA LHOONG KABUPATEN ACEH BESAR TAHUN 2012 FACTORS-FACTORS WITH ROLE RELATED MIDWIFE VILLAGE

Lebih terperinci

HUBUNGAN TEHNIK MENYUSUI YANG BENAR DENGAN KEJADIAN BENDUNGAN ASI PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEUREUDU KABUPATEN PIDIE JAYA MISRINA

HUBUNGAN TEHNIK MENYUSUI YANG BENAR DENGAN KEJADIAN BENDUNGAN ASI PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEUREUDU KABUPATEN PIDIE JAYA MISRINA ,Jurnal Karya Tulis Ilmiah HUBUNGAN TEHNIK MENYUSUI YANG BENAR DENGAN KEJADIAN BENDUNGAN ASI PADA IBU NIFAS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS MEUREUDU KABUPATEN PIDIE JAYA MISRINA Mahasiswi Pada STIKes U Budiyah

Lebih terperinci

ANALISIS PERBANDINGAN KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP PELAYANAN PADA MINIMARKET INDOMARET DENGAN ALFAMART DI KECAMATAN KOTA KABUPATEN KUDUS

ANALISIS PERBANDINGAN KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP PELAYANAN PADA MINIMARKET INDOMARET DENGAN ALFAMART DI KECAMATAN KOTA KABUPATEN KUDUS 1 ANALISIS PERBANDINGAN KEPUASAN KONSUMEN TERHADAP PELAYANAN PADA MINIMARKET INDOMARET DENGAN ALFAMART DI KECAMATAN KOTA KABUPATEN KUDUS Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu

BAB I PENDAHULUAN. pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Rumah sakit merupakan salah satu unit usaha yang memberikan pelayanan jasa kesehatan. Keberhasilan sebuah rumah sakit dinilai dari mutu pelayanan kesehatan yang diberikan,

Lebih terperinci

I Ketut Sudiatmika*), Budi Anna Keliat**), dan Ice Yulia Wardani***)

I Ketut Sudiatmika*), Budi Anna Keliat**), dan Ice Yulia Wardani***) EFEKTIVITAS COGNITIVE BEHAVIOUR THERAPY DAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOUR THERAPY TERHADAP GEJALA DAN KEMAMPUAN MENGONTROL EMOSI PADA KLIEN PERILAKU KEKERASAN I Ketut Sudiatmika*), Budi Anna Keliat**), dan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif, dimana penelitian

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif, dimana penelitian BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis atau rancangan penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah metode diskriptif, dimana penelitian diarahkan untuk mendiskripsikan suatu keadaan secara objektif (Notoatmodjo,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 34 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Posyandu wilayah binaan Puskesmas Kelurahan Duri Kepa Jakarta Barat. Puskesmas ini terletak di Jalan Angsana Raya

Lebih terperinci

KASMAWATI Mahasiswi Prodi D-III Kebidanan STIKES Ubudiyah

KASMAWATI Mahasiswi Prodi D-III Kebidanan STIKES Ubudiyah HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN PENYEDIAAN OBAT TERHADAP PEMBERIAN VITAMIN K PADA BAYI BARU LAHIR DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS ISAK KECAMATAN LINGE KABUPATEN ACEH TENGAH TAHUN 2012 RELATION BETWEEN KNOWLEDGE AND

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian BAB III METODE PENELITIAN III.1 Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lanjut usia merupakan suatu anugerah. Menjadi tua, dengan segenap keterbatasannya akan dialami oleh seseorang bila berumur panjang. Di Indonesia istilah untuk

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA CARA BELAJAR, HASIL BELAJAR MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN I DENGAN KEMAMPUAN ANTENATAL CARE MAHASISWA TINGKAT II AKKES SWAKARSA TAHUN

HUBUNGAN ANTARA CARA BELAJAR, HASIL BELAJAR MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN I DENGAN KEMAMPUAN ANTENATAL CARE MAHASISWA TINGKAT II AKKES SWAKARSA TAHUN HUBUNGAN ANTARA CARA BELAJAR, HASIL BELAJAR MATA KULIAH ASUHAN KEBIDANAN I DENGAN KEMAMPUAN ANTENATAL CARE MAHASISWA TINGKAT II AKKES SWAKARSA TAHUN 2012/2013 ABSTRAK Berdasarkan UU RI No. 20 Tahun 2003

Lebih terperinci

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK. Universitas Kristen Maranatha ABSTRAK Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui derajat stress kerja yang dialami oleh para manajer madya di perusahaan X Bandung. Sesuai dengan tujuan penelitian ini, maka metode yang digunakan adalah

Lebih terperinci

HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RSUD Dr. M.

HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RSUD Dr. M. HUBUNGAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN TERHADAP PELAYANAN KESEHATAN DI RUANG RAWAT INAP INTERNE RSUD Dr. M. ZEIN PAINAN ABSTRAK Vina Sulistia Nengsih, Yani Maidelwita* Rumah sakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Rumah sakit merupakan sarana penyedia layanan kesehatan untuk masyarakat. Rumah sakit sebagai institusi penyedia jasa pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna

Lebih terperinci

SINOPSIS RENCANA PENELITIAN TESIS

SINOPSIS RENCANA PENELITIAN TESIS 1 SINOPSIS RENCANA PENELITIAN TESIS Judul Penelitian Tradisi Betuturan Ibu Terhadap Keputusan Memilih Penolong Persalinan Pada Masyarakat Suku Sasak di Wilayah Puskesmas Bagu Kecamatan Pringgarata Kabupaten

Lebih terperinci

BAB II KONSEP DASAR. perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau. (1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)).

BAB II KONSEP DASAR. perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana individu melakukan atau. (1998); Carpenito, (2000); Kaplan dan Sadock, (1998)). BAB II KONSEP DASAR A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Enuresis atau yang lebih kita kenal sehari-hari dengan istilah mengompol, sudah tidak terdengar asing bagi kita khususnya di kalangan orang tua yang sudah memiliki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini, di seluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar.

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pengawasan melekat adalah segala usaha atau kegiatan untuk

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Pengawasan melekat adalah segala usaha atau kegiatan untuk ,,* N _ PENn. \. I s ^ rut r >, Wit al" BAB III 3w^v METODOLOGI PENELITIAN A. Definisi Operasional Pengawasan melekat adalah segala usaha atau kegiatan untuk mengetahui dan menilai pelaksanaan tugas atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025

BAB I PENDAHULUAN. penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di seluruh dunia pertumbuhan penduduk lansia umur 60 tahun ke atas sangat cepat, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Semakin meningkatnya usia

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat

BAB 1 PENDAHULUAN. sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan fasilitas pelayanan kesehatan memiliki peran yang sangat strategis dalam upaya mempercepat peningkatan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu

BAB I PENDAHULUAN. Di jaman modernisasi seperti sekarang ini Rumah Sakit harus mampu BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan membahas tentang: latar belakang, identifikasi masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Di jaman

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN OLEH IBU BERSALIN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAROMBONG KELURAHAN BAROMBONG

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN OLEH IBU BERSALIN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAROMBONG KELURAHAN BAROMBONG Jurnal Kesehatan Volume II No. 4 Tahun 2009 FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN OLEH IBU BERSALIN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS BAROMBONG KELURAHAN BAROMBONG Asriani Staf Pengajar

Lebih terperinci

TINGKAT KEMAMPUAN AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA LANSIA DENGAN PENYAKIT KRONIS DI KELURAHAN GEDUNG JOHOR KECAMATAN MEDAN JOHOR MEDAN

TINGKAT KEMAMPUAN AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA LANSIA DENGAN PENYAKIT KRONIS DI KELURAHAN GEDUNG JOHOR KECAMATAN MEDAN JOHOR MEDAN TINGKAT KEMAMPUAN AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA LANSIA DENGAN PENYAKIT KRONIS DI KELURAHAN GEDUNG JOHOR KECAMATAN MEDAN JOHOR MEDAN SKRIPSI Oleh Desyi Prana Napitupulu 061101083 Fakultas Keperawatan Universitas

Lebih terperinci

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, GAJI, DAN PROMOSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PATI TESIS

PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, GAJI, DAN PROMOSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PATI TESIS PENGARUH LINGKUNGAN KERJA, GAJI, DAN PROMOSI TERHADAP KINERJA PEGAWAI BADAN KEPEGAWAIAN DAERAH PATI TESIS Oleh: Mimpi Arde Aria NIM : 2008-01-020 PROGAM STUDI MAGISTER MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

STRATEGI KOMUNIKASI DAN TINGKAT KESADARAN KESEHATAN

STRATEGI KOMUNIKASI DAN TINGKAT KESADARAN KESEHATAN STRATEGI KOMUNIKASI DAN TINGKAT KESADARAN KESEHATAN (Studi Korelasional Pengaruh Strategi Komunikasi Tim Penggerak PKK Pokja IV Terhadap Tingkat Kesadaran Masyarakat Mengenai Kesehatan di Kelurahan Dendang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mental dalam beberapa hal disebut perilaku abnormal (abnormal behavior). Hal

BAB I PENDAHULUAN. mental dalam beberapa hal disebut perilaku abnormal (abnormal behavior). Hal BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Selama ini masyarakat menganggap bahwa masalah kesehatan jiwa merupakan masalah orang-orang yang memiliki gangguan jiwa saja atau yang kerap disebut orang awam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu berhubungan dan membutuhkan orang lain dalam kehidupannya. Manusia sebagai makhluk sosial dalam bertingkah laku

Lebih terperinci

ANALISIS MOTIVASI TENAGA KEPERAWATAN DALAM MENERAPKAN ASUHAN KEPERAWATAN DI PUSKESMAS RAWAT INAP KABUPATEN NGANJUK

ANALISIS MOTIVASI TENAGA KEPERAWATAN DALAM MENERAPKAN ASUHAN KEPERAWATAN DI PUSKESMAS RAWAT INAP KABUPATEN NGANJUK ANALISIS MOTIVASI TENAGA KEPERAWATAN DALAM MENERAPKAN ASUHAN KEPERAWATAN DI PUSKESMAS RAWAT INAP KABUPATEN NGANJUK DUWI WAHYUNI, SUMARJI ABSTRAK Salah satu bentuk pelayanan di Puskesmas adalah pelayanan

Lebih terperinci

TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN

TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN Menurut Havighurst, tugas perkembangan adalah tugas-tugas yang harus diselesaikan individu pada fase-fase atau periode kehidupan tertentu; dan apabila berhasil mencapainya mereka

Lebih terperinci

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG

PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG PERAN PENDIDIKAN BACA TULIS AL-QURAN SEBAGAI MUATAN LOKAL DALAM UPAYA MEMBENTUK KARAKTER KEPRIBADIAN SISWA STUDI DI SMP TRI BHAKTI NAGREG IRA YUMIRA EMAIL: http // i.yumira@yahoo.co.id STKIP SILIWANGI

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN DENGAN MOTIVASI KUNJUNGAN ULANG DI POS KESEHATAN DESA KARANGKEPOH KARANGGEDE BOYOLALI TAHUN 2012.

HUBUNGAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN DENGAN MOTIVASI KUNJUNGAN ULANG DI POS KESEHATAN DESA KARANGKEPOH KARANGGEDE BOYOLALI TAHUN 2012. HUBUNGAN PENGETAHUAN AKSEPTOR KB SUNTIK 3 BULAN DENGAN MOTIVASI KUNJUNGAN ULANG DI POS KESEHATAN DESA KARANGKEPOH KARANGGEDE BOYOLALI TAHUN 2012 Oleh Etik Sulistyorini 1) dan Tutik Hartanti 2) 1) Dosen

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembuahan dalam kandungan sampai umur lanjut (GBHN, 1999). yang terus berkembang (Depkes RI, 1999).

BAB I PENDAHULUAN. pembuahan dalam kandungan sampai umur lanjut (GBHN, 1999). yang terus berkembang (Depkes RI, 1999). BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan kesehatan diarahkan kepada peningkatan mutu sumber daya manusia dan lingkungan yang saling mendukung dengan pendekatan paradigma sehat, yang memberikan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA MASYARAKAT DI DESA SENURO TIMUR

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA MASYARAKAT DI DESA SENURO TIMUR HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU CUCI TANGAN PAKAI SABUN PADA MASYARAKAT DI DESA SENURO TIMUR Nur Alam Fajar * dan Misnaniarti ** ABSTRAK Penyakit menular seperti diare dan ISPA (Infeksi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pola Asuh Orang Tua 2.1.1 Pengertian Pola Asuh Orang Tua Menurut Hurlock (1999) orang tua adalah orang dewasa yang membawa anak ke dewasa, terutama dalam masa perkembangan. Tugas

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEHTAHUN 2012

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEHTAHUN 2012 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEHTAHUN Aulia Andarnita Mahasiswa S Kesehatan Masyarakat U budiyah

Lebih terperinci

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG

LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG LILIK SUKESI DIVISI GUNJAL HIPERTENSI DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM R.S. HASAN SADIKIN / FK UNPAD BANDUNG OUTLINE PENDAHULUAN TENAGA KESEHATAN MENURUT UNDANG-UNDANG TUGAS & WEWENANG PERAWAT PENDELEGASIAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapat data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam metodologi penelitian harus didasarkan pada ciri-ciri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Permasalahan yang sering muncul di bidang pendidikan biasanya tidak lepas dari kualitas peserta didik. Salah satu cara untuk mengetahui peningkatan kualitas

Lebih terperinci

Penulisan Tesis Bab I & II. Frida Chairunisa

Penulisan Tesis Bab I & II. Frida Chairunisa Penulisan Tesis Bab I & II Frida Chairunisa Peta Wisata Tesis Pintu gerbang penelitian tesis Bab I Pendahuluan Bab III Metodologi Penelitian Bab V Kesimpulan dan Saran Magister Peneliti Bab II Tinjauan

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PENERAPAN TIMBANG TERIMA PASIEN DENGAN KESELAMATAN PASIEN OLEH PERAWAT PELAKSANA DI RSU GMIM KALOORAN AMURANG

HUBUNGAN ANTARA PENERAPAN TIMBANG TERIMA PASIEN DENGAN KESELAMATAN PASIEN OLEH PERAWAT PELAKSANA DI RSU GMIM KALOORAN AMURANG HUBUNGAN ANTARA PENERAPAN TIMBANG TERIMA PASIEN DENGAN KESELAMATAN PASIEN OLEH PERAWAT PELAKSANA DI RSU GMIM KALOORAN AMURANG Quiteria Manopo*, Frangky R.R. Maramis*, Jehosua S.V. Sinolungan*, *Fakultas

Lebih terperinci

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BATU SALURAN KEMIH DI RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BATU SALURAN KEMIH DI RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN BATU SALURAN KEMIH DI RSUP DR. WAHIDIN SUDIROHUSODO MAKASSAR A k m a l STIKES Nani Hasanuddin Makassar ABSTRAK Batu Saluran kemih adalah penyakit yang timbul akibat

Lebih terperinci

TAHAP-TAHAP PENELITIAN

TAHAP-TAHAP PENELITIAN TAHAP-TAHAP PENELITIAN Tiga tahap utama penelitian yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap penulisan laporan. A. TAHAP PERENCANAAN 1. Pemilihan masalah, dengan kriteria: Merupakan tajuk penting,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN PERNYATAAN ABSTRAK KATA PENGANTAR UCAPAN TERIMA KASIH DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN ii iii iv vi viii x xii xiii BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi

BAB I PENDAHULUAN. wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Persalinan merupakan suatu proses fisiologis yang dialami oleh wanita. Pada proses ini terjadi serangkaian perubahan besar yang terjadi pada ibu untuk dapat melahirkan

Lebih terperinci

ABSTRAK. PERANAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM MENUNJANG TERPENUHINYA PESANAN (Studi kasus pada PT. Sari Keramik Indonesia)

ABSTRAK. PERANAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM MENUNJANG TERPENUHINYA PESANAN (Studi kasus pada PT. Sari Keramik Indonesia) ABSTRAK PERANAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM MENUNJANG TERPENUHINYA PESANAN (Studi kasus pada PT. Sari Keramik Indonesia) Seiring dengan semakin ketatnya dunia usaha, maka perusahaan dituntut untuk dapat

Lebih terperinci

BAB III. METODE PENELITIAN. Dalam penulisan skripsi ini jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian

BAB III. METODE PENELITIAN. Dalam penulisan skripsi ini jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian 34 BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Jenis Penelitian Dalam penulisan skripsi ini jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yaitu penelitian yang dilakukan dengan melakukan penggambaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of

BAB I PENDAHULUAN. rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. Pada November 1999, the American Hospital Asosiation (AHA) Board of BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan dibahas mengenai latar belakang yang mendasari latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian. A. Latar Belakang Pada November 1999, the American Hospital

Lebih terperinci

! "#$"# "%& '(&) *)+ )"$*& ***,-. / 0 + ' / 01. 1 + 2 / 3-, + / 33 3 + ' / 4- - / 13 4 $ */ 1, 5 ( / 01. % / 00 6 $ + ' / 4

! #$# %& '(&) *)+ )$*& ***,-. / 0 + ' / 01. 1 + 2 / 3-, + / 33 3 + ' / 4- - / 13 4 $ */ 1, 5 ( / 01. % / 00 6 $ + ' / 4 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Rancangan Penelitian Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksplanatori, yang bertujuan untuk menjelaskan pengaruh tingkat kecerdasan emosi dan sikap pada budaya organisasi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Definisi Perkawinan, Perceraian serta akibat-akibat Hukumnya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA. A. Definisi Perkawinan, Perceraian serta akibat-akibat Hukumnya. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Definisi Perkawinan, Perceraian serta akibat-akibat Hukumnya. A.1. Perkawinan Perkawinan amat penting dalam kehidupan manusia, perseorangan, maupun kelompok. Dengan jalan perkawinan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PERSALINAN KALA II LAMA DENGAN ASFIKSIA BAYI BARU. LAHIR DI RSUD.Dr.H. MOCH ANSARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2011. Husin :: Eka Dewi Susanti

HUBUNGAN PERSALINAN KALA II LAMA DENGAN ASFIKSIA BAYI BARU. LAHIR DI RSUD.Dr.H. MOCH ANSARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2011. Husin :: Eka Dewi Susanti HUBUNGAN PERSALINAN KALA II LAMA DENGAN ASFIKSIA BAYI BARU LAHIR DI RSUD.Dr.H. MOCH ANSARI SALEH BANJARMASIN TAHUN 2011 Husin :: Eka Dewi Susanti ISSN : 2086-3454 VOL 05. NO 05 EDISI 23 JAN 2011 Abstrak

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 27 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif karena dalam pelaksanaannya meliputi data, analisis dan interpretasi tentang arti dan data yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia Sehat,

Lebih terperinci

pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012

pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012 pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012 Variabel: suatu objek yang dapat memiliki lebih dari satu nilai. Contoh variabel: Jenis kelamin: ada dua

Lebih terperinci

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3

METODE PENELITIAN. Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei 2013 di SMP Negeri 3 Metro. B. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi

NASKAH PUBLIKASI. Diajukan Untuk Memenuhi sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata-1 Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi KONTRIBUSI PEMBERIAN BANTUAN OPERASIONAL SEKOLAHDAN KEMAMPUAN EKONOM ORANG TUA TERHADAP HASIL BELAJAR IPS EKONOMI PADA SISWA KELAS VIII SMP N 1 SAMBIREJO TAHUN AJARAN 2012/2013 NASKAH PUBLIKASI Diajukan

Lebih terperinci

DESI MAHFUDHAH 1. Intisari

DESI MAHFUDHAH 1. Intisari HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PEKERJAAN IBU TERHADAP PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA TATANAN RUMAH TANGGA DI DESA REUKIH DAYAH KECAMATAN INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR THE RELATIONSHIPBETWEENT KNOWLEDGE,

Lebih terperinci

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) SISWA SMAN 2 JEMBER

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) SISWA SMAN 2 JEMBER BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) SISWA SMAN 2 JEMBER SKRIPSI diajukan guna memenuhi tugas akhir dan memenuhi syarat-syarat untuk menyelesaikan Pendidikan

Lebih terperinci

50 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787

50 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 50 Media Bina Ilmiah ISSN No. 1978-3787 PERBEDAAN TUMBUH KEMBANG ANAK 1 3 TAHUN DARI YANG DILAHIRKAN DAN NON DIWILAYAH PUSKESMAS MENINTING KABUPATEN LOMBOK BARAT Oleh: Maria Ulfah STIKES Yahya Bima Abstrak:

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Kehamilan merupakan proses alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita. Lama kehamilan sampai aterm adalah 280 sampai 300 hari atau 39

PENDAHULUAN Kehamilan merupakan proses alamiah yang akan dialami oleh setiap wanita. Lama kehamilan sampai aterm adalah 280 sampai 300 hari atau 39 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN, PERSALINAN DAN NIFAS TERHADAP PERILAKU ANC PUSKESMAS LATAMBAGA KABUPATEN KOLAKA The Relationship Of Knowledge And Attitude Of Pregnant

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANC DI KLINIK DINA BROMO UJUNG LINGKUNGAN XX MEDAN TAHUN 2013

HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANC DI KLINIK DINA BROMO UJUNG LINGKUNGAN XX MEDAN TAHUN 2013 HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU HAMIL TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN KEPATUHAN KUNJUNGAN ANC DI KLINIK DINA BROMO UJUNG LINGKUNGAN XX MEDAN TAHUN 2013 Oleh: ARIHTA BR. SEMBIRING Dosen Poltekkes Kemenkes

Lebih terperinci

penulis adalah pendekatan sosiologis, pedagogis, dan filosofis.

penulis adalah pendekatan sosiologis, pedagogis, dan filosofis. ( Word to PDF Converter - Unregistered ) http://www.word-to-pdf-converter.netbab III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah Field Rescarch. Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan saat ini adalah pembangunan dibidang pendidikan, menyadari. kalangan pendidikan itu sendiri termasuk para guru.

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan saat ini adalah pembangunan dibidang pendidikan, menyadari. kalangan pendidikan itu sendiri termasuk para guru. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan yang giat-giatnya dilakukan oleh bangsa saat ini adalah upaya membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya, baik mental, spiritual dan fisik material. Salah

Lebih terperinci

FAKTOR PENYEBAB PUTUS SEKOLAH DAN DAMPAK NEGATIFNYA BAGI ANAK (Studi Kasus di Desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar)

FAKTOR PENYEBAB PUTUS SEKOLAH DAN DAMPAK NEGATIFNYA BAGI ANAK (Studi Kasus di Desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar) FAKTOR PENYEBAB PUTUS SEKOLAH DAN DAMPAK NEGATIFNYA BAGI ANAK (Studi Kasus di Desa Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar) NASKAH PUBLIKASI untuk memenuhi sebagian persyaratan guna mencapai

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN

BAB V HASIL PENELITIAN BAB V HASIL ENELITIAN A. Gambaran Umum Lokasi enelitian. Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak Buah Hati berawal dari Rumah bersalin adalah yang terletak di Jln. Aria putera 399 Sarua indah-ciputat berdiri sejak

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN SIKAP SEKSUAL PRANIKAH REMAJA KARYA TULIS ILMIAH. Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Saint Terapan

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN SIKAP SEKSUAL PRANIKAH REMAJA KARYA TULIS ILMIAH. Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Saint Terapan 1 HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DENGAN SIKAP SEKSUAL PRANIKAH REMAJA KARYA TULIS ILMIAH Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Saint Terapan Oleh : FADHILA ARBI DYAH KUSUMASTUTI R 0106061 PROGRAM

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya

BAB 4 METODE PENELITIAN. Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Ruang lingkup penelitian Ruang lingkup penelitian ini adalah Bagian Ilmu Kesehatan Anak, khususnya Perinatologi dan Neurologi. 4.. Waktu dan tempat penelitian Penelitian ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk

BAB I PENDAHULUAN. Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dirumah sakit merupakan bentuk pelayanan yang di berikan kepada pasien melibatkan tim multi disiplin termasuk tim keperawatan.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan

BAB I PENDAHULUAN. Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Makna hidup (the meaning of life) adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan nilai khusus bagi seseorang, sehingga layak dijadikan

Lebih terperinci

JURNAL FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS RANTEPAO KABUPATEN TORAJA UTARA TAHUN 2013

JURNAL FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS RANTEPAO KABUPATEN TORAJA UTARA TAHUN 2013 JURNAL FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEPUASAN PASIEN RAWAT JALAN DI PUSKESMAS RANTEPAO KABUPATEN TORAJA UTARA TAHUN 2013 Kiki Miranty Sareong Dr. Darmawansyah, SE, MS Muh. Yusran Amir, SKM, MPH BAGIAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dipersiapkan untuk menjadi produktif dan diharapkan menjadi pewaris

BAB I PENDAHULUAN. dipersiapkan untuk menjadi produktif dan diharapkan menjadi pewaris BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pelayanan kesehatan remaja penting sebab remaja harus dipersiapkan untuk menjadi produktif dan diharapkan menjadi pewaris bangsa yang bermutu. Akhir-akhir ini

Lebih terperinci

SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK

SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK Nur Auliah Hafid Widyaiswara LPMP Sulsel 1 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah Seni dapat meningkatkan Kecerdasan Emosional

Lebih terperinci

[SEKOLAH KHUSUS AUTIS DI YOGYAKARTA]

[SEKOLAH KHUSUS AUTIS DI YOGYAKARTA] BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG EKSISTENSI PROYEK Autisme Dalam Masyarakat Autis bukanlah penyakit menular tetapi merupakan kumpulan gejala klinis atau sindrom kelainan pertumbuhan anak ( pervasive

Lebih terperinci

MANAJEMEN PENCATATAN dan PELAPORAN EPIDEMIOLOGI

MANAJEMEN PENCATATAN dan PELAPORAN EPIDEMIOLOGI MANAJEMEN PENCATATAN dan PELAPORAN EPIDEMIOLOGI A. Pengertian Pencatatan dan Pelaporan merupakan kegiatan yang harus diperhatikan oleh tenaga kesehatan (khususnya Epidemiolog) dalam rangka memberikan pelayanan

Lebih terperinci

HUBUNGAN DIMENSI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KUNJUNGAN ULANG PASIEN DIABETES MELLITUS DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARYA ASIH PALEMBANG

HUBUNGAN DIMENSI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KUNJUNGAN ULANG PASIEN DIABETES MELLITUS DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARYA ASIH PALEMBANG HUBUNGAN DIMENSI MUTU PELAYANAN KESEHATAN DENGAN KUNJUNGAN ULANG PASIEN DIABETES MELLITUS DI INSTALASI RAWAT JALAN RUMAH SAKIT KARYA ASIH PALEMBANG MANUSKRIF SKRIPSI OLEH RESTI DWIJAYATI NIM 10101001046

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada zaman dahulu, manusia hanya membutuhkan barang barang sehari-hari (barang umum) untuk kelangsungan hidupnya. Orientasi konsumen pada zaman tersebut hanya kepuasaan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah pengembangan model bimbingan kelompok berbasis islami yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah pengembangan model bimbingan kelompok berbasis islami yang BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Lokasi Penelitian Penelitian ini adalah pengembangan model bimbingan kelompok berbasis islami yang dilaksanakan di SMA 2 Bae Kudus. 3.2 Subjek Penelitian Subjek dalam

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PELAKSANAAN WAJIB LAPOR PECANDU NARKOTIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci