BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan"

Transkripsi

1 BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1 Hakekat Soal Cerita yang Diajarkan di Sekolah Dasar Pengertian Soal Cerita Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan mudah dipahami (Wijaya, 2008:14). Sedangkan menurut Raharjo dan Astuti (2011:8) mengatakan bahwa bahwa soal cerita yang terdapat dalam matematika merupakan persoalanpersoalan yang terkait dengan permasalahan-permasalahan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat dicari penyelesaiannya dengan menggunakan kalimat matematika. Kalimat matematika yang dimaksud dalam penyataan tersebut adalah kalimat matematika yang memuat operasioperasi hitung bilangan. Soal cerita merupakan soal yang dapat disajikan dalam bentuk lisan maupun tulisan, soal cerita yang berbentuk tulisan berupa sebuah kalimat yang mengilustrasikan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari (Ashlock, 2003:80). Soal cerita yang diajarkan diambil dari hal-hal yang terjadi dalam kehidupan sekitar dan pengalaman siswa. Demikian pula soal cerita hendaknya meliputi aplikasi secara praktis situasi sosial ataupun beberapa lapangan studi yang mungkin (Ashlock, 2003:240). Disamping itu, soal cerita berguna untuk menerapkan pengetahuan yang dimiliki oleh siswa sebelumnya. Penyelesaian soal cerita merupakan kegiatan pemecahan masalah. Pemecahan masalah dalam suatu soal cerita matematika merupakan suatu proses yang berisikan langkahlangkah yang benar dan logis untuk mendapatkan penyelesaian (Jonassen, 2004:8). Dalam menyelesaikan suatu soal cerita matematika bukan sekedar memperoleh hasil yang berupa 7

2 jawaban dari hal yang ditanyakan, tetapi yang lebih penting siswa harus mengetahui dan memahami proses berpikir atau langkah-langkah untuk mendapatkan jawaban tersebut. Menurut Erman (2003:112) untuk menyelesaikan soal matematika dipergunakan heuristic. Maksud dari heuristic adalah mempelajari cara-cara dan aturan penemuan serta hasil penemuan. Erman (2003: 91) menyarankan empat langkah dalam pemecahan masalah, yaitu: understanding the problem (memahami masalah), devising a plan (merencanakan penyelesaian), carrying out the plan (melaksanakan rencana penyelesaian, dan looking back (memeriksa proses dan hasil). Sebagaimana yang dinyatakan oleh Ashlock (2003:241) bahwa kegiatan menyelesaikan soal cerita matematika tidak hanya melibatkan satu langkah penyelesaian. Soedjajdi (2002:32) menyatakan bahwa untuk menyelesaikan soal cerita matematika dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: (a) Membaca soal cerita dengan cermat untuk menangkap makna pada tiap kalimat; (b) Memisahkan dan mengungkapkan apa yang diketahui dalam soal, apa yang ditanyakan oleh soal; (c) Membuat model matematika dari soal; (d) Menyelesaikan model matematika menurut aturan matematika sehingga mendapat jawaban dari soal tersebut; dan (e) Mengembalikan jawaban kedalam konteks soal yang ditanyakan. Kelima langkah tersebut merupakan satu paket penyelesaian soal cerita. Langkah pertama dan kedua dalam penyelesaian soal cerita diatas dapat diartikan sebagai kegiatan memahami soal cerita. Dalam kegiatan tersebut dibutuhkan kemampuan membaca soal dengan cermat sehingga dapat mengungkapkan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dalam soal cerita. Siswa harus mampu menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dari data yang telah diberikan. Soal cerita dalam penelitian ini merupakan soal cerita yang berkaitan dengan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. Kriteria penyusunan soal cerita menurut Ashlock (2003:243) antara

3 lain: (a) Soal cerita yang disusun merupakan soal yang berkaitan dengan realitas yang ada dalam kehidupan sehari-hari; (b) Soal cerita tersebut merupakan pertanyaan yang tidak dapat dijawab dengan prosedur rutin yang telah diketahui siswa. Berdasarkan pengertian soal cerita yang diuraikan di atas, maka yang dimaksud dengan soal cerita yang dibahas dalam penelitian ini adalah soal cerita yang diajarkan dalam pembelajaran matematika. Pada siswa kelas V Sekolah Dasar, salah satu materi ajar yang diangkat sebagai bahan dalam penelitian ini adalah materi ajar yang tentang volum kubus dan balok Soal Cerita dalam Pembelajaran Matematika Bertolak dari pengertian soal cerita yang telah dikemukakan sebelumnya terkandung maksud bahwa dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar adalah untuk memperkenalkan kepada siswa tentang kegunaan matematika dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini siswa belajar soal cerita di Sekolah Dasar dapat terlatih kemampuannya dalam memecahkan persoalanpersoalan atau permasalahan-permasalahan yang ada kaitannya dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dengan melalui cara ini akan timbul kesadaran siswa tentang betapa penting belajar matematika untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Berbawaan dengan kesadaran siswa tersebut, secara tidak langsung dapat merangsang motivasi siswa untuk belajar matematika khususnya materi yang berkenaan dengan soal cerita. Penjelasan di atas lebih diperjelas oleh Ashlock (dalam Sutiyawati, 2011:18) yang menyatakan bahwa soal cerita merupakan soal yang dapat disajikan dalam bentuk lisan maupun tulisan yang mengilustrasikan kegiatan dalam kehidupan sehari-hari. Penyajian dalam bentuk lisan adalah soal cerita yang diajarkan diambil dari hal yang ditanyakan, tetapi yang lebih penting adalah siswa harus mengetahui dan memahami proses berpikir atau langkah-langkah

4 untuk mendapatkan jawaban tersebut. Dengan kata lain, bahwa dalam pembelajaran soal cerita di Sekolah Dasar siswa diharapkan dalam belajar bukan sekedar belajar secara prosedural tetapi yang lebih penting adalah belajar secara konseptual. Dalam pandangan tersebut di atas, terkandung arti bahwa dalam pembelajaran soal cerita di sekolah dasar disamping untuk memberikan kesadaran kepada siswa akan pentingnya belajar matematika juga dapat berguna bagi siswa untuk melatih kemampuannya dalam menerapkan pengatahuan yang telah dia miliki dalam kegiatan-kegiatan praktis yang sehubungan dengan pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari melalui suatu proses yang berisikan langkahlangkah pemecahan masalah secara logis dan benar. 2.2 Langkah-Langkah Penyelesaian Soal Cerita Berkenaan dengan langkah-langkah penyelesaian soal cerita, secara garis besar Polya (dalam Sotiyawati, 2011:19) menekanakan penyelesaian soal cerita dalam matematika perlu dilakukan secara heuristic. Dalam hal inim yang dimaksud dengan heuristic adalah pada penyelsaian soal cerita siswa perlu diarahkan untuk mempelajari langakh-langkah atau cara-cara maupun aturan-aturan yang seharusnya dilakukan dalam menemukan suatu jawaban sebagai hasil temuan terhadap pemecahan masalah yang terkandung pada suatu soal cerita. Selanjutnya Polya (dalam Suherman, 2003:91) menyarankan empat langkah penyelesaian soal cerita. Keempat langkah tersebut meliputi (a) understanding the problem, (b) Defisiing out the plan (merencanakan penyelesaian) (c) Carrying out the plang (melaksanakan rencana penyelesaian) (d) looking back (memeriksa proses dan hasil penyelesaian). Selain Polya, menurut pandangan Haji (dalam Rohana, 2010:15) bahwa lima langkah penyelesaian soal cerita yang didasarkan pada lima kemampuan siswa, yaitu (a) kemampuan membaca soal; (b) kemampuan menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dalam

5 sial, (c) kemampuan membuat model matematika, (d) kemampuan melakukan perhitungan dan (e) kemampuan menentukan jawaban akhir dengan tepat. Berdasarkan kelima kemampuan siswa tersebut di atas, maka terdapat lima langkah penyelesaian soal cerita yang diuraikan sebagai berikut. a. Membaca soal dengan teliti untuk dapat menentukan makna kata dari kata kunci di dalam soal. b. Memisahkan dan menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan. c. Menentukan metode yang akan digunakan untuk menyelesaikan soal cerita. d. Menyelesaikan soal cerita menurut aturan-aturan matematika, sehingga mendapatkan jawaban dari masalah yang dipecahkan. e. Menulis jawaban dengan tepat. Pandangan para ahli lainnya terhadap langkah-langkah penyelesaian soal cerita adalah Soedjadi (dalam Setiyawati, 2011:19) yang dikutip oleh Mencarno, dinyatakan bahwa untuk menyelesaikan sial cerita dalam matematika dapat ditempuh langkah-langkah sebagai berikut. a. Membaca soal cerita dengan cermat untuk menangkap makna pada setiap kalimat. b. Memisahkan dan mengungkapkan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dalam soal. c. Membuat model matematika dari rumusan soal. d. Menyelesaikan model matematika menurut aturan matematika sehigga mendapat jawaban dari soal tersebut. e. Mengembalikan jawaban ke dalam konteks soal yang ditanyakan. Pada pandangan para ahli tentang langkah-langkah penyelesaian soal cerita yang telah diuraikan, menunjukkan adanya persamaan di samping terdapat pula perbedaan antara satu sama

6 lainnya. Bertolak dari beberapa pandangan tersebut diatas, terdapat empat langkah penyelesaian soal cerita dalam pembelajaran matematika di SD sebgai sarana dalam penelitian ini. Langkah tersebut dianggap sebagai satu paket penyelesaian yang tidak dapat dipisahkan antara satu langkah ke langkah berikutnya. Langkah-langkah tersebut dapat dijelaskan melalui uraian sebagai berikut. a. Kemampuan memahami isi soal cerita dengan menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanya dalam isi soal cerita Pada langkah pertama ini, dilihat cari pandangan para ahli sebelumnya ada yang memisahkan menjadi dua langkah, yaitu (1) membaca soal cerita dengan cermat untuk menangkap makna pada setiap kalimat, dan (2) memisahkan dan mengungkapkan apa yang diketahi dan apa yang ditanya dalam soal. Kedua langkah tersebut dipadukan dalam kegitan penelitian ini karena dapat diartikan bahwa dalam kegiatna memahami isi soal cerita pada hakekatnya sudah termasuk pada kegiatan tersebut dibutuhkan kemampuan membaca sial dengan cermat sehingga dapat mengungkapkan apa yang diketahui dan apa yang ditanya dalam soal cerita. Ada dua pandangan yang menjadi dasar untuk menggabungkan kedua langkah penyelesaian soal cerita tersebut menjadi satu langkah dalam penelitian ini. Pandangan pertama adalah Jamvier yang dikutip oleh Van de Walle (dalam Setiawati, 2011:26) menyatakan bahwa pemahaman dapat didefinisikan sebagai ukuran kualitas dan kuantitas hubungan antara satu ide dengan ide yang telah ada misalnya kemampuan

7 seseorang dalam menyelesaikan soal cerita tentang volum kubus dan balok. Kemudian Santrock (2008:428) menyatakan bahwa pemahaman dalam soal cerita matematika meliputi kemampuan mencari informasi yang penting saat membaca dan kemampuan dalam memahami hubungan antara bagian teks dari kalimat tersebut. Ini berarti bahwa dalam kegiatan memahami isi soal cerita sudah termasuk di dalamnya memahami apa yang diketahui dan apa yang ditanya di dalam isi soal. b. Mengubah isi soal cerita ke dalam kalimat matematika Setelah siswa memahami isi soal cerita dengan menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanya dalam soal cerita, langkah ini merupakan dasar bagi siswa untuk membuat suatu proses dalam merencanakan penyelesaian soal cerita melalui kalimat matematika. Menurut Jonassen (2004:20) pengertian kalimat matematika disamakan dengan pengertian membuat model matematika. Menurutnya bahwa pada penyelesaian soal cerita dalam matematika siswa di samping dituntut untuk memahami isi soal cerita dengan pemahaman yang tinggi untuk dapat menyelesaikan soal cerita tersebut siswa juga dituntut untuk dapat membuat model matematika yang sesuai. Selain itu, dijelaskan pula bahwa untuk membuat suatu model dari masalah cerita merupakan sesuatu yang dianggap sulit bagi siswa. Hal ini disebabkan karena setiap jenis masalah mempunyai model yang berbeda-beda. Memodelkan soal cerita ke dalam kalimat matematika merupakan suatu rencana dari suatu soal cerita. Demikian pula Suriasumantri (2000:186) memandang bahwa pembentukan model matematika adalah merupakan suatu usaha untuk mendeskripsikan beberapa bagian dari dunia nyata ke dalam istilah matematika. Model matematika yang dimaksud disini merupakan suatu model yang bagian-bagiannya adalah kumpulan konsep-konsep

8 matematika seperti konstanta-konstanta, variabel-variabel, fungsi-fungsi, persamaanpersamaan dan sebagainya. c. Menyelesaikan model atau kalimat matematika Model matematika yang telah disusun pada langkah kedua, kemudian dioperasikan dengan operasi aritmatika. Dalam hal ini siswa melakukan komputasi sesuai operasi aritmatika yang telah ditentukan. Di dalam melakukan komputasi tersebut sangat menuntut keterampilan siswa dalam menyusun penyelesaiannya. Dimana keterampilan yang dimaksud disini adalah kemampuan menjalankan prosedur dan operasi aritmatika secara tepat dan benar. Hal ini sesuai dengan penjelasan Hudoyo (2002:172) yang menyatakan bahwa dalam operasi arimatika memuat kemampuan pengerjaan-pengerjaan hitung seperti penjumalahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Selain itu, dibutuhkan pula kecepatan yang dibutuhkan dalam proses komputasi yang menyangkut ketepatan, ketelitian dan kebenaran dalam menyelesaikan perhitungan tersebut. d. Menguji kembali kebenaran jawaban yang diberikan Langkah ini merupakan langkah terakhir dalam langkah penyelesaian soal cerita yaitu menarik kesimpulan terhadap kebenaran jawaban yang diberikan. Pada hakekatnya langakah ini merupakan suatu proses mengkomunikasikan solusi penyelesaian, yakni dengan mengembalikan jawaban ke dalam konteks permasahan yang ditanyakan. Menurut Polya (dalam Suherman, 2003:101) bahwa ada beberapa pertanyaan muncul setelah mendapatkan penyelesaian soal cerita dalam matematika. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah sebagai berikut. (a) Apakah jawabannya sudah tepat?, (b) Adalah cara untuk

9 memeriksa jawaban?, (c) Apakah setiap langkah sudah terbukti benar?, (d) Apakah ditemukan cara lain yang dapat digunakan dalam penyelesaian masalah?, (e) Apakah ada cara dalam bentuk umum untuk masalah ini yang dapat digunakan dalam menyelesaikan masalah lain yang pernah diselesaikan sebelumnya?, (f) Apakah ada teknik yang lain untuk menyelesaikan masalah? 2.3 Upaya untuk Mengetahui Bentuk-Bentuk Kesalahan Penyelesaian Soal Cerita Upaya untuk mengetahui bentuk-bentuk kesalahan yang dilakukan siswa dalam melakukan penyelesaian soal cerita tentunya tidak dapat dipisahkan dengan faktor-faktor yang menjadi penyebabnya. Hal ini sesuai pandangan Davis (dalam Sartin, 2000:14) menyatakan bahwa kesalahan siswa dalam banyak topik matematika merupakan sumber utama untuk mengetahui kesulitan siswa memahami matematika. Sehingga analisis kesalahan merupakan suatu cara untuk mengetahui faktor penyebab kesulitan siswa dalam mempelajari matematika. Dengan demikian hubungan antara kesalahan dengan kesulitan adalah sangat erat dan saling mempengaruhi satu sama lain. Sehubungan dengan hal tersebut maka antara kesalahan dan kesulitan dalam belajar merupakan dua hal yang berbeda tetapi mempunyai keterkaitan yang sangat erat. Dalam hal ini kita bahkan mengalami kesulitan untuk dapat menentukan apakah kesulitan yang menyebabkan suatu kesalahan atau sebaliknya, apa kesalahan yang menyebabkan suatu kesulitan Faktor-Faktor Penyebab Kesalahan Penyelesaian Soal Cerita Sebagaimana dikemukakan pada bahasan sebelumnya bahwa bentuk-bentuk kesalahan dalam penyelesaian soal cerita tidak dapat dipisahkan atau terkait erat dengan faktor-faktor penyebabnya. Sehubungan dengan hal ini Sutawidjaya (dalam Hidayah, 2002:18) menjelaskan bahwa untuk mengetahui faktor penyebab kesalahan siswa menyelesaikan soal cerita dapat

10 ditentukan melalui kesalahan yang dibuatnya. Dilihat dari faktor-faktor penyebabnya dapat digolongkan dalam beberapa bagian, yaitu siswa, guru, fasilitas yang digunakan dan lingkungannya. Dalam hal yang sama menyangkut faktor-faktor penyebab kesulitan siswa menyelesaikan soal cerita, Kaplan (dalam Sutisna, 2010:30) menyatakan sebagai gangguan matematika yang diklasifikasikan menjadi empat keterampilan. Keempat keterampilan tersebut adalah (a) keterampilan linguistik (yang berhubungan dengan mengerti istilah matematika dan mengubah masalah tertulis menjadi simbol matematika), (b) Keterampilan perseptual (kemampuan mengenali, mengerti simbol dan mengurutkan kelompok angka), (c) Keterampilan matematika (penambahan, pengurangan, perkalian dan pembagian), (d) Keterampilan atensional (menyalin angka dengan mengenal dan mengamati simbol operasional dengan benar). Bertolak dari pandangan di atas, dilihat dari kenyataan yang ditemui dalam proses pembelajaran soal cerita di sekolah dasar umumnya faktor-faktor penyebab kesalahan siswa dalam belajar dapat diuraikan sebagai berikut. a. Kurangnya penguasaan bahasa sehingga menyebabkan siswa kurang paham terhadap permintaan jawaban yang diharapkan dalam penyelesaian soal. Dalam hal ini, yang dimaksud dengan kurang paham terhadap permintaan jawaban disini adalah ketidak tahuan siswa terhadap apa yang dia kerjakan. Setelah dia memperoleh informasi dari soal. Namun kadang-kadang siswa sulit memahami sehingga mereka tidak tahu tentang apa makna dari isi informasi dalam soal tersebut karena terjadi salah penafsiran. b. Kurangnya pemahaman siswa terhadap materi prasyarat baik yang berkaitan dengan sifat, rumus, maupun dalam prosedur pengerjaan.

11 c. Kebiasaan siswa dalam mengerrjakan soal cerita, misalnya tidak menguji kembali kebenaran jawaban yang diberikan atau mengsubsitusikan kembali jawaban yang mereka peroleh kedalam kalimat matematika sebagai jawaban dari permasalahan. d. Kurangnya minat terhadap pelajaran matematika atau ketidak seriusan siswa dalam mengikuti pelajaran. e. Siswa tidak belajar walaupun ada tes atau ulangan. f. Lupa rumus yang akan digunakan untuk menyelsaikan soal g. Salah memasukkan data h. Tergesa-gesa dalam menyelesaikan soal i. Kurang memahami penjelasan guru Berbagai bentuk faktor penyebab kesulitan siswa menyelesaikan soal cerita yang diuraikan di atas, menurut Hadi (dalam Rohma, 2010:15) secara umum diklasifikasikan ke dalam segi yaitu segi kognitif dan non kognitif. Dilihat dari segi kognitif faktor-faktor tersebut menyangkut hal-hal yang berhubungan dengan kemampuan intelektual seperti ingatan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis serta kemampuan mengevaluasi yang termasuk dalam cara siswa memproses atau membuat rencana serta melakukan sedangkan dilihat dari faktor-faktor non kognitif yang menyangkut semua faktor-faktor di luar, hal-hal yang berhubungan dengan kemampuan intelektual seperti sikap, keperibadian, cara belajar, kesehatan jasmani, keadaan emosional, cara mengajar guru, fasiltias-fasilitas belajar, serta suasana lingkungan Kesalahan Penyelesaian Soal Cerita Jika dikaji kembali tentang pengertian, langkah-langkah, dan cara penyelesaian soal cerita yang diuraikan pada bahasa sebelumnya menunjukkan bahwa kegiatan menyelesaikan soal cerita pada pembelajaran matematika di sekolah dasar tidak hanya melibatkan langkah-langkah

12 penyelesaian secara prosedural, tetapi hal yang utama adalah melibatkan siswa dalam kegiatan mental untuk memahami proses penyelesaian secara konseptual. Untuk menganalisis kesalahankesalahan siswa dalam penyelesaian soal cerita tersebut di atas, menurut Polya (dalam Satiyawati, 2011:21) terdapat beberapa pertanyaan yang muncul setelah siswa mendapatkan hasil penyelesaian. Pertanyaan-pertanyaan tersebut meliputi hal-hal sebagai berikut. a. Apakah jawaban sudah tepat? b. Adakah cara untuk memeriksa jawaban? c. Apakah setiap langkah sudah terbukti benar? d. Apakah ditemukan cara lain yang mungkin dapat digunakan dalam penyelesaian masalah? e. Apakah ada cara dalam bentuk umum untuk penyelesaian masalah yang telah diselesaikan dan dapat digunakan dalam penyelesaian masalah yang lain dengan tipe yang sama? f. Apakah masalah yang telah diselesaikan berhubungan dengan masalah lain yang sudah pernah diselesaikan sebelumya? g. Apakah ada teknik yang lain untuk menyelesaikan masalah yang sedang diselesaikan? Bertitik tolak dari pertanyaan-pertanyaan yang diuraikan di atas, maka dalam penelitian ini ditarik suatu kesempurnaan yang difokuskan. a. Kesalahan siswa dalam membaca dan memahami isi soal cerita yakni berupa kemampuan siswa dalam mengungkap apa yang diketahui serta menentukan apa yang ditanya dari informasi yang terkandung dalam soal cerita.

13 b. Kesalahan siswa dalam membuat kalimat matematika atau model matematika dari sesuatu yang akan dicari dengan menggunakan makna dan hubungannya dengan soal cerita. c. Melakukan perhitungan (komputasi) yaitu menyelesaikan kalimat (model) matematika yang telah dibuat dan dirumuskan berdasarkan aturan-aturan serta prinsip-prinsip yang terdapat dalam penyelesaian kalimat matematika. d. Kesalahan siswa dalam menarik dari hasil akhir perhitungan dengan mensubsitusikan kembali jawaban yang diperoleh ke dalam konteks soal cerita Penyelesaian Soal Cerita Volum Kubus dan Balok Dalam penerapan cara menganalisis kesalahan siswa pada penelitian ini dapat dijelaskan melalui contoh seperti uraian berikut. Pernyataan soal cerita Pak Ahmad sebagai salah seorang peternak ikan di Suwawa Selatan, di rumah pak Ahmad terdapat sebuah kolam tempat bibit ikan lele dengan ukuran panjang = 5 meter, lebar = 3 meter, dan tinggi 0,6 meter. Jika kolam tersebut di isi air sampai penuh, berapa volum air yang terisi dalam kolam tersebut? Untuk menganalisis bentuk kesalahan siswa menyelesaikan soal cerita pada contoh di atas, penelitian ini dianalisis melalui empat faktor penyebab timbul kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita yaitu kesalahan dalam memahami isi soal cerita, kesalahan mengubah soal cerita ke dalam kalimat matematika, kesalahan dalam menyelesaikan kalimat matematika dan kesalahan dalam menguji kembali kebenaran jawaban yang diberikan.

14 Berdasarkan contoh soal cerita yang dikemukakan di atas, maka analisis bentuk-bentuk kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal cerita tersebut dilakukan berdasarkan ketidakmampuan siswa memberikan jawaban sebagai berikut. a. Kemampuan memahami isi soal cerita Untuk menganalisis bentuk kesalahan siswa pada aspek ini didasarkan dari ketidakmampuan siswa mengungkap hal-hal sebagai berikut. Diketahui : sebuah kolam berbentuk balok dengan ukuran panjang = 5 meter, lebar = 3 meter, dan tinggi = 0.6 meter. Ditanya : Volum air dalam kolam jika terisi air sampai penuh b. Kemampuan siswa dalam mengubah soal cerita ke dalam kalimat matematika. Pada aspek ini, bentuk kesalahan siswa dianalisis melalui ketidakmampuan siswa mengungkap rumus volum balok serta mengsubsitusikan ukuran kolam ke dalam rumus tersebut melalui formulasi kalimat matematika sebagai berikut. Rumus volum balok = panjang x lebar x tinggi = 5 meter x 3 meter x 0,6 meter c. Kemampuan siswa menyelesaikan kalimat matematika. Bentuk kesalahan siswa pada aspek ini dianalisis dari ketidakmampuan siswa dalam memberikan jawaban seperti berikut. Volum air dalam kolam = 5 meter x 3 meter x 0,6 meter = (5 meter x 3 meter) x 0,6 meter = 15m 2 x 0,6m = 15/1 m 2 x 6/10 m

15 = 90/10 m 3 = 9 m 3 Banyak cara yang dapat dilakukan siswa untuk menyelesaikan kalimat matematika tersebut di atas antara lain sebagai berikut. 1) Volum air dalam kolam = 5 meter x 3 meter x 0,6 meter = (5 meter x 3 meter) x 6 meter 10 = 15 m 2 x 6 m 10 = 90/10 m 3 = 9m 3 2) Volum air dalam kolam = 5 meter x 3 meter x 0,6 meter = 50/10 meter x 30/10 meter x 6/10 meter = (50/10 meter x 3/10 meter) x 6/10 meter = 1500/100m 2 x 6/10meter = 9000/1000m 3 = 9m 3 d. Menguji kembali kebenaran jawaban yang diberikan untuk menganalisis bentuk kesalahan siswa pada aspek ini dilihat dari ketidakmampuan siswa untuk menyelesaikan hal-hal sebagai berikut. 1) Kalimat matematika yang digunakan dalam penyelesaian soal cerita ini adalah rumus volum balok, sebab volum air yang dihitung terisi dalam kolam yang berbentuk balok. 2) Kalimat matematika yang digunakan dalam penyelesaian soal cerita ini adalah kalimat matematika dalam bentuk kesamaan. Dimana dalam kalimat tersebut menunjukkan bahwa dalam kalimat tersebut menunjukkan bahwa operasi hitung

16 bilangan yang digunakan adalah operasi hitung perkalian yang dihubungkan dengan relasi-relasi = (dibaca sama dengan). 3) Hasil jawaban yang diperoleh adalah volum air dari kolam = 9m 3, kebenaran jawaban ini dapat diuji sebagai berikut. 19 m 3 = 15 meter x 3 meter x 0,6 meter = (5 meter x 3 meter) x 0,6 meter = 15/1m 2 x 6/10m 2 = 90/10m 3 = 9m 3 Untuk menentukan kebenaran jawaban diberikan didasarkan pada dua alasan: alasan pertama adalah jika ruas kiri dan ruas kanan dari simbol = menunjukkan nilai yang seharga, berarti jawaban yang diberikan adalah benar, sebaliknya jika ruas kiri dan ruas kanan dari simbol = tidak seharga bearti jawaban yang diberikan adalah salah. 2.4 Kajian Penelitian yang Relevan Anis Sunarsi, 2009 dalam penelitiannya yang berjudul Analisis Kesalahan dalam Menyelesaikan Soal pada Materi Volum Prisma dan Limas pada siswa kelas IV SDN Negeri 2 Karanganyar, menyimpulkan bahwa berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa jenis kesalahan yang dilakukan siswa ada 4 yaitu: a. Kesalahan dalam menerima informasi meliputi kesalahan dalam menuliskan apa yang diketahui, penyebabnya adalah siswa tidak telidi dalam membaca soal, siswa hanya menyingkat penulisan saja dan siswa tidak paham tentang unsur-unsur limas, kesalahan

17 dalam menentukan apa yang ditanyakan, penyebabnya adalah siswa tidak teliti dalam membaca soal. b. Kesalahan yang berhubungan dengan konsep prisma dan limas meliputi: kesalahan dalam menggunakan dan menerapkan rumus, penyebabnya adalah siswa tidak teliti dan tidak dapat memahami maksud soal, kesalahan dalam mencari volum limas, penyebabnya adalah karena siswa tidak paham tentang unsur-unsur limas dan sekeder memasukkan angka ke dalam rumus, kesalahan dalam menentukan alas dan tutup prisma, penyebabnya adalah karena siswa tidak cermat dalam memperhatikan gambar, kesalahan dalam menentukan bentuk dari bangun yang diminta, penyebabnya adalah karena siswa tidak cermat dalam memperhatikan gambar. c. Kesalahan yang ke 3 adalah dalam menghitung, penyebabnya karena siswa tidak teliti dalam menghitng dan memasukkan angka ke dalam rumus, kesalahan yang berhubungan dengan materi prasyarat meliputi: kesalahan dalam menggunakan rumus phytagoras, penyebabnya adalah karena siswa tidak teliti dalam mengerjakan, beberapa siswa tidak paham tentang dalil phytagoras, kesalahan dalam mencari diagonal belah ketupat, penyebabnya adalah karena siswa tidak teliti dalam mengerjakan, siswa tidak menggambarkan belah ketupat sehingga kemungkinan melakukan kesalahan semakin besar. d. Siswa tidak tahu cara mencari diagonal belah ketupat, kesalahan dalam menentukan rumus luas serta tinggi segitiga, penyebabnya adalah karena siswa tidak teliti, siswa tidak menggambarkan limas dan siswa salah salam menentukan tinggi segitiga karena telalu terpaku pada gambar, tidak membayangkan bentuk aslinya, kesalahan dalam penjumlahan bilangan akar, penyebabnya karena siswa lupa dan tidak teliti dalam

18 mengerjakan, kesalahan dalam mengubah satuan, penyebabnya adalah siswa tidak teliti dalam membaca soal dan tidak tahu cara mengubah satuan m 3.

UNIT PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA. Nyimas Aisyah. Pendahuluan

UNIT PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA. Nyimas Aisyah. Pendahuluan UNIT 5 PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA Nyimas Aisyah Pendahuluan P embelajaran matematika di Sekolah Dasar sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, menurut kurikulum 2006, bertujuan antara

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bilangan, (b) aljabar, (c) geometri dan pengukuran, (d) statistika dan peluang 7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Pemahaman Konsep Matematika Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), disebutkan bahwa standar kompetensi mata pelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

UPAYA PERBAIKAN KESALAHAN SISWA MENYEDERHANAKAN OPERASI BENTUK ALJABAR DENGAN PEMBELAJARAN KONTEKTUAL

UPAYA PERBAIKAN KESALAHAN SISWA MENYEDERHANAKAN OPERASI BENTUK ALJABAR DENGAN PEMBELAJARAN KONTEKTUAL UPAYA PERBAIKAN KESALAHAN SISWA MENYEDERHANAKAN OPERASI BENTUK ALJABAR DENGAN PEMBELAJARAN KONTEKTUAL Yusuf Octaviano F.M. Mahasiswa S1 Universitas Negeri Malang Pembimbing: Drs. Slamet, M.Si Dosen Universitas

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN SOAL CERITA OPERASI HITUNG CAMPURAN DI SD

PEMBELAJARAN SOAL CERITA OPERASI HITUNG CAMPURAN DI SD PROGRAM BERMUTU Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading TW URI HANDAY AN I TU PEMBELAJARAN SOAL CERITA OPERASI HITUNG CAMPURAN DI SD KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN. Pada BAB V ini, peneliti akan membahas hasil penelitian dan diskusi hasil

BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN. Pada BAB V ini, peneliti akan membahas hasil penelitian dan diskusi hasil 67 BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN Pada BAB V ini, peneliti akan membahas hasil penelitian dan diskusi hasil penelitian. Pembahasan hasil penelitian berdasarkan deskripsi data tentang strategi

Lebih terperinci

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia KESALAHAN PENULISAN TANDA BACA SERTA PENULISAN ANGKA DAN LAMBANG BILANGAN PADA KARANGAN SISWA KELAS V SDN 1 SAWAHAN KECAMATAN JUWIRING KABUPATEN KLATEN TAHUN PELAJARAN 2009/2010 SKRIPSI Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013

SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013 SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VIII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013 SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/ MADRASAH TSANAWIYAH KELAS VII KURIKULUM

Lebih terperinci

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII

ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII ARTIKEL CONTOH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS MASALAH MATEMATIKA SMP KELAS VII Oleh Adi Wijaya, S.Pd, MA PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA

Lebih terperinci

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN Masrinawatie AS Pendahuluan P endapat yang mengatakan bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau penerusan pengetahuan sudah ditinggalkan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving)

BAB II KAJIAN TEORI. A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) 8 BAB II KAJIAN TEORI A. Pengertian Strategi Pemecahan Masalah (Problem Solving) Strategi Pemecahan Masalah bidang studi Matematika ini ditujukan untuk para pengajar bidang studi Matematika sebagai alternatif

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORI. a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah

BAB II KAJIAN TEORI. a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah BAB II KAJIAN TEORI A. Konsep Teoretis 1. Kemampuan Pemecahan Masalah a. Pengertian Kemampuan Pemecahan Masalah Pemecahan masalah merupakan aktivitas yang sangat penting dalam pembelajaran matematika,

Lebih terperinci

BERKAS SOAL TAHAP FINAL BIDANG STUDI MATEMATIKA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI)

BERKAS SOAL TAHAP FINAL BIDANG STUDI MATEMATIKA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI) BERKAS SOAL TAHAP FINAL BIDANG STUDI MATEMATIKA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI) KOMPETISI SAINS MADRASAH (KSM) 2014 SELEKSI KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA SURABAYA, 2014 SOAL TAHAP FINAL BIDANG STUDI MATEMATIKA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. biasa disebut dengan kreativitas siswa dalam matematika. Ulangan Harian Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013 SD Negeri No.

BAB I PENDAHULUAN. biasa disebut dengan kreativitas siswa dalam matematika. Ulangan Harian Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013 SD Negeri No. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu upaya untuk memberikan pengetahuan kepada seseorang dengan tujuan agar orang tersebut mampu menghadapi perubahan akibat adanya kemajuan

Lebih terperinci

NATIONAL EDUCATORS CONFERENCE 2015 Sampoerna University, 29-30 Mei 2015 6/12/2015. Garis Besar Proses Belajar Mengajar Sekolah SALAM

NATIONAL EDUCATORS CONFERENCE 2015 Sampoerna University, 29-30 Mei 2015 6/12/2015. Garis Besar Proses Belajar Mengajar Sekolah SALAM Garis Besar Proses Belajar Mengajar Sekolah SALAM 1 Kerangka Belajar Meletakkan Dasar-dasar menemukan pengalaman terapkan lakukan kesimpulan daur belajar analisis ungkapkan 2 BERSTRUKTUR 3 MENGALAMI Proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan bagi anak usia dini merupakan suatu kemutlakan yang perlu dilakukan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan bagi anak usia dini merupakan suatu kemutlakan yang perlu dilakukan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan bagi anak usia dini merupakan suatu kemutlakan yang perlu dilakukan sebagai suatu bentuk tanggung jawab atas peningkatan kualitas anak Indonesia.

Lebih terperinci

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 200 di PPPG Matematika Oleh: Dra. Sukayati, M.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi manusia, jika ide pokok di dalam wacana tersebut tidak dipahami.

BAB I PENDAHULUAN. penting bagi manusia, jika ide pokok di dalam wacana tersebut tidak dipahami. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia adalah makhluk yang butuh akan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan diharapkan akan membawa manusia semakin baik. Hanya saja ilmu pengetahuan tidak akan diperoleh

Lebih terperinci

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan Oleh : WAHYU VITA LESTARI A 410 060 130

SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat S-1 Pendidikan Matematika. Diajukan Oleh : WAHYU VITA LESTARI A 410 060 130 EKSPERIMENTASI PEMBELAJARAN MATEMATIKA DENGAN METODE PENEMUAN TERBIMBING DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL SISWA (Untuk Kelas VIII SMP N 1 Tirtomoyo Semester Genap Pokok Bahasan Prisma) SKRIPSI Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. agar manusia tidak terjerumus dalam kehidupan yang negatif. Pendidikan

BAB 1 PENDAHULUAN. agar manusia tidak terjerumus dalam kehidupan yang negatif. Pendidikan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara umum pengertian pendidikan adalah proses perubahan atau pendewasaan manusia, berawal dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak biasa menjadi biasa, dari

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Untuk SMA/MA Kelas X Mata Pelajaran : Matematika (Wajib) Penerbit dan Percetakan Jl. Tengah No. 37, Bumi Asri Mekarrahayu Bandung-40218 Telp. (022) 5403533 e-mail:srikandiempat@yahoo.co.id

Lebih terperinci

Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM

Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Outline 0 PENDAHULUAN 0 TAHAPAN PENGEMBANGAN MODEL 0 SISTEM ASUMSI 0 PENDEKATAN SISTEM Pendahuluan 0 Salah satu dasar utama untuk mengembangkan model adalah guna menemukan peubah-peubah apa yang penting

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1)

PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1) H. SufyaniPrabawant, M. Ed. Bahan Belajar Mandiri 5 PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1) Pendahuluan Bahan belajar mandiri ini menyajikan pembelajaran bangun-bangun ruang dan dibagi menjadi dua kegiatan belajar.

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN MATERI LUAS PERMUKAAN DAN VOLUM LIMAS YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK PMRI DI KELAS VIII SMP NEGERI 4 PALEMBANG

PENGEMBANGAN MATERI LUAS PERMUKAAN DAN VOLUM LIMAS YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK PMRI DI KELAS VIII SMP NEGERI 4 PALEMBANG PENGEMBANGAN MATERI LUAS PERMUKAAN DAN VOLUM LIMAS YANG SESUAI DENGAN KARAKTERISTIK PMRI DI KELAS VIII SMP NEGERI 4 PALEMBANG Hariyati 1, Indaryanti 2, Zulkardi 3 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengembangkan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model

II. TINJAUAN PUSTAKA. Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Model Peraihan Konsep Model peraihan konsep disebut juga model perolehan konsep atau model pencapaian konsep. Model peraihan konsep mula-mula didesain oleh Joice

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bangun ruang adalah materi pokok dalam pembelajaran matematika di SMP/MTs yang kajian materinya masih bersifat abstrak. Pada materi bangun ruang ini, peserta

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat

II. TINJAUAN PUSTAKA. berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu kata efektif juga dapat 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Efektivitas Pembelajaran Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia efektivitas berasal dari kata efektif yang berarti mempunyai efek, pengaruh atau akibat, selain itu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menganggapnya sebagai pelajaran favorit, bukan hal yang sulit untuk

BAB I PENDAHULUAN. menganggapnya sebagai pelajaran favorit, bukan hal yang sulit untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sepertinya sulit untuk dilepaskan dari permasalahan operasi hitungan, penjumlahan, pengurangan, dan sebagainya. Bagi siswa tertentu yang menganggapnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan bakat, kemampuan dan minat yang dimilikinya.

BAB I PENDAHULUAN. dengan bakat, kemampuan dan minat yang dimilikinya. 1 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Sekolah Dasar merupakan lembaga pendidikan formal yang bertanggung jawab mendidik dan mengajar agar tingkah laku siswa didik menjadi baik. Salah satu tugas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mulyati, 2013

BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah Mulyati, 2013 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Matematika sering dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan membosankan bagi siswa. Begitu pula bagi guru, matematika dianggap sebagai pelajaran yang sulit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran matematika. Permasalahan ini relevan dengan bukti empiris yang. membaca atau mengerjakan soal-soal yang ada di dalamnya.

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran matematika. Permasalahan ini relevan dengan bukti empiris yang. membaca atau mengerjakan soal-soal yang ada di dalamnya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kurang maksimalnya pemanfaatan media merupakan salah satu dari sekian banyak masalah dalam pembelajaran di sekolah termasuk pada mata pelajaran matematika. Permasalahan

Lebih terperinci

Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika

Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika Analisis SI dan SKL Mata Pelajaran Matematika SMP/MTs untuk Optimalisasi Tujuan Mata Pelajaran Matematika Penulis Dra. Sri Wardhani Penilai Dra. Th Widyantini, M.Si. Editor Titik Sutanti, S.Pd.Si. Ilustrator

Lebih terperinci

Modul Matematika Segi Empat

Modul Matematika Segi Empat Modul Matematika Segi Empat Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP-Standar Isi 2006) Berdasarkan Pendekatan Kontekstual Untuk Siswa SMP Kelas VII Semester 2 Penulis : Tutik Shahidayanti Pembimbing :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sangat padat (penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan sebagainya)

BAB I PENDAHULUAN. sangat padat (penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, dan sebagainya) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembelajaran operasi hitung adalah pelajaran yang banyak memerlukan keterampilan berpikir dan berkonsentrasi, sebab materi-materi operasi hitung yang sangat

Lebih terperinci

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono

Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono washington College of education, UNESA, UM Malang dan LAPI-ITB. 1 Pebruari 8 Maret dan 8-30 April 2002 di Penilaian Unjuk kerja Oleh Kusrini & Tatag Y.E. Siswono Dalam pembelajaran matematika, sistem evaluasinya

Lebih terperinci

Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd.

Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd. Pengembangan Berpikir Kreatif melalui CTS (Catatan: Tulis dan Susun) Oleh: Salam, S.Pd, M.Pd. A. Pengantar Sebenarnya apa yang saya kemukakan pada bagian ini, mungkin tidak akan berarti apa-apa kepada

Lebih terperinci

SOAL BANGUN RUANG. a. 1000 dm 3 b. 600 dm 3 c. 400 dm 3 d. 100 dm 3 e. 10 dm 3

SOAL BANGUN RUANG. a. 1000 dm 3 b. 600 dm 3 c. 400 dm 3 d. 100 dm 3 e. 10 dm 3 SOAL BANGUN RUANG Soal Pilihan Ganda 1. Diketahui kubus dengan panjang diagonal sisi 5 2 meter, luas permukaan kubus tersebut adalah a. 5 m 2 b. 25 m 2 c. 100 m 2 d. 150 m 2 e. 250 m 2 2. Dikeatui bak

Lebih terperinci

Kata kunci : penggunaan media, gambar seri, peningkatan kemampuan, karangan sederhana.

Kata kunci : penggunaan media, gambar seri, peningkatan kemampuan, karangan sederhana. PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN SEDERHANA SISWA KELAS III SDK RANGGA KECAMATAN LEMBOR KABUPATEN MANGGARAI BARAT Herman Yoseph Tagur SDK Rangga Lembor Manggarai

Lebih terperinci

ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara

ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP) SUMATERA UTARA 2013 Jl. Bunga Raya No.

Lebih terperinci

5 25% BAB I PENDAHULUAN

5 25% BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sekarang ini banyak orang menyebutkan abad melenium. Pada masa ini menuntut penguasaan teknologi adalah kebutuhan mutlak. Bahkan kita dituntut untuk dapat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hal tersebut sesuai dengan UU No. 10 Tahun 2003 Pasal 1 tentang Sistem

BAB I PENDAHULUAN. Hal tersebut sesuai dengan UU No. 10 Tahun 2003 Pasal 1 tentang Sistem 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan sangat penting dalam meningkatkan potensi diri setiap orang. Hal tersebut sesuai dengan UU No. 10 Tahun 2003 Pasal 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional,

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa

BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa 100 BAB V PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Upaya Kepala Sekolah Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Bidang Studi Pendidikan Agama Islam di SMK Muhammadiyah 03 Singosari Malang Motivasi belajar merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot

BAB I PENDAHULUAN. memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang berbobot BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Matematika ada di mana-mana dalam masyarakat dan matematika itu sangat penting. Sejak memasuki abad ke 21, semakin jelas bahwa banyak pekerjaan-pekerjaan yang

Lebih terperinci

PENGARUH PERMAINAN DOMINO TERHADAP KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD SWASTA PAB 23 PATUMBAK II KABUPATEN DELI SERDANG

PENGARUH PERMAINAN DOMINO TERHADAP KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD SWASTA PAB 23 PATUMBAK II KABUPATEN DELI SERDANG 1 PENGARUH PERMAINAN DOMINO TERHADAP KETERAMPILAN OPERASI HITUNG PECAHAN PADA SISWA KELAS V SD SWASTA PAB 23 PATUMBAK II KABUPATEN DELI SERDANG Sukmawarti Dosen Kopertis Wilayah I dpk pada FKIP Universitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. raga, mempunyai ruang hidup kementalan, memiliki dimensi hidup kerohanian

BAB I PENDAHULUAN. raga, mempunyai ruang hidup kementalan, memiliki dimensi hidup kerohanian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kehidupan dalam arti seluas-luasnya selalu memerlukan saling berhubungan atau saling berinteraksi antara anggota masyarakat yang satu dan anggota masyarakat yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Hasil belajar siswa sangat dipengaruhi oleh kualitas pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah. Dan salah satu hal yang menentukan kualitas pembelajaran adalah

Lebih terperinci

SEBUAH SOLUSI MENGATASI KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA Oleh: Drs. Paridjo, M.Pd* )

SEBUAH SOLUSI MENGATASI KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA Oleh: Drs. Paridjo, M.Pd* ) A. Pendahuluan SEBUAH SOLUSI MENGATASI KESULITAN BELAJAR MATEMATIKA Oleh: Drs. Paridjo, M.Pd* ) Abstrak: Tujuan penulisan artikel ini adalah membahas tentang kesulitan belajar, penyebab kesulitan belajar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab,

BAB I PENDAHULUAN. seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Metode tanya-jawab seringkali dikaitkan dengan kegiatan diskusi, seminar, dan kegiatan ilmiah lain yang di dalammnya terjadi proses tanya-jawab, meskipun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhamad Arshif Barqiyah, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhamad Arshif Barqiyah, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Gerak merupakan hakikat manusia, bergerak adalah salahsatu aktivitas yang tidak akan luput dari kehidupan manusia dalam melaksanakan aktivitasnya seharihari.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi

BAB I PENDAHULUAN. Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kehidupan yang terus berkembang membawa konsekuensikonsekuensi tertentu terhadap pola kehidupan masyarakat. Begitu juga dengan dunia pendidikan yang terus berubah

Lebih terperinci

PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL. Sumber: Dok. Penerbit

PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL. Sumber: Dok. Penerbit 4 PERSAMAAN DAN PERTIDAKSAMAAN LINEAR SATU VARIABEL Sumber: Dok. Penerbit Pernahkah kalian berbelanja alat-alat tulis? Kamu berencana membeli 10 buah bolpoin, sedangkan adikmu membeli 6 buah bolpoin dengan

Lebih terperinci

3 OPERASI HITUNG BENTUK ALJABAR

3 OPERASI HITUNG BENTUK ALJABAR OPERASI HITUNG BENTUK ALJABAR Pada arena balap mobil, sebuah mobil balap mampu melaju dengan kecepatan (x + 10) km/jam selama 0,5 jam. Berapakah kecepatannya jika jarak yang ditempuh mobil tersebut 00

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Examples Non Examples Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga lima orang dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja

Lebih terperinci

Menulis Makalah Yang Baik:

Menulis Makalah Yang Baik: Menulis Makalah Yang Baik: 1. Memilih topik, ide Teman saya Peter Turney memiliki bagian kunci dari saran: menjadi ambisius. Bayangkan setiap kertas baru Anda menulis sebagai referensi berlangsung selama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan meningkatnya kemampuan manusia, situasi dan kondisi lingkungan yang

BAB I PENDAHULUAN. dan meningkatnya kemampuan manusia, situasi dan kondisi lingkungan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Permasalahan pendidikan selalu muncul bersama dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan manusia, situasi dan kondisi lingkungan yang ada, pengaruh informasi

Lebih terperinci

PENGUKURAN, LUAS DAN VOLUME

PENGUKURAN, LUAS DAN VOLUME PENGUKURAN, LUAS DAN VOLUME Pengukuran merupakan kegiatan membandingkan suatu besaran yang diukur dengan alat ukur yang digunakan sebagai satuan. Sesuatu yang dapat diukur dan dapat dinyatakan dengan angka

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi waktu : SMA Negeri 1 Sukasada : Matematika : X/1 (Ganjil) : 2 x 4 menit (1 pertemuan) I. Standar Kompetensi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Permasalahan yang sering muncul di bidang pendidikan biasanya tidak lepas dari kualitas peserta didik. Salah satu cara untuk mengetahui peningkatan kualitas

Lebih terperinci

ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU (APKG)

ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU (APKG) ALAT PENILAIAN KEMAMPUAN GURU (APKG) PETUNJUK 1. Kumpulkan dokumen perangkat dari guru sebelum pengamatan, cacatan hasil pengamatan selama dan sesudah, serta cacatan kemajuan dan hasil belajar peserta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Untuk membina

BAB I PENDAHULUAN. kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Untuk membina 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah usaha manusia secara sadar untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai dalam masyarakat. Untuk membina kepribadian tersebut dibutuhkan

Lebih terperinci

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark.

Please purchase PDFcamp Printer on http://www.verypdf.com/ to remove this watermark. Proses Berpikir Siswa dalam Pengajuan Soal Tatag Yuli Eko Siswono Universitas Negeri Surabaya Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana proses berpikir siswa dalam mengajukan soal-soal pokok

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain

BAB I PENDAHULUAN. hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kondisi belajar yang baik dan memadai sangat membutuhkan hubungan timbal balik antara guru dan murid yang baik. Untuk itu, selain menggunakan strategi belajar mengajar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam

BAB I PENDAHULUAN. pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemahaman konsep merupakan dasar dan tahapan penting dalam rangkaian pembelajaran matematika. Menurut Cooney yang dikutip oleh Thoumasis dalam Gunawan 1, a student's

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES Indah Wahyu Ningrum 1), Suharno 2), Hasan Mahfud 3) PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Jl. Slamet Riyadi No.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dari setiap belajar mengajar adalah untuk memperoleh hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ilmu pengetahuan sains saat ini menunjukkan bahwa sains memiliki peran yang sangat vital dalam kehidupan manusia. Berkembangnya ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

PROBLEM KENAIKAN PANGKAT GURU Oleh : Istamaji, S.I.Kom (Analis Kepegawaian Pertama Kantor Kementerian Agama Kab. Way Kanan)

PROBLEM KENAIKAN PANGKAT GURU Oleh : Istamaji, S.I.Kom (Analis Kepegawaian Pertama Kantor Kementerian Agama Kab. Way Kanan) PROBLEM KENAIKAN PANGKAT GURU Oleh : Istamaji, S.I.Kom (Analis Kepegawaian Pertama Kantor Kementerian Agama Kab. Way Kanan) PENDAHULUAN Guru kini semakin menghadapi permasalahan yang cukup berat dalam

Lebih terperinci

SOAL UJIAN NASIONAL. PROGRAM STUDI IPA ( kode P 45 ) TAHUN PELAJARAN 2008/2009

SOAL UJIAN NASIONAL. PROGRAM STUDI IPA ( kode P 45 ) TAHUN PELAJARAN 2008/2009 SOAL UJIAN NASIONAL PROGRAM STUDI IPA ( kode P 4 ) TAHUN PELAJARAN 8/9. Perhatikan premis premis berikut! - Jika saya giat belajar maka saya bisa meraih juara - Jika saya bisa meraih juara maka saya boleh

Lebih terperinci

UNIT 7 PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK. Yusuf Hartono. Pendahuluan

UNIT 7 PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK. Yusuf Hartono. Pendahuluan UNIT 7 PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK Yusuf Hartono Pendahuluan M atematika itu sulit! Begitu kesan yang beredar di antara sebagian besar siswa dari sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, bahkan

Lebih terperinci

BAB I PENDA HULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDA HULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dunia pendidikan sesungguhnya dipenuhi berbagai keragaman. Sebab, tidak ada siswa yang mempunyai daya tangkap, daya serap, daya berpikir dan daya kecerdasan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Belajar dan Pembelajaran Pengertian belajar secara komprehensif diberikan oleh Bell-Gredler (dalam Winataputra, 2008:1.5) yang menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Menyelesaikan Studi Program Strata Satu

Lebih terperinci

Pengertian Pendekatan

Pengertian Pendekatan Pengertian Pendekatan Dalam proses pembelajaran dikenal beberapa istilah yang memiliki kemiripan makna, sehingga seringkali orang merasa bingung untuk membedakannya. Istilah-istilah tersebut adalah: (1)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1. Konteks Masalah Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan melibatkan pemerintah sebagai

Lebih terperinci

Tinjauan Mata Kuliah. allo Saudara... Selamat jumpa pada mata kuliah Keterampilan Musik

Tinjauan Mata Kuliah. allo Saudara... Selamat jumpa pada mata kuliah Keterampilan Musik i Tinjauan Mata Kuliah allo Saudara... Selamat jumpa pada mata kuliah Keterampilan Musik H dan Tari! Pada mata kuliah ini, Anda akan mempelajari bagaimana mencipta sebuah karya tari dan musik atau sering

Lebih terperinci

Beberapa Benda Ruang Yang Beraturan

Beberapa Benda Ruang Yang Beraturan Beberapa Benda Ruang Yang Beraturan Kubus Tabung rusuk kubus = a volume = a³ panjang diagonal bidang = a 2 luas = 6a² panjang diagonal ruang = a 3 r = jari-jari t = tinggi volume = π r² t luas = 2πrt Prisma

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 SULIKAH A54F100042

NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 SULIKAH A54F100042 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGERJAKAN OPERASI HITUNG PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DAN MEDIA POTONGAN LIDI PADA SISWA KELAS 1 SEMESTER 2 SD NEGERI 2 SEDAYU TAHUN 2013/2014 NASKAH

Lebih terperinci

FUNGSI DAN MANFAAT MEDIA PENDIDIKAN

FUNGSI DAN MANFAAT MEDIA PENDIDIKAN FUNGSI DAN MANFAAT MEDIA PENDIDIKAN Fungsi dan Manfaat Media Pendidikan Salah satu fungsi utama media pendidikan adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, danlingkungan

Lebih terperinci

Kualitas informasi tergantung pada empat hal yaitu akurat, tepat waktu, relevan dan ekonomis, yaitu:

Kualitas informasi tergantung pada empat hal yaitu akurat, tepat waktu, relevan dan ekonomis, yaitu: Data dan Informasi Informasi tidak hanya sekedar produk sampingan, namun sebagai bahan yang menjadi faktor utama yang menentukan kesuksesan atau kegagalan, oleh karena itu informasi harus dikelola dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi suatu bangsa agar bangsa tersebut dapat meningkatkan kualitas SDM yang dimilikinya. Dengan SDM yang berkualitas maka

Lebih terperinci

tertentu. Penilaian performans menurut Nathan & Cascio (1986) berdasarkan pada analisis pekerjaan.

tertentu. Penilaian performans menurut Nathan & Cascio (1986) berdasarkan pada analisis pekerjaan. Bentuk-Bentuk Tes Bentuk tes yang digunakan dapat dikategorikan menjadi dua, yaitu tes objektif dan tes non-objektif. Objektif di sini dilihat dari sistem penskorannya, yaitu siapa saja yang memeriksa

Lebih terperinci

PENGGUNAAN TANDA BACA. Oleh AHMAD WAHYUDIN

PENGGUNAAN TANDA BACA. Oleh AHMAD WAHYUDIN PENGGUNAAN TANDA BACA Oleh AHMAD WAHYUDIN TANDA TITIK (.) 1. Tanda titik digunakan pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. 2. Tanda titik digunakan di belakang angka atau huruf dalam satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar

BAB I PENDAHULUAN. Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Materi penjumlahan pada kelas rendah adalah materi yang harus benarbenar dipahami oleh Peserta didik, sebab materi tersebut merupakan materi yang sangat dasar yang

Lebih terperinci

II. Penggunaan Alat Peraga. segitiga, kemudian guru bertanya Berapakah alasnya? (7) Berapakah tingginya? (2), Bagaimanakah cara mendapatkannya?

II. Penggunaan Alat Peraga. segitiga, kemudian guru bertanya Berapakah alasnya? (7) Berapakah tingginya? (2), Bagaimanakah cara mendapatkannya? rumus luas layang-layang dengan pendekaan luas segiiga 1. Memahami konsep luas segiiga 2. Memahami layang-layang dan unsur-unsurnya (pengerian layanglayang dan diagonal-diagonalnya) Langkah 1 Gb. 11.2

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada bab ini akan disajikan hasil penelitian tindakan kelas yang berupa hasil tes dan nontes. Hasil tes meliputi siklus I dan siklus II. Hasil

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN. ( RPP Siklus II ) : 2 Jam pelajaran(2 x35 menit) 6. Memahami sifat bangun dan hubungan antar bangun.

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN. ( RPP Siklus II ) : 2 Jam pelajaran(2 x35 menit) 6. Memahami sifat bangun dan hubungan antar bangun. RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN ( RPP Siklus II ) Mata Pelajaran : Matematika Kelas / Semester : V / 2 Waktu : 2 Jam pelajaran(2 x35 menit) Standar Kompetensi : 6. Memahami sifat bangun dan hubungan antar

Lebih terperinci

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mencapai derajat Magister

Lebih terperinci

Problem A. Raja yang Bijak

Problem A. Raja yang Bijak Problem A Raja yang Bijak Wacat adalah seorang pangeran yang baru saja diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya, Hubu, seorang raja yang terkenal bijaksana. Hubu mampu mengambil segala keputusan yang

Lebih terperinci

Oleh Septia Sugiarsih

Oleh Septia Sugiarsih Oleh Septia Sugiarsih Merupakan proses memperoleh makna dari barang cetak ( Spodek dan Saracho, 1994). 2 cara : Langsung Menguhubungkan ciri penanda visual dari tulisan dengan maknanya Tidak langsung Mengidentifikasi

Lebih terperinci

Bagaimana Cara Guru Memudahkan Siswanya Mengingat Pelajaran?

Bagaimana Cara Guru Memudahkan Siswanya Mengingat Pelajaran? Bagaimana Cara Guru Memudahkan Siswanya Mengingat Pelajaran? Fadjar Shadiq, M.App.Sc (fadjar_p3g@yahoo.com & www.fadjarp3g.wordpress.com) Merupakan suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah bahwa para

Lebih terperinci

SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013

SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013 SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS VII SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/MADRASAH TSANAWIYAH KURIKULUM 2013 SILABUS MATA PELAJARAN MATEMATIKA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA/ MADRASAH TSANAWIYAH KELAS VII KURIKULUM

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Buku memiliki peranan penting dalam proses pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Buku merupakan salah satu sumber bahan ajar. Ilmu pengetahuan,

Lebih terperinci

MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH

MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH MODEL PEMBELAJARAN KATA ULANG DENGAN MENGGUNAKAN METODE INKUIRI PADA SISWA KELAS VIII MTS DARUL ASIQIN BANYURESMI GARUT MAKALAH OLEH: RIDHO ELSY FAUZI NIM. 10.21.0462 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA

Lebih terperinci

PANDUAN OLIMPIADE DAN KISI-KISI SOAL OLIMPIADE SAINS KOMPUTER

PANDUAN OLIMPIADE DAN KISI-KISI SOAL OLIMPIADE SAINS KOMPUTER PANDUAN OLIMPIADE DAN KISI-KISI SOAL OLIMPIADE SAINS KOMPUTER I. Panduan Olimpiade Secara Umum a. Peserta ujian wajib mengenakan seragam sekolah lengkap. b. Peserta ujian hadir di tempat ujian 30 menit

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 ISSN: 1693-1246 Juli 2011 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 J P F I http://journal.unnes.ac.id PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

Lebih terperinci

SKRIPSI. Disusun Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar LAKSANA NIM : A510070450

SKRIPSI. Disusun Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna mencapai derajat Sarjana S 1 Pendidikan Guru Sekolah Dasar LAKSANA NIM : A510070450 PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP PETA INDONESIA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN BENAR SALAH BERANTAI PADA SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 01 JATIHARJO KECAMATAN JATIPURO SEMESTER I TAHUN PELAJARAN 2009 / 2010

Lebih terperinci

SILABUS INDIKATOR MATERI PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN KHARAKTER

SILABUS INDIKATOR MATERI PEMBELAJARAN KEGIATAN PEMBELAJARAN PENILAIAN KHARAKTER SILABUS NAMA SEKOLAH : SMK Negeri 1 Surabaya MATA PELAJARAN : MATEMATIKA (Kelompok Teknologi Informasi) KELAS / SEMESTER : X / 1 STANDAR : Memecahkan masalah berkaitan dengan konsep operasi bilangan riil

Lebih terperinci

KAJIAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) DAN KOMUNIKASI MATEMATIS PADA MATERI LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI DATAR

KAJIAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) DAN KOMUNIKASI MATEMATIS PADA MATERI LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI DATAR KAJIAN REALISTIC MATHEMATICS EDUCATION (RME) DAN KOMUNIKASI MATEMATIS PADA MATERI LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI DATAR Deka Anjariyah (Program Studi Pendidikan Matematika, Fakultas Keguruan dan Ilmu

Lebih terperinci