Teliti Sebelum Beraksi 1 oleh: Arief Rahman

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Teliti Sebelum Beraksi 1 oleh: Arief Rahman"

Transkripsi

1 Teliti Sebelum Beraksi 1 oleh: Arief Rahman Participatory Action Research (PRA) dapat diterjemahkan sebagai buah aksi yang didasarkan pada hasil dari riset yang dilakukan secara partisipatif. Riset (kata serapan dari bahasa Inggris re search yang berarti pencarian kembali) dapat dilihat sebagai suatu upaya terus menerus untuk menjelaskan dunia sebagaimana adanya (the real world situations). Dunia sebagaimana adanya adalah dunia yang dipandang tanpa subyektifitas atau bias si pemandang (bias agama, politik, ideologi, suku). Riset, upaya untuk mencari kembali, adalah proses tanpa tanda titik. Pencarian jawaban atas dunia sebagaimana adanya tersebut dilakukan secara terus menerus dan tidak akan ditemui sebuah jawaban final. Upaya untuk terus menerus mencari jawaban ini tidak akan menemui tanda titik karena dunia yang akan kita jelaskan adalah dunia yang dinamis, bukan statis. Seorang penulis menyatakan bahwa dunia yang kita diami saat ini adalah dunia yang semakin sementara. Semakin sementaranya dunia ini dikarenakan cepatnya perubahan yang terjadi di dalamnya. Masih sangat membekas di ingatan kita betapa barubaru saja hubungan kita dengan disket begitu romantisnya, media penyimpanan yang tanpa kita sadari telah tergeser dengan adanya flash disk. Dan flash disk pun natinya akan menuai kesementaraannya dengan media penyimpanan yang entah semacam apa lagi. Dunia menjadi semakin sementara, dan karena itulah proses mencari kembali terus menerus dilakukan. Dan juga, manusia sebagai sebagai subyek pemandang dunia menguasai pengetahuannya secara kumulatif, artinya pengetahuan manusia bukanlah wadah mati yang dapat penuh terisi suatu saat, tetapi terus berkembang seiring dengan bertambahnya aksi dan pengalaman. Terakumulasinya pengetahuan selalu melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru atau kritisi atas pengalaman terdahulu. Dan jawaban-jawaban yang dihasilkan saat ini adalah siklus yang mengawali lahirnya pertanyaan-pertanyaan kritis di kemudian hari. Ketika manusia dengan pengetahuan kumulatifnya dihadapkan pada dunia dengan kesementaraannya, maka upaya untuk terus menerus mencari akan selalu dilakukan. Pada akhirnya, kesemua ini hanyalah digerakkan oleh keinginan manusia untuk membentuk wajah dunia sebagaimana apa yang ia inginkan. Lingkungan membangkitkan Sensasi sensasi indr a Sensasi Menjadi Informasi inf or masi inf or masi inf or masi inf or masi inf or masi inf or masi per sepsi Filter: kriteria lokal sensasi sensasi inf or masi Rumusan masal ah 1 Disampaikan pada Pelatihan Community Development untuk Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan (PKSPL)-IPB,

2 Gambar 1. Ilustrasi mengenai bagaimana manusia menangkap sensasi-sensasi dari dunia di sekitarnya yang lantas diterjemahkan menjadi informasi dan informasi tersebut disaring hingga terumuskannya permasalahan Ilmu pengetahuan, dalam bentuknya sebagai teori yang terdokumentasikan, adalah bahan dasar bagi penyusunan dan pelaksanaan suatu riset. Tanpa bahan dasar ini, maka upaya mencari jawaban akan selalu dimulai dari titik 0 (zero point). Padahal, akumulasi pengetahuan jika dimanfaatkan dapat membuat upaya mencari jawaban ini dilakukan di titik awal yang jauh melebihi zero point tersebut. Riset akan dilakukan secara lebih efektif dan efisien, tidak ada kesia-siaan untuk mencari jawaban yang sebenarnya telah tersedia. Titik awal dari sebuah riset adalah rumusan masalah. Rumusan masalah merupakan pertanyaan yang diajukan dan secara umum meminta penjelasan mengenai 5W (What, Where, When, Who, dan Why) dan 1H (How). Rumusan masalah merupakan gelitikan dan panggilan bagi jiwa seorang peneliti untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang terajukan. Dan rumusan masalah inilah yang menjadi benang keterkaitan utama antara PAR dengan Rapid Rural Appraisal (RRA) dan Participatory Rural Appraisal (PRA). RRA dan PRA adalah satuan yang secara utuh adalah juga merupakan proses riset, karena RRA dan PRA memberikan penjelasan mengenai dunia (dalam hal ini suatu desa) sebagaimana adanya. Desa sebagaimana adanya ini didekati melalui informasi yang dihasilkan mengenai identifikasi potensi dan permasalahan. Jenis informasi yang dihasilkan adalah identifikasi permasalahan, dan permasalahan jelas menuntut solusi. Berlarutnya permasalahan akan menyebabkan permasalahan menjadi bertambah besar dan ruwet sehingga semakin sulit untuk dipecahkan. Identifikasi permasalahan yang dihasilkan oleh RRA dan PRA itulah yang menjadi titik awal dari riset yang dilakukan melalui desain PAR. Permasalahan yang teridentifikasi merupakan core issues yang diangkat untuk dicarikan jawabannya. Melalui proses RRA dan PRA yang ideal, jelas akan banyak permasalahan yang teridentifikasi. Keyakinan akan banyaknya permasalahan yang teridentifikasi ini dikarenakan rakyat selama ini dibiasakan untuk tidak berbicara mengenai kondisinya, dibatasi pilihan yang dapat diambil, dan dilenakan atas segala ketidaknyamanan. Segala inisiatif, bahkan yang menyangkut keseharian hidup, diambil alih oleh para birokrat dan teknokrat. Kekritisan untuk berpikir dan tanggap terhadap kondisi sekitarnya ditumpulkan, dan kesemua itulah yang pada akhirnya meninabobokan rakyat. Proses RRA dan PRA yang ideal merupakan upaya membangunkan rakyat yang tertidur, memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi mereka untuk bercerita mengenai diri dan lingkungannya, membukakan pilihan baru dari terbatasnya pilihan yang selama ini ada, dan memupuk kesadaran bahwa banyak kemelencengan yang butuh untuk diluruskan. Inisiatif serta daya kritis pun pada akhirnya dapat ditumbuhkan. 2

3 Apabila RRA dan PRA yang ideal tersebut dapat dilakukan, artinya kesempatan bagi rakyat untuk meledakkan daya yang selama ini terpendam menjadi terbuka lebar, sebagai euforia reformasi yang pernah terjadi terdahulu. Hal inilah yang mendasari keyakinan bahwa RRA dan PRA yang ideal akan menghasilkan deretan panjang identifikasi permasalahan. Sebagai Pendamping, Apa yang akan Anda lakukan? Di Desa Bojongsari Kabupaten Sukabumi Isu dengan daya provokasi The real world problem yang terkait dengan isu Sawah tadah hujan Pendapatan di desa lebih rendah ketimbang pendapatan di kota Bila musim kemarau tiba, sebagian besar warga desa merantau ke kota, menjadi pembantu rumah tangga dan buruh bangunan Sulitnya untuk mencari tenaga buruh tani Gambar 2. Hasil RRA yang kemudian ditindaklanjuti dengan PRA di salah satu desa di Kabupaten Sukabumi menghasilkan enam isu besar. Perlu dilakukan pemilahan isu yang nantinya akan ditindaklanjuti dalam PAR Oleh karena itu, dibutuhkan upaya pemilahan permasalahan yang dijumpai sehingga didapatkan core issues. Salah satu kriteria dari core issues adalah permasalahan yang memiliki daya provokasi terbesar, ialah permasalahan yang apabila diangkat (bahkan kalau bisa cukup hanya dengan disentil) maka dapat menggerakkan warga dengan segala antusiasmenya. Biasanya permasalahan-permasalahan semacam ini adalah permasalahan yang memiliki keterkaitan langsung dengan kehidupan mereka sehari-hari. Dua contoh yang dapat dikemukakan disini adalah: 1. Isu memajukan pertanian dan menumbuhkan ekonomi adalah isu dengan daya provokasi yang besar. Hal ini didasari bahwa sebagian besar warga desa adalah petani, sedangkan mereka menjumpai kesulitan untuk mendapatkan tenaga buruh tani karena para penduduk desa lebih memilih untuk menjadi buruh bangunan atau pembantu rumah tangga di kota dikarenakan alasan penghasilan yang dua kali lebih besar di kota ketimbang di desa. 2. Isu konflik kepemilikan lahan antara masyarakat lokal dengan Departemen Kehutanan di Cagar Alam Watuata Pulau Flores Nusa Tenggara Timur adalah isu yang jelas memiliki daya provokasi karena isu tersebut menentukan tempat hidup 3

4 masyarakat di kemudian hari. Rumusan masalah yang diangkat adalah bagaimana membuktikan bahwa kepemilikan lahan di wilayah Cagar Alam ada di tangan masyarakat. Dengan adanya core issues ini maka masyarakat akan lebih mudah untuk dilibatkan, apalagi kata participatory dalam PAR memang mensyaratkan terlibatnya warga lokal sebagai peneliti, ditemani oleh orang luar sebagai co-researcher yang juga berperan sebagai research designer. Masih dibutuhkannya orang luar sebagai research designer karena riset bukanlah hal yang akrab dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Riset adalah suatu hal di luar rutinitas keseharian mereka, dan PAR adalah sebuah pilihan baru untuk dapat membangkitkan kesadaran kritis bahwa titik (kondisi) yang masyarakat anggap nyaman dan mapan selama ini sebenarnya adalah titik kenyamanan semu yang tidak mapan dan dapat digeser menuju ke titik kenyamanan yang lebih tinggi lagi. Jeda dari Sebuah Rutinitas Melihat apa yang tak terlihat Melakukan apa yang tak terbayangkan Menafsirkan dunia sebagaimana adanya Beraksi berdasarkan informasi jernih Ketika Masyarakat Menjadi Peneliti: Sebuah Pilihan Baru Gambar 3. Memberikan pilihan baru bagi masyarakat karena riset dianggap monopoli kaum elit, membongkar kemapanan yang selama ini diyakini, itulah substansi dari PAR sebagai bagian dari Community Development Apabila pilihan baru ini diambil oleh masyarakat (dengan syarat bahwa kapasitas untuk memilih telah dibangun), dan learning capacities terbangun pada beberapa kali repetisi proses PAR, maka Participatory dapat bergeser menjadi Community-based Action Research. Orang luar tidak lagi menjadi syarat mutlak bagi terlaksananya suatu riset, dan warga menjadi pemegang kendali penuh atas proses maupun hasil. Sebagai research designer, tantangan yang paling menarik bagi fasilitator adalah metodologi. Hal ini menjadi paling menarik karena metodologi riset selama ini dianggap 4

5 hanya ada di wilayah kekuasaan para elit penghuni menara gading. Hasil dari suatu riset boleh menjadi milik semua orang, tetapi metodologi yang digunakan adalah monopoli para peneliti yang telah tersertifikasi. Karena akses yang terbatas tersebut, maka metodologi menjadi ranah yang jauh dari jangkauan untuk dapat diterapkan dalam keseharian hidup masyarakat. Padahal sebagai peneliti, harus disadari bahwa substansi ilmu pengetahuan tiada lain adalah upaya penyederhanakan persoalan. Metodologi menjadi ranah terbatas karena dalih-dalih yang dikembangkan bahwa banyak kaidah yang harus dipenuhi agar metodologi yang digunakan layak mendapat sertifikasi ilmiah (scientific). Apabila dilihat secara lebih mendalam, sebenarnya pengetahuan masyarakat setempat mengenai wilayahnya telah sangat dapat memenuhi kaidah-kaidah seperti: 1. Pengulangan. Masyarakat membuktikan kebenaran pengetahuannya melalui pengulangan dalam bentuk pengalaman hidup selama berpuluh-puluh tahun (abundance time series data) dan dilakukan oleh berpuluh atau beratus orang yang menjadi anggota masyarakat di suatu wilayah tertentu (abundance crosssection data) 2. Sampling. Kebenaran pengetahuan masyarakat bukan lagi dibuktikan oleh sampel-sampel, tetapi dibagi antar anggota masyarakat sehingga menjadi pengetahuan komunal dan pengetahuan komunal tersebut adalah pembuktian oleh populasi, tidak lagi sampling yang hanya mencari perwakilan dari populasi. 3. Obyektifitas. Meminimalkan subyektifitas peneliti tidak lagi melalui penggunaan alat-alat modern yang terkalibrasi dalam standar tertentu, tetapi melalui alat sederhana yaitu rembugan, atau musyawarah (dapat dengan desain Focussed Group Discussion). Melalui verifikasi berbagai pihak tersebut maka subyektifitas dari opini individu menjadi terminimalkan. Ketiga kaidah tersebut telah dapat dipenuhi bahkan oleh masyarakat yang tidak pernah mengenyam pendidikan formal karena pengalaman hidup beratus-ratus tahun di suatu wilayah memberikan pembelajaran hingga lahirnya traditional wisdom. Dan satu bukti tak terbantahkan dari kebenaran pengetahuan yang masyarakat miliki ialah: mereka dapat tetap bertahan hidup dan berkembang hingga saat ini. Dengan kebenaran pengetahuan yang dikuasai masyarakat dan terpenuhinya kaidahkaidah keilmuan, maka yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat di dalam proses PAR adalah strukturisasi dari pengetahuan tersebut. Melalui strukturisasi pengetahuan, maka berbagai keterkaitan antar variabel (dependence dan independence variables) dapat diuraikan sehingga berbagai kesimpulan dapat ditarik. Dipahaminya keterkaitan antar variabel tersebut juga melahirkan pemahaman mengenai hal yang menjadi akibat, hal yang menjadi masalah, dan hal yang menjadi akar masalahnya. Melalui pemahaman hubungan sebab-akibat, pada akhirnya kriteria lokal (atau filter) yang dikembangkan oleh masyarakat setempat sebagai penentu sesuatu 5

6 sebagai masalah atau bukan dapat menjadi filter yang lebih lebih jeli dalam menangkap sensasi dan menyaring informasi. Kritisi atas kriteria lokal: filter sebagai filter Apa yang Mereka Butuhkan? Simplifying Difficulties: jembatan antara high-level text book dengan methods for everyone Mengapa? Jangan terjebak pada romantika masyarakat malaikat (The Trap of People as Angel) Wisdom may not be wise Menyederhanakan yang rumit, mempermudah yang sulit Sehingga pengetahuan bukan monopoli kelompok elit, dan semua orang dapat melihat dunia sebagaimana adanya Gambar 4. Hal-hal yang dibutuhkan dari seorang fasilitator pada proses PAR. Upaya strukturisasi pengetahuan lokal melalui penyederhanaan metodologi yang digunakan merupakan bentuk kritisi dan penajaman kriteria lokal yang menjadi penentu apa itu masalah, dan mana yang bukan Sebagaimana dikemukakan di atas mengenai dua contoh kasus lapangan, maka seorang fasilitator dituntut untuk dapat menguasai quasi-perfect of knowledge karena untuk dapat menyelami dinamika kehidupan masyarakat membutuhkan pemahaman holistik (ekologi, ekonomi, sosial) dan bukan parsial-sektoral. Melalui pemahaman holistik, maka metodologi yang akan digunakan dalam PAR selalu dapat disediakan oleh fasilitator sebagai jawaban atas tuntutan di lapangan. Ketika metode telah tersedia, maka penyederhanaan metode tersebut menjadi langkah selanjutnya sehingga metode tersebut dapat digunakan oleh setiap orang. Untuk masingmasing contoh kasus lapangan di atas, yang dilakukan fasilitator dalam mempersiapkan PAR adalah: 1. pada contoh kasus di salah satu desa di Kabupaten Sukabumi, fasilitator membangun matriks sederhana yang didasarkan pada konsep opportunity cost. Karena core issues telah ditentukan, yaitu memajukan pertanian dan ekonomi, sedangkan permasalahannya adalah banyaknya penduduk desa yang merantau ke kota untuk menjadi buruh bangunan dan pembantu rumah tangga sehingga desa mengalami kesulitan untuk mencari tenaga kerja sebagai buruh tani, maka masyarakat desa diajak untuk berhitung oportunity cost yang hilang pada saat merantau, mengingat pertimbangan utama yang mendasari aktifitas merantau 6

7 adalah penghasilan di kota yang dua kali lebih besar dari penghasilan di desa. Melalui konsep opportunity cost, dapat ditunjukkan bahwa meskipun komponen penghasilan yang lebih baik bisa didapatkan di kota, tetapi banyak komponen lain yang hilang dan menjadi biaya. Kesimpulan yang dihasilkan adalah skor 7-2 untuk buruh tani dibanding buruh bangunan, dan masyarakat menyatakan selanjutnya bahwa lebih baik hidup di desa dan menjadi buruh tani daripada hidup di kota. Bangunan Teori Pendukung Simplyfying Difficulties Dan Kesimpulannya Sumber: Bahan presentasi pelatihan Community Development oleh SALAM Gambar 5. Teori pendukung sebagai dasar dari metode yang digunakan dan matriks sebagai hasil penyederhanaannya. Begitu mudahnya matriks ini, sehingga setiap komponen cost yang dihitung dan kesimpulan yang dihasilkan murni bersumber dari masyarakat. 2. pada isu konflik kepemilikan lahan antara masyarakat lokal dengan Departemen Kehutanan di Cagar Alam Watuata Pulau Flores Nusa Tenggara Timur, sebagai dukungan bukti kepemilikan maka dilakukan desain PAR untuk menegaskan bahwa masyarakat memiliki pengetahuan lokal mengenai pemanfaatan dan konservasi kawasan Cagar Alam. Penegasan mengenai pengetahuan lokal dapat digunakan sebagai bargaining power bagi masyarakat di dalam konflik tersebut karena pengetahuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat telah memanfaatkan Cagar Alam tersebut sedari dulu karena mereka memiliki ketergantungan terhadap sumberdaya di Cagar Alam tersebut, dan ketergantungan tersebut mendorong sikap kearifan bagi upaya konservasi yang dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. 7

8 Tujuan Mendorong terjadinya pemahaman masyarakat tentang pengetahuan nilai konservasi kawasan yang dimilikinya sebagai modal dalam pengelolaan kawasan berbasis pengetahuan lokal Rincian Proses Menentukan nilai konservasi keanekaragaman hayati menurut masyarakat, Menentukan lokasi (hutan alam, hutan bambu, hutan ampupu, padang rumput, dan kebun rakyat), Menentukan plot (uji lokasi) dengan metode acak, Menentukan koordinat lokasi, Mencari koordinat lokasi terpilih dengan GPS, Membuat plot 20 x 20 m2, Pencatatan jenis tumbuhan dan binatang dengan cara plot dibagi menjadi empat bagian (10x10m2), Rekapitulasi data, Analisa data, Penyusunan laporan. Gambar 6. Tahapan proses PAR yang dilakukan oleh masyarakat lokal di Cagar Alam Watuata Flores NTT. Metodologi menjadi mudah karena pengetahuan lokal yang memang telah memenuhi kaidah keilmuan (pengulangan, sampling, dan obyektifitas) menjadi bangunan dasarnya. Alat-alat modern yang digunakan, seperti Global Positioning System (GPS) bukanlah halangan selama proses saling belajar antara fasilitator dengan masyarakat lokal dapat dibangun secara harmonis. Research are about facts, and these are undeniable facts that knowledge is not elite-group monopoly Gambar 7. Cuplikan gambar dari tahapan proses PAR yang dilakukan oleh masyarakat lokal di Cagar Alam Watuata Flores NTT. Hal ini, dan contoh lain, menjadi kenyataan yang tidak terbantahkan bahwa kesabaran fasilitator dalam 8

9 menemani proses Commmunity Development akan menuai hasil yang berkelanjutan karena terbangunnya learning capacities dari masyarakat. Sepanjang uraian di atas terlihat bahwa PAR memilki penekanan pada unsur riset, tetapi jangan pula dilupakan bahwa yang lebih penting dari hal tersebut adalah bagaimana hasil dari riset yang dilakukan secara partisipatif tersebut digunakan sebagai basis dalam menentukan sebuah aksi. Untuk melakukan aksi secara benar, memiliki wawasan long term ketimbang short benefit, maka dibutuhkan informasi yang mendekati sempurna (quasi-perfect information). Pengambilan aksi yang tidak didasari oleh basis informasi yang jelas ialah seperti perjudian yang apabila aksi tersebut menghasilkan kebaikan, itu bukanlah kesengajaan, melainkan kecelakaan (not by design, but by accident). Karakter PAR Halo, aku orang sini. Sampeyan mau memakai nama kami? sensasi Informasi yang mendekati sempurna ialah informasi yang mendekati dunia sebagaimana adanya, ialah informasi yang bersifat obyektif. Dan suplai informasi semacam ini telah dihasilkan melalui proses PAR. Di Sukabumi, seorang pemuda desa membatalkan niatnya untuk merantau dan akhrnya ingin untuk berkarya di desanya sendiri. Di Pulau Flores, masyarakat menjadi semakin percaya diri untuk menghadapi institusi semapan Departemen Kehutanan dalam konflik kepemilikan lahan. Maka itulah aksi yang berbasiskan informasi, maka itulah Participatory Action Research! Real world situations sensasi informasi informasi informasi informasi informasi informasi Filter: kriteria lokal Real world problems Identifying problems Exploring and analyzing data Local needs Result-based reflection Research-based actions Rumusan masalah Gambar 8. Empat karakter utama dari PAR: (i) involvement of local people, (ii) dealing with real world situations, (iii) solving the real world problems, dan (iv) cyclic process. Dan sepanjang uraian di atas menegaskan empat karakter PAR yang membedakannya dengan riset konvensional, ialah: 1. Warga lokal terlibat sebagai peneliti. Yang seringkali terjadi ialah bahwa warga desa hanyalah menjadi obyek penelitian, diperas segala informasi yang dimiliki melalui wawancara dengan kuesioner oleh enumerator yang berasal dari negeri antah berantah dan tidak dikenalnya. Padahal, warga lokal adalah pihak yang paling memahami mengenai dunia desanya sebagaimana adanya. 2. Situasi yang dihadapi adalah situasi dunia nyata, menyelami keseharian hidup masyarakat di tempat dimana mereka hidup dan mempertahankan hidup, bukannya riset eksperimen di laboratorium-laboratorium. 3. Masalah yang hendak dipecahkan adalah masalah-masalah riil yang terkait langsung dengan keseharian hidup masyarakat. 9

10 4. Riset berjalan siklis, diawali dengan identifikasi permasalahan, dilanjutkan dengan eksplorasi dan analisis data yang menghasilkan kesimpulan-kesimpulan, dan informasi tersebut digunakan sebagai basis untuk melakukan aksi-aksi, dan hasil dari aksi tersebut ditelaah kembali melalui refleksi, sampai akhirnya hasil dari refleksi tersebut melahirkan identifikasi permasalahan baru. Satu faktor utama yang menjadi daya penggerak sehingga proses PAR berjalan secara siklis adalah local needs, karena kebutuhan untuk mengenali dan memecahkan masalah lokal adalah kebutuhan setempat, dan bukannya kebutuhan peneliti dari luar. Riset konvensional seringkali berhenti pada titik exploring and analyzing data, dan setelah kesimpulan dihasilkan maka sang peneliti akan mencari judul penelitian lain tanpa memiliki insentif apapun terhadap segala bentuk implikasi dari hasil penelitiannya tersebut. Sedangkan di dalam PAR, mengingat permasalahan yang hendak dipecahkan adalah permasalahan yang menyangkut keseharian hidup mereka, mengingat aksi yang dilakukan berbasis riset tersebut adalah aksi yang langsung berimplikasi terhadap hidup mereka, maka insentif untuk melakukan refleksi dan perumusan masalah-masalah baru menjadi nyata adanya. Memberikan pilihan jelas tidak sama dengan menentukan pilihan. Kritikan pedas dan tajam yang seringkali kita lontarkan kepada gaya Orde Baru bahwa pemerintah pusatlah (atau birokrat, atau teknokrat) yang membatasi dan menentukan pilihan yang harus diambil oleh seluruh masyarakat Indonesia dikarenakan pemerintah tersebut tidak cukup berani untuk memberikan pilihan-pilihan baru, dan tidak cukup sabar dalam membangun kapasitas untuk memilih. Semoga kita sebagai praktisi Community Development dapat menjadi cukup berani dan sabar dalam memberikan pilihan, atau kritikan pedas dan tajam tersebut akan menyerang balik kepada para pelontar kritik tersebut sebelumnya. Sekian. 10

Perbandingan PRA dengan RRA dan PAR

Perbandingan PRA dengan RRA dan PAR Perbandingan PRA dengan RRA dan PAR PRA SEBAGAI METAMORFOSIS DARI RRA 1 Participatory Rural Appraisal (PRA) seringkali dilekatkan dengan nama Robert Chambers, sehingga rasanya perlu dimunculkan pertanyaan

Lebih terperinci

Teknik Fasilitasi Diskusi dengan Metode PRA

Teknik Fasilitasi Diskusi dengan Metode PRA 8 Teknik Fasilitasi Diskusi dengan Metode PRA Teknik fasilitasi dengan menggunakan metode-metode/teknik Participatory Rural Appraisal (PRA) sama saja dengan teknik fasilitasi dengan menggunakan metodemetode

Lebih terperinci

OVERVIEW PROSES PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN (Management Plan) dan RENCANA AKSI (Action Plan)

OVERVIEW PROSES PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN (Management Plan) dan RENCANA AKSI (Action Plan) OVERVIEW PROSES PENYUSUNAN RENCANA PENGELOLAAN (Management Plan) dan RENCANA AKSI (Action Plan) YUDI WAHYUDIN Divisi Kebijakan Pembangunan dan Ekonomi Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan - IPB Pelatihan

Lebih terperinci

PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL

PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL PENGELOLAAN LINGKUNGAN SOSIAL Lingkungan alam Lingkungan Sosial Lingkungan Binaan/Buatan LINGKUNGAN HIDUP Manusia Sebagai Makhluk Sosial -Membentuk Pengelompokkan Sosial (Social Grouping) mempertahankan

Lebih terperinci

BAB II METODOLOGI PENDAMPINGAN A. PENGERTIAN PARTICIPATORY ACTION RESEARCH. Participatory Action Research (PAR). Dalam buku Jalan Lain, Dr.

BAB II METODOLOGI PENDAMPINGAN A. PENGERTIAN PARTICIPATORY ACTION RESEARCH. Participatory Action Research (PAR). Dalam buku Jalan Lain, Dr. BAB II METODOLOGI PENDAMPINGAN A. PENGERTIAN PARTICIPATORY ACTION RESEARCH Dalam proses pendampingan kali ini, peneliti menggunakan metode Participatory Action Research (PAR). Dalam buku Jalan Lain, Dr.

Lebih terperinci

Pokok-Pokok Pikiran Robert Chambers

Pokok-Pokok Pikiran Robert Chambers Pokok-Pokok Pikiran Robert Chambers KRITIK CHAMBERS TERHADAP ORANG LUAR YANG BEKERJA DI MASYARAKAT 1 Pemikiran Robert Chambers selaku promotor dan pengembang metodologi PRA, tentu perlu dipahami Robert

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengenai hal tersebut menuai pro dan kontra. Kuswijayanti (2007) menjelaskan

BAB I PENDAHULUAN. mengenai hal tersebut menuai pro dan kontra. Kuswijayanti (2007) menjelaskan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada 2001, pembahasan mengenai penetapan Gunung Merapi sebagai kawasan taman nasional mulai digulirkan. Sejak saat itu pula perbincangan mengenai hal tersebut menuai

Lebih terperinci

ALTERNATIF PENDIDIKAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT

ALTERNATIF PENDIDIKAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT ALTERNATIF PENDIDIKAN DALAM PROGRAM PENGEMBANGAN MASYARAKAT Upaya memberi kesempatan belajar bagi masyarakat yang tidak berkesempatan untuk belajar dan bekerjasama mengembangkan komunitasnya di berbagai

Lebih terperinci

SOENARJO-ALI MASCHAN MUSA (SALAM): Sebuah Desa yang Teratur

SOENARJO-ALI MASCHAN MUSA (SALAM): Sebuah Desa yang Teratur SOENARJO-ALI MASCHAN MUSA (SALAM): Sebuah Desa yang Teratur Sebuah desa yang teratur dibayangkan sebagai suatu tempat yang sejuk, harmonis, dengan tata aturan (modern-rasional) yang jelas sehingga anggota-anggota

Lebih terperinci

BAB II METODOLOGI PENELITIAN. modal sosial menempati posisi penting dalam upaya-upaya pengembangan

BAB II METODOLOGI PENELITIAN. modal sosial menempati posisi penting dalam upaya-upaya pengembangan 9 BAB II METODOLOGI PENELITIAN A. Pengertian Participatory Action Research Berbagai kajian dalam rumpun ilmu sosiologi membenarkan bahwa modal sosial menempati posisi penting dalam upaya-upaya pengembangan

Lebih terperinci

PENGARUH PROBLEM BASED INSTRUCTION PADA SISWA DENGAN TINGKAT MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PENGUASAAN KONSEP BIOLOGI SISWA KELAS X SMA BATIK 1 SURAKARTA

PENGARUH PROBLEM BASED INSTRUCTION PADA SISWA DENGAN TINGKAT MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PENGUASAAN KONSEP BIOLOGI SISWA KELAS X SMA BATIK 1 SURAKARTA PENGARUH PROBLEM BASED INSTRUCTION PADA SISWA DENGAN TINGKAT MOTIVASI BELAJAR TERHADAP PENGUASAAN KONSEP BIOLOGI SISWA KELAS X SMA BATIK 1 SURAKARTA SKRIPSI Oleh: NUR EKA KUSUMA HINDRASTI K4307041 FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB IV KESIMPULAN. dipenuhi dengan budaya-budaya yang beragam di mana mengakui keberagaman,

BAB IV KESIMPULAN. dipenuhi dengan budaya-budaya yang beragam di mana mengakui keberagaman, BAB IV KESIMPULAN Masyarakat yang plural atau majemuk merupakan masyarakat yang dipenuhi dengan budaya-budaya yang beragam di mana mengakui keberagaman, perbedaan, dan kemajemukan budaya, baik ras, suku,

Lebih terperinci

51 COMMUNITY BASED DISASTER MANAGEMENT

51 COMMUNITY BASED DISASTER MANAGEMENT 51 COMMUNITY BASED DISASTER MANAGEMENT Oleh : Ridwan Herianto, Soni Akhmad Nulhaqim, & Hadiyanto A. Rachim Email: heriantoridwan@gmail.com; soninulhakim@yahoo.com; hrachim@gmail.com Abstrak Urgensi dari

Lebih terperinci

PERANAN DAN TANTANGAN AKLI DALAM MENDORONG PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN RENEWABLE ENERGI DI NUSA TENGGARA TIMUR

PERANAN DAN TANTANGAN AKLI DALAM MENDORONG PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN RENEWABLE ENERGI DI NUSA TENGGARA TIMUR PERANAN DAN TANTANGAN AKLI DALAM MENDORONG PENGEMBANGAN DAN PEMANFAATAN RENEWABLE ENERGI DI NUSA TENGGARA TIMUR Oleh : M. Taufik Adraen Sekretariat : Jl. Arif Rahman Hakim No. 101 Kupang Telp/fax. (0380)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. demikian siswa perlu memiliki kemampuan memperoleh, memilih, bidang pendidikan sebagai upaya yang bernilai sangat models bagi

BAB I PENDAHULUAN. demikian siswa perlu memiliki kemampuan memperoleh, memilih, bidang pendidikan sebagai upaya yang bernilai sangat models bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Memasuki era globalisasi di abad XXI ini, diperlukan persiapan sumber daya manusia yang merupakan kunci utama untuk memetik kemenangan dalam persaingan era globalisasi

Lebih terperinci

INTEGRASI PENGELOLAAN PESISIR TERPADU DALAM RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (Sintesis Paska MCRMP dari Pengalaman Kep.Seribu)

INTEGRASI PENGELOLAAN PESISIR TERPADU DALAM RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (Sintesis Paska MCRMP dari Pengalaman Kep.Seribu) INTEGRASI PENGELOLAAN PESISIR TERPADU DALAM RENCANA PEMBANGUNAN DAERAH (Sintesis Paska MCRMP dari Pengalaman Kep.Seribu) Oleh: YUDI WAHYUDIN Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB (PKSPL-IPB) PENDAHULUAN

Lebih terperinci

SERBA SERBI HUTAN DESA (HD)

SERBA SERBI HUTAN DESA (HD) SERBA SERBI HUTAN DESA (HD) Oleh Agus Budhi Prasetyo, S.Si.,M.Si. Dalam Renstra 2010-2014, Kemenhut merencanakan hutan kemasyarakatan seluas 2 juta ha dan hutan desa seluas 500.000 ha. Dari areal yang

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. inggris disebut Clasroom Action Research (CAR).Penelitian ini terdiri dari empat

BAB III METODE PENELITIAN. inggris disebut Clasroom Action Research (CAR).Penelitian ini terdiri dari empat 40 BAB III METODE PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode kualitatif dengan rancangan penelitian tindakan kelas (PTK) atau dalam bahasa inggris disebut

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LOKAL DALAM KEBERLANJUTAN PENGEMBANGAN KAWASAN RAWA JOMBOR KABUPATEN KLATEN TUGAS AKHIR

KARAKTERISTIK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LOKAL DALAM KEBERLANJUTAN PENGEMBANGAN KAWASAN RAWA JOMBOR KABUPATEN KLATEN TUGAS AKHIR KARAKTERISTIK PEMBERDAYAAN MASYARAKAT LOKAL DALAM KEBERLANJUTAN PENGEMBANGAN KAWASAN RAWA JOMBOR KABUPATEN KLATEN TUGAS AKHIR Oleh: SEPTIYATI GANJARSARI L2D 004 352 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BERPIKIR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI MELALUI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED INSTRUCTION

UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BERPIKIR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI MELALUI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED INSTRUCTION UPAYA MENINGKATKAN KEAKTIFAN BERPIKIR SISWA DALAM PEMBELAJARAN BIOLOGI MELALUI PEMBELAJARAN PROBLEM BASED INSTRUCTION (PBI) DISERTAI OPTIMALISASI PENGGUNAAN MEDIA SKRIPSI oleh Dema Wahyu Tursina K 4304016

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Keberadaan informasi menjadi sangat penting dan. kebutuhan pokok bagi setiap orang. Bagi masyarakat, banyak aspek kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Keberadaan informasi menjadi sangat penting dan. kebutuhan pokok bagi setiap orang. Bagi masyarakat, banyak aspek kehidupan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberadaan informasi menjadi sangat penting dan menjadi salah satu kebutuhan pokok bagi setiap orang. Bagi masyarakat, banyak aspek kehidupan yang sangat bergantung

Lebih terperinci

Peningkatan Kemampuan Siswa Membuat Kalimat Tanya melalui Teknik 5w 1h di Kelas IV SD Inpres Lobu Gio

Peningkatan Kemampuan Siswa Membuat Kalimat Tanya melalui Teknik 5w 1h di Kelas IV SD Inpres Lobu Gio Peningkatan Kemampuan Siswa Membuat Kalimat Tanya melalui Teknik 5w 1h di Kelas IV SD Inpres Lobu Gio Misrah, Sahrudin Barasandji, dan Efendi Dg. Pawala Mahasiswa Program Guru Dalam Jabatan Fakultas Keguruan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sumberdaya alam juga semakin besar, salah satunya kekayaan alam yang ada

BAB I PENDAHULUAN. sumberdaya alam juga semakin besar, salah satunya kekayaan alam yang ada BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Meningkatnya laju pertumbuhan penduduk dan perubahan kondisi sosial ekonomi sekarang, menjadikan tuntutan masyarakat dalam pemanfaatan sumberdaya alam juga semakin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidupnya yang berlangsung sepanjang hayat. Oleh karena itu maka setiap manusia

BAB I PENDAHULUAN. hidupnya yang berlangsung sepanjang hayat. Oleh karena itu maka setiap manusia BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan usaha manusia untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya yang berlangsung sepanjang hayat. Oleh karena itu maka setiap manusia harus menapaki

Lebih terperinci

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PEMBUKAAN SOSIALISASI PERKUATAN DAN PENGEMBANGAN WAWASAN KEBANGSAAN DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT

SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PEMBUKAAN SOSIALISASI PERKUATAN DAN PENGEMBANGAN WAWASAN KEBANGSAAN DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT 1 SAMBUTAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PADA ACARA PEMBUKAAN SOSIALISASI PERKUATAN DAN PENGEMBANGAN WAWASAN KEBANGSAAN DI PROVINSI KALIMANTAN BARAT Yang saya hormati: Tanggal, 19 Juni 2008 Pukul 08.30 W IB

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

Bagaimana Pemimpin Mengambil Keputusan

Bagaimana Pemimpin Mengambil Keputusan Pasal 9 SERI KEPEMIMPINAN Bagaimana Pemimpin Mengambil Keputusan 2 Daftar Isi PASAL 9 Bagaimana Pemimpin Mengambil Keputusan 1 Pendahuluan 6 Konsep: Masalah, Pilihan, Pengambilan Keputusan, dan Tujuan

Lebih terperinci

Penguasaan Ilmu dan Keterampilan

Penguasaan Ilmu dan Keterampilan KAITAN KOMPETENSI DENGAN ELEMEN KOMPETENSINYA PROGRAM STUDI : AGROEKOTEKNOLOGI No Rumusan Kompetensi Elemen Kompetensi Kemampuan 1 Kemampuan untuk merencanakan, merancang sistem dan menerapkan ilmu dan

Lebih terperinci

SINERGI PEMBANGUNAN ANTAR SEKTOR DALAM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG

SINERGI PEMBANGUNAN ANTAR SEKTOR DALAM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG SINERGI PEMBANGUNAN ANTAR SEKTOR DALAM PENGELOLAAN TERUMBU KARANG Sri Endang Kornita Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Riau ABSTRAK Sinergi dalam kebijakan pembangunan daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penerapannya yang semakin luas ke berbagai bidang tak terkecuali dalam

BAB I PENDAHULUAN. penerapannya yang semakin luas ke berbagai bidang tak terkecuali dalam 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan teknologi komputer yang demikian cepat serta penerapannya yang semakin luas ke berbagai bidang tak terkecuali dalam pengajaran, menjadikan komputer

Lebih terperinci

Pelibatan Masyrakat Dalam Penanggulangan Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut. Oleh: YUDI WAHYUDIN Divisi Kebijakan Pembangunan dan Ekonomi PKSPL-IPB

Pelibatan Masyrakat Dalam Penanggulangan Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut. Oleh: YUDI WAHYUDIN Divisi Kebijakan Pembangunan dan Ekonomi PKSPL-IPB Pelibatan Masyrakat Dalam Penanggulangan Kerusakan Lingkungan Pesisir dan Laut Oleh: YUDI WAHYUDIN Divisi Kebijakan Pembangunan dan Ekonomi PKSPL-IPB Wilayah pesisir merupakan daerah pertemuan antara darat

Lebih terperinci

kebijakan yang menyebutkan pengembangan masyarakat dan desa dalam kerangka desentralisasi pembangunan. Namun kenyataannya, masyarakat, desa dan

kebijakan yang menyebutkan pengembangan masyarakat dan desa dalam kerangka desentralisasi pembangunan. Namun kenyataannya, masyarakat, desa dan LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN FASILITASI DAN PENGEMBANGAN PUSAT PERTUMBUHAN TERPADU ANTAR DESA (PPTAD) DALAM RANGKA PEMBANGUNAN KAWASAN PERDESAAN BERBASIS MASYARAKAT (PKPBM) TAHUN 2012 KEGIATAN Fasilitasi

Lebih terperinci

BAB VI LANGKAH KE DEPAN

BAB VI LANGKAH KE DEPAN BAB VI LANGKAH KE DEPAN Pembangunan Pertanian Berbasis Ekoregion 343 344 Pembangunan Pertanian Berbasis Ekoregion LANGKAH LANGKAH KEDEPAN Seperti yang dibahas dalam buku ini, tatkala Indonesia memasuki

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Metode dan Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), karena masalah yang diteliti adalah pendidikan yang terjadi di dalam kelas yang berupa

Lebih terperinci

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN 2.1 Tujuan Penataan Ruang Dengan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, khususnya Pasal 3,

Lebih terperinci

Team Building & Manajeman Konflik

Team Building & Manajeman Konflik Team Building & Manajeman Konflik www.kahlilpooh.wordpress.com SEMUA TENTANG PASKIBRA, PASKIBRAKA & OSIS KOTA MAGELANG PERSAHABATAN, YANG MERUPAKAN IKATAN SUCI, AKAN LEBIH SAKRAL DENGAN ADANYA KESULITAN

Lebih terperinci

PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA

PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA PENERAPAN PENDEKATAN SCIENTIFIC DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KREATIVITAS SISWA Citra Veronika, Djoko Adi Susilo, Tri Candra Wulandari Universitas Kanjuruhan Malang veronikacitra11@gmail.com

Lebih terperinci

JURNAL OLEH YENI FARIDA The Learning University

JURNAL OLEH YENI FARIDA The Learning University PENGARUH PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN BERBASIS PORTOFOLIO TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN IPS SEJARAH KELAS VII SMP NEGERI 1 MALANG SEMESTER GASAL TAHUN AJARAN 2011/2012 JURNAL OLEH YENI

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sumberdaya alam seperti air, udara, lahan, minyak, ikan, hutan dan lain - lain merupakan sumberdaya yang esensial bagi kelangsungan hidup manusia. Penurunan

Lebih terperinci

PENERAPAN MEDIA GAMBAR DALAM MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL)

PENERAPAN MEDIA GAMBAR DALAM MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PENERAPAN MEDIA GAMBAR DALAM MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) UNTUK MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN BIOLOGI DI SMA NEGERI 3 SURAKARTA TAHUN AJARAN 2009/2010 SKRIPSI

Lebih terperinci

Definisi dan Batasan Wilayah Pesisir

Definisi dan Batasan Wilayah Pesisir Definisi dan Batasan Wilayah Pesisir Daerah peralihan (interface area) antara ekosistem daratan dan laut. Batas ke arah darat: Ekologis: kawasan yang masih dipengaruhi oleh proses-proses laut seperti pasang

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING

PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING PENGARUH MODEL PROBLEM BASED LEARNING ( PBL) TERHADAP KEMAMPUAN MEMECAHKAN MASALAH DAN HASIL BELAJAR KOGNITIF BIOLOGI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 14 SURAKARTA SKRIPSI Oleh: SISWANTO K4308054 FAKULTAS KEGURUAN

Lebih terperinci

PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING

PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING PENERAPAN PENDEKATAN PEMBELAJARAN CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING DISERTAI LEMBAR KERJA SISWA TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS VII SMP N 21 SURAKARTA Skripsi Oleh : Siti Mutmainah K4303060 FAKULTAS

Lebih terperinci

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS

PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN KOOPERATIF STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS (STAD) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP SISWA PADA POKOK BAHASAN SISTEM PENCERNAAN MAKANAN KELAS XI IPA MAN SUKOHARJO SKRIPSI

Lebih terperinci

KAJIAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG WILAYAH PESISIR STUDY KASUS : KAB. KLUNGKUNG, KAB. BULUKUMBA, KAB. BERAU

KAJIAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG WILAYAH PESISIR STUDY KASUS : KAB. KLUNGKUNG, KAB. BULUKUMBA, KAB. BERAU KAJIAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG WILAYAH PESISIR STUDY KASUS : KAB. KLUNGKUNG, KAB. BULUKUMBA, KAB. BERAU KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL Staf Ahli Menteri PPN Bidang Tata

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI STRATEGI PETA KONSEP DALAM COOPERATIF LEARNING SEBAGAI UPAYA MEMINIMALISASI MISKONSEPSI BIOTEKNOLOGI DI SMA NEGERI 8 SURAKARTA

IMPLEMENTASI STRATEGI PETA KONSEP DALAM COOPERATIF LEARNING SEBAGAI UPAYA MEMINIMALISASI MISKONSEPSI BIOTEKNOLOGI DI SMA NEGERI 8 SURAKARTA IMPLEMENTASI STRATEGI PETA KONSEP DALAM COOPERATIF LEARNING SEBAGAI UPAYA MEMINIMALISASI MISKONSEPSI BIOTEKNOLOGI DI SMA NEGERI 8 SURAKARTA Skripsi Oleh : FRANSISCA DINA SUSILAWATI NIM : K 4303027 FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA PEMECAHAN MASALAH. A. Terjadinya Konflik Jalan Lingkungan Di Kelurahan Sukapada

BAB II KERANGKA PEMECAHAN MASALAH. A. Terjadinya Konflik Jalan Lingkungan Di Kelurahan Sukapada BAB II KERANGKA PEMECAHAN MASALAH A. Terjadinya Konflik Jalan Lingkungan Di Kelurahan Sukapada Proses peralihan kepemilikan lahan kosong terjadi sejak akhir 2004 dan selesai pada tahun 2005, dan sejak

Lebih terperinci

Skripsi OLEH: REDNO KARTIKASARI K

Skripsi OLEH: REDNO KARTIKASARI K PENERAPAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) DENGAN METODE EKSPERIMEN UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS SISWA KELAS VIII C SMP NEGERI 14 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2010/2011

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Keaktifan diperlukan dalam kegiatan belajar karena di dalam belajar perlu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Keaktifan diperlukan dalam kegiatan belajar karena di dalam belajar perlu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keaktifan diperlukan dalam kegiatan belajar karena di dalam belajar perlu ada aktivitas, sebab pada prinsipnya belajar itu adalah berbuat learning by doing. Berbuat

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN AKSI PARTISIPATIF. yang melibatkan secara aktif semua pihak-pihak yang relevan (stakeholders) dalam mengkaji

BAB III METODOLOGI PENELITIAN AKSI PARTISIPATIF. yang melibatkan secara aktif semua pihak-pihak yang relevan (stakeholders) dalam mengkaji BAB III METODOLOGI PENELITIAN AKSI PARTISIPATIF A. Pengertian PAR PAR adalah singkatan dari Participatory Action Research, yaitu merupakan penelitian yang melibatkan secara aktif semua pihak-pihak yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. muncul berbagai tantangan dan persoalan serba kompleksitasnya.

BAB I PENDAHULUAN. muncul berbagai tantangan dan persoalan serba kompleksitasnya. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.I Latar Belakang Masalah Bangsa Indonesia hidup di zaman global yang menuntut perubahan sangat pesat, serta muncul berbagai tantangan dan persoalan serba kompleksitasnya. Di bidang

Lebih terperinci

KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI

KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI 1. Latar Belakang Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari lebih 17.000 pulau dan memiliki panjang garis pantai 81.000 km yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. observasi terhadap pembelajaran IPA yang dilakukan oleh guru di kelas V.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. observasi terhadap pembelajaran IPA yang dilakukan oleh guru di kelas V. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Data Awal Penelitian Sebelum melakukan tindakan pembelajaran, penulis melakukan observasi terhadap pembelajaran IPA yang dilakukan oleh guru di kelas V. Hasil

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.78/Menhut-II/2014 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN KEHUTANAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.78/Menhut-II/2014 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN KEHUTANAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.78/Menhut-II/2014 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PROGRAMA PENYULUHAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah, menurut. Kurikulum 2004, adalah membantu siswa mengembangkan kemampuan

BAB I PENDAHULUAN. Salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah, menurut. Kurikulum 2004, adalah membantu siswa mengembangkan kemampuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu tujuan pembelajaran matematika di sekolah, menurut Kurikulum 2004, adalah membantu siswa mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Masalah dapat muncul

Lebih terperinci

Penelitian Tindakan Kelas

Penelitian Tindakan Kelas Penelitian Tindakan Kelas Budi Murtiyasa Universitas Muhammadiyah Surakarta 2011 Penelitian Tindakan Kelas Merupakan cabang/jenis dari Penelitian Tindakan (action Research) tujuan utama dari PTK adalah

Lebih terperinci

KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM DALAM PENATAAN RUANG

KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM DALAM PENATAAN RUANG Karya Tulis KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM DALAM PENATAAN RUANG Oleh : ANITA ZAITUNAH NIP 132 259 574 DEPARTEMEN KEHUTANAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2009 KATA PENGANTAR Puji dan syukur

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tata kelola yang baik (good governance) adalah suatu sistem manajemen pemerintah yang dapat merespon aspirasi masyarakat sekaligus meningkatkan kepercayaan kepada pemerintah

Lebih terperinci

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SEARCH SOLVE CREATE SHARE (SSCS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII-2 SMP NEGERI 13 PEKANBARU

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SEARCH SOLVE CREATE SHARE (SSCS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII-2 SMP NEGERI 13 PEKANBARU 71 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SEARCH SOLVE CREATE SHARE (SSCS) UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS VII-2 SMP NEGERI 13 PEKANBARU maidadeli@yahoo.co.id SMP Negeri 13 Pekanbaru,

Lebih terperinci

Inisiasi 2 PENDEKATAN KONSEP SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) DALAM PEMBELAJARAN IPS

Inisiasi 2 PENDEKATAN KONSEP SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) DALAM PEMBELAJARAN IPS Inisiasi 2 PENDEKATAN KONSEP SAINS TEKNOLOGI MASYARAKAT (STM) DALAM PEMBELAJARAN IPS Saudara mahasiswa, selamat berjumpa kembali dengan kegiatan Tutorial Online yang kedua untuk mata kuliah Pengembangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dibicarakan, tentu dalam rangka penataan yang terus dilakukan untuk mencapai

BAB I PENDAHULUAN. dibicarakan, tentu dalam rangka penataan yang terus dilakukan untuk mencapai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penerapan teori-teori pendidikan pada masa ini adalah hal yang marak dibicarakan, tentu dalam rangka penataan yang terus dilakukan untuk mencapai pendidikan

Lebih terperinci

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE (5E) TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS BIOLOGI SISWA KELAS X SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE (5E) TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS BIOLOGI SISWA KELAS X SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE (5E) TERHADAP KETERAMPILAN PROSES SAINS BIOLOGI SISWA KELAS X SMA AL ISLAM 1 SURAKARTA SKRIPSI Oleh : LATIF SOFIANA NUGRAHENI K4308096 FAKULTAS KEGURUAN

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan Penduduk dan Dampaknya terhadap Perkembangan Suatu Wilayah

II. TINJAUAN PUSTAKA Pertumbuhan Penduduk dan Dampaknya terhadap Perkembangan Suatu Wilayah 3 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pertumbuhan Penduduk dan Dampaknya terhadap Perkembangan Suatu Wilayah Pertumbuhan penduduk adalah perubahan jumlah penduduk di suatu wilayah tertentu pada waktu tertentu dibandingkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kurikulum yang sedang coba diterapkan oleh pemerintah ke beberapa sekolah sasaran saat ini yaitu Kurikulum 2013. Kurikulum 2013 bertujuan untuk mendorong peserta

Lebih terperinci

BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN

BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN digilib.uns.ac.id 71 BAB V SIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN A. Simpulan Simpulan penelitian ini berdasarkan pada kajian teori, hasil penelitian, dan pembahasan yang telah dilakukan penulis. Hasil penilaian

Lebih terperinci

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (TERM OF REFERENCE) PILOT PROJECK PENGEMBANGAN OPTIMASI LAHAN SENSITIVE GENDER TAHUN 2013

KERANGKA ACUAN KEGIATAN (TERM OF REFERENCE) PILOT PROJECK PENGEMBANGAN OPTIMASI LAHAN SENSITIVE GENDER TAHUN 2013 KERANGKA ACUAN KEGIATAN (TERM OF REFERENCE) PILOT PROJECK PENGEMBANGAN OPTIMASI LAHAN SENSITIVE GENDER TAHUN 2013 Kementerian Negara/Lembaga : Kementerian Pertanian Unit Eselon I : Direktorat Jenderal

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang. Dasar Hukum

Warta Kebijakan. Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang. Dasar Hukum No. 6, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Peran Serta Masyarakat dalam Penataan Ruang Dasar Hukum Di masyarakat ada kesan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Secara teoritis, hakikat pendidikan merupakan belajar yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Secara teoritis, hakikat pendidikan merupakan belajar yang BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Secara teoritis, hakikat pendidikan merupakan belajar yang berlangsung sepanjang hayat (life long learning). Oleh karena itu, pendidikan harus dilakukan sejak usia dini

Lebih terperinci

Mengadu demi Memperbaiki:

Mengadu demi Memperbaiki: KERTAS KEBIJAKAN Mengadu demi Memperbaiki: Pentingnya Suara Publik untuk Peningkatan Pelayanan WWW.CIPG.OR.ID REKOMENDASI Berdasarkan riset Mengkaji Efektivitas Alat Pengaduan Publik yang telah kami lakukan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN PARTICIPATORY ACTION RESEARCH. riset aksi sering dikenal dengan Participatory Action Research (PAR).

BAB III METODE PENELITIAN PARTICIPATORY ACTION RESEARCH. riset aksi sering dikenal dengan Participatory Action Research (PAR). 59 BAB III METODE PENELITIAN PARTICIPATORY ACTION RESEARCH A. Epistimologi Pendekatan penelitian yang dipakai adalah riset aksi. Di antara namanamanya, riset aksi sering dikenal dengan Participatory Action

Lebih terperinci

Workshop PPM Desa Timbulharjo Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial UNY UTAMI DEWI

Workshop PPM Desa Timbulharjo Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial UNY UTAMI DEWI Workshop PPM Desa Timbulharjo Jurusan Ilmu Administrasi Negara Fakultas Ilmu Sosial UNY UTAMI DEWI RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DESA (RPJMDes) Pasal 63 Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagian hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia. Berdasarkan

BAB I PENDAHULUAN. Sebagian hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia. Berdasarkan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagian hutan tropis terbesar di dunia terdapat di Indonesia. Berdasarkan luas, hutan tropis Indonesia menempati urutan ke tiga setelah Brasil dan Republik Demokrasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ciri khas dari Indonesia. Kemajemukan bangsa Indonesia termasuk dalam hal. konflik apabila tidak dikelola secara bijaksana.

BAB I PENDAHULUAN. ciri khas dari Indonesia. Kemajemukan bangsa Indonesia termasuk dalam hal. konflik apabila tidak dikelola secara bijaksana. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia adalah negara yang multikultur, yakni bangsa yang memiliki aneka ragam budaya yang dapat memperkaya budaya nasional sekaligus sebagai ciri khas dari

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kegiatan manusia dalam memanfaatkan sumberdaya alam diduga menjadi faktor penting penyebab kerusakan lingkungan (Gumilar, 2012). Pertambahan jumlah penduduk Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

BAB V SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN

BAB V SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN BAB V SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN I. Persiapan Penerapan a. Langkah-langkah penerapan SML; Tahap 1 : Pengembangan dan komitmen terhadap kebijakan lingkungan Tahap 2 : Perencanaan Aspek lingkungan dan dampak

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN. roses pembangunan pada dasarnya merupakan proses yang berkesinambungan,

BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN. roses pembangunan pada dasarnya merupakan proses yang berkesinambungan, BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN 10.1. Program Transisii P roses pembangunan pada dasarnya merupakan proses yang berkesinambungan, berlangsung secara terus menerus. RPJMD Kabupaten Kotabaru

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berbagai pengaruh perubahan yang terjadi akibat reformasi menuntut perusahaan baik perusahaan swasta maupun pemerintah untuk mengadakan inovasi-inovasi guna

Lebih terperinci

P E N J E L A S A N A T A S PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI MALUKU

P E N J E L A S A N A T A S PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI MALUKU P E N J E L A S A N A T A S PERATURAN DAERAH PROVINSI MALUKU NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH PROVINSI MALUKU I. UMUM Sesuai dengan amanat Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang

Lebih terperinci

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN PENGELOLAAN IRIGASI PARTISIPATIP (PIP) DI KABUPATEN KULON PROGO

LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN PENGELOLAAN IRIGASI PARTISIPATIP (PIP) DI KABUPATEN KULON PROGO LAPORAN PELAKSANAAN KEGIATAN PENGELOLAAN IRIGASI PARTISIPATIP (PIP) DI KABUPATEN KULON PROGO KEMENTERIAN PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL PRASARANA DAN SARANA PERTANIAN DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI.........

Lebih terperinci

Desi Rusnita SDN 08 Kepahiang

Desi Rusnita SDN 08 Kepahiang PENERAPAN PENDEKATAN KONSTRUKTIVISME MELALUI LKS BERBASIS KONTEKSTUAL UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS III SD NEGERI 08 KEPAHIANG TAHUN 2013 Desi Rusnita SDN 08 Kepahiang Abstrak:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, bahasa, budaya. Kemajemukan

BAB I PENDAHULUAN. terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, bahasa, budaya. Kemajemukan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masyarakat Indonesia merupakan suatu masyarakat majemuk yang terdiri dari berbagai suku bangsa, agama, bahasa, budaya. Kemajemukan bangsa yang terbangun dari perbedaan

Lebih terperinci

Satuan Pendidikan : Kelas / Semester : VII (Satu) / 1 Nama Guru NIP/NIK

Satuan Pendidikan : Kelas / Semester : VII (Satu) / 1 Nama Guru NIP/NIK KURIKULUM 2013 RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) KELAS VII (SATU) SMP / MTs Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Satuan Pendidikan : Kelas / Semester : VII (Satu) / 1 Nama Guru : NIP/NIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, keadaan dan mahluk termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Pada bab sebelumnya telah diuraikan gambaran umum Kabupaten Kebumen sebagai hasil pembangunan jangka menengah 5 (lima) tahun periode yang lalu. Dari kondisi yang telah

Lebih terperinci

SENTRALISASI DALAM UU NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH 1. Oleh: Muchamad Ali Safa at 2

SENTRALISASI DALAM UU NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH 1. Oleh: Muchamad Ali Safa at 2 SENTRALISASI DALAM UU NOMOR 23 TAHUN 2014 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH 1 Oleh: Muchamad Ali Safa at 2 Dalam sejarah pemerintahan daerah di Indonesia desentralisasi dan sentralisasi telah beberapa kali mengalami

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN SAINS ANAK MELALUI EKSPLORASI ALAM (SAWAH) DI TAMAN KANAK-KANAK HARAPAN BUNDA KABUPATEN SOLOK SELATAN

PENINGKATAN KEMAMPUAN SAINS ANAK MELALUI EKSPLORASI ALAM (SAWAH) DI TAMAN KANAK-KANAK HARAPAN BUNDA KABUPATEN SOLOK SELATAN PENINGKATAN KEMAMPUAN SAINS ANAK MELALUI EKSPLORASI ALAM (SAWAH) DI TAMAN KANAK-KANAK HARAPAN BUNDA KABUPATEN SOLOK SELATAN Sustri Fatmawati Abstrak Kemampuan sains anak di TK Harapan Bunda Kabupaten Solok

Lebih terperinci

PENERAPAN STRATEGI METAKOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 PADANG

PENERAPAN STRATEGI METAKOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 PADANG PENERAPAN STRATEGI METAKOGNITIF DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS X SMA NEGERI 2 PADANG Siska Putri Permata 1), Suherman 2), dan Media Rosha 3) 1) FMIPA UNP, email: siskaputri8998@yahoo.com 2,3)

Lebih terperinci

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH

BAB IV VISI DAN MISI DAERAH BAB IV VISI DAN MISI DAERAH Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Lebak 2005-2025 disusun dalam rangka mewujudkan visi dan misi pembangunan daerah yang diharapkan dapat dicapai pada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Oka Nazulah Saleh, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Oka Nazulah Saleh, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Belajar adalah proses yang aktif, peserta didik sendiri yang membentuk pengetahuan. Pada proses belajar, peserta didik diharapkan mampu menyesuaikan konsep dan

Lebih terperinci

MENCIPTAKAN HUTAN MASYARAKAT DI INDONESIA

MENCIPTAKAN HUTAN MASYARAKAT DI INDONESIA PROGRAM HUTAN DAN IKLIM WWF LEMBAR FAKTA 2014 Praktek REDD+ yang Menginspirasi MENCIPTAKAN HUTAN MASYARAKAT DI INDONESIA RINGKASAN Apa Pengembangan kawasan konservasi masyarakat dan pengelolaan hutan berbasis

Lebih terperinci

Membangun Wilayah yang Produktif

Membangun Wilayah yang Produktif Membangun Wilayah yang Produktif Herry Darwanto *) Dalam dunia yang sangat kompetitif sekarang ini setiap negara perlu mengupayakan terbentuknya wilayah-wilayah yang produktif untuk memungkinkan tersedianya

Lebih terperinci

3. TAHAP TAHAP PENGEMBANGAN BUDAYA KESELAMATAN 3.1. TAHAP I KESELAMATAN YANG BERDASARKAN HANYA PADA PERATURAN PERUNDANGAN

3. TAHAP TAHAP PENGEMBANGAN BUDAYA KESELAMATAN 3.1. TAHAP I KESELAMATAN YANG BERDASARKAN HANYA PADA PERATURAN PERUNDANGAN 3. TAHAP TAHAP PENGEMBANGAN BUDAYA KESELAMATAN Semua organisasi organisasi yang terlibat dalam kegiatan nuklir jelas memiliki perhatian yang sama terhadap pemeliharaan dan peningkatan keselamatan. Tetapi

Lebih terperinci

PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS TERPADU. Identifikasi Masalah. Menentukan Sasaran dan Tujuan. Alternatif kegiatan dan implementasi program

PERENCANAAN PENGELOLAAN DAS TERPADU. Identifikasi Masalah. Menentukan Sasaran dan Tujuan. Alternatif kegiatan dan implementasi program Konsep Perencanaan Pengelolaan DAS Terpadu, dengan ciri-ciri sebagai berikut (1) hutan masih dominant, (2) satwa masih baik, (3) lahan pertanian masih kecil, (4) belum ada pencatat hidrometri, dan (5)

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pulau-pulau kecil memiliki potensi pembangunan yang besar karena didukung oleh letaknya yang strategis dari aspek ekonomi, pertahanan dan keamanan serta adanya ekosistem

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. ditengarai dengan perilaku guru dan murid sekolah yang tidak berwawasan

BAB I. PENDAHULUAN. ditengarai dengan perilaku guru dan murid sekolah yang tidak berwawasan 22 BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengelolaan sekolah di satu sisi dapat menampilkan kondisi yang kontradiktif jika ditinjau dari sudut pelestarian lingkungan. Hal ini terutama ditengarai dengan

Lebih terperinci

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEHNIK TARI BAMBU UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA KELAS X MA NW TERARA PADA MATERI POKOK TRIGONOMETRI

PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEHNIK TARI BAMBU UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA KELAS X MA NW TERARA PADA MATERI POKOK TRIGONOMETRI PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TEHNIK TARI BAMBU UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA KELAS X MA NW TERARA PADA MATERI POKOK TRIGONOMETRI M Januardi Lutfi Hariyanto Pemerhati Pendidikan Matematika

Lebih terperinci

Didit Yulian Kasdriyanto. Staf Pengajar, Universitas Panca Marga, Probolinggo (diterima: , direvisi

Didit Yulian Kasdriyanto. Staf Pengajar, Universitas Panca Marga, Probolinggo (diterima: , direvisi ISSN 2354-6948 Penerapan Metode Pengamatan Langsung Untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Puisi Siswa Kelas V SDN Malasan Wetan 02 Kecamatan Tegal Siwalan Kabupaten Probolinggo Didit Yulian Kasdriyanto

Lebih terperinci

MENGELOLA KONFLIK ORGANISASI MATERI 12

MENGELOLA KONFLIK ORGANISASI MATERI 12 MENGELOLA KONFLIK ORGANISASI MATERI 12 LATIHAN Ê KERJAKAN PER KELOMPOK Ê MENGGUNAKAN FORMAT MS. POWER POINT Ê KIRIM KE EMAIL asta_p80@yahoo.com SEBELUM JAM 24.00 WIB Ê KOORDINATOR KELOMPOK à KOORDINATOR

Lebih terperinci