BAB 14 PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 14 PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN"

Transkripsi

1 BAB 14 PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN PEMBANGUNAN WILAYAH NASIONAL Pembangunan wilayah nasional diarahkan pada pemerataan pembangunan di seluruh wilayah dengan mengoptimalkan potensi dan keunggulan masing-masing wilayah serta memperhatikan daya dukung lingkungan. Di samping itu pembangunan wilayah juga diarahkan untuk meningkatkan keterkaitan antar daerah disertai dengan perbaikan distribusi manfaat pertumbuhan yang adil dan proporsional Permasalahan yang Dihadapi Hingga saat ini salah satu permasalahan struktural ekonomi yang masih dirasakan adalah besarnya kesenjangan pembangunan antarwilayah. Kesenjangan pembangunan antarwilayah terlihat dalam beberapa dimensi. Pertama, pemusatan kegiatan ekonomi di wialyah Jawa-Bali dan Sumatera. Pada tahun 2010, kedua wilayah tersebut menyumbang lebih dari 82 persen dalam perekonomian nasional. Demikian juga halnya dengan distribusi investasi, di mana 84 persen PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) dan 88 persen PMA (Penanaman Modal Asing) berlokasi di wilayah Jawa-Bali. Kondisi ini erat kaitannya dengan tiga hal. Wilayah Jawa-Bali didukung ketersediaan infrastruktur, akses ke pasar global, dan kelembagaan investasi yang lebih baik. Sebagian besar

2 kabupaten/kota di Jawa dan Bali telah menerapkan unit pelayanan satu atap. Sejalan dengan kondisi tersebut, pola persebaran penduduk juga menunjukkan ketidakseimbangan secara spasial, di mana Pulau Jawa dengan luas hanya 6,7 persen menampung 58 persen populasi nasional. Kedua, kesenjangan antarwilayah juga nampak pada dimensi kemiskinan dan kualitas sumber daya manusia. Tingkat kemiskinan (persentase penduduk miskin terhadap total populasi) di luar Jawa umumnya lebih tinggi. Hingga tahun 2010, persentase penduduk miskin di wilayah-wilayah Papua, Nusa Tenggara, dan Maluku masih di atas 20 persen. Tingginya tingkat kemiskinan di wilayahwilayah tersebut juga diiringi dengan rendahnya kualitas sumber daya manusia, yang ditunjukkan oleh nilai Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang semuanya di bawah rata-rata nasional. Permasalahan lain yang juga penting bagi pembangunan wilayah adalah inflasi dan dukungan perbankan. Laju inflasi di beberapa kota di wilayah Papua, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Kalimantan relatif tinggi. Laju inflasi yang tinggi ini dapat mengurangi daya beli masyarakat. Sementara itu data Bank Indonesia tahun 2010 menunjukkan ketidakseimbangan distribusi penyaluran kredit, di mana Jawa-Bali dan Sumatera berturut-turut mendapatkan 72 persen dan 15 persen. Artinya hanya sekitar 13 persen kredit perbankan yang disalurkan ke wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan Papua. Perbankan lebih banyak menghimpun dana dibandingkan menyalurkan kredit di Kawasan Timur Indonesia (KTI) Langkah-Langkah yang Dilakukan Dan Hasil-Hasil Yang Dicapai langkah yang diambil untuk mengatasi permasalahan di atas meliputi beberapa kebijakan berikut. Pertama, mendorong pembangunan kawasan strategis dan daerah-daerah yang berpotensi cepat tumbuh di luar Jawa. Kedua, meningkatkan pembangunan daerah tertinggal dan perbatasan (yang sebagian besar berada di luar 14-2

3 Jawa) dan memperkuat konektivitasnya dengan pusat-pusat pertumbuhan. Ketiga, pengarus-utamaan penanggulangan kemiskinan. Keempat, meningkatkan pembangunan perdesaan khususnya dalam pengembangan kegiatan non-pertanian. Kelima, memperbaiki kebijakan belanja transfer ke daerah untuk mengurangi kesenjangan antarwilayah. Keenam, memperbaiki pola belanja pemerintah (kementerian/lembaga) untuk mendukung pembangunan di luar Jawa. Pembangunan kawasan strategis dan cepat tumbuh dioperasionalisasikan dalam kebijakan pengembangan Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET), pengembangan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB), dan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Hasil-hasil yang telah dicapai di antaranya adalah: (i) tersusunnya Rancangan Perpres tentang KAPET yang bertujuan merevitalisasi 13 KAPET yang tersebar di Sumatera (Aceh), Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua; (ii) telah disahkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. 83/2010 tentang Pelimpahan Kewenangan Pemerintah Kepada Dewan Kawasan Sabang terkait dengan Perijinan dan Investasi KPBPB Sabang; (iii) telah disahkannya Peraturan Pemerintah (PP) No. 5/2011 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah No. 46 Tahun 2007 Tentang Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas, dan Peraturan Pemerintah (PP) No. 6/2011 tentang Pengelolaan Keuangan pada Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam yang merujuk kepada upaya transformasi Badan Pengusahaan KPBPB Batam menuju format Badan Layanan Umum (BLU-like); (iv) telah disahkannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan KEK; serta (v) dimulainya proses inisiasi dan penyusunan berbagai peraturan pendukung diantaranya RPP tentang Fasilitas Perpajakan, Kepabeanan dan Cukai di KEK, RPP tentang Pembiayaan KEK, Rapermen Pedagangan tentang pendelegasian wewenang penerbitan perizinan di bidang perdagangan di KEK, serta Rapermen Ketenagakerjaan tentang Forum Serikat Pekerja/Buruh di KEK. 14-3

4 Untuk pembangunan daerah tertinggal dan perbatasan, hasilhasil yang telah dicapai adalah: (i) terbentuknya Badan Nasional Pengelola Perbatasan melalui Perpres No. 12/2010 tentang BNPP, yang operasionalnya diatur dalam Permendagri No. 31/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Sekretariat Tetap BNPP; (ii) tersusunnya Grand Design dan Rencana Induk Pengelolaan Perbatasan , yang disahkan dengan Peraturan Kepala BNPP No. 1/2011 dan No. 2/2011, serta Rencana Aksi Pengelolaan Perbatasan Tahun 2011 yang disahkan dengan peraturan Kepala BNPP No. 3/2011, (iii) telah dibahasnya enam working paper kerjasama Indonesia dan Malaysia di bidang sosial ekonomi di kawasan perbatasan; dan (iv) berkurangnya jumlah daerah tertinggal sebanyak 50 kabupaten dari 199 kabupaten menjadi 149 kabupaten pada periode Namun demikian karena adanya pembentukan 34 kabupaten baru (pemekaran), maka jumlah kabupaten tertinggal pada saat ini mencapai 183 kabupaten. Di samping itu, upaya pengurangan kesenjangan juga dilakukan melalui perbaikan kebijakan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah. Dalam hal ini belanja transfer ke daerah diarahkan untuk semakin mengurangi kesenjangan fiskal antardaerah. Perbaikan yang telah dilakukan adalah: (i) menambahkan kriteria wilayah kepulauan, perbatasan, dan kemiskinan dalam perhitungan Dana Alokasi Umum (DAU); (ii) memasukkan kriteria daerah tertinggal dan perbatasan dalam kebijakan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK); serta (iii) melanjutkan dan memperkuat alokasi dana Otonomi Khusus untuk menunjang percepatan pembangunan di wilayah Aceh dan Papua. Secara khusus pemerintah telah menetapkan percepatan pembangunan Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur menjadi prioritas pembangunan wilayah dalam RKP Dalam hal ini telah diselesaikan dokumen Rencana Aksi Percepatan Pembangunan Provinsi Papua dan Papua Barat. Sementara itu penyusunan dokumen serupa untuk Provinsi Nusa Tenggara Timur sedang dalam penyusunan. Dokumen-dokumen tersebut selanjutnya menjadi acuan Kementerian/Lembaga dalam menyusun rencana 14-4

5 program dan kegiatannya, khususnya Kementerian/Lembaga yang terkait langsung dengan pengembangan ekonomi di ketiga provinsi tersebut. Dalam hal perbaikan pola belanja pemerintah, sejak tahun 2010 diperkenalkan Dimensi Pembangunan Kewilayahan dalam dokumen perencanaan nasional. Dalam hal ini, rencana pembangunan selain dijabarkan dalam bidang-bidang (pendekatan sektoral) juga diuraikan menurut wilayah dengan basis pulau-pulau besar atau kepulauan. Maka sejak tahun ini dokumen perencanaan pemerintah akan memuat penjabaran rencana pembangunan menurut wilayah Sumatera, Jawa dan Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Dengan pendekatan ini akan diperoleh gambaran yang lebih baik tentang distribusi spasial belanja pemerintah. TABEL 14.1 DISTRIBUSI PRODUK DOMESTIK REGIONAL BRUTO MENURUT WILAYAH TERHADAP NASIONAL ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN (DALAM PERSEN) Provinsi *) 2010**) Sumatera 22,12 22,27 22,86 22,88 22,65 23,03 Jawa & Bali 60,11 60,68 60,04 59,15 59,87 59,39 Kalimantan 10,00 9,51 9,40 10,35 9,19 9,13 Sulawesi 4,07 4,04 4,10 4,28 4,56 4,61 Nusa Tenggara 1,51 1,46 1,49 1,33 1,43 1,43 Maluku 0,27 0,25 0,25 0,24 0,25 0,25 Papua 1,93 1,79 1,86 1,77 2,04 2,12 Kawasan Barat 82,23 82,95 82,90 82,03 82,52 82,42 Kawasan Timur 17,78 17,05 17,10 17,96 17,47 17,57 Sumber : Badan Pusat Statistik 2010 Keterangan : * ) angka sementara **) angka sangat sementara 14-5

6 Secara umum pengurangan kesenjangan antarwilayah menunjukkan perkembangan ke arah yang lebih seimbang meskipun kecepatannya masih lambat. Hal ini bisa dilihat dari distribusi persentase PDRB menurut wilayah dari tahun 2005 sampai dengan Wilayah-wilayah yang perannya cenderung meningkat hingga tahun 2008 adalah Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara dan Papua. Secara agregat, peran Kawasan Timur Indonesia (KTI) meningkat dari 17,47 persen pada tahun 2009 menjadi 17,57 persen pada tahun Tindak Lanjut yang Diperlukan Upaya pengurangan kesenjangan antarwilayah akan dilanjutkan secara konsisten dengan berpegang pada 5 (lima) strategi RPJMN , yakni: 1. Mendorong pertumbuhan wilayah-wilayah potensial di Kawasan Timur Indonesia dengan tetap menjaga momentum pertumbuhan di Jawa-Bali dan Sumatera. 2. Meningkatkan keterkaitan antarwilayah melalui aktivitas perdagangan antarpulau untuk memperkuat perekonomian domestik. 3. Meningkatkan daya saing sektor-sektor unggulan daerah. 4. Mendorong percepatan pembangunan daerah tertinggal, kawasan strategis dan cepat tumbuh, perbatasan, terdepan, terluar, dan daerah rawan bencana. 5. Mendorong pengembangan wilayah laut dan sektor-sektor kelautan. Di samping itu percepatan pemerataan pembangunan dilakukan dengan mengintegrasikan Master Plan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) ke dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) untuk tahun 2012 hingga tahun Langkah-langkah yang sedang dan akan dilakukan adalah: 1. Melakukan identifikasi hambatan-hambatan paling kritis dalam pelaksanaan MP3EI di setiap koridor; 14-6

7 2. Melakukan delineasi peran pemerintah dalam penyiapan dan pelaksanaan program-program strategis MP3EI, diikuti dengan pembagian peran antara pemerintah pusat dan daerah; 3. Mempercepat penyelesaian kerangka regulasi untuk mendukung investasi di 6 (enam) koridor ekonomi; 4. Mempercepat penyelesaian dokumen Rencana Tata Ruang Wilayah baik untuk tingkat pulau, provinsi, maupun kabupaten/kota, khususnya yang berada pada koridor ekonomi; 5. Memperbaiki alokasi belanja pemerintah untuk mempertajam prioritas sektoral dan mendukung pelaksanaan pendekatan kewilayahan; 6. Memperbaiki pola penyerapan anggaran dan implementasi program dan kegiatan khususnya menyangkut prioritas nasional di koridor-koridor ekonomi; 7. Meningkatkan koordinasi dan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Khusus terkait dengan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, langkah-langkah yang terus dan akan dilakukan adalah: (i) meningkatkan efektivitas musyawarah perencanaan pembangunan dan forum-forum konsultasi pusat-daerah; (ii) meningkatkan peran pemerintah provinsi (gubernur) sebagai wakil pemerintah dalam mengkoordinasikan pembangunan dan penganggaran di wilayah provinsi; (iii) meningkatkan konsistensi dan sinergi antara perencanaan nasional dan daerah; (iv) melanjutkan dan memperkuat desentralisasi fiskal untuk meningkatkan keserasian antara pelimpahan urusan/kewenangan dan dukungan pendanaan (money follow function); (vi) meningkatkan harmonisasi peraturan dan perundang-undangan antara pemerintah pusat dan daerah serta antara peraturan perundang-undangan mengenai desentralisasi dan otonomi daerah dan sektoral. 14-7

8 14.2. PEMBANGUNAN WILAYAH SUMATERA Permasalahan yang Dihadapi Potensi Wilayah Sumatera cukup beragam dan didukung oleh letak geografisnya yang berdekatan dengan pusat-pusat pertumbuhan ASEAN. Namun demikian hingga kini masih ditemukan beberapa permasalahan, diantaranya: 1. Relatif kecilnya nilai tambah komoditas kelapa sawit, karet, dan pulp, sebagai komoditas unggulan Wilayah Sumatera. Kondisi tersebut terjadi dikarenakan belum berkembangnya mata rantai industri pengolahan, padahal apabila dilihat dari sisi keunggulan lokasi geografisnya, pengembangan sektor dan komoditas tersebut dapat berpotensi menjadi penggerak utama pertumbuhan Wilayah Sumatera. 2. Keterbatasan sumber daya energi listrik untuk memenuhi kebutuhan Wilayah Sumatera. Kapasitas jaringan pembangkit listrik di wilayah Sumatera sudah sangat mendesak untuk ditingkatkan. Untuk memenuhi kebutuhan saat ini saja, seringkali terjadi pemadaman bergilir pada saat beban puncak. 3. Belum terintegrasinya jaringan transportasi jalan, kereta api, angkutan sungai, laut, dan udara di Wilayah Sumatera. Kebutuhan akan dukungan jaringan transportasi wilayah menjadi sangat penting untuk meningkatkan perdagangan domestik Wilayah Sumatera. 4. Relatif masih tingginya tingkat kemiskinan di Aceh, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Lampung. Tingginya tingkat kemiskinan di beberapa provinsi tersebut sangat erat kaitannya dengan rendahnya akses terhadap pendidikan dan kesehatan (kecuali Aceh dan Bengkulu), sehingga peningkatan akses pendidikan dan pelayanan kesehatan bagi rumah tangga miskin perlu ditingkatkan di tahun-tahun mendatang. 5. Rawannya Wilayah Sumatera terkait kegiatan ilegal lintas negara serta belum tuntasnya perjanjian perbatasan antar negara. Letak geografis wilayah Sumatera yang berada di jalur 14-8

9 pelayaran internasional sangat berpotensi menjadi lokasi kegiatan-kegiatan perompakan, penyelundupan barang dan manusia, pencurian ikan dan gangguan keamanan lain. Selain itu, dengan belum tuntasnya penetapan batas Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) berpotensi menimbulkan konflik dalam pengelolaan potensi sumber daya kelautan dan perikanan dengan negara-negara tetangga. 6. Tingginya kerawanan bencana di Wilayah Sumatera. Secara geologis, wilayah Sumatera berada pada pertemuan lempeng bumi dan lintasan gunung api aktif (ring of fire). Dinamika lempeng bumi dalam mencari keseimbangan berakibat pada tingginya frekuensi gempa bumi khususnya di sepanjang pesisir barat wilayah Sumatera. Potensi gempa bumi juga diikuti potensi terjadinya bencana tsunami Hasil yang Telah Dicapai Dalam perkembangan pembangunan Wilayah Sumatera, terdapat beberapa capaian pembangungan yang dihasilkan, diantaranya: 1. Kinerja perekonomian Wilayah Sumatera mengalami perbaikan pada tahun 2010 dibandingkan dengan tahun Secara umum laju pertumbuhan ekonomi wilayah meningkat pada tahun Hampir semua provinsi, kecuali Bengkulu, mencatat peningkatan laju pertumbuhan ekonomi dibandingkan tahun Pertumbuhan tertinggi terjadi di Provinsi Kepulauan Riau 7,21 persen, sementara pertumbuhan terendah di Provinsi Aceh 2,64 persen. 2. Kontribusi perekonomian wilayah Sumatera terhadap perekonomian nasional pada tahun 2010 meningkat dibandingkan tahun Secara umum peran wilayah Sumatera meningkat yang didorong oleh peningkatan kinerja Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung. 14-9

10 TABEL 14.2 PERTUMBUHAN EKONOMI PROVINSI WILAYAH SUMATERA ATAS DASAR HARGA KONSTAN TAHUN 2000 TAHUN (DALAM PERSEN) Provinsi Tahun *) 2010**) Rata-Rata 1. Aceh 1,56 (2,36) (5,24) (5,51) 2,64 (1,78) 2. Sumatera Utara 6,20 6,90 6,39 5,07 6,35 6,18 3. Sumatera Barat 6,14 6,34 6,88 4,28 5,93 5,92 4. Riau 5,15 3,41 5,65 2,97 4,17 4,27 5. Jambi 5,89 6,82 7,16 6,37 7,33 6,72 6. Sumatera Selatan 5,20 5,84 5,07 4,11 5,43 5,13 7. Bengkulu 5,95 6,46 5,78 6,43 5,14 5,95 8. Lampung 4,98 5,94 5,35 5,16 5,75 5,44 9. Bangka Belitung 3,98 4,54 4,60 3,70 5,85 4, Kepulauan Riau 6,78 7,01 6,63 3,52 7,21 6,23 Sumatera 5,26 4,96 4,98 3,50 5,49 4,84 Jumlah 33 Provinsi 5,19 5,67 6,43 4,74 6,08 5,62 Sumber Keterangan : Badan Pusat Statistik : * ) angka sementara **) angka sangat sementara TABEL 14.3 KONTRIBUSI EKONOMI PROVINSI TERHADAP NASIONAL WILAYAH SUMATERA ATAS DASAR HARGA BERLAKU TAHUN (DALAM PERSEN) Provinsi *) 2010**) 1. Aceh 2,13 2,22 2,01 1,72 1,54 1,47 2. Sumatera Utara 5,23 5,14 5,14 5,00 5,08 5,22 3. Sumatera Barat 1,67 1,70 1,69 1,66 1,65 1,65 4. Riau 5,21 5,36 5,94 6,47 6,39 6,48 5. Jambi 0,84 0,84 0,91 0,96 0,95 1,02 6. Sumatera Selatan 3,05 3,08 3,11 3,13 2,95 2,99 7. Bengkulu 0,38 0,37 0,36 0,35 0,34 0,34 8. Lampung 1,53 1,58 1,72 1,72 1,89 2,03 9. Bangka Belitung 0,53 0,51 0,51 0,50 0,49 0, Kepulauan Riau 1,54 1,48 1,47 1,37 1,37 1,36 Sumatera 22,12 22,27 22,86 22,88 22,65 23,03 Sumber Keterangan : Badan Pusat Statistik : * ) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara

11 Sektor unggulan wilayah Sumatera, antara lain adalah: industri kelapa sawit, industri karet dan barang dari karet di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Selatan dan Bengkulu; industri pulp dan kertas di Provinsi Riau; industri dasar besi dan baja dan industri logam dasar bukan besi di Provinsi Sumatera Utara dan Kepulauan Bangka Belitung. Komoditas kelapa sawit dan karet dari wilayah ini berperan strategis bagi perekonomian nasional sebagai salah satu komoditas ekspor andalan di pasar global. Secara keseluruhan, pada tahun 2010 investasi PMDN di wilayah Sumatera hanya sekitar 6,97 persen dari total PMDN secara nasional dan PMA sekitar 12,64 persen dari total PMA secara nasional. Zona tengah dan utara wilayah Sumatera masih menjadi motor penggerak utama dalam menarik investasi. Provinsi Riau dan Kepulauan Riau merupakan daerah yang paling banyak menarik investasi, baik PMA maupun PMDN. TABEL 14.4 PERKEMBANGAN REALISASI INVESTASI PMA PROVINSI WILAYAH SUMATERA TAHUN (DALAM JUTA US$) Provinsi Nilai Investasi Jumlah Proyek NAD 17,4 0,4 4, Sumatera Utara 189,7 127,3 139,7 181, Sumatera Barat 58,7 28,1 0,2 7, Riau 724,0 460,9 251,6 86, Jambi 17,6 36,1 40,5 37, Sumatera Selatan 213,8 114,6 56,8 186, Bengkulu - 13,0 1,1 25, Lampung 124,5 67,0 32,7 30, Bangka Belitung - 1,7 22, Kepulauan Riau 52,8 161,2 230, Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal

12 TABEL 14.5 PERKEMBANGAN REALISASI INVESTASI PMDN PROVINSI WILAYAH SUMATERA TAHUN (DALAM MILIAR RUPIAH) Jumlah Proyek Nilai Investasi LOKASI NAD ,7 40,9 Sumatera Utara ,30 382, ,8 662,7 Sumatera Barat ,8 R I A U , , , ,1 Jambi , , ,3 Sumatera Selatan ,5 378,5 580, ,4 Bengkulu ,5 Lampung ,8 735, ,3 Bangka Belitung , ,3 0,4 Kepulauan Riau ,1 74, ,9 Sumber : Badan Koordinasi Penanaman Modal 2010 Keterangan : I = nilai investasi P = jumlah proyek Dalam kurun , Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per kapita wilayah Sumatera terus meningkat. Namun, jika dibandingkan dengan antarprovinsi, terlihat adanya ketimpangan yang cukup tinggi. Ketimpangan yang cukup tinggi adalah antara pendapatan per kapita Provinsi Riau dan Kepulauan Riau dengan daerah-daerah lainnya di wilayah Sumatera. Sebagai gambaran, besar PDRB per kapita Provinsi Kepulauan Riau adalah sekitar enam kali PDRB per kapita Provinsi Bengkulu (Tabel 14.6)

13 TABEL 14.6 PDRB PER KAPITA DENGAN MIGAS PROVINSI WILAYAH SUMATERA ATAS DASAR HARGA KONSTAN TAHUN 2000 TAHUN (DALAM RIBU RUPIAH) Provinsi * 2009** Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Kep. Bangka Belitung Kepulauan Riau Sumber : Badan Pusat Statistik Keterangan : * ) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara 3. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di wilayah Sumatera menunjukkan tren menurun, dengan perkembangan terakhir (Februari 2011) sebesar 6,35 persen, lebih rendah dibanding TPT nasional (6,80 persen). Dalam kurun waktu , jumlah pengangguran terbuka di wilayah Sumatera menurun dengan rata-rata laju penurunan 6,54 persen. Jumlah penganggur tertinggi tahun 2011 di Provinsi Sumatera Utara, yaitu sebanyak jiwa (7,18 persen dari angkatan kerja), atau 29,2 persen dari total penganggur di wilayah Sumatera. Terendah di Kepulauan Bangka Belitung sebanyak jiwa (3,25 persen dari angkatan kerja) atau sebesar 1,25 persen dari total penganggur wilayah Sumatera (Tabel 14.7). Walaupun PDRB per kapita daerah di zona utara dan tengah lebih tinggi dibandingkan dengan zona selatan, namun tingkat pengangguran 14-13

14 zona utara dan tengah lebih tinggi dibandingkan dengan daerah zona selatan. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian serius karena daerah-daerah yang menjadi pusat pertumbuhan dan kegiatan ekonomi justru memperlihatkan tingkat pengangguran yang jauh lebih besar jika dibandingkan dengan daerah yang bukan pusat pertumbuhan ekonomi. TABEL 14.7 PENGANGGURAN TERBUKA PROVINSI WILAYAH SUMATERA TAHUN Provinsi TAHUN Aceh Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumatera Selatan Bengkulu Lampung Bangka Belitung Kepulauan Riau * SUMATERA Perubahan (Jiwa) Perubahan (%) -9,82-3,67-7,89-4,44 TPT 9,62 9,10 7,68 6,93 6,35 NASIONAL (TPT) 9,75 8,61 8,14 7,41 6,80 Sumber: Badan Pusat Statistik (Sakernas, Februari 2011, diolah) 4. Perkembangan kemiskinan di wilayah Sumatera dalam kurun waktu cenderung menurun, namun hingga tahun 2011 masih terdapat beberapa provinsi yang memiliki tingkat kemiskinan di atas rata-rata nasional. Provinsi-provinsi tersebut adalah Provinsi Aceh sebesar 19,57 persen, Bengkulu sebesar 17,50 persen, Lampung sebesar 16,93 persen, dan Sumatera Selatan sebesar 14,24 persen (Tabel 14.8)

15 TABEL 14.8 PERSENTASE PENDUDUK MISKIN PROVINSI WILAYAH SUMATERA TAHUN PROVINSI TAHUN Aceh 26,65 23,53 21,80 20,98 19,57 Sumatra Utara 13,90 12,55 11,51 11,31 11,33 Sumatra Barat 11,90 10,67 9,54 9,50 9,04 Riau 11,20 10,63 9,48 8,65 8,47 Jambi 10,27 9,32 8,77 8,34 8,65 Sumatra Selatan 19,15 17,73 16,28 15,47 14,24 Bengkulu 22,13 20,64 18,59 18,30 17,50 Lampung 22,19 20,98 20,22 18,94 16,93 Bangka Belitung 9,54 8,58 7,46 6,51 5,75 Kepulauan Riau 10,30 9,18 8,27 8,05 7,40 INDONESIA 16,58 15,42 14,15 13,33 12,49 Sumber: Badan Pusat Statistik 5. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Wilayah Sumatera dalam kurun waktu secara garis besar menunjukkan peningkatan. Indeks pembangunan manusia (IPM) atau Human Development Index (HDI), sebagai ukuran kualitas hidup manusia wilayah Sumatera memperlihatkan adanya peningkatan di beberapa provinsi dalam kurun waktu IPM tahun 2009 di wilayah Sumatera berkisar antara 70,93 (terendah) di Provinsi Lampung dan 75,60 (tertinggi) di Provinsi Riau. Provinsi yang berada dibawah IPM nasional adalah provinsi Aceh dan Lampung. (Tabel 14.9)

16 TABEL 14.9 INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA PROVINSI WILAYAH SUMATERA TAHUN PROVINSI IPM Peringkat Aceh 69,41 70,35 70,76 71, Sumatera Utara 72,46 72,78 73,29 73, Sumatera Barat 71,65 72,23 72,96 73, Riau 73,81 74,63 75,09 75, Jambi 71,29 71,46 71,99 72, Sumatera Selatan 71,09 71,40 72,05 72, Bengkulu 71,28 71,57 72,14 72, Lampung 69,38 69,78 70,30 70, Bangka Belitung 71,18 71,62 72,19 72, Kepulauan Riau 72,79 73,68 74,18 74, NASIONAL 70,10 70,59 71,17 71,76 Sumber: Badan Pusat Statistik Dalam bidang infrastruktur, secara rata-rata, hampir 90 persen desa-desa di wilayah Sumatera dapat diakses melalui jalan darat, 2,3 persen bisa diakses melalui transportasi air, dan 8,3 persen lainnya bisa dilalui melalui transportasi air dan darat. Keberhasilan dalam penanganan kinerja ekonomi, sumber daya manusia, dan kemiskinan tidak terlepas dari fasilitas pelayanan publik dan infrastrukur, seperti jalan raya, kereta api, pelabuhan laut, dan udara, sarana komunikasi, dan sumber energi atau penerangan. Aksesibilitas antardaerah di wilayah Sumatera dapat dilalui melalui jalan darat yang terdiri dari jalan nasional, jalan provinsi dan jalan kabupaten/kota dengan kondisi sudah beraspal dan sebagian belum beraspal. Secara rata-rata, hampir 90 persen desa-desa di wilayah Sumatera dapat diakses melalui jalan darat, 2,3 persen bisa diakses melalui transportasi air, dan 8,3 persen lainnya bisa dilalui melalui transportasi air dan darat. Kinerja pelayanan infrastruktur untuk sektor energi dapat diidentifikasi melalui ketersediaan dan produksi bahan bakar minyak (BBM). Wilayah Sumatera memiliki empat buah kilang minyak dengan 14-16

17 kapasitas produksi 301 MBSD. Berdasarkan data yang ada, sarana penerangan (aliran listrik) belum menjangkau seluruh permukiman di wilayah Sumatera. Dari seluruh penerangan yang ada, PLN tetap menjadi penyedia utama energi listrik yang mampu melayani lebih dari 60 persen wilayah Sumatera. Pada tahun , setiap provinsi masih memiliki kisaran persen penerangan memakai sumber nonlistrik. Untuk mencukupi kebutuhan penerangan listrik, perlu dilakukan pengembangan teknologi sumber energi karena setiap provinsi di wilayah Sumatera, memiliki potensi kekayaan sumber daya alam energi. 7. Produksi padi di wilayah Sumatera selama periode rata-rata mengalami pertumbuhan positif sebesar 4,99 persen. Peningkatan produksi padi di wilayah Sumatera pada tahun 2009 yaitu sebesar 8,08 persen, sedangkan pada tahun 2010 lebih rendah, yaitu meningkat sebesar 3,43 persen. Pelambatan laju peningkatan produksi padi di wilayah Sumatera tersebut terjadi hampir di seluruh provinsi, kecuali di Riau dan Kepulauan Riau. Bahkan di Jambi terjadi penurunan produksi. Berdasar Angka Ramalan II BPS, peningkatan produksi padi di wilayah Sumatera pada tahun 2011 diperkirakan akan mencapai 3,47 persen, atau relatif tidak berbeda dengan tahun sebelumnya. Perkembangan produksi padi di wilayah Sumatera (Tabel 14.10)

18 TABEL PERKEMBANGAN PRODUKSI PADI PROVINSI WILAYAH SUMATERA TAHUN (DALAM TON) Wilayah *) Sumatera Nanggroe Aceh Darussalam Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Kepulauan Riau Jambi Sumatera Selatan Kepulauan Bangka Belitung Bengkulu Lampung Sumber : Badan Pusat Statistik Keterangan : *) Angka Ramalan II Tindak Lanjut yang Diperlukan Dengan memperhatikan berbagai permasalahan yang dihadapi serta capaian pembangunan seperti telah dipaparkan dalam sub bab sebelumnya, maka tindak lanjut pembangunan Wilayah Sumatera ke depan akan menitikberatkan pada beberapa hal sebagai berikut: 1. Dalam upaya mendukung pengembangan industri unggulan di Wilayah Sumatera, beberapa strategi yang perlu dilakukan ialah: (a) mengintegrasikan MP3EI ke dalam rencana kerja pemerintah pusat dan daerah untuk pengembangan koridor ekonomi Sumatera, khususnya terkait tugas dan peran pemerintah; (b) memantapkan koordinasi antara pemerintah (pusat dan daerah) dan dunia usaha dalam penanganan hambatan investasi di daerah; (c) mempercepat penyelesaian Rencana Tata Ruang Wialyah Kabupaten/Kota di sepanjang koridor ekonomi Sumatera; (d) memantapkan pengendalian 14-18

19 dan pemantauan pelaksanaan program dan kegiatan prioritas di koridor ekonomi Sumatera. 2. Dalam upaya mendorong terbukanya peluang ekspor dan perdagangan internasional, diperlukan berbagai upaya untuk optimalisasi peran KPBPB Sabang dan KPBPB Batam-Bintan- Karimun, terutama terkait dengan upaya penyediaan fasilitas kepelabuhan yang bertaraf internasional dan didukung dengan percepatan peraturan operasional pengalihan kewenangan dan kelembagaan pengusahaan (BLU). 3. Dalam upaya meningkatkan pengelolaan batas wilayah dan kawasan perbatasan, perlu dilakukan upaya-upaya untuk mempercepat penuntasan batas ZEE dengan India, Malaysia, dan Thailand, memperkuat pengamanan perairan perbatasan termasuk pulau-pulau kecil terluar dan kecamatan di sepanjang pesisir yang berhadapan dengan perairan perbatasan negara tetangga, serta mengoptimalkan fungsi Sabang, Dumai, Batam, dan Ranai sebagai pusat pelayanan kawasan perbatasan dan mendorong pengembangan potensi unggulan kawasan. 4. Melihat tingginya potensi ancaman bencana gempa bumi dan tsunami di wilayah Sumatera, pengembangan wilayah Sumatera dilakukan dengan memperhatikan aspek pengurangan risiko bencana yang difokuskan pada: a) upayaupaya peningkatan kapasitas pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi bencana, melalui penyusunan rencana aksi daerah pengurangan risiko bencana, penyusunan rencana kontingensi serta pendidikan dan pelatihan masyarakat didaerah rawan bencana guna meningkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana; b) pengurangan faktor-faktor penyebab risiko bencana, termasuk pengendalian pemanfaatan ruang dan pelaksanaan penataan ruang berbasis mitigasi bencana; dan c) pengembangan sistem peringatan dini (early warning system) bencana dengan memperhatikan karakteristik ancaman bencana di daerah bersangkutan

20 14.3. PEMBANGUNAN WILAYAH JAWA-BALI Permasalahan yang Dihadapi Beberapa permasalahan yang masih dihadapi wilayah Jawa- Bali diantaranya adalah sebagai berikut: 1. Ketimpangan kegiatan ekonomi antara bagian utara dan selatan di Jawa, dan antara bagian barat dan timur di Bali. Tingginya aktivitas ekonomi di bagian utara Jawa ini meningkatkan tekanan pada daya dukung lingkungan dan kompetisi pengguanaan lahan antara untuk permukiman, sawah, dan kawasan industri. 2. Tingginya alih fungsi (konversi) lahan pertanian. Kondisi ini sebagian disebabkan oleh kecilnya skala usaha dan rata-rata luasan lahan pertanian yang diusahakan. Akibatnya usaha tani menjadi tidak efisien. Sementara itu tingginya permintaan tanah baik untuk kawasan permukiman, infrastruktur, maupun industri mengakibatkan harga tanah meningkat khususnya di pinggiran kota. 3. Kepadatan penduduk yang terkonsentrasi di wilayah metropolitan Jawa-Bali, khususnya Jabodetabek dan sekitarnya. 4. Masih tingginya tingkat pengangguran dan rendahnya penyerapan trenaga kerja di pusat-pusat pertumbuhan. 5. Masih tingginya kemiskinan di perdesaan. Kondisi ini ditunjukkan oleh rendahnya tingkat pendidikan, rendahnya upah riil dan rendahnya produktivitas penduduk miskin sebagai akibat dari lemahnya akses penduduk miskin terhadap pendidikan, lemahnya perlindungan terhadap buruh miskin, serta lemahnya bantuan modal untuk mendorong usaha mikro

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pertanian memiliki peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Selain berperan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat, sektor

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2016 TEMA : MEMPERCEPAT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR UNTUK MEMPERKUAT FONDASI PEMBANGUNAN YANG BERKUALITAS

RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2016 TEMA : MEMPERCEPAT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR UNTUK MEMPERKUAT FONDASI PEMBANGUNAN YANG BERKUALITAS REPUBLIK INDONESIA RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2016 TEMA : MEMPERCEPAT PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR UNTUK MEMPERKUAT FONDASI PEMBANGUNAN YANG BERKUALITAS KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN

Lebih terperinci

DAFTAR ISI BUKU III RPJMN TAHUN PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN : MEMPERKUAT SINERGI ANTARA PUSAT-DAERAH DAN ANTARDAERAH

DAFTAR ISI BUKU III RPJMN TAHUN PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN : MEMPERKUAT SINERGI ANTARA PUSAT-DAERAH DAN ANTARDAERAH DAFTAR ISI BUKU III RPJMN TAHUN 2010-2014 PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN : MEMPERKUAT SINERGI ANTARA PUSAT-DAERAH DAN ANTARDAERAH BAB.I ARAH KEBIJAKAN NASIONAL PENGEMBANGAN WILAYAH 2010-2014 1.1 Pendahuluan...

Lebih terperinci

BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015

BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015 BAHAN MENTERI DALAM NEGERI PADA ACARA MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) REGIONAL KALIMANTAN TAHUN 2015 BALAI SIDANG JAKARTA, 24 FEBRUARI 2015 1 I. PENDAHULUAN Perekonomian Wilayah Pulau Kalimantan

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PPN/KEPALA BAPPENAS PADA PEMBUKAAN MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) PROVINSI JAMBI TAHUN Jambi, 6 April 2011

SAMBUTAN MENTERI PPN/KEPALA BAPPENAS PADA PEMBUKAAN MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) PROVINSI JAMBI TAHUN Jambi, 6 April 2011 SAMBUTAN MENTERI PPN/KEPALA BAPPENAS PADA PEMBUKAAN MUSYAWARAH PERENCANAAN PEMBANGUNAN (MUSRENBANG) PROVINSI JAMBI TAHUN 2011 Jambi, 6 April 2011 Yang terhormat Saudara Menteri Dalam Negeri, Yang terhormat

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah 35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari

Lebih terperinci

DINAMIKA PERTUMBUHAN, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN

DINAMIKA PERTUMBUHAN, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN IV. DINAMIKA PERTUMBUHAN, DISTRIBUSI PENDAPATAN DAN KEMISKINAN 4.1 Pertumbuhan Ekonomi Bertambahnya jumlah penduduk berarti pula bertambahnya kebutuhan konsumsi secara agregat. Peningkatan pendapatan diperlukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, maka pelaksanaan pembangunan

BAB I PENDAHULUAN. mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, maka pelaksanaan pembangunan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sebagaimana cita-cita kita bangsa Indonesia dalam bernegara yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur, maka pelaksanaan pembangunan menjadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. telah resmi dimulai sejak tanggak 1 Januari Dalam UU No 22 tahun 1999

BAB I PENDAHULUAN. telah resmi dimulai sejak tanggak 1 Januari Dalam UU No 22 tahun 1999 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada peraturan pemerintah Republik Indonesia, pelaksanaan otonomi daerah telah resmi dimulai sejak tanggak 1 Januari 2001. Dalam UU No 22 tahun 1999 menyatakan bahwa

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI B A B BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI Berbagai upaya ditempuh untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, pengurangan pengangguran, kemiskinan dan kesenjangan antarwilayah Dalam konteks pembanguan saat ini,

Lebih terperinci

DUKUNGAN KEBIJAKAN PERPAJAKAN PADA KONSEP PENGEMBANGAN WILAYAH TERTENTU DI INDONESIA

DUKUNGAN KEBIJAKAN PERPAJAKAN PADA KONSEP PENGEMBANGAN WILAYAH TERTENTU DI INDONESIA DUKUNGAN KEBIJAKAN PERPAJAKAN PADA KONSEP PENGEMBANGAN WILAYAH TERTENTU DI INDONESIA Oleh Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Indonesia memiliki cakupan wilayah yang sangat luas, terdiri dari pulau-pulau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Objek penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah Provinsi Papua. Provinsi Papua merupakan salah satu provinsi terkaya di Indonesia dengan luas wilayahnya

Lebih terperinci

PEMBANGUNAN KEWILAYAHAN DAN ANTARWILAYAH

PEMBANGUNAN KEWILAYAHAN DAN ANTARWILAYAH PEMBANGUNAN KEWILAYAHAN DAN ANTARWILAYAH I. Pendahuluan Dengan mengacu Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 dan Visi-Misi Presiden serta Agenda Prioritas Pembangunan (NAWA CITA),

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Tabel 1. Batas Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Masyarakat Miskin ( ) Presentase Penduduk Miskin. Kota& Desa Kota Desa

1. PENDAHULUAN. Tabel 1. Batas Kemiskinan, Jumlah dan Persentase Masyarakat Miskin ( ) Presentase Penduduk Miskin. Kota& Desa Kota Desa 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peranan pertanian dalam pembangunan ekonomi hanya dipandang pasif dan bahkan hanya dianggap sebagai unsur penunjang semata. Peranan utama pertanian dianggap hanya sebagai

Lebih terperinci

LAMPIRAN III PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2010 BUKU III:

LAMPIRAN III PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2010 BUKU III: LAMPIRAN III PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2009 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2010 BUKU III: PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN BAB 1 ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN WILAYAH

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN NOMOR 74/DPD RI/IV/2012 2013 PERTIMBANGAN TERHADAP KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN POKOK-POKOK KEBIJAKAN FISKAL SERTA DANA TRANSFER DAERAH DALAM RANCANGAN UNDANG-UNDANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA

Lebih terperinci

CATATAN ATAS PRIORITAS PENANGGULANGAN KEMISKINAN DALAM RKP Grafik 1. Tingkat Kemiskinan,

CATATAN ATAS PRIORITAS PENANGGULANGAN KEMISKINAN DALAM RKP Grafik 1. Tingkat Kemiskinan, CATATAN ATAS PRIORITAS PENANGGULANGAN KEMISKINAN DALAM RKP 2013 A. Perkembangan Tingkat Kemiskinan Jumlah penduduk miskin di Indonesia pada bulan September 2011 sebesar 29,89 juta orang (12,36 persen).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, yaitu upaya peningkatan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju. kepada tercapainya kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia, yaitu upaya peningkatan pembangunan dan hasil-hasilnya menuju. kepada tercapainya kemakmuran seluruh rakyat Indonesia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tujuan pembangunan ekonomi nasional adalah sebagai upaya untuk membangun seluruh kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, yaitu memajukan kesejahteraan umum,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional mengamanatkan bahwa setiap daerah harus menyusun rencana pembangunan daerah secara

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS IIV.1 Permasalahan Pembangunan Permasalahan yang dihadapi Pemerintah Kabupaten Ngawi saat ini dan permasalahan yang diperkirakan terjadi lima tahun ke depan perlu mendapat

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang

1 PENDAHULUAN. Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Peraturan Presiden No 32 Tahun 2011 tentang MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) merupakan sebuah langkah besar permerintah dalam mencapai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia sebagai suatu bangsa dan negara besar dengan pemilikan sumber daya alam yang melimpah, dalam pembangunan ekonomi yang merupakan bagian dari pembangunan nasional

Lebih terperinci

Perkembangan Jumlah Penelitian Tahun

Perkembangan Jumlah Penelitian Tahun Pada tahun anggaran 2012, Badan Litbang Perhubungan telah menyelesaikan 368 studi yang terdiri dari 103 studi besar, 20 studi sedang dan 243 studi kecil. Perkembangan jumlah studi dari tahun 2008 sampai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi ialah untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan ekonomi ialah untuk mengembangkan kegiatan ekonomi dan 1.1. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN Pemerataan pembangunan ekonomi merupakan hasil yang diharapkan oleh seluruh masyarakat bagi sebuah negara. Hal ini mengingat bahwa tujuan dari pembangunan

Lebih terperinci

BAB I ARAH KEBIJAKAN NASIONAL PENGEMBANGAN WILAYAH TAHUN

BAB I ARAH KEBIJAKAN NASIONAL PENGEMBANGAN WILAYAH TAHUN BAB I ARAH KEBIJAKAN NASIONAL PENGEMBANGAN WILAYAH TAHUN 2010-2014 1.1 Pendahuluan Pelaksanaan pembangunan selama ini telah mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kemajuan di berbagai daerah.

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA BADAN PUSAT STATISTIK No. 13/02/Th. XV, 6 Februari 2012 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERTUMBUHAN PDB TAHUN 2011 MENCAPAI 6,5 PERSEN Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2011 tumbuh sebesar 6,5 persen dibandingkan

Lebih terperinci

MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH MALUKU

MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH MALUKU MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH MALUKU PRIORITAS NASIONAL MATRIKS ARAH KEBIJAKAN BUKU III RKP 2012 WILAYAH MALUKU 1 Reformasi Birokrasi dan Tata Kelola Peningkatan kapasitas pemerintah Meningkatkan kualitas

Lebih terperinci

ISU STRATEGIS PROVINSI DALAM PENYUSUNAN RKP 2012

ISU STRATEGIS PROVINSI DALAM PENYUSUNAN RKP 2012 REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/BAPPENAS ISU STRATEGIS PROVINSI DALAM PENYUSUNAN RKP 2012 DIREKTUR PENGEMBANGAN WILAYAH KEMENTERIAN PPN/BAPPENAS Jakarta, 10 Maret 2011 OUTLINE

Lebih terperinci

BAB VII PENGEMBANGAN WILAYAH MALUKU TAHUN

BAB VII PENGEMBANGAN WILAYAH MALUKU TAHUN BAB VII PENGEMBANGAN WILAYAH MALUKU TAHUN 2010 2014 7.1 Kondisi Wilayah Maluku Saat Ini 7.1.1 Capaian Pembangunan Wilayah Dalam kurun waktu 2004 2008 perekonomian wilayah Maluku mengalami pertumbuhan yang

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA

DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA DEWAN PERWAKILAN DAERAH KEPUTUSAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH NOMOR 15/DPD RI/I/2013 2014 TENTANG PERTIMBANGAN DEWAN PERWAKILAN DAERAH TERHADAP RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA

Lebih terperinci

POKOK-POKOK PIKIRAN KEBIJAKAN DANA ALOKASI KHUSUS 2017

POKOK-POKOK PIKIRAN KEBIJAKAN DANA ALOKASI KHUSUS 2017 POKOK-POKOK PIKIRAN KEBIJAKAN DANA ALOKASI KHUSUS 2017 Kepala Subdirektorat Keuangan Daerah Bappenas Februari 2016 Slide - 1 KONSEP DASAR DAK Slide - 2 DAK Dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2011

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2011 BADAN PUSAT STATISTIK No. 31/05/Th. XIV, 5 Mei 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2011 EKONOMI INDONESIA TRIWULAN I-2011 TUMBUH 6,5 PERSEN Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2014

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2014 No. 63/08/Th. XVII, 5 Agustus 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2014 EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2014 TUMBUH 5,12 PERSEN Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. setiap negara, terutama di negara-negara berkembang. Negara terbelakang atau

I. PENDAHULUAN. setiap negara, terutama di negara-negara berkembang. Negara terbelakang atau I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kemiskinan merupakan suatu masalah yang dihadapi dan menjadi perhatian di setiap negara, terutama di negara-negara berkembang. Negara terbelakang atau berkembang adalah

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI MAKRO DAERAH Rancangan Kerangka Ekonomi Daerah menggambarkan kondisi dan analisis statistik Perekonomian Daerah, sebagai gambaran umum untuk situasi perekonomian Kota

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2013

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2013 BADAN PUSAT STATISTIK No. 55/08/Th. XVI, 2 Agustus 2013 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2013 EKONOMI INDONESIA TRIWULAN II-2013 TUMBUH 5,81 PERSEN Perekonomian Indonesia yang diukur berdasarkan

Lebih terperinci

BAB 18 REVITALISASI PERTANIAN

BAB 18 REVITALISASI PERTANIAN BAB 18 REVITALISASI PERTANIAN BAB 18 REVITALISASI PERTANIAN A. KONDISI UMUM Sektor pertanian telah berperan dalam perekonomian nasional melalui sumbangannya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), penerimaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah

BAB I PENDAHULUAN. integral dan menyeluruh. Pendekatan dan kebijaksanaan sistem ini telah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu indikator penting untuk menganalisis pembangunan ekonomi yang terjadi disuatu Negara yang diukur dari perbedaan PDB tahun

Lebih terperinci

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009 ACEH ACEH ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT RIAU JAMBI JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PROVINSI D.I YOGYAKARTA 2014

PERKEMBANGAN PEMBANGUNAN PROVINSI D.I YOGYAKARTA 2014 OUTLINE ANALISIS PROVINSI 1. Perkembangan Indikator Utama 1.1 Pertumbuhan Ekonomi 1.2 Pengurangan Pengangguran 1.3 Pengurangan Kemiskinan 2. Kinerja Pembangunan Kota/ Kabupaten 2.1 Pertumbuhan Ekonomi

Lebih terperinci

BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA

BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 11/02/34/Th.XVI, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TAHUN SEBESAR 5,40 PERSEN Kinerja perekonomian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) selama tahun

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA BADAN PUSAT STATISTIK No. 12/02/Th. XIII, 10 Februari 2010 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERTUMBUHAN PDB TAHUN 2009 MENCAPAI 4,5 PERSEN Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahun 2009 meningkat sebesar

Lebih terperinci

BAB VIII KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN

BAB VIII KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN BAB VIII KERANGKA EKONOMI MAKRO DAN PEMBIAYAAN PEMBANGUNAN Kerangka ekonomi makro dan pembiayaan pembangunan Kabupaten Sleman memuat tentang hasil-hasil analisis dan prediksi melalui metode analisis ekonomi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Industri Pengolahan

I. PENDAHULUAN Industri Pengolahan I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertanian merupakan sektor utama perekonomian di Indonesia. Konsekuensinya adalah bahwa kebijakan pembangunan pertanian di negaranegara tersebut sangat berpengaruh terhadap

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL, PERATURAN KEPALA BADAN KOORDINASI PENANAMAN MODAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG PELIMPAHAN DAN PEDOMAN PENYELENGGARAAN DEKONSENTRASI BIDANG PENGENDALIAN PELAKSANAAN PENANAMAN MODAL TAHUN

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU - ISU STRATEGIS Perencanaan pembangunan antara lain dimaksudkan agar Pemerintah Daerah senantiasa mampu menyelaraskan diri dengan lingkungan. Oleh karena itu, perhatian kepada mandat

Lebih terperinci

PROFIL PEMBANGUNAN DKI JAKARTA

PROFIL PEMBANGUNAN DKI JAKARTA 1 PROFIL PEMBANGUNAN DKI JAKARTA A. GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI WILAYAH DKI merupakan daerah yang terletak di 5 19' 12" - 6 23' 54" LS dan 106 22' 42" - 106 58' 18"BT. Secara geologis, seluruh dataran terdiri

Lebih terperinci

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN

BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN BAB II TUJUAN, KEBIJAKAN, DAN STRATEGI PENATAAN RUANG WILAYAH PROVINSI BANTEN 2.1 Tujuan Penataan Ruang Dengan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, khususnya Pasal 3,

Lebih terperinci

BAB 4 INDIKATOR EKONOMI ENERGI

BAB 4 INDIKATOR EKONOMI ENERGI BAB 4 INDIKATOR EKONOMI ENERGI Indikator yang lazim digunakan untuk mendapatkan gambaran kondisi pemakaian energi suatu negara adalah intensitas energi terhadap penduduk (intensitas energi per kapita)

Lebih terperinci

LAMPIRAN I : PERATURAN BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN TENTANG RENCANA AKSI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

LAMPIRAN I : PERATURAN BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN TENTANG RENCANA AKSI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR 7 2012, No.54 LAMPIRAN I : PERATURAN BADAN NASIONAL PENGELOLA PERBATASAN TENTANG RENCANA AKSI PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR KAWASAN PERBATASAN TAHUN 2012 NOMOR : 2 TAHUN 2012 TANGGAL : 6 JANUARI 2012 RENCANA

Lebih terperinci

ANALISIS PERKEMBANGAN INDUSTRI MIKRO DAN KECIL DI INDONESIA

ANALISIS PERKEMBANGAN INDUSTRI MIKRO DAN KECIL DI INDONESIA ANALISIS PERKEMBANGAN INDUSTRI MIKRO DAN KECIL DI INDONESIA Oleh : Azwar Harahap Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Riau ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui

Lebih terperinci

BAB II KEBIJAKAN DAN STRATEGI

BAB II KEBIJAKAN DAN STRATEGI BAB II KEBIJAKAN DAN STRATEGI Jawa Barat Bagian Utara memiliki banyak potensi baik dari aspek spasial maupun non-spasialnya. Beberapa potensi wilayah Jawa Barat bagian utara yang berhasil diidentifikasi

Lebih terperinci

KEMENTERIAN DALAM NEGERI

KEMENTERIAN DALAM NEGERI KEMENTERIAN DALAM NEGERI KEMENTERIAN DALAM NEGERI RI Jakarta 2011 Sasaran program K/L Kesesuaian lokus program dan kegiatan K/L & daerah Besaran anggaran program dan kegiatan K/L Sharing pendanaan daerah

Lebih terperinci

Antar Kerja Antar Daerah (AKAD)

Antar Kerja Antar Daerah (AKAD) Antar Kerja Antar Daerah (AKAD) Konsep Antar Kerja Antar Daerah (AKAD) merujuk pada mobilitas pekerja antar wilayah administrasi dengan syarat pekerja melakukan pulang pergi seminggu sekali atau sebulan

Lebih terperinci

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin

Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Banyuasin 2.1 Tujuan Penataan Ruang Tujuan penataan ruang wilayah kabupaten merupakan arahan perwujudan ruang wilayah kabupaten yang ingin dicapai pada masa yang akan datang (20 tahun). Dengan mempertimbangkan visi

Lebih terperinci

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014

Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Posisi Pertanian yang Tetap Strategis Masa Kini dan Masa Depan Jumat, 22 Agustus 2014 Sektor pertanian sampai sekarang masih tetap memegang peran penting dan strategis dalam perekonomian nasional. Peran

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2015 BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 47/08/34/Th.XVII, 5 Agustus 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI DI YOGYAKARTA TRIWULAN II TAHUN 2015 EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN II 2015 MENGALAMI KONTRAKSI 0,09 PERSEN,

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN USAHA DAN INVESTASI SUBSEKTOR PETERNAKAN 1)

PENGEMBANGAN USAHA DAN INVESTASI SUBSEKTOR PETERNAKAN 1) PENGEMBANGAN USAHA DAN INVESTASI SUBSEKTOR PETERNAKAN 1) PENDAHULUAN Diawali dengan adanya krisis moneter yang melanda negara-negara Asia yang kemudian melanda Indonesia pada pertengahan Juli 1997, ternyata

Lebih terperinci

ANALISIS TINGKAT PERTUMBUHAN DAN DISPARITAS ANTAR DAERAH PADA ERA OTONOMI DAERAH. Adrian Sutawijaya Universitas Terbuka.

ANALISIS TINGKAT PERTUMBUHAN DAN DISPARITAS ANTAR DAERAH PADA ERA OTONOMI DAERAH. Adrian Sutawijaya Universitas Terbuka. 1 ANALISIS TINGKAT PERTUMBUHAN DAN DISPARITAS ANTAR DAERAH PADA ERA OTONOMI DAERAH Adrian Sutawijaya Universitas Terbuka adrian@ut.ac.id ABSTRAK Semenjak bergulirnya gelombang reformasi, otonomi daerah

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS BAB IV ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS Tahun 2010 Kabupaten Sintang sudah berusia lebih dari setengah abad. Pada usia ini, jika merujuk pada indikator Indeks Pembangunan Manusia (IPM), pertumbuhan ekonomi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keputusan politik pemberlakuan otonomi daerah yang dimulai sejak tanggal 1 Januari 2001, telah membawa implikasi yang luas dan serius. Otonomi daerah merupakan fenomena

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2012

LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2012 [Type text] LAMPIRAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2012 LAMPIRAN BUKU III: Matriks Arah Kebijakan DIPERBANYAK OLEH : KEMENTERIAN PERENCANAAN

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG TAHUN 2015 BPS PROVINSI LAMPUNG No. 05/02/Th.XVII, 5 Februari 2016 PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG TAHUN 2015 EKONOMI LAMPUNG TAHUN 2015 TUMBUH 5,13 PERSEN MENGUAT DIBANDINGKAN TAHUN SEBELUMNYA Perekonomian Lampung tahun

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA KELOMPOK I KEBIJAKAN PENGEMBANGAN INDUSTRI AGRO DAN KIMIA TOPIK : PENINGKATAN DAYA SAING INDUSTRI AGRO DAN KIMIA MELALUI PENDEKATAN KLASTER KELOMPOK INDUSTRI HASIL HUTAN DAN PERKEBUNAN, KIMIA HULU DAN

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Kerangka ekonomi makro dan kebijakan keuangan daerah yang dimuat dalam Rencana Kerja Pemerintah

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2015 BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 65/11/34/Th.XVII, 5 November PERTUMBUHAN EKONOMI D.I. YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN III TUMBUH SEBESAR 5,57 PERSEN, LEBIH TINGGI

Lebih terperinci

Pekerjaan Umum. B u k u I n d u k KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM. bis-pu 2011

Pekerjaan Umum. B u k u I n d u k KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM. bis-pu 2011 Buku Induk Statistik Pekerjaan Umum 2011 PEKERJAAN UMUM B u k u I n d u k STATISTIK Pekerjaan Umum http://www.pu.go.id Pusat Pengolahan Data (PUSDATA) Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia Jl.

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2009

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2009 BADAN PUSAT STATISTIK BADAN PUSAT STATISTIK No. 43/07/Th. XII, 1 Juli 2009 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2009 Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada di bawah Garis Kemiskinan di Indonesia

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2008

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2008 BADAN PUSAT STATISTIK No. 37/07/Th. XI, 1 Juli 2008 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA MARET 2008 Jumlah penduduk miskin (penduduk yang berada dibawah Garis Kemiskinan) di Indonesia pada bulan Maret 2008 sebesar

Lebih terperinci

BAB I ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN WILAYAH TAHUN

BAB I ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN WILAYAH TAHUN BAB I ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN WILAYAH TAHUN 2010-2014 1.1 Pendahuluan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 merupakan tahap pembangunan jangka menengah kedua dari RPJPN 2005-2025

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG TRIWULAN I TAHUN 2014

PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG TRIWULAN I TAHUN 2014 BPS PROVINSI LAMPUNG No.06/05/18/Th.XIV, 5 Mei 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI LAMPUNG TRIWULAN I TAHUN 2014 EKONOMI LAMPUNG TUMBUH 5,28 PERSEN Dalam menyusun rencana pembangunan ekonomi dibutuhkan informasi

Lebih terperinci

INDEKS TENDENSI KONSUMEN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2014 SEBESAR 118,18

INDEKS TENDENSI KONSUMEN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN 2014 SEBESAR 118,18 + BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 28/05/34/Th.XVI, 5 Mei INDEKS TENDENSI KONSUMEN DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN I TAHUN SEBESAR 118,18 A. Penjelasan Umum Indeks Tendensi Konsumen (ITK) adalah indikator

Lebih terperinci

BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN. roses pembangunan pada dasarnya merupakan proses yang berkesinambungan,

BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN. roses pembangunan pada dasarnya merupakan proses yang berkesinambungan, BAB X PEDOMAN TRANSISI DAN KAIDAH PELAKSANAAN 10.1. Program Transisii P roses pembangunan pada dasarnya merupakan proses yang berkesinambungan, berlangsung secara terus menerus. RPJMD Kabupaten Kotabaru

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

BUKU INFORMASI STATISTIK

BUKU INFORMASI STATISTIK BIS PU 2013 BUKU INFORMASI STATISTIK PEKERJAAN UMUM 2013 KATA PENGANTAR Penyediaan dan penyebarluasan data dan informasi statistik infrastruktur pekerjaan umum dalam berbagai bentuk penyajian dalam rangka

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan sektor perikanan merupakan bagian dari pembangunan perekonomian nasional yang selama ini mengalami pasang surut pada saat tertentu sektor perikanan merupakan

Lebih terperinci

PROFIL PEMBANGUNAN BANGKA BELITUNG

PROFIL PEMBANGUNAN BANGKA BELITUNG 1 PROFIL PEMBANGUNAN BANGKA BELITUNG A. GEOGRAFIS DAN ADMINISTRASI WILAYAH Provinsi Kepulauan Belitung terletak pada 104 50 sampai 109 30 Bujur Timur dan 0 50 sampai 4 10 Lintang Selatan, dengan batas-batas

Lebih terperinci

REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005

REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005 BOKS REKOMENDASI SEMINAR STRATEGI DAN TANTANGAN PEMBANGUNAN EKONOMI JANGKA MENENGAH PROVINSI JAMBI 22 DESEMBER 2005 I. PENDAHULUAN Dinamika daerah yang semakin kompleks tercermin dari adanya perubahan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KAWASAN TIMUR INDONESIA

KEBIJAKAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KAWASAN TIMUR INDONESIA REPUBLIK INDONESIA MATERI PEMAPARAN KEBIJAKAN DAN PROGRAM PEMBANGUNAN KEMENTERIAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN KAWASAN TIMUR INDONESIA PADA RAKORBANGPUS 16 SEPTEMBER 2002 KEMENTERIAN PERCEPATAN PEMBANGUNAN KAWASAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jenis Bencana Jumlah Kejadian Jumlah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jenis Bencana Jumlah Kejadian Jumlah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Bencana banjir berdasarkan data perbandingan jumlah kejadian bencana di Indonesia sejak tahun 1815 2013 yang dipublikasikan oleh Badan Nasional Penanggulangan

Lebih terperinci

V. DESKRIPSI PERKEMBANGAN MIGRASI, PASAR KERJA DAN PEREKONOMIAN INDONESIA. penting untuk diteliti secara khusus karena adanya kepadatan dan distribusi

V. DESKRIPSI PERKEMBANGAN MIGRASI, PASAR KERJA DAN PEREKONOMIAN INDONESIA. penting untuk diteliti secara khusus karena adanya kepadatan dan distribusi 131 V. DESKRIPSI PERKEMBANGAN MIGRASI, PASAR KERJA DAN PEREKONOMIAN INDONESIA 5.1. Migrasi Internal Migrasi merupakan salah satu faktor dari tiga faktor dasar yang mempengaruhi pertumbuhan penduduk. Peninjauan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2014 SEBESAR 4,24 PERSEN

PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2014 SEBESAR 4,24 PERSEN BPS PROVINSI D.I. YOGYAKARTA No. 64/11/34/Th.XVI, 5 November 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA TRIWULAN III TAHUN 2014 SEBESAR 4,24 PERSEN 1. LAJU PERTUMBUHAN EKONOMI TRIWULAN III TAHUN

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2015

RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2015 RENCANA KERJA PEMERINTAH TAHUN 2015 BUKU III RENCANA PEMBANGUNAN BERDIMENSI KEWILAYAHAN KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (BAPPENAS) 2014 DAFTAR ISI BAB

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masalah pembangunan ekonomi bukanlah persoalan baru dalam

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Masalah pembangunan ekonomi bukanlah persoalan baru dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah pembangunan ekonomi bukanlah persoalan baru dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan ekonomi merupakan bagian dari pembangunan nasional yang

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA

PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA BADAN PUSAT STATISTIK No. 16/02/Th. XVII, 5 Februari 2014 PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA PERTUMBUHAN PDB TAHUN 2013 MENCAPAI 5,78 PERSEN Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tahun 2013 tumbuh sebesar 5,78

Lebih terperinci

RUMUSAN RAPAT KOORDINASI PANGAN TERPADU SE KALTIM TAHUN 2015

RUMUSAN RAPAT KOORDINASI PANGAN TERPADU SE KALTIM TAHUN 2015 RUMUSAN RAPAT KOORDINASI PANGAN TERPADU SE KALTIM TAHUN 2015 Pada Kamis dan Jumat, Tanggal Lima dan Enam Bulan Maret Tahun Dua Ribu Lima Belas bertempat di Samarinda, telah diselenggarakan Rapat Koordinasi

Lebih terperinci

Transformasi Desa Indonesia

Transformasi Desa Indonesia Transformasi Desa Indonesia 2003-2025 Dr. Ivanovich Agusta iagusta1970@gmail.com Relevansi Transformasi dari Pemerintah Sumber Penerimaan Total Penerimaan (Rp x 1.000) Persentase PAD 3.210.863 18,13 Bantuan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP)

PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) No. 08/02/15/Th.IV, 1 Februari 2010 PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI (NTP) DESEMBER 2009 NILAI TUKAR PETANI PROVINSI JAMBI SEBESAR 94,82 Pada bulan Desember 2009, NTP Provinsi Jambi untuk masing-masing

Lebih terperinci

Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia

Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perkembangan Indikator Makro Usaha Kecil Menengah di Indonesia Perekonomian Indonesia tahun 2004 yang diciptakan UKM berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp

Lebih terperinci

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB III RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 3.1. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah Kerangka ekonomi makro dan kebijakan keuangan daerah yang dimuat dalam rencana kerja Pemerintah

Lebih terperinci

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2011

PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2011 BADAN PUSAT STATISTIK No. 06/01/Th. XV, 2 Januari 2012 PROFIL KEMISKINAN DI INDONESIA SEPTEMBER 2011 JUMLAH PENDUDUK MISKIN SEPTEMBER 2011 MENCAPAI 29,89 JUTA ORANG Jumlah penduduk miskin (penduduk dengan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN LOKASI PROGRAM PERBAIKAN IRIGASI BERDASARKAN PELUANG PENINGKATAN INDEKS PERTANAMAN (IP) 1

KEBIJAKAN LOKASI PROGRAM PERBAIKAN IRIGASI BERDASARKAN PELUANG PENINGKATAN INDEKS PERTANAMAN (IP) 1 KEBIJAKAN LOKASI PROGRAM PERBAIKAN IRIGASI BERDASARKAN PELUANG PENINGKATAN INDEKS PERTANAMAN (IP) 1 Sudi Mardianto, Ketut Kariyasa, dan Mohamad Maulana Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan pembangunan. Pembangunan pada dasarnya adalah suatu proses

BAB I PENDAHULUAN. membutuhkan pembangunan. Pembangunan pada dasarnya adalah suatu proses BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat di suatu negara maka membutuhkan pembangunan. Pembangunan pada dasarnya adalah suatu proses untuk melakukan

Lebih terperinci

CAPAIAN PERTUMBUHAN EKONOMI BERKUALITAS DI INDONESIA. Abstrak

CAPAIAN PERTUMBUHAN EKONOMI BERKUALITAS DI INDONESIA. Abstrak CAPAIAN PERTUMBUHAN EKONOMI BERKUALITAS DI INDONESIA Abstrak yang berkualitas adalah pertumbuhan yang menciptakan pemerataan pendapatan,pengentasan kemiskinan dan membuka kesempatan kerja yang luas. Di

Lebih terperinci

RILIS HASIL AWAL PSPK2011

RILIS HASIL AWAL PSPK2011 RILIS HASIL AWAL PSPK2011 Kementerian Pertanian Badan Pusat Statistik Berdasarkan hasil Pendataan Sapi Potong, Sapi Perah, dan Kerbau (PSPK) 2011 yang dilaksanakan serentak di seluruh Indonesia mulai 1-30

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TRIWULAN I TAHUN 2015

PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TRIWULAN I TAHUN 2015 No. 34/05/19/Th.IX, 5 Mei 2015 PERTUMBUHAN EKONOMI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TRIWULAN I TAHUN 2015 EKONOMI KEPULAUAN BANGKA BELITUNG TRIWULAN I-2015 TUMBUH 4,10 PERSEN MELAMBAT DIBANDING TRIWULAN I- Perekonomian

Lebih terperinci

MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH PAPUA

MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH PAPUA MATRIKS ARAH KEBIJAKAN WILAYAH PAPUA Provinsi Papua PRIORITAS NASIONAL MATRIKS ARAH KEBIJAKAN BUKU III RKP 2012 WILAYAH PAPUA 1 Pendidikan Peningkatan akses pendidikan dan keterampilan kerja serta pengembangan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20

PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20 No. 10/02/63/Th XIV, 7 Februari 2011 PERTUMBUHAN EKONOMI KALIMANTAN SELATAN TAHUN 20 010 Perekonomian Kalimantan Selatan tahun 2010 tumbuh sebesar 5,58 persen, dengan n pertumbuhan tertinggi di sektor

Lebih terperinci