Analisis Biaya Dan Pengeluaran Untuk Pendidikan

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Analisis Biaya Dan Pengeluaran Untuk Pendidikan"

Transkripsi

1 International Institute for Educational Planning IO Analisis Biaya Dan Pengeluaran Untuk Pendidikan J. Hallak

2 Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan 10 -\>^59

3 Judul dan nomor urut dalam seri ini adalah : 1. Лрака Perencanaan Pendidikan liu? Philip H. Coombs.-ji.-..,.,,, ' j 2. Hubungan Rencana Pendidikan dengan Rencana Ekonomi dan Sosial R. Poignant 3. Perencanaan Pendidikan dan Sumber Daya Manusia F. Harbison 4. Perencanaan dan Administrator Pendidikan CE. Beeby 5. Kontéks Sosial Perencanaan Pendidikan CA. Anderson 6. Biaya Rencana Pendidikan J. Vaisey, J.D. Chesswas 7. Masalah Pendidikan di Daerah Pedesaan V.L. Griffiths 8. Perencanaan Pendidikan : Peranan Penasihat Adam Gurle 9. Aspek-aspek Demografis pada Perencanaan Pendidikan Ta NgOC Châu 10. Analisis Biaya dan pengeluaran untuk Pendidikan J. HalIak U. Identitas Profesional Perencana Pendidikan Adam Curle 12. KondL untuk Keberhasilan Perencanaan Pendidikan G.C. Ruscoe 13. Anal^is Biaya dan Manfaat pada Perencanaan Pendidikan Maureen Woodhall 14. Rencana Pendidikan dan Pemuda tanpa Pekerjaan Arehibald Callaway 15. Politik Perencanaan Pendidikan di Negara Berkembang CD. RowIey 16. Perencanaan Pendidikan untuk Masyarakat Majemuk Chai Hon-Chan 17. Perencanaan Kurikulum Sekolah Dasar di Negara Berkembang H.W.R. Hawes 18. Belajar di Luar Negeri dan Perkembangan Pendidikan William D. Carter 19. Perencanaan Pendidikan yang Realistik K.R. McKinnon 20. Perencanaan Pendidikan dalam Hubungan dengan Pembangunan Daerah Pedesaan G.M. Coverdale Iľ

4 21. Pilihan dan Keputusan dalam Perencanaan Pendidikan John D. Montgomery 22. Merencanakan КитікиІит Sekolah Arieh Lewy 23. Faktor Biaya dalam Perencanaan Teknologi Pendidikan yang Bersistem Đean T. Jamison 24. Ретепсапа dan Pendidikan Seumur Hidup Pierre Furter 25. Pendidikan dan Lapangan Kerja : Sebuah Penilaian yang Kritis Martin Carnoy 26. Merencanakan Kebutuhan akan Tenaga Pengajar dan Penyediaannya Peter William 27. Perencanaan Pemeliharaan Anak-anak pada Usia Dini dan Pendidikan di Negara Berkembang Alastair Heron 28. Media Komunikasi di Bidang Pendidikan uniuk Negara Berpenghasŭan Rendah : Imþlikasi untuk Perencanaan Emile G. McAnany dan John K. Mayo 29. Perencanaan Pendidikan Non-Formal David R. Evans Ul

5 HEP Documentation Centre

6 International Institute for Educational Planning ANALISIS BIAYA DAN PENGELUARAN UNTUK PENDIDIKAN oleh ' J. Hallak ι <'- > li О /!, Penerjemah ч. li:, drs. Harso 1985 PENERBIT BHRATARA KARYA AKSARA dan JAKARTA UNESCO : PARIS

7 ' : 1;:< > i:r:o'j.:,hid i i.ii;jt;j^l.,:;?. 'i-' yvĵ\a.} Z/.3/,UJ_i').>I9. -jn ЛҮАКІ ^t>t.tay/ ^лѵ.киа/:дѵ Т с analysis of educational cost and expenditure First published in 1969 by.the United Nations. I t!, Educational, Scientific and Cultural Organization 7, place de Fontenoy, Paris Unesco 1969 Indonesian translation published in 1983 This PT''Bhratara Karya Aksara Hak penerbitan edisi bahasa.indonesia 1985 pada 1 ri,ii,^ 11 PT Bhratara Karya Aksara Jakarta ť ^ " -^, t Î * ^ '>» ' /ţ' tàj'- Т к ' ' V { V^**4i^ ar., - ;:/ AJ, f.yj^'af t-:f5{i.a ЛЯ/'Î/ Я(Ш 'ППЯі> >^^ íĩ;, ) ení/л i):ja^ vi

8 DAFTAR ISI DASAR-DASAR PERENCANAAN PENDIDIKAN PENDAHULUAN KATA PENGANTAR Bagian Pertama KONSEP BIAYA: UMUM :.:..:.:..\! ;.....:.., ι 1. Konsep Віауа dalam Ilmu Ekonomi 1 2. Persoalan-persoalan yang Timbul Sehubungan dengan Sifat Khusus Bidang Pendidikan 2,.3. Komponen Biaya bagi Masyarakat 5 Bagian Kedua - '*" ANALISIS BIAYÁ...V.'.,.'"... '.. ' AnaUsis Menyeluruh 9,' ' 2. Analisis Terperinci 16 " '. ', '.- '. ' ;., t. ' T Bagian Ketiga ' ' ' ' METODE-METODE PENETAPAN BIAYA PENDIDIKAN 22 i, 1..Memperkirakan PengeIuaran atas Dasar Keterangan yang Diperoleh dari Sumber-sumber Pembiayaan Meraperkirakan Pengeluaran Berdasarkan Laporan.; J. Lembaga-lembäga Pendidikan 29,^.. '3. PemiIihan Unit-unit untuk Penetapan Biaya 31 i Bagian Keempat BIAYA DM.'PERENCANAAN. ; :;.-37 l.'proses Perencanaan: PoIa Sementara 37 ' ' - ; Proyeksi Biaya Unit 39 ". ' '3. Biaya Gaji: Contoh di Uganda Biaya Keseluruhan Rencana Perbandingan Terakhir 56 LAMPIRAN.;....;...:...:..:.v! :.., KEPUSTAKAAN YANG DISARANKAN..'.:..:. 66 vii viü х xiü

9 DASAR-DASAR PERENCANAAN PENDIDIKAN, - '... ' ).;,.l'- \, : -, ; ;- '. Rangkaian buku kecil ini tèrútama ditujukart kepada dua kelompok orang: pertama, merekayang bertugas atau sedang menyiapkan diri untuk itu dalam perencanaan dan administrasi pendidu:an, khususnya di negara-negara berkembang. Selanjutnya, ia ditujukan kepada mereka yang walau kurang mendalami bidang tersébut, mkalnya, pejabkt senior pemerintahatau pemimpin rakyat, namun menghendaki pengertian yang.lebih umum perihal perencanaan pendidikan, dan ingin mengetahui bagaimana perencanaan pendidikan dapat menunjang pembangunán' íiasional pada umunmya. Ia disusun baik untuk belajar sendiri maupun untukdimasukkan dalam suatu program lątihan formal. '' ' - ' í '. * ' ' '.. ' '. ^ / ' Konsepsi modeni mengenai perencanaan pendidikan banyak menarik perhątiari pářa spesiaüs di berbagai disipun ilmu, yang masing-masing berkecenderungíux' untuk memandang perencanaan pendidikán dari sudut 'pandangan masing-masing yang agak berbeda. Berkenaan dengan itu, tujuan beberapa buku kecii (daiam rangkaian ini) ialah memberi kesempatan kepada mereka (spesiaľs itu) untuk mengungkapkan sudut pandangan masing-masing. Di samping itu, juga untuk menjelaskan kepada para pria' dan wahità yang lebih muda yang sedang daiam latihan se'rtamenyiapkan'diri untuk kelak menggantikan mereka. -Dálam.pada itu, di bahk keanekaragaman itu terdapat suatu kesatuan yang makin bertumbuh. Para spesiaľs dan administrator di negaŕa-negara berkembang mulai dapat menerima prinsip-prinsip. dasar dan praktek-praktek tertentu, yang sedikit banyak berutang kepada berbagai disipľn ihnu yang sahng terp ah namun hasibiya sebagai suatu kesatuan merupakan sumbangah yang unik bagi pengetahuan. Sumbangan ini berasal dari sekelompok pelópor 'yáng secara bérsama harus mėngviii

10 atasi masalah-masalah kependidikan yang demikian sukar dan demikian mendesaknya, yang sampai sekarang belum pemah dialami dunia. Seperti juga buku kedl lainnya, dalam rangkćdan buku kecil ini pun ditunjukkan latar belakang pengalaman bersama tersebut, di samping secara ringkas mengemukakan gagasan dan pengalaman yang terbaik perihal aspek-aspek terpilih dari perencanaan pendidikan., Dengán mengingat latar belakang sidang pembaca yang sangat berbeda, maka kepada para pengarang diletakkan beban yang berat imtuk memperkenalkan subyek masing-masing mulai dari awal, di samping harus menjelaskan istilah-istilah teknis yang telah biasa bagi sebagian sidang pembaca namun masih asing bagiyang lain. DaJam pada itu, para pengarang tetap menaati standar ijnúah dan, dengan pengecualian dalam beberapa bidang spesiahsasi tertentu, denu para pembaca, pengarang berusaha melakukan penyederhanaan ' dalam penuusannya tanpa sedikit pun mengorbankan kadamya. Gara pendekatan ini mempunyai kfeuntungan bahwa dengan denukian rangkaian buku kecil ini dapat dicemakan oleh pembaca umum. - '.Sungguhpunrangkaian buku kecil ini di bawah репіикап Dr. CE. Beeby daii New Zealand Council for Educational,Research di Wellington selaku editor umum, direncanakan berdasarkan suatu póla tertentu, namun tidakdilakukan usaha untuk menghindari perbedaan,' bahkan pertentangan, di antara berbagai sudut' pandangan parapengarangnya. Dalam pandangan (Lembaga Intemasional untuk Perencanaan Pendidikan (International Institute for Educational Planning) adalah terlampau pagi (premature) bila sekarang juga menggariskan suatu doktrin resmł yang serba tegas serta jelas, dalam sebuah bidang pengetahuan dan praktek yang baru namun berkembang dengan"pesat seperti perencanaan pendidikan ini. Dengan demikian, walaupun pandangan para pe-' ngarang menjadi tanggung jawabmasing-masing, yang senantiasa tidak sama dengan pandangan Unesco atau, Lembaga, ia menjamin bahwa akan banyak menàrik perhatian di daiam pasaran gagasan (perencanáan pendidikan) internasional. Singkatnya, sekarang ішlah waktunya untuk mengadakan suatu usaha lintas sektorai dalam pandangan berbagai аыі, yang pengalćmian bersamanya mencakup demikian banyak disiplin ilmu dan sebagian besar negára di dunia. ' ix

11 PENDAHULUAN Makalâh ini meruþakan mākalah keđua dalam seri ini yang membahas pembiáyaan pendidikan. ' Digambarkan pentingnya pokok persoalan tersebut,'baik baġi perencanaan pendidikanmaupun bagi berbagai mácam-paridangan yang mungkin terjadi mengenai proses yang bagi orang awam relatif tidak bennasalah. Seri nomor 6 'Bíaya Rencana Pendidikan' yang dituhs'oleh J. Vaizeý dan J.D Chésswass bertujuan sangat pralítis. Bagian keduanya merupaikan suatu kisah nyata bagaimana suatu kementerian yang mampu dan berpengalaman di suatunegerí yang-sedang berkembang sebenarnya mèmperhitungkan rencananya. ßagian pertama merupakan suatü peţunjuk umųm mengenai peneràpannya: di situ John Vaizey sewáktü-waktu' menyinggung kompleksitas teoretis di bauk pene-, rapànnya.' Meskipun demikian,' dalam keterbatasan, esainya, yang siňgkat, ia*tidak menyimpang dari tujuan utamanya untuk mem bérikan kepada pelaksana yang sibuk di negara yang sedang ber-', kembang, setidak-tidaknya sejumlah-kecil teori yang perlu untuk pembiayaan perencanaan. Makalah ini mendekati pokok persoalannya dari sudut lain. Pertama karena tuusan ini ditulis oleh :orang Prancis, dan kedua, dituhs dari arah pandangan seorang ekonomyang ingin menjelaskan kesulitan apa saja yang, dihadapinya dalam menganahsis biaya pendidikan. Oleh karena itu penanganan Jacques Hallák kadang-kadang seolah-olah agak terlalu akademis bagi sang pelaksana dan tidak sesuai dengan kenyataan yang kejam dalam admilůstraši pelaksanaan dan perencanaan sehari-hari. Tetapi tujuannya benar-benar praktis; dengan menekankan kepada kompleksitas yang terdapat pada pemihhan cara dan pénafsiran hasil perhitungan, ia ingin agar orang di lapangan mengerti apa yang ia lakukan se-

12 telah memilih cara memecahkan persoalan pembiayaan. DengEmL demlkian para admirdstrator dan perencana akan*mengetahui keterbatasan^ yang dapat mereka andalkan dari hasilnya. Perbandingan biaya antara negara-negara yang berbeda mungkin akan sangat menyesatkan kecuau jika kita mengetahui akan metode yang dipergunakan dan akibatnya terhadap angka-angka akhimya., Administratordi lapangan akan menemukan sesuatu yang àkrab baginya páda suatu bagian makalah ini, bågian di mana sang penulis/membahas 'konfrontasi' yang merupakan langkah kehma dalam persiapan 'rencana yang digambarkan pada Gambar 2 (ha lainan 41). Pēngabaian "yang relatif sering diiakukan terhadap proses ini dalam berbagai buku mengenai perencanaan, telah mcmbuatnya samar-samar bagi administrator atau pohtikus yang duduk di belakang meja di kementerian pendidikan, yang dengan waswas menantikan pembantaian tahunan, pada waktu jurang antara rencananya dan jumlah biaya yang tersedia untuk tahun yang akan datang telah menjadi jeks, dan ia sendiri harus menentukan rencana mana yang harus dikorbankan. Dr. HaUak juga benar waktu menunjukkan bahwa dalam кепуаїаалпуа, konfrontasi ini bukan merupakan suatu kejadian puncak yang berdiri sendiri, tetapi lebih mérupakan suatu sikap mental yang mempengaruhi setiap tahapan dalam perencanaan dan secara perlahan-lahan membesar sampai suatu titik di mana keputusan yang menycűdtkan sudah tak tertangguhkan lagi. Pembahasannya yang singkat dan contoh-contoh praktis yang diberikannya, memberikan suatu pengenalan yang baik terhadap proses yang tidají rapi namun sangat penting dalam perencanaan. Keahlian menulk dari Jacques HaUaIi mengenai pembiayaan tidak saja berdasarkan pengalaman praktisnya tetapi juga atas persiapan teoretisnya. Ia seorang mahasiswa di Institut de Statistiques Université de Paris, juga di Centre d'etudes des programmes économiques dan mencapai geiar Doktor Екопопшіуа di Paris. Selama hma tahun ia menjadi Charge de Mission pada Direction du Tresor au Service des etudes économiques et financières dan mengambü bagian dalam persiapan perencanaan Prancis, Sebagai anggota luar biasa HEP ia telah menjadi penuhs bersama monograf penehtian mengenai Afrika, dan pada saat ini terubat dalam penelitian berbagai macam metode pemanfaatan anahsis biaya untuk mengajukan keputusan dalam pendidikan, perencanaan, dan pendayagunaan. xi

13 Ia tdah memanfaatkan banyak peneutian di Instítut untuk contohcontoh praktis dalam mabalah,ini. Makalah ini merupakan suatu pelengkap yang berharga bagi beberapa penerbitan dalam seri ini. Mereka yang baru membaca pokok persoalan ini dianjurkan untuk membaca dahulu Biaya Rencana Pendidikan. Dr. HaUak memberikan cukup petunjuk untúk memungkinkan pembaca meuhat hubungan antc a esainya dengan tulisan yang terdahulu, dan ia juga menunjuk kepada nomor. 2 dalam seri ini, karangan Raymond Poignant, Hubungan Reñcana Pendidikan dengan Rencana Ekonomi dan Sosial, yanġ meninjau lapanġan pembiayaan pendidikan yang luas dari sudut yang Iain lagi. CE. Beeby Editor Umum XlI

14 KATA PENGANTAR Perencanaan pendidikan ialah suatu aktìvitas yang menuntut pcmanfaatan berbagai macam keterampiian. Diperlukan keahlian para pejabat admůiistratif, ahü pendidikan dan pendidikan di lapangan, para ekonom, sosiolog dan а И statistik dan banyak lagi а И-аЫі lainnya. Nilai, fisibihtas dan кеьег азіігш akhir suatu rencana pendidikan sangat tergantung kepada jiwa kesatuan tim yang ditunjukkan para perencana. Pada waktu diadakan diskusi tim, gagasan-gagasan dapat didukung atau dipertanyakan, kesimpulan dapat diterima atau ditolak, hanya jika sang ekonom mengerti akan baűiasa sang ahu pendidik, dan sang adnunistrator dapat mengikuti jalan pemikiran sang ekonom. Dalam jiwa semacam inilah makalah ini dituhs. Tujuan utamanya ialah menjelaskan penrdkiran utama yang mendasari metode pcrhitungan biaya dan anausis serta teknik proyeksinya yang dipergunakan ahh pembiayaan yang bertanggung jawab atas perkiraan pengeluaran dan sumber-sumber pemasukan. Bagian pertama terutama membabas konsep biaya. Definisi biaya seperti yang dipergunakan dalam ilmu ekonomi dibahas dengan singkat, setelah itu kasus khusus pendidikan ditinjau, menuju kepada pengantar, penjelasan dan diskusi gagasan biaya teihadap masyarakat. Dalam hubungan ini dibedakan beberapa hal. Terutama antara biaya keuangan dan biaya altematif. Bagian kedua membahas ретьіауагт sebagai alat anausis ekonomi dan memba:yangkan jawaban atas berbagai macam pertanyaan, seperti umpamanya bagaimana menilai biaya keseluruhan pendidikan, bagaimana pembagian yang paung baik bagi komponen biaya, dan apakah yang menjacü variabel yang menyebabkan gejala biaya? XlU

15 Bagìan ketiga membahas metode menetapkan biaya keselurahan dan biaya unit (unit cost), mula-mula dari data yang diperoleh dari sumber-sumber pembiayaan, dan kedua dari laporam lembaga pendidikan. Keuntungari dan kerugian berbagai macam biaya unit juga dibandingkan. Sebagai penutup dalam bagian keempat, teknik proyeksi biaya diperkenalkan dan digambarkan dengan angka-angka. Dalam hubungan ini telah diperkirakan gunanya menyinggung tingkatan utama dalam pereiapan rencana, agar dengan denukian terlhaţ hubungan antara pendekatan teori dan kenyataan yang sesungguhnya, di mana seringkali hanya dapat diperkirakan. Dua makalah, seri nomor 2 dan 6 yang telah diterbitkím, séring dbebut-sebut dalam tuusan ini dan dianjurkan untuk bacaan tambahan./keduanya membahas beberapa 'pokok secara lebih Дефегіпсі daripada yang mungkin dilakukan di sini, dan adk pula yang digarap secara lain.!-j XlV

16 BAGIAN PERTAMA KONSEP BIAYA: UMUM 1. Konsep Вгауа dalam Ilmu Ekonomi Sebelum mendefinisikan pengertian biaya dalam pendidikan, sebai]<nya kita tínjau dahulu arti biaya dalam ilmu ekonomi. Secara umum, konsep biaya itu mulai berlaku dalam produksi barang atau jasa. Haruslah diingat bahwa (a) biaya dapat dikemukakan dalam bentuk uang atau bentuk moneter lainnya (b) biaya mempengaruhi transaksi ekonomi yangkhusus: produsen, penjual, pembeh, konsumen, dan sebagainya. Jadi, jika seorang pemilik faktor produksi menyerahkan faktor tersebut kepada seorang produsen, maka biaya bagi si penuľk akan berupa, 'hilangnya pemakaian' (consumption forgone), sedangkan si produsen memperoleh biaya yang tepat dan dapat terukur, terdiri dari upah, bunga, ongkos-ongkos dan sebagainya. Beberapa ahli ekonomi sangat membedakan antara 'biaya yang sebenamya' dan 'pengeluaran produksi langsung'.' Marshall umpamanya, membedakan antara biaya yang sebenamya yang berhubungan dengan usaha dan pengorbanan yang diperlukan untijc memproduksi benda-benda atau jasa-jasa, dan pengeluaran yang terdiri dari pembayaran kepada para pemilik faktor produksi di pihak lainnya. Dengan kata lain, biaya yang sebenamya harus cocok dengan biaya alternatif; diperkirakan bahwa sepanjang kehidupan ekonomi suatu barang selalu ada pihhan alternatif. Biaya pilihan yang ma- 1

17 na pun haxus diungkapkan atas syarat-syarat 'hilangnya kesempatan' (opportunity forgone) ketika mencapai alternatif itu. Biaya dalam pengertian uang, bagi si konsumen barang atau jasa dianggap mewakiu suatu padanan tertentu dalam syarat-syarat finansial, dengan biaya yang sebenamya bagi si penjual. Karena adanya 'rantai' transaktor ekonomi yang dimulai dengan si ретішс atau produsen pertama, dan beralthir dengan si, konsumen terakhir; logika ekonomi dan hukum tingkah laku menetapkan bahwa biaya bagi transaktor di bagian atas sama atau lebih rendah bagi biaya transaktor di bagian bawah. Sebagai contoh, biaya suatu produksi makanan bagi konsumen terakhir (harga eceran) lebih tinggi daripada biaya bagi si penjual (harga grosir tambah ongkos) yang pada gilirannya lebih tinggi daripada biaya bagi grosir (harga pembeliannya tambah ongkos-ongkos) ; demikian pula, biaya si grosir lebih tinggi daripada biaya produsen, dan seterusnya. 2. Persoalan-persoalan 'yang Timbul Sehubungari dengan Sifat Khusus Bidang Pendidikan ' ' Bidang pendidikan sebagai produsen jasa 'pendidikan', sama halnya dengan bidang-bidang aktivitas laińnya, secara teoretis menimbulkan konsep biaya yang sama. Tetapi, pengamatan yang lebih cermat terhadap penerapan konsep biaya terhadap pendidikán mengungkapkan adanya 3 bentuk kesuhtan yang melekat pada sifat aktívitas pendidikan itu sendiri dan tcrutama timbul dari: (a) defirűsi produksi 'pendidikan; (b) identifikasi tránsaktor ekonomi yang berhubungan'dengan pendidikan; (c) kényataan bahwa pendidikan mempunyai sifat-sifat pelayánan 'umum.. a. Produkń pendidikan Secara analogi dengan bidang-bidang aktivitás lainnya, dapat diťerima bahwa aktivitas pèndidikan terdiri dari pelayánan yang dapát ditegaskan secara eksplisit dengan mentinjuk pada tujuan sistem pendidikan. Umpamanya, salah satu hasil pendidikan dapat berupa pelestarian dan perluasan jumlah pengetahuan mam:isia; hasil laiimya diukur dengan penciptaan dan pengembangan suatu kebudayaan; lainnya lagi dapat diukur dengćm perluaśan cadangan sumbėr-sumber manusia. Demi penyederhanaan, kita-membatasi diri pada pandangan bahwa produksi pendidikan terdiri dari mengauhkan atau memastikan asimilasi suatu rangka pendidikan, ting-

18 kah laku tertentu, dan sebagainya. ' Dalam hal pertama, produksi pendidikan terutama diukur dengan jumlah pendaftaran dan pada yang kedua dengan jumlah yang bcrhasil, atau hasil skoiastiknya. Dua definisi yang berbeda ini menyatakan secara tidak langsung dua pengukuran kuantitas pendidikan yang dihasilkćui oleh sistem yang sama. Bertentangan dengan apa yang terjadi pada setiap transaksiyang berhubungan dengan barang-barang atau jasa, jumlah pendidikan yang disediakan atau 'dijuaľ oleh sang produsen tidak sama dengan jumlah yang diterima atau 'dibeli' oleh sáng konsumen. Karena itu dalàm memperkirakan keseluruhan. atau satuan biaya (unit ost), perlu dijelaskan apakah yang dimaksudkan itu biaya produsen atau biaya konsumen meskipun ini berarti seolah-olah dapat ditarik suatu perbedaan yang tegas antara sang produsen dan konsumen pendidikan. b. Transaktor ekonomi yang berhubungan dengan pendidikan Para produsen mungkin saja terdiri dari lembaga pendidikan, sang pendidik, pejabat pemerintah (departemen pendidikan), badan swasta (dalam hal pendidikan swasta), keluarga-keluarga (yang membàntu mendidik anak-anak di rumah), atau badan pendidikan 'nonformal lainnya. Para konsumen ialah anak didik dan keluarga 'yang boleh dikatakan 'membeh' pendidikan bagi anak-anaknyá. Kitä dapat mengatakan adanya: (a) biaya bagi badan-badan yang memproduksi pendidikan, terutama lembaga pendidikan dan pejabat administratifdan super/isi; (b) biayabagi konsun>en pendidikan, terutama keluarga-keluarga., Biaya bagi keluarga ialah uang sekolah dan banyaknya pajak yang dibayar. Mungkin perlu dipertanyakan apakah biaya alternatif juga harus diperhitungkan. Biaya alternatifnya ialah 'penghasilan yang hüang'. bagi keluargarkeluarga itu sebaġai akibat menyekolahkan anak-anak mereka dan bukannya mënyuruh mereka be- 1 Definisi ini menyederhanakan gagasan-gagasan pendidikan sedemikian rupa, sehingga dari satu segi, hal itu dapat menimbulkan salah penafsiran. Para ahli pendidikan, umpamanya,' mungkin menentangnya dan mengemukakan bahwa pendidikan itu tidak diteruskan oleh 'para pendidik, yang hanya menciptakan (atau harus menciptakan) kondisi yang diperlukan agar anak didik dapat dididik. Ini jelas merupakan persoalan terminologi. Konsep sang pengarang mengtenai produksi pendidikan yang sangat disede'rhanakán, hanya ingin menggarisbawahi salah satu kesulitan yang secara timbul setelah orang mencoba mengkalkulasikan biaya pendidikan. Analisis Biaya Pengeluaran/DPP-10 (2)

19 ]cerja. Kita akan kembali lagi kepada' persoalan ini kemudian, sckaratig ini cukup diingat bahwa hal tersebut menimbulkaii persoalan pada beberapa keluarga dengan penghasiian rendah, 'penghasilan yang hilang' ini merupakan falctor penyebab 'kemubaziran sckolah'. Biaya untuk lembaga, atau lebih umum bagi pejabat-pejabat pendidikan, sesuai dengan anggaran badan tersebut; gaji, ongkos ongkos pemeľharaan dan. perbaikan, perlengkapan, penyusutan, dan sebagainya. Di sini pun terdapat biaya alternatif dan akan 'dibahas lebih lanjut kemudian. Sekárkng kita hanya melihat pengeluaran uangnya saja. _i ; C. Pendidikan sebagai pelayananumum Pada skala ekonomi mikro, pada tingkatan keluarga atau satu lembaga pendidikan khususnya, tidak ada hubungan yang dekat antara biaya bagi produsen lembaga pendidikan dan biaya bagi konsumen, yaitu keluarga. Pertama-tama karena lembaga pendidikan secara umum tidak langsung menanggung seluruh biaya pendidikan karena paraguru seringdibayar langsung oleh_pemerintah pusat. Këdua, dalam sistcm' pendidikari bebas, biaya langsung bagi keluarga hanya kecil atau tidak ada sama sekali. Biaya tak langsungnya, yaitu pembiayaan melalui pajak, tidak terlalu tergantung pada persoalan apakah keluarga itu merupakan 'konsumen' pendidikan dibandingkan dcngan faktor-faktor lain,umpamanya pendapatan keluarga itu.' Kesulitan dalam tahap- ekonomi mikro itu dapat diterangkan dengan kenyataan bahwa aktiyitas pendidikan itu bersifat pelayanan umum. Oleh karena itu, lebih baik mempérlakukan para keluarga scbagai kcsatuan, dan menganggap para pejabat pendidikan sebagai transaktor tunggal. Sejauh anggaran para pejabat pendidikan.itu tcrutama dibiayai oleh para keluarga^ (pajak dan uang sekolah), ada persamaan yang luas antara biaya bagi sang produsen dan konsumen pendidikan. Tentu saja hal ini tidak sesuai dengan biaya yang sebenarnya; biaya alternatif bagi para keluarga dapat dikatakan tidak tergantung pada biaya alternatif bagi pejábat pendidikan. 2 Dengan sumbangan darl daiam dan luar negeri. 4

20 .Oleh karena itu, kita sampai pada analisis terakhir, kebijaksanaan untuk menegaskan suatu transaktor ekonomi yanġ khusus: 'masyarakat nasional'.biayapendidikan berarti:-'biaya bagi masyarákat atas pcrkembańg'an. dan bcrlakunya sistem pendidikan'. Produsen, penjual dan konsumen pendidikan, dengan demikian berbaur menjadi satu transaktor ekononu yang sama. Konsep' biaya ini berarti bahwa seluruh usaha yang dicurahkan masyareűcat terhadap pendidikan, baik yang berupa moneter maupun tidak, harus diinventarisasikan dan dikonsolidasikan. 3. Komponen Biaya bagi Masyarakat > " '.'..'. - '....., " 1 '.., '. *. ;. } : ' ' >.' ;: " Persamaan yang berikut ini adalah hasil dari definisi biaya bagi masyarakat:,..,,,.,;.,... '. ßiaya pendidikan = pengeluaranuntuk pendidikari umum dan perorangan (denganmenghindar- ' kan adanya rangkápan) '' ' 4- ' biaya alternatif ŷarig tidak meríyebabkan adanya*pengeluaran.. ;, CobaJah kitajuraikan lebih terperinci komponeh biaya bagi masyarakat.,untuk menjeiaskan,'dalam Gambar l.(hlm. 7).saya tunjukkan anis moneter yang utama antara transaktor 'ekonomi yang berhubųngan dengan pendidikan. TentU'Sajadinegara-negarą tertentu aīrus tersebut harus dihilangkan atau ditambahkari padą gambar itu. yang masih merupakan gambarah yang sangat skematik. Umpamanya di negara yang sedang berkembáng jarang sekali didapatkan adanya arus daha untuk negara. asing, ' kecuah dalam hubungan bantuan kepada'negara yang sedang berkembáng lainnya; bagaimanapun juga, arus (a) akan jauh lebih besar daripada arus (b), sedangkan pada negara industri yang memberikan bantuanarus(b)'akanlebihbesar... -C ' ' :' Dapat ditarik'suatu garisperbédaan'tegasemtara: (a) biaya uäng dari sumber nasional; (b) keseluruhan biaya uang'; (c) biaya terhadap masyarakat nasional; (d)' biaya keseluruhan.,,.^ ' ' i r t Biaya dalam bentuk uang агхі sumber nasional menggambarkari arus langsung ke lembaga-lembaġà pendidikan Negará i, pejabat setempat k, keluarga-keluarga j dan bahan-bahan swasta /; jumlah ini harus disesűaikan untuķ arus'dari luar negeri [(a b) + I

21 d + f + ]. Penyesuaian ini hampir tidak perlu bagi kcpentingan memperkirakan jumlah dalam bentuk uang pendidikan. itu; setelah mengkalkulasikan biaya terhadap sumber nasional cukuplah menambahkan jumlah bersih bantuan dari luar. Ɗalam merighitung,jumiah biaya sebenarnya, disarankan untuk menambahkan kepada pengeluaran sebenarnya biaya altematif untuk transaktor domestik dan asing... ' ' Biaya alternatif di sini,menggambarkan ongkos-ongkos yang sebenarnya sebagai hasil dijalankannya sistem pendidikan yang tidak menyebabkan pengeluaran yang aktual. Sebagaicontoh, bagian daripada kesatuan sekolah ýang dimuiki negara tidak ada harganya sama sekali; biaya dalam bentuk uang adalah nihil. Padahal gedung-gedung tersebut dapat disewakan untuk maksud lain dan biaya alternatif yang sesungguhnya secara teoretis harus mencakup dugaan biaya penyewaan yang akan diperoleh negara jika mengambil alternatif yang lain. Bantuan dari luar juga merupakan contoh yang.perlu dikemukakan. Ada biaya alternatif untuk pendidikan yang timbul,dari penetapan keseluruhan bantuan untuk tujuan lainnya seperti pengangkutan, jalan atau rumah sakit, dan sebágainya. Pembebasan pajak yang diberikan kepada lembagalembaga pendidikan, atau pembebasan bea masuk untuk barangbarang tertentu, juga menunjukkan perlunya menaftibahkan biayabiaya altematif pada pengeluaran dalam memperhitungkan biaya keseluruhan. Dalam kenyataannya hal itu menjadi 'pemasukan yang hilang' bagi pejabat pemerintah atau bantuan pemerintah yang terselubung bagi pendidikan yang dapat menguntungkan pe-. makai lainnya. Satu contoh lagi perlu dikemukakan, yaitu "pemasukan yang hilang' darí anak didik; penduduk sekolah,yang jika dipekerjakan pada produksi nasional, akan menghàsilkàn pendapateui. Dalam memperkirakan biaya altematif secara teoretis harus diperhitungkan hilangnya pendapatan ýang disebabkan karena ditariknya darikalangan pekerja sebagian penduduk untuk sekolah. Tetapi,' tidak semua ahli ekondmi pendidikan menerima dimasukkannya biaya altematif demikian itu dalam perkiraan biaya pendidikan. Tetapi, perlu diingat kembali hal-hal sebagai berikut. 1. Dalam ilmu ekonomi, biaya yang sebenarnya, termasuk biaya ' altematif terpisah secara nyata dari biaya berupa uang, dalam pengertian bahwa hal itu dipandang sebagai biayá yang diis-

22 tilahkari''gagal untuk mencapai' alternatif terbaik danbukan pengeluaran yangsebenarnya dari konsumen barang-barang atau jasa-jasa itu Pada sektor pendidikan dianggap lebih rasional untuk hanya mempertinibangkan biaya terhadap keseluruhan masyarakat, dan bukan biaya bagi transaktor yang khusus, seperti halnya keluarga-keluarga. NEGARA t :& ό'φ еф Dalam pengertian ini, apa yang benar dari sudut pandangan perorangan atau rumah tangga belum tentu berlaku pada tingkatan seluruh masyarakat. Sebagai contoh, dalam mempcrkirakan kese- KELUARGA- KELUARGA - РЕJАВЛТ- PEJABAT SETEMPAT BADAN-BADAN SWASTA LUAR NEGERI & ì LEMBAGÀ'-LEMBAGA PENDIDIKAN ^ Bìaya uang dari sumber-sumber nasiońal = (і + j + к +1) (a b) + d + f + " A Jumlah biaya uang Biaya terhadap masyarakat nasional Biaya keseluruhan = A + m B A + biaya alternatif terhadap transaktor domestik B + biaya alternatif bantuan asing + biaya alternatif untuk transaktcrtransaktor doroestik Gambar 1 PoIa Biaya

23 luruhan biaya pendidikan, faktor 'penghasilan yáng hilang' rrieski bagaimanapun' tingginya- bagi suatu keluarga tertentu, mungkin tidak ada artínya sama sekali bagi bangsa sebagai keséluruhan. HaI itu terutama nyata pada waktu-waktu pengangguran; kenyataan bahwa suatii kelompok umur itu tėrsedia di'pasaran kerja tidak berarti bahwa mereka itu, akan memperoleh pekerjaan. Tetapi kenyatàannya tetap,"bahwa untuk mempertahankan keseluruhan definisi biaya altematif, secara prinsip semua itu harus diikutsertakan. ' Tetapi, sebahkriya apá yang kurangjelas ialah metode yang tcpat'urituk'mempêrkirakán agár'dengan demikian' dapat diterima besamyä 'pengkasilań yáng hilaņg' ' atas asumsi bahwa śebagian atau seluruh pcnduduk sekolah pada tingkat tertentu akan tersedia dipasarantenagakerja.^ - --^- ' ^ ' ^ Penilaian biaya altematif sangat bermanfaat bagi para 'pejabat yang bertanggung jawab untuk merumuskan' kebijaksanaan sosial dan mengalokasikan sumber-sumber dana antara bérbagai pena naman sosial dan subsidi kepada sektor-sektör yängbeŕnilai tinggi bagi masyarakat. Tetapi dalam keadaàn sekárang ini,, haruslah dlakui bahwa diskusi penehtian yang terutama mengenai halinihanyalah terbatas pada mêreka yang tahu saja, dari tídak beφengaгuh secara nyata pada keputusan administratif. ^^ X^ ', ' Karena itu selanjutnya saya akan membatasi peňelitian hanýa páda biayá dalam bentuk uang sajaĵ уаіт,. mengikûti kebiasaan yang dipakai di sini,' aþa-apá yang dapat dipêrkirakan dalanı bentuk pengeluaran. R.C. Blitz, 'Ťhe nation's educational outlay', Economia of Higher Education, Selma J. Mushkin (ed) Washington D.G., U.S. Department of Health, Education and Welfare, Office of Education, 1962; T,W. Schultz, 'Capital formation by education', Journal of Political Economy, LXVIII, Chicago, Desember 1960; T.W. Schultz, The Economic Value of Education, New York, London, Columbia University Press, 1964.

Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 25

Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 25 Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 25 Judul dan nomor urut dalam seri ini adalah 1. Apakall Perencanaan Pendidikan itu? Philip H. Coombs 2. Hubungan Rencana Pendidikan dtngan Henearía Ekonomi dan Sostai

Lebih terperinci

Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 9

Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 9 Dasar-Dasar Perencanaan Pendidikan 9 Judul dan nomor unit da!ara seri ini adalah : 1. Apakah Perencanaan Pendidikan I tv? Philip H. Coombs 2. Hubungan Rencana Pendidikan dengan Rencana Ekonomi dan Sostai.

Lebih terperinci

Kondisi untuk Keberhasilan

Kondisi untuk Keberhasilan Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan Kondisi untuk Keberhasilan Perencanaan Pendidikan G.C. Ruscoe (SjnSSGO Lembaga Internasional untuk Perencanaan Pendidikan Dasar^Dasar Perencanaan Pendidikan 12,'i A.

Lebih terperinci

Walter W. McMahon. Buku Serial Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan terbitan UNESCO (United Nation Education- Scientific, and Cultural Organization)

Walter W. McMahon. Buku Serial Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan terbitan UNESCO (United Nation Education- Scientific, and Cultural Organization) Sistem Informasi Berbasis Efisiensi Walter W. McMahon Buku Serial Dasar-dasar Perencanaan Pendidikan terbitan UNESCO (United Nation Education- Scientific, and Cultural Organization) 4ÉL FOR CONSULTATION

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. beberapa peneliti sebelumnya. Maka peneliti juga diharuskan untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. beberapa peneliti sebelumnya. Maka peneliti juga diharuskan untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hasil-hasil Penelitian Terdahulu Penelitian ini juga pernah di angkat sebagai topik penelitian oleh beberapa peneliti sebelumnya. Maka peneliti juga diharuskan untuk mempelajari

Lebih terperinci

DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14

DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14 1 P a g e 2 P a g e Daftar Isi DAFTAR ISI... 3 RINGKASAN EKSEKUTIF... 5 KATA PENGANTAR... 9 DAFTAR GAMBAR... 11 DAFTAR TABEL... 12 1. PENDAHULUAN... 14 1.1. Latar Belakang...14 1.2. Perumusan Masalah...16

Lebih terperinci

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT: Konsep Pembangunan Yang Berakar Pada Masyarakat *

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT: Konsep Pembangunan Yang Berakar Pada Masyarakat * PEMBERDAYAAN MASYARAKAT: Konsep Pembangunan Yang Berakar Pada Masyarakat * Oleh: Ginandjar Kartasasmita Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas Disampaikan pada Sarasehan DPD GOLKAR

Lebih terperinci

Sistem Pendidikan Tinggi Indonesia: Seberapa Responsif Terhadap Pasar Kerja?

Sistem Pendidikan Tinggi Indonesia: Seberapa Responsif Terhadap Pasar Kerja? Public Disclosure Authorized Public Disclosure Authorized Mei 2014 Policy Brief Sistem Pendidikan Tinggi Indonesia: Seberapa Responsif Terhadap Pasar Kerja? Public Disclosure Authorized Public Disclosure

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN PERSEPSI WANITA PENYAPU JALAN RAYA DI KOTA TEGAL DALAM KEDUDUKAN DAN PERAN EKONOMI DI RUMAH TANGGA. Oleh :

LAPORAN PENELITIAN PERSEPSI WANITA PENYAPU JALAN RAYA DI KOTA TEGAL DALAM KEDUDUKAN DAN PERAN EKONOMI DI RUMAH TANGGA. Oleh : LAPORAN PENELITIAN PERSEPSI WANITA PENYAPU JALAN RAYA DI KOTA TEGAL DALAM KEDUDUKAN DAN PERAN EKONOMI DI RUMAH TANGGA Oleh : Dewi Amaliah Nafiati, S.Pd. Dra. Faridah, M.Si. JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI FAKULTAS

Lebih terperinci

KIAT MENGAMBIL RISIKO DAN TANGGUNG JAWAB

KIAT MENGAMBIL RISIKO DAN TANGGUNG JAWAB MODUL 6 KEWIRAUSAHAAN SMK KIAT MENGAMBIL RISIKO DAN TANGGUNG JAWAB Penanggung Jawab : Prof. Dr. H. Mohammad Ali, M.A Pengembang dan Penelaah Model : Dr. H. Ahman, M.Pd. Drs. Ikaputera Waspada, M.M Dra.

Lebih terperinci

METODE PERSUASIF SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF DALAM PELAYANAN DIPERPUSTAKAAN Oleh : Mizanuddin (Dosen Kopertais Medan)

METODE PERSUASIF SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF DALAM PELAYANAN DIPERPUSTAKAAN Oleh : Mizanuddin (Dosen Kopertais Medan) METODE PERSUASIF SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF DALAM PELAYANAN DIPERPUSTAKAAN Oleh : Mizanuddin (Dosen Kopertais Medan) ABSTRACT As the information centre, library must to have the method to make the users

Lebih terperinci

PENGARUH TARIF BEA MASUK, KURS DAN VOLUME IMPOR TERHADAP PENERIMAAN BEA MASUK DI INDONESIA

PENGARUH TARIF BEA MASUK, KURS DAN VOLUME IMPOR TERHADAP PENERIMAAN BEA MASUK DI INDONESIA TESIS PENGARUH TARIF BEA MASUK, KURS DAN VOLUME IMPOR TERHADAP PENERIMAAN BEA MASUK DI INDONESIA I MADE ARYANA PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2011 2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Lebih terperinci

DASAR-DASAR AUDITING

DASAR-DASAR AUDITING DIKLAT PEMBENTUKAN AUDITOR TERAMPIL AUDITING I KODE MA : 1. 120 DASAR-DASAR AUDITING 2009 PUSAT PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PENGAWASAN BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN Edisi Keenam [SD-P2E/PMD-13-01]-[NO.REVISI:00]-[TGL.REVISI:

Lebih terperinci

TOOLKIT PENILAIAN PERSAINGAN USAHA PEDOMAN. www.oecd.org/competition/toolkit

TOOLKIT PENILAIAN PERSAINGAN USAHA PEDOMAN. www.oecd.org/competition/toolkit TOOLKIT PENILAIAN PERSAINGAN USAHA PEDOMAN www.oecd.org/competition/toolkit Daftar Periksa Persaingan Usaha Penilaian terhadap persaingan usaha harus dilaksanakan lebih lanjut apabila usulan yang bersangkutan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA SAING DAERAH DI JAWA TENGAH

ANALISIS DAYA SAING DAERAH DI JAWA TENGAH ANALISIS DAYA SAING DAERAH DI JAWA TENGAH (Studi Kasus: Kota Semarang, Kota Salatiga, Kota Surakarta, Kota Magelang, Kota Pekalongan, dan Kota Tegal Tahun 2009-2011) Diajukan sebagai salah satu syarat

Lebih terperinci

Panduan Tentang Konstruksi Sekolah Yang Lebih Aman. Global Facility untuk Pengurangan dan Pemulihan Bencana

Panduan Tentang Konstruksi Sekolah Yang Lebih Aman. Global Facility untuk Pengurangan dan Pemulihan Bencana Panduan Tentang Konstruksi Sekolah Yang Lebih Aman Global Facility untuk Pengurangan dan Pemulihan Bencana Panduan tentang Konstruksi Sekolah Yang Lebih Aman dikembangkan sebagai kerja sama antara the

Lebih terperinci

MENGELOLA USAHA PEMASARAN

MENGELOLA USAHA PEMASARAN MENGELOLA USAHA PEMASARAN 2 Kelas X Semester 2 Kontributor Naskah Penelaah : Drs. Yusran, M.M : Erna Soerjandari, S.E, M.M Drs. Ratiman, M.M KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH

Lebih terperinci

Daftar Isi KATA PENGANTAR 1 RINGKASAN EKSEKUTIF 2 I. KONTEKS 7. I.1 Kinerja Makroekonomi dan Tantangan Perdagangan 7

Daftar Isi KATA PENGANTAR 1 RINGKASAN EKSEKUTIF 2 I. KONTEKS 7. I.1 Kinerja Makroekonomi dan Tantangan Perdagangan 7 Daftar Isi Daftar isi KATA PENGANTAR 1 RINGKASAN EKSEKUTIF 2 I. KONTEKS 7 I.1 Kinerja Makroekonomi dan Tantangan Perdagangan 7 I.2. Regulasi Teknis Luar Negeri dan Akses Pasar Ekspor 8 I.3. Standar Internasional

Lebih terperinci

PENTING DIKETAHUI PEMBAJAKAN BUKU ADALAH KRIMINAL!

PENTING DIKETAHUI PEMBAJAKAN BUKU ADALAH KRIMINAL! Kutipan Pasal 72: Sanksi Pelanggaran Undang-Undang Hak Cipta (Undang-Undang No. 19 Tahun 2002) 1. Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1)

Lebih terperinci

MEMILIH BENTUK USAHA DAN PERIJINAN

MEMILIH BENTUK USAHA DAN PERIJINAN MODUL 12 KEWIRAUSAHAAN SMK MEMILIH BENTUK USAHA DAN PERIJINAN Penanggung Jawab : Prof. Dr. H. Mohammad Ali, M.A Pengembang dan Penelaah Model : Dr. H. Ahman, M.Pd. Drs. Ikaputera Waspada, M.M Dra. Neti

Lebih terperinci

VI. PENGELOLAAN PESERTA DIDIK. A. Pengertian. B. Rekrutmen Peserta Didik. 1. Pendaftaran. 2. Syarat-syarat Pendaftaran

VI. PENGELOLAAN PESERTA DIDIK. A. Pengertian. B. Rekrutmen Peserta Didik. 1. Pendaftaran. 2. Syarat-syarat Pendaftaran VI. PENGELOLAAN PESERTA DIDIK A. Pengertian Dalam hal ini pengelolaan peserta didik menurut Hendayat Soetopo dan Wasty Soemanto (1982) adalah merupakan suatu penataan atau pengaturan segala aktivitas yang

Lebih terperinci

Materi Disampaikan Dalam Diklat Penulisan Karya Tulis Ilmiah Angkatan I, 5 Agustus 1998

Materi Disampaikan Dalam Diklat Penulisan Karya Tulis Ilmiah Angkatan I, 5 Agustus 1998 Materi Disampaikan Dalam Diklat Penulisan Karya Tulis Ilmiah Angkatan I, 5 Agustus 1998 !"#"$ Menulis pada hakekatnya adalah suatu kegiatan yang dapat dengan mudah dilakukan oleh setiap orang (terutama

Lebih terperinci

Pedoman Surveilans Penyakit Hewan Tingkat Dasar

Pedoman Surveilans Penyakit Hewan Tingkat Dasar Pedoman Surveilans Penyakit Hewan Tingkat Dasar Dr Angus Cameron Pedoman Surveilans Penyakit Hewan Tingkat Dasar Angus Cameron 2011, Uni Afrika, Biro Inter-Afrika untuk Sumber Daya Hewan ISBN 1 00000 000

Lebih terperinci

Manajemen Usaha Kecil - MODUL 3

Manajemen Usaha Kecil - MODUL 3 i MANAJEMEN USAHA KECIL Modul 3 Bahan Pelatihan Untuk Calon Wirausahawan i DIREKTORAT PEMBINAAN KURSUS DAN KELEMBAGAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN NON FORMAL DAN INFORMAL KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. konstruksi untuk mengetahui besarnya dana yang harus disediakan untuk sebuah

BAB I PENDAHULUAN. konstruksi untuk mengetahui besarnya dana yang harus disediakan untuk sebuah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Estimasi biaya memegang peranan penting dalam penyelenggaraan proyek konstruksi. Kegiatan estimasi adalah salah satu proses utama dalam proyek konstruksi untuk mengetahui

Lebih terperinci

MIGRASI TENAGA KERJA DARI INDONESIA

MIGRASI TENAGA KERJA DARI INDONESIA MIGRASI TENAGA KERJA DARI INDONESIA Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mempunyai komitmen terhadap tegaknya prinsip migrasi secara manusiawi dan tertib yang mendatangkan kesejahteraan bagi komunitas

Lebih terperinci

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN BAGIAN PRODUKSI PADA MAHARANI HANDICRAFT DI KABUPATEN BANTUL

PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN BAGIAN PRODUKSI PADA MAHARANI HANDICRAFT DI KABUPATEN BANTUL PENGARUH TINGKAT PENDIDIKAN TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN BAGIAN PRODUKSI PADA MAHARANI HANDICRAFT DI KABUPATEN BANTUL SKRIPSI untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan OLEH MARIA ASTI ADHANARI

Lebih terperinci

Penilaian Kebutuhan Proyek untuk perempuan Aceh di bidang pertanian Januari 2011

Penilaian Kebutuhan Proyek untuk perempuan Aceh di bidang pertanian Januari 2011 Kelompok Wanita Tani Penilaian Kebutuhan Proyek untuk perempuan Aceh di bidang pertanian Januari 2011 Ditulis oleh Anna Strempel untuk Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR)

Lebih terperinci

Manajemen Sumber Daya Manusia

Manajemen Sumber Daya Manusia International Labour Organization Jakarta Manajemen Sumber Daya Manusia untuk Kerjasama dan Usaha yang Sukses Pedoman pelatihan untuk manajer dan pekerja Modul EMPAT SC RE Kesinambungan Daya Saing dan

Lebih terperinci

PENGARUH MODAL KERJA DENGAN LABA USAHA KOPERASI PADA KOPERASI SERBA USAHA SEJATI MULIA JAKARTA : ANNA NURFARHANA

PENGARUH MODAL KERJA DENGAN LABA USAHA KOPERASI PADA KOPERASI SERBA USAHA SEJATI MULIA JAKARTA : ANNA NURFARHANA PENGARUH MODAL KERJA DENGAN LABA USAHA KOPERASI PADA KOPERASI SERBA USAHA SEJATI MULIA JAKARTA NAMA : ANNA NURFARHANA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN SOSIAL UNIVERSITAS

Lebih terperinci