Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2013

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2013"

Transkripsi

1 Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2013

2 Observasi Tes Wawancara Eksperimen Kuesioner Dokumentasi

3 Relevan dengan bagian-bagian berikut: rumusan masalah variabel penelitian hipotesis penelitian Masih dalam jangkauan peneliti, baik dari segi biaya, waktu, maupun cara. Memungkinkan perolehan data yang valid.

4 OBSERVASI

5 Cara mengumpulkan data melalui pengamatan inderawi, dengan melakuan pencatatan terhadap gejala-gejala yang terjadi pada objek penelitian secara langsung di tempat penelitian.

6 Pelaku/ partisipan Kegiatan Tujuan Perasaan Ruang/tempat Waktu Benda/alat Peristiwa

7 Berdasarkan keterlibatan peneliti: Pengamatan biasa (tidak langsung) Pengamatan terkendali Pengamatan terlibat (langsung) Berdasarkan struktur pengamatan: Pengamatan berstruktur Pengamatan tidak berstruktur

8 Membuat catatan anekdot (anecdotal record), yaitu catatan informal yang digunakan pada waktu melakukan observasi. Membuat daftar cek (checklist), yaitu daftar yang berisi catatan setiap faktor secara sistematis. Membuat skala penilaian (rating scale), yaitu skala yang digunakan untuk menetapkan penilaian secara bertingkat terhadap objek yang diamati. Mencatat dengan menggunakan alat (mechanical device), misalnya kamera, handycam, dan alat perekam suara.

9 Kelebihan Peneliti dapat memperoleh data dari subjek, baik yang dapat berkomunikasi secara langsung maupun tidak. Dengan metode pengamatan, peneliti (pengamat) dapat mengambil jarak terhadap subjek, sehingga tidak harus berinteraksi dengan subjek. Terdapat kemungkinan mencatat hal-hal, perilaku, pertumbuhan, dan sebagainya pada waktu kejadian tersebut berlangsung Kelemahan Diperlukan waktu lama untuk memperoleh hasil dari suatu kejadian. Mungkin dibutuhkan lebih dari satu pengamatan untuk memperoleh data lengkap. Pengamatan terhadap suatu fenomena yang telah lama terjadi tidak dapat dilakukan secara langsung. Sikap yang hendak diamati mungkin telah berubah seiring berjalannya waktu. Peneliti sulit memperoleh data bila jumlah objek yang harus diamati cukup banyak.

10 WAWANCARA

11 Wawancara adalah pengumpulan data yang dilakukan melalui komunikasi secara langsung (lisan). Wawancara dapat dilakukan kepada: Responden: individu yang diambil sebagai sampel, mewakili populasi atau mewakili objek penelitian. Informan: individu yang mengetahui tentang suatu objek dan diminta memberikan informasi kepada peneliti.

12 Keterangan yang bersifat memastikan fakta. Keterangan yang memperkuat kepercayaan tentang keadaan fakta. Keterangan tentang perasaan. Keterangan tentang standar etika. Keterangan tentang standar kegiatan. Keterangan tentang alasan.

13 Menurut pelaksanaannya: Wawancara sambil lalu Wawancara tidak berencana Wawancara berencana Menurut tujuannya: Wawancara survey Wawancara diagnostik Wawancara informatif

14 Warwick and Lininger (1975) dalam Singarimbun dan Effendi (1987)

15 Pewawancara memastikan orang-orang yang hendak diwawancara, baik sebagai responden maupun sebagai informan. Nama, alamat, kontak, dan pekerjaan orang yang hendak diwawancara. Pewawancara membuat janji pelaksanaan wawancara dengan orang-orang yang hendak diwawancara. Jangan selalu mengasumsikan sekali datang langsung wawancara langsung selesai.

16 Pewawancara harus jujur, tidak boleh memanipulasi jawaban responden atau memberi jawaban tanpa wawancara. Pewawancara harus menyesuaikan diri dengan lingkungan, adat istiadat, situasi, dan kondisi di tempat wawancara. Pewawancara harus dapat menciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi keterbukaan responden. Pewawancara harus bersikap wajar dan sanggup menarik perhatian responden terus menerus sampai wawancara selesai.

17 Usahakan wawancara hanya melibatkan pewawancara dan responden/informan. Pewawancara menerangkan kegunaan, tujuan wawancara, alasan responden terpilih untuk wawancara, identitas pewawancara, dan sifat wawancara yang dilakukan. Pewawancara menggunakan pertanyaan sekonkret mungkin dan menghindari pertanyaan yang panjang atau ambigu. Pewawancara boleh menyebutkan semua alternatif jawaban yang mungkin, atau sebaliknya tidak menyebut alternatif jawaban sama sekali. Jika wawancara berkaitan dengan penilaian terhadap orang ketiga atau pihak lain, pewawancara sebaiknya menanyakan sifat positif dan sifat negatif dari pihak tersebut.

18 Jangan membiarkan responden menunggu terlalu lama saat pencatatan dilakukan. Tuliskan seluruh komentar responden dengan lengkap, meskipun untuk pertanyaan yang bersifat tertutup. Hendaknya tulisan jelas dan mudah terbaca. Pahami maksud komentar responden sebelum dicatat. Bila ada keraguan, sebaiknya langsung ditanyakan pada responden. Pastikan seluruh pertanyaan telah dijawab sebelum mengakhiri wawancara.

19 Kelebihan Daya jawab lebih tinggi, karena responden yang tidak sempat menulis sendiri dapat menjawab pertanyaan; demikian pula pertanyaan yang sulit juga dapat dijelaskan langsung oleh peneliti sehingga dapat dijawab. Jawaban yang diperoleh lebih asli, peneliti juga dapat memperhatikan sikap-sikap responden saat pertanyaan diajukan. Kelemahan Satu wawancara dapat memerlukan waktu yang cukup lama, sehingga penelitian berlangsung lebih lama. Responden yang berbeda dapat ditanyai dengan pertanyaan yang berbeda, sehingga jawaban yang diperoleh pun tidak sama dengan responden sebelumnya. Sulit dilakukan dalam kondisi rahasia, terutama apabila pertanyaan direkam.

20 KUESIONER

21 Angket atau sering disebut kuesioner (questionnaire) adalah suatu daftar berisi pertanyaan yang harus dijawab secara tertulis oleh responden

22 Angket diisi sendiri oleh peneliti melalui wawancara tatap muka dengan responden. --> cara terbaik, validitas tinggi. Angket diisi sendiri oleh sekelompok responden dengan panduan peneliti. --> validitas cukup tinggi. Angket dibagikan, baik secara langsung, melalui pos, maupun melalui media cetak tertentu, untuk diisi sendiri oleh responden dan dikembalikan pada peneliti. resiko angket hilang, tidak terisi lengkap, atau tidak dikembalikan.

23 PERTANYAAN TERTUTUP Sudah disediakan jawaban, responden hanya boleh memilih jawaban yang tersedia (tidak diperkenankan memberi jawaban lain). Contoh: Dari seluruh isi silabus DSC Biologi, mana yang menurut anda paling sulit? ( ) Biologi Sel Molekuler ( ) Struktur Tumbuhan ( ) Genetika & Evolusi ( ) Struktur Hewan ( ) Biosistematika ( ) Ekologi

24 PERTANYAAN TERBUKA Jawaban tidak ditentukan sehingga responden bebas menuliskan jawaban. Contoh: Apa motivasi anda mengikuti DSC Biologi? PERTANYAAN SEMI TERBUKA Jawaban sudah ditentukan, namun responden masih boleh memberikan jawaban lain. Contoh: Sebaiknya pembinaan DSC dimulai pada: ( ) Semester I, setelah Hakarya Eka Pakci ( ) Semester II, seperti yang berlangsung saat ini ( ) lainnya, sebutkan

25 PERTANYAAN KOMBINASI TERBUKA DAN TERTUTUP Didahului dengan pertanyaan tertutup, kemudian disusul pertanyaan terbuka. Bentuk ini sebenarnya kurang baik digunakan, karena peneliti akan mengalami kesulitan dalam melakukan analisis data. Contoh: Perlukah diadakan pembinaan intensif (menginap) bagi seluruh peserta DSC? ( ) Perlu ( ) Tidak Perlu Alasan anda:

26 PERTANYAAN BERSKALA Pertanyaan yang jawabannya berupa tingkatan-tingkatan skala, pada umumnya digunakan untuk mengukur sikap/pendapat responden. Ada beberapa macam skala yang dapat digunakan: Metode Interval Tampak Setara (Method of Equal- Appearing Interval ) atau skala Thurstone. Metode Rating yang Dijumlahkan (Method of Summated Ratings) atau skala Likert. Metode Skala Jarak Sosial (Method of Social Distance) atau skala Bogardus Metode Skala Kumulatif atau Skala Guttman Conjoint Semantic Differential (Osgood, Suci, & Tannenbaum)

27 Berupa sekumpulan pernyataan yang secara keseluruhan menggambarkan sikap (attitude) yang hendak diukur. Masing-masing pernyataan diberi dua alternatif jawaban. Contoh:

28 Setiap pertanyaan terdiri dari beberapa pernyataan, masing-masing dengan lima pilihan jawaban. Skala yang dihasilkan berupa data ordinal. Contoh:

29 Merupakan skala kumulatif: bila responden menyetujui pernyataan yang lebih berat maka ia dianggap juga menyetujui pernyataan yang kurang berat.

30 Digunakan untuk mengukur jarak sosial, yakni derajat keintiman dan kekariban sebagai ciri hubungan sosial. Contoh:

31 Responden diminta memberikan peringkat pada masing-masing pernyataan yang diberikan. Contoh:

32 Responden diminta menilai suatu objek atau konsep dalam suatu skala bipolar (skala yang berlawanan di kedua ujungnya) dengan tujuh buah titik. Contoh:

33 EKSPERIMEN

34 Eksperimen adalah satu atau lebih pengujian untuk mengetahui pengaruh perubahan masukan (input) atau perubahan faktor perlakuan (treatment) terhadap luaran (output) yang dihasilkan dalam suatu proses.

35 Rancangan Pra-Eksperimen (Eksperimental palsu) sebaiknya dihindari, kecuali dalam kasus-kasus faktor eksperimen tidak dapat dikendalikan. Rancangan Eksperimen Murni merupakan rancangan dengan validitas yang tertinggi karena terdapat pengendalian (control by design) dan pengacakan atau randomisasi. Rancangan Eksperimen Semu (Eksperimental quasi) Validitas lebih dari pra-eksperimen, namun kurang dari eksperimen murni karena tidak ada randomisasi.

36 Faktor: variabel yang pengaruhnya hendak diketahui. Level/tingkat: macam-macam nilai yang terdapat dalam satu faktor. Perlakuan: (notasi umum adalah Tx) sekumpulan kondisi eksperimen yang akan digunakan dalam percobaan. Bentuk perlakuan dipengaruhi oleh banyaknya faktor maupun level yang ada pada masing-masing faktor. Unit eksperimen: unit yang dikenai perlakuan dalam sebuah percobaan. Observasi: (notasi umum adalah Obs) pengumpulan keterangan (data) dari unit eksperimen.

37 Studi kasus perlakuantunggal (one-shot case study) Peneliti melakukan suatu perlakuan kemudian mengamati hasil perlakuan. Tidak dapat ditunjukkan bahwa terjadi perubahan kondisi akibat perlakuan tersebut. Group 1 Tx Obs

38 Desain pretest-postest (one group pretest-postest) Peneliti melakukan pengamatan, perlakuan, lalu pengamatan ulang. Tidak dapat ditunjukkan perubahan hasil pengamatan (bila ada) terjadi akibat perlakuan. Desain pembanding postes (static group comparison) Peneliti mengamati dua objek, satu diberi perlakuan dan lainnya tidak. Tidak dapat ditunjukkan apakah kedua grup memiliki sifat yang sama sebelum perlakuan. Group 1 Obs Tx Obs Group 1 Tx Obs Group 2 - Obs

39 Eksperimental Klasik (pretest-postest randomized control group design) Secara acak, peneliti membentuk satu kelompok sebagai kontrol dan satu kelompok lain diberi perlakuan. Dilakukan pengamatan sebelum perlakuan maupun sesudah perlakuan pada kedua kelompok. R Group 1 Obs Tx Obs Group 2 Obs - Obs

40 Eksperimental sederhana (postest randomized control group design) Sama dengan eksperimental klasik, namun pengamatan hanya dilakukan setelah perlakuan. Solomon four group design Secara acak, peneliti memilih dua kelompok sebagai kontrol dan dua lainnya diberi perlakuan. Salah satu dari masingmasing kelompok dilakukan pretest. Setelah perlakuan, semua kelompok diobservasi. R Group 1 Tx Obs R Group 2 - Obs Group 1 Obs Tx Obs Group 2 Obs - Obs Group 3 - Tx Obs Group Obs

41 Desain Efek Waktu (time effect group design) Secara acak, peneliti memilih dua kelompok sebagai kontrol dan dua lainnya diberi perlakuan. Dilakukan pretest untuk semua kelompok pada waktu yang sama, namun posttest dilakukan pada waktu yang berlainan. R Group 1 Obs Tx Obs Group 2 Obs - Obs Group 3 Obs Tx - Obs Group 4 Obs - - Obs

42 Rancangan Faktorial: Peneliti membuat kombinasi dari masing-masing level (tingkat) dari masing-masing faktor, sehingga terbentuk kombinasi perlakuan. Secara acak, unit eksperimen dipilih untuk masing-masing kombinasi perlakuan m n Contoh rancangan percobaan faktorial m x n. Dalam kasus ini m adalah banyak level faktor pertama, dan n banyak level faktor kedua; m tidak harus sama dengan n. Bila terdapat tiga faktor yang diamati, desain ini dapat dikembangkan menjadi percobaan faktorial m x n x p, dengan p adalah banyak level faktor ketiga.

43 Rancangan Tersarang (Nested Design): Digunakan saat salah satu faktor (faktor A) dapat dibedakan menjadi beberapa level faktor lain (faktor B), namun level-level faktor B tidak sama untuk masingmasing level faktor A. faktor A n Faktor B m m m m

44 Rancangan Petak Terbagi (Split Plot Design): Digunakan saat salah satu faktor (faktor A) lebih penting, lebih diketahui, atau sulit diterapkan untuk unit eksperimen yang kecil. Rancangan ini biasa digunakan dalam bidang pertanian. Petak utama (main plot) dibagi secara acak berdasarkan jumlah level faktor A dan pengulangan yang dikehendaki. Masing-masing petak utama dibagi lagi secara acak berdasarkan jumlah level faktor B.

45 Pretest-postest nonrandomized control group design Peneliti membentuk satu kelompok sebagai kontrol dan satu kelompok lain diberi perlakuan. Dilakukan pengamatan sebelum perlakuan maupun sesudah perlakuan pada kedua kelompok. Group 1 Obs Tx Obs Group 2 Obs - Obs

46 Rancangan Berurutan Waktu (Time Series Design): Pengamatan dilakukan berulang-ulang selama jangka waktu tertentu, baik sebelum maupun sesudah perlakuan. Group 1 Obs Obs Obs Obs Tx Obs Obs Obs Obs Rancangan Berurutan Waktu dengan Kontrol (Controlled Time Series Design): Merupakan pengembangan dari rancangan berurutan waktu, yakni dengan menambahkan kontrol. Group 1 Obs Obs Obs Obs Tx Obs Obs Obs Obs Group 2 Obs Obs Obs Obs - Obs Obs Obs Obs

47 Berbagai analisis statistik untuk data eksperimental, misalnya uji student-t, analisis variansi (ANAVA), dan sebagainya memerlukan asumsi distribusi/sebaran independen. Pengacakan dilakukan sedemikian rupa agar hasil pengamatan maupun galat (error) percobaan berdistribusi secara independen. Pengacakan dapat dilakukan dengan bantuan tabel angka acak maupun undian (lihat slide tentang populasi dan sampel penelitian). Hal lain yang harus diperhatikan adalah kemungkinan adanya faktor lain, yang tidak hendak diamati, namun kemungkinan besar dapat mempengaruhi hasil amatan.

48 DESAIN ACAK LENGKAP Cara pengacakan ini digunakan bila seluruh unit percobaan bersifat homogen; tidak ada faktor lain yang mungkin menyebabkan perbedaan hasil antar unit. DESAIN ACAK KELOMPOK Digunakan bila terdapat satu faktor lain yang mungkin menyebabkan perbedaan hasil antar unit. DESAIN BUJURSANGKAR ACAK Digunakan bila terdapat dua faktor lain yang mungkin menyebabkan perbedaan hasil antar unit.

49 T E S

50 Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh seseorang maupun suatu kelompok (Arikunto, 1998:138).

51 Tes kepribadian (personality test): mengungkap kepribadian, kreativitas, konsep diri, kemampuan khusus, dan sebagainya. Tes bakat (aptitude test): mengukur atau mengetahui bakat yang dimiliki seseorang. Tes inteligensi (intelligence test): mengadakan estimasi atau perkiraan terhadap tingkat intelektual seseorang dengan memberikan berbagai tugaskepada orang tersebut. Tes minat (measures of interest): menggali minat seseorang terhadap suatu permasalahan atau kejadian tertentu. Tes prestasi (achievement test): mengukur pencapaian seseorang setelah menjalani suatu rangkaian proses pembelajaran.

52 DOKUMENTASI

53 Dokumentasi berkaitan erat dengan dokumen, yakni bahan-bahan tertulis. Dokumentasi adalah pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan analisis terhadap benda tertulis. Dokumentasi tidak sama dengan studi pustaka, karena pada dokumentasi peneliti harus memberikan tafsiran dan analisis terhadap dokumen tersebut.

54 Surat Surat Pribadi Surat Dinas Surat Niaga (perdagangan) Dokumen pemerintah, yang meliputi produk hukum (Rijksblaad, Staatsblad, undangundang, keputusan pemerintah, peraturan pemerintah, dan sebagainya) catatan-catatan pemerintah, misalnya memorandum, notulen sidang, proses verbal, missive, militair journal, dan sebagainya.

55 Media massa cetak: jurnal koran tabloid majalah kalawarti Catatan/buku harian/agenda Memoirs Buku

56 SELAMAT MENELITI SELAMAT BERKARYA, SEMOGA SUKSES.

Oleh : Yustiana K2303068

Oleh : Yustiana K2303068 PENGGUNAAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES DALAM PEMBELAJARAN FISIKA DITINJAU DARI KEMAMPUAN AWAL TERHADAP KEMAMPUAN KOGNITIF SISWA SMA TAHUN AJARAN 2006/2007 Oleh : Yustiana K2303068 Skripsi Ditulis dan

Lebih terperinci

BAGIAN I PENDAHULUAN. menunjukkan keragaman, baik format maupun urutan penulisannya.

BAGIAN I PENDAHULUAN. menunjukkan keragaman, baik format maupun urutan penulisannya. BAGIAN I PENDAHULUAN 1.1 Pengantar Bagi mahasiswa D3 bidang kesehatan yang akan mengakhiri studi diwajibkan menulis thesis, skripsi atau karya tulis ilmiah (KTI) sesuai dengan standar penulisan ilmiah,

Lebih terperinci

Bahan Ajar Pengembangan Asesmen Kinerja dan Portofolio dalam Pembelajaran Sejarah Oleh Yani Kusmarni

Bahan Ajar Pengembangan Asesmen Kinerja dan Portofolio dalam Pembelajaran Sejarah Oleh Yani Kusmarni Bahan Ajar Pengembangan Asesmen Kinerja dan Portofolio dalam Pembelajaran Sejarah Oleh Yani Kusmarni Pengantar Miles & Huberman (1984) mengemukakan bahwa telah terjadi lompatan paradigma (the shifting

Lebih terperinci

Buku Pedoman Penulisan Karya Tulis

Buku Pedoman Penulisan Karya Tulis 0 i PEDOMAN PENULISAN HASIL PENELITIAN SMA NEGERI 3 DENPASAR Naskah Pedoman Penulisan Hasil Penelitian SMA Negeri 3 Denpasar, Edisi 2013 Editor Tim Pembimbing Tugas Akhir SMA Negeri 3 Denpasar PEMERINTAH

Lebih terperinci

penting dalam pengertian belajar, yaitu sebagai berikut:

penting dalam pengertian belajar, yaitu sebagai berikut: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Deskripsi Teori 1. Hasil Belajar Akuntansi a. Pengertian Hasil Belajar Akuntansi Belajar merupakan suatu kebutuhan mutlak setiap manusia. Tanpa belajar manusia tidak dapat bertahan

Lebih terperinci

MODEL PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA

MODEL PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA MODEL PENILAIAN PENCAPAIAN KOMPETENSI PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH PERTAMA KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN DASAR DIREKTORAT PEMBINAAN SEKOLAH MENENGAH PERTAMA 2014

Lebih terperinci

Unit 1 KONSEP DASAR ASESMEN PEMBELAJARAN. Endang Poerwanti. Pendahuluan. aldo

Unit 1 KONSEP DASAR ASESMEN PEMBELAJARAN. Endang Poerwanti. Pendahuluan. aldo aldo Unit 1 KONSEP DASAR ASESMEN PEMBELAJARAN Endang Poerwanti Pendahuluan K ompetensi mengajar adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh semua tenaga pengajar. Berbagai konsep dikemukakan untuk

Lebih terperinci

UNAAN MULTIMEDIA DASAR PENDIDIKAN. Skripsi. gelar. oleh

UNAAN MULTIMEDIA DASAR PENDIDIKAN. Skripsi. gelar. oleh KEEFEKTIFAN PENGGU UNAAN MULTIMEDIA MICROSOFT POWERP POINT TERHADAP HASIL BELAJAR IPS MATERI PERKEMBANGANTEKNOLOGI TRANSPORTASI PADA SISWA KELAS IV DI SEKOLAH DASAR NEGERI PESAYANGAN 01 KABUPATEN TEGAL

Lebih terperinci

SKRIPSI OLEH : LUH PUTU DIANI SUKMA NPM : 07.8.03.51.30.1.5.1069

SKRIPSI OLEH : LUH PUTU DIANI SUKMA NPM : 07.8.03.51.30.1.5.1069 i SKRIPSI MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM PEMBELAJARAN OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT MELALUI PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TAI PADA SISWA KELAS V SDN 8 DAUH PURI

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. beberapa peneliti sebelumnya. Maka peneliti juga diharuskan untuk

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. beberapa peneliti sebelumnya. Maka peneliti juga diharuskan untuk BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hasil-hasil Penelitian Terdahulu Penelitian ini juga pernah di angkat sebagai topik penelitian oleh beberapa peneliti sebelumnya. Maka peneliti juga diharuskan untuk mempelajari

Lebih terperinci

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN LABORATORIUM NYATA DAN LABORATORIUM VIRTUAL DALAM MATERI ASAM BASA KELAS XI IPA SMA NUSANTARA KOTA JAMBI

PERBANDINGAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN LABORATORIUM NYATA DAN LABORATORIUM VIRTUAL DALAM MATERI ASAM BASA KELAS XI IPA SMA NUSANTARA KOTA JAMBI PERBANDINGAN HASIL BELAJAR DENGAN MENGGUNAKAN LABORATORIUM NYATA DAN LABORATORIUM VIRTUAL DALAM MATERI ASAM BASA KELAS XI IPA SMA NUSANTARA KOTA JAMBI ARTIKEL ILMIAH Oleh: Eno Lerianti RRA1C110001 FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB I ANALISIS DATA 1.1. DATA, SKALA, DAN VARIABEL

BAB I ANALISIS DATA 1.1. DATA, SKALA, DAN VARIABEL BAB I ANALISIS DATA 1.1. DATA, SKALA, DAN VARIABEL A. Data Pengertian data menurut Webster New World Dictionary, Data adalah things known or assumed, yang berarti bahwa data itu sesuatu yang diketahui

Lebih terperinci

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN PASSING BAWAH BOLAVOLI UNTUK KELAS X DENGAN PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL (Studi pada Kelas X SMA Negeri 1 Kedamean Gresik

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN PASSING BAWAH BOLAVOLI UNTUK KELAS X DENGAN PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL (Studi pada Kelas X SMA Negeri 1 Kedamean Gresik EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN PASSING BAWAH BOLAVOLI UNTUK KELAS X DENGAN PENGGUNAAN MEDIA AUDIO VISUAL (Studi pada Kelas X SMA Negeri Kedamean Gresik ABSTRAK Idin Yulias Prayogo Jurusan Pendidikan Olahraga

Lebih terperinci

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan

UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN. Masrinawatie AS. Pendahuluan UNIT9 HAL-HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM MELAKSANAKAN PEMBELAJARAN Masrinawatie AS Pendahuluan P endapat yang mengatakan bahwa mengajar adalah proses penyampaian atau penerusan pengetahuan sudah ditinggalkan

Lebih terperinci

penulis adalah pendekatan sosiologis, pedagogis, dan filosofis.

penulis adalah pendekatan sosiologis, pedagogis, dan filosofis. ( Word to PDF Converter - Unregistered ) http://www.word-to-pdf-converter.netbab III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini adalah Field Rescarch. Adapun data yang dikumpulkan dalam penelitian

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengambil lokasi di Matahari Department Store Mall Ratu Indah. Waktu yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengambil lokasi di Matahari Department Store Mall Ratu Indah. Waktu yang 57 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah dimana penelitian tersebut akan dilakukan. Adapun penelitian yang dilakukan oleh penulis

Lebih terperinci

Berpusat beragam serta bagaimana membuat anak bermakna untuk semua. Pada Anak. Perangkat 4.1 Memahami Proses Pembelajaran dan Peserta Didik 1

Berpusat beragam serta bagaimana membuat anak bermakna untuk semua. Pada Anak. Perangkat 4.1 Memahami Proses Pembelajaran dan Peserta Didik 1 Panduan Buku ini membantu Anda memahami bagaimana konsep belajar berubah ke kelas yang berpusat pada anak. Buku ini memberikan ide-ide bagaimana menangani anak di kelas Anda dengan latar belakang dan kemampuan

Lebih terperinci

HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI

HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI HUBUNGAN MINAT BELAJAR SISWA DENGAN HASIL BELAJAR IPS DI SD GUGUS 1 KABUPATEN KEPAHIANG SKRIPSI Oleh: RESSA ARSITA SARI NPM : A1G009038 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

Lebih terperinci

KERANGKA ISI LAPORAN PENELITIAN

KERANGKA ISI LAPORAN PENELITIAN KERANGKA ISI LAPORAN PENELITIAN 1) JUDUL, Pernyataan mengenai maksud penulisan laporan penelitian 2) Nama dan tim peneliti 3) KATA PENGANTAR 4) ABSTRAK 5) DAFTAR ISI 6) DAFTAR TABEL 7) DAFTAR GAMBAR 8)

Lebih terperinci

ASESMEN PEMBELAJARAN TEMATIK DI SD KELAS AWAL

ASESMEN PEMBELAJARAN TEMATIK DI SD KELAS AWAL ASESMEN PEMBELAJARAN TEMATIK DI SD KELAS AWAL I. Pendahuluan Sesuai dengan aturan Standar Proses Pendidikan Nasional (Permen No. 41 tahun 2007), tugas utama guru professional adalah melakukan perencanaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tempat asalnya ke tempat tujuannya. Prosesnya dapat dilakukan dengan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tempat asalnya ke tempat tujuannya. Prosesnya dapat dilakukan dengan BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Angkutan Umum Penumpang II.1.1 Pengertian Angkutan Umum Angkutan pada dasarnya adalah sarana untuk memindahkan orang dan atau barang dari satu tempat ke tempat lain. Tujuannya

Lebih terperinci

MENINGKATKAN TANGGUNG JAWAB BELAJAR DENGAN LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL BERBASIS SELF-MANAGEMENT

MENINGKATKAN TANGGUNG JAWAB BELAJAR DENGAN LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL BERBASIS SELF-MANAGEMENT MENINGKATKAN TANGGUNG JAWAB BELAJAR DENGAN LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL BERBASIS SELF-MANAGEMENT PADA SISWA KELAS XI DI SMK NEGERI 1 PEMALANG TAHUN PELAJARAN 2013/2014 SKRIPSI diajukan dalam rangka menyelesaikan

Lebih terperinci

PENERAPAN TEKNIK CATATAN TULIS DAN SUSUN DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATERI POKOK BUNYI DI SMP NEGERI 1 MOJOKERTO

PENERAPAN TEKNIK CATATAN TULIS DAN SUSUN DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATERI POKOK BUNYI DI SMP NEGERI 1 MOJOKERTO PENERAPAN TEKNIK CATATAN TULIS DAN SUSUN DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATERI POKOK BUNYI DI SMP NEGERI 1 MOJOKERTO Retno Wandhira dan Madewi Mulyanratna Jurusan Fisika, Universitas Negeri Surabaya

Lebih terperinci

Contoh Perhitungan Korelasi Kanonikal dalam penelitian secara lengkap;

Contoh Perhitungan Korelasi Kanonikal dalam penelitian secara lengkap; Contoh Perhitungan Korelasi Kanonikal dalam penelitian secara lengkap; Judul Penelitian HUBUNGAN MOTIVASI, MINAT, SIKAP DENGAN PRESTASI BELAJAR FISIKA, MATEMATIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI DI FMIPA DAN FPMIPA

Lebih terperinci

melalui metode deskriptif biasanya berkenaan dengan bagaimana kondisi,

melalui metode deskriptif biasanya berkenaan dengan bagaimana kondisi, BAB HI METODE PENELITIAN A. Penentuan Metode Penelitian Pendekatan atau metode dapat diartikan sebagai suatu cara kerja untuk mencapai tujuan tertentu, agar dapat terkumpul data serta dapat mencapai tujuan

Lebih terperinci

DESI AFRIDA AIE003024

DESI AFRIDA AIE003024 PENERAPAN PEMBELAJARAN IPA (FISIKA) BERBASIS PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES (PKP) DENGAN METODE INKUIRI UNTUK MENINGKATKAN PENGETAHUAN PROSEDURAL SISWA KELAS VII.3 SMPN 1 BENGKULU (CLASSROOM ACTION RESEARCH)

Lebih terperinci

PEDOMAN PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH PENDIDIK

PEDOMAN PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH PENDIDIK SALINAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2014 TENTANG PENILAIAN HASIL BELAJAR OLEH PENDIDIK PADA PENDIDIKAN DASAR DAN PENDIDIKAN MENENGAH PEDOMAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Sebuah penelitian agar dapat berhasil dengan baik, maka perlu

BAB III METODE PENELITIAN. Sebuah penelitian agar dapat berhasil dengan baik, maka perlu 5 BAB III METODE PENELITIAN Sebuah penelitian agar dapat berhasil dengan baik, maka perlu diadakannya perencanaan yang baik, fasilitas yang memadai, pengelolaan dan pengolahan yang trampil dan penggunaan

Lebih terperinci

PEDOMAN KARYA TULIS ILMIAH PERATURAN KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA NOMOR 04/E/2012

PEDOMAN KARYA TULIS ILMIAH PERATURAN KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA NOMOR 04/E/2012 PEDOMAN KARYA TULIS ILMIAH PERATURAN KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA NOMOR 04/E/2012 LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA 2012 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... PERATURAN KEPALA LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN

Lebih terperinci

Bab 1. Pendahuluan. 5. Metode pengajaran Ada berbagai metode pengajaran yang perlu dipertimbangkan dalam strategi belajar mengajar 6.

Bab 1. Pendahuluan. 5. Metode pengajaran Ada berbagai metode pengajaran yang perlu dipertimbangkan dalam strategi belajar mengajar 6. Bab 1 Pendahuluan U paya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan kualitas manusia seutuhnya, adalah misi pendidikan yang menjadi tanggung jawab professional setiap guru. Guru tidak cukup hanya

Lebih terperinci