URGENSI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK UMKM DI KOTA MEDAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "URGENSI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK UMKM DI KOTA MEDAN"

Transkripsi

1 Jurnal Ekonom, Vol 14, No 4, September 2011 URGENSI PENGEMBANGAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK UMKM DI KOTA MEDAN Syafrizal Helmi Situmorang dan Muhammad Safri Dosen FE USU Dept Manajemen Abstract : Appropriate Technology is a technology that fit with community needs and can be used to increase competitiveness, create value added, add productivity and reduce the cost of production or marketing. It also means, the technology appropriate to the cultural and economic conditions and its use must be environment friendly. To bridge the target application of appropriate technology for SMEs in the city of Medan, it needs fives strategies are: (1) Provide an understanding of the importance of Appropriate Technology (2) classifying SMEs on the use of Appropriate Technology (3) Increasing the competitiveness of SMEs through the Appropriate Technology (4) Develop regulations and policies of Appropriate Technology (5) financial assistance to SMEs for the development and utilization of Appropriate Technology. Keywords : appropriate technology and SMEs PENDAHULUAN Teknologi Tepat Guna (TTG) adalah teknologi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan bisa dimanfaatkan pada saat rentang waktu tertentu. Biasanya dipakai sebagai istilah untuk teknologi yang terkait dengan budaya lokal dan digunakan sebagai salah satu jalur penting untuk mencapai tujuan yang mendasar, yakni meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagian besar masyarakat Indonesia dengan keanekaragaman ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diposisikan, tidak hanya sebagai pendukung, tapi juga sebagai pionir perambah jalan menuju terwujudnya masyarakat sejahtera berkeadilan bagi semua lapisan masyarakat di Indonesia dengan tingkat kemampuan penguasaan teknologi dan ekonomi yang terbatas. TTG berarti teknologi yang sesuai dengan kondisi budaya dan ekonomi serta penggunaannya harus ramah lingkungan. Dalam penerapan TTG perlu diperhatikan beberapa pertimbangan, antara lain : (1) Pemilihan jenis dan tingkat teknologi yang akan diterapkan harus dilakukan oleh masyarakat pengguna dengan bantuan, bimbingan dan arahan dari ahli yang berkompeten (2) Perlunya diperhatikan budaya masyarakat yang mencakup agama, adat, kebiasaan dan aspek sosial lainnya (3) Perlunya pembagian tugas dalam penerapan teknologi di antara warga, baik berdasarkan tingkat pendidikan, kelompok umur ataupun antara pria dan wanita sesuai dengan kemampuan masing-masing kelompok. (4) Perlunya diperhatikan kondisi lingkungan masyarakat, baik dalam sumberdaya alam dan sumberdaya manusia, maupun dalam aspek fisik-teknis dan sosial ekonomi (5) Perlunya diperhatikan ketersediaan sarana yang diperlukan dalam pengoperasian, perawatan dan perbaikan peralatan yang digunakan. (6) Perlunya diperhatikan aspek keselamatan kerja bagi pelaksana, peralatan dan kelestarian lingkungan Kebijakan pemanfaatan TTG dalam bentukan regulasi telah diatur dalam Keputusan Menteri Dalam Negeri Otonomi Daerah No. 4 Tahun 2001 Tentang Penerapan TTG. Dalam Kepmendagri dan Otonomi Daerah No. 4 Tahun 2001, disebutkan bahwa TTG dimanfaatkan untuk: (a) Meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam menggunakan TTG untuk peningkatan kapasitas dan mutu produksi. (b) Meningkatkan pelayanan informasi dan membantu masyarakat untuk mendapatkan TTG yang dibutuhkan (c) Meningkatkan nilai tambah bagi kegiatan ekonomi masyarakat (d) Meningkatkan daya saing produk unggulan daerah. Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam rangka pemanfaatan TTG meliputi : (a). Inventarisasi jenis dan spesifikasi teknologi yang sudah dimanfaatkan masyarakat daerah setempat (b) Pengkajian dan uji coba teknologi, untuk penyusunan daftar jenis TTG yang dibutuhkan masyarakat 197

2 Syafrizal Helmi Situmorang, Muhammad Safri: Urgensi Pengembangan Teknologi sesuai potensi daerah (c) Penyiapan pola penerapan TTG yang sesuai dengan kondisi daerah (d) Penyiapan masyarakat melalui penyuluhan, penerangan, pembentukan kelompok-kelompok masyarakat dan pelatihan. (e) Penguatan dan pengembangan Kelembagaan TTG. Peran Pemerintahaan Kota dalam meningkatkan pemanfaatan TTG lebih ditekankan lagi melalui Inpres No. 3 Tahun 2001 Tentang Penerapan dan Pengembangan TTG, yaitu: (a) Pelaksanaan program penerapan dan pengembangan TTG; (b) Memfasilitasi penguatan kelembagaan pelayanan teknologi dalam penerapan dan pengembangan TTG; (c) Kerjasama dengan lembaga lain dalam penerapan dan pengembangan TTG; (d) Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan program penerapan dan pengembangan TTG. Dari uraian di atas, dapat kita lihat bahwa kebijakan pemerintah dalam bentuk peraturan sebenarnya telah cukup untuk menjadi payung dalam menyusun program pemanfaatan TTG. Pemanfaatan TTG tidak hanya ditujukan kepada masyarakat yang telah memiliki usaha namun juga kepada masyarakat penganggur. Tujuan dan sasaran pemunbuhan unit usaha baru adalah menambah jumlah wirausaha yang memiliki daya saing melalui pemanfaatn TTG. Sasaran program Penumbuhan unit usaha baru, adalah : (a) mengidentifikasi, memilih dan memberikan dukungan kepada pengusaha potensial untuk pengembangan usaha baru : terutama sektor industri kreatif (b) memfasilitasi pertumbuhan pengusahapengusaha yang menggunakan teknologi tepat guna (c) memberikan kontribusi ke arah pengembangan budaya wirausaha (d) memfasilitasi pemanfatan Teknogi Tepat Guna bagi UKM pemula dan dalam pertumbuhan Keberhasilan ini tergantung dari kemampuan pemerintah kota untuk menerapkan kebijakan yang bekerjasama dengan dunia pendidikan dan lembaga pelatihan bisnis, misalnya : (a) mendorong setiap siswa smu/mahasiswa untuk memahami kewirausahaan. (b) Menawarkan program pelatihan bisnis bagi pekerja yang menganggur (c) Mengembangkan pusat kewirausahaan yang memberikan pelatihan bisnis (d) Melatih para guru-guru SMU, untuk bidang kewirausahaan. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi UKM di Kota Medan Pemanfaatan TTG sebagai salah satu alat untuk mensejahterahkan masyarakat memerlukan prioritas kelompok masyarakat yang akan ditingkatkan kemampuannya usahanya melalui pemanfaatan TTG. Penentuan prioritas ini dibutuhkan untuk menentukan program-program prioritas pemanfaatan TTG. Banyak hal yang bisa dijadikan parameter untuk penentuan prioritas diantaranya: kelompot masyarakat yang paling membutuhkan TTG, kelompok masyarakat yang memiliki persentase yang besar dimasyarakat, kemampuan ekonomi yang tidak tinggi dan lain sebagainya. Mengingat sifat TTG yang identik dengan teknologi yang tidak terlalu mahal, sederhana namun tepat guna maka TTG diarahkan UKMK. Di samping hal itu, ada beberapa alasan yang mendukung pemilihan kelompok masyarakat tersebut: a. UKMK adalah kelompok yang memiliki persentase yang cukup besar di masyarakat. b. Kelompok ini umumnya mempunyai permasalahan terhadap informasi teknologi sehingga perlu didampingi Tabel 1 : Sebaran sektor ekonomi di Kota Medan No Sektor Ekonomi Jumlah Pertambangan dan 1 Penggalian 30 2 Industri Pengolahan 9,632 3 Listrik, Gas dan Air Konstruksi 1,498 Perdagangan Besar dan 5 Eceran 90,270 6 Penyediaan Akomodasi dan Makan 36,637 7 Transportasi,Pergudangan & Komunikasi 24,871 8 Perantara Keuangan Real Estate, Persewaan dan Jasa Perusahaan 23, Jasa Pendidikan 3, Jasa Kesehatan & Kegiatan Sosial 2,255 Jasa Kemasyarakatan, SosBud, Hiburan & 12 Perorangan 17,998 Jasa Perorangan yang 13 Melayani Rumah Tangga 11,689 Jumlah 222,138 Sensus Ekonomi,

3 Jurnal Ekonom, Vol 14, No 4, September 2011 Tabel 2 : Sebaran Usaha Mikro Kecil (UMK) dan Usaha Menengah Besar (UMB) berdasarkan kecamatan di Kota Medan Kecamatan Jumlah Usaha UMK UMB Total Medan Tuntungan 8, ,151 Medan Johor 9, ,991 Medan Amplas 8, ,942 Medan Denai 14, ,461 Medan Area 14, ,858 Medan Kota 15, ,314 Medan Maimun 4, ,155 Medan Polonia 4, ,717 Medan Baru 5, ,472 Medan Selayang 8, ,209 Medan Sunggal 10, ,547 Medan Helvetia 16, ,219 Medan Petisah 7, ,404 Medan Barat 11, ,707 Medan Timur 11, ,966 Medan Perjuangan 11, ,841 Medan Tembung 14, ,632 Medan Deli 11, ,597 Medan Labuhan 8, ,351 Medan Marelan 6, ,244 Medan Belawan 13, TOTAL 217,513 4, ,138 Sensus Ekonomi, 2006 Pemanfaatan Teknologi Tepat Guna Dalam pemanfaatan TTG ini ada beberapa prinsip yang perlu dijadikan acuan yaitu: 1. Pemanfaatan TTG dilakukan dalam rangka meningkatkan kualitas kerja usaha-usaha yang telah ada sehingga produktifitas meningkat yang pada tujuan akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat 2. TTG juga dimanfaatkan untuk menumbuhkan lapangan kerja baru dimasyarakat. 3. Walaupun TTG umumnya bukanlah berteknologi tinggi, namun diharapkan adanya proses pendampingan sehingga pemanfaatan TTG tersebut dapat optimal Sementara itu, sasaran dalam pemanfaatan TTG dapat dilakukan melalui pendekatan yang terarah, artinya pemanfaatan TTG harus terarah kepada setiap orang yang membutuhkan dan pendekatan kelompok. Dalam prosesnya perlu dilakukan pendampingan sehingga pemanfaatan tersebut dapat dilakukan secara optimal. Penyusunan rencana induk pemanfaatan TTG ini dimulai dengan melihat kondisi yang ada saat ini baik kondisi struktur usaha yang ada di kota Medan, TTG yang sudah ada maupun pemanfaatannya. Selanjutnya dilakukan analisis SWOT untuk melihat sisi kekuatan, kelemahan, peluang maupun ancaman pemanfaatan TTG ini di Kota Medan. Berdasarkan hasil analisis SWOT tersebut dikembangkan Kebijakan dan Strategi, Sasaran hingga Program Kerja yang diperlukan untuk mencapai kondisi yang diharapkan yaitu peningkatan kesejahteraan masyarakat kota Medan melalui pemanfaatan TTG. Secara bagan, pola pikir pemanfaatan TTG dapat dilihat dari gambar di bawah ini. Studi terapan TTG ini dilakukan pada saat adanya beberapa isu-isu yang berkaitan, yaitu: a. dukungan pemerintah terhadap tumbuhnya UKMK b. penekanan terhadap penggunaan produk lokal dan pembatasan produk import memberikan kesempatan KUKM lokal lebih tumbuh c. pengurangan pengangguran dengan membuka lapangan kerja baru Selain hal-hal positif di atas, terdapat juga permasalahan umum yang ada di UKMK di antaranya: a. Keterbatasan dana b. kurangnya pengetahuan atas teknologi produksi dan quality control yang disebabkan oleh minimnya kesempatan untuk mengikuti perkembangan teknologi serta kurangnya pendidikan dan pelatihan c. kurangnya pengetahuan akan pemasaran, yang disebabkan oleh terbatasnya informasi yang dapat dijangkau oleh UKMK mengenai pasar, selain karena keterbatasan kemampuan UKMK untuk menyediakanproduk/ jasa yang sesuai dengan keinginan pasar 199

4 Syafrizal Helmi Situmorang, Muhammad Safri: Urgensi Pengembangan Teknologi d. keterbatasan sumber daya manusia (SDM) e. kurangnya pemahaman mengenai keuangan dan akuntansi f. Industri pendukung yang lemah. Analisis SWOT TTG Dengan menggunakan analisis SWOT ini, dapat di evaluasi faktor internal kondisi UKMK berupa kekuatan dan kelemahannya dan faktor eksternal berupa peluang dan tantangan. Strategi yang dipilih harus sesuai dan cocok dengan kapabilitas internal dengan situasi eksternalnya. Adapun aktifitas yang termasuk dalam langkah-langkah persiapan adalah bagaimana terdapat kesepahaman presepsi dengan berbagai metode-motode pendekatan yang ada. Adapun berbagai kesepakatan pemahaman yang perlu diambil yaitu: 1. Perlunya identifikasi terhadap peluang dan ancaman yang dihadapi serta kekuatan dan kelemahan yang dimiliki organisasi melalui penelaahan terhadap lingkungan usaha dan potensi sumber daya organisasi dalam menetapkan sasaran dan merumuskan strategi organisasi yang realistic dalam mewujudkan misi dan visinya; 2. Mengumpulkan jenis dan kualitas data dan informasi yang internal dan eksternal yang diperlukan; 3. Menyamakan Langkah-langkah (prosedur) dalam melakukan analisis eksternal dan internal; Setelah analisis dilakukan, selanjutnya akan dilakukan pemodelan dengan 4 model alternative strategi dengan menggunakan SWOT yaitu dengan membuat matriks antara kekuatan (strengths) dengan peluang (opportunities), kelemahan (weakness) dengan peluang (opportunities), kekuatan (strength) dengan tantangan (threat) dan kelemahan (weakness) dengan tantangan (threat). Adapun keempat model alternative tersebut dapat dilihat di bawah ini: Kekuatan (Strengths) peluang (Opportunities) (SO) Kelemahan (Weaknesses) peluang (Opportunities) (WO) Kekuatan (Strengths) Tantangan (Threats) (ST) Kelemahan (Weaknesses) Tantangan (Threats) (WT) POLA PIKIR PEMANFAATAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA DI KOTA MEDAN REGULASI KEBIJAKAN KONDISI SAAT INI S W O T KEBIJAKAN DAN STRATEGI SASARAN PROGRAM KONDISI YANG DIHARAPKAN Gambar 1. Pola Pikir Pemanfaatan TTG di Kota Medan 200

5 Jurnal Ekonom, Vol 14, No 4, September 2011 Tabel 3 : Matriks Internal dan Eksternal Faktor Kekuatan (Strenght) Kelemahan (Weakness) SWOT Matrix peningkatan Mutu Produk desain dan variasi produk Pengemasan/label Inovasi produk Percepatan proses produksi Perencanaan produksi Kapasitas produksi Fasilitas Produksi Kemampuan pemenuhan order Pengembangan pasar Branding (merek) Pemahaman manfaat TTG Ketersediaan Perangkat Keras Ketersediaan Perangkat Lunak Kemampuan Operator Ketersediaan bahan baku Ketersediaan Tenaga Kerja yang memiliki keterampilan Pembeliaan Alat Biaya Investasi Biaya Operasional Peluang (Opportunities) Dukungan pemerintah pusat untuk menggunakan produk-produk dalam negeri Pemerintah pusat telah mengeluarkan berbagai produk hukum yang berhubungan dengan UKMK Pemerintah secara khusus telah membuat sebuah kementerian Negara yang mengurusi tentang UKMK Dukungan yang besar dari Pemerintah Kota Medan untuk pemanfataan TTG Pemerintah Kota Medan telah membuat sebuah dinas yang mengurusi tentang UKMK Perkembangan teknologi yang semakin cepat dan semakin murah Mudahnya saat ini mencari informasi untuk pengembangan perangkatperangkat pendukung bagi pekerjaan Munculnya kesadaran pelaku bisnis UKMK terhadap pemakaian TTG Mulai munculnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan produk-produk dalam negeri Pengembangan pasar yang lebih luas SO Strategy WO Strategy 201

6 Syafrizal Helmi Situmorang, Muhammad Safri: Urgensi Pengembangan Teknologi Tantangan (Threat) Kurangnya Dukungan Permodalan dari lembaga keuangan untuk investasi pembelian alat TTG Persaingan bisnis semakin competitive Program pasar bebas yang membuat banyaknya produk sejenis dari luar negeri dapat dipasarkan di dalam negeri Mutu Produk yang lebih baik dari industri sejenis Harga yang lebih murah Masih belum terbukanya pelayanan perizinan untuk badan usaha membuat banyak KMUKM tidak berbadan hokum yang jelas ST Strategy WT Strategy PELUANG (OPPORTUNITIES) KELEMAHAN (WEAKNESSES) Kerjasam dengan perguruan tinggi, Balai latihan kerja dan Industri untuk Menciptakan berbagai alat TTG untuk mendukung pengembangan UKMK Pelatihan mengenai manfaat TTG Pelatihan keterampilan pengoperasian TTG Bantuan modal / kredit lunak untuk investasi TTG Kemudahan regulasi dan pengembangan produk-produk UKMK Meningkatnya programprogram dukungan bagi pengembangan UKMK Peningkatan kualitas dan kuantitas produk UKMK dengan dukungan teknologiteknologi baru Pengembangan UKMK melalui pemanfaatan TTG Peningkatan Kapasitas produksi Pengembangan Pasar Peningkatan mutu dan inovasi produk UKMK Sosialisasi dan pelaksanaan produkproduk hukum yang mendukung pelaksanaan TTG pada UKMK Memasyarakatkan produk-produk TTG yang mendukung aktifitas UKMK Peningkatan dan publikasi untuk mencintai produkproduk UKMK KEKUATAN (STRENGTHS) Memberikan pemahaman terhadap pentingnya TTG Perbaikan manajemen UKMK Klasifikasi UKMK Pemberian bantuan kredit keuangan kepada UKMK yang berpotensi untuk pemakaian TTG Meningkatkan daya saing UKMK melalui 202

7 Jurnal Ekonom, Vol 14, No 4, September 2011 terhadap penggunan TTG Pemberian bantuan dan kemudahan untuk investasi perangkat lunak dan keras Pemberian pelatihan penggunaan TTG Peningkatan daya saing UKMK Kemudahan dalam regulasi dan perizinan pemanfaatan TTG Pengembangan pasar melalui peningkatan mutu dan inovasi produk Peningkatan kapasitas produksi TANTANGAN (TREAHT) Hasil dari keempat hubungan diatas dapat diintisarikan dalam sebuah table hubungan antara peluang (opportunities), kelemahan (weakness), kekuatan (strength) dan tantangan (treaht). Adapun table hubungan SWOT tersebut dapat dilihat di bawah ini: Berdasarkan analisis swot maka yang menjadi strategi pengembangan TTG adalah : 1. Memberikan pemahaman terhadap pentingnya TTG 2. Klasifikasi UKMK terhadap penggunaan TTG 3. Peningkatan daya saing UKMK melalui TTG 4. Menyusun regulasi dan kebijakan pemanfaataan TTG 5. Memberikan bantuan finansial dan keuangan kepada KUMK untuk pengembangan dan Pemanfaatan TTG Untuk menjembatani sasaran penerapan teknologi tepat guna bagi usaha kecil, menengah dan koperasi di kota Medan, visi dan misi dari penerapan teknologi tepat guna dengan program-program penerapan teknologi tepat guna yang akan dilaksanakan, kelima strategi penerapan teknologi tepat guna diatas perlu dijabarkan sebagai berikut di bawah ini: 1. Memberikan pemahaman terhadap pentingnya TTG Diperlukan pemahaman terhadap pentingnya penerapan teknologi tepat guna bagi usaha kecil, menengah dan koperasi. Teknologi tepat guna merupakan sebuah alat yang dapat digunakan untuk mendukung kinerja dari aktifitas usaha kecil, menengah dan koperasi yang ada. diharapkan dengan adanya pemahaman yang baik akan pentingnya teknologi tepat guna, para pelaku pelaksana usaha kecil, menengah dan koperasi dapat memanfaatkan berbagai teknoloti yang telah dibuat dan diterapkan untuk meningkatan produktivitas dan kualitas dari seluruh produkproduk atau pelayanan yang diberikan. Untuk itu diperlukan berbagai strategis kebijakan seperti yang tertuang di bawah ini: Kebijakan memberikan pemahaman terhadap pentingnya teknologi tepat guna. Inti dari penerapan kebijakan ini adalah agar para praktisi dan penggerak UKMK menyadari bahwa penerapan teknologi tepat guna dalam aktifitas pekerjaannya sehari-hari akan memberikan nilai tambah yang cukup signifikan bagi hasil produksi atau pelayanan yang akan diberikan. Kebijakan melakukan kerjasama dengan perguruan tinggi, balai latihan kerja dan industry untuk menciptakan berbagai alat teknologi tepat guna untuk mendukung pengembangan UKMK. Inti dari penerapan kebijakan ini diharapkan agar perkembangan dari teknologi yang ada dapat terjaga dan sesuai dengan perkembangan jaman dan kebutuhan yang ada. Kebijakan melakukan dan melaksanakann pelatihan mengenai manfaat dan ketrampilan pengoperasian teknologi tepat guna. Inti dari pelaksanaan kebijakan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan para pengguna agar dapat menjalankan berbagai produk dari teknologi tepat guna yang terbaru dan terbaik. 203

8 Syafrizal Helmi Situmorang, Muhammad Safri: Urgensi Pengembangan Teknologi 2. Klasifikasi UKMK terhadap penggunaan TTG Diperlukan pelaksanaan aktifitas pengklasifikasian UKMK terhadap penggunaan teknologi tepat guna yang ada. diharapkan dengan adanya aktifitas pengklasifikasian ini nantinya, produk-produk teknologi tepat guna yang dibuat tidak berakhir sia-sia dan dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin. Aktifitas yang dapat dilakukan dapat dengan melakukan survey untuk mengetahui kebutuhan UKMK atas berbagai jenis teknologi tepat guna yang ada, survey untuk mengetahui penerapan teknologi tepat guna saat ini serta seminar-seminar dan workshop untuk mendiskusikan berbagai kebutuhan dan perkembangan dari teknologi tepat guna yang ada. 3. Peningkatan daya saing UKMK melalui teknologi tepat guna Diperlukan pelaksanaan aktifitas usaha untuk meningkatkan daya saing UKMK melalui penggunaan berbagai produk hasil dari penerapan teknologi tepat guna yang ada. diharapkan dengan adanya aktifitas ini dapat meningkatkan daya saing dari produk-produk dan pelayanan yang dihasilkan oleh UKMK dengan menggunakan berbagai penerapan dari teknologi tepat guna yang ada. Untuk itu diperlukan berbagai strategis kebijakan seperti yang tertuang di bawah ini: Kebijakan pelaksanaan peningkatan dan publikasi untuk mencintai produk-produk UKMK. Kebijakan yang dilaksanakan dengan meningkatkan publikasi tentang produk-produk UKMK yang ada dengan berbagai jenis promosi baik di media cetak dan elektronik. Pembuatan slogan-slogan untuk mencintai dan menggunakan produk dalam negeri khususnya UKMK, pembuatan brosur-brosur, pembangunan website pusat data dan informasi UKMK dan sebagainya. Kebijakan untuk memasyarakatkan produkproduk teknologi tepat guna yang mendukung aktifitas UKMK. Kebijakan yang dilaksanakan adalah dengan meningkatkan pemasaran dari produkproduk teknologi tepat guna kepada para pelaku UKMK. Pemberian informasi yang lengkap dan detail tentang manfaat penggunaan berbagai produk-produk hasil penerapan teknologi tepat guna bari para pelaku UKMK dan sebagainya. Kebijakan untuk meningkatkan daya saing UKMK melalui pemanfaatan teknologi tepat guna. Kebijakan yang dilaksanakan kebijakan yang dilaksanakan adalah dengan meningkatkan berbagai produk-produk teknologi tepat guna yang akhirnya memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas dan kuantitas serta daya saing dari produk-produk UKMK. 4. Menyusun regulasi dan kebijakan pemanfataan TTG Diperlukan aktifitas menyusun berbagai regulasi dan kebijakan yang berhubungan dengan pemanfaatan teknologi tepat guna dalam berbagai aktifitas produksi dan pelayanan di usaha kecil, menengah dan koperasi. Untuk itu diperlukan berbagai strategis kebijakan seperti yang tertuang di bawah ini: Kebijakan mengeluarkan kemudahan regulasi dan pengembangan produk-prduk UKMK. Kebijakan yang dilaksanakan dengan memberikan kemudahan regulasi dan pengembangan produk-produk UKMKseperti adanya himbauan pemerintah untuk menggunakan berbagai produk dalam negeri khususnya UKMK baik di lingkungan pemerintah sendiri maupun masyarakat. Selain itu adanya kemudahan regulasi dalam perizinan penggunaan produk-produk UKMK, kemudahan regulasi bagi para pelaku pemasaran dari produk-produk UKMK, seperti kemudahan untuk membuat workshop, pameran atau pusat pengembangan dan sebagainya. Kebijakan untuk memberikan kemudahan dalam perizinan pengembangan UKMK. Kebijakan yang dilaksanakan dengan memberikan kemudahan dalam perizinan untuk mengembangkan usaha kecil, menengah dan koperasi, pemberian kemudahan dalam pembuatan berbagai surat-surat perizinan, bantuan-bantuan pembuatan perizinan gratis di daerahdaerah dan sebagainya. Kebijakan untuk memberikan kemudahan dalam perizinan bagi usaha-usaha pengembangan teknologi tepat guna. Kebijakan yang dilaksanakan dengan memberikan kemudahan dalam perizinan untuk para pelaku pengembangan teknologi 204

9 Jurnal Ekonom, Vol 14, No 4, September 2011 tepat guna, pemberian kemudahan dalam pembuatan berbagai surat-surat perizinan, bantuan-bantuan pembuatan perizinan gratis di daerah-daerah dan sebagainya. Kebijakan dalam melaksanakan berbagai sosialisasi dan pelaksanaan produk-produk hukum yang mendukung pelaksanaan teknologi tepat guna bagi UKMK. Kebijakan yang dilaksanakan dengan memberikan berbagai sosialsi dari berbagai produk-produk hukum yang mendukung pengembangan UKMKdan penerapan teknologi tepat guna yang ada. pemerintah juga memiliki keyakinan yang kuat untuk menjalankan berbagai produk hukum yang telah dibuat. 5. Memberikan bantuan finansial dan keuangan kepada UKMK untuk pengembangan dan pemanfaatan TTG Diperlukan aktifitas bantuan pemberian finansial dan keuangan bagi para pelaku usaha kecil, menengah dan koperasi yang konsisten dalam pengembangan dan penggunaan dari berbagai produk teknologi tepat guna. Untuk itu diperlukan berbagai strategis kebijakan seperti yang tertuang di bawah ini: Kebijakan pemberian bantuan kredit keuangan kepada UKMK yang berpotensi untuk pemakaian teknologi tepat guna. Kebijakan ini adalah untuk memberikan kesempatan yang luas bagi para pelaku UKMK untuk mengembangkan usahanya dengan menggunakan dan pemakaian berbagai teknologi tepat guna yang ada untuk meningkatkan produksi dan pelayanannya bagi konsumen. Kebijakan pemberian bantuan modal/kredit lunak untuk investasi pengembangan teknologi tepat guna. Kebijakan ini adalah untuk para pelaku pengembang teknologi tepat guna untuk dapat terus menghasilkan berbagai produk penerapan teknologi tepat guna yang berkualitas, murah dan efisien. KESIMPULAN Saat ini, program pemberdayaan masyarakat dan program pembangunan yang lebih mengedepankan partisipasi dan kemampuan masyarakat merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang sangat penting. Hal ini akan tampak ketika segala sesuatu yang memerlukan peran serta pemerintah akan dikurangi dan lebih mengedepankan peran serta serta partisipasi dari masyarakat, sebagai motor penggerak yang optimal kepada bangsa dan negara. Bentuk pemberdayaan masyarakat adalah penerapan dan pengembangan hasil yang ada di setiap lapisan secara berkelanjutan. Program ini memberikan kepercayaan lebih kepada masyarakat seluas luasnya untuk dapat mempercepat pemulihan ekonomi nasional, mempercepat kemajuan daerahnya masingmsaing dalam menghadapi persaingan global di berbagai bidang dengan mampu menggunakan teknologi tepat guna. Hal tersebut sesuai dengan Instruksi Presiden RI no. 3 tahun 2001 tentang Penerapan dan Pengembangan Teknologi Tepat Guna. Tujuan pengembangan suatu teknologi pada dasarnya adalah untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan, baik yang telah nyata, ataupun yang dirasakan dan diinginkan adanya, dan bahkan yang diantisipasi akan diinginkan, maka suatu upaya pengembangan teknologi yang efektif, pertama-tama harus didasarkan pada permintaan pasar, baik yang telah nyata ada, atau yang mulai tampak dirasakan adanya. Prasyarat tersebut memang perlu, tetapi belum cukup. Kemampuan itu harus dilengkapi dengan kemampuan menerjemahkan perkembangan kebutuhan pasar tersebut dengan kemampuan untuk menggagas spektrum teknologi bagaimana yang dapat menanggapi kebutuhan yang diamati tersebut. SARAN Pola pendekatan yang dikemukakan di atas mensyaratkan adanya institusi, baik yang berdiri sendiri maupun terorganisasi di dalam sistem-sistem korporat atau masyarakat,. sistem-sistem semacam itu jelas perlu mempunyai sumberdaya pikir yang canggih, yang mampu memadukan kebutuhan, potensi khazanah ilmu pengetahuan, penerjemahan khazanah tersebut menjadi paket-paket teknologi, evaluasi dari teknologi yang berhasil dikemas tersebut untuk menguji keterlaksanaannya, baik dari pertimbangan teknis, ekonomi, sosial, maupun persyaratan lingkungan. Selain itu, mampu berkomunikasi kepada masyarakat ilmiah maupun masyarakat luas, pemerintahan dan lembaga-lembaga masyarakat untuk memotivasi mereka untuk mendukung ataupun meyakinkan kemanfaatan dari apa 205

10 Syafrizal Helmi Situmorang, Muhammad Safri: Urgensi Pengembangan Teknologi yang akan dilakukan, sedang dilakukan, dan yang sudah dihasilkan. Namun tingkat keberhasilannya masih ditentukan oleh ketepatgunaan teknologi yang dihasilkan. Tingkat keberhasilan akan lebih tinggi bila unsur ketepatgunaan dan ketepatsaatan dipenuhi. Yang terakhir ini sangat kontekstual, tergantung dari lingkungan masyarakat tempat teknologi tersebut akan difungsikan. Untuk itu diperlukan sebuah program yang terpadu dan terintegrasi untuk memadukan antara penerapan teknologi tepat guna dengan jalannya ekonomi kerakyatan yang akhirnya diharapkan dapat mendorong perekonomian bangsa Indonesia secara keseluruhan. DAFTAR RUJUKAN Badan Pusat Statistik, Medan dalam Angka 2008 Inpres No. 3 Tahun 2001 : Tentang Penerapan dan Pengembangan TTG. Keputusan Menteri Dalam Negeri : Otonomi Daerah No. 4 Tahun 2001 Tentang Penerapan TTGRencana Strategi Kementrian Koperasi dan UKM, Survey ekonomi Nasional, Situmorang, Syafrizal Helmi, 2009, Bisnis : Perencanaan dan Pengembangan, Mitra Wacana Media, Jakarta 206

11 Jurnal Ekonom, Vol 14, No 4, September 2011 Lampiran MATRIK INVENTARISASI TEKNOLOGI TEPAT GUNA ARAH KEBIJAKAN Inventarisasi Teknologi Tepat Guna Pengembangan Pusat Data Dan Informasi Teknologi Tepat Guna PROGRAM Pelaksanaan studi klasifikasi UKMK terhadap penggunaan teknologi tepat guna Pelaksanaan survey pendataan penggunaan produk-produk teknologi tepat guna yang sudah digunakan pada aktifitas UKMK di kota Medan Pelaksanaan survey tentang kebutuhan penggunaan teknologi tepat guna oleh para UKMK di kota Medan Pelaksanaan pembuatan peta pusat-pusat pengembangan teknologi tepat guna di kota medan sesuai dengan jenisnya Membangun kluster-kluster pengembangan teknologi tepat guna yang disesuaikan dengan situasi daerah Pelaksanaan pengumpulan produk-produk pengembangan teknologi tepat guna yang telah dihasilkan dan digunakan di kota Medan di sentra-sentra pengembangan teknologi tepat guna Penentuan unggulan produk-produk pengembangan teknologi tepat guna di kota Medan Pembuatan peta pasar produk tekonologi tepat guna yang mutakhir dalam dan luar negeri Membangun sistem manajemen informasi tentang penerapan teknologi tepat guna kota Medan Pembangunan pusat data dan informasi serta pengembangan teknologi tepat guna (dalam bentuk fisik atau secretariat) Meningkatnya pelayanan data statistic pembangunan dan penerapan teknologi tepat guna INDIKATOR HASIL Klasifikasi UKMK terhadap teknologi tepat guna yang ada Dapatnya data penggunaan dari produk-produk teknologi tepat guna yang sudah digunakan pada aktifitas UKMK Terdatanya kebutuhan akan penggunaan teknologi tepat guna oleh para UKMK di Kota Medan Terbuatnya peta-peta pusat pengembangan teknologi tepat guna di kota Medan Terbangunnya kluster-kluster pengembangan teknologi tepat guna yang sesuai Adanya informasi tentang produk-produk pengembangan teknologi tepat guna yang telah dihasilkan pada sentra-sentra pengembangan yang ada Ditentukannya jenis-jenis produk unggulan dari pengembangan teknologi tepat guna Terbuatnya peta pasar dari produk-produk teknologi tepat guna yang mutakhir baik untuk dalam dan luar negeri Terbangunnya kerangka sistem manajemen informasi tentang penerapan teknologi tepat guna kota Medan Terbangunnya gedung pusat data dan informasi serta pengembangan teknologi tepat guna 207

12 Syafrizal Helmi Situmorang, Muhammad Safri: Urgensi Pengembangan Teknologi Tersedianya sistem pengelolaan data dan pemetaan hasil penerapan dan pengembangan teknologi tepat guna di UKMK khususnya di kota Medan Pembangunan website pusat data dan informasi tentang teknologi tepat guna Pembuatan buku saku tentang data dan informasi teknologi tepat guna Membangun pusat data badan hukum dari perusahan-perusahan yang mengembangkan teknologi tepat guna Pembuatan dan pengembangan majalah atau bulletin teknologi tepat guna Pembuatan CD tentang data dan Informasi Teknologi Tepat Guna Bantuan kepada para pengembang teknologi tepat guna dalam bentuk pembuatan profil perusahaan, profil investasi, video pemasaran Bantuan kepada para pengembang teknologi tepat guna atas data dan informasi tentang pengembangan teknologi yang ada, baik dalam bentuk majalah/bulletin, cd, film, video, buku dan sebagainya Meningkatnya pelayanan akan data statistik pembangunan dan penerapan teknologi tepat guna Adanya sistem pengelolaan data dan pemetaan hasil penerapan dan pengembangan teknologi tepat guna di UKMK Terbangunnya website pusat data dan informasi tentang teknologi tepat guna Adanya buku saku tentang data dan informasi teknologi tepat guna Terbangunnya pusat data badan hukum dari perusahaanperusahaan yang mengembangkan teknologi tepat guna Adanya majalah atau bulletin teknologi tepat guna Adanya CD tentang data dan informasi teknologi tepat guna Bantuan kepada para pengembangan teknologi tepat guna dalam bentuk pembuatan profil perusahaan, profil investasi, video pemasaran 208

PERAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN Kasus Propinsi Kepulauan Riau

PERAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN Kasus Propinsi Kepulauan Riau PERAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA UNTUK MASYARAKAT DAERAH PERBATASAN Kasus Propinsi Kepulauan Riau Dicky R. Munaf 1, Thomas Suseno 2, Rizaldi Indra Janu 2, Aulia M. Badar 2 Abstract The development in Indonesia

Lebih terperinci

cenderung terbuka dan menganut proses pembelajaran. Analisis lingkungan eksternal bisnis dari sebuah perusahaan sangat bagus

cenderung terbuka dan menganut proses pembelajaran. Analisis lingkungan eksternal bisnis dari sebuah perusahaan sangat bagus 24 cenderung terbuka dan menganut proses pembelajaran. 2.7 Analisis Lingkungan Eksternal Bisnis Analisis lingkungan eksternal bisnis dari sebuah perusahaan sangat bagus apabila digunakan untuk membantu

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGELOLAAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGELOLAAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 20 TAHUN 2010 TENTANG PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PENGELOLAAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015

PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015 1 PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015 DEPUTI BIDANG KELEMBAGAAN KOPERASI DAN UKM 1. Revitalisasi dan Modernisasi Koperasi; 2. Penyuluhan Dalam Rangka Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi;

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

KAJIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN USAHA UKM DI PROPINSI SUMATERA UTARA

KAJIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN USAHA UKM DI PROPINSI SUMATERA UTARA KAJIAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN USAHA UKM DI PROPINSI SUMATERA UTARA Abstract The small and medium growth enterpresies (SMEs) in North Sumatera province have a strategic role to its

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN A. Strategi Pembangunan Daerah Strategi adalah langkah-langkah berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi pembangunan Kabupaten Semarang

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

MATERI 1 ARTI PENTING PERENCANAAN STRATEGIS

MATERI 1 ARTI PENTING PERENCANAAN STRATEGIS MATERI 1 ARTI PENTING PERENCANAAN STRATEGIS 1.1. Pengertian Perencanaan Strategis Perencanaan strategis perusahaan adalah suatu rencana jangka panjang yang bersifat menyeluruh, memberikan rumusan ke mana

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana Pemerintah Daerah mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif dan efisien.

Lebih terperinci

ANALISIS STRATEGI PEMASARAN PERUMAHAN BEKASI TIMUR REGENSI 3

ANALISIS STRATEGI PEMASARAN PERUMAHAN BEKASI TIMUR REGENSI 3 ANALISIS STRATEGI PEMASARAN PERUMAHAN BEKASI TIMUR REGENSI 3 Yulita Veranda Usman 1, Wiwi Yaren 2 1,2) Jurusan Teknik Industri Fakultas Teknik Universitas Pancasila 1) yulita@univpancasila.ac.id Abstrak

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN - 115 - BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran perlu dipertegas dengan upaya atau cara untuk mencapainya melalui strategi pembangunan daerah dan arah kebijakan yang diambil

Lebih terperinci

Tentang Penulis. Penulis dilahirkan pada tanggal 27 Oktober 1984 di Majene, Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan, Jurusan Perikanan,

Tentang Penulis. Penulis dilahirkan pada tanggal 27 Oktober 1984 di Majene, Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan, Jurusan Perikanan, Tentang Penulis Penulis dilahirkan pada tanggal 27 Oktober 1984 di Majene, Sulawesi Barat. Pada tahun 2002 menyelesaikan pendidikan di SMU 1 Majene dan pada tahun 2003 penulis berhasil diterima pada Program

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana pemerintah Kabupaten Natuna mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif

Lebih terperinci

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam Abstrak UPAYA PENGEMBANGAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) Oleh : Dr. Ir. Mohammad Jafar Hafsah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Mengingat bahwa RPJMD merupakan pedoman dan arahan bagi penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah lainnya, maka penentuan strategi dan arah kebijakan pembangunan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi harus dijadikan salah satu rujukan penting

Lebih terperinci

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH

UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA DI SEKOLAH A. Ridwan Siregar Universitas Sumatera Utara I. PENDAHULUAN Minat baca adalah keinginan atau kecenderungan hati yang tinggi (gairah) untuk membaca. Minat baca dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan I. PENDAHULUAN A. Maksud dan Tujuan Rencana Kerja (Renja) Dinas Peternakan Kabupaten Bima disusun dengan maksud dan tujuan sebagai berikut : 1) Untuk merencanakan berbagai kebijaksanaan dan strategi percepatan

Lebih terperinci

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN

CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN CETAK BIRU EDUKASI MASYARAKAT DI BIDANG PERBANKAN Kelompok Kerja Edukasi Masyarakat Di Bidang Perbankan 2007 1. Pendahuluan Bank sebagai lembaga intermediasi dan pelaksana sistem pembayaran memiliki peranan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH I. UMUM Dengan adanya otonomi daerah Pemerintah Provinsi memiliki peran yang

Lebih terperinci

: pendampingan, vokasi, kelompok keterampilan, peternakan

: pendampingan, vokasi, kelompok keterampilan, peternakan PENINGKATAN KETERAMPILAN BETERNAK DENGAN DILENGKAPI PEMANFAATAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA PADA KKN VOKASI DI DESA MOJOGEDANG KECAMATAN MOJOGEDANG KABUPATEN KARANGANYAR Sutrisno Hadi Purnomo dan Agung Wibowo

Lebih terperinci

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian,

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian, urusan perumahan rakyat, urusan komunikasi dan informatika, dan urusan kebudayaan. 5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) Pembangunan di tahun kelima diarahkan pada fokus pembangunan di urusan lingkungan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2012 TENTANG PEMBIAYAAN PERLINDUNGAN LAHAN PERTANIAN PANGAN BERKELANJUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 No. Urut 05 ASESMEN MANDIRI SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 Lembaga Sertifikasi Profesi Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat 2013 Nomor Registrasi Pendaftaran

Lebih terperinci

Sumber Daya Manusia. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan

Sumber Daya Manusia. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan 158 Profil Singkat BCA Laporan kepada Pemegang Saham Tinjauan Bisnis Pendukung Bisnis Sumber Daya Manusia Filosofi BCA membina pemimpin masa depan tercermin dalam berbagai program pelatihan dan pengembangan

Lebih terperinci

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN Potensi dan Tantangan DI INDONESIA Oleh: Dr. Sunoto, MES Potensi kelautan dan perikanan Indonesia begitu besar, apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI A. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Beberapa permasalahan yang masih dihadapi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

TAHAP 1: MERUMUSKAN MASALAH

TAHAP 1: MERUMUSKAN MASALAH Contoh Studi Tahapan Monitoring dan Evaluasi Kebijakan TAHAP 1: MERUMUSKAN MASALAH Dalam studi kasus tersebut, langkah-langkah yang diambil dalam merumuskan masalah meliputi: 1. Memikirkan masalah yang

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH Menimbang : DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa masyarakat adil dan makmur

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

SKRIPSI ANALISIS SWOT TERHADAP MARKETING MIX PADA USAHA KECIL DISTRO PUNYA MEDAN OLEH. Sanjey Maltya 090502135

SKRIPSI ANALISIS SWOT TERHADAP MARKETING MIX PADA USAHA KECIL DISTRO PUNYA MEDAN OLEH. Sanjey Maltya 090502135 SKRIPSI ANALISIS SWOT TERHADAP MARKETING MIX PADA USAHA KECIL DISTRO PUNYA MEDAN OLEH Sanjey Maltya 090502135 PROGRAM STUDI STRATA-1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. KONDISI UMUM

BAB I PENDAHULUAN A. KONDISI UMUM BAB I PENDAHULUAN A. KONDISI UMUM Kantor Pengadilan Tinggi Jakarta yang terletak di Jalan Letjen. Suprapto Cempaka Putih Jakarta Pusat diresmikan pada tanggal 26 Pebruari 1983 oleh Menteri Kehakiman RI.

Lebih terperinci

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi Bab1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi manajemen, menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk

Lebih terperinci

LAMPIRAN-LAMPIRAN. Tabel 3.46 Kuisioner Materi

LAMPIRAN-LAMPIRAN. Tabel 3.46 Kuisioner Materi L1 LAMPIRAN-LAMPIRAN Tabel 3.46 Kuisioner Materi No Pertanyaan Sangat Kurang 1. Bagaimana format dan penampilan materi pelatihan (handout / buku)? 2. Bagaimana peran handout / buku materi pelatihan dalam

Lebih terperinci

Mobilisasi Masyarakat

Mobilisasi Masyarakat Mobilisasi Masyarakat Dalam tulisan ini saya mencoba memadukan beberapa pengalaman dan pengamatan tentang Community Mobilization (Penggerakan Masyarakat), dengan tujuan agar masyarakat ikut melakukan kegiatankegiatan

Lebih terperinci

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN Oleh : M. Liga Suryadana KLASIFIKASI WISATA Wisata alam (nature tourism), merupakan aktifitas wisata yang ditujukan pada pemanfaatan terhadap

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

B A P P E D A D A N P E N A N A M A N M O D A L P E M E R I N T A H K A B U P A T E N J E M B R A N A. 1.1 Latar Belakang

B A P P E D A D A N P E N A N A M A N M O D A L P E M E R I N T A H K A B U P A T E N J E M B R A N A. 1.1 Latar Belakang 1.1 Latar Belakang U ntuk menindak lanjuti diberlakukannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 maka dalam pelaksanaan otonomi daerah yang harus nyata dan bertanggung

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

Gambar 1. Contoh Fasilitas Google Earth

Gambar 1. Contoh Fasilitas Google Earth OPTIMALISASI PELAYANAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENATAAN RUANG DI TINGKAT KECAMATAN DENGAN MEMANFAATKAN TEKNOLOGI WIRELESS/WIFI Oleh : Rendy Jaya Laksamana Ditjen Bina Pembangunan Daerah, Departemen

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan, perlu perubahan secara mendasar, terencana dan terukur. Upaya

Lebih terperinci

DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI

DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI DEKLARASI PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MANDIRI Bahwa kemiskinan adalah ancaman terhadap persatuan, kesatuan, dan martabat bangsa, karena itu harus dihapuskan dari bumi Indonesia. Menghapuskan kemiskinan merupakan

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS PENGADILAN NEGERI SAMBAS MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2015-2019

RENCANA STRATEGIS PENGADILAN NEGERI SAMBAS MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2015-2019 MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA RENCANA STRATEGIS TAHUN 2015-2019 PENGADILAN NEGERI SAMBAS Jl. Pembangunan Sambas Kalbar 79462 Telp/Fax. (0562) 392323, 392342 Email: indo@pn-sambas.go.id Website: www.pn-sambas.go.id

Lebih terperinci

PERLINDUNGAN HUKUM PRODUK UMKM MELALUI HKI (HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL)

PERLINDUNGAN HUKUM PRODUK UMKM MELALUI HKI (HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL) PERLINDUNGAN HUKUM PRODUK UMKM MELALUI HKI (HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL) I. LATAR BELAKANG UMKM ( Usaha Mikro Kecil dan Menengah ) merupakan pelaku ekonomi nasional yang mempunyai peran yang sangat penting

Lebih terperinci

BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA. 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP)

BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA. 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) Rencana strategis (Renstra) instansi pemerintah merupakan langkah awal

Lebih terperinci

- 458 - 2. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di bidang kebudayaan.

- 458 - 2. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di bidang kebudayaan. - 458 - Q. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA 1. Kebijakan Bidang Kebudayaan 1. Kebudayaan 1. Rencana induk pengembangan kebudayaan 1. Rencana induk pengembangan kebudayaan

Lebih terperinci

LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005

LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005 LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005 1.1 Latar Belakang Seni dan budaya daerah mempunyai

Lebih terperinci

Ambon, 12 Februari 2014 KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM DEPUTI BIDANG PENGKAJIAN SUMBERDAYA UKMK

Ambon, 12 Februari 2014 KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM DEPUTI BIDANG PENGKAJIAN SUMBERDAYA UKMK Ambon, 12 Februari 2014 KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM DEPUTI BIDANG PENGKAJIAN SUMBERDAYA UKMK 1 1 LINGKUP KEGIATAN Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK 1. Melaksanakan kajian yang berkaitan dengan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN MENTERI DALAM NEGERI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL MENENGAH GUBERNUR BANK INDONESIA

KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN MENTERI DALAM NEGERI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL MENENGAH GUBERNUR BANK INDONESIA KEPUTUSAN BERSAMA MENTERI KEUANGAN MENTERI DALAM NEGERI MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL MENENGAH GUBERNUR BANK INDONESIA NOMOR: 351.1/KMK.010/2009 NOMOR: 900-639A TAHUN 2009 NOMOR: 01/SKB/M.KUKM/IX/2009

Lebih terperinci

BAB III Tahapan Pendampingan KTH

BAB III Tahapan Pendampingan KTH BAB III Tahapan Pendampingan KTH Teknik Pendampingan KTH 15 Pelaksanaan kegiatan pendampingan KTH sangat tergantung pada kondisi KTH, kebutuhan dan permasalahan riil yang dihadapi oleh KTH dalam melaksanakan

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PEMASARAN TORTILLA CHIPS JAGUNG DI HOME INDUSTRY INSAN MANDIRI KLATEN

ANALISIS NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PEMASARAN TORTILLA CHIPS JAGUNG DI HOME INDUSTRY INSAN MANDIRI KLATEN 1 ANALISIS NILAI TAMBAH DAN STRATEGI PEMASARAN TORTILLA CHIPS JAGUNG DI HOME INDUSTRY INSAN MANDIRI KLATEN Nonik Desi Tri Lestari, Kusnandar, Nuning Setyowati Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah

Lebih terperinci

Review RENCANA STRATEGIS (RENSTRA SKPD) TAHUN 2010-2015

Review RENCANA STRATEGIS (RENSTRA SKPD) TAHUN 2010-2015 Review RENCANA STRATEGIS (RENSTRA SKPD) TAHUN 2010-2015 DINAS CIPTA KARYA KABUPATEN BADUNG Mangupura, 2013 PEMERINTAH KABUPATEN BADUNG DINAS CIPTA KARYA PUSAT PEMERINTAHAN MANGUPRAJA MANDALA JALAN RAYA

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara A. Dasar Pemikiran Sejak satu dasawarsa terakhir masyarakat semakin

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA. NOMOR: 11 /Per/M.KUKM/ XII /2013

PERATURAN MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA. NOMOR: 11 /Per/M.KUKM/ XII /2013 PERATURAN MENTERI KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 11 /Per/M.KUKM/ XII /2013 TENTANG NORMA, STANDAR, PROSEDUR DAN KRITERIA PENYELENGGARAAN INKUBATOR WIRAUSAHA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARAAN KEOLAHRAGAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

Kajian Strategi Pemasaran Industri Kecil Sepatu (Studi Kasus di Desa Ciomas, Kabupaten Bogor) Abstract

Kajian Strategi Pemasaran Industri Kecil Sepatu (Studi Kasus di Desa Ciomas, Kabupaten Bogor) Abstract Kajian Strategi Pemasaran Industri Kecil Sepatu (Studi Kasus di Desa Ciomas, Kabupaten Bogor) Azril Amor 1, Musa Hubeis 2, Kooswardhono Mudikdjo 2 Abstract Bogor is one of the shoes production centres

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Renstra Kantor Lingkungan Hidup Kota Metro merupakan suatu. proses yang ingin dicapai pada hasil yang ingin dicapai Kantor

BAB I PENDAHULUAN. Renstra Kantor Lingkungan Hidup Kota Metro merupakan suatu. proses yang ingin dicapai pada hasil yang ingin dicapai Kantor Renstra 2011-2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Renstra Kota Metro merupakan suatu proses yang ingin dicapai pada hasil yang ingin dicapai Kota Metro selama kurun waktu 5 (lima) tahun secara sistematis

Lebih terperinci

8. Menjadikan Kantor Perpustakaan dan Arsip sebagai sumber bahan pustaka dan pusat kearsipan.

8. Menjadikan Kantor Perpustakaan dan Arsip sebagai sumber bahan pustaka dan pusat kearsipan. Visi Kantor Perpustakaan dan Arsip 1. Terwujudnya masyarakat gemar membaca dan tertib arsip. 2. Sidoarjo membaca tahun 2015 dan tertib arsip. 3. Gemar ke perpustakaan dan tertib arsip. 4. Membaca ke perpustakaan

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012-2014

RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012-2014 RENCANA STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2012-2014 KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM TAHUN 2012 a PERATURAN MENTERI NEGARA KOPERASI DAN USAHA KECIL DAN MENENGAH

Lebih terperinci

PEMBANGUNAN MASYARAKAT MELALUI GERAKAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. Oleh : Dr. Ir. Hj. Aida Vitayala S. Hubeis

PEMBANGUNAN MASYARAKAT MELALUI GERAKAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT. Oleh : Dr. Ir. Hj. Aida Vitayala S. Hubeis PEMBANGUNAN MASYARAKAT MELALUI GERAKAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT Oleh : Dr. Ir. Hj. Aida Vitayala S. Hubeis Batasan Istilah Pemberdayaan masyarakat (community emporwerment) adalah perujudan dari pengembangan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro

Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro Deskripsi Singkat Program Bonus: Sebuah Modifikasi dari Konsep Kredit-Mikro Tujuan dokumen ini adalah untuk memberikan gambaran singkat tentang Program Bonus. Program Bonus memobilisasi dana hibah untuk

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Segmentation, Targetting, dan Positioning Segmentation Segmentasi geografi Pelanggan yang berasal di daerah Bandung dan sekitarnya Segmentasi Demografi: Untuk segmentasi

Lebih terperinci

Kerjasama Dalam Sentra UKM

Kerjasama Dalam Sentra UKM B A B Kerjasama Dalam Sentra UKM T ingkat Kerjasama dan Keberadaan Kelompok menjadi salah satu pemicu peningkatan aktivitas di dalam sentra. Hal ini menunjukkan dukungan pada pendekatan JICA yang mensyaratkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015

RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015 RENCANA KINERJA BALAI BESAR PULP DAN KERTAS TAHUN ANGGARAN 2015 KATA PENGANTAR R encana Kinerja merupakan dokumen yang berisi target kinerja yang diharapkan oleh suatu unit kerja pada satu tahun tertentu

Lebih terperinci

ANALISIS SWOT UNTUK MENENTUKAN STRATEGI KOMPETITIF. Zuhrotun Nisak

ANALISIS SWOT UNTUK MENENTUKAN STRATEGI KOMPETITIF. Zuhrotun Nisak ANALISIS SWOT UNTUK MENENTUKAN STRATEGI KOMPETITIF Zuhrotun Nisak ABSTRAKSI Dengan meningkatnya persaingan Global, maka perusahaan dituntut untuk selalu memperhatikan keadan pasar dan bersaing lebih kompetitif

Lebih terperinci

FORMULIR PENDAFTARAAN KEPERSERTAAN LOMBA TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG) KREASI DAN INOVASI (KRENOVA) DAN UNGGULAN TAHUN 2015 TINGKAT KOTA BATAM

FORMULIR PENDAFTARAAN KEPERSERTAAN LOMBA TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG) KREASI DAN INOVASI (KRENOVA) DAN UNGGULAN TAHUN 2015 TINGKAT KOTA BATAM Ditjen PMD - Kemendagri FORMULIR PENDAFTARAAN KEPERSERTAAN LOMBA TEKNOLOGI TEPAT GUNA (TTG) KREASI DAN INOVASI (KRENOVA) DAN UNGGULAN TAHUN 2015 TINGKAT KOTA BATAM Pedoman Umum Penilaian Gelar TTG Nasional

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2011 TEN TANG RUMAH SUSUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelaksanaan otonomi daerah secara luas, nyata dan bertanggungjawab telah menjadi tuntutan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah memiliki hak dan kewenangan dalam mengelola

Lebih terperinci

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Blitar 2005-2025

Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Blitar 2005-2025 BAB I PENDAHULUAN A. UMUM Di era otonomi daerah, salah satu prasyarat penting yang harus dimiliki dan disiapkan setiap daerah adalah perencanaan pembangunan. Per definisi, perencanaan sesungguhnya adalah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL NOMOR 63 TAHUN 2009 TENTANG SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL, Menimbang : a. bahwa pendidikan nasional

Lebih terperinci

Mengenal OJK & Lembaga Keuangan Mikro

Mengenal OJK & Lembaga Keuangan Mikro Mengenal OJK & Lembaga Keuangan Mikro Bakohumas Information & Communication Expo 2014, Bandung, 29 November 2014 Lucky Fathul Hadibrata DEPUTI KOMISIONER MANAJEMEN STRATEGIS OTORITAS JASA KEUANGAN Agenda

Lebih terperinci

EVALUASI SISTEM PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG

EVALUASI SISTEM PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG PROGRAM PASCA SARJANA TEKNIK PRASARANA LINGKUNGAN PERMUKIMAN JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN FAKULTAS TEKNIK INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER EVALUASI SISTEM PENGANGKUTAN SAMPAH DI KOTA MALANG Disusun Oleh

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 91/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN EVALUASI KINERJA PENYULUH PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 91/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN EVALUASI KINERJA PENYULUH PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 9/Permentan/OT.40/9/03 TENTANG PEDOMAN EVALUASI KINERJA PENYULUH PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

KOMPONEN G PENELITIAN, PELAYANAN/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DAN KERJASAMA

KOMPONEN G PENELITIAN, PELAYANAN/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DAN KERJASAMA KOMPONEN G PENELITIAN, PELAYANAN/PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT DAN KERJASAMA Pengelolaan Penelitian di tingkat Universitas Nusa Cendana (Undana), dikoordinasikan oleh Lembaga Penelitian (LP). Dalam melaksanakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan

Lebih terperinci

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya M enyatukan dan Memadukan Sumber Daya Keunggulan kompetitif BCA lebih dari keterpaduan kekuatan basis nasabah yang besar, jaringan layanan yang luas maupun keragaman jasa dan produk perbankannya. Disamping

Lebih terperinci

# $ !!" ! #$! $% # %!!!'(!! +!! % %+!'!! " #! # % #, #,-! #! )!! %" .'.!% % ) ' ' '!!!! % '! $ )!!'" /!.!% % ) $ % & (!!!!.!% %!$

# $ !! ! #$! $% # %!!!'(!! +!! % %+!'!!  #! # % #, #,-! #! )!! % .'.!% % ) ' ' '!!!! % '! $ )!!' /!.!% % ) $ % & (!!!!.!% %!$ !!"! #$! $%!&!'!!" # %!!!'(!!!$)!" #* $%!++ +!! % %+!'!! " "" #! # % #'!$ #, #,-! #'-!!! #! )!! %" # $.'.!% % ) ' ' '!!!! % '! $ )!!'" /!.!% % ) $ % & (!!!!.!% %!$!!!%.!% % "!.!% % )!')!! %!+!.!% % & &

Lebih terperinci

Bagian 1: Darimana Anda memulai?

Bagian 1: Darimana Anda memulai? Bagian 1: Darimana Anda memulai? Bagian 1: Darimana Anda memulai? Apakah Anda manajer perusahaan atau staf produksi yang menginginkan perbaikan efisiensi energi? Atau apakah Anda suatu organisasi diluar

Lebih terperinci

PERENCANAAN PORTOFOLIO APLIKASI PT. XYZ UNIT OTONOM ABC. Abstrak

PERENCANAAN PORTOFOLIO APLIKASI PT. XYZ UNIT OTONOM ABC. Abstrak 1 PERENCANAAN PORTOFOLIO APLIKASI PT. XYZ UNIT OTONOM ABC Arif Afandy, Khakim Ghozali, Feby Artwodini Muqtadiroh afandy.arif@gmail.com, khakim@its-sby.edu, feby@is.its.ac.id Abstrak Portofolio aplikasi

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS Nomor KEP. 31/LATTAS/II/2014 TENTANG

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS Nomor KEP. 31/LATTAS/II/2014 TENTANG KEMENTERIAN TENAGA KERJA DAN TRANSMIGRASI RI DIREKTORAT JENDERAL PEMBINAAN PELATIHAN DAN PRODUKTIVITAS Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 51 Lantai VI Blok A Telepon 52901142 Fax. 52900925 Jakarta Selatan

Lebih terperinci

TENTANG TATA CARA PENERBITAN IZIN USAHA TOKO SWALAYAN KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA,

TENTANG TATA CARA PENERBITAN IZIN USAHA TOKO SWALAYAN KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, SALINAN PERATURAN WALIKOTA SURABAYA NOMOR 18 TAHUN 2015 TENTANG TATA CARA PENERBITAN IZIN USAHA TOKO SWALAYAN KOTA SURABAYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SURABAYA, Menimbang : Mengingat :

Lebih terperinci

STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA

STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA I. VISI, MISI, DAN TUJUAN UNIVERSITAS A. VISI 1. Visi harus merupakan cita-cita bersama yang dapat memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2015 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PENDIDIKAN

Lebih terperinci

BAB V APLIKASI, FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM)

BAB V APLIKASI, FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) BAB V APLIKASI, FAKTOR PENDUKUNG DAN PENGHAMBAT TOTAL QUALITY MANAGEMENT (TQM) A. Aplikasi Total Quality Management (TQM) dalam Meningkatkan Mutu Pelayanan Jama ah Haji Memasuki usianya yang ke-20 tahun

Lebih terperinci

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KESEHATAN PERLUASAN & PENGARUS UTAMAAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENYEHATAN LINGKUNGAN

KEMENTERIAN KESEHATAN PERLUASAN & PENGARUS UTAMAAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENYEHATAN LINGKUNGAN KEMENTERIAN KESEHATAN PERLUASAN & PENGARUS UTAMAAN SANITASI TOTAL BERBASIS MASYARAKAT DALAM PROGRAM PENYEHATAN LINGKUNGAN 1 Target Pemerintah dalam bidang Sanitasi Akses Air Minum dan Sanitasi Layak Indikator

Lebih terperinci