SANGKAKALA. Pentingnya Komunikasi Non Verbal Saat Pustakawan Melayani Pemustaka BULETIN. Jogja Library For All (JLA) Yang Semestinya Dan Senyatanya

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "SANGKAKALA. Pentingnya Komunikasi Non Verbal Saat Pustakawan Melayani Pemustaka BULETIN. Jogja Library For All (JLA) Yang Semestinya Dan Senyatanya"

Transkripsi

1 BULETIN SANGKAKALA MENYUARAKAN PEMBAHARUAN DAN KEMAJUAN ISSN Edisi Kedelapan Tahun 2010 Pentingnya Komunikasi Non Verbal Saat Pustakawan Melayani Pemustaka Hak Cipta Pada Perpustakaan Digital Di Indonesia Jogja Library For All (JLA) Yang Semestinya Dan Senyatanya Serat Suryaraja Kekayaan Budaya Yogyakarta Tata Cara dan Teknik Kliping Dalam Rangka Penyelamatan Informasi

2 DAFTAR ISI SANGKAKALA STT : 605/SK/Ditjend PPG/SPT/1979 ISSN Diterbitkan oleh : Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY Penanggung Jawab Dra. Kristiana Swasti, M.Si Pemimpin Redaksi Dra. Monika Nur Lastiyani, MM Sekretaris Redaksi Sulistyadi Anggota Redaksi Drs. J Budihartono A.Tuti Wahyuni, SH Drs. Burhanudin, DR Penyunting Agung Nugroho, SIP Drs. Y Agustirto S Rini Handayani, SE, M.Si Meiranti Nurani, SH Lay Out M. Rosyid Budiman, SSi Wiwik Tarmini, SIP Fauziah Yulianti, SS FM Sari Astuti, SH Alamat Redaksi Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi DIY Jl. Tentara Rakyat Mataram No. 29 Yogyakarta Redaksi menerima sumbangan naskah dari pihak manapun, dengan catatan ditulis dalam bahasa yang mudah dimengerti, 1 1/2 spasi, besar huruf panjang maksimal 6 lembar folio, lebih baik disertakan foto atau ilustrasi. Redaksi berhak mengedit naskah sesuai dengan yang dibutuhkan dan naskah yang masuk menjadi milik redaksi, keputusan pemuatan ada pada redaksi. Sampul depan luar : Grafis oleh ndellz Sampul belakang : ndellz HAK CIPTA PADA PERPUSTAKAAN DIGITAL DI INDONESIA PENTINGNYA KOMUNIKASI NONVERBAL SAAT PUSTAKAWAN MELAYANI PEMUSTAKA 4 10 HaPe, Sang Biangkerok! 15 JOGJA LIBRARY for ALL (JLA) YANG SEMESTINYA DAN SENYATANYA 16 RESENSI BUKU 19 GEGURITAN 21 TATA CARA DAN TEKNIK KLIPING DALAM RANGKA PENYELAMATAN INFORMASI JOGJA LIBRARY CENTER BPAD DIY SEBAGAI PUSAT PERPUSTAKAAN DI YOGYA DIDAKTIK DALAM SERAT SANGU GESANG Memaknai Hidup Melalui Pustaka Lama Serat Suryaraja Kekayaan Budaya Yogyakarta 36

3 Salam Redaksi BUKU DAN KEHIDUPAN Kebutuhan paling mendasar bagi kehidupan manusia adalah pangan, sandang, dan papan. Artinya apabila ketiga hal tersebut terpenuhi orang dapat melangsungkan kehidupannya. Hidup dalam artian biologis! Tidak demikian untuk dapat diartikan hidup yang sehidup-hidupnya. Apalah artinya hidup secara biologis tetapi tidak memberi arti bagi perjalanan hidupnya? Berangkat dari konsep bahwa hidup tidak sekedar meniti napas dari pagi hingga petang, maka melebarlah kebutuhan hidup manusia. Bukan sekedar untuk mangan, nyandang, dan mapan. Kalaupun orang nrima untuk mengejar pangan, sandang, dan papan berarti dapat diartikan mereka sebagai manusia yang sekedar hidup. Atau lebih sederhana lagi sebagai orang yang numpang hidup. Maka sebenarnya tak usah kagum pada mereka yang suka pesta, pamer pakaian, atau pamer kepemilikan rumah, sebab hakekatnya mereka adalah manusia sederhana yang hanya terkungkung oleh konsep hidup yang paling mendasar. Untuk dapat memberi arti bagi kehidupannya sudah tentu orang mesti menyesuaikan dirinya dengan konteks jamannya. Pada masyarakat primitif yang harus mengangkat pedang untuk membangun kekuasaan, maka orang yang lihai memainkan pedangnya, dialah orang yang berusaha memberi arti hidup. Sudah tentu, berbeda bagi orang yang hidup di era global. Konsep mengangkat pedang menjadi sesuatu yang out of date! Termasuk pamer kekayaan, hura-hura, atau unjuk kekuasaan, bukan merupakan konsep yang memberi makna hidup yang sesungguhnya. Di era yang ditandai dengan derasnya arus informasi ini adalah mereka yang menguasai informasilah yang dapat diartikan orang yang hidup dengan sesungguhnya. Mereka yang haus informasilah sesungguhnya orang yang memberi makna bagi hidupnya. Pertanyaannya adalah sejauh mana informasi menjadi kebutuhan hidup kita? Kalau toh kita termasuk orang yang masih bangga sering gonta-ganti kendaraan, atau tv, jangan sebut sebagai orang modern. Atau suka ganti hape mewah sekedar untuk prestise, sesungguhnya orang seperti ini termasuk mereka yang mengalami culture shocks! Akan tetapi apabila kita senantiasa penasaran mencari buku-buku terbitan terbaru, itulah sesungguhnya langkah tepat untuk menjadikan hidup menjadi berarti. Dengan kata lain, untuk mengukur sejauh mana hidup memiliki arti adalah apabila menjadikan buku sebagai salah satu kebutuhan hidup. Buku dalam bentuk apapun dan media apapun! Karena buku adalah salah satu sumber informasi. Buku menjadi jendela untuk menatap cakrawala. Buku yang menjadikan seseorang berilmu. Buku yang menuntun kaki kita melangkah maju! Dalam setiap edisi SANGKAKALA senantiasa mendorong untuk menjadikan hidup kita bukan sekedar numpang hidup tetapi hidup yang memiliki makna dengan menjadikan membaca sebagai budaya, serta menjadikan buku sebagai kebutuhan hidup. Beberapa artikel pada edisi ini membahas mengenai dunia perpustakaan dengan segala romatikanya. Juga tentang mimpi jaringan perpustakaan yang tak jua menjadi kenyataan. Hal yang perlu ditegaskan adalah bahwa SANGKAKALA bukan hakim. Segenap sajian yang ada bukan berarti statemen final tetapi lebih sebagai stumulus untuk mendapatkan sintesa bagi upaya memajukan dunia perpustakaan. Kalaupun banyak sajian yang sebenarnya di bawah nilai kepantasan, jangan berkomentar ah cuma kayak gitu. Ubahlah komentar tersebut menjadi statemen manis... untung masih ada yang mau menulis! Syukur anda termasuk yang tergerak untuk berpartisipasi pada edisi selanjutnya! (HAN) SANGKAKALA, Edisi Kedelapan

4 HAK CIPTA PADA PERPUSTAKAAN DIGITAL DI INDONESIA : Suatu tinjauan singkat Suwardi (Pustakawan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta) Pe r k e m b a n g a n teknologi pada satu bidang selalu akan berpengaruh kepada bidang yang lain, salah satu yang paling besar pengaruhnya adalah kemajuan pada teknologi komputer dan informasi. Perpustakaan yang semula sebagai bidang ilmu yang berdiri sendiri, kemudian digabung dengan bidang informasi menjadi ilmu perpustakaan dan informasi, meskipun masih menjadi perdebatan. Pengaruh ini tidak hanya sebatas pada definisi bidang ilmu, namun pengaruh yang sesungguhnya yaitu pada pekerjaan riil perpustakaan. Hal ini menghadirkan tantangan bagi perpustakaan, bagaimana memanfaatkan teknologi tersebut untuk memilih bentuk yang tepat dalam memberikan kemudahan akses informasi bagi penggunanya. Salah satu pilihan jawaban atas tantangan ini adalah Perpustakaan Digital. Secara sepintas perpustakaan digital menghadirkan kemudahan akses informasi bagi para pengguna perpustakaan. Kemajuan & perkembangan teknologi komputer dan jaringan memperkuat asumsi ini, hal ini karena teknologi tersebut telah memudahkan transfer/ aliran data/informasi ke berbagai tempat tanpa ada halangan batas geografis. Definisi dan Pengertian Sampai saat ini belum ada definisi yang seragam tentang perpustakaan digital, banyak ahli maupun institusi yang perpustakaan mendefinisikan digital menurut cara pandang masing-masing. Beberapa definisi digital: perpustakaan The Digital Library Federation mendefinisikan sebagai berikut: Organizations that provide the resource, including the specialized staff, to select, structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital works so that they are readily and economically available for use by a defined community or set of communities (Walters dalam Setiarso, ). T. B. Rajashekar mendefinikan sebagai berikut: 4 SANGKAKALA, Edisi Kedelapan 2010

5 a managed collection of information, with associated services, where the information is stored in digital formats and accessible over a network. John Millard mendefinisikan sebagai berikut: libraries that are distinguished from information retrieval systems because they include more type of media, provide additional functionally and services, and include other stages of the information life cycle, from creation through use. Digital libraries can be viewed as a new form of information institution or as an extension of services libraries currently provide. Wikipedia Indonesia mendefinisikan sebagai berikut: perpustakaan yang mempunyai koleksi buku sebagian besar dalam bentuk format digital dan yang bisa diakses dengan komputer. Jenis perpustakaan ini berbeda dengan jenis perpustakaan konvensional yang berupa kumpulan buku tercetak, film mikro, atapun kaset audio, video dll. Isi dari perpustakaan digital berada dalam suatu komputer server yang bisa ditempatkan secara local, maupun di lokasi yang jauh, namun dapat diakses dengan cepat dan mudah lewat jaringan komputer. Definisi-definisi tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan digital belum didefinisikan secara jelas untuk dapat dijadikan standar atau acuan dalam dunia pendidikan. Istilah-istilah lain seperti Electronic Library atau Virtual Library masih dianggap sebagai sinonimnya dan sering juga digunakan. Karen Drabenstott menawarkan 14 definisi yang dipublikasikan antara tahun 1987 sampai 1993 dan berdasarkan ke 14 definisi tersebut Assotiation of Research Library secara umum menjelaskan bahwa adanya perbedaan-perbedaan tersebut disebabkan oleh: a. Perpustakaan digital bukan merupakan suatu entitas b. tunggal Perpustakaan digital memerlukan teknologi untuk menghubungkan banyak sumberdaya, perpustakaan dan pelayanan informasi c. Hubungan beberapa Perpustakaan Digital dan pelayanan informasi adalah transparan kepada pengguna akhir d. Tujuannya adalah akses secara universal dan pelayanan informasi e. Koleksi Perpustakaan Digital adalah tidak terbatas terhadap dokumen, tetapi berkembang pada digital artifacts yang tidak dapat disajikan atau didistribusikan dalam format tercetak. Pada dasarnya perpustakaan digital itu sama dengan perpustakaan biasa, satu hal yang membedakannya adalah prosedur kerja berbasis komputer dan sumber informasinya digital. Perpustakaan digital tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sumber-sumber lain dan pelayanan informasinya terbuka bagi pengguna di seluruh dunia. Koleksi perpustakaan digital tidak terbatas pada dokumen elektronik pengganti bentuk cetak saja, ruang lingkup koleksinya malah sampai pada artefak digital yang tidak bisa digantikan dalam bentuk tercetak. Koleksinya menekankan pada isi informasi, jenisnya dari dokumen tradisional sampai hasil penelusuran. Pengembangan Digital Perpustakaan Cikal bakal perpustakaan digital menurut Sulistyo Basuki dan Winy Purtini digagas pertama kali oleh Vannenar Bush pada awal tahun 1940-an (dalam Arif, 2005: 6). Sebagai penasehat Presiden Roosevelt bidang ilmu pengetahuan, dia menghadapi masalah banyaknya informasi (ledakan informasi) dan masih disimpan dalam bentuk analog. Keadaan ini menyulitkan dalam akses informasi khususnya hasil penelitian yang sudah dipublikasikan. Berangkat dari SANGKAKALA, Edisi Kedelapan

6 keadaan ini dia menggagas thinking machine dan sebuah device (kemudian disebut MemEx) yang memungkinkan seseorang menyimpan buku, record dan komunikasinya. MemEx kemudian dimekanisasi sehingga memungkinkan konsultasi informasi yang cepat dan luwes. Keterbukaan akses terhadap koleksi perpustakaan telah diusahakan oleh para pustakawan, peneliti dan pihakpihak lain pada era 1950-an sampai 1960-an tetapi dengan teknologi yang masih sangat terbatas. Baru pada awal tahun 1980-an beberapa perpustakaan besar melaksanakan otomasi fungsi-fungsi perpustakaan karena masih mahalnya harga perangkat komputer. Pada dasawarsa 90- an hampir semua fungsi-fungsi perpustakaan telah diotomasi, serta berkembangnya komunikasi data antar perpustakaan secara elektronik. Tahun 1991 delapan universitas yaitu: Carnegie Mellon University, Cornell University, GIT, MIT, University of California, University of Tennesee, University of Qashington, Virginia Polytechnic dan State University bersama Elsevier Science mengadakan kesepakatan kerjasama pengembangan perpustakaan digital yang kemudian dikenal sebagai TULIP (The University Licensing Project)(dalam Wahono). Tahun 1994, Library of Congress mengeluarkan rancangan National Digital Library dengan menggunakan penyimpanan, penelusuran dan tampilan teks dokumen secara elektronik. Kemudian tahun 1995 enam universitas di Amerika Serikat yaitu: Carnegie Mellon University, University of Michigan, University of Illinois at Havana, University of California at Barkeley, Stanford University dan University of California at Santa Barbara atas dana dari NSF/DARPA /NASA juga mengadakan penelitian tentang perpustakaan digital. Tetapi upaya nyata mendigitalisasi dokumen kemudian menyebarluaskannya telah dilakukan oleh Michael Hart (ketika masih menjadi mahasiswa Illinois University) dengan cara mendirikan Proyek Gutenberg (PG) tahun 1971 (Gatra, 2005: 34), maka Proyek Gutenberg dapat disebut s e b a g a i l e m b a g a p e r t a m a d a l a m digitalisasi dokumen. P e n g e m b a n g a n perpustakaan digital tidak dapat dilakukan secara serampangan, tetapi perlu suatu formulasi yang terencana dengan rapi. Pengembangan ini menyangkut banyak aspek yang ada pada suatu perpustakaan. Formulasi dimaksud adalah adanya suatu perencanaan secara menyeluruh terhadap berbagai aspek yang melingkupi suatu perpustakaan. Perencanaan ini diperlukan untuk mentransformasikan system dari system perpustakaan konvensional/tradisional berbasis koleksi analog ke perpustakaan digital. Transformasi yang diperlukan meliputi formulasi kebijakan, perencanaan strategis secara holistic termasuk aspek hukum (copyrights), standarisasi, pengembangan koleksi, infrastruktur jaringan, metoda akses, pendanaan, kolaborasi, kontrol bibliografi, pelestarian dan sebagainya untuk memandu keberhasilan mengintegrasikan tradisional ke format digital. S e c a r a t e k n i k a l p e r p u s t a k a a n digital dibagi dalam tiga lapisan 6 SANGKAKALA, Edisi Kedelapan 2010

7 dari tampilan sampai ke lapisan dalam yaitu: lapisan portal, lapisan aplikasi, dan lapisan sumber daya. Lapisan portal adalah tampilan untuk memudahkan pengguna mengoptimalkan sumber informasi dalam perpustakaan digital dan sekaligus pelayanan permintaan dan pengiriman informasi/pengetahuan melalui RSS atau . Lapisan aplikasi meliputi Open URL linking server, cross-databases Meta-search engine, OAI service providers that can integrated those resource into a universal knowledge platform. Sedang sumber daya informasi berisi berbagai macam databases, seperti: artificial intelligent databases, full-text databases, citation databases, dan sebagainya. Hak Cipta pada Perpustakaan Digital Hak kekayaan intelektual (HaKI) mempunyai beberapa jenis (ragam), yaitu hak cipta, paten, merk dagang, rahasia dagang, service merk, desain industri dan desain tata letak. Hak Cipta (Copyright) menurut UU No 19 Tahun 2002 adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi pembatasanpembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hak cipta memberi hak kepada pencipta untuk membuat salinan dari ciptaannya tersebut, membuat produk derivatif dan menyerahkan hak-hak tersebut ke pihak lain (lisensi) dan berlaku seketika setelah ciptaan tersebut dibuat. Hak cipta tetap dilindungi oleh hukum meskipun tidak didaftarkan ke Ditjen HAKI. Di Indonesia, HaKI dalam Perangkat Lunak dimasukkan dalam kategori Hak Cipta (Copyright). Di negara lain, selain Hak Cipta, perangkat lunak juga bisa dipatenkan, meskipun sebenarnya yang dipatenkan adalah ide alias business modelnya (Business Model Patent), contohnya Amazon dengan 1-Click Patent (Wahono, 2008). Digitalisasi sumber informasi dari sumber-sumber tercetak (buku, jurnal, majalah dsb) dan terekam (pita magnetic, audio, video) menjadi dokumen digital secara teknis dapat dikatakan tidak ada hambatan. Ketersediaan teknologi yang diperlukan untuk proses tersebut telah banyak beredar di pasar. Salah satu hambatan non teknis yang ada saat ini adalah masalah hukum, khususnya tentang hak cipta (copyright) pada dokumen/ konten. Masalah ini menurut Romi Satrio Wahono terbagi menjadi dua, yaitu: 1. Hak cipta pada dokumen yang didigitalkan, termasuk di dalamnya adalah merubah dokumen ke digital dokumen, memasukkan digital dokumen ke databases, merubah digital dokumen ke hypertext dokumen. 2. Hak cipta pada dokumen di communication network. Di dalam hukum hak cipta masalah transfer dokumen melalui computer network belum didefinisikan dengan jelas. Hal yang perlu disempurnakan adalah tentang hak menyebarkan, hak meminjamkan, hak memperbanyak, hak menyalurkan baik kepada masyarakat umum atau pribadi, semuanya dengan media jaringan komputer termasuk didalamnya internet, intranet dan sebagainya (Wahono, 1999: 3) Satu contoh yang telah menjadi perdebatan seru adalah antara Google melawan AAUP (The Association of American University Presses) atau antara Google melawan Uni Eropa. Kerja sama antara Google dengan lima SANGKAKALA, Edisi Kedelapan

8 perpustakaan terbesar di Amerika Serikat (Universitas Harvard, Stanford, Oxford, Michigan dan New York Public Library) dalam digitalisasi koleksi menurut Givler (Direktur Eksekutif AAUP) akan melanggar undang-undang hak cipta (Gatra, 2005: 34). Sedangkan perdebatan antara Google dengan Uni Eropa lebih merupakan perdebatan masalah budaya. Untuk mengatasi masalah hak cipta dari dokumen yang digitalisasi telah dilakukan penelitian, yaitu bagaimana mengembangkan manajemen hak cipta secara elektronik. Jalan keluar yang lain misalnya mendigitalkan koleksi yang masa perlindungan hak ciptanya telah habis, seperti yang dilakukan oleh Jepang. Menurut Undang-undang Hak Cipta Jepang, masa perlindungan hak cipta berlaku hingga 50 tahun setelah penulis meninggal dunia. Tetapi langkah ini hanya dapat menjangkau koleksi/informasi yang telah usang. Indonesia (dalam hal ini Perpustakaan Nasional) mengadopsi cara Jepang dalam mendigitalisasi buku, yakni digitalisasi buku yang sudah lewat hak ciptanya (setelah 50 tahun) dan naskah-naskah nusan- tara kuno yang telah berusia 800 tahun bahkan ada yang berusia tahun (Kurnia, 2008). Selain masalah hak cipta pada dokumen/konten, pada perpustakaan digital juga memerlukan adanya software yang digunakan untuk pengoperasian dan sebagaimana diketahui bahwa Indonesia menjadi salah satu negara dengan angka pembajakan software tertinggi di dunia tahun 2004 peringkat ke 4 (Rachmawati, 2004), tahun 2006 peringkat ke 8 dan tahun 2007 menjadi peringkat ke 12 (Mardoto, 2008) --. Untuk mengatasi masalah ini salah satu solusi yang mungkin adalah menggunakan open source software, meskipun open source software tidak sepenuhnya tanpa lisensi tetapi mempunyai jenisjenis yang benar-benar bebas/ gratis. Software yang tersebar di dalam masyarakat ternyata banyak ragamnya, dan sering kali dapat membingungkan orang awam. Untuk lebih memahami dan memperjelas berbagai kategori software yang ada terlebih dulu perlu dicermati diagram Chao-Kuei berikut : Berdasarkan diagram tersebut maka perangkat lunak dapat dikelompokkan dalam kategori-kategori seperti berikut ini: 1. Perangkat Lunak Berpemilik; adalah perangkat lunak yang tidak bebas ataupun semibebas. Seseorang dapat dilarang, atau harus meminta ijin terlebih dulu, atau dikenakan pembatasan tertentu jika menggunakan, mengedarkan dan atau memodifikasinya. 2. Perangkat Lunak Komersial; 3. adalah perangkat lunak yang dikembangkan oleh kalangan bisnis/vendor untuk memperoleh keuntungan dari penggunaannya. Kebanyakan perangkat lunak komersial adalah berpemilik, tapi ada perangkat lunak bebas komersial, dan ada perangkat lunak tidak bebas dan tidak komersial. Perangkat Lunak Semi- Bebas; adalah perangkat lunak yang tidak bebas, tapi mengijinkan setiap orang untuk menggunakan, penyalin, mendistribusikan, memodifikasinya dan (termasuk distribusi dari versi yang telah dimodifikasi) untuk tujuan tertentu. Perangkat semibebas lebih baik dari perangkat lunak berpemilik, tetapi tidak 8 SANGKAKALA, Edisi Kedelapan 2010

9 dapat digunakan pada system kebebasan untuk lisensi. operasi yang bebas. menyebarluaskan kembali 9. Perangkat Lunak Copylefted; 4. Perangkat Lunak Bebas hasil salinan perangkat merupakan perangkat (Free Software); adalah lunak tersebut sehingga lunak bebas yang ketentuan perangkat lunak yang dapat membantu pengguna pendistribusiannya tidak mengijinkan siapapun untuk yang lain. memperbolehkan untuk menggunakan, menyalin, d. Kebebasan 3: menambah batasan-batasan dan mendistribusikan, baik kebebasan untuk tambahan, artinya setiap dimodifikasi atau pun tidak, meningkatkan kinerja salinan dari perangkat lunak secara gratis ataupun dengan program, dan dapat (walaupun telah dimodifikasi) biaya. Dalam free software menyebarkannya kepada haruslah tetap merupakan ini harus disertakan kode masyarakat umum. perangkat lunak bebas. sumber dari program tersebut. 5. Perangkat Lunak Open Source; 10. Perangkat Lunak Bebas Perangkat lunak bebas beberapa pihak mengartikan Non-Copylefted; perangkat mengacu pada kebebasan sama dengan dengan perangkat lunak yang dibuat dengan para penggunanya untuk lunak bebas. mengijinkan orang lain menjalankan, menggandakan, 6. Public Domain; adalah untuk mendistribusikan m e n y e b a r l u a s k a n, perangkat lunak yang tanpa dan memodifikasi, dan mempelajari, mengubah dan hak cipta. Public Domain untuk menambah- kan meningkatkan kinerjanya. merupakan istilah hukum yang batasa-batasan tambahan Kebebasan dalam free software artinya tidak memiliki hak didalamnya. memiliki derajat yang berbeda, cipta. Sebuah karya adalah 11. Perangkat Lunak GPL-covered; yaitu: public domain jika pemilik hak (General Public License) a. Kebebasan 0 : cipta menghendaki demikian. merupakan sebuah ketentuan kebebasan menjalankan 7. Freeware; belum terdefinisi pendistribusian tertentu untuk programnya untuk tujuan secara jelas, tetapi biasanya meng-copyleft-kan sebuah apa saja. digunakan untuk paket-paket program. Proyek GNU menggu- b. Kebebasan 1: yang mengijinkan redistribusi nakannya sebagai perjanjian kebebasan untuk tetapi bukan pemodifikasian distribusi untuk sebagian besar mempelajari bagaimana (dan kode programnya tidak perangkat lunak GNU. program itu bekerja serta tersedia). 12. Sistem GNU; merupakan dapat disesuaikan dengan 8. Shareware; adalah perangkat sistem serupa Unix yang kebutuhan pengguna, lunak yang mengijinkan orang- seutuhnya bebas. syaratnya kode program disertakan dalam suatu orang untuk meredistribusikan salinannya, tetapi mereka bersambung ke Hal. 28 paket program. yang terus menggunakannya c. Kebebasan 2: diminta untuk membayar biaya SANGKAKALA, Edisi Kedelapan

10 Pentingnya Komunikasi Nonverbal Saat Pustakawan Melayani Pemustaka Oleh: Endang Fatmawati *) Seandainya kita adalah pemakai perpustakaan (pemustaka) datang ke perpustakaan, lalu kita disapa oleh pustakawan, misalnya Selamat pagi Ibu? (pustakawan tersebut menyapa sambil mengangkat wajah, menganggukkan kepala, melihat, dan tersenyum kepada kita). Kira-kira kita sebagai pemustaka senang tidak? Hal ini tentu sangat berbeda jika pustakawan tersebut tetap menyapa namun dengan kepala menunduk ke keyboard atau layar komputer tanpa sama sekali melihat kita yang datang. Dengan latar belakang inilah, saya menulis tentang pentingnya komunikasi nonverbal dalam melengkapi komunikasi verbal pustakawaan saat melayani pemustaka. Sepertinya sepele dan tidak penting, namun saya berani menegaskan bahwa komunikasi nonverbal sangat penting sekali bagi pustakawan di bagian layanan. Alasannya adalah bahwa pemustaka untuk memahami suatu pesan itu tidak hanya melibatkan dengan mendengarkan katakata yang diucapkan saja. Layanan Pemustaka Apa beda pelayanan di perpustakaan dan di bankbank? Saya rasa pasti jawaban pembaca beraneka ragam. Dalam tulisan ini saya hanya ingin membatasi pada petugas layanannya saja, yaitu pustakawannya. Saat ini di bank-bank banyak menggunakan tenaga outsourching yang notabene masih muda-muda, cantik, ganteng, cekatan, enerjik, dan sebutan lainnya yang membuat pengunjung ketagihan datang lagi. Bisakah petugas di bagian layanan perpustakaan juga bisa seperti petugas bank? Namun demikian adanya suatu isyarat nonverbal pustakawan juga akan menambah kejelasan dari pesan yang disampaikan. Selain itu juga akan membawa makna tersendiri bagi pemustaka, kepuasan batin, seperti suatu bentuk penghargaan terhadap diri pemustaka dan kepuasan layanan. Walaupun sebenarnya isyarat-isyarat komunikasi nonverbal akan membawa makna yang berbeda pada kebudayaan yang berbeda. Jadi agar tidak rancu, maka saya fokuskan pembahasan isyarat komunikasi nonverbal ini pada hal umum yang terjadi di budaya dan masyarakat kita. SANGKAKALA, Edisi Kedelapan 2010

11 Bisa! Kenapa? Pustakawan di bagian layanan juga bisa bersikap seperti layaknya petugas bank. Bahkan tidak harus outsourching. Bayangkan pada saat kita sebagai nasabah datang ke bank, sudah dengan sigap petugasnya menyapa dengan ramah sambil bangkit dari duduk, berdiri, membungkukkan badan, dan menganggukkan kepala. Selamat pagi Ibu...ada yang bisa saya bantu? Coba kita rasakan, senang kan kita sebagai nasabah diperlakukan seperti itu. Bagaimana jika di perpustakaan? Saya rasa juga tidak apa-apa perilaku pustakawan di bagian layanan melakukan seperti itu, namun sepertinya masih canggung jika dilakukan, karena sepertinya tidak biasa. Langkah awalnya tidak harus zakelijk seperti itu, namun bisa dimulai dari hal-hal kecil. Misalnya: berbicara dengan pemustaka dengan melihat, senyum, menambah gerakan tangan saat menunjukkan buku, ataupun ekspresi nonverbal lainnya. Saya rasa pemustaka akan lebih nyaman diperlakukan dengan sikap demikian, daripada hanya dengan kata-kata saja. Biar kesannya tidak seperti robot berjalan, maka pustakawan di bagian layanan harus berperilaku dinamis, luwes, ekspresif, dan atraktif. Pembaca, pernahkah mendengar keluhan pemustaka yang tidak mau ke perpustakaan lagi karena petugasnya galak, judes, tidak ramah, njelehi, ngayelke, kaku, dan hal-hal jelek lainnya? Kalau saya pernah mendengar keluhan itu, dan akhirnya saya hanya bisa mengelus dada sambil beristighfar. Sungguh memprihatinkan bukan, jika memang begini kualitas pustakawan kita. Wah tapi itu 1:1000 kali ya? he...he... Komunikasi Nonverbal Pustakawan Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata, tapi dikemas dengan bahasa tubuh (body language), tanda (sign), tindakan/perbuatan (action) atau obyek. Komunikasi nonverbal akan memberikan arti pada komunikasi verbal. Beberapa contoh yang termasuk komunikasi nonverbal yang dapat dilakukan oleh pustakawan saat melayani pemustaka adalah sebagai berikut: a. Gerak isyarat/isyarat badaniah (gestures). Menggunakan gerak isyarat dari pustakawan dapat mempertegas pembicaraan dan merupakan bagian dari total komunikasi pustakawan kepada pemustaka. Pustakawan hendaknya membiasakan dengan menunjukkan siap membantu dengan telapak tangan terbuka. Misalnya: Mengetuk-ngetukkan kaki atau menggerakkan tangan selama berbicara dapat menunjukkan situasi dan kondisi pustakawan saat itu. Pada saat pustakawan jengkel dengan pemustaka ataupun senang, maka sebagai upaya untuk mempertegas dapat melakukan gerak isyarat tertentu. b. Bahasa tubuh (body language). Bahasa tubuh dicirikan dengan adanya gerakan tubuh (kinesik). Adanya gerakan tubuh dapat menghilangkan grogi pustakawan saat berbicara. Gerakan tubuh pustakawan bisa digunakan untuk menggantikan suatu kata atau frase, misalnya: mengangguk untuk mengatakan ya, untuk mengilustrasikan atau menjelaskan sesuatu, ataupun menunjukkan perasaan setuju. Kemudian memukul meja untuk menunjukkan kemarahan, untuk mengatur atau mengendalikan jalannya percakapan, atau untuk melepaskan ketegangan. Contoh bahasa tubuh yang lain, misalnya: Berjabat tangan & salam, kontak mata, ekspresi wajah, posisi tangan, posisi berdiri, posisi duduk, ataupun cara berjalan. c. Kontak mata (eye contact). Mata sering disebut sebagai jendela hati, karena sebagai prediktor paling akurat tentang perasaan dan sikap hati dari pustakawan yang berbicara tersebut. Kontak mata merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Kontak mata diartikan melihat lawan bicara yang tujuannya untuk memperhatikan dan bukan sekedar mendengarkan saja. Pustakawan sebaiknya menjaga kontak mata langsung dengan pemustaka, tetapi jangan sampai berlebihan/terlalu lama. Misalnya: Apabila pustakawan melakukan kontak mata dengan pemustaka, berarti pustakawan tersebut kesannya memperhatikan dan menghargai pemustaka. SANGKAKALA, Edisi Kedelapan

12 d. Ekspresi wajah (facial expressions). Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah mencerminkan suasana emosi pustakawan. Bahkan para peneliti pernah memperkirakan bahwa wajah manusia itu dapat menampilkan lebih dari ekspresi yang berbeda. Semua ekspresi wajah baik itu disengaja dilakukan oleh pustakawan atau tidak disengaja itu dapat melengkapi atau sepenuhnya menggantikan verbal. Misalnya: Menaikkan atau menurunkan alis mata, mengerlingkan mata, menelan ludah, mengeraskan rahang, tersenyum lebar. e. Sikap/postur tubuh (posture). Sikap pustakawan yang cenderung tegak akan mengirimkan pesan percaya diri, menunjukkan kompetensi, kerajinan, dan kekuatan. Cara seorang pustakawan berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri, dan juga tingkat kesehatan pustakawan. Misalnya: Sebagai wujud ketertarikan dan perhatian, maka pustakawan dapat mencondong- kan badan ke arah pemustaka pada saat menyapa; untuk membangun hubungan akrab dengan pemustaka, maka pustakawan dapat menggunakan sebuah gerak telapak kanan ke atas dengan memulai untuk jabat tangan. f. Sentuhan (touch). Sentuhan pustakawan merupakan bentuk komunikasi personal, karena sentuhan lebih bersifat spontan daripada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan. Misalnya: Pustakawan memberikan sentuhan tepukan punggung kepada pemustaka yang bingung mencari buku di rak, sambil berkata Sabar ya Pak, saya bantu nyari ya mudahmudahan bisa ditemukan. Cara seperti ini merupakan bentuk perhatian pustakawan dan akan lebih menenangkan kondisi pemustaka saat itu. g. Komunikasi objek (object communication). Komunikasi objek yang paling umum bagi pustakawan adalah terkait dengan penampilan, seperti: penggunaan pakaian seragam, bros, pin, potongan rambut, simbolsimbol, sandi, ataupun warna. Bagaimanapun pemustaka yang dilayani akan lebih menyukai pustakawan yang cara berpakaiannya sopan, serasi, sederhana, sesuai, dan menarik. Misalnya: Pustakawan harus good appearance dalam melayani pemustaka. Hal ini salah satunya adalah nampak dari seragam yang digunakan, seperti kerapian baju, pin, dan kartu pengenal yang dikenakan. h. Dokumen perpustakaan (library document). Maksudnya bahwa tampilan keseluruhan dokumen yang ada di perpustakaan juga dapat mengungkapkan pesan nonverbal. Pustakawan harus dapat menghasilkan pesan yang ditulis dengan penuh ketelitian, rapi, profesional, dan teratur dengan baik. Misalnya: Pustakawan yang menyetempel kartu anggota perpustakaan, namun tinta capnya miring, mengenai muka pas foto, atau terbalik tulisannya. Hal seperti ini dapat mengandung pesan nonverbal negatif dari pemustakanya. i. Suara (sound). Suara rintihan, menarik nafas panjang, tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran pustakawan yang dapat dijadikan komunikasi. Bila dikombinasikan dengan semua bentuk komunikasi nonverbal 12 SANGKAKALA, Edisi Kedelapan 2010

13 lainnya sampai desis atau suara, maka dapat menjadi pesan yang sangat jelas. Misalnya: Pustakawan dalam layanan bercerita (story telling), maka agar pesan dapat diterima anak-anak dengan mudah, pustakawan dapat melakukannya dengan penuh ekspresif, seperti: menirukan suara ayam berkokok (petok-petok); saat pemustaka berisik, maka pustakawan dapat mendesis ssstt... ssstt. j. Vokalik (paralanguage). Vokalik adalah unsur nonverbal dalam suatu ucapan, yaitu bagaimana cara berbicara pustakawan. Misalnya: keras atau lemahnya suara (intonasi), penekanan nada/kualitas suara, gaya emosi, gaya berbicara, kecepatan berbicara pustakawan, penggunaan suara-suara pengisi seperti um, mm, e, i, o, dan lain sebagainya pada saat pustakawan berbicara. k. Ruang (room). Cara pengaturan ruangan bagi pustakawan di tempat kerja dapat mengirim pesan nonverbal tentang seberapa tingkat keterbukaan pustakawannya. Selain itu juga kondisi ruang kerja yang berantakan, kotor, dokumen berserakan, semrawut, juga menunjukkan makna tersendiri bagi pemustaka yang melihat. Intinya pustakawan harus dapat menjaga kerapian dan fungsi tempat kerja. Misalnya: Pustakawan yang melayani pemustaka dalam ruang sirkulasi sistem tertutup (closed access), maka pesan yang ditangkap pemustaka juga sepertinya layanannya harus sistem tunggu informasi, sehingga pesan yang muncul di benak pemustaka adalah kemungkinan pelayanannya lama. l. Wilayah (zone). Setiap pustakawan pasti mempunyai wilayah sendiri agar merasa nyaman. Begitu juga para pemustakanya. Namun justru yang jadi masalah adalah bahwa jarak antara pustakawan dan pemustaka saat berkomunikasi terkadang menimbulkan persepsi yang berbeda. Fungsi dari wilayah ini adalah agar tercipta kedekatan emosional antara pustakawan dan pemustaka, untuk menunjukkan kehangatan, dan mengurangi perbedaan status. Misalnya: Pustakawan yang menyampaikan pesan tentang cara menelusur melalui OPAC, namun pustakawan tersebut tetap berada di dalam counter petugas dan hanya berbicara verbal saja. Sehingga jarak antar pemustaka dan pustakawan terkesan jauh. Nah dalam kasus ini akan lebih baik apabila pustakawan mendekat ke pemustaka dan memraktekkan langsung di OPAC ditambah dengan komunikasi nonverbal tentang bagaimana cara menelusurnya. m.waktu (time). Bagaimana pustakawan mengatur dan menggunakan waktu untuk melayani pemustaka akan menunjukkan kepribadian dan sikap pustakawan. Saat melayani pemustaka, pustakawan dituntut bisa menggunakan waktu secara tepat dan bijaksana. Misalnya: Pustakawan yang melayani pemustaka dengan ketulusan hati sampai membantu menemukan informasi yang dibutuhkan pemustaka dalam waktu yang lama, maka hal ini dapat memberikan isyarat kesungguhan pustakawan dalam melayani pemustaka. Menurut Hanna and Wilson (1998: 129) mengemukakan bahwa ada 4 (empat) fungsi dari kegunaan komunikasi nonverbal, yaitu: reinforcement, modification, substitution, dan regulation. Apabila diterapkan oleh pustakawan saat melayani pemustaka di bagian layanan, maka dapat saya jabarkan sebagai berikut: 1.Reinforcement Maksudnya adalah penguatan dari pesan yang disampaikan pustakawan. Misalnya: pustakawan perempuan yang sudah lama tidak bertemu seorang Ibu (pemustaka), maka saat bertemu pustakawan tersebut mengatakan verbal Gimana Ibu kabarnya? (sambil memeluk Ibu tersebut). 2.Modification Maksudnya adalah untuk perubahan/modifikasi dari pesan yang disampaikan pustakawan sebelumnya. Misalnya: saat pustakawan menjelaskan tata tertib secara verbal, namun karena pemustaka belum paham, maka pustakawan dapat mengambil brosur tata tertib sambil menunjukkan dengan tangan hal-hal yang penting yang perlu ditekankan dari tata tertib tersebut. 3.Substitution Maksudnya adalah sebagai penggantian dari komunikasi SANGKAKALA, Edisi Kedelapan

14 verbal pustakawan. Misalnya: perkataan iya bisa tidak harus diucapkan, namun pustakawan bisa cuma mengangguk saja; membolehkan masuk tidak harus silahkan, tapi bisa dengan menggerakkan telapak tangan ke depan. 4.Regulation Maksudnya adalah bahwa komunikasi nonverbal tertentu dapat digunakan sebagai bentuk peraturan dari sebuah proses komunikasi atara pustakawan dan pemustaka. Misalnya: dilarang merokok dalam ruang perpustakaan (hanya dengan menempelkan poster gambar rokok diberi tanda silang). Selanjutnya menurut Guffey (2006: 106) mengemukakan bahwa komunikasi nonverbal dalam membantu menyampaikan pesan mempunyai berbagai fungsi, antara lain: 1.Untuk melengkapi dan menggambarkan. Pesan nonverbal dapat menjelaskan, memodifikasi, atau memberikan rincian untuk sebuah pesan verbal. Sebagai contoh pustakawan dalam menggambarkan ukuran sebuah buku, dapat menggunakan jarijarinya untuk membuat jarak 24 cm. 2.Untuk memperkuat dan menekankan. Pustakawan dalam menyampaikan pesan penting berupa teguran atau peringatan kepada pemustaka bisa dengan nada suara yang tinggi agar terkesan tegas. Sementara bisa dengan suara pelan pada saat memberikan pesan yang sifatnya rahasia. 3.Untuk mengubah dan menggantikan. Banyak isyarat bisa digunakan untuk menggantikan katakata yang diucapkan. Pustakawan dapat menaruh jari telunjuk di depan mulut untuk menggantikan kata jangan ramai ; mengangkat bahu untuk menggantikan tidak tahu. 4.Untuk mengendalikan dan mengatur. Pesan nonverbal merupakan pengatur yang penting dalam percakapan. Pustakawan pada saat berbicara dengan dengan pemustaka dapat memberikan komunikasi nonverbal dengan tujuan untuk meneruskan, mengulangi, merinci, bergegas, atau menyelesaikan. Misalnya: perubahan kontak mata, gerakan kepala yang ringan, perubahan sikap badan, menaikkan alis mata, mengernyitkan dahi, ataupun perubahan nada suara. 5.Untuk menyangkal. Pesan yang disampaikan berlawanan dengan kata atau tindakan. Misalnya pada saat pemustaka masih sibuk mencari buku yang mau dipinjam, namun waktu layanan perpustakaan sudah saatnya tutup. Lalu pemustaka meminta perpanjangan waktu kepada pustakawan untuk tidak ditutup dulu. Nah dalam kondisi seperti ini pustakawan mungkin menjawab ya secara verbal, tetapi kemudian juga menunjukkan komunikasi nonverbal dengan menggaruk kepala atau menggigit jari. Inilah salah satu contoh bentuk untuk menyangkal dan menunjukkan pesan sepertinya keberatan untuk mengatakan ya. Penutup Pustakawan perlu memahami komunikasi nonverbal agar tidak terjadi ketidakkonsistenan antara komunikasi verbal dengan komunikasi nonverbal. Intinya komunikasi nonverbal penting untuk dilakukan pustakawan dalam melayani pemustaka sebagai pelengkap dari komunikasi verbal. Adanya komunikasi nonverbal tersebut diharapkan pesan yang disampaikan oleh pustakawan akan lebih mudah diterima oleh pemustaka. Jadi komunikasi nonverbal sangat penting dilakukan oleh pustakawan di bagian layanan agar pemustaka merasa puas dengan layanan pustakawan. Daftar Pustaka Guffey, Mary Ellen Komunikasi Bisnis: Proses & Produk (terjemahan). Jilid 1. Edisi 4. Jakarta: Salemba Empat. Hanna, Michael S. and Wilson, Gerald L. Wilson Communicating in Business and Professional Settings. Fourth Edition. New York: McGraw Hill. *) Kepala Perpustakaan FE UNDIP & Dosen LB Program (D3 KS-FE, D3 APS-FISIP, S1 Ilmu Perpustakaan FIB UNDIP). 14 SANGKAKALA, Edisi Kedelapan 2010

15 HaPe, Sang Biangkerok! Oleh : Burhanudin DR Di tengah hiruk pikuk pengumuman ujian nasional SMP, lewat media televisi beberapa waktu lalu, seorang guru melontarkan komentar yang cukup menarik. Dikatakan bahwa menurunnya prestasi keberhasilan ujian nasional adalah karena siswa cenderung lebih banyak memegang HP daripada memegang buku. Setidak-tidaknya komentar tersebut adalah benar bila dihubungkan dengan kenyataan. Betapa saat ini, kapanpun dan dimanapun dapat ditemua orang ber-hp-ria di tengah aktivitas lain. Barangkali hanya orang tidurlah yang tidak memegang HP. Menunggu bis, makan di kantin, ngobrol, bahkan ketika mengikuti pelajaran atau berkendara pun asyik berhape. Masalah ada korelasi dengan penurunan prestasi ujian nasional atau tidak, perlu data yang dapat dipertanggungjawabkan. Terlepas dari tudingan HP sebagai biang kerok penurunan prestasi ujian nasional, yang jelas masyarakat Indonesia, tidak kecuali kaum terpelajar saat ini, terjangkit fenomena culture shocks. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan teknologi, termasuk teknologi komunikasi, wajib untuk diikuti. Akan tetapi kesiapan kita secara kultural yang belum siap. Kiranya pesan dari para pendahulu yang mengatakan : Aja gumunan lan aja kagetan, masih menemukan relevansi untuk konteks masa kini. Penggunaan HP oleh sebagian remaja kita sebenarnya bukan didasarkan pada azas kemanfaatan tetapi lebih banyak berangkat dari sikap gumunan. Sayangnya, sikap gumunan ini tidak mendorong kreatifitas untuk menciptakan tetapi memberikan rangsangan untuk sekadar menggunakan. Lebih mengerikan lagi, sikap gumunan ini juga muncul ketika melihat iklan di media massa yang cenderung konsumeristik. Rasa ingin dianggap moderen, gaul, trendy atau sebutan lain akhirnya mendorong remaja kita untuk bergaya dengan teknologi tanpa kemanfaatan yang jelas. Handphone yang semestinya dimanfaatkan sebagai sarana komunikasi yang bermanfaat akhirnya menjadi bagian dari asesoris yang harus dikenakan dalam penampilan remaja kita. Prestise! Itulah yang sekedar ingin digapai oleh sebagian besar masyarakat kita. Tidak berhenti sampai di situ. Efek berantai dari kekonyolan inipun muncul. Kejahatan seks lewat facebook dan yang sejenisnya adalah menu yang senantiasa dapat dinikmati dalam tayangan berita. Atau berapa besar uang orang tua yang hilang sia-sia hanya untuk sekedar hurahura. Bahkan kerugian sosial serta kultural yang diderita generasi muda kita yang terbuai dalam bersambung ke Hal

16 JOGJA LIBRARY for ALL (JLA) YANG SEMESTINYA DAN SENYATANYA Oleh : Widodo Sunarno Mendengar Jogja Library for All (JLA) atau lebih dikenal dengan istilah Jogjalib maka angan-angan kita akan menuju ke dunia maya dimana terdapat sebuah perpustakaan yang menyediakan layanan dengan koleksi lengkap sehingga memudahkan kita mencari informasi sesuai kebutuhan. Namun angan-angan itu sedikit tertunda ketika akses Jogjalib sering byar pet kadang nongol kadang tidak bagaikan puisi antara ada dan tiada. Lat a r b e l a k a n g pembangunan Jogjalib berawal dari komitmen Yogyakarta untuk menjadi pusat pendidikan, kebudayaan dan tujuan terkemuka di Asia. Secara garis besar terdapat dua misi utama dalam Jogjalib. Pertama membuka akses bagi masyarakat umum di semua katalog di Yogyakarta. Kedua adalah menyediakan Silang Layan agar dapat memanfaatkan fasilitas dan layanan dari berbagai perpustakaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Program Jogjalib dibangun sebagai layanan perpustakaan bersama dalam bentuk kerjasama antar perpustakaan di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan memanfaatkan teknologi informasi. Jogjalib dicanangkan oleh Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun Jogjalib merupakan bagian dari digital government services terutama untuk mendukung Yogyakarta sebagai Pusat Pendidikan Terkemuka di Tahun 2020.

17 Jogjalib menyajikan layanan dan informasi yang dimiliki oleh perpustakaan unit dari berbagai perpustakaan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Melalui Jogjalib seluruh perpustakaan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan terhubung dalam satu jaringan yang dikelola oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Cara penyajian Jogjalib adalah dengan membangun katalog online bersama yang dapat diakses melalui jogjalib.jogjakarta.go.id. Koleksikoleksi yang disajikan secara online ini menyediakan informasi katalog bersama yang diawali dari anggota Jogjalib perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jogjalib juga mendapat apresiasi yang baik dari sekolah-sekolah di Daerah Istimewa Yogyakarta dan mengungkapkan keinginannya untuk bias bergabung di dalamnya. Tahap pertama Jogjalib dimulai pada tahun 2006 dengan membuka katalog online yang hingga saat ini telah terwujud katalog online 18 perpustakaan perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta yang meliputi : - UGM (Universitas Gadjah Mada) - UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) - UII (Universitas Islam Indonesia) - ISI (Institut Seni Indonesia) - USD (Universitas Sanata Dharma) - UPN (Universitas Pembangunan Nasional) - UAD (Universitas Ahmad Dahlan) - UAJ (Universitas Atmajaya) - UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana) - UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) - AMIK (Akademi Manajemen Ilmu Komputer) Kartika Yani - STPN (Sekolah Tinggi Pertanahan Negeri) - UIN (Universitas Islam Negeri) - STIE (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi) YKPN - STMIK (Sekolah Tinggi Managemen Ilmu Komputer) AMIKOM - ATK (Akademi Teknologi Kulit) - UJB (Universitas Jana Badra) - STPMD (Sekolah Tinggi Pemerintahan Masyarakat Desa) Tahap kedua Jogjalib adalah terjadinya kesepakatan kerjasama Silang Layan yang telah diikuti oleh 7 perpustakaan perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta meliputi : - UGM (Universitas Gadjah Mada) - UII (Universitas Islam Indonesia) - UAJ (Universitas Atmajaya) - UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana) - USD (Universitas Sanata Dharma) - UPN (Universitas Pembangunan Nasional) - UIN (Universitas Islam Negeri) Silang Layan Jogjalib antar perpustakaan unit dapat dioperasionalkan melalui kesepakatan kerjasama. Silang Layan Jogjalib merupakan keinginan bersama perpustakaan unit yang tergabung di dalam Jogjalib untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Yogyakarta menuju visi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menjadi pusat pendidikan terkemuka. Keanggotaan perpustakaan unit dapat bertambah sesuai permintaan. Kesepakatan kerjasama Silang Layan dituangkan dalam Keputusan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang lampirannya merupakan materi yang disepakati. Konsep Regulasi Silang Layan Jogjalib dapat dijabarkan sebagai berikut : Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta berkedudukan sebagai koordinator Silang Layan Jogjalib yang dalam pelaksanaannya dibentuk Tim Pengelola. Tim Pengelola melaksanakan tugas pemantauan perkembangan dan pemanfaatan Silang Layan Jogjalib. Tim Pengelola melakukan pertemuan koordinasi secara berkala. Perpustakaan unit memiliki hak dan kewajiban untuk menjaga dan melindungi data dan informasi yang dikelolanya. Perpustakaan unit wajib menyediakan sumber informasi, alat temu kembali minimal OPAC (Online Public Access Catalogue), akses internet, hotspot, mesin fotocopy, ruang dan meja baca yang memadai dan SANGKAKALA, Edisi Kedelapan

18 fasilitas lainnya. Perpustakaan unit wajib memperbaharui data koleksi secara real time atau secara langsung. Perpustakaan unit menggunakan dan memanfaatkan fasilitas yang disediakan koordinator untuk kepentingan Silang Layan Jogjalib. Perpustakaan unit wajib menyediakan petugas khusus yang memahami Silang Layan Jogjalib. Anggota Silang Layan Jogjalib adalah mahasiswa dan masyarakat umum Daerah Istimewa Yogyakarta. Identitas anggota yaitu smartcard yang dikeluarkan oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan dapat digunakan untuk memanfaatkan fasilitas dan layanan perpustakaan unit Silang Layan Jogjalib. Anggota berhak menggunakan koleksi yang tersedia sesuai ketentuan perpustakaan unit seperti : buku, terbitan berkala, karya akademik, dan karya ilmiah dalam bentuk cetak maupun elektronik. Anggota berhak menggunakan fasilitas dan sarana prasarana seperti: ruang baca, hotspot, alat temu kembali elektronik, cetak dokumen, fotocopy, scan dokumen, tempat ibadah, dan kamar kecil sesuai dengan aturan di perpustakaan. Pengadaan kartu anggota Silang Layan Jogjalib berupa smartcard difasilitasi oleh Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Setiap kartu memiliki nomor kartu unik yang menjadi nomor induk pengguna Silang Layan Jogjalib. Setiap kartu berlaku untuk 1 orang dan tidak dapat digunakan oleh orang lain. Kartu anggota berlaku selama 2 tahun dan dapat diperpanjang. Kartu anggota smartcard yang hilang dapat diganti dengan melampirkan surat keterangan hilang dari perpustakaan unit atau kepolisian setempat, dengan biaya sama seperti pembuatan kartu baru. Pendaftaran anggota Silang Layan Jogjalib dilakukan di Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di Jalan Tentara Rakyat Mataram 4 Yogyakarta. Pendaftaran kartu harus disertai dengan fotocopy identitas yang berlaku di Daerah Istimewa Yogyakarta. Biaya pendaftaran anggota sebesar Rp /orang Biaya masuk dan baca anggota Silang Layan Jogjalib di perpustakaan unit sebesar Rp.4000/hari atau Rp / bulan. Apabila mnghilangkan sebagian atau seluruh bahan pustaka, anggota wajib mengganti dengan bahan pustaka yang baru. Merusak sebagian atau seluruh komponen/perangkat jaringan internet akibat kealpaan anggota, diwajibkan membetulkan/ mengganti bagian yang rusak atau hilang. Keanggotaan Silang Layan Jogjalib akan dicabut bila melanggar disiplin sebanyak 3 (tiga) kali. Ternyata implementasi Silang Layan Jogjalib juga belum bisa berjalan sesuai dengan konsep regulasinya. Aplikasi smartcard masih belum maksimal sehingga perlu alternatif lain yang lebih sederhana. Biaya pendaftaran, masuk dan baca bagi anggota Silang Layan Jogjalib masih dirasa mahal sehingga perlu ditinjau kembali. Tentu saja merupakan tugas besar dan tantangan bagi Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai koordinator Jogjalib dan Perpustakaan Unit sebagai anggota Jogjalib agar eksistensi Jogjalib dapat dipertahankan dan berkembang. Kerja keras ini demi mewujudkan sebuah harapan bahwa masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta lebih mudah mencari informasi, mengakses, dan berbagi informasi sehingga pada akhirnya akan mencerdaskan bangsa ini. 18 SANGKAKALA, Edisi Kedelapan 2010

19 JUDUL PENULIS PENERBIT CETAKAN TEBAL PERESENSI : Hari-hari Terakhir Gus Dur di Istana Rakyat : Andreas Harsono et.al. : Pensil 324 Jakarta : Desember 2009 : x + 68 halaman. : Wahyu Dona Pasa Sulendra, S.IP M asa reformasi tidak bisa dipungkiri membawa perubahan tersendiri bagi Indonesia. Memasuki awal periode ini, lembaga legislatif dan lembaga kepresidenan mengalami perubahan yang dinamis dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Parlemen, misalnya, berhasil mengesahkan sejumlah perundangan dan ketetapan yang membuka ruang terjadinya pembaruan dalam berbagai segi kehidupan masyarakat. Salah satunya di bidang jurnalistik. Suhu politik di awal masa reformasi yang sering kali memanas, membuat pemberitaan sejumlah media sering kali dibumbui dengan sejumlah keputusan elit politik yang erratic, tidak berpola dan kadang tidak rasional dalam perspektif manajemen pemerintahan dan politik. Kisruh dan pertarungan politik tingkat elit, kontroversi, berita pelintiran, demonstrasi mahasiswa, DPR Jalanan, dan lain sebagainya seakan menjadi jargon-jargon yang setiap hari dikunyah masyarakat melalui media elektronik, cetak maupun televisi. Bahkan, pemberitaan media sempat diwarnai tarik menarik kekuasaan antara kutub legislatif (DPR-MPR) dan lembaga eksekutif (kepresidenan) yang saling menuding ketidakefektifan masing-masing dalam menampung dan menyalurkan aspirasi rakyat. Iklim politik SANGKAKALA, Edisi Kedelapan 2010 ini yang sempat mencapai titik puncak saat Presiden KH Abdurrahman Wahid, melontarkan pernyataan yang cukup kontroversial melalui media massa, DPR kok kayak Taman Kanak-kanak. 19

20 Dari balik menggeloranya bidang jurnalistik masa reformasi seperti itulah, buku ini membingkai tingkah polah para pelaku media, terutama dalam meliput hari-hari terakhir diturunkannya presiden Abdurrahman Wahid, atau yang lebih akrab dipanggil Gus Dur. Sejumlah kisah di balik redaksi yang biasanya tidak terekspos khalayak, dikemas dengan menggunakan bahasa yang cukup ringan dalam bab-bab buku ini. Seperti suasana kantor redaksi RCTI yang semula meriah mendadak berubah menjadi surut, lantaran rencana piknik awak redaksi ke Puncak dibatalkan seketika saat mereka mengetahui kabar bahwa Gus Dur akan melantik kepala Polri yang baru. Para kru menilai manuver politik Gus Dur ini bisa memancing lawan-lawan politiknya menggelar Sidang Istimewa MPR. Dengan kata lain: Pemecatan! Jadi acara dibatalkan dan semua siaga, ungkap Atmadji Sumarkidjo, Wakil Pemimpin Redaksi RCTI seperti yang terangkum dalam bab Pelantikan Kapolri yang Kontroversial. Buku terbitan Pensil-324 ini berisikan kumpulan laporan yang dikerjakan oleh Andreas Harsono dan tim dari kantor berita Pantau selama tiga hari menjelang pencabutan mandat Abdurrahman Wahid oleh MPR, pada 23 Juli Dalam rentan waktu yang cukup singkat itu, wartawanwartawan Pantau, seperti Agus Sudibyo, Coen Husain Pontoh, Dyah Listyorini, Elis N. Hart, dan Eriyanto mengulas cukup detail peran media dalam memanaskan iklim politik pada detik-detik menjelang lengsernya tokoh Nahdatul Ulama tersebut. Dalam bab Rapat Paripurna MPR, misalnya, tim penulis memaparkan secara gamblang bagaimana gesekan antara legislatif dan eksekutif telah sebegitu runcingnya. Dalam bab ini, mereka menampilkan peran sebuah siaran langsung televisi mampu membuat Sidang Paripurna MPR yang sedianya dimulai pukul WIB tertunda, lantaran banyak anggota MPR menyaksikan konferensi pers yang digelar Gus Dur dari Istana Negara. Pada siaran langsung tersebut, Gus Dur menyatakan tidak akan menghadiri sidang MPR dan mempertanyakan keabsahan sidang itu. Sementara itu di Senayan, para politisi yang menonton siaran langsung tersebut tertawa terbahak-bahak sambil berteriak hu.. hu.. hu... ketika Gus Dur meninggikan suaranya. Pada bab lain, tim penulis berupaya mengkritisi praktek Media di Indonesia yang sering kali mengorbankan waktu dalam mengecek kebenaran informasi, demi mengejar deadline. Hasilnya, ada wartawan di Istana Negara yang pada Hari Minggu petang, 22 Juli 2001, dibentak oleh Gus Dur dan dibilang tukang melintir karena asumsi dalam pertanyaannya, soal kerjasama Gus Dur dan Rachmawati Soekarnoputri, bertentangan dengan fakta. Meski buku ini secara garis besar mencoba mengungkap secara kronologis peran dan perilaku media di masa penurunan Gus Dur, namun cakupan lingkup liputan yang hanya berkisar pada Media di Ibu Kota, membuat buku ini terasa kurang menggigit. Sebab disadari atau tidak, peran Gus Dur sebagai Tokoh Agama yang memiliki banyak pengaruh, terutama di kawasan Jawa Timur, tentu kurang ter-cover secara optimal. Terlebih, di wilayah itu juga terdapat media yang memiliki peran dan pengaruh cukup signifikan, seperti Harian Jawa Pos, Surabaya misalnya. Selain itu, meski disejumlah bab dibahas mengenai subyek keakurasian berita, namun Editor buku ini sendiri membuat cukup banyak kerancuan dengan memuat inakurasi informasi dimana Metro TV disebutkan mulai operasi pada Desember 2000, namun di alinea lain disebut Desember Seharusnya editor mampu membenahi hal seperti ini. Di luar itu, secara sederhana buku ini berupaya memperpanjang ingatan kolektif pembaca bahwa pernah terjadi pertarungan sengit pada tingkat elite politik yang berujung pada pengumuman Maklumat Presiden pada Senin, 23 Juli 2001, pukul WIB dini hari. Dan pada hari yang sama pukul WIB, MPR secara resmi memberhentikan KH Abdurrahman Wahid sebagai presiden karena dinilai telah melanggar haluan negara. 20 SANGKAKALA, Edisi Kedelapan 2010

PENGEMBANGAN SISTEM LAYANAN PERPUSTAKAAN DIGITAL. Wahyu Supriyanto Pustakawan UGM

PENGEMBANGAN SISTEM LAYANAN PERPUSTAKAAN DIGITAL. Wahyu Supriyanto Pustakawan UGM PENGEMBANGAN SISTEM LAYANAN PERPUSTAKAAN DIGITAL Wahyu Supriyanto Pustakawan UGM ABSTRAK Perpustakaan saat ini berkembang ke arah digital, mulai dari katalog, jurnal, sampai buku ada bentuk digitalnya..

Lebih terperinci

Etika dan Ketentuan dalam Teknologi Informasi &Komunikasi

Etika dan Ketentuan dalam Teknologi Informasi &Komunikasi BAB III Etika dan Ketentuan dalam Teknologi Informasi &Komunikasi Etika berasal dari bahasa Yunani ethikos yang berarti timbul dari kebiasaan. Etika mencakup analisis dan penerapan nilai-nilai seperti

Lebih terperinci

Materi Minggu 1. Komunikasi

Materi Minggu 1. Komunikasi T e o r i O r g a n i s a s i U m u m 2 1 Materi Minggu 1 Komunikasi 1.1. Pengertian dan Arti Penting Komunikasi Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain

Lebih terperinci

Komunikasi. Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan, informasi dari seseorang ke orang lain (Handoko, 2002 : 30).

Komunikasi. Komunikasi adalah proses pemindahan pengertian dalam bentuk gagasan, informasi dari seseorang ke orang lain (Handoko, 2002 : 30). Komunikasi I. PENGERTIAN Komunikasi adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang-lambang yang bermakna bagi kedua pihak, dalam situasi yang

Lebih terperinci

Makalah. Lisensi Freeware, Shareware dan Opensource Software. Daeng X-5. SMA Negeri 1 Kota Bandung * 1 *

Makalah. Lisensi Freeware, Shareware dan Opensource Software. Daeng X-5. SMA Negeri 1 Kota Bandung * 1 * Makalah Lisensi Freeware, Shareware dan Opensource Software Daeng SMA Negeri 1 Kota Bandung * 1 * Kata Pengantar Alhamdulillah puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. (Sulistyo-

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tertentu untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. (Sulistyo- BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perpustakaan 2.1.1 Pengertian Perpustakaan Perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan

Lebih terperinci

APLIKASI KOMUNIKASI NON-VERBAL DI DALAM KELAS

APLIKASI KOMUNIKASI NON-VERBAL DI DALAM KELAS APLIKASI KOMUNIKASI NON-VERBAL DI DALAM KELAS Maisarah, S.S., M.Si Inmai5@yahoo.com Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum Jombang Abstrak Artikel ini berisi tentang pentingnya komunikasi non verbal di

Lebih terperinci

Nomor Induk Mahasiswa :. Jenis Kelamin :.

Nomor Induk Mahasiswa :. Jenis Kelamin :. Lampiran 1 ANGKET PENELITIAN Analisis Tingkat Kepuasan Pengguna terhadap Layanan Perpustakaan dengan Menggunakan Metode LibQual (Studi Kasus pada Perpustakaan Universitas Syiah Kuala Banda Aceh) Dengan

Lebih terperinci

KBBI, Effendy James A. F. Stoner Prof. Drs. H. A. W. Widjaya

KBBI, Effendy James A. F. Stoner Prof. Drs. H. A. W. Widjaya DEFINISI KBBI, Pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami Effendy, proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang kepada

Lebih terperinci

BUPATI TEMANGGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TEMANGUNG,

BUPATI TEMANGGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TEMANGUNG, BUPATI TEMANGGUNG PERATURAN BUPATI TEMANGGUNG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN TEMANGGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. media yang didesain secara khusus mampu menyebarkan informasi kepada

BAB I PENDAHULUAN. media yang didesain secara khusus mampu menyebarkan informasi kepada 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Media massa adalah istilah yang digunakan sampai sekarang untuk jenis media yang didesain secara khusus mampu menyebarkan informasi kepada masyarakat secara luas.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Penerapan teknologi informasi saat ini menyebar hampir di semua bidang termasuk di

BAB 1 PENDAHULUAN. Penerapan teknologi informasi saat ini menyebar hampir di semua bidang termasuk di BAB 1 PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Masalah Penerapan teknologi informasi saat ini menyebar hampir di semua bidang termasuk di perpustakaan. Perpustakaan sebagai institusi pengelola informasi merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Andi Wijaya, 2014 Pemanfaatan Internet Pada Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Andi Wijaya, 2014 Pemanfaatan Internet Pada Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring dengan perkembangan pada era globalisasi, kini informasi bisa semakin mudah untuk diakses. Salah satu cara aksesnya adalah dengan menggunakan media

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Berita sudah menjadi hal yang dapat dinikmati oleh masyarakat dengan berbagai macam bentuk media seperti media cetak dalam wujud koran dan berita gerak (media

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT, Menimbang : a. Bahwa karya cetak

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR 3 TAHUN 2012 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT, Menimbang : a. Bahwa karya cetak

Lebih terperinci

POLICY BRIEF ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM DALAM RANGKA PARTISIPASI PUBLIK DALAM PROSES PENGAMBILAN KEBIJAKAN PUBLIK

POLICY BRIEF ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM DALAM RANGKA PARTISIPASI PUBLIK DALAM PROSES PENGAMBILAN KEBIJAKAN PUBLIK POLICY BRIEF ANALISIS DAN EVALUASI HUKUM DALAM RANGKA PARTISIPASI PUBLIK DALAM PROSES PENGAMBILAN KEBIJAKAN PUBLIK A. PENDAHULUAN Salah satu agenda pembangunan nasional yang tertuang dalam Rencana Pembangunan

Lebih terperinci

HAKI Perangkat Lunak

HAKI Perangkat Lunak HAKI Perangkat Lunak Paten Software Copyright Software License Copyright Software E-Class 12 Presentation Novian Fati S. 1241177004199 Arif Maulana I. 1241177004050 Samsul Kosasi 1241177004004 Paten Software

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR: 27 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA WARUNG INTERNET DAN GAME ONLINE DI KABUPATEN SRAGEN

PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR: 27 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA WARUNG INTERNET DAN GAME ONLINE DI KABUPATEN SRAGEN SALINAN PERATURAN BUPATI SRAGEN NOMOR: 27 TAHUN 2017 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA WARUNG INTERNET DAN GAME ONLINE DI KABUPATEN SRAGEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SRAGEN, Menimbang : a. b.

Lebih terperinci

Etika dan Ketentuan dalam Teknologi Informasi & Komunikasi 71

Etika dan Ketentuan dalam Teknologi Informasi & Komunikasi 71 menghargai hak cipta orang lain. Dampak negatif dari tidak diindahkannya undang-undang hak cipta adalah maraknya pembajakan. Kegiatan pembajakan merupakan perbuatan yang dikategorikan sebagai pelanggaran

Lebih terperinci

PERPUSTAKAAN FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UGM : INOVASI KEGIATAN DAN IMPAK

PERPUSTAKAAN FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UGM : INOVASI KEGIATAN DAN IMPAK PERPUSTAKAAN FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UGM 2013-2016: INOVASI KEGIATAN DAN IMPAK Oleh : Maryatun Pustakawan Universitas Gadjah Mada E-mail : maryatun@ugm.ac.id Abstrak Era global salah satunya ditandai

Lebih terperinci

KOLEKSI LANGKA. Langka. Disusun oleh: Anang Fitrianto Sapto Nugroho. a.f.s.n

KOLEKSI LANGKA. Langka. Disusun oleh: Anang Fitrianto Sapto Nugroho. a.f.s.n PEMASARAN DAN PROMOSI Pemasaran Koleksi KOLEKSI LANGKA Langka Disusun oleh: Anang Fitrianto Sapto Nugroho a.f.s.n 1 A. DEFINISI KOLEKSI LANGKA Menurut Online Dictionary for Library and Information Science,

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1141, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEHUTANAN. Karya Cetak. Karya Rekam. Pengelolaan. PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR P.49/MENHUT-II/2013 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN

Lebih terperinci

Pokok-pokok Pikiran Mengenai Perpustakaan Tahun 2000an 1

Pokok-pokok Pikiran Mengenai Perpustakaan Tahun 2000an 1 Pokok-pokok Pikiran Mengenai Perpustakaan Tahun 2000an 1 Oleh: Ir. Abdul R. Saleh, M.Sc dan Drs. B. Mustafa, M.Lib. 2 PENDAHULUAN Perguruan tinggi merupakan salah satu subsistem dari sistem pendidikan

Lebih terperinci

Konsep Perangkat Lunak Bebas

Konsep Perangkat Lunak Bebas Konsep Perangkat Lunak Bebas Oleh: Kelompok 58.1 M. Eka Suryana(1203000641) Rachmad Laksana(1203000897) mailto: eka_suryana@yahoo.com Copyright 2004 Silahkan menggunakan, memperbanyak, dan memperbaiki

Lebih terperinci

PENTINGNYA KOMUNIKASI

PENTINGNYA KOMUNIKASI KOMUNIKASI Peran Komunikasi Pengertian Komunikasi Proses Komunikasi Kontinum Komunikasi Dalam Perilaku Organisasi Media Komunikasi Komunikasi Nonverbal Komunikasi Antar Pribadi PENTINGNYA KOMUNIKASI Barnard

Lebih terperinci

Promosi Jasa Pelayanan Referensi Di Perpustakaan

Promosi Jasa Pelayanan Referensi Di Perpustakaan Promosi Jasa Pelayanan Referensi Di Perpustakaan Pendahuluan Dewasa ini berbagai lembaga atau institusi, baik pemerintah maupun swasta berlomba-lomba untuk memperbaiki sistem kerja dan kinerjanya. Hal

Lebih terperinci

KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 51 TAHUN 2004 TENTANG

KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 51 TAHUN 2004 TENTANG WALIKOTA TASIKMALAYA KEPUTUSAN WALIKOTA TASIKMALAYA NOMOR : 51 TAHUN 2004 TENTANG URAIAN TUGAS JABATAN STRUKTURAL PADA KANTOR ARSIP DAN PERPUSTAKAAN DAERAH KOTA TASIKMALAYA WALIKOTA TASIKMALAYA Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang mengumpulkan, merawat, menyimpan, mengatur dan melestarikan bahan-bahan perpustakaan yang selanjutnya digunakan masyarakat

Lebih terperinci

PROFESSIONAL IMAGE. Etiket dalam pergaulan (2): Berbicara di depan Umum, etiket wawancara. Syerli Haryati, S.S. M.Ikom. Modul ke: Fakultas FIKOM

PROFESSIONAL IMAGE. Etiket dalam pergaulan (2): Berbicara di depan Umum, etiket wawancara. Syerli Haryati, S.S. M.Ikom. Modul ke: Fakultas FIKOM Modul ke: PROFESSIONAL IMAGE Etiket dalam pergaulan (2): Berbicara di depan Umum, etiket wawancara Fakultas FIKOM Syerli Haryati, S.S. M.Ikom Program Studi Public Relations www.mercubuana.ac.id Pendahuluan

Lebih terperinci

KETENTUAN PENGGUNAAN Situs Web TomTom

KETENTUAN PENGGUNAAN Situs Web TomTom KETENTUAN PENGGUNAAN Situs Web TomTom 1 Ruang lingkup Ketentuan Penggunaan ini berlaku untuk penggunaan Situs Web TomTom dan mencakup hak-hak, kewajiban, dan batasan Anda ketika menggunakan Situs Web TomTom.

Lebih terperinci

KOMUNIKASI NON VERBAL

KOMUNIKASI NON VERBAL KOMUNIKASI NON VERBAL FUNGSI KOMUNIKASI NONVERBAL Komunikasi nonverbal pastilah merupakan kata yang sedang populer saat ini. Setiap orang tampaknya tertarik pada pesan yang dikomunikasikan oleh gerakan

Lebih terperinci

MAKALAH KOMUNIKASI. Disusun untuk memenuhi tugas terstruktur Mata Kuliah Perilaku dan Pengembangan Organisasi. Disusun Oleh :

MAKALAH KOMUNIKASI. Disusun untuk memenuhi tugas terstruktur Mata Kuliah Perilaku dan Pengembangan Organisasi. Disusun Oleh : MAKALAH KOMUNIKASI Disusun untuk memenuhi tugas terstruktur Mata Kuliah Perilaku dan Pengembangan Organisasi Disusun Oleh : 1. Retno Dwi S. 115030200111073 2. Dhea Indira Ard 115030200111076 3. Chalifah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, maka dibentuklah lembaga yang menyediakan informasi yaitu

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan, maka dibentuklah lembaga yang menyediakan informasi yaitu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada era informasi seperti sekarang ini, kebutuhan akan informasi meningkat sesuai dengan perkembangan zaman baik media cetak, elektronik dan sosial media yang telah

Lebih terperinci

- 1 - LINA PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN BERAU

- 1 - LINA PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN BERAU - 1 - SALINAN Desaign V. Santoso, 4 April 2013 LINA PERATURAN BUPATI BERAU NOMOR 8 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN BERAU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

Ketentuan Penggunaan. Pendahuluan

Ketentuan Penggunaan. Pendahuluan Ketentuan Penggunaan Pendahuluan Kami, pemilik Situs Web ecosway (yang termasuk situs Web ecosway) telah menetapkan ketentuan ketentuan yang selanjutnya di sini disebut ("Ketentuan Penggunaan") sebagai

Lebih terperinci

MENANGANI KELUHAN CUSTOMER (RUMAH SAKIT)

MENANGANI KELUHAN CUSTOMER (RUMAH SAKIT) MENANGANI KELUHAN CUSTOMER (RUMAH SAKIT) By: Diah Pramesti Staff Penunjang & Administrasi Medis Jogja International Hospital Meredakan (Pahami) Kemarahan Customer Sebagai bagian dari Customer Satisfaction

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. makhluk hidup, komunikasi sangat penting dimana komunikasi itu sendiri

BAB I PENDAHULUAN. makhluk hidup, komunikasi sangat penting dimana komunikasi itu sendiri BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Komunikasi merupakan suatu hal yang tidak bisa dilepaskan oleh semua makhluk hidup, komunikasi sangat penting dimana komunikasi itu sendiri berfungsi untuk berinteraksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. harus dipenuhi, seperti kebutuhan untuk mengetahui berita tentang dunia fashion,

BAB I PENDAHULUAN. harus dipenuhi, seperti kebutuhan untuk mengetahui berita tentang dunia fashion, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Media telah menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, bahkan kita tidak akan pernah terlepas dari media. Seiring dengan perkembangan peradaban

Lebih terperinci

TEKNOLGI INFORMASI BAGIAN DARI PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN. Oleh: Drs. Habib, M.M. 2015

TEKNOLGI INFORMASI BAGIAN DARI PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN. Oleh: Drs. Habib, M.M. 2015 1 TEKNOLGI INFORMASI BAGIAN DARI PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN Oleh: Drs. Habib, M.M. 2015 A. PENDAHULUAN Perkembangan dan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini telah berjalan dengan sangat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 174 BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimanakah Perpustakaan ITS Surabaya dan Perpustakaan UK Petra Surabaya melakukan pemanfaatan fungsi ruang yang

Lebih terperinci

copyright 2014 copyright KIAT CEPAT AKRAB

copyright 2014 copyright KIAT CEPAT AKRAB copyright 2014 www.totokpdy.com 7 KIAT CEPAT AKRAB PENDAHULUAN Siapa sih yang tidak ingin memiliki teman? Terlepas siapa diri kita, entah sebagai pelaku bisnis, mahasiswa, praktisi profesional maupun amatir,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG P E R S DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG P E R S DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG P E R S DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

VISI & MISI. Visi Menjadi acuan pertama dan utama untuk akses informasi ilmiah demi pengembangan ilmu dan kemajuan peradaban bangsa

VISI & MISI. Visi Menjadi acuan pertama dan utama untuk akses informasi ilmiah demi pengembangan ilmu dan kemajuan peradaban bangsa VISI & MISI sumber: www.pastordorrell.com Visi Menjadi acuan pertama dan utama untuk akses informasi ilmiah demi pengembangan ilmu dan kemajuan peradaban bangsa Misi 1. Menyediakan layanan dan akses global

Lebih terperinci

AUTOMASI PERPUSTAKAAN

AUTOMASI PERPUSTAKAAN A. Pendahuluan AUTOMASI PERPUSTAKAAN Oleh: Gatot Subrata, S.Kom Abstrak. Sistem Automasi Perpustakaan adalah penerapan teknologi informasi pada pekerjaan administratif di perpustakaan agar lebih efektif

Lebih terperinci

TANTANGAN PENGEMBANGAN INDUSTRI MAJALAH PADA ERA DIGITAL. Oleh: Tri Diah Cahyowati, MSi. Morissan, M.A

TANTANGAN PENGEMBANGAN INDUSTRI MAJALAH PADA ERA DIGITAL. Oleh: Tri Diah Cahyowati, MSi. Morissan, M.A TANTANGAN PENGEMBANGAN INDUSTRI MAJALAH PADA ERA DIGITAL Oleh: Tri Diah Cahyowati, MSi Morissan, M.A Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercu Buana, 2011 Abstrak: Industri majalah di Indonesia dewasa

Lebih terperinci

Penerapan Sistem Otomasi Perpustakaan Untuk Meningkatkan Kinerja Pustakawan di Perpustakaan Pusat Universitas Warmadewa

Penerapan Sistem Otomasi Perpustakaan Untuk Meningkatkan Kinerja Pustakawan di Perpustakaan Pusat Universitas Warmadewa Penerapan Sistem Otomasi Perpustakaan Untuk Meningkatkan Kinerja Pustakawan di Perpustakaan Pusat Universitas Warmadewa Ni Putu Ratih Adnyana Putri 1, I Putu Suhartika 2, Richard Togaranta Ginting 3 Fakultas

Lebih terperinci

PERAN PERPUSTAKAAN DIGITAL DAN TEKNOLOGI INFORMASI DI ERA GLOBALISASI

PERAN PERPUSTAKAAN DIGITAL DAN TEKNOLOGI INFORMASI DI ERA GLOBALISASI PERAN PERPUSTAKAAN DIGITAL DAN TEKNOLOGI INFORMASI DI ERA GLOBALISASI Al. Purwoko Sunu Pustakawan Universitas Sanata Dharma Email: purwokosunu@mail.usd.ac.id A. Pendahuluan Perpustakaan merupakan penyedia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perpustakaan harus memiliki strategi yang tepat sebagai penyedia informasi agar

BAB I PENDAHULUAN. perpustakaan harus memiliki strategi yang tepat sebagai penyedia informasi agar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Penelitian Di era globalisai ini yang ditandai dengan kemajuan teknologi komunikasi informasi peran perpustakaan terasa semakin penting. Hal tersebut membuat perpustakaan

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 12 TAHUN 2005

PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 12 TAHUN 2005 PEMERINTAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 12 TAHUN 2005 TENTANG SERAH SIMPAN KARYA CETAK DAN KARYA REKAM DI WILAYAH PROVINSI DAERAH ISTIMEWA

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 047 TAHUN 2017

PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 047 TAHUN 2017 PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN NOMOR 047 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PELAYANAN PERPUSTAKAAN DI DINAS PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN GUBERNUR KALIMANTAN

Lebih terperinci

UPT PERPUSTAKAAN INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL

UPT PERPUSTAKAAN INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL UPT PERPUSTAKAAN INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL SELAMAT DATANG DI UPT PERPUSTAKAAN ITENAS GEDUNG 9 APA ITU UPT? UPT merupakan kependekan dari Unit Pelayanan Teknis, dimana di Itenas terdapat tiga UPT yaitu

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. tidak dapat secara mudah jika hanya dilihat dengan hal-hal terkait yang

BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN. tidak dapat secara mudah jika hanya dilihat dengan hal-hal terkait yang BAB II GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN Citra yang dibentuk oleh perpustakaan di kalangan masyarakat tidak dapat secara mudah jika hanya dilihat dengan hal-hal terkait yang telah dilakukan oleh perpustakaan

Lebih terperinci

SISTEM PELAYANAN SIRKULASI PADA PERPUSTAKAAN SEKOLAH Oleh : Sjaifullah Muchdlor, S.Pd

SISTEM PELAYANAN SIRKULASI PADA PERPUSTAKAAN SEKOLAH Oleh : Sjaifullah Muchdlor, S.Pd SISTEM PELAYANAN SIRKULASI PADA PERPUSTAKAAN SEKOLAH Oleh : Sjaifullah Muchdlor, S.Pd Disajikan pada Pendidikan pada Pendidikan dan Pelatihan Pelatihan Perpustakaan para guru se-kota Mojokerto Tanggal

Lebih terperinci

Pengenalan Teknologi Informasi

Pengenalan Teknologi Informasi Prodi Teknik Informatika FMIPA Unsyiah November 22, 2011 Selain memberikan banyak keuntungan dalam memenuhi kebutuhan akan informasi, Internet juga dapat menjadi ancaman, terutama bagi Perlindungan Hak

Lebih terperinci

PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA NOMOR : 03 TAHUN 2009 TENTANG ETIKA DAN TATA TERTIB PERGAULAN MAHASISWA DI KAMPUS

PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA NOMOR : 03 TAHUN 2009 TENTANG ETIKA DAN TATA TERTIB PERGAULAN MAHASISWA DI KAMPUS PERATURAN REKTOR UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA NOMOR : 03 TAHUN 2009 TENTANG ETIKA DAN TATA TERTIB PERGAULAN MAHASISWA DI KAMPUS REKTOR UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA Menimbang : a. bahwa untuk lancarnya

Lebih terperinci

Perkembangan dunia kepustakawanan. Pertemuan ke 2

Perkembangan dunia kepustakawanan. Pertemuan ke 2 Perkembangan dunia kepustakawanan Pertemuan ke 2 Pengantar Setiap teknologi baru selalu membawa dua hal: harapan dan kekuatiran Perpustakaan lahir dari era perbukuan Perpustakaan membangun sebuah peradaban

Lebih terperinci

BAB IV PEMBAHASAN. merupakan layanan yang sangat penting dengan layanan-layanan yang ada di

BAB IV PEMBAHASAN. merupakan layanan yang sangat penting dengan layanan-layanan yang ada di BAB IV PEMBAHASAN Layanan penelusuran informasi koleksi di Perpustakaan Nasional RI merupakan layanan yang sangat penting dengan layanan-layanan yang ada di perpustakaan. Karena layanan penelusuran merupakan

Lebih terperinci

KEMERDEKAAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT

KEMERDEKAAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT Bab - 4 Kemerdekaan Mengemukakan Pendapat KEMERDEKAAN MENGEMUKAKAN PENDAPAT Bab 4 Tahukah kalian, bahwa kemerdekaan mengemukakan pendapat dijamin oleh negara? Dengan adanya kemerdekaan berpendapat akan

Lebih terperinci

Cara Membaca Bahasa Tubuh

Cara Membaca Bahasa Tubuh Cara Membaca Bahasa Tubuh Disunting oleh WikiHowID Editor, Rosy Guerra Memerhatikan sinyal yang dikirim orang dengan bahasa tubuhnya adalah keterampilan sosial yang sangat bermanfaat. Sebagian dari kita

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jaringan digital, jangkauan global, interaktivitas, may to many communications,

BAB I PENDAHULUAN. jaringan digital, jangkauan global, interaktivitas, may to many communications, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Internet disebut sebagai sebuah media baru yang sifatnya multimedia dan interaktif. Karakteristik unik dari media baru yang menggabungkan konvergensi, jaringan

Lebih terperinci

E-Book ini dibuat dan disusun oleh Mahasiswa Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang Achmad Choirul Arifin i

E-Book ini dibuat dan disusun oleh Mahasiswa Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang Achmad Choirul Arifin i Tips cepat dan mudah mengetik sepuluh jari dalam 14 hari ANDA BISA LANCAR MENGETIK DENGAN TEHNIK SEPULUH JARI HANYA DALAM WAKTU KURANG DARI SATU BULAN E-Book ini dibuat dan disusun oleh Mahasiswa Institut

Lebih terperinci

Hak Atas Kekayaan Intelektual. Business Law Universitas Pembangunan Jaya Semester Gasal 2014

Hak Atas Kekayaan Intelektual. Business Law Universitas Pembangunan Jaya Semester Gasal 2014 Hak Atas Kekayaan Intelektual Business Law Universitas Pembangunan Jaya Semester Gasal 2014 Hak Kekayaan Intelektual Hasil pemikiran, kreasi dan desain seseorang yang oleh hukum diakui dan diberikan hak

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO

BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO 30 BAB IV GAMBARAN UMUM PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS DIPONEGORO 4.1 Sejarah dan Perkembangan Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro Usaha pendirian Perpustakaan Fakultas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) adalah salah satu bentuk

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) adalah salah satu bentuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) adalah salah satu bentuk amal usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan Tinggi. Fungsi utama UMY adalah pendidikan, penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Sumatera Utara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Masalah Komunikasi merupakan aktivitas makhluk sosial. Menurut Carl I. Hovland (dalam Effendy, 2006: 10) komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain. Dalam praktik

Lebih terperinci

BUPATI TEMANGGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN TEMANGGUNG

BUPATI TEMANGGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN TEMANGGUNG BUPATI TEMANGGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TEMANGGUNG NOMOR 25 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARAAN PELAYANAN PERPUSTAKAAN UMUM KABUPATEN TEMANGGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TEMANGGUNG,

Lebih terperinci

Pengantar Open Source

Pengantar Open Source Pengantar Open Source Ahmad Aminudin Lahir di Rangkasbitung 03 September 1989. Mahasiswa Universitas Gunadarma yang Join ke ICT Watch dari tahun 2008. Berkontribusi langsung pada pembangunan lab sehat

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2010 NOMOR 4 SERI E

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2010 NOMOR 4 SERI E LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA TAHUN 2010 NOMOR 4 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA NOMOR 4 TAHUN 2010 TENTANG PENYELENGGARAAN DAN LAYANAN PERPUSTAKAAN DAERAH KABUPATEN BANJARNEGARA

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berbasis telekomunikasi dan multimedia. Didalamnya terdapat portal,

BAB 1 PENDAHULUAN. berbasis telekomunikasi dan multimedia. Didalamnya terdapat portal, BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Media Online adalah sebutan umum untuk sebuah bentuk media yang berbasis telekomunikasi dan multimedia. Didalamnya terdapat portal, website, radio-online,

Lebih terperinci

HUKUM PENERBITAN BAHAN PUSTAKA. Oleh. Dewi Wahyu Wardani

HUKUM PENERBITAN BAHAN PUSTAKA. Oleh. Dewi Wahyu Wardani HUKUM PENERBITAN BAHAN PUSTAKA Oleh Dewi Wahyu Wardani 125030700111021 PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS BRAWIJAYA April 2015 1. Pengertian Penerbitan adalah kegiatan

Lebih terperinci

Kecakapan Non Verbal. Tine A. Wulandari, S.I.Kom.

Kecakapan Non Verbal. Tine A. Wulandari, S.I.Kom. Kecakapan Non Verbal Tine A. Wulandari, S.I.Kom. Komunikasi Non-Verbal O O O Komunikasi interpersonal tidak hanya melibatkan arti kata secara eksplisit pada informasi atau pesan yang disampaikan, tetapi

Lebih terperinci

S A L I N A N. Lampiran : KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN NGANJUK Nomor : 03/Kpts/KPU-Kab/ /2012 Tanggal : 7 Mei 2012

S A L I N A N. Lampiran : KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN NGANJUK Nomor : 03/Kpts/KPU-Kab/ /2012 Tanggal : 7 Mei 2012 Lampiran : KEPUTUSAN KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN NGANJUK Nomor : 03/Kpts/KPU-Kab/014.329801/2012 Tanggal : 7 Mei 2012 PEDOMAN TEKNIS PELAKSANAAN SOSIALISASI PENYELENGGARAAN PEMILIHAN UMUM BUPATI DAN

Lebih terperinci

RENCANA STRATEGIS BIDANG PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN NGAWI TAHUN

RENCANA STRATEGIS BIDANG PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN NGAWI TAHUN RENCANA STRATEGIS BIDANG PERPUSTAKAAN DAN KEARSIPAN KABUPATEN NGAWI TAHUN 2010 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG. Pembangunan Nasional bertujuan meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. Fungsi tersebut adalah sebagai sarana simpan karya manusia, fungsi informasi,

Bab I Pendahuluan. Fungsi tersebut adalah sebagai sarana simpan karya manusia, fungsi informasi, Bab I Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Selama berabad-abad keberadaan perpustakaan tetap dipertahankan karena perpustakaan mempunyai fungsi yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Fungsi tersebut adalah

Lebih terperinci

Sukses dengan anak tangga pencitraa diri.

Sukses dengan anak tangga pencitraa diri. Sukses dengan anak tangga pencitraa diri. Pengertian Pencitraan Diri Pencitraan merupakan kemampuan seseorang untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan suatu karya atau tingkah laku guna mencapai

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. masyarakatluas sebagai saran pembelajaran sepanjang hayat tanpa

BAB II KAJIAN PUSTAKA. masyarakatluas sebagai saran pembelajaran sepanjang hayat tanpa 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Perpustakaan Umum Perpustakaan Umum adalah perpustakaan yang peruntukukan bagi masyarakatluas sebagai saran pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin,

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 91, 1991 (KEHAKIMAN. PENERANGAN. Kebudayaan. Warga Negara. Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jika tidak ada layanan. Layanan perpustakaan merupakan salah satu

BAB I PENDAHULUAN. jika tidak ada layanan. Layanan perpustakaan merupakan salah satu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perpustakaan merupakan sebuah pelayanan, tidak ada perpustakaan jika tidak ada layanan. Layanan perpustakaan merupakan salah satu kegiatan utama yang ada di perpustakaan.

Lebih terperinci

2014/05/31 06:19 WIB - Kategori : Warta Penyuluhan, Artikel Penyuluhan AYO MENULIS DENGAN HATI

2014/05/31 06:19 WIB - Kategori : Warta Penyuluhan, Artikel Penyuluhan AYO MENULIS DENGAN HATI 2014/05/31 06:19 WIB - Kategori : Warta Penyuluhan, Artikel Penyuluhan AYO MENULIS DENGAN HATI KEBUMEN (30/5/2014) www.pusluh.kkp.go.id Menulis dengan Hati???? Mengapa??? Semua jika dilakukan dengan hati

Lebih terperinci

SISTEM LAYANAN SIRKULASI DENGAN MENGGUNAKAN LASer VERSI 2.0.1( EDISI BARU )

SISTEM LAYANAN SIRKULASI DENGAN MENGGUNAKAN LASer VERSI 2.0.1( EDISI BARU ) SISTEM LAYANAN SIRKULASI DENGAN MENGGUNAKAN LASer VERSI 2.0.1( EDISI BARU ) Makalah Disampaikan dalam Diklat Otomasi Perpustakaan Sekolah Bagi Mahasiswa Jurusan Teknologi Pendidikan Fakultas Ilmu Pendidikan

Lebih terperinci

HANDLING TAMU EVADA EL UMMAH KHOIRO, S.AB.,M.AB PERTEMUAN 5 PRODI D3 ADM. NIAGA SMT 2 TH AJARAN 2016/2017

HANDLING TAMU EVADA EL UMMAH KHOIRO, S.AB.,M.AB PERTEMUAN 5 PRODI D3 ADM. NIAGA SMT 2 TH AJARAN 2016/2017 HANDLING TAMU EVADA EL UMMAH KHOIRO, S.AB.,M.AB PERTEMUAN 5 PRODI D3 ADM. NIAGA SMT 2 TH AJARAN 2016/2017 A. Pengertian Tamu Kantor Adalah Seseorang atau kelompok yang datang ke sebuah perusahaan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Penelitian. Kota berasal dari kata urban yang mengandung pengertian kekotaan dan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Konteks Penelitian. Kota berasal dari kata urban yang mengandung pengertian kekotaan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Konteks Penelitian Kota berasal dari kata urban yang mengandung pengertian kekotaan dan perkotaan. Kekotaan menyangkut sifat-sifat yang melekat pada kota dalam artian fisikal, sosial,

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI SALINAN PERATURAN KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR NASIONAL PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA PERPUSTAKAAN NASIONAL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hal yang dikomunikasikan yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak.

BAB I PENDAHULUAN. hal yang dikomunikasikan yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Komunikasi merupakan kebutuhan manusia yang sangat penting. Komunikasi dibutuhkan untuk memperoleh atau member informasi dari atau kepada orang lain. Kebutuhan

Lebih terperinci

BAB II PENGATURAN ATAS PERLINDUNGAN TERHADAP PENULIS BUKU

BAB II PENGATURAN ATAS PERLINDUNGAN TERHADAP PENULIS BUKU BAB II PENGATURAN ATAS PERLINDUNGAN TERHADAP PENULIS BUKU A. Hak cipta sebagai Hak Eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta Dalam konsep perlindungan hak cipta disebutkan bahwa hak cipta tidak melindungi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan rekreasi dengan menyediakan berbagai macam informasi yang sesuai dengan

BAB I PENDAHULUAN. dan rekreasi dengan menyediakan berbagai macam informasi yang sesuai dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perpustakaan merupakan salah satu unit dalam suatu lembaga yang memiliki peran untuk mendukung kegiatan pembelajaran, penelitian, publikasi dan rekreasi dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di era globalisasi dewasa ini, teknologi informasi dan komunikasi atau

BAB I PENDAHULUAN. Di era globalisasi dewasa ini, teknologi informasi dan komunikasi atau BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di era globalisasi dewasa ini, teknologi informasi dan komunikasi atau information and communication technology (ICT) telah membawa perubahan dalam berbagai

Lebih terperinci

HAK CIPTA SOFTWARE. Pengertian Hak Cipta

HAK CIPTA SOFTWARE. Pengertian Hak Cipta HAK CIPTA SOFTWARE Pengertian Hak Cipta Hak cipta (lambang internasional: ) adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu.

Lebih terperinci

TEKNOLOGI KOMUNIKASI. Wenny Maya Arlena, MSi

TEKNOLOGI KOMUNIKASI. Wenny Maya Arlena, MSi TEKNOLOGI KOMUNIKASI Wenny Maya Arlena, MSi Jakarta, 2011 Tehnologi? n Bahasa Latin texere ; artinya membentuk atau menumbuhkan. n Everett M. Rogers : Tehnologi adalah satu bentuk tindakan yang bertujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar untuk kehidupan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar untuk kehidupan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan kebutuhan mendasar untuk kehidupan yang manusiawi dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal ini tidak saja terjadi tanpa

Lebih terperinci

PROVINSI RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN DAN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN

PROVINSI RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN DAN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN PROVINSI RIAU PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIAK NOMOR 2 TAHUN 2016 TENTANG PENYELENGGARAAN DAN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIAK, Menimbang: a. bahwa dalam rangka untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Manusia adalah makhluk sosial, artinya keberadaan manusia sangat bergantung kepada individu-individu lain yang berada disekitarnya, hal ini terbukti dengan adanya

Lebih terperinci

negeri namun tetap menuntut kinerja politisi yang bersih.

negeri namun tetap menuntut kinerja politisi yang bersih. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Persoalan politik di Indonesia saat ini adalah kurangnya kesadaran politik dalam masyarakat khususnya generasi pemuda untuk terlibat dalam partisipasi politik. Tuntutan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ciri khas merupakan tuntutan dalam derasnya persaingan industri media massa yang ditinjau berdasarkan tujuannya sebagai sarana untuk mempersuasi masyarakat. Sebagaimana

Lebih terperinci

Disyaratkan menggunakan teknologi telekomunikasi dan computer

Disyaratkan menggunakan teknologi telekomunikasi dan computer KERJA SAMA DAN JARINGAN PERPUSTAKAAN Perpustakaan merupakan Gedung dan Sistem. Peprustakaan adalah suatu unit kerja yang memiliki sumber daya manusia, ruang khusus, dan kumpulan koleksi sesuai dengan jenis

Lebih terperinci

2 2. Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Tata Tertib (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 1607); MEMUTU

2 2. Peraturan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Tata Tertib (Berita Negara Republik Indonesia Nomor 1607); MEMUTU No.547, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DPR-RI. Kode Etik. PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2015 TENTANG KODE ETIK DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DENGAN

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Pada bab ini akan membahas tentang latar belakang, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan dan metodologi tentang pembangunan aplikasi mobile Online Public Access Catalog (OPAC). 1.1.

Lebih terperinci

2017, No diatur secara komprehensif sehingga perlu pengaturan perbukuan; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, h

2017, No diatur secara komprehensif sehingga perlu pengaturan perbukuan; e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, h No.102, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA ADMINISTRASI. Perbukuan. Sistem. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6053) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN

Lebih terperinci