ANALISIS PERFORMANSI JARINGAN KOMUNIKASI VERY SMALL APERTURE TERMINAL (VSAT)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS PERFORMANSI JARINGAN KOMUNIKASI VERY SMALL APERTURE TERMINAL (VSAT)"

Transkripsi

1 Vol., No., Desember 003 ANALISIS PERFORMANSI JARINGAN KOMUNIKASI VERY SMALL APERTURE TERMINAL (VSAT) A n h a r Jurusan Teknik Elektro Universitas Riau ABSTRAK Salah satu unjuk kerja dalam jaringan komunikasi data adalah delay time. Dalam jaringan komunikasi data yang menggunakan VSAT, permasalahan delay time merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari karena menggunakan satelit sebagai repeater yang berjarak sangat jauh dari permukaan bumi. Selain itu, throughput juga menentukan keberhasilan pengiriman paket data. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisa kinerja dari jaringan komunikasi data melalui VSAT dengan metode pengaksesan slotted aloha, yaitu delay time dan throughputnya. Penganalisaan menggunakan simulasi bahasa pemograman Visual Basic dengan data-data dari literatur. Hasil analisa menunjukkan delay time dengan memperhatikan kesetimbangan jaringan adalah 0,893 detik dengan jumlah maksimum stasiun VSAT yang dapat ditampung adalah 7 buah. ABSTRACT Delay time is one of the key factors in order to determine the performance in data telecommunication network. The delay time (in data telecommunication network which uses VSAT) is inevitable since the VSAT applies a satellite (as repeater) which is far away from earth surface. For data packet to be sent successfully, throughput must be taken into consideration. This short paper is to analyze the performance of data telecommunication network through VSAT using access technique slotted aloha to determine delay time and throughput, respectively. Data from literature is simulated using Programmed Visual Basic to obtain the delay time and throughput. The results indicate that the delay time is 0,893 second and the maximum number of VSAT stations can be accommodated is 7. Kata kunci : waktu tunggu, throughput, kinerja PENDAHULUAN Salah satu perkembangan teknologi telekomunikasi adalah komunikasi satelit. Teknologi ini selain digunakan untuk komunikasi suara juga telah digunakan untuk komunikasi data. Dibandingkan dengan jaringan komunikasi data terrestrial, jaringan komunikasi data melalui satelit memiliki banyak keuntungan, diantaranya : mampu menangani daerah jaringan komunikasi yang luas dan dapat memperluas jaringan tersebut dengan mudah. Jaringan komunikasi data melalui satelit ini dikenal sebagai Very Small Aperture Terminal (VSAT). Sistem VSAT ini menggunakan antena dengan diameter yang kecil (0,6,4 m) dan dihubungkan langsung dengan pelanggan. Perencanaan jaringan komunikasi data VSAT ditentukan oleh lalu lintas data yang ditransmisikan. Komunikasi data melalui VSAT ini menggunakan metode packet switching, sehingga lalu lintas data ditentukan oleh banyaknya paket data yang dikirimkan. Sedangkan teknik akses yang digunakan adalah slotted aloha. Permasalahan yang muncul pada jaringan komunikasi data VSAT adalah waktu yang diperlukan pelanggan mengirimkan informasi dari suatu stasiun VSAT ke stasiun hub tujuan atau delay time. Selain itu, perlu juga menentukan jumlah stasiun VSAT yang dapat ditampung dalam

2 Vol., No., Desember 003 satu community dengan memperhatikan kesetimbangan jaringan. Pada jaringan komunikasi yang menggunakan teknik akses slotted aloha, diperlukan adanya singkronisasi supaya setiap stasiun yang akan mengirimkan paket dapat diletakkan pada time slot yang telah ditentukan secara tepat. Dalam slotted aloha, stasiun mengirimkan satu paket data pada saat awal suatu time slot. Paket yang baru tiba di buffer harus menunggu sampai saat awal slot tiba untuk dikirimkan. Suatu paket yang datang terdistribusi merata selama selang time slot, sehingga waktu tunggu /. Delay paket pada slotted aloha (untuk N yang cukup besar) adalah. T s aloha T R 3 ( {exp( G) } T K R )...() Untuk mempelajari performansi kita mengambil model berikut ini. N stasiun, masing-masing dapat dalam keadaan thingking atau blocked. Stasiun berada dalam keadaan thingking, jika stasiun itu tidak mengadakan pengiriman ulang suatu paket (retransmisi). Stasiun mengirim ulang suatu paket, maka stasiun tersebut dalam keadaan blocked, karena paket yang baru datang ke stasiun tersebut (bukan paket yang diretransmisikan atau backlogged packet) tidak akan diterima. Kemungkinan paket dikirim ulang pada stasiun yang terblocked adalah p dan probabilitas n-slot delay yakni p(-p) n-. Delay rata-rata sebelum retransmisi adalah : n np ( p)... () p n Perlu diperhatikan bahwa delay retransmisi rata-rata E{T}, selanjutnya disebut backlog time rata-rata, berbeda dengan /p karena sebuah paket dapat diretransmisikan berkalikali. Persamaan () mengganggap T R = 0 untuk menyederhanakan masalah. Selanjutnya, harga /p digunakan untuk menganalisa performansi dengan T R 0 dan (K+) slot untuk memperkirakan delay yang disamakan dengan delay retransmisi dan untuk memperoleh harga K. TR K p.(3) TR K Keadaan kanal slotted aloha dapat digambarkan dan ditentukan oleh jumlah n backlogged paket (paket yang dikirim ulang) dengan probabilitas retransmisi setiap stasiun sebesar p per slot. Disamping itu, terdapat N- n thingking stasiun dengan probabilitas pengiriman setiap stasiun yaitu per slot. Persamaan S = (N-n) menyatakan kecepatan kedatangan paket yang baru dan harus sama dengan throughput S(n) pada kondisi kesetimbangan. Jumlah rata-rata blocked stasion dapat diperoleh dari : n N E{ N} np. (4) 0 n Throughput kanal dalam kondisi n blocked station, S(n), adalah kemungkinan sebuah paket berhasil dikirim dalam suatu time slot. Pengiriman paket yang berhasil jika hanya satu thingking stasiun yang mengirimkan paket dan tidak ada blocked station yang mengirimkan paket atau tidak ada thingking station yang mengirimkan paket dan hanya satu blocked station. Oleh karena itu, rumus untuk S(n) : S(n)=P[r=0]P[m=]+P[r=]P[m=0]....(5) Dengan; r : jumlah blocked station yang mengirimkan paket (0 r n) m : jumlah thingking station yang mengirimkan paket (0 m N-n) Untuk N terbatas dan >0, maka : S(n)=(-p) n (N-n) (- ) N-n- +.. np(-p) N-n (- ) N-n...(6) Jadi throughput rata-rata dituliskan : S n N 0 P S( n) (7) n Dengan menggunakan rumus Little akan diperoleh :

3 Vol., No., Desember 003 E{ T} E{ n} S N n 0 N n 0 np P S( n) Sehingga harga T S-aloha dapat ditulis : T S aloha T R 3 n n N n 0 n N n...(8) npn 0....(9) P S( n) Gambar., memperlihatkan throughput S(n) dan persamaan garis beban, S, pada keadaan n blocked station. Dalam gambar tersebut diketahui bahwa =7,36 x 0-4, T R = 0,5 detik, = 4 mikrodetik, dan N = 500 dengan parameter K. Garis beban kanal, S=(N-n), menyatakan kecepatan paket data yang masuk. Pada kondisi setimbang, throughput S(n), sama dengan kesepatan paket yang masuk, S. Jadi perpotongan grafik S dan S(n) dengan skala yang sama akan diperoleh titik kesetimbangan. BAHAN DAN METODE Pada penganalisaan performansi jaringan komunikasi VSAT, penulis mengambil langka-langkah analisis dengan mengambil data-data dari literature, berupa : ) Delay propagasi satelit (T R ) ) Waktu pelayanan paket atau panjang paket ( ) Sedangkan penulis mengasumsikan data-data berikut : ) Lalu lintas kanal total (G) ) Time slot untuk pengadaan transmisi ulang (K) 3) Waktu pengiriman paket yang baru (t a ) Untuk menentukan waktu tunggu ratarata jaringan komunikasi VSAT dan perencanaan jumlah stasiun VSAT, penulis menggunakan simulasi pemograman dengan bahasa Visual Basic. HASIL Gambar.. Channel backlog versus throughput pada slotted aloha Waktu Tunggu Rata-rata Jaringan Komunikasi VSAT Waktu tunggu rata-rata jaringan komunikasi VSAT merupakan waktu tunggu yang diperlukan oleh suatu paket data jaringan komunikasi VSAT dari stasiun VSAT ke stasiun hub tujuan dengan menggunakan metode pengaksesan slotted aloha. Perhitungan waktu tunggu ini menggunakan persamaan (). Data yang ada : ) Delay propagasi satelit (T R )=0,5 detik ) Waktu pemprosesan atau pelayanan paket ( )=0,0565 detik Diasumsikan nilai K=00 dan G mempunyai harga yang berubah. Untuk G=0,5 T S-aloha =0,9557 detik Untuk G=,0 T S-aloha =,076 detik Untuk G=,5 T S-aloha =3,9833 detik Perencanaan Jumlah Stasiun VSAT Waktu tunggu rata-rata yang dibahas sebelumnya tidak memperhatikan kesetimbangan jaringan. Berikut ini kita akan mempelajari perencanaan jaringan 3

4 Throughput S(n) dan kec. input kanal S Throughput S(n) dan kec input kanal S THROUGHPUT S(n) DAN KEC. INPUT KANAL S Vol., No., Desember 003 komunikasi VSAT dengan memperlihatkan kestabilan jaringan. Pada kondisi setimbang, throughput kanal sama dengan kecepatan kedatangan paket data yang baru. Titik kesetimbangan diperoleh pada titik perpotongan antara grafik garis beban kanal S dan grafik throughput S(n). Kondisi yang dikehendaki adalah perpotongan antara dua fungsi tersebut hanya satu titik saja. Kondisi ini disebut kesetimbangan global. Anggaplah stasiun mengirimkan paket yang baru setiap 0 detik, maka nilai adalah : = / t a = 0,0565/0=0,00565 Batas jumlah stasiun VSAT dalam satu community dapat dicari dengan cara sebagai berikut : N = S max / = 0,368/0,00565 = 35,5 Jumlah stasiun VSAT adalah 35. Selanjutnya, kita menentukan besar K untuk memperoleh keadaan antara garis beban kanal S dengan grafik throughput S(n) berpotongan hanya satu titik. Perhitungan berikut ini menggunakan nilai K adalah 50, 75, dan 00 dengan anggapan nilai T R,, dan N tidak berubah. Untuk K=50 Nilai K=50 sehingga dengan menggunakan persamaan (3) didapat p=0,038. Harga S(n) dan S dapat dilihat pada gambar dibawah ini. Kec. Input kanal S 0.4 Throughput S(n) Throughput S(n) Kec. Input kanal S Jlh. Stasiun VSAT Gambar 3. Grafik jumlah stasiun VSAT terhadap throughput S(n) dan kec. Input kanal S untuk K=00 Dari gambar 3 tersebut, besarnya waktu tunggu (menggunakan pers. (9))adalah,5 detik. Untuk K=75 Nilai K=75, maka p=0,0834. Waktu tunggu yang didapat adalah,04875 detik Throughput S(n) Jlh. stasiun VSAT Kec. Input kanal S Jlh. Stasiun VSAT Gambar. Grafik jumlah stasiun VSAT terhadap throughput S(n) dan kec. Input kanal untuk K=50 Gambar 4. Grafik jumlah stasiun VSAT terhadap throughput S(n) dan kec. Input kanal S untuk K=75. Pada kenyataannya nilai K biasanya sudah tertentu, sedangkan besarnya akan menyebabkan perubahan kurva throughput S(n) dan kecepatan input kanal S. Hal ini dapat dilihat pada Gambar. 5 dengan K=75, kurva S(n) dan S menggunakan = 0,0035 atau paket data baru dikirim setiap 5 detik. Untuk K=00 Nilai K diasumsikan 00, maka p=0,0495. Nilai S(n) dan S dapat dilihat pada Gambar. 3. 4

5 Throughput S(n) dan kec. input kanal S Vol., No., Desember Throughput S(n) Jlh. Stasiun VSAT Kec. Input kanal S Gambar 5. Grafik jumlah stasiun VSAT terhadap throughput S(n) dan kec. Input kanal untuk K=75 dan =0,003 PEMBAHASAN Waktu Tunggu Rata-rata Jaringan Komunikasi VSAT Dari hasil perhitungan dapat dilihat bahwa waktu tunggu ini sebagian besar diakibatkan adanya tabrakan. Makin tinggi dan padat lalu lintas data maka makin besar kemungkinan terjadinya tabrakan yang menyebabkan makin besar waktu tunggunya. Untuk menghindari waktu tunggu yang terlalu besardapat dilakukan dengan cara : ) Menggunakan metode pengaksesan TDMA ) Menurunkan intensitas lalu lintas data G 3) Menaikkan kecepatan pengiriman data 4) Menaikkan kecepatan pemprosesan data. Perencanaan Jumlah Stasiun VSAT Dari keempat grafik yang didapatkan dari hasil simulasi, Gambar. 3, 4 dan 5 yang menunjukkan kesetimbangan global. Namun harus dipilih waktu tunggu yang terkecil yaitu pada Gambar. 5 dengan waktu tunggu 0,893 detik. Jumlah stasiun VSAT yang dapat ditampung adalah : N = S max / = 0,368 / 0,003 = 7 Dalam perencanaan jaringan komunikasi VSAT, beban lalu lintas data dibuat rendah 0% sampai 0% daripada perhitungan matematika. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kemungkinan beban lalu lintas data melebihi perkiraan. Maka jumlah stasiun maksimum yang sebenarnya adalah 00 buah (0% lebih kecil dari hasil perhitungan) KESIMPULAN. Total delay dan throughput mempengaruhi performansi dari jaringan komunikasi VSAT, disamping link budget.. Parameter-parameter yang menentukan total delay dan throughput pada mode pengaksesan slotted aloha adalah waktu penjalaran sinyal, waktu retransmisi, packet time, dan beban lalu lintas data paket. 3. Dalam perencanaan jaringan komunikasi VSAT, kita harus melihat kestabilan sistem dengan memperhatikan beban lalu lintas data paket yang masuk ke sistem jaringan komunikasi VSAT. UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada pihak penerbit jurnal yang telah menerbitkan hasil penelitian penulis. Disamping itu juga kepada rekanrekan staf pengajar di lingkungan program studi teknik elektro Universitas Riau, dan pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. DAFTAR PUSTAKA Freeman, L., dan Roger. 99. Telecommunication Transmission Handbook. New York : Jhon Wiley & Sons Inc. Ha, T., Tri Digital Satellite Communication. Singapore : McGraw-Hill Book Comp. Maral, G., 995. VSAT Network. England : Jhon Wiley & Sons Inc. Schwartz, dan Mischa Telecommunication Network : Modelling and Analysis. USA : Addison Wesley. Wattimena, A., dan Jeffry. 99. Pengantar Sistem Komunikasi Data Paket. Jakarta : Elex Media Komputindo. 5

6 Vol., No., Desember 003 ANALISIS PENGGUNAAN KOMPENSASI PHASE LAG UNTUK MENGURANGI HARMONISA FREKWENSI RENDAH PADA KONVERTER DC KE DC S u w i t n o Jurusan Teknik Elektro Universitas Riau ABSTRAK Tulisan ini menyajikan analisis unjuk kerja konverter yang dilengkapi kompensasi phase lag. Untuk catu daya satu fasa harmonisa yang paling dominan 00 Hz dan diikuti kelipatannya, namun jika harmonisa yang doniman dapat direduksi secara sempurna maka harmonisa kelipatanya otomatis akan tereduksi dengan sendirinya. Dari hasil pengamatan yang telah dilaksanakan dalam penelitian ini yaitu pengamatan harmonisa pada sisi masukan konverter, pengamatan harmonisa keluaran konverter sebelum dipasang alat kompensasi phase lag dan pengamatan harmonisa keluaran konverter setelah diberi kompensasi phase lag. Berdasarkan ketiga pengamatan tersebut dapat diambil suatu hasil akhir, bahwa alat kompensasi phase lag yang dipasang pada sisi feedback konverter telah mampu mereduksi harmonisa frekwensi rendah yang sangat akurat, baik harmonisa frekwensi rendah 00Hz yang dominan maupun harmonisa kelipatannya dapat sekaligus direduksi secara sempurna. ABSTRACT This writting presents analysis of converter performance which is completed with lag phase compensation. The most dominan harmony phase one of power supply is 00 Hz and followed by its fold, however if the dominan harmony can be reduced perfectly so its fold automatically will be reduced with it self. From the observation result that had done in this research that is harmony observation on converter input side, converter output harmony observation before and after lag phase compensation tool put on. Based on these three observations so, writer got the final result, that. lag phase compensation tool that was put on converter feedback side, could reduce low frequency harmony accurately, whether as the dominan 00 Hz low frequency harmony eventhough as its fold could be reduced together perfectly Kata kunci : Harmonisa, frekwensi rendah, phase lag, konverter PENDAHULUAN Tegangan masukkan searah bagi konverter dc ke dc biasanya berupa tegangan keluaran dari hasil penyearahan satu fasa jembatan yang umumnya mengandung harmonisda frekwensi rendah 00Hz dan kelipatannya yang dominan, sehingga konverter dc ke dc selalu menghasilkan gelombang keluaran yang mengandung harmonisa, sehingga kualitasnya akan berkurang, maka untuk mereduksi harmonisa diperlukan tapis pada sisi keluaran. Besar kecilnya ukuran tapis sangat ditentukan oleh frekwensi dan amplitudo dari harmonisa yang akan direduksi. Makin besar frekwensi dan makin kecil amplitudo dari harmonisa, maka akan makin kecil ukuran tapis yang digunakan [3]. Sehingga dalam merencanakan suatu konverter dc ke dc, diusahakan frekwensi kerja yang digunakan adalah setinggi mungkin. Tetapi karena komponen semikonduktor yang digunakan mempunyai keterbatasan dalam operasinya, maka frekwensi kerja konverter dc ke dc terbatas juga. Karena faktor keterbatasan komponen semikonduktor yang dipakai dan mahalnya tapis yang digunakan serta kapasitasnya juga terbatas untuk mereduksi harmonisa orde rendah, maka dikembangkan usaha lain seperti telah dilakukan (Jin,et al, 99 dan Liang. et al, 994) yaitu menganalisa dan 6

7 Vol., No., Desember 003 mendisain untuk mengurangi harmonisa frekwensi rendah pada keluaran tegangan keluaran catu daya. Analisis yang dilakukan (Jin et al, 99) mampu mereduksi amplitudo harmonisa frekwensi rendah sampai 6 %, dan pada analisa (Liang, et al, 994) magnitude frekwensi rendah masih tersisa 5 Volt, serta (Ahmad, et al, 999) mampu mengurangi magnitude frekwensi rendah sampai 30 db. Pada paper ini ditawarkan penggunaan kompensasi phase lag dalam mereduksi harmonisa frekwensi rendah yang timbul dalam suatu konverter, sehingga dihasilkan catu daya yang bebas harmonisa baik harmonisa orde rendah dan orde tinggi. Permasalahan yang ingin diteliti disini adalah bagaimana merancang sebuah konverter dc ke dc yang mampu menghasilkan tegangan keluaran dc dengan riak yang sekecil mungkin, tanpa menggunakan filter LC yang besar. Dengan adanya kompensasi phase lag ini kita harapkan harmonisa keluaran konverter dc ke dc akan dapat di kurangi sehingga tidak diperlukan lagi penggunaan filter LC yang terlalu besar. Tujuan dari paper ini adalah mendisain sumber daya dc dengan riak keluaran sangat kecil. Dari Gambar., terlihat bahwa input yang menyebabkan terjadinya harmonisa pada tegangan keluaran adalah harmonisa tegangan input E ~. Disini kita dapat menghilangkan pengaruh dari harmonisa tegangan input E ~ ini degan menambahkan harmonisa tegangan E h yang besarnya - E ~ seperti diperlihatkan pada gambar dibawah ini : E(s) + vref(s) ev E(s) IL(s) R + PI E(s) + sl SCR+ vo(s) phase lag vo(s) Gambar. Loop kendali tegangan ditambah dengan input E h vo(s) untuk mendapatkan harmonisa tegangan keluaran ini, kita menggunakan phase lag seperti diperlihatkan pada gambar dibawah ini, E(s) + vref(s) ev E(s) IL(s) R + PI E(s) + sl SCR+ vo(s) Gambar. Loop konverter dilengkapi dengan umpan balik riak. Dari gambar 3, dapat digambarkan loop pengendali tegangan menjadi sbb: E(s) Eh(s) + vref(s) ev E(s) + IL(s) R vo(s) + PI E(s) + sl SCR+ Gambar 3. vo(s) vo(s) phase lag+ vo(s) Loop kendali tegangan yang dilengkapi dengan phase lag. Gambar. 3, memperlihatkan blok diagram dari sistem pengendali tegangan yang dilengkapi dengan kompensasi harmonisa. Pada jalur umpan balik ditambahkan tiga buah kompensasi phase lag. Karena magnitude frekwensi rendah yang paling dominan adalah frekwensi 00 Hz, 00 Hz, dan 300Hz, sehingga disain phase lag yang digunakan adalah kompensasi yang mampu menghilangkan ketiga magnitude diatas. Adapun tiga buah phase lag didisain masingmasing mempunyai frekwensi resonansi 00 Hz, 00 Hz, dan 300Hz. Rangkaian disain tersebut ditunjukkan pada gambar 4, yang terdiri dari tiga buah OP AMP. Peralatan ini akan digunakan untuk mensensor atau mengukur harmonisa yang muncul disisi keluaran konverter. vo(s) Untuk menghasilkan sumber harmonisa E h ini, dapat digunakan beberapa cara. Cara yang dikemukakan pada paper ini adalah dengan menapis harmonisa tegangan keluaran yang terdapat pada beban. Karena tegangan keluaran terdiri dari tegangan dc yang bercampur dengan harmonisa, maka Vin R C C R3 C3 R5 C5 R Ra C4 Ra Rb R4 Rb C6 Gambar 4. Rangkaian phase lag R6 Ra Rb Vout 7

8 Vol., No., Desember 003 Dari Gambar 4, diatas dapat dituliskan fungsi alih dari salah satu phase lag antara V o (s)dan V in (s) sebagai berikut : Vo s Vin s s scr CR CR CR C C R R s C C R R...() Fungsi transfer dari persamaan (), secara umum dapat dituliskan sebagai berikut : Phase Lag Ks s s...() dengan, K = penguatan atau gain, = faktor peredam, dan = kecepatan sudut frekuensi resonansi (Hz), sehingga f r (Hz) R.R.C.C Hubungan fungsi alih tegangan keluaran (Vo) dan V ref sebagai tegangan referensi, maka dari gambar 3, dapat dilihat bahwa Fungsi Transfer dari tegangan keluaran terhadap tegangan referensi adalah : Vo(s) V s ref s(s LCR sl) (skp (skp Ki).E.R Ki).E.R s K.s s Dengan menggunakan respon frekwensi s dapat dirubah menjadi j, sehingga diperoleh karakteristik kontrol pada frekuensi adalah : Vo j V j ref j j LCR j L j j Kp Kp Ki.E.R Ki.E.R Karena V ref adalah referensi tegangan yang merupakan besaran dc konstan yang tidak mengandung frekwensi sehingga = 0, Maka persamaan diatas menjadi : Vo(j ) Ki.E.R Vref j Ki.E.R Vo(j )...( 3) V j ref j K.j.j Dari persamaan (3), terlihat bahwa pada saat keadaan mantap tegangan keluaran akan sama dengan tegangan referensi. Dari Gambar 3, juga dapat diperoleh fungsi transfer dari tegangan keluaran terhadap E ~ sebagai disturban adalah : Vo(s E ~ ) s (s LCR sl R) (skp sr Ki).E s K.s s Karena E ~ besaran yang mengandung riak sehingga mempunyai frekuensi, maka disubsitusi s = j, sehingga didapatkan : Vo(j E ~ ) j j LCR j L R j R Kpj Ki.E......(4) Bila kita mengambil besaran dari persamaan diatas, kita akan mendapatkan : Vo(j E ~ ) j K. R.Ki Kp. LCRKi E R K....(5) Dari persamaan (5) diatas terlihat bahwa besaran (magnitudo) dari persamaan tersebut akan menjadi kecil apabila penyebut dari persamaan (5) dibuat sebesar mungkin. Dengan membuat penyebut persamaan (5) sebesar mungkin diharapkan pengaruh dari gangguan E ~ terhadap tegangan keluaran menjadi sangat kecil. Dari persamaan (5) dapat dilihat bahwa bagian penyebut akan menjadi besar apabila kita mengambil : K, sehingga diperoleh nilai penguatan K > Pengaturan nilai penguat K dapat dilakukan dengan merubah parameter tahanan resistans R atau kapasitor C, jika salah satu parameter tersebut diset ke nilai yang lebih tinggi maka nilai penguat akan meningkat. Dengan kata lain pengaturan penguatan dapat dilakukan dengan mudah yaitu menset nilai kapasitor pada sisi masukan op amp dan tahanan pada sisi inverting op amp.. LKi K. KpR LCRKp E 3 8

9 Vol., No., Desember 003 BAHAN DAN METODE Metode tulisan ini dapat dirinci sebagai berikut : Pertama : Membuat rangkaian palnt beserta pengendali yang dipergunakan. Kedua : Menentukan formulasi dalam bentuk tegangan dan arus dengan menggunakan hukum Kirchoff arus dan tegangan. Ketiga : Menentukan diagram blok konverter, fungsi alih loop terbuka untuk menentukan gain paling tepat sesuai yang dibutuhkan, fungsi alih antara tegangan keluaran terhadap tegangan referensi yang digunakan untuk menganalisis kecepatan respon yang dapat digunakan berdasarkan analisis loop terbuka, serta fungsi alih tegangan keluaran terhadap disturban yang dimanfaatkan untuk menganalisa beberapa besar harmonisa frekwensi rendah dapat direduksi. Keempat : Melakukan perhitungan secara analisis. Dalam tulisan ini akan di analisa hubungan antara harmonisa yang terdapat pada tegangan keluaran konverter dc ke dc dengan harmonisa yang terdapat pada tegangan input dc. Dari hasil analisa ini ditentukan kompensasi phase lag yang tepat untuk mengurangi harmonisa frekwensi rendah pada sisi keluaran. Kelima : Merancang kompensasi phase lag untuk mengurangi harmonisa frekwensi rendah yang dominan pada keluaran konverter dc ke dc. Harmonisa keluaran yang akan dikurangi disini adalah harmonisa keluaran frekuensi rendah 00 Hz, 00Hz, dan 300 Hz, karena umumnya harmonisa yang paling dominan pada keluaran konverter dc ke dc adalah harmonisa frekuensi rendah yaitu 00 Hz, 00Hz, dan 300 Hz. Keenam : Membuat peralatan dan seluruh rancangan yang telah dibuat akan direalisasikan menjadi sebuah peralatan. Ketujuh: Membandingkan pengamatan harmonisa masukan konverter yang diperoleh dari hasil penyearah jembatan satu fasa dengan yang dihasilkan oleh konverter dc ke dc yang dilengkapi kompensasi phase lag. Bahan yang digunakan adalah rangkaian kontrol, rangkaian driver, rangkaian daya, dan phase lag. Rangkaian kontrol fungsinya adalah untuk mengatur perioda switching rangkaian daya, rangkaian driver dipergunakan untuk menguatkan sinyal penyalaan yang dibutuhkan proses switching dan phase lag untuk mensensor harmonisa frekwensi rendah disisi beban. HASIL Dalam pengujian ini akan diuji validitas dari metoda yang diusulkan yaitu konverter dc ke dc yang dilengkapi dengan kompensasi phase lag. Perancangan dalam paper ini meliputi rangkaian pengendali konverter dan kompensasi phase lag sebagai alat untuk memberikan umpan balik harmonisa frekwensi rendah yang ditimbulkan sisi beban. Paper ini melakukan pengujian unjuk kerja dari konverter dc ke dc yang dilengkapi kompensasi phase lag yang digunkan untuk mensensor frekwensi rendah 00Hz, 00Hz, dan 300Hz. Pengujian ini meliputi pengamatan tegangan masukan konverter dc ke dc dan pengamatan tegangan keluaran pada sisi beban. Dalam penelitian ini parameter rangkaian daya yang digunakan adalah : E adalah 00 Volt, L adalah 5 mh, C adalah 000 F, R beban adalah,6 Dari hasil analisa kestabilan yang meliputi respon keadaan mantap maka diperoleh parameter pengendali sebagai berikut : Kp adalah, Ki adalah 894,4, dan adalah 0.7 9

10 Vol., No., Desember 003 ) Math: 0 db 50 Hz Gambar 5. Hasil pengamatan laboratorium spektrum harmonisa pada Kemudian dari sisi kompensasi phase lag dirancang parameter-parameter yang digunakan adalah : R adalah 5 k, R adalah 7 k, R 3 =33 k,r 4 = k, R 5 =5 k, dan R 6 = k C adalah 0, F, C adalah 0, F.Parameter ini dibuat untuk sisi tegangan masukan konverter dc ke dc mengandung harmonisa frekwensi rendah 00 Hz dan kelipatannya seperti diperlihatkan pada Gambar 5. Dari hasil pengamatan spektrum harmonisa pada keluaran konverter dc ke dc sebelum diberi teknik kompensasi phase lag seperti ditunjukkan pada Gambar. 6, terlihat harmonisa frekwensi rendah 00Hz masih ) Math: 0 db 50 Hz Gambar 6. Hasil pengamatan laboratorium spektrum harmonisa pada sisi tegangan keluaran konverter dc ke dc sebelum diterapkan teknik kompensasi phase lag memperoleh tanggapan frekwensi resonansi dari pada kompensasi phase lagnya masingmasing 00 Hz, 00Hz, dan 300Hz, sehingga frekwensi lebih rendah dan lebih tinggi dari frekwensi tersebut akan diperlemah sebesar 0 db/decade. Sementara frekwensi yang berada disekitarnya akan dilewatkan. Dari data-data tersebut diatas diperoleh bentuk gelombang harmonisa pada sisi masukan konverter dc ke dc yang dominan, walaupun kelipatan harmonisa kelipatannya seperti 00Hz,dan 300Hz sudah tereduksi dengan baik. Selanjutnya jika kita perhatikan Gambar. 7, terlihat jelas bahwa harmonisa frekwensi rendah 00Hz dan kelipatan yang dirasakan disisi tegangan keluaran sangat kecil. 0

11 Vol., No., Desember 003 ) Math: 0 db 50 Hz Gambar 7. Hasil pengamatan laboratorium spektrum harmonisa pada sisi tegangan keluaran konverter dc ke dc setelah dikompensasi phase lag PEMBAHASAN Dari spektrum harmonisa Gambar. 5, jelas terlihat bahwa tegangan pada sisi masukan konverter dc ke dc mengandung harmonisa frekwensi rendah yang paling dominan yaitu frekwensi 00 Hz yang magnitudenya 5 db, 00Hz yang magnitudenya 40 db, dan 300Hz yang magnitudenya 30dB Sedangkan dari Gambar. 6, terlihat dengan jelas bahwa magnitude harmonisa frekwensi rendah 00Hz masih dominan dengan kata lain tidak tereduksi sama sekali, walaupun harmonisa kelipatannya seperti 00 Hz, 300Hz sudah cukup baik direduksi. Sementara dari Gambar. 7, dapat terlihat jelas bahwa magmitudo harmonisa frewensi rendah 00Hz, dan 00Hz hanya tersisa 0 db, dan 300Hz tersisa db. Sehingga harmonisa yang dirasakan disisi tegangan keluaran sangat ringan dengan kata lain harmonisa frekwensi rendah dan kelipatannya telah sangat jauh berkurang. kompensasi maupun harmonisa sisi masukan konverter dc ke dc.. UCAPAN TERIMA KASIH Saya mengucapkan terimakasih Kepada Lembaga Penelitian Universitas Riau yang telah memberikan fasilitas dana dalam kegiatan penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA Jin,H dan S.B Dewan, 99 Voltage Loop Design for A Low Ripple Fast Respon AC- DC Switch Mode Magnet Power Supply, IEEE. Liang,R dan S.B. Dewan, 994 A Switch- Mode Ripple Regulator for High-Current Magnet Power Supplies, IEEE. Mohan, 995 Power Elektronics, second Edition. Samosir. A. S, 999, Umpan Balik Riak Untuk Mengurangi Riak Keluaran Frekwensi Rendah Pada Konverter Dc ke DC, Prosiding ITB KESIMPULAN Dari hasil pengamatan pada keluaran konverter dc ke dc yang dilengkapi kompensasi phase lag seperti yang diusulkan dalam paper ini adalah cukup akurat. Akurat yang dimaksud adalah mampu menekan atau menghilangkan pengaruh harmonisa frekwensi rendah 00 Hz dan kelipatannya sampai mencapai 8% dari harmonisa sisi keluaran sebelum dipergunakan teknik

12 Vol., No., Desember 003 PERANCANGAN RANGKAIAN MODULATOR DIGITAL BINARY FREQUENCY SHIFT KEYING (BFSK) Febrizal Jurusan Teknik Elektro Universitas Riau ABSTRAK Salah satu teknik modulasi digital yang banyak digunakan adalah Binery Frequency Shift Keying (BFSK). Pada teknik modulasi ini sinyal informasi digital ditumpangkan pada sinyal pembawa (carrier) dengan dua kemungkinan perubahan frekuensi yaitu frekuensi mark (fm) dan frekuensi space (fs). Tiap bit sinyal informasi diwakili oleh sebuah frekuensi pembawa tersebut. Pada tulisan ini dirancang sebuah modulator BFSK dengan frekuensi mark sebesar 0,5 MHz dan frekuensi space sebesar 9,5 MHz dengan laju bit (bit rate) maksimum 56 kbps. Modulator ini terdiri dari Leveling Circuit dan Voltage Controlled Oscillator. ABSTRACT Binary Frequency Shift Keying is one of the digital modulation techniques which is most frequently used. In this technique, an information signal is placed into carrier signal with two changed frequencies, namely mark and space frequencies. Each bit information signal is represented by the carrier signal. This paper presents a design and of preparation of a modulator with mark frequency of 0,5 MHz and space frequency of 9,5 MHz. the bit rate maximum obtained is 56 kbps. The modulator consists of a Leveling Circuit and Voltage Controlled Oscillator (VCO). Key Words : Binary, Frequeny, Shift, Keying PENDAHULUAN Ada beberapa macam teknik modulasi yang digunakan untuk mengirimkan sinyal digital, seperti Amplitude Shift Keying (ASK), Frequency Shift Keying (FSK), Phase Shift Keying (PSK), Quadrator Amplitude Modulation (QAM) dan sebagainya. Salah satu teknik modulasi digital yang banyak digunakan pada radio digital maupun data adalah Frequency Shift Keying (FSK). Pada teknik modulasi FSK, sinyal informasi digital ditumpangkan pada frekuensi sinyal pembawa. Sifat modulasi digital FSK sangat mirip dengan teknik modulasi analog FM dimana sinyal output modulator memiliki amplitude yang konstan namun bervariasi pada frekuensinya. Yang membedakan adalah sinyal informasi pada FSK merupakan rentetan bit dan bit 0 sedangkan pada FM sinyal informasi adalah analog. Pada system Binary FSK (BFSK), data biner diwakili oleh dua frekuensi yang berbeda. Bit diwakili oleh frekuensi mark (mark frequency, f m ) dan bit 0 oleh frekuensi space (space frequency, f s ). Dengan kata lain, dalam modulasi BFSK, frekuensi sesaat dari sinyal pembawa digeser-geser diantara dua harga frekuensi sesuai dengan sinyal informasi digital yang masuk (bit dan bit 0 ). Pada tulisan ini dirancang sebuah modulator digital Binary Frequency Shift Keying (BFSK). Modulator ini dirancang menggunakan frekuensi mark sebesar 0,5 MHz dan frekuensi space sebesar 9,5 MHz dengan masukan berupa sinyal digital NRZ dengan laju bit (bit rate) maksimal 56 kbps. Modulator yang dibuat terdiri dari Leveling Circuit dan Voltage Controlled Oscillator. Secara umum bentuk blok diagram sistem modulator BFSK adalah seperti pada Gambar. dibawah ini. Word In Leveling Circuit VCO Gambar. Blok diagram Modulator BFSK Sinyal FSK

13 Vol., No., Desember 003 BAHAN DAN METODE Pada rancangan ini komponenkomponen yang digunakan adalah komponen-komponen elektronika yang ada di pasaran seperti resistor, kapasitor, dioda, induktor, IC, PCB dan lain-lain. Leveling Circuit Leveling circuit merupakan bagian yang berfungsi untuk menyesuaikan level tegangan bias VCO agar diperoleh frekuensi mark dan frekuensi space yang diinginkan. Pada bagian ini sinyal data NRZ yang mempunyai level TTL (0.. 4,5 volt) dinaikkan level dc-nya sehingga mencapai level tegangan bias yang diperlukan VCO untuk menghasilkan frekuensi sebesar f m dan f s yaitu V dan V. Pada rancangan ini, rangkaian leveling circuit direalisasikan menggunakan IC 74LS74 dan IC MC4066 yang dirangkai seperti terlihat pada Gambar.. Data NRZ Clock D U SET Q CTR U I I O O 00 k 00 k D D VR + Vdc VR Sinyal Keluaran 00 nf pada keluaran leveling circuit akan muncul tegangan bias VCO sebesar V yang di set oleh VR. Sebaliknya bila data masukan berlogika 0 maka microswitch- yang akan bekerja (ON) dan tegangan V yang akan muncul pada keluaran leveling circuit. Voltage Controlled Oscillator (VCO) Rangkaian VCO berfungsi untuk menghasilkan sinyal pembawa dengan frekuensi mark sebesar 0,5 MHz dan frekuensi space sebesar 9,5 MHz. dalam rancangan ini VCO direalisasikan menggunakan IC MC648 yang mampu menghasilkan frekuensi hingga 5 MHz. rangkaiannya diperlihatkan pada gambar.3. Tegangan catu (Vcc) sebesar +5Vdc diberikan pada pin dan 4, sedangkan ground diberikan pada pin 7 dan 8 (V EE ). Sinyal keluaran VCO yang keluar melalui pin 3 diatur frekuensinya dengan mengatur tegangan bias masukan pada rangkaian tangki yang dibentuk oleh induktor L dan dioda varaktor Dv pada pin. Berdasarkan petunjuk lembar data IC MC648, maka disini digunakan induktor L,3 H dan dioda varaktor tipe MV5. +5Vdc 00nF CLR Q CTR 4 0 Gambar. Rangkaian Leveling Circuit 00nF,3 H MC Sinyal keluaran U yang direalisasikan dengan IC MC4066 merupakan rangkain microswitch elektronik yang digunakan untuk menswitching tegangan bias yang diperlukan VCO. Disini U dikendalikan oleh sebuah D flip-flop (U ) yang direalisasikan dengan IC 74LS74. Dari Gambar. dapat dilihat bahwa keluaran U yakni Q dan Q dihubungkan pada masukan CTR dan CTR. Hal ini akan menyebabkan kedua microswitch yang terdapat didalam U akan bekerja saling berlawanan pada saat yang sama. Bila data masukan berlogika, maka CTR akan berlogika dan CTR akan berlogika 0. Ini akan menyebabkan microswitch- bekerja (ON) dan microswitch- OFF. Akibatnya Masukan DC 00nF 7 8 0k 00nF Gambar. 3 Rangkaian Voltage Controlled Oscillator (VCO) HASIL Pengukuran VCO Pengukuran pada bagian ini bertujuan untuk mengetahui unjuk kerja VCO, yang meliputi frekuensi, level, bentuk sinyal keluaran dan tegangan bias dc masukannya. Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan frequency counter, osiloskop dan volt meter pada keluaran 3

14 Vol., No., Desember 003 rangkaian VCO seperti diperlihatkan Gambar.4. Power Suply V in VCO out osiloskop Ch X Ch Y Frequency Counter Pengukuran Leveling Circuit Pengukuran pada bagian ini bertujuan untuk mengatur level tegangan keluaran leveling circuit pada harga tegangan bias yang dibutuhkan VCO yaitu sebesar 6, volt dan, volt. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan volt meter pada keluaran rangkaian leveling circuit, seperti pada Gambar.6. Gambar. 4 Diagram pengukuran rangkaian VCO Pengukuran frekuensi keluaran VCO dilakukan dengan mengubah-ubah potensiometer sehingga diperoleh hasil pembacaan frequency counter sebesar 9,5 MHz dan 0,5 MHz. Dari hasil pengukuran diketahui bahwa untuk menghasilkan frekuensi keluaran sebesar 9,5 MHz dibutuhkan tegangan bias sebesar 6, volt dan untuk frekuensi sebesar 0,5 MHz dibutuhkan tegangan bias sebesar, volt. Bentuk sinyal keluaran VCO dapat dilihat pada Gambar.5. Pembangkit Data Leveling Circuit Gambar. 6 Diagram pengukuran rangkaian Leveling Circuit Pengukuran ini dilakukan dengan membuat keluaran pembangkit data berlogika (sekitar 4,5 volt), kemudian resistor variabel (VR) yang ada pada rangkaian leveling circuit diatur hingga diperoleh tegangan keluaran rangkaian sebesar, volt. Setelah itu pembangkit data dibuat berlogika 0, kemudian resistor variabel (VR) diatur sehingga diperoleh tegangan keluaran rangkaian sebesar 6, volt. V Skala vertikal Skala horizontal : 0, s/div : 0, v/div Pengukuran Unjuk Kerja Modulator Pada bagian ini dilakukan pengukuran unjuk kerja modulator sebagai satu sistem, yang meliputi pengamatan bentuk sinyal BFSK. Pengamatan bentuk sinyal BFSK ini dimaksudkan untuk melihat perubahan frekuensi yang terjadi pada sinyal termodulasi. Pengukuran ini dilakukan pada keluaran VCO. Diagram blok pengukurannya diperlihatkan pada Gambar.7. Pembangkit Data Modulator BFSK Osiloskop Ch X Ch Y Gambar.7 Diagram blok pengamatan bentuk sinyal BFSK Skala vertikal Skala horizontal : 0, s/div : 0, v/div a) Frekuensi 9,5 MHz b) Frekuensi 0,5 MHz Pembangkit data diatur laju bit-nya masingmasing sebesar 64, 8, dan 56 kbps. Sinyal keluaran BFSK diamati pada osiloskop dan hasilnya dapat dilihat pada Gambar. 8. Gambar. 5 Sinyal keluaran VCO 4

15 Vol., No., Desember 003 Skala vertikal Skala horizontal Ch X (atas) Skala horizontal Ch Y (bawah) Skala vertikal Skala horizontal Ch X (atas) Skala horizontal Ch Y (bawah) Skala vertikal Skala horizontal Ch X (atas) Skala horizontal Ch Y (bawah) : 5 s/div : 0, v/div : 5 v/div : s/div : 0, v/div : 5 v/div : s/div : 0, v/div : 5 v/div PEMBAHASAN Setelah dilakukan pengukuran pada masing-masing bagian modulator dan modulator sebagai satu sistem, dapat dilihat bahwa VCO yang dirancang telah memenuhi spesifikasi yang diinginkan yaitu dapat menghasilkan frekuensi mark sebesar 0,5 MHz dan frekuensi space sebesar 9,5 MHz. Leveling circuit yang dibuat sebagai pemberi tegangan bias VCO telah memenuhi spesifikasi yang diinginkan yaitu mempunyai keluaran sebesar 6, volt dan, volt. Secara umum modulator yang dirancang sudah memenuhi spesifikasi yang diinginkan. Perubahan antara frekuensi mark dan frekuensi space tidak terlalu jelas, hal dikarenakan jarak yang terlalu dekat antara kedua frekuensi tersebut. KESIMPULAN Modulator BFSK ini secara umum sudah memenuhi spesifikasi yang diinginkan yaitu bisa bekerja hingga laju bit sebesar 56 kbps dengan frekuensi mark sebesar 0,5 MHz dan frekuensi space sebesar 9,5 MHz. Penggunaan IC MC648 sebagai VCO memberikan beberapa keuntungan seperti jangkauan frekuensi yang cukup lebar dan dapat bekerja hingga frekuensi 5 MHz. UCAPAN TERIMA KASIH Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada rekanrekan staf pengajar di lingkungan program studi teknik elektro Universitas Riau, dan pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Disamping itu juga kepada pihak penerbit jurnal yang telah menerbitkan hasil penelitian penulis. DAFTAR PUSTAKA Skala vertikal Skala horizontal Ch X (atas) Skala horizontal Ch Y (bawah) : s/div : 0, v/div : 5 v/div (a) bit rate 64 kbps, (b) bit rate 8 kbps, (c) bit rate 56 kbps, (d) bit rate 56 kbps dan data Gambar.8 Sinyal keluaran Modulator BFSK Floyd dan Thomas.L Electronic Fundamentals, Circuit, Devices, Application: Prentice Hall. Malvino dan Gunawan,H. 99. Prinsipprinsip Elektronika, Edisi kedua: Erlangga. Roddy,D dan Coolen, J Komunikasi Elektronika, Edisi ketiga : Erlangga. 5

16 Vol., No., Desember 003 Roden dan Martin. S. 99. Analog and Digital Communication System, Prentice Hall. Rohde dan Ulrich.L Digital PLL Frequency Synthesizer, Theory and Design, Prentice Hall. Smith, J Modern Communication Circuits, McGraw-Hill. Stallings, W Data and Computer Communication, McGraw-Hill. Tomasi,W Advance Communi-cation Electronic System, Prentice Hall. 6

17 Vol., No., Desember 003 PROSES PEMODELAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN KELOMPOK DENGAN PENDEKATAN METODA BERORIENTASI OBJEK Jasril Jurusan Teknik Informatika Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau ABSTRAK Sistem Pendukung Keputusan Kelompok merupakai suatu sistem yang diharapkan dapat membantu para pembuat keputusan untuk berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. Sistem ini digunakan untuk mendukung berbagai aktifitas yang terlibat dalam proses pembuatan keputusan. Makalah ini membahas proses pemodelan Sistem Pendukung Keputusan Kelompok dengan menggunakan Unified Modelig Language (UML) yang merupakan standar pemodelan sistem berorientasi objek. Pembahasan menitikberatkan pada Use Case Diagram, sequence Diagram dan Class Diagram yang merupakan bagian yang sangat penting dalam UML ABSTRACT Group decision support system (GDSS) is computer-based system that facilitates communication among team member of group decision-makers. This system has been used to support the various activities involved in the decision-making processes. This paper present detail development of the GDSS by using Unified Modeling Language (UML). The Unified Modeling Language is standard of an object oriented modeling language. Some of its modeling diagrams such as: Use Case Diagram, Sequence Diagram and Class Diagram are presented in this paper. Kata kunci: Sistem pendukung keputusan kelompok, UML, Use Case Diagram, Sequence Diagram, Class Diagram PENDAHULUAN Sistem informasi merupakan bagian sangat penting bagi suatu organisasi. Sistem informasi yang tepat dan optimal akan mampu meningkatkan kinerja organisasi, yang pada akhirnya dengan dukungan aspek-aspek yang lain, akan mampu mewujudkan suatu kemajuan bagi organisasi tersebut. Fungsi utama dari sistem informasi manajemen adalah untuk membantu manajemen dalam pengambilan keputusan dalam proses perencanaan, pemantauan dan pengendalian. Pada beberapa bagian organisasi, pengambilan keputusan dilakukan secara periodik baik mingguan, bulanan atau kuartal dan membutuhkan sekumpulan informasi yang tepat untuk membuat keputusan. Pada saat ini beberapa peneliti telah memperkenalkan Sistem Pendukung Keputusan Kelompok (Group Decision Support System, GDSS), selanjutnya disebut GDSS, sebagai suatu sistem yang diharapkan dapat membantu para pembuat keputusan untuk berinteraksi antara satu dengan yang lainnya. GDSS telah digunakan untuk mendukung berbagai aktifitas yang terlibat dalam proses pembuatan keputusan. GDSS biasanya merujuk kepada Electronic Meeting System yang didefenisikan sebagai koleksi software, hardware, dan prosedur yang dirancang secara otomatis untuk mendukung aktifitas kelompok. 7

18 Vol., No., Desember 003 Chien (003), mengembangkan platform GDSS berbasiskan Web dengan pendekatan metoda berorientasi objek. Keutamaan dari metoda berorientasi objek dibandingkan pendekatan metoda tradisional (struktural) adalah mudah melakukan perubahan dalam waktu yang cepat. Makalah ini mencoba membahas proses pemodelan sistem GDSS yang diperkenalkan Chien (003), dengan menggunakan UML (Unified Modeling Language) yang merupakan standar pemodelan untuk aplikasi berorientasi objek. Pemodelan (modeling) adalah proses untuk menggambarkan sistem yang telah ada atau yang akan dibangun. Dengan menggunakan model, diharapkan pengembangan piranti lunak dapat memenuhi semua kebutuhan pengguna dengan lengkap dan tepat. Penulis hanya membahas proses pemodelan menggunakan beberapa diagram yang terdapat dalam UML diantaranya: use case diagram, sequence diagram serta class diagram. Sedangkan diagram-diagram lain seperti : statechart diagram, activity diagram, collaboration diagram, component diagram serta deployment diagram diluar pembahasan makalah ini.. Pada makalah ini dibahas proses pemodelan sistem GDSS dengan menggunakan UML (Unified Modeling Language) yang merupakan standar pemodelan untuk aplikasi berorientasi objek. Pembahasan dalam makalah ini hanya menitikberatkan pada beberapa diagram yang terdapat dalam UML diantaranya: use case diagram, sequence diagram serta class diagram. BAHAN DAN METODE Metodologi berorientasi objek adalah sekumpulan model dan aturan-aturan yang digunakan untuk membangun sistem piranti lunak. Pemodelan (modeling) adalah proses untuk menggambarkan sistem yang telah ada atau yang akan dibangun.sebuah model adalah representasi abtraksi dari sebuah sistem supaya mudah dipahami. Unified Modelling Language (UML) Unified Modelling Language (UML) adalah sebuah standar pemodelan yang ditetapkan oleh Object Management Group (OMG) yang berguna untuk visualisasi, merancang dan mendokumentasikan sistem piranti lunak berdasarkan pendekatan metoda berorientasi objek. UML merupakan gabungan dari beberapa metodologi berorientasi objek. Tetapi yang paling dominan adalah metodologi Booch (99), metodologi Jacobson (994), dan metodologi OMT (99). Beberapa diagram yang didefenisikan UML diantaranya: use case diagram class diagram statechart diagram activity diagram sequence diagram collaboration diagram component diagram deployment diagram Selanjutnya akan dibahas beberapa diagram, antara lain: use case diagram, class diagram dan sequence diagram. Use Case Diagram Use case diagram adalah grafik yang menggambarkan aktor dan use case dalam sebuah sistem serta hubungan antara keduanya. Use case diagram juga menggambarkan fungsionalitas yang diharapkan dari sebuah sistem. Yang ditekankan adalah apa yang diperbuat sistem, dan bukan bagaimana. Use case diagram terdiri dari use case dan aktor Use case adalah skenario untuk memahami kebutuhan sistem (system requirement) Use case menggambarkan interaksi antara aktor dengan sistem. Dengan menggunakan ini kita dapat mengetahui apa yang diinginkan pengguna dan apa yang dapat dilakukan sistem untuk memenuhinya. Use case merupakan sebuah pekerjaan tertentu, misalnya login ke sistem, membuat transaksi di ATM, dan sebagainya. Seorang/sebuah aktor adalah faktorfaktor eksternal (entitas manusia atau mesin) 8

19 Vol., No., Desember 003 yang berinteraksi dengan sistem untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tertentu. Sequence Diagram Sequence diagram menggambarkan interaksi antar objek di dalam dan di sekitar sistem (termasuk pengguna, display, dan sebagainya) berupa message yang digambarkan terhadap waktu. Sequence diagram terdiri dari dimensi vertikal (waktu) dan dimensi horizontal (objek-objek yang terkait). Sequence diagram biasa digunakan untuk menggambarkan skenario atau rangkaian langkah-langkah yang dilakukan sebagai respons dari sebuah event untuk menghasilkan output tertentu. Diawali dari apa yang mentrigger aktivitas tersebut, proses dan perubahan apa saja yang terjadi secara internal dan output apa yang dihasilkan. Class Diagram Class adalah sebuah spesifikasi yang jika diinstansiasi akan menghasilkan sebuah objek dan merupakan inti dari pengembangan dan desain berorientasi objek. Class menggambarkan keadaan (atribut/properti) suatu sistem, sekaligus menawarkan layanan untuk memanipulasi keadaan tersebut (metoda/fungsi). Class diagram menggambarkan struktur dan deskripsi class, package dan objek beserta hubungan satu sama lain seperti containment, pewarisan, asosiasi, dan lain-lain. Class memiliki tiga area pokok :. Nama (dan stereotype). Atribut 3. Metoda Atribut dan metoda dapat memiliki salah satu sifat berikut : Private, tidak dapat dipanggil dari luar class yang bersangkutan Protected, hanya dapat dipanggil oleh class yang bersangkutan dan anakanak yang mewarisinya Public, dapat dipanggil oleh siapa saja HASIL Arsitektur GDSS Secara garis besar GDSS dibagi dalam modul yaitu : information classification and retrieval module dan Decision Inference Module. Gambar. memperlihatkan sistem arsitektur GDSS. Gambar. Sistem arsitektur GDSS Information Classification and Retrieved Module Pada modul ini user dapat mempelajari informasi terkini, saling berbagi informasi (share information), dan mengevaluasi factorfactor strategis dari hasil diskusi diantara sesama anggota. Informasi yang berasal dari dalam (internal) maupun luar (eksternal) dikelola dan disimpan dalam database/knowledgebase. Selanjutnya dapat digunakan secara efisien dengan menggunakan dua fungsi. Fungsi pertama adalah classifying information (informasi klasifikasi) yang berguna untuk mengklasifikasikan informasi yang diperoleh. Kedua adalah searching and retrieving information( mencari dan menampilkan informasi) berguna bagi user untuk mencari dan menampilkan informasi yang diperlukan. 9

20 Vol., No., Desember 003 Decision Inference Module Modul ini digunakan user untuk mendapatkan beberapa pilihan dari berbagai faktor dalam mengambil keputusan. Alternatif tersebut diperoleh dari modul sebelumnya. Ada dua fungsi yang terdapat pada modul ini yaitu: deterministic decision inference dan Probabilistic decision inference Deterministic decision inference menyediakan mekanisme untuk menyimpan keputusan yang berhubungan dengan knowledge dan menyediakan fasilitas untuk membuat keputusan berdasarkan analisis. Probabilistic decision inference digunakan apabila keputusan yang akan diambil melibatkan factor-faktor yang bersifat probabilitas (tidak pasti) PEMBAHASAN Gambar. memperlihatkan use case diagram GDSS. Use Case Diagram Pada bagian ini akan digambarkan use case diagram dari GDSS. Ada dua aktor yang teridentifikasi yaitu :. Domain knowledge expert. Decision maker or user Kemudian terdapat 0 use case diantaranya :. Provide professional comments on information. Contribute information 3. Maintain data 4. Search information 5. Input rules into knowledge base 6. Input environment status in database 7. Propel inference engine 8. Specify decision nodes 9. Inputs probabilities associated with nodes 0. Connect relationship between nodes Domain Knowledge Expert Provide professional comments on Information Contribute information Maintain data Input rules into knowledge base Input environment status in database Search information Decision Maker (User) Propel inference engine Specify decision nodes Inputs probabilities associated with nodes Connects relationship between node Gambar. Use Case Diagram Sequence diagram 0

DAFTAR ISI. Abstrak... Abstract... Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Gambar... Daftar Tabel... BAB I Pendahuluan Latar Belakang...

DAFTAR ISI. Abstrak... Abstract... Kata Pengantar... Daftar Isi... Daftar Gambar... Daftar Tabel... BAB I Pendahuluan Latar Belakang... ABSTRAK Kemajuan teknologi sudah berkembang dengan pesat terutama dengan banyak terciptanya berbagai macam peralatan dalam bidang telekomunikasi yang salah satunya yaitu modem sebagai alat modulasi dan

Lebih terperinci

MAKALAH ANALISIS & PERANCANGAN SISTEM II USE CASE DIAGRAM

MAKALAH ANALISIS & PERANCANGAN SISTEM II USE CASE DIAGRAM MAKALAH T02/Use Case Diagram ANALISIS & PERANCANGAN SISTEM II USE CASE DIAGRAM Nama : Abdul Kholik NIM : 05.05.2684 E mail : ik.kyoe.san@gmail.com Sumber : http://artikel.webgaul.com/iptek/unifiedmodellinglanguage.htm

Lebih terperinci

Unified Modelling Language UML

Unified Modelling Language UML Unified Modelling Language UML Unified Modelling Language (UML) adalah sebuah "bahasa" yang telah menjadi standar dalam industri untuk visualisasi, merancang dan mendokumentasikan sistem piranti lunak.

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM 25 BAB III PERANCANGAN SISTEM Sistem monitoring ini terdiri dari perangkat keras (hadware) dan perangkat lunak (software). Perangkat keras terdiri dari bagian blok pengirim (transmitter) dan blok penerima

Lebih terperinci

MODULATOR DAN DEMODULATOR. FSK (Frequency Shift Keying) Budihardja Murtianta

MODULATOR DAN DEMODULATOR. FSK (Frequency Shift Keying) Budihardja Murtianta MODULATOR DAN DEMODULATOR FSK (Frequency Shift Keying) Budihardja Murtianta Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik UKSW Jalan Diponegoro 52-60, Salatiga 50711 Email: budihardja@yahoo.com Intisari

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Modulasi adalah proses yang dilakukan pada sisi pemancar untuk. memperoleh transmisi yang efisien dan handal.

BAB II DASAR TEORI. Modulasi adalah proses yang dilakukan pada sisi pemancar untuk. memperoleh transmisi yang efisien dan handal. BAB II DASAR TEORI 2.1 Modulasi Modulasi adalah proses yang dilakukan pada sisi pemancar untuk memperoleh transmisi yang efisien dan handal. Pemodulasi yang merepresentasikan pesan yang akan dikirim, dan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Definisi PWM Sinyal PWM pada umumnya memiliki amplitudo dan frekuensi dasar yang tetap, namun, lebar pulsanya bervariasi. Lebar pulsa PWM berbanding lurus dengan amplitudo sinyal

Lebih terperinci

MODULATOR DAN DEMODULATOR BINARY ASK. Intisari

MODULATOR DAN DEMODULATOR BINARY ASK. Intisari MODULATOR DAN DEMODULATOR BINARY ASK MODULATOR DAN DEMODULATOR BINARY ASK Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik UKSW Jalan Diponegoro 52-60, Salatiga 50711 Email: budihardja@yahoo.com Intisari

Lebih terperinci

PERANCANGAN MODULATOR QPSK DENGAN METODA DDS (DIRECT DIGITAL SYNTHESIS) BERBASIS MIKROKONTROLLER ATMEGA8535 ABSTRAK

PERANCANGAN MODULATOR QPSK DENGAN METODA DDS (DIRECT DIGITAL SYNTHESIS) BERBASIS MIKROKONTROLLER ATMEGA8535 ABSTRAK PERANCANGAN MODULATOR QPSK DENGAN METODA DDS (DIRECT DIGITAL SYNTHESIS) BERBASIS MIKROKONTROLLER ATMEGA8535 Disusun Oleh: Jhon Presley 0322094 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universita Kristen

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI. Blok diagram carrier recovery dengan metode costas loop yang

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI. Blok diagram carrier recovery dengan metode costas loop yang BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI 3.1 Perancangan Alat Blok diagram carrier recovery dengan metode costas loop yang direncanakan diperlihatkan pada Gambar 3.1. Sinyal masukan carrier recovery yang berasal

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI ALAT. modulator 8-QAM seperti pada gambar 3.1 berikut ini: Gambar 3.1 Blok Diagram Modulator 8-QAM

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI ALAT. modulator 8-QAM seperti pada gambar 3.1 berikut ini: Gambar 3.1 Blok Diagram Modulator 8-QAM BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI ALAT 3.1 Pembuatan Modulator 8-QAM Dalam Pembuatan Modulator 8-QAM ini, berdasarkan pada blok diagram modulator 8-QAM seperti pada gambar 3.1 berikut ini: Gambar 3.1 Blok

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT

BAB III PERANCANGAN ALAT BAB III PERANCANGAN ALAT Pada bab tiga ini akan dijelaskan mengenai perancangan dari perangkat keras dan perangkat lunak yang digunakan pada alat ini. Dimulai dari uraian perangkat keras lalu uraian perancangan

Lebih terperinci

1. PENGERTIAN PEMANCAR RADIO

1. PENGERTIAN PEMANCAR RADIO 1. PENGERTIAN PEMANCAR RADIO 2. SISTEM MODULASI DALAM PEMANCAR GELOMBANG RADIO Modulasi merupakan metode untuk menumpangkan sinyal suara pada sinyal radio. Maksudnya, informasi yang akan disampaikan kepada

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. ABSTRAK. i ABSTRACT.. ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI...v DAFTAR GAMBAR...ix DAFTAR TABEL... xi

DAFTAR ISI. ABSTRAK. i ABSTRACT.. ii KATA PENGANTAR... iii DAFTAR ISI...v DAFTAR GAMBAR...ix DAFTAR TABEL... xi ABSTRAK Perkembangan teknologi saat ini telah menuju suatu kemajuan yang cukup signifikan, terutama pada teknologi komunikasi digital. Dalam perkembangan tersebut dibutuhkan suatu system modulasi yang

Lebih terperinci

Sistem Modulator dan Demodulator BPSK dengan Costas Loop

Sistem Modulator dan Demodulator BPSK dengan Costas Loop Sistem Modulator dan Demodulator BPSK dengan Costas Loop Budihardja Murtianta Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer, Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga budihardja.murtianta@staff.uksw.edu

Lebih terperinci

Modulasi. S1 Informatika ST3 Telkom Purwokerto

Modulasi. S1 Informatika ST3 Telkom Purwokerto Modulasi S1 Informatika ST3 Telkom Purwokerto 1 AM Analog FM Modulasi PM ASK Digital ASK FSK PSK voltage Amplitudo, Frekuensi, Phase 180 0 +90 0 B A C -90 0 0 0 C A cycle (T) B 0 π 2π Amplitude (V) (t)

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tugas akhir dilaksanakan pada bulan Februari 2014 hingga Januari

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tugas akhir dilaksanakan pada bulan Februari 2014 hingga Januari BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian tugas akhir dilaksanakan pada bulan Februari 2014 hingga Januari 2015. Perancangan dan pengerjaan perangkat keras (hardware) dan laporan

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN INVERTER PENGENDALI KECEPATAN MOTOR AC PADA KONVEYOR MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER AT89S51

RANCANG BANGUN INVERTER PENGENDALI KECEPATAN MOTOR AC PADA KONVEYOR MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER AT89S51 RANCANG BANGUN INVERTER PENGENDALI KECEPATAN MOTOR AC PADA KONVEYOR MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER AT89S51 Tugas Akhir Untuk memenuhi persyaratan mencapai pendidikan Diploma III (DIII) Disusun oleh : SANYOTO

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN ALAT PEMBANGKIT EFEK SURROUND DENGAN IC BUCKET-BRIGADE DEVICE (BBD) MN 3008

RANCANG BANGUN ALAT PEMBANGKIT EFEK SURROUND DENGAN IC BUCKET-BRIGADE DEVICE (BBD) MN 3008 RANCANG BANGUN ALAT PEMBANGKIT EFEK SURROUND DENGAN IC BUCKET-BRIGADE DEVICE (BBD) MN 3008 Albert Mandagi Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Universitas Trisakti Jalan Kiai Tapa 1, Jakarta

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM BAB 3 PERACAGA SISTEM Pada bab ini penulis akan menjelaskan mengenai perencanaan modul pengatur mas pada mobile x-ray berbasis mikrokontroller atmega8535 yang meliputi perencanaan dan pembuatan rangkaian

Lebih terperinci

Perancangan Dan Realisasi Converter Satu Fasa untuk Baterai Menjalankan Motor AC 1 Fasa 125 Watt

Perancangan Dan Realisasi Converter Satu Fasa untuk Baterai Menjalankan Motor AC 1 Fasa 125 Watt Jurnal Reka Elkomika 2337-439X Januari 2016 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Teknik Elektro Itenas Vol.4 No.1 Perancangan Dan Realisasi Converter Satu Fasa untuk Baterai Menjalankan Motor AC 1

Lebih terperinci

REKAYASA PERANGKAT LUNAK. 3 sks Sri Rezeki Candra Nursari reezeki2011.wordpress.com

REKAYASA PERANGKAT LUNAK. 3 sks Sri Rezeki Candra Nursari reezeki2011.wordpress.com REKAYASA PERANGKAT LUNAK 3 sks Sri Rezeki Candra Nursari reezeki2011.wordpress.com Referensi Rekayasa Perangkat Lunak Pendekatan Praktisi, Roger S. Pressman, Ph.D, Andi Jogyakarta, 2012 Buku 1 Rekayasa

Lebih terperinci

PENYEDIA DAYA DC BERBASIS MIKROKONTROLER MC68HC908QT2

PENYEDIA DAYA DC BERBASIS MIKROKONTROLER MC68HC908QT2 PENYEDIA DAYA DC BERBASIS MIKROKONTROLER MC68HC908QT2 MAKALAH SKRIPSI Disusun oleh Joko Mulyadi 98/120813/TK/22633 JURUSAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2006 HALAMAN

Lebih terperinci

PEMBUATAN PERANGKAT APLIKASI PEMANFAATAN WIRELESS SEBAGAI MEDIA UNTUK PENGIRIMAN DATA SERIAL

PEMBUATAN PERANGKAT APLIKASI PEMANFAATAN WIRELESS SEBAGAI MEDIA UNTUK PENGIRIMAN DATA SERIAL PEMBUATAN PERANGKAT APLIKASI PEMANFAATAN WIRELESS SEBAGAI MEDIA UNTUK PENGIRIMAN DATA SERIAL Oleh : Zurnawita Dikky Chandra Staf Pengajar Teknik Elektro Politeknik Negeri Padang ABSTRACT Serial data transmission

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI SISTEM. Dalam tugas akhir ini dirancang sebuah modulator BPSK dengan bit rate

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI SISTEM. Dalam tugas akhir ini dirancang sebuah modulator BPSK dengan bit rate BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI SISTEM 3.1 Gambaran Umum Dalam tugas akhir ini dirancang sebuah modulator BPSK dengan bit rate 64 Kbps untuk melakukan proses modulasi terhadap sinyal data digital. Dalam

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN CARA KERJA SISTEM. Pada bab ini diterangkan tentang langkah dalam merancang cara kerja

BAB III PERANCANGAN DAN CARA KERJA SISTEM. Pada bab ini diterangkan tentang langkah dalam merancang cara kerja BAB III PERANCANGAN DAN CARA KERJA SISTEM Pada bab ini diterangkan tentang langkah dalam merancang cara kerja sistem, baik secara keseluruhan ataupun kinerja dari bagian-bagian sistem pendukung. Perancangan

Lebih terperinci

Bidang Information Technology and Communication 336 PERANCANGAN DAN REALISASI AUTOMATIC TIME SWITCH BERBASIS REAL TIME CLOCK DS1307 UNTUK SAKLAR LAMPU

Bidang Information Technology and Communication 336 PERANCANGAN DAN REALISASI AUTOMATIC TIME SWITCH BERBASIS REAL TIME CLOCK DS1307 UNTUK SAKLAR LAMPU Bidang Information Technology and Communication 336 PERANCANGAN DAN REALISASI AUTOMATIC TIME SWITCH BERBASIS REAL TIME CLOCK DS1307 UNTUK SAKLAR LAMPU Adhe Ninu Indriawan, Hendi Handian Rachmat Subjurusan

Lebih terperinci

Rancang Bangun Demodulator FSK pada Frekuensi 145,9 MHz untuk Perangkat Receiver Satelit ITS-SAT

Rancang Bangun Demodulator FSK pada Frekuensi 145,9 MHz untuk Perangkat Receiver Satelit ITS-SAT JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-6 1 Rancang Bangun Demodulator FSK pada Frekuensi 145,9 MHz untuk Perangkat Receiver Satelit ITS-SAT Respati Loy Amanda, Eko Setijadi, dan Suwadi Teknik Elektro,

Lebih terperinci

UNIFIED MODELING LANGUAGE

UNIFIED MODELING LANGUAGE UNIFIED MODELING LANGUAGE UML (Unified Modeling Language) adalah metode pemodelan secara visual sebagai sarana untuk merancang dan atau membuat software berorientasi objek. Karena UML ini merupakan bahasa

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM BAB III PERANCANGAN SISTEM Pada bab ini akan dijelaskan tentang perancangan perangkat keras dari tugas akhir yang berjudul Penelitian Sistem Audio Stereo dengan Media Transmisi Jala-jala Listrik. 3.1.

Lebih terperinci

APLIKASI ATMEGA 8535 DALAM PEMBUATAN ALAT UKUR BESAR SUDUT (DERAJAT)

APLIKASI ATMEGA 8535 DALAM PEMBUATAN ALAT UKUR BESAR SUDUT (DERAJAT) APLIKASI ATMEGA 8535 DALAM PEMBUATAN ALAT UKUR BESAR SUDUT (DERAJAT) Ery Safrianti 1, Rahyul Amri 2, Setiadi 3 Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Riau Kampus Bina Widya, Jalan Subrantas

Lebih terperinci

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI SISTEM

BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI SISTEM 42 BAB III PERENCANAAN DAN REALISASI SISTEM Pada bab ini dijelaskan pembuatan alat yang dibuat dalam proyek tugas akhir dengan judul rancang bangun sistem kontrol suhu dan kelembaban berbasis mirkrokontroler

Lebih terperinci

Desain Inverter Tiga Fasa dengan Minimum Total Harmonic Distortion Menggunakan Metode SPWM

Desain Inverter Tiga Fasa dengan Minimum Total Harmonic Distortion Menggunakan Metode SPWM 79 Desain Inverter Tiga Fasa dengan Minimum Total Harmonic Distortion Menggunakan Metode SPWM Lalu Riza Aliyan, Rini Nur Hasanah, M. Aziz Muslim Abstrak- Salah satu elemen penting dalam proses konversi

Lebih terperinci

SINYAL & MODULASI. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung

SINYAL & MODULASI. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung SINYAL & MODULASI Ir. Roedi Goernida, MT Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung 2012 1 Pengertian Sinyal Merupakan suatu perubahan amplitudo dari tegangan,

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI. Aplikasi chatting mobile phone yang menggunakan NetBeans IDE 6.0 yang di

BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI. Aplikasi chatting mobile phone yang menggunakan NetBeans IDE 6.0 yang di BAB III ANALISIS DAN PERANCANGAN APLIKASI 3.1 Analisis Tahapan analisis merupakan tahapan yang paling awal dalam membuat sebuah perangkat lunak. Pada tahapan ini dilakukan perancangan terhadap Aplikasi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Pengertian Sistem Menurut Azhar Susanto dalam bukunya Sistem Informasi Management ( hal.18 bag.1 konsep dasar SIM ). Bahwa sistem adalah kumpulan dari subsistem/ komponen/ bagian

Lebih terperinci

PERANCANGAN ALAT PEMESANAN MAKANAN DI RESTORAN SECARA WIRELESS

PERANCANGAN ALAT PEMESANAN MAKANAN DI RESTORAN SECARA WIRELESS TESLA Vol. 8 No. 2, 61 68 (Oktober 2006) Jurnal Teknik Elektro PERANCANGAN ALAT PEMESANAN MAKANAN DI RESTORAN SECARA WIRELESS Tjandra Susila 1), Tony Winata 1) dan Rakhman Setyo Nugroho 2) Abstract To

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK SISTEM. Dari diagram sistem dapat diuraikan metode kerja sistem secara global.

BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK SISTEM. Dari diagram sistem dapat diuraikan metode kerja sistem secara global. BAB III PERANCANGAN DAN REALISASI PERANGKAT KERAS DAN PERANGKAT LUNAK SISTEM 3.1 Perancangan Perangkat Keras 3.1.1 Blok Diagram Dari diagram sistem dapat diuraikan metode kerja sistem secara global. Gambar

Lebih terperinci

Quadrature Amplitudo Modulation-16 Sigit Kusmaryanto,

Quadrature Amplitudo Modulation-16 Sigit Kusmaryanto, Quadrature Amplitudo Modulation-16 Sigit Kusmaryanto, http://sigitkus@ub.ac.id BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, kebutuhan

Lebih terperinci

Rangkaian Pembangkit Gelombang dengan menggunakan IC XR-2206

Rangkaian Pembangkit Gelombang dengan menggunakan IC XR-2206 Eddy Nurraharjo Program Studi Teknik Informatika, Universitas Stikubank email : eddynurraharjo@gmail.com Abstrak Sebuah sinyal dapat dihasilkan dari suatu pembangkit sinyal yang berupa sebuah rangkaian

Lebih terperinci

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO

ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO ek SIPIL MESIN ARSITEKTUR ELEKTRO APLIKASI KARAKTERISTIK PENYEARAH SATU FASE TERKENDALI PULSE WIDTH MODULATION (PWM) PADA BEBAN RESISTIF Yuli Asmi Rahman * Abstract Rectifier is device to convert alternating

Lebih terperinci

MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA Bagian II

MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA Bagian II MODUL PRAKTIKUM RANGKAIAN ELEKRONIKA Bagian II DEPARTEMEN ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK A. OP-AMP Sebagai Peguat TUJUAN PERCOBAAN PERCOBAAN VII OP-AMP SEBAGAI PENGUAT DAN KOMPARATOR

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Sistem pengukur pada umumnya terbentuk atas 3 bagian, yaitu:

BAB II DASAR TEORI. Sistem pengukur pada umumnya terbentuk atas 3 bagian, yaitu: BAB II DASAR TEORI 2.1 Instrumentasi Pengukuran Dalam hal ini, instrumentasi merupakan alat bantu yang digunakan dalam pengukuran dan kontrol pada proses industri. Sedangkan pengukuran merupakan suatu

Lebih terperinci

Modulasi adalah proses modifikasi sinyal carrier terhadap sinyal input Sinyal informasi (suara, gambar, data), agar dapat dikirim ke tempat lain, siny

Modulasi adalah proses modifikasi sinyal carrier terhadap sinyal input Sinyal informasi (suara, gambar, data), agar dapat dikirim ke tempat lain, siny Modulasi Modulasi adalah proses modifikasi sinyal carrier terhadap sinyal input Sinyal informasi (suara, gambar, data), agar dapat dikirim ke tempat lain, sinyal tersebut harus ditumpangkan pada sinyal

Lebih terperinci

VOLTAGE PROTECTOR. SUTONO, MOCHAMAD FAJAR WICAKSONO Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia

VOLTAGE PROTECTOR. SUTONO, MOCHAMAD FAJAR WICAKSONO Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia bidang TEKNIK VOLTAGE PROTECTOR SUTONO, MOCHAMAD FAJAR WICAKSONO Program Studi Teknik Komputer, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia Listrik merupakan kebutuhan yang sangat

Lebih terperinci

BAB I Pendahuluan I - 1 UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

BAB I Pendahuluan I - 1 UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA BAB I Pendahuluan I.1. Latar Belakang Masalah Sistem informasi geografis ( SIG ), hingga saat ini, merupakan sistem yang sangat menarik. Sistem ini cenderung selalu dibuat untuk interaktif ini dapat mengintegrasikan

Lebih terperinci

STUDI PENGGUNAAN PENYEARAH 18 PULSA DENGAN TRANSFORMATOR 3 FASA KE 9 FASA HUBUNGAN SEGIENAM

STUDI PENGGUNAAN PENYEARAH 18 PULSA DENGAN TRANSFORMATOR 3 FASA KE 9 FASA HUBUNGAN SEGIENAM ISSN: 1693-693 21 STUDI PENGGUNAAN PENYEARAH 18 PULSA DENGAN TRANSFORMATOR 3 FASA KE 9 FASA HUBUNGAN SEGIENAM Ahmad Saudi Samosir Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Lampung Gedung H-FT

Lebih terperinci

Faculty of Electrical Engineering BANDUNG, 2015

Faculty of Electrical Engineering BANDUNG, 2015 PENGENALAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI Modul : 08 Teknik Modulasi Faculty of Electrical Engineering BANDUNG, 2015 PengTekTel-Modul:08 PengTekTel-Modul:08 Apa itu Modulasi? Modulasi adalah pengaturan parameter

Lebih terperinci

BOBI KURNIAWAN, JANA UTAMA Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia

BOBI KURNIAWAN, JANA UTAMA Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer Universitas Komputer Indonesia bidang TEKNIK PERANCANGAN RADIO PORTABEL UNTUK MASYARAKAT PEDESAAN DI INDONESIA BERBASIS FREKUENSI MODULASI (FM) DENGAN MENGGUNAKAN MP3, MEMORY CARD, KOMPUTER DAN LINE IN MICROPONE SEBAGAI MEDIA INPUT

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN REALISASI INVERTER MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER ATMEGA168

PERANCANGAN DAN REALISASI INVERTER MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER ATMEGA168 PERANCANGAN DAN REALISASI INVERTER MENGGUNAKAN MIKROKONTROLER ATMEGA168 Disusun Oleh : Daniel Wahyu Wicaksono (0922036) Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Kristen Maranatha Jl. Prof. Drg.

Lebih terperinci

PENGATURAN KECEPATAN DAN POSISI MOTOR AC 3 PHASA MENGGUNAKAN DT AVR LOW COST MICRO SYSTEM

PENGATURAN KECEPATAN DAN POSISI MOTOR AC 3 PHASA MENGGUNAKAN DT AVR LOW COST MICRO SYSTEM PENGATURAN KECEPATAN DAN POSISI MOTOR AC 3 PHASA MENGGUNAKAN DT AVR LOW COST MICRO SYSTEM Fandy Hartono 1 2203 100 067 Dr. Tri Arief Sardjono, ST. MT. 2-1970 02 12 1995 12 1001 1 Penulis, Mahasiswa S-1

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT. Gambar 3.1 Diagram Blok Pengukur Kecepatan

BAB III PERANCANGAN ALAT. Gambar 3.1 Diagram Blok Pengukur Kecepatan BAB III PERANCANGAN ALAT 3.1 PERANCANGAN PERANGKAT KERAS Setelah mempelajari teori yang menunjang dalam pembuatan alat, maka langkah berikutnya adalah membuat suatu rancangan dengan tujuan untuk mempermudah

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. tergantung pada besarnya modulasi yang diberikan. Proses modulasi

BAB II LANDASAN TEORI. tergantung pada besarnya modulasi yang diberikan. Proses modulasi BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Modulasi dan Demodulasi Modulasi adalah suatu proses dimana parameter dari suatu gelombang divariasikan secara proposional terhadap gelombang lain. Parameter yang diubah

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN ALAT PENDETEKSI KERUSAKAN KABEL

BAB III PERANCANGAN ALAT PENDETEKSI KERUSAKAN KABEL BAB III PERANCANGAN ALAT PENDETEKSI KERUSAKAN KABEL. Diagram Blok Diagram blok merupakan gambaran dasar membahas tentang perancangan dan pembuatan alat pendeteksi kerusakan kabel, dari rangkaian sistem

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan April 2015 sampai dengan Mei 2015,

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan April 2015 sampai dengan Mei 2015, III. METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini mulai dilaksanakan pada bulan April 2015 sampai dengan Mei 2015, pembuatan alat dan pengambilan data dilaksanakan di Laboratorium

Lebih terperinci

BAB IV PENGUKURAN DAN ANALISIS

BAB IV PENGUKURAN DAN ANALISIS BAB IV PENGUKURAN DAN ANALISIS Untuk mengetahui apakah hasil rancangan yang dibuat sudah bekerja sesuai dengan fungsinya atau tidak, perlu dilakukan beberapa pengukuran pada beberapa test point yang dianggap

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM 18 BAB III PERANCANGAN SISTEM Pada pembahasan perancangan sistem ini akan menjelaskan cara kerja dari keseluruhan sistem kendali on/off dan intensitas lampu menggunakan frekuensi radio. Pengiriman data

Lebih terperinci

Perancangan dan Pembuatan Tahap RF Downlink 2.4 GHz Untuk Pengiriman Citra Pada Sistem Komunikasi Satelit Nano

Perancangan dan Pembuatan Tahap RF Downlink 2.4 GHz Untuk Pengiriman Citra Pada Sistem Komunikasi Satelit Nano JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 2, No. 1, (2013) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) A-160 Perancangan dan Pembuatan Tahap RF Downlink 2.4 GHz Untuk Pengiriman Citra Pada Sistem Komunikasi Satelit Nano Rochmawati

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM. diusulkan dari sistem yang ada di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota

BAB IV ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM. diusulkan dari sistem yang ada di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota BAB IV ANALISA DAN PERANCANGAN SISTEM 4.1. Analisis Sistem yang Sedang Berjalan Pada bab ini dijelaskan mengenai prosedur yang berjalan dan yang diusulkan dari sistem yang ada di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata

Lebih terperinci

SISTEM KONVERTER DC. Desain Rangkaian Elektronika Daya. Mochamad Ashari. Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012

SISTEM KONVERTER DC. Desain Rangkaian Elektronika Daya. Mochamad Ashari. Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012 SISTEM KONVERTER DC Desain Rangkaian Elektronika Daya Oleh : Mochamad Ashari Profesor, Ir., M.Eng., PhD. Edisi I : cetakan I tahun 2012 Diterbitkan oleh: ITS Press. Hak Cipta dilindungi Undang undang Dilarang

Lebih terperinci

PERANCANGAN PENGENDALI POSISI LINIER UNTUK MOTOR DC DENGAN MENGGUNAKAN PID

PERANCANGAN PENGENDALI POSISI LINIER UNTUK MOTOR DC DENGAN MENGGUNAKAN PID PERANCANGAN PENGENDALI POSISI LINIER UNTUK MOTOR DC DENGAN MENGGUNAKAN PID Endra 1 ; Nazar Nazwan 2 ; Dwi Baskoro 3 ; Filian Demi Kusumah 4 1 Jurusan Sistem Komputer, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas

Lebih terperinci

² Dosen Jurusan Teknik Elektro Industri 3 Dosen Jurusan Teknik Elektro Industri

² Dosen Jurusan Teknik Elektro Industri 3 Dosen Jurusan Teknik Elektro Industri 1 Efisiensi Daya Pada Beban Dinamik Dengan Kapasitor Bank Dan Filter Harmonik Bambang Wahyono ¹, Suhariningsih ², Indhana Sudiharto 3 1 Mahasiswa D4 Jurusan Teknik Elektro Industri ² Dosen Jurusan Teknik

Lebih terperinci

Rijal Fadilah. Transmisi & Modulasi

Rijal Fadilah. Transmisi & Modulasi Rijal Fadilah Transmisi & Modulasi Pendahuluan Sebuah sistem komunikasi merupakan suatu sistem dimana informasi disampaikan dari satu tempat ke tempat lain. Misalnya tempat A yang terletak ditempat yang

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Dasar teori yang mendukung untuk tugas akhir ini adalah teori tentang device atau

BAB II DASAR TEORI. Dasar teori yang mendukung untuk tugas akhir ini adalah teori tentang device atau 7 BAB II DASAR TEORI Dasar teori yang mendukung untuk tugas akhir ini adalah teori tentang device atau komponen yang digunakan, antara lain teori tentang: 1. Sistem Monitoring Ruangan 2. Modulasi Digital

Lebih terperinci

FREQUENCY HOPPING SPREAD SPECTRUM TRANSMITTER DENGAN PSEUDO NOISE CODE

FREQUENCY HOPPING SPREAD SPECTRUM TRANSMITTER DENGAN PSEUDO NOISE CODE FREQUENCY HOPPING SPREAD SPECTRUM TRANSMITTER DENGAN PSEUDO Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer UKSW Jalan Diponegoro 52-60, Salatiga 50711 Email: budihardja@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB III PERANCANGAN SISTEM

BAB III PERANCANGAN SISTEM 21 BAB III PERANCANGAN SISTEM 3.1 Rangkaian Keseluruhan Sistem kendali yang dibuat ini terdiri dari beberapa blok bagian yaitu blok bagian plant (objek yang dikendalikan), blok bagian sensor, blok interface

Lebih terperinci

SISTEM PENGATURAN LAMPU LALU LINTAS SECARA SENTRAL DARI JARAK JAUH

SISTEM PENGATURAN LAMPU LALU LINTAS SECARA SENTRAL DARI JARAK JAUH TESLA Vol. 9 No. 2, 71 78 (Oktober 2007) Jurnal Teknik Elektro SISTEM PENGATURAN LAMPU LALU LINTAS SECARA SENTRAL DARI JARAK JAUH Tjia May On 1), Pono Budi Mardjoko 1) dan Nato Martanto 2) Abstract Scheme

Lebih terperinci

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA HASIL PENGUJIAN

BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA HASIL PENGUJIAN BAB IV PENGUJIAN ALAT DAN ANALISA HASIL PENGUJIAN Pada bab ini dilakukan proses akhir dari pembuatan alat Tugas Akhir, yaitu pengujian alat yang telah selesai dirancang. Tujuan dari proses ini yaitu agar

Lebih terperinci

ANALOG TO DIGITAL CONVERTER

ANALOG TO DIGITAL CONVERTER PERCOBAAN 10 ANALOG TO DIGITAL CONVERTER 10.1. TUJUAN : Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu Menjelaskan proses perubahan dari sistim analog ke digital Membuat rangkaian ADC dari

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN RANGKAIAN

BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN RANGKAIAN BAB III ANALISA DAN PERANCANGAN RANGKAIAN 3.1. Blok Diagram Sistem Untuk mempermudah penjelasan dan cara kerja alat ini, maka dibuat blok diagram. Masing-masing blok diagram akan dijelaskan lebih rinci

Lebih terperinci

BAB III SISTEM PENGUKURAN ARUS & TEGANGAN AC PADA WATTMETER DIGITAL

BAB III SISTEM PENGUKURAN ARUS & TEGANGAN AC PADA WATTMETER DIGITAL 34 BAB III SISTEM PENGUKURAN ARUS & TEGANGAN AC PADA WATTMETER DIGITAL Pada bab ini akan dijelaskan mengenai rancangan desain dan cara-cara kerja dari perangkat keras atau dalam hal ini adalah wattmeter

Lebih terperinci

Penggunaan Filter Daya Aktif Paralel untuk Kompensasi Harmonisa Akibat Beban Non Linier Menggunakan Metode Cascaded Multilevel Inverter

Penggunaan Filter Daya Aktif Paralel untuk Kompensasi Harmonisa Akibat Beban Non Linier Menggunakan Metode Cascaded Multilevel Inverter Penggunaan Filter Daya Aktif Paralel untuk Kompensasi Harmonisa Akibat Beban Non Linier Menggunakan Metode Cascaded Multilevel Inverter Renny Rakhmawati 1, Hendik Eko H. S. 2, Setyo Adi Purwanto 3 1 Dosen

Lebih terperinci

Rancang Bangun Demodulator FSK 9600 Baud untuk Perangkat Transceiver Portable Satelit IiNUSAT - 1

Rancang Bangun Demodulator FSK 9600 Baud untuk Perangkat Transceiver Portable Satelit IiNUSAT - 1 1/6 Rancang Bangun Demodulator FSK 9600 Baud untuk Perangkat Transceiver Portable Satelit IiNUSAT - 1 Muhamad Aenurrofiq Alatasy, Prof. Ir. Gamantyo H., M.Eng, Ph.D. Jurusan Teknik Elektro FTI - ITS Abstrak

Lebih terperinci

Perancangan Sistim Elektronika Analog

Perancangan Sistim Elektronika Analog Petunjuk Praktikum Perancangan Sistim Elektronika Analog Lab. Elektronika Industri Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember Lab 1. Amplifier Penguat Dengan

Lebih terperinci

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 6 NO. 2 September 2013

JURNAL TEKNOLOGI INFORMASI & PENDIDIKAN ISSN : VOL. 6 NO. 2 September 2013 APPLIKASI PERANGKAT LUNAK SIMULASI SEBAGAI ALAT BANTU UNTUK MEMPELAJARI RANGKAIAN KONVERTER DAYA Asnil 1 ABSTRACT Power Electronics is one of the most important fields of electrical engineering. Power

Lebih terperinci

ABSTRACT. data. signal sensitivity, and noise resistant up to 200 mv.

ABSTRACT. data. signal sensitivity, and noise resistant up to 200 mv. ABSTRAK Dengan meningkatnya kebutuhan jalur komunikasi data, khususnya pada komunikasi dengan bandwidth rendah, PLC menjadi metode alternatif untuk komunikasi sinyal kendali. Sistem PLC dalam Tugas Akhir

Lebih terperinci

Perancangan Sistem Modulator Binary Phase Shift Keying

Perancangan Sistem Modulator Binary Phase Shift Keying Perancangan Sistem Modulator Binary Phase Shift Keying Deddy Susilo 1, Budihardja Murtianta 2, Arivia Aurelia Devina Pramono 3 Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Elektronika dan Komputer, Universitas

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI Pada bab ini akan dibahas dasar teori yang berhubungan dengan perancangan skripsi antara lain fungsi dari function generator, osilator, MAX038, rangkaian operasional amplifier, Mikrokontroler

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2013.

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2013. III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli 2012 sampai dengan Januari 2013. Perancangan alat penelitian dilakukan di Laboratorium Elektronika, Laboratorium

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1. Teori Catu Daya Tak Terputus

BAB II DASAR TEORI 2.1. Teori Catu Daya Tak Terputus BAB II DASAR TEORI Pada bab ini akan dibahas beberapa teori pendukung yang digunakan sebagai acuan dalam merealisasikan sistem. Teori-teori yang digunakan dalam pembuatan skripsi ini adalah teori catu

Lebih terperinci

MODULASI. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung

MODULASI. Ir. Roedi Goernida, MT. Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung MODULASI Ir. Roedi Goernida, MT. (roedig@yahoo.com) Program Studi Sistem Informasi Fakultas Rekayasa Industri Institut Teknologi Telkom Bandung 2010 1 Pengertian Modulasi Merupakan suatu proses penumpangan

Lebih terperinci

Perancangan dan Realisasi Sistem Pentransmisian Short Message dan Sinyal Digital pada

Perancangan dan Realisasi Sistem Pentransmisian Short Message dan Sinyal Digital pada Jurnal Itenas Rekayasa LPPM Itenas o.1 Vol. XVII ISS: 1410-3125 Januari 2013 Perancangan dan Realisasi Sistem Pentransmisian Short Message dan Sinyal Digital pada Modem BPSK berbasis MATLAB Arsyad Ramadhan

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Blok Diagram Modulator 8-QAM. menjadi tiga bit (tribit) serial yang diumpankan ke pembelah bit (bit splitter)

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1 Blok Diagram Modulator 8-QAM. menjadi tiga bit (tribit) serial yang diumpankan ke pembelah bit (bit splitter) BAB II DASAR TEORI 2.1 Modulator 8-QAM Gambar 2.1 Blok Diagram Modulator 8-QAM Dari blok diagram diatas dapat diuraikan bahwa pada modulator 8-QAM sinyal data yang dibangkitkan oleh rangkaian pembangkit

Lebih terperinci

MULTIPLEKSER BERBASIS PROGRAMMABLE LOGIC DEVICE (PLD)

MULTIPLEKSER BERBASIS PROGRAMMABLE LOGIC DEVICE (PLD) MULTIPLEKSER BERBASIS PROGRAMMABLE LOGIC DEVICE (PLD) Oleh Muhammad Irmansyah Staf Pengajar Teknik Elektro Politeknik Negeri Padang ABSTRACT In middle 1990, electronics industry had the evolution of personal

Lebih terperinci

Desain dan Simulasi Konverter Buck Sebagai Pengontrol Tegangan AC Satu Tingkat dengan Perbaikan Faktor Daya

Desain dan Simulasi Konverter Buck Sebagai Pengontrol Tegangan AC Satu Tingkat dengan Perbaikan Faktor Daya 1 Desain dan Simulasi Konverter Buck Sebagai Pengontrol Tegangan AC Satu Tingkat dengan Perbaikan Faktor Daya Dimas Setiyo Wibowo, Mochamad Ashari dan Heri Suryoatmojo Teknik Elektro, Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

PEMODELAN PEMANTAU PERSEDIAAN BARANG DAN PEMESANAN BARANG BERBASIS JARINGAN KOMPUTER

PEMODELAN PEMANTAU PERSEDIAAN BARANG DAN PEMESANAN BARANG BERBASIS JARINGAN KOMPUTER TESLA Vol. 9 No. 2, 51 58 (Oktober 2007) Jurnal Teknik Elektro PEMODELAN PEMANTAU PERSEDIAAN BARANG DAN PEMESANAN BARANG BERBASIS JARINGAN KOMPUTER Djoko Hari Nudroho 1), Harlianto T. 1) dan Fredy 2) Abstract

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret - Mei 2015 dan tempat

III. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret - Mei 2015 dan tempat III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret - Mei 205 dan tempat pelaksanaan penelitian ini di Laboratorium Elektronika Jurusan Fisika Fakultas Matematika

Lebih terperinci

TEKNIK MODULASI. Kelompok II

TEKNIK MODULASI. Kelompok II TEKNIK MODULASI Kelompok II Pengertian Modulasi adalah proses pencampuran dua sinyal menjadi satu sinyal Biasanya sinyal yang dicampur adalah sinyal berfrekuensi tinggi dan sinyal berfrekuensi rendah Contoh

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. ini terlihat dengan semakin banyaknya penggunaan peralatan elektronik baik pada

BAB 1 PENDAHULUAN. ini terlihat dengan semakin banyaknya penggunaan peralatan elektronik baik pada BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini peralatan elektronika daya cukup berkembang dengan pesat. Hal ini terlihat dengan semakin banyaknya penggunaan peralatan elektronik baik pada rumah tangga,

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN OTOMASI SISTEM PENGISIAN DAN PENGONTROLAN SUHU AIR HANGAT PADA BATHTUB MENGGUNAKAN DETEKTOR FASA. Tugas Akhir

RANCANG BANGUN OTOMASI SISTEM PENGISIAN DAN PENGONTROLAN SUHU AIR HANGAT PADA BATHTUB MENGGUNAKAN DETEKTOR FASA. Tugas Akhir RANCANG BANGUN OTOMASI SISTEM PENGISIAN DAN PENGONTROLAN SUHU AIR HANGAT PADA BATHTUB MENGGUNAKAN DETEKTOR FASA Tugas Akhir Disusun untuk memenuhi syarat memperoleh gelar Ahli Madya pada program Studi

Lebih terperinci

BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN

BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN BAB III ANALISA DAN CARA KERJA RANGKAIAN 3.1 Analisa Rangkaian Secara Blok Diagram Pada rangkaian yang penulis buat berdasarkan cara kerja rangkaian secara keseluruhan penulis membagi rangkaian menjadi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian tugas akhir ini dilaksanakan di Laboratorium Elektronika Dasar

III. METODE PENELITIAN. Penelitian tugas akhir ini dilaksanakan di Laboratorium Elektronika Dasar 28 III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian tugas akhir ini dilaksanakan di Laboratorium Elektronika Dasar dan Laboratorium Pemodelan Jurusan Fisika Universitas Lampung. Penelitian

Lebih terperinci

Hardware terdiri dari catu daya 5VDC, sensor passive infrared, mikrokontroler. ATMega8, transmitter TLP434 dan receiver. WinAVR.

Hardware terdiri dari catu daya 5VDC, sensor passive infrared, mikrokontroler. ATMega8, transmitter TLP434 dan receiver. WinAVR. BEL LISTRIK WIRELESS OTOMATIS MENGGUNAKAN SENSOR PASSIVE INFRARED BERBASIS MIKROKONTROLER ATMEGA8 Nanda Surya Pratama 07506131003 Teknik Elektro-Fakultas Teknik-Universitas Negeri Yogyakarta Email : nanda_elektro1@yahoo.com

Lebih terperinci

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA PENGGUNAAN FILTER PASIF DAN FILTER AKTIF PADA PENYEARAH TERKENDALI SATU PHASA

ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA PENGGUNAAN FILTER PASIF DAN FILTER AKTIF PADA PENYEARAH TERKENDALI SATU PHASA ANALISIS PERBANDINGAN KINERJA PENGGUNAAN FILTER PASIF DAN FILTER AKTIF PADA PENYEARAH TERKENDALI SATU PHASA Sri Kurniati A. Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Sains dan Teknik, Undana, Jl.Adisucipto Penfui-Kupang

Lebih terperinci

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan

BAB 3 PERANCANGAN SISTEM. pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan BAB 3 PERANCANGAN SISTEM Konsep dasar mengendalikan lampu dan komponen komponen yang digunakan pada sistem pengendali lampu telah dijelaskan pada bab 2. Pada bab ini akan dijelaskan perancangan sistem

Lebih terperinci

Unified Modeling Language

Unified Modeling Language 2011 Unified Modeling Language Metode Perancangan Program Kelompok 10: Andika Nugraha (1401094756) Alfred Mansel (1401095506) Daniel Sidarta (1401096433) Marcell Bonfilio (1401094850) Bina Nusantara University

Lebih terperinci

TRAINER VOLTMETER DIGITAL SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN TEKNIK DIGITAL SEKUENSIAL PADA KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK AUDIO VIDEO DI SMK N 2 YOGYAKARTA

TRAINER VOLTMETER DIGITAL SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN TEKNIK DIGITAL SEKUENSIAL PADA KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK AUDIO VIDEO DI SMK N 2 YOGYAKARTA TRAINER VOLTMETER DIGITAL SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN TEKNIK DIGITAL SEKUENSIAL PADA KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK AUDIO VIDEO DI SMK N 2 YOGYAKARTA DIGITAL VOLTMETER TRAINER AS A LEARNING MEDIA OF DIGITAL

Lebih terperinci

LEMBAR KERJA V KOMPARATOR

LEMBAR KERJA V KOMPARATOR LEMBAR KERJA V KOMPARATOR 5.1. Tujuan 1. Mahasiswa mampu mengoperasikan op amp sebagai rangkaian komparator inverting dan non inverting 2. Mahasiswa mampu membandingkan dan menganalisis keluaran dari rangkaian

Lebih terperinci

Kendali Pensaklaran Freewheel untuk Pensaklaran Konverter PCCM

Kendali Pensaklaran Freewheel untuk Pensaklaran Konverter PCCM 1 Kendali Pensaklaran Freewheel untuk Pensaklaran Konverter PCCM Maickel Tuegeh,ST,. MT. * *Staf Pengajar Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, Indonesia,

Lebih terperinci