KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN NOMOR : 436.a/Kpts/PD /L/11/07

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN NOMOR : 436.a/Kpts/PD.670.320/L/11/07"

Transkripsi

1 KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN NOMOR : 436.a/Kpts/PD /L/11/07 TENTANG PETUNJUK PELAKSANAAN TINDAKAN KARANTINA HEWAN TERHADAP SUSU DAN PRODUK OLAHANNYA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa dalam era globalisasi dewasa ini terjadi peningkatan arus lalu lintas orang maupun media pembawa (hewan, produk hewan dan benda lain) dan tidak lagi mengenal batas antar negara sehingga berpeluang besar masuk dan tersebarnya penyakit eksotik/maupun penyakit hewan karantina lainnya bersifat zoonosis; b. bahwa salah satu komoditi yang juga merupakan media pembawa HPHK yang sering dilalulintaskan adalah susu dan produk olahannya, seiring dengan perubahan kebiasaan pola makan yang berkaitan dengan peningkatan nilai gizi yang harus dikonsumsi masyarakat; c. bahwa sehubungan dengan hal tersebut diatas maka perlu disusun Petunjuk Pelaksanaan Tindakan Karantina Hewan terhadap Susu dan Produk Olahannya dalam upaya mencegah masuk dan tersebarnya Hama dan Penyakit Hewan Karantina; Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Peternakan dan Kesehatan Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1967 Nomor 10, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 2824); 2. Undang-Undang Nomor 16 tahun 1992 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 56, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3482);

2 3. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan (Lembaran Negara Tahun 1996 Nomor 99, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3656); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1983 tentang Kesehatan Masyarakat Veteriner (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1983 Nomor 28, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3253); 5. Peraturan Pemerintah Nomor 82 tahun 2000 tentang Karantina Hewan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 161, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3482); 6. Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2005 tentang Kedudukan, Tugas, Fungsi, Susunan Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Negara Republik Indonesia; 7. Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2005 tentang Unit Organisasi dan Tugas Eselon I Kementerian Negara Republik Indonesia; MEMUTUSKAN Menetapkan : KESATU : PETUNJUK PELAKSANAAN TINDAKAN KARANTINA HEWAN TERHADAP SUSU DAN PRODUK OLAHANNYA SEBAGAIMANA TERSEBUT DALAM LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN INI; KEDUA : Petunjuk Teknis sebagaimana dimaksud dalam diktum KESATU : merupakan pedoman bagi petugas karantina hewan dalam melakukan tindakan karantina hewan terhadap susu dan produk olahannya; KETIGA : Petunjuk Teknis yang telah ada dan sepanjang tidak bertentangan dengan keputusan ini masih tetap berlaku; 2

3 KEEMPAT : Keputusan ini agar dilaksanakan sebaik-baiknya dengan penuh tanggungjawab. Ditetapkan di : Jakarta Pada tanggal : 16 Nopember 2007 Kepala Badan Karantina Pertanian, Ir. Syukur Iwantoro, MS, MBA NIP ,- Tembusan disampaikan kepada Yth, 1. Menteri Pertanian; 2. Para Pejabat Eselon I lingkup Departemen Pertanian; 3. Para Pejabat Eselon II lingkup Badan Karantina Pertanian; 4. Para Kepala Balai Besar/Balai/Stasiun Karantina Hewan di seluruh Indonesia. 3

4 Lampiran : Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor : 436.a/Kpts/PD /L/11/07 Tanggal : 16 Nopember 2007 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Susu dan produk olahannya merupakan salah satu sumber protein hewani yang mengandung gizi dan nutrisi cukup lengkap serta dapat dikonsumsi oleh semua usia dari bayi sampai lanjut usia. Kebutuhan masyarakat mengkonsumsi susu dan produk olahannya di Indonesia semakin meningkat seiring dengan kenaikan jumlah penduduk, peningkatan kesejahteraan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya sumber protein hewani. Permintaan produk susu untuk kebutuhan konsumsi nasional di Indonesia belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri sehingga saat ini angka impor susu dan produk olahannya masih tinggi. Tingginya angka impor susu dan produk olahannya serta lalulintas susu antar area di dalam negeri dapat meningkatkan resiko terbawanya hama penyakit hewan karantina (HPHK) dari luar negeri ke Indonesia dan penyebaran penyakit antar area didalam negeri. Telah diketahui bahwa karena susu mengandung gizi dan nutrisi yang lengkap maka susu dan produk olahannya juga dapat sebagai media pembawa hama penyakit hewan karantina. Untuk mencegah masuknya HPHK dari luar negeri ke wilayah Indonesia dan mencegah menyebarnya penyakit antar area di dalam negeri maka diperlukan pengawasan dan tindakan karantina terhadap susu dan produk olahannya yang di Impor dari luar negeri ke Indonesia dan atau di lalulintaskan antar area di dalam negeri. Pelaksanaan kegiatan pengawasan dan tindakan karantina memerlukan suatu prosedur baku yang menjadi acuan baik bagi petugas maupun bagi pengguna jasa karantina sehingga pelayanan karantina dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu Badan Karantina Pertanian dalam hal ini Pusat Karantina Hewan menyusun petunjuk pelaksanaan tindakan karantina terhadap susu dan olahannya yang dilalulintaskan baik dari luar negeri maupun domestik untuk digunakan sebagai pedoman bagi petugas dan penguna jasa serta pihak lain yang terkait. B. Maksud dan Tujuan 1) Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) ini disusun dengan maksud menyediakan pedoman bagi petugas karantina dilapangan dalam melaksanakan tindakan karantina terhadap susu dan olahannya. 2) Adanya keseragaman dalam pelaksanaan pelayanan tindakan karantina terhadap susu dan olahannya. 4

5 3) Petugas dapat melaksanakan pelayanan tindak karantina secara lebih cermat, cepat dan sistematis, dengan dasar ilmiah sesuai peraturan perundangan. 4) Pengguna jasa dapat memahami tindakan karantina yang akan dilakukan terhadap susu dan produk olahannya C. Ruang Lingkup 1) Pengawasan karantina terhadap lalu lintas susu dan olahannya. 2) Persyaratan karantina terhadap lalu lintas susu dan olahannya. 3) Prosedur tindakan karantina terhadap susu dan olahannya yang dilalulintaskan. D. Definisi 1. Media pembawa yang dimaksud dalam Petunjuk Pelaksanaan ini adalah susu, produk susu olahan dan bahan baku produk susu yang akan dilalulintaskan 2. Susu adalah cairan yang diperoleh dari ambing ternak perah sehat, dengan cara pemerahan yang benar, terus menerus dan tidak dikurangi sesuatu dan/atau ditambahkan ke dalamnya sesuatu benda lain atau perlakuan lainnya kecuali pendinginan. 3. Produk olahan susu adalah susu yang telah diproses lebih lanjut. 4. Bahan baku produk susu adalah bahan selain susu segar yang akan digunakan untuk membuat produk susu olahan lain, misalnya calsium caseinate, laktose dan lain-lain 5. Area adalah daerah dalam suatu pulau, pulau, atau kelompok pulau di dalam negara Republik Indonesia yang dikaitkan dengan pencegahan penyebaran hama dan penyakit hewan karantina. 6. Pemasukan adalah kegiatan memasukkan media pembawa dari luar ke dalam wilayah negara Republik Indonesia atau ke suatu area dari area lain di dalam wilayah negara Republik Indonesia. 7. Pengeluaran adalah kegiatan mengeluarkan media pembawa ke luar dari wilayah Negara Republik Indonesia atau dari suatu area ke area lain di dalam wilayah Negara Republik Indonesia. 8. Transit adalah singgah sementara alat angkut di suatu pelabuhan dalam perjalanan yang membawa hewan, bahan asal hewan, hasil bahan asal hewan, dan benda lain sebelum sampai di pelabuhan yang dituju 9. Dokumen karantina hewan yang selanjutnya disebut Dokumen Karantina adalah semua formulir resmi yang ditetapkan oleh Menteri dalam rangka tertib administrasi pelaksanaan tindakan karantina. 5

6 10. Dokumen lain adalah surat yang diterbitkan Menteri lain yang terkait atau oleh pejabat yang ditunjuk olehnya sebagai persyaratan utama dan atau pendukung untuk setiap pemasukan, transit, atau pengeluaran media pembawa. 11. Hama dan penyakit hewan karantina yang selanjutnya disebut hama penyakit hewan karantina adalah semua hama, agen penyakit, dan penyakit hewan yang berdampak sosio-ekonomi nasional dan perdagangan internasional serta dapat menyebabkan gangguan terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan yang dapat digolongkan menurut tingkat risikonya. 12. Tindakan karantina hewan yang selanjutnya disebut tindakan karantina adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencegah hama penyakit hewan karantina masuk ke, tersebar di, dan atau keluar dari wilayah negara Republik Indonesia, atau suatu area dalam wilayah Republik Indonesia. 13. Instalasi karantina hewan yang selanjutnya disebut instalasi karantina adalah suatu bangunan berikut peralatan dan lahan serta sarana pendukung yang diperlukan sebagai tempat untuk melakukan tindakan karantina. 14. Alat angkut adalah alat angkutan dan sarana yang dipergunakan untuk mengangkut yang langsung berhubungan dengan media pembawa. 15. Kemasan adalah bahan yang digunakan untuk mewadahi dan atau membungkus media pembawa baik yang bersentuhan langsung maupun tidak. 16. Wadah adalah kemasan yang langsung berhubungan dengan media pembawa 17. Petugas karantina hewan yang selanjutnya disebut petugas karantina adalah pegawai negeri tertentu yang diberi tugas untuk melakukan tindakan karantina. 18. Penyakit eksotik adalah penyakit hewan yang tidak ditemukan ada di Indonesia. 19. Pejabat berwenang adalah pejabat yang mempunyai keahlian di bidang sanitasi dan higiene serta ditunjuk dan ditugaskan oleh pemerintah setempat dan atau negara transit untuk melakukan tugas dibidang higiene dan sanitasi dan/atau tugas lainnya yang terkait. 20. Susu pasteurisasi adalah susu yang diolah dengan memanaskan susu di bawah titik didih susu, dengan cara : 6

7 a. Pemanasan pada temperatur C selama 30 menit, dikenal dengan istilah Pemanasan Low Temperature Long Time (LTLT). b. Pemanasan pada temperatur C selama 15 detik, dikenal dengan istilah Pemanasan High Temperature Short Time (HTST). 21. Susu sterilisasi UHT adalah susu yang telah dipanaskan pada temperatur diatas 135 C ( C) dalam waktu 4 detik. 22. Susu Evaporasi (Evaporated Milk) adalah susu yang sebagian besar kandungan airnya telah dihilangkan (60%) melalui proses evaporasi dengan cara pemanasan bertingkat yang berurutan dimulai pada temperatur 80 C, 98 C sampai 122 C. 23. Susu kondensasi adalah susu yang sebagian kandungan airnya telah dihilangkan melalui proses kondensasi. 24. Susu bubuk adalah susu yang sebagian besar kandungan airnya telah dihilangkan melalui proses giling (roller) dan semprot (sprayer). Susu bubuk terdiri dari 5 jenis yaitu Whole Milk Powder (Full Cream Milk Powder), Cream Milk Powder, Skim Milk Powder, Whey Milk Powder, Butter Milk Powder 25. Susu fermentasi adalah susu yang telah mengalami proses fermentasi dengan menggunakan biakan mikroba tertentu terdiri atas Yoghurt, Kefir, Koummiss, dan Buttermilk serta sejenisnya. 7

8 BAB II SISTEM PENGAWASAN DAN PEMERIKSAAN KARANTINA HEWAN TERHADAP SUSU DAN PRODUK OLAHANNYA Pengawasan terhadap susu dan produk olahannya yang akan dilalulintaskan dilakukan oleh Unit Pelaksana Teknis Karantina Hewan (UPT KH), pengawasan tersebut dapat dilakukan didalam UPT KH atau Instalasi Karantina Hewan Sementara (IKHS). Untuk pengawasan yang dilakukan diluar UPT KH dan IKHS dilaksanakan melalui kerjasama dan koordinasi dengan dinas peternakan atau dinas yang membidangi fungsi kesehatan hewan atau kesehatan masyarakat veteriner serta Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM). Kegiatan pengawasan terdiri dari kegiatan pemeriksaan lapangan dan kegiatan pengujian laboratorium. Kegiatan pemeriksaan lapangan dilakukan oleh petugas karantina ditempat pemasukan atau pengeluaran terhadap kelengkapan, keabsahan dan kesesuaian dokumen yang dipersyaratkan, pemeriksaan fisik terhadap media pembawa serta pengambilan contoh untuk pengujian. Pelaksanaan pengujian terhadap contoh yang diambil oleh petugas karantina dan atau Petugas Pengambil Contoh (PPC) dilakukan di laboratorium karantina hewan. Petugas Pengambil Contoh dari laboratorium dapat melakukan pengambilan contoh dari tempat pemeriksaan dilapangan dalam rangka membantu pelaksanaan tindakan karantina dilapangan dan atau dalam rangka melaksanakan kegiatan monitoring dan surveillance. Kegiatan pengujian laboratorium dilakukan di laboratorium karantina hewan terdekat dari tempat pengambilan contoh untuk menjaga keutuhan contoh dengan mempertimbangkan kemampuan laboratorium dalam melaksanakan jenis pengujian yang diperlukan. Apabila diperlukan, pengujian dapat dilakukan dilaboratorium lain yang ditunjuk atau diberikan kewenangan melaksanakan pengujian untuk keperluan pengawasan karantina. Hasil pemeriksaan lapangan dan pengujian laboratorium dipergunakan sebagai bahan pertimbangan untuk memberikan rekomendasi pembebasan atau penolakan atau pemusnahan terhadap produk yang dilalulintaskan. Setiap aktifitas lalulintas susu dan produk olahannya harus melalui pengawasan karantina hewan melalui tindakan karantina hewan terhadap susu dan produk olahannya. Susu dan produk olahannya yang dilalulintaskan dapat direkomendasikan untuk dibebaskan apabila setelah dilakukan pemeriksaan lapangan dan pengujian laboratorium menunjukan hasil telah sesuai dengan persyaratan karantina untuk susu dan produk olahannya. Apabila dalam pemeriksaan lapangan dan atau pengujian laboratorium ditemukan dokumen dan atau hasil pengujian yang kurang lengkap maka dilakukan tindakan karantina penahanan. Tindakan penahanan dilakukan sampai pengguna jasa karantina dapat memenuhi kekurangan tersebut dan setelah dilakukan pemeriksaan dan pengujian memberikan hasil bahwa kelengkapan tersebut dapat dinyatakan sesuai dengan persyaratan yang berlaku. 8

9 dokumen fisik Apabila tidak dapat melengkapi persyaratan karantina dalam jangka waktu yang telah ditetapkan maka tindakan penahanan dilanjutkan dengan tindakan penolakan berupa pemusnahan atau re-ekspor. Apabila ditemukan adanya ketidak sesuaian atau indikasi yang dapat menimbulkan resiko bahaya terhadap keamanan dan kesehatan masyarakat Sistem Pengawasan dan Pemeriksaan Susu dan Produk Olahannya INSTANSI TERKAIT data informasi KARANTINA HEWAN data informasi BADAN POM Evaluasi Data dan Informasi Dapat dilengkapi Lengkap sah dan sesuai Pemeriksaan Dokumen dan Fisik di Pelabuhan / Bandara Tdk lengkap Pemeriksaan dokumen persyaratan Pemeriksaan fisik dapat dilakukan ditempat Pemeriksaan fisik tdk dpt dilakukan di Pel. / Bandara Penahanan Diberi slm 3 hari kesempatan utk melengkapi Penolakan Memenuhi Tidak memenuhi INSTALASI KARANTINA Pemusnahan Reekspor Penolakan PEMBEBASAN PEMUSNAHAN Pengambilan sampel utk Pemeriksaan HPHK, Cemaran Biologi, Residu, GMO dilakukan oleh petugas karantina Sertf. Kesehatan (Sanitasi) Sertf. Pelepasan Negatif Positif Dibebaskan dgn diberikan Sertifikat Kesehatan/Pelepasan DIMUSNAHKAN dan lingkungan maka dilakukan tindakan karantina berupa pemusnahan atau tindakan lainnya yang sesuai untuk mencegah terjadinya bahaya resiko tersebut. 9

10 BAB III PROSEDUR DAN TINDAKAN KARANTINA TERHADAP SUSU DAN OLAHANNYA A. PEMERIKSAAN DOKUMEN Pemeriksaan dokumen dilakukan untuk mengetahui kelengkapan, kebenaran isi, dan keabsahan dokumen. 1. Dokumen dan Persyaratan yang harus dipenuhi di Pelabuhan/Bandar Udara Pemasukan, antara lain: a. Sertifikat kesehatan dan atau sertifikat sanitasi yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang di negara/daerah asal. Dokumen ini memuat keterangan bahwa produk tersebut telah sesuai dengan persyaratan sanitasi, dan ketentuan teknis mengenai kesehatan masyarakat veteriner, berasal dari hewan yang sehat serta memenuhi persyaratan HACCP/GMP b. Surat Keterangan Asal (Certificate of Origin) c. Sertifikat Analisa (Certificate of Analysis) d. Surat Persetujuan Pemasukan bagi yang dipersyaratkan (impor) e. Dokumen tambahan berupa surat registrasi produk yang memuat keterangan asal produk, proses pengolahan, komposisi, nama perusahaan, jenis produk, expired date, batch number dan peruntukannya (kehalalan) untuk produk olahan curah atau yang berlabel. f. Dokumen tambahan berupa dokumen yang menerangkan hasil pengujian yang sesuai dengan persyaratan SNI terhadap produkproduk tertentu (permintaan khusus). 3. Pengecekan kebenaran dan keabsahan dokumen dapat dilakukan dengan cara: a. Memeriksa legalitas dan keaslian dokumen (cap, tanda tangan dan tanda-tanda khusus); b. Pemeriksaan satu persatu kelengkapan dan keabsahan dokumen yang dipersyaratkan; c. Mencocokkan jenis dan jumlah yang tertera dalam dokumen dengan fisik susu. 10

11 b. PEMERIKSAAN FISIK DI TEMPAT PEMASUKAN (IMPOR DAN ANTAR AREA) 1. SUSU MENTAH (RAW MILK/FRESH MILK) a. Persyaratan administrasi Tidak berasal dari negara tertular penyakit eksotik yang bisa ditularkan melalui susu yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Asal (Certificate of origin). Sertifikat Sanitasi dari Dokter Hewan Karantina negara /Daerah Pengeluaran/Asal. b. Pemeriksaan Fisik Dilakukan pemeriksaan terhadap kesesuaian antara fisik dan dokumen. Pemeriksaan terhadap persyaratan transportasi sesuai dengan milk codex. Pemeriksaan terhadap temperatur susu, serta rekaman temperatur selama dalam perjalanan dan penyimpanan selalu dikondisikan pada maksimal 4 C. Pemeriksaan wadah - Jenis bahan, bentuk, ukuran, penutup. - Tata letak wadah dalam kemasan. - Pemeriksaan label serta informasi yang tertera pada label jelas dan lengkap. - Pemeriksaan keutuhan dan keabsahan segel. - Kondisi wadah yang digunakan adalah sesuai untuk pangan, bersih, tidak toksik/beracun, atau tidak mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pangan (food grade). - Wadah tidak bocor, tidak rusak, tidak penyok dan tidak mencemari wadah yang lain. - Wadah tidak mengelembung akibat tekanan gas dari dalam. - Wadah tidak ada perubahan warna dan atau fisik lainnya. Pemeriksaan kemasan meliputi pemeriksaan suhu, tata letak (pembatas dan pengaman, susunan/tumpukan) segel dan label. Pemeriksaan terhadap susu mentah/raw milk/fresh milk Untuk wadah transparan dapat dilihat langsung untuk mengetahui terjadinya perubahan fisik yang terjadi, antara lain: menggumpal, adanya endapan, perubahan kekentalan, perubahan warna, perubahan volume, pembentukan busa, dll. 11

12 c. Tindakan Pemeriksaan dan Pengujian Pemeriksaan yang dilakukan di Instalasi Karantina Hewan/ Instalasi Karantina Hewan Sementara adalah pengambilan sampel dan pengujian laboratorium: Untuk dokumen dan fisik yang sesuai, tidak ada kerusakan, akan tetapi diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, maka dapat dilakukan pengambilan sampel. (mengacu pada pedoman pengambilan sampel) Apabila dalam pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik terdapat atau diduga terdapat ketidaksesuaian, maka harus dilakukan pengambilan sampel, pemeriksaan dan pengujian kualitas, keamanan serta kesesuaian terhadap standar. (Petunjuk Teknis Pengujian Laboratorium terhadap Susu dan Olahannya) Kemasan dan wadah yang rusak harus diambil sebagai sampel untuk pemeriksaan lebih lanjut dalam menentukan keputusan tindakan karantina. Pengujian yang dilakukan di laboratorium meliputi: Organoleptik (bau, rasa, warna) dan temperatur susu, Apabila temperatur susu mentah/raw milk/fresh milk melebihi 4 C maka nilai TPC harus kurang dari 1 (satu) juta CFU, yang dibuktikan dengan hasil pengujian laboratorium. Uji RBT terhadap kemungkinan membawa penyakit Brucellosis. Uji terhadap kemungkinan membawa penyakit tuberculosis (TBC) dan para tuberculosis (Johne s disease) Pemeriksaan dan pengujian terhadap pemenuhan standar keamananan hayati yang ditetapkan (SNI) termasuk uji residu, logam berat dan kandungan senyawa berbahaya lainnya.. Untuk antar area, apabila pada daerah pengeluaran telah dilakukan pengambilan dan pengujian sampel maka tidak perlu dilakukan lagi pada daerah pemasukan, kecuali apabila ada indikasi ketidaksesuaian atau kecurigaan. d. Penahanan Tindakan penahanan dilakukan apabila dokumen Sanitasi (Sanitary Certificate) dan dokumen tambahan tidak dapat dilengkapi dan pemilik sanggup memenuhi persyaratan tersebut dalam waktu 3 (tiga) hari sejak media pembawa diserahkan. e. Penolakan Tindakan penolakan dilakukan apabila dalam pemeriksaan ditemukan bahwa: Susu mentah/raw milk/fresh milk berasal dari negara yang tertular penyakit eksotik khusus untuk produk tertentu yang telah diatur pada persyaratan karantina 12

13 Mengandung kuman pathogen atau bahan-bahan lain yang beresiko mengganggu kesehatan dan jiwa manusia seperti hormon, toksin yang melebihi standar (SNI) Setelah dilakukan penahanan dan keseluruhan persyaratan yang harus dilengkapi dalam batas waktu yang ditetapkan tidak dapat dipenuhi. Setelah dilakukan pemeriksaan dokumen keterangan transit dan terbukti tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan teknis. f. Pemusnahan Tindakan pemusnahan dilakukan apabila: Setelah dilakukan penolakan tidak segera dibawa keluar dari wilayah negara Republik Indonesia atau dari area tujuan oleh pemiliknya dalam batas waktu yang ditetapkan. Setelah dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap susu bilamana tempat penyimpanan susu tidak memenuhi syarat dan setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ternyata susu telah busuk atau rusak. Tindakan karantina pemusnahan dilakukan sesuai dengan pedoman pemusnahan yang berlaku. g. Pembebasan Pembebasan dapat dilakukan apabila : Dokumen persyaratan telah dinyatakan lengkap. Dokumen dan fisik telah dinyatakan sesuai. Hasil pemeriksaan dan pengujian telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. 2. SUSU OLAHAN (Processed Milk) Persyaratan untuk susu olahan ditetapkan berdasarkan tingkat proses dalam pengolahan yang dapat mengurangi resiko terbawanya HPHK 2.1. SUSU OLAHAN DENGAN PEMBEKUAN (FROZEN MILK) a. Persyaratan administrasi Tidak berasal dari negara tertular penyakit eksotik yang bisa ditularkan melalui susu yang dibuktikan dengan Surat Keterangan Asal (certificate of origin) Sertifikat Sanitasi dari Dokter Hewan Karantina negara /Daerah Pengeluaran/Asal. 13

14 f. Pemeriksaan Fisik Dilakukan pemeriksaan terhadap kesesuaian antara fisik dan dokumen. Pemeriksaan terhadap persyaratan transportasi sesuai dengan milk codex. Pemeriksaan terhadap temperatur susu, selama dalam perjalanan dan penyimpanan selalu dikondisikan pada temperatur dibawah titik beku. Pemeriksaan wadah, meliputi: - Sanitasi dan kebersihan wadah - Jenis bahan, bentuk, ukuran, penutup. - Tata letak wadah dalam kemasan. - Pemeriksaan label serta informasi yang tertera pada label jelas dan lengkap. - Pemeriksaan keutuhan dan keabsahan segel. - Kondisi wadah yang digunakan adalah sesuai untuk pangan, bersih, tidak toksik/beracun, atau tidak mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pangan (food grade). - Wadah tidak bocor, tidak rusak, tidak penyok dan tidak mencemari wadah yang lain. - Wadah tidak mengelembung akibat tekanan gas dari dalam. - Wadah tidak ada perubahan warna dan atau fisik lainnya. Pemeriksaan kemasan meliputi pemeriksaan suhu, tata letak (pembatas dan pengaman, susunan/tumpukan) segel dan label. Pemeriksaan terhadap susu olahan dengan pembekuan dalam wadah dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan yang terjadi pada susu seperti menggumpal, adanya endapan, perubahan kekentalan, perubahan warna, perubahan volume, pembentukan busa, pemisahan dua larutan dll. Untuk wadah yang transparan dapat dilihat langsung dari luar, sedangkan wadah yang tidak transparan harus dilakukan dengan cara khusus atau dengan membuka kemasan. c. Tindakan Pemeriksaan dan Pengujian Pemeriksaan yang dilakukan di Instalasi Karantina Hewan/ Instalasi Karantina Hewan Sementara adalah pengambilan contoh dan pengujian laboratorium: Untuk dokumen dan fisik yang sesuai, tidak ada kerusakan, akan tetapi diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, 14

15 maka dapat dilakukan pengambilan contoh. Cara pengambilan contoh dilakukan sesuai dengan pedoman pengambilan contoh. Apabila dalam pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik terdapat atau diduga terdapat ketidaksesuaian, maka harus dilakukan pengambilan contoh untuk pemeriksaan dan pengujian kualitas, keamanan serta kesesuaian terhadap standar. Kemasan dan wadah yang rusak harus diambil sebagai contoh untuk pemeriksaan lebih lanjut dalam menentukan keputusan tindakan karantina. Pengujian yang dilakukan di laboratorium meliputi: Organoleptik (bau, rasa, warna) dan temperatur susu, Apabila temperatur susu olahan dengan pembekuan/frozen milk tidak beku maka nilai TPC harus kurang dari 3 x 10 4 CFU/ml, yang dibuktikan dengan hasil pengujian laboratorium. Uji RBT terhadap kemungkinan membawa penyakit Brucellosis Uji terhadap kemungkinan membawa penyakit tuberculosis (TBC) dan paratuberculosis (Johne s disease) Pemeriksaan dan pengujian terhadap pemenuhan standar keamananan hayati yang ditetapkan (SNI) termasuk uji residu, logam berat dan kandungan senyawa berbahaya lainnya. Untuk antar area, apabila pada daerah pengeluaran telah dilakukan pengambilan dan pengujian maka tidak perlu dilakukan lagi pada daerah pemasukan kecuali apabila ditemukan adanya indikasi ketidaksesuaian atau kecurigaan. d. Penahanan Tindakan penahanan dilakukan apabila dokumen Sanitasi (Sanitary Certificate) dan dokumen tambahan tidak dapat dilengkapi dan pemilik sanggup memenuhi persyaratan tersebut dalam waktu 3 (tiga) hari sejak media pembawa diserahkan. e. Penolakan Tindakan penolakan dilakukan apabila dalam pemeriksaan ditemukan bahwa: Susu olahan dengan pembekuan/frozen milk berasal dari negara yang tertular penyakit eksotik khusus untuk produk tertentu yang telah diatur pada persyaratan karantina Mengandung kuman pathogen atau bahan-bahan lain yang beresiko mengganggu kesehatan dan jiwa manusia seperti hormon, toksin yang melebihi standar (SNI) 15

16 Setelah dilakukan penahanan dan keseluruhan persyaratan yang harus dilengkapi dalam batas waktu yang ditetapkan tidak dapat dipenuhi. Setelah dilakukan pemeriksaan dokumen keterangan transit dan terbukti tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan teknis. f. Pemusnahan Tindakan pemusnahan dilakukan apabila: Setelah dilakukan penolakan tidak segera dibawa keluar dari wilayah negara Republik Indonesia atau dari area tujuan oleh pemiliknya dalam batas waktu yang ditetapkan. Setelah dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap susu bilamana tempat penyimpanan susu tidak memenuhi syarat dan setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ternyata susu telah busuk atau rusak. Tindakan karantina pemusnahan dilakukan sesuai dengan pedoman pemusnahan yang berlaku. g. Pembebasan Pembebasan dapat dilakukan apabila : Dokumen persyaratan telah dinyatakan lengkap. Dokumen dan fisik telah dinyatakan sesuai. Hasil pemeriksaan dan pengujian telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan. 2.2 SUSU PASTEURISASI a. Persyaratan administrasi Susu Pasteurisasi LTLT: Tidak berasal dari negara tertular penyakit eksotik yang bisa ditularkan melalui susu yang disertai dengan Surat Keterangan Negara/daerah Asal Susu Pasteurisasi HTST: Diperbolehkan berasal dari negara tertular PMK dengan syarat telah diolah dengan cara pasteurisasi ganda HTST (double HTST) yang disertai dengan surat keterangan prosesing Yoghurt dan sejenisnya: hanya diperbolehkan yang berasal dari area yang bebas hama penyakit hewan karantina serta proses dan penanganannya sesuai dengan standar keamanan serta higiene dan sanitasi yang ditetapkan. Sertifikat Sanitasi dari Dokter Hewan Karantina negara /Daerah Pengeluaran/Asal. 16

17 b. Pemeriksaan Fisik Dilakukan pemeriksaan terhadap kesesuaian antara fisik dan dokumen. Pemeriksaan terhadap persyaratan transportasi sesuai dengan milk codex. Pemeriksaan terhadap temperatur susu, Temperatur susu selama dalam perjalanan dan penyimpanan selalu dikondisikan pada maksimal 4 C, Pemeriksaan wadah - Sanitasi dan kebersihan wadah - Jenis bahan, bentuk, ukuran, penutup. - Tata letak wadah dalam kemasan. - Pemeriksaan label serta informasi yang tertera pada label jelas dan lengkap. - Pemeriksaan keutuhan dan keabsahan segel. - Kondisi wadah yang digunakan adalah sesuai untuk pangan, bersih, tidak toksik/beracun, atau tidak mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pangan (food grade). - Wadah tidak bocor, tidak rusak, tidak penyok dan tidak mencemari wadah yang lain. - Wadah tidak mengelembung akibat tekanan gas dari dalam. - Wadah tidak ada perubahan warna dan atau fisik lainnya. Pemeriksaan kemasan meliputi pemeriksaan suhu, tata letak (pembatas dan pengaman, susunan/tumpukan) segel dan label. Pemeriksaan terhadap susu pasteurisasi Pemeriksaan terhadap susu pasteurisasi dalam wadah dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan yang terjadi pada susu seperti menggumpal, adanya endapan, perubahan kekentalan, perubahan warna, perubahan volume, pembentukan busa, pemisahan dua larutan dll. Untuk wadah yang transparan dapat dilihat langsung dari luar, sedangkan wadah yang tidak transparan harus dilakukan dengan cara khusus atau dengan membuka kemasan. c. Tindakan Pemeriksaan dan Pengujian Pemeriksaan yang dilakukan di Instalasi Karantina Hewan/ Instalasi Karantina Hewan Sementara adalah pengambilan contoh dan pengujian laboratorium: Untuk dokumen dan fisik yang sesuai, tidak ada kerusakan, akan tetapi diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, maka dapat 17

18 dilakukan pengambilan sampel. Cara pengambilan contoh dilakukan sesuai dengan pedoman pengambilan contoh. Apabila dalam pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan fisik terdapat atau diduga terdapat ketidaksesuaian, maka harus dilakukan pengambilan contoh untuk pemeriksaan dan pengujian kualitas, keamanan serta kesesuaian terhadap standar. Kemasan dan wadah yang rusak harus diambil sebagai contoh untuk pemeriksaan lebih lanjut dalam menentukan keputusan tindakan karantina. Pengujian yang dilakukan di laboratorium meliputi: Uji organoleptik (bau, rasa, warna) dan temperatur susu, Temperatur susu selama dalam perjalanan dan penyimpanan selalu dikondisikan pada maksimal 4 C. Kesempurnaan pengolahan susu yang dapat menjadi ukuran telah hilangnya HPHK yang dapat dibawa melalui susu pasteurisasi yaitu : PMK, Brucellosis, Q Fever dengan metode pemeriksaan terhadap kesempurnaan pengolahan susu yaitu Uji Storch/Uji Guayak/Traventol, atau Uji Heyl. Pemeriksaan dan pengujian terhadap pemenuhan standar keamananan hayati yang ditetapkan (SNI) termasuk uji residu, logam berat dan kandungan senyawa berbahaya lainnya. Nilai TPC, untuk susu pasteurisasi harus lebih kecil dari CFU yang dibuktikan dengan hasil uji laboratorium. Untuk antar area, apabila pada daerah pengeluaran telah dilakukan pengambilan dan pengujian maka tidak perlu dilakukan lagi pada daerah pemasukan kecuali apabila ditemukan adanya indikasi ketidaksesuaian atau kecurigaan. d. Penahanan Tindakan penahanan dilakukan apabila dokumen Sanitasi (Sanitary Certificate) dan dokumen tambahan tidak dapat dilengkapi dan pemilik sanggup memenuhi persyaratan tersebut dalam waktu 3 (tiga) hari sejak media pembawa diserahkan. e. Penolakan Tindakan penolakan dilakukan apabila dalam pemeriksaan ditemukan bahwa: Susu pasteurisasi berasal dari negara yang tertular penyakit eksotik khusus untuk produk tertentu yang telah diatur pada persyaratan karantina Mengandung kuman pathogen atau bahan-bahan lain yang beresiko mengganggu kesehatan dan jiwa manusia seperti hormon, toksin yang melebihi standar (SNI) 18

19 Setelah dilakukan penahanan dan keseluruhan persyaratan yang harus dilengkapi dalam batas waktu yang ditetapkan tidak dapat dipenuhi. Setelah dilakukan pemeriksaan dokumen keterangan transit dan terbukti tidak memenuhi persyaratan dan ketentuan teknis. f. Pemusnahan Tindakan pemusnahan dilakukan apabila: Setelah dilakukan penolakan tidak segera dibawa keluar dari wilayah negara Republik Indonesia atau dari area tujuan oleh pemiliknya dalam batas waktu yang ditetapkan. Setelah dilakukan pemeriksaan dan pengujian terhadap susu bilamana tempat penyimpanan susu tidak memenuhi syarat dan setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ternyata susu telah busuk atau rusak. Tindakan karantina pemusnahan dilakukan sesuai dengan pedoman pemusnahan yang berlaku. g. Pembebasan Pembebasan dapat dilakukan apabila : Dokumen persyaratan telah dinyatakan lengkap. Dokumen dan fisik telah dinyatakan sesuai. Hasil pemeriksaan dan pengujian telah sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan SUSU STERILISASI (ULTRA HIGH TEMPERATURE / UHT) a. Persyaratan administrasi Surat Keterangan Negara/Daerah Asal Dilengkapi dengan surat keterangan telah melakukan proses sterilisasi UHT dan apabila berasal dari negara/daerah tertular penyakit eksotik maka harus dilakukan uji khusus terhadap kebenaran proses sterilisasi tersebut. Sertifikat Sanitasi dari Dokter Hewan Karantina negara /Daerah Pengeluaran/Asal. 19

20 b. Pemeriksaan Fisik Dilakukan pemeriksaan terhadap kesesuaian antara fisik dan dokumen. Pemeriksaan terhadap persyaratan transportasi sesuai dengan milk codex. Pemeriksaan terhadap temperatur susu, Pemeriksaan wadah - Sanitasi dan kebersihan wadah - Jenis bahan, bentuk, ukuran, penutup. - Tata letak wadah dalam kemasan. - Pemeriksaan label serta informasi yang tertera pada label jelas dan lengkap. - Pemeriksaan keutuhan dan keabsahan segel. - Kondisi wadah yang digunakan adalah sesuai untuk pangan, bersih, tidak toksik/beracun, atau tidak mempengaruhi dan dipengaruhi oleh pangan (food grade). - Wadah tidak bocor, tidak rusak, tidak penyok dan tidak mencemari wadah yang lain. - Wadah tidak mengelembung akibat tekanan gas dari dalam. - Wadah tidak ada perubahan warna dan atau fisik lainnya. Pemeriksaan kemasan meliputi pemeriksaan suhu, tata letak (pembatas dan pengaman, susunan/tumpukan) segel dan label. Pemeriksaan terhadap susu Pemeriksaan terhadap susu dalam wadah dilakukan untuk mengetahui adanya perubahan yang terjadi pada susu seperti menggumpal, adanya endapan, perubahan kekentalan, perubahan warna, perubahan volume, pembentukan busa, pemisahan dua larutan dll. Untuk wadah yang transparan dapat dilihat langsung dari luar, sedangkan wadah yang tidak transparan harus dilakukan dengan cara khusus atau dengan membuka kemasan. d. Tindakan Pemeriksaan dan Pengujian Pemeriksaan yang dilakukan di Instalasi Karantina Hewan/ Instalasi Karantina Hewan Sementara adalah pengambilan contoh dan pengujian laboratorium: Untuk dokumen dan fisik yang sesuai, tidak ada kerusakan, akan tetapi diperlukan pemeriksaan lebih lanjut, maka dapat dilakukan pengambilan sampel. Cara 20

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65/Permentan/PD.410/5/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65/Permentan/PD.410/5/2014 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65/Permentan/PD.410/5/2014 TENTANG TINDAKAN KARANTINA HEWAN TERHADAP PEMASUKAN DAN PENGELUARAN HASIL BAHAN ASAL HEWAN KONSUMSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perkarantinaan hewan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.469, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERTANIAN. Karantina Hewan. Sarang Walet. Tindakan. Tata Cara. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41/PERMENTAN/OT.140/3/2013

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 41/Permentan/OT.140/3/2013 TENTANG

MENTERI PERTANIAN. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 41/Permentan/OT.140/3/2013 TENTANG MENTERI PERTANIAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 41/Permentan/OT.140/3/2013 TENTANG TINDAKAN KARANTINA HEWAN TERHADAP PEMASUKAN ATAU PENGELUARAN SARANG WALET KE DAN DARI DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perkarantinaan hewan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 18/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 18/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 18/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG PELAYANAN DOKUMEN KARANTINA PERTANIAN DALAM SISTEM ELEKTRONIK INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW (INSW) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37/Permentan/OT.140/3/2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37/Permentan/OT.140/3/2014 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37/Permentan/OT.140/3/2014 TENTANG TlNDAKAN KARANTINA HEWAN TERHADAP PEMASUKAN DAN PENGELUARAN UNGGAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN

Lebih terperinci

Food SUSU SUSU. Mitos. Minum BISA PACU TINGGI BADAN? Susu BISA GANTIKAN. for Kids. Makanan Utama? pada Bumil. Edisi 6 Juni Vol

Food SUSU SUSU. Mitos. Minum BISA PACU TINGGI BADAN? Susu BISA GANTIKAN. for Kids. Makanan Utama? pada Bumil. Edisi 6 Juni Vol Edisi 6 Juni Vol 4 2016 Food for Kids I N D O N E S I A SUSU BISA GANTIKAN Makanan Utama? Mitos Minum Susu pada Bumil SUSU BISA PACU TINGGI BADAN? Love Milk Food for Kids I N D O N E S I A DAFTAR ISI Edisi

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.26/MEN/2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.26/MEN/2008 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.26/MEN/2008 TENTANG KEWENANGAN PENERBITAN, FORMAT, DAN PEMERIKSAAN SERTIFIKAT KESEHATAN DI BIDANG KARANTINA IKAN DAN SERTIFIKAT KESEHATAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA IKAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA IKAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA IKAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa peraturan perundang-undangan yang menyangkut perkarantinaan ikan, sudah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA IKAN

NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA IKAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA IKAN Menimbang: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa peraturan perundang-undangan yang menyangkut perkarantinaan ikan, sudah

Lebih terperinci

2 Tahun 2009 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5015); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan (Lembaran Negara Tahu

2 Tahun 2009 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5015); 3. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan (Lembaran Negara Tahu BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1166, 2014 KEMENTAN. Karantina Hewan. Pemasukan. Pengeluaran. Benih Hewan. Tindakan. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104/Permentan/OT.140/8/2014

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

STANDAR PELAYANAN PUBLIK JANGKA WAKTU LAYANAN KARANTINA ( SERVICE LEVEL AGREEMENT )

STANDAR PELAYANAN PUBLIK JANGKA WAKTU LAYANAN KARANTINA ( SERVICE LEVEL AGREEMENT ) 1 STANDAR PELAYANAN PUBLIK JANGKA WAKTU LAYANAN KARANTINA ( SERVICE LEVEL AGREEMENT ) KEMENTERIAN PERTANIAN BADAN KARANTINA PERTANIAN BALAI KARANTINA PERTANIAN KELAS I BANJARMASIN 2015 2 STANDAR PELAYANAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER. 21/MEN/2006 TENTANG TINDAKAN KARANTINA IKAN DALAM HAL TRANSIT

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER. 21/MEN/2006 TENTANG TINDAKAN KARANTINA IKAN DALAM HAL TRANSIT PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER. 21/MEN/2006 TENTANG TINDAKAN KARANTINA IKAN DALAM HAL TRANSIT MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER. 20/MEN/2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER. 20/MEN/2007 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: PER. 20/MEN/2007 TENTANG TINDAKAN KARANTINA UNTUK PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA DARI LUAR NEGERI DAN DARI SUATU

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 88/Permentan/PP.340/12/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 88/Permentan/PP.340/12/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 88/Permentan/PP.340/12/2011 TENTANG PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN TERHADAP PEMASUKAN DAN PENGELUARAN PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.29/MEN/2008 TENTANG PERSYARATAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA BERUPA IKAN HIDUP

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.29/MEN/2008 TENTANG PERSYARATAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA BERUPA IKAN HIDUP PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.29/MEN/2008 TENTANG PERSYARATAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA BERUPA IKAN HIDUP MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 2012). Sapi berasal dari famili Bovida, seperti halnya bison, banteng, kerbau

BAB I PENDAHULUAN. 2012). Sapi berasal dari famili Bovida, seperti halnya bison, banteng, kerbau BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sapi merupakan hewan ternak yang menghasilkan daging, susu, tenaga kerja dan kebutuhan lainnya. Sapi menghasilkan sekitar 50% kebutuhan daging di dunia, 95% kebutuhan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 62/Permentan/OT./140/12/2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 62/Permentan/OT./140/12/2006 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 62/Permentan/OT./140/12/2006 TENTANG PENGAWASAN DAN TINDAKAN KARANTINA TERHADAP PEMASUKAN BAHAN PATOGEN DAN/ATAU OBAT HEWAN GOLONGAN SEDIAAN BIOLOGIK DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.214, 2012 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Peternakan. Kesehatan. Veteriner. Hewan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5356) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 07/Permentan/OT.140/1/2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 07/Permentan/OT.140/1/2008 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 07/Permentan/OT.140/1/2008 TENTANG SYARAT DAN TATA CARA PEMASUKAN DAN PENGELUARAN BENIH, BIBIT TERNAK, DAN TERNAK POTONG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP.18/MEN/2003 T E N T A N G

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP.18/MEN/2003 T E N T A N G KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP.18/MEN/2003 T E N T A N G TINDAKAN KARANTINA UNTUK PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA DARI LUAR NEGERI DAN DARI SUATU AREA KE AREA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1218, 2013 KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN. Karantina Hewan. Sapi. Indukan. Bakalan. Siap Potong. Tindakan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN. Dokumen. Karantina Ikan. Jenis. Penerbitan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

BERITA NEGARA. KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN. Dokumen. Karantina Ikan. Jenis. Penerbitan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN No.148, 2013 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN. Dokumen. Karantina Ikan. Jenis. Penerbitan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN KARANTINA HEWAN BALAI KARANTINA PERTANIAN KELAS II TARAKAN

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN KARANTINA HEWAN BALAI KARANTINA PERTANIAN KELAS II TARAKAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PELAYANAN KARANTINA HEWAN BALAI KARANTINA PERTANIAN KELAS II TARAKAN Lampiran 1. ALUR MEKANISME IMPOR/PEMASUKAN DOMESTIK KETERANGAN 1.1.Pengguna jasa/pemilik melaporkan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 83/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 83/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 83/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 113/Permentan/PD.410/10/2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 113/Permentan/PD.410/10/2013 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 113/Permentan/PD.410/10/2013 TENTANG TINDAKAN KARANTINA HEWAN TERHADAP PEMASUKAN SAPI INDUKAN, SAPI BAKALAN, DAN SAPI SIAP POTONG KE DALAM WILAYAH NEGARA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMENTAN/KR.120/5/2017 TENTANG DOKUMEN KARANTINA HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMENTAN/KR.120/5/2017 TENTANG DOKUMEN KARANTINA HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMENTAN/KR.120/5/2017 TENTANG DOKUMEN KARANTINA HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 34/Permentan/OT.140/7/2006 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENETAPAN INSTANSI KARANTINA HEWAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 34/Permentan/OT.140/7/2006 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENETAPAN INSTANSI KARANTINA HEWAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 34/Permentan/OT.140/7/2006 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENETAPAN INSTANSI KARANTINA HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

2017, No Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 5

2017, No Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2008 Nomor 5 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.755, 2017 KEMTAN. Dokumen Karantina Hewan. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PERMENTAN/KR.120/5/2017 TENTANG DOKUMEN KARANTINA HEWAN

Lebih terperinci

II. KETENTUAN HUKUM TERKAIT KEAMANAN PANGAN. A. UU Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

II. KETENTUAN HUKUM TERKAIT KEAMANAN PANGAN. A. UU Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 II. KETENTUAN HUKUM TERKAIT KEAMANAN PANGAN A. UU Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dalam BAB XA mengenai Hak Asasi Manusia pada pasal

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 56/Permentan/OT.140/9/2010 TENTANG PELAKSANAAN TINDAKAN KARANTINA TUMBUHAN DI LUAR TEMPAT PEMASUKAN DAN PENGELUARAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 09/Permentan/OT.140/2/2009

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 09/Permentan/OT.140/2/2009 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 09/Permentan/OT.140/2/2009 TENTANG PERSYARATAN DAN TATACARA TINDAKAN KARANTINA TUMBUHAN TERHADAP PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA ORGANISME

Lebih terperinci

PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER BAB I PENDAHULUAN

PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER BAB I PENDAHULUAN 5 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA Nomor 83/Permentan/OT.140/12/2012 TENTANG PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL MEDIK VETERINER DAN PARAMEDIK VETERINER PEDOMAN FORMASI JABATAN FUNGSIONAL

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA IKAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA IKAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA IKAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa peraturan perundang-undangan yang menyangkut perkarantinaan ikan, sudah

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 40 TAHUN 2016 TENTANG KEAMANAN PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH,

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 40 TAHUN 2016 TENTANG KEAMANAN PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 40 TAHUN 2016 TENTANG KEAMANAN PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, Menimbang : a. bahwa produk pangan segar asal tumbuhan

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERTANIAN. Syarat. Tata Cara. Karantina. Media. Organisme. Area.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERTANIAN. Syarat. Tata Cara. Karantina. Media. Organisme. Area. No.36, 2009 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN PERTANIAN. Syarat. Tata Cara. Karantina. Media. Organisme. Area. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 11/Permentan/OT.140/2/2009 TENTANG PERSYARATAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.2030, 2015 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMTAN. Karatina Hewan. Instalasi. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 70/Permentan/KR.100/12/2015 TENTANG INSTALASI KARANTINA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97/Permentan/PD.410/9/ /9/2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97/Permentan/PD.410/9/ /9/2013 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 97/Permentan/PD.410/9/2013.410/9/2013 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 85/Permentan/PD.410/8/2013 TENTANG PEMASUKAN SAPI

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai pembangunan sesuai dengan yang telah digariskan dalam propenas. Pembangunan yang dilaksakan pada hakekatnya

Lebih terperinci

MENGELOLA KOMPOSISI AIR SUSU

MENGELOLA KOMPOSISI AIR SUSU MENANGANI AIR SUSU MENGELOLA KOMPOSISI AIR SUSU Air susu mengandung zat-zat gizi yg sangat cocok utk perkembangbiakan bakteri penyebab kerusakan air susu. Proses produksi yg tdk hygienes, penanganan yg

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 33/PERMEN-KP/2014 TENTANG INSTALASI KARANTINA IKAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR 33/PERMEN-KP/2014 TENTANG INSTALASI KARANTINA IKAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/PERMEN-KP/2014 TENTANG INSTALASI KARANTINA IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA TUMBUHAN

NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA TUMBUHAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA TUMBUHAN Menimbang: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, a. bahwa dalam rangka memberikan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan

Lebih terperinci

TENTANG TINDAKAN KARANTINA IKAN OLEH PIHAK KETIGA

TENTANG TINDAKAN KARANTINA IKAN OLEH PIHAK KETIGA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER.03/MEN/2005 TENTANG TINDAKAN KARANTINA IKAN OLEH PIHAK KETIGA Menimbang : a. MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, bahwa sebagai pelaksanaan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 08/PERMENTAN/KR.100/3/2017 TENTANG TATA CARA TINDAKAN KARANTINA HEWAN DAN TUMBUHAN TERHADAP PEMASUKAN DAN PENGELUARAN MEDIA PEMBAWA DI PUSAT LOGISTIK

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGISIAN KATEGORISASI TINGKAT RISIKO PENILAIAN DAN PENDAFTARAN ULANG

PETUNJUK PENGISIAN KATEGORISASI TINGKAT RISIKO PENILAIAN DAN PENDAFTARAN ULANG PETUNJUK PENGISIAN KATEGORISASI TINGKAT RISIKO PENILAIAN DAN PENDAFTARAN ULANG Pengembangan aplikasi e-registration pangan olahan untuk kategorisasi tingkat risiko penilaian dan notifikasi pendaftaran

Lebih terperinci

Menimbang : Mengingat :

Menimbang : Mengingat : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.00.5.1.2569 TENTANG KRITERIA DAN TATA LAKSANA PENILAIAN PRODUK PANGAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang : Mengingat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA TUMBUHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA TUMBUHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2002 TENTANG KARANTINA TUMBUHAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka memberikan landasan hukum yang kuat bagi penyelenggaraan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.28/MEN/2008 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.28/MEN/2008 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.28/MEN/2008 TENTANG JENIS, TATA CARA PENERBITAN, DAN FORMAT DOKUMEN TINDAKAN KARANTINA IKAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN [LN 1996/99, TLN 3656]

UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN [LN 1996/99, TLN 3656] UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN [LN 1996/99, TLN 3656] BAB X KETENTUAN PIDANA Pasal 55 Barangsiapa dengan sengaja: a. menyelenggarakan kegiatan atau proses produksi, penyimpanan, pengangkutan,

Lebih terperinci

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN,

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 05/MEN/2005 TENTANG TINDAKAN KARANTINA IKAN UNTUK PENGELUARAN MEDIA PEMBAWA HAMA DAN PENYAKIT IKAN KARANTINA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, Menimbang

Lebih terperinci

Draft PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERSYARATAN PANGAN STERIL KOMERSIAL

Draft PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERSYARATAN PANGAN STERIL KOMERSIAL Draft PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERSYARATAN PANGAN STERIL KOMERSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN

Lebih terperinci

MEKANISME ALUR LAYANAN KARANTINA

MEKANISME ALUR LAYANAN KARANTINA MEKANISME ALUR LAYANAN KARANTINA PERSYARATAN DAN PROSEDUR ANTAR AREA KELUAR MP HPHK KATEGORI RESIKO TINGGI PERSYARATAN DAN PROSEDUR KELUAR Media Pembawa : DOC (ayam bibit) Negara / Daerah Tujuan : Sulawesi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.12/MEN/2011 TENTANG HASIL PERIKANAN DAN SARANA PRODUKSI BUDIDAYA IKAN DARI NEGARA JEPANG YANG MASUK KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.20, 2017 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Otoritas Veteriner. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 6019) PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 04/MEN/2005 TENTANG BENTUK DAN JENIS SERTA TATA CARA PENERBITAN DOKUMEN TINDAKAN KARANTINA IKAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 04/MEN/2005 TENTANG BENTUK DAN JENIS SERTA TATA CARA PENERBITAN DOKUMEN TINDAKAN KARANTINA IKAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: PER. 04/MEN/2005 TENTANG BENTUK DAN JENIS SERTA TATA CARA PENERBITAN DOKUMEN TINDAKAN KARANTINA IKAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA

PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Produksi 2010 Pendahuluan Dalam rangka menghadapi era globalisasi, maka produk perikanan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.15/MEN/2011 TENTANG PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG OTORITAS VETERINER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG OTORITAS VETERINER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG OTORITAS VETERINER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG OTORITAS VETERINER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG OTORITAS VETERINER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2017 TENTANG OTORITAS VETERINER DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.995, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMTAN. Penyediaan dan Peredaran Susu. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26/PERMENTAN/PK.450/7/2017 TENTANG PENYEDIAAN DAN PEREDARAN SUSU

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2016 TENTANG PERSYARATAN PANGAN STERIL KOMERSIAL

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2016 TENTANG PERSYARATAN PANGAN STERIL KOMERSIAL BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2016 TENTANG PERSYARATAN PANGAN STERIL KOMERSIAL DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Homogenisasi, Separasi, Susu Steril

Homogenisasi, Separasi, Susu Steril PENGOLAHAN SUSU Homogenisasi, Separasi, Susu Steril Materi 10 TATAP MUKA KE-10 Semester Genap 2015-2016 BAHAN KULIAH TEKNOLOGI HASIL TERNAK Laboratorium Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan Universitas

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.11/MEN/2011 TENTANG INSTALASI KARANTINA IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.11/MEN/2011 TENTANG INSTALASI KARANTINA IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.11/MEN/2011 TENTANG INSTALASI KARANTINA IKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Perhitungan sampel berdasarkan jumlah susu pasteurisasi yang diimpor dari Australia pada tahun 2011 yaitu 39 570.90 kg, sehingga jumlah sampel yang diuji dalam penelitian ini sebanyak

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 381/Kpts/OT.140/10/2005 TENTANG PEDOMAN SERTIFIKASI KONTROL VETERINER UNIT USAHA PANGAN ASAL HEWAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 381/Kpts/OT.140/10/2005 TENTANG PEDOMAN SERTIFIKASI KONTROL VETERINER UNIT USAHA PANGAN ASAL HEWAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 381/Kpts/OT.140/10/2005 TENTANG PEDOMAN SERTIFIKASI KONTROL VETERINER UNIT USAHA PANGAN ASAL HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a.

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KARANTINA HEWAN, IKAN, DAN TUMBUHAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KARANTINA HEWAN, IKAN, DAN TUMBUHAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG KARANTINA HEWAN, IKAN, DAN TUMBUHAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA 2016 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.127, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Keracunan Pangan. Kejadian Luar Biasa. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG KEJADIAN LUAR BIASA

Lebih terperinci

PEDOMAN TEKNIS SERTIFIKASI CARA KARANTINA IKAN YANG BAIK

PEDOMAN TEKNIS SERTIFIKASI CARA KARANTINA IKAN YANG BAIK PEDOMAN TEKNIS SERTIFIKASI CARA KARANTINA IKAN YANG BAIK KATA PENGANTAR Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan YME, karena atas rahmat dan hidayahnya, penyusunan Pedoman Teknis Sertifikasi Cara Karantina

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.15/MEN/2011 TENTANG PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pangan yang aman,

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN PROSEDUR DAN LEMBAR KERJA

PENGEMBANGAN PROSEDUR DAN LEMBAR KERJA PENGEMBANGAN PROSEDUR DAN LEMBAR KERJA BAHAYA BIOLOGIS BAHAYA KIMIA AMANKAN PANGAN dan BEBASKAN PRODUK dari BAHAN BERBAHAYA BAHAYA FISIK BEBAS BAHAYA Direktorat Surveilan dan Penyuluhan 1 PROSEDUR Direktorat

Lebih terperinci

Tanya Jawab Seputar DAGING AYAM SUMBER MAKANAN BERGIZI

Tanya Jawab Seputar DAGING AYAM SUMBER MAKANAN BERGIZI Tanya Jawab Seputar DAGING AYAM SUMBER MAKANAN BERGIZI KEMENTERIAN PERTANIAN DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN 2012 DAFTAR ISI 1. Apa Kandungan gizi dalam Daging ayam? 2. Bagaimana ciri-ciri

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN, KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA IKAN, PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN NOMOR 251/KEP-BKIPM/2013 TENTANG PROSEDUR OPERASIONAL STANDAR DAN SERVICE LEVEL ARRANGEMENT UNTUK IMPOR KOMODITAS IKAN

Lebih terperinci

PROFIL BALAI KARANTINA PERTANIAN KELAS I BANJARMASIN

PROFIL BALAI KARANTINA PERTANIAN KELAS I BANJARMASIN PROFIL BALAI KARANTINA PERTANIAN KELAS I BANJARMASIN Motto BKP Kelas I Banjarmasin Bersama Anda melindungi negeri... Kata Pengantar Kilas Balik Visi & Misi Tugas Pokok & Fungsi Tujuan Karantina Struktur

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.228, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN. Produksi. Pangan. Olahan. Formula. Bayi. Pedoman. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.17/MEN/2010 TENTANG PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE DALAM WILAYAH REPUBLIK INDONESIA DENGAN

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TAHUN 2011 TENTANG PENDAFTARAN PANGAN OLAHAN

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TAHUN 2011 TENTANG PENDAFTARAN PANGAN OLAHAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.03.1.5.12.11.09955 TAHUN 2011 TENTANG PENDAFTARAN PANGAN OLAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan bahan-bahan yang dapat dikonsumsi sehari-hari untuk. cair. Pangan merupakan istilah sehari-hari yang digunakan untuk

I. PENDAHULUAN. Pangan merupakan bahan-bahan yang dapat dikonsumsi sehari-hari untuk. cair. Pangan merupakan istilah sehari-hari yang digunakan untuk 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pangan merupakan bahan-bahan yang dapat dikonsumsi sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan tubuh yang memiliki dua bentuk yaitu padat dan cair. Pangan merupakan istilah

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR... TAHUN... TENTANG JEJARING KEAMANAN PANGAN DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR... TAHUN... TENTANG JEJARING KEAMANAN PANGAN DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH DRAFT 15 OKTOBER 2015 GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR... TAHUN... TENTANG JEJARING KEAMANAN PANGAN DAERAH DI PROVINSI JAWA TENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 05/Permentan/HK.060/3/06 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 05/Permentan/HK.060/3/06 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 05/Permentan/HK.060/3/06 TENTANG PERSYARATAN DAN TATA CARA PENETAPAN INSTALASI KARANTINA TUMBUHAN MILIK PERORANGAN ATAU BADAN HUKUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

2016, No Nomor 227, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5360); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Ikl

2016, No Nomor 227, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5360); 4. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Ikl No.1144, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BPOM. Pangan Steril Komersial. Persyaratan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2016 TENTANG PERSYARATAN PANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1983 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1983 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 1983 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. Bahwa kesehatan masyarakat veteriner mempunyai peranan penting

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KARANTINA HEWAN, IKAN, DAN TUMBUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KARANTINA HEWAN, IKAN, DAN TUMBUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KARANTINA HEWAN, IKAN, DAN TUMBUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Indonesia merupakan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN Nomor : 497.a/Kpts/PD /L/12/2008

KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN Nomor : 497.a/Kpts/PD /L/12/2008 KEPUTUSAN KEPALA BADAN KARANTINA PERTANIAN Nomor : 497.a/Kpts/PD.670.210/L/12/2008 TENTANG PEDOMAN PERSYARATAN TEKNIS INSTALASI KARANTINA HEWAN (IKH) UNTUK OBAT HEWAN GOLONGAN SEDIAAN BIOLOGIK DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Deskripsi Produk 2.1.1 Susu Kita mengenal beberapa bahan makanan yang mengandung sedikit atau tidak sama sekali bagian-bagian yang sangat diperlukan (vital) untuk tubuh kita. Dalam

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.946, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERDAGANGAN. Impor. Produk Hortikultura. Perubahan. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60/M-DAG/PER/9/2012 TENTANG PERUBAHAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 60/Permentan/OT.140/9/2012 TENTANG REKOMENDASI IMPOR PRODUK HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 60/Permentan/OT.140/9/2012 TENTANG REKOMENDASI IMPOR PRODUK HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 60/Permentan/OT.140/9/2012 TENTANG REKOMENDASI IMPOR PRODUK HORTIKULTURA Menimbang : a. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, bahwa sebagai tindak lanjut

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.148,2012 KEMENTERIAN PERTANIAN. Rekomendasi. Impor. Produk. Hortikultura. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03/Permentan/OT.140/1/2012 TENTANG REKOMENDASI

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN, PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PENGAWASAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN DAN PEREDARAN BAHAN BERBAHAYA YANG DISALAHGUNAKAN DALAM PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 12/Permentan/OT.140/2/2009 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 12/Permentan/OT.140/2/2009 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 12/Permentan/OT.140/2/2009 TENTANG PERSYARATAN DAN TATACARA TINDAKAN KARANTINA TUMBUHAN TERHADAP PEMASUKAN KEMASAN KAYU KE DALAM

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN PERATURAN NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG TATA CARA SERTIFIKASI CARA PRODUKSI PANGAN OLAHAN YANG BAIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang : a. bahwa dalam rangka melindungi

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1999 TENTANG LABEL DAN IKLAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1999 TENTANG LABEL DAN IKLAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 1999 TENTANG LABEL DAN IKLAN PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa salah satu tujuan pengaturan, pembinaan dan pengawasan pangan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32/PERMEN-KP/2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR 46/PERMEN-KP/2014 TENTANG PENGENDALIAN MUTU DAN

Lebih terperinci

Susu segar-bagian 1: Sapi

Susu segar-bagian 1: Sapi Standar Nasional Indonesia Susu segar-bagian 1: Sapi ICS 67.100.01 Badan Standardisasi Nasional Copyright notice Hak cipta dilindungi undang undang. Dilarang menyalin atau menggandakan sebagian atau seluruh

Lebih terperinci