BAB 12 GRADE DAN STANDAR PRODUK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB 12 GRADE DAN STANDAR PRODUK"

Transkripsi

1 BAB 12 GRADE DAN STANDAR PRODUK Pendahuluan Di AS standar pangan adalah keseluruhan peraturan yang berlaku untuk makanan baik sebelum maupun sesudah diolah, yang dikeluarkan secara resmi, setengah resmi ataupun tidak resmi berupa peraturan-peraturan dikeluarkan oleh perusahaan pengolahan. Di Indonesia Undang-undang pangan dan peraturan-peraturan yang menyangkut pangan masih dalam taraf pengembangan. Standar pangan diperlukan untuk menjamin: (1) Tidak ada penyebaran penyakit melalui pangan, (2) Membatasi pemasaran produk yang tidak layak jual, (3) mempermudah pemasaran. Makanan dapat menjadi sumber penyebab ataupun sumber penyebaran berbagai penyakit. Penyakit-penyakit tersebut dapat ditimbulkan oleh mikroorganisme pencemar yang ada dalam pangan tersebut akibat pengolahan tidak memadai atau penanganan pangan yang kurang sanitrasi/higenis. Disamping itu penyakit juga dapat disebabkan oleh komponen-komponen pangan itu sendiri seperti bahan-bahan racun alami BTM dan ketidak murnian lain. Akhir-akhir ini penerapan standar sanitasi dan higienis dalam pengolahan dan produk pangan mendapat perhatian amat besar seperti yang terlihat dari perlunya sertifikasi HACCP dan ISO. Standar pangan juga bertujuan untuk melindungi konsumen dari penipuan. Konsumen berhak mendapatkan informasi yang memadi agar dapat menentukan pilihan yang paling cocok baginya. Dengan adanya standar pangan maka perdagangan baik pada tingkat domestik maupun tingkat internasional sangat diperlancar, demikian pula perbedaan antara standar-standar pangan antar negara atau daerah/negara bagian propinsi, kabupaten dan sebagainya dengan mudah disesuaikan untuk memperlancar perdagangan. 230

2 Standar pangan menjadi sangat peting agar meningkatnya skala usaha produksi pangan dan semakin meluasnya penerimaan masyarakat terhadap produk makanan olahan dalam bab ini akan di bahas berbagai jenis standar pangan dan cara penerapannya secara umum, serta contoh-contoh standar yang diberlakukan pada beberapa produk pangan Pengertian dan Definisi Istilah Umum dalam Standar Pangan Standar pangan umumnya mencakup elemem-elemen sebagai berikut : 1) Definisi Produk Pangan Secara umum definisi suatu produk pangan harus dapat dipahami secara baik, termasuk kompoen-komponen yang menjadi ciri khasnya antara lain bahan ingredien, BTM, kualitas produk, dan lain-lain. Penerimaan suatu produk pangan harus jelas, singkat dan tidak menimbulkan keraguankeraguan pada konsumen. Contoh : Saos tomat vs. saus penyedap rasa tomat Kentang krispi vs. kripik kentang 2) Nama Produk Dalam standar pangan nama yang diberikan pada suatu produk harus sesuai dengan definisi produk tersebut, serta juga sesuai dengan semua peraturan yang ditetapkan oleh standar pangan tersebut. 3) Komposisi Standar komposisi mengacu kepada komponen-komponen khas dari makanan tersebut, dan tidak pernah mengacu kepada komponen pilihan/optional. 4) Ingredien/komponen tambahan Komponen ini dibedakan dalam 2 kelompok yaitu : a) Komponen pilihan/optional seperti rempah-rempah, bumbu zat gizi, dan b) bahan tambahan makanan (BTM) yang pada umumnya bukan zat 231

3 gizi/untuk meningkatkan karakteristik inderawi produk/warna, tekstur, penampakan, dan daya tahan simpan pangan. 5) Kualitas Standar kualitas pangan umumnya mencakup kandungan komponen utama, rasa, aroma, tekstur, kondisi, bebas cacat atau kapang, daya tahan simpan, sumber bahan baku yaitu alamai atau sintetis, cara pengolahan mekanis atau kimiawi, dan ukuran. 6) Higiene Pangan dapat berbahaya bagi kesehatan apabila bahan-bahan yang digunkan busuk atau tercemar selama penanganan dan pengolahan. Syarat dasar yang harus dipenuhi oleh bahan baku yang dipakai adalah tidak mengandung bahan berbahaya, bebas dari pencemaran atau uji kotoran serta bebas dari pembusukan atau uji jumlah kapang. 7) Residu Pestisida Untuk residu pestisida baik yang terdapat dalam pangan secara tidak sengaja atau sebagai akibat perlakuan pemberantasan hama di kebun, pada hasil pencemaran manapun pestisida yang digunkan di pabrik pengolahan terdapat batas-batas toleransi yaitu batas maksimum yang diperbolehkan ada 8) Pengemasan Kemasan untuk makanan ada yang tradisional seperti kaleng, botol dan ada yang lebih mutahkir seperti tetrapack, flexible pouch, sachet dan sebagainya. 9) Label Pada label harus tercantum identitas pangan dan komposisinya, jumlah pangan dalam dalam kemasan dan identitas pabrik pengolahan atau distributornya. 10) Sampling dan Analisis 232

4 Dalam menerapkan standar pangan langkah pertama yang diperlukan adalah samping, baik selama proses pengolahan pada produk akhir yang dihasilkan, maupun kedua-duanya. Analasis sampel umumnya mahal memakan waktu lama, memerlukan laboratorium yang lengkap serta tenaga kerja ahli. Meskipun demikian pekerjaan analisis harus dilakukan secara teratur agar pengadaan standar itu tercapai, termasuk standar pengolah perusahaan ataupun standarstandar yang berlaku lebih luas. Setiap standar biasanya mencantumkan pula cara-cara pengadaan sampling dan metode-metode analisis yang harus dilakukan Jenis-jenis Standar Berbagai jenis terminologi digunakan dalam berbagai jenis standar pangan. Beberapa terminologi antara lain 1. Standar itu dikatakan permissive bila melarang penggunaan bahanbahan selain yang di izinkan dalam standar itu mandatory bila dalam standar dikatakan produk harus mengandung. yang berarti produk itu harus sesuai dengan standar itu, tetapi tidak mengacu pada hukum yang mendasari standar tersebut. Standar itu prohibitory bila dalam standar itu dikatakan produk itu tidak boleh mengandung.. 2. Standar itu presumptive bila dikatakan jika produk mengandung bahan yang lebih dari x %, maka produk dinyatakan tercemar. Peraturan ini dipakai sebagai kriteria obyektif untuk menilai bahaya (harmfulness). 3. Resep standar menyatkan semua komponen yang harus ada dalam produk terkecil beberapa komponen optional pada jenis standar ini hanya komposisi produk, tetapi pada standar lengkap (complete standard) produk harus memenuhi bukan hanya komposisi yang diterapkan tetapi juga semua aspek standardisasi. Standar tidak lengkap ( partial standard ) hanya mencantumkan sebagian dari komponen- 233

5 komponen yang harus ada didalamnya, namun sebenarnya hampir semua standar pangan adalah demikian, meski tak disebutkan dengan gamblang. 4. Standar minimum atau kadang-kadang juga disebut platform standard atau minimum platform standard menyatakan produk harus mengandung sedikitnya bahan yang sebanyak x % yang mengambarkan aspek komposisi produk saja. Tetapi minimum platform standard ada kesan bahwa hal ini merupakan titik awal yang selanjutnya masih harus ditingkatkan hingga standar yang lebih lengkap. 5. Standar perdagangan (Trading Standard) adalah standar yang umumnya terlalu ketat untuk digunakan dibanyak negara-negara berkembang, tetapi digunkan dalam perdagangan internasional antara negara-negara industri serta dpat digunkan sebagai modul untuk diterapkan didalam masing-masing negara maju. 6. Standar komersial (Commercial Standard) adalah standar yang ditetapkan sendiri oleh suatu cabang perdagangan untuk diterapkan sendiri dalam bidang tersbeut, secara tidak tercakup dalam standar negara atau negara bagian Status Hukum Standar Standar legal (statutory / legal standard) didasarkan atas undang-undang peraturn yang mengikat yang dikeluarkan oleh pemerintah propinsi, kabupaten, kota praja, atau kesepakatan internasional atau pula kesepakatan kontrak antara berbagai pihak perlanggaran biasanya dikenakan sangsi atau denda. Pada umumnya istilah standar diartikann selalu sebagai standar legal. Standar sukarela (Voluntary Standard) penerapannya terbatas dan tidak memiliki kekuatan hukum. Standar ini biasanya digunakan antara organisasi perdagangan baik nasional maupun internasional sebagai pegangan untuk anggota-anggotanya. 234

6 Standar konsep (Draft Standard) adalah standar yang masih dalam taraf penyelesaiannya. Istilah ini timbul karena proses pembuatan standar panjang dan kompleks sehingga memerlukan istilah-istilah untuk menyatkan fase atau tahap yang telah dilalui. Standar sementara (Temporary Standard) adalah standar yang sah final tetapi diberlakukannya untuk kurun waktu tertentu saja Penerapan Standar Standar perusahaan atau standar kerja (Factory or work standard) dikeluarkan oleh pimpinan perusahaan untuk diterpkan secara intern dalam perusahaan agar roduk yang dipasarkan seragam. Umumnya standar perusahaan lebih rinci didapat standar masyarakat, namun jelas standar perusahaan harus memenuhi kriteria standar masyarakat. Standar kontrak (Contractual Standard) adalah standar yang disepakati antara pembeli dan penjual sesuai tujuan-tujuan yang ingin dicapai standar seperti ini bersifat mengikat secara hukum, tetapi hanya berlaku untuk pihak yang tersangkut. Standar nasional atau standar negara (national state standard) adalah standar yang dikeluarkan untuk oleh badan-badan resmi untuk diberlakukan di seluruh daerah kekuasaannya. Standar internasional (International standard) adalah standar yang diterima dan kadang-kadang diterpkan oleh berbagai negara, standar ini dpat diberlakukan di kawasan-kawasan dunia tertentu dalam perdagangan antara berbagai pihak dari negara-negara yang berbeda Inspeksi Di A.S standar-standar pangan dibuat dan diantau oleh dinas standarisasi dan dari Dep. Pertanian. Inspeksi ada 3 macam, yaitu : a. Inspeksi Kontinu 235

7 Petugas inspeksi menetap di perusahaan pengolahan dan memeriksa bahan baku, proses pengolahan, keadaan senitasi dan higien dan produk yang dihasilkan, serta mengeluarkan hasil temuan berupa grade produk pelegas membuat laporan harian dan pengusaha boleh mencantumkan pada label produk U.S Grade-nya. b. Inspeksi Pabrik sertifikasi Lot Inspeksinya sama seperti pada inspeksi kontinu tetapi petugas inspeksi tidak bertugas terus menerus di pabrik tersebut yang diinspeksi dan diberi sertifikat hanya lot yang diperiksa perusahaan juga tidak berhak mencantumkan U.S Grade pada label produk. c. Inspeksi Lot dan Grading Petugas hanya memeriksa lot tertentu sesuai permintaan pembelian atau penjual. Petugas datang warehouse lalu mengambil sampel representatif lalu menganalisisnya di laboratorium atau di tempat bila tersedia lab analisis selanjutnya dikeluarkan sertifikat dan grade produk dari lot tersbeut Pengembangan Grade Dan Standar Kualitas Pangan Tahap-tahap dalam Pembuatan Grade dan Standar Kualitas Langkah-langkah dalam pengambangan grade dan standar kualitas pangan adalah sebagai berikut : 1. Menetapkan parameter-parameter kualitas yang tetap untuk produk pangan tertentu. 2. Menetapkan metode-metode analisis obyektif dan korelasinya dengan hasil uji inderansi untuk tiap parameter kualitas metode analisis harus mudah serta tepat dan berkorelasi tinggi dengan hasil uji inderansi. 3. Menetapkan skala hasil analisis beserta grade-nya untuk tiap parameter kualitas. 236

8 4. Semua parameter kualitas diberi bobot dan digabungkan untuk mendapatkan standar kualitas untuk produk pangan tersbeut. Penetapan parameter-parameter kualitas penting untuk perusahaan pengolahan, konsumen maupun lembaga-lembaga pemerintah terkait. Umumnya diamati parameter-parameter kualitas yang dipecah pecahkan menjadi komponen-komponen kualitas karena kualitas produk adalah gabungan dari berbagai karakteristik produk tersbeut. Karakteristik-karakteristik itu dapat diukur secara fisik atau instrumen atau secara kimia Evaluasi Metode-metode Analisis Setelah menetapkan parameter-parameter kualitas untuk suatu produk tertentu, tahap selanjutnya adalah mengadakan studi pustaka untuk menentukan metode terbaik untuk mengukur parameter kualitas tersebut. Untuk ini sebaiknya juga dilakukan konsultasi dengan pakar-pakar atau ahli-ahli. Metode analisis yang terpilih untuk menganalisis suatu faktor kualitas selanjutnya diuji cobakan pada sampel terbatas (10-50) dengan cariasi kualitas cukup besar. Dari hasil yang diperoleh umumnya sebagai besar dari metode analisis yaitu yang tidak memberikan hasil yang tepat atau yang korelasinya dengan hasil uji inderawi rendah, dapat disingkirkan. Selanjutnya prosedur analisis yang tersisa diujicobakan pada sampel yang besar ( ) sampel tersebut harus memiliki kisaran kualitas dari yang terburuk sampai terbaik yang ada di pasaran. Cara sampling tidak boleh menggunakan cara acak, tetapi diusahakan diperoleh jumlah sampel yang sama untuk diusahakan diperoleh jumlah sampel yang sama untuk seluruh kisaran kualitas produk. Bersama dengan itu dilakukan uji inderawi dengan menggunakan panel terlatih dengan sampel duplo. Panelis ( Difference Grading Panel ) diminta untuk menilai perbedaan antara sampel dengan suatu skala numerik. Untuk ini jangan sekali-kali hasil analisis yang diperoleh dengan 237

9 metode-metode obyektif kemudian dikolerasikan dengan hasil uji inderawi: makin tinggi koefisien korelasinya makin tepat metode obyektif tersebut pada umumnya koefisien korelasi antara hasil yang di dapat dari 2 panel tidak pernah lebih besar dari Oleh karena itu, koefisien korelasi 0,94 antara hasil metode obyektif dan hasil uji inderawi dinilai sepadan sempurna, sedangkan koefisien kolerasi 0,90 antara hasil uji inderawi dan 2 panel dinilai sudah sangat baik Penilaian dengan patokan di atas absah apabila sampel yang di pakai meliputi kisaran kualitas komersial dan tersebar merata dalam kesaran kualitas tersebut. Metode analisis yang di pilih harus mudah, cepat dan memberikan hasil yang tepat karena akan digunakan secara rutin Menetapkan Skala Grade (Grade Scale) Setelah di peroleh metode analisis yang memberikan hasil yang tepat dan teriti, serta mudah dan cepat dalam peraksaannya, maka tahap selanjutnya adalah menetapkan skala yang menerjemahkan nilai hasil analisis dengan metode obyektif ke dalam tesminologi kualitas yang di pahami oleh produser maupun konsumen misalnya nilai AIS (Alkohol Insoluble Solids) untuk biji jagung manis kaleng sebesar 20% adalah fancy quality, sedangkan nilai AIS 21% adalah extra standard quality dan nilai melebihi 27 % adalah Substandard quality, untuk memperoleh skala grade seperti ini diperlukan kembali panel untuk uji. Pada tahap ini di butuhkan difference preference grading panel, panel ini menetapkan grade dengan suatu skala numerik dan harus menyatakan baik nilai kesukaan maupun perbedaan, sampel terbaik di beri skor tertinggi. Skala nuerik yang dipakai dapat berbeda tergantung tujuan penggunaan, untuk penilaian/skoring diatas kondisi sub-standar digunkan skala 1 10 yaitu sub-standar diberi skala 1, standard diberi skala 2,3,4 extra standard diberi skala 5, 6, 7 dan fancy diberi skala 8, 9, 10. selanjutnya nilai ekivalen untuk hasil metode obyektif diperoleh dari persamaan regresi antara skor dari panel dan hasil analisis dengan metode obyektif. 238

10 Pembobotan Parameter Kualitas Kualitas menyeluruh dari suatu produk pangan diperoleh dengan cara pembobotan tiap parameter kualitas menurut urutan kepentingannya, pembobotan dilakukan setiap parameter kualitas berdasarkan pengalaman dan penilaian orang yang ditugaskan untuk membuat standar tersbeut. Pembobotan juga dapat dilakukan secara obyektif dengan menggunkan korelasi ganda atau multiple correlation yaitu hasil uji obyektif dikorelasikan dengan skor umum yang diberikan oleh difference preference panel, lalu bobot relatif didapatkan dari pertimbangan statistik pada perusahaan korelasi dan regresiasinya Penerapan standar kualitas Setelah metode pengukuran didapatkan, pembobotan tiap parameter kualitas ditetapkan dari kisaran aspek ditentukan maka selanjutnya standar kualitas itu siap untuk diuji cobakan. Untuk ini perlu disusun secara prosedur sampling yang tidak terlalu destruktif atau terlalu memakan waktu tetapi masih cukup tetap untuk menilai suatu lot produk Di AS standar kualitas tentatif ini dan hasil penerapannya di umumkan di Federal Register, lalu diadakan jumpa pers dengan pihak-pihak yang berkepentingan dan yang harus diminta untuk mempelajari usulan tersbeut dan memasukkan pendapat masing-masing. Selanjutnya semua komentar dikaji ulang dan standar kualitas dalam bentuk finalnya diterbitkan kembali dalam Federal Register berikut tanggal efektif pemberlakuannya. Press release kemudian juga disampaikan pada jurnaljurnal perdagangan. Akhirnya standar kualitas dalam bentuk brosur dicetak ribuan lembar dan didistribusikan pada yang memerlukan tanpa biaya. 239

11 Sistem Skoring US Grade Standard Umumnya digunakan skor bernilai 100 dan untuk setiap parameter kualitas ditetapkan skornya. Biasannya jumlah skor adalah top grade (A), 8 89 indermediate grade (B) dan standar grade (C) kadang-kadang bila jumlah skor mencapai 90, tetapi setelah satu parameter mendapat skor rendah, maka grade kualitas dikurunkan, selain itu ditetapkan pula skor batas atas dan bawah untuk beberapa faktor tertentu dalam standar kualitas produk pangan tertentu. Pada tabel 12.1 dan 12.2 disajikan contoh skor parameter kualitas untuk US Grade standard bagi sayuran beku dan kaleng Standar Sayuran Kaleng dan Beku Grade dan standar kualitas pangan dapat diperoleh dari US DA (US Dep. of Agriculture) untuk produk pangan A.S dan dari Codex Alimentarius Commission of the FAO/WHO untuk produk pangan internasional Contoh Standar Kualitas Wortel Kaleng Wortel kaleng Definisi : Wortel kaleng dibuat dari akar tanaman wortel (Daucus carota L.) yang bersih dan baik, bebas dan daun, bagian-bagian hijau dan kulit, pengolahan dilakukan dengan cara pengemas bahan dengan air atau larutan garam. Tabel 12.1 Peta Skoring US Grade Standard untuk Sayuran Beku No Produk Bebas dari cacat Warna Sifat Konsistensi Keterangan Tekstur Kelunakan dan derajat maturitas 1 Brokoli Blumkol Wortel Jagung manis 5 K.polong

12 Tabel 12.2 Peta Skor bagi U.S. Grade Standard untuk sayur kaleng No Produk Bebas dari cacat Warna Citarasa Sifat Konsistensi Keseragaman Kelunakan dan derajat Kejernihan cairan kaleng maturitas 1 Buncis Wortel Bubur jagung (Cream style corn) 4 Jagung manis 5 Jamur Dalam kemasan yang ditutup hermetis untuk mencegah pembusukan, lalu diproses termal. Style : Waktu Wortel kaleng dapat berbentuk wortel untuk iris bundar, panjang, kubus, rajang halus Komponen optional dan cacat : Komponen optional meliputi garam, sukrosa, gula invert, dekstrosa, sirup glukosa dan bubuk sirup glukosa. Wortel kaleng harus praktis bebas dari cacat dan tidak boleh terdapat lebih dari 3 unit cacat, dalam unit sampel sebanyak 300 g cacat itu dapat berupa : Keseluruhan berat Kerusakan Retak Bagian-bagian hijau Bahan asing nabati Unit tak terkupas Kontaminasi Timah putih Jenis Cacat Satuan cacat Masing-masing 14 mm 2 (diam. lingkaran 4 mm) Masing-masing 28 mm 2 (diam. lingkaran 6 mm) Masing-masing 50 mm 2 (diam. lingkaran 8 mm) Masing-masing 50 mm 2 (diam. lingkaran 8 mm) 1 gram 250mm 2 (diam. lingkaran 16 mm) Maksimum 250 mg/kg dihitung sebagai Sn) 241

13 Berat dan Ukuran : Kemasan harus terisi dengan wortel paling sedikit 90 % dari volume kemasan apabila diisi dengan air. Drained weight tak boleh kurang dari 55% dari berat air apabila kemasan diisi bagi kemasan berdiameter kurang dari 8 cm, serta tidak kurang dari 58 % untuk kaleng berdiameter 8 cm keatas. Label asal. : Label harus mencantumkan nama produk, daftar komposisi lengkap, berat netto, nama dan alamat perusahaan pengolahan dan negeri Higiene : Produk harus bebas dari cemaran, bila diuji dengan metode sampling dan analisis yang sesuai tidak boleh ada jenis m.o yang dapat tumbuh pada kondisi penyimpanan nasional dan tidak boleh mengandung racun m.o. produk harus mendapatkan proses termasuk cukup untuk membunuh spora Clostridium botulinum Lain-lain : Sampling harus dilakukan seperti untuk pre-packagedfood Standar Kualitas Wortel Beku Definisi : Wortel beku dibuat dari akar tanaman wortel (Daucus carota L.) segar melalui proses pencucian, sortasi, triming, blansing dan pembekuan yang mengikuti GMP dan disimpan pada suhu yang diperlukan untuk pengawetan produk tersbeut. Style : Style wortel beku meliputi wortel utuh, wortel belah, wortel dibagi empat bentuk irisan, kubus, irisan halus, cip dan cut. Grade : U.S Grade A (Fancy) adalah kualitas wortel beku dari style apa saja kecuali cip yang memiliki karakteristik varitas yang sama, bau dan 242

14 citarasa normal, dan warna yang baik, ukuran yang hampir seluruhnya seragam, lunak, dan memerlukan skor paling sedikit 90 pada sistem skoring yang berlaku. U.S Grade B (Extra Standard) adalah kualitas wortel baku dari semua jenis style, yang memiliki karakteristik varietas yang sama, bau dan cita rasa yang normal, dan warna yang cukup baik, ukuran dan bentuk yang cukup seragam untukstyle tersebut, tidak banyak yang cacat, cukup lunak dan memperoleh skor minimal 80. Sub-standard adalah kualitas wortel baku yang tidak memenuhi persyaratan U.S. Grade B. Faktor-faktor kualitas : Karakteristik varietas cita rasa dan bau dinilai tetapi tidak diberi skor, faktor kualitas yang diberi nilai skor adalah warna, keseragaman bentuk dan ukuran, ada/tidaknya, cacat dan tekstur, skor maksimum untuk faktor kualitas tersebut dapat dilihat pada Tabel Penilaian skor untuk warna keseragaman ukuran dan bentuk, dan ada tidaknya cacat dilakukan segera setelah produk beku itu dileburkan yaitu setelah bebas dari kristal es dan lepas satu sama lain untuk penilaian tekstur, cita rasa dan aroma, sampel harus dimasak dulu. Cita rasa dan aroma normal menggambarkan karakteristik dari wortel beku setelah thawing atau pemasakan yang bebas dari cita rasa dan bau menyimpang. Penilaian terhadap warna produk wortel yang telah dileburkan meliputi keseragaman warna dan kecerahan dari warna khas wortel yaitu kuning sampai kuning-oranye. Adanya bercak-bercak hijau, putih, oranye-kecoklatan juga diikutsertakan dalam skor bila mempengaruhi warna secara menyeluruh. Penilaian terhadap keseragaman ukuran, kebebasan dari cacat mengikuti standar yang berlaku untuk US Grade A dan B, sedangkan untuk cacat terdapat standar untuk persen dan jenis cacat yang diizinkan 243

15 Penilaian terhadap tekstur dilakukan setelah pemasakan dan meliputi kelunakan benyek (sangat lunak dan berair) dan tidak adanya bagian-bagian kasar atau berserat. Ringkasan Setelah mempelajari bab ini saudara diharapkan dapat : 1. Menjelaskan definisi dan tujuan standar produk pangan 2. Menyebutkan dan menjelaskan istilah-istilah umum dalam standar pangan 3. Menyebutkan jenis-jenis standar pangan 4. Menjelaskan pengembangan grade dan standar kualitas pangan Latihan/ Tugas 1. Jelaskan pentingnya standar untuk berbagai jenis produk pangan 2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis standar pangan 3. Jelaskan salah satu contoh penerapan standar kualitas pada produk pangan Kajian Lanjutan Untuk lebih memperdalam bab grade dan standard produk disarankan membaca buku-buku di atas serta mencari literatur lainnya dari internet. Daftar Pustaka 1. Luh,B.S dana J.G Woodroof Commercial Vegetable Processing. Van Nostrand Reinhold, New York. 2. Karlsson, B Storage Life and Quality Retention.Dalam Luh, B.S. dan J.G. Woodroof. Comercial Vegetable Processing. Van Nostrand Reinhold, New York, NY. 244

Peluang Usaha Budidaya Cabai?

Peluang Usaha Budidaya Cabai? Sambal Aseli Pedasnya Peluang Usaha Budidaya Cabai? Potensinya terbuka, baik pasar bebas maupun industri. Kebutuhan cabai perkapita (2013) adalah 5 Kg/ tahun. Dengan jumlah penduduk 230 juta jiwa, maka

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN UMUM Pangan merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar karena berpengaruh terhadap

Lebih terperinci

MENERAPKAN TEKNIK PENGOLAHAN SUHU TINGGI KD 1 PRINSIP-PRINSIP PENGAWETAN DENGAN PENGOLAHAN

MENERAPKAN TEKNIK PENGOLAHAN SUHU TINGGI KD 1 PRINSIP-PRINSIP PENGAWETAN DENGAN PENGOLAHAN 1 MENERAPKAN TEKNIK PENGOLAHAN SUHU TINGGI KD 1 PRINSIP-PRINSIP PENGAWETAN DENGAN PENGOLAHAN Pengalengan Metode pengawetan dengan pengalengan ditemukan oleh Nicolas Appert, seorang ilmuwan Prancis. Pengertian

Lebih terperinci

Ikan beku Bagian 1: Spesifikasi

Ikan beku Bagian 1: Spesifikasi Standar Nasional Indonesia Ikan beku Bagian 1: Spesifikasi ICS 67.120.30 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi...

Lebih terperinci

Bab 21. Bahan Tambahan Makanan (BTM), Keamanan Pangan dan Perlindungan Konsumen

Bab 21. Bahan Tambahan Makanan (BTM), Keamanan Pangan dan Perlindungan Konsumen Bab 21. Bahan Tambahan Makanan (BTM), Keamanan Pangan dan Perlindungan Konsumen 21. 1. Pendahuluan Pangan Masyarakat - Aman untuk Kesehatan -Murni (halal komposisi sesuai label) - Nilai Ekonomi Wajar

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN SERTA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN SERTA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN SERTA PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK HASIL PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Buah jambu biji (Psidium guajava) memiliki rasa yang enak dan segar serta memiliki banyak manfaat bagi kesehatan dan juga kecantikan manusia. Buah jambu biji telah lama

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 21 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN PERETENSI WARNA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Bubur buah (puree) mangga adalah bahan setengah jadi yang digunakan sebagai

I. PENDAHULUAN. Bubur buah (puree) mangga adalah bahan setengah jadi yang digunakan sebagai I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bubur buah (puree) mangga adalah bahan setengah jadi yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan minuman sari buah atau nektar, produk roti, susu, permen, selai dan jeli

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. harus aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan kimia

BAB I PENDAHULUAN. harus aman dalam arti tidak mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan kimia 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makanan dan minuman merupakan satu faktor yang cukup besar pengaruhnya terhadap derajat kesehatan masyarakat. Makanan dan minuman harus aman dalam arti tidak mengandung

Lebih terperinci

Teknologi pangan adalah teknologi yang mendukung pengembangan industri pangan dan mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya mengimplementasikan

Teknologi pangan adalah teknologi yang mendukung pengembangan industri pangan dan mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya mengimplementasikan Teknologi Pangan Teknologi pangan adalah teknologi yang mendukung pengembangan industri pangan dan mempunyai peran yang sangat penting dalam upaya mengimplementasikan tujuan industri untuk memenuhi permintaan

Lebih terperinci

II. KETENTUAN HUKUM TERKAIT KEAMANAN PANGAN. A. UU Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

II. KETENTUAN HUKUM TERKAIT KEAMANAN PANGAN. A. UU Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 II. KETENTUAN HUKUM TERKAIT KEAMANAN PANGAN A. UU Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dalam BAB XA mengenai Hak Asasi Manusia pada pasal

Lebih terperinci

1. mutu berkecambah biji sangat baik 2. dihasilkan flavour yang lebih baik 3. lebih awet selama penyimpanan

1. mutu berkecambah biji sangat baik 2. dihasilkan flavour yang lebih baik 3. lebih awet selama penyimpanan KOPI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYIMPANAN PADA BAHAN PENYEGAR Mutu kopi dipengaruhi pengolahan dari awal - pemasaran. Kadar air kopi kering adalah 12-13% 13% Pada kadar air ini : 1. mutu berkecambah

Lebih terperinci

PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA DAN GLUKOSA PADA PEMBUATAN PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK

PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA DAN GLUKOSA PADA PEMBUATAN PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK PENGARUH PENAMBAHAN SUKROSA DAN GLUKOSA PADA PEMBUATAN PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING TERHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK (Laporan Penelitian) Oleh RIFKY AFRIANANDA JURUSAN TEKNOLOGI HASIL

Lebih terperinci

balado yang beredar di Bukittinggi, dalam Majalah Kedokteran Andalas, (vol.32, No.1, Januari-juni/2008), hlm. 72.

balado yang beredar di Bukittinggi, dalam Majalah Kedokteran Andalas, (vol.32, No.1, Januari-juni/2008), hlm. 72. BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Mutu bahan makanan pada umumnya sangat bergantung pada beberapa faktor, diantaranya cita rasa, warna, tekstur, dan nilai gizinya. Sebelum faktor-faktor lain dipertimbangkan,

Lebih terperinci

SNI Standar Nasional Indonesia. Filet kakap beku Bagian 1: Spesifikasi

SNI Standar Nasional Indonesia. Filet kakap beku Bagian 1: Spesifikasi Standar Nasional Indonesia Filet kakap beku Bagian 1: Spesifikasi ICS 67.120.30 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan normatif...1 3 Istilah dan

Lebih terperinci

MODUL 5 PIZZA IKAN. Indikator Keberhasilan: Mutu pizza ikan yang dihasilkan memiliki tekstur yang lembut, rasa dan aroma khas ikan.

MODUL 5 PIZZA IKAN. Indikator Keberhasilan: Mutu pizza ikan yang dihasilkan memiliki tekstur yang lembut, rasa dan aroma khas ikan. MODUL 5 PIZZA IKAN Standar Unit Kompetensi: Setelah mempelajari materi ini, mahasiswa mampu membuat pizza ikan yang enak, bertekstur lembut dan rasa yang lezat. Indikator Keberhasilan: Mutu pizza ikan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. JENIS PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian eksperimen di bidang teknologi pangan.

BAB III METODE PENELITIAN. A. JENIS PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian eksperimen di bidang teknologi pangan. BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian eksperimen di bidang teknologi pangan. B. TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN Pembuatan sirup rosella dilakukan di Laboratorium Teknologi

Lebih terperinci

SAP DAN SILABI KEAMANAN PANGAN PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN UNIVERSITAS PASUNDAN

SAP DAN SILABI KEAMANAN PANGAN PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN UNIVERSITAS PASUNDAN SAP DAN SILABI KEAMANAN PANGAN PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN UNIVERSITAS PASUNDAN KATA PENGANTAR Satuan acara perkuliahan (SAP) atau garis besar program pembelajaran (GBPP)merupakan panduan bagi dosen

Lebih terperinci

PENENTUAN KADALUWARSA PRODUK PANGAN

PENENTUAN KADALUWARSA PRODUK PANGAN PENENTUAN KADALUWARSA PRODUK PANGAN HANDOUT MATA KULIAH : REGULASI PANGAN (KI 531) OLEH : SUSIWI S JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA F P M I P A UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009 Handout PENENTUAN KADALUWARSA

Lebih terperinci

2016 ACARA I. BLANCHING A. Pendahuluan Proses thermal merupakan proses pengawetan bahan pangan dengan menggunakan energi panas. Proses thermal digunak

2016 ACARA I. BLANCHING A. Pendahuluan Proses thermal merupakan proses pengawetan bahan pangan dengan menggunakan energi panas. Proses thermal digunak PETUNJUK PRAKTIKUM TEKNOLOGI PENGOLAHAN PANGAN II Disusun oleh : Nur Aini Condro Wibowo Rumpoko Wicaksono UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS PERTANIAN PURWOKERTO 2016 ACARA I. BLANCHING A. Pendahuluan

Lebih terperinci

SAFETY FOOD (Keamanan Pangan) A. Prinsip Safety Food

SAFETY FOOD (Keamanan Pangan) A. Prinsip Safety Food SAFETY FOOD (Keamanan Pangan) A. Prinsip Safety Food Safety Food (keamanan pangan) diartikan sebagai kondisi pangan aman untuk dikonsumsi. Safety Food secara garis besar digolongkan menjadi 2 yaitu aman

Lebih terperinci

SNI Standar Nasional Indonesia. Saus cabe

SNI Standar Nasional Indonesia. Saus cabe Standar Nasional Indonesia Saus cabe ICS 67.080.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah dan definisi... 1 4 Syarat

Lebih terperinci

Kepiting (Scylla Serrata) kulit lunak beku Bagian 1: Spesifikasi

Kepiting (Scylla Serrata) kulit lunak beku Bagian 1: Spesifikasi Standar Nasional Indonesia Kepiting (Scylla Serrata) kulit lunak beku Bagian 1: Spesifikasi ICS 67.120.30 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL (Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul) Nomor : 3 Tahun : 2016

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL (Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul) Nomor : 3 Tahun : 2016 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL (Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul) Nomor : 3 Tahun : 2016 PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG KEAMANAN PANGAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

ADDENDUM DOKUMEN PENGADAAN. Nomor : 001/RS-ULP/LSPBM-BBRVBD/04/2016

ADDENDUM DOKUMEN PENGADAAN. Nomor : 001/RS-ULP/LSPBM-BBRVBD/04/2016 KEMENTERIAN SOSIAL REPUBLIK INDONESIA BALAI BESAR REHABILITASI VOKASIONAL BINA DAKSA (BBRVBD) UNIT LAYANAN PENGADAAN Jl. SKB No. 5 Karadenan Cibinong Bogor, 16913 Telp. (0251) 8654702 8654705 Fax. 8654701

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Jumlah pasar tradisional yang cukup banyak menjadikan salah satu pendukung

I. PENDAHULUAN. Jumlah pasar tradisional yang cukup banyak menjadikan salah satu pendukung I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Jumlah pasar tradisional yang cukup banyak menjadikan salah satu pendukung tersedianya sampah khususnya sampah organik. Sampah organik yang berpeluang digunakan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. pembuatan tahu adalah kacang kedelai (Glycine max Merr) dengan kandungan

II. TINJAUAN PUSTAKA. pembuatan tahu adalah kacang kedelai (Glycine max Merr) dengan kandungan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ampas Tahu Ampas tahu merupakan limbah dari pembuatan tahu. Bahan utama pembuatan tahu adalah kacang kedelai (Glycine max Merr) dengan kandungan protein sekitar 33-42% dan kadar

Lebih terperinci

PENILAIAN ORGANOLEPTIK

PENILAIAN ORGANOLEPTIK PENILAIAN ORGANOLEPTIK HANDOUT MATA KULIAH : REGULASI PANGAN (KI 531) OLEH : SUSIWI S JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA F P M I P A UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2009 Handout : PENILAIAN ORGANOLEPTIK (Oleh :

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kembang gula atau yang biasa disebut dengan permen merupakan produk makanan yang banyak disukai baik tua maupun muda karena permen mempunyai keanekaragaman rasa, warna,

Lebih terperinci

CARA PRODUKSI PANGAN Jejaring Promosi Keamanan Pangan dalam Sistem Keamanan Pangan Terpadu Nasional SIAP SAJI YANG BAIK

CARA PRODUKSI PANGAN Jejaring Promosi Keamanan Pangan dalam Sistem Keamanan Pangan Terpadu Nasional SIAP SAJI YANG BAIK CARA PRODUKSI PANGAN Jejaring Promosi SIAP SAJI YANG BAIK BAHAYA BIOLOGIS BAHAYA KIMIA AMANKAN PANGAN dan BEBASKAN PRODUK dari BAHAN BERBAHAYA BAHAYA FISIK BEBAS BAHAYA Direktorat Surveilan dan Penyuluhan

Lebih terperinci

penyakit kardiovaskuler (Santoso, 2011).

penyakit kardiovaskuler (Santoso, 2011). I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sayur-sayuran dan buah-buahan merupakan sumber serat pangan yang mudah ditemukan dalam bahan pangan dan hampir selalu terdapat pada hidangan sehari-hari masyarakat Indonesia,

Lebih terperinci

Memperkenalkan Makanan pada Bayi.

Memperkenalkan Makanan pada Bayi. Memperkenalkan Makanan pada Bayi. Bayi sangat membutuhkan nutrisi yang baik untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan pertama dan utama bayi pada enam bulan pertama kehidupannya.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. akan tetapi sering dikonsumsi sebagai snack atau makanan selingan. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang gizi

BAB 1 PENDAHULUAN. akan tetapi sering dikonsumsi sebagai snack atau makanan selingan. Seiring dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat tentang gizi BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di Indonesia pembuatan roti pada umumnya terbuat dari bahan dasar tepung terigu. Roti bukan makanan pokok masyarakat Indonesia, akan tetapi sering dikonsumsi sebagai

Lebih terperinci

Kulit masohi SNI 7941:2013

Kulit masohi SNI 7941:2013 Standar Nasional Indonesia ICS 65.020.99 Kulit masohi Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini

Lebih terperinci

Meningkatkan Nilai Tambah Bawang Merah Oleh: Farid R. Abadi

Meningkatkan Nilai Tambah Bawang Merah Oleh: Farid R. Abadi Meningkatkan Nilai Tambah Bawang Merah Oleh: Farid R. Abadi Bawang merah merupakan komoditas hortikultura yang memiliki permintaan yang cukup tinggi dalam bentuk segar. Meskipun demikian, bawang merah

Lebih terperinci

SNI Standar Nasional Indonesia. Saus tomat ICS Badan Standardisasi Nasional

SNI Standar Nasional Indonesia. Saus tomat ICS Badan Standardisasi Nasional Standar Nasional Indonesia Saus tomat ICS 67.080.20 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan normatif...1 3 Istilah dan definisi...1 4 Persyaratan...1

Lebih terperinci

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa

Lebih terperinci

ASPEK MIKROBIOLOGIS PENGEMASAN MAKANAN

ASPEK MIKROBIOLOGIS PENGEMASAN MAKANAN ASPEK MIKROBIOLOGIS PENGEMASAN MAKANAN Anna Rakhmawati,M.Si Jurusan Pendidikan Biologi FMIPA UNY Email:anna_rakhmawati@uny.ac.id Bahan makanan merupakan salah satu kebutuhan primer manusia yang penting

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 224/Menkes/SK/II/2007 TENTANG SPESIFIKASI TEKNIS MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI)

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 224/Menkes/SK/II/2007 TENTANG SPESIFIKASI TEKNIS MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 224/Menkes/SK/II/2007 TENTANG SPESIFIKASI TEKNIS MAKANAN PENDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI) MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

CARA MEMBUAT: -Potong ayam menjadi 2 bagian atau belah membujur dadanya dan tekan hingga terbuka lebar. -Lumuri bumbu halus hingga rata

CARA MEMBUAT: -Potong ayam menjadi 2 bagian atau belah membujur dadanya dan tekan hingga terbuka lebar. -Lumuri bumbu halus hingga rata (Resep 1).. Serba Ayam Ayam Tulang Lunak 1 ekor ayam 50 g gula Jawa, sisir halus 1 sdm air asam Jawa kental 2,5 liter air kelapa 5 lembar daun salam 4 cm lengkuas, memarkan minyak goreng Bumbu, haluskan:

Lebih terperinci

KECAP KEDELAI 1. PENDAHULUAN

KECAP KEDELAI 1. PENDAHULUAN KECAP KEDELAI 1. PENDAHULUAN Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa dan lain-lain merupakan bahan pangan sumber protein dan lemak nabati yang sangat

Lebih terperinci

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NOMOR: 659/MENKES/SK/X/1991 TENTANG CARA PEMBUATAN OBAT TRADISIONAL YANG BAIK MENTERI KESEHATAN Menimbang : a. bahwa untuk membuat obat tradisional yang memenuhi persyaratan

Lebih terperinci

Bunga. Sayuran. Cold Storage. Hortikultura

Bunga. Sayuran. Cold Storage. Hortikultura Cold Storage Hortikultura Panen C 6 H 12 O 6 + O 2 Respirasi 6 CO 2 + 6 H 2 O + 673 Kal Umur simpan produk Tergantung dari laju evolusi panas Kondisi lingkungan daun buah Sayuran : kailan, brokoli, horenzo,

Lebih terperinci

PEMBUATAN TEPUNG JAGUNG

PEMBUATAN TEPUNG JAGUNG PEMBUATAN TEPUNG JAGUNG Qanytah Tepung jagung merupakan butiran-butiran halus yang berasal dari jagung kering yang dihancurkan. Pengolahan jagung menjadi bentuk tepung lebih dianjurkan dibanding produk

Lebih terperinci

PROFIL USAHA KRIPIK TALES

PROFIL USAHA KRIPIK TALES PROFIL USAHA KRIPIK TALES SARI MURNI ALAMI A. Pendahuluan SARI MURNI ALAMI adalah perusahaan rumahan atau home industri yang memproduksi, mendistribusikan, dan menawarkan produk berupa kripik talas. SARI

Lebih terperinci

Lampiran 1. Pengukuran tingkat penerapan Good Manufacturing Practice

Lampiran 1. Pengukuran tingkat penerapan Good Manufacturing Practice 113 LAMPIRAN 113 114 Lampiran 1. Pengukuran tingkat penerapan Good Manufacturing Practice 1 Lokasi Lokasi produksi harus jauh dari tempattempat yang menjadi sumber cemaran, seperti: tempat pembuangan sampah,

Lebih terperinci

RAHASIA FORMULIR PENDAFTARAN PRODUK PANGAN

RAHASIA FORMULIR PENDAFTARAN PRODUK PANGAN RAHASIA FORMULIR PENDAFTARAN PRODUK PANGAN B A D A N P E N G A W A S O B A T D A N M A K A N A N R E P U B L I K I N D O N E S I A Jl. Percetakan Negara No. 23 Jakarta Pusat Tel. 4244691 4209221 4263333

Lebih terperinci

Pengawetan pangan dengan pengeringan

Pengawetan pangan dengan pengeringan Pengawetan pangan dengan pengeringan Kompetensi Mahasiswa memahami teknologi pengeringan sederhana dan mutakhir, prinsip dan perubahan yang terjadi selama pengeringan serta dampak pengeringan terhadap

Lebih terperinci

Resep Makanan Bayi. (6-8 Bulan) Copyright TipsBayi.com & KartuBayi.com

Resep Makanan Bayi. (6-8 Bulan) Copyright TipsBayi.com & KartuBayi.com Resep Makanan Bayi (6-8 Bulan) Copyright TipsBayi.com & KartuBayi.com Resep Makanan Bayi (6 Bulan, 7 Bulan, 8 Bulan) Bayi Anda sudah berusia 6 bulan? Jika Anda seperti para bunda lainnya, pasti Anda sedang

Lebih terperinci

PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TEHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN ORGANOLEPTIK PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING. (Laporan Penelitian) Oleh

PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TEHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN ORGANOLEPTIK PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING. (Laporan Penelitian) Oleh PENGARUH JENIS KEMASAN DAN LAMA PENYIMPANAN TEHADAP SIFAT KIMIA, MIKROBIOLOGI, DAN ORGANOLEPTIK PERMEN KARAMEL SUSU KAMBING (Laporan Penelitian) Oleh PUTRI CYNTIA DEWI JURUSAN TEKNOLOGI HASIL PETANIAN

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK 45 ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK Perilaku konsumen dalam mengkonsumsi dangke dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat setempat. Konsumsi dangke sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan bersifat turun

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TENTANG KOSMETIK

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TENTANG KOSMETIK KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.00.05.4.1745 TENTANG KOSMETIK Menimbang : a. bahwa penggunaan kosmetik pada saat ini sudah merupakan suatu kebutuhan bagi masyarakat; b. bahwa

Lebih terperinci

>> PENDAHULUAN >> TUJUAN >> MANFAAT

>> PENDAHULUAN >> TUJUAN >> MANFAAT >> PENDAHULUAN Pedoman Cara Ritel Pangan yang Baik di Pasar Tradisional adalah acuan yang digunakan dalam melakukan kegiatan ritel pangan di pasar tradisional dan dalam rangka pengawasan keamanan pangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Telur adalah salah satu sumber protein yang dikonsumsi oleh sebagian besar

BAB I PENDAHULUAN. Telur adalah salah satu sumber protein yang dikonsumsi oleh sebagian besar BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Telur adalah salah satu sumber protein yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat dan merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan terbesar bagi tercapainya

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA Pengasapan Ikan. Pengasapan adalah salah satu teknik dehidrasi (pengeringan) yang dilakukan

II. TINJAUAN PUSTAKA Pengasapan Ikan. Pengasapan adalah salah satu teknik dehidrasi (pengeringan) yang dilakukan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengasapan Ikan Pengasapan adalah salah satu teknik dehidrasi (pengeringan) yang dilakukan untuk mempertahankan daya awet ikan dengan mempergunakan bahan bakar kayu sebagai penghasil

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu tempat pengolahan tempe milik pasangan

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di salah satu tempat pengolahan tempe milik pasangan III. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di salah satu tempat pengolahan tempe milik pasangan Bapak Jono dan Ibu Griyasih di Jl. Padjajaran Gg. Danau Toba No. 17

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. tebu, bit, maple, siwalan, bunga dahlia dan memiliki rasa manis. Pohon aren adalah

I PENDAHULUAN. tebu, bit, maple, siwalan, bunga dahlia dan memiliki rasa manis. Pohon aren adalah I PENDAHULUAN Pada bab ini akan diuraikan mengenai : (1) Latar Belakang Penelitian, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesa

Lebih terperinci

The First Food Technology Undergraduate Program Outside of North America Approved by the Institute of Food Technologists (IFT)

The First Food Technology Undergraduate Program Outside of North America Approved by the Institute of Food Technologists (IFT) Department of Food Science and Technology Bogor Agricultural University http://itp.fateta.ipb.ac.id Tujuan Aturan Label dan Iklan Pangan (PP 69/1999) Terciptanya perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN BAHAN PENGKARBONASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT

Lebih terperinci

GMP (Good Manufacturing Practices) Cara Pengolahan Pangan Yang Baik

GMP (Good Manufacturing Practices) Cara Pengolahan Pangan Yang Baik GMP (Good Manufacturing Practices) Cara Pengolahan Pangan Yang Baik HANDOUT MATA KULIAH : REGULASI PANGAN (KI 531) OLEH : SUSIWI S JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA F P M I P A UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Lebih terperinci

Benih panili (Vanilla planifolia Andrews)

Benih panili (Vanilla planifolia Andrews) Standar Nasional Indonesia Benih panili (Vanilla planifolia Andrews) ICS 65.020 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi... 1 3

Lebih terperinci

BAB IX SANITASI PABRIK

BAB IX SANITASI PABRIK BAB IX SANITASI PABRIK Sanitasi merupakan suatu kegiatan yang terencana terhadap lingkungan produksi, bahan baku, peralatan dan kebersihan, kesehatan, kesejahteraan pekerja, mencegah terjadinya pencemaran

Lebih terperinci

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 14 TAHUN 2013 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENGGUNAAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN PROPELAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN,

Lebih terperinci

I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka

I PENDAHULUAN. Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Pemikiran, (6) Hipotesis, dan (7)

Lebih terperinci

KISI-KISI MATERI PLPG MATA PELAJARAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN

KISI-KISI MATERI PLPG MATA PELAJARAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN KISI-KISI MATERI PLPG MATA PELAJARAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN No Standar Guru (SKG) Inti Guru (KI) Guru Mata a b C D E 1 PEDAGOGIK Menguasai karakteristik peserta didik dari aspek fisik, moral,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1. Kandungan Gizi dan Vitamin pada Ikan Layur

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1. Kandungan Gizi dan Vitamin pada Ikan Layur BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan layur (Trichiurus sp.) adalah salah satu jenis ikan demersal ekonomis penting yang banyak tersebar dan tertangkap di perairan Indonesia terutama di perairan Palabuhanratu.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Identifikasi Kerusakan Buah Apel Fuji Sun Moon. Identifikasi kerusakan merupakan tahapan awal penanganan sortasi buah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Identifikasi Kerusakan Buah Apel Fuji Sun Moon. Identifikasi kerusakan merupakan tahapan awal penanganan sortasi buah BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Identifikasi Kerusakan Buah Apel Fuji Sun Moon Identifikasi kerusakan merupakan tahapan awal penanganan sortasi buah apel fuji sun moon di Hypermart Gorontalo. Tahapan sortasi

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. nama latin Carica pubescens atau Carica candamarcencis. Tanaman ini masih

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. nama latin Carica pubescens atau Carica candamarcencis. Tanaman ini masih 6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Komoditas Tanaman Carica Tanaman carica atau biasa disebut papaya dieng atau gandul dieng memiliki nama latin Carica pubescens atau Carica candamarcencis. Tanaman ini masih

Lebih terperinci

PENGOLAHAN ANEKA SAUS. Disusun Oleh : Ir. Sutrisno Koswara, MSi

PENGOLAHAN ANEKA SAUS. Disusun Oleh : Ir. Sutrisno Koswara, MSi PENGOLAHAN ANEKA SAUS Disusun Oleh : Ir. Sutrisno Koswara, MSi Ebookpangan.com 2009 1 1. SAUS ATAU SAMBAL CABE Sambal telah lama dikenal sebagai penggugah dan penambah selera makan. Sejalan dengan kemajuan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.00.05.23.3644 TE N TA N G KETENTUAN POKOK PENGAWASAN SUPLEMEN MAKANAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Tuna loin segar Bagian 1: Spesifikasi

Tuna loin segar Bagian 1: Spesifikasi Standar Nasional Indonesia Tuna loin segar Bagian 1: Spesifikasi ICS 67.120.30 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan normatif...1 3 Istilah dan

Lebih terperinci

Pengasapan pangan. Kuliah ITP

Pengasapan pangan. Kuliah ITP Pengasapan pangan Kuliah ITP Kompetensi Mahasiswa memahami teknologi pengasapan sederhana dan mutakhir, prinsip dan perubahan yang terjadi serta dampak pengasapan terhadap mutu pangan Indikator Setelah

Lebih terperinci

Benih kelapa dalam (Cocos nucifera L. var. Typica)

Benih kelapa dalam (Cocos nucifera L. var. Typica) Standar Nasional Indonesia Benih kelapa dalam (Cocos nucifera L. var. Typica) ICS 65.020 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi...

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pangan yang aman, bermutu

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL TANAMAN PANGAN

TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL TANAMAN PANGAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL TANAMAN PANGAN Mochamad Nurcholis, STP, MP Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian-Universitas Brawijaya Jl. Veteran-Malang, Telp./Fax. 0341-569214 Email

Lebih terperinci

Biji mete kupas (cashew kernels)

Biji mete kupas (cashew kernels) Standar Nasional Indonesia Biji mete kupas (cashew kernels) ICS 67.080.10 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Halaman Daftar isi...i 1 Ruang lingkup...1 2 Definisi... 1 3 Istilah... 1 3.1 Biji utuh

Lebih terperinci

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 39/PUU-XIV/2016 Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai terhadap Komoditas Pangan

RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 39/PUU-XIV/2016 Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai terhadap Komoditas Pangan RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Nomor 39/PUU-XIV/2016 Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai terhadap Komoditas Pangan I. PEMOHON 1. Dolly Hutari P, S.E., (Pemohon I) dan 2. Sutejo (Pemohon II) Kuasa Hukum Edu

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian telah dilaksanakan di PT. Graha Insan Sejahtera yang berlokasi di salah satu Perusahaan Perikanan Samudera Nizam Zachman, Jalan Muara

Lebih terperinci

LKS 01 MENGIDENTIFIKASI ZAT ADITIF DALAM MAKANAN

LKS 01 MENGIDENTIFIKASI ZAT ADITIF DALAM MAKANAN LKS 01 MENGIDENTIFIKASI ZAT ADITIF DALAM MAKANAN A. Kompetensi Dasar: 3.7 Mendeskripsikan zat aditif (alami dan buatan) dalam makanan dan minuman (segar dan dalam kemasan), dan zat adiktif-psikotropika

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sebagai bahan utamanya dan bumbu pelengkap seperti terasi, garam, asam jawa.

I. PENDAHULUAN. sebagai bahan utamanya dan bumbu pelengkap seperti terasi, garam, asam jawa. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Rujak manis adalah semacam salad yang dibuat dari campuran potongan buah segar dengan saus manis pedas. Bumbu rujak manis terbuat dari gula merah, sebagai bahan utamanya

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari hasil penentuan mutu biji kakao yang diperoleh dengan berdasarkan uji

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Dari hasil penentuan mutu biji kakao yang diperoleh dengan berdasarkan uji BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Hasil Dari hasil penentuan mutu biji kakao yang diperoleh dengan berdasarkan uji visual dan kadar air dapat dilihat pada Tabel berikut : Tabel 2 hasil yang di dapat No Jenis

Lebih terperinci

Benih lada (Piper nigrum L)

Benih lada (Piper nigrum L) Standar Nasional Indonesia Benih lada (Piper nigrum L) ICS 65.020 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Istilah dan definisi... 1 3 Syarat mutu...

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Proses Pembuatan Gula Pabrik gula adalah suatu pabrik yang berperan mengubah bahan baku tebu menjadi kristal produk yang memenuhi syarat. Di dalam proses kristalisasi dilakukan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG CARA PRODUKSI KOSMETIKA YANG BAIK MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa langkah utama untuk menjamin keamanan kosmetika adalah penerapan

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Industri keripik pisang milik Bapak Heriyanto di

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Industri keripik pisang milik Bapak Heriyanto di III. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Industri keripik pisang milik Bapak Heriyanto di Jalan Pagar Alam atau Gang PU Kecamatan Kedaton Bandar Lampung, Laboratorium

Lebih terperinci

PENYIMPANAN BUAH DAN SAYUR. Cara-cara penyimpanan meliputi : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN SEGAR (BUAH, SAYUR DAN UMBI)

PENYIMPANAN BUAH DAN SAYUR. Cara-cara penyimpanan meliputi : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN SEGAR (BUAH, SAYUR DAN UMBI) PENYIMPANAN BUAH DAN SAYUR FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYIMPANAN BAHAN MAKANAN SEGAR (BUAH, SAYUR DAN UMBI) Cara-cara penyimpanan meliputi : 1. penyimpanan pada suhu rendah 2. penyimpanan dengan

Lebih terperinci

I. PERANAN AIR DI DALAM BAHAN PANGAN. terjadi jika suatu bahan pangan mengalami pengurangan atau penambahan kadar air. Perubahan

I. PERANAN AIR DI DALAM BAHAN PANGAN. terjadi jika suatu bahan pangan mengalami pengurangan atau penambahan kadar air. Perubahan I. PERANAN AIR DI DALAM BAHAN PANGAN A. PENDAHULUAN Air merupakan komponen yang penting dalam pangan. Banyak perubahan kimia yang terjadi jika suatu bahan pangan mengalami pengurangan atau penambahan kadar

Lebih terperinci

SOAL UKG 2015 PAKET KEAHLIAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN No. Kompetensi. Standar Kompetensi Guru Utaman

SOAL UKG 2015 PAKET KEAHLIAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN No. Kompetensi. Standar Kompetensi Guru Utaman SOAL UKG 2015 PAKET KEAHLIAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERIKANAN No Kompetensi Standar Kompetensi Guru 0 Utaman KOMPETENSI GURU KOMPETENSI GURU MATA Indikator Esensial / Indikator Pencapaian a b c d e

Lebih terperinci

TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PENANGANAN HASIL PERTANIAN TPPHP

TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PENANGANAN HASIL PERTANIAN TPPHP TEKNOLOGI PENGOLAHAN DAN PENANGANAN HASIL PERTANIAN TPPHP 1 Deskripsi Singkat : Mata kuliah Teknologi Penanganan dan Pengolahan Hasil Pertanian (TPPHP) merupakan kuliah yang mempelajari peran TPPHP dalam

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Keamanan Pangan 2.2. Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan

II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Keamanan Pangan 2.2. Sistem Jaminan Mutu dan Keamanan Pangan II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Keamanan Pangan Keamanan pangan adalah jaminan bahwa pangan tidak akan menyebabkan bahaya kepada konsumen jika disiapkan atau dimakan sesuai dengan maksud dan penggunaannya (FAO/WHO

Lebih terperinci

ANALISIS ORGANOLEPTIK PADA HASIL OLAHAN SOSIS IKAN AIR LAUT DAN AIR TAWAR

ANALISIS ORGANOLEPTIK PADA HASIL OLAHAN SOSIS IKAN AIR LAUT DAN AIR TAWAR ANALISIS ORGANOLEPTIK PADA HASIL OLAHAN SOSIS IKAN AIR LAUT DAN AIR TAWAR Ridawati Marpaung 1 Asmaida Abstract Penelitian ini bertujuan melakukan analisis organoleptik dari hasil olahan sosis ikan air

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE

BAB III BAHAN DAN METODE BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2013 di PT. AGB Palabuhanratu Kabupaten Sukabumi-Jawa Barat. 3.2 Alat dan Bahan Penelitian 3.2.1 Alat

Lebih terperinci

EVALUASI SENSORI KONSUMEN PADA DODOL RUMPUT LAUT (Eucheuma cottoni) DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG KANJI DAN TEPUNG KETAN.

EVALUASI SENSORI KONSUMEN PADA DODOL RUMPUT LAUT (Eucheuma cottoni) DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG KANJI DAN TEPUNG KETAN. EVALUASI SENSORI KONSUMEN PADA DODOL RUMPUT LAUT (Eucheuma cottoni) DENGAN PENAMBAHAN TEPUNG KANJI DAN TEPUNG KETAN Ira Maya Abdiani Staf Pengajar Jurusan Budidaya Perairan FPIK Universitas Borneo Tarakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2)

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) BAB I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai: (1) Latar Belakang Masalah, (2) Identifikasi Masalah, (3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (4) Manfaat Penelitian, (5) Kerangka Penelitian, (6) Hipotesis Penelitian,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi wilayah PT. Cipta Frima Jaya adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam penanganan pasca panen (pembekuan) untuk hasil perikanan, yang merupakan milik Bapak

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pangan yang aman,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pangan yang aman,

Lebih terperinci

From Farm to Fork...

From Farm to Fork... TITIS SARI KUSUMA From Farm to Fork... GAP GHP GTP GHP GLP GMP Konsumen Praktek Produksi yang baik (GMP) Merupakan kombinasi dari produksi dan prosedur pengawasan kualitas yang ditujukan untuk memastikan

Lebih terperinci

PT MUTUAGUNG LESTARI

PT MUTUAGUNG LESTARI Bagian 1. Informasi Umum Nama : Nama Kebun : Jenis Tanaman : Alamat : Kota : Propinsi : Kode Pos : Negara : Tanggal : Telepon : Fax : Email : Ruang lingkup tanaman yang akan disertifikasi Jumlah petani

Lebih terperinci