ATRAKSI, PRODUK WISATA, DAN EVENT WISATA DARI TEORI KE PRAKTIK

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ATRAKSI, PRODUK WISATA, DAN EVENT WISATA DARI TEORI KE PRAKTIK"

Transkripsi

1 ATRAKSI, PRODUK WISATA, DAN EVENT WISATA DARI TEORI KE PRAKTIK Ni Made Eka Mahadewi Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali ABSTRACT The purpose of this paper is to review of attraction, tourist product and tourism even theory of Bali as a tourism destination. Based on study case of tourism event in Bali, by linking theories to industry practice. This paper advocates that tourism destination affected by attraction and events. This paper offers a good understanding of attraction, tourist product, tourism event and its impact to destination. By using description kuantitatifmethod of analysis found that (i) Tourism activity in tourism destination iss a part informing tourism activities (ii) The involvement of tourist in tourism destination is not optimal so that make less of impression by tourist itself to tourism destination (iii) Tourist consumption such as cultural event could be developed in details activity (iv) For Baali, combinationof tourism theory could bebasic consideration in tourism development in Bali. Keywords : Tourism event, tourist attraction, cultural event, tourism destination. PENDAHULUAN Bali memiliki keunikan dari sisi budaya dibandingkan dengan daerah wisata lainnya di Indonesia. Keunikan inilah yang memberikan nilai yang berbeda juga bagi wisatawan untuk memilih Bali sebagai daerah tujuan wisata. Dukungan pemerintah yang dikuatkan dengan adanya peraturan Perda 3/1990 tentang Pariwisata Budaya, seakan-akan menggerakkan setiap aktivitas destinasi wisata selalu mengacu pada budaya Bali. Dapat dikatakan, industri pariwisata yang terlibat di Bali, sebagian besar seakan tunduk pada aturan ini. Berbagai sumber mengungkapkan, bahwa destinasi wisata adalah bergantung dari atraksi. Dan atraksi adalah produk wisata dalam industri keparwisataan. Dari sisi persepktif kepariwisataan, industri pariwisata mengacu pada semua aktivitas yang menawarkan dan menjual produkproduk pariwisata. Menurut Middleton, (2009:20) produk pariwisata didefinisikan sebagai A bundle or package of tangible and intangible component, based on activity at destination. The package is perceived by the tourist as an experience available at price. Ini berarti bahwa produk pariwisata adalah semua bentuk aktivitas manusia yang terjadi di daerah destinasi. Dengan demikian sebenarnya produk pariwisata itu bukan hanya atraksi saja, tapi meliputi semua aktivitas wisatawan, Jurnal Perhotelan dan Pariwisata, Agustus 2012, Vol.2 No.1 hal.1

2 seperti menikmati, melihat, merasakan, mendengar, mengamati, dan membeli semua bentuk barang dan jasa yang ditawarkan di daerah destinasi. Sementara itu, Cooper (1990) dalam bukunya Tourism Principle and Practice, menjelaskan bahwa area wisata itu tidak hanya terdiri atas destinasi wisata itu sendiri, tetapi juga daerah asal dan daerah transit atau daerah yang dilewati oleh wisatawan selama melakukan kegiatan pariwisata. Aktivitas di daerah tujuan wisata, adalah bentuk atraksi-atraksi wisata. A. ATRAKSI WISATA Setiap orang bisa membuat susunan atraksi wisata, beberapa yang terkenal di dunia maupun pada kota-kota kecil seperti: Angkor Wat, Disneyland, the Eiffel Tower, Kuta Beach, Kakadu National Park, Sydney Opera House, the Big Banana, Whales at Byron Bay, Bledisloe Cup matches. Permasalahannya adalah apakah yang menyebabkan wisatawan tertarik kepada pemandangan, tempat-tempat, objek serta peristiwaperistiwa tersebut, itulah yang menarik untuk dibahas dalam mengungkap pentingnya atraksi wisata (Leiper, 2004:305). Swarbrooke (1995:3) menyatakan atraksi merupakan sektor yang sangat kompleks dalam industri pariwisata. Menurutnya ada beberapa buku yang khususnya membahas tentang atraksi ada beberapa definisi yang tidak semua dapat diterima secara umum. Berikut beberapa kutipan dari berbagai definisi tentang atraksi: Atraksi adalah sesuatu yang permanen dalam daerah tujuan wisata. Atraksi ditujukan kepada pengunjung, yang tujuan utamanya untuk memberikan hiburan, bersenang-senang, pendidikan, menyaksikan sesuatu yang menarik. Hal ini terbuka untuk umum tanpa harus ada pemesanan, harus di publikasikan setiap tahun dan dapat menarik wisatawan maupun masyarakat lokal setiap hari. (Scottish Touris Board, 1991) Atraksi juga merupakan sumber daya yang bersifat alami, dikontrol dan diatur untuk kegiatan bersenangsenang, hiburan, musik dan pendidikan, serta dikunjungi oleh publik (Middleton, 1988) Dari berbagai penelitian ilmiah bidang pariwisata, definisi mengenai atraksi beserta hal-hal yang terkait didalamnya oleh Ritchie dan Zinns (1978) serta Ferrario (1979), pengklasifikasian atraksi dapat dilihat seperti keindahan alam, iklim, situs, dan budaya. Menurut Stear (Leiper, 2004:305) kebanyakan penulis tidak jelas dalam memaparkan fungsi sebuah atraksi karena menggunakan kalimat khiasan. Istilah-istilah seperti atraksi, gambar, ketertarikan, faktor pendorong, pengaruh grafitasi memiliki kekuatan mempengaruhi tingkah laku wisatawan, yang merupakan kekuatan dari sebuah atraksi di seluruh dunia. Tempattempat, bangunan-bangunan, objek dan peristiwa-peristiwa yang biasa dikenal sebagai atraksi wisata yang populer (Bondi Beach, Disneyland, Gracelands, the Empire State Building, whales, Pandas) menurut Stear tidaklah sepenuhnya memiliki kekuatan untuk mempengaruhi tingkah laku wisatawan. Terkait dengan Bali, ketertarikan pada atraksi adalah faktor yang Jurnal Perhotelan dan Pariwisata, Agustus 2012, Vol.2 No.1 hal.2

3 menentukan pilihan mereka untuk berkunjung ke Bali (Mahadewi, 2004). Definisi atraksi wisata yang lain adalah segala hal yang membuat wisatawan tertarik (Lundberg,1985: 33); atraksi bisa berupa situs atraksi atau peristiwaperistiwa, dimana keduanya merupakan pengaruh gravitasi yang mempengaruhi (Burkart dan Medlik,1974: 44); atraksi adalah merupakan daya pikat, jika tidak demikian, tidak bisa dikatakan sebagai sebuah atraksi (Gunn,1972: 37), terkadang alam dan sejarah mempunyai daya tarik intrinsik (Gunn,1979: 71) dan, yang paling nyata, saya yakin bahwa objek wisata memiliki kesatupaduan, keunggulan unik yang mampu menarik wisatawan (Schmidt, 1989: 447). Dari berbagai peristilahan dan definisi berbagai ahli pariwisata, dapat dikatakan bahwa kata atraksi, daya pikat merupakan kata yang menarik dalam penjabaran atraksi wisata. Namun hal ini pun masih ditentang kembali oleh Pigram (1983:193), bahwa atraksi sebagai daya pikat bukanlah semata-mata sebuah kesatupaduan. Ungkapan seperti atraksi, faktor pendorong, kesatupaduan memiliki arti yang biasa. Makna yang lebih berarti, akan terungkap ketika terjadinya suatu proses. Melalui contoh Bumi menjaga keseimbangan dengan daya tarik gravitasi, dan magnet menarik besi dengan gaya tarik magnet. Proses tersebut melibatkan sebuah kesatupaduan sifat didalam menarik suatu benda yang mampu membuat suatu perubahan fisik dan menggerakkan benda lain didalam suatu area. Sebagai tempat yang menawarkan atraksi, daerah tujuan wisata mempunyai keistimewaan pada suatu wilayah sebagai suatu tempat untuk berlibur dengan kriteria sebagai berikut: 1. Sesuatu yang menarik wisatawan yang berbeda dari tempat asalnya dimana wisatawan dapat melakukan aktivitas yang sesuai dengan keinginannya. 2. Memberikan kesenangan dan pengalaman yang menarik, kepuasan pengunjung/wisatawan untuk menghabiskan waktu berliburnya. 3. Mengembangkan potensi pengetahuan/pendidikan 4. Menyajikan atraksi wisata, memberikan kesenangan kepada wisatawan. 5. Kemungkinan membayar dalam kunjungannya (Walsh-Heron and Stevens, 1990 ed. Swarbrooke, 1995:4) Dari definisi diatas, Atraksi wisata terbagai dalam 4 kelompok (Swarbrooke,1996:5) 1. Menonjolkan keistimewaan kealamian lingkungan 2. Terbentuk dari buatan manusia, struktur dan tempatnya tergantung kepada tujuan para pengunjung, seperti kegiatan budaya dan tempat bersejarah, akan tetapi sekarang ada beberapa wisatawan yang menggunakannya untuk kegiatan bersantai 3. Terbentuk dari buatan manusia, struktur dan tempatnya dengan desain untuk menarik wisatawan dan kebutuhan tujuan mereka seperti seperti Taman Safari 4. Special event Jurnal Perhotelan dan Pariwisata, Agustus 2012, Vol.2 No.1 hal.3

4 PRODUK WISATA Lazar and Kelley (1962:413) yang diadopsi oleh Hebestreit (1975:82 ed Scmoll,1976:22-32) menyebutkan instrumen produk pariwisata terdiri dari beberapa hal yaitu: (1) pelayanan kepada wisatawan; (2) kualitas produk, (3) harga produk, (4) kondisi tempat penyelenggaraan produk, (5) transportasi, (6) akomodasi, (7) entertainment, (8) jasa travel agent, (9) pedagang pengecer. Sedangkan Lickorish (1958:216 ed Scmoll,1976:46) menyebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan terhadap destinasi wisata sebagai sebuah produk terdiri dari (1) harga, (2) Atraksi wisata, (3) Fasilitas wisata,(4) pelayanan wisata, (5) aksessibilitas, (6) pelayanan awal perjalanan, (7) informasi wisata, (8), image, (9) asosiasi wisata. Swarbrooke (1995: 36) mengemukakan atraksi wisata adalah a service product. Sebagai sebuah produk jasa (Sasser, 1978 ed Swarbrooke), maka (1) atraksi wisata yang ditawarkan didalamnya termasuk pelayanan yang diberikan oleh tenaga kerja yang bekerja disektor tersebut. (2) ada konsumen yang menikmati produk atraksi wisata yang ditawarkan, (3) atraksi wisata tidak bisa diukur (not standardize), yang artinya produk wisata sangat tergantung dari proses terjadinya penawaran produk yang melibatkan pengelola, pelayanan dan konsumen. (4) produk wisata dapat rusak dan bersifat tidak bisa disimpan (perishable and cannot be stored), yang artinya proses produksi dan konsumsi terjadi secara bersamaan. (5) produk wisata tidak bisa dibawa pulang, dan harus dinikmati di destinasi penghasil produk tersebut. Yang bisa dibawa pulang hanyalah pengalaman selama menikmati produk wisata yang telah dinikmati. (6) Lingkungan/atmosphere tempat diselenggarakannya produk merupakan faktor penting bagi produkyang ditawarkan. EVENT WISATA Peristilahan yang menyangkut Event dalam tulisan ini mengungkapkan lingkup (a)festivals, Special Event, Mega Event (Getz:1991), (b) Major Event (Torkildson,1986:456). Pengertian event dalam kamus secara umum dapat berarti sesuatu yang terjadi, kejadian, sebagai suatu hasil atau bagian dari kegiatan olahraga (Getz, 1991:43). A special event is a onetime or infrequently occurring event outside the normal program or activities of the sponsoring or organizing body.to the customer, a special event is an opportunity for a leisure, social, or cultural experience outside the normal range of choices or beyond everyday experience. Menurut Getz (1991:45), dalam bukunya Festivals, Special Event and Tourism, memberikan gambaran Pariwisata event dilihat dari sisi penawaran. Terdapat 7 (tujuh) elemen yang ada dalam sebuah daerah tujuan wisata untuk kategori event. Adapun ketujuh elemen tersebut (1) infrastruktur (2) akomodasi (3)transportasi (4) atraksi (5) katering (6) pedagang pengecer (7)sarana rekreasi atau hiburan. Karakteristik dari Pariwisata event adalah sebagai berikut : Jurnal Perhotelan dan Pariwisata, Agustus 2012, Vol.2 No.1 hal.4

5 1. Terbuka untuk umum 2. Tujuan utamanya untuk memperingati atau memamerkan tema tertentu 3. Diselenggarakan dalam jangka waktu setahun atau kurang 4. Ada acara pembukaan dan penutupan 5. Struktur organisasi yang dibentuk tidak permanen 6. Program acara terdiri dari beberapa aktivitas 7. Seluruh aktivitas diselenggarakan pada tempat dan lokasi yang sama dalam satu wilayah. Event muncul sebagai sektor yang signifikan dan berkembang serta dipandang sebagai memiliki dampak ekonomi, sosial budaya dan politik yang signifikan. Secara bersamaan, menurut Arcodia dan Whitfield (2006), Buch (2006), Chalip (2006), Hughes (2007) pada Tassiopoulus (2009), telah terjadi peningkatan minat merancang caracara untuk mengidentifikasi berbagai biaya dan manfaat yang terkait dengan penyelenggaraan event. Special event memainkan peranan penting dalam kebudayaan modern. Dalam budaya barat, special event sering digunakan untuk mengembangkan citra positif dari daerah tujuan wisata, dan digunakan untuk menarik wisatawan. Pada intinya, special event memberikan kesempatan kepada manusia untuk meluangkan diri mereka dari rutinitas kehidupan sehari-hari (Getz, 1997; Jago, 1997). As a onetime or infrequently occuring event of limited duration, special events can, therefore, play an important role for attendees by providing them with an opportunity for leisure, social and cultural experiences, beyond everyday experiences. Dalam waktu yang terbatas, special event memainkan peranan penting bagi peserta yang telah diberikan kesempatan untuk pengalaman rekreasi, sosial dan budaya, di luar pengalaman sehari-hari (Getz, 1997; Jago, 1997 ). PENYELENGGARAAN EVENT DI KOTA DENPASAR Penelitian ini dilaksanakan di Kota Denpasar yang merupakan ibukota Provinsi Bali yang mempunyai program kerja penegmbangan pariwisata budaya. Pengumpulan data secara kualitatif berdasarkan studi literatur diperoleh dengan menyoroti aktivitas/kegiatan kepariwisataan yang meliputi (a) jenis kegiatan-kegiatan atraksi budaya kota Denpasar, (b) pengelola kegiatan-kegiatan atraksi budaya di Kota Denpasar, (c) Lokasi tempat penyelenggaraan atraksi budaya, (d) narasumber yang memahami dan memiliki peran penting dan berkompetensi dalam pengembangan event wisata. Penelitian ini difokuskan untuk menentukan atraksi budaya yang dapat dikemas sebagai produk event wisata. Dengan metode penggunaan data primer, informasi diperoleh melalui wawancara (interview) dengan narasumber. Sedangkan data sekunder dilakukan melalui studi pustaka yang relevan. Buku-buku tentang Bali terutama yang menyangkut kota Denpasar beserta fenomenanya dalam kepariwisataan, merupakan referensi dalam penelitian ini. Dengan menggunakan pedoman wawancara dan Daftar Periksa Atraksi-Event Wisata, dapat diketahui atraksi budaya Kota Denpasar yang dikemas menjadi bentuk event budaya adalah Jurnal Perhotelan dan Pariwisata, Agustus 2012, Vol.2 No.1 hal.5

6 seperti tabel 1 berikut. Terdapat lebih dari puluhan atraksi budaya di Kota Denpasar. Dari studi kepustakaan, Denpasar sebagai bagian dari Bali dalam kurun waktu setahun atau dalam 365 hari, Bali mempunyai hari raya suci umat Hindu (rerahinan) sebanyak 139 hari. Dalam kurun waktu setahun itu juga terdapat sekitar hari baik untuk melakukan kegiatan ritual, baik yang menyangkut hari baik upacara Panca Yadnya, pertanian-pengairan, peternakan-perikanan, perumahankesenian-perdagangan serta lainnya. (Wisma, 2008). Untuk kegiatan ritual tersebut diperkirakan pelaksanaan ritual dilakukan di sekitar pura diseluruh Bali (Kalender Bangbang Gde Rawi dan putra-putranya, 2009). Dari ketentuan ini, layaklah Bali dikatakan dengan sebutan Bali Seribu Pura. Tabel 2 pada halaman selanjutnya menunjukkan kategori event budaya Kota Denpasar yang telah dianalisis, dinyatakan sebagai bentuk event budaya yang mempunyai kriteria sebagai bentuk event wisata. Berdasrkan pada konsep dan teori Event, Special Event and Tourism; atraksi budaya Kota Denpasar yang dapat dikategorikan sebagai produk event wisata adalah pawai Ogoh-ogoh, Med-medan, Pesta Kesenian Bali, Sanur Village Festival, Denpasar Festival dan Serangan Festival. Tabel 1 Events Budaya Kota Denpasar No. Name of Events Type of Event Schedule 1. Ogoh-ogoh paper-mache parade Community & Cultural Event March/April*) 2. Nyepi (Silence Day) Hallmark Event March/April*) 3 Med-medan Community & Cultural Event March/April*) (Tug of kissing war) 4 Bali Art Festival/BAF Community and Cultural Event June July (Festival) 5 Kite Festival Community Event July 6 National Children Day ( Painting Competition, Culinary Community Event July show, Parade and show) 7 Tumpek Kandang Community Event July *) Cow competition 8 Sanur Village Festival (SVF) Community & Cultural Event August (Festival) 9 17Agustus /Independent Day, ( Pillow Fight, Fishing Community Event August Competition, Duck catching Competition,Pole Climbing Competition, Badung River music competition ) 10 Saraswati Science Day (Denpasar Book Fair) Community Event September *) 11 Endek Garment Design competition Community Event September Fashion Show, Children Competition 12 Maha Bhandana Prasada religious ceremony Community & Cultural Event September 13 Tumpek Landep/Religious celebration for metal related Community Event October *) equipment, (Kris show, Culinary show, Seminar, Musical show) 14 Gema Perdamaian Community and Spiritual Event October (Love and Peace celebration) 15 Puputan Badung commemoration Maha Bhandana Pershada Community & Cultural Event November 16 Serangan Island Festival Festival November 17 Denpasar Great Sale Community Event December 18 Denpasar Festival (Parade, Agro-Industry show, Endek Germent Fashion Festival December show, Culinary show, Traditional food recipe competition, Suckling Pig Competition, Betutu Chicken Recipe competition. 19 Year End Sun Festival Community Event 31 December Sumber : Dinas Pariwisata Kota Denpasar (2010) Jurnal Perhotelan dan Pariwisata, Agustus 2012, Vol.2 No.1 hal.6

7 Tabel 2 Event Wisata Kota Denpasar No. Nama Event Type of Event Schedule 1. Ogoh-ogoh paper- mache parade Hallmark Event March/April*) & Silence Day 2 Med-medan (Tug of kissing war) Special Event March/April*) 3 Bali Arts Festival/Pesta Kesenian Festival June July Bali 4 Sanur Village Festival (SVF) Festival August 5 Serangan Island Festival Festival November 6 Denpasar Festival Festival December Sumber : Data diolah (2010) DAMPAK PENYELENGGARAAN EVENT Penyelenggaraan event, secara langsung mauun tidaklangsung memberikan dampak bagi destinasi wisata. Dampak dari penyelenggaraan event budaya dan event wisata di Kota Denpasar, dapat dilihat sebagai berikut : 1. Peningkatan Jumlah Turis Secara statistik belum ditemukan data wisatawan yang bertujuan untuk melihat event yang digelar. Namun dari hasil observasi, penyelenggara event menyebutkan bahwa ada peningkatan kunjungan jumlah wisatawan yang berkunjung ke hampir semua tempat penyelenggaraan event. 2. Pertumbuhan Infrastruktur Keuntungan-keuntungan yang paling nyata dari penyelenggaraan event terletak di dalam penambahan infrastruktur dan memungkinkan dunia pariwisata internasional dan domestik tumbuh di daerah Denpasar. Perubahan-perubahan penting harus ikut dipertimbangkan, (1) jumlah sarana akomodasi, hotel dan penginapan bertambah sekitar tempat penyelenggaraan event; (2) dibangunnya atraksi wisata alternatif penunjang event yang tumbuh secara tidak langsung; dan (3) terciptanya rumah makanrumah makan di sekitar daerah penyelenggaraan event yang memberi dampak fisik lingkungan Kota Denpasar. 3.Keuntungan-keuntungan bagi Masyarakat Kepariwisataan dan event-event khusus memberi keuntungan bagi masyarakat yang menjadi tuan rumahnya. Masyarakat penting diperhatikan sebagai bagian dari target pasar kepariwisataan (Haywood, 1990). Persepsipersepsi masyarakat lokal terhadap kepariwisataan dan dukungan mereka terhadap Jurnal Perhotelan dan Pariwisata, Agustus 2012, Vol.2 No.1 hal.7

8 perkembangan kepariwisataan tampaknya akan menjadi lebih positif apabila mereka bisa mendapatkan beberapa keuntungan dari kepariwisataan itu sendiri, serta mampu meningkatkan kualitas kehidupan mereka. Secara mikro untuk lingkungan sekitar penyelenggaraan event, ada pengaruh keuntungan bagi masyarakat. Akan tetapi, pengaruh bagi masyarakat Bali secara keseluruhan belum dapat diperoleh. Setiap Event yang diselenggrakan Kota Denpasar belum diketahui seberapa besar keuntungan yang diperoleh dari penyewaan tempat pameran, yang kemudian menjadi sumber penghasilan yang memberi kontribusi Pendapatan Asli Daerah (PAD). 4. Meningkatnya tanggapan positif Media Salah satu dampak utama dari diselenggarakannya event-event besar adalah kesempatan untuk menikmati cakupan media yang luas bagi masyarakat. Penyebarluasan berita secara mendunia dapat mengawali tahuntahun sebelum dilangsungkannya event, dan hal ini nampaknya belum secara maksimal diperguanakn oleh penyelenggara event. Media biasanya menampilkan penyelenggaraan suatu event-besar yang positif bagi masyarakat yang akan menghasilkan suatu citra yang lebih kuat dan mampu meningkatkan kepedulian terhadap tempat tujuan wisata (destinasi) tersebut. 5. Peningkatan Promosi Pariwisata Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, strategi pemasaran penyelenggaraan event Kota Denpasar, termasuk publisitas dan periklanannya, perlu lebih ditingkatkan. Dengan bekerjasama dengan promosi usaha-usaha lainnya, diharapkan akan tercapai tujuan memberikan citra positif destinasi dan peningkatan jumlah kunjungan. PENUTUP Kegiatan wisatawan di destinasi wisata merupakan bagian terbentuknya aktivitas wisata, yang kemudian menjadi atraksi. Keterlibatan wisatawan di destinasi perlu mendapat sorotan bagi pelaku parwisata. Destinasi tidak hanya menjual produk wisata dalam bentuk obyek dan daya tarik wisata, tapi perlu memberikan kesempatan kepada wisatawan untuk berbaur, merasakan, menikmati, menyaksikan aktivitas di destinasi. Keterlibatan wisatawan, belum maksimal dilakukan di destinasi, dan hal ini dapat menjadi berkurangnya kesan wisatawan terhadap destinasi. Aktivitas wisata dapat dilakukan dengan penciptaan event wisata, dengan melibatkan wisatawan, sehingga muncul produk wisata yang akan mempengaruhi citra destinasi. Contoh kegiatan-kegiatan event budaya yang kemudian menjadi konsumsi wisatawan, dapat dikembangkan dengan melibatkan wisatawan dalam setiap aktivitas yang dilakukan. Proses pembelajaran, pemberian pengalaman kepada wisatawan, akan memberikan citra positif destinasi bagi mereka yang terlibat. Jurnal Perhotelan dan Pariwisata, Agustus 2012, Vol.2 No.1 hal.8

9 Teori dan praktik tentang atraksi, produk wisata, event wisata dan destinasi, merupakan pilar-pilar yaang tidak dapat dipisahkan. Bagi Bali, kombinasi teori yang dipaparkan, dapat menjadi acuan pengembangan kepariwisataan Bali. DAFTAR PUSTAKA Allen, J., O Toole, et al, 2002, Festival and Special Event Management, John Willey & Sons Inc. Hoboken, New Jersey Ardika, IW, dalam Pustaka Bali Post, 2004, Pariwisata Bali: Membangun Pariwisata-Budaya dan Mengendalikan Budaya- Pariwisata, BP, Denpasar Berridge, G., 2007, Event Management Series; Events Design and Experiences, Butterworth Heinemann, Linacre Jordan, Oxford Getz, D, 1991, Festivals, Special Events, and Tourism, Van Nostrand Reinhold, New York Inskeep, E, 1991, Tourism Planning, An Integrated and Sustainable Development Approach, VNR Tourism and Commercial Recreation Series, Van Nostrand Reinhold, New York Koentjaraningrat, 2000, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta Leiper, N., 2004, Tourism Management, Pearson Education Australia Mahadewi, NME, 2004, Faktorfaktor yang Menentukan Kepuasan Wisatawan Konvensi terhadap Bali sebagai Destinasi MICE, Tesis, Pasca Sarjana UNUD Mahadewi, NME, 2007, Pesta Kesenian Bali XXIX, Persepektif Pariwisata Event, Materi Lomba Artikel Ilmiah, Pemerintah Provinsi Bali, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Mahadewi, NME, 2009, Pengembangan Atraksi Budaya Kota Denpasar sebagai Event Wisata, Penelitian STP Nusadua Bali, Puslitabmas Sonder, M., 2004, Event Entertainment and Production, John Willey & Sons Inc. Hoboken, New Jersey Sorin,D,. 2003, The Special Event Advisor, A Business and Legal Guide for Event Profesionals, John Willey & Sons Inc. Hoboken, New Jersey Torkildsen, G, 1989, Leisure and Recreation Management, Second Edition, Presenterd by Britain, London New York, E & F.N. Spon Ltd Tribe, J, 1999, The Economic of Leisure and Tourism, Second Edition, Butterworth-Heinemann Ltd, Linacre House, Jordan Hill, Oxford OX2 8DP, 225 Wildwood Avenue, Woburn, MA , a Devision of Reed Educational and Professional Publishing Ltd Jurnal Perhotelan dan Pariwisata, Agustus 2012, Vol.2 No.1 hal.9

10 Trigg, P, 1996, Leisure and Tourism GNVQ : Advanced Textbook, Butterworth-Heinemann Ltd, Linacre House, Jordan Hill, Oxford OX2 8DP, a Division of Reed Educational and Professional Publishing Ltd Tusthi Eddy, N, 2000, Mengidamkan PKB yang Komplit, Majalah Sarad Edisi Juni 2000 No.6 Tahun I, hal. 47 Yoeti, Oka,A, 1990, Komersialisasi Seni Budaya dalam Pariwisata, Penerbit Angkasa Bandung Jurnal Perhotelan dan Pariwisata, Agustus 2012, Vol.2 No.1 hal.10

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana

PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN. Oleh : M. Liga Suryadana PENGELOLAAN DAYA DUKUNG DAN PEMASARAN PARIWISATA BERKELANJUTAN Oleh : M. Liga Suryadana KLASIFIKASI WISATA Wisata alam (nature tourism), merupakan aktifitas wisata yang ditujukan pada pemanfaatan terhadap

Lebih terperinci

GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI,

GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI, GUBERNUR BALI PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG USAHA JASA PERJALANAN WISATA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa Pembangunan Kepariwisataan di

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat ibukota. Pusat perbelanjaan sering disebut juga dengan sebutan Mal.

BAB 1 PENDAHULUAN. masyarakat ibukota. Pusat perbelanjaan sering disebut juga dengan sebutan Mal. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pusat perbelanjaan merupakan istilah yang tak asing lagi, terlebih bagi masyarakat ibukota. Pusat perbelanjaan sering disebut juga dengan sebutan Mal. Mal merupakan

Lebih terperinci

1 C I T Y H O T E L D I H A R B O U R B A Y B A T A M F e r i t W i b o w o BAB I PENDAHULUAN

1 C I T Y H O T E L D I H A R B O U R B A Y B A T A M F e r i t W i b o w o BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Hotel merupakan salah satu bentuk akomodasi yang dikelola secara komersial, yang disediakan bagi setiap orang untuk memperoleh pelayanan, penginapan berikut makanan

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK

PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN KAWASAN REKREASI PERENG PUTIH BANDUNGAN DENGAN PENEKANAN DESAIN ARSITEKTUR ORGANIK Diajukan untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

Lebih terperinci

LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005

LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005 LAPORAN EXECUTIVE KAJIAN MODEL PENGEMBANGAN SENI DAN BUDAYA DAERAH KOTA BANDUNG (Kerjasama Kantor Litbang dengan PT. BELAPUTERA INTERPLAN) Tahun 2005 1.1 Latar Belakang Seni dan budaya daerah mempunyai

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA

BAB II KAJIAN PUSTAKA BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1. Pengertian Travel Agency Travel Agency adalah perusahaan yang khusus mengatur dan menyelenggarakan perjalanan dan persinggahan orang-orang, termasuk kelengkapan perjalanannya,

Lebih terperinci

KAWASAN WISATA MINAT KHUSUS WATU TEDENG DI WONOSOBO

KAWASAN WISATA MINAT KHUSUS WATU TEDENG DI WONOSOBO LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR KAWASAN WISATA MINAT KHUSUS WATU TEDENG DI WONOSOBO Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Diajukan Oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Makanan merupakan kebutuhan pokok bagi makhluk hidup untuk bertahan dan hidup. Tanpa makanan, manusia tidak dapat bertahan karena manusia menempati urutan teratas dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa

BAB I PENDAHULUAN. dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Indonesia merupakan salah satu negara berkembang, yang tidak terlepas dari perdagangan internasional yakni ekspor. Zakaria (2012) menyatakan bahwa keterbukaan perdagangan

Lebih terperinci

- 458 - 2. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di bidang kebudayaan.

- 458 - 2. Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di bidang kebudayaan. - 458 - Q. PEMBAGIAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG KEBUDAYAAN DAN PARIWISATA 1. Kebijakan Bidang Kebudayaan 1. Kebudayaan 1. Rencana induk pengembangan kebudayaan 1. Rencana induk pengembangan kebudayaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. relatif baru, yaitu sejak abad 19, sebagai salah satu produk dari Revolusi

BAB I PENDAHULUAN. relatif baru, yaitu sejak abad 19, sebagai salah satu produk dari Revolusi 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata yang kita kenal sekarang merupakan suatu fenomena yang relatif baru, yaitu sejak abad 19, sebagai salah satu produk dari Revolusi Industri. Kata pariwisata

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. selling, (Anderassen et al, 1997) dengan tujuan membangun citra yang kuat

BAB I PENDAHULUAN. selling, (Anderassen et al, 1997) dengan tujuan membangun citra yang kuat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perkembangan dan peningkatan di dalam sektor jasa pelayanan perhotelan saat ini cukup pesat sehingga membawa perubahan pada pola hidup masyarakat dan tingkat

Lebih terperinci

BIDANG USAHA, JENIS USAHA DAN SUB-JENIS USAHA BIDANG USAHA JENIS USAHA SUB-JENIS USAHA

BIDANG USAHA, JENIS USAHA DAN SUB-JENIS USAHA BIDANG USAHA JENIS USAHA SUB-JENIS USAHA BIDANG USAHA, JENIS USAHA DAN SUBJENIS USAHA BIDANG USAHA JENIS USAHA SUBJENIS USAHA 1. Daya Tarik Wisata No. PM. 90/ HK. 2. Kawasan Pariwisata No. PM. 88/HK. 501/MKP/ 2010) 3. Jasa Transportasi Wisata

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG KEPARIWISATAAN BUDAYA BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI,

PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG KEPARIWISATAAN BUDAYA BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, PERATURAN DAERAH PROVINSI BALI NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG KEPARIWISATAAN BUDAYA BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BALI, Menimbang : a. bahwa kebudayaan Bali sebagai bagian dari kebudayaan

Lebih terperinci

Upaya Balai Bahasa Provinsi Bali dalam Mengembangkan Pengajaran BIPA di Bali

Upaya Balai Bahasa Provinsi Bali dalam Mengembangkan Pengajaran BIPA di Bali Upaya Balai Bahasa Provinsi Bali dalam Mengembangkan Pengajaran BIPA di Bali Sang Ayu Putu Eny Parwati, Balai Bahasa Provinsi Bali Jalan Trengguli I No. 34 Denpasar, Tlp. 0361 461714 timbipa_bbd@yahoo.co.id

Lebih terperinci

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi Bab1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi manajemen, menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dunia bisnis semakin berkembang sesuai dengan kemajuan zaman dan teknologi. Perkembangan bisnis lem saat ini menunjukkan bahwa lem menjadi kebutuhan bagi beberapa

Lebih terperinci

KAJIAN TUGAS AKHIR STRATA SATU (S1) FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS INDONESIA

KAJIAN TUGAS AKHIR STRATA SATU (S1) FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS INDONESIA KAJIAN TUGAS AKHIR STRATA SATU (S1) FAKULTAS ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS INDONESIA Shinta T. Effendy 1, Rahmat M. Samik Ibrahim 2 1 Ilmu Komputer, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia (shintaeffendy

Lebih terperinci

OBJEK WISATA DREAM LAND

OBJEK WISATA DREAM LAND OBJEK WISATA DREAM LAND Objek wisata pantai Dreamland berada didaerah bernama Pecatu Lokasinya pada bagian s elatan pulau Bali jika perjalanan Dreamland ini dekat dan satu arah dengan GWK ini memang memiliki

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DALAM PENETAPAN HARGA JUAL JASA KAMAR PADA HOTEL BATIK YOGYAKARTA

KEBIJAKAN DALAM PENETAPAN HARGA JUAL JASA KAMAR PADA HOTEL BATIK YOGYAKARTA KEBIJAKAN DALAM PENETAPAN HARGA JUAL JASA KAMAR PADA HOTEL BATIK YOGYAKARTA Nurhazana Administrasi Bisnis Politeknik Bengkalis Jl. Bathin Alam, Sei-Alam, Bengkalis Riau nurhazana@polbeng.ac.id Abstrak

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG TANDA DAFTAR USAHA KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BERAU,

- 1 - PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG TANDA DAFTAR USAHA KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BERAU, - 1 - SALINAN Desaign V. Santoso PERATURAN DAERAH KABUPATEN BERAU NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG TANDA DAFTAR USAHA KEPARIWISATAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BERAU, Menimbang : a. bahwa untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dahulu busana merupakan kebutuhan primer belaka. Seiring dengan berkembangnya dunia industri, hiburan, informasi dan teknologi, gaya berbusana menjadi media untuk menunjukkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang. Pengembangan pariwisata sebagai suatu industri merupakan hal penting

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang. Pengembangan pariwisata sebagai suatu industri merupakan hal penting BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengembangan pariwisata sebagai suatu industri merupakan hal penting bagi beberapa negara di dunia seperti halnya Indonesia. Tujuannya untuk meningkatkan penghasilan

Lebih terperinci

PEMBUATAN BRAND IDENTITY PRODUK PISANG KARAMEL G DANG

PEMBUATAN BRAND IDENTITY PRODUK PISANG KARAMEL G DANG PEMBUATAN BRAND IDENTITY PRODUK PISANG KARAMEL G DANG Fany Ijaya Susilo Fakultas Teknik / Jurusan Teknik Informatika Program Multimedia Fany.ijaya@gmail.com ABSTRAK Pembuatan Brand Identity Pisang karamel

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2007 NOMOR : 27 PERATURAN WALIKOTA CILEGON NOMOR 27 TAHUN 2007 TENTANG

BERITA DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2007 NOMOR : 27 PERATURAN WALIKOTA CILEGON NOMOR 27 TAHUN 2007 TENTANG BERITA DAERAH KOTA CILEGON TAHUN : 2007 NOMOR : 27 PERATURAN WALIKOTA CILEGON NOMOR 27 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS KEPUTUSAN WALIKOTA CILEGON NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG IZIN USAHA KEPARIWISATAAN

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) SEMESTER GANJIL 2010/11. Kode Mata kuliah : EA 23461 Beban Kredit : 4 sks

SATUAN ACARA PENGAJARAN (SAP) SEMESTER GANJIL 2010/11. Kode Mata kuliah : EA 23461 Beban Kredit : 4 sks UNIVERSITAS TARUMANAGARA Fakultas : Ekonomi Jurusan/Program : S1 Akuntansi Mata kuliah : Manajemen Pemasaran Kode Mata kuliah : EA 23461 Beban Kredit : 4 sks NO MINGG U POKOK BAHASAN TINJAUAN INSTRUKSIONAL

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Lagu wajib nasional adalah lagu-lagu mengenai perjuangan dan nasionalisme bangsa yang wajib untuk dihapalkan oleh peserta didik. Lagu wajib nasional sebagai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan pasar ritel terus berkembang sebagai akibat dari perubahan pada berbagai bidang. Pasar ritel yang terus bertumbuh secara nasional tidak hanya menguntungkan

Lebih terperinci

PANDUAN PENULISAN KARYA TULIS DOSEN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

PANDUAN PENULISAN KARYA TULIS DOSEN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN PANDUAN PENULISAN KARYA TULIS DOSEN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN PERPUSTAKAAN JOHANNES OENTORO UNIVERSITAS PELITA HARAPAN KARAWACI 2009 KATA PENGANTAR Sebagai salah satu persyaratan dalam kenaikan jenjang

Lebih terperinci

TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SILIWANGI

TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SILIWANGI NOMOR : USULAN PENELITIAN TUGAS AKHIR N a m a : Yunita Indrasari N P M : 107006248 Alamat Kontak Lokasi Penelitian Lama Penelitian : 085746214441/ yunita.indrasari@student.unsil.ac.id : CV. CITRA AYU :

Lebih terperinci

IMPLEMENTASI PENYERAHAN DATA DOKUMEN NASABAH TERHADAP PEDAGANG VALUTA ASING BUKAN BANK (STUDI KASUS: P.T. RASYA JAYA SEJAHTERA)

IMPLEMENTASI PENYERAHAN DATA DOKUMEN NASABAH TERHADAP PEDAGANG VALUTA ASING BUKAN BANK (STUDI KASUS: P.T. RASYA JAYA SEJAHTERA) IMPLEMENTASI PENYERAHAN DATA DOKUMEN NASABAH TERHADAP PEDAGANG VALUTA ASING BUKAN BANK (STUDI KASUS: P.T. RASYA JAYA SEJAHTERA) Oleh Ivana Bunga Wahyuni I Wayan Wiryawan Anak Agung Sri Indrawati Hukum

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. membuatnya bahkan lebih dikenal dari Indonesia sendiri.

BAB I. Pendahuluan. membuatnya bahkan lebih dikenal dari Indonesia sendiri. 1 BAB I Pendahuluan Keberhasilan pengembangan pariwisata di Bali sudah dikenal secara luas. Sedemikian terkenalnya Bali sebagai salah satu tujuan wisata internasional, membuatnya bahkan lebih dikenal dari

Lebih terperinci

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. Manunggal yang bergerak di bidang property developer, didirikan. Alam Sutera Realty Tbk pada 19 September 2007.

BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN. Manunggal yang bergerak di bidang property developer, didirikan. Alam Sutera Realty Tbk pada 19 September 2007. BAB IV GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN A. Sejarah Perusahaan PT. Alam Sutera Realty Tbk adalah anak perusahaan dari grup Argo Manunggal yang bergerak di bidang property developer, didirikan oleh Harjanto Tirtohadiguno

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman sekarang ini banyak sekali kemajuan dan perubahan yang

BAB I PENDAHULUAN. Pada zaman sekarang ini banyak sekali kemajuan dan perubahan yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada zaman sekarang ini banyak sekali kemajuan dan perubahan yang terjadi dalam dunia usaha modern terutama bidang usaha rumah makan dan restoran. Hal tersebut ditandai

Lebih terperinci

STMIK GI MDP. Program Studi Sistem Informasi Skripsi Sarjana Komputer Semester Ganjil Tahun 2010/2011

STMIK GI MDP. Program Studi Sistem Informasi Skripsi Sarjana Komputer Semester Ganjil Tahun 2010/2011 STMIK GI MDP Program Studi Sistem Informasi Skripsi Sarjana Komputer Semester Ganjil Tahun 2010/2011 ANALISIS BIAYA DAN MANFAAT PENGGUNAAN SISTEM PENGOLAHAN TRANSAKSI PADA PT. JAYA BETON PERKASA PALEMBANG

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam mengembangkan sebuah program untuk mencapai pasar yang diinginkan,

TINJAUAN PUSTAKA. Dalam mengembangkan sebuah program untuk mencapai pasar yang diinginkan, II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Produk 2.1.1. Pengertian Produk Dalam mengembangkan sebuah program untuk mencapai pasar yang diinginkan, sebuah perusahaan harus memulai dengan produk atau jasa yang dirancang

Lebih terperinci

Fungsi Daftar Pustaka

Fungsi Daftar Pustaka Pendahuluan Daftar pustaka dan catatan kaki dalam sebuah karangan ilmiah yang memuat pendapat, hasil penelitian, cuplikan dari sumber lain harus dicantumkan sumber informasi tersebut Sumber tersebut dicantumkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perbankan syari ah mapun lembaga keuangan syari ah pada akhir-akhir

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan perbankan syari ah mapun lembaga keuangan syari ah pada akhir-akhir BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan perbankan syari ah mapun lembaga keuangan syari ah pada akhir-akhir ini tergolong cepat. Salah satu alasannya adalah keyakinan yang kuat di kalangan masyarakat

Lebih terperinci

Crafting Creative Event. pt. trijaya komunika

Crafting Creative Event. pt. trijaya komunika Crafting Creative Event pt. trijaya komunika Introduction Situasi dunia usaha yang makin kompetitif dewasa ini menuntut keberadaan perusahaan business partner yang sangat dibutuhkan oleh setiap perusahaan,

Lebih terperinci

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta

Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 1, No. 1, (2013) 1-5 1 Analisa Manfaat Biaya Proyek Pembangunan Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder Daerah Istimewa Yogyakarta Dwitanti Wahyu Utami dan Retno Indryani Jurusan Teknik

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara ilmiah yang dilakukan untuk mendapatkan data dengan tujuan tertentu.(lasa,2009:207). Kata ilmiah dalam Kamus Besar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dewasa ini sangat sulit ditebak. Ini disebabkan oleh terjadinya perubahan di

BAB I PENDAHULUAN. dewasa ini sangat sulit ditebak. Ini disebabkan oleh terjadinya perubahan di 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pertumbuhan dan perkembangan perekonomian dalam era globalisasi dewasa ini sangat sulit ditebak. Ini disebabkan oleh terjadinya perubahan di dunia baik di

Lebih terperinci

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis

PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN. (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis PENGELOLAAN KOMPONEN KOMPONEN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN (Studi Kasus di SMP Negeri 1 Jumantono) Tesis Untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mencapai derajat Magister

Lebih terperinci

Analisa Dan Perancangan Sistem Informasi Pemasaran Perumahan pada PT. Anugerah Bangun Cipta

Analisa Dan Perancangan Sistem Informasi Pemasaran Perumahan pada PT. Anugerah Bangun Cipta Analisa Dan Perancangan Sistem Informasi Pemasaran Perumahan pada PT. Anugerah Bangun Cipta Anton 1, Hendra 2 STMIK IBBI Jl. Sei Deli No. 18 Medan, Telp. 061-4567111 Fax. 061-4527548 Email : Anton_hwang@yahoo.com

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme)

PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme) LANDASAN PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR PENGEMBANGAN WISATA PANTAI TRIANGGULASI DI TAMAN NASIONAL ALAS PURWO BANYUWANGI (Penekanan Desain Arsitektur Organik Bertema Ekoturisme) Diajukan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pendapatan pajak, bea cukai, BUMN, dan Migas, pariwisata juga menjadi andalan. Kayu olahan 3.3% Karet olahan 9.0%

I. PENDAHULUAN. pendapatan pajak, bea cukai, BUMN, dan Migas, pariwisata juga menjadi andalan. Kayu olahan 3.3% Karet olahan 9.0% I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pariwisata memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, baik sebagai salah satu sumber penerimaan devisa maupun penciptaan lapangan kerja serta kesempatan

Lebih terperinci

ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI. Tesis

ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI. Tesis ANALISIS PERHITUNGAN UNIT COST PELAYANAN SIRKUMSISI DENGAN PENDEKATAN ABC DI KLINIK SETIA BUDI JAMBI Tesis Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Strata 2 Program Studi Manajemen

Lebih terperinci

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep

II. LANDASAN TEORI. falsafah baru ini disebut konsep pemasaran (marketing concept). Konsep II. LANDASAN TEORI 2.1 Arti dan Pentingnya Pemasaran Pemasaran merupakan faktor penting untuk mencapai sukses bagi perusahaan akan mengetahui adanya cara dan falsafah yang terlibat didalamnya. Cara dan

Lebih terperinci

Sumber Daya Manusia. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan

Sumber Daya Manusia. Pelatihan dan Pengembangan Karyawan 158 Profil Singkat BCA Laporan kepada Pemegang Saham Tinjauan Bisnis Pendukung Bisnis Sumber Daya Manusia Filosofi BCA membina pemimpin masa depan tercermin dalam berbagai program pelatihan dan pengembangan

Lebih terperinci

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN Merry Marshella Sipahutar 1087013 Perumahan merupakan kebutuhan utama bagi manusia di dalam kehidupan untuk berlindung

Lebih terperinci

ABSTRAK ABSTRACT. Pendahuluan

ABSTRAK ABSTRACT. Pendahuluan Analisis Tingkat Kepuasan Konsumen Terhadap Kualitas Pelayanan Jasa dengan Pendekatan Metode Servqual (Studi Kasus pada Pusat Pelatihan Bahasa dan Budaya CILACS UII, Yogyakarta) Hendy Ahmad Febrian 1,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengambil lokasi di Matahari Department Store Mall Ratu Indah. Waktu yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengambil lokasi di Matahari Department Store Mall Ratu Indah. Waktu yang 57 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah dimana penelitian tersebut akan dilakukan. Adapun penelitian yang dilakukan oleh penulis

Lebih terperinci

Prinsip dan Kriteria EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT

Prinsip dan Kriteria EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT Prinsip dan Kriteria EKOWISATA BERBASIS MASYARAKAT Kerjasama Direktorat Produk Pariwisata Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Departemen Kebudayaan dan Pariwisata dan WWF-Indonesia Januari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perkembangan Online Shop atau toko online melalui media internet sudah menjamur di Indonesia, bahkan sudah sangat dikenal baik oleh khalayak ramai. Banyaknya

Lebih terperinci

KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU. Trisna Anggreini 1)

KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU. Trisna Anggreini 1) KORELASI SIKAP PETANI PLASMA KELAPA SAWIT TERHADAP PELAYANAN KOPERASI UNIT DESA DI KABUPATEN LAMANDAU Trisna Anggreini 1) Abstract. The purpose of this research are acessing the correlation of attitudes

Lebih terperinci

Kajian Sistem Stimulus-Respon Lingkungan Hotel terhadap Konsumen

Kajian Sistem Stimulus-Respon Lingkungan Hotel terhadap Konsumen TEMU ILMIAH IPLBI 2013 Kajian Sistem Stimulus-Respon Lingkungan Hotel terhadap Konsumen Ardina Susanti (1), Hanson E. Kusuma (2) (1) Program Studi Magister Arsitektur, SAPPK, ITB. (2) Kelompok Keilmuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hongkong, dan Australia. Selama periode Januari-November 2012, data

BAB I PENDAHULUAN. Hongkong, dan Australia. Selama periode Januari-November 2012, data 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri fashion di Indonesia saat ini berkembang dengan sangat pesat. Kondisi tersebut sejalan dengan semakin berkembangnya kesadaran masyarakat akan fashion yang

Lebih terperinci

V E R S I P U B L I K

V E R S I P U B L I K PENDAPAT KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR A12412 TENTANG PENGAMBILALIHAN SAHAM PERUSAHAAN PT GARUDA ADHIMATRA INDONESIA OLEH PT ALAM SUTERA REALTY TBK LATAR BELAKANG 1. Berdasarkan Peraturan Pemerintah

Lebih terperinci

ACE LIFE DAN BANK CTBC LUNCURKAN EMPAT PRODUK BANCASSURANCE

ACE LIFE DAN BANK CTBC LUNCURKAN EMPAT PRODUK BANCASSURANCE 1 Press Statement UNTUK DISIARKAN SEGERA Kontak Media: Priska Rosalina +62 21 2356 8888 priska.rosalina@acegroup.com ACE LIFE DAN BANK CTBC LUNCURKAN EMPAT PRODUK BANCASSURANCE Jakarta, 19 Juni 2014 PT

Lebih terperinci

Mobilisasi Masyarakat

Mobilisasi Masyarakat Mobilisasi Masyarakat Dalam tulisan ini saya mencoba memadukan beberapa pengalaman dan pengamatan tentang Community Mobilization (Penggerakan Masyarakat), dengan tujuan agar masyarakat ikut melakukan kegiatankegiatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. omzet, namun karena jumlahnya cukup besar, maka peranan UMKM cukup

BAB I PENDAHULUAN. omzet, namun karena jumlahnya cukup besar, maka peranan UMKM cukup BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah.peran penting tersebut telah mendorong banyak

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Budaya merupakan ciri khas suatu bangsa, bangsa yang berbudaya adalah bangsa yang tidak melupakan asal-usul keberadaannya. Pada saat ini budaya bangsa Indonesia semakin

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA INDUK PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN NASIONAL TAHUN 2010-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

Tinjauan Tentang Kebijakan Pemerintah Daerah Terkait Pengembangan Kepariwisataan Di Sumatera Utara (Studi Kasus Kota Medan)

Tinjauan Tentang Kebijakan Pemerintah Daerah Terkait Pengembangan Kepariwisataan Di Sumatera Utara (Studi Kasus Kota Medan) 1 Laporan Akhir TINJAUAN TENTANG KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH TERKAIT PENGEMBANGAN KEPARIWISATAAN DI SUMATERA UTARA (STUDI KASUS KOTA MEDAN) Kegiatan penelitian ini disusun atas kerjasama : antara TIM PENELITI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dibidang makanan dan minuman cepat saji. Pertumbuhan bisnis makanan dan

BAB I PENDAHULUAN. dibidang makanan dan minuman cepat saji. Pertumbuhan bisnis makanan dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pertumbuhan industri saat ini semakin meningkat dengan sangat pesat. Hal tersebut terjadi pada segala bidang bisnis atau berbagai jenis usaha, seperti bisnis

Lebih terperinci

PEDOMAN PEMBELAJARAN DI TEMPAT KERJA UNTUK ORANG TUA DAN PENGASUH

PEDOMAN PEMBELAJARAN DI TEMPAT KERJA UNTUK ORANG TUA DAN PENGASUH PEDOMAN PEMBELAJARAN DI TEMPAT KERJA UNTUK ORANG TUA DAN PENGASUH The Workplace Learning Guide for Parents and Carers Pedoman Anda untuk program pembelajaran di tempat kerja yang disediakan untuk para

Lebih terperinci

ANGGARAN DASAR ASOSIASI PERUSAHAAN PERJALANAN WISATA INDONESIA (ASITA) MUKADIMAH

ANGGARAN DASAR ASOSIASI PERUSAHAAN PERJALANAN WISATA INDONESIA (ASITA) MUKADIMAH ANGGARAN DASAR ASOSIASI PERUSAHAAN PERJALANAN WISATA INDONESIA (ASITA) MUKADIMAH Dengan rahmat Tuhan yang Maha Esa, Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia sebagai mata rantai dalam jajaran industri pariwisata,

Lebih terperinci

FUNGSI TEORI DALAM PENELITIAN

FUNGSI TEORI DALAM PENELITIAN TEORI Teori a set of interrelated constructs (variables), definitions and propositions that present a systematic view of phenomena by specifying relations among variables, with the purpose of explaining

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. communicatio yang diturunkan dari kata communis yang berarti membuat

BAB I PENDAHULUAN. communicatio yang diturunkan dari kata communis yang berarti membuat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa Latin yaitu communicatio yang diturunkan dari kata communis yang berarti membuat kebersamaan antara dua orang

Lebih terperinci

Penulisan Tesis Bab I & II. Frida Chairunisa

Penulisan Tesis Bab I & II. Frida Chairunisa Penulisan Tesis Bab I & II Frida Chairunisa Peta Wisata Tesis Pintu gerbang penelitian tesis Bab I Pendahuluan Bab III Metodologi Penelitian Bab V Kesimpulan dan Saran Magister Peneliti Bab II Tinjauan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah

Lebih terperinci

E-book Statistika Gratis... Statistical Data Analyst. Penyajian Data Statistik

E-book Statistika Gratis... Statistical Data Analyst. Penyajian Data Statistik Penyajian Data Statistik Pada penulisan kedua tentang Statistika Elementer ini, penulis akan memberikan bahasan mengenai Penyajian Data Statistik kepada para pembaca untuk mengetahui bentuk penyajian data

Lebih terperinci

BAB VI KONDISI KOMPONEN-KOMPONEN PARIWISATA DI NIAS SELATAN SEBAGAI PENDUKUNG KEMAJUAN KOMODIFIKASI HOMBO BATU

BAB VI KONDISI KOMPONEN-KOMPONEN PARIWISATA DI NIAS SELATAN SEBAGAI PENDUKUNG KEMAJUAN KOMODIFIKASI HOMBO BATU BAB VI KONDISI KOMPONEN-KOMPONEN PARIWISATA DI NIAS SELATAN SEBAGAI PENDUKUNG KEMAJUAN KOMODIFIKASI HOMBO BATU Sebagaimana telah disinggung pada Bab II dalam sub judul Konsep Pariwisata Budaya, dalam penelitian

Lebih terperinci

BERITA DAL 1 14* Bulletin PIM Edisi September 2011 2 3 4 5 6 WWW.PIM.co.id LAM GAMBAR 7 8 9 10 KETERANGAN GAMBAR : 1. Direktur Tekbang bersama staf meninjau langsung produksi urea granul areal pabrik urea-2

Lebih terperinci

BeOPTIMALISASI PENGELOLAAN (MANAJEMEN) ASET DAERAH

BeOPTIMALISASI PENGELOLAAN (MANAJEMEN) ASET DAERAH BeOPTIMALISASI PENGELOLAAN (MANAJEMEN) ASET DAERAH Oleh Samsul Hidayat, M.Ed (Widyaiswara Madya BKD & DIKLAT Provinsi NTB) ABSTRAKSI Manajemen adalah pengerahan segenap kekuatan menggerakkan sekelompok

Lebih terperinci

STUDI ANALISIS RAPID APLICATION DEVELOPMENT SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF METODE PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK

STUDI ANALISIS RAPID APLICATION DEVELOPMENT SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF METODE PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK JURNAL INFORMATIKA Vol. 3, No. 2, Nopember 2002: 74-79 STUDI ANALISIS RAPID APLICATION DEVELOPMENT SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF METODE PENGEMBANGAN PERANGKAT LUNAK Agustinus Noertjahyana Fakultas Teknologi

Lebih terperinci

Barelang TV channel 5 PROFILE & PROGRAM ACARA 2015

Barelang TV channel 5 PROFILE & PROGRAM ACARA 2015 TV KABEL di Pulau BATAM Barelang TV channel 5 PROFILE & PROGRAM ACARA 2015 COGAN TV merupakan Televisi Kabel pada channel 5 di jaringan TV Kabel : BARELANG TV dengan wilayah jangkauan siaran seluruh kota

Lebih terperinci

Fungsi dan Peranan Iklan pada televisi

Fungsi dan Peranan Iklan pada televisi Fungsi dan Peranan Iklan pada televisi Definisi Iklan Iklan adalah setiap bentuk komunikasi yang dimaksudkan untuk memotivasi seseorang pembeli potensial dan mempromosikan penjual suatu produk atau jasa,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 alinea 4 adalah untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah

Lebih terperinci

BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan... 118 6.2 Saran... 118

BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan... 118 6.2 Saran... 118 ABSTRACT Cilacap is one area that has diverse tourism potential. Unfortunately many tourist areas are less exposed by the media so that tourists are less known. The development of the internet is very

Lebih terperinci

STIKOM SURABAYA BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Seiring dengan berkembangnya teknologi, berkembang pula perilaku

STIKOM SURABAYA BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Seiring dengan berkembangnya teknologi, berkembang pula perilaku BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan berkembangnya teknologi, berkembang pula perilaku konsumen yang memanfaatkan akan teknologi. Salah satu yang paling diminati oleh masyarakat

Lebih terperinci

SEMINAR NASIONAL PEMBUATAN TEXTBOOK HUKUM BERSAMA & TEMU PENULIS BUKU-BUKU HUKUM KE VII SE-INDONESIA. Denpasar-Bali, 5 September 2012 (tentatif)

SEMINAR NASIONAL PEMBUATAN TEXTBOOK HUKUM BERSAMA & TEMU PENULIS BUKU-BUKU HUKUM KE VII SE-INDONESIA. Denpasar-Bali, 5 September 2012 (tentatif) SEMINAR NASIONAL PEMBUATAN TEXTBOOK HUKUM BERSAMA & TEMU PENULIS BUKU-BUKU HUKUM KE VII SE-INDONESIA Denpasar-Bali, 5 September 2012 (tentatif) Diselenggarakan atas Kerja Sama antara Fakultas Hukum Universitas

Lebih terperinci

SKRIPSI ANALISIS SWOT TERHADAP MARKETING MIX PADA USAHA KECIL DISTRO PUNYA MEDAN OLEH. Sanjey Maltya 090502135

SKRIPSI ANALISIS SWOT TERHADAP MARKETING MIX PADA USAHA KECIL DISTRO PUNYA MEDAN OLEH. Sanjey Maltya 090502135 SKRIPSI ANALISIS SWOT TERHADAP MARKETING MIX PADA USAHA KECIL DISTRO PUNYA MEDAN OLEH Sanjey Maltya 090502135 PROGRAM STUDI STRATA-1 MANAJEMEN DEPARTEMEN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITAS PELAYANAN PADA RUMAH MAKAN METRO

ANALISIS KUALITAS PELAYANAN PADA RUMAH MAKAN METRO ANALISIS KUALITAS PELAYANAN PADA RUMAH MAKAN METRO JURNAL Oleh : SANDIKA SAPUTRA C1B110070 JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS BENGKULU 2014 Jurusan Manajemen Universitas Bengkulu

Lebih terperinci

BAB IV EFEKTIVITAS KEGIATAN PROMOSI PRODUK TABUNGAN PENDIDIKAN DI KJKS MANFAAT SURABAYA DALAM MENARIK MINAT PIHAK SEKOLAH

BAB IV EFEKTIVITAS KEGIATAN PROMOSI PRODUK TABUNGAN PENDIDIKAN DI KJKS MANFAAT SURABAYA DALAM MENARIK MINAT PIHAK SEKOLAH BAB IV EFEKTIVITAS KEGIATAN PROMOSI PRODUK TABUNGAN PENDIDIKAN DI KJKS MANFAAT SURABAYA DALAM MENARIK MINAT PIHAK SEKOLAH A. Kegiatan Pemasaran KJKS Manfaat Surabaya Pemasaran dalam sebuah lembaga atau

Lebih terperinci

SILABUS MATA KULIAH. Revisi : 1 Tanggal Berlaku : 1 Februari 2014. Kompetensi dasar Indikator Materi Pokok Strategi Pembelajaran pengertian dan

SILABUS MATA KULIAH. Revisi : 1 Tanggal Berlaku : 1 Februari 2014. Kompetensi dasar Indikator Materi Pokok Strategi Pembelajaran pengertian dan SILABUS MATA KULIAH Revisi : 1 Tanggal Berlaku : 1 Februari 2014 A. Identitas 1. Nama Mata Kuliah : Quality Assurance Rumah Sakit 2. Program Studi : Profesi Apoteker 3. Fakultas : Farmasi 4. Bobot : 2

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM MEMILIH PRODUK PT. ASURANSI JIWA CENTRAL ASIA RAYA CABANG SURAKARTA

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM MEMILIH PRODUK PT. ASURANSI JIWA CENTRAL ASIA RAYA CABANG SURAKARTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM MEMILIH PRODUK PT. ASURANSI JIWA CENTRAL ASIA RAYA CABANG SURAKARTA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

Belajar Berbasis Aneka Sumber

Belajar Berbasis Aneka Sumber Materi 3 Belajar Berbasis Aneka Sumber Petunjuk belajar Perkembangan teknologi informasi yang pesat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap berbagai aktivitas kehidupan manusia termasuk didalamnya aktivitas

Lebih terperinci

MODUL MEMBACA EFEKTIF MENGGUNAKAN SQ3R

MODUL MEMBACA EFEKTIF MENGGUNAKAN SQ3R MODUL MEMBACA EFEKTIF MENGGUNAKAN SQ3R A. MENGAPA KEAHLIAN INI PENTING Membaca merupakan salah satu kegiatan yang harus dilalui dalam rangkaian keahlian literasi informasi bagi seseorang. Keahlian ini

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian

BAB III METODE PENELITIAN. yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian BAB III METODE PENELITIAN III.1 Pendekatan Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan kualitatif yaitu untuk mengetahui atau menggambarkan kenyataan dari kejadian yang diteliti sehingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi pada saat ini sangatlah

BAB I PENDAHULUAN. Kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi pada saat ini sangatlah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kebutuhan masyarakat akan sarana transportasi pada saat ini sangatlah penting. Pilihan penggunaan sarana transportasi sangat beragam jenisnya, misalnya sarana angkutan

Lebih terperinci

ANALISIS DAYA TARIK DUA PUSAT PELAYANAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM PERKOTAAN DI KABUPATEN PURWOREJO (Studi Kasus: Kota Kutoarjo dan Kota Purworejo)

ANALISIS DAYA TARIK DUA PUSAT PELAYANAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM PERKOTAAN DI KABUPATEN PURWOREJO (Studi Kasus: Kota Kutoarjo dan Kota Purworejo) ANALISIS DAYA TARIK DUA PUSAT PELAYANAN DALAM PENGEMBANGAN SISTEM PERKOTAAN DI KABUPATEN PURWOREJO (Studi Kasus: Kota Kutoarjo dan Kota Purworejo) TUGAS AKHIR Oleh : SRI BUDI ARTININGSIH L2D 304 163 JURUSAN

Lebih terperinci

TUGAS POKOK DAN FUNGSI

TUGAS POKOK DAN FUNGSI TUGAS POKOK DAN FUNGSI Kepala Kantor Kantor Penghubung dipimpin oleh seorang Kepala Kantor yang mempunyai tugas pokok melaksanakan penyusunan dan pelaksanaan kebijakan di bidang hubungan antar lembaga.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Khalid Saifullah Fil Aqsha, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Khalid Saifullah Fil Aqsha, 2013 1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Trend dunia pariwisata selalu berubah ubah. Ini dikarenakan pariwisata itu memiliki sifat yang dinamis. Karena dinamis, maka para planer, konseptor, dan juga investor

Lebih terperinci

OLEH: IRINA KUSUMA DEWI 3203010217

OLEH: IRINA KUSUMA DEWI 3203010217 PERANCANGAN STANDARD OPERATING PROCEDURE (SOP) SISTEM PENJUALAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN AKTIVIAS PENGENDALIAN INTERNAL (Studi Kasus Distributor Besi Beton di Sidoarjo) OLEH: IRINA KUSUMA DEWI 3203010217

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pengguna teknologi internet terus meningkat dari tahun ke tahun.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pengguna teknologi internet terus meningkat dari tahun ke tahun. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengguna teknologi internet terus meningkat dari tahun ke tahun. Kebutuhan internet sudah hampir diperlakukan sebagai salah satu kebutuhan sehari-hari. Beragam

Lebih terperinci

Tobucil & Klabs. Kyai Gede Utama 8, Tobucil & Klabs, Mei 2003 - Juni 2007. Tobucil & Klabs. Trimatra Center. 2 Mei 2001 - Mei 2003

Tobucil & Klabs. Kyai Gede Utama 8, Tobucil & Klabs, Mei 2003 - Juni 2007. Tobucil & Klabs. Trimatra Center. 2 Mei 2001 - Mei 2003 Tobucil & Klabs Literacy in everyday Life www.tobucil.net @tobucil 2013 Tobucil & Klabs Trimatra Center 2 Mei 2001 - Mei 2003 Pertama kali berdiri, tobucil menempati sebuah ruang perpustakaan di tempat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 II.1.1 Landasan Teori Pemasaran Jasa Di dalam memasarkan suatu produk baik barang maupun jasa, perusahaan akan melakukan kegiatan pemasaran. Namun kegiatan pemasaran yang dilakukan

Lebih terperinci