IDENTIFIKASI PRODUK/KOMODITAS UNGGULAN. 4.1 Konsep Pembangunan Ekonomi Daerah dan Pendekatan Produk/komoditas Unggulan daerah

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "IDENTIFIKASI PRODUK/KOMODITAS UNGGULAN. 4.1 Konsep Pembangunan Ekonomi Daerah dan Pendekatan Produk/komoditas Unggulan daerah"

Transkripsi

1 BAB 4 IDENTIFIKASI PRODUK/KOMODITAS UNGGULAN 4.1 Konsep Pembangunan Ekonomi Daerah dan Pendekatan Produk/komoditas Unggulan daerah Pemberdayaan ekonomi masyarakat merupakan unsur penting dan utama dalam menciptakan daerah yang mandiri yang dicita-citakan melalui kebijakan desentralisasi. Pembangunan ekonomi daerah dapat diartikan sebagai suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakatnya mengelola suberdaya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah dengan sector swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan kegiatan ekonoi dalam wilayah tersebut. Oleh karena itu pemerintah daerah beserta partisifasi masyarakat dengan menggunakan sumberdaya yang ada harus mampu menaksir potensi sumber-sumberdaya yang diperlukan untuk merancang dan membangun perekonomian daerahnya. Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada penekanan terhadap kebijakan-kebijakan pembangunan yang didasarkan pada kekhasan daerah yang bersangkutan dengan menggunakan potensi sumberdaya manusia, sumberdaya alam, sumberdaya financial dan bahkan sumberdaya kelembagaan. Orientasi ini mengarahkan kita kepada pengambilan inisiatif-inisiatif yang berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan merangsang peningkatan kegiatan ekonomi. Menurut Sudarsono (2001), dinamika keunggulan daerah di masa mendatang ditandai dengan mempu tidaknya daerah dalam meraih peluang 37

2 menghadapi kompetisi pasar bebas baik di tingkat regional maupun global. Beberapa langkah dan strategi yang perlu dilakukan agar daerah mampu berkompetisi antara lain: 1. Birokrasi pemerintah perlu melakukan reorientasi peran dan tanggungjawabnya yakni hanya bersifat mengarah dan membina bukan menentukan (steering than rowing). Sehingga peran dan tanggungjawab pemerintah daerah hanya berkisar pada bidangbidang dimana sector swasta atau pihak ketiga lainnya tidak memungkinkan untuk melakukan tugas tersebut, misalnya dalam situasi terjadinya kegagalan pasar (market falure). 2. Birokrasi Pemda harus dapat berkiprah secara efektif dan efisien dalam memberikan pelayanan prima untuk meraih investasi dalam dan luar negeri 3. Membentuk system dan jaringan kerja (networking) dengan lembaga/asosiasi bisnis dan atase perdagangan luar negeri, khususnya dalam mendukung pemasaran produks ekspor. 4. Mengembangkan lembaga R & D (research and development) terhadap jenis produksi unggulan untuk menjamin kualitas produk, kestabilan harga, kebutuhan pasar (demand) dan jaminan kontinuitas ketersediaannya (delivery/supply) 5. Memfasilitasi lembaga keuangan agar bersedia memberikan modal usaha bagi industri skala kecil dan menengah pada berbagai sector unggulan daerah, sehingga mereka dapat menjamin dan mempertahankan keberlangsungan usahanya. 6. Berperan mentransportasikan ilmu pengetahuan dan teknologi terapan di berbagai sector unggulan produk daerah, agar proses produksi dapat mencapai efektifitas, efisiensi, dan ekonomis. 7. Mendorong agar para produsen mengembangkan jenis-jenis produk unggulan yang bersifat komplementer baik intern maupun antar region, memiliki nilai tambah (value edded) dan menghasilkan manfaat ganda (multiple effect) baik secara backward-linkage dan forward linkage terhadap berbagai sector, dengan demikian dapat memperkuat posisi daerah dari pengaruh fluktuasi ekonomi 38

3 8. Memposisikan birokrasi pemerintah daerah cukup berperan sebagai katalisator, stimulator, dan regulator agar mekanisme pasar dapat bekerja secara sehat 9. Memprioritaskan program pembangunan infrastuktur yang dibutuhkan dalam rangka kemudahan aksebilitas usaha di bidang industri meliputi sarana transprtasi, komunikasi, energi, lokasi industri, sarana dan prasarana pelayanan umum yang baik serta situasi lingkungan yang sehat dan aman Produk Unggulan Daerah Dalam rangka upaya pembangunan ekonomi daerah,inventarisasi potensi wilayah/masyarakat/daerah mutlak diperlukan agar dapat ditetapkan kebijakan pola pengebangan baik secara sektoral maupun secara multisektoral. Salah satu langkah inventarisasi/identifikasi potensi ekonomi daerah adalah dengan mengidentifikasi produk-produk potensial, andalan dan unggulan daerah pada tiap-tiap sub sektor. Produk unggulan daerah menggambarkan kemampuan daerah menghasilkan produk, menciptakan nilai, memanfaatkan sumberdaya secara nyata, memberi kesempatan kerja, mendatangkan pendapatan bagi masyarakat maupun pemerintah, memiliki prospek untuk meningkatkan produktivitas dan investasinya. Sebuah produk dikatakan unggul jika memiliki daya saing sehingga mampu untuk menangkal produk pesaing di pasar domestic dan /atau menembus pasar ekspor (Sudarsono, 2001) Kriteria produk unggul menurut Unkris Satya Wacana salatiga, adalah komoditi yang memenuhi persyaratan kecukupan sumberdaya local, keterkaitan komoditas, posisi bersaing dan potensi bersaing. Dari kriteria ini memunculkan pengelompokkan komoditas berikut: a. Komoditas potensial adalah komoditas daerah yang memiliki potensi untuk berkembang karena keunggulan komparatif. Keunggulan komparatif terjadi misalnya karena kecukupan ketersediaan sumberdaya, seperti bahan baku local, keterampilan sumberdaya local, teknologi produksi local serta sarana dan prasarana local lainnya. 39

4 b. Komoditas andalan adalah komoditas potensial yang dipandang dapat dipersandingkan dengan produk sejenis di daerah lain, karena disamping memiliki keunggulan komparatif juga memiliki efisiensi usaha yang tinggi. Efisiensi usaha itu tercermin dari efisiensi produksi, produktivitas pekerja, profitabilitas dan lain-lain. c. Komoditas unggulan adalah komoditas yang memiliki keunggulan kompetitif, karena telah memenangkan persaingan dengan produk sejenis di daerah lain. Keunggulan kompetitif demikian dapat terjadi karena efisiensi produksinya yang tinggi akibat posisi tawarnya yang tinggi baik terhadap pemasok, pembeli, serta daya saignya yang tinggi terhadap pesaing, pendatang baru maupun barang substitusi. Menurut direktorat Jenderal Pembangunan Daerah Depdagri, bahwa berdasarkan Surat Edaran Nomor /2910/III/BANDA tanggal 7 Desember 1999, ditentukan kriteria kooditas unggulan sebgai berikut: a. empunyai kandungan lokal yang menonjol dan inovatif di sektor pertanian, industri, dan jasa. b. Mempunyai daya saing tinggi di pasaran, baik ciri, kualitas maupun harga yang kompetitif serta jangkauan pemasaran yang luas, baik di dalam negeri maupun global c. Mempunyai ciri khas daerah karena melibatkan masyarakat banyak (tenaga kerja setempat) d. Mempunyai jaminan dan kandungan bahan baku yang cukup banyak, stabil, dan berkelanjutan. e. Difokuskan pada produk yang mempunyai nilai tambah yang tinggi, baik dalam kemasan maupun pengolahannya f. Secara ekonomi menguntungkan dan bermanfaat untuk meningkatkan pendapatan dan kemampuan SDM masyarakat g. Ramah lingkungan, tidak merusak lingkungan, berkelanjutan serta tidak merusak budaya setempat. 40

5 4.3. Hasil Analisis Produk Unggulan Daerah Kabupaten Tapin Output Kriteria dan goal Sebagai bagian dari analisis potensi ekonomi masyarakat Kabupaten Tapin dilakukan analisis tentang komoditas/produk/jasa usaha (KPJU) yang potensial unggul. Untuk tujuan ini digunakan metode AHP atau Analitical Hierarchy Process. AHP atau Analitycal Hierarchy Process adalah metode yang dikembangkan oleh Thomas L Saaty (1970) sebagai alat decision support system (DSS). Dalam perkembangannya, AHP memiliki sejumlah kelebihan. Diantaranya, memiliki kemampuan untuk memodelkan masalah yang tidak terstruktur, menyelesaikan masalah terukur (kuantitatif) maupun pendapat (judgement) serta telah diakui memiliki tingkat kesahihan/akurasi yang tinggi. Dengan sejumlah kemampuan ini, AHP telah menjadi pilihan utama bagi para pengambil keputusan, baik pemerintah maupun organisasi non pemerintah untuk memahami kondisi serta membantu melakukan prediksi dan pengambilan keputusan. Dalam penenetuan KPJU unggulan di Kabupaten Tapin dengan menggunakan metode ini, telah dibuat sebuah kerangka alur berpikir tujuan dan faktor penentu keunggulan (terlampir). Dari kerangka ini, disusunlah kuesioner yang akan ditanyakan kepada sejumlah responden yang telah ditentukan sebelumnya berdasarkan kriteria keahlian dan representasi stakeholders. Data yang dikumpulkan berupa data perbandingan berpasangan dengan skala Saaty 1 9. Data tersebut kemudian diolah melalui komputasi bobot dan skor mengikuti logika dan kaidah AHP dari Saaty. Sebagai outputnya akan disajikan berbagai KPJU terpilih dengan masing-masing skornya berbagai rujukan tingkat prioritas bagi keunggulannya masingmasing. 41

6 Tabel 4.1. Skala Saaty* Tingkat Definisi Kepentingan 1 Sama penting 3 Sedikit lebih penting 5 Jelas lebih penting 7 Sangat jelas lebih Penting 9 Pasti/mutlak lebih penting (kepentingan yang ekstrim) 2,4,6,8 Jika ragu-ragu antara dua nilai yang berdekatan 1/(1-9) Kebalikan nilai tingkat kepentingan dari skala 1-9 *Saaty (1986) a. Tujuan Komoditas Unggulan Berdasarkan hipotesa yang dimiliki maka ditetapkan ada 3 (tiga) macam tujuan dalam penetapan KPJU unggulan. Dalam kontek kepentingan ekonomi secara makro, maka tujuan yang pertama adalah untuk mendukung tercapainya peningkatan pertumbuhan ekonomi. Tujuan yang kedua adalah dalam kerangka penciptaan lapangan kerja. Sementara itu, tujuan yang ketiga dari adanya KPJU unggulan adalah agar dapat meningkatkan daya saing perekonomian ditengah kompetisi yang makin mengglobal. Tenaga Ahli 1 Tenaga Ahli 2 A B C A B C A A B B C C TOTAL TOTAL Keterangan : A. Pertumbuhan Ekonomi B. Penciptaan Lapangan Kerja C. Peningkatan Daya Saing A B C EV UT A B C EV UT A A B B C C TOTAL TOTAL CI CI RI 0.58 RI 0.58 CR CR Keterangan : EV UT = Eigen Vector Utama CI = Index konsistensi RI = Nilai pembangkit random sesuai dengan ordo matrix n CR = Rasio konsistensi 42

7 Matriks Pendapat Gabungan ta 1 ta 2 RG VP A B C TOTAL Keterangan : ta 1 = tenaga ahli pertama ta 2 = tenaga ahli kedua RG = rata-rata geometris VP = Vektor Prioritas Pilihan yang dilakukan tenaga ahli yang terpilih nampak bervariasi. Dengan menggabungkan pilihan-pilihan para ahli tersebut yang diseimbangkan menggunakan rataan geometris maka diperoleh pilihan ahli (expert choices) tentang tujuan yang diinginkan. Hasilnya menunjukkan bahwa tujuan yang paling diprioritaskan dari adanya KPJU unggulan adalah tujuan B. Penciptaan Tenaga Kerja dengan bobot 0,643. Jauh dibawahnya adalah tujuan A. Pertumbuhan Ekonomi (0,267) dan diurutan terakhir tujuan C. Peningkatan Daya Saing dengan bobot Ini menandakan bahwa persoalan yang dianggap paling krusial adalah lapangan kerja yang mengungguli kepentingan bagi terciptanya pertumbuhan ekonomi. Sementara itu daya saing yang saat ini semakin penting masih belum menjadi kepentingan yang mendesak dibanding yang lainnya. b. Faktor Penentu Keunggulan dan Kriterianya Untuk menilai seberapa besar suatu KPJU memiliki potensi untuk menjadi unggulan diperlukan analisisnya atas berbagai faktor dan kriteri keunggulan. Dalam hal ini digunakan 11 macam factor yang dapat menentukan tingkat keunggulan sebagai berikut: skill, bahan baku, modal, sarana produksi/usaha, teknologi, social budaya, manajemen, pasar, harga, penyerapan tenaga kerja, dan peranannya dalam ekonomi. Dari kesebelas faktor tersebut, faktor modal (0,234) dianggap paling menentukan bagi terujudnya KPJU menjadi unggulan. Selanjutnya, penentu keunggulan diikuti oleh bahan baku (0,147), Pasar (0,129), dan Harga (0,123). Faktor-faktor lain berada dibwah kepentingan keempat faktor tersebut. Sementara itu faktor teknologimenempati urutan terakhir dengan bobot terendah (0,022). 43

8 Faktor Bobot Kriteria Bobot Faktor Bobot Kriteria Bobot A. Skill B. Bahan Baku C. Modal D. Saprodi/Usaha Keterangan : 1.Tk Pdd =Tingkat Pendidikan 1.Tk Pdd E. Teknologi Ketersediaan Pelatihan Kemdhn Pnglm Krj Cr kh lkl Jml Pelath F. Sosial Budaya klgs bdy Ketersediaan Tradisi Dy Tahan G. Manajemen Canggih Kesinmbgn Mudah Mutu H. Pasar Keluasan Kemudhn Kepastian Kebt I awl I. Harga Stabil Kbt M krj Besaing Akses keu J. Peyerapan T.K T Lokal Ketersediaan T Luar Harga Rnti Prod Kemudh K. Peran Dlm Ekonomi Keb Khlyk Ketersediaa n 31.Sbg PDRB =Tingkat ketersediaan teknologi 2.Pelatihan =Tingkat Pelatihan 17.Kemdhn =Kemudahan teknologi 3.Pnglm Krj =Pengalaman Kerja 18.Cr kh lkl =Ciri khas lokal 4.Jml Pelath =Jumlah Kegiatan Pelatihan 19.klgs bdy =Kelangsungan Budaya 5.Ketersediaa n =Ketersediaan Bahan Baku 20.Tradisi =Sejalan dg tradisi 6.Dy Tahan =Daya Tahan Bahan Baku 21.Canggih =Canggih 7.Kesinmbgn =Kesinambungna Bahan Baku 22.Mudah =Mudah diaplikasikan 8.Mutu =Mutu Bahan Baku 23.Keluasan =Keluasan Pasar 9.Kemudhn =Kemudahan Memperoleh Bahan Baku 24.Kepastian =Kepastian Pasar 10.Kebt I awl =Tingkat kebutuhan Investasi Awal 25.Stabil =Kestabilan harga =Kebutuhan modal 11.Kbt M krj kerja 26.Besaing =Harga mampu bersaing 12Akses keu =Akses pada sumber keuangan 27.T Lokal =Tenaga kerja lokal 13Ketersediaa =Ketersediaan Sarana n produksi/usaha 28.T Luar =Tenaga kerja dari luar 14.Harga =Harga Sarana produksi/usaha 29.Rnti Prod =Peran dalam rantai produksi ekonomi =Kemudahan memperoleh =Peran dalam pemenuhan kebutuhan 15.Kemudh Sarana 30.Keb Khlyk khalayak Produksi/usaha 31.Sbg PDRB =Peranan dalam besaran PDRB Setiap faktor memiliki sejumlah kriteria yang masing-masing memiliki bobot kepentingan pula dalam dalam menentukan keunggulan suatu KPJU. Faktor skill didominasi oleh kriteria pengalaman kerja dengan bobot (0,389). Bahan baku lebih ditentukan oleh ketersediaannya (0,345). Modal lebih dipengaruhi oleh terjaminnya pemenuhan kebutuhan kodal kerja (0,454). Sarana Produksi akan lebih efektif jika harganya dapat terjangkau (0,515). 44

9 Selanjutnya, dalam hal teknologi dunia usaha lebih memntingkan kemudahannya (0,833) dibanding terbatas pada ketersediaannya. Dalam faktor sosial budaya, dunia usaha menempatkan kepentingan kriteria ciri khas lokal, kelangsungan budaya, dan keterkaitan dengan tradisi secara seimbang, masing-masing dengan bobot 0,333. Seperti halnya teknologi, dalam hal manajemen yang lebih dipentingkan adalah kemudahannya (0,855) sehingga praktis dijalankan ketimbang kecanggihan suatu sistem manajemen. Keluasan pasar dan kepastian pelanggan merupakan unsur kriteria yang memiliki bobot seimbang dalam mendukung peranan pemasaran setiap KPJU, masing-masing memiliki bobot 0,500. Faktor harga lebih ditentukan oleh kestabilanya (0,634), sementara peyerapan tenaga kerja lokal (0,900) menjadi sangat dominan dibanding keperluan untuk penyerapan tenaga luar dalam lapangan usaha produktif. KPJU unggulan akan memiliki ketahanan yang stabil jika terkait dan memiliki rantai produksi yang lebih panjang (0,632) Output KPJU Unggulan di Setiap Sektor Analisis KPJU unggulan dalam penelitian ini akan disajikan secara sektoral artinya masing-masing hanya diperbandingkan dalam lingkup satuan sektor usaha sejenis. Pembagian sektor usaha sejenis disini terdiri dari peternakan dan perikanan, kehutanan dan perkebunan, industri, perdagangan dan jasa, dan tanaman pangan dan holtikultura. Pada setiap sektor terdapat beberapa KPJU terpilih yang akan diperbandingkan secara bolak balik sesuai metode AHP (pairwisecomparison). KPJU terpilih diperoleh dari hasil survei lapangan menggunakan teknik wawancara kepada berbagai stakeholders (pejabat, tokoh, dan pelaku ekonomi) dengan tujuan untuk mengidentifikasi berbagai komoditas/produk/jasa usaha yang menonjol dan potensial untuk dijadikan unggulan Kabupaten Tapin. hasil analisis dari bawan wawancara menjadi dasar penetapan KPJU terpilih sebagai bakal unggulan yang akan dianalisis menggunakan metode AHP. a. Peternakan dan Perikanan 45

10 Dalam sektor peternakan dan perikanan memuat KPJU yang terdiri dari usaha perikanan karamba, tambak ikan, sapi, dan unggas. Masingmasing memiliki keutamaan dan kelebihan dalam berbagai faktor penentu keunggulan. Dari sisi skill (dengan kriteria-kriteria tingkat pendidikan, tingkat pelatihan, pengalaman kerja, jumlah pelatihan), komoditas sapi (0,338) secara tipis mengungguli ikan karamba pada urutan prioritas unggul teratas. Tambak ikan memiliki skor prioritas terendah dengan nilai 0,122 pada faktor skill ini (lampiran 1). Selain dalam hal skill, komoditas sapi nampak unggul dalam lokallokal faktor yang lain, yakni bahan baku (0,372), modal (0,523), sarana produksi/usaha (0,487), teknologi (0.350), dukungan sosial budaya (0,369), manajemen (0,367), pasar (0,299), Harga (0,522), dan peran dalam ekonomi (0,337). Hanya dalam hal penyerapan tenaga kerja komoditas ternak sapi diungguli komoditas unggas (0,446) (lampiran 2 11). Prioritas Global Peternakan dan Perikanan Dari keseluruhan faktor dan kriteria penentu keunggulan KPJU yang ada maka terlihat jelas komoditas ternak sapi bisa diprioritaskan sebagai unggulan Kabupaten Tapin. Hal ini sejalan dengan skor prioritas global ternak sapi yang sangat dominan (0.417) dibandingkan unggas yang memiliki skor 0.239, ikan karamba 0.222, dan tambak ikan yang terkecil dengan nilai 0,122 (lampiran 12). KPJU Global Priority a Sapi b Unggas c Ikan Karamba d Tambak Ikan Produksi sapi Kabupaten Tapin tahun 2008 mencapai ekor dan daerah penghasilutama berada di Kecamatan Hatungun, Binuang, Tapin Tengah, Salam Babaris, dan Tapin Selatan. Potensi peggemukan sapi untuk Kabupaten Tapin sangat menjanjikan. Hal ini mengingat kebutuhan daging di Kalimantan Selatan Cukup tinggi dimana selama ini kebutuhan tersebut banyak didatangkan dari Jawa dan Nusa 46

11 Tenggara Barat. Usaha pengembangan Sapi potong di Kabupaten Tapin dapat dikembangkan pada skala kecil dan menengah. Kegiatan pengembangan dapat dilakukan oleh sejumlah peternak kecill secara bersama-sama di dalam koordinasi KUD dengan mengadakan kerjasama kemitraan secara terpadu dengan perusahaan inti (Fedlolotters). Perusahaan initi bisa dibentuk oleh pemerintah sebagai suatu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), sehingga pola yang digunakan adalah pola inti dan plasma. Kendala dalam usaha penggemukan sapi selama ini adalah kelangkaan pengadaan sapi bakalan, oleh karenanya harus disertai dengan usaha penyediaan sapi bakalan. Perusahaan inti dapat berfungsi sebagai perusahaan pengadaan bakalan meskipun harus dilakukan secara impor. Komoditas unggulan lain yakni unggas, meliputi ayam buras dan ayam ras pedaging. Ayam buras Kabupaten Tapin memiliki kapasitas terbesar mencapai ekor di tahun 2008 dibanding ayam ras pedaging. Penyebaran hampir merata di setiap kecamatan dan terbesar sekaligus baik dijadikan daerah pengembangan berada di Kecamatan Bungur, kemudian Kecamatan Lokpaikat dan Kecamatan Binuang. Sementara ayam ras pedaging terbesar di Kecamatan Binuang, kemudian Kecamatan Tapin Utara. b. Kehutanan dan Perkebunan Dalam sektor kehutanan dan perkebunan memuat KPJU yang terdiri dari usaha perkebuan sawit, komoditas hutan rumbia, nilam, kayu galam, dan kelapa dalam. Masing-masing memiliki keutamaan dan kelebihan dalam berbagai faktor penentu keunggulan secara cukup bervariasi. Dari segi skill, nampak sekali dominasi keunggulan sawit dibanding yang lain. Hal ini terbukti dengan nilai prioritas lokal sawit sebesar keunggulan ini meliputi semua kriteria termasuk tingkat pendidikan, tingakat pelatihan, pengalaman kerja dan jumlah pelatihan (lampiran 13). Dari segi bahan baku dominasi sawit tergantikan oleh komoditas kelapa dalam (0,261). Posisi selanjutnya adalah kayu galam (0,233) yang disusul rumbia (0,225) dan sawit (0,195) (lampiran 14). Dalam hal faktor-faktor penentu keunggulan selanjutnya yakni modal, sarana produksi/usaha, manajemen, pasar, harga, penyerapan 47

12 tenaga kerja, dan peranan dalam ekonomi sawit menampakkan keunggulan yang cukup dominan. Pada faktor teknologi keunggulan ditempati kelapa dalam (0,320) dan pada saat yang sama sosial budaya ditempati kayu galam (0,279) (lampiran 15 23). Prioritas Global Kehutanan dan Perkebunan Untuk mendapatkan nilai prioritas global maka bobot prioritas lokal (contoh, skill : 0,032) harus diintegrasikan kedalam kerangka global (keseluruhan 11 faktor yang ada). Dengan sendirinya maka setiap bobot kriteria dalam faktor lokal (contoh, tingkat pendidikan : 0,063) yang berhadapatan langsung dengan alternatif-alternatif pilihan mesti disesuaikan dengan bobot lokal integratif dengan metode normalitas keatas (global). Berdasarkan kalkulasi tersebut diperoleh hasil masing-masing KPJU kehutanan dan perkebunan dimana sawit memiliki nilai prioritas keseluruhan (global priority) tertinggi dengan 0,447. komoditas lainnya jauh dibawah dengan skor hampir bersamaan yakni kelapa dalam (0,188), Galam (0,133), Rumbia (0,117), dan Nilam (0,115) (lampiran 24). KPJU Global Priority a Sawit b Kelapa Dalam c Galam d Rumbia e Nilam Sebagai catatan disektor perkebunan sebenarnya dari berbagai kajian bahwa perkebunan karet merupakan komoditas unggulan utama masyarakat Kabupaten Tapin. Namun demikian dalam kajian ini dikeluarkan dari model supaya diperoleh komoditas lainnya untuk pengembangan lebih lanjut. Kelapa sawit menjadi unggulan utama, meskipun bagi Kabupaten Tapin ini merupakan komoditas perkebunan baru yang dikembangkan setelah sebelumnya karet. Kelapa sawit merupakan komoditas perkebunan utama yang dikelola oleh perusahaan besar swasta/nasional/asing, sedangkan karet dan kelapa dalam, galam, rumbia dan nilam sebagai tanaman utama yang dikembangkan oleh perkebunan rakyat. 48

13 Melalui paradigma baru dalam pembangunan perkebunan Kabupaten Tapin harus menempatkan orientasi pembangunan perkebunan bukan pada aspek produksi tapi berorientasi pada agribisnis dan menempatkan agribisnis sebagai penggerak utama pembangunan ekonomi Kabupaten Tapin secara keseluruhan. Kedepan sub sistem hilir yang meliputi pengolahan dan pemasaran hasil perkebunan merupakan rangkaian sub sistem yang sangat strategis karena dapat menghela sub sistem lainnya untuk peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Peluang yang dimiliki potensi perkebunan sawit adalah pembangunan industri hilir dan turunannya dari CPO (Crude Palm Oil) seperti minyak goreng, sabun, margarin. Langkah ke arah demikian di dalam perencanaan maka reinvestasi perkebunan yang selama ini banyak diperoleh dari hasil tambang harus dialihkan kepada industri perkebunan untuk pembangunan berkelanjutan. c. Tanaman Bahan Makanan dan Hortikultura Dalam sektor tanaman bahan makanan dan hortikultura ini memuat KPJU hasil dari usaha tani padi sawah, padi gunung, kacang tanah, jagung, jeruk, pisang, dan rambutan. Masing-masing memiliki keutamaan dan kelebihan dalam berbagai faktor penentu keunggulan namun nampak sekali komoditas hasil usaha tani padi sawah mendominasi. Dari segi skill, ada 2 (dua) macam komoditas hasil usaha tani yang paling unggul dengan nilai prioritas lokal berada diatas yang lainnya, yakni padi sawah dan padi gunung. Kendati demikian skor tertinggi ada pada padi sawah (0,375) yang disusul padi gunung dengan skor 0,216 (lampiran 25). Komoditas-komoditas lainnya dalam kelompok tanaman bahan makanan dan hortikultura ini hanya mencapai skor 0,084 kebawah. Dari segi faktor bahan baku, padi sawah semakin nampak mendominasi dengan skor tertinggi 0,433 (lampiran 26). Hal yang sama juga nampak pada faktor-faktor yang lainnya. Variasi hanya terjadi pada urutan kedua sampai yang terbawah atau kelima. Meski demikian, terdapat pula situasi yang berbeda khususnya pada faktor manajemen dimana komoditas jeruk mencapai skor tertinggi dengan 0,276. Padi sawah dan padi gunung masing-masing hanya memiliki skor 0,114, dibawah pisang dan rambutan (lampiran 31). 49

14 Jeruk juga cukup signifikan untuk unggul jika dilihat dari permodalan (Lampiran 27) dan faktor harga, khususnya pada kemampuan harga untuk bisa bersaing (Lampiran 33). Akan tetapi pada sebagian besar faktor-faktor penentu keunggulan lainnya jeruk memiliki nilai yang masih rendah (lampiran 34 35). Prioritas Global Tanaman Bahan Makanan dan Holtikultura Berdasarkan kompilasi atas semua faktor dan kriteria penentu keunggulan yang ada padi sawah menduduki urutan teratas (0,378). Urutan kedua sebagai komoditas yang dapat dijadikan unggulan adalah padi gunung dengan skor 0,172. Ini bisa menjadi indikasi awal bagi keduanya untuk lebih dikembangkan menjadi unggulan kabupaten (lampiran 36). Perbandingan prioritas atas berbagai komoditas unggul yang ada secara berurutan dapat dilihat pada tabel berikut ini. KPJU Global Priority a Padi Sawah b Padi Gunung c Jeruk d Kacang Tanah e Jagung f Pisang g Rambutan Padi sawah memenuhi kriteria menjadi produk unggulan. Wilayah potensial tanaman padi sawah dengan rata-rata produksi 4,07 ton per hektar adalah kecamatan-kecamatan Tapin Tengah, Candi laras Utara, Candi Laras Selatan, Tapin Selatan, Bakarangan, Tapin Utara, dan Binuang. Kecamatan Tapin tengah merupakan wilayah paling potensial untuk pengembangan padi sawah dengan tingkat produktifitas mencapai 4,29 ton/ha, dimana kecamatan ini menyumbang 24,58% produksi padi sawah Kabupaten tapin ( ton). d. Industri Dalam sektor industri ini memuat KPJU yang terdiri dari usaha industri kacang jaruk, kripik jintan, kue bawang, rimpi pisang, kerajinan dari rotan, kerajinan anyaman, dan meubel. Masing-masing memiliki 50

15 keutamaan dan kelebihan dalam berbagai faktor penentu keunggulan sehingga nampak keunggulannya sangat berimbang antara satu dengan yang lain. Dari segi skill ada 3 (tiga) macam industri yang paling unggul dengan nilai prioritas lokal yang hampir bersamaan. Ketiga industri itu adalah kerajian rotan, anyaman, dan meubel. Kendati demikian skor tertinggi ada pada kerajinan anyaman (0,257) (lampiran 37). Dari segi faktor bahan baku ketiga industri yang tertinggi sebelumnya memiliki skor yang sama persis yakni 0,1659. ini adalah skor paling unggul dibanding industri lainnya yang tersisa (lampiran 38). Dari segi modal dan faktor sosial-budaya kerajinan anyaman kembali terlihat paling unggul dibandingkan yang lainnya. Disisi lain kerajinan rotan juga unggul tipis pada faktor sarana produksi dan teknologi. Keduanya unggul dibanding yang lain dalam hal faktor peranan dalam ekonomi yang meliputi rantai produksi, kebutuhan khalayak, dan PDRB (lampiran 39). Pada faktor-faktor lainnya yang tesisa nampak keunggulan menjadi seimbang kecuali pada faktor pasar, ketiga industri yang cenderung dominan, yakni kerajinan rotan, anyaman, dan meubel unggul kembali disini (lampiran 40 47). Prioritas Global Industri Secara keseluruhan, meliputi semua fakktor dan kriteria penentu keunggulan, posisi terunggul ditempati bersama-sama oleh kerajinan rotan dan kerajinan anyaman (0,197). Ini sebagai indikasi awal dimana keduanya patut lebih dikembangkan sehingga betul-betul menjadi unggulan kabupaten Tapin (lampiran 48). KPJU Global Priority a Ker Rotan b Ker Anyaman c Meubel d Kcg Jaruk e Kripik Jntn f Kue Bawang g Rimpi Pisang e. Jasa dan Perdagangan 51

16 Dalam sektor Jasa dan Perdagangan memuat KPJU yang terdiri dari usaha perhotelan, restoran, persewaan bangunan, dan pariwisata. Masingmasing memiliki keutamaan dan kelebihan dalam berbagai faktor penentu keunggulan secara cukup bervariasi. Akan tetapi, nampak persaingan ketat terjadi antara perhotelan dan restoran diberbagai faktor dan kriteria. Dari segi skill, persewaan bangunan nampak dominan dibanding yang lain. Hal ini terbukti dengan nilai prioritas lokal persewaan bangunan sebesar (lampiran 49). Dari segi bahan baku dominasi dipegang usaha restoran (0,394) yang diikuti oleh perhotelan (0,219). Posisi selanjutnya adalah persewaan bangunan (0,197) yang disusul pariwisata yang tertinggal tipis dengan 0,191 (lampiran 50). Dalam hal faktor-faktor penentu keunggulan selanjutnya nampak sekali hanya didominasi oleh 2 (dua) KPJU, yakni usaha perhotelan dan usaha restoran secara bergantian. Usaha perhotelan lebih unggul pada modal, teknologi, manajemen, pasar, harga, dan penyerapan terhadap tenaga kerja. Disisi lain, usaha resotoran lebih unggul dalam hal sarana produksi/usaha, sosial-budaya, dan peranan dalam ekonomi (lampiran 51 59). Prioritas Global Jasa dan Perdagangan Berdasarkan kalkulasi integral atas semua faktor dan kriteria keunggulan maka dapat diperoleh nilai masing-masing KPJU Jasa dan Perdagangan yang menjadi petunjuk peringkat antar satu dengan yang lainnya.usaha perhotelan ternyata memiliki nilai prioritas keseluruhan (global priority) tertinggi dengan 0,318. Jenis usaha lainnya yang juga potensial untuk diunggulkan adalah usaha restoran yang memiliki skor 0,271 (lampiran 24). Meskipun demikian, keempat KPJU yang nilai disini semuanya sangat potensial karena sejalan dengan arah pengembangan kabupaten kedepan yang berbasis bisnis dan perdaganan, khususnya diilayah perkotaan. Secara berurutan hasil analisis KPJU unggulan bidan jasa dan perdagangan menggunakan metode AHP dapat dilihat pada tabel dibawah ini. KPJU Global Priority a Perhotelan b Restoran

17 c Pariwisata d Sewa Bgnn Kerangka Pengembangan Komoditas Unggulan a. Arah Pengembangan Komoditas Unggulan Pola dan arah pengembangan komoditas unggulan di Kabupaten Tapin pada dasarnya merupakan dasar untuk pengembagan kawasan andalan dan sentra produksi. Kebijakan pengembangan komoditas unggulan tersebut bertumpu pada program pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan secara lestari dan berkesinambungan (gamb.1). Mengingat komoditas unggulan yang dikembangakan berdasarkan natural resources base, maka pola dan arahan pada hakekatnya berisi tentang arahan-arahan pemanfaatan atau analisis kebijakan oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Gambar 1. Kerangka Pemikiran Tentang Pengembangan Komoditas Unggulan Kabupaten Tapin Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat Kabupaten Tapin Pengembangan Komoditas Unggulan Pengembangan Cluster Industri Perencanaan Pembangunan Dan Pengembangan Komoditas Unggulan Kebijakan Pemerintah Pusat & Daerah Kawasan Sentra Andalan Analisis Kebikan Kebijakan Pengembangan Potensi dan Keunggulan Komoditas Unggulan 53

18 Prinsip komplementaritas ekonomi dan keterkaitan fungsional akan menjadi pertimbangan dalam rangka memaksimumkan keuntungan (benefit) dari suatu kawasan andalan dan sentra produksi. Pengembangan komoditas unggulan Kabupaten Tapin akan lebih efektif apabila terdapat interaksi antar variabel. Interaksi tersebut haruslah interaksi antar beberapa aktivitas pada suatu wilayah dengan wilayah lainnya yang tercipta dan memungkinkan terjadinya perkembangan yang optimal antar unit-unit wilayah maupun dengan wilayah sekitar. Variabel aktivititas ekonomi dalam hal pengebangan sentra produksi dan kawasan andalan akan sangat bergantung pada asfek tenaga kerja, permodalan, pasar dan sumberdaya alam. Jika keempat variabel tersebut saling berkait secara sistem maka akan sangat mendorong pertumbuhan komodits unggulan yang terdapat di Kabupaten Tapin. Adapun Penetapan Kawasan sentra dan andalan, harus memperhatikan aspirasi dan isu yang berkembang di masyarakat. Hal ini penting mengingat pelaksanaan dan penerima konsep rencana pengebagan dan analisis kebijakan yang dilakukan adalah masyarakat. Oleh karenannya pengembangan komoditas unggulan harus memperhatikan kelayakan ekonomis maupun analisis performansi seperti yang sudah dilakukan sebelumnya. b. Peran UMKM dalam Pengembangan Komoditas Unggulan Berdasarkan hasil kajian terhadap komoditas unggulan Kabupaten Tapin, maka pengembangan usaha kecil dan menengah layak untuk diperhatikan. Hal ini mengingat bahwa komoditas unggulan tersebut sebagian masih bertumpu pada sumberdaya alam yang terdapat di daerah tersebut. Oleh karennya pendekatan model alternatif pembangunan ekonomi Kabupaten Tapin dapat dilakukan melalui tiga strategi yakni (1). Revitalisasi usaha mikro/kecil dan menengah serta koperasi, (2) 54

19 Reaktualisasi pembangunan sosial seiring pebangunan ekonomi dengan fokus pengembangan komoditas unggulan dalam wujud pengembangan kawasan andalan serta sentra produksi, dan (3) reinvestasi pembangunan yang selama ini diperleh dari usaha pertambangan (sumberdaya terbatas) terhadap usaha-usaha yang menghasilkan jangka panjang utamanya komoditas-komoditas unggulan. Namun demikian dari beberapa kajian terhadap usaha kecil dan menengah pada komoditas unggulan masih dihadapkan pada kendalakendala pelaksanaan yakni lemahnya kemampuan pengelolaan sumberdaya alam yang digunakan, tenaga kerja yang berketerampilan rendah, mutu bahan masukan kurang sesuai, kurang menguasai teknologi, kelemahan dalam rekayasa lembaga dan organisasi, kurangnya infrastruktur utamanya transportasi dan informasi pasar, kurangnya dukungan lembaga keuangan formal, serta keterbatasan pengembangan pasar. Hal ini memerlukan analisis kebijakan lebih lanjut terutama untuk pengembangan kawasan sentra produksi dan kawasan andalan di Kabupaten Tapin. 55

Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa :

Deskripsikan Maksud dan Tujuan Kegiatan Litbangyasa : ISI FORM D *Semua Informasi Wajib Diisi *Mengingat keterbatasan memory database, harap mengisi setiap isian dengan informasi secara general, singkat dan jelas. A. Uraian Kegiatan Deskripsikan Latar Belakang

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 08 Teknik Analisis Aspek Fisik & Lingkungan, Ekonomi serta Sosial Budaya dalam Penyusunan Tata Ruang Tujuan Sosialisasi Pedoman Teknik Analisis Aspek Fisik ik & Lingkungan,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 29 TAHUN 2008 TENTANG PENGEMBANGAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM NEGERI, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES

ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN DI INDONESIA. Oleh: Dr. Sunoto, MES ARAH KEBIJAKAN PENGEMBANGAN KONSEP MINAPOLITAN Potensi dan Tantangan DI INDONESIA Oleh: Dr. Sunoto, MES Potensi kelautan dan perikanan Indonesia begitu besar, apalagi saat ini potensi tersebut telah ditopang

Lebih terperinci

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia =============================================================================== Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Republik Indonesia !" #$ %$#&%!!!# &%!! Tujuan nasional yang dinyatakan

Lebih terperinci

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG,

PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG, PERATURAN BUPATI REJANG LEBONG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN KAWASAN STRATEGIS CEPAT TUMBUH DI KABUPATEN REJANG LEBONG BUPATI REJANG LEBONG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan

I. PENDAHULUAN. A. Maksud dan Tujuan I. PENDAHULUAN A. Maksud dan Tujuan Rencana Kerja (Renja) Dinas Peternakan Kabupaten Bima disusun dengan maksud dan tujuan sebagai berikut : 1) Untuk merencanakan berbagai kebijaksanaan dan strategi percepatan

Lebih terperinci

BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA. 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP)

BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA. 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) BAB II RENCANA STRATEGIS DAN PENETAPAN KINERJA 2.1. Perencanaan Strategis Badan Ketahanan Pangan dan Pelaksana Penyuluhan (BKPPP) Rencana strategis (Renstra) instansi pemerintah merupakan langkah awal

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan pembangunan daerah Kabupaten Bengkulu Utara selama lima tahun, yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Tahun

Lebih terperinci

SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN PENOPANG PEREKONOMIAN BANGKA BELITUNG

SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN PENOPANG PEREKONOMIAN BANGKA BELITUNG Suplemen 4. Sektor-Sektor Unggulan Penopang Perekonomian Bangka Belitung Suplemen 4 SEKTOR-SEKTOR UNGGULAN PENOPANG PEREKONOMIAN BANGKA BELITUNG Salah satu metode dalam mengetahui sektor ekonomi unggulan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH

PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENGEMBANGAN PRODUK UNGGULAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

S. Andy Cahyono dan Purwanto

S. Andy Cahyono dan Purwanto S. Andy Cahyono dan Purwanto Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Jl. Jend A. Yani-Pabelan, Kartasura. PO BOX 295 Surakarta 57102 Telp/Fax: (0271) 716709; 716959 Email:

Lebih terperinci

: pendampingan, vokasi, kelompok keterampilan, peternakan

: pendampingan, vokasi, kelompok keterampilan, peternakan PENINGKATAN KETERAMPILAN BETERNAK DENGAN DILENGKAPI PEMANFAATAN TEKNOLOGI TEPAT GUNA PADA KKN VOKASI DI DESA MOJOGEDANG KECAMATAN MOJOGEDANG KABUPATEN KARANGANYAR Sutrisno Hadi Purnomo dan Agung Wibowo

Lebih terperinci

VI LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS

VI LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS Bab VI LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS A da empat dimensi daya saing yang dirangkum dalam buku ini yang dijadikan landasan untuk menetapkan langkah langkah strategis yang diperlukan untuk memperkuat daya saing

Lebih terperinci

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN MENJADI KELAPA SAWIT DI BENGKULU : KASUS PETANI DI DESA KUNGKAI BARU 189 Prosiding Seminar Nasional Budidaya Pertanian Urgensi dan Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian Bengkulu 7 Juli 2011 ISBN 978-602-19247-0-9 FAKTOR YANG MEMPENGARUHI ALIH FUNGSI LAHAN PANGAN

Lebih terperinci

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA

GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN. Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA GAMBARAN SINGKAT TENTANG KETERKAITAN EKONOMI MAKRO DAN PEMANFAATAN SUMBER DAYA ALAM DI TIGA PROVINSI KALIMANTAN Oleh: Dr. Maria Ratnaningsih, SE, MA September 2011 1. Pendahuluan Pulau Kalimantan terkenal

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Strategi dan arah kebijakan merupakan rumusan perencanaan komperhensif tentang bagaimana pemerintah Kabupaten Natuna mencapai tujuan dan sasaran RPJMD dengan efektif

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH 5.1. Sasaran Pokok dan Arah Pembangunan Jangka Panjang Daerah Tujuan akhir pelaksanaan pembangunan jangka panjang daerah di Kabupaten Lombok Tengah

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK

ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK 45 ANALISIS KINERJA KUALITAS PRODUK Perilaku konsumen dalam mengkonsumsi dangke dipengaruhi oleh faktor budaya masyarakat setempat. Konsumsi dangke sudah menjadi kebiasaan masyarakat dan bersifat turun

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Pemilihan lokasi usaha oleh suatu organisasi (perusahaan) akan mempengaruhi risiko (risk) dan keuntungan (profit) perusahaan tersebut secara keseluruhan. Kondisi ini

Lebih terperinci

PENENTUAN PUSAT PUSAT PENGEMBANGAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT Oleh : Ir Kartika Listriana

PENENTUAN PUSAT PUSAT PENGEMBANGAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT Oleh : Ir Kartika Listriana PENENTUAN PUSAT PUSAT PENGEMBANGAN DI WILAYAH PESISIR PANTAI DAN LAUT Oleh : Ir Kartika Listriana Wilayah pesisir dan laut memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah daratan. Karakteristik khusus

Lebih terperinci

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian,

5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) pembangunan di urusan lingkungan hidup, urusan pertanian, urusan perumahan rakyat, urusan komunikasi dan informatika, dan urusan kebudayaan. 5. Arah Kebijakan Tahun Kelima (2018) Pembangunan di tahun kelima diarahkan pada fokus pembangunan di urusan lingkungan

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG

ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG ARAH PEMBANGUNAN PERTANIAN JANGKA PANJANG K E M E N T E R I A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L / B A D A N P E R E N C A N A A N P E M B A N G U N A N N A S I O N A L ( B A

Lebih terperinci

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati

PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati PENINGKATAN NILAI TAMBAH JAGUNG SEBAGAI PANGAN LOKAL Oleh : Endah Puspitojati Kebutuhan pangan selalu mengikuti trend jumlah penduduk dan dipengaruhi oleh peningkatan pendapatan per kapita serta perubahan

Lebih terperinci

di kota tetap Balikpapan menjanjikan. Era ini (tahun milik setara Produksi ton atau Segar) ton CPO (Crude skala cukup luas saat Paser

di kota tetap Balikpapan menjanjikan. Era ini (tahun milik setara Produksi ton atau Segar) ton CPO (Crude skala cukup luas saat Paser Peluang Industri Komoditi Kelapaa Sawit di kota Balikpapan (Sumber : Dataa Badan Pusat Statistik Pusat dan BPS Kota Balikpapan dalam Angka 2011, balikpapan.go.id, www..grandsudirman.com dan berbagai sumber,

Lebih terperinci

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam Abstrak UPAYA PENGEMBANGAN USAHA KECIL DAN MENENGAH (UKM) Oleh : Dr. Ir. Mohammad Jafar Hafsah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan ekonomi nasional, oleh karena

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.12/MEN/2010 TENTANG MINAPOLITAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendorong percepatan

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN PEMBANGUNAN Strategi merupakan langkah-langkah yang berisikan program-program indikatif untuk mewujudkan visi dan misi. Strategi harus dijadikan salah satu rujukan penting

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Peranan agribisnis dalam perekonomian Indonesia diharapkan dapat

I. PENDAHULUAN. Peranan agribisnis dalam perekonomian Indonesia diharapkan dapat I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peranan agribisnis dalam perekonomian Indonesia diharapkan dapat menjamin pertumbuhan ekonomi, kesempatan lcerja dan memperbaiki kondisi kesenjangan yang ada. Keunggulan

Lebih terperinci

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79

NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 No. 17/03/34/Th.XVII, 2 Maret 2015 NILAI TUKAR PETANI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA BULAN FEBRUARI 2015 SEBESAR 100,79 A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI 1. Nilai Tukar Petani (NTP) Pada Februari 2015, NTP

Lebih terperinci

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia

Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia IFAD/R. Grossman Mendorong masyarakat miskin di perdesaan untuk mengatasi kemiskinan di Indonesia Kemiskinan perdesaan di Indonesia Indonesia telah melakukan pemulihan krisis keuangan pada tahun 1997 yang

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN. rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah, maka strategi dan arah kebijakan pembangunan jangka menengah

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran pembangunan untuk mewujudkan visi dan misi yang telah ditetapkan, perlu perubahan secara mendasar, terencana dan terukur. Upaya

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA 1.tE,"P...F.3...1!..7. INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DANA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI, EFISIENSI DAN KEUNTUNGAN PADA INDUSTRI TEMPE DAN KRIPEK TEMPE KEDELE Di Daerah Sanan, Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing, Kodya Malang Jawa Timur

Lebih terperinci

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI

BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI BAB 22 PENINGKATAN KEMAMPUAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam rangka membangun

Lebih terperinci

MODEL KELEMBAGAAN EKONOMI PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI PROPINSI RIAU 1

MODEL KELEMBAGAAN EKONOMI PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI PROPINSI RIAU 1 MODEL KELEMBAGAAN EKONOMI PADA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DI PROPINSI RIAU 1 Almasdi Syahza 2 Lembaga Penelitian Universitas Riau, Pekanbaru E-mail: asyahza@yahoo.co.id Website: http://almasdi.unri.ac.id

Lebih terperinci

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011

SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011 GUBERNUR SULAWESI TENGAH SAMBUTAN PENJABAT GUBERNUR SULAWESI TENGAH PADA ACARA PEMBUKAAN TEMU BISNIS PENGEMBANGAN INDUSTRI KAKAO SULAWESI TENGAH SENIN, 18 APRIL 2011 ASSALAMU ALAIKUM WAR, WAB, SALAM SEJAHTERA

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

Kerjasama Dalam Sentra UKM

Kerjasama Dalam Sentra UKM B A B Kerjasama Dalam Sentra UKM T ingkat Kerjasama dan Keberadaan Kelompok menjadi salah satu pemicu peningkatan aktivitas di dalam sentra. Hal ini menunjukkan dukungan pada pendekatan JICA yang mensyaratkan

Lebih terperinci

ALTERNATIF BENTUK PENATAAN WILAYAH DI KABUPATEN GROBOGAN TUGAS AKHIR

ALTERNATIF BENTUK PENATAAN WILAYAH DI KABUPATEN GROBOGAN TUGAS AKHIR ALTERNATIF BENTUK PENATAAN WILAYAH DI KABUPATEN GROBOGAN TUGAS AKHIR Oleh: JIHAN MARIA ULFA L2D 306 014 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2008 ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat mendukung untuk pengembangan usaha perikanan baik perikanan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan suatu Negara yang memiliki kawasan perairan yang hampir 1/3 dari seluruh kawasannya, baik perairan laut maupun perairan tawar yang sangat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. bangsa Indonesia. Dengan demikian pembangunan sektor pertanian khususnya

I. PENDAHULUAN. bangsa Indonesia. Dengan demikian pembangunan sektor pertanian khususnya I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai negara dengan sumber daya alam yang melimpah, Indonesia memiliki potensi daya saing komparatif dengan negara-negara lain. Daya saing tersebut khususnya pada sektor

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN INKLUSIF

KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN INKLUSIF KEBIJAKAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERTANIAN DALAM PEMBANGUNAN INKLUSIF Dr. Ir. Winny Dian Wibawa, M.Sc Kepala Badan PPSDMP Disampaikan pada Seminar Nasional UNPAD Jatinangor, 24 November 2014

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1

DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN. Bab I Pendahuluan I-1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN i iii v vii Bab I Pendahuluan I-1 1.1. Latar Belakang I-1 1.2. Maksud dan Tujuan I-2 1.3. Dasar Hukum I-3 1.4. Hubungan Antar Dokumen I-6

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pelaksanaan otonomi daerah secara luas, nyata dan bertanggungjawab telah menjadi tuntutan daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah memiliki hak dan kewenangan dalam mengelola

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 1997 TENTANG STATISTIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 1997 TENTANG STATISTIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 39, 1997 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3683) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 1997 TENTANG STATISTIK DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BANTUAN LANGSUNG TUNAI DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCY PROCESS

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BANTUAN LANGSUNG TUNAI DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCY PROCESS SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENERIMA BANTUAN LANGSUNG TUNAI DENGAN MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCY PROCESS Dita Monita 0811118 Mahasiswa Program Studi Teknik Informatika STMIK Budi Darma Medan Jl.

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH

PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH PENJELASAN ATAS PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TENGAH NOMOR 13 TAHUN 2013 TENTANG PEMBERDAYAAN USAHA MIKRO, KECIL, DAN MENENGAH I. UMUM Dengan adanya otonomi daerah Pemerintah Provinsi memiliki peran yang

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Konfigurasi Spasial Karakteristik Wilayah

HASIL DAN PEMBAHASAN Konfigurasi Spasial Karakteristik Wilayah 70 HASIL DAN PEMBAHASAN Konfigurasi Spasial Karakteristik Wilayah Proses analisis komponen utama terhadap kecamatan-kecamatan di wilayah Kabupaten Banyumas yang didasarkan pada data Potensi Desa (PODES)

Lebih terperinci

Kata Kunci : AHP (Analytical Hierarchy Process), SPK, seleksi, bobot, calon karyawan.

Kata Kunci : AHP (Analytical Hierarchy Process), SPK, seleksi, bobot, calon karyawan. SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN SELEKSI PENERIMAAN KARYAWAN BARU MENGGUNAKAN METODE ANALYTICAL HIERARCHY PROSCESS (STUDI KASUS: PT. INFOMEDIA SOLUSI HUMANIKA (INSANI) KALIMANTAN BARAT) Randi Ariefianto 1, M

Lebih terperinci

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM

Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM Penanganan Das Bengawan Solo di Masa Datang Oleh : Ir. Iman Soedradjat,MPM DAS Bengawan Solo merupakan salah satu DAS yang memiliki posisi penting di Pulau Jawa serta sumber daya alam bagi kegiatan sosial-ekonomi

Lebih terperinci

Guna mencapai sasaran pembangunan yang diinginkan, arah pembangunan jangka panjang atau arah kebijakan umum 20 tahun mendatang, sebagai berikut :

Guna mencapai sasaran pembangunan yang diinginkan, arah pembangunan jangka panjang atau arah kebijakan umum 20 tahun mendatang, sebagai berikut : BAB IV ARAH KEBIJAKAN DAN SASARAN PRIORITAS DAERAH V isi pembangunan jangka panjang tahun 2005-2025 adalah mewujudkan Kabupaten Kolaka Sebagai Daerah Perjuangan Yang Aman, Maju, Berbudaya, Religius, Demokratis,

Lebih terperinci

Tentang Penulis. Penulis dilahirkan pada tanggal 27 Oktober 1984 di Majene, Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan, Jurusan Perikanan,

Tentang Penulis. Penulis dilahirkan pada tanggal 27 Oktober 1984 di Majene, Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan, Jurusan Perikanan, Tentang Penulis Penulis dilahirkan pada tanggal 27 Oktober 1984 di Majene, Sulawesi Barat. Pada tahun 2002 menyelesaikan pendidikan di SMU 1 Majene dan pada tahun 2003 penulis berhasil diterima pada Program

Lebih terperinci

BAGAN ORGANISASI DINAS PERINDUSTRIAN, KOPERASI, DAN UMKM KABUPATEN SRAGEN..

BAGAN ORGANISASI DINAS PERINDUSTRIAN, KOPERASI, DAN UMKM KABUPATEN SRAGEN.. DINAS PERINDUSTRIAN, KOPERASI, DAN UMKM KABUPATEN SRAGEN LAMPIRAN I :.. PERATURAN DAERAH KABUPATEN SRAGEN TANGGAL : 31 MARET 2011 UMUM DAN KEPEGAWAIAN INDUSTRI KOPERASI LEMBAGA MIKRO USAHA MIKRO, KECIL,

Lebih terperinci

VISI KALTIM BANGKIT 2013

VISI KALTIM BANGKIT 2013 VISI KALTIM BANGKIT 2013 Mewujudkan Kaltim Sebagai Pusat Agroindustri Dan EnergiTerkemuka Menuju Masyarakat Adil Dan Sejahtera MENCIPTAKAN KALTIM YANG AMAN, DEMOKRATIS, DAN DAMAI DIDUKUNG PEMERINTAHAN

Lebih terperinci

ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. *

ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. * ARAH PEMBANGUNAN HUKUM DALAM MENGHADAPI ASEAN ECONOMIC COMMUNITY 2015 Oleh: Akhmad Aulawi, S.H., M.H. * Era perdagangan bebas di negaranegara ASEAN tinggal menghitung waktu. Tidak kurang dari 2 tahun pelaksanaan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. pendapatan pajak, bea cukai, BUMN, dan Migas, pariwisata juga menjadi andalan. Kayu olahan 3.3% Karet olahan 9.0%

I. PENDAHULUAN. pendapatan pajak, bea cukai, BUMN, dan Migas, pariwisata juga menjadi andalan. Kayu olahan 3.3% Karet olahan 9.0% I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor pariwisata memegang peranan penting dalam perekonomian Indonesia, baik sebagai salah satu sumber penerimaan devisa maupun penciptaan lapangan kerja serta kesempatan

Lebih terperinci

BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah

BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah BOKS Perbatasan Kalimantan Barat Masih Perlu Perhatian Pemerintah Pusat Dan daerah Kalimantan Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia) dengan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.30/MEN/2010 TENTANG RENCANA PENGELOLAAN DAN ZONASI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN 2015 TENTANG KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa dengan telah

Lebih terperinci

SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de

SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR www.kas.de DAFTAR ISI 3 MUKADIMAH 3 KAIDAH- KAIDAH POKOK 1. Kerangka hukum...3 2. Kepemilikan properti dan lapangan kerja...3

Lebih terperinci

RIKA PUSPITA SARI 02 114 054 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG

RIKA PUSPITA SARI 02 114 054 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG PERANAN BANTUAN PROGRAM PENGUATAN MODAL USAHA TERHADAP USAHA PENGOLAHAN PISANG PADA KELOMPOK WANITA TANI (KWT) MAJU BERSAMA DI KECAMATAN TANJUNG BARU KABUPATEN TANAH DATAR Oleh : RIKA PUSPITA SARI 02 114

Lebih terperinci

KONDISI IKLIM KALSEL 1996-2005

KONDISI IKLIM KALSEL 1996-2005 24 2.2 Prediksi Kondisi Umum Daerah 2.2.1 Geomorfologis dan Iklim Kondisi iklim di Kalimantan Selatan sejak tahun 1996 sampai dengan tahun 2005 dapat dilihat pada grafik berikut ini: Gambar 2.1 Kondisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. omzet, namun karena jumlahnya cukup besar, maka peranan UMKM cukup

BAB I PENDAHULUAN. omzet, namun karena jumlahnya cukup besar, maka peranan UMKM cukup BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah.peran penting tersebut telah mendorong banyak

Lebih terperinci

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS

PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS PERAN KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN DALAM MENDORONG INOVASI PRODUK DI INDUSTRI PULP DAN KERTAS Jakarta, 27 Mei 2015 Pendahuluan Tujuan Kebijakan Industri Nasional : 1 2 Meningkatkan produksi nasional. Meningkatkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Peranan sektor pertanian dalam pembangunan di Indonesia tidak perlu diragukan lagi. Pemerintah memberikan amanat bahwa prioritas pembangunan diletakkan pada pembangunan

Lebih terperinci

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga

BAB III KONDISI UMUM. 3.1. Geografis. Kondisi Umum 14. Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau Bintan dan Kabupaten Lingga Orientasi Pra Rekonstruksi Kawasan Hutan di Pulau dan Kabupaten Lingga BAB III KONDISI UMUM 3.1. Geografis Wilayah Kepulauan Riau telah dikenal beberapa abad silam tidak hanya di nusantara tetapi juga

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI A. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD Beberapa permasalahan yang masih dihadapi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga

Lebih terperinci

PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TAHUN ANGGARAN 2016

PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TAHUN ANGGARAN 2016 PAPARAN PRIORITAS PEMBANGUNAN DAERAH KABUPATEN MAHAKAM ULU TAHUN ANGGARAN 2016 OLEH : Pj. BUPATI MAHAKAM ULU M.S. RUSLAN, SH, MH, M.Si MAHAKAM ULU KABUPATEN BERBUDAYA (Bersih, Ramah, Beradat, Ulet, Damai,

Lebih terperinci

KETIKA IJIN USAHA PERKEBUNAN (IUP) BERSINGGUNGAN KAWASAN HUTAN. Oleh : Sri Sultarini Rahayu. Auditor pada Inspektorat IV Kementerian Kehutanan

KETIKA IJIN USAHA PERKEBUNAN (IUP) BERSINGGUNGAN KAWASAN HUTAN. Oleh : Sri Sultarini Rahayu. Auditor pada Inspektorat IV Kementerian Kehutanan KETIKA IJIN USAHA PERKEBUNAN (IUP) BERSINGGUNGAN KAWASAN HUTAN Oleh : Sri Sultarini Rahayu Auditor pada Inspektorat IV Kementerian Kehutanan Perkebunan merupakan salah satu penghasil devisa yang sangat

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO Judul : Dampak Pertumbuhan Industri Terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Sidoarjo SKPD : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Pembangunan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. latar Belakang Masalah. Indonesia di kenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam bahan galian

BAB 1 PENDAHULUAN. A. latar Belakang Masalah. Indonesia di kenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam bahan galian BAB 1 PENDAHULUAN A. latar Belakang Masalah Indonesia di kenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam bahan galian mineral, Seperti bahan galian (C) jika sumber daya alam ini dapat di kelola dengan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. nasional yang bertujuan antara lain untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil

1. PENDAHULUAN. nasional yang bertujuan antara lain untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan perikanan merupakan salah satu bagian dari pembangunan nasional yang bertujuan antara lain untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil perikanan, baik untuk

Lebih terperinci

KODEFIKASI RPI 25. Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan

KODEFIKASI RPI 25. Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan KODEFIKASI RPI 25 Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan Lembar Pengesahan Penguatan Tata Kelola Industri dan Perdagangan Hasil Hutan 851 852 RENCANA PENELITIAN INTEGRATIF 2010-2014

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 98/Permentan/OT.140/9/2013 TENTANG PEDOMAN PERIZINAN USAHA PERKEBUNAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN TA.2015

FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN TA.2015 FOKUS PROGRAM DAN KEGIATAN KETAHANAN PANGAN TA.2015 1 ARAHAN UU NO. 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN A. KERANGKA KEBIJAKAN KETAHANAN PANGAN Kedaulatan Pangan Kemandirian Pangan Ketahanan Pangan OUTCOME Masyarakat

Lebih terperinci

Ass. Ws. Wb. Selamat Pagi dan Salam Sejahtera bagi kita sekalian!

Ass. Ws. Wb. Selamat Pagi dan Salam Sejahtera bagi kita sekalian! PIDATO GUBERNUR DALAM RANGKA PEMBUKAAN DIALOG HUTAN TENTANG PANGAN, BAHAN BAKAR, SERAT DAN HUTAN THE FOREST DIALOGUE - Food, Fuel. Fiber and Forests (4Fs) Palangka Raya, 18 Maret 2013 Yth. Director General

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Mengingat bahwa RPJMD merupakan pedoman dan arahan bagi penyusunan dokumen perencanaan pembangunan daerah lainnya, maka penentuan strategi dan arah kebijakan pembangunan

Lebih terperinci

SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN PADA PERINGATAN HARI KRIDA PERTANIAN (HKP) KE-42 TAHUN 2014 JAKARTA, 23 JUNI 2014

SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN PADA PERINGATAN HARI KRIDA PERTANIAN (HKP) KE-42 TAHUN 2014 JAKARTA, 23 JUNI 2014 SAMBUTAN MENTERI PERTANIAN PADA PERINGATAN HARI KRIDA PERTANIAN (HKP) KE-42 TAHUN 2014 JAKARTA, 23 JUNI 2014 Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Salam Sejahtera bagi kita semua Saudara-saudara

Lebih terperinci

PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015

PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015 1 PROGRAM STRATEGIS KEMENTERIAN KOPERASI DAN UKM 2015 DEPUTI BIDANG KELEMBAGAAN KOPERASI DAN UKM 1. Revitalisasi dan Modernisasi Koperasi; 2. Penyuluhan Dalam Rangka Gerakan Masyarakat Sadar Koperasi;

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI

LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Laporan ini berisi Kata Pengantar dan Ringkasan Eksekutif. Terjemahan lengkap laporan dalam Bahasa Indonesia akan diterbitkan pada waktunya. LAPORAN PENELITIAN HUTAN BER-STOK KARBON TINGGI Pendefinisian

Lebih terperinci

Edianto Berutu (1011418)

Edianto Berutu (1011418) SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENGANGKATAN KARYAWAN TETAP DENGAN METODE ANALYTIC HIERARCHY PROCESS (AHP) PADA PT. PERKEBUNAN LEMBAH BHAKTI PROPINSI NAD KAB. ACEH SINGKIL Edianto Berutu (1011418) Mahasiswa

Lebih terperinci

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011

INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 INDUSTRI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT INDONESIA In House Training Profil Bisnis Industri Kelapa Sawit Indonesia Medan, 30-31 Mei 2011 Ignatius Ery Kurniawan PT. MITRA MEDIA NUSANTARA 2011 KEMENTERIAN KEUANGAN

Lebih terperinci

Pengembangan dan pembangunan Ketenagalistrikan. Pembangunan PLTMH. Program Inumerasi Energi. Pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya

Pengembangan dan pembangunan Ketenagalistrikan. Pembangunan PLTMH. Program Inumerasi Energi. Pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya Revitalisasi/ Daya Listrik/ Energi Kapasitas Energi Listrik (Kelistrikan) Meningkatnya Energi ketenagalistrikan dan pembangunan Ketenagalistrikan PLTMH Bulungan, Paser Terbangunnya PLTMH 1 Unit dan Pendayagunaan

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i vii xii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-2 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4 1.3.1 Hubungan RPJMD

Lebih terperinci

Tabel IV.C.1.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Perikanan Tahun 2013

Tabel IV.C.1.1 Rincian Program dan Realisasi Anggaran Urusan Perikanan Tahun 2013 C. URUSAN PILIHAN YANG DILAKSANAKAN 1. URUSAN PERIKANAN Pembangunan pertanian khususnya sektor perikanan merupakan bagian integral dari pembangunan ekonomi, dalam hal ini sektor perikanan adalah sektor

Lebih terperinci

BUPATI SIGI PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIGI NOMOR 10 TAHUN 2010 T E N T A N G

BUPATI SIGI PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIGI NOMOR 10 TAHUN 2010 T E N T A N G BUPATI SIGI PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIGI NOMOR 10 TAHUN 2010 T E N T A N G BADAN PELAKSANA PENYULUHAN PERTANIAN, PERIKANAN DAN KEHUTANAN KABUPATEN SIGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIGI,

Lebih terperinci

Dampak Banjir Terhadap Inflasi

Dampak Banjir Terhadap Inflasi Dampak Banjir Terhadap Inflasi Praptono Djunedi, Peneliti Badan Kebijakan Fiskal Siapa yang merusak harga pasar hingga harga itu melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 2014 TENTANG PEMBERIAN FASILITAS DAN INSENTIF USAHA HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum. Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor: / / Tentang PEDOMAN PEMANTAUAN DAN EVALUASI PEMANFAATAN RUANG WILAYAH KOTA BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Direktorat Jenderal Penataan Ruang Kementrian Pekerjaan

Lebih terperinci