PENENTUAN UMUR SIMPAN PADA PRODUK PANGAN. Heny Herawati

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PENENTUAN UMUR SIMPAN PADA PRODUK PANGAN. Heny Herawati"

Transkripsi

1 PENENTUAN UMUR SIMPAN PADA PRODUK PANGAN Heny Herawai Balai Pengkajian Teknologi Peranian Jawa Tengah, Buki Tegalepek, Koak Po 101 Ungaran ABSTRAK Pengolahan pangan pada induri komerial anara lain berujuan unuk memperpanjang maa impan. Umur impan merupakan alah au peryaraan yang haru dipenuhi ebelum produk pangan dipaarkan elain produk aman dikonumi oleh mayaraka. Unuk memperlua informai mengenai penenuan umur impan, dalam makalah ini dielaah mengenai regulai, krieria kedaluwara, prinip pendugaan umur impan, perumuan umur impan, krieria kemaan, dan upaya memperpanjang umur impan produk pangan. Pengolahan unuk memperpanjang umur impan produk pangan perlu menganiipai fakor-fakor yang dapa menimbulkan keruakan muu. Penenuan umur impan juga perlu memperimbangkan fakor ekni dan ekonomi berkaian dengan upaya diribui produk yang di dalamnya mencakup kepuuan manajemen yang beranggung jawab. Kaa kunci: Pangan, pengolahan pangan, muu, umur impan ABSTRACT Shelf life deerminaion for food produc Commercial food proceing aimed o exend helf life of produc. Shelf life produc informaion i required before produc launched in he marke o guaranee he conumer. Broaden knowledge abou helf life of food produc i reviewed in which include regulaion, helf life crieria, helf life predicion principle, helf life analyi, packaging crieria, and exending food helf life effor. Proceing aciviie o exend produc helf life hould anicipae anoher qualiy degradaion ource. Shelf life analyi hould conider everal echnical and economical facor which relae o he reponibiliy of managemen deciion on produc diribuion. Keyword: Food, food proceing, qualiy, helf life Pengolahan pangan pada induri komerial umumnya berujuan memperpanjang maa impan, mengubah aau meningkakan karakeriik produk (warna, cia raa, ekur), mempermudah penanganan dan diribui, memberikan lebih banyak pilihan dan ragam produk pangan di paaran, meningkakan nilai ekonomi bahan baku, era memperahankan aau meningkakan muu, eruama muu gizi, daya cerna, dan keerediaan gizi. Krieria aau komponen muu yang pening pada komodia pangan adalah keamanan, keehaan, flavor, ekur, warna, umur impan, kemudahan, kehalalan, dan harga (Andarwulan dan Hariyadi 2004). Perauran mengenai penenuan umur impan bahan pangan elah dikeluarkan oleh Codex Allimenariu Commiion (CAC) pada ahun 1985 enang Food Labelling Regulaion. Di Indoneia, perauran mengenai penenuan umur impan bahan pangan erdapa dalam UU Pangan No. 7 ahun 1996 dan PP No. 69 ahun Menuru Rahayu e al. (2003), erdapa ujuh jeni produk pangan yang idak wajib mencanumkan anggal, bulan, dan ahun kedaluwara, yaiu: 1) buah dan ayuran egar, ermauk kenang yang belum dikupa, 2) minuman yang mengandung alkohol lebih bear aau ama dengan 10% (volume/volume), 3) makanan yang diproduki unuk dikonumi aa iu juga aau idak lebih dari 24 jam eelah diproduki, 4) cuka, 5) garam meja, 6) gula pair, era 7) permen dan ejeninya yang bahan bakunya hanya berupa gula diambah flavor aau gula yang diberi pewarna. Berdaarkan perauran, emua produk pangan wajib mencanumkan anggal kedaluwara, kecuali ujuh jeni produk pangan erebu. Peneapan umur impan dan parameer enori anga pening pada ahap peneliian dan pengembangan produk pangan baru. Pada kala induri bear aau komerial, umur impan dienukan berdaarkan hail analii di laboraorium yang didukung hail evaluai diribui di lapangan. Berkaian dengan berkembangnya induri pangan kala uaha kecil-menengah, dipandang perlu unuk mengembangkan penenuan umur impan produk ebagai benuk jaminan keamanan pangan. Penenuan umur impan di ingka induri pangan kala uaha kecilmenengah ering kali erkendala oleh fakor biaya, waku, proe, failia, dan kurangnya pengeahuan produen pangan. Makalah ini menelaah proe penenuan umur impan produk pangan dalam pengembangan induri pangan. KRITERIA KEDALUWARSA Menuru Iniue of Food Science and Technology (1974), umur impan produk pangan adalah elang waku anara aa produki hingga konumi di mana produk berada dalam kondii yang memuakan 124 Jurnal Libang Peranian, 27(4), 2008

2 berdaarkan karakeriik penampakan, raa, aroma, ekur, dan nilai gizi. Semenara iu, Floro dan Gnanaekharan (1993) menyaakan bahwa umur impan adalah waku yang diperlukan oleh produk pangan dalam kondii penyimpanan erenu unuk dapa mencapai ingkaan degradai muu erenu. Pada aa baru diproduki, muu produk dianggap dalam keadaan 100%, dan akan menurun ejalan dengan lamanya penyimpanan aau diribui. Selama penyimpanan dan diribui, produk pangan akan mengalami kehilangan bobo, nilai pangan, muu, nilai uang, daya umbuh, dan kepercayaan (Rahayu e al. 2003). Penggunaan indikaor muu dalam menenukan umur impan produk iap maak aau iap aji berganung pada kondii aa percobaan penenuan umur impan erebu dilakukan (Kunandar 2004). Hail percobaan penenuan umur impan hendaknya dapa memberikan informai enang umur impan pada kondii ideal, umur impan pada kondii idak ideal, dan umur impan pada kondii diribui dan penyimpanan normal dan penggunaan oleh konumen. Suhu normal unuk penyimpanan yaiu uhu yang idak menyebabkan keruakan aau penurunan muu produk. Suhu ekrim aau idak normal akan mempercepa erjadinya penurunan muu produk dan ering diidenifikai ebagai uhu pengujian umur impan produk (Hariyadi 2004a). Pengendalian uhu, kelembapan, dan penanganan fiik yang idak baik dapa dikaegorikan ebagai kondii diribui pangan yang idak normal. Kondii diribui dan uhu akan menenukan umur impan produk pangan ebagaimana erera pada Tabel 1. PARAMETER UMUR SIMPAN Terdapa beberapa fakor yang mempengaruhi penurunan muu produk pangan. Floro dan Gnanaekharan (1993) menyaakan erdapa enam fakor uama yang mengakibakan erjadinya penurunan muu aau keruakan pada produk pangan, yaiu maa okigen, uap air, cahaya, mikroorganime, komprei aau baningan, dan bahan kimia okik aau off flavor. Fakor-fakor erebu dapa mengakibakan erjadinya penurunan Tabel 1. muu lebih lanju, eperi okidai lipida, keruakan viamin, keruakan proein, perubahan bau, reaki pencoklaan, perubahan unur organolepik, dan kemungkinan erbenuknya racun. Lebih lanju, Sadler (1987) mengelompokkan fakor yang mempengaruhi perubahan muu produk pangan menjadi iga golongan, yaiu energi akivai rendah (2 15 kkal/mol), energi akivai edang (15 30 kkal/mol), dan energi akivai inggi ( kkal/ mol). Fakor-fakor yang menyebabkan erjadinya perubahan pada produk pangan menjadi daar dalam menenukan iik krii umur impan. Tiik krii dienukan berdaarkan fakor uama yang anga eniif era dapa menimbulkan erjadinya perubahan muu produk elama diribui, penyimpanan hingga iap dikonumi. Menuru Floro dan Gnanaekharan (1993), krieria kedaluwara beberapa produk pangan dapa dienukan dengan menggunakan acuan iik krii eperi diajikan pada Tabel 2. Fakor yang anga berpengaruh erhadap penurunan muu produk pangan adalah perubahan kadar air dalam produk. Akivia air (a w ) berkaian era dengan kadar air, yang umumnya digambarkan ebagai kurva ioermi, era perumbuhan bakeri, jamur dan mikroba lainnya. Makin inggi a w pada umumnya makin banyak bakeri yang dapa umbuh, emenara jamur idak menyukai a w yang inggi (Chriian 1980). Umur impan beberapa produk cokla olahan berdaarkan kondii normal (ubropi) dan kondii ropi. Umur impan Umur impan Kaegori produk kondii ubropi kondii ropi (bulan) (bulan) Suu cokla Bahan cokla Cokla puih Cokla unuk ii bahan pangan Cokla ii kacang 12 9 Wafer cokla 12 9 Cokla berlemak 12 9 Sumber: Kunandar (2004). Tabel 2. Krieria kedaluwara beberapa produk pangan. Produk Mekanime penurunan muu Krieria kedaluwara Teh kering Penyerapan uap air Peningkaan kadar air Suu bubuk Penyerapan uap air Pencoklaan Suu bubuk Okidai Laju konumi O 2 Makanan lau kering beku Okidai dan foodegradai Akivia air Makanan bayi Penyerapan uap air Konenrai aam akorba Makanan kering Penyerapan uap air Sayuran kering Penyerapan uap air Off flavor-perubahan warna Kol kering Penyerapan uap air Pencoklaan Tepung biji kapa Penyerapan uap air Pencoklaan Tepung oma Penyerapan uap air Konenrai aam akorba Biji-bijian Penyerapan uap air Peningkaan kadar air Keju Penyerapan uap air Tekur Bawang kering Penyerapan uap air Pencoklaan Bunci hijau Penyerapan uap air Konenrai klorofil Keripik kenang Penyerapan uap air Laju okidai dan okidai Keripik kenang Okidai Laju konumi O 2 Udang kering beku Okidai Konenrai karoen dan laju konenrai O 2 Tepung gandum Penyerapan uap air Konenrai aam akorba dan okidai Minuman ringan Pelepaan CO 2 Perubahan ekanan Sumber: Floro dan Gnanaekharan (1993). Jurnal Libang Peranian, 27(4),

3 Mikroorganime menghendaki a w minimum agar dapa umbuh dengan baik, yaiu unuk bakeri 0,90, kamir 0,80 0,90, dan kapang 0,60 0,70 (Winarno 1992). Prabhakar dan Amia (1978) menyaakan, pada a w yang inggi, okidai lemak berlangung lebih cepa dibanding pada a w rendah. Kandungan air dalam bahan pangan, elain mempengaruhi erjadinya perubahan kimia juga iku menenukan kandungan mikroba pada pangan. Selain kadar air, keruakan produk pangan juga diebabkan oleh keengikan akiba erjadinya okidai aau hidrolii komponen bahan pangan. Tingka keruakan erebu dapa dikeahui melalui analii free fay acid (FFA) dan io barbiuric acid (TBA). Keruakan lemak elain menaikkan nilai perokida juga meningkakan kandungan malonaldehida, uau benuk aldehida yang beraal dari degradai lemak (Deng 1978). Malonaldehida yang erkandung pada uau bahan pangan diukur ebagai angka TBA. Kandungan mikroba, elain mempengaruhi muu produk pangan juga menenukan keamanan produk erebu dikonumi. Perumbuhan mikroba pada produk pangan dipengaruhi oleh fakor inrinik dan ekrinik. Fakor inrinik mencakup keaaman (ph), akivia air (a w ), equilibrium humidiy (Eh), kandungan nurii, rukur biologi, dan kandungan animikroba. Fakor ekrinik melipui uhu penyimpanan, kelembapan relaif, era jeni dan jumlah ga pada lingkungan (Arpah 2001). Unuk menenukan ingka keamanan produk pangan berdaarkan kandungan mikroba, digunakan parameer beberapa jeni mikroba yang erkandung dalam produk pangan ebagaimana erera pada Tabel 3. PRINSIP PENDUGAAN UMUR SIMPAN Salah au kendala yang ering dihadapi induri pangan dalam penenuan maa kedaluwara produk adalah waku. Pada prakeknya, ada lima pendekaan yang dapa digunakan unuk menduga maa kedaluwara, yaiu: 1) nilai puaka (lieraure value), 2) diribuion urn over, 3) diribuion abue e, 4) conumer complain, dan 5) acceleraed helf-life eing (ASLT) (Hariyadi 2004a). Nilai puaka ering digunakan dalam penenuan awal aau ebagai pembanding dalam penenuan produk pangan karena keerbaaan failia yang dimiliki produen pangan. Diribuion urn over merupakan cara menenukan umur impan produk pangan berdaarkan informai produk ejeni yang erdapa di paaran. Pendekaan ini dapa digunakan pada produk pangan yang proe pengolahannya, kompoii bahan yang digunakan, dan apek lain ama dengan produk ejeni di paaran dan elah dienukan umur impannya. Diribuion abue e merupakan cara penenuan umur impan produk berdaarkan hail analii produk elama penyimpanan dan diribui di lapangan, aau mempercepa proe penurunan muu dengan penyimpanan Tabel 3. Mikroba pada kondii ekrim (abue e). Pada penenuan umur impan berdaarkan komplain konumen, produen menghiung nilai umur impan berdaarkan komplain aa produk yang didiribuikan. Unuk memperingka waku, penenuan umur impan dapa dilakukan dengan ASLT di laboraorium. Penenuan umur impan produk pangan berhubungan era dengan ahapan proe produki eperi diajikan pada Gambar 1. Unuk produk pangan yang maih dalam ahap peneliian dan pengembangan, analii unuk menenukan umur impan produk dilakukan ebelum produk dipaarkan. Unuk keperluan erebu, Kandungan mikroba yang diperyarakan pada produk pangan iap aji (UK Public Healh Laboraory Service). Memuakan Jumlah mikroba (koloni/g) Agak Tidak Tidak dierima memuakan memuakan (berpoeni bahaya) Toal Plae Coun (TPC) < >10 8 produk daging maak Salmonella p. Terdeeki/25 g Lieria monocyogene Tidak Ada/25 g >10 3 erdeeki/25 g < 10 2 Echericia coli < >10 4 Saphylococcu aureu < >10 4 Sumber: Kunandar (2004). Degradai Keeuaian Paar Biaya Umur impan yang diinginkan Perhiungan awal Uji ASS Produk Bahan Prooipe Opimum Uji diribui Jeni pengolahan Pengaruh rukur Gambar 1. Tahapan penenuan umur impan produk pangan (Floro dan Gnanaekharan 1993). 126 Jurnal Libang Peranian, 27(4), 2008

4 produen akan meramu era memproe produk ampai diemukan kondii umur impan makimal yang dikehendaki. Seelah kondii opimal diperoleh, prooipe produk diuji coba dengan menggunakan acceleraed orage udie (ASS) aau ASLT dan uji diribui. Berdaarkan hail pengujian, akan diperoleh nilai umur impan produk akhir dan produk iap dipaarkan. Daa yang diperlukan unuk menenukan umur impan produk yang dianalii di laboraorium dapa diperoleh dari analii aau evaluai enori, analii kimia dan fiik, era pengamaan kandungan mikroba (Kowara 2004). Penenuan umur impan dengan menggunakan fakor organolepik dapa menggunakan parameer enori (warna, flavor, aroma, raa, dan ekur) erhadap ampel dengan kala 0 10, yang mengindikaikan ingka keegaran uau produk (Gelman e al. 1990). PENENTUAN UMUR SIMPAN Meode konvenional biaanya digunakan unuk mengukur umur impan produk pangan yang elah iap edar aau produk yang maih dalam ahap peneliian. Pengukuran umur impan dengan meode konvenional dilakukan dengan cara menyimpan beberapa bungkuan produk yang memiliki bera era anggal produki yang ama pada beberapa deikaor aau ruangan yang elah dikondiikan dengan kelembapan yang eragam. Pengamaan dilakukan erhadap parameer iik krii dan aau kadar air. Penenuan umur impan produk dengan meode konvenional dapa dilakukan dengan menganalii kadar air uau bahan, memplo kadar air erebu pada grafik kemudian menarik iik erebu euai dengan kadar air krii produk. Perpoongan anara gari hail pengukuran kadar air dan kadar air krii diarik gari ke bawah ehingga dapa dikeahui nilai umur impan produk (Gambar 2). Selain berdaarkan hail analii kadar air, kadar air krii dapa dienukan berdaarkan muu fiik produk ebagaimana erera pada Tabel 4. Acceleraed Sorage Sudie Penenuan umur impan produk dengan meode ASS aau ering diebu dengan ASLT dilakukan dengan menggunakan parameer kondii lingkungan yang dapa mempercepa proe penurunan muu (uable qualiy) produk pangan. Salah au keunungan meode ASS yaiu waku pengujian relaif ingka (3 4 bulan), namun keepaan dan akurainya inggi. Keempurnaan model ecara eorii dienukan oleh kedekaan hail yang diperoleh (dari meode ASS) dengan nilai ESS. Hal ini dierjemahkan dengan meneapkan aumi-aumi yang mendukung model. Variai hail prediki anara model yang au dengan yang lain pada produk yang ama dapa erjadi akiba keidak- Menuru Syarief e al. (1989), ecara gari bear umur impan dapa dienukan dengan menggunakan meode konvenional (exended orage udie, ESS) dan meode akelerai kondii penyimpanan (ASS aau ASLT). Umur impan produk pangan dapa diduga kemudian dieapkan waku kedaluwaranya dengan menggunakan dua konep udi penyimpanan produk pangan, yaiu ESS dan ASS aau ASLT (Floro dan Gnanaekharan 1993). Kadar air (%) A B C Kadar air krii Exended Sorage Sudie Penenuan umur impan produk dengan ESS, yang juga ering diebu ebagai meode konvenional, adalah penenuan anggal kedaluwara dengan cara menyimpan au eri produk pada kondii normal ehari-hari ambil dilakukan pengamaan erhadap penurunan muunya (uable qualiy) hingga mencapai ingka muu kedaluwara. Meode ini akura dan epa, namun pada awal penemuan dan penggunaan meode ini dianggap memerlukan waku yang panjang dan analii parameer muu yang relaif banyak era mahal. Dewaa ini meode ESS ering digunakan unuk produk yang mempunyai maa kedaluwara kurang dari 3 bulan. Gambar 2. Penenuan umur impan produk pangan berdaarkan kadar air dan kadar air krii (Syarief e al. 1989). Tabel 4. Bahan pangan Biji-bijian Bikui, produk kering Roi awar Gula Bumbu-bumbuan Krieria muu fiik beberapa produk pangan pada kadar air krii. Sumber: Syarief e al. (1989). a b c Umur impan (hari) Krieria Tidak hancur, idak berjamur, kera Tidak lembek, renyah Tidak kera, idak berjamur Kera, idak lengke Tidak lengke, berbenuk bubuk, idak berjamur Jurnal Libang Peranian, 27(4),

5 empurnaan model dalam mendikripikan iem, yang erdiri aa produk, bahan pengema, dan lingkungan (Arpah 2001). Penenuan umur impan produk dengan meode akelerai dapa dilakukan dengan dua pendekaan, yaiu: 1) pendekaan kadar air krii dengan eori difui dengan menggunakan perubahan kadar air dan akivia air ebagai krieria kedaluwara, dan 2) pendekaan emiempiri dengan banuan peramaan Arrheniu, yaiu dengan eori kineika yang pada umumnya menggunakan ordo nol aau au unuk produk pangan. Model peramaan maemaika pada pendekaan kadar air diurunkan dari hukum difui Fick unidirekional. Terdapa empa model maemaika yang ering digunakan, yaiu model Hei dan Eichner (1971), model Rudolf (1986), model Labuza (1982), dan model waku paruh (Syarief e al. 1989). Tahapan penenuan umur impan dengan ASS melipui peneapan parameer krieria kedaluwara, pemilihan jeni dan ipe pengema, penenuan uhu unuk pengujian, prakiraan waku dan frekueni pengambilan conoh, ploing daa euai ordo reaki, analii euai uhu penyimpanan, dan analii pendugaan umur impan euai baa akhir penurunan muu yang dapa diolerir. Penenuan umur impan dengan AAS perlu memperimbangkan fakor ekni dan ekonomi dalam diribui produk yang di dalamnya mencakup kepuuan manajemen yang beranggung jawab. Penggunaan uhu inkubai unuk mengeahui umur impan produk diajikan pada Tabel 5. KRITERIA KEMASAN Bucle e al. (1987) menyaakan, kemaan yang dapa digunakan ebagai wadah penyimpanan haru memenuhi beberapa peryaraan, yakni dapa memperahankan muu produk upaya eap berih era Tabel 5. Jeni produk Penenuan uhu pengujian umur impan produk. Suhu pengujian (ºC) mampu memberi perlindungan erhadap produk dari kooran, pencemaran, dan keruakan fiik, era dapa menahan perpindahan ga dan uap air. Salah au jeni kemaan bahan pangan yaiu plaik. Fakor yang mempengaruhi konana permeabilia pada kemaan plaik anara lain adalah jeni permeabilia, ada idaknya ikaan ilang (cro linking), uhu, bahan ambahan elai (plaicer), jeni polimer film, ifa dan bear molekul ga, era kelaruan bahan. Nilai konana beberapa kemaan plaik diajikan pada Tabel 6. Jeni permeabilia film berganung pada bahan yang digunakan, dan permeabilia film polyehylene (PE) lebih kecil daripada polypropylene (PP). Hal ini menunjukkan bahwa ga aau uap air akan lebih mudah mauk pada bahan pengema jeni PP daripada PE. Ikaan ilang anga dienukan oleh kombinai bahan yang digunakan. Konana PE dan biaxiallyoriened polypropylene (BOPP) lebih baik daripada konana PE pada PP. Peningkaan uhu juga mempengaruhi pemuaian ga yang menyebabkan erjadinya perbedaan konana permeabilia. Keberadaan air akan menimbulkan perenggangan pada pori-pori film ehingga meningkakan permeabilia. Polimer film dalam benuk krial aau amorphou akan menenukan permeabilia. Permeabilia low deniy polyehylene (LDPE) mencapai iga kali permeabilia high deniy polyehylene (HDPE). Suhu konrol (ºC) Makanan dalam kaleng 25, 30, 35, 40 4 Pangan kering 25, 30, 35, 40, Pangan dingin 5, 10, 15, 20 0 Pangan beku -5, -10, -15 <-40 Sumber: Labuza dan Schmidl (1985). Tabel 6. Jeni kemaan Nilai konana beberapa jeni kemaan plaik. Nilai k Polieilen denia rendah (LDPE) 1 Polieilen denia inggi (HDPE) 1 Saran 1,60 Selopan 1 1,90 Sumber: Syarief e al. (1989). Salah au eknologi pengemaan pangan yang dapa menunda penurunan muu dan memperpanjang umur impan pada ayuran yaiu modified amophere packaging (MAP) (Simon e al. 2004). MAP memberikan efek uama berupa penurunan repirai, penundaan penurunan perubahan fiiologi, era penekanan perkembangan mikroba. Penggunaan MAP dapa dikombinaikan dengan perlakuan pengolahan lainnya unuk memperpanjang umur impan produk ayuran, eperi perlakuan uhu, konenrai O 2 dan CO 2, era proe pemoongan, pencucian, dan pengupaan (Church dan Pearon 1994; Zagory 1995; Foneca e al. 2002). MEMPERPANJANG UMUR SIMPAN Muu produk pangan akan mengalami perubahan (penurunan) elama proe penyimpanan. Umur impan produk pangan dapa diperpanjang apabila dikeahui fakor-fakor yang mempengaruhi maa impan produk. Upaya memperpanjang maa impan dapa dilakukan dengan beberapa cara, yaiu meningkakan nilai muu dan memperlamba laju penurunan muu (Gambar 3). Peningkaan nilai muu awal produk dapa dilakukan dengan memilih dan menggunakan bahan baku yang bermuu baik. Berdaarkan grafik pada Gambar 3, muu awal Q 0-1 dengan baaan muu euai parameer yang elah dienukan, hanya memiliki maa kedaluwara 4 bulan. Dengan menaikkan muu awal ebear Q 0-2, dapa memperpanjang maa kedaluwara ebear 6,30 bulan. Dengan cara meningkakan muu awal produk pangan, yaiu dengan menggeer kualia (muu) menjadi Q 0-2 pada akhirnya akan dapa menggeer maa kedaluwara lebih lama. Perlambaan laju penurunan muu produk dapa dilakukan dengan memperbaiki kemaan, fakor penyimpanan, fakor penanganan diribui aau fakor penanganan lainnya. Dengan penambahan alernaif erebu, pada akhirnya dapa meningkakan maa kedaluwara produk pangan yang pada awalnya hanya memiliki maa kedaluwara 4 bulan menjadi 6,80 bulan. Dengan cara memperlamba laju penurunan muu produk melalui alernaif penanganan produk pangan, pada akhirnya dapa menggeer maa kedaluwara lebih lama. 128 Jurnal Libang Peranian, 27(4), 2008

6 Kualia (muu) Muu awal Q o-2 Muu awal Q o-1 Muu awal Q o-1 Kualia (muu) Baa muu Baa muu Waku penyimpanan (bulan) Maa kedaluwara-1 Maa kedaluwara-2 Maa kedaluwara-3 Waku penyimpanan (bulan) Gambar 3. Perpanjangan maa kedaluwara produk pangan dengan peningkaan muu awal (kiri) dan perlambaan laju penurunan muu awal (kanan) (Hariyadi 2004b). Tabel 7. Beberapa produk uu dan daya awenya melalui beberapa proe pengolahan unuk memperpanjang maa impan. Produk Daya awe Proe Suu cair 2 minggu dalam Paeuriai high emperaure hor (fluid milk) kondii refrigerai ime (HTST) Suu cair eril 3 4 bulan pada Seriliai ulra high emperaure (UHT), (UHT fluid milk) uhu ruang pengiian, dan pengemaan Suu kenal evaporai 1 2 ahun pada Proe konenrai dilanjukan (evaporaed milk) uhu ruang dengan pengalengan dan eriliai Suu bubuk 1 3 ahun pada Paeuriai HTST, konenrai, dan (pray dried whole milk) uhu ruang pengeringan dengan menggunakan pengering empro Sumber: Andarwulan dan Hariyadi (2004). Pengolahan produk pangan, elain dapa memperpanjang umur impan juga mempengaruhi komponen yang erkandung dalam produk pangan erebu (Tabel 7). Beberapa proe penanganan produk pangan yang dapa menyebabkan erjadinya perubahan muu adalah perlakuan pana inggi, pembekuan, pengemaan, pencampuran, era pemompaan. Pengeringan dapa memperpanjang umur impan. Namun, pada proe pengeringan perlu diperhaikan agar air yang keluar dari bahan idak meruak rukur jaringan, ehingga muu bahan pangan dapa diperahankan (Komari 1986). Perlakuan pana eperi blanching, paeuriai, dan pemanaan dengan ala reor pada buahbuahan dan ayuran dapa menurunkan ingka keegaran dan menyebabkan produk menjadi lebih lunak (Huang dan Bourne 1983; Togeby e al. 1986). Pelunakan produk erjadi karena adanya degradai dan pelaruan enyawa pekin pada dinding el dan bagian engah lamela (Waldron e al. 1997). Oleh karena iu, pengolahan produk pangan unuk memperpanjang umur impan perlu memperhaikan fakor lain yang dapa menimbulkan keruakan muu. KESIMPULAN DAN SARAN Pencanuman anggal kedaluwara produk pangan elah diaur dalam UU Pangan No. 7 ahun 1996 dan PP No. 69 ahun Penenuan umur impan perlu memperhaikan parameer umur impan, eruama iik krii. Terdapa lima pendekaan yang dapa digunakan dalam penenuan umur impan produk pangan ebelum dipaarkan, yaiu lieraure value, diribuion urn over, diribuion abue e, komplain konumen, dan ASLT. Penenuan umur impan dapa dilakukan dengan cara konvenional (ESS) aau dengan percepaan dengan menggunakan meode ASS. Fakor kemaan perlu diperhaikan dalam penenuan umur impan, eruama permeabilia kemaan. Unuk memperpanjang umur impan produk pangan dapa dilakukan dengan peningkaan muu awal aau dengan perlakuan elama proe penyimpanan. Pengolahan unuk memperpanjang umur impan produk pangan perlu pula menganiipai fakor lain yang dapa menimbulkan keruakan muu. Penenuan umur impan ebaiknya memperimbangkan fakor ekni dan ekonomi dalam upaya diribui produk yang di dalamnya mencakup kepuuan manajemen yang beranggung jawab. DAFTAR PUSTAKA Andarwulan, N. dan P. Hariyadi Perubahan muu (fiik, kimia, mikrobiologi) produk pangan elama pengolahan dan penyimpanan produk pangan. Pelaihan Pendugaan Waku Kedaluwara (Self Life), Bogor, 1 2 Deember Jurnal Libang Peranian, 27(4),

7 2004. Pua Sudi Pangan dan Gizi, Iniu Peranian Bogor. Arpah Penenuan Kedaluwara Produk Pangan. Program Sudi Ilmu Pangan, Iniu Peranian Bogor. Bucle, K.A., R.A. Edward, G.H. Flee, dan M. Woofon Ilmu Pangan. UI Pre, Jakara. Chriian, J.H.B Reduced waer aciviy. p In J.H. Silliker, R.P. Ellio, A.C. Baird-Parker, F.L. Brian, J.H.B. Chriian, D.S. Clark, J.C. Olon Jr., and T.A. Rober (Ed.). Microbial Ecology of Food. Academic Pre, New York. Church, I.J. and A.L. Pearon Modified amophere packaging echnology: review. J. Sci. Food Agric. 67: Deng, J.C Effec of iced orage on free fay acid producion and lipid oxidaion in mulle mucle. J. Food Sci. 43: Floro, J.D. and V. Gnanaekharan Shelf life predicion of packaged food: chemichal, biological, phyical, and nuriional apec. G. Chlaralambou (Ed.). Elevier Publ., London. Foneca, S.C., F.A.R. Oliveira, and J.K. Breach Modelling repiraion rae of freh frui and vegeable for modified amophere package: a review. J. Food Eng. 52: Gelman, A., R. Paeur, and M. Rave Qualiy change and orage life of cammon carp (Cyprinu carpio) a variou orage emperaure. J. Sci. Food Agric. 52: Hariyadi, P. 2004a. Prinip-prinip pendugaan maa kedaluwara dengan meode Acceleraed Shelf Life Te. Pelaihan Pendugaan Waku Kedaluwara (Self Life). Bogor, 1 2 Deember Pua Sudi Pangan dan Gizi, Iniu Peranian Bogor. Hariyadi, P. 2004b. Prinip peneapan dan pendayagunaan maa kedaluwara dan upayaupaya memperpanjang maa impan. Pelaihan Pendugaan Waku Kedaluwara (Self Life). Bogor, 1 2 Deember Pua Sudi Pangan dan Gizi, Iniu Peranian Bogor. Hei, R. and E. Eichner Moiure conen and helf life. Food Manufacure 46(6): Huang, Y.T. and M.C. Bourne Kineic of hermal ofening of vegeable. J. Texure Sudy 14(1): 1 9. Iniue of Food Science and Technology Shelf life of food. J. Food Sci. 39: Komari Mempelajari proe pengeringan eripih. Media Teknologi Pangan 6(4): 2. Kowara, S Evaluai enori dalam pendugaan umur impan produk pangan. Pelaihan Pendugaan Waku Kedaluwara (Self Life). Bogor, 1 2 Deember Pua Sudi Pangan dan Gizi, Iniu Peranian Bogor. Kunandar, F Aplikai program compuer ebagai ala banu penenuan umur impan produk pangan: meode Arrheniu. Pelaihan Pendugaan Waku Kedaluwara (Shelf Life) Bahan dan Produk Pangan. Bogor, 1 2 Deember Pua Sudi Pangan dan Gizi, Iniu Peranian Bogor. Labuza, T.P Open Shelf Life Daing of Food. Food and Nuriion Pre, We Por CT. Labuza, T.P. and M.K. Schmidl Acceleraed helf life eing of food. Food Technol. 39(9): 57 62, 64, 134. Prabhakar, J.V. and B.L. Amia Influence of waer aciviy on he informaion on monocarbonyl compound in oxidizing walnu oil. J. Food Sci. 43: Rahayu, W.P., H. Nababan, S. Budijano, dan D. Syah Pengemaan, Penyimpanan dan Pelabelan. Badan Pengawaan Oba dan Makanan, Jakara. Rudolf, F.B Predicion of helf life of package waer eniive food. Lebenm Wi. U. Technol. 20(1): Sadler, G.D Aepic chemiry. p In P.E. Nelon, J.V. Chamber, and J.H. Rodriguze (Ed.). Principle of Aepic Proceing and Packaging. The Food Proceor Iniue, Wahingon, DC. Simon, A., E. Gonzale-Fando, and V. Tobar Influence of wahing and packaging in he enory and microbiological qualiy of freh peeled whie aparagu. J. Food Sci. 69(1): Syarief, R., S. Sanaua, dan S. Iyana Teknologi Pengemaan Pangan. Pua Anar-Univeria, Iniu Peranian Bogor. Togeby, M., N. Hanen, E. Moekilde, and K.P. Poulen Modelling energy conumpion, lo of firmne and enzyme in aviviy in an indurial blanching proe. J. Food Eng. 5: Waldron, K.W., A.C. Simh, A.J. Palr, and M.L. Parker New approache o underanding and conrolling cell eparaion in relaion o frui and vegeable exure. Trend Food Sci. Technol. 8: Winarno, F.G Kimia Pangan dan Gizi. Gramedia, Jakara. Zagory, D Principle and pracice of modified amophere packaging of horiculural commodiie. p In J.M. Farber and K.L. Dood (Ed.). Principle of Modified Amophere and Sou Vide Produc Packaging. Technomic Publ. Co., Lancaer. 130 Jurnal Libang Peranian, 27(4), 2008

Bab III. Menggunakan Jaringan

Bab III. Menggunakan Jaringan Bab III Pembuaan Jadwal Pelajaran Sekolah dengan Menggunakan Jaringan Pada bab ini akan dipaparkan cara memodelkan uau jaringan, ehingga dapa merepreenaikan uau jadwal pelajaran di ekolah. Tahap perama

Lebih terperinci

PEMERINTAH KOTA DUMAI DINAS PENDIDIKAN KOTA DUMAI SMA NEGERI 3 DUMAI TAHUN PELAJARAN 2007/ 2008 UJIAN SEMESTER GANJIL

PEMERINTAH KOTA DUMAI DINAS PENDIDIKAN KOTA DUMAI SMA NEGERI 3 DUMAI TAHUN PELAJARAN 2007/ 2008 UJIAN SEMESTER GANJIL PEMERINTAH KOTA DUMAI DINAS PENDIDIKAN KOTA DUMAI SMA NEGERI 3 DUMAI TAHUN PELAJARAN 27/ 28 UJIAN SEMESTER GANJIL Maa Pelajar Fiika Kela XII IPA Waku 12 meni 1. Hubungan anara jarak () dengan waku () dari

Lebih terperinci

Transformasi Laplace Bagian 1

Transformasi Laplace Bagian 1 Modul Tranformai aplace Bagian M PENDAHUUAN Prof. S.M. Nababan, Ph.D eode maemaika adalah alah au cabang ilmu maemaika yang mempelajari berbagai meode unuk menyeleaikan maalah-maalah fii yang dimodelkan

Lebih terperinci

ULANGAN IPA BAB I GERAK PADA MAKHLUK HIDUP DAN BENDA

ULANGAN IPA BAB I GERAK PADA MAKHLUK HIDUP DAN BENDA Nama No Aben Kela ULANGAN IPA BAB I GERAK PADA MAKHLUK HIDUP DAN BENDA Romawi I 1. Gerak umbuhan yang dipengaruhi oleh rangangan dari dalam umbuhan iu endiri diebu... a. Endonom c. Higrokopi b. Eionom

Lebih terperinci

Lag: Waktu yang diperlukan timbulnya respons (Y) akibat suatu aksi (X)

Lag: Waktu yang diperlukan timbulnya respons (Y) akibat suatu aksi (X) Lag: Waku yang diperlukan imbulnya repon ( akiba uau aki ( Conoh: Pengaruh kredi erhadap produki Suplai Uang mempengaruhi ingka inflai eelah beberapa kwaral Hubungan pengeluaran R & D dengan produkifia

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Jenis makanan basah ataupun kering memiliki perbedaan dalam hal umur simpan

1. PENDAHULUAN. Jenis makanan basah ataupun kering memiliki perbedaan dalam hal umur simpan 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Parameter sensori sangat penting pada tahap penelitian dan pengembangan produk pangan baru. Produk baru yang dihasilkan harus memiliki penanganan yang tepat agar

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode

BAB 2 LANDASAN TEORI. Metode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Statistika. Salah satu metode 20 BAB 2 LADASA TEORI 2.1. Pengerian Peramalan Meode Peramalan merupakan bagian dari ilmu Saisika. Salah sau meode peramalan adalah dere waku. Meode ini disebu sebagai meode peramalan dere waku karena

Lebih terperinci

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun

BAB III METODE PEMULUSAN EKSPONENSIAL TRIPEL DARI WINTER. Metode pemulusan eksponensial telah digunakan selama beberapa tahun 43 BAB METODE PEMUUAN EKPONENA TRPE DAR WNTER Meode pemulusan eksponensial elah digunakan selama beberapa ahun sebagai suau meode yang sanga berguna pada begiu banyak siuasi peramalan Pada ahun 957 C C

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 26 III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Penilaian perkembangan kinerja keuangan PT. Goodyear Indonesia Tbk dilakukan dengan maksud unuk mengeahui sejauh mana perkembangan usaha perusahan yang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan

BAB II LANDASAN TEORI. Peramalan (Forecasting) adalah suatu kegiatan yang mengestimasi apa yang akan BAB II LADASA TEORI 2.1 Pengerian peramalan (Forecasing) Peramalan (Forecasing) adalah suau kegiaan yang mengesimasi apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang dengan waku yang relaif lama (Assauri,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN LANDASAN TEORI

PENDAHULUAN LANDASAN TEORI PENDAHULUAN Laar Belakang Salah au maalah aru dalam uau nework adalah penenuan pah erpendek. Maalah pah erpendek ini merupakan maalah pengopimuman, karena dengan diperolehnya pah erpendek diharapkan dapa

Lebih terperinci

Perancangan Sistem Kontrol dengan Tanggapan Waktu

Perancangan Sistem Kontrol dengan Tanggapan Waktu erancangan Siem onrol dengan anggapan Waku 4 erancangan Siem onrol dengan anggapan Waku.. endahuluan ada bab ini, akan dibaha mengenai perancangan uau iem konrol ingleinpu-ingle-oupu linier ime-invarian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORITIS

BAB II TINJAUAN TEORITIS BAB II TIJAUA TEORITIS 2.1 Peramalan (Forecasing) 2.1.1 Pengerian Peramalan Peramalan dapa diarikan sebagai beriku: a. Perkiraan aau dugaan mengenai erjadinya suau kejadian aau perisiwa di waku yang akan

Lebih terperinci

Ulangan Bab 3. Pembahasan : Diketahui : s = 600 m t = 2 menit = 120 sekon s. 600 m

Ulangan Bab 3. Pembahasan : Diketahui : s = 600 m t = 2 menit = 120 sekon s. 600 m Ulangan Bab 3 I. Peranyaan Teori. Seekor cheeah menempuh jarak 6 m dalam waku dua meni. Jika kecepaan cheeah eap, berapakah bearnya kecepaan cheeah erebu? Pembahaan : Dikeahui : = 6 m = meni = ekon 6 m

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan

BAB I PENDAHULUAN. tepat rencana pembangunan itu dibuat. Untuk dapat memahami keadaan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Dalam perencanaan pembangunan, daa kependudukan memegang peran yang pening. Makin lengkap dan akura daa kependudukan yang esedia makin mudah dan epa rencana pembangunan

Lebih terperinci

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu

BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II. Data deret waktu adalah data yang dikumpulkan dari waktu ke waktu BAB III METODE DEKOMPOSISI CENSUS II 3.1 Pendahuluan Daa dere waku adalah daa yang dikumpulkan dari waku ke waku unuk menggambarkan perkembangan suau kegiaan (perkembangan produksi, harga, hasil penjualan,

Lebih terperinci

Analisis Model dan Contoh Numerik

Analisis Model dan Contoh Numerik Bab V Analisis Model dan Conoh Numerik Bab V ini membahas analisis model dan conoh numerik. Sub bab V.1 menyajikan analisis model yang erdiri dari analisis model kerusakan produk dan model ongkos garansi.

Lebih terperinci

PENALAAN PARAMETER PENGENDALI PID DENGAN METODA MULTIPLE INTEGRATION

PENALAAN PARAMETER PENGENDALI PID DENGAN METODA MULTIPLE INTEGRATION PENALAAN PARAMETER PENGENDALI PID DENGAN METODA MULTIPLE INTEGRATION Bayu Seio Handhoko Ir. Agung Wario DHET Sumardi, ST, MT Juruan Teknik Elekro Fakula Teknik Univeria Diponegoro Semarang Abrak - Semenjak

Lebih terperinci

Faradina GERAK LURUS BERATURAN

Faradina GERAK LURUS BERATURAN GERAK LURUS BERATURAN Dalam kehidupan sehari-hari, sering kia jumpai perisiwa yang berkaian dengan gerak lurus berauran, misalnya orang yang berjalan kaki dengan langkah yang relaif konsan, mobil yang

Lebih terperinci

15. Sebuah mobil bergerak dengan kecepatan yang berubah-ubah seperti yang digambarkan pada grafik berikut ini.

15. Sebuah mobil bergerak dengan kecepatan yang berubah-ubah seperti yang digambarkan pada grafik berikut ini. NAMA : NO ABSEN : ULANGAN HARIAN KELAS VIII D SISTEM GERAK PADA TUMBUHAN DAN BENDA Rabu, 03 Sepember 2014 A. Pilihlah au jawaban yang paling epa 1. Gerak pada umbuhan yang dipengaruhi rangangan dari luar

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. Kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 2.1 Pengerian dan Manfaa Peramalan Kegiaan unuk mempeirakan apa yang akan erjadi pada masa yang akan daang disebu peramalan (forecasing). Sedangkan ramalan adalah suau kondisi yang

Lebih terperinci

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan

BAB 2 URAIAN TEORI. waktu yang akan datang, sedangkan rencana merupakan penentuan apa yang akan BAB 2 URAIAN EORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan memperkirakan aau memprediksi apa yang erjadi pada waku yang akan daang, sedangkan rencana merupakan penenuan apa yang akan dilakukan

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan di PT Panafil Essenial Oil. Lokasi dipilih dengan perimbangan bahwa perusahaan ini berencana unuk melakukan usaha dibidang

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 35 BAB LANDASAN TEORI Meode Dekomposisi biasanya mencoba memisahkan iga komponen erpisah dari pola dasar yang cenderung mencirikan dere daa ekonomi dan bisnis. Komponen ersebu adalah fakor rend (kecendrungan),

Lebih terperinci

III. KERANGKA PEMIKIRAN

III. KERANGKA PEMIKIRAN III. KERANGKA PEMIKIRAN 3.1. Kerangka Teoriis 3.1.1 Daya Dukung Lingkungan Carrying capaciy aau daya dukung lingkungan mengandung pengerian kemampuan suau empa dalam menunjang kehidupan mahluk hidup secara

Lebih terperinci

BAB KINEMATIKA GERAK LURUS

BAB KINEMATIKA GERAK LURUS BAB KINEMATIKA GERAK LURUS.Pada ekiar ahun 53, eorang ilmuwan Ialia,Taraglia,elah beruaha unuk mempelajari gerakan peluru meriam yang diembakkan. Taraglia melakukan ekperimen dengan menembakkan peluru

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA SISTEM PENTANAHAN PT. PLN (PERSERO) GARDU INDUK 150 kv NGIMBANG- LAMONGAN DENGAN METODE FINITE ELEMENT METHOD (FEM)

ANALISIS KINERJA SISTEM PENTANAHAN PT. PLN (PERSERO) GARDU INDUK 150 kv NGIMBANG- LAMONGAN DENGAN METODE FINITE ELEMENT METHOD (FEM) JURNAL TEKNIK POMITS, (2014 1-6 1 ANALISIS KINERJA SISTEM PENTANAHAN PT. PLN (PERSERO GARDU INDUK 150 kv NGIMBANG- LAMONGAN DENGAN METODE FINITE ELEMENT METHOD (FEM Yoe Rizal, IGN Sariyadi Hernanda, S.T,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan

BAB 2 LANDASAN TEORI. Produksi padi merupakan suatu hasil bercocok tanam yang dilakukan dengan BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1. Produksi Produksi padi merupakan suau hasil bercocok anam yang dilakukan dengan penanaman bibi padi dan perawaan sera pemupukan secara eraur sehingga menghasilkan suau produksi

Lebih terperinci

ANALISIS INSTRUMEN. Evaluasi Pendidikan

ANALISIS INSTRUMEN. Evaluasi Pendidikan 1 ANALISIS INSTRUMEN Pengerian inrumen dalam lingku evaluai didefiniikan ebagai erangka unuk mengukur hail belajar iwa yang mencaku hail belajar dalam ranah kogniif, afekif dan ikomoor. Benuk inrumen daa

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN

III. METODOLOGI PENELITIAN III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Peneliian Keinginan Kelompok Tani Duma Lori yang erdapa di Desa Konda Maloba dan masyaraka sekiar akan berdirinya penggilingan gabah di daerahnya, elah

Lebih terperinci

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi

Bab II Dasar Teori Kelayakan Investasi Bab II Dasar Teori Kelayakan Invesasi 2.1 Prinsip Analisis Biaya dan Manfaa (os and Benefi Analysis) Invesasi adalah penanaman modal yang digunakan dalam proses produksi unuk keunungan suau perusahaan.

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk yang

III. METODE PENELITIAN. Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengertian dan petunjuk yang III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Konsep dasar dan definisi operasional merupakan pengerian dan peunjuk yang digunakan unuk menggambarkan kejadian, keadaan, kelompok, aau

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilakukan di Dafarm, yaiu uni usaha peernakan Darul Fallah yang erleak di Kecamaan Ciampea, Kabupaen Bogor, Jawa Bara. Pemilihan lokasi

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 2012/2013 Jurnal Lensa Kependidikan Fisika Vol. 1 Nomor 1, Juni 13 ISSN: 338-4417 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM SOLVING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA KELAS VIII DI SMPN 5 LINGSAR TAHUN PELAJARAN 1/13

Lebih terperinci

PENGGUNAAN KONSEP FUNGSI CONVEX UNTUK MENENTUKAN SENSITIVITAS HARGA OBLIGASI

PENGGUNAAN KONSEP FUNGSI CONVEX UNTUK MENENTUKAN SENSITIVITAS HARGA OBLIGASI PENGGUNAAN ONSEP FUNGSI CONVEX UNU MENENUAN SENSIIVIAS HARGA OBLIGASI 1 Zelmi Widyanuara, 2 Ei urniai, Dra., M.Si., 3 Icih Sukarsih, S.Si., M.Si. Maemaika, Universias Islam Bandung, Jl. amansari No.1 Bandung

Lebih terperinci

III KERANGKA PEMIKIRAN

III KERANGKA PEMIKIRAN III KERANGKA PEMIKIRAN 3.1 Teori Risiko Produksi Dalam eori risiko produksi erlebih dahulu dijelaskan mengenai dasar eori produksi. Menuru Lipsey e al. (1995) produksi adalah suau kegiaan yang mengubah

Lebih terperinci

ANALISIS TES. Evaluasi Pendidikan ANALISIS TIAP BUTIR SOAL ANALISIS KESELURUHAN TES. - Daya Pembeda - Tingkat Kesukaran - Pengecoh - Homogenitas

ANALISIS TES. Evaluasi Pendidikan ANALISIS TIAP BUTIR SOAL ANALISIS KESELURUHAN TES. - Daya Pembeda - Tingkat Kesukaran - Pengecoh - Homogenitas Evaluai Pendidikan 1 AALISIS TES AALISIS KESELURUHA TES AALISIS TIAP BUTIR SOAL - Analii Validia Te - Analii Reliabilia Te - Daya Pembeda - Tingka Keukaran - Pengecoh - Homogenia Evaluai Pendidikan I.

Lebih terperinci

IV. METODE PENELITIAN

IV. METODE PENELITIAN IV. METODE PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian ini dilaksanakan pada kasus pengolahan ikan asap IACHI Peikan Cia Halus (PCH) yang erleak di Desa Raga Jaya Kecamaan Ciayam, Kabupaen Bogor,

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 39 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waku dan Meode Peneliian Pada bab sebelumnya elah dibahas bahwa cadangan adalah sejumlah uang yang harus disediakan oleh pihak perusahaan asuransi dalam waku peranggungan

Lebih terperinci

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA ISSN 5-73X PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN GENIUS LEARNING TERHADAP HASIL BELAJAR ISIKA SISWA Henok Siagian dan Iran Susano Jurusan isika, MIPA Universias Negeri Medan Jl. Willem Iskandar, Psr V -Medan

Lebih terperinci

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1

PERSAMAAN GERAK VEKTOR SATUAN. / i / = / j / = / k / = 1 PERSAMAAN GERAK Posisi iik maeri dapa dinyaakan dengan sebuah VEKTOR, baik pada suau bidang daar maupun dalam bidang ruang. Vekor yang dipergunakan unuk menenukan posisi disebu VEKTOR POSISI yang diulis

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Pemikiran Poensi sumberdaya perikanan, salah saunya dapa dimanfaakan melalui usaha budidaya ikan mas. Budidaya ikan mas yang erus berkembang di masyaraka, kegiaan budidaya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Masalah persediaan merupakan masalah yang sanga pening dalam perusahaan. Persediaan mempunyai pengaruh besar erhadap kegiaan produksi. Masalah persediaan dapa diaasi

Lebih terperinci

SUPLEMEN 3 Resume Hasil Penelitian: Analisis Respon Suku Bunga dan Kredit Bank di Sumatera Selatan terhadap Kebijakan Moneter Bank Indonesia

SUPLEMEN 3 Resume Hasil Penelitian: Analisis Respon Suku Bunga dan Kredit Bank di Sumatera Selatan terhadap Kebijakan Moneter Bank Indonesia SUPLEMEN 3 Resume Hasil Peneliian: Analisis Respon Suku Bunga dan Kredi Bank di Sumaera Selaan erhadap Kebijakan Moneer Bank Indonesia Salah sau program kerja Bank Indonesia Palembang dalam ahun 2007 adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada

BAB I PENDAHULUAN. universal, disemua negara tanpa memandang ukuran dan tingkat. kompleks karena pendekatan pembangunan sangat menekankan pada BAB I PENDAHULUAN A. Laar Belakang Disparias pembangunan ekonomi anar daerah merupakan fenomena universal, disemua negara anpa memandang ukuran dan ingka pembangunannya. Disparias pembangunan merupakan

Lebih terperinci

PEMODELAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP $US MENGGUNAKAN DERET WAKTU HIDDEN MARKOV HAMILTON*

PEMODELAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP $US MENGGUNAKAN DERET WAKTU HIDDEN MARKOV HAMILTON* PEMODELAN NILAI TUKAR RUPIAH TERHADAP $US MENGGUNAKAN DERET WAKTU HIDDEN MARKOV HAMILTON* BERLIAN SETIAWATY DAN HIRASAWA Deparemen Maemaika Fakulas Maemaika dan Ilmu Pengeahuan Alam Insiu Peranian Bogor

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani.

III. METODE PENELITIAN. Usahatani belimbing karangsari adalah kegiatan menanam dan mengelola. utama penerimaan usaha yang dilakukan oleh petani. III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional Usahaani belimbing karangsari adalah kegiaan menanam dan mengelola anaman belimbing karangsari unuk menghasilkan produksi, sebagai sumber

Lebih terperinci

MODUL III ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI

MODUL III ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI ANALISIS KELAYAKAN INVESTASI 3.. Tujuan Ö Prakikan dapa memahami perhiungan alokasi biaya. Ö Prakikan dapa memahami analisis kelayakan invesasi dalam pendirian usaha. Ö Prakikan dapa menyusun proyeksi/proforma

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perekonomian dunia telah menjadi semakin saling tergantung pada

BAB I PENDAHULUAN. Perekonomian dunia telah menjadi semakin saling tergantung pada BAB I PENDAHULUAN A. Laar Belakang Masalah Perekonomian dunia elah menjadi semakin saling erganung pada dua dasawarsa erakhir. Perdagangan inernasional merupakan bagian uama dari perekonomian dunia dewasa

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS DAN EMBAHASAN 4.1 Karakerisik dan Obyek eneliian Secara garis besar profil daa merupakan daa sekunder di peroleh dari pusa daa saisik bursa efek Indonesia yang elah di publikasi, daa di

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang

BAB 1 PENDAHULUAN. Pertumbuhan ekonomi merupakan salah satu ukuran dari hasil pembangunan yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Laar Belakang Perumbuhan ekonomi merupakan salah sau ukuran dari hasil pembangunan yang dilaksanakan khususnya dalam bidang ekonomi. Perumbuhan ersebu merupakan rangkuman laju perumbuhan

Lebih terperinci

=====O0O===== Gerak Vertikal Gerak vertikal dibagi menjadi 2 : 1. GJB 2. GVA. A. GERAK Gerak Lurus

=====O0O===== Gerak Vertikal Gerak vertikal dibagi menjadi 2 : 1. GJB 2. GVA. A. GERAK Gerak Lurus A. GERAK Gerak Lurus o a Secara umum gerak lurus dibagi menjadi 2 : 1. GLB 2. GLBB o 0 a < 0 a = konsan 1. GLB (Gerak Lurus Berauran) S a > 0 a < 0 Teori Singka : Perumusan gerak lurus berauran (GLB) Grafik

Lebih terperinci

ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Studi kasus pada CV Cita Nasional.

ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Studi kasus pada CV Cita Nasional. JURNAL ILMIAH RANGGAGADING Volume 7 No. 1, April 7 : 3-9 ANALISIS DIRECT SELLING COST DALAM MENINGKATKAN VOLUME PENJUALAN Sudi kasus pada CV Cia Nasional. Oleh Emmy Supariyani* dan M. Adi Nugroho *Dosen

Lebih terperinci

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun

Pemodelan Data Runtun Waktu : Kasus Data Tingkat Pengangguran di Amerika Serikat pada Tahun Pemodelan Daa Runun Waku : Kasus Daa Tingka Pengangguran di Amerika Serika pada Tahun 948 978. Adi Seiawan Program Sudi Maemaika, Fakulas Sains dan Maemaika Universias Krisen Saya Wacana, Jl. Diponegoro

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Industri pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan

III. METODE PENELITIAN. Industri pengolahan adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan 40 III. METODE PENELITIAN A. Konsep Dasar dan Baasan Operasional Konsep dasar dan baasan operasional pada peneliian ini adalah sebagai beriku: Indusri pengolahan adalah suau kegiaan ekonomi yang melakukan

Lebih terperinci

post facto digunakan untuk melihat kondisi pengelolaan saat ini berdasarkan

post facto digunakan untuk melihat kondisi pengelolaan saat ini berdasarkan 3. METODE PENELITIAN 3.1. Pendekaan dan Meode Peneliian Jenis peneliian yang digunakan adalah jenis peneliian kualiaif dengan menggunakan daa kuaniaif. Daa kualiaif adalah mengeahui Gambaran pengelolaan

Lebih terperinci

BAB III. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tahapan perhitungan untuk menilai

BAB III. Pada bab ini akan dijelaskan mengenai tahapan perhitungan untuk menilai BAB III PENILAIAN HARGA WAJAR SAHAM PAA SEKTOR INUSTRI BATUBARA ENGAN MENGGUNAKAN TRINOMIAL IVIEN ISCOUNT MOEL 3.. Pendahuluan Pada bab ini akan dijelaskan mengenai ahapan perhiungan unuk menilai harga

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK UMUR PRODUK PADA MODEL WEIBULL. Sudarno Staf Pengajar Program Studi Statistika FMIPA UNDIP

KARAKTERISTIK UMUR PRODUK PADA MODEL WEIBULL. Sudarno Staf Pengajar Program Studi Statistika FMIPA UNDIP Karakerisik Umur Produk (Sudarno) KARAKTERISTIK UMUR PRODUK PADA MODEL WEIBULL Sudarno Saf Pengajar Program Sudi Saisika FMIPA UNDIP Absrac Long life of produc can reflec is qualiy. Generally, good producs

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORI

BAB 2 TINJAUAN TEORI 7 BAB 2 TINJAUAN TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. Sedangkan ramalan adalah suau siuasi aau kondisi yang diperkirakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Suatu negara yang memutuskan untuk menempuh kebijakan hutang

BAB I PENDAHULUAN. Suatu negara yang memutuskan untuk menempuh kebijakan hutang BAB I PENDAHULUAN A. Laar Belakang Masalah Suau negara yang memuuskan unuk menempuh kebijakan huang luar negeri biasanya didasari oleh alasan-alasan yang dianggap rasional dan pening. Huang luar negeri

Lebih terperinci

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks)

Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Mercu Buana MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks) MODUL PERTEMUAN KE 3 MATA KULIAH : (4 sks) MATERI KULIAH: Jarak, Kecepaan dan Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Gerak Lurus Berubah Berauran POKOK BAHASAN: GERAK LURUS 3-1

Lebih terperinci

MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN (2 sks)

MODUL PERTEMUAN KE 3. MATA KULIAH : FISIKA TERAPAN (2 sks) Polieknik Negeri Banjarmasin 4 MODUL PERTEMUAN KE 3 MATA KULIAH : ( sks) MATERI KULIAH: Jarak, Kecepaan dan Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Percepaan; Gerak Lurus Berauran, Gerak Lurus Berubah Berauran

Lebih terperinci

Sekilas Pandang. Modul 1 PENDAHULUAN

Sekilas Pandang. Modul 1 PENDAHULUAN Modul 1 Sekilas Pandang Drs. Irlan Soelaeman, M.Ed. S PENDAHULUAN uau hari, saya dan keluarga berencana membawa mobil pergi ke Surabaya unuk mengunjungi salah seorang saudara. Sau hari sebelum keberangkaan,

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Defenisi Persediaan Persediaan adalah barang yang disimpan unuk pemakaian lebih lanju aau dijual. Persediaan dapa berupa bahan baku, barang seengah jadi aau barang jadi maupun

Lebih terperinci

IV METODE PENELITIAN

IV METODE PENELITIAN IV METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waku Peneliian Peneliian yang dilakukan mengenai analisis perencanaan pengadaan una berdasarkan ramalan ime series volume ekspor una loin beku di PT Tridaya Eramina

Lebih terperinci

CEMARAN MIKROBA PADA PRODUK PERTANIAN, PENYAKIT YANG DITIMBULKAN DAN PENCEGAHANNYA. Titiek F. Djaafar dan Siti Rahayu

CEMARAN MIKROBA PADA PRODUK PERTANIAN, PENYAKIT YANG DITIMBULKAN DAN PENCEGAHANNYA. Titiek F. Djaafar dan Siti Rahayu CEMARAN MIKROBA PADA PRODUK PERTANIAN, PENYAKIT YANG DITIMBULKAN DAN PENCEGAHANNYA Tiiek F. Djaafar dan Sii Rahayu Balai Pengkajian Teknologi Peranian Yogyakara, Jalan Rajawali No. 28, Demangan Baru, Yogyakara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam pelaksanaan pembangunan saat ini, ilmu statistik memegang peranan penting

BAB 1 PENDAHULUAN. Dalam pelaksanaan pembangunan saat ini, ilmu statistik memegang peranan penting BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Laar Belakang Dalam pelaksanaan pembangunan saa ini, ilmu saisik memegang peranan pening baik iu di dalam pekerjaan maupun pada kehidupan sehari-hari. Ilmu saisik sekarang elah melaju

Lebih terperinci

Sudaryatno Sudirham. AnalisisRangkaian. RangkaianListrik di KawasanWaktu #3

Sudaryatno Sudirham. AnalisisRangkaian. RangkaianListrik di KawasanWaktu #3 Sudarano Sudirham AnaliiRangkaian RangkaianLirik di awaanwaku #3 Bahan uliah Terbuka dalam forma pdf eredia di www.buku-e.lipi.go.id dalam forma pp beranimai eredia di www.ee-cafe.org Teori dan Soal ada

Lebih terperinci

ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI

ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI ADOPSI REGRESI BEDA UNTUK MENGATASI BIAS VARIABEL TEROMISI DALAM REGRESI DERET WAKTU: MODEL KEHILANGAN AIR DISTRIBUSI DI PDAM SUKABUMI Yusep Suparman Universias Padjadjaran yusep.suparman@unpad.ac.id ABSTRAK.

Lebih terperinci

RINGKASAN MATERI KALOR, PERUBAHN WUJUD DAN PERPINDAHAN KALOR

RINGKASAN MATERI KALOR, PERUBAHN WUJUD DAN PERPINDAHAN KALOR RINGKASAN MATERI KALOR, PERUBAHN WUJUD DAN PERPINDAHAN KALOR A. KALOR (PANAS) Tanpa disadari, konsep kalor sering kia alami dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya kia mencampur yang erlalu panas dengan

Lebih terperinci

KAJIAN AWAL PENGEMBANGAN PRODUK DENGAN MENGGUNAKAN METODE QFD (QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT) (STUDI KASUS PADA TANG JEPIT JAW LOCKING PLIERS)

KAJIAN AWAL PENGEMBANGAN PRODUK DENGAN MENGGUNAKAN METODE QFD (QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT) (STUDI KASUS PADA TANG JEPIT JAW LOCKING PLIERS) KAJIAN AWAL PENGEMBANGAN PRODUK DENGAN MENGGUNAKAN METODE QFD (QUALITY FUNCTION DEPLOYMENT) (STUDI KASUS PADA TANG JEPIT JAW LOCKING PLIERS) K. Rihendra Dane Juruan Pendidikan Teknik Mein, Fakula Teknik

Lebih terperinci

Lobak (Raphanus sativus) merupakan sayuran berumbi,

Lobak (Raphanus sativus) merupakan sayuran berumbi, TEKNIK MEMPERTAHANKAN MUTU LOBAK (Raphanus saivus) DENGAN MENGGUNAKAN ALAT PENGERING VAKUM Sri Mulia Asui 1 Lobak (Raphanus saivus) merupakan sayuran berumbi, berasal dari Cina dan Jepang. Daunnya agak

Lebih terperinci

BAB 3 LANDASAN TEORI

BAB 3 LANDASAN TEORI BAB 3 LANDASAN TEORI 3.1. Deskripsi Teori 3.1.1. Pengerian Peramalan Unuk membanu ercapainya suau kepuusan yang efisien unuk penjualan produknya, perusahaan memerlukan suau cara yang epa, sisemais dan

Lebih terperinci

KINETIKA KIMIA LAJU DAN MEKANISME DALAM REAKSI KIMIA. Disampaikan oleh : Dr. Sri Handayani 2013

KINETIKA KIMIA LAJU DAN MEKANISME DALAM REAKSI KIMIA. Disampaikan oleh : Dr. Sri Handayani 2013 KINETIK KIMI LJU DN MEKNISME DLM REKSI KIMI Disampaikan oleh : Dr. Sri Handayani 03 Pendahuluan Perubahan kimia secara sederhana diulis dalam persamaan reaksi dengan koefisien seimbang Namun persamaan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN

III. METODE PENELITIAN 23 III. METODE PENELITIAN 3.1 Waku dan Lokasi Peneliian dilaksanakan di iga empa berbeda. Unuk mengeahui ingka parisipasi masyaraka penelii mengambil sampel di RT 03/RW 04 Kelurahan Susukan dan RT 05/RW

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian Quasi Eksperimental Design dengan BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis dan Desain Peneliian Peneliian ini adalah peneliian Quasi Eksperimenal Design dengan kelas eksperimen dan kelas conrol dengan desain Prees -Poses Conrol Group Design

Lebih terperinci

Perbandingan Metode Winter Eksponensial Smoothing dan Metode Event Based untuk Menentukan Penjualan Produk Terbaik di Perusahaan X

Perbandingan Metode Winter Eksponensial Smoothing dan Metode Event Based untuk Menentukan Penjualan Produk Terbaik di Perusahaan X JURAL SAIS DA SEI ITS Vol. 6, o.1, (2017) 2337-3520 (2301-928X Prin) A 1 Perbandingan Meode Winer Eksponensial Smoohing dan Meode Even Based unuk Menenukan Penjualan Produk Terbaik di Perusahaan X Elisa

Lebih terperinci

ANALISA PENGARUH UKURAN BUTIR DAN TINGKAT KELEMBABAN PASIR TERHADAP PERFORMANSI BELT CONVEYOR PADA PABRIK PEMBUATAN TIANG BETON

ANALISA PENGARUH UKURAN BUTIR DAN TINGKAT KELEMBABAN PASIR TERHADAP PERFORMANSI BELT CONVEYOR PADA PABRIK PEMBUATAN TIANG BETON Jurnal Dinami,olume.II, No.8,Januari 2011 ISSN 0216-7492 ANALISA PENGARUH UKURAN BUTIR DAN TINGKAT KELEMBABAN PASIR TERHADAP PERFORMANSI BELT CONEYOR PADA PABRIK PEMBUATAN TIANG BETON Ir.Alfian Hami, MSc.*

Lebih terperinci

KINEMATIKA GERAK LURUS

KINEMATIKA GERAK LURUS Kinemaika Gerak Lurus 45 B A B B A B 3 KINEMATIKA GERAK LURUS Sumber : penerbi cv adi perkasa Maeri fisika sanga kenal sekali dengan gerak benda. Pada pokok bahasan enang gerak dapa imbul dua peranyaan

Lebih terperinci

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND

APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND APLIKASI PEMULUSAN EKSPONENSIAL DARI BROWN DAN DARI HOLT UNTUK DATA YANG MEMUAT TREND Noeryani 1, Ely Okafiani 2, Fera Andriyani 3 1,2,3) Jurusan maemaika, Fakulas Sains Terapan, Insiu Sains & Teknologi

Lebih terperinci

Modul ini adalah modul ke-4 dalam mata kuliah Matematika. Isi modul ini

Modul ini adalah modul ke-4 dalam mata kuliah Matematika. Isi modul ini BANGUN-BANGUN GEOMETRI P PENDAHULUAN Modul ini adalah modul ke-4 dalam maa kuliah Maemaika. Ii modul ini membaha enang bangun-bangun geomeri. Modul ini erdiri dari 3 kegiaan belajar. Pada kegiaan belajar

Lebih terperinci

Matriks Transformasi

Matriks Transformasi Marik Tranformai A Marik Tranformai dan Koordina Homogen Kombinai benuk perkalian dan ranlai unuk ranformai geomeri 2D ke dalam uau marik dilakukan dengan mengubah marik 2 2 menjadi marik 3 3 Unuk iu maka

Lebih terperinci

1.4 Persamaan Schrodinger Bergantung Waktu

1.4 Persamaan Schrodinger Bergantung Waktu .4 Persamaan Schrodinger Berganung Waku Mekanika klasik aau mekanika Newon sanga sukses dalam mendeskripsi gerak makroskopis, eapi gagal dalam mendeskripsi gerak mikroskopis. Gerak mikroskopis membuuhkan

Lebih terperinci

B a b 1 I s y a r a t

B a b 1 I s y a r a t TKE 305 ISYARAT DAN SISTEM B a b I s y a r a Indah Susilawai, S.T., M.Eng. Program Sudi Teknik Elekro Fakulas Teknik dan Ilmu Kompuer Universias Mercu Buana Yogyakara 009 BAB I I S Y A R A T Tujuan Insruksional.

Lebih terperinci

SISTEM USAHA TANI TERINTEGRASI TANAMAN-TERNAK SEBAGAI RESPONS PETANI TERHADAP FAKTOR RISIKO. Tjeppy D. Soedjana

SISTEM USAHA TANI TERINTEGRASI TANAMAN-TERNAK SEBAGAI RESPONS PETANI TERHADAP FAKTOR RISIKO. Tjeppy D. Soedjana SISTEM USAHA TANI TERINTEGRASI TANAMAN-TERNAK SEBAGAI RESPONS PETANI TERHADAP FAKTOR RISIKO Tjeppy D. Soedjana Pua Peneliian dan Pengembangan Peernakan, Jalan Raya Pajajaran Kav. E. 59, Bogor 16151 ABSTRAK

Lebih terperinci

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PEMILIHAN TEMPAT KOST DENGAN METODE PEMBOBOTAN ( STUDI KASUS : SLEMAN YOGYAKARTA)

SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PEMILIHAN TEMPAT KOST DENGAN METODE PEMBOBOTAN ( STUDI KASUS : SLEMAN YOGYAKARTA) SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DALAM PEMILIHAN TEMPAT KOST DENGAN METODE PEMBOBOTAN ( STUDI KASUS : SLEMAN YOGYAKARTA) I Wayan Supriana Program Pascasarjana Ilmu Kompuer Fakulas MIPA Universias Gadjah Mada

Lebih terperinci

PENDEKATAN NEURAL NETWORK TERHADAP SIFAT MEKANIK MATERIAL PADA TINGKAT BEBAN BERBEDA

PENDEKATAN NEURAL NETWORK TERHADAP SIFAT MEKANIK MATERIAL PADA TINGKAT BEBAN BERBEDA PENDEKATAN NEURAL NETWORK TERHADAP SIFAT MEKANIK MATERIAL PADA TINGKAT BEBAN BERBEDA Mike Sumikani 1), Ghofir 2) 1,2) Pua Pengembangan Informaika Nuklir Badan Tenaga Nuklir Naional Kawaan PUSPIPTEK Gd.

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI

BAB 2 LANDASAN TEORI 15 BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Ruang Sampel dan Kejadian 2.1.1 Definisi Ruang Sampel Himpunan semua hasil semua hasil (oucome) yang mungkin muncul pada suau percobaan disebu ruang sampel dan dinoasikan dengan

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang

BAB 2 LANDASAN TEORI. Peramalan adalah kegiatan untuk memperkirakan apa yang akan terjadi di masa yang BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Peramalan Peramalan adalah kegiaan unuk memperkirakan apa yang akan erjadi di masa yang akan daang. Sedangkan ramalan adalah suau aau kondisi yang diperkirakan akan erjadi

Lebih terperinci

BAB X GERAK LURUS. Gerak dan Gaya. Buku Pelajaran IPA SMP Kelas VII 131

BAB X GERAK LURUS. Gerak dan Gaya. Buku Pelajaran IPA SMP Kelas VII 131 BAB X GERAK LURUS. Apa perbedaan anara jarak dan perpindahan? 2. Apa perbedaan anara laju dan kecepaan? 3. Apa yang dimaksud dengan percepaan? 4. Apa perbedaan anara gerak lurus berauran dan gerak lurus

Lebih terperinci

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF

BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF BAB III RUNTUN WAKTU MUSIMAN MULTIPLIKATIF Pada bab ini akan dibahas mengenai sifa-sifa dari model runun waku musiman muliplikaif dan pemakaian model ersebu menggunakan meode Box- Jenkins beberapa ahap

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengangguran atau tuna karya merupakan istilah untuk orang yang tidak mau bekerja

BAB 2 LANDASAN TEORI. Pengangguran atau tuna karya merupakan istilah untuk orang yang tidak mau bekerja BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Pengerian Pengangguran Pengangguran aau una karya merupakan isilah unuk orang yang idak mau bekerja sama sekali, sedang mencari kerja, bekerja kurang dari dua hari selama seminggu,

Lebih terperinci

BANGUN RUANG. ABFE dan sisi DCGH, dan sisi ADHE dan sisi

BANGUN RUANG. ABFE dan sisi DCGH, dan sisi ADHE dan sisi NGUN RUNG. Pengeian 1. Kubu Kubu adalah bangun uang yang dibaai oleh enam buah bidang peegi yang konguen (benuk dan E beanya ama). (Pehaikan Gamba 1) Kubu mempunyai 6 ii, 8 iik udu, dan 12 uuk. Semua uuk

Lebih terperinci

KAJIAN PEMODELAN DERET WAKTU: METODE VARIASI KALENDER YANG DIPENGARUHI OLEH EFEK VARIASI LIBURAN

KAJIAN PEMODELAN DERET WAKTU: METODE VARIASI KALENDER YANG DIPENGARUHI OLEH EFEK VARIASI LIBURAN JMP : Volume 4 omor, Juni 22, hal. 35-46 KAJIA PEMODELA DERET WAKTU: METODE VARIASI KALEDER YAG DIPEGARUHI OLEH EFEK VARIASI LIBURA Winda Triyani Universias Jenderal Soedirman winda.riyani@gmail.com Rina

Lebih terperinci

STUDI PENELITIAN KOMPOSISI BETON BERPORI DENGAN VARIASI JENIS DAN PERSENTASE BAHAN ADMIXTURE TERKAIT NILAI KUAT TEKAN PADA APLIKASI SIDEWALK

STUDI PENELITIAN KOMPOSISI BETON BERPORI DENGAN VARIASI JENIS DAN PERSENTASE BAHAN ADMIXTURE TERKAIT NILAI KUAT TEKAN PADA APLIKASI SIDEWALK STUDI PENELITIAN KOMPOSISI BETON BERPORI DENGAN VARIASI JENIS DAN PERSENTASE BAHAN ADMIXTURE TERKAIT NILAI KUAT TEKAN PADA APLIKASI SIDEWALK Frandy Ferdian, Amelia Makmur, S.T., M.T. Binus Universiy, Jl.

Lebih terperinci

PENGARUH GAJI, UPAH, DAN TUNJANGAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. XYZ

PENGARUH GAJI, UPAH, DAN TUNJANGAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. XYZ PENGARUH GAJI, UPAH, DAN TUNJANGAN KARYAWAN TERHADAP KINERJA KARYAWAN PADA PT. XYZ Khairunnisa aubara 1, Ir. Sugiharo Pujangkoro, MM 2, uchari, ST, M.Kes 2 Deparemen Teknik Indusri, Fakulas Teknik, Universias

Lebih terperinci

*Corresponding Author:

*Corresponding Author: Prosiding Seminar Tugas Akhir FMIPA UNMUL 5 Periode Mare 6, Samarinda, Indonesia ISBN: 978-6-7658--3 Penerapan Model Neuro-Garch Pada Peramalan (Sudi Kasus: Reurn Indeks Harga Saham Gabungan) Applicaion

Lebih terperinci

BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR

BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR BAB KINEMATIKA DENGAN ANALISIS VEKTOR Karakerisik gerak pada bidang melibakan analisis vekor dua dimensi, dimana vekor posisi, perpindahan, kecepaan, dan percepaan dinyaakan dalam suau vekor sauan i (sumbu

Lebih terperinci

ARUS,HAMBATAN DAN TEGANGAN GERAK ELEKTRIK

ARUS,HAMBATAN DAN TEGANGAN GERAK ELEKTRIK AUS,HAMBATAN DAN TEGANGAN GEAK ELEKTK Oleh : Sar Nurohman,M.Pd Ke Menu Uama Liha Tampilan Beriku: AUS Arus lisrik didefinisikan sebagai banyaknya muaan yang mengalir melalui suau luas penampang iap sauan

Lebih terperinci

PERANCANGAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DENGAN METODE BOBOT UNTUK MENILAI KENAIKAN GOLONGAN PEGAWAI

PERANCANGAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DENGAN METODE BOBOT UNTUK MENILAI KENAIKAN GOLONGAN PEGAWAI Seminar Nasional Informaika PERANCANGAN SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN DENGAN METODE BOBOT UNTUK MENILAI KENAIKAN GOLONGAN PEGAWAI Evri Ekadiansyah Program Sudi D Manajemen Informaika, STMIK Poensi Uama evrie9@gmail.com

Lebih terperinci