Buku Petunjuk Praktis Bagi Produsen Dan Ekportir Dari Asia

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Buku Petunjuk Praktis Bagi Produsen Dan Ekportir Dari Asia"

Transkripsi

1 Buku Petunjuk Praktis Bagi Produsen Dan Ekportir Dari Asia PERATURAN, STANDAR DAN SERTIFIKASI UNTUK EKSPOR PRODUK PERTANIAN Publikasi RAP 2007/13

2 Buku petunjuk ini merupakan hasil kerjasama Divisi Perdagangan dan Pasar (EST) dan Kantor Regional FAO untuk Wilayah Asia dan Pasifik (RAP) dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO). Editor dan penulis : Pascal Liu, Divisi Perdagangan dan Pasar, FAO Penulis Pendamping : Siobhán Casey, Divisi Infrastruktur Pedesaan dan Agro-Industri, FAO Jean-Joseph Cadilhon, RAP, FAO Peter Sousa Hoejskov, RAP, FAO Nancy Morgan, RAP, FAO Dengan kerjasama dari : Penasehat Ekonomi dan Perdagangan, Kedutaan Besar Perancis di Asia Penyusun Format Teks : Daniela Piergentili, Divisi Perdagangan dan Pasar, FAO Penterjemah : Diandra Language Services - Jakarta, Indonesia Tata Letak : Embun Pagi Grafika, Jakarta Indonesia Koreksi versi Bahasa Indonesia : Suparta Rivai dan Mitra Astari, FAO Project OSRO/INS/604/USA Ilustrasi : Earth Net Foundation/Green Net, Thailand Penghargaan Lain : Departemen Pertanian dan Perikanan Perancis memberikan bantuan pendanaan bagi proses editing dari buku ini melalui proyek FAO MTF/RAS/212/FRA Penyebutan atau penghilangan nama dari beberapa perusahaan tertentu, produk mereka atau nama merek tidak berarti merupakan dukungan atau penilaian dari Organisasi Pertanian dan Pangan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Berbagai pandangan yang diutarakan dalam penerbitan ini merupakan pandangan dari para penulis dan tidak mencerminkan pandangan dari Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa. Berbagai sebutan dan presentasi atas informasi produk bukan merupakan pendapat apa pun dari pihak Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai status pembangunan atau hukum dari suatu negara, wilayah, kota atau daerah atau para pihak yang berwenang, atau mencakup pengurangan pembatasan atas berbagai batas wilayah yang ada. Hak cipta dilindungi undang-undang. Reproduksi dan penyebaran bahan yang tercantum dalam produk informasi ini bagi tujuan pendidikan atau non-komersial lain diijinkan walaupun tanpa adanya ijin tertulis terlebih dahulu dari pihak pemegang hak cipta dengan catatan bahwa sumber informasi tersebut dikutip. Tidak diperkenankan untuk melakukan reproduksi dari berbagai bahan yang ada dalam produk informasi ini untuk dijual kembali atau untuk tujuan komersial lainnya tanpa adanya ijin tertulis dari pemegang hak cipta. Permohonan ijin tersebut harus diajukan kepada: the Chief, Publishing Policy and Support Service, Information Technology Division (KCT), FAO, Viale delle Terme di Caracalla, Rome, Italy atau melalui kepada : FAO 2007

3 Mengapa Buku Petunjuk ini ada? Tujuan Memberikan informasi kepada para produsen dan eksportir mengenai: Peraturan yang terdapat pada negara pengimpor utama Program sertifikasi utama sukarela Berbagai informasi dimana peraturan impor dan program sertifikasi dapat ditemukan i Banyak produsen dan eksportir yang merasa bahwa pasar bagi produk pertanian yang bersertifikat adalah sangat rumit dan bahwa kesempatan serta persyaratan yang berhubungan dengan program sertifikasi ini tidak semuanya jelas. Selain itu, produsen tidak selalu mengetahui apakah berbagai persyaratan tersebut bersifat wajib (yang ditetapkan dalam peraturan resmi negara pengimpor) atau bersifat sukarela. Sesudah membaca buku petunjuk ini, pembaca diharapkan memiliki pengetahuan mengenai program sertifikasi sukarela, kegunaan program tersebut, perbedaan diantara berbagai program yang ada serta berbagai keuntungan dan pembatasan yang terkait. Guna dapat mengekspor produk mereka, seorang produsen atau eksportir wajib mematuhi berbagai peraturan yang ada di negara pengimpor. Oleh karena itu, pembaca akan dapat menemukan berbagai informasi dalam buku petunjuk ini mengenai peraturan impor utama di Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang dan berbagai negara terpilih di wilayah Asia-Pasifik. Namun, beberapa praktek seperti praktek pertanian dan kegiatan paska-panen tidak akan dibahas dalam buku petunjuk ini. Buku petunjuk ini terdiri atas dua bagian: Berbagai standar pemerintah atau peraturan dan persyaratan impor (Bagian 1) Standar Utama Program Sertifikasi Sukarela (bagian 2) Sangat sulit untuk menyediakan informasi lengkap mengenai berbagai peraturan impor dan program sertifikasi karena berbagai sebab, seperti adanya perubahan peraturan di berbagai negara pengimpor dan keanekaragaman produk dan karakteristik yang menyertainya. Maka, dalam buku ini disertakan berbagai alamat situs internet dimana berbagai informasi tambahan dapat diperoleh bilamana diperlukan. Di bagian akhir buku petunjuk ini anda akan menemukan sebuah halaman kosong yang memungkinkan anda untuk memperbaiki atau menambah situs internet yang anda temukan selama proses pencarian anda. Kami harap buku petunjuk ini dapat memenuhi kebutuhan anda.

4 ii KATA PENGANTAR Konferensi Regional Asia Pasifik FAO ke-28 yang diadakan di Jakarta pada bulan Mei 2006 menghimbau kepada para negara anggota dan FAO untuk memberikan bantuan kepada para produsen kecil dengan cara menyediakan dukungan bagi pengembangan perusahaan dan kegiatan pemasaran. Konferensi ini juga meminta kepada FAO untuk meneruskan pemberian bantuan kepada para negara dalam meningkatkan kemampuan untuk memenuhi standar kualitas makanan internasional dan kebersihan serta standar phytosanitary - dalam hal ini memfasilitasi perdagangan dan menjaga kesehatan dan kebersihan pabrik, satwa dan manusia - serta membantu menyusun dan memastikan pelaksanaan berbagai peraturan, kegiatan pemantauan dan pengawasan guna memastikan kualitas dan keamanan pangan. FAO mempromosikan berbagai praktek yang memungkinkan terciptanya lingkungan pengembangan perusahaan yang kondusif di Asia. Meningkatkan kemampuan perusahaan yang bergerak di bidang agro-industri adalah merupakan komponen teratur dari pemberian bantuan teknis FAO di bidang pembangunan ekonomi pedesaan kepada para negara anggota. Kantor regional untuk kawasan Asia Pasifik juga turut terlibat dalam upaya meningkatkan kualitas dan keamanan pangan di berbagai negara Asia melalui berbagai kegiatan intervensi. Buku petunjuk yang memuat berbagai standar, sertifikasi dan peraturan bagi ekspor pertanian ini merupakan hasil dari kerja keras tim multidisiplin. Buku ini secara resmi diluncurkan dalam Konsultasi Teknis Regional bagi sertifikasi independen yang diorganisir oleh FAO pada bulan Oktober 2007 di Nakhonpathom, Thailand, guna meningkatkan kesadaran bagi para pemangku kepentingan pangan pertanian atas berbagai perangkat pemasaran yang tersedia bagi mereka guna meningkatkan aspek kompetitif, kualitas dan keamanan produk mereka. Proses yang berkelanjutan atas berbagai pengalaman teknis dan pengetahuan mengenai pengembangan perusahaan pertanian serta kualitas dan keamanan pangan akan digabungkan menjadi satu dan berbagai kebijakan utama akan dipresentasikan di depan para Menteri Pertanian dari para negara anggota dalam Konferensi Regional FAO untuk kawasan Asia Pasifik ke-29 yang akan diselenggarakan di Pakistan pada tahun 2008, dalam sebuah makalah yang berjudul "Agribisnis dan agro industri yang kompetitif dalam kaitannya dengan globalisasi dan perdagangan bebas" dan sebuah dokumen informatif mengenai "Keamanan pangan dan perdagangan di Asia-Pasifik". Kami berharap bahwa proses ini akan mengarah kepada pembentukan rekomendasi kebijakan di tingkat yang lebih tinggi dan keputusan serta berbagai langkah tindakan guna membentuk perusahaan pertanian yang lebih kompetitif serta kegiatan produksi produk pangan yang berkualitas tinggi dan aman di wilayah ini. He Changchui Asisten Direktur Jenderal dan Perwakilan Regional Kantor Regional FAO Untuk Wilayah Asia dan Pasifik

5 iii PENDAHULUAN Sebuah komponen penting dari mandat kepada Divisi Perdagangan dan Pasar (EST) FAO adalah untuk melakukan identifikasi berbagai permasalahan yang berdampak pada perdagangan komoditas serta mengusulkan berbagai jalan keluar untuk memecahkan masalah tersebut, baik melalui tindakan internasional maupun nasional. EST memberikan pelatihan teknis kepada berbagai negara berkembang guna membantu mereka memahami dan mengatasi berbagai hambatan dalam perdagangan. EST juga turut terlibat dalam berbagai masalah yang berhubungan dengan berbagai standar swasta dan sertifikasi seiring dengan peningkatan kegiatan analisis atas berbagai masalah perdagangan dan ekonomi yang berhubungan dengan pasar komoditas pertanian. EST telah berhasil menelurkan beberapa studi teknis dan dokumen informatif mengenai berbagai standar dan sertifikasi yang ada guna membantu para pengambil keputusan di tingkat pemerintah dan swasta. Pada bulan April 2004, EST mengorganisir Konferensi mengenai Standar Sukarela dan Sertifikasi yang dihadiri oleh 120 pemangku kepentingan dari sektor swasta dan pemerintah guna mendiskusikan berbagai kesempatan dan hambatan yang terkait dengan standar swasta serta mencari berbagai solusi yang diperlukan. Sejak saat itu, EST juga telah berhasil menerbitkan sebuah seri buku petunjuk regional yang ditujukan bagi para organisasi produsen, pelatih, agen penunjang dan eksportir yang menjelaskan dengan rinci berbagai peraturan impor yang ditetapkan oleh beberapa pasar ekspor utama dan standar swasta serta program sertifikasi sukarela. Terdapat buku petunjuk bagi setiap wilayah berikut ini: Amerika Tengah, Amerika Selatan, Afrika Barat dan Afrika Timur. Dengan buku petunjuk yang ada saat ini, pihak EST berusaha memperluas cakupan dari seri buku ini ke wilayah Asia. Semua buku petunjuk ini dan juga berbagai laporan serta hasil kajian lain yang dilakukan oleh EST atas berbagai standar dan sertifikasi swasta dapat didownload dari situs internet yang terkait dengan produksi dan perdagangan pertanian: Alexander Sarris Direktur Divisi Perdagangan dan Pasar (EST)

6 iv DAFTAR ISI BAGIAN 1 PERATURAN TEKNIS DAN PENGATURAN IMPOR 1. Kualitas Perdagangan dan Peraturan Pelabelan 2. Peraturan Keamanan Pangan 3. Peraturan Phytosanitary 4. Jasa kepabeanan 5. Peraturan Impor di Beberapa Negara Asia Pasifik 6. Organisasi Pendukung Ekspor dan Kualitas di Asia BAGIAN 2 SERTIFIKASI SUKARELA 1. Berbagai Pertanyaan mengenai Sertifikasi 2. Sertifikasi Lingkungan 2.1 Pertanian Organis 2.2 ISO Sertifikasi Sertifikasi Sosial 3.1 Perdagangan yang adil 3.2 SA Keamanan Pangan dan Sertifikasi Praktek yang Baik 4.1 Praktek Pertanian yang Baik 4.2 Sertifikasi Proses Produksi yang Baik Sertifikasi bagi Kualitas Pangan Intrinsik 5.1 Indikasi Geografis 5.2 Sertifikasi Halal Sertifikasi atas produk tambak di Asia 66

7 BAGIAN 1 PERATURAN TEKNIS DAN PENGATURAN IMPOR 1 Guna melakukan ekspor atas produk mereka ke pasar internasional, pihak produsen dan eksportir diwajibkan untuk mematuhi berbagai peraturan teknis (standar wajib) yang dikeluarkan oleh berbagai institusi pemerintah guna menjamin kualitas produk, perlindungan lingkungan dan kesehatan konsumen. Berbagai peraturan ini berbeda satu sama lain tergantung pada produk dan negara pengekspor dan pengimpor. Beberapa peraturan didasarkan pada kebijakan standar pangan international, sedangkan peraturan-peraturan lainnya dibuat oleh masing-masing negara. Pelanggaran atas berbagai persyaratan ini dapat berdampak pada pengenaan karantina atau penolakan produk tersebut oleh negara yang mengimpor. Pengambilan Contoh dan Pengujian atas kualitas produk

8 2 Berbagai lembaga antar pemerintah bekerjasama guna mencapai harmonisasi atas berbagai standar secara internasional. Hal ini mencakup : Komisi Codex Alimentarius (The Codex Alimentarius Commission), yang diprakarsai oleh FAO (Organisasi Pangan Dunia) dan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) guna membuat standar pangan, petunjuk dan berbagai dokumen terkait seperti Kode Etik Praktis berdasarkan Program Standar Gabungan FAO/WHO. Lihat : Komisi Tindakan Phytosanitary (The Commission on Phytosanitary Measures atau CPM) yang mengadopsi standar internasional bagi tindakan phytosanitary dan mengatur mengenai Konvensi Internasional Mengenai Perlindungan Tanaman (International Plant Protection Convention atau IPPC). Lihat : Organisasi Dunia bagi Kesehatan Hewan (The World Organization for Animal Health atau OIE), yang menyusun standar kesehatan bagi perdagangan hewan dan produk hewan. Lihat : Bagian dari buku petunjuk ini berfokus pada berbagai peraturan teknis utama dan persyaratan impor dari tiga pasar besar impor: Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang. Tetapi, pasar Asia juga memberikan kesempatan pasar yang menarik bagi para eksportir Asia. Pembaca akan dapat menemukan di bagian akhir dari bagian ini daftar nomor kontak dimana informasi mengenai berbagai peraturan impor di beberapa negara Asia dapat ditemukan. Selain itu, buku petunjuk ini juga menyediakan sebuah penghubung (link) ke sebuah situs internet yang memuat daftar nama-nama organisasi lokal, yang memberikan dukungan bagi para eksportir serta dapat memberikan informasi mengenai pasar regional.

9 3 1. KUALITAS KOMERSIAL DAN PERATURAN PELABELAN Kepedulian konsumen semakin tinggi atas kesehatan mereka, negara asal dan kualitas produk yang mereka konsumsi. Berbagai peraturan yang paling populer terfokus pada tingkatan mutu, ukuran, berat dan pelabelan paket. Berkenaan dengan pelabelan, berbagai informasi yang dibutuhkan adalah: negara asal, nama produk, variasi dan jumlah. Berbagai persyaratan yang terkait dengan kualitas komersial adalah mengenai variasi, warna, tanggal kadaluwarsa, kerusakan eksternal dan bentuk. Rantai dingin, pemeringkatan, dan pemilihan guna memenuhi kualitas utama ekspor.

10 4 Amerika Serikat Amerika Serikat mewajibkan bahwa impor produk pertanian diberikan peringkat sesuai dengan standar American Marketing Service yang dikeluarkan oleh Departemen Pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculture atau USDA). Untuk informasi lebih lanjut mengenai pemeringkatan produk dan persyaratan kualitas yang dikeluarkan oleh USDA, silahkan mengunjungi: USDA : USDA : FDA : Salah satu komponen dari Undang-Undang Pertanian tahun 2002 (Undang-Undang Keamanan dan Investasi Pertanian tahun 2002) adalah implementasi dari kewajiban Pelabelan Nama Negara Asal. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai program ini, silahkan mengunjungi: USDA : Uni Eropa Pihak Uni Eropa mensyaratkan bahwa produk buahbuahan dan sayuran segar impor memenuhi standar pemasaran Uni Eropa atas kualitas dan pelabelan. Pengontrolan dilakukan oleh sebuah badan inspeksi pada lokasi impor atau bagi beberapa negara ketiga yang telah disetujui dilakukan di lokasi ekspor. Untuk mendapatkan keterangan lebih lanjut mengenai standar pemasaran Uni Eropa silahkan mengunjungi situs internet Departemen Urusan Lingkungan, Pangan dan Pertanian Inggris (United Kingdom Department of Environment, Food dan Rural Affairs atau DEFRA) : Saluran Penerangan Ekspor Uni Eropa bagi negara berkembang :

11 5 Jepang Jepang mensyaratkan bahwa produk yang diimpor haruslah memenuhi syarat peraturan dari Undang- Undang Sanitasi Pangan, yaitu Undang-Undang Standar Pertanian Jepang (Japan Agricultural Standards atau JAS) dan Undang-Undang Pengukuran/Tera (The Measurement Law). Untuk informasi lebih lanjut mengenai berbagai standar dan prosedur impor atas berbagai produk tertentu, silahkan mengunjungi : Japan External Trade Organization: Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries):

12 6 2. PERATURAN KEAMANAN PANGAN Pihak produsen perlu untuk memastikan tentang kualitas dan keamanan dari hasil produksi mereka dan untuk menghindari berbagai potensi hazards seperti resiko dari pencemaran air atau dari mikroba atau kontaminasi kimia. Batas Maksimum Residu Pestisida Berbagai peraturan mengenai batas maksimum residu dari pestisida (herbisida, insektisida, fungisida dan lain-lain) berlaku efektif baik di tingkat nasional maupun internasional. Pihak produsen dan eksportir wajib mematuhi berbagai peraturan di negara masing-masing (terutama ketika mereka memiliki peraturan mengenai batas maksimum residu pestisida) dan berbagai peraturan yang ada di berbagai negara tujuan impor. Mereka hanya dapat menggunakan berbagai bahan kimia yang telah terdaftar untuk digunakan pada jenis tanaman tertentu dan harus mematuhi secara ketat berbagai petunjuk yang tertera di lembar petunjuk atau kontainer (kotak dan botol). Penggunaan pestisida yang berlebihan adalah berbahaya dan dapat berakibat pada penolakan pengiriman produk oleh negara pengimpor Berbagai penghubung (link) dibawah ini memuat informasi lengkap mengenai berbagai peraturan tentang keamanan pangan di tingkat internasional (misalnya: Standar Codex dan Peraturan WHO) atau di tingkat nasional: Website Komisi Codex Alimentarius (The Codex Alimentarius Commission): Buku Petunjuk Prosedural dari Codex Alimentarius Commission:

13 7 Amerika Serikat Di Amerika Serikat, peraturan batas maksimum residu pestisida disusun oleh Environmental Protection Agency (EPA) dan diawasi oleh Food and Drug Administration (FDA) di tempat tujuan impor yang berlaku bagi semua produk pertanian. Untuk informasi lebih lanjut mengenai persyaratan dan batas maksimum residu pestisida yang diijinkan oleh Environmental Protection Agency (EPA), silahkan mengunjungi : Situs internet berikut ini memungkinkan para pengguna mendapatkan batas maksimum residu yang berlaku di Amerika Serikat dan berbagai negara pengimpor sesuai dengan jenis tanaman, bahan aktif pestisida, atau jenis pestisida dan negara: Uni Eropa Pihak Uni Eropa terus menerus mengurangi limit maksimum residu pestisida yang dapat terkandung dalam berbagai produk. Untuk berbagai jenis pestisida, saat ini terdapat batas umum yang berlaku di semua negara anggota Uni Eropa. Tetapi, untuk beberapa pestisida batas residu ini berbeda dari satu negara lainnya. Tiap negara memberikan verifikasi bahwa berbagai peraturan telah dipatuhi (pada umumnya melalui departemen pertanian) di lokasi masuknya produk. Apabila terdapat beberapa negara anggota Uni Eropa yang belum menentukan batas maksimum, para eksportir diminta untuk mendapatkan ijin toleransi impor. Untuk informasi lebih lanjut mengenai batas residu pestisida di negara anggota Uni Eropa silahkan mengunjungi: Untuk keterangan pihak yang dapat dihubungi di negara anggota: Untuk informasi mengenai pelaksanaan prosedur toleransi impor:

14 8 Jepang Di Jepang, Departemen Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Sosial dan Departemen Lingkungan bertanggung jawab atas penetapan dan pengujian batas residu. Berbagai ambang batas ini didasarkan pada Undang-Undang Sanitasi Pangan. Untuk informasi lebih lanjut mengenai keamanan pangan: Penelusuran Produk Untuk menjawab berbagai permasalahan keamanan pangan yang terjadi barubaru ini (misalnya: penyakit sapi gila) dan terorisme global, banyak pemerintah yang meningkatkan pengawasan atas semua aspek produksi makanan, kegiatan pemrosesan dan distribusi guna melindungi konsumen dari makanan yang telah terkontaminasi secara kimiawi, biologis dan lingkungan. Penelusuran (penelusuran atas sebuah produk) adalah kemampuan untuk mengikuti pergerakan makanan di berbagai tingkatan yang spesifik dalam kegiatan produksi, pemrosesan dan distribusi. Hal ini juga memberikan kemampuan untuk menarik kembali produk secara efisien jika terjadi kontaminasi produk. Selain itu, penelusuran membantu menentukan penyebab dari masalah keamanan pangan yang terjadi, mematuhi berbagai persyaratan hukum dan memenuhi harapan konsumen atas keamanan dan kualitas produk yang dibeli. Dokumentasi pada masa panen dan pemberian kode di paket merupakan komponen sistem penelusuran

15 9 Semakin banyak pemerintah dan pengecer yang mensyaratkan penggunaan Prinsip HACCP bersama-sama dengan pelaksanaan dari Praktek Higienis yang Baik (Good Hygienic Practices atau GHP) dan Praktek Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practices atau GAP) telah diterapkan dalam proses produksi makanan. Petunjuk HACCP:www.fao.org/docrep/w8088e/w8088e00.htm Amerika Serikat Pihak Amerika Serikat telah mengadopsi Undang- Undang Bioterorisme, yang mensyaratkan bahwa semua eksportir melakukan pendaftaran kepada Food and Drug Administration (FDA) dan memberi pemberitahuan sebelum produk tersebut tiba di Amerika Serikat. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Undang-Undang Bioterorisme, silahkan mengunjungi : Food and Drug Administration : Program pemberian Label Negara Asal (Country Of Origin Labeling atau COOL) mensyaratkan bahwa mulai tanggal 30 September 2008 nama negara asal harus dicantumkan pada beberapa jenis produk pertanian. COOL akan berdampak pada persyaratan penelusuran (traceability) yang dikeluarkan oleh pihak Amerika Serikat untuk negara pemasok. Informasi umum mengenai program ini dapat ditemukan di: USDA:

16 10 Uni Eropa Peraturan penelusuran dari Uni Eropa mulai diberlakukan pada bulan Januari Guna mematuhi peraturan ini, sangat penting bagi para importir Uni Eropa untuk menjelaskan asal produk. Akibatnya, para importir tersebut dapat meminta pihak eksportir untuk mematuhi persyaratan penelusuran walaupun pihak eksportir berasal dari negara mitra yang tidak memiliki kewajiban hukum untuk memenuhi persyaratan penelusuran di Uni Eropa. Informasi umum mengenai kegiatan penelusuran dapat ditemukan di: Penjelasan mengenai persyaratan higienis, silahkan mengunjungi: Jepang Pada saat penyusunan buku petunjuk ini, belum terdapat persyaratan mengenai kegiatan penelusuran bagi para eksportir di Jepang.

17 11 3. PERATURAN PHYTOSANITARY Produsen wajib mematuhi peraturan phytosanitary untuk mencegah pemasukan dan penyebaran penyakit tanaman dan serangga ke berbagai wilayah baru. Berbagai negara pengimpor di dunia melakukan analisa resiko hama (pest) guna menentukan tingkat resiko dari sebuah produk impor dan memeriksa produk pada saat kedatangan guna memastikan bahwa tingkat resiko tersebut tidak terlampaui. Petugas setempat melakukan pemeriksaan barang impor Sangat penting untuk memberlakukan sertifikat phytosanitary bagi beberapa produk yang diatur seperti tanaman, bibit, buah-buahan dan sayuran serta bunga potong. Guna mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai sertifikat phytosanitary: (dapat ditemukan pada bagian peraturan phytosanitary)

18 12 Amerika Serikat Di Amerika Serikat, petugas pemeriksa dari Dinas Inspeksi Kesehatan Satwa dan Tanaman (Animal and Plant Health Inspection Service) (yang merupakan badan dari Departemen Pertanian Amerika Serikat) wajib melakukan pemeriksaan dan memberikan persetujuan atas semua pengiriman yang masuk sebelum mereka dikeluarkan dari wilayah pabean. Jika ditemukan tanda adanya serangga atau penyakit, maka produk tersebut dapat disemprot anti hama (atau dirawat dengan menggunakan cara lain), dikembalikan ke negara asal, atau dimusnahkan. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai sistem karantina tanaman di Amerika Serikat, silahkan mengunjungi: USDA: mengenai Undang-Undang Uni Eropa Untuk melakukan ekspor ke Uni Eropa, pihak produsen dan eksportir wajib mematuhi peraturan kesehatan tanaman yang berlaku di Uni Eropa. Berbagai peraturan ini diberlakukan di pintu masuk. Untuk informasi lebih lanjut mengenai peraturan kesehatan tanaman di Uni Eropa, silahkan mengunjungi situs internet Phytosanitary internasional di: Atau untuk dokumen gabungan atas persyaratan phytosanitary di Komisi Eropa (Petunjuk Council 2000/29/EC dan perubahannya) silahkan mengunjungi: Jepang Pemerintah Jepang mensyaratkan para negara pemasok untuk mematuhi Undang-Undang Perlindungan Tanaman, Undang-Undang Kesehatan Tanaman dan Undang-Undang Sanitasi Pangan. Berbagai peraturan ini berada di bawah pengawasan dari Divisi Perlindungan Tanaman pada Kementerian Pertanian, Kehutanan dan Perikanan (Ministry of Agriculture, Forestry and Fisheries atau MAFF). Informasi lebih lanjut mengenai peraturan phytosanitary di Jepang atau sistem karantina Jepang dapat ditemukan di: Stasiun Perlindungan Tanaman: Japan External Trade Organization: Karantina hewan:

19 13 4. JASA KEPABEANAN Persetujuan akhir bagi masuknya suatu produk tergantung pada petugas bea cukai di negara pengimpor. Agar dapat lolos dari bea cukai ini, eksportir diwajibkan mengisi berbagai formulir penting (komersial, pengiriman) dan membayar semua biaya terkait (bea masuk, pajak). Pemrosesan berbagai formulir ini biasanya berlangsung lama, dan beberapa negara kini menawarkan program pre-clearance untuk menghemat waktu. Hal ini berarti produk tersebut dapat lolos dari pemeriksaan bea cukai di negara asal oleh petugas yang dapat menjamin bahwa semua peraturan yang berhubungan dengan produk tersebut telah dipatuhi. Pelanggaran atas salah satu dari berbagai peraturan di negara pengimpor ini dapat menyebabkan ditolaknya produk tersebut. Amerika Serikat Para petugas bea cukai hanya dapat memberikan ijin atas masuknya berbagai produk ke Amerika Serikat sesudah adanya pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak APHIS dan FDA di pintu masuk. Pihak eksportir juga diwajibkan untuk membayar bea disana, yang disesuaikan dengan jumlah, nilai, penjelasan produk dan negara asal. Guna mempercepat waktu pemrosesan di perbatasan, para eksportir dapat menyelesaikan beberapa prosedur kepabeanan sebelum pengiriman dilakukan. Sebagai contoh, melalui Jasa APHIS International Services beberapa negara kini dapat memperoleh pre-clearance untuk dokumen impor seperti sertifikat phytosanitary. Untuk keterangan lebih lanjut mengenai pengaturan pre-clearance di Amerika Serikat: Pihak eksportir juga dapat menggunakan Sistem Komersial Otomatis (Automated Commercial System) yang dibuat oleh pihak bea cukai Amerika Serikat untuk memproses dokumen secara elektronik. Untuk keterangan lebih lanjut:

20 14 Uni Eropa Prosedur untuk Jasa kepabeanan di Uni Eropa bervariasi sesuai dengan negara yang bersangkutan. Tetapi, sebagian besar negara-negara tersebut memiliki sistem pabean elektronik dan program lain yang dapat mempercepat waktu pemeriksaan (clearance). Guna mendapatkan informasi spesifik mengenai prosedur kepabeanan dan tarif biaya (untuk setiap negara), kunjungi : Perpajakan dan Bea Cukai (Taxation and Customs Union) : Pusat Promosi Impor dari Negara Berkembang (Centre for the Promotion of Imports from Developing Countries atau CBI): Jepang Sebelum produk tiba, pihak eksportir wajib memberitahu kepada stasiun karantina di pintu masuk melalui sistem elektronis yang dioperasikan oleh Departemen Kesehatan dan Kesejahteraan. Guna mengurangi waktu yang dihabiskan di bea cukai, sebuah contoh produk dapat dibawa ke laboratorium resmi di Jepang atau di negara pengekspor dan hasilnya diserahkan untuk memperoleh preclearance. Pajak dan bea konsumsi harus sudah dibayarkan sebelum persetujuan akhir diberikan. Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap mengenai prosedur impor, silahkan mengunjungi: Bea cukai Jepang: Bagaimana Menghadapi Pengiriman yang Ditolak? Pengiriman berbagai produk pertanian dapat ditolak masuk di pelabuhan tujuan di negara pengimpor karena tidak memenuhi salah satu atau lebih persyaratan seperti yang telah dijelaskan diatas. Jika masalah yang ditemukan bersifat serius, maka pengiriman tersebut bersama-sama dengan pembungkusnya akan dihancurkan dengan biaya yang ditanggung oleh pihak eksportir. Jika masalah

21 15 yang ditemukan tidak bersifat serius, maka pihak eksportir dapat memilih untuk mengalihkan tujuan pengiriman ke pasar yang lain dimana peraturan yang ada tidak begitu ketat, dan segala biaya akan ditanggung oleh pihak eksportir. Sebagian besar negara maju kini memiliki peraturan impor yang sama, sehingga menjadi sangat sulit untuk memindahkan tujuan pengiriman tersebut ke negara lain, terutama hasil produksi alam yang mudah rusak. Selain itu, pihak Uni Eropa juga memiliki sistem peringatan keamanan pangan yang secara otomatis akan menginformasikan kepada para negara anggota atas pengiriman yang ditolak; dimana hal ini akan mencegah pengiriman yang sama memasuki Uni Eropa melalui pelabuhan lain. Sama halnya, Patriot Act di Amerika Serikat juga mencegah adanya pengiriman yang masuk kembali ke negara tersebut terutama jika sebelumnya telah dicegah masuk di salah satu pelabuhan. Sesudah berhasil melewati bea cukai, sebuah pengiriman tetap dapat ditolak oleh pihak importir jika tidak sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan; dan kemudian pengiriman tersebut akan dihancurkan dengan biaya yang ditanggung oleh pihak eksportir. Sehingga, penolakan pengiriman sangat merugikan para eksportir. Oleh karena itu sangatlah penting untuk memastikan bahwa produk yang diekspor telah memenuhi semua peraturan yang ada di negara pengimpor dan telah pula sesuai dengan semua persyaratan yang ditetapkan oleh pihak importir sebelum produk tersebut meninggalkan negara pengekspor. Hal yang penting dilakukan juga adalah kegiatan mendokumentasikan prosedur penolakan untuk digunakan sebagai bahan referensi di masa datang. Terdapat pula beberapa mekanisme untuk menghadapi keputusan penolakan, tetapi hal ini tidak berlaku bagi produk makanan yang mudah rusak. Jika anda mencurigai bahwa salah satu dari pengiriman anda mungkin memiliki masalah yang dapat mengakibatkan terjadinya penolakan, akan lebih baik bila produk tersebut segera ditarik atau informasikan kepada pelanggan anda segera. Hal ini menunjukkan adanya tindakan proaktif dan penelitian mendalam guna memastikan keamanan pangan tersebut. Harap diingat bahwa berbagai produk yang ditolak tersebut akan membawa reputasi buruk tidak hanya kepada usaha anda, tetapi juga kepada seluruh industri, dan pada akhirnya kepada semua produk yang diproduksi di negara anda!

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.15/MEN/2011 TENTANG PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.17/MEN/2010 TENTANG PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE DALAM WILAYAH REPUBLIK INDONESIA DENGAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.946, 2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN PERDAGANGAN. Impor. Produk Hortikultura. Perubahan. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60/M-DAG/PER/9/2012 TENTANG PERUBAHAN

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 88/Permentan/PP.340/12/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 88/Permentan/PP.340/12/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR 88/Permentan/PP.340/12/2011 TENTANG PENGAWASAN KEAMANAN PANGAN TERHADAP PEMASUKAN DAN PENGELUARAN PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/M-DAG/PER/4/2013 TAHUN 2013 TENTANG KETENTUAN IMPOR PRODUK HORTIKULTURA

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/M-DAG/PER/4/2013 TAHUN 2013 TENTANG KETENTUAN IMPOR PRODUK HORTIKULTURA PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16/M-DAG/PER/4/2013 TAHUN 2013 TENTANG KETENTUAN IMPOR PRODUK HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERDAGANGAN, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

Sertifikasi Kopi Berkelanjutan di Indonesia. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118

Sertifikasi Kopi Berkelanjutan di Indonesia. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Sertifikasi Kopi Berkelanjutan di Indonesia Fitria Ardiyani 1) dan Novie Pranata Erdiansyah 1) 1) Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Globalisasi perdagangan menuntut

Lebih terperinci

BAB IV RUJUKAN RENCANA STRATEGIS HORTIKULTURA

BAB IV RUJUKAN RENCANA STRATEGIS HORTIKULTURA BAB IV RUJUKAN RENCANA STRATEGIS HORTIKULTURA 2015-2019 Dalam penyusunan Rencana strategis hortikultura 2015 2019, beberapa dokumen yang digunakan sebagai rujukan yaitu Undang-Undang Hortikultura Nomor

Lebih terperinci

BAB IV MANAJEMEN MUTU TERPADU

BAB IV MANAJEMEN MUTU TERPADU BAB IV MANAJEMEN MUTU TERPADU Salah satu upaya untuk memenangkan persaingan dagang di pasar internasional adalah memasarkan produk yang berkualitas baik. Produk yang ditawarkan harus memiliki mutu lebih

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG PENDAFTARAN PANGAN OLAHAN

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG PENDAFTARAN PANGAN OLAHAN BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2016 TENTANG PENDAFTARAN PANGAN OLAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 58/Permentan/OT.140/8/2007 TENTANG PELAKSANAAN SISTEM STANDARDISASI NASIONAL DI BIDANG PERTANIAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 58/Permentan/OT.140/8/2007 TENTANG PELAKSANAAN SISTEM STANDARDISASI NASIONAL DI BIDANG PERTANIAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 58/Permentan/OT.140/8/2007 TENTANG PELAKSANAAN SISTEM STANDARDISASI NASIONAL DI BIDANG PERTANIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

ALUR PIKIR DAN ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA

ALUR PIKIR DAN ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA ALUR PIKIR DAN ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA ENAM PILAR PENGEMBANGAN HORTIKULTURA 1. Pengembangan kawasan agribisnis hortikultura. 2. Penerapan budidaya pertanian yang baik / Good Agriculture Practices

Lebih terperinci

Bahan Kuliah Ke-10 Undang-undang dan Kebijakan Pembangunan Peternakan KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN KARANTINA

Bahan Kuliah Ke-10 Undang-undang dan Kebijakan Pembangunan Peternakan KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN KARANTINA Bahan Kuliah Ke-10 Undang-undang dan Kebijakan Pembangunan Peternakan KEANEKARAGAMAN HAYATI DAN KARANTINA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1994 TENTANG PENGESAHAN UNITED NATIONS CONVENTION

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa

Lebih terperinci

Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Ekolabel

Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Ekolabel Pedoman KAN 801-2004 Persyaratan Umum Lembaga Sertifikasi Ekolabel Komite Akreditasi Nasional Kata Pengantar Pedoman ini diperuntukkan bagi lembaga yang ingin mendapat akreditasi sebagai Lembaga Sertifikasi

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.214, 2012 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Peternakan. Kesehatan. Veteriner. Hewan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5356) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 40 TAHUN 2016 TENTANG KEAMANAN PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH,

PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 40 TAHUN 2016 TENTANG KEAMANAN PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 40 TAHUN 2016 TENTANG KEAMANAN PANGAN SEGAR ASAL TUMBUHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TENGAH, Menimbang : a. bahwa produk pangan segar asal tumbuhan

Lebih terperinci

CUPLIKAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 02/Pert/HK.060/2/2006 TENTANG PUPUK ORGANIK DAN PEMBENAH TANAH

CUPLIKAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 02/Pert/HK.060/2/2006 TENTANG PUPUK ORGANIK DAN PEMBENAH TANAH CUPLIKAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 02/Pert/HK.060/2/2006 TENTANG PUPUK ORGANIK DAN PEMBENAH TANAH MENTERI PERTANIAN, Menimbang: a. Mengingat : 1. bahwa pupuk organik dan pembenah tanah sangat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 59/M-DAG/PER/12/2010 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 59/M-DAG/PER/12/2010 TENTANG PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 59/M-DAG/PER/12/2010 TENTANG KETENTUAN PENERBITAN SURAT KETERANGAN ASAL (CERTIFICATE OF ORIGIN) UNTUK BARANG EKSPOR INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Pelatihan Anti-Korupsi dan Kepatuhan untuk Pihak Ketiga X-RITE AND PANTONE

Pelatihan Anti-Korupsi dan Kepatuhan untuk Pihak Ketiga X-RITE AND PANTONE Pelatihan Anti-Korupsi dan Kepatuhan untuk Pihak Ketiga X-RITE AND PANTONE Bahasa Indonesia Versi 2 1 Pelatihan Anti-Korupsi dan Kepatuhan untuk Pihak Ketiga X-RITE AND PANTONE Distributor, Penyalur, &

Lebih terperinci

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI Kebijakan Kepatuhan Global Desember 2012 Freeport-McMoRan Copper & Gold PENDAHULUAN Tujuan Tujuan dari Kebijakan Anti-Korupsi ( Kebijakan ) ini adalah untuk membantu memastikan kepatuhan oleh Freeport-McMoRan

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERIKANAN

KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERIKANAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DIREKTORAT JENDERAL PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERIKANAN KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PENGOLAHAN DAN PEMASARAN HASIL PERIKANAN NOMOR : KEP.076/DJ-P2HP/2011 TENTANG

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER. 01/MEN/2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER. 01/MEN/2007 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER. 01/MEN/2007 TENTANG PENGENDALIAN SISTEM JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

Kode Etik Bisnis Pemasok Smiths

Kode Etik Bisnis Pemasok Smiths Kode Smiths Pengantar dari Philip Bowman, Kepala Eksekutif Sebagai sebuah perusahaan global, Smiths Group berinteraksi dengan pelanggan, pemegang saham, dan pemasok di seluruh dunia. Para pemangku kepentingan

Lebih terperinci

MANAJEMEN BIAYA LINGKUNGAN

MANAJEMEN BIAYA LINGKUNGAN 1 MANAJEMEN BIAYA LINGKUNGAN Kinerja lingkungan dapat memiliki pengaruh yang signifikan terhadap posisi keuangan perusahan. Hal ini juga menunjukkan perlunya informasi biaya lingkungan yang memadai. Bagi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA

PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA PENERAPAN CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK (CBIB) PADA UNIT USAHA BUDIDAYA Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya Direktorat Produksi 2010 Pendahuluan Dalam rangka menghadapi era globalisasi, maka produk perikanan

Lebih terperinci

Sosialisasi PENYUSUNAN SOP SAYURAN dan TANAMAN OBAT. oleh: Tim Fakultas Pertanian UNPAD, Bandung, 14 Maret 2012

Sosialisasi PENYUSUNAN SOP SAYURAN dan TANAMAN OBAT. oleh: Tim Fakultas Pertanian UNPAD, Bandung, 14 Maret 2012 Sosialisasi PENYUSUNAN SOP SAYURAN dan TANAMAN OBAT oleh: Tim Fakultas Pertanian UNPAD, Bandung, 14 Maret 2012 Issue : Kemampuan petani didalam menjamin mutu dan keamanan pangan segar yg dihasilkan relatif

Lebih terperinci

ADENDUM TERHADAP KETENTUAN PEMBELIAN DALAM BBSLA UNTUK SELURUH TOKO RIME

ADENDUM TERHADAP KETENTUAN PEMBELIAN DALAM BBSLA UNTUK SELURUH TOKO RIME ADENDUM TERHADAP KETENTUAN PEMBELIAN DALAM BBSLA UNTUK SELURUH TOKO RIME 1. RUANG LINGKUP & APLIKASI 1.1. Perjanjian Lisensi BlackBerry Solution ("BBSLA") berlaku untuk seluruh distribusi (gratis dan berbayar)

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA KELAS JABATAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN

MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN REPUBLIK INDONESIA KELAS JABATAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN LAMPIRAN PERATURAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN NOMOR : 7 TAHUN 2015 TANGGAL : 18 SEPTEMBER 2015 KELAS JABATAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN Sekretariat Kementerian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN , , , , ,4 10,13

I. PENDAHULUAN , , , , ,4 10,13 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN Indonesia merupakan negara kepulauan dengan luas wilayah perairan yang mencapai 5,8 juta km 2 dan garis pantai sepanjang 81.000 km. Hal ini membuat Indonesia memiliki

Lebih terperinci

Membangun pasar kopi inklusif

Membangun pasar kopi inklusif Membangun pasar kopi inklusif Manfaat dari kekuatan kopi Potensi kopi Indonesia sangat besar, karenanya Indonesia dikenal sebagai produsen kopi terbesar keempat di dunia dan sektor kopi mempekerjakan ratusan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 20092008 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : a. bahwa Undang-Undang

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PEDOMAN PERILAKU DAN ETIKA PERUSAHAAN. 2.1 Kejujuran, integritas, dan keadilan

KEBIJAKAN PEDOMAN PERILAKU DAN ETIKA PERUSAHAAN. 2.1 Kejujuran, integritas, dan keadilan Kebijakan Pedoman Perilaku dan Etika KEBIJAKAN PEDOMAN PERILAKU DAN ETIKA PERUSAHAAN Juni 2014 1. Pendahuluan Amcor mengakui tanggung jawabnya sebagai produsen global dalam bidang layanan dan materi pengemasan,

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.148,2012 KEMENTERIAN PERTANIAN. Rekomendasi. Impor. Produk. Hortikultura. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 03/Permentan/OT.140/1/2012 TENTANG REKOMENDASI

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 09/Permentan/OT.140/2/2009

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 09/Permentan/OT.140/2/2009 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 09/Permentan/OT.140/2/2009 TENTANG PERSYARATAN DAN TATACARA TINDAKAN KARANTINA TUMBUHAN TERHADAP PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA ORGANISME

Lebih terperinci

European Union. Potensi rotan ramah lingkungan

European Union. Potensi rotan ramah lingkungan European Union Potensi rotan ramah lingkungan Manfaat rotan ramah lingkungan Solo, (Provinsi Jawa Tengah) Surabaya (Provinsi Jawa Timur) SNV menyadari besarnya kebutuhan akan produk rotan Indonesia yang

Lebih terperinci

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN,

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR: KEP. 08/MEN/2004 TENTANG TATA CARA PEMASUKAN IKAN JENIS ATAU VARIETAS BARU KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa di dalam era perdagangan global,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 381/Kpts/OT.140/10/2005 TENTANG PEDOMAN SERTIFIKASI KONTROL VETERINER UNIT USAHA PANGAN ASAL HEWAN

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 381/Kpts/OT.140/10/2005 TENTANG PEDOMAN SERTIFIKASI KONTROL VETERINER UNIT USAHA PANGAN ASAL HEWAN PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 381/Kpts/OT.140/10/2005 TENTANG PEDOMAN SERTIFIKASI KONTROL VETERINER UNIT USAHA PANGAN ASAL HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a.

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.252, 2016 HUKUM. Merek. Indikasi Geografis. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5953). UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 20092008 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Undang-Undang Nomor

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 20092008 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 20092008 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 20092008 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT Menimbang : a. DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, bahwa Undang-Undang Nomor

Lebih terperinci

PEDOMAN PENERBITAN DOKUMEN V-LEGAL

PEDOMAN PENERBITAN DOKUMEN V-LEGAL Lampiran 7. Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Nomor : P.8/VI-BPPHH/2011 Tanggal : 30 Desember 2011 Tentang : Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi

Lebih terperinci

Pertanyaan-pertanyaan tentang CertiSource

Pertanyaan-pertanyaan tentang CertiSource Pertanyaan-pertanyaan tentang CertiSource Panduan untuk pabrik penggergajian dan produsen kayu Paul Wilson Manajer Pengembangan Program Kantor +62 (0)881 463 8608 Ponsel +62 (0)817 0357 7555 paul@certisource.co.uk

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2014 TENTANG PERINDUSTRIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.28/MEN/2009 TENTANG SERTIFIKASI HASIL TANGKAPAN IKAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.28/MEN/2009 TENTANG SERTIFIKASI HASIL TANGKAPAN IKAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.28/MEN/2009 TENTANG SERTIFIKASI HASIL TANGKAPAN IKAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

Memastikan Kepatuhan yang Teliti dengan Peraturan-peraturan Anti-Gratifikasi

Memastikan Kepatuhan yang Teliti dengan Peraturan-peraturan Anti-Gratifikasi Yang terhormat Mitra Usaha, Memastikan Kepatuhan yang Teliti dengan Peraturan-peraturan Anti-Gratifikasi Dengan perluasan bisnis lintas batas di dunia, peraturan-peraturan terkait gratifikasi diperkuat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 18/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 18/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR: 18/Permentan/OT.140/3/2011 TENTANG PELAYANAN DOKUMEN KARANTINA PERTANIAN DALAM SISTEM ELEKTRONIK INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW (INSW) DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan bidang ekonomi harus diarahkan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 56/Permentan/PK.110/11/2015 TENTANG PRODUKSI, SERTIFIKASI, DAN PEREDARAN BENIH BINA TANAMAN PANGAN DAN TANAMAN HIJAUAN PAKAN TERNAK DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.TAHUN. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.TAHUN. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.TAHUN. TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling

Lebih terperinci

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA USAHA KEHUTANAN

KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA USAHA KEHUTANAN KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN DIREKTORAT JENDERAL BINA USAHA KEHUTANAN PERATURAN DIREKTUR JENDERAL BINA USAHA KEHUTANAN NOMOR: P.15/VI-BPPHH/2014 TENTANG MEKANISME PENETAPAN LEMBAGA VERIFIKASI

Lebih terperinci

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM

SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM DP.01.07 SYARAT DAN ATURAN AKREDITASI LABORATORIUM Komite Akreditasi Nasional National Accreditation Body of Indonesia Gedung Manggala Wanabakti, Blok IV, Lt. 4 Jl. Jend. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi berarti peluang pasar internasional bagi produk dalam negeri dan

BAB I PENDAHULUAN. globalisasi berarti peluang pasar internasional bagi produk dalam negeri dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi membuat keterkaitan ekonomi nasional dengan perekonomian internasional menjadi makin erat. Dalam skala nasional, globalisasi berarti peluang pasar internasional

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43/Permentan/SR.140/8/2011 TENTANG SYARAT DAN TATA CARA PENDAFTARAN PUPUK AN-ORGANIK

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43/Permentan/SR.140/8/2011 TENTANG SYARAT DAN TATA CARA PENDAFTARAN PUPUK AN-ORGANIK PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43/Permentan/SR.140/8/2011 TENTANG SYARAT DAN TATA CARA PENDAFTARAN PUPUK AN-ORGANIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

KEBIJAKAN GLOBAL ANTI KORUPSI PPG

KEBIJAKAN GLOBAL ANTI KORUPSI PPG Pengantar KEBIJAKAN GLOBAL ANTI KORUPSI PPG Sebagai perusahaan global yang beroperasi di lebih dari enam puluh negara, PPG diwajibkan untuk mematuhi sejumlah undang-undang dan peraturan untuk menjalankan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN SERTA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN SERTA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57 TAHUN 2015 TENTANG SISTEM JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN SERTA PENINGKATAN NILAI TAMBAH PRODUK HASIL PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BAB I KETENTUAN UMUM. peraturan..

BAB I KETENTUAN UMUM. peraturan.. PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.19/MEN/2010 TENTANG PENGENDALIAN SISTEM JAMINAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 10 TAHUN 1995 TENTANG KEPABEANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PENTINGNYA PEMEMENUHAN BATAS MAKSIMUM RESIDU (BMR) PESTISIDA PADA HASIL PERKEBUNAN INDONESIA

PENTINGNYA PEMEMENUHAN BATAS MAKSIMUM RESIDU (BMR) PESTISIDA PADA HASIL PERKEBUNAN INDONESIA PENTINGNYA PEMEMENUHAN BATAS MAKSIMUM RESIDU (BMR) PESTISIDA PADA HASIL PERKEBUNAN INDONESIA Oleh: Bayu Refindra Fitriadi, S.Si Calon PMHP Ahli Pertama Menghadapi pasar bebas China-ASEAN dan perdagangan

Lebih terperinci

UCONTROLLED WHEN PRINTED

UCONTROLLED WHEN PRINTED NO TERBIT : 2 TANGGAL TERBIT : 9 Maret 2015 REVISI : 0 1. PENDAHULUAN Aturan ini mempunyai struktur sesuai dengan persyaratan dari International Federation of Organic Agriculture Movement (IFOAM), Accreditation

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan dan dilaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa berdasarkan Pasal 20 dan Pasal 23 Undang-undang

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1201, 2014 KEMENDAG. Perdagangan. SNI Wajib. Pengawasan. Standarisasi Jasa. PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 47/M-DAG/PER/8/2014 TENTANG PERUBAHAN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERDAGANGAN

RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERDAGANGAN RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PERDAGANGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA 2014 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

PERSYARATAN SERTIFIKASI F-LSSM

PERSYARATAN SERTIFIKASI F-LSSM PERSYARATAN SERTIFIKASI LEMBAGA SERTIFIKASI SISTIM MUTU () KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN R.I BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN INDUSTRI BALAI RISET DAN STANDARDISASI INDUSTRI PALEMBANG JL. PERINDUSTRIAN II

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010 PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010 TENTANG SURAT KETERANGAN ASAL (CERTIFICATE OF ORIGIN) UNTUK BARANG EKSPOR INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan dan dilaksanakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2014 TENTANG PERDAGANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan di bidang ekonomi diarahkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG HORTIKULTURA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PENGESAHAN ROTTERDAM CONVENTION ON THE PRIOR INFORMED CONSENT PROCEDURE FOR CERTAIN HAZARDOUS CHEMICALS AND PESTICIDES IN INTERNATIONAL TRADE

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN PERDAGANGAN

PERATURAN KEPALA ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN RETENSI ARSIP SEKTOR PEREKONOMIAN URUSAN PERDAGANGAN ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA Jalan Ampera Raya No. 7, Jakarta Selatan 12560, Indonesia Telp. 62 21 7805851, Fax. 62 21 7810280 http://www.anri.go.id, e-mail: info@anri.go.id PERATURAN KEPALA ARSIP

Lebih terperinci

Studi Banding Badan Mutu ke PT. Surveyor Indonesia dan WQA

Studi Banding Badan Mutu ke PT. Surveyor Indonesia dan WQA Studi Banding Badan Mutu ke PT. Surveyor Indonesia dan WQA Kegiatan Badan Mutu Pelayanan Kesehatan yang telah dilaksanakan, memiliki berbagai tujuan, salah satunya adalah melakukan pengembangan sistem

Lebih terperinci

KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL. Bab 3

KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL. Bab 3 KERJASAMA EKONOMI INTERNASIONAL Bab 3 1. Pengertian Kerjasama Ekonomi Internasional Hubungan antara suatu negara dengan negara lainnya dalam bidang ekonomi melalui kesepakatan-kesepakatan tertentu, dengan

Lebih terperinci

2. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal

2. Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH NOMOR TAHUN... TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PERUBAHAN PROSEDUR SERTIFIKASI OPERASIONAL (OCP) MENGENAI KETENTUAN ASAL BARANG UNTUK KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA

PERUBAHAN PROSEDUR SERTIFIKASI OPERASIONAL (OCP) MENGENAI KETENTUAN ASAL BARANG UNTUK KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA Apendiks 1 LAMPIRAN A PERUBAHAN PROSEDUR SERTIFIKASI OPERASIONAL (OCP) MENGENAI KETENTUAN ASAL BARANG UNTUK KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS ASEAN-CHINA Untuk maksud melaksanakan Ketentuan Asal Barang untuk Kawasan

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN UMUM Pangan merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar karena berpengaruh terhadap

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/Permentan/SR.120/1/2014 TENTANG PRODUKSI, SERTIFIKASI, DAN PEREDARAN BENIH BINA

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/Permentan/SR.120/1/2014 TENTANG PRODUKSI, SERTIFIKASI, DAN PEREDARAN BENIH BINA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/Permentan/SR.120/1/2014 TENTANG PRODUKSI, SERTIFIKASI, DAN PEREDARAN BENIH BINA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL (Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul) Nomor : 3 Tahun : 2016

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL (Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul) Nomor : 3 Tahun : 2016 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL (Berita Resmi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul) Nomor : 3 Tahun : 2016 PERATURAN DAERAH KABUPATEN GUNUNGKIDUL NOMOR 3 TAHUN 2016 TENTANG KEAMANAN PANGAN DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN PENGATURAN KEBIJAKAN PERSAINGAN USAHA DI ASEAN Sejarah Masyarakat Ekonomi ASEAN

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN PENGATURAN KEBIJAKAN PERSAINGAN USAHA DI ASEAN Sejarah Masyarakat Ekonomi ASEAN 22 BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN PENGATURAN KEBIJAKAN PERSAINGAN USAHA DI ASEAN 2.1. Masyarakat Ekonomi ASEAN 2.1.1. Sejarah Masyarakat Ekonomi ASEAN Masyarakat Ekonomi ASEAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN, Menimbang : bahwa berdasarkan Pasal 20 dan Pasal 23 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan,

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI JULI 2014

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI JULI 2014 PERKEMBANGAN PERDAGANGAN INDONESIA - THAILAND PERIODE : JANUARI JULI 2014 A. Perkembangan perekonomian dan perdagangan Thailand 1. Selama periode Januari-Juli 2014, neraca perdagangan Thailand dengan Dunia

Lebih terperinci

Mengekspor dalam Lasekap Hukum yang Bergeser LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS. Kota, Negara Tanggal, 2013

Mengekspor dalam Lasekap Hukum yang Bergeser LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS. Kota, Negara Tanggal, 2013 Mengekspor dalam Lasekap Hukum yang Bergeser LOKAKARYA PELATIHAN LEGALITAS Kota, Negara Tanggal, 2013 Pelatihan untuk Para Pelatih Pengantar Sumber Daya Pelatihan untuk Para Pelatih - Sumber Daya Pelatihan

Lebih terperinci

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2000 TENTANG STANDARDISASI NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

- 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2000 TENTANG STANDARDISASI NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, - 1 - PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2000 TENTANG STANDARDISASI NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mendukung peningkatan produktivitas, daya

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2015 TENTANG PENGHIMPUNAN DAN PENGGUNAAN DANA PERKEBUNAN KELAPA SAWIT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

National Single Window;

National Single Window; PERATURAN PRESIDEN NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PENGGUNAAN SISTEM ELEKTRONIK DALAM KERANGKA INDONESIA NATIONAL SINGLE WINDOW DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 2015 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 2015 TENTANG SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 32 TAHUN 2009 TENTANG TEMPAT PENIMBUNAN BERIKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA

UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA UNDANGAN BAGI AGREGATOR PASAR UNTUK BERPARTISIPASI DALAM PROGRAM INISIATIF TUNGKU SEHAT HEMAT ENERGI (CLEAN STOVE INITIATIVE CSI) INDONESIA Informasi Umum Inisiatif Tungku Sehat Hemat Energi (Clean Stove

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa tingkat produksi budidaya tanaman yang mantap sangat menentukan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2000 TENTANG STANDARDISASI NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2000 TENTANG STANDARDISASI NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 102 TAHUN 2000 TENTANG STANDARDISASI NASIONAL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa dalam rangka mendukung peningkatan produktivitas, daya guna produksi,

Lebih terperinci

RISET STRATEGI UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA*) Syekhfani**)

RISET STRATEGI UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA*) Syekhfani**) RISET STRATEGI UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN ORGANIK DI INDONESIA*) Syekhfani**) PENDAHULUAN Perubahan suatu sistem membutuhkan kajian yang tepat dan menyeluruh agar sistem tersebut dapat berhasil dan tidak

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling

Lebih terperinci