Tatkala Multimedia Massa Kian Dekat ke Publiknya

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Tatkala Multimedia Massa Kian Dekat ke Publiknya"

Transkripsi

1 Tatkala Multimedia Massa Kian Dekat ke Publiknya Oleh Priyambodo RH (Cyberjournalist ANTARA Multimedia Gateway; Pengajar Cyberjournalism di Lembaga Pers Dr. Soetomo/LPDS Dewan Pers, dan Galeri Foto Jurnalistik ANTARA/GFJA) Dunia kewartawanan ber-internet (cyberjournalism) di Indonesia memasuki 2008 tampak kian semarak dengan berkembangnya bisnis pemberitaan sejumlah portal berita. Bahkan, beberapa di antara mereka selama 2007 meraup keuntungan terbilang besar, yakni ada yang mencatat angka mencapai miliaran rupiah. Sejumlah portal berita yang berbasis media massa cetak dan elektronik (radio dan televisi) ada yang secara drastis mengubah tampilan desainnya. Namun, ada pula satu portal berita yang tercatat paling populer dan meraup keuntungan terbesar di negeri ini terlihat masih mempertahankan tampilan desain di bagian berandanya. Hanya saja, yang pasti, mereka semua menjaring iklan lebih banyak dan mengembangkan fitur khusus (kanal)-nya, termasuk layanan blog berbasis komunitas, secara beragam sesuai misi dan visi masing-masing. Niche content adalah salah satu rumusan yang mereka terapkan. Isi berita (content) sekaligus tampilan desain gambar, warna dan tekstur-- yang berdaya tarik dan berbeda dengan lainnya itulah satu rumusan pengembangan desain yang hadir di multimedia massa Indonesia. Gue banget gitu lho! Begitulah komentar yang agaknya ingin ditampilkan setiap portal berita tersebut, layaknya jargon anak muda masa kini. Rumusan itu membuka peluang bisnis lebih besar lagi bagi pengelola niche content. Ideologi mereka bukan sekedar lagi menyediakan berita layak siar, tetapi juga layak jual. Salah satu cara mereka meraup keuntungan besar adalah menyajikan aturan bisnis bayar per klik (pay per click) bagi pemasang iklan yang menarik perhatian peselancar di dunia maya. Sedangkan, pengunjung (pembaca) pada umumnya mendapatkan berita secara gratis, dan baru membayar untuk jenis berita khusus atau berlangganan melalui fasilitas aplikasi nirkabel (Wireless Application Protocol/WAP) atau layanan bernilai tambah (Value Added Service/VAS) di telepon seluler (ponsel). Multimedia massa yang memanfaatkan niche content setidak-tidaknya memperhitungkan tiga hal sebagai berikut: -. Berapa besar biaya yang harus disiapkan? Dan, berapa besar pula keuntungan signifikan yang bakal mampu diraih? Hal ini menjadi satu keputusan keredaksian sekaligus bisnis yang harus diambil oleh pengelola multimedia massa untuk tidak sekadar terus berhasil melanggengkan kehidupannya (survive), tetapi juga harus menjadi penentu kecenderungan pasar (market trendsetter). -. Bagaimana adaptasi publik? Hal ini senantiasa menjadi pertimbangan utama bagi pengelola multimedia massa lantaran selera publik cenderung cepat berubah. Keredaksian dan pemasaran mereka 1

2 dituntut harus mampu menerapkan content bermakna sebagai pemberi gagasan utama (agenda setting) dan melayani sepenuhnya apa yang khalayak inginkan (uses of gratification yang menganut azas give the people what they wants). Selain itu, semua fasilitas yang ada di tampilan laman (situs Internet) mereka haruslah bersahabat dengan khalayaknya (user friendly). -. Berapa banyak pengakses? Hal berkaitan langsung dengan pilihan teknologi yang diterapkan pengelola multimedia massa, agar lamannya dapat diakses secara lebih cepat (speedy), isi berita akurat (accuracy) dan lengkap (completely), sehingga menjadi penting (important) bagi khalayaknya. Dalam hal ini ideologi bisnis mereka adalah mendapatkan sebanyak mungkin pengunjung, dan berita yang disajikan harus mampu berada di halaman utama laman bermesin pencari informasi (search engine) populer, seperti Google (http://www.google.com), Yahoo! (http://www.yahoo.com), Altavista (http://www.altavista.com), MSN (http://www.msn.com), dan Infoseek (http://www.infoseek). Selain itu, mereka memanfaatkan fasilitas penyebar data (data-feed) melalui cara topik berita yang secara mudah tersindikasi (Really Simple Syndication/RSS) sesuai keinginan setiap pengaksesnya. Niche content dalam penerapan keredaksian, pemasaran dan pengembangan Teknologi Informasi (TI) multimedia massa terlihat pula menjadi salah satu pendukung kecendurangan konvergensi media (media convergence). Michael O. Wirth dari University of Denver di Amerika Serikat (AS) dalam bab ke-20 di buku setebal 750 halaman berjudul Handbook of Media Management And Economics yang ditulisnya bersama Alan B. Albarran, dan Sylvia M. Chan-Olmted, terbitan Rotledge Massmedia pada 2005 ber-isbn: , kemudian masuk ke Net Library Published mencatat bahwa konvergensi media setidak-tidaknya dipengaruhi oleh tujuh hal, yakni: 1. Inovasi TI, terutama perkembangan Internet dan revolusi digital, 2. Deregulasi/liberalisasi dan globalisasi, termasuk Aturan Telekomunikasi pada 1996, formasi Uni Eropa (UE) dan privatisasi jasa telekomunikasi dan media massa di seluruh dunia, 3. Berubahnya selera para konsumen dan meningkatnya kemakmuran mereka, 4. Standarisasi teknologi, 5. Pencarian informasi menuju sinergi, 6. Timbulnya ketakutan bakal tertinggal dan besarnya ego kalangan pebisnis, termasuk di kalangan media massa, sehingga di kebijakan tingkat atasnya muncul kecenderungan penggabungan dan dibelinya perusahaan media maupun perusahaan telekomunikasi di semua belahan dunia, 7. Tata ulang tujuan dari kinerja media massa berpola lama menjadi ke tahapan multimedia massa yang mengembangkan serangkaian formula baru. Konvergensi media di Indonesia juga tampak semarak. Banyak pemilik perusahaan media massa mengembangkan bisnisnya menjadi multimedia massa, tanpa meninggalkan 2

3 bisnis inti (core business)-nya. Di antara mereka ada yang melakukan penggabungan perusahaan dan atau membeli perusahaan media lainnya. Bahkan, mereka tak sedikit yang bekerjasama dengan pihak asing. Selain itu, di jajaran pemilik multimedia massa nasional hadir pula wajah-wajah baru yang sebelumnya lebih dikenal sebagai pebisnis non-media. Banyak pemilik perusahaan media yang akhirnya mau tidak mau dan suka tidak suka menerapkan kebijakan banting setir (change direction sharply) sekaligus menambah kecepatan (overdrive) dalam menjalankan roda bisnisnya. Memadukan niche content dan media convergence adalah salah satu formula pilihan utama mereka. Hasil perpaduan tersebut membuat tampilan beranda portal berita di Indonesia sama halnya di berbagai belahan dunia menjadi kian meriah dengan menghadirkan isi berita yang tidak lagi sekadar teks dan foto, tetapi dilengkapi dokumen suara berformat sekelas kualitas radio dan televisi berbasis web streaming. Publik pun kian akrab dengan isi berita beristilah radio streaming dan TV streaming. Mereka juga kian merasakan nikmatnya berselancar ke portal berita lantaran kecepatan akses Internet kian tinggi. Bahkan, mereka dapat menikmatinya secara bergerak (mobile) memanfaatkan teknologi nirkabel (wireless). Dengan kata lain, bisnis multimedia massa secara prinsip belum terlalu banyak bergeser, yakni sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak publik atau khalayak yang mengaksesnya --menjadi pelanggan gratis maupun berbayar (membership) dan seberapa besar iklan memberikan pemasukan. Perhatian publik dan iklan tetap menjadi kata kunci dalam bisnis media. Hanya saja, di Internet hubungan di antara media dengan publiknya kian setara (egaliter) dan dimungkinkan saling berinteraksi (interaktif). Hal itu pula yang memungkinkan bisnis media ber-internet (cybermedia) kembali bangkit sekaligus menjanjikan serangkaian peluang dan keuntungan di negeri ini, setelah banyak perusahaan bisnis portal berita berjatuhan dalam periode Kewartawanan Multi-platform dan Mobile Medio April 2008, Bristish Broadcasting Corporation (BBC) penyedia jasa layanan multimedia massa online, yang diawali siaran radio pada 1927 di Kerajaan Inggris melakukan kebijakan redaksional yang sangat signifikan guna lebih dekat dengan publiknya sekaligus melakukan strategi bisnis secara efesien dan efektif. BBC menyebutnya ruang redaksi ibarat banyak anjungan yang menyatu (multi-platform newsroom). Pemimpin Redaksi BBC, Peter Horrocks mengemukakan bahwa konsep ruang redaksi multi-platform itu memungkinkan kinerja jurnalis pewarta dan redaktur tulis, penyiar radio/televisi, serta portal berita dapat bekerja secara terpadu. Setiap jurnalis dengan keahlian dan peliputan khususnya juga semakin diarahkan bekerja lebih terpadu. 3

4 Alur kerja berkurang secara signifikan karena kami akan lebih banyak menabung. Kami mengenalkan sejumlah aturan bermultimedia, tetapi setiap orang dapat mengembangkan keterampilannya. Sekali lagi, kami pertama-tama membawa semua platform duduk berdampingan satu sama lain secara bersama dan sangat efektif. Masing-masing memiliki keahlian, namun berpola pikir menyatu, ujarnya kepada pers. Horrocks pun memberikan ilustrasi bahwa dalam sistem kerja ruang redaksi multiplatform, maka jurnalis BBC di setiap karakter media radio dan televisi maupun di setiap seksi pemberitaan nasional, internasional/mancanegara tetap bertanggungjawab mengerjakan berita di seksi berbasis teks (text-based) yang dikirimkan ke seksi berita online, sehingga sistem konvergensi media dapat berjalan. Manakala jurnalis BBC Online bergabung ke ruang redaksi multi-platform pada Juni 2008, maka sistem operasional pemberitaan online dibagi menjadi dua seksi. Seksi pertama berada di lantai dua ruang pemberitaan yang bergabung dengan seksi televisi internasional/mancanegara (BBC World News TV), dan seksi kedua berada di lantai pertama bersama seksi pemberitaan radio domestik dan produk buletin TV. Sistem kerja semacam itu, menurut Horrocks, sangat memungkinkan jurnalis BBC Radio, BBC Television dan BBC Online bekerjasama secara lebih dekat, dan mengurangi adanya duplikasi dalam proses pembuatan berita. Jika ada breaking news, maka kami bisa langsung menyiarkannya secara serentak dalam versi radio, televisi maupun online, katanya. Untuk menerapkan sistem ruang redaksi multi-platform tersebut, BBC mengalokasikan dana senilai Pounsterling, termasuk untuk pembiayaan pembuatan dan promosi logo baru yang semua karakter multimedia massanya. Salah satu target utama BBC menerapkan sistem tersebut adalah meningkatkan kinerja jurnalisnya sekaligus mendekatkan mereka dengan publik. Upaya mendekatkan proses pemberitaan yang dikerjakan jurnalis dengan publiknya juga dilakukan oleh Reuters kantor berita transnasional dari Kerajaan Inggris yang didirikan pada 1851, dan memiliki 196 biro di seluruh dunia menjelang tutup tahun 2007 memperkenalkan sistem kerja Mobile Journalism (MoJo) bagi jurnalisnya. Reuters menerapkan aktivitas tersebut didukung Nokia perusaan elektronik dari Finlandia yang produk ponselnya masih merajai pasar dunia yang memungkinkan jurnalisnya membuat, menyunting dan mempublikasikan berita secara bergerak (mobile) guna mengejar faktor kecepatan pemberitaan. Apalagi, sejumlah perangkat ponsel cerdas (smartphones) dan komputer bergerak sangat canggih (Ultra Mobile Personal Computer /UMPC) sudah menggantikan fungsi komputer jinjing (laptop) karena mampu mendukung kinerja jurnalis memproduksi berita berbasis teks, foto, dan audio-visual televisi dengan memanfaatkan web Internet nirkabel berjaringan data paket berkecepatan tinggi (High-SpeedDownlik Packet Access/HSDPA atau 3.5G) Bagaimana di Indonesia? 4

5 Sejumlah organisasi media di negeri ini yang telah menerapkan perpaduan niche content dan media convergence telah pula memasuki tahapan layaknya multi-platform newsroom ala BBC maupun Mojo dari Reuters, namun tentunya dalam kapasitas masing-masing. Oleh karena, penerapan kebijakan keredaksian sekaligus pemasaran semacam itu termasuk berkategori padat teknologi yang berujung ke padat modal. Sekalipun demikian, organisasi media yang berani menerapkannya secara tepat, maka berpeluang mendapatkan keuntungan dari sisi efisiensi dan efektivitas kinerja, serta pemasukan finansial. Apalagi, Internet juga membuka peluang sangat besar di bidang pemasaran, karena produknya dapat diakses publik secara global. Hanya saja, sejumlah praktisi pers, akademisi dan tokoh publik ada yang khawatir dengan etika ataupun perilaku pekerja media, terutama jurnalis online. Salah satu kasus menarik adalah pemberitaan mengenai jatuh dan hilangnya pesawat jenis Boeing 737-4Q8 milik maskapai Adam Air bernomor penerbangan 574 yang hilang dalam perjalanan dari Bandar Udara (Bandara) Juanda di Surabaya, Jawa Timur, menuju Bandara Sam Ratulangi di Manado, Sulawesi Utara, pada 1 Januari Sejak pesawat itu secara resmi dinyatakan hilang, maka semua media massa nasional juga internasional menjadikannya berita utama. Para jurnalis, termasuk portal berita yang memiliki layanan berita teks, foto, radio streaming dan TV streaming, berlomba menyajikan informasi terkini dan terinci mengenai kasus Adam Air 574. Sempat beredar berita bahwa ada 12 orang di antarai 96 penumpang (85 dewasa, 7 anak-anak, dan 4 bayi) dan dilayani 6 awak pesawat dinyatakan selamat. Selain itu, sempat pula tersiar berita bahwa reruntuhan pesawat terlihat jatuh di kawasan pegunungan di kawasan Sulawesi Tengah. Banyak pejabat negara, Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara RI (Polri) memberikan komentarnya seputar kecelakaan sekaligus upaya evakuasi korban yang selamat. Ternyata, berita yang menyatakan ada 12 korban selamat itu terbukti bohong. Bahkan, bangkai pesawat tidak ditemukan berada di kawasan pegunungan layaknya yang diberitakan media massa, terutama portal berita, televisi dan radio yang lebih cepat dibanding media cetak. Akibatnya, kinerja menyangkut perilaku dan kode etik jurnalis pun dipertanyakan banyak pihak. Bahkan, sejumlah kalangan ada yang menyebut bahwa kecenderungan cyberjournaslist menerapkan cara kerja asal kutip atau sekadar copy dan paste berita dari informasi/berita pihak lain. Namun, dalam kasus hilangnya Adam Air 574, sedikit pihak yang tampaknya mau mempertanyakan kredibilitas pejabat berwenang pemerintah, TNI dan Polri-- yang notabene menjadi nara sumber dan ikut memberikan pernyataan eksklusif, yang pada gilirannya terbukti bohong belaka. Perilaku dan etika jurnalis online atau jurnalis ber-internet (online journalist/cyberjournalist) agaknya paling sering dipertanyakan tatkala muncul kasus beredarnya foto dan atau video cabul menyangkut publik figur maupun anggota masyarakat biasa. Dengan karakter multimedianya yang berbasis web Internet (web based), maka portal berita lebih dimungkinkan mempublikasikan barang bukti foto/video cabul dibandingkan media massa lainnya. Bahkan, di portal berita setiap 5

6 pengaksesnya sangat dimungkinkan memberikan komentar interaktif, yang biasanya disediakan oleh pengelola portal berita. Masalah pun bisa merembet ke kasus hukum, manakala portal berita mempublikasikan barang bukti tersebut apa adanya. Oleh karena, portal berita semacam itu bakal terkena pasal menyebarkan pornografi. Padahal, jurnalis secara profesional tetap dapat memberitakan materi dari kasus tersebut dengan menerapkan kode perilaku (code of conduct) dan kode etik (code of ethic) jurnalistik. Misalnya, cyberjournalist memberitakan kasus tersebut secara berimbang dengan tetap menjunjung tinggi azas praduga tak bersalah (presumption of innocence), melindungi saksi/korban/pelaku berusia di bawah umur (pelajar). Selain itu, cyberjournalist juga dapat mengembangkan keingintahuan publik menyangkut faktor bagaimana dan mengapa (how & why) berkaitan dengan barang bukti berkategori cabul atau terlarang sesuai kaidah umum. Masih banyak jurnalis di negeri ini lebih suka sekadar mengutip keterangan nara sumber/pakar multimedia guna menyimpulkan apakah barang bukti tersebut asli atau palsu/rekayasa digital. Dalam hal ini, cyberjournalist akan lebih baik mengutamakan pertanyaan bagaimana menguji keaslian, dan kemungkinan proses rekayasa digital? yang kemudian dijelaskan tahapan teknisnya, sehingga publik pun memiliki wawasan tambahan untuk ikut mengujinya. Paradoks Cybermedia di Indonesia Kebangkitan kembali bisnis cybermedia di Indonesia memasuki dua tahun terakhir ini terlihat mengiurkan seiring dengan kenaikan jumlah pengakses Internet di dalam negeri dibarengi semakin banyaknya masyarakat internasional termasuk orang Indonesia yang bermukim di luar negeri mengakses informasi/berita ke portal berita di negeri ini. Menteri Komunikasi dan Infomatika (Menkominfo), M. Nuh, saat ICT Outlook 2008 di Jakarta pada 31 Januari 2008 memaparkan bahwa Indonesia berhasil mengejar ketertinggalan di bidang Teknologi, Informasi dan Komunikasi (TIK atau Information, Communication and Technology/ICT), khususnya di bidang telekomunikasi. Menurut M. Nuh, sektor telekomunikasi di Indonesia pada 2007 mengalami pertumbuhan 48%, terutama di sector seluler yang mencapai 51% dan telepon nirkabel FWA (Fixed Wireless Access) mencapai 78% dibanding setahun sebelumnya. Ia pun mengharapkan setidak-tidaknya ada nilai pertumbuhan yang sama pada Pertumbuhan kepemilikan komputer, menurut mantan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tersebut, juga tumbuh secara signifikan mencapai 38%, dan angka pengguna Internet yang menjadi salah satu indikator makro TIK nasional telah mencapai jumlah pemakai atau naik senilai 23% dibanding Pada 2008, M. Nuh mengharapkan, pengguna Internet di negeri ini dapat mencapai angka 2,5juta. Adapun, kalangan penyedia jasa layanan jaringan telepon seluler (cellular provider) nasional memiliki data bahwa total pengguna Internet di Indonesia mencapai angka 6

7 sekira 20 juta, namun yang benar-benar aktif hanya sekira 10%-nya. Angka 20 juta tersebut mencakup pengguna Internet berjaringan telepon tetap (fixed phone), broadband dan televisi kabel, jaringan listrik yang dikelola PT PLN, maupun secara nirkabel melalui ponsel dan komputer saku (Pocket PC dan Personal Digital Asisstant/PDA) ataupun modem seluler. Tahun 2007, bagi penyedia jasa jaringan ponsel di Indonesia menjadi babak baru dengan diterapkannya secara resmi teknologi telekomunikasi selular generasi ketiga (3rd Generation/3G) dan generasi ke-3,5 (3.5G). Menjelang medio 2008 ada 20 kota di negeri ini memiliki jaringan HSDPA atau 3.5 G dan sekira 80 kota dilayani 3G. Secara teknis, pengguna Internet berteknologi 3G dan 3.5G dapat mengakses data berkecepatan downlink 3,6Mbps menjadi 7,2Mbps, dan kecepatan uplink dari 384Kbps menjadi 1,4Mbps. Alhasil, pengguna Internet menggunakan ponsel berteknologi 3.5G dan di wilayahnya sudah tercakup layanan tersebut, maka dapat menikmati radio streaming dan TV streaming (juga produk televisi digital berbasis Internet Protocol Television/IPTV) secara mudah. Namun demikian, The Nielsen Company perusahaan berskala global di bidang informasi dan media-- (http://www.nielsen.com/media/2007/pr_ html) dalam laporannya pada 1 Oktober 2007 memperlihatkan terjadi kecenderungan paradoks di sejumlah negara, termasuk Indonesia, yang pertumbuhan akses publiknya ke Internet kian meningkat, namun tingkat kepercayaan mereka terhadap produk komersial yang diiklankan masih lebih banyak melalui informasi dari mulut ke mulut. Dalam laporan survei berjudul Word-of-mouth the Most Powerful Selling Tool: Nielsen Global Survey, mereka melakukan survei dua kali dalam setahun terhadap pemakai Internet di 47 pasar dari kawasan Eropa, Asia Pasifik, Amerika, dan Afrika. Survei tersebut mencakup kebiasaan responden menyangkut 13 jenis periklanan, mulai dari yang konvensional melalui surat kabar dan televisi hingga ke Internet. Data Nielsen Online Global Consumer Study pada April 2007, antara lain memperlihatkan tingkat kepercayaan orang Asia terhadap informasi periklanan yang disampaikan dari mulut ke mulut (word of mouth) dan atas saran orang lain adalah sebagai berikut: Hong Kong 93% Taiwan 91% Indonesia 89% India 87% Korea Selatan 87% Sebanyak 47 pasar konsumen yang disurvei Nielsen Global ada di Afrika Selatan, Amerika Serikat, Argentina, Australia, Austria, Belanda, Belgia, Brazil, Ceko, Chile, China, Denmark, Filipina, Estonia, Finlandia, Hongkong, Hungaria, Inggris, India, Indonesia, Irlandia, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, Korea Selatan, Latvia, Lithuania, Malaysia, Meksiko, Mesir, Norwegia, Polandia, Portugal, Prancis, Rusia, Selandia Baru, 7

8 Singapore, Spanyol, Swedia, Swiss, Taiwan, Thailand, Turki, Uni Emirat Arab, Vietnam, dan Yunani, Sementara itu, Pusat Agen Intelijen Amerika Serikat (Central Inteligence Agency) dalam publikasi World of Fact Book (https://www.cia.gov/library/publications/the-worldfactbook/geos/id.html) mencatat kondisi telekomunikasi di Indonesia sebagai berikut: -. Jumlah Penduduk 237,512,355 (perkiraan hingga Juli 2008) -. Jumlah Satuan Sambungan Telepon 14,821 juta (pada 2006) -. Jumlah Sambungan Telepon Seluler juta (pada 2006) -. Jumlah Stasiun Televisi Lokal 54 (pada 2006, ada 11 stasiun bersiaran nasional) -. Jumlah Internet Host (pada 2007) -. Jumlah Pengguna Internet 16 juta. Paradoks juga dialami cybermedia di Indonesia. Oleh karena, Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) mencatat bahwa lalu-lintas Internet secara nasional hingga Mei 2007 mencapai 80 Gigabit per detik/second (Gbps), yang meliputi trafik melalui satelit (Very Small Aperture Terminal/VSAT), leased line dan koneksi melalui pertukaran Internet Indonesia (Indonesia Internet exchange/iix). APJII menilai, dari total lalu-lintas Internet nasional itu ada sekira 70% merupakan koneksi Internet dari daerah ke Jakarta, sedangkan sisanya (30%) merupakan akses dari dalam kota sendiri. Selain itu, catatan APJII menunjukkan bahwa meningkatnya lalulintas penggunaan Internet secara nasional seiring dengan naiknya jumlah pelanggan dan pengguna Internet, yang sebagian besar dari mereka sangat dimungkinkan mengakses game online, laman bergambar berkapasitas besar, aktivitas pengiriman data surat elektronik ( ) atau dokumen perkantoran, dengan intensitas pemakaian secara keseluruhan tanpa dibatasi waktu. Dengan kata lain, pemain utama cybermedia nasional yang berada di posisi penentu kecenderungan pasar (market trendsetter) jelas terlihat di lamannya menerapkan pula rumusan berbisnis secara kreatif di tengah paradoks yang ada. Sejumlah portal berita trendsetter lamannya bukan sekadar menyajikan berita yang cepat, akurat dan lengkap, sehingga bernilai penting bagi publiknya. Mereka pun menjaring iklan secara kreatif, mulai dengan memanfaatkan agen iklan yang juga semakin banyak beralih ke bisnis berbasis Internet, sampai dengan memanfaatkan sejumlah produk TI terbaru. Sementara itu, cybermedia yang berada di posisi menantang pasar (market challenger) banyak yang menyajikan berita bukan sebagai hal utama. Mereka di lamannya lebih banyak membuka kanal non-berita lempang (straight news), tetapi mengutamakan informasi hiburan (information-entertainment/infotainment), antara lain mengenai artisartis terkenal. Selain itu, mereka melengkapi infotainment artis bersangkutan dengan kanal database iklan berisikan foto-foto, cuplikan film (clips), potongan lagu untuk nada tunggu ponsel, dan jalur percakapan (chatting). Hal ini juga dilakukan oleh pengelola cybermedia yang berada di posisi sekadar mengikuti selera pasar (market follower). 8

9 Cybermedia di posisi market trendsetter dalam konsep bisnisnya dalam dua tahun terakhir ini juga terlihat menerapkan konvergensi media secara lebih kuat. Mereka melakukan pula kerjasama dengan pengembang aplikasi portal berita berbasis komunitas yang dikenal dengan sebutan Web 2.0 sekaligus menggandeng kerjasama dengan penyedia jasa jaringan ponsel. Bisnis pemberitaan online di negara maju pun, terutama di kawasan Uni Eropa (UE), Amerika Serikat (AS), apalagi Jepang,China dan Korea Selatan, terlihat bahwa pengelola cybermedia yang ingin berada di posisi market trendsetter harus dekat atau terlibat langsung dengan kepentingan publiknya di ranah web berbasis PC sekaligus ponsel. Apalagi, penyedia jasa jaringan ponsel termasuk di Indonesia-- dewasa ini menerapkan sistem mobile cellular advertising (mobile ads) sekaligus On Device Portal (ODP). Mobile Ads sangat jelas bermanfaat sebagai sarana beriklan/promosi melalui ponsel. Sedangkan, ODP dapat diterjemahkan sebagai aplikasi memindahkan fungsi web Internet dari PC/laptop ke ponsel dengan berbagai manfaat tambahan, antara lain memantau kegiatan secara geografis menggunakan peta digital online, mengirim/menerima seketika (real time), mengunggah/mengunduh (upload/downlad) isi berita sesuka hati, termasuk content prakiraan cuaca berdasarkan kode pos, sehingga akurasi datanya mencakup tingkat kelurahan di Indonesia. Percakapan tatap muka melalui ponsel pun menjadi hal mudah. Semua aktivitas menggunakan ODP itu dapat direkam atau didokumentasikan, bahkan secara mudah pula dapat diunggah (upload) sebagai berita aktual atau sekedar content ke blog pribadi. ODP menjadi mainan baru sekaligus tantangan bagi cybermedia dalam menjalankan sistem keredaksian dan pemasarannya. Oleh karena, ODP yang mengandalkan teknologi 3G & 3,5G yang dikembangkan pertama kali oleh perusahaan aplikasi komputer Virtuser bertujuan mendukung konvergensi media yang dikembangkan sejak ODP dalam serangkaian uji pendahuluan pasarnya, ternyata mampu menggaet konsumen mulai usia enam tahun, sekalipun penggemar utamanya berada di kisaran usia 12 hingga 50 tahun. Salah satu tantangan nyata bagi cybermedia dengan kehadiran Mobile Ads dan ODP yang sudah diawali penyebaran isi berita melalui sistem WAP dan VAS di ponsel adalah semakin banyaknya penyedia jasa isi berita (Content Provider/CP) yang bukanlah organisasi pers cetak, elektronik dan portal berita. CP menjual produknya yang justru kebanyakan mereka peroleh/beli dari organisasi pers cetak dan elektronik dan menjalankan bisnisnya sebagai perpanjangan tangan cellular provider. Dengan kata lain, pengolah pengembangan isi berita di CP bukanlah (atau sulit disebut) jurnalis sekalipun beberapa di antara mereka adalah mantan jurnalis atau masih mengantongi kartu pers lantaran kinerja mereka lebih banyak sebagai pemaket data, informasi dan berita untuk didistribusikan ke publik melalui pihak cellular provider. Hanya saja, semua cellular provider di Indonesia terkesan terjebak untuk lebih mempromosikan perang tarif, sehingga cenderung mengabaikan pembelajaran kepada publik mengenai manfaat dari berbagai fasilitas yang mereka sediakan. Salah satu 9

10 kenyataan yang terjadi di khalayak adalah semakin banyak orang memiliki ponsel kelas cerdas (smartphone), tetapi mereka jarang atau hampir tidak pernah menggunakannya untuk mengakses Internet. Mereka memanfaatkan kecerdasan ponselnya sekadar untuk berbicara dan berkirim atau menerima pesan singkat (Short Message Service/SMS). Namun demikian, pemilik cellular provider secara bisnis media dapat diibaratkan sebagai pemimpin perusahaan sindikasi cybermedia lantaran pada praktiknya mengelola banyak CP yang memerlukan jaringan distribusi secara seluler. Oleh karena itu pula, sejumlah cybermedia yang mengincar posisi market trendsetter bergabung atau bahkan membeli (membentuk) perusahaan penyedia jasa jaringan telepon/data seluler. Di Indonesia sampai dengan akhir 2007 ada lebih dari 150 CP, tetapi hanya sekira kurang dari 5% yang menghasilkan produk berita secara mandiri lantaran yang 95% lainnya memilih berada di posisi market follower, antara lain menjadi pelanggan kantor berita atau bahkan mengliping berita berformat digital dari berbagai media massa, termasuk laman cybermedia berbahasa asing. Jenis berita yang populer atau banyak diakses pun belum terlalu banyak berubah dengan selera publik media selama ini, yaitu seputar masalah seks, kriminal, peperangan/konflik, olahraga dan hiburan (sex, crime, war/conflict, sport & entertainment). Kalaupun ada jenis berita yang juga digemari publik, antara lain perkembangan dunia TI dengan perlengkapan praktis sekaligus serba guna berukuran kecil (gadget), temuan teknologi kesehatan/pengobatan, dan kuliner, serta gaya hidup (life style). Secara terpisah, ranah jurnalisme warga (citizen-journalism) dan blog juga semakin diramaikan dengan sistem kerja yang diberi nama buatlah beritamu sendiri (Create Your Own News/Crayon). Konsep idealisnya adalah semua orang dapat menjadi wartawan, terutama melalui blog. Hal ini juga sangat disadari oleh pengelola cybermedia yang berada di posisi market trendsetter dan market challenger, sehingga laman mereka pun menyediakan kanal cybercommunity yang menghubungkan blog pribadi dan komunitasnya. Bahkan, sejumlah cybermedia menempatkan sekelompok redaktur seniornya yang masing-masing menjadi moderator sekaligus produser komunitas blog. Mereka, antara lain bertugas sebagai pemandu gagasan, menjembati masalah perdebatan dalam diskusi/forum, dan menghubungkan jejaring baru dalam komunitas blog bertopik tertentu yang dikelolanya. Dalam bisnis cybermedia agaknya kian memperkuat kenyataan bahwa jurnalisme yang mampu mendekatkan diri sekaligus menjadi perpanjangan tangan bagi kepentingan publiklah yang bakal mendapatkan kredibilitasnya.- =================*808*============= 10

11 Priyambodo RH : -.Cyberjournalist ANTARA Multimedia Gateway, Jakarta -.Pengajar Galeri Foto Jurnalistik ANTARA, Jakarta -.Pengajar Universidade Independente (UnI), Lisabon-Portugal : -. Kepala LKBN ANTARA Biro Eropa di Brussel, Belgia : -. Kepala LKBN ANTARA Biro Lisabon, Portugal : -. Konsultan Pengembangan Web Direktorat Jenderal Pembinaan Pers dan Grafika (Ditjen PPG), Departemen Penerangan RI -. Konsultan Pengembangan Web Komisi Kebudayaan & Informasi (COCI), ASEAN Secretariat : -.Pengajar Lembaga Pendidikan Jurnalistik Dr. Soetomo (LPDS), Jakarta -.Pengajar Lembaga Pendidikan Jurnalistik ANTARA (LPJA), Jakarta : -.Kepala Biro Kerjasama Internasional LKBN ANTARA -.Kepala Bagian Evaluasi dan Pengembangan LKBN ANTARA -.Pengajar Universitas Indonesia Esa Unggul (IEU), Jakarta : -.Pendidikan Spesialis Jurnalisme Lingkungan Hidup dan Jurnalisme Online di International Institute for Journalism (IIJ) di Berlin, Jerman : -.Redaktur Pelaksana II WartaBumi/EarthWire, LKBN ANTARA- UNESCO : -. Wakil Kepala Meja Sunting Spektrum, Redaksi Berkala LKBN ANTARA : -.Staf Meja Sunting Spektrum LKBN ANTARA : -.Wartawan LKBN ANTARA Biro Surabaya : -. Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Massa - Almamater Wartawan Surabaya (Stikosa AWS, Surabaya, Jawa Timur). Keluarga: -. Ayah tiga putri -Marchia Kalyanitta, Maytha Indrayani Kalyanitta dan Decira Indrayani Kalyanitta- dari pernikahan dengan ATS Ernawati.- ****808RH**** 11

BAB 1 PENDAHULUAN. Radio merupakan salah satu media massa elektronik yang fungsinya sebagai

BAB 1 PENDAHULUAN. Radio merupakan salah satu media massa elektronik yang fungsinya sebagai 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN Radio merupakan salah satu media massa elektronik yang fungsinya sebagai penyampaian informasi kepada khalayak dalam ruang lingkup yang luas dan dapat dilakukan secara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sebagai peluang untuk berkomunikasi dengan pelanggannya. pemasaran yang mempunyai peranan sangat besar dalam memfasilitasi proses

BAB I PENDAHULUAN. sebagai peluang untuk berkomunikasi dengan pelanggannya. pemasaran yang mempunyai peranan sangat besar dalam memfasilitasi proses BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Telepon gengam (ponsel/telepon seluler) telah berkembang menjadi salah satu kebutuhan mendasar bagi berbagai kalangan, baik tua maupun muda. Bagi sebagian orang, kehadiran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. komunikasi maka manusia dapat dikatakan tersesat dalam menjalani hidup.

BAB I PENDAHULUAN. komunikasi maka manusia dapat dikatakan tersesat dalam menjalani hidup. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komunikasi merupakan hal yang sangat penting bagi manusia. Tanpa komunikasi maka manusia dapat dikatakan tersesat dalam menjalani hidup. Pentingnya komunikasi terlihat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejak Pemerintah mengubah pola pengelolaan sektor telekomunikasi di

BAB I PENDAHULUAN. Sejak Pemerintah mengubah pola pengelolaan sektor telekomunikasi di BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sejak Pemerintah mengubah pola pengelolaan sektor telekomunikasi di Indonesia dari monopoli menjadi kompetisi melalui UU No.36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi,

Lebih terperinci

DAFTAR INFORMASI PUBLIK INFORMASI YANG WAJIB TERSEDIA SETIAP SAAT PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TAHUN 2012 UNIT YANG MENGUASAI

DAFTAR INFORMASI PUBLIK INFORMASI YANG WAJIB TERSEDIA SETIAP SAAT PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA TAHUN 2012 UNIT YANG MENGUASAI KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA RI PEJABAT PENGELOLA INFORMASI DAN DOKUMENTASI Jl. Medan Merdeka Barat No. 9 Jakarta 10110., Telp/Fax.: (021) 3452841; E-mail : pelayanan@mail.kominfo.go.id DAFTAR

Lebih terperinci

Next Generation Network (NGN) Pertemuan XIII

Next Generation Network (NGN) Pertemuan XIII Next Generation Network (NGN) Pertemuan XIII Konsep Next Generation Network (NGN) merepresentasikan sintesis dari dua teknologi besar yang telah berkembang sebelumnya itu, yaitu teknologi Public Switched

Lebih terperinci

Pengertian dan Macam Sinyal Internet

Pengertian dan Macam Sinyal Internet Pengertian dan Macam Sinyal Internet Rizki Regina Ulfauziah Just_regina@yahoo.com Abstrak Ilmu Teknologi di dunia ini sangat luas dan akan akan terus berkembang, salah satunya yaitu pada Sinyal atau Jaringan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perkembangan bisnis dewasa ini membuat persaingan bisnis menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Dalam perkembangan bisnis dewasa ini membuat persaingan bisnis menjadi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dalam perkembangan bisnis dewasa ini membuat persaingan bisnis menjadi semakin ketat. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh kemajuan dan perkembangan teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang yang satu dengan orang yang lain untuk saling mengisi. Manusia juga

BAB I PENDAHULUAN. orang yang satu dengan orang yang lain untuk saling mengisi. Manusia juga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa lepas dari suatu komunikasi. Karena manusia juga membutuhkan suatu komunikasi antara orang yang satu dengan orang yang

Lebih terperinci

SEJARAH KOMUNIKASI MASSA

SEJARAH KOMUNIKASI MASSA Pengajar : Nuria Astagini SEJARAH KOMUNIKASI MASSA SESI-3 KOMUNIKASI MASSA UNIVERSITAS PEMBANGUNAN JAYA 2014 Era Komunikasi Lisan Informasi dan Ilmu pengetahuan disebar luaskan melalui ucapan lisan oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya gaya hidup manusia

BAB I PENDAHULUAN. perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya gaya hidup manusia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi yang semakin pesat membawa beberapa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya gaya hidup manusia yang menjadi serba praktis.

Lebih terperinci

Layanan - layanan VOIP yang ada pada saat ini dan provider penyedia layanan VOIP di indonesia Sekilas tentang VOIP

Layanan - layanan VOIP yang ada pada saat ini dan provider penyedia layanan VOIP di indonesia Sekilas tentang VOIP Layanan - layanan VOIP yang ada pada saat ini dan provider penyedia layanan VOIP di indonesia Sekilas tentang VOIP VOIP singkatan dari Voice Over Internet Protocol atau biasa di sebut digital phone merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam perkembangan zaman yang semakin maju, interaksi dapat terjadi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Dalam perkembangan zaman yang semakin maju, interaksi dapat terjadi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam perkembangan zaman yang semakin maju, interaksi dapat terjadi melalu media-media yang ada. Melihat dari banyaknya penggunaan media massa ini bisa disimpulkan

Lebih terperinci

Anggota Klaster yang terbentuk adalah sebagai berikut :

Anggota Klaster yang terbentuk adalah sebagai berikut : Anggota Klaster yang terbentuk adalah sebagai berikut : Anggota Klaster Pertama No. Negara 1 Republik Rakyat China Anggota Klaster Kedua No. Negara 1 Malaysia 2 Singapura Anggota Klaster Ketiga No Negara

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari berbagai aspek kehidupannya. Kemajuan teknologi seperti televisi, ponsel,

BAB I PENDAHULUAN. dari berbagai aspek kehidupannya. Kemajuan teknologi seperti televisi, ponsel, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada zaman modern saat ini, perubahan tren gaya hidup khususnya dalam bidang teknologi yang terjadi di lingkungan membuat masyarakat mempunyai kehidupan yang lebih

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. bisnis baru bagi perusahaan yang berkembang di Indonesia. Keadaan tersebut

I. PENDAHULUAN. bisnis baru bagi perusahaan yang berkembang di Indonesia. Keadaan tersebut I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Era globalisasi seperti sekarang ini menjanjikan suatu peluang dan tantangan bisnis baru bagi perusahaan yang berkembang di Indonesia. Keadaan tersebut memunculkan persaingan

Lebih terperinci

HASIL SURVEI INDIKATOR TIK 2015

HASIL SURVEI INDIKATOR TIK 2015 BUKU SAKU HASIL SURVEI INDIKATOR TIK 2015 RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU HASIL SURVEI INDIKATOR TIK 2015 RUMAH TANGGA DAN INDIVIDU Pusat Penelitian dan Pengembangan Penyelenggaraan Pos dan Informatika Badan

Lebih terperinci

Pokok Bahasan : - Perkembangan Teknologi Informasi - WELCOME. Kursus Online - Pertemuan 5 - Join : Follow

Pokok Bahasan : - Perkembangan Teknologi Informasi - WELCOME. Kursus Online - Pertemuan 5 - Join :  Follow Pokok Bahasan : - Perkembangan Teknologi Informasi - WELCOME Kursus Online - Pertemuan 5 - Join : www.makinpinter.com Follow : @makinpinter PERKEMBANGAN 01 Teknologi untuk berkomunikasi sudah mengalami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Gadget adalah suatu peranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis yang secara spesifik dirancang lebih canggih dibandingkan dengan teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian Menurut sumber dari PT. Pikiran Rakyat Bandung Pikiran Rakyat adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bisnis media massa. Perusahaan ini didirikan

Lebih terperinci

PROPOSAL UNTUK MEMPERTINGGI TINGKAT HUNIAN SERTA LABA BAGI HOTEL INDEPENDEN

PROPOSAL UNTUK MEMPERTINGGI TINGKAT HUNIAN SERTA LABA BAGI HOTEL INDEPENDEN PROPOSAL UNTUK MEMPERTINGGI TINGKAT HUNIAN SERTA LABA BAGI HOTEL INDEPENDEN Agen pemasaran hotel dan fashion internasional sejak tahun 2008 Kawasan Asia Pasifik & Eropa Timur Hong Kong Moskow Belgrade

Lebih terperinci

BAB II PROSES BISNIS

BAB II PROSES BISNIS BAB II PROSES BISNIS 2.1. Proses Bisnis Utama PT Rahadjasa Media Internet (RadNet) merupakan perusahaan penyedia jasa layanan internet (Internet Service Provider-ISP). Seiring dengan berkembangnya waktu,

Lebih terperinci

Apa Citizen journalism?

Apa Citizen journalism? Apa Citizen journalism? Cukup sederhana jika dijelaskan, Citizen Journalism adalah ketika seorang warga yang pada dasarnya melakukan apa yang wartawan profesional lakukan dalam memberitakan suatu informasi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia pada masing-masing era, yaitu era kesukuan (tribal), tulisan

BAB I PENDAHULUAN. manusia pada masing-masing era, yaitu era kesukuan (tribal), tulisan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kehadiran teknologi tak pelak memberikan pengaruh sangat besar dalam kehidupan manusia. Manusia menggunakan teknologi hampir dalam setiap gerak kehidupannya.

Lebih terperinci

S A L I N A N KEPUTUSAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA NOMOR 007/SK/KPI/5/2004 TENTANG

S A L I N A N KEPUTUSAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA NOMOR 007/SK/KPI/5/2004 TENTANG S A L I N A N KEPUTUSAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA NOMOR 007/SK/KPI/5/2004 TENTANG PEDOMAN SIARAN KAMPANYE DALAM PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN DI LEMBAGA PENYIARAN KOMISI PENYIARAN INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mulai terlihat dampaknya. Dilihat dari segi peningkatan jumlah pemakai internet yang

BAB I PENDAHULUAN. mulai terlihat dampaknya. Dilihat dari segi peningkatan jumlah pemakai internet yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia sebagai salah satu negara berkembang, tentunya turut mengikuti trend yang sedang berkembang dalam dunia teknologi khususnya internet yang sudah mulai terlihat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memasarkan produknya. Hal ini di sebabkan oleh banyaknya industri baru yang

BAB I PENDAHULUAN. memasarkan produknya. Hal ini di sebabkan oleh banyaknya industri baru yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini tingkat persaingan antar industri mie instant semakin ketat dalam memasarkan produknya. Hal ini di sebabkan oleh banyaknya industri baru yang bermunculan

Lebih terperinci

Google Penelusuran Situs Google Penelusuran Situs Web untuk Organisasi Anda

Google Penelusuran Situs Google Penelusuran Situs Web untuk Organisasi Anda Google Penelusuran Situs Lembar Data Google Penelusuran Situs Google Penelusuran Situs Web untuk Organisasi Anda Google Penelusuran Situs Untuk informasi selengkapnya, kunjungi: http://www.google.com/enterprise/search/

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dila Farida Nurfajriah, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dila Farida Nurfajriah, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dewasa ini perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di dunia berkembang sangat pesat dan telah mempengaruhi berbagai bidang kehidupan dan profesi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia yang mulai secara intensif menggunakan internet sebagai

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat Indonesia yang mulai secara intensif menggunakan internet sebagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penggunaan internet di Indonesia menunjukan peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini terlihat dari jumlah pengguna yang semakin bertambah dan tren masyarakat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.24/MEN/2010 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.24/MEN/2010 TENTANG DRAFT PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.24/MEN/2010 TENTANG PENYELENGGARAAN KEHUMASAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Perkembangan Pengguna Internet di Indonesia dan Penetrasinya

BAB I PENDAHULUAN. Tabel 1.1 Perkembangan Pengguna Internet di Indonesia dan Penetrasinya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Internet telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia saat ini. Semakin canggihnya gadget dan teknologi nirkabel, semakin meningkatkan

Lebih terperinci

Wireless Technology atau teknologi nirkabel, atau lebih sering disingkat wireless adalah teknologi elektronika yang beroperasi tanpa kabel.

Wireless Technology atau teknologi nirkabel, atau lebih sering disingkat wireless adalah teknologi elektronika yang beroperasi tanpa kabel. Pengantar Teknologi Nirkabel: Telepon Selular (Ponsel) Wireless Technology atau teknologi nirkabel, atau lebih sering disingkat wireless adalah teknologi elektronika yang beroperasi tanpa kabel. Wireless

Lebih terperinci

1 Universitas Indonesia

1 Universitas Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan Information and Communication Technology (ICT), dewasa ini dapat menjadi indikator

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khalayak luas dengan menggunakan saluran-saluran komunukasi ini.

BAB I PENDAHULUAN. khalayak luas dengan menggunakan saluran-saluran komunukasi ini. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Pada zaman era globalisasi saat ini, merupakan suatu perubahan zaman yang berkembang pesat, yang dimana teknologi yang berkembang yang semakin canggih. Dalam hal ini,

Lebih terperinci

1 / /04/24 14:08

1 / /04/24 14:08 1 / 5 2011/04/24 14:08 TENTANG POSTEL>> REGULASI>> PERIZINAN>> INFORMASI TERKINI>> EMAIL KONTAK PENCARIAN BUKU TAMU>> LINK>> ENGLISH VERSION Anda Pengunjung Ke : 2 / 5 2011/04/24 14:08 I N F O R M A S

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. Menurut Wahana Komputer (2005 : 7) Short Message Service yang lebih

BAB III LANDASAN TEORI. Menurut Wahana Komputer (2005 : 7) Short Message Service yang lebih BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Short Message Service () Menurut Wahana Komputer (2005 : 7) Short Message Service yang lebih dikenal dengan sebutan merupakan sebuah teknologi yang memungkinkan untuk menerima

Lebih terperinci

Peluang dan Tantangan Industri Media dan Konten Prospek Bisnis Penyiaran di Indonesia yang Dipengaruhi Kemajuan Teknologi

Peluang dan Tantangan Industri Media dan Konten Prospek Bisnis Penyiaran di Indonesia yang Dipengaruhi Kemajuan Teknologi KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIA REPUBLIK INDONESIA Peluang dan Tantangan Industri Media dan Konten Prospek Bisnis Penyiaran di Indonesia yang Dipengaruhi Kemajuan Teknologi Rakornas KADIN Bidang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berfikir lebih cerdik dalam menarik minat konsumen. Perkembangan ilmu

BAB I PENDAHULUAN. berfikir lebih cerdik dalam menarik minat konsumen. Perkembangan ilmu 1 BAB I 1.1 Latar Belakang Adanya persaingan yang ketat antar perusahaan, menuntut para pelaku pasar berfikir lebih cerdik dalam menarik minat konsumen. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mempunyai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan dan pada dasarnya

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan dan pada dasarnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Komunikasi merupakan salah satu faktor penting dalam kehidupan dan pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang berakal budi pikiran memerlukan komunikasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. terhadap ilmu pengetahuan dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan

I. PENDAHULUAN. terhadap ilmu pengetahuan dan pandangan dunia. Dengan hanya berpandukan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jumlah pengguna Internet yang besar dan semakin berkembang telah membentuk budaya internet. Internet juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap ilmu pengetahuan dan pandangan

Lebih terperinci

PETA PERMASALAHAN KOMUNIKASI DAN INFORMASI DI INDONESIA

PETA PERMASALAHAN KOMUNIKASI DAN INFORMASI DI INDONESIA 1 PETA PERMASALAHAN KOMUNIKASI DAN INFORMASI DI INDONESIA Oleh Ashadi Siregar Komunikasi pada hakikatnya merupakan upaya manusia dalam mengatasi ruang dan waktu dalam berinteraksi sosial. Untuk itu komunikasi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang

PENDAHULUAN Latar Belakang 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Ilmu pengetahuan dan teknologi sudah semakin berkembang dewasa ini. Dengan memanfaatkan IPTEK yang semakin maju, manusia mulai membuat inovasi-inovasi baru yang bermanfaat

Lebih terperinci

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 18 TAHUN 2016 TENTANG

- 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 18 TAHUN 2016 TENTANG - 1 - GUBERNUR JAWA TIMUR PERATURAN GUBERNUR JAWA TIMUR NOMOR 18 TAHUN 2016 TENTANG PEDOMAN PENGELOLAAN MEDIA SOSIAL PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dan individu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dan individu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Interaksi sosial adalah hubungan antara individu satu dan individu lain, individu satu dapat mempengaruhi individu lain atau sebaliknya, jadi terdapat hubungan yang

Lebih terperinci

PROPOSAL PENAWARAN PEMBUATAN WEBSITE SEKOLAH ONLINE

PROPOSAL PENAWARAN PEMBUATAN WEBSITE SEKOLAH ONLINE PROPOSAL PENAWARAN PEMBUATAN WEBSITE SEKOLAH ONLINE A. PENDAHULUAN Tuntutan masyarakat terhadap mutu pelayanan pendidikan dari waktu ke waktu makin tinggi. Seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan jaman yang cepat, dan modern serta diiringi dengan

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan jaman yang cepat, dan modern serta diiringi dengan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan jaman yang cepat, dan modern serta diiringi dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang semakin maju, hal ini menyebabkan banyak pemain

Lebih terperinci

Perubahan adalah Keniscayaan: LPP RRI Menjawab Perubahan Zaman

Perubahan adalah Keniscayaan: LPP RRI Menjawab Perubahan Zaman Perubahan adalah Keniscayaan: LPP RRI Menjawab Perubahan Zaman Oleh La Rane Hafied Gany Calon Anggota Dewan Pengawas LPP RRI 2015-2020 Perubahan adalah sebuah keniscayaan! Ini terjadi pada semua aspek

Lebih terperinci

PRINSIP PRIVASI UNILEVER

PRINSIP PRIVASI UNILEVER PRINSIP PRIVASI UNILEVER Unilever menerapkan kebijakan tentang privasi secara khusus. Lima prinsip berikut melandasi pendekatan kami dalam menghormati privasi Anda. 1. Kami menghargai kepercayaan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pengguna teknologi internet terus meningkat dari tahun ke tahun.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pengguna teknologi internet terus meningkat dari tahun ke tahun. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengguna teknologi internet terus meningkat dari tahun ke tahun. Kebutuhan internet sudah hampir diperlakukan sebagai salah satu kebutuhan sehari-hari. Beragam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin pesatnya globalisasi yang menjalar ke semua sektor kehidupan. Perubahan dalam

BAB I PENDAHULUAN. semakin pesatnya globalisasi yang menjalar ke semua sektor kehidupan. Perubahan dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kebutuhan dan keinginan konsumen selalu berubah dan berkembang sejalan dengan semakin pesatnya globalisasi yang menjalar ke semua sektor kehidupan. Perubahan dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penting, tidak sedikit industri yang bergerak di bidang telekomunikasi berlomba-lomba

BAB I PENDAHULUAN. penting, tidak sedikit industri yang bergerak di bidang telekomunikasi berlomba-lomba BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada era globalsisasi seperti sekarang, komunikasi menjadi kebutuhan yang sangat penting, tidak sedikit industri yang bergerak di bidang telekomunikasi berlomba-lomba

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi bukanlah sesuatu yang asing bagi kita tahu bagi

BAB I PENDAHULUAN. Komunikasi bukanlah sesuatu yang asing bagi kita tahu bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Komunikasi bukanlah sesuatu yang asing bagi kita tahu bagi kehidupan manusia, bahkan disadari atau tidak semenjak adanya kehidupan di jagat raya ini komunikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada Jaringan POTS (Plain old telephone service) yang saat ini tersambung dengan kabel tembaga tidak mengahasilkan pendapatan yang signifikan bagi penyedia jaringan.

Lebih terperinci

Gambar 1.1 Logo PT. Telekomunikasi Selular (Telkomsel) Sumber: Telkomsel (2015)

Gambar 1.1 Logo PT. Telekomunikasi Selular (Telkomsel) Sumber: Telkomsel (2015) BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Gambaran Umum Perusahaan Dalam industri telekomunikasi, terdapat enam pemain yang terlibat dalam menggunakan, menyediakan, dan mengawasi layanan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan perkembangan teknologi sekarang ini, pemanfaatan dan penggunaan media existing dalam pengembangan sistem informasi, komunikasi maupun bisnis sangatlah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu alat komunikasi yang paling banyak digunakan masyarakat saat ini adalah telepon genggam atau lebih dikenal dengan handphone. Bagi sebagian besar masyarakat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Kesuksesan konvergensi/ kombinasi digital media dapat dirasakan oleh

BAB 1 PENDAHULUAN. Kesuksesan konvergensi/ kombinasi digital media dapat dirasakan oleh BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesuksesan konvergensi/ kombinasi digital media dapat dirasakan oleh hampir semua orang melalui perangkat mobile technology yang semakin terkonvergensi oleh hadirnya

Lebih terperinci

Modern. Telecomunication System

Modern. Telecomunication System Modern LOGO Telecomunication System Daftar Isi Definisi Jaringan dan Telekomunikasi Topologi Jaringan Konsep Teknologi dan Informasi Permasalahan dalam dunia Telekomunikasi Solusi Pengertian telekomunikasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang dalam

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara yang berkembang dalam bidang teknologi dan informasi, hampir semua masyarakat baik yang berada di daerah pekotaan maupun yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah proses sepanjang hayat (long life education) dan

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan adalah proses sepanjang hayat (long life education) dan digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan adalah proses sepanjang hayat (long life education) dan merupakan persoalan yang penting dalam kehidupan manusia. Dalam ketentuan tentang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN

BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN BAB II TINJAUAN UMUM PERUSAHAAN 2.1 Sejarah Perusahaan PT. BORNEO TEKNOLOGI INDONESIA adalah sebuah perusahaan swasta yang berbentuk Perseroan Terbatas, yang bergerak dalam bidang Jasa untuk Rekayasa Telekomunikasi,

Lebih terperinci

Peraturan Mengenai Kriptografi, Menjaga Privasi atau Menjaga Keamanan?

Peraturan Mengenai Kriptografi, Menjaga Privasi atau Menjaga Keamanan? Peraturan Mengenai Kriptografi, Menjaga Privasi atau Menjaga Keamanan? Billy Putra Taufik 1, Diana Rosida 2, dan Nugroho Muhtarif 3 Departemen Teknik Informatika Institut Teknologi Bandung Jalan Ganesha

Lebih terperinci

NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG

NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG Kelas 9 semester 1 NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG 1 2 PENGERTIAN NEGARA MAJU DAN NEGARA BERKEMBANG Negara maju adalah negara yang rakyatnya memiliki kesejahteraan atau kualitas hidup yang tinggi. Sedangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Paket keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Paket keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Paket keahlian Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ) merupakan kompetensi yang banyak di buka di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri mauapun SMK Swasta di

Lebih terperinci

EXECUTIVE SUMMARY TEKNOLOGI YANG ANDAL UNTUK MENGATASI RENDAHNYA PENETRASI PENGGUNAAN JASA TELEKOMUNIKASI DI INDONESIA

EXECUTIVE SUMMARY TEKNOLOGI YANG ANDAL UNTUK MENGATASI RENDAHNYA PENETRASI PENGGUNAAN JASA TELEKOMUNIKASI DI INDONESIA Pendahuluan EXECUTIVE SUMMARY Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas, padat dan terdiri dari beragam suku bangsa. Penduduknya tersebar tidak merata, diantaranya disebabkan karena kesenjangan

Lebih terperinci

SMS MARKETING. Materi ke 20. Apa Itu SMS Marketing? TrainingTokoOnline.com 1

SMS MARKETING. Materi ke 20. Apa Itu SMS Marketing? TrainingTokoOnline.com 1 Materi ke 20 SMS MARKETING Apa Itu SMS Marketing? Pernahkah Anda menerima SMS (short message servis) yang berisikan penawaran produk atau promosi sebuah usaha? Mendapati pertanyaan seperti itu, dapat dipastikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini perkembangan teknologi sangat berdampak pada kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini perkembangan teknologi sangat berdampak pada kehidupan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Saat ini perkembangan teknologi sangat berdampak pada kehidupan manusia, salah satunya didunia telekomunikasi. Salah satu pelopor perkembangan teknologi di

Lebih terperinci

Daya Saing Global Indonesia versi World Economic Forum (WEF) 1. Tulus Tambunan Kadin Indonesia

Daya Saing Global Indonesia versi World Economic Forum (WEF) 1. Tulus Tambunan Kadin Indonesia Daya Saing Global Indonesia 2008-2009 versi World Economic Forum (WEF) 1 Tulus Tambunan Kadin Indonesia Tanggal 8 Oktober 2008 World Economic Forum (WEF), berkantor pusat di Geneva (Swis), mempublikasikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. hingga penemuan yang besar bagi dunia. Inovasi dari teknologi yang semakin instant

BAB 1 PENDAHULUAN. hingga penemuan yang besar bagi dunia. Inovasi dari teknologi yang semakin instant BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi pada masa ini dapat dirasakan semakin berkembang. Hal ini dapat dilihat dari banyak inovasi inovasi yang telah dibuat di dunia ini dari yang sederhana hingga

Lebih terperinci

WALIKOTA SORONG PERATURAN DAERAH KOTA SORONG NOMOR 34 TAHUN 2013 TENTANG PENYIARAN TELEVISI MELALUI KABEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

WALIKOTA SORONG PERATURAN DAERAH KOTA SORONG NOMOR 34 TAHUN 2013 TENTANG PENYIARAN TELEVISI MELALUI KABEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN WALIKOTA SORONG PERATURAN DAERAH KOTA SORONG NOMOR 34 TAHUN 2013 TENTANG PENYIARAN TELEVISI MELALUI KABEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA SORONG Menimbang: a. bahwa televisi merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : /PER/M.KOMINFO/ /2007 TENTANG

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : /PER/M.KOMINFO/ /2007 TENTANG PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : /PER/M.KOMINFO/ /2007 TENTANG TATA CARA PENETAPAN TARIF JASA TELEKOMUNIKASI YANG DISALURKAN MELALUI JARINGAN BERGERAK SELULAR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Internet muncul dipertengahan 1990-an sebagai medium massa baru yang amat kuat. Internet adalah jaringan kabel, telepon dan satelit yang menghubungkan komputer.

Lebih terperinci

Memulai saluran dengan cepat

Memulai saluran dengan cepat Memulai saluran dengan cepat dalam kursus: Memulai Selamat datang di YouTube dan pusat pendidikan pembuat konten - Akademi Pembuat Konten! Pelajaran dan kursus yang akan kami sampaikan dibuat untuk membantu

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Komunikasi adalah suatu pernyataan antar manusia, baik secara perorangan maupun berkelompok, yang bersifat umum dengan menggunakan lambang-lambang yang berarti, maka akan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2012 TENTANG

PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2012 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 41 TAHUN 2012 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN LEMBAGA PENYIARAN BERLANGGANAN MELALUI SATELIT, KABEL, DAN TERESTRIAL DENGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Andi Wijaya, 2014 Pemanfaatan Internet Pada Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Andi Wijaya, 2014 Pemanfaatan Internet Pada Perpustakaan Daerah Kabupaten Karawang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Seiring dengan perkembangan pada era globalisasi, kini informasi bisa semakin mudah untuk diakses. Salah satu cara aksesnya adalah dengan menggunakan media

Lebih terperinci

UNTUK DISIARKAN SEGERA

UNTUK DISIARKAN SEGERA 14 November 2013 TSX/NYSE/PSE: MFC SEHK:945 UNTUK DISIARKAN SEGERA Manulife Investor Sentiment Index menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia akan kekurangan dana tabungan pada masa pensiun Jakarta Dari

Lebih terperinci

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN I TAHUN 2016

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN I TAHUN 2016 Invest in remarkable indonesia indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia indonesia remarkable indonesia invest in Invest in indonesia Invest

Lebih terperinci

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI GORONTALO dan GUBERNUR GORONTALO MEMUTUSKAN:

Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROVINSI GORONTALO dan GUBERNUR GORONTALO MEMUTUSKAN: GUBERNUR GORONTALO PERATURAN DAERAH PROVINSI GORONTALO NOMOR 15 TAHUN 2015 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN BERLANGGANAN TELEVISI MELALUI KABEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR GORONTALO, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan untuk mengakses kemajuan teknologi informasi dan komunikasi

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan untuk mengakses kemajuan teknologi informasi dan komunikasi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Perubahan gaya hidup dikalangan masyarakat modern saat ini didominasi oleh adanya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat. Teknologi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. baik di Asia hingga dunia. Perkembangan Budaya Populer di Asia telah menjadi lebih

BAB I PENDAHULUAN. baik di Asia hingga dunia. Perkembangan Budaya Populer di Asia telah menjadi lebih BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Fenomena Budaya Populer Korea saat ini telah merambah ke segala penjuru baik di Asia hingga dunia. Perkembangan Budaya Populer di Asia telah menjadi lebih aktif.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan bermutu yang didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan bermutu yang didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pemerintah terus berupaya memenuhi hak setiap warga negara dalam memperoleh layanan pendidikan untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa Indonesia. Sejalan dengan itu,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, fitur dan layanan teknologi komunikasi sudah demikian maju.

BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini, fitur dan layanan teknologi komunikasi sudah demikian maju. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini, fitur dan layanan teknologi komunikasi sudah demikian maju. Teknologi komunikasi dapat membawa seorang individu melintasi batas ruang dan waktu

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada awal pertama kali kemunculan surat kabar di Indonesia, surat kabar hanya diperuntukkan untuk kalangan-kalangan tertentu karena pada saat awal kemunculannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pada beberapa tahun belakangan ini Location Based Service (LBS) menjadi sangat populer. Zickuhr (2012) mengatakan hampir tiga perempat pengguna ponsel di Amerika Serikat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. telekomunikasi seluler. Mobilitas serta meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam

BAB I PENDAHULUAN. telekomunikasi seluler. Mobilitas serta meningkatnya kebutuhan masyarakat dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi komunikasi yang pesat memberikan pengaruh yang besar terhadap perusahaan jasa telekomunikasi di Indonesia, yaitu melalui perkembangan teknologi

Lebih terperinci

PROPOSAL PENAWARANN KERJASAMA PEMASANGAN IKLAN PAY PER CLICK PPCBLOGGER.COM

PROPOSAL PENAWARANN KERJASAMA PEMASANGAN IKLAN PAY PER CLICK PPCBLOGGER.COM PROPOSAL PENAWARANN KERJASAMA PEMASANGAN IKLAN PAY PER CLICK PPCBLOGGER.COM I. PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang A. Perkembangan Internet Marketing di Indonesia Internet marketing saat ini telah menjadi

Lebih terperinci

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA,

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA, Konsultasi Publik RANCANGAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2016 TENTANG PENYEDIAAN LAYANAN APLIKASI DAN/ATAU KONTEN MELALUI INTERNET DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan pengguna mobile rata-rata per tahunnya (Compound Annual Growth

BAB I PENDAHULUAN. pertumbuhan pengguna mobile rata-rata per tahunnya (Compound Annual Growth BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Telepon mobile merupakan salah satu sektor yang memiliki pertumbuhan paling tinggi di industri IT. ITU melaporkan, semenjak 1995 sampai dengan 2001, pertumbuhan pengguna

Lebih terperinci

2. 1. Komunikasi, Jurnalisme, dan Teknologi

2. 1. Komunikasi, Jurnalisme, dan Teknologi 9 BAB II KERANGKA PEMIKIRAN 2. 1. Komunikasi, Jurnalisme, dan Teknologi Teknologi baru dalam bidang informasi dan komunikasi, seperti satelit atau pun internet, telah mempengaruhi stuktur sosial. Hal itu

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR : TAHUN 2011 TENTANG PENYIARAN TELEVISI MELALUI KABEL

RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR : TAHUN 2011 TENTANG PENYIARAN TELEVISI MELALUI KABEL PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI SELATAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR : TAHUN 2011 TENTANG PENYIARAN TELEVISI MELALUI KABEL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Sistem Informasi Menurut Sutabri (2004:3) sistem adalah suatu kumpulan atau himpunan dari unsur, komponen atau variabel-variabel yang terorganisasi, saling berinteraksi, saling

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1. 1. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan jaman, maka terjadi pula perubahan yang sangat signifikan diberbagai bidang dan masyarakat memerlukan saluran informasi yang dapat

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI 5.1 Kesimpulan Tabloid NOVA merupakan tabloid wanita yang memiliki kompetensi sangat baik dan memiliki market share terbesar dibandingkan dengan para kompetitornya serta

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Teknologi komputer membawa pengaruh yang cukup besar bagi

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Teknologi komputer membawa pengaruh yang cukup besar bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Teknologi komputer membawa pengaruh yang cukup besar bagi kehidupan manusia di seluruh dunia. Dalam berbagai aspek kehidupan, manusia terus mengembangkan teknologi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIKKA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK LOKAL RADIO SUARA SIKKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIKKA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK LOKAL RADIO SUARA SIKKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN SIKKA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG LEMBAGA PENYIARAN PUBLIK LOKAL RADIO SUARA SIKKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIKKA, Menimbang : a. bahwa lembaga penyiaran merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khususnya Indonesia, tidak boleh mengabaikan bidang teknologi komunikasi yaitu

BAB I PENDAHULUAN. khususnya Indonesia, tidak boleh mengabaikan bidang teknologi komunikasi yaitu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam era globalisasi seperti saat ini yang dicirikan dengan adanya kesalingterkaitan antara satu sama lain di seluruh dunia menyebabkan semakin luas dan bebasnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. wilayah perkotaan mulai mengalami perubahan gaya hidup. Bagi mereka, HandPhone (HP) atau

BAB I PENDAHULUAN. wilayah perkotaan mulai mengalami perubahan gaya hidup. Bagi mereka, HandPhone (HP) atau BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Seiring dengan berkembangnya teknologi, masyarakat Indonesia khususnya yang hidup di wilayah perkotaan mulai mengalami perubahan gaya hidup. Bagi mereka, HandPhone

Lebih terperinci

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN II DAN JANUARI JUNI TAHUN 2016

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN II DAN JANUARI JUNI TAHUN 2016 Invest in remarkable indonesia indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia indonesia remarkable indonesia invest in Invest in indonesia Invest

Lebih terperinci