WYLIS: PENENTUAN KUALITAS PROTEIN JAGUNG. Penentuan Kualitas Protein Jagung dengan Metode Protein Efficiency Ratio.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "WYLIS: PENENTUAN KUALITAS PROTEIN JAGUNG. Penentuan Kualitas Protein Jagung dengan Metode Protein Efficiency Ratio."

Transkripsi

1 Penentuan Kualitas Protein Jagung dengan Metode Protein Efficiency Ratio Ratna Wylis Arief Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Lampung Jl. ZA Pagar Alam No. IA Rajabasa, Bandar Lampung ABSTRACT. Protein Quality Determination on Maize using Protein Efficiency Ratio Methode. Quality of protein represents one of the criterion to determine nutrient value of food. Factors influencing the quality of protein includes: protein content, amino acid composition and its food materials composition. Many methods are suitable to be used to test the quality of protein i.e. biological value, protein digesting, net protein value (NPU), protein efficiency ratio (PER), and protein digestibility corrected amino acid score (PDCAAS). This research aimed to determine the quality of protein of some maize varieties using PER method. The research was executed by in vivo using white mouse Sparague Dawley type and 4 maize varieties as feed, namely: QPM Srikandi Kuning (A); QPM Srikandi Putih (B); Bisi-2 (C); Lamuru (D); and metabolit group (E). Parameters that were observed include amino acid score, total of feed consumed, total of protein cunsumed, body weight rate, feed efficiency, and protein efficiency ratio (PER). The results showed that QPM Srikandi Kuning and QPM Srikandi Putih have a better quality of protein than others based on protein efficiency ratio value. Keywords: Zea mays, protein quality, protein efficiency ratio ABSTRAK. Kualitas protein merupakan salah satu kriteria untuk menentukan nilai gizi bahan makanan. Faktor yang mempengaruhi kualitas protein antara lain adalah kadar protein, komposisi asam amino, dan komposisi nutrisi bahan pangan. Metode yang dapat digunakan untuk menguji kualitas protein adalah nilai biologis, kecernaan protein, penggunaan protein bersih, rasio efisiensi protein, dan kecernaan protein dan asam amino terkoreksi (PDCAAS) untuk menghitung kualitas relatif dari makanan sumber protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas protein beberapa varietas jagung dengan menggunakan metode Protein Efficiency Ratio (PER). Penelitian dilaksanakan secara in vivo dengan menggunakan tikus putih jenis Sparague Dawley sebagai hewan percobaan, dengan delapan ulangan. Empat varietas jagung digunakan sebagai pakan tikus yang akan diketahui kualitas proteinnya. Keempat varietas jagung tersebut adalah QPM Srikandi kuning (A), QPM Srikandi putih (B), Bisi-2 (C), Lamuru (D), dan kelompok metabolit (E) yang hanya diamati kadar protein fesesnya untuk penghitungan daya cerna sejati. Parameter pengamatan meliputi skor asam amino, jumlah pakan yang dikonsumsi, jumlah protein yang dikonsumsi, pertambahan bobot badan, efisiensi pakan, dan rasio efisiensi protein. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan nilai PER, jagung QPM Srikandi Kuning dan Srikandi Putih mempunyai kualitas protein yang terbaik dengan nilai PER tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya, karena lebih banyak protein yang dapat digunakan untuk pertambahan bobot badan tikus percobaan. Kata kunci: Jagung, kualitas protein, rasio efisiensi protein Komponen dasar penyusun biji jagung terdiri atas karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan bahan organik lainnya. Perbedaan antarvarietas hanya terletak pada perbandingan susunan komponenkomponen tersebut. Hasil penelitian Prasanna et al. (2001) menunjukkan bahwa jagung terdiri atas 61-76,09% karbohidrat, 7,5-10% protein, 4-5,32% lemak, 2,3-3,27% serat kasar, dengan kandungan energi kal/ kg, sedikit lebih rendah dari beras coklat (3.629 kal/kg) dan lebih tinggi dari gandum (3.327 kal/kg). Biji jagung menyumbang 15-56% total kalori harian dan dapat digunakan sebagai pengganti protein hewani yang harganya mahal. Potensi jagung sebagai pangan maupun pakan selain ditinjau dari kuantitas juga dari segi kualitas (Tangendjaja dan Gunawan 1988). Kelebihan dan kelemahan gizi jagung sering dibandingkan dengan bijibijian lain. Hasil penelitian Intengan (1979) menunjukkan bahwa nilai gizi jagung lebih rendah dibandingkan dengan gizi beras giling, tetapi lebih tinggi dibanding tepung terigu. Penelitian tersebut mencakup nisbah efisiensi protein (PER), protein neto (NPR), guna protein neto (NPU), nilai biologi (BV), dan daya cerna dengan menggunakan tikus putih sebagai hewan percobaan. Mutu protein merupakan salah satu kriteria untuk menentukan nilai gizi suatu komoditas. Faktor yang mempengaruhi mutu protein antara lain adalah kadar protein itu sendiri, komposisi asam-asam amino, dan komposisi bahan pangan. Ditinjau dari nilai nutrisinya sebagai bahan pangan maupun pakan, jagung masih mempunyai kelemahan karena memiliki kandungan asam amino lisin dan triptofan yang rendah, masingmasing 0,05% dan 0,225% dari total protein biji (Kasim et al. 2003), dan angka ini tidak memenuhi konsentrasi yang disarankan oleh WHO/FAO (WHO 1985). Namun melalui program seleksi berulang beberapa siklus seleksi, peneliti CIMMYT (Centro Internacional de Mejoramiento de maiz Y Trigo) menghasilkan jagung QPM dengan endosperm lebih keras (Bjarnason and Vasal 1992) dan kandungan asam amino lisin dan triptofannya meningkat berturut-turut menjadi 0,11% dan 0,47%. Saat ini jagung QPM telah diujimultilokasi di beberapa negara penghasil jagung, termasuk Indonesia. Di Indonesia telah dilepas dua varietas jagung QPM masing-masing Srikandi Kuning dan Srikandi Putih, namun penelitian untuk mengetahui kualitas protein jagung QPM yang ditanam di Indonesia belum banyak dilakukan. 132

2 PENELITIAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN VOL. 26 NO Banyak metode yang digunakan untuk menguji kualitas protein, dan yang paling akurat adalah dengan mengukur keseimbangan nitrogen individual. Namun metode ini membutuhkan waktu yang lama dan biayanya cukup tinggi, sehingga perlu dicari metode lain yang efektif dan efisien. Metode tersebut antara lain adalah nilai biologis, kecernaan protein, penggunaan protein bersih, rasio efisiensi protein, dan skor kecernaan protein dan asam amino terkoreksi (PDCAAS) untuk menghitung kualitas relatif dari makanan sumber protein. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas protein beberapa varietas jagung dengan menggunakan metode Protein Efficiency Ratio (rasio efisiensi protein). BAHAN DAN METODE Penelitian dilakukan secara in vivo di Laboratorium Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung, dari bulan Oktober 2004 sampai Januari 2005, menggunakan tikus putih jenis Sparague Dawley sebagai hewan percobaan untuk mengetahui kualitas protein jagung yang diteliti. Dipilihnya tikus putih sebagai hewan percobaan karena hasil penelitian ini ditujukan untuk pangan manusia, sementara sistem pencernaan tikus putih mirip dengan sistem pencernaan manusia. Penelitian diawali dengan analisis proksimat (kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar serat kasar, dan kadar karbohidrat), dan analisis komposisi asam amino dari empat varietas jagung yang dilaksanakan di Laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian Bogor. Kandungan asam amino esensial dan nonesensial dihitung dengan rumus: Kandungan asam = amino esensial konsentrasi asam amino sampel protein sampel (g) Skor asam amino jagung dihitung dengan rumus: Skor asam amino sampel = kandungan asam amino esensial sampel pola asam amino standar FAO Pakan yang digunakan pada penelitian ini terdiri atas pakan standar dan pakan perlakuan. Pakan standar diberikan pada tahap I selama 1 minggu. Fase ini merupakan fase adaptasi untuk membiasakan tikus mengkonsusmsi pakan dalam bentuk tepung. Pakan perlakuan diberikan pada tahap II selama 3 hari. Pada fase ini meskipun telah diberikan pakan perlakuan namun belum diamati sisa-sisa makanan sebelumnya, sehingga tidak terjadi bias pada hasil pengamatan. Selanjutnya pada tahap III diberikan pakan perlakuan selama 10 hari dan mulai diamati pengaruhnya dari tiap perlakuan. Komposisi pakan standar yang diberikan disesuaikan dengan anjuran AOAC (1990) dalam Muchtadi (1993), seperti tertera pada Tabel 1. Komposisi pakan perlakuan yang diberikan sesuai dengan rekomendasi National Research Council (1988), yang dimodifikasi untuk mendapatkan kadar protein pakan 6%, yaitu tepung jagung 85%, minyak jagung 5%, mineral mix 4%, vitamin 1%, dan pati jagung disesuaikan hingga diperoleh kadar protein pakan 6%. Setelah dilakukan konversi ke kadar protein dari masing-masing varietas jagung diperoleh komposisi pakan perlakuan yang digunakan pada penelitian ini seperti tersaji pada Tabel 2. Semua bahan pakan diaduk hingga homogen dan diukur kadar airnya untuk mengetahui berat kering pakan yang diberikan. Kadar air sisa pakan juga diukur untuk mengetahui berat kering pakan yang tersisa. Berat pakan yang dimakan tikus adalah selisih antara berat kering pakan yang diberikan dengan berat kering pakan sisa. Penelitian disusun dalam rancangan acak kelompok. Perlakuan terdiri atas empat varietas jagung yang digunakan sebagai pakan tikus putih, untuk diketahui kualitas proteinnya, yaitu QPM Srikandi Kuning (A), QPM Srikandi Putih (B), Bisi-2 (C), dan Lamuru (D). Masing- Tabel 1. Komposisi pakan standar (g/kg). Komposisi Jumlah (g) Kasein 114,9 Minyak jagung 77,7 Selulosa 10 Vitamin 10 Mineral mix 44,8 Air 43.2 Pati jagung (maizena) 699,4 Tabel 2. Komposisi pakan perlakuan (g/kg). Jumlah (g) Komposisi Srikandi Srikandi Bisi-2 Lamuru Kontrol Kuning (A) Putih (B) (C) (D) Tepung jagung 739,13 783,41 607,14 739,13 - Minyak jagung Mineral mix Vitamin Pati jagung 160,87 116,59 292,86 160,

3 masing perlakuan pakan diberikan kepada delapan ekor tikus jantan (sebagai ulangan) yang berumur 3 minggu (lepas sapih) secara ad libitum, untuk mengetahui pengaruh perlakuan pemberian pakan. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah pakan yang dikonsumsi tikus, jumlah protein yang dikonsumsi, pertambahan bobot badan, efisiensi pakan, dan efisiensi protein. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam untuk mendapatkan penduga ragam galat serta uji signifikansi untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan antarperlakuan, bila terdapat perbedaan dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 5%. HASIL DAN PEMBAHASAN Pakan yang paling banyak dikonsumsi oleh tikus percobaan (Tabel 3) adalah yang dibuat dari jagung QPM Srikandi Putih (B), walaupun secara statistik tidak berbeda dengan jagung QPM Srikandi Kuning (A). Hal ini menunjukkan bahwa pakan perlakuan berupa jagung QPM Srikandi Putih (B) lebih disukai oleh tikus percobaan dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Menurut Wahyu (1991), jumlah konsumsi pakan dipengaruhi oleh tingkat energi di dalam pakan, makin tinggi energi pakan makin rendah konsumsi dan makin rendah energi pakan makin tinggi konsumsi untuk mencukupi kebutuhan energinya. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Kirchgessner et al. (1990), yang menunjukkan bahwa konsumsi ayam dipengaruhi oleh kandungan energi, protein, imbangan asam amino, vitamin, dan mineral. Namun hal itu tidak terjadi pada penelitian ini, karena dari perhitungan jumlah energi pakan yang tersaji pada Tabel 4 terlihat bahwa jumlah energi pada pakan yang menggunakan bahan baku jagung QPM Srikandi Putih (B) paling tinggi dibanding perlakuan lainnya, kecuali kontrol. Karena itu diduga ada faktor lain seperti komposisi asam amino dalam jagung yang mempengaruhi palatabilitas pakan. Tabel 3. Kandungan asam amino sulfur jagung, protein dan jumlah pakan yang dikonsumsi. Kandungan Jumlah Jumlah asam amino pakan yang protein yang Perlakuan sulfur dikonsumsi dikonsumsi (mg/g protein) (g) (g) Srikandi Kuning (A) 47,97 86,16 (ab) 5,17 (ab) Srikandi Putih (B) 58,37 94,40 (a) 5,66 (a) Bisi 2 (C ) 39,40 79,06 (b) 4,74 (bc) Lamuru (D) 34,63 72,32 (b) 4,30 (c) Angka yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 0,05 BNT. Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan pakan tersebut yang dicerminkan oleh sifat organoleptik, seperti kenampakan, bau, rasa, dan tekstur (Proyek Pengembangan Masyarakat Pedesaan 2000). Hasil penelitian Siregar (1991), menunjukkan bahwa pakan berupa jagung yang berkadar lisin tinggi (opaque 2) dapat meningkatkan palatabilitas ransum kutuk ayam pedaging dibandingkan dengan jagung biasa dan dapat meningkatkan bobot badan, bila kandungan asam amino metioninnya diperbaiki. Pakan yang digunakan pada penelitian ini mempunyai kenampakan dan tekstur yang sama, perbedaannya terdapat pada bau dan rasa yang diduga dipengaruhi oleh asam amino sulfur (metionin dan sistein) jagung QPM Srikandi Putih dan QPM Srikandi Kuning yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya (Tabel 3). Hal ini menyebabkan sifat superior jagung QPM akan terlihat, palatabilitas meningkat dan pertambahan bobot badan tikus yang diberi pakan dengan jagung QPM lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Namun informasi yang lebih konkrit tentang penyebab jagung QPM dapat meningkatkan palatabilitas pakan dibandingkan dengan perlakuan lainnya, masih perlu diteliti lebih lanjut. Jumlah protein yang dikonsumsi berbanding lurus dengan jumlah pakan yang dikonsumsi. Makin tinggi jumlah pakan yang dikonsumsi makin tinggi pula jumlah protein yang dikonsumsi, dan sebaliknya. Hal ini disebabkan karena persentase protein dari empat jenis pakan perlakuan yang digunakan pada penelitian ini sama, yaitu 6%. Namun, tingginya jumlah pakan yang dikonsumsi belum menjamin protein dapat diserap dan dimanfaatkan oleh tubuh secara mak-simal, karena sebagian dari protein yang dikonsumsi tikus akan dikeluarkan lagi melalui feses dan urine. Kebutuhan protein selalu diimbangi oleh kebutuhan energi dan variasi kebutuhan protein dengan energi ditentukan oleh kandungan, ketersediaan, dan kecernaan asam amino serta jenis dan variasi mutu bahan baku (Lubis 1992). Hasil penelitian Kompiang dan Supriyati (2001) menunjukkan bahwa perbedaan Tabel 4. Total energi pakan perlakuan. Sumber energi Energi pakan (kal/kg) Srikandi Srikandi Bisi 2 Lamuru Kontrol Kuning Putih Protein Lemak 676,17 826,51 646,71 662, Karbohidrat 2.893, , , , Total energi 3.773, , ,

4 PENELITIAN PERTANIAN TANAMAN PANGAN VOL. 26 NO kebutuhan protein pada ayam, disebabkan oleh perbedaan komposisi pakan, baik dari bahan baku, imbangan asam amino, maupun energi. Jumlah pakan yang terkonsumsi mengikuti jumlah protein yang dimakan untuk memenuhi kebutuhan energi, namun bila protein yang terkonsumsi melebihi kebutuhan akan menyebabkan nilai PER lebih rendah pada ayam kampung (Kompiang et al. 2001). Protein dalam tubuh digunakan untuk pertumbuhan jaringan otot yang dicerminkan oleh pertambahan bobot badan dan pemenuhan kebutuhan hidup pokok (Anggorodi 1985). Nilai rata-rata pertambahan total bobot badan tikus selama 10 hari setelah diberi pakan perlakuan menunjukkan bahwa tikus yang diberi jagung QPM Srikandi kuning (A) dan jagung QPM Srikandi Putih (B) memiliki pertambahan bobot badan tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya (Tabel 5). Namun demikian, pertambahan bobot badan yang tinggi pada tikus yang diberi pakan jagung QPM Srikandi Putih diduga berupa penimbunan lemak dan bukan pembentukan jaringan otot. Data skor asam amino yang disajikan pada Tabel 6 menunjukkan pula bahwa jagung QPM Srikandi Putih mempunyai skor asam amino lisin (asam amino pembatas) paling rendah dibandingkan dengan jagung lainnya, yaitu 33,6 dan tidak memenuhi standar FAO/WHO/UNU yang menetapkan skor asam amino lisin sebesar 58. Akan tetapi jagung QPM Srikandi Putih memberikan pertambahan bobot badan tertinggi Tabel 5. Rata-rata pertambahan berat badan, efisiensi pakan, dan PER Pertambahan berat Efisiensi Perlakuan badan (g) pakan (g) PER dan secara statistik tidak berbeda nyata dengan jagung QPM Srikandi Kuning yang mempunyai skor asam amino lisin (asam amino pembatas) 67,5. Jagung Lamuru meskipun memiliki skor asam amino tertinggi (68,7), namun tidak memberikan pertambahan bobot badan yang tinggi. Diduga hal ini disebabkan oleh kandungan asam amino sulfur jagung Lamuru rendah, sehingga menurunkan palatabilitas pada tikus percobaan dan mempengaruhi pertambahan bobot badan tikus. Untuk asam amino triptofan, keempat sampel jagung yang digunakan telah melebihi standar yang dipersyaratkan oleh WHO/FAO/UNU yang menetapkan skor asam amino triptofan sebesar 11. Ilustrasi kenaikan bobot badan tikus disajikan pada Gambar 1. Keadaan asam amino yang tidak seimbang menyebabkan terjadinya kelebihan energi yang akan menyebabkan penimbunan lemak dan penurunan laju pertumbuhan (Scott et al. 1985, Anggorodi 1985). Ditambahkan oleh Lubis (1992), kelebihan energi terjadi karena asam amino yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tidak cukup sehingga rasio energi/protein makin besar yang akan mengakibatkan terjadi kelebihan energi yang kemudian diubah menjadi lemak tubuh. Menurut Uzu (1982), derajat lemak dapat dicegah dengan penambahan asam amino lisin dan metionin. Tabel 5 menunjukkan bahwa efisiensi pakan jagung QPM Srikandi Kuning dan QPM Srikandi Putih tidak berbeda dan memiliki nilai tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Nilai efisiensi pakan berhubungan dengan pertambahan bobot badan. Makin tinggi nilai efisiensi pakan makin banyak pakan yang dapat dimanfaatkan untuk pertambahan bobot badan. (Tabel 3) menunjukkan bahwa jagung QPM Srikandi QPM Srikandi Kuning (A) 13,93 (a) 0,16 (a) 2,64 (a) QPM Srikandi Putih (B) 14,90 (a) 0,15 (a) 2,59 (ab) Bisi 2 (C ) 4,31 (b) 0,06 (c) 0,97 (c) Lamuru (D) 8,16 (b) 0,11 (b) 1,89 (b) Angka dengan huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata dengan uji BNT pada taraf 5%. Tabel 6. Skor asam amino jagung. Skor asam amino (%) Jenis asam amino Srikandi Srikandi Bisi 2 Lamuru Kuning Putih Treonin 132,56 108,88 126,11 159,85 Valin 201,23 132,54 164,63 203,31 Total Sulfur AA 191,88 233,48 157,60 138,52 Isoleusin 176,50 130,00 147,11 192,00 Leusin 258,67 202,95 215,00 255,59 Lisin 67,47 33,64 57,26 68,71 Triptofan 79,00 86,54 73,54 86,91 Pertambahan berat badan (g) A B C D Hari ke- A = QPM Srikandi Kuning B = QPM Srikandi Putih C = Bisi-2 D = Lamuru Gambar 1. Ilustrasi kenaikan berat badan harian tikus. 135

5 Kuning dan QPM Srikandi Putih memang lebih banyak dikonsumsi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Jagung Bisi-2 lebih banyak dikonsumsi dibandingkan dengan jagung Lamuru, tetapi tidak memberikan pertambahan bobot badan yang lebih tinggi pada tikus percobaan. Diduga hal ini disebabkan karena jagung Bisi-2 mengandung serat yang tinggi, sehingga walaupun dikonsumsi dalam jumlah banyak tidak mengakibatkan pertambahan bobot badan secara signifikan. Nilai PER tertinggi terdapat pada jagung QPM Srikandi Kuning, yaitu 2,64 dan secara statistik tidak berbeda nyata dengan jagung QPM Srikandi Putih dengan nilai PER 2,59. Perhitungan nilai PER tidak didasarkan pada keseimbangan nitrogen, akan tetapi perbandingan pertambahan bobot badan dan jumlah protein yang dikonsumsi (Muchtadi 1989). Oleh karena itu, agar penentuan kadar protein seragam maka kadar protein pakan yang digunakan pada penelitian ini sama, yaitu 6%. Menurut Lubis (1992), peningkatan nilai PER merupakan indikator peningkatan kualitas protein dan daya cerna. Berdasarkan nilai PER yang tersaji pada Tabel 5, terlihat bahwa jagung QPM Srikandi Kuning dan QPM Srikandi Putih mempunyai kualitas protein yang terbaik dengan nilai PER tertinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Jagung QPM Srikandi Putih dengan skor asam amino 34 mempunyai nilai PER dan pertambahan bobot badan tidak berbeda dengan jagung QPM Srikandi Kuning yang memiliki skor asam amino 67. Diduga, pertambahan bobot badan tikus tidak karena pembentukan jaringan tubuh, melainkan pembentukan lemak akibat kelebihan energi karena ketidakseimbangan komposisi asam amino esensial. KESIMPULAN Jagung QPM Srikandi Kuning dengan nilai PER 2,64 dan QPM Srikandi Putih dengan nilai PER 2,59 mempunyai kualitas protein terbaik dibandingkan dengan jagung lainnya. Makin tinggi nilai PER makin banyak protein yang dapat digunakan untuk pertambahan bobot badan. Diduga pertambahan bobot badan tikus putih yang mengkonsumsi jagung QPM Srikandi Putih bukan karena pembentukan otot melainkan penimbunan lemak. Hal ini disebabkan oleh ketidakseimbangan komposisi asam amino pada jagung QPM Srikandi Putih yang memiliki skor asam amino lisin sangat rendah (33,6 mg/g protein). DAFTAR PUSTAKA Anggorodi, R Kemajuan mutakhir dalam ilmu makanan ternak unggas. UI Press. 135p. Bjarnason, M. and S.K. Vasal Breeding of quality protein maize (QPM). In: Janick (ed). Plant breeding reviews, Vol 9. John Wiley & Sons, Inc. p Intengan, C.L.L The nutritional value of foods. Proceeding of a 1977 Workshop held on the Interfaces between Agriculture, Nutrition and Food Science. IRRI, Laguna. Philippines. p Kasim, F., M. Yasin, E. Hosang, dan Koesnang Penampilan jagung protein tinggi di dua lingkungan tumbuh. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 22 (2): Kirchgessner, R., U. Steinruck, and R.X. Rose Selective zink intake in broilers. Jurnal Animal Physiology and Animal Nutrition. 64: Kompiang, I.P. dan Supriyati Pengaruh cara pemberian pakan dan ampas sagu terfermentasi terhadap kinerja ayam pedaging. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 6 (1): Kompiang, I.P., Supriyati, M.H. Togatorop, dan S.N. Jermani Kinerja ayam kampung dengan sistem pemberian pakan secara memilih dengan bebas. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner 6 (2): Lubis, A.H Respon ayam broiler terhadap penurunan tingkat protein dalam ransum berdasarkan efisiensi penggunaan protein dan suplementasi asam amino metionin dan lisin. Disertasi. IPB. Bogor. 106p. Muchtadi, D Protein: sumber dan teknologi. Pusat Antar- Universitas Pangan dan Gizi. IPB. Bogor. 63 p. Muchtadi, D Teknik evaluasi nilai gizi protein. Program Studi Ilmu Pangan. Program Pascasarjana. IPB. Bogor. 242 p. National Research Council Quality protein maize. National Academy Press. Washington, DC. 100 p. Prasanna, B.M., S.K. Vasal, B. Kassahun, and N.N. Singh Quality protein maize. Review article. Current Science 18:10. p Proyek Pengembangan Ekonomi Masyarakat Pedesaan Daya cerna pakan ternak. Download : Mei Scott, M.L., M.C. Nasheim, and R.J. Young Nutrition of the chicken. Third eds. M.L. Scott and Associates. Ithaca. New York. 52 p. Siregar, A.P Penggunaan jagung opaque-2 dalam ransuman kutuk ayam pedaging. Bulletin No. 14. Lembaga Penelitian Peternakan. Bogor. p Tangendjaja, B dan Gunawan Jagung dan limbahnya untuk makanan ternak. Puslitbangtan. Bogor. p Uzu, G Limit of reduction of protein level in broiler feeds, Poult. Sci. 61: Wahyu, J Ilmu nutrisi unggas. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 73 p. WHO FAO?WHO/UN expert consultation. WHO Technical Report Series No Geneva. 136

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan (%) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Produk Fermentasi Fermentasi merupakan teknik yang dapat mengubah senyawa kompleks seperti protein, serat kasar, karbohidrat, lemak dan bahan organik lainnya

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Nutrien Ransum Berdasarkan hasil analisa proksimat, kandungan zat makanan ransum perlakuan disajikan pada Tabel 10. Terdapat adanya keragaman kandungan nutrien protein, abu

Lebih terperinci

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan %

Tingkat Penggunaan Limbah Laju Pertumbuhan % BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Laju Pertumbuhan Harian Berdasarkan hasil pengamatan terhadap benih Lele Sangkuriang selama 42 hari masa pemeliharaan diketahui bahwa tingkat penggunaan limbah ikan tongkol

Lebih terperinci

KOMBINASI AZOLLA MICROPHYLLA DENGAN DEDAK PADI SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER BAHAN PAKAN LOKAL AYAM PEDAGING

KOMBINASI AZOLLA MICROPHYLLA DENGAN DEDAK PADI SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER BAHAN PAKAN LOKAL AYAM PEDAGING Seminar Nasional Hasil Penelitian, 2016 KOMBINASI AZOLLA MICROPHYLLA DENGAN DEDAK PADI SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER BAHAN PAKAN LOKAL AYAM PEDAGING Aju Tjatur Nugroho Krisnaningsih, Mardhiyah Hayati Universitas

Lebih terperinci

Respon Broiler terhadap Pemberian Ransum yang Mengandung Lumpur Sawit Fermentasi pada Berbagai Lama Penyimpanan

Respon Broiler terhadap Pemberian Ransum yang Mengandung Lumpur Sawit Fermentasi pada Berbagai Lama Penyimpanan Respon Broiler terhadap Pemberian Ransum yang Mengandung Lumpur Sawit Fermentasi pada Berbagai Lama Penyimpanan I.A.K. BINTANG, A.P. SINURAT, dan T. PURWADARIA Balai Penelitian Ternak, PO BOX 221, Bogor

Lebih terperinci

Pengaruh Lanjutan Substitusi Ampas Tahu pada Pakan Basal (BR-2) Terhadap Penampilan Ayam Broiler Umur 4-6 Minggu (Fase Finisher)

Pengaruh Lanjutan Substitusi Ampas Tahu pada Pakan Basal (BR-2) Terhadap Penampilan Ayam Broiler Umur 4-6 Minggu (Fase Finisher) Pengaruh Lanjutan Substitusi Ampas Tahu pada Pakan Basal (BR-2) Terhadap Penampilan Ayam Broiler Umur 4-6 Minggu (Fase Finisher) The Effect of Continued Substitution of Tofu on Basal Feed (BR-2) on The

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. yaitu ekor menjadi ekor (BPS, 2016). Peningkatan

PENDAHULUAN. yaitu ekor menjadi ekor (BPS, 2016). Peningkatan I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ternak Domba Garut merupakan ternak ruminansia kecil yang banyak dipelihara oleh masyarakat, karena pemeliharaannya yang tidak begitu sulit, dan sudah turun temurun dipelihara

Lebih terperinci

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS EFFECT OF EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DOSAGE ADDED IN DRINKING WATER ON BODY WEIGHT OF LOCAL CHICKEN

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu dari 12 September 2014 sampai

III. METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu dari 12 September 2014 sampai III. METODOLOGI PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan selama 6 minggu dari 12 September 2014 sampai dengan 20 Oktober 2014 di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak, Jurusan

Lebih terperinci

DAYA TERIMA DAN KUALITAS PROTEIN IN VITRO TEMPE KEDELAI HITAM (Glycine soja) YANG DIOLAH PADA SUHU TINGGI. Abstrak

DAYA TERIMA DAN KUALITAS PROTEIN IN VITRO TEMPE KEDELAI HITAM (Glycine soja) YANG DIOLAH PADA SUHU TINGGI. Abstrak DAYA TERIMA DAN KUALITAS PROTEIN IN VITRO TEMPE KEDELAI HITAM (Glycine soja) YANG DIOLAH PADA SUHU TINGGI Nurhidajah 1, Syaiful Anwar 2, Nurrahman 2 Abstrak Pengolahan pangan dengan suhu tinggi dapat menyebabkan

Lebih terperinci

KUALITAS MIE BASAH DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG BIJI KLUWIH (Artocarpus communis G.Forst)

KUALITAS MIE BASAH DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG BIJI KLUWIH (Artocarpus communis G.Forst) KUALITAS MIE BASAH DENGAN SUBSTITUSI TEPUNG BIJI KLUWIH (Artocarpus communis G.Forst) Quality of Noodle with Substitution of Kluwih (Artocarpus communis G. Forst) Seed Flour Agustina Arsiawati Alfa Putri

Lebih terperinci

SUBSTITUSI TEPUNG BUNGKIL KEDELAI DENGAN TEPUNG BUNGKIL KOPRA DALAM PAKAN IKAN BERONANG, Siganus guttatus

SUBSTITUSI TEPUNG BUNGKIL KEDELAI DENGAN TEPUNG BUNGKIL KOPRA DALAM PAKAN IKAN BERONANG, Siganus guttatus 737 Substitusi tepung bungkil kedelai... (Neltje Nobertine Palinggi) SUBSTITUSI TEPUNG BUNGKIL KEDELAI DENGAN TEPUNG BUNGKIL KOPRA DALAM PAKAN IKAN BERONANG, Siganus guttatus ABSTRAK Neltje Nobertine Palinggi

Lebih terperinci

PEMAKAIAN ONGGOK FERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMA AYAM BURAS PERIODE PERTUMBUHAN

PEMAKAIAN ONGGOK FERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMA AYAM BURAS PERIODE PERTUMBUHAN Jurnal Peternakan Vol 13 No 2 September 2016 (48 53) ISSN 1829 8729 PEMAKAIAN ONGGOK FERMENTASI DALAM RANSUM TERHADAP PERFORMA AYAM BURAS PERIODE PERTUMBUHAN E. IRAWATI 1, MIRZAH 2, DAN G.CIPTAAN 2 1 Fakultas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum di dalam Kandang Rataan temperatur dan kelembaban di dalam kandang selama penelitian dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Rataan Suhu dan Kelembaban Relatif Kandang Selama

Lebih terperinci

PENGARUH TINGKAT SUBSTITUSI TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG MAGGOT TERHADAP KOMPOSISI KIMIA PAKAN DAN TUBUH IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsskal)

PENGARUH TINGKAT SUBSTITUSI TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG MAGGOT TERHADAP KOMPOSISI KIMIA PAKAN DAN TUBUH IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsskal) PENGARUH TINGKAT SUBSTITUSI TEPUNG IKAN DENGAN TEPUNG MAGGOT TERHADAP KOMPOSISI KIMIA PAKAN DAN TUBUH IKAN BANDENG (Chanos chanos Forsskal) OLEH: DWI SEPTIANI PUTRI L221 07 004 Pembimbing Utama Pembimbing

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012) menunjukkan bahwa konsumsi telur burung

I. PENDAHULUAN. Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012) menunjukkan bahwa konsumsi telur burung I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ternak puyuh mempunyai potensi yang tinggi untuk dikembangkan baik sebagai penghasil telur maupun penghasil daging. Menurut Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (2012)

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 49 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Pengaruh Penggunaan Ampas Kecap Sebagai Substitusi Bungkil Kedelai dalam Ransum Terhadap Nilai Kecernaan Bahan Kering (KcBK) Pengolahan ataupun peracikan bahan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN. Keadaan Umum Penelitian Suhu dan Kelembaban HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Suhu dalam kandang saat penelitian berlangsung berkisar antara 26,9-30,2 o C. Pagi 26,9 o C, siang 30,2 o C, dan sore 29,5 o C. Kelembaban

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menjadi kendala pada peternak disebabkan mahalnya harga bahan baku, sehingga

BAB I PENDAHULUAN. menjadi kendala pada peternak disebabkan mahalnya harga bahan baku, sehingga 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Keberhasilan usaha ternak ayam sangat ditentukan oleh penyediaan pakan yang memadai baik kuantitas maupun kualitas, karena pakan merupakan unsur utama dalam pertumbuhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini pengembangan di bidang peternakan dihadapkan pada masalah kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. Pada saat ini pengembangan di bidang peternakan dihadapkan pada masalah kebutuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada saat ini pengembangan di bidang peternakan dihadapkan pada masalah kebutuhan pakan, yang mana ketersedian pakan khususnya untuk unggas harganya dipasaran sering

Lebih terperinci

Pengaruh Imbangan Energi dan Protein Ransum terhadap Energi Metabolis dan Retensi Nitrogen Ayam Broiler

Pengaruh Imbangan Energi dan Protein Ransum terhadap Energi Metabolis dan Retensi Nitrogen Ayam Broiler Pengaruh Imbangan Energi dan Protein Ransum terhadap Energi Metabolis dan Retensi Nitrogen Ayam Broiler Tampubolon, Bintang, P.P. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran e-mail : ktgmusical@yahoo.co.id

Lebih terperinci

KINERJA AYAM KAMPUNG DENGAN SISTEM PEMBERIAN PAKAN SECARA MEMILIH DENGAN BEBAS

KINERJA AYAM KAMPUNG DENGAN SISTEM PEMBERIAN PAKAN SECARA MEMILIH DENGAN BEBAS KINERJA AYAM KAMPUNG DENGAN SISTEM PEMBERIAN PAKAN SECARA MEMILIH DENGAN BEBAS I P. KOMPIANG, SUPRIYATI, M.H. TOGATOROP, dan S.N. JARMANI Balai Penelitian Ternak P.O. Box 221, Bogor 16002, Indonesia (Diterima

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Performa Itik Alabio Jantan Rataan performa itik Alabio jantan selama pemeliharaan (umur 1-10 minggu) disajikan pada Tabel 4.

HASIL DAN PEMBAHASAN. Performa Itik Alabio Jantan Rataan performa itik Alabio jantan selama pemeliharaan (umur 1-10 minggu) disajikan pada Tabel 4. HASIL DAN PEMBAHASAN Performa Itik Alabio Jantan Rataan performa itik Alabio jantan selama pemeliharaan (umur 1-10 minggu) disajikan pada Tabel 4. Tabel 4. Performa Itik Alabio Jantan Umur 1-10 Minggu

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama 13 minggu, pada 12 Mei hingga 11 Agustus 2012

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian dilaksanakan selama 13 minggu, pada 12 Mei hingga 11 Agustus 2012 20 III. BAHAN DAN METODE A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilaksanakan selama 13 minggu, pada 12 Mei hingga 11 Agustus 2012 yang bertempat di Desa Campang, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus.

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Secara umum penelitian ini sudah berjalan dengan cukup baik. Terdapat sedikit hambatan saat akan memulai penelitian untuk mencari ternak percobaan dengan umur

Lebih terperinci

METODE. Materi 10,76 12,09 3,19 20,90 53,16

METODE. Materi 10,76 12,09 3,19 20,90 53,16 METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Nutrisi Ternak Daging dan Kerja Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor. Pemeliharaan ternak percobaan dilakukan dari bulan

Lebih terperinci

PENGGUNAAN TEPUNG DAGING DAN TULANG SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PROTEIN HEWANI PADA PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) ABSTRAK

PENGGUNAAN TEPUNG DAGING DAN TULANG SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PROTEIN HEWANI PADA PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis niloticus) ABSTRAK e-jurnal Rekayasa dan Teknologi Budidaya Perairan Volume II No 1 Oktober 2013 ISSN: 2302-3600 PENGGUNAAN TEPUNG DAGING DAN TULANG SEBAGAI ALTERNATIF SUMBER PROTEIN HEWANI PADA PAKAN IKAN NILA MERAH (Oreochromis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. produktivitas ayam buras salah satunya dapat dilakukan melalui perbaikan

BAB I PENDAHULUAN. produktivitas ayam buras salah satunya dapat dilakukan melalui perbaikan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini produktivitas ayam buras masih rendah, untuk meningkatkan produktivitas ayam buras salah satunya dapat dilakukan melalui perbaikan kualitas dan kuantitas pakan.

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking

TINJAUAN PUSTAKA. perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking TINJAUAN PUSTAKA Itik Peking Itik peking adalah itik yang berasal dari daerah China. Setelah mengalami perkembangan di Inggris dan Amerika Serikat, itik ini menjadi popular. Itik peking dapat dipelihara

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Biskuit Pakan Biskuit pakan merupakan inovasi bentuk baru produk pengolahan pakan khusus untuk ternak ruminansia. Pembuatan biskuit pakan menggunakan prinsip dasar pembuatan

Lebih terperinci

PERTEMUAN/KULIAH KE: 12 TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS: Setelah mengikuti pertemuan ini Anda akan dapat: 1. Memahami dan menjelaskan interaksi antara

PERTEMUAN/KULIAH KE: 12 TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS: Setelah mengikuti pertemuan ini Anda akan dapat: 1. Memahami dan menjelaskan interaksi antara PERTEMUAN/KULIAH KE: 12 TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS: Setelah mengikuti pertemuan ini Anda akan dapat: 1. Memahami dan menjelaskan interaksi antara energi dan protein dalam kaitannya deposisi protein dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Pakan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Pakan Konsumsi Bahan Kering (BK) HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan Konsumsi pakan merupakan jumlah pakan yang dimakan oleh ternak yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok dan proses produksi

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Gambar 2. Contoh Domba Penelitian

MATERI DAN METODE. Gambar 2. Contoh Domba Penelitian MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang dan Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan,

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Waktu dan Lokasi. Materi

MATERI DAN METODE. Waktu dan Lokasi. Materi MATERI DAN METODE Waktu dan Lokasi Penelitian ini dilaksanakan di Kandang B, Laboratorium Biologi Hewan, Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Laboratorium Terpadu Departemen Ilmu Nutrisi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian

HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ternak disamping manajemen pemeliharaan dan pemberian pakan adalah faktor manajemen lingkungan. Suhu dan kelembaban yang

Lebih terperinci

PENGARUH MANIPULASI RANSUM FINISHER TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN EFISIENSI PAKAN DALAM PRODUKSI BROILER

PENGARUH MANIPULASI RANSUM FINISHER TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN EFISIENSI PAKAN DALAM PRODUKSI BROILER PENGARUH MANIPULASI RANSUM FINISHER TERHADAP PERTAMBAHAN BOBOT BADAN DAN EFISIENSI PAKAN DALAM PRODUKSI BROILER Sofyan Arifin 1, H. Sunaryo 2 dan Umi Kalsum 2 1)MahasiswaFakultas Peternakan Universitas

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Sapi Friesian Holstein (FH) Produktivitas Sapi Perah

TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Sapi Friesian Holstein (FH) Produktivitas Sapi Perah TINJAUAN PUSTAKA Sapi Perah Pemeliharaan sapi perah bertujuan utama untuk memperoleh produksi susu yang tinggi dan efisien pakan yang baik serta mendapatkan hasil samping berupa anak. Peningkatan produksi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Energi Metabolis. makanan dalam tubuh, satuan energi metabolis yaitu kkal/kg.

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Energi Metabolis. makanan dalam tubuh, satuan energi metabolis yaitu kkal/kg. 24 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Energi Metabolis Energi metabolis adalah energi yang digunakan untuk metabolisme zat-zat makanan dalam tubuh, satuan energi metabolis yaitu kkal/kg.

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang Penggunaan Tepung Daun Mengkudu (Morinda

BAB III MATERI DAN METODE. Penelitian tentang Penggunaan Tepung Daun Mengkudu (Morinda 13 BAB III MATERI DAN METODE Penelitian tentang Penggunaan Tepung Daun Mengkudu (Morinda citrifolia) Fermentasi terhadap Penggunaan Protein pada Ayam Kampung Super dilaksanakan pada tanggal 18 November

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Udang vannamei merupakan salah satu pilihan jenis udang yang dapat dibudidayakan di Indonesia. Udang vannamei masuk ke Indonesia pada tahun 2001 dan pada bulan Mei 2002

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. secara eksklusif selama 6 bulan kehidupan pertama bayi. Hal ini dikarenakan ASI

BAB I PENDAHULUAN. secara eksklusif selama 6 bulan kehidupan pertama bayi. Hal ini dikarenakan ASI BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Usia balita merupakan periode pertumbuhan dan perkembangan yang sangat pesat. Status gizi yang baik pada masa bayi dapat dipenuhi dengan pemberian ASI secara eksklusif

Lebih terperinci

1 I PENDAHULUAN. yang cukup baik terutama kandungan karbohidrat yang tinggi.

1 I PENDAHULUAN. yang cukup baik terutama kandungan karbohidrat yang tinggi. 1 I PENDAHULUAN Bab ini menguraikan mengenai : (1.1) Latar Belakang, (1.2) Identifikasi Masalah, (1.3) Maksud dan Tujuan Penelitian, (1.4) Manfaat Penelitian, (1.5) Kerangka Pemikiran, (1.6) Hipotesis,

Lebih terperinci

Pengaruh Lumpur Sawit Fermentasi dalam Ransum Terhadap Performa Ayam Kampung Periode Grower

Pengaruh Lumpur Sawit Fermentasi dalam Ransum Terhadap Performa Ayam Kampung Periode Grower Jurnal Peternakan Sriwijaya Vol. 4, No. 2, Desember 2015, pp. 41-47 ISSN 2303 1093 Pengaruh Lumpur Sawit Fermentasi dalam Ransum Terhadap Performa Ayam Kampung Periode Grower F.N.L. Lubis 1*, S. Sandi

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. sebagai penghasil telur dan daging sehingga banyak dibudidayakan oleh

PENDAHULUAN. sebagai penghasil telur dan daging sehingga banyak dibudidayakan oleh I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ayam kampung merupakan salah satu jenis unggas lokal yang berpotensi sebagai penghasil telur dan daging sehingga banyak dibudidayakan oleh masyarakat terutama yang bertempat

Lebih terperinci

Nama :... Tanggal Pengujian :... Atribut Sensori : Aroma

Nama :... Tanggal Pengujian :... Atribut Sensori : Aroma 81 Lampiran 1 Contoh format uji pembedaan : Difference from control test Nama :... Tanggal Pengujian :... Atribut Sensori : Aroma Instruksi Uji : 1. Silahkan dibandingkan sampel yang akan diuji berikut

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Grafik pertumbuhan benih C. macropomum yang dihasilkan selama 40 hari

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Grafik pertumbuhan benih C. macropomum yang dihasilkan selama 40 hari IV. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil 1 Pertumbuhan benih C. macropomum Grafik pertumbuhan benih C. macropomum yang dihasilkan selama 40 hari pemeliharaan disajikan pada Gambar 3. Gambar 3. Pertumbuhan C.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. didalamnya terkandung senyawa-senyawa yang sangat diperlukan untuk

BAB I PENDAHULUAN. didalamnya terkandung senyawa-senyawa yang sangat diperlukan untuk BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Makanan merupakan kebutuhan pokok bagi setiap manusia, karena didalamnya terkandung senyawa-senyawa yang sangat diperlukan untuk memulihkan dan memperbaiki jaringan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN III. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Hasil Perubahan kandungan nutrisi daun mata lele Azolla sp. sebelum dan sesudah fermentasi dapat disajikan pada Gambar 1. Gambar1 Kandungan nutrisi daun mata lele Azolla

Lebih terperinci

Penampilan Produksi Anak Ayam Buras yang Dipelihara pada Kandang Lantai Bambu dan Litter

Penampilan Produksi Anak Ayam Buras yang Dipelihara pada Kandang Lantai Bambu dan Litter Penampilan Produksi Anak Ayam Buras yang Dipelihara pada Kandang Lantai Abdul Azis, Anie Insulistyowati, Pudji Rahaju dan Afriani 1 Intisari Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penampilan produksi

Lebih terperinci

Gambar 6. Pemberian Obat Pada Domba Sumber : Dokumentasi Penelitian

Gambar 6. Pemberian Obat Pada Domba Sumber : Dokumentasi Penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi Umum Penelitian Secara umum penelitian ini dapat berjalan dengan baik. Meskipun demikian terdapat hambatan-hambatan dalam pelaksanaannya, diantaranya adalah kesulitan mendapatkan

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Suplementasi minyak ikan dan L-karnitin pada ransum basal membuat kandungan energi pada ransum meningkat. Meningkatnya kandungan energi pada ransum basal akan mudah di manfaatkan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Nutrien Pellet Kandungan nutrien suatu pakan yang diberikan ke ternak merupakan hal penting untuk diketahui agar dapat ditentukan kebutuhan nutrien seekor ternak sesuai status

Lebih terperinci

Dulatip Natawihardja Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Jatinangor, Sumedang ABSTRAK

Dulatip Natawihardja Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Jatinangor, Sumedang ABSTRAK Perbandingan Kebutuhan Energi untuk Hidup Pokok pada Ayam Broiler dan Ayam Petelur Tipe Medium pada Umur yang Sama serta Pengaruhnya terhadap Efisiensi Penggunaan Energi (Dulatip Natawihardja) ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan masyarakat. Saat ini, perunggasan merupakan subsektor peternakan

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan masyarakat. Saat ini, perunggasan merupakan subsektor peternakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan merupakan penyuplai kebutuhan daging terbesar bagi kebutuhan masyarakat. Saat ini, perunggasan merupakan subsektor peternakan yang sedang mengalami peningkatan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. telurnya karena produksi telur burung puyuh dapat mencapai

PENDAHULUAN. telurnya karena produksi telur burung puyuh dapat mencapai 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Puyuh (Coturnix coturnix japonica) banyak diternakkan untuk diambil telurnya karena produksi telur burung puyuh dapat mencapai 250 300 butir/ekor/tahun. Disamping produksi

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian dilakukan dari bulan Juli 2010 hingga April 2011 di peternakan sapi rakyat Desa Tanjung, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang, dan di Departemen Ilmu Nutrisi

Lebih terperinci

KAJIAN PENAMBAHAN TETES SEBAGAI ADITIF TERHADAP KUALITAS ORGANOLEPTIK DAN NUTRISI SILASE KULIT PISANG

KAJIAN PENAMBAHAN TETES SEBAGAI ADITIF TERHADAP KUALITAS ORGANOLEPTIK DAN NUTRISI SILASE KULIT PISANG KAJIAN PENAMBAHAN TETES SEBAGAI ADITIF TERHADAP KUALITAS ORGANOLEPTIK DAN NUTRISI SILASE KULIT PISANG (Study on Molasses as Additive at Organoleptic and Nutrition Quality of Banana Shell Silage) S. Sumarsih,

Lebih terperinci

KANDUNGAN LEMAK KASAR, BETN, KALSIUM DAN PHOSPOR FESES AYAM YANG DIFERMENTASI BAKTERI Lactobacillus sp

KANDUNGAN LEMAK KASAR, BETN, KALSIUM DAN PHOSPOR FESES AYAM YANG DIFERMENTASI BAKTERI Lactobacillus sp KANDUNGAN LEMAK KASAR, BETN, KALSIUM DAN PHOSPOR FESES AYAM YANG DIFERMENTASI BAKTERI Lactobacillus sp Crude fat, BETN, Calcium and phosfor contents of poultry waste fermented with Lactobacillus sp Jamila

Lebih terperinci

Pengaruh Penggunaan Zeolit dalam Ransum terhadap Konsumsi Ransum, Pertumbuhan, dan Persentase Karkas Kelinci Lokal Jantan

Pengaruh Penggunaan Zeolit dalam Ransum terhadap Konsumsi Ransum, Pertumbuhan, dan Persentase Karkas Kelinci Lokal Jantan Pengaruh Penggunaan Zeolit dalam Ransum terhadap Konsumsi Ransum, Pertumbuhan, dan Persentase Karkas Kelinci Lokal Jantan Sulastri Jurusan Produksi Ternak, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung Jl. Prof.

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. terhadap lingkungan tinggi, dan bersifat prolifik. Populasi domba di Indonesia pada

PENDAHULUAN. terhadap lingkungan tinggi, dan bersifat prolifik. Populasi domba di Indonesia pada 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Domba merupakan ternak ruminansia yang banyak dipelihara masyarakat dan dimanfaatkan produksinya sebagai ternak penghasil daging dan sebagai tabungan. Domba memiliki

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang dan Laboratorium Ilmu Nutrisi Ternak Daging dan Kerja, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu usaha peternakan. Minat

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu usaha peternakan. Minat 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu usaha peternakan. Minat masyarakat yang tinggi terhadap produk hewani, terutama daging kambing, menyebabkan

Lebih terperinci

Pengaruh Penggunaan...Trisno Marojahan Aruan

Pengaruh Penggunaan...Trisno Marojahan Aruan PENGARUH PENGGUNAAN TEPUNG BUAH MENGKUDU (Morinda Citrifolia L.) DALAM RANSUM TERHADAP RETENSI KALSIUM DAN FOSFOR PADA PUYUH PETELUR (Coturnix Coturnix Japonica) Trisno Marojahan Aruan*, Handi Burhanuddin,

Lebih terperinci

BAB III MATERI DAN METODE. dengan kuantitas berbeda dilaksanakan di kandang Laboratorium Produksi Ternak

BAB III MATERI DAN METODE. dengan kuantitas berbeda dilaksanakan di kandang Laboratorium Produksi Ternak 8 BAB III MATERI DAN METODE 3.1. Lokasi Penelitian Penelitian keluaran kreatinin pada urin sapi Madura yang mendapat pakan dengan kuantitas berbeda dilaksanakan di kandang Laboratorium Produksi Ternak

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM NUTRISI TERNAK UNGGAS DAN NON RUMINANSIA. Penyusunan Ransum dan Pemberian Pakan Pada Broiler Fase Finisher

LAPORAN PRAKTIKUM NUTRISI TERNAK UNGGAS DAN NON RUMINANSIA. Penyusunan Ransum dan Pemberian Pakan Pada Broiler Fase Finisher LAPORAN PRAKTIKUM NUTRISI TERNAK UNGGAS DAN NON RUMINANSIA Penyusunan Ransum dan Pemberian Pakan Pada Broiler Fase Finisher Disusun oleh : Kelompok 9 Robby Trio Ananda 200110090042 Gilang Dayinta P 200110090071

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Bahan Kering Konsumsi adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ternak yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok dan produksi. Rataan konsumsi rumput, konsentrat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh

HASIL DAN PEMBAHASAN. Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh HASIL DAN PEMBAHASAN Kandungan Kolesterol Daging, Hati dan Telur Puyuh Analisis terhadap kandungan kolesterol daging, hati dan telur dilakukan saat puyuh berumur 14 minggu, diperlihatkan pada Tabel 5 dan

Lebih terperinci

Pakan konsentrat Bagian 5 : Ayam ras pedaging (broiler concentrate)

Pakan konsentrat Bagian 5 : Ayam ras pedaging (broiler concentrate) Standar Nasional Indonesia Pakan konsentrat Bagian 5 : Ayam ras pedaging (broiler concentrate) ICS 65.120 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kampung. Ayam kampung merupakan ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam

TINJAUAN PUSTAKA. Ayam Kampung. Ayam kampung merupakan ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam TINJAUAN PUSTAKA Ayam Kampung Ayam kampung merupakan ayam lokal Indonesia yang berasal dari ayam hutan merah yang berhasil dijinakkan. Akibat dari proses evolusi dan domestikasi maka terciptalah ayam kampung

Lebih terperinci

THE INFLUENCES OF CAGE DENSITY ON THE PERFORMANCE OF HYBRID AND MOJOSARI DUCK IN STARTER PERIOD

THE INFLUENCES OF CAGE DENSITY ON THE PERFORMANCE OF HYBRID AND MOJOSARI DUCK IN STARTER PERIOD THE INFLUENCES OF CAGE DENSITY ON THE PERFORMANCE OF HYBRID AND MOJOSARI DUCK IN STARTER PERIOD Pinky R. P 1), E. Sudjarwo 2), and Achmanu 2) 1) Student of Animal Husbandry Faculty, University of Brawijaya

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 19 IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Data rata-rata parameter uji hasil penelitian, yaitu laju pertumbuhan spesifik (LPS), efisiensi pemberian pakan (EP), jumlah konsumsi pakan (JKP), retensi protein

Lebih terperinci

ISBN: Seminar Nasional Peternakan-Unsyiah 2014

ISBN: Seminar Nasional Peternakan-Unsyiah 2014 EFISIENSI PENGGUNAAN PAKAN FERMENTASI ASAL HIJAUAN DAN PROBIOTIK UNTUK MENEKAN BIAYA PRODUKSI DAN MENINGKATKAN PRODUKSI ITIK PEDAGING KOMERSIAL FASE AWAL PERTUMBUHAN M. AMAN YAMAN, MUHAMMAD DAUD, ZULFAN

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. ayam broiler terhadap kadar protein, lemak dan bobot telur ayam arab ini bersifat

BAB III METODE PENELITIAN. ayam broiler terhadap kadar protein, lemak dan bobot telur ayam arab ini bersifat BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Percobaan Penelitian tentang peran pemberian metionin dan linoleat pada tepung kaki ayam broiler terhadap kadar protein, lemak dan bobot telur ayam arab

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat pesat. Populasi ayam pedaging meningkat dari 1,24 milyar ekor pada

BAB I PENDAHULUAN. yang sangat pesat. Populasi ayam pedaging meningkat dari 1,24 milyar ekor pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan unggas di Indonesia saat ini sudah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Populasi ayam pedaging meningkat dari 1,24 milyar ekor pada tahun 2012 menjadi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Ayam Pedaging dan Konversi Pakan ini merupakan penelitian penelitian. ransum yang digunakan yaitu 0%, 10%, 15% dan 20%.

BAB III METODE PENELITIAN. Ayam Pedaging dan Konversi Pakan ini merupakan penelitian penelitian. ransum yang digunakan yaitu 0%, 10%, 15% dan 20%. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Penelitian Penelitian tentang Pengaruh Penggunaan Onggok Kering Terfermentasi Probiotik dalam Ransum Terhadap Konsumsi Pakan, Pertambahan Bobot Badan Ayam

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN AYAM BURAS PERIODE GROWER MELALUI PEMBERIAN TEPUNG BIJI BUAH MERAH (Pandanus conoideus LAMK) SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF

PERTUMBUHAN AYAM BURAS PERIODE GROWER MELALUI PEMBERIAN TEPUNG BIJI BUAH MERAH (Pandanus conoideus LAMK) SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF PERTUMBUHAN AYAM BURAS PERIODE GROWER MELALUI PEMBERIAN TEPUNG BIJI BUAH MERAH (Pandanus conoideus LAMK) SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF (The Growth Rate of Growers in Native Chickens Fed on Seed Powder of Pandanus

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 8. Rataan Hasil Pengamatan Konsumsi, PBB, Efisiensi Pakan Sapi PO selama 48 Hari Pemeliharaan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Tabel 8. Rataan Hasil Pengamatan Konsumsi, PBB, Efisiensi Pakan Sapi PO selama 48 Hari Pemeliharaan HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Ransum Konsumsi adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ternak atau sekelompok ternak selama periode tertentu dan ternak tersebut mempunyai akses bebas pada pakan dan tempat

Lebih terperinci

Pengaruh Pemberian Zeolit dalam Ransum Terhadap Performans Mencit (Mus musculus) Lepas Sapih

Pengaruh Pemberian Zeolit dalam Ransum Terhadap Performans Mencit (Mus musculus) Lepas Sapih Pengaruh Pemberian Zeolit dalam Ransum Terhadap Performans Mencit (Mus musculus) Lepas Sapih Pollung H. Siagian 1, Hotnida C. H. Siregar 1, dan Ronny Dasril 2 1 Staf Pengajar Departemen Ilmu Produksi dan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Nutrien

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Nutrien HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Nutrien Konsumsi pakan merupakan faktor penting untuk menentukan kebutuhan hidup pokok dan produksi karena dengan mengetahui tingkat konsumsi pakan maka dapat ditentukan kadar

Lebih terperinci

MATERI DAN METODE. Materi

MATERI DAN METODE. Materi MATERI DAN METODE Lokasi dan Waktu Pelaksanaan penelitian mulai bulan Februari 2012 sampai dengan bulan April 2012. Pembuatan pakan dilaksanakan di CV. Indofeed. Analisis Laboratorium dilakukan di Laboratorium

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal

TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal TINJAUAN PUSTAKA Domba Lokal Ternak domba termasuk dalam phylum Chordata, kelas Mammalia, ordo Artiodactyla, subfamili Cuprinae, famili Bovidae, genus Ovis, dan spesies Ovis aries. Domba adalah ternak

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Devendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa kambing menyukai pakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Devendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa kambing menyukai pakan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pakan Ternak Devendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa kambing menyukai pakan beragam dan tidak bisa tumbuh dengan baik bila terus diberi pakan yang sama dalam jangka waktu yang

Lebih terperinci

Efektifitas Berbagai Probiotik Kemasan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Burung Puyuh (Coturnix coturnix japonica)

Efektifitas Berbagai Probiotik Kemasan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Burung Puyuh (Coturnix coturnix japonica) Efektifitas Berbagai Probiotik Kemasan Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Burung Puyuh (Coturnix coturnix japonica) Effectiveness of Various Probiotics Product on the Growth and Production of Quail (Coturnix

Lebih terperinci

TEPUNG UBI JALAR SEBAGAI SUMBER ENERGI PAKAN DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS KARKAS AYAM PEDAGING

TEPUNG UBI JALAR SEBAGAI SUMBER ENERGI PAKAN DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS KARKAS AYAM PEDAGING 115 Buana Sains Vol 10 No 2: 115-120, 2010 TEPUNG UBI JALAR SEBAGAI SUMBER ENERGI PAKAN DALAM UPAYA PENINGKATAN KUALITAS KARKAS AYAM PEDAGING Nonok Supartini dan Sumarno PS. Produksi Ternak, Fak. IPSA,

Lebih terperinci

RESPON PENGGANTIAN PAKAN STARTER KE FINISHER TERHADAP KINERJA PRODUKSI DAN PERSENTASE KARKAS PADA TIKTOK. Muharlien

RESPON PENGGANTIAN PAKAN STARTER KE FINISHER TERHADAP KINERJA PRODUKSI DAN PERSENTASE KARKAS PADA TIKTOK. Muharlien RESPON PENGGANTIAN PAKAN STARTER KE FINISHER TERHADAP KINERJA PRODUKSI DAN PERSENTASE KARKAS PADA TIKTOK Muharlien Produksi Ternak Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya, Malang. Abstrak Tujuan penelitian

Lebih terperinci

PEMANFAATAN CASSAPRO (SINGKONG FERMENTASI) DALAM RANSUM AYAM KAMPUNG PERIODE STARTER

PEMANFAATAN CASSAPRO (SINGKONG FERMENTASI) DALAM RANSUM AYAM KAMPUNG PERIODE STARTER Seminar Nasional Peternakan dan Yeteriner2000 PEMANFAATAN CASSAPRO (SINGKONG FERMENTASI) DALAM RANSUM AYAM KAMPUNG PERIODE STARTER Kata kunci : Penampilan, ayam kampung, cassapro HusmAwI dan MIRNAmi Fakullas

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengararuh pemberian ransum dengan suplementasi

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian tentang pengararuh pemberian ransum dengan suplementasi BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Jenis dan Rancangan Percobaan Penelitian tentang pengararuh pemberian ransum dengan suplementasi tepung ceker ayam terhadap kadar kolesterol dan Asam lemak pada kuning telur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengandung protein dan zat-zat lainnya seperti lemak, mineral, vitamin yang

BAB I PENDAHULUAN. mengandung protein dan zat-zat lainnya seperti lemak, mineral, vitamin yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Daging ayam merupakan salah satu daging yang memegang peranan cukup penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, karena banyak mengandung protein dan zat-zat

Lebih terperinci

Pemanfaatan Kulit Nanas Sebagai Pakan Ternak oleh Nurdin Batjo (Mahasiswa Pascasarjana Unhas)

Pemanfaatan Kulit Nanas Sebagai Pakan Ternak oleh Nurdin Batjo (Mahasiswa Pascasarjana Unhas) Pemanfaatan Kulit Nanas Sebagai Pakan Ternak oleh Nurdin Batjo (Mahasiswa Pascasarjana Unhas) PENDAHULUAN Sebagaimana kita ketahui, di negara Indonesia banyak ditumbuhi pohon nanas yang tersebar di berbagai

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu jenis tanaman pangan bijibijian

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu jenis tanaman pangan bijibijian I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu jenis tanaman pangan bijibijian dari keluarga rumput-rumputan. Jagung merupakan tanaman serealia yang menjadi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Performa adalah pengukuran yang dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan selama penelitian. Performa ayam petelur selama penelitian disajikan dalam Tabel 6. Tabel 6. Rataan Performa

Lebih terperinci

TASAR. Mempelajari Mutu Protein Beras Semi Instan yang Diperkaya Isolat Protein Kedelai. Di bawah bimbingan Hadi Riyadi dan Rizal Damanik.

TASAR. Mempelajari Mutu Protein Beras Semi Instan yang Diperkaya Isolat Protein Kedelai. Di bawah bimbingan Hadi Riyadi dan Rizal Damanik. TASAR. Mempelajari Mutu Protein Beras Semi Instan yang Diperkaya Isolat Protein Kedelai. Di bawah bimbingan Hadi Riyadi dan Rizal Damanik. Makanan pendamping Air Susu Ibu (ASI) adalah makanan yang diberikan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. perbaikan kualitas sumberdaya manusia. Untuk mendukung pengadaan ikan

1. PENDAHULUAN. perbaikan kualitas sumberdaya manusia. Untuk mendukung pengadaan ikan 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Ikan merupakan salah satu sumber pangan yang bergizi. Selain sebagai sumber protein juga sebagai sumber asam lemak esensial yang menunjang perbaikan kualitas sumberdaya

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi oleh suatu kelompok sosial

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi oleh suatu kelompok sosial BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Konsumsi Pangan Kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi oleh suatu kelompok sosial budaya dipengaruhi banyak hal yang saling kait mengait, di samping untuk memenuhi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Minat masyarakat yang tinggi terhadap produk hewani terutama, daging kambing,

I. PENDAHULUAN. Minat masyarakat yang tinggi terhadap produk hewani terutama, daging kambing, 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Minat masyarakat yang tinggi terhadap produk hewani terutama, daging kambing, menyebabkan ketersediaan produk hewani yang harus ditingkatkan baik dari segi

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum. Rataan konsumsi ransum setiap ekor ayam kampung dari masing-masing

HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum. Rataan konsumsi ransum setiap ekor ayam kampung dari masing-masing 37 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Pengaruh Perlakuan terhadap Konsumsi Ransum Rataan konsumsi ransum setiap ekor ayam kampung dari masing-masing perlakuan selama penelitian disajikan pada Tabel 6. Tabel

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN Analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak

BAB III METODE PENELITIAN Analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Nutrisi dan Makanan Ternak BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di kandang peternakan ayam broiler Desa Ploso Kecamatan Selopuro Kabupaten Blitar pada bulan Februari sampai Mei 2014.

Lebih terperinci

PENGARUH KANDUNGAN DEDAK PADI DAN LEVEL ENERGI PAKAN TERHADAP PENAMPILAN AYAM KAMPUNG SINGLE COMB

PENGARUH KANDUNGAN DEDAK PADI DAN LEVEL ENERGI PAKAN TERHADAP PENAMPILAN AYAM KAMPUNG SINGLE COMB Agros Vol.17 No.1, Januari 2015: 64-70 ISSN 1411-0172 PENGARUH KANDUNGAN DEDAK PADI DAN LEVEL ENERGI PAKAN TERHADAP PENAMPILAN AYAM KAMPUNG SINGLE COMB RICE BRAN AND DIET ENERGY LEVEL EFFECT ON SINGLE-COMB

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kuning melalui proses fermentasi jamur yaitu Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer, atau Rhizopus oligosporus. Tempe dikenal sebagai

BAB I PENDAHULUAN. kuning melalui proses fermentasi jamur yaitu Rhizopus oryzae, Rhizopus stolonifer, atau Rhizopus oligosporus. Tempe dikenal sebagai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia mempunyai beranekaragam biji-bijian kacang polong yang dapat dimanfaatkan untuk pembuatan tempe seperti kacang merah, kacang hijau, kacang tanah, biji kecipir,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. memadai, ditambah dengan diberlakukannya pasar bebas. Membanjirnya susu

PENDAHULUAN. memadai, ditambah dengan diberlakukannya pasar bebas. Membanjirnya susu I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sapi perah mempunyai potensi yang sangat besar untuk dikembangkan di Indonesia, dikarenakan kebutuhan akan susu domestik dari tahun ke tahun terus meningkat seiring dengan

Lebih terperinci