Pendahuluan. Kultur akar merupakan suatu bentuk kultur jaringan akar yang hidup dan

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pendahuluan. Kultur akar merupakan suatu bentuk kultur jaringan akar yang hidup dan"

Transkripsi

1 KULTUR AKAR TRANSGENIK Trichosanthes cucumerha L. SERTA PENGARUH DENSITAS EKSPLAN AWAL, UMUR PANEN DAN KASEIN HIDROLISAT TERHADAP PRODUKSI BIOMASSA DAN PROTEIN TOTAL AKAR TRANSGENIK Abstrak Penelitian dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian IPB. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan kultur akar transgenik (akar berambut) yang tumbuh stabil dalam media tanpa penarnbahan zat pengatur tumbuh dari kecambah Trichosanthes cucumerina L. dengan bantuan Agrobacterium rhizogenes 9457, mempelajari pengaruh densitas eksplan awal, umur panen serta kasein hldrolisat terhadap produksi biomassa dan hasil protein total dari akar transgenik. Penelitian tediri dari tiga tahap yaitu inisiasi kultur akar berambut, uji pengaruh densitas eksplan dan umur panen terhadap produksi biomassa dan hasil protein total dari akar berambut, dan uji pengaruh penarnbahan kasein hidrolisat terhadap produksi biomassa dan hasil protein total dari akar berambut. Hasil infeksi kecambah in vitro dengan A. rhizogenes menunjukkan sebanyak 42 kecambah dari selutar 108 kecambah yang diinfeksi menghasilkan akar pada lokasi infeksi. Namun setelah melalui tahap penapisan dalarn media Murashige-Skoog tanpa zat pengatur tumbuh (MS-0), hanya dihasilkan satu galur akar berarnbut yang tumbuh stabil dalam media tersebut. Galur akar berambut tersebut tumbuh stabil dalam jurnlah sub kultur yang ti& terbatas dalam media MS-0 dan menunjukkan indikasi yang kuat sebagai akar transgenik. Kesulitan mengeliminasi sisa-sisa Agrobacterium dari media kultur menyebabkan galur akar berambut yang dihasilkan sangat terbatas. Galur akar berambut yang tumbuh stabil digunakan dalam uji pengaruh densitas eksplan awal, umur panen dan kasein hidrolisat. Densitas eksplan awal3, 5, 7 dan 9 akar per botol dikombinasikan dengan umur panen 4, 8 dan 12 HST. Biomassa yang dihasilkan pada semua perlakuan densitas eksplan awal pada 12 HST, berbeda nyata antara eksplan awal3 dengan yang lainnya. Sebaliknya hasil protein total cenderung menurun dengan meningkatnya umur panen pada setiap densitas eksplan awal. Perbedaan densitas eksplan mempengaruhi pola perturnbuhan karena pada densitas eksplan 7 dan 9 akar berarnbut cenderung lebih cepat memasuki fase stasioner. Kadar protein total menurun dengan meningkatnya umur kultur sedangkan hasil protein total tergantung pada waktu panen. Kasein hidrolisat tidak berpengaruh nyata terhadap produksi bomassa, namun cenderung menekan produksi biomassa dibanding kontrol. Kadar protein total dapat ditingkatkan pada konsentrasi kasein hldrolisat 50 mgll. Peningkatan kasein hidrolisat menjadi 100 mg/l menglaasilkan kadar protein yang sama dengan kasein hidrolisat 50 mgll. Peningkatan menjadi 150 mga menyebabkan penurunan kadar protein total. Hasil protein total tertinggi dihasilkan pada media tanpa kasein hidrolisat.

2 Pendahuluan Kultur akar merupakan suatu bentuk kultur jaringan akar yang hidup dan berdiferensiasi secara terorganisir membentuk biomassa akar tanpa kehadran tipe organ lain dari tanaman seperti batang, daun ataupun bunga. Terdapat dua tipe kultur akar yaitu kultur akar non transgenik dan kultur akar transgenik. Kultur akar non transgenik diperoleh dengan memotong ujung akar tanaman di lapangan lalu disterilkan maupun akar kecambah tanarnan in vitro lalu ditanam dalam media kultur jaringan (Payne et al. 1992). Kultur akar transgenik merupakan kultur akar yang dihasilkan dengan menginfeksi tanaman dengan Agrobacterium rhizogenes. Infeksi tanaman dengan Agrobacterium rhizogenes akan mengakibatkan ditransfernya T-DNA dari Ri (Root inducing) plasmid ke genom tanaman yang menyebabkan induksi proliferasi akar transgenik yang juga disebut akar berambut (Payne et al., 1992). Akar berambut mempunyai ciri percabangan lateral yang ekstensif dan tidak dipenganh geotropisme. Percabangan yang ekstensif tersebut menghasilkan banyak meristem sehingga memungkinkan pertumbuhan biamassa yang cepat dibandingkan akar tanaman normal. Sifat penting lainnya dari akar berambut adalah kemampuannya untuk tumbuh stabil dalam media kultur in vitro walaupun tanpa penambahan zat pengatur tumbuh. Pada kultur akar bukan transgenik, pemantapan dan pemeliharaannya memerlukan tambahan auksin yang dapat menekan produktivitasnya dalam menghasilkan metabolit sekunder. Kultur akar berambut cenderung lebih stabil dibandingkan kultur kalus dan suspensi sel dan merupakan alternatif yang lebih

3 baik dibandingkan ekstraksi protein langsung dari tanaman in vivo maupun Mtur kalus dan suspensi sel (Toppi et al. 1996). Induksi akar berambut dengan bantuan Agrobacterium rhizogenes telah berhasil dilakukan pada beberapa spesies Cucurbitaceae. Diantaranya adalah Lufla cylrndrica L. ( Toppi, 1996; Turnilisar 2001), Cucurbita pep0 L. (Toppi, 1997), dan Trichosanthes spp.(savary dan Flores, 1994). Akar berambut pada beberapa spesies Cucurbitaceae tersebut digunakan mtuk mempelajari identitas protein aktif yang ada pada akar tanaman. Protein aktif dari berbagai tanaman dilaporkan bermanfaat bagi tamman penghasilnya sebagai suatu mekanisme ketahanan terhadap serangan patogen maupun cekarnan abiotik. Protein aktif tersebut dapat berupa enzim, defensin, antimicrobial peptide, maupun Ribosome Inactivating Proteins (RIP). Kultur akar berambut dari Trichosanthes sp. dilaporkan menghasilkan trichosantin dan chtinase yang menunjukkan aktivitas anticendawan dalam uji in vitro. Vivanco et al. (1997) menyatakan bahwa protein aktif berupa Ribosome In-activating Protein (RIPS) beptensi besar untuk dimanfmtkan dalam bidang pertanian. Pendapat ini didukung oleh adanya peningkatan ketahanan terhadap cendawan pada tanaman tembakau transgenik yang mengekspresikan RIP dari biji barley (Logeman et al. 1992). Efisiensi penggunaan kultur akar berambut untuk produksi metabolit sekunder sangat tergantung pada kemampuan produksi biomassa dan kadar senyawa target dari akar berambut. Dua ha1 tersebut kadang-kadang tidak terjadi secara bersamaan. Produksi biomassa yang tinggi belwn tentu diiringi oleh kadar senyawa target yang tinggi. Usaha mengoptimalkan produksi biomassa maupun

4 kadar senyawa target kadang-kadang perlu dilakukan. Perbaikan produktivitas biomassa dapat dilakukan dengan penapisan dan seleksi galur akar berambut, optimasi komposisi media dan induksi produksi senyawa yang diinginkan dengan perlakuan elisitasi (Fu, 1999). Densitas eksplan awal merupakan faktor penting yang berpengaruh terhadap kapasitas produksi biomassa akar berambut per satuan waktu tertentu. Laju proliferasi jaringan dalam kultur juga dipengaruhi oleh rasio eksplan dengan medium, rasio eksplan dengan udara, volume botol kultur, dan tipe penutup botol kultur, disamping faktor-faktor utama seperti nutrisi media (McClelland dan Smith, 1990) Optimasi komposisi media dapat dilakukan antara lain dengan penambahan senyawa organik maupun anorganik. Penarnbahan berbagai bentuk senyawa yang mengandung nitrogen fteroksidasi atau tereduksi, organik ataupun anorganik) diketahui dapat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan diferensiasi eksplan yang ditanam secara m vitro (Narayanaswarny, 1994). Kasein hidrolisat merupakan senyawa organik kompleks yang mengandung berbagai asam amino. Asam amino berfimgsi sebagai sumber N dan berpengaruh terhadap aktivitas nitrat reduktase, pertumbuhan kultur, serta biosintesis produk sekunder. Berbagai senyawa organik sumber N juga mempunyai pengaruh yang kompleks dan kemunglunan berkaitan dengan peranannya sebagai sumber karbon, prekursor produk clan molekul regulator (Cresswell et al. 1989). Percobaan yang dilakukan bertujuan untuk untuk mengnduksi akar berarnbut pada hipokotil kecambah paria belut (Trichosanthes cucumerina L.)

5 dengan bantuan Agrobacterium rhizogenes strain 9457, menyeleksi galur akar berambut yang hunbuh stabil dalarn media tanpa zat pengatur tumbuh dan mengevaluasi pengaruh densitas eksplan dan waktu panen serta penambahan kasein hidrolisat terhadap produksi biomassa, k& protein dan hasil total protein dari akar berambut. Bahan dan Metode Percobaan Percobaan dilakukan dalam tiga tahap, yaitu inisiasi kultur akar berambut, uji pengaruh densitas eksplan dan waktu panen, dan uji pengaruh penambahan kasein hidrolisat terhadap produksi biomassa, kadar protein dan hasil protein total dari akar berambut Trichosanthes cucumerina L. Eksplan dan Media Tanam Eksplan awal berupa benih tanaman Trichosanthes cucumerina L. yang diperoleh dari daerah Weleri, Jawa Tengah, dicuci bersih dan dibuang kulit bijinya. Kemudian benih direndarn dalam bakterisida Agrep dan kgisida Dithane selama 24 jam untuk mengurangi kontaminasi cendawan. Selanjutnya benih disterilkan dengan larutan sodium hipoklorit (Baycline 20%, 15% dan 10%) berturut-turut selama 20, 15 dan 10 menit, dibilas dengan air steril lalu Qtanarn dalarn media dasar Murashige-Skoog (MS) yang dtambah gula (30 g/l) dan agar (7 gll). Setelah benih berkecambah, pada umur 2 minggu setelah perkecambahan bagian hipokotil diinfeksi dengan Agrobacterium rhizogenes. Inisiasi Kultur dan Penapisan Galur Akar Berambut Agrobacterium rhizogenes strain 9457 disegarkan dalam media Yeast Manitol Broth (YMB) padat dengan komposisi yeast extract ( 0.4 gll), mannitol

6 (10 gh), NaCl (0.1 gh), MgS04. 7 H20 (0.2 g/l) dan KH2P04 (0.5 gll), dan agar (7 ga). ph media diatur sehingga mencapai 7.0 sebelum diautoklaf pada suhu 121 OC, tekanan 1.5 psi selama 20 menit. Koloni berumur 3 hari digunakan untuk menginokulasi hipokotil kecambah in vitro yang berumur 2 minggu. Infeksi dilakukan dengan melukai bagian hipokotil kecambah dengan jarum preparat yang telah dicelupkan ke koloni Agrobacterium rhizogenes Pertumbuhan dan perkembangan kecambah yang diinokulasi dengan Agrobacterium diamati selama 3 minggu setelah inokulasi. Akar berambut yang muncul dipindahkan ke media MS tanpa ZPT (MS-0) padat dengan penambahan antibiotika cefotaxime (250 mg). Akar disubkultur ke media yang masih segar sampai 4-5 kali dan dievaluasi pertumbuhannya. Akar yang dapat turnbuh baik &lam MS-0 padat selanjutnya ditanam dalam media MS-0 cair dan diinkubasikan dalam ruangan dengan suhu 2527 C dengan cahaya terang dan dikocok dengan kecepatan 100 rpm pada rotary shaker. Pemeliharaan Kuitur Akar berambut Pemeliharaan kultur akar berambut dilakukan untuk menyediakan sumber eksplan bagi beberapa percobaan yang akan dilakukan. Media tanam untuk pemeliharaan kultwr akar berambut adalah media MS-0, terdiri dari garam-gararn yang mengandung hara makro, hara mikro, dan ditarnbah vitamin serta bahan organik dengan komposisi seperti yang dikembangkan oleh Murashige clan Skoog (1962). Karbohidrat diberikan dalam bentuk gula sebanyak 30 g/l. Media dalarn bentuk cair dm ph media diatur sehingga mencapai 5.8 dengan menggunakan KOH (1 N) atau HCl (IN) sebelum diautoklaf pa& suhu 121 C, tekanan 1.5 psi selama 20 menit.

7 Kultur akar berambut dipelihara dalam media MS-0 seperti tersebut diatas dengan mensubkultur ujung-ujung akar berambut setiap hari sekali. Kultur akar berambut diinkubasi dalam ruangan dengan suhu 25-27OC dengan cahaya terang dan dikocok dengan kecepatan 100 rpm pada rotary shaker. Uji Pengaruh Densitas Eksplan Awal dan Umur Panen. Akar berambut yang tumbuh stabil selama kali sub kultur dalam media pemeliharaan MS-0 digunakan dalarn percobaan ini. Eksplan ujung akar sepanjang cm ditanam dalam 25 ml media MS-0 dan dievaluasi perkembangannya. Dalam percobaan ini dievaluasi pengaruh berbagai densitas eksplan (3, 5, 7 dan 9 eksplan awal) dan umur panen 4, 8 dan 12 hari sesudah tanam (HST) terhadap produksi biomassa dan protein total yang dipanen. Setiap kombinasi perlakuan dalam percobaan ini diulang 4 kali dan tiap ulangan terdiri dan satu botol. Kultur diinkubasikan pada gyratory shaker inkubator dengan cahaya rendah dan dikocok dengan kecepatan 100 rprn. Pengamatan dilakukan terhadap bobot segar, bobot kering akur berambut setelah dikeringdinginkan dengan fieeze dryer dan kadar protein total akar berambut yang dilakukan pada masing-masing umur panen. Hasil protein total dihitung berdasarkan perkallan bobot kering akar berambut dengan kadar protein total. Uji Pengaruh Kasein Hidrolisat Dalam percobaan ini, diuji pertumbuhan dan perkembangan akar berambut dalam media MS-0 dengan penambahan kasein hidrolisat. Eksplan ujung akar (1-1.5 cm, 3 eksplanhtol) ditanam dalarn 25 ml media MS-0 dengan penambahan

8 berbagai konsentrasi casein hydrolisate (0,50, 100 an 150 mg/l). Setiap perlakuan diulang 12 kali dengan satu botol sebagai satu ulangan. Kultur diinkubasikan pada gyratory shaker inkubator dengan cahaya rendah clan dikocok dengan kecepatan 100 rpm. Ekstraksi Protein dan Pengukuran Kadar Protein Total Protein diekstmk dari akar berambut dengan menggerus contoh yang dianalisis (0.2 g bobot kering) dalam 10 ml buffer fosfat (NaH2P04 10 mm, Na2HP04 15 mm, KC1 100 mm, Na2EDTA 2 mm dan PVP 0.75%, ph 7.5) dingin dan disentrifugasi dengan kecepatan 8000 rpm selama 15 menit. Supernatan di ambil dan ke dalam endapan ditambahkan kernbali 10 rnl buffer fosfat dan disentrifugasi kembali pada suhu 4 C dengan kecepatan 8000 rpm selama 15 menit.. Supernatan yang didapat digabungkan dan ditera hingga 25 ml dengan penambahan buffer fosfat. Total protein terlarut dalam gabungan supernatan yang didapat ditentukan dengan metode Bradford (1976). Kadar protein total dan hasil protein total yang didapat dilutung berdasarkan bobot kering total biomassa dari contoh yang dianalisis. Pegamatan dan Analisis Data Pengamatan dilakukan terhadap bobot segar, bobot kering hairy root setelah dikeringdinman dan kadar protein total hairy root yang dipanen pada 12 HST. Hasil protein total dihitung berdasarkan perkalian bobot kering akar berambut dengan kadar protein total. Data hasil percobaan dianalisis sidik ragam dengan selang kepercayaan 95%. Jika perlakuan berpengaruh nyata dilakukan analisis lanjut dengan Duncan Multiple Range Test (DMRT).

9 Hasil Inisiasi Kultur Akar Berambut Kecambah yang diinokulasi dengan Agrobacterium rhizogenes LBA 9457 menunjukkan gejala pembengkakan seperti membentuk kalus pada bagian yang diinfeksi pada 4-7 hari setelah infeksi (HSI). Respon pembentukan tumor pada jaringan kecambah berkisar antara 47% pada 7 HSI sarnpai dengan 56% pada 21 HSI (Lampiran Tabel 1). Akar berambut biasanya terbentuk pada jaringan kalus yang berkembang pada bagian kecambah yang diinokulasi dengan Agrobacterium, meshpun ada yang berkembang pada jaringan tanpa pembentukan kalus. Morfologg akar rambut yang terbentuk bervariasi dar~ antara tebal, kaku dan pendek atau langsing dan memanjang (Gambar 2). Akar rambut juga berkembang dari bagian kecambah yang tidak diinokulasi dengan Agrobacterium, yang biasanya mempunyai morfologi akar rambut yang lebih kecil dan halus. Contoh akar rambut yang diisolasi darr man yang tidak diinfeksi biasanya tidak berhasil tumbuh dalam media MS-0 padat dengan cefotaxime (250 mg/l) yang mengindikasikan akar tersebut bukan akar transgenik yang dicari. Sebaliknya akar yang muncul dari jaringan kalus biasanya mampu tumbuh dalam media MS-0 dengan cefotaxime (250 mg/l). Kesulitan dalam mematikan Agrobacterrum dalam kultur akar menyebabkan keberhasilan mendapatkan kultur akar rambut transgenik menjadi rendah. Pada akhir tahapan percobaan ini hanya didapat satu klon galur akar berambut yang mampu tumbuh cepat secara terus menerus &lam media MS-0.

10 Gambar 2. Akar adventif yang muncul di lokasi infeksi dengan Agrobacterium rhizogenes. A. Akar adventif dengan morfologi yang lebih tebal dan gemuk, B. Akar adventif dengan morfologi yang lebih halus dan langsing. C. Akar berambut yang telah tumbuh stabil dalam media MS 0 + 3% sukrosa tanpa ZPT dengan kondisi cahaya terang terus menerus. D. Akar berambut yang telah tumbuh stabil dalam media MS 0 + 3% sulcrosa tanpa ZPT dengan kondisi cahaya rendah.

11 Kondisi lingkungan terutama cahaya cenderung berpengaruh terhadap morfologi akar berambut dalam satu galur. Hal tersebut ditemukan secara tidak sengaja ketika akar berambut diinkubasi &lam kondisi cahaya yang relatif berbeda. Ketika akar berarnbut diinkubasi &lam ruangan dengan cahaya terang terus-menerus, morfologi akar berambut menunjukkan percabangan yang intensif, pendek-pendek, tebal dan kaku, dan berwarna kehijauan. Sebaliknya ketika diinkubasi dalam shaker incubator dengan cahaya rendah, akar berambut tersebut mempunyai percabangan yang intensif yang cenderung tumbuh memanjang dan berwarna putih (Gambar 2). Pengaruh Densitas Eksplan Awal dan Umur Panen Dalam percobaan ini, akar berambut mulai berkembang 4 hari setelah tanam yang ditandai dengan terjadinya pemanjangan akar sekunder. Pada umur 8 hari akar sekunder makin memanjang dan membentuk percabangan tertier dan akar hampir memenuhi seluruh ruangan media. Pada 12 hari setelah tanam akar berambut telah memenuhi seluruh ruangan media. Hasil analisis data menunjukkan densitas eksplan awal atau umur panen berpengaruh nyata terhadap berbagai peubah yang diamati. Sedangkan persentase bahan kering hanya dipengardu oleh umur kultur. Rata-rata bobot segar akar berambut nyata meningkat dengan meningkatnya densitas eksplan awal ataupun umur panen. Penggunaan 3 eksplan awal nyata memberikan bobot segar lebih rendah dibanding 7 atau 9 eksplan awal namun tidak berbeda nyata dengan bobot segar pada 5 eksplan awd. Bobot segar

12 secara nyata meningkat antara waktu panen 4,8 dan 12 HST seperti terlihat pada Tabel 1. Persentase bahan kering tidak dipengaruhi oleh densitas eksplan awal, tetapi hanya dipengaruhi oleh umur panen. Umur panen 12 hari nyata mempunyai persentase bahan kering lebih tinggi dibandingkan umur panen 4 dan 8 HST (Tabel 1). Tabel 1. Bobot segar akar rambut (g) dan persentase bahan kering (%) pada beberapa densitas eksplan awal dan umur panen Densitas Eksplan Awal fuiuna akarlbotol) 4 Umur Panen (HST) 8 I 12 Rata-rata Rata-Rata 0,61* (7.0)" 0,72 (6.5) 0,88 (6.6) 1,33 (6.1) 2,46 (6.0) 3,s (7.1) 4,64 (7.0) 4,11 (7.2) 0,88 c (6.6B) 3,77 b (6.88) 4,69 a (7.8A) Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (DMRT). * Bobot segar **Persentase Bahan Kering Pengaruh umur panen terhadap hasil bobot kering biomassa akar berambut tergantung densitas eksplan awal yang digunakan. Pada penggunaan 3 eksplan awal per botol, bobot kering biomassa nyata meningkat pada umur panen 4 sampai dengan 12 HST. Sebaliknya pada penggunaan 5, 7 atau 9 eksplan awal per botol, umur panen 8 dan 12 HST nyata menghasilkan bobot kering biomassa lebih tinggi (Tabel 2). 4,20 (8.3) 4,39(8.1) 5,11 (7.7) 5,07(7.1) 2,42 B (7.1) 2,99AB(7.2) 3,54A (7.1) 3,51A (6.8) Tabel 2. Bobot kering akar rambut (g) pada beberapa densitas eksplan awal dan umur panen Densitas Eksplan Awal (ujung akarlw) ,04cA 0,05 b A 0,06 b A Umur Panen (HST) 8 0,14bB 0,27 a A 0,32 a A 12 0,34aA 0,35 a A 0,38 a A 0,08 b A 0,30 a A 0,35 a A Ket : Angka yang diikuti oleh huruf kecil pada baris yang sama atau huruf besar kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (DMRT).

13 Sebaliknya, pengaruh jumlah eksplan awal terhadap bobot kering biornassa akar berambut tergantung pada umur panen yang dilakukan. Pada umur panen 4 HST, jumlah eksplan awal yang digunakan tidak berpengaruh nyata dan biornassa kering masih relatif rendah. Dernikian pula pada umur panen 12 HST, jumlah eksplan awd tidak berpengaruh nyata, tetapi biomassa yang didapat relatif tinggi. Pada umur panen 8 HST, penggunaan 3 eksplan per botol nyata menghasilkan total biomassa kering yang lebih rendah dibandingkan jumlah eksplan yang lainnya (Tabel 2). Tabel 3. Kadar protein total (mg/g BK) dan hasil protein total (mg) dari akar berambut pada beberapa densitas eksplan awal clan umur Panen Densitas Eksplan Awal (ujung akarlbotol) ,9 a A* (7,9) " 163,4 a A (8,7) 166,2 a A (8,9) 169,O a A (1 5,2) Umur Panen (HST) 8 173,l aa (3416) 148,4 b B (362) 147,3 b B (41 $2) 143,4 b B (39,5) ,7 b B (48,6) 128,5 c B (392) 128,7 c B (45,7) 143,4 b A (47,4) Rata-rata Rata-Rata 10.2 c 37.9 b 45.2 a Kn : Angka yang diikuti olk huruf kecil pads baris ya*g sama ahu humf besar kilom yang sama ' tidak berbeda nyata pada taraf 5% uii DMRT (Duncan Multivle Range Test). 27,2 25,3 28,6 31,3 Kadar protein total yang diisolasi dan akar rarnbut dipengaruhi oleh interaksi antara densitas eksplan awal yang digunakan dan umur panen. Pada penggunaan 3 eksplan awal per botol, kadar protein total nyata menurun pada umur panen 12 HST. Pada penggunaan eksplan awal 5,7 dan 9 per botol, kadar proteinnya telah nyata menurun pada urnur panen 8 HST (Tabel 3). Pada umur panen 4 HST, jumlah eksplan awal tidak berpengaruh nyata terhadap kadar protein total. Pada umur panen 8 HST, penggunaan 3 eksplan awal

14 memberikan kadar protein total tertinggi. Sebaliknya pada umur panen 12 HST, kadar protein total tertinggi didapat ketika penggunaan 9 eksplan awal per botol. Hasil protein total hanya dipengaruhi oleh umur panen. Meningkatnya umur panen nyata meningkatkan hasil protein total yang didapat dan rata-rata hasil protein total tertinggi diperoleh pada umur panen 12 HST (Tabel 3). Morfologi akar berambut pada berbagai densitas eksplan awal dan urnur panen seperti terlihat pada Gambar 3, 4 dan 5. Setiap eksplan mempunyai kecepatan pertumbuhan dan perkembangan yang relatif sama seperti terlihat pada Gambar 3. Tetapi pada penggunaan 7 dan 9 eksplan awal per botol, biomassa akar telah memenuhi rung media pada 8 HST, sebaliknya pada penggunaan 3 dan 5 eksplan awal per botol, biomassa akar baru memenuhi ruang media pada 12 HST. Pengaruh Kasein Hidrolisat Penarnbahan berbagai konsentrasi kasein hidrolisat tidak berpengaruh nyata terhadap rata-rata bobot segar, bobot kering, dan persen bahan kering akar rambut yang dihasilkan. Rata-rata bobot segar, bobot kering dan persentase bahan kering yang dihasilkan disajikan pada Tabel 4. Morfologi akar berambut pada berbagai konsentrasi kasein hidrolisat terlihat pada Gambar 6. Tabel 4. Bobot segar, bobot kering dan persentase bobot kering akar berarnbut pada berbagai konsentrasi kasein hidrolisat Kasein hidrolisat (mgll) Bobot Segar (9) Bobot Kering (9) Persen Bahan Kering ( % ) ,40 3,58 3,50 0,32 0,27 0,26 7,5 7,6 7,7 3,05 0, Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama t nyata pada taraf uji 5% (DMRT) dak berbeda

15 Tabel 5. Kadar protein total dan hasil protein total dari berambut pada beberapa konsentrasi kasein hidrolisat Kasein hidrolisat (mg/l) Kadar Protein (mg/g BK) Hasil Protein Total (mg) ,3 b 134,5 a 133,l a 42,4 a 30,6 b 33,8 b 116,8 c 29.0 b Ket : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5% (DMRT) Kadar protein total nyata dipengaruhi oleh penambahan berbagai konsentrasi kasein hdrolisat Penambahan kasein hidrolisat sampai dengan 100 mg/l nyata meningkatkan kadar protein total yang diisolasi dari akar berambut. (Tabel 5). Pada penambahan kasein hdrolisat 150 mgll, kadar protein justru nyata lebih rendah dibanding kontrol. Hasil protein total nyata dipengaruhi penambahan kasein hidrolisat. Hasil protein total cenderung menurun dengan penambahan kasein hidrolisat. Hasil protein total tertinggi dihasilkan pada kontrol dan berbeda nyata dengan yang dihasilkan pada penarnbahan kasein hidrolisat 50, 100, maupun 150 mg/l (Tabel

16 Gambar 3. Morfologi akar berambut pada berbagai densitas eksplan awal pada urnur kultur 4 HST : A. 3 eksplan awal per botol, B.5 eksplan awal per botol, C. 7 eksplan awal per botol, dan D. 9 eksplan awal per botol.

17 Gambar 4. Morfologi akar berambut pada berbagai densitas eksplan awal pada umur kultur 8 HST: A.3 eksplan awal per botol, B. 5 eksplan awal per botol), C. 7 eksplan awal per botol dan D. 9 eksplan awal per botol.

18 Gambar 5. Morfologi akar berambut pada berbagai densitas eksplan awal pada umur kultur 12 HST: A.3 eksplan awal per botol), B. 5 eksplan awal per botol), C. 7 eksplan awal per botol, dan D. 9 eksplan awal per botol.

19 Gambar6. Morfologi akar berambut hasil perlakuan kasein hidrolisat: A. kasein hidrolisat 0 mfl, B. kasein hidrolisat 50 mfl, C. kasein hidrolisat 100 mfl), D. kasein hidrolisat 150 mfl, Umur Kultur 12 HST

20 Pem bahasan Akar transgenik (akar berambut) dapat terbentuk sebagai ahbat integrasi T-DNA dari Ri-plasmid pada Agrobacterium rhizogenes ke dalam genom sel tanaman. T-DNA tersebut mengandung gen yang fungsinya mernungkinkan terjadinya proliferasi akar adventif dari sel transgenik. Dalam percobaan ini gejala pembengkakan dalam bentuk turnorlgall telah terlihat pada 4-7 hari setelah infeksi dengan Agrobacterium. Pada beberapa spesies tanaman, akar akan muncul secara langsung pada tempat inokulasi bakteri, tetapi pada spesies tertentu mula-mula akan muncul kalus pada tempat inokulasi, selanjutnya dari kalus tersebut akan muncul akar. Dalam keadaan normal 1-4 minggu setelah inokulasi akan muncul akar (Ernawati, 1992) Efisiensi pembentukan akar berambut berdasarkan jumlah tanaman yang diinfeksi yang membentuk akar berambut pada lokasi infeksi yaitu sekitar 43%. Hasil tersebut terlihat masih rendah dibandingkan efisiensi transformasi pada LuHa cyllindrica L. Roem yang mencapai 80% (Toppi et al. 1996) dan pada Cucurbita pep0 L. yang mencapai 94% dengan bantuan A. rhizogenes 1855 (Toppi et al., 1997). Menurut Gelvin (2000), sejumlah tahapan dalam proses transformasi dapat membatasi transformasi pada tanaman tertentu. Tahapan tersebut meliputi sintesis fenolik oleh tanaman yang berperan dalam induksi gen vir, kolonisasi sel tanaman oleh Agrobacterium, transfer T-DNA ke dalam sitoplasma tanaman, translokasi T- DNA ke inti sel tanaman dan integrasi T-DNA. Terbatasnya jumlah galur akar berambut yang diperoleh yang turnbuh stabil dalam media MS-0, yaitu hanya satu galur dari sekitar 43 galur awal, lebih

21 banyak disebabkan sulitnya menghilangkan kontaminasi oleh Agrobacterium. Shackelford dan Chlan (1996) menyatakan bahwa kontaminasi karena Agrobacterium merupakan suatu masalah setelah proses transformasi. Agrobacterium dapat mengalami pertumbuhan yang berlebihan sehingga menghambat pertumbuhan jaringan atau akar hasil transformasi. Akar berambut yang tumbuh stabil dalam media tanpa penambahan zat pengatur tumbuh dalam jumlah sub kultur yang tidak terbatas merupakan indikasi yang kuat bahwa telah terjad transformasi pada sel tanaman. Akar berambut bersifat autotrof terhadap hormon karena ekspresi dari T-DNA yang telah terintegrasi dalarn sel tanaman. Hormon yang tinggi dalam sel tanaman yang memungkinkan sel berproliferasi dan berdiferensiasi secara cepat diduga karena adanya aksi dari berbagai roe gene pada T-DNA. Perbedaan morfologi akar berambut pada dua kondisi lingkungan dengan intensitas cahaya yang berbeda sebagaimana digambarkan pada bagian hasil, menunjukkan bahwa pada akar berambut yang ditempatkan dibawah cahaya terang terus-menerus, aktivitas auksin yang berperan dalam pemanjangan sel kemungkinan lebih rendah. Akibatnya pemanjangan akar relatif terhambat. Sedangkan akar berambut yang ditempatkan pada shaker dengan cahaya rendah, kemungkinan aktivitas auksin lebih tinggi dan akar berambut mengalami etiolasi sehingga pemanjangan tidak terhambat. Cahaya dapat menginduksi sel-sel untuk membentuk klorofil yang mengakibatkan warna kehjauan pada akar berambut. Hal ini juga dilaporkan oleh Savary dan Flores (1994) pada sebagian besar klon akar berambut dari

22 kelihatan berlangsung sampai 12 HST. Hal tersebut menunjukkan bahwa pada densitas eksplan awal yang lebih tinggi, fase stasioner lebih cepat hperoleh. Perbedaan densitas inokulum merupakan suatu faktor yang mempengaruhi produksi biomassa dan juga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai fase stasioner (Sikuli dan Demeyer, 1997). Berdasarkan bobot segar awal dari eksplan yaitu 3 eksplan awal(0.08 g), 5 eksplan awal(0.12 g), 7 eksplan awal(0.13 g) dan 9 eksplan awal(0.19 g), maka waktu penggandaan biomassa atau doubllng time dari akar berambut kurang dari 4 hari. Peningkatan biomassa segar akar berambut mencapai 6-7 kali bobot awal pada 4 HST, kali bobot awal pada 8 HST clan kali bobot awal pada 12 HST. Peningkatan biomassa segar tertinggi dihasilkan pada densitas eksplan awal yang paling rendah (3 eksplan awal). Hal tersebut kemungkinan disebabkan pada densitas eksplan yang lebih rendah, kompetisi sel atau jaringan dalam mendapatkan hara dan faktor pertumbuhan lainnya lebih rendah sehingga pertumbuhan &pat berlangsung cepat dalam jangka waktu yang lebih panjang. Persentase bahan kering meningkat dengan bertambahnya urnur kultur. Hal ini kemunglunan pa& umur kultur yang lebih lanjut, akar berambut telah mensintesis berbagai senyawa organik disamping bertambahnya biomassa sel, sehingga akumulasi bahan kering juga meningkat. Kadar protein total dari akar berambut cenderung menurun dengan meningkatnya umur kultur. Hal ini sejalan dengan tahap perkembangan sel dan jaringan, dimana pada awal pertumbuhan kultur, terjadi pembelahan sel secara aktif. Pembelahan sel yang cepat tersebut sejalan dengan peningkatan sintesis

23 protein primer yang memang diperlukan untuk untuk pertumbuhan dan perkembangan sel. Protein yang tinggi pada fase awal pertumbuhan tersebut kemungkinan bukan merupakan protein yang berhubungan dengan mekanisme ketahanan sel terhadap patogen, tetapi merupakan protein struktur untuk pembangun sel. Savary dan Flores (1994), menyatakan bahwa protein yang berhubungan dengan ketahanan pada Trichosanthes kirilowii var japonicum yaitu trichosanthin lebih banyak dihasilkan pada fase pertumbuhan sekunder dari akar. Pertumbuhan sekunder dari akar tanaman in vivo dicirikan oleh bentuk akar yang menyerupai umbi yang disebut storage root. Sedangkan pada akar berambut, pertumbuhan sekunder dari akar ditandai oleh morfologi akar berambut yang memendek, melebar dan bertambah gemuk weshy), kaku, dan densitas rarnbut akar yang rendah (Savary dan Flores, 1994). Hasil protein total meningkat dengan bertambahnya umur panen disebabkan adanya peningkatan biomassa. Walaupun kadar protein total dari akar berambut menurun dengan bertarnbahnya urnur panen tetapi karena biomassanya yang tingg, maka hasil protein total tetap lebih tinggi. Perbedaan densitas eksplan awal akan mempengaruhi pola pertumbuhan akar berambut. Pada densitas eksplan awal yang lebih tinggi, akar berambut akan lebih cepat mencapai fase stasioner. Senyawa metabolit sekunder maupun protein aktif pada tanaman diduga lebih banyak dihasilkan pada fase pertumbuhan stasioner. Karena itu dengan mempercepat tercapainya fase stasioner dan memelihara kultur akar berambut lebih lama pada fase tersebut kemungkinan dapat meningkatkan kadar protein aktifnya. Hal tersebut dapat dilakukan dengan

24 menggunakan densitas eksplan awal yang lebih tinggi. Meskipun demikian diperlukan identifikasi lebih lanjut tentang profil dan keberadaan protein aktif pada berbagai fase pertumbuhan. Hasil uji pengaruh kasein hidrolisat menunjukkan bahwa kasein hidrolisat tidak berpengaruh nyata terhadap produksi biomassa akar berambut dari T. cucumerina L. Namun terdapat kecenderungan penurunan biomassa segar maupun biomassa kering dengan penambahan kasein hidrolisat hingga 150 mg/l. Penman biomassa tersebut disebabkan percabangan lateral dan pemanjangan akar berambut yang cenderung tertekan pada kasein hidrolisat 150 mgll seperti terlihat pada Gambar 6. Kasein hidrolisat merupakan senyawa organik kompleks sumber asam amino. Pengaruh negatif dari asam amino terhadap produksi biornassa pernah dilaporkan Wielanek dan Urbanek (1999) pada akar berambut dari Tropaleum majus. Asam amino berupa L-cystein 0.6 mm menekan produksi biomassa hingga 35% dari kontrol, sedangkan phenilulunine menekan produksi biomassa akar berambut hingga 40% di bawah kontrol. Sebaliknya kedua asam amino tersebut meningkatkan glucotropaeolin yang dihasilkan sekitar 40%-70% di atas kontrol. Penambahan kasein hidrolisat dalam kultur akar berambut dari Trichosanthes cucumerina L. dalam penelitian ini hanya efektif sekitar 50 mg/l. Pada konsentrasi 100 mg/l kadar protein tidak berbeda dengan yang dihasilkan pada 50 mg/l, sedangkan pada konsentrasi 150 mgll kadar protein menurun bahkan lebih rendah dan kontrol. Hasil protein total sangat tergantung pada produksi bahan kering. Kasein hidrolisat cenderung menurunkan hasil protein total, karena pengaruhnya yang

25 negatif terhadap produksi biomassa. Dengan demikian, meskipun kasein hidrolisat 50 mgll meningkatkan kadar protein akar berarnbut, tetapi biomassa yang dihasilkan rendah, sehingga hasil akhir protein total lebih rendah dari kontrol. Kesimpulan Akar berambut dapat diinduksi dan tanaman Trichosanthes cucumerina L. Efisiensi induksi akar berambut mencapai 43% dan terbatasnya galur akar berarnbut yang diperoleh disebabkan kesulitan menghilangkan kontaminasi Agrobacterium rhizogenes. Densitas eksplan awal yang optimum untuk menghasilkan biomassa yang adalah sebanyak 5 ujung akar per botol. Pada densitas eksplan awal 5 ujung akarhotol, produksi biomassa lebih tingg dibandingkan 3 ujung akarlbotol, namun tidak berbeda nyata dengan yang dihasilkan pa& 7 maupun 9 ujung akar per botol. Hasil protein total tidak dipengaruhi oleh densitas eksplan, namun protein total tertinggi dihasilkan pada densitas eksplan 9 ujung akar per botol. Peningkatan umur panen hingga 12 HST masih dapat meningkatkan hasil protein total, karena pada waktu masih terjadi peningkatan produksi biornassa walaupun akar berarnbut sudah cenderung memasuki fase stasioner. Penambahan kasein hidrolisat 50 dan 100 mg/l dapat meningkatkan kadar protein total dari akar berarnbut. Tetapi karena kasein hidrolisat cenderung menekan produksi biomassa, maka untuk mendapatkan biomassa dan hasil protein total tertinggi cukup dengan menggunakan media MS-0 tanpa penambahan kasein hidrolisat.

26

27 Narayanaswamy S Plant Cell and Tissue Culture. Tat. McGraw-Hill Publishing Company Limited. New Delhi. 652p. Ng TB, Liu-Wk, Tsao Sw, Yeung HW Effect of trichosanthin and momorcharin on isolated rat hepatocytes. J Ethnopharm 43;2: Payne J, Hamill JD, Robins RJ, Rhodes JC Production of hyoscyamin by hairy root cultures of Datura stramonium. Planta medica 53: Payne GF, Bringi V, Prince CL, Shuler MI, Plant Cell and Tissue Culture in Liquid Systems. New York: John Wiley and Sons.Bab 8, Root Cultures; hlm Savary BJ, Flores HE Biosynthesis of defense-related protein in transformed root cultures of Trichosanthes kirilowii Maxim. Var. japonicum (Kitam). Plant Physiol 106: Shackelford NJ, Chlan CA Identification of antibiotics that are effective in eliminating Agrobacterium tumefaciens. Plant Mol Biol Rep 14; Sikuli NN, Demeyer K Influence of ion composition of medium on alkaloid production by "hairy roots" of Dutura stramonium. Plant Cell Tissue Organ Cult 4 1 : Terras FRG et ul Small cysteine-rich antifungal proteins from radish: their role in host defense. The Plant CeIl7: Toppi LS di, Gorini P, Properzi G, Barbieri L, Spano L Production of ribosome in-activating protein from hairy-root cultures of Lufla cyllindrica (L.) Roem. Plant Cell Reports 15 : Toppi LS di, Pecchioni N, Durantee M Cucurbita pepo L. can be transformed by Agrobacterium rhizogenes. Plant Cell. Tissue Organ Cult 5 1 : Tumilisar C et al Protein Bioaktif Asal Kultur Akar Transgenik Blustru (Lufla cycyldrica (L.). Roem dan Mvitasnya dalam Menghambat Proliferasi Sel Tumor Secara In Vitro. Disertasi. Program Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Vivanco JM, Weitzel D, Flores HE Characterization of a major storage root protein isolated from the andean root crop Mirabilis apansa. Di dalarn: Flores HE, Lynch JP, Eissenstat D. Radical biology: Advances and Perspectives on the Function of Plant Roots. Proceedings llth Annual Penn State Symposium in Plant Physiology. Amarican Society of Plant Physiologists, Rockville, Maryland U.S.A.

28 Wielanek M. Urbanek H Glucotropaelin and myrosinase production in hairy root cultures of Tropaeolum majus. Plant Cell Tissue Organ Cult 57 :

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengatnatan terhadap parameter saat muncul tunas setelah dianalisis. Saat muncul tunas (hari)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengatnatan terhadap parameter saat muncul tunas setelah dianalisis. Saat muncul tunas (hari) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.L Saat Muncul Tunas (hari) Hasil pengatnatan terhadap parameter saat muncul tunas setelah dianalisis secara statistik menunjukkan pengaruh nyata (Lampiran 5). Data hasil uji

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari sebuah akar tunggang yang terbentuk dari calon akar,

Lebih terperinci

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Laju Fotosintesis (Fisiologi Tumbuhan) Disusun oleh J U W I L D A 06091009027 Kelompok 6 Dosen Pembimbing : Dra. Tasmania Puspita, M.Si. Dra. Rahmi Susanti, M.Si. Ermayanti,

Lebih terperinci

Haris Dianto Darwindra 240210080133 BAB VI PEMBAHASAN

Haris Dianto Darwindra 240210080133 BAB VI PEMBAHASAN BAB VI PEMBAHASAN Pada praktikum ini membahas mengenai Kurva Pertumbuhan Mikroorganisme Selama Proses Aging Keju. Keju terbuat dari bahan baku susu, baik susu sapi, kambing, atau kerbau. Proses pembuatannya

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN Sebelum melakukan PCR, terlebih dahulu dilakukan perancangan primer menggunakan program DNA Star. Pemilihan primer dilakukan dengan mempertimbangkan parameter spesifisitas,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

Teknik Perbanyakan Jambu Air Citra Melalui Stek Cabang

Teknik Perbanyakan Jambu Air Citra Melalui Stek Cabang Teknik Perbanyakan Jambu Air Citra Melalui Stek Cabang Buah jambu air Citra terkenal di Indonesia, karena mempunyai cita-rasa yang sangat manis dan renyah, ukuran buah cukup besar (200 250 g/ buah), dan

Lebih terperinci

Peningkatan Produktivitas Tanah Pasir untuk Pertumbuhan Tanaman Kedelai dengan Inokulasi Mikorhiza dan Rhizobium

Peningkatan Produktivitas Tanah Pasir untuk Pertumbuhan Tanaman Kedelai dengan Inokulasi Mikorhiza dan Rhizobium BIOMA, Desember 2007 ISSN: 1410-8801 Vol. 9, No. 2, Hal. 58-61 Peningkatan Produktivitas Tanah Pasir untuk Pertumbuhan Tanaman Kedelai dengan Inokulasi Mikorhiza dan Rhizobium Endang Saptiningsih* Laboratorium

Lebih terperinci

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA (Role The Number of Seeds/Pod to Yield Potential of F6 Phenotype Soybean

Lebih terperinci

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU

MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU PEMERINTAH KABUPATEN PROBOLINGGO DINAS PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN JL. RAYA DRINGU 81 TELPON 0335-420517 PROBOLINGGO 67271 MENGENAL LEBIH DEKAT PENYAKIT LAYU BEKTERI Ralstonia solanacearum PADA TEMBAKAU Oleh

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN

BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN BAB 4 HASIL PERCOBAAN DAN BAHASAN Tanaman-tanaman yang diteliti adalah Ricinus communis L. (jarak) dan Eclipta prostrata (L.) L. (urang-aring). Pada awal penelitian dilakukan pengumpulan bahan tanaman,

Lebih terperinci

II KONSEP ILMU PENYAKIT HUTAN

II KONSEP ILMU PENYAKIT HUTAN II KONSEP ILMU PENYAKIT HUTAN 1. Penyebab Penyakit Penyakit tanaman hutan dapat disebabkan oleh banyak faktor, baik faktor biotik (sesuatu yang hidup) maupun abiotik (sesuatu yang tidak hidup). Dalam pengertian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kreatinin Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan diekskresi dalam

Lebih terperinci

Identifikasi Biohidrogen Secara Fermentatif Dengan Kultur Campuran Menggunakan Glukosa Sebagai Substrat

Identifikasi Biohidrogen Secara Fermentatif Dengan Kultur Campuran Menggunakan Glukosa Sebagai Substrat Identifikasi Biohidrogen Secara Fermentatif Dengan Kultur Campuran Menggunakan Glukosa Sebagai Substrat Disusun Oleh : Rizkhi Agrinda Setya 1407 100 020 Pembimbing : Prof. Dr. Surya Rosa Putra, M.S Herdayanto

Lebih terperinci

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C)

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C) Pengaruh Kadar Gas Co 2 Pada Fotosintesis Tumbuhan yang mempunyai klorofil dapat mengalami proses fotosintesis yaitu proses pengubahan energi sinar matahari menjadi energi kimia dengan terbentuknya senyawa

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. membuka sempurna. Pada kondisi tanah yang lembab, tahapan pemunculan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. membuka sempurna. Pada kondisi tanah yang lembab, tahapan pemunculan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Fase muncul lapang (Emergence) Fase muncul (emergency) merupakan periode munculnya koleoptil di atas permukaan tanah dimana daun pertama dan kedua telah muncul namun belum

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

Grafik Serapan Standar McFarland Scale pada Panjang Gelombang 500nm

Grafik Serapan Standar McFarland Scale pada Panjang Gelombang 500nm PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN Judul : Kultur Jaringan Tanggal : 17 November 2011 Tujuan :1. Mengenal teknik McFarland Scale, absorbansi spektrum, memperkirakan konsentrasi sel (CFU) melalui kekeruhannya (alat

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014.

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014. III. MATERI DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN SUSKA Riau.

Lebih terperinci

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK LIRA BUDHIARTI. Karakterisasi

Lebih terperinci

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi Bab17 Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan Larutan buffer adalah larutan yg terdiri dari: 1. asam lemah/basa

Lebih terperinci

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme :

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme : TANAH Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah Hubungan tanah dan organisme : Bagian atas lapisan kerak bumi yang mengalami penghawaan dan dipengaruhi oleh tumbuhan

Lebih terperinci

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

KUALITAS SOYGHURT DENGAN VARIASI RASIO SUSU KEDELAI DENGAN SUSU RENDAH LEMAK

KUALITAS SOYGHURT DENGAN VARIASI RASIO SUSU KEDELAI DENGAN SUSU RENDAH LEMAK KUALITAS SOYGHURT DENGAN VARIASI RASIO SUSU KEDELAI DENGAN SUSU RENDAH LEMAK THE QUALITY OF SOYGHURT WITH VARIOUS RATIO SOY MILK WITH LOW FAT MILK Jovi Afri Ramadhan (082172086336) Evy Rossi and Evi Sribudiani

Lebih terperinci

penglihatan (Sutedjo, 2010). Penyakit ini juga dapat memberikan komplikasi yang mematikan, seperti serangan jantung, stroke, kegagalan ginjal,

penglihatan (Sutedjo, 2010). Penyakit ini juga dapat memberikan komplikasi yang mematikan, seperti serangan jantung, stroke, kegagalan ginjal, BAB 1 PENDAHULUAN Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit yang dapat terjadi pada semua kelompok umur dan populasi, pada bangsa manapun dan usia berapapun. Kejadian DM berkaitan erat dengan faktor keturunan,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jeruk merupakan salah satu tanaman buah yang penting dan

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Jeruk merupakan salah satu tanaman buah yang penting dan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Jeruk merupakan salah satu tanaman buah yang penting dan dibudidayakan secara luas di Indonesia. Hal ini terlihat dari total produksi jeruk di Indonesia menduduki peringkat

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.08.11.07331 TAHUN 2011 TENTANG METODE ANALISIS KOSMETIKA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.08.11.07331 TAHUN 2011 TENTANG METODE ANALISIS KOSMETIKA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.03.1.23.08.11.07331 TAHUN 2011 TENTANG METODE ANALISIS KOSMETIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang

Lebih terperinci

PEMISAHAN SALAH SATU ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA MERAH (VINCA ROSEA LINN) Rosminik

PEMISAHAN SALAH SATU ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA MERAH (VINCA ROSEA LINN) Rosminik PEMISAHAN SALAH SATU ALKALOID DARI BUNGA TAPAK DARA MERAH (VINCA ROSEA LINN) Rosminik PENDAHULUAN Dahulu bangsa Indonesia telah memiliki pengetahuan yang luas di bidang obat-obatan tradisional yang berasal

Lebih terperinci

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III. Olimpiade Kimia Indonesia. Kimia UJIAN PRAKTEK

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III. Olimpiade Kimia Indonesia. Kimia UJIAN PRAKTEK OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III Olimpiade Kimia Indonesia Kimia UJIAN PRAKTEK Petunjuk : 1. Isilah Lembar isian data pribadi anda dengan lengkap (jangan disingkat) 2. Soal Praktikum terdiri dari 2 Bagian:

Lebih terperinci

baik berada di atas usus kecil (Kshirsagar et al., 2009). Dosis yang bisa digunakan sebagai obat antidiabetes 500 sampai 1000 mg tiga kali sehari.

baik berada di atas usus kecil (Kshirsagar et al., 2009). Dosis yang bisa digunakan sebagai obat antidiabetes 500 sampai 1000 mg tiga kali sehari. BAB I PENDAHULUAN Saat ini banyak sekali penyakit yang muncul di sekitar lingkungan kita terutama pada orang-orang yang kurang menjaga pola makan mereka, salah satu contohnya penyakit kencing manis atau

Lebih terperinci

tanaman. Peningkatan luas daun berhubungan erat dengan peningkatan 4.3.2. Laju Tumbuh Tanaman Rata-rata (LTT) Sepuluh harian

tanaman. Peningkatan luas daun berhubungan erat dengan peningkatan 4.3.2. Laju Tumbuh Tanaman Rata-rata (LTT) Sepuluh harian tanaman. Peningkatan luas daun berhubungan erat dengan peningkatan tinggi tanaman dan bobot bahan kering 4.3.2. Laju Tumbuh Tanaman Rata-rata (LTT) Sepuluh harian LTT sepuluh harian merupakan rata-rata

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN EKSPLAN BUAH NAGA (Hylocereus undatus) PADA POSISI TANAM DAN KOMPOSISI MEDIA BERBEDA SECARA IN VITRO

PERTUMBUHAN EKSPLAN BUAH NAGA (Hylocereus undatus) PADA POSISI TANAM DAN KOMPOSISI MEDIA BERBEDA SECARA IN VITRO e-j. Agrotekbis 1 (1) : 1-7, April 2013 ISSN : 2338-3011 PERTUMBUHAN EKSPLAN BUAH NAGA (Hylocereus undatus) PADA POSISI TANAM DAN KOMPOSISI MEDIA BERBEDA SECARA IN VITRO The Growth Of Dragon Fruit Explants

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN BERBAGAI SETEK ASAL TANAMAN GAMBIR (Uncaria gambir Roxb) AKIBAT PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI IBA. Muliadi Karo Karo 1) ABSTRACTS

PERTUMBUHAN BERBAGAI SETEK ASAL TANAMAN GAMBIR (Uncaria gambir Roxb) AKIBAT PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI IBA. Muliadi Karo Karo 1) ABSTRACTS Muliadi Karo Karo, Pertumbuhan Berbagai Setek Asal... PERTUMBUHAN BERBAGAI SETEK ASAL TANAMAN GAMBIR (Uncaria gambir Roxb) AKIBAT PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI IBA Muliadi Karo Karo 1) ABSTRACTS Gambier

Lebih terperinci

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22

Budidaya Nila Merah. Written by admin Tuesday, 08 March 2011 10:22 Dikenal sebagai nila merah taiwan atau hibrid antara 0. homorum dengan 0. mossombicus yang diberi nama ikan nila merah florida. Ada yang menduga bahwa nila merah merupakan mutan dari ikan mujair. Ikan

Lebih terperinci

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. proses terjadinya perubahan suhu hingga mencapai 5 0 C. Berdasarkan penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. proses terjadinya perubahan suhu hingga mencapai 5 0 C. Berdasarkan penelitian BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui waktu pelelehan es dan proses terjadinya perubahan suhu hingga mencapai 5 0 C. Berdasarkan penelitian

Lebih terperinci

PENGARUH SUHU PADA PROTEASE DARI Bacillus subtilis. Mukhamad Kosim a, Surya Rosa Putra

PENGARUH SUHU PADA PROTEASE DARI Bacillus subtilis. Mukhamad Kosim a, Surya Rosa Putra Prosiding Skripsi Semester Genap 2009-2010 SK-091304 PENGARUH SUHU PADA PROTEASE DARI Bacillus subtilis Mukhamad Kosim a, Surya Rosa Putra Jurusan Kimia FMIPA ITS Surabaya Kampus ITS Sukolilo Surabaya

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan dalam segala bidang kehidupan. Perkembangan perekonomian di Indonesia yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN A. HASIL PENGAMATAN 1. Penentuan Kesadahan Total dalam Air Kelompok Vol. Sampel Vol. EDTA 0.01 M 7 50 ml 6 ml 9 50 ml 14.6 ml 11 50 ml 5.8 ml Kelompok Vol. Sampel

Lebih terperinci

TEKNOLOGI TELUR. Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu :

TEKNOLOGI TELUR. Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu : TEKNOLOGI TELUR STRUKTUR UMUM TELUR Pada umumnya telur mempunyai 3 struktur bagian, yaitu : Kulit Telur Mengandung Ca = 98.2 % Mg = 0.9 % ( menentukan kekerasan cangkang/kulit); P = 0.9%. Ketebalan yang

Lebih terperinci

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus:

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus: 108 4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen Tujuan Intruksional Khusus: Setelah mengikuti course content ini mahasiswa dapat menjelaskan kriteria, komponen dan cara panen tanaman semusim dan tahunan

Lebih terperinci

Perbanyakan Klonal Temu Mangga (Curcuma mangga) melalui Kultur In Vitro

Perbanyakan Klonal Temu Mangga (Curcuma mangga) melalui Kultur In Vitro Perbanyakan Klonal Temu Mangga (Curcuma mangga) melalui Kultur In Vitro Sri Hutami dan Ragapadmi Purnamaningsih Balai Penelitian Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor ABSTRACT Curcuma mangga

Lebih terperinci

Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Teknologi Tepat Guna

Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Teknologi Tepat Guna Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Oleh Kharistya - http://kharistya.wordpress.com Teknologi Tepat Guna Teknologi tepat guna, mengutip dari wikipedia, merupakan teknologi

Lebih terperinci

4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol

4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol 4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol OH SOCl 2 Cl + HCl + SO 2 C 11 H 22 O C 11 H 21 Cl (170.3) (119.0) (188.7) (36.5) (64.1) Klasifikasi Tipe reaksi and penggolongan bahan Substitusi

Lebih terperinci

Deskripsi Lengkap Analisa : Merk : JEOL JNMECA 500 Fungsi. Harga Analisa : Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C)

Deskripsi Lengkap Analisa : Merk : JEOL JNMECA 500 Fungsi. Harga Analisa : Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C) : NMR Merk : JEOL JNMECA 500 Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C) Attached Proton Test (APT) Correlation Spectroscopy (COSY, NOESY) Distortionless Enhancement by Polarization Transfer 9DEPT) 45 o Distortionless

Lebih terperinci

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Rajiman A. Latar Belakang Pemanfaatan lahan memiliki tujuan utama untuk produksi biomassa. Pemanfaatan lahan yang tidak bijaksana sering menimbulkan kerusakan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2012. Cangkang kijing lokal dibawa ke Laboratorium, kemudian analisis kadar air, protein,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gizi kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat. Pada hakekatnya keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses kurang asupan makanan ketika

Lebih terperinci

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS EFFECT OF EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DOSAGE ADDED IN DRINKING WATER ON BODY WEIGHT OF LOCAL CHICKEN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktivitas fisik adalah kegiatan hidup yang harus dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan, dan

Lebih terperinci

ph = pk a + log ([A - ]/[HA])

ph = pk a + log ([A - ]/[HA]) PH METER, PERSIAPAN LARUTAN PENYANGGA Tujuan: i) Memahami prinsip prinsip dasar larutan buffer ii) Latihan penggunaan ph meter iii) Latihan persiapan pembuatan buffer fosfat dengan teknik titrasi iv) Latihan

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MAKROMOLEKUL: PEMBUATAN HIDROLISAT PROTEIN

PEMBELAJARAN MAKROMOLEKUL: PEMBUATAN HIDROLISAT PROTEIN 3-027 PEMBELAJARAN MAKROMOLEKUL: PEMBUATAN HIDROLISAT PROTEIN Kelly Sinaga 1, Zeily Nurachman 2 1,2 Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pelita Harapan, Karawaci Program Studi

Lebih terperinci

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEKERASAN DAN WAKTU PEMECAHAN DAGING BUAH KAKAO (THEOBROMA CACAO L) 1) MUH. IKHSAN (G 411 9 272) 2) JUNAEDI MUHIDONG dan OLLY SANNY HUTABARAT 3) ABSTRAK Permasalahan kakao Indonesia

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kelas: Monocotyledoneae. Familia: Poaceae.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kelas: Monocotyledoneae. Familia: Poaceae. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1.Klasifikasi dan Morfologi Jagung Klasifikasi ilmiah tanaman jagung sebagaimana diketahui adalah: Kerajaan: Plantae Divisio: Angiospermae Kelas: Monocotyledoneae Ordo: Poales

Lebih terperinci

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330 STUDI PENGARUH PERIODE TERANG DAN GELAP BULAN TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR AIR DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus L) YANG DI PROSES PADA MINI PLANT PANAIKANG KABUPATEN MAROS STUDY OF LIGHT AND DARK MOON

Lebih terperinci

PRODUKSI TANAMAN NURSERY

PRODUKSI TANAMAN NURSERY PRODUKSI TANAMAN NURSERY Bambang B. Santoso Senen, 30 Maret 2009 PRODUKSI TANAMAN NURSERY A. Perencanaan Produksi B. Perbanyakan C. Produksi di Lapangan D. Produksi dalam Pot/wadah C. PRODUKSI DI LAPANGAN

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Sejarah, Morfologi dan Sistematika Anggrek Bulan. (Jasminum sambac) sebagai puspa bangsa, bunga padma raksasa (Rafflesia

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Sejarah, Morfologi dan Sistematika Anggrek Bulan. (Jasminum sambac) sebagai puspa bangsa, bunga padma raksasa (Rafflesia II. TINJAUAN PUSTAKA A. Sejarah, Morfologi dan Sistematika Anggrek Bulan Anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis (L.) Blume) adalah salah satu bunga nasional Indonesia. Indonesia sendiri memiliki tiga bunga

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

VOLUMETRI / TITRIMETRI

VOLUMETRI / TITRIMETRI VLUMETRI / TITRIMETRI Volumetri atau titrimetri merupakan suatu metode analisis kuantitatif didasarkan pada pengukuran volume titran yang bereaksi sempurna dengan analit. Titran merupakan zat yang digunakan

Lebih terperinci

MAKALAH. PEWARNAAN SEDERHANA, NEGATIF, KAPSUL dan GRAM. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi yang Diampu Oleh. Drs. Bambang Iskamto, M.

MAKALAH. PEWARNAAN SEDERHANA, NEGATIF, KAPSUL dan GRAM. Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi yang Diampu Oleh. Drs. Bambang Iskamto, M. MAKALAH PEWARNAAN SEDERHANA, NEGATIF, KAPSUL dan GRAM Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi yang Diampu Oleh Drs. Bambang Iskamto, M.Si Disusun Oleh : RINA LESTARI 122100249 PROGRAM STUDI D3 KEBIDANAN

Lebih terperinci

Kulit masohi SNI 7941:2013

Kulit masohi SNI 7941:2013 Standar Nasional Indonesia ICS 65.020.99 Kulit masohi Badan Standardisasi Nasional BSN 2013 Hak cipta dilindungi undang-undang. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh isi dokumen ini

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aktifitas Air (Aw) Aktivitas air atau water activity (a w ) sering disebut juga air bebas, karena mampu membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penduduk dengan taraf ekonomi rendah masih menempati angka yang cukup tinggi di negara ini. Jumlah keluarga miskin pada tahun 2003 pada Pendataan Keluarga BKKBN mencapai

Lebih terperinci

KESETIMBANGAN. titik setimbang

KESETIMBANGAN. titik setimbang KESETIMBANGAN STANDART KOMPETENSI;. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktor-faktor yang berpengaruh, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. KOMPETENSI DASAR;.. Menjelaskan kestimbangan

Lebih terperinci

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi Telah ditetapkan Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan kesehatan terhadap pemanfaatan radiasi pengion dan Surat Keputusan Kepala BAPETEN No.01/Ka-BAPETEN/V-99

Lebih terperinci

KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA

KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA SUPLEMEN UNIT 1 KETERAMPILAN PROSES DALAM IPA Mintohari Suryanti Wahono Widodo PENDAHULUAN Dalam modul Pembelajaran IPA Unit 1, Anda telah mempelajari hakikat IPA dan pembelajarannya. Hakikat IPA terdiri

Lebih terperinci

dan minyak atsiri (Sholikhah, 2006). Saponin mempunyai efek sebagai mukolitik (Gunawan dan Mulyani, 2004), sehingga daun sirih merah kemungkinan bisa

dan minyak atsiri (Sholikhah, 2006). Saponin mempunyai efek sebagai mukolitik (Gunawan dan Mulyani, 2004), sehingga daun sirih merah kemungkinan bisa BAB I PENDAHULUAN Lebih kurang 20 % resep di negara maju memuat tanaman obat atau bahan berkhasiat yang berasal dari tanaman, sedangkan di negara berkembang hal tersebut dapat mencapai 80 %. Di Indonesia

Lebih terperinci

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8.

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8. BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8. DIAGRAM FASA WUJUD ZAT: GAS CAIRAN PADATAN PERMEN (sukrosa) C 12

Lebih terperinci

tanpa tenaga ahli, lebih mudah dibawa, tanpa takut pecah (Lecithia et al, 2007). Sediaan transdermal lebih baik digunakan untuk terapi penyakit

tanpa tenaga ahli, lebih mudah dibawa, tanpa takut pecah (Lecithia et al, 2007). Sediaan transdermal lebih baik digunakan untuk terapi penyakit BAB 1 PENDAHULUAN Dalam dekade terakhir, bentuk sediaan transdermal telah diperkenalkan untuk menyediakan pengiriman obat yang dikontrol melalui kulit ke dalam sirkulasi sistemik (Tymes et al., 1990).

Lebih terperinci

Ringkasan. Ringkasan

Ringkasan. Ringkasan Ringkasan Staphylococcus epidermidis merupakan patogen nosokomial yang sering dikaitkan dengan infeksi sehubungan dengan pemakaian implant biomaterial. Kemampuan untuk menempel dan membentuk biofi lm pada

Lebih terperinci

Pengaruh Kepadatan Awal Inokulum terhadap Kualitas Kultur Chaetoceros gracilis (Schütt) pada Sistem Batch

Pengaruh Kepadatan Awal Inokulum terhadap Kualitas Kultur Chaetoceros gracilis (Schütt) pada Sistem Batch Pengaruh Kepadatan Awal Inokulum terhadap Kualitas Kultur Chaetoceros gracilis (Schütt) pada Sistem Batch Gede Suantika 1), Pingkan Adityawati 2), Dea Indriani Astuti 2), dan Yusup Sofyan 1) 1) Kelompok

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Komunitas Tumbuhan Bawah Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah ikan air tawar yang banyak dibudidayakan di Indonesia dan merupakan ikan budidaya yang menjadi salah satu komoditas ekspor.

Lebih terperinci

Cara Pemeriksaan Kolesterol Total, kolesterol-hdl, Kolesterol-LDL dan. mutu dengan menggunakan serum kontrol yang nilainya normal dan abnormal.

Cara Pemeriksaan Kolesterol Total, kolesterol-hdl, Kolesterol-LDL dan. mutu dengan menggunakan serum kontrol yang nilainya normal dan abnormal. Lampiran 1 Cara Pemeriksaan Kolesterol Total, kolesterol-hdl, Kolesterol-LDL dan Trigliserida Sebelum dilakukan pemeriksaan, alat dan reagen dilakukan pengendalian mutu dengan menggunakan serum kontrol

Lebih terperinci

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah Standardisasi Obat Bahan Alam Indah Solihah Standardisasi Rangkaian proses yang melibatkan berbagai metode analisis kimiawi berdasarkan data famakologis, melibatkan analisis fisik dan mikrobiologi berdasarkan

Lebih terperinci

SNI STANDAR NASIONAL INDONESIA SNI 01-2982 - 1992 =========================================== RAGI ROTI KERING

SNI STANDAR NASIONAL INDONESIA SNI 01-2982 - 1992 =========================================== RAGI ROTI KERING SNI STANDAR NASIONAL INDONESIA SNI - 98-99 =========================================== RAGI ROTI KERING =========================================== DEWAN STANDARDISASI NASIONAL - DSN RAGI ROTI KERING.

Lebih terperinci

Ros Sumarny, Ratna Djamil, Afrilia Indira S. FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA email : rosaries15@yahoo.com ABSTRAK

Ros Sumarny, Ratna Djamil, Afrilia Indira S. FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS PANCASILA email : rosaries15@yahoo.com ABSTRAK Kadar kurkumin dan potensi antioksidan ekstrak etanol rimpang temu putih (Curcuma zedoaria (Berg) Roscoe.), temu magga (Curcuma mangga Val et Zyp.) dan temu lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb). Ros Sumarny,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PELEPASAN IKAN NILA SALINA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dibidang kehutanan saat ini terus ditingkatkan dan diarahkan untuk menjamin kelangsungan tersedianya hasil hutan, demi kepentingan pembangunan industri, perluasan

Lebih terperinci

Deteksi Kedelai Transgenik GTS 40-3-2 Tahan Herbisida Berbahan Aktif Glifosat Menggunakan PCR.

Deteksi Kedelai Transgenik GTS 40-3-2 Tahan Herbisida Berbahan Aktif Glifosat Menggunakan PCR. 1 Deteksi Kedelai Transgenik GTS 40-3-2 Tahan Herbisida Berbahan Aktif Glifosat Menggunakan PCR. RINGKASAN Oleh Linda Tri Sugesti Pada saat ini kedelai merupakan salah satu komoditas bernilai ekonomi tinggi

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa

Lebih terperinci

Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan 3 (1) 2014 Indonesian Food Technologists

Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan 3 (1) 2014 Indonesian Food Technologists 21 Artikel Penelitian Produksi dan Aplikasi Senyawa Antimikroba Asal Saccharomycopsis fibuligera Strain R64 sebagai Biopreservasi Ramah Lingkungan Roostita Lobo Balia, Wendry Setyadi Putranto, Eka Wulandari,

Lebih terperinci

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis Iqmal Tahir Laboratorium Kimia Dasar, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada

Lebih terperinci

DETERMINATION of OPTIMUM CONDITION of PAPAIN ENZYME FROM PAPAYA VAR JAVA (Carica papaya )

DETERMINATION of OPTIMUM CONDITION of PAPAIN ENZYME FROM PAPAYA VAR JAVA (Carica papaya ) 147 DETERMINATION of OPTIMUM CONDITION of PAPAIN ENZYME FROM PAPAYA VAR JAVA (Carica papaya ) Penentuan Kondisi Optimum Enzim Papain Dari Pepaya Burung Varietas Jawa (Carica papaya ) Aline Puspita Kusumadjaja*,

Lebih terperinci

KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN

KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN A. Pengertian Kelarutan Kemampuan garam-garam larut dalam air tidaklah sama, ada garam yang mudah larut dalam air seperti natrium klorida (NaCl) dan ada pula garam sukar

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Deskripsi wilayah PT. Cipta Frima Jaya adalah salah satu perusahaan yang bergerak dalam penanganan pasca panen (pembekuan) untuk hasil perikanan, yang merupakan milik Bapak

Lebih terperinci

badan berlebih (overweight dan obesitas) beserta komplikasinya. Selain itu, pengetahuan tentang pola makan juga harus mendapatkan perhatian yang

badan berlebih (overweight dan obesitas) beserta komplikasinya. Selain itu, pengetahuan tentang pola makan juga harus mendapatkan perhatian yang BAB 1 PENDAHULUAN Masalah kegemukan (obesitas) dan penurunan berat badan sangat menarik untuk diteliti. Apalagi obesitas merupakan masalah yang serius bagi para pria dan wanita, oleh karena tidak hanya

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN ALAT DISTILASI SATU TAHAP UNTUK MEMPRODUKSI BIOETANOLGRADE TEKNIS

RANCANG BANGUN ALAT DISTILASI SATU TAHAP UNTUK MEMPRODUKSI BIOETANOLGRADE TEKNIS Abstrak RANCANG BANGUN ALAT DISTILASI SATU TAHAP UNTUK MEMPRODUKSI BIOETANOLGRADE TEKNIS Hargono 1), Suryanto 2) 1) Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro Jl.Prof.Sudharto, Tembalang,

Lebih terperinci

PROTEIN. Rizqie Auliana

PROTEIN. Rizqie Auliana PROTEIN Rizqie Auliana rizqie_auliana@uny.ac.id Sejarah Ditemukan pertama kali tahun 1838 oleh Jons Jakob Berzelius Diberi nama RNA dan DNA Berasal dari kata protos atau proteos: pertama atau utama Komponen

Lebih terperinci

Mochamad Nurcholis, STP, MP. Food Packaging and Shelf Life 2013

Mochamad Nurcholis, STP, MP. Food Packaging and Shelf Life 2013 Mochamad Nurcholis, STP, MP Food Packaging and Shelf Life 2013 OVERVIEW TRANSFER PANAS (PREDIKSI REAKSI) TRANSFER PANAS (PLOT UMUR SIMPAN PENDEKATAN LINEAR) TRANSFER PANAS (PLOT UMUR SIMPAN PENDEKATAN

Lebih terperinci

Distilasi, Filtrasi dan Ekstraksi

Distilasi, Filtrasi dan Ekstraksi Distilasi, Filtrasi dan Ekstraksi Nur Hidayat Pengantar Teknologi Pertanian Minggu 9 Teori Produk hasil pertanian merupakan bahan komplek campuran dari berbagai komponen. Pemisahan atau ekstraksi diperlukan

Lebih terperinci

Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118

Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia. Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Penemuan Klon Kakao Tahan Hama Penggerek Buah Kakao (PBK) di Indonesia Agung Wahyu Susilo 1) 1) Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia, Jl. PB. Sudirman 90 Jember 68118 Keberadaan hama penggerek buah

Lebih terperinci

11/14/2011. By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS. Lemak. Apa beda lemak dan minyak?

11/14/2011. By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS. Lemak. Apa beda lemak dan minyak? By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS Lemak Apa beda lemak dan minyak? 1 Bedanya: Fats : solid at room temperature Oils : liquid at room temperature Sources : vegetables

Lebih terperinci

INDUKSI TUNAS JERUK SIAM (Citrus nobilis Lour.) ASAL KAMPAR DENGAN PEMBERIAN BENZIL AMINO PURIN (BAP) SECARA IN VITRO. E-mail: lamhtiur@yahoo.co.

INDUKSI TUNAS JERUK SIAM (Citrus nobilis Lour.) ASAL KAMPAR DENGAN PEMBERIAN BENZIL AMINO PURIN (BAP) SECARA IN VITRO. E-mail: lamhtiur@yahoo.co. INDUKSI TUNAS JERUK SIAM (Citrus nobilis Lour.) ASAL KAMPAR DENGAN PEMBERIAN BENZIL AMINO PURIN (BAP) SECARA IN VITRO Lamtiur Purba 1, Siti Fatonah 2 dan Wahyu Lestari 2 E-mail: lamhtiur@yahoo.co.id 1

Lebih terperinci

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik Kimia dalam AIR Dr. Yuni K. Krisnandi KBI Kimia Anorganik Sifat fisika dan kimia AIR Air memiliki rumus kimia H2O Cairan tidak berwarna, tidak berasa TAPI air biasanya mengandung sejumlah kecil CO2 dalm

Lebih terperinci

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA IV.1 TINJAUAN UMUM Pengambilan sampel air dan gas adalah metode survei eksplorasi yang paling banyak dilakukan di lapangan geotermal.

Lebih terperinci

Gb. 5.12. STRUKTUR FOSPOLIPID (Campbell, 1999:72)

Gb. 5.12. STRUKTUR FOSPOLIPID (Campbell, 1999:72) Gb. 5.12. STRUKTUR FOSPOLIPID (Campbell, 1999:72) Rumus Umum Asam Amino (Campbell, 1999: 73) H H O N C C H R OH GUGUS AMINO GUGUS KARBOKSIL Tabel 5.1 Gambaran Umum Fungsi Protein (Campbell, 1999: 74) JENIS

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 28 TAHUN 2009 TENTANG DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU DAN/ATAU WADUK

PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 28 TAHUN 2009 TENTANG DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU DAN/ATAU WADUK SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 28 TAHUN 2009 TENTANG DAYA TAMPUNG BEBAN PENCEMARAN AIR DANAU DAN/ATAU WADUK MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci