Luas lahan = m 2. KDB : 50% = 50% x m 2 = 5000 m 2. KLB : 3 = 3 x m 2 = m 2. Ketinggian maksimal : 6 lantai

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Luas lahan = 10000 m 2. KDB : 50% = 50% x 10000 m 2 = 5000 m 2. KLB : 3 = 3 x 10000 m 2 = 30000 m 2. Ketinggian maksimal : 6 lantai"

Transkripsi

1 Luas lahan = m 2 KDB : 50% = 50% x m 2 = 5000 m 2 KLB : 3 = 3 x m 2 = m 2 Ketinggian maksimal : 6 lantai Perhitungan Luas Hunian Berdasarkan data studi banding yang ada, maka perkiraan proporsi kebutuhan unit hunian apartemen akan diambil dari hasil rata-rata studi banding yang ada. Tabel 23. Perhitungan Occupancy Rate Mediterania I Square Garden City Park Rata-rata Studio 4% - 30% 11.7% 1 KT 11.7% 10% % 2 KT 78.5% 90% 70% 79.5% 3 KT 5.8% % Total 100% 100% 100% 100% Oc Rt 90% 50% - 70% Dari perhitungan di atas dapat diperoleh persentase untuk tipe hunian yaitu Tipe studio : 25% Tipe 2 kamar : 75% Diasumsikan luas dasar bangunan untuk hunian adalah 25 % dari luas tapak. 76

2 Fasilitas umum, penunjang dan service adalah 15 % dari luas tapak Parkir adalah 10 % dari luas tapak Luas dasar hunian yang dapat dibangun = 2500 m 2 Sirkulasi 20 % = 500 m 2 - Luas netto hunian per lantai = 2000 m 2 Jumlah unit hunian per lantai Tipe studio : 25 % x 2000 m 2 = 500 m m 2 / 20 m 2 = 25 unit Tipe 2 kamar : 75 % x 2000 m 2 = 1500 m m 2 / 36 m 2 = 41 unit + Jumlah unit seluruh per lantai = 66 unit Untuk retail dan area komersil adalah 2 lantai yang terdapat dibawah hunian. Untuk area service, pnunjang dan fasilitas umum adalah 1 lantai yang terdapat di bawah hunian sehingga jumlah lantai untuk hunian adalah 4,5 lantai. Jumlah unit seluruh : 66 unit x 4,5 = 297 unit. Jumlah penghuni = 780 orang. Program Ruang Tabel 22. Program Ruang Kebutuhan Ruang Standart Sumber Kapasi tas Kebutuhan Luas Ruang 77

3 Pelayanan Hunian Hall / Lobby R. security R. Kotak Surat Unit hunian : tipe studio Tipe 2 kamar Ruang sampah 1 m 2 /orang 1,5 m 2 /orang 0,4 x 0,8 / 5 unit 20 m 2 36 m 2 2 x 3 m AS - AS m 2 6 m 2 19 m m m 2 12 m 2 Sirkulasi 20% 1785,4 m 2 Total luas pelayanan hunian 10712,4 m 2 Pengelola R.tunggu 0,5 m 2 /orang NAD 15 7,5 m 2 R.Kepala Pengelola 7,5 m 2 /unit NAD 1 7,5m 2 R.Wakil Pengelola 6 m 2 /unit NAD 1 6 m 2 R.informasi/Pemasaran 6 m 2 /orang AS 1 6 m 2 R. staff Administrasi 2,55 m 2 /orang NAD 4 10,2 m 2 R.Rapat Pantry Toilet R.istirahat staff R.ganti staff Gudang 1,5 m 2 /orang 1,4 m 2 /orang 1,3 m 2 /unit 2 m 2 /orang 1,3 m 2 /unit AS NAD NAD AS NAD AS m 2 7 m 2 5,2 m 2 20 m 2 5,2 m 2 4 m 2 Sirkulasi 20% 18,72 m 2 Total luas kebutuhan pengelola 112,32 m 2 78

4 Toko / retail 6x m 2 AS m 2 4,5 x ,75 m 2 AS 6 850,5 m 2 Kios 3 x 6 18 m 2 AS m 2 Aula serba guna 1 m 2 /orang TS m 2 Plaza 0,8 m 2 / orang AS m 2 Playproup 1,5 m 2 / orang NAD m 2 Mushola 1,2 m 2 / orang AS m 2 Toilet 1,3 m 2 / orang NAD 6 7,8 m 2 Sirkulasi Total luas fasilitas penunjang 20% 775,26 m ,55 m 2 Fasilitas Olahraga Lapangan Bulutangkis 6.1m x 13.4m NAD 1 81,74 m 2 Children playground 1,5 m 2 / orang AS m 2 Sirkulasi 20% 31,41 m 2 Total fasilitas olahraga 188,14 m 2 Fasilitas Pelengkap / Service R. Genset 20 m 2 /unit AS 1 20 m 2 R. Panel/trafo 20 m 2 /unit AS 1 20m 2 Gudang 6 m 2 /unit AS 1 6 m 2 Area penampungan 15 m 2 /orang AS 1 15 m 2 sampah R. STP 24 m 2 AS 1 24 m 2 R.WTP 45 m 2 AS 1 45 m 2 R. Pompa + reservoir 15 m 2 AS 3 45 m 2 Sirkulasi 20% 35 m 2 Total fasilitas service 210 m 2 Total luas keseluruhan 15874,41 m 2 79

5 Keterangan : NAD = Neufert Architect Data, AS = asumsi, TS = Time Saver Standart Analisis Kebutuhan Luas Parkir Kendaraan Ratio parkir motor penghuni apartemen adalah 2 unit : 1 motor o Total parkir motor penghuni apartemen adalah 148 motor Ratio parkir mobil penghuni apartemen adalah 10 unit : 1 mobil o Total parkir motor penghuni apartemen adalah 29 mobil Total luas parkir penghuni + sirkulasi = 790,2 m 2 Parkir mobil pengunjung / retail adalah 1 retail : 2 mobil o Total parkir mobil pengunjung adalah 36 mobil Parkir motor pengunjung / retail adalah 1 retail : 3 motor o Total parkir motor pengunjung adalah 54 motor Total luas parkir pengunjung + sirkulasi = 558 m 2 Parkir mobil service disediakan 5 parkir mobil box 30 m 2 ) dan 2 truck m 2 ) Total luas parkir service + sirkulasi = 264 m 2 Total luas kebutuhan parkir = 1612,2 m 2 IV.3.2. Hubungan Ruang 80

6 Hubunagn ruang secara umum : Berikut adalah skema hubungan antar ruang : - Skema hubungan pelayanan hunian Lobby / hall Foyer / security Core (lift) Unit hunian - Skema hubungan fasilitas penunjang dan fasilitas umum Lapangan Parkir 81

7 Fasilitas olahraga (lapangan outdoor, playground) Lobby / hall Fasilitas umum (toko, mushola, tempat makan, klinik, dll) Unit hunian IV.3.3. Zoning Bangunan Tabel 24. Zoning Bangunan Secara Vertikal Alternatif 1 Kelebihan : pencapaian bagi penghuni lebih Gambar 31. Alternatif 1 Zoning Vertikal jelas, lebih eklusif karena bagian semi publik telah dibatasi dari lantai dasar. Kekurangan : area public pada lantai dasar menjadi berkurang dan terbatas Alternatif 2 Gambar 32. Alternatif 2 Zoning Vertikal Kelebihan :lantai dasar difungsikan sebagai pelayanan umum sehingga jelas antara publik dengan semi publik. 82

8 Kekurangan : pencapaian ke daerah private harus melewati daerah publik dan semi publik Dikaitkan dengan fungsi ruang dan sifatnya, maka penerapan zoning pada Apartemen adalah alternatif 2, karena lantai dasar lebih bersifat umum sehingga pelayanan umum lebih merata dan tersebar. IV.3.4. Analisis Gubahan Massa Massa adalah benda-benda baik benda buatan seperti bangunan, monumen, pagar dan lainnya maupun benda alami yang karena perletakkannya membentuk ruang. Jenis massa bangunan terbagi menjadi 2 yaitu massa bangunan tunggal dan massa bangunan majemuk. Tabel 25. Alternatif Gubahan Massa Massa Bangunan Tunggal Massa Bangunan Majemuk Gambar 33. Massa Bangunan Tunggal Gambar 34. Massa Bangunan Majemuk Sebuah pola massa bangunan yang hanya terdiri dari satu masa untuk Sebuah pola massa bangunan yang terdiri dari beberapa massa dalam satu 83

9 menampung seluruh program ruang di atas sebuah tapak Pertimbangan : - Kebutuhan lahan sempit. - Sirkulasi pencapaian menjadi cepat dan efisien. - Pengawasan dan pemeliharaan lebih mudah. - Sifat bangunan terpusat. tapak yang membentuk gubahan massa. Pertimbangan : - Pola perletakan massa dinamis. - Memerlukan lahan yang luas. - Pemisahan beberapa kelompok aktifitas. - Sifat bangunan menyebar dan memusat pada satu titik aktifitas. Pada apartemen ini yang akan diterapkan adalah massa bangunan tunggal karena lahan yang sempit dan agar sirkulasi dalam tapak lebih cepat dan efisien. Beberapa tipe gubahan massa yaitu : 1. Gubahan massa statis/formil/anorganik, biasanya digunakan untuk bangunan yang bersifat monumental seperti bangunan pemerintahan, tugu peringatan. 2. Gubahan massa dinamis/informil/organik, gubahan massa ini cenderung bersatu dengan lingkungan dan alamnya, misalnya mengikuti aliran sungai atau mengikuti bentuk-bentuk yang ada pada alam. IV.3.5. Analisis Bentuk Bangunan Segitiga Tabel 26. Bentuk Dasar Bangunan Bentuk Kelebihan Kekurangan - Bentuk stabil dan berkarakter -Kurang efisien kuat. - Fleksibelitas ruang - Mudah digabungkan menjadi kurang. bentuk geometris lainnya. - Layout ruang sulit. 84

10 - Orientasi ruang pada tiap sudut. - Pengembangan ruang pada ketiga sisinya Segiempat Lingkaran - Bentuk statis. - Mudah dikembangkan ke segala arah. - Orientasi ruang pada keempat sisi pembatasnya. - Layout ruang baik dan mudah. - Ruang memiliki efisiensi yang tinggi karena mudah digambungkan dengan bentuk lain - Bentuk halus. - Orientasi ruang memusat dan statis. - relatif indah dilihat dari luar. - Orientasi ruang cenderung statis. -Sulit dikembangkan. - Fleksibelitas ruang rendah. - Sulit digabungkan dengan bentuk lain. - Layout ruang sulit. Kesimpulan : Dari ketiga alternatif di atas, yang akan diterapkan dalam perancangan apartemen ini adalah bentuk segi empat karena banyak memiliki kelebihan terutama dalam segi layout, efisien dalam perletakkan perabotan. Selain itu dan kemudahan untuk di gabungkan dengan bentuk-bentuk lain (lebih fleksibel) menjadi salah satu keunggulan bentuk ini. 85

11 IV.3.6. Analisis Struktur Bangunan Fungsi utama dari sistem struktur adalah untuk memikul secara aman dan efektif beban yang bekerja pada bangunan, serta menyalurkannya ke tanah melalui pondasi. Struktur bangunan dapat dibagi menjadi 2, yaitu ; Sub Structure (struktur bawah) Merupakan bagian struktur bawah yang berfungsi menyalurkan beban-beban yang bekerja dari atas ke bawah. Diantaranya adalah pondasi, sloof, dan lantai kerja. Jenis pondasi yaitu sebagai berikut Tabel 27. Jenis jenis Pondasi Jenis pondasi Keuntungan Kerugian Tiang - Waktu pelaksanaan cepat - Dapat merusak lingkungan pancang - Pelaksanaan mudah sekitar akibat getaran yang - Kekuatan menjamin ditimbulkan - Kualitas terjaga karena sistem - Sambungan pada pondasi fabrikasi yang memerlukan ukuran tertentu, hasil kurang baik Bore pile - Getaran yang dihasilkan cukup kecil - Cocok digunakan di daerah padat - Ukuran diameter cukup besar sehingga daya dukung tiap tiang lebih besar - Tidak perlu sambungan tiang - Biaya cukup besar - Waktu pelaksanaan cukup lama. Lingkungan sekitar mempengaruhi pemilihan pondasi yang digunakan. Dilihat dari kondisi lingkungan sekitar yang merupakan pemukiman yang padat 86

12 dan berdempet, maka pondasi yang digunakan dalam apartemen ini yaitu pondasi bore pile karena dapat menahan beban yang besar dan tidak mengganggu lingkungan karena getaran kecil. Jika menggunakan tiang pancang, akan menggetarkan tanah disekitar yang berpengaruh pada retaknya dinding rumah-rumah sekitar atau penurunan tanah akibat getaran. Upper structure (struktur atas) Merupakan struktur utama yang berfungsi sebagai penyalur beban dari atas berupa beban hidup dan beban mati ke pondasi baik secara vertikal maupun horisontal. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan sistem struktur ini adalah penyaluran beban vertikal dan horisontal di perlukan dan menghasilkan hubungan kaku, adanya bukaan pada sisi dinding terluar pada unit bangunan. Tabel 28. Jenis-Jenis Sistem Struktur Jenis sistem struktur Struktur massa / - Konstruksi dinding pemikul dan dinding geser padat - Dinding berfungsi sebagai penahan gaya lateral, menerima beban vertikal, mengurangi penyerapan panas, meredam suara. Struktur rangka - Terdiri dari unsur horisontal (balok) dan vertikal (kolom). - Dapat membentuk ruang yang fleksibel Struktur bidang - Terdiri dari struktur lipat dan struktur cangkang permukaan - Bentangan yang besar dan bebas kolom - Bidang struktur dapat berfungsi sebagai dinding atau atap Struktur gantung - Memanfaatkan daya tarik kabel baja secara maksimal 87

13 - Ruangan bebas kolom - Fleksibilitas tinggi. (Skripsi Tugas Akhir Welly Wangidjaja, Museum Teknologi Transportasi Udara, Universitas Tarumanegara, 1994, pp56-57) Dari beberapa jenis sistem struktur, maka yang digunakan pada bangunan apartemen adalah sistem struktur rangka karena dapat fleksibel mengikuti unitunit pada apartemen. Berikut adalah alternatif pemilihan bahan struktur kaku : Tabel 29. Alternatif Pemilihan Bahan Struktur Kaku Konstruksi Beton Bertulang Konstruksi Baja Rangka beton lebih mudah dalam menghasilkan bentuk yang fleksibel karena dapat di cor setempat, beton dapat melindungi tulangan besi baja karena beton tidak berkarat. Rangka baja lebih sulit dalam menghasilkan bentuk yang fleksibel karena ada ukuran-ukuran tertentu, baja tidak dapat melindungi lapisan tulangan besi baja karena dapat berkarat. Konstruksi yang akan diterapkan pada bangunan apartemen adalah konstruksi beton bertulang karena lebih fleksibel mengikuti unit-unit apartemen dan core bangunan harus menggunakan konstruksi beton bertulang untuk kekakuan bangunan dan untuk melindungi inti bangunan dari kebakaran. Beberapa bentuk atap bangunan yang digunakan untuk penutup bangunan, dan melindungi segala sesuatu yang ada di bawahnya, yaitu ; Atap datar Atap datar banyak dimanfaatkan juga sebagai green roofs. Green roofs adalah sebuah kelanjutan dari atap yang sudah ada dimana tanaman, semak 88

14 tumbuh dalam berat yang ringan dengan pertumbuhan medium. Beberapa sistem dalam pembuatan green roofs yaitu : (http://www.toronto.ca/greenroofs/what.htm, 14/03/2008, WIB) Tabel 30. Sistem Atap Rumput Complete system - sistem yang paling fleksibel dengan vegetasi - pertumbuhan vegetasi sedang - membutuhkan pembuangan air dan perlindungan lapisan tanah - Berat dan ketebalan mulai dari 50 mm 75 mm (kedalaman) dan kg/m 2 (berat). - Dipasang dengan aneka ragam tipe membran yang tahan air. Modular system - Berupa nampan vegetasi - Pertumbuhan medium, mudah ditempatkan dalam atap - Kedalaman antara 75 mm 300 mm. - Keanekaragaman vegetasi lebih terbatas. Pre-cultivated vegetation blanket - Sistem dengan lapisan vegetasi yang telah tumbuh dan diolah sebelumnya - Diletakkan pada lantai green roofs - Ketebalan 45 mm, berat 40 kg/m 2. - Vegetasi utama dari beberapa varietas sedum, sebuah tanaman berair 89

15 banyak. - Toleran terhadap temperatur ekstrim dan dapat hidup dengan sedikit atau tanpa air dan membutuhkan sangat sedikit perawatan. Atap Miring, sesuai dengan daerah tropik lembab Atap yang akan di gunakan untuk bangunan apartemen ini adalah atap miring dengan pertimbangan iklim dan biaya yang lebih murah dibandingkan dengan atap datar atau green roof dan ruang dibawah atap juga dapat berfungsi sebagai peredam panas dari atap ke dalam bangunan sehingga suhu di dalam bangunan tidak panas terutama untuk hunian dilantai paling atas. Inti bangunan Inti bangunan digunakan sebagai bagian struktur yang memperkaku bangunan, terutama untuk menahan gaya lateral. Perbedaan fungsi bangunan akan berpengaruh pada pola tata letak inti bangunan. Luas lantai bersih, sirkulasi dan jaringan utilitas serta pemanfaatan pencahayaan alamiah menjadi pertimbangan bagi letak inti bangunan. Berikut adalah beberapa contoh letak inti bangunan pada bangunan apartemen Tabel 31. Letak Inti Bangunan Letak inti bangunan Keterangan Inti bangunan di tengah - Digunakan pada apartemen yang per lantainya hanya melayani 90

16 beberapa unit (exclusif) Inti bangunan di salah satu sisi - Untuk apartemen yang tiap lantainya melayani unit yang banyak Inti bangunan di sudut - Untuk apartemen dengan bentuk bervariasi, sirkulasi ke dua arah yang berlawanan. Pada Apartemen akan menggunakan letak inti bangunan di salah satu sisi dengan bentuk persegi / memanjang dengan pertimbangan jumlah hunian yang banyak, core dapat terbuka ke arah luar bangunan untuk memperoleh sinar matahari, tidak memerlukan delatasi yang rawan terhadap gempa. IV.3.7. Analisis Modul Bangunan Modul Struktur Modul struktur adalah modul yang digunakan berdasarkan ukuran struktur (sesuai kelipatan). Ukuran dan luas ruangan mengikuti modul struktur yang ada. Kekurangannya yaitu ruang-ruang tidak efisien. Kelebihannya cocok untuk bangunan yang mementingkan bentuk dan kekokohan. Modul Perencanaan Modul perencanaan adalah modul yang digunakan dalam bangunan berdasarkan luas ruang yang dibutuhkan. Rancangan mengikuti ukuran-ukuran ruangan. Kelebihannya yaitu ruang-ruang yang ada sesuai dengan kebutuhan. Kekurangannya yaitu boros bahan struktur jika ruangan tidak sesuai dengan kelipatan ukuran struktur. 91

17 Modul yang akan digunakan dalam bangunan apartemen ini adalah modul perencanaan dan modul struktur. Ukuran unit-unit pada apratemen disesuaikan dengan modul struktur rangka sehingga kebutuhan luas ruang terpenuhi dan hemat bahan struktur. IV.3.8. Analisis Material Bangunan Tabel 32. Jenis-Jenis Bahan Bangunan dan Contohnya Golongan Bahan Bangunan Alam Bahan Bangunan Buatan Bahan Bangunan Logam Bahan Bangunan Anorganik : batu alam, tanah liat Batu kali, kerikil, pasir, kapur Organik : kayu, bambu, Bermacam-macam kayu, dedaunan, serat, rumput bambu, ijuk, alang-alang Bahan yang dibakar Batu merah, genteng Bahan yang dilebur Kaca Bahan yang ditempa / dipres Konblok, batako Bahan kimia dan petrokimia Plastik, bitumer, kertas, cat Logam mulia Emas, perak Logam setengah mulia Air raksa, nikel, kobalt Logam besi Besi, baja Logam non besi Alumunium,kuningan,perunggu Material utama yang biasa digunakan untuk dinding luar bangunan apartemen adalah celcon atau bata ringan. Beberapa kelebihan dalam penggunaan celcon yaitu bentuknya yang lebih besar dapat mempercepat proses konstruksi dan beratnya untuk strktur sangat ringan. Celcon cocok untuk material dinding apartemen yang membutuhkan waktu yang cepat dalam pembangunannya. 92

18 Dikaitkan dengan hemat air, maka celkon lebih menghemat air daripada batu bata karena memerlukan adukan semen yang lebih sedikit. Untuk ruang dalam tiap unit, pembatas ruang-ruang menggunakan dinding partisi karena tebal dinding partisi tidak begitu lebar dan ringan. Material pada lantai tiap unti mengunakan keramik sebagai finishing dengan pertimbangan mudah dibersihkan Untuk material perkerasan pada daerah parkir, plasa dan pedestrian menggunakan material yang dapat meresapkan air hujan ke tanah seperti konblok dan grassblock. Tekait dengan tema yaitu hemat air, maka pemilihan perabotan khusunya peralatan sanitair harus yang dapat menghemat air. Berikut adalah perbandingan peralatan sanitair dan volume air yang dikeluarkan Untuk mandi Untuk mencuci tangan Untuk toilet Tabel 33. Volume Air Dalam Penggunaan Peralatan Bak mandi Shower 135 liter / orang 45 liter / orang Wastafel keran normal Wastafel keran spray 6-12 liter/menit 1,8 liter/menit Kloset single flush Kloset dual flush 9 liter 2 liter dan 4 liter Roat, Sue, Manuel Fuentes, Stephanie Thomas.(2001). Ecohouse 2: A Design Guide. Architectural Press, Oxford, p S,Jimmy Juwana.(2004). Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Aerlangga, Jakarta Untuk menghemat air dalam penggunaan di unit-unit apartemen, maka perlu menggunakan peralatan yang hemat air. Salah satunya dengan menggunakan shower karena air yang digunakan lebih sedikit dan penggunaan shower pada kamar mandi lebih menghemat ruang. Untuk wastafel menggunakan keran spray 93

19 agar pemakaian dapat dibatasi. Kloset menggunakan dual flush agar air yang digunakan sesuai dengan kebutuhan. IV.3.9. Analisis Sistem Utilitas Bangunan Sistem utilitas adalah segala macam sistem dalam bangunan yang membantu beroperasinyadan berfungsinya suatu bangunan. Sistem utilitas terdiri dari : Pencahayaan Pencahayaan pada bangunan terdiri dari pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Pada siang hari dapat memanfaatkan cahaya matahari sedangkan pada malam hari dapat menggunakan lampu. Terkait dengan sustainable untuk menghemat energi, maka setiap unit kamar harus mendapatkan bukaan keluar sehingga tidak memerlukan lampu pada siang hari. Pada koridor sebaiknya memiliki bukaan keluar agar koridor tidak memerlukan lampu pada siang hari. Pengudaraan / tata udara Pada bangunan, ventilasi adalah faktor yang berhubungan dengan kenyamanan dan kesehatan pengguna bangunan. Pengudaraan alami dapat menggunakan jendela,ventilasi, dan membuat ventilasi silang (cross ventilation). Sistem pengudaraan buatan adalah dengan menggunakan AC (Air Conditioner). Terdapat dua macam AC yaitu AC split dan AC central. AC split yang kapasitasnya PK digunakan untuk ruangan kecil seperti kamar tidur, ruang duduk, ruang kerja dan lain-lain. AC central digunakan untuk 94

20 ruangan yang lebih luas seperti hall, lobby, aula, dan lain-lain. Untuk apartemen kelas menengah yang sebagian penghuninya tidak mampu menggunakan AC (biaya listrik mahal, dsb) maka tiap unit harus dapat memaksimalkan bukaan untuk pengudaraan alami. Proteksi kebakaran Beberapa faktor yang dibutuhkan dalam proteksi kebakaran secara aktif dan pasif : 1. Konstruksi tahan api Konstruksi tahan api terutama pada core dan tangga kebakaran dimana core dan tangga kebakaran harus dapat bertahan dan menyelamatkan isi bangunan. 2. Pintu keluar Pintu keluar harus memenuhi persyaratan seperti harus tahan api sekurangkurangnya dua jam, harus dilengkapi dengan 3 engsel, dilengkapi dengan alat penutup otomatis, dilengkapi dengan tanda darurat dengan tuas pembuka pintu. Tabel 34. Batasan Lorong Buntu Pada Hunian Hunian Batasan lorong Tanpa sprinkler Dengan sprinkler buntu (m) (m) (m) Hotel Apartemen Asrama Rumah tinggal Tidak perlu Tidak perlu Tidak perlu Sumber : Juwana, J.S ; Hidran 95

21 Hidran berfungsi sebagai pencegah kebakaran kecil. Biasanya hidran yang digunakan adalah hidran bangunan (box hydrant) dan selang kebakaran. Kotak hidran diletakkan dengan jarak 35 m antar hidran. Sumber persediaan air untuk hidran harus diperhitungkan minimum untuk pemakaian selama 30 menit. 4. Detektor asap dan sprinkler Pada bangunan dengan ketinggian lebih dari 8 lantai pemakaian sprinkler diharuskan. 5. Tangga kebakaran Tangga kebakaran pada bangunan minimal terdapat dua tangga yang berjarak + 30 m. Tangga kebakaran harus bebas dari asap dan aman dari api. Persyaratan dan ukuran tangga kebekaran berada pada lampiran. Tabel 35. Alternatif Perletakan Tangga Kebakaran 1. Pada inti bangunan (core) - Akses jelas dan merata ke core saat evakuasi - Pencapaian ke sisi-sisi bangunan terluar merata - Untuk pelayanan hunian yang sedikit - Core terdiri dari 2 lift penghuni dan 1 lift barang 2. Terpisah dari core, tidak mendapat bukaan langsung ke luar 3.Terpisah dari core, berbatasan langsung dengan ruang luar - Jalur evakuasi terbagi dua - Tangga tidak dapat memanfaatkan bukaan ke luar - Tidak efisien dalam penggunaan struktur tahan api. - Melayani unit hunian yang banyak - Jalur evakuasi terbagi dua - Tidak efisien dalam penggunaan struktur tahan api 96

22 - Melayani unit yang banyak - Tangga dapat meanfaatkan bukaan ke arah luar Dari beberapa alternatif dari perletakan tangga darurat, maka yang akan diterapkan pada bangunan apartemen adalah alternatif 3 karena unit yang dilayani banyak dan tangga kebakaran dapat memanfaatkan ventilasi alami. Analisis Jalur Sirkulasi Utilitas Bangunan Berikut ini adalah alternatif jalur sirkulasi utilitas bangunan: Gambar 35. Alternatif Jalur Sirkulasi Utilitas Bangunan Dikaitkan dengan kebutuhan utilitas apartemen yang terdapat pada masingmasing unit maka alternatif yang dipilih adalah sistem pada jalur sirkulasi secara horisontal dan pada struktur secara vertikal karena shaft pada unit apartemen harus menerus ke bawah. S,Jimmy Juwana.(2004). Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Aerlangga, Jakarta Analisis sistem penyediaan air bersih dan grey water Sumber air bersih didapat dari PAM. Tetapi untuk menghemat penggunaan air PAM maka digunakan juga sistem daur ulang air agar air kotor dapat digunakan kembali. Air untuk digunakan kembali berasal dari grey water, storm water (air hujan) dan STP. Air hujan digunakan kembali untuk 97

23 mandi dan mencuci yang sebelumnya ditampung dan disaring di bak penampungan air hujan. Grey water (air bekas mandi dan mencuci, kloset,dapur) diolah ke STP dan dapat digunakan kembali untuk flush wc, mencuci mobil, motor, menyiram tanaman dan persediaan air hidran dan sprinkler. Skematik jaringan air pada bangunan 98

24 Jaringan air hujan Tabel 36. Sistem Peresapan Air Hujan Ke Dalam Tanah Peresapan secara alami Peresapan secara buatan Peresapan secara alami dapat dilakukan dengan perancangan pada landskap bagaimana mengalirkan air hujan ke area resapan, dan pemilihan material seperti grassblok yang dapat meresapkan air hujan ke tanah. Peresapan secara buatan dapat dilakukan dengan cara mengalirkan air hujan dari atap ke sumur resapan melalui talang air atau melalui saluran drainase atau selokan ke sumur resapan. Harvesting Rainwater for Landscape Use; 14 Maret 2008, WIB 99

25 10 Januari 2007, WIB Yang akan diterapkan pada tapak adalah peresapan secara alami dan buatan. Perlunya peresapan alami pada tapak agar air hujan yang tidak dapat tertampung oleh atap dan sumur resapan dapat mengalir alamiah ke daerah resapan. Untuk dapat menghemat air, diperlukan juga menampung air hujan yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Air hujan sebagian diresapkan ke tanah untuk pelesatrarian dan sebagiannya ditampung di bak penampungan air hujan. Air yang ditampung ini dapat digunakan mencuci kendaraan, pengisian air untuk hidran dan sprinkler. Persyaratan dan pembuatan bak penampungan terdapat pada lampiran. Instalasi listrik Instalasi jaringan listrik berasal dari PLN dan Genset yang disiapkan hanya untuk menunjang kebutuhan listrik pada lift jika pasokan listrik dari PLN terganggu. Untuk hunian tidak disediakan genset bila listrik padam. 100

26 Sistem penangkal petir Penangkal petir adalah penghantar-penghantar di atas atap berupa elektroda logam yang dipasang tegak dan elektroda logam yang dipasang mendatar. Ada dua jenis penangkal petir yang umum digunakan yaitu: Tabel 37. Sistem Penangkal Petir Penangkal Petir Sistem Thomas Penangkal Petir Sistem Prevectron Sistem Thomas mempunyai jangkauan perlindungan bangunan yang lebih luas, dengan tiang penangkap petir dan Mirip dengan Sistem Thomas, dengan areal perlindungan yang berbentuk paraboloid. sistem pengebumiannya. S,Jimmy Juwana.(2004). Panduan Sistem Bangunan Tinggi, Aerlangga, Jakarta Yang akan digunakan pada perancangan apartemen adalah sistem Thomas karena jangkauan perlindungan bangunan lebih luas. Sampah Tabel 38. Sistem Pembuangan Sampah Sistem pengangkutan Sistem shaft Kelebihan : Kelebihan : 101

27 - Tidak membutuhkan ruang shaft Kekurangan : - Pengangkutan pada jam-jam tertentu - jika diletakkan di depan pintu unit maka kebersihan akan sulit dijaga - Sampah dapat dibuang sewaktuwaktu - Kebersihan terjaga Kekurangan : - Membutuhkan ruang secara vertikal dan menerus untuk shaft sampah Dikaitkan dengan perilaku penghuni apartemen dan kedisiplinannya, maka pembuangan sampah menggunakan sistem shaft. Sampah dari tiap unit dibuang ke shaft lalu dikumpulkan dalam satu wadah bak sampah. Jika menggunakan sistem pengangkutan maka tidak menutup kemungkinan ada penghuni yang meletakkan sampah disembarang tempat. Berkaitan dengan pengolahan limbah, shaft sampah dibagi menjadi 2 jenis yaitu untuk sampah organik dan sampah non organik. Sampah organik dapat dioleh menjadi pupuk yang bermanfaat untuk tanaman. Sampah non organik dikumpulkan dan diangkut ke lokasi pembuangan sampah akhir. Sistem sirkulasi dalam bangunan 1. Sistem sirkulasi horisontal Elemen-elemen sirkulasi horisontal yaitu koridor/gang, hall, lobby, selasar. Surya, Rudy.(1987). Perencanaan dan Perancanagan Dalam Arsitektur. Universitas Tarumanegara, Jakarta Tabel 39. Sirkulasi Horisontal Pada Bangunan No Jenis Sirkulasi Kelebihan Kekurangan 1 Linier Linier Menerus - Jelas dan terarah. - Kurang efisien karena 102

28 Linier Bertekuk - Mudah disesuaikan membutuhkan dengan tapak berkontur. banyak ruang Linier Berpotongan - Mudah dalam pencapaian ke bangunan. Linier Bercabang - Mudah dalam pengklasifikasian fungsi di dalam bangunan. Linier Berbelok Linier Melingkar 2 Radial - Memusatkan kegiatan / - Arah sirkulasi orientasi. terpusat pada satu - Efisiensi tinggi karena titik sehingga hanya membutuhkan perhatian ke titik- ruang minimal. titik lainnya - Mudah untuk mencapai berkurang. ke titik tertentu. - Penyesuaian terhadap kontur cukup baik. 103

29 (Skripsi Tugas Akhir Tomi Andrianto, Perpustakaan Universitas Bina Nusantara, Binus University, 2007, pp98 pp99) Berdasarkan analisis di atas, maka pola sirkulasi yang akan diterapkan pada perancangan apartemen adalah pola sirkulasi linear menerus dan linear bercabang untuk memudahkan pencapaian ke unit-unit hunian dan ruang-ruang penunjang. Tabel 40. Sistem Koridor Bangunan Double loaded Kelebihan : - Ekonomis lantai tinggi - Mudah untuk dikembangkan - Panjang bangunan tergantung struktur bangunan Kekurangan : - Ventilasi silang sulit tercapai - Orientasi dan pencapaian satu arah Single loaded Kelebihan : - Sebagai koridor eksterior - Ventilasi silang dapat tercapai - Pencapaian dan orientasi dua arah Kekurangan : - Bentuk bangunan menjadi panjang dan tipis (Skripsi Tugas Akhir Christian Tadjipramana, Apartemen dan Town House, Binus University, 2003, pp13-17) Dikaitkan dengan kebutuhan unit apartemen pada Apartemen ini maka koridor yang digunakan adalah koridor double loaded karena kebutuhan unit yang banyak dan unit-unit yang ditampung tiap lantai harus maksimal. 2. Sistem sirkulasi vertikal Sirkulasi vertikal di dalam bangunan terdiri dari ramp, tangga, escalator, elevator(lift). Lift dan tangga akan digunakan dalam perancangan apartemen ini, berdasarkan beberapa pertimbangan, yaitu: Lift: 104

30 Lift biasa digunakan pada bangunan di atas 5 lantai dengan pertimbangan efektifitas waktu tempuh apabila dibandingkan dengan sirkulasi lain seperti tangga dan eskalator. Pada umumnya lift dibedakan menjadi 2 jenis yaitu lift penumpang dan lift barang. Pertimbangan - Perkiraan jumlah lantai adalah 12 lantai. - Diperlukan untuk sirkulasi servis - Sebagai sirkulasi untuk orang-orang cacat - Karena bangunan apartemen menggunakan core, maka perletakan lift yang tepat adalah lift yang saling berhadapan untuk efisiensi luas koridor Tata letak lift Gambar 36. Tata Letak Lift Tangga: - Sebagai sirkulasi pendukung ketika sirkulasi utama (lift) tidak bekerja. - Sebagai sirkulasi antar lantai, tidak perlu menunggu lift. - Sebagai sirkulasi darurat (tangga darurat) Pendekatan bagi sistem tangga kebakaran pada dasarnya sama, yaitu memberi kemudahan bagi penghuni/pengguna bangunan untuk dapat selamat keluar dari bangunan yang terkena musibah. 105

BAB V KONSEP. dasar perencanaan Asrama Mahasiswa Binus University ini adalah. mempertahankan identitas Binus University sebagai kampus Teknologi.

BAB V KONSEP. dasar perencanaan Asrama Mahasiswa Binus University ini adalah. mempertahankan identitas Binus University sebagai kampus Teknologi. BAB V KONSEP V.1. KONSEP DASAR PERENCANAAN Sesuai dengan permasalahan yang telah dirumuskan pada awalnya, maka konsep dasar perencanaan Asrama Mahasiswa Binus University ini adalah. membuat suatu bangunan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. perencanaan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Barat ini adalah. Konsep Fungsional Rusun terdiri dari : unit hunian dan unit penunjang.

BAB V KONSEP. perencanaan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Barat ini adalah. Konsep Fungsional Rusun terdiri dari : unit hunian dan unit penunjang. BAB V KONSEP V. 1. KONSEP DASAR PERENCANAAN Berdasarkan permasalahan yang telah dirumuskan di awal, maka konsep dasar perencanaan Rumah Susun Sederhana di Jakarta Barat ini adalah. Menciptakan sebuah ruang

Lebih terperinci

BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pelatihan

BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. Pelatihan BAB V PROGRAM DASAR PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1 Konsep Perancangan 5.1.1 Aspek Fungsional Pengelompokan berdasarkan area aktivitas besar : Pelatihan pelatihan kerja (teori&praktek) uji sertifikasi,informasi

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan. Kostel. yang ada didalam. Pelaku kegiatan dalam Kostel ini adalah :

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan. Kostel. yang ada didalam. Pelaku kegiatan dalam Kostel ini adalah : BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan Dasar dari perencanaan dan perancangan Kostel (kos-kosan hotel) dengan penerapan arsitektur berkelanjutan hemat energi: Rancangan

Lebih terperinci

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KAMPUS II PONDOK PESANTREN MODERN FUTUHIYYAH DI MRANGGEN

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KAMPUS II PONDOK PESANTREN MODERN FUTUHIYYAH DI MRANGGEN BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN KAMPUS II PONDOK PESANTREN MODERN FUTUHIYYAH DI MRANGGEN 5.1. Program Dasar perencanaan Program dasar perencanaan pada kampus II Pondok Pesantren Futuhiyyah terdiri

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP. Gambar 4.2 Pemintakatan berdasarkan fungsi hunian dan publik yaitu fungsi hunian berada di lantai atas dan umum di lantai dasar

BAB IV KONSEP. Gambar 4.2 Pemintakatan berdasarkan fungsi hunian dan publik yaitu fungsi hunian berada di lantai atas dan umum di lantai dasar BAB IV KONSEP 4.1 Ide awal perancangan Ide awal perancangan rumah susun ini adalah rumah susun sebagai miniatur kota dengan fungsi-fungsi yang sederhana dan mandiri. Kota sebagai produk peradaban modern

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur yang didasarkan dengan perilaku manusia merupakan salah satu bentuk arsitektur yang menggabungkan ilmu pengetahuan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. V.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan Gambar 5.1 Lokasi Proyek Luas total perancangan Luas bangunan : 26976 m 2 Luas tapak : 7700 m 2 KDB 60% : 4620 m 2

Lebih terperinci

BAB V 5.1. Konsep Dasar Konsep dasar dari perancangan Pusat Rehabilitasi Medik ini adalah menciptakan suasana nyaman yang membuat pasien merasa baik. Artinya jika pasien merasa baik, maka pasien akan lebih

Lebih terperinci

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GOR BASKET DI KAMPUS UNDIP TEMBALANG. sirkulasi/flow, sirkulasi dibuat berdasarkan tingkat kenyamanan sbb :

BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GOR BASKET DI KAMPUS UNDIP TEMBALANG. sirkulasi/flow, sirkulasi dibuat berdasarkan tingkat kenyamanan sbb : BAB IV PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN GOR BASKET DI KAMPUS UNDIP TEMBALANG 4.1. Program Ruang Besaran ruang dan kapasitas di dalam dan luar GOR Basket di kampus Undip Semarang diperoleh dari studi

Lebih terperinci

BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V. KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. 1. Konsep Dasar Perancangan Pembahasan konsep dasar perancangan meliputi pembahasan mengenai data tapak beserta luas lantai Asrama Mahasiswa Bina Nusantara

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. V.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan

BAB V KONSEP. V.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan BAB V KONSEP V.1 Konsep Dasar Perencanaan dan Perancangan 1. Topik dan Tema Hotel kapsul ini menggunakan pendekatan teknologi, yakni dengan menggunakan sistem struktur modular pada perencanaan dan perancangan

Lebih terperinci

BAB V PROGRAMMING. Luas (m 2 ) (orang) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) KELOMPOK KEGIATAN MASJID

BAB V PROGRAMMING. Luas (m 2 ) (orang) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) KELOMPOK KEGIATAN MASJID BAB V PROGRAMMING 5.1 Program Dasar Perencanaan 5.1.1 Program Kelompok Kapasitaiber Perhitungan Un- Sum- Luas No (m 2 ) (orang) (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) KELOMPOK KEGIATAN MASJID Masjid 1000 Jumlah

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V. 1. Dasar Perencanaan Dan Perancangan Judul dari perancangan ini adalah kostel yang berarti singkat koskosan hotel. Sebuah fenomena baru di bidang hunian di Indonesia.

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Dasar Perencanaan dan Perancangan Perancangan yang mengangkat konsep hemat energi listrik merupakan salah satu upaya dalam penerapan arsitektur berkelanjutan.

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar perancangan meliputi pembahasan mengenai pemanfaatan penghawaan dan pencahayaan alami pada City Hotel yang bertujuan untuk

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN V. KONSEP DASAR PERANCANGAN Sebuah Universitas pada dasarnya merupakan sebuah wadah pendidikan bagi masyarakat untuk mengemban ilmu,bangunan universitas haruslah di rancang sebaik

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga ini berdasarkan dari konsep

BAB V KONSEP. V. 1. Konsep Dasar. Dalam merancang Gelanggang Olahraga ini berdasarkan dari konsep BAB V KONSEP V. 1. Konsep Dasar Dalam merancang Gelanggang Olahraga ini berdasarkan dari konsep perancangan yang berkaitan dengan tujuan dan fungsi proyek, persyaratan bangunan dan ruang serta proses penerapan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN V.1 Konsep Tapak dan Ruang Luar BAB V KONSEP PERANCANGAN mengaplikasikan konsep rumah panggung pada bangunan pengembangan, agar bagian bawah bangunan dapat dimanfaatkan untuk aktifitas mahasiswa, selain

Lebih terperinci

BAB V Program Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur

BAB V Program Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur BAB V Program Dasar Perencanaan dan Perancangan Arsitektur 5.1. Program Dasar Kebutuhan Ruang Program dasar kebutuhan ruang pada rumah susun sederhana milik di RW 01 Johar Baru dapat diuraikan sebagai

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB 5 KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN A. Konsep Dasar Penyakit merupakan salah satu penyebab stres, jika penyakit itu terus-menerus menempel pada tubuh seseorang, dengan kata lain penyakit itu sulit

Lebih terperinci

BAB V KONSEP. V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan. Dasar dari perencanaan dan perancangan Kos Kosan Hotel ini adalah konsep

BAB V KONSEP. V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan. Dasar dari perencanaan dan perancangan Kos Kosan Hotel ini adalah konsep BAB V KONSEP V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan Dasar dari perencanaan dan perancangan Kos Kosan Hotel ini adalah konsep yang didapatkan dari hasil menganalisis aspek manusia, lingkungan dan tapak,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA PERENCANAAN

BAB IV ANALISA PERENCANAAN BAB IV ANALISA PERENCANAAN IV.1. Analisa Tapak dan Lingkungan IV.1.1 Data Fisik Tapak PETA LOKASI / SITE Utara - 19 - Data fisik tapak / kondisi tapak saat ini tidak banyak berbeda dengan apa yang akan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 KONSEP DASAR Setelah merangkum hasil dari analisa dan studi tema dari bab I - IV bahwa disini penulis akan merancang Bangunan yang berarsitektur modern supaya Bangunan Candranaya

Lebih terperinci

TABEL A1 SPESIFIKASI TEKNIS BANGUNAN GEDUNG PEMERINTAH/LEMBAGA KLASIFIKASI TINGGI/TERTINGGI NEGARA

TABEL A1 SPESIFIKASI TEKNIS BANGUNAN GEDUNG PEMERINTAH/LEMBAGA KLASIFIKASI TINGGI/TERTINGGI NEGARA TABEL A1 SPESIFIKASI TEKNIS BANGUNAN GEDUNG PEMERINTAH/LEMBAGA KLASIFIKASI TINGGI/TERTINGGI NEGARA SEDERHANA TIDAK SEDERHANA KHUSUS A PERSYARATAN TATA BANGUNAN DAN LINGKUNGAN 1. Jarak Antar Bangunan minimal

Lebih terperinci

SISTEM PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN I

SISTEM PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN I Pertemuan ke-12 Materi Perkuliahan : Sistem penanggulangan bahaya kebakaran 1 (Sistem deteksi kebakaran, fire alarm, fire escape) SISTEM PENANGGULANGAN BAHAYA KEBAKARAN I Kebakaran adalah bahaya yang diakibatkan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 47 BAB V KONSEP PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1. Program Dasar Perencanaan Program dasar perencanaan terdiri atas kelompok ruang, program ruang, dan tapak terpilih. Kelompok ruang merupakan kegiatan

Lebih terperinci

BAB VI. KONSEP DESAIN MUSEUM dan PUSAT PELATIHAN BENCANA di YOGYAKARTA

BAB VI. KONSEP DESAIN MUSEUM dan PUSAT PELATIHAN BENCANA di YOGYAKARTA BAB VI KONSEP DESAIN MUSEUM dan PUSAT PELATIHAN BENCANA di YOGYAKARTA 6.1. Ide Bentuk Disain Gambar 6.1 Ide disain 6.2. Konsep Perancangan Karakter Komunikatif, rekreatif, dan atraktif serta analogi bencana

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP PERANCANGAN

BAB IV KONSEP PERANCANGAN BAB IV KONSEP PERANCANGAN 4. 1 Ide awal (conceptual idea) Ide awal dari perancangan stasiun ini muncul dari prinsip-prinsip perancangan yang pada umumnya diterapkan pada desain bangunan-bangunan transportasi.

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Hasil perancangan dari kawasan wisata Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik

BAB VI HASIL PERANCANGAN. Hasil perancangan dari kawasan wisata Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik BAB VI HASIL PERANCANGAN Hasil perancangan dari kawasan wisata Pantai Dalegan di Kabupaten Gresik mengaplikasikan konsep metafora gelombang yang dicapai dengan cara mengambil karakteristik dari gelombang

Lebih terperinci

Perencanaan rumah maisonet

Perencanaan rumah maisonet Perencanaan rumah maisonet Pd-T-01-2005-C 1 Ruang lingkup Pedoman ini digunakan sebagai acuan dalam perencanaan rumah maisonet, sebagai arahan desain dan spesifikasi teknis yang diperuntukkan bagi para

Lebih terperinci

BAB V KONSEP V.1 Konsep dasar Perencanaan dan Perancangan

BAB V KONSEP V.1 Konsep dasar Perencanaan dan Perancangan BAB V KONSEP V.1 Konsep dasar Perencanaan dan Perancangan V.1.1 Sistem modular adalah metoda pelaksanaan pembangunan dengan memanfaatkan material atau komponen pabrikasi yang dibuat di luar lokasi proyek

Lebih terperinci

PERMUKIMAN SEHAT, NYAMAN FARID BAKNUR, S.T. Pecha Kucha Cipta Karya #9 Tahun 2014 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM

PERMUKIMAN SEHAT, NYAMAN FARID BAKNUR, S.T. Pecha Kucha Cipta Karya #9 Tahun 2014 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM PERMUKIMAN SEHAT, NYAMAN DAN LAYAK HUNI Pecha Kucha Cipta Karya #9 Tahun 2014 FARID BAKNUR, S.T. KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM B A D A N P E N D U K U N G P E N G E M B A N G A N S I S T E M P E N Y E D I

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar yang dipakai pada perancangan ini adalah Ekologis

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep dasar yang dipakai pada perancangan ini adalah Ekologis BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 KONSEP DASAR Konsep dasar yang dipakai pada perancangan ini adalah Ekologis Berkelanjutan yaitu merupakan konsep perancangan yang menyatukan kolaborasi antara bangunan dengan

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Suatu bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran

LAMPIRAN. Suatu bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran LAMPIRAN Sistem proteksi pasif terdiri dari : Ketahanan Api dan Stabilitas Suatu bangunan gedung harus mampu secara struktural stabil selama kebakaran sehingga pada saat terjadi kebakaran pengguna gedung

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN. wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik,

BAB VI HASIL RANCANGAN. wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik, BAB VI HASIL RANCANGAN Perancangan Museum Anak-Anak di Kota Malang ini merupakan suatu wadah untuk menyimpan serta mendokumentasikan alat-alat permainan, musik, serta film untuk anak-anak. Selain sebagai

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN PASAR. event FESTIVAL. dll. seni pertunjukan

BAB V KONSEP PERANCANGAN PASAR. event FESTIVAL. dll. seni pertunjukan BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Dasar Konsep dasar pada perancangan Pasar Astana Anyar ini merupakan konsep yang menjadi acuan dalam mengembangkan konsep-konsep pada setiap elemen perancangan arsitektur

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN BAB 5 KONSEP PERANCANGAN PENGEMBANGAN STASIUN KERETA API PASAR SENEN 5.1. Ide Awal Ide awal dari stasiun ini adalah Intermoda-Commercial Bridge. Konsep tersebut digunakan berdasarkan pertimbangan bahwa

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN V.1. Dasar Perencanaan dan Perancangan V.1.1. Proyek Judul Proyek : Pusat Perbelanjaan dan Apartemen Di Jakarta Barat Jenis Proyek : Mixed used building Apartemen

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN BAB 5 KONSEP PERANCANGAN Laporan Tugas Akhir Konsep dasar dari perancangan kampus fakultas kedokteran gigi dan mulut yaitu keselarasan dengan lingkungan sekitar dimana berada dalam kawasan kampus Universitas

Lebih terperinci

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perancangan Batu convention and exhibition center merupakan salah satu

BAB 6 HASIL RANCANGAN. Perancangan Batu convention and exhibition center merupakan salah satu BAB 6 HASIL RANCANGAN 6.. Penerapan Konsep Pada Rancangan 6... Konsep Rancangan Perancangan Batu convention and exhibition center merupakan salah satu penyedia fasilitas yang mampu menampung kegiatan MICE

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN

BAB V KONSEP PERENCANAAN BAB V KONSEP PERENCANAAN 5.1. Konsep Dasar Dari Entertainment Centre Perancangan Entertainment Centre ini menggunakan konsep bentuk menjadikan ekspresi yang mengarah kepada arsitekturalnya, tentunya dengan

Lebih terperinci

BAB VI. Hasil Rancangan

BAB VI. Hasil Rancangan BAB VI Hasil Rancangan 6.1 Hasil Rancangan Perancangan Rumah Susun Sederhana di Kota Kediri merupakan hasil tanggapan desain dari kawasan pemukiman kumuh yang ada di Kota Kediri, selain itu lokasi tapak

Lebih terperinci

Ketentuan gudang komoditi pertanian

Ketentuan gudang komoditi pertanian Standar Nasional Indonesia Ketentuan gudang komoditi pertanian ICS 03.080.99 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar Isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup...1 2 Istilah dan definisi...1 3 Persyaratan

Lebih terperinci

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 5.1. Program Dasar Perencanaan 5.1.1. Tapak Terpilih Berdasarkan komposisi nilai masing masing alternatif tapak, maka tapak terpilih adalah tapak 3. Gambar 5.1

Lebih terperinci

BAB III PROGRAM PERANCANGAN

BAB III PROGRAM PERANCANGAN 29 BAB III PROGRAM PERANCANGAN A. Tata Ruang Makro 1. Penentuan Lokasi Site Gambar 3.1 Peta Kabupaten Bone Bolango (Sumber: Dokumen Faksi Bone Bolango) Pemilihan lokasi site harus memperhatikan beberapa

Lebih terperinci

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PASAR

BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PASAR BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN PASAR 5.1 Program Dasar Perencanaan Bab ini merupakan bahasan mengenai hasil pemikiran menyeluruh, konsep dan program dasar ini berfungsi sebagai penentu desain

Lebih terperinci

BAB V KONSEP DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR

BAB V KONSEP DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR BAB V KONSEP DASAR PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN ARSITEKTUR Perencanaan dan perancangan Exhibition Center bertujuan untuk mewujudkan suatu rancangan fasilitas pusat pertemuan dan mampu mewadahi kegiatan

Lebih terperinci

BAB IV TINJAUAN KHUSUS

BAB IV TINJAUAN KHUSUS BAB IV TINJAUAN KHUSUS 4.1. Perencanaan Bahan 4.1.1. Perencanaan Lantai Lantai dasar difungsikan untuk area parkir mobil, area service, pantry, ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, kamar mandi tamu.

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN Skripsi 5.1 Konsep Kegiatan 5.1.1 Konsep Pelaku kegiatan 5.1.2 Konsep Kegiatan 1) Pengelola Mengurus gedung, dan mengatur jadwal kegiatan yang akan dilangsungkan didalam gedung,

Lebih terperinci

BAB VI HASIL PERANCANGAN

BAB VI HASIL PERANCANGAN BAB VI HASIL PERANCANGAN 6.1 Konsep Dasar Perancangan Konsep dasar perancangan Pusat Studi dan Budidaya Tanaman Hidroponik ini adalah Arsitektur Ekologis. Adapun beberapa nilai-nilai Arsitektur Ekologis

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS. IV.1.1 Pelaku, Jenis, dan Urutan Kegiatan

BAB IV ANALISIS. IV.1.1 Pelaku, Jenis, dan Urutan Kegiatan BAB IV ANALISIS IV.1 Analisis Aspek Manusia IV.1.1 Pelaku, Jenis, dan Urutan Kegiatan Gambar 4.1 Kelompok Kegiatan Pelaku kegiatan di dalam bangunan beragam fungsi ini ada empat, yaitu pengunjung pusat

Lebih terperinci

BAB VI KONSEP DAN DASAR PROGRAM PERANCANGAN RELOKASI STADION LEBAK BULUS, JAKARTA

BAB VI KONSEP DAN DASAR PROGRAM PERANCANGAN RELOKASI STADION LEBAK BULUS, JAKARTA BAB VI KONSEP DAN DASAR PROGRAM PERANCANGAN RELOKASI STADION LEBAK BULUS, JAKARTA 6.1. Konsep Dasar Perancangan 6.1.1. Tujuan Perancangan Relokasi Stadion Lebak Bulus ke Kecamatan Pesanggrahan bertujuan

Lebih terperinci

Page 1 of 14 Penjelasan >> PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

BAB IV KONSEP 4. 1 IDE AWAL 4. 2 KONSEP TAPAK

BAB IV KONSEP 4. 1 IDE AWAL 4. 2 KONSEP TAPAK BAB IV KONSEP 4. 1 IDE AWAL Kampung kota merupakan sebuah fenomena yang cukup unik, di samping memiliki karakteristik kampung, namun memiliki karakteristik perkotaan. Kampung memiliki sifat rasa kekeluargaan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep perancangan dilakukan untuk memudahkan kita dalam merancangan

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Konsep perancangan dilakukan untuk memudahkan kita dalam merancangan BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Perancangan Konsep perancangan dilakukan untuk memudahkan kita dalam merancangan sebuah bangunan. Hasil konsep perancangan didapatkan dari out put yang ada di analisa

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA. IV.1.1. Analisa Kegiatan dan Potensi Sekitar Tapak TAPAK

BAB IV ANALISA. IV.1.1. Analisa Kegiatan dan Potensi Sekitar Tapak TAPAK BAB IV ANALISA IV.1. Aspek Lingkungan IV.1.1. Analisa Kegiatan dan Potensi Sekitar Tapak Gambar IV.1. : Potensi Sekitar Tapak TAPAK Publik Space Polisi, Kantor Pos Pinangsia Kantor Camat Pinangsia Bangunan

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN

BAB VI HASIL RANCANGAN BAB VI HASIL RANCANGAN 6.1 Hasil Perancangan Hasil perancangan Museum Sejarah dan Budaya di Blitar adalah penerapan konsep arsitektur candi Penataran. Konsep dasar ini dicapai dengan cara mengambil filosofi

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMANFAATAN AIR HUJAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air hujan merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

BAB IV: KONSEP Konsep Bentuk Massa Bangunan

BAB IV: KONSEP Konsep Bentuk Massa Bangunan BAB IV: KONSEP 4.1. Konsep Bentuk Massa Bangunan Dari hasil analisa pada lokasi tapak, diperoleh zoning peletakan masa bangunan pada bagian sisi timur yaitu yang berhadapan dengan Universita Mercu Buana

Lebih terperinci

ruang praktis ANDA INGIN JADI ARSITEK Dony Pasaribu

ruang praktis ANDA INGIN JADI ARSITEK Dony Pasaribu ruang praktis ANDA INGIN JADI ARSITEK Dony Pasaribu 50 ruang kreativitas tanpa batas Konon, keahlian membangun rumah atau tempat tinggal adalah bagian dari nature kita sebagai manusia. Seperti layaknya

Lebih terperinci

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi

BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN. Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi BAB 2 EKSISTING LOKASI PROYEK PERANCANGAN 2.1 Lokasi Proyek Proyek perancangan yang ke-enam ini berjudul Model Penataan Fungsi Campuran Perumahan Flat Sederhana. Tema besar yang mengikuti judul proyek

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pelaksanaan berasal dari kata laksana yang berarti kegiatan 5. Pelaksanaan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pelaksanaan berasal dari kata laksana yang berarti kegiatan 5. Pelaksanaan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pelaksanaan Pelaksanaan berasal dari kata laksana yang berarti kegiatan 5. Pelaksanaan juga dapat diartikan sebagai suatu rencana realistis, praktis dan pragmatis yang telah

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN DI YOGYAKARTA. Ditinjau dari data Sebaran Keluarga dan Penduduk Miskin Kota

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN DI YOGYAKARTA. Ditinjau dari data Sebaran Keluarga dan Penduduk Miskin Kota BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN DI YOGYAKARTA Ditinjau dari data Sebaran Keluarga dan Penduduk Miskin Kota Yogyakarta pada halaman 46, maka didapatkan calon user Rumah Susun Hemat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

MENTERI PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 60/PRT/1992 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN MENTERI PEKERJAAN UMUM,

MENTERI PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 60/PRT/1992 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN MENTERI PEKERJAAN UMUM, MENTERI PEKERJAAN UMUM PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM NOMOR : 60/PRT/1992 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS PEMBANGUNAN RUMAH SUSUN MENTERI PEKERJAAN UMUM, Menimbang Mengingat : a. bahwa dengan Peraturan Pemerintah

Lebih terperinci

TATA CARA PEMANFAATAN AIR HUJAN

TATA CARA PEMANFAATAN AIR HUJAN Lampiran Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor : 12 Tahun 2009 Tanggal : 15 April 2009 TATA CARA PEMANFAATAN AIR HUJAN I. Pendahuluan Dalam siklus hidrologi, air hujan jatuh ke permukaan bumi,

Lebih terperinci

PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR

PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR Pendahuluan POKOK BAHASAN 1 PENGANTAR KONSTRUKSI BANGUNAN BENTANG LEBAR Struktur bangunan adalah bagian dari sebuah sistem bangunan yang bekerja untuk menyalurkan beban yang diakibatkan oleh adanya bangunan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Obyek dalam tapak membujur dari arah selatan ke utara, dan berada di

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Obyek dalam tapak membujur dari arah selatan ke utara, dan berada di 118 BAB V KONSEP PERANCANGAN A. Konsep Tapak 1. Konsep obyek dalam tapak Obyek dalam tapak membujur dari arah selatan ke utara, dan berada di tengah dari tapak. Penempatan obyek pada pusat tapak bertujuan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dan juga tarian Swan Lake, maka tahap berikutnya adalah menerapkan

BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN. dan juga tarian Swan Lake, maka tahap berikutnya adalah menerapkan BAB V KONSEP PERENCANAAN DAN PERANCANGAN Setelah mendapatkan data yang mencukupi tentang sekolah ballet dan juga tarian, maka tahap berikutnya adalah menerapkan konsep guna menjawab permasalahan desain

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN

BAB 5 KONSEP PERANCANGAN BAB 5 KONSEP PERANCANGAN 5.1 Konsep Gubahan Massa Konsep memakai Bentuk rectangular Kelebihan massa bentuk rectangular Simple Modern Unit-unit apartemen mudah dibentuk, dan didapat kwalitas ruang yang

Lebih terperinci

RANGKUMAN Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung

RANGKUMAN Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung RANGKUMAN Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung - 1983 Kombinasi Pembebanan Pembebanan Tetap Pembebanan Sementara Pembebanan Khusus dengan, M H A G K = Beban Mati, DL (Dead Load) = Beban Hidup, LL

Lebih terperinci

BAB 5 KONSEP. Tema arsitektur biomorfik menggunakan struktur dari sistem dan anggota

BAB 5 KONSEP. Tema arsitektur biomorfik menggunakan struktur dari sistem dan anggota BAB 5 KONSEP 5.1. Konsep Dasar Tema arsitektur biomorfik menggunakan struktur dari sistem dan anggota gerak makhluk hidup sebagai ide bentuk. Dalam setiap karya arsitektur biomorfik, selalu memberikan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN 2005 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 28 TAHUN 2002 TENTANG BANGUNAN GEDUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN

BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN 6.1. PROGRAM DASAR PERENCANAAN 6.1.1. Program Ruang 1. Kelompok Ruang Penghuni BAB VI PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TIPE UNIT VIP Tempat tidur klien 1 orang 18,1m 2 Tempat tidur suster 1 orang 7,8

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB KONSEP PERANCANGAN Berdasarkan kesimpulan mengenai perilaku-perilaku umum khas masyarakat Kampung Juminahan dan penghuni Rumah Susun Grha Bina Harapan beserta tindak lanjutnya yang telah dibahas pada

Lebih terperinci

Prakata. Bandung, Desember 2004

Prakata. Bandung, Desember 2004 DAFTAR ISI Daftar Isi... i Prakata... ii Pendahuluan.. iii Ruang Lingkup... 1 Acuan Normatif... 1 Istilah dan Definisi... 1 Konsepsi Rumah Maisonet... 2 4.1 Arsitektur Bangunan (ketentuan umum)... 2 4.1.1

Lebih terperinci

106 Shendy Kresnaputra BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RESIDENCE HALL : UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA

106 Shendy Kresnaputra BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RESIDENCE HALL : UNIVERSITAS MULTIMEDIA NUSANTARA BAB V PROGRAM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RESIDENCE HALL : 5.1 Program Dasar Perencanaan Dalam perencanaannya, asrama ini merupakan tempat tinggal sementara bagi mahasiswa tahun pertama, sebagai tempat

Lebih terperinci

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN

BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan 1. Ada beberapa fasilitas fisik di kamar tidur 1 yang belum ergonomis, yaitu tempat tidur ukuran double, meja rias, kursi rias dan console table. 2. Fasilitas

Lebih terperinci

UMY. Sistem Sanitasi dan Drainase Pada Bangunan. Dr. SUKAMTA, S.T., M.T. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKUKTAS

UMY. Sistem Sanitasi dan Drainase Pada Bangunan. Dr. SUKAMTA, S.T., M.T. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKUKTAS UMY Sistem Sanitasi dan Drainase Pada Bangunan Dr. SUKAMTA, S.T., M.T. Universitas Muhammadiyah Yogyakarta PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN FAKUKTAS www.umy.ac.id PENDAHULUAN Pada perencanaan sistem sanitasi

Lebih terperinci

Tata cara perencanaan sistem protekasi pasif untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung.

Tata cara perencanaan sistem protekasi pasif untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung. Tata cara perencanaan sistem protekasi pasif untuk pencegahan bahaya kebakaran pada bangunan rumah dan gedung. 1. Ruang lingkup. 1.1. Standar ini ditujukan untuk mengamankan dan menyelamatkan jiwa, harta

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain

BAB V KONSEP PERANCANGAN. Studi Tipologi Bangunan Pabrik Gula Krebet. Kawasan Pabrik gula yang berasal dari buku, data arsitek dan sumber-sumber lain BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Konsep Perancangan Konsep dasar yang digunakan dalam Revitalisasi Kawasan Pabrik Gula Krebet Malang ini mencangkup empat aspek yaitu: Standar Perancangan Objek Prinsip-prinsip

Lebih terperinci

KONSTRUKSI PONDASI Pondasi Dangkal Pasangan Batu bata/batu kali

KONSTRUKSI PONDASI Pondasi Dangkal Pasangan Batu bata/batu kali KONSTRUKSI PONDASI 9.1 Konstruksi Pondasi Batu Kali atau Rollaag Konstruksi pondasi ini merupakan bagian dari konstruksi bangunan gedung dan sangat penting karena sangat menentukan kekokohan bangunan.

Lebih terperinci

DAFTAR PERTANYAAN AUDIT KESELAMATAN KEBAKARAN GEDUNG PT. X JAKARTA

DAFTAR PERTANYAAN AUDIT KESELAMATAN KEBAKARAN GEDUNG PT. X JAKARTA Lampiran 1. Daftar Pertanyaan Audit Keselamatan Kebakaran Gedung PT. X Jakarta Tahun 2009 DAFTAR PERTANYAAN AUDIT KESELAMATAN KEBAKARAN GEDUNG PT. X JAKARTA Data Umum Gedung a. Nama bangunan : b. Alamat

Lebih terperinci

Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun.

Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. SELAMAT ATAS PILIHAN ANDA MENGGUNAKAN PEMANAS AIR (WATER HEATER) DOMO Dengan cara pemakaian yang benar, Anda akan mendapatkan manfaat yang maksimal selama bertahun-tahun. Bacalah buku petunjuk pengoperasian

Lebih terperinci

PEMBUATAN SALURAN AIR BEKAS MANDI DAN CUCI

PEMBUATAN SALURAN AIR BEKAS MANDI DAN CUCI PEMBUATAN SALURAN AIR BEKAS MANDI DAN CUCI 1. PENDAHULUAN Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoranmanusia. Limbah merupakan

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK Penerapan Healing Environment pada Ruang Dalam

BAB V KONSEP PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK Penerapan Healing Environment pada Ruang Dalam BAB V KONSEP PERANCANGAN RUMAH SAKIT IBU DAN ANAK 5.1. Konsep Penerapan Healing Environment 5.1.1. Penerapan Healing Environment pada Ruang Dalam 1. Poliklinik Anak Pada ruang tunggu, terdapat perpaduan

Lebih terperinci

DED RUSUNAWA KEMENTERIAN PU BERBASIS DESAIN PROTOTYPE T - 24 TA Jakarta, 24 Nopember 2014

DED RUSUNAWA KEMENTERIAN PU BERBASIS DESAIN PROTOTYPE T - 24 TA Jakarta, 24 Nopember 2014 DED RUSUNAWA KEMENTERIAN PU BERBASIS DESAIN PROTOTYPE T - 24 TA 2014-2015 Jakarta, 24 Nopember 2014 I. PENDAHULUAN Latar Belakang dibangun dan dikembangkannya Rumah Susun Sederhana Sewa : a. Kondisi ekonomi

Lebih terperinci

BAB VI HASIL RANCANGAN

BAB VI HASIL RANCANGAN BAB VI HASIL RANCANGAN Perancangan Rumah Sakit Orthopaedi (RSO) di Kota Malang yang terletak di jalan Panji Suroso menerapkan konsep analogi kerangka tangan. aspek yang diterapkan dalam perancangan ini

Lebih terperinci

Pasar BSD City

Pasar BSD City Lokasi Pasar Modern @Intermoda BSD City Terminal shuttle bus dan Trans BSD Dekat dengan Stasiun Kereta Cisauk Parkir kendaraan yang luas dengan fasilitas on ground parking Kawasan Intermoda BSD City menghadirkan

Lebih terperinci

b. Komponen D2 Berat komponen adalah 19,68 kg Gambar 65. Komponen D1 Gambar 66. Komponen D2

b. Komponen D2 Berat komponen adalah 19,68 kg Gambar 65. Komponen D1 Gambar 66. Komponen D2 1. Varian I Varian I memiliki tiga buah komponen yaitu komponen D1 yang berfungsi sebagai dinding utama, komponen D2, komponen D3 dan komponen D4. Varian I dikembangkan dalam modul 70 x 60 cm. a. Komponen

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. letaknya ini, matahari dapat bersinar di wilayah Indonesia selama 12 jam per

BAB 1 PENDAHULUAN. letaknya ini, matahari dapat bersinar di wilayah Indonesia selama 12 jam per BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Iklim tropis yang ada di Indonesia diakibatkan karena letak Indonesia berada tepat di garis ekuator, yang berarti dekat dengan matahari. Dipengaruhi letaknya ini, matahari

Lebih terperinci

RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI YOGYAKARTA

RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI YOGYAKARTA LANDASAN KONSEPTUAL PERENCANAAN DAN PERANCANGAN RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA DI YOGYAKARTA TUGAS AKHIR SARJANA STRATA 1 UNTUK MEMENUHI SEBAGIAN PERSYARATAN YUDISIUM UNTUK MENCAPAI DERAJAT SARJANA TEKNIK

Lebih terperinci

BAB V KONSEP PERANCANGAN

BAB V KONSEP PERANCANGAN BAB V KONSEP PERANCANGAN 5.1. Aplikasi Konsep Aplikasi konsep recreative design diaplikasikan pada bentukan masa yang terpisah untuk setiap fungsi yang berbeda. Setiap masa bangunan dipisahkan oleh ruang

Lebih terperinci

BANGUNAN PERTANIAN SYARAT MUTU RUMAH TANAMAN GREENHOUSE

BANGUNAN PERTANIAN SYARAT MUTU RUMAH TANAMAN GREENHOUSE BANGUNAN PERTANIAN SYARAT MUTU RUMAH TANAMAN GREENHOUSE BY : TIM PENGAMPU MK.MEKANISASI PERTANIAN DEPARTMENT OF AGRICULTURAL ENGINEERING FACULTY OF AGRICULTURAL TECHNOLOGY BRAWIJAYA UNIVERSITY SNI 7604-2010

Lebih terperinci

5. BAB V Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur

5. BAB V Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur 5. BAB V Landasan Program Perencanaan dan Perancangan Arsitektur 5.1. Program Perencanaan Arsitektur 5.1.1. Kelompok Pelaku Pelaku Desa Wisata Keseneng terdiri dari: 1. Kelompok pengunjung, meliputi anak-anak,

Lebih terperinci

DAFTAR STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BIDANG BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL

DAFTAR STANDAR NASIONAL INDONESIA (SNI) BIDANG BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL DAFTAR (SNI) BIDANG BAHAN KONSTRUKSI BANGUNAN DAN REKAYASA SIPIL No. Judul Standar Nomor Standar Ruang Lingkup D Pemukiman (Cipta Karya) 2. Keselamatan & Kenyamanan Metoda Uji 1. Metode Pengujian Jalar

Lebih terperinci

Teknis Menggambar Desain Interior

Teknis Menggambar Desain Interior TEKNIK MEMBUAT GAMBAR KERJA DESAIN INTERIOR Pentingnya gambar teknik bagi orang yang bekerja di bidang teknik, dapat disamakan dengan pentingnya menulis bagi pengarang. Gambar teknik merupakan suatu media

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Dengan modul ini peserta diklat dapat melaksanakan praktik tanpa harus banyak dibantu oleh instruktur.

KATA PENGANTAR. Dengan modul ini peserta diklat dapat melaksanakan praktik tanpa harus banyak dibantu oleh instruktur. KATA PENGANTAR Modul dengan judul Memasang Ikatan Batu Bata merupakan bahan ajar yang digunakan sebagai panduan praktik peserta diklat (siswa). Sekolah Menegah Kejuruan (SMK) untuk membentuk salah satu

Lebih terperinci

TKS 4406 Material Technology I

TKS 4406 Material Technology I TKS 4406 Material Technology I Dr.Eng. Achfas Zacoeb, ST., MT. Department of Civil Engineering Faculty of Engineering University of Brawijaya UMUM Atap adalah bagian bangunan yang mempunyai fungsi ganda

Lebih terperinci