KANDUNGAN RESIDU HERBISIDA 2,4-D _14C DALAM AIR DAN TANAH PADA S.JSTEM T ANAMAN PADI DI SA W AH. (~?fl1ie M. Chairul'dan ELida D.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KANDUNGAN RESIDU HERBISIDA 2,4-D _14C DALAM AIR DAN TANAH PADA S.JSTEM T ANAMAN PADI DI SA W AH. (~?fl1ie M. Chairul'dan ELida D."

Transkripsi

1 Prosiding Presenlasi Ilmiah Kesemmalan Radia~i dad Lingkungan VIII, Aguslus 2 ~litbang Ke~lamatan Radiasi dad Biomedika Nuklir -BA TAN KANDUNGAN RESIDU HERBISIDA 2,4-D _14C DALAM AIR DAN TANAH PADA S.JSTEM T ANAMAN PADI DI SA W AH (~?fl1ie M. Chairul'dan ELida D.iabir Pusat Penelitiall dati Pengembangan Teblologi Isotop daii Radiasi -Batan (,,-'" ABSTRAK Nelly Magdalena Fakultas Farlnasi Universitas Pallcasila. Jakarta fo-z.3 TANAMAN KANDUNGAN R~rnU HEI~8ISIDA 2,4-D _14C DALAM AIR DAN TANAH PADA SISTEM PAm m SAW AH. Telah dilakukan penelitian penentuan kandungan rl"sidu herbisida 2.4-D dalam air dan tanah dengan menggunakan perunut 14C pada sistem persawahan. r'adi clan gulma eceng gondok (Monochoria vaginalis Burn. F. Prest) ditanam pada ember berukuran 1 I dengan dua macam kondisi tanah yang berbeda yaitu tanah Donna! daij tanah dengan pemadatan 3% di alas normal. Setelab berumur I minggu penanalnan, dilakukan penyemprotan dengan herbisida 2,4- -14C sebanyak I ~Ci ditambab dengall,4 mg herbisida 2,4-D non radioaktif. Kandungan residu di dalam air dan tanah serta dalam akar dad daun guhna ditentukan pada, 2, 4, 8 dad 1 rninggu (panen) setelah penyemprotan dengan herbisida 2,4-. Anali..,is dilakukan dengan mcnggunakan alat C.onwustion Biological Oxidizer, dati dicacah dengan alat sintilasi kelip I.~air. Hasil yang didapat yaitu kandungan herbisida dalam air dad tanah menurun dati mulai penyemprotan sampai pada masa pallen. Kandungan residu herbisida dalam air setelah pallen adalah,87 x 1 ~ ppm untuk kondisi tanah nonnal. dan,59 x 1 - ppm pada kondisi lanah pcmadatan, sedangkan kandungan herbisida dalam tanah adalah sebesar 1,54 x 1 -,; ppm untuk kondisi tanah n(\nnal clan 1,48 x 1 ~ ppm untuk kondisi tanah pemadatan. Kandungan residu herbisida 2,4-D dalam buah padi sclclah pan~n adalah.27 x 1 -,; ppm untuk kondisi tanah nonnal datl,25 x 1 ~ ppm untuk kondisi tanah pemadatan. Kandungan herbisida 2,4- dalam akar dan ~un guhna setelah paned berturut-turut adalab scbesar,29 x 1-5 ppm dan.18 x 1~ ppm untuk kondisi tanah Donna!, sedangkan untuk tanah dengan pemadatan 3 % di ata.~ nonnal adalah.25 x 1-'; ppm clan :63 x 1-7 ppm. Hasil ini tidak menyebabkan pencemaran terijadap lingkungan karena masib berada di bawah baw ambang yang diizinkan yaitu,5 ppm. ABSTRACT CONTENT OF 2,4-D-1"C HE[{DICIDE I{E.~IDUE IN WATEI~ AND SOIL OF IRRIGATED RICE FIELD SYSTEM. The investigation of 2,4--I"C herbil~ide re.'iiduc in wa(~r and soil of irrigated rice field system was carried out. Rice plant and weeds (M()/lochoria vagi/la.tix Burn. F.Prexl) were planted in 1 I buckets using two kinds of soil condition, i.~. nonnal soil and 3% above nonnal compact soil. After one week planting, the plants were sprayed with I~Ci of 2,4-_14C and.4 mg non labeled The herbicide residue l~ontent was detennined,2,4,8, and 1 weeks after spraying with 2,4-D herbicide. The analysis was done using Combustion Biological Oxidizer merk Harvey.- ox-4, and counted with Liquid Scintillation Counter merk Beckman m(ldel LS-181. The results indicates that the herbicide contents in water and soil decrease from the first spraying with herbicide until harvest. herbicide Residue content in water after harvest was.87 x 1 -" ppm for soil nomlal condition. and.59 x 1-6 ppm for the soil 3% up nonnal condition, while herbicide content in soil was 1.54 x 1 -" ppm for soilnonnal condition and 1.48 x 1-6 ppm for soil 3% up nonnal. 2,4-D herbicide residue content in rice after harvest was.27 x 1-6 ppm for nonnal soil condition and.25 x 1-6 ppm for the soil 3(7 up nonnal. 2,4-D herbicide residue content in roots and leaves of weeds after harvest were respectively.29 x 1." ppm and.18 x 1." for nonnal soil condition, while for 3 % up nonnal soil were.25 x 1.5 ppm and.63 x 1-7 ppm. This result indicates that thcre is rio efft"ct pollution to surrounding area, because the herbicide content is still bellc)w tile allowed detection limit..5 ppm. 92

2 PENDAHULUAN PernbaIlgUllaIl dalain bidailg pe11aniail ditujukail untuk rneningkatkan (JendapataIl petani dail kesejahteraail rakyat, baik di Indonesia rnaupun di negai"a-negara YaIlg SedaIlg berkernbailg laillllya" KebutuhaIl bahail pailgail terutama L~ras sernakin rneningkat sesuai dengail perlambahan penduduk dai"i tallun ke tallun. Oi sisi laill penillgkatail nahan pailgail ini selalu rnendapat keljdala yang serius, terutaina adailya gailgguail serangail haina, baik SeraIlgga, jainur, gulma, tikus maupun binatailg penggailgu lainnya. Salah satu serangan YaIlg paling tidak dapat dihindai"i adalall adilllya gangguall d,u.i tailaillail penggailggu yaitu gullna" Gulma rnerupakail tailamail YaIlg selalu berkornljelisi dengail tailainail budidaya, tel"lltarna berkornljetisi lultuk rnemperebutkail unsur-unsur hara YaIlg ada di tailah. Ulltuk menatlggulatlgi serangan ini raja wnwmlya petatli melakukatl pemberatltasatl s~cara matlual maupwl secat'a kimia\vi, Masing-masing cat'a ini mempwlyai kelemahan, karella.iika dilal.'"ukatl secara matlual, akatl mcllgeluat'kan biaya Yatlg Satlgat batlyak untuk p~talli, sedangkall,jika menggwlakatl secal'a kimiawi yailu dellgan herl)isiua akan teljadi pencemat'atl lerhadap lingkungcul ataupwl terhadap petatli itu selldiri. Herbisida YcUlg Sel1Ilg digwlakatl oleh petatli adalah propculil, diuroll dati 2,4- [1,2], Penggunaatl h~rbisida lersebut adalah dellgatl cara melarutkatl dalatn air, lalll disemprolkml pada tatiatnatl budidaya. Untuk melindwlgi tallamall pangall, maka petatli serillg melakuk,w penyemprotatl herbisida 2,4- seccu'a berulallg k,lii. Pemakaiatl pestisida Yatlg sem,lkin batlyak dapat melllpakatl swnber pencemarall terliadap bahall pangatl dati lingk"1lngan karena adcwya residll yang ditinggalkatl pada air atallplln lanah, Cara lain Yatlg digunakcul selain menggwiakatl herbisida adal,ui dcng,ui cara pemadatatl atau lebih efeklif jika dilakukan keduatlya yaitu cara pemadalall JaIl pernliubculan herbisida, Pemadatatl pada tallaji persawajlall diiakukatl sebagai penggatiti pelumpuratl dalilm penyiapatl penatkllnatl dimatla akall berlujllan Wllllk menguratlgi perkolasi au' [3,4], Pada keadaatl terseblll dihat'apkall herbisida Yallg lalllt dalam air akatl Icbih sedikil mellc.:mhlls lapisall taiiah daerah perakaran padi dan akan lebih ball yak berada pada genangan air yang akan diserap oleh akar tallaidatl gulma dan diharapkan residu hel-bisida pada basil pallen padi lebih sedikit diballdillgkan dengatl tatiall Yallg tidak dipadatkan. (tatlan nonnal). MCIIUlllt Benn dan Mc. Auliffe (1975), pcnambahan suatu substansi kirnia asing ke dalam suatu lillgkullgail balk air, tanah ataupun tanatnan dalam.illmlah yang sekecil-kecilnya merupakan awal tel:iadinya pelll.:emaratilillgl~an[5). Herbisida2,4- digullakall wittik memberalltas gulma yang llerdalln lehar misalllya guhna Salvinia,nolesta, Sah'il/ill nafm/s cillo Residu 2,4-D yang diizinkan oleh FA<:>/wH<:> di dalam tanah dan air yang dikollsllmsi IIII(uk Illmah tatlgga adalah,5 ppm. HenJisida 2.4- bersifat sistemik dengan nama kimiallya adalah 2,4-diklorofenoksi asam asetat dellgan l"lulllls hatlgwi sebagai berikut[6]: Gamllarl. 1~lImlls Baogllo herbisida 2,4-D asam asetat Ncuna dagallg Y3l1g sering dipeljual belikan dipasarall adalclh[7]: P3l1adin 24, IIldamin 72 HC, Lilldomill 865 AS, Saturn-I? 6 G dan lain sebagaillya. Bc:rtitik tolak pada uraian di atas, maka dilakllkall pc:llclitian untuk menentukan kandungan herbisida 2,4- dal3ln air d3l1 t3l1ah pada sistem tanalllall pc:rsawail3l1 deng3l1 menggunakan C-14 sebagai pel"llllut. TujU3l111ya adalah untuk melihat sejallil mana residu herbisida pada air dan tanah yang akan mellcemari terhadap lingkungan akibat pelly~mpr()tall herbisida untuk memberantas gulma yallg akan m~ngg3l1ggu tanaman padi di sawah. TAT/\ Kt~I{.JA l~llelitiall Hahan. c Bahan yang digunakan dalam illi adalall: bibit padi dati varitas IR-64, gulma ecellggolldok (MolWchoria vaginalis Bum. /7. P,.(~.5/.). H~rbisida 2,4- dengan aktivitas 12,8 P3KRBiN-BATAN

3 F'res~t:lsj IImiah K~sel:lm:lt:ln R:ldi:lsi dad Lingkungan VuI, Agustus 2 mci/mmol yang didapatkail dari IAEA VielU1a, hel-bisida 2,4- non radioaktif dai-i fyi'. Dhanl1a Ardha Forma, metajlol, asetoll, toluena, lai1jtall Scintilator (yang terditi dai-i Toluen I liter, Pf'() 3 grain, POPOP,1 g) Peralatan- Alat yang digullakml dalmll penelitiall uli adalall mib-o syringe, alat combustion (Biological Oxidizer merk Halvey model ox-4t)(), alat pencacah kelip cair (I~iquid Scintillatioll CoWlter) merk BeckmalUl LS 18 I- yaitu: Metode. Kondisi tan.ah dilakukan 2 macam 1. tallall Donnal 2. tallall dedgajl kepadalclli 3 /(1 di ;ti,ls Dolmal Pengamatan dilakukall lerhadap I. Tanah dml air sawall 2. Akm" dml daun gulma Penanaman padi dad glllma. Oal.,m ember bel11kw.all 1 I di isi tan.u1 deng.ul 2 variasi sistem kondisi tail all yaitu tallan nol1nal dan I.Ulah dengall pemadatan 3% di atas nol1nal. Kemudi<ul digenallgi dengall air setinggi 5 cm dari pel1nnkaan tanall. Padi Yallg telall disemaikan selama 21 h;,;-i ditanam ke dalam ember tei.sehul, herikul gulma eceng gondok. Setelah bel-umur I minggll. disemprot dengall 1 ~Ci 2,4- _14C dan 2,4- non r<ldioaklif sebanyak,4 mg ke dalaln masing-masing ember melalui tailall. Kalldungan resiclu herbisida 2,4-- 14C dalam air, tall all, akar dan d.lun gulma clan hasil pallen ditentukan pada minggu ke,2,4, 8 d.ln 1 paska penyemprotall. Masing-masing dilakukan 4 kali ulangall. Analisis kandunghn 2,4-D dhihm thilhh, ~kar dad dado gulma. Sebanyak 2 gram Si:llnpel tanall dikemlgkall pada suhu kamar, kemudiall digerus. Tanah halus, Seball)'ak,2 mg, dengan alat Biological dibakar <:)xidizer Harvey ox-4. 14CO2 yang teljadi ditmnpung dengan lal-ulan sintillator, lalu dicacah dengan pcncacah kelip cairo dalam air. Analisis kandllnghn hcrhisida 2,4- Seballyak 2 ml sampel air dimasukkan ke dalmn gelas vial- ditmnhahkan Im11l<Ul SCilllil.llor sebayak 1 ml, dall dicacah dcllg.ul pellcacah kelip can. basil Analisis kandllngan 2,4-1) dalam pada paned. Sebllilyak.2 mg p.,di y:ulg dikerillgkan li(lara, dibakar dengan Biological Oxidizer, 14CO2 ditampung dengan larutan Scintillator dan dicacah dengail pencacah kelip cairo HASI.IJ DAN rembahasan Pada GaJnbaJ" 2, kandwlgan Terata herbisida 2,4- dalam air pada kondisi tallah normal pada minggu ke-o yailu sebesar 5,32 x 1-6 ppm, clan pada millggu ke-2 naik menjadi 5,93 x 1-6 ppm. Hal illi diseuaukajl kaj"ena pada minggu ke-o, 2,4- D yallg disemprotkan belum merata pada pelmukaan air Jail "juga sebahagiajl telah diserap oleh tanah, sedallgkajl pclda minggu ke-2 herbisida yang disemprolkclllleiall merata sehingga didapatkajl basil caccul;lliliya lebih tinggi. Jika dibandingkan dengan kalljlllig;ul 2,4- dalam air pada kondisi tanah dellgclll pemadalan 3 % di atas normal, maka pada millggu ke-o lebih tinggi bila dibandingkan dengan tallah liolmal. Hal ini disebabkan karena herbisida 2.4- oleh Uliiall YaJlg dipadatkan kurang terserap oll::h lajlah dimajla pori-poli tallall kecil, sedangkan pada tall"h Iionnal telall terserap KalldungaJl 2,4- pada minggu ke- ke-4 sampai minggu ke-lo menunm ~ecara dastis baik wittik k(jildisi (anah nonnal maupun lanah dengan pemadal,ul 3 o/() di alas nolmal. OimaJla kandwlgan h~ruisida ulltuk tallall normal pada minggu ke-4 scbcsar 1,53 x 1-6ppmmenunnlmenjadiO,87 x 1-6 ppm pada minggu ke-lo, dad pada kondisi tallah d~n~an pemada(all 3 % di atas normal kandwlgan hcrbisida 2,4- menurun dari 1,82 x 1-6 ppm pada minggu ke-4 menjadi,59 x 1-6 ppm pada minggu ke-io. Ini disebabkajl kaj"ena herbisida di dalam air telall dis~rap oleh akar tallaman gulma dimana akar gulilla m~ligapung pada lapisan ail" dad diu"allslokasikan ke tallalnall gulma, dad sebahagian discrap oleb ran.ill dajl secara perlahan-lahan diserap oleh ak,lr tallamajl padi, sehingga kandungan residu dalam air telah berkurajlg. P3KRBiN-BA T AN 94

4 Presentasi llmiah Keselamatan Radiasi d:ln I_in!!'-un!!:!n VIII, A""SluS 2(~1O.,~~U-~. ~ -" E a. a. 8 CD I a ~x "--' I ~- C'\J (I] " "(;j :c '- Q).c :J " (;j Q) ~ Waktu (minggu) 8 1 Gambar 2. Kandllngan residll Ilcrbisida 2,4-D dalam air pada kondisi tanah normal dan tanah dcn~an pemadatan 3% di atas normal. Kallduligall residu herbisida 2,4- dalam tallall dengall kondisi tallah noflllill d.lll pada kolldisi tanah dengan pemadatall 3 % di alas mmnal dapat dilihat pada Galnbal. 3, dimarul kanduligalulya pacta minggu ke-o sebesar 5,41 x 1 - ppm, dan menul"llll pacta minggu beril'1lulya sampai minggu ke-io " secara periallall-lahall sebes;u..1,54 x 1-6 ppm liilluk tanah nanna!, dall1111tuk tallah deng.an kolldisi lanah pemadatail 3 % di alas no1ll1al sebesar 5,12 x 1-6 ppm pada mulggu ke-o mell.iadi 1,48 x 1- ppm pada minggu ke-1. hli disebahkall karena pacta _minggu ke-o, herbisida 2,4- sebahagiall berada rlalam air dall sebagiall telah terserap oleh lanah, sedallgkall pada minggu ke-2 dan setel"llsnya menlll"uil kal.ena herbisida y;uig acta dalam I.UIah telah diserap oleh akar tallalnan pactio hli lel:iadi pad;l kondisi tallah nol~nal maupun lanah dengan pemadatan 3 //1 di atas nonnal. Untuk perballdingall kandungall rerata residu herbisida 2,4-D dalaln tanah Yallg. noflnal dengan tallah Yallg dipadatkan 3//1 di at as noflnal, ditunjllkkall juga pada Gambar 3. Pollia minggu ke-o, kandungan residu 2,4-D dalam l,mah lionnal lebih titlggi dari tanah yang dip,llialk,m ~~()(fr, di alas nofdlal, hal ini disebebkan karella lanah pad at pacta minggu ke-o tersebut belum dapal mcyerap herbisida, sedangkan tanah nofdlal tela.1j mcycrap herbisida karena mempunyai rongga yallg lehih hesar dali tallah yang dipadatkan. Pad a minggu ke-2. kandwlgall residwlya bait pada tanah nonnal maupull tall all Yallg dipadatkall tidak berbeda nyala, kemudian pada minggu ke-4, telihat residunya lebih lillggi daripada tanah nofdlal. Hal ini karena tanah nomlal melljelang minggu ke-4 herbisida 2,4- D lclah mulai diserap oleh akar tanaman padi, scdallgkall palla tallall Yallg dipadatkan 3% di alas 1lmai pellyerapall pada tanah agak lama, sehingga pcli}'crap;ul oleh akar tanamall padi belum sempuma. Ocmikial1 seterusnya dimana kandungan 2.4-D dalam lallah selalu berbanding terbalik antara tallah Ilomial dl::ngal1 tal1ah yang dipadatkan - Kalldullgall herbisida 2,4-D dalam akar gulilla yallg dil;l1lam pada tallah nofdlal dad tanah dclig;11l kcpadat;ul 3% di alas nofdlal terlihat pada Gamhar 4. 'I"crlihat bahwa pada minggu ke-o dad millg,':!.u kc-2 unluk tanah yang dipadatkan 3 % 95 P3KRBiN-BATAN

5 l'rl'sclllasi Ilmiah Kcsel"I11'""" I{adia"i dun Lingkungan VIII, Agusuis 2-6 e- o.. I ~- N ~ U "ii) (J) (k:: Waktu (minggu) Gambar 3. Kandungan hl'rbisida 2,4-1) dalam tanah pada kondisi tanah.normal dan tanah yang dipadatkan 3% di atas normal diatas nonnal, r(:'.sidunya lebih tinggi hila dibroldulgkrol dengrol residu pad a akar glilma yang ditrolron pada tailall nonnal, kemlldi;ul pada minggll ke-4 drol setel"usnya sronpai millggll kt:-io lebih rendall dari dalron akro' gulma yallg ditallron pad;l tailall nolmal. Hal ini disebabkall karella pada minggu ke-o clan millggll kc-2, pellyerapan herbisida pada tanall nonnal Icbih bcsar dro'i tallah yrolg dipadatkrol, sehingga.illmlan nt:lbisida yall);!, ada pada air trolall nollila! lebih kecil. Sepel1i diketallui bahwa gulma adalah tanamall air y;ul);!, selalu menyerap W1Sur hara dro'i air. pada Gamba!' 5, ditunjllkkan kandllngcul radioaktivitas herbisida 2,4-1:) dajam dawl glilma pada 2 macam kondisi tanah. raja gratik.illg;' terlihat bahwa radioaktivitas p;lda dalln glilma Yallg ditanam pada tailah yang dipadatkrul lebih tinggi pada minggu ke-o dan millggu ke-2, oila dibroldingkan dengan gulma yrulg dil;ulam pada tanah nonnal, kemudirul pad.. millggll ke-4 kroldungannya lebih rendah drui dalill gllilna y;ulg ditrolam pada tailall Donna! dall pada millggll ke-x naik menyronai kroldwlgml rcsidullya pada lallan al d,ul pada minggu ke-lo de.jlgall dr.(sliso turun kembali Hal il1i sejalarl dengan penyerapan oleh akar gulilla. k,uoena akar guima telah menyerap herbisida Ichih barlyak, sehingga daun gulma juga akall m~iiyt:rap lebih barlyak, dad jika akar gulma mt:llycrap 1l1akill sedikit maka daun gulma juga akan mctlycrap sedikit. dalill Untuk kandungan 2,4-D pada gulll1a ymlg ditanam pada tanah normal pellycrapallllya lebih stabil sampai pada rninggu ke- 1 bila dih,mdingkarl dengan kondisi tanah yang dipadalkall. Kcu"ena penyerapan herbisida pada tanah y,mg dipadalkml agak larnbat hila dibandingkan detlgall lal1,nl nonnal mcii)!crap Ichih larnbat juga. sehingga akarpun akan UlIluk melihat pengaruh kandnngan hcrhisida 2.4-D dalarn air dad tanah yang semakin lalll,l sl:makin berkuloarlg maka dilal.'"ukan juga,ulalisis k,lijdungarl herbisida 2,4-D terhadap akar gulilla, d,llijl gu1ma, akar padi, batang padi, dann padi dall huah padi setelah 1 rninggu (panen) dcl1gall ml:mbandingkan antara tanah dalam keadaan normal dcllgan lanah yarlg dip:!,datkan pada 3% di al,ls ,11 yang ditunjukkarl ~!lda Gambar 6 P3KRBiN-BA TAN 96

6 Presentasi Ilmiah Keselamatan Radiasi dan I_ingkungan VIII Agu"tu" 2/1(1() --- E C- o. U), a T"- x '--" I ~- N (13 " oil) :c '- Q).c ~ " oil) Q) :: 2 t C II 1 I.1 I I. f WakbJ (minggu) Gamhar 4. K1Indlln~1In ht'rllisida 2,4-1) d1l11lm akar gulma pada kondisi tanah norm1l1 dan tan1lh yan~ dip1ldatk1ln 3% di atas normal E.. W I..-.'6,. oq-. N ro "C.Iii :is '- C1>.c =' "C "Iii C1> I:t: Gambar 5. Kand\lngan herbisida 2,4-1> d~i;111i dalln g\llma pada kondisi tanah normal dan tanah yang dip~ci~tkan JUO/" di atas normal 91 Pi:KRBiN-BATAN \

7 Presell!:!'; Ilmiah Kc"ol"mat""Kadiasi dati Litlgkutlgan VIII, Agustus 2 Tal}cll. l~ob(lt r..'rata hll...il plillcil padi Katldungatl 2,4- d,uam akar gulma pada kolldisi tatlall nonnal lebill tinggi dari p,lda d,lllll guhna, ini disebabkatl karena tel:iadi akumulasi herbisida 2,4- pada akar. sellingga pada dalill Y;111~ JipacJalk~m 3% di atas nonnal dapat dilihat paja latlel I. T erlihat ballwa bobot padi pada tanah 1I(lllllal 1~I,ih relldah dari tanah dengan pemadatan, ~r~~lma Oaun gul~a_~dt -~-,~!!.~~i_oaun pad; Buah padi Gambar 6. Kandlln~an hl'rllisida hatan~, d.-lin dan hll}ih 2,4-1) p~lda }ikar dad dalln gulma,akar, p}icli p}id.- m.-sa paned. gulma menyerap 2,4- lebih sl:dikil. illi lel:iadi o.lik o,lik k(llllrol maupull dengail menggunakan pacta kondisi taxlall nonnal maupul1 tanah )'allg li..'roisij,i, St:d~mgkaIl jika dibandingkan antara dipadatkail 3% di atas normal,!'.ida aka.- p:ldi, 1,111.,mall yang diberi herbisida dengan konu'ol maki kaildullgail herbisida 2.4- (chill linggi hclocll hllah padi lebih tinggi pada taxlaman yang dibandingkan dengail dalam hat,mg patti. dawl p.ldi, bait pada tailah dengan konjisi rnmllal maupwi tanah dengan kondisi pemajalall. s..:jallgkan radii buah padi, kandwlgail herhisida!ehill b~sa.- raja kondisi tanall uonnal dibculdillgkall d":llgml kolldisi tanall pemadatail 3% di alas 1lllrlllal, Hal illi disebabkan kai'ena pada tallah pad at. Irmlslclkasi dill..:ri CII..:h herbisida. Hal ini dapat disimpulkan h.lh\\'a alll;lra lallah dengan kondisi pemadatan dan pl.'ii~~llilaall herbisida, hasil pallen padi lebih tinggi d:lri radii 1,lnmn,Ul YaIlg diben herbisida tetapi dl:li~all kolldisi ICUlall nonnal, Karena tanah dengan pl.'iliadal;111 3()% di atas nonnal dapat menghambat pl'rklliasi air, sehingga gulma yang merupakan herbisida Ulltuk scunpai ke huall padi lehih susan lall,llllall air lebih terhalang kehidupannya kai-ena penyerapcumya yallg sall~al pelml. l/1i dillalldi/1.~kall dengan tanah normal, sehingga dipengaruhi oleh kepadalall t,mall d":lig.1i1 ad..lllya rongga poli-pori YCUlg halus dihalldi/1gkall dl:nga/1 tanah nolmal. Untuk melihat jun}lall hasil p,ulell padi mak..1.iika dibculdulgkail alltai-a t,wall rnmnal dl:lig;m lallall lallallla/1 padi lebih leluasa untuk hidup, ' -' j P3KRBiN-BA TAl': 98

8 .1""'...;i11 Presellt."\si llmiah Keselamatall Rattia,;.Iall J_ill~kllllgall VIII, 2.\ -24 A~II"lI' 2()l1(1 KESIMPULAN (;,,\\1 h", Soil mid Rice, mri. Los Banos, Oari penelit~ yang lelah dilakukall di..pi'l disimpulkail bahwa kandullgall herl}isida 2.4-() dalain air tanamaii padi mellul1l11 dari waklll kewakul yaitu dati awal(jenyemprut,ul smnpai pad.1 masa pallen, yaitu sebesai-,87xjo - ppm Uilluk tanah nonnal daii,59 x 1 - pp111 ulltuk t,lli,ll1 dengaii pemadataii 3% di alas lionnal- KaIldungaIl residu herbisida 2,.4- pada tailah I:a1laInaIl padi juga lilellurull dafi mul.li penyemprotan sainpai masa panell. yailu sebesar 1,54 x 1-6 ppm untuk tanah lionnal.. dml 1.48 x 1 6 untuk tailall dengail pemadatall. KaIldUllgaIl residu li<tsil pallen p,ldi ad<ti,111 sebesai- 2,75 xl -6 pplll UIIluk lililall Ilunnal dall,25 x 1-6 ppm untuk kolldisi talla!1 pellladatall. KaIldungan tersebut masill berada.iilul1 dibawah ambailg balas, karella batas mnbiulg yall:,! diiziilkail oleh FAO/WHO ad,uall sebesar,5 prill. Sehingga penggwlaail herbisida 2,4- lerlladap tailamail padi Ulltuk mengendalikau tidak menimbulkail ser,ulg<t.!1 gulilla pencem,lj(lll terhadap lillgl"ll1lgall jika pemakaiaiulya tidak dilakukau beruliulg kali. daii basil pailelulya ptln lilenillgkat hila dibaildingkail dengaii tanpa menggullakall herbisid.i. OaII akail lebih menmnb,uj hasil pallell.iika SiSIl:llt kondisi tailah dengaii CaI-a pellladal,ul 3 % di alas nonnal. DAFTARPUSTAKA 1. ULFA TAMIN, SOJ.'NIE M.CH., d.111 M.M.SULL~TY A TI, Aplikasi rol111ul,lsi Herbisida 2,4-D-14C Pellglepasan Terkend,lli pada Gulma ltik (Lc~IIII/a JI('IJlusilla Ivn-). PI'osidulg Koluerellsi Ilmu Gulma Indonesia X II. Padang, SOFNIE M.CHAIRUI.. d,m EI,IDA D.JAI~II{. Penglepasall Terkendali. Herhisida 2.4--I.lC pada Gulma Salvinia IUI/cm"\' dall Sah'il/;/l molesta, PI'osiding Konferellsi Ilmu Gulma lildonesia XII, Padang, 1994, 3. DE DATA, S.K., Principles and Practices {,i Rice Production, 1hn Willey Singapore and Sons Inl'. 4. GHILDY AL, B.;,'., "Effect of Compaction ai/i!, Puddling on Soil Plllrysical Propcnics and I{il"l" I.agulla, Philippines 1978, I~ENN, f.r. and Mc. AULLIFFE, Chemistry,llld Polution, the Mac Millan I,(lndoll 1975 Press LTD. C1. I\N()NIM, Pestisida untuk Pertanian dan Kl.:hlllttllttll, Komosi Pestisida, Departemen 1":11ttllittll, SHI':I':T. T..J.,"ln roduction to Environmental.'c,xil.{I!{'gy, Agllcultural Pollutant, Elseiver NIII1 Holland Inc. New York 198. R. i\n()nfm, Fmm Chemical Handbook, 1982, {'Xl-CX3. I)I."KUSI ZOl'Oar, P3KRBiN-BATAN a. I~~rapakah konsentrasi (kandungan) herbisida O;tl;1111 lalla11 pada awal percobaan? h. I )ell.~all,isllil1si ba1jwa berat tanah dalam ember 11all:a :!: 16 kg (volume tailah::l:8 liter beratjenis = 2.7 ; porositas 25%), sedangkan herbisida yang (li.~lii\akall,4 mgr konsentrasi herbisida awal Ill'rC(lhaall hanya (,4 mgr)/(16 kg) =,25 ppm. Kllllselllrasi ini terlihaulya jauh di bawah batas ~'allg dii.iillkan, Mohon komentai'/ penjelasannya t..'rhiljap pciicemarail lingkungan, (percobaan,..:rlihalll)!a dilaj,.'"ukail pada kondisi yang aman, jallh (Ii I};twah batas YaIlg diijinkan). s,.rfli{' M. <:hairlll, P3TIR-BATAN,I. ",IIIUIIII~all herbisida dalarn tanah pacta awal IJI. rl:()h;i,11l selelah karni lakukan analisis tidak (cruallal nerbisida di dalarmlyao h. 1:I. r,l( 1,"lan y<ulg kroni g\lllakrol acta 5 kg. l'i. IlI. lili,1i1 illi kroni melihat efek sarnping Illdap,11 air alau tailah setelah pallen, apakah 1111:1l1. ':lllari lillgkungan atau tidak. )\1111;1\\';1;, I'JKIU~iN-BA h TAN i-\()lltiisi lallah YaIlg digunakan tanah barn yang ill'll,ls dari herbisida/ tanah lama yang ada I'L'llIlm,~!.kjllan mengaildwlgherbisida? : :II(III~ k(llldisi di lapailgan ada kemungkinan "'Itlall 1II'::llgandung herbisida sehingga pada saat ;,,\a IJ..'oallloall;m herbisida ada kemungkinan 99 [-'3KRBiN-BA TAN

9 J'resent:lsi IImiah K""'l'I"mal:11I Radiasi dad Lingkungan VIII,:d3-24 Agustus 2 faktor transfer ke tatlaldall berbeda, moltoll komentar? 1;lma keadaan tidak aman tersebut akan teljadi paska pcnggunaan herbisida? Sofm~M. Chair"l, P3TII~-I~A TAN Sllflli(' M. Chairul, P3Tm-BATAN a. Tallah yang Yallg digunakan pada penelitiatl illi adalah tanah Yallg beku digunakan sebelulllllya. Jafi secara logika tidak meugandung herbisidil. Tetapi Ulltuk sebagai konlrol kami melakukao analisis kandungall residu lierbisida dengan carol konvesional atausecal.a IJencacahan. b. Untuk kondisi lapallgall lersebut telall diutal.akan sebelulllllya bahwa Ilerbisida tersebul mempwlyai waktu pal.oll Yallg s<u\gat sillgkal sekali. Apalagi dellgan adculya callaya matahari/pemallasail olell matallal.i maka herbisida tersebut akall terdegradasi I tel"ltr;li menjadi senyawa Yallg tidak bet-acun. a. "I'U.iuilllllya adalah penanggulangan gulma Jisampillg dengan pestisida/herbisida ada juga Jilakukan dengan pemadatan hal ini adalah untuk IfI(;ll.iaga air pacta tanah sehingga tanaman padi Il~rulama padi tidak tercemar oleh herbisida. Kart:lla tujuannya acta untuk gulma sehingga pad a percobaail uti kami ingin membandingka alltara kadar tanah tersebut. b. Kcada'lIl pasca tidak aman itu acta pacta umur -7 ii"r; (I minggu) sedangkan mutu paden dari padi tcrst:hul acta selama 3 bulan atau minggu ke-12 M. Yazid, P3TM-BATAN Nani Kartini, P3TIR-BA TAN a. Selama pertwnbuhall tallalnall padi d3il sid I () minggu apakah air tidak dilambajl mengillgal tall3inan padi ditanaln dalam pol. b. Bila ditambah apakah tidak mtlngkin pellul"llllall residu karena penalnbahall air (pellgencerall). a b. /\pakall residu herbisida juga membahayakan k~st:halcui mallusia " Bukankah hanya bersifat rit.~uii SIJesitik wltuk tumbuhan Herba? Jika ya. orgall kritisnya apa dan t Ih biologisnya 11t:rapa? S(,fJ1it' 1\1. Chairul, P3TIR-BA TAN Sofnie M. Chairul, P3TIR-I'A TAN a. Ail' pada tanarnail padi tersebllt selalu di.;ag;, fungsinya. Jadi setiap ada.pengllkm'ail dilakllkaji penarnbahail dengan air. b. Seperti hat di atas rnaka residll tersebllt tidak teljadi pengencerail karena aimya dijaga tclap seperti keadaan semula. Zubaidah, P3KRBiN-BA TAN b. a. Apa tujuan dari penanamcul pada tanall padatall 3%? b. Telah diperoleh data residu herbisida dalam tanah untuk satu kali penyemprotcul herbisid.. dengan konsenu.asi tertentu YCUlg temyata masih di bawah batas YCUlg dii.jillkan. SCdculgkcul pad.. kenyataadllya penggunacul herhisida bemlcm~ kali pada lokasi tculah yang SCUllcl. Hal ini.ielcls ajcan teljadi al.rumulasi residu herbisida dclll p/.enjadi tidak ajllcul bagi man usia. Bagaimctlla komentaj' ajlda terhadap masalah di atas '? Bcrapa a. I-lerhisida merupakan senyawa pestisida yang S;lllg..It herhahaya pada manusia karena bersifat raelili. Tetapi jika residunya masih berada di ha\\'ah ambmlg barns, tentu tidak akan memhahayakml, seperti pada penelitian kami r.:sidll masih jauh di bawah ambang batas yaitu rada padi sekitar,25 -,27 (x 1-6 ) ppm. Memallg di samping racun untuk tumbuhan 11\.'rha.ilJga terhadap manusiajika dosisnya tinggi. "I" Yl II)"" untuk herbisida ini (1 minggu). Organ I.:rilis dm"i herbisida tersebut adalah pada organ r.:rllap;lsm1/orgml paru-paru. P3l\.j{B'iN -BAT AN 1

TRANSLOKASI HERBISIDA 2,4-D-14C P ADA T ANAMAN GULMA DAN PADI PADA SISTEM PERSAWAHAN

TRANSLOKASI HERBISIDA 2,4-D-14C P ADA T ANAMAN GULMA DAN PADI PADA SISTEM PERSAWAHAN Risalah Peltemuan Ilmiah Penelilian dan Pengembangan r eknologi IsolOp dan Radias~ 2()(XJ TRANSLOKASI HERBISIDA 2,4-D-14C P ADA T ANAMAN GULMA DAN PADI PADA SISTEM PERSAWAHAN Sofnie M. Clmiml*, Mulyadi**

Lebih terperinci

PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) YANG DIIRADIASI SINAR GAMMA SECARA IN VITRO. Abdul Wa'id dad Yanti Lusiyanti

PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) YANG DIIRADIASI SINAR GAMMA SECARA IN VITRO. Abdul Wa'id dad Yanti Lusiyanti Prosiding Presentasi llmiah Keselamatan Radiasi dan Lingkungan Vul, 3-4 Agustus Puslitbang Keselamadiasi dan Biomedika Nuklir- BATAN PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis)

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 20 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanaman padi sawah di Desa Cijujung, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada bulan Februari

Lebih terperinci

PERBEDAAN UMUR BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L)

PERBEDAAN UMUR BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L) 35 PERBEDAAN UMUR BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L) EFFECTS OF AGE DIFFERENCES OF SEEDS ON GROWTH AND PRODUCTION OF PADDY RICE (Oryza sativa L) Vikson J. Porong *) *)

Lebih terperinci

Cara Penggunaan Pupuk Organik Powder 135 untuk tanaman padi

Cara Penggunaan Pupuk Organik Powder 135 untuk tanaman padi Cara Penggunaan Pupuk Organik Powder 135 untuk tanaman padi 4 tahap penggunaan Pupuk Organik Powder 135 (POP 135 Super Tugama) 1. Persiapan Benih 2. Pengolahan tanah atau lahan tanaman 3. Pemupukan 4.

Lebih terperinci

ANALISIS LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DAN SEMI CAIR. Mardini, Ayi Muziyawati, Darmawan Aji Pusat Teknologi Limbah Radioaktif

ANALISIS LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DAN SEMI CAIR. Mardini, Ayi Muziyawati, Darmawan Aji Pusat Teknologi Limbah Radioaktif ANALISIS LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DAN SEMI CAIR Mardini, Ayi Muziyawati, Darmawan Aji Pusat Teknologi Limbah Radioaktif ABSTRAK ANALISIS LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DAN SEMI CAIR. Telah dilakukan analisis limbah

Lebih terperinci

PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TEMPE UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans, Poir) KULTIVAR KENCANA

PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TEMPE UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans, Poir) KULTIVAR KENCANA PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TEMPE UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans, Poir) KULTIVAR KENCANA Zuchrotus Salamah 1. Suci Tri Wahyuni 1, Listiatie Budi Utami 2 1 =

Lebih terperinci

TEKNIK BUDIDAYA PADI DENGAN METODE S.R.I ( System of Rice Intensification ) MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK POWDER 135

TEKNIK BUDIDAYA PADI DENGAN METODE S.R.I ( System of Rice Intensification ) MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK POWDER 135 TEKNIK BUDIDAYA PADI DENGAN METODE S.R.I ( System of Rice Intensification ) MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK POWDER 135 PUPUK ORGANIK POWDER 135 adalah Pupuk untuk segala jenis tanaman yang dibuat dari bahan

Lebih terperinci

Pupuk Organik Powder 135 (POP 135 Super TUGAMA)

Pupuk Organik Powder 135 (POP 135 Super TUGAMA) Penggunaan pupuk kimia atau bahan kimia pada tanaman, tanpa kita sadari dapat menimbulkan berbagai macam penyakit seperti terlihat pada gambar di atas. Oleh karena itu beralihlah ke penggunaan pupuk organik

Lebih terperinci

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

PENGARUH INTERVAL PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL EMPAT KULTIVAR JAGUNG (Zea mays L.)

PENGARUH INTERVAL PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL EMPAT KULTIVAR JAGUNG (Zea mays L.) PENGARUH INTERVAL PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL EMPAT KULTIVAR JAGUNG (Zea mays L.) Danti Sukmawati Ciptaningtyas 1, Didik Indradewa 2, dan Tohari 2 ABSTRACT In Indonesia, maize mostly planted

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi Persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Proses ini yang memungkinkan

Lebih terperinci

PENGARUH MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JABON MERAH. (Anthocephalus macrophyllus (Roxb)Havil)

PENGARUH MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JABON MERAH. (Anthocephalus macrophyllus (Roxb)Havil) PENGARUH MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JABON MERAH (Anthocephalus macrophyllus (Roxb) Havil) EFFECT OF PLANTING MEDIA ON RED JABON (Anthocephalus macrophyllus (Roxb)Havil) Yusran Ilyas ¹, J. A.

Lebih terperinci

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun 16 1. Tinggi Tanaman (cm) I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam tinggi tanaman ( lampiran 6 ) menunjukkan perlakuan kombinasi limbah cair industri tempe dan urea memberikan pengaruh

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah. rumpun, tingginya dapat mencapai cm, Bawang Merah memiliki jenis akar

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah. rumpun, tingginya dapat mencapai cm, Bawang Merah memiliki jenis akar II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bawang Merah Bawang Merah merupakan tanaman yang berumur pendek, berbentuk rumpun, tingginya dapat mencapai 15-40 cm, Bawang Merah memiliki jenis akar serabut, batang Bawang Merah

Lebih terperinci

Analisis Kinerja Pita Tanam Organik sebagai Media Perkecambahan Benih Padi (Oryza sativa L.) Sistem Tabela dengan Desain Tertutup dan Terbuka

Analisis Kinerja Pita Tanam Organik sebagai Media Perkecambahan Benih Padi (Oryza sativa L.) Sistem Tabela dengan Desain Tertutup dan Terbuka (In Press) Analisis Kinerja Pita Tanam Organik sebagai Media Perkecambahan Benih Padi (Oryza sativa L.) Sistem Tabela dengan Desain Tertutup dan Terbuka Nurwahyuningsih, Musthofa Lutfi, Wahyunanto Agung

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN RADIASI DI DALAM PERISAI UNTUK SUMBER GAMMA ENERGI TINGGI BERAKTIVITAS RENDAH

PERTUMBUHAN RADIASI DI DALAM PERISAI UNTUK SUMBER GAMMA ENERGI TINGGI BERAKTIVITAS RENDAH PERTUMBUHAN RADIASI DI DALAM PERISAI UNTUK SUMBER GAMMA ENERGI TINGGI BERAKTIVITAS RENDAH Helfi Yuliati dad Mukhlis Akhadi Puslitbang Keselamatan Radiasi dadbiomedika Nuklir - BATAN ABSTRAK PERTUMBUHAN

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SAWI (Brassica juncea L) DENGAN PEMBERIAN MIKROORGANISME LOKAL (MOL) DAN PUPUK KANDANG AYAM

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SAWI (Brassica juncea L) DENGAN PEMBERIAN MIKROORGANISME LOKAL (MOL) DAN PUPUK KANDANG AYAM PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SAWI (Brassica juncea L) DENGAN PEMBERIAN MIKROORGANISME LOKAL (MOL) DAN PUPUK KANDANG AYAM PLANT GROWTH AND PRODUCTION MUSTARD (Brassica juncea L) WITH GRANT OF MICROORGANISMS

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari Juni 2013 sampai dengan Agustus 2013.

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari Juni 2013 sampai dengan Agustus 2013. 26 III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai dari Juni 2013 sampai dengan Agustus 2013. Sampel daun nenas diperoleh dari PT. Great Giant Pineapple,

Lebih terperinci

Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas

Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas RAMBASAN 400 SL merupakan herbisida sistemik purna tumbuh yang diformulasi dalam bentuk larutan yang mudah larut dalam air dan dapat ditranslokasikan

Lebih terperinci

PENGARUH UMUR BIBIT DAN KONSENTRASI POC (PUPUK ORGANIK CAIR) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BROKOLI (Brassica oleracea var. Italica L.

PENGARUH UMUR BIBIT DAN KONSENTRASI POC (PUPUK ORGANIK CAIR) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BROKOLI (Brassica oleracea var. Italica L. PENGARUH UMUR BIBIT DAN KONSENTRASI POC (PUPUK ORGANIK CAIR) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BROKOLI (Brassica oleracea var. Italica L.) SKRIPSI Oleh : DYAN FARISA NIM: 2008-41-019 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

Lebih terperinci

Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul)

Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul) Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul) PENDAHULUAN Pengairan berselang atau disebut juga intermitten adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian untuk:

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Lapang Terpadu dan Laboratorium

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Lapang Terpadu dan Laboratorium 14 III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Lapang Terpadu dan Laboratorium Benih dan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI 6.1. Keragaan Usahatani Padi Keragaan usahatani padi menjelaskan tentang kegiatan usahatani padi di Gapoktan Jaya Tani Desa Mangunjaya, Kecamatan Indramayu, Kabupaten

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA PERSEN PENUTUPAN SALVINIA MOLESTA DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (TILAPIA NILOTICA) YUN INDIARTO

HUBUNGAN ANTARA PERSEN PENUTUPAN SALVINIA MOLESTA DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (TILAPIA NILOTICA) YUN INDIARTO 400 BERITA BIOLOGI 3 (8) Maret 1988 HUBUNGAN ANTARA PERSEN PENUTUPAN SALVINIA MOLESTA DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (TILAPIA NILOTICA) YUN INDIARTO Fakultas Biologi, Unsoed, Purwokerto (Sekarang di Pusat Penelitian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang dikenal sebagai penghasil buah dan sayuran yang dikonsumsi oleh sebagian

BAB I PENDAHULUAN. yang dikenal sebagai penghasil buah dan sayuran yang dikonsumsi oleh sebagian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Bedugul adalah pusat produksi pertanian hortikultura dataran tinggi di Bali yang dikenal sebagai penghasil buah dan sayuran yang dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat

Lebih terperinci

BAB III BAHAN DAN METODE. Untuk menguji hipotesis penelitian, digunakan data berbagai variabel yang

BAB III BAHAN DAN METODE. Untuk menguji hipotesis penelitian, digunakan data berbagai variabel yang BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Untuk menguji hipotesis penelitian, digunakan data berbagai variabel yang dikumpulkan melalui dua percobaan yang telah dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama

Lebih terperinci

Evaluasi Penggunaan Air Irigasi yang Tercemar Logam Berat Kadmium (Cd) pada Ambang Batas terhadap Kadar kadmium (Cd) Tanaman Bayam (Amaranthus sp)

Evaluasi Penggunaan Air Irigasi yang Tercemar Logam Berat Kadmium (Cd) pada Ambang Batas terhadap Kadar kadmium (Cd) Tanaman Bayam (Amaranthus sp) Evaluasi Penggunaan Air Irigasi yang Tercemar Logam Berat Kadmium (Cd) pada Ambang Batas terhadap Kadar kadmium (Cd) Tanaman Bayam (Amaranthus sp) OLEH Siska Mitria Nova 07 118 068 Skripsi ini diajukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun gas dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. maupun gas dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. Lingkungan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Proses industrialisasi tidak dapat melepaskan diri dari efek negatif yang ditimbulkannya. Adanya bahan sisa industri baik yang berbentuk padat, cair, maupun gas dapat

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Lokasi Pengambilan Sampel, Waktu dan Tempat Penelitian Sampel yang digunakan dalam penelitian adalah simplisia CAF yang berasal dari daerah Cihanjuang Kota Cimahi dan simplisia

Lebih terperinci

ANALISIS NEODIMIUM MENGGUNAKAN METODA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

ANALISIS NEODIMIUM MENGGUNAKAN METODA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS ANALISIS NEODIMIUM MENGGUNAKAN METODA SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Noviarty, Dian Angraini Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir BATAN Email: artynov@yahoo.co.id ABSTRAK ANALISIS NEODIMIUM MENGGUNAKAN METODA SPEKTROFOTOMETRI

Lebih terperinci

BUDIDAYA PADI RATUN. Marhaenis Budi Santoso

BUDIDAYA PADI RATUN. Marhaenis Budi Santoso BUDIDAYA PADI RATUN Marhaenis Budi Santoso Peningkatan produksi padi dapat dicapai melalui peningkatan indeks panen dan peningkatan produksi tanaman setiap musim tanam. Padi Ratun merupakan salah satu

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan dikebun percobaan Politeknik Negeri Lampung,

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan dikebun percobaan Politeknik Negeri Lampung, III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan dikebun percobaan Politeknik Negeri Lampung, Bandar lampung. Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2011 sampai

Lebih terperinci

PENGARUH WAKTU PEMUPUKAN DAN TEKSTUR TANAH TERHADAP PRODUKTIVITAS RUMPUT Setaria splendida Stapf

PENGARUH WAKTU PEMUPUKAN DAN TEKSTUR TANAH TERHADAP PRODUKTIVITAS RUMPUT Setaria splendida Stapf PENGARUH WAKTU PEMUPUKAN DAN TEKSTUR TANAH TERHADAP PRODUKTIVITAS RUMPUT Setaria splendida Stapf Oleh WAHJOE WIDHIJANTO BASUKI Jurusan Peternakan, Politeknik Negeri Jember RINGKASAN Percobaan pot telah

Lebih terperinci

UJI KORELASI KONSENTRASI HARA N, P DAN K DAUN DENGAN HASIL TANAMAN DUKU

UJI KORELASI KONSENTRASI HARA N, P DAN K DAUN DENGAN HASIL TANAMAN DUKU UJI KORELASI KONSENTRASI HARA N, P DAN K DAUN DENGAN HASIL TANAMAN DUKU Abstrak Analisis daun akan lebih tepat menggambarkan perubahan status hara tanaman yang berhubungan dengan perubahan produksi akibat

Lebih terperinci

Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Penyemprotan Pupuk Organik Cair Super ACI terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis

Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Penyemprotan Pupuk Organik Cair Super ACI terhadap Pertumbuhan dan Hasil Jagung Manis Agritrop, 26 (3) : 105-109 (2007) issn : 0215 8620 C Fakultas Pertanian Universitas Udayana Denpasar Bali - Indonesia Pengaruh Konsentrasi dan Waktu Penyemprotan Pupuk Organik Cair Super ACI terhadap Pertumbuhan

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MULSA ALANG - ALANG PADA TUMPANGSARI CABAI DENGAN KUBIS BUNGA UNTUK MENINGKATKAN PENGENDALIAN GULMA, PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN

PENGGUNAAN MULSA ALANG - ALANG PADA TUMPANGSARI CABAI DENGAN KUBIS BUNGA UNTUK MENINGKATKAN PENGENDALIAN GULMA, PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN PENGGUNAAN MULSA ALANG - ALANG PADA TUMPANGSARI CABAI DENGAN KUBIS BUNGA UNTUK MENINGKATKAN PENGENDALIAN GULMA, PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN Use reed Mulch on Intercropping Chili with Cabbage Flowers

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

PEMANFAATAN KOMPOS KOTORAN SAPI DAN ARA SUNGSANG UNTUK MENURUNKAN KEPADATAN ULTISOL. Heri Junedi, Itang Ahmad Mahbub, Zurhalena

PEMANFAATAN KOMPOS KOTORAN SAPI DAN ARA SUNGSANG UNTUK MENURUNKAN KEPADATAN ULTISOL. Heri Junedi, Itang Ahmad Mahbub, Zurhalena Volume 15, Nomor 1, Hal. 47-52 Januari Juni 2013 ISSN:0852-8349 PEMANFAATAN KOMPOS KOTORAN SAPI DAN ARA SUNGSANG UNTUK MENURUNKAN KEPADATAN ULTISOL Heri Junedi, Itang Ahmad Mahbub, Zurhalena Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

PEMANTAUAN LINGKUNGAN DI SEKITAR PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG DALAM RADIUS 5 KM TAHUN 2005

PEMANTAUAN LINGKUNGAN DI SEKITAR PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG DALAM RADIUS 5 KM TAHUN 2005 PEMANTAUAN LINGKUNGAN DI SEKITAR PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG DALAM RADIUS 5 KM TAHUN 005 Agus Gindo S., Syahrir, Sudiyati, Sri Susilah, T. Ginting, Budi Hari H., Ritayanti Pusat Teknologi Limbah

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. A. Kompos Limbah Pertanian. menjadi material baru seperti humus yang relatif stabil dan lazim disebut kompos.

TINJAUAN PUSTAKA. A. Kompos Limbah Pertanian. menjadi material baru seperti humus yang relatif stabil dan lazim disebut kompos. II. TINJAUAN PUSTAKA A. Kompos Limbah Pertanian Pengomposan merupakan salah satu metode pengelolaan sampah organik menjadi material baru seperti humus yang relatif stabil dan lazim disebut kompos. Pengomposan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tanah merupakan salah satu unsur alam yang sama pentingnya dengan air dan udara. Tanah adalah suatu benda alami, bagian dari permukaan bumi yang dapat ditumbuhi oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. setiap hari tumbuhan membutuhkan nutrisi berupa mineral dan air. Nutrisi yang

BAB I PENDAHULUAN. setiap hari tumbuhan membutuhkan nutrisi berupa mineral dan air. Nutrisi yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pupuk merupakan salah satu sumber nutrisi utama yang diberikan pada tumbuhan. Dalam proses pertumbuhan, perkembangan dan proses reproduksi setiap hari tumbuhan membutuhkan

Lebih terperinci

Peluang Usaha Budidaya Cabai?

Peluang Usaha Budidaya Cabai? Sambal Aseli Pedasnya Peluang Usaha Budidaya Cabai? Tanaman cabai dapat tumbuh di wilayah Indonesia dari dataran rendah sampai dataran tinggi. Peluang pasar besar dan luas dengan rata-rata konsumsi cabai

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar 21 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kel. Gunung sulah, Kec.Way Halim, Kota Bandar Lampung dengan kondisi iklim tropis, memiliki curah hujan 2000 mm/th dan

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG PENGARUH KONSENTRASI GARAM, LAMA FERMENTASI, DAN PENGGUNAAN TEPUNG BERAS SEBAGAI PENGGANTI AIR KELAPA DALAM PROSES FERMENTASI TERHADAP KARAKTERISTIK FISIK, KIMIA, DAN SENSORIS SAYUR ASIN EFFECT OF SALT

Lebih terperinci

Cara Menanam Cabe di Polybag

Cara Menanam Cabe di Polybag Cabe merupakan buah dan tumbuhan berasal dari anggota genus Capsicum. Buahnya dapat digolongkan sebagai sayuran maupun bumbu, tergantung bagaimana digunakan. Sebagai bumbu, buah cabai yang pedas sangat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan yang

I. PENDAHULUAN. Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan yang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman pangan yang banyak dibudidayakan di dunia, termasuk di Indonesia. Tanaman jagung selain digunakan

Lebih terperinci

Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat

Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat Agroteknologi Tanaman Rempah dan Obat Syarat Tumbuh Tanaman Jahe 1. Iklim Curah hujan relatif tinggi, 2.500-4.000 mm/tahun. Memerlukan sinar matahari 2,5-7 bulan. (Penanaman di tempat yang terbuka shg

Lebih terperinci

X. WATER AND IRRIGATION. Acquaah, George Horticulture. Principles and Practices. Chapter 23, 24

X. WATER AND IRRIGATION. Acquaah, George Horticulture. Principles and Practices. Chapter 23, 24 X. WATER AND IRRIGATION Acquaah, George. 2005. Horticulture. Principles and Practices. Chapter 23, 24 AIR DAN TANAMAN Air : bahan dasar semua aktivitas metabolik tanaman Air berperan penting dalam : respirasi,

Lebih terperinci

PEMBUATAN BIOEKSTRAK DARI SAYURAN DAN BUAH-BUAHAN UNTUK MEMPERCEPAT PENGHANCURAN SAMPAH DAUN

PEMBUATAN BIOEKSTRAK DARI SAYURAN DAN BUAH-BUAHAN UNTUK MEMPERCEPAT PENGHANCURAN SAMPAH DAUN PEMBUATAN BIOEKSTRAK DARI SAYURAN DAN BUAH-BUAHAN UNTUK MEMPERCEPAT PENGHANCURAN SAMPAH DAUN Oleh: Siti Marwati Jurusan Penidikan Kimia FMIPA UNY siti_marwati@uny.ac.id Pendahuluan Disadari atau tidak,

Lebih terperinci

AGROVIGOR VOLUME 2 NO. 1 MARET 2009 ISSN

AGROVIGOR VOLUME 2 NO. 1 MARET 2009 ISSN AGROVIGOR VOLUME 2 NO. 1 MARET 2009 ISSN 1979 5777 31 PEMUPUKAN SP36 PADA LAHAN REGOSOL BEREAKSI MASAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL DUA VARIETAS KACANG TANAH (Arachis hypogea L.) Amin Zuchri Fakultas

Lebih terperinci

TEKNIK BUDIDAYA SAYURAN DI LAHAN PEKARANGAN

TEKNIK BUDIDAYA SAYURAN DI LAHAN PEKARANGAN TEKNIK BUDIDAYA SAYURAN DI LAHAN PEKARANGAN Bunaiyah Hnrita Balai Pengkajian Teknlgi Pertanian (BPTP) Bengkulu Jl. Irian Km. 6,5 Bengkulu 38119 PENDAHULUAN Pembanguanan ketahanan pangan mempunyai ciri

Lebih terperinci

PERSYARATAN PENGANGKUTAN LIMBAH RADIOAKTIF

PERSYARATAN PENGANGKUTAN LIMBAH RADIOAKTIF PERSYARATAN PENGANGKUTAN LIMBAH RADIOAKTIF Oleh: Suryantoro PUSAT TEKNOLOGI LIMBAH RADIOAKTIF BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL 2006 Persyaratan Pengangkutan Limbah Radioaktif BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN PENAHAN RADIASI DI UNIT RADIOLOGI UNTUK DIAGNOSTIK MENGGUNAKAN SINAR-X

PERANCANGAN DAN PENAHAN RADIASI DI UNIT RADIOLOGI UNTUK DIAGNOSTIK MENGGUNAKAN SINAR-X PERANCANGAN DAN PENAHAN RADIASI DI UNIT RADIOLOGI UNTUK DIAGNOSTIK MENGGUNAKAN SINAR-X Tito Sutjipto. Jurusan Teknik Nuklir Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada ABSTRAK PERANC~GAN DAN PENAHAN RADIASI

Lebih terperinci

PENGARUH ph DAN PENAMBAHAN ASAM TERHADAP PENENTUAN KADAR UNSUR KROM DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM

PENGARUH ph DAN PENAMBAHAN ASAM TERHADAP PENENTUAN KADAR UNSUR KROM DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM PENGARUH ph DAN PENAMBAHAN ASAM TERHADAP PENENTUAN KADAR UNSUR KROM DENGAN MENGGUNAKAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM Zul Alfian Departemen Kimia FMIPA Universitas Sumatera Utara Jl. Bioteknologi

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House dan Laboratorium penelitian

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House dan Laboratorium penelitian III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House dan Laboratorium penelitian Fakultas Pertanian UMY, pada bulan Desember 2015 Maret 2016. B. Alat dan Bahan

Lebih terperinci

PESTISIDA : HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

PESTISIDA : HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN Peranan CropLife Indonesia Dalam Meminimalkan Pemalsuan Pestisida PESTISIDA : HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN Deddy Djuniadi Executive Director CropLife Indonesia 19 Juni 2012 Peranan CropLife Indonesia

Lebih terperinci

PENGARUH KONSENTRASI PUPUK CAIR ABA TERHADAP PERTUMBUHAN, KOMPONEN HASIL DAN HASIL TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea (L.) Merr.

PENGARUH KONSENTRASI PUPUK CAIR ABA TERHADAP PERTUMBUHAN, KOMPONEN HASIL DAN HASIL TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea (L.) Merr. Majalah Kultivasi Vol. 2 No. 3 Juli 2004 PENGARUH KONSENTRASI PUPUK CAIR ABA TERHADAP PERTUMBUHAN, KOMPONEN HASIL DAN HASIL TANAMAN KACANG TANAH (Arachis hypogaea (L.) Merr.) KULTIVAR GAJAH Aep Wawan Irwan

Lebih terperinci

Ciparay Kabupaten Bandung. Ketinggian tempat ±600 m diatas permukaan laut. dengan jenis tanah Inceptisol (Lampiran 1) dan tipe curah hujan D 3 menurut

Ciparay Kabupaten Bandung. Ketinggian tempat ±600 m diatas permukaan laut. dengan jenis tanah Inceptisol (Lampiran 1) dan tipe curah hujan D 3 menurut III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Percobaan Penelitian dilaksanakan di lahan sawah Sanggar Penelitian Latihan dan Pengembangan Pertanian (SPLPP) Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran Unit

Lebih terperinci

BAB 111 BAHAN DAN METODE

BAB 111 BAHAN DAN METODE BAB 111 BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca dan Laboratorium Tanah Jurusan Agroteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Riau Jl. Bina Widya Km

Lebih terperinci

Sukristiyonubowo, Suwandi, dan Rahmat H. Balai Penelitian Tanah ABSTRAK

Sukristiyonubowo, Suwandi, dan Rahmat H. Balai Penelitian Tanah ABSTRAK PENGARUH PEMUPUKAN NPK, KAPUR, DAN KOMPOS JERAMI TERHADAP SIFAT KIMIA TANAH, PERTUMBUHAN, DAN HASIL PADI VARIETAS CILIWUNG YANG DITANAM PADA SAWAH BUKAAN BARU Sukristiyonubowo, Suwandi, dan Rahmat H. Balai

Lebih terperinci

OPTIMASI PENGUKURAN KEAKTIVAN RADIOISOTOP Cs-137 MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA

OPTIMASI PENGUKURAN KEAKTIVAN RADIOISOTOP Cs-137 MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA OPTIMASI PENGUKURAN KEAKTIVAN RADIOISOTOP Cs-137 MENGGUNAKAN SPEKTROMETER GAMMA NOVIARTY, DIAN ANGGRAINI, ROSIKA, DARMA ADIANTORO Pranata Nuklir Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir-BATAN Abstrak OPTIMASI

Lebih terperinci

MENGIDENTIFIKASI DAN MENGENDALIKAN PENYAKIT BLAST ( POTONG LEHER ) PADA TANAMAN PADI

MENGIDENTIFIKASI DAN MENGENDALIKAN PENYAKIT BLAST ( POTONG LEHER ) PADA TANAMAN PADI MENGIDENTIFIKASI DAN MENGENDALIKAN PENYAKIT BLAST ( POTONG LEHER ) PADA TANAMAN PADI Disusun Oleh : WASIS BUDI HARTONO PENYULUH PERTANIAN LAPANGAN BP3K SANANKULON Penyakit Blas Pyricularia oryzae Penyakit

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa tingkat produksi budidaya tanaman yang mantap sangat menentukan

Lebih terperinci

BUDIDAYA TANAMAN PADI menggunakan S R I (System of Rice Intensification)

BUDIDAYA TANAMAN PADI menggunakan S R I (System of Rice Intensification) BUDIDAYA TANAMAN PADI menggunakan S R I (System of Rice Intensification) PRINSIP S R I Oleh : Isnawan BP3K Nglegok Tanaman padi diperlakukan sebagai organisme hidup sebagaimana mestinya Semua unsur potensi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. menjanjikan untuk dieksploitasi oleh masyarakat lokal maupun masyarakat luar,

I. PENDAHULUAN. menjanjikan untuk dieksploitasi oleh masyarakat lokal maupun masyarakat luar, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan yang kaya akan sumberdaya alam. Ada berbagai macam sumberdaya alam yang saat ini sangat menjanjikan untuk dieksploitasi

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mengandung sejumlah mikroba yang bermanfaat, serta memiliki rasa dan bau

I. PENDAHULUAN. mengandung sejumlah mikroba yang bermanfaat, serta memiliki rasa dan bau I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Susu yang baru keluar dari kelenjar mamae melalui proses pemerahan merupakan suatu sumber bahan pangan yang murni, segar, higienis, bergizi, serta mengandung sejumlah

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Riau Desa Simpang Barn Kecamatan Tampan Kotamadya Pekanbaru Propinsi Riau dengan

Lebih terperinci

Pemantauan Limbah Cair, Gas dan Padat

Pemantauan Limbah Cair, Gas dan Padat Pemantauan Limbah Cair, Gas dan Padat Paryanto, Ir.,MS Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Sebelas Maret Bimbingan Teknis Pengendalian B3 Pusat Pelatihan

Lebih terperinci

Upaya Peningkatan Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max) Melalui Aplikasi Mulsa Daun Jati Dan Pupuk Organik Cair.

Upaya Peningkatan Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max) Melalui Aplikasi Mulsa Daun Jati Dan Pupuk Organik Cair. Upaya Peningkatan Pertumbuhan Dan Hasil Tanaman Kedelai (Glycine max) Melalui Aplikasi Mulsa Daun Jati Dan Pupuk Organik Cair Ardi Priambodo 1) Bambang Guritno 2) Agung Nugroho 2) Abstract The objectives

Lebih terperinci

For optimum plant growth

For optimum plant growth Dasar-dasar Ilmu Tanah Udara dan Temperatur Tanah SOIL COMPONENTS For optimum plant growth Air 25 % Water 25 % Mineral 45% organic 5% Representative, medium-textured surface soil (by volume) 1. Aerasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian dasar dengan menggunakan metode deskriptif. Penelitian deskriptif adalah jenis penelitian yang bertujuan

Lebih terperinci

DENGAN HIBRIDA HASIL PRODUKSI PADI MENINGKAT

DENGAN HIBRIDA HASIL PRODUKSI PADI MENINGKAT DENGAN HIBRIDA HASIL PRODUKSI PADI MENINGKAT Penerapan Padi Hibrida Pada Pelaksanaan SL - PTT Tahun 2009 Di Kecamatan Cijati Kabupaten Cianjur Jawa Barat Sekolah Lapang (SL) merupakan salah satu metode

Lebih terperinci

PEMBUATAN PESTISIDA NABATI DAUN PEPAYA UNTUK PENGEDALIAN ULAT DAN SERANGGA PENGHISAP TANAMAN Oleh Robinson Putra, SP

PEMBUATAN PESTISIDA NABATI DAUN PEPAYA UNTUK PENGEDALIAN ULAT DAN SERANGGA PENGHISAP TANAMAN Oleh Robinson Putra, SP PEMBUATAN PESTISIDA NABATI DAUN PEPAYA UNTUK PENGEDALIAN ULAT DAN SERANGGA PENGHISAP TANAMAN Oleh Robinson Putra, SP Pendahuluan Indonesia terkenal kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk jenis tumbuhan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di rumah plastik Laboratorium Lapangan Terpadu

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di rumah plastik Laboratorium Lapangan Terpadu 29 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di rumah plastik Laboratorium Lapangan Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung dan analisis sifat fisik

Lebih terperinci

POTENSI PEMANFAATAN LIMBAH UDANG DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI

POTENSI PEMANFAATAN LIMBAH UDANG DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI POTENSI PEMANFAATAN LIMBAH UDANG DALAM MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI Nurhasanah 1, Hedi Heryadi 2 Universitas Terbuka nenganah@ut.ac.id Abstrak Penelitian pembuatan pupuk cair dari limbah udang

Lebih terperinci

Respons Fisiologis dan Akumulasi Krom pada Sonchus oleraceous: Analisis Potensi S. oleraceous sebagai Agen Fitoremediasi Krom

Respons Fisiologis dan Akumulasi Krom pada Sonchus oleraceous: Analisis Potensi S. oleraceous sebagai Agen Fitoremediasi Krom (Physiological Responses and Chromium Accumulation of Sonchus oleraceous: Potency Analysis of S. oleraceous as Chromium Phytoremediation Agent) Oleh NIM: 412008004 SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi sebagian

Lebih terperinci

PENGENDALIAN PERSONEL DI PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG TAHUN 2005

PENGENDALIAN PERSONEL DI PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG TAHUN 2005 PENGENDALIAN PERSONEL DI PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG TAHUN 2005 Sri Widayati, RS Tedjasari, Elfida, L. Kwin P, Ruminta G, Tri Bambang L., Yanni A. Pusat Teknologi Limbah Radioaktif ABSTRAK PENGENDALIAN

Lebih terperinci

PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TUMBUH DAN DOSIS PEMBERIAN PUPUK FOSFAT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT BELIMBING (Averrhoa carambola L)

PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TUMBUH DAN DOSIS PEMBERIAN PUPUK FOSFAT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT BELIMBING (Averrhoa carambola L) PENGARUH KOMPOSISI MEDIA TUMBUH DAN DOSIS PEMBERIAN PUPUK FOSFAT TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT BELIMBING (Aerrhoa carambola L) SKRIPSI Oleh : SUGIYANTI 2011-41-035 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

PENGARUH LIMBAH INDUSTRI TAHU TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI DI KABUPATEN KLATEN. Darajatin Diwani Kesuma

PENGARUH LIMBAH INDUSTRI TAHU TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI DI KABUPATEN KLATEN. Darajatin Diwani Kesuma PENGARUH LIMBAH INDUSTRI TAHU TERHADAP KUALITAS AIR SUNGAI DI KABUPATEN KLATEN Darajatin Diwani Kesuma daradeka@gmail.com M.Widyastuti m.widyastuti@geo.ugm.ac.id Abstract The amis of this study are to

Lebih terperinci

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SISTEM TANAM BENIH LANGSUNG (TABELA) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH PENDAHULUAN

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SISTEM TANAM BENIH LANGSUNG (TABELA) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH PENDAHULUAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SISTEM TANAM BENIH LANGSUNG (TABELA) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH Oleh : Chairunas, Adli Yusuf, Azman B, Burlis Han, Silman Hamidi, Assuan, Yufniati ZA,

Lebih terperinci

SKRIPSI OLEH : RIRI AZYYATI / BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN

SKRIPSI OLEH : RIRI AZYYATI / BUDIDAYA PERTANIAN DAN PERKEBUNAN RESPONS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) TERHADAP DOSIS DAN INTERVAL WAKTU PEMBERIAN PUPUK ORGANIK CAIR TITONIA (Tithonia diversifolia (Hemsl.) Gray) SKRIPSI OLEH :

Lebih terperinci

UNJUK KERJA PENCUPLIK AKTIF TRITIUM DI UDARA MENGGUNAKAN ABSORBEN SILIKA GEL

UNJUK KERJA PENCUPLIK AKTIF TRITIUM DI UDARA MENGGUNAKAN ABSORBEN SILIKA GEL 165 UNJUK KERJA PENCUPLIK AKTIF TRITIUM DI UDARA MENGGUNAKAN ABSORBEN SILIKA GEL Poppy Intan Tjahaja, Putu Sukmabuana dan Zulfakhri P3TKN BATAN ABSTRAK UNJUK KERJA PENCUPLIK AKTIF TRITIUM DI UDARA MENGGUNAKAN

Lebih terperinci

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Rajiman A. Latar Belakang Pemanfaatan lahan memiliki tujuan utama untuk produksi biomassa. Pemanfaatan lahan yang tidak bijaksana sering menimbulkan kerusakan

Lebih terperinci

KAJIAN PENURUNAN LAJU PERKOLASI LAHAN SAWAH BARU DENGAN LAPISAN KEDAP BUATAN (ARTIFICIAL IMPERVIOUS LAYER)

KAJIAN PENURUNAN LAJU PERKOLASI LAHAN SAWAH BARU DENGAN LAPISAN KEDAP BUATAN (ARTIFICIAL IMPERVIOUS LAYER) KAJIAN PENURUNAN LAJU PERKOLASI LAHAN SAWAH BARU DENGAN LAPISAN KEDAP BUATAN (ARTIFICIAL IMPERVIOUS LAYER) Oleh: Asep Sapei Jurusan Teknik Pertanian, FATETA-IPB Kampus IPB Darmaga, Po.Box 220, BOGOR 16002

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pengolahan tanah biasanya diperlukan didalam budidaya tanaman dengan

I. PENDAHULUAN. Pengolahan tanah biasanya diperlukan didalam budidaya tanaman dengan 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengolahan tanah biasanya diperlukan didalam budidaya tanaman dengan menggunakan tanah sebagai media tumbuhnya. Tanah berfungsi sebagai tempat berkembangnya akar, penyedia

Lebih terperinci

Penentuan Dosis Gamma Pada Fasilitas Iradiasi Reaktor Kartini Setelah Shut Down

Penentuan Dosis Gamma Pada Fasilitas Iradiasi Reaktor Kartini Setelah Shut Down Berkala Fisika ISSN : 141-9662 Vol.9, No.1, Januari 26, hal 15-22 Penentuan Dosis Gamma Pada Fasilitas Iradiasi Reaktor Kartini Setelah Shut Down Risprapti Prasetyowati (1), M. Azam (1), K. Sofjan Firdausi

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Rumah Kaca Deparment

III. METODE PENELITIAN. Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Rumah Kaca Deparment III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Rumah Kaca Deparment Research and Development PT Great Giant Pineapple, Terbanggi Besar, Lampung Tengah sejak bulan September

Lebih terperinci

ANTAR BANDING PENGUKURAN 144Ce,l37Cs, 54Mn, DAN 60CO ANT ARA P3KRBiN-BAT AN DENGAN JCAC JEP ANG

ANTAR BANDING PENGUKURAN 144Ce,l37Cs, 54Mn, DAN 60CO ANT ARA P3KRBiN-BAT AN DENGAN JCAC JEP ANG Prosiding Presentasi llmiah Keselamatan Radiasi dan Lingkungan X lfotej Kartika Chandra,.14 Vesember ~O04 ANTAR BANDING PENGUKURAN 144Ce,l37Cs, 54Mn, DAN 60CO ANT ARA P3KRBiN-BAT AN DENGAN JCAC JEP ANG

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kebutuhan pangan semakin meningkat sejalan dengan pertambahan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Kebutuhan pangan semakin meningkat sejalan dengan pertambahan PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan pangan semakin meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk. Sementara itu areal pertanian produktif di daerah padat penduduk terutama di Jawa terus menyusut akibat

Lebih terperinci

Pengelolaan lahan gambut

Pengelolaan lahan gambut Pengelolaan lahan gambut Kurniatun Hairiah Sifat dan potensi lahan gambut untuk pertanian Sumber: I.G.M. Subiksa, Fahmuddin Agus dan Wahyunto BBSLDP, Bogor Bacaan Sanchez P A, 1976. Properties and Management

Lebih terperinci

UJI ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS PADI (Oryza sativa L.) PADA TANAH SALIN

UJI ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS PADI (Oryza sativa L.) PADA TANAH SALIN UJI ADAPTASI BEBERAPA VARIETAS PADI (Oryza sativa L.) PADA TANAH SALIN SKRIPSI Oleh: SATRIYA SANDI K 070307027/BDP PEMULIAAN TANAMAN DEPARTEMEN AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA

Lebih terperinci

PRINSIP AGRONOMIK BUDIDAYA UNTUK PRODUKSI BENIH. 15/04/2013

PRINSIP AGRONOMIK BUDIDAYA UNTUK PRODUKSI BENIH. 15/04/2013 PRINSIP AGRONOMIK BUDIDAYA UNTUK PRODUKSI BENIH 1 BUDIDAYA UNTUK PRODUKSI BENIH Budidaya untuk produksi benih sedikit berbeda dengan budidaya untuk produksi non benih, yakni pada prinsip genetisnya, dimana

Lebih terperinci

PERUBAHAN BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH AKIBAT PEMBERIAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT DENGAN METODE LAND APPLICATION

PERUBAHAN BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH AKIBAT PEMBERIAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT DENGAN METODE LAND APPLICATION Jurnal AGRIFOR Volume XIII Nomor 1, Maret 2014 ISSN : 1412 6885 PERUBAHAN BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH AKIBAT PEMBERIAN LIMBAH CAIR INDUSTRI KELAPA SAWIT DENGAN METODE LAND APPLICATION Zulkarnain 1 1 Fakultas

Lebih terperinci

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi Telah ditetapkan Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan kesehatan terhadap pemanfaatan radiasi pengion dan Surat Keputusan Kepala BAPETEN No.01/Ka-BAPETEN/V-99

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 17 Tahun 2001 Tentang : Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang Wajib Dilengkapi Dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup Menimbang : MENTERI NEGARA

Lebih terperinci

Pembuatan Pestisida Nabati

Pembuatan Pestisida Nabati Pestisida Nabati Pembuatan Pestisida Nabati Pestisida yg bahan dasarnya dari tumbuhan Bukan utk meninggalkan pestisida buatan melainkan sbg alternatif menghindarkan ketergantungan & meminimalisir pestisida

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Tebu (Saccharum officinarum L.) adalah salah satu komoditas perkebunan

I. PENDAHULUAN. Tebu (Saccharum officinarum L.) adalah salah satu komoditas perkebunan 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Tebu (Saccharum officinarum L.) adalah salah satu komoditas perkebunan penting yang ditanam untuk bahan baku utama gula. Hingga saat ini, gula merupakan

Lebih terperinci