KANDUNGAN RESIDU HERBISIDA 2,4-D _14C DALAM AIR DAN TANAH PADA S.JSTEM T ANAMAN PADI DI SA W AH. (~?fl1ie M. Chairul'dan ELida D.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KANDUNGAN RESIDU HERBISIDA 2,4-D _14C DALAM AIR DAN TANAH PADA S.JSTEM T ANAMAN PADI DI SA W AH. (~?fl1ie M. Chairul'dan ELida D."

Transkripsi

1 Prosiding Presenlasi Ilmiah Kesemmalan Radia~i dad Lingkungan VIII, Aguslus 2 ~litbang Ke~lamatan Radiasi dad Biomedika Nuklir -BA TAN KANDUNGAN RESIDU HERBISIDA 2,4-D _14C DALAM AIR DAN TANAH PADA S.JSTEM T ANAMAN PADI DI SA W AH (~?fl1ie M. Chairul'dan ELida D.iabir Pusat Penelitiall dati Pengembangan Teblologi Isotop daii Radiasi -Batan (,,-'" ABSTRAK Nelly Magdalena Fakultas Farlnasi Universitas Pallcasila. Jakarta fo-z.3 TANAMAN KANDUNGAN R~rnU HEI~8ISIDA 2,4-D _14C DALAM AIR DAN TANAH PADA SISTEM PAm m SAW AH. Telah dilakukan penelitian penentuan kandungan rl"sidu herbisida 2.4-D dalam air dan tanah dengan menggunakan perunut 14C pada sistem persawahan. r'adi clan gulma eceng gondok (Monochoria vaginalis Burn. F. Prest) ditanam pada ember berukuran 1 I dengan dua macam kondisi tanah yang berbeda yaitu tanah Donna! daij tanah dengan pemadatan 3% di alas normal. Setelab berumur I minggu penanalnan, dilakukan penyemprotan dengan herbisida 2,4- -14C sebanyak I ~Ci ditambab dengall,4 mg herbisida 2,4-D non radioaktif. Kandungan residu di dalam air dan tanah serta dalam akar dad daun guhna ditentukan pada, 2, 4, 8 dad 1 rninggu (panen) setelah penyemprotan dengan herbisida 2,4-. Anali..,is dilakukan dengan mcnggunakan alat C.onwustion Biological Oxidizer, dati dicacah dengan alat sintilasi kelip I.~air. Hasil yang didapat yaitu kandungan herbisida dalam air dad tanah menurun dati mulai penyemprotan sampai pada masa pallen. Kandungan residu herbisida dalam air setelah pallen adalah,87 x 1 ~ ppm untuk kondisi tanah nonnal. dan,59 x 1 - ppm pada kondisi lanah pcmadatan, sedangkan kandungan herbisida dalam tanah adalah sebesar 1,54 x 1 -,; ppm untuk kondisi tanah n(\nnal clan 1,48 x 1 ~ ppm untuk kondisi tanah pemadatan. Kandungan residu herbisida 2,4-D dalam buah padi sclclah pan~n adalah.27 x 1 -,; ppm untuk kondisi tanah nonnal datl,25 x 1 ~ ppm untuk kondisi tanah pemadatan. Kandungan herbisida 2,4- dalam akar dan ~un guhna setelah paned berturut-turut adalab scbesar,29 x 1-5 ppm dan.18 x 1~ ppm untuk kondisi tanah Donna!, sedangkan untuk tanah dengan pemadatan 3 % di ata.~ nonnal adalah.25 x 1-'; ppm clan :63 x 1-7 ppm. Hasil ini tidak menyebabkan pencemaran terijadap lingkungan karena masib berada di bawah baw ambang yang diizinkan yaitu,5 ppm. ABSTRACT CONTENT OF 2,4-D-1"C HE[{DICIDE I{E.~IDUE IN WATEI~ AND SOIL OF IRRIGATED RICE FIELD SYSTEM. The investigation of 2,4--I"C herbil~ide re.'iiduc in wa(~r and soil of irrigated rice field system was carried out. Rice plant and weeds (M()/lochoria vagi/la.tix Burn. F.Prexl) were planted in 1 I buckets using two kinds of soil condition, i.~. nonnal soil and 3% above nonnal compact soil. After one week planting, the plants were sprayed with I~Ci of 2,4-_14C and.4 mg non labeled The herbicide residue l~ontent was detennined,2,4,8, and 1 weeks after spraying with 2,4-D herbicide. The analysis was done using Combustion Biological Oxidizer merk Harvey.- ox-4, and counted with Liquid Scintillation Counter merk Beckman m(ldel LS-181. The results indicates that the herbicide contents in water and soil decrease from the first spraying with herbicide until harvest. herbicide Residue content in water after harvest was.87 x 1 -" ppm for soil nomlal condition. and.59 x 1-6 ppm for the soil 3% up nonnal condition, while herbicide content in soil was 1.54 x 1 -" ppm for soilnonnal condition and 1.48 x 1-6 ppm for soil 3% up nonnal. 2,4-D herbicide residue content in rice after harvest was.27 x 1-6 ppm for nonnal soil condition and.25 x 1-6 ppm for the soil 3(7 up nonnal. 2,4-D herbicide residue content in roots and leaves of weeds after harvest were respectively.29 x 1." ppm and.18 x 1." for nonnal soil condition, while for 3 % up nonnal soil were.25 x 1.5 ppm and.63 x 1-7 ppm. This result indicates that thcre is rio efft"ct pollution to surrounding area, because the herbicide content is still bellc)w tile allowed detection limit..5 ppm. 92

2 PENDAHULUAN PernbaIlgUllaIl dalain bidailg pe11aniail ditujukail untuk rneningkatkan (JendapataIl petani dail kesejahteraail rakyat, baik di Indonesia rnaupun di negai"a-negara YaIlg SedaIlg berkernbailg laillllya" KebutuhaIl bahail pailgail terutama L~ras sernakin rneningkat sesuai dengail perlambahan penduduk dai"i tallun ke tallun. Oi sisi laill penillgkatail nahan pailgail ini selalu rnendapat keljdala yang serius, terutaina adailya gailgguail serangail haina, baik SeraIlgga, jainur, gulma, tikus maupun binatailg penggailgu lainnya. Salah satu serangan YaIlg paling tidak dapat dihindai"i adalall adilllya gangguall d,u.i tailaillail penggailggu yaitu gullna" Gulma rnerupakail tailamail YaIlg selalu berkornljelisi dengail tailainail budidaya, tel"lltarna berkornljetisi lultuk rnemperebutkail unsur-unsur hara YaIlg ada di tailah. Ulltuk menatlggulatlgi serangan ini raja wnwmlya petatli melakukatl pemberatltasatl s~cara matlual maupwl secat'a kimia\vi, Masing-masing cat'a ini mempwlyai kelemahan, karella.iika dilal.'"ukatl secara matlual, akatl mcllgeluat'kan biaya Yatlg Satlgat batlyak untuk p~talli, sedangkall,jika menggwlakatl secal'a kimiawi yailu dellgan herl)isiua akan teljadi pencemat'atl lerhadap lingkungcul ataupwl terhadap petatli itu selldiri. Herbisida YcUlg Sel1Ilg digwlakatl oleh petatli adalah propculil, diuroll dati 2,4- [1,2], Penggunaatl h~rbisida lersebut adalah dellgatl cara melarutkatl dalatn air, lalll disemprolkml pada tatiatnatl budidaya. Untuk melindwlgi tallamall pangall, maka petatli serillg melakuk,w penyemprotatl herbisida 2,4- seccu'a berulallg k,lii. Pemakaiatl pestisida Yatlg sem,lkin batlyak dapat melllpakatl swnber pencemarall terliadap bahall pangatl dati lingk"1lngan karena adcwya residll yang ditinggalkatl pada air atallplln lanah, Cara lain Yatlg digunakcul selain menggwiakatl herbisida adal,ui dcng,ui cara pemadatatl atau lebih efeklif jika dilakukan keduatlya yaitu cara pemadalall JaIl pernliubculan herbisida, Pemadatatl pada tallaji persawajlall diiakukatl sebagai penggatiti pelumpuratl dalilm penyiapatl penatkllnatl dimatla akall berlujllan Wllllk menguratlgi perkolasi au' [3,4], Pada keadaatl terseblll dihat'apkall herbisida Yallg lalllt dalam air akatl Icbih sedikil mellc.:mhlls lapisall taiiah daerah perakaran padi dan akan lebih ball yak berada pada genangan air yang akan diserap oleh akar tallaidatl gulma dan diharapkan residu hel-bisida pada basil pallen padi lebih sedikit diballdillgkan dengatl tatiall Yallg tidak dipadatkan. (tatlan nonnal). MCIIUlllt Benn dan Mc. Auliffe (1975), pcnambahan suatu substansi kirnia asing ke dalam suatu lillgkullgail balk air, tanah ataupun tanatnan dalam.illmlah yang sekecil-kecilnya merupakan awal tel:iadinya pelll.:emaratilillgl~an[5). Herbisida2,4- digullakall wittik memberalltas gulma yang llerdalln lehar misalllya guhna Salvinia,nolesta, Sah'il/ill nafm/s cillo Residu 2,4-D yang diizinkan oleh FA<:>/wH<:> di dalam tanah dan air yang dikollsllmsi IIII(uk Illmah tatlgga adalah,5 ppm. HenJisida 2.4- bersifat sistemik dengan nama kimiallya adalah 2,4-diklorofenoksi asam asetat dellgan l"lulllls hatlgwi sebagai berikut[6]: Gamllarl. 1~lImlls Baogllo herbisida 2,4-D asam asetat Ncuna dagallg Y3l1g sering dipeljual belikan dipasarall adalclh[7]: P3l1adin 24, IIldamin 72 HC, Lilldomill 865 AS, Saturn-I? 6 G dan lain sebagaillya. Bc:rtitik tolak pada uraian di atas, maka dilakllkall pc:llclitian untuk menentukan kandungan herbisida 2,4- dal3ln air d3l1 t3l1ah pada sistem tanalllall pc:rsawail3l1 deng3l1 menggunakan C-14 sebagai pel"llllut. TujU3l111ya adalah untuk melihat sejallil mana residu herbisida pada air dan tanah yang akan mellcemari terhadap lingkungan akibat pelly~mpr()tall herbisida untuk memberantas gulma yallg akan m~ngg3l1ggu tanaman padi di sawah. TAT/\ Kt~I{.JA l~llelitiall Hahan. c Bahan yang digunakan dalam illi adalall: bibit padi dati varitas IR-64, gulma ecellggolldok (MolWchoria vaginalis Bum. /7. P,.(~.5/.). H~rbisida 2,4- dengan aktivitas 12,8 P3KRBiN-BATAN

3 F'res~t:lsj IImiah K~sel:lm:lt:ln R:ldi:lsi dad Lingkungan VuI, Agustus 2 mci/mmol yang didapatkail dari IAEA VielU1a, hel-bisida 2,4- non radioaktif dai-i fyi'. Dhanl1a Ardha Forma, metajlol, asetoll, toluena, lai1jtall Scintilator (yang terditi dai-i Toluen I liter, Pf'() 3 grain, POPOP,1 g) Peralatan- Alat yang digullakml dalmll penelitiall uli adalall mib-o syringe, alat combustion (Biological Oxidizer merk Halvey model ox-4t)(), alat pencacah kelip cair (I~iquid Scintillatioll CoWlter) merk BeckmalUl LS 18 I- yaitu: Metode. Kondisi tan.ah dilakukan 2 macam 1. tallall Donnal 2. tallall dedgajl kepadalclli 3 /(1 di ;ti,ls Dolmal Pengamatan dilakukall lerhadap I. Tanah dml air sawall 2. Akm" dml daun gulma Penanaman padi dad glllma. Oal.,m ember bel11kw.all 1 I di isi tan.u1 deng.ul 2 variasi sistem kondisi tail all yaitu tallan nol1nal dan I.Ulah dengall pemadatan 3% di atas nol1nal. Kemudi<ul digenallgi dengall air setinggi 5 cm dari pel1nnkaan tanall. Padi Yallg telall disemaikan selama 21 h;,;-i ditanam ke dalam ember tei.sehul, herikul gulma eceng gondok. Setelah bel-umur I minggll. disemprot dengall 1 ~Ci 2,4- _14C dan 2,4- non r<ldioaklif sebanyak,4 mg ke dalaln masing-masing ember melalui tailall. Kalldungan resiclu herbisida 2,4-- 14C dalam air, tall all, akar dan d.lun gulma clan hasil pallen ditentukan pada minggu ke,2,4, 8 d.ln 1 paska penyemprotall. Masing-masing dilakukan 4 kali ulangall. Analisis kandunghn 2,4-D dhihm thilhh, ~kar dad dado gulma. Sebanyak 2 gram Si:llnpel tanall dikemlgkall pada suhu kamar, kemudiall digerus. Tanah halus, Seball)'ak,2 mg, dengan alat Biological dibakar <:)xidizer Harvey ox-4. 14CO2 yang teljadi ditmnpung dengan lal-ulan sintillator, lalu dicacah dengan pcncacah kelip cairo dalam air. Analisis kandllnghn hcrhisida 2,4- Seballyak 2 ml sampel air dimasukkan ke dalmn gelas vial- ditmnhahkan Im11l<Ul SCilllil.llor sebayak 1 ml, dall dicacah dcllg.ul pellcacah kelip can. basil Analisis kandllngan 2,4-1) dalam pada paned. Sebllilyak.2 mg p.,di y:ulg dikerillgkan li(lara, dibakar dengan Biological Oxidizer, 14CO2 ditampung dengan larutan Scintillator dan dicacah dengail pencacah kelip cairo HASI.IJ DAN rembahasan Pada GaJnbaJ" 2, kandwlgan Terata herbisida 2,4- dalam air pada kondisi tallah normal pada minggu ke-o yailu sebesar 5,32 x 1-6 ppm, clan pada millggu ke-2 naik menjadi 5,93 x 1-6 ppm. Hal illi diseuaukajl kaj"ena pada minggu ke-o, 2,4- D yallg disemprotkan belum merata pada pelmukaan air Jail "juga sebahagiajl telah diserap oleh tanah, sedallgkajl pclda minggu ke-2 herbisida yang disemprolkclllleiall merata sehingga didapatkajl basil caccul;lliliya lebih tinggi. Jika dibandingkan dengan kalljlllig;ul 2,4- dalam air pada kondisi tanah dellgclll pemadalan 3 % di atas normal, maka pada millggu ke-o lebih tinggi bila dibandingkan dengan tallah liolmal. Hal ini disebabkan karena herbisida 2.4- oleh Uliiall YaJlg dipadatkan kurang terserap oll::h lajlah dimajla pori-poli tallall kecil, sedangkan pada tall"h Iionnal telall terserap KalldungaJl 2,4- pada minggu ke- ke-4 sampai minggu ke-lo menunm ~ecara dastis baik wittik k(jildisi (anah nonnal maupun lanah dengan pemadal,ul 3 o/() di alas nolmal. OimaJla kandwlgan h~ruisida ulltuk tallall normal pada minggu ke-4 scbcsar 1,53 x 1-6ppmmenunnlmenjadiO,87 x 1-6 ppm pada minggu ke-lo, dad pada kondisi tallah d~n~an pemada(all 3 % di atas normal kandwlgan hcrbisida 2,4- menurun dari 1,82 x 1-6 ppm pada minggu ke-4 menjadi,59 x 1-6 ppm pada minggu ke-io. Ini disebabkajl kaj"ena herbisida di dalam air telall dis~rap oleh akar tallaman gulma dimana akar gulilla m~ligapung pada lapisan ail" dad diu"allslokasikan ke tallalnall gulma, dad sebahagian discrap oleb ran.ill dajl secara perlahan-lahan diserap oleh ak,lr tallamajl padi, sehingga kandungan residu dalam air telah berkurajlg. P3KRBiN-BA T AN 94

4 Presentasi llmiah Keselamatan Radiasi d:ln I_in!!'-un!!:!n VIII, A""SluS 2(~1O.,~~U-~. ~ -" E a. a. 8 CD I a ~x "--' I ~- C'\J (I] " "(;j :c '- Q).c :J " (;j Q) ~ Waktu (minggu) 8 1 Gambar 2. Kandllngan residll Ilcrbisida 2,4-D dalam air pada kondisi tanah normal dan tanah dcn~an pemadatan 3% di atas normal. Kallduligall residu herbisida 2,4- dalam tallall dengall kondisi tallah noflllill d.lll pada kolldisi tanah dengan pemadatall 3 % di alas mmnal dapat dilihat pada Galnbal. 3, dimarul kanduligalulya pacta minggu ke-o sebesar 5,41 x 1 - ppm, dan menul"llll pacta minggu beril'1lulya sampai minggu ke-io " secara periallall-lahall sebes;u..1,54 x 1-6 ppm liilluk tanah nanna!, dall1111tuk tallah deng.an kolldisi lanah pemadatail 3 % di alas no1ll1al sebesar 5,12 x 1-6 ppm pada mulggu ke-o mell.iadi 1,48 x 1- ppm pada minggu ke-1. hli disebahkall karena pacta _minggu ke-o, herbisida 2,4- sebahagiall berada rlalam air dall sebagiall telah terserap oleh lanah, sedallgkall pada minggu ke-2 dan setel"llsnya menlll"uil kal.ena herbisida y;uig acta dalam I.UIah telah diserap oleh akar tallalnan pactio hli lel:iadi pad;l kondisi tallah nol~nal maupun lanah dengan pemadatan 3 //1 di atas nonnal. Untuk perballdingall kandungall rerata residu herbisida 2,4-D dalaln tanah Yallg. noflnal dengan tallah Yallg dipadatkan 3//1 di at as noflnal, ditunjllkkall juga pada Gambar 3. Pollia minggu ke-o, kandungan residu 2,4-D dalam l,mah lionnal lebih titlggi dari tanah yang dip,llialk,m ~~()(fr, di alas nofdlal, hal ini disebebkan karella lanah pad at pacta minggu ke-o tersebut belum dapal mcyerap herbisida, sedangkan tanah nofdlal tela.1j mcycrap herbisida karena mempunyai rongga yallg lehih hesar dali tallah yang dipadatkan. Pad a minggu ke-2. kandwlgall residwlya bait pada tanah nonnal maupull tall all Yallg dipadatkall tidak berbeda nyala, kemudian pada minggu ke-4, telihat residunya lebih lillggi daripada tanah nofdlal. Hal ini karena tanah nomlal melljelang minggu ke-4 herbisida 2,4- D lclah mulai diserap oleh akar tanaman padi, scdallgkall palla tallall Yallg dipadatkan 3% di alas 1lmai pellyerapall pada tanah agak lama, sehingga pcli}'crap;ul oleh akar tanamall padi belum sempuma. Ocmikial1 seterusnya dimana kandungan 2.4-D dalam lallah selalu berbanding terbalik antara tallah Ilomial dl::ngal1 tal1ah yang dipadatkan - Kalldullgall herbisida 2,4-D dalam akar gulilla yallg dil;l1lam pada tallah nofdlal dad tanah dclig;11l kcpadat;ul 3% di alas nofdlal terlihat pada Gamhar 4. 'I"crlihat bahwa pada minggu ke-o dad millg,':!.u kc-2 unluk tanah yang dipadatkan 3 % 95 P3KRBiN-BATAN

5 l'rl'sclllasi Ilmiah Kcsel"I11'""" I{adia"i dun Lingkungan VIII, Agusuis 2-6 e- o.. I ~- N ~ U "ii) (J) (k:: Waktu (minggu) Gambar 3. Kandungan hl'rbisida 2,4-1) dalam tanah pada kondisi tanah.normal dan tanah yang dipadatkan 3% di atas normal diatas nonnal, r(:'.sidunya lebih tinggi hila dibroldulgkrol dengrol residu pad a akar glilma yang ditrolron pada tailall nonnal, kemlldi;ul pada minggll ke-4 drol setel"usnya sronpai millggll kt:-io lebih rendall dari dalron akro' gulma yallg ditallron pad;l tailall nolmal. Hal ini disebabkall karella pada minggu ke-o clan millggll kc-2, pellyerapan herbisida pada tanall nonnal Icbih bcsar dro'i tallah yrolg dipadatkrol, sehingga.illmlan nt:lbisida yall);!, ada pada air trolall nollila! lebih kecil. Sepel1i diketallui bahwa gulma adalah tanamall air y;ul);!, selalu menyerap W1Sur hara dro'i air. pada Gamba!' 5, ditunjllkkan kandllngcul radioaktivitas herbisida 2,4-1:) dajam dawl glilma pada 2 macam kondisi tanah. raja gratik.illg;' terlihat bahwa radioaktivitas p;lda dalln glilma Yallg ditanam pada tailah yang dipadatkrul lebih tinggi pada minggu ke-o dan millggu ke-2, oila dibroldingkan dengan gulma yrulg dil;ulam pada tanah nonnal, kemudirul pad.. millggll ke-4 kroldungannya lebih rendah drui dalill gllilna y;ulg ditrolam pada tailall Donna! dall pada millggll ke-x naik menyronai kroldwlgml rcsidullya pada lallan al d,ul pada minggu ke-lo de.jlgall dr.(sliso turun kembali Hal il1i sejalarl dengan penyerapan oleh akar gulilla. k,uoena akar guima telah menyerap herbisida Ichih barlyak, sehingga daun gulma juga akall m~iiyt:rap lebih barlyak, dad jika akar gulma mt:llycrap 1l1akill sedikit maka daun gulma juga akan mctlycrap sedikit. dalill Untuk kandungan 2,4-D pada gulll1a ymlg ditanam pada tanah normal pellycrapallllya lebih stabil sampai pada rninggu ke- 1 bila dih,mdingkarl dengan kondisi tanah yang dipadalkall. Kcu"ena penyerapan herbisida pada tanah y,mg dipadalkml agak larnbat hila dibandingkan detlgall lal1,nl nonnal mcii)!crap Ichih larnbat juga. sehingga akarpun akan UlIluk melihat pengaruh kandnngan hcrhisida 2.4-D dalarn air dad tanah yang semakin lalll,l sl:makin berkuloarlg maka dilal.'"ukan juga,ulalisis k,lijdungarl herbisida 2,4-D terhadap akar gulilla, d,llijl gu1ma, akar padi, batang padi, dann padi dall huah padi setelah 1 rninggu (panen) dcl1gall ml:mbandingkan antara tanah dalam keadaan normal dcllgan lanah yarlg dip:!,datkan pada 3% di al,ls ,11 yang ditunjukkarl ~!lda Gambar 6 P3KRBiN-BA TAN 96

6 Presentasi Ilmiah Keselamatan Radiasi dan I_ingkungan VIII Agu"tu" 2/1(1() --- E C- o. U), a T"- x '--" I ~- N (13 " oil) :c '- Q).c ~ " oil) Q) :: 2 t C II 1 I.1 I I. f WakbJ (minggu) Gamhar 4. K1Indlln~1In ht'rllisida 2,4-1) d1l11lm akar gulma pada kondisi tanah norm1l1 dan tan1lh yan~ dip1ldatk1ln 3% di atas normal E.. W I..-.'6,. oq-. N ro "C.Iii :is '- C1>.c =' "C "Iii C1> I:t: Gambar 5. Kand\lngan herbisida 2,4-1> d~i;111i dalln g\llma pada kondisi tanah normal dan tanah yang dip~ci~tkan JUO/" di atas normal 91 Pi:KRBiN-BATAN \

7 Presell!:!'; Ilmiah Kc"ol"mat""Kadiasi dati Litlgkutlgan VIII, Agustus 2 Tal}cll. l~ob(lt r..'rata hll...il plillcil padi Katldungatl 2,4- d,uam akar gulma pada kolldisi tatlall nonnal lebill tinggi dari p,lda d,lllll guhna, ini disebabkatl karena tel:iadi akumulasi herbisida 2,4- pada akar. sellingga pada dalill Y;111~ JipacJalk~m 3% di atas nonnal dapat dilihat paja latlel I. T erlihat ballwa bobot padi pada tanah 1I(lllllal 1~I,ih relldah dari tanah dengan pemadatan, ~r~~lma Oaun gul~a_~dt -~-,~!!.~~i_oaun pad; Buah padi Gambar 6. Kandlln~an hl'rllisida hatan~, d.-lin dan hll}ih 2,4-1) p~lda }ikar dad dalln gulma,akar, p}icli p}id.- m.-sa paned. gulma menyerap 2,4- lebih sl:dikil. illi lel:iadi o.lik o,lik k(llllrol maupull dengail menggunakan pacta kondisi taxlall nonnal maupul1 tanah )'allg li..'roisij,i, St:d~mgkaIl jika dibandingkan antara dipadatkail 3% di atas normal,!'.ida aka.- p:ldi, 1,111.,mall yang diberi herbisida dengan konu'ol maki kaildullgail herbisida 2.4- (chill linggi hclocll hllah padi lebih tinggi pada taxlaman yang dibandingkan dengail dalam hat,mg patti. dawl p.ldi, bait pada tailah dengan konjisi rnmllal maupwi tanah dengan kondisi pemajalall. s..:jallgkan radii buah padi, kandwlgail herhisida!ehill b~sa.- raja kondisi tanall uonnal dibculdillgkall d":llgml kolldisi tanall pemadatail 3% di alas 1lllrlllal, Hal illi disebabkan kai'ena pada tallah pad at. Irmlslclkasi dill..:ri CII..:h herbisida. Hal ini dapat disimpulkan h.lh\\'a alll;lra lallah dengan kondisi pemadatan dan pl.'ii~~llilaall herbisida, hasil pallen padi lebih tinggi d:lri radii 1,lnmn,Ul YaIlg diben herbisida tetapi dl:li~all kolldisi ICUlall nonnal, Karena tanah dengan pl.'iliadal;111 3()% di atas nonnal dapat menghambat pl'rklliasi air, sehingga gulma yang merupakan herbisida Ulltuk scunpai ke huall padi lehih susan lall,llllall air lebih terhalang kehidupannya kai-ena penyerapcumya yallg sall~al pelml. l/1i dillalldi/1.~kall dengan tanah normal, sehingga dipengaruhi oleh kepadalall t,mall d":lig.1i1 ad..lllya rongga poli-pori YCUlg halus dihalldi/1gkall dl:nga/1 tanah nolmal. Untuk melihat jun}lall hasil p,ulell padi mak..1.iika dibculdulgkail alltai-a t,wall rnmnal dl:lig;m lallall lallallla/1 padi lebih leluasa untuk hidup, ' -' j P3KRBiN-BA TAl': 98

8 .1""'...;i11 Presellt."\si llmiah Keselamatall Rattia,;.Iall J_ill~kllllgall VIII, 2.\ -24 A~II"lI' 2()l1(1 KESIMPULAN (;,,\\1 h", Soil mid Rice, mri. Los Banos, Oari penelit~ yang lelah dilakukall di..pi'l disimpulkail bahwa kandullgall herl}isida 2.4-() dalain air tanamaii padi mellul1l11 dari waklll kewakul yaitu dati awal(jenyemprut,ul smnpai pad.1 masa pallen, yaitu sebesai-,87xjo - ppm Uilluk tanah nonnal daii,59 x 1 - pp111 ulltuk t,lli,ll1 dengaii pemadataii 3% di alas lionnal- KaIldungaIl residu herbisida 2,.4- pada tailah I:a1laInaIl padi juga lilellurull dafi mul.li penyemprotan sainpai masa panell. yailu sebesar 1,54 x 1-6 ppm untuk tanah lionnal.. dml 1.48 x 1 6 untuk tailall dengail pemadatall. KaIldUllgaIl residu li<tsil pallen p,ldi ad<ti,111 sebesai- 2,75 xl -6 pplll UIIluk lililall Ilunnal dall,25 x 1-6 ppm untuk kolldisi talla!1 pellladatall. KaIldungan tersebut masill berada.iilul1 dibawah ambailg balas, karella batas mnbiulg yall:,! diiziilkail oleh FAO/WHO ad,uall sebesar,5 prill. Sehingga penggwlaail herbisida 2,4- lerlladap tailamail padi Ulltuk mengendalikau tidak menimbulkail ser,ulg<t.!1 gulilla pencem,lj(lll terhadap lillgl"ll1lgall jika pemakaiaiulya tidak dilakukau beruliulg kali. daii basil pailelulya ptln lilenillgkat hila dibaildingkail dengaii tanpa menggullakall herbisid.i. OaII akail lebih menmnb,uj hasil pallell.iika SiSIl:llt kondisi tailah dengaii CaI-a pellladal,ul 3 % di alas nonnal. DAFTARPUSTAKA 1. ULFA TAMIN, SOJ.'NIE M.CH., d.111 M.M.SULL~TY A TI, Aplikasi rol111ul,lsi Herbisida 2,4-D-14C Pellglepasan Terkend,lli pada Gulma ltik (Lc~IIII/a JI('IJlusilla Ivn-). PI'osidulg Koluerellsi Ilmu Gulma Indonesia X II. Padang, SOFNIE M.CHAIRUI.. d,m EI,IDA D.JAI~II{. Penglepasall Terkendali. Herhisida 2.4--I.lC pada Gulma Salvinia IUI/cm"\' dall Sah'il/;/l molesta, PI'osiding Konferellsi Ilmu Gulma lildonesia XII, Padang, 1994, 3. DE DATA, S.K., Principles and Practices {,i Rice Production, 1hn Willey Singapore and Sons Inl'. 4. GHILDY AL, B.;,'., "Effect of Compaction ai/i!, Puddling on Soil Plllrysical Propcnics and I{il"l" I.agulla, Philippines 1978, I~ENN, f.r. and Mc. AULLIFFE, Chemistry,llld Polution, the Mac Millan I,(lndoll 1975 Press LTD. C1. I\N()NIM, Pestisida untuk Pertanian dan Kl.:hlllttllttll, Komosi Pestisida, Departemen 1":11ttllittll, SHI':I':T. T..J.,"ln roduction to Environmental.'c,xil.{I!{'gy, Agllcultural Pollutant, Elseiver NIII1 Holland Inc. New York 198. R. i\n()nfm, Fmm Chemical Handbook, 1982, {'Xl-CX3. I)I."KUSI ZOl'Oar, P3KRBiN-BATAN a. I~~rapakah konsentrasi (kandungan) herbisida O;tl;1111 lalla11 pada awal percobaan? h. I )ell.~all,isllil1si ba1jwa berat tanah dalam ember 11all:a :!: 16 kg (volume tailah::l:8 liter beratjenis = 2.7 ; porositas 25%), sedangkan herbisida yang (li.~lii\akall,4 mgr konsentrasi herbisida awal Ill'rC(lhaall hanya (,4 mgr)/(16 kg) =,25 ppm. Kllllselllrasi ini terlihaulya jauh di bawah batas ~'allg dii.iillkan, Mohon komentai'/ penjelasannya t..'rhiljap pciicemarail lingkungan, (percobaan,..:rlihalll)!a dilaj,.'"ukail pada kondisi yang aman, jallh (Ii I};twah batas YaIlg diijinkan). s,.rfli{' M. <:hairlll, P3TIR-BATAN,I. ",IIIUIIII~all herbisida dalarn tanah pacta awal IJI. rl:()h;i,11l selelah karni lakukan analisis tidak (cruallal nerbisida di dalarmlyao h. 1:I. r,l( 1,"lan y<ulg kroni g\lllakrol acta 5 kg. l'i. IlI. lili,1i1 illi kroni melihat efek sarnping Illdap,11 air alau tailah setelah pallen, apakah 1111:1l1. ':lllari lillgkungan atau tidak. )\1111;1\\';1;, I'JKIU~iN-BA h TAN i-\()lltiisi lallah YaIlg digunakan tanah barn yang ill'll,ls dari herbisida/ tanah lama yang ada I'L'llIlm,~!.kjllan mengaildwlgherbisida? : :II(III~ k(llldisi di lapailgan ada kemungkinan "'Itlall 1II'::llgandung herbisida sehingga pada saat ;,,\a IJ..'oallloall;m herbisida ada kemungkinan 99 [-'3KRBiN-BA TAN

9 J'resent:lsi IImiah K""'l'I"mal:11I Radiasi dad Lingkungan VIII,:d3-24 Agustus 2 faktor transfer ke tatlaldall berbeda, moltoll komentar? 1;lma keadaan tidak aman tersebut akan teljadi paska pcnggunaan herbisida? Sofm~M. Chair"l, P3TII~-I~A TAN Sllflli(' M. Chairul, P3Tm-BATAN a. Tallah yang Yallg digunakan pada penelitiatl illi adalah tanah Yallg beku digunakan sebelulllllya. Jafi secara logika tidak meugandung herbisidil. Tetapi Ulltuk sebagai konlrol kami melakukao analisis kandungall residu lierbisida dengan carol konvesional atausecal.a IJencacahan. b. Untuk kondisi lapallgall lersebut telall diutal.akan sebelulllllya bahwa Ilerbisida tersebul mempwlyai waktu pal.oll Yallg s<u\gat sillgkal sekali. Apalagi dellgan adculya callaya matahari/pemallasail olell matallal.i maka herbisida tersebut akall terdegradasi I tel"ltr;li menjadi senyawa Yallg tidak bet-acun. a. "I'U.iuilllllya adalah penanggulangan gulma Jisampillg dengan pestisida/herbisida ada juga Jilakukan dengan pemadatan hal ini adalah untuk IfI(;ll.iaga air pacta tanah sehingga tanaman padi Il~rulama padi tidak tercemar oleh herbisida. Kart:lla tujuannya acta untuk gulma sehingga pad a percobaail uti kami ingin membandingka alltara kadar tanah tersebut. b. Kcada'lIl pasca tidak aman itu acta pacta umur -7 ii"r; (I minggu) sedangkan mutu paden dari padi tcrst:hul acta selama 3 bulan atau minggu ke-12 M. Yazid, P3TM-BATAN Nani Kartini, P3TIR-BA TAN a. Selama pertwnbuhall tallalnall padi d3il sid I () minggu apakah air tidak dilambajl mengillgal tall3inan padi ditanaln dalam pol. b. Bila ditambah apakah tidak mtlngkin pellul"llllall residu karena penalnbahall air (pellgencerall). a b. /\pakall residu herbisida juga membahayakan k~st:halcui mallusia " Bukankah hanya bersifat rit.~uii SIJesitik wltuk tumbuhan Herba? Jika ya. orgall kritisnya apa dan t Ih biologisnya 11t:rapa? S(,fJ1it' 1\1. Chairul, P3TIR-BA TAN Sofnie M. Chairul, P3TIR-I'A TAN a. Ail' pada tanarnail padi tersebllt selalu di.;ag;, fungsinya. Jadi setiap ada.pengllkm'ail dilakllkaji penarnbahail dengan air. b. Seperti hat di atas rnaka residll tersebllt tidak teljadi pengencerail karena aimya dijaga tclap seperti keadaan semula. Zubaidah, P3KRBiN-BA TAN b. a. Apa tujuan dari penanamcul pada tanall padatall 3%? b. Telah diperoleh data residu herbisida dalam tanah untuk satu kali penyemprotcul herbisid.. dengan konsenu.asi tertentu YCUlg temyata masih di bawah batas YCUlg dii.jillkan. SCdculgkcul pad.. kenyataadllya penggunacul herhisida bemlcm~ kali pada lokasi tculah yang SCUllcl. Hal ini.ielcls ajcan teljadi al.rumulasi residu herbisida dclll p/.enjadi tidak ajllcul bagi man usia. Bagaimctlla komentaj' ajlda terhadap masalah di atas '? Bcrapa a. I-lerhisida merupakan senyawa pestisida yang S;lllg..It herhahaya pada manusia karena bersifat raelili. Tetapi jika residunya masih berada di ha\\'ah ambmlg barns, tentu tidak akan memhahayakml, seperti pada penelitian kami r.:sidll masih jauh di bawah ambang batas yaitu rada padi sekitar,25 -,27 (x 1-6 ) ppm. Memallg di samping racun untuk tumbuhan 11\.'rha.ilJga terhadap manusiajika dosisnya tinggi. "I" Yl II)"" untuk herbisida ini (1 minggu). Organ I.:rilis dm"i herbisida tersebut adalah pada organ r.:rllap;lsm1/orgml paru-paru. P3l\.j{B'iN -BAT AN 1

TRANSLOKASI HERBISIDA 2,4-D-14C P ADA T ANAMAN GULMA DAN PADI PADA SISTEM PERSAWAHAN

TRANSLOKASI HERBISIDA 2,4-D-14C P ADA T ANAMAN GULMA DAN PADI PADA SISTEM PERSAWAHAN Risalah Peltemuan Ilmiah Penelilian dan Pengembangan r eknologi IsolOp dan Radias~ 2()(XJ TRANSLOKASI HERBISIDA 2,4-D-14C P ADA T ANAMAN GULMA DAN PADI PADA SISTEM PERSAWAHAN Sofnie M. Clmiml*, Mulyadi**

Lebih terperinci

PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) YANG DIIRADIASI SINAR GAMMA SECARA IN VITRO. Abdul Wa'id dad Yanti Lusiyanti

PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) YANG DIIRADIASI SINAR GAMMA SECARA IN VITRO. Abdul Wa'id dad Yanti Lusiyanti Prosiding Presentasi llmiah Keselamatan Radiasi dan Lingkungan Vul, 3-4 Agustus Puslitbang Keselamadiasi dan Biomedika Nuklir- BATAN PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis)

Lebih terperinci

STUDI TRANSFER Cs-137 DARI TANAH_LATOSOL KE T ANAMAN BAY AM (AmaranUlus sp) ~6{) Leti Nirwani, Yurfida, dan Buchon

STUDI TRANSFER Cs-137 DARI TANAH_LATOSOL KE T ANAMAN BAY AM (AmaranUlus sp) ~6{) Leti Nirwani, Yurfida, dan Buchon '2-1 Prosidiog Preseotasi nmiah Keselamatan Radiasi dad Lingkuogao VIII, 23-24 Agustus 2000 Puslitbaogeselamatao Radiasi dad Biomedika Nuklir -BA TAN (l{) STUDI TRANSFER Cs-137 DARI TANAH_LATOSOL KE T

Lebih terperinci

PENGGUNAAN 32p BAG I PENENTUAN EFISIENSI P-PUPUK PADA KELAPA SAWIT. K. Mar1oyo*. Lukman Fadli*, Z. Poclocngan*. Elsje L. Sisworo** dan Havid Rasjid**

PENGGUNAAN 32p BAG I PENENTUAN EFISIENSI P-PUPUK PADA KELAPA SAWIT. K. Mar1oyo*. Lukman Fadli*, Z. Poclocngan*. Elsje L. Sisworo** dan Havid Rasjid** Penehllan dun l'engemhankan Ap/ikasi Is%p don Radiasl. /999 PENGGUNAAN p BAG I PENENTUAN EFISIENSI P-PUPUK PADA KELAPA SAWIT K. Mar1oyo*. Lukman Fadli*, Z. Poclocngan*. Elsje L. Sisworo** dan Havid Rasjid**.Pusat

Lebih terperinci

Cara Penggunaan Pupuk Organik Powder 135 untuk tanaman padi

Cara Penggunaan Pupuk Organik Powder 135 untuk tanaman padi Cara Penggunaan Pupuk Organik Powder 135 untuk tanaman padi 4 tahap penggunaan Pupuk Organik Powder 135 (POP 135 Super Tugama) 1. Persiapan Benih 2. Pengolahan tanah atau lahan tanaman 3. Pemupukan 4.

Lebih terperinci

METODOLOGI PENELITIAN

METODOLOGI PENELITIAN 20 METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di lahan pertanaman padi sawah di Desa Cijujung, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat pada bulan Februari

Lebih terperinci

PERBEDAAN UMUR BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L)

PERBEDAAN UMUR BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L) 35 PERBEDAAN UMUR BIBIT TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI SAWAH (Oryza sativa L) EFFECTS OF AGE DIFFERENCES OF SEEDS ON GROWTH AND PRODUCTION OF PADDY RICE (Oryza sativa L) Vikson J. Porong *) *)

Lebih terperinci

PUPUK ORGANIK CAIR DAN PUPUK KANDANG AYAM BERPENGARUH KEPADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI ( Glycine max L. )

PUPUK ORGANIK CAIR DAN PUPUK KANDANG AYAM BERPENGARUH KEPADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI ( Glycine max L. ) Agrium, April 2014 Volume 18 No 3 PUPUK ORGANIK CAIR DAN PUPUK KANDANG AYAM BERPENGARUH KEPADA PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KEDELAI ( Glycine max L. ) Suryawaty Hamzah Jurusan Agroekoteknologi Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. khususnya di area persawahan hingga saat ini semakin meningkat, dan dapat

I. PENDAHULUAN. khususnya di area persawahan hingga saat ini semakin meningkat, dan dapat I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pestisida adalah substansi kimia dan bahan lain serta jasad renik yang digunakan untuk mengendalikan berbagai hama. Penggunaan pestisida pada usaha pertanian khususnya

Lebih terperinci

RESPOMS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAAWI (Brassica Juncea. L) TERHADAP INTERVAL PENYIRAMAN DAN KONSENTRASILARUTAN PUPUK NPK SECARA HIDROPONIK

RESPOMS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAAWI (Brassica Juncea. L) TERHADAP INTERVAL PENYIRAMAN DAN KONSENTRASILARUTAN PUPUK NPK SECARA HIDROPONIK 864. Jurnal Online Agroekoteknologi Vol.1, No.3, Juni 2013 ISSN No. 2337-6597 RESPOMS PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAAWI (Brassica Juncea. L) TERHADAP INTERVAL PENYIRAMAN DAN KONSENTRASILARUTAN PUPUK NPK SECARA

Lebih terperinci

PENENTUAN KANDUNGAN LOGAM Pb DAN Cr PADA AIR DAN SEDIMEN DI SUNGAI AO DESA SAM SAM KABUPATEN TABANAN

PENENTUAN KANDUNGAN LOGAM Pb DAN Cr PADA AIR DAN SEDIMEN DI SUNGAI AO DESA SAM SAM KABUPATEN TABANAN PENENTUAN KANDUNGAN LOGAM Pb DAN Cr PADA AIR DAN SEDIMEN DI SUNGAI AO DESA SAM SAM KABUPATEN TABANAN NI PUTU DIANTARIANI DAN K.G. DHARMA PUTRA Jurusan Kimia FMIPA Universitas Udayana. ABSTRAK Telah diteliti

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Miranti Kecamatan Tapa Kabupaten Bone Bolango. Penelitian dilaksanakan selama 4 bulan, dari sejak bulan

Lebih terperinci

PENENTUAN WAKTU TUNDA PADA KONDISIONING LIMBAH HASIL PENGUJIAN BAHAN BAKAR PASCA IRADIASI DARI INSTALASI RADIOMETALURGI

PENENTUAN WAKTU TUNDA PADA KONDISIONING LIMBAH HASIL PENGUJIAN BAHAN BAKAR PASCA IRADIASI DARI INSTALASI RADIOMETALURGI PENENTUAN WAKTU TUNDA PADA KONDISIONING LIMBAH HASIL PENGUJIAN BAHAN BAKAR PASCA IRADIASI DARI INSTALASI RADIOMETALURGI Herlan Martono, Wati, Nurokhim Pusat Teknologi Limbah Radioaktif ABSTRAK PENENTUAN

Lebih terperinci

PENGARUH PERENDAMAN TERHADAP =LARUTAN MANGAN DAN FOSFOR PADA ANDISOL DAN OKSISOL ASEP INDRA KOMARA A

PENGARUH PERENDAMAN TERHADAP =LARUTAN MANGAN DAN FOSFOR PADA ANDISOL DAN OKSISOL ASEP INDRA KOMARA A % ow PENGARUH PERENDAMAN TERHADAP =LARUTAN BESI, MANGAN DAN FOSFOR PADA ANDISOL DAN OKSISOL ASEP INDRA KOMARA A04499031 PROGRAM STUD1 ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 SUMMARY

Lebih terperinci

TANGGAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAWI (Brassica juncea L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK CAIR SKRIPSI MUHAMMAD RIZKY ANDRY AGROEKOTEKNOLOGI - BPP

TANGGAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAWI (Brassica juncea L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK CAIR SKRIPSI MUHAMMAD RIZKY ANDRY AGROEKOTEKNOLOGI - BPP TANGGAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI SAWI (Brassica juncea L.) TERHADAP PEMBERIAN PUPUK CAIR SKRIPSI MUHAMMAD RIZKY ANDRY 080301097 AGROEKOTEKNOLOGI - BPP PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

Tata Cara penelitian

Tata Cara penelitian III. Tata Cara penelitian A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini telah dilaksanakan di Lahan Percobaan, Labaratorium Penelitian dan Laboratorium Tanah Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

216 ISSN IDENTIFIKASI KALSIUM BATU GINJAL YANG TERLARUT OLEB EKSTRAK BENALU PETE DENGAN METODA ANALISA PENGAKTIFAN NEUTRON (APN) :

216 ISSN IDENTIFIKASI KALSIUM BATU GINJAL YANG TERLARUT OLEB EKSTRAK BENALU PETE DENGAN METODA ANALISA PENGAKTIFAN NEUTRON (APN) : 2-1 216 ISSN 0216-128 Sunardi, dkk. IDENTIFIKASI KALSIUM BATU GINJAL YANG TERLARUT OLEB EKSTRAK BENALU PETE DENGAN METODA ANALISA PENGAKTIFAN NEUTRON (APN) : Sunardi, Zainul Kamal dad Darsono Pl!~litbang

Lebih terperinci

ANALISIS LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DAN SEMI CAIR. Mardini, Ayi Muziyawati, Darmawan Aji Pusat Teknologi Limbah Radioaktif

ANALISIS LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DAN SEMI CAIR. Mardini, Ayi Muziyawati, Darmawan Aji Pusat Teknologi Limbah Radioaktif ANALISIS LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DAN SEMI CAIR Mardini, Ayi Muziyawati, Darmawan Aji Pusat Teknologi Limbah Radioaktif ABSTRAK ANALISIS LIMBAH RADIOAKTIF CAIR DAN SEMI CAIR. Telah dilakukan analisis limbah

Lebih terperinci

PENYIANGAN. Peserta diklat diharapkan mampu menyiang padi sawah dengan benar.

PENYIANGAN. Peserta diklat diharapkan mampu menyiang padi sawah dengan benar. PENYIANGAN 1. DEFINISI Penyiangan adalah penghilangan rumput atau tanaman liar di sekitar tanaman yang sedang kita rawat. Rumput atau tanaman liar perlu dihilangkan karena menimbulkan penghalangan tumbuhnya

Lebih terperinci

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tanaman padi (Oriza sativa) adalah salah satu jenis serealia yang umumnya dibudidayakan melalui sistem persemaian terlebih dahulu. Baru setelah bibit tumbuh sampai

Lebih terperinci

UPAYA MINIMISASI LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN CARA PENGAMBILAN KEMBALI RADIONUKLIDA

UPAYA MINIMISASI LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN CARA PENGAMBILAN KEMBALI RADIONUKLIDA UPAYA MINIMISASI LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN CARA PENGAMBILAN KEMBALI RADIONUKLIDA Sahat M. Panggabean, Yohan, Mard!ni Pusat Pengembangan Pengelolaan Lirl1bah Radioaktif ABSTRAK, UPAYA MINIMISASI LIMBAH RADIOAKTIF

Lebih terperinci

TINGKAT CEMARAN RESIDU INSEKTISIDA DI SEKIT AR PPTN P ASAR JUMA T. VIfa T. Syahrir dan Sofnie M. Chairul

TINGKAT CEMARAN RESIDU INSEKTISIDA DI SEKIT AR PPTN P ASAR JUMA T. VIfa T. Syahrir dan Sofnie M. Chairul ~ Prosiding Presentasi Ilmiah Keselamatan Radiasi danlingkungan VIII, 23-24 Agustus 2000,Puslitbang KeseIamataD Radiasi dad Biomedika Nuklir -BATAN. "'"' TINGKAT CEMARAN RESIDU INSEKTISIDA DI SEKIT AR

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta.

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta. III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Greenhouse dan Lahan Percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Yogyakarta. Penelitian ini

Lebih terperinci

Kajian Potensi Bionutrien CAF dengan Penambahan Ion Logam Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Padi (Oryza Sativa L.)

Kajian Potensi Bionutrien CAF dengan Penambahan Ion Logam Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Padi (Oryza Sativa L.) Kajian Potensi Bionutrien CAF dengan Penambahan Ion Logam Terhadap Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman Padi (Oryza Sativa L.) Muhamad Nurul Hana, Yaya Sonjaya, Irfan Abdulrachman Mubaroq Program Studi

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

BAHAN DAN METODE PENELITIAN BAHAN DAN METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2011 di lahan percobaan Fakulas Pertanian Universitas Sumatera Utara. Bahan dan Alat Penelitian Adapun

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari Juni 2013 sampai dengan Agustus 2013.

III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan mulai dari Juni 2013 sampai dengan Agustus 2013. 26 III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai dari Juni 2013 sampai dengan Agustus 2013. Sampel daun nenas diperoleh dari PT. Great Giant Pineapple,

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4. 1. Pertumbuhan Tanaman 4. 1. 1. Tinggi Tanaman Pengaruh tiap perlakuan terhadap tinggi tanaman menghasilkan perbedaan yang nyata sejak 2 MST. Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Universitas Lampung (Unila),

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Universitas Lampung (Unila), III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Universitas Lampung (Unila), Kecamatan Natar Kabupaten Lampung Selatan dan Laboratorium Ilmu Gulma Universitas

Lebih terperinci

I Made Gede Widnyana Kajian pola titik layu tanaman paprika (Capsicum Annuum L.)

I Made Gede Widnyana Kajian pola titik layu tanaman paprika (Capsicum Annuum L.) I Made Gede Widnyana. 1111305024. Kajian pola titik layu tanaman paprika (Capsicum Annuum L.) dan kapasitas lapang pada beberapa media tanam (Studi Kasus di Br. Pemuteran Baturiti, Desa Candi Kuning, Kecamatan

Lebih terperinci

KAJIAN PEMANFAATAN PUPUK CAIR MULTINUTRIEN DARI BUANGAN INDUSTRI GARAM PADA TANAMAN SEMUSIM

KAJIAN PEMANFAATAN PUPUK CAIR MULTINUTRIEN DARI BUANGAN INDUSTRI GARAM PADA TANAMAN SEMUSIM KAJIAN PEMANFAATAN PUPUK CAIR MULTINUTRIEN DARI BUANGAN INDUSTRI GARAM PADA TANAMAN SEMUSIM Nur Hapsari dan Nugrohorini UPN Veteran Jawa Timur Jl. Raya Rungkut Madya Gunung Anyar Surabaya Telp : (031)8782179

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Kabupaten Bantul, Daerah istimewa Yogyakarta. Waktu pelaksanaan dimulai

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan waktu penelitian. Kabupaten Bantul, Daerah istimewa Yogyakarta. Waktu pelaksanaan dimulai III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Lahan Penelitian Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berbahaya dalam arti (toksisitas) yang tinggi, biasanya senyawa kimia yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. berbahaya dalam arti (toksisitas) yang tinggi, biasanya senyawa kimia yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Suatu tatanan lingkungan hidup dapat tercemar atau menjadi rusak disebabkan oleh banyak hal. Namun yang paling utama dari sekian banyak penyebab tercemarnya suatu tatanan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian

BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian 14 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung Gedung Meneng, Kecamatan raja basa, Bandar Lampung

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah. rumpun, tingginya dapat mencapai cm, Bawang Merah memiliki jenis akar

II. TINJAUAN PUSTAKA. A. Bawang Merah. rumpun, tingginya dapat mencapai cm, Bawang Merah memiliki jenis akar II. TINJAUAN PUSTAKA A. Bawang Merah Bawang Merah merupakan tanaman yang berumur pendek, berbentuk rumpun, tingginya dapat mencapai 15-40 cm, Bawang Merah memiliki jenis akar serabut, batang Bawang Merah

Lebih terperinci

TEKNIK BUDIDAYA PADI DENGAN METODE S.R.I ( System of Rice Intensification ) MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK POWDER 135

TEKNIK BUDIDAYA PADI DENGAN METODE S.R.I ( System of Rice Intensification ) MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK POWDER 135 TEKNIK BUDIDAYA PADI DENGAN METODE S.R.I ( System of Rice Intensification ) MENGGUNAKAN PUPUK ORGANIK POWDER 135 PUPUK ORGANIK POWDER 135 adalah Pupuk untuk segala jenis tanaman yang dibuat dari bahan

Lebih terperinci

Pupuk Organik Powder 135 (POP 135 Super TUGAMA)

Pupuk Organik Powder 135 (POP 135 Super TUGAMA) Penggunaan pupuk kimia atau bahan kimia pada tanaman, tanpa kita sadari dapat menimbulkan berbagai macam penyakit seperti terlihat pada gambar di atas. Oleh karena itu beralihlah ke penggunaan pupuk organik

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Universitas Lampung

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Universitas Lampung III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di rumah kaca gedung Hortikultura Universitas Lampung pada bulan Juni November 2014. 3.2 Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian

BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Alat dan Bahan Metode Penelitian 10 BAHAN DAN METODE Waktu dan Tempat Percobaan ini dilaksanakan di Kebun Percobaan IPB Cikarawang, Dramaga, Bogor. Sejarah lahan sebelumnya digunakan untuk budidaya padi konvensional, dilanjutkan dua musim

Lebih terperinci

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

LAMPIRAN LAMPIRAN. Lampiran 1. Skema penelitian. Tahap 1 pengomposan. - Enceng gondok - Batang pisang - Jerami padi. - Em4 - Molase - Dedak

LAMPIRAN LAMPIRAN. Lampiran 1. Skema penelitian. Tahap 1 pengomposan. - Enceng gondok - Batang pisang - Jerami padi. - Em4 - Molase - Dedak Lampiran 1. Skema penelitian Tahap 1 pengomposan Persiapan Bahan LAMPIRAN LAMPIRAN Bahan Dasar : - Enceng gondok - Batang pisang - Jerami padi Starter kompos : - Em4 - Molase - Dedak Pengomposan selama

Lebih terperinci

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung.

I. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. I. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung, Bandar Lampung. Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2010 sampai dengan panen sekitar

Lebih terperinci

PENGARUH INTERVAL PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL EMPAT KULTIVAR JAGUNG (Zea mays L.)

PENGARUH INTERVAL PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL EMPAT KULTIVAR JAGUNG (Zea mays L.) PENGARUH INTERVAL PENYIRAMAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL EMPAT KULTIVAR JAGUNG (Zea mays L.) Danti Sukmawati Ciptaningtyas 1, Didik Indradewa 2, dan Tohari 2 ABSTRACT In Indonesia, maize mostly planted

Lebih terperinci

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi

2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Persepsi Persepsi adalah kemampuan otak dalam menerjemahkan stimulus atau proses untuk menerjemahkan stimulus yang masuk ke dalam alat indera manusia. Proses ini yang memungkinkan

Lebih terperinci

Natalina 1 dan Hardoyo 2. Surel : ABSTRACT

Natalina 1 dan Hardoyo 2. Surel : ABSTRACT 9- November PENGGUNAAN ENCENG GONDOK (Eichornia crassipes (Mart) Solms) DAN KANGKUNG AIR (Ipomoea aquatica Forsk ) DALAM PERBAIKAN KUALITAS AIR LIMBAH INDUSTRI TAHU Natalina dan Hardoyo ) Jurusan Teknik

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Politeknik Negeri Lampung (POLINELA). Waktu penelitian dilaksanakan sejak bulan Mei 2011 sampai dengan panen sekitar

Lebih terperinci

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian

BAHAN DAN METODE Tempat dan Waktu Penelitian 12 III. BAHAN DAN METODE 3.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan melalui percobaan rumah kaca. Tanah gambut berasal dari Desa Arang-Arang, Kecamatan Kumpeh, Jambi, diambil pada bulan

Lebih terperinci

DINAMIKA KEGUGURAN BUNGA DAN BUAH DENGAN STATUS N JARINGAN DAN PEMBERIAN ZAT PENGATUR TUMBUH CPPU PADA TANAMAN LOMBOK (Capsicum annuum L.

DINAMIKA KEGUGURAN BUNGA DAN BUAH DENGAN STATUS N JARINGAN DAN PEMBERIAN ZAT PENGATUR TUMBUH CPPU PADA TANAMAN LOMBOK (Capsicum annuum L. DINAMIKA KEGUGURAN BUNGA DAN BUAH DENGAN STATUS N JARINGAN DAN PEMBERIAN ZAT PENGATUR TUMBUH CPPU PADA TANAMAN LOMBOK (Capsicum annuum L.) The Dynamic of Flower and Fruit Fall by N Tissue Status and CPPU

Lebih terperinci

PENGARUH MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JABON MERAH. (Anthocephalus macrophyllus (Roxb)Havil)

PENGARUH MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JABON MERAH. (Anthocephalus macrophyllus (Roxb)Havil) PENGARUH MEDIA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT JABON MERAH (Anthocephalus macrophyllus (Roxb) Havil) EFFECT OF PLANTING MEDIA ON RED JABON (Anthocephalus macrophyllus (Roxb)Havil) Yusran Ilyas ¹, J. A.

Lebih terperinci

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun

I. HASIL DAN PEMBAHASAN. A. Pertumbuhan Tanaman. tinggi tanaman dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 1. Rerata Tinggi Tanaman dan Jumlah Daun 16 1. Tinggi Tanaman (cm) I. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Pertumbuhan Tanaman Hasil sidik ragam tinggi tanaman ( lampiran 6 ) menunjukkan perlakuan kombinasi limbah cair industri tempe dan urea memberikan pengaruh

Lebih terperinci

III BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012.

III BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan. Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012. III BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan waktu penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sukabanjar Kecamatan Gedong Tataan Kabupaten Pesawaran dari Oktober 2011 sampai April 2012. 3.2 Bahan dan alat Bahan

Lebih terperinci

Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas

Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas RAMBASAN 400 SL merupakan herbisida sistemik purna tumbuh yang diformulasi dalam bentuk larutan yang mudah larut dalam air dan dapat ditranslokasikan

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL PERCOBAAN

LAPORAN HASIL PERCOBAAN LAPORAN HASIL PERCOBAAN PENGUJIAN LAPANGAN EFIKASI FUNGISIDA RIZOLEX 50 WP (metil tolklofos 50%) (385/PPI/8/2008) TERHADAP PENYAKIT BUSUK DAUN Phytophthora infestans PADA TANAMAN KENTANG Pelaksana : H.

Lebih terperinci

Pengaruh Penambahan Zeolit pada Media Tumbuh Tanaman pada Tanaman Melon dan Semangka dalam Sistem Hidroponik

Pengaruh Penambahan Zeolit pada Media Tumbuh Tanaman pada Tanaman Melon dan Semangka dalam Sistem Hidroponik Pengaruh Penambahan Zeolit pada Media Tumbuh Tanaman pada Tanaman Melon dan Semangka dalam Sistem Hidroponik M. Bagus Pangestu 1, Suwardi 2, dan Widiatmaka 2. 1 Alumni Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. HALAMAN PENGESAHAN... ii. RIWAYAT HIDUP... iii. ABSTRAK... iv. ABSTRACT... v. KATA PENGANTAR... vi. DAFTAR ISI...

DAFTAR ISI. HALAMAN JUDUL... i. HALAMAN PENGESAHAN... ii. RIWAYAT HIDUP... iii. ABSTRAK... iv. ABSTRACT... v. KATA PENGANTAR... vi. DAFTAR ISI... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii RIWAYAT HIDUP... iii ABSTRAK... iv ABSTRACT... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... vii DAFTAR TABEL... x DAFTAR GAMBAR... xi DAFTAR LAMPIRAN... xiii

Lebih terperinci

Aplikasi Pupuk Organik Cair pada Tanaman Caisim (Brassica juncea) dan Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) di Ultisol Lapisan Bawah

Aplikasi Pupuk Organik Cair pada Tanaman Caisim (Brassica juncea) dan Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) di Ultisol Lapisan Bawah Aplikasi Pupuk Organik Cair pada Tanaman Caisim (Brassica juncea) dan Tanaman Selada (Lactuca sativa L.) di Ultisol Lapisan Bawah Ismi Nuryenti 1, Siti Masreah Bernas 2, Dwi Probowati Sulistiyani 2 Program

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini didesain dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial, yang terdiri dari 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor I : Lokasi biji

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pelaksanaan pembangunan di beberapa negara seperti di Indonesia telah

BAB I PENDAHULUAN. Pelaksanaan pembangunan di beberapa negara seperti di Indonesia telah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pelaksanaan pembangunan di beberapa negara seperti di Indonesia telah memicu berbagai pertumbuhan di berbagai sektor seperti bidang ekonomi, sosial dan budaya.

Lebih terperinci

ABSTRAK ABSTRACT PENDAHULUAN ISSN Suratman dad Agus Sulistyono Puslitbang Teknologi Maju BATAN, Yogyakarta.

ABSTRAK ABSTRACT PENDAHULUAN ISSN Suratman dad Agus Sulistyono Puslitbang Teknologi Maju BATAN, Yogyakarta. Sura/man dan Agus Sulistyono ISSN 0216.3128 355 Suratman dad Agus Sulistyono Puslitbang Teknologi Maju BATAN, Yogyakarta. ABSTRAK Telah dipelajari bioassay H-3 dalam urin dengan destilasi reflux. Tujuan

Lebih terperinci

PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TEMPE UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans, Poir) KULTIVAR KENCANA

PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TEMPE UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans, Poir) KULTIVAR KENCANA PEMANFAATAN LIMBAH CAIR INDUSTRI TEMPE UNTUK MENINGKATKAN PERTUMBUHAN TANAMAN KANGKUNG DARAT (Ipomoea reptans, Poir) KULTIVAR KENCANA Zuchrotus Salamah 1. Suci Tri Wahyuni 1, Listiatie Budi Utami 2 1 =

Lebih terperinci

Penelitian ini dilaksanakan pada Juni sampai Oktober 2014 di Rumah Kaca. Lapangan Terpadu dan Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman

Penelitian ini dilaksanakan pada Juni sampai Oktober 2014 di Rumah Kaca. Lapangan Terpadu dan Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada Juni sampai Oktober 2014 di Rumah Kaca Lapangan Terpadu dan Laboratorium Benih dan Pemuliaan Tanaman Fakultas Pertanian

Lebih terperinci

III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA)

III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA) III. METODOLOGI TUGAS AKHIR (TA) A. Tempat Pelaksanaan Kegiatan Tugas Akhir (TA) akan dilaksanakan pada lahan kosong yang bertempat di Dusun Selongisor RT 03 / RW 15, Desa Batur, Kecamatan Getasan, Kabupaten

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penggunaan varietas unggul baru padi ditentukan oleh potensi hasil,

PENDAHULUAN. Latar Belakang. Penggunaan varietas unggul baru padi ditentukan oleh potensi hasil, PENDAHULUAN Latar Belakang Penggunaan varietas unggul baru padi ditentukan oleh potensi hasil, umur masak, ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta rasa nasi. Umumnya konsumen beras di Indonesia menyukai

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN KADAR AIR BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI HIJAUAN TANAMAN Indigofera zollingeriana RINGKASAN

PENGARUH PEMBERIAN KADAR AIR BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI HIJAUAN TANAMAN Indigofera zollingeriana RINGKASAN PENGARUH PEMBERIAN KADAR AIR BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI HIJAUAN TANAMAN Indigofera zollingeriana Marza Ayu Dea Ranti Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar

Lebih terperinci

Aplikasi Pupuk Kandang dan Pupuk SP-36 Untuk Meningkatkan Unsur Hara P Dan Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Tanah Inceptisol Kwala Bekala

Aplikasi Pupuk Kandang dan Pupuk SP-36 Untuk Meningkatkan Unsur Hara P Dan Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Tanah Inceptisol Kwala Bekala Aplikasi Kandang dan Untuk Meningkatkan Unsur Hara P Dan Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays L.) di Tanah Inceptisol Kwala Bekala Application of Farmyard Manure and SP-36 Fertilizer on Phosphorus Availability

Lebih terperinci

Leti Nirwani, Sutarman, dan Wahyudi

Leti Nirwani, Sutarman, dan Wahyudi \1 Prosiding Presentasi llmiah Keselamatan RJidiasi dad Lingkungan VIII, 23-24 Agustus 2000 Puslitbang Keselamatan Radiasi dad Biomedika Nuklir -BATAN KONSENTRASI 228Th, 226Ra, 137Cs, DAN4 K DAERAH DI

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian

III. METODE PENELITIAN. A. Waktu dan Tempat Penelitian III. METODE PENELITIAN A. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Maret 2015 sampai bulan Januari 2016 bertempat di Screen House B, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret,

Lebih terperinci

Analisis Kinerja Pita Tanam Organik sebagai Media Perkecambahan Benih Padi (Oryza sativa L.) Sistem Tabela dengan Desain Tertutup dan Terbuka

Analisis Kinerja Pita Tanam Organik sebagai Media Perkecambahan Benih Padi (Oryza sativa L.) Sistem Tabela dengan Desain Tertutup dan Terbuka (In Press) Analisis Kinerja Pita Tanam Organik sebagai Media Perkecambahan Benih Padi (Oryza sativa L.) Sistem Tabela dengan Desain Tertutup dan Terbuka Nurwahyuningsih, Musthofa Lutfi, Wahyunanto Agung

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Selatan yang diketahui memiliki jenis tanah Ultisol dan Laboratorium Ilmu Tanah

III. BAHAN DAN METODE. Selatan yang diketahui memiliki jenis tanah Ultisol dan Laboratorium Ilmu Tanah 18 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Lapang Terpadu Fakultas Pertanian Universitas Lampung di Desa Muara Putih Kecamatan Natar Kabupaten

Lebih terperinci

Pengendalian Gulma di Lahan Pasang Surut

Pengendalian Gulma di Lahan Pasang Surut Pengendalian Gulma di Lahan Pasang Surut Penyusun E. Sutisna Noor Penyunting Arif Musaddad Ilustrasi T. Nizam Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI DENGAN PEMBERIAN POLIMER PENYIMPAN AIR PADA SAWAH BUKAAN BARU SKRIPSI

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI DENGAN PEMBERIAN POLIMER PENYIMPAN AIR PADA SAWAH BUKAAN BARU SKRIPSI PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI PADI DENGAN PEMBERIAN POLIMER PENYIMPAN AIR PADA SAWAH BUKAAN BARU SKRIPSI RYAN ISKANDAR 060301050 DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA 2010

Lebih terperinci

PENGARUH TEKNIK ADAPTASI SALINITAS TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN PATIN, Pangasius sp.

PENGARUH TEKNIK ADAPTASI SALINITAS TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN BENIH IKAN PATIN, Pangasius sp. Jurnal Akuakultur Indonesia, 4 (1): 25 3 (25) 25 Available : http://journal.ipb.ac.id/index.php/jai http://jurnalakuakulturindonesia.ipb.ac.id PENGARUH TEKNIK ADAPTASI SALINITAS TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP

Lebih terperinci

PENGARUH UMUR BIBIT DAN KONSENTRASI POC (PUPUK ORGANIK CAIR) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BROKOLI (Brassica oleracea var. Italica L.

PENGARUH UMUR BIBIT DAN KONSENTRASI POC (PUPUK ORGANIK CAIR) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BROKOLI (Brassica oleracea var. Italica L. PENGARUH UMUR BIBIT DAN KONSENTRASI POC (PUPUK ORGANIK CAIR) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BROKOLI (Brassica oleracea var. Italica L.) SKRIPSI Oleh : DYAN FARISA NIM: 2008-41-019 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

Lebih terperinci

PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.

PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SAWI (Brassica juncea L. Jurnal AGRIFOR Volume XIII Nomor 1, Maret 2014 ISSN : 1412 6885 PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN SAWI (Brassica juncea L.) VARIETAS TOSAKAN Gerald

Lebih terperinci

PENGARUH RE5lDU KAPUR TERHADAP 5lFAT KlMlA TANAH D A ~ KEDELAI PADA LATOSOL COKLAT KEMERAHAN (Oxic btropept) BOGOR

PENGARUH RE5lDU KAPUR TERHADAP 5lFAT KlMlA TANAH D A ~ KEDELAI PADA LATOSOL COKLAT KEMERAHAN (Oxic btropept) BOGOR PENGARUH RE5lDU KAPUR PAD1 TERHADAP 5lFAT KlMlA TANAH D A ~ KEDELAI PADA LATOSOL COKLAT KEMERAHAN (Oxic btropept) BOGOR OIeh : HERDIANA ANITA Pl5CERlA A 27. 0708 JURU5AN TANAH FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SAWI (Brassica juncea L) DENGAN PEMBERIAN MIKROORGANISME LOKAL (MOL) DAN PUPUK KANDANG AYAM

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SAWI (Brassica juncea L) DENGAN PEMBERIAN MIKROORGANISME LOKAL (MOL) DAN PUPUK KANDANG AYAM PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN SAWI (Brassica juncea L) DENGAN PEMBERIAN MIKROORGANISME LOKAL (MOL) DAN PUPUK KANDANG AYAM PLANT GROWTH AND PRODUCTION MUSTARD (Brassica juncea L) WITH GRANT OF MICROORGANISMS

Lebih terperinci

PENGARUH IRADIASI DAN PENYIMPANAN DARI SUPLEMEN PAKAN RUMINANSIA

PENGARUH IRADIASI DAN PENYIMPANAN DARI SUPLEMEN PAKAN RUMINANSIA PENGARUH IRADIASI DAN PENYIMPANAN DARI SUPLEMEN PAKAN RUMINANSIA (The Effect of Irradiation on the Shelf Life of Feed Supplements for Ruminant) LYDIA ANDINI, SUHARYONO dan HARSOJO. Pusat Aplikasi Teknologi

Lebih terperinci

PENGARUH WAKTU PENYIANGAN DAN POPULASI TANAMAN TERHADAP HASIL KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) PADA KONDISI TANPA OLAH TANAH

PENGARUH WAKTU PENYIANGAN DAN POPULASI TANAMAN TERHADAP HASIL KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) PADA KONDISI TANPA OLAH TANAH ISSN 1410-1939 PENGARUH WAKTU PENYIANGAN DAN POPULASI TANAMAN TERHADAP HASIL KACANG HIJAU (Vigna radiata L.) PADA KONDISI TANPA OLAH TANAH [THE EFFECTS OF WEEDING TIME AND PLANT POPULATION ON THE YIELD

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE

III. BAHAN DAN METODE III. BAHAN DAN METODE 3. 1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Oktober 2009 sampai dengan Juli 2010. Penelitian terdiri dari percobaan lapangan dan analisis tanah dan tanaman

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas 24 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan September 2012 sampai bulan Januari 2013. 3.2 Bahan

Lebih terperinci

PERBEDAAN LAMA PENYIMPANAN DAN MEDIA SIMPAN TERHADAP PERKECAMBAHAN DAN PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.)

PERBEDAAN LAMA PENYIMPANAN DAN MEDIA SIMPAN TERHADAP PERKECAMBAHAN DAN PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.) SKRIPSI PERBEDAAN LAMA PENYIMPANAN DAN MEDIA SIMPAN TERHADAP PERKECAMBAHAN DAN PERTUMBUHAN BIBIT KAKAO (Theobroma cacao L.) UIN SUSKA RIAU Oleh: Cici Sriwahyuni 11082202882 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

Lebih terperinci

Efikasi herbisida oksifluorfen 240 g/l untuk mengendalikan gulma

Efikasi herbisida oksifluorfen 240 g/l untuk mengendalikan gulma 128 Jurnal Kultivasi Vol. 15(2) Agustus 2016 Umiyati Efikasi herbisida oksifluorfen 240 g/l untuk mengendalikan gulma Efficacy herbicides oksifluorfen 240 g / l for weed control in rice (Oryza sativa L)

Lebih terperinci

PENGARUH PENGOLAHAN TANAH DAN DOSIS PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI

PENGARUH PENGOLAHAN TANAH DAN DOSIS PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI PENGARUH PENGOLAHAN TANAH DAN DOSIS PUPUK NPK TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI Fitri Handayani 1, Nurbani 1, dan Ita Yustina 2 1 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Timur; 2 Balai Pengkajian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengaplikasikan sifat-sifat alami proses naturalisasi limbah (self purification).

BAB I PENDAHULUAN. mengaplikasikan sifat-sifat alami proses naturalisasi limbah (self purification). BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, proses pengolahan limbah terutama limbah cair sering mengaplikasikan sifat-sifat alami proses naturalisasi limbah (self purification). Salah satu cara yang

Lebih terperinci

EVALUASI PENGUKURAN RADIOAKTIVITAS ALPHA DAN BETA DI PERMUKAAN LANTAI INSTALASI RADIOMETALURGI TAHUN 2009

EVALUASI PENGUKURAN RADIOAKTIVITAS ALPHA DAN BETA DI PERMUKAAN LANTAI INSTALASI RADIOMETALURGI TAHUN 2009 No.05 / Tahun III April 2010 ISSN 1979-2409 EVALUASI PENGUKURAN RADIOAKTIVITAS ALPHA DAN BETA DI PERMUKAAN LANTAI INSTALASI RADIOMETALURGI TAHUN 2009 ABSTRAK Endang Sukesi, Sudaryati, Budi Prayitno Pusat

Lebih terperinci

Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul)

Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul) Oleh : Koiman, SP, MMA (PP Madya BKPPP Bantul) PENDAHULUAN Pengairan berselang atau disebut juga intermitten adalah pengaturan kondisi lahan dalam kondisi kering dan tergenang secara bergantian untuk:

Lebih terperinci

Lampiran 1. Teknik Pengambilan Parameter Kadar Klorofil

Lampiran 1. Teknik Pengambilan Parameter Kadar Klorofil Lampiran 1. Teknik Pengambilan Parameter Kadar Klorofil 1. Cara pengamatan perhitungan kadar klorofil dalam daun Mucuna a. Ambil sampel daun Mucuna lalu potong-potong kecil. Timbang potongan kecil daun

Lebih terperinci

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas

III. BAHAN DAN METODE. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas 17 III. BAHAN DAN METODE 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Gedung Meneng, Kecamatan Rajabasa, Kota Bandar Lampung mulai

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Lapang Terpadu dan Laboratorium

III. METODE PENELITIAN. Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Lapang Terpadu dan Laboratorium 14 III. METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di Lahan Percobaan Lapang Terpadu dan Laboratorium Benih dan Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Lampung dari bulan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan. Tumbuhan yang digunakan meliputi untuk bahan pangan,

BAB I PENDAHULUAN. dimanfaatkan. Tumbuhan yang digunakan meliputi untuk bahan pangan, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia merupakan negara yang kaya akan flora dan fauna. Kekayaan sumber daya alam hayati itu baru sebagian yang sudah dimanfaatkan. Tumbuhan yang digunakan meliputi

Lebih terperinci

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan

I. TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan I. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian telah dilaksanakan dengan percobaan rumah kaca pada bulan Februari-Juli 2016. Percobaan dilakukan di Rumah Kaca dan laboratorium Kimia

Lebih terperinci

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten

TATA CARA PENELITIAN. A. Tempat dan Waktu Penelitian. Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten III. TATA CARA PENELITIAN A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan di Green House Fak. Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta di Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul,

Lebih terperinci

PENGARUH PbEDTA PADA TANAMAN PADI (Oeryza sativa.l ) YANG DITUMBUHKAN DI DALAM LARUTAN NUTRISI

PENGARUH PbEDTA PADA TANAMAN PADI (Oeryza sativa.l ) YANG DITUMBUHKAN DI DALAM LARUTAN NUTRISI PENGARUH PbEDTA PADA TANAMAN PADI (Oeryza sativa.l ) YANG DITUMBUHKAN DI DALAM LARUTAN NUTRISI ABSTRAK Telah diteliti mengenai pengaruh perlakuan PbEDTA pada pertumbuhan vegetatif tanaman padi COryza

Lebih terperinci

PERSYARATAN PENGANGKUTAN LIMBAH RADIOAKTIF

PERSYARATAN PENGANGKUTAN LIMBAH RADIOAKTIF PERSYARATAN PENGANGKUTAN LIMBAH RADIOAKTIF Oleh: Suryantoro PUSAT TEKNOLOGI LIMBAH RADIOAKTIF BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL 2006 Persyaratan Pengangkutan Limbah Radioaktif BAB I PENDAHULUAN A.Latar Belakang

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. yang dikeringkan dengan membuat saluran-saluran drainase (Prasetyo dkk,

TINJAUAN PUSTAKA. yang dikeringkan dengan membuat saluran-saluran drainase (Prasetyo dkk, TINJAUAN PUSTAKA Tanah Sawah Tanah sawah adalah tanah yang digunakan untuk bertanam padi sawah, baik terus-menerus sepanjang tahun maupun bergiliran dengan tanaman palawija. Istilah tanah sawah bukan merupakan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL

VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL VI. ANALISIS BIAYA USAHA TANI PADI SAWAH METODE SRI DAN PADI KONVENSIONAL Sistem Pertanian dengan menggunakan metode SRI di desa Jambenenggang dimulai sekitar tahun 2007. Kegiatan ini diawali dengan adanya

Lebih terperinci

III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR

III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR 20 III. TATA LAKSANA KEGIATAN TUGAS AKHIR A. Tempat Pelaksanaan Pelaksanaan Tugas Akhir (TA) dilaksanakan di Dusun Kenteng Rt 08 Rw 02, Desa Sumberejo, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN RADIASI DI DALAM PERISAI UNTUK SUMBER GAMMA ENERGI TINGGI BERAKTIVITAS RENDAH

PERTUMBUHAN RADIASI DI DALAM PERISAI UNTUK SUMBER GAMMA ENERGI TINGGI BERAKTIVITAS RENDAH PERTUMBUHAN RADIASI DI DALAM PERISAI UNTUK SUMBER GAMMA ENERGI TINGGI BERAKTIVITAS RENDAH Helfi Yuliati dad Mukhlis Akhadi Puslitbang Keselamatan Radiasi dadbiomedika Nuklir - BATAN ABSTRAK PERTUMBUHAN

Lebih terperinci

PEMANTAUAN LINGKUNGAN DI SEKITAR PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG DALAM RADIUS 5 KM TAHUN 2005

PEMANTAUAN LINGKUNGAN DI SEKITAR PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG DALAM RADIUS 5 KM TAHUN 2005 PEMANTAUAN LINGKUNGAN DI SEKITAR PUSAT PENELITIAN TENAGA NUKLIR SERPONG DALAM RADIUS 5 KM TAHUN 005 Agus Gindo S., Syahrir, Sudiyati, Sri Susilah, T. Ginting, Budi Hari H., Ritayanti Pusat Teknologi Limbah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri yang semakin meningkat membawa dampak positif

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan industri yang semakin meningkat membawa dampak positif BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan industri yang semakin meningkat membawa dampak positif bagi masyarakat dengan terpenuhinya berbagai macam kebutuhan hidup dan tersedianya lapangan

Lebih terperinci

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI

VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI VI. ANALISIS PENDAPATAN USAHATANI 6.1. Keragaan Usahatani Padi Keragaan usahatani padi menjelaskan tentang kegiatan usahatani padi di Gapoktan Jaya Tani Desa Mangunjaya, Kecamatan Indramayu, Kabupaten

Lebih terperinci