KANDUNGAN RESIDU HERBISIDA 2,4-D _14C DALAM AIR DAN TANAH PADA S.JSTEM T ANAMAN PADI DI SA W AH. (~?fl1ie M. Chairul'dan ELida D.

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KANDUNGAN RESIDU HERBISIDA 2,4-D _14C DALAM AIR DAN TANAH PADA S.JSTEM T ANAMAN PADI DI SA W AH. (~?fl1ie M. Chairul'dan ELida D."

Transkripsi

1 Prosiding Presenlasi Ilmiah Kesemmalan Radia~i dad Lingkungan VIII, Aguslus 2 ~litbang Ke~lamatan Radiasi dad Biomedika Nuklir -BA TAN KANDUNGAN RESIDU HERBISIDA 2,4-D _14C DALAM AIR DAN TANAH PADA S.JSTEM T ANAMAN PADI DI SA W AH (~?fl1ie M. Chairul'dan ELida D.iabir Pusat Penelitiall dati Pengembangan Teblologi Isotop daii Radiasi -Batan (,,-'" ABSTRAK Nelly Magdalena Fakultas Farlnasi Universitas Pallcasila. Jakarta fo-z.3 TANAMAN KANDUNGAN R~rnU HEI~8ISIDA 2,4-D _14C DALAM AIR DAN TANAH PADA SISTEM PAm m SAW AH. Telah dilakukan penelitian penentuan kandungan rl"sidu herbisida 2.4-D dalam air dan tanah dengan menggunakan perunut 14C pada sistem persawahan. r'adi clan gulma eceng gondok (Monochoria vaginalis Burn. F. Prest) ditanam pada ember berukuran 1 I dengan dua macam kondisi tanah yang berbeda yaitu tanah Donna! daij tanah dengan pemadatan 3% di alas normal. Setelab berumur I minggu penanalnan, dilakukan penyemprotan dengan herbisida 2,4- -14C sebanyak I ~Ci ditambab dengall,4 mg herbisida 2,4-D non radioaktif. Kandungan residu di dalam air dan tanah serta dalam akar dad daun guhna ditentukan pada, 2, 4, 8 dad 1 rninggu (panen) setelah penyemprotan dengan herbisida 2,4-. Anali..,is dilakukan dengan mcnggunakan alat C.onwustion Biological Oxidizer, dati dicacah dengan alat sintilasi kelip I.~air. Hasil yang didapat yaitu kandungan herbisida dalam air dad tanah menurun dati mulai penyemprotan sampai pada masa pallen. Kandungan residu herbisida dalam air setelah pallen adalah,87 x 1 ~ ppm untuk kondisi tanah nonnal. dan,59 x 1 - ppm pada kondisi lanah pcmadatan, sedangkan kandungan herbisida dalam tanah adalah sebesar 1,54 x 1 -,; ppm untuk kondisi tanah n(\nnal clan 1,48 x 1 ~ ppm untuk kondisi tanah pemadatan. Kandungan residu herbisida 2,4-D dalam buah padi sclclah pan~n adalah.27 x 1 -,; ppm untuk kondisi tanah nonnal datl,25 x 1 ~ ppm untuk kondisi tanah pemadatan. Kandungan herbisida 2,4- dalam akar dan ~un guhna setelah paned berturut-turut adalab scbesar,29 x 1-5 ppm dan.18 x 1~ ppm untuk kondisi tanah Donna!, sedangkan untuk tanah dengan pemadatan 3 % di ata.~ nonnal adalah.25 x 1-'; ppm clan :63 x 1-7 ppm. Hasil ini tidak menyebabkan pencemaran terijadap lingkungan karena masib berada di bawah baw ambang yang diizinkan yaitu,5 ppm. ABSTRACT CONTENT OF 2,4-D-1"C HE[{DICIDE I{E.~IDUE IN WATEI~ AND SOIL OF IRRIGATED RICE FIELD SYSTEM. The investigation of 2,4--I"C herbil~ide re.'iiduc in wa(~r and soil of irrigated rice field system was carried out. Rice plant and weeds (M()/lochoria vagi/la.tix Burn. F.Prexl) were planted in 1 I buckets using two kinds of soil condition, i.~. nonnal soil and 3% above nonnal compact soil. After one week planting, the plants were sprayed with I~Ci of 2,4-_14C and.4 mg non labeled The herbicide residue l~ontent was detennined,2,4,8, and 1 weeks after spraying with 2,4-D herbicide. The analysis was done using Combustion Biological Oxidizer merk Harvey.- ox-4, and counted with Liquid Scintillation Counter merk Beckman m(ldel LS-181. The results indicates that the herbicide contents in water and soil decrease from the first spraying with herbicide until harvest. herbicide Residue content in water after harvest was.87 x 1 -" ppm for soil nomlal condition. and.59 x 1-6 ppm for the soil 3% up nonnal condition, while herbicide content in soil was 1.54 x 1 -" ppm for soilnonnal condition and 1.48 x 1-6 ppm for soil 3% up nonnal. 2,4-D herbicide residue content in rice after harvest was.27 x 1-6 ppm for nonnal soil condition and.25 x 1-6 ppm for the soil 3(7 up nonnal. 2,4-D herbicide residue content in roots and leaves of weeds after harvest were respectively.29 x 1." ppm and.18 x 1." for nonnal soil condition, while for 3 % up nonnal soil were.25 x 1.5 ppm and.63 x 1-7 ppm. This result indicates that thcre is rio efft"ct pollution to surrounding area, because the herbicide content is still bellc)w tile allowed detection limit..5 ppm. 92

2 PENDAHULUAN PernbaIlgUllaIl dalain bidailg pe11aniail ditujukail untuk rneningkatkan (JendapataIl petani dail kesejahteraail rakyat, baik di Indonesia rnaupun di negai"a-negara YaIlg SedaIlg berkernbailg laillllya" KebutuhaIl bahail pailgail terutama L~ras sernakin rneningkat sesuai dengail perlambahan penduduk dai"i tallun ke tallun. Oi sisi laill penillgkatail nahan pailgail ini selalu rnendapat keljdala yang serius, terutaina adailya gailgguail serangail haina, baik SeraIlgga, jainur, gulma, tikus maupun binatailg penggailgu lainnya. Salah satu serangan YaIlg paling tidak dapat dihindai"i adalall adilllya gangguall d,u.i tailaillail penggailggu yaitu gullna" Gulma rnerupakail tailamail YaIlg selalu berkornljelisi dengail tailainail budidaya, tel"lltarna berkornljetisi lultuk rnemperebutkail unsur-unsur hara YaIlg ada di tailah. Ulltuk menatlggulatlgi serangan ini raja wnwmlya petatli melakukatl pemberatltasatl s~cara matlual maupwl secat'a kimia\vi, Masing-masing cat'a ini mempwlyai kelemahan, karella.iika dilal.'"ukatl secara matlual, akatl mcllgeluat'kan biaya Yatlg Satlgat batlyak untuk p~talli, sedangkall,jika menggwlakatl secal'a kimiawi yailu dellgan herl)isiua akan teljadi pencemat'atl lerhadap lingkungcul ataupwl terhadap petatli itu selldiri. Herbisida YcUlg Sel1Ilg digwlakatl oleh petatli adalah propculil, diuroll dati 2,4- [1,2], Penggunaatl h~rbisida lersebut adalah dellgatl cara melarutkatl dalatn air, lalll disemprolkml pada tatiatnatl budidaya. Untuk melindwlgi tallamall pangall, maka petatli serillg melakuk,w penyemprotatl herbisida 2,4- seccu'a berulallg k,lii. Pemakaiatl pestisida Yatlg sem,lkin batlyak dapat melllpakatl swnber pencemarall terliadap bahall pangatl dati lingk"1lngan karena adcwya residll yang ditinggalkatl pada air atallplln lanah, Cara lain Yatlg digunakcul selain menggwiakatl herbisida adal,ui dcng,ui cara pemadatatl atau lebih efeklif jika dilakukan keduatlya yaitu cara pemadalall JaIl pernliubculan herbisida, Pemadatatl pada tallaji persawajlall diiakukatl sebagai penggatiti pelumpuratl dalilm penyiapatl penatkllnatl dimatla akall berlujllan Wllllk menguratlgi perkolasi au' [3,4], Pada keadaatl terseblll dihat'apkall herbisida Yallg lalllt dalam air akatl Icbih sedikil mellc.:mhlls lapisall taiiah daerah perakaran padi dan akan lebih ball yak berada pada genangan air yang akan diserap oleh akar tallaidatl gulma dan diharapkan residu hel-bisida pada basil pallen padi lebih sedikit diballdillgkan dengatl tatiall Yallg tidak dipadatkan. (tatlan nonnal). MCIIUlllt Benn dan Mc. Auliffe (1975), pcnambahan suatu substansi kirnia asing ke dalam suatu lillgkullgail balk air, tanah ataupun tanatnan dalam.illmlah yang sekecil-kecilnya merupakan awal tel:iadinya pelll.:emaratilillgl~an[5). Herbisida2,4- digullakall wittik memberalltas gulma yang llerdalln lehar misalllya guhna Salvinia,nolesta, Sah'il/ill nafm/s cillo Residu 2,4-D yang diizinkan oleh FA<:>/wH<:> di dalam tanah dan air yang dikollsllmsi IIII(uk Illmah tatlgga adalah,5 ppm. HenJisida 2.4- bersifat sistemik dengan nama kimiallya adalah 2,4-diklorofenoksi asam asetat dellgan l"lulllls hatlgwi sebagai berikut[6]: Gamllarl. 1~lImlls Baogllo herbisida 2,4-D asam asetat Ncuna dagallg Y3l1g sering dipeljual belikan dipasarall adalclh[7]: P3l1adin 24, IIldamin 72 HC, Lilldomill 865 AS, Saturn-I? 6 G dan lain sebagaillya. Bc:rtitik tolak pada uraian di atas, maka dilakllkall pc:llclitian untuk menentukan kandungan herbisida 2,4- dal3ln air d3l1 t3l1ah pada sistem tanalllall pc:rsawail3l1 deng3l1 menggunakan C-14 sebagai pel"llllut. TujU3l111ya adalah untuk melihat sejallil mana residu herbisida pada air dan tanah yang akan mellcemari terhadap lingkungan akibat pelly~mpr()tall herbisida untuk memberantas gulma yallg akan m~ngg3l1ggu tanaman padi di sawah. TAT/\ Kt~I{.JA l~llelitiall Hahan. c Bahan yang digunakan dalam illi adalall: bibit padi dati varitas IR-64, gulma ecellggolldok (MolWchoria vaginalis Bum. /7. P,.(~.5/.). H~rbisida 2,4- dengan aktivitas 12,8 P3KRBiN-BATAN

3 F'res~t:lsj IImiah K~sel:lm:lt:ln R:ldi:lsi dad Lingkungan VuI, Agustus 2 mci/mmol yang didapatkail dari IAEA VielU1a, hel-bisida 2,4- non radioaktif dai-i fyi'. Dhanl1a Ardha Forma, metajlol, asetoll, toluena, lai1jtall Scintilator (yang terditi dai-i Toluen I liter, Pf'() 3 grain, POPOP,1 g) Peralatan- Alat yang digullakml dalmll penelitiall uli adalall mib-o syringe, alat combustion (Biological Oxidizer merk Halvey model ox-4t)(), alat pencacah kelip cair (I~iquid Scintillatioll CoWlter) merk BeckmalUl LS 18 I- yaitu: Metode. Kondisi tan.ah dilakukan 2 macam 1. tallall Donnal 2. tallall dedgajl kepadalclli 3 /(1 di ;ti,ls Dolmal Pengamatan dilakukall lerhadap I. Tanah dml air sawall 2. Akm" dml daun gulma Penanaman padi dad glllma. Oal.,m ember bel11kw.all 1 I di isi tan.u1 deng.ul 2 variasi sistem kondisi tail all yaitu tallan nol1nal dan I.Ulah dengall pemadatan 3% di atas nol1nal. Kemudi<ul digenallgi dengall air setinggi 5 cm dari pel1nnkaan tanall. Padi Yallg telall disemaikan selama 21 h;,;-i ditanam ke dalam ember tei.sehul, herikul gulma eceng gondok. Setelah bel-umur I minggll. disemprot dengall 1 ~Ci 2,4- _14C dan 2,4- non r<ldioaklif sebanyak,4 mg ke dalaln masing-masing ember melalui tailall. Kalldungan resiclu herbisida 2,4-- 14C dalam air, tall all, akar dan d.lun gulma clan hasil pallen ditentukan pada minggu ke,2,4, 8 d.ln 1 paska penyemprotall. Masing-masing dilakukan 4 kali ulangall. Analisis kandunghn 2,4-D dhihm thilhh, ~kar dad dado gulma. Sebanyak 2 gram Si:llnpel tanall dikemlgkall pada suhu kamar, kemudiall digerus. Tanah halus, Seball)'ak,2 mg, dengan alat Biological dibakar <:)xidizer Harvey ox-4. 14CO2 yang teljadi ditmnpung dengan lal-ulan sintillator, lalu dicacah dengan pcncacah kelip cairo dalam air. Analisis kandllnghn hcrhisida 2,4- Seballyak 2 ml sampel air dimasukkan ke dalmn gelas vial- ditmnhahkan Im11l<Ul SCilllil.llor sebayak 1 ml, dall dicacah dcllg.ul pellcacah kelip can. basil Analisis kandllngan 2,4-1) dalam pada paned. Sebllilyak.2 mg p.,di y:ulg dikerillgkan li(lara, dibakar dengan Biological Oxidizer, 14CO2 ditampung dengan larutan Scintillator dan dicacah dengail pencacah kelip cairo HASI.IJ DAN rembahasan Pada GaJnbaJ" 2, kandwlgan Terata herbisida 2,4- dalam air pada kondisi tallah normal pada minggu ke-o yailu sebesar 5,32 x 1-6 ppm, clan pada millggu ke-2 naik menjadi 5,93 x 1-6 ppm. Hal illi diseuaukajl kaj"ena pada minggu ke-o, 2,4- D yallg disemprotkan belum merata pada pelmukaan air Jail "juga sebahagiajl telah diserap oleh tanah, sedallgkajl pclda minggu ke-2 herbisida yang disemprolkclllleiall merata sehingga didapatkajl basil caccul;lliliya lebih tinggi. Jika dibandingkan dengan kalljlllig;ul 2,4- dalam air pada kondisi tanah dellgclll pemadalan 3 % di atas normal, maka pada millggu ke-o lebih tinggi bila dibandingkan dengan tallah liolmal. Hal ini disebabkan karena herbisida 2.4- oleh Uliiall YaJlg dipadatkan kurang terserap oll::h lajlah dimajla pori-poli tallall kecil, sedangkan pada tall"h Iionnal telall terserap KalldungaJl 2,4- pada minggu ke- ke-4 sampai minggu ke-lo menunm ~ecara dastis baik wittik k(jildisi (anah nonnal maupun lanah dengan pemadal,ul 3 o/() di alas nolmal. OimaJla kandwlgan h~ruisida ulltuk tallall normal pada minggu ke-4 scbcsar 1,53 x 1-6ppmmenunnlmenjadiO,87 x 1-6 ppm pada minggu ke-lo, dad pada kondisi tallah d~n~an pemada(all 3 % di atas normal kandwlgan hcrbisida 2,4- menurun dari 1,82 x 1-6 ppm pada minggu ke-4 menjadi,59 x 1-6 ppm pada minggu ke-io. Ini disebabkajl kaj"ena herbisida di dalam air telall dis~rap oleh akar tallaman gulma dimana akar gulilla m~ligapung pada lapisan ail" dad diu"allslokasikan ke tallalnall gulma, dad sebahagian discrap oleb ran.ill dajl secara perlahan-lahan diserap oleh ak,lr tallamajl padi, sehingga kandungan residu dalam air telah berkurajlg. P3KRBiN-BA T AN 94

4 Presentasi llmiah Keselamatan Radiasi d:ln I_in!!'-un!!:!n VIII, A""SluS 2(~1O.,~~U-~. ~ -" E a. a. 8 CD I a ~x "--' I ~- C'\J (I] " "(;j :c '- Q).c :J " (;j Q) ~ Waktu (minggu) 8 1 Gambar 2. Kandllngan residll Ilcrbisida 2,4-D dalam air pada kondisi tanah normal dan tanah dcn~an pemadatan 3% di atas normal. Kallduligall residu herbisida 2,4- dalam tallall dengall kondisi tallah noflllill d.lll pada kolldisi tanah dengan pemadatall 3 % di alas mmnal dapat dilihat pada Galnbal. 3, dimarul kanduligalulya pacta minggu ke-o sebesar 5,41 x 1 - ppm, dan menul"llll pacta minggu beril'1lulya sampai minggu ke-io " secara periallall-lahall sebes;u..1,54 x 1-6 ppm liilluk tanah nanna!, dall1111tuk tallah deng.an kolldisi lanah pemadatail 3 % di alas no1ll1al sebesar 5,12 x 1-6 ppm pada mulggu ke-o mell.iadi 1,48 x 1- ppm pada minggu ke-1. hli disebahkall karena pacta _minggu ke-o, herbisida 2,4- sebahagiall berada rlalam air dall sebagiall telah terserap oleh lanah, sedallgkall pada minggu ke-2 dan setel"llsnya menlll"uil kal.ena herbisida y;uig acta dalam I.UIah telah diserap oleh akar tallalnan pactio hli lel:iadi pad;l kondisi tallah nol~nal maupun lanah dengan pemadatan 3 //1 di atas nonnal. Untuk perballdingall kandungall rerata residu herbisida 2,4-D dalaln tanah Yallg. noflnal dengan tallah Yallg dipadatkan 3//1 di at as noflnal, ditunjllkkall juga pada Gambar 3. Pollia minggu ke-o, kandungan residu 2,4-D dalam l,mah lionnal lebih titlggi dari tanah yang dip,llialk,m ~~()(fr, di alas nofdlal, hal ini disebebkan karella lanah pad at pacta minggu ke-o tersebut belum dapal mcyerap herbisida, sedangkan tanah nofdlal tela.1j mcycrap herbisida karena mempunyai rongga yallg lehih hesar dali tallah yang dipadatkan. Pad a minggu ke-2. kandwlgall residwlya bait pada tanah nonnal maupull tall all Yallg dipadatkall tidak berbeda nyala, kemudian pada minggu ke-4, telihat residunya lebih lillggi daripada tanah nofdlal. Hal ini karena tanah nomlal melljelang minggu ke-4 herbisida 2,4- D lclah mulai diserap oleh akar tanaman padi, scdallgkall palla tallall Yallg dipadatkan 3% di alas 1lmai pellyerapall pada tanah agak lama, sehingga pcli}'crap;ul oleh akar tanamall padi belum sempuma. Ocmikial1 seterusnya dimana kandungan 2.4-D dalam lallah selalu berbanding terbalik antara tallah Ilomial dl::ngal1 tal1ah yang dipadatkan - Kalldullgall herbisida 2,4-D dalam akar gulilla yallg dil;l1lam pada tallah nofdlal dad tanah dclig;11l kcpadat;ul 3% di alas nofdlal terlihat pada Gamhar 4. 'I"crlihat bahwa pada minggu ke-o dad millg,':!.u kc-2 unluk tanah yang dipadatkan 3 % 95 P3KRBiN-BATAN

5 l'rl'sclllasi Ilmiah Kcsel"I11'""" I{adia"i dun Lingkungan VIII, Agusuis 2-6 e- o.. I ~- N ~ U "ii) (J) (k:: Waktu (minggu) Gambar 3. Kandungan hl'rbisida 2,4-1) dalam tanah pada kondisi tanah.normal dan tanah yang dipadatkan 3% di atas normal diatas nonnal, r(:'.sidunya lebih tinggi hila dibroldulgkrol dengrol residu pad a akar glilma yang ditrolron pada tailall nonnal, kemlldi;ul pada minggll ke-4 drol setel"usnya sronpai millggll kt:-io lebih rendall dari dalron akro' gulma yallg ditallron pad;l tailall nolmal. Hal ini disebabkall karella pada minggu ke-o clan millggll kc-2, pellyerapan herbisida pada tanall nonnal Icbih bcsar dro'i tallah yrolg dipadatkrol, sehingga.illmlan nt:lbisida yall);!, ada pada air trolall nollila! lebih kecil. Sepel1i diketallui bahwa gulma adalah tanamall air y;ul);!, selalu menyerap W1Sur hara dro'i air. pada Gamba!' 5, ditunjllkkan kandllngcul radioaktivitas herbisida 2,4-1:) dajam dawl glilma pada 2 macam kondisi tanah. raja gratik.illg;' terlihat bahwa radioaktivitas p;lda dalln glilma Yallg ditanam pada tailah yang dipadatkrul lebih tinggi pada minggu ke-o dan millggu ke-2, oila dibroldingkan dengan gulma yrulg dil;ulam pada tanah nonnal, kemudirul pad.. millggll ke-4 kroldungannya lebih rendah drui dalill gllilna y;ulg ditrolam pada tailall Donna! dall pada millggll ke-x naik menyronai kroldwlgml rcsidullya pada lallan al d,ul pada minggu ke-lo de.jlgall dr.(sliso turun kembali Hal il1i sejalarl dengan penyerapan oleh akar gulilla. k,uoena akar guima telah menyerap herbisida Ichih barlyak, sehingga daun gulma juga akall m~iiyt:rap lebih barlyak, dad jika akar gulma mt:llycrap 1l1akill sedikit maka daun gulma juga akan mctlycrap sedikit. dalill Untuk kandungan 2,4-D pada gulll1a ymlg ditanam pada tanah normal pellycrapallllya lebih stabil sampai pada rninggu ke- 1 bila dih,mdingkarl dengan kondisi tanah yang dipadalkall. Kcu"ena penyerapan herbisida pada tanah y,mg dipadalkml agak larnbat hila dibandingkan detlgall lal1,nl nonnal mcii)!crap Ichih larnbat juga. sehingga akarpun akan UlIluk melihat pengaruh kandnngan hcrhisida 2.4-D dalarn air dad tanah yang semakin lalll,l sl:makin berkuloarlg maka dilal.'"ukan juga,ulalisis k,lijdungarl herbisida 2,4-D terhadap akar gulilla, d,llijl gu1ma, akar padi, batang padi, dann padi dall huah padi setelah 1 rninggu (panen) dcl1gall ml:mbandingkan antara tanah dalam keadaan normal dcllgan lanah yarlg dip:!,datkan pada 3% di al,ls ,11 yang ditunjukkarl ~!lda Gambar 6 P3KRBiN-BA TAN 96

6 Presentasi Ilmiah Keselamatan Radiasi dan I_ingkungan VIII Agu"tu" 2/1(1() --- E C- o. U), a T"- x '--" I ~- N (13 " oil) :c '- Q).c ~ " oil) Q) :: 2 t C II 1 I.1 I I. f WakbJ (minggu) Gamhar 4. K1Indlln~1In ht'rllisida 2,4-1) d1l11lm akar gulma pada kondisi tanah norm1l1 dan tan1lh yan~ dip1ldatk1ln 3% di atas normal E.. W I..-.'6,. oq-. N ro "C.Iii :is '- C1>.c =' "C "Iii C1> I:t: Gambar 5. Kand\lngan herbisida 2,4-1> d~i;111i dalln g\llma pada kondisi tanah normal dan tanah yang dip~ci~tkan JUO/" di atas normal 91 Pi:KRBiN-BATAN \

7 Presell!:!'; Ilmiah Kc"ol"mat""Kadiasi dati Litlgkutlgan VIII, Agustus 2 Tal}cll. l~ob(lt r..'rata hll...il plillcil padi Katldungatl 2,4- d,uam akar gulma pada kolldisi tatlall nonnal lebill tinggi dari p,lda d,lllll guhna, ini disebabkatl karena tel:iadi akumulasi herbisida 2,4- pada akar. sellingga pada dalill Y;111~ JipacJalk~m 3% di atas nonnal dapat dilihat paja latlel I. T erlihat ballwa bobot padi pada tanah 1I(lllllal 1~I,ih relldah dari tanah dengan pemadatan, ~r~~lma Oaun gul~a_~dt -~-,~!!.~~i_oaun pad; Buah padi Gambar 6. Kandlln~an hl'rllisida hatan~, d.-lin dan hll}ih 2,4-1) p~lda }ikar dad dalln gulma,akar, p}icli p}id.- m.-sa paned. gulma menyerap 2,4- lebih sl:dikil. illi lel:iadi o.lik o,lik k(llllrol maupull dengail menggunakan pacta kondisi taxlall nonnal maupul1 tanah )'allg li..'roisij,i, St:d~mgkaIl jika dibandingkan antara dipadatkail 3% di atas normal,!'.ida aka.- p:ldi, 1,111.,mall yang diberi herbisida dengan konu'ol maki kaildullgail herbisida 2.4- (chill linggi hclocll hllah padi lebih tinggi pada taxlaman yang dibandingkan dengail dalam hat,mg patti. dawl p.ldi, bait pada tailah dengan konjisi rnmllal maupwi tanah dengan kondisi pemajalall. s..:jallgkan radii buah padi, kandwlgail herhisida!ehill b~sa.- raja kondisi tanall uonnal dibculdillgkall d":llgml kolldisi tanall pemadatail 3% di alas 1lllrlllal, Hal illi disebabkan kai'ena pada tallah pad at. Irmlslclkasi dill..:ri CII..:h herbisida. Hal ini dapat disimpulkan h.lh\\'a alll;lra lallah dengan kondisi pemadatan dan pl.'ii~~llilaall herbisida, hasil pallen padi lebih tinggi d:lri radii 1,lnmn,Ul YaIlg diben herbisida tetapi dl:li~all kolldisi ICUlall nonnal, Karena tanah dengan pl.'iliadal;111 3()% di atas nonnal dapat menghambat pl'rklliasi air, sehingga gulma yang merupakan herbisida Ulltuk scunpai ke huall padi lehih susan lall,llllall air lebih terhalang kehidupannya kai-ena penyerapcumya yallg sall~al pelml. l/1i dillalldi/1.~kall dengan tanah normal, sehingga dipengaruhi oleh kepadalall t,mall d":lig.1i1 ad..lllya rongga poli-pori YCUlg halus dihalldi/1gkall dl:nga/1 tanah nolmal. Untuk melihat jun}lall hasil p,ulell padi mak..1.iika dibculdulgkail alltai-a t,wall rnmnal dl:lig;m lallall lallallla/1 padi lebih leluasa untuk hidup, ' -' j P3KRBiN-BA TAl': 98

8 .1""'...;i11 Presellt."\si llmiah Keselamatall Rattia,;.Iall J_ill~kllllgall VIII, 2.\ -24 A~II"lI' 2()l1(1 KESIMPULAN (;,,\\1 h", Soil mid Rice, mri. Los Banos, Oari penelit~ yang lelah dilakukall di..pi'l disimpulkail bahwa kandullgall herl}isida 2.4-() dalain air tanamaii padi mellul1l11 dari waklll kewakul yaitu dati awal(jenyemprut,ul smnpai pad.1 masa pallen, yaitu sebesai-,87xjo - ppm Uilluk tanah nonnal daii,59 x 1 - pp111 ulltuk t,lli,ll1 dengaii pemadataii 3% di alas lionnal- KaIldungaIl residu herbisida 2,.4- pada tailah I:a1laInaIl padi juga lilellurull dafi mul.li penyemprotan sainpai masa panell. yailu sebesar 1,54 x 1-6 ppm untuk tanah lionnal.. dml 1.48 x 1 6 untuk tailall dengail pemadatall. KaIldUllgaIl residu li<tsil pallen p,ldi ad<ti,111 sebesai- 2,75 xl -6 pplll UIIluk lililall Ilunnal dall,25 x 1-6 ppm untuk kolldisi talla!1 pellladatall. KaIldungan tersebut masill berada.iilul1 dibawah ambailg balas, karella batas mnbiulg yall:,! diiziilkail oleh FAO/WHO ad,uall sebesar,5 prill. Sehingga penggwlaail herbisida 2,4- lerlladap tailamail padi Ulltuk mengendalikau tidak menimbulkail ser,ulg<t.!1 gulilla pencem,lj(lll terhadap lillgl"ll1lgall jika pemakaiaiulya tidak dilakukau beruliulg kali. daii basil pailelulya ptln lilenillgkat hila dibaildingkail dengaii tanpa menggullakall herbisid.i. OaII akail lebih menmnb,uj hasil pallell.iika SiSIl:llt kondisi tailah dengaii CaI-a pellladal,ul 3 % di alas nonnal. DAFTARPUSTAKA 1. ULFA TAMIN, SOJ.'NIE M.CH., d.111 M.M.SULL~TY A TI, Aplikasi rol111ul,lsi Herbisida 2,4-D-14C Pellglepasan Terkend,lli pada Gulma ltik (Lc~IIII/a JI('IJlusilla Ivn-). PI'osidulg Koluerellsi Ilmu Gulma Indonesia X II. Padang, SOFNIE M.CHAIRUI.. d,m EI,IDA D.JAI~II{. Penglepasall Terkendali. Herhisida 2.4--I.lC pada Gulma Salvinia IUI/cm"\' dall Sah'il/;/l molesta, PI'osiding Konferellsi Ilmu Gulma lildonesia XII, Padang, 1994, 3. DE DATA, S.K., Principles and Practices {,i Rice Production, 1hn Willey Singapore and Sons Inl'. 4. GHILDY AL, B.;,'., "Effect of Compaction ai/i!, Puddling on Soil Plllrysical Propcnics and I{il"l" I.agulla, Philippines 1978, I~ENN, f.r. and Mc. AULLIFFE, Chemistry,llld Polution, the Mac Millan I,(lndoll 1975 Press LTD. C1. I\N()NIM, Pestisida untuk Pertanian dan Kl.:hlllttllttll, Komosi Pestisida, Departemen 1":11ttllittll, SHI':I':T. T..J.,"ln roduction to Environmental.'c,xil.{I!{'gy, Agllcultural Pollutant, Elseiver NIII1 Holland Inc. New York 198. R. i\n()nfm, Fmm Chemical Handbook, 1982, {'Xl-CX3. I)I."KUSI ZOl'Oar, P3KRBiN-BATAN a. I~~rapakah konsentrasi (kandungan) herbisida O;tl;1111 lalla11 pada awal percobaan? h. I )ell.~all,isllil1si ba1jwa berat tanah dalam ember 11all:a :!: 16 kg (volume tailah::l:8 liter beratjenis = 2.7 ; porositas 25%), sedangkan herbisida yang (li.~lii\akall,4 mgr konsentrasi herbisida awal Ill'rC(lhaall hanya (,4 mgr)/(16 kg) =,25 ppm. Kllllselllrasi ini terlihaulya jauh di bawah batas ~'allg dii.iillkan, Mohon komentai'/ penjelasannya t..'rhiljap pciicemarail lingkungan, (percobaan,..:rlihalll)!a dilaj,.'"ukail pada kondisi yang aman, jallh (Ii I};twah batas YaIlg diijinkan). s,.rfli{' M. <:hairlll, P3TIR-BATAN,I. ",IIIUIIII~all herbisida dalarn tanah pacta awal IJI. rl:()h;i,11l selelah karni lakukan analisis tidak (cruallal nerbisida di dalarmlyao h. 1:I. r,l( 1,"lan y<ulg kroni g\lllakrol acta 5 kg. l'i. IlI. lili,1i1 illi kroni melihat efek sarnping Illdap,11 air alau tailah setelah pallen, apakah 1111:1l1. ':lllari lillgkungan atau tidak. )\1111;1\\';1;, I'JKIU~iN-BA h TAN i-\()lltiisi lallah YaIlg digunakan tanah barn yang ill'll,ls dari herbisida/ tanah lama yang ada I'L'llIlm,~!.kjllan mengaildwlgherbisida? : :II(III~ k(llldisi di lapailgan ada kemungkinan "'Itlall 1II'::llgandung herbisida sehingga pada saat ;,,\a IJ..'oallloall;m herbisida ada kemungkinan 99 [-'3KRBiN-BA TAN

9 J'resent:lsi IImiah K""'l'I"mal:11I Radiasi dad Lingkungan VIII,:d3-24 Agustus 2 faktor transfer ke tatlaldall berbeda, moltoll komentar? 1;lma keadaan tidak aman tersebut akan teljadi paska pcnggunaan herbisida? Sofm~M. Chair"l, P3TII~-I~A TAN Sllflli(' M. Chairul, P3Tm-BATAN a. Tallah yang Yallg digunakan pada penelitiatl illi adalah tanah Yallg beku digunakan sebelulllllya. Jafi secara logika tidak meugandung herbisidil. Tetapi Ulltuk sebagai konlrol kami melakukao analisis kandungall residu lierbisida dengan carol konvesional atausecal.a IJencacahan. b. Untuk kondisi lapallgall lersebut telall diutal.akan sebelulllllya bahwa Ilerbisida tersebul mempwlyai waktu pal.oll Yallg s<u\gat sillgkal sekali. Apalagi dellgan adculya callaya matahari/pemallasail olell matallal.i maka herbisida tersebut akall terdegradasi I tel"ltr;li menjadi senyawa Yallg tidak bet-acun. a. "I'U.iuilllllya adalah penanggulangan gulma Jisampillg dengan pestisida/herbisida ada juga Jilakukan dengan pemadatan hal ini adalah untuk IfI(;ll.iaga air pacta tanah sehingga tanaman padi Il~rulama padi tidak tercemar oleh herbisida. Kart:lla tujuannya acta untuk gulma sehingga pad a percobaail uti kami ingin membandingka alltara kadar tanah tersebut. b. Kcada'lIl pasca tidak aman itu acta pacta umur -7 ii"r; (I minggu) sedangkan mutu paden dari padi tcrst:hul acta selama 3 bulan atau minggu ke-12 M. Yazid, P3TM-BATAN Nani Kartini, P3TIR-BA TAN a. Selama pertwnbuhall tallalnall padi d3il sid I () minggu apakah air tidak dilambajl mengillgal tall3inan padi ditanaln dalam pol. b. Bila ditambah apakah tidak mtlngkin pellul"llllall residu karena penalnbahall air (pellgencerall). a b. /\pakall residu herbisida juga membahayakan k~st:halcui mallusia " Bukankah hanya bersifat rit.~uii SIJesitik wltuk tumbuhan Herba? Jika ya. orgall kritisnya apa dan t Ih biologisnya 11t:rapa? S(,fJ1it' 1\1. Chairul, P3TIR-BA TAN Sofnie M. Chairul, P3TIR-I'A TAN a. Ail' pada tanarnail padi tersebllt selalu di.;ag;, fungsinya. Jadi setiap ada.pengllkm'ail dilakllkaji penarnbahail dengan air. b. Seperti hat di atas rnaka residll tersebllt tidak teljadi pengencerail karena aimya dijaga tclap seperti keadaan semula. Zubaidah, P3KRBiN-BA TAN b. a. Apa tujuan dari penanamcul pada tanall padatall 3%? b. Telah diperoleh data residu herbisida dalam tanah untuk satu kali penyemprotcul herbisid.. dengan konsenu.asi tertentu YCUlg temyata masih di bawah batas YCUlg dii.jillkan. SCdculgkcul pad.. kenyataadllya penggunacul herhisida bemlcm~ kali pada lokasi tculah yang SCUllcl. Hal ini.ielcls ajcan teljadi al.rumulasi residu herbisida dclll p/.enjadi tidak ajllcul bagi man usia. Bagaimctlla komentaj' ajlda terhadap masalah di atas '? Bcrapa a. I-lerhisida merupakan senyawa pestisida yang S;lllg..It herhahaya pada manusia karena bersifat raelili. Tetapi jika residunya masih berada di ha\\'ah ambmlg barns, tentu tidak akan memhahayakml, seperti pada penelitian kami r.:sidll masih jauh di bawah ambang batas yaitu rada padi sekitar,25 -,27 (x 1-6 ) ppm. Memallg di samping racun untuk tumbuhan 11\.'rha.ilJga terhadap manusiajika dosisnya tinggi. "I" Yl II)"" untuk herbisida ini (1 minggu). Organ I.:rilis dm"i herbisida tersebut adalah pada organ r.:rllap;lsm1/orgml paru-paru. P3l\.j{B'iN -BAT AN 1

PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) YANG DIIRADIASI SINAR GAMMA SECARA IN VITRO. Abdul Wa'id dad Yanti Lusiyanti

PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis) YANG DIIRADIASI SINAR GAMMA SECARA IN VITRO. Abdul Wa'id dad Yanti Lusiyanti Prosiding Presentasi llmiah Keselamatan Radiasi dan Lingkungan Vul, 3-4 Agustus Puslitbang Keselamadiasi dan Biomedika Nuklir- BATAN PENGARUH SEA PADA KULTUR LIMFOSIT KERA EKOR PANJANG (Macaca fascicularis)

Lebih terperinci

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut

Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Proyek Penelitian Pengembangan Pertanian Rawa Terpadu-ISDP Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Budi Daya Kedelai di Lahan Pasang Surut Penyusun I Wayan Suastika

Lebih terperinci

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi)

Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Menembus Batas Kebuntuan Produksi (Cara SRI dalam budidaya padi) Pengolahan Tanah Sebagai persiapan, lahan diolah seperti kebiasaan kita dalam mengolah tanah sebelum tanam, dengan urutan sebagai berikut.

Lebih terperinci

Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas

Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas RAMBASAN 400 SL merupakan herbisida sistemik purna tumbuh yang diformulasi dalam bentuk larutan yang mudah larut dalam air dan dapat ditranslokasikan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN RADIASI DI DALAM PERISAI UNTUK SUMBER GAMMA ENERGI TINGGI BERAKTIVITAS RENDAH

PERTUMBUHAN RADIASI DI DALAM PERISAI UNTUK SUMBER GAMMA ENERGI TINGGI BERAKTIVITAS RENDAH PERTUMBUHAN RADIASI DI DALAM PERISAI UNTUK SUMBER GAMMA ENERGI TINGGI BERAKTIVITAS RENDAH Helfi Yuliati dad Mukhlis Akhadi Puslitbang Keselamatan Radiasi dadbiomedika Nuklir - BATAN ABSTRAK PERTUMBUHAN

Lebih terperinci

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO

SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO SYARAT TUMBUH TANAMAN KAKAO Sejumlah faktor iklim dan tanah menjadi kendala bagi pertumbuhan dan produksi tanaman kakao. Lingkungan alami tanaman cokelat adalah hutan tropis. Dengan demikian curah hujan,

Lebih terperinci

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SISTEM TANAM BENIH LANGSUNG (TABELA) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH PENDAHULUAN

TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SISTEM TANAM BENIH LANGSUNG (TABELA) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH PENDAHULUAN TEKNOLOGI BUDIDAYA PADI SISTEM TANAM BENIH LANGSUNG (TABELA) DI LAHAN SAWAH IRIGASI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA ACEH Oleh : Chairunas, Adli Yusuf, Azman B, Burlis Han, Silman Hamidi, Assuan, Yufniati ZA,

Lebih terperinci

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI

TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI TEKNIK PEMBUATAN pupuk BOKASHI Teknik Pembuatan Pupuk Bokashi @ 2012 Penyusun: Ujang S. Irawan, Senior Staff Operation Wallacea Trust (OWT) Editor: Fransiskus Harum, Consultant

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN PENAHAN RADIASI DI UNIT RADIOLOGI UNTUK DIAGNOSTIK MENGGUNAKAN SINAR-X

PERANCANGAN DAN PENAHAN RADIASI DI UNIT RADIOLOGI UNTUK DIAGNOSTIK MENGGUNAKAN SINAR-X PERANCANGAN DAN PENAHAN RADIASI DI UNIT RADIOLOGI UNTUK DIAGNOSTIK MENGGUNAKAN SINAR-X Tito Sutjipto. Jurusan Teknik Nuklir Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada ABSTRAK PERANC~GAN DAN PENAHAN RADIASI

Lebih terperinci

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa

Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Pemantauan Kerusakan Lahan untuk Produksi Biomassa Rajiman A. Latar Belakang Pemanfaatan lahan memiliki tujuan utama untuk produksi biomassa. Pemanfaatan lahan yang tidak bijaksana sering menimbulkan kerusakan

Lebih terperinci

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi

BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi BAB V Ketentuan Proteksi Radiasi Telah ditetapkan Peraturan Pemerintah No. 63 Tahun 2000 tentang Keselamatan dan kesehatan terhadap pemanfaatan radiasi pengion dan Surat Keputusan Kepala BAPETEN No.01/Ka-BAPETEN/V-99

Lebih terperinci

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA

PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA PERANAN JUMLAH BIJI/POLONG PADA POTENSI HASIL KEDELAI (Glycine max (L.) Merr.) F6 PERSILANGAN VARIETAS ARGOMULYO DENGAN BRAWIJAYA (Role The Number of Seeds/Pod to Yield Potential of F6 Phenotype Soybean

Lebih terperinci

ANTARBANDING PENGUKURAN AKTIVITAS ISOTOP 57 Co DAN 131 I (II)

ANTARBANDING PENGUKURAN AKTIVITAS ISOTOP 57 Co DAN 131 I (II) 1D0000065 ANTARBANDING PENGUKURAN AKTIVITAS ISOTOP 57 Co DAN 131 I (II) r - :' C 0 Ermi Juita, Nazaroh, Sunaryo, Gatot Wurdiyanto, Sudarsono, Susilo Widodo, Pujadi Pusat Standardisasi dan Penelitian Keselamatan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.) DENGAN PEMBERIAN DUA JENIS PUPUK KANDANG PADA DUA KALI PENANAMAN

PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.) DENGAN PEMBERIAN DUA JENIS PUPUK KANDANG PADA DUA KALI PENANAMAN SKRIPSI PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN PAKCOY (Brassica rapa L.) DENGAN PEMBERIAN DUA JENIS PUPUK KANDANG PADA DUA KALI PENANAMAN Oleh: Mitra Septi Kasi 11082201653 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS

Lebih terperinci

CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014. Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1

CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014. Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1 CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014 Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1 Pencemaran Udara Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia

Lebih terperinci

KONSENTRASI TRITIUM DALAM BENTUK MOLEKUL AIR (FWT) DI DALAM HUMUS

KONSENTRASI TRITIUM DALAM BENTUK MOLEKUL AIR (FWT) DI DALAM HUMUS Presiding Presenlasi Ilniiah Kcsclamalan Radiasi da» Lingkungaii, 20-21 Agustus 1996 ID0000088 KONSENTRASI TRITIUM DALAM BENTUK MOLEKUL AIR (FWT) DI DALAM HUMUS Poppy Intan Tjahaja Pusat Standardisasi

Lebih terperinci

PENENTUAN KONDISI PENCACAHAN PADA PENGUKURAN AKTIVIT AS LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN DETEKTOR LUDLUM

PENENTUAN KONDISI PENCACAHAN PADA PENGUKURAN AKTIVIT AS LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN DETEKTOR LUDLUM Prosiding Seminar Pranata Nuklir dad Teknisi Litkayasa P2BGN - BATAN, Jakarta, 8 Maret 2000 ISBN, 979-8769 -10-4 PENENTUAN KONDISI PENCACAHAN PADA PENGUKURAN AKTIVIT AS LIMBAH RADIOAKTIF DENGAN DETEKTOR

Lebih terperinci

ROKET DENGAN. MENINGKA'fKAN KINERJA MEMPERBESAR GAY A DORONG RINGKASAN ABSTRACT PENDAHULUAN DASARTEORIDANPERCOBAAN. Gaya Dorong dan Tekanan Pembakaran

ROKET DENGAN. MENINGKA'fKAN KINERJA MEMPERBESAR GAY A DORONG RINGKASAN ABSTRACT PENDAHULUAN DASARTEORIDANPERCOBAAN. Gaya Dorong dan Tekanan Pembakaran . ISSN 0216-3U8 199 MENINGKA'fKAN KINERJA MEMPERBESAR GAY A DORONG Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Jakarta ROKET DENGAN RINGKASAN MENINGKATKAN KlN'ERJA ROKET DENGAN MEMPERBESAR GAYA DORONG.

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN DOSIS PUPUK KANDANG DAN PUPUK MAJEMUK NPK (15-15-15) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth)

PENGARUH PEMBERIAN DOSIS PUPUK KANDANG DAN PUPUK MAJEMUK NPK (15-15-15) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth) PENGARUH PEMBERIAN DOSIS PUPUK KANDANG DAN PUPUK MAJEMUK NPK (15-15-15) TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin Benth) SKRIPSI Oleh : AHMAD AMIN ROIS NIM : 2008-41-007 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI

Lebih terperinci

Enam Tepat Penggunaan Pestisida & Teknik Penyemprotan Pestisida

Enam Tepat Penggunaan Pestisida & Teknik Penyemprotan Pestisida Peranan CropLife Indonesia Dalam Meminimalkan Pemalsuan Pestisida Enam Tepat Penggunaan Pestisida & Teknik Penyemprotan Pestisida Deddy Djuniadi Executive Director CropLife Indonesia 19 Juni 2012 Peranan

Lebih terperinci

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik

Kimia dalam AIR. Dr. Yuni K. Krisnandi. KBI Kimia Anorganik Kimia dalam AIR Dr. Yuni K. Krisnandi KBI Kimia Anorganik Sifat fisika dan kimia AIR Air memiliki rumus kimia H2O Cairan tidak berwarna, tidak berasa TAPI air biasanya mengandung sejumlah kecil CO2 dalm

Lebih terperinci

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes ABSTRAK EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL LDL DAN PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA Ronauly V. N, 2011,

Lebih terperinci

Deskripsi Lengkap Analisa : Merk : JEOL JNMECA 500 Fungsi. Harga Analisa : Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C)

Deskripsi Lengkap Analisa : Merk : JEOL JNMECA 500 Fungsi. Harga Analisa : Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C) : NMR Merk : JEOL JNMECA 500 Proton ( 1 H) Karbon ( 13 C) Attached Proton Test (APT) Correlation Spectroscopy (COSY, NOESY) Distortionless Enhancement by Polarization Transfer 9DEPT) 45 o Distortionless

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEKUATAN TEKAN SEMENTASI ZEOLIT PENYERAP LIMBAH CAffi Sr-90 DEN GAN SERA T KELAP A. Kusnanto Jurusan Teknik Nuklir Fakultas Teknik -UGM

PENINGKATAN KEKUATAN TEKAN SEMENTASI ZEOLIT PENYERAP LIMBAH CAffi Sr-90 DEN GAN SERA T KELAP A. Kusnanto Jurusan Teknik Nuklir Fakultas Teknik -UGM Prosiding Seminar Nasional ke-8 Teknologi dan Keselamatan PLTN Serra Fasilitas Nuklir Jakarta, 15 Oktober 2002 ISSN: 0854-2910 PENINGKATAN KEKUATAN TEKAN SEMENTASI ZEOLIT PENYERAP LIMBAH CAffi Sr-90 DEN

Lebih terperinci

BAHAN Ba-Sr FERIT SEBAGAI KOMPONEN MAGNET SUBSTITUSI IMPOR UNTUK INSTRUMEN SEDERHANA

BAHAN Ba-Sr FERIT SEBAGAI KOMPONEN MAGNET SUBSTITUSI IMPOR UNTUK INSTRUMEN SEDERHANA ;3-' I Prosiding Seminar Nasional Bahan Magnet I Serpong, 11 Oktober 2000 ISSN1411-7630 BAHAN Ba-Sr FERIT SEBAGAI KOMPONEN MAGNET SUBSTITUSI IMPOR UNTUK INSTRUMEN SEDERHANA R. Dadan Rumdan, Rio Seto Y.

Lebih terperinci

Pengujian Empat Varietas Padi Unggul pada Sawah Gambut Bukaan Baru di Kabupaten Padang Pariaman

Pengujian Empat Varietas Padi Unggul pada Sawah Gambut Bukaan Baru di Kabupaten Padang Pariaman Jurnal Akta Agrosia Vol. 12 No.1 hlm 56-61 Jan - Jun 2009 ISSN 1410-3354 Pengujian Empat Varietas Padi Unggul pada Sawah Gambut Bukaan Baru di Kabupaten Padang Pariaman Evaluation of Several High Yield

Lebih terperinci

KENDALA TANGAN TANGGA ALIH LATEKS PEMBUATAN KE INDUSTRI SA RUNG RUMAH ABSTRAK ABSTRACT PENDAHULUAN

KENDALA TANGAN TANGGA ALIH LATEKS PEMBUATAN KE INDUSTRI SA RUNG RUMAH ABSTRAK ABSTRACT PENDAHULUAN KENDALA TANGAN TANGGA ALIH LATEKS PEMBUATAN KE INDUSTRI SA RUNG RUMAH Wiwik Sofiarti, Made Sumarti, K. dad Marsongko Puslitbang Teknologi lsotop dan Radiasi Batan, Jakarta ABSTRAK KENDALA AUH TEKNOLOGI

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN BERBAGAI SETEK ASAL TANAMAN GAMBIR (Uncaria gambir Roxb) AKIBAT PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI IBA. Muliadi Karo Karo 1) ABSTRACTS

PERTUMBUHAN BERBAGAI SETEK ASAL TANAMAN GAMBIR (Uncaria gambir Roxb) AKIBAT PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI IBA. Muliadi Karo Karo 1) ABSTRACTS Muliadi Karo Karo, Pertumbuhan Berbagai Setek Asal... PERTUMBUHAN BERBAGAI SETEK ASAL TANAMAN GAMBIR (Uncaria gambir Roxb) AKIBAT PEMBERIAN BERBAGAI KONSENTRASI IBA Muliadi Karo Karo 1) ABSTRACTS Gambier

Lebih terperinci

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1

Lebih terperinci

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL

BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL BUDIDAYA IKAN LELE DI KOLAM TERPAL Siapa yang tak kenal ikan lele, ikan ini hidup di air tawar dan sudah lazim dijumpai di seluruh penjuru nusantara. Ikan ini banyak dikonsumsi karena rasanya yang enak

Lebih terperinci

ID0200110 PENGOLAHAN BIJIH URANIUM ASAL RIRANG PEMISAHAN LTJ DARI HASIL DIGESTI BASA

ID0200110 PENGOLAHAN BIJIH URANIUM ASAL RIRANG PEMISAHAN LTJ DARI HASIL DIGESTI BASA Prosiding Presentasi llmiah Bahan BakarNuklir V P2TBD dan P2BGN - BA TAN Jakarta, 22 Pebruari 2000 ISSN 1410-1998 ID0200110 PENGOLAHAN BIJIH RANIM ASAL RIRANG PEMISAHAN DARI HASIL DIGESTI BASA Erni R.A,

Lebih terperinci

PRODUKTIVITAS PADI SAWAH PADA KEPADATAN POPULASI BERBEDA

PRODUKTIVITAS PADI SAWAH PADA KEPADATAN POPULASI BERBEDA ISSN 1411-0067 PRODUKTIVITAS PADI SAWAH PADA KEPADATAN POPULASI BERBEDA Sumardi Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu Jl. W.R. Supratman, Kandang Limun, Bengkulu. 38371A Sumardi_nora@yahoo.co.id

Lebih terperinci

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan

Lebih terperinci

BAB III. METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan... 18 B. Cara Penelitian... 19 1. Pengambilan dan Determinasi Sampel... 19 2. Ekstraksi Sampel... 19 3.

BAB III. METODE PENELITIAN A. Alat dan Bahan... 18 B. Cara Penelitian... 19 1. Pengambilan dan Determinasi Sampel... 19 2. Ekstraksi Sampel... 19 3. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... ii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... iii HALAMAN PERNYATAAN... iv HALAMAN PERSEMBAHAN... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR...

Lebih terperinci

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS EFFECT OF EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DOSAGE ADDED IN DRINKING WATER ON BODY WEIGHT OF LOCAL CHICKEN

Lebih terperinci

APLIKASI I PENGAKTIF NEUTRON CEPAT UNTUK PENENTUAN KANDUNGAN UNSUR N, P DAN K DI DALAM SLUDGE!

APLIKASI I PENGAKTIF NEUTRON CEPAT UNTUK PENENTUAN KANDUNGAN UNSUR N, P DAN K DI DALAM SLUDGE! APLIKASI I PENGAKTIF NEUTRON CEPAT UNTUK PENENTUAN KANDUNGAN UNSUR N, P DAN K DI DALAM SLUDGE! Supriyatni E., Yazid M., Nuraini E., Sunardi Pusat Penelitian don Pengembangan Teknologi Maju, Batan, Yogyakarta

Lebih terperinci

Lampiran L Contoh pembuatan larutan

Lampiran L Contoh pembuatan larutan Lampiran L Contoh pembuatan larutan 1. Larutan NazCOs 10%, 20%, 30%. Timbang sebanyak 10 gr kristal Na2C03, dilarutkan dengan sedikit akuades dalam gelas piala. Pindah kedalam labu takar 100 ml dan encerkan

Lebih terperinci

Teknik Perbanyakan Jambu Air Citra Melalui Stek Cabang

Teknik Perbanyakan Jambu Air Citra Melalui Stek Cabang Teknik Perbanyakan Jambu Air Citra Melalui Stek Cabang Buah jambu air Citra terkenal di Indonesia, karena mempunyai cita-rasa yang sangat manis dan renyah, ukuran buah cukup besar (200 250 g/ buah), dan

Lebih terperinci

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU

TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU TINGKAT PENERAPAN SISTEM BUDIDAYA MANGROVE PADA MASYARAKAT PULAU UNTUNG JAWA, KEPULAUAN SERIBU Diarsi Eka Yani (diarsi@ut.ac.id) PS Agribisnis, FMIPA, Universitas Terbuka ABSTRAK Abrasi pantai yang terjadi

Lebih terperinci

AGROVIGOR VOLUME 5 NO. 2 SEPTEMBER 201 ISSN 1979 5777

AGROVIGOR VOLUME 5 NO. 2 SEPTEMBER 201 ISSN 1979 5777 94 AGROVIGOR VOLUME 5 NO. 2 SEPTEMBER 201 ISSN 1979 5777 PENGARUH PENGGUNAAN PUPUK UREA DAN APLIKASI HERBISIDA PRA- TUMBUH TERHADAP PERTUMBUHAN BIBIT KARET (Hevea brasiliensis Muell.Arg.) DAN GULMA DI

Lebih terperinci

KEBUTUHAN AIR. penyiapan lahan.

KEBUTUHAN AIR. penyiapan lahan. 1. Penyiapan lahan KEBUTUHAN AIR Kebutuhan air untuk penyiapan lahan umumnya menentukan kebutuhan air irigasi pada suatu proyek irigasi. Faktor-faktor penting yang menentukan besarnya kebutuhan air untuk

Lebih terperinci

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan Pasang Surut Penyusun IPG Widjaja-Adhi NP Sri Ratmini I Wayan Swastika Penyunting Sunihardi Setting & Ilustrasi Dadang

Lebih terperinci

DOSIS RENDAH, HASIL LEBIH BAIK

DOSIS RENDAH, HASIL LEBIH BAIK DOSIS RENDAH, HASIL LEBIH BAIK SPEEDUP 480 SL merupakan herbisida purna tumbuh yang diformulasi dalam bentuk larutan yang mudah larut dalam air yang dapat mengendalikan gulma berdaun sempit, berdaun lebar

Lebih terperinci

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C)

02. Jika laju fotosintesis (v) digambarkan terhadap suhu (T), maka grafik yang sesuai dengan bacaan di atas adalah (A) (C) Pengaruh Kadar Gas Co 2 Pada Fotosintesis Tumbuhan yang mempunyai klorofil dapat mengalami proses fotosintesis yaitu proses pengubahan energi sinar matahari menjadi energi kimia dengan terbentuknya senyawa

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN DOSIS PUPUK KANDANG DAN DOLOMIT TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin, Benth)

PENGARUH PEMBERIAN DOSIS PUPUK KANDANG DAN DOLOMIT TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin, Benth) PENGARUH PEMBERIAN DOSIS PUPUK KANDANG DAN DOLOMIT TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN NILAM (Pogostemon cablin, Benth) SKRIPSI Oleh : MIFTAHUS SURUR NIM : 2008-41-032 PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014

REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014 ST2013-SBK.S REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014 RAHASIA Jenis tanaman kehutanan terpilih...... 6 1 I. PENGENALAN TEMPAT 101. Provinsi

Lebih terperinci

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT MODUL: PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan sanitasi merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia, karena itu jika kebutuhan tersebut

Lebih terperinci

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA

KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR REPUBLIK INDONESIA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS TENAGA NUKLIR NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG KESELAMATAN RADIASI DALAM PENYIMPANAN TECHNOLOGICALLY ENHANCED NATURALLY

Lebih terperinci

PENENTUAN PARAMETER AIR DAN RADIOAKTIVITAS ALAM SAMPEL AIR, SEDIMEN SUNGAI SEROPAN PERIODE I, SEMANU, GUNUNGKIDUL

PENENTUAN PARAMETER AIR DAN RADIOAKTIVITAS ALAM SAMPEL AIR, SEDIMEN SUNGAI SEROPAN PERIODE I, SEMANU, GUNUNGKIDUL 266 ISSN 0216-3128 Tri Rusmanto, Agus Taftazani PENENTUAN PARAMETER AIR DAN RADIOAKTIVITAS ALAM SAMPEL AIR, SEDIMEN SUNGAI SEROPAN PERIODE I, SEMANU, GUNUNGKIDUL Tri Rusmanto, Agus Taftazani Pusat Teknologi

Lebih terperinci

PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN)

PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN) PENGENALAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA NUKLIR (PLTN) Masyarakat pertama kali mengenal tenaga nuklir dalam bentuk bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki dalam Perang Dunia II tahun 1945. Sedemikian

Lebih terperinci

PERBAIKAN DAN VJI FVNGSI SVB SISTEM SEKSI 700

PERBAIKAN DAN VJI FVNGSI SVB SISTEM SEKSI 700 Hasil-hasil Penelitian EBN Tahun 2009 ISSN 0854-5561 PERBAIKAN DAN VJI FVNGSI SVB SISTEM SEKSI 700 R. Suryadi ABSTRAK PERBAIKAN DAN UJI FUNGSI SUB SISTEM SEKSI 700. Merujuk pada program kerja B3N-PTBN

Lebih terperinci

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA MODUL: UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat.

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari

II. TINJAUAN PUSTAKA. 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai. Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi dan Syarat Tumbuh Tanaman Kedelai Kedelai merupakan tanaman asli subtropis dengan sistem perakaran terdiri dari sebuah akar tunggang yang terbentuk dari calon akar,

Lebih terperinci

PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-12 DAN R-134a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W

PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-12 DAN R-134a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W PERBANDINGAN UNJUK KERJA FREON R-2 DAN R-34a TERHADAP VARIASI BEBAN PENDINGIN PADA SISTEM REFRIGERATOR 75 W Ridwan Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri Universitas Gunadarma e-mail: ridwan@staff.gunadarma.ac.id

Lebih terperinci

PENENTUAN BATAS INSERSI BATANG KENDALl M-SHIM-AP600 PADA MODE OPERASI DAYA RENDAH

PENENTUAN BATAS INSERSI BATANG KENDALl M-SHIM-AP600 PADA MODE OPERASI DAYA RENDAH Prosiding Seminar Nasional ke-8 Teknologi don Keselamatan PLTN Serlo Fasilitas Nuklir Jakarta, 15 Oktober 2002 ISSN: 0854-2910 PENENTUAN BATAS INSERSI BATANG KENDALl M-SHIM-AP600 PADA MODE OPERASI DAYA

Lebih terperinci

OLEH : GLADYS AMANDA WIJAYA

OLEH : GLADYS AMANDA WIJAYA KAJIAN PROPORSI TEPUNG TERIGU DAN TEPUNG UBI JALAR KUNING SERTA KONSENTRASI GLISERIL MONOSTEARAT (GMS) TERHADAP SIFAT FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK MUFFIN SKRIPSI OLEH : GLADYS AMANDA WIJAYA (6103006001)

Lebih terperinci

Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) (Paddy Soil Test Kit)

Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) (Paddy Soil Test Kit) Pendahuluan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) (Paddy Soil Test Kit) Pemupukan berimbang merupakan salah satu faktor kunci untuk memperbaiki dan meningkatkan produktivitas lahan pertanian, khususnya di daerah

Lebih terperinci

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi

Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Prinsip Dasar Pengukuran Radiasi Latar Belakang Radiasi nuklir tidak dapat dirasakan oleh panca indera manusia oleh karena itu alat ukur radiasi mutlak diperlukan untuk mendeteksi dan mengukur radiasi

Lebih terperinci

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEKERASAN DAN WAKTU PEMECAHAN DAGING BUAH KAKAO (THEOBROMA CACAO L) 1) MUH. IKHSAN (G 411 9 272) 2) JUNAEDI MUHIDONG dan OLLY SANNY HUTABARAT 3) ABSTRAK Permasalahan kakao Indonesia

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NO.KEP. 187/MEN/1999 TENTANG PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I.

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NO.KEP. 187/MEN/1999 TENTANG PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NO.KEP. 187/MEN/1999 TENTANG PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I. Menimbang a. bahwa kegiatan industri yang mengolah, menyimpan,

Lebih terperinci

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III. Olimpiade Kimia Indonesia. Kimia UJIAN PRAKTEK

OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III. Olimpiade Kimia Indonesia. Kimia UJIAN PRAKTEK OLIMPIADE SAINS NASIONAL Ke III Olimpiade Kimia Indonesia Kimia UJIAN PRAKTEK Petunjuk : 1. Isilah Lembar isian data pribadi anda dengan lengkap (jangan disingkat) 2. Soal Praktikum terdiri dari 2 Bagian:

Lebih terperinci

4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol

4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol 4027 Sintesis 11-kloroundek-1-ena dari 10-undeken-1-ol OH SOCl 2 Cl + HCl + SO 2 C 11 H 22 O C 11 H 21 Cl (170.3) (119.0) (188.7) (36.5) (64.1) Klasifikasi Tipe reaksi and penggolongan bahan Substitusi

Lebih terperinci

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2)

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) Lektor Kepala/Pembina TK.I. Dosen STPP Yogyakarta. I. PENDAHULUAN Penurunan

Lebih terperinci

Comprehension Test I Uji Latih Pemahaman 1 I. Give a cross mark (x) on A, B, C, or D for the correct answer. Berilah tanda silang (x) pada huruf A,

Comprehension Test I Uji Latih Pemahaman 1 I. Give a cross mark (x) on A, B, C, or D for the correct answer. Berilah tanda silang (x) pada huruf A, Comprehension Test I Uji Latih Pemahaman 1 I. Give a cross mark (x) on A, B, C, or D for the correct answer. Berilah tanda silang (x) pada huruf A, B, C, atau D untuk jawaban yang benar! 1. A sack of a

Lebih terperinci

REAKTOR PEMBIAK CEPAT

REAKTOR PEMBIAK CEPAT REAKTOR PEMBIAK CEPAT RINGKASAN Elemen bakar yang telah digunakan pada reaktor termal masih dapat digunakan lagi di reaktor pembiak cepat, dan oleh karenanya reaktor ini dikembangkan untuk menaikkan rasio

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

badan berlebih (overweight dan obesitas) beserta komplikasinya. Selain itu, pengetahuan tentang pola makan juga harus mendapatkan perhatian yang

badan berlebih (overweight dan obesitas) beserta komplikasinya. Selain itu, pengetahuan tentang pola makan juga harus mendapatkan perhatian yang BAB 1 PENDAHULUAN Masalah kegemukan (obesitas) dan penurunan berat badan sangat menarik untuk diteliti. Apalagi obesitas merupakan masalah yang serius bagi para pria dan wanita, oleh karena tidak hanya

Lebih terperinci

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8.

BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8. BAB 4. WUJUD ZAT 1. WUJUD GAS 2. HUKUM GAS 3. HUKUM GAS IDEAL 4. GAS NYATA 5. CAIRAN DAN PADATAN 6. GAYA ANTARMOLEKUL 7. TRANSISI FASA 8. DIAGRAM FASA WUJUD ZAT: GAS CAIRAN PADATAN PERMEN (sukrosa) C 12

Lebih terperinci

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT Pengaruh Kadar Air.. Kuat Tekan Beton Arusmalem Ginting PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON Arusmalem Ginting 1, Wawan Gunawan 2, Ismirrozi 3 1 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

PRODUKSI TANAMAN NURSERY

PRODUKSI TANAMAN NURSERY PRODUKSI TANAMAN NURSERY Bambang B. Santoso Senen, 30 Maret 2009 PRODUKSI TANAMAN NURSERY A. Perencanaan Produksi B. Perbanyakan C. Produksi di Lapangan D. Produksi dalam Pot/wadah C. PRODUKSI DI LAPANGAN

Lebih terperinci

terlarut yang berbeda dengan hasil metode kalibrasi lebih besar daripada hasil metode adisi standar.

terlarut yang berbeda dengan hasil metode kalibrasi lebih besar daripada hasil metode adisi standar. Perbandingan Metode Kalibrasi dan Adisi Standar untuk Penentuan Timbal Terlarut dalam Air Bak Kontrol Candi Borobudur Secara Spektrofotometri Serapan Atom (SSA)-Nyala Ida Sulistyaningrum, Melati Putri

Lebih terperinci

PANDUAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PERTANIAN ORGANIK FEBR JUNI 2012 (Kamis 10 12) Darwin Pangaribuan PJ Mata Kuliah TPO

PANDUAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PERTANIAN ORGANIK FEBR JUNI 2012 (Kamis 10 12) Darwin Pangaribuan PJ Mata Kuliah TPO 1 PANDUAN PRAKTIKUM TEKNOLOGI PERTANIAN ORGANIK FEBR JUNI 2012 (Kamis 10 12) Darwin Pangaribuan PJ Mata Kuliah TPO Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung 2012 2 PEMUPUKAN HAYATI

Lebih terperinci

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah

Standardisasi Obat Bahan Alam. Indah Solihah Standardisasi Obat Bahan Alam Indah Solihah Standardisasi Rangkaian proses yang melibatkan berbagai metode analisis kimiawi berdasarkan data famakologis, melibatkan analisis fisik dan mikrobiologi berdasarkan

Lebih terperinci

TANGGAPAN TLD-600 TERHADAP DOSIS NEUTRON CEP AT YANG DITERIMA SECARA TERUS-MENERUS DAN TERPUTUS-PUTUS

TANGGAPAN TLD-600 TERHADAP DOSIS NEUTRON CEP AT YANG DITERIMA SECARA TERUS-MENERUS DAN TERPUTUS-PUTUS Prosiding Prescntasi Iliniah Keselamatan Radiasi dan Lingkungan,20-21 Agustus 1996 ID0000061 TANGGAPAN TLD-600 TERHADAP DOSIS NEUTRON CEP AT YANG DITERIMA SECARA TERUS-MENERUS DAN TERPUTUS-PUTUS Mukhlis

Lebih terperinci

UNJUK KERJA METODE FLAME ATOMIC --- ABSORPTION SPECTROMETR Y (F-AAS) PASCA AKREDIT ASI

UNJUK KERJA METODE FLAME ATOMIC --- ABSORPTION SPECTROMETR Y (F-AAS) PASCA AKREDIT ASI 246 ISSN 0216-3128 Supriyanto C, Samin UNJUK KERJA METODE FLAME ATOMIC --- ABSORPTION SPECTROMETR Y (F-AAS) PASCA AKREDIT ASI Supriyanto C., Samin Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan - BATAN ABSTRAK

Lebih terperinci

APLIKASI BEBERAPA PENGENDALIAN TERHADAP LALAT BIBIT (Ophiomya phaseoli Tryon) DI TANAMAN KEDELAI. Moh. Wildan Jadmiko, Suharto, dan Muhardiansyah

APLIKASI BEBERAPA PENGENDALIAN TERHADAP LALAT BIBIT (Ophiomya phaseoli Tryon) DI TANAMAN KEDELAI. Moh. Wildan Jadmiko, Suharto, dan Muhardiansyah APLIKASI BEBERAPA PENGENDALIAN TERHADAP LALAT BIBIT (Ophiomya phaseoli Tryon) DI TANAMAN KEDELAI Moh. Wildan Jadmiko, Suharto, dan Muhardiansyah Fakultas Pertanian Universitas Jember ABSTRAK Lalat bibit

Lebih terperinci

SNI 6128:2008. Standar Nasional Indonesia. Beras. Badan Standardisasi Nasional

SNI 6128:2008. Standar Nasional Indonesia. Beras. Badan Standardisasi Nasional Standar Nasional Indonesia Beras ICS 67.060 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup...1 2 Acuan normatif...1 3 Istilah dan definisi...1 4 Klasifikasi...4

Lebih terperinci

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus:

4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen. Tujuan Intruksional Khusus: 108 4.3.10. Pokok Bahasan 10: Pengamatan Panen Tujuan Intruksional Khusus: Setelah mengikuti course content ini mahasiswa dapat menjelaskan kriteria, komponen dan cara panen tanaman semusim dan tahunan

Lebih terperinci

PENENTUAN JUMLAH FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL DAUN BUAH MERAH (PANDANUS CONOIDEUS LAMK.) SECARA KOLORIMETRI KOMPLEMENTER

PENENTUAN JUMLAH FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL DAUN BUAH MERAH (PANDANUS CONOIDEUS LAMK.) SECARA KOLORIMETRI KOMPLEMENTER PENENTUAN JUMLAH FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL DAUN BUAH MERAH (PANDANUS CONOIDEUS LAMK.) SECARA KOLORIMETRI KOMPLEMENTER Yesi Desmiaty, Julia Ratnawati, Peni Andini Jurusan Farmasi Universitas Jend.

Lebih terperinci

Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Daya Tumbuh Bibit Kakao Cabutan

Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Daya Tumbuh Bibit Kakao Cabutan Pelita Perkebunan 2005, 21(2), 106 112 Rahardjo Pengaruh Lama Penyimpanan Terhadap Daya Tumbuh Bibit Kakao Cabutan Effect of Storage Period on the Viability of Bare Root Cocoa Seedlings Pudji Rahardjo

Lebih terperinci

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA IV.1 TINJAUAN UMUM Pengambilan sampel air dan gas adalah metode survei eksplorasi yang paling banyak dilakukan di lapangan geotermal.

Lebih terperinci

PENGARUH IRADIASI GAMMA PADA KUALITAS DAGING SEGAR. 2. BEBERAPA KARAKTERISTIKA KIMIA DAGING SAPI

PENGARUH IRADIASI GAMMA PADA KUALITAS DAGING SEGAR. 2. BEBERAPA KARAKTERISTIKA KIMIA DAGING SAPI Penehtlan don Pengembangan Aphkan Isalap don Radiasi, /999 PENGARUH IRADIASI GAMMA PADA KUALITAS DAGING SEGAR. 2. BEBERAPA KARAKTERISTIKA KIMIA DAGING SAPI Z. Irawati., T. lriawan., R.N. Agustina.., dan

Lebih terperinci

EFEK IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP DAY A TAHAN E.\'cher;ch;a coli DAN Salmonella DALAM KONDISI Nz, NzO DAN Oz ABSTRACT

EFEK IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP DAY A TAHAN E.\'cher;ch;a coli DAN Salmonella DALAM KONDISI Nz, NzO DAN Oz ABSTRACT /'enehllan don /'engembangan Aphka.{,/soIOp dan Radla.n, /999 EFEK IRADIASI SINAR GAMMA TERHADAP DAY A TAHAN E.\'cher;ch;a coli DAN Salmonella DALAM KONDISI Nz, NzO DAN Oz NikJlarn Pusal Aplikasi!SOlop

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP- 58/MENLH/12/1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN RUMAH SAKIT LINGKUNGAN HIDUP

KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP- 58/MENLH/12/1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN RUMAH SAKIT LINGKUNGAN HIDUP KEPUTUSAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR : KEP- 58/MENLH/12/1995 TENTANG BAKU MUTU LIMBAH CAIR BAGI KEGIATAN RUMAH SAKIT LINGKUNGAN HIDUP Kementerian Lingkungan Hidup 2002 1 KEPUTUSAN MENTERI NEGARA

Lebih terperinci

PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL. Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT?

PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL. Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT? PERTANYAAN YANG SERING MUNCUL Tanya (T-01) :Bagaimana cara kerja RUST COMBAT? JAWAB (J-01) : RUST COMBAT bekerja melalui khelasi (chelating) secara selektif. Yaitu proses di mana molekul sintetik yang

Lebih terperinci

KAJI TERAP TEKNOLOGI PENINGKATAN MUTU BUAH MANGGA SEGAR

KAJI TERAP TEKNOLOGI PENINGKATAN MUTU BUAH MANGGA SEGAR KAJI TERAP TEKNOLOGI PENINGKATAN MUTU BUAH MANGGA SEGAR Suhardi, Gunawan, Bonimin dan Jumadi Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur ABSTRAK Produk buah mangga segar di Jawa Timur dirasa masih

Lebih terperinci

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan

Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi. Bab17. Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan Presentasi Powerpoint Pengajar oleh Penerbit ERLANGGA Divisi Perguruan Tinggi Bab17 Kesetimbangan Asam-Basa dan Kesetimbangan Kelarutan Larutan buffer adalah larutan yg terdiri dari: 1. asam lemah/basa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Lingkungan hidup di kota telah memaksa manusia. mengurangi hubungannya yang erat dengan tumbuh-tumbuhan

BAB I PENDAHULUAN. Lingkungan hidup di kota telah memaksa manusia. mengurangi hubungannya yang erat dengan tumbuh-tumbuhan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Umum Lingkungan hidup di kota telah memaksa manusia mengurangi hubungannya yang erat dengan tumbuh-tumbuhan ' di sekitarnya. Halaman yang sempit, tembok yang tinggi dan kehidupan

Lebih terperinci

KESETIMBANGAN. titik setimbang

KESETIMBANGAN. titik setimbang KESETIMBANGAN STANDART KOMPETENSI;. Memahami kinetika reaksi, kesetimbangan kimia, dan faktor-faktor yang berpengaruh, serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. KOMPETENSI DASAR;.. Menjelaskan kestimbangan

Lebih terperinci

KOROSI ZIRKALOY -4 SESUDAH PERLAKUAN PANAS

KOROSI ZIRKALOY -4 SESUDAH PERLAKUAN PANAS 80 Buku l/ Prosiding Pertemuan dan Presenlasi I/lniah PPNY-BATAN, Yogyakarla 23-25 April 1996 KOROSI ZIRKALOY -4 SESUDAH PERLAKUAN PANAS P.Punvanto, Wuryanto, PPSJIt!. BATAN. Kawasan PUSPITEK. Serpong

Lebih terperinci

PENYERAPAN TIMBAL OLEH TANAMAN BERAKAR GANTUNG. Erwansyah Lubis, Heny Suseno Pusat Pengembangan Pengelolaan limbah Radioaktif

PENYERAPAN TIMBAL OLEH TANAMAN BERAKAR GANTUNG. Erwansyah Lubis, Heny Suseno Pusat Pengembangan Pengelolaan limbah Radioaktif PENYERAPAN TIMBAL OLEH TANAMAN BERAKAR GANTUNG Erwansyah Lubis, Heny Suseno Pusat Pengembangan Pengelolaan limbah Radioaktif ABSTRAK PENYERAPAN TIMBAL OLEH TANAMAN BERAKAR GANTUNG. Penelitian penyerapan

Lebih terperinci

PENELJTIAN ASAL-USUL BERBAGAI SUMBER AIR DJ SEKJTAR BENDUNGAN NGANCAR WONOGIRI, JAW A TENGAH DENGAN METODE ISOTOP ALAM

PENELJTIAN ASAL-USUL BERBAGAI SUMBER AIR DJ SEKJTAR BENDUNGAN NGANCAR WONOGIRI, JAW A TENGAH DENGAN METODE ISOTOP ALAM Risalah Pertemuan lmiah Peneiilian dan Pengembangan Teknologi sotop dan RadiaSl; 2(XJO PENELJTAN ASAL-USUL BERBAGA SUMBER AR DJ SEKJTAR BENDUNGAN NGANCAR WONOGR, JAW A TENGAH DENGAN METODE SOTOP ALAM ABSTRAK

Lebih terperinci

WAKTU PANEN YANG TEPAT MENENTUKAN KANDUNGAN GULA BIJI JAGUNG MANIS ( Zea mays saccharata )

WAKTU PANEN YANG TEPAT MENENTUKAN KANDUNGAN GULA BIJI JAGUNG MANIS ( Zea mays saccharata ) WAKTU PANEN YANG TEPAT MENENTUKAN KANDUNGAN GULA BIJI JAGUNG MANIS ( Zea mays saccharata ) SURTINAH Staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Lancang Kuning Jurusan Budidaya Pertanian Jl. D.I Panjaitan

Lebih terperinci

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK

ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis. Iqmal Tahir ABSTRAK ARTI PENTING KALIBRASI PADA PROSES PENGUKURAN ANALITIK: APLIKASI PADA PENGGUNAAN phmeter DAN SPEKTROFOTOMETER UV-Vis Iqmal Tahir Laboratorium Kimia Dasar, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Gadjah Mada

Lebih terperinci

Kata kunci: fasa gerak, asam benzoat, kafein, kopi kemasan, KCKT. Key word: mobile phase, benzoic acid, caffeine, instant coffee package, HPLC

Kata kunci: fasa gerak, asam benzoat, kafein, kopi kemasan, KCKT. Key word: mobile phase, benzoic acid, caffeine, instant coffee package, HPLC PENGARUH KOMPOSISI FASA GERAK PADA PENETAPAN KADAR ASAM BENZOAT DAN KAFEIN DALAM KOPI KEMASAN MENGGUNAKAN METODE KCKT (KROMATOGRAFI CAIR KINERJA TINGGI) Auliya Puspitaningtyas, Surjani Wonorahardjo, Neena

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI SUMBER PENCEMAR DAN ANALISIS KUALITAS AIR TUKAD YEH SUNGI DI KABUPATEN TABANAN DENGAN METODE INDEKS PENCEMARAN

IDENTIFIKASI SUMBER PENCEMAR DAN ANALISIS KUALITAS AIR TUKAD YEH SUNGI DI KABUPATEN TABANAN DENGAN METODE INDEKS PENCEMARAN TESIS IDENTIFIKASI SUMBER PENCEMAR DAN ANALISIS KUALITAS AIR TUKAD YEH SUNGI DI KABUPATEN TABANAN DENGAN METODE INDEKS PENCEMARAN NI MADE SETIARI PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS UDAYANA DENPASAR 2012

Lebih terperinci

Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Teknologi Tepat Guna

Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Teknologi Tepat Guna Teknologi Tepat Guna Penjernihan Air Dengan Biji Kelor (Moringa Oleifera) Oleh Kharistya - http://kharistya.wordpress.com Teknologi Tepat Guna Teknologi tepat guna, mengutip dari wikipedia, merupakan teknologi

Lebih terperinci

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengatnatan terhadap parameter saat muncul tunas setelah dianalisis. Saat muncul tunas (hari)

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN. Hasil pengatnatan terhadap parameter saat muncul tunas setelah dianalisis. Saat muncul tunas (hari) IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.L Saat Muncul Tunas (hari) Hasil pengatnatan terhadap parameter saat muncul tunas setelah dianalisis secara statistik menunjukkan pengaruh nyata (Lampiran 5). Data hasil uji

Lebih terperinci

Cara Pemeriksaan Kolesterol Total, kolesterol-hdl, Kolesterol-LDL dan. mutu dengan menggunakan serum kontrol yang nilainya normal dan abnormal.

Cara Pemeriksaan Kolesterol Total, kolesterol-hdl, Kolesterol-LDL dan. mutu dengan menggunakan serum kontrol yang nilainya normal dan abnormal. Lampiran 1 Cara Pemeriksaan Kolesterol Total, kolesterol-hdl, Kolesterol-LDL dan Trigliserida Sebelum dilakukan pemeriksaan, alat dan reagen dilakukan pengendalian mutu dengan menggunakan serum kontrol

Lebih terperinci

PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK SECARA FISIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI *) Oleh : Drs. Slamet Santoso SP., M.S **) bio.unsoed.ac.id

PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK SECARA FISIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI *) Oleh : Drs. Slamet Santoso SP., M.S **) bio.unsoed.ac.id PENGOLAHAN AIR LIMBAH DOMESTIK SECARA FISIKA, KIMIA, DAN BIOLOGI *) Oleh : Drs. Slamet Santoso SP., M.S **) PENDAHULUAN Masalah pencemaran lingkungan di kota besar telah menunjukkan gejala yang cukup serius,

Lebih terperinci