Pengaruh Variasi Sudut Datang Pipa Pancar dan Debit Air Terhadap Unjuk Kerja Turbin Arus Lintang Tingkat ke Dua

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Pengaruh Variasi Sudut Datang Pipa Pancar dan Debit Air Terhadap Unjuk Kerja Turbin Arus Lintang Tingkat ke Dua"

Transkripsi

1 55 Pengaruh Variasi Sudut Datang Pipa Pancar dan Debit Air Terhadap Unjuk Kerja Turbin Arus Lintang Tingkat ke Dua Latar Belakang Domingos de Sousa Freitas Secara geografis kondisi Negara Timor Leste adalah perbukitan dan memiliki hutan dengan curah hujan yang tinggi dan kondisi topografi yang bergunung-gunung dengan aliran sungai yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai pembangkit tenaga listrik.potensi ini sebagian besar tersebar di daerah pedesaan, sementara diperkirakan masih banyak penduduk desa yang belum menikmati energi listrik sehingga sangat tepat untuk mengembangkan pembangkit tenaga listrik. Sesuai studi kelayakan yang telah dilakukan sebelumnya oleh Asia Development Bank (ADB), Bank Asia Pembangunan sudah mengidentifikasi ada lima lokasi hydropower yang berpotensi untuk mengembangkan hydro power di Timor Leste, jika dibangun maka kapasitasnya mencapai 80 MW dan suplai energy tahunan 434 Gwh. Yang sangat layak berdasarkan dari survey ini adalah perencanaan biaya pembangkitan untuk proyek hydropower di Ira Lalaro kapasitasnya 27 MW.Hasil yang diharapkan yaitu bahwa tingginya faktor kapasitas tahunan mencapai 80%. Selain itu masih ada beberapa tempat yang memiliki potensi lain untuk pengembangan mini dan micro hydro sehingga daerah pelosok bisa terjangkau oleh listrik, EDTL (The Electrification of East Timor), Power Sector Master Plan for Timor Leste; Lokasi yang bisa dibangun hydropower sesuai penelitian tersebut antara lain; Ira Lalaro (27MW), Gari Wai sudah dibangun mensuplai energy listrik dengan kapasitas (350KW); Baucau (300KW), Gleno (30-40MW), Belulic (14MW) dan Laclo I (9-10MW), Laclo II dan III (40MW) sesuai laporan studi kelayakan yang sudah dilakukan tahun 2005 penawaran dokumen untuk ranking proyek pada pertengahan tahun 2005 (EDTL 2003). Akhir-akhir ini, Micro hydro menarik perhatian karena sumber energinya bersih, dapat diperbaharui dan pengembangan kedepan cukup baik.namun, tipe turbin harus sesuai dengan kondisi tempat dimana turbin ditempatkan dan juga perlu dikaji terhadap tipe turbin yang efektif. Disamping itu juga, biaya produksi relatif tinggi dengan struktur kompleks adalah kendala terbesar untuk mengembangkan Micro hydro. Turbin arus lintang (Cross-Flow) diadopsi karena memiliki struktur relatif sederhana (Yong-Do Choi). Telah banyak kajian sebelumnya dilakukan oleh para peneliti untuk turbin arus lintang (Cross-Flow) dengan tujuan untuk menentukan konfigurasi optimal turbin dengan metode eksperimen dan numerik. Yong-Do Choi, et el, menggunakan analisis CFD menganalisa pengaruh konfigurasi struktural turbin pada performace dan karakteristik alir internal dari model turbin arus lintang (Cross-Flow). Hasil menunjukkan bahwa bentuk nozzel, sudut runner blade dan jumlah runner blade sangat terkait dengan performace dan alir internal turbin, dimana lapisan udara dalam turbin berperan sangat penting dalam meningkatkan performace turbin. Mockmore, et el, telah menggunakan metode analisis teoritis satu dimensi dan eksperimen. Junichiro Fukutomi, ReiNakamura, kajian dalam penelitian ini adalah pengaruh sudut dan panjang inlet guide vane pada performance Turbin Cross Flow. Dengan memasang guide vane dari satu lembar dalam sisi divisi lidah dalam bagian isapan, performance Turbin Cross Flow menjadi lebih bertekanan tinggi dan efisiensi tinggi dibandingkan tanpa guide vane. Barglazan, M, penelitian yang dilakukan adalah selalu melakukan pengamatan dan modifikasi pada bagian mekanis turbin, dengan melakukan modifikasi pipa pancar. Penelitian yang lain adalah mengenai modifikasi radius sudu. Sedangkan penelitian-penelitian sebelumnya yang belum dilakukan adalah pengaruh variasi sudut datang pipa pancar yang langsung diarahkan pada tingkat kedua. Dari penjelasan diatas Penelitian yang akan penulis lakukan adalah Pengaruh variasi sudut datang pipa pancar dan debit air terhadap unjuk kerja turbin arus lintang tingkat kedua, dengan harapan mendapatkan efisiensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan turbin arus lintang yang telah dimanfaatkan saat ini.turbin ini juga akan bekerja pada putaran yang lebih stabil. Kestabilan putaran ini 380

2 dibutuhkan untuk kualitas listrik yang dihasilkan generator jauh lebih baik, Namun juga antara kecepatan dan distribusi tekanan pada keluaran aliran, diuji dengan variasi sudut nozzel, debit air, dan beban. Daya output dievaluasi dari distribusi tekanan terhitung pada runner blade untuk mengkaji efek saluran pengarah pada runner turbin. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk Menstabilkan Putaran Turbin dan Meningkatkan efisiensi dari Turbin Cross Flow dengan mendesain saluran pengarah Pancaran Air (Water Jet) ke sudu masuk tingkat kedua. Penelitian Terdahulu Barglazan (2005), melakukan penelitian yang dikonsentrasikan pada bagian utama turbin arus lintang, khususnya radial runner dan bentuk nosel pemancar air. Juga dikembangkan sebuah perangkat lunak untuk merancang sebuah turbin arus lintang, dimana beberapa parameter harus dimasukkan dan masih ada beberapa perhitungan yang harus dilakukan dimana hasil perhitungan tersebut harus dimasukkan dalam masukkan perangkat lunak.tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan turbin arus lintang yang lebih efisien, tetapi penambahan efisiensi tidak terlalu signifikan. Sylvain ANTHEAUME, et al. (2007), penelitiannya mengenai pendekatan modeling innovatif untuk mengetahui efisiensi cross flow turbin air perkebunan. Tujuan dari penelitian ini adalah agar lebih memahami dan mengembankan teknologi yang cocok untuk perkebunan dengan tenaga hydroelectric laut atau sungai guna menaikkan air ke tower menggunakan turbin air cross flow atau jenis lain untuk mengetahui jenis turbin yang lebih efisien yang bisa menaikkan air ke tower. Yong-Do CHO,I et al. (2008), melakukan penelitian tentang turbin arus lintang (cross-flow) dengan proses simulasi CFD.Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui pengaruh dari konfigurasi struktur turbin terhadap unjuk kerja dan karakterisitik aliran didalam turbin sebuah model turbin arus lintang dengan memanfaatkan analisis CFD.Hasil yang didapatkan adalah bahwa bentuk nosel, sudut sudu turbin dan jumlah sudu turbin sangat berhubungan dengan unjuk kerja dan karakteristik aliran didalam turbin. H. Muhammad, et al. (2009), tentang studi eksperimental perancangan turbin air terapung tipe helical blades untuk pembangkit tenaga listrik pada aliran bebas dan bekerja pada air dengan head rendah. Perencanaan mengcakup dengan mengikutsertakan strip dari sudu turbin.effisiensi turbin yang dianalisa dengan menggunakan rumus empiris.putaran turbin dihitung dengan variasi sudut trips (45 0, 90, dan Hasil yang diperoleh sangat baik memprediksi phenomena putaran dan efisiensi kerja turbin tipe jenis silang (cross flow turbine) dengan daun rotor silang (Gorlov Helical Turbine).Selanjutnya berdasarkan hasil pengujian perubahan sudut kemiringan strip pada blade rotor memiliki pengaruh terhadap putaran dan efisiensi turbin.parameter umum yang mempengaruhi efisiensi turbin adalah; bentuk dari sudu turbin kurang bagus, seksi melintang dari turbin, dan kecepatan aliran air. C.A. Consul, et al. (2009), malakukan penelitian terhadap pengaruh kepadatan performance dari turbin cross flow. Tujuan dari penelitian adalah pengaruh kepadatan terhadap hidrodinamika yang umum terjadi pada pasang surut turbin cross flow.aliran melewati dua dan empat sudu turbin yang disimulasikan pada suatu laboratorium Angka Reynold Tinggi, 0 (10 5 ).Hasil yang diperoleh kepadatan turbin adalah dan Turbin Arus Lintang Sampai saat ini, jenis turbin air yang umum dipakai ada dari jenis yang bukan arus lintang (non-cross flow).dewasa ini perhatian dialihkan pada jenis turbin arus lintang terutama untuk proyek hidro kecil di negara yang kurang berkembang.oleh sebab itu menarik sekali potensi dari turbin arus lintang ini untuk dipelajari. Bentuk desain yang sederhana, menyebabkan mudah untuk dimengerti cara kerjanya dan mudah pula dibuat di bengkel yang sederhana. The National Rural Electric Cooperative Association melaporkan 381

3 bahwa turbin jenis arus lintang sudah dipasang di beberapa daerah pedesaan dan daerah terpencil di Pakistan, Nepal, Peru, Philipina dan Thailand Karlis AD. (2000). Persamaan Bernoulli Untuk Fluida Ideal Persamaan Bernoulli untuk fluida ideal menyatakan hukum kekekalan energi pada fluida. Dalam mendapatkan persamaan Bernoulli terdapat asumsi-asumsi yang harus diperhatikan antara lain fluida dengan aliran steady, tidak memiliki viskositas (frictionless flow), massa jenis fluida (ρ) konstan (incompressible), sehingga tidak ada kehilangan energi selama fluida mengalir. Persamaan Bernouli dapat dinyatakan sebagai berikut: konstan (Çengel 2001, 456) Jika persamaan diatas dibagi dengan percepatan gravitasi (g) maka akan didapat salah satu ruas dari persamaan Bernoulli yang mempunyai arti Head.Head adalah energi fluida tiap satuan berat fluida. Sehingga persamaan Head-nya menjadi = Total head (H) = konstan (Çengel, 2001:456) dengan : P = Tekanan statis fluida (N/m 2 ) V = Kecepatan fluida (m/s) g = Percepatan gravitasi (m/s 2 ) z = Elevasi terhadap datum yang sama(m) ρ = Massa jenis fluida (kg/m 3 ) Persamaan Kontinuitas Merupakan suatu persaman matematis mengenai jumlah netto massa fluida mengalir dalam permukaan terbatas sama dengan massa dalam permukaan itu. Volume fluida masuk adalah sama dengan volume fluida pada aliran keluar. 3. ρ.v.a = konstan (Çengel, 2001:520) = ρ 1.A 1.V 1 = ρ 2.A 2.V 2 (Çengel, 2001:524) 4. = massa alir (kg/s) ρ = massa jenis (kg/m 3 ) A = Luas penampang (m 2 ) V = Kecepatan rata-rata pada penampang (m/s) Unjuk kerja meliputi daya dan efisiensi. Rumusan dari unjuk kerja adalah : 382

4 Brake Horse Power (BHP) = , ( ) dengan : n = Kecepatan putar turbin (rpm) T = Torsi (Nm) Water Horse Power (WHP) =, 32 = , ( ) dengan : V = Volume (m 3 ) t = Waktu (s) ρ = Massa jenis air (kg/m 3 ) g = Percepatan gravitasi (m/s 2 ) Q = Debit air (m 3 /s) H = Head drop turbin (m) Effisiensi η=.100% Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian eksperimental (true experimental research). Dalam hal ini perangkat penelitian dibuat dalam skala laboratorium. Adapun literatur buku dan jurnal ilmiah yang relevan dengan masalah yang diteliti diperlukan sebagai bahan pendukung. Variabel Penelitian Variabel yang digunakan dalam penelitian ini ada tiga macam yaitu: Variabel bebas (independent variable) Variabel bebas adalah variabel yang bebas ditentukan nilainya oleh peneliti sebelum melakukan penelitian. Dalam penelitian ini variabel bebas yang digunakan adalah: Debit Air Dengan variasi debit air sebesar : 2 liter/s, 3 liter/s, 3.5 liter/s, dan 4 liter/s Variabel terikat (dependent variable) Variabel terikat adalah variabel hasil yang besarnya tidak dapat ditentukan oleh peneliti, nilai dari variabel ini tergantung pada nilai dari variabel bebasnya. Variabel terikat yang diamati dalam penelitian ini adalah: Efisiensi Variabel terkontrol Variabel terkontrol adalah variabel yang ditentukan oleh peneliti, dan nilainya dikondisikan konstan. Variabel yang dikontrol dalam penelitian ini adalah: 383

5 Variasi sudut pipa pancar; 30, 45, 60 o, dan 70 o Peralatan penelitian Peralatan yang digunakan pada penelitian ini adalah : 1. Runner Turbin Arus Lintang Runner meliputi 3 bagian utama, yaitu poros turbin, cakram turbin diameter luar 20 cm, diameter dalam 11cm, dengan bahan plat baja setebal 4mm, dan sudu yang berjumlah 20 buah, panjang sudu 2 cm, tebal sudu 2 mm, dengan bahan plat baja dipasang sekeliling cakram. Sedangkan plat penutup sudu terbuat dari akrilik yang transparan, setebal 3mm. Gambar 1 Runner Turbin Arus Lintang 2. Nosel/Pipa Pancar Gambar 2 Pipa Pancar dan pancaran air Nosel yang dipakai mempunyai ukuran penampang 2 x 2cm 2, terbuat dari akrilik setebal 1 mm. 384

6 3. Rumah turbin, rumah turbin dibutuhkan untuk melindungi pancaran air yang dihasilkan saat terjadinya putaran runner. Gambar 3 Rumah Turbin Gambar 4 Instalasi Penelitian Gambar 5 Sudut Pipa Pancar

7 Hasil dan Pembahasan Hasil pengolahan data pada pengujian pengaruh variasi sudut datang pipa dan debit air pada unjuk kerja turbin arus lintang tingkat kedua ini dapat diperlihatkan dalam bentuk grafik hubungan antara variasi sudut datang pipa pancar dan debit air dengan efisiensi dari turbin arus lintang pada tingkat kedua. Tabel 1 Variasi debit air Gambar 5.1 Pengaruh variasi debit air terhadap efisiensi dari unjuk kerja turbin arus lintang dengan tiap-tiap variasi sudut datang pipa pancar pada turbin arus lintang tingkat kedua 386

8 Gambar 5.1 yang diperlihatkan tersebut diatas adalah grafik pengaruh variasi debit air terhadap efisiensi dari unjuk kerja turbin arus lintang dengan tiap-tiap variasi sudut datang pipa pancar pada turbin arus lintang tingkat kedua, dari grafik diatas dapat dilihat bahwa dengan membuat pipa pancar diarahkan ke tingkat kedua akan mempengaruhi pola aliran di dalam runner karena jet keluaran yang langsung diarahkan ke tingkat kedua, sehingga torsi yang diberikan pada tingkat kedua akan meningkat sehingga efisiensinya lebih besar. Disini, pengujian yang dilakukan dengan variasi sudut datang pipa pancar dan debit air.pengujian yang dilakukan ada 4 perbedaan bukaan katup 25%, 50% 75% dan 100% dan tentunya setiap pembukaan katup dari minimum hingga bukaan katup maksimum ada terjadi perbedaan laju aliran dan debit air yang dihasilkan. Dari masing-masing bukaan katup dari minimum dapat menghasilkan debit air yang terkecil dan bukaan katup maksimum pada beban 1 efisiensi turbin terjadi Peningkatan. Peningkatan efisiensi juga sebanding dengan kenaikan variasi debit air. Pada debit air yang bervariasi bukaan katup minimum hingga maksimum. Pada bukaan katup maksimum terdapat kecenderungan peningkatan efisiensi pada tiap-tiap pengujian.ini disebabkan karena pada variasi sudut pipa pancar menyebabkan perubahan arah jet keluaran tingkat kedua yang bervariasi pula. Akibatnya momentum akan bertambah, dan torsi yang diberikan pada tingkat kedua ini juga akan meningkat, sehingga terjadi peningkatan pada daya turbin, semakin besar debit air yang diberikan akan meningkatan putaran turbin, maka akan semakin tinggi pula pembebanan yang harus diberikan, sehingga efisiensinya akan meningkat. Dari grafik 5.1 terlihat bahwa dari variasi sudut air masuk sudu sebesar 30 pada bukaan katup maksimum efisiensinya meningkat dibandingkan dengan sudut air masuk sudu lebih besar atau lebih kecil dari Hal ini disebabkan energi kecepatan air masuk sudu runner lebih banyak termanfaatkan karena air menumbuk tepat bagian depan sudu akibatnya torsi yang diberikan pada tingkat kedua ini juga akan meningkat sehingga efisiensi juga akan meningkat. Oleh sebab itu dengan membuat pipa pancar yang diarahkan ketingkat kedua akan menghasilkan torsi yang lebih stabil dan efisiensi turbin arus lintang (Cross Flow Banki) meningkat, kestabilan putaran ini dibutuhkan untuk kualitas listrik yang dihasilkan generator jauh lebih baik. 387

9 Pengaruh variasi debit air terhadap unjuk kerja turbin arus lintang tingkat kedua pada beban 2 dapat dijelaskan dengan melalui gambar grafik berikut ini. Gambar 5.2 Pengaruh variasi debit air terhadap efisiensi dari unjuk kerja turbin arus lintang dengan tiap-tiap variasi sudut datang pipa pancar pada turbin arus lintang tingkat kedua Gambar 5.2 yang diperlihatkan tersebut diatas adalah grafik pengaruh variasi debit air terhadap efisiensi dari unjuk kerja turbin arus lintang dengan tiap-tiap variasi sudut datang pipa pancar pada turbin arus lintang tingkat kedua, dari grafik diatas dapat dilihat bahwa dengan membuat pipa pancar diarahkan ke tingkat kedua akan mempengaruhi pola aliran di dalam runner karena jet keluaran yang langsung diarahkan ke tingkat kedua, sehingga torsi yang diberikan pada tingkat kedua akan meningkat sehingga efisiensinya lebih besar. Disini, pengujian yang dilakukan dengan variasi sudut datang pipa pancar dan debit air.pengujian yang dilakukan ada 4 perbedaan bukaan katup 25%, 50% 75% dan 100% dan tentunya setiap pembukaan katup dari minimum hingga bukaan katup maksimum ada terjadi perbedaan laju aliran dan debit air yang dihasilkan. Dari masing-masing bukaan katup dari minimum dapat menghasilkan debit air yang terkecil dan pada bukaan katup maksimum pada beban 2 efisiensi turbin terjadi Peningkatan. Peningkatan efisiensi juga sebanding dengan kenaikan variasi debit air. Pada debit air yang bervariasi bukaan katup minimum hingga maksumum. Pada bukaan katup maksimum terdapat kecenderungan peningkatan efisiensi pada tiap-tiap pengujian.ini disebabkan karena pada variasi sudut pipa pancar menyebabkan perubahan arah jet keluaran tingkat kedua yang bervariasi pula. Akibatnya momentum akan bertambah, dan torsi yang diberikan pada tingkat kedua ini juga akan meningkat, sehingga terjadi peningkatan pada daya turbin, semakin besar debit air yang diberikan akan meningkatan putaran turbin, maka akan semakin tinggi pula pembebanan yang harus diberikan, sehingga efisiensinya akan meningkat. Dari grafik 5.2 terlihat bahwa dari variasi sudut air masuk sudu sebesar 30 pada bukaan katup maksimum efisiensinya meningkat dibandingkan dengan sudut air masuk sudu lebih besar atau lebih kecil dari Hal ini disebabkan energi kecepatan air masuk sudu runner lebih banyak termanfaatkan dan terarah karena air menumbuk tepat bagian depan sudu akibatnya torsi yang diberikan pada tingkat kedua ini juga akan 388

10 meningkat sehingga efisiensi juga akan meningkat. Oleh sebab itu dengan membuat pipa pancar yang diarahkan ketingkat kedua akan menghasilkan torsi yang lebih stabil dan efisiensi turbin arus lintang (Cross Flow Banki) meningkat, kestabilan putaran ini dibutuhkan untuk kualitas listrik yang dihasilkan generator jauh lebih baik. Pengaruh variasi debit air terhadap unjuk kerja turbin arus lintang tingkat kedua pada beban 3 dapat dijelaskan dengan melalui gambar grafik berikut ini. Gambar 5.3 Pengaruh variasi debit air terhadap efisiensi dari unjuk kerja turbin arus lintang dengan tiap-tiap variasi sudut datang pipa pancar pada turbin arus lintang tingkat kedua Gambar 5.3 yang diperlihatkan tersebut diatas adalah grafik pengaruh variasi debit air terhadap efisiensi dari unjuk kerja turbin arus lintang dengan tiap-tiap variasi sudut datang pipa pancar pada turbin arus lintang tingkat kedua, dari grafik diatas dapat dilihat bahwa dengan membuat pipa pancar diarahkan ke tingkat kedua akan mempengaruhi pola aliran di dalam runner karena jet keluaran yang langsung diarahkan ke tingkat kedua, sehingga torsi yang diberikan pada tingkat kedua akan meningkat sehingga efisiensinya lebih besar. Disini, pengujian yang dilakukan dengan variasi sudut datang pipa pancar dan debit air.pengujian yang dilakukan ada 4 perbedaan bukaan katup 25%, 50% 75% dan 100% dan tentunya setiap pembukaan katup dari minimum hingga bukaan katup maksimum ada terjadi perbedaan laju aliran dan debit air yang dihasilkan. Dari masing-masing bukaan katup dari minimum dapat menghasilkan debit air yang terkecil dan pada bukaan katup maksimum pada beban 3 efisiensi turbin terjadi Peningkatan. Peningkatan efisiensi juga sebanding dengan kenaikan variasi debit air. Pada debit air yang bervariasi bukaan katup minimum hingga maksimum. Pada bukaan katup maksimum terdapat kecenderungan peningkatan efisiensi pada tiap-tiap pengujian.ini disebabkan karena pada variasi sudut pipa pancar menyebabkan perubahan arah jet keluaran tingkat kedua yang bervariasi pula. Akibatnya momentum akan bertambah, dan torsi yang diberikan pada tingkat kedua ini juga akan meningkat, sehingga terjadi peningkatan pada daya turbin, semakin besar debit air yang diberikan akan meningkatan putaran turbin, maka akan semakin tinggi pula pembebanan yang harus diberikan, sehingga efisiensinya akan meningkat. 389

11 Dari grafik 5.3 terlihat bahwa dari variasi sudut air masuk sudut sebesar 30 pada bukaan katup maksimum efisiensinya meningkat dibandingkan dengan sudut air masuk sudu lebih besar atau lebih kecil dari 300. Hal ini disebabkan energi kecepatan air masuk sudu runner lebih banyak termanfaatkan karena air menumbuk tepat bagian depan sudut akibatnya torsi yang diberikan pada tingkat kedua ini juga akan meningkat sehingga efisiensi juga akan meningkat. Oleh sebab itu dengan membuat pipa pancar yang diarahkan ketingkat kedua akan menghasilkan torsi yang lebih stabil dan efisiensi turbin arus lintang (Cross Flow Banki) meningkat, kestabilan putaran ini dibutuhkan untuk kualitas listrik yang dihasilkan generator jauh lebih baik. Pengaruh variasi debit air terhadap unjuk kerja turbin arus lintang tingkat kedua pada beban 4 dapat dijelaskan dengan melalui gambar grafik berikut ini. Gambar 5.4 Pengaruh variasi debit air terhadap efisiensi dari unjuk kerja turbin arus lintang dengan tiap-tiap variasi sudut datang pipa pancar pada turbin arus lintang tingkat kedua Gambar 5.4 yang diperlihatkan tersebut diatas adalah grafik pengaruh variasi debit air terhadap efisiensi dari unjuk kerja turbin arus lintang dengan tiap-tiap variasi sudut datang pipa pancar pada turbin arus lintang tingkat kedua, dari grafik diatas dapat dilihat bahwa dengan membuat pipa pancar diarahkan ke tingkat kedua akan mempengaruhi pola aliran di dalam runner karena jet keluaran yang langsung diarahkan ke tingkat kedua, sehingga torsi yang diberikan pada tingkat kedua akan meningkat sehingga efisiensinya lebih besar. Disini, pengujian yang dilakukan dengan variasi sudut datang pipa pancar dan debit air.pengujian yang dilakukan ada 4 perbedaan bukaan katup 25%, 50% 75% dan 100% dan tentunya setiap pembukaan katup dari minimum hingga bukaan katup maksimum ada terjadi perbedaan laju aliran dan debit air yang dihasilkan. Dari masing-masing bukaan katup dari minimum dapat menghasilkan debit air yang terkecil dan pada bukaan katup maksimum pada beban 4 efisiensi turbin terjadi Peningkatan. Peningkatan efisiensi juga sebanding dengan kenaikan variasi debit air. Pada debit air yang bervariasi bukaan katup minimum hingga maksimum. Pada bukaan katup maksimum terdapat kecenderungan 390

12 peningkatan efisiensi pada tiap-tiap pengujian.ini disebabkan karena pada variasi sudut pipa pancar menyebabkan perubahan arah jet keluaran tingkat kedua yang bervariasi pula. Akibatnya momentum akan bertambah, dan torsi yang diberikan pada tingkat kedua ini juga akan meningkat, sehingga terjadi peningkatan pada daya turbin, semakin besar debit air yang diberikan akan meningkatan putaran turbin, maka akan semakin tinggi pula pembebanan yang harus diberikan, sehingga efisiensinya akan meningkat. Dari grafik 5.4 terlihat bahwa dari variasi sudut air masuk sudu sebesar 30 menghasilkan efisiensi tertinggi jika dibandingkan dengan sudut air masuk sudu lebih besar atau lebih kecil dari 300. Hal ini disebabkan energi kecepatan air masuk sudu runner lebih banyak termanfaatkan karena air menumbuk tepat bagian depan sudu akibatnya torsi yang diberikan pada tingkat kedua ini juga akan meningkat sehingga efisiensi juga akan meningkat. Oleh sebab itu dengan membuat pipa pancar yang diarahkan ketingkat kedua akan menghasilkan torsi yang lebih stabil dan efisiensi turbin arus lintang (Cross Flow Banki) meningkat, kestabilan putaran ini dibutuhkan untuk kualitas listrik yang dihasilkan generator jauh lebih baik. Pengaruh variasi sudut datang pipa pancar terhadap unjuk kerja turbin arus lintang tingkat kedua pada beban 1 dapat dijelaskan dengan melalui gambar grafik berikut ini. Gambar 5.5 Pengaruh variasi debit air terhadap efisiensi dari unjuk kerja turbin arus lintang dengan tiap-tiap variasi sudut datang pipa pancar pada turbin arus lintang tingkat kedua. Dari Gambar 5.5 dapat dilihat bahwa dengan adanya supply air yang dipompakan melewati pipa pancar mengakibatkan adanya pancaran air yang mengenai sudu turbin akan timbuk gaya dorong atau tumbukan. Pancaran air ini akan menumbuk dan mendorong turbin sehingga turbin tersebut berputar. Arah dari pancaran air tersebut akan belok, dengan demikian terjadi perubahan besaran air yang bergerak. Pancaran air yang mengenai sudu turbin itu menggerakkan roda turbin cross flow dengan kecepatan u. Sehingga pada sudut nosel yang sama dan pada bukaan katup yang bervariasi terdapat kecenderungan peningkatan efisiensi pada tiap-tiap pengujian dengan variasi sudut pipa pancar, juga terjadi peningkatan putaran dan debit air Q (liter/s) tetapi mengakibatkan tekanan (Bar) menurun hal ini disebabkan karena pada variasi sudut pipa pancar menyebabkan perubahan arah keluar tingkat pertama (dapat dijelaskan dengan segitiga 391

13 kecepatan), karena gaya yang bekerja pada fluida kerja sehingga menyebabkan terjadinya perubahan kecepatan dan momentum akan bertambah, dan torsi yang diberikan pada tingkat kedua ini juga akan meningkat, sehingga meningkatkan daya pada turbin, semakin besar debit air yang diberikan pada putaran yang bervariasi, maka akan semakin tinggi pula torsi yang harus diberikan, sehingga efisiensinya akan meningkat. Dari grafik 5.5 terlihat bahwa dari variasi sudut air masuk sudu sebesar 30 menghasilkan efisiensi tertinggi jika dibandingkan dengan sudut air masuk sudu lebih besar atau lebih kecil dari 30 0.Hal ini disebabkan energi kecepatan air masuk sudu runner lebih banyak termanfaatkan.namun disini ada terjadi suatu perubahan pada sudut nosel 45 0 pada beban F1 (N) putaran turbin dan debit air menurun dan efisiensinya juga menurun tetapi penurunannya efisiensinya tidak signikan. Pada sudut nosel 60 0, dan 70 0 memiliki efisiensi yang paling kecil jika dibandingkan dengan variasi sudut yang lain. Hal ini disebabkan karena pada sudut air masuk sebesar 60 dan 70 0 debit air (liter/s) menurun sehingga torsi yang dihasilkan kecil, karena aliran air masuk mengenai sudu bukan menambah torsi tetapi justru membebani, karena jet air justru menumbuk bagian belakang sudu.inilah yang diduga menjadi salah satu penyebab ketidak stabilan putaran turbin. Pengaruh variasi sudut datang pipa pancar terhadap unjuk kerja turbin arus lintang tingkat kedua pada beban 2 dapat dijelaskan dengan melalui gambar grafik berikut ini. Gambar 5.6 Pengaruh variasi debit air terhadap efisiensi dari unjuk kerja turbin arus lintang dengan tiap-tiap variasi sudut datang pipa pancar pada turbin arus lintang tingkat kedua Dari Gambar 5.6 dapat dilihat bahwa pada sudut nosel yang sama dan pada bukaan katup yang bervariasi terdapat kecenderungan peningkatan efisiensi pada tiap-tiap pengujian dengan variasi sudut pipa pancar, juga terjadi peningkatan putaran dan debit air Q (liter/s) tetapi mengakibatkan tekanan (Bar) menurun hal ini disebabkan karena pada variasi sudut pipa pancar menyebabkan perubahan arah keluar tingkat pertama 392

14 (dapat dijelaskan dengan segitiga kecepatan), karena gaya yang bekerja pada fluida kerja sehingga menyebabkan terjadinya perubahan kecepatan dan momentum akan bertambah, dan torsi yang diberikan pada tingkat kedua ini juga akan meningkat, sehingga meningkatkan daya pada turbin, semakin besar debit air yang diberikan pada putaran yang bervariasi, maka akan semakin tinggi pula torsi yang harus diberikan, sehingga efisiensinya akan meningkat. Dari grafik 5.6 terlihat bahwa dari variasi sudut air masuk sudu sebesar 30 menghasilkan efisiensi tertinggi jika dibandingkan dengan sudut air masuk sudu lebih besar atau lebih kecil dari 30 0.Hal ini disebabkan energi kecepatan air masuk sudu runner lebih banyak termanfaatkan.namun disini ada terjadi suatu perubahan pada sudut nosel 45 0 pada beban F2 (N) putaran turbin dan debit air menurun dan efisiensinya juga menurun tetapi penurunannya efisiensinya tidak signikan. Pada sudut nosel 60 0, dan 70 0 memiliki efisiensi yang paling kecil jika dibandingkan dengan variasi sudut yang lain. Hal ini disebabkan karena pada sudut air masuk sebesar 60 dan 70 0 debit air (liter/s) menurun sehingga torsi yang dihasilkan kecil, karena aliran air masuk mengenai sudu bukan menambah torsi tetapi justru membebani, karena jet air justru menumbuk bagian belakang sudu.inilah yang diduga menjadi salah satu penyebab ketidak stabilan putaran turbin. Gambar 5.7 Pengaruh variasi debit air terhadap efisiensi dari unjuk kerja turbin arus lintang dengan tiap-tiap variasi sudut datang pipa pancar pada turbin arus lintang tingkat kedua Gambar 5.8 Pengaruh variasi debit air terhadap efisiensi dari unjuk kerja turbin arus lintang dengan tiap-tiap variasi sudut datang pipa pancar pada turbin arus lintang tingkat kedua 393

15 Dari Gambar 5.7 dan 5.8 dapat dilihat bahwa dari tiap-tiap variasi sudut air masuk sudu dapat dilihat bahwa dengan adanya supply air yang dipompakan melewati pipa pancar mengakibatkan adanya pancaran air yang mengenai sudu turbin akan timbul gaya dorong/tumbukan. Pancaran air ini akan menumbuk dan mendorong turbin sehingga turbin tersebut berputar. Arah dari pancaran air tersebut akan belok, dengan demikian terjadi perubahan besaran air yang bergerak. Pancaran air yang mengenai sudu turbin itu menggerakkan roda turbin cross flow dengan kecepatan u. Sehingga pada sudut nosel yang sama dan pada bukaan katup yang bervariasi terdapat kecenderungan peningkatan efisiensi pada tiap-tiap pengujian dengan variasi sudut pipa pancar, juga terjadi peningkatan putaran dan debit air Q (liter/s) tetapi mengakibatkan tekanan (Bar) menurun hal ini disebabkan karena pada variasi sudut pipa pancar menyebabkan perubahan arah keluar tingkat pertama (dapat dijelaskan dengan segitiga kecepatan), karena gaya yang bekerja pada fluida kerja sehingga menyebabkan terjadinya perubahan kecepatan dan momentum akan bertambah, dan torsi yang diberikan pada tingkat kedua ini juga akan meningkat, sehingga meningkatkan daya pada turbin, semakin besar debit air yang diberikan pada putaran yang bervariasi, maka akan semakin tinggi pula torsi yang harus diberikan, sehingga efisiensinya akan meningkat. Dari grafik 5.7 dan 5.8 terlihat bahwa dari variasi sudut air masuk sudu sebesar 30 menghasilkan efisiensi tertinggi jika dibandingkan dengan sudut air masuk sudu lebih besar atau lebih kecil dari 30 0.Hal ini disebabkan energi kecepatan air masuk sudu runner lebih banyak termanfaatkan.namun disini ada terjadi suatu perubahan pada sudut nosel 45 0 pada beban F1 (N) putaran turbin dan debit air menurun dan efisiensinya juga menurun tetapi penurunannya efisiensinya tidak signikan. Pada sudut nosel 60 0, dan 70 0 memiliki efisiensi yang paling kecil jika dibandingkan dengan variasi sudut yang lain. Hal ini disebabkan karena pada sudut air masuk sebesar 60 dan 70 0 debit air (liter/s) menurun sehingga torsi yang dihasilkan kecil, karena aliran air masuk mengenai sudu bukan menambah torsi tetapi justru membebani, karena jet air justru menumbuk bagian belakang sudu.inilah yang diduga menjadi salah satu penyebab ketidak stabilan putaran turbin. 394

16 Kesimpulan Dari penelitian pengaruh variasi sudut datang pipa pancar dan debit air terhadap unjuk kerja turbin arus lintang tingkat kedua, dapat disimpulkan bahwa besar sudut pipa pancar mempengaruhi unjuk kerja (Torsi, Daya dan Efisiensi) turbin arus lintang: Saran 1. Pancaran air yang keluar dari pipa pancar menumbuk dan mendorong turbin sehingga turbin berputar 2. Torsi yang diberikan pada tingkat kedua meningkat dan efisiensi juga meningkat dan peningkatan efisiensi juga sebanding dengan kenaikan variasi debit air. 3. Semakin besar debit air yang diberikan akan meningkatkan putaran turbin dan semakin tinggi pula pembebanan yang harus diberikan sehingga mempengaruhi efisiensinya juga meningkat, pada variasi sudut air masuk sudu sebesar 30 Derajat beban 4 (N) dan debit air 0,228(ltr/s) menghasilkan efisiensi tertinggi dari turbin arus lintang pada tingkat kedua 4. Pada sudut nosel 45 0, 60 0, dan 70 0 memiliki efisiensi yang paling kecil jika dibandingkan dengan variasi sudut yang lain. Hal ini disebabkan karena debit air (liter/s) menurun sehingga torsi yang dihasilkan kecil, karena aliran air masuk mengenai sudu bukan menambah torsi tetapi justru membebani, karena jet air justru menumbuk bagian belakang sudu.inilah yang diduga menjadi salah satu penyebab ketidak stabilan putaran turbin. Dari hasil penelitian ini dapat dilanjutkan pengujian dengan berbagai variasi yang lain serta terdapat saransaran yang harus diperhatikan yaitu : 1. Dapat dilanjutkan penelitian mengenai pengaruh variasi sudut pipa pancar pada unjuk kerja turbin arus lintang dengan penambahan axial deflector. 2. Dapat dilanjutkan penelitian mengenai pengaruh variasi sudut pipa pancar pada unjuk kerja turbin arus lintang dengan menggunakan dua buah pipa pancar. Ucapan Terima Kasih Ucapan terima kasih penulis haturkan kepada Universitas Brawijaya Malang khususnya kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Rudy Soenoko, M.Eng.Sc. Bapak Dr. Eng. Yudy Surya Irawan, ST., M.Eng., Bapak Ir. Jusuf Haurissa, ST., Atas segala dukungan dan motivasi kepada penulis sehingga penelitian ini bisa terlaksana dengan baik dan sukses. Daftar pustaka Muhammad, A. 2009, Studi Eksperimental Perancangan Turbin Air Terapung Tipe Helical Blades, Jurnal Penelitian Enjiniring, 12(2): Arismunandar 2004, Penggerak Mula Turbin; Edisi Ketiga Cetakan Kesatu Bandung Penerbit, ITB, Bandung. Barglazan, M. 2005, About Design Optimization of Cross-Flow Hydraulic Turbines, The Politechnica University of Timisoara, New York. Çengel, Yunus A. and Turner, Robert H. 2001, Fundamentals of Thermal-Fluid Sciences, Mcgraw-Hill Companies Inc, New York. Central Intelligence Agency 2010, The World Fact book-country Report for Timor Leste, https://www.cia.gov/library/publications/the-world-factbook/geos/tt.html, viewed 1 May Haimerl, L.A. 1960, The Cross Flow Turbine, Lal Jagdish, Jerman Barat. Inversin, A.R. 1986, Microhydro Power Source Book, NRECA International Foundation, Washington DC. EDTL (The Electrification of East Timor) 2003, Power Sector Master Plan for Timor Leste, EDTL, Dili 395

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 1.1 Turbin Air Turbin air adalah turbin dengan media kerja air. Secara umum, turbin adalah alat mekanik yang terdiri dari poros dan sudu-sudu. Sudu tetap atau stationary blade, tidak

Lebih terperinci

UNJUK KERJA TURBIN AIR TIPE CROSS FLOW DENGAN VARIASI DEBIT AIR DAN SUDUT SERANG NOSEL

UNJUK KERJA TURBIN AIR TIPE CROSS FLOW DENGAN VARIASI DEBIT AIR DAN SUDUT SERANG NOSEL UNJUK KERJA TURBIN AIR TIPE CROSS FLOW DENGAN VARIASI DEBIT AIR DAN SUDUT SERANG NOSEL Yudi Setiawan, Irfan Wahyudi, Erwin Nandes Jurusan Teknik Mesin, Universitas Bangka Belitung Jl.Merdeka no. 04 Pangkalpinang

Lebih terperinci

Studi Eksprimental Perancangan Turbin Air Terapung Tipe Helical Blades

Studi Eksprimental Perancangan Turbin Air Terapung Tipe Helical Blades Studi Eksprimental Perancangan Turbin Air Terapung Tipe Helical Blades Andi Haris Muhammad, Abdul Latief Had, Wayan Terti Prog. Studi Teknik Sistem Perkapalan Jurusan Perkapalan Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

PENGARUH PERUBAHAN BEBAN TERHADAP KINERJA TURBIN CROSSFLOW

PENGARUH PERUBAHAN BEBAN TERHADAP KINERJA TURBIN CROSSFLOW Jurnal Mekanikal, Vol. 4 No. 2: Juli 2013: 416 421 ISSN 2086-3403 PENGARUH PERUBAHAN BEBAN TERHADAP KINERJA TURBIN CROSSFLOW Rustan Hatib*, Andi Ade Larasakti** *Dosen jurusan Teknik mesin Universitas

Lebih terperinci

BAB II 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Turbin Air

BAB II 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Turbin Air BAB II 2 LANDASAN TEORI 2.1 Turbin Air Turbin air atau pada mulanya kincir air adalah suatu alat yang sudah sejak lama digunakan untuk keperluan industri. Pada mulanya yang dipertimbangkan adalah ukuran

Lebih terperinci

SESSION 8 HYDRO POWER PLANT. 1. Potensi PLTA 2. Jenis PLTA 3. Prinsip Kerja 4. Komponen PLTA 5. Perencanaan PLTA

SESSION 8 HYDRO POWER PLANT. 1. Potensi PLTA 2. Jenis PLTA 3. Prinsip Kerja 4. Komponen PLTA 5. Perencanaan PLTA SESSION 8 HYDRO POWER PLANT 1. Potensi PLTA 2. Jenis PLTA 3. Prinsip Kerja 4. Komponen PLTA 5. Perencanaan PLTA 6. Kelebihan dan Kekurangan PLTA 1. POTENSI PLTA Teoritis Jumlah potensi tenaga air di permukaan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR SIMBOL... A. Latar Belakang B. Tujuan dan Manfaat C. Batasan Masalah...

DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR SIMBOL... A. Latar Belakang B. Tujuan dan Manfaat C. Batasan Masalah... i DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR SIMBOL... i iv v viii I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1 B. Tujuan dan Manfaat... 2 C. Batasan Masalah... 2 D. Sistematika

Lebih terperinci

Panduan Praktikum Mesin-Mesin Fluida 2012

Panduan Praktikum Mesin-Mesin Fluida 2012 PERCOBAAN TURBIN PELTON A. TUJUAN PERCOBAAN Tujuan dari pelaksanaan percobaan ini adalah untuk mempelajari prinsip kerja dan karakteristik performance turbin air (pelton). Karakteristik performance turbin

Lebih terperinci

Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Universitas Negeri Jakarta Jl. Pemuda No.10, Rawamangun, Jakarta Timur *

Jurusan Fisika, Fakultas MIPA Universitas Negeri Jakarta Jl. Pemuda No.10, Rawamangun, Jakarta Timur * Pengujian Prototipe Model Turbin Air Sederhana Dalam Proses Charging 4 Buah Baterai 1.2 Volt Yang Disusun Seri Pada Sistem Pembangkit Listrik Alternatif Tenaga Air Fitrianto Nugroho *, Iwan Sugihartono,

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. E p = Energi potensial (joule) m =Massa benda (kg) g = Percepatan gravitasi (m/s 2 ) h = Ketinggian benda (m)

BAB II DASAR TEORI. E p = Energi potensial (joule) m =Massa benda (kg) g = Percepatan gravitasi (m/s 2 ) h = Ketinggian benda (m) BAB II DASAR TEORI 2.1 Sumber Energi 2.1.1 Energi Potensial Energi potensial adalah energi yang dimiliki suatu benda akibat pengaruh tempat atau kedudukan dari benda tersebut Rumus yang dipakai dalam energi

Lebih terperinci

PENGARUH VARIASI BENTUK SUDU TERHADAP KINERJA TURBIN AIR KINETIK (Sebagai Alternatif Pembangkit Listrik Daerah Pedesaan)

PENGARUH VARIASI BENTUK SUDU TERHADAP KINERJA TURBIN AIR KINETIK (Sebagai Alternatif Pembangkit Listrik Daerah Pedesaan) TURBO Vol. 5 No. 1. 2016 p-issn: 2301-6663, e-issn: 2477-250X Jurnal Teknik Mesin Univ. Muhammadiyah Metro URL: http://ojs.ummetro.ac.id/index.php/turbo PENGARUH VARIASI BENTUK SUDU TERHADAP KINERJA TURBIN

Lebih terperinci

Jurnal e-dinamis, Volume 3, No.3 Desember 2012 ISSN

Jurnal e-dinamis, Volume 3, No.3 Desember 2012 ISSN SIMULASI NUMERIK ALIRAN FLUIDA DI DALAM RUMAH POMPA SENTRIFUGAL YANG DIOPERASIKAN SEBAGAI TURBIN PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO (PLTMH)MENGGUNAKAN CFD DENGAN HEAD (H) 9,29 M DAN 5,18 M RIDHO

Lebih terperinci

Pembuatan dan Pengujian Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Turbin Banki Daya 200 Watt

Pembuatan dan Pengujian Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Turbin Banki Daya 200 Watt Jurnal Mekanikal, Vol. 3 No. : Januari 0: 45-53 ISSN 086-3403 Pembuatan dan Pengujian Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Turbin Banki Daya 00 Watt Andi Ade Larasakti, Syukri Himran dan A. Syamsul Arifin

Lebih terperinci

KAJI EKSPERIMENTAL KINERJA TURBIN ZANETTE BERBASIS SUDU EKOR IKAN TUNA

KAJI EKSPERIMENTAL KINERJA TURBIN ZANETTE BERBASIS SUDU EKOR IKAN TUNA EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 1 No. 2 Mei 214; 39-43 KAJI EKSPERIMENTAL KINERJA TURBIN ZANETTE BERBASIS SUDU EKOR IKAN TUNA Lanang K 1), Fariha Z 1), Febrian Indra P 1), Imam Agus Y 1), Syaiful Amiien

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 TURBIN AIR Turbin air termasuk dalam kelompok mesin-mesin fluida yaitu, mesin-mesin yang berfungsi untuk merubah energi fluida (energi potensial dan energi kinetis air) menjadi

Lebih terperinci

Analisis Desain Turbin Air Tipe Aliran Silang (Crossflow) dan Aplikasinya di Desa Were I Kabupaten Ngada-NTT

Analisis Desain Turbin Air Tipe Aliran Silang (Crossflow) dan Aplikasinya di Desa Were I Kabupaten Ngada-NTT LJTMU: Vol., No. 1, April 15, (1-8) ISSN Print : 56- ISSN Online : 7-555 http://ejournal-fst-unc.com/index.php/ljtmu Analisis Desain Turbin Air Tipe Aliran Silang (Crossflow) dan Aplikasinya di Desa Were

Lebih terperinci

ANALISIS UNJUK KERJA TURBIN AIR KAPASITAS 81,1 MW UNIT 1 PADA BEBAN NORMAL DAN BEBAN PUNCAK DI PT INDONESIA ASAHAN ALUMINIUM POWER PLANT

ANALISIS UNJUK KERJA TURBIN AIR KAPASITAS 81,1 MW UNIT 1 PADA BEBAN NORMAL DAN BEBAN PUNCAK DI PT INDONESIA ASAHAN ALUMINIUM POWER PLANT ANALISIS UNJUK KERJA TURBIN AIR KAPASITAS 81,1 MW UNIT 1 PADA BEBAN NORMAL DAN BEBAN PUNCAK DI PT INDONESIA ASAHAN ALUMINIUM POWER PLANT LAPORAN TUGAS AKHIR Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

Jurnal FEMA, Volume 2, Nomor 2, April 2014

Jurnal FEMA, Volume 2, Nomor 2, April 2014 KAJIAN EKSPERIMENTAL PENGARUH BENTUK SUDU TERHADAP UNJUK KERJA TURBIN HELIK UNTUK SISTEM PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO (PLTMH) Andareas Wijaya Sitepu 1) Jorfri B. Sinaga ) dan Agus Sugiri ) 1)

Lebih terperinci

Deni Rafli 1, Mulfi Hazwi 2. Universitas Sumatera Utara (USU) Jl. Almamater, Kampus USU Medan INDONESIA

Deni Rafli 1, Mulfi Hazwi 2. Universitas Sumatera Utara (USU) Jl. Almamater, Kampus USU Medan INDONESIA SIMULASI NUMERIK PENGGUNAAN POMPA SEBAGAI TURBIN PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKRO HIDRO (PLTMH) DENGAN HEAD 9,29 M DAN 5,18 M MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK CFD PADA PIPA BERDIAMETER 10,16 CM Deni Rafli

Lebih terperinci

Tekanan Dan Kecepatan Uap Pada Turbin Reaksi Perbandingan Antara Turbin Impuls Dan Turbin Reaksi

Tekanan Dan Kecepatan Uap Pada Turbin Reaksi Perbandingan Antara Turbin Impuls Dan Turbin Reaksi Turbin Uap 71 1. Rumah turbin (Casing). Merupakan rumah logam kedap udara, dimana uap dari ketel, dibawah tekanan dan temperatur tertentu, didistribusikan disekeliling sudu tetap (mekanisme pengarah) di

Lebih terperinci

Potensi Tenaga Air di Indonesia Selama ini telah beberapa kali dilakukan studi potensi tenaga air di negara kita. Pada tahun 1968 Lembaga Masalah Ketenagaan- PLN (LMK) mencatat potensi tenaga air sebesar

Lebih terperinci

FLUID MACHINES LABORATORY MECHANICAL ENGINEERING BRAWIJAYA UNIVERSITY JL. MAYJEN HARYONO 167 MALANG TELP/FAX :

FLUID MACHINES LABORATORY MECHANICAL ENGINEERING BRAWIJAYA UNIVERSITY JL. MAYJEN HARYONO 167 MALANG TELP/FAX : FLUID MACHINES LABORATORY MECHANICAL ENGINEERING BRAWIJAYA UNIVERSITY JL. MAYJEN HARYONO 167 MALANG TELP/FAX : 0341-554291 PETUNJUK PENGUJIAN POMPA SENTRIFUGAL PENGUJIAN POMPA SENTRIFUGAL TUNGGAL, SERI,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Meningkatnya konsumsi bahan bakar khususnya bahan bakar fosil sangat mempengaruhi peningkatan harga jual bahan bakar tersebut. Sehingga pemerintah berupaya mencari

Lebih terperinci

Makalah Pembangkit listrik tenaga air

Makalah Pembangkit listrik tenaga air Makalah Pembangkit listrik tenaga air Di susun oleh : Muhamad Halfiz (2011110031) Robi Wijaya (2012110003) Alhadi (2012110093) Rari Ranjes Noviko (2013110004) Sulis Tiono (2013110008) Jurusan Teknik Mesin

Lebih terperinci

KINERJA YANG DIHASILKAN OLEH KINCIR AIR ARUS BAWAH DENGAN SUDU BERBENTUK MANGKOK. *Luther Sule

KINERJA YANG DIHASILKAN OLEH KINCIR AIR ARUS BAWAH DENGAN SUDU BERBENTUK MANGKOK. *Luther Sule KINERJA YANG DIHASILKAN OLEH KINCIR AIR ARUS BAWAH DENGAN SUDU BERBENTUK MANGKOK *Luther Sule *Kompleks Perumahan Dosen Unhas EB.17 Tamalanrea, Jurusan Mesin Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Jl.

Lebih terperinci

PENGUJIAN PROTOTIPE TURBIN HEAD SANGAT RENDAH PADA SUATU SALURAN ALIRAN AIR

PENGUJIAN PROTOTIPE TURBIN HEAD SANGAT RENDAH PADA SUATU SALURAN ALIRAN AIR PENGUJIAN PROTOTIPE TURBIN HEAD SANGAT RENDAH PADA SUATU SALURAN ALIRAN AIR Ridwan Arief Subekti 1, Anjar Susatyo 2 1 Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik, LIPI, Bandung ridw001@lipi.go.id 2

Lebih terperinci

PRINSIP KERJA TENAGA ANGIN TURBIN SAVOUNIUS DI DEKAT PANTAI KOTA TEGAL

PRINSIP KERJA TENAGA ANGIN TURBIN SAVOUNIUS DI DEKAT PANTAI KOTA TEGAL PRINSIP KERJA TENAGA ANGIN TURBIN SAVOUNIUS DI DEKAT PANTAI KOTA TEGAL Soebyakto Dosen Fakultas Teknik Universitas Pancasakti Tegal E-mail : soebyakto@gmail.com ABSTRAK Tenaga angin sering disebut sebagai

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pembangkit Listrik Tenaga Air Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) adalah pembangkit yang mengandalkan energi potensial dan kinetik dari air untuk menghasilkan energi listrik.

Lebih terperinci

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi ke-2 Tahun 2011 Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang A.13

Prosiding Seminar Nasional Sains dan Teknologi ke-2 Tahun 2011 Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim Semarang A.13 KARAKTERISASI DAYA TURBIN PELTON SUDU SETENGAH SILINDER DENGAN VARIASI PERBANDINGAN LEBAR SUDU DENGAN DIAMETER NOSEL PADA HARGA PERBANDINGAN JET SEBESAR 18 Bono dan Gatot Suwoto Jurusan Teknik Mesin Politeknik

Lebih terperinci

MESIN FLUIDA ANALISA PERFORMANCE POMPA SENTRIFUGAL TERHADAP KAPASITAS ALIRAN

MESIN FLUIDA ANALISA PERFORMANCE POMPA SENTRIFUGAL TERHADAP KAPASITAS ALIRAN TUGAS SARJANA MESIN FLUIDA ANALISA PERFORMANCE POMPA SENTRIFUGAL TERHADAP KAPASITAS ALIRAN OLEH : DIAN PRANATA BANGUN NIM : 040421011 FAKULTAS TEKNIK DEPARTEMEN TEKNIK MESIN PROGRAM PENDIDIKAN SARJANA

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMENTAL SUDUT NOSEL DAN SUDUT SUDU TERHADAP KINERJA TURBIN CROSS-FLOW SEBAGAI PLTMH DI DESA BUMI NABUNG TIMUR. Tesis.

STUDI EKSPERIMENTAL SUDUT NOSEL DAN SUDUT SUDU TERHADAP KINERJA TURBIN CROSS-FLOW SEBAGAI PLTMH DI DESA BUMI NABUNG TIMUR. Tesis. STUDI EKSPERIMENTAL SUDUT NOSEL DAN SUDUT SUDU TERHADAP KINERJA TURBIN CROSS-FLOW SEBAGAI PLTMH DI DESA BUMI NABUNG TIMUR Tesis Oleh MAFRUDDIN PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mikrohidro hanyalah sebuah istilah. Mikro artinya kecil sedangkan Hidro

II. TINJAUAN PUSTAKA. Mikrohidro hanyalah sebuah istilah. Mikro artinya kecil sedangkan Hidro II. TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Umum PLTMH Mikrohidro hanyalah sebuah istilah. Mikro artinya kecil sedangkan Hidro artinya air. Dalam prakteknya istilah ini tidak merupakan sesuatu yang baku namun Mikro

Lebih terperinci

BAB III METODE PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN. yang penulis rancang ditunjukkan pada gambar 3.1. Gambar 3.

BAB III METODE PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN. yang penulis rancang ditunjukkan pada gambar 3.1. Gambar 3. 29 BAB III METODE PERANCANGAN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA ANGIN 3.1 Konsep Perancangan Sistem Adapun blok diagram secara keseluruhan dari sistem keseluruhan yang penulis rancang ditunjukkan pada gambar 3.1.

Lebih terperinci

Pengaruh Jumlah Sudu Terhadap Optimalisasi Kinerja Turbin Kinetik Roda Tunggal

Pengaruh Jumlah Sudu Terhadap Optimalisasi Kinerja Turbin Kinetik Roda Tunggal Pengaruh Jumlah Sudu Terhadap Optimalisasi Kinerja Turbin Kinetik Roda Tunggal Richard Pietersz, Rudy Soenoko, Slamet Wahyudi Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Jalan. Mayjend Haryono

Lebih terperinci

UJI PERFORMANSI TURBIN PELTON DENGAN 26 SUDU PADA HEAD 9,41 METER DAN ANALISA PERBANDINGAN MENGGUNAKAN VARIASI BENTUK SUDU

UJI PERFORMANSI TURBIN PELTON DENGAN 26 SUDU PADA HEAD 9,41 METER DAN ANALISA PERBANDINGAN MENGGUNAKAN VARIASI BENTUK SUDU UJI PERFORMANSI TURBIN PELTON DENGAN 26 SUDU PADA HEAD 9,41 METER DAN ANALISA PERBANDINGAN MENGGUNAKAN VARIASI BENTUK SUDU Bona Halasan Nababan 1,Tekad Sitepu 2 1,2, Departemen Teknik Mesin, Universitas

Lebih terperinci

ANALISA KETINGGIHAN DAN DEBIT AIR PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO PADA DAERAH TERPENCIL

ANALISA KETINGGIHAN DAN DEBIT AIR PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO PADA DAERAH TERPENCIL ANALISA KETINGGIHAN DAN DEBIT AIR PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO PADA DAERAH TERPENCIL Purnomo 1 Efrita Arfah Z 2 Edi Suryanto 3 Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya Jl.

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR BIDANG KONVERSI ENERGI PERANCANGAN, PEMBUATAN DAN PENGUJIAN POMPA DENGAN PEMASANGAN TUNGGAL, SERI DAN PARALEL

TUGAS AKHIR BIDANG KONVERSI ENERGI PERANCANGAN, PEMBUATAN DAN PENGUJIAN POMPA DENGAN PEMASANGAN TUNGGAL, SERI DAN PARALEL TUGAS AKHIR BIDANG KONVERSI ENERGI PERANCANGAN, PEMBUATAN DAN PENGUJIAN POMPA DENGAN PEMASANGAN TUNGGAL, SERI DAN PARALEL Oleh: ANGGIA PRATAMA FADLY 07 171 051 JURUSAN TEKNIK MESIN FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

LAPORAN HIBAH PENELITIAN STRATEGIS NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2010. Optimasi Unjuk Kerja Turbin Kinetik Roda Ganda sebagai Pembangkit Listrik Pedesaan

LAPORAN HIBAH PENELITIAN STRATEGIS NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2010. Optimasi Unjuk Kerja Turbin Kinetik Roda Ganda sebagai Pembangkit Listrik Pedesaan Bidang Ilmu: Teknik LAPORAN HIBAH PENELITIAN STRATEGIS NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2010 Optimasi Unjuk Kerja Turbin Kinetik Roda Ganda sebagai Pembangkit Listrik Pedesaan. Prof. Dr. Ir. Rudy Soenoko, M.Eng.Sc

Lebih terperinci

Prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Air Memanfaatkan Teknologi Sistem Pipa Kapiler

Prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Air Memanfaatkan Teknologi Sistem Pipa Kapiler JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 1, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F-99 Prototipe Pembangkit Listrik Tenaga Air Memanfaatkan Teknologi Sistem Pipa Kapiler Yogo Pratisto, Hari Prastowo, Soemartoyo

Lebih terperinci

UJI PERFORMANSI TURBIN PELTON DENGAN 24 SUDU PADA HEAD 5,21 METER DAN ANALISA PERBANDINGAN MENGGUNAKAN VARIASI BENTUK SUDU

UJI PERFORMANSI TURBIN PELTON DENGAN 24 SUDU PADA HEAD 5,21 METER DAN ANALISA PERBANDINGAN MENGGUNAKAN VARIASI BENTUK SUDU UJI PERFORMANSI TURBIN PELTON DENGAN 24 SUDU PADA HEAD 5,21 METER DAN ANALISA PERBANDINGAN MENGGUNAKAN VARIASI BENTUK SUDU Bernardus Lumban Gaol 1,Tekad Sitepu 2 1,2, Departemen Teknik Mesin, Universitas

Lebih terperinci

OPTIMASI SUDUT INLET DAN OUTLET SUDU IMPELER POMPA TERHADAP HEAD DAN DAYA POMPA. Taufiqur Rokhman Program Studi Teknik Mesin D-3

OPTIMASI SUDUT INLET DAN OUTLET SUDU IMPELER POMPA TERHADAP HEAD DAN DAYA POMPA. Taufiqur Rokhman Program Studi Teknik Mesin D-3 OPTIMASI SUDUT INLET DAN OUTLET SUDU IMPELER POMPA TERHADAP HEAD DAN DAYA POMPA Taufiqur Rokhman Program Studi Teknik Mesin D-3 Universitas Islam 45 Bekasi ABSTRAK Pada penelitian ini, objek yang kami

Lebih terperinci

PERFORMANSI POMPA AIR DAB TYPE DB-125B YANG DIFUNGSIKAN SEBAGAI TURBIN AIR

PERFORMANSI POMPA AIR DAB TYPE DB-125B YANG DIFUNGSIKAN SEBAGAI TURBIN AIR PERFORMANSI POMPA AIR DAB TYPE DB-125B YANG DIFUNGSIKAN SEBAGAI TURBIN AIR Adi Ramadhani Muhammad Arief, G. D. Soplanit, I Nyoman Gede Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Mesin, Universitas Sam Ratulangi Manado

Lebih terperinci

Energi dan Ketenagalistrikan

Energi dan Ketenagalistrikan PENGEMBANGAN PLTMH TURBIN SIPHON : PROSPEK DAN HAMBATANNYA DI INDONESIA Widhiatmaka Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Ketenagalistrikan dan Energi Baru dan Terbarukan widhi_wise@yahoo.com S A

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Potensi Energi Air Potensi energi air pada umumnya berbeda dengaan pemanfaatan energi lainnya. Energi air merupakan salah satu bentuk energi yang mampu diperbaharui karena sumber

Lebih terperinci

Turbin Reaksi Aliran Ke Luar

Turbin Reaksi Aliran Ke Luar Turbin Reaksi Aliran Ke Luar Turbin reaksi aliran keluar adalah turbin reaksi dimana air masuk di tengah roda dan kemudian mengalir ke arah luar melalui sudu (gambar 8). Gambar 8. Turbin reaksi aliran

Lebih terperinci

Perancangan Turbin Pelton

Perancangan Turbin Pelton Perancangan Turbin Pelton Anjar Susatyo, Lukman Hakim Puslit Tenaga Listrik dan Mekatronik-LIPI ABSTRAK Turbin Pelton adalah turbin reaksi di mana satu atau lebih pancaran air menumbuk roda yang terdapat

Lebih terperinci

DESAIN DAN UJI UNJUK KERJA KINCIR ANGIN ABSTRACT

DESAIN DAN UJI UNJUK KERJA KINCIR ANGIN ABSTRACT JURNAL AUSTENIT VOLUME 3, NOMOR 2, OKTOBER 2011 DESAIN DAN UJI UNJUK KERJA KINCIR ANGIN Dalom Staf Edukatif Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Sriwijaya Jl.Srijaya Negara Bukit Besar Palembang 30139

Lebih terperinci

FLUIDA DINAMIS. GARIS ALIR ( Fluida yang mengalir) ada 2

FLUIDA DINAMIS. GARIS ALIR ( Fluida yang mengalir) ada 2 DINAMIKA FLUIDA FLUIDA DINAMIS SIFAT UMUM GAS IDEAL Aliran fluida dapat merupakan aliran tunak (STEADY ) dan tak tunak (non STEADY) Aliran fluida dapat termanpatkan (compressibel) dan tak termanfatkan

Lebih terperinci

Rancang Bangun PLTMH Menggunakan Turbin Cross-Flow berkapasitas 1 Kw untuk Daerah Terpencil dengan Sumber Air yang Terbatas

Rancang Bangun PLTMH Menggunakan Turbin Cross-Flow berkapasitas 1 Kw untuk Daerah Terpencil dengan Sumber Air yang Terbatas Rancang Bangun PLTMH Menggunakan Turbin Cross-Flow berkapasitas 1 Kw untuk Daerah Terpencil dengan Sumber Air yang Terbatas Joke Pratilastiarso, Mohamad Hamka Program Studi Sistem Pembangkit Energi, Departemen

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI 2.1 PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO

BAB II DASAR TEORI 2.1 PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO BAB II DASAR TEORI 2.1 PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO 2.1.1 Gambaran Umum Mikrohidro Air merupakan salah satu sumber energi yang terbarukan yang sudah sejak lama dipergunakan. Pada dasarnya, air

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. Pembuatan alat penelitian ini dilakukan di Bengkel Berkah Jaya, Sidomulyo,

III. METODOLOGI PENELITIAN. Pembuatan alat penelitian ini dilakukan di Bengkel Berkah Jaya, Sidomulyo, 31 III. METODOLOGI PENELITIAN A. Tempat Pembuatan Dan Pengujian Pembuatan alat penelitian ini dilakukan di Bengkel Berkah Jaya, Sidomulyo, Lampung Selatan. Kemudian perakitan dan pengujian dilakukan Lab.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Penelitian Terdahulu Menurut Muhammad As ad Abidin, Rudy Soenoko, Djoko Sutikno [2], pada penelitiannya mengenai pengaruh besar sudut kelengkungan sudu terhadap unjuk kerja

Lebih terperinci

CROS FLOW AS TURBINE POWER PLANT MINIHIDRO (PLTM) VILLAGE TO SELF ENERGY

CROS FLOW AS TURBINE POWER PLANT MINIHIDRO (PLTM) VILLAGE TO SELF ENERGY INFO TEKNIK Volume 16 No. 2 Desember 2015 (159-170) CROS FLOW AS TURBINE POWER PLANT MINIHIDRO (PLTM) VILLAGE TO SELF ENERGY Kosjoko Faculty of Engineering, University of Muhammadiyah Jember. Email: Kosjoko@unmuhjember.ac.id

Lebih terperinci

LAPORAN TUGAS AKHIR MODIFIKASI RANCANG BANGUN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR DENGAN MENGGUNAKAN TURBIN PELTON

LAPORAN TUGAS AKHIR MODIFIKASI RANCANG BANGUN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR DENGAN MENGGUNAKAN TURBIN PELTON LAPORAN TUGAS AKHIR MODIFIKASI RANCANG BANGUN PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR DENGAN MENGGUNAKAN TURBIN PELTON Diajukan sebagai salah satu tugas dan syarat untuk memperoleh gelar Ahli Madya ( AMd ) Program

Lebih terperinci

1. TURBIN AIR. 1.1 Jenis Turbin Air. 1.1.1 Turbin Impuls

1. TURBIN AIR. 1.1 Jenis Turbin Air. 1.1.1 Turbin Impuls 1. TURBIN AIR Dalam suatu sistim PLTA, turbin air merupakan salah satu peralatan utama selain generator. Turbin air adalah alat untuk mengubah energi air menjadi energi puntir. Energi puntir ini kemudian

Lebih terperinci

UNJUK KERJA TURBIN ANGIN SAVONIUS DUA TINGKAT EMPAT SUDU LENGKUNG L

UNJUK KERJA TURBIN ANGIN SAVONIUS DUA TINGKAT EMPAT SUDU LENGKUNG L SNTMUT - 1 ISBN: 97--71-- UNJUK KERJA TURBIN ANGIN SAVONIUS DUA TINGKAT EMPAT SUDU LENGKUNG L Syamsul Bahri W 1), Taufan Arif Adlie 1), Hamdani ) 1) Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Samudra

Lebih terperinci

Studi Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) pada PDAM Way Sekampung Kabupaten Pringsewu

Studi Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) pada PDAM Way Sekampung Kabupaten Pringsewu Studi Potensi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) pada PDAM Way Sekampung Kabupaten Pringsewu Agus Sugiri Jurusan Teknik Mesin, Universitas Lampung Jalan Prof. Soemantri Brodjonegoro No. 1 Gedung

Lebih terperinci

LOGO POMPA CENTRIF TR UGAL

LOGO POMPA CENTRIF TR UGAL LOGO POMPA CENTRIFUGAL Dr. Sukamta, S.T., M.T. Pengertian Pompa Pompa merupakan salah satu jenis mesin yang berfungsi untuk memindahkan zat cair dari suatu tempat ke tempat yang diinginkan. Klasifikasi

Lebih terperinci

FLUIDA. Standar Kompetensi : 8. Menerapkan konsep dan prinsip pada mekanika klasik sistem kontinu (benda tegar dan fluida) dalam penyelesaian masalah.

FLUIDA. Standar Kompetensi : 8. Menerapkan konsep dan prinsip pada mekanika klasik sistem kontinu (benda tegar dan fluida) dalam penyelesaian masalah. Nama :... Kelas :... FLUIDA Standar Kompetensi : 8. Menerapkan konsep dan prinsip pada mekanika klasik sistem kontinu (benda tegar dan fluida) dalam penyelesaian masalah. Kompetensi dasar : 8.. Menganalisis

Lebih terperinci

Studi Aplikasi Flywheel Energy Storage Untuk Meningkatkan Dan Menjaga Kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH)

Studi Aplikasi Flywheel Energy Storage Untuk Meningkatkan Dan Menjaga Kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Studi Aplikasi Flywheel Energy Storage Untuk Meningkatkan Dan Menjaga Kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) Oleh : Moh. Syaikhu Aminudin Pembimbing: Ir. Sarwono, MM. Ridho Hantoro, ST. MT

Lebih terperinci

TURBIN AIR. Turbin air mengubah energi kinetik. mekanik. Energi kinetik dari air tergantung dari massa dan ketinggian air. Sementara. dan ketinggian.

TURBIN AIR. Turbin air mengubah energi kinetik. mekanik. Energi kinetik dari air tergantung dari massa dan ketinggian air. Sementara. dan ketinggian. MESIN-MESIN FLUIDA TURBIN AIR TURBIN AIR Turbin air mengubah energi kinetik dan potensial dari air menjadi tenaga mekanik. Energi kinetik dari air tergantung dari massa dan ketinggian air. Sementara energi

Lebih terperinci

MODEL FISIK KINCIR AIR SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK

MODEL FISIK KINCIR AIR SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK MODEL FISIK KINCIR AIR SEBAGAI PEMBANGKIT LISTRIK Rinaldi 1, Andy Hendri dan Akhiar Junaidi 3 1,,3 Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Riau ri.naldi @yahoo.com ABSTRAK Salah satu jenis energi

Lebih terperinci

Tegangan Permukaan. Fenomena Permukaan FLUIDA 2 TEP-FTP UB. Beberapa topik tegangan permukaan

Tegangan Permukaan. Fenomena Permukaan FLUIDA 2 TEP-FTP UB. Beberapa topik tegangan permukaan Materi Kuliah: - Tegangan Permukaan - Fluida Mengalir - Kontinuitas - Persamaan Bernouli - Viskositas Beberapa topik tegangan permukaan Fenomena permukaan sangat mempengaruhi : Penetrasi melalui membran

Lebih terperinci

58. Pada tail race masih terdapat kecelakaan air 1m/det serta besarnya K = 0,1. Hitung : 1) Hidrolik Losses!

58. Pada tail race masih terdapat kecelakaan air 1m/det serta besarnya K = 0,1. Hitung : 1) Hidrolik Losses! TURBIN AIR 1. Jelaskan secara singkat tentang sejarah diketemukannya turbin air sebagai tenaga penggerak mula? 2. Jelaskan perbedaan antara pembangkit tenaga listrik dengan tenaga air dan tenaga diesel?

Lebih terperinci

8. FLUIDA. Materi Kuliah. Staf Pengajar Fisika Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya

8. FLUIDA. Materi Kuliah. Staf Pengajar Fisika Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya 8. FLUIDA Staf Pengajar Fisika Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya Tegangan Permukaan Viskositas Fluida Mengalir Kontinuitas Persamaan Bernouli Materi Kuliah 1 Tegangan Permukaan Gaya tarik

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 1 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Langkah-langkah Penyusunan Karya Tulis Mulai Studi Pendahuluan Identifikasi dan Perumusan Masalah Studi Pustaka Pengumpulan Data Perancangan dan Pembuatan Alat Pengujian

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pengertian dan Prinsip Dasar Alat uji Bending 2.1.1. Definisi Alat Uji Bending Alat uji bending adalah alat yang digunakan untuk melakukan pengujian kekuatan lengkung (bending)

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pompa Hidram Pompa merupakan salah satu jenis alat yang berfungsi untuk memindahkan zat cair dari suatu tempat ke tempat yang diinginkan. Zat cair tersebut contohnya

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Prinsip Kerja Pompa Hidram Prinsip kerja hidram adalah pemanfaatan gravitasi dimana akan menciptakan energi dari hantaman air yang menabrak faksi air lainnya untuk mendorong ke

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN TURBIN ARUS SUNGAI/HEAD SANGAT RENDAH

RANCANG BANGUN TURBIN ARUS SUNGAI/HEAD SANGAT RENDAH RANCANG BANGUN TURBIN ARUS SUNGAI/HEAD SANGAT RENDAH Anjar Susatyo 1, Ridwan Arief Subekti 2 Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik LIPI Komplek LIPI, Jl. Cisitu No.21/154 D Bandung. Tlp. 022-2503055

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA

II. TINJAUAN PUSTAKA II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pengertian PLTMH Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) adalah suatu instalasi pembangkit listrik skala kecil yang menggunakan energi air sebagai tenaga penggeraknya seperti

Lebih terperinci

MODEL TURBIN SAVONIUS 1-TINGKAT SEBAGAI PENGGERAK MULA POMPA AIR TANPA BAHAN BAKAR UNTUK PENGAIRAN

MODEL TURBIN SAVONIUS 1-TINGKAT SEBAGAI PENGGERAK MULA POMPA AIR TANPA BAHAN BAKAR UNTUK PENGAIRAN EKSERGI Jurnal Teknik Energi Vol 9 No. 1 Januari 2013 ; 18-23 MODEL TURBIN SAVONIUS 1-TINGKAT SEBAGAI PENGGERAK MULA POMPA AIR TANPA BAHAN BAKAR UNTUK PENGAIRAN Yusuf Dewantoro Herlambang, Suwarti Program

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Potensi air sebagai sumber energi terutama digunakan sebagai penyediaan energi

BAB I PENDAHULUAN. Potensi air sebagai sumber energi terutama digunakan sebagai penyediaan energi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Potensi air sebagai sumber energi terutama digunakan sebagai penyediaan energi listrik melalui pembangkit listrik tenaga air. Banyaknya sungai dan danau air

Lebih terperinci

KAJIAN EKSPERIMEN COOLING WATER DENGAN SISTEM FAN

KAJIAN EKSPERIMEN COOLING WATER DENGAN SISTEM FAN KAJIAN EKSPERIMEN COOLING WATER DENGAN SISTEM FAN Nama : Arief Wibowo NPM : 21411117 Jurusan : Teknik Mesin Fakultas : Teknologi Industri Pembimbing : Dr. Rr. Sri Poernomo Sari, ST., MT. Latar Belakang

Lebih terperinci

BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN

BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN BAB III PERALATAN DAN PROSEDUR PENGUJIAN 3.1 PERANCANGAN ALAT PENGUJIAN Desain yang digunakan pada penelitian ini berupa alat sederhana. Alat yang di desain untuk mensirkulasikan fluida dari tanki penampungan

Lebih terperinci

PENGARUH VARIASI SUDUT BUTTERFLY VALVE PADA PIPA GAS BUANG TERHADAP UNJUK KERJA MOTOR BENSIN 4 LANGKAH

PENGARUH VARIASI SUDUT BUTTERFLY VALVE PADA PIPA GAS BUANG TERHADAP UNJUK KERJA MOTOR BENSIN 4 LANGKAH 10 Avita Ayu Permanasari, Pengaruh Variasi Sudut Butterfly Valve pada Pipa Gas Buang... PENGARUH VARIASI SUDUT BUTTERFLY VALVE PADA PIPA GAS BUANG TERHADAP UNJUK KERJA MOTOR BENSIN 4 LANGKAH Oleh: Avita

Lebih terperinci

PENENTUAN DIMENSI SUDU TURBIN DAN SUDUT KEMIRINGAN POROS TURBIN PADA TURBIN ULIR ARCHIMEDES

PENENTUAN DIMENSI SUDU TURBIN DAN SUDUT KEMIRINGAN POROS TURBIN PADA TURBIN ULIR ARCHIMEDES ISSN 0126-3463 PENENTUAN DIMENSI SUDU TURBIN DAN SUDUT KEMIRINGAN POROS TURBIN PADA TURBIN ULIR ARCHIMEDES Herman Budi Harja 1, Halim Abdurrahim 2, Sigit Yoewono 3, Hendi Riyanto 4 1 Politeknik Manufaktur

Lebih terperinci

DRAFT PATENT LINTASAN RANTAI BERBENTUK SEGITIGA PYTHAGORAS PADA ALAT PEMBANGKIT ENERGI MEKANIK DENGAN MENGGUNAKAN ENERGI POTENSIAL AIR

DRAFT PATENT LINTASAN RANTAI BERBENTUK SEGITIGA PYTHAGORAS PADA ALAT PEMBANGKIT ENERGI MEKANIK DENGAN MENGGUNAKAN ENERGI POTENSIAL AIR DRAFT PATENT LINTASAN RANTAI BERBENTUK SEGITIGA PYTHAGORAS PADA ALAT PEMBANGKIT ENERGI MEKANIK DENGAN MENGGUNAKAN ENERGI POTENSIAL AIR Oleh : Dr Suhartono S.Si M.Kom 1 Deskrisi LINTASAN RANTAI BERBENTUK

Lebih terperinci

Studi Numerik 2D dan Uji Eksperimen tentang Karakteristik Aliran dan Unjuk Kerja Helical Savonius Blade dengan Variasi Overlap Ratio 0,1 ; 0,3 dan 0,5

Studi Numerik 2D dan Uji Eksperimen tentang Karakteristik Aliran dan Unjuk Kerja Helical Savonius Blade dengan Variasi Overlap Ratio 0,1 ; 0,3 dan 0,5 JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, No. 1 (Sept. 2012) ISSN: 2301-9271 F-108 Studi Numerik 2D dan Uji Eksperimen tentang Karakteristik Aliran dan Unjuk Kerja Helical Savonius Blade dengan Variasi Overlap Ratio 0,1

Lebih terperinci

Energi angin (Wind Energy) Hasbullah, S.Pd., MT

Energi angin (Wind Energy) Hasbullah, S.Pd., MT Energi angin (Wind Energy) Hasbullah, S.Pd., MT Dasar Energi Angin Semua energi yang dapat diperbaharui dan berasal dari Matahari. (kecuali.panas bumi) Matahari meradiasi 1,74 x 1.014 kilowatt jam energi

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR. Rancang Bangun Kincir Air Irigasi. Sebagai Pembangkit Listrik di Desa Talawaan

TUGAS AKHIR. Rancang Bangun Kincir Air Irigasi. Sebagai Pembangkit Listrik di Desa Talawaan TUGAS AKHIR Rancang Bangun Kincir Air Irigasi Sebagai Pembangkit Listrik di Desa Talawaan Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Pendidikan Diploma IV Program Studi Teknik Listrik

Lebih terperinci

LEMBAR KEGIATAN MAHASISWA TOPIK: FLUIDA. Disusun oleh: Widodo Setiyo Wibowo, M.Pd.

LEMBAR KEGIATAN MAHASISWA TOPIK: FLUIDA. Disusun oleh: Widodo Setiyo Wibowo, M.Pd. LEMBAR KEGIATAN MAHASISWA TOPIK: FLUIDA Disusun oleh: Widodo Setiyo Wibowo, M.Pd. Widodo_setiyo@uny.ac.id KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI

Lebih terperinci

HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... HALAMAN PERNYATAAN... NASKAH SOAL TUGAS AKHIR... HALAMAN PERSEMBAHAN... ABSTRACT

HALAMAN JUDUL... HALAMAN PENGESAHAN... HALAMAN PERNYATAAN... NASKAH SOAL TUGAS AKHIR... HALAMAN PERSEMBAHAN... ABSTRACT DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii HALAMAN PERNYATAAN... iii NASKAH SOAL TUGAS AKHIR... iv HALAMAN PERSEMBAHAN... v ABSTRACT... vi INTISARI... vii KATA PENGANTAR... viii DAFTAR ISI...

Lebih terperinci

MODUL PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA

MODUL PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA MODUL PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA LABORATORIUM TEKNIK SUMBERDAYA ALAM dan LINGKUNGAN JURUSAN KETEKNIKAN PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2013 MATERI I KALIBRASI SEKAT UKUR

Lebih terperinci

UNJUK KERJA POMPA AIR SHIMIZU TYPE PS-128 BIT YANG DIFUNGSIKAN SEBAGAI TURBIN AIR

UNJUK KERJA POMPA AIR SHIMIZU TYPE PS-128 BIT YANG DIFUNGSIKAN SEBAGAI TURBIN AIR UNJUK KERJA POMPA AIR SHIMIZU TYPE PS-128 BIT YANG DIFUNGSIKAN SEBAGAI TURBIN AIR Harison B. Situmorang 1), Gerrits D. Soplanit 2), I Nyoman Gede 3). Jurusan Teknik Mesin Universitas Sam Ratulangi ABSTRACT

Lebih terperinci

PENENTUAN DIMENSI SUDU TURBIN DAN SUDUT KEMIRINGAN POROS TURBIN PADA TURBIN ULIR ARCHIMEDES

PENENTUAN DIMENSI SUDU TURBIN DAN SUDUT KEMIRINGAN POROS TURBIN PADA TURBIN ULIR ARCHIMEDES PENENTUAN DIMENSI SUDU TURBIN DAN SUDUT KEMIRINGAN POROS TURBIN PADA TURBIN ULIR ARCHIMEDES Herman Budi Harja 1, Halim Abdurrahim 2, Sigit Yoewono 3, Hendi Riyanto 4 1 Politeknik Manufaktur Negeri Bandung,

Lebih terperinci

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MINIATUR TURBIN PELTON BAGIAN RANGKA STATIS DAN PENYUPLAI KAPASITAS 20 LITER PERMENIT LAPORAN PROYEK AKHIR

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MINIATUR TURBIN PELTON BAGIAN RANGKA STATIS DAN PENYUPLAI KAPASITAS 20 LITER PERMENIT LAPORAN PROYEK AKHIR PERANCANGAN DAN PEMBUATAN MINIATUR TURBIN PELTON BAGIAN RANGKA STATIS DAN PENYUPLAI KAPASITAS 20 LITER PERMENIT LAPORAN PROYEK AKHIR Oleh : ALVIAN NURUL QODRI NIM 011903101136 PROGRAM STUDI DIPLOMA III

Lebih terperinci

Masalah aliran fluida dalam PIPA : Sistem Terbuka (Open channel) Sistem Tertutup Sistem Seri Sistem Parlel

Masalah aliran fluida dalam PIPA : Sistem Terbuka (Open channel) Sistem Tertutup Sistem Seri Sistem Parlel Konsep Aliran Fluida Masalah aliran fluida dalam PIPA : Sistem Terbuka (Open channel) Sistem Tertutup Sistem Seri Sistem Parlel Hal-hal yang diperhatikan : Sifat Fisis Fluida : Tekanan, Temperatur, Masa

Lebih terperinci

KAJI EKSPERIMENTAL KINERJA TURBIN ANGIN VERTIKAL MULTIBLADE TIPE SUDU CURVED PLATE PROFILE DILENGKAPI RUMAH ROTOR DAN EKOR SEBAGAI PENGARAH ANGIN

KAJI EKSPERIMENTAL KINERJA TURBIN ANGIN VERTIKAL MULTIBLADE TIPE SUDU CURVED PLATE PROFILE DILENGKAPI RUMAH ROTOR DAN EKOR SEBAGAI PENGARAH ANGIN B.. Kaji eksperimental kinerja turbin angin vertikal multiblade tipe... (Yusuf D. Herlambang ) KAJI EKSPERIMENTAL KINERJA TURBIN ANGIN VERTIKAL MULTIBLADE TIPE SUDU CURVED PLATE PROFILE DILENGKAPI RUMAH

Lebih terperinci

Studi Eksperimental Vertical Axis Wind Turbine Tipe Savonius dengan Variasi Jumlah Fin pada Sudu

Studi Eksperimental Vertical Axis Wind Turbine Tipe Savonius dengan Variasi Jumlah Fin pada Sudu JURNAL TEKNIK POMITS Vol., No., (013) ISSN: 337-3539 (301-971 Print) B-350 Studi Eksperimental Vertical Axis Wind Turbine Tipe Savonius dengan Variasi Jumlah Fin pada Sudu Ola Dwi Sandra Hasan, Ridho Hantoro,

Lebih terperinci

Uji Efisiensi Pompa Hidram dengan Variasi Volume Tabung Udara

Uji Efisiensi Pompa Hidram dengan Variasi Volume Tabung Udara Uji Efisiensi Pompa Hidram dengan Variasi Volume Tabung Udara Dinar M. F.*, Hari Anggit C. W., Latifah N. Q., Enjang J.M. Abstrak Telah dilakukan penelitian untuk menguji efisiensi pompa hidram. Alat ini

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI QQ =... (2.1) Dimana: VV = kebutuhan air (mm 3 /hari) tt oooo = lama operasi pompa (jam/hari) nn pp = jumlah pompa

BAB II DASAR TEORI QQ =... (2.1) Dimana: VV = kebutuhan air (mm 3 /hari) tt oooo = lama operasi pompa (jam/hari) nn pp = jumlah pompa 4 BAB II DASAR TEORI 1.1 Definisi Pompa Pompa merupakan alat yang digunakan untuk memindahkan suatu cairan dari suatu tempat ke tempat lain dengan cara menaikkan tekanan cairan tersebut. Kenaikan tekanan

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK MODEL TURBIN ANGIN UNTWISTED BLADE DENGAN MENGGUNAKAN TIPE AIRFOIL NREL S833 PADA KECEPATAN ANGIN RENDAH

KARAKTERISTIK MODEL TURBIN ANGIN UNTWISTED BLADE DENGAN MENGGUNAKAN TIPE AIRFOIL NREL S833 PADA KECEPATAN ANGIN RENDAH KARAKTERISTIK MODEL TURBIN ANGIN UNTWISTED BLADE DENGAN MENGGUNAKAN TIPE AIRFOIL NREL S833 PADA KECEPATAN ANGIN RENDAH SKRIPSI Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik Oleh

Lebih terperinci

Analisa Bentuk Profile dan Jumlah Blade Vertical Axis Wind Turbine terhadap Putaran Rotor untuk Menghasilkan Energi Listrik

Analisa Bentuk Profile dan Jumlah Blade Vertical Axis Wind Turbine terhadap Putaran Rotor untuk Menghasilkan Energi Listrik JURNAL TEKNIK POMITS Vol. 3, No. 1, (2014) ISSN: 2337-3539 (2301-9271 Print) F-25 Analisa Bentuk Profile dan Jumlah Blade Vertical Axis Wind Turbine terhadap Putaran Rotor untuk Menghasilkan Energi Listrik

Lebih terperinci

PENGARUH REYNOLD NUMBER ( RE ) TERHADAP HEAD LOSSES PADA VARIASI JENIS BELOKAN PIPA ( BERJARI JARI DAN PATAH )

PENGARUH REYNOLD NUMBER ( RE ) TERHADAP HEAD LOSSES PADA VARIASI JENIS BELOKAN PIPA ( BERJARI JARI DAN PATAH ) PENGARUH REYNOLD NUMBER ( RE ) TERHADAP HEAD LOSSES PADA VARIASI JENIS BELOKAN PIPA ( BERJARI JARI DAN PATAH ) Mustakim 1), Abd. Syakura 2) Program Studi Teknik Pendingin dan Tata Udara, Politeknik Tanjungbalai.

Lebih terperinci

SISTEM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TURBIN ANGIN SUMBU VERTIKAL SAVONIUS DENGAN BLADE TIPE L

SISTEM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TURBIN ANGIN SUMBU VERTIKAL SAVONIUS DENGAN BLADE TIPE L SISTEM PERENCANAAN DAN PERANCANGAN TURBIN ANGIN SUMBU VERTIKAL SAVONIUS DENGAN BLADE TIPE L Oleh Hendriansyah 23410220 Pembimbing : Dr. Ridwan, MT. Latar Belakang Energi angin merupakan salah satu energi

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI digilib.uns.ac.id BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Pustaka Denhas (2014) melakukan penelitian mengenai peningkatan unjuk kerja turbin angin vertikal axis savonius dengan cara menambahkan sudu pengarah

Lebih terperinci

Kata Kunci debit air, ketinggian jatuh air (head), PLTMH Gunung Sawur unit 3, potensi daya, pipa pesat, turbin air, generator I.

Kata Kunci debit air, ketinggian jatuh air (head), PLTMH Gunung Sawur unit 3, potensi daya, pipa pesat, turbin air, generator I. Perancangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro Gunung Sawur unit 3 Lumajang Rizal Firmansyah¹, Ir. Teguh Utomo, MT.², Ir. Hery Purnomo, MT.³ ¹Mahasiswa Teknik Elektro, ² ³Dosen Teknik Elektro, Universitas

Lebih terperinci

SOAL TRY OUT FISIKA 2

SOAL TRY OUT FISIKA 2 SOAL TRY OUT FISIKA 2 1. Dua benda bermassa m 1 dan m 2 berjarak r satu sama lain. Bila jarak r diubah-ubah maka grafik yang menyatakan hubungan gaya interaksi kedua benda adalah A. B. C. D. E. 2. Sebuah

Lebih terperinci

PENGEMBANGAN TURBIN AIR TYPE CROSS-FLOW DIAMETER RUNNER 400 MM

PENGEMBANGAN TURBIN AIR TYPE CROSS-FLOW DIAMETER RUNNER 400 MM Pusat Penelitian Informatika - LIPI PENGEMBANGAN TURBIN AIR TYPE CROSS-FLOW DIAMETER RUNNER 400 MM Anjar Susatyo Pusat Penelitian Tenaga Listrik Dan Mekatronik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ABSTRAK

Lebih terperinci