UNJUK KERJA PENYAMA TURBO PADA SISTEM CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "UNJUK KERJA PENYAMA TURBO PADA SISTEM CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (CDMA)"

Transkripsi

1 UNJUK KERJA PENYAMA TURBO PADA SISTEM CODE DIVISION Program Studi Tekik Elektro, Fakultas Tekik UKSW Jl. Dipoegoro 52-60, Salatiga INTISARI Peelitia ii bertujua megetahui ujuk kerja peyama turbo pada sistem Code Divisio Multiple Access (CDMA) dalam meguragi BER akibat pegaruh iterferesi. Pada sistem peerima CDMA kovesioal setelah data dikirimka, kemudia diterima da diawasadika, tidak terdapat pegolaha data lebih lajut. Sedagka pada sistem CDMA dega peyama turbo terdapat proses peapisa da pemrosesa data yag telah diawasadika, sehigga laju galat bit data iformasi dapat dikuragi. Hasil peelitia meujukka sistem CDMA yag megguaka peyama turbo dapat meghasilka ilai BER yag lebih kecil dibadigka sistem CDMA kovesioal. Pada ilai Eb/No = 14 db, ilai BER utuk sistem CDMA kovesioal adalah 9, sedagka ilai BER utuk sistem CDMA dega peyama turbo adalah 4, Peelitia juga meujukka bahwa semaki besar jumlah pegulaga dalam sistem peyama turbo, maki besar pula peguraga laju galat bit data iformasi pada sistem CDMA, utuk pegulaga sebayak 4 kali dega ilai Eb/No = 14 db diperoleh ilai BER sebesar 1, PENDAHULUAN Pada sistem komuikasi bergerak seluler, Code Divisio Multiple Access atau CDMA erupaka tekik akses jamak yag megguaka metode spektrum tersebar. Spektrum tersebar yag diguaka dalam sistem CDMA ii adalah Direct-Sequece Spread Spectrum (DS-SS). 107

2 Teché Jural Ilmiah Elektrotekika Vol. 11 No. 2 Oktober 2012 Hal Trasmisi isyarat gelombag melewati beberapa litasa (litasa jamak) atara pegirim da peerima megakibatka isyarat yag diterima megalami perubaha amplitudo. Hal ii dikareaka isyarat tersebut merupaka superposisi isyarat-isyarat dari litasa yag berbeda dega fase yag berbeda. Akibatya terjadi peerimaa kuat isyarat yag bervariasi da acak yag terdistribusi Rayleigh. Pajag litasa da peudaa isyarat yag berbeda-beda megakibatka isyarat litasa jamak sampai pada peerima dega variasi waktu tuda. Sebuah pulsa yag dikirimka oleh pemacar aka diterima oleh peerima buka lagi sebagai sebuah pulsa melaika sebuah pulsa yag meyebar yag disebut delay spread. Delay Spread ii dapat meimbulka Iter-symbol Iterferece (ISI), karea setiap simbol aka salig bertumbuka dega simbol sebelum da sesudahya. Utuk meguragi pegaruh iterferesi da meigkatka kualitas isyarat yag diterima pada sistem CDMA maka diguaka metode ekualisasi atau peyama. Sistem peyama pada umumya terdiri dari peyama liear yag parameter tapisya ditetapka dega algoritma tertetu. Selajutya simbol aka diumpaka ke sistem estimasi yag terdiri dari demodulator, deiterleaver, da pegawasadi [1], [2], [3], [4]. Sistem peyama turbo merupaka sistem peyama adaptif da pegawasadia kaal yag dilakuka secara beruruta dalam beberapa proses pegulaga [3], [4]. Pegguaa sistem peyama turbo pada sistem CDMA diharapka aka mampu meeka agka kesalaha bit iformasi sehigga aka meigkatka kualitas isyarat yag diterima pada sistem CDMA. Nilai BER diguaka utuk melihat perbadiga kierja sistem CDMA yag megguaka metode kovesioal dega CDMA yag megguaka sistem peyama turbo. 2. SISTEM CDMA DENGAN PENYAMA TURBO 2.1. Code Divisio Multiple Access (CDMA) Sistem komuikasi CDMA megguaka tekik Direct Sequece Spread Spectrum (DSSS). Suatu dereta kode yag bersifat acak semu da meyerupai derau dibagkitka utuk meyadika data sebelum dikirimka. Dereta acak semu dibagkitka oleh sebuah pembagkit sadi acak semu atau pseudoradom geerator (PRG) [2]. Dega dereta kode yag berbeda da uik utuk setiap peggua yag berbeda maka sistem CDMA memiliki kemampua utuk melakuka akses jamak yaitu megirimka iformasi dari bayak peggua pada alokasi pita 108

3 frekuesi da waktu yag bersamaa. Agar tidak terjadi iterferesi atar peggua CDMA, setiap peggua memiliki sadi acak semu yag salig orthogoal [5]. Sadi ii disebut sadi acak semu (Pseudoradom Noise) [2]. Gambar 1 meujukka ilustrasi proses pegirima DS-SS. data bier d(t) modulator s d (t) s(t) Gambar 1. Pemacar utuk CDMA. Isyarat iformasi/data bier d(t) dimodulasika sehigga meghasilka isyarat termodulasi s d (t). Proses peebara dilakuka dega megalika isyarat termodulasi s d (t) dega sadi peebar c(t) meghasilka isyarat s(t) Bit-bit sadi peebar disebut sebagai chip [1]. Pada bagia peerima, isyarat yag diterima adalah r(t)yag merupaka s(t) versi tertuda da telah melewati kaal irkabel. Isyarat tersebut dikalika kembali dega isyarat acak semu c (t) yag merupaka salia isyarat c(t) pada bagia pegirim. Isyarat c (t) disebut dega isyarat referesi yag diperoleh dari proses sikroisasi sadi. Jika diasumsika proses sikroisasi terjadi dega sempura, maka c (t)= c(t). Perkalia r(t) dega c(t) meghasilka kembali isyarat iformasi termodulasi BPSK s d (t). Proses medapatka kembali isyarat iformasi termodulasi dari isyarat spektrum tersebar diamaka despreadig. Isyarat s d (t) selajutya didemodulasika utuk memperoleh kembali isyarat iformasi bier d(t). c(t) 2.2. Sistem Peyadia da Pegawasadi Fugsi sistem peyadia dalam sistem komuikasi digital adalah utuk medeteksi da megoreksi kesalaha data yag diterima sehigga kesalaha dalam pegirima data dapat diteka[6]. Sistem peyadia utuk tujua ii adalah peyadia deret terstruktur megguaka Forward Error Correctio (FEC) yag dapat dikelompokka mejadi dua, yaitu peyadia blok da peyadia kovolusioal. Peyadia blok memiliki laju sadi lebih tiggi daripada peyadia kovolusioal, amu peyadia blok memiliki kemampua koreksi kesalaha lebih redah dibadigka peyadia kovolusioal. Pada sistem komuikasi yag 109

4 Teché Jural Ilmiah Elektrotekika Vol. 11 No. 2 Oktober 2012 Hal melewati kaal dega peluag kesalaha tiggi, peyadia kovolusioal lebih serig diguaka [2], [6]. Peyadi kovolusioal terdiri dari register geser, pejumlah modulo-2 da multiplexer [2]. Parameter pada peyadi kovolusioal diyataka dalam laju sadi R yag merupaka perbadiga jumlah bit masuka k terhadap bit keluara da pajag batas (costrait legth, K) yag merupaka jumlah register geser yag diguaka. Algoritma Viterbi merupaka algoritma pegawasadi utuk peyadi kovolusioal, yag cara kerjaya membadigka uruta data yag diterima dega data pada semua jalur pada diagram Trellis. Algoritma Viterbi megguaka prisip maximum likelihood decodig yaitu memilih satu jalur sebagai uruta data yag dikirim jika jalur tersebut memiliki peluag lebih besar dibadigka dega jalur yag lai [1]. Pada algoritma Viterbi ada dua tekik yag bisa dipakai yaitu Hard Decisio Viterbi Decoder da Soft Decisio Viterbi Decoder. Utuk tekik hard decisio masuka terdiri dari dua aras saja sedagka utuk tekik soft decisio masuka terdiri dari aras-aras ilai terkuatisasi. Dalam sistem komuikasi, iterleaver berfugsi utuk megubah uruta data dega atura tertetu [1]. Dega adaya pegubaha uruta data tersebut, maka jika terjadi burst error atau ledaka galat, reteta kesalaha data yag pajag dapat dihidari. Hal ii dikareaka pada saat data diterima aka dilakuka proses de-iterleavig atau peguruta kembali data sesuai uruta semula, sehigga burst error aka mejadi acak, yag aka lebih mudah dikoreksi pada saat proses rekostruksi Sistem Peyama Turbo Sistem peyama turbo merupaka sistem peyama adaptif da pegawasadia kaal yag dilakuka secara beruruta dalam beberapa proses pegulaga [3], [4]. Skema prisip kerja sistem peyama turbo dapat dilihat pada Gambar

5 siyal keluara kaal litasa jamak Modul I Modul II Modul III Modul p data terawasadi tudaa waktu tudaa waktu tudaa waktu Gambar 2. Skema Prisip Kerja Sistem Peyama Turbo. Peyama Turbo pada setiap modul terdiri atas peyama adaptif sebagai Adaptive Iterferece Caceller (AIC), demodulator, deiterleaver, soft-i soft-out (SISO) biary decoder yag berfugsi sebagai pegawasadi sekaligus peyadi, iterleaver, da modulator [4]. Skema peyusu setiap modul dapat dilihat pada Gambar 3. tudaa waktu r p r (p-1) Peyama adaptif demodulator De iterleaver SISO biary decoder Iiterleaver Modulator d p d (p-1) Gambar 3. Struktur Peyama Turbo Pada peyama turbo, mula-mula isyarat traiig dikirimka terlebih dahulu utuk memastika algoritma adaptif koverge. Pada pegulaga yag pertama peyama turbo haya aka medapat masuka dari cuplika isyarat keluara trasmisi r da semua koefisie kaal pada setiap tap masih sama dega ol. Masuka peyama adaptif P(f) adalah isyarat r, da pembaharua koefisie ditetuka oleh P P R G Dˆ 1 (1) 111

6 Teché Jural Ilmiah Elektrotekika Vol. 11 No. 2 Oktober 2012 Hal dega P adalah vektor koefisie tapis saat ii, P +1 adalah vektor koefisie tapis utuk pegulaga selajutya, G adalah vektor keluara tapis P(f) saat ii, D adalah taggapa yag diigika saat ii yag berupa replika isyarat traiig, R adalah vektor masuka peyama saat ii, da μ adalah parameter lagkah atau step size parameter. Koefisie pembobot tapis yag berubah selama proses adaptif berlagsug aka dicari ilai rata-rataya sehigga didapat satu vektor koefisie pembobot yag dipakai utuk meapis isyarat iformasi yag terdistorsi. Setelah melewati proses peapisa, isyarat iformasi aka didemodulasi, lalu data iformasi aka diurutka kembali oleh deiterleaver, diawasadika da kemudia disadika kembali oleh SISO biary coverter, utuk kemudia diacak da dimodulasi kembali sehigga dihasilka simbol estimasi bersama dega isyarat yag diterima adaptif pada modul berikutya, seperti terlihat pada Gambar 4. d. Isyarat estimasi ii r aka mejadi masuka bagi peyama Gambar 4. Struktur Peyama Adaptif Sistem Peyama Turbo Pada modul kedua da selajutya, peyama adaptif tersusu atas dua tapis adaptif, P(f) da Q(f). Utuk setiap perulaga, peyama turbo aka diumpai oleh cuplika isyarat terdistorsi, ( p d 1) berikut. ( p r 1), da cuplika isyarat estimasi modul sebelumya,. Pembaharua koefisie pembobot tapis P(f) da Q(f) megikuti persamaa P Q 1 1 P Q R ( s D ( s P da Q masig-masig adalah vektor koefisie pembobot tapis P(f) da Q(f). μ adalah step size parameter, R da D dˆ dˆ ) ) (2) adalah vektor simbol terdistorsi da simbol estimasi saat ii. Nilai s dˆ ) adalah galat yag merupaka selisih keluara ( 112

7 peyama adaptif, s da simbol estimasi dˆ. Selajutya isyarat s aka megalami proses berulag kembali sehigga dihasilka simbol estimasi baru, d. Nilai MSE(Mea Square Error) utuk tiap perulaga diyataka dega ˆ 2 MSE E s d (3) 2.4. Tapis Adaptif dega Algoritma Least Mea Square (LMS) Least Mea Square (LMS) adalah salah satu algoritma adaptif yag dapat dipakai dalam sistem peyama. Algoritma ii memiliki kelebiha pada perhituga yag tidak terlalu kompleks serta mudah diimplemetasika, amu memiliki kelemaha, dalam hal waktu yag dibutuhka utuk mecapai kodisi koverge [1], [2]. Koverge adalah kodisi saat ilai peubah tak bebas, memiliki ilai tertetu saat ilai peubah bebasya memiliki ilai tak higga. Dalam sistem adaptif kodisi koverge dapat terjadi apabila utuk ilai atau perulaga tak berhigga, ilai MSE tetap pada suatu kostata tertetu. Tapis adaptif yag aka diguaka dalam sistem peyama ii adalah tapis adaptif trasversal isyarat masuka X X -1 X -2 Z -1 Z -1 Z -1 X -N w 0 () w 1 () w 2 () w 0 () Σ y() Mekaisme Pegedali Bobot Adaptif e() Σ d() Gambar 5. Blok Diagram Tapis Adaptif Trasversal [2]. 113

8 Teché Jural Ilmiah Elektrotekika Vol. 11 No. 2 Oktober 2012 Hal Tapis adaptif tersusu atas M tap tapis dega masig-masig koefisie tiap tap disebut w (), ideks = 0,1,2,...,M-1,M-2, meyataka tap ke-. Isyarat x() merupaka masuka yag aka ditapis oleh tapis adaptif. Koefise tapis aka selalu diadaptasi utuk medapatka keluara tapis seperti yag diharapka. Jika d() adalah taggapa yag diigika yaitu represetasi polar simbol bier ke- yag dikirimka, da e() adalah isyarat galat, maka isyarat galat e() adalah selisih atara taggapa yag diigika d(), dega ilai keluara tapis saat ii y(), dituliska e() = d()-y() (4) Dari blok diagram tapis adaptif trasversal di atas da dega memakai algoritma LMS, maka koefisie pembobot tapis utuk perulaga selajutya, diyataka sebagai berikut ŵ(+1) = ŵ() + μx()e() (5) dega w(+1) merupaka pembaharua koefisie pembobot tapis, w() merupaka pembobot tapis saat ii, μ merupaka parameter lagkah adaptasi, x() merupaka masuka yag aka ditapis oleh tapis adaptif, da e() merupaka isyarat galat. Keluara tapis dapat ditulis sebagai y() = x T () + ŵ() (6) Utuk lagkah pertama ilai pembobot tapis saat ii, ŵ() diset 0 pada = 0. Terdapat dua syarat kovergesi yag harus dicapai, yaki kovergesi ilai MSE serta kovergesi ilai rata-rata koefisie pembobot tapis. Nilai berpegaruh pada lamaya proses adaptasi serta ilai MSEyag dicapai pada saat koverge. Pegaruh jumlah tap tapis, M, aka mempegaruhi kovergesi ilai MSE. Kodisi yag harus dipeuhi agar MSE koverge adalah E J[] koverge : 2 0 (7) dega i, i = 1, 2,..., M adalah ilai eige matriks korelasi tap masuka. Kodisi kestabila ii juga dapat diyataka dalam betuk i i (8) Semetara itu, kodisi agar kovergesi rata-rata vektor pembobot tercapai adalah 114 E wˆ [ ] koverge : 2 0 (9) max

9 dega max adalah ilai terbesar matriks korelasi tap masuka. Jika kedua kodisi pada persamaa ii tercapai maka LMS aka koverge. 3. HASIL SIMULASI DAN PEMBAHASAN Gambar 6 meampilka hasil simulasi berupa grafik hubuga BER fugsi Eb/No yag meujukka perbadiga ilai BER sistem CDMA kovesioal dega sistem CDMA megguaka peyama turbo. Nilai BER fugsi Eb/No yag dihasilka sistem CDMA kovesioal dega Sistem CDMA megguaka peyama turbo diperlihatka dalam Tabel 1. Dapat ditujukka bahwa sistem CDMA megguaka peyama turbo memiliki ujuk kerja yag lebih baik dibadig sistem CDMA kovesioal, yaitu meghasilka ilai BER yag lebih redah. Hal ii dikareaka di dalam sistem CDMA yag megguaka peyama turbo terdapat proses peapisa dega peyama adaptif yag tidak terdapat di dalam sistem CDMA kovesioal. Dalam simulasi ii diguaka spesifikasi jumlah litasa jamak 3, jumlah data masuka 1000 bit da jumlah peggua 10. Gambar 6. Grafik Hubuga BER Fugsi Eb/No atara Sistem CDMA Kovesioal dega Sistem CDMA Megguaka Peyama Turbo pada Litasa Jamak da Bayak Peggua 115

10 Teché Jural Ilmiah Elektrotekika Vol. 11 No. 2 Oktober 2012 Hal Tabel 1. Hubuga BER Fugsi Eb/No atara Sistem CDMA Kovesioal dega Sistem CDMA Megguaka Peyama Turbo pada Litasa Jamak. E b /N o (db) BER Kovesioal Peyama Turbo 4 0, , , , , , Peurua BER utuk sistem CDMA megguaka sistem peyama turbo terhadap sistem CDMA kovesioal ditujukka oleh Tabel 2. Tabel 2. Peurua BER Sistem CDMA dega Sistem Peyama Turbo Eb/No (db) Peurua BER (db) 4 0,093 db 8 1,264 db 14 3,134 db. Hasil simulasi utuk peigkata jumlah pegulaga modul pada sistem CDMA megguaka Peyama Turbo ditampilka pada Gambar 7. Dalam sistem peyama turbo dapat dilakuka pegulaga modul, sebagai upaya utuk meigkatka kierjaya. Terdapat eam grafik hasil simulasi dalam BER fugsi Eb/No yag meujukka perbadiga sistem-sistem CDMA kovesioal, sistem CDMA megguaka peyama turbo dega pegulaga modul 1, 2, 3, 4 da 5. Dalam simulasi ii diguaka spesifikasi jumlah litasa jamak 3, jumlah data masuka 1000 bit da jumlah peggua

11 Gambar 7. Grafik Hubuga BER Fugsi Eb/No atara Sistem CDMA Kovesioal dega Sistem CDMA Megguaka Peyama Turbo dega Pegulaga Modul pada Litasa Jamak da Bayak Peggua Gambar 7 memperlihatka bahwa semaki bayak jumlah pegulaga modul dalam sistem peyama turbo, aka memberika ilai BER yag lebih redah. Nilai BER yag dihasilka oleh Gambar 7 di atas dapat dilihat pada Tabel 3. Eb/No (db) Tabel 3 Hubuga BER Fugsi Eb/No Sistem CDMA Kovesioal da CDMA Kovesioal Megguaka Peyama Turbo dega Pegulaga BER Peyama Turbo Modul I Modul II Modul III Modul IV Modul V 4 0, ,4056 0, , , , , ,2135 0, , , , , , , , , , Peigkata kierja dapat terjadi karea adaya sistem peyama adaptif da pegawasadia kaal yag dilakuka secara beruruta dalam beberapa proses pegulaga. Peurua ilai BER utuk sistem CDMA megguaka sistem peyama turbo dega peigkata jumlah pegulaga terhadap sistem CDMA kovesioal secara legkap ditujukka oleh Tabel

12 Teché Jural Ilmiah Elektrotekika Vol. 11 No. 2 Oktober 2012 Hal Tabel 4 Peurua BER Sistem CDMA Megguaka Peyama Turbo dega Pegulaga Modul Terhadap CDMA Kovesioal Eb/No Peurua BER (db) (db) Modul II Modul III Modul IV Modul V 4 0,279 db 0,507 db 1,257 db 2,170 db 8 2,228 db 2,9719 db 6,419 db 9,546 db 14 7,787 db 12,23 db 22,648 db 29,38 db Hasil simulasi utuk perubaha jumlah peggua da jumlah pegulaga modul pada sistem CDMA megguaka peyama turbo ditampilka dalam Gambar 8. Simulasi dilakuka dega jumlah data masuka 1000 bit da jumlah peggua divariasika dari 1-30, pada kaal litasa jamak. Dapat ditujukka bahwa peambaha jumlah peggua aka meigkatka ilai BER, karea iterferesi yag terjadi semaki besar. Utuk megatasi peigkata ilai BER pada jumlah peggua yag bertambah, diperluka peyama turbo yag modul pegulagaya lebih besar. Utuk mempertahaka kierja BER yag sama pada jumlah peggua yag lebih besar diperluka modul perulaga yag lebih bayak, hal ii diperlihatka pada ilai BER dalam Tabel 5. Gambar 8. Grafik BER fugsi Jumlah Peggua pada Sistem CDMA dega Peigkata Peggua Divariasika dari 1-30 Peggua 118

13 Tabel 5. Hubuga BER Fugsi Jumlah Peggua Sistem CDMA Megguaka Peyama Turbo dega ilai Eb/No = 6 db Jumlah Peggua yag Aktif BER Peyama Turbo dega Pegulaga Modul I Modul II Modul III Modul IV Modul V ,010 1, , KESIMPULAN Sistem CDMA megguaka peyama turbo dapat meghasilka ilai BER yag lebih kecil dibadigka sistem CDMA kovesioal. Kierja sistem CDMA dega peyama turbo aka meigkat dega peigkata jumlah pegulaga modul. Peurua ilai BER dalam sistem CDMA megguaka peyama turbo dapat terjadi dikareaka adaya sistem peyama adaptif da pegawasadia kaal yag dilakuka secara beruruta dalam beberapa proses pegulaga, sehigga laju galat bit iformasi akibat pegaruh adaya Iter-symbol Iterferece (ISI) dapat dikuragi. DAFTAR PUSTAKA [1] Goldsmith, Adrea, Wireless Commuicatios, Cambridge Uiversity Press, [2] Rappaport, Theodore S, Wireless Commuicatio System Priciple Ad Practice, 2 d editio, Pretice-Hall, [3] Ruttik, Kalle, Itroductio to Turbo Processig, Commuicatios Laboratory Helsiki Uiversity of Techology, Filad, [4] Wag, Xiaodog, Iterative (Turbo) Soft Iterferece Cacellatio ad Decodig for Coded CDMA, IEEE Trasactios o Commuicatios, vol 47, o.7, Juli [5] Moriaga, Norihiko da Ryuji Koho, Wireless Comuicatio Techologies : New Multimedia Systems, The Kluwer Iteratioal Series i Egieerig ad Computer Sciece, [6] B. Skalar, Digital Commuicatios, Pretice-Hall, New Jersey,

Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah

Bab 3 Kerangka Pemecahan Masalah Bab 3 Keragka Pemecaha Masalah 3.1. Metode Pemecaha Masalah Peelitia ii disajika dalam lagkah-lagkah seperti ag terdapat pada gambar dibawah ii. Peajia secara sistematis dibuat agar masalah ag dikaji dalam

Lebih terperinci

SB/P/BF/14 PERFORMA PERTUMBUHAN IKAN NILA BEST PADA BERBAGAI MEDIA ph

SB/P/BF/14 PERFORMA PERTUMBUHAN IKAN NILA BEST PADA BERBAGAI MEDIA ph SB/P/BF/14 PERFORMA PERTUMBUHAN IKAN NILA BEST PADA BERBAGAI MEDIA ph M.H. Fariduddi Ath-thar, Vitas Atmadi Prakoso, Otog Zeal Arifi, da Rudhy Gustiao Balai Riset Perikaa Budidaya Air Tawar, Jl. Sempur

Lebih terperinci

Solusi Numerik PDP. ( Metode Beda Hingga ) December 9, 2013. Solusi Numerik PDP

Solusi Numerik PDP. ( Metode Beda Hingga ) December 9, 2013. Solusi Numerik PDP ( Metode Beda Higga ) December 9, 2013 Sebuah persamaa differesial apabila didiskritisasi dega metode beda higga aka mejadi sebuah persamaa beda. Jika persamaa differesial parsial mempuyai solusi eksak

Lebih terperinci

SINYAL WAKTU Pengolahan Sinyal Digital Minggu II

SINYAL WAKTU Pengolahan Sinyal Digital Minggu II SINYAL WAKTU Pegolaha Siyal Digital Miggu II 24 Goodrich, Tamassia PENDAHULUAN Defiisi Siyal x(t) Fugsi dari variabel bebas yag memiliki ilai real/skalar yag meyampaika iformasi tetag keadaa atau ligkuga

Lebih terperinci

Oleh: Bambang Widodo, SPd SMA Negeri 9 Yogyakarta

Oleh: Bambang Widodo, SPd SMA Negeri 9 Yogyakarta Oleh: Bambag Widodo, SPd SMA Negeri 9 Yogyakarta PETA KONSEP Prisip Superposisi Liier Sefase π π beda faseya : 0,2, 4,. beda litasa : 0,,2, 3,. terjadi iterferesi Kostruktif/ salig meguatka, amplitudo

Lebih terperinci

PERSEPSI PERAWAT PELAKSANA TENTANG SUPERVISI PIMPINAN RUANG DENGAN PELAKSANAAN SOP PEMBERIAN OBAT PARENTERAL INTRAVENA

PERSEPSI PERAWAT PELAKSANA TENTANG SUPERVISI PIMPINAN RUANG DENGAN PELAKSANAAN SOP PEMBERIAN OBAT PARENTERAL INTRAVENA PERSEPSI PERAWAT PELAKSANA TENTANG SUPERVISI PIMPINAN RUANG DENGAN PELAKSANAAN SOP PEMBERIAN OBAT PARENTERAL INTRAVENA Duwi Basuki STIKES PPNI MOJOKERTO, Jl. Raya Jabo Km 06 Mojoayar- Mojokerto. Email

Lebih terperinci

Fendy Santoso Dosen Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro Universitas Kristen Petra email: fendy@petra.ac.id.

Fendy Santoso Dosen Fakultas Teknologi Industri, Jurusan Teknik Elektro Universitas Kristen Petra email: fendy@petra.ac.id. JURNAL TEKNIK MESIN Vol. 5, No., April 003: 36 4 Perbadiga Kierja Sistem Kotrol Berumpa Balik (Feedbak) Dega Sistem Kotrol Berumpa Maju (Feedfoward) Pada Jariga Peukar Paas (Heat Exhager) Fedy Satoso Dose

Lebih terperinci

SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN TEKNISI LAB DENGAN MULTI KRITERIA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTIC HIERARCHY PROCESS)

SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN TEKNISI LAB DENGAN MULTI KRITERIA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTIC HIERARCHY PROCESS) SISTEM PENGAMBILAN KEPUTUSAN UNTUK PEMILIHAN TEKNISI LAB DENGAN MULTI KRITERIA MENGGUNAKAN METODE AHP (ANALYTIC HIERARCHY PROCESS) Oleh : Adri Suryadi Dia Nurdiaa Abstrak Dalam proses perekruta calo pegawai

Lebih terperinci

[RUMUS CEPAT MATEMATIKA] http://meetabied.wordpress.com

[RUMUS CEPAT MATEMATIKA] http://meetabied.wordpress.com http://meetabied.wordpress.com SMAN Boe-Boe, Luwu Utara, Sul-Sel Setiap pria da waita sukses adalah pemimpipemimpi besar. Mereka berimajiasi tetag masa depa mereka, berbuat sebaik mugki dalam setiap hal,

Lebih terperinci

Hazmira Yozza Izzati Rahmi HG Jurusan Matematika FMIPA Unand

Hazmira Yozza Izzati Rahmi HG Jurusan Matematika FMIPA Unand TEKIK SAMPLIG PCA SEDERHAA Hazmira Yozza Izzati Rahmi HG Jurusa Matematika FMIPA Uad Defiisi : Jika suatu cotoh berukura diambil dari suatu populasi berukura sedemikia rupa sehigga setiap kemugkia cotoh

Lebih terperinci

MODEL SIMULASI NUMERIK HUBUNGAN PANJANG BOBOT IKAN TONGKOL (Auxis thazard) PADA PANGKALAN PENDARATAN IKAN LABUAN BAJO KABUPATEN DONGGALA

MODEL SIMULASI NUMERIK HUBUNGAN PANJANG BOBOT IKAN TONGKOL (Auxis thazard) PADA PANGKALAN PENDARATAN IKAN LABUAN BAJO KABUPATEN DONGGALA J. Agrolad 16 (3) : 74-8, September 009 ISSN : 0854 641X MODEL SIMULASI NUMERIK HUBUNGAN PANJANG BOBOT IKAN TONGKOL (Aus thazard) PADA PANGKALAN PENDARATAN IKAN LABUAN BAJO KABUPATEN DONGGALA Numerical

Lebih terperinci

Cara Pengisian Pada File Excel

Cara Pengisian Pada File Excel Cara Pegisia Pada ile Excel Pada tabel realisasi da keuaga ias Pekerjaa Umum Bia Marga Propisi Jawa Timur ii terdiri dari beberapa kolom seperti dibawah ii: atker Tahu Bula Adapu cara pegisia dari masig-masig

Lebih terperinci

MULTIDIMENSI PADA DATA WAREHOUSE DENGAN MENGGUNAKAN RUMUS KOMBINASI

MULTIDIMENSI PADA DATA WAREHOUSE DENGAN MENGGUNAKAN RUMUS KOMBINASI MULTIDIMENSI PADA DATA WAREHOUSE DENGAN MENGGUNAKAN RUMUS KOMBINASI Spits Warars Harco Leslie Hedric Fakultas Tekologi Iformasi, Uiversitas Budi Luhur E-mail: spits@bl.ac.id ABSTRACT Multidimesioal i data

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI.1 Pegertia da Maksud Irigasi Irigasi berasal dari istilah irrigatie dalam bahasa Belada atau irrigatio dalam bahasa Iggris. Irigasi dapat diartika sebagai suatu usaha yag dilakuka

Lebih terperinci

BAB 4: PELUANG DAN DISTRIBUSI NORMAL.

BAB 4: PELUANG DAN DISTRIBUSI NORMAL. BAB 4: PELUANG DAN DISTRIBUSI NORMAL. PELUANG Peluag atau yag biasa juga disebut dega istilah keugkia, probablilitas, atau kas eujukka suatu tigkat keugkia terjadiya suatu kejadia yag diyataka dala betuk

Lebih terperinci

PEMBUKTIAN TEOREMA HUKUM LEMAH BILANGAN BESAR DENGAN MENGGUNAKAN FUNGSI KARAKTERISTIK

PEMBUKTIAN TEOREMA HUKUM LEMAH BILANGAN BESAR DENGAN MENGGUNAKAN FUNGSI KARAKTERISTIK Jural Matematika UNAND Vol. 2 No. 2 Hal. 71 75 ISSN : 2303 2910 c Jurusa Matematika FMIPA UNAND PEMBUKTIAN TEOREMA HUKUM LEMAH BILANGAN BESAR DENGAN MENGGUNAKAN FUNGSI KARAKTERISTIK SUCI SARI WAHYUNI,

Lebih terperinci

Program Bonus Mempertahankan Tingkat Pencapaian Dalam Rangka Pembelian Kendaraan Bermotor (Program Kendaraan Bermotor)

Program Bonus Mempertahankan Tingkat Pencapaian Dalam Rangka Pembelian Kendaraan Bermotor (Program Kendaraan Bermotor) Program Bous Mempertahaka Tigkat Pecapaia Dalam Ragka Pembelia Kedaraa Bermotor (Program Kedaraa Bermotor) Perusahaa : PT. Family Member Group Idoesia (FM Group Idoesia) Mulai Program : 1 Jauari 2015 Kualifikasi

Lebih terperinci

NILAI MAKSIMUM DARI KOEFISIEN KORELASI. hanggamula@yahoo.com ABSTRACT 1. PENDAHULUAN

NILAI MAKSIMUM DARI KOEFISIEN KORELASI. hanggamula@yahoo.com ABSTRACT 1. PENDAHULUAN NILAI MAKSIMUM DARI KOEFISIEN KORELASI Hagga Mula Kuria *, Firdaus, Sigit Sugiarto haggamula@yahoo.com Mahasiswa program Studi S Matematika Dose Jurusa Matematika FMIPA-UR Jurusa Matematika Fakultas Matematika

Lebih terperinci

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN WAJIB PAJAK PEKERJAAN BEBAS UNTUK MEMBAYAR PAJAK PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA ILIR TIMUR PALEMBANG

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN WAJIB PAJAK PEKERJAAN BEBAS UNTUK MEMBAYAR PAJAK PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA ILIR TIMUR PALEMBANG FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPATUHAN WAJIB PAJAK PEKERJAAN BEBAS UNTUK MEMBAYAR PAJAK PADA KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA ILIR TIMUR PALEMBANG Abstrak Mawadda Warohmah (Mwd_16@yahoo.com) Rika Lidyah

Lebih terperinci

Buku Padua Belajar Maajeme Keuaga Chapter 0 KONSEP NILAI WAKTU UANG. Pegertia. Nilai Uag meurut waktu, berarti uag hari ii lebih baik / berharga dari pada ilai uag dimasa medatag pada harga omial yag sama.

Lebih terperinci

RingkasanKajian. Sanitasi dan perilaku kebersihan yang buruk. Pada dekade-dekade sebelumnya, Indonesia. Air Bersih, Sanitasi & Kebersihan.

RingkasanKajian. Sanitasi dan perilaku kebersihan yang buruk. Pada dekade-dekade sebelumnya, Indonesia. Air Bersih, Sanitasi & Kebersihan. UNICEF INDONESIA OKTOBER 2012 RigkasaKajia Air Bersih, Saitasi & Kebersiha Isu petig Saitasi da perilaku kebersiha yag buruk serta air mium yag tidak ama berkotribusi terhadap 88 perse kematia aak akibat

Lebih terperinci

PERENCANAAN ANALISIS UNJUK KERJA WIDEBAND CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (WCDMA)PADA KANAL MULTIPATH FADING

PERENCANAAN ANALISIS UNJUK KERJA WIDEBAND CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (WCDMA)PADA KANAL MULTIPATH FADING Widya Teknika Vol.19 No. 1 Maret 2011 ISSN 1411 0660 : 34 39 PERENCANAAN ANALISIS UNJUK KERJA WIDEBAND CODE DIVISION MULTIPLE ACCESS (WCDMA)PADA KANAL MULTIPATH FADING Dedi Usman Effendy 1) Abstrak Dalam

Lebih terperinci

Bab 5 Sinyal dan Sistem Waktu Diskrit. Oleh: Tri Budi Santoso Laboratorium Sinyal, EEPIS-ITS

Bab 5 Sinyal dan Sistem Waktu Diskrit. Oleh: Tri Budi Santoso Laboratorium Sinyal, EEPIS-ITS Bab 5 Siyal da Sistem Watu Disrit Oleh: Tri Budi Satoso Laboratorium Siyal, EEPIS-ITS Materi: Represetasi matemati pada siyal watu disrit, domai watu da freuesi pada suatu siyal watu disrit, trasformasi

Lebih terperinci

Analisa Perhitungan Perencanaan Pengendalian Produksi Dengan metode Economic Production Quantity(EPQ) Pada PT XYZ

Analisa Perhitungan Perencanaan Pengendalian Produksi Dengan metode Economic Production Quantity(EPQ) Pada PT XYZ Aalisa Perhituga Perecaaa Pegedalia Produksi Dega metode Ecoomic Productio Quatity(EPQ) Pada PT XYZ Erry Rimawa Program Studi Tekik Idustri Fakultas Tekik, Uiversitas Mercu Buaa ABSTRAK PT Citra Abadi

Lebih terperinci

UNJUK KERJA KODE-KODE PENEBAR DIRECT SEQUENCE CDMA PADA KANAL MULTIPATH FADING

UNJUK KERJA KODE-KODE PENEBAR DIRECT SEQUENCE CDMA PADA KANAL MULTIPATH FADING TUGAS AKHIR UNJUK KERJA KODE-KODE PENEBAR DIRECT SEQUENCE CDMA PADA KANAL MULTIPATH FADING Diajukan Guna Melengkapi Sebagian Syarat Dalam mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) Disusun Oleh : Nama : Fryanli

Lebih terperinci

Ruang Banach. Sumanang Muhtar Gozali UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

Ruang Banach. Sumanang Muhtar Gozali UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Ruag Baach Sumaag Muhtar Gozal UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA Satu kose etg d kulah Aalss ugsoal adalah teor ruag Baach. Pada baga aka drevu defs, cotoh-cotoh, serta sfat-sfat etg ruag Baach. Kta aka

Lebih terperinci

A B S T R A K. Setiap teori integral selalu memuat masalah sebagai. berikut. Jika untuk setiap n berlaku fungsi f n

A B S T R A K. Setiap teori integral selalu memuat masalah sebagai. berikut. Jika untuk setiap n berlaku fungsi f n INTEGRAL TAK MUTLAK A B S T R A K Seti teori itegral selalu memuat masalah sebagai berikut. Jika utuk seti berlaku fugsi f teritegral da barisa fugsi {f } koverge ke f hampir di maa-maa pada selag (a,b),

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KOMUNIKASI KOOPERATIF PENGGUNA PADA SISTEM KOMUNIKASI NIRKABEL

ANALISIS KINERJA KOMUNIKASI KOOPERATIF PENGGUNA PADA SISTEM KOMUNIKASI NIRKABEL KITEKTRO: Jurnal Online Teknik Elektro 18 e-issn: 2252-7036 Vol.1 No.2 2012: 18-24 ANALISIS KINERJA KOMUNIKASI KOOPERATIF PENGGUNA PADA SISTEM KOMUNIKASI NIRKABEL Mayliana 1) dan Nasaruddin 2) Jurusan

Lebih terperinci

LAPORAN BARANG MILIK NEGARA

LAPORAN BARANG MILIK NEGARA BAGIAN ANGGARAN 005.03 BADAN URUSAN ADMINISTRASI MAHKAMAH AGUNG REPUBLIK INDONESIA opetbs1 LAPORAN BARANG MILIK NEGARA UNIT AKUNTANSI KUASA PENGGUNA BARANG PENGADILAN NEGERI SIBOLGA LAPORAN SEMESTER I

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN

BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN BAB 2 TINJAUAN KEPUSTAKAAN 2.1 Pegertia Rumah Susu Rumah susu merupaka bagua gedug bertigkat yag dibagu dalam suatu ligkuga yag terbagi dalam bagia-bagia yag distrukturka secara fugsioal dalam arah horizotal

Lebih terperinci

InfoPOM PENGOBATAN SENDIRI. Editorial. Vol. 5, No. 6, November 2004 ISSN 1829-9334

InfoPOM PENGOBATAN SENDIRI. Editorial. Vol. 5, No. 6, November 2004 ISSN 1829-9334 IfoPOM BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAANAN REPUBLI INDONESIA Vol. 5, No. 6, November 04 ISSN 8299334 Editorial Pembaca yag terhormat, Sekarag ii, dimaapu dia berada, kosume aka berusaha megatasi sediri masalah

Lebih terperinci

CATATAN KULIAH Pertemuan VII: Konsep Total Derivatif dan Aplikasinya pada Komparatif Statik

CATATAN KULIAH Pertemuan VII: Konsep Total Derivatif dan Aplikasinya pada Komparatif Statik CATATAN KULIAH ertemua VII: Kosep Total erivati a Aplikasia paa Komparati tatik A. ieresial Masalah ag ihaapi: Bagaimaa aalisis komparati-statik jika tiak aa solusi betuk-rigkas reuce-orm ikareaka oleh

Lebih terperinci

UNJUK KERJA MULTI-CODE MULTICARRIER CDMA PADA KANAL MULTIPATH FADING. Intisari

UNJUK KERJA MULTI-CODE MULTICARRIER CDMA PADA KANAL MULTIPATH FADING. Intisari UNJUK KERJA MULTI-CODE MULTICARRIER CDMA PADA KANAL MULTIPATH FADING Eva Yovita Dwi Utami Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik UKSW Jalan Diponegoro 52-6, Salatiga 5711 Intisari Sistem yang diteliti

Lebih terperinci

NILAI AKUMULASI ANUITAS AKHIR DENGAN ASUMSI DISTRIBUSI UNIFORM UNTUK m KALI PEMBAYARAN

NILAI AKUMULASI ANUITAS AKHIR DENGAN ASUMSI DISTRIBUSI UNIFORM UNTUK m KALI PEMBAYARAN NILAI AKUMULASI ANUITAS AKHIR DENGAN ASUMSI DISTRIBUSI UNIFORM UNTUK m KALI PEMBAYARAN Nomi Kelari *, Hasriai 2, Musraii 2 Mahasiswa Program S Maemaika 2 Dose Jurusa Maemaika Fakulas Maemaika da Ilmu Pegeahua

Lebih terperinci

UKURAN GEJALA PUSAT (UGP)

UKURAN GEJALA PUSAT (UGP) UKURAN GEJALA PUSAT (UGP) Pegerta: Rata-rata (average) alah suatu la yag mewakl suatu kelompok data. Nla dsebut juga ukura gejala pusat karea pada umumya mempuya kecederuga terletak d tegah-tegah da memusat

Lebih terperinci

MODEL FISIK BANGUNAN PENGAMAN PILAR JEMBATAN AKIBAT ALIRAN DEBRIS

MODEL FISIK BANGUNAN PENGAMAN PILAR JEMBATAN AKIBAT ALIRAN DEBRIS Jural Sais da Pedidika. No. (4) 5-8 MODEL FISIK BANGUNAN PENGAMAN PILAR JEMBATAN AKIBAT ALIRAN DEBRIS Awar Maasiswa Program Magister Tekik Sipil, Program Pascasarjaa, Uiversitas Lampug Abstract: Alira

Lebih terperinci

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER

JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER STATISTIK CUKUP Oleh: Ramayai Rizka M (11810101003), Dey Ardiao (1181010101), Ikfi Ulyawai (1181010103), Falviaa Yulia Dewi (1181010106), Ricki Dio Rosada (11810101034), Nurma Yuia D (11810101035), Wula

Lebih terperinci

LANGKAH-LANGKAH UJI HIPOTESIS DENGAN 2 (Untuk Data Nominal)

LANGKAH-LANGKAH UJI HIPOTESIS DENGAN 2 (Untuk Data Nominal) LANGKAH-LANGKAH UJI HIPOTESIS DENGAN (Utuk Data Nomal). Merumuska hpotess (termasuk rumusa hpotess statstk). Data hasl peelta duat dalam etuk tael slag (tael frekues oservas) 3. Meetuka krtera uj atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.2 Tujuan

BAB I PENDAHULUAN. 1.2 Tujuan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Radio Over Fiber (RoF) merupakan teknologi dimana sinyal microwave (listrik) didistribusikan menggunakan media dan komponen optik. Sinyal listrik digunakan

Lebih terperinci

MODEL PEMBELAJARAN DRAMA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK GANTI TOKOH PADA SISWA KELAS XI SMAN 1 KARANGPAWITAN GARUT TAHUN PELAJARAN 2011/2012

MODEL PEMBELAJARAN DRAMA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK GANTI TOKOH PADA SISWA KELAS XI SMAN 1 KARANGPAWITAN GARUT TAHUN PELAJARAN 2011/2012 MODEL PEMBELAJARAN DRAMA DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK GANTI TOKOH PADA IWA KELA XI MAN KARANGPAWITAN GARUT TAHUN PELAJARAN 0/0 EMA ROHMAWATI NPM. 0.0499 Program tudi PB Idoeia ekolah Tiggi Kegurua da Ilmu

Lebih terperinci

review Tsunami: belajar dari respons kemanusiaan Edisi khusus

review Tsunami: belajar dari respons kemanusiaan Edisi khusus Edisi khusus Agustus 2005 review Tsuami: belajar dari respos kemausiaa Forced Migratio Review: majalah yag megupas tetag isu-isu pegugsi da perpidaha iteral dega jumlah pembaca terbayak di duia Forced

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Pengolahan Citra Digital Kode : IES 6323 Semester : VI Waktu : 1 x 3x 50 Menit Pertemuan : 12

SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Pengolahan Citra Digital Kode : IES 6323 Semester : VI Waktu : 1 x 3x 50 Menit Pertemuan : 12 SATUAN ACARA PERKULIAHAN ( SAP ) Mata Kuliah : Pegolaha Citra Digital Kode : IES 6323 Seester : VI Waktu : 1 x 3x 50 Meit Perteua : 12 A. Kopetesi 1. Utaa Mahasiswa dapat eahai tetag siste pegolaha citra

Lebih terperinci

ANALISIS TINGKAT PELAYANAN JARINGAN JALAN DI KOTA WONOSOBO (STUDI KASUS PADA BEBERAPA RUAS JALAN DI KOTA WONOSOBO)

ANALISIS TINGKAT PELAYANAN JARINGAN JALAN DI KOTA WONOSOBO (STUDI KASUS PADA BEBERAPA RUAS JALAN DI KOTA WONOSOBO) ANALISIS TINGKAT PELAYANAN JARINGAN JALAN DI KOTA WONOSOBO (STUDI KASUS PADA BEBERAPA RUAS JALAN DI KOTA WONOSOBO oleh Hermawa Fakultas Tekik Uiversitas Sais Al-Qur a Woosobo Abstract City Growth has effect

Lebih terperinci

Pembuatan Kebijakan Keamananan Nasional dan Gender

Pembuatan Kebijakan Keamananan Nasional dan Gender Tool 8 Toolkit Geder da RSK Reformasi Sektor Keamaa da Geder Pembuata Kebijaka Keamaaa Nasioal da Geder Peter Albrecht da Kare Bares Geeva Cetre for the Democratic Cotrol of Armed Forces (DCAF) Pembuata

Lebih terperinci

ANALISIS UNJUK KERJA MEDIAN FILTER PADA CITRA DIGITAL UNTUK PENINGKATAN KUALITAS CITRA

ANALISIS UNJUK KERJA MEDIAN FILTER PADA CITRA DIGITAL UNTUK PENINGKATAN KUALITAS CITRA ANALISIS UNJUK KERJA MEDIAN FILTER PADA CITRA DIGITAL UNTUK PENINGKATAN KUALITAS CITRA Indrawati Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Lhokseumawe Jl. Banda Aceh-Medan Km. 280 Buketrata-Lhokseumawe

Lebih terperinci

ANALISIS BEDA Fx F.. S u S g u i g y i an a t n o t da d n a Ag A u g s u Su S s u wor o o

ANALISIS BEDA Fx F.. S u S g u i g y i an a t n o t da d n a Ag A u g s u Su S s u wor o o ANALII BEDA Fx. ugiyao da Agus usworo Kosep Peeliia bermaksud meguji keadaa (sesuau) yag erdapa dalam suau kelompok dega kelompok lai Meguji apakah erdapa perbedaa yg Meguji apakah erdapa perbedaa yg sigifika

Lebih terperinci

ANALISIS BEDA. Konsep. Uji t (t-test) Teknik Uji Beda. Agus Susworo Dwi Marhaendro

ANALISIS BEDA. Konsep. Uji t (t-test) Teknik Uji Beda. Agus Susworo Dwi Marhaendro ANALII BEA Agus usworo wi Marhaedro Kosep Peeliia bermaksud meguji keadaa (sesuau) yag erdapa dalam suau kelompok dega kelompok lai Meguji apakah erdapa perbedaa yg sigifika di aara kelompok-kelompok Tekik

Lebih terperinci

PERBAIKAN KUALITAS CITRA BERWARNA DENGAN METODE DISCRETE WAVELET TRANSFORM (DWT)

PERBAIKAN KUALITAS CITRA BERWARNA DENGAN METODE DISCRETE WAVELET TRANSFORM (DWT) PERBAIKAN KUALITAS CITRA BERWARNA DENGAN METODE DISCRETE WAVELET TRANSFORM (DWT) ABSTRAK Silvester Tena Jurusan Teknik Elektro Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana Jl. Adisucipto- Penfui

Lebih terperinci

JENIS-JENIS REGISTER (Tugas Sistem Digital)

JENIS-JENIS REGISTER (Tugas Sistem Digital) JENIS-JENIS REGISTER (Tugas Sistem Digital) Oleh: EKO SARIYANTO 0917041026 SITI KHOLIFAH 1017041042 JURUSAN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS LAMPUNG 2013 Register adalah

Lebih terperinci

PENGARUH BUANGAN PABRIK TERHADAP KANDUNGAN PESTISIDA DAN LOGAM BERAT AIR KALI CIPINANG - SUNTER JAKARTA

PENGARUH BUANGAN PABRIK TERHADAP KANDUNGAN PESTISIDA DAN LOGAM BERAT AIR KALI CIPINANG - SUNTER JAKARTA Presidig Presetasi lmiah Kcselamata Radiasi da Ligkugaii,20-2 Agustus 996 D0000 PENGARUH BUANGAN PABRK TERHADAP KANDUNGAN PESTSDA DAN LOGAM BERAT AR KAL CPNANG - SUNTER JAKARTA ) OoOOtOO Ulfa, T. Syahrir,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman PENGANTAR. BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Landasan Hukum 1 1.3 Maksud dantujuan 3 1.4 Sistematika Penulisan 3

DAFTAR ISI. Halaman PENGANTAR. BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakang 1 1.2 Landasan Hukum 1 1.3 Maksud dantujuan 3 1.4 Sistematika Penulisan 3 DAFTAR ISI Halama PENGANTAR i DAFTAR ISI ii BAB I PENDAHULUAN 1 1.1 Latar Belakag 1 1.2 Ladasa Hukum 1 1.3 Maksud datujua 3 1.4 Sistematika Peulisa 3 BAB II GAMBARAN PELAYANAN SKPD 4 2.1 Tugas,Fugsi da

Lebih terperinci

Hitung Perataan Kuadrat Terkecil (Least Squares Adjustment)

Hitung Perataan Kuadrat Terkecil (Least Squares Adjustment) Hitung Perataan Kuadrat Terkecil (Least Squares Adjustment) Metoda Kuadrat Terkecil adalah salah satu metoda yang paling populer dalam menyelesaikan masalah hitung perataan. Aplikasi pertama perataan kuadrat

Lebih terperinci

UNJUK KERJA TRAFFIC PADA SISTEM TELEKOMUNIKASI SELULAR BERBASIS CDMA AREA MALANG

UNJUK KERJA TRAFFIC PADA SISTEM TELEKOMUNIKASI SELULAR BERBASIS CDMA AREA MALANG ABSTRAK UNJUK KERJA TRAFFIC PADA SISTEM TELEKOMUNIKASI SELULAR BERBASIS CDMA AREA MALANG Disusun oleh : Sugiono UNISMA MALANG Sistem komunikasi selular adalah sistem komunikasi wireless dimana subscriber

Lebih terperinci

TOLERANSI UNJUK PENGENALAN JARINGAN SYARAF TIRUAN PADA PENAMBAHAN DERAU DAN SUDUT PUTARAN TERHADAP POLA KARAKTER TULISAN TANGAN JENIS ANGKA

TOLERANSI UNJUK PENGENALAN JARINGAN SYARAF TIRUAN PADA PENAMBAHAN DERAU DAN SUDUT PUTARAN TERHADAP POLA KARAKTER TULISAN TANGAN JENIS ANGKA Iwan Suhardi, Toleransi Jaringan Syaraf Tiruan TOLERANSI UNJUK PENGENALAN JARINGAN SYARAF TIRUAN PADA PENAMBAHAN DERAU DAN SUDUT PUTARAN TERHADAP POLA KARAKTER TULISAN TANGAN JENIS ANGKA Iwan Suhardi Jurusan

Lebih terperinci

PERMASALAHAN AUTOKORELASI PADA ANALISIS REGRESI LINIER SEDERHANA

PERMASALAHAN AUTOKORELASI PADA ANALISIS REGRESI LINIER SEDERHANA Jurnal Matematika UNAND Vol. 2 No. 2 Hal. 26 34 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PERMASALAHAN AUTOKORELASI PADA ANALISIS REGRESI LINIER SEDERHANA NADIA UTIKA PUTRI, MAIYASTRI, HAZMIRA

Lebih terperinci

PENERAPAN ANALISIS FAKTOR KONFIRMATORI STRUCTURAL EQUATION MODELING PADA MODEL HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DAN TEKANAN DARAH

PENERAPAN ANALISIS FAKTOR KONFIRMATORI STRUCTURAL EQUATION MODELING PADA MODEL HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK DAN TEKANAN DARAH Jurnal Matematika UNAND Vol. 3 No. 2 Hal. 34 43 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PENERAPAN ANALISIS FAKTOR KONFIRMATORI STRUCTURAL EQUATION MODELING PADA MODEL HUBUNGAN KEBIASAAN MEROKOK

Lebih terperinci

data telah diorganisasikan melalui komputer, dibandingkan dengan cara pengiriman biasa.

data telah diorganisasikan melalui komputer, dibandingkan dengan cara pengiriman biasa. Paper I KOMUNIKASI DATA Pertama kali komputer ditemukan, ia belum bisa berkomunikasi dengan sesamanya. Pada saat itu komputer masih sangat sederhana. Berkat kemajuan teknologi di bidang elektronika, komputer

Lebih terperinci

Teknik Operasional PCM 30

Teknik Operasional PCM 30 KODE MODUL TS.010 SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BIDANG KEAHLIAN TEKNIK TELEKOMUNIKASI PROGRAM KEAHLIAN TEKNIK SUITSING Teknik Operasional PCM 30 BAGIAN PROYEK PENGEMBANGAN KURIKULUM DIREKTORAT PENDIDIKAN MENENGAH

Lebih terperinci

Deteksi dan Koreksi Error

Deteksi dan Koreksi Error BAB 10 Deteksi dan Koreksi Error Setelah membaca bab ini, diharapkan pembaca memperoleh wawasan tentang: beberapa jenis kesalahan (error); teknik deteksi error; teknik memperbaiki error. 2 Deteksi dan

Lebih terperinci

Identifikasi Jenis Cairan Dengan Metode Serapan Panjang Gelombang Dan JST- RBF

Identifikasi Jenis Cairan Dengan Metode Serapan Panjang Gelombang Dan JST- RBF Seminar on Intelligent Technology and Its Applications 008 ISBN 978-979-8897-4-5 Identifikasi Jenis Cairan Dengan Metode Serapan Panjang Gelombang Dan JST- RBF Riny Sulistyowati.), Muhammad Rivai ) ) Jurusan

Lebih terperinci

KETENTUAN UMUM KEGIATAN

KETENTUAN UMUM KEGIATAN KLASIFIK ASI RUANG DESKRIPSI er : Modul Terapa, Pedom a Kriteria Tekis Kawasa Budi Daya, Peratur a Meter i Pekerja a Umum No. 41/PRT /M/20 07) 2. Kawasa yag diperu tukka bagi taama paga laha kerig utuk

Lebih terperinci

ANALISIS TANGGAPAN PERALIHAN

ANALISIS TANGGAPAN PERALIHAN 54 IV ANALISIS TANGGAPAN PERALIHAN Dekrii : Bab ii memberika gambara tetag aalii taggaa eraliha utuk item ore atu, ore ua a ore tiggi Objektif : Memahami bab ii aka memermuah embaca utuk memahami riirii

Lebih terperinci

dan RBF pada pengendalian plant suhu secara online. I. PENDAHULUAN

dan RBF pada pengendalian plant suhu secara online. I. PENDAHULUAN Perbandingan Unjuk Kerja Jaringan Syaraf Tiruan CMAC (Cerrebellar Model Articulation Controller) dan RBF (Radial Basis Function) pada Pengendalian Plant Suhu secara On Line Amin Fauzan 1, Iwan Setiawan,ST.

Lebih terperinci

KONSEP FREKUENSI SINYAL WAKTU KUNTINYU & WAKTU DISKRIT

KONSEP FREKUENSI SINYAL WAKTU KUNTINYU & WAKTU DISKRIT KONSEP FREKUENSI SINYAL WAKTU KUNTINYU & WAKTU DISKRIT Sinyal Sinusoidal Waktu Kontinyu T=/F A A cos X Acos Ft a 0 t t Sinyal dasar Eksponensial dng α imajiner X Ae a j t Ω = πf adalah frekuensi dalam

Lebih terperinci

Titik Berat. da y. Suatu elemen da

Titik Berat. da y. Suatu elemen da Titik Berat da Suatu eleme da Titik erat atau pusat suatu luasa adala suatu titik dimaa luasa terkosetrasi da tetap meiggalka mome ag tidak erua teradap semarag sumu. Pada umuma leak titik erat diataka

Lebih terperinci

INFERENSI DATA UJI HIDUP TERSENSOR TIPE II BERDISTRIBUSI RAYLEIGH. Oleh : Tatik Widiharih 1 Wiwin Mardjiyati 2

INFERENSI DATA UJI HIDUP TERSENSOR TIPE II BERDISTRIBUSI RAYLEIGH. Oleh : Tatik Widiharih 1 Wiwin Mardjiyati 2 INFERENSI DAA UJI HIDUP ERSENSOR IPE II BERDISRIBUSI RAYLEIGH Oleh : ak Wdhah Ww Madjya Saf Pogam Sud Saska FMIPA UNDIP Alum Pogam Sud Saska FMIPA UNDIP Absac Aalyss of lfe me s oe of sascal aalyss whch

Lebih terperinci

PEMODELAN FREKUENSI NON SELECTIVE CHANNEL DENGAN EXTENDED SUZUKI PROSES TIPE II

PEMODELAN FREKUENSI NON SELECTIVE CHANNEL DENGAN EXTENDED SUZUKI PROSES TIPE II PEMODELAN FREKUENSI NON SELECTIVE CHANNEL DENGAN EXTENDED SUZUKI PROSES TIPE II Hendro S / 0422055 Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Univeristas Kristen Maranatha Jln. Prof. Drg. Suria Sumantri

Lebih terperinci

Daftar Isi i ii Jaringan Komputer Daftar Isi iii JARINGAN KOMPUTER Oleh : Jonathan Lukas Edisi Pertama Cetakan Pertama, 2006 Hak Cipta Ó 2006 pada penulis, Hak Cipta dilindungi undang-undang. Dilarang

Lebih terperinci

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH

BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH BAB 3 LANGKAH PEMECAHAN MASALAH 3.1 Penetapan Kriteria Optimasi Optimasi adalah persoalan yang sangat penting untuk diterapkan dalam segala sistem maupun organisasi. Dengan optimalisasi pada sebuah sistem

Lebih terperinci

PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI SUBSCRIBER STATION BERBASIS STANDAR TEKNOLOGI LONG-TERM EVOLUTION

PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI SUBSCRIBER STATION BERBASIS STANDAR TEKNOLOGI LONG-TERM EVOLUTION LAMPIRAN II PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS ALAT DAN PERANGKAT TELEKOMUNIKASI BERBASIS STANDAR TEKNOLOGI LONG-TERM EVOLUTION

Lebih terperinci

PERAMALAN DATA NILAI EKSPOR NON MIGAS INDONESIA KE WILAYAH ASEAN MENGGUNAKAN MODEL EGARCH

PERAMALAN DATA NILAI EKSPOR NON MIGAS INDONESIA KE WILAYAH ASEAN MENGGUNAKAN MODEL EGARCH PERAMALAN DATA NILAI EKSPOR NON MIGAS INDONESIA KE WILAYAH ASEAN MENGGUNAKAN MODEL EGARCH, Universitas Negeri Malang E-mail: die_gazeboy24@yahoo.com Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui model

Lebih terperinci

Information Systems KOMUNIKASI DATA. Dosen Pengampu : Drs. Daliyo, Dipl. Comp. DISUSUN OLEH:

Information Systems KOMUNIKASI DATA. Dosen Pengampu : Drs. Daliyo, Dipl. Comp. DISUSUN OLEH: Information Systems KOMUNIKASI DATA Dosen Pengampu : Drs. Daliyo, Dipl. Comp. DISUSUN OLEH: Nama : Muh. Zaki Riyanto Nim : 02/156792/PA/08944 Program Studi : Matematika JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA

Lebih terperinci

Analisis Ragam & Rancangan Acak Lengkap Statistik (MAM 4137)

Analisis Ragam & Rancangan Acak Lengkap Statistik (MAM 4137) 10th Meeting Analisis Ragam & Rancangan Acak Lengkap Statistik (MAM 4137) by Ledhyane I.H Tujuan Instruksional Khusus Mahasiswa akan dapat menggunakan rangkaian prosedur percobaan dengan menggunakan analisis

Lebih terperinci

SPAUN SUS 21 F Router Kabel Tunggal

SPAUN SUS 21 F Router Kabel Tunggal LAPORAN UJI Solusi Satu Kabel untuk Satelit dan Terestrial SPAUN SUS 21 F Router Kabel Tunggal Menggunakan dua frekuensi tetap untuk memancarkan transponder satelit yang diinginkan Mengurangi kebutuhan

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 SINYAL DASAR ATAU FUNGSI SINGULARITAS Sinyal dasar atau fungsi singularitas adalah sinyal yang dapat digunakan untuk menyusun atau mempresentasikan sinyal-sinyal yang lain. Sinyal-sinyal

Lebih terperinci

Bab 2 Pengenalan Tentang Sistem

Bab 2 Pengenalan Tentang Sistem Bab 2 Pengenalan Tentang Sistem Tujuan: Siswa mampu menggambarkan konsep dasar sebuah sistem, sifat-sifat dasar sistem dan pengertian sistem waktu diskrit. Siswa mampu membedakan sistem waktu kontinyu

Lebih terperinci

IT233-Organisasi dan Arsitektur Komputer Pertemuan 4

IT233-Organisasi dan Arsitektur Komputer Pertemuan 4 MEMORI KOMPUTER Jika CPU merupakan otak dari sebuah komputer, maka memory merupakan komponen pembantu kerja CPU dalam melakukan kegiatan pemrosesan data atau pengeksekusian sebuah perintah. Program dan

Lebih terperinci

TEKNIK PENYEMBUNYIAN PESAN TEKS PADA MEDIA CITRA GIF DENGAN METODE LEAST SIGNIFICANT BIT (LSB)

TEKNIK PENYEMBUNYIAN PESAN TEKS PADA MEDIA CITRA GIF DENGAN METODE LEAST SIGNIFICANT BIT (LSB) TEKNIK PENYEMBUNYIAN PESAN TEKS PADA MEDIA CITRA GIF DENGAN METODE LEAST SIGNIFICANT BIT (LSB) Hasiholan Manurung (0911765) Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika STMIK Budi Darma Medan Jl. Sisingamangaraja

Lebih terperinci

APLIKASI PENGHITUNG JUMLAH PENGUNJUNG OBYEK WISATA DENGAN WEBCAM

APLIKASI PENGHITUNG JUMLAH PENGUNJUNG OBYEK WISATA DENGAN WEBCAM APLIKASI PENGHITUNG JUMLAH PENGUNJUNG OBYEK WISATA DENGAN WEBCAM Oleh : Idhawati Hestiningsih, Tri Raharjo Yudantoro Staf Pengajar Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Semarang Jl. Prof. Sudarto, S.H.,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA N0MOR : HK,00.05'72.4472

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA N0MOR : HK,00.05'72.4472 KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA N0MOR : HK,00.05'72.4472 TENTANG PEDOMAN POLA TINDAK LANJUT PENYIDIKAN TINDAK PIDANA DI BIDANG OBAT DAN MAKANAN KEPALA BADAN PENGAWAS

Lebih terperinci

MODEL REGRESI DATA TAHAN HIDUP TERSENSOR TIPE III BERDISTRIBUSI EKSPONENSIAL SKRIPSI

MODEL REGRESI DATA TAHAN HIDUP TERSENSOR TIPE III BERDISTRIBUSI EKSPONENSIAL SKRIPSI MODEL REGRESI DATA TAHAN HIDUP TERSENSOR TIPE III BERDISTRIBUSI EKSPONENSIAL SKRIPSI Oleh : WINDA FAATI KARTIKA J2E 006 039 PRODI STATISTIKA JURUSAN MATEMATIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

Lebih terperinci

PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI

PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI PENDUGAAN ANGKA PUTUS SEKOLAH DI KABUPATEN SEMARANG DENGAN METODE PREDIKSI TAK BIAS LINIER TERBAIK EMPIRIK PADA MODEL PENDUGAAN AREA KECIL SKRIPSI Disusun Oleh: NANDANG FAHMI JALALUDIN MALIK NIM. J2E 009

Lebih terperinci

DP.01.34 PEDOMAN PERHITUNGAN STATISTIK UNTUK UJI PROFISIENSI JULI 2004

DP.01.34 PEDOMAN PERHITUNGAN STATISTIK UNTUK UJI PROFISIENSI JULI 2004 DP.01.34 PEDOMAN PERHITUNGAN STATISTIK UNTUK UJI PROFISIENSI JULI 2004 Komite Akreditasi Nasional National Accreditation Body of Indonesia Gedung Manggala Wanabakti, Blok IV, Lt. 4 Jl. Jend. Gatot Subroto,

Lebih terperinci

PEMODELAN DAN PERAMALAN DATA DERET WAKTU DENGAN METODE SEASONAL ARIMA

PEMODELAN DAN PERAMALAN DATA DERET WAKTU DENGAN METODE SEASONAL ARIMA Jurnal Matematika UNAND Vol. 3 No. 3 Hal. 59 67 ISSN : 2303 2910 c Jurusan Matematika FMIPA UNAND PEMODELAN DAN PERAMALAN DATA DERET WAKTU DENGAN METODE SEASONAL ARIMA ANNISA UL UKHRA Program Studi Matematika,

Lebih terperinci

PEMBUATAN ALAT UKUR KETEBALAN BAHAN SISTEM TAK SENTUH BERBASIS PERSONAL COMPUTER MENGGUNAKAN SENSOR GP2D12-IR

PEMBUATAN ALAT UKUR KETEBALAN BAHAN SISTEM TAK SENTUH BERBASIS PERSONAL COMPUTER MENGGUNAKAN SENSOR GP2D12-IR 200 Prosiding Pertemuan Ilmiah XXIV HFI Jateng & DIY, Semarang 10 April 2010 hal. 200-209 PEMBUATAN ALAT UKUR KETEBALAN BAHAN SISTEM TAK SENTUH BERBASIS PERSONAL COMPUTER MENGGUNAKAN SENSOR GP2D12-IR Mohtar

Lebih terperinci

Model Matematika dari Sistem Dinamis

Model Matematika dari Sistem Dinamis Model Matematika dari Sistem Dinamis September 2012 () Model Matematika dari Sistem Dinamis September 2012 1 / 60 Pendahuluan Untuk analisis dan desain sistem kontrol, sistem sis harus dibuat model sisnya.

Lebih terperinci

Pendahuluan. Angka penting dan Pengolahan data

Pendahuluan. Angka penting dan Pengolahan data Angka penting dan Pengolahan data Pendahuluan Pengamatan merupakan hal yang penting dan biasa dilakukan dalam proses pembelajaran. Seperti ilmu pengetahuan lain, fisika berdasar pada pengamatan eksperimen

Lebih terperinci

Perancangan dan Pembuatan Modul PAD (Packet Assembler Disassembler) dengan Protokol AX.25 untuk Stasiun Bumi Portabel pada Sistem Komunikasi Satelit

Perancangan dan Pembuatan Modul PAD (Packet Assembler Disassembler) dengan Protokol AX.25 untuk Stasiun Bumi Portabel pada Sistem Komunikasi Satelit Perancangan dan Pembuatan Modul PAD (Packet Assembler Disassembler) dengan Protokol AX.25 untuk Stasiun Bumi Portabel pada Sistem Komunikasi Satelit Dicky Rismawan 1), Rudy Dikairono 2), Gamantyo Hendrantoro

Lebih terperinci

Pertemuan ke - 12 Unit Masukan dan Keluaran Riyanto Sigit, ST. Nur Rosyid, S.kom Setiawardhana, ST Hero Yudo M, ST

Pertemuan ke - 12 Unit Masukan dan Keluaran Riyanto Sigit, ST. Nur Rosyid, S.kom Setiawardhana, ST Hero Yudo M, ST Pertemuan ke - 12 Unit Masukan dan Keluaran Riyanto Sigit, ST. Nur Rosyid, S.kom Setiawardhana, ST Hero Yudo M, ST Politeknik Elektronika Negeri Surabaya Tujuan Menjelaskan system komputer unit masukkan/keluaran

Lebih terperinci

Pendahuluan Secara tradisional, pengembangan- pengembangan infrastruktur jaringan telekomunikasi selama ini menggunakan teknologi terrestrial, tetapi

Pendahuluan Secara tradisional, pengembangan- pengembangan infrastruktur jaringan telekomunikasi selama ini menggunakan teknologi terrestrial, tetapi Ground Segment TEKNOLOGI VSAT UNTUK KOMUNIKASI MULTIMEDIA By Hasanuddin Sirait Pendahuluan Secara tradisional, pengembangan- pengembangan infrastruktur jaringan telekomunikasi selama ini menggunakan teknologi

Lebih terperinci

ANALISA RANGKAIAN ALAT PENGHITUNG JUMLAH MOBIL PADA PELATARAN PARKIR. Noveri Lysbetti Marpaung

ANALISA RANGKAIAN ALAT PENGHITUNG JUMLAH MOBIL PADA PELATARAN PARKIR. Noveri Lysbetti Marpaung ANALISA RANGKAIAN ALAT PENGHITUNG JUMLAH MOBIL PADA PELATARAN PARKIR Noveri Lysbetti Marpaung Staf Pengajar Jurusan Teknik Elektro, Fakultas Teknik,, Universitas Riau. Kampus: Binawidya km. 12,5 Simpang

Lebih terperinci

BAB III CARA PEMBUATAN ALAT. Mulai. Persiapan Perakitan Pemancar Televisi. Pengadaan Alat dan Bahan. Perakitan Pemancar Televisi.

BAB III CARA PEMBUATAN ALAT. Mulai. Persiapan Perakitan Pemancar Televisi. Pengadaan Alat dan Bahan. Perakitan Pemancar Televisi. BAB III CARA PEMBUATAN ALAT Pemancar Televisi yang akan di buat adalah pemancar televisi VHF dengan jarak jangkauan 500 Meter 1 Km. Pemancar Televisi ini terdiri dari Converter, Modulator, Pemancar, Booster.

Lebih terperinci

M1632 MODULE LCD 16 X 2 BARIS (M1632)

M1632 MODULE LCD 16 X 2 BARIS (M1632) M1632 MODULE LCD 16 X 2 BARIS (M1632) Deskripsi: M1632 adalah merupakan modul LCD dengan tampilan 16 x 2 baris dengan konsumsi daya yang rendah. Modul ini dilengkapi dengan mikrokontroler yang didisain

Lebih terperinci

BAB III METODE TRIMMING PADA ANALISIS JALUR

BAB III METODE TRIMMING PADA ANALISIS JALUR 36 BAB III METODE TRIMMING PADA ANALISIS JALUR 3.1 Analisis Jalur Analisis jalur yang dikenal sebagai path analysis dikembangkan pertama tahun 1920-an oleh seorang ahli genetika yaitu Sewall Wright (Riduwan

Lebih terperinci

Pengembangan Perangkat Lunak Prediktor Nilai Mahasiswa Menggunakan Metode Spectral Clustering dan Bagging Regresi Linier

Pengembangan Perangkat Lunak Prediktor Nilai Mahasiswa Menggunakan Metode Spectral Clustering dan Bagging Regresi Linier JURNAL TEKNIK ITS Vol. 1, (Sept, 01) ISSN: 301-971 A-46 Pengembangan Perangkat Lunak Prediktor Nilai Mahasiswa Menggunakan Metode Spectral Clustering dan Bagging Regresi Linier Ahmad Yusuf, Hari Ginardi

Lebih terperinci

ELEKTRONIKA DASAR. Pertemuan Ke-3 Aplikasi Dioda Dalam Sirkuit. ALFITH, S.Pd,M.Pd

ELEKTRONIKA DASAR. Pertemuan Ke-3 Aplikasi Dioda Dalam Sirkuit. ALFITH, S.Pd,M.Pd ELEKTRONIKA DASAR Pertemuan Ke-3 Aplikasi Dioda Dalam Sirkuit 1 ALFITH, S.Pd,M.Pd RANGKAIAN DIODA Penyearah Tegangan Sebagai penyearah tegangan, dioda digunakan untuk mengubah tegangan bolak-balik (AC)

Lebih terperinci

DT-AVR Application Note

DT-AVR Application Note DT-AVR Application Note AN80 Sistem pengendali Bipolar Stepper Motor Oleh: Tim IE Stepper motor seringkali kita gunakan untuk aplikasi robotika, karena poros stepper motor dapat digerakkan dengan sudut

Lebih terperinci

PENGUKUR PERCEPATAN GRAVITASI MENGGUNAKAN GERAK HARMONIK SEDERHANA METODE BANDUL

PENGUKUR PERCEPATAN GRAVITASI MENGGUNAKAN GERAK HARMONIK SEDERHANA METODE BANDUL Jurnal eknik Komputer Unikom Komputika Volume 2, No.2-2013 PENGUKUR PERCEPAAN GRAVIASI MENGGUNAKAN GERAK HARMONIK SEDERHANA MEODE BANDUL Syahrul, John Adler, Andriana Jurusan eknik Komputer, Fakultas eknik

Lebih terperinci