triakoso.wordpress.com Patologi Nutrisi Ilmu Penyakit Non Infeksius D3 FKH Unair Nusdianto Triakoso

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "triakoso.wordpress.com Patologi Nutrisi Ilmu Penyakit Non Infeksius D3 FKH Unair Nusdianto Triakoso"

Transkripsi

1 triakoso.wordpress.com Patologi Nutrisi Ilmu Penyakit Non Infeksius D3 FKH Unair Nusdianto Triakoso

2 Ilmu Nutrisi Suatu studi yang mencakup penggunaan dan pengaruh berbagai macam bahan nutrisi yang dapat diperoleh dari makanan oleh organisme

3 Pengaruh bahan makanan dapat timbul : Absorbsi bahan nutrisi yang terkandung dalam perbandingan dan keseimbangan tertentu. Ketidakseimbangan bahan nutrisi akan menyebabkan tanda-tanda patologis yang sifatnya sangat karakteristik sesuai dengan berat ringannya ketidakseimbangan yang terjadi.

4 Ketidakseimbangan nutrisi Defisiensi Kelebihan Intoksikasi makanan Menyebabkan gangguan proses metabolisme (penyakit metabolik) Kondisi tersebut tidak dapat dibedakan secara jelas dengan penyakit metabolik karena gangguan sistem gastrointestinal

5 Ratio Makanan Insufisiensi dan kelebihan makanan Makanan yang mengandung kontaminan Efek langsung Reaksi defisiensi Modifikasi resistensi dan parasit Penyakit kelebihan atau ketidakseimbangan pakan dan intoksikasi Efek tidak langsung Penyakit metabolisme Pengaruh lingkungan Gangguan fisiologis Genetik Residu xenobiotik Mikotoksin Toksin Patologi Toksik Peranan sistem GIT Enterotoxemia Gangguan digesti dan akibatnya Gangguan metabolik Patologi hepar dan renal sekunder

6 Asidosis rumen Sinonim : grain overload, rumen overload, lactic acidosis, acute rumen engorgement Penyebab : Pakan tinggi KH rendah mudah cerna memicu terjadi lactic acidosis (acute dehydration and depression) Pakan tinggi protein mudah cerna memicu produksi ion ammonium ion berlebihan (excitement and hyperesthesia) Sering terjadi pada pemeliharaan intensif

7 Grain beras barley hulled jagung buck groat oat groat wheat berries millet rye berries spelt hulled

8 KH yang mudah difermentasi ph < 5 laju pertumbuhan (semua bakteri) VFA s laju pertumbuhan (sebagian bakteri) ASIDOSIS RUMEN S. bovis Lactobacillus ph laju pertumbuhan S. bovis asam laktat ph Stasis fermentasi Absorbsi D/L asam laktat Asidosis Metabolik

9 Gejala klinis Onset of action bergantung jumlah pakan yang dikonsumsi dan adaptasi hewan Gejala klinis dalam jam setelah mengkonsumsi grain (biji-bijian) atau bahan pakan serupa Gejala klinis : awal : ataksia, inkoordinasi diikuti kelemahan dan depresi Anoreksi dan gejala kebutaan Stasis rumen komplet dan rasa sakit abdominal Distensi abdomen. Dehidrasi akan terjadi dalam jam

10 Gejala klinis Lactic acidosis derajat ringan umumnya terjadi pada sapi yang diberi pakan konsentrat (grain-fed cattle) Komplikasi liver abcesses rumenitis or rumen parakeratosis mycotic rumenitis feedlot bloat laminitis

11 Gejala klinis Diare (tidak teramati bila hewan lebih dahulu mati). Diare profus akan terjadi pada hewan yang tidak mengalami depresi yang parah. Ambruk (kasus berat) karena kelemahan dan toksemia dalam jam. Respirasi meningkat karena asidosis Suhu tubuh subnormal Pulsus lemah. Sapi ambruk diam tidak bergerak( seperti gejala hipokalsemia Daerah muzzle (mukus dan tampak kotor)

12 Gejala klinis Bila terjadi pada sekawanan sapi (herd) beberapa hewan mengalami depresi dan asidosis laktat akut. kondisi sedang : depresi ringan disertai diare feses agak berbuih, berbau asam dan berwarna kuning coklat atau agak keabu-abuan feses mengandung bahan pakan yang belum tercerna beberapa hewan juga mengalami laminitis akut

13 Gejala klinis Kematian mendadak (suddent death) biasanya terjadi dalam jam, tapi banyak kasus ditandai dengan gejala membaik namun kemudian mati karena komplikasi sekunder. Jarang terjadi kasus melanjut dalam 3-4 minggu. Pulih : kondisi tubuh buruk akibat rumenitis kronis dan kerusakan hepar.

14 Milk Fever Parturient paresis Penyakit peripartus (48-72 jam) Ditandai hipokalsemia, kelemahan otot, dan depresis kesadaran. Insidensi 9% atau wabah Kerugian pengobatan $15 juta/tahun

15 Etiologi-Patogenesis Gagal adaptasi kalsium saat laktasi PTH tidak responsif, dekalsifikasi terbatas Faktor risiko Umur Produksi Manajemen masa kering

16 Keterkaitan Hipokalsemia dengan Beberapa Penyakit Peripartus imunosupresi plasma kortisol RETENSI PLASENTA uterus THE DOWNER COW SYNDROME HIPOKALSEMIA nafsu makan insulin tonus otot teat sphincter MASTITIS METRITIS DISTOKIA rumen BLOAT negative energy balance KETOSIS FATTY LIVER DISEASE

17 Metabolisme kalsium 1,25(OH) 2 -D calcitriol Tulang Ginjal 25(OH)-D 25 OH D 1 α hydroxylase PTH Hepar D25 hydroxylase 1,25(OH) 2 -D calcitriol Intestinal Kalsium Kalsifikasi Ca++HPO 4 Ca++HPO 4 Blood calcium

18 Gejala klinis Tiga stadium awal (excitement-tetany) kedua (sternal recumbency) ketiga (lateral recumbency) Pada kambing domba mirip sapi

19 Gejala klinis Hematologi eosinofilia neutrofilia limfopenia Biokimia kalsium : 5 mg/dl magnesium awal : lanjut : phosphate : glukosa : N SGOT : CPK :

20 Terapi Kalsium glukonas 25% Sapi besar ( ): Sapi kecil ( ) :

21 Ketosis Kondisi yang terjadi akibat ketidakseimbangan metabolisme karbohidrat Pada sapi, puncak produksi Pada domba, akhir kebuntingan

22 Etiologi-Patogenesis Hipoglisemia, hiperketonemia Ketosis primer Ketosis sekunder Faktor risiko obesitas saat partus rasio protein:energi masa kering lama kurang exercise Hipoglisemia, hiperketonemia Pada kebuntingan akhir (anak kembar) Inefisiensi hepar hipoglisemia encephalopati irreversible Stadium terminal gangguan ginjal

23 Tipe Ketosis (klinis): Tipe 1 : Spontaneus underfeeding (kurus, BHBA sangat tinggi, glukosa darah rendah, 3-6 minggu) Tipe 2 : Fat Cows Fatty Liver (gemuk, BHBA tinggi, benda keton, glukosa darah tinggi, 1-2 minggu) Tipe 3 : Wet Silages (bervariasi, BHBA tinggi, trigliserida hepar, glukosa darah bervariasi, bervariasi) Subklinis Awal laktasi BHBA lebih dari 14,4 mg/dl (risiko 3 kali)

24 Prevalensi Ketosis Subklinis

25 Gejala klinis Wasting BB turun drastis temp, pulus normal gerakan rumen turun feses keras kering sembuh spontan kematian rendah Syaraf hipoglisemia encephalopati hiperestesia, tremor tetani 1-2 jam berulang interval 8-12 jam kematian tinggi

26 Gejala klinis Pada domba mirip sapi bentuk syaraf Konstipasi, feses kering sedikit Ambruk dg gejala syaraf (konvulsi) Ambruk 3-4 hari, depresi, koma

27 Diagnosis Hipoglisemia, ketonemia, ketonuria Glukosa darah Keton urin Keton susu Plasma kortisol meningkat Ketolac strip test, Pink tes liquid (subklinis)

28 Diagnosis Gold standar SCK BHBA 14,4 mg/dl AcAc 360 umol/l (500 umol/l)

29 Defisiensi Copper Terutama pada sapi dan domba Hasil survey terbaru menunjukkan banyak negara daerah tropis rawan terhadap defisiensi copper seperti Argentina, Kenya, Bolivia, Brazil, Panama, Colombia, Peru, Costa Rica, Tanzania, Senegal, Ethiopia, Saudi Arabia, India, Pilipina, Malaysia dan Indonesia.

30 Fungsi copper Metabolisme Pertumbuhan villi Pembentukan darah Depresi pembentukan osteobast Myelinisasi syaraf

31 Akibat defisiensi Pertumbuhan terhambat Pertumbuhan villi terhambat Pigmentasi rambut Gangguan pembentukan darah Demyelinisasi syaraf Degenerasi myocardial

32 Penyebab Pakan tidak mengandung copper Pakan tinggi molibdenium Intake pakan mengandung sulfate (selenium meningkatkan absorbsi)

33

34 Gejala klinis Hewan mengalami gangguan pertumbuhan Infertilitas Pincang Rambut rontok pada domba Kulit : kasar warna rambut putih/pudar gatal dan menjilat-jilat. Produksi susu turun Anemia, lemah Ataksia setelah exercise Mudah terjadi fraktur tulang (ektrimitas, khususnya skapula). Swayback Berat : kematian mendadak akibat CHF akut (falling disease). Persisten scouring pada sapi atau domba(peat scours) Diare berwarna kuning kehijauan hingga kehitaman. Feses dikeluarkan tanpa adanya tekanan atau rejanan, bahkan tanpa mengangkat ekor. Hewan sangat kurus meskipun nafsu makan masih baik.

35 Diagnosis Kadar copper serum < 0,7 mg/ml. Namun kadang kala kadar copper serum penderita normal. Kondisi ini diduga terjadi pada kasus sekunder. Copper darah normal atau tinggi, diduga sebagai respon kekurangan copper dalam jaringan. Pada kasus sekunder juga tidak ditemui adanya anemia. Respon terapi Biopsi : kadar copper di hepar (gold standard).

36 Terapi Pemberian terapi preparat copper per oral. Copper sulfat diberikan seminggu sekali selama 3-5 minggu. Hati-hati agar tidak terjadi intoksikasi copper. Pedet 4 g; Sapi 6-10 g; Domba 1,5 g. Langkah alternatif terapi dan pencegahan adalah memberikan secara parenteral dan preparat slow release peroral

37

38 Keracunan Keracunan bisa terjadi secara langsung tubuh berkontak dengan bahan beracun atau melalui makanan, proses pencernaan atau residu.

39 Insektisida Organofosfat Hidroklorin Karbamat Pyrethrin, Pyrethroid Miticide Rodenticide Antikoagulan Strychnine Fluoroacetate Pestisida

40 Bahan Lain Obat Acetaminophen Supplemen (ferrous sulphate) CNS (primidone) Tanaman Dracaena marginata (kucing) Dieffenbacia sp, Philodendron sp Ricinus communis Pupuk Nitrat-Nitrit Urea Biotoksin Methylxanthine (theobromine, Cokelat)

41 Keracunan Cokelat Chocolate is made from the fruit (beans) of the cacao tree. Theobromine, a component of chocolate, is the toxic compound in chocolate. (Caffeine is also present in chocolate, but in much smaller amounts than Theobromine.) Both Theobromine and Caffeine are members of a drug class called Methylxanines. Theobromine and caffeine effects on the body: Central Nervous System (CNS) stimulant Cardiovascular stimulant Increase blood pressure (mild) Nausea and vomiting

42 Unsweetened (baker's) chocolate contains 8-10 times the amount of Theobromine as milk chocolate. Semi-sweet chocolate falls roughly in between the two for Theobromine content. White chocolate contains Theobromine, but in such small amounts that Theobromine poisoning is unlikely. Caffeine is present in chocolate, but less than Theobromine.

43 From The Merck Veterinary Manual, here are approximate Theobromine levels of different types of chocolate: Dry cocoa powder = 800 mg/oz Unsweetened (Baker's) chocolate = 450 mg/oz Cocoa bean mulch = 255 mg/oz semisweet chocolate and sweet dark chocolate is = mg/oz Milk chocolate = mg Theobromine per oz chocolate White chocolate contains an insignificant source of methylxanthines.

44 The toxic dose of Theobromine (and caffeine) for pets is mg/kg. (1 kilogram = 2.2 pounds). However, various reports by the ASPCA (American Society for the Prevention of Cruelty to Animals) have noted problems at doses much lower than this - i.e. 20mg/kg. Humans can break down and excrete Theobromine much more efficiently than dogs. The half life of Theobromine in the dog is long; approximately 17.5 hours. White chocolate: 200 ounces per pound of body weight. It takes 250 pounds of white chocolate to cause signs of poisoning in a 20-pound dog, 125 pounds for a 10- pound dog. Milk chocolate: 1 ounce per pound of body weight. Approximately one pound of milk chocolate is poisonous to a 20-pound dog; one-half pound for a 10-pound dog. The average chocolate bar contains 2 to 3 ounces of milk chocolate. It would take 2-3 candy bars to poison a 10 pound dog. Semi-sweet chocolate has a similar toxic level. Sweet cocoa: 0.3 ounces per pound of body weight. One-third of a pound of sweet cocoa is toxic to a 20-pound dog; 1/6 pound for a 10-pound dog. Baking chocolate: 0.1 ounce per pound body weight. Two one-ounce squares of bakers' chocolate is toxic to a 20-pound dog; one ounce for a 10-pound dog.

45 Clinical signs Onset : beberapa jam (vomiting, diarrhea or hyperactivity). Berlanjut : peningkatan frekuensi denyut jantung Arrhythmia, restlessness, muscle twitching Hiperaktifitas, urinasi meningkat Panting berlebihan. Dapat memicu hiperthermia, tremor otot, seizures, coma dan kematian.

46 Mycotoxin Mycotoxin adalah bahan beracun yang dihasilkan fungi yang tumbuh pada bahan makanan atau pakan. Merusak organ atau jaringan (ginjal, hepar, otak, saluran cerna, sistem reproduksi) Akut, subakut, kronis Gejala : anoreksia, ikhterus, melena, poliuria, polidipsia, perdarahan

47 Aflatoksin : Aspergillus flavus, Aspergilus parasiticus Aflatoksin B1, B2, G1, G2 Aflatoksin B1 paling toksik (susu) jagung, sumber protein sering terjadi pada ternak (ayam jarang) Penitrem A: Penicillium crustaceum Keju (blue green fungal mat), walnut Botulinum : Clostridium botulinum Toksin A, B, C, D, E, F, G

48 Vitamin Vitamin adalah molekul organik yang sangat diperlukan tubuh hewan dan manusia untuk proses metabolisme dan pertumbuhan. Tubuh tidak dapat membuat vitamin dalam jumlah cukup dan harus dipenuhi dari makanan Vitamin larut lemak (ADEK) Vitamin larut air (B1/Thiamine, B2/Riboflavin, Biotin, B6/Piridoxin, Asam folat, Asam pantotenat, Cobalamine, Choline, Niacin, Vitamin C)

49 Defisiensi vitamin Vitamin larut air Vitamin larut lemak Hipervitaminosis Vitamin larut lemak

50 Hipervitaminosis D Vitamin D (cholecalciferol) is a fat soluble vitamin. Toxicity occurs when excessive amounts of cholecalciferol are ingested. Most commonly, this occurs as a result of ingestion of choleciferol-containing rodenticides or vitamin supplements. Less commonly, vitamin D toxicity may also occur as a result of an improperly balanced diet. Cholecalciferol, is metabolized in the liver to 25- hydroxycholecalciferol, which in turn is metabolized by the kidneys to calcitriol.

51 Hipervitaminosis D Calcitriol enhances calcium resorption from the bones and the uptake of calcium from the intestinal tract. When excessive amounts of calcitriol are present, as happens in vitamin D toxicity, hypercalcemia (abnormally high levels of calcium in the blood) occurs because: excessive amounts of calcium are absorbed from the intestinal tract calcium resorption from bone is stimulated the kidneys increase the reabsorption of calcium

52 Hipervitaminosis D The symptoms seen in cases of vitamin D toxicity are a result of the hypercalcemia that develops due to excessive amounts of cholecalciferol being metabolized to calcitriol. Hypercalcemia results in abnormal calcification in the kidneys, gastrointestinal tract and cardiovascular system as well as neurological dysfunction. Clinical Signs: Vomiting, diarrhea Polydipsia, polyuria Lethargy, anorexia Hemorrhage in the gastrointestinal tract and/or lungs, in some animals Pain from the kidney area Abnormal heart rhythms Bone pain

53 Keracunan Urea Seringkali urea digunakan sebagai bahan untuk amoniasi jerami Keracunan : diberikan terlalu banyak sehingga sapi mengalami keracunan sapi seringkali minum atau makan pupuk urea yang tidak disimpan dengan baik oleh peternak. Urea tersebut di dalam rumen akan dimanfaatkan oleh mikroba dan menghasilkan amonia. Di dalam tubuh, amonia adalah zat beracun dan menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai encephalopati hepatis dimana hewan menunjukkan gejala syaraf atau kejang-kejang karena gangguan sistem syaraf pusat akibat adanya akumulasi amonia di dalam tubuh.

54 Gejala Hewan hipersalivasi dan berbuih, gigi menggeretak karena adanya rasa sakit dan tampak telinga dan wajahnya menegang. Adanya rasa sakit daerah abdomen disertai bloat. Selain itu hewan menunjukkan peningkatan frekuensi respirasi dan berat. Hewan lebih sering urinasi. Selanjutnya hewan kejang dan ambruk. Seringkali hewan ditemui mati di dekat sumber urea tersebut.

55 Pengobatan, penanggulangan dan pencegahan Segera lakukan terapi, meskipun hasilnya tidak cukup memuaskan. Gunakan sonde lambung untuk mengurangi bloat yang terjadi, sekaligus untuk memberikan air dingin. Sapi dewasa : 45 liter air dingin diikuti beberapa liter asam asetat 6% atau cuka. Pengenceran tersebut akan menurunkan suhu di dalam rumen dan meningkatkan asiditas rumen sehingga mampu mengurangi produksi amonia. Bila perlu terapi diulangi dalam 24 jam. Berikan urea secara bertahap dalam jumlah yang sedikit (0,1 gram/kg BB) atau gram untuk sapi 400 kg. Simpan dengan baik urea pupuk agar tidak mudah dimakan sapi atau ruminansia kecil.

56 Keracunan Nitrat-Nitrit Mirip dengan keracunan urea. Nitrat (NO 3 )sebetulnya bukan merupakan bahan toksik. Namun di dalam tubuh, nitrat dicerna dan berubah menjadi nitrit (NO2) oleh mikroba rumen. Kemudian nitrat yang beredar di dalam darah akan mengubah hemoglobin menjadi methemoglobin. Sehingga hemoglobin yang juga berfungsi mengikat oksigen untuk memenuhi kebutuhan oksigen jaringan menjadi berkurang. Pada monogastrik, nitrat akan dikonversi menjadi nitrit di dalam usus, sehingga kecil kemungkinan untuk diabsorbsi dan menimbulkan masalah. Sumber penularan tanaman (Astragalus) air sumur yang dalam sehingga terjadi akumulasi nitrat terutama bila disekitarnya dilakukan pemupukan menggunakan pupuk nitrogen yang berlebihan.

57 Keracunan Nitrat-Nitrit Gejala Hewan akan menunjukkan gejala setelah 6 jam memakan atau menelan bahan tersebut. Hewan menunjukkan gejala anoksia berat (kekurangan oksigen) lemah, depresi sianosis dan takikardia (denyut jantung meningkat) hewan akan mati bila 60-75% hemoglobin dioksidasi menjadi methemoglobin. Biasanya ini berlangsung dalam 24 jam pasca hewan memakan bahan tersebut. Sedangkan bila serangan bersifat kronis umumnya terjadi abortus dan meningkatkan kebutuhan vitamin A atau hewan menunjukkan gejala hipovitaminosis A.

58 Keracunan Nitrat-Nitrit Pengobatan, pengendalian dan pencegahan Berikan Methylene blue 1% yang dapat mereduksi methemoglobin menjadi hemoglobin. Monogastrik : terapi tunggal 1-2 mg/kgbb intravena Ruminansia : ruminansia > 20 mg/kgbb dan bila perlu diulangi tiap 8 jam bila memakan nitrat dalam jumlah besar

59 Keracunan Lantana Lantana camara atau kembang telekan adalah tanaman yang selalu hijau dan bertahan saat musim kemarau, sementara tanaman lain mengering. Pada daerah padang gembala bila semua tanaman mengering, maka tanaman ini akan menarik hewan untuk memakannya. Komponen-komponen beracun tanaman ini yaitu Lantadene A (LA), Lantadene B (LB), Lantadene C (LC) dan Lantadene D (LD). Di antara komponen tersebut LA dan LB yang paling toksik. Pada daerah kering keracunan Lantana sering dilaporkan bahkan menjadi wabah. Di Indonesia bahkan pernah dilaporkan terjadi wabah keracunan Lantana pada sapi Bali di Kalawi, Donggala tahun 1980.

60 Keracunan Lantana Gejala awal : fotosensitisasi dermatitis. Hewan akan mengalami kemerahan (eritema) pada kulit terutama yang terkena sinar matahari. Kulit yang terkena umumnya yang berambit tipis atau tidak berambut, termasuk juga di sekitar mocong. Bila berlanjut maka kulit tersebut akan nekrosis dan mengelupas. Gejala yang lain hewan akan menunjukkan perubahan warna urine. Urine seringkali ditemukan berwarna merah bahkan coklat tua. Gejala-gejala tersebut sangat mirip dengan penyakit Baliziekte.

61 Grass tetany Magnesium deficiency Hypomagnesemia grass staggers Muscle weakness Magnesium co-factor of many enzymes involved in metabolism Signaling molecule ATP bound to Mg to be biologically active Neuromuscular function

62 Occurs during early lactation Mg requirement is higher British breeds More common in cool season grasses Lower Mg concentration compared with legumes More common in spring Rapidly growing forage Legume growth is slow

63 Grass tetany Risks Lush, green, fast growing grasses (high potassium) High potassium and low magnesium dan calcium High concentrations potassium negatively affect soil magnesium intake by plants High nitrogen concentrations following fertilizer also may limits magnesium avalability Cattle grazzing fertilized pasture

64 Grass Tetany Clinical signs No clinical signs : Suddent death (interval a few hours) Stop grazing, appears nevous or high-headed Stagger or experience twitching of the skin Stiffening of the muscles Violent jerking convulsions with the head pulled back Lie down and pedal with its legs and chew to the point of frothing of the mouth If convulsion subside, the animal may appear relaxed. However, noises or touches may result in violent reaction.

65 Common after fertilization Rapid growth Potassium decreases Mg absorption Sodium linked transport of Mg across rumen wall Sodium deficiency implicated Na:K ratio of rumen fluid 1.0 grass tetany 5.0 improvement High soluble protein = increased ammonia Decreased Mg absorption

66 Higher fatty acids (HFA) 16:0 and greater High in forages likely to cause grass tetany Form insoluble soaps with Mg Most Mg absorption occurs in rumen Soaps dissociate in small intestine Little Mg absorption occurs in ruminants in SI Winter tetany Dry, low quality forage is low in Mg Transit tetany sheep Long periods of fasting

67 Clinical signs Initial symptoms Muscle twitching (face and ears) Excessive alertness Uncoordination Stiff gait 3 4 hours Collapse Convulsive spasms Paddling of feet

68 Treatment Minimal handling 2 slow injections of a Mg solution Rapid = heart failure Prevention Supplement Mg (MgO) Salt supplement Increases Mg absorption Salt is more palatable Graze legume/grass mixture Graze pastures that have been rested previous year Dilution of lush forage with dry forage

69 Eclampsia Eclampsia, also called milk fever, hypocalcemia or puerperal tetany Eclampsia is an acute, life-threatening disease caused by low blood calcium levels (hypocalcemia) in dogs and more rarely in cats. The lactating animal is especially susceptible to blood calcium depletion because of milk production. The bodies of some lactating dogs and cats simply cannot keep up with the increased demands for calcium. Animals with milk fever lack the ability to quickly move calcium into their milk without depleting their own blood levels of this mineral. Eclampsia most commonly occurs 1-3 weeks after giving birth, but it can even occur during pregnancy. Litters do not need to be large to cause eclampsia. Small breed dogs are at higher risk for eclampsia. The puppies themselves are not affected as the mother s milk appears to be normal during this period.

70 Eclampsia Eclampsia is a very serious disorder but fortunately the signs are fairly easy to recognize, especially when coupled with late term pregnancy and/or milk production. Initially, the affected dog will be restless and nervous. Within a short time, she will walk with a stiff gait and may even wobble or appear disoriented. Eventually, the dog may be unable to walk and her legs may become stiff or rigid. The dog may have a fever, with body temperature even over 105º F (40,5 o C). The respiration rate (number of breaths per minute) will increase. At this point, death can occur if no treatment is given.

71 Eclampsia Over-supplementation of calcium during pregnancy may increase the risk of eclampsia. There is a complex way the body maintains the proper amount of calcium in the blood. The body is constantly adding calcium to bones and then removing it, as needed. This is regulated by a hormone produced by the parathyroid gland, called parathyroid hormone. If a dog receives increased amounts of calcium during pregnancy, her body's production of parathyroid hormone greatly decreases. When the dog suddenly needs large amounts of calcium for milk production, the system is not ready to start removing it from the bone. This is because it takes some time for the parathyroid gland to start producing the hormone again. Because of the lack in parathyroid hormone, the blood calcium level suddenly drops, and produces the signs of eclampsia.

72 Eclampsia So, adequate amounts of calcium need to be given during pregnancy, but not enough to slow down the production of parathyroid hormone. This means calcium supplements are generally not recommended. Also, it is important for the calcium and phosphorus in the diet to be at the correct ratio of 1:1 (i.e.; 1 part calcium to 1 part phosphorus). Vitamin D must also be present in adequate amounts. Once a dog has had milk fever, there is an excellent chance that she will also have it with future litters if preventive steps are not taken. Be sure to work closely with your veterinarian if your dog has had eclampsia in the past and is pregnant again. In conclusion, it is of great importance for owners of pregnant or nursing dogs to be able to recognize the signs of eclampsia. If you feel your female dog is showing these signs, remove the pups to prevent further nursing and seek veterinary assistance at once.

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA)

Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Waspada Keracunan Phenylpropanolamin (PPA) Penyakit flu umumnya dapat sembuh dengan sendirinya jika kita cukup istirahat, makan teratur, dan banyak mengkonsumsi sayur serta buah-buahan. Namun demikian,

Lebih terperinci

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS

PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS PENGARUH DOSIS EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DALAM AIR MINUM TERHADAP BERAT BADAN AYAM BURAS EFFECT OF EM-4 (EFFECTIVE MICROORGANISMS-4) DOSAGE ADDED IN DRINKING WATER ON BODY WEIGHT OF LOCAL CHICKEN

Lebih terperinci

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes ABSTRAK EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL LDL DAN PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA Ronauly V. N, 2011,

Lebih terperinci

KERACUNAN PANGAN AKIBAT BAKTERI PATOGEN

KERACUNAN PANGAN AKIBAT BAKTERI PATOGEN KERACUNAN PANGAN AKIBAT BAKTERI PATOGEN Pangan merupakan kebutuhan esensial bagi setiap manusia untuk pertumbuhan maupun mempertahankan hidup. Namun, dapat pula timbul penyakit yang disebabkan oleh pangan.

Lebih terperinci

Profile Total Protein dan Glukosa Darah Domba yang Diberi Starter Bakteri Asam Laktat dan Yeast pada Rumput Gajah dan Jerami Padi

Profile Total Protein dan Glukosa Darah Domba yang Diberi Starter Bakteri Asam Laktat dan Yeast pada Rumput Gajah dan Jerami Padi Jurnal Ilmiah Kedokteran Hewan Vol. 4, No. 1, Februari 2011 Profile Total Protein dan Glukosa Darah Domba yang Diberi Starter Bakteri Asam Laktat dan Yeast pada Rumput Gajah dan Jerami Padi Blood Glucose

Lebih terperinci

PENGARUH KAFEIN PADA COKELAT (Theobroma Cacao) TERHADAP WAKTU REAKSI SEDERHANA PRIA DEWASA

PENGARUH KAFEIN PADA COKELAT (Theobroma Cacao) TERHADAP WAKTU REAKSI SEDERHANA PRIA DEWASA PENGARUH KAFEIN PADA COKELAT (Theobroma Cacao) TERHADAP WAKTU REAKSI SEDERHANA PRIA DEWASA THE EFFECT OF CAFFEINE IN CHOCOLATE (Theobroma Cacao) IN ADULT HUMAN MALE S SIMPLE REACTION TIME Szzanurindah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pengembangan ternak ruminansia di Indonesia akan sulit dilakukan jika hanya

I. PENDAHULUAN. Pengembangan ternak ruminansia di Indonesia akan sulit dilakukan jika hanya I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pengembangan ternak ruminansia di Indonesia akan sulit dilakukan jika hanya mengandalkan hijauan. Karena disebabkan peningkatan bahan pakan yang terus menerus, dan juga

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Kreatinin Kreatinin adalah produk protein otot yang merupakan hasil akhir metabolisme otot yang dilepaskan dari otot dengan kecepatan yang hampir konstan dan diekskresi dalam

Lebih terperinci

baik berada di atas usus kecil (Kshirsagar et al., 2009). Dosis yang bisa digunakan sebagai obat antidiabetes 500 sampai 1000 mg tiga kali sehari.

baik berada di atas usus kecil (Kshirsagar et al., 2009). Dosis yang bisa digunakan sebagai obat antidiabetes 500 sampai 1000 mg tiga kali sehari. BAB I PENDAHULUAN Saat ini banyak sekali penyakit yang muncul di sekitar lingkungan kita terutama pada orang-orang yang kurang menjaga pola makan mereka, salah satu contohnya penyakit kencing manis atau

Lebih terperinci

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus:

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II. Catatan Fasilitator. Rangkuman Kasus: Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit Bab 4 Batuk dan Kesulitan Bernapas Kasus II Catatan Fasilitator Rangkuman Kasus: Agus, bayi laki-laki berusia 16 bulan dibawa ke Rumah Sakit Kabupaten dari sebuah

Lebih terperinci

ABSTRAK. PENGARUH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP ACNE RINGAN

ABSTRAK. PENGARUH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP ACNE RINGAN ABSTRAK PENGARUH JERUK NIPIS (Citrus aurantifolia) TERHADAP ACNE RINGAN Nadia Elizabeth, 2006. Pembimbing I : Winsa Husin, dr.,msc., Mkes. Pembimbing II : Dian Puspitasari, dr., SpKK. Penampilan kulit

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang yang sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan dalam segala bidang kehidupan. Perkembangan perekonomian di Indonesia yang

Lebih terperinci

ILMU GIZI. Idam Ragil Widianto Atmojo

ILMU GIZI. Idam Ragil Widianto Atmojo ILMU GIZI Idam Ragil Widianto Atmojo Ilmu gizi merupakan ilmu yang mempelajari segala sesuatu tentang makanan, dikaitkan dengan kesehatan tubuh. Gizi didefinisikan sebagai makanan atau zat makanan Sejumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Cokelat bagi sebagian orang adalah sebuah gaya hidup dan kegemaran, namun masih banyak orang yang mempercayai mitos tentang cokelat dan takut mengonsumsi cokelat walaupun

Lebih terperinci

badan berlebih (overweight dan obesitas) beserta komplikasinya. Selain itu, pengetahuan tentang pola makan juga harus mendapatkan perhatian yang

badan berlebih (overweight dan obesitas) beserta komplikasinya. Selain itu, pengetahuan tentang pola makan juga harus mendapatkan perhatian yang BAB 1 PENDAHULUAN Masalah kegemukan (obesitas) dan penurunan berat badan sangat menarik untuk diteliti. Apalagi obesitas merupakan masalah yang serius bagi para pria dan wanita, oleh karena tidak hanya

Lebih terperinci

penglihatan (Sutedjo, 2010). Penyakit ini juga dapat memberikan komplikasi yang mematikan, seperti serangan jantung, stroke, kegagalan ginjal,

penglihatan (Sutedjo, 2010). Penyakit ini juga dapat memberikan komplikasi yang mematikan, seperti serangan jantung, stroke, kegagalan ginjal, BAB 1 PENDAHULUAN Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit yang dapat terjadi pada semua kelompok umur dan populasi, pada bangsa manapun dan usia berapapun. Kejadian DM berkaitan erat dengan faktor keturunan,

Lebih terperinci

PROTEIN. Rizqie Auliana

PROTEIN. Rizqie Auliana PROTEIN Rizqie Auliana rizqie_auliana@uny.ac.id Sejarah Ditemukan pertama kali tahun 1838 oleh Jons Jakob Berzelius Diberi nama RNA dan DNA Berasal dari kata protos atau proteos: pertama atau utama Komponen

Lebih terperinci

ASAM, BASA DAN GARAM

ASAM, BASA DAN GARAM ASAM, BASA DAN GARAM Larutan terdiri dari zat terlarut (solute) dan pelarut (solvent). Dalam suatu larutan, jumlah pelarut lebih banyak dibandingkan jumlah zat terlarut. Penggolongan larutan dapat juga

Lebih terperinci

DIIT GARAM RENDAH TUJUAN DIIT

DIIT GARAM RENDAH TUJUAN DIIT DIIT GARAM RENDAH Garam yang dimaksud dalam Diit Garam Rendah adalah Garam Natrium yang terdapat dalam garam dapur (NaCl) Soda Kue (NaHCO3), Baking Powder, Natrium Benzoat dan Vetsin (Mono Sodium Glutamat).

Lebih terperinci

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus.

Jika ciprofloxacin tidak sesuai, Anda akan harus minum antibiotik lain untuk menghapuskan kuman meningokokus. CIPROFLOXACIN: suatu antibiotik bagi kontak dari penderita infeksi meningokokus Ciprofloxacin merupakan suatu antibiotik yang adakalanya diberikan kepada orang yang berada dalam kontak dekat dengan seseorang

Lebih terperinci

PRODUK KESEHATAN TIENS

PRODUK KESEHATAN TIENS PRODUK KESEHATAN TIENS KONSEP KESEHATAN TIENS Detoksifikasi Pelengkap Penyeimbang Pencegahan DETOKSIFIKASI Langkah pertama untuk menjaga kesehatan adalah dengan pembersihan. Membersihkan racun di dalam

Lebih terperinci

PENGARUH LAMA PEYIMPANAN SUSU SAPI PASTEURISASI PADA SUHU RENDAH TERHADAP SIFAT FISIKO-KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK YOGURT SKRIPSI

PENGARUH LAMA PEYIMPANAN SUSU SAPI PASTEURISASI PADA SUHU RENDAH TERHADAP SIFAT FISIKO-KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK YOGURT SKRIPSI PENGARUH LAMA PEYIMPANAN SUSU SAPI PASTEURISASI PADA SUHU RENDAH TERHADAP SIFAT FISIKO-KIMIA, MIKROBIOLOGI DAN ORGANOLEPTIK YOGURT SKRIPSI OLEH: MARGARITA WIDARTO 6103007055 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN

Lebih terperinci

FAKTOR DAN AGEN YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT & CARA PENULARAN PENYAKIT

FAKTOR DAN AGEN YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT & CARA PENULARAN PENYAKIT FAKTOR DAN AGEN YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT & CARA PENULARAN PENYAKIT LATAR BELAKANG FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYAKIT KESEHATAN KUNCI SUKSES USAHA BUDIDAYA PETERNAKAN MOTO KLASIK : PREVENTIF > KURATIF

Lebih terperinci

11/14/2011. By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS. Lemak. Apa beda lemak dan minyak?

11/14/2011. By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS. Lemak. Apa beda lemak dan minyak? By: Yuli Yanti, S.Pt., M.Si Lab. IPHT Jurusan Peternakan Fak Pertanian UNS Lemak Apa beda lemak dan minyak? 1 Bedanya: Fats : solid at room temperature Oils : liquid at room temperature Sources : vegetables

Lebih terperinci

1. KOMPONEN AIR LAUT

1. KOMPONEN AIR LAUT 1. KOMPONEN AIR LAUT anna.ida3@gmail.com/2013 Salinitas Salinitas menunjukkan banyaknya (gram) zat-zat terlarut dalam (satu) kilogram air laut, dimana dianggap semua karbonat telah diubah menjadi oksida

Lebih terperinci

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT

LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT LATIHAN, NUTRISI DAN TULANG SEHAT Tulang yang kuat benar-benar tidak terpisahkan dalam keberhasilan Anda sebagai seorang atlet. Struktur kerangka Anda memberikan kekuatan dan kekakuan yang memungkinkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya

BAB I PENDAHULUAN. mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini di seluruh dunia termasuk Indonesia kecenderungan penyakit mulai bergeser dari penyakit infeksi ke penyakit metabolik. Dengan meningkatnya globalisasi dan

Lebih terperinci

Mochamad Nurcholis, STP, MP. Food Packaging and Shelf Life 2013

Mochamad Nurcholis, STP, MP. Food Packaging and Shelf Life 2013 Mochamad Nurcholis, STP, MP Food Packaging and Shelf Life 2013 OVERVIEW TRANSFER PANAS (PREDIKSI REAKSI) TRANSFER PANAS (PLOT UMUR SIMPAN PENDEKATAN LINEAR) TRANSFER PANAS (PLOT UMUR SIMPAN PENDEKATAN

Lebih terperinci

Research = experiment

Research = experiment Disain Riset Purwiyatno Hariyadi Departemen Ilmu & Teknologi Pangan Fateta IPB Bogor RISET = RESEARCH RISET = RE + SEARCH there is no guaranteed recipe for success at research / Research = experiment 1

Lebih terperinci

Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter?

Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Kuning pada Bayi Baru Lahir: Kapan Harus ke Dokter? Prof. Dr. H. Guslihan Dasa Tjipta, SpA(K) Divisi Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK USU 1 Kuning/jaundice pada bayi baru lahir atau disebut

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA

ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA ABSTRAK PENGARUH ALKOHOL GOLONGAN B TERHADAP KETELITIAN DAN KEWASPADAAN PADA PRIA DEWASA Irvan Gedeon Firdaus, 2010. Pembimbing: dr. Pinandojo Djojosoewarno, AIF Latar belakang : Minum minuman beralkohol

Lebih terperinci

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN

TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN TELUR ASIN 1. PENDAHULUAN Telur adalah salah satu sumber protein hewani yang memilik rasa yang lezat, mudah dicerna, dan bergizi tinggi. Selain itu telur mudah diperoleh dan harganya murah. Telur dapat

Lebih terperinci

RESPON PRODUKSI KAMBING PE INDUK SEBAGAI AKIBAT PERBAIKAN PEMBERIAN PAKAN PADA FASE BUNTING TUA DAN LAKTASI

RESPON PRODUKSI KAMBING PE INDUK SEBAGAI AKIBAT PERBAIKAN PEMBERIAN PAKAN PADA FASE BUNTING TUA DAN LAKTASI RESPON PRODUKSI KAMBING PE INDUK SEBAGAI AKIBAT PERBAIKAN PEMBERIAN PAKAN PADA FASE BUNTING TUA DAN LAKTASI DWI YULISTIANI, I-W. MATHIUS, I-K. SUTAMA, UMI ADIATI, RIA SARI G. SIANTURI, HASTONO, dan I.

Lebih terperinci

CAIRAN DIALISAT PERITONEAL EXTRANEAL Dengan Icodextrin 7,5% Hanya untuk pemberian intraperitoneal

CAIRAN DIALISAT PERITONEAL EXTRANEAL Dengan Icodextrin 7,5% Hanya untuk pemberian intraperitoneal CAIRAN DIALISAT PERITONEAL EXTRANEAL Dengan Icodextrin 7,5% Hanya untuk pemberian intraperitoneal SELEBARAN BAGI PASIEN Kepada pasien Yth, Mohon dibaca selebaran ini dengan seksama karena berisi informasi

Lebih terperinci

Panduan pembiakan sapi. Sebuah panduan untuk manajemen pembiakan sapi di Asia Tenggara

Panduan pembiakan sapi. Sebuah panduan untuk manajemen pembiakan sapi di Asia Tenggara Panduan pembiakan sapi Sebuah panduan untuk manajemen pembiakan sapi di Asia Tenggara Tentang panduan ini Melahirkan anak sapi secara teratur dan membesarkan anak sapi sangat penting untuk produksi daging

Lebih terperinci

VITAMIN DAN MINERAL: APAKAH ATLET BUTUH LEBIH?

VITAMIN DAN MINERAL: APAKAH ATLET BUTUH LEBIH? VITAMIN DAN MINERAL: APAKAH ATLET BUTUH LEBIH? Sebagai seorang atlet, Anda terbiasa mendengar tentang karbohidrat yang berguna sebagai sumber energi bagi otot Anda serta asam amino dan protein yang berguna

Lebih terperinci

ABSTRAK. UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans

ABSTRAK. UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans iv ABSTRAK UJI EFEK ANTIFUNGI EKSTRAK AIR TEMU PUTIH (Curcuma zedoaria) SECARA IN VITRO TERHADAP Candida albicans Bernike Yuriska M.P, 2009; Pembimbing I: Endang Evacuasiany,Dra.,Apt.M.S.AFK Pembimbing

Lebih terperinci

PARASETAMOL ACETAMINOPHEN

PARASETAMOL ACETAMINOPHEN PARASETAMOL ACETAMINOPHEN 1. IDENTIFIKASI BAHAN KIMIA 1.1. Golongan (1) Derivatif Para-Aminophenol 1.2. Sinonim/Nama Dagang (1,2,3) Acetominophen; 4 -Hydroxyacetanilide; p-acetylaminophenol; P-Acetamidophenol;

Lebih terperinci

SAKIT PERUT PADA ANAK

SAKIT PERUT PADA ANAK SAKIT PERUT PADA ANAK Oleh dr Ruankha Bilommi Spesialis Bedah Anak Lebih dari 1/3 anak mengeluh sakit perut dan ini menyebabkan orang tua membawa ke dokter. Sakit perut pada anak bisa bersifat akut dan

Lebih terperinci

FARMASI USD Mei 2008. Oleh : Yoga Wirantara (078114021) Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

FARMASI USD Mei 2008. Oleh : Yoga Wirantara (078114021) Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Oleh : Yoga Wirantara (078114021) Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Abstrak, Di lingkungan tempat tinggal kita banyak sekali terdapat berbagai macam jenis jamur. Jamur merupakan salah satu organisme

Lebih terperinci

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID

PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID ABSTRAK PENGARUH AKTIFITAS FISIK TERHADAP KEJADIAN OBESITAS PADA MURID Ekowati Retnaningsih dan Rini Oktariza Angka kejadian berat badan lebih pada anak usia sekolah di Indonesia mencapai 15,9%. Prevalensi

Lebih terperinci

Advancing the health of Indonesia s poor and disadvantaged

Advancing the health of Indonesia s poor and disadvantaged Advancing the health of Indonesia s poor and disadvantaged Memajukan kesehatan penduduk miskin dan tidak mampu di Indonesia Indonesia s diverse geography, large and growing population and decentralised

Lebih terperinci

Karya Tulis Ilmiah. Disusun oleh: RASTIFIATI 20080320108

Karya Tulis Ilmiah. Disusun oleh: RASTIFIATI 20080320108 HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN PRIMIGRAVIDA TENTANG TANDA BAHAYA KEHAMILAN DENGAN FREKUENSI KUNJUNGAN ANTENATAL CARE DI PUSKESMAS MERGANGSAN YOGYAKARTA Karya Tulis Ilmiah Disusun dan Diajukan untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk menggambarkan haid. Menopause adalah periode berakhirnya

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. untuk menggambarkan haid. Menopause adalah periode berakhirnya BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Menopause 1. Definisi Menopause merupakan sebuah kata yang mempunyai banyak arti, Men dan pauseis adalah kata yunani yang pertama kali digunakan untuk menggambarkan haid. Menopause

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA

ABSTRAK. EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA ABSTRAK EFEK SARI KUKUSAN KEMBANG KOL (Brassica oleracea var botrytis) TERHADAP GEJALA KLINIK PADA MENCIT MODEL KOLITIS ULSERATIVA Raissa Yolanda, 2010. Pembimbing I : Lusiana Darsono, dr., M. Kes Kolitis

Lebih terperinci

PROPORSI KARKAS DAN KOMPONEN-KOMPONEN NONKARKAS SAPI JAWA DI RUMAH POTONG HEWAN SWASTA KECAMATAN KETANGGUNGAN KABUPATEN BREBES

PROPORSI KARKAS DAN KOMPONEN-KOMPONEN NONKARKAS SAPI JAWA DI RUMAH POTONG HEWAN SWASTA KECAMATAN KETANGGUNGAN KABUPATEN BREBES PROPORSI KARKAS DAN KOMPONEN-KOMPONEN NONKARKAS SAPI JAWA DI RUMAH POTONG HEWAN SWASTA KECAMATAN KETANGGUNGAN KABUPATEN BREBES (Proportion of Carcass and Non Carcass Components of Java Cattle at Private

Lebih terperinci

mengalami obesitas atau kegemukan akibat gaya hidup yang dijalani (Marilyn Johnson, 1998) Berdasarkan data yang dilaporkan oleh WHO, Indonesia

mengalami obesitas atau kegemukan akibat gaya hidup yang dijalani (Marilyn Johnson, 1998) Berdasarkan data yang dilaporkan oleh WHO, Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN Tanaman obat yang menjadi warisan budaya dimanfaatkan sebagai obat bahan alam oleh manusia saat ini untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup masyarakat sesuai dengan

Lebih terperinci

Etiologi Fasciola sp, hidup di dalam hati dan saluran empedu. Cacing ini memakan jaringan hati dan darah.

Etiologi Fasciola sp, hidup di dalam hati dan saluran empedu. Cacing ini memakan jaringan hati dan darah. 1. Penyakit Parasit Cacing pada Ruminansia Walaupun penyakit cacingan tidak langsung menyebabkan kematian, akan tetapi kerugian dari segi ekonomi dikatakan sangat besar, sehingga penyakit parasit cacing

Lebih terperinci

Makanan Kasar (Roughage) Pakan Suplemen (Supplement) Pakan Aditive (Additive)

Makanan Kasar (Roughage) Pakan Suplemen (Supplement) Pakan Aditive (Additive) M.K. Teknik Formulasi Ransum dan Sistem Informasi Pakan Jenis Bahan Pakan Konsentrat (Concentrate) Makanan Kasar (Roughage) Pakan Suplemen (Supplement) Pakan Aditive (Additive) 1 Bahan-bahan Konsentrat

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG TAHUN 2013

FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG TAHUN 2013 FAKTOR-FAKTOR RISIKO YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDANARAN SEMARANG TAHUN 2013 Ignatia Goro *, Kriswiharsi Kun Saptorini **, dr. Lily Kresnowati **

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen

I. PENDAHULUAN. yaitu permen keras, permen renyah dan permen kenyal atau permen jelly. Permen I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kembang gula atau yang biasa disebut dengan permen merupakan produk makanan yang banyak disukai baik tua maupun muda karena permen mempunyai keanekaragaman rasa, warna,

Lebih terperinci

EVALUASI PAKAN SECARA IN SACCO

EVALUASI PAKAN SECARA IN SACCO EVALUASI PAKAN SECARA IN SACCO SUPARJO 2010 Laboratorium Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Jambi 2010 1 PENDAHULUAN Tipe evaluasi pakan in sacco dengan kantong nylon merupakan kombinasi pengukuran

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gizi kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat. Pada hakekatnya keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses kurang asupan makanan ketika

Lebih terperinci

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KARBOHIDRAT SIAP PAKAI KE DALAM RANSUM TERHADAP PENAMPILAN SERTA RASIO ANTARA PENDAPATAN DENGAN BIAYA RANSUM BROILER

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KARBOHIDRAT SIAP PAKAI KE DALAM RANSUM TERHADAP PENAMPILAN SERTA RASIO ANTARA PENDAPATAN DENGAN BIAYA RANSUM BROILER PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KARBOHIDRAT SIAP PAKAI KE DALAM RANSUM TERHADAP PENAMPILAN SERTA RASIO ANTARA PENDAPATAN DENGAN BIAYA RANSUM BROILER The effects of readily available carbohydrate meals in diets

Lebih terperinci

LED Display Screen Indoor / Outdoor FAQ (Frequently Asked Questions)

LED Display Screen Indoor / Outdoor FAQ (Frequently Asked Questions) LED Display Screen Indoor / Outdoor FAQ (Frequently Asked Questions) Unpacking: Thank you for purchasing the AZTEC LED Display Full Color Indoor / Outdoor by AZTECELECTRONIC. Below are the Lists of Frequently

Lebih terperinci

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT Pengaruh Kadar Air.. Kuat Tekan Beton Arusmalem Ginting PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON Arusmalem Ginting 1, Wawan Gunawan 2, Ismirrozi 3 1 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. proses terjadinya perubahan suhu hingga mencapai 5 0 C. Berdasarkan penelitian

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. proses terjadinya perubahan suhu hingga mencapai 5 0 C. Berdasarkan penelitian BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 1.1 Penelitian Pendahuluan Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui waktu pelelehan es dan proses terjadinya perubahan suhu hingga mencapai 5 0 C. Berdasarkan penelitian

Lebih terperinci

Kulit yang sehat akan membuat kulit terlihat segar dan cantik alami. Jika memiliki kulit yang sehat, Anda tidak akan memerlukan bantuan warna-warna

Kulit yang sehat akan membuat kulit terlihat segar dan cantik alami. Jika memiliki kulit yang sehat, Anda tidak akan memerlukan bantuan warna-warna Kulit yang sehat akan membuat kulit terlihat segar dan cantik alami. Jika memiliki kulit yang sehat, Anda tidak akan memerlukan bantuan warna-warna make up yang tidak alami untuk menutupi kulit Anda. Rona

Lebih terperinci

PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN IKAN. Riza Rahman Hakim, S.Pi

PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN IKAN. Riza Rahman Hakim, S.Pi PENGOLAHAN DAN PENGAWETAN IKAN Riza Rahman Hakim, S.Pi Penggolongan hasil perikanan laut berdasarkan jenis dan tempat kehidupannya Golongan demersal: ikan yg dapat diperoleh dari lautan yang dalam. Mis.

Lebih terperinci

TUGAS 2 ENGINEERING ECONOMY

TUGAS 2 ENGINEERING ECONOMY TUGAS 2 ENGINEERING ECONOMY TUGAS 3 A manufacturer of off-road vehicles is considering the purchase of dual-axis inclinometers for installation in a new line of tractors. The distributor of the inclinometers

Lebih terperinci

MENGENAL LEBIH JAUH SKOMBROTOKSIN

MENGENAL LEBIH JAUH SKOMBROTOKSIN MENGENAL LEBIH JAUH SKOMBROTOKSIN Produk perikanan merupakan salah satu jenis pangan yang perlu mendapat perhatian terkait dengan keamanan pangan. Mengingat di satu sisi, Indonesia merupakan negara maritim

Lebih terperinci

MENGATUR POLA HIDUP SEHAT DENGAN DIET

MENGATUR POLA HIDUP SEHAT DENGAN DIET MENGATUR POLA HIDUP SEHAT DENGAN DIET Oleh : Fitriani, SE Pola hidup sehat adalah gaya hidup yang memperhatikan segala aspek kondisi kesehatan, mulai dari aspek kesehatan,makanan, nutrisi yang dikonsumsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Siklus seksual wanita usia 40-50 tahun biasanya menjadi tidak teratur dan ovulasi sering gagal terjadi. Setelah beberapa bulan, siklus akan berhenti sama sekali. Periode

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian. proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Psoriasis merupakan penyakit inflamasi kronis dengan karakteristik proliferasi dan diferensiasi keratinosit yang abnormal, dengan gambaran klinis berupa

Lebih terperinci

III. JENIS TERNAK/UNGGAS YANG DIUSAHAKAN SERTA HASILNYA SELAMA SETAHUN YANG LALU

III. JENIS TERNAK/UNGGAS YANG DIUSAHAKAN SERTA HASILNYA SELAMA SETAHUN YANG LALU III. JENIS TERNAK/UNGGAS YANG DIUSAHAKAN SERTA HASILNYA SELAMA SETAHUN YANG LALU A. Jenis Ternak/Unggas Jenis Kegiatan/Usaha :... (... dari...) : 1. Pengembangbiakan 2. Penggemukan 4. Lainnya A). Mutasi

Lebih terperinci

Perancangan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Mata Katarak pada Manusia Berbasis Web

Perancangan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Mata Katarak pada Manusia Berbasis Web Perancangan Sistem Pakar Diagnosa Penyakit Mata Katarak pada Manusia Berbasis Web Yudi1, Yessi Nofrima2 STMIK IBBI Jl. Sei Deli No. 18 Medan, Telp. 061-4567111 Fax. 061-4527548 e-mail: ynn_linc@yahoo.com1

Lebih terperinci

Lembar data harian tekanan darah. Blood pressure diary

Lembar data harian tekanan darah. Blood pressure diary Lembar data harian tekanan darah Blood pressure diary The World Health Organisation (WHO) and the International Society of Hypertension (ISH) have developed the following classification for blood pressure

Lebih terperinci

KLASIFIKASI, FUNGSI DAN METABOLISME VITAMIN

KLASIFIKASI, FUNGSI DAN METABOLISME VITAMIN KLASIFIKASI, FUNGSI DAN METABOLISME VITAMIN Oleh Drh. Imbang Dwi Rahayu, M.Kes. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang Sebelum abad ke dua puluh, karbohidrat,

Lebih terperinci

KINERJA AYAM KAMPUNG DENGAN SISTEM PEMBERIAN PAKAN SECARA MEMILIH DENGAN BEBAS

KINERJA AYAM KAMPUNG DENGAN SISTEM PEMBERIAN PAKAN SECARA MEMILIH DENGAN BEBAS KINERJA AYAM KAMPUNG DENGAN SISTEM PEMBERIAN PAKAN SECARA MEMILIH DENGAN BEBAS I P. KOMPIANG, SUPRIYATI, M.H. TOGATOROP, dan S.N. JARMANI Balai Penelitian Ternak P.O. Box 221, Bogor 16002, Indonesia (Diterima

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mudah rusak dan tidak tahan lama di simpan kecuali telah mengalami perlakuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. mudah rusak dan tidak tahan lama di simpan kecuali telah mengalami perlakuan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Susu 1.1.1 Pengertian Susu Susu merupakan minuman bergizi tinggi yang dihasilkan ternak perah menyusui, seperti sapi perah, kambing perah, atau bahkan kerbau perah. Susu sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya jumlah anak autis baik di dunia maupun di Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. Meningkatnya jumlah anak autis baik di dunia maupun di Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1. 1 Latar Belakang Meningkatnya jumlah anak autis baik di dunia maupun di Indonesia memerlukan perhatian yang serius dalam penanganannya. Autis dapat sembuh bila dilakukan intervensi

Lebih terperinci

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI

ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI ANALISIS PENGUKURAN BEBAN KERJA FISIK DENGAN METODE FISIOLOGI A. DESKRIPSI Menurut Tayyari dan Smith (1997) fisiologi kerja sebagai ilmu yang mempelajari tentang fungsi-fungsi organ tubuh manusia yang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU

INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU INOVASI PEMBUATAN SUSU KEDELE TANPA RASA LANGU Oleh: Gusti Setiavani, S.TP, M.P Staff Pengajar di STPP Medan Kacang-kacangan dan biji-bijian seperti kacang kedelai, kacang tanah, biji kecipir, koro, kelapa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Aktivitas fisik yang teratur mempunyai banyak manfaat kesehatan dan merupakan salah satu bagian penting dari gaya hidup sehat. Karakteristik individu, lingkungan sosial,

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

II. TINJAUAN PUSTAKA. membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Aktifitas Air (Aw) Aktivitas air atau water activity (a w ) sering disebut juga air bebas, karena mampu membantu aktivitas pertumbuhan mikroba dan aktivitas reaksi-reaksi kimiawi

Lebih terperinci

PENGARUH PERSILANGAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) STRAIN GIFT DENGAN STRAIN NIFI TERHADAP NILAI HETEROSIS PANJANG, LEBAR, DAN BERAT BADAN

PENGARUH PERSILANGAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) STRAIN GIFT DENGAN STRAIN NIFI TERHADAP NILAI HETEROSIS PANJANG, LEBAR, DAN BERAT BADAN ARTIKEL ILMIAH Oleh Ikalia Nurfitasari NIM 061810401008 JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2012 ARTIKEL ILMIAH diajukan guna melengkapi tugas akhir dan memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Faktor penentu kualitas tumbuh kembang anak adalah faktor genetik yang sangat

BAB I PENDAHULUAN. Faktor penentu kualitas tumbuh kembang anak adalah faktor genetik yang sangat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Tumbuh kembang yang normal pada seorang individu sangat dipengaruhi oleh interaksi yang kompleks antara pengaruh hormonal, respons jaringan dan gizi. Tingkat

Lebih terperinci

Di bawah ini kita dapat melihat kandungan, khasiat dan manfaat sehat dari beberapa jenis buah yang ada di bumi :

Di bawah ini kita dapat melihat kandungan, khasiat dan manfaat sehat dari beberapa jenis buah yang ada di bumi : Buah adalah salah satu jenis makanan yang memiliki kandungan gizi, vitamin dan mineral yang pada umumnya sangat baik untuk dikonsumsi setiap hari. Dibandingkan dengan suplemen obat-obatan kimia yang dijual

Lebih terperinci

MANUAL PROSEDUR TATALAKSANA HIPOGIKEMIA & HIPERGLIKEMIA HIPOGLIKEMI & TATALAKSANANYA

MANUAL PROSEDUR TATALAKSANA HIPOGIKEMIA & HIPERGLIKEMIA HIPOGLIKEMI & TATALAKSANANYA MANUAL PROSEDUR TATALAKSANA HIPOGIKEMIA & HIPERGLIKEMIA Tujuan Umum: Mahasiswa mampu melakukan tindakan kolaboratif untuk mengatasi hipoglikemia dan hiperglikemia dengan tepat. Tujuan Khusus: Setelah mengikuti

Lebih terperinci

A UNIFIED ANALYSIS OF KE-/-AN IN INDONESIAN. Benedict B. Dwijatmoko Sanata Dharma University Yogyakarta Indonesia b.b.dwijatmoko@gmail.

A UNIFIED ANALYSIS OF KE-/-AN IN INDONESIAN. Benedict B. Dwijatmoko Sanata Dharma University Yogyakarta Indonesia b.b.dwijatmoko@gmail. A UNIFIED ANALYSIS OF KE-/-AN IN INDONESIAN Benedict B. Dwijatmoko Sanata Dharma University Yogyakarta Indonesia b.b.dwijatmoko@gmail.com INDONESIAN PASSIVES With the Prefix di- Rumah itu akan dijual.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan hormonal, yang

BAB I PENDAHULUAN. Dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan hormonal, yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dari berbagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan hormonal, yang paling sering terjadi adalah diabetes militus (DM). Masyarakat sering menyebut penyakit

Lebih terperinci

NUTRISI PADA ATLET dr. Ermita I.Ilyas, MS

NUTRISI PADA ATLET dr. Ermita I.Ilyas, MS NUTRISI PADA ATLET dr. Ermita I.Ilyas, MS Nutrisi yang tepat merupakan dasar utama bagi penampilan prima seorang atlet pada saat bertanding. Selain itu nutrisi ini dibutuhkan pula pada kerja biologik tubuh,

Lebih terperinci

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut

Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan tanah dan air di lahan pasang surut Pengelolaan Tanah dan Air di Lahan Pasang Surut Penyusun IPG Widjaja-Adhi NP Sri Ratmini I Wayan Swastika Penyunting Sunihardi Setting & Ilustrasi Dadang

Lebih terperinci

VEGETARIAN GAYA HIDUP SEHAT ALAMI

VEGETARIAN GAYA HIDUP SEHAT ALAMI VEGETARIAN GAYA HIDUP SEHAT ALAMI Ketika kita membahas pola makan sehat, sebenarnya petunjuknya sederhana, langsung dan tidak rumit. Makanan diperlukan untuk membina kesehatan. Kita membutuhkan makanan

Lebih terperinci

PARENTERAL NUTRISI ( PPN & TPN ) Azwinar Badan Pelayanan Kesehatan RSU Dr. Pirngadi Kota Medan

PARENTERAL NUTRISI ( PPN & TPN ) Azwinar Badan Pelayanan Kesehatan RSU Dr. Pirngadi Kota Medan PARENTERAL NUTRISI ( PPN & TPN ) Azwinar Badan Pelayanan Kesehatan RSU Dr. Pirngadi Kota Medan Indikasi Parenteral Nutrisi Fungsi saluran cerna terganggu (tidak mampu mencerna atau menyerap makanan) Tidak

Lebih terperinci

TEKNIK PRODUK (TK 7362)

TEKNIK PRODUK (TK 7362) TEKNIK PRODUK (TK 7362) Dr. Eng. Agus Purwanto Chemical Engineering Department Faculty of Engineering Sebelas Maret University Kisi-Kisi 1. Peranan sarjana teknik kimia dalam inovasi produk. 2. Eksplorasi

Lebih terperinci

PROTEIN 1 - Protein dan asam amino

PROTEIN 1 - Protein dan asam amino PROTEIN 1 - Protein dan asam amino Protein merupakan komponen penyusun tubuh manusia nomer dua terbesar setelah air. Jumlah protein dalam tubuh manusia berkisar antara 15-20% berat tubuh. Sebanyak V 3

Lebih terperinci

pengelolaan berat badan yang sehat

pengelolaan berat badan yang sehat Solusi pintar untuk pengelolaan berat badan yang sehat 2006 PT. Herbalife Indonesia. All rights reserved. Printed in Indonesia #6240-ID-00 03/06 Distributor independen Herbalife S o l u s i P R I B A D

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Aktivitas fisik adalah kegiatan hidup yang harus dikembangkan dengan harapan dapat memberikan nilai tambah berupa peningkatan kualitas, kesejahteraan, dan

Lebih terperinci

Waspada Keracunan Mikroba pada Air Minum Dalam Kemasan

Waspada Keracunan Mikroba pada Air Minum Dalam Kemasan Waspada Keracunan Mikroba pada Air Minum Dalam Kemasan Air merupakan unsur yang amat vital bagi kehidupan manusia untuk berbagai keperluan, seperti memasak, mencuci, mandi, serta minum. Kebutuhan air bersih,

Lebih terperinci

PADI SEHAT, HASIL PANEN MENINGKAT

PADI SEHAT, HASIL PANEN MENINGKAT PADI SEHAT, HASIL PANEN MENINGKAT Fungisida sistemik dan zat pengatur tumbuh tanaman untuk mengendalikan penyakit bercak daun Cercospora sp. dan penyakit busuk upih Rhizoctonia solani serta meningkatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan ekstrauterin. Secara normal, neonatus aterm akan mengalami

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan ekstrauterin. Secara normal, neonatus aterm akan mengalami BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penurunan berat badan neonatus pada hari-hari pertama sering menjadi kekhawatiran tersendiri bagi ibu. Padahal, hal ini merupakan suatu proses penyesuaian fisiologis

Lebih terperinci

PEMANFAATAN PAKAN LENGKAP BERBASIS BAHAN BAKU LOKAL UNTUK PENGGEMUKAN KAMBING PADA KELOMPOK UP FMA DESA KARANGSARI KABUPATEN TULUNGAGUNG

PEMANFAATAN PAKAN LENGKAP BERBASIS BAHAN BAKU LOKAL UNTUK PENGGEMUKAN KAMBING PADA KELOMPOK UP FMA DESA KARANGSARI KABUPATEN TULUNGAGUNG Seminar Nasional : Kedaulatan Pangan dan Energi Juni, 2012 PEMANFAATAN PAKAN LENGKAP BERBASIS BAHAN BAKU LOKAL UNTUK PENGGEMUKAN KAMBING PADA KELOMPOK UP FMA DESA KARANGSARI KABUPATEN TULUNGAGUNG Setiasih,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 50% dari jumlah korban sengatan listrik akan mengalami kematian. 1 Banyaknya

BAB I PENDAHULUAN. 50% dari jumlah korban sengatan listrik akan mengalami kematian. 1 Banyaknya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Trauma akibat sengatan listrik merupakan jenis trauma yang bisa berakibat fatal bagi manusia karena mempunyai nilai resiko kematian yang tinggi. Sekitar 50% dari jumlah

Lebih terperinci

Masalah Kulit Umum pada Bayi. Kulit bayi sangatlah lembut dan membutuhkan perawatan ekstra.

Masalah Kulit Umum pada Bayi. Kulit bayi sangatlah lembut dan membutuhkan perawatan ekstra. Masalah Kulit Umum pada Bayi Kulit bayi sangatlah lembut dan membutuhkan perawatan ekstra. Brosur ini memberikan informasi mendasar tentang permasalahan kulit yang lazimnya dijumpai pada usia dini sebagai

Lebih terperinci

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar

PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN. Merry Marshella Sipahutar PERJANJIAN BAKU PEMESANAN RUMAH SUSUN DIHUBUNGKAN DENGAN ASAS KESEIMBANGAN BAGI KONSUMEN Merry Marshella Sipahutar 1087013 Perumahan merupakan kebutuhan utama bagi manusia di dalam kehidupan untuk berlindung

Lebih terperinci

Harga Sembako Mulai Naik Jelang Ramadhan

Harga Sembako Mulai Naik Jelang Ramadhan Pak Bei 4 4 Sembako Langkah Awal Jawablah pertanyaan berikut: 1. Bahan kebutuhan pokok apa yang ada di negara Anda? What is considered staple food in your country? Kegiatan 1 Membaca J Harga Sembako Mulai

Lebih terperinci