triakoso.wordpress.com Patologi Nutrisi Ilmu Penyakit Non Infeksius D3 FKH Unair Nusdianto Triakoso

Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "triakoso.wordpress.com Patologi Nutrisi Ilmu Penyakit Non Infeksius D3 FKH Unair Nusdianto Triakoso"

Transkripsi

1 triakoso.wordpress.com Patologi Nutrisi Ilmu Penyakit Non Infeksius D3 FKH Unair Nusdianto Triakoso

2 Ilmu Nutrisi Suatu studi yang mencakup penggunaan dan pengaruh berbagai macam bahan nutrisi yang dapat diperoleh dari makanan oleh organisme

3 Pengaruh bahan makanan dapat timbul : Absorbsi bahan nutrisi yang terkandung dalam perbandingan dan keseimbangan tertentu. Ketidakseimbangan bahan nutrisi akan menyebabkan tanda-tanda patologis yang sifatnya sangat karakteristik sesuai dengan berat ringannya ketidakseimbangan yang terjadi.

4 Ketidakseimbangan nutrisi Defisiensi Kelebihan Intoksikasi makanan Menyebabkan gangguan proses metabolisme (penyakit metabolik) Kondisi tersebut tidak dapat dibedakan secara jelas dengan penyakit metabolik karena gangguan sistem gastrointestinal

5 Ratio Makanan Insufisiensi dan kelebihan makanan Makanan yang mengandung kontaminan Efek langsung Reaksi defisiensi Modifikasi resistensi dan parasit Penyakit kelebihan atau ketidakseimbangan pakan dan intoksikasi Efek tidak langsung Penyakit metabolisme Pengaruh lingkungan Gangguan fisiologis Genetik Residu xenobiotik Mikotoksin Toksin Patologi Toksik Peranan sistem GIT Enterotoxemia Gangguan digesti dan akibatnya Gangguan metabolik Patologi hepar dan renal sekunder

6 Asidosis rumen Sinonim : grain overload, rumen overload, lactic acidosis, acute rumen engorgement Penyebab : Pakan tinggi KH rendah mudah cerna memicu terjadi lactic acidosis (acute dehydration and depression) Pakan tinggi protein mudah cerna memicu produksi ion ammonium ion berlebihan (excitement and hyperesthesia) Sering terjadi pada pemeliharaan intensif

7 Grain beras barley hulled jagung buck groat oat groat wheat berries millet rye berries spelt hulled

8 KH yang mudah difermentasi ph < 5 laju pertumbuhan (semua bakteri) VFA s laju pertumbuhan (sebagian bakteri) ASIDOSIS RUMEN S. bovis Lactobacillus ph laju pertumbuhan S. bovis asam laktat ph Stasis fermentasi Absorbsi D/L asam laktat Asidosis Metabolik

9 Gejala klinis Onset of action bergantung jumlah pakan yang dikonsumsi dan adaptasi hewan Gejala klinis dalam jam setelah mengkonsumsi grain (biji-bijian) atau bahan pakan serupa Gejala klinis : awal : ataksia, inkoordinasi diikuti kelemahan dan depresi Anoreksi dan gejala kebutaan Stasis rumen komplet dan rasa sakit abdominal Distensi abdomen. Dehidrasi akan terjadi dalam jam

10 Gejala klinis Lactic acidosis derajat ringan umumnya terjadi pada sapi yang diberi pakan konsentrat (grain-fed cattle) Komplikasi liver abcesses rumenitis or rumen parakeratosis mycotic rumenitis feedlot bloat laminitis

11 Gejala klinis Diare (tidak teramati bila hewan lebih dahulu mati). Diare profus akan terjadi pada hewan yang tidak mengalami depresi yang parah. Ambruk (kasus berat) karena kelemahan dan toksemia dalam jam. Respirasi meningkat karena asidosis Suhu tubuh subnormal Pulsus lemah. Sapi ambruk diam tidak bergerak( seperti gejala hipokalsemia Daerah muzzle (mukus dan tampak kotor)

12 Gejala klinis Bila terjadi pada sekawanan sapi (herd) beberapa hewan mengalami depresi dan asidosis laktat akut. kondisi sedang : depresi ringan disertai diare feses agak berbuih, berbau asam dan berwarna kuning coklat atau agak keabu-abuan feses mengandung bahan pakan yang belum tercerna beberapa hewan juga mengalami laminitis akut

13 Gejala klinis Kematian mendadak (suddent death) biasanya terjadi dalam jam, tapi banyak kasus ditandai dengan gejala membaik namun kemudian mati karena komplikasi sekunder. Jarang terjadi kasus melanjut dalam 3-4 minggu. Pulih : kondisi tubuh buruk akibat rumenitis kronis dan kerusakan hepar.

14 Milk Fever Parturient paresis Penyakit peripartus (48-72 jam) Ditandai hipokalsemia, kelemahan otot, dan depresis kesadaran. Insidensi 9% atau wabah Kerugian pengobatan $15 juta/tahun

15 Etiologi-Patogenesis Gagal adaptasi kalsium saat laktasi PTH tidak responsif, dekalsifikasi terbatas Faktor risiko Umur Produksi Manajemen masa kering

16 Keterkaitan Hipokalsemia dengan Beberapa Penyakit Peripartus imunosupresi plasma kortisol RETENSI PLASENTA uterus THE DOWNER COW SYNDROME HIPOKALSEMIA nafsu makan insulin tonus otot teat sphincter MASTITIS METRITIS DISTOKIA rumen BLOAT negative energy balance KETOSIS FATTY LIVER DISEASE

17 Metabolisme kalsium 1,25(OH) 2 -D calcitriol Tulang Ginjal 25(OH)-D 25 OH D 1 α hydroxylase PTH Hepar D25 hydroxylase 1,25(OH) 2 -D calcitriol Intestinal Kalsium Kalsifikasi Ca++HPO 4 Ca++HPO 4 Blood calcium

18 Gejala klinis Tiga stadium awal (excitement-tetany) kedua (sternal recumbency) ketiga (lateral recumbency) Pada kambing domba mirip sapi

19 Gejala klinis Hematologi eosinofilia neutrofilia limfopenia Biokimia kalsium : 5 mg/dl magnesium awal : lanjut : phosphate : glukosa : N SGOT : CPK :

20 Terapi Kalsium glukonas 25% Sapi besar ( ): Sapi kecil ( ) :

21 Ketosis Kondisi yang terjadi akibat ketidakseimbangan metabolisme karbohidrat Pada sapi, puncak produksi Pada domba, akhir kebuntingan

22 Etiologi-Patogenesis Hipoglisemia, hiperketonemia Ketosis primer Ketosis sekunder Faktor risiko obesitas saat partus rasio protein:energi masa kering lama kurang exercise Hipoglisemia, hiperketonemia Pada kebuntingan akhir (anak kembar) Inefisiensi hepar hipoglisemia encephalopati irreversible Stadium terminal gangguan ginjal

23 Tipe Ketosis (klinis): Tipe 1 : Spontaneus underfeeding (kurus, BHBA sangat tinggi, glukosa darah rendah, 3-6 minggu) Tipe 2 : Fat Cows Fatty Liver (gemuk, BHBA tinggi, benda keton, glukosa darah tinggi, 1-2 minggu) Tipe 3 : Wet Silages (bervariasi, BHBA tinggi, trigliserida hepar, glukosa darah bervariasi, bervariasi) Subklinis Awal laktasi BHBA lebih dari 14,4 mg/dl (risiko 3 kali)

24 Prevalensi Ketosis Subklinis

25 Gejala klinis Wasting BB turun drastis temp, pulus normal gerakan rumen turun feses keras kering sembuh spontan kematian rendah Syaraf hipoglisemia encephalopati hiperestesia, tremor tetani 1-2 jam berulang interval 8-12 jam kematian tinggi

26 Gejala klinis Pada domba mirip sapi bentuk syaraf Konstipasi, feses kering sedikit Ambruk dg gejala syaraf (konvulsi) Ambruk 3-4 hari, depresi, koma

27 Diagnosis Hipoglisemia, ketonemia, ketonuria Glukosa darah Keton urin Keton susu Plasma kortisol meningkat Ketolac strip test, Pink tes liquid (subklinis)

28 Diagnosis Gold standar SCK BHBA 14,4 mg/dl AcAc 360 umol/l (500 umol/l)

29 Defisiensi Copper Terutama pada sapi dan domba Hasil survey terbaru menunjukkan banyak negara daerah tropis rawan terhadap defisiensi copper seperti Argentina, Kenya, Bolivia, Brazil, Panama, Colombia, Peru, Costa Rica, Tanzania, Senegal, Ethiopia, Saudi Arabia, India, Pilipina, Malaysia dan Indonesia.

30 Fungsi copper Metabolisme Pertumbuhan villi Pembentukan darah Depresi pembentukan osteobast Myelinisasi syaraf

31 Akibat defisiensi Pertumbuhan terhambat Pertumbuhan villi terhambat Pigmentasi rambut Gangguan pembentukan darah Demyelinisasi syaraf Degenerasi myocardial

32 Penyebab Pakan tidak mengandung copper Pakan tinggi molibdenium Intake pakan mengandung sulfate (selenium meningkatkan absorbsi)

33

34 Gejala klinis Hewan mengalami gangguan pertumbuhan Infertilitas Pincang Rambut rontok pada domba Kulit : kasar warna rambut putih/pudar gatal dan menjilat-jilat. Produksi susu turun Anemia, lemah Ataksia setelah exercise Mudah terjadi fraktur tulang (ektrimitas, khususnya skapula). Swayback Berat : kematian mendadak akibat CHF akut (falling disease). Persisten scouring pada sapi atau domba(peat scours) Diare berwarna kuning kehijauan hingga kehitaman. Feses dikeluarkan tanpa adanya tekanan atau rejanan, bahkan tanpa mengangkat ekor. Hewan sangat kurus meskipun nafsu makan masih baik.

35 Diagnosis Kadar copper serum < 0,7 mg/ml. Namun kadang kala kadar copper serum penderita normal. Kondisi ini diduga terjadi pada kasus sekunder. Copper darah normal atau tinggi, diduga sebagai respon kekurangan copper dalam jaringan. Pada kasus sekunder juga tidak ditemui adanya anemia. Respon terapi Biopsi : kadar copper di hepar (gold standard).

36 Terapi Pemberian terapi preparat copper per oral. Copper sulfat diberikan seminggu sekali selama 3-5 minggu. Hati-hati agar tidak terjadi intoksikasi copper. Pedet 4 g; Sapi 6-10 g; Domba 1,5 g. Langkah alternatif terapi dan pencegahan adalah memberikan secara parenteral dan preparat slow release peroral

37

38 Keracunan Keracunan bisa terjadi secara langsung tubuh berkontak dengan bahan beracun atau melalui makanan, proses pencernaan atau residu.

39 Insektisida Organofosfat Hidroklorin Karbamat Pyrethrin, Pyrethroid Miticide Rodenticide Antikoagulan Strychnine Fluoroacetate Pestisida

40 Bahan Lain Obat Acetaminophen Supplemen (ferrous sulphate) CNS (primidone) Tanaman Dracaena marginata (kucing) Dieffenbacia sp, Philodendron sp Ricinus communis Pupuk Nitrat-Nitrit Urea Biotoksin Methylxanthine (theobromine, Cokelat)

41 Keracunan Cokelat Chocolate is made from the fruit (beans) of the cacao tree. Theobromine, a component of chocolate, is the toxic compound in chocolate. (Caffeine is also present in chocolate, but in much smaller amounts than Theobromine.) Both Theobromine and Caffeine are members of a drug class called Methylxanines. Theobromine and caffeine effects on the body: Central Nervous System (CNS) stimulant Cardiovascular stimulant Increase blood pressure (mild) Nausea and vomiting

42 Unsweetened (baker's) chocolate contains 8-10 times the amount of Theobromine as milk chocolate. Semi-sweet chocolate falls roughly in between the two for Theobromine content. White chocolate contains Theobromine, but in such small amounts that Theobromine poisoning is unlikely. Caffeine is present in chocolate, but less than Theobromine.

43 From The Merck Veterinary Manual, here are approximate Theobromine levels of different types of chocolate: Dry cocoa powder = 800 mg/oz Unsweetened (Baker's) chocolate = 450 mg/oz Cocoa bean mulch = 255 mg/oz semisweet chocolate and sweet dark chocolate is = mg/oz Milk chocolate = mg Theobromine per oz chocolate White chocolate contains an insignificant source of methylxanthines.

44 The toxic dose of Theobromine (and caffeine) for pets is mg/kg. (1 kilogram = 2.2 pounds). However, various reports by the ASPCA (American Society for the Prevention of Cruelty to Animals) have noted problems at doses much lower than this - i.e. 20mg/kg. Humans can break down and excrete Theobromine much more efficiently than dogs. The half life of Theobromine in the dog is long; approximately 17.5 hours. White chocolate: 200 ounces per pound of body weight. It takes 250 pounds of white chocolate to cause signs of poisoning in a 20-pound dog, 125 pounds for a 10- pound dog. Milk chocolate: 1 ounce per pound of body weight. Approximately one pound of milk chocolate is poisonous to a 20-pound dog; one-half pound for a 10-pound dog. The average chocolate bar contains 2 to 3 ounces of milk chocolate. It would take 2-3 candy bars to poison a 10 pound dog. Semi-sweet chocolate has a similar toxic level. Sweet cocoa: 0.3 ounces per pound of body weight. One-third of a pound of sweet cocoa is toxic to a 20-pound dog; 1/6 pound for a 10-pound dog. Baking chocolate: 0.1 ounce per pound body weight. Two one-ounce squares of bakers' chocolate is toxic to a 20-pound dog; one ounce for a 10-pound dog.

45 Clinical signs Onset : beberapa jam (vomiting, diarrhea or hyperactivity). Berlanjut : peningkatan frekuensi denyut jantung Arrhythmia, restlessness, muscle twitching Hiperaktifitas, urinasi meningkat Panting berlebihan. Dapat memicu hiperthermia, tremor otot, seizures, coma dan kematian.

46 Mycotoxin Mycotoxin adalah bahan beracun yang dihasilkan fungi yang tumbuh pada bahan makanan atau pakan. Merusak organ atau jaringan (ginjal, hepar, otak, saluran cerna, sistem reproduksi) Akut, subakut, kronis Gejala : anoreksia, ikhterus, melena, poliuria, polidipsia, perdarahan

47 Aflatoksin : Aspergillus flavus, Aspergilus parasiticus Aflatoksin B1, B2, G1, G2 Aflatoksin B1 paling toksik (susu) jagung, sumber protein sering terjadi pada ternak (ayam jarang) Penitrem A: Penicillium crustaceum Keju (blue green fungal mat), walnut Botulinum : Clostridium botulinum Toksin A, B, C, D, E, F, G

48 Vitamin Vitamin adalah molekul organik yang sangat diperlukan tubuh hewan dan manusia untuk proses metabolisme dan pertumbuhan. Tubuh tidak dapat membuat vitamin dalam jumlah cukup dan harus dipenuhi dari makanan Vitamin larut lemak (ADEK) Vitamin larut air (B1/Thiamine, B2/Riboflavin, Biotin, B6/Piridoxin, Asam folat, Asam pantotenat, Cobalamine, Choline, Niacin, Vitamin C)

49 Defisiensi vitamin Vitamin larut air Vitamin larut lemak Hipervitaminosis Vitamin larut lemak

50 Hipervitaminosis D Vitamin D (cholecalciferol) is a fat soluble vitamin. Toxicity occurs when excessive amounts of cholecalciferol are ingested. Most commonly, this occurs as a result of ingestion of choleciferol-containing rodenticides or vitamin supplements. Less commonly, vitamin D toxicity may also occur as a result of an improperly balanced diet. Cholecalciferol, is metabolized in the liver to 25- hydroxycholecalciferol, which in turn is metabolized by the kidneys to calcitriol.

51 Hipervitaminosis D Calcitriol enhances calcium resorption from the bones and the uptake of calcium from the intestinal tract. When excessive amounts of calcitriol are present, as happens in vitamin D toxicity, hypercalcemia (abnormally high levels of calcium in the blood) occurs because: excessive amounts of calcium are absorbed from the intestinal tract calcium resorption from bone is stimulated the kidneys increase the reabsorption of calcium

52 Hipervitaminosis D The symptoms seen in cases of vitamin D toxicity are a result of the hypercalcemia that develops due to excessive amounts of cholecalciferol being metabolized to calcitriol. Hypercalcemia results in abnormal calcification in the kidneys, gastrointestinal tract and cardiovascular system as well as neurological dysfunction. Clinical Signs: Vomiting, diarrhea Polydipsia, polyuria Lethargy, anorexia Hemorrhage in the gastrointestinal tract and/or lungs, in some animals Pain from the kidney area Abnormal heart rhythms Bone pain

53 Keracunan Urea Seringkali urea digunakan sebagai bahan untuk amoniasi jerami Keracunan : diberikan terlalu banyak sehingga sapi mengalami keracunan sapi seringkali minum atau makan pupuk urea yang tidak disimpan dengan baik oleh peternak. Urea tersebut di dalam rumen akan dimanfaatkan oleh mikroba dan menghasilkan amonia. Di dalam tubuh, amonia adalah zat beracun dan menyebabkan kondisi yang dikenal sebagai encephalopati hepatis dimana hewan menunjukkan gejala syaraf atau kejang-kejang karena gangguan sistem syaraf pusat akibat adanya akumulasi amonia di dalam tubuh.

54 Gejala Hewan hipersalivasi dan berbuih, gigi menggeretak karena adanya rasa sakit dan tampak telinga dan wajahnya menegang. Adanya rasa sakit daerah abdomen disertai bloat. Selain itu hewan menunjukkan peningkatan frekuensi respirasi dan berat. Hewan lebih sering urinasi. Selanjutnya hewan kejang dan ambruk. Seringkali hewan ditemui mati di dekat sumber urea tersebut.

55 Pengobatan, penanggulangan dan pencegahan Segera lakukan terapi, meskipun hasilnya tidak cukup memuaskan. Gunakan sonde lambung untuk mengurangi bloat yang terjadi, sekaligus untuk memberikan air dingin. Sapi dewasa : 45 liter air dingin diikuti beberapa liter asam asetat 6% atau cuka. Pengenceran tersebut akan menurunkan suhu di dalam rumen dan meningkatkan asiditas rumen sehingga mampu mengurangi produksi amonia. Bila perlu terapi diulangi dalam 24 jam. Berikan urea secara bertahap dalam jumlah yang sedikit (0,1 gram/kg BB) atau gram untuk sapi 400 kg. Simpan dengan baik urea pupuk agar tidak mudah dimakan sapi atau ruminansia kecil.

56 Keracunan Nitrat-Nitrit Mirip dengan keracunan urea. Nitrat (NO 3 )sebetulnya bukan merupakan bahan toksik. Namun di dalam tubuh, nitrat dicerna dan berubah menjadi nitrit (NO2) oleh mikroba rumen. Kemudian nitrat yang beredar di dalam darah akan mengubah hemoglobin menjadi methemoglobin. Sehingga hemoglobin yang juga berfungsi mengikat oksigen untuk memenuhi kebutuhan oksigen jaringan menjadi berkurang. Pada monogastrik, nitrat akan dikonversi menjadi nitrit di dalam usus, sehingga kecil kemungkinan untuk diabsorbsi dan menimbulkan masalah. Sumber penularan tanaman (Astragalus) air sumur yang dalam sehingga terjadi akumulasi nitrat terutama bila disekitarnya dilakukan pemupukan menggunakan pupuk nitrogen yang berlebihan.

57 Keracunan Nitrat-Nitrit Gejala Hewan akan menunjukkan gejala setelah 6 jam memakan atau menelan bahan tersebut. Hewan menunjukkan gejala anoksia berat (kekurangan oksigen) lemah, depresi sianosis dan takikardia (denyut jantung meningkat) hewan akan mati bila 60-75% hemoglobin dioksidasi menjadi methemoglobin. Biasanya ini berlangsung dalam 24 jam pasca hewan memakan bahan tersebut. Sedangkan bila serangan bersifat kronis umumnya terjadi abortus dan meningkatkan kebutuhan vitamin A atau hewan menunjukkan gejala hipovitaminosis A.

58 Keracunan Nitrat-Nitrit Pengobatan, pengendalian dan pencegahan Berikan Methylene blue 1% yang dapat mereduksi methemoglobin menjadi hemoglobin. Monogastrik : terapi tunggal 1-2 mg/kgbb intravena Ruminansia : ruminansia > 20 mg/kgbb dan bila perlu diulangi tiap 8 jam bila memakan nitrat dalam jumlah besar

59 Keracunan Lantana Lantana camara atau kembang telekan adalah tanaman yang selalu hijau dan bertahan saat musim kemarau, sementara tanaman lain mengering. Pada daerah padang gembala bila semua tanaman mengering, maka tanaman ini akan menarik hewan untuk memakannya. Komponen-komponen beracun tanaman ini yaitu Lantadene A (LA), Lantadene B (LB), Lantadene C (LC) dan Lantadene D (LD). Di antara komponen tersebut LA dan LB yang paling toksik. Pada daerah kering keracunan Lantana sering dilaporkan bahkan menjadi wabah. Di Indonesia bahkan pernah dilaporkan terjadi wabah keracunan Lantana pada sapi Bali di Kalawi, Donggala tahun 1980.

60 Keracunan Lantana Gejala awal : fotosensitisasi dermatitis. Hewan akan mengalami kemerahan (eritema) pada kulit terutama yang terkena sinar matahari. Kulit yang terkena umumnya yang berambit tipis atau tidak berambut, termasuk juga di sekitar mocong. Bila berlanjut maka kulit tersebut akan nekrosis dan mengelupas. Gejala yang lain hewan akan menunjukkan perubahan warna urine. Urine seringkali ditemukan berwarna merah bahkan coklat tua. Gejala-gejala tersebut sangat mirip dengan penyakit Baliziekte.

61 Grass tetany Magnesium deficiency Hypomagnesemia grass staggers Muscle weakness Magnesium co-factor of many enzymes involved in metabolism Signaling molecule ATP bound to Mg to be biologically active Neuromuscular function

62 Occurs during early lactation Mg requirement is higher British breeds More common in cool season grasses Lower Mg concentration compared with legumes More common in spring Rapidly growing forage Legume growth is slow

63 Grass tetany Risks Lush, green, fast growing grasses (high potassium) High potassium and low magnesium dan calcium High concentrations potassium negatively affect soil magnesium intake by plants High nitrogen concentrations following fertilizer also may limits magnesium avalability Cattle grazzing fertilized pasture

64 Grass Tetany Clinical signs No clinical signs : Suddent death (interval a few hours) Stop grazing, appears nevous or high-headed Stagger or experience twitching of the skin Stiffening of the muscles Violent jerking convulsions with the head pulled back Lie down and pedal with its legs and chew to the point of frothing of the mouth If convulsion subside, the animal may appear relaxed. However, noises or touches may result in violent reaction.

65 Common after fertilization Rapid growth Potassium decreases Mg absorption Sodium linked transport of Mg across rumen wall Sodium deficiency implicated Na:K ratio of rumen fluid 1.0 grass tetany 5.0 improvement High soluble protein = increased ammonia Decreased Mg absorption

66 Higher fatty acids (HFA) 16:0 and greater High in forages likely to cause grass tetany Form insoluble soaps with Mg Most Mg absorption occurs in rumen Soaps dissociate in small intestine Little Mg absorption occurs in ruminants in SI Winter tetany Dry, low quality forage is low in Mg Transit tetany sheep Long periods of fasting

67 Clinical signs Initial symptoms Muscle twitching (face and ears) Excessive alertness Uncoordination Stiff gait 3 4 hours Collapse Convulsive spasms Paddling of feet

68 Treatment Minimal handling 2 slow injections of a Mg solution Rapid = heart failure Prevention Supplement Mg (MgO) Salt supplement Increases Mg absorption Salt is more palatable Graze legume/grass mixture Graze pastures that have been rested previous year Dilution of lush forage with dry forage

69 Eclampsia Eclampsia, also called milk fever, hypocalcemia or puerperal tetany Eclampsia is an acute, life-threatening disease caused by low blood calcium levels (hypocalcemia) in dogs and more rarely in cats. The lactating animal is especially susceptible to blood calcium depletion because of milk production. The bodies of some lactating dogs and cats simply cannot keep up with the increased demands for calcium. Animals with milk fever lack the ability to quickly move calcium into their milk without depleting their own blood levels of this mineral. Eclampsia most commonly occurs 1-3 weeks after giving birth, but it can even occur during pregnancy. Litters do not need to be large to cause eclampsia. Small breed dogs are at higher risk for eclampsia. The puppies themselves are not affected as the mother s milk appears to be normal during this period.

70 Eclampsia Eclampsia is a very serious disorder but fortunately the signs are fairly easy to recognize, especially when coupled with late term pregnancy and/or milk production. Initially, the affected dog will be restless and nervous. Within a short time, she will walk with a stiff gait and may even wobble or appear disoriented. Eventually, the dog may be unable to walk and her legs may become stiff or rigid. The dog may have a fever, with body temperature even over 105º F (40,5 o C). The respiration rate (number of breaths per minute) will increase. At this point, death can occur if no treatment is given.

71 Eclampsia Over-supplementation of calcium during pregnancy may increase the risk of eclampsia. There is a complex way the body maintains the proper amount of calcium in the blood. The body is constantly adding calcium to bones and then removing it, as needed. This is regulated by a hormone produced by the parathyroid gland, called parathyroid hormone. If a dog receives increased amounts of calcium during pregnancy, her body's production of parathyroid hormone greatly decreases. When the dog suddenly needs large amounts of calcium for milk production, the system is not ready to start removing it from the bone. This is because it takes some time for the parathyroid gland to start producing the hormone again. Because of the lack in parathyroid hormone, the blood calcium level suddenly drops, and produces the signs of eclampsia.

72 Eclampsia So, adequate amounts of calcium need to be given during pregnancy, but not enough to slow down the production of parathyroid hormone. This means calcium supplements are generally not recommended. Also, it is important for the calcium and phosphorus in the diet to be at the correct ratio of 1:1 (i.e.; 1 part calcium to 1 part phosphorus). Vitamin D must also be present in adequate amounts. Once a dog has had milk fever, there is an excellent chance that she will also have it with future litters if preventive steps are not taken. Be sure to work closely with your veterinarian if your dog has had eclampsia in the past and is pregnant again. In conclusion, it is of great importance for owners of pregnant or nursing dogs to be able to recognize the signs of eclampsia. If you feel your female dog is showing these signs, remove the pups to prevent further nursing and seek veterinary assistance at once.

BAHAN AJAR BAB V. PENANGGULANGAN PENYAKIT METABOLIK A. PENDAHULUAN

BAHAN AJAR BAB V. PENANGGULANGAN PENYAKIT METABOLIK A. PENDAHULUAN BAHAN AJAR BAB V. PENANGGULANGAN PENYAKIT METABOLIK A. PENDAHULUAN Materi akan didahului dengan penjelasan tentang pengertian metabolisme dalam tubuh serta faktor-faktor yang dapat mengganggu keseimbangan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN MAKRONUTRISI. Pendahuluan. Lemak (Lipids) 4/11/2015 NUGROHO AGUNG S.

PENDAHULUAN MAKRONUTRISI. Pendahuluan. Lemak (Lipids) 4/11/2015 NUGROHO AGUNG S. PENDAHULUAN MAKRONUTRISI Protein NUGROHO AGUNG S. Makronutrisi Karbohidrat Lemak Pendahuluan Lemak (Lipids) Di dalam tubuh, lemak dalam bentuk trigliserida akan tersimpan dalam jumlah yang terbatas pada

Lebih terperinci

ABSTRAK PATOLOGI GAGAL GINJAL KRONIK

ABSTRAK PATOLOGI GAGAL GINJAL KRONIK ABSTRAK PATOLOGI GAGAL GINJAL KRONIK Chrismatovanie Gloria, 2003. Pembimbing Utama: Freddy Tumewu A., dr., MS. Gagal ginjal kronik merupakan suatu penyakit yang berbahaya, dimana akan terjadi kehilangan

Lebih terperinci

ABSTRAK dan khas anak

ABSTRAK dan khas anak ABSTRAK Diabetes mellitus adalah suatu sindrom yang ditandai oleh hiperglikemia kronis dan gangguan metabolime karbohidrat, lemak, dan protein yang berhubungan dengan defisiensi sekresi insulin atau kerja

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pakan. Biaya untuk memenuhi pakan mencapai 60-70% dari total biaya produksi

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pakan. Biaya untuk memenuhi pakan mencapai 60-70% dari total biaya produksi 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Pakan Sapi Perah Faktor utama dalam keberhasilan usaha peternakan yaitu ketersediaan pakan. Biaya untuk memenuhi pakan mencapai 60-70% dari total biaya produksi (Firman,

Lebih terperinci

Daftar Pustaka. Leng, R.A Drought Feeding Strategies : Theory and Pactice. The University of New England Printery, Armidale - New South Wales.

Daftar Pustaka. Leng, R.A Drought Feeding Strategies : Theory and Pactice. The University of New England Printery, Armidale - New South Wales. 1 Strategi Pemberian Pakan Berkualitas Rendah (Jerami Padi) Untuk Produksi Ternak Ruminansia Oleh Djoni Prawira Rahardja Dosen Fakultas Peternakan Unhas I. Pendahuluan Ternak menggunakan komponen zat-zat

Lebih terperinci

KOMPOSISI PAKAN DAN TUBUH HEWAN

KOMPOSISI PAKAN DAN TUBUH HEWAN 1 KOMPOSISI PAKAN DAN TUBUH HEWAN M.K. Pengantar Ilmu Nutrisi Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB Zat makanan adalah unsur atau senyawa kimia dalam pangan / pakan yang dapat

Lebih terperinci

ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B

ETIOLOGI : 1. Ada 5 kategori virus yang menjadi agen penyebab: Virus Hepatitis A (HAV) Virus Hepatitis B (VHB) Virus Hepatitis C (CV) / Non A Non B HEPATITIS REJO PENGERTIAN: Hepatitis adalah inflamasi yang menyebar pada hepar (hepatitis) dapat disebabkan oleh infeksi virus dan reaksi toksik terhadap obat-obatan dan bahan kimia ETIOLOGI : 1. Ada 5

Lebih terperinci

ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA ASAM FOLAT DAN VITAMIN B 12 DENGAN VEGETARIAN MURNI (STUDI PUSTAKA)

ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA ASAM FOLAT DAN VITAMIN B 12 DENGAN VEGETARIAN MURNI (STUDI PUSTAKA) ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA ASAM FOLAT DAN VITAMIN B 12 DENGAN VEGETARIAN MURNI (STUDI PUSTAKA) Fiska Maristy, 2006 Pembimbing I : Lisawati Sadeli, dr. Pembimbing II : Winny Suwindere, drg., Ms Asam folat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Glukosa Darah Karbohidrat merupakan sumber utama glukosa yang dapat diterima dalam bentuk makanan oleh tubuh yang kemudian akan dibentuk menjadi glukosa. Karbohidrat yang dicerna

Lebih terperinci

glukosa darah melebihi 500 mg/dl, disertai : (b) Banyak kencing waktu 2 4 minggu)

glukosa darah melebihi 500 mg/dl, disertai : (b) Banyak kencing waktu 2 4 minggu) 14 (polidipsia), banyak kencing (poliuria). Atau di singkat 3P dalam fase ini biasanya penderita menujukan berat badan yang terus naik, bertambah gemuk karena pada fase ini jumlah insulin masih mencukupi.

Lebih terperinci

PEMBERIAN PAKAN PADA PENGGEMUKAN SAPI

PEMBERIAN PAKAN PADA PENGGEMUKAN SAPI Tatap muka ke 7 POKOK BAHASAN : PEMBERIAN PAKAN PADA PENGGEMUKAN SAPI Tujuan Instruksional Umum : Mengetahui program pemberian pakan pada penggemukan sapi dan cara pemberian pakan agar diperoleh tingkat

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu peternakan. Pakan

I. PENDAHULUAN. Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu peternakan. Pakan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pakan merupakan masalah yang mendasar dalam suatu peternakan. Pakan merupakan salah satu komponen dalam budidaya ternak yang berperan penting untuk mencapai

Lebih terperinci

Reabsorbsi pada kapiler peritubuler

Reabsorbsi pada kapiler peritubuler SISTEM UROPOETIKA Reabsorbsi pada kapiler peritubuler Substansi yang dieliminasikan dari tubuh melalui filtrasi dari kapiler peritubuler GANGGUAN GINJAL Menunjukkan gejala klinis jika 70% fungsinya terganggu

Lebih terperinci

ANALISIS KUALITAS AIR MINUM SAPI PERAH RAKYAT DI KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH

ANALISIS KUALITAS AIR MINUM SAPI PERAH RAKYAT DI KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH ANALISIS KUALITAS AIR MINUM SAPI PERAH RAKYAT DI KABUPATEN BANYUMAS JAWA TENGAH Doso Sarwanto 1) dan Eko Hendarto 2) ABSTRAK Produksi susu sapi perah dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitas air yang dikonsumsinya.

Lebih terperinci

1. Jenis-jenis Sapi Potong. Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah :

1. Jenis-jenis Sapi Potong. Beberapa jenis sapi yang digunakan untuk bakalan dalam usaha penggemukan sapi potong di Indonesia adalah : BUDIDAYA SAPI POTONG I. Pendahuluan. Usaha peternakan sapi potong mayoritas masih dengan pola tradisional dan skala usaha sambilan. Hal ini disebabkan oleh besarnya investasi jika dilakukan secara besar

Lebih terperinci

SKRIPSI TRESNA SARI PROGRAM STUD1 ILMU NUTFUSI DAN MAKAWAN TERNAK

SKRIPSI TRESNA SARI PROGRAM STUD1 ILMU NUTFUSI DAN MAKAWAN TERNAK i 0 b('/ PEMANFAATAN RANSUM AMPAS TEH (Cnnzrllin sinensis) YANG DITAMBAHKAN SENG (Zn) LEVEL BERBEDA TERHADAP REPRODUKSI DAN KONSUMSI KELINCI BETINA PADA SETIAP STATUS FISIOLOGI SKRIPSI TRESNA SARI PROGRAM

Lebih terperinci

ABSTRAK PERBANDINGAN KADAR RET HE, FE, DAN TIBC PADA PENDERITA ANEMIA DEFISIENSI FE DENGAN ANEMIA KARENA PENYAKIT KRONIS

ABSTRAK PERBANDINGAN KADAR RET HE, FE, DAN TIBC PADA PENDERITA ANEMIA DEFISIENSI FE DENGAN ANEMIA KARENA PENYAKIT KRONIS ABSTRAK PERBANDINGAN KADAR RET HE, FE, DAN TIBC PADA PENDERITA ANEMIA DEFISIENSI FE DENGAN ANEMIA KARENA PENYAKIT KRONIS Renaldi, 2013 Pembimbing I : dr. Fenny, Sp.PK., M.Kes Pembimbing II : dr. Indahwaty,

Lebih terperinci

disusun oleh: Willyan Djaja

disusun oleh: Willyan Djaja disusun oleh: Willyan Djaja 0 PENDAHULUAN Produksi sapi perah dipengaruhi oleh factor genetic, lingkungan, dan interaksi genetic dan lingkungan. Factor genetic berpengaruh sebesar 30 % dan lingkungan 70

Lebih terperinci

RESPON PRODUKSI SUSU SAPI FRIESIAN HOLSTEIN TERHADAP PEMBERIAN SUPLEMEN BIOMINERAL DIENKAPSULASI SKRIPSI PIPIT

RESPON PRODUKSI SUSU SAPI FRIESIAN HOLSTEIN TERHADAP PEMBERIAN SUPLEMEN BIOMINERAL DIENKAPSULASI SKRIPSI PIPIT RESPON PRODUKSI SUSU SAPI FRIESIAN HOLSTEIN TERHADAP PEMBERIAN SUPLEMEN BIOMINERAL DIENKAPSULASI SKRIPSI PIPIT DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2009

Lebih terperinci

KEBUTUHAN NUTRISI PADA ANAK. ANITA APRILIAWATI, Ns., Sp.Kep An Pediatric Nursing Department Faculty of Nursing University of Muhammadiyah Jakarta

KEBUTUHAN NUTRISI PADA ANAK. ANITA APRILIAWATI, Ns., Sp.Kep An Pediatric Nursing Department Faculty of Nursing University of Muhammadiyah Jakarta KEBUTUHAN NUTRISI PADA ANAK ANITA APRILIAWATI, Ns., Sp.Kep An Pediatric Nursing Department Faculty of Nursing University of Muhammadiyah Jakarta NUTRISI PADA ANAK Pemenuhan kebutuhan nutrisi anak Pertumbuhan

Lebih terperinci

Informasi Data Pokok Kota Surabaya Tahun 2012 BAB I GEOGRAFIS CHAPTER I GEOGRAPHICAL CONDITIONS

Informasi Data Pokok Kota Surabaya Tahun 2012 BAB I GEOGRAFIS CHAPTER I GEOGRAPHICAL CONDITIONS BAB I GEOGRAFIS CHAPTER I GEOGRAPHICAL CONDITIONS Indonesia sebagai negara tropis, oleh karena itu kelembaban udara nya sangat tinggi yaitu sekitar 70 90% (tergantung lokasi - lokasi nya). Sedangkan, menurut

Lebih terperinci

TINJAUAN PUSTAKA. Ginjal adalah system organ yang berpasangan yang terletak pada rongga

TINJAUAN PUSTAKA. Ginjal adalah system organ yang berpasangan yang terletak pada rongga BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Ginjal Ginjal adalah system organ yang berpasangan yang terletak pada rongga retroperitonium. Secara anatomi ginjal terletak dibelakang abdomen atas dan di kedua sisi kolumna

Lebih terperinci

ABSTRAK EFEKTIVITAS TEH HIJAU, TEH HITAM, DAN TEH PUTIH DALAM MENURUNKAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PRIA DEWASA MUDA

ABSTRAK EFEKTIVITAS TEH HIJAU, TEH HITAM, DAN TEH PUTIH DALAM MENURUNKAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PRIA DEWASA MUDA ABSTRAK EFEKTIVITAS TEH HIJAU, TEH HITAM, DAN TEH PUTIH DALAM MENURUNKAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PRIA DEWASA MUDA Lie Milka Ardena Lianto.,2016, Pembimbing I : Lusiana Darsono, dr.,m.kes Pembimbing II

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Unsur mineral merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan oleh

II. TINJAUAN PUSTAKA. Unsur mineral merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan oleh II. TINJAUAN PUSTAKA A. Mineral Mikro Organik Unsur mineral merupakan salah satu komponen yang sangat diperlukan oleh makluk hidup. Sebagian besar mineral akan tertinggal dalam bentuk abu sebagai senyawa

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Pakan Penambahan daun Som Jawa pada ransum menurunkan kandungan serat kasar dan bahan kering ransum, namun meningkatkan protein kasar ransum. Peningkatan protein disebabkan

Lebih terperinci

ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA DI PUSKESMAS JAGASATRU CIREBON

ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA DI PUSKESMAS JAGASATRU CIREBON ABSTRAK HUBUNGAN ANTARA INDEKS MASSA TUBUH DENGAN KADAR GLUKOSA DARAH PUASA DI PUSKESMAS JAGASATRU CIREBON Daniel Hadiwinata, 2016 Pembimbing Utama : Hendra Subroto, dr.,sppk. Pembimbing Pendamping: Dani,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Peranakan Ettawa (PE) merupakan hasil perkawinan antara kambing

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kambing Peranakan Ettawa (PE) merupakan hasil perkawinan antara kambing BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Peranakan Ettawa Kambing Peranakan Ettawa (PE) merupakan hasil perkawinan antara kambing Kacang dengan kambing Ettawa sehingga mempunyai sifat diantara keduanya (Atabany,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sangat besar untuk memenuhi kebutuhan daging di tingkat nasional. Kenyataan

I. PENDAHULUAN. sangat besar untuk memenuhi kebutuhan daging di tingkat nasional. Kenyataan I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Pembangunan subsektor peternakan provinsi Lampung memiliki peranan yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan daging di tingkat nasional. Kenyataan ini sejalan

Lebih terperinci

HUBUNGAN KADAR GLUKOSA DARAH DENGAN BETA HIDROKSI BUTIRAT PADA PENDERITA DIABETES MELITUS

HUBUNGAN KADAR GLUKOSA DARAH DENGAN BETA HIDROKSI BUTIRAT PADA PENDERITA DIABETES MELITUS HUBUNGAN KADAR GLUKOSA DARAH DENGAN BETA HIDROKSI BUTIRAT PADA PENDERITA DIABETES MELITUS Mardiana, Warida, Siti Rismini Dosen Jurusan Analis Kesehatan Poltekkes Kemenkes Jakarta III Jl. Arteri JORR Jatiwarna

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA Hiperurisemia telah dikenal sejak abad ke-5 SM. Penyakit ini lebih banyak menyerang pria daripada perempuan, karena pria memiliki kadar asam urat yang lebih tinggi daripada perempuan

Lebih terperinci

THE EFFECT OF PROBIOTIC FEED SUPPLEMENT ON MILK YIELD, PROTEIN AND FAT CONTENT OF FRIESIAN HOLSTEIN CROSSBREED

THE EFFECT OF PROBIOTIC FEED SUPPLEMENT ON MILK YIELD, PROTEIN AND FAT CONTENT OF FRIESIAN HOLSTEIN CROSSBREED THE EFFECT OF PROBIOTIC FEED SUPPLEMENT ON MILK YIELD, PROTEIN AND FAT CONTENT OF FRIESIAN HOLSTEIN CROSSBREED Wahyu Andry Novianto, Sarwiyono, and Endang Setyowati Faculty of Animal Husbandry, University

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL PENELITIAN. SMA Raksana Medan Tahun Oleh : RISHITHARAN DORAISAMY

LAPORAN HASIL PENELITIAN. SMA Raksana Medan Tahun Oleh : RISHITHARAN DORAISAMY LAPORAN HASIL PENELITIAN Gambaran Pengetahuan Tentang Diet Seimbang pada Siswa SMA Raksana Medan Tahun 2011 Oleh : RISHITHARAN DORAISAMY 080100424 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN RERATA KADAR TRIGLISERIDA PADA PRIA DEWASA MUDA OBES DAN NON OBES

ABSTRAK GAMBARAN RERATA KADAR TRIGLISERIDA PADA PRIA DEWASA MUDA OBES DAN NON OBES ABSTRAK GAMBARAN RERATA KADAR TRIGLISERIDA PADA PRIA DEWASA MUDA OBES DAN NON OBES Viola Stephanie, 2010. Pembimbing I : dr. Lisawati Sadeli, M.Kes. Pembimbing II : dr. Ellya Rosa Delima, M.Kes. Obesitas

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsentrasi NH3. protein dan non protein nitrogen (NPN). Amonia merupakan bentuk senyawa

HASIL DAN PEMBAHASAN. 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsentrasi NH3. protein dan non protein nitrogen (NPN). Amonia merupakan bentuk senyawa 33 IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Pengaruh Perlakuan terhadap Konsentrasi NH3 NH3 atau amonia merupakan senyawa yang diperoleh dari hasil degradasi protein dan non protein nitrogen (NPN). Amonia merupakan

Lebih terperinci

MIKRONUTRISI REVIEW. Makronutrisi PENDAHULUAN. Nutrisi 4/11/2015. Fat. onutri si. Karbohidrat. Protein. onutr isi NUGROHO AGUNG S.

MIKRONUTRISI REVIEW. Makronutrisi PENDAHULUAN. Nutrisi 4/11/2015. Fat. onutri si. Karbohidrat. Protein. onutr isi NUGROHO AGUNG S. MIKRONUTRISI REVIEW Nutrisi dan Kesehatan Makronutrisi Karbohidrat Lemak dan Protein Mikronutrisi NUGROHO AGUNG S. PENDAHULUAN Makronutrisi mikr onutr isi makr onutri si Nutrisi Karbohidrat Fat Makronutrisi

Lebih terperinci

SANMOL 1. Paracetamol. Tablet Effervescent. Tiap tablet effervescent mengandung: Parasetamol 1000 mg

SANMOL 1. Paracetamol. Tablet Effervescent. Tiap tablet effervescent mengandung: Parasetamol 1000 mg SANMOL 1 Paracetamol Tablet Effervescent Tiap tablet effervescent mengandung: Parasetamol 1000 mg FARMAKOLOGl SANMOL 1 Tablet effervescent mengandung Parasetamol yang bekerja sebagai analgesik, dengan

Lebih terperinci

Distribution Distribution

Distribution Distribution Incidence Malaria Each year Malaria causes 200-300 million cases It kills over 1 million people every year It is causes by a parasite called plasmodium (4 types) It is spread by the anopheles mosquito

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH KALSIUM TERHADAP KADAR KOLESTEROL DARAH TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK

ABSTRAK PENGARUH KALSIUM TERHADAP KADAR KOLESTEROL DARAH TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK ABSTRAK PENGARUH KALSIUM TERHADAP KADAR KOLESTEROL DARAH TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK Andry Setiawan Lim, 2012, Pembimbing I : Dr. Meilinah Hidayat, dr., M.Kes. Pembimbing II: Sijani

Lebih terperinci

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN

RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN RENCANA KEGIATAN PEMBELAJARAN MINGGUAN Pertemuan : Minggu ke 14 Waktu : 50 menit Pokok bahasan : 14. Kasus Penyakit di Klinik (Lanjutan) Subpokok bahsan : a. Penyakit Anemia hemolitik intravaskuler (keracunan

Lebih terperinci

PENYAKIT DEGENERATIF V I L D A A N A V E R I A S, M. G I Z I

PENYAKIT DEGENERATIF V I L D A A N A V E R I A S, M. G I Z I PENYAKIT DEGENERATIF V I L D A A N A V E R I A S, M. G I Z I EPIDEMIOLOGI WHO DEGENERATIF Puluhan juta ORANG DEATH DEFINISI Penyakit degeneratif penyakit yg timbul akibat kemunduran fungsi sel Penyakit

Lebih terperinci

NUTRITION, EXERCISE AND HEALTHY

NUTRITION, EXERCISE AND HEALTHY NUTRITION, EXERCISE AND HEALTHY Nugroho Agung S. STKIP PGRI Sumenep Introduction Apa yang orang makan tidak hanya untuk kesehatannya saja akan tetapi juga untuk performa pada atlet olahraga. Tubuh manusia

Lebih terperinci

ASKEP GAWAT DARURAT ENDOKRIN

ASKEP GAWAT DARURAT ENDOKRIN ASKEP GAWAT DARURAT ENDOKRIN Niken Andalasari PENGERTIAN Hipoglikemia merupakan keadaan dimana didapatkan penuruan glukosa darah yang lebih rendah dari 50 mg/dl disertai gejala autonomic dan gejala neurologic.

Lebih terperinci

Adelya Desi Kurniawati STP., MP., M.Sc.

Adelya Desi Kurniawati STP., MP., M.Sc. Adelya Desi Kurniawati STP., MP., M.Sc. Tujuan Pembelajaran Setelah mengikuti materi ini: Mahasiswa memahami tujuan dari suplementasi bahan pangan Mahasiswa memahami berbagai macam metode suplementasi

Lebih terperinci

ABSTRAK. GAMBARAN UMUM PENDERITA PREEKLAMPSIA-EKLAMPSIA YANG DI RAW AT INAP DI RUMAH SAKIT IMMANlJEL BANDIJNG PERIODE JULI 2003-JUNI 2004

ABSTRAK. GAMBARAN UMUM PENDERITA PREEKLAMPSIA-EKLAMPSIA YANG DI RAW AT INAP DI RUMAH SAKIT IMMANlJEL BANDIJNG PERIODE JULI 2003-JUNI 2004 ABSTRAK GAMBARAN UMUM PENDERITA PREEKLAMPSIA-EKLAMPSIA YANG DI RAW AT INAP DI RUMAH SAKIT IMMANlJEL BANDIJNG PERIODE JULI 2003-JUNI 2004 Ervan James RB, 2005 Pembimbing I : Slamet Santosa, dr., MKes Pembimbing

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Bahan Kering (BK) 300, ,94 Total (g/e/hr) ± 115,13 Konsumsi BK Ransum (% BB) 450,29 ± 100,76 3,20

HASIL DAN PEMBAHASAN. Konsumsi Bahan Kering (BK) 300, ,94 Total (g/e/hr) ± 115,13 Konsumsi BK Ransum (% BB) 450,29 ± 100,76 3,20 HASIL DAN PEMBAHASAN Konsumsi Bahan Kering (BK) Konsumsi adalah jumlah pakan yang dimakan oleh ternak yang akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok, produksi, dan reproduksi. Ratarata konsumsi

Lebih terperinci

Nutrisi untuk Mendukung Tenaga Kerja yang Sehat dan Produktif. dr. Yulia Megawati

Nutrisi untuk Mendukung Tenaga Kerja yang Sehat dan Produktif. dr. Yulia Megawati Nutrisi untuk Mendukung Tenaga Kerja yang Sehat dan Produktif dr. Yulia Megawati Tenaga Kerja Adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH ASUPAN CAIRAN TINGGI PROTEIN DAN TINGGI KARBOHIDRAT TERHADAP JUMLAH MAKANAN YANG DIKONSUMSI PADA MAKAN BERIKUTNYA

ABSTRAK PENGARUH ASUPAN CAIRAN TINGGI PROTEIN DAN TINGGI KARBOHIDRAT TERHADAP JUMLAH MAKANAN YANG DIKONSUMSI PADA MAKAN BERIKUTNYA ABSTRAK PENGARUH ASUPAN CAIRAN TINGGI PROTEIN DAN TINGGI KARBOHIDRAT TERHADAP JUMLAH MAKANAN YANG DIKONSUMSI PADA MAKAN BERIKUTNYA Evelyn Irawan, 2010 Pembimbing I : Dr. Iwan Budiman, dr., MS, MM, M.Kes,

Lebih terperinci

PEMANFAATAN SENYAWA FOSFAT DALAM MEMPERTAHANKAN KUALITAS UDANG BEKU MAKALAH KOMPREHENSIF

PEMANFAATAN SENYAWA FOSFAT DALAM MEMPERTAHANKAN KUALITAS UDANG BEKU MAKALAH KOMPREHENSIF PEMANFAATAN SENYAWA FOSFAT DALAM MEMPERTAHANKAN KUALITAS UDANG BEKU MAKALAH KOMPREHENSIF OLEH: KURNIAWATI 6103008107 PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK WIDYA

Lebih terperinci

EFEK DAGING BUAH NAGA

EFEK DAGING BUAH NAGA ABSTRAK EFEK DAGING BUAH NAGA (Hylocereus undatus) TERHADAP LOW DENSITY LIPOPROTEIN (LDL) DARAH PADA MENCIT (Mus musculus) JANTAN GALUR SWISS WEBSTER YANG DIINDUKSI KOLESTEROL Billie Sancho Thea, 2010

Lebih terperinci

INFEKSI RUBELLA DAN BAHAYANYA PADA KEHAMILAN ( STUDI PUSTAKA )

INFEKSI RUBELLA DAN BAHAYANYA PADA KEHAMILAN ( STUDI PUSTAKA ) ABSTRAK INFEKSI RUBELLA DAN BAHAYANYA PADA KEHAMILAN ( STUDI PUSTAKA ) Indahmora Bachtar, 00. Pembimbing I : Iwan Muljadi, dr. Pembimbing II : Slamet Santosa, dr.,mkes Latar belakang : Infeksi rubella,

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN Indigofera zollingeriana PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK FOSFAT

PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN Indigofera zollingeriana PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK FOSFAT PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI TANAMAN Indigofera zollingeriana PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK FOSFAT Yoga Setyawan Program Studi Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas Udayana, Denpasar E-mail : yogasetyawan@yahoo.com

Lebih terperinci

ABSTRAK. UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis panicdata Nees) PADA MENCIT

ABSTRAK. UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis panicdata Nees) PADA MENCIT ABSTRAK UJI TOKSISITAS AKUT EKSTRAK ETANOL SAMBILOTO (Andrographis panicdata Nees) PADA MENCIT Elza Sundari, 2003; Pembimbing I : Lusiana Darsono, dr., M.Kes. Pembimbing II : Rosnaeni, Dra., Apt. Dengan

Lebih terperinci

ABSTRAK GAMBARAN PROFIL LIPID PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 YANG DIRAWAT DI RS IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI - DESEMBER 2005

ABSTRAK GAMBARAN PROFIL LIPID PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 YANG DIRAWAT DI RS IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI - DESEMBER 2005 ABSTRAK GAMBARAN PROFIL LIPID PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 YANG DIRAWAT DI RS IMMANUEL BANDUNG PERIODE JANUARI - DESEMBER 2005 Ahmad Taqwin, 2007 Pembimbing I : Agustian L.K, dr., Sp.PD. Pembimbing

Lebih terperinci

BIOKIMIA NUTRISI. : PENDAHULUAN (Haryati)

BIOKIMIA NUTRISI. : PENDAHULUAN (Haryati) BIOKIMIA NUTRISI Minggu I : PENDAHULUAN (Haryati) - Informasi kontrak dan rencana pembelajaran - Pengertian ilmu biokimia dan biokimia nutrisi -Tujuan mempelajari ilmu biokimia - Keterkaitan tentang mata

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil perhitungan jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin, nilai hematokrit, MCV, MCH, dan MCHC pada kerbau lumpur betina yang diperoleh dari rata-rata empat kerbau setiap

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Asupan Gizi Ibu Hamil 1. Kebutuhan Gizi Gizi adalah suatu proses penggunaan makanan yang dikonsumsi secara normal oleh suatu organisme melalui proses digesti, absorbsi, transportasi,

Lebih terperinci

PENCEGAHAN PENYAKIT DIABETES MELLITUS MELALUI PROGRAM PENYULUHAN DAN PEMERIKSAAN KADAR GULA DARAH DI DUKUH CANDRAN DESA SENTONO KLATEN JAWA TENGAH

PENCEGAHAN PENYAKIT DIABETES MELLITUS MELALUI PROGRAM PENYULUHAN DAN PEMERIKSAAN KADAR GULA DARAH DI DUKUH CANDRAN DESA SENTONO KLATEN JAWA TENGAH Seri Pengabdian Masyarakat 2014 ISSN: 2089-3086 Jurnal Inovasi dan Kewirausahaan Volume 3 No. 3, September 2014 Halaman 180-185 PENCEGAHAN PENYAKIT DIABETES MELLITUS MELALUI PROGRAM PENYULUHAN DAN PEMERIKSAAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Bahan Pakan Bahan pakan sapi perah terdiri atas hijauan dan konsentrat. Hijauan adalah bahan pakan yang sangat disukai oleh sapi. Hijauan merupakan pakan yang memiliki serat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kambing Peranakan Etawa (PE) Kambing merupakan jenis ruminansia kecil yang memiliki tingkat pemeliharaan lebih efesien dibandingkan domba dan sapi. Kambing dapat mengkomsumsi

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN UREA-MINYAK DALAM RANSUM TERHADAP ph, KECERNAAN BAHAN KERING,BAHAN ORGANIK, DAN KECERNAAN FRAKSI SERAT PADA SAPI PO

PENGARUH PENGGUNAAN UREA-MINYAK DALAM RANSUM TERHADAP ph, KECERNAAN BAHAN KERING,BAHAN ORGANIK, DAN KECERNAAN FRAKSI SERAT PADA SAPI PO PENGARUH PENGGUNAAN UREA-MINYAK DALAM RANSUM TERHADAP ph, KECERNAAN BAHAN KERING,BAHAN ORGANIK, DAN KECERNAAN FRAKSI SERAT PADA SAPI PO Oleh: Adi Susanto Setiawan H0506018 FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. persilangan antara sapi Jawa dengan sapi Bali (Rokhana, 2008). Sapi Madura

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. persilangan antara sapi Jawa dengan sapi Bali (Rokhana, 2008). Sapi Madura 14 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Madura Sapi Madura termasuk dalam sapi lokal Indonesia, yang berasal dari hasil persilangan antara sapi Jawa dengan sapi Bali (Rokhana, 2008). Sapi Madura memiliki

Lebih terperinci

NILAI PH, KANDUNGAN NITROGEN (N), PHOSFOR (P 2 O 5 ) DAN KALIUM (K 2 O) PUPUK ORGANIK CAIR DARI FESES DOMBA DENGAN EM4 DAN PENAMBAHAN CAIRAN RUMEN

NILAI PH, KANDUNGAN NITROGEN (N), PHOSFOR (P 2 O 5 ) DAN KALIUM (K 2 O) PUPUK ORGANIK CAIR DARI FESES DOMBA DENGAN EM4 DAN PENAMBAHAN CAIRAN RUMEN NILAI PH, KANDUNGAN NITROGEN (N), PHOSFOR (P 2 O 5 ) DAN KALIUM (K 2 O) PUPUK ORGANIK CAIR DARI FESES DOMBA DENGAN EM4 DAN PENAMBAHAN CAIRAN RUMEN Skripsi untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Malaria merupakan penyakit kronik yang mengancam keselamatan jiwa yang

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. Malaria merupakan penyakit kronik yang mengancam keselamatan jiwa yang BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Malaria Malaria merupakan penyakit kronik yang mengancam keselamatan jiwa yang disebabkan oleh parasit yang ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. 3 Malaria

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA SEMARANG PENGARUH PERLAKUAN PEMANASAN TERHADAP KADAR AMILOSA DAN SERAT PANGAN BERAS MERAH ORGANIK EFFECT OF HEATING TREATMENT ON AMYLOSE CONTENT AND TOTAL DIETARY FIBER OF ORGANIC RED RICE SKRIPSI Diajukan untuk

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kelinci New Zealand White berasal dari Amerika. Menurut Tambunan dkk.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Kelinci New Zealand White berasal dari Amerika. Menurut Tambunan dkk. 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Kelinci New Zealand White Kelinci New Zealand White berasal dari Amerika. Menurut Tambunan dkk. (2015) kelinci dapat mengubah dan memanfaatkan bahan pakan kualitas rendah

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA

ABSTRAK. EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA ABSTRAK EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA Entin Hartini, 2011, Pembimbing I : Prof. Dr. Susy Tjahjani

Lebih terperinci

KAJIAN TINGKAT KECENDERUNGAN PRIA DENGAN TESTOSTERON DEFICIENSI SYNDROM TERHADAP RISIKO MENDERITA METABOLIC SYNDROM

KAJIAN TINGKAT KECENDERUNGAN PRIA DENGAN TESTOSTERON DEFICIENSI SYNDROM TERHADAP RISIKO MENDERITA METABOLIC SYNDROM KAJIAN TINGKAT KECENDERUNGAN PRIA DENGAN TESTOSTERON DEFICIENSI SYNDROM TERHADAP RISIKO MENDERITA METABOLIC SYNDROM Bambang Wasito1 ABSTRACT Man above 50 years old, as women who experience menopause, will

Lebih terperinci

ABSTRAK PERBANDINGAN PENGARUH KONSUMSI FRUKTOSA DAN GLUKOSA TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA DALAM DARAH

ABSTRAK PERBANDINGAN PENGARUH KONSUMSI FRUKTOSA DAN GLUKOSA TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA DALAM DARAH ABSTRAK PERBANDINGAN PENGARUH KONSUMSI FRUKTOSA DAN GLUKOSA TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA DALAM DARAH Maria Christine F.S, 2008 Pembimbing : Dr. Iwan Budiman,dr.,MS.,MM.,Mkes.,AIF Latar belakang : Fruktosa

Lebih terperinci

SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA

SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA AgroinovasI SILASE TONGKOL JAGUNG UNTUK PAKAN TERNAK RUMINANSIA Ternak ruminansia seperti kambing, domba, sapi, kerbau dan rusa dan lain-lain mempunyai keistimewaan dibanding ternak non ruminansia yaitu

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Devendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa kambing menyukai pakan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Devendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa kambing menyukai pakan II. TINJAUAN PUSTAKA A. Pakan Ternak Devendra dan Burns (1994) menyatakan bahwa kambing menyukai pakan beragam dan tidak bisa tumbuh dengan baik bila terus diberi pakan yang sama dalam jangka waktu yang

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. besar dipelihara setiap negara sebagai sapi perahan (Muljana, 2010). Sapi FH

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. besar dipelihara setiap negara sebagai sapi perahan (Muljana, 2010). Sapi FH 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Friesian Holstien Sapi FH telah banyak tersebar luas di seluruh dunia. Sapi FH sebagian besar dipelihara setiap negara sebagai sapi perahan (Muljana, 2010). Sapi FH

Lebih terperinci

ABSTRAK. HUBUNGAN UKURAN LINGKAR LENGAN ATAS (LLA) DAN KADAR HEMOGLOBIN (Hb) IBU KEHAMILAN ATERM DENGAN DISMATURITAS BAYI LAHIR DI SEBUAH RS DI MEDAN

ABSTRAK. HUBUNGAN UKURAN LINGKAR LENGAN ATAS (LLA) DAN KADAR HEMOGLOBIN (Hb) IBU KEHAMILAN ATERM DENGAN DISMATURITAS BAYI LAHIR DI SEBUAH RS DI MEDAN ABSTRAK HUBUNGAN UKURAN LINGKAR LENGAN ATAS (LLA) DAN KADAR HEMOGLOBIN (Hb) IBU KEHAMILAN ATERM DENGAN DISMATURITAS BAYI LAHIR DI SEBUAH RS DI MEDAN Exaudi C.P Sipahutar, 2013 Pembimbing 1 : dr. Fenny,

Lebih terperinci

GAMBARAN HEMATOLOGI RUTIN, TES FUNGSI HATI, DAN TES FUNGSI GINJAL PADA PASIEN PREEKLAMPSIA, EKLAMPSIA, DAN HIPERTENSI GESTASIONAL DI RS

GAMBARAN HEMATOLOGI RUTIN, TES FUNGSI HATI, DAN TES FUNGSI GINJAL PADA PASIEN PREEKLAMPSIA, EKLAMPSIA, DAN HIPERTENSI GESTASIONAL DI RS ABSTRAK GAMBARAN HEMATOLOGI RUTIN, TES FUNGSI HATI, DAN TES FUNGSI GINJAL PADA PASIEN PREEKLAMPSIA, EKLAMPSIA, DAN HIPERTENSI GESTASIONAL DI RS. SANTO BORROMEUS BANDUNG PERIODE BULAN JANUARI 2013-DESEMBER

Lebih terperinci

RESPON FISIOLOGIS DOMBA YANG DIBERI MINYAK IKAN DALAM BENTUK SABUN KALSIUM

RESPON FISIOLOGIS DOMBA YANG DIBERI MINYAK IKAN DALAM BENTUK SABUN KALSIUM RESPON FISIOLOGIS DOMBA YANG DIBERI MINYAK IKAN DALAM BENTUK SABUN KALSIUM SKRIPSI R. LU LUUL AWABIEN PROGRAM STUDI NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2007 RINGKASAN

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK JUS BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA TIKUS JANTAN WISTAR

ABSTRAK. EFEK JUS BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA TIKUS JANTAN WISTAR ABSTRAK EFEK JUS BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA TIKUS JANTAN WISTAR Jane Haryanto, 2012 ; Pembimbing I : Rosnaeni, Dra., Apt. Pembimbing II : Penny Setyawati M.,

Lebih terperinci

PEMBAHASAN. Zat Makanan Ransum Kandungan zat makanan ransum yang diberikan selama penelitian ini secara lengkap tercantum pada Tabel 4.

PEMBAHASAN. Zat Makanan Ransum Kandungan zat makanan ransum yang diberikan selama penelitian ini secara lengkap tercantum pada Tabel 4. PEMBAHASAN Keadaan Umum Penelitian Rata-rata suhu lingkungan dan kelembaban kandang Laboratotium Ilmu Nutrisi Ternak Daging dan Kerja sekitar 26,99 0 C dan 80,46%. Suhu yang nyaman untuk domba di daerah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memiliki ciri-ciri fisik antara lain warna hitam berbelang putih, ekor dan kaki

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. memiliki ciri-ciri fisik antara lain warna hitam berbelang putih, ekor dan kaki 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sapi Perah Sapi perah yang dipelihara di Indonesia pada umumnya adalah Friesian Holstein (FH) dan Peranakan Friesian Holstein (PFH) (Siregar, 1993). Sapi FH memiliki ciri-ciri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Pada zaman modern ini, seluruh dunia mengalami pengaruh globalisasi dan hal ini menyebabkan banyak perubahan dalam hidup manusia, salah satunya adalah perubahan gaya

Lebih terperinci

MEWASPADAI CEMARAN AFLATOKSIN PADA PANGAN

MEWASPADAI CEMARAN AFLATOKSIN PADA PANGAN MEWASPADAI CEMARAN AFLATOKSIN PADA PANGAN Kapang dapat menghasilkan metabolit beracun yang disebut mikotoksin. Mikotoksin terutama dihasilkan oleh kapang saprofit yang tumbuh pada bahan pangan atau pakan

Lebih terperinci

ABSTRAK PERANAN DIALISA PERITONEAL P ADA GAGAL GINJAL

ABSTRAK PERANAN DIALISA PERITONEAL P ADA GAGAL GINJAL ABSTRAK PERANAN DIALISA PERITONEAL P ADA GAGAL GINJAL KRONIK (STUD I PUST AKA) Ronggo Baskoro, 2004. Pembimbing: Aming Tohardi dr., MS., PAK Oialisa peritoneal merupakan salah satu terapi penggantian dalam

Lebih terperinci

Golongan Darah. darah donor + resipien. oleh karena terjadi aglutinasi

Golongan Darah. darah donor + resipien. oleh karena terjadi aglutinasi GOLONGAN DARAH 1 Golongan Darah Perbedaan golongan darah setiap orang disebabkan oleh karena adanya Antigen (Ag) Aglutinogen pada dinding eritrosit dan adanya antibody spesifik (Ab) Aglutinin di dalam

Lebih terperinci

MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL

MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL MENGATASI KERACUNAN PARASETAMOL Pendahuluan Parasetamol adalah golongan obat analgesik non opioid yang dijual secara bebas. Indikasi parasetamol adalah untuk sakit kepala, nyeri otot sementara, sakit menjelang

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. sekaligus dapat memberdayakan ekonomi rakyat terutama di pedesaan.

I. PENDAHULUAN. sekaligus dapat memberdayakan ekonomi rakyat terutama di pedesaan. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengembangan peternakan dimasa mendatang bertujuan untuk mewujudkan peternakan yang modern, efisien, mandiri mampu bersaing dan berkelanjutan sekaligus dapat memberdayakan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. terhadap produktivitas, kualitas produk, dan keuntungan. Usaha peternakan akan

PENDAHULUAN. terhadap produktivitas, kualitas produk, dan keuntungan. Usaha peternakan akan 1 I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pakan menjadi salah satu faktor penentu dalam usaha peternakan, baik terhadap produktivitas, kualitas produk, dan keuntungan. Usaha peternakan akan tercapai bila mendapat

Lebih terperinci

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095 LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI DI RS ROEMANI RUANG AYUB 3 NAMA NIM : ANDHIKA ARIYANTO :G3A014095 PROGRAM S1 KEPERAWATAN FIKKES UNIVERSITAS MUHAMMADIAH SEMARANG 2014-2015 1 LAPORAN

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Latar Belakang. bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia. Peningkatan kebutuhan

PENDAHULUAN. Latar Belakang. bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia. Peningkatan kebutuhan PENDAHULUAN Latar Belakang Kebutuhan akan daging dan susu semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia. Peningkatan kebutuhan akan daging dan susu memberikan dampak positif pada

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Eritrosit (Sel Darah Merah) Profil parameter eritrosit yang meliputi jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin, dan nilai hematokrit kucing kampung (Felis domestica) ditampilkan

Lebih terperinci

ANALISIS CAPAIAN OPTIMASI NILAI SUKU BUNGA BANK SENTRAL INDONESIA: SUATU PENGENALAN METODE BARU DALAM MENGANALISIS 47 VARIABEL EKONOMI UNTU

ANALISIS CAPAIAN OPTIMASI NILAI SUKU BUNGA BANK SENTRAL INDONESIA: SUATU PENGENALAN METODE BARU DALAM MENGANALISIS 47 VARIABEL EKONOMI UNTU ANALISIS CAPAIAN OPTIMASI NILAI SUKU BUNGA BANK SENTRAL INDONESIA: SUATU PENGENALAN METODE BARU DALAM MENGANALISIS 47 VARIABEL EKONOMI UNTU READ ONLINE AND DOWNLOAD EBOOK : ANALISIS CAPAIAN OPTIMASI NILAI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit perlemakan hati non alkohol atau non alcoholic fatty liver

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit perlemakan hati non alkohol atau non alcoholic fatty liver BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Penyakit perlemakan hati non alkohol atau non alcoholic fatty liver disease ( NAFLD ) merupakan gangguan pada hati yang biasa terjadi di dunia, insiden yang paling

Lebih terperinci

Gambar 4. Kelangsungan Hidup Nilem tiap Perlakuan

Gambar 4. Kelangsungan Hidup Nilem tiap Perlakuan Kelangsugan Hidup (%) BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Kelangsungan Hidup Nilem Pada penelitian yang dilakukan selama 30 hari pemeliharaan, terjadi kematian 2 ekor ikan dari total 225 ekor ikan yang digunakan.

Lebih terperinci

LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA

LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA LAPORAN PENELITIAN DOSEN MUDA Efek Fortifikasi Fe dan Zn pada Biskuit yang Diolah dari Kombinasi Tempe dan Bekatul untuk Meningkatkan Kadar Albumin Anak Balita Kurang Gizi yang Anemia Oleh: Pramudya Kurnia,

Lebih terperinci

VITAMIN LARUT DALAM AIR. Oleh dr. Sri Utami B.R. MS

VITAMIN LARUT DALAM AIR. Oleh dr. Sri Utami B.R. MS VITAMIN LARUT DALAM AIR Oleh dr. Sri Utami B.R. MS Vitamin B (vitamin B kompleks) Larut dalam air Terdapat pada, ragi, biji-bijian, nasi, sayuran, ikan, daging Diperlukan sebagai ko-enzym dalam metabolisme

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KLOROFIL TERHADAP PENINGKATAN SATURASI OKSIGEN DAN PENURUNAN FREKUENSI DENYUT JANTUNG PASCA OLAHRAGA

ABSTRAK PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KLOROFIL TERHADAP PENINGKATAN SATURASI OKSIGEN DAN PENURUNAN FREKUENSI DENYUT JANTUNG PASCA OLAHRAGA ABSTRAK PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK KLOROFIL TERHADAP PENINGKATAN SATURASI OKSIGEN DAN PENURUNAN FREKUENSI DENYUT JANTUNG PASCA OLAHRAGA Penyusun : Grady Kharisma Pribadi, 2016 Pembimbing I : Sylvia Soeng,

Lebih terperinci

STUDI KOMPARATIF METABOLISME NITROGEN ANTARA DOMBA DAN KAMBING LOKAL

STUDI KOMPARATIF METABOLISME NITROGEN ANTARA DOMBA DAN KAMBING LOKAL STUDI KOMPARATIF METABOLISME NITROGEN ANTARA DOMBA DAN KAMBING LOKAL SKRIPSI KHOERUNNISSA PROGRAM STUDI NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK FAKULTAS PETERNAKAN INSITUT PERTANIAN BOGOR 2006 RINGKASAN KHOERUNNISSA.

Lebih terperinci

ABSTRAK ETIOPATOGENESIS DAN HISTOPATOLOGI MIOKARD INFARK. Wenny. Pembimbing : Freddy Tumewu A., dr., M.Kes.

ABSTRAK ETIOPATOGENESIS DAN HISTOPATOLOGI MIOKARD INFARK. Wenny. Pembimbing : Freddy Tumewu A., dr., M.Kes. ABSTRAK ETIOPATOGENESIS DAN HISTOPATOLOGI MIOKARD INFARK Wenny. Pembimbing : Freddy Tumewu A., dr., M.Kes. Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab kematian yang masih banyak ditemukan sampai sekarang.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Daya Tahan Tubuh (Endurance) 1. Pengertian Menurut Toho Cholik Mutohir dan Ali Maksum (2007) daya tahan umum adalah kemampuan tubuh untuk melakukan aktivitas terus-menerus (lebih

Lebih terperinci

Kata kunci: Fascioliosis, total eritrosit, kadar hemoglobin,pakced cell voleme, Sapi Bali

Kata kunci: Fascioliosis, total eritrosit, kadar hemoglobin,pakced cell voleme, Sapi Bali ABSTRAK Fascioliosis pada sapi di Indonesia disebabkan oleh cacing Fasciola gigantica yang berpredileksi di saluran empedu dan hati. Infeksi cacing ini menyebabkan gangguan fungsi hati dan kerusakan saluran

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan pertambahan penduduk dari tahun ke tahun yang terus meningkat

I. PENDAHULUAN. Seiring dengan pertambahan penduduk dari tahun ke tahun yang terus meningkat 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang dan Masalah Seiring dengan pertambahan penduduk dari tahun ke tahun yang terus meningkat yakni pada tahun 2011 berjumlah 241.991 juta jiwa, 2012 berjumlah 245.425 juta

Lebih terperinci

BLOAT PADA TERNAK NUSDIANTO TRIAKOSO

BLOAT PADA TERNAK NUSDIANTO TRIAKOSO BLOAT PADA TERNAK NUSDIANTO TRIAKOSO BAGIAN KLINIK VETERINER FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN UNIVERSITAS AIRLANGGA 2006 DAFTAR ISI Fisiologi saluran pencernaan Mekanisme bloat Feedlot bloat Predisposisi Pencegahan

Lebih terperinci