HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN KECENDERUNGAN BERPERILAKU BULLYING SISWA SMAN 70 JAKARTA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN KECENDERUNGAN BERPERILAKU BULLYING SISWA SMAN 70 JAKARTA"

Transkripsi

1 HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN KECENDERUNGAN BERPERILAKU BULLYING SISWA SMAN 70 JAKARTA SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Syarat Dalam Meraih Gelar Sarjana Psikologi (S.Psi) Disusun Oleh : Farisa Handini FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H / 2010 M

2 HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN KECENDERUNGAN BERPERILAKU BULLYING SISWA SMAN 70 JAKARTA Skripsi Ditujukan Kepada Fakultas Psikologi Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Psikologi Oleh : Farisa Handini NIM : Di Bawah bimbingan Pembimbing I Pembimbing II Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si Yufi Adriani, M.Psi, Psi NIP NIP FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1431 H / 2010 M

3 PENGESAHAN PANITIA UJIAN Skripsi yang berjudul HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN KECENDERUNGAN BERPERILAKU BULLYING SISWA SMA NEGERI 70 JAKARTA telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatulllah Jakarta Pada Tanggal 10 Juni Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi. Jakarta,10 Juni 2010 Sidang Munaqasyah Jahja Umar, Ph.D Dra.FadhilahSuralaga,M.Si NIP NIP Anggota Penguji I Penguji II Dra.FadhilahSuralaga,M.Si Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si NIP NIP Pembimbing I Pembimbing II Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si Yufi Adriani, M.Psi, Psi NIP NIP

4 Sesungguhnya dibalik kesulitan ada kemudahan Al-Insyirah : 5 Skripsi yang sederhana ini ku persembahkan untuk : Orang-orang terkasih yaitu keluarga dan sahabat ABSTRAK

5 (A) Fakultas Psikologi (B) Mei 2010 (C) Farisa Handini Hubungan Konsep Diri Dengan Kecenderungan Berperilaku Bullying Siswa SMA Negeri 70 Jakarta (D) Hal, 13 tabel, 4 gambar dan 6 lampiran (E) Bullying merupakan perilaku penindasan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang yang dianggap lebih kuat kepada yang lemah dalam bentuk fisik maupun nonfisik. Bullying bentuk fisik misalnya menjambak, memukul, menendang, dan serangan fisik lainnya. Sedangkan nonfisik berupa verbal dengan memfitnah, mempermalukan dan lainnya. Ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi munculnya perilaku bullying antara lain konsep diri. Konsep diri adalah gambaran yang ada pada diri individu yang berisikan bagaimana individu melihat dirinya sendiri sebagai pribadi yang disebut pengetahuan diri, bagaimana individu merasa atas dirinya yang merupakan penilaian dirinya sendiri serta bagaimana individu menginginkan diri sendiri sebagai manusia yang diharapkan. Konsep diri terbagi menjadi konsep diri negatif dan konsep diri positif. Diduga, siswa yang memiliki konsep diri positif tidak mengarah pada perilaku bullying, sedangkan siswa berkonsep diri negatif memiliki kecenderungan berperilaku bullying. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan konsep diri dengan kecenderungan berperilaku bullying siswa SMAN 70 Jakarta. Jumlah responden 40 siswa yang diambil secara acak dari kelas XI IPA 1. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dimana data yang dihasilkan berupa data yang berbentuk bilangan. Metode yang digunakan adalah metode korelasional yaitu penelitian yang dirancang untuk menemukan hubungan antara variabel-variabel yang berbeda dalam suatu populasi. Teknik statistik yang digunakan adalah Pearson Product Momen dalam SPSS 16 for Windows. Dari hasil uji korelasi didapatkan nilai r hitung -0,058 yang signifikan pada level 0,05 dimana r tabel 0,312 maka diperoleh kesimpulan ada hubungan antara konsep diri dengan kecenderungan berperilaku bullying siswa SMAN 70 Jakarta yang mengarah pada korelasi negatif. Artinya semakin tinggi (positif) konsep diri siswa, maka semakin rendah kecenderungan berperilaku bullyingnya. Begitupun sebaliknya, semakin rendah (negatif) konsep diri siswa, maka semakin tinggi kecenderungan berperilaku bullyingnya. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan mencari faktor lain yang mempengaruhi kecenderungan berperilaku bullying serta mencari faktor yang dominan mempengaruhi konsep diri (F) Bahan bacaan 22 Kata Pengantar

6 Bismillahirrahmanirrahim Dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang senantiasa mencurahkan rahmat dan karunianya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam tidak lupa penulis sampaikan kepada Rasulullah SAW, keluarganya, para sahabat dan pengikutnya. Dengan selesainya penulisan skripsi ini penulis menyadari bahwa banyak pihak yang telah membantu dan berperan serta dalam penulisan skripsi ini. Oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada: 1. Dekan Fakultas Psikologi yaitu Jahja Umar, Ph.D dan juga seluruh staf pengajar dan administrasi Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. 2. Dra. Zahrotun Nihayah, M.Si dan Yufi Adriani, M.Psi, Psi pembimbing penulisan skripsi ini, yang telah meluangkan waktunya yang padat untuk memberikan bimbingan dan saran dalam penulisan skripsi ini. Terima kasih telah sabar membantu penulis hingga akhirnya skripsi ini diselesaikan. 3. Kepala Sekolah SMAN 70 Jakarta, Humas SMAN 70 (Bapak Burhan) dan staf-staf lainnya yang senantiasa meluangkan waktunya untuk membantu penulis dalam pelaksanaan penelitian ini. Semoga kebaikan dibalas oleh Allah SWT. 4. Ayah H. Drs. Nasruddin, M.Pd dan Ibu Hj. Titin Sumarni, yang senantiasa mendukung dan mendoakan penulis baik secara moril dan materiil untuk terus maju dalam menyelesaikan tugas dan selalu menanamkan kepada penulis untuk selalu jujur dalam keadaan apapun dan tak mudah menyerah adik adikku tersayang Yazir Haq Dasendi Ajil dan Derizky Kentadika Adik juga kakek dan nenekku tersayang serta semua keluarga yang selalu mendukung penulis.

7 5. Sahabat-sahabatku Dalla, Alyn, Syifa yang selalu mendukung penulis dalam keadaan suka maupun duka. Berjuang sama-sama. Semoga persahabatan kita tak lekang oleh waktu. 6. Semua teman teman Psikologi angkatan 2005 terutama kelas A ceria yang selalu memberi dukungan dan semangat serta kerjasamanya selama masa perkuliahan. Buat Ida, Amie, Leli dan teman-teman KKL atas bantuan dan dukungan tak henti-hentinya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 7. Teman teman irakian community Eva, Nurul, Ita, Tina, Oi, Bili, Amar dan teman teman MB Bulldozer PU, terimakasih atas dukungan dan masukannya kepada penulis dalam mengerjakan skripsi ini. 8. Untuk sahabat terdalam penulis bee, terimakasih atas semua cinta dan kasih sayang yang tulus kepada penulis, serta mengajarkan penulis untuk selalu menghargai orang lain dan tetap sabar mendampingi penulis dalam situasi apapun. 9. Adik-adik responden di SMAN 70 Jakarta yang telah memberikan kontribusi yang tak ternilai sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Semoga kesuksesan selalu menyertai kalian semua. Seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu. Semoga Allah senantiasa membalas kebaikan semuanya dengan berlipat ganda dan penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak, Amin Tangerang, 7 Juni 2010 DAFTAR TABEL Penulis

8 1. Tabel 2.1 Kerangka berfikir Tabel 3.1 Dimensi dan indikator konsep diri Tabel 3.2 Blue print konsep diri Tabel 3.3 Aspek dan indikator bullying Tabel 3.4 Blue print bullying Tabel 3.5 Pedoman skala Tabel 3.6 Blue print try out konsep diri Tabel 3.7 Blue print try out bullying Tabel 4.1 Gambaran umum responden Tabel 4.2 Hasil uji normalitas konsep diri Tabel 4.3 Hasil uji normalitas bullying Tabel 4.4 Descriptive statistics Tabel 4.5 Kategori konsep diri Tabel 4.6 Kategori bullying Tabel 4.7 Hasil Spearman s rank correlations..62

9 DAFTAR LAMPIRAN 1. Hasil skoring skala konsep diri saat penelitian 2. Hasil skoring skala kecenderungan berperilaku bullying saat penelitian 3. Validitas dan reliabilitas skala konsep diri dan skala kecenderungan berperilaku bullying saat try out 4. Skala konsep diri dan kecenderungan berperilaku bullying saat penelitian 5. Surat izin penelitian 6. Surat keterangan telah melakukan penelitian di SMA Negeri 70 Jakarta Selatan

10 DAFTAR ISI ABSTRAK... KATA PENGANTAR... DAFTAR TABEL DAN GAMBAR... DAFTAR LAMPIRAN... DAFTAR ISI... i ii iv v vi BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Identifikasi Masalah Rumusan Masalah Batasan Masalah Tujuan dan Manfaat penelitian Sistematika Penulisan BAB II LANDASAN TEORI Perilaku Bullying Definisi Perilaku Bullying Bentuk bentuk Bullying Faktor Penyebab Terjadinya Bullying Penanggulangan Bullying Dampak Perilaku Bullying Konsep Diri Pengertian Konsep Diri Jenis Jenis Konsep Diri Aspek Aspek Konsep Diri Remaja Definisi Remaja Ciri-ciri Remaja... 33

11 2.4 Hubungan Konsep Diri Dengan Kecenderungan Berperilaku Bullying Siswa SMAN 70 Jakarta Kerangka Berfikir Hipotesis BAB III METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Pendekatan Penelitian Metode Penelitian Variabel Penelitian Definisi Konseptual Definisi Operasional Variabel Pengambilan Sampel Populasi dan Sampel Teknik Pengambilan Sampel Teknik Pengumpulan Data Metode Dan Instrumen Penelitian Instrumen Penelitian Teknik Uji Instrumen Uji Validitas Uji Reliabilitas Hasil Uji Coba Alat Ukur Teknik Analisis Data Prosedur Penelitian BAB IV PRESENTASI DAN ANALISIS DATA Gambaran Umum Responden Uji Persyaratan Uji Normalitas Uji Hipotesis... 59

12 4.3 Deskripsi Hasil Penelitian Kategori Skor Konsep Diri Kategori Skor Bullying Hasil Penelitian Hasil Utama Penelitian BAB V KESIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN Kesimpulan Diskusi Saran Saran Teoritis Saran Praktis 67 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

13 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kekerasan merupakan suatu fenomena krisis moral. Krisis yang didapat dari berbagai macam tekanan hidup. Suatu krisis yang bisa menjadi barometer kegagalan membina character building para remaja dan masyarakat. Banyak sekali kasus kekerasan di kalangan remaja. Kekerasan antar sebaya atau yang biasa dikenal dengan bullying merupakan suatu tindak kekerasan fisik dan psikologis yang dilakukan seseorang atau kelompok, yang dimaksudkan untuk melukai, membuat takut atau membuat tertekan seseorang (anak atau siswa) lain yang dianggap lemah, yang biasanya secara fisik lebih lemah, minder dan kurang mempunyai teman, sehingga tidak mampu mempertahankan diri. Alasan bullying seringkali tidak jelas, biasanya menggunakan kedok perpeloncoan, penggemblengan mental, ataupun aksi solidaritas. Terjadinya kekerasan antar sebaya semakin menguat, mengingat adanya faktor pubertas dan krisis identitas yang normal terjadi pada perkembangan remaja. Dalam rangka mencari identitas dan ingin eksis, biasanya remaja gemar membentuk geng. Geng remaja sebenarnya sangat normal dan bisa berdampak positif, namun jika orientasi geng kemudian menyimpang hal ini kemudian menimbulkan banyak masalah dan timbullah bullying tersebut. Dari relasi antar sebaya juga ditemukan bahwa beberapa remaja menjadi pelaku bullying karena balas dendam atas perlakuan

14 2 penolakan dan kekerasan yang pernah dialami sebelumnya, misalnya saat SD atau SMP. (www.waingapu.com) Lingkungan secara makro pun turut berpengaruh terhadap munculnya bullying, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara sosiokultural, bullying dipandang sebagai wujud rasa frustrasi akibat tekanan hidup dan hasil imitasi dari lingkungan orang dewasa. Tanpa sadar, lingkungan memberikan referensi kepada remaja bahwa kekerasan bisa menjadi sebuah cara pemecahan masalah. Misalnya saja lingkungan preman yang sehari hari dapat dilihat di sekitar mereka dan juga aksi kekerasan dari kelompok kelompok massa. Belum lagi tontonan kekerasan yang disuguhkan melalui media visual. Walaupun tak kasat mata, senioritas pun turut memberikan atmosfer dominansi dan menumbuhkan perilaku menindas. (Neneng Muchlisoh, 2006) Di tahun 2007, beberapa kali kita dikejutkan oleh serangkaian beritaberita tentang kekerasan di sekolah. Diawali dengan berita tentang siswa STPDN, berita tentang geng SMA di Jakarta. Ternyata di tahun 2008 kekerasan di kalangan remaja masih saja terjadi, berita yang terbaru adalah tahun 2009, yaitu kejadian serupa dengan label senioritas dimana senior mengerjai junior (adik kelas). Istilah yang digunakan seseorang atau sekelompok orang yang mengintimidasi orang lain disebut sebagai bullying. Kebanyakan pelaku bullying atau biasa disebut bully di sekolah adalah mereka yang berkedudukan sebagai kakak kelas atau senior dan target atau sasaran bullying mereka adalah para siswa baru. Pada dasarnya pelaku bullying tidak memperhitungkan alasan mengapa mereka melakukan bullying tersebut. Terkadang pelaku hanya mencari alasan

15 3 yang dapat diterima atas tindakan yang ia lakukan, misalnya melakukan bullying untuk mendisiplinkan adik kelas atau korban, tetapi perilaku tersebut berlangsung selama periode yang cukup lama dan membuat korban mengalami luka fisik maupun psikologis. Hasil penelitian Dina Wiyasti (2004) tentang gambaran penyebab terjadinya bullying oleh senior terhadap junior di SMU Z menunjukkan bahwa salah satu penyebab terjadinya bullying adalah karena adik kelas bersikap tidak menghargai seniornya. Bullying adalah sebuah situasi di mana terjadinya penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan yang dilakukan seorang/sekelompok. Pihak yang kuat disini tidak hanya berarti kuat dalam ukuran fisik atau mental. (Semai Jiwa Amini, SEJIWA 2008). Perilaku bullying didefinisikan sebagai suatu bentuk agresi fisik dan atau psikologis yang dilakukan secara berulang oleh seorang atau kelompok yang lebih kuat kepada seorang atau kelompok yang lebih lemah, dengan tujuan untuk menyakiti. Perilaku ini dilakukan secara berulang dalam frekuensi yang cukup banyak (Fekkes, Pijpers & Vanhorick, 2005) dengan maksud untuk menyakiti korban (Olweus, 1993 ; Berger, 2007 ; Limber & Nation, Brinson, 2005 dalam Deta Armatia, 2008). Penelitian terbaru Deta Armatia dalam Berger (2007) menunjukkan bahwa sebenarnya para bullies tersebut merasa dirinya kuat (powerfull), bukan merasa tidak aman (insecure). Jika anak anak yang agresif cenderung untuk dijauhi, para bullies remaja memiliki kecenderungan untuk dihormati, ditakuti, atau bahkan disukai. Pada masa remaja, para bullies menikmati memiliki status sosial tingkat tinggi di mana perilaku bullying mendapatkan dukungan dari teman

16 4 teman mereka, dengan mereka melihat bahwa teman temannya ikut menikmati dan menonton saat ia memukul korban, teman teman sekelas yang menertawakan, komentar komentar kejam yang ia lontarkan pada korban, dan teman teman sebayanya yang turut menyebar gosip yang ia buat. (Bukowski & Sippola ; Cillessen & Mayeux ; Estell, Cairns, Farmer, & Cains ; Hawley & Vaughn dalam Berger, 2007 ). Hal ini sesuai dengan perilaku bullying di sekolah yang dilakukan oleh senior kepada junior, dimana perilaku bullying tidak dianggap perilaku yang salah, dan senior sebagai pelaku bullying cenderung dihormati, ditakuti, bahkan juga disukai. Faisal dalam Ahsit (2009) menyatakan bahwa seringkali remaja yang tumbuh dan dibesarkan dalam pola asuh yang keliru dan negatif ataupun lingkungan yang kurang mendukung, cenderung berperilaku negatif. Hal ini dapat disebabkan karena sikap orang tua yang suka memukul, mengabaikan, kurang memperhatikan, melecehkan, menghina, sikap tidak adil, suka marah marah dan sebagainya. Hal tersebut dianggap oleh remaja (anak) sebagai hukuman, kesalahan, kebodohan dirinya. Jadi remaja akan menilai berdasarkan apa yang ia alami yang didapat dari keluarga dan lingkungannya. Terkait penjelasan di atas, dapat disimpulkan masa remaja merupakan masa perubahan sikap dan perilaku dalam pencarian jati dirinya, di antaranya perubahan dalam kematangan mental, emosional, fisik, dan sosial. (Hurlock, 1980). Pada masa remaja, individu mulai mencari dan menemukan nilai nilai baru dengan cara menguji informasi yang ada pada dirinya, mengevaluasi kembali

17 5 informasi yang ada dan menyesuaikan kembali dengan konsep baru (Craig, 1986). Reaksi emosional remaja terhadap perubahan fisiknya sangat penting untuk diperhatikan. Remaja menjadi lebih memperhatikan image tubuh, kemenarikan fisik (physical attraction), tipe tubuh dan ideal concept, yaitu konsep tentang diri sebagaimana yang diinginkan oleh individu. Dalam hal tersebut, dapat dicerna bahwa remaja sedang dalam masa pencarian identitas. Pencarian identitas pada saat sekarang ini suatu kebutuhan yang bahkan lebih nyata lagi dan mendesak bagi kebanyakan individu yang terlibat di dalam zaman teknologi kontemporer yang terus menerus berubah secara tepat dan tidak pandang bulu ini. Satu cara pendekatan terhadap masalah identitas adalah dengan mencoba berbagai peran dan cara berperilaku. Banyak ahli percaya bahwa masa remaja sebaiknya merupakan masa bereksperimen pada waktu mana anak muda dapat bereksplorasi dengan ideologi dan minat yang berbeda. Para ahli itu khawatir akan adanya kompetisi (persaingan) akademis dan tekanan karier yang merenggut kesempatan para remaja untuk bereksplorasi. Dalam pembentukan identitas, masa remaja sama pentingnya dengan masa kanak kanak yang sudah terjadi sebelumnya. Dalam masa remaja berbagai peristiwa terjadi dengan begitu cepat. Seringkali timbul suatu perasaan hilang kendali, dan perasaan dimana terkadang sama sama dirasakan oleh si anak maupun orang tuanya. Dan hampir dapat dipastikan bahwa sampai pada derajat tertentu, pada waktu tertentu dan karena alasan tertentu, pasti timbul kepedihan psikologis, kebingungan, dan rasa tidak bahagia. Terhadap kebingungan dan kegalauannya itu ada sebagian remaja yang memberi reaksi dengan menyatakan

18 6 perasaannya lewat tindakan. Remaja remaja seperti ini seringkali berontak dan melawan semua bentuk otorita. Akibatnya, mereka sendiri seringkali menjadi sebab dari berbagai masalah. Secara fisik mereka seringkali bengis terhadap sesamanya atau terhadap siapapun yang mengganggu jalannya. Orang orang muda ini bertindak sesuka hatinya dan begitu memuja identitas kelompoknya serta penerimaan kelompok terhadap dirinya. Kekerasan yang mereka tujukan keluar, kepada sesamanya dan orang lain kelihatannya adalah refleksi dari kegalauan yang terjadi di dalam diri mereka. (Gordner, Dr. James E. 1988) Pengalaman menunjukkan bahwa remaja yang telah mendapat status sosial yang jelas dalam usia dini, tidak menampakkan gejolak emosi yang terlalu menonjol seperti rekan rekannya yang lain yang harus menjalani masa transisi dalam tempo yang cukup panjang. Masalahnya adalah jika seorang remaja tidak berhasil mengatasi situasi situasi kritis dalam rangka konflik peran, itu karena ia terlalu mengikuti gejolak emosinya maka besar kemungkinan ia akan terperangkap ke jalan yang salah. Kasus kasus kenakalan remaja yang disebutkan di atas, seringkali disebabkan oleh kurang adanya kemampuan remaja untuk mengarahkan emosinya secara positif. Bisa dikarenakan kurangnya dukungan positif dari lingkungan terdekat remaja, termasuk orang tuanya sendiri. (Sarlito, 2002) Menurut Jersild dalam Corey dikutip dari Yulia (2004), konsep diri terdiri dari pikiran dan perasaan individu, dimana pikiran dan perasaan itu bersifat dinamis sehingga sering berubah ubah. Konsep diri dapat berubah sebagai hasil penghargaan (achievement) dan interaksi dengan teman / lingkungan. Semakin

19 7 stabil suatu lingkungan individu semakin yakin akan apa yang ia pikir tentang dirinya maka konsep dirinya semakin stabil. Tetapi meskipun konsep diri mengalami perkembangan pada masa remaja akhir dan dewasa konsep diri seseorang sudah relatif menetap. Konsep diri merupakan suatu cara untuk memprediksi tingkah laku individu. Selain itu, masuk ke dalam golongan konsep diri positif atau negatif tergantung pada individu itu sendiri dalam bertingkah laku. Seseorang dikatakan memiliki konsep diri negatif jika dia menyakiti dan memandang dirinya lemah, tidak berdaya, tidak kompeten, tidak menarik, cenderung bersikap pesimistik terhadap kesempatan yang ada seperti perilaku bullying yang sudah dijelaskan di atas. Dengan konsep diri negatif remaja akan mudah menyerah, selalu menyalahkan dirinya maupun orang lain jika mengalami kegagalan. Sedangkan seseorang dengan konsep diri positif akan terlihat lebih penuh percaya diri dan selalu bersikap positif terhadap segala sesuatu bahkan terhadap kegagalan yang ditemuinya akan dianggap sebagai pelajaran berharga untuk melangkah ke arah yang lebih baik. (Jasinta F. Rini, 2002 dalam Fikriyah, Fatimatul, 2009). Tidak dapat disangkal bahwa konsep diri mempunyai peranan yang penting dalam menentukan perilaku individu. Adanya konsep diri pada individu menjadikan manusia sebagai makhluk yang unik, di mana setiap individu mempunyai pemahaman sendiri tentang dirinya yang diyakininya sebagai bagian dari dirinya. Kualitas dan keunikan yang menjadi ciri khas individu dapat dilihat dalam kehidupan mereka sehari hari sebagai makhluk sosial. Konsep diri mungkin merupakan penuntut yang lebih

20 8 kuat lagi bagi peranan tersebut yang membedakan manusia dari makhluk hidup yang lainnya. (RB, Burns. 1993). Konsep diri terbentuk dan berkembang dipengaruhi oleh pengalaman atau kontrak eksternal dengan lingkungannya dan juga pengalaman internal tentang dirinya. Pengalaman internal ini akan mempengaruhi respon terhadap pengalaman eksternalnya. Lalu bagaimana dengan konsep diri remaja tersebut, dimana yang ia lakukan tidak lepas dengan ikatan kelompoknya. Konsep diri merupakan faktor yang sangat menentukan dalam perilaku seseorang, karena setiap orang bertingkah laku sesuai dengan konsep dirinya, atau secara sederhana dapat dikatakan bahwa konsep diri merupakan pandangan pandangan atau penghayatan dan perasaan tentang diri sendiri. Hal inilah yang menarik peneliti membuat penelitian dengan judul HUBUNGAN KONSEP DIRI DENGAN KECENDERUNGAN BERPERILAKU BULLYING SISWA SMAN 70 JAKARTA. Peneliti melakukan penelitian di SMAN 70 Jakarta dengan alasan, yaitu menurut penuturan dan beberapa informasi bahwa sekolah tersebut merupakan salah satu sekolah yang fenomenal dengan kasus tawuran antar pelajar dan tindakan bullying. Atas dasar inilah peneliti kemudian memutuskan untuk melakukan penelitian di SMA tersebut. 1.2 Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas penulis mengidentifikasi masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana gambaran perilaku bullying siswa SMAN 70 Jakarta?

21 9 2. Bagaimana konsep diri siswa SMAN 70 Jakarta? 3. Adakah hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan kecenderungan berperilaku bullying siswa kelas XI SMAN 70 Jakarta? 1.3 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan sebelumnya, maka dapat dirumuskan masalah pokok dalam penelitian ini adalah Apakah ada hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan kecenderungan berperilaku bullying siswa SMAN 70 Jakarta? 1.4 Batasan Masalah 1. Perilaku Bullying yang dimaksud adalah perilaku penindasan yang dilakukan seseorang atau kelompok yang dianggap lebih kuat kepada yang lemah dalam bentuk fisik maupun nonfisik. Dalam bentuk fisik misalnya menjambak, memukul, menendang serta merusak barang. Sedangkan nonfisik berupa verbal (memfitnah, mempermalukan) dan nonverbal (mengisolasi, meneror, menunjukkan gerak tubuh yang kasar). 2. Konsep diri yang dimaksud adalah persepsi individu mengenai kemampuan dirinya dalam hal akademik, sosial, emosional, dan fisik individu itu sendiri sesuai dengan konstrak yang ada dari teori Shavellson. 3. Siswa yang diteliti yaitu siswa kelas XI SMAN 70 Jakarta, remaja pertengahan (15 18 tahun), di mana teman sebaya masih memiliki peran penting, namun individu sudah lebih mampu mengarahkan diri sendiri (self -

22 10 directed) dan mulai mengembangkan kematangan tingkah laku, membuat keputusan yang akan dicapai. 1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah mengungkap adanya hubungan yang signifikan antara konsep diri dengan kecenderungan berperilaku bullying siswa kelas XI SMAN 70 Jakarta Manfaat Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menambah wacana dalam psikologi perkembangan remaja. Bagi pengembangan keilmuan diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dan pustaka umtuk mengkaji masalah konsep diri dan kecenderungan berperilaku bullying siswa SMA. Secara praktis diharapkan penelitian ini bermanfaat bagi para pendidik siswa, serta umumnya bagi masyarakat pemerhati masalah remaja. 1.6 Sistematika Penulisan Sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Bab I Pendahuluan yang meliputi latar belakang, identifikasi masalah, rumusan masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.

23 11 Bab II Kajian pustaka yang meliputi teori tentang perilaku bullying yang meliputi definisi perilaku bullying, bentuk bentuk bullying, faktor penyebab terjadinya bullying, penanggulangan bullying, dampak perilaku bullying. Konsep diri yang meliputi pengertian konsep diri, jenis jenis konsep diri, aspek aspek konsep diri. Dan remaja yang di antaranya definisi remaja, ciri-ciri remaja. Serta penjelasan hubungan konsep diri dengan kecenderungan berperilaku bullying siswa SMAN 70 Jakarta. Bab III Metode Penelitian yang meliputi jenis penelitian, variabel penelitian, pengambilan sampel, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, prosedur penelitian Bab IV Presentasi dan analisis data meliputi ; gambaran umum subjek penelitian, presentasi data, hasil penelitian. Bab V Kesimpulan meliputi : kesimpulan, diskusi, dan saran.

24 12 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Perilaku Bullying Definisi Perilaku Bullying Istilah bullying diilhami dari kata bull (bahasa Inggris) yang berarti banteng yang suka menanduk. Pihak pelaku bullying sering disebut bully. Bullying adalah sebuah situasi dimana terjadinya penyalahgunaan kekuatan/kekuasaan yang dilakukan oleh seseorang/sekelompok.(semai Jiwa Amini, 2008) Menurut Ken Rigby, bullying merupakan sebuah hasrat untuk menyakiti. Hasrat ini diperlihatkan ke dalam aksi, menyebabkan seseorang menderita. Aksi ini dilakukan secara langsung oleh seseorang atau kelompok yang lebih kuat, tidak bertanggung jawab, biasanya berulang, dan dilakukan dengan perasaan senang. (Ponny Retno Astuti, 2008) Sullivan, 2000 menyatakan bahwa bullying sebagai bentuk kenakalan remaja dikalangan siswa, memerlukan model intervensi yang baik dan terencana untuk sebuah perubahan. Bullying merupakan bagian dari kegagalan membangun kecerdasan yang komprehensif. (pernyataan Mendiknas Bambang Sudibyo dalam seminar Bullying ; masalah tersembunyi dalam dunia pendidikan di Indonesia, Jakarta 29 April 2006 dikutip dari harian Kompas, 1 Mei dalam buku Meredam Bullying). Selain itu bullying juga dapat berupa perilaku tidak langsung, misalnya dengan mengisolasi atau dengan sengaja menjauhkan seseorang yang

25 13 dianggap berbeda. Baik bullying langsung maupun tidak langsung pada dasarnya bullying adalah bentuk intimidasi fisik ataupun psikologis yang terjadi berkali-kali dan secara terus-menerus membentuk pola kekerasan. Sedangkan Barbara (2001) dalam Nurbaiti (2009) mendefinisikan bullying (penindasan) adalah tindakan intimidasi yang dilakukan pihak yang lebih kuat terhadap pihak yang lebih lemah. Sementara menurut Heald (2002) dalam Andy Herlambang (2008) bullying adalah tindak kekerasan disertai keinginan untuk menyakiti, mengancam, menakut nakuti atau membuatnya dalam keadaan tidak nyaman, berlangsung dalam jangka waktu yang lama, baik fisik maupun psikologis, yang dilakukan oleh seseorang maupun kelompok terhadap orang lain yang tidak mampu mempertahankan dirinya. Teori lain yang menghubungkan antara bullying dan agresi mengemukakan bahwa bullying adalah tingkah laku agresif yang bertujuan untuk mendominasi, menyakiti, atau mengucilkan orang lain Sheras (2002) dalam Andy Herlambang (2008). Dari penjelasan definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa bullying merupakan perilaku penindasan yang dilakukan seseorang atau kelompok yang dianggap lebih kuat kepada yang lemah dalam bentuk fisik maupun nonfisik. Dalam bentuk fisik misalnya menjambak, memukul, menendang, dan serangan fisik launnya. Sedangkan nonfisik berupa verbal (merusak barang, memfitnah, mempermalukan) dan nonverbal (mengisolasi, meneror, menunjukkan gerak tubuh yang kasar).

26 Bentuk Bentuk Bullying Bentuk-bentuk bullying, antara lain; 1. Bullying secara fisik: menarik rambut, meninju, memukul, mendorong, menusuk. 2. Bullying secara emosional: menolak, meneror, mengisolasi atau menjauhkan, menekan, memeras, memfitnah, menghina, dan adanya diskriminasi berdasarkan ras, ketidakmampuan, dan etnik. 3. Bullying secara verbal: memberikan nama panggilan, mengejek, dan menggosip. 4.Bullying secara seksual: ekshibisionisme, berbuat cabul, dan adanya pelecehan seksual. Bullying dapat dilakukan dalam salah satu bentuk di atas atau kombinasi dari beberapa bentuk perilaku bullying. Pada perilaku bullying tidak memperhitungkan alasan pelaku melakukan bullying. Terkadang pelaku hanya mencari alasan yang dapat diterima atas tindakan yang ia lakukan, misalnya melakukan bullying untuk mendisiplinkan adik kelas atau korban, tetapi perilaku tersebut berlangsung selama periode yang cukup lama dan membuat korban mengalami luka baik fisik maupun psikologis. Pada umumnya anak laki laki lebih sering melakukan bullying. Hal tersebut dikarenakan hubungan pertemanan di antara sesama laki laki lebih keras, lebih kuat, dan lebih agresif daripada hubungan pertemanan di antara sesama perempuan. Selain itu, laki laki lebih sering menggunakan perilaku

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah. Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Perubahan zaman yang semakin pesat ini membawa dampak ke berbagai aspek kehidupan terutama dalam bidang pendidikan. Terselenggaranya pendidikan yang efektif

Lebih terperinci

BULLYING. I. Pendahuluan

BULLYING. I. Pendahuluan BULLYING I. Pendahuluan Komitmen pengakuan dan perlindungan terhadap hak atas anak telah dijamin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 28B ayat (2) menyatakan bahwa setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang unik dan terus mengalami perkembangan di

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang unik dan terus mengalami perkembangan di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah individu yang unik dan terus mengalami perkembangan di sepanjang kehidupannya sejalan dengan pertambahan usianya. Manusia merupakan individu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan periode kehidupan yang penuh dengan dinamika, dimana pada masa tersebut terjadi perkembangan dan perubahan yang sangat pesat. Pada periode ini

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. yang terbentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi

BAB II LANDASAN TEORI. yang terbentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari interaksi BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Konsep Diri 2.1.1. Pengertian Konsep diri Konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang tentang dirinya, yang terbentuk melalui pengalaman-pengalaman yang diperoleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dewasa ini sering kita dengar tentang banyaknya kasus kekerasan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Dewasa ini sering kita dengar tentang banyaknya kasus kekerasan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa ini sering kita dengar tentang banyaknya kasus kekerasan yang dilakukan dilingkungan institusi pendidikan yang semakin menjadi permasalahan dan menimbulkan

Lebih terperinci

KEPRIBADIAN TANGGUH PADA SISWA KORBAN KEKERASAN TEMAN SEBAYA

KEPRIBADIAN TANGGUH PADA SISWA KORBAN KEKERASAN TEMAN SEBAYA KEPRIBADIAN TANGGUH PADA SISWA KORBAN KEKERASAN TEMAN SEBAYA ABSTRAKSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan dalam Mencapai Derajat Sarjana-S1 Bidang Psikologi dan Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah

Lebih terperinci

INTENSITAS TERKENA BULLYING DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT

INTENSITAS TERKENA BULLYING DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT INTENSITAS TERKENA BULLYING DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN EKSTROVERT DAN INTROVERT Skripsi Untuk memenuhi sebagian persyaratan Guna menempuh derajat Sarjana S-1 Psikologi Disusun Oleh : AMALIA LUSI BUDHIARTI

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. mau dan mampu mewujudkan kehendak/ keinginan dirinya yang terlihat

BAB II LANDASAN TEORI. mau dan mampu mewujudkan kehendak/ keinginan dirinya yang terlihat BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Tinjauan Tentang Kemandirian 2.1.1 Pengertian Kemandirian Pengertian mandiri berarti mampu bertindak sesuai keadaan tanpa meminta atau tergantung pada orang lain. Mandiri adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Individu sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi dengan lingkungan

BAB I PENDAHULUAN. Individu sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi dengan lingkungan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Individu sebagai makhluk sosial membutuhkan interaksi dengan lingkungan sekitar. Baik lingkungan keluarga, atau dengan cakupan yang lebih luas yaitu teman sebaya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam kehidupannya, individu sebagai makhluk sosial selalu

BAB I PENDAHULUAN. Di dalam kehidupannya, individu sebagai makhluk sosial selalu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di dalam kehidupannya, individu sebagai makhluk sosial selalu berhubungan dengan lingkungannya dan tidak dapat hidup sendiri. Ia selalu berinteraksi dengan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. bullying. Prinsipnya fenomena ini merujuk pada perilaku agresi berulang yang

I. PENDAHULUAN. bullying. Prinsipnya fenomena ini merujuk pada perilaku agresi berulang yang I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Maraknya pemberitaan di media massa terkait dengan tindak kekerasan terhadap anak di sekolah, nampaknya semakin melegitimasi tuduhan miring soal gagalnya sistem

Lebih terperinci

Perkembangan Sepanjang Hayat

Perkembangan Sepanjang Hayat Modul ke: Perkembangan Sepanjang Hayat Memahami Masa Perkembangan Remaja dalam Aspek Psikososial Fakultas PSIKOLOGI Hanifah, M.Psi, Psikolog Program Studi Psikologi http://mercubuana.ac.id Memahami Masa

Lebih terperinci

BAB I. Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan. terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan

BAB I. Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan. terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan BAB I 1.1 Latar Belakang Masalah Kekerasan Dalam Rumah Tangga atau KDRT diartikan setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa. lainnya. Masalah yang paling sering muncul pada remaja antara lain

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa. lainnya. Masalah yang paling sering muncul pada remaja antara lain BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju masa dewasa yang meliputi berbagai macam perubahan yaitu perubahan biologis, kognitif, sosial dan emosional.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. makhluk sosial. Pada kehidupan sosial, individu tidak bisa lepas dari individu

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. makhluk sosial. Pada kehidupan sosial, individu tidak bisa lepas dari individu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada dasarnya selain sebagai makhluk individu, manusia juga merupakan makhluk sosial. Pada kehidupan sosial, individu tidak bisa lepas dari individu lainnya.

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. kali oleh seorang psikiater asal Inggris bernama John Bowlby pada tahun 1969.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. kali oleh seorang psikiater asal Inggris bernama John Bowlby pada tahun 1969. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. 1. Attachment Attachment atau kelekatan merupakan teori yang diungkapkan pertama kali oleh seorang psikiater asal Inggris bernama John Bowlby pada tahun 1969. Ketika seseorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. peserta didik. Banyak yang beranggapan bahwa masa-masa sekolah adalah masa

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. peserta didik. Banyak yang beranggapan bahwa masa-masa sekolah adalah masa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang secara sadar berupaya melakukan perbaikan perilaku, pengalaman dan pengetahuan peserta didik. Banyak

Lebih terperinci

UKDW. Bab 1 Pendahuluan. 1. Latar Belakang

UKDW. Bab 1 Pendahuluan. 1. Latar Belakang Bab 1 Pendahuluan 1. Latar Belakang Masa remaja merupakan salah satu periode perkembangan yang dialami oleh setiap individu sebagai masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Menurut Erik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang,

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa yang penting dalam kehidupan seseorang, karena pada masa ini remaja mengalami perkembangan fisik yang cepat dan perkembangan psikis

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Kompetensi Interpersonal 1. Pengertian Kompetensi Interpersonal Menurut Mulyati Kemampuan membina hubungan interpersonal disebut kompetensi interpersonal (dalam Anastasia, 2004).

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan, pendidikan dan mengasihi serta menghargai anak-anaknya (Cowie

BAB I PENDAHULUAN. kesejahteraan, pendidikan dan mengasihi serta menghargai anak-anaknya (Cowie 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Salah satu ukuran pencapaian sebuah bangsa yang diajukan oleh UNICEF adalah seberapa baik sebuah bangsa memelihara kesehatan dan keselamatan, kesejahteraan, pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ukuran fisik, tapi bisa kuat secara mental (Anonim, 2008). Bullying di

BAB I PENDAHULUAN. ukuran fisik, tapi bisa kuat secara mental (Anonim, 2008). Bullying di BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perilaku bullying adalah sebuah situasi dimana terjadinya penyalahgunaan kekuatan atau kekuasaan yang dilakukan oleh seseorang atau sekelompok. Pihak yang kuat disini

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa manusia menemukan jati diri. Pencarian. memiliki kecenderungan untuk melakukan hal-hal diluar dugaan yang

I. PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan masa manusia menemukan jati diri. Pencarian. memiliki kecenderungan untuk melakukan hal-hal diluar dugaan yang 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Masa remaja merupakan masa manusia menemukan jati diri. Pencarian tersebut direfleksikan melalui aktivitas berkelompok dan menonjolkan keegoannya.

Lebih terperinci

DAMPAK PSIKOLOGIS BULLYING

DAMPAK PSIKOLOGIS BULLYING DAMPAK PSIKOLOGIS BULLYING PADA SISWA SMA CHRISTIN Program Sarjana, Universitas Gunadarma Abstrak Semakin hari kita semakin dekat dengan peristiwa kekerasan khususnya bullying yang dilakukan terhadap siswa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Salah satu kebijakan pemerintah di sektor pendidikan yang mendukung

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Salah satu kebijakan pemerintah di sektor pendidikan yang mendukung 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu kebijakan pemerintah di sektor pendidikan yang mendukung pendidikan sepanjang hayat adalah diakuinya Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). PAUD adalah pendidikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nurlaela Damayanti, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Nurlaela Damayanti, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa dimana pada masa ini remaja memiliki kematangan emosi, sosial, fisik dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Manusia merupakan makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Kebutuhan tersebut tidak hanya secara fisiologis

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. luput dari pengamatan dan dibiarkan terus berkembang.

I. PENDAHULUAN. luput dari pengamatan dan dibiarkan terus berkembang. 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Fenomena remaja yang terjadi di Indonesia khususnya belakangan ini terjadi penurunan atau degredasi moral. Dalam segala aspek moral, mulai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah merupakan pendidikan kedua setelah lingkungan keluarga, manfaat

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah merupakan pendidikan kedua setelah lingkungan keluarga, manfaat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1.Latar Belakang Sekolah merupakan pendidikan kedua setelah lingkungan keluarga, manfaat dari sekolah bagi siswa ialah melatih kemampuan akademis siswa,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan lain sebagainya yang semuanya menyebabkan tersingkirnya rasa

BAB I PENDAHULUAN. dan lain sebagainya yang semuanya menyebabkan tersingkirnya rasa 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fenomena akhir-akhir ini sangatlah memprihatinkan, karena kecenderungan merosotnya moral bangsa hampir diseluruh dunia. Krisis moral ini dilanjutkan dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. LatarBelakangMasalah. dalam mengantarkan peserta didik sehingga dapat tercapai tujuan yang

BAB I PENDAHULUAN. A. LatarBelakangMasalah. dalam mengantarkan peserta didik sehingga dapat tercapai tujuan yang BAB I PENDAHULUAN A. LatarBelakangMasalah Perubahan zaman yang semakin pesat membawa dampak ke berbagai aspek kehidupan yang terutama dalam bidang pendidikan. Terselenggaranya pendidikan yang efektif dan

Lebih terperinci

PROFIL KEPRIBADIAN 16 PF PADA SISWA PELAKU BULLYING

PROFIL KEPRIBADIAN 16 PF PADA SISWA PELAKU BULLYING PROFIL KEPRIBADIAN 16 PF PADA SISWA PELAKU BULLYING SKRIPSI Diajukan Oleh : Indrastiti RatnaWardhani F 100 070 105 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2011 PROFIL KEPRIBADIAN 16 PF PADA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. karena remaja akan berpindah dari anak-anak menuju individu dewasa yang akan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. karena remaja akan berpindah dari anak-anak menuju individu dewasa yang akan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan periode perkembangan yang sangat banyak mengalami krisis dalam perkembangannya. Masa ini sering juga disebut dengan masa transisi karena remaja

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. berhubungan dengan orang lain. Stuart dan Sundeen (dalam Keliat,1992).

BAB II LANDASAN TEORI. berhubungan dengan orang lain. Stuart dan Sundeen (dalam Keliat,1992). BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konsep Diri 2.1.1 Pengertian Konsep Diri Konsep diri adalah semua ide, pikiran, kepercayaan dan pendirian diketahui individu tentang dirinya dan mempengaruhi individu dalam berhubungan

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan

BAB II LANDASAN TEORI. tersebut mempelajari keadaan sekelilingnya. Perubahan fisik, kognitif dan peranan BAB II LANDASAN TEORI A. KEMANDIRIAN REMAJA 1. Definisi Kemandirian Remaja Kemandirian remaja adalah usaha remaja untuk dapat menjelaskan dan melakukan sesuatu yang sesuai dengan keinginannya sendiri setelah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tempat yang terdekat dari remaja untuk bersosialisasi sehingga remaja banyak

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. tempat yang terdekat dari remaja untuk bersosialisasi sehingga remaja banyak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada masa remaja, terjadi proses pencarian jati diri dimana remaja banyak melakukan interaksi dengan lingkungan sosialnya dan sekolah merupakan salah satu tempat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Keluarga merupakan lingkungan sosial pertama bagi anak yang memberi dasar perilaku perkembangan sikap dan nilai kehidupan dari keluarga. Salah satunya adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari,

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari, BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Manusia adalah individu yang selalu belajar. Individu belajar berjalan, berlari, dan lain-lain. Setiap tugas dipelajari secara optimal pada waktu-waktu tertentu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini menyajikan hal-hal yang menjadi latar belakang penelitian,

BAB I PENDAHULUAN. Bab ini menyajikan hal-hal yang menjadi latar belakang penelitian, BAB I PENDAHULUAN Bab ini menyajikan hal-hal yang menjadi latar belakang penelitian, rumusan masalah dan pertanyaan penelitian, tujuan, manfaat penelitian serta mengulas secara singkat mengenai prosedur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan mencari pasangan hidup untuk melanjutkan keturunan akan menjadi prioritas dalam hidup jika seseorang sudah berada di usia yang cukup matang dan mempunyai

Lebih terperinci

HUBUNGAN KOHESIVITAS DENGAN PERILAKU AGRESI PADA ANGGOTA GENG MOTOR DI KOTA MEDAN SKRIPSI

HUBUNGAN KOHESIVITAS DENGAN PERILAKU AGRESI PADA ANGGOTA GENG MOTOR DI KOTA MEDAN SKRIPSI HUBUNGAN KOHESIVITAS DENGAN PERILAKU AGRESI PADA ANGGOTA GENG MOTOR DI KOTA MEDAN SKRIPSI Diajukan Guna Memenuhi Persyaratan Ujian Sarjana Psikologi Oleh: BERIYANTI SUNITA 061301014 FAKULTAS PSIKOLOGI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Menurut UU No. 20 Tahun 2003, tentang sistem pendidikan nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Individu disadari atau tidak harus menjalani tuntutan perkembangan.

BAB I PENDAHULUAN. Individu disadari atau tidak harus menjalani tuntutan perkembangan. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Individu disadari atau tidak harus menjalani tuntutan perkembangan. Individu senantiasa akan menjalani empat tahapan perkembangan, yaitu masa kanak-kanak, masa

Lebih terperinci

PENGARUH LAYANAN DISKUSI KELOMPOK DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP PERILAKU BULLYING SISWA KELAS XI (Studi di SMA Negeri 5 Sigi )

PENGARUH LAYANAN DISKUSI KELOMPOK DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP PERILAKU BULLYING SISWA KELAS XI (Studi di SMA Negeri 5 Sigi ) PENGARUH LAYANAN DISKUSI KELOMPOK DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA AUDIO VISUAL TERHADAP PERILAKU BULLYING SISWA KELAS XI (Studi di SMA Negeri 5 Sigi ) Putri Wardhani 1 Muh. Mansyur Thalib Ridwan Syahran ABSTRAK

Lebih terperinci

MODUL PERKULIAHAN. Kesehatan Mental. Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri)

MODUL PERKULIAHAN. Kesehatan Mental. Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri) MODUL PERKULIAHAN Kesehatan Mental yang Berkaitan dengan Kesejahketaan Psikologis (Penyesuaian Diri) Fakultas Program Studi Tatap Muka Kode MK Disusun Oleh Psikologi Psikologi 03 MK61112 Aulia Kirana,

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia

1. PENDAHULUAN. Universitas Indonesia 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada hari Minggu tanggal 29 April 2007 seorang siswa kelas 1 (sebut saja A) SMA swasta di bilangan Jakarta Selatan dianiaya oleh beberapa orang kakak kelasnya. Penganiayaan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. KEKERASAN EMOSI 1. Pengertian Kekerasan Emosi Kekerasan emosi didefinisikan sebagai bentuk kekerasan yang dilakukan secara sengaja tujuan untuk mempertahankan dan menguasai individu

Lebih terperinci

Pengertian tersebut didukung oleh Coloroso (2006: 44-45) yang mengemukakan bahwa bullying akan selalu melibatkan ketiga unsur berikut;

Pengertian tersebut didukung oleh Coloroso (2006: 44-45) yang mengemukakan bahwa bullying akan selalu melibatkan ketiga unsur berikut; Definisi bullying merupakan sebuah kata serapan dari bahasa Inggris. Istilah Bullying belum banyak dikenal masyarakat, terlebih karena belum ada padanan kata yang tepat dalam bahasa Indonesia (Susanti,

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang dan Masalah. 1. Latar Belakang. Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya menyiapkan manusia

I. PENDAHULUAN. A. Latar Belakang dan Masalah. 1. Latar Belakang. Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya menyiapkan manusia 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah 1. Latar Belakang Pendidikan pada hakekatnya merupakan suatu upaya menyiapkan manusia agar mampu mandiri, menjadi anggota masyarakat yang berdaya guna dan

Lebih terperinci

PEDOMAN OBSERVASI FENOMENA KORBAN PERILAKU BULLYING PADA REMAJA DALAM DUNIA PENDIIDKAN

PEDOMAN OBSERVASI FENOMENA KORBAN PERILAKU BULLYING PADA REMAJA DALAM DUNIA PENDIIDKAN PEDOMAN OBSERVASI FENOMENA KORBAN PERILAKU BULLYING PADA REMAJA DALAM DUNIA PENDIIDKAN 1. Kondisi dan kesan umum (ciri fisik). 2. Kondisi lingkungan rumah tempat tinggal dan lingkungan tetangga serta lingkungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja. Hubungan sosial anak pertamatama masih sangat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menimbulkan konflik, frustasi dan tekanan-tekanan, sehingga kemungkinan besar

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menimbulkan konflik, frustasi dan tekanan-tekanan, sehingga kemungkinan besar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja merupakan kelompok yang sangat berpotensi untuk bertindak agresif. Remaja yang sedang berada dalam masa transisi yang banyak menimbulkan konflik, frustasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Salah satunya adalah krisis multidimensi yang diderita oleh siswa sebagai sumber

BAB I PENDAHULUAN. Salah satunya adalah krisis multidimensi yang diderita oleh siswa sebagai sumber 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Dunia pendidikan Indonesia saat ini kembali tercoreng dengan adanya tindak kekerasan yang dilakukan oleh para siswanya, khususnya siswa Sekolah Menengah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi tidak

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi tidak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan kemajuan teknologi tidak selalu membawa kebaikan bagi kehidupan manusia, kehidupan yang semakin kompleks dengan tingkat stressor

Lebih terperinci

BAB I. Pendahuluan. I.A Latar Belakang. Remaja seringkali diartikan sebagai masa perubahan. dari masa anak-anak ke masa dewasa.

BAB I. Pendahuluan. I.A Latar Belakang. Remaja seringkali diartikan sebagai masa perubahan. dari masa anak-anak ke masa dewasa. 12 BAB I Pendahuluan I.A Latar Belakang Remaja seringkali diartikan sebagai masa perubahan dari masa anak-anak ke masa dewasa. Remaja tidak termasuk golongan anak tetapi tidak pula golongan dewasa. Remaja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari kehidupan manusia. Dalam keluarga komunikasi orang tua dan anak itu. sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak.

BAB I PENDAHULUAN. dari kehidupan manusia. Dalam keluarga komunikasi orang tua dan anak itu. sangat penting bagi perkembangan kepribadian anak. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tidak komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia. Dalam keluarga komunikasi orang tua dan anak itu sangat penting bagi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Riesa Rismawati Siddik, 2014 Kontribusi pola asuh orangtua terhadap pembentukan konsep diri remaja

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Riesa Rismawati Siddik, 2014 Kontribusi pola asuh orangtua terhadap pembentukan konsep diri remaja BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Remaja adalah usia seseorang yang sedang dalam masa transisi yang sudah tidak lagi menjadi anak-anak, dan tidak bisa juga dinilai dewasa, saat usia remaja ini anak ingin

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diah Rosmayanti, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Diah Rosmayanti, 2014 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Fenomena di masyarakat khususnya bagi warga yang tinggal di perkotaan, aksiaksi kekerasan baik individual maupun massal mungkin sudah merupakan berita harian.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adalah masa remaja. Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak

BAB I PENDAHULUAN. adalah masa remaja. Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia pasti akan mengalami perkembangan ke arah yang lebih sempurna. Salah satu tahap perkembangan dalam kehidupan manusia adalah masa remaja. Masa remaja merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. juga diharapkan dapat memiliki kecerdasan dan mengerti nilai-nilai baik dan

BAB I PENDAHULUAN. juga diharapkan dapat memiliki kecerdasan dan mengerti nilai-nilai baik dan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pendidikan dilaksanakan dengan tujuan untuk membentuk karakteristik seseorang agar menjadi lebih baik. Melalui jalur pendidikan formal, warga negara juga diharapkan

Lebih terperinci

BAB 1V KONSEP DIRI REMAJA DELINQUEN DI DESA LOBANG KECAMATAN LIMPUNG KABUPATEN BATANG

BAB 1V KONSEP DIRI REMAJA DELINQUEN DI DESA LOBANG KECAMATAN LIMPUNG KABUPATEN BATANG BAB 1V KONSEP DIRI REMAJA DELINQUEN DI DESA LOBANG KECAMATAN LIMPUNG KABUPATEN BATANG A. Analisis Konsep Diri Remaja Delinquen di Desa Lobang Kecamatan Limpung Kabupaten Batang Masa remaja merupakan masa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku BAB I PENDAHULUAN I.I Latar Belakang Masalah Indonesia memiliki banyak suku, etnis dan budaya. Salah satunya adalah suku X di Kabupaten Papua yang menganut tradisi potong jari ketika salah seorang anggota

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana pernyataan yang diungkap oleh Spencer (1993) bahwa self. dalam hidup manusia membutuhkan kepercayaan diri, namun

BAB I PENDAHULUAN. Sebagaimana pernyataan yang diungkap oleh Spencer (1993) bahwa self. dalam hidup manusia membutuhkan kepercayaan diri, namun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepercayaan diri merupakan salah satu unsur kepribadian yang memegang peranan penting bagi kehidupan manusia. Banyak ahli mengakui bahwa kepercayaan diri merupakan

Lebih terperinci

Membangun Konsep Diri Positif Pada Anak

Membangun Konsep Diri Positif Pada Anak Membangun Konsep Diri Positif Pada Anak Sri Redjeki FIP IKIP Veteran Semarang Email : basiroh_1428@yahoo.co.id ABSTRAK Setiap manusia sebagai organisme memiliki dorongan untuk berkembang sampai mencapai

Lebih terperinci

Faktor-Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Intensi Membeli Air Minum Dalam Kemasan Merek Aqua Pada Mahasiswa FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Faktor-Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Intensi Membeli Air Minum Dalam Kemasan Merek Aqua Pada Mahasiswa FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Faktor-Faktor Psikologis Yang Mempengaruhi Intensi Membeli Air Minum Dalam Kemasan Merek Aqua Pada Mahasiswa FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Di Susun Oleh: NYA SORAYA RIZKINA (106070002284) Skripsi

Lebih terperinci

PERSEPSI PENCITRAAN POLITIK PADA KABINET INDONESIA BERSATU II DITINJAU DARI JENIS PEKERJAAN

PERSEPSI PENCITRAAN POLITIK PADA KABINET INDONESIA BERSATU II DITINJAU DARI JENIS PEKERJAAN PERSEPSI PENCITRAAN POLITIK PADA KABINET INDONESIA BERSATU II DITINJAU DARI JENIS PEKERJAAN SKRIPSI Diajukan Kepada Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta untuk Memenuhi Persyaratan guna

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Masalah Masa remaja merupakan saat yang penting dalam mempersiapkan seseorang memasuki masa dewasa. Masa ini merupakan, masa transisi dari masa anak-anak menuju dewasa.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Devi Eryanti, 2013

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Devi Eryanti, 2013 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pendidikan yang bermutu adalah yang mengintegrasikan tiga bidang kegiatan utamanya secara sinergi, yaitu bidang administratif dan kepemimpinan, bidang instruksional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hubungan Kontrol..., Agam, Fakultas Psikologi 2016

BAB I PENDAHULUAN. Hubungan Kontrol..., Agam, Fakultas Psikologi 2016 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dewasa ini, kasus tindak kekerasan semakin marak terjadi. Hal tersebut tidak hanya terjadi di tempat yang rawan kriminalitas saja tetapi juga banyak terjadi di berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Sekolah merupakan bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar, serta tempat menerima dan memberi pelajaran (http://www.sekolahdasar.net). Sekolah adalah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Remaja merupakan suatu periode yang disebut sebagai masa strum and drang,

BAB 1 PENDAHULUAN. Remaja merupakan suatu periode yang disebut sebagai masa strum and drang, BAB 1 PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Remaja merupakan suatu periode yang disebut sebagai masa strum and drang, yaitu suatu periode yang berada dalam dua situasi antara kegoncangan, penderitaan, asmara dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa, salah satu dari tugas perkembangan kehidupan sosial remaja ialah kemampuan memahami

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa yang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan masa transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa yang berlangsung sejak usia 10 atau 11 tahun, atau bahkan lebih awal yang disebut

Lebih terperinci

BAYU PUTRI ALDILA SAKTI NIM F

BAYU PUTRI ALDILA SAKTI NIM F HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TERHADAP PENDIDIKAN BERBASIS INTERNASIONAL DENGAN PENYESUAIAN DIRI DALAM PEMBELAJARAN PADA SISWA SMA NEGERI 1 BOYOLALI SKRIPSI Disusun Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. resiko (secara psikologis), over energy dan sebagainya. Hal tersebut dapat dilihat

BAB I PENDAHULUAN. resiko (secara psikologis), over energy dan sebagainya. Hal tersebut dapat dilihat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ada stereotif yang umum berkembang di masyarakat yang menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa yang penuh masalah, penuh gejolak, penuh resiko (secara psikologis),

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia memiliki hak untuk dapat hidup sehat. Karena kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia memiliki hak untuk dapat hidup sehat. Karena kesehatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap manusia memiliki hak untuk dapat hidup sehat. Karena kesehatan sangat penting maka pemerintah Indonesia memberikan perhatian berupa subsidi dalam bidang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam Friz Oktaliza, 2015). Menurut WHO (World Health Organization), remaja adalah penduduk dalam rentang usia tahun, menurut

BAB I PENDAHULUAN. dalam Friz Oktaliza, 2015). Menurut WHO (World Health Organization), remaja adalah penduduk dalam rentang usia tahun, menurut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masa remaja merupakan periode transisi dari anak-anak menuju dewasa, dimana terjadi kematangan fungsi fisik, kognitif, sosial, dan emosional yang cepat pada laki-laki

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. individu tentang dirinya sendiri inilah yang disebut konsep diri.

BAB I PENDAHULUAN. individu tentang dirinya sendiri inilah yang disebut konsep diri. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari- hari dan dalam hubungannya dengan diri sendiri dan dengan orang lain, setiap individu perlu memahami siapa dirinya dan bagaimana ia

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DAN POLA ASUH DEMOKRATIS DENGAN PERILAKU SEKSUAL PADA REMAJA SKRIPSI Oleh: Deny Setya Budi 2010-60-044 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MURIA KUDUS 2014 HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan periode yang penting, walaupun semua periode

BAB I PENDAHULUAN. Masa remaja merupakan periode yang penting, walaupun semua periode BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Masa remaja merupakan periode yang penting, walaupun semua periode dalam rentang kehidupan adalah penting namun kadar kepentingannya berbedabeda. Kadar kepentingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akan tergantung pada orangtua dan orang-orang yang berada di lingkungannya

BAB I PENDAHULUAN. akan tergantung pada orangtua dan orang-orang yang berada di lingkungannya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap manusia dilahirkan dalam kondisi yang tidak berdaya. Individu akan tergantung pada orangtua dan orang-orang yang berada di lingkungannya dan ketergantungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. minat, sikap, perilaku, maupun dalam hal emosi. Tingkat perubahan dalam sikap

BAB I PENDAHULUAN. minat, sikap, perilaku, maupun dalam hal emosi. Tingkat perubahan dalam sikap 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Balakang Masalah Remaja dipandang sebagai periode perubahan, baik dalam hal fisik, minat, sikap, perilaku, maupun dalam hal emosi. Tingkat perubahan dalam sikap dan perilaku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah internasional adalah sekolah yang melayani siswa yang berasal dari sejumlah

BAB I PENDAHULUAN. Sekolah internasional adalah sekolah yang melayani siswa yang berasal dari sejumlah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekolah internasional adalah sekolah yang melayani siswa yang berasal dari sejumlah besar budaya yang berbeda. Siswanya sering berpindah berpindah dari satu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebut terbentang dari masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga masa

BAB I PENDAHULUAN. tersebut terbentang dari masa bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga masa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sepanjang rentang kehidupannya individu mempunyai serangkaian tugas perkembangan yang harus dijalani untuk tiap masanya. Tugas perkembangan tersebut terbentang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dari hubungan dengan lingkungan sekitarnya. individu dan memungkinkan munculnya agresi.

BAB I PENDAHULUAN. dari hubungan dengan lingkungan sekitarnya. individu dan memungkinkan munculnya agresi. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Siswanto (2007) menjelaskan bahwa agresi merupakan salah satu koping tindakan langsung. Koping dalam tindakan langsung merupakan usaha tingkah laku yang dijalankan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Konsep Diri Istilah konsep diri biasanya mengarah kepada sebuah pembentukan konsep pribadi dari diri seseorang. Secara umum konsep diri adalah pandangan dan sikap

Lebih terperinci

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA SISWA SMAN 11 TANGERANG SELATAN SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA SISWA SMAN 11 TANGERANG SELATAN SKRIPSI HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN PERILAKU AGRESIF PADA REMAJA SISWA SMAN 11 TANGERANG SELATAN SKRIPSI Diajukan sebagai Salah Satu Syarat untuk Menyelesaikan Program Sarjana (S1) Pada Program

Lebih terperinci

MAKALAH MEREBAKNYA TAWURAN ANTAR PELAJAR DISEKOLAH KARENA KURANGNYA PENGAWASAN

MAKALAH MEREBAKNYA TAWURAN ANTAR PELAJAR DISEKOLAH KARENA KURANGNYA PENGAWASAN MAKALAH MEREBAKNYA TAWURAN ANTAR PELAJAR DISEKOLAH KARENA KURANGNYA PENGAWASAN Disusun oleh : Nama : Emi Dwi Utami Nim : 11001187 Kelas : D1 Sem : 3 PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING FAKULTAS KEGURUAN

Lebih terperinci

KONTRIBUSI KONSEP DIRI DAN PERSEPSI MENGAJAR GURU TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI DITINJAU DARI JENIS KELAMIN SISWA SMA GAMA YOGYAKARTA TAHUN 2009 TESIS

KONTRIBUSI KONSEP DIRI DAN PERSEPSI MENGAJAR GURU TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI DITINJAU DARI JENIS KELAMIN SISWA SMA GAMA YOGYAKARTA TAHUN 2009 TESIS KONTRIBUSI KONSEP DIRI DAN PERSEPSI MENGAJAR GURU TERHADAP MOTIVASI BERPRESTASI DITINJAU DARI JENIS KELAMIN SISWA SMA GAMA YOGYAKARTA TAHUN 2009 TESIS Diajukan Kepada Program Studi Manajemen Pendidikan

Lebih terperinci

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL PEER GROUP DAN KONTROL DIRI DENGAN KEPATUHAN TERHADAP NORMA SOSIAL SKRIPSI OLEH: SRI PUJI ASTUTI

HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL PEER GROUP DAN KONTROL DIRI DENGAN KEPATUHAN TERHADAP NORMA SOSIAL SKRIPSI OLEH: SRI PUJI ASTUTI HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL PEER GROUP DAN KONTROL DIRI DENGAN KEPATUHAN TERHADAP NORMA SOSIAL SKRIPSI OLEH: SRI PUJI ASTUTI 10761000060 FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk

BAB I PENDAHULUAN. atau interaksi dengan orang lain, tentunya dibutuhkan kemampuan individu untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah mahluk sosial yang memiliki kebutuhan untuk berinteraksi timbal-balik dengan orang-orang yang ada di sekitarnya. Memulai suatu hubungan atau

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berperilaku dan segala sifat yang membedakan antara individu satu dengan individu

BAB I PENDAHULUAN. berperilaku dan segala sifat yang membedakan antara individu satu dengan individu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Setiap manusia terlahir memiliki kesamaan dan perbedaan antara satu dengan lainnya, dan hal tersebut yang menjadikan manusia sebagai makluk yang unik. Manusia memiliki

Lebih terperinci

BAB II. Tinjauan Pustaka

BAB II. Tinjauan Pustaka BAB II Tinjauan Pustaka Dalam bab ini peneliti akan membahas tentang tinjauan pustaka, dimana dalam bab ini peneliti akan menjelaskan lebih dalam mengenai body image dan harga diri sesuai dengan teori-teori

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Manusia sepanjang rentang kehidupannya memiliki tahap-tahap

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Manusia sepanjang rentang kehidupannya memiliki tahap-tahap 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Manusia sepanjang rentang kehidupannya memiliki tahap-tahap perkembangan yang harus dilewati. Perkembangan tersebut dapat menyebabkan perubahan-perubahan yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lain. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri,

BAB I PENDAHULUAN. lain. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri, BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang berarti tidak dapat hidup tanpa orang lain. Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri, baik terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHALUAN. A. Latar Belakang Masalah. status sebagai orang dewasa tetapi tidak lagi sebagai masa anak-anak. Fase remaja

BAB I PENDAHALUAN. A. Latar Belakang Masalah. status sebagai orang dewasa tetapi tidak lagi sebagai masa anak-anak. Fase remaja BAB I PENDAHALUAN A. Latar Belakang Masalah Remaja adalah fase kedua dalam kehidupan setelah fase anak-anak. Fase remaja disebut fase peralihan atau transisi karena pada fase ini belum memperoleh status

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masa remaja adalah masa peralihan dimana perubahan secara fisik dan psikologis dari masa kanak-kanak ke masa dewasa (Hurlock, 2006). Perubahan psikologis yang terjadi

Lebih terperinci

Apa respons masyarakat terhadap individu yang sukses atau gagal dalam hidup?

Apa respons masyarakat terhadap individu yang sukses atau gagal dalam hidup? PENGASUHAN POSITIF KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DAN PENDIDIKAN MASYARAKAT DIREKTORAT PEMBINAAN PENDIDIKAN KELUARGA 2017 Apa respons masyarakat terhadap

Lebih terperinci