Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download ""

Transkripsi

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

51

52

53

54

55

56

57

58

59

60

61

62

63

64

65

66

67

68

69

70

71

72

73

74

75

76

77

78

79

80

81

82

83

84

85

86 V. SATUAN BIAYA UPAH KERJA/KERJANTARA, PENGADAANPAL BATAS BETON, PAL BATAS I{AYU DAN TUGU BATAS, (YANG BERFUNGSI SEBAGAI BAT^A,S TERTINGGII. Satuan Biaya Upah Kerja/Kerjantara yang mengikuti Tim pelaksana kegiatandapat diberikan upah kerjaper hari yang besarannya sebagaimana tercantum pada Lampiran 58 kolom 3. Satuan Biaya Pembuatan Pal Batas Beton/Kayu/Tugu Batas besarannya sebagaimana tercantum pada Lampiran 58 kolom 4, kolom 5 dan kolom 6. Catatan: Satuan Biaya Upah Kerja/Kerjantara sebagaimana dimaksud pada Lampiran 58 Kolom 3 berlaku untuk semua kegiatan di Lapangan. W. SATUAN BIAYA KEGIATAN KEHUMASAN, LIPUTAN DAN PUBLII(ASI MEDIA MASA, (YANG BERFUNGSI SEBAGAI BATAS TERTINGGI). Satuan Biaya Kegiatan Kehumasan, Liputan dan Publikasi Media Masa sebesar yang tercantum pada Lampiran 59. Dalam rangka pelaksanaan penyebaran informasi dan pembinaan hubungan antar Kementerian Kehutanan dengan Lembaga Negara dan Masyarakat diperlukan kegiatan kehumasan, liputan dan publikasi media masa. ARfs JENDERAL HADI DARYANTO NrP. 1957LO

87 Lampiran 1 NO HONORARIUM PENANGGUNG JAWAB PENGELOLA KEUANGAN SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN SATUAN (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1 HONORARIUM PENANGGUNG JAWAB PENGELOLA KEUANGAN PEJABAT KUASA PENGGUNA ANGGARAN a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d Rp. 250 juta OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d Rp. 500 juta OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d Rp. 1 miliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar OB f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d Rp. 5 miliar OB g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar OB h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar OB i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar OB j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar OB k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar OB l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar OB m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar OB n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar OB o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun OB p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d Rp. 250 juta OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d Rp. 500 juta OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d Rp. 1 miliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar OB f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d Rp. 5 miliar OB g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar OB h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar OB i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar OB j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar OB k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar OB l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar OB m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar OB n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar OB o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun OB p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB

88 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1.3 URAIAN PEJABAT PENGUJI TAGIHAN DAN PENANDATANGAN SPM (dalam rupiah) a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d Rp. 250 juta OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d Rp. 500 juta OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d Rp. 1 miliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar OB f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d Rp. 5 miliar OB g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar OB h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar OB i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar OB j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar OB k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar OB l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar OB m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar OB n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar OB o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun OB p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB BENDAHARA PENGELUARAN a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d Rp. 250 juta OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d Rp. 500 juta OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d Rp. 1 miliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar OB f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d Rp. 5 miliar OB g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar OB h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar OB i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar OB j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar OB k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar OB l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar OB m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar OB n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar OB o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun OB p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB STAF PENGELOLA/BENDAHARA PENGELUARAN PEMBANTU/PETUGAS PENGELOLA ADMINISTRASI BELANJA PEGAWAI (PPABP) a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d Rp. 250 juta OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d Rp. 500 juta OB

89 NO URAIAN SATUAN (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d Rp. 1 M OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar OB f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d Rp. 5 miliar OB g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar OB h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar OB i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar OB j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar OB k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar OB l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar OB m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar OB n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar OB o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun OB p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB

90 Lampiran 2 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1 HONORARIUM PENANGGUNG JAWAB PENGELOLA KEUANGAN PADA SATKER YANG MENGELOLA BELANJA PEGAWAI SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN HONORARIUM PENANGGUNG JAWAB PENGELOLA KEUANGAN PADA SATKER YANG MENGELOLA BELANJA PEGAWAI (dalam rupiah) ATASAN LANGSUNG PEMEGANG KAS/KPA a. Nilai pagu dana s.d Rp. 25 milliar OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 milliar s.d Rp. 50 milliar OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 50 milliar s.d Rp. 100 milliar OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 milliar s.d Rp. 200 milliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 200 milliar OB PEMEGANG KAS/BENDAHARA a. Nilai pagu dana s.d Rp. 25 milliar OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 milliar s.d Rp. 50 milliar OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 50 milliar s.d Rp. 100 milliar OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 milliar s.d Rp. 200 milliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 200 milliar OB JURU BAYAR/ STAF a. Nilai pagu dana s.d Rp. 25 milliar OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 milliar s.d Rp. 50 milliar OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 50 milliar s.d Rp. 100 milliar OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 milliar s.d Rp. 200 milliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 200 milliar OB

91 Lampiran 3 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1. HONORARIUM PEJABAT PENGADAAN BARANG/JASA; DAN HONORARIUM PANITIA PENGADAAN BARANG/JASA (KONSTRUKSI) DAN KELOMPOK KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) 1.1 PEJABAT PENGADAAN BARANG/JASA OB HONORARIUM PENGADAAN BARANG/JASA SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN (dalam rupiah) PANITIA PENGADAN BARANG/JASA (KONSTRUKSI) DAN KELOMPOK KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) a. Nilai pagu pengadaan sampai dengan Rp. 200 juta Per Paket b. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 200 juta s.d OP Rp. 500 juta c. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 500 juta s.d OP Rp. 1 miliar d. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 1 miliar s.d OP Rp. 2,5 miliar e. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 2,5 miiar s.d OP Rp. 5 miliar f. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 5 miliar s.d OP Rp. 10 miliar g. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 10 miliar s.d OP Rp. 25 miliar h. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 25 miliar s.d OP Rp. 50 miliar i. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 50 miliar s.d OP Rp. 75 miliar j Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 75 miliar s.d OP Rp. 100 miliar k. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 100 miliar s.d OP Rp. 250 miliar l. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 250 miliar s.d OP Rp. 500 miliar m. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 500 miliar s.d OP Rp. 750 miliar n. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 750 miliar s.d OP Rp. 1 triliun o. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 1 triliun OP

92 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 2. URAIAN HONORARIUM PANITIA PENGADAAN BARANG (NON KONSTRUKSI) DAN KELOMPOK KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP); DAN HONORARIUM PANITIA PENGADAAN JASA (NON - KONSTRUKSI) DAN KELOMPOK KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) (dalam rupiah) PANITIA PENGADAAN BARANG (NON KONSTRUKSI) DAN KELOMPOK KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) a. Nilai pagu pengadaan sampai dengan Rp. 200 juta Per Paket b. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 200 juta s.d OP Rp. 500 juta c. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 500 juta s.d OP Rp. 1 miliar d. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 1 miliar s.d OP Rp. 2,5 miliar e. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 2,5 miiar s.d OP miliar f. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 5 miliar s.d OP Rp. 10 miliar g. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 10 miliar s.d OP Rp. 25 miliar h. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 25 miliar s.d OP Rp. 50 miliar i. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 50 miliar s.d OP Rp. 75 miliar j Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 75 miliar s.d OP Rp. 100 miliar k. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 100 miliar s.d OP Rp. 250 miliar l. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 250 miliar s.d OP Rp. 500 miliar m. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 500 miliar s.d OP Rp. 750 miliar n. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 750 miliar s.d OP Rp. 1 triliun o. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 1 triliun OP PANITIA PENGADAAN JASA (NON KONSTRUKSI) DAN KELOMPOK KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) a. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi s.d Rp.50 juta Per Paket b. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi di atas OP Rp. 50 juta s.d Rp. 100 juta 81

93 NO URAIAN SATUAN (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) c. Nilai pagu pengadaan jasa lainnya s.d Rp. 100 juta Per Paket d. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 100 s.d Rp. 250 juta e. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 250 juta s.d Rp. 500 juta f. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 500 juta s.d Rp. 1 miliar g. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar h. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 2,5 miliar s.d Rp. 5 miliar i. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar j. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar k. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar l. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar m. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar n. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar o. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar p. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar q. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 trilyun r. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 1 trilyun 82

94 Lampiran 4 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1. PENGGUNA ANGGARAN 1.1 HONORARIUM PENGGUNA ANGGARAN SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN (dalam rupiah) PENGADAAN BARANG DAN JASA (KONSTRUKSI) a. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 100 miliar s.d OP Rp. 250 miliar b. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 250 miliar s.d OP Rp. 500 miliar c. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 500 miliar s.d OP Rp. 750 miliar d. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 750 miliar s.d OP Rp. 1 triliun e. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 1 triliun OP PENGADAAN BARANG (NON KONSTRUKSI) a. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 100 miliar s.d OP Rp. 250 miliar b. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 250 miliar s.d OP Rp. 500 miliar c. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 500 miliar s.d OP Rp. 750 miliar d. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 750 miliar s.d OP Rp. 1 triliun e. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 1 triliun OP PENGADAAN JASA (NON KONSTRUKSI) a. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar b. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar c. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar d. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar e. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar f. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnyadi atas p. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar 83

95 NO URAIAN SATUAN (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) g. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar h. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun i. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 1 triliun 84

96 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) PEJABAT PENERIMA HASIL PEKERJAAN/ OB PENGADAAN BARANG/JASA 1.2 HONORARIUM PENERIMA HASIL PEKERJAAN SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN HONORARIUM PEJABAT/PANITIA PENERIMA HASIL PEKERJAAN/PENGADAAN BARANG/JASA Lampiran 5 (dalam rupiah) PANITIA PENERIMA HASIL PEKERJAAN/ PENGADAAN BARANG/JASA a. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan s.d Rp. 200 juta OP b. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 200 juta s.d Rp. 500 juta c. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 500 juta s.d Rp. 1 miliar d. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar e. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 2,5 miliar s.d Rp. 5 miliar f. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar g. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar h. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar i. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar j Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar k. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar l. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar m. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar n. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun o. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 1 triliun 85

97 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1 HONORARIUM PENGELOLA PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) HONORARIUM PENGELOLA PNBP SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN Lampiran 6 (dalam rupiah) ATASAN LANGSUNG BENDAHARA a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d OB Rp. 250 juta c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d OB Rp. 500 juta d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d OB Rp. 1 miliar e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d OB Rp. 2,5 miliar f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d OB Rp. 5 miliar g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d OB Rp. 10 miliar h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d OB Rp. 25 miliar i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d OB Rp. 50 miliar j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d OB Rp. 75 miliar k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d OB Rp. 100 miliar l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d OB Rp. 250 miliar m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d OB Rp. 500 miliar n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d OB Rp. 750 miliar o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d OB Rp. 1 triliun p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB BENDAHARA a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB

98 NO URAIAN SATUAN (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d OB Rp. 250 juta c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d OB Rp. 500 juta d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d OB Rp. 1 miliar e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d OB Rp. 2,5 miliar f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d OB Rp. 5 miliar g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d OB Rp. 10 miliar h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d OB Rp. 25 miliar i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d OB Rp. 50 miliar j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d OB Rp. 75 miliar k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d OB Rp. 100 miliar l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d OB Rp. 250 miliar m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d OB Rp. 500 miliar n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d OB Rp. 750 miliar o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d OB Rp. 1 triliun p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB ANGGOTA a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d OB Rp. 250 juta c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d OB Rp. 500 juta d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d OB Rp. 1 miliar e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d OB Rp. 2,5 miliar f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d OB

99 NO URAIAN SATUAN (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) Rp. 5 miliar g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d OB Rp. 10 miliar h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d OB Rp. 25 miliar i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d OB Rp. 50 miliar j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d OB Rp. 75 miliar k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d OB Rp. 100 miliar l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d OB Rp. 250 miliar m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d OB Rp. 500 miliar n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d OB Rp. 750 miliar o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d OB Rp. 1 triliun p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB

100 No HONORARIUM PENGELOLA SISTEM AKUNTANSI INSTANSI (SAI) SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN SATUAN Lampiran 7 (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1 HONORARIUM PENGELOLA SISTEM AKUNTANSI INSTANSI 1.1 Unit Akuntansi Tingkat Kementerian Negara/Lembaga (UAPPA/Barang) yang ditetapkan atas Dasar Keputusan Menteri a. Pengarah OB b. Penanggung Jawab OB c. Koordinator OB d. Ketua/Wakil Ketua OB e. Anggota /Petugas OB Unit Akuntansi Tingkat Eselon I (UAPPA/Barang-E1) yang ditetapkan atas Dasar SK. Eselon I a. Penanggung Jawab OB b. Koordinator OB c. Ketua/Wakil Ketua OB d. Anggota/Petugas OB Unit Akuntansi Tingkat Wilayah (UAPPA/Barang-W) yang ditetapkan atas Dasar SK. Eselon I a. Penanggung Jawab OB b. Koordinator OB c. Ketua/Wakil Ketua OB d. Anggota/Petugas OB Unit Akuntansi Tingkat Satuan Kerja (UAKPA/Barang) Yang ditetapkan atas dasar SK. Eselon II atau Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah atau Koordinator Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah a. Penanggung Jawab OB b. Koordinator OB c. Ketua/Wakil Ketua OB d. Anggota/Petugas OB

101 Lampiran 8 No SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1 HONORARIUM TIM PELAKSANA KEGIATAN 1.1 HONORARIUM TIM PELAKSANA KEGIATAN; DAN SEKRETARIAT TIM PELAKSANA KEGIATAN SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN (dalam rupiah) Yang Ditetapkan Oleh Presiden a. Pengarah OB b. Penanggung Jawab OB c. Koordinator/Ketua OB d. Wakil Ketua OB e. Sekretaris OB f. Anggota OB Yang Ditetapkan Oleh Menteri/Pejabat Setingkat Menteri a. Pengarah OB b. Penanggung Jawab OB c. Ketua OB d. Wakil Ketua OB e. Sekretaris OB f. Anggota OB Yang Ditetapkan Oleh Pejabat Eselon I a. Pengarah OB b. Penanggung Jawab OB c. Ketua OB d. Wakil Ketua OB e. Sekretaris OB f. Anggota OB Yang Ditetapkan Oleh KPA a. Pengarah OB b. Penanggung Jawab OB c. Ketua OB d. Wakil Ketua OB e. Sekretaris OB f. Anggota OB HONORARIUM SEKRETARIAT TIM PELAKSANA KEGIATAN 2.1 Ketua/Wakil Ketua OB Anggota OB

102 Lampiran 9 SATUAN BIAYA UANG HARIAN PAKET FULLBOARD DI LUAR KOTA, PAKET FULLBOARD SERTA FULLDAY/HALFDAY DI DALAM KOTA SEBAGAI BATAS TERTINGGI (dalam rupiah) NO. PROVINSI SATUAN FULLBOARD DI LUAR KOTA FULLBOARD DI DALAM KOTA FULLDAY/ HALFDAY DI DALAM KOTA (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. ACEH OH SUMATERA UTARA OH R I A U OH KEPULAUAN RIAU OH JAMBI OH SUMATERA BARAT OH SUMATERA SELATAN OH LAMPUNG OH BENGKULU OH BANGKA BELITUNG OH BANTEN OH JAWA BARAT OH DKI JAKARTA OH JAWA TENGAH OH D.I. YOGYAKARTA OH JAWA TIMUR OH B A L I OH NUSA TENGGARA BARAT OH NUSA TENGGARA TIMUR OH KALIMANTAN BARAT OH KALIMANTAN TENGAH OH KALIMANTAN SELATAN OH KALIMANTAN TIMUR OH KALIMANTAN UTARA OH SULAWESI UTARA OH GORONTALO OH SULAWESI BARAT OH SULAWESI SELATAN OH SULAWESI TENGAH OH SULAWESI TENGGARA OH MALUKU OH MALUKU UTARA OH PAPUA OH PAPUA BARAT OH

103 Lampiran 10 HONORARIUM SATPAM, PENGEMUDI, PETUGAS KEBERSIHAN, DAN PRAMUBAKTI SEBAGAI BATAS TERTINGGI (dalam rupiah) NO. PROVINSI SATUAN SATPAM DAN PENGEMUDI PETUGAS KEBERSIHAN DAN PRAMUBAKTI (1) (2) (3) (4) (5) 1. ACEH OB SUMATERA UTARA OB R I A U OB KEPULAUAN RIAU OB JAMBI OB SUMATERA BARAT OB SUMATERA SELATAN OB LAMPUNG OB BENGKULU OB BANGKA BELITUNG OB BANTEN OB JAWA BARAT OB DKI JAKARTA OB JAWA TENGAH OB D.I. YOGYAKARTA OB JAWA TIMUR OB B A L I OB NUSA TENGGARA BARAT OB NUSA TENGGARA TIMUR OB KALIMANTAN BARAT OB KALIMANTAN TENGAH OB KALIMANTAN SELATAN OB KALIMANTAN TIMUR OB KALIMANTAN UTARA OB SULAWESI UTARA OB GORONTALO OB SULAWESI BARAT OB SULAWESI SELATAN OB SULAWESI TENGAH OB SULAWESI TENGGARA OB MALUKU OB MALUKU UTARA OB PAPUA OB PAPUA BARAT OB

104 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) HONORARIUM SIDANG/KONFERENSI INTERNASIONAL, KTM, SOM (BILATERAL/REGIONAL/MULTILATERAL); DAN HONORARIUM WORKSHOP/SEMINAR/SOSIALISASI/SARASEHAN BERSKALA INTERNASIONAL; DAN SATUAN BIAYA NARA SUMBER KEGIATAN DI LUAR NEGERI SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN HONORARIUM SIDANG/KONFERENSI INTERNASIONAL KTM, SOM (BILATERAL/ REGIONAL/MULTILATERAL) Lampiran 11 (dalam rupiah) 1.1 Pengarah Orang/hari Penanggung Jawab Orang/hari Ketua / Wakil Ketua Orang/hari Ketua Delegasi Orang/hari Tim Asistensi Orang/hari Anggota Delegasi RI Orang/hari Koordinator Orang/hari Ketua Bidang Orang/hari Sekretaris Orang/hari Anggota Panitia Orang/hari Liasion Officer (LO) Orang/hari Staf Pendukung Orang/hari HONORARIUM WORKSHOP/SEMINAR/ SOSIALISASI/SARASEHAN BERSKALA INTERNASIONAL INTERNASIONAL 2.1 Pengarah Orang/hari Penanggung Jawab Orang/hari Ketua/ Wakil Ketua Orang/hari Ketua Delegasi Orang/hari Tim Asistensi Orang/hari Anggota Delegasi RI Orang/hari Koordinator Orang/hari Ketua Bidang Orang/hari Sekretaris Orang/hari Anggota Panitia Orang/hari Liasion Officer (LO) Orang/hari Staf Pendukung Orang/hari SATUAN BIAYA NARA SUMBER KEGIATAN DI LUAR NEGERI 3.1 Narasumber Kelas A Orang/Hari $ Narasumber Kelas B Orang/Hari $ Narasumber Kelas C Orang/Hari $220 92

105

106 Lampiran 12 SATUAN BIAYA UANG HARIAN PERJALANAN DINAS DALAM NEGERI SEBAGAI BATAS TERTINGGI (dalam rupiah) NO. PROVINSI SATUAN LUAR KOTA DALAM KOTA LEBIH DARI 8 (DELAPAN) JAM DIKLAT (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. ACEH OH SUMATERA UTARA OH R I A U OH KEPULAUAN RIAU OH JAMBI OH SUMATERA BARAT OH SUMATERA SELATAN OH LAMPUNG OH BENGKULU OH BANGKA BELITUNG OH BANTEN OH JAWA BARAT OH DKI JAKARTA OH JAWA TENGAH OH D.I. YOGYAKARTA OH JAWA TIMUR OH B A L I OH NUSA TENGGARA BARAT OH NUSA TENGGARA TIMUR OH KALIMANTAN BARAT OH KALIMANTAN TENGAH OH KALIMANTAN SELATAN OH KALIMANTAN TIMUR OH KALIMANTAN UTARA OH SULAWESI UTARA OH GORONTALO OH SULAWESI BARAT OH SULAWESI SELATAN OH SULAWESI TENGAH OH SULAWESI TENGGARA OH MALUKU OH MALUKU UTARA OH PAPUA OH PAPUA BARAT OH

107 PEJABAT NEGARA/ PEJABAT ESELON I PEJABAT NEGARA LAINNYA/ PEJABAT ESELON II PEJABAT ESELON III/ GOLONGAN IV PEJABAT ESELON IV/ GOLONGAN III Lampiran 13 SATUAN BIAYA PENGINAPAN PERJALANAN DINAS DALAM NEGERI SEBAGAI BATAS TERTINGGI (dalam rupiah) No. PROPINSI SATUAN TARIF HOTEL GOLONGAN I/II (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1. ACEH OH SUMATERA UTARA OH R I A U OH KEPULAUAN RIAU OH JAMBI OH SUMATERA BARAT OH SUMATERA SELATAN OH LAMPUNG OH BENGKULU OH BANGKA BELITUNG OH BANTEN OH JAWA BARAT OH DKI JAKARTA OH JAWA TENGAH OH D.I. YOGYAKARTA OH JAWA TIMUR OH B A L I OH NUSA TENGGARA BARAT OH NUSA TENGGARA TIMUR OH KALIMANTAN BARAT OH KALIMANTAN TENGAH OH KALIMANTAN SELATAN OH KALIMANTAN TIMUR OH KALIMANTAN UTARA OH SULAWESI UTARA OH GORONTALO OH SULAWESI BARAT OH SULAWESI SELATAN OH SULAWESI TENGAH OH SULAWESI TENGGARA OH MALUKU OH MALUKU UTARA OH PAPUA OH PAPUA BARAT OH Keterangan : 1. Uang Harian dari uang makan, uang saku dan transport lokal 2. Untuk Pejabat Negara diberikan fasilitas Hotel Bintang Lima kelas Suite. Apabila dalam Provinsi tersebut tidak terdapat Hotel Hotel Bintang Lima maka kepada Pejabat Negara tsb. dapat diberikan tarif kamar hotel tertinggi yg ada di Prov. tsb.. 3. Pejabat Negara (Ketua Wakil Ketua dan Anggota Lembaga Tinggi Negara, Menteri serta setingkat Menteri), Pejabat Eselon I dan Pejabat Eselon II diberikan uang reprensentatif per-hari masing-masing sebesar Rp ,- dan Rp ,- serta Rp ,-. 4. Pejabat Negara (Ketua/ Wakil Ketua dan Anggota Lembaga Tinggi Negara, Menteri serta Setingkat Menteri), diberikan fasilitas angkutan dalam kota/sewa kendaraan (termasuk sopir/bbm) yang diberikan secara at cost yang besarannya maksimum sebesar yang tercantum pada Lampiran Perjalanan dinas yang bersifat rombongan dapat menggunakan hotel yang sama dengan klasifikasi kamar berbeda. 94

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100/PMK.02/2010 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100/PMK.02/2010 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN MOR 100/PMK.02/2010 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Keimigrasian. Visa. Saat Kedatangan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Keimigrasian. Visa. Saat Kedatangan. No.12, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Keimigrasian. Visa. Saat Kedatangan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-01-GR.01.06

Lebih terperinci

UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) KEMENTERIAN PU PERA

UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) KEMENTERIAN PU PERA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) KEMENTERIAN PU PERA Disampaikan oleh: Kepala Badan Pembinaan Konstruksi 23 Desember 2014 PELAKSANA PROGRAM/KEGIATAN UU/PP SEKTORAL ORGANISASI PENGADAAN BARANG DAN JASA KEMENTERIAN

Lebih terperinci

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA PEMBENTUKAN KANTOR REGIONAT XIII DAN KANTOR REGIONAL XIV NOMOR 20 TAHUN 2014 TANGGAL.. 21 JULI 2OT4 NOMOR 20 TAHUN 20 14 TBNTANG PEMBENTUKAN KANTOR REGIONAL XIII DAN KANTOR REGIONAL XIV DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Daftar negara yang warganya perlu visa untuk melewati perbatasan eksternal Negara Schengen dan daftar negara yang tidak memerlukannya.

Daftar negara yang warganya perlu visa untuk melewati perbatasan eksternal Negara Schengen dan daftar negara yang tidak memerlukannya. Daftar negara yang warganya perlu visa untuk melewati perbatasan eksternal Negara Schengen dan daftar negara yang tidak memerlukannya. A. Daftar negara yang warganya perlu visa untuk melewati perbatasan

Lebih terperinci

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi

Tabel Lampiran 1. Produksi, Luas Panen dan Produktivitas Padi Per Propinsi Tabel., dan Padi Per No. Padi.552.078.387.80 370.966 33.549 4,84 4,86 2 Sumatera Utara 3.48.782 3.374.838 826.09 807.302 4,39 4,80 3 Sumatera Barat.875.88.893.598 422.582 423.402 44,37 44,72 4 Riau 454.86

Lebih terperinci

LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-08-2012 S/D 31-08-2012 NO. NAMA BIAYA BIAYA JUMLAH SUB TOTAL

LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-08-2012 S/D 31-08-2012 NO. NAMA BIAYA BIAYA JUMLAH SUB TOTAL DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM RI SEKRETARIS DIREKTORAT JL. H.R. RASUNA SAID KAV 8-9 KUNINGAN 021-5225034 021-5208531 LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-08-2012 S/D 31-08-2012 NO. NAMA

Lebih terperinci

Lampiran: 2380/H/TU/2015 4 Mei 2015

Lampiran: 2380/H/TU/2015 4 Mei 2015 1 Lampiran: 2380/H/TU/2015 4 Mei 2015 NO Kepala Dinas Pendidikan 1 Provinsi DKI Jakarta 2 Provinsi Jawa Barat 3 Provinsi Jawa Tengah 4 Provinsi DI Yogyakarta 5 Provinsi Jawa Timur 6 Provinsi Aceh 7 Provinsi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA TENTANG STANDAR BIAYA PENILAIAN KINERJA PENGELOLAAN HUTAN PRODUKSI LESTARI DAN VERIFIKASI LEGALITAS KAYU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN

Lebih terperinci

LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-09-2012 S/D 30-09-2012 NO. NAMA BIAYA BIAYA JUMLAH SUB TOTAL

LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-09-2012 S/D 30-09-2012 NO. NAMA BIAYA BIAYA JUMLAH SUB TOTAL DEPARTEMEN HUKUM DAN HAM RI SEKRETARIS DIREKTORAT JL. H.R. RASUNA SAID KAV 8-9 KUNINGAN 021-5225034 021-5208531 LAPORAN REKAPITULASI PENERIMAAN PNBP Imigrasi TANGGAL : 01-09-2012 S/D 30-09-2012 NO. NAMA

Lebih terperinci

Fungsi, Sub Fungsi, Program, Satuan Kerja, dan Kegiatan Anggaran Tahun 2012 Kode. 1 010022 Provinsi : DKI Jakarta 484,909,154

Fungsi, Sub Fungsi, Program, Satuan Kerja, dan Kegiatan Anggaran Tahun 2012 Kode. 1 010022 Provinsi : DKI Jakarta 484,909,154 ALOKASI ANGGARAN URUSAN PEMERINTAHAN BIDANG PENDIDIKAN YANG DILIMPAHKAN KEPADA GUBERNUR (Alokasi Anggaran Dekonsentrasi Per Menurut Program dan Kegiatan) (ribuan rupiah) 1 010022 : DKI Jakarta 484,909,154

Lebih terperinci

STANDAR BIAYA MASUKAN TAHUN ANGGARAN 2015 (PMK No.53 /PMK.02/2014 tgl. 17 Maret 2014) DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN KEMENTERIAN KEUANGAN

STANDAR BIAYA MASUKAN TAHUN ANGGARAN 2015 (PMK No.53 /PMK.02/2014 tgl. 17 Maret 2014) DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN KEMENTERIAN KEUANGAN STANDAR BIAYA MASUKAN TAHUN ANGGARAN 2015 (PMK No.53 /PMK.02/2014 tgl. 17 Maret 2014) DIREKTORAT JENDERAL ANGGARAN KEMENTERIAN KEUANGAN Undang-Undang N0. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara, Pasal 3

Lebih terperinci

Laporan Rencana Umum Pengadaan (RUP) Barang/Jasa

Laporan Rencana Umum Pengadaan (RUP) Barang/Jasa Laporan Rencana Umum Pengadaan (RUP) Barang/Jasa T.A. 2014 Biro Keuangan dan BMN Sekretariat Jenderal, Kementerian Kesehatan Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2014 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2014 TENTANG SALINAN PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2014 TENTANG RINCIAN TUGAS LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN PROVINSI ACEH, PROVINSI SUMATERA UTARA, PROVINSI RIAU,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN AGAMA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI AGAMA REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa sebagai tindak lanjut

Lebih terperinci

RENCANA DAN REALISASI INVESTASI DAN TENAGA KERJA PMDN MENURUT SEKTOR EKONOMI DI NTB TAHUN 2013

RENCANA DAN REALISASI INVESTASI DAN TENAGA KERJA PMDN MENURUT SEKTOR EKONOMI DI NTB TAHUN 2013 RENCANA DAN REALISASI INVESTASI DAN TENAGA KERJA PMDN MENURUT SEKTOR EKONOMI DI NTB TAHUN 2013 No Sektor Ekonomi (Ribu Rp ) Kerja (Org) (Ribu Rp ) Kerja (Org) 1 Petanian Tanaman Pangan 1 40.000.000 200

Lebih terperinci

MENATA ULANG INDONESIA Menuju Negara Sejahtera

MENATA ULANG INDONESIA Menuju Negara Sejahtera MENATA ULANG INDONESIA Menuju Negara Sejahtera Ironi Sebuah Negara Kaya & Tumbuh Perekonomiannya, namun Kesejahteraan Rakyatnya masih Rendah KONFEDERASI SERIKAT PEKERJA INDONESIA Jl Condet Raya no 9, Al

Lebih terperinci

Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negri Kemdikbud 2012

Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negri Kemdikbud 2012 Biro Perencanaan dan Kerja Sama Luar Negri Kemdikbud 2012 PrinsipUmum Setiap PNS yang melakukan perjalanan luar negeri untuk kepentingan dinas perlu ijin dari Pemerintah RI (SP=Surat Persetujuan) Ijin

Lebih terperinci

KERTAS KERJA RKA-KL RINCIAN BELANJA SATUAN KERJA TAHUN ANGGARAN 2013

KERTAS KERJA RKA-KL RINCIAN BELANJA SATUAN KERJA TAHUN ANGGARAN 2013 (035.01.01) DUKUNGAN MANAJEMEN DAN PELAKSANAAN TUGAS TEKNIS LAINNYA KEMENKO PEREKONOMIAN SATUAN KERJA (427752) MENKO BIDANG PEREKONOMIAN PROPINSI DKI JAKARTA LOKASI (51) KOTA JAKARTA PUSAT /KEGIATAN/OUUT/SUBOUUT/

Lebih terperinci

PERATURAN TENTANG PERJALANAN DINAS DALAM NEGERI DAN MEKANISME PEMBAYARAN PENDAPATAN BELANJA NEGARA (APBN)

PERATURAN TENTANG PERJALANAN DINAS DALAM NEGERI DAN MEKANISME PEMBAYARAN PENDAPATAN BELANJA NEGARA (APBN) PERATURAN TENTANG PERJALANAN DINAS DALAM NEGERI DAN MEKANISME PEMBAYARAN DALAM RANGKA PELAKSANAAN ANGGARAN PENDAPATAN BELANJA NEGARA (APBN) (PMK NO. 113/PMK.05/2012 DAN PMK NO. 190/PMK.05/2012) 05/2012)

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2013 TENTANG PENAMBAHAN PENYERTAAN MODAL NEGARA REPUBLIK INDONESIA KE DALAM MODAL SAHAM PERUSAHAAN PERSEROAN (PERSERO) PT ASDP INDONESIA FERRY DENGAN

Lebih terperinci

PENATAAN RUANG UNTUK PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN. Oleh

PENATAAN RUANG UNTUK PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN. Oleh PENATAAN RUANG UNTUK PEMANTAPAN KAWASAN HUTAN Oleh Dr Ir Setia Hadi, MS 2006 penataan ruang Ruang adalah wadah yang meliputi ruang daratan, ruang lautan dan ruang udara sebagai suatu kesatuan wilayah,

Lebih terperinci

ALAMAT KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN AGAMA SELURUH INDONESIA

ALAMAT KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN AGAMA SELURUH INDONESIA ALAMAT KANTOR WILAYAH DEPARTEMEN AGAMA SELURUH INDONESIA 1. Drs. H.GAZALI MOHD.SYAM JI. Abu Lam U. No.9 JI. TGK. Ibrahim No.30 Kakanwil Dep. Agama Banda Aceh 23242 Lamseupeung Provinsi Nangroe Aceh Tel.

Lebih terperinci

Indonesia Terpilih Kembali Sebagai Anggota ITU Council

Indonesia Terpilih Kembali Sebagai Anggota ITU Council Indonesia Terpilih Kembali Sebagai Anggota ITU Council Indonesia berhasil terpilih kembali sebagai anggota ITU Council periode 2014-2018 pada sidang ITU Plenipotentiary Conference 2014 (PP-14) yang diselenggarakan

Lebih terperinci

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM SELASA, 16 DAN RABU, 17 JUNI 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAMADLAN 1436 H

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM SELASA, 16 DAN RABU, 17 JUNI 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAMADLAN 1436 H INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM SELASA, 16 DAN RABU, 17 JUNI 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAMADLAN 1436 H Keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi juga Bumi dan Bulan dalam mengelilingi

Lebih terperinci

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR : SK.1361/AJ.106/DRJD/2003

KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR : SK.1361/AJ.106/DRJD/2003 KEPUTUSAN DIREKTUR JENDERAL PERHUBUNGAN DARAT NOMOR : SK.1361/AJ.106/DRJD/2003 TENTANG PENETAPAN SIMPUL JARINGAN TRANSPORTASI JALAN UNTUK TERMINAL PENUMPANG TIPE A DI SELURUH INDONESIA DIREKTUR JENDERAL

Lebih terperinci

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM AHAD, 19 APRIL 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAJAB 1436 H

INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM AHAD, 19 APRIL 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAJAB 1436 H INFORMASI HILAL SAAT MATAHARI TERBENAM AHAD, 19 APRIL 2015 M PENENTU AWAL BULAN RAJAB 1436 H Keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi juga Bumi dan Bulan dalam mengelilingi Matahari memungkinkan

Lebih terperinci

GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT NOMOR 27 TAHUN 2013 TENTANG

GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT NOMOR 27 TAHUN 2013 TENTANG GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PERATURAN GUBERNUR KALIMANTAN BARAT NOMOR 27 TAHUN 2013 TENTANG PERJALANAN DINAS DALAM NEGERI ATAS BEBAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT DENGAN

Lebih terperinci

PENATAAN RUANG KAWASAN HUTAN

PENATAAN RUANG KAWASAN HUTAN PENATAAN RUANG KAWASAN HUTAN Dengan telah diterbitkannya undang undang nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan ruang, maka semua peraturan daerah provinsi tentang rencana tata ruang wilayah provinsi harus

Lebih terperinci

KAJIAN PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS

KAJIAN PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS PERATURAN KEPALA BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG KAJIAN PEMBENTUKAN DAN PENYELENGGARAAN UNIT PELAKSANA TEKNIS BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA (BNPB) - i - DAFTAR

Lebih terperinci

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65/PMK.02/2015 TENT ANG

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65/PMK.02/2015 TENT ANG MENTERIKEUANGAN SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 65/PMK02/2015 TENT ANG STANDAR BIAYA MASUKAN TAHUN ANGGARAN 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTER! KEUANGAN, Menimbang Mengingat bahwa

Lebih terperinci

BNP2TKI BADAN NASIONAL PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA. Pusat Penelitian Pengembangan dan Informasi

BNP2TKI BADAN NASIONAL PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA. Pusat Penelitian Pengembangan dan Informasi DATA PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA INDONESIA TAHUN 214 (PERIODE 1 JANUARI S.D 31 DESEMBER) POSISI CETAK DATA TANGGAL 6 JANUARI 215 BNP2TKI BADAN NASIONAL PENEMPATAN DAN PERLINDUNGAN TENAGA KERJA

Lebih terperinci

EVALUASI PENYELENGGARAN SIPENMARU POLTEKKES TA 2013/2014

EVALUASI PENYELENGGARAN SIPENMARU POLTEKKES TA 2013/2014 EVALUASI PENYELENGGARAN SIPENMARU POLTEKKES TA 2013/2014 LAPORAN SIPENMARU Laporan yang masuk s/d April 2014 : 28 Poltekkes dari 38 Poltekkes NO.a POLTEKKES KEMENKES LAPORAN DITERIMA NO. POLTEKKES KEMENKES

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 SEMESTER I 1 KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin diwujudkan dalam pengelolaan APBD. Untuk mendorong tercapainya tujuan tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh penyerapan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2006 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2006 TENTANG PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN NASIONAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR 48 TAHUN 2006 TENTANG JABATAN WAJIB LAPOR KEKAYAAN DI LINGKUNGAN DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi di Sektor Pertanian Negara Berkembang dan Maju Periode 1980-2008

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi di Sektor Pertanian Negara Berkembang dan Maju Periode 1980-2008 38 IV. GAMBARAN UMUM 4.1. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi di Sektor Pertanian Negara Berkembang dan Maju Periode 198-28 Berdasarkan Gambar 4.1, periode 198 hingga 28 perkembangan GDP pertanian negara-negara

Lebih terperinci

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65/PMK.02/2015 TENT ANG

MENTERIKEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 65/PMK.02/2015 TENT ANG MENTERIKEUANGAN SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 65/PMK02/2015 TENT ANG STANDAR BIAYA MASUKAN TAHUN ANGGARAN 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTER! KEUANGAN, Menimbang Mengingat bahwa

Lebih terperinci

Luas Kawasan Mangrove Per Kabupaten

Luas Kawasan Mangrove Per Kabupaten Luas Kawasan Mangrove Per Kabupaten NAD (Nangroe Aceh Darussalam) Aceh Barat 246.087 Aceh Besar 15.652 Aceh Jaya 110.251 Aceh Singkil 3162.965 Aceh Tamiang 9919.959 Aceh Timur 5466.242 Kota Banda Aceh

Lebih terperinci

KERTAS KERJA RKA-KL RINCIAN BELANJA SATUAN KERJA TAHUN ANGGARAN 2013

KERTAS KERJA RKA-KL RINCIAN BELANJA SATUAN KERJA TAHUN ANGGARAN 2013 DUKUNGAN MANAJEMEN DAN PELAKSANAAN TUGAS TEKNIS LAINNYA LAPAN SATUAN KERJA (666121) BIRO KERJASAMA DAN HUBUNGAN MASYARAKAT PROPINSI DKI JAKARTA (55) KOTA JAKARTA TIMUR /KEGIATAN/OUUT/SUBOUUT/ Halaman 1

Lebih terperinci

VI.7-1. Bab 6 Penataan Ruang dan Pembangunan Perkotaan Pembangunan Kota Baru. Oleh Suyono

VI.7-1. Bab 6 Penataan Ruang dan Pembangunan Perkotaan Pembangunan Kota Baru. Oleh Suyono 6.7 PEMBANGUNAN KOTA BARU Oleh Suyono BEBERAPA PENGERTIAN Di dalam Undang-undang nomor 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Undang-undang Otonomi Daerah) 1999 digunakan istilah daerah kota untuk

Lebih terperinci

KEBUTUHAN DATA DAN INFORMASI UNTUK MENDUKUNG PERENCANAAN SDMK

KEBUTUHAN DATA DAN INFORMASI UNTUK MENDUKUNG PERENCANAAN SDMK KEBUTUHAN DATA DAN INFORMASI UNTUK MENDUKUNG PERENCANAAN SDMK Disajikan Pada : Lokakarya Nasional Pengembangan dan Pemberdayaan SDMK Tahun 2014 Kepala Pusat Perencanaan dan Pendayagunaan SDMK Kerangka

Lebih terperinci

Lingkungan Pemasaran Global Ekonomi dan Sosial-Budaya

Lingkungan Pemasaran Global Ekonomi dan Sosial-Budaya Lingkungan Pemasaran Global Ekonomi dan Sosial-Budaya Pengenalan Secara Objektif Memahami perbedaan utama diantara beberapa sistem ekonomi didunia. Cara belajar bagaimana mengelompokan negaranegara dengan

Lebih terperinci

EF EPI. EF English Proficiency Index.

EF EPI. EF English Proficiency Index. EF EPI EF English Proficiency Index www.ef.com/epi 2014 www.ef.edu/epi P.10 BRIC P.18 EROPA P.22 AMERIKA LATIN 2 www.ef.com/epi DAFTAR ISI 04 Tentang EF EPI Edisi Keempat 06 Ringkasan Eksekutif 08 Peringkat

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - 1 LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 TRIWULAN III KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin

Lebih terperinci

Sistem Tanggap KELANGKAAN PASOKAN MINYAK 2O12

Sistem Tanggap KELANGKAAN PASOKAN MINYAK 2O12 Sistem Tanggap KELANGKAAN PASOKAN MINYAK 2O12 1 Amerika Serikat Australia Austria Belanda Belgia Ceko Denmark Finlandia Hongaria Inggris NEGARA-NEGARA ANGGOTA IEA Irlandia Italia Jepang Jerman Kanada Korea

Lebih terperinci

TENTANG HASIL REKOMENDASI SIDANG KOMISI KONGRES PPI DUNIA TAHUN 2012

TENTANG HASIL REKOMENDASI SIDANG KOMISI KONGRES PPI DUNIA TAHUN 2012 SURAT KEPUTUSAN KONGRES ALIANSI PERHIMPUNAN PELAJAR INDONESIA INTERNASIONAL (PPI DUNIA)/ OVERSEAS INDONESIAN STUDENTS ASSOCIATION ALLIANCE (OISAA)TAHUN 2012 Nomor : 04/OISAA/KR/II/2012 TENTANG HASIL REKOMENDASI

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERBENDAHARAAN NOMOR PER - 22/PB/2013 TENTANG KETENTUAN LEBIH LANJUT PELAKSANAAN PERJALANAN DINAS DALAM NEGERI BAGI PEJABAT NEGARA, PEGAWAI

Lebih terperinci

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I

Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I Monitoring Realisasi APBD 2013 - Triwulan I 1 laporan monitoring realisasi APBD dan dana idle Tahun 2013 Triwulan I RINGKASAN EKSEKUTIF Estimasi realisasi belanja daerah triwulan I Tahun 2013 merupakan

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130/Permentan/SR.130/11/2014 TENTANG KEBUTUHAN DAN HARGA ECERAN TERTINGGI (HET) PUPUK BERSUBSIDI UNTUK SEKTOR PERTANIAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KF.03.01/MENKES/312/2014 TENTANG HARGA DASAR OBAT PROGRAM RUJUK BALIK

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KF.03.01/MENKES/312/2014 TENTANG HARGA DASAR OBAT PROGRAM RUJUK BALIK KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KF.03.01/MENKES/312/2014 TENTANG HARGA DASAR OBAT PROGRAM RUJUK BALIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

DAFTAR ISI RINGKASAN EKSEKUTIF... 1

DAFTAR ISI RINGKASAN EKSEKUTIF... 1 DAFTAR ISI RINGKASAN EKSEKUTIF... BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang... Tujuan Pelaksanaan Kegiatan... Peserta Kegiatan... Pelaksanaan Kegiatan... Metode Pelaksanaan Kegiatan... BAB II PROFIL KANWIL DJKN

Lebih terperinci

PERATURAN IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 007/IMI/PI ORGAN/XI/2008. Tentang PROSEDUR DAN PENATAAN TANDA KEANGGOTAAN. Pasal 1 PENDAHULUAN

PERATURAN IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 007/IMI/PI ORGAN/XI/2008. Tentang PROSEDUR DAN PENATAAN TANDA KEANGGOTAAN. Pasal 1 PENDAHULUAN PERATURAN IKATAN MOTOR INDONESIA NOMOR : 007/IMI/PI ORGAN/XI/2008 Tentang PROSEDUR DAN PENATAAN TANDA KEANGGOTAAN Pasal 1 PENDAHULUAN 1. Peraturan Organisasi ini ditetapkan sebagai tindak lanjut dari ketentuan

Lebih terperinci

SYARAT VISA. CHINA Alamat : Jl Lingkar Mega Kuningan KAV E3 2 No.1 Gedung The East 2 nd Floor, Jakarta Selatan 12950

SYARAT VISA. CHINA Alamat : Jl Lingkar Mega Kuningan KAV E3 2 No.1 Gedung The East 2 nd Floor, Jakarta Selatan 12950 SYARAT VISA CHINA Alamat : Jl Lingkar Mega Kuningan KAV E3 2 No.1 Gedung The East 2 nd Floor, Jakarta Selatan 12950 1. Paspor asli 2. Pas foto 4 x 6 = 1 lembar, berwarna dengan latar belakang putih 3.

Lebih terperinci

Arah Kebijakan Program PPSP 2015-2019. Kick off Program PPSP 2015-2019 Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas

Arah Kebijakan Program PPSP 2015-2019. Kick off Program PPSP 2015-2019 Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas Arah Kebijakan Program PPSP 2015-2019 Kick off Program PPSP 2015-2019 Direktur Perumahan dan Permukiman Bappenas Jakarta, 10 Maret 2015 Universal Access Air Minum dan Sanitasi Target RPJMN 2015-2019 ->

Lebih terperinci

PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG (Permasalahan, Tantangan, Kebijakan, Strategi, dan Program Strategis)

PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG (Permasalahan, Tantangan, Kebijakan, Strategi, dan Program Strategis) PENYELENGGARAAN PENATAAN RUANG (Permasalahan, Tantangan, Kebijakan, Strategi, dan Program Strategis) Oleh : Direktur Jenderal Penataan Ruang Disajikan dalam Acara : Pelatihan Penyelenggaraan Penataan Ruang

Lebih terperinci

DAFTAR DAERAH TERTINGGAL, TERLUAR DAN TERDEPAN (3T)

DAFTAR DAERAH TERTINGGAL, TERLUAR DAN TERDEPAN (3T) DAFTAR DAERAH TERTINGGAL, TERLUAR DAN TERDEPAN (3T) Daftar Daerah Terdepan dan Terluar (Perbatasan) No Provinsi No Kabupaten / Kota Status 1 Sambas Perbatasan 2 Bengkayang Perbatasan 1 Kalimantan Barat

Lebih terperinci

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI Pengembangan ekspor tidak hanya dilihat sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga untuk mengembangkan ekonomi nasional. Perkembangan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 01 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK

PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 01 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBL.lK INDONESIA PERATURAN MENTERI ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL REPUBLIK INDONESIA NOMOR: 01 TAHUN 2013 TENTANG PENGENDALIAN PENGGUNAAN BAHAN BAKAR MINYAK DENGAN

Lebih terperinci

POLICY UPDATE WIKO SAPUTRA

POLICY UPDATE WIKO SAPUTRA POLICY UPDATE Arah dan Strategi Kebijakan Penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA) di Indonesia WIKO SAPUTRA Peneliti Kebijakan Ekonomi dan Publik

Lebih terperinci

BAGIAN I KAWASAN METROPOLITAN: KONSEP DAN DEFINISI

BAGIAN I KAWASAN METROPOLITAN: KONSEP DAN DEFINISI BAGIAN I KAWASAN METROPOLITAN: KONSEP DAN DEFINISI 2 Metropolitan di Indonesia 1 Pendahuluan PERTUMBUHAN PENDUDUK Suatu laporan dari The Comparative Urban Studies Project di Woldrow Wilson pada tahun 2006

Lebih terperinci

PENJELASAN PENGGUNAAN KODE AKUN

PENJELASAN PENGGUNAAN KODE AKUN PENJELASAN PENGGUNAAN KODE AKUN DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN DIREKTORAT AKUNTANSI DAN PELAPORAN KEUANGAN AKUN PENJELASAN 52 BELANJA BARANG 521 BELANJA BARANG 5211 Belanja Barang Operasional 52111

Lebih terperinci

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014

ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019. Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 ProfilAnggotaDPRdan DPDRI 2014-2019 Pusat Kajian Politik Departemen Ilmu Politik FISIP UniversitasIndonesia 26 September 2014 Pokok Bahasan 1. Keterpilihan Perempuan di Legislatif Hasil Pemilu 2014 2.

Lebih terperinci

SEKILAS UNI EROPA SWEDIA FINLANDIA ESTONIA LATVIA LITHUANIA DENMARK INGGRIS BELANDA IRLANDIA POLANDIA JERMAN BELGIA REPUBLIK CEKO SLOWAKIA HONGARIA

SEKILAS UNI EROPA SWEDIA FINLANDIA ESTONIA LATVIA LITHUANIA DENMARK INGGRIS BELANDA IRLANDIA POLANDIA JERMAN BELGIA REPUBLIK CEKO SLOWAKIA HONGARIA SEKILAS UNI EROPA SWEDIA FINLANDIA PORTUGAL IRLANDIA LUKSEMBURG INGGRIS BELGIA SPANYOL BELANDA PERANCIS DENMARK JERMAN SLOVENIA AUSTRIA ITALIA POLANDIA KROASIA RUMANIA BULGARIA YUNANI ESTONIA LATVIA LITHUANIA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.40, 2015 KEUANGAN. Pajak. PNBP. Jenis. Tarif. KEMENKUMHAM. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5667) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang terkait khususnya dalam bidang ketenagakerjaan.

Akhirnya, semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak yang terkait khususnya dalam bidang ketenagakerjaan. KATA PENGANTAR Pada tahun anggaran 2014 salah satu kegiatan Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan adalah Penyusunan Data dan Informasi Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Data dan Informasi Jaminan Sosial

Lebih terperinci

PENINGKATAN DAYA SAING PARIWISATA

PENINGKATAN DAYA SAING PARIWISATA KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL/ BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL PENINGKATAN DAYA SAING PARIWISATA Kedeputian Ekonomi BAPPENAS Disampaikan dalam Multilateral Meeting Rakorbangpus Jakarta,

Lebih terperinci

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 17 TAHUN 2013 TAHUN 2013 TENTANG

GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 17 TAHUN 2013 TAHUN 2013 TENTANG GUBERNUR JAWA TENGAH PERATURAN GUBERNUR JAWA TENGAH NOMOR 17 TAHUN 2013 TAHUN 2013 TENTANG PERJALANAN DINAS GUBERNUR/WAKIL GUBERNUR, PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH, PEGAWAI NEGERI

Lebih terperinci

PENGUMUMAN PENGADAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2012. Nomor : PENG/ 01/ VII/ 2012/BNN

PENGUMUMAN PENGADAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2012. Nomor : PENG/ 01/ VII/ 2012/BNN PENGUMUMAN PENGADAAN CALON PEGAWAI NEGERI SIPIL DI LINGKUNGAN BADAN NARKOTIKA NASIONAL TAHUN ANGGARAN 2012 Nomor : PENG/ 01/ VII/ 2012/BNN Badan Narkotika Nasional Tahun Anggaran 2012 akan menerima pendaftaran

Lebih terperinci

RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH

RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH RENCANA UMUM PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH SATKER / SKPD PA / KPA : PPK TAHUN ANGGARAN : SEKRETARIAT DAERAH (BAGIAN UMUM DAN PERLENGKAPAN) : WAHYUDI LEKSONO, AP, M.Ak : WAHYUDI LEKSONO, AP, M.Ak : 203

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Kata Pengantar. iii

KATA PENGANTAR. Kata Pengantar. iii 1 ii Deskripsi dan Analisis APBD 2013 KATA PENGANTAR Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) merupakan instrumen kebijakan fiskal yang utama bagi pemerintah daerah. Dalam APBD termuat prioritas-prioritas

Lebih terperinci

13. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika

13. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika SALINAN PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2013 TENTANG PENYELENGGARAAN PENYIARAN TELEVISI SECARA DIGITAL DAN PENYIARAN MULTIPLEKSING MELALUI SISTEM TERESTRIAL

Lebih terperinci

SYARAT-SYARAT PEMBUATAN VISA

SYARAT-SYARAT PEMBUATAN VISA SYARAT-SYARAT PEMBUATAN VISA ** syarat visa ini dapat berubah sewaktu-waktu sesuai dengan permintaan kedutaan 1. ARGENTINA (Pax harus datang ke kedutaan / Interview) Pas foto 4x4 cm ( 2 lembar ) terbaru

Lebih terperinci

ANALISIS DAN EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KB DAN KS TAHUN 2013

ANALISIS DAN EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KB DAN KS TAHUN 2013 ANALISIS DAN EVALUASI PELAKSANAAN STANDAR PELAYANAN MINIMAL (SPM) BIDANG KB DAN KS TAHUN 2013 BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA NASIONAL DIREKTORAT PELAPORAN DAN STATISTIK Standar Pelayanan Minimal

Lebih terperinci

Jakarta, 27 April 2015

Jakarta, 27 April 2015 Jakarta, 27 April 2015 SELASA, 28 APRIL 2015 GELOMBANG DAPAT TERJADI 2,0 M S/D 3,0 M DI : SAMUDERA HINDIA SELATAN PULAU JAWA, PERAIRAN KEP. TALAUD, PERAIRAN KEP. WAKATOBI, SAMUDERA HINDIA SELATAN BALI

Lebih terperinci

SEBUAH AWAL BARU: PERTEMUAN TINGKAT TINGGI TENTANG KEWIRAUSAHAAN

SEBUAH AWAL BARU: PERTEMUAN TINGKAT TINGGI TENTANG KEWIRAUSAHAAN SEBUAH AWAL BARU: PERTEMUAN TINGKAT TINGGI TENTANG KEWIRAUSAHAAN Pertemuan Tingkat Tinggi Tentang Kewirausahaan akan menyoroti peran penting yang dapat dimainkan kewirausahaan dalam memperluas kesempatan

Lebih terperinci

Institute for Criminal Justice Reform

Institute for Criminal Justice Reform Menimbang : MENTER KEHAKMAN REPUBLK NDONESA KEPUTUSAN MENTER KEHAKMAN REPUBLK NDONESA NOMOR : M.01.PR.07.03 TAHUN 1985 T E N T A N G ORGANSAS DAN TATA KERJA LEMBAGA PEMASYRAKATAN MENTER KEHAKMAN REPUBLK

Lebih terperinci

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS

IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS IV. HASIL KAJIAN DAN ANALISIS Hasil kajian dan analisis sesuai dengan tujuan dijelaskan sebagai berikut: 1. Profil Koperasi Wanita Secara Nasional Sebagaimana dijelaskan pada metodologi kajian ini maka

Lebih terperinci

DATA DAN INFORMASI PEKERJA USIA MUDA AGUSTUS 2013

DATA DAN INFORMASI PEKERJA USIA MUDA AGUSTUS 2013 DATA DAN INFORMASI PEKERJA USIA MUDA AGUSTUS 2013 PUSAT DATA DAN INFORMASI KETENAGAKERJAAN Badan Penelitian, Pengembangan dan Informasi Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi 2014 TIM PENYUSUN Pembina

Lebih terperinci

Standard Chartered Bank dan Super Indo Beri Manfaat Lebih Bagi Para Nasabah

Standard Chartered Bank dan Super Indo Beri Manfaat Lebih Bagi Para Nasabah Standard Chartered Bank dan Super Indo Beri Manfaat Lebih Bagi Para Nasabah Fasilitas Extra Cash Back 10% dan hadiah langsung setiap hari hingga Grand Prize Tiket ke Singapura JAKARTA, 12 Februari 2014

Lebih terperinci

NO REKENING/PAN BBM Money

NO REKENING/PAN BBM Money No NO REKENING/PAN BBM Money CABANG BUKA REKENIG 1 9303581XXX PREPAID 2 9303632XXX PREPAID 3 4109455XXX CIKARANG LIPPO - BEKASI 4 4110772XXX KELAPA GADING BOULEVARD RAYA - JKT 5 4110921XXX ASIA - MEDAN

Lebih terperinci

DATA PAKET PENGADAAN BARANG DAN JASA SATKER BIRO UMUM TA 2012

DATA PAKET PENGADAAN BARANG DAN JASA SATKER BIRO UMUM TA 2012 DATA PAKET PENGADAAN BARANG DAN JASA SATKER BIRO UMUM TA 2012 No Nama Satker Nama Paket/Pekerjaan BIRO UMUM Pelelangan/ seleksi Umum Pelelangan Sederhana/Terbatas Pengadaan Langsung Penunjukan langsung

Lebih terperinci

III. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN

III. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Laporan Keuangan Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan TA 2012 Audited III. CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN Dasar Hukum A. PENJELASAN UMUM A.1. DASAR HUKUM 1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang

Lebih terperinci

EKONOMI POLITIK DAN PARADIGMA PEMBANGUNAN. Prof. Dr. Didik J. Rachbini

EKONOMI POLITIK DAN PARADIGMA PEMBANGUNAN. Prof. Dr. Didik J. Rachbini EKONOMI POLITIK DAN PARADIGMA PEMBANGUNAN Prof. Dr. Didik J. Rachbini 1 I. Definisi Paradigm A distinctive concept A model Pattern Development paradigm (development model) 2 II. PARADIGMA DAN SISTEM EKONOMI

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57/PMK.02/2015 TENTANG

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 57/PMK.02/2015 TENTANG MENTERI KEUANGAN SALIN AN PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 57/PMK.02/2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTER! KEUANGAN NOMOR 53/ PMK.02/20 14 TENTANG STANDAR BIAYA MASUKAN TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN

Lebih terperinci

Pertemun Koordinasi Dinas Kesehatan Jawa Tengah

Pertemun Koordinasi Dinas Kesehatan Jawa Tengah Pertemun Koordinasi Dinas Kesehatan Jawa Tengah TARGET DAN CAPAIAN INDIKATOR SEMESTER 1 TAHUN 2012 No SUMBER INDIKATOR TARGET CAPAIAN 1 RKP Persentase RSJ yang memberikan layanan subspesialis utama dan

Lebih terperinci

PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SEDERHANA TAHAN GEMPA

PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SEDERHANA TAHAN GEMPA PERENCANAAN BANGUNAN RUMAH SEDERHANA TAHAN GEMPA 1. Pengertian Umum Bencana Secara umum Bencana dapat diklasifikasikan menjadi 2 (dua) bagian : a. Bencana Alam Misalnya : Gempa Bumi, Gunung Meletus, Banjir,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI TRANSPORTASI DARAT

DAFTAR ISI TRANSPORTASI DARAT DAFTAR ISI TRANSPORTASI DARAT Jumlah Terminal Tipe A 2009 005 Jumlah Terminal Tipe B & C 2009... 007 Jumlah Bus Antar Kota 2009 009 Jumlah Unit Penimbangan Kendaraan Bermotor 2009. 0 Peta Prosentase Jalan

Lebih terperinci

Flight schedule. Jakarta (CGK) - Bangkok Don Mueang (DMK) Bangkok Don Mueang (DMK) - Jakarta (CGK) Bali (DPS) - Jakarta (CGK)

Flight schedule. Jakarta (CGK) - Bangkok Don Mueang (DMK) Bangkok Don Mueang (DMK) - Jakarta (CGK) Bali (DPS) - Jakarta (CGK) Flight schedule Valid till 2015-10-24 Flight Depart Arrive Frequency Validity from to Flight Depart Arrive Frequency Validity from to Jakarta (CGK) - Bangkok Don Mueang (DMK) QZ 0250 QZ 0250 QZ 0252 QZ

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.13/Menhut-II/2014 TENTANG UNIT LAYANAN PENGADAAN DI LINGKUP KEMENTERIAN KEHUTANAN

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.13/Menhut-II/2014 TENTANG UNIT LAYANAN PENGADAAN DI LINGKUP KEMENTERIAN KEHUTANAN PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.13/Menhut-II/2014 TENTANG UNIT LAYANAN PENGADAAN DI LINGKUP KEMENTERIAN KEHUTANAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini di Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional

BAB I PENDAHULUAN. Saat ini di Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Saat ini di Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan nasional di segala bidang, dimana pembangunan merupakan usaha untuk menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan

Lebih terperinci

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DI PROVINSI RIAU

PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DI PROVINSI RIAU No. 05/02/14/Th. XV, 3 Februari 2013 PERKEMBANGAN INDEKS HARGA KONSUMEN/INFLASI DI PROVINSI RIAU Bulan 2014, Kota Pekanbaru inflasi 0,69 persen, Dumai 0,43 persen dan Tembilahan 2,58 persen. Indeks Harga

Lebih terperinci

Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester I Tahun 2012

Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester I Tahun 2012 Daftar Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Semester I Tahun 2012 Halaman 1 - Lampiran 43 I II No PEMERIKSAAN KEUANGAN Laporan Keuangan Pemerintah Pusat 1 1 Pemerintah Pusat 1 Laporan Keuangan Pemerintah Pusat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF KEMENTERIAN PARIWISATA DAN

Lebih terperinci

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan

Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Pemanfaatan Hasil Ujian Nasional MA untuk Perbaikan Akses dan Mutu Pendidikan Asep Sjafrudin, S.Si, M.Si Madrasah Aliyah sebagai bagian dari jenjang pendidikan tingkat menengah memerlukan upaya pengendalian,

Lebih terperinci

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN)

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN) RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI III DPR RI DENGAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN PERWAKILAN DAERAH, SEKRETARIS JENDERAL MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT DAN SEKRETARIS JENDERAL MAHKAMAH

Lebih terperinci

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : lo96/kpts/tn.120/10/1999

MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA. KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : lo96/kpts/tn.120/10/1999 MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : lo96/kpts/tn.120/10/1999 TENTANG PEMASUKAN ANJING, KUCING, KERA DAN HEWAN SEBANGSANYA KE WILAYAH/DAERAH BEBAS RABIES DI INDONESIA

Lebih terperinci

KARTU TENAGA KERJA LUAR NEGERI (KTKLN)

KARTU TENAGA KERJA LUAR NEGERI (KTKLN) KARTU TENAGA KERJA LUAR NEGERI (KTKLN) A. Apakah kartu KTKLN itu? KTKLN (Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri) merupakan kartu identitas bagi TKI dan sekaligus sebagai bukti bahwa TKI yang bersangkutan telah

Lebih terperinci

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA PENJABARAN APBD

PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA PENJABARAN APBD Lampiran II Peraturan Gubernur Nomor : 95 Tahun 2013 Tanggal : 31 Desember 2013 PEMERINTAH PROVINSI SULAWESI TENGGARA PENJABARAN APBD TAHUN ANGGARAN 201 Urusan Pemerintahan : 1. 07 Urusan Wajib Perhubungan

Lebih terperinci

PERSYARATAN VISA TURKY

PERSYARATAN VISA TURKY PERSYARATAN VISA TURKY 1) SURAT SPONSOR ( asli ) 2) REK KORAN 3 BULAN TERAKHIR ( copy ) 3) KARTU KELUARGA DAN KTP ( copy ) 4) FOTO 4 x 6 = 2 LBR BERWARNA & TERBARU (back ground putih) ( asli ) 5) BUKTI

Lebih terperinci

Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT

Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT Gubernur Jawa Barat PERATURAN GUBERNUR JAWA BARAT NOMOR 1 TAHUN 2011 TENTANG UNIT LAYANAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH PROVINSI JAWA BARAT GUBERNUR JAWA BARAT, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci