Save this PDF as:
 WORD  PNG  TXT  JPG

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download ""

Transkripsi

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

11

12

13

14

15

16

17

18

19

20

21

22

23

24

25

26

27

28

29

30

31

32

33

34

35

36

37

38

39

40

41

42

43

44

45

46

47

48

49

50

51

52

53

54

55

56

57

58

59

60

61

62

63

64

65

66

67

68

69

70

71

72

73

74

75

76

77

78

79

80

81

82

83

84

85

86 V. SATUAN BIAYA UPAH KERJA/KERJANTARA, PENGADAANPAL BATAS BETON, PAL BATAS I{AYU DAN TUGU BATAS, (YANG BERFUNGSI SEBAGAI BAT^A,S TERTINGGII. Satuan Biaya Upah Kerja/Kerjantara yang mengikuti Tim pelaksana kegiatandapat diberikan upah kerjaper hari yang besarannya sebagaimana tercantum pada Lampiran 58 kolom 3. Satuan Biaya Pembuatan Pal Batas Beton/Kayu/Tugu Batas besarannya sebagaimana tercantum pada Lampiran 58 kolom 4, kolom 5 dan kolom 6. Catatan: Satuan Biaya Upah Kerja/Kerjantara sebagaimana dimaksud pada Lampiran 58 Kolom 3 berlaku untuk semua kegiatan di Lapangan. W. SATUAN BIAYA KEGIATAN KEHUMASAN, LIPUTAN DAN PUBLII(ASI MEDIA MASA, (YANG BERFUNGSI SEBAGAI BATAS TERTINGGI). Satuan Biaya Kegiatan Kehumasan, Liputan dan Publikasi Media Masa sebesar yang tercantum pada Lampiran 59. Dalam rangka pelaksanaan penyebaran informasi dan pembinaan hubungan antar Kementerian Kehutanan dengan Lembaga Negara dan Masyarakat diperlukan kegiatan kehumasan, liputan dan publikasi media masa. ARfs JENDERAL HADI DARYANTO NrP. 1957LO

87 Lampiran 1 NO HONORARIUM PENANGGUNG JAWAB PENGELOLA KEUANGAN SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN SATUAN (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1 HONORARIUM PENANGGUNG JAWAB PENGELOLA KEUANGAN PEJABAT KUASA PENGGUNA ANGGARAN a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d Rp. 250 juta OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d Rp. 500 juta OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d Rp. 1 miliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar OB f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d Rp. 5 miliar OB g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar OB h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar OB i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar OB j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar OB k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar OB l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar OB m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar OB n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar OB o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun OB p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB PEJABAT PEMBUAT KOMITMEN a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d Rp. 250 juta OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d Rp. 500 juta OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d Rp. 1 miliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar OB f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d Rp. 5 miliar OB g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar OB h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar OB i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar OB j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar OB k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar OB l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar OB m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar OB n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar OB o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun OB p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB

88 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1.3 URAIAN PEJABAT PENGUJI TAGIHAN DAN PENANDATANGAN SPM (dalam rupiah) a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d Rp. 250 juta OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d Rp. 500 juta OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d Rp. 1 miliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar OB f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d Rp. 5 miliar OB g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar OB h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar OB i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar OB j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar OB k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar OB l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar OB m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar OB n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar OB o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun OB p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB BENDAHARA PENGELUARAN a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d Rp. 250 juta OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d Rp. 500 juta OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d Rp. 1 miliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar OB f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d Rp. 5 miliar OB g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar OB h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar OB i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar OB j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar OB k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar OB l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar OB m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar OB n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar OB o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun OB p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB STAF PENGELOLA/BENDAHARA PENGELUARAN PEMBANTU/PETUGAS PENGELOLA ADMINISTRASI BELANJA PEGAWAI (PPABP) a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d Rp. 250 juta OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d Rp. 500 juta OB

89 NO URAIAN SATUAN (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d Rp. 1 M OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar OB f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d Rp. 5 miliar OB g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar OB h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar OB i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar OB j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar OB k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar OB l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar OB m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar OB n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar OB o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun OB p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB

90 Lampiran 2 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1 HONORARIUM PENANGGUNG JAWAB PENGELOLA KEUANGAN PADA SATKER YANG MENGELOLA BELANJA PEGAWAI SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN HONORARIUM PENANGGUNG JAWAB PENGELOLA KEUANGAN PADA SATKER YANG MENGELOLA BELANJA PEGAWAI (dalam rupiah) ATASAN LANGSUNG PEMEGANG KAS/KPA a. Nilai pagu dana s.d Rp. 25 milliar OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 milliar s.d Rp. 50 milliar OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 50 milliar s.d Rp. 100 milliar OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 milliar s.d Rp. 200 milliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 200 milliar OB PEMEGANG KAS/BENDAHARA a. Nilai pagu dana s.d Rp. 25 milliar OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 milliar s.d Rp. 50 milliar OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 50 milliar s.d Rp. 100 milliar OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 milliar s.d Rp. 200 milliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 200 milliar OB JURU BAYAR/ STAF a. Nilai pagu dana s.d Rp. 25 milliar OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 milliar s.d Rp. 50 milliar OB c. Nilai pagu dana di atas Rp. 50 milliar s.d Rp. 100 milliar OB d. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 milliar s.d Rp. 200 milliar OB e. Nilai pagu dana di atas Rp. 200 milliar OB

91 Lampiran 3 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1. HONORARIUM PEJABAT PENGADAAN BARANG/JASA; DAN HONORARIUM PANITIA PENGADAAN BARANG/JASA (KONSTRUKSI) DAN KELOMPOK KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) 1.1 PEJABAT PENGADAAN BARANG/JASA OB HONORARIUM PENGADAAN BARANG/JASA SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN (dalam rupiah) PANITIA PENGADAN BARANG/JASA (KONSTRUKSI) DAN KELOMPOK KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) a. Nilai pagu pengadaan sampai dengan Rp. 200 juta Per Paket b. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 200 juta s.d OP Rp. 500 juta c. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 500 juta s.d OP Rp. 1 miliar d. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 1 miliar s.d OP Rp. 2,5 miliar e. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 2,5 miiar s.d OP Rp. 5 miliar f. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 5 miliar s.d OP Rp. 10 miliar g. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 10 miliar s.d OP Rp. 25 miliar h. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 25 miliar s.d OP Rp. 50 miliar i. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 50 miliar s.d OP Rp. 75 miliar j Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 75 miliar s.d OP Rp. 100 miliar k. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 100 miliar s.d OP Rp. 250 miliar l. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 250 miliar s.d OP Rp. 500 miliar m. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 500 miliar s.d OP Rp. 750 miliar n. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 750 miliar s.d OP Rp. 1 triliun o. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 1 triliun OP

92 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 2. URAIAN HONORARIUM PANITIA PENGADAAN BARANG (NON KONSTRUKSI) DAN KELOMPOK KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP); DAN HONORARIUM PANITIA PENGADAAN JASA (NON - KONSTRUKSI) DAN KELOMPOK KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) (dalam rupiah) PANITIA PENGADAAN BARANG (NON KONSTRUKSI) DAN KELOMPOK KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) a. Nilai pagu pengadaan sampai dengan Rp. 200 juta Per Paket b. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 200 juta s.d OP Rp. 500 juta c. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 500 juta s.d OP Rp. 1 miliar d. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 1 miliar s.d OP Rp. 2,5 miliar e. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 2,5 miiar s.d OP miliar f. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 5 miliar s.d OP Rp. 10 miliar g. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 10 miliar s.d OP Rp. 25 miliar h. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 25 miliar s.d OP Rp. 50 miliar i. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 50 miliar s.d OP Rp. 75 miliar j Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 75 miliar s.d OP Rp. 100 miliar k. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 100 miliar s.d OP Rp. 250 miliar l. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 250 miliar s.d OP Rp. 500 miliar m. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 500 miliar s.d OP Rp. 750 miliar n. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 750 miliar s.d OP Rp. 1 triliun o. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 1 triliun OP PANITIA PENGADAAN JASA (NON KONSTRUKSI) DAN KELOMPOK KERJA UNIT LAYANAN PENGADAAN (ULP) a. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi s.d Rp.50 juta Per Paket b. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi di atas OP Rp. 50 juta s.d Rp. 100 juta 81

93 NO URAIAN SATUAN (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) c. Nilai pagu pengadaan jasa lainnya s.d Rp. 100 juta Per Paket d. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 100 s.d Rp. 250 juta e. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 250 juta s.d Rp. 500 juta f. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 500 juta s.d Rp. 1 miliar g. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar h. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 2,5 miliar s.d Rp. 5 miliar i. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar j. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar k. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar l. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar m. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar n. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar o. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar p. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar q. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 trilyun r. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa lainnya OP di atas Rp. 1 trilyun 82

94 Lampiran 4 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1. PENGGUNA ANGGARAN 1.1 HONORARIUM PENGGUNA ANGGARAN SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN (dalam rupiah) PENGADAAN BARANG DAN JASA (KONSTRUKSI) a. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 100 miliar s.d OP Rp. 250 miliar b. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 250 miliar s.d OP Rp. 500 miliar c. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 500 miliar s.d OP Rp. 750 miliar d. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 750 miliar s.d OP Rp. 1 triliun e. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 1 triliun OP PENGADAAN BARANG (NON KONSTRUKSI) a. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 100 miliar s.d OP Rp. 250 miliar b. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 250 miliar s.d OP Rp. 500 miliar c. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 500 miliar s.d OP Rp. 750 miliar d. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 750 miliar s.d OP Rp. 1 triliun e. Nilai pagu pengadaan di atas Rp. 1 triliun OP PENGADAAN JASA (NON KONSTRUKSI) a. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar b. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar c. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar d. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar e. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar f. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnyadi atas p. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar 83

95 NO URAIAN SATUAN (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) g. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar h. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun i. Nilai pagu pengadaan jasa konsultansi/jasa OP lainnya di atas Rp. 1 triliun 84

96 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) PEJABAT PENERIMA HASIL PEKERJAAN/ OB PENGADAAN BARANG/JASA 1.2 HONORARIUM PENERIMA HASIL PEKERJAAN SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN HONORARIUM PEJABAT/PANITIA PENERIMA HASIL PEKERJAAN/PENGADAAN BARANG/JASA Lampiran 5 (dalam rupiah) PANITIA PENERIMA HASIL PEKERJAAN/ PENGADAAN BARANG/JASA a. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan s.d Rp. 200 juta OP b. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 200 juta s.d Rp. 500 juta c. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 500 juta s.d Rp. 1 miliar d. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 1 miliar s.d Rp. 2,5 miliar e. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 2,5 miliar s.d Rp. 5 miliar f. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 5 miliar s.d Rp. 10 miliar g. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 10 miliar s.d Rp. 25 miliar h. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 25 miliar s.d Rp. 50 miliar i. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 50 miliar s.d Rp. 75 miliar j Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 75 miliar s.d Rp. 100 miliar k. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 100 miliar s.d Rp. 250 miliar l. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 250 miliar s.d Rp. 500 miliar m. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 500 miliar s.d Rp. 750 miliar n. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 750 miliar s.d Rp. 1 triliun o. Nilai pagu pekerjaan/pengadaan di atas OP Rp. 1 triliun 85

97 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1 HONORARIUM PENGELOLA PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) HONORARIUM PENGELOLA PNBP SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN Lampiran 6 (dalam rupiah) ATASAN LANGSUNG BENDAHARA a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d OB Rp. 250 juta c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d OB Rp. 500 juta d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d OB Rp. 1 miliar e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d OB Rp. 2,5 miliar f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d OB Rp. 5 miliar g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d OB Rp. 10 miliar h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d OB Rp. 25 miliar i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d OB Rp. 50 miliar j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d OB Rp. 75 miliar k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d OB Rp. 100 miliar l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d OB Rp. 250 miliar m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d OB Rp. 500 miliar n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d OB Rp. 750 miliar o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d OB Rp. 1 triliun p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB BENDAHARA a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB

98 NO URAIAN SATUAN (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d OB Rp. 250 juta c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d OB Rp. 500 juta d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d OB Rp. 1 miliar e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d OB Rp. 2,5 miliar f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d OB Rp. 5 miliar g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d OB Rp. 10 miliar h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d OB Rp. 25 miliar i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d OB Rp. 50 miliar j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d OB Rp. 75 miliar k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d OB Rp. 100 miliar l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d OB Rp. 250 miliar m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d OB Rp. 500 miliar n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d OB Rp. 750 miliar o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d OB Rp. 1 triliun p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB ANGGOTA a. Nilai pagu dana s.d Rp. 100 juta OB b. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 juta s.d OB Rp. 250 juta c. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 juta s.d OB Rp. 500 juta d. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 juta s.d OB Rp. 1 miliar e. Nilai pagu dana di atas Rp. 1 miliar s.d OB Rp. 2,5 miliar f. Nilai pagu dana di atas Rp. 2,5 miiar s.d OB

99 NO URAIAN SATUAN (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) Rp. 5 miliar g. Nilai pagu dana di atas Rp. 5 miliar s.d OB Rp. 10 miliar h. Nilai pagu dana di atas Rp. 10 miliar s.d OB Rp. 25 miliar i. Nilai pagu dana di atas Rp. 25 miliar s.d OB Rp. 50 miliar j Nilai pagu dana di atas Rp. 50 miliar s.d OB Rp. 75 miliar k. Nilai pagu dana di atas Rp. 75 miliar s.d OB Rp. 100 miliar l. Nilai pagu dana di atas Rp. 100 miliar s.d OB Rp. 250 miliar m. Nilai pagu dana di atas Rp. 250 miliar s.d OB Rp. 500 miliar n. Nilai pagu dana di atas Rp. 500 miliar s.d OB Rp. 750 miliar o. Nilai pagu dana di atas Rp. 750 miliar s.d OB Rp. 1 triliun p Nilai pagu dana di atas Rp. 1 triliun OB

100 No HONORARIUM PENGELOLA SISTEM AKUNTANSI INSTANSI (SAI) SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN SATUAN Lampiran 7 (dalam rupiah) BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1 HONORARIUM PENGELOLA SISTEM AKUNTANSI INSTANSI 1.1 Unit Akuntansi Tingkat Kementerian Negara/Lembaga (UAPPA/Barang) yang ditetapkan atas Dasar Keputusan Menteri a. Pengarah OB b. Penanggung Jawab OB c. Koordinator OB d. Ketua/Wakil Ketua OB e. Anggota /Petugas OB Unit Akuntansi Tingkat Eselon I (UAPPA/Barang-E1) yang ditetapkan atas Dasar SK. Eselon I a. Penanggung Jawab OB b. Koordinator OB c. Ketua/Wakil Ketua OB d. Anggota/Petugas OB Unit Akuntansi Tingkat Wilayah (UAPPA/Barang-W) yang ditetapkan atas Dasar SK. Eselon I a. Penanggung Jawab OB b. Koordinator OB c. Ketua/Wakil Ketua OB d. Anggota/Petugas OB Unit Akuntansi Tingkat Satuan Kerja (UAKPA/Barang) Yang ditetapkan atas dasar SK. Eselon II atau Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran/Barang Wilayah atau Koordinator Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Wilayah a. Penanggung Jawab OB b. Koordinator OB c. Ketua/Wakil Ketua OB d. Anggota/Petugas OB

101 Lampiran 8 No SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) 1 HONORARIUM TIM PELAKSANA KEGIATAN 1.1 HONORARIUM TIM PELAKSANA KEGIATAN; DAN SEKRETARIAT TIM PELAKSANA KEGIATAN SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN (dalam rupiah) Yang Ditetapkan Oleh Presiden a. Pengarah OB b. Penanggung Jawab OB c. Koordinator/Ketua OB d. Wakil Ketua OB e. Sekretaris OB f. Anggota OB Yang Ditetapkan Oleh Menteri/Pejabat Setingkat Menteri a. Pengarah OB b. Penanggung Jawab OB c. Ketua OB d. Wakil Ketua OB e. Sekretaris OB f. Anggota OB Yang Ditetapkan Oleh Pejabat Eselon I a. Pengarah OB b. Penanggung Jawab OB c. Ketua OB d. Wakil Ketua OB e. Sekretaris OB f. Anggota OB Yang Ditetapkan Oleh KPA a. Pengarah OB b. Penanggung Jawab OB c. Ketua OB d. Wakil Ketua OB e. Sekretaris OB f. Anggota OB HONORARIUM SEKRETARIAT TIM PELAKSANA KEGIATAN 2.1 Ketua/Wakil Ketua OB Anggota OB

102 Lampiran 9 SATUAN BIAYA UANG HARIAN PAKET FULLBOARD DI LUAR KOTA, PAKET FULLBOARD SERTA FULLDAY/HALFDAY DI DALAM KOTA SEBAGAI BATAS TERTINGGI (dalam rupiah) NO. PROVINSI SATUAN FULLBOARD DI LUAR KOTA FULLBOARD DI DALAM KOTA FULLDAY/ HALFDAY DI DALAM KOTA (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. ACEH OH SUMATERA UTARA OH R I A U OH KEPULAUAN RIAU OH JAMBI OH SUMATERA BARAT OH SUMATERA SELATAN OH LAMPUNG OH BENGKULU OH BANGKA BELITUNG OH BANTEN OH JAWA BARAT OH DKI JAKARTA OH JAWA TENGAH OH D.I. YOGYAKARTA OH JAWA TIMUR OH B A L I OH NUSA TENGGARA BARAT OH NUSA TENGGARA TIMUR OH KALIMANTAN BARAT OH KALIMANTAN TENGAH OH KALIMANTAN SELATAN OH KALIMANTAN TIMUR OH KALIMANTAN UTARA OH SULAWESI UTARA OH GORONTALO OH SULAWESI BARAT OH SULAWESI SELATAN OH SULAWESI TENGAH OH SULAWESI TENGGARA OH MALUKU OH MALUKU UTARA OH PAPUA OH PAPUA BARAT OH

103 Lampiran 10 HONORARIUM SATPAM, PENGEMUDI, PETUGAS KEBERSIHAN, DAN PRAMUBAKTI SEBAGAI BATAS TERTINGGI (dalam rupiah) NO. PROVINSI SATUAN SATPAM DAN PENGEMUDI PETUGAS KEBERSIHAN DAN PRAMUBAKTI (1) (2) (3) (4) (5) 1. ACEH OB SUMATERA UTARA OB R I A U OB KEPULAUAN RIAU OB JAMBI OB SUMATERA BARAT OB SUMATERA SELATAN OB LAMPUNG OB BENGKULU OB BANGKA BELITUNG OB BANTEN OB JAWA BARAT OB DKI JAKARTA OB JAWA TENGAH OB D.I. YOGYAKARTA OB JAWA TIMUR OB B A L I OB NUSA TENGGARA BARAT OB NUSA TENGGARA TIMUR OB KALIMANTAN BARAT OB KALIMANTAN TENGAH OB KALIMANTAN SELATAN OB KALIMANTAN TIMUR OB KALIMANTAN UTARA OB SULAWESI UTARA OB GORONTALO OB SULAWESI BARAT OB SULAWESI SELATAN OB SULAWESI TENGAH OB SULAWESI TENGGARA OB MALUKU OB MALUKU UTARA OB PAPUA OB PAPUA BARAT OB

104 NO SATUAN BIAYA TA (1) (2) (3) (4) HONORARIUM SIDANG/KONFERENSI INTERNASIONAL, KTM, SOM (BILATERAL/REGIONAL/MULTILATERAL); DAN HONORARIUM WORKSHOP/SEMINAR/SOSIALISASI/SARASEHAN BERSKALA INTERNASIONAL; DAN SATUAN BIAYA NARA SUMBER KEGIATAN DI LUAR NEGERI SEBAGAI BATAS TERTINGGI URAIAN HONORARIUM SIDANG/KONFERENSI INTERNASIONAL KTM, SOM (BILATERAL/ REGIONAL/MULTILATERAL) Lampiran 11 (dalam rupiah) 1.1 Pengarah Orang/hari Penanggung Jawab Orang/hari Ketua / Wakil Ketua Orang/hari Ketua Delegasi Orang/hari Tim Asistensi Orang/hari Anggota Delegasi RI Orang/hari Koordinator Orang/hari Ketua Bidang Orang/hari Sekretaris Orang/hari Anggota Panitia Orang/hari Liasion Officer (LO) Orang/hari Staf Pendukung Orang/hari HONORARIUM WORKSHOP/SEMINAR/ SOSIALISASI/SARASEHAN BERSKALA INTERNASIONAL INTERNASIONAL 2.1 Pengarah Orang/hari Penanggung Jawab Orang/hari Ketua/ Wakil Ketua Orang/hari Ketua Delegasi Orang/hari Tim Asistensi Orang/hari Anggota Delegasi RI Orang/hari Koordinator Orang/hari Ketua Bidang Orang/hari Sekretaris Orang/hari Anggota Panitia Orang/hari Liasion Officer (LO) Orang/hari Staf Pendukung Orang/hari SATUAN BIAYA NARA SUMBER KEGIATAN DI LUAR NEGERI 3.1 Narasumber Kelas A Orang/Hari $ Narasumber Kelas B Orang/Hari $ Narasumber Kelas C Orang/Hari $220 92

105

106 Lampiran 12 SATUAN BIAYA UANG HARIAN PERJALANAN DINAS DALAM NEGERI SEBAGAI BATAS TERTINGGI (dalam rupiah) NO. PROVINSI SATUAN LUAR KOTA DALAM KOTA LEBIH DARI 8 (DELAPAN) JAM DIKLAT (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. ACEH OH SUMATERA UTARA OH R I A U OH KEPULAUAN RIAU OH JAMBI OH SUMATERA BARAT OH SUMATERA SELATAN OH LAMPUNG OH BENGKULU OH BANGKA BELITUNG OH BANTEN OH JAWA BARAT OH DKI JAKARTA OH JAWA TENGAH OH D.I. YOGYAKARTA OH JAWA TIMUR OH B A L I OH NUSA TENGGARA BARAT OH NUSA TENGGARA TIMUR OH KALIMANTAN BARAT OH KALIMANTAN TENGAH OH KALIMANTAN SELATAN OH KALIMANTAN TIMUR OH KALIMANTAN UTARA OH SULAWESI UTARA OH GORONTALO OH SULAWESI BARAT OH SULAWESI SELATAN OH SULAWESI TENGAH OH SULAWESI TENGGARA OH MALUKU OH MALUKU UTARA OH PAPUA OH PAPUA BARAT OH

107 PEJABAT NEGARA/ PEJABAT ESELON I PEJABAT NEGARA LAINNYA/ PEJABAT ESELON II PEJABAT ESELON III/ GOLONGAN IV PEJABAT ESELON IV/ GOLONGAN III Lampiran 13 SATUAN BIAYA PENGINAPAN PERJALANAN DINAS DALAM NEGERI SEBAGAI BATAS TERTINGGI (dalam rupiah) No. PROPINSI SATUAN TARIF HOTEL GOLONGAN I/II (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) 1. ACEH OH SUMATERA UTARA OH R I A U OH KEPULAUAN RIAU OH JAMBI OH SUMATERA BARAT OH SUMATERA SELATAN OH LAMPUNG OH BENGKULU OH BANGKA BELITUNG OH BANTEN OH JAWA BARAT OH DKI JAKARTA OH JAWA TENGAH OH D.I. YOGYAKARTA OH JAWA TIMUR OH B A L I OH NUSA TENGGARA BARAT OH NUSA TENGGARA TIMUR OH KALIMANTAN BARAT OH KALIMANTAN TENGAH OH KALIMANTAN SELATAN OH KALIMANTAN TIMUR OH KALIMANTAN UTARA OH SULAWESI UTARA OH GORONTALO OH SULAWESI BARAT OH SULAWESI SELATAN OH SULAWESI TENGAH OH SULAWESI TENGGARA OH MALUKU OH MALUKU UTARA OH PAPUA OH PAPUA BARAT OH Keterangan : 1. Uang Harian dari uang makan, uang saku dan transport lokal 2. Untuk Pejabat Negara diberikan fasilitas Hotel Bintang Lima kelas Suite. Apabila dalam Provinsi tersebut tidak terdapat Hotel Hotel Bintang Lima maka kepada Pejabat Negara tsb. dapat diberikan tarif kamar hotel tertinggi yg ada di Prov. tsb.. 3. Pejabat Negara (Ketua Wakil Ketua dan Anggota Lembaga Tinggi Negara, Menteri serta setingkat Menteri), Pejabat Eselon I dan Pejabat Eselon II diberikan uang reprensentatif per-hari masing-masing sebesar Rp ,- dan Rp ,- serta Rp ,-. 4. Pejabat Negara (Ketua/ Wakil Ketua dan Anggota Lembaga Tinggi Negara, Menteri serta Setingkat Menteri), diberikan fasilitas angkutan dalam kota/sewa kendaraan (termasuk sopir/bbm) yang diberikan secara at cost yang besarannya maksimum sebesar yang tercantum pada Lampiran Perjalanan dinas yang bersifat rombongan dapat menggunakan hotel yang sama dengan klasifikasi kamar berbeda. 94

GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 41 TAHUN 2012 TENTANG

GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 41 TAHUN 2012 TENTANG GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 41 TAHUN 2012 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN GUBERNUR KEPULAUAN BANGKA BELITUNG NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUB NOMOR 91/PMK.02/2013 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUB NOMOR 91/PMK.02/2013 TENTANG 1 of 8 10/07/2013 9:05 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 91/PMK.02/2013 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 37/PMK.02/2012

Lebih terperinci

BAB III STANDAR BIAYA UMUM YANG BERFUNGSI SEBAGAI ESTIMASI (DAPAT DILAMPAUI)

BAB III STANDAR BIAYA UMUM YANG BERFUNGSI SEBAGAI ESTIMASI (DAPAT DILAMPAUI) BAB III STANDAR BIAYA UMUM YANG BERFUNGSI SEBAGAI ESTIMASI (DAPAT DILAMPAUI) SBU 2017 3-1 A. SATUAN SEWA GEDUNG/LAPANG OLAHRAGA Tabel 3.1 Jenis Gedung Satuan Harga 1. Gedung Pertemuan Hari 15.000.000 (Sesuai

Lebih terperinci

PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 58 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR BIAYA OPERASIONAL GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR BANTEN TAHUN 2016

PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 58 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR BIAYA OPERASIONAL GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR BANTEN TAHUN 2016 PERATURAN GUBERNUR BANTEN NOMOR 58 TAHUN 2015 TENTANG STANDAR BIAYA OPERASIONAL GUBERNUR DAN WAKIL GUBERNUR BANTEN TAHUN 2016 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANTEN, Menimbang : a. bahwa Gubernur

Lebih terperinci

PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KEHUTANAN Nomor.: P.3/II-KEU/2010 TENTANG

PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KEHUTANAN Nomor.: P.3/II-KEU/2010 TENTANG PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KEHUTANAN Nomor.: P.3/II-KEU/2010 TENTANG PERUBAHAN PERTAMA PERATURAN SEKRETARIS JENDERAL KEMENTERIAN KEHUTANAN NOMOR P.2/II-KEU/2010 TENTANG PEDOMAN HARGA SATUAN

Lebih terperinci

BUPATI JENEPONTO PROVINSI SULAWESI SELATAN KEPUTUSAN BUPATI JENEPONTO NOMOR 17 TAHUN 2018 TENTANG

BUPATI JENEPONTO PROVINSI SULAWESI SELATAN KEPUTUSAN BUPATI JENEPONTO NOMOR 17 TAHUN 2018 TENTANG BUPATI JENEPONTO PROVINSI SULAWESI SELATAN KEPUTUSAN BUPATI JENEPONTO NOMOR 17 TAHUN 2018 TENTANG PENETAPAN STANDAR BIAYA PERJALANAN DINAS DALAM NEGERI DAN LUAR NEGERI LINGKUP PEMERINTAH KABUPATEN JENEPONTO

Lebih terperinci

KAPAL KAPAL KERETA BUS UDARA LAUT API

KAPAL KAPAL KERETA BUS UDARA LAUT API LAMPIRAN I PERATURAN BUPATI BADUNG NOMOR : 82 TAHUN 2014 TANGGAL : 19 DESEMBER 2014 TENTANG : PERJALANAN DINAS Jenis dan Kelas Angkutan Pejabat Negara dan Pegawai Negeri Sipil NO. URAIAN KAPAL KAPAL KERETA

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGANREPUBLIK INDONESIA

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGANREPUBLIK INDONESIA SALINAN KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN ' BESARAN PENYESUAIAN SALDO KAS DI BENDAHARA PENGELUARAN KEMENTERIAN LUAR NEGERI PADA NERACA UNIT AKUNTANSI KUASA BENDAHARA UMUM NEGARATINGKAT DAERAH/ KANTOR PELAYANANPERBENDAHARAANNEGARA

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 91/PMK.02/2013 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 91/PMK.02/2013 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 91/PMK.02/2013 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 37/PMK.02/2012 TENTANG STANDAR

Lebih terperinci

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 1 TAHUN 2016 TENTANG PERJALANAN DINAS BAGI WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, Menimbang

Lebih terperinci

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT

WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT WALIKOTA PADANG PROVINSI SUMATERA BARAT PPERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 6.A TAHUN 2015 TENTANG PERJALANAN DINAS BAGI WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, Menimbang

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.283,2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36/PMK.02/2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 84/PMK.02/2011 TENTANG STANDAR BIAYA

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.343, 2014 KEMENKEU. Standar Biaya. Masukan. TA 2014. Perubahan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52/PMK.02/2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI

Lebih terperinci

Data Agregat WNI yang Tercatat di Perwakilan RI

Data Agregat WNI yang Tercatat di Perwakilan RI 1 KBRI Abu Dhabi, UEA 31,316 2 KBRI Abuja, Nigeria 392 3 KBRI Addis Ababa, Ethiopia 75 4 KBRI Alger, Aljazair 1,046 5 KBRI Amman, Yordania 46,586 6 KBRI Ankara, Turki 824 7 KBRI Antananarivo, Madagaskar

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 32 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2011

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 32 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2011 BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 32 TAHUN 2010 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KOTAWARINGIN BARAT, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA JAYAPURA NOMOR 12 TAHUN 2013 T E N T A N G

PERATURAN WALIKOTA JAYAPURA NOMOR 12 TAHUN 2013 T E N T A N G PERATURAN WALIKOTA JAYAPURA NOMOR 12 TAHUN 2013 T E N T A N G PERJALANAN DINAS BAGI PEJABAT NEGARA, PEJABAT DAERAH, PEGAWAI NEGERI SIPIL DAN PEGAWAI TIDAK TETAP DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA JAYAPURA TAHUN

Lebih terperinci

KEMEf\ITERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

KEMEf\ITERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN KEMEf\ITERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Yth. Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Jakarta I SURAT EDARAN Nomor SE- 41' IPB/2015 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENCAIRAN

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52/PMK.02/2014 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52/PMK.02/2014 TENTANG MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 52/PMK02/2014 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 72/PMK02/2013 TENTANG STANDAR BIAYA

Lebih terperinci

WALIKOTA PADANG PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PERJALANAN DINAS BAGI WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA

WALIKOTA PADANG PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PERJALANAN DINAS BAGI WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA WALIKOTA PADANG PERATURAN WALIKOTA PADANG NOMOR 7 TAHUN 2013 TENTANG PERJALANAN DINAS BAGI WALIKOTA DAN WAKIL WALIKOTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA WALIKOTA PADANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 62 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 66 TAHUN 2016

Lebih terperinci

SATUAN BIAYA UANG HARIAN LUAR DAERAH / DALAM DAERAH LUAR KOTA

SATUAN BIAYA UANG HARIAN LUAR DAERAH / DALAM DAERAH LUAR KOTA LAMPIRAN I BIAYA PERJALANAN DINAS DALAM DAERAH DAN LUAR DAERAH UNTUK GUBERNUR/WAKIL GUBERNUR, PIMPINAN/ANGGOTA DPRD/PNS/TOKOH MASYARAKAT/ANGGOTA MASYARAKAT DAN PEGAWAI TIDAK TETAP SATUAN BIAYA UANG HARIAN

Lebih terperinci

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SALINAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 62 TAHUN 2017 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN GUBERNUR DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA NOMOR 66 TAHUN 2016

Lebih terperinci

C. BIAYA PERJALANAN DINAS. 1. Uang Harian Perjalanan Dinas Dalam Negeri

C. BIAYA PERJALANAN DINAS. 1. Uang Harian Perjalanan Dinas Dalam Negeri C. BIAYA PERJALANAN DINAS 1. Uang Harian Perjalanan Dinas Dalam Negeri a. Perjalanan Dinas Luar DIY dan dalam DIY lebih dari 8 Jam Besaran Dalam DIY No. Provinsi Satuan Uang Harian Lebih Dari 8 Diklat

Lebih terperinci

WALIKOTA PROBOLINGGO

WALIKOTA PROBOLINGGO WALIKOTA PROBOLINGGO SALINAN PERATURAN WALIKOTA PROBOLINGGO NOMOR 31 TAHUN 2009 TENTANG STANDART BIAYA PERJALANAN DINAS JABATAN, UANG SAKU DALAM DAERAH BAGI PEJABAT NEGARA, PEGAWAI NEGERI SIPIL DAN PEGAWAI

Lebih terperinci

2

2 2 3 c. Pejabat Eselon III kebawah (dalam rupiah) NO. PROVINSI SATUAN HALFDAY FULLDAY FULLBOARD (1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. ACEH

Lebih terperinci

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR BIAYA PERJALANAN DINAS

BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR BIAYA PERJALANAN DINAS BUPATI MADIUN SALINAN PERATURAN BUPATI MADIUN NOMOR 32 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR BIAYA PERJALANAN DINAS BAGI PEJABAT NEGARA, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH, PEGAWAI NEGERI SIPIL DAN PEGAWAI TIDAK TETAP

Lebih terperinci

BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT

BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT BUPATI LOMBOK BARAT PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT PERATURAN BUPATI LOMBOK BARAT NOMOR 02 TAHUN 2016 TENTANG PERJALANAN DINAS DAN KETENTUAN BIAYA PERJALANAN DINAS DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL Yth. (Daftar terlampir) SURAT EDARAN Nomor SE- 7 /PB/2018 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENCAIRAN DANA DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN PENERIMAAN

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KOTA BOGOR. Nomor 42 Tahun 2014 Seri E Nomor 33 PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 42 TAHUN 2014 TENTANG

BERITA DAERAH KOTA BOGOR. Nomor 42 Tahun 2014 Seri E Nomor 33 PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 42 TAHUN 2014 TENTANG BERITA DAERAH KOTA BOGOR Nomor 42 Tahun 2014 Seri E Nomor 33 PERATURAN WALIKOTA BOGOR NOMOR 42 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR BIAYA PENGHASILAN, TUNJANGAN KESEJAHTERAAN DAN BELANJA PENUNJANG KEGIATAN PIMPINAN

Lebih terperinci

KEPUTUSAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1831 TAHUN 2013 TENTANG

KEPUTUSAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1831 TAHUN 2013 TENTANG 8J~g'J~~~~ ~~ KEPUTUSAN GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 1831 TAHUN 2013 TENTANG BIAYA PERJALANAN DINAS DALAM DAN LUAR NEGERI BAGI PEJABATI PEGAWAI, PIMPINAN DAN ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Yth. (Daftar terlampir) SURAT EDARAN NomorSE- 2./PB/2018 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENCAIRAN DANA DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN

Lebih terperinci

7 Angkutan, Pergudangan, dan Komunikasi Lembaga Keuangan, Real Estat, Usaha Persewaan, dan

7 Angkutan, Pergudangan, dan Komunikasi Lembaga Keuangan, Real Estat, Usaha Persewaan, dan Tabel 8.4.4. Penggunaan Kerja Asing Di Indonesia Menurut Lapangan Usaha dan Jenis Pekerjaan/Jabatan sampai dengan 31 Mei 2010 Jenis Pekerjaan/Jabatan Usaha Produksi, No Lapangan Usaha Kepemimpina Tata

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100/PMK.02/2010 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100/PMK.02/2010 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100/PMK.02/2010 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

UANG PENGINAPAN, UANG REPRESENTASI DAN UANG HARIAN PERJALANAN DINAS KELUAR DAERAH DAN DALAM DAERAH

UANG PENGINAPAN, UANG REPRESENTASI DAN UANG HARIAN PERJALANAN DINAS KELUAR DAERAH DAN DALAM DAERAH LAMPIRAN III TENTANG PERUBAHAN ATAS NOMOR 1 TAHUN 2012 TENTANG PERJALANAN DINAS DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN SUMBAWA NO. TUJUAN UANG PENGINAPAN, UANG REPRESENTASI DAN UANG HARIAN PERJALANAN DINAS

Lebih terperinci

2015, No c. bahwa dengan beralihnya status Bandar Udara Polonia ke Bandar Udara Internasional Kualanamu dan Bandar Udara Selaparang ke Bandar Ud

2015, No c. bahwa dengan beralihnya status Bandar Udara Polonia ke Bandar Udara Internasional Kualanamu dan Bandar Udara Selaparang ke Bandar Ud BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.387, 2015 KEMENKUMHAM. Visa Kunjungan. Saat Kedatangan. Keenam. Perubahan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA PAYAKUMBUH NOMOR : TAHUN 2015

PERATURAN WALIKOTA PAYAKUMBUH NOMOR : TAHUN 2015 PERATURAN WALIKOTA PAYAKUMBUH NOMOR : TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN WALIKOTA NOMOR 54 TAHUN 2014 TENTANG PENETAPAN STANDAR BIAYA UMUM KOTA PAYAKUMBUH TAHUN ANGGARAN 2015 DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

BERITA NEGARA. No.1193, 2012 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Visa. Saat Kedatangan. Perubahan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

BERITA NEGARA. No.1193, 2012 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Visa. Saat Kedatangan. Perubahan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.1193, 2012 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Visa. Saat Kedatangan. Perubahan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN

Lebih terperinci

Specialist Import Door To Door

Specialist Import Door To Door Specialist Import Door To Door A. TARIF IMPORT NEGARA ASAL KE JAKARTA SINGAPORE BARANG GENERAL CARGO Udara Rp. 65.000,- 10 Kg 07 10 SPARE PARTS MURNI Laut Rp. 8.000,- Rp. 4.500.000,- 0,5 M3 30-45 MALAYSIA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN KETUJUH ATAS KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWASAN NOMOR: KEP-06.00.00-286/K/2001 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-03.GR.01.06 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA NOMOR M.HH-01.GR.01.06 TAHUN 2010

Lebih terperinci

BUPATI BELITUNG TIMUR,

BUPATI BELITUNG TIMUR, KEPUTUSAN BUPATI BELITUNG TIMUR NOMOR : 188.45-074 TAHUN 2016 TENTANG BESARAN STANDAR SATUAN HARGA BIAYA PERJALANAN DINAS DALAM NEGERI DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KABUPATEN BELITUNG TIMUR TAHUN ANGGARAN 2016

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN, PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR: PER-61/K/SU/2012 TENTANG PERUBAHAN KELIMA ATAS KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR KEP-06.00.00-286/K/2001

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100/PMK.02/2010 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN,

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 100/PMK.02/2010 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, PERATURAN MENTERI KEUANGAN MOR 100/PMK.02/2010 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2011 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang : bahwa dalam rangka melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

ALOKASI ANGGARAN SATKER PER PROVINSI MENURUT SUMBER PEMBIAYAAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI TAHUN 2011 PADA UNIT ESELON I PROGRAM

ALOKASI ANGGARAN SATKER PER PROVINSI MENURUT SUMBER PEMBIAYAAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI TAHUN 2011 PADA UNIT ESELON I PROGRAM ALOKASI ANGGARAN SATKER PER PROVINSI MENURUT SUMBER PEMBIAYAAN KEMENTERIAN KESEHATAN RI TAHUN 2011 PADA UNIT ESELON I PROGRAM (dalam ribuan rupiah) RUPIAH MURNI NO. SATUAN KERJA NON PENDAMPING PNBP PINJAMAN

Lebih terperinci

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN I TAHUN 2017

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN I TAHUN 2017 Invest in remarkable indonesia indonesia indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia indonesia remarkable indonesia invest in Invest in Invest

Lebih terperinci

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN II DAN JANUARI JUNI TAHUN 2016

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN II DAN JANUARI JUNI TAHUN 2016 Invest in remarkable indonesia indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia indonesia remarkable indonesia invest in Invest in indonesia Invest

Lebih terperinci

RINCIAN KERTAS KERJA SATKER T.A 2014

RINCIAN KERTAS KERJA SATKER T.A 2014 Halaman : 1 082.01.06 Program Pengembangan Teknologi Penerbangan dan Antariksa 5.070.234.000 3525 Pengembangan Sains Antariksa 5.070.234.000 3525.004 Keberhasilan Akuisisi Data Antariksa (Watukosek) [Base

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.538,2012 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 10/PER/M.KOMINFO/03/2012 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR 03 /PER/M.KOMINFO/03/2011

Lebih terperinci

Sekilas tentang Bom Curah (cluster bombs) dan Dunia

Sekilas tentang Bom Curah (cluster bombs) dan Dunia Sekilas tentang Bom Curah (cluster bombs) dan Dunia Berikut ini adalah daftar negara-negara yang telah terkena atau telah, atau sedang maupun bom curah. Catatan disertakan di bagian bawah tabel untuk menunjukkan

Lebih terperinci

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN PMA TRIWULAN I TAHUN 2014

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN PMA TRIWULAN I TAHUN 2014 Invest in remarkable indonesia indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia indonesia remarkable indonesia invest in Invest in indonesia Invest

Lebih terperinci

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN I TAHUN 2016

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN I TAHUN 2016 Invest in remarkable indonesia indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia indonesia remarkable indonesia invest in Invest in indonesia Invest

Lebih terperinci

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Kepala Badan Pengawasan

2016, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Kepala Badan Pengawasan No.1864, 2016 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Perwakilan. Orta. Perubahan. PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR 20 TAHUN 2016 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN KEPALA BADAN

Lebih terperinci

3. Standar Biaya Masukan adalah satuan biaya berupa harga satuan, tarif, dan indeks yang digunakan untuk menyusun biaya komponen masukan kegiatan.

3. Standar Biaya Masukan adalah satuan biaya berupa harga satuan, tarif, dan indeks yang digunakan untuk menyusun biaya komponen masukan kegiatan. http://ekolumajang.com MENTERI KEUANGAN SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 37/PMK.02/2012 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2013 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN, Menimbang :

Lebih terperinci

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 2015 NOMOR : SP DIPA /2015

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 2015 NOMOR : SP DIPA /2015 SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 215 MOR SP DIPA-18.12-/215 DS33-9596-64-778 A. DASAR HUKUM 1. 2. 3. UU No. 17 Tahun 23 tentang Keuangan Negara. UU No.

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUB NOMOR 31/PMK.02/2013 TENTANG

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUB NOMOR 31/PMK.02/2013 TENTANG 1 of 30 10/07/2013 9:14 MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31/PMK.02/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 37/PMK.02/2012

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-01-GR TAHUN 2010 TENTANG VISA KUNJUNGAN SAAT KEDATANGAN

PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-01-GR TAHUN 2010 TENTANG VISA KUNJUNGAN SAAT KEDATANGAN PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-01-GR.01.06 TAHUN 2010 TENTANG VISA KUNJUNGAN SAAT KEDATANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

Lebih terperinci

NOMOR : 36 TAHUN 2015 TANGGAL z 9 SEPTEMBER2OlS BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

NOMOR : 36 TAHUN 2015 TANGGAL z 9 SEPTEMBER2OlS BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PENYELENGGARA SELEKSI CALON DAN PENILAIAN KOMPETENSI PEGAWAI APARATUR SIPIL NEGARA PERATURAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR : 36 TAHUN 2015

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Keimigrasian. Visa. Saat Kedatangan.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Keimigrasian. Visa. Saat Kedatangan. No.12, 2010 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA. Keimigrasian. Visa. Saat Kedatangan. PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR M.HH-01-GR.01.06

Lebih terperinci

JUMLAH KUNJUNGAN KE TAMAN NASIONAL KOMODO MENURUT NEGARA ASAL TAHUN 2012

JUMLAH KUNJUNGAN KE TAMAN NASIONAL KOMODO MENURUT NEGARA ASAL TAHUN 2012 JUMLAH KUNJUNGAN KE TAMAN NASIONAL KOMODO MENURUT NEGARA ASAL TAHUN 2012 Bulan : Januari 2012 Lokasi pengambilan tiket masuk No Negara Asal 1 Afrika Selatan 3 1 4 4 3 7 - - - 11 2 Amerika Serikat 258 315

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.217, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA HUKUM. Imigrasi. Visa. Bebas. Kunjungan. Perubahan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 104 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN

Lebih terperinci

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 2016 NOMOR : SP DIPA /2016

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 2016 NOMOR : SP DIPA /2016 SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 2 MOR SP DIPA-24.12-/2 DS3612-4187-984-7 A. DASAR HUKUM 1. 2. 3. UU No. 17 Tahun 23 tentang Keuangan Negara. UU No. 1 Tahun

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.211, 2013 KEMENTERIN KEUANGAN. Standar Biaya. Tahun Anggaran 2013. Perubahan. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31/PMK.02/2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS

Lebih terperinci

PT.PRESSTI ASIA INDONESIA

PT.PRESSTI ASIA INDONESIA PT.PRESSTI ASIA INDONESIA HUBUNGI : RUSWANDI MOBILE: 085360472726 /087880708027 Specialist Import Door To Door PT.PRESSTI ASIA INDONESIA Jl. Raya Lenteng Agung Kv 22 No.20 Jakarta Tel : (62 21) 7888 6595Fax

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA STANDAR BIAYA MASUKAN TAHUN ANGGARAN 2013 YANG BERFUNGSI SEBAGAI BATAS TERTINGGI

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA STANDAR BIAYA MASUKAN TAHUN ANGGARAN 2013 YANG BERFUNGSI SEBAGAI BATAS TERTINGGI LAMPIRAN PERATURAN MB41TEBI KEUA1/9bNIRIPUBLIK INDONESIA TNEONMTOARNG 7 / l' 1C. U Z STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2013 MENTERI KEUANGAN STANDAR BIAYA MASUKAN TAHUN ANGGARAN 2013 YANG BERFUNGSI SEBAGAI

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR: 914/KPTS/M/2017

KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR: 914/KPTS/M/2017 MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT NOMOR: 914/KPTS/M/2017 TENTANG PENETAPAN UNIT LAYANAN PENGADAAN KEMENTERIAN PEKERJAAN

Lebih terperinci

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 2016 NOMOR : SP DIPA /2016

SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 2016 NOMOR : SP DIPA /2016 SURAT PENGESAHAN DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN (SP-DIPA) INDUK TAHUN ANGGARAN 216 MOR SP DIPA-18.12-/216 DS9275-658-42-941 A. DASAR HUKUM 1. 2. 3. UU No. 17 Tahun 23 tentang Keuangan Negara. UU No.

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.23/MEN/2011 TENTANG

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.23/MEN/2011 TENTANG PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.23/MEN/2011 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN NOMOR PER.22/MEN/2008 TENTANG ORGANISASI DAN TATA

Lebih terperinci

BUPATI SERUYAN PERATURAN BUPATI SERUYAN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI SERUYAN PERATURAN BUPATI SERUYAN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG SALINAN BUPATI SERUYAN PERATURAN BUPATI SERUYAN NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN PERJALANAN DINAS LUAR NEGERI BAGI PEJABAT/PEGAWAI NEGERI SIPIL DAN PEGAWAI TIDAK TETAP DI LINGKUNGAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG

BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG BUPATI SIDOARJO PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN BUPATI SIDOARJO NOMOR 3 TAHUN 2015 TENTANG BIAYA PERJALANAN DINAS DALAM NEGERI BAGI BUPATI DAN WAKIL BUPATI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SIDOARJO,

Lebih terperinci

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 29 TAHUN 2013 TENTANG

BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 29 TAHUN 2013 TENTANG BUPATI KOTAWARINGIN BARAT PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 29 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN BUPATI KOTAWARINGIN BARAT NOMOR 25 TAHUN 2012 TENTANG STANDAR BIAYA TAHUN ANGGARAN 2013

Lebih terperinci

TABEL 62. PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA KE LUAR NEGERI MENURUT NEGARA TUJUAN D.I YOGYAKARTA TAHUN

TABEL 62. PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA KE LUAR NEGERI MENURUT NEGARA TUJUAN D.I YOGYAKARTA TAHUN TABEL 62. PENEMPATAN TENAGA KERJA INDONESIA KE LUAR NEGERI MENURUT NEGARA TUJUAN D.I YOGYAKARTA TAHUN 2010-2015 No 2010 2011 2012 2013 2014 2015 Destination Country 1 Malaysia 1.807 1.320 1.178 804 1.334

Lebih terperinci

GUBERNUR RIAU PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG

GUBERNUR RIAU PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG GUBERNUR RIAU PERATURAN GUBERNUR RIAU NOMOR 11 TAHUN 2011 TENTANG PERJALANAN DINAS PEJABAT NEGARA, PEJABAT, PEGAWAI NEGERI SIPIL, PEGAWAI TIDAK TETAP DL LINGKUNGAN PEMERINTAH DAERAH DAN PIMPINAN SERTA

Lebih terperinci

Dalam rangka pengembangan kapasitas pegawai Direktorat Jenderal Kekayaan Negara tahun 2015, dengan ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut:

Dalam rangka pengembangan kapasitas pegawai Direktorat Jenderal Kekayaan Negara tahun 2015, dengan ini kami sampaikan hal-hal sebagai berikut: ~ OOai Iskandar A I NIP 19600124{981121002 KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL KEKAYAAN NEGARA SEKRETARIAT DIREKTORAT JENDERAL GEDUNG SYAFRUDDIN PRAWIRANEGARA IlLANTAI 9 SELATAN

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEUANGAN. Tata kerja. Panitia urusan piutang negara.

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEUANGAN. Tata kerja. Panitia urusan piutang negara. No.337, 2009 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA DEPARTEMEN KEUANGAN. Tata kerja. Panitia urusan piutang negara. PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 155/PMK.06/2009 TENTANG PERUBAHAN ATAS

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Yth. Para Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (terlampir) SURA T EDARAN Nomor SE- 21 /PB/2016 TENTANG BATAS MAKSIMUM

Lebih terperinci

PANDUAN PENYUSUNAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN PELAKSANAAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT

PANDUAN PENYUSUNAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN PELAKSANAAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT PANDUAN PENYUSUNAN PERTANGGUNGJAWABAN KEUANGAN PELAKSANAAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT SUMBER DANA SELAIN APBN TAHUN 2017 LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS DIPONEGORO Gedung

Lebih terperinci

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009

DAFTAR ALAMAT MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TAHUN 2008/2009 ACEH ACEH ACEH SUMATERA UTARA SUMATERA UTARA SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT SUMATERA BARAT RIAU JAMBI JAMBI SUMATERA SELATAN BENGKULU LAMPUNG KEPULAUAN BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU DKI JAKARTA JAWA BARAT

Lebih terperinci

PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL SOSIALISASI SIWAS DARI PENGADILAN TINGGI ( PER TANGGAL 31 JANUARI 2017 JAM 16:00 WIB FIX)

PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL SOSIALISASI SIWAS DARI PENGADILAN TINGGI ( PER TANGGAL 31 JANUARI 2017 JAM 16:00 WIB FIX) 1 PT Banda Aceh Lengkap 2 PT Medan Lengkap 3 PT Padang Lengkap 4 PT Pekanbaru Belum Lengkap - 5 PT Jambi Belum Lengkap - 6 PT Palembang Lengkap tgl 31 Januari 2017 via ) tgl 31 Januari 2017 via ) 7 PT

Lebih terperinci

EKSEKUTIF BISNIS EKONOMI

EKSEKUTIF BISNIS EKONOMI 101 1 SATUAN BIAYA TIKET PESAWAT PERJALANAN DINAS LUAR NEGERI PERGI PULANG (PP) ldalam US$) NO 1 1 ) 1 2 3 4 7 8 KOTA (2) AMERIKA UTARA Chicago Houston Lo '3,i\n g el e, s New York Ottawa San Fransisco

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Yth. Para Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (terlampir) SURAT EDARAN Nomor SE- It /PB/2017 TENTANG BATAS MAKSIMUM

Lebih terperinci

Berikut tempat uji kompetensi pelaksanaan seleksi CPNS Tahun 2014 di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Berikut tempat uji kompetensi pelaksanaan seleksi CPNS Tahun 2014 di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Tabel Wilayah Tempat Uji Kompetensi Berikut tempat uji kompetensi pelaksanaan seleksi CPNS Tahun 2014 di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Wila yah Unit Kerja TUK Provinsi Kabupaten/Kota

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TAHUN 2007 TENTANG

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK TAHUN 2007 TENTANG PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.00.05.21.3592 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR 05018/SK/KBPOM TAHUN 2001 TENTANG

Lebih terperinci

Perbandingan Nasional National Comparison

Perbandingan Nasional National Comparison Perbandingan Nasional National Comparison 12. Perbandingan Nasional Penduduk Indonesia pada tahun 2010, menurut hasil Sensus Penduduk tahun 2010, berjumlah 237,64 juta jiwa dengan laju pertumbuhan 200-2010

Lebih terperinci

PEMANTAUAN KUALITAS UDARA AMBIEN DENGAN METODE PASSIVE SAMPLER TAHUN 2016

PEMANTAUAN KUALITAS UDARA AMBIEN DENGAN METODE PASSIVE SAMPLER TAHUN 2016 PEMANTAUAN KUALITAS UDARA AMBIEN DENGAN METODE PASSIVE SAMPLER TAHUN 2016 Jakarta, Maret 2016 DIREKTORAT PENGENDALIAN PENCEMARAN UDARA DIREKTORAT JENDERAL PENGENDALIAN PENCEMARAN DAN KERUSAKAN LINGKUNGAN

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Keputusan Presiden No. 2 Tahun 1997 Tentang : Pembentukan Pengadilan Tata Usaha Negara Banda Aceh, Pakanbaru, Jambi, Bengkulu, Palangkaraya, Palu, Kendari, Yogyakarta, Mataram, Dan Dili Oleh : PRESIDEN

Lebih terperinci

JURNAL DATA TERKAIT NARKOTIKA TAHUN 2014

JURNAL DATA TERKAIT NARKOTIKA TAHUN 2014 JURNAL DATA TERKAIT NARKOTIKA Sumber : Buku Jurnal Data P4GN Tahun 2014 Edisi Tahun 2015 *) Data Deputi Bidang Pemberantasan BNN, Maret 2015 I. Data Kasus Tahun 2014 A. Jumlah Kasus Narkotika, Psikotropika

Lebih terperinci

PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL SOSIALISASI SIWAS DARI PENGADILAN TINGGI ( PER TANGGAL 16 FEBRUARI 2017)

PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL SOSIALISASI SIWAS DARI PENGADILAN TINGGI ( PER TANGGAL 16 FEBRUARI 2017) 1 PT Banda Aceh Lengkap 2 PT Medan Lengkap 3 PT Padang Lengkap 4 PT Pekanbaru Lengkap Notulen dikirim tanggal 2 Februari 2017 jam 16:58 WIB 5 PT Jambi Belum Lengkap - 6 PT Palembang Lengkap 7 PT Bangka

Lebih terperinci

LIST PENGADILAN TINGGI YANG SUDAH KIRIM SOSIALISASI ( PER TANGGAL 31 JANUARI 2017 JAM 14:10)

LIST PENGADILAN TINGGI YANG SUDAH KIRIM SOSIALISASI ( PER TANGGAL 31 JANUARI 2017 JAM 14:10) 1 PT Banda Aceh - tgl 26 Januari 2017 via ) 2 PT Medan (Lengkap) 3 PT Padang (Lengkap) 4 PT Pekanbaru 5 PT Jambi - 6 PT Palembang (Lengkap) tgl 31 Januari 2017 via ) 7 PT Bangka Belitung 8 PT Bengkulu

Lebih terperinci

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA,

MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA, PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA NOMOR : 03 /PER/M.KOMINFO/03/2011 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA UNIT PELAKSANA TEKNIS BIDANG MONITOR SPEKTRUM FREKUENSI RADIO MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA,

Lebih terperinci

PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL SOSIALISASI SIWAS DARI PENGADILAN TINGGI ( PER TANGGAL 1 FEBRUARI 2017)

PENYAMPAIAN LAPORAN HASIL SOSIALISASI SIWAS DARI PENGADILAN TINGGI ( PER TANGGAL 1 FEBRUARI 2017) 1 PT Banda Aceh Lengkap 2 PT Medan Lengkap 3 PT Padang Lengkap 4 PT Pekanbaru Belum Lengkap - 5 PT Jambi Belum Lengkap - 6 PT Palembang Lengkap 7 PT Bangka Belitung Belum Lengkap - - 8 PT Bengkulu Belum

Lebih terperinci

2017, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Komunikasi dan I

2017, No c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Komunikasi dan I No.1273, 2017 BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA KEMEN-KOMINFO. ORTA. UPT Monitor Frekuensi Radio. Pencabutan. PERATURAN MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2017 TENTANG

Lebih terperinci

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN III DAN JANUARI SEPTEMBER TAHUN 2016

REALISASI PENANAMAN MODAL PMDN - PMA TRIWULAN III DAN JANUARI SEPTEMBER TAHUN 2016 Invest in remarkable indonesia indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia Invest in remarkable indonesia indonesia remarkable indonesia invest in Invest in indonesia Invest

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.16/Menhut-II/2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.16/Menhut-II/2013 TENTANG PERATURAN MENTERI KEHUTANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : P.16/Menhut-II/2013 TENTANG PERUBAHAN KETIGA ATAS KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN NOMOR 6188/KPTS-II/2002 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Yth. (Daftar terlampir) SURAT EDARAN Nomor SE- /PB/0 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENCAIRAN DANA DAFTAR ISIAN PELAKSANAAN ANGGARAN PENERIMAAN

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PERBENDAHARAAN Yth Para Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (terlampir) SURAT EDARAN Nomor SE- /PB/2017 TENTANG BATAS MAKSIMUM PENCAIRAN

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR : PER- 955/K/SU/2011 TENTANG PERUBAHAN KEEMPAT ATAS KEPUTUSAN KEPALA BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN NOMOR KEP-06.00.00-286/K

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG SALINAN ENTERI PENDIDIKAN BLIK INDONESI PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2013 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN NOMOR 1 TAHUN

Lebih terperinci

BKN. Kantor Regional. XIII. XIV. Pembentukan. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA

BKN. Kantor Regional. XIII. XIV. Pembentukan. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA No.1058, 2014 BKN. Kantor Regional. XIII. XIV. Pembentukan. Pencabutan. PERATURAN KEPALA BADAN KEPEGAWAIAN NEGARA NOMOR 20 TAHUN 20142014 TENTANG PEMBENTUKAN KANTOR REGIONAL XIII DAN KANTOR REGIONAL XIV

Lebih terperinci

2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Bebas Visa K

2 d. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c, perlu menetapkan Peraturan Presiden tentang Bebas Visa K LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.133, 2015 HUKUM. Imigrasi. Visa. Bebas. Kunjungan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2015 TENTANG BEBAS VISA KUNJUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

PENJELASAN STANDAR BIAYA MASUKAN TAHUN ANGGARAN 2012 YANG BERFUNGSI SEBAGAI BATAS TERTINGGI

PENJELASAN STANDAR BIAYA MASUKAN TAHUN ANGGARAN 2012 YANG BERFUNGSI SEBAGAI BATAS TERTINGGI - 15 - PENJELASAN STANDAR BIAYA MASUKAN TAHUN ANGGARAN 2012 YANG BERFUNGSI SEBAGAI BATAS TERTINGGI 1. Honorarium Penanggung Jawab Pengelola Keuangan Pengelola keuangan pada setiap satuan kerja, diberi

Lebih terperinci