Efek Domino Dari Sebuah Kamuflase Dalam Dongeng Berjudul Tristan Vox Karya Michel Tournier

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Efek Domino Dari Sebuah Kamuflase Dalam Dongeng Berjudul Tristan Vox Karya Michel Tournier"

Transkripsi

1 Efek Domino Dari Sebuah Kamuflase Dalam Dongeng Berjudul Tristan Vox Karya Michel Tournier Oleh Uzlifatul Jannah Abstrak Penelitian ini bersumber dari sebuah dongeng filsafat dari buku kumpulan dongeng dan cerita Le Coq de Bruyère yang diterbitkan pada tahun Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertentangan diri para tokoh dalam melakukan kamuflase, serta untuk memahami fenomena yang diperlihatkan dari perilaku para tokoh dalam karya Tournier tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut, digunakan analisis struktural karya sastra yaitu analisis alur, analisis skema aktan, serta analisis tokoh dan hubungan antar tokoh. Dari seluruh rangkaian analisis, terlihat bagaimana tokoh-tokoh dalam dongeng ini melakukan kamuflase karena didasari oleh berbagai kebutuhan dan tuntutan dalam kehidupan, yang pada akhirnya mengalahkan akal sehat mereka. Fenomena tersebut merefleksikan manusia sendiri yang memiliki aspek dualisme dalam dirinya. Aspek yang mengendalikan manusia saat memutuskan tindakannya. Kata Kunci: Efek Domino, Kamuflase, Pertentangan diri, Dongeng filsafat, Kebutuhan hidup, Tuntutan hidup, Dualisme manusia, Tristan Vox. Pendahuluan Antitesis apakah yang muncul pada diri tokoh utama dalam pertimbangannya untuk berkamuflase? Antitesis apa yang terjadi pada tokoh-tokoh pembantu sebagai dampak dari kamuflase tokoh utama? Fenomena apa yang diperlihatkan oleh perilaku para tokoh terkait dengan aspek materil dan spiritual mereka? Mahasiswa Strata 1 Sastra Perancis, Fakultas Ilmu Budaya Univ. Padjadjaran 1

2 Sastra merupakan rekaman peradaban manusia yang merefleksikan kehidupan manusia itu sendiri. Pada dasarnya, manusia dan kehidupannya menjadi sumber inspirasi dari sebuah karya sastra. Karya sastra seringkali menggambarkan berbagai tindak tanduk manusia dalam permasalahan hidupnya. Meskipun karya sastra bersifat fiktif karena bermula dari imajinasi, namun di dalamnya terkandung nilai-nilai faktual yang cukup dekat dengan kehidupan nyata. Dongeng sebagai salah satu genre sastra juga mengandung refleksi kehidupan manusia seperti yang dijelaskan di atas. Sebuah dongeng sering menggambarkan tokoh utama yang harus berjuang meraih sesuatu untuk kebahagiaan hidup. Atau ada pula dongeng yang bercerita tentang tokoh utama yang harus menghadapi suatu masalah dalam hidupnya. Beragam kisah digambarkan pengarang dongeng untuk memberikan hiburan sekaligus bahan renungan kepada pembaca. Meski dongeng terdiri dari narasi pendek yang sederhana, namun sejatinya sebuah dongeng merupakan pembawa makna mendalam yang menjadi simbol terhadap suatu gagasan. Makna ini ditampilkan baik secara jelas maupun secara tersembunyi oleh pengarangnya. Adapun tema yang diangkat dalam dongeng bisa sangat beragam sebagaimana tema dalam genre sastra lainnya. Pertentangan antara baik dan buruk merupakan tema yang kerap sekali diangkat dalam dongeng sejak awal kemunculannya. Namun, tak jarang pula ada dongeng yang memperlihatkan perkembangan kualitas kepribadian tokoh dari satu titik ke titik lainnya ketika menghadapi permasalahan hidupnya. Dongeng juga menggambarkan fenomenafenomena unik yang terjadi dalam perjalanan hidup seorang tokoh. Begitu pula yang terjadi dalam dongeng berjudul Tristan Vox dari buku kumpulan dongeng dan cerita, Le Coq de Bruyère, karya Michel Tournier. Dongeng yang termasuk dalam jenis dongeng filsafat ini, menceritakan kehidupan seorang penyiar radio yang mewujudkan dirinya dalam sosok lain, dengan kata lain berkamuflase, demi mendapatkan penerimaan yang lebih baik dari masyarakat. Hal ini menjadi menarik ketika kamuflase tersebut menimbulkan kamuflase-kamuflase lain dari orang terdekatnya untuk menyeimbangi keberadaan

3 tokoh utama, sehingga terjadi efek domino yang membuat kehidupan tokoh utama semakin rumit. Efek domino merupakan sebuah analogi dari permainan kartu domino. Kartu-kartu domino tersebut disusun secara tegak dalam barisan panjang, kemudian kartu paling ujung didorong ke arah kartu di belakangnya, sehingga menyebabkan barisan kartu tersebut jatuh secara beruntun. Jadi, yang dimaksud dengan efek domino dalam tulisan ini adalah suatu kejadian yang mengakibatkan munculnya kejadian sama lainnya. Dalam dongeng Tristan Vox ini, efek domino terjadi karena adanya kamuflase dari tokoh utama. Hal menarik untuk melihat pertentangan-pertentangan yang terjadi dalam diri tokoh utama dan tokoh lainnya dalam melakukan kamuflase sehingga terjadinya efek domino dalam dongeng Tristan Vox ini. Menarik pula untuk menganalisis bagaimana efek domino tersebut berpengaruh dalam kehidupan tokoh utama pada akhirnya. Pembahasan Dongeng adalah suatu bentuk narasi, pada umumnya pendek, yang bercerita tentang petualangan imajiner atau khayalan dan tidak terikat oleh waktu maupun tempat. Secara umum, terdapat dongeng populer dan dongeng literer. Dongeng literer berasal dari dongeng populer, yang membedakan keduanya adalah jika dongeng populer termasuk dalam kesusastraan lisan dan muncul secara anonim, maka dongeng literer merupakan hasil nyata dari kreasi sastra yang terikat pada seorang pengarang, zaman, dan aliran. Dalam sejarah panjangnya, dongeng berkembang dalam beranekaragam bentuk dan menyebar luas dalam kesusastraan. Keragaman tersebut membuat dongeng sulit untuk didefinisikan secara pasti, hal yang justru membuktikan kekayaannya. Mengenai kedekatan antara dongeng dan cerpen (nouvelle) sering dikaitkan dengan bentuk narasinya yang singkat. Untuk membedakan keduanya, maka cerpen didasarkan pada dunia yang bersifat roman (Romanesque) sebagai seting latarnya. Berbeda dengan dongeng yang mendasarkan dunianya pada dunia 3

4 fiktif dan imajiner, sebagai ciri utamanya. Cerpen menggambarkan dunia nyata yang mirip seperti novel pendek. Perbedaan dari kedua genre ini juga terletak pada penggambaran sisi psikologis tokoh protagonisnya. Sisi psikologis tokoh utama dalam cerpen digambarkan lebih mendalam dan utuh dibandingkan dengan tokoh dalam dongeng. Penggambaran yang realistis mengenai tokoh juga menjadi pembeda keduanya, tokoh yang terlalu ideal sifatnya dapat menimbulkan kerancuan jika dikategorikan dalam cerpen. Berdasarkan situs ensiklopedia larousse.fr, dalam dongeng literer terdapat tiga jenis dongeng, yaitu : dongeng peri (conte de fées), dongeng fantastik (conte fantastique), dan dongeng filsafat (conte philosophique). Dongeng filsafat (conte philosophique) merupakan dongeng yang mengandung unsur-unsur filsafat di dalamnya. Dongeng jenis ini juga terkenal sebagai dongeng voltairian, karena Voltairelah yang mempopulerkannya di tahun 1740-an. Secara struktur dongeng ini biasanya menggunakan teknik dongeng tradisional yang terdiri dari narasi bernada indah, terjadi di dunia tak pasti dan imajiner, terkadang ada unsur ajaib, rangkaian peristiwa tak terduga yang terjalin cepat, dan nasib tak pasti atau kebahagiaan mengakhiri tokoh utama dari keadaan krisis. Kekhasan yang paling kuat dari dongeng ini adalah adanya ironi nasib yang hadir menambahkan kesan absurd. Ironi ini seringkali mengakhiri cerita dan menghasilkan dimensi kritis dalam dongeng. Petualangan tokoh dalam dongeng ini menggambarkan perkembangan karakternya secara perlahan yang akhirnya mendewasakan sang tokoh. Oleh karena itu, dapat dikatakan dongeng filsafat adalah cerita pendidikan (récit d apprentissage) yang menjadi unsur terpenting dari dongeng ini. Dongeng berjudul Tristan Vox karya Michel Tournier termasuk dalam jenis dongeng filsafat karena dalam dongeng tersebut terdapat ciri-ciri yang disebutkan di atas, terutama dalam hal ironi yang tampak jelas dalam dongeng tersebut. Michel Tournier sendiri dianggap sebagai seorang penulis besar di Prancis. Dia lahir di Paris pada tahun 1924, bersekolah di Saint-Germain, Laye dan sekolah Pasteur de Neuilly. Ia kemudian menempuh pendidikan filsafat di Sorbonne dan Universitas Tübigen. Namun, kegagalan dalam ujian pengukuhan di

5 bidang filsafat menghentikan keinginannya untuk mengajar di universitas. Lalu, Tournier bekerja sebagai penerjemah, jurnalis radio dan televisi di Radiodiffusion Perancis dan Europe I, serta berkarir di Monde dan Figaro. Pada tahun 1967, novel pertamanya dipublikasikan dengan judul Vendredi ou les Limbes du Pacifique yang merupakan sebuah adaptasi dari Robinson Crusoé karya Daniel Dafoe dan merupakan sebuah perenungan tentang peradaban modern. Karya ini memperoleh penghargaan Le Grand Prix du Roman dari l'académie Française. Pada tahun 1970, karyanya yang berjudul Le Roi des Aulnes mendapatkan penghargaan Le Prix Goncourt. Kemudian dia mencurahkan seluruh jiwanya dalam dunia literatur dengan ikut begabung ke Akademi Goncourt pada 1972 dan mengambil bagian dalam komite pembacaan di penerbitan Gallimard. Dia disebut-sebut sebagai Penyelundup Filsafat karena sering mencoba menggambarkan ide-ide Plato, Aristoteles, Spinoza, dan Kant dalam cerita-cerita dan dongeng-dongengnya. Dia beranggapan kesuksesan sebuah karya tercapai apabila ia diterima dengan sukses pula oleh para pembaca muda. Maka, pada tahun 1971 dia menulis ulang Vendredi ou les Limbes du Pacifique menjadi Vendredi ou la Vie sauvage, yang dapat diterima berbagai kalangan karena kesederhanaan di dalamnya. Karya ini terjual sebanyak 3 juta eksemplar di seluruh Perancis. Dia melihat dongengnya yang berjudul Pierrot ou les Secrets de la Nuit dan Amandine ou les Deux Jardins sebagai karya terbaiknya karena di dalam keduanya terdapat inspirasi metafisika dan sangat menarik bagi anak-anak berusia sepuluh tahun. Pada tahun 1993, Michel Tournier mendapatkan Medaille Goethe, dan gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari Universitas London pada tahun Tristan Vox merupakan dongeng yang menggambarkan kehidupan seorang Felix Robinet yang berprofesi sebagai penyiar radio terkenal yang menyembunyikan identitas aslinya di hadapan penggemarnya. Hal tersebut dilakukan karena paksaan dari direktur radio dan tuntutan masyarakat yang terkagum-kagum mendengar suara merdunya. Meskipun begitu, dia memiliki alasan tersendiri pula dalam melakukan kamuflse ini, yaitu untuk meningkatkan 5

6 kualitas hidupnya secara professional dan mempertahankan kehidupan financial keluarganya. Sayangnya, kamuflase yang dia lakukan menyebabkan munculnya kamuflase-kamuflase lain dari orang-orang terdekatnya sebagai bentuk protes terhadap tindakannya melalui rangkaian surat dari seseorang bernama Yseut. Ada pun orang-orang yang berada di balik surat tersebut adalah istrinya dan sekretarisnya, orang-orang kepercayaan yang mengetahui rahasia kehidupan gandanya. Pengkhianatan ini mengganggu kestabilan penyamaran Tristan Vox. Keadaan menjadi semakin runyam ketika sebuah foto seorang muncul di majalah mingguan radio. Pria dalam foto itu memiliki ciri yang begitu mirip dengan idalisasi penggemar mengenai sosok Tristan Vox, sehingga penggemarnya mengira sang tokoh akhirnya muncul ke hadapan publik. Sebenarnya, pria dalam foto itu adalah Frédéric Durâteau, seorang petenis dari Nanterre. Kejadian ini membuat Frédéric Durâteau hadir di hadapan tokoh utama untuk meminta pertanggungjawaban dan mengakibatkan percobaan bunuh diri oleh Nona Flavie, sekretarisnya, yang panik dengan kekacauan ini. Kejadian ini membuat tokoh utama mengetahui tokoh sebenarnya di balik surat Yseut sekaligus kehilangan keutuhan cinta istrinya. Dongeng ini menghadirkan banyak ironi dalam kehidupan para tokohnya. Untuk memperlihatkan pertentangan yang terjadi dalam diri para tokoh saat memutuskan berkamuflase dan untuk memahami esensi utama dari fenomena yang digambarkan dalam dongeng ini, maka digunakan analisis alur, secara sekuensial yang dilengkapi dengan analisis tindakan, analisis hubungan antarfungsi melalui skema aktan, dan ditambah dengan analisis tokoh dan hubungan antar tokoh Melalui analisis alur secara sekuensial, diketahui bahwa terdapat 27 sekuen fungsional dan 71 sekuen katalisator dan terdapat dua episode utama ; episode surat Yseut dan episode foto Tristan Vox palsu, yang membentuk rangkaian cerita dongeng ini. Dari analisis ini terlihat adanya hubungan sebabakibat dari permasalahan yang mendasari terjadinya efek domino dalam cerita ini. Penjelasan mengenai alur sekuen secara menghasilkan beberapa kesimpulan yang menjawab pertanyaan dalam penelitian ini. Pertama, ulasan itu menyimpulkan

7 bahwa faktor utama kamuflase tokoh utama adalah kebutuhan untuk mempertahankan pekerjaannya demi kecukupan finansial keluarga dan ada keinginan tokoh utama untuk membuktikan diri dalam kualitas pekerjaan. Di situ digambarkan adanya pertentangan antara menikmati kehidupan tenang yang penuh kejujuran, kebutuhan memperbaiki kualitas finansial keluarganya, dan keinginan untuk membuktikan kemampuan dalam diri tokoh utama. Lalu, pada tokoh Nona Flavie, beratnya beban kebohongan yang dipikul membuatnya lelah dan ingin menghentikan kebohongan mengenai Tristan Vox dengan cara menjadi Yseut kedua. Hal ini menggambarkan adanya pertentangan antara mempertahankan pekerjaannya sebagai sekretaris dan mengikuti hati nuraninya untuk menghentikan suatu kebohongan. Sementara itu, dalam kasus Amélie, hal yang menyebabkan dirinya ikut berkamuflase sebagai Yseut adalah hilangnya Felix Robinet dalam sosok Tristan Vox, sehingga dia tidak bisa mengenali suaminya lagi. Amélie merasa kehilangan cinta suaminya. Dari sini terlihat adanya pertentangan dalam diri Amélie antara mendukung pekerjaan suaminya atau menemukan kembali keutuhan cinta suaminya. Dalam kasus efek domino yang terjadi pada Frédéric Durâteau, faktor pemicunya adalah akumulasi harapan masyarakat yang menuntut keberadaan Tristan Vox. Oleh karena itu, ketika pemuda itu muncul dan memiliki kesesuaian dengan harapan masyarakat, maka Frédéric Durâteau dipilih pihak radio untuk melanjutkan penjelmaan Tristan Vox secara nyata, tidak hanya berupa suara saja. Dalam hal ini tokoh Frédéric Durâteau mengalami pertentangan antara mendapatkan popularitas yang diwarisikan Robinet-Vox dan kejujuran terhadap masyarakat. Gambaran perilaku para tokoh dalam cerita dongeng Tristan Vox ini memperlihatkan suatu fenomena ketika para tokoh memungkiri hati nurani dan kejujuran demi mempertahankan kebutuhan materinya. Para tokoh dalam cerita ini mengalami kekacauan dalam berlogika, sehingga terjerumus dalam kegelisahan dan kecemasan karena harus terus-menerus berbohong dan mengatur strategi demi mempertahankan kestabilan perasaan dan memenuhi kebutuhan materi. 7

8 Penjelasan di atas memperlihatkan bahwa hubungan antar tokoh dan keadaan kejiwaan para tokoh memegang peran besar dalam perkembangan jalan cerita. Kuatnya kedua aspek tersebut dibuktikan dalam analisis tindakan yang memperlihatkan bahwa sekuen état (36,73%) dan sekuen situation (29,60%) saling mempengaruhi satu sama lain terhadap jalan cerita. Hal ini menunjukkan bahwa kemelut yang terjadi dalam dongeng ini lebih bersifat psikologis emosional. Hal ini merepresentasikan pula adanya suatu jaringan kuat yang berefek secara beruntun terhadap para tokoh pembantu sebagai bukti adanya efek domino dalam cerita ini. Dari sini terlihat juga bahwa sekuen-sekuen ini juga ikut mempengaruhi dalam membentuk kegelisahan dan kecemasan para tokoh. Kecilnya jumlah sekuen acte (15,30%) memperlihatkan minimnya pergerakan ke arah penyelesaian masalah. Adapun tindakan yang dilakukan oleh para tokoh merupakan tindakan yang kurang memperhitungkan konsekuensi negatifnya secara matang. Selain itu sekuen événement yang muncul juga lebih dipengaruhi oleh adanya sekuen situation. Artinya peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam cerita ini tidak lepas keterkaitannya dari pengaruh hubungan antartokoh. Lalu, dari analisis skema aktansial terlihat fungsi setiap tokoh dalam keseluruhan narasi dongeng ini. Analisis ini mengungkapkan tujuan setiap tokoh dalam melakukan kamuflase yang akhirnya menyebabkan munculnya efek domino. Dari skema aktansial tokoh utama dapat disimpulkan bahwa pembuktian kemampuan diri tokoh utama yang dilakukan dengan cara yang penuh resiko dan berdampak luas bagi orang-orang di sekitarnya membuat hal itu gagal dilakukan dengan baik, karena keberadaan penentang untuk tujuan tersebut lebih kuat pengaruhnya bagi tokoh utama daripada pengaruh pendukung yang didapatnya. Cara yang dilakukan Robinet dalam membutikan kemampuan dirinya justru membuat dirinya kehilangan kepercayaan dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Sementara itu, skema aktansial Nona Flavie memperlihatkan bahwa adanya beban besar untuk terus mempertahankan kebohongan demi kebohongan mengenai kehidupan ganda Robinet-Vox. Beban ini melahirkan kegelisahan dalam dirinya, sehingga dia memutuskan untuk menjadi Yseut kedua. Namun, tindakan

9 ini tidak efektif dalam menghentikan kebohongan Robinet-Vox, hal yang justru menjerumuskannya dalam ketakutan yang lebih dalam dan akhirnya membuatnya kehilangan akal sehat dan mencoba bunuh diri. Lalu, skema aktansial Amélie menunjukkan bahwa caranya dalam meraih kembali keutuhan diri suaminya demi cintanya, justru membuatnya teralihkan oleh keberadaan sosok Tristan Vox. Hal ini membuktikan bahwa adanya sedikit perubahan perasaan Amélie terhadap suaminya. Keberadaan Robinet di hati Amélie menjadi tidak utuh seperti di awal cerita. Keberadaan tersebut telah dibagi dengan kekaguman Amélie terhadap sosok sempurna Tristan Vox yang akhirnya dikamuflasekan oleh Frédéric Durâteau. Terakhir, skema aktan Frédéric Durâteau menunjukkan adanya kekaguman berlebihan Frédéric Durâteau terhadap sosok Tristan Vox, sehingga membuatnya tergiur dengan popularitas dan ingin menjadi bagian dari kehebatan Tristan Vox. Hal ini membuktikan adanya sikap oportunis dalam diri Frédéric Durâteau yang mengalahkan nilai kejujuran dalam dirinya. Dari analisis skema aktansial ini dapat disimpulkan bahwa setiap tokoh memiliki maksud tersendiri dalam berkamuflase dan dilakukan untuk kepuasan diri sendiri atau keluarganya. Selanjutnya, dalam analisis tokoh dan hubungan antar-tokoh dapat terlihat bahwa tindakan setiap tokoh didasari oleh perilaku dan karakter tokoh tersebut. Analisis tokoh ini memberikan informasi mengenai kualitas psikis maupun fisik para tokoh. Secara garis besar tokoh dalam dongeng ini dibagi menjadi: a) Tokoh utama : Felix Robinet (Tristan Vox) b) Tokoh pembantu : Nona Flavie, Amélie, Frédéric Durâteau c) Tokoh pelengkap : Direktur radio, Staf operator radio, Penggemar Dalam analisis ini, hanya akan dibahas tokoh utama dan tokoh pembantu saja yang memiliki pengaruh besar terhadap jalannya cerita. Dari analisis ciri pembeda tokoh utama dapat dilihat bahwa ada kekontrasan antara diri Robinet dan sosok Tristan Vox secara gambaran fisik. Namun, sebenarnya secara mendalam sosok itu merupakan bagian lain dari diri Robinet, yang mungkin pada kehidupan nyatanya jarang terungkap. Dari penjelasan dalam analisis ini, dapat disimpulkan pula bahwa pada dasarnya Robinet adalah orang yang baik, namun keadaanlah yang membuatnya melakukan kamuflase. Hal ini diperumit oleh adanya sifat naif 9

10 dan ketidaktegasan dalam dirinya. Selanjutnya dari analisis ciri pembeda tokoh Nona Flavie dapat dilihat bahwa kenaifan dan kelemahan karakter pada dirinya mendorong Nona Flavie berkamuflase. Kegelisahan dan kecemasannya dalam menghadapi kebohongan mengenai Tristan Vox semakin memperkuat kelemahan karakter Nona Flavie dan menimbulkan dampak terburuk dari kamuflase tokoh utama dengan adanya kejadian percobaan bunuh diri olehnya. Selanjutnya, dari analisis ciri pembeda Amélie menunjukkan bahwa pada dasarnya ia adalah wanita yang memiliki sifat baik dalam dirinya. Namun, ketakutan akan hilangnya keutuhan diri Robinet dalam sosok Tristan Vox mendorongnya melakukan hal yang kurang rasional dengan berkamuflase sebagai Yseut pertama yang merupakan awal dari efek domino dari kamuflase Robinet. Kemudian, dari penjelasan analisis ciri pembeda Frédéric Durâteau terlihat bahwa sifatnya yang penuh semangat, berani, dan terus terang memunculkan ambisi besar dalam dirinya untuk ikut menjadi bagian dari kehebatan Tristan Vox, terutama setelah mendengar langsung siaran Tristan Vox. Ambisi itu membuat Frédéric Durâteau ikut berkamuflase dan melupakan nilai kejujuran terhadap publik. Hal ini membuktikan adanya sifat oportunis dalam dirinya. Dalam Analisis hubungan antar tokoh terlihat pengaruh kamuflase dari Robinet terhadap para tokoh pembantu yang akhirnya menghadirkan efek domino. Dalam deskripsi mengenai hubungan Felix Robinet (Tristan Vox) dan Nona Flavie mengindikasikan bahwa efek domino yang terjadi di antara keduanya terjadi dalam tataran hubungan profesional. Pengaruh dari kamuflase Robinet menghadirkan tekanan bagi Nona Flavie selama menjalani pekerjaannya, sehingga efek domino pun terjadi dalam hubungan ini. Lalu, penjelasan mengenai hubungan Felix Robinet (Tristan Vox) dan istrinya, Amélie terlihat bahwa kamuflase antara keduanya terjadi dalam tataran hubungan suami istri. Kamuflase Robinet memengaruhi perasaan Amélie sebagai istri yang takut kehilangan suaminya, sehingga membuat Amélie ikut berkamuflase. Yang terakhir, dari deskripsi mengenai hubungan antara Felix Robinet (Tristan Vox) dan Frédéric Durâteau memperlihatkan bahwa efek domino yang terjadi dari kamuflase

11 keduanya terjadi dalam tataran hubungan profesional. Kehebatan Robinet dalam berkamuflase menjadi sosok Tristan Vox yang ideal mempengaruhi Frédéric Durâteau untuk ikut berkamuflase dengan didasari oleh oportunisme. Dari analisis tokoh dan hubungan antartokoh ini dapat disimpulkan bahwa ketidaktegasan, kenaifan, ketakutan, dan oportunis menjadi faktor yang menyebabkan para tokoh berkamuflase, sehingga menghadirkan efek domino. Simpulan Le Coq de Bruyère merupakan buku kumpulan dongeng yang menggambarkan kehidupan manusia melalui berbagai permasalahan yang diangkatnya. Begitu pula dengan dongeng berjudul Tristan Vox yang merupakan gambaran kehidupan seorang tokoh yang merupakan salah satu representasi kehidupan manusia itu sendiri. Permasalahan pemalsuan identitas diri yang disepakati tokoh utama bersama atasannya, telah menyeret beberapa orang di sekitarnya kepada kebohongan, kegelisahan, oportunis, dan pindahnya perhatian pasangan hidup ke lain hati. Tidak terkecuali, fenomena ini merupakan kebohongan publik dan pembiaran terhadap terfiksasinya gambaran khayali dari tokoh yang terlanjur diidolakan. Dari rangkaian analisis di atas dihasilkan beberapa kesimpulan dari penelitian ini. Pertama, adanya kebutuhan, tuntutan, dan nilai kejujuran yang harus dipertahankan oleh setiap tokoh dalam memutuskan tindakannya menghadirkan fenomena efek domino dalam jalan ceritanya. Hal ini memperlihatkan adanya hubungan saling mempengaruhi yang besar dalam dongeng bergenre filsafat ini. Kedua, dapat disimpulkan bahwa konflik yang terjadi dalam dongeng ini merupakan konflik yang bersifat psikologis emosional. Artinya adalah kemelut yang terjadi dalam diri para tokoh didasari oleh unsur-unsur emosi yang sangat kuat dari diri para tokoh. Hal ini juga memperlihatkan bahwa para tokoh dalam cerita ini lebih menimbang aspek emosi dari pada aspek logika dalam melakukan tindakan untuk menghadapi masalah mereka. 11

12 Ketiga, tuntutan kebutuhan eksternal dan internal diri para tokoh mengalahkan nilai kejujuran yang selama ini dipegangnya. Adanya pertentangan antara kecemasan dan tuntutan dari luar membuat mereka melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai kejujuran sebagai rentetan akibat dari tindakan tokoh utama. Keputusan-keputusan yang diambil membuat mereka terlibat dalam pusaran kamuflase. Keempat, dapat disimpulkan pula bahwa lemahnya karakter, ketidaktegasan, dan kenaifan para tokoh membuat mereka melakukan kebohongan kolektif yang akhirnya menjerumuskan mereka dalam hidup yang melelahkan dan penuh kegelisahan. Hal tersebut yang akhirnya menimbulkan dampak kerenggangan hubungan antara satu, baik dalam hubungan suami-istri maupun hubungan profesional. Dari sini, terlihat adanya suatu fenomena yang menunjukkan bahwa kebutuhan hidup seseorang terkadang dapat mengalahkan akal sehatnya sebagai manusia yang berbudi. Selain itu, dalam analisis-analisis tersebut terlihat pula gambaran pengharapan kolektif dari masyarakat terhadap satu sosok sempurna untuk memenuhi kebutuhan imajinasinya sebagai pelarian dari kenyataan menyedihkan yang dialami dalam hidup. Hal ini menunjukkan bahwa manusia membutuhkan tempat bersandar untuk menghadapi, atau setidaknya meringankan, permasalahan hidup dengan suatu strategi yang dianggapnya mantap. Maka, dari analisis-analisis tersebut terlihat bagaimana dongeng mampu mencerminkan kehidupan dan karakter manusia dalam kehidupan nyata. Dongeng ini menunjukkan bahwa pada dasarnya dalam diri manusia selalu terdapat dualisme antara kebaikan dan keburukan. Dualisme ini menghadirkan berbagai konflik, baik dalam hubungan dengan dirinya sendiri, maupun dalam hubungan antarindividu. Hal tersebut terjadi karena berbagai kebutuhan, tuntutan, dan pertentangan kepentingan dalam hidup, seringkali mengendalikan aspek dualisme tersebut di saat seorang individu harus memutuskan tindakannya. Ketika tindakan yang dilakukan tidak sesuai dengan nilai-nilai moral dan suara hati nurani individu tersebut, maka akan muncul ketidaknyamanan, kegelisahan, dan ketakutan dalam dirinya.

13 Hal ini menunjukkan bahwa keseimbangan antara emosi dan logika merupakan aspek penting bagi individu untuk menghadapi permasalahan hidupnya. Keseimbangan tersebut diperlukan agar individu tersebut mampu memahami hal yang benar dan yang salah dalam kehidupan ini. Dapat dipahami pula bahwa suatu tindakan yang diambil oleh seorang individu akan memiliki dampak dan pengaruh tersendiri, baik untuk dirinya sendiri, maupun untuk orang di sekitarnya. Hal saling memengaruhi inilah yang membuat manusia menjadi makhluk sosial yang juga memiliki tanggung jawab terhadap satu sama lain. Oleh karena itu, kesadaran akan rasa tanggung jawab tersebut menjadi penting bagi setiap individu dalam menjalani kehidupan agar ia dapat memahami peran dan fungsi sosialnya. Maka, dapat disimpulkan bahwa hal saling memengaruhi dalam hubungan manusia dan kesadaran akan tanggung jawab, merupakan salah satu syarat bagi manusia untuk berkembang dan memahami hakikat dirinya. Dongeng Tristan Vox ini juga menghadirkan kisah yang memberikan pesan moral bahwa kebohongan dan kepalsuan dari satu orang dapat menimbulkan dampak besar bagi kehidupan orang lain. Dari dongeng ini kita juga dapat memahami bagaimana suatu kebohongan, meski telah ditutupi dengan rapat, dapat tercium juga kebusukannya dan menghadirkan efek negatif bagi banyak orang. Dongeng ini juga menggambarkan suatu fakta bahwa suara seorang individu merupakan salah satu ciri khusus yang dianugerahkan Pencipta untuk menjadi identitas tersendiri bagi individu tersebut. Setiap manusia memiliki keunikan tersendiri dalam suaranya, yang berbeda dengan individu lain. Melalui keunikan tersebut, manusia dapat dikenali dan dibedakan satu sama lain. Sebagaimana anugerah lain yang diberikan Pencipta kepada manusia, maka suara juga harus disyukuri dan digunakan sebaik mungkin tanpa menyalahi norma atau menimbulkan kerugian bagi orang lain. Daftar Sumber 13

14 Barthes, Roland Introduction à l Analyse Structurale du Récit. Paris : Seuil. Everaert-Desmedt, Nicole Sémiotique du Récit. Bruxelles : De Boeck Wesmael. Goldenstein, J. P Pour Lire le Roman. Brussel-Paris : De Boeck-Duculot. Greimas, A. J. 1966, Sémantique Structurale. Paris : Larousse. Tournier, Michel Le Coq de Bruyère. Paris : Gallimard. Schmitt & Viala Savoir Lire. Paris : Didier. Zumthor, P Analyse de contes. Jakarta : Seminaire Universitas Indonesia AUPELF BAL-Ambassade de France.

Unsur-Unsur Emosi yang Mendasari Perilaku Tokoh Utama. Dalam Novel Week-end de chasse à la mère. Karya Geneviève Brisac. Oleh Kika Adriani Juniastika*

Unsur-Unsur Emosi yang Mendasari Perilaku Tokoh Utama. Dalam Novel Week-end de chasse à la mère. Karya Geneviève Brisac. Oleh Kika Adriani Juniastika* Unsur-Unsur Emosi yang Mendasari Perilaku Tokoh Utama Dalam Novel Week-end de chasse à la mère Karya Geneviève Brisac Oleh Kika Adriani Juniastika* Abstrak Skripsi yang berjudul Unsur-Unsur Emosi Yang

Lebih terperinci

KONSEP «MORBID CHIC» DALAM ROMAN L HYPER JUSTINE KARYA SIMON LIBERATI LAISA KHOERUN NISSA

KONSEP «MORBID CHIC» DALAM ROMAN L HYPER JUSTINE KARYA SIMON LIBERATI LAISA KHOERUN NISSA KONSEP «MORBID CHIC» DALAM ROMAN L HYPER JUSTINE KARYA SIMON LIBERATI LAISA KHOERUN NISSA 180510070018 FAKULTAS ILMU BUDAYA JURUSAN SASTRA PERANCIS UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR Agustus, 2012 KONSEP

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia sehari-hari (Djojosuroto, 2000:3). Persoalan yang menyangkut

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan manusia sehari-hari (Djojosuroto, 2000:3). Persoalan yang menyangkut BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra merupakan hasil proses pemikiran dan pengalaman batin pengarang yang dicurahkan lewat tulisan dengan mengungkapkan berbagai hal yang digali dari masalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. puisi. Latar belakang kehidupan yang dialami pengarang, sangat berpengaruh

BAB I PENDAHULUAN. puisi. Latar belakang kehidupan yang dialami pengarang, sangat berpengaruh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lahirnya sebuah karya sastra tentu tidak akan terlepas dari kehidupan pengarang baik karya sastra yang berbentuk novel, cerpen, drama, maupun puisi. Latar belakang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. imaginasi, pengamatan, dan perenungannya dalam bentuk karya sastra. Karya-karya

BAB I PENDAHULUAN. imaginasi, pengamatan, dan perenungannya dalam bentuk karya sastra. Karya-karya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karya sastra termasuk salah satu dari bentuk seni yang bermedium bahasa, baik lisan maupun tulisan. Melalui bahasa, pengarang dapat mengungkapkan imaginasi, pengamatan,

Lebih terperinci

BAB I. Imajinasi yang diciptakan berasal dari diri sendiri dan lingkungan sekitar

BAB I. Imajinasi yang diciptakan berasal dari diri sendiri dan lingkungan sekitar BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan dunia imajinasi yang diciptakan oleh pengarang. Imajinasi yang diciptakan berasal dari diri sendiri dan lingkungan sekitar pengarang.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mempersiapkan anak-anak supaya memiliki visi dan masa depan sangat penting

BAB I PENDAHULUAN. mempersiapkan anak-anak supaya memiliki visi dan masa depan sangat penting BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Anak merupakan generasi penerus bangsa. Di pundaknya teremban amanat guna melangsungkan cita-cita luhur bangsa. Oleh karena itu, penyiapan kader bangsa yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan teknologi dan informasi pada zaman modern ini membuka peluang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Perkembangan teknologi dan informasi pada zaman modern ini membuka peluang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi dan informasi pada zaman modern ini membuka peluang yang lebih besar bagi kita untuk mendapatkan informasi yang lebih luas, salah satunya buku

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tergantung dari perubahan sosial yang melatarbelakanginya (Ratna, 2007: 81). Hal

BAB I PENDAHULUAN. tergantung dari perubahan sosial yang melatarbelakanginya (Ratna, 2007: 81). Hal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra adalah sistem semiotik terbuka, karya dengan demikian tidak memiliki kualitas estetis intrinsik secara tetap, melainkan selalu berubah tergantung dari

Lebih terperinci

Bab 2. Landasan Teori. dalam cerita, dan bagaimana penempatannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup

Bab 2. Landasan Teori. dalam cerita, dan bagaimana penempatannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup Bab 2 Landasan Teori 2.1 Teori Tokoh Penokohan merupakan suatu bagian terpenting dalam membangun sebuah cerita. Penokohan mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan tokoh dalam cerita, dan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Karya sastra selain dapat dikatakan sebuah karya seni dalam bentuk tulisan

BAB 1 PENDAHULUAN. Karya sastra selain dapat dikatakan sebuah karya seni dalam bentuk tulisan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Karya sastra selain dapat dikatakan sebuah karya seni dalam bentuk tulisan juga dapat dikatakan sebagai hasil pemikiran manusia tentang penggambaran kenyataan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sehingga bahasa menjadi media sastra. Karya sastra muncul dalam bentuk ungkapan

BAB I PENDAHULUAN. sehingga bahasa menjadi media sastra. Karya sastra muncul dalam bentuk ungkapan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan sebuah bentuk seni yang dituangkan melalui bahasa, sehingga bahasa menjadi media sastra. Karya sastra muncul dalam bentuk ungkapan pribadi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karya sastra tidak lahir dalam situasi kekosongan budaya, budaya tidak hanya. konvensi atau tradisi yang mengelilinginya.

BAB I PENDAHULUAN. karya sastra tidak lahir dalam situasi kekosongan budaya, budaya tidak hanya. konvensi atau tradisi yang mengelilinginya. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra diciptakan oleh pengarang untuk dipahami dan dinikmati oleh pembaca pada khususnya dan oleh masyarakat pada umumnya. Hal-hal yang diungkap oleh

Lebih terperinci

RAGAM TULISAN KREATIF. Muhamad Husni Mubarok, S.Pd., M.IKom

RAGAM TULISAN KREATIF. Muhamad Husni Mubarok, S.Pd., M.IKom RAGAM TULISAN KREATIF C Muhamad Husni Mubarok, S.Pd., M.IKom HAKIKAT MENULIS Menulis merupakan salah satu dari empat aspek keterampilan berbahasa. Menulis merupakan kemampuan menggunakan pola-pola bahasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pengarang, lahir melalui proses perenungan dan pengembaraan yang muncul dari

BAB I PENDAHULUAN. pengarang, lahir melalui proses perenungan dan pengembaraan yang muncul dari 1 BAB I PENDAHULUAN E. Latar Belakang Karya sastra merupakan salah satu sarana untuk mengungkapkan masalah manusia dan kemanusiaan. Sastra merupakan hasil cipta kreatif dari seorang pengarang, lahir melalui

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dihasilkannya sering kali berhasil memukau banyak orang, baik dari negara

BAB I PENDAHULUAN. dihasilkannya sering kali berhasil memukau banyak orang, baik dari negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Jepang adalah negara yang terkenal karena banyak hal, salah satunya adalah bidang hiburan. Baik budaya tradisional maupun modern yang dihasilkannya sering kali berhasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan teknologi dewasa ini telah memunculkan suatu

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Perkembangan teknologi dewasa ini telah memunculkan suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan teknologi dewasa ini telah memunculkan suatu perubahan dalam kehidupan sosial, budaya dan gaya hidup yang di sebabkan dari media massa baik media massa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. bukan hanya cerita khayal atau angan-angan dari pengarangnya, melainkan wujud

BAB I PENDAHULUAN. bukan hanya cerita khayal atau angan-angan dari pengarangnya, melainkan wujud BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra merupakan wujud gagasan pengarang dalam memandang lingkungan sosial yang berada di sekelilingnya dengan menggunakan bahasa yang indah. Sastra hadir sebagai hasil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, buku telah menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia, baik dalam bentuk komik, novel, maupun majalah. Akan tetapi, sungguh disayangkan hal ini

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan karya sastra banyak mengangkat kisah tentang kehidupan sosial,

BAB I PENDAHULUAN. dikarenakan karya sastra banyak mengangkat kisah tentang kehidupan sosial, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan sebuah karya yang dapat menghibur sekaligus dapat memberikan pelajaran hidup kepada para penikmatnya. Hal tersebut dikarenakan karya

Lebih terperinci

PENGARUH REALITAS SOSIAL TERHADAP KEHIDUPAN PASANGAN CAMPURAN DALAM NOVEL L HISTOIRE DE LA FEMME CANNIBALE KARYA MARYSE CONDÉ

PENGARUH REALITAS SOSIAL TERHADAP KEHIDUPAN PASANGAN CAMPURAN DALAM NOVEL L HISTOIRE DE LA FEMME CANNIBALE KARYA MARYSE CONDÉ PENGARUH REALITAS SOSIAL TERHADAP KEHIDUPAN PASANGAN CAMPURAN DALAM NOVEL L HISTOIRE DE LA FEMME CANNIBALE KARYA MARYSE CONDÉ Oleh : Rita Nurhasanah 180510070020 PROGRAM STUDI SASTRA PERANCIS FAKULTAS

Lebih terperinci

menyampaikan pesan cerita kepada pembaca.

menyampaikan pesan cerita kepada pembaca. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra merupakan karya seorang pengarang yang merupakan hasil dari perenungan dan imajinasi, selain itu juga berdasarkan yang diketahui, dilihat, dan juga dirasakan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORITIS. Penelitian tentang Kemampuan Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Telaga

BAB II KAJIAN TEORITIS. Penelitian tentang Kemampuan Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Telaga BAB II KAJIAN TEORITIS 2.1 Kajian Relevan Sebelumnya Penelitian tentang Kemampuan Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Telaga Mendeskripsikan Alur Novel Remaja Terjemahan Tahun Ajaran 2013 belum ada. Namun, ada

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra merupakan cerminan, gambaran atau refleksi kehidupan

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra merupakan cerminan, gambaran atau refleksi kehidupan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan cerminan, gambaran atau refleksi kehidupan yang terjadi di masyarakat ataupun kehidupan seseorang. Karya sastra merupakan hasil kreasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. 1 Drs. Atar Semi. Kritik Sastra, 1984: Ibid. Hal. 52.

BAB I PENDAHULUAN. Universitas Indonesia. 1 Drs. Atar Semi. Kritik Sastra, 1984: Ibid. Hal. 52. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesusastraan merupakan sebuah bentuk ekspresi atau pernyataan kebudayaan dalam suatu masyarakat. Sebagai ekspresi kebudayaan, kesusastraan mencerminkan sistem sosial,

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. sosialnya. Imajinasi pengarang dituangkan dalam bentuk bahasa yang kemudian

PENDAHULUAN. sosialnya. Imajinasi pengarang dituangkan dalam bentuk bahasa yang kemudian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Karya sastra merupakan imajinasi pengarang yang dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Imajinasi pengarang dituangkan dalam bentuk bahasa yang kemudian dinikmati oleh

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. keluarga yang harmonis. Dalam berumah tangga setiap pasang terkadang

PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. keluarga yang harmonis. Dalam berumah tangga setiap pasang terkadang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkawinan merupakan suatu tradisi dipersatukannya dua insan manusia dalam ikatan suci, dan keduanya ingin mencapai tujuan yang sama yaitu menjadi keluarga yang harmonis.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebuah karya sastra pada hakikatnya merupakan suatu pengungkapan kehidupan melalui bentuk bahasa.

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebuah karya sastra pada hakikatnya merupakan suatu pengungkapan kehidupan melalui bentuk bahasa. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sebuah karya sastra pada hakikatnya merupakan suatu pengungkapan kehidupan melalui bentuk bahasa. Karya sastra merupakan pengungkapan baku dari apa telah disaksikan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Karya sastra merupakan cermin dari sebuah realitas kehidupan sosial

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Karya sastra merupakan cermin dari sebuah realitas kehidupan sosial BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan cermin dari sebuah realitas kehidupan sosial masyarakat. Sebuah karya sastra yang baik akan memiliki sifat-sifat yang abadi dengan memuat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. analisis unsur intrinsiknya, yaitu unsur-unsur yang membangun karya sastra,

BAB I PENDAHULUAN. analisis unsur intrinsiknya, yaitu unsur-unsur yang membangun karya sastra, 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Sebuah karya sastra itu diciptakan pengarang untuk dibaca, dinikmati, ataupun dimaknai. Dalam memaknai karya sastra, di samping diperlukan analisis unsur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra merupakan suatu bentuk seni kreatif yang di dalamnya mengandung nilainilai

BAB I PENDAHULUAN. Karya sastra merupakan suatu bentuk seni kreatif yang di dalamnya mengandung nilainilai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra merupakan suatu bentuk seni kreatif yang di dalamnya mengandung nilainilai keindahan. Sebuah karya sastra bukan ada begitu saja atau seperti agak dibuat-buat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan yang mampu mengungkapkan aspek estetik baik yang berdasarkan aspek kebahasaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra dapat dilihat sebagai dokumen sosial budaya. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa karya sastra mencatat kenyataan sosial budaya suatu masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. manusia serta segala problema kehidupannya tidak dapat terpisah-pisah. Sastra

BAB I PENDAHULUAN. manusia serta segala problema kehidupannya tidak dapat terpisah-pisah. Sastra BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra dan kehidupan manusia merupakan satu kesatuan. Sastra dan manusia serta segala problema kehidupannya tidak dapat terpisah-pisah. Sastra muncul sebagai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki arti atau keindahan tertentu (Mihardja, 2012: 2). Dalam Kamus Istilah Sastra (dalam Purba, 2012: 2) Panuti Sudjiman

BAB 1 PENDAHULUAN. memiliki arti atau keindahan tertentu (Mihardja, 2012: 2). Dalam Kamus Istilah Sastra (dalam Purba, 2012: 2) Panuti Sudjiman 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra (sansekerta/shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sansekerta sastra, yang berarti teks yang mengandung instruksi atau pedoman, dari kata dasar

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. 12 Universitas Indonesia

BAB 2 LANDASAN TEORI. 12 Universitas Indonesia BAB 2 LANDASAN TEORI Kehidupan sosial dapat mendorong lahirnya karya sastra. Pengarang dalam proses kreatif menulis dapat menyampaikan ide yang terinspirasi dari lingkungan sekitarnya. Kedua elemen tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra Indonesia telah bermula sejak abad 20 dan menjadi salah satu bagian dari kekayaan kebudayaan Indonesia. Sastra Indonesia telah mengalami perjalanan

Lebih terperinci

PEDOMAN WAWANCARA. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian dengan

PEDOMAN WAWANCARA. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penyesuaian dengan PEDOMAN WAWANCARA I. Judul Faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian dengan pihak keluarga pasangan pada pria WNA yang menikahi wanita WNI. II. Tujuan Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Penelitian tentang kajian struktural-genetik belum ada yang meneliti di Kampus

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Penelitian tentang kajian struktural-genetik belum ada yang meneliti di Kampus BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Penelitian yang Relevan Sebelumnya Penelitian tentang kajian struktural-genetik belum ada yang meneliti di Kampus Universitas Negeri Gorontalo, khususnya pada Jurusan Bahasa dan

Lebih terperinci

Bab 5. Ringkasan. Humanisme merupakan aliran dalam filsafat yang memandang manusia itu

Bab 5. Ringkasan. Humanisme merupakan aliran dalam filsafat yang memandang manusia itu Bab 5 Ringkasan Humanisme merupakan aliran dalam filsafat yang memandang manusia itu bermartabat luhur, mampu menentukan nasib sendiri, dan dengan kekuatan sendiri mampu mengembangkan diri. Pandangan ini

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bukan semata-mata sebuah

I. PENDAHULUAN. Sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bukan semata-mata sebuah I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bukan semata-mata sebuah imitasi (Luxemburg, 1984: 1). Sastra, tidak seperti halnya ilmu kimia atau sejarah, tidaklah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melalui cipta, rasa, dan karsa manusia. Al-Ma ruf (2009: 1) menjelaskan

BAB I PENDAHULUAN. melalui cipta, rasa, dan karsa manusia. Al-Ma ruf (2009: 1) menjelaskan 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan salah satu bentuk seni yang diciptakan melalui cipta, rasa, dan karsa manusia. Al-Ma ruf (2009: 1) menjelaskan karya sastra merupakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Karya sastra muncul karena karya tersebut berasal dari gambaran kehidupan

BAB 1 PENDAHULUAN. Karya sastra muncul karena karya tersebut berasal dari gambaran kehidupan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra selalu muncul dari zaman ke zaman di kalangan masyarakat. Karya sastra muncul karena karya tersebut berasal dari gambaran kehidupan manusia yang

Lebih terperinci

CHAPTER I INTRODUCTION

CHAPTER I INTRODUCTION CHAPTER I INTRODUCTION 1.1 Background of the Study Psikologi sastra merupakan hubungan antara ilmu sastra dan psikologi. Menurut Rene Wellek dan Austin Warren, istilah psikologi sastra mempunyai empat

Lebih terperinci

89. Mata Pelajaran Sastra Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) Program Bahasa

89. Mata Pelajaran Sastra Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) Program Bahasa 89. Mata Pelajaran Sastra Indonesia untuk Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA) Program Bahasa A. Latar Belakang Mata pelajaran Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran sastra

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Sastra adalah produk kebudayaan (karya seni) yang lahir di tengah-tengah

BAB 1 PENDAHULUAN. Sastra adalah produk kebudayaan (karya seni) yang lahir di tengah-tengah BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra adalah produk kebudayaan (karya seni) yang lahir di tengah-tengah masyarakat dan pengarang sebagai pencipta karya sastra merupakan bagian dari masyarakat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemikiran, perasaan, ide dalam bentuk gambaran kongkrit yang menggunakan alat

BAB I PENDAHULUAN. pemikiran, perasaan, ide dalam bentuk gambaran kongkrit yang menggunakan alat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra adalah sebuah usaha untuk merekam isi jiwa sastrawannya yang berupa ungkapan pribadi manusia yang terdiri dari dari pengalaman, pemikiran, perasaan, ide

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Membaca karya sastra sama dengan mencermati permasalahan atau problem-problem sosial yang sering terjadi di dalam masyarakat. Permasalahan yang terdapat dalam sebuah

Lebih terperinci

31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) 31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) A. Latar Belakang Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sastra Melayu Tionghoa merupakan karya penulis peranakan Tionghoa yang berkembang sejak akhir abad ke-19 sampai pertengahan abad ke-20. Menurut Claudine

Lebih terperinci

BAB 2 DATA DAN ANALISA

BAB 2 DATA DAN ANALISA 4 BAB 2 DATA DAN ANALISA 2.1 Data Produk 2.1.1 Buku Dongeng / Cerita Rakyat Indonesia Berdasarkan pada kajian dari wikipedia bahasa Indonesia dijelaskan bahwa Definisi Dongeng adalah suatu kisah yang diangkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada

BAB I PENDAHULUAN. tentang orang lain. Begitu pula dalam membagikan masalah yang terdapat pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Wanita merupakan individu yang memiliki keterbukaan dalam membagi permasalahan kehidupan maupun penilaian mereka mengenai sesuatu ataupun tentang orang lain.

Lebih terperinci

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN. Novel Ritournelle de La Faim karya Le Clezio adalah representasi

BAB III KESIMPULAN DAN SARAN. Novel Ritournelle de La Faim karya Le Clezio adalah representasi BAB III KESIMPULAN DAN SARAN Novel Ritournelle de La Faim karya Le Clezio adalah representasi kehidupan pribadinya. Ia menjadikan pengalaman sang ibu sebagai inspirasi novel. Le Clezio juga memiliki beberapa

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI. Kajian pustaka memuat uraian sistematis tentang teori-teori dasar dan

BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI. Kajian pustaka memuat uraian sistematis tentang teori-teori dasar dan BAB II KAJIAN PUSTAKA, KONSEP, DAN LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka Kajian pustaka memuat uraian sistematis tentang teori-teori dasar dan konsep atau hasil-hasil penelitian yang ditemukan oleh peneliti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dengan hal-hal di luar karya sastra. Faktor sejarah dan lingkungan ikut

BAB I PENDAHULUAN. dengan hal-hal di luar karya sastra. Faktor sejarah dan lingkungan ikut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan karya imajinatif yang mempunyai hubungan erat dengan hal-hal di luar karya sastra. Faktor sejarah dan lingkungan ikut membentuk karya

Lebih terperinci

PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU KEGURUAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010

PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA DAN DAERAH FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU KEGURUAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA 2010 1 PENINGKATAN PEMBELAJARAN APRESIASI DONGENG DENGAN MEDIA VISUAL MANIPULATIF BONEKA PADA SISWA KELAS VII SMP MUHAMMADIYAH 1 GATAK, SUKOHARJO Tahun Ajar 2009 / 2010 SKRIPSI Untuk memenuhi sebagian persyaratan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Secara etimologi, sastra berasal dari bahasa latin, yaitu literatur

BAB I PENDAHULUAN. Secara etimologi, sastra berasal dari bahasa latin, yaitu literatur BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara etimologi, sastra berasal dari bahasa latin, yaitu literatur (litera=huruf atau karya tulis). Dalam bahasa Indonesia karya sastra berasal dari bahasa sansakerta,

Lebih terperinci

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS PENGALAMAN PRIBADI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK ALFA (EKSPERIMEN KUASI)

MODEL PEMBELAJARAN MENULIS PENGALAMAN PRIBADI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK ALFA (EKSPERIMEN KUASI) MODEL PEMBELAJARAN MENULIS PENGALAMAN PRIBADI DENGAN MENGGUNAKAN TEKNIK ALFA (EKSPERIMEN KUASI) Icah 08210351 Icah1964@gmail.com Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Sekolah Tinggi Keguruan

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang bersifat imajinatif yang lahir

II. TINJAUAN PUSTAKA. Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang bersifat imajinatif yang lahir II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Puisi Puisi merupakan salah satu bentuk karya sastra yang bersifat imajinatif yang lahir dari perasaan penyair dan diungkapkan secara berbeda-beda oleh masing-masing

Lebih terperinci

[95] Ketika Peran Ibu Diperangi Friday, 18 January :09

[95] Ketika Peran Ibu Diperangi Friday, 18 January :09 Meski disebut hari ibu, namun arah perjuangan perempuan yang diinginkan ternyata bukan pada penguatan dan pengoptimalkan peran strategis seorang ibu, melainkan justru mencerabut peran itu dari diri perempuan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam segala segi kehidupan, manusia tidak dapat terlepas dari bahasa. Manusia sebagai anggota masyarakat selalu berhubungan dengan anggota masyarakat yang lain.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kematangan atau kedewasaan yang menguntungkan untuk mempraktekkan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. kematangan atau kedewasaan yang menguntungkan untuk mempraktekkan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Kesiapan Kesiapan menurut kamus psikologi adalah tingkat perkembangan dari kematangan atau kedewasaan yang menguntungkan untuk mempraktekkan sesuatu (Chaplin, 2006,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra merupakan salah satu sarana dalam pembentukan karakter serta sebagai media untuk mencerdaskan manusia. Hal itu antara lain karena karya sastra merupakan cerminan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. Hal tersebut dapat dilihat

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia sejalan dengan perkembangan masyarakatnya. Hal tersebut dapat dilihat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kesusastraan pada umumnya selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Demikian halnya dengan kesusastraan Indonesia. Perkembangan kesusastraan Indonesia sejalan

Lebih terperinci

PENULISAN KARANGAN FIKSI * Oleh: ASHADI SIREGAR

PENULISAN KARANGAN FIKSI * Oleh: ASHADI SIREGAR PENULISAN KARANGAN FIKSI * Oleh: ASHADI SIREGAR 1. ASAS-ASAS KARANGAN FIKSI 1.1. Karangan fiksi, karangan khayali, karangan imajiner; yaitu karangan yang berasal dari dunia subyektif seseorang, atau ekspresi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. keduanya. Sastra tumbuh dan berkembang karena eksistensi manusia dan sastra

BAB 1 PENDAHULUAN. keduanya. Sastra tumbuh dan berkembang karena eksistensi manusia dan sastra 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sastra bukanlah hal yang asing bagi manusia, bahkan sastra begitu akrab karena dengan atau tanpa disadari terdapat hubungan timbal balik antara keduanya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial yang dapat bekerjasama serta

BAB I PENDAHULUAN. Manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial yang dapat bekerjasama serta BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia dilahirkan sebagai makhluk sosial yang dapat bekerjasama serta berkomunikasi dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya. Dengan demikian manusia

Lebih terperinci

Sifat dan Bentuk Karangan

Sifat dan Bentuk Karangan Sifat dan Bentuk Karangan by webmaster - Wednesday, December 02, 2015 http://anisam.student.akademitelkom.ac.id/?p=51 Karangan adalah bentuk tulisan yang mengungkapkan pikiran dan perasaan pengarang dalam

Lebih terperinci

07. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. A. Latar Belakang

07. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia. A. Latar Belakang 07. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia A. Latar Belakang Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasian dalam mempelajari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dituliskan, seperti menceritakan cerita yang bersifat imajinasi, dongeng, dan cerita

BAB I PENDAHULUAN. dituliskan, seperti menceritakan cerita yang bersifat imajinasi, dongeng, dan cerita 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam sebuah karya sastra, pengarang memberikan berbagai tipe cerita yang dituliskan, seperti menceritakan cerita yang bersifat imajinasi, dongeng, dan cerita fakta.

Lebih terperinci

KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI. Mata Pelajaran

KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI. Mata Pelajaran KURIKULUM 2004 STANDAR KOMPETENSI Mata Pelajaran BAHASA MANDARIN SEKOLAH MENENGAH ATAS dan MADRASAH ALIYAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL Jakarta, Tahun 2003 Katalog dalam Terbitan Indonesia. Pusat Kurikulum,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan sosial, dan karya sastra memiliki kaitan yang sangat erat. Menurut

BAB I PENDAHULUAN. kehidupan sosial, dan karya sastra memiliki kaitan yang sangat erat. Menurut 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Moral, kebudayaan, kehidupan sosial, dan karya sastra memiliki ruang lingkup yang luas di kehidupan masyarakat, sebab sastra lahir dari kebudayaan masyarakat. Aspek

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. atau kelompok individu terutama kelompok minoritas atau kelompok yang

BAB I PENDAHULUAN. atau kelompok individu terutama kelompok minoritas atau kelompok yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seseorang dapat bertutur dengan bahasa tertentu secara tiba-tiba dalam situasi penuturan baik bersifat formal maupun yang bersifat informal. Mengganti bahasa diartikan

Lebih terperinci

PEDOMAN POKOK NILAI-NILAI PERJUANGAN YAYASAN LBH INDONESIA DAN KODE ETIK PENGABDI BANTUAN HUKUM INDONESIA

PEDOMAN POKOK NILAI-NILAI PERJUANGAN YAYASAN LBH INDONESIA DAN KODE ETIK PENGABDI BANTUAN HUKUM INDONESIA PEDOMAN POKOK NILAI-NILAI PERJUANGAN YAYASAN LBH INDONESIA DAN KODE ETIK PENGABDI BANTUAN HUKUM INDONESIA Diterbitkan oleh Yayasan LBH Indonesia Jakarta, 1986 KETETAPAN No. : TAP 01/V/1985/YLBHI T e n

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sastra selalu identik dengan ungkapan perasaan dan pikiran pengarang

BAB I PENDAHULUAN. Sastra selalu identik dengan ungkapan perasaan dan pikiran pengarang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sastra selalu identik dengan ungkapan perasaan dan pikiran pengarang tentang hidup. Karya sastra yang diciptakan seorang pengarang adalah gambaran dan kepekaan terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah digilib.uns.ac.id BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Karya sastra merupakan hasil kreatif penulis yang berisi potret kehidupan manusia yang dituangkan dalam bentuk tulisan, sehingga dapat dinikmati,

Lebih terperinci

ANALISIS NILAI MORAL NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN KARYA ASMA NADIA DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI SMA

ANALISIS NILAI MORAL NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN KARYA ASMA NADIA DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI SMA ANALISIS NILAI MORAL NOVEL SURGA YANG TAK DIRINDUKAN KARYA ASMA NADIA DAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARANNYA DI SMA Oleh: Dwi Widiasih Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas

Lebih terperinci

ANALISIS STRUKTURALISME GENETIK DALAM NOVEL SINTREN KARYA DIANING WIDYA YUDHISTIRA

ANALISIS STRUKTURALISME GENETIK DALAM NOVEL SINTREN KARYA DIANING WIDYA YUDHISTIRA ANALISIS STRUKTURALISME GENETIK DALAM NOVEL SINTREN KARYA DIANING WIDYA YUDHISTIRA Skripsi ini Disusun Guna Memenuhi Persyaratan Mencapai Sarjana Strata 1 Jurusan Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia, dan

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN SASTRA ANAK MELALUI PEMAHAMAN CERITA FABEL

PEMBELAJARAN SASTRA ANAK MELALUI PEMAHAMAN CERITA FABEL PEMBELAJARAN SASTRA ANAK MELALUI PEMAHAMAN CERITA FABEL Vidya Mandarani Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Sidoarjo Kampus I Jl. Mojopahit 666B Sidoarjo Surel: vmandarani@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan dan kepentingannya. Seperti yang diibaratkan oleh Djafar Assegaf. sarana untuk mendapatkan informasi dari luar.

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan dan kepentingannya. Seperti yang diibaratkan oleh Djafar Assegaf. sarana untuk mendapatkan informasi dari luar. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kebutuhan manusia akan informasi dewasa ini menjadi sebuah kebutuhan yang tidak bisa dikesampingkan. Hal tersebut mendorong manusia untuk mencari informasi

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Sedangkan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Sedangkan BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah-langkah yang sistematis. Sedangkan metodologi adalah suatu pengkajian

Lebih terperinci

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA SISWA SD MENUANGKAN IDE DALAM MENULIS PROSA SEDERHANA: SEBUAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA SISWA SD MENUANGKAN IDE DALAM MENULIS PROSA SEDERHANA: SEBUAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA SISWA SD MENUANGKAN IDE DALAM MENULIS PROSA SEDERHANA: SEBUAH PENELITIAN TINDAKAN KELAS Sutarsih (Balai Bahasa Semarang) e-mail: sutabinde1@yahoo.com Abstrak Menulis menjadi

Lebih terperinci

31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs)

31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) 31. Mata Pelajaran Bahasa Indonesia untuk Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs) A. Latar Belakang Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional

Lebih terperinci

REPRESENTASI KRITIK SOSIAL DALAM ANTOLOGI CERPEN SENYUM KARYAMIN KARYA AHMAD TOHARI: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA

REPRESENTASI KRITIK SOSIAL DALAM ANTOLOGI CERPEN SENYUM KARYAMIN KARYA AHMAD TOHARI: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA REPRESENTASI KRITIK SOSIAL DALAM ANTOLOGI CERPEN SENYUM KARYAMIN KARYA AHMAD TOHARI: KAJIAN SOSIOLOGI SASTRA Angga Hidayat Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, FPBS, UPI anggadoanx10@rocketmail.com

Lebih terperinci

Bagian 1 AGUS PRIBADI 1

Bagian 1 AGUS PRIBADI 1 Bagian 1 Kiat 1. Menangkap Ide Kiat 2. Dari Mana Datangnya Ide? Kiat 3. Menggali Lokalitas Kiat 4. Memilih Judul Kiat 5. Menulis Paragraf Pembuka Kiat 6. Menulis Isi Cerpen Kiat 7. Menulis Paragraf Akhir

Lebih terperinci

PERAN ISTRI DALAM MEMOTIVASI PRESTASI KERJA SUAMI 1. Oleh: Prof.Dr. Farida Hanum 2

PERAN ISTRI DALAM MEMOTIVASI PRESTASI KERJA SUAMI 1. Oleh: Prof.Dr. Farida Hanum 2 PERAN ISTRI DALAM MEMOTIVASI PRESTASI KERJA SUAMI 1 Oleh: Prof.Dr. Farida Hanum 2 Pendahuluan Dalam bahasa Jawa istri atua suami disebut garwo atau sigaraning nyawa, artinya belahan nyawa (jiwa). Hal ini

Lebih terperinci

SILABUS PEMBELAJARAN

SILABUS PEMBELAJARAN Sekolah :... Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas/Semester : IX (Sembilan) / 1 (Satu) Standar : Mendengarkan 1. Memahami dialog interaktif pada tayangan televisi/siaran radio SILABUS PEMBELAJARAN 1.1

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suka maupun duka pasti di alami oleh manusia yang mau bekerja keras.

BAB I PENDAHULUAN. suka maupun duka pasti di alami oleh manusia yang mau bekerja keras. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Kebahagiaan merupakan hal yang sangat di impikan oleh seluruh keluarga di dunia ini. Dalam pencapaiannya, dibutuhkan pengorbanan yang sangat besar baik

Lebih terperinci

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. dalam dongeng-dongeng karya Charles Perrault. Kemudian penulis

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN. dalam dongeng-dongeng karya Charles Perrault. Kemudian penulis BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Pada bab ini, penulis ingin menyampaikan kesimpulan dari hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai analisis tokoh antagonis dalam dongeng-dongeng karya Charles Perrault.

Lebih terperinci

METODOLOGI PENULISAN ILMIAH

METODOLOGI PENULISAN ILMIAH METODOLOGI PENULISAN ILMIAH Pertemuan Ke-2 Karya Ilmiah :: Noor Ifada :: noor.ifada@if.trunojoyo.ac.id S1 Teknik Informatika-Unijoyo 1 POKOK BAHASAN Pengertian Karya Ilmiah Jenis Karya Ilmiah Sikap Ilmiah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. pembagian tersebut. Sastra pada hakikatnya memberikan banyak pengajaran,

BAB 1 PENDAHULUAN. pembagian tersebut. Sastra pada hakikatnya memberikan banyak pengajaran, 1 BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sastra merupakan sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan manusia. Hal ini disebabkan karena dalam pembahasan pembuatan sebuah karya sastra selalu mengaitkan

Lebih terperinci

Bab I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha

Bab I PENDAHULUAN. Universitas Kristen Maranatha Bab I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pada awalnya sebelum muncul huruf, peradaban manusia lebih dulu mengenal herogliph (simbol) di dinding goa - goa. Bahkan bangsa Mesir pun yang dikenal sebagai

Lebih terperinci

MODUL BAHASA INDONESIA CERITA PENDEK

MODUL BAHASA INDONESIA CERITA PENDEK YAYASAN WIDYA BHAKTI SEKOLAH MENENGAH ATAS SANTA ANGELA TERAKREDITASI A Jl. Merdeka No. 24 Bandung 022. 4214714 Fax.022. 4222587 http//: www.smasantaangela.sch.id, e-mail : smaangela@yahoo.co.id 043 URS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Poligami berasal dari kata poly atau polus dalam bahasa Yunani, yang

BAB I PENDAHULUAN. Poligami berasal dari kata poly atau polus dalam bahasa Yunani, yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Poligami berasal dari kata poly atau polus dalam bahasa Yunani, yang berarti banyak dan gamein atau gamis yang berarti kawin atau perkawinan. Poligami seringkali dimaknai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berperan bagi kehidupan seseorang dikarenakan intensitas dan frekuensinya yang

BAB I PENDAHULUAN. berperan bagi kehidupan seseorang dikarenakan intensitas dan frekuensinya yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada dasarnya manusia sudah melakukan komunikasi sejak ia dilahirkan. Manusia melakukan proses komunikasi dengan lawan bicaranya baik dilingkungan masyarakat,

Lebih terperinci

1.1 Mob Papua dalam Penelitian Sastra Lisan

1.1 Mob Papua dalam Penelitian Sastra Lisan Bab I Pendahuluan 1.1 Mob Papua dalam Penelitian Sastra Lisan Bagian ini memuat alasan ilmiah penulis untuk mengkaji mob Papua sebagai bagian dari karya sastra lisan. Kajian karya sastra lisan berarti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. estetik dan keindahan di dalamnya. Sastra dan tata nilai kehidupan adalah dua fenomena

BAB I PENDAHULUAN. estetik dan keindahan di dalamnya. Sastra dan tata nilai kehidupan adalah dua fenomena BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Karya sastra merupakan karya seni, sebagai karya seni yang mengandung unsur estetik dan keindahan di dalamnya. Sastra dan tata nilai kehidupan adalah dua fenomena sosial

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Periode remaja merupakan periode peralihan antara masa anak-anak dan dewasa. Periode remaja merupakan masa kritis karena individu yang berada pada masa tersebut

Lebih terperinci