RETALIASI DALAM KERANGKA PENYELESAIAN SENGKETA WTO

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "RETALIASI DALAM KERANGKA PENYELESAIAN SENGKETA WTO"

Transkripsi

1 RETALIASI DALAM KERANGKA PENYELESAIAN SENGKETA WTO Oleh: Freddy Josep Pelawi I. PENDAHULUAN Retaliasi atau tindakan pembalasan di bidang perdagangan antar Negara dalam kerangka WTO dilakukan oleh suatu Negara sebagai akibat dari tidak tercapainya suatu kesepakatan dalam proses penyelesaian sengketa. Pengertian yang terdapat dalam Ketentuan WTO 1 retaliasi dilakukan sebagai upaya terakhir ketika dalam suatu penyelesaian sengketa, upaya pemenuhan konsesi tidak dapat tercapai dalam jangka waktu yang telah ditentukan. 2 Dalam praktek di WTO, instrument retaliasi sungguh jarang dilakukan oleh Negara anggota. Hal ini dikarenakan banyak hal yang melatarbelakangi tidak dilakukannya retaliasi di antara anggota WTO. Salah satu alasan yang mungkin dapat diterima adalah tingginya nuansa politis dalam penerapan retaliasi suatu negara anggota kepada negara anggota lainnya. Sebelum WTO terbentuk pada tahun 1995, di dalam kerangka GATT telah dikenal pula instrumen 1 Retaliation: Action taken by a country whose exports are adversely affected by the raising of tariffs or other trade restricting measures by another country. The GATT permits an adversely affected contracting party (CP) to impose limited restraints on imports from another CP that has raised its trade barriers (after consultations with countries whose trade might be affected). In theory, the volume of trade affected by such retaliatory measures should approximate the value of trade affected by the precipitating change in import protection. retaliasi. Di dalam kerangka GATT retaliasi berarti adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh suatu negara dimana ekspor dari negara tersebut terkena imbas kenaikan tarif masuk dan hambatan perdagangan lainnya yang dilakukan oleh pemerintah negara lain. GATT mengijinkan negara yang merasa dirugikan untuk melakukan tindakan pembalasan secara terbatas kepada negara lain yang menjadi penyebab kerugian perdagangan, namun hal ini dilakukan setelah konsultasi dengan negara-negara anggota lainnya, atau negara-negara yang mengalami nasib yang sama akibat tindakan dari suatu negara tersebut. Dalam teorinya volume perdagangan yang terkena tindakan retaliasi nilainya harus diperkirakan sama dengan nilai proteksi impor yang diberlakukan oleh negara yang mana retaliasi ingin diterapkan. Menurut Pasal 22 DSU Agreement WTO dikemukakan bahwa ganti kerugian dan penangguhan konsesi atau kewajiban lainnya merupakan tindakan sementara yang diberikan apabila rekomendasi dan keputusan tidak dilaksanakan dalam jangka waktu yang wajar. Bila permintaan ganti kerugian ini tidak dapat dilaksanakan oleh pihak yang tergugat maka pihak penggugat dapat melakukan tindakan retaliasi sebagaimana yang diatur dalam pasal 22 (3) DSU Agreement. Dalam melakukan retaliasi, suatu negara dapat melakukan pemberlakuan bea masuk tambahan berkaitan dengan barang yang menjadi objek sengketa. 2 Lihat Artikel 22 ayat 1, DSU Agreement 1 EDISI-46/KPI/2007

2 II. PENGALAMAN NEGARA LAIN DALAM MELAKUKAN RETALIASI Kasus Banana I Kasus Buah Pisang ini dimulai persengketaannya pada tahun 1995, pada tahun pertama WTO terbentuk, namun kecaman terhadap kebijakan European Union dalam hal perdagangan pisang telah dimulai jauh sebelum tahun Uni Eropa memiliki kebijakan impor yang sangat rumit dalam bidang perdagangan pisang dimana Uni Eropa memberikan kekhususan dalam impor pisang dari negara-negara eks koloni negara yang tergabung dalam Uni Eropa, juga memberikan perlakukan khusus kepada importir pisang dari negara-negara eks koloni tersebut. Pada bulan September 1995, Amerika Serikat, Guatemala, Meksiko dan Honduras mengajukan permintaan konsultasi kepada Badan Penyelesaian Sengketa WTO (WTO Dispute Settlement Body/DSB). Ekuador kemudian menggabungkan diri dengan ketiga negara tadi untuk mengajukan tuntutan kepada Uni Eropa. Menanggapi permintaan dari negara-negara anggotanya, WTO kemudian membentuk Panel dan mulai bekerja menangani permasalahan peraturan impor pisang Uni Eropa ini. Panel yang telah dibentuk tersebut kemudian mengeluarkan laporan yang isinya secara umum menyatakan bahwa Uni Eropa dengan peraturan impornya telah melanggar beberapa peraturan yang diamanatkan dalam Ketentuan WTO. Menanggapi laporan dari Panel tersebut Uni Eropa kemudian mengajukan banding ke Appelate Body atas laporan dan kesimpulan yang dihasilkan oleh Panel. Di tingkat banding di Appelate Body, ternyata Appelate Body mendukung keputusan yang telah dihasilkan oleh Panel, dan memperkuat putusan tersebut di dalam Laporan Appelate Body. Appelate Body dalam laporannya menyatakan bahwa memang benar EU telah menerapkan kebijakan impor yang melanggar beberapa ketentuan dalam WTO. Dengan adanya keputusan tersebut maka Uni Eropa harus membenahi peraturannya untuk dapat selaras dengan ketentuan dalam WTO. Setelah melalui beberapa tahap perundingan dan sidang Panel serta Appelate Body yang kemudian dilanjutkan ke tahap arbitrase untuk menentukan jangka waktu yang diberikan kepada Uni Eropa untuk menyelaraskan peraturan impornya dalam hal buah pisang. Keputusan Arbitrase WTO memberikan jangka waktu 15 bulan atau bagi Uni Eropa untuk memperbaiki ketentuan impornya atau paling lambat hingga bulan Januari Uni Eropa berargumentasi bahwa pelaksanaan pengaturan yang akan disesuaikan dengan keputusan DSB baru akan dilaksanakan setelah 15 bulan. Terhadap argumentasi Uni Eropa tersebut DSB menolak penafsiran itu dan meminta Uni Eropa untuk segera melakukan penyesuaian. Dalam kasus lain Uni Eropa juga memberlakukan kekhususan impor buah pisang dari negara - negara bekas koloni Uni Eropa di Amerika Latin. Hal ini menuai protes dari negara-negara lain termasuk 2 EDISI-46/KPI/2007

3 Amerika Serikat. Amerika Serikat bersama dengan negara-negara pengekspor buah pisang seperti Guatemala, Mexico, dan Honduras mengajukan konsultasi terhadap kebijakan Uni Eropa tersebut ke Dewan Panel Dispute Settlement Body. Dalam putusannya, Dewan Panel memutuskan bahwa yang dilakukan oleh Uni Eropa bertentangan dengan prinsip dan ketentuan WTO, khususnya mengenai prinsip Most Favoured Nation. Uni Eropa mengajukan banding ke Appelate Body WTO, dan dalam tingkatan banding ini, Appleate Body juga mendukung keputusan Panel dan menyatakan bahwa Uni Eropa harus mengubah kebijakannya dalam impor buah pisang tersebut di atas. Dalam kasus buah pisang, Uni Eropa kemudian mengendurkan kebijakannya, dan memberikan kesempatan bagi negara lain termasuk Amerika Serikat untuk bisa mengekspor buah pisang ke negara - negara anggota Uni Eropa. namun permasalahan tidak selesai sampai disitu. Amerika Serikat beserta negara - negara lain yang menggugat Uni Eropa dalam menerapkan kebijakannya mengajukan permintaan kompensasi kepada Uni Eropa berkaitan dengan penerapan kebijakan Uni Eropa dalam melarang impor buah pisang dari negaranegara penfggugat tadi dan hanya membolehkan impor buah pisang dari negara - negara koloninya di Amerika Latin. Kompensasi yang diminta oleh Amerika Serikat beserta dengan negara - negara penggugat lainnya adalah dalam bentuk imbalan yang jumlahnya sebesar kerugian potensial yang dialami oleh negaranegara penggugat selama Uni Eropa memberlakukan kebijakannya tersebut. Besaran imbalan yang diminta oleh Amerika Serikat tersebut diajukan setelah melalui serangkaian proses yang diajukan oleh Amerika Serikat kepada Dispute Settlement Body. DSB dalam hal ini melalui keputusan arbitrase menentukan bahwa permintaan Amerika Serikat terhadap Uni Eropa tersebut masuk akal dan selanjutnya Amerika Serikat memberlakukan pengenaan tarif tersebut kepada beberapa produk pilihan yang diimpor dari Uni Eropa. Amerika Serikat kemudian meminta konsesi dagang kepada Uni Eropa sebesar US$ 520 Juta. Terhadap hal ini Uni Eropa menyatakan untuk membawa tuntutan Amerika Serikat tersebut ke forum arbitrase. Dalam forum arbitrase, para arbitrator memutuskan untuk mengabulkan permintaan konsesi yang diajukan oleh Amerika Serikat namun dengan jumlah yang dikoreksi yaitu menjadi sebesar US$ 191,4 juta. Terhadap jumlah tersebut Amerika Serikat pada tanggal 19 April 1999 mengenakan tambahan tarif sebesar 100% untuk beberapa produk impor dari Uni Eropa dalam suatu daftar produk dimana pengenaan tambahan tarif tersebut memiliki total nilai sebesar US$ 191,4 juta. Daftar produk yang dikenakan tarif tambahan oleh Amerika Serikat ini adalah suatu bentuk retaliasi yang dijalankan oleh Amerika Serikat mengingat sengketa yang dilakukan antara Uni Eropa dan negara mitra dagang lainnya tidak menghasilkan kesepakatan bahwa Uni Eropa akan 3 EDISI-46/KPI/2007

4 merevisi ketentuan impor dagangnya khusus untuk produk buah pisang. Pejabat perdagangan Amerika Serikat dalam memilih daftar produk yang akan dikenakan tambahan tarif retaliasi dengan cara menentukan daftar produk yang berasal dari Uni Eropa dimana produk-produk tersebut adalah produk yang berkaitan dengan masalah perdagangan buah pisang. Pengenaan tarif yang tinggi yang dilakukan oleh Amerika Serikat akan menyebakan gangguan dalam total ongkos produksi dan dengan demikian akan menyebabkan kerugian di pihak eksportir Amerika Serikat. Negara Uni Eropa yang paling terkena dampak dari pengenaan tarif retaliasi ini adalah Inggris dan Perancis. Carousel Retaliation Mekanisme dalam melakukan retaliasi oleh Amerika Serikat dimana pejabat perdagangan memilih dan menentukan produk yang akan diretaliasi dari negara pengekspor dikenal sebagai carousel retaliation. Dengan carousel retaliation ini, maka Aerika Serikat telah memiliki peraturan nasional untuk menjalankan hak untuk melakukan tindakan retaliasi di bidang perdagangan internasional yang diatur dalam pasal 22 DSU Agreement khususnya pasal 22 ayat 3. Kasus Hormon Beef Amerika Serikat dalam melakukan retaliasi dengan Uni Eropa dalam kasus Hormon Beef, dimana kasus ini berkaitan dengan Agreement Sanitary dan Phitosanitary Agreement. Dalam kasus tersebut, Amerika Serikat komplain terhadap Uni Eropa yang selama beberapa tahun melakukan proteksi terhadap produk daging sapi yang berasal dari Amerika Serikat. Produk daging sapi dari Amerika Serikat tidak diperbolehkan masuk ke dalam pasaran Uni Eropa berkaitan dengan ketentuan hukum Uni Eropa dalam bidang Sanitary dan Phitosanytary. Berdasar pada ketentuan tersebut, Uni Eropa menilai bahwa produk sapi asal Amerika Serikat tidak sesuai dengan kualifikasi atau standar yang diberlakukan dalam hukum uni eropa khususnya berkenaan dengan tingkat kesehatan yang diatur dalam agreement sanitary dan phitosanitary. Uni Eropa mengemukakan bahwa produk sapi asal amerika serikat yang disuntik dengan hormon pertumbuhan berbahaya bagi kesehatan manusia, dengan alasan tersebut, maka Uni Eropa menutup impor produk sapi asal Amerika Serikat Pada bulan Januari 1996, Amerika Serikat mengajukan konsultasi dengan Uni Eropa terkait dengan kebijakan penggunaan hormon dalam bidang peternakan. Uni Eropa dalam kebijakannya melarang penggunaan hormon dalam bidang perternakan menyebabkan daging sapi yang dijual ke Uni Eropa yang berasal dari ternak yang telah diberikan hormon dilarang untuk masuk. Terhadap kebijakan ini Amerika Serikat mengajukan keberatan dan menggugat Uni Eropa ke Badan Penyelesaian Sengketa WTO dengan mengajukan permohonan pembentukan Panel. Dalam kasus ini Kanada juga menggugat Uni Eropa atas kebijakan yang sama. Dalam laporan Panel, dikemukakan bahwa Uni Eropa telah 4 EDISI-46/KPI/2007

5 menjalankan kebijakan yang tidak sejalan dengan Ketentuan WTO dalam Agreement on Sanitary and Phytosanitary. Terhadap laporan Panel tersebut Uni Eropa mengajukan keberatan dan melakukan tindakan banding ke Appelate Body. Di tingkat Banding, Appelate Body sependapat dengan beberapa keputusan yang ada dalam laporan Panel namun tidak setuju dengan beberapa hal yang lain dalam laporan tersebut. Badan Penyelesaian Sengketa di dalam laporan keputusannya mengadopsi keputusan yang dihasilkan di tingkat Appelate Body dan mengadopsi keputusan Panel yang telah dimodifikasi. Untuk melaksanakan hasil keputusan panel tersebut maka ditunjuk badan arbitrase untuk memutuskan jangka waktu yang pantas untuk mengimplementasikan keputusan panel tersebut oleh Uni Eropa. Badan arbitrase memutuskan bahwa Uni Eropa harus menjalankan keputusan Badan Penyelesaian Sengketa dalam jangka waktu 15 (lima belas) bulan atau hingga bulan Mei Satu bulan sebelum jangka waktu itu berakhir, Uni Eropa mengatakan bahwa pihak Uni Eropa mungkin tidak dapat memenuhi ketentuan yang ditetapkan oleh DSB dan ingin menawarkan untuk mengajukan kompensasi pada saat deadline berakhir. Amerika Serikat meminta kewenangan untuk melakukan penundaan konsesi sebesar US$202 Juta. Terhadap permintaan Amerika Serikat ini, Uni Eropa mengajukan keberatan dan meminta kepada Badan Penyelesaian Sengketa untuk menetapkan besaran konsesi yang adil. Badan Penyelesaian Sengketa memberikan kewenangan kepada arbitrase untuk menentukan besaran konsesi tersebut dan badan arbitrase memutuskan besaran senilai US$ 116,8 juta, selanjutnya Badan Penyelesaian Sengketa mengabulkan penundaan konsesi dengan jumlah tersebut kepada Amerika Serikat. Pada tanggal 27 Juli 1999 US Trade Relation mengumumkan bahwa Amerika Serikat menerapkan kenaikan tariff impor sejalan dengan hasil keputusan DSB. Jarak antara kasus Banana dan kasus Hormon Beef ini sekitar tiga setengah tahun. III.Indonesia dan Retaliasi Indonesia dalam menggunakan mekanisme penyelesaian sengketa di WTO juga pernah menjadi penggugat utama dalam kasus dengan Korea Selatan (Korea) berkenaan dengan penerapan bea masuk anti dumping oleh Korea terhadap produk certain paper asal Indonesia yang diimpor oleh importir Korea. Melalui proses konsultasi yang dimulai pada tanggal 7 Juli 2004, Indonesia meminta Korea dalam hal ini Korean Trade Commission (KTC) untuk mencabut bea tambahan anti dumping karena Indonesia memandang tindakan tersebut tidak sesuai dengan aturan anti dumping yang berlaku sesuai dengan ketentuan WTO. Proses konsultasi yang terjadi secara bilateral Indonesia Korea tidak ternyata tidak berhasil mencapai kesepakatan. Indonesia kemudian mengajukan sengketa ini kepada DSB WTO dan meminta dibentuknya Panel untuk meneliti 5 EDISI-46/KPI/2007

6 kasus anti dumping tersebut. Pada tanggal 28 Oktober 2005, Tim Panel memutuskan bahwa penerapan bea anti dumping oleh Korea terhadap produk certain paper asal Indonesia tidak sesuai dengan ketentuan ketentuan yang ada dalam AD Agreement WTO 3. Korea disarankan oleh Panel untuk merevisi aturannya dan melakukan perhitungan kembali bea masuk anti dumping yang dikenakan ke perusahaan kertas asal Indonesia. Hal ini menunjukkan kemenangan Indonesia dalam kasus ini. Kasus ini belum selesai, dan Indonesia tetap terus berusaha di forum WTO untuk memaksa Korea melaksanakan rekomendasi Panel WTO. Dalam ketentuan DSB Korea diberikan waktu untuk melaksanakan rekonmendasi panel dan dalam hal ini Korea telah melewati batas waktu yang ditentukan dalam menjalankan rekomendasi Panel. Pada tanggal 22 Oktober 2007 Sidang DSB WTO telah mengesahkan Laporan Panel yang kedua (Pelaksanaan Artikel 21.5 Dispute Settlement Understanding) yang isinya a.l. menegaskan kembali bahwa Korea telah melakukan penyimpangan terhadap Perjanjian Anti Dumping WTO dalam menetapkan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap produk kertas asal Indonesia. Dalam Sidang tersebut, Indonesia menyatakan bahwa apabila Korea tidak melaksanakan hasil Panel (menghentikan pengenaan BMADnya), maka Indonesia akan menggunakan hak untuk melakukan tindakan retaliasi terhadap Korea. 3 Lihat dokumen WT/DS312 di Korea tampaknya masih tidak mau melaksanakan hasil Panel tersebut diatas. Hal ini terbukti dengan adanya KTC s Implementation Panel Report (draft) yang disampaikan secara bersamaan kepada Sinar Mas Group (SMG) dan pemerintah Indonesia (Atase Perdagangan Seoul) dengan surat tertanggal 5 Nopember KTC minta agar pihak SMG menanggapi draft tersebut selambat-lambatnya tanggal 12 Desember IV. Penutup Indonesia sepanjang 12 tahun keikutsertaannya dalam WTO belum pernah menggunakan instrumen retaliasi guna membela kepentingannya dalam lingkup perdagangan internasional. Dalam kasus Indonesia Korea, juga telah terlihat perkembangan kasus yang menunjukkan Korea belum mau melaksanakan rekomendasi Panel WTO sesuai dengan harapan Indonesia. Hal ini memungkinkan Indonesia untuk melakukan tindakan pembalasan. Namun hal ini perlu pengkajian lebih lanjut dan juga persiapan matang dari pihak Indonesia. Retaliasi dalam praktek pelaksanaannya sangat rumit dan baru beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa saja yang sudah berhasil melaksanakannya. Indonesia sebagai negara berkembang dan ingin memajukan perekonomiannya, khususnya dalam hal ini di bidang perdagangan harus memiliki sikap tegas dalam pergaulan internasional. Dimana posisi 6 EDISI-46/KPI/2007

7 Indonesia yang telah menunjukkan posisi yang kuat dalam sengketa perdagangan internasional dengan Korea dan juga dengan negara lain di dunia harus secara obyektif dimanfaatkan. Meskipun unsur politis sangat kuat mewarnai tiap kebijakan dari negara berkembang, dalam hal ini termasuk Indonesia, namun di lain sisi keberhasilan Indonesia dalam proses ini akan memberikan stigma positif terhadap posisi Indonesia dalam dunia perdagangan internasional, khususnya dalam lingkup WTO. Persiapan yang perlu dilakukan oleh Indonesia dalam menghadapi keadaan di masa datang dimana retaliasi mungkin akan dilakukan adalah persiapan dalam bentuk instrumen perundang-undangan khususnya di bidang bea dan cukai yang harus jelas dan tegas serta peraturan pelaksanaan dan mekanisme penanganan permasalahan retaliasi. Dengan instrumen perundang-undangan yang lengkap dan penegakan hukum yang jelas akan membuat posisi Indonesia menjadi siap dalam menghadapi mekanisme penyelesian sengketa WTO dan khususnya bila hal retaliasi menjadipilihan untuk dilakukan guna membela kepentingan bangsa di dunia perdagangan internasional. 7 EDISI-46/KPI/2007

8 APEC - IAP PEER REVIEW I. Latar Belakang Oleh : Werdi Ariyani Pertemuan pemimpin anggota Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) pada tahun 1995 di Osaka, Jepang telah menghasilkan suatu Declaration for Action yang salah satu isinya mengenai Rencana Aksi (Action Plan). Rencana aksi tersebut merupakan prinsip-prinsip fundamental untuk menuntun anggota ekonomi APEC menuju pencapaian liberalisasi dan fasilitasi yaitu comprehensiveness; WTO consistency; comparability; non -discrimination; transparency; stand-still simultaneous start; continuous process, and differentiated time tables; fleksibility; dan cooperation. Hal tersebut sejalan dengan citacita APEC dimana pada pertemuan pemimpin APEC di Blake Island (1993) dengan membentuk visi komunitas APEC dan pada pertemuan Bogor (1994) menghasilkan maksud dan tujuan spesifik yang hendak dicapai APEC yaitu: perdagangan dan investasi bebas dan terbuka pada tahun 2010 bagi ekonomi maju dan tahun 2020 bagi ekonomi berkembang; perluasan dan percepatan program fasilitasi perdagangan dan investasi; serta intensif pengembangan kerjasama untuk pertumbuhan yang berkelanjutan, pembangunan seimbang dan stabilitas nasional. Untuk mewujudkan visi dan cita-cita APEC tersebut maka diadopsi Osaka Action Agenda (OAA) yang merupakan hasil pertemuan APEC Economic Leaders di Osaka, Jepang, yang telah sepakat menggunakan strategic roadmap yaitu yang dikenal dengan Osaka Action Agenda (OAA) atau Agenda Aksi Osaka. Osaka Action Agenda tersebut sebagai pengejawantahan kemauan politik bersama untuk mewujudkan komitmen APEC terhadap tujuantujuan Bogor. Osaka Action Agenda ini sebagai template atau format untuk kerja APEC di masa-masa mendatang sejalan dengan tujuan daripada APEC itu sendiri yang mencakup tiga pilar yaitu liberalisasi investasi dan perdagangan; fasilitasi; dan kerjasama teknik dan ekonomi. Untuk mencapai pembangunan ekonomi yang berkelanjutan di kawasan APEC tersebut tergantung pada aksiaksi yang dilakukan oleh masingmasing anggota. Untuk itu mengingat karakter APEC yang sangat bermacam - macam dan luasnya cakupan kegiatan APEC, dan untuk mencapai tujuan jangka panjang investasi dan perdagangan bebas dan terbuka melalui berbagai cara, maka APEC sepakat untuk : mendorong liberalisasi di kawasan; melakukan rencana-rencana kolektif untuk mempercepat fasilitasi dan liberalisasi; dan menstimulasi serta berkontribusi pada liberalisasi global. untuk itu anggota APEC sepakat melakukan rencana-rencana aksi (Action Plans) yang dimulai pada Januari 1997 dan rencana aksi tersebut direview setiap tahun yang disebut dengan Peer Review. II. Individual Action Plan Rencana Aksi Individu Atau Dalam memenuhi tujuantujuan Bogor atau yang biasa disebut dengan Bogor Goals untuk mencapai investasi dan perdagangan yang 8 EDISI-46/KPI/2007

9 bebas dan terbuka di kawasan Asia- Pasifik, anggota ekonomi APEC dapat melaporkan kemajuan dalam mencapai tujuan perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka melalui Individual Action Plans (IAPs) atau rencana aksi individu. Individual Action Plan adalah suatu laporan tahunan yang memuat langkah-langkah unilateral menuju tercapainya Bogor Goals yaitu perdagangan yang bebas dan terbuka pada tahun 2010 untuk ekonomi maju dan 2020 untuk ekonomi berkembang. Aksi-aksi yang dilakukan ekonomi adalah untuk liberalisasi dan fasilitasi perdagangan dan investasi di kawasan untuk 15 bidang aksi kebijakan sesuai dengan Osaka Action Agenda. Kelima belas bidang aksi kebijakan tersebut meliputi sektor: tariff, non-tariff measures, services, investment, standards and conformance, customs procedures, intellectual property, competition policy, government procurement, deregulation/regulatory review, WTO obligations (termasuk rules of origin), dispute mediation, mobility of business people dan information gathering analysis. III. Tujuan Individual Action Plan (IAP) Tujuan dari penyusunan IAP adalah untuk : 1. Meningkatkan transparansi ekonomi APEC untuk investasi dan perdagangan, tersedianya informasi untuk kalangan bisnis dan fasilitasi investasi dan perdagangan intra-apec; 2. Berkaitan dengan laporan tahunan dan proses peer review, IAP mendorong ekonomi APEC untuk memfokuskan pada isu-isu kebijakan yang perlu disampaikan untuk mencapai Bogor Goals; 3. IAP menggambarkan usaha investasi dan perdagangan APEC untuk mendorong liberalisasi ekonomi non-apec khususnya dalam proses WTO. 4. IAP juga memberi kesempatan kepada ekonomi APEC untuk mempelajari pengalaman fasilitasi dan liberalisasi lainnya untuk membantu proses pembuatan kebijakan. Dalam proses penyusunan IAP informasi yang disampaikan dan tujuan yang hendak dicapai harus jelas, spesifik dan komprehensif selama periode laporan aksinya dan aksi-aksi yang akan dilakukan di masa-masa mendatang. Untuk mencapai standar-standar yang diinginkan tersebut dapat mengikuti petunjuk-petunjuk berikut : 1. Positive language and tone, memfokuskan pada perkembangan dan permintaan dari pada komitmen dan hambatan ; 2. Transparency, termasuk informasi yang relevan untuk kalangan bisnis seperti aturan operasional; 3. Specificity, laporan yang spesifik dan aksi-aksinya nyata. 4. Comprehensiveness, laporan memuat semua bidang baik yang sudah berlaku maupun sifatnya emergency. Aksi-aksi yang diambil dalam fora bilateral, regional dan multilateral harus dilaporkan. 5. Conciseness, menyediakan gambaran detil mengenai aksi yang diambil. 9 EDISI-46/KPI/2007

10 6. Consistency, kategori laporan yang digunakan dalam laporan tahunan dan dasar informasi harus sama. 7. Standardised approach, kategori ini bukan merupakan benchmarks dan hal tersebut tidak menggambarkan bahwa setiap ekonomi akan diposisikan untuk melaporkan seluruh kategori setiap tahun. IV. Chapter IAP Chapter IAP dipersiapkan dengan menggunakan standard laporan yang telah disetujui bersama yaitu dikembangkan dalam kaitan dengan sub-fora Committee on Trade and Investment (CTI) dan hanya dapat divariasikan oleh pejabat Senior APEC berdasarkan rekomen-dasi CTI. Topik-topik yang tercakup dalam chapter tersebut merefleksi-kan bidang-bidang aksi yang di-identifikasikan dalam Osaka Action Agenda tahun Pejabat senior APEC menyetujui aksi-aksi yang ter-cakup dalam IAP. Setiap chapter setidaknya memuat tiga bagian yaitu: 1. Overview atau Summary Statement, 2. Laporan Tahunan, dan 3. Kemajuan yang dicapai sejak tahun 1996 V. Jadwal laporan IAP IAP memuat aksi-aksi yang diambil selama periode laporan tahunan dan perlu dilengkapi dengan presentasi pada pertemuan tingkat menteri APEC dan pertemuan para pemimpin APEC pada bagian akhir setiap pertemuan tahunan APEC (biasanya setelah pertemuan SOM ketiga setiap tahunnya). IAP yang lengkap disampaikan pada Sekretariat APEC untuk dipublikasi-kan dalam e-iap Homepage tidak lebih dari satu bulan sebelum per-temuan tingkat menteri APEC. VI. IAP Peer Review Sesuai dengan konsensus bersama anggota APEC, Peer Review IAP dimaksudkan untuk mewujudkan prinsip transparansi dan mengupayakan agar setiap kebijakan perekonomian/perdagangan dilakukan sejalan dengan ketentuanketentuan perdagangan multilateral (WTO) dan tujuan APEC itu sendiri yaitu liberalisasi perdagangan dan investasi, fasilitasi perdagangan dan kerjasama ekonomi dan teknik. Proses IAP Peer Review hampir sama dengan pelaksanaan TPRM WTO. Peer Review ini juga dapat dimanfaatkan oleh ekonomi yang akan di-review untuk mempromosikan kebijakan perdagangan dan ekonomi yang sedang dan telah dilakukan dalam mencapai liberalisasi perdagangan dan investasi. VII.Tujuan IAP Peer Review Tujuan dari IAP Peer Review adalah untuk menilai kemajuan yang dicapai dari suatu ekonomi dalam upayanya mencapai tujuan Bogor. Diantaranya adalah pelaksanaan komitmen ekonomi di WTO sejak ekonomi anggota APEC menjadi anggota WTO dinilai merupakan salah satu dorongan utama bagi kemajuan suatu ekonomi dalam upaya mencapai tujuan Bogor di bidang liberalisasi perdagangan dan investasi. Liberalisasi perdagangan dan investasi di sejumlah sektor, seperti 10 EDISI-46/KPI/2007

11 penurunan hambatan (barriers) untuk perdagangan dan jasa, perbaikan dalam struktur tariff, penghapusan kuota impor dan penerbitan peraturan yang disesuaikan dengan peraturan WTO mengenai penegakan standar perdagangan. Sementara itu, beberapa upaya dinilai masih perlu dilakukan khususnya yang berkaitan dengan liberalisasi perdagangan di bidang jasa, perbaikan iklim Investasi yang lebih transparan, stabil dan predictable serta pemberantasan pelanggaran intellectual property rights (IPR). Kemajuan ekonomi yang impresif dalam rangka mencapai tujuan Bogor, khususnya di bidang deregulasi dan regulasi review, perbaikan iklim investasi, kebijakan mengenai persaingan usaha, standards dan conformance dan prosedur kepabeanan. Pada kesempatan IAP Peer Review, beberapa isu penting yang diangkat oleh sejumlah ekonomi anggota APEC diantaranya kebijakan mengenai liberalisasi perdagangan di bidang jasa yang dinilai masih kurang seimbang, kebijakan MFN di bidang tariff maupun kuota tariff serta sektor pertanian yang dinilai masih mendapatkan perlindungan tinggi. Mengangkat kebijakan di bidang tariff dan non-tarif measures yang dinilai mendekati capian untuk mencapai tujuan Bogor, perlindungan dan liberalisasi bidang investasi, prosedur pengkajian standart and conformance asing, prosedur kepabeanan dan fasilitasi perdagangan yang dinilai sangat maju, bidang kompetisi dan persaingan usaha serta perlindungan hak kekayaan intelektual (HAKI). VIII.Jadwal IAP Peer Review Ekonomi APEC diminta untuk menyampaikan full IAPs selama tiga tahun periode review dengan menyampaikan update-nya setiap tahunnya. IAPs update merupakan laporan yang memuat informasi berguna bagi kalangan bisnis dan stakeholder lainnya dengan kemajuan yang dicapai untuk bidang-bidang isu IAPs. Periode IAP Peer Review biasanya dimulai pada pertemuan SOM-1 dan sekitar tujuh (7) ekonomi akan direview setiap tahunnya. Berikut adalah salah satu contoh jadwal ekonomi yang akan direview tiap tahun periode pertemuan APEC : Tahun SOM I SOM Ⅲ 2007 Australia; Hong Kong, China; Japan; Chinese Taipei China; Korea; New Zealand 2008 Canada; United Status Chile; Mexico; Peru; Singapore 2009 Brunei Darussalam; Indonesia; Malaysia; Thailand Philippines; Papua New Guinea; Russia; Viet Nam 11 EDISI-46/KPI/2007

12

13 Seluruh sesi IAP Peer Review diadakan pada saat pertemuan SOM I dan SOM III dengan jadwal sebagai berikut : Ekonomi yang direview pada SOM I: IAPs dan tim review disampaikan pada saat pertemuan Menteri Perdagangan APEC. Ekonomi yang direview pada SOM III: IAPs dan tim review disampaikan pada pertemuan tingkat Menteri APEC. IX. Cakupan yang direview Cakupan yang akan direview terbatas hanya pada chapter-chapter IAP. Namun demikian dapat diperluas pada isu-isu yang berguna untuk menunjukan kemajuan yang dicapai dalam Bogor Goals, sesuai dengan kesepakatan ekonomi yang direview dengan tim review. X. Anggota Tim Review Setiap Tim Review beranggotakan dua Ekspert, satu Moderator dan Staf Profesional Sekretariat APEC. Biasanya, Tim Review terdiri dari berbagai anggota ekonomi APEC, dimungkinkan juga dari ekonomi yang akan direview. XI. Penutup Dalam penyusunan IAP, bagi Indonesia merupakan kesempatan yang baik untuk mempromosikan dan memberikan gambaran kepada dunia khususnya di kawasan Asia Pasifik mengenai kebijakan dan aturan-aturan yang sedang, akan dan telah dilakukan oleh Indonesia untuk mencapai Bogor Goals yaitu liberalisasi perdagangan dan investasi yang bebas dan terbuka. Sampai dengan saat ini Indonesia sudah direview sebanyak dua kali yaitu pada tahun 2000 di Brunei Darussalam dan 2005 di Korea. Untuk selanjutnya, Indonesia akan mendapat giliran di-review pada tahun 2009 di Singapura. Menghadapi IAP Peer Review Indonesia, diperlukan koordinasi antar instansi terkait guna mempersiapkan IAP Indonesia yang telah sesuai dengan kebijakan dan aturan perdagangan dan ekonomi yang diberlakukan untuk kepentingan pemerintah sendiri, kalangan pebisnis dan stakeholder lainnya. Sehingga pada saat direview, Indonesia sudah siap dengan pertanyaan, komentar/tanggapan dari anggota ekonomi APEC lainnya dan dapat menanggapi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan secara komprehensif dan transparan. sumber : laporan hasil pertemuan APEC dan dari berbagai sumber 12 EDISI-46/KPI/2007

14

15 ASPEK HUKUM HAKI (HAK ATAS KEKAYAAN INTELEKTUAL) DALAM KERANGKA TRIPS (TRADE RELATED ASPECT OF INTELLECTUAL PROPERTY RIGHTS) DAN IMPLEMENTASI PENGGUNAAN INTERNET DI INDONESIA Bagian ke 2 oleh: Siti Tri Joelyartini 3) Jangka Waktu Perlindungan Merek Merek terdaftar mendapat perlindungan hukum untuk jangka waktu 10 tahun dan berlaku surut sejak tanggal penerimaan permintaan pendaftaran merek yang bersangkutan (Pasal7). Jangka waktu perlindungan merek dapat diperpanjang setiap kali untuk jangka waktu yang sama, atas permintaan pemilik merek. Permintaan tersebut ditujukan ke Kantor Merek dan diajukan secara tertulis oleh pemilik atau kuasanya dalam jangka waktu sekurangkurangnya 6 bulan dan tidak lebih dari 12 bulan sebelum berakhirnya jangka waktu perlindungan bagi merek yang terdaftar tersebut (Pasal 36). a. Permasalahan Implementasi HAKI di Indonesia HAKI menjadi sangat penting untuk menggairahkan laju perekonomian dunia yang pada akhirnya membawa kesejahteraan umat manusia. Namun dalam implemetasinya menghadapi berbagai permasalahan baik dalam hal Hak Cipta, Hak Paten dan Hak Merek. Beberapa permasalahan HAKI antara lain berkaitan dengan penggunaan internet. Internet secara de facto sudah menjadi landasan untuk melakukan bisnis. Ada dua makna atau arti dari Internet, yaitu teknologinya dan jaringannya. Teknologi Internet adalah teknologi komunikasi yang berbasis kepada protokol TCP/IP. Saat ini juga teknologi Internet mencakup penggunaan web browser sebagai user interface. Sementara itu pengertian Internet sebagai jaringan adalah Internet sebagai salah satu jaringan komputer yang terbesar di dunia. (Ada jaringan komputer lain yang bukan Internet, seperti misalnya jaringan privat dari beberapa perusahaan yang besar.) Jaringan Internet sendiri pada mulanya hanya dapat digunakan untuk keperluan akademis (penelitian dan pendidikan). Namun sejak tahun 1995 Internet sudah boleh dipergunakan untuk keperluan bisnis. Sejak saat itulah Internet mulai menjadi media komunikasi data yang populer. Beberapa hal yang menyebabkan jaringan dan teknologi Internet populer sebagai media komunikasi data adalah: cakupannya yang luas (seluruh dunia), implementasinya relatif lebih murah dibandingkan dengan menggunakan jaringan atau fasilitas lainnya, misalnya menggunakan Value Added Network (VAN) sendiri. Untuk menjadi bagian dari Internet kita cukup dengan hanya menghubungkan sistem ke koneksi Internet terdekat, misalnyamelalui Internet Service Provider (ISP). 4 4 Rahardjo, Budi Aspek Teknologi dan Keamanan Internet Banking version 1.1, EDISI-46/KPI/2007

16 Permasalahan internet dalam era digital diantaranya berkaitan dengan masalah domain name, masalah tanggung jawab ISP (Internet Service Provider). Selain itu, beberapa hal teknis dalam pembuatan situs yang berpotensi untuk melanggar hak cipta, yakni deep linking, framing, dan inlining. ISP berisiko digugat. 5 ISP biasanya menyediakan layanan web hosting. Karena itu, ISP memiliki resiko untuk digugat oleh pemilik hak cipta yang merasa dilanggar haknya. Pasalnya, ada customer yang mem-posting material yang melanggar hak cipta dalam situs yang di-hosting di server milik ISP. Sebagai ilustrasi, ada pihak yang mem-posting sebuah buku digital (digital book) dalam format PDF, yang jika dibeli dalam versi cetaknya mungkin saja seharga US$200. Jika kemudian buku ini didownload oleh dua puluh ribu pengunjung situs tersebut, jelas bahwa betapa besar kerugian pencipta atau pengarang buku. Pengarang mungkin saja menuntut ISP karena buku karangannya telah diubah ke format digital. Namun, ISP mungkin saja telah memiliki perjanjian dengan customernya yang melarang pihak customer untuk memposting material yang melanggar hak cipta. Dan ISP tidak bertanggung jawab atas pelanggaran yang terjadi. Disclaimer semacam ini mungkin tidak cukup karena pihak pengarang tetap dapat menuntut pihak ISP. Misalnya dengan dalih, ISP telah memberikan suatu kontribusi tertentu bagi pelanggaran hak cipta atas karyanya. Alasan pertama, karena pengarang kesulitan untuk menemukan orang yang memposting karya ciptanya tersebut. Apalagi sifat server ISP yang dapat diakses dari berbagai belahan dunia serta sifat anonimitas dari internet sendiri. Belum lagi, kewajiban bagi ISP untuk merahasiakan nama customernya. Alasan kedua bagi pengarang untuk menuntut adalah masalah ekonomis semata. Pihak yang memposting tersebut belum tentu memiliki kemampuan keuangan yang cukup untuk membayar ganti rugi yang dimintakan. Sedangkan ISP sebagai entitas bisnis, dianggap dapat memberikan ganti rugi yang dimintakan. Melanggar Hak Cipta. Dalam hal ini ISP dianggap melanggar hak cipta, padahal tentunya tidak ada kesengajaan dari pihak ISP untuk melakukan pelanggaran hak cipta. Namun jika memang ada semacam penolakan (disclaimer) dengan costumernya, jelas pihak ISP telah memperkirakan kemungkinan adanya content situs yang di-hosting di server-nya yang melanggar hak cipta. Screening atas isi kandungan (content) secara teknis memang dapat dilakukan. Namun seiring dengan perkembangan bisnis yang semakin besar, tentunya biaya dan sumber daya yang dibutuhkan akan semakin besar. Selain itu, juga waktu yang cukup lama dan secara bisnis justru akan memberatkan. 5 Ifransah, Mukhlis. "Perlindungan Hukum HKI di Era Digital". ICT Watch dan peneliti hukum., 12 Juni Hal EDISI-46/KPI/2007

17 Dalam Pasal 7 TRIPS, perlindungan dan penegakan hukum HAKI ditujukan untuk memacu penemuan baru di bidang teknologi dan untuk memperlancar alih serta penyebaran teknologi, dengan tetap memperhatikan kepentingan produsen dan pengguna pengetahuan tentang teknologi dan dilakukan dengan cara yang menunjang kesejahteraan sosial dan ekonomi, dan keseimbangan antara hak dan kewajiban. Dalam kasus ISP (Internet Service Provider) yang memberikan layanan web hosting, disatu sisi dengan kemudahan yang disediakan dalam mengakses segala macam informasi melalui jaringan internet akan banyak memberikan informasi kepada konsumen sehingga dapat memacu kreasi mereka dalam menciptakan penemuan baru yang pada akhirnya dapat diproduksi dan dipasarkan. Namun disisi lain dengan kemudahan mengakses pula memungkinkan pihak produsen dalam hal ini pencipta buku dirugikan karena adanya hasil penemuan baru seperti scanning buku dalam PDF kemudian diposting dapat diperbanyak orang lain dengan hanya mencetak sendiri. Hal ini memunculkan dilema bagaimana dapat memberikan perlindungan Hak Cipta kepada produsen dan hak pengguna dalam rangka merangsang penciptaan pengetahuan tentang teknologi sebagai akibat canggihnya hasil penemuan baru. Untuk itu perlu dibuat peraturan secara mendetail sehingga UU HAKI dapat mengakomodasi dua kepentingan tersebut secara seimbang, dan tentu hal ini tidak mudah. Sementara dalam Pasal 10 TRIPS mengenai Hak Cipta dan Hak-hak terkait lainnya berkaitan dengan Program Komputer dan Kompilasi Data, sangat jelas memberikan perlindungan bagi kompilasi data atau materi lain, baik yang dapat dibaca dengan mesin atau dalam bentuk lain. Artinya dalam kasus ISP benar adanya dugaan dalam pelanggaran hak cipta yaitu dengan tidak memberikan perlindungan terhadap produk yang seharusnya dilindungi atas karya intelektualnya. Kerjasama dengan pemilik karya cipta yang sangat umum dibajak mungkin salah satu alternatif yang bagus. Contohnya saja Microsoft, yang memiliki sistem tersendiri untuk melakukan scanning atas material/content di internet yang melanggar hak cipta atas software buatannya. Jika ditemukan pelanggaran hak cipta, biasanya Microsoft akan meminta pihak di mana software bajakan di-posting untuk melakukan tindakan pemutusan atas service tersebut dan menghapus material tersebut dari server. Tiap harinya, konon Microsoft menemukan ribuan situs yang memuat software bajakan milik perusahaannya. Contoh lainnya adalah lagu-lagu atau musik dengan format MP3 yang dengan mudah dapat diakses secara gratis di internet dimana dapat ditemukan beberapa broken link saat men-download lagu tersebut. Hal ini menandakan pihak web hosting telah menghapus lagu tersebut setelah adanya screening ataupun complain dari pemilik hak cipta atas lagu. Jika berhasil men-download, biasanya extension dari file MP3 harus diubah kembali ke MP3. Pengubahan extension file ini biasanya untuk mengecoh screening yang dilakukan oleh ISP ataupun jasa web hosting 15 EDISI-46/KPI/2007

18 atas content situs-situs di server milik mereka. Mungkin pengaturan dalam Digital Millenium Copyright Act (DMCA) milik Amerika Serikat dapat dijadikan pelajaran yang baik. DMCA memberikan pembatasan masalah tanggung jawab ISP, dan penentuan kapan ISP bertanggung jawab atas materil yang di-hosting di server-nya atau sebaliknya, bilamana ia tidak bertanggung jawab. Aspek hukum linking. Permasalahan hukum timbul karena content halaman web merupakan suatu karya cipta manusia yang mengandung beberapa komponen ciptaan, baik itu program komputer, lagu, seni rupa dalam segala bentuknya, fotografi dan sebagainya. Berbagai ciptaan ini menurut ketentuan pasal 11 (1) UU No 12 Tahun 1997 tentang Hak Cipta merupakan ciptaan yang dilindungi. Sebagai suatu ciptaan yang dilindungi, pengumuman ataupun perbanyakan ciptaan tersebut tentunya haruslah seizin pencipta atau pemegang hak ciptanya. Pembuatan linking saja tidaklah melanggar hak cipta. Namun jika kemudian halaman web yang dituju oleh link tersebut berisi content yang melanggar hak cipta, tentunya linking semacam ini memberikan kontribusi tersendiri bagi pelanggaran hak cipta. Contoh yang menarik adalah berbagai situs penyedia filefile lagu dengan format MP3 yang halaman web-nya yang memberikan link-link ke situs penyedia file lagulagu ataupun musik dalam format MP3. Situs-situs ini seharusnya patut diduga melanggar hak cipta. Permasalahan lainnya dengan linking adalah kemungkinan pelanggaran merek dagang menimbulkan suatu dilusi. Akibatnya, nilai suatu merek dagang, khususnya famous and wellknown marks, akan menurun. Teknologi web telah memungkinkan seorang webmaster dengan mudah menampilkan suatu merek dagang di halaman web-nya baik berupa plain text, gambar, maupun karakter, serta kombinasi warna yang merupakan simbol merek dagang suatu produk ataupun jasa yang ada. Pelanggaran merek dagang dan dilusinya terjadi karena besar kemungkinan pencantuman merek dagang ini akan menimbulkan persepsi bahwa suatu situs memiliki hubungan atau afiliasi dengan pemilik merek dagang yang ditampilkan. Padahal sesuai ketentuan pasal 3 UU No 19 Tahun 1992, negara memberikan hak kepada pemilik merek untuk menggunakan sendiri merek tersebut atau memberikan izin kepada pihak lain untuk menggunakannya. Selain persepsi yang timbul tersebut karena adanya penggunaan meta tagging dalam pembuatan situs, ada pula kemungkinan penjelajah internet tertipu karena dibawa ke halaman web yang justru tidak memiliki keterkaitan sama sekali dengan merek dagang yang digunakan dalam meta tagging. Deep linking dan inlining. Perkembangan linking lebih lanjut berupa deep linking. Pengguna internet dapat mengunjungi suatu halaman dalam suatu situs tanpa melewati halaman depan (homepage). Hal ini telah menimbulkan berbagai 16 EDISI-46/KPI/2007

19 permasalahan tersendiri bagi kalangan e-business. Pasalnya, homepage by-passing seperti ini telah mengakibatkan hit rate situs menurun karena memang sering perhitungannya didasarkan atas jumlah pengunjung yang membuka halaman depan situs. Penurunan hit rate pada suatu situs sama dengan penurunan nilai situs. Hal ini akan mengakibatkan pihak sponsor tidak tertarik untuk memasang banner produknya di atau homepage yang sering di-bypass. Selain itu, sama dengan penggunaan merek sebagai link, ada kemungkinan pengunjung situs menganggap situs yang memberikan link tersebut memiliki hubungan tertentu dengan situs yang dituju. Bentuk linking non konvensional lainnya adalah inlining. Bentuk ini memungkinkan webmasters secara otomatis menampilkan suatu graphic file, baik berupa foto, kartun ataupun gambar lain dalam bentuk digital dalam webpage-nya yang berasal dari situs lain tanpa perlu memuatnya dalam situs yang dibuatnya. Permasalahan pada inlining ini adalah gambar (graphic file) yang berasal dari situs lain tersebut dapat di-customized sedemikian rupa, sehingga tampilan yang diperoleh bisa saja berbeda dengan tampilan gambar pada situs asalnya. Bila hal ini terjadi, maka jelas ada suatu modifikasi pada suatu karya cipta, yang tentunya melanggar hak si pencipta, baik itu hak atas pencipta atas karya turunan dari karya aslinya maupun hak moralnya atas karya cipta tersebut. Aspek hukum framing. Teknik pembuatan situs lainnya adalah framing, di mana dengan penggunaan suatu frame, memungkinkan webmaster dapat menampilkan isi suatu situs lainnya tanpa meninggalkan situs yang memberikan frame tersebut. Jadi seperti halnya frame pada foto-foto kita, frame tersebut akan selalu kita lihat saat memandang foto yang ada di dalamnya. Contoh lainnya mungkin mirip dengan fasilitas "picture in picture" pada beberapa merek televisi yang dapat menampilkan channel lainnya (dalam bentuk gambar yang lebih kecil) tanpa meninggalkan saluran TV yang sedang kita tonton. Contoh nyata situs yang sering menggunakan frame adalah web penyedia MP3. Pengunjung dapat melihat isi situs penyedia file MP3, sementara itu bagian dari situs tersebut tetap ada. Mendompleng nama. Dalam beberapa kasus yang timbul berkaitan dengan framing ini, gugatan didasarkan pada beberapa hal. Pertama, framing dapat mengakibatkan perubahan penampilan suatu situs daripada yang seharusnya terlihat jika pengunjung langsung mengetikkan URL yang dituju. Dengan adanya framing memang harus diakui, alokasi tampilan di monitor komputer atas suatu situs berkurang karena adanya frame tersebut. Hal kedua yang menjadi dasar gugatan yakni pelanggaran merek dagang dengan menampilkan suatu merek tanpa adanya hak untuk itu. Dasar gugatan selanjutnya adalah situs yang memberikan frame dianggap telah mendompleng nama dan keberhasilan situs lain serta mengambil manfaat ekonomi, berupa hit rate, dari situs yang di-frame. Dasar keempat dari gugatan adalah 17 EDISI-46/KPI/2007

20 berkurangnya nilai ekonomis situs yang di-frame karena framing mengakibatkan banner ataupun iklan sponsor yang seharusnya tampak jika situs dilihat secara langsung, justru tertimpa/tertutup oleh situs yang memberi frame. Dasar gugatan selanjutnya adalah seringkali framing menyebabkan pengunjung situs tidak tahu nama situs yang sedang ditampilkan isinya tersebut. Akibatnya, pengunjung tidak dapat mem-bookmark-nya atau bahkan mengira situs yang di-frame justru merupakan bagian dari situs yang memberi frame. Selain itu, dari sisi hak cipta sendiri, perlu dikaji ulang apakah maksud dari pengumuman dan perbanyakan sesuai dengan ketentuan pasal 1 UU No 12 Tahun 1997 tentang Hak Cipta serta keterkaitannya dengan pemberian izin untuk kedua hal tersebut dalam konteks media internet. Kajian ulang atas beberapa pengertian dalam hak cipta harus dilakukan dengan memperhatikan beberapa proses dan teknik di mana web itu sendiri berjalan. Misalnya apakah framing dapat dianggap merupakan kegiatan memperbanyak atau menambah jumlah suatu ciptaan. Permasalahan lainnya, apakah suatu media yang melakukan fiksasi atas karya cipta itu mempengaruhi pengertian perbanyakan. Hal ini patut dipertanyakan karena, saat melakukan surfing di internet, halaman web yang ditampilkan sebenarnya telah di-copy ke dalam memori komputer. Posting suatu web page dapat dianggap suatu tindakan yang sesuai dengan pengertian pengumuman atas hak cipta sebagaimana diatur dalam pasal 1 angka 4 UU No 12 Tahun Pasal ini menyatakan bahwa pengumuman meliputi pembacaan, penyuaraan, penyiaran atau penyebaran suatu ciptaan, dengan menggunakan alat apapun dan dengan cara sedemikian rupa sehingga suatu ciptaan dapat dibaca, didengar atau dilihat oleh orang lain. Dengan kata lain, pengumuman akan menyebabkan suatu ciptaan dapat diterima oleh indera manusia. Dalam konteks web, hal itu dapat berupa gambar, teks dan suara. Lalu apakah proses framing sendiri merupakan suatu bentuk perbanyakan? Dalam prosesnya, situs yang menggunakan framing tidaklah melakukan perbanyakan suatu ciptaan, dalam hal ini isi web page yang di-frame. Hal ini dikarenakan, saat pengunjung situs mengklik link situs target, server di mana situs target di-hosting akan mengcopy web page yang diminta. Setelah itu, mengirimkannya ke terminal/komputer pengunjung yang kemudian menampilkan web page yang dikirim tersebut. Berarti, perbanyakan justru terjadi antara server situs yang di-link dengan komputer pengunjung situs. Ada pendapat yang mengemukakan, karena situs yang mem-frame tidak melakukan proses transfer ini, maka situs ini tidaklah melakukan perbanyakan. Akibatnya, tidak ada pelanggaran hak cipta yang terjadi secara langsung. Pendapat ini diperkuat oleh argumen lainnya yang mengemukakan bahwa saat seseorang membuat suatu halaman dan mem-posting-nya di internet, si pemilik halaman web tersebut secara 18 EDISI-46/KPI/2007

Artikel 22 ayat 1, DSU Agreement.

Artikel 22 ayat 1, DSU Agreement. BAB IV KESIMPULAN World Trade Organization (WTO) atau Organisasi Perdagangan Dunia merupakan satu-satunya badan internasional yang secara khusus mengatur masalah perdagangan antar negara. Sistem perdagangan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk memajukan industri yang mampu bersaing

Lebih terperinci

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 sehingga perlu diatur ketentuan mengenai Rahasia Dagang;

Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 sehingga perlu diatur ketentuan mengenai Rahasia Dagang; Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 sehingga perlu diatur ketentuan mengenai Rahasia Dagang; c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu dibentuk Undangundang tentang

Lebih terperinci

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu

Undang Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu Undang Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2000 Tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk memajukan industri

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk memajukan industri

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. 1. Sengketa dagang antara Indonesia dan Korea Selatan bermula. pada saat KTC mengajukan petisi anti dumping dan melakukan

BAB V PENUTUP. 1. Sengketa dagang antara Indonesia dan Korea Selatan bermula. pada saat KTC mengajukan petisi anti dumping dan melakukan 114 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan 1. Sengketa dagang antara Indonesia dan Korea Selatan bermula pada saat KTC mengajukan petisi anti dumping dan melakukan penyelidikan dumping terhadap perusahaan-perusahaan

Lebih terperinci

Latar Belakang dan Sejarah Terbentuknya. WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO) Bagian Pertama. Fungsi WTO. Tujuan WTO 4/22/2015

Latar Belakang dan Sejarah Terbentuknya. WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO) Bagian Pertama. Fungsi WTO. Tujuan WTO 4/22/2015 WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO) Bagian Pertama Hanif Nur Widhiyanti, S.H.,M.Hum. Latar Belakang dan Sejarah Terbentuknya TidakterlepasdarisejarahlahirnyaInternational Trade Organization (ITO) dangeneral

Lebih terperinci

HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL DAN HAK KEKAYAAN INDUSTRI (HAKI)

HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL DAN HAK KEKAYAAN INDUSTRI (HAKI) HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL DAN HAK KEKAYAAN INDUSTRI (HAKI) 1. Pembahasan HAKI Keberadaan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam hubungan antar manusia dan antar negara merupakan sesuatu yang tidak dapat dipungkiri.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk memajukan industri yang mampu bersaing

Lebih terperinci

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 T a h u n Tentang Desain Industri

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 T a h u n Tentang Desain Industri Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 31 T a h u n 2 000 Tentang Desain Industri DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk memajukan industri yang mampu

Lebih terperinci

*12398 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 32 TAHUN 2000 (32/2000) TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

*12398 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 32 TAHUN 2000 (32/2000) TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Copyright (C) 2000 BPHN UU 32/2000, DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU *12398 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA (UU) NOMOR 32 TAHUN 2000 (32/2000) TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 244, 2000 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4046) UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA Teks tidak dalam format asli. Kembali: tekan backspace LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 243, 2000 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4045) UNDANG-UNDANG REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b, perlu dibentuk Undang-Undang tentang Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2000

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk memajukan industri

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk memajukan industri yang mampu bersaing

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk memajukan industri yang mampu bersaing

Lebih terperinci

MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA PERDAGANGAN INTERNASIONAL MELALUI DISPUTE SETTLEMENT BODY (DSB) WORLD TRADE ORGANIZATION

MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA PERDAGANGAN INTERNASIONAL MELALUI DISPUTE SETTLEMENT BODY (DSB) WORLD TRADE ORGANIZATION MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA PERDAGANGAN INTERNASIONAL MELALUI DISPUTE SETTLEMENT BODY (DSB) WORLD TRADE ORGANIZATION (WTO) (TINJAUAN TERHADAP GUGATAN INDONESIA KEPADA KOREA SELATAN DALAM PENGENAAN

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN TATA LETAK SIRKUIT TERPADU DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk memajukan industri

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2017 TENTANG PENGENDALIAN IMPOR ATAU EKSPOR BARANG YANG DIDUGA MERUPAKAN ATAU BERASAL DARI HASIL PELANGGARAN HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

TINJAUAN TENTANG HAKI

TINJAUAN TENTANG HAKI TINJAUAN TENTANG HAKI Mata Kuliah : Legal Aspek dalam Produk TIK Henny Medyawati, Universitas Gunadarma Materi dikutip dari beberapa sumber Subjek dan objek hukum Subjek Hukum adalah : Segala sesuatu yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensikonvensi

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Pasal 1 Definisi. Untuk maksud-maksud Persetujuan ini, kecuali konteksnya mensyaratkan sebaliknya;

LAMPIRAN. Pasal 1 Definisi. Untuk maksud-maksud Persetujuan ini, kecuali konteksnya mensyaratkan sebaliknya; LAMPIRAN PERSETUJUAN MEKANISME PENYELESAIAN SENGKETA DALAM PERSETUJUAN KERANGKA KERJA MENGENAI KERJA SAMA EKONOMI MENYELURUH ANTAR PEMERINTAH NEGARA-NEGARA ANGGOTA PERHIMPUNAN BANGSA-BANGSA ASIA TENGGARA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Menimbang: a. bahwa untuk memajukan industri yang mampu bersaing dalam lingkup perdagangan nasional dan internasional

Lebih terperinci

LEGAL ASPEK PRODUK TIK IMAM AHMAD TRINUGROHO

LEGAL ASPEK PRODUK TIK IMAM AHMAD TRINUGROHO LEGAL ASPEK PRODUK TIK IMAM AHMAD TRINUGROHO Subjek dan Objek Hukum Arti & Peranan Hak Kekayaan Intelektual Klasifikasi Hak Kekayaan Intelektual Subjek Hukum adalah segala sesuatu yang menurut hukum dapat

Lebih terperinci

BAB 4 PENUTUP. 4.1 Kesimpulan

BAB 4 PENUTUP. 4.1 Kesimpulan BAB 4 PENUTUP 4.1 Kesimpulan Perdagangan internasional diatur dalam sebuah rejim yang bernama WTO. Di dalam institusi ini terdapat berbagai unsur dari suatu rejim, yaitu prinsip, norma, peraturan, maupun

Lebih terperinci

Intellectual Property Rights (Persetujuan TRIPs) dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 sehingga perlu diatur ketentuan mengenai Desain Industri;

Intellectual Property Rights (Persetujuan TRIPs) dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 sehingga perlu diatur ketentuan mengenai Desain Industri; Intellectual Property Rights (Persetujuan TRIPs) dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 sehingga perlu diatur ketentuan mengenai Desain Industri; UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG

Lebih terperinci

BAB III UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA. A. Profil Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta

BAB III UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA. A. Profil Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta 45 BAB III UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA A. Profil Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta 1. Sejarah Perkembangan Undang-Undang Hak Cipta di Indonesia Permasalahan hak

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk memajukan industri yang mampu bersaing

Lebih terperinci

No dan Cukai. Penting untuk digarisbawahi bahwa mekanisme perekaman ini sama sekali tidak menggantikan mekanisme pendaftaran HKI kepada Direkt

No dan Cukai. Penting untuk digarisbawahi bahwa mekanisme perekaman ini sama sekali tidak menggantikan mekanisme pendaftaran HKI kepada Direkt TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA R.I No.6059 EKONOMI. Pelanggaran HKI. Impor. Ekspor. Pengendalian. (Penjelasan atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2017 Nomor 108) PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

ASIA PACIFIC ECONOMIC COOPERATION (APEC) GAMBARAN UMUM

ASIA PACIFIC ECONOMIC COOPERATION (APEC) GAMBARAN UMUM ASIA PACIFIC ECONOMIC COOPERATION (APEC) GAMBARAN UMUM 1. Forum Kerjasama Ekonomi negara-negara di kawasan Asia Pasifik (Asia Pacific Economic Cooperation-APEC) dibentuk pada tahun 1989 berdasarkan gagasan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kekayaan budaya dan etnis bangsa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 PENJELASAN ATAS TENTANG DESAIN INDUSTRI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 PENJELASAN ATAS TENTANG DESAIN INDUSTRI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa untuk memajukan industri yang mampu bersaing

Lebih terperinci

BAB III PENUTUP. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan penyelesaian sengketa

BAB III PENUTUP. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan penyelesaian sengketa 64 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian penulis, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : Faktor-faktor yang mempengaruhi ketidakefektifan penyelesaian sengketa DSB WTO dalam

Lebih terperinci

SISTEM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

SISTEM PERDAGANGAN INTERNASIONAL SISTEM PERDAGANGAN INTERNASIONAL GLOBAL TRADING SYSTEM 1. Tarif GATT (1947) WTO (1995) 2. Subsidi 3. Kuota 4. VERs 5. ad. Policy 6. PKL NEGARA ATAU KELOMPOK NEGARA NEGARA ATAU KELOMPOK NEGARA TRADE BARRIERS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sistem yang ada di dalam hukum merupakan upaya untuk menjaga

BAB I PENDAHULUAN. Sistem yang ada di dalam hukum merupakan upaya untuk menjaga BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sistem yang ada di dalam hukum merupakan upaya untuk menjaga hak setiap orang seiring dengan perkembangan zaman. Salah satu dari upaya tersebut adalah melalui pembentukan

Lebih terperinci

P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI

P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI I. UMUM Indonesia sebagai negara berkembang perlu memajukan sektor industri dengan meningkatkan

Lebih terperinci

2 b. bahwa Persetujuan dimaksudkan untuk menetapkan prosedur penyelesaian sengketa dan mekanisme formal untuk Persetujuan Kerangka Kerja dan Perjanjia

2 b. bahwa Persetujuan dimaksudkan untuk menetapkan prosedur penyelesaian sengketa dan mekanisme formal untuk Persetujuan Kerangka Kerja dan Perjanjia No.92, 2015 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PENGESAHAN. Agreement. Asosiasi Bangsa-Bangsa Asia Tenggara. Republik Rakyat Tiongkok. Penyelesaian Sengketa. Kerja Sama Ekonomi. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menentukan strategi pemberdayaan ekonomi di negaranya masing-masing.

BAB I PENDAHULUAN. menentukan strategi pemberdayaan ekonomi di negaranya masing-masing. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perjalanan peradaban suatu bangsa terus berkembang mengikuti arus perubahan yang terjadi dalam masyarakat, sebagai akibat dari berkembangnya pola pikir, intelektual,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini

BAB 1 PENDAHULUAN. (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) / ASEAN Economic Community (AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini merupakan agenda utama negara

Lebih terperinci

LEMBARAN-NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Presiden Republik Indonesia,

LEMBARAN-NEGARA REPUBLIK INDONESIA. Presiden Republik Indonesia, LEMBARAN-NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 31, 1997 HAKI. MEREK. Perdagangan. Ekonomi. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3681). UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN

Lebih terperinci

87 gugatan terhadap Pasal 2.1 TBT Agreement. Hanya saja, DSB bersikeras menolak untuk memenangkan gugatan kedua Indonesia yakni Pasal 2.2 TBT Agreemen

87 gugatan terhadap Pasal 2.1 TBT Agreement. Hanya saja, DSB bersikeras menolak untuk memenangkan gugatan kedua Indonesia yakni Pasal 2.2 TBT Agreemen BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan Pada tanggal 9 Juni 2009, Indonesia mengajukan permohonan pembentukan panel kepada DSB. Indonesia menggugat bahwa dalam memberlakukan Tobacco Control Act Pasal 907, Amerika

Lebih terperinci

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL

MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL MULTILATERAL TRADE (WTO), FREE TRADE AREA DI TINGKAT REGIONAL (AFTA) ATAU FREE TRADE AGREEMENT BILATERAL INDONESIA DAN PERDAGANGAN INTERNASIONAL (SERI 1) 24 JULI 2003 PROF. DAVID K. LINNAN UNIVERSITY OF

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK BAB I KETENTUAN UMUM

UNDANG-UNDANG TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK BAB I KETENTUAN UMUM UNDANG-UNDANG TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Undang-undang ini yang dimaksud dengan : 1. Teknologi informasi adalah suatu teknik untuk mengumpulkan, menyiapkan,

Lebih terperinci

PENUNJUK UNDANG-UNDANG PENANAMAN MODAL

PENUNJUK UNDANG-UNDANG PENANAMAN MODAL PENUNJUK UNDANG-UNDANG PENANAMAN MODAL 1 tahun ~ pemberian izin masuk kembali bagi pemegang izin tinggal terbatas pemberian izin masuk kembali untuk beberapa kali perjalanan bagi pemegang izin tinggal

Lebih terperinci

LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013

LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013 LAPORAN SOSIALISASI HASIL DAN PROSES DIPLOMASI PERDAGANGAN INTERNASIONAL MEDAN, SEPTEMBER 2013 I. PENDAHULUAN Kegiatan Sosialisasi Hasil dan Proses Diplomasi Perdagangan Internasional telah diselenggarakan

Lebih terperinci

MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI, M E M U T U S K A N :

MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI, M E M U T U S K A N : KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN RI NOMOR 527/MPP/KEP/7/2002 TANGGAL 5 JULI 2002 TENTANG TATA KERJA TIM NASIONAL WTO DAN PEMBENTUKAN KELOMPOK PERUNDING UNTUK PERUNDINGAN PERDAGANGAN MULTILATERAL

Lebih terperinci

ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara

ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara ASEAN ( Association of Southeast Asia Nations ) adalah organisasi yang dibentuk oleh perkumpulan Negara yang berada di daerah asia tenggara ASEAN didirikan di Bangkok 8 Agustus 1967 oleh Indonesia, Malaysia,

Lebih terperinci

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP - MADURA

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS WIRARAJA SUMENEP - MADURA PERLINDUNGAN MEREK BAGI PEMEGANG HAK MEREK DITINJAU DARI UNDANG-UNDANG NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK YAYUK SUGIARTI Dosen Fakultas Hukum Universitas Wiraraja Sumenep Yayuksugiarti66@yahoo.co.id ABSTRAK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai isu internasional, HKI (Hak Kekayaan Intelektual) berkembang

BAB I PENDAHULUAN. Sebagai isu internasional, HKI (Hak Kekayaan Intelektual) berkembang BAB I PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Sebagai isu internasional, HKI (Hak Kekayaan Intelektual) berkembang dengan pesat. HKI dari masyarakat tradisional, termasuk ekspresinya, cenderung dijadikan pembicaraan

Lebih terperinci

PERMOHONAN PENDAFTARAN MEREK TIDAK BERITIKAD BAIK DALAM TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA BAB I PENDAHULUAN

PERMOHONAN PENDAFTARAN MEREK TIDAK BERITIKAD BAIK DALAM TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA BAB I PENDAHULUAN PERMOHONAN PENDAFTARAN MEREK TIDAK BERITIKAD BAIK DALAM TEORI DAN PRAKTEK DI INDONESIA BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Republik Indonesia meratifikasi Perjanjian Wold Trade Organization (WTO)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi adalah suatu fenomena yang tidak bisa dielakkan. Globalisasi

BAB I PENDAHULUAN. Globalisasi adalah suatu fenomena yang tidak bisa dielakkan. Globalisasi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Globalisasi adalah suatu fenomena yang tidak bisa dielakkan. Globalisasi tidak hanya berelasi dengan bidang ekonomi, tetapi juga di lingkungan politik, sosial, dan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa berdasarkan Pasal 20 dan Pasal 23 Undang-undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.252, 2016 HUKUM. Merek. Indikasi Geografis. Pencabutan. (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5953). UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

DAFTAR ISI PERATURAN MEDIASI KLRCA SKEMA UU MEDIASI 2012 PANDUAN PERATURAN MEDIASI KLRCA. Peraturan Mediasi KLRCA. Bagian I. Bagian II.

DAFTAR ISI PERATURAN MEDIASI KLRCA SKEMA UU MEDIASI 2012 PANDUAN PERATURAN MEDIASI KLRCA. Peraturan Mediasi KLRCA. Bagian I. Bagian II. DAFTAR ISI Peraturan Mediasi KLRCA Bagian I PERATURAN MEDIASI KLRCA Bagian II SKEMA Bagian III UU MEDIASI 2012 Bagian IV PANDUAN PERATURAN MEDIASI KLRCA 2 Pusat untuk Arbitrase Regional Kuala Lumpur Bagian

Lebih terperinci

BAB II PENGATURAN ATAS PERLINDUNGAN TERHADAP PENULIS BUKU

BAB II PENGATURAN ATAS PERLINDUNGAN TERHADAP PENULIS BUKU BAB II PENGATURAN ATAS PERLINDUNGAN TERHADAP PENULIS BUKU A. Hak cipta sebagai Hak Eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta Dalam konsep perlindungan hak cipta disebutkan bahwa hak cipta tidak melindungi

Lebih terperinci

Lex Privatum, Vol. III/No. 3/Jul-Sep/2015

Lex Privatum, Vol. III/No. 3/Jul-Sep/2015 SUATU TINJAUAN TENTANG HAK PENCIPTA LAGU MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 19 TAHUN 2002 TENTANG HAK CIPTA 1 Oleh: Ronna Sasuwuk 2 ABSTRAK Penelitian ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui apakah yang merupakan

Lebih terperinci

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

1. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang 1. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pariwisata saat ini telah menjadi salah satu motor penggerak ekonomi dunia terutama dalam penerimaan devisa negara melalui konsumsi yang dilakukan turis asing terhadap

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Peraturan Arbitrase KLRCA

DAFTAR ISI Peraturan Arbitrase KLRCA DAFTAR ISI Peraturan Arbitrase KLRCA Bagian I PERATURAN ARBITRASE KLRCA (Direvisi pada tahun 2013) Bagian II PERATURAN ARBITRASE UNCITRAL (Direvisi pada tahun 2010) Bagian III SKEMA Bagian IV PEDOMAN UNTUK

Lebih terperinci

HAK CIPTA SOFTWARE. Pengertian Hak Cipta

HAK CIPTA SOFTWARE. Pengertian Hak Cipta HAK CIPTA SOFTWARE Pengertian Hak Cipta Hak cipta (lambang internasional: ) adalah hak eksklusif Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengatur penggunaan hasil penuangan gagasan atau informasi tertentu.

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN KEWENANGAN PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN KEWENANGAN PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2011 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN KEWENANGAN PUSAT PELAPORAN DAN ANALISIS TRANSAKSI KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Peraturan Arbitrase Proses Acara Cepat KLRCA PERATURAN ARBITRASE SKEMA IMBALAN DAN BIAYA ADMINISTRASI PEDOMAN UNTUK PERATURAN ARBITRASE

DAFTAR ISI. Peraturan Arbitrase Proses Acara Cepat KLRCA PERATURAN ARBITRASE SKEMA IMBALAN DAN BIAYA ADMINISTRASI PEDOMAN UNTUK PERATURAN ARBITRASE DAFTAR ISI Peraturan Arbitrase Proses Acara Cepat KLRCA Bagian I PERATURAN ARBITRASE PROSES Acara Cepat KLRCA Bagian II SKEMA IMBALAN DAN BIAYA ADMINISTRASI Bagian III PEDOMAN UNTUK PERATURAN ARBITRASE

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Peraturan Mediasi KLRCA

DAFTAR ISI Peraturan Mediasi KLRCA DAFTAR ISI Peraturan Mediasi KLRCA Bagian I PERATURAN MEDIASI KLRCA Bagian II SKEMA Bagian III UU MEDIASI 2012 Bagian IV PANDUAN PERATURAN MEDIASI KLRCA 2 Pusat untuk Arbitrase Regional Kuala Lumpur Peraturan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. World Trade Organization (WTO) saat ini merupakan satu satunya organisasi

BAB I PENDAHULUAN. World Trade Organization (WTO) saat ini merupakan satu satunya organisasi BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah World Trade Organization (WTO) saat ini merupakan satu satunya organisasi internasional yang secara khusus mengurus masalah perdagangan antarnegara di dunia.

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG MEREK DAN INDIKASI GEOGRAFIS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci : WTO (World Trade Organization), Kebijakan Pertanian Indonesia, Kemudahan akses pasar, Liberalisasi, Rezim internasional.

ABSTRAK. Kata kunci : WTO (World Trade Organization), Kebijakan Pertanian Indonesia, Kemudahan akses pasar, Liberalisasi, Rezim internasional. ABSTRAK Indonesia telah menjalankan kesepakan WTO lewat implementasi kebijakan pertanian dalam negeri. Implementasi kebijakan tersebut tertuang dalam deregulasi (penyesuaian kebijakan) yang diterbitkan

Lebih terperinci

Pengantar Hukum WTO. Peter Van den Bossche, Daniar Natakusumah dan Joseph Wira Koesnaidi 1

Pengantar Hukum WTO. Peter Van den Bossche, Daniar Natakusumah dan Joseph Wira Koesnaidi 1 Pengantar Hukum WTO Peter Van den Bossche, Daniar Natakusumah dan Joseph Wira Koesnaidi 1 PRAKATA Penulis mengucapkan terimakasih kepada Pak Adolf Warauw S.H., LL.M. dan Prof. Hikmahanto Juwana S.H., LL.M.,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1997 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1989 TENTANG PATEN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1997 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1989 TENTANG PATEN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 1997 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 1989 TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa

Lebih terperinci

KETENTUAN DAN PERSYARATAN BLACKBERRY ID

KETENTUAN DAN PERSYARATAN BLACKBERRY ID KETENTUAN DAN PERSYARATAN BLACKBERRY ID UNTUK MENDAPATKAN AKUN BLACKBERRY ID, SERTA DAPAT MENGAKSES LAYANAN YANG MENSYARATKAN ANDA UNTUK MEMILIKI AKUN BLACKBERRY ID, ANDA HARUS (1) MENYELESAIKAN PROSES

Lebih terperinci

P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG

P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG P E N J E L A S A N A T A S UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2000 TENTANG RAHASIA DAGANG I. UMUM II. PASAL DEMI PASAL Sebagai negara berkembang, Indonesia perlu mengupayakan adanya persaingan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN. TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN. TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR.... TAHUN. TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010

PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010 PERATURAN MENTERI PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33/M-DAG/PER/8/2010 TENTANG SURAT KETERANGAN ASAL (CERTIFICATE OF ORIGIN) UNTUK BARANG EKSPOR INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI

Lebih terperinci

SISTEM PENETAPAN NILAI PABEAN (CUSTOMS VALUATION) YANG BERLAKU DI INDONESIA

SISTEM PENETAPAN NILAI PABEAN (CUSTOMS VALUATION) YANG BERLAKU DI INDONESIA SISTEM PENETAPAN NILAI PABEAN (CUSTOMS VALUATION) YANG BERLAKU DI INDONESIA Oleh : Sunarno *) Pendahuluan Nilai pabean adalah nilai yang digunakan sebagai dasar untuk menghitung Bea Masuk. Pasal 12 UU

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2004 TENTANG SYARAT DAN TATA CARA PENGALIHAN PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN DAN PENGGUNAAN VARIETAS YANG DILINDUNGI OLEH PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

BAB I LATAR BELAKANG

BAB I LATAR BELAKANG 1 BAB I LATAR BELAKANG A. Latar Belakang Masalah Kondisi masyarakat yang mengalami perkembangan dinamis, tingkat kehidupan masyarakat yang semakin baik, mengakibatkan masyarakat semakin sadar akan apa

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan

I. PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Globalisasi menjadi sebuah wacana yang menarik untuk didiskusikan dalam berbagai bidang, tak terkecuali dalam bidang ekonomi. Menurut Todaro dan Smith (2006), globalisasi

Lebih terperinci

Naskah Terjemahan Lampiran Umum International Convention on Simplification and Harmonization of Customs Procedures (Revised Kyoto Convention)

Naskah Terjemahan Lampiran Umum International Convention on Simplification and Harmonization of Customs Procedures (Revised Kyoto Convention) Naskah Terjemahan Lampiran Umum International Convention on Simplification and Harmonization of Customs Procedures (Revised Kyoto Convention) BAB 1 PRINSIP UMUM 1.1. Standar Definisi, Standar, dan Standar

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN 2016 TENTANG PENYELESAIAN SENGKETA DI BIDANG PENANAMAN MODAL ANTARA PEMERINTAH DAN PENANAM MODAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:

Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan: PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2004 TENTANG SYARAT DAN TATA CARA PENGALIHAN PERLINDUNGAN VARIETAS TANAMAN DAN PENGGUNAAN VARIETAS YANG DILINDUNGI OLEH PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PATEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa paten merupakan kekayaan intelektual yang diberikan

Lebih terperinci

Tinjauan Kebijakan Ekonomi Indonesia Yose Rizal Damuri

Tinjauan Kebijakan Ekonomi Indonesia Yose Rizal Damuri Tinjauan Kebijakan Ekonomi Indonesia Meninjau Ulang Pentingnya Perjanjian Perdagangan Bebas Bagi Indonesia Yose Rizal Damuri Publikasi Ikhtisar Kebijakan Singkat ini merupakan hasil dari Aktivitas Kebijakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang berdirinya APEC 1.2. Sejarah Lahirnya APEC

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang berdirinya APEC 1.2. Sejarah Lahirnya APEC BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang berdirinya APEC Asia pasific Economic Cooperation-APEC merupaka forum yang terbentuk dan perkembangannya dipengaruhi antara lain oleh kondisi politik dan ekonomi dunia

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 39 TAHUN 2007 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 1995 TENTANG CUKAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a.

Lebih terperinci

MAKALAH ETIKA PROFESI RAHASIA DAGANG

MAKALAH ETIKA PROFESI RAHASIA DAGANG MAKALAH ETIKA PROFESI RAHASIA DAGANG Nama Kelompok: 1. Pemi wahyu ningseh 2. Resgianto 3. Siti Soffa Putri Setiowati TEKNIK INFORMATIKA PROGRAM STUDI DI LUAR DOMISILI KABUPATEN LAMONGAN POLITEKNIK ELEKTRONIKA

Lebih terperinci

FUNGSI KEPABEANAN Oleh : Basuki Suryanto *)

FUNGSI KEPABEANAN Oleh : Basuki Suryanto *) FUNGSI KEPABEANAN Oleh : Basuki Suryanto *) Berdasarkan Pasal 1 angka (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan, bahwa yang dimaksud

Lebih terperinci

KEMAMPUAN ILMU HUKUM MENGANTISIPASI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL PADA REALITAS DUNIA MAYA

KEMAMPUAN ILMU HUKUM MENGANTISIPASI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL PADA REALITAS DUNIA MAYA KEMAMPUAN ILMU HUKUM MENGANTISIPASI HAK KEKAYAAN INTELEKTUAL PADA REALITAS DUNIA MAYA Oleh: Etty Susilowati COPYRIGHT BY ETTY'S ERA INFORMASI TEKNOLOGI TERJADI PERKEMBANGAN TELEMATIKA YANG SANGAT SIGNIFIKAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 34 TAHUN 1996 TENTANG BEA MASUK ANTIDUMPING DAN BEA MASUK IMBALAN PRESIDEN, Menimbang : bahwa berdasarkan Pasal 20 dan Pasal 23 Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan,

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG KETENTUAN UMUM DAN TATA CARA PERPAJAKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Republik

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PERLINDUNGAN DAN PEMANFAATAN KEKAYAAN INTELEKTUAL PENGETAHUAN TRADISIONAL DAN EKSPRESI BUDAYA TRADISIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kurang atau tidak memperoleh kasih sayang, asuhan bimbingan dan

BAB I PENDAHULUAN. kurang atau tidak memperoleh kasih sayang, asuhan bimbingan dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak adalah bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan keberlangsungan bangsa dan negara. Dalam konstitusi Indonesia, anak memiliki peran strategis

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah

Lebih terperinci

Executive Summary. PKAI Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik

Executive Summary. PKAI Strategi Penanganan Korupsi di Negara-negara Asia Pasifik Executive Summary P emberantasan korupsi di Indonesia pada dasarnya sudah dilakukan sejak empat dekade silam. Sejumlah perangkat hukum sebagai instrumen legal yang menjadi dasar proses pemberantasan korupsi

Lebih terperinci

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130 TAHUN 1998 TENTANG PENGESAHAN ASEAN AGREEMENT ON CUSTOMS (PERSETUJUAN ASEAN DI BIDANG KEPABEANAN)

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130 TAHUN 1998 TENTANG PENGESAHAN ASEAN AGREEMENT ON CUSTOMS (PERSETUJUAN ASEAN DI BIDANG KEPABEANAN) KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 130 TAHUN 1998 TENTANG PENGESAHAN ASEAN AGREEMENT ON CUSTOMS (PERSETUJUAN ASEAN DI BIDANG KEPABEANAN) PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa di Puket,

Lebih terperinci

PROTOCOL TO IMPLEMENT THE SIXTH PACKAGE OF COMMITMENTS UNDER THE ASEAN FRAMEWORK AGREEMENT ON SERVICES

PROTOCOL TO IMPLEMENT THE SIXTH PACKAGE OF COMMITMENTS UNDER THE ASEAN FRAMEWORK AGREEMENT ON SERVICES NASKAH PENJELASAN PROTOCOL TO IMPLEMENT THE SIXTH PACKAGE OF COMMITMENTS UNDER THE ASEAN FRAMEWORK AGREEMENT ON SERVICES (PROTOKOL UNTUK MELAKSANAKAN KOMITMEN PAKET KEENAM DALAM PERSETUJUAN KERANGKA KERJA

Lebih terperinci

Buku Panduan Permohonan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu bagi Sivitas Akademika IPB

Buku Panduan Permohonan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu bagi Sivitas Akademika IPB Buku Panduan Permohonan Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu bagi Sivitas Akademika IPB Kantor Hak Kekayaan Intelektual Institut Pertanian Bogor (Kantor HKI-IPB) Gedung Rektorat IPB Lantai 5 Kampus IPB Darmaga,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Salah satu faktor pendorong meningkatnya arus migrasi internasional adalah dengan adanya perkembangan perekonomian antar negara. Sejarah mencatat berbagai ekspedisi

Lebih terperinci

KEGIATAN PEMBAHASAN PENYUSUNAN ASEAN HARMONIZED TARIFF NOMENCLATURE (AHTN) 2017

KEGIATAN PEMBAHASAN PENYUSUNAN ASEAN HARMONIZED TARIFF NOMENCLATURE (AHTN) 2017 KEGIATAN PEMBAHASAN PENYUSUNAN ASEAN HARMONIZED TARIFF NOMENCLATURE (AHTN) 2017 A. Pendahuluan Klasifikasi barang adalah suatu daftar penggolongan barang yang dibuat secara sistematis dengan tujuan untuk

Lebih terperinci