Gempabumi dan Tsunami di Sumatra dan Upaya Untuk Mengembangkan Lingkungan Hidup Yang Aman Dari Bencana Alam. Oleh: Danny Hilman Natawidjaja

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Gempabumi dan Tsunami di Sumatra dan Upaya Untuk Mengembangkan Lingkungan Hidup Yang Aman Dari Bencana Alam. Oleh: Danny Hilman Natawidjaja"

Transkripsi

1 Gempabumi dan Tsunami di Sumatra dan Upaya Untuk Mengembangkan Lingkungan Hidup Yang Aman Dari Bencana Alam Oleh: Danny Hilman Natawidjaja December 2007

2 Daftar Isi Daftar Isi Pendahuluan: sumber gempabumi dan lingkungan hidup di Sumatra Proses tektonik lempeng dan terbentuknya jalur gempabumi di Sumatra Proses gempabumi di bawah laut perairan barat Sumatra Proses gempabumi di daratan Sumatra Kerusakan lingkungan hidup akibat proses gempabumi dan tsunami Efek Perubahan muka bumi akibat siklus gempa Efek proses gempabumi dan tsunami Upaya mengantisipasi kerusakan lingkungan dan bencana gempabumi dan tsunami Jalur gempabumi di bawah wilayah perairan barat Sumatra (Zona Subduksi Lempeng) Sejarah dan zonasi gempabumi di zona subduksi Gempa tahun 1797 (10 Februari 10, pukul 10 malam) Gempabumi tahun 1833 (24 November, pukul 8 malam) Studi Kasus: Gempabumi Aceh-Andaman, 26 December Gempa-tsunami Aceh adalah proses alam biasa Bagaimana para ahli meneliti gempabumi? Pengukuran lapangan di Pulau Simelue Analisa Citra Satelit dari Gempa Aceh Pengukuran GPS (Global Positioning System) Model Sumber Gempabumi Aceh Apakah Tsunami Akan Terulang Lagi di Aceh? Studi Kasus: Gempabumi Nias-Simelue, 28 Maret Perubahan mukabumi yang terjadi Model gempabumi Nias-Simelue tahun Gempa Nias-Simelue tsunaminya tidak besar... 63

3 Kapan gempa selanjutnya di Segmen Nias-Simelue Laporan singkat hasil survey: Gempabumi Bengkulu-Mentawai, September Antisipasi Gempabumi yang akan datang di wilayah Mentawai, Padang, dan Bengkulu Jalur Gempabumi di Pegunungan Bukit Barisan (Patahan Sumatra) Potensi bencana gempabumi di jalur Patahan Sumatra Pemetaan jalur Patahan Sumatra untuk mengantisipasi bencana gempa Tektonik dan segmentasi Patahan Sumatra Kecepatan gerak patahan (sliprate) Sejarah gempabumi di Patahan Sumatra dan potensi bencana di masa depan Potensi gempa bumi dari Patahan Sumatra Studi Kasus: Gempabumi 6 Maret 2007 di wilayah Danau Singkarak, Sumatra Barat Ringkasan Lokasi episenter gempabumi Data rekahan patahan gempa di permukaan Hubungan antara kerusakan yang terjadi dan lokasi patahan gempa Antisipasi bencana gempa di masa datang Analisa bencana gempabumi Latar belakang dan Metoda Analisa bencana goncangan gempa (Seismic Hazard assesment) Skenario sumber gempa Hasil analisa deterministic seismic hazard analysis (DSHA) Bencana alam ikutan akibat goncangan gempa Analisa bencana akibat limpasan tsunami Latar belakang Simulasi pemodelan gempa-tsunami Metoda...114

4 Skenario sumber gempa-tsunami Hasil analisa dan peta limpasan tsunami di wilayah Kota Padang Umum Padang Hasil analisa dan peta limpasan tsunami di wilayah Kota Bengkulu Tinggi dan pola gelombang tsunami di Bengkulu Peta simulasi inundasi tsunami untuk Kota Bengkulu Strategi pembangunan dan pengembangan lingkungan hidup yang aman bencana alam Dasar Pemikiran Data potensi bencana alam Realisasi mitigasi bencana alam di daerah Daftar Pustaka...133

5 1. Pendahuluan: bencana gempabumi dan lingkungan hidup di Sumatra Usaha mengembangkan lingkungan hidup tidak hanya bergantung dari proses yang berkaitan dengan aktifitas manusia dan mahluk hidup lainnya tapi juga berkaitan dengan pemahaman dari efek proses alamiah. Pada prinsipnya, efek dari proses alamiah dapat dibagi menjadi dua macam. Yang pertama adalah proses alamiah yang efeknya terjadi secara perlahan-lahan akibat proses yang konsisten terus menerus selama bertahun-tahun, puluhan tahun sampai ratusan tahun atau lebih. Yang termasuk dalam proses ini contohnya adalah: proses erosi pantai yang lambat laun merambah ke darat merusak lingkungan binaan manusia secara perlahan-lahan, atau proses dinamika sungai di wilayah hilir yang sering mengakibatkan proses erosi dan banjir yang mengganggu pemukiman manusia disekitarnya. Yang kedua adalah proses alamiah yang mengakibatkan perubahan alam yang signifikan dalam waktu yang sangat singkat atau secara tiba-tiba; contohnya adalah: peristiwa gempabumi, tsunami, dan letusan gunung api. Pada umumnya proses dan perubahan alam baik yang terjadi secara perlahan-lahan dan terutama yang datang mendadak dapat menjadi bencana untuk manusia dan lingkungan hidup apabila kurang diantisipasi sebelumnya. Agar supaya dapat mengembangkan konsep dan pelaksanaan pengembangan lingkungan hidup yang lebih aman dari bencana alam, maka kita perlu pengetahuan dan data yang cukup tentang proses alam ini. Dalam studi ini akan dibahas dasardasar pemahaman dan informasi tentang proses gempabumi dan tsunami, khususnya di Sumatra. Kemudian efek bencana terhadap lingkungan hidupnya akan dianalisa secara kuantitatif sehingga kita dapat membuat strategi bagaimana mensiasati dan mengantisipasi efek bencana alam yang dapat terjadi di masa datang. Dalam sub-bab ini akan dibahas tentang dasar pengetahuan ilmiah tentang proses gempa bumi secara singkat dan popular sebagai berikut.

6 1.1. Proses tektonik lempeng dan terbentuknya jalur gempabumi di Sumatra Bumi kita ini berlapis-lapis. Keberadaan lapisan-lapisan ini berkaitan erat dengan perubahan temperature dan tekanan yang semakin tinggi kearah pusat bumi. Lapisan bumi dapat dikelompokan menjadi tiga bagian utama. Pertama, lapisan paling luar disebut lapisan batuan (litosfer) atau kulit bumi yang padat, tebalnya sampai 100 km-an. Lapisan luar ini biasa disebut sebagai lempeng bumi yang selalu bergerakgerak. Kedua, disebelah dalamnya adalah mantel bumi yang tebalnya sampai ribuan kilometer. Bagian luar dari mantel ini bisa bersifat cair, sehingga lapisan batuan bumi seperti mengapung di atasnya. Ketiga, di sekitar pusat bumi adalah intibumi yang luar biasa panasnya, terdiri dari lelehan besi dan timah. Yang erat kaitannya dengan proses gempa bumi adalah lapisan yang paling luar, yaitu litosfer tersebut. Gempabumi besar umumnya terjadi pada bagian paling atas dari kerak bumi, disebut kerak bumi (=earth crust) yang tebalnya hanya 10 40km. Di bagian ini suhu bumi umumnya tidak melebihi C. Ini adalah persyaratan utama untuk terjadi proses deformasi elastik yang menimbulkan gempabumi. Litosfer mengapung diatas mantel bumi yang cair. Kemudian, karena mantel ini dipanaskan oleh intibumi yang super panas maka terjadilah arus konveksi di mantel seperti halnya kalau air dipanaskan di atas tungku api (Gambar 1.1). Arus yang terjadi dalam mantel bumi menyebabkan kulit bumi di atasnya terseret-seret. Hal ini menyebabkan litosfer terbelah-belah menjadi banyak lempeng untuk mengakomodasi gerakan. Selanjutnya, lempeng-lempeng bumi ini bagaikan sampan raksasa yang bergerak saling menjauh, berpapasan, dan bertumbukan. Pergerakan ini hanya beberapa milimeter centimeter pertahun sehingga pancaindra kita tidak bisa melihat atau merasakan efeknya karena terlalu kecil.

7 Gambar 1.1 Diagram Struktur bumi mengilustrasikan teori tektonik lempeng. Kerak bumi baru terbentuk di jalur pemekaran lantai samudra. Kerak bumi lama di daur ulang di zona subduksi (penunjaman). Lempeng-lempeng yang bergerak berpapasan satu dengan yang lain pada zona patahan transform. Gempabumi umumnya terjadi pada tiga zona batas lempenglempeng bumi ini. Pada kedalaman km di zona subduksi, kerak bumi meleleh menjadi magma, dan magma naik ke atas menjadi jajaran gunung api. Fakta bahwa Bumi yang tak pernah diam ini baru dikemukakan pada tahun 1915 oleh seorang ilumuwan yang bernama Alfred Wagener yang berhipotesa bahwa muka bumi ini bergerak perlahan-lahan. Hipotesa Wagener hanya berdasarkan pada fakta bahwa bentuk pantai Afrika Barat sangat mirip dengan pantai Amerika timur, demikian juga flora dan faunanya, sehingga dia berpendapat bahwa dulunya kedua pantai ini bersatu sebelum kemudian terpisahkan akibat pergerakan muka bumi. Hipotesa ini selama ~40 tahun tidak diterima oleh masyarakat ilmiah, sampai akhirnya Dietz (1961) dan Hess (1961) menemukan fakta-fakta ilmiah kuat, berdasarkan data seismik, bahwa ditengah samudra terdapat kemunculan lempeng bumi yang dicirikan oleh jejeran pegunungan tinggi di dasar laut. Kemudian data juga menunjukkan bahwa karena luas muka bumi ini tetap, maka lempeng samudra yang terbentuk sebelumnya harus ditunjamkan kembali ke dasar bumi, yaitu disepanjang tepian

8 lempeng yang dicirikan oleh palung laut dalam (Gambar 1.1). Jadi terbukti bahwa apa yang dikatakan Wagener ini ternyata benar. Maka sjak itu lahirlah cikal-bakal teori Tektonik Lempeng ( Plate Tectonic Theory ) yang menjadi dasar bagi perkembangan ilmu dan teknologi gempabumi modern. Salah satu palung laut dalam yang menjadi tempat penunjaman lempeng Samudra ke dalam bumi adalah disepanjang tepian benua di barat Sumatra yang menerus sampai ke Selatan Jawa, Bali, dan Lombok. Gempabumi 26 Desember 2004 di Aceh-Andaman adalah termasuk gempabumi pada jalur penunjaman lempeng. Gambar 1.2. Dinamika umum tektonik Indonesia diperlihatkan oleh respon Kep. Indonesia terhadap pergerakan relatif tiga lempeng bumi dari data GPS (Global Positioning System) Panah besar merah adalah kecepatan gerak dari lempeng. Panah-panah hitam menunjukan kecepatan gerak dari lokasi tempat pengukuran monumen GPS antara tahun 1989 dan 2002 (sumber dari [Bock, 2003]). Indonesia letaknya diantara pertemuan 4 lempeng bumi besar, yaitu: Lempeng Hindia dan Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pacific (Gambar. 1.2 ).

9 Lempeng Hindia-Australia bergerak ke Utara menumbuk Lempeng Eurasia dengan kecepatan mm/tahun. Zona tumbukan dua lempeng ini adalah di sepanjang Palung laut Sumatra Jawa Bali Lombok. Lempeng (benua) Australia menabrak busur kepulauan di sepanjang tepi kontinen dari tepian selatan Timor Timur terus ke timur dan melingkar berlawanan arah jarum jam di Lautan Banda. Lempeng Pasific bergerak dengan kecepatan ~120 mm/tahun kearah barat-baratdaya menabrak tepian utara dari Pulau Papua New Guinea - Irian Jaya, dan terus ke arah barat sampai ke daerah tepian timur Sulawesi. Gerakan dari tabrakan dan pergeseran lempenglempeng besar ini tentunya direspon secara mekanis oleh Kepulauan Indonesia. Pergerakan yang terlihat sebagai panah-panah vektor dalam Gambar 1.2 Pergerakan lempeng-lempeng inlah yang membuat banyak gempabumi Proses gempabumi di bawah laut perairan barat Sumatra Dari uraian di atas kita memahami bahwa wilayah barat Sumatra sering terjadi gempa karena posisinya di sepanjang jalur tumbukan dua lempeng bumi, di mana lempeng (Samudra) Hindia bergerak menunjam ke bawah lempeng (benua) Sumatra (Gambar 1.2). Sumatra dan busur kepulauan di bagian baratnya adalah bagian dari lempeng Eurasia. Sedangkan lempeng lainnya berada di bawah Lautan Hindia. Batas tumbukan dua lempeng ini dapat diamati berupa jalur palung laut dalam di sebelah barat Sumatra sampai ke Kep. Andaman (Gambar 1.3). Lempeng Hindia menunjam di bawah Sumatra dengan kecepatan cm/tahun dan kemiringan dari zona penunjamannya sekitar 12 [Natawidjaja, 2003; Prawirodirdjo, 2000]. Batas antara lempeng yang menunjam dan massa batuan di atasnya disebut sebagai bidang kontak dari zona penunjaman atau disebut juga sebagai bidang zona subduksi (Gambar 1.4). Di Sumatra bidang zona subduksi ini dapat diamati (dari data seismisitasnya) sampai kedalaman sekitar 300 km di bawah P. Sumatra. Bagian zona subduksi dari palung sampai kedalaman 40 km-an, umumnya mempunyai sifat regas (elastik) dan batas kedua lempeng ini di beberapa tempat terekat/terkunci erat.

10 Karena itu dorongan terus menerus dari Lempeng Hindia menyebabkan terjadinya akumulasi energi-potensial regangan pada bidang kontak yang merekat erat ini berupa pengkerutan (Gambar 1.5a) [Chlieh et al., in press]. Bidang kontak zona subduksi dangkal ini biasa disebut sebagai megathrust (= mega-patahan naik yang berkemiringan landai). Inilah yang menjadi sumber gempabumi di lepas pantai barat Sumatra. Gambar 1.3. Tektonik aktif Pulau Sumatra memperlihatkan sumber-sumber utama gempabumi pada zona Subduksi dan zona Patahan Sumatra. Banyak gempa besar yang terjadi pada kedua zona utama gempa ini. A B adalah lintasan penampang skematik pada Gbr.1.4. Di bawah kedalaman 40 km-an, temperatur disekitar bidang kontak melebihi C sehingga tidak lagi memungkinkan adanya akumulasi energi elastik (gempa). Dengan kata lain pada kedalaman ini lempeng yang menunjam akan

11 bergeseran dengan lempeng di atasnya tanpa terkunci atau menimbulkan pengkerutan seperti proses yang diterangkan di atas, sehingga di kedalaman ini umumnya tidak ada gempa-gempa besar, tapi hanya gempa-gempa kecil saja. Pada kedalaman antara km, temperature bumi bertambah panas sehingga batuan disekitar zona kontak ini meleleh. Kemudian lelehan batuan panas ini naik ke atas membentuk kantung-kantung bubur batuan panas yang kita kenal sebagai kantungkantung magma (Gambar 1.4). Pada akhirnya magma ini mendesak ke atas permukaan membentuk kubah magma, yaitu gunung api. Itulah sebabnya kenapa selain sering gempabumi, Sumatra juga mempunyai jajaran gunung api di punggungan pulaunya, dikenal sebagai Pegunungan Bukit Barisan. Gambar 1.4. Diagram zona subduksi Sumatra (penampang A-B pada Gambar 1.3) memperlihatkan struktur bumi di bawah permukaan. Sumber gempa besar di Sumatra adalah pada megathrust dan jalur Patahan Sumatra. Megathtrust adalah pada bidang kontak zona subduksi sampai kedalaman ~ 50km. Pada kedalaman km, lempeng meleleh menjadi magma. Magma naik ke atas menjadi gunung api. (Sumber: Poster dan Brosur LIPI-Caltech : Sumatra Rawan Gempa ). Pada masa diantara gempabumi besar, bidang kontak dua lempeng yang terekat kuat akan mengkerut dan menghimpun tekanan, karena lempeng Hindia terus bergeser masuk di bawah lempeng Sumatra (Gambar 1.5A). Sejalan dengan itu, pulau-pulau yang berada di atas lempeng Sumatra ikut terseret ke bawah perlahanlahan dan juga terhimpit kearah daratan Sumatra. Suatu saat, tekanan yang

12 terhimpun diantara dua lempeng ini menjadi terlalu besar untuk ditahan, sehingga rekatan diantara dua lempeng ini pecah dan lempeng di bawah pulau akan terhentak dengan sangat kuat ke arah barat dan atas (Gambar 1.5B). Lentingan lempeng ini menghasilkan goncangan keras yang dikenal sebagai gempabumi, dan membuat pulau-pulau di sebelah barat terangkat, sebaliknya yang di bagian timur turun ke bawah akibat efek deformasi elastik. Setelah itu, bidang kontak akan merekat lagi dan pulau-pulau kembali terseret ke bawah (Gbr 1.5C). Siklus proses gempabumi ini berlangsung selama satu abad atau lebih sampai suatu saat nanti kembali terjadi gempabumi besar. Ketika pulau-pulau terhentak ke atas saat gempabumi, permukaan bumi di dasar laut ikut terangkat sehingga sejumlah besar volume air ikut terdorong ke atas dan menghasilkan bumbungan besar air di atas permukaan laut (Gbr. 1.5B). Bumbungan air ini kemudian menyebar ke segala arah dan menjadi gelombang tsunami (Gbr. 1.5C). Gelombang tsunami sangat panjang dan bergerak sangat cepat menerjang dan membanjiri daratan. Gelombang tsunami bisa sangat berbahaya walaupun hanya beberapa meter karena seluruh massa airnya bergerak dengan sangat cepat sehingga mempunyai energi momentum yang tinggi. Ini berbeda dengan gelombang biasa yang pergerakannya hanya di bagian atasnya saja.

13 Gambar 1.5 A-B-C. Proses siklus gempabumi pada zona subduksi/penunjaman lempeng (bahan diambil dari Poster dan Brosur LIPI-Caltech: Pulau Kita Tenggelam: karena proses gempabumi ) 1.3. Proses gempabumi di daratan Sumatra Lempeng Hindia menabrak bagian barat Sumatra secara miring (lihat Gambar 1.3) sehingga tekanan dari pergerakan ini terbagi menjadi dua komponen. Pertama adalah komponen yang tegak lurus dengan batas lempeng atau palung. Komponen pergerakan ini sebagian besar diakomodasi oleh zona subduksi seperti diuraikan di

14 atas. Kedua adalah komponen gerakan horizontal yang sejajar dengan arah palung dan menyeret bagian barat Sumatra ke arah baratlaut. Karena gaya ini maka terbentuklah patahan bumi besar disepanjang punggungan pulau, yakni dikenal sebagai Patahan (Besar) Sumatra. Bidang kontak pada zona Patahan Sumatra ini tegak lurus membelah dua bumi Pulau Sumatra. Dari waktu ke waktu bumi di bagian barat Patahan Sumatra ini bergerak ke arah baratlaut dengan kecepatan 10 sampai dengan 30 mm/tahun relatif terhadap bagian di sebelah timurnya. Namun, sebagaimana halnya bidang kontak zona subduksi yang dangkal, bidang Patahan Sumatra sampai kedalaman 10 20km juga terkunci erat sehingga terjadi akumulasi tekanan elastik pada masa antar gempa, berpuluh-puluh tahun sampai ratusan tahun. Suatu saat, tekanan yang terkumpul sudah demikian besar sehingga bidang kontak/patahan sudah tidak kuat lagi menahan, sehingga pecah dan batuan di kanan-kirinya melenting tiba-tiba dengan kuat, terjadilah gempabumi besar. Berbeda dengan yang di zona subduksi, pada Patahan Sumatra gerakan yang terjadi arahnya menyamping/horisontal pada sepanjang bidang patahan yang tegak lurus. Bumi di bagian barat patáhan akan bergeser tiba-tiba ke arah utara dan yang di bagian timur bergeser ke arah selatan. Setelah gempa, bidang patahan akan kembali merekat dan terkunci lagi, dan mengumpulkan tekanan elastik sampai suatu hari nanti terjadi gempabumi besar lagi. Jalur Patahan Sumatra bisa dikenal dari kenampakan bentang alam di sepanjang jalur. Dari udara kita dapat melihat kelurusan dari jalur patahan yang membelah bumi (jalur merah pada Gambat 1.6). Jalur ini seringkali ditandai oleh kenampakan bukit-bukit kecil di sepanjang patahan, pergeseran alur-alur sungai, dan danau-danau yang terjadi karena pergeseran bumi, seperti Danau Singkarak dan Danau Diatas (Gambar 1.6).

15 Gambar 1.6. Diagram Jalur Patahan Sumatra di Sumatra barat. (Sumber data: [Sieh and Natawidjaja, 2000], gambar diambil dari brosur: Sumatra Rawan Gempabumi, LIPI Caltech) 1.4. Kerusakan lingkungan hidup akibat proses gempabumi dan tsunami Siklus gempa terdiri dari : (1) perioda panjang diantara gempa besar dimana sumber gempa secara perlahan-lahan mengakumulasi energi regangan dan (2) Kejadian gempa yang melepaskan energi regangan secara tiba-tiba. Ada beberapa hal pengetahuan dasar yang dipahami dari proses siklus gempa yang berhubungan dengan perubahan lingkungan hidup dan bencana alam yang ditimbulkan. Dalam perioda panjang antar gempa muka bumi disekitar jalur gempa bergerak secara perlahan-lahan dalam hitungan milmeter sampai beberapa centimeter pertahun.

16 Ada wilayah yang turun dan ada juga yang naik. Untuk Sumatra, pulau-pulau yang persis di atas zona megathrust (sumber gempa zona subduksi) seperti Pulau Simelue, Nias, Batu, Siberut, Sipora dan Pagai umumya akan mengalami penurunan secara perlahan-lahan sampai 15 mm/tahun. Artinya kita harus mengantisipasi bahwa apabila membangun rumah-rumah ditepi pantai yang hanya 50 cm di atas muka laut, maka dalam kurun waktu 50-tahunan rumah-rumah ini bisa menjadi di bawah air. Bukti adanya penurunan pulau-pulau ini jelas terlihat di mana di banyak tempat di Kep. Mentawai, pohon-pohon kelapa dan lainnya yang tadinya di atas muka laut sekarang sudah terendam air. Untuk daerah di sepanjang jalut Patahan Sumatra di darat, penurunan dan pengangkatan secara perlahan-lahan ini tidak terjadi karena prgerakan utamanya menyamping, yakni blok barat bergerak ke Utara dan blok timur ke Selatan sampai sekitar 3 cm/tahun. Untuk segmen patahan yang terkunci maka pada perioda antar gempa ini di jalur tidak ada pergerakan. Namun pada segmen yang tidak atau hanya sebagian terkunci maka akan ada pergerakan perlahan-lahan. Pergerakan tektonik perlahan-lahan ini bisa menimbulkan problem pada lingkungan/struktur binaan manusia, misalnya ruas jalan raya, rumah-rumah atau bangunan bisa terus menerus mengalami problem kerusakan akibat pergeseran tanah ini Efek Perubahan muka bumi akibat siklus gempa Pada waktu terjadi gempabumi, energi potensial regangan yang terkumpul pada zona patahan selama ber-puluh-puluh hinga ratusan tahun di lepaskan serentak sehingga menimbulkan perubahan muka bumi yang tiba-tiba. Hal ini tentunya dapat menimbulkan bencana bagi manusia. Untuk gempa di zona subduksi, pergerakan ini akan menyebabkan wilayah tertentu terangkat ke atas sampai beberapa meter dan wilayah lainnya amblas sampai 1-3 meter. Misalnya bagian pantai barat Pulau Nias yang sebelum gempa Maret 205 sebagian pantainya makin terendam laut secara perlahan-lahan, maka pada waktu gempa Maret 2005 pantai ini terangkat sampai 3 meter.

17 Pengangkatan tiba-tiba wilayah kepulauan ini memberikan dampak kerusakan lingkungan antara lain sebagai berikut: - populasi terumbu karang pada zona pasang-surut di sepanjang tepi pantai akan terangkat ke atas air dan mati, baik sebagian ataupun total - rusaknya ekosistem terumbu karang juga membuat populasi ikan yang tadinya banyak hidup di terumbu karang menjadi kabur mencari tempat yang baru. Hal ini tentu akan berpengaruh pada mata pencaharian para nelayan di sekitarnya. -pengangkatan juga menyebabkan dasar laut naik sehingga hal ini bisa mempengaruhi peta navigasi laut; artinya ada banyak daerah yang tadinya bisa dilalui perahu nelayan menjadi tidak bisa lagi karena sudah terlalu dangkal. -hal yang positif pengangkatan wilayah pantai adalah membuat daratan menjadi luas sehingga membuka lahan kehidupan baru untuk dijadikan sawah ladang dan sebagainya. Namun perlu diingat bahwa proses selanjutnya akan kembali menenggelamkan daratan baru ini secara perlahan-lahan sampai terjadi lagi gempa besar yang mengangkat kembali daratan ini. Penurunan tiba-tiba dari wilayah pantai menyebabkan: - ekosistem yang tadinya hidup di atas air menjadi tenggelam dan mati. Wilayah pantaipun menjadi menyusut. - sebagian wilayah pemukiman yang terlalu dekat dengan muka laut menjadi tenggelam di bawah air sehingga tidak bisa dihuni lagi. Hal ini sudah terjadi di berbagai wilayah pantai Sumatra Utara dan NAD setelah gempa Aceh-Andaman 2004 dan gempa Nias-Simelue Efek proses gempabumi dan tsunami Proses patahan bumi yang pecah dan bergerak tiba-tiba pada waktu gempa besar menimbulkan goncangan yang sangat keras di daerah sumber dan sekitarnya. Goncangan ini tentunya dapat menimbulkan kurasakan pada lingkungan hidup

18 manusia. Rumah-rumah dan bangunan lainnya dapat mengalami kerusakan ringan sampai berat, bahkan bisa ambruk total. Disamping efek goncangan tanah disepanjang jalur patahan akan mengalami pergerakan tiba-tiba sampai beberapa meter sehingga rumah-rumah dan bangunan atau konstruksi buatan manusia yang dibangun di atasnya menjadi rusak. Dalam kasus ini walaupun rumah dan bangunan tersebut sudah dirancang untuk tahan goncangan namun kebanyakan tetap akan rusak akibat fondasinya bergeser, kecuali kalau hal inipun sudah diperhitungkan dengan konstruksi khusus yang memadai sesuai dengan analisa bencananya. Tapi secara umum seharusnya ada peraturan daerah yang mengatur agar jalur patahan ini sebisa mungkin tidak ditempati untuk rumah dan bangunan, apalagi untuk fasilitas umum, seperti sekolah, hotel, dan rumah sakit. Seperti yang diuraikan di atas, apabila gempabumi terjadi di bawah laut maka pengangkatan dasar laut yang terjadi menyebabkan terjadinya tsunami. Tsunami berbeda dengan gelombang laut biasa. Gelombang laut biasa terjadi karena tenaga arus angin di atas sehingga hanya bagian atas dari badan air saja yang bergerak. Gelombang tsunami menggerakan seluruh badan air dan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Dilaut dalam kecpatan gelombang tsunami mencapai 700 km/jam. Makin mendekat ke pantai, laut makin dangkal sehingga kecepatannya berkurang, namun hal ini membuat amplitudo gelombang semakin besar. Oleh karena itu tsunami bisa sangat berbahaya, walaupun dengan tingi gelombang yang hanya 1-3 meter sama seperti gelombang badai biasa tapi daya momentumnya jauh lebih besar. Efek terjangan tsunami dapat menimbulkan kerusakan hebat pada lingkungan alam dan lingkungan hidup manusia seperti yang pernah kita saksikan sewaktu terjadi tsunami Aceh tahun 2004.

19 1.5. Upaya mengantisipasi kerusakan lingkungan dan bencana gempabumi dan tsunami Dengan memahami proses alam kita dapat mengantisipasi atau meminimalisasi efek kerusakan yang dapat ditimbulkan oleh gempabumi dan tsunami. Dari uraian di atas efek-efek kerusakan utama yang harus derhitungkan dalam perencanaan lingkungan hidup dan antisipasi bencana adalah sbb: 1. Proses pergerakan muka bumi, penurunan atau pengangkatan yang terjadi dalam prioda antar gempabumi 2. Proses pengangkatan dan penurunan tiba-tiba ketika trjadi gempabumi 3. Efek pergerakan dan goncangan gempabumi 4. Terjadinya tsunami Selain itu ada efek bencana ikutan lainnya seperti proses gerakan tanah, amblasan, dan likuifaksi yang dipicu oleh goncangan gempabumi. Pada prinsipnya usaha untuk mitigasi bencana alam terbagi dua hal. Yang pertama, untuk wilayah pemukiman atau bangunan yang sudah terlanjur berada di wilayah rawan bencana, maka hal dapat dilakukan adalah membuat langkah-langkah persiapan agar apabila bencana yang diantisipasi itu terjadi efek mrusaknya dapat diminimalkan. Yang kedua, untuk jangka panjang, perencanaan lingkungan hidup termasuk RTRW daerah harus memperhitungkan wilayah-wilayah rawan bencana sehingga pada suatu saat nanti kejadian gempabumi dan tsunami yang terjadi tidak mengakibatkan perusakan lingkungan hidup dan bencana manusia.

20 2. Jalur gempabumi di bawah wilayah perairan barat Sumatra (Zona Subduksi Lempeng) 2.1 Sejarah dan zonasi gempabumi di zona subduksi Zona subduksi Sumatra adalah jalur gempa bumi yang paling banyak menyerap dan mengeluarkan energi gempabumi. Dalam sejarah, tercatat sudah banyak gempabumi yang terjadi dengan magnitudo (skala Richter dll) di atas 8 (Gbr.2.1) [Natawidjaja, 2005; Newcomb and McCann, 1987]. Di Selatan khatulistiwa, gempa besar pernah terjadi tahun 1833 (M8.9) dan pada tahun 1797 (M ). Kedua gempa ini menghasilkan tsunami besar yang menghantam perairan Sumatra barat dan Bengkulu. Catatan sejarah dari dua gempa besar di wilayah Mentawai, Sumatra barat dan Bengkulu ini akan di bahas secara khusus di sub-bab berikut di bawah. Wilayah zona subduksi di selatan ini disebut sebagai segmen Mentawai. Segmen ini sudah dua tahun terakhir kami waspadai sebagai sumber gempa besar dan tsunami berikutnya di pantai barat Sumatra setelah gempa Aceh-Andaman tahun 2004 dan gempa Nias-Simelue tahun Ternyata, pada bulan September 2007 segmen ini memang mengeluarkan energi gempanya sebesar Mw8.4 (skala momen magnitudo ~ skala Richter). Namun energi ini hanya kurang dari sepertiga dari total energi yang sudah terkumpul lagi sejak tahun 1797 dan Artinya potensi gempa dan tsunami di segmen ini masih besar, bahkan jadi lebih perlu diwaspadai setelah gempa September 2007 ini.

21 Gambar 2.1 Tektonik aktif Pulau Sumatra memperlihatkan sumber-sumber utama gempabumi pada zona Subduksi. Banyak gempa besar yang terjadi pada zona subduksi atau tumbukan lempeng ini. Elips berwarna menunjukan sumber gempa dan angka di sebelahnya menunjukan tahun dan besarnya magnitudo gempa yang terjadi termasuk gempabumi 26 Desember 2004 (Magnitudo 9.2 ~ Skala Richter), gempa 28 Maret 2005 (M 8.7), dan gempa Bengkulu 12 September 2007.

22 Di wilayah khatulistiwa, gempa besar terkhir terjadi tahun 1935 dengan kekuatan gempa M 7.7. Gempa ini menyebabkan kerusakan yang cukup parah di Telo, kota Kecamatan di Kep. Batu dan juga wilayah sekitarnya. Di beberapa tempat di Kep. Batu dilaporkan juga adanya kenaikan airlaut ketika gempa, namun tidak dilaporkan adanya kerusakan serius akibat gelombang laut yang naik ini (i.e. tsunami). Di utara khatulistiwa, gempa dan tsunami besar pernah terjadi di wilayah Nias- Simelue pada tahun Gempa tahun 1861 ini diperkirakan berkekuatan lebih dari 8.5 skala magnitudo (~Richter). Tercatat dalam sejarah bahwa tsunami yang terjadi cukup besar (Gbr 2.2.) [Newcomb and McCann, 1987; Wichmann, 1918a]. Pada tahun 1907 terjadi bencana tsunami besar lagi di wilayah Simelue dan Nias. Meskipun magnitudo gempa yang menyebabkan tsunami 1907 ini tidak terlalu besar (M7.6) namun tinggi tsunami yang terjadi di pantai barat dan Utara Simelue mencapai lebih dari 10 meter. Bedasarkan pengematan lapangan dan wawancara dengan pnduduk setempat tinggi tsunami tahun 1907 adalah dua kali lebih besar dari tsunami Aceh untuk wilayah Pulau Simelue. Peristiwa tsunami tahun 1907 inilah yang katanya melahirkan istilah SMONG atau bahasa lokal untuk tsunami. Para orang tua yang selamat waktu tsunami 1907 menceritakan tragedi bencana alam ini pada anaknya (yang banyak masih hidup sekarang ini). Inti nasehatnya kurang lebih adalah apabila nanti air laut tiba-tiba surut sampai jauh ke tengah maka itulah tandanya smong akan datang, larilah cepat ke bukit, selamatkan jiwa dan tinggalkan saja harta benda.

23 Gambar 2.2. Lukisan dari tsunami yang terjadi tahun 1861 di wilayah Sumatra Utara, Nias, dan Simelue menggambarkan kedahsyatan dari tsunami tersebut Gempa tahun 1797 (10 Februari 10, pukul 10 malam) Naskah Asli dari catatan sejarah gempa 1797: 1. From [Wichmann, 1918b], pp (English Translation by Jenny Briggs) February 10, around 10 p.m. West coast of Sumatra. The first period of shaking lasted one minute, after which a tidal wave immediately arose and forced its way with such strength into the river at Padang that the town was flooded. 2 After this, the water withdrew so far that even the river bed was left dry. This sequence was repeated three times. The village of Ajer [Air] Manis, located on the beach, was flooded and several huts were swept away. In Padang itself, crevices appeared that were 3-4 inches wide, but these closed up again after further shaking occurred. However, cracks formed in the walls of most of the buildings. Throughout the entire night as well as throughout the whole of the next day, February 11, the ground was moving. Every minutes, severe shaking occurred. For the duration of the entire following week, people felt the ground trembling. However, the intervals of calm grew steadily longer. 3

24 According to J. Griffith s reports, the earthquakes had spread over an area 2 degrees north and 2 degrees south of the equator. Moreover, the tidal wave they generated also had effects on the Batu islands. 4 J. Anderson mentioned, based on the report of S. C. Crooke, a severe earthquake in the region of Djambi [Jambi], east Sumatra, about 20 years prior to , and J. R. Logan thinks that it very possibly could have occurred in 1797 at the same time as the quakes in west Sumatra 6. Footnotes: 1 par les matières en fusion qu on voyait bouilloner au fonds de son cratère. Deschamps. Precis sur l ile de Java. Mem. de la Soc. roy. d Arras , p J. du Puy. Een paar aanteekenigen omtrent vuurbergen en aardbevingen op Sumatra, Tidjschrift voor Neerl , p Robert Mallet (Fourth report on the Facts of Earthquakes. Report Brit. Assoc. Adv. of Sci London 1855, p. 38) referred to the papers written by J. Griffith in stating that this earthquake occurred on Feb. 20, but Griffith s reports certainly gave it no date. On Feb. 10, 1797, S. A. Buddingh described an earth- and sea-quake at the Minnahassa on Celebes. He reported himself that at Kema the tidal wave was so powerful that it made the water in the rivers rise up, and that among others the village of Ajer Madidi -- halfway between Kema and Menado at an elevation of m.-- was flooded (Neederlandsch Oost-Indiё 2. Rotterdam 1860, p. 66.) In the entire report, not one word is true. Apparently he once heard of the earthquake in Sumatra and, with the usual carelessness, attributed it to northern Celebes. 3 It was also reported that a ship was swept 3 miles toward land by the tidal wave and that the wave caused 300 people to lose their lives (Memoir of the Life and Public Services of Sir Thomas Stamford Raffles, London 1830, p. 295). 4 Description of a rare Species of Worm Shells, discovered at an Island lying off the Northwest [sic!- A.W.- author] coast of Sumatra. Philos. Transact. 96. London 1806, p Mission to the East Coast of Sumatra in Edinburgh and London 1826, p. 402.

25 6 On the Local and Relative Geology of Singapore. Journ. Asiatic Soc. of Bengal. N.S. 16. Calcutta 1847, p From [du Puy, 1845], pp Translated by Maarten Schmidt, Caltech Earthquakes are frequent on Sumatra, but they cause not much damage because of the low population. The strongest earthquake in the memory of the people in Padang, happened on February 10, 1797 around 10 p.m. The moon which was full shone brightly but darkened at the first quake and stayed so during the night - the first shock lasted for about one minute - the waves of the sea ran with fury up the river by which the whole place was flooded. Next, all the water ran out the river, which was suddenly dry; this repeated itself three times; the river banks were covered with fish; a sailing ship of 150 tons which was moored to a tree near the mouth of the river, broke loose when the sea entered and was driven to behind the then-existing fort, a distance of 3/4 Eng. miles; on the way the vessel hit a stone house and two wooden ones which were demolished. Several smaller vessels, which were moored in the river, were also dislodged and moved off by the sea; some of these were later found behind the great market. A storage building in front of the house of the Resident at the river bank was lifted by the rushing waves and put down in the Chinese kampong - all of Air Manis, a seaside village at the corner opposite the Padang harbor is flooded and many houses flushed away - the next day one found several of the unfortunate inhabitants dead on the tree branches, where they had climbed to save themselves. The inhabitants of Padang left their houses and fled to the square outside the city; they saw the ground break open at some places some 3-4 inches wide, and then in further shaking close again. The earth was the whole night, and the following day, in continuing movement; every15 to 20 minutes there was heavy quaking and it lasted a week that the ground was shaking; the pauses became longer and longer. The walls of most of the stone houses in Padang were torn, so that cases and furniture fell over and much damage was suffered; in Padang itself only two people died.

26 A less strong earthquake occurred in [Shaking reports suggest that this earthquake was caused by the Sumatran fault, far inland] 3. [du Puy, 1847], pp Translated by Maarten Schmidt, Caltech On February 10, 1797, at 10 p.m. a heavy earthquake occurred which caused the collapse of many houses. The shock was so strong that the ground split open; further shocks were felt every half hour for five hours during the night though they became weaker and weaker. At the time of the first shock the sea came up three times, so high that it reached one third of the height of the 'Apenberg', which did brake the force somewhat, and all the ships outside the river were thrown onto dry land. An English sailing ship of about tons was found behind the Bird Market the next morning. The sides of the river were covered with fish and all seaside houses were flooded. Fortunately, this terror caused few or no human casualties. Old people claimed that 40 years ago there had been a yet stronger earthquake. [There was, in fact an earthquake in 1756 (Newcomb and McCann [1987]).] Ringkasan: Semua laporan dari gempa dan tsunami tahun 1797 terfokus pada akibat tsunami di wilayah muara sungai sampai pelabuhan (Muaro Padang). Ini tidak berarti bahwa limpasan tsunami hanya sangat terlihat di wilayah ini, karena perumahan penduduk memang baru menempati wilayah ini pada saat itu. Walaupun dilaporkan kerusakan di Padang cukup parah tapi yang mati hanya dua orang. Guncangan. Lama guncangan yang terasa di Padang adalah satu menit. Laporan du Puy [1845] mengindikasikan bahwa gempa ini adalah yang terkuatdalam ingatan penduduk Padang waktu itu. Namun pernyataan ini berlawanan dengan laporan du Puy tahun 1847 yang mnyebutkan bahwa ada gempa yang lebih kuat yang terjadi 40

27 tahun sebelumnya (~1757). Banyak rumah yang ambruk ketika gempa. Di tanah terbanyak banyak rekahan dengan bukaan 3 4 inci. Tsunami. Beberapa orang yang berusaha memanjat pohon untuk menghindari tsunami di Air Manis keesokan harinya ditemukan sudah mati di atas pohon. Seluruh kota terendam bah tsunami dan beberapa rumah dilaporkan hanyut terbawa gelombang. Di Padang dilaporkan tsunaminya juga menggenangi seluruh kota. Orang melaporkan ada 3-4 kali gelombang pasang-surut di pelabuhan. Satu laporan menyatakan bahwa tsunami naik sampai sepertiga Bukit atau Semenanjung Apenberg (Gbr 2.3) yang tinggi totalnya 104 m. Artinya tinggi tsunami mencapai 30 meteran. Laporan itu juga menyebutkan bahwa Bukit appenberg tersebut memecahkan gelombang tsunami. Laporan lain menyebutkan bahwa ketika tsunami tinggi air laut adalah sekitar 50 kaki di atas normal. Di Padang, gelombang pasang-surut tsunami membuat dasar sungai terlihat kering dan meninggalkan banyak ikan mati di atasnya. Semua perahu di sungai menjadi berada di atas tanah kering. Ada kapal besi dari Inggris seberat ton yang ditambatkan ke sebuah pohon di dekat muara sungai terbawa gelombang tsunami sampai 0.75 mil ke arah hulu dan kemudian terdampar di daerah Pasar Burung. Kapal ini merusakkan beberapa rumah takkala saat terhanyut. Semua rumah di tepi laut dikabarkan tenggelam oleh air bah. Interpretasi: Di Air Manis, di sebuah kampong kecil di tepi pantai sebelah baratnya bukit Apenberg, tinggi tsunami cukup untuk menenggelamkan orang yang berusaha memanjat pohon-pohon untuk menghindar. Pohon-pohon ini kemungkinan sekitar 4-5 meter untuk dapat menahan beban rata-rata orang dewasa. Kemudian dari fakta bahwa glombang tsunami bisa membawa kapal besi Inggris seberat ton artinya bahwa tinggi tsunami (= flow depth ) paling tidak 5 meteran mengingat tinggi pinggiran sungai adalah sekitar 2 meter dan draft bawah kapal mungkin sekitar3

28 meteran. Jadi dari dua catatan kejadian ini dapat dapat disimpulkan bahwa tinggi gelombang tsunami adalah sekitar 5 meteran. Ini adalah perkiraan yang cukup konservatif dibandingkan dengan laporan yang menyebutkan bahwa tinggi gelombang adalah sekitar 30 meter di tepi bukit Apenberg dan sekitar 50 kaki (15 m) ditempat lainnya di sepanjang pantai. Kami sangat meragukan laporan ini, karena kalau benar seharusnya tsunami sebesar ini menghancurkan seluruh perumahan penduduk di Padang dan menyebabkan kemaian yang lebih banyak lagi. Kami memperkirakan bahwa tinggi maksimum gelombang tsunami-nya kurang lebih setinggi 5 sampai 10 meteran Gempabumi tahun 1833 (24 November, pukul 8 malam) Catatan Asli sejarah gempa tahun 1833: 1. From [Wichmann, 1918b], pp (Translated by Jenny Briggs) January 28, a few minutes after 12 noon. Batavia. Earthquakes. The shocks were repeated, gaining in severity. The last one was so strong that several houses were damaged and even the old Lutheran church developed cracks. 1 January 29, noon. Tjiwidei. District of Tjisondari, Division of Bandung, Preanger regency, Java. Severe quakes, one of which was followed by rumblings from the earth that lasted one minute. 2 November 24, around 8:30 p.m. Sumatra. Severe earthquake, that was felt in Singapore and even in Java. 3 In Bengkulen [Bengkulu], on the west coast of Sumatra, there were severe quakes, the first of which lasted 5 minutes 4 and caused damage and even destruction of buildings. The tidal wave which crashed into the coast destroyed the harbor dam and all houses nearby. Two schooners, along with several smaller crafts, were flung onto the land. Padang. Severe quakes, lasting 3 minutes, which recurred over the following days. Direction SSW-NNE. Apart from the damage to buildings, cracks also appeared in the earth,

29 from which water and sulfurous steam arose. Each quake was accompanied by a subterranean crashing noise. A tidal wave that broke here did considerable damage. Indrapura and Pulu Tjingko [Cinco island]. Severe shaking. The damage caused here by the tidal wave was significant, and people also lost their lives. From the Gunung Singalang (volcano) people heard a loud boom, which, as at the Merapi volcano (which was initially blamed for the explosion), was followed by an eruption. Priaman. The most intense quakes. Cracks of two or more feet in breadth appeared in the earth. The sea drew back and then returned in the form of a powerful tidal wave, which tore numerous ships from their anchors. The shaking continued for many days. 5 Province of Rau, Division of Lubuk Sikaping. The Amerongen Fort was forcibly attacked by rebellious natives during the time of the earthquake itself; they interpreted the shaking as a good sign. 6 Palembang. The first quake, noticed at 8:30 p.m., was followed by 6 others. Direction S-N. Buildings developed cracks and several huts collapsed. The Ajer [Air] Lang river, whose source was at the volcano Bukit Kaba, had run dry 3 years previously when an earthquake was followed by a landslide that created a dam and a lake. During the earthquake of November 24, however, this dam was destroyed again, which emptied the lake. 7 In their stormy course, the tumbling waters either partly or completely destroyed the village of Kapala Tjurk on Ajer Lang, as well as the more distant villages on Ajer Kling 8 : Udjan Panas, Lubuk Talang, Ajer Apo, Lubuk Tandjung, Tabah, Njambikei and Grung Agung. 9 Singapore. At 8:35 p.m. a weak shock was felt, followed by a shaking of the ground that lasted for a minute or perhaps somewhat longer. The vibrations experienced in the encampment of Glam were stronger than those in the town itself. In the report it was noted that this was the first earthquake in Singapore since its occupation by the English (1819). 10 On Java, the quake was also weak; reports simply noted this fact. On the high seas, the quake was also experienced. The ship Mercurius, which at the time was above the Pageh [Pagai] Islands on the west coast of Sumatra, was shaken by heavy quakes.

30 August 26. The island Ramiri on the coast of Arakan, Birma. During the earthquake, people observing the mud volcano from Kyauk Phyu, [a town/place- J.B.] which lay off its northern peak, saw flames and steam rising several hundred feet above the volcano s summit. 11 November 25, 7 a.m. Singapore. A quake, followed by a second one at 5 a.m. [sic- J.B. This may be an error in the original that should be p.m.?] Direction E-W. 12 Pulu Painang (Penang). Earthquake From [du Puy, 1847], pp Translated by Maarten Schmitt, Caltech To the editors of the Journal of the Dutch (East) Indies A friend and lover of the sciences has enabled me to communicate the following observation of a major earthquake, falling in the time interval between the observations of Mr. du Puij and mine. Dr. A.F.W. Stumpff On November 24, 1833, around 8 p.m. oscillating earthquake shocks were felt in Padang, on the W. coast of Sumatra, which at first were not thought to be serious; soon, the shocks were so violent that all went outside, fearing to be buried under the wiggling buidings. Outside, with the earth shaking under one's feet, one saw in a bright moon buildings and trees in hefty motion, the ground splitting with water bubbling up with major force, while the river was threatening to overflow. The sea was extremely active, one was fearful of it rushing in causing destruction as had happened in a similar natural event late in the last century. This situation lasted somewhat over three minutes. The entire population of Padang was afoot, those living along the river trying to reach higher lying areas of the city. During the months of August, September and October one had observed extreme heat and humidity; the day of November 24 characterized itself by a deep silence in all of nature, that had not then been noticed, however; the terrible motion that followed was not without

31 consequnces. In the houses, everything was overthrown, especially the stone houses were subject to great destruction through the tearing and separating of walls and the collapse of stone pillars. At sea there was also much commotion. Ships in the port of Padang moved on their anchors, some of which were lost. An underground noise preceded the motion, after which mud and sulfur-like fumes rose from the split ground. Several hours before the first shock, one had seen along the beach a surprisingly large amount of fish; the following day many dead fish were observed at the same location. It was noteworthy that the volcano Merapi in Agam was not particularly active during this terrifying event; it had early thrown out much fire and ash but during the general upheaval the mountain was quiet; only after the first motion one had observed a terrible bang, which some here in Padang also believed to have heard. Elsewhere, local circumstances seem to have offered more resistance to the destructive force. At Poelo Cinco [Cinco island], the sea rushed in and carried off several houses and also people. At Indrapoera there was also some destruction caused by the sea and a few people died. At Benkoelen [Bengkulu], all buildings had much damage, so much so that the tower and the fort had to be taken down; the pier with the storage building and the customs office were wiped out, two government and several other ships were deposited on the beach, however no lives were lost there. Shocks were felt far into the ocean. The captain of the 'Mercury' tells that near the Pagai islands, hundreds of miles offshore, he experienced the shocks as if he had hit cliffs. Experts are assuming that this earthquake moved from SSW to NNE. The first and strongest motion was simultaneous with spring tide, three days before Full moon. The atmosphere seems to have been little affected and weather stations saw no change. The same night and following days were characterized by shocks of varying strengths until the end of November. 3. From [Verkerk, 1870], pp Translated by Maarten Schmidt, Caltech

32 [Summary: The article describes the first part of an ascent of themost active volcano in the Palembang Highlands, the Holy Mountain] Kabaa. On the way, the author descibes his stay in Apoor, where he is hosted by the old man Tjermin.] About 25 years ago, the region east of Kaaba was subject to an upheaval, so terrible in its consequences, that it has erased people's memory of all previous disasters. Some three years earlier, one of the streams originating on the Kaaba, the Ajer Lang, had suddenly dried up. An earthquake close to its origin had made a dam over the stream bed: the water could not escape and created a lake in a nearby valley. The damage caused by the lack of water along the Lang was repaired and forgotten, and the fear of disaster had subsided among the people - when suddenly terror struck. This time it happened in the middle of the night. Awakened by the hefty shocks of the booming earth, which was staggering like a horse driven by its rider, they rushed outside. From the steep, nearly verical, side of the Lang, which near the village Kapala Tjoeroek is about feet high, and where the bamboo huts cling to the side like bird nests, they looked down into the river; but who can descibe their terror when they saw in the bright lightning flashes, there in the depths where hours earlier there had been nothing but a dry rocky bottom, a screaming and boiling sea that rose up from the abyss as if to swallow the mountain. The lake had broken through its dam and rushed as if in one jump into the Kapala Tjoerek bed! - The hapless! could hardly believe their eyes. As in a terrible dream, swaying between doubt and fear, they kept staring, and even though the danger increased all the time, none were thinking about saving themselves. None of them would escape. Not even the few who, not mesmerized by fear, ran up the mountainside. The faster and faster rising flood overtook them all. The disaster took more than 120 lives. Tjermin's wife was also killed. A number of villages were totally or partly destroyed. Except for Kapala Tjoeroek at the Lang, the following places on the Klingi (into which the Lang empties): Oedjan Panas, Loeboe Talang, Ajer Apo, Loeboe Tandjoeng, Tabah, Njambikei and Goeroeng Agoeng. After two days the Lang went down to its present day level. It was finally noted that three elephants were moved along in the stream.

33 4. From: Jeffrey Hadler, U California, Berkeley, communication 21 April 2005 ; I've been writing to fellow historians and Anthony Reid has this 1833 anecdote: I was fascinated by 1833, and share your wonderment that we have not heard more about it in the literature. I looked up the book I happen to have of Henry Lyman: The Martyr of Sumatra, since he was in Padang about that time. It turns out he arrived Padang only early 1834, but noted of Sunday 23rd Feb 1834 that he preached on board a ship, the Eugene, and "Heard of an earthquake at Padang whch very much damaged the hill; opened the river so as to make it dry, and filled it with fish not known before. It also drove on this coast a large shoal of fish, never before seen here, something like alewives." (pp ).. 5. From [Boelhouwer, 1841], pp Translated by Maarten Schmidt, Caltech I should not forget to mention an earthquake that we felt at the end of November. In the evening there were very heavy shocks, such that all of us feared for our lives and none, not even the oldest natives, could recall something like this. It was impossible for me and anybody else to stay in the house, and we could not even keep standing; all of nature seemed to be in turmoil, everything was shaking and was falling apart; nothing that had been on tables or in cabinets stayed there; the earth opened up at various places, creating fissures two or more feet wide. The sea retreated with furious power a long way, from which she came back in with double fury; none of the ships off Priaman stayed anchored, all were torn away and we found them the next morning at large distances, spread left and right. For several days there was shaking, though less. In Padang, several stone buildings, including the church, suffered much damage; the church could not be used any more, and on my journey to Padang I saw terrible grooves (rills) on the beach. At Benkoelen, as we learned later, the entire harbor head as well as the tax office for Import and Export were destroyed. 6. From [Mueller and Horner, 1855], pp Translated by Maarten Schmidt, Caltech

LOKASI POTENSI SUMBER TSUNAMI DI SUMATERA BARAT

LOKASI POTENSI SUMBER TSUNAMI DI SUMATERA BARAT LOKASI POTENSI SUMBER TSUNAMI DI SUMATERA BARAT Badrul Mustafa Jurusan Teknik Sipil, Universitas Andalas Email: rulmustafa@yahoo.com ABSTRAK Akibat tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia dimana

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK GEMPABUMI DI SUMATERA DAN JAWA PERIODE TAHUN

KARAKTERISTIK GEMPABUMI DI SUMATERA DAN JAWA PERIODE TAHUN KARAKTERISTIK GEMPABUMI DI SUMATERA DAN JAWA PERIODE TAHUN 1950-2013 Samodra, S.B. & Chandra, V. R. Diterima tanggal : 15 November 2013 Abstrak Pulau Sumatera dan Pulau Jawa merupakan tempat yang sering

Lebih terperinci

POTENSI KERUSAKAN GEMPA BUMI AKIBAT PERGERAKAN PATAHAN SUMATERA DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA. Oleh : Hendro Murtianto*)

POTENSI KERUSAKAN GEMPA BUMI AKIBAT PERGERAKAN PATAHAN SUMATERA DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA. Oleh : Hendro Murtianto*) POTENSI KERUSAKAN GEMPA BUMI AKIBAT PERGERAKAN PATAHAN SUMATERA DI SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA Oleh : Hendro Murtianto*) Abstrak Aktivitas zona patahan Sumatera bagian tengah patut mendapatkan perhatian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang subduksi Gempabumi Bengkulu 12 September 2007 magnitud gempa utama 8.5

BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang subduksi Gempabumi Bengkulu 12 September 2007 magnitud gempa utama 8.5 BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Indonesia terletak pada pertemuan antara lempeng Australia, Eurasia, dan Pasifik. Lempeng Australia dan lempeng Pasifik merupakan jenis lempeng samudera dan bersifat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terletak di antara tiga lempeng aktif dunia, yaitu Lempeng

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terletak di antara tiga lempeng aktif dunia, yaitu Lempeng BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia terletak di antara tiga lempeng aktif dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Indo-Australia dan Pasifik. Konsekuensi tumbukkan lempeng tersebut mengakibatkan negara

Lebih terperinci

Puslit Geoteknologi LIPI Jl. Sangkuriang Bandung Telepon

Puslit Geoteknologi LIPI Jl. Sangkuriang Bandung Telepon Tim Peneliti Gempa, tergabung dalam LabEarth bagian dari Poklit Gempa dan Geodinamika, telah berhasil memetakan besar dan lokasi gempa-gempa yang terjadi di masa lalu serta karakteristik siklus gempanya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Dinamika bentuk dan struktur bumi dijabarkan dalam berbagai teori oleh para ilmuwan, salah satu teori yang berkembang yaitu teori tektonik lempeng. Teori ini

Lebih terperinci

PERKUAT MITIGASI, SADAR EVAKUASI MANDIRI DALAM MENGHADAPI BENCANA TSUNAMI

PERKUAT MITIGASI, SADAR EVAKUASI MANDIRI DALAM MENGHADAPI BENCANA TSUNAMI PERKUAT MITIGASI, SADAR EVAKUASI MANDIRI DALAM MENGHADAPI BENCANA TSUNAMI Oleh : Rahmat Triyono, ST, MSc Kepala Stasiun Geofisika Klas I Padang Panjang Email : rahmat.triyono@bmkg.go.id (Hasil Penelitian

Lebih terperinci

Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang)

Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang) Bahaya Tsunami Apa itu Tsunami? Tsu = pelabuhan Nami = gelombang (bahasa Jepang) Tsunami adalah serangkaian gelombang yang umumnya diakibatkan oleh perubahan vertikal dasar laut karena gempa di bawah atau

Lebih terperinci

PENYEBAB TERJADINYA TSUNAMI

PENYEBAB TERJADINYA TSUNAMI Pengenalan Tsunami APAKAH TSUNAMI ITU? Tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga lebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempabumi yang terjadi di dasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sumatera Barat memiliki garis pantai sepanjang lebih kurang 375 km, berupa dataran rendah sebagai bagian dari gugus kepulauan busur muka. Perairan barat Sumatera memiliki

Lebih terperinci

ANALISIS PROBABILITAS GEMPABUMI DAERAH BALI DENGAN DISTRIBUSI POISSON

ANALISIS PROBABILITAS GEMPABUMI DAERAH BALI DENGAN DISTRIBUSI POISSON ANALISIS PROBABILITAS GEMPABUMI DAERAH BALI DENGAN DISTRIBUSI POISSON Hapsoro Agung Nugroho Stasiun Geofisika Sanglah Denpasar soro_dnp@yahoo.co.id ABSTRACT Bali is located on the boundaries of the two

Lebih terperinci

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI BAGI PENENTUAN KEMUNGKINAN DAERAH GENANGAN AKIBAT TSUNAMI (STUDI KASUS: KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT)

APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI BAGI PENENTUAN KEMUNGKINAN DAERAH GENANGAN AKIBAT TSUNAMI (STUDI KASUS: KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT) APLIKASI SISTEM INFORMASI GEOGRAFI BAGI PENENTUAN KEMUNGKINAN DAERAH GENANGAN AKIBAT TSUNAMI (STUDI KASUS: KABUPATEN CIAMIS JAWA BARAT) GIS Application in Determining the Possible Inundation Area by Tsunami

Lebih terperinci

Informasi Data Pokok Kota Surabaya Tahun 2012 BAB I GEOGRAFIS CHAPTER I GEOGRAPHICAL CONDITIONS

Informasi Data Pokok Kota Surabaya Tahun 2012 BAB I GEOGRAFIS CHAPTER I GEOGRAPHICAL CONDITIONS BAB I GEOGRAFIS CHAPTER I GEOGRAPHICAL CONDITIONS Indonesia sebagai negara tropis, oleh karena itu kelembaban udara nya sangat tinggi yaitu sekitar 70 90% (tergantung lokasi - lokasi nya). Sedangkan, menurut

Lebih terperinci

TEORI TEKTONIK LEMPENG

TEORI TEKTONIK LEMPENG Pengenalan Gempabumi BUMI BENTUK DAN UKURAN Bumi berbentuk bulat seperti bola, namun rata di kutub-kutubnya. jari-jari Khatulistiwa = 6.378 km, jari-jari kutub=6.356 km. Lebih dari 70 % permukaan bumi

Lebih terperinci

Editorial PEMBACA YTH

Editorial PEMBACA YTH 2 GEOMAGZ Desember 2011 Editorial PEMBACA YTH Sejak 2004, di setiap penghujung tahun, kita selalu digetarkan oleh ingatan akan peristiwa bencana tsunami Aceh, 26 Desember 2004. Tsunami dahsyat itu memporakporandakan

Lebih terperinci

WASPADA GEMPA BUMI Earthquake Alert. PT.Frisian Flag Indonesia 2009

WASPADA GEMPA BUMI Earthquake Alert. PT.Frisian Flag Indonesia 2009 WASPADA GEMPA BUMI Earthquake Alert PT.Frisian Flag Indonesia 2009 Kecelakaan Saat Gempa Injuries in earthquakes Penelitian menyebutkan bahwa penyebab kecelakaan tertinggi saat gempa adalah disaat seseorang

Lebih terperinci

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1. Subduksi antara Lempeng Samudera dan Lempeng Benua [Katili, 1995]

BAB II DASAR TEORI. Gambar 2.1. Subduksi antara Lempeng Samudera dan Lempeng Benua [Katili, 1995] BAB II DASAR TEORI II. 1. Gempabumi II. 1.1. Proses Terjadinya Gempabumi Dinamika bumi memungkinkan terjadinya Gempabumi. Di seluruh dunia tidak kurang dari 8000 kejadian Gempabumi terjadi tiap hari, dengan

Lebih terperinci

ANALISIS PERIODE ULANG DAN AKTIVITAS KEGEMPAAN PADA DAERAH SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA

ANALISIS PERIODE ULANG DAN AKTIVITAS KEGEMPAAN PADA DAERAH SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA ANALISIS PERIODE ULANG DAN AKTIVITAS KEGEMPAAN PADA DAERAH SUMATERA BARAT DAN SEKITARNYA Arif Budiman 1, Riva Nandia 1, dan Moh. Taufik Gunawan 2 1 Laboratorium Fisika Bumi Jurusan Fisika Fakultas Matematika

Lebih terperinci

In the beginning God created the heavens and the earth. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. - Genesis 1:1.

In the beginning God created the heavens and the earth. Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. - Genesis 1:1. In the beginning God created the heavens and the earth. - Genesis 1:1 Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. - Kejadian 1:1 For God so loved the world that he gave his only Son, that whoever believes

Lebih terperinci

ANALISIS GEMPA NIAS DAN GEMPA SUMATERA BARAT DAN KESAMAANNYA YANG TIDAK MENIMBULKAN TSUNAMI

ANALISIS GEMPA NIAS DAN GEMPA SUMATERA BARAT DAN KESAMAANNYA YANG TIDAK MENIMBULKAN TSUNAMI ANALISIS GEMPA NIAS DAN GEMPA SUMATERA BARAT DAN KESAMAANNYA YANG TIDAK MENIMBULKAN TSUNAMI Badrul Mustafa Jurusan Teknik Sipil, Universitas Andalas Email: rulmustafa@yahoo.com ABSTRAK Wilayah Sumatera

Lebih terperinci

FORESTA Indonesian Journal of Forestry I (1) 2012: 1-6 ISSN: Anita Zaitunah a*, Cecep Kusmana b, I Nengah Surati Jaya b, Oteng Haridjaja c

FORESTA Indonesian Journal of Forestry I (1) 2012: 1-6 ISSN: Anita Zaitunah a*, Cecep Kusmana b, I Nengah Surati Jaya b, Oteng Haridjaja c FORESTA Indonesian Journal of Forestry I (1) 2012: 1-6 ISSN: 2089-9890 Kajian Potensi Daerah Genangan Akibat Tsunami di Pantai Ciamis Jawa Barat (Study on the Potential of Inundation area by tsunami in

Lebih terperinci

FIRE CLAIM FORM SURAT KLAIM KEBAKARAN

FIRE CLAIM FORM SURAT KLAIM KEBAKARAN FIRE CLAIM FORM SURAT KLAIM KEBAKARAN This is to notify you that a fire broke out which resulted a loss to my / our property, the particulars of which are indicated as follows : Bersama ini kami beritahukan

Lebih terperinci

ANALISA KEHANDALAN JARINGAN SUNGAI YANG TERPENGARUH PASANG SURUT (STUDI KASUS SUNGAI BUAH - KOTA PALEMBANG) TESIS HERI YULIANTO NIM :

ANALISA KEHANDALAN JARINGAN SUNGAI YANG TERPENGARUH PASANG SURUT (STUDI KASUS SUNGAI BUAH - KOTA PALEMBANG) TESIS HERI YULIANTO NIM : ANALISA KEHANDALAN JARINGAN SUNGAI YANG TERPENGARUH PASANG SURUT (STUDI KASUS SUNGAI BUAH - KOTA PALEMBANG) TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut Teknologi

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang

Bab I Pendahuluan. I.1 Latar Belakang Bab I Pendahuluan I.1 Latar Belakang Selama peradaban manusia, gempa bumi telah dikenal sebagai fenomena alam yang menimbulkan efek bencana yang terbesar, baik secara moril maupun materiil. Suatu gempa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Australia dan Lempeng Pasifik (gambar 1.1). Pertemuan dan pergerakan 3

BAB I PENDAHULUAN. Australia dan Lempeng Pasifik (gambar 1.1). Pertemuan dan pergerakan 3 BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini dipaparkan : (a) latar belakang, (b) perumusan masalah, (c) tujuan penelitian, (d) manfaat penelitian, (e) ruang lingkup penelitian dan (f) sistematika penulisan. 1.1. Latar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Indonesia termasuk daerah yang rawan terjadi gempabumi karena berada pada pertemuan tiga lempeng, yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Aktivitas kegempaan

Lebih terperinci

I. MATERI : TENSES Tenses yaitu bentuk kata kerja Bahasa Inggris yang perubahannya berkaitan dengan waktu.

I. MATERI : TENSES Tenses yaitu bentuk kata kerja Bahasa Inggris yang perubahannya berkaitan dengan waktu. I. MATERI : TENSES Tenses yaitu bentuk kata kerja Bahasa Inggris yang perubahannya berkaitan dengan waktu. Misal: Verb 1 (infinitive), Verb 2, dan Verb 3. Contoh penggunaan tenses : 1. Saya belajar di

Lebih terperinci

APPENDICES. Appendix A. Data 1 (Student A)

APPENDICES. Appendix A. Data 1 (Student A) APPENDICES Appendix A Data 1 (Student A) 48 No Sentence 1. *There so many place they can visiting. *There so many place they can visiting. Tidak mengerti struktur yang sebenarnya, mengira bahwa are atau

Lebih terperinci

Oleh : Upi Supriatna, S.Pd

Oleh : Upi Supriatna, S.Pd Oleh : Upi Supriatna, S.Pd Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi yang menyebabkan perubahan pada kulit bumi. Tenaga endogen ini sifatnya membentuk permukaan bumi menjadi tidak rata.

Lebih terperinci

Bab III Kondisi Seismotektonik Wilayah Sumatera

Bab III Kondisi Seismotektonik Wilayah Sumatera Bab III Kondisi Seismotektonik Wilayah Sumatera III.1 Seismotektonik Indonesia Aktifitas kegempaan di Indonesia dipengaruhi oleh letak Indonesia yang berada pada pertemuan empat lempeng tektonik dunia.

Lebih terperinci

Galih & Handayani et al. / Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan Jilid 17 No.2 ( 2007)

Galih & Handayani et al. / Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan Jilid 17 No.2 ( 2007) Galih & Handayani et al. / Jurnal Riset Geologi dan Pertambangan Jilid 7 No. ( 7) -6 Catatan Pemetaan Pola Terjadinya Gempa Bumi Di Indonesia Dengan Metode Fraktal DODI RESTUNING GALIH a, LINA HANDAYANI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Dan Proses Terjadi Tsunami

BAB I PENDAHULUAN Pengertian Dan Proses Terjadi Tsunami BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang 1.1.1. Pengertian Dan Proses Terjadi Tsunami Tsunami adalah sederetan gelombang laut yang menjalar dengan panjang gelombang sampai 100 km dengan ketinggian beberapa

Lebih terperinci

ANALISIS PASCA BENCANA TSUNAMI CIAMIS - CILACAP

ANALISIS PASCA BENCANA TSUNAMI CIAMIS - CILACAP ANALISIS PASCA BENCANA TSUNAMI CIAMIS - CILACAP Iwan G. Tejakusuma Pusat Teknologi Sumberdaya Lahan, Wilayah Dan Mitigasi Bencana Deputi Bidang TPSA - BPPT Abstract Earthquake with magnitude 7,7 on the

Lebih terperinci

Oleh: Dr. Darsiharjo, M.S.

Oleh: Dr. Darsiharjo, M.S. Oleh: Dr. Darsiharjo, M.S. SEMINAR NASIONAL PENGEMBANGAN MODEL PENDIDIKAN DAN PENYADARAN MASYARAKAT TERHADAP BAHAYA BENCANA GEMPA DAN TSUNAMI TANGGAL 20 APRIL 2005 G e o g r a f i KAJIAN GEOGRAFI Fenomena

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia merupakan wilayah yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah. Kekayaan Indonesia tersebar sepanjang nusantara mulai ujung barat Pulau

Lebih terperinci

Lesson 27: Prepositions of Direction. (from, to, into, onto, away from) Pelajaran 27: Kata Depan untuk Arah

Lesson 27: Prepositions of Direction. (from, to, into, onto, away from) Pelajaran 27: Kata Depan untuk Arah Lesson 27: Prepositions of Direction (from, to, into, onto, away from) Pelajaran 27: Kata Depan untuk Arah Bagaimana Menggunakan Kata Depan untuk Arah Reading (Membaca) I come from Austria. ( Saya datang

Lebih terperinci

KONDISI OSEANOGRAFI FISIKA PERAIRAN BARAT SUMATERA (PULAU SIMEULUE DAN SEKITARNYA) PADA BULAN AGUSTUS 2007 PASCA TSUNAMI DESEMBER 2004

KONDISI OSEANOGRAFI FISIKA PERAIRAN BARAT SUMATERA (PULAU SIMEULUE DAN SEKITARNYA) PADA BULAN AGUSTUS 2007 PASCA TSUNAMI DESEMBER 2004 MAKARA, SAINS, VOL., NO., APRIL : - KONDISI OSEANOGRAFI FISIKA PERAIRAN BARAT SUMATERA (PULAU SIMEULUE DAN SEKITARNYA) PADA BULAN AGUSTUS PASCA TSUNAMI DESEMBER Dewi Surinati Bidang Dinamika Laut, Pusat

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang. Gambar 1.1 Tsunami di berbagai kedalaman. Sumber: Pengenalan Tsunami, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

1.1 Latar Belakang. Gambar 1.1 Tsunami di berbagai kedalaman. Sumber: Pengenalan Tsunami, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tsunami berasal dari bahasa Jepang, yaitu tsu yang artinya pelabuhan dan nami yang artinya gelombang. Jadi, secara harfiah berarti ombak besar di pelabuhan (Wikipedia,

Lebih terperinci

Dicetak ulang oleh: UPT Loka Uji Teknik Penambangan dan Mitigasi Bencana, Liwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 2014

Dicetak ulang oleh: UPT Loka Uji Teknik Penambangan dan Mitigasi Bencana, Liwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 2014 Dicetak ulang oleh: UPT Loka Uji Teknik Penambangan dan Mitigasi Bencana, Liwa Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 2014 Teman- teman, Kita belajar yuk, mengapa ya di Indonesia banyak terjadi bencana alam.

Lebih terperinci

PENGARUH 'BOTTLENECK' TERHADAP KARAKTERISTIK LALU+ LINTAS (STUDI KASUS PADA RUAS JALAN SEMARANG.DEMAK KM 15)

PENGARUH 'BOTTLENECK' TERHADAP KARAKTERISTIK LALU+ LINTAS (STUDI KASUS PADA RUAS JALAN SEMARANG.DEMAK KM 15) PENGARUH 'BOTTLENECK' TERHADAP KARAKTERISTIK LALU+ LINTAS (STUDI KASUS PADA RUAS JALAN SEMARANG.DEMAK KM 15) RINGKASAN Bottleneck adalah suatu kondisi jalan yang mengalami penyempitan sehingga kapasitas

Lebih terperinci

DAFTAR ISI 1. PENDAHULUAN.5 2. MENGENAL LEBIH DEKAT MENGENAI BENCANA.8 5W 1H BENCANA.10 MENGENAL POTENSI BENCANA INDONESIA.39 KLASIFIKASI BENCANA.

DAFTAR ISI 1. PENDAHULUAN.5 2. MENGENAL LEBIH DEKAT MENGENAI BENCANA.8 5W 1H BENCANA.10 MENGENAL POTENSI BENCANA INDONESIA.39 KLASIFIKASI BENCANA. DAFTAR ISI 1. PENDAHULUAN...5 2. MENGENAL LEBIH DEKAT MENGENAI BENCANA...8 5W 1H BENCANA...10 MENGENAL POTENSI BENCANA INDONESIA...11 SEJARAH BENCANA INDONESIA...14 LAYAKNYA AVATAR (BENCANA POTENSIAL INDONESIA)...18

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. tingkat kepadatan penduduk nomor empat tertinggi di dunia, dengan jumlah

BAB 1 PENDAHULUAN. tingkat kepadatan penduduk nomor empat tertinggi di dunia, dengan jumlah 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah negara kepulauan dengan tingkat kepadatan penduduk nomor empat tertinggi di dunia, dengan jumlah penduduk lebih

Lebih terperinci

DESAIN DAN PERHITUNGAN STABILITAS BREAKWATER

DESAIN DAN PERHITUNGAN STABILITAS BREAKWATER DESAIN DAN PERHITUNGAN STABILITAS BREAKWATER Tri Octaviani Sihombing 1021056 Pembimbing : Olga Pattipawaej, Ph.D ABSTRAK Struktur bangunan pantai seperti pelabuhan sebagai sarana transit lalu-lintas yang

Lebih terperinci

Gempabumi Sumba 12 Februari 2016, Konsekuensi Subduksi Lempeng Indo-Australia di Bawah Busur Sunda Ataukah Busur Banda?

Gempabumi Sumba 12 Februari 2016, Konsekuensi Subduksi Lempeng Indo-Australia di Bawah Busur Sunda Ataukah Busur Banda? Gempabumi Sumba 12 Februari 2016, Konsekuensi Subduksi Lempeng Indo-Australia di Bawah Busur Sunda Ataukah Busur Banda? Supriyanto Rohadi, Bambang Sunardi, Rasmid Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG

Lebih terperinci

Most Frequently Used Words Courtesy of Hello-Indonesia.com

Most Frequently Used Words Courtesy of Hello-Indonesia.com Most Frequently Used Words Courtesy of Hello-Indonesia.com About = tentang Address = alamat After = sesudah / setelah Again = lagi All = semua Almost = hampir Also = juga Although = meskipun Always = selalu

Lebih terperinci

PENENTUAN KAWASAN RAWAN GEMPABUMI UNTUK MITIGASI BENCANA GEOLOGI DI WILAYAH SUMATERA BAGIAN SELATAN

PENENTUAN KAWASAN RAWAN GEMPABUMI UNTUK MITIGASI BENCANA GEOLOGI DI WILAYAH SUMATERA BAGIAN SELATAN Lingkungan LAPORAN AKHIR PENELITIAN UNGGULAN KOMPETITIF UNIVERSITAS SRIWIJAYA PENENTUAN KAWASAN RAWAN GEMPABUMI UNTUK MITIGASI BENCANA GEOLOGI DI WILAYAH SUMATERA BAGIAN SELATAN Dr. Eng. Azhar Kholiq Affandi,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng/kulit bumi aktif yaitu lempeng Indo-Australia di bagian selatan, Lempeng Euro-Asia di bagian utara dan Lempeng Pasifik

Lebih terperinci

Jurnal Fisika Unand Vol. 4, No. 4, Oktober 2015 ISSN

Jurnal Fisika Unand Vol. 4, No. 4, Oktober 2015 ISSN ESTIMASI NILAI PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM DI SUMATERA BARAT BERDASARKAN SKENARIO GEMPA BUMI DI WILAYAH SIBERUT DENGAN MENGGUNAKAN RUMUSAN SI AND MIDORIKAWA (1999) Denisa Syafriana 1, Dwi Pujiastuti 1, Andiyansyah

Lebih terperinci

KETENTUAN PERANCANGAN KAWASAN PESISIR SEBAGAI MITIGASI TSUNAMI (Studi Kasus: Kelurahan Weri-Kota Larantuka-Kab. Flotim-NTT) TUGAS AKHIR

KETENTUAN PERANCANGAN KAWASAN PESISIR SEBAGAI MITIGASI TSUNAMI (Studi Kasus: Kelurahan Weri-Kota Larantuka-Kab. Flotim-NTT) TUGAS AKHIR KETENTUAN PERANCANGAN KAWASAN PESISIR SEBAGAI MITIGASI TSUNAMI (Studi Kasus: Kelurahan Weri-Kota Larantuka-Kab. Flotim-NTT) TUGAS AKHIR Oleh: GRASIA DWI HANDAYANI L2D 306 009 JURUSAN PERENCANAAN WILAYAH

Lebih terperinci

Samudera adalah kumpulan air yang sangat banyak, menutupi hampir. 71 persen Bumi dan memisahkan benua. Jutaan tahun yang lalu ketika Bumi

Samudera adalah kumpulan air yang sangat banyak, menutupi hampir. 71 persen Bumi dan memisahkan benua. Jutaan tahun yang lalu ketika Bumi Samudera Samudera adalah kumpulan air yang sangat banyak, menutupi hampir 71 persen Bumi dan memisahkan benua. Jutaan tahun yang lalu ketika Bumi mendingin, uap air di atmosfer mengembun membentuk air.

Lebih terperinci

ANALISIS CAPAIAN OPTIMASI NILAI SUKU BUNGA BANK SENTRAL INDONESIA: SUATU PENGENALAN METODE BARU DALAM MENGANALISIS 47 VARIABEL EKONOMI UNTU

ANALISIS CAPAIAN OPTIMASI NILAI SUKU BUNGA BANK SENTRAL INDONESIA: SUATU PENGENALAN METODE BARU DALAM MENGANALISIS 47 VARIABEL EKONOMI UNTU ANALISIS CAPAIAN OPTIMASI NILAI SUKU BUNGA BANK SENTRAL INDONESIA: SUATU PENGENALAN METODE BARU DALAM MENGANALISIS 47 VARIABEL EKONOMI UNTU READ ONLINE AND DOWNLOAD EBOOK : ANALISIS CAPAIAN OPTIMASI NILAI

Lebih terperinci

English for Tourism Lesson 22 Dealing with a situation (continued)

English for Tourism Lesson 22 Dealing with a situation (continued) English for Tourism Lesson 22 Dealing with a situation (continued) Pelajaran 22: Menangani situasi yang serius (lanjutan) L1 Juni Tampi: Bahasa Inggris Pariwisata English for Tourism L1: Pelajaran ke-22.

Lebih terperinci

PENGENALAN. Irman Sonjaya, SE

PENGENALAN. Irman Sonjaya, SE PENGENALAN Irman Sonjaya, SE PENGERTIAN Gempa bumi adalah suatu gangguan dalam bumi jauh di bawah permukaan yang dapat menimbulkan korban jiwa dan harta benda di permukaan. Gempa bumi datangnya sekonyong-konyong

Lebih terperinci

ULASAN GUNCANGAN TANAH AKIBAT GEMPA DELISERDANG SU UMATRA UTARA

ULASAN GUNCANGAN TANAH AKIBAT GEMPA DELISERDANG SU UMATRA UTARA ULASAN GUNCANGAN TANAH AKIBAT GEMPA DELISERDANG SU UMATRA UTARA ULASAN GUNCANGAN TANAH AKIBAT GEMPA BUMI DELISERDANG SUMATRA UTARA Oleh Robby Wallansha*, Aditya Setyo Rahman*, Oriza Sativa*, Ariska Rudyanto*,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Gempabumi Gempabumi adalah peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi di dalam bumi secara tiba-tiba yang ditandai dengan patahnya lapisan batuan pada kerak

Lebih terperinci

IDENTIFIKASI DAN MITIGASI PADA ZONA RAWAN GEMPA BUMI DI JAWA BARAT

IDENTIFIKASI DAN MITIGASI PADA ZONA RAWAN GEMPA BUMI DI JAWA BARAT IDENTIFIKASI DAN MITIGASI PADA ZONA RAWAN GEMPA BUMI DI JAWA BARAT Zufialdi Zakaria 1), Ismawan 2), dan Iyan Haryanto 1) 1) Laboratorium Geologi Teknik, Fakultas Teknik Geologi, UNPAD 2) Laboratorium Geodinamik,

Lebih terperinci

FOR IMMEDIATE RELEASE

FOR IMMEDIATE RELEASE FOR IMMEDIATE RELEASE International www.roymorgan.com Finding No. 2009 Available on Website: www.roymorgan.com On March 19, 2013 KADIN-Roy Morgan Keyakinan Konsumen menurun di bulan Februari 155.5 poin

Lebih terperinci

Laut dan Atmosfir. Laut mempengaruhi Atmosfir atau Atmosfir mempengaruhi Laut?

Laut dan Atmosfir. Laut mempengaruhi Atmosfir atau Atmosfir mempengaruhi Laut? Laut dan Atmosfir Laut mempengaruhi Atmosfir atau Atmosfir mempengaruhi Laut? Outline Pengantar Greenhouse effect. Intensitas radiasi matahari dan garis lintang. Pola distribusi panas antara daratan dan

Lebih terperinci

Analisis Percepatan Tanah Maksimum Wilayah Sumatera Barat (Studi Kasus Gempa Bumi 8 Maret 1977 dan 11 September 2014)

Analisis Percepatan Tanah Maksimum Wilayah Sumatera Barat (Studi Kasus Gempa Bumi 8 Maret 1977 dan 11 September 2014) Jurnal Fisika Unand Vol. 5, No. 1, Januari 2016 ISSN 2302-8491 Analisis Percepatan Tanah Maksimum Wilayah Sumatera Barat (Studi Kasus Gempa Bumi 8 Maret 1977 dan 11 September 2014) Marlisa 1,*, Dwi Pujiastuti

Lebih terperinci

Kata kunci : Tsunami, Tsunami Travel Time (TTT), waktu tiba, Tide Gauge

Kata kunci : Tsunami, Tsunami Travel Time (TTT), waktu tiba, Tide Gauge Analisis Penjalaran dan Ketinggian Gelombang Tsunami Akibat Gempa Bumi di Perairan Barat Sumatera dengan Menggunakan Software Tsunami Travel Time (TTT) Retno Juanita M0208050 Jurusan Fisika FMIPA, Universitas

Lebih terperinci

Jambi Dalam Angka 2007/

Jambi Dalam Angka 2007/ FINANCE AND PRICE Jambi Dalam Angka 2007/2008 541 KEUANGAN DAN HARGA 542 Jambi Dalam Angka 2011 FINANCE AND PRICE BAB 9 KEUANGAN DAN HARGA 9.1. Keuangan Negara CHAPTER 9 FINANCE AND PRICE 9.1. Finance

Lebih terperinci

INDONESIA NEGERI BENCANA

INDONESIA NEGERI BENCANA BAGIAN I INDONESIA NEGERI BENCANA Peta Jumlah Korban Bencana dan Kejadian Bencana di Indonesia (1815-2015) (sumber: http://dibi.bnpb.go.id/) Indonesia Negeri Bencana 1 Bab I Hidup di Negeri Bencana Bangsa

Lebih terperinci

Conditional Sentence. Dosen Dr. Ali Mustadi, M.Pd NIP

Conditional Sentence. Dosen Dr. Ali Mustadi, M.Pd NIP Conditional Sentence Dosen Dr. Ali Mustadi, M.Pd NIP.19780710 200801 1 012 Pengertian CONDITIONAL SENTENCES adalah: Kalimat pengandaian Atau Kalimat bersyarat Rumus: If (clause 1 ), (clause 2) Type 1 [

Lebih terperinci

1/5. while and do Loops The remaining types of loops are while and do. As with for loops, while and do loops Praktikum Alpro Modul 3.

1/5. while and do Loops The remaining types of loops are while and do. As with for loops, while and do loops Praktikum Alpro Modul 3. Judul TIU TIK Materi Modul Perulangan Ganjil 204/205 Mahasiswa memahami Konsep Perulangan. Mahasiswa mampu menggunakan perintah perulangan For, While do, do While 2. Mahasiswa mampu menggunakan perintah

Lebih terperinci

BAHASA INGGRIS PRESENT TENSE CHAPTER 1 CUT ITA ERLIANA,ST

BAHASA INGGRIS PRESENT TENSE CHAPTER 1 CUT ITA ERLIANA,ST BAHASA INGGRIS PRESENT TENSE CHAPTER 1 CUT ITA ERLIANA,ST 198111022008122002 DESCRIBING HABITS Topic : Daily Habits Last night i went to bed around 11.00. you know, i usually go to bed at 9.30 p.m. I do

Lebih terperinci

ULASAN GUNCANGAN TANAH AKIBAT GEMPA BARAT LAUT KEP. SANGIHE SULAWESI UTARA

ULASAN GUNCANGAN TANAH AKIBAT GEMPA BARAT LAUT KEP. SANGIHE SULAWESI UTARA ULASAN GUNCANGAN TANAH AKIBAT GEMPA BARAT LAUT KEP. SANGIHE SULAWESI UTARA ULASAN GUNCANGAN TANAH AKIBAT GEMPA BUMI BARAT LAUT KEP. SANGIHE SULAWESI UTARA Oleh Artadi Pria Sakti*, Robby Wallansha*, Ariska

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terletak pada pembenturan tiga lempeng kerak bumi yaitu lempeng Eurasia,

BAB I PENDAHULUAN. Indonesia terletak pada pembenturan tiga lempeng kerak bumi yaitu lempeng Eurasia, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia terletak pada pembenturan tiga lempeng kerak bumi yaitu lempeng Eurasia, lempeng Pasifik, dan lempeng Hindia Australia dan berada pada pertemuan 2 jalur

Lebih terperinci

Pengembangan Program Analisis Seismic Hazard dengan Teorema Probabilitas Total Bab I Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN

Pengembangan Program Analisis Seismic Hazard dengan Teorema Probabilitas Total Bab I Pendahuluan BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Umum Gempa bumi adalah peristiwa bergeraknya permukaan bumi atau permukaan tanah secara tiba-tiba yang diakibatkan oleh pergerakan dari lempenglempeng bumi. Menurut M.T. Zein gempa

Lebih terperinci

PERSIAPAN PERENCANAAN JEMBATAN SELAT SUNDA

PERSIAPAN PERENCANAAN JEMBATAN SELAT SUNDA PERSIAPAN PERENCANAAN JEMBATAN SELAT SUNDA Rencana Tol Lampung- Terbanggi Besar Tol Jakarta - Merak Jembatan Selat Sunda Lingkar Selatan Serang KONEKTIVITAS JEMBATAN SELAT SUNDA DENGAN TOL YANG ADA Studi

Lebih terperinci

ANALISIS POTENSI KEGEMPAAN DAN TSUNAMI DI KAWASAN PANTAI BARAT LAMPUNG KAITANNYA DENGAN MITIGASI DAN PENATAAN KAWASAN

ANALISIS POTENSI KEGEMPAAN DAN TSUNAMI DI KAWASAN PANTAI BARAT LAMPUNG KAITANNYA DENGAN MITIGASI DAN PENATAAN KAWASAN ANALISIS POTENSI KEGEMPAAN DAN TSUNAMI DI KAWASAN PANTAI BARAT LAMPUNG KAITANNYA DENGAN MITIGASI DAN PENATAAN KAWASAN Heru Sri Naryanto Peneliti di PTLWB-TPSA, BPPT, Jl. MH Thamrin 8, Jakarta e-mail :

Lebih terperinci

BAB III Deformasi Interseismic di Zona Subduksi Sumatra

BAB III Deformasi Interseismic di Zona Subduksi Sumatra BAB III Deformasi Interseismic di Zona Subduksi Sumatra 3.1 Data Catatan Sejarah Gempa Besar di Zona Subduksi Sumatra Data catatan sejarah gempa besar pada masa lalu yang pernah terjadi di suatu daerah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ruliani, 2014

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Ruliani, 2014 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Indonesia secara geologis berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik aktif, lempeng Indo-Australia di bagian selatan, lempeng Eurasia di bagian Utara, dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan Indonesia termasuk dalam daerah rawan bencana gempabumi

BAB I PENDAHULUAN. menyebabkan Indonesia termasuk dalam daerah rawan bencana gempabumi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kepulauan Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu lempeng Indo-Australia di bagian Selatan, lempeng Eurasia di bagian Utara, dan lempeng

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Bencana alam selama ini selalu dipandang sebagai forcemajore yaitu

BAB 1 PENDAHULUAN. Bencana alam selama ini selalu dipandang sebagai forcemajore yaitu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bencana alam selama ini selalu dipandang sebagai forcemajore yaitu sesuatu hal yang berada di luar kontrol manusia, oleh karena itu, untuk meminimalisir terjadinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara geografis Indonesia terletak di daerah khatulistiwa dengan morfologi yang beragam, dari daratan sampai pegunungan serta lautan. Keragaman ini dipengaruhi

Lebih terperinci

Kondisi Kestabilan dan Konsistensi Rencana Evakuasi (Evacuation Plan) Pendekatan Geografi

Kondisi Kestabilan dan Konsistensi Rencana Evakuasi (Evacuation Plan) Pendekatan Geografi DAFTAR ISI HALAMAN PENGESAHAN... i PERNYATAAN... ii PRAKATA... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR TABEL... viii DAFTAR GAMBAR... ix INTISARI... xii ABSTRACT... xiii BAB I PENDAHULUAN... 1 1. 1 Latar Belakang...

Lebih terperinci

STUDI A ALISIS PARAMETER GEMPA DA POLA SEBARA YA BERDASARKA DATA MULTI-STATIO (STUDI KASUS KEJADIA GEMPA PULAU SULAWESI TAHU )

STUDI A ALISIS PARAMETER GEMPA DA POLA SEBARA YA BERDASARKA DATA MULTI-STATIO (STUDI KASUS KEJADIA GEMPA PULAU SULAWESI TAHU ) STUDI A ALISIS PARAMETER GEMPA DA POLA SEBARA YA BERDASARKA DATA MULTI-STATIO (STUDI KASUS KEJADIA GEMPA PULAU SULAWESI TAHU 2000-2014) Heri Saputra 1, Muhammad Arsyad, dan Sulistiawaty Jurusan Fisika

Lebih terperinci

TELAAH KASUS ETIKA MENURUT PRINSIP CORE-VALUE TUTORIAL A

TELAAH KASUS ETIKA MENURUT PRINSIP CORE-VALUE TUTORIAL A TELAAH KASUS ETIKA MENURUT PRINSIP CORE-VALUE TUTORIAL A THE MAN WHO DID NOT WANT HIS LEG AMPUTATED Physician: This was a 64-year-old man who had had a stroke which had affected his mental condition, though

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sejarah telah mencatat bahwa Indonesia mengalami serangkaian bencana

BAB I PENDAHULUAN. Sejarah telah mencatat bahwa Indonesia mengalami serangkaian bencana BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejarah telah mencatat bahwa Indonesia mengalami serangkaian bencana bumi, dimulai dari letusan gunung berapi, gempa bumi, dan tsunami karena wilayah nusantara dikepung

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.113, 2016 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PEMERINTAHAN. WILAYAH. NASIONAL. Pantai. Batas Sempadan. PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2016 TENTANG BATAS SEMPADAN PANTAI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gempa bumi dengan magnitude besar yang berpusat di lepas pantai barat propinsi Nangroe Aceh Darussalam kemudian disusul dengan bencana tsunami dahsyat, telah menyadarkan

Lebih terperinci

Medan Dalam Angka Medan In Figure,

Medan Dalam Angka Medan In Figure, 1. L E T A K Kota Medan terletak antara : - 2º.27' - 2º.47' Lintang Utara - 98º.35' - 98º.44' Bujur Timur Kota Medan 2,5 37,5 meter di atas permukaan laut. 1.Geography Position Medan lies between : - 2º.27'

Lebih terperinci

English for Tourism Lesson 21 Dealing with a situation

English for Tourism Lesson 21 Dealing with a situation English for Tourism Lesson 21 Dealing with a situation Pelajaran 21: Menangani situasi yang serius L1 Juni Tampi: Eng: Bahasa Inggris Pariwisata English for Tourism L1: Halo, Saya Juni Tampi dari Radio

Lebih terperinci

BAB II GEMPA BUMI DAN GELOMBANG SEISMIK

BAB II GEMPA BUMI DAN GELOMBANG SEISMIK BAB II GEMPA BUMI DAN GELOMBANG SEISMIK II.1 GEMPA BUMI Seperti kita ketahui bahwa bumi yang kita pijak bersifat dinamis. Artinya bumi selalu bergerak setiap saat, baik itu pergerakan akibat gaya tarik

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bersumber dari ledakan besar gunung berapi atau gempa vulkanik, tanah longsor, atau

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. bersumber dari ledakan besar gunung berapi atau gempa vulkanik, tanah longsor, atau BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tsunami Tsunami biasanya berhubungan dengan gempa bumi. Gempa bumi ini merupakan proses terjadinya getaran tanah yang merupakan akibat dari sebuah gelombang elastis yang menjalar

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA

PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA PENJELASAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PENANGANAN BENCANA I. Umum Indonesia, merupakan negara kepulauan terbesar didunia, yang terletak di antara dua benua, yakni benua Asia dan benua Australia,

Lebih terperinci

KORELASI ANTARA MAGNITUDO GEMPABUMI LOKAL DENGAN PERIODE DOMINAN GELOMBANG P DI WILAYAH SUMATRA BARAT

KORELASI ANTARA MAGNITUDO GEMPABUMI LOKAL DENGAN PERIODE DOMINAN GELOMBANG P DI WILAYAH SUMATRA BARAT KORELASI ANTARA MAGNITUDO GEMPABUMI LOKAL DENGAN PERIODE DOMINAN GELOMBANG P DI WILAYAH SUMATRA BARAT Helvin Riana Dewi dan Madlazim Jurusan Fisika,FMIPA,Universitas Negeri Surabaya Abstract.West Sumatra

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mengenai bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial.

BAB 1 PENDAHULUAN. mengenai bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. BAB 1 PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor non-alam maupun

Lebih terperinci

EFISIENSI JUMLAH ARMADA BUS PATAS AC ANTAR BEBERAPA PERUSAHAAN BERDASARKAN METODE PERTUKARAN TRAYEK DI DKI JAKARTA TESIS

EFISIENSI JUMLAH ARMADA BUS PATAS AC ANTAR BEBERAPA PERUSAHAAN BERDASARKAN METODE PERTUKARAN TRAYEK DI DKI JAKARTA TESIS EFISIENSI JUMLAH ARMADA BUS PATAS AC ANTAR BEBERAPA PERUSAHAAN BERDASARKAN METODE PERTUKARAN TRAYEK DI DKI JAKARTA TESIS Karya tulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Institut

Lebih terperinci

BEBERAPA KENDALA YURIDIS DAN SOSIOLOGIS DALAM PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH ULAYAT MASYARAKAT MINANGKABAU DI KABUPATEN TANAH DATAR

BEBERAPA KENDALA YURIDIS DAN SOSIOLOGIS DALAM PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH ULAYAT MASYARAKAT MINANGKABAU DI KABUPATEN TANAH DATAR BEBERAPA KENDALA YURIDIS DAN SOSIOLOGIS DALAM PELAKSANAAN PENDAFTARAN TANAH ULAYAT MASYARAKAT MINANGKABAU DI KABUPATEN TANAH DATAR TESIS Diajukan Guna Memenuhi Sebagian Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar

Lebih terperinci

ANALISIS PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM DENGAN MENGGUNAKAN RUMUSAN ESTEVA DAN DONOVAN (Studi Kasus Pada Semenanjung Utara Pulau Sulawesi)

ANALISIS PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM DENGAN MENGGUNAKAN RUMUSAN ESTEVA DAN DONOVAN (Studi Kasus Pada Semenanjung Utara Pulau Sulawesi) ANALISIS PERCEPATAN TANAH MAKSIMUM DENGAN MENGGUNAKAN RUMUSAN ESTEVA DAN DONOVAN (Studi Kasus Pada Semenanjung Utara Pulau Sulawesi) Cloudya Gabriella Kapojos 1), Gerald Tamuntuan 1), Guntur Pasau 1) 1)

Lebih terperinci

BENCANA GEMPABUMI DI INDONESIA TAHUN 2008

BENCANA GEMPABUMI DI INDONESIA TAHUN 2008 BENCANA GEMPABUMI DI INDONESIA TAHUN 2008 Supartoyo*, Imam A. SADISUN **, Chalid I. ABDULLAH **) *) Surveyor Pemetaan Madya Bidang Pengamatan Gempabumi dan Gerakan Tanah, PVMBG **) Pengajar Program Studi

Lebih terperinci

Nama Soal Pembagian Ring Road Batas Waktu 1 detik Nama Berkas Ringroad[1..10].out Batas Memori 32 MB Tipe [output only] Sumber Brian Marshal

Nama Soal Pembagian Ring Road Batas Waktu 1 detik Nama Berkas Ringroad[1..10].out Batas Memori 32 MB Tipe [output only] Sumber Brian Marshal Nama Soal Pembagian Ring Road Batas Waktu 1 detik Nama Berkas Ringroad[1..10].out Batas Memori 32 MB Tipe [output only] Sumber Brian Marshal Deskripsi Soal Dalam rangka mensukseskan program Visit Indonesia,

Lebih terperinci

MITIGASI BENCANA ALAM TSUNAMI BAGI KOMUNITAS SDN 1 LENDAH KULON PROGO. Oleh: Yusman Wiyatmo ABSTRAK

MITIGASI BENCANA ALAM TSUNAMI BAGI KOMUNITAS SDN 1 LENDAH KULON PROGO. Oleh: Yusman Wiyatmo ABSTRAK MITIGASI BENCANA ALAM TSUNAMI BAGI KOMUNITAS SDN 1 LENDAH KULON PROGO Oleh: Yusman Wiyatmo Jurdik Fisika FMIPA UNY, yusmanwiyatmo@yahoo.com, HP: 08122778263 ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah: 1) mengetahui

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia merupakan daerah yang rawan terhadap bencana gempabumi tektonik. Hal ini disebabkan karena Indonesia terletak pada kerangka tektonik yang didominasi oleh interaksi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. utama, yaitu lempeng Indo-Australia di bagian Selatan, lempeng Eurasia di bagian

BAB I PENDAHULUAN. utama, yaitu lempeng Indo-Australia di bagian Selatan, lempeng Eurasia di bagian BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kepulauan Indonesia terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu lempeng Indo-Australia di bagian Selatan, lempeng Eurasia di bagian Utara, dan

Lebih terperinci

IRGSC Analysis No 005/2014 Research and analysis from the Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC)

IRGSC Analysis No 005/2014 Research and analysis from the Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) IRGSC Analysis No 5/214 Research and analysis from the Institute of Resource Governance and Social Change (IRGSC) www.irgsc.org Highlights of NTT Candlenut Data 2213 Jonatan A. Lassa and Randy Banunaek

Lebih terperinci