BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN"

Transkripsi

1 BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 2.1. Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah Aspek Geografi dan Demografi a. Karakteristik Wilayah 1) Luas dan Batas Wilayah Administrasi Luas wilayah Kabupaten Sleman adalah ha atau 574,82 km 2 atau sekitar 18% dari luas wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta yang seluas 3.185,80 km 2. Jarak terjauh utara-selatan wilayah Kabupaten Sleman 32 km, sedangkan jarak terjauh timur-barat 35 km. Dalam perspektif mata burung, wilayah Kabupaten Sleman berbentuk segitiga dengan alas di sisi selatan dan puncak di sisi utara. Secara administratif, Kabupaten Sleman terdiri atas 17 wilayah kecamatan, 86 desa, dan Padukuhan. Kecamatan dengan wilayah paling luas adalah Cangkringan (4.799 ha), dan yang paling sempit adalah Berbah (2.299 ha). Kecamatan dengan padukuhan terbanyak adalah Tempel (98 padukuhan), sedangkan kecamatan dengan padukuhan paling sedikit adalah Turi (54 padukuhan). Kecamatan dengan desa terbanyak adalah Tempel (8 desa), sedangkan Kecamatan dengan desa paling sedikit adalah Depok (3 desa). Pembagian wilayah administrasi Kabupaten Sleman dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.1 Pembagian Wilayah Administrasi Kabupaten Sleman Banyaknya No Kecamatan Luas (Ha) Desa Padukuhan 1. Moyudan Minggir Seyegan Godean Gamping Mlati Depok Berbah Prambanan Kalasan Ngemplak Ngaglik Sleman Tempel Turi Pakem Cangkringan RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 1

2 Banyaknya No Kecamatan Luas (Ha) Desa Padukuhan Jumlah Sumber: Badan Pusat Statistik Kab. Sleman, ) Letak dan Kondisi Geografis Secara geografis wilayah Kabupaten Sleman terbentang mulai sampai dengan Bujur Timur dan sampai dengan Lintang Selatan. Di sebelah utara, wilayah Kabupaten Sleman berbatasan dengan Kabupaten Magelang dan Kabupaten Boyolali, Provinsi Jawa Tengah, di sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Kota Yogyakarta, Kabupaten Bantul, dan Kabupaten Gunung Kidul, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. 3) Topografi Keadaan tanah Kabupaten Sleman di bagian selatan relatif datar kecuali daerah perbukitan di bagian tenggara Kecamatan Prambanan dan sebagian di Kecamatan Gamping. Semakin ke utara relatif miring dan di bagian utara sekitar lereng gunung Merapi relatif terjal. Ketinggian wilayah Kabupaten Sleman berkisar antara 100 meter sampai dengan meter di atas permukaan laut (m dpl). Ketinggian tanahnya dapat dibagi menjadi 4 kelas yaitu ketinggian <100 meter, meter, meter, dan >1.000 meter dpl. Ketinggian <100 m dpl seluas ha, atau 10,79% dari luas wilayah, terdapat di Kecamatan Moyudan, Minggir, Godean, Gamping, Berbah, dan Prambanan. Ketinggian m dpl seluas ha, atau 75,32% dari luas wilayah, terdapat di 17 kecamatan. Ketinggian m dpl meliputi luas ha, atau 11,38% dari luas wilayah, ditemui di Kecamatan Tempel, Turi, Pakem, dan Cangkringan. Ketinggian >1.000 m dpl seluas ha, atau 2,60% dari luas wilayah, terdapat di Kecamatan Turi, Pakem, dan Cangkringan. Ketinggian wilayah di Kabupaten Sleman dapat dilihat pada tabel berikut ini : No Kecamatan Tabel 2.2 Ketinggian Wilayah Kabupaten Sleman <100 m dpl (ha) m dpl (ha) m dpl (ha) >1.000 m dpl (ha) Jumlah (Ha) 1. Moyudan RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 2

3 No Kecamatan <100 m dpl (ha) m dpl (ha) m dpl (ha) >1.000 m dpl (ha) Jumlah (Ha) 2. Minggir Godean Seyegan Tempel Gamping Mlati Sleman Turi Pakem Ngaglik Depok Kalasan Berbah Prambanan Ngemplak Cangkringan Jumlah Prosentase 10,79 75,32 11,38 2, Sumber: Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah Kab. Sleman, ) Geologi Kondisi geologi di Kabupaten Sleman didominasi dari keberadaan gunung Merapi. Formasi geologi dibedakan menjadi endapan vulkanik, sedimen, dan batuan terobosan, dengan endapan vulkanik mewakili lebih dari 90% luas wilayah. Material vulkanik gunung Merapi yang berfungsi sebagai lapisan pembawa air tanah (akifer) yang sudah terurai menjadi material pasir vulkanik, yang sebagian besar merupakan bagian dari endapan vulkanik Merapi muda. Material vulkanik Merapi muda ini dibedakan menjadi 2 unit formasi geologi yaitu formasi Sleman (lebih di dominasi oleh endapan piroklastik halus dan tufa) di bagian bawah dan formasi Yogyakarta (lebih di dominasi oleh pasir vulkanik berbutir kasar hingga pasir berkerikil) di bagian atas. Formasi Yogyakarta dan formasi Sleman ini berfungsi sebagai lapisan pembawa air utama yang sangat potensial dan membentuk satu sistem akifer yang di sebut Sistem Akifer Merapi (SAM). Sistem akifer tersebut menerus dari utara ke selatan dan secara administratif masuk dalam wilayah Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Kabupaten Bantul. Selain formasi geologi tersebut diatas terdapat formasi batu gamping muda RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 3

4 yaitu Formasi Sentolo di Kecamatan Gamping dan Formasi Semilir di Kecamatan Prambanan. Jenis tanah di Kabupaten Sleman terbagi menjadi litosol, regosol, grumusol, dan mediteran. Sebagian besar di wilayah Sleman didominasi jenis tanah regosol sebesar ha (85,69%), mediteran ha (6,69%), litosol ha (4,03%), dan grumusol ha (3,03%), jenis tanah di Kabupaten Sleman selengkapnya seperti terlihat pada tabel berikut ini : No. Kecamatan Tabel 2.3 Jenis Tanah di Kabupaten Sleman Jenis Tanah (Ha) Litosol Regosol Grumusol Mediteran Jumlah (Ha) Moyudan Minggir Seyegan Godean Gamping Mlati Depok Berbah Prambanan Kalasan Ngemplak Ngaglik Sleman Tempel Turi Pakem Cangkringan Jumlah Prosentase 4,03 85,69 3,03 6, Sumber: Sistim Informasi Profil Daerah Tahun ) Hidrologi Air tanah Merapi yang mengalir di bawah permukaan secara rembesan bergerak menuju daerah yang lebih rendah terpotong oleh topografi, rekahan atau patahan maka akan muncul mata air. Di Kabupaten Sleman terdapat 4 jalur mata air (springbelt) yaitu: jalur mata air Bebeng, jalur mata air Sleman-Cangkringan, jalur mata air Ngaglik dan jalur mata air Yogyakarta. Mata air ini telah banyak dimanfaatkan untuk sumber air bersih maupun irigasi. Di Kabupaten Sleman terdapat 182 sumber mata air yang terukur debitnya mulai dari 1 s/d 400 lt/detik, yang airnya mengalir ke sungai-sungai utama yaitu Sungai Boyong, Kuning, Gendol, dan Krasak. Di samping itu terdapat anak-anak sungai yang mengalir ke arah selatan dan bermuara di Samudera Indonesia. RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 4

5 6) Klimatologi Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta, kondisi iklim di sebagian besar wilayah Kabupaten Sleman termasuk tropis basah, hari hujan terbanyak dalam satu bulan 24 hari. Kecepatan angin maksimum 10,8 m/s dan minimum 0,00 m/s, ratarata kelembaban nisbi udara tertinggi 100% dan terendah 19,9%. Temperatur udara tertinggi 34,4 C dan terendah 16,4 C. Kondisi agroklimat di atas menunjukkan bahwa iklim di wilayah Kabupaten Sleman pada umumnya cocok untuk pengembangan sektor pertanian. 7) Penggunaan Lahan Penggunaan lahan di Kabupaten Sleman secara garis besar dapat dibagi sebagai fungsi sawah, tegalan, dan pekarangan. Perkembangan penggunaan lahan selama 5 tahun terakhir menunjukkan luas dan jenis lahan sawah turun, rata-rata per tahun sebesar 0,11%, luas pekarangan naik 0,13%, dan luas tegalan turun 0,02% dari total luas wilayah Kabupaten Sleman. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut: No Tabel 2.4 Penggunaan Lahan di Kabupaten Sleman Tahun Penggunaan Lahan (Ha.) Sawah Tegal Pekarangan Sumber: Dinas Pengendalian Pertanahan Daerah, b. Potensi Pengembangan Wilayah Potensi pengembangan wilayah di Kabupaten Sleman meliputi beberapa kawasan antara lain : 1) Kawasan peruntukan pertanian; meliputi kawasan pertanian lahan basah ( hektar) dan kawasan pertanian lahan kering (9.117 hektar) yang tersebar di 17 kecamatan. RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 5

6 2) Kawasan peruntukan pertambangan; - Batu kapur di Kecamatan Gamping; - Breksi batuapung di Kecamatan Prambanan, dan Berbah; - Andesit di Kecamatan Tempel, Pakem, Turi, Cangkringan, Godean, Seyegan, dan Prambanan; - Tanah liat di Kecamatan Tempel, Godean, Seyegan, Sleman, Gamping, Prambanan, dan Berbah; - Pasir dan kerikil di seluruh kecamatan di wilayah Kabupaten Sleman. 3) Kawasan peruntukan industri; meliputi lahan seluas 299 hektar di Kecamatan Gamping, Berbah, dan Kalasan. 4) Kawasan permukiman; meliputi kawasan permukiman perdesaan ( hektar) dan kawasan permukiman perkotaan ( hektar) yang tersebar di 17 kecamatan. 5) Kawasan peruntukan pariwisata; meliputi tema wisata alam, tema wisata budaya, tema wisata perkotaan dan tema wisata pertanian. 6) Kawasan hutan; kawasan hutan rakyat (3.171 hektar) di Kecamatan Gamping, Seyegan, Prambanan, Turi, Pakem dan Cangkringan. 7) Kawasan pertahanan dan keamanan; meliputi : - Kompi C Batalyon Infanteri 403 dan Kompi Panser 2 Batalyon Kavaleri 2 di Kecamatan Gamping; - Batalyon Infanteri 403 di Kecamatan Depok; dan - Bandar Udara Adisutjipto dan Pangkalan Udara TNI AU Adisutjipto di Kecamatan Depok dan Berbah. c. Wilayah Rawan Bencana Alam Wilayah kawasan rawan bencana alam di Kabupaten Sleman terdiri dari : 1) Kawasan rawan bencana di dalam RTRW terdiri dari: a. kawasan rawan tanah longsor; dan b. kawasan rawan kekeringan. 2) Kawasan rawan tanah longsor seluas kurang lebih ha (tiga ribu tiga ratus tiga hektar) meliputi: a. Kecamatan Gamping; dan b. Kecamatan Prambanan. 3) Kawasan rawan kekeringan seluas ± ha (seribu sembilan ratus enam puluh sembilan hektar) berada di Kecamatan Prambanan. RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 6

7 d. Kawasan Lindung Geologi 1) Kawasan Lindung Geologi terdiri atas: a. Kawasan rawan bencana gunungapi; b. Kawasan rawan gempa bumi. 2) Kawasan Rawan Bencana Gunungapi meliputi: a. Area terdampak langsung letusan Merapi 2010 seluas ± ha meliputi Kecamatan Ngemplak, Pakem, dan Cangkringan; b. Kawasan Rawan Bencana Merapi III seluas ± ha meliputi Kecamatan Ngemplak, Turi, Pakem, dan Cangkringan; c. Kawasan Rawan Bencana Merapi II seluas ± ha meliputi Kecamatan Ngemplak, Tempel, Turi, Pakem, dan Cangkringan; d. Kawasan Rawan Bencana Merapi I seluas ha meliputi Kecamatan Mlati, Depok, Berbah, Prambanan, Kalasan, Ngemplak, Ngaglik, Tempel, Pakem, dan Cangkringan. 3) Kawasan Rawan Gempa Bumi seluas kurang lebih ha tersebar di seluruh kecamatan. e. Demografi Berdasarkan data dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, penduduk di Kabupaten Sleman pada tahun 2012 tercatat sebanyak jiwa. Pada tahun akhir tahun 2013 terjadi penurunan jumlah penduduk dari tahun 2012 sebanyak orang atau 0,93% yaitu dari orang pada tahun 2012 menjadi orang pada tahun Jumlah penduduk akhir tahun 2013 turun dikarenakan adanya Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor: 470/135/SJ tanggal 23 Februari 2013 bahwa data yang dapat digunakan adalah data penduduk kabupaten/kota yang telah diolah dan dikonsolidasikan dan dibersihkan oleh Kementerian Dalam Negeri. Penerbitan data dimaksud pada tanggal 30 Juni untuk semester I dan 31 Desember untuk semester II. Selengkapnya seperti pada tabel berikut : Tabel 2.5 Banyaknya Penduduk Menurut Jenis Kelamin Tahun di Kabupaten Sleman No Tahun Laki-laki Perempuan Jiwa % Jiwa % Jumlah , , , , , , * , , Sumber : Dinas Kependudukan dan Capil, 2013, RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 7

8 Laju pertumbuhan penduduk Kabupaten Sleman jika dilihat dari 4 tahun terakhir rata-rata sebesar 1,46%. Pertumbuhan ini relatif tinggi, hal ini disebabkan fungsi Kabupaten Sleman sebagai penyangga Kota Yogyakarta, sebagai daerah tujuan untuk melanjutkan pendidikan, dan daerah pengembangan pemukiman/perumahan, sehingga pertumbuhan penduduk yang terjadi lebih banyak didorong oleh faktor migrasi penduduk bukan oleh tingkat kelahiran yang tinggi. No. Tabel 2.6 Laju Pertumbuhan Penduduk Tahun di Kabupaten Sleman Jenis Data 1. Laju Pertumbuhan Penduduk (%/th) Sumber: BPS Tahun ,92 1,36 1,31 1,26 Jumlah kepala keluarga mengalami kenaikan sebanyak KK (6,939%) dari KK pada tahun 2010 menjadi KK pada tahun Rata-rata jumlah jiwa setiap rumah tangga sebanyak 3,29 jiwa per rumah tangga. Tabel 2.7 Banyaknya KK dan Rata-rata Jiwa Dalam Keluarga Tahun di Kabupaten Sleman No. Jenis Data Tahun Banyaknya Kepala Keluarga (KK) Rata-rata jumlah jiwa dalam keluarga (orang) 3,15 3,29 3,60 3,26 Sumber: Dinas Kependudukan dan Capil, 2013 Berdasarkan struktur umur penduduk laki-laki Tahun 2012, komposisi penduduk usia 14 tahun kebawah mencapai 19,69%, penduduk usia tahun sebesar 66,80% dan penduduk usia diatas 60 tahun sebesar 14,71%. Sedangkan pada tahun 2013 komposisi penduduk laki-laki usia 14 tahun ke bawah mencapai 22,32%, penduduk usia tahun sebesar 65,47%, dan usia diatas 60 tahun sebesar 12,21%. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut : Kelompok Umur Tabel 2.8 Penduduk Laki-laki Berdasarkan Umur Tahun , , , , , RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 8

9 Kelompok Umur , , , , , , , , JUMLAH 547, Sumber: Dinas Kependudukan dan Capil, 2013 Berdasarkan struktur umur penduduk perempuan Tahun 2012, komposisi penduduk usia 14 tahun ke bawah mencapai 18,24%, penduduk usia tahun sebesar 66,74% dan penduduk usia diatas 60 tahun sebesar 15,02%. Berdasarkan struktur umur penduduk perempuan Tahun 2013, komposisi penduduk usia 14 tahun kebawah mencapai 20,81%, penduduk usia tahun sebesar 65,51% dan penduduk usia diatas 60 tahun sebesar 13,68%. Tabel 2.9 Penduduk Perempuan Berdasarkan Umur Tahun Kelompok Umur JUMLAH Sumber: Dinas Kependudukan dan Capil, 2013 Berdasarkan data struktur penduduk, terdapat kecenderungan kenaikan yang signifikan pada penduduk usia dibawah 19 tahun baik untuk laki-laki maupun perempuan. Sebaliknya terdapat penurunan yang nyata RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 9

10 pada penduduk usia diatas 20 tahun baik untuk laki-laki maupun perempuan Aspek Kesejahteraan Masyarakat Keberhasilan pelaksanaan pembangunan dari aspek kesejahteraan masyarakat dapat dilihat dari capaian indikator kesejahteraan dan pemerataan ekonomi, kesejahteraan sosial, serta seni budaya dan olahraga Fokus Kesejahteraan dan pemerataan ekonomi a. Pertumbuhan PDRB Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Sleman mengalami peningkatan. Pada tahun 2012 sebesar 5,45. Pada tahun 2013 kinerja sektor-sektor ekonomi mengalami pertumbuhan sebesar 5,69%. Pertumbuhan sektor-sektor ekonomi di Kabupaten Sleman selama 4 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.10 Pertumbuhan Sektor dan PDRB Tahun 2010 s.d 2013 Kabupaten Sleman No Sektor Pertumbuhan Pertanian -0,31-2,26 4,11 2,03 2 Pertambangan & Penggalian 15,24 14,35 1,45 1,60 3 Industri Pengolahan 3,05 6,35-0,47 2,91 4 Listrik,Gas & Air bersih 4,82 4,28 6,31 6,44 5 Bangunan 6,59 6,95 6,03 7,14 6 Perdagangan, Hotel & Restoran 5,62 6,27 7,20 7,58 7 Pengangkutan & Komunikasi 6,51 6,61 5,56 6,21 8 Keuangan, Persewaan, & Js. Persh 5,98 6,88 9,00 6,39 9 Jasa-jasa 5,58 6,64 6,85 6,97 PDRB 4,49 5,19 5,45 5,69 Sumber: BPS Kab. Sleman, 2013 *) angka sementara Selama tahun , empat sektor yang memberikan kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB atas dasar harga konstan adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor jasa-jasa, sektor pertanian dan sektor industri pengolahan. Perkembangan nilai PDRB atas dasar harga konstan dan kontribusi sektor dalam PDRB Kabupaten Sleman selama 4 tahun terakhir dapat dilihat pada tabel berikut : RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 10

11 Tabel 2.11 PDRB dan Distribusi Persentase PDRB Menurut Lapangan Usaha ADH Konstan 2000 Tahun Kabupaten Sleman No Sektor *) 2013 (juta Rp) % (juta Rp) % (juta Rp) % (juta Rp) % 1 Pertanian , , , ,92 2 Pertambangan & Penggalian , , , ,53 3 Industri Pengolahan , , , ,85 4 Listrik,Gas &Air Bersih , , , ,93 5 Bangunan , , , ,86 6 Perdagangan, Hotel & , , , ,56 Restoran 7 Pengangkutan & Komunikasi , , , ,16 Keuangan, 8 Persewaan, & Js , , , ,10 Perusahaan 9 Jasa-jasa , , , ,10 PDRB , , , ,00 Sumber: BPS Kabupaten Sleman, 2013 *) angka sementara PDRB atas dasar harga berlaku (Hb) tahun mengalami pertumbuhan rata-rata 10,71% per tahun yaitu dari Rp13.611,72 milyar pada tahun 2010 menjadi Rp18.471,16 milyar pada tahun Selama tahun , sektor perdagangan, hotel, dan restoran memberikan kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB atas dasar harga berlaku, diikuti oleh sektor jasa-jasa, industri pengolahan, dan pertanian. Perkembangan nilai PDRB atas dasar harga berlaku dan kontribusi sektor dalam PDRB Kabupaten Sleman selama 4 tahun terakhir seperti pada tabel berikut : NO Sektor Tabel 2.12 PDRB dan Distribusi Persentase PDRB Menurut Lapangan Usaha ADH Berlaku Tahun Kabupaten Sleman *) 2013 (juta Rp) % (juta Rp) % (juta Rp) % (juta Rp) % 1 Pertanian , , , ,84 2 Pertambangan & Penggalian , , ,58 3 Industri Pengolahan , , , ,55 4 Listrik,Gas & Air bersih , , , ,24 5 Bangunan , , , ,26 6 Perdagangan, Hotel & , , , ,41 Restoran 7 Pengangkutan & Komunikasi , , , ,47 8 Keuangan, Persewaan, & , , , ,79 Js. Perusahaan 9 Jasa-jasa , , , ,84 RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 11

12 NO Sektor *) 2013 (juta Rp) % (juta Rp) % (juta Rp) % (juta Rp) % PDRB , , , ,00 Sumber: BPS Kab. Sleman, 2013 *) angka sementara Selama tahun , rata-rata pertumbuhan kontribusi terbesar dalam pembentukan PDRB atas dasar harga berlaku diberikan oleh sektor pertambangan dan penggalian (2,57%), diikuti sektor bangunan (1,15%), sektor industri pengolahan (1,03% ) dan sektor jasa-jasa (0,07%). Sektor yang mengalami penurunan pertumbuhan kontribusi adalah sektor pengangkutan dan komunikasi (-1,59%), sektor listrik, gas dan air bersih (- 1,05%), sektor perdagangan hotel dan restoran (-0,49%), sektor pertanian (-0,45%) serta sektor keuangan persewaan dan jasa perusahaan (-0,28%). Sementara itu dalam pembentukan PDRB atas dasar harga konstan, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan juga memberikan ratarata pertumbuhan kontribusi terbesar (1,88%), diikuti perdagangan, hotel dan restoran sektor jasa-jasa (1,30%), sektor bangunan (1,18%), sektor pertambangan dan penggalian (0,82%), sektor pengangkutan dan komunikasi (0,66%), serta sektor listrik, gas, dan air bersih (0,37%). Sektor pertanian dan sektor industri pengolahan mengalami penurunan pertumbuhan kontribusi masing-masing sebesar -3,95% dan -2,39%. Pertumbuhan kontribusi sektor PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.13 Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (HB)dan Harga Konstan (HK) Tahun 2013 Kabupaten Sleman Pertumbuhan No Sektor Hb Hk % % 1 Pertanian -0,45-3,95 2 Pertambangan & Penggalian 2,57 0,82 3 Industri Pengolahan 1,03-2,39 4 Listrik,Gas & Air bersih -1,05 0,37 5 Bangunan 1,15 1,18 6 Perdagangan, Hotel & Restoran -0,49 1,49 7 Pengangkutan & Komunikasi -1,59 0,66 8 Keuangan, Persewaan, & Jasa Perusahaan -0,28 1,88 9 Jasa-jasa 0,07 1,30 PDRB 6,87 8,33 Sumber: BPS Kab. Sleman, 2013 PDRB perkapita menurut harga berlaku (Hb) selama 4 tahun meningkat rata-rata 9,54% per tahun, sedangkan menurut harga konstan RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 12

13 2000 (Hk) meningkat rata-rata 4,33%. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya PDRB perkapita harga berlaku mengalami peningkatan sebesar 9,28% yaitu dari Rp pada tahun 2012 menjadi Rp pada tahun 2013, sedangkan PDRB harga konstan mengalami peningkatan sebesar 4,41% yaitu dari Rp pada tahun 2012 menjadi Rp pada tahun PDRB per kapita selama 4 tahun terakhir adalah sebagaimana tabel berikut ini : No. PDRB Tabel 2.14 PDRB Per Kapita Tahun Kabupaten Sleman Nilai (Juta Rp.) *) 2013*) 1. Hb 12,45 13,63 14,98 16,37 2. Hk 5,83 6,05 6,34 6,62 Sumber: BPS Kabupaten Sleman, 2013 *) angka sementara Berdasarkan data diatas, sektor perdagangan, hotel, dan restoran memiliki pertumbuhan dan kontribusi terbesar terhadap PDRB Kabupaten Sleman sehingga pemanfaatan secara optimal sektor ini untuk mengatasi masalah sosial seperti kemiskinan dan penggangguran sangat diperlukan. Meskipun pertumbuhan dan kontribusinya kurang, perhatian terhadap pembangunan sektor pertanian masih sangat diperlukan mengingat sektor ini cukup strategis terutama terkait dengan ketahan pangan daerah. b. Laju Inflasi Tingkat inflasi di Kabupaten Sleman selama periode tahun mengalami penurunan yaitu dari 7,46% pada tahun 2010 menjadi 6,92% pada tahun 2013 sebagaimana tabel berikut ini: Tabel 2.15 Nilai inflasi Rata-rata Tahun 2010 s.d 2013 Kabupaten Sleman Uraian Rata-rata Inflasi (%) 7,46 3,19 4,06 6,92 5,41 Sumber: BPS Kab. Sleman, 2013 Pada tahun 2013 inflasi tertinggi terjadi pada kelompok pengeluaran bahan makanan sebesar 12,89%, dan terendah pada kelompok pengeluaran sandang sebesar 0,33%. Data selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut : RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 13

14 No Tabel 2.16 Inflasi Menurut Kelompok Pengeluaran Tahun Kabupaten Sleman Kelompok Pengeluaran Tingkat Inflasi (%) Rata-rata 1 Bahan Makanan 22,02 1,97 7,07 12,89 10,99 2 Makanan Jadi, Minuman, Rokok, dan Tembakau 6,50 5,19 6,72 8,48 6,72 3 Perumahan, Air, Listrik, Gas dan Bahan Bakar 6,23 3,02 3,90 5,41 4,64 4 Sandang 5,84 5,63 2,63 0,33 3,61 5 Kesehatan 0,60 5,58 1,44 2,24 2,47 6 Pendidikan, Rekreasi, & Olah Raga 3,63 0,94 1,32 1,20 1,77 7 Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan 2,26 2,12 1,18 12,09 4,41 Umum 7,46 3,19 4,06 6,92 5,41 Sumber: BPS Kabupaten Sleman, 2013 Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, laju inflasi tahun 2013 mengalami peningkatan. Hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor antara lain: 1) Kenaikan harga beberapa komoditas, terutama cabe merah, cabe rawit dan bawang merah. 2) Kenaikan harga BBM di tahun c. Indeks Gini Pemerataan hasil pembangunan biasanya dikaitkan dengan masalah kemiskinan. Secara logika, jurang pemisah (gap) yang semakin lebar antara kelompok penduduk kaya dan miskin berarti kemiskinan semakin meluas dan sebaliknya. Dengan demikian orientasi pemerataan merupakan usaha untuk memerangi kemiskinan. Tolok ukur untuk menghitung tingkat pemerataan pendapatan antara lain dengan Indeks Gini atau Gini Ratio. Adapun kriteria kesenjangan/ketimpangan adalah G<0,30 berarti ketimpangan rendah, 0,30 G 0,50 berarti ketimpangan sedang dan G > 0,50 berarti ketimpangan tinggi. Selama tahun menunjukkan bahwa angka Indeks Gini di Kabupaten Sleman semakin meningkat yang berarti bahwa pendapatan penduduk di Kabupaten Sleman dari tahun lebih tidak merata. Meskipun angka Indeks Gini tersebut masih berada pada kriteria ketimpangan pendapatan sedang, diperlukan upaya yang lebih strategis agar pendapatan semakin merata untuk seluruh lapisan masyarakat. Angka Indeks Gini tahun dapat dilihat pada tabel berikut ini : RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 14

15 Tabel 2.17 Indeks Gini Tahun Kabupaten Sleman No. Tahun Indeks Gini , , , *) 0,44 Sumber : BPS Provinsi DIY, *) Angka sementara Fokus Kesejahteraan Sosial Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan masyarakat dilakukan terhadap beberapa indikator pendidikan, kesehatan, pertanahan dan ketenagakerjaan. a. Pendidikan Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan masyarakat bidang pendidikan dilakukan terhadap indikator angka melek huruf, angka rata-rata lama sekolah, angka partisipasi kasar, angka partisipasi murni. 1) Angka Melek Huruf (AMH) Angka Melek Huruf digunakan untuk mengetahui atau mengukur keberhasilan program-program pemberantasan buta huruf terutama di daerah pedesaan, selain itu juga untuk menunjukkan kemampuan penduduk di suatu wilayah dalam menyerap informasi dari berbagai media. Angka Melek Huruf juga dapat menunjukkan kemampuan untuk berkomunikasi secara lisan dan tertulis, sehingga AMH dapat dipakai sebagai dasar kabupaten untuk melihat potensi perkembangan intelektual sekaligus kontribusi terhadap pembangunan daerah. Jika dibandingkan tahun 2012, AMH Kabupaten Sleman tahun 2013 mengalami peningkatan. Pada tahun 2012 angka melek huruf sebesar 94,53%, artinya bahwa di Kabupaten Sleman pada tahun 2012 masih ada 5,47% penduduk usia 15 tahun ke atas yang masih buta huruf. Sedangkan untuk tahun 2013 sebesar 98,03%. 2) Angka rata-rata lama sekolah Lamanya sekolah atau years of schooling merupakan ukuran akumulasi investasi pendidikan individu. Setiap tahun tambahan sekolah diharapkan akan membantu meningkatkan pendapatan individu tersebut. Rata-rata lama sekolah dapat dijadikan ukuran akumulasi modal manusia suatu daerah. Pada tahun 2012 rata-rata lama sekolah sebesar 10,52 atau setara dengan Sekolah Menengah kelas 1 dan diperkirakan meningkat menjadi RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 15

16 sebesar 10,63 pada tahun Angka ini masih sementara karena untuk perhitungan ini juga mengacu pada IPM. 3) Angka Partisipasi Kasar Angka Partisipasi Kasar (APK) menunjukkan tingkat partisipasi penduduk secara umum di suatu tingkat pendidikan. APK merupakan indikator yang paling sederhana untuk mengukur daya serap penduduk usia sekolah di masing-masing jenjang pendidikan. Berdasarkan Surat Edaran Menteri Dalam Negeri Nomor: 470/135/SJ tanggal 23 Februari 2013 bahwa data yang dapat digunakan adalah data penduduk kabupaten/kota yang telah diolah dan dikonsolidasikan serta dibersihkan oleh Kementerian Dalam Negeri, maka penghitungan APK mengalami perubahan, karena pada tahun-tahun sebelumnya jumlah penduduk berdasarkan data dari BPS. Angka Partisipasi Kasar (APK) untuk jenjang SD/MI pada tahun 2012 sebesar 116,51, artinya bahwa untuk jenjang SD/MI jumlah siswa yang sekolah melebihi jumlah penduduk usia sekolah SD/MI dimana hal ini disebabkan pada sekolah SD/MI siswa ada yang berusia kurang dari 7 tahun tetapi ada pula yang melebihi 12 tahun. Pada tahun 2013 terjadi penurunan menjadi 114,77. Hal ini terjadi karena ada perbedaan jumlah penduduk berdasarkan data dari BPS dan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Demikian pula bagi SMP/M.Ts, dapat dilihat bahwa APK pada tahun 2012 sebesar 113,70 menurun pada tahun 2013menjadi 108,93%, hal ini disebabkan karena jumlah siswa paket B mengalami penurunan. APK SMA/MA/SMK pada tahun 2012 sebesar 77,69 dan pada tahun 2013 APK SMA/MA/SMK menjadi 79,00 atau meningkat sebesar 1,31% dari tahun APK SMA/MA/SMK di bawah 80% disebabkan karena lulusan SMP diperkirakan melanjutkan ke SMA/MA/SMK di kota dan ke daerah perbatasan sehingga ini sangat mempengaruhi pada tinggi rendahnya APK di Kabupaten Sleman. 4) Angka Partisipasi Murni (APM) Angka Partisipasi Murni (APM) menunjukkan partisipasi sekolah penduduk usia sekolah di tingkat pendidikan tertentu. APM ini merupakan indikator daya serap penduduk usia sekolah di setiap jenjang pendidikan. Pada jenjang SD/MI APM pada tahun 2012 sebesar 100,87 dan tahun 2013 sebesar 99,96. APM SMP/M.Ts pada tahun 2012 sebesar 81,84 dan tahun 2013 menjadi 81,24.APM SMA/MA/SMK pada tahun 2012 sebesar RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 16

17 55,11 dan tahun 2013 menjadi 55,16. APM Kabupaten Sleman tahun selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 2.18 Angka Melek Huruf, Lama Sekolah dan Angka Partisipasi Tahun Kabupaten Sleman No. Uraian Angka melek huruf 92,61 93,94 94,53 98,03 2 Rata-rata Lama Sekolah (tahun) 10,30 10,51 10,52 10,63* 3 APK SD/MI 116,42 116,45 116,51 114,77 4 APK SMP/MTs 115,48 113,68 113,70 108,93 5 APK SMA/MA/SMK 77,17 77,66 77,69 79,00 6 APM SD/MI 100,73 101,51 100,87 99,96 7 APM SMP/MTs 81,71 79,65 81,84 81,24 8 APM SMA/MA/SMK 54,03 54,04 55,11 55,16 Sumber: Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga, 2013 *) angka sementara b. Kesehatan Analisis kinerja atas fokus kesejahteraan masyarakat bidang kesehatan dilakukan terhadap indikator rata-rata usia harapan hidup, angka kematian bayi, angka kematian ibu melahirkan, prosentase balita gizi buruk, persalinan oleh tenaga kesehatan, cakupan penggunaan air bersih, dan cakupan penggunaan jamban keluarga. 1) Rata-rata Usia Harapan Hidup Rata-rata usia harapan hidup tahun 2012 sebesar 76,08 tahun (lakilaki 73,46 tahun dan perempuan 77,12 tahun), mengalami penurunan menjadi 76,01 tahun (laki-laki 73,50 tahun dan perempuan 77,10 tahun) pada tahun Meskipun mengalami penurunan, angka tersebut masih di atas rata-rata provinsi 74 tahun dan nasional 70,6 tahun. 2) Angka Kematian Bayi per Kelahiran Hidup Angka kematian bayi per kelahiran hidup tahun 2012 sebesar 4,7, menurun sebesar 4,60 pada tahun Pencapaian angka tersebut sudah lebih baik dibandingkan dengan angka provinsi sebesar 16 dan nasional 34 per KH. 3) Angka Kematian Ibu Melahirkan per Kelahiran Hidup Angka kematian ibu melahirkan pada tahun 2012 sebanyak 81,88, mengalami penurunan menjadi sebanyak 63,70 per kelahiran hidup pada tahun 2013, lebih baik daripada capaian provinsi 124 dan nasional 226. RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 17

18 4) Balita Gizi Buruk Persentase balita dengan gizi buruk pada tahun 2012 mencapai 0,45%, mengalami penurunan menjadi 0,37% pada tahun 2013, lebih baik daripada pencapaian provinsi sebesar 0,68% dan nasional sebesar 4,9%. 5) Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Persalinan oleh tenaga kesehatan pada tahun 2012 sebesar 99,86%, mengalami kenaikan menjadi sebesar 99,90% pada tahun 2013, sudah lebih baik dari target nasional 95%. 6) Cakupan Penggunaan Air Bersih Cakupan penggunaan air bersih pada tahun 2012 sebesar 95,14, meningkat menjadi 2013 sebesar 98,33% pada tahun Pencapaian angka tersebut sudah lebih baik dibandingkan dengan angka Nasional 80%. 7) Cakupan Penggunaan Jamban Keluarga Cakupan penggunaan jamban keluarga pada tahun 2012 sebesar 75,11, meningkat menjadi sebesar 81,65% pada tahun Pencapaian ini masih dibawah provinsi, yakni sebesar 82,88 %, tetapi sudah diatas target nasional yaitu sebesar 72 %. Adapun capaian indikator kesehatan tahun dapat dilihat pada tabel berikut ini : No Tabel 2.19 Indikator Kesehatan Tahun Kabupaten Sleman Indikator 1 Usia harapan hidup rata-rata : - Laki-laki - Perempuan Capaian Kabupaten Sleman ,87 75,76 76,08 76,01 73,04 73,14 73,46 73,50 76,70 76,80 77,12 77,10 2 Angka Kematian Bayi/1.000 KH 5,78 5,25 4,70 4,6 3 Angka Kematian Ibu 112, ,88 63,70 Melahirkan/ KH 4 Persentase Balita Gizi Buruk 0,66 0,5 0,45 0,37 5 Universal Child Immunization/UCI (%) Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan (%) 7 Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan 93,16 99,61 99,86 99,90 (%) 8 Cakupan Rumah Tangga Sehat (%) 83 82,8 83,82 85,47 9 Cakupan penggunaan Air Bersih (%) 94,9 94,9 95,14 98,33 10 Cakupan penggunaan Jamban 67,2 65,1 75,11 81,65 Keluarga (%) 11 Cakupan penggunaan SPAL (%) 58,5 48,8 59,62 70,93 Sumber : Dinas Kesehatan, 2012 c. Ketenagakerjaan Ketenagakerjaan merupakan aspek yang mendasar dalam kehidupan bermasyarakat karena meliputi dimensi ekonomi dan sosial yang luas. RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 18

19 Dengan bekerja, masyarakat dapat memenuhi kebutuhan ekonomi mereka sesuai kemampuan dan ketrampilan yang dimiliki. Disamping itu, bekerja juga melibatkan aspek sosial seperti aktualisasi diri, melakukan kontak sosial, serta pengakuan masyarakat terhadap kemampuan individu yang bersangkutan. Pada tahun 2012 jumlah angkatan kerja sebanyak orang, berkurang menjadi orang pada tahun Jika dibandingkan tahun 2012, penduduk yang tidak pekerja mengalami penurunan sebesar kurang lebih 1 %. Perkembangan ketenagakerjaan tahun dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 2.20 Perkembangan Ketenagakerjaan Tahun Kabupaten Sleman No. Uraian Angkatan Kerja Penduduk yang Bekerja Penduduk yang Tidak Bekerja 41,26 39,921 37,754 35, Rasio Penduduk yang Bekerja 0,91 0,92 0,93 0,94 Sumber: Dinas Nakersos Kabupaten Sleman. Capaian DIY 2013* Fokus Seni Budaya dan Olahraga Analisis atas kinerja Seni Budaya dan Olahraga dilakukan terhadap indikator kebudayaan dan pemuda dan olahraga: a. Kebudayaan Pembangunan bidang seni budaya sangat terkait erat dengan kualitas hidup manusia dan masyarakat, yaitu untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang berakhlak mulia, bermoral, beretika, berbudaya dan beradab. Kabupaten Sleman yang terdiri dari 17 kecamatan dan 86 desa, memiliki adat-istiadat serta berbagai kesenian yang menggambarkan dinamika yang ada dalam masyarakat, sekaligus sebagai potensi yang dimiliki masyarakat. Di bawah ini disampaikan data tentang grup kesenian serta gedung kesenian yang ada di Kabupaten Sleman, sebagaimana tabel berikut ini : Tabel 2.21 Perkembangan Seni, Budaya Tahun Kabupaten Sleman No. Capaian Pembangunan Jumlah grup kesenian RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 19

20 No. Capaian Pembangunan Jumlah gedung kesenian Sumber: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, 2013 Berdasarkan data di atas menggambarkan bahwa di Kabupaten Sleman pada tahun 2012 memiliki kelompok kesenian sejumlah kelompok kesenian yang tersebar di 17 Kecamatan dan 86 desa. Pada tahun 2013 terjadi penambahan jumlah grup kesenian atau kelompok kesenian yaitu menjadi kelompok. Hal ini menggambarkan bahwa kelompok-kelompok kesenian tumbuh dan terpelihara dengan baik di masyarakat untuk mendukung desa wisata yang ada di Kabupaten Sleman. Namun demikian dengan jumlah penduduk sebesar (data semester II hasil konsolidasi Kementerian Dalam Negeri) jiwa Kabupaten Sleman baru memiliki fasilitas gedung kesenian sejumlah 10 gedung kesenian. Adapun nama-nama gedung kesenian di Kabupaten Sleman adalah Balai Budaya Minomartani, Balai Budaya Sinduharjo Ngaglik, Pusat Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Tenaga Kependidikan Seni Budaya Klidon, Gedung Kesenian Sleman, Gedung Kesenian Universitas Negeri Yogyakarta, Panggung Trimurti dan Panggung Rorojonggrang Prambanan dan Gedung Kesenian Hardjo Sumantri, Ndalem Notoprajan Rejodani dan Panggung Terbuka Kaliurang. b. Pemuda dan Olahraga Dalam rangka mewujudkan bangsa yang berdaya saing untuk mencapai masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera serta berkualitas, maka sangat dibutuhkan generasi muda yang benar-benar tangguh, berbobot dan sehat. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut maka salah satu indikator terpenuhinya generasi muda yang berkualitas adalah tersedianya fasilitas olahraga. Di bawah ini data tentang jumlah klub olahraga serta data gedung olahraga yang ada di Kabupaten Sleman sebagaimana tabel berikut ini : Tabel 2.22 Perkembangan Olahraga Tahun di Kabupaten Sleman No. Capaian Pembangunan Jumlah klub olahraga Jumlah gedung olahraga Sumber: Dinas Pendidikan, pemuda dan Olahraga, 2013 RKPD Kabupaten Sleman Tahun 2015 II - 20

BAB 2. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB 2. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB 2. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1 Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1 Letak, Luas, dan Batas Wilayah Administrasi Secara geografis wilayah Kabupaten Sleman terbentang mulai 110 13 00 sampai dengan

Lebih terperinci

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN BAB II EVALUASI HASIL PELAKSANAAN TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN 2.1 Analisis Gambaran Umum Kondisi Daerah 2.1.1 Aspek Geografi dan Demografi a. Karakteristik Wilayah 1) Letak,Luas,

Lebih terperinci

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja atau ukuran kinerja akan digunakan untuk mengukur kinerja atau keberhasilan organisasi. Pengukuran kinerja organisasi akan dapat dilakukan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. SEJARAH SINGKAT KABUPATEN SLEMAN Periode Kasultanan Yogyakarta hingga lahirnya RI Pada masa Kasultanan Yogyakarta tepatnya di tahun 1916, terjadi reorganisasi wilayah

Lebih terperinci

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja Kabupaten Parigi Moutong bertujuan untuk memberikan gambaran mengenai ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi Bupati dan Wakil

Lebih terperinci

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB IX PENETAPAN INDIKATOR DAERAH Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian visi dan misi kepala daerah dari sisi keberhasilan penyelenggaraan

Lebih terperinci

TABEL 9-1 Indikator Kinerja Kabupaten Nagan Raya Tahun

TABEL 9-1 Indikator Kinerja Kabupaten Nagan Raya Tahun TABEL 9-1 Indikator Kinerja Kabupaten Nagan Raya Tahun 2012-2017 NO ASPEK/FOKUS/BIDANG URUSAN/ INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN DAERAH SATUAN 2013 2014 2015 2016 2017 (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. a. Letak Wilayah Kabupaten Sleman secara geografis terletak diantara dan

BAB I PENDAHULUAN. a. Letak Wilayah Kabupaten Sleman secara geografis terletak diantara dan BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum Dasar Hukum pembentukan Kabupaten Sleman adalah Undang Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta JO PP Nomor 3 Tahun 1950 sebagaimana telah

Lebih terperinci

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH - 180 - BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja daerah bertujuan untuk memberi gambaran tentang ukuran keberhasilan pencapaian Visi dan Misi Kepala dan Wakil Kepala pada akhir

Lebih terperinci

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA Indikator-indikator yang ditetapkan dalam rangka melakukan evaluasi pelaksanaan pembangunan di Desa Jatilor dalam kurun tahun 2014-2019 adalah sebagai berikut : 9.1 Aspek

Lebih terperinci

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27" Lintang Selatan dan 110º12'34" - 110º31'08" Bujur Timur. Di

KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI. A. Letak Geografis. 08º00'27 Lintang Selatan dan 110º12'34 - 110º31'08 Bujur Timur. Di IV. KARAKTERISTIK WILAYAH STUDI A. Letak Geografis Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta mempunyai lima Kabupaten dan satu Kotamadya, salah satu kabupaten tersebut adalah Kabupaten Bantul. Secara geografis,

Lebih terperinci

Daftar Tabel Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD ) Kab. Jeneponto Tahun 2016

Daftar Tabel Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD ) Kab. Jeneponto Tahun 2016 Daftar Tabel Tabel 2.1 Luas Wialayah menurut Kecamatan di Kabupaten Jeneponto... II-2 Tabel 2.2 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Wilayah Kabupaten Jeneponto berdasarkan BPS... II-5 Tabel 2.3 Daerah Aliran

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17

DAFTAR TABEL. Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17 DAFTAR TABEL Taks Halaman Tabel 2.1 Luas Wilayah Menurut Kecamatan dan Desa/Kelurahan... 17 Tabel 2.2 Posisi dan Tinggi Wilayah Diatas Permukaan Laut (DPL) Menurut Kecamatan di Kabupaten Mamasa... 26 Tabel

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015 RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN MALANG TAHUN 2015 Oleh: BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KABUPATEN MALANG Malang, 30 Mei 2014 Pendahuluan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004

Lebih terperinci

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR

4 GAMBARAN UMUM KOTA BOGOR 44 Keterbatasan Kajian Penelitian PKL di suatu perkotaan sangat kompleks karena melibatkan banyak stakeholder, membutuhkan banyak biaya, waktu dan tenaga. Dengan demikian, penelitian ini memiliki beberapa

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS... II-1

BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH DAN ISU STRATEGIS... II-1 DAFTAR ISI DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1 LATAR BELAKANG... I-1 2.1 MAKSUD DAN TUJUAN... I-2 1.2.1 MAKSUD... I-2 1.2.2 TUJUAN... I-2 1.3 LANDASAN PENYUSUNAN...

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN LOKASI

BAB III TINJAUAN LOKASI BAB III TINJAUAN LOKASI Perencanaan dan perancangan sebuah bangunan sangat dipengaruhi oleh letak lokasi bangunan. Bangunan rumah sakit khusus paru di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan pendekatan Healing

Lebih terperinci

Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Kuningan

Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Kuningan Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Kabupaten Kuningan NO 2018 A ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT 1 PDRB per Kapita (juta rupiah) - PDRB

Lebih terperinci

BAB III TINJAUAN WILAYAH DAN KAWASAN

BAB III TINJAUAN WILAYAH DAN KAWASAN BAB III TINJAUAN WILAYAH DAN KAWASAN 3.1 PenentuanWilayah Berdasarkan kajian yang telah dibahas pada latar belakang pengadaan proyek, penentuan wilayah Pusat Hortikultura di Sleman telah ditetapkan di

Lebih terperinci

Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi

Target Realisasi Target Realisasi Target Realisasi 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 I ASPEK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT A Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 1 Pertumbuhan Ekonomi % 6,02 6,23 6,07 6,45 6,33 6,63 5,89** 2 PDRB Per Kapita (Harga Berlaku) Rp. Juta

Lebih terperinci

BUPATI ACEH BARAT PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014

BUPATI ACEH BARAT PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 BUPATI ACEH BARAT PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi kepada hasil, kami yang bertanda tangan di bawah

Lebih terperinci

BUPATI ACEH BARAT PENETAPAN KINERJA TAHUN 2013

BUPATI ACEH BARAT PENETAPAN KINERJA TAHUN 2013 BUPATI ACEH BARAT PENETAPAN KINERJA TAHUN 2013 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi kepada hasil, kami yang bertanda tangan di bawah

Lebih terperinci

RANCANGAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2015

RANCANGAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2015 RANCANGAN RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN TEMANGGUNG TAHUN 2015 PEMERINTAH KABUPATEN TEMANGGUNG 2014 i DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i DAFTAR ISI DAFTAR TABEL... ii... ix DAFTAR GAMBAR...

Lebih terperinci

Tahun Penduduk menurut Kecamatan dan Agama Kabupaten Jeneponto

Tahun Penduduk menurut Kecamatan dan Agama Kabupaten Jeneponto DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Luas Wilayah menurut Kecamatan di Kabupaten Jeneponto... II-2 Tabel 2.2 Jenis Kebencanaan dan Sebarannya... II-7 Tabel 2.3 Pertumbuhan Penduduk Kabupaten Jeneponto Tahun 2008-2012...

Lebih terperinci

Lampiran 1. Perjanjian Kinerja Tahun 2016

Lampiran 1. Perjanjian Kinerja Tahun 2016 Lampiran 1. Perjanjian Kinerja Tahun 2016 NO INDIKATOR KINERJA Misi 1 : Meningkatnya kualitas sumber daya manusia dengan berbasis pada hak-hak dasar masyarakat Sasaran 1 : Meningkatnya Aksesibilitas dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. a. Letak Wilayah Kabupaten Sleman secara geografis terletak diantara dan

BAB I PENDAHULUAN. a. Letak Wilayah Kabupaten Sleman secara geografis terletak diantara dan BAB I PENDAHULUAN A. Dasar Hukum Dasar Hukum pembentukan Kabupaten Sleman adalah Undang Undang Nomor 3 Tahun 1950 tentang Pembentukan Daerah Istimewa Yogyakarta JO PP Nomor 3 Tahun 1950 sebagaimana telah

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2 DAFTAR ISI DAFTAR ISI Hal DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xix BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen RPJMD

Lebih terperinci

3. TINGKAT CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN (IKK II.3)

3. TINGKAT CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN (IKK II.3) 3. TINGKAT CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN (IKK II.3) URUSAN WAJIB 1. Urusan Pendidikan Capaian kinerja penyelenggaraan Urusan Pendidikan diukur dari 14 (empat belas) Indikator

Lebih terperinci

SIINKRONISASI PROGRAM, INDIKATOR DAN OUTPUT (RPJMD, RKPD DAN KUA-PPAS)

SIINKRONISASI PROGRAM, INDIKATOR DAN OUTPUT (RPJMD, RKPD DAN KUA-PPAS) SIINKRONISASI PROGRAM, INDIKATOR DAN OUTPUT (RPJMD, RKPD DAN KUA-PPAS) Urusan Program Indikator RPJMD Target Indikator RKPD Target Indikator KUA-PPAS Target SKPD BIDANG EKONOMI Urusan Ketenagakerjaan Urusan

Lebih terperinci

Jumlah Penduduk usia 15 thn ke atas dapat baca tulis x100% Jumlah penduduk usia 15th ke atas

Jumlah Penduduk usia 15 thn ke atas dapat baca tulis x100% Jumlah penduduk usia 15th ke atas PEMERINTAH KABUPATEN BANGKA LAMPIRAN III. INDIKATOR KUNCI DALAM RANGKA EKPPD TERHADAP LPPD TAHUN 008 ASPEK TINGKAT PENYELENGGARAAN URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN No URUSAN No IKK Rumus PERHITUNGAN Pendidikan

Lebih terperinci

PERJANJIAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN TAHUN 2016

PERJANJIAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN TAHUN 2016 PERJANJIAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN TAHUN 06 Kabupaten Tahun Anggaran : 06 : Hulu Sungai Selatan TUJUAN SASARAN INDIKATOR SASARAN 4 Mewujudkan nilai- nilai agamis sebagai sumber

Lebih terperinci

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN... 9

DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN... 9 i DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Dasar Hukum...... 2 1.3. Hubungan Antar Dokumen... 5 1.4. Sistematika Dokumen RKPD... 5 1.5. Maksud dan Tujuan... 7 Hal BAB II EVALUASI

Lebih terperinci

DAFTAR ISI PERDA... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI PERDA... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i DAFTAR ISI PERDA... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... i iii xx BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... 5 1.3. Hubungan Antar Dokumen... 10 1.4. Sistematika

Lebih terperinci

BAB III: DATA DAN ANALISA PERENCANAAN

BAB III: DATA DAN ANALISA PERENCANAAN BAB III: DATA DAN ANALISA PERENCANAAN 3.1 Data Lokasi Gambar 30 Peta Lokasi Program Studi Arsitektur - Universitas Mercu Buana 62 1) Lokasi tapak berada di Kawasan Candi Prambanan tepatnya di Jalan Taman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN... I-1

BAB I PENDAHULUAN... I-1 DAFTAR ISI Daftar Isi... Daftar... Daftar Gambar... BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen... I-7 1.4. Kaidah Pelaksanaan...

Lebih terperinci

TABEL IX PENENTUAN INDIKATOR KINERJA KOTA MAKASSAR Kondisi Kinerja pada Awal Periode RPJMD (2014)

TABEL IX PENENTUAN INDIKATOR KINERJA KOTA MAKASSAR Kondisi Kinerja pada Awal Periode RPJMD (2014) TABEL IX PENENTUAN INDIKATOR KINERJA KOTA MAKASSAR 2014-2019 No pada ASPEK KESEJAHTERAAN I Kemampuan Ekonomi Daerah Otonomi Daerah, Pemerintahan Umun, Administrasi 1 Keuangan Daerah, Perangkat Daerah,

Lebih terperinci

BAB III. TINJAUAN KHUSUS WISMA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA Kondisi Wilayah Kaliurang Sleman Yogyakarta Gambaran Umum Wilayah Sleman

BAB III. TINJAUAN KHUSUS WISMA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA Kondisi Wilayah Kaliurang Sleman Yogyakarta Gambaran Umum Wilayah Sleman BAB III. TINJAUAN KHUSUS WISMA UNIVERSITAS ATMA JAYA YOGYAKARTA 3.1. Kondisi Wilayah Kaliurang Sleman Yogyakarta 3.1.1. Gambaran Umum Wilayah Sleman Luas Wilayah Kabupaten Sleman adalah 57.482 Ha atau

Lebih terperinci

PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Indikator kinerja dimaksudkan untuk mengukur keberhasilan pencapaian visi dan misi yang telah dicanangkan oleh Bupati dan Wakil Bupati Sijunjung masa jabatan. Indikator

Lebih terperinci

KABUPATEN ACEH TENGAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016

KABUPATEN ACEH TENGAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 KABUPATEN ACEH TENGAH PERJANJIAN KINERJA TAHUN 2016 SEKRETARIAT DAERAH KABUPATEN ACEH TENGAH TAHUN 2016 LAMPIRAN PERJANJIAN KINERJA KABUPATEN ACEH TENGAH TAHUN 2016 No Sasaran Strategis Indikator Kinerja

Lebih terperinci

RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN

RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN RANCANGAN RENCANA PEMBANGUNANN JANGKA MENENGAH DAERAH KABUPATEN KOTABARU TAHUN 2016-2021 PEMERINTAH KABUPATEN KOTABARU 2016 Bab I Daftar Isi... i Daftar Tabel... iii Daftar Gambar... ix PENDAHULUAN I-1

Lebih terperinci

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii

DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... iii DAFTAR GAMBAR... xii BAB I PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen... I-7 1.4.

Lebih terperinci

FORMULIR PENGUKURAN KINERJA TAHUN No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % ton/ha pertanian,perkebunan dan

FORMULIR PENGUKURAN KINERJA TAHUN No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % ton/ha pertanian,perkebunan dan Lampiran PK Kabupaten : Musi Banyuasin FORMULIR PENGUKURAN KINERJA TAHUN 2014 No Sasaran Indikator Kinerja Satuan Target Realisasi % 1.1.1 Meningkatnya hasil produksi 1 Produktivitas tanaman pangan (padi)

Lebih terperinci

PENGUKURAN PENCAPAIAN SASARAN PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK TAHUN 2014

PENGUKURAN PENCAPAIAN SASARAN PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK TAHUN 2014 PENGUKURAN PENCAPAIAN SASARAN PEMERINTAH KABUPATEN DEMAK TAHUN 2014 Lampiran I NO. SASARAN URAIAN TARGET 2014 REALISASI 2014 % 1 2 4 5 6 1. Meningkatnya kualitas SDM aparatur Rasio PNS Lulusan S1 584,8

Lebih terperinci

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah

BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT. Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan luas wilayah 5.1. Kondisi Geografis BAB V GAMBARAN UMUM PROPINSI JAWA BARAT Propinsi Jawa Barat secara geografis terletak di antara 5 o 50 ' - 7 o 50 ' Lintang Selatan dan 104 o 48 '- 108 o 48 ' Bujur Timur, dengan

Lebih terperinci

Tabel 2.19 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Tahun

Tabel 2.19 Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur Tahun 41 2.1.2 Aspek Kesejahteraan Masyarakat 2.1.2.1 Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi 2.1.2.1.1 Otonomi Daerah, Pemerintahan Umum, Administrasi Keuangan Daerah, Perangkat Daerah, Kepegawaian dan Persandian

Lebih terperinci

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1 Aspek Geografi dan Demografi Aspek geografi dan demografi merupakan salah satu aspek kondisi kewilayahan yang mutlak diperhatikan sebagai ruang dan subyek pembangunan.

Lebih terperinci

PENTAHAPAN PEMBANGUNAN DAN PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

PENTAHAPAN PEMBANGUNAN DAN PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH PENTAHAPAN PEMBANGUNAN DAN PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja atau ukuran kinerja akan digunakan untuk mengukur kinerja atau keberhasilan organisasi. Pengukuran kinerja organisasi

Lebih terperinci

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Tabel IX-1 Indikator Kinerja Daerah Menurut Sasaran Strategis SASARAN INDIKATOR KINERJA Misi satu : Meningkatkan tata kelola pemerintahan yang melalui peningkatkan

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. Tabel Judul Halaman: 1.1 Nama Kecamatan, Luas Wilayah dan Jumlah Desa/Kelurahan Luas Tanah Menurut Penggunaannya 4

DAFTAR TABEL. Tabel Judul Halaman: 1.1 Nama Kecamatan, Luas Wilayah dan Jumlah Desa/Kelurahan Luas Tanah Menurut Penggunaannya 4 DAFTAR ISI Halaman: KATA PENGANTAR DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... ii DAFTAR GAMBAR... viii DAFTAR GRAFIK... ix DAFTAR LAMPIRAN... x BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Pemerintahan... 1 1.2 Kepegawaian... 2 1.3

Lebih terperinci

BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT

BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT BAB I KONDISI MAKRO PEMBANGUNAN JAWA BARAT 1.1. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) beserta Komponennya Angka Partisipasi Kasar (APK) SLTP meningkat di tahun 2013 sebesar 1.30 persen dibandingkan pada tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1

BAB I PENDAHULUAN LKPJ GUBERNUR JAWA BARAT ATA 2014 I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penyampaian laporan keterangan pertanggungjawaban Kepala Daerah kepada DPRD merupakan amanah Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Lebih terperinci

Sasaran IKU Penjelasan Sumber Data. Pengembangan sektor pertanian dan perikanan daerah

Sasaran IKU Penjelasan Sumber Data. Pengembangan sektor pertanian dan perikanan daerah LAMPIRAN I : PERATURAN WALIKOTA CIMAHI NOMOR : 15 TAHUN 2015 TANGGAL : 23 FEBRUARI 2015 TENTANG : PENETAPAN INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH KOTA CIMAHI PEMERINTAH KOTA CIMAHI MISI : 1. Mewujudkan Kreatifitas

Lebih terperinci

Dalam rangka. akuntabel serta. Nama. Jabatan BARAT. lampiran. perjanjiann. ini, tanggungg. jawab kami. Pontianak, Maret 2016 P O N T I A N A K

Dalam rangka. akuntabel serta. Nama. Jabatan BARAT. lampiran. perjanjiann. ini, tanggungg. jawab kami. Pontianak, Maret 2016 P O N T I A N A K GUBERNUR KALIMANTAN BARAT PERJANJIANN KINERJA TAHUN 2016 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahann yang efektif, transparan dan akuntabel serta berorientasi pada hasil, yang bertanda tangan di bawah

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1 RENCANA STRATEGIS VISI dan MISI

BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1 RENCANA STRATEGIS VISI dan MISI BAB II PERENCANAAN KINERJA 2.1 RENCANA STRATEGIS 2.1.1 VISI dan MISI Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) merupakan kerangka pembangunan strategis Pemerintah Kabupaten Aceh Barat untuk periode

Lebih terperinci

PENGUKURAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU Tahun 2015

PENGUKURAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU Tahun 2015 PENGUKURAN KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN KAPUAS HULU Tahun 0 No Sasaran No Indikator NO Satuan Target Realisasi Capaian Ket 8 9 0 Meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan aparatur pemerintah daerah dan

Lebih terperinci

Tabel 7.3 CAPAIAN KINERJA PROGRAM INDIKATOR

Tabel 7.3 CAPAIAN KINERJA PROGRAM INDIKATOR Tabel 7.3 Kebijakan Umum dan Program Pembangunan Misi 3 RPJMD Kabupaten Sleman Tahun 2016-2021 Misi 3 : Meningkakan penguatan sistem ekonomi kerakyatan, aksesibilitas dan kemampuan ekonomi rakyat, penanggulangan

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH Rencana Belanja Daerah Pemerintah Kabupaten Sleman pada tahun 7 yang diusulkan melalui Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Sleman

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR P. Negara, November 2011 BAPPEDA DAN PENANAMAN MODAL KABUPATEN JEMBRANA KEPALA,

KATA PENGANTAR P. Negara, November 2011 BAPPEDA DAN PENANAMAN MODAL KABUPATEN JEMBRANA KEPALA, KATA PENGANTAR P uji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/ Ida Sang Hyang Widhi Wasa, atas berkat dan rahmat-nya buku Profil Daerah Kabupaten Jembrana Tahun 2011 dapat disusun. Penyusunan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. PERATURAN BUPATI MURUNG RAYA KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... vii

DAFTAR ISI. PERATURAN BUPATI MURUNG RAYA KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... vii DAFTAR ISI PERATURAN BUPATI MURUNG RAYA KATA PENGANTAR... i DAFTAR ISI... ii DAFTAR TABEL... vii BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... 2 1.3. Hubungan Antar Dokumen...

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL DAFTAR - TABEL

DAFTAR TABEL DAFTAR - TABEL DAFTAR - TABEL DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Pembagian Wilayah Administrasi Kecamatan Kabupaten Aceh Tengah...II - 1 Tabel 2.2 Kemiringan Lahan, Bentuk dan Luas Wilayah Kabupaten Aceh Tengah...II - 3 Tabel 2.3

Lebih terperinci

Kata Pengantar Bupati Nagan Raya

Kata Pengantar Bupati Nagan Raya Kata Pengantar Bupati Nagan Raya Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, serta selawat dan salam kita sampaikan atas junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW atas limpahan rahmat dan karunia-nya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Kerja Dinas Kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Rencana Kerja Dinas Kesehatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Program dan kegiatan pembangunan pada dasarnya disusun untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat sebesarbesarnya yang diukur berdasarkan

Lebih terperinci

III. METODE PENELITIAN. kota Bandar Lampung. Kecamatan kemiling merupakan kecamatan hasil

III. METODE PENELITIAN. kota Bandar Lampung. Kecamatan kemiling merupakan kecamatan hasil III. METODE PENELITIAN A. Gambaran Umum Kecamatan Kemiling. Kondisi Wilayah Kecamatan kemiling merupakan bagian dari salah satu kecamatan dalam wilayah kota Bandar Lampung. Kecamatan kemiling merupakan

Lebih terperinci

Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya.

Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Sarana lingkungan adalah fasilitas penunjang yang berfungsi untuk penyelenggaraan dan pengembangan kehidupan ekonomi, sosial dan budaya. Prasarana lingkungan adalah kelengkapan dasar fisik lingkungan yang

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT SELATAN

BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT SELATAN BAB III GAMBARAN UMUM WILAYAH JAWA BARAT SELATAN Bab sebelumnya telah memaparkan konsep pembangunan wilayah berkelanjutan dan indikator-indikatornya sebagai landasan teoritis sekaligus instrumen dalam

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN BUPATI BOGOR NOMOR : 10 TAHUN 2014 TANGGAL : 30 MEI 2014 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN BOGOR TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam rangka mempercepat tujuan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1 KONDISI FISIK 2.1.1 Geografi a. Letak Wilayah Secara geografis wilayah Kabupaten Sleman terbentang mulai 110 15 13 sampai dengan 110 33 00 Bujur Timur dan 7 34 51

Lebih terperinci

Peraturan Daerah RPJMD Kabupaten Pulang Pisau Kata Pengantar Bupati Kabupaten Pulang Pisau

Peraturan Daerah RPJMD Kabupaten Pulang Pisau Kata Pengantar Bupati Kabupaten Pulang Pisau Peraturan Daerah RPJMD Kabupaten Pulang Pisau 2013-2018 Kata Pengantar Bupati Kabupaten Pulang Pisau i Kata Pengantar Kepala Bappeda Kabupaten Pulang Pisau iii Daftar Isi v Daftar Tabel vii Daftar Bagan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan Penulisan Sumber Data... 3

DAFTAR ISI. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tujuan Penulisan Sumber Data... 3 DAFTAR ISI SAMBUTAN BUPATI POLEWALI MANDAR....... i DAFTAR ISI............ iii DAFTAR TABEL............ vi DAFTAR GRAFIK............ ix DAFTAR GAMBAR............ xiii DAFTAR SINGKATAN............ xiv PETA

Lebih terperinci

TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD)

TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) LAMPIRAN III : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : TANGGAL : TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) A. BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJMD B. PERSIAPAN PENYUSUNAN

Lebih terperinci

DAFTAR TABEL. Kabupaten Rembang Tahun II-1. Kecamatan di Kabupaten Rembang Tahun II-12. Kelamin Kabupaten Rembang Tahun

DAFTAR TABEL. Kabupaten Rembang Tahun II-1. Kecamatan di Kabupaten Rembang Tahun II-12. Kelamin Kabupaten Rembang Tahun DAFTAR TABEL Tabel 2.1. Wilayah Administratif Menurut Kecamatan/Desa di Kabupaten Rembang Tahun 2015... II-1 Tabel 2.2. Jumlah dan Rasio Jenis Kelamin Penduduk menurut Kecamatan di Kabupaten Rembang Tahun

Lebih terperinci

PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014

PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 PENETAPAN KINERJA TAHUN 2014 Dalam rangka mewujudkan manajemen pemerintahan yang efektif, transparan, akuntabel serta berorientasi pada hasil, kami yang bertanda tangan dibawah ini : Nama : LUKAS ENEMBE,

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015

RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 Lampiran I Peraturan Bupati Pekalongan Nomor : 15 Tahun 2014 Tanggal : 30 Mei 2014 RENCANA KERJA PEMERINTAH DAERAH (RKPD) KABUPATEN PEKALONGAN TAHUN 2015 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Dokumen perencanaan

Lebih terperinci

BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA

BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA BAB II PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA A. Rencana Kerja Sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku yaitu Undang- Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistim Perencanaan Pembangunan Nasional, diamanatkan

Lebih terperinci

TATARAN PELAKSANA KEBIJAKAN ASPEK TINGKAT CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN DALAM RANGKA EKPPD TERHADAP LPPD TAHUN 2011

TATARAN PELAKSANA KEBIJAKAN ASPEK TINGKAT CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN DALAM RANGKA EKPPD TERHADAP LPPD TAHUN 2011 TATARAN PELAKSANA KEBIJAKAN ASPEK TINGKAT PENYELENGGARAAN URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN DALAM RANGKA EKPPD TERHADAP LPPD TAHUN 211 KABUPATEN JEMBRANA NO URUSAN NO. IKK RUMUS URUSAN WAJIB 1 Pendidikan

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah

IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN. Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah 35 IV. GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN A. Keadaan Umum Provinsi Lampung Provinsi Lampung terletak di ujung tenggara Pulau Sumatera. Luas wilayah Provinsi Lampung adalah 3,46 juta km 2 (1,81 persen dari

Lebih terperinci

BAB IV PRIORITAS INTERVENSI KEBIJAKAN

BAB IV PRIORITAS INTERVENSI KEBIJAKAN BAB IV PRIORITAS INTERVENSI KEBIJAKAN Prioritas intervensi kebijakan ditentukan dengan menganalisis determinan kemiskinan atau masalah pokok kemiskinan dalam bidang-bidang yang berhubungan dengan kondisi

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2011-2015 Diperbanyak oleh: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Lebih terperinci

LAMPIRAN II TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD)

LAMPIRAN II TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) LAMPIRAN II I : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : TANGGAL : TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) A. BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJPD B. PERSIAPAN PENYUSUNAN

Lebih terperinci

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH

BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH BAB IX PENETAPAN INDIKATOR KINERJA DAERAH Penetapan indikator kinerja atau ukuran kinerja akan digunakan untuk mengukur kinerja atau keberhasilan organisasi. Pengukuran kinerja organisasi akan dapat dilakukan

Lebih terperinci

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar

Bupati Murung Raya. Kata Pengantar Bupati Murung Raya Kata Pengantar Perkembangan daerah yang begitu cepat yang disebabkan oleh semakin meningkatnya kegiatan pambangunan daerah dan perkembangan wilayah serta dinamisasi masyarakat, senantiasa

Lebih terperinci

MATRIKS RANCANGAN PRIORITAS RKPD PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017

MATRIKS RANCANGAN PRIORITAS RKPD PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017 MATRIKS RANCANGAN PRIORITAS RKPD PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017 Prioritas Misi Prioritas Meningkatkan infrastruktur untuk mendukung pengembangan wilayah 2 1 jalan dan jembatan Kondisi jalan provinsi mantap

Lebih terperinci

BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD

BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD BAB VI INDIKATOR KINERJA SKPD YANG MENGACU PADA TUJUAN DAN SASARAN RPJMD Indikator Kinerja Dinas Pendidikan Kota Pontianak yang mendukung visi, misi, tujuan dan sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah

Lebih terperinci

Penetapan Indikator Kinerja Daerah

Penetapan Indikator Kinerja Daerah Bab IX Pentahapan Pembangunan Dan Penetapan Penetapan Penetapan indikator kinerja atau ukuran kinerja akan digunakan untuk mengukur kinerja atau keberhasilan organisasi. Pengukuran kinerja organisasi akan

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KUNINGAN, KECAMATAN CIBEUREUM, CIBINGBIN, DAN CIGUGUR

BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KUNINGAN, KECAMATAN CIBEUREUM, CIBINGBIN, DAN CIGUGUR BAB 3 GAMBARAN UMUM KABUPATEN KUNINGAN, KECAMATAN CIBEUREUM, CIBINGBIN, DAN CIGUGUR Bab ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama akan menjelaskan mengenai gambaran umum Kabupaten Kuningan dan bagian

Lebih terperinci

Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi Jawa Timur

Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi Jawa Timur Tabel 9.1 Penetapan Indikator Kinerja Daerah Terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan Provinsi Jawa Timur Kondisi Kinerja pada awal Kondisi Aspek/Fokus/Bidang Urusan/Indikator Kinerja

Lebih terperinci

Gambar 9. Peta Batas Administrasi

Gambar 9. Peta Batas Administrasi IV. KONDISI UMUM WILAYAH 4.1 Letak Geografis Wilayah Kabupaten Garut terletak di Provinsi Jawa Barat bagian Selatan pada koordinat 6 56'49'' - 7 45'00'' Lintang Selatan dan 107 25'8'' - 108 7'30'' Bujur

Lebih terperinci

: PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : TANGGAL :

: PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : TANGGAL : LAMPIRAN II : PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR : TANGGAL : TAHAPAN DAN TATA CARA PENYUSUNAN RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH (RPJPD) A. BAGAN ALIR PENYUSUNAN RPJPD B. PERSIAPAN PENYUSUNAN

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH KABUPATEN BANDUNG TAHUN

INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH KABUPATEN BANDUNG TAHUN INDIKATOR KINERJA UTAMA PEMERINTAH KABUPATEN BANDUNG TAHUN 200-205 No Sasaran Strategis No Indikator Kinerja Satuan MISI PERTAMA :Meningkatkan profesionalisme birokrasi. Tujuan : Mewujudkan pelayanan publik

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA TAHUN 2015

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA TAHUN 2015 PERATURAN BUPATI KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA NOMOR : 23 TAHUN 2014 TENTANG RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH (RKPD) KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA TAHUN 2015 PEMERINTAH KABUPATEN HULU SUNGAI UTARA BADAN PERENCANAAN

Lebih terperinci

ASPEK TINGKAT CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN UNTUK PEMERINTAH KOTA

ASPEK TINGKAT CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN UNTUK PEMERINTAH KOTA ASPEK TINGKAT PENYELENGGARAAN URUSAN WAJIB DAN URUSAN PILIHAN UNTUK PEMERINTAH KOTA PEMERINTAHAN KOTA : MEDAN No URUSAN No. IKK Rumus PERHITUNGAN URUSAN WAJIB 1 1 Usia Dini (PAUD) 2 % penduduk yang berusia

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN 2010 2015 PEMERINTAH KOTA SEMARANG TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH Bab V memuat uraian rinci nama rencana program, kegiatan, indikator keluaran kegiatan (output) dan keluaran program (outcome), sasaran dari kegiatan,

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH

BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS DAERAH BAB V RENCANA PROGRAM DAN KEGIATAN PRIORITAS Rencana Belanja Daerah, Pemerintah Kabupaten Sleman pada tahun 2016 yang diusulkan melalui Anggaran Pendapatan, dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten diperkirakan

Lebih terperinci

PENETAPAN KINERJA PEMERNTAH KABUPATEN DEMAK TAHUN 2014

PENETAPAN KINERJA PEMERNTAH KABUPATEN DEMAK TAHUN 2014 PENETAPAN KINERJA PEMERNTAH KABUPATEN DEMAK TAHUN 2014 MISI 1: MEWUJUDKAN TATA KELOLA PEMERINTAHAN YANG BERSIH, EFEKTIF, EFISIEN DAN AKUNTABEL NO TUJUAN SASARAN INDIKATOR KINERJA SASARAN SATUAN TARGET

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR H. DJOHAN SJAMSU, SH PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK UTARA

KATA PENGANTAR H. DJOHAN SJAMSU, SH PEMERINTAH KABUPATEN LOMBOK UTARA KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT, hanya karena Ijin dan RahmatNya, Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) Kabupaten Lombok Utara Tahun 2015 ini dapat diselesaikan. RKPD Tahun 2015 ini disusun

Lebih terperinci

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2014

RENCANA KERJA PEMBANGUNAN DAERAH 2014 DAFTAR ISI BAB I. PENDAHULUAN... 1 I.I. Latar Belakang... 1 I.2. Dasar Hukum Penyusunan... 3 I.3. Hubungan Antar Dokumen... 4 I.4. Sistematika Dokumen RKPD... 6 I.5. Maksud dan Tujuan... 7 BAB II. EVALUASI

Lebih terperinci

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG

INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG PEMERINTAH KABUPATEN KLUNGKUNG INDIKATOR KINERJA PEMBANGUNAN KLUNGKUNG 2015 BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH Jln. Untung Surapati Nomor 2 Klungkung, Telp. 0366-21382 2015 KATA PENGANTAR Om Swastyastu

Lebih terperinci