AL-ADZKA, Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Volume IV, Nomor 02 Juli 2014

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "AL-ADZKA, Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, Volume IV, Nomor 02 Juli 2014"

Transkripsi

1 453 PELAKSANAAN KOKURIKULER MENTAL ARITMATIKA SEMPOA DI SDN LANDASAN ULIN BARAT 1 BANJARBARU Sessi Rewetty Rivilla dan Hadijah 1 ABSTRACT This study aims to determine the implementation of mental arithmetic abacus kokurikuler and knowing the subject matter of mathematics is supported kokurikuler abacus mental arithmetic in class I, II, III, and IV SDN Platform 1 Banjarbaru West Ulin. The method used in this research is descriptive method of research suggests that planning kualitatif.hasil kagiatan kokurikuler Abacus Mental Arithmetic in West Ulin SDN Platform 1 has not been fully realized in practice in the field, so that the activities kokurikuler Abacus Mental Arithmetic Kindergarten takes place only on the level and no yng more students eager to continue to the next level. In general it can be said that the activities kokurikuler mental arithmetic in West Ulin SDN Platform 1 does not receive the attention and good control of the various parties seriously, either from school, UMC, board of teachers, instructors abacus, and parents / guardians of each student. Keywords: Implementation Kokurikuler, Mental Aritmatic, and Abacus Pendahuluan Upaya pemanfaatan dan pemberdayaan potensi dalam pendidikan yang sudah ada secara maksimal juga perlu ditingkatkan sebagai salah satu penunjang peningkatan kualitas sistem pendidikan. Diantara komponen sistem tersebut, proses menjadi bagian yang menarik untuk dikaji.agar sistem pendidikan makin baik dan sesuai dengan harapan, maka dalam sistem pendidikan harus ada perubahan dan beberapa tambahan.perubahan dan tambahan tersebut berupa kegiatan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa yang dilaksanakan di tingkat pendidikan sekolah dasar di Banjarmasin dan Banjarbaru yang dikelola oleh lembaga pendidikan UMC yang harus dimaksimalkan operasinya sebagai program kokurikuler. Mental Aritmatika Sempoa adalah suatu program pengajaran dari Universal Mega Centra (UMC) untuk mengoptimalkan fungsi otak sebelah kanan dengan menggunakan azas aritmatika penjumlahan ( + ), pengurangan ( ), perkalian ( ) dan pembagian ( ) dengan alat bantu Sempoa pada tahap awal, 1 Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Beserta Alumni IAIN Antasari Jurusan PMTK, 453

2 454 kemudian beralih pada Sempoa bayangan (UMC: 1) Universal Mega Centra (UMC) adalah suatu lembaga yang bergerak dalam bidang pendidikan yang didirikan pada akhir November 1997 oleh Bapak Dipl. Ing. Iwan Sugiarto dan Ibu Susanti Salim, SH. UMC ini bekerjasama dengan tenaga ahli dari Akademi Sempoa & Mental Aritmatika UCMAS Sdn. Bhd., dari Malaysia, serta The Chinnese Zhusuan Association (CZA) dari China. Pada awal tahun 2012, tercatat sekitar 30 Sekolah Dasar di Banjarmasin sedang melaksanakankegiatan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa yang tersebar di Banjarmasin Timur, Banjarmasin Barat, dan Banjarmasin Selatan.Akan tetapi pada pertengahan tahun 2012, tidak terdengar lagi adanya sekolah-sekolah yang masih mengikuti kegiatan kokurikuler tersebut. Menurut salah satu pembimbing Mental Aritmatika Sempoa dari UMC, para siswa dari sekolah-sekolah tersebut masih menjalani level dasar yaitu Level Kindergarten dalam proses pendidikan Mental Aritmatika Sempoa yang perlu dijalani dalam waktu enam bulan dan mereka masih perlu melanjutkan ke level berikutnya agar paling tidak mereka bisa mengenal dan dapat melakukan operasi hitung penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian dengan sempoa. Dengan berakhirnya kegiatan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa di Banjarmasin, maka saat ini sekolah-seolah dasar yang masih menjalankan kegiatan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa ini hanya ada di Banjarbaru. SDNLandasan Ulin Barat 1 Banjarbaru merupakan salah satu SDN yang menjadikan kegiatanmental Aritmatika Sempoasebagai salah satu kegiatan kokurikuler di sekolahnya dan pada saat ini seluruh siswa yang mengikuti Mental Aritmatika Sempoa di SDN Landasan Ulin Barat 1 Banjarbaru telah mencapai levelkindergarten (KG). Eksistensi kegiatan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa ini sangat perlu ditingkatkan, terutama di sekolah tingkat dasar karena memang diperlukan pengayaan ilmu hitung di usia anak-anak tingkat dasar ini. Dengan adanya pemasalahan menghilang dan mundurnya kegiatan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa ini maka hal utama yang perlu kita pelajari

3 455 adalah proses,yakni pelaksanaan. Oleh karena itu, perlu diadakan penelitian dengan rumusan masalah bagaimana pelaksanaan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa di SDN Landasan Ulin Barat 1 Banjarbaru? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa di SDN Landasan Ulin Barat 1 Banjarbarusedang menjalani level Kindergarten (KG). Landasan Teori 1. Kegiatan Kokurikuler Kegiatan kokurikuler bertujuan menunjang pelaksanaan program intrakurikuler agar siswa dapat lebih menghayati bahan atau materi yang telah dipelajarinya serta melatih siswa unuk melaksanakan tugas secara bertanggungjawab. Adapun lingkup kegiatannya meliputi: a. Pemberian tugas yang diberikan kepada siswa untuk dikerjakan di luar jam pelajaran (tatap muka) secara teratur dan hasilnya ikut menentukan dalam pemberian nilai bagi siswa melaksanakan tugas untuk setiap mata pelajaran. b. Tugas tersebut diperkirakan dapat diselesaikan dalam waktu setengah dari jam tatap muka suatu pokok bahasan. c. Siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru. d. Pengumpulan, pemeriksaan, pembahasan, dan penilaian tugas dilakukan secara seksama. 2. Kegiatan Ekstrakurikuler Yaitu kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran (tatap muka) baik dilaksanakan di sekolah maupun di luar sekolah dengan maksud untuk lebih memperkaya dan memperluas wawasan dan kemampuan yang telah dimilikinya dari berbagai bidang studi. Lingkup kegiatan ekstrakurikuler mencakup kegiatan yang dapat menunjang serta mendukung program intralurikuler maupun program kokurikuler.kegiatan ekstrakurikuler dapat berupa kegiatan pramuka, palang merah remaja, patrol keamanan sekolah (PKS), koperasi sekolah dan lain-lain. 3. Alat Hitung Sempoa dan Mental Aritmatika

4 456 Sempoa atau sipoa atau dekakdekak adalah alat kuno untuk berhitung yang dibuat dari rangka kayu dengan sederetan poros berisi manik-manik yang bisa digeser-geserkan. Sempoa digunakan untuk melakukan operasi aritmatika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan akar kuadrat. a. Sempoa sistem 1-4 (Sempoa Jepang yang disebut Soroban) Sempoa sistem 1-4 atau sempoa Jepang (soroban) merupakan sistem desimal murni yang hanya terdiri dari 2 baris manik-manik. Baris bagian atas terdiri dari 1 baris manik-manik dan baris bagian bawah terdiri dari 4 baris manikmanik. Ada juga soroban dengan 5 baris manik-manik pada setiap kolom. Soroban diajarkan di sekolah dasar di Jepang sebagai bagian dari pelajaran operasioperasi aritmatik untuk memperlihatkan bilangan desimal secara visual (UMC: 1). Pada sempoa Soroban, manikmanik bagian atas (sebuah manik-manik per batang) bernilai 5, sedangkan manikmanik bagian bawah (4 manik-manik per batang) bernilai 1. Antara bagian manik atas dan manik bawah ini ada pembatas yang berupa garis tengah. Pada kondisi nol, tidak ada manik-manik yang menempel pada pembatas sehingga garis pembatas ini disebut juga garis nilai karena berapapun manik yang melekat dari nilai tempat manik tersebut maka sebanyak itulah pula nilai yang diberikan. Batang sempoa pada posisi paling kanan bernilai satuan, dengan batang di sebelah kirinya bernilai puluhan, ratusan, dan begitu seterusnya ke arah kiri. Gambar 1.1 Soroban (Sempoa sistem 1-4/Sempoa Jepang) Gambar 1.2 Sempoa Sistem 2-5 b. Metode Sempoa Ada 2 cara dalam menggunakan sempoa dalam proses menghitung, cara itu disebut Metode Sempoa, yaitu Metode Sempoa 1 Tangan dan Metode Sempoa 2 Tangan (UMC: 61).

5 457 1) Metode Sempoa Satu Tangan Teknik ini dalam menggerakkan manik-manik sempoa hanya menggerakkan satu tangan saja (ibu jari dan telunjuk tangan kanan), sedangkan tangan kiri hanya memegang sempoa. 2) Metode Sempoa Dua Tangan Teknik ini dalam menggerakkan manik-manik sempoa aktif menggunakan kedua tangan.tangan kiri digunakan dengan fungsi ibu jari, jari manis dan kelingking memegang sempoa sedangkan jari telunjuk dan jari tengah ikut aktif menggerakkan manik-manik Sempoa terutama pada batang manik bernilai puluhan ke-atas baik manik bawah atau manik atas.sedangkan Tangan kanan digunakan dengan fungsiibu jari dan jari telunjuk aktif menggerakkan manik-manik sempoa dengan rincian ibu jari untuk menjumlahkan/menaikkan manik bawah pada batang satuan dan jari telunjuk untuk mengurang/manurunkan manik bawah serta untuk menaikkan dan manurunkan manik bagian atas pada batang manik bernilai satuan. c. Tujuan Mental Artimatika Sempoa Mental Aritmatika Sempoa adalah suatu program pengajaran untuk mengoptimalkan fungsi otak sebelah kanan dengan menggunakan azas aritmatika penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian dan pangkat dua dengan alat bantu Sempoa pada tahap awal, kemudian beralih pada sempoa bayangan. Tujuan dan hasil yang diharapkan pada anak yang belajar Mental Aritmatika Sempoa adalah: (1) Melatih fungsi otak kanan anak, karena menurut penelitian, melalui Pendidikan Sekolah Formal, Otak kanan seorang anak hanya 1-4 % saja yang terlatih. (2) Melatih daya ingat, konsentrasi, intuisi dan imajinasi. (3) Melatih ketekunan dan rasa percaya diri. (4) Lebih cepat menghitung dalam soalsoal tambah, kurang, kali, dan bagi. Sehingga bermanfaat bagi anak dalam soalan matematika sekolah (UMC: 60). d. Tingkatan (level) belajar Mental Aritmatika Sempoa Tingkatan Belajar mental aritmatika Semoa, yaitu: 1) Level Pra Kindergarten (KG): Pengenalan Sempoa dan Penulisan angka.

6 458 2) Level Kindergarten (KG1 KG3): Mempelajari tambah dan kurang bilanganpuluhan dengan Sempoa. 3) Level Basic: Mempelajari tambah dan kurang bilanganratusan dengan Sempoa. 4) Level Elementary: Mempelajari tambah, kurang, dan kali dengan Sempoa dan Mental Aritmatika. 5) Level Intermediate: Mempelajari tambah, kurang, kali dan bagi dengan Sempoa dan Mental Aritmatika. 6) Level Higher: Mempelajari persoalan negatif dengan Sempoa dan Mental Aritmatika. 7) Level Advance: Mempelajari tambah, kurang, kali, dan bagi dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. 8) Grand Level: Tingkat Mahir dalam Mental Aritmatika termasuk persoalan pangkat dan akar (UMC: 3). Dalam pengoperasian dengan Mental Aritmatika Sempoa (MAS) peran otak Kanan sangat besar. Ketika seseorang yang menguasai MAS didikte soal pengoperasian berulang-ulang seperti di bawah ini dengan cepat (seluruh soal dibacakan dalam waktu 7 8 detik): maka anak dengan tingkat tertentu dapat dengan mudah menjawab soal langsung setelah soal tersebut selesai dibaca. Hal ini dikarenakan anak tersebut menggunakan fungsi otak Kanan dalam membayangkan pergerakan naik dan turunnya manikmanik sempoa dan Otak Kiri sekaligus dalam menghitung hasilnya. Dalam operasi aritmatika menggunakan soroban (sempoa sistem 1-4) jika jumlah maniknya tidak mencukupi nilai suatu bilangan yang dioperasikan, maka pengoperasian manik-manik sempoa harus menggunakan rumus sempoa. Tabel 1.1 Rumus Sempoa Soroban KAWAN KECIL TAMBAH ( Kombinasi 5 ) +4 = = = = +5 4 KAWAN KECIL KURANG ( Kombinasi 5 ) 4 = = = = =?

7 459 GABUNGAN TAM BAH ( Kombinasi 10 & 5 ) +9 = GABUNGAN KURANG ( Kombinasi 10 & 5 ) 9 = Subjek penelitian ialah seluruh siswa yang mengikuti kegiatan kokurikuler Mental Aritmatika di SDN Landasan Ulin Barat 1 Banjarbaru yang tersebar di kelas I, II, III, dan IV. +8 = = = = = = KAWAN BESAR KAWAN BESAR TAMBAH KURANG ( Kombinasi 10 ) ( Kombinasi 10 ) +9 = = = = = = = = = = = = = = = = = = Metode Penelitian 1. Subjek dan objek penelitian Objek penelitian ini adalah pelaksanaan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian kokurikuler dan materi matematika yang dapat ditunjang oleh Mental Aritmatika Sempoa yang dilaksanakan di kelas I, II, III dan IV SDN Landasan Ulin Barat 1 Banjarbaru. 2. Metode Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan deskriptif kualitatif dengan model penelitian atau pengamatan terbuka (participant observation) (Basrowi, Suwandi, 2008: 217). 3. Data dan Sumber Data a. Data Data yang diperlukan dalam penelitian ini yaitu data: Proses pelaksanaan pengajaran Mental Aritmatika Sempoa; Indikator-indikator mata pelajaran matematika Sekolah Dasar kelas

8 460 I, II, III, dan IV; Data latar belakang sekolah yang meliputi sejarah singkat berdirinya SDN Landasan Ulin Barat 1 Banjarbaru, keadaan siswa, guru dan karyawan, sarana dan prasarana sekolah dan data-data lain yang mendukung dalam penelitian ini; Data peserta kokurikuler Mental Aritmatika Sempoadan jadwal pelajarannya serta data-data/informasi yang relevan dalam penelitian. b. Sumber Data Sumber data pnelitian ini berupa: Responden adalah subjek dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa SDN Landasan Ulin Barat 1 Banjarbaru yang mengikuti kegiatan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa dan guru sekolah dan atau tenaga pengajar Sempoa/instruktur sempoa; Dokumen yaitu semua catatan ataupun arsip yang memuat data-data atau informasi yang mendukung dalam penelitian ini seperi dokumen daftar nama siswa, jadwal pelaksanaan kokurikuler Mental Aritmatika, dan dokumen-dokumen lain yang bisa berasal dari tata usaha, staf pengajar, maupun para wali kelas I, II, III dan IV SDN Landasan Ulin Barat 1 Banjarbaru; Informan, yaitu kepala sekolah, pengelola UMC Banjarmasin, dewan guru, tenaga pengajar Sempoa dan staf tata usaha di SDN Landasan Ulin Barat 1 Banjarbaru. Hasil Penelitian dan Pembahasan A. Deskripsi Pelaksanaan Kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa Di SDNLandasan Ulin Barat 1 Banjarbaru 1. Tahap Perencanaan Kokurikuler a. Rekrutmen Peserta Kokurikuler Kegiatan Kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa merupakan kegiatan yang diadakan berkat kerjasama antara pihak sekolah dengan pihak UMC Banjarmasin. Rekrutmen perserta Kokurikuler dilaksanakan dengan datangnya anggota UMC ke sekolah untuk menawarkan kerjasama tersebut dengan ketentuan bahwa seluruh rangkaian kegiatan menjadi tanggungjawab pihak UMC termasuk tim instruktur kegiatannya di lapangan. Sedangkan pihak sekolah hanya perlu menyediakan fasilitas tempat/ruangan untuk pelaksanaan kegiatan kokurikuler tersebut. Setelah mendapat kesepatakan dengan Kepala Sekolah secara tertulis, maka pihak UMC menyebarkan undangan kepada orang tua/wali siswa melewati siswa di kelas

9 461 masing-masing untuk menghadiri Presentasi mengenai kegiatan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa. Dalam Presentasi tersebut dipaparkan mengenai Mental Aritmatika Sempoa dan kelebihan maupun kemampuan yang diperoleh siswa setelah mengikuti kegiatan kokurikuler Sempoa. b. Materi dan Media Kegiatan Kokurikuler Dalam presentasi telah dijelaskan kepada orang tua/wali siswa mengenai beberapa level/tahapan belajar dalam Mental Aritmatika Sempoa yang mana untuk tahap pertama diadakannya kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa di sekolah-sekolah dimulai pada level Kindergarten yaitu level yang sesuai untuk anak-anak dalam usia sekolah sedangkan level sebelumnya ialah level Pra- Kindergarten yaitu level yang sesuai untuk anak-anak yang berada pada usia Taman Kanak-kanak (TK) karena bahan pelajarannya hanya pengenalan sempoa dan bagaimana cara penulisan angka, sedangkan pada level Kindergarten anakanak diajarkan bagaimana operasi menambah dan mengurang bilangan dengan menggunakan alat hitung sempoa. c. Instruktur Kegiatan Kokurikuler Seluruh hal yang berhubungan dengan program pelaksanaan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa termasuk yang menyediakan materi, fasilitas dan soal-soal ujian Midd dan Final test Mental Aritmatika Sempoa merupakan tanggungjawab pihak UMC Banjarmasin yang saat ini baru membuka cabang di Martapura.Sedangkan pelaksana kegiatan kokurikuler di lapangan adalah tim instruktur sempoa dari UMC. d. Jadwal Kegiatan Kokurikuler Kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa di SDN Landasan Ulin Barat 1 dilaksanakan secara rutin setiap hari Rabu. 2. Tahap Pelaksanaan Kokurikuler Proses Kegiatan Observasi Hari Pertama (kelompok Gab. A2 dan B2) Pada observasi pertama kegiatan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa masih berjalan dengan lancar, akan tetapi pelaksanaannya dilakukan penggabungan kelompok kegiatan. Kegiatan pada kelompok gabungan A2 dan B2 pada tahap awal kegiatan berjalan lancar, tertib, dan teratur. Setelah

10 462 kumpul di dalam ruangan saat kegiatan akan dimulai siswa duduk rapi di kursi masing-masing dengan dipimpin instruktur mereka bersama-sama membaca do a. Instruktur menginstruksikan dan menyebutkan peralatan-peralatan yang diperlukan dalam kegiatan hari itu yaitu sempoa, buku paket sempoa, pensil dan buku tulis serta peralatan lain yang terpakai dalam menulis dan duduk rapi kembali. Instruktur mengabsen siswa lalu menugaskan siswa mengerjakan beberapa bagian latihan di buku LKS/paket sempoa seperti biasanya, yaitu sekitar 30 soal operasi penambahan dan pengurangan dalam waktu 15 menit. Buku LKS/paket sempoa hampir seluruhnya berisi latihan-latihan operasi tambah dan kurang bilangan bersusun ke bawah yang harus diselesaikan oleh siswa dengan menggunakan sempoa masingmasing.dalam setiap pertemuan telah ditetapkan tugas/soal yang berisi indikatorindikator sempoa yang harus dicapai oleh siswa dan tertuang dalam satu lembar halaman buku LKS tersebut. Karena masing-masing kelompok berbeda pertemuan dan materi yang dikerjakan, maka instruktur menginstruksikan untuk mengerjakan latihan sesuai dengan urutan pertemuan/melanjutkan latihan pada pertemuan selanjutnya, maka kelomok A2 mengerjakan pertemuan 20 pada materi Kawan Gabungan -9, sedangkan kelompok B2 sedikit lebih cepat, mereka mengerjakan latihan pada pertemuan 22 materi Kawan Besar -9 dan -8. Siswa yang telah selesai mengerjakan latihan dipersilahkan mengumpulkan bukunya ke depan dan istirahat ditempat. Dalam pengerjaan latihan operasi sempoa yang diberikan masih banyak terlihat siswa yang belum tepat dalam penggunaan jari dan tangannya (azas sempoa) dan ada juga yang tidak menggunakan sempoa (menggunakan tangan) dalam mengerjakan tugas di buku LKS sempoa yang diberikan.ketika beberapa siswa ditanya mengapa tidak menggunakan sempoa dalam menghitung, ada yang menjawab sempoanya rusak, ada yang hilang, ada yang menjawab malas dan tidak hapal rumus dan tidak tahu rumus mana yang digunakan. Saat pengumpulan tugas latihan, instruktur melakukan pengoreksian terhadap jawaban siswa.akan tetapi karena hanya ada seorang instruktur saja, maka suasana kelas berubah menjadi gaduh

11 463 karena siswa menunggu buku paketnya di kursi masing-masing yang jelas tidak ada kegiatan yang mereka lakukan dan belum ada instruksi selanjutnya dari instruktur.siswa berjalan-jalan kesanakemari di dalam kelas dan ada yang mengganggu temannya yang sedang mengerjakan tugas dan berteriak-teriak, sedangkan instruktur masih sibuk mengoreksi jawaban siswa yang semakin bertumpuk di depannya. Dalam suasana seperti ini (saat pengoreksian setelah waktu pengerjaan latihan habis) biasanya instruktur yang lain mengelola kelas dengan memberikan instruksi untuk tenang kepada siswa sebelum waktu pengerjaan latihan tertulis habis lalu menginstruksikan siswanya untuk menyiapkan perlengkapan alat tulis, buku tulis, dan sempoa masing-masing untuk mengejakan latihan yang dibacakan instruktur secara lisan (latihan dictation) dengan cepat, siswa langsung menghitung soal yang diberikan pakai sempoa dan menuliskan jawabannya langsung di buku tulis tanpa ada yang menuliskan soalnya, pengulangan hanya boleh sekali. Latihan dictation ini biasanya menggunakan soalsoal operasi hitung campuran penjumlahan dan pengurangan bilangan dengan sempoa, soal yang diberikan bisa soal yang pakai rumus maupun tidak dengan rumus sempoa.dictation bertujuan melatih kecepatan, daya ingat dan daya konsentrasi siswa. Ketika pengoreksian jawaban siswa telah selesai tepat pada pukul 14.10, instruktur menginstruksikan siswa untuk menyiapkan alat tulis untuk bersiap mengerjakan latihan berhitung tanpa menggunakan sempoa dan instruktur membacakan soal latihan materi matematika yaitu kombinasi operasi tambah dan kurang dan kadang diselingi dengan kombinasi kali dan tambah dalam 10 soal dan Siswa menuliskan jawaban langsung di buku tulis. Saat latihan selesai, siswa diminta membacakan jawaban dan mengoreksi masing-masing (memberikan tanda centang untuk jawaban benar dan silang untuk jawaban salah) nomor demi nomor secara bersamaan dan instruktur menyebutkan jawaban yang benar setelah siswa menyebutkan jawabannya.siswa diminta menghitung jawaban benar dan salah lalu instruktur berkeliling memberi nilai atas jawaban siswa.siswa terlihat senang dan antusias. Selesai latihan buku paket siswa dibagikan dan siswa diinstruksikan

12 464 membereskan seluruh peralatannya dan duduk rapi dalam hitungan kelima. Setelah siswa rapi dan tenang, instruktur mengumunkan bahwa pada minggu berikutnya akan diadakan finall test sempoa dan siswa diminta memberitahukan kepada teman-temannya yang tidak hadir sempoa hari itu untuk turun dan mengikuti ujian. Instruktur memimpin do a untuk pulang.untuk pulang siswa dalam satu barisan kursi harus dapat menjawab minimal dua pertanyaan yang diberikan instruktur secara rebutan dan bagi barisan yang dapat menjawab dipersilahkan keluar duluan.siswa yang mampu menjawab pulang dengan berbaris di samping kursi masing-masing dan maju bersalaman dengan instruktur secara tertib dan keluar ruangan. Proses Kegiatan Observasi Hari Pertama (kelompok Gab. A3, B3 dan A4) Pada kelompok gabungan A3, B3 dan A4 yang waktu kegiatannya berbarengan dengan kelompok lain sehingga hanya selama 15 menit pertama peneliti dapat berada dalam kegiatan di kelompok ini dan kemudian pindah ke kelompok gabungan A2, B2 dan C2. Selama observasi kegiatan berjalan dengan lancar.akan tetapi dari awal pelaksanaan hingga berakhir, kedua instruktur telalu lama duduk didepan, padahal ada dua pegajar dan anak-anak perlu diperhatikan dengan didatangi pada setiap kursi untuk mengecek pekerjaan mereka. Awal masuk, instruktur mengabsen siswa yang hadir lalu memberikan instruksi kepada siswa untuk mempersiapkan perlengkapannya masingmasing, dari beberapa siswa di kelompok gabungan ini juga ada siswa yang tidak membawa atau tidak memiliki sempoa.instruktur kemudian memberikan tugas untuk mengerjakan dua bagian (terdiri dari 20 soal) latihan dalam buku paket sempoa dalam waktu 15 menit dan siswa langsung mengerjakannya dengan semangat. Sebelum 15 menit berlalu hampir 60% siswa telah mengumpulkan tugasnya masing-masing ke depan dan mulai ribut sambil menunggu pengoreksian pekerjaan mereka. Dari kedua instruktur, seorang mengoreksi jawaban siswa dan instruktur lainnya mengadakan permainan tebak angka jawaban dari soal yang disebutkan oleh instruktur.kalau dilihat dari

13 465 fungsinya, penyisipan permainan tersebut ditengah-tengah kegiatan hanya untuk mengisi waktu agar siswa tidak ribut.permainan berlangsung hingga pegoreksian selesai dan buku paket siswa dibagikan.dan untuk seterusnya terpaksa peneliti meninggalkan kegiatan pada kelompok tersebut untuk mengobservasi kegiatan yang berlangsung di kelas sebelah. Proses Kegiatan Observasi Hari Pertama Sore (kelompok Gab. B1 dan C1) Hari yang sama, tepat pada pukul WITA pelaksanaan kegiatan kokurikuler untuk kelompok gabungan dari kelas I secara bersamaan, yaitu kelompok gabungan B1 dan C1 serta kelompok A1 di ruangan sebelahnya akan dimulai. Kegiatan dapat diselenggarakan dengan dua orang instruktur yang masing diinstruksikan oleh satu orang instruktur pada kelompok A1 dan pada kelompok gabungan B1 - C1.Dalam pelaksanaannya peneliti hanya dapat mengobservasi kegiatan yang berlangsung di kelompok gabungan, sedangkan pada kelompok A1 berjalan seperti biasanya, tanpa ada observasi oleh peneliti. Pelaksanaan kegiatan pada kelas I, terutama kelompok gabungan jauh lebih tertib dibandingkan pada kelompok kelas atasnya/kelas sebelumnya.hal ini dapat terjadi karena ketegasan instruktur yang membimbing kelompok tersebut. Awal kegiatan siswa dengan semangat mengeluarkan seluruh peralatan seperti biasa yang diperlukan dalam kegiatan tanpa diinstruksikan oleh instruktur, sehingga instruktur dapat langsung memimpin do a dan mengabsen siswa dengan tertib. Memasuki kegiatan inti instruktur mendahuluinya dengan menyampaikan bahwa pada hari Rabu berikutnya/minggu depan kelas 1 sudah tidak masuk kegiatan untuk belajar lagi akan tetapi sudah memasuki kegiatan final tes Mental Aritmatika Sempoa dan memesankan kepada teman-teman siswa lainnya yang mengikuti sempoa tetapi tidak hadir pada hari itu untuk turun mengikuti final tes minggu depannya. Dengan demikian maka siswa diinstruksikan untuk mengerjakan latihan pada pertemuan selanjutnya yaitu pertemuan terakhir materi sempoa.dengan hati-hati dan semangat seluruh siswa mengerjakan latihan yang diberikan.

14 466 Saat mengerjakan latihan guru mengontrol tangan dan pekerjaan siswa dengan menyusuri samping-samping meja siswa dan instruktur mendatangi meja siswa yang bertanya atau menegur jari siswa yang keliru dalam menggunakan sempoa.dari hasil observasi, hampir 85% yang hadir sudah hafal rumus sempoa dan dapat dengan baik menggunakan fungsi jari dan tangannya. Dalam 20 menit seluruh siswa sudah selesai menghitung/mengerjakan 30 buah soal yang ditugaskan kepada mereka dalam materi Kawan Gabungan -7 dan -6 dan seluruh buka paket siswa dikumpulkan ke depan untuk dikoreksi. Saat pengoreksian atas jawaban, siswa kurang terkontrol sehingga ada yang berlarian kesana-kemari dan ada beberapa anak keluar ruangan.hal ini dikarenakan keterbatasan instruktur yang mengelola kelas, sehingga ketika instruktur mengoreksi jawaban siswa maka tidak ada yang mengelola atau mengarahkan siswa.pengoreksian dan kondisi seperti itu terjadi selama kurang lebih 10 menit.dari hasil pengoreksian hampir 60% siswa mendapat nilai A+, dan yang lainnya lebih rendah. Diantara penyebab rendahnya perolehan siswa ini bisa terjadi karena kurang telitinya siswa dalam menjawab soal yang bersusun ke bawah sebanyak 3 operasi dan banyak yang hanya sampai 2 operasi saja dan secara terburu-buru menghitung/mengerjakan soal berikutnya. Selesai dikoreksi dan diberi nomor/poin, buku paket siswa dibagikan kepada masing-masing siswa dan instruktur menginstruksikan untuk mengeluarkan buku tulis, sempoa, dan pensil kepada siswa lalu menulis angka/nomor 1-10 secara berurutan sebagai persiapan Dictation atau latihan kecepatan dan ketepatan secara lisan dengan soal operasi aritmatika penjumlahan dan pengurangan dengan sempoa. Dari hasil Dictation seluruh siswa memperoleh nilai rata-rata B+ yang artinya dari 10 soal maksimal ada 2 jawaban yang salah. Setelah berdo a untuk pulang instruktur memberikan kuis berantai, yaitu siswa yang ditunjuk menjawab soal kombinasi perkalian danpembagian yang diajukan oleh instruktur lalu disambung teman sebelahnya untuk soal berikutnya yang dibacakan instruktur setelah seluruhnya kebagian menjawab sebanyak dua kali pengulangan, seluruh siswa diperbolehkan pulang.

15 467 Dari uraian proses pelaksanaan kegiatan di atas, dapat kita lihat bahwa terjadinya penggabungan kelompok belajar sempoa menjadikan siswanya kacau dalam mengerjakan tugas/latihan karena latihan dan urutan pertemuan yang mereka kerjakan tidak sama, baik pada pertemuan maupun materinya, ada yang cepat dan ada yang tertinggal, sehingga instruktur pun tidak dapat menjelaskan materi yang dipelajari saat itu kepada siswa. Belum lagi ada beberapa kelompok yang sudah siap dalam mengikuti final test, padahal kelompok lainnya ada yang baru mencapai pertemuan ke-20. Dengan demikian maka dapat disimpulkan bahwa ada beberapa siswa dari beberapa kelompok yang belum selesai dalam mempelajariseluruh materi untuk level Kindergarten. 3. Tahap Evaluasi Kokurikuler a. Evaluasi Hasil Belajar Mental Aritmatika Sempoa Evaluasi hasil belajar Mental aritmatika sempoa dilaksanakan setiap pertemuan. Hal ini dilaksanakan dengan adanya latihan yang ada di buku paket sempoa siswa dan mana yang dikerjakan siswa mendapat poin tersendiri di setiap bagian latihannya. Dari nilai/poin yang diperoleh siswa inilah instruktur dapat mengetahui tingkat pencapaian dan pemahaman siswa terhadap materi yang telah diajarkan. Evaluasi ini dilakukan tidak hanya dengan nilai/poin yang didapatkan siswa setelah mengerjakan beberapa latihan/soal yang diberikan, akan tetapi juga dinilai dari kehafalan dan kemampuan siswa dalam menggunakan rumus dan juga penggunaan jari dangan tangan mereka dalam menggunakan alat hitung sempoa. Hasil evaluasi hasil belajar mental aritmatika sempoa ini secara keseluruhan dicatat dan harus dilaporkan kepada pengelola UMC. Dari hasil observasi, ada beberapa buku siswa yang bagian latihan pada pertemuan tertentu yang kosong (tanpa poin) yang artinya pada pertemuan tersebut siswa yang bersangkutan tidak hadir untuk mengikuti kegiatan. Untuk hal ini, biasanya siswa diminta mengerjakan kembali halaman yang kosong tersebut sebagai Pekerjaan Rumah (PR), akan tetapi dalam pelaksanaan di sekolah tersebut tidak demikian, karena lembaran kosong tersebut tetap dibiarkan kosong padahal telah lewat beberapa minggu yang lalu. Dengan demikian maka bila ada siswa yang tertinggal dalam materi maka tidak

16 468 ada tugas menyusul atau mengulang materi/pertemuan tersebut, hanya dilewatkan begitu saja. Dikarenakan berbagai alasan, seperti sempoa siswa rusak dan hilang, maka saat proses kegiatan berlangsung ada beberapa siswa yang tidak membawa atau menggunakan sempoa dalam mengerjakan latihan yang artinya mereka melewatkan penilaian mengenai cara penggunaan sempoa tersebut, sehingga bisa dinilai bahwa tidak semua siswa yang mengikuti kegiatan kokurikuler mental aritmatika sempoa ini paham dan dapat menggunakan sempoa untuk menghitung. Dengan tidak menggunakan sempoa, maka siswa pun tentu belum menguasai penggunaan tangan dan jari dalam menghitung dengan sempoa. b. Evaluasi Program Kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa Evaluasi program kokurikuler mental aritmatika sempoa dan seluruh teknis evaluasi telah diatur oleh pihak UMC langsung, termasuk pembuatan soal mid dan final tes mental aritmatika sempoa. Instruktur hanya pengarahkan dan menyampaikan petunjuk pengerjaan, mengoreksi dan mengumpulkan hasilnya, serta melaporkan hasil tersebut kepada pengelola UMC untuk ditindaklanjuti. Dari seluruh rangkaian evaluasi program dari awal hingga berakhirnya kokurikuler, penulis hanya sempat menyaksikan secara langsung evaluasi melalui final tes kokurikuler ini. Selama beberapa minggu sebelum pelaksanaan evaluasi program berupa final tes dilaksanakan, instruktur melapor kepada pengelola UMC bahwa di sekolah tersebut sudah saatnya untuk melaksanakan final tes, hal ini terkait dengan lamanya/masa menjalani level Kindergarten yang selama enam bulan telah sampai. Meskipun materi yang dipelajari siswa pada level Kindergarten belum sepenuhnya dipelajari, akan tetapi pelaksanaan final tes tetap dilaksanakan. Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa salah satu faktor ketidaktuntasan siswa dalam belajar mental aritmatika sempoa di sekolah tersebut adalah karena kurangnya perhatian instruktur pada silabus sehingga materi yang diajarkan tidak sesuai dengan waktu yang tersedia. Setiap kegiatan berlangsung harusnya para instruktur memperhatikanapakah siswa telah

17 469 menguasai indikator yang telah diajarkan atau belum.hal ini terjadi karena kurangnya tanggungjawab para instruktur terhadap suatu kelompok secara menetap karena selalu terjadi pergantian instruktur untuk suatu kelompok. Deksripsi Proses Pelaksanaan Evaluasi Final Tes Kokurikuler (Kelompok Gabungan A2, B2, A3, B3 dan A4) Pada pukul seluruh siswa kelompok A2, B2, A3, B3, dan A4 berkumpul menjadi kelompok gabungan dalam final tes yang dilaksanakan di ruang kelas VIB dengan dua orang instruktur Sri Lestari dan Hartati dan jumlah siswa keseluruhan di kelas itu ada 29 siswa. Final tes dibuka oleh instruktur dengan merapikan seluruh barisan siswa menggunakan aba-aba Duduk Rapi, setelah seluruh siswa tertib maka instruktur memberikan pengarahan mengenai teknis pelaksanaan final tes dan menjawab soal, lalu memimpin do a. Siswa diabsen satupersatu kemudian diarahkan untuk mempersiapkan seluruh keperluan siswa dalam menjawab soal, yaitu sempoa, pensil dan penghapus. Kertas soal sekaligus lembar jawaban dibagikan kepada siswa lalu siswa diarahkan dalam mengisi biodatanya masing-masing. Pada pukul WITA siswa dipersilahkan mulai menjawab soal final tes dalam waktu 20 menit dan dikumpulkan ke depan lalu siswa menunggu nama masing-masing dipanggil untuk mengambil kertas hasil final tes. Saat pengoreksian atas jawaban siswa, ketika satu-persatu siswa yang selesai menjawab soal maju untuk mengumpulkan tugasnya masing-masing maka keadaan kelas sangat tidak terkontrol, siswa ada yang berlarian dan keluar ruangan.kedua instruktur sibuk dalam mengoreksi lembar jawaban siswa yang terkumpul.lembar jawaban yang selesai dikoreksi lalu dicatat angka perolehannya masing-masing dan kertas dibagikan kepada siswa tersebut dengan dipanggil dan diperbolehkan pulang lebih dulu. Kegiatan dan keadaan sama hingga seluruh siswa habis pulang. Dan instruktur menunggu waktu final untuk kelas berikutnya pada pukul WITA. Dalam pengerjaan soal, instruktur mengecek penggunaan rumus dan penggunaan tangan siswa secara diamdiam dengan melewati sisi setiap meja siswa dan menegur siswa yang salah.

18 470 Dari observasi yang dilakukan hampir 30% siswa dikelas tersebut kena tegur oleh instruktur karena keliru dalam penggunaan tangan dan jari dalam menghitung dengan sempoa dan ada 10 orang siswa terlihat tidak menggunakan sempoa dalam mengerjakan soal. Deksripsi Proses Pelaksanaan Evaluasi Final Tes Kokurikuler (Kelompok Gabungan A1, B1 dan C1) Pelaksanaan final tes pada kelompok gabungan A1, B1 dan C1 tidak jauh berbeda dengan kelas sebelumnya, baik soal maupun proses pelaksanaannya sama. Final tes kelompok ini dilaksanakan di ruang kelas IB dan instruktur yang sama dengan dihadiri 28 siswa kelas I. Dalam mengerjakan soal ada 5 orang siswa di kelas itu yang tidak menggunakan sempoa dan sekitar 85% siswa yang hadir di kelas itu sudah benar dalam menggunakan jari dan tangannya dalam menghitung dengan sempoa. Berakhirnya final tes Sempoa di SDN Landasan Ulin Barat 1 merupakan akhir pelaksanaan kokurikuler mental aritmatika sempoa level Kindergarten di sekolah tersebut. Adapun rekap nilai yang diperoleh dilaporkan kepada pimpinan/pengelola UMC dan proses pembuatan Sertifikat Mental Aritmatika Sempoa level Kindergarten bagi siswa peserta kegiatan kokurikuler mental aritmatika dilaksanakan. Bagi siswa yang tidak mengikuti midl atau final tes tidak ada susulan atau ulangan kembali dan dinyatakan tidak lulus serta tidak mendapat sertifikat, karena sertifikat merupakan ijazah kelulusan mental aritmatika sempoa yang diberikan kepada siswa yang lulus pada setiap level. Dalam laporan dari pihak UMC kepada pihak sekolah hanya ada daftar peserta yang mengikuti kegiatan dan nilai perolehannya disertai dengan sertifikat sesuai dengan daftar nama siswa yang lulus level Kindergarten. Tabel 4.2 Daftar Nilai Rata-rata Siswa No. yang Mengikuti Final Tes Perkelompok Kelompok Nilai Rata-rata 1. A1 91,4 2. B1 92,0 3. C1 95,7 4. A2 97,6 Ket 10 dari 16 siswa 8 dari 13 siswa 10 dari 16 siswa 7 dari 20 siswa

19 B2 96,6 6. A3-7. B3 98,4 8. A4 98,0 12 dari 21 siswa 0 dari 14 siswa 7 dari 11 siswa 3 dari 15 siswa Berdasarkan dari uraian di atas secara keseluruhan tentang hal-hal yang berkaitan dengan penelitian ini, maka sebagai akhir pembahasan, di sini peneliti akan memberikan kesimpulan sebagai berikut: Rata-rata 95,7 57 dari 126 siswa Rekap nilai rata-rata diatas menunjukkan kepada kita bahwa dari 57 siswa yang mengikuti final tes yaitu 45,2% seluruh siswa yang mengikuti kegiatan mendapat nilai rata-rata 95,7. Dari nilai kita tidak mendapatkan masalah, akan tetapi dari kehadiran siswa yang mengikuti penilaian/final tes sangat sedikit bahkan kurang dari setengah siswa yang mengikuti kegiatan kokurikuler mental aritmatika yang artinya memang kontrol terhadap kehadiran siswa dalam kegiatan ini lemah, baik dari pihak UMC, sekolah, orang tua/wali siswa maupun instruktur sendiri. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan kokurikuler mental aritmatika sempoa ini kurang diperhatikan oleh seluruh elemen pendidikan yang ada. Simpulan Pelaksanaan kokurikuler mental aritmatika sempoa di SDN Landasan Ulin Barat 1 berjalan dengan baik pada level Kindergarten, akan tetapi level tersebut merupakan level terakhir yang diikuti siswanya dan proses pelaksanaan kokurikuler berhenti setelah berakhirnya final tes dan tidak ada lagi siswa yang menginginkan melanjutkan ke level berikutnya. Padahal untuk melakukan operasi hitung bilangan secara sempurna dengan menggunakan sempoa diperlukan untuk melanjutkan lagi pelaksanaan kegiatan kokurikuler pada level berikutnya hingga pada level Intermediate. Berakhirnya kegiatan tidak terlepas dari beberapa faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa di sekolah tersebut, akan tetapi faktor terbesar dan yang menjadi akar faktor yang mempengaruhi pelaksanaan kokurikuler tersebut yaitu kurangnya bahkan tidak adanya kontrol dan perhatian dari berbagai elemen

20 472 pendidikan secara serius terhadap proses berjalannya pelaksanaan kegiatan kokurikuler Mental Aritmatika Sempoa yang berlangsung di sekolah tersebut. Daftar Rujukan Basrowi, Suwandi. (2008) Memahami Penelitian Kualitatif. Jakarta: Rineka Cipta Denim, Sudarwan. (2002) Menjadi Peneliti Kualitatif, cet.1, Bandung: Pustaka Setia Mohammad Uzer Usman dan Dra. Lilis Setiawati. (1993) Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, Bandung: Remaja Rosdakarya. UMC. (2011)Program Mental Aritmatika Sempoa,http.UniversalMegaCentra.c om diakses tanggal 23/11/2011, UMC Best Program. (2011) http.universalmegacentra.com, 23/11/2011, tt, Hand Out Training Tahap 1. Jakarta Utara: Universal Mega Centra History of Numbers. MIT Press. ISBN Diakses tanggal 8 Mei 2012 Tim Penyusun. Pedoman Akademik IAIN Antasari: Pedoman Penulisan Skripsi Program Sarjana (S.1). Banjarmasin: IAIN Antasari

Anita Windarini SMP Negeri 1 Sanggau anitanajori@rocketmail.com

Anita Windarini SMP Negeri 1 Sanggau anitanajori@rocketmail.com Windarini, Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dan Media Manipulatif, 1 PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF STAD DAN MEDIA MANIPULATIF DALAM PEMBELAJARAN LUAS PERMUKAAN BANGUN RUANG SISI LENGKUNG

Lebih terperinci

SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK

SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK SENI DAPAT MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAL PESERTA DIDIK Nur Auliah Hafid Widyaiswara LPMP Sulsel 1 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Apakah Seni dapat meningkatkan Kecerdasan Emosional

Lebih terperinci

Kampanye Partisipasi Semua Orang untuk Kecelakaan Nol

Kampanye Partisipasi Semua Orang untuk Kecelakaan Nol Kampanye Partisipasi Semua Orang untuk Kecelakaan Nol 1. Metode Penerapan Kampanye Kecelakaan Nol Metode secara konkretnya, dikembangkan di tempat kerja untuk menerapkan prinsip menghargai manusia dalam

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP)

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN (RPP) Satuan Pendidikan Mata Pelajaran Kelas/Semester Alokasi waktu : SMA Negeri 1 Sukasada : Matematika : X/1 (Ganjil) : 2 x 4 menit (1 pertemuan) I. Standar Kompetensi

Lebih terperinci

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG

MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI STRATEGI PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TUTOR SEBAYA UNTUK SISWA KELAS VII-F SMP NEGERI 7 MALANG Umar Wirahadi Kusuma Universitas Negeri Malang Pembimbing

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA (Studi Eksperimen Di kelas XI IPA SMA Negeri 4 Tasikmalaya)

Lebih terperinci

TANYA JAWAB PERTANYAAN UMUM TENTANG

TANYA JAWAB PERTANYAAN UMUM TENTANG TANYA JAWAB PERTANYAAN UMUM TENTANG EKUIVALENSI KEGIATAN PEMBELAJARAN/PEMBIMBINGAN BAGI GURU YANG BERTUGAS PADA SMP/SMA/SMK YANG MELAKSANAKAN KURIKULUM 2013 PADA SEMESTER PERTAMA MENJADI KURIKULUM TAHUN

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. SUBJEK PENELITIAN Subyek dari penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas VIIA MTs NU Tamrinut Thullab Undaan Lor Kudus tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah

Lebih terperinci

Desain Pembelajaran PMRI 4: "Jika Kamu Penjahit yang Pintar, Berapa cm Panjang Lingkar. Pinggang Pemesan Baju itu?"

Desain Pembelajaran PMRI 4: Jika Kamu Penjahit yang Pintar, Berapa cm Panjang Lingkar. Pinggang Pemesan Baju itu? Desain Pembelajaran PMRI 4: "Jika Kamu Penjahit yang Pintar, Berapa cm Panjang Lingkar A. Pendahuluan Pinggang Pemesan Baju itu?" Ahmad wachidul kohar 1 Fanni Fatoni 2 Wisnu Siwi Satiti 3 IMPoME, Sriwijaya

Lebih terperinci

Kompetensi 1 : Mengenal karakteristik peserta didik. : Horale Tua Simanullang, S.Pd

Kompetensi 1 : Mengenal karakteristik peserta didik. : Horale Tua Simanullang, S.Pd Kompetensi 1 : Mengenal karakteristik peserta didik Nama Guru Nama Penilai : Horale Tua Simanullang, S.Pd : Drs. H. Edi Sumarto Sebelum Pengamatan Tanggal 15 Mei 013 Daftar nilai, Absensi Siswa, Catatan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan

BAB II KAJIAN TEORETIS. Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan BAB II KAJIAN TEORETIS 2.1 Hakekat Soal Cerita yang Diajarkan di Sekolah Dasar 2.1.1 Pengertian Soal Cerita Soal cerita merupakan permasalahan yang dinyatakan dalam bentuk kalimat bermakna dan mudah dipahami

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. hasil tes keterampilan membaca puisi untuk mengetahui kondisi awal keterampilan BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian Pada bab ini akan disajikan hasil penelitian tindakan kelas yang berupa hasil tes dan nontes. Hasil tes meliputi siklus I dan siklus II. Hasil

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Matematika

NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Program Studi Matematika UPAYA MENGATASI MISKONSEPSI SISWA MELALUI METODE PEMBELAJARAN DELIKAN (DENGAR, LIHAT, KERJAKAN) PADA SISWA KELAS VIII SEMESTER GENAP SMP MUHAMMADIYAH 2 SURAKARTA NASKAH PUBLIKASI Untuk Memenuhi Sebagian

Lebih terperinci

INFORMASI PENERIMAAN MAHASISWA BARU UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA TAHUN 2015

INFORMASI PENERIMAAN MAHASISWA BARU UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA TAHUN 2015 INFORMASI PENERIMAAN MAHASISWA BARU UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA TAHUN 2015 LANDASAN HUKUM 1. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi 2. Peraturan Pemerintah Republik

Lebih terperinci

PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT

PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT PENERAPAN PEMBELAJARAN SUSUN BANGUN DATAR MANDIRI DALAM PRAKTIK LESSON STUDY DI SD GMIH IDAMGAMLAMO DAN SD LOCE HALMAHERA BARAT Welhelmus Denny SD Loce Kecamatan Sahu Timur Kabupaten Halmahera Barat Abstrak:

Lebih terperinci

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR

CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR CONTOH MODEL PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR Disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SD Jenjang Lanjut Tanggal 6 s.d. 9 Agustus 200 di PPPG Matematika Oleh: Dra. Sukayati, M.

Lebih terperinci

ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN

ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN ANAK BATITA: USIA ± 15 BULAN 3 TAHUN 1. Pesat tapi tidak merata. - Otot besar mendahului otot kecil. - Atur ruangan. - Koordinasi mata dengan tangan belum sempurna. - Belum dapat mengerjakan pekerjaan

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1)

PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1) H. SufyaniPrabawant, M. Ed. Bahan Belajar Mandiri 5 PEMBELAJARAN BANGUN RUANG (1) Pendahuluan Bahan belajar mandiri ini menyajikan pembelajaran bangun-bangun ruang dan dibagi menjadi dua kegiatan belajar.

Lebih terperinci

Wilis Tinah Program Studi PG-PAUD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya

Wilis Tinah Program Studi PG-PAUD, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Surabaya PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMAHAMI KONSEP BILANGAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE PEMBERIAN TUGAS MELALUI MEDIA POHON BILANGAN PADA ANAK KELOMPOK A DI TK AVICENNA SURABAYA Wilis Tinah Program Studi PG-PAUD, Fakultas

Lebih terperinci

Amati gambar di bawah dengan teliti!

Amati gambar di bawah dengan teliti! Ayo mengenal kewajiban yang sama di sekolah! Setiap hari Dayu pergi ke sekolah. Dayu belajar dengan teman-teman. Semua siswa belajar dengan tanggung jawab. Mereka memiliki kewajiban yang sama di sekolah.

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN. Pada BAB V ini, peneliti akan membahas hasil penelitian dan diskusi hasil

BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN. Pada BAB V ini, peneliti akan membahas hasil penelitian dan diskusi hasil 67 BAB V PEMBAHASAN DAN DISKUSI HASIL PENELITIAN Pada BAB V ini, peneliti akan membahas hasil penelitian dan diskusi hasil penelitian. Pembahasan hasil penelitian berdasarkan deskripsi data tentang strategi

Lebih terperinci

(Analisis Isi 2014/2015) persyaratan. Sarjana S-1. Diajukan Oleh: A220110047

(Analisis Isi 2014/2015) persyaratan. Sarjana S-1. Diajukan Oleh: A220110047 MUATAN MATERI PANCASILA SEBAGAI PANDANGAN HIDUP BANGSA DAN PELAKSANAANNYA DALAM PROSESS PEMBELAJARAN (Analisis Isi Buku Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan untuk Siswa Kelas VIII Terbitan Kemendikbud

Lebih terperinci

FGD Penyamaan Persepsi Pelaksanaan Ujian Tertulis SELEKSI BERSAMA MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI (SBMPTN) Jakarta, 22-23 Mei 2015

FGD Penyamaan Persepsi Pelaksanaan Ujian Tertulis SELEKSI BERSAMA MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI (SBMPTN) Jakarta, 22-23 Mei 2015 FGD Penyamaan Persepsi Pelaksanaan Ujian Tertulis SELEKSI BERSAMA MASUK PERGURUAN TINGGI NEGERI (SBMPTN) Jakarta, 22-23 Mei 2015 Seleksi penerimaan mahasiswa baru di Perguruan Tinggi Negeri tahun 2015

Lebih terperinci

CONTOH SILABUS BERDIVERSIFIKASI DAN PENILAIAN BERBASIS KELAS

CONTOH SILABUS BERDIVERSIFIKASI DAN PENILAIAN BERBASIS KELAS CONTOH SILABUS BERDIVERSIFIKASI DAN BERBASIS KELAS Mata Pelajaran MATEMATIKA LAYANAN KHUSUS SEKOLAH dan MADRASAH IBTIDAIYAH DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL Jakarta, 2003 Katalog dalam Terbitan Indonesia.

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIKA MELALUI METODE DISCOVERY-INQUIRY PADA SISWA KELAS VII SMP N 5 SUKOHARJO SKRIPSI Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Menyelesaikan Studi Program Strata Satu

Lebih terperinci

DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SOSIALISASI UJIAN NASIONAL. SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2013/2014

DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SOSIALISASI UJIAN NASIONAL. SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2013/2014 DINAS PENDIDIKAN, PEMUDA DAN OLAHRAGA DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA SOSIALISASI UJIAN NASIONAL SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2013/2014 1 DasarPelaksanaanUjianNasional 1. PERATURAN MENTERI PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

Lebih terperinci

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR

HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR HUBUNGAN MANAJEMEN PESERTA DIDIK DENGANKELANCARAN PROSES BELAJAR MENGAJAR Baiq Neni Sugiatni, Jumailiyah, dan Baiq Rohiyatun Administrasi pendidikan, FIP IKIP Mataram Email :Baiqnenysugiatni@gmail.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan saat ini adalah pembangunan dibidang pendidikan, menyadari. kalangan pendidikan itu sendiri termasuk para guru.

BAB I PENDAHULUAN. diperhatikan saat ini adalah pembangunan dibidang pendidikan, menyadari. kalangan pendidikan itu sendiri termasuk para guru. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan yang giat-giatnya dilakukan oleh bangsa saat ini adalah upaya membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya, baik mental, spiritual dan fisik material. Salah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan suatu metode. Jadi metode

BAB III METODE PENELITIAN. pengkajian dalam mempelajari peraturan-peraturan suatu metode. Jadi metode 51 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian dan Tahap-Tahap Penelitian Metode ialah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu, yang mempunyai langkah-langkah sistematis. Sedangkan metodelogi

Lebih terperinci

APA YANG HARUS DIKETAHUI DI USIA 2 TAHUN?

APA YANG HARUS DIKETAHUI DI USIA 2 TAHUN? APA YANG HARUS DIKETAHUI DI USIA 2 TAHUN? ASPEK YANG DISUKAI ANAK YANG BISA KITA AJARKAN FISIK Sangat Aktif. Bisa jalan, lari, lompat 2 kaki, bertumpu, dan manjat. Bisa corat-coret, bekerja dengan 3-4

Lebih terperinci

STUDI KASUS MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR RENDAH DENGAN PENDEKATAN KONSELING BEHAVIOR PADA SISWA KELAS X1 IPA 3 SMA I MEJOBO KUDUS TAHUN PELAJARAN

STUDI KASUS MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR RENDAH DENGAN PENDEKATAN KONSELING BEHAVIOR PADA SISWA KELAS X1 IPA 3 SMA I MEJOBO KUDUS TAHUN PELAJARAN STUDI KASUS MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR RENDAH DENGAN PENDEKATAN KONSELING BEHAVIOR PADA SISWA KELAS X1 IPA 3 SMA I MEJOBO KUDUS TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Disusun Oleh : Nining Nurhayatun 2008-31-028

Lebih terperinci

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN

PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN PENINGKATAN EFEKTIVITAS PADA PROSES PEMBELAJARAN FARID AGUS SUSILO UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA Jl. Ketintang Gedung D1, Surabaya 60231 Telp:+6231-8280009 pes 310 fax :+6231-8296427 Abstrak Sebagaimana

Lebih terperinci

Problem A. Raja yang Bijak

Problem A. Raja yang Bijak Problem A Raja yang Bijak Wacat adalah seorang pangeran yang baru saja diangkat menjadi raja menggantikan ayahnya, Hubu, seorang raja yang terkenal bijaksana. Hubu mampu mengambil segala keputusan yang

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh : Mevi Isnaini Rizkiyana NIM 080210201025

SKRIPSI. Oleh : Mevi Isnaini Rizkiyana NIM 080210201025 PENINGKATAN MINAT BACA ANAK MELALUI METODE BERCERITA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA DI KELOMPOK B4 TAMAN KANAK-KANAK (TK) AL-AMIEN KECAMATAN PATRANG KABUPATEN JEMBER TAHUN PELAJARAN 2011/2012 SKRIPSI Oleh :

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung:

BAB I PENDAHULUAN. Nuansa Aulia. 2010), hlm. 63. 1 Dadi Permadi, Daeng Arifin, The Smiling Teacher, (Bandung: BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pendidikan merupakan unsure yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Dalam pendidikan, khususnya pendidikan formal di sekolah, pendidik merupakan

Lebih terperinci

BAB. III METODE PENELITIAN

BAB. III METODE PENELITIAN 18 BAB. III METODE PENELITIAN 3.1 Settingdan Karaktersistik Subjek Penelitian Penelitian Tindakan Kelas mata pelajaran PKn tentang Mendeskripsikan tugas dan fungsi pemerintah pusat dan daerah dilakukan

Lebih terperinci

TINGKAT KESUKARAN DAN DAYA BEDA BUTIR-BUTIR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 1 BATU TAHUN AJARAN 2011/2012

TINGKAT KESUKARAN DAN DAYA BEDA BUTIR-BUTIR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 1 BATU TAHUN AJARAN 2011/2012 TINGKAT KESUKARAN DAN DAYA BEDA BUTIR-BUTIR SOAL UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS) BAHASA INDONESIA DI SMA NEGERI 1 BATU TAHUN AJARAN 2011/2012 ARTIKEL SKRIPSI OLEH HIGUITA SANTOS NIM 208211416540 UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula.

BAB III METODE PENELITIAN. menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula. 40 BAB III METODE PENELITIAN Metodologi penelitian dalam suatu penelitian sangat penting, sebab dengan menggunakan metode yang tepat maka akan mendapatkan hasil yang tepat pula. Artinya apabila seseorang

Lebih terperinci

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110

Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 ISSN: 1693-1246 Juli 2011 Jurnal Pendidikan Fisika Indonesia 7 (2011): 106-110 J P F I http://journal.unnes.ac.id PEMBELAJARAN SAINS DENGAN PENDEKATAN KETERAMPILAN PROSES UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR

Lebih terperinci

MUHAMMAD ALI SYAFI I NIM.

MUHAMMAD ALI SYAFI I NIM. PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA MATERI OPERASI HITUNG BILANGAN BULAT PADA SISWA KELAS V MELALUI PENDEKATAN REALISTIC MATHEMATIC EDUCATION DI SD 2 PIJI KUDUS Oleh MUHAMMAD ALI SYAFI I

Lebih terperinci

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP SIFAT-SIFAT BANGUN RUANG MELALUI METODE EXAMPLES NON EXAMPLES Indah Wahyu Ningrum 1), Suharno 2), Hasan Mahfud 3) PGSD FKIP Universitas Sebelas Maret, Jl. Slamet Riyadi No.

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika

NASKAH PUBLIKASI Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Jurusan Pendidikan Matematika PENINGKATAN PERCAYA DIRI DAN KEMANDIRIAN SISWA DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA MELALUI PEMBELAJARAN ATTENTION RELEVANCE CONFIDENCE SATISFACTION (ARCS) (PTK Pada Siswa Kelas VIIA SMP Muhammadiyah 1 Surakarta

Lebih terperinci

Kata-kata kunci: Sumber daya sekolah Sumber daya manusia Sumber daya fisik Sumber daya keuangan

Kata-kata kunci: Sumber daya sekolah Sumber daya manusia Sumber daya fisik Sumber daya keuangan Pengembangan Sumber Daya Sekolah Oleh: Ruswandi Hermawan Abstrak Sekolah memiliki sumber daya yang dapat dimanfaatkan untuk mencapai tujuantujuan pendidikan. Sumber daya pendidikan di sekolah dapat dikelompokkan

Lebih terperinci

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN

RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN Untuk SMA/MA Kelas X Mata Pelajaran : Matematika (Wajib) Penerbit dan Percetakan Jl. Tengah No. 37, Bumi Asri Mekarrahayu Bandung-40218 Telp. (022) 5403533 e-mail:srikandiempat@yahoo.co.id

Lebih terperinci

ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara

ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR. Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara ALAT PERAGA MATEMATIKA SEDERHANA UNTUK SEKOLAH DASAR Oleh : Drs. Ahmadin Sitanggang, M.Pd Widyaiswara LPMP Sumatera Utara LEMBAGA PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN (LPMP) SUMATERA UTARA 2013 Jl. Bunga Raya No.

Lebih terperinci

BANK KATA: Ide Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Oleh: Asri Musandi Waraulia, M.Pd.

BANK KATA: Ide Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Oleh: Asri Musandi Waraulia, M.Pd. BANK KATA: Ide Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Oleh: Asri Musandi Waraulia, M.Pd. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia mempunyai empat keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menulis,

Lebih terperinci

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI

PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PUISI SISWA KELAS IIIB MI ALMAARIF 03 LANGLANG SINGOSARI Arlita Agustina 1 Muakibatul Hasanah 2 Heri Suwignyo 2 Email: arlitaagustina@ymail.com

Lebih terperinci

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA KONKRET PADA POKOK BAHASAN BANGUN RUANG TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDN BANJARANYAR SKRIPSI

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA KONKRET PADA POKOK BAHASAN BANGUN RUANG TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDN BANJARANYAR SKRIPSI PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA KONKRET PADA POKOK BAHASAN BANGUN RUANG TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS V SDN BANJARANYAR SKRIPSI Diajukan kepada Fakulltas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta

Lebih terperinci

MATA PELAJARAN. Pengembangan Diri 13. Bimbingan dan Konseling B 14. Ketrampilan Menjahit B 15. Olahraga B 16. Keagamaan B 17.

MATA PELAJARAN. Pengembangan Diri 13. Bimbingan dan Konseling B 14. Ketrampilan Menjahit B 15. Olahraga B 16. Keagamaan B 17. BAB IV KRITERIA KETUNTASAN MINIMAL (KKM), KRITERIA KENAIKAN KELAS DAN TINGGAL KELAS, KRITERIA KELULUSAN, KRITERIA MUTASI DAN PENDAFTARAN PESERTA DIDIK BARU, DAN NILAI-NILAI KARAKTER YANG DIKEMBANGKAN A.

Lebih terperinci

LAMPIRAN I RENCANA KEGIATAN HARIAN (RKH) Pertemuan Pertama

LAMPIRAN I RENCANA KEGIATAN HARIAN (RKH) Pertemuan Pertama 171 LAMPIRAN I RENCANA KEGIATAN HARIAN (RKH) Pertemuan Pertama Nama Sekolah : SMP Negeri 1 Sumberjaya (Ekstrakurikuler Seni Tari) Alokasi Waktu 1 x 40 (1x Pertemuan) Mengapresiasi karya seni tari Bedana

Lebih terperinci

LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS LAPORAN OBSERVASI LAPANGAN PERKEMBANGAN DAN PROSES PEMBELAJARAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (Suatu Observasi Lapangan di SDLB Desa Labui, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh) Oleh: Qathrinnida, S.Pd Suatu

Lebih terperinci

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di Jepang (Contoh) Kondisi Kesebangunan Segitiga Membuat Segitiga dari Sedotan Berisi Kawat

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di Jepang (Contoh) Kondisi Kesebangunan Segitiga Membuat Segitiga dari Sedotan Berisi Kawat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran di Jepang (Contoh) Kondisi Kesebangunan Segitiga Membuat Segitiga dari Sedotan Berisi Kawat Makna Keseluruhan dari Kesebangunan Diagram Siswa semakin dalam memahami konsep

Lebih terperinci

PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko)

PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko) PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko) SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

SKRIPSI. Diajukan Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Sarjana S.1 Dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Guru Kelas MI.

SKRIPSI. Diajukan Sebagai Syarat Memperoleh Gelar Sarjana S.1 Dalam Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Jurusan Pendidikan Guru Kelas MI. MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KEAKTIFAN PESERTA DIDIK PADA MATERI PECAHAN SEDERHANA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN STAD (STUDENT TEAMS ACHIEVEMENT DIVISIONS) DI KELAS IV MI BANGUNREJO PATEBON KENDAL TAHUN

Lebih terperinci

PANDUAN OLIMPIADE DAN KISI-KISI SOAL OLIMPIADE SAINS KOMPUTER

PANDUAN OLIMPIADE DAN KISI-KISI SOAL OLIMPIADE SAINS KOMPUTER PANDUAN OLIMPIADE DAN KISI-KISI SOAL OLIMPIADE SAINS KOMPUTER I. Panduan Olimpiade Secara Umum a. Peserta ujian wajib mengenakan seragam sekolah lengkap. b. Peserta ujian hadir di tempat ujian 30 menit

Lebih terperinci

PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN

PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN PENANAMAN KARAKTER TANGGUNG JAWAB SISWA PADA PELAKSANAAN ULANGAN HARIAN DALAM MATA PELAJARAN PKn Studi Kasus: Siswa Kelas VII B MTs Muhammadiyah 07 Klego Boyolali Tahun Ajaran 2013/2014) NASKAH PUBLIKASI

Lebih terperinci

: Pukul 08.30 12.00 Wita

: Pukul 08.30 12.00 Wita Kode Program Studi 1. Fakultas Hukum Kode 20 Program Studi Ilmu Hukum 2. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Kode 21 Program Studi Ilmu Pemerintahan Kode 22 Program Studi Ilmu Administrasi Negara (Konsentrasi

Lebih terperinci

PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI

PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI PEMBELAJARAN MENEMUKAN MAKNA DAN INFORMASI SECARA TEPAT DALAM KAMUS DENGAN MEMBACA MEMINDAI Suhardi SD Negeri 007 Ranai Bunguran Timur Natuna Abstrak: Siswa kelas IV SDN 007 Ranai cenderungmengalami kesulitan

Lebih terperinci

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PMIPA FKIP UNIVERSITAS JAMBI UJIAN AKHIR SEMESTER

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PMIPA FKIP UNIVERSITAS JAMBI UJIAN AKHIR SEMESTER PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA PMIPA FKIP UNIVERSITAS JAMBI UJIAN AKHIR SEMESTER Kode: Area: Program Studi Tanggal dikeluarkan: Tanggal Revisi: TUJUAN Tujuan Standar Operasional Prosedur ini adalah

Lebih terperinci

MANAJEMEN WAKTU BELAJAR

MANAJEMEN WAKTU BELAJAR MANAJEMEN WAKTU BELAJAR Bahan disajikan pada Character Development Training bagi mahasiswa Bidik-Misi UNM Abdullah Pandang UPT LAYANAN KONSELING DAN PSIKOLOGI MAHASISWA (LKPM) UNIVERSITAS NENEGERI MAKASSAR

Lebih terperinci

SKRIPSI. Oleh: TSALIS HIDAYATI NIM 11507020. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam

SKRIPSI. Oleh: TSALIS HIDAYATI NIM 11507020. Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA OPERASI HITUNG PERKALIAN DENGAN METODE BERMAIN KARTU PADA SISWA KELAS III MI DADAPAYAM II KECAMATAN SURUH KABUPATEN SEMARANG TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

LAPORAN HASIL. Oleh. Nama : I Gede Surata, SPd. MM NIP : 196510261991031001 Guru Praktik Jasa Boga

LAPORAN HASIL. Oleh. Nama : I Gede Surata, SPd. MM NIP : 196510261991031001 Guru Praktik Jasa Boga LAPORAN HASIL PENELITIAN TINDAKAN KELAS PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN PEMBERIAN TUGAS UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PENGELOLAAN USAHA JASA BOGA KELAS X JASA BOGA 2 SMK NEGERI 6 PALEMBANG TAHUN PELAJARAN

Lebih terperinci

Panduan e-learning Bina Sarana Informatika (BSI e-learning System / BEST)

Panduan e-learning Bina Sarana Informatika (BSI e-learning System / BEST) Panduan e-learning Bina Sarana Informatika (BSI e-learning System / BEST) Akses laman e-learning dengan cara mengetik http://elearning.bsi.ac.id/ pada browser Internet, kemudian akan tampil halaman home

Lebih terperinci

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan

MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK. Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan MENGENAL GAYA BELAJAR PESERTA DIDIK Oleh Mansur HR Widyaiswara LPMP Provinsi Sulawesi Selatan Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 tahun 2013 tentang Standar Nasional Pendidikan pasal 19 disebutkan bahwa

Lebih terperinci

UPAYA PEMBINAAN REMAJA PUTUS SEKOLAH PADA PANTI SOSIAL BINA REMAJA (PSBR) MARDI KARYA UTAMA JOMBANG SKRIPSI

UPAYA PEMBINAAN REMAJA PUTUS SEKOLAH PADA PANTI SOSIAL BINA REMAJA (PSBR) MARDI KARYA UTAMA JOMBANG SKRIPSI UPAYA PEMBINAAN REMAJA PUTUS SEKOLAH PADA PANTI SOSIAL BINA REMAJA (PSBR) MARDI KARYA UTAMA JOMBANG SKRIPSI Diajukan guna melengkapi tugasakhir dan memenuhi syarat-syarat untuk menyelesaikan Program Studi

Lebih terperinci

1. Nilai Tempat Bilangan 10.000 s.d. 100.000 Lambang bilangan Hindu-Arab yang setiap kali kita gunakan menggunakan sistem desimal dengan nilai

1. Nilai Tempat Bilangan 10.000 s.d. 100.000 Lambang bilangan Hindu-Arab yang setiap kali kita gunakan menggunakan sistem desimal dengan nilai 1. Nilai Tempat Bilangan 10.000 s.d. 100.000 Lambang bilangan Hindu-Arab yang setiap kali kita gunakan menggunakan sistem desimal dengan nilai tempat. Menggunakan sistem desimal (dari kata decem, bahasa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Internet sebagai salah satu media pembelajaran sangat dibutuhkan saat ini,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Internet sebagai salah satu media pembelajaran sangat dibutuhkan saat ini, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Internet sebagai salah satu media pembelajaran sangat dibutuhkan saat ini, baik secara langsung, sebagai media pembelajaran jarak jauh atau sebagai sarana bagi

Lebih terperinci

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia

SKRIPSI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 Pendidikan Bahasa Indonesia KESALAHAN PENULISAN TANDA BACA SERTA PENULISAN ANGKA DAN LAMBANG BILANGAN PADA KARANGAN SISWA KELAS V SDN 1 SAWAHAN KECAMATAN JUWIRING KABUPATEN KLATEN TAHUN PELAJARAN 2009/2010 SKRIPSI Untuk Memenuhi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Pendidikan adalah hal yang sangat penting bagi suatu bangsa agar bangsa tersebut dapat meningkatkan kualitas SDM yang dimilikinya. Dengan SDM yang berkualitas maka

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini, penggunaan bahasa kedua (misal: bahasa Inggris) di Indonesia

BAB 1 PENDAHULUAN. Dewasa ini, penggunaan bahasa kedua (misal: bahasa Inggris) di Indonesia BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, penggunaan bahasa kedua (misal: bahasa Inggris) di Indonesia bukan merupakan sesuatu yang asing lagi ditelinga kita bahkan sudah merupakan hal yang perlu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan

BAB III METODE PENELITIAN. Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan BAB III METODE PENELITIAN A. Pendekatan dan Jenis Penelitian Setiap karya ilmiah yang dibuat disesuaikan dengan metodologi penelitian. Dan seorang peneliti harus memahami metodologi penelitian yang merupakan

Lebih terperinci

LANGKAH-LANGKAH PENGGUNAAN E-LEARNING (Untuk Siswa)

LANGKAH-LANGKAH PENGGUNAAN E-LEARNING (Untuk Siswa) LANGKAH-LANGKAH PENGGUNAAN E-LEARNING (Untuk Siswa) Akses ke dalam Portal e-learning PLN User/Siswa dapat melakukan akses ke dalam Portal e-learning melalui 2 (dua) jaringan komputer: 1. Akses melalui

Lebih terperinci

EVALUASI PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA MATERI BANGUN RUANG KELAS IX DI SMP NEGERI 2 MRANGGEN TAHUN PELAJARAN 2013/2014

EVALUASI PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA MATERI BANGUN RUANG KELAS IX DI SMP NEGERI 2 MRANGGEN TAHUN PELAJARAN 2013/2014 EVALUASI PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN MATEMATIKA PADA MATERI BANGUN RUANG KELAS IX DI SMP NEGERI 2 MRANGGEN TAHUN PELAJARAN 2013/2014 SKRIPSI Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3

BAB I PENDAHULUAN. (Depok: Intuisi Press,1998) Cet 2, hlm. 2-3 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tantangan kehidupan selalu muncul secara alami seiring dengan berputarnya waktu. Berbagai tantangan bebas bermunculan dari beberapa sudut dunia menuntut untuk

Lebih terperinci

Kode Dokumen 00008 04004 Revisi 2 Tanggal 02 Nop 2012. Manual Prosedur Audit Internal Mutu

Kode Dokumen 00008 04004 Revisi 2 Tanggal 02 Nop 2012. Manual Prosedur Audit Internal Mutu Kode Dokumen 00008 04004 Revisi Tanggal 0 Nop 01 Manual Prosedur Audit Internal Mutu LEMBAGA PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN (LP3) Universitas Brawijaya Malang 01 Manual Prosedur Audit Internal

Lebih terperinci

BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO

BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO BUKU PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO Edisi Januari 2009 1 PANDUAN PESERTA UJI KOMPETENSI MANAJEMEN RISIKO Pendaftaran Uji Kompetensi Manajemen Risiko dapat dilakukan secara kolektif dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN. dalam kehidupan manusia sehari-hari. Beberapa diantaranya sebagai berikut: 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Matematika adalah bagian yang sangat dekat dengan kehidupan seharihari. Berbagai bentuk simbol digunakan manusia sebagai alat bantu dalam perhitungan, penilaian,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain

BAB I PENDAHULUAN. keputusan-keputusan penting yang berkaitan dengan pergaulan dengan orang lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Belajar merupakan salah satu bentuk kegiatan individu dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan. Tujuan dari setiap belajar mengajar adalah untuk memperoleh hasil

Lebih terperinci

BERKAS SOAL TAHAP FINAL BIDANG STUDI MATEMATIKA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI)

BERKAS SOAL TAHAP FINAL BIDANG STUDI MATEMATIKA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI) BERKAS SOAL TAHAP FINAL BIDANG STUDI MATEMATIKA MADRASAH IBTIDAIYAH (MI) KOMPETISI SAINS MADRASAH (KSM) 2014 SELEKSI KANTOR WILAYAH KEMENTERIAN AGAMA SURABAYA, 2014 SOAL TAHAP FINAL BIDANG STUDI MATEMATIKA

Lebih terperinci

Ditulis oleh Orang Gila

Ditulis oleh Orang Gila 1 PRAMA WIRATAMA Ditulis oleh Orang Gila Ditulis oleh Orang Gila Oleh: Prama Wiratama Copyright 2010 by Prama Wiratama Desain Sampul: PENGANTAR 2 Assalamu'alaikum Wr. Wb. Alhamdulillah akhirnya buku saya

Lebih terperinci

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN DESKRIPSI DENGAN METODE KARYA WISATA Agustian SDN 02 Curup Timur Kabupaten Rejang Lebong Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah

BAB I PENDAHULUAN. Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sesuai dengan tuntutan Kurikulum KTSP yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk dilaksanakan secara menyeluruh pada setiap sekolah mengharapkan agar penguasaan

Lebih terperinci

Dewi Indriani, Miharty, dan Jimmi Copriady Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Riau Email: dewi_indriani90@yahoo.co.id

Dewi Indriani, Miharty, dan Jimmi Copriady Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Riau Email: dewi_indriani90@yahoo.co.id PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN AKTIF TIPE BENAR ATAU SALAH BESERTA ALASAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA PADA POKOK BAHASAN KOLOID DI KELAS XI IPA SMA MUHAMMADIYAH 1 PEKANBARU Dewi Indriani, Miharty,

Lebih terperinci

Cara Membuat Personal Statement Yang Baik Dan Benar

Cara Membuat Personal Statement Yang Baik Dan Benar Cara Membuat Personal Statement Yang Baik Dan Benar Ketika mendaftarkan diri ke universitas di UK, Anda akan diminta untuk menulis personal statement. Personal statement adalah sebuah karya tulis singkat

Lebih terperinci

1. Instalasi System yang diperlukan IBM PC atau kompatibel (486 DX4 100 MHz minimum, Pentium 120 MHz disarankan)

1. Instalasi System yang diperlukan IBM PC atau kompatibel (486 DX4 100 MHz minimum, Pentium 120 MHz disarankan) Created by http://www.tellmemore.cjb.net Page 1 of 9 Manual Book 1. Instalasi System yang diperlukan IBM PC atau kompatibel (486 DX4 100 MHz minimum, Pentium 120 MHz disarankan) Microsoft Windows 95 8

Lebih terperinci

PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR

PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR ARTIKEL PENYUSUNAN LEMBAR KEGIATAN SISWA (LKS) SEBAGAI BAHAN AJAR Oleh Dra. Theresia Widyantini, M.Si PUSAT PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN (PPPPTK) MATEMATIKA 2013 1 Abstrak

Lebih terperinci

Penulis: Penilai: Editor: Ilustrator: Dra. Supinah. Drs. Markaban, M.Si. Hanan Windro Sasongko, S.Si. Fadjar Noer Hidayat, S.Si., M.Ed.

Penulis: Penilai: Editor: Ilustrator: Dra. Supinah. Drs. Markaban, M.Si. Hanan Windro Sasongko, S.Si. Fadjar Noer Hidayat, S.Si., M.Ed. PAKET FASILITASI PEMBERDAYAAN KKG/MGMP MATEMATIKA Penyusunan Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Matematika SD dalam Rangka Pengembangan KTSP Penulis: Dra. Supinah Penilai: Drs. Markaban,

Lebih terperinci

PENERAPAN TEKNIK CATATAN TULIS DAN SUSUN DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATERI POKOK BUNYI DI SMP NEGERI 1 MOJOKERTO

PENERAPAN TEKNIK CATATAN TULIS DAN SUSUN DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATERI POKOK BUNYI DI SMP NEGERI 1 MOJOKERTO PENERAPAN TEKNIK CATATAN TULIS DAN SUSUN DALAM PEMBELAJARAN QUANTUM TEACHING PADA MATERI POKOK BUNYI DI SMP NEGERI 1 MOJOKERTO Retno Wandhira dan Madewi Mulyanratna Jurusan Fisika, Universitas Negeri Surabaya

Lebih terperinci

KEJUARAAN BULUTANGKIS DJARUM SIRKUIT NASIONAL BALI OPEN 5 10 NOPEMBER 2012

KEJUARAAN BULUTANGKIS DJARUM SIRKUIT NASIONAL BALI OPEN 5 10 NOPEMBER 2012 KEJUARAAN BULUTANGKIS DJARUM SIRKUIT NASIONAL BALI OPEN 5 10 NOPEMBER 2012 ( RANKING POINT ) 1. NAMA KEJUARAAN : DJARUM SIRKUIT NASIONAL BALI OPEN 2012 2. PELAKSANAAN a. Waktu : Tanggal 5 10 Nopember 2012

Lebih terperinci

3.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendayagunaan konteks dalam

3.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendayagunaan konteks dalam 29 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Pendekatan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pendayagunaan konteks dalam tindak tutur anak usia tujuh tahun. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian

Lebih terperinci

Lakukan gerakan pemanasan dengan tertib! Setelah melakukan gerakan pemanasan, berlarilah secara bersama-sama mengelilingi lapangan!

Lakukan gerakan pemanasan dengan tertib! Setelah melakukan gerakan pemanasan, berlarilah secara bersama-sama mengelilingi lapangan! Lakukan gerakan pemanasan dengan tertib! Setelah melakukan gerakan pemanasan, berlarilah secara bersama-sama mengelilingi lapangan! Ayo menulis dengan percaya diri! Tulislah aturan yang berlaku ketika

Lebih terperinci

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SEPAK MULA MELALUI MODIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI GAMBIRSARI SURAKARTA

UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SEPAK MULA MELALUI MODIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI GAMBIRSARI SURAKARTA UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SEPAK MULA MELALUI MODIFIKASI MEDIA PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI GAMBIRSARI SURAKARTA Zusuf Awaludin Fajri Prodi Pendidikan Jasmani, Kesehatan

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 SULIKAH A54F100042

NASKAH PUBLIKASI. Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Guna Mencapai Derajat Sarjana S-1 SULIKAH A54F100042 PENINGKATAN KEMAMPUAN MENGERJAKAN OPERASI HITUNG PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DAN MEDIA POTONGAN LIDI PADA SISWA KELAS 1 SEMESTER 2 SD NEGERI 2 SEDAYU TAHUN 2013/2014 NASKAH

Lebih terperinci

BIMBINGAN BELAJAR 4/6/6

BIMBINGAN BELAJAR 4/6/6 BIMBINGAN BELAJAR OLEH : SETIAWATI UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA 2008 4/6/6 Bimbingan Belajar Proses layanan bantuan kepada individu (mahasiswa) agar memiliki sikap dan kebiasaan belajar yang positif,

Lebih terperinci

PETUNJUK PENDAFTARAN MASUK SMA KANISIUS TAHUN PELAJARAN 2015-2016

PETUNJUK PENDAFTARAN MASUK SMA KANISIUS TAHUN PELAJARAN 2015-2016 SMA KANISIUS Jl. Menteng Raya 64, Kotak Pos 3810 Telepon 021-31936464, Fax. 021-3147987 Jakarta 10340. Web Site: www.kanisius.edu Email: adm-sma@kanisius.edu SMA Tidak diperjualbelikan dan bisa diunduh

Lebih terperinci

Kata kunci : penggunaan media, gambar seri, peningkatan kemampuan, karangan sederhana.

Kata kunci : penggunaan media, gambar seri, peningkatan kemampuan, karangan sederhana. PENGGUNAAN MEDIA GAMBAR SERI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN SEDERHANA SISWA KELAS III SDK RANGGA KECAMATAN LEMBOR KABUPATEN MANGGARAI BARAT Herman Yoseph Tagur SDK Rangga Lembor Manggarai

Lebih terperinci

PROSEDUR OPERASI STANDAR (POS) PESERTA TES di PLTI

PROSEDUR OPERASI STANDAR (POS) PESERTA TES di PLTI PROSEDUR OPERASI STANDAR (POS) PESERTA TES di PLTI Pusat Layanan Tes Indonesia (PLTI) merupakan Lembaga penyelenggara Test of English Proficiency yang disingkat TOEP dengan TEFLIN sebagai penanggung jawab

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran matematika. Permasalahan ini relevan dengan bukti empiris yang. membaca atau mengerjakan soal-soal yang ada di dalamnya.

BAB I PENDAHULUAN. pelajaran matematika. Permasalahan ini relevan dengan bukti empiris yang. membaca atau mengerjakan soal-soal yang ada di dalamnya. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kurang maksimalnya pemanfaatan media merupakan salah satu dari sekian banyak masalah dalam pembelajaran di sekolah termasuk pada mata pelajaran matematika. Permasalahan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN Secara umum metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapat data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Dalam metodologi penelitian harus didasarkan pada ciri-ciri

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga

II. TINJAUAN PUSTAKA. Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga 9 II. TINJAUAN PUSTAKA A. Model Pembelajaran Examples Non Examples Pembelajaran kooperatif merupakan pemanfaatan kelompok kecil dua hingga lima orang dalam pembelajaran yang memungkinkan siswa bekerja

Lebih terperinci