MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------"

Transkripsi

1 Nomor : 058; 059; 060; 061; /PUU-II/2004 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH MENDENGARKAN KETERANGAN PEMERINTAH, DPR RI DAN AHLI PERKARA NOMOR: 058/PUU-II/ /PUU-II/ /PUU-II/ /PUU-II/2004 PENGUJIAN UU NO. 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR TERHADAP UUD 1945 SELASA, 1 FEBRUARI 2005 JAKARTA 2005

2 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH MENDENGARKAN KETERANGAN PEMERINTAH DPR RI DAN AHLI PERKARA NOMOR: 058/PUU-II/ /PUU-II/ /PUU-II/ /PUU-II/2004 PENGUJIAN UU NO. 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR TERHADAP UUD 1945 KETERANGAN 1. H a r i : Selasa 2. Tanggal : 1 Februari Waktu : WIB 4. Tempat : Ruang Sidang Mahkamah Konstitusi Jl. Medan Merdeka Barat No. 7 Jakarta Pusat 5. Susunan Persidangan : 0Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. ( K e t u a ) 1H. ACHMAD ROESTANDI, S.H. ( Anggota ) 2Prof. H. A. SYARIFUDDIN NATABAYA, S. H., LLM. ( Anggota ) 3Dr. HARJONO, S. H., MCL. ( Anggota ) 4I DEWA GEDE PALGUNA, S. H., MH. ( Anggota ) 5Prof. H. A. MUKTHIE FADJAR, S.H. ( Anggota ) 6MARUARAR SIAHAAN, S.H. ( Anggota ) 6. Pemohon : Johnson Pandjaitan, Dkk. Munarman, S.H. Sutha Widhya 7. Panitera Pengganti : Jara Lumban Raja. S.H., MH. Ira Zuchriah, S.H. 9. Acara : Mendengarkan Keterangan Pemerintah, DPR dan Ahli 2

3 JALANNYA SIDANG SIDANG DIBUKA PUKUL WIB 1. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Baik, Saudara-saudara, Sidang Mahkamah Konstitusi untuk Perkara Pengujian Undang-undang Sumber Daya Air, dengan ini, saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum. KETUK 1 X Assalamu alaikum wr.wb. Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita bersama. Atas nama Mahkamah Konstitusi, pertama saya ucapkan selamat datang pada semua pihak yang hadir pada kesempatan sidang hari ini. Sebelum kita mulai, saya persilakan dulu dari Pemohon untuk memperkenalkan diri. Saya persilakan siapa saja yang hadir. 2. PEMOHON ULI PARULIAN SIHOMBING, S.H. Selamat pagi. Terima kasih, Majelis Hakim yang mulia. Nama saya Uli Parulian Sihombing. Saya Kuasa Hukum Pemohon Nomor 058, 059, dan 060 dari LBH Jakarta. Terima kasih. 3. PEMOHON SYAMSUL BAHRI Assalamu alaikum wr.wb. Selamat pagi, Majelis Hakim yang mulia. Saya Syamsul Bahri dari Kuasa Hukum Perkara Nomor 058. Terima kasih. 4. PEMOHON DEDE NURDIN SADAD Terima kasih, Majelis Hakim yang mulia. Saya Dede Nurdin Sadad sebagai kuasa hukum dari Pemohon Nomor 058, 059, 060, terima kasih. 5. PEMOHON ISNA HERTATI Assalamu alaikum wr.wb. Selamat pagi, Majelis Hakim yang Berhormat. Saya Isna Hertati, Kuasa Hukum Nomor 059,

4 6. PEMOHON J. J. AMSTRONG SEMBIRING, S.H. Terima kasih, Majelis Hakim Konstitusi. Saya Amstrong Sembiring Kuasa Pemohon Nomor 063. Terima kasih. 7. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Baik, saya lanjutkan. Saya persilakan sekarang dari Dewan Perwakilan Rakyat. Silakan. 8. DPRRI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Terima kasih yang Berhormat Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi. Assalamu alaikum wr.wb. Selamat pagi dan salam sejahtera buat kita semuanya. Perkenankanlah saya untuk menyampaikan ada 10 orang wakil dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Pada pagi hari ini, hadir 5 orang. Saya sendiri A. Teras Narang anggota A.397. Kemudian Ibu Nursyahbani Katjasungkana, S.H.. Kemudian, Bapak Drs. Darul Siska anggota A.43. Kemudian, Bapak Drs. H. Ahmad. Muqqoam anggota A. 41 dan berikutnya Bapak Ir. H. Erman Suparno, MBA., M. Si. anggota A Demikian, yang hadir pada pagi hari ini. Terima kasih. 9. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Terima kasih. Silakan dari Bapak Menteri (Pemerintah). Silakan. 10. PEMERINTAH DJOKO KIRMANTO (MENTERI PU) Assalamu alaikum wr.wb. Bapak Ketua dan anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang mulia. Saya datang ke sini atas nama Pemerintah. Nama saya Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Bersama saya datang Saudara DR. Basuki (Direktur Jenderal Sumber Daya Air) dan bersama saya juga, Saudara DR. Rustam Syarif (Kepala Badan Litbang Departemen Pekerjaan Umum). Terima kasih. 11. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Yang belakang? 4

5 12. PEMERINTAH DJOKO KIRMANTO (MENTERI PU) Yang belakang adalah tim Departemen Pekerjaan Umum yang terdiri daripada para Direktur dan para Kepala Biro. Terima kasih. 13. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Dari Departemen Hukum ada juga, ya? Ada ya? Baik, sebagaimana diketahui di dalam sidang hari ini, kalau sidang yang lalu kita sudah mendengarkan keterangan Ahli yang diajukan oleh pihak Pemohon, antara lain ada Ahli Charles Santiago yang seperti orang Padang, tapi dia orang Malaysia. Kemudian, ada lagi Anna Mae dari Philipina. Kemudian hari ini juga, Pemohon akan mengajukan Ahli lain yang nanti akan diperkenalkan. Di samping itu, sidang kali ini juga, kita akan mendengarkan selain keterangan Pemerintah, keterangan Dewan Perwakilan Rakyat, juga akan mendengarkan keterangan dari calon Ahli yang diajukan oleh Pemerintah. Sudah siap ini. Saya persilakan dulu untuk memperkenalkan diri satu-satu, begitu. Silakan, Bapak mulai dari apa? Sebelah sini? Silakan. 14. AHLI PEMERINTAH Ir. SAIFUL MAHDI (PRAKTISI KONSULTAN) Terima kasih. Assalamu alaikum wr.wb. Bapak Ketua dan anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang mulia. Nama saya Syaiful Mahdi (Praktisi Konsultan Sumber Daya Air dan Pengairan) yang diundang oleh Departemen Pekerjaan Umum sebagai Ahli. Terima kasih. 15. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Lanjut. 16. AHLI PEMERINTAH Dr. SRI ADININGSIH (UGM) Terima kasih, yang Berhormat Bapak Ketua Mahkamah Konstitusi. Saya, pada kesempatan kali ini, diminta oleh Departemen Pekerjaan Umum untuk menjadi Ahli dalam kasus yang sekarang ini digelar. Terima kasih. Mohon maaf, nama saya Sri Adiningsih dari Fakultas Ekonomi UGM. 17. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Ya, saya baru mau menyebut itu karena sudah terkenal. Jadi, silakan. 5

6 18. AHLI PEMERINTAH Dr. AGUS PAKPAHAN (APU) Terima kasih Yang Mulia Majelis Hakim Konstitusi. Nama saya Agus Pakpahan, dalam kesempatan ini, saya diminta untuk menjadi Ahli dalam bidang Sumber Daya Air khususnya dari kacamata Konstitusi. Terima kasih. 19. AHLI PEMERINTAH Prof. Dr. Ir. SUJARWADI (UGM) Bapak Ketua dan anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang mulia. Saya Sudjarwadi dari Universitas Gajah Mada diundang dalam kapasitas sebagai Ahli bidang Hidrologi dan Sumber Daya Air. 20. AHLI PEMERINTAH THEODORE SARDJITO, S.H.(UI) Yang Berhormat Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi beserta anggota. Saya Theodore Sardjito staff pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia diminta menjadi Ahli di bidang Hukum Adat dalam perkara yang sedang berlangsung. Terima kasih. 21. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Baik, kalau begitu sudah lengkap ini calon Ahlinya. Nanti akan kami minta Saudara calon Ahli sebelum memberikan keterangan menurut keahlian Saudara masing-masing, untuk diambil sumpah. Akan tetapi sebelum itu, biar kami beri kesempatan kepada Dewan Perwakilan Rakyat resmi dan Pemerintah untuk menyampaikan keterangan dulu. Jadi, nanti ya. Sementara itu, calon Ahli yang masih ada satu lagi yang diajukan oleh Pemohon, siapa orangnya? Silakan diperkenalkan. 22. AHLI PEMOHON WIJANTO HADIPURO (UNIKA SURYOPRANOTO) Selamat pagi, Majelis Hakim. Nama saya Wijanto Hadipuro saya staf pengajar dan peneliti di Unika Suryopranoto Semarang. 23. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Baik, silakan. Nanti pada saatnya diberi tempat, sedikit ke sebelah depan. Baik Saudara-saudara sekalian, terutama dari Dewan Perwakilan Rakyat dan juga Pemerintah dan para calon Ahli, kita sama mendengar, sudah sama membaca saya kira, pokok permohonan yang diajukan Pemohon. Namun, untuk komunikasinya biar lancar di dalam persidangan ini, saya ingin persilakan sekali lagi. Pendek saja, tidak usah semua. Satu di antara Pemohon, karena Pemohon ini banyak dan saya percaya sudah bisa satu di antaranya mewakili 6

7 untuk menyampaikan pokok-pokok permohonan yang Saudara ajukan untuk diperiksa oleh Mahkamah Konstitusi. Ini untuk memudahkan komunikasi saja. Untuk selanjutnya, nanti akan saya minta Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah, secara resmi memberikan keterangan sehubungan dengan permohonan Saudara. Saya persilakan, siapa? 24. DPR RI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Maaf sebelumnya, Bapak Ketua. Terima kasih. 25. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Ya. 26. DPR RI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Terima kasih. Sebagaimana diketahui, bahwa ada 4 permohonan yang diajukan, yaitu pertama Nomor 058. Kemudian kedua, Nomor 059 dan seterusnya. Kemudian ketiga, Nomor 060 dan seterusnya. Terakhir adalah Nomor 063 dan seterusnya. Yang menjadi pertanyaan bagi kami adalah diberikan kesempatan ini kepada 4 pokok perkara ini, nomor perkara ini atau hanya salah satu dari keempat ini? Terima kasih. 27. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Ini karena 3 di antaranya kuasanya sama, itu bisa diwakili. Pokokpokoknya saja, toh yang tertulis sudah dibaca. Jadi, itu bisa diwakili 1 kuasa. Sedangkan yang, nomor yang tersendiri, yang nomor berapa? Nomor 063, ya? Kalau begitu, bisa 2 orang jadi 1 mewakili 3 Pemohon karena kuasanya sama. Satu lagi, Nomor 063, itu biar sendiri pokok-pokok permohonannya tolong diulang. Saya persilakan yang Nomor 058, 059, dan 060 dahulu. Silakan. 28. PEMOHON ISNA HERTATI Mohon maaf Majelis Hakim, Perkara Nomor 058, 059, dan 060 memang sama dan pengacaranya sama, tapi secara substansi ada perbedaan. 29. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Ya, disampaikan saja biar tidak usah terlalu panjang pengantarnya. Saudara sampaikan karena kuasanya sama pokok-pokoknya. Pokok-pokoknya, artinya tidak usah diulangi semuanya, intinya saja. Silakan. 7

8 30. PEMOHON ISNA HERTATI Baik, saya hanya akan membacakan mengenai judicial review dari Perkara 059 dan 060 dari Walhi dan 15 lembaga serta 868 orang masyarakat yang tersebar di seluruh Republik Indonesia. LANDASAN HUKUM Sebagaimana landasan hukum yang di-judicial review itu adalah Pasal 51 ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Mahkamah Konstitusi. Secara formil alasan kami mengajukan judicial review adalah kami memandang bahwa secara material substansi atau prinsip yang terkandung dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air itu, kami menguji secara formil menyangkut landasan filosofis pembentukan undang-undangnya. Secara formil, yang kami ajukan adalah: Satu, privatisasi dan komersialisasi air dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 adalah merupakan upaya pelepasan tanggungjawab negara terhadap pengolahan hak masyarakat atas air yang kami lihat secara formil; Kedua, kami melihat bahwa keberadaan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 merupakan hasil intervensi dari pihak asing yang kami lihat adalah mengancam kedaulatan negara. Kami melihat bahwa Undang-undang Sumber Daya Air ini, merupakan bagian dari persyaratan pinjaman Bank Dunia untuk Program WATSALT sebesar 300 juta USD. secara substansi dalam Undangundang Sumber Daya Alam itu, pada kenyataannya kami juga melihat ada yang mengadopsi mentah-mentah kebijakan sektor air dari Bank Dunia. Instrument Water Right dan Water Management Policy dari Bank Dunia tahun 1993 itu diadopsi menjadi Instrumen Hak Guna dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Hak guna air menjadi dasar pengaturan air dalam Undang-undang Sumber Daya Air dan menjiwai sebagian besar pasal-pasal di dalam undangundang tersebut. Di dalam Pasal 45 ayat (3) itu, memberikan peluang bagi perseorangan dan badan hukum swasta asing untuk mengusahakan Sumber Daya Air yang menjadi hajat hidup rakyat Indonesia, karena sebelumnya Pemerintah juga telah menerbitkan Keputusan Presiden RI Nomor 96 Tahun 2000 dan perubahan lampiran 2 dan lampiran 3 dengan Kepres 118 Tahun 2000 pada lampiran 3 Kepres Nomor 118 Tahun 2000 itu menyebutkan, bahwa sektor pengolahan dan penyediaan air minum terbuka bagi kepemilikan modal asing hingga batas 95% mayoritas; Ketiga, kami memandang bahwa prosedur pengesahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air itu bertentangan dengan Pasal 20 ayat (1) Undang Undang Dasar 1945 juncto Pasal 26 ayat (1) dan (2) Undang-undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD juncto Keputusan DPR RI 8

9 Nomor 03A DPR RI /I/ tentang Peraturan Tata Tertib DPR RI. Kami melihat, bahwa keputusan dalam sidang Paripurna DPR tanggal 19 Pebruari itu diambil secara mufakat, padahal dalam fakta dan kenyataannya adalah terdapat beberapa Fraksi dan Anggota DPR yang menolak pengesahan RUU Sumber Daya Air ini. Ada terjadi keberatan dan penolakan dari RUU tersebut, namun Pimpinan Sidang Paripurna memaksakan pengesahan RUU ini secara mufakat. Keputusan tersebut mendorong beberapa anggota DPR menyatakan meninggalkan ruangan atau walk out sebelum RUU tersebut disahkan. Kami melihat, bahwa berdasarkan Pasal 192 Peraturan Tata Tertib DPR RI dinyatakan bahwa Keputusan berdasarkan mufakat adalah sah, apabila diambil dalam rapat yang dihadiri oleh anggota dan unsur fraksi, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 189 ayat (1) dan disetujui oleh semua yang hadir. Selanjutnya dalam Pasal 193 Peraturan Tata Tertib DPR RI dinyatakan bahwa Keputusan berdasarkan suara terbanyak diambil, apabila keputusan berdasarkan mufakat sudah tidak terpenuhi, karena adanya pendirian sebagian anggota rapat yang tidak dapat dipertemukan lagi dengan pendirian anggota rapat yang lain. Dengan demikian, tindakan Pimpinan Sidang Paripurna yang tetap memaksakan pengambilan suara dengan mufakat dan tidak dengan suara terbanyak, padahal ada beda pendirian antara anggota rapat Paripurna merupakan pelanggaran terhadap Pasal 192 Juncto Pasal 193 Peraturan Tata Tertib DPR tersebut. Secara Materil kami melihat bahwa Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 itu bertentangan dengan Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945, karena secara Materil, substansi, prinsip-prinsip dalam Undang-undang Sumber Daya Air itu kami lihat mengandung muatan privatisasi atas penyediaan air minum, pengelolahan Sumber Daya Air dan Irigasi Pertanian. Itu dapat dilihat dalam Pasal 40 dan Pasal 41 dan Pasal 45 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Pasal 40 itu kami lihat adalah memberikan peluang kepada swasta untuk berperan serta dalam penyelenggaraan sistem air minum. 31. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Cukup? 32. PEMOHON ISNA HERTATI Ada lagi yang kedua Pak. 33. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Tidak perlu terlalu mendetail ya, pokok-pokoknya saja, seperti tadi saya kemukakan, yang tertulis sudah dibaca, jadi tidak perlu terlalu mendetail. 34. PEMOHON ISNA HERTATI Pokok-pokok substansi itu ada 3 yang kami lihat terhadap Undangundang ini, yaitu undang-undang ini mengandung muatan privatisasi atas penyediaan air minum, pengelolahan Sumber Daya Air dan irigasi pertanian. 9

10 Yang kedua, kami melihat bahwa Undang-undang Sumber Daya Air ini mengandung muatan penguasaan dan Monopoli sumber-sumber air oleh swasta, itu dapat dilihat dalam Pasal 6, Pasal 9, Pasal 26, Pasal 45, Pasal 46 dan Pasal 80 Undang-undang Sumber Daya Air Tahun Kemudian yang ketiga, kami melihat bahwa Undang-undang Sumber Daya Air ini mengandung muatan penggunaan air bagi kepentingan komersial, itu bisa dilihat dari Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9 dan Pasal 10 Undang-undang Nomor 7 Tahun Terhadap keberatan ini kami menuntut agar Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, memeriksa dan memutus Permohonan ini untuk menerima dan mengabulkan Permohonan daripada Pemohon untuk seluruhnya dan menyatakan, bahwa Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tidak mempuyai kekutan hukum mengikat. Demikian, terima kasih. 35. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Baik satu lagi, tambahan barang kali, baik. 36. DPR RI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Maaf Pak Ketua, karena ini kami nanti akan diberikan kesempatan untuk memberikan keterangan, dan adalah wajar sekiranya kami dari Kuasa Institusi Lembaga Kenegaraan mempertanyakan berkenaan dengan tadi yang disampaikan. Pertama yang kami tanyakan adalah dalil yang menyatakan, bahwa Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 itu hasil intervensi dari pihak asing, satu yang ingin kami tanyakan, kemudian yang kedua, yang ingin kami tanyakan adalah berkenaan dengan kebijakan Bank Dunia diambil secara utuh, ini yang ingin kami pertanyakan dan kami ingin minta penjelasan melalui Yang Terhormat Majelis Mahkamah Konstitusi untuk Pemohon menjelaskan apa yang tadi disampaikan. Terima kasih. 37. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Baik supaya lancar ya, saya persilakan dulu Pemohon yang satu lagi menjelaskan, nanti kalau sudah lengkap begitu, boleh ini ditambah penjelasannya apa yang ditanyakan oleh Pak Teras Narang dari DPR. Walaupun sebenarnya ini dimaksudkan saya persilakan untuk menerangkan sekali lagi, untuk memudahkan pemeriksaan dalam persidangan ini. Nanti keterangan DPR, keterangan Pemerintah kami perlukan sebagai counter terhadap apa yang dimohon, biar nanti kami yang menilai begitu, tetapi tidak mengapa bahwa dari DPR mengajukan pertanyaaan itu, boleh juga dijawab. Tapi sebetulnya bagi kami tidak perlu seperti itu, meskipun tidak tertutup kemungkinan untuk ada tanya jawab semacam ini, tapi biar lancar saya persilakan dulu Pemohon satu lagi kalau kelompok ya, bagaimana? 38. DPR RI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Maaf Pak, ini perlu diklarifikasi itu dari kami, karena begini ini Majelis Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum adalah menjadi kewajiban kami 10

11 sebagai Kuasa dari Institusi Lembaga Negara yang salah satunya mempunyai tugas bersama-sama dengan Pemerintah membuat Undang-undang untuk meminta klarifikasi ini, sehingga kita tidak hanya didasarkan pada suatu statement-statement, tetapi bagi kami ini perlu satu kejelasan, karena ini dihadapan Yang Mulia Majelis Mahkamah Konstitusi, yang terbuka untuk umum. Terima kasih. 39. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. 40. PEMOHON Baik. Boleh ditambah, sebentar, boleh ditambah silakan. Menanggapi apa yang disampaikan oleh Pihak DPR, kami dari pihak Pemohon mempertanyakan kompetensi pertanyaan balik dari pihak DPR. Saya sependapat dengan pendapat dari Mejelis Hakim yang mulia, bahwa kompetensi dari pihak DPR dan pihak Pemerintah di sini berdasarkan Pasal 41 Undang-undang Mahkamah Konstitusi itu hanya memberikan penjelasan atau keterangan berdasarkan apa dan bagaimana proses undang-undang yang sedang kami ajukan. Terima kasih. 41. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Tapi tidak mengapa juga ya, DPR bertanya, nanti Saudara Pemohon juga bisa bertanya kepada Ahli dan sebagainya, tidak mengapa artinya untuk klarifikasi saja, bahwa nanti statement Saudara itu menyakinkan kami atau meyakinkan publik dengan bukti-bukti yang Saudara sampaikan itu soal lain ya, jadi itu bisa saja, coba saya minta Saudara dijelaskan apa tadi argumentnya, apa data-data yang Saudara pakai untuk sampai pada kesimpulan yang tadi disebut. Sedikit saja. Silakan. 42. PEMOHON P. RAJA SIREGAR Terima kasih Majelis Hakim. Sekalian saya memperkenalkan diri, saya P. Raja Siregar, Pemohon prinsipil Perkara Nomor 060. Di dalam dokumen permohonan yang kami ajukan kami juga telah menyampaikan kronologis dari pembuatan Undangundang ini, termasuk kontrak penandatanganan Warsal Tahun 1997 akhir atau 1998 dan kami juga menyebutkan di situ selain kondisionalitis atau prasyarat ketiga terbitnya undang-undang ini, kami juga menyebutkan prasyarat yang lain di awal 1998 ke 1999 yang menyusun kebijakan pengelolahan air, di mana di situ terlibat Bank Dunia, Bapenas, Kimpraswil dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang diminta untuk membantu. Saya pikir ini cukup menjadi penjelasan. Terima kasih. 11

12 43. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Baik, saya kira cukup ya klarifikasinya. Mungkin bisa saya tambahkan begini, keterangan Ahli dalam sidang yang lalu dari Malaysia Charles Santiago juga menerangkan berbagai data, fakta-fakta yang berkaitan, hubungan antara organisasi-organisasi Internasional dan lain-lain sebagainya, mirip seperti apa yang dia sampaikan itu, tetapi kami sendiri menerima itu sebagai data kami belum menilainya, belum bermusyawarah, belum sampai pada penilaian, kami baru menghimpun data-data dulu. Jadi, bahwa Pemohon punya statement semacam itu dengan argument yang secara lisan dia sampaikan dan juga ada data-data tertulisnya, belum kami nilai kalau dari pihak Pemerintah punya data lain, Dewan Perwakilan Rakyat juga demikian, justru itulah yang kami perlukan dalam persidangan ini. Jadi saya rasa klarifikasinya sudah cukup, begitu ya? 44. DPR RI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Ada satu lagi Pak. 45. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Apa satu lagi. 46. DPR RI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Mungkin dengan kalimat intervensi, karena ini kata mengundang sesuatu menghilangkan keindependenan dari Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah, karena kita tahu persis setiap pembuatan rancangan undang undang, itu ada proses penjaringan, kalau istilah kita sekarang jaring asmara, menjaring aspirasi dari masyarakat, jaring asmara ini bisa kita lakukan, baik terhadap masyarakat kita maupun negara asing. Yang kami tidak bisa menerima dan mohon ini dipertimbangkan oleh Majelis Hakim, kata interpensi, karena ini yang menurut hemat kami sebagai satu lembaga negara yang perlu memperoleh satu penjelasan melalui Yang Terhormat Majelis Hakim, kami mohon agar Pemohon mempertimbangkan untuk mencabut kata intervensi itu. Terima kasih. 47. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Baik, kami catat, dicatat keberatan dari Dewan Perwakilan Rakyat penggunaan istilah intervensi, tapi itu biar kami menilai nanti kalau Saudara ngotot mau menggunakan itu juga, ya hak Saudara, tapi ada keberatan dari Dewan Perwakilan Rakyat sebagai institusi penggunaan kata itu, itu dicatat saja. Selanjutnya saya persilakan Pemohon Nomor 063. Pokoknya saja jangan terlalu panjang. 48. PEMOHON J. J. AMSTRONG SEMBIRING, S.H. Terima kasih Majelis Hakim Konstitusi. 12

13 Kami dari Kuasa Hukum 063 mencermati mengenai Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004, kami menilai bahwa Undang-undang ini yang secara fundamental merekontruksi penggunaan dan penguasaan air, di mana air yang berhubungan dengan milik umum dan diperoleh secara bebas dikuasai oleh Negara diserahkan pada swasta dengan tujuan komersialisasi dan juga kami menilai, bahwa undang-undang ini mereduksi nilai sosial budaya, ekonomis dan religius di mana air hanya semata-mata menjadi nilai ekonomis semata. Di dalam uraian yang tadi kami sebutkan itu lebih lanjutnya mungkin kami apa yang dimaksud di dalam Undang-undang Nomor 7 ini ditegaskan pada Pasal 9, Pasal 26 ayat (7), Pasal 45 dan selain itu juga kami mencermati, bahwa dari sisi hakum masalah air adalah secara tegas dan secara eksplisit, bahwa ketentuan hukum dasar yaitu Pasal 33 mengenai masalah hak kesejahteraan sosial menyebutkan, bahwa Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. di dalam ayat satunya dan di dalam ayat duanya Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. demikian juga di dalam ayat (3) Bumi dan air kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Di mana di dalam Pasal 33 ini merupakan sebuah pelaksanaan mengenai hal yang sebagaimana dikeluarkan dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang perairan yang di dalam Bab 6, Pasal 11 salah satunya berbunyi bahwa Penguasaan air dan sumber-sumber air yang ditunjuk untuk meningkatkan kemanfaatannya bagi kesejahteraan rakyat pada dasarnya dilakukan oleh Pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Demikian juga mengenai ketentuan itu mengenai air itu ditegaskan di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air yang di dalam Pasal 13 ayat (1) secara eksplisit menyebutkan bahwa Air untuk keperluan minum merupakan prioritas utama di atas keperluan lain. Demikian juga halnya di dalam persoalan masalah penyertaan modal asing atau investasi asing di dalam pengelolaan air jelas-jelas telah bertentangan dengan sebagaimana yang telah diatur di dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing yang di dalam Pasal 6 ayat (1) menyebutkan bahwa, Bidang-bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal asing secara pengusahaan penuh ialah bidang-bidang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak, salah satunya air minum. Maka atas dasar dari ketentuan-ketentuan di atas, yang kami cermati dari sisi hukum, pasal air, kami menilai bahwa pihak asing dalam berinvestasi tentu tidak sesuai dengan amanat konstitusi Undang-Undang Dasar 1945, karena konstitusi juga telah menggariskan secara tegas, bahwa dasar demokrasi ekonomi Indonesia adalah kemakmuran bagi semua orang dan kemakmuran rakyatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang perorangan. Jadi, bahwasanya kami mencermati lagi, bahwasanya dalam hal lebih spesifiknya persoalan pengelolaan air minum dalam rangka pemenuhan kebutuhan hajat hidup orang banyak, itu seharusnya tidak bisa dapat dikelola secara komersial, akan tetapi harus mementingkan peran sosialnya dari sudut pengelolaan itu sendiri. Di mana, kami mencermati bahwa proses dalam hal ini, di Jakarta masalah kinerja swasta ya? Terutama dalam ini Palyja dan TPJ atau PAM Lyonnaise Jaya atau Thames PAM Jaya, itu selama kerjasama di tahun 13

14 , kurang lebih 6, 5 tahun, itu kami bisa menyebutkan salah satunya dari sisi aspek operasional masalah pelayanan, di mana KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Coba ya? Karena kita segera harus mendengar keterangan DPR dan Pemerintah resmi ya? Jadi yang Saudara minta ini, pasal berapa? Apa semuanya? Apanya yang bertentangan dengan konstitusi? Lalu, yang dimintanya itu, apa semuanya? Atau hanya satu, dua pasal? Bagaimana itu coba pokoknya saja. 50. PEMOHON J. J. AMSTRONG SEMBIRING, S.H. Ya, lebih singkatnya bahwa kami mencermati Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 ini bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dengan didasarkan juga dari kaitan dari upaya gugatan hukum kami pada kurang lebih setahun yang lalu. Bahwa kami ada menegaskan, bahwa di dalam poin-poin yang kami uraikan di dalam Posita itu, bahwa pada kenyataannya bahwa itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan itupun telah diakomodasi oleh Majelis Hakim pada saat itu. Ini kami bisa menyerahkan kepada Majelis Hakim Konstitusi nanti. 51. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Sudah ada di dalam tertulis, sudah ada di dalam berkas. Baik. 52. PEMOHON J. J. AMSTRONG SEMBIRING, S.H. Saya pikir demikian seperti ini. 53. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Jadi, Saudara minta semuanya? Pengujian materiil apa formiil yang Saudara ajukan? 54. PEMOHON J. J. AMSTRONG SEMBIRING, S.H. Pengujian materiil. 55. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Tapi semuanya, tidak ada yang benar ini, pasal-pasal ini, undangundang ini, semuanya, bertentangan semua? 56. PEMOHON J. J. AMSTRONG SEMBIRING, S.H. Tidak, ada tadi saya sebutkan tadi, hanya saya, kami mencermati di sini ada Pasal 9, Pasal 26 ayat (7), Pasal 45, Pasal

15 57. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Sudah tertulis, ya? Baik, cukup. Sekali lagi saya ingin ingatkan saya memberi kesempatan Saudara Pemohon menyampaikan lagi pokok-pokok permohonannya. Maksudnya untuk mengingatkan kita semuanya yang ada di ruangan, jadi bukan untuk mengulang cerita yang sudah ada tertulis dan bukan lagi untuk mengulang yang sudah disidangkan dalam sidang-sidang sebelumnya. Jadi, maka itu, pendek saja. Baik, Saudara-Saudara sekalian dari Dewan Perwakilan Rakyat maupun Saudara Menteri dari Pemerintah. Kita sudah mendengar duduk soalnya dan kemudian saya, kami juga percaya DPR dan Pemerintah juga sudah membaca dengan seksama pokok permohonan empat perkara ini, yang pemeriksaannya kita jadikan satu. Sekarang, saya persilakan siapa dulu? Saya kira DPR? Pemerintah dulu ya? Saya persilakan Pemerintah dulu untuk memberikan keterangan resmi mengenai permohonan ini. Silakan. 58. PEMERINTAH DJOKO KIRMANTO (MENTERI PU) Assalammu alaikum, Wr. Wb. Salam sejahtera buat kita semua. Yang saya hormati Ketua dan anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang mulia dan Saudara-saudara hadirin yang saya hormati. Berdasarkan surat panggilan Mahkamah Konstitusi Nomor 001/KA- MA/2005, untuk menghadiri Sidang Mahkamah Konstitusi 1 Februari 2005, atas permohonan: Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air terhadap Undang-Undang Dasar 1945, maka perkenankanlah kami, nama Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Bertindak untuk dan atas nama Presiden Republik Indonesia berdasarkan surat kuasa khusus dengan hak substitusi tanggal 31 Januari 2005 untuk mewakili Pemerintah Republik Indonesia, menyampaikan keterangan Pemerintah atas Permohonan Hak Uji Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Untuk menjawab permohonan para Pemohon yang terdaftar dalam Perkara Nomor 058 tanggal 18 Juni 2004, Nomor 059 tanggal 2 Juli 2004, Nomor 60 tanggal 8 September 2004, dan Nomor 063 tanggal 18 Agustus Semua keterangan lisan yang disampaikan Pemerintah pada sidang Mahkamah Konstitusi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keterangan Pemerintah secara tertulis. Dirangkum secara berurutan pasal perpasal, yang didahului dengan penjelasan umum, terkait dengan pendapat para Pemohon dan telah lebih dahulu disampaikan. Pertama-tama, perkenankanlah kami memberikan penjelasan umum yang mencakup latar belakang serta lingkup yang diatur oleh Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air sebagai berikut: 15

16 Latar belakang Konsepsi dasar Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dapat dirinci sebagai berikut; Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 menegaskan, bahwa tujuan Pemerintah Negara Indonesia adalah untuk melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Selanjutnya, Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan, Bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Ketersedian air ini, di berbagai daerah di Indonesia sudah semakin terbatas, sedangkan kebutuhan akan air terus meningkat, sehingga banyak terjadi ketidakseimbangan antara ketersedian dan kebutuhan air. Untuk itu, Sumber Daya Air wajib dikelola agar dapat tetap didayagunakan secara berkelanjutan. Agar pengelolaan Sumber Daya Air dapat dilaksanakan dengan baik untuk mengantisipasi permasalahan di atas, diperlukan instrumen hukum yang tegas yang menjadi landasan dalam pengelolaan Sumber Daya Air. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan yang mengatur hal-hal yang terakit dengan perlindungan, pengembangan, penggunaan dan pengendalian air yang telah menjadi dasar pengembangan Sumber Daya Air yang menjadi andil bagi perikehidupan ekonomi dan sosial masyarakat selama ini. Namun, dirasakan masih lebih menitikberatkan pada aspek pembangunan prasarana. Sementara itu, telah terjadi perkembangan berbagai masalah yang bersifat multi dimensi, yang pengaturannya belum seluruhnya terakomodasi dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Beberapa permasalahan yang dapat dirasakan semasa perjalanan pembangunan di bidang pengairan antara lain sebagai berikut: 0Upaya pendayagunaan lebih dominan dari pada konservasi; 铰 愂 噁 癓 0Belum terwujudnya keseimbangan antara pembangunan fisik dengan nonfisik dalam penanganan permasalahan air; 0Belum adanya aturan yang jelas untuk penyelesaian konflik antara sesama pengguna air; Pengusahaan air dan sumber air oleh berbagai kelompok masyarakat, termasuk pengusaha, semakin kurang terkendali yang menjurus pada pengabaian terhadap nilai sosial air dan sumber air; Ketimpangan antara kapasitas penyediaan air dan tuntutan kebutuhan akan air, telah menimbulkan berkembangnya nilai ekonomi terhadap air yang perlu di antisipasi, karena cenderung mengabaikan fungsi sosial air; Belum terselenggaranya koordinasi yang dapat mewujudkan pengelolaan Sumber Daya Air terpadu dan saling bersinergi; Adanya perubahan sistem administrasi Pemerintah yang bersifat sentralistik menjadi desentralistik yang juga mengakibatkan perubahan administrasi pengelolaan Sumber Daya Air; 16

17 Di samping itu, juga berkembang tuntutan dalam masyarakat: Agar ada pengakuan yang lebih nyata terhadap hak dasar manusia atas air, terkait dengan hak asasi manusia; Agar ada perlindungan pertanian rakyat dan masyarakat ekonomi lemah. Agar proses pengambilan keputusan dan penetapan kebijakan yang lebih transparan dan demokratis; Agar ada rambu-rambu hukum untuk mengantisipasi ekses perkembangan nilai ekonomis air yang semakin mengemuka. Perkembangan permasalahan serta tuntutan masyarakat tersebut telah menimbulkan paradigma baru dalam pengelolaan Sumber Daya Air yang antara lain adalah sebagai berikut: 0Pengelolaan secara menyeluruh dan terpadu; 1Perlindungan terhadap hak dasar manusia atas air; 2Keseimbangan antara pendayagunaan dengan konservasi; 3Keseimbangan antara penanganan secara fisik dan nonfisik; 4Keterlibatan pihak yang berkepentingan dalam pengeloaan Sumber Daya Air dalam spirit demokrasi dan pendekatan koordinasi; 5Mengadopsi prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan yang berdasarkan atas keselarasan antara fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi. Untuk mengantisipasi pergeseran paradigma tersebut, diperlukan instrumen hukum yang menjadi landasan dalam pengelolaan Sumber Daya Air ke depan sebagai pengganti undang-undang yang telah ada, yaitu Undangundang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Dalam kaitan dengan upaya penggantian undang-undang tersebut, telah disusun Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang didasarkan pada tiga dasar pemikiran, yaitu secara filosofis, yuridis dan sosiologis. Secara filosofis, air merupakan karunia Tuhan Yang Mahaesa, yang menjadi sumber kehidupan dan sumber penghidupan. Oleh karena itu, negara menjamin hak dasar setiap orang untuk mendapatkan air bagi pemenuhan kebutuhan pokok minimal sehari-hari, guna memenuhi kehidupannya yang sehat, bersih, dan produktif. Secara yuridis, Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Indonesia 1945 menyatakan, Bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesarbesar kemamuran yang rakyat. Sejalan dengan ketentuan itu, Undang-undang Nomor 7 tentang Sumber Daya Air menyatakan, Bahwa Sumber Daya Air dikuasai oleh negara dan dipergunakan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat. Pengertian dikuasai oleh negara adalah termasuk pengertian mengatur dan atau menyelenggarakan, membina dan mengawasi, terutama untuk memperbaiki dan meningkatkan pelayanan, sehingga Sumber Daya Air dapat digunakan secara adil dan berkelanjutan. Secara sosiologis, pengelolaan Sumber Daya Air harus memperhatikan fungsi sosial. Mengakomodasi semangat demokratisasi, desentralisasi, keterbukaan dalam tatatan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta mengakui hak ulayat masyarakat hukum adat. 17

18 Demikian pula penyelenggaraan pengelolaan Sumber Daya Air, perlu memperhatikan beberapa dasar pemikiran teknis, sesuai dengan dengan sifat alami air, yaitu: 1. Air merupakan sumber daya yang terbarukan, yang keterdapatannya tunduk kepada siklus alami yang disebut dengan siklus hidrologi. Pada saat-saat tertentu, air berlimpah, bahkan sangat berlebihan dan ada pula saat kekeringan, sehingga perlu adanya keterpaduan antara pengelolaan banjir dan kekeringan; 2. Air secara alami jumlahnya tetap, tetapi keterdapatannya di masing-masing tempat berbeda-beda, sesuai dengan kondisi alam setempat. Ada wilayahwilayah yang secara alami kaya air dan ada pula wilayah yang kekurangan air, sehingga diperlukan pengelolaan air antara wilayah hidrologi; 3. Ketersediaan air permukaan dan air tanah saling berpengaruh satu sama lain, karena itu pengelolaan keduanya perlu dipadukan; 4. Air merupakan sumber daya yang mengalir secara dinamis tanpa mengenal batas wilayah administrasi pemerintahan dan negara, karenanya basis wilayah pengelolaannya harus berlandaskan pada wilayah hidrologis dengan tetap memperhatikan keberadaan wilayah administratif. Karena itu, perumusan kebijakan, pola dan rencana pengelolaan Sumber Daya Air, perlu melibatkan wilayah-wilayah administrasi yang terkait, agar dicapai kesepakatan dalam penerapannya. Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, maka Sumber Daya Air perlu dikelola menurut asas sebagai berikut: 0Asas Kelestarian. Mengandung pengertian bahwa pendayagunaan Sumber Daya Air diselenggarakan dengan menjaga kelestarian fungsi Sumber Daya Air secara berkelanjutan; 1Asas Keseimbanga. Mengandung pengertian untuk senantiasa menempatkan fungsi sosial, fungsi lingkungan, hidup dan fungsi ekonomi secara harmonis; 2Asas Kemanfaatan Umum. Mengadung pengertian bahwa pengelolaan Sumber Daya Air dilaksanakan untuk memeberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kepentingan umum secara efektif dan efisien. 3Asas Keterpaduan dan Keserasian. Mengandung pengertian, bahwa pengelolaan Sumber Daya Air dilakukan secara terpadu dalam mewujudkan keserasian untuk berbagai kepentingan dengan memperhatikan sifat alami air yang dinamis. 4Asas Keadilan. Mengandung pengertian, bahwa pengelolaan Sumber Daya Air dilakukan secara merata ke seluruh lapisan masyarakat di wilayah tanah air sehingga setiap warga negara berhak memperoleh kesempatan yang sama untuk berperan dan menikmati hasilnya secara nyata, dengan tetap memberikan perlindungan kepada lapisan masyarakat yang tingkat ekonominya kekurangan. 5Asas Kemandirian. Mengandung pengertian, bahwa pengelolaan Sumber Daya Air dilakukan dengan memperhatikan kemampuan dan keunggulan norma dan sumber daya setempat. 18

19 6Asas Transparansi dan Akuntabilitas. Mengandung pengertian, bahwa pengelolaan Sumber Daya Air dilakukan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawaban. Dengan asas-asas tersebut, Sumber Daya Air perlu dikelola secara menyeluruh, terpadu, dan berwawasan lingkungan dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan Sumber Daya Air yang berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Lingkup yang diatur oleh undang-undang dalam mewujudkan kemanfaatan Sumber Daya Air yang berkelanjutan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dan memperhatikan dasar pemikiran serta asas-asas yang telah diuraikan yang di atas, Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air disusun dengan substansi pengaturan yang mencakup antara lain sebagai berikut: 1. Konserfasi Sumber Daya Air; 2. Pendayagunaan Sumber Daya Air; 3. Pengendalian daya rusak air; 4. Memberdayaan dan peningkatan peran masyarakat; 5. Peningkatan ketersediaan dan keterbukaan data serta informasi Sumber Daya Air; 6. Proses pengelolaan yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, konstruksi, serta operasi, dan pemeliharaan. Ketua dan anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang kami hormati, selanjutnya perkenankanlah kami menyampaikan uraian atas beberapa substansi penting dalam Undang-undang Nomor 7 tentang Sumber Daya Air, yaitu: (1) Keberpihakan kepada kepentingan rakyat banyak. (2) Peran masyarakat. (3) Hak guna air. (4) Pengembangan sistem penyediaan air minum. (5) Pengembangan sistem irigrasi, dan (5) Pengusahaan, sebagai berikut: 1. Keberpihakan kepada kepentingan rakyat banyak. Undang-undang Nomor 7 tentang Sumber Daya Air secara signifikan memberikan pelindungan terhadap kebutuhan pokok sehari-hari akan air, terutama kepada kelompok masyarakat ekonomi lemah serta kepentingan masyarakat petani. Hal tersebut, dapat dilihat pada cuplikan beberapa pasal ataupun ayat, diantaranya sebagai berikut: Negara menjamin hak setiap orang, untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimum sehari-hari, guna memenuhi kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif, seperti yang tertulis pada Pasal 5; Sumber daya air dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. (Dijelaskan dalam Pasal 6 ayat (1)); Hak guna air digunakan tanpa izin untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari bagi perseorangan dan bagi pertanian rakyat yang berada di dalam sistem irigrasi yang sudah ada. (Dijelaskan dalam Pasal 8 ayat (1)); Pemerintah dan kabupaten kota berwenang dan bertanggungjawab memenuhi kebutuhan pokok minimal sehari-hari atas air bagi masyarakat di wilayahnya. (Disebutkan dalam Pasal 16 huruf h); Pendayagunaan Sumber Daya Air ditujukan untuk memanfaatkan Sumber Daya Air secara berkelanjutan dengan mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok kehidupan masyarakat secara adil. (Ini dijelaskan dalam Pasal 26 ayat (2)); 19

20 Penetapan peruntukan air pada sumber air di setiap wilayah sungai dilakukan antara lain dengan memperhatikan pemanfaatan yang sudah ada. (Ini disebutkan dalam Pasal 28 ayat (1) huruf d); Penyediaan air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan irigrasi bagi pertanian dan rakyat dalam sistem irigrasi yang sudah ada merupakan prioritas utama penyediaan Sumber Daya Air di atas semua kebutuhan. (Ini disebutkan dalam Pasal 29 ayat (3)); Apabila penetapan urutan prioritas penyediaan Sumber Daya Air menimbulkan kerugian bagi pemakai Sumber Daya Air, Pemerintah atau Pemerintah Daerah wajib mengatur kompensasi kepada pemakainya. (Ini diatur dalam Pasal 29 ayat (5)); Pengembangan sistem penyediaan air minum menjadi tanggungjawab ke Pemerintah dan Pemerintah Daerah. (Ini disebutkan dalam Pasal 40 ayat (2)); Pengguna Sumber Daya Air untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan untuk pertanian rakyat tidak dibebani biaya jasa pengelolaan Sumber Daya Air. (Ini disebutkan dalam Pasal 80 ayat (1)); Masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk berperan dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan terhadap pengelolaan Sumber Daya Air. (Disebutkan dalam Pasal 84 ayat (1)); Masyarakat yang dirugikan akibat berbagai masalah pengelolaan Sumber Daya Air berhak mengajukan gugatan perwakilan ke pengadilan. (Ini disebut dalam Pasal 90). 2. Peran Masyarakat. Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air juga memberi peran dan hak kepada masyarakat untuk melindungi dan mempertahankan haknya dalam berbagai hal yang terkait dengan pengelolaan Sumber Daya Air. Hal tersebut dapat di lihat ada beberapa Pasal maupun ayat yakni: 铰 0Pengembangan sistem irigrasi primer dan sekunder menjadi wewenang dan tanggungjawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah dan dilakukan dengan mengikutsertakan masyarakat. Ini disebutkan dalam Pasal 41 ayat (2) dan ayat (4) 铰 apengembangan jaringan irigrasi primer dan sekunder dapat dilakukan oleh perkumpulan petani pemakai air atau pihak lain sesuai dengan kebutuhan dan kemampuannya. Ini disebutkan dalam Pasal 41 ayat (5) 铰 bmasyarakat berhak menyatakan keberatan terhadap rancangan rencana pengelolaan Sumber Daya Air yang sudah diumumkan dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kondisi setempat. Ini disebutkan Pasal 62 ayat (3) 铰 cmasyarakat ikut berperan dalam pelaksanaan operasi dan pemeliharaan Sumber Daya Air. Pasal 64 ayat (5) 铰 dpelaksanaan operasi dan pemeliharaan sistem irigrasi primer dan sekunder menjadi tanggungjawab Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya. Sedangkan pelaksanaan operasi dan pemeliharaan sistem irigrasi tersier, menjadi hak dan tanggungjawab masyarakat petani pemakai air, yaitu dalam Pasal 64 ayat (6) 铰 eperan masyarakat dalam pengawasan dilakukan dengan menyampaikan laporan dan atau pengaduan kepada pihak yang berwenang. Sedangkan instansi Pemerintah yang bertanggungjawab di bidang Sumber Daya Air, bertindak untuk kepentingan masyarakat 20

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 27/PUU-VII/2009

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 27/PUU-VII/2009 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 27/PUU-VII/2009 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 23/PUU-V/2007

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 23/PUU-V/2007 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 23/PUU-V/2007 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

P U T U S A N. Perkara Nomor 007/PUU-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia

P U T U S A N. Perkara Nomor 007/PUU-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia P U T U S A N Perkara Nomor 007/PUU-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Nomor : 070 / PUU-II/2004 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA -------------------------- RISALAH PANEL HAKIM PEMERIKSAAN BUKTI TERTULIS PERKARA NOMOR 070/PUU-II/2004 PENGUJIAN UU NO. 26 TAHUN 2004 PASAL

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NO. 024/PUU-IV/2006

RISALAH SIDANG PERKARA NO. 024/PUU-IV/2006 irvanag MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NO. 024/PUU-IV/2006 PERIHAL PENGUJIAN UU NO. 12 TAHUN 2003 TENTANG PEMILU ANGGOTA DPR, DPD DAN DPRD, UU NO. 23

Lebih terperinci

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 008/PUU-III/2005 (Perbaikan I Tgl. 31 Maret 2005)

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 008/PUU-III/2005 (Perbaikan I Tgl. 31 Maret 2005) RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 008/PUU-III/2005 (Perbaikan I Tgl. 31 Maret 2005) I. PEMOHON/KUASA Suyanto, dkk Kuasa Hukum: Bambang Widjojanto, SH., LLM, dkk II. PENGUJIAN UNDANG-UNDANG UU No. 7 Tahun

Lebih terperinci

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 059/PUU-II/2004

RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 059/PUU-II/2004 RESUME PERMOHONAN PERKARA Nomor 059/PUU-II/2004 I. PARA PEMOHON Longgena Ginting (WALHI), Hendardi (PBHI), Gatot Sulistoni (Somasi NTB), dkk Kuasa Hukum: Johnson Panjaitan, S.H, dkk II. PENGUJIAN UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

PUTUSAN Perkara Nomor : 051/PHPU.A-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia

PUTUSAN Perkara Nomor : 051/PHPU.A-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia PUTUSAN Perkara Nomor : 051/PHPU.A-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 7/PUU-V/2007

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 7/PUU-V/2007 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 7/PUU-V/2007 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA (KUHAP) TERHADAP UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARAN RAKYAT,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA ------- RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARAN RAKYAT,

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 27/PUU-VII/2009

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 27/PUU-VII/2009 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 27/PUU-VII/2009 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS

Lebih terperinci

PUTUSAN. Nomor 024/PUU-IV/2006 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN. Nomor 024/PUU-IV/2006 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PUTUSAN Nomor 024/PUU-IV/2006 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama dan

Lebih terperinci

PUTUSAN Perkara Nomor 007/PUU-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN Perkara Nomor 007/PUU-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PUTUSAN Perkara Nomor 007/PUU-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NO. 009/PUU-IV/2006 PERIHAL PENGUJIAN UU NO. 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT TERHADAP UUD 1945 ACARA PEMBACAAN PUTUSAN (III)

RISALAH SIDANG PERKARA NO. 009/PUU-IV/2006 PERIHAL PENGUJIAN UU NO. 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT TERHADAP UUD 1945 ACARA PEMBACAAN PUTUSAN (III) MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NO. 009/PUU-IV/2006 PERIHAL PENGUJIAN UU NO. 18 TAHUN 2003 TENTANG ADVOKAT TERHADAP UUD 1945 ACARA PEMBACAAN PUTUSAN

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NO. 028/PUU-IV/2006 DAN PERKARA 029/PUU-IV/2006

RISALAH SIDANG PERKARA NO. 028/PUU-IV/2006 DAN PERKARA 029/PUU-IV/2006 irvanag MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NO. 028/PUU-IV/2006 DAN PERKARA 029/PUU-IV/2006 PERIHAL PENGUJIAN UU NO. 39 TAHUN 2004 TENTANG PENEMPATAN DAN

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membuat UU. Sehubungan dengan judicial review, Maruarar Siahaan (2011:

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. membuat UU. Sehubungan dengan judicial review, Maruarar Siahaan (2011: 34 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Judicial Review Kewenangan Judicial review diberikan kepada lembaga yudikatif sebagai kontrol bagi kekuasaan legislatif dan eksekutif yang berfungsi membuat UU. Sehubungan

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 3/PUU-VIII/2010

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 3/PUU-VIII/2010 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 3/PUU-VIII/2010 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 27 TAHUN 2007 TENTANG PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR & PULAU-PULAU

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 123/PUU-XIII/2015

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 123/PUU-XIII/2015 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 123/PUU-XIII/2015 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 1981 TENTANG HUKUM ACARA PIDANA TERHADAP UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 139/PUU-XII/2014

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 139/PUU-XII/2014 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 139/PUU-XII/2014 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MAHAKAM ULU DI

Lebih terperinci

Pengujian Ketentuan Penghapusan Norma Dalam Undang-Undang Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya)

Pengujian Ketentuan Penghapusan Norma Dalam Undang-Undang Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya) Pengujian Ketentuan Penghapusan Norma Dalam Undang-Undang Oleh: Muchamad Ali Safa at (Dosen Fakultas Hukum Universitas Brawijaya) Pendahuluan Mahkamah Konstitusi memutus Perkara Nomor 122/PUU-VII/2009

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tanah adalah sumber daya alam terpenting bagi bangsa Indonesia untuk

BAB I PENDAHULUAN. Tanah adalah sumber daya alam terpenting bagi bangsa Indonesia untuk 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bumi, air, ruang angkasa beserta kekayaan alam yang terkandung di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan kekayaan nasional yang dikaruniakan

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 115/PUU-VII/2009

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 115/PUU-VII/2009 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 115/PUU-VII/2009 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NO. 85/PUU-XI/2013, TGL 18 FEBRUARI 2015.

KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NO. 85/PUU-XI/2013, TGL 18 FEBRUARI 2015. KEBIJAKAN PENGELOLAAN SDA PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NO. 85/PUU-XI/203, TGL 8 FEBRUARI 205. Definisi Sumber Daya Air dalam Legislasi SDA Air Air Hujan Air Permukaan Air Tanah Sumber Daya Air Sumber

Lebih terperinci

P U T U S A N Perkara Nomor : 019/PHPU.A-II/2004

P U T U S A N Perkara Nomor : 019/PHPU.A-II/2004 P U T U S A N Perkara Nomor : 019/PHPU.A-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada

Lebih terperinci

P U T U S A N. Perkara Nomor : 032/PHPU.A-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

P U T U S A N. Perkara Nomor : 032/PHPU.A-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA P U T U S A N Perkara Nomor : 032/PHPU.A-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 96/PUU-XIV/2016

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 96/PUU-XIV/2016 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 96/PUU-XIV/2016 PERIHAL PENGUJIAN PERPU NOMOR 51 TAHUN 1960 TENTANG LARANGAN PEMAKAIAN TANAH TANPA IZIN YANG BERHAK

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Nomor : 005/PUU-IV/2006 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PANEL PEMERIKSAAN PENDAHULUAN PERKARA NO. 005/PUU-IV/2006 MENGENAI PENGUJIAN UU NO. 22 TAHUN 2004 TENTANG

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 12/PUU-VI/2008

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 12/PUU-VI/2008 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 12/PUU-VI/2008 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 139/PUU-XII/2014

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 139/PUU-XII/2014 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 139/PUU-XII/2014 PERIHAL PENGUJIAN LAMPIRAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN MAHAKAM

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diwujudkan dengan adanya pemilihan umum yang telah diselenggarakan pada

BAB I PENDAHULUAN. diwujudkan dengan adanya pemilihan umum yang telah diselenggarakan pada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 pada Bab 1 pasal 1 dijelaskan bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum dan negara

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 106/PUU-XIII/2015

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 106/PUU-XIII/2015 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 106/PUU-XIII/2015 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 17 TAHUN 2014 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 33/PUU-X/2012

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 33/PUU-X/2012 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 33/PUU-X/2012 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 2002 TENTANG KEPOLISIAN TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN AIR PERMUKAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN AIR PERMUKAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT, PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN AIR PERMUKAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BANDUNG BARAT, Menimbang : a. bahwa air permukaan mempunyai peran

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 89/PUU-XII/2014

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 89/PUU-XII/2014 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA -------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 89/PUU-XII/2014 PERIHAL Pengujian Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2014 Tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 105/PUU-XIV/2016

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 105/PUU-XIV/2016 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 105/PUU-XIV/2016 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAKAMAH KONSTITUSI SEBAGAIMANA DIUBAH

Lebih terperinci

PEMBAHARUAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR

PEMBAHARUAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR PEMBAHARUAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR PERAN BUDAYA LOKAL DALAM MENUNJANG SUMBERDAYA AIR YANG BERKELANJUTAN Bali, 2 Oktober 2003 DITJEN SUMBERDAYA AIR KERANGKA PIKIR PERUBAHAN UU NO.11/1974 LATAR BELAKANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

- 1 - PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR

- 1 - PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR - 1 - PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 2 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR,

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 9/PUU-XIII/2015

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 9/PUU-XIII/2015 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 9/PUU-XIII/2015 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 2014 TENTANG APARATUR SIPIL NEGARA TERHADAP UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

P U T U S A N. Perkara Nomor 055/PUU-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia

P U T U S A N. Perkara Nomor 055/PUU-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia P U T U S A N Perkara Nomor 055/PUU-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara konstitusi pada tingkat

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 4/PUU-VII/2009

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 4/PUU-VII/2009 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 4/PUU-VII/2009 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2008 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA

Lebih terperinci

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.207, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Hak Guna Air. Hak Guna Pakai. Hak Guna Usaha. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5578) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH

- 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH - 1 - PEMERINTAH DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROVINSI JAWA TIMUR NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 69/PUU-XIII/2015

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 69/PUU-XIII/2015 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 69/PUU-XIII/2015 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960 TENTANG PERATURAN DASAR POKOK-POKOK AGRARIA

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 26/PUU-VI/2008

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 26/PUU-VI/2008 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 26/PUU-VI/2008 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN

Lebih terperinci

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang I. PEMOHON Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dalam hal ini diwakili oleh Irman Gurman,

Lebih terperinci

DAFTAR INVENTARISASI MASALAH (DIM) PEMERINTAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

DAFTAR INVENTARISASI MASALAH (DIM) PEMERINTAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DAFTAR INVENTARISASI MASALAH (DIM) PEMERINTAH ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN Formatted: Left: 3,25 cm, Top: 1,59 cm, Bottom: 1,43 cm, Width: 35,56 cm, Height:

Lebih terperinci

MENURUT UUD Pihak TERMOHON I, TERMOHON II dan para Ahli yang kami hormati;

MENURUT UUD Pihak TERMOHON I, TERMOHON II dan para Ahli yang kami hormati; KETERANGAN PENUTUP (CLOSING STATEMENTS) PEMERINTAH DALAM PERMOHONAN SENGKETA KEWENANGAN LEMBAGA NEGARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DENGAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA DAN BADAN PEMERIKSA

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 89/PUU-XI/2013

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 89/PUU-XI/2013 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA -------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 89/PUU-XI/2013 PERIHAL Pengujian Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika [Pasal 111 ayat ( 2), Pasal 112 ayat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Perkara Nomor 70/PUU-XII/2014 Kewenangan Pengelolaan Hutan oleh Pemerintah Pusat

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Perkara Nomor 70/PUU-XII/2014 Kewenangan Pengelolaan Hutan oleh Pemerintah Pusat RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN Perkara Nomor 70/PUU-XII/2014 Kewenangan Pengelolaan Hutan oleh Pemerintah Pusat I. PEMOHON Assosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI) yang diwakili oleh Ir.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PEMERINTAH KABUPATEN LUWU TIMUR PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUWU TIMUR NOMOR 14 TAHUN 2010 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI LUWU TIMUR, Menimbang : a. bahwa irigasi mempunyai peranan

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 56/PUU-XII/2014

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 56/PUU-XII/2014 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA -------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 56/PUU-XII/2014 PERIHAL Pengujian Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara [Pasal 119 dan Pasal

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2001 TENTANG I R I G A S I

PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2001 TENTANG I R I G A S I PENJELASAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 77 TAHUN 2001 TENTANG I R I G A S I UMUM Menyadari bahwa peran sektor pertanian dalam struktur dan perekonomian nasional sangat strategis dan

Lebih terperinci

P U T U S A N. Perkara Nomor :013/PHPU.A-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

P U T U S A N. Perkara Nomor :013/PHPU.A-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA P U T U S A N Perkara Nomor :013/PHPU.A-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 35/PUU-XII/2014

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 35/PUU-XII/2014 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 35/PUU-XII/2014 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 8 TAHUN 2012 TENTANG PEMILIHAN UMUM ANGGOTA DEWAN PERWAKILAN

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 91/PUU-XII/2014

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 91/PUU-XII/2014 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA -------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 91/PUU-XII/2014 PERIHAL Pengujian Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 tentang Perubahan atas Undang- Undang Nomor 14 Tahun

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 5/PUU-VIII/2010

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 5/PUU-VIII/2010 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 5/PUU-VIII/2010 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

Lebih terperinci

PROGRAM LEGISLASI NASIONAL TAHUN

PROGRAM LEGISLASI NASIONAL TAHUN PROGRAM LEGISLASI NASIONAL TAHUN 2010 2014 A. PENDAHULUAN Program Legislasi Nasional (Prolegnas) sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 137/PUU-XII/2014

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 137/PUU-XII/2014 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA -------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 137/PUU-XII/2014 PERIHAL Pengujian Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah

Lebih terperinci

Selasa, 7 Pebruari 2006

Selasa, 7 Pebruari 2006 LAPORAN KOMISI III DPR-RI DALAM RANGKA PEMBICARAAN TINGKAT II / PENGAMBILAN KEPUTUSAN ATAS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA PADA RAPAT PARIPURNA Assalamu alaikum

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 48/PUU-VI/2008

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 48/PUU-VI/2008 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 48/PUU-VI/2008 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2003 TENTANG SISTEM PENDIDIKAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG HAK GUNA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG HAK GUNA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG HAK GUNA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.207, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Hak Guna Air. Hak Guna Pakai. Hak Guna Usaha. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5578) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 99/PUU-XIV/2016

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 99/PUU-XIV/2016 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 99/PUU-XIV/2016 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 13 TAHUN 2003 TENTANG KETENAGAKERJAAN TERHADAP UNDANG- UNDANG

Lebih terperinci

P U T U S A N Perkara Nomor : 043/PHPU.A-II/2004

P U T U S A N Perkara Nomor : 043/PHPU.A-II/2004 P U T U S A N Perkara Nomor : 043/PHPU.A-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Yang memeriksa, mengadili dan memutus perkara konstitusi pada tingkat

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 105/PUU-X/2012

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 105/PUU-X/2012 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 105/PUU-X/2012 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1960 TENTANG PERATURAN DASAR POKOK-POKOK AGRARIA DAN

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 28/PUU-V/2007

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 28/PUU-V/2007 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 28/PUU-V/2007 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2004 TENTANG KEJAKSAAN TERHADAP

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 3 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, Menimbang : a. bahwa Peraturan Daerah merupakan peraturan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BREBES Nomor : 21 Tahun : 2008 PERATURAN DAERAH KABUPATEN BREBES NOMOR 13 TAHUN 2008 TENTANG I R I G A S I DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BREBES, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 121 TAHUN 2015 TENTANG PENGUSAHAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 2/SKLN-X/2012

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 2/SKLN-X/2012 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 2/SKLN-X/2012 PERIHAL SENGKETA KEWENANGAN LEMBAGA NEGARA ANTARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA DENGAN DEWAN PERWAKILAN

Lebih terperinci

P U T U S A N. Perkara Nomor 024/PUU-I/2003 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N. Perkara Nomor 024/PUU-I/2003 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Perkara Nomor 024/PUU-I/2003 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 117/PUU-X/2012

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 117/PUU-X/2012 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA -------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 117/PUU-X/2012 PERIHAL Pengujian Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan [Pasal 163 (1)] terhadap Undang-Undang

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 3/PUU-XIV/2016

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 3/PUU-XIV/2016 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 3/PUU-XIV/2016 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK TERHADAP

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO

PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO PEMERINTAH KABUPATEN SITUBONDO PERATURAN DAERAH KABUPATEN SITUBONDO NOMOR 10 TAHUN 2013 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SITUBONDO DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA, BUPATI SITUBONDO Menimbang

Lebih terperinci

PERBAIKAN RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 26/PUU-VII/2009 Tentang UU Pemilihan Presiden & Wakil Presiden Calon Presiden Perseorangan

PERBAIKAN RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 26/PUU-VII/2009 Tentang UU Pemilihan Presiden & Wakil Presiden Calon Presiden Perseorangan PERBAIKAN RINGKASAN PERMOHONAN PERKARA Registrasi Nomor 26/PUU-VII/2009 Tentang UU Pemilihan Presiden & Wakil Presiden Calon Presiden Perseorangan I. PEMOHON Sri Sudarjo, S.Pd, SH, selanjutnya disebut

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 19/PUU-XIII/2015

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 19/PUU-XIII/2015 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 19/PUU-XIII/2015 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN

Lebih terperinci

GUBERNUR SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH

GUBERNUR SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH 1 GUBERNUR SULAWESI SELATAN PERATURAN DAERAH PROVINSI SULAWESI SELATAN NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR SULAWESI SELATAN, Menimbang : a.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG HAK GUNA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG HAK GUNA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 69 TAHUN 2014 TENTANG HAK GUNA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10 Undang-Undang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 41 Undang-

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 9/PUU-XI/2013

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 9/PUU-XI/2013 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 9/PUU-XI/2013 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN TERHADAP UNDANG-UNDANG

Lebih terperinci

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 5/PUU-VIII/2010

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 5/PUU-VIII/2010 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------- RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 5/PUU-VIII/2010 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK

Lebih terperinci

P U T U S A N. Perkara Nomor 005/PUU-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

P U T U S A N. Perkara Nomor 005/PUU-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA P U T U S A N Perkara Nomor 005/PUU-II/2004 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 of 24 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 24 TAHUN 2003 TENTANG MAHKAMAH KONSTITUSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci