MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA --------------------"

Transkripsi

1 Nomor : 058; 059; 060; 061; /PUU-II/2004 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH MENDENGARKAN KETERANGAN PEMERINTAH, DPR RI DAN AHLI PERKARA NOMOR: 058/PUU-II/ /PUU-II/ /PUU-II/ /PUU-II/2004 PENGUJIAN UU NO. 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR TERHADAP UUD 1945 SELASA, 1 FEBRUARI 2005 JAKARTA 2005

2 MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA RISALAH MENDENGARKAN KETERANGAN PEMERINTAH DPR RI DAN AHLI PERKARA NOMOR: 058/PUU-II/ /PUU-II/ /PUU-II/ /PUU-II/2004 PENGUJIAN UU NO. 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR TERHADAP UUD 1945 KETERANGAN 1. H a r i : Selasa 2. Tanggal : 1 Februari Waktu : WIB 4. Tempat : Ruang Sidang Mahkamah Konstitusi Jl. Medan Merdeka Barat No. 7 Jakarta Pusat 5. Susunan Persidangan : 0Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. ( K e t u a ) 1H. ACHMAD ROESTANDI, S.H. ( Anggota ) 2Prof. H. A. SYARIFUDDIN NATABAYA, S. H., LLM. ( Anggota ) 3Dr. HARJONO, S. H., MCL. ( Anggota ) 4I DEWA GEDE PALGUNA, S. H., MH. ( Anggota ) 5Prof. H. A. MUKTHIE FADJAR, S.H. ( Anggota ) 6MARUARAR SIAHAAN, S.H. ( Anggota ) 6. Pemohon : Johnson Pandjaitan, Dkk. Munarman, S.H. Sutha Widhya 7. Panitera Pengganti : Jara Lumban Raja. S.H., MH. Ira Zuchriah, S.H. 9. Acara : Mendengarkan Keterangan Pemerintah, DPR dan Ahli 2

3 JALANNYA SIDANG SIDANG DIBUKA PUKUL WIB 1. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Baik, Saudara-saudara, Sidang Mahkamah Konstitusi untuk Perkara Pengujian Undang-undang Sumber Daya Air, dengan ini, saya nyatakan dibuka dan terbuka untuk umum. KETUK 1 X Assalamu alaikum wr.wb. Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita bersama. Atas nama Mahkamah Konstitusi, pertama saya ucapkan selamat datang pada semua pihak yang hadir pada kesempatan sidang hari ini. Sebelum kita mulai, saya persilakan dulu dari Pemohon untuk memperkenalkan diri. Saya persilakan siapa saja yang hadir. 2. PEMOHON ULI PARULIAN SIHOMBING, S.H. Selamat pagi. Terima kasih, Majelis Hakim yang mulia. Nama saya Uli Parulian Sihombing. Saya Kuasa Hukum Pemohon Nomor 058, 059, dan 060 dari LBH Jakarta. Terima kasih. 3. PEMOHON SYAMSUL BAHRI Assalamu alaikum wr.wb. Selamat pagi, Majelis Hakim yang mulia. Saya Syamsul Bahri dari Kuasa Hukum Perkara Nomor 058. Terima kasih. 4. PEMOHON DEDE NURDIN SADAD Terima kasih, Majelis Hakim yang mulia. Saya Dede Nurdin Sadad sebagai kuasa hukum dari Pemohon Nomor 058, 059, 060, terima kasih. 5. PEMOHON ISNA HERTATI Assalamu alaikum wr.wb. Selamat pagi, Majelis Hakim yang Berhormat. Saya Isna Hertati, Kuasa Hukum Nomor 059,

4 6. PEMOHON J. J. AMSTRONG SEMBIRING, S.H. Terima kasih, Majelis Hakim Konstitusi. Saya Amstrong Sembiring Kuasa Pemohon Nomor 063. Terima kasih. 7. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Baik, saya lanjutkan. Saya persilakan sekarang dari Dewan Perwakilan Rakyat. Silakan. 8. DPRRI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Terima kasih yang Berhormat Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi. Assalamu alaikum wr.wb. Selamat pagi dan salam sejahtera buat kita semuanya. Perkenankanlah saya untuk menyampaikan ada 10 orang wakil dari Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia. Pada pagi hari ini, hadir 5 orang. Saya sendiri A. Teras Narang anggota A.397. Kemudian Ibu Nursyahbani Katjasungkana, S.H.. Kemudian, Bapak Drs. Darul Siska anggota A.43. Kemudian, Bapak Drs. H. Ahmad. Muqqoam anggota A. 41 dan berikutnya Bapak Ir. H. Erman Suparno, MBA., M. Si. anggota A Demikian, yang hadir pada pagi hari ini. Terima kasih. 9. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Terima kasih. Silakan dari Bapak Menteri (Pemerintah). Silakan. 10. PEMERINTAH DJOKO KIRMANTO (MENTERI PU) Assalamu alaikum wr.wb. Bapak Ketua dan anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang mulia. Saya datang ke sini atas nama Pemerintah. Nama saya Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Bersama saya datang Saudara DR. Basuki (Direktur Jenderal Sumber Daya Air) dan bersama saya juga, Saudara DR. Rustam Syarif (Kepala Badan Litbang Departemen Pekerjaan Umum). Terima kasih. 11. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Yang belakang? 4

5 12. PEMERINTAH DJOKO KIRMANTO (MENTERI PU) Yang belakang adalah tim Departemen Pekerjaan Umum yang terdiri daripada para Direktur dan para Kepala Biro. Terima kasih. 13. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Dari Departemen Hukum ada juga, ya? Ada ya? Baik, sebagaimana diketahui di dalam sidang hari ini, kalau sidang yang lalu kita sudah mendengarkan keterangan Ahli yang diajukan oleh pihak Pemohon, antara lain ada Ahli Charles Santiago yang seperti orang Padang, tapi dia orang Malaysia. Kemudian, ada lagi Anna Mae dari Philipina. Kemudian hari ini juga, Pemohon akan mengajukan Ahli lain yang nanti akan diperkenalkan. Di samping itu, sidang kali ini juga, kita akan mendengarkan selain keterangan Pemerintah, keterangan Dewan Perwakilan Rakyat, juga akan mendengarkan keterangan dari calon Ahli yang diajukan oleh Pemerintah. Sudah siap ini. Saya persilakan dulu untuk memperkenalkan diri satu-satu, begitu. Silakan, Bapak mulai dari apa? Sebelah sini? Silakan. 14. AHLI PEMERINTAH Ir. SAIFUL MAHDI (PRAKTISI KONSULTAN) Terima kasih. Assalamu alaikum wr.wb. Bapak Ketua dan anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang mulia. Nama saya Syaiful Mahdi (Praktisi Konsultan Sumber Daya Air dan Pengairan) yang diundang oleh Departemen Pekerjaan Umum sebagai Ahli. Terima kasih. 15. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Lanjut. 16. AHLI PEMERINTAH Dr. SRI ADININGSIH (UGM) Terima kasih, yang Berhormat Bapak Ketua Mahkamah Konstitusi. Saya, pada kesempatan kali ini, diminta oleh Departemen Pekerjaan Umum untuk menjadi Ahli dalam kasus yang sekarang ini digelar. Terima kasih. Mohon maaf, nama saya Sri Adiningsih dari Fakultas Ekonomi UGM. 17. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Ya, saya baru mau menyebut itu karena sudah terkenal. Jadi, silakan. 5

6 18. AHLI PEMERINTAH Dr. AGUS PAKPAHAN (APU) Terima kasih Yang Mulia Majelis Hakim Konstitusi. Nama saya Agus Pakpahan, dalam kesempatan ini, saya diminta untuk menjadi Ahli dalam bidang Sumber Daya Air khususnya dari kacamata Konstitusi. Terima kasih. 19. AHLI PEMERINTAH Prof. Dr. Ir. SUJARWADI (UGM) Bapak Ketua dan anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang mulia. Saya Sudjarwadi dari Universitas Gajah Mada diundang dalam kapasitas sebagai Ahli bidang Hidrologi dan Sumber Daya Air. 20. AHLI PEMERINTAH THEODORE SARDJITO, S.H.(UI) Yang Berhormat Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi beserta anggota. Saya Theodore Sardjito staff pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia diminta menjadi Ahli di bidang Hukum Adat dalam perkara yang sedang berlangsung. Terima kasih. 21. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Baik, kalau begitu sudah lengkap ini calon Ahlinya. Nanti akan kami minta Saudara calon Ahli sebelum memberikan keterangan menurut keahlian Saudara masing-masing, untuk diambil sumpah. Akan tetapi sebelum itu, biar kami beri kesempatan kepada Dewan Perwakilan Rakyat resmi dan Pemerintah untuk menyampaikan keterangan dulu. Jadi, nanti ya. Sementara itu, calon Ahli yang masih ada satu lagi yang diajukan oleh Pemohon, siapa orangnya? Silakan diperkenalkan. 22. AHLI PEMOHON WIJANTO HADIPURO (UNIKA SURYOPRANOTO) Selamat pagi, Majelis Hakim. Nama saya Wijanto Hadipuro saya staf pengajar dan peneliti di Unika Suryopranoto Semarang. 23. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Baik, silakan. Nanti pada saatnya diberi tempat, sedikit ke sebelah depan. Baik Saudara-saudara sekalian, terutama dari Dewan Perwakilan Rakyat dan juga Pemerintah dan para calon Ahli, kita sama mendengar, sudah sama membaca saya kira, pokok permohonan yang diajukan Pemohon. Namun, untuk komunikasinya biar lancar di dalam persidangan ini, saya ingin persilakan sekali lagi. Pendek saja, tidak usah semua. Satu di antara Pemohon, karena Pemohon ini banyak dan saya percaya sudah bisa satu di antaranya mewakili 6

7 untuk menyampaikan pokok-pokok permohonan yang Saudara ajukan untuk diperiksa oleh Mahkamah Konstitusi. Ini untuk memudahkan komunikasi saja. Untuk selanjutnya, nanti akan saya minta Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah, secara resmi memberikan keterangan sehubungan dengan permohonan Saudara. Saya persilakan, siapa? 24. DPR RI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Maaf sebelumnya, Bapak Ketua. Terima kasih. 25. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Ya. 26. DPR RI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Terima kasih. Sebagaimana diketahui, bahwa ada 4 permohonan yang diajukan, yaitu pertama Nomor 058. Kemudian kedua, Nomor 059 dan seterusnya. Kemudian ketiga, Nomor 060 dan seterusnya. Terakhir adalah Nomor 063 dan seterusnya. Yang menjadi pertanyaan bagi kami adalah diberikan kesempatan ini kepada 4 pokok perkara ini, nomor perkara ini atau hanya salah satu dari keempat ini? Terima kasih. 27. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Ini karena 3 di antaranya kuasanya sama, itu bisa diwakili. Pokokpokoknya saja, toh yang tertulis sudah dibaca. Jadi, itu bisa diwakili 1 kuasa. Sedangkan yang, nomor yang tersendiri, yang nomor berapa? Nomor 063, ya? Kalau begitu, bisa 2 orang jadi 1 mewakili 3 Pemohon karena kuasanya sama. Satu lagi, Nomor 063, itu biar sendiri pokok-pokok permohonannya tolong diulang. Saya persilakan yang Nomor 058, 059, dan 060 dahulu. Silakan. 28. PEMOHON ISNA HERTATI Mohon maaf Majelis Hakim, Perkara Nomor 058, 059, dan 060 memang sama dan pengacaranya sama, tapi secara substansi ada perbedaan. 29. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASHIDDIQIE, S.H. Ya, disampaikan saja biar tidak usah terlalu panjang pengantarnya. Saudara sampaikan karena kuasanya sama pokok-pokoknya. Pokok-pokoknya, artinya tidak usah diulangi semuanya, intinya saja. Silakan. 7

8 30. PEMOHON ISNA HERTATI Baik, saya hanya akan membacakan mengenai judicial review dari Perkara 059 dan 060 dari Walhi dan 15 lembaga serta 868 orang masyarakat yang tersebar di seluruh Republik Indonesia. LANDASAN HUKUM Sebagaimana landasan hukum yang di-judicial review itu adalah Pasal 51 ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2004 tentang Mahkamah Konstitusi. Secara formil alasan kami mengajukan judicial review adalah kami memandang bahwa secara material substansi atau prinsip yang terkandung dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air itu, kami menguji secara formil menyangkut landasan filosofis pembentukan undang-undangnya. Secara formil, yang kami ajukan adalah: Satu, privatisasi dan komersialisasi air dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 adalah merupakan upaya pelepasan tanggungjawab negara terhadap pengolahan hak masyarakat atas air yang kami lihat secara formil; Kedua, kami melihat bahwa keberadaan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 merupakan hasil intervensi dari pihak asing yang kami lihat adalah mengancam kedaulatan negara. Kami melihat bahwa Undang-undang Sumber Daya Air ini, merupakan bagian dari persyaratan pinjaman Bank Dunia untuk Program WATSALT sebesar 300 juta USD. secara substansi dalam Undangundang Sumber Daya Alam itu, pada kenyataannya kami juga melihat ada yang mengadopsi mentah-mentah kebijakan sektor air dari Bank Dunia. Instrument Water Right dan Water Management Policy dari Bank Dunia tahun 1993 itu diadopsi menjadi Instrumen Hak Guna dalam Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Hak guna air menjadi dasar pengaturan air dalam Undang-undang Sumber Daya Air dan menjiwai sebagian besar pasal-pasal di dalam undangundang tersebut. Di dalam Pasal 45 ayat (3) itu, memberikan peluang bagi perseorangan dan badan hukum swasta asing untuk mengusahakan Sumber Daya Air yang menjadi hajat hidup rakyat Indonesia, karena sebelumnya Pemerintah juga telah menerbitkan Keputusan Presiden RI Nomor 96 Tahun 2000 dan perubahan lampiran 2 dan lampiran 3 dengan Kepres 118 Tahun 2000 pada lampiran 3 Kepres Nomor 118 Tahun 2000 itu menyebutkan, bahwa sektor pengolahan dan penyediaan air minum terbuka bagi kepemilikan modal asing hingga batas 95% mayoritas; Ketiga, kami memandang bahwa prosedur pengesahan Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air itu bertentangan dengan Pasal 20 ayat (1) Undang Undang Dasar 1945 juncto Pasal 26 ayat (1) dan (2) Undang-undang Nomor 22 Tahun 2003 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR, DPD, dan DPRD juncto Keputusan DPR RI 8

9 Nomor 03A DPR RI /I/ tentang Peraturan Tata Tertib DPR RI. Kami melihat, bahwa keputusan dalam sidang Paripurna DPR tanggal 19 Pebruari itu diambil secara mufakat, padahal dalam fakta dan kenyataannya adalah terdapat beberapa Fraksi dan Anggota DPR yang menolak pengesahan RUU Sumber Daya Air ini. Ada terjadi keberatan dan penolakan dari RUU tersebut, namun Pimpinan Sidang Paripurna memaksakan pengesahan RUU ini secara mufakat. Keputusan tersebut mendorong beberapa anggota DPR menyatakan meninggalkan ruangan atau walk out sebelum RUU tersebut disahkan. Kami melihat, bahwa berdasarkan Pasal 192 Peraturan Tata Tertib DPR RI dinyatakan bahwa Keputusan berdasarkan mufakat adalah sah, apabila diambil dalam rapat yang dihadiri oleh anggota dan unsur fraksi, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 189 ayat (1) dan disetujui oleh semua yang hadir. Selanjutnya dalam Pasal 193 Peraturan Tata Tertib DPR RI dinyatakan bahwa Keputusan berdasarkan suara terbanyak diambil, apabila keputusan berdasarkan mufakat sudah tidak terpenuhi, karena adanya pendirian sebagian anggota rapat yang tidak dapat dipertemukan lagi dengan pendirian anggota rapat yang lain. Dengan demikian, tindakan Pimpinan Sidang Paripurna yang tetap memaksakan pengambilan suara dengan mufakat dan tidak dengan suara terbanyak, padahal ada beda pendirian antara anggota rapat Paripurna merupakan pelanggaran terhadap Pasal 192 Juncto Pasal 193 Peraturan Tata Tertib DPR tersebut. Secara Materil kami melihat bahwa Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 itu bertentangan dengan Pasal 33 Undang Undang Dasar 1945, karena secara Materil, substansi, prinsip-prinsip dalam Undang-undang Sumber Daya Air itu kami lihat mengandung muatan privatisasi atas penyediaan air minum, pengelolahan Sumber Daya Air dan Irigasi Pertanian. Itu dapat dilihat dalam Pasal 40 dan Pasal 41 dan Pasal 45 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air. Pasal 40 itu kami lihat adalah memberikan peluang kepada swasta untuk berperan serta dalam penyelenggaraan sistem air minum. 31. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Cukup? 32. PEMOHON ISNA HERTATI Ada lagi yang kedua Pak. 33. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Tidak perlu terlalu mendetail ya, pokok-pokoknya saja, seperti tadi saya kemukakan, yang tertulis sudah dibaca, jadi tidak perlu terlalu mendetail. 34. PEMOHON ISNA HERTATI Pokok-pokok substansi itu ada 3 yang kami lihat terhadap Undangundang ini, yaitu undang-undang ini mengandung muatan privatisasi atas penyediaan air minum, pengelolahan Sumber Daya Air dan irigasi pertanian. 9

10 Yang kedua, kami melihat bahwa Undang-undang Sumber Daya Air ini mengandung muatan penguasaan dan Monopoli sumber-sumber air oleh swasta, itu dapat dilihat dalam Pasal 6, Pasal 9, Pasal 26, Pasal 45, Pasal 46 dan Pasal 80 Undang-undang Sumber Daya Air Tahun Kemudian yang ketiga, kami melihat bahwa Undang-undang Sumber Daya Air ini mengandung muatan penggunaan air bagi kepentingan komersial, itu bisa dilihat dari Pasal 5, Pasal 6, Pasal 7, Pasal 8, Pasal 9 dan Pasal 10 Undang-undang Nomor 7 Tahun Terhadap keberatan ini kami menuntut agar Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia, memeriksa dan memutus Permohonan ini untuk menerima dan mengabulkan Permohonan daripada Pemohon untuk seluruhnya dan menyatakan, bahwa Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tidak mempuyai kekutan hukum mengikat. Demikian, terima kasih. 35. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Baik satu lagi, tambahan barang kali, baik. 36. DPR RI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Maaf Pak Ketua, karena ini kami nanti akan diberikan kesempatan untuk memberikan keterangan, dan adalah wajar sekiranya kami dari Kuasa Institusi Lembaga Kenegaraan mempertanyakan berkenaan dengan tadi yang disampaikan. Pertama yang kami tanyakan adalah dalil yang menyatakan, bahwa Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 itu hasil intervensi dari pihak asing, satu yang ingin kami tanyakan, kemudian yang kedua, yang ingin kami tanyakan adalah berkenaan dengan kebijakan Bank Dunia diambil secara utuh, ini yang ingin kami pertanyakan dan kami ingin minta penjelasan melalui Yang Terhormat Majelis Mahkamah Konstitusi untuk Pemohon menjelaskan apa yang tadi disampaikan. Terima kasih. 37. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Baik supaya lancar ya, saya persilakan dulu Pemohon yang satu lagi menjelaskan, nanti kalau sudah lengkap begitu, boleh ini ditambah penjelasannya apa yang ditanyakan oleh Pak Teras Narang dari DPR. Walaupun sebenarnya ini dimaksudkan saya persilakan untuk menerangkan sekali lagi, untuk memudahkan pemeriksaan dalam persidangan ini. Nanti keterangan DPR, keterangan Pemerintah kami perlukan sebagai counter terhadap apa yang dimohon, biar nanti kami yang menilai begitu, tetapi tidak mengapa bahwa dari DPR mengajukan pertanyaaan itu, boleh juga dijawab. Tapi sebetulnya bagi kami tidak perlu seperti itu, meskipun tidak tertutup kemungkinan untuk ada tanya jawab semacam ini, tapi biar lancar saya persilakan dulu Pemohon satu lagi kalau kelompok ya, bagaimana? 38. DPR RI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Maaf Pak, ini perlu diklarifikasi itu dari kami, karena begini ini Majelis Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum adalah menjadi kewajiban kami 10

11 sebagai Kuasa dari Institusi Lembaga Negara yang salah satunya mempunyai tugas bersama-sama dengan Pemerintah membuat Undang-undang untuk meminta klarifikasi ini, sehingga kita tidak hanya didasarkan pada suatu statement-statement, tetapi bagi kami ini perlu satu kejelasan, karena ini dihadapan Yang Mulia Majelis Mahkamah Konstitusi, yang terbuka untuk umum. Terima kasih. 39. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. 40. PEMOHON Baik. Boleh ditambah, sebentar, boleh ditambah silakan. Menanggapi apa yang disampaikan oleh Pihak DPR, kami dari pihak Pemohon mempertanyakan kompetensi pertanyaan balik dari pihak DPR. Saya sependapat dengan pendapat dari Mejelis Hakim yang mulia, bahwa kompetensi dari pihak DPR dan pihak Pemerintah di sini berdasarkan Pasal 41 Undang-undang Mahkamah Konstitusi itu hanya memberikan penjelasan atau keterangan berdasarkan apa dan bagaimana proses undang-undang yang sedang kami ajukan. Terima kasih. 41. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Tapi tidak mengapa juga ya, DPR bertanya, nanti Saudara Pemohon juga bisa bertanya kepada Ahli dan sebagainya, tidak mengapa artinya untuk klarifikasi saja, bahwa nanti statement Saudara itu menyakinkan kami atau meyakinkan publik dengan bukti-bukti yang Saudara sampaikan itu soal lain ya, jadi itu bisa saja, coba saya minta Saudara dijelaskan apa tadi argumentnya, apa data-data yang Saudara pakai untuk sampai pada kesimpulan yang tadi disebut. Sedikit saja. Silakan. 42. PEMOHON P. RAJA SIREGAR Terima kasih Majelis Hakim. Sekalian saya memperkenalkan diri, saya P. Raja Siregar, Pemohon prinsipil Perkara Nomor 060. Di dalam dokumen permohonan yang kami ajukan kami juga telah menyampaikan kronologis dari pembuatan Undangundang ini, termasuk kontrak penandatanganan Warsal Tahun 1997 akhir atau 1998 dan kami juga menyebutkan di situ selain kondisionalitis atau prasyarat ketiga terbitnya undang-undang ini, kami juga menyebutkan prasyarat yang lain di awal 1998 ke 1999 yang menyusun kebijakan pengelolahan air, di mana di situ terlibat Bank Dunia, Bapenas, Kimpraswil dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang diminta untuk membantu. Saya pikir ini cukup menjadi penjelasan. Terima kasih. 11

12 43. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Baik, saya kira cukup ya klarifikasinya. Mungkin bisa saya tambahkan begini, keterangan Ahli dalam sidang yang lalu dari Malaysia Charles Santiago juga menerangkan berbagai data, fakta-fakta yang berkaitan, hubungan antara organisasi-organisasi Internasional dan lain-lain sebagainya, mirip seperti apa yang dia sampaikan itu, tetapi kami sendiri menerima itu sebagai data kami belum menilainya, belum bermusyawarah, belum sampai pada penilaian, kami baru menghimpun data-data dulu. Jadi, bahwa Pemohon punya statement semacam itu dengan argument yang secara lisan dia sampaikan dan juga ada data-data tertulisnya, belum kami nilai kalau dari pihak Pemerintah punya data lain, Dewan Perwakilan Rakyat juga demikian, justru itulah yang kami perlukan dalam persidangan ini. Jadi saya rasa klarifikasinya sudah cukup, begitu ya? 44. DPR RI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Ada satu lagi Pak. 45. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Apa satu lagi. 46. DPR RI A. TERAS NARANG (KOMISI III) Mungkin dengan kalimat intervensi, karena ini kata mengundang sesuatu menghilangkan keindependenan dari Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah, karena kita tahu persis setiap pembuatan rancangan undang undang, itu ada proses penjaringan, kalau istilah kita sekarang jaring asmara, menjaring aspirasi dari masyarakat, jaring asmara ini bisa kita lakukan, baik terhadap masyarakat kita maupun negara asing. Yang kami tidak bisa menerima dan mohon ini dipertimbangkan oleh Majelis Hakim, kata interpensi, karena ini yang menurut hemat kami sebagai satu lembaga negara yang perlu memperoleh satu penjelasan melalui Yang Terhormat Majelis Hakim, kami mohon agar Pemohon mempertimbangkan untuk mencabut kata intervensi itu. Terima kasih. 47. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Baik, kami catat, dicatat keberatan dari Dewan Perwakilan Rakyat penggunaan istilah intervensi, tapi itu biar kami menilai nanti kalau Saudara ngotot mau menggunakan itu juga, ya hak Saudara, tapi ada keberatan dari Dewan Perwakilan Rakyat sebagai institusi penggunaan kata itu, itu dicatat saja. Selanjutnya saya persilakan Pemohon Nomor 063. Pokoknya saja jangan terlalu panjang. 48. PEMOHON J. J. AMSTRONG SEMBIRING, S.H. Terima kasih Majelis Hakim Konstitusi. 12

13 Kami dari Kuasa Hukum 063 mencermati mengenai Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004, kami menilai bahwa Undang-undang ini yang secara fundamental merekontruksi penggunaan dan penguasaan air, di mana air yang berhubungan dengan milik umum dan diperoleh secara bebas dikuasai oleh Negara diserahkan pada swasta dengan tujuan komersialisasi dan juga kami menilai, bahwa undang-undang ini mereduksi nilai sosial budaya, ekonomis dan religius di mana air hanya semata-mata menjadi nilai ekonomis semata. Di dalam uraian yang tadi kami sebutkan itu lebih lanjutnya mungkin kami apa yang dimaksud di dalam Undang-undang Nomor 7 ini ditegaskan pada Pasal 9, Pasal 26 ayat (7), Pasal 45 dan selain itu juga kami mencermati, bahwa dari sisi hakum masalah air adalah secara tegas dan secara eksplisit, bahwa ketentuan hukum dasar yaitu Pasal 33 mengenai masalah hak kesejahteraan sosial menyebutkan, bahwa Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. di dalam ayat satunya dan di dalam ayat duanya Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara. demikian juga di dalam ayat (3) Bumi dan air kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Di mana di dalam Pasal 33 ini merupakan sebuah pelaksanaan mengenai hal yang sebagaimana dikeluarkan dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang perairan yang di dalam Bab 6, Pasal 11 salah satunya berbunyi bahwa Penguasaan air dan sumber-sumber air yang ditunjuk untuk meningkatkan kemanfaatannya bagi kesejahteraan rakyat pada dasarnya dilakukan oleh Pemerintah baik di pusat maupun di daerah. Demikian juga mengenai ketentuan itu mengenai air itu ditegaskan di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 1982 tentang Tata Pengaturan Air yang di dalam Pasal 13 ayat (1) secara eksplisit menyebutkan bahwa Air untuk keperluan minum merupakan prioritas utama di atas keperluan lain. Demikian juga halnya di dalam persoalan masalah penyertaan modal asing atau investasi asing di dalam pengelolaan air jelas-jelas telah bertentangan dengan sebagaimana yang telah diatur di dalam Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing yang di dalam Pasal 6 ayat (1) menyebutkan bahwa, Bidang-bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal asing secara pengusahaan penuh ialah bidang-bidang yang penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak, salah satunya air minum. Maka atas dasar dari ketentuan-ketentuan di atas, yang kami cermati dari sisi hukum, pasal air, kami menilai bahwa pihak asing dalam berinvestasi tentu tidak sesuai dengan amanat konstitusi Undang-Undang Dasar 1945, karena konstitusi juga telah menggariskan secara tegas, bahwa dasar demokrasi ekonomi Indonesia adalah kemakmuran bagi semua orang dan kemakmuran rakyatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang perorangan. Jadi, bahwasanya kami mencermati lagi, bahwasanya dalam hal lebih spesifiknya persoalan pengelolaan air minum dalam rangka pemenuhan kebutuhan hajat hidup orang banyak, itu seharusnya tidak bisa dapat dikelola secara komersial, akan tetapi harus mementingkan peran sosialnya dari sudut pengelolaan itu sendiri. Di mana, kami mencermati bahwa proses dalam hal ini, di Jakarta masalah kinerja swasta ya? Terutama dalam ini Palyja dan TPJ atau PAM Lyonnaise Jaya atau Thames PAM Jaya, itu selama kerjasama di tahun 13

14 , kurang lebih 6, 5 tahun, itu kami bisa menyebutkan salah satunya dari sisi aspek operasional masalah pelayanan, di mana KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Coba ya? Karena kita segera harus mendengar keterangan DPR dan Pemerintah resmi ya? Jadi yang Saudara minta ini, pasal berapa? Apa semuanya? Apanya yang bertentangan dengan konstitusi? Lalu, yang dimintanya itu, apa semuanya? Atau hanya satu, dua pasal? Bagaimana itu coba pokoknya saja. 50. PEMOHON J. J. AMSTRONG SEMBIRING, S.H. Ya, lebih singkatnya bahwa kami mencermati Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 ini bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dengan didasarkan juga dari kaitan dari upaya gugatan hukum kami pada kurang lebih setahun yang lalu. Bahwa kami ada menegaskan, bahwa di dalam poin-poin yang kami uraikan di dalam Posita itu, bahwa pada kenyataannya bahwa itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan itupun telah diakomodasi oleh Majelis Hakim pada saat itu. Ini kami bisa menyerahkan kepada Majelis Hakim Konstitusi nanti. 51. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Sudah ada di dalam tertulis, sudah ada di dalam berkas. Baik. 52. PEMOHON J. J. AMSTRONG SEMBIRING, S.H. Saya pikir demikian seperti ini. 53. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Jadi, Saudara minta semuanya? Pengujian materiil apa formiil yang Saudara ajukan? 54. PEMOHON J. J. AMSTRONG SEMBIRING, S.H. Pengujian materiil. 55. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Tapi semuanya, tidak ada yang benar ini, pasal-pasal ini, undangundang ini, semuanya, bertentangan semua? 56. PEMOHON J. J. AMSTRONG SEMBIRING, S.H. Tidak, ada tadi saya sebutkan tadi, hanya saya, kami mencermati di sini ada Pasal 9, Pasal 26 ayat (7), Pasal 45, Pasal

15 57. KETUA Prof. Dr. JIMLY ASSHIDDIQIE, S.H. Sudah tertulis, ya? Baik, cukup. Sekali lagi saya ingin ingatkan saya memberi kesempatan Saudara Pemohon menyampaikan lagi pokok-pokok permohonannya. Maksudnya untuk mengingatkan kita semuanya yang ada di ruangan, jadi bukan untuk mengulang cerita yang sudah ada tertulis dan bukan lagi untuk mengulang yang sudah disidangkan dalam sidang-sidang sebelumnya. Jadi, maka itu, pendek saja. Baik, Saudara-Saudara sekalian dari Dewan Perwakilan Rakyat maupun Saudara Menteri dari Pemerintah. Kita sudah mendengar duduk soalnya dan kemudian saya, kami juga percaya DPR dan Pemerintah juga sudah membaca dengan seksama pokok permohonan empat perkara ini, yang pemeriksaannya kita jadikan satu. Sekarang, saya persilakan siapa dulu? Saya kira DPR? Pemerintah dulu ya? Saya persilakan Pemerintah dulu untuk memberikan keterangan resmi mengenai permohonan ini. Silakan. 58. PEMERINTAH DJOKO KIRMANTO (MENTERI PU) Assalammu alaikum, Wr. Wb. Salam sejahtera buat kita semua. Yang saya hormati Ketua dan anggota Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang mulia dan Saudara-saudara hadirin yang saya hormati. Berdasarkan surat panggilan Mahkamah Konstitusi Nomor 001/KA- MA/2005, untuk menghadiri Sidang Mahkamah Konstitusi 1 Februari 2005, atas permohonan: Pengujian Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air terhadap Undang-Undang Dasar 1945, maka perkenankanlah kami, nama Djoko Kirmanto, Menteri Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Bertindak untuk dan atas nama Presiden Republik Indonesia berdasarkan surat kuasa khusus dengan hak substitusi tanggal 31 Januari 2005 untuk mewakili Pemerintah Republik Indonesia, menyampaikan keterangan Pemerintah atas Permohonan Hak Uji Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun Untuk menjawab permohonan para Pemohon yang terdaftar dalam Perkara Nomor 058 tanggal 18 Juni 2004, Nomor 059 tanggal 2 Juli 2004, Nomor 60 tanggal 8 September 2004, dan Nomor 063 tanggal 18 Agustus Semua keterangan lisan yang disampaikan Pemerintah pada sidang Mahkamah Konstitusi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keterangan Pemerintah secara tertulis. Dirangkum secara berurutan pasal perpasal, yang didahului dengan penjelasan umum, terkait dengan pendapat para Pemohon dan telah lebih dahulu disampaikan. Pertama-tama, perkenankanlah kami memberikan penjelasan umum yang mencakup latar belakang serta lingkup yang diatur oleh Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air sebagai berikut: 15

16 Latar belakang Konsepsi dasar Undang-undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air dapat dirinci sebagai berikut; Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 menegaskan, bahwa tujuan Pemerintah Negara Indonesia adalah untuk melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia, berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Selanjutnya, Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menyatakan, Bahwa bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Ketersedian air ini, di berbagai daerah di Indonesia sudah semakin terbatas, sedangkan kebutuhan akan air terus meningkat, sehingga banyak terjadi ketidakseimbangan antara ketersedian dan kebutuhan air. Untuk itu, Sumber Daya Air wajib dikelola agar dapat tetap didayagunakan secara berkelanjutan. Agar pengelolaan Sumber Daya Air dapat dilaksanakan dengan baik untuk mengantisipasi permasalahan di atas, diperlukan instrumen hukum yang tegas yang menjadi landasan dalam pengelolaan Sumber Daya Air. Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan yang mengatur hal-hal yang terakit dengan perlindungan, pengembangan, penggunaan dan pengendalian air yang telah menjadi dasar pengembangan Sumber Daya Air yang menjadi andil bagi perikehidupan ekonomi dan sosial masyarakat selama ini. Namun, dirasakan masih lebih menitikberatkan pada aspek pembangunan prasarana. Sementara itu, telah terjadi perkembangan berbagai masalah yang bersifat multi dimensi, yang pengaturannya belum seluruhnya terakomodasi dalam Undang-undang Nomor 11 Tahun 1974 tentang Pengairan. Beberapa permasalahan yang dapat dirasakan semasa perjalanan pembangunan di bidang pengairan antara lain sebagai berikut: 0Upaya pendayagunaan lebih dominan dari pada konservasi; 铰 愂 噁 癓 0Belum terwujudnya keseimbangan antara pembangunan fisik dengan nonfisik dalam penanganan permasalahan air; 0Belum adanya aturan yang jelas untuk penyelesaian konflik antara sesama pengguna air; Pengusahaan air dan sumber air oleh berbagai kelompok masyarakat, termasuk pengusaha, semakin kurang terkendali yang menjurus pada pengabaian terhadap nilai sosial air dan sumber air; Ketimpangan antara kapasitas penyediaan air dan tuntutan kebutuhan akan air, telah menimbulkan berkembangnya nilai ekonomi terhadap air yang perlu di antisipasi, karena cenderung mengabaikan fungsi sosial air; Belum terselenggaranya koordinasi yang dapat mewujudkan pengelolaan Sumber Daya Air terpadu dan saling bersinergi; Adanya perubahan sistem administrasi Pemerintah yang bersifat sentralistik menjadi desentralistik yang juga mengakibatkan perubahan administrasi pengelolaan Sumber Daya Air; 16

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang I. PEMOHON Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dalam hal ini diwakili oleh Irman Gurman,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pembangunan perekonomian nasional bertujuan

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 08/PMK/2006 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM SENGKETA KEWENANGAN KONSTITUSIONAL LEMBAGA NEGARA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG NOMOR 25 TAHUN1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat maupun sebagai badan

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR : 04/PMK/2004 TENTANG PEDOMAN BERACARA DALAM PERSELISIHAN HASIL PEMILIHAN UMUM MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2009 TENTANG KETENAGALISTRIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2006 TENTANG IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 41 Undang-Undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 25 TAHUN 1992 TENTANG PERKOPERASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Koperasi, baik sebagai gerakan ekonomi rakyat

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.207, 2014 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Hak Guna Air. Hak Guna Pakai. Hak Guna Usaha. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5578) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN TENTANG ORGANISASI MASYARAKAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA IKHTISAR PUTUSAN PERKARA NOMOR 100/PUU-XI/2013 TENTANG KEDUDUKAN PANCASILA SEBAGAI PILAR BERBANGSA DAN BERNEGARA Pemohon Jenis Perkara Pokok Perkara Amar Putusan

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53 TAHUN 2011 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : IX/MPR/2001 TENTANG PEMBARUAN AGRARIA DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM

K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : IX/MPR/2001 TENTANG PEMBARUAN AGRARIA DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM K E T E T A P A N MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR : IX/MPR/2001 TENTANG PEMBARUAN AGRARIA DAN PENGELOLAAN SUMBER DAYA ALAM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HAK MASYARAKAT HUKUM ADAT

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HAK MASYARAKAT HUKUM ADAT RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN. TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN HAK MASYARAKAT HUKUM ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN RUANG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa ruang wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

Lebih terperinci

Membanguan Keterpaduan Program Legislasi Nasional dan Daerah. Oleh : Ketua Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh Indonesia

Membanguan Keterpaduan Program Legislasi Nasional dan Daerah. Oleh : Ketua Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh Indonesia Membanguan Keterpaduan Program Legislasi Nasional dan Daerah Oleh : Ketua Asosiasi DPRD Provinsi Seluruh Indonesia Pendahuluan Program Legislasi Nasional sebagai landasan operasional pembangunan hukum

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH SALINAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2014 TENTANG PEMBENTUKAN PRODUK HUKUM DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI DALAM

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PROSEDUR BERACARA DALAM PEMBUBARAN PARTAI POLITIK MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

Pimpinan, Anggota Dewan, dan hadirin yang kami hormati,

Pimpinan, Anggota Dewan, dan hadirin yang kami hormati, -------------------------------- LAPORAN KOMISI III DPR RI TERHADAP HASIL PEMBAHASAN DAN PERSETUJUAN MENGENAI PENGANGKATAN KAPOLRI (UJI KELAYAKAN CALON KAPOLRI) PADA RAPAT PARIPURNA DPR-RI Kamis, 16 April

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PRT/M/2015 TENTANG KOMISI IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PRT/M/2015 TENTANG KOMISI IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17/PRT/M/2015 TENTANG KOMISI IRIGASI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK

Lebih terperinci

MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**)

MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**) MEMBANGUN KUALITAS PRODUK LEGISLASI NASIONAL DAN DAERAH * ) Oleh : Prof. Dr. H. Dahlan Thaib, S.H, M.Si**) I Pembahasan tentang dan sekitar membangun kualitas produk legislasi perlu terlebih dahulu dipahami

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 2004 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 1985 TENTANG MAHKAMAH AGUNG DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

PUTUSAN NOMOR 52/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN NOMOR 52/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PUTUSAN NOMOR 52/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama

Lebih terperinci

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA

UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA UNDANG - UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 1999 TENTANG ARBITRASE DAN ALTERNATIF PENYELESAIAN SENGKETA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa berdasarkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, 1 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2001 TENTANG YAYASAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pendirian Yayasan di Indonesia selama ini dilakukan

Lebih terperinci

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI NOMOR: 05/PMK/2004 TENTANG PROSEDUR PENGAJUAN KEBERATAN ATAS PENETAPAN HASIL PEMILIHAN UMUM PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN TAHUN 2004 MAHKAMAH

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pemerintah

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e)

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e) UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa

Lebih terperinci

Lampiran Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor : 15 Tahun 2012 Tanggal : 25 Oktober 2012

Lampiran Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor : 15 Tahun 2012 Tanggal : 25 Oktober 2012 18 Lampiran Peraturan Badan Pengawas Pemilihan Umum Nomor : 15 Tahun 2012 Tanggal : 25 Oktober 2012 TANDA TERIMA BERKAS PERMOHONAN Nomor :..*) Nama Pemohon :... Berkas yang sudah diserahkan terdiri dari

Lebih terperinci

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup

Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Undang Undang No. 23 Tahun 1997 Tentang : Pengelolaan Lingkungan Hidup Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 23 TAHUN 1997 (23/1997) Tanggal : 19 SEPTEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber : LN 1997/68; TLN

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2001 TENTANG MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa di dalam era perdagangan global, sejalan dengan konvensi-konvensi

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025

PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 PERATURAN DAERAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA PANJANG DAERAH TAHUN 2005-2025 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR PROVINSI DAERAH KHUSUS

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DALAM SATU NASKAH

UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DALAM SATU NASKAH MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEKRETARIAT JENDERAL UNDANG UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DALAM SATU NASKAH MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT SEKRETARIAT JENDERAL UNDANG UNDANG DASAR NEGARA

Lebih terperinci

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

PERUBAHAN KE IV UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

PERUBAHAN KE IV UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PERUBAHAN KE IV UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA, Setelah mempelajari, menelaah, dan mempertimbangkan

Lebih terperinci

Perihal: Gugatan Tata Usaha Negara tentang Permohonan Pembatalan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87/P Tahun 2013

Perihal: Gugatan Tata Usaha Negara tentang Permohonan Pembatalan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87/P Tahun 2013 Kepada Yang Terhormat Ketua Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Di J a k a r t a Perihal: Gugatan Tata Usaha Negara tentang Permohonan Pembatalan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 87/P Tahun

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN. (Preambule)

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN. (Preambule) UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 SALINAN UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 7 TAHUN 2012

PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 7 TAHUN 2012 1 PENJELASAN PERATURAN DAERAH KOTA SAMARINDA NOMOR 7 TAHUN 2012 TENTANG BANTUAN KEUANGAN KEPADA PARTAI POLITIK I. UMUM Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menjamin kemerdekaan berserikat,

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN

PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2014 TENTANG STANDARDISASI DAN PENILAIAN KESESUAIAN I. UMUM Untuk mencapai tujuan dibentuknya Pemerintah Negara Republik Indonesia yang diamanatkan

Lebih terperinci

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/PMK/2003 TAHUN 2003 TENTANG KODE ETIK DAN PEDOMAN TINGKAH LAKU HAKIM KONSTITUSI

PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/PMK/2003 TAHUN 2003 TENTANG KODE ETIK DAN PEDOMAN TINGKAH LAKU HAKIM KONSTITUSI PERATURAN MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA NOMOR 02/PMK/2003 TAHUN 2003 TENTANG KODE ETIK DAN PEDOMAN TINGKAH LAKU HAKIM KONSTITUSI MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1974 TENTANG PENGAIRAN DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1974 TENTANG PENGAIRAN DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 1974 TENTANG PENGAIRAN DENGAN RAKHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa air beserta sumber-sumbernya,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e )

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945. PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e ) UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PEMBUKAAN ( P r e a m b u l e ) Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2007 TENTANG PERSEROAN TERBATAS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa perekonomian nasional yang diselenggarakan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 10 TAHUN 2012 TENTANG PERRLINDUNGAN MATA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG, Menimbang Mengingat : a.

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 38 TAHUN 2004 TENTANG JALAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa jalan sebagai salah satu prasarana transportasi merupakan

Lebih terperinci

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN :

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA MEMUTUSKAN : UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2002 TENTANG SISTEM NASIONAL PENELITIAN, PENGEMBANGAN, DAN PENERAPAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 29 TAHUN 2007 TENTANG PEMERINTAHAN PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTA SEBAGAI IBUKOTA NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

PERUBAHAN KEEMPAT UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

PERUBAHAN KEEMPAT UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 PERUBAHAN KEEMPAT UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA, Setelah mempelajari, menelaah, dan mempertimbangkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2013 TENTANG ORGANISASI KEMASYARAKATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kebebasan berserikat, berkumpul,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

GUBERNUR JAMBI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROVINSI JAMBI

GUBERNUR JAMBI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROVINSI JAMBI GUBERNUR JAMBI PERATURAN DAERAH PROVINSI JAMBI NOMOR 6 TAHUN 2012 TENTANG PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DI PROVINSI JAMBI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAMBI, Menimbang Mengingat : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2008 TENTANG AIR TANAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 10, Pasal

Lebih terperinci

P U T U S A N Nomor : 138/PDT/2015/PT.Bdg. perkara perdata dalam Peradilan Tingkat Banding, telah menjatuhkan putusan. Islam, pekerjaan Wiraswasta ;

P U T U S A N Nomor : 138/PDT/2015/PT.Bdg. perkara perdata dalam Peradilan Tingkat Banding, telah menjatuhkan putusan. Islam, pekerjaan Wiraswasta ; P U T U S A N Nomor : 138/PDT/2015/PT.Bdg. DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA PENGADILAN TINGGI BANDUNG di Bandung yang memeriksa dan mengadili perkara perdata dalam Peradilan Tingkat Banding,

Lebih terperinci

PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko)

PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko) PERAN KOPERASI UNIT DESA DALAM MEMBERIKAN KREDIT DI KALANGAN MASYARAKAT KLATEN (Studi Di KUD JUJUR Karangnongko) SKRIPSI Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2012 TENTANG PENGADAAN TANAH BAGI PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN STATUS DAN JANGKA WAKTU MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN

NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN STATUS DAN JANGKA WAKTU MAKSUD DAN TUJUAN KEGIATAN NAMA DAN TEMPAT KEDUDUKAN Pasal 1 1. Yayasan ini bernama [ ] disingkat [ ], dalam bahasa Inggris disebut [ ] disingkat [ ], untuk selanjutnya dalam Anggaran Dasar ini disebut "Yayasan" berkedudukan di

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMERIKSAAN, DAN PENYELESAIAN BANDING MEREK

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMERIKSAAN, DAN PENYELESAIAN BANDING MEREK PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2005 TENTANG TATA CARA PERMOHONAN, PEMERIKSAAN, DAN PENYELESAIAN BANDING MEREK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 1997 TENTANG STATISTIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 1997 TENTANG STATISTIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 39, 1997 (Penjelasan dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3683) UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 1997 TENTANG STATISTIK DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945

UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 (yang dipadukan dengan Perubahan I, II, III & IV) PEMBUKAAN (Preambule) Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1 TAHUN 2006 TENTANG BANTUAN TIMBAL BALIK DALAM MASALAH PIDANA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa negara Republik

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 1997 TENTANG KETRANSMIGRASIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Transmigrasi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. peran vital dalam menunjang kehidupan manusia dan produktivitasnya. Dari

BAB I PENDAHULUAN. peran vital dalam menunjang kehidupan manusia dan produktivitasnya. Dari BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Sejak zaman dahulu hingga era industri sekarang ini, tanah mempunyai peran vital dalam menunjang kehidupan manusia dan produktivitasnya. Dari waktu ke waktu

Lebih terperinci

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN)

(BIDANG HUKUM, HAM DAN KEAMANAN) RANCANGAN LAPORAN SINGKAT RAPAT DENGAR PENDAPAT KOMISI III DPR RI DENGAN SEKRETARIS JENDERAL DEWAN PERWAKILAN DAERAH, SEKRETARIS JENDERAL MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT DAN SEKRETARIS JENDERAL MAHKAMAH

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 12 TAHUN 2008 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN

Lebih terperinci

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik... 133 I. Umum... 133 II. Pasal Demi Pasal...

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik... 133 I. Umum... 133 II. Pasal Demi Pasal... DAFTAR ISI Hal - Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2007 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum... - BAB I Ketentuan Umum... 4 - BAB II Asas Penyelenggara Pemilu... 6 - BAB III Komisi Pemilihan

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PERALIHAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI DAN KUASA UNTUK MENJUAL YANG DIBUAT OLEH NOTARIS

PELAKSANAAN PERALIHAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI DAN KUASA UNTUK MENJUAL YANG DIBUAT OLEH NOTARIS PELAKSANAAN PERALIHAN HAK ATAS TANAH BERDASARKAN PERJANJIAN PENGIKATAN JUAL BELI DAN KUASA UNTUK MENJUAL YANG DIBUAT OLEH NOTARIS Bambang Eko Mulyono Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Lamongan. ABSTRAK

Lebih terperinci

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN metrotvnews.com Komisi XI DPR i akhirnya memilih Agus Joko Pramono sebagai Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ii Pengganti

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PRESIDEN NOMOR 67 TAHUN 2005 TENTANG KERJASAMA PEMERINTAH DENGAN BADAN USAHA DALAM PENYEDIAAN INFRASTRUKTUR DENGAN

Lebih terperinci

PUTUSAN. Nomor 76/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA

PUTUSAN. Nomor 76/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA PUTUSAN Nomor 76/PUU-VIII/2010 DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA [1.1] Yang memeriksa, mengadili, dan memutus perkara konstitusi pada tingkat pertama

Lebih terperinci

berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 memerlukan waktu yang cukup

berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 memerlukan waktu yang cukup LAPORAN KOIWISI III DPR-RI DALAM RANGKA PEMBICARAAN TINGKAT II / PENGAWIBILAN KEPUTUSAN ATAS RUU TENTANG PENETAPAN PERATURAN PEA/IERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG NOIWOR 1 TAHUN 2015 TENTANG PERUBAHAN ATAS

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk terwujudnya tujuan nasional negara

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1996 TENTANG HAK GUNA USAHA, HAK GUNA BANGUNAN DAN HAK PAKAI ATAS TANAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1996 TENTANG HAK GUNA USAHA, HAK GUNA BANGUNAN DAN HAK PAKAI ATAS TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1996 TENTANG HAK GUNA USAHA, HAK GUNA BANGUNAN DAN HAK PAKAI ATAS TANAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society

MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society MASTEL MASYARAKAT TELEMATIKA INDONESIA The Indonesian Infocom Society ANGGARAN DASAR ANGGARAN RUMAH TANGGA 2003-2006 ANGGARAN DASAR MASTEL MUKADIMAH Bahwa dengan berkembangnya teknologi, telah terjadi

Lebih terperinci

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang:

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 43 TAHUN 2014 TENTANG PERATURAN PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 6 TAHUN 2014 TENTANG DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2011 TENTANG INTELIJEN NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk terwujudnya tujuan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 1995 TENTANG KOMISI BANDING MEREK PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 35 Undang-undang Nomor 19 Tahun

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 22 TAHUN 2007 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pemilihan umum secara langsung

Lebih terperinci

P U T U S A N. Nomor:0230/Pdt.G/2007/PA.Wno BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA

P U T U S A N. Nomor:0230/Pdt.G/2007/PA.Wno BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA P U T U S A N Nomor:0230/Pdt.G/2007/PA.Wno BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Agama Wonosari yang memeriksa dan mengadili perkara-perkara tertentu pada

Lebih terperinci