DOI: /jbi/ /81 Jurnal Biologi Indonesia 17(1): (2021)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "DOI: /jbi/ /81 Jurnal Biologi Indonesia 17(1): (2021)"

Transkripsi

1 DOI: /jbi/ /81 Jurnal Biologi Indonesia 17(1): (2021) Toksisitas Oral Subakut Filtrat Buah Luwingan (Ficus hispida L.f.) pada Tikus Riul [Rattus norvegicus (Berkenhout, 1769)] Wistar Jantan {Subacute Oral Toxicity Study of Hairy Fig Fruits (Ficus hispida L.f.) Filtrate in Male Wistar Rats [Rattus norvegicus (Berkenhout, 1769)]} Laksmindra Fitria 1*, Lina Noor Na ilah 2, & Lisa Handayani 2 1 Laboratorium Fisiologi Hewan, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada 2 Mahasiswa Program Sarjana Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Jalan Teknika Selatan, Sekip Utara, Sleman, D.I. Yogyakarta * korespondensi: Memasukkan: Januari 2021, Diterima; Maret 2021 ABSTRACT Hairy Fig trees flourish in tropic regions, bearing abundant fruits all year round. Ethnobiological studies state that the fruits have been used as food or traditional medicine. However, some references reported that consuming the fruits cause dizziness, nausea, and vomiting. Therefore, we conducted this experiment to provide information regarding the toxicity and safety of consuming the fruits. Procedure following OECD Oral toxicity study of rodent was performed following the guide line of testing chemical No Repeated oral toxicity study was conducted for 28 days with some modification whithout changing the guideline. Nine male rats were selected as model to complement the toxicity study on male rats that had been done previously. Pure filtrate of young or ripe fruits were administered orally 1 ml/individual/day for consecutive 28 days. Feeding behavior and fecal conditions were recorded for qualitative data. Quantitative data consisted of body weight, core temperature, hematology profile, and evaluation of liver, heart, and renal functions were collected on day 0, 7, 14 and 28. Results showed that oral administration of young or ripe hairy fig fruits filtrate on male Wistar rats did not cause death or sublethal conditions as manifestation of clinical signs of toxicity. Both filtrates did not reduce appetite and affected the digestive system, as well as did not harm the general health indicated by all parameter s values were maintained within normal range. It can be concluded that no-observed-adverse-effectlevel (NOAEL) of hairy fig fruits filtrate was found in a concentration of 100%. Keywords: clinical biochemistry, Ficus hispida, hairy fig, hematology, subacute oral toxicity ABSTRAK Pohon luwingan tumbuh subur di kawasan tropis dan berbuah lebat sepanjang tahun. Studi etnobiologi menyatakan bahwa buah ini telah banyak dimanfaatkan sebagai bahan pangan atau obat tradisional. Namun demikian, beberapa pustaka menyatakan bahwa mengkonsumsi buah luwingan dapat menyebabkan pusing, mual, dan muntah. Oleh karena itu kami melakukan percobaan ini untuk menyediakan informasi mengenai toksisitas dan keamanan mengkonsumsi buah luwingan. Prosedur mengikuti Panduan Uji Bahan Kimia untuk Studi Toksisitas Oral oleh OECD No. 407: Studi toksisitas oral dosis berulang selama 28 hari pada rodensia. Beberapa modifikasi dilakukan untuk penyesuaian tanpa mengubah prinsip. Sembilan ekor tikus Wistar jantan dipilih sebagai model untuk melengkapi data toksisitas pada tikus riul galur Wistar jantan yang telah dilakukan sebelumnya. Filtrat murni buah luwingan muda atau matang dicekok sebanyak 1 ml/ekor/hari selama 28 hari berturut-turut. Parameter yang diamati berupa perilaku makan dan kondisi feses (data kualitatif). Parameter kuantitatif meliputi berat badan, suhu badan, profil hematologis, serta evaluasi fungsi hati, jantung, dan ginjal diamati pada hari ke-0, 7, 14, dan 28. Hasil menunjukkan bahwa pencekokan filtrat buah luwingan muda atau matang pada tikus Wistar jantan tidak menyebabkan kematian atau menimbulkan kondisi subletal yang mengarah pada tanda-tanda klinis adanya ketoksikan. Kedua macam filtrat buah luwingan juga tidak mengurangi nafsu makan dan mempengaruhi sistem pencernaan. Demikian juga tidak berbahaya bagi kesehatan secara umum, diindikasikan dari nilai untuk semua parameter yang tetap dipertahankan dalam kisaran normal. Dapat disimpulkan bahwa tidak ada efek samping yang teramati (no observed adverse effect level, NOAEL) pada filtrat buah luwingan konsentrasi 100%. Kata Kunci: biokimia klinis, Ficus hispida, hematologi, luwingan, toksisitas oral subakut 81

2 Fitria dkk PENDAHULUAN Tumbuhan luwingan (Ficus hispida) saat muda berupa semak yang setelah dewasa kemudian berkembang menjadi pohon berukuran kecil hingga sedang, tergantung pada kondisi habitatnya. Spesies ini tumbuh subur di kawasan tropis dan berbuah lebat sepanjang tahun (Ali & Chaudhary 2011; Lee et al. 2013). Buah luwingan yang masih muda (berwarna hijau) maupun yang sudah matang (berwarna kuning) dapat dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari maupun dijadikan bahan obat herbal tradisional, terutama di kawasan Asia Barat dan Tenggara (Ali & Chaudhary 2011; Shahreen et al. 2012). Namun demikian di Indonesia buah luwingan belum dimanfaatkan sama sekali. Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta menanam pohon luwingan untuk menambah keanekaragaman hayati tumbuhan lokal dan difungsikan sebagai tanaman perindang saja (Kehati 2009). Morfologi pohon dan buah luwingan disajikan pada Gambar 1. Studi toksisitas tumbuhan obat sudah banyak dilakukan seperti tumbuhan suku Annonaceae terhadap Spodoptera litura (Simanjuntak 2001) jamblang untuk menghambat bakteri Staphylococcus epidermidis (Rachmawati dkk 2021), namun untuk buah luwingan yang menghasilkan berbagai metabolit sekunder belum dilakukan pengkajian. Menurut Ali & Chaudhary (2011) dan Lansky & Paavileinen (2011), di dalam buah luwingan menghasilkan berbagai metabolit sekunder seperti alkaloid, sterol, fenol, flavonoid, pektin, gum, mucilage (semacam getah), glikosida, saponin, dan terpen. Zat-zat yang terkandung di dalam buah luwingan tersebut merupakan senyawa bioaktif yang berkhasiat untuk kesehatan, antara lain sebagai obat pencahar, antihemoragi, panas dalam, disentri, diare, ulkus, psoriasis, vitiligo, berbagai gangguan pencernaan, anemia, penyakit kuning, afrodisiak, tonik penyegar tubuh, serta mengatasi mual pada ibu hamil dan melancarkan produksi air susu. Di sisi lain, beberapa pustaka menyebutkan bahwa mengkonsumsi buah luwingan dapat menyebabkan mabuk, pusing, mual, dan muntah, yang merupakan sebagian tanda-tanda ketoksikan (Berg et al. 2005; Slik 2009). Hingga saat ini masih sedikit publikasi ilmiah tentang kajian ketoksikan dan efek fisiologis setelah mengkonsumsi buah luwingan. Oleh karena itu, kami melakukan serangkaian studi toksisitas oral. Studi toksisitas oral akut filtrat buah luwingan menggunakan model tikus Wistar menunjukkan bahwa nilai semua parameter yang diamati berada di dalam kisaran normal kecuali jumlah limfosit yang terus meningkat hingga akhir percobaan (Fitria dkk b ). Studi toksisitas oral subakut filtrat buah luwingan pada tikus Wistar betina menunjukkan bahwa jumlah limfosit kembali ke dalam kisaran normal, akan tetapi menunjukkan potensi menyebabkan anemia serta gangguan fungsi ginjal (Fitria dkk. 2020). Studi toksisitas oral subakut pada tikus Wistar jantan belum dilakukan. Menurut Clayton (2016) & Miller et al. (2017), metabolisme zat pada individu jantan dan betina dapat berbeda. Oleh karena itu, dalam percobaan biomedis-praklinis yang terkait sistem fisiologis secara umum hendaknya diterapkan pada kedua jenis kelamin, termasuk studi toksisitas dan kajian potensi bahan alam sebagai obat maupun pangan fungsional. Hal ini karena hasil yang diperoleh nantinya akan ditranslasikan dan diformulasikan pada manusia, baik pria maupun wanita saat percobaan fase klinis. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk melengkapi data toksisitas oral subakut filtrat buah luwingan menggunakan tikus Wistar jantan. Gambar 1. A. Pohon luwingan yang sedang berbuah, B. Buah luwingan tersusun dalam tandan, bercampur antara buah muda dan buah matang, C. Morfologi buah luwingan: 1. Buah muda, 2. Buah matang (Dokumentasi pribadi) 82

3 Toksisitas Oral Subakut Filtrat Buah Luwingan (Ficus hispida L.f.) pada Tikus BAHAN DAN CARA KERJA Buah luwingan dipetik langsung dari pohon yang tumbuh di area Fakultas Biologi UGM. Buah yang digunakan berupa buah muda (berwarna hijau, tekstur keras) dan buah matang (berwarna kuning, tekstur lunak), dengan diameter sekitar 3 cm dan berat minimal 20 gram. Segera setelah proses sortasi, buah dibelah untuk dibersihkan bagian dalamnya, selanjutnya dicuci, diparut, diperas, dan disaring cairannya sehingga diperoleh filtrat murni dengan konsentrasi 100 %. Preparasi buah luwingan dalam bentuk filtrat murni ini dipilih dengan pertimbangan kemudahan mengkonsumsi untuk kehidupan sehari-hari (Fitria dkk, 2020). Percobaan ini paralel dengan kajian fitokimia dalam rangka mengetahui jenisjenis dan mengkuantifikasi kandungan metabolit sekunder per satu buah luwingan (belum dipublikasikan). Sembilan ekor tikus riul jantan galur Wistar (Rattus norvegicus) berumur 8 minggu diperoleh dari Fakultas Farmasi UGM dengan kisaran berat badan awal gram. Tikus dipelihara dalam kandang standar yang dimodifikasi dari bak persegi empat polipropilen BPA-free dengan penutup anyaman kawat tahan karat. Alas tidur berupa serutan kayu yang telah disterilisasi. Kandang ditempatkan di animal room Laboratorium Fisiologi Hewan Fakultas Biologi UGM dengan parameter lingkungan sebagai berikut: suhu ruangan C, kelembapan relatif %, fotoperiode 12 jam gelap dan 12 jam terang menggunakan pencahayaan artifisial dengan intensitas iluminasi 40 lux, ventilasi udara searah, dilengkapi dengan AC dan exhaust fan. Prosedur pemeliharaan telah diupayakan mengikuti panduan standar hewan laboratorium oleh National Research Council (NRC 2011). Pakan berupa pelet rodensia merk Ratbio (PT Citra Ina Feedmill, Jakarta) dan air minum dalam kemasan (PT Aqua Golden Mississippi, Bekasi). Pakan dan air minum diberikan ad libitum. Sebelum percobaan dimulai, hewan diaklimasi selama satu minggu untuk pemulihan pasca transportasi dan habituasi lingkungan baru. Penelitian ini dilengkapi dengan sertifikat Ethical Clearance yang diterbitkan oleh Komisi Kelaikan Etik Hewan Coba Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu (LPPT) UGM. Tikus dikelompokkan menjadi tiga: Kelompok yang dicekok filtrat buah muda (FMU), kelompok yang dicekok filtrat buah matang (FMA), dan kelompok yang dicekok air suling sebagai kontrol/ plasebo (K). Volume cekok filtrat buah luwingan dan air suling adalah 1 ml/ekor/hari. Proses pencekokan dilakukan selama 28 hari berturutturut (Gambar 2). Prosedur uji toksisitas mengikuti Fitria dkk. (2020) yang mengacu pada Panduan Uji Bahan Kimia untuk Studi Toksisitas Oral oleh OECD No. 407: Repeated dose 28-day oral toxicity study in rodents di bagian Limit Test (OECD 2008) dengan beberapa modifikasi yaitu: dosis/konsentrasi bahan uji, jumlah hewan coba, dan jenis kelamin hewan. Data yang diambil mengikuti parameter pada studi toksisitas oral akut dan subakut buah luwingan oleh Fitria dkk. (2019 b ) dan Fitria dkk. (2020). Data kualitatif berupa pengamatan kondisi fisik secara umum, perilaku/aktivitas, nafsu makan, dan struktur feses. Pengamatan dilakukan setiap hari secara langsung selama dua jam setelah pencekokan, selanjutnya menggunakan perangkat CCTV. Data kuantitatif meliputi berat badan, suhu badan, profil hematologis (eritrosit, leukosit, trombosit), biokimia klinis untuk evaluasi fungsi hati: ALT, jantung: AST, dan ginjal: kreatinin (Fitria dkk a ). Pengukuran berat badan dan suhu badan dilakukan seminggu sekali bersamaan waktunya dengan sanitasi kandang dan ruangan pemeliharaan. Pengambilan data hematologis dan biokimia klinis Gambar 2. Proses pencekokan filtrat buah luwingan pada tikus 83

4 Fitria dkk dilakukan pada hari ke-0 (sebagai baseline), 7, 14, 21, dan 28. Sampel darah untuk analisis hematologis dan biokimia klinis dikoleksi dari sinus orbitalis setelah hewan dianestesi dengan cocktail Ketamine-Xylazine (K=50 mg/kgbb, X=5 mg/ kgbb). Hitung darah lengkap menggunakan hematology analyzer Sysmex XP-100, evaluasi fungsi organ menggunakan clinical chemistry analyzer Microlab 300. Pada hari terakhir percobaan, hewan dikorbankan dengan cara anestesi dilanjutkan dengan eksanguinasi. Hati, jantung, dan ginjal diawetkan dalam fiksatif neutral buffered formalin (NBF 10 %) untuk diproses lebih lanjut guna pengamatan histopatologis jika hasil analisis darah menunjukkan adanya efek ketoksikan yang signifikan. Data kualitatif dipaparkan secara deskriptif. Data kuantitatif dianalisis sebagai descriptive statistic (mean±sem) dilanjutkan uji two-way ANOVA (ɑ=0,05). Hasilnya kemudian divisualisasikan dalam bentuk grafik garis untuk melihat kecenderungan (trend) dan dinamika fisiologis. Ada tidaknya efek toksik diamati dengan cara membandingkan data pada perlakuan dan kontrol serta kisaran normal (baseline). Nilai baseline berasal dari angka terendah hingga tertinggi dari populasi hewan dalam penelitian ini yang diukur pada hari ke-0 (Weiss & Wardrop 2010), ditampilkan dalam grafik sebagai blok berwarna hijau muda. Hasil pengukuran suhu badan selama percobaan menunjukkan bahwa semua tikus berada dalam kondisi sehat, dibuktikan dengan nilai yang tetap dipertahankan di dalam kisaran normal (Gambar 4). Data ini mengindikasikan bahwa filtrat buah luwingan tidak mengandung zat yang menginduksi demam (pirogen) atau memicu keradangan/inflamasi (antigen). Profil hematologis Profil hematologis yang terdiri dari eritrosit, leukosit, dan trombosit pada tikus selama percobaan disajikan berturut-turut pada Gambar 5-7. Terlihat bahwa filtrat buah luwingan matang menurunkan hematokrit, jumlah eritrosit, dan hemoglobin (tidak signifikan dan masih berada di dalam kisaran normal). Kontrol mengalami penurunan hematokrit dan jumlah eritrosit, namun kemudian berangsur kembali ke dalam kisaran normal. Perhitungan indeks eritrosit berupa MCV, MCH, dan MCHC pada HASIL Kondisi fisik, perilaku/aktivitas, nafsu makan, dan struktur feses Selama percobaan tidak ada tikus yang mati atau sakit akibat pencekokan filtrat buah luwingan. Demikian juga tidak mengganggu nafsu makan yang dapat diketahui dari berat sisa pakan harian dan berat badan yang ditimbang setiap minggu secara reguler (Gambar 3). Berat badan tikus pada kelompok perlakuan yang terus meningkat sebagaimana kontrol membuktikan bahwa filtrat buah luwingan muda maupun matang tidak mengurangi nafsu makan. Filtrat buah luwingan juga tidak mengganggu fungsi pencernaan, diamati dari struktur feses yang normal, baik bentuk, warna, maupun konsistensinya (tidak mengalami diarea). Gambar 3. Berat badan tikus Wistar jantan pada studi toksisitas oral subakut filtrat buah luwingan. Gambar 4. Suhu badan tikus Wistar jantan pada studi toksisitas oral subakut filtrat buah luwingan 84

5 Toksisitas Oral Subakut Filtrat Buah Luwingan (Ficus hispida L.f.) pada Tikus Gambar 5. Profil eritrosit tikus Wistar jantan pada studi toksisitas oral subakut filtrat buah luwingan. A= hematokrit, B= jumlah eritrosit, C= kadar hemoglobin, D= MCV, E= MCH, F= MCHC Gambar 6. Profil leukosit tikus Wistar jantan pada studi toksisitas oral subakut filtrat buah luwingan. A= jumlah leukosit, B= jumlah neutrofil, C= jumlah limfosit, D= persentase neutrofil, E= persentase limfosit, F= N/L 85

6 Fitria dkk semua kelompok menunjukkan bahwa semua nilai masih berada di dalam kisaran normal. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tidak ada indikasi anemia yang signifikan. Parameter hematologis profil leukosit dapat dilihat pada Gambar 6, dan terlihat bahwa jumlah leukosit mengalami peningkatan pada semua kelompok. Pada kelompok yang dicekok filtrat buah luwingan muda dan kontrol, peningkatan hingga melebihi kisaran normal (tidak signifikan). Peningkatan jumlah leukosit pada kontrol terjadi akibat peningkatan jumlah neutrofil, sementara peningkatan jumlah leukosit pada kelompok yang dicekok filtrat buah luwingan karena peningkatan jumlah limfosit. Perubahan jumlah neutrofil dan limfosit dapat mengubah proporsi atau persentase keduanya yang dikenal dengan istilah rasio neutrofil terhadap limfosit (N/L). Dalam percobaan ini nilai N/L masih berada di dalam kisaran normal meskipun fluktuatif. Dapat disimpulkan bahwa filtrat buah luwingan muda maupun matang tidak mengandung zat yang memicu respons imun tubuh. Parameter hematologis selanjutnya adalah jumlah trombosit (Gambar 7). Terlihat bahwa jumlah trombosit pada kelompok yang dicekok filtrat buah luwingan muda maupun matang tetap dipertahankan di dalam kisaran normal. Hal ini menunjukkan bahwa buah luwingan tidak menimbulkan efek buruk terhadap fungsi hemostasis. Uji fungsi Organ Hasil analisis biokimia klinis plasma untuk evaluasi fungsi hati (aktivitas ALT), jantung (aktivitas AST), dan ginjal (kadar kreatinin) disajikan pada Gambar 8. Terlihat bahwa aktivitas enzim alanine amino-transferase (ALT) dalam percobaan ini mengalami penurunan namun masih berada di dalam kisaran normal, kecuali pada kelompok yang dicekok filtrat buah luwingan matang Gambar 7. Jumlah trombosit tikus Wistar jantan pada studi toksisitas oral subakut filtrat buah luwingan Gambar 8. Hasil analisis biokima klinis plasma untuk evaluasi fungsi organ tikus Wistar jantan pada studi toksisitas oral subakut filtrat buah luwingan.. A= fungsi hati berdasarkan aktivitas ALT, B= fungsi jantung berdasarkan fungsi AST, C= AST/ALT untuk prediksi kerusakan hati, D= kadar kreatinin untuk fungsi ginjal 86

7 Toksisitas Oral Subakut Filtrat Buah Luwingan (Ficus hispida L.f.) pada Tikus (tidak signifikan). Aktivitas enzim aspartate amino-transferase (AST) selain merupakan indikator kesehatan fungsi hati juga dapat digunakan untuk mengevaluasi fungsi jantung. Hasil menunjukkan bahwa nilai AST pada semua kelompok berada di dalam kisaran normal. Fluktuasi nilai merupakan perwujudan dinamika fisiologis normal. Perhitungan rasio AST terhadap ALT (AST/ALT) atau De Ritis ratio dapat digunakan untuk diagnosis penyebab kerusakan hati atau hepatotoksisitas. Hasil menunjukkan bahwa nilai AST/ALT pada kelompok yang dicekok filtrat buah luwingan matang terus meningkat hingga melebihi kisaran normal. Namun demikian peningkatan ini tidak signifikan dan kontrol juga mengalami peningkatan yang serupa. Hasil pengukuran kadar kreatinin menunjukkan bahwa semua kelompok mengalami fluktuasi namun nilainya masih berada di dalam kisaran normal. Dapat disimpulkan bahwa filtrat buah luwingan tidak mengganggu fungsi ginjal sebagai organ filtrasi. PEMBAHASAN Sebagaimana hasil studi toksisitas sebelumnya oleh Fitria dkk. (2019 b ) dan Fitria dkk. (2020), pencekokan filtrat buah luwingan tidak menyebabkan kematian atau menimbulkan kondisi subletal (sakit). Tikus yang sakit dapat diamati dari kondisi fisik dan perilaku/aktivitasnya, yaitu: rambut tubuh berdiri (piloereksi), wajah muram, terdapat kotoran kemerahan di sekitar mata dan hidung akibat sekresi porfirin, jari-jari tungkai depan dan belakang serta ekor tampak kotor karena individu tidak aktif melakukan grooming, hewan tampak lesu, tidak banyak bergerak, dan pasif saat didekati, serta nafsu makan berkurang (RatCentral 2017). Selain berat badan, suhu badan juga merupakan parameter fisiologis dasar yang penting karena dapat menunjukkan status kesehatan hewan. Suhu badan hewan yang sakit akan lebih rendah atau lebih tinggi daripada hewan sehat. Suhu badan tikus yang dipertahankan dalam kisaran normal menunjukkan bahwa filtrat buah luwingan muda maupun matang tidak merusak sistem termoregulasi yang dapat mengakibatkan hipotermia atau hipertermia. Menurut Hankeson et al. (2018), gangguan termoregulasi pada tikus laboratorium terjadi akibat stres atau sakit (demam). Masuknya zat-zat asing yang berbahaya bagi tubuh (antigen) akan direspons dengan kenaikan suhu badan melalui mekanisme inflamasi. Sebaliknya, penurunan suhu badan akibat stres terjadi karena pada kondisi stres hewan menolak makan yang berdampak pada penurunan kadar glukosa darah. Hal tersebut, ditambah aktivitas hormon-hormon stres yaitu adrenalin dan kortisol, memicu glukoneogenesis dan termogenesis yang diimbangi dengan penurunan suhu badan (Nirupama et al. 2018). Profil hematologis atau hitung darah lengkap dapat menggambarkan kondisi kesehatan hewan (Fitria & Mulyati 2014). Masuknya zat-zat asing ke dalam tubuh dapat mengubah nilai profil hematologis, bahkan bersifat toksik terhadap selsel darah (hematotoksik). Potensi hematotoksisitas harus dikaji terkait administrasi obat-obatan dan zat-zat kimia. Efeknya dimulai dari gangguan transportasi oksigen (fungsi eritrosit), imunitas (fungsi leukosit), clotting (fungsi trombosit), bahkan dapat memicu pertumbuhan berbagai macam kanker (Budinsky 2000). Alih-alih bersifat hemotoksik dan karsinogenik, buah luwingan merupakan agen kemopreventif dan antikanker yang potensial karena mengandung senyawa isoflavon, coumarins, caffeoylquinic acids, fenolik, dan glukosida steroid (Zhang et al. 2018). Menurut Hossain et al. (2016), buah luwingan juga mengandung sejumlah senyawa antioksidan yang penting untuk melindungi sel-sel tubuh dari stres oksidatif. Kerusakan sel akibat stres oksidatif memicu berbagai penyakit kronik, antara lain: kardiovaskular, paru obstruktif, gagal ginjal, neurodegeneratif, dan kanker (Liguori et al. 2018). Profil eritrosit pada percobaan ini menunjukkan hasil yang sama dengan studi toksisitas menggunakan tikus betina oleh Fitria dkk. (2020), akan tetapi penurunan tidak signifikan sebagaimana pada tikus betina. Perbedaan profil eritrosit pada tikus jantan dan betina bersifat umum, tidak hanya pada studi toksisitas ini saja. Individu jantan memiliki lebih banyak testosteron, di mana hormon ini mampu meningkatkan sintesis eritropoietin untuk produksi eritrosit (Barcello et al. 1999). Oleh karena itu, secara alami individu jantan cenderung memiliki jumlah eritrosit yang lebih 87

8 Fitria dkk banyak dan kadar hemoglobin yang lebih tinggi sehingga dapat mengantisipasi kondisi anemia secara lebih baik daripada individu betina. Profil leukosit pada percobaan ini menunjukkan hasil yang berkebalikan dengan pada tikus betina (Fitria dkk. 2020). Peningkatan jumlah leukosit yang disebabkan oleh peningkatan jumlah neutrofil atau limfosit mengindikasikan adanya respons imun jika bersifat signifikan atau berada di luar kisaran normal (lebih tinggi atau lebih rendah), serta mengubah nilai N/L (Weiss & Wardrop 2010). Dalam percobaan ini nilai N/L pada semua kelompok masih berada di dalam kisaran normal meskipun nilainya fluktuatif. Dapat disimpulkan bahwa filtrat buah luwingan tidak dianggap sebagai zat asing (antigen) yang membahayakan tubuh sehingga harus dilawan. Namun demikian konsumsi buah luwingan matang perlu diwaspadai karena menunjukkan nilai yang berada di ambang batas. Jumlah trombosit tikus yang dicekok filtrat buah luwingan muda maupun matang tetap dipertahankan di dalam kisaran normal. Hal ini berarti filtrat buah luwingan tidak mengganggu produksi maupun fungsi trombosit. Dengan kata lain, tidak ada efek samping terhadap mekanisme hemostasis normal seperti adanya perdarahan, hemoragi, lamanya waktu koagulasi darah, dan gangguan proses penutupan luka (clotting). Hasil ini serupa dengan studi toksisitas pada tikus betina oleh Fitria dkk. (2020). Menurut Bhutta et al. (2013), ALT merupakan enzim intrasel hepatosit, sehingga keberadaannya di dalam plasma mengindikasikan sejumlah hepatosit yang lisis dan mengakibatkan enzim ini bocor ke dalam sirkulasi darah. Oleh karena itu, peningkatan aktivitas ALT berkorelasi positif dengan gangguan fungsi hati akibat kerusakan hepatosit. Sebaliknya, penurunan aktivitas ALT dapat berarti terjadi perbaikan fungsi hati (Fitria dkk a ). Seperti halnya ALT, nilai AST berkorelasi positif dengan gangguan fungsi hati dan jantung. Perhitungan rasio AST terhadap ALT atau AST/ALT (De Ritis ratio) dapat digunakan untuk diagnosis penyebab kerusakan hati atau hepatotoksisitas. Formula ini diperkenalkan oleh Fernando De Ritis, seorang dokter dari Italia yang mempelajari aktivitas enzim transaminase pada tahun Nilai AST/SLT yang rendah menunjukkan kerusakan ekstrahepatik, sedangkan nilai AST/ALT yang tinggi menunjukkan kerusakan intrahepatik (Botros & Sikaris, 2013). Tinggi rendahnya nilai rasio AST/ALT bersifat relatif, oleh karena itu, untuk memudahkan pembacaan maka dibandingkan dengan kontrol yang diasumsikan sebagai individu sehat, serta kisaran nilai normalnya (baseline). Hasil menunjukkan bahwa kelompok yang dicekok filtrat buah luwingan matang memiliki nilai AST/ALT yang terus meningkat hingga melebihi kisaran normal, demikian juga pada kontrol. Meskipun tidak signifikan, namun hal ini perlu diwaspadai. Oleh karena itu kami melanjutkan studi toksisitas pada tahap subkronik (90 hari) untuk mengetahui apakah peningkatan ini terus berlanjut atau kembali ke dalam kisaran normal. Kreatinin sebagai hasil metabolisme otot merupakan limbah yang harus diekskresikan. Oleh karena itu, tingginya kadar kreatinin dalam sirkulasi darah berkorelasi positif dengan kerusakan filtrasi ginjal pada glomerulus (Fitria dkk a ). Hasil percobaan menunjukkan bahwa kadar kreatinin pada semua kelompok memiliki nilai yang berfluktuasi namun tetap berada di dalam kisaran normal. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada kerusakan fungsi ginjal akibat konsumsi filtrat buah luwingan. Hasil ini berbeda dari studi toksisitas pada tikus betina oleh Fitria dkk. (2020). Dengan adanya perbedaan hasil ini, maka memperkuat alasan untuk dilakukan studi toksisitas lanjutan (periode subkronik) guna mempelajari potensi buah luwingan terhadap kerusakan fungsi ginjal (nefrotoksisitas) dengan menggunakan tambahan indikator lain yaitu blood urea nitrogen (BUN). Menurut Bhutta et al. (2013), urea adalah variabel utama untuk uji fungsi ginjal selain kreatinin. Limbah hasil metabolisme protein ini secara konsisten diekskresikan melalui ginjal sebagai urin. Oleh karena itu, tingginya kadar urea di dalam plasma dapat digunakan untuk indikator gangguan fungsi ginjal. SIMPULAN DAN SARAN Pemberian per oral filtrat buah luwingan muda atau matang pada tikus Wistar jantan tidak mengganggu nafsu makan dan sistem pencernaan ditunjukkan dengan pertumbuhan 88

9 Toksisitas Oral Subakut Filtrat Buah Luwingan (Ficus hispida L.f.) pada Tikus normal berat badan dan struktur feses. Hasil uji hematologis serta uji biokimia klinis untuk evaluasi fungsi hati, jantung, dan ginjal menunjukkan bahwa tidak ditemukan tandatanda ketoksikan yang signifikan karena meskipun nilainya fluktuatif selama percobaan namun masih cenderung dipertahankan di dalam kisaran normal. Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa filtrat buah luwingan muda maupun matang aman dikonsumsi setiap hari hingga periode subakut karena tidak ada efek samping yang teramati secara signifikan (no observed adverse effect level, NOAEL) pada konsentrasi 100 %. Berdasarkan hasil penelitian ini dan juga dibandingkan dengan hasil penelitian sebalumnya oleh Fitria dkk. (2020), maka perlu dilakukan uji toksisitas oral tahap selanjutnya (periode subkronik) guna mempelajari efek mengkonsumsi filtrat buah luwingan dalam jangka waktu yang lebih panjang. KONTRIBUSI PENULIS FL: Kontributor utama, merancang penelitian, mengumpulkan, menganalisis data, dan menulis manuskrip. LNN dan LH: membantu memperoleh data penelitian, proses analisis dan penulisan. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada para mahasiswi anggota Tim Ficus I : Rosita Dwi Putri Suranto, Indira Diah Utami, Septy Azizah Puspitasari, dan Paradhita Zulfa Nadia, serta Tim Ficus II : Angevia Merici Purnama Sica, Theresia Destri Ria Christianty, dan Elsa Rian Stevani S. atas kerja sama selama ini. Ucapan terima kasih juga penulis haturkan kepada Dr. Yekti Asih Purwestri dan Tim Ficus Biokimia : Pundhi Nastiti, Reinatawas Febri Santika, dan Zulfa Layina, yang tengah melakukan analisis fitokimia beberapa metabolit sekunder buah luwingan untuk mendukung Proyek Ficus ini. DAFTAR PUSTAKA Ali, M. & N. Chaudhary Ficus hispida Linn: A review of its pharmacognostic and ethnomedical properties. Pharmacognosy Review. 5(9): DOI: / Barcello, AC., MI. Olivera, C. Bozzini, RM. Alippi & CE. Bozzini Androgens and erythropoiesis. Induction of erythropoietin-hypersecretory state and effect of finasteride on erythropoietin secretion. Comparative Haematology International. 9:1-6 DOI: / BF Berg, CC., EJH. Corner & HP. Noteboom Moraceae (Ficus). Flora Malesiana. Series 1-Seed Plants. Volume 17. Part 2. Nationaal Herbarium Nederland. Leiden, Netherlands. Bhutta, RA., NA. Syed, A. Ahmad & S. Khan Lab Tests for SGPT (ALT, Alanine amino-transferase, Serum Glutamic-Pyruvic Transaminase), SGOT (Aspartate amino -transferase, AST, Glutamic oxaloacetic Transaminase), Blood Urea Nitrogen (BUN, Urea Nitrogen), and Creatinine (Serum Creatinine). Botros, M. & KA. Sikaris The De Ritis ratio: The test of time. The Clinical Biochemist Reviews.34(3): Budinsky, RA Hematotoxcicity: Chemically induced toxicity of the blood. Dalam: Williams, PL., RC. James & SM. Roberts. (eds) Principles of toxicology: environmental and industrial aplications. 2 nd edition. John Wiley & Sons, Inc. New York, USA Clayton, JA Studying both sexes: A guiding principle for biomedicine. The FASEB Journal. 30(2): DOI: /fj Fitria, L. & Mulyati Profil hematologi tikus (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769) galur Wistar jantan dan betina umur 4, 6, dan 8 minggu. Biogenesis. 2(2): DOI: /bio.v2i Fitria, L., F. Lukitowati & D. Kristiawati a. Nilai rujukan untuk evaluasi fungsi hati dan ginjal pada tikus (Rattus norvegicus 89

10 Fitria dkk Berkenhout, 1769) galur Wistar. Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA. 10(2): Fitria, L., RDP. Suranto & ID. Utami b. Uji toksisitas oral akut single dose filtrat buah luwingan (Ficus hispida L.f.) pada tikus (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769) Galur Wistar. Jurnal Mangifera Edu. 4(1):1-18. DOI: /mangiferaedu. v4i1.39. Fitria, L., RDP. Suranto, ID. Utami & SA. Puspitasari Uji toksisitas oral repeated dose filtrat buah luwingan (Ficus hispida L.f.) menggunakan tikus (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769) Galur Wistar. Berita Biologi. 19(3): DOI: /beritabiologi. v19i Hankenson, FC., JO. Marx, CJ. Gordon & JM. David Effects of rodent thermoregulation on animal models in the research environment. Comparative Medicine 68(6): DOI: / AALAS-CM Hossain, M., S. Parvin, S. Dutta, M. Mahbub & M. Islam Studies on in vitro antioxidant activity of methanolic extract and fractions of Ficus hispida Lin. fruits. Journal of Scientific Research 8(3): DOI: /jsr. v8i Kehati Jenis-jenis tanaman lokal dan endemik di wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Pembangunan Taman Keanekaragaman Hayati Provinsi DIY Tahun Anggaran Lampiran 1 Lansky, EP. & HM. Paavilainen Figs: The genus Ficus: Traditional herbal medicines for modern times. CRC Press. Taylor and Francis Group, LLC. Florida, USA. Lee, SH., ABC. Ng, KH. Ong, T. O'Dempsey & HTW. Tan The status and distribution of Ficus hispida L.f. (Moraceae) in Singapore. Nature in Singapore. 6: Liguori, I., G. Russo, F. Curcio, G. Bulli, L. Aran, D. Della-Morte, G. Gargiulo, G. Testa, F. Cacciatore, D. Bonaduce & P. Abete Oxidative stress, aging, and diseases. Clinical Interventions in Aging. 13: DOI: /CIA.S Miller, LR., C. Marks, JB. Becker, PD. Hurn, WJ. Chen, T. Woodruff, MM. McCarthy, F. Sohrabji, L. Schiebinger, CL. Wetherington, S. Makris, AP. Arnold, G. Einstein, VM. Miller, K. Sandberg, S. Maier, TL. Cornelison & JA. Clayton Considering sex as a biological variable in preclinical research. The FASEB Journal. 31(1): DOI: /fj R. Nirupama, R., B. Rajaraman & HN. Yajurvedi Stress and glucose metabolism: A review. Imaging Journal of Clinical and Medical Sciences 5(1): DOI: / NRC Guide for the care and use of laboratory animals. 8 th edition. National Research Council. The National Academies Press. Washington, D.C., USA. DOI: / OECD Test No. 407: Repeated Dose 28- day Oral Toxicity Study in Rodents. OECD Guidelines for the Testing of Chemicals. Section 4. The Organisation for Economic Co-operation and Development. OECD Publishing. Paris. DOI: / en. RatCentral Signs Of Illness In Rats You Should Know. signs-illness-rats/. Rachmawati, N., G. Maulidiyah, & Aminah Uji daya hambat dan toksisitas ekstrak daun jamblang [Syzygium cumini (L.) Skeels] terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus epidermidis. Jurnal Biologi Indonesia. 17(1): Shahreen, S., J. Banik, A. Hafiz, S. Rahman, AT. Zaman, MA. Shoyeb, MH. Chowdhury & M. Rahmatullah Antihyperglycemic activities of leaves of three edible fruit plants (Averrhoa carambola, Ficus hispida, and Syzygium samarangense) of Bangladesh. African Journal Traditional Complement Alternative Medica. 9(2): Simanjuntak, P., R. Samsoedin, T. Parwati, & Widayanti Uji Toksisitas Ekstrak tumbuhan suku Annonaceae: Alphonsea teiysmannii, Annona glabra, Polyalthia lateriflora terhadap larva Spodoptera litura. Jurnal Biologi Indonesia 2(1):

11 Toksisitas Oral Subakut Filtrat Buah Luwingan (Ficus hispida L.f.) pada Tikus Slik, JWF Plants of Southeast Asia. Ficus_hispida.htm. Weiss, DJ. & KJ. Wardrop, Schalm's Veterinary Hematology. 6 th edition. Blackwell Publishing Ltd. Ames, Iowa. USA. Zhang, J., WF. Zhu, J. Xu, W. Kitdamrongtham, A. Manosroi, J. Manosroi, H. Tokuda, M. Abe, T. Akihisa & F. Feng Potential cancer chemopreventive and anticancer constituents from the fruits of Ficus hispida L.f. (Moraceae). Journal of Ethnopharmacology 214: DOI: /j.jep

12

I. PENDAHULUAN. lebih dikenal dengan istilah back to nature (Sari, 2006). Namun demikian,

I. PENDAHULUAN. lebih dikenal dengan istilah back to nature (Sari, 2006). Namun demikian, I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masyarakat telah lama memanfaatkan sumberdaya alam terutama tanaman atau tumbuhan yang ada di sekitarnya untuk obat tradisional maupun tujuan lainnya (Sutarjadi, 1992;

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. perhatian adalah buah luwingan (Ficus hispida L.f.). Kesamaan genus buah

I. PENDAHULUAN. perhatian adalah buah luwingan (Ficus hispida L.f.). Kesamaan genus buah I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengobatan terhadap penyakit ringan atau berat dapat dilakukan menggunakan obat sintetis ataupun obat yang berasal dari bahan alam. Namun demikian, beberapa pihak terutama

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. tumbuhan yang telah banyak dikenal dan dimanfaatkan dalam kesehatan adalah

I. PENDAHULUAN. tumbuhan yang telah banyak dikenal dan dimanfaatkan dalam kesehatan adalah I. PENDAHULUAN A. Latar belakang Penelitian Indonesia memiliki keanekaragaman sumber daya hayati yang telah dikenal sejak lama dan dimanfaatkan menjadi obat tradisional sebagai salah satu upaya dalam menanggulangi

Lebih terperinci

UJI TOKSISITAS SUB KRONIS DARI EKSTRAK ETANOL DAUN SIRSAK (Annona muricata.l) TERHADAP HATI DAN GINJAL PADA MENCIT PUTIH

UJI TOKSISITAS SUB KRONIS DARI EKSTRAK ETANOL DAUN SIRSAK (Annona muricata.l) TERHADAP HATI DAN GINJAL PADA MENCIT PUTIH UJI TOKSISITAS SUB KRONIS DARI EKSTRAK ETANOL DAUN SIRSAK (Annona muricata.l) TERHADAP HATI DAN GINJAL PADA MENCIT PUTIH SKRIPSI SARJANA FARMASI Oleh: MUTIA HARISSA No. BP 0811013150 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS

Lebih terperinci

UJI FUNGSI GINJAL DAN HATI TIKUS PUTIH

UJI FUNGSI GINJAL DAN HATI TIKUS PUTIH SKRIPSI UJI FUNGSI GINJAL DAN HATI TIKUS PUTIH (Rattus novergicus Berkenhout, 1769) GALUR WISTAR PADA UJI TOKSISITAS ORAL SUBKRONIS FILTRAT BUAH LUWINGAN (Ficus hispida L.f.) Disusun oleh: Angevia Merici

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 033 tahun 2012 tentang Bahan

BAB I PENDAHULUAN. Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 033 tahun 2012 tentang Bahan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Jenis makanan yang terdapat di masyarakat tidak jarang mengandung bahan kimia berbahaya serta tidak layak makan, penggunaan bahan kimia berbahaya yang marak digunakan

Lebih terperinci

PROFIL HEMATOLOGIS TIKUS PUTIH

PROFIL HEMATOLOGIS TIKUS PUTIH SKRIPSI PROFIL HEMATOLOGIS TIKUS PUTIH (Rattus norvegicus Berkenhout, 1769) GALUR WISTAR PADA UJI TOKSISITAS ORAL SUBKRONIS FILTRAT BUAH LUWINGAN (Ficus hispida L.f) Disusun oleh: Theresia Destri Ria Christianty

Lebih terperinci

EFEK EKSTRAK TANDUK RUSA SAMBAR (CERVUS UNICOLOR) TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ TIKUS PUTIH (RATTUS NOVERGICUS)

EFEK EKSTRAK TANDUK RUSA SAMBAR (CERVUS UNICOLOR) TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ TIKUS PUTIH (RATTUS NOVERGICUS) EFEK EKSTRAK TANDUK RUSA SAMBAR (CERVUS UNICOLOR) TERHADAP KADAR UREUM DAN KREATININ TIKUS PUTIH (RATTUS NOVERGICUS) Defriana, Aditya Fridayanti, Laode Rijai Laboratorium Penelitian dan Pengembangan FARMAKA

Lebih terperinci

ABSTRAK. Aldora Jesslyn O., 2012; Pembimbing I : Penny Setyawati M, dr., Sp.PK, M.Kes. Pembimbing II : Sijani Prahastuti, dr., M.Kes.

ABSTRAK. Aldora Jesslyn O., 2012; Pembimbing I : Penny Setyawati M, dr., Sp.PK, M.Kes. Pembimbing II : Sijani Prahastuti, dr., M.Kes. ABSTRAK EFEK SAMPING JUS BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) TERHADAP KADAR SGPT (SERUM GLUTAMIC PYRUVIC TRANSAMINASE) TIKUS JANTAN GALUR Wistar Aldora Jesslyn O., 2012; Pembimbing I : Penny Setyawati

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkat, terlebih dengan adanya isu back to nature serta krisis berkepanjangan

BAB I PENDAHULUAN. meningkat, terlebih dengan adanya isu back to nature serta krisis berkepanjangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan bahan alam, baik sebagai obat maupun tujuan lain cenderung meningkat, terlebih dengan adanya isu back to nature serta krisis berkepanjangan yang mengakibatkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Obat analgesik adalah obat yang dapat mengurangi nyeri tanpa menyebabkan. mengurangi efek samping penggunaan obat.

BAB I PENDAHULUAN. Obat analgesik adalah obat yang dapat mengurangi nyeri tanpa menyebabkan. mengurangi efek samping penggunaan obat. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Nyeri merupakan salah satu penyakit yang prevalensinya meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Diperkirakan satu dari lima orang dewasa mengalami nyeri dan setiap

Lebih terperinci

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN Data hasil perhitungan jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin, nilai hematokrit, MCV, MCH, dan MCHC pada kerbau lumpur betina yang diperoleh dari rata-rata empat kerbau setiap

Lebih terperinci

I. PENDAHULAN. memetabolisme dan mengekskresi zat kimia. Hati juga mendetoksifikasi zat

I. PENDAHULAN. memetabolisme dan mengekskresi zat kimia. Hati juga mendetoksifikasi zat I. PENDAHULAN A. Latar Belakang Hati merupakan organ yang mempunyai kemampuan tinggi untuk mengikat, memetabolisme dan mengekskresi zat kimia. Hati juga mendetoksifikasi zat kimia yang tidak berguna/merugikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kerusakan sel, dan menjadi penyebab dari berbagai keadaan patologik. Oksidan

BAB I PENDAHULUAN. kerusakan sel, dan menjadi penyebab dari berbagai keadaan patologik. Oksidan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perhatian dunia kedokteran terhadap oksidan semakin meningkat, hal ini disebabkan oleh karena timbulnya kesadaran bahwa oksidan dapat menimbulkan kerusakan sel, dan

Lebih terperinci

EFEK TOKSISITAS SUBKRONIK EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG SINTOK PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR* Intisari

EFEK TOKSISITAS SUBKRONIK EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG SINTOK PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR* Intisari EFEK TOKSISITS SUBKRONIK EKSTRK ETNOL KULIT BTNG SINTOK PD TIKUS PUTIH GLUR WISTR* Sri di Sumiwi, nas Subarnas, Rizki Indriyani, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, e-mail: sri.adi@unpad.ac.id Intisari

Lebih terperinci

Tanaman Putri malu (Mimosa pudica L.) merupakan gulma yang sering dapat ditemukan di sekitar rumah, keberadaannya sebagai gulma 1

Tanaman Putri malu (Mimosa pudica L.) merupakan gulma yang sering dapat ditemukan di sekitar rumah, keberadaannya sebagai gulma 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penggunaan tanaman obat sebagai alternatif pengobatan telah dilakukan oleh masyarakat Indonesia secara turun temurun. Hal tersebut didukung dengan kekayaan alam yang

Lebih terperinci

EFEK TOKSISITAS SUBKRONIK EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG SINTOK PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR. Intisari

EFEK TOKSISITAS SUBKRONIK EKSTRAK ETANOL KULIT BATANG SINTOK PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR. Intisari EFEK TOKSISITS SUKRONIK EKSTRK ETNOL KULIT TNG SINTOK PD TIKUS PUTIH GLUR WISTR Sri di Sumiwi, nas Subarnas, Rizki Indriyani, Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, e-mail: sumiwi@yahoo.co.id Intisari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan nyamuk. Dampak dari kondisi tersebut adalah tingginya prevalensi

BAB I PENDAHULUAN. perkembangan nyamuk. Dampak dari kondisi tersebut adalah tingginya prevalensi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia memiliki iklim tropis dan merupakan tempat yang baik untuk perkembangan nyamuk. Dampak dari kondisi tersebut adalah tingginya prevalensi penyakit yang ditularkan

Lebih terperinci

PERUBAHAN KADAR UREUM DAN KREATININ PASCA PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL DAUN KEMBANG BULAN (Tithonia diversifolia) (STUDI PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR)

PERUBAHAN KADAR UREUM DAN KREATININ PASCA PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL DAUN KEMBANG BULAN (Tithonia diversifolia) (STUDI PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR) PERUBAHAN KADAR UREUM DAN KREATININ PASCA PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL DAUN KEMBANG BULAN (Tithonia diversifolia) (STUDI PADA TIKUS PUTIH GALUR WISTAR) SKRIPSI Oleh Febrian Naufaldi NIM 102010101026 FAKULTAS

Lebih terperinci

ABSTRAK. UJI TOKSISITAS SUBKRONIS DERMAL MINYAK ROSMARINI (Rosmarinus officinalis L) PADA TIKUS WISTAR DENGAN PARAMETER HEMATOLOGI DAN BIOKIMIAWI

ABSTRAK. UJI TOKSISITAS SUBKRONIS DERMAL MINYAK ROSMARINI (Rosmarinus officinalis L) PADA TIKUS WISTAR DENGAN PARAMETER HEMATOLOGI DAN BIOKIMIAWI ABSTRAK UJI TOKSISITAS SUBKRONIS DERMAL MINYAK ROSMARINI (Rosmarinus officinalis L) PADA TIKUS WISTAR DENGAN PARAMETER HEMATOLOGI DAN BIOKIMIAWI Ratna octaviani 1310147 Pembimbing I : Rosnaeni, dra., Apt

Lebih terperinci

EFEK PROTEKSI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BIJI KEDELAI

EFEK PROTEKSI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BIJI KEDELAI ABSTRAK EFEK PROTEKSI KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BIJI KEDELAI (Glycine max L.merr) DETAM-1 DAN JATI BELANDA (Guazuma ulmifolia) TERHADAP UREUM DAN KREATININ TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI PAKAN TINGGI LEMAK

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sejak jaman dahulu, manusia sangat mengandalkan lingkungan sekitarnya untuk memenuhi kebutuhannya. Misalnya untuk makan, tempat berteduh, pakaian, termasuk untuk obat.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. bertingkat dengan empat dosis tidak didapatkan kematian pada

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. bertingkat dengan empat dosis tidak didapatkan kematian pada BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL PERCOBAAN 1. Pengujian nilai LD 50 Dari pengujian yang dilakukan menggunakan dosis yang bertingkat dengan empat dosis tidak didapatkan kematian pada hewan coba dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. dunia telah memanfaatkan tumbuhan obat untuk memelihara kesehatan (Dorly,

I. PENDAHULUAN. dunia telah memanfaatkan tumbuhan obat untuk memelihara kesehatan (Dorly, I. PENDAHULUAN Tumbuhan telah digunakan manusia sebagai obat sepanjang sejarah peradaban manusia. Penggunaan tumbuh-tumbuhan dalam penyembuhan suatu penyakit merupakan bentuk pengobatan tertua di dunia.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam era modernnisasi ini dan berdasarkan perkembangan teknologi yang sangat pesat dan seiring dengan jalannya kebutuhan ekonomi yang semakin besar, Sumber

Lebih terperinci

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes

ABSTRAK. Ronauly V. N, 2011, Pembimbing 1: dr. Sijani Prahastuti, M.Kes Pembimbing 2 : Prof. DR. Susy Tjahjani, dr., M.Kes ABSTRAK EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL LDL DAN PENINGKATAN KADAR KOLESTEROL HDL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA Ronauly V. N, 2011,

Lebih terperinci

UJI FUNGSI GINJAL DAN HATI TIKUS PUTIH

UJI FUNGSI GINJAL DAN HATI TIKUS PUTIH JURNAL UJI FUNGSI GINJAL DAN HATI TIKUS PUTIH (Rattus novergicus Berkenhout, 1769) GALUR WISTAR PADA UJI TOKSISITAS ORAL SUBKRONIS FILTRAT BUAH LUWINGAN (Ficus hispida L.f.) Disusun oleh: Angevia Merici

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obesitas merupakan masalah dunia dan terus meningkat setiap tahunnya. Pada tahun 2014 lebih dari 600 juta penduduk dunia mengalami obesitas dan 13% remaja berusia 18

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah negara yang kaya akan tumbuhan. Sekitar 30.000 jenis tumbuhan diperkirakan terdapat di dalam hutan tropis Indonesia. Dari jumlah tersebut, 9.600 jenis

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. hewan coba tikus Wistar menggunakan desain post test only control group

BAB IV METODE PENELITIAN. hewan coba tikus Wistar menggunakan desain post test only control group BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Disain penelitian Penelitian ini merupakan penelitian experimental laboratoris dengan hewan coba tikus Wistar menggunakan desain post test only control group design. Tikus

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat

I. PENDAHULUAN. tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat I. PENDAHULUAN Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan, bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara turun temurun

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Obat tradisional adalah obat jadi atau ramuan bahan alam yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, atau campuran bahan bahan tersebut yang secara tradisional telah

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. HALAMAN SAMPUL DEPAN... i. HALAMAN JUDUL... ii. HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... iii. HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... iv

DAFTAR ISI. HALAMAN SAMPUL DEPAN... i. HALAMAN JUDUL... ii. HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... iii. HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... iv DAFTAR ISI HALAMAN SAMPUL DEPAN... i HALAMAN JUDUL... ii HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING... iii HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI... iv HALAMAN PERNYATAAN... v KATA PENGANTAR... vi DAFTAR ISI... viii DAFTAR GAMBAR...

Lebih terperinci

ABSTRAK PENGARUH KALSIUM TERHADAP KADAR KOLESTEROL DARAH TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK

ABSTRAK PENGARUH KALSIUM TERHADAP KADAR KOLESTEROL DARAH TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK ABSTRAK PENGARUH KALSIUM TERHADAP KADAR KOLESTEROL DARAH TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIBERI DIET TINGGI LEMAK Andry Setiawan Lim, 2012, Pembimbing I : Dr. Meilinah Hidayat, dr., M.Kes. Pembimbing II: Sijani

Lebih terperinci

UJI TOKSISITAS SUBKRONIK PRODUK HERBAL X SECARA IN VIVO SKRIPSI

UJI TOKSISITAS SUBKRONIK PRODUK HERBAL X SECARA IN VIVO SKRIPSI UJI TOKSISITAS SUBKRONIK PRODUK HERBAL X SECARA IN VIVO SKRIPSI Skripsi digunakan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) Diajukan oleh DWI SULISTIYORINI 1108010113

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Parasetamol atau asetaminofen atau N-asetil-p-aminofenol merupakan

BAB I PENDAHULUAN. Parasetamol atau asetaminofen atau N-asetil-p-aminofenol merupakan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Parasetamol atau asetaminofen atau N-asetil-p-aminofenol merupakan obat antipiretik dan analgesik yang sering digunakan sebagai obat manusia. Parasetamol menggantikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obat adalah zat kimia yang dapat mempengaruhi proses hidup suatu organisme. Setiap obat pada dasarnya merupakan racun, tergantung dosis dan cara pemberian, karena dosis

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkhasiat obat ini adalah Kersen. Di beberapa daerah, seperti di Jakarta, buah ini

BAB I PENDAHULUAN. berkhasiat obat ini adalah Kersen. Di beberapa daerah, seperti di Jakarta, buah ini BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ribuan jenis tumbuhan yang diduga berkhasiat obat, sejak lama secara turun-temurun dimanfaatkan oleh masyarakat. Salah satu dari tumbuhan berkhasiat obat ini adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. digunakan sebagai alternatif pengobatan seperti kunyit, temulawak, daun sirih,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. digunakan sebagai alternatif pengobatan seperti kunyit, temulawak, daun sirih, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penggunaan bahan alam untuk mengobati penyakit sudah sejak lama diterapkan oleh masyarakat. Pada jaman sekarang banyak obat herbal yang digunakan sebagai alternatif

Lebih terperinci

1 Universitas Kristen Maranatha

1 Universitas Kristen Maranatha BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Gangguan pada hepar dapat disebabkan oleh berbagai macam faktor, antara lain virus, radikal bebas, maupun autoimun. Salah satu yang banyak dikenal masyarakat adalah

Lebih terperinci

EFEK NEFROPROTEKTIF EKSTRAK TAUGE (Vigna radiata (L.)) TERHADAP PENINGKATAN KADAR UREA SERUM TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI PARASETAMOL DOSIS TOKSIK

EFEK NEFROPROTEKTIF EKSTRAK TAUGE (Vigna radiata (L.)) TERHADAP PENINGKATAN KADAR UREA SERUM TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI PARASETAMOL DOSIS TOKSIK EFEK NEFROPROTEKTIF EKSTRAK TAUGE (Vigna radiata (L.)) TERHADAP PENINGKATAN KADAR UREA SERUM TIKUS WISTAR YANG DIINDUKSI PARASETAMOL DOSIS TOKSIK SKRIPSI Oleh Mochamad Bagus R. NIM 102010101090 FAKULTAS

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN KEMUNING (Murraya paniculata (L.) Jack) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA TIKUS WISTAR JANTAN

ABSTRAK. EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN KEMUNING (Murraya paniculata (L.) Jack) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA TIKUS WISTAR JANTAN ABSTRAK EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN KEMUNING (Murraya paniculata (L.) Jack) TERHADAP KADAR TRIGLISERIDA TIKUS WISTAR JANTAN Kadek Reanita Avilia, 2014 ; Pembimbing I : Rosnaeni, Dra., Apt. Pembimbing II :

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. eskperimental laboratorik dengan rancangan pre test and post test with control

BAB III METODE PENELITIAN. eskperimental laboratorik dengan rancangan pre test and post test with control BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis dan Desain Penelitian Jenis penelitian yang dilakukan peneliti merupakan penelitian eskperimental laboratorik dengan rancangan pre test and post test with control group

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA

ABSTRAK. EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA ABSTRAK EFEK INFUSA DAUN SALAM (Syzygium polyanthum) TERHADAP PENURUNAN KADAR KOLESTEROL TOTAL DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR MODEL DISLIPIDEMIA Entin Hartini, 2011, Pembimbing I : Prof. Dr. Susy Tjahjani

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 29 BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian eksperimen kuantitatif. Pada penelitian ini terdapat manipulasi terhadap objek

Lebih terperinci

PENGARUH EKSTRAK BUAH MERAH

PENGARUH EKSTRAK BUAH MERAH ABSTRAK PENGARUH EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus Conoideus Lam.) TERHADAP KADAR BILIRUBIN TIKUS JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus L.) YANG DIINDUKSI CCL 4 Andre Setiawan Iwan, 2009. Pembimbing I : Hana

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Gizi buruk merupakan salah satu masalah kesehatan yang masih ada di Indonesia. Sebanyak 54% penyebab kematian bayi dan balita disebabkan oleh keadaan gizi anak yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Warna merupakan salah satu sifat yang penting dari makanan, di samping juga

BAB I PENDAHULUAN. Warna merupakan salah satu sifat yang penting dari makanan, di samping juga BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pewarna makanan merupakan salah satu bahan tambahan pangan (BTP) yang sering digunakan dalam berbagai jenis makanan dan minuman olahan. Warna merupakan salah satu sifat

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL DAN PEMBAHASAN Hematologi Hasil pemeriksaan hematologi disajikan dalam bentuk rataan±simpangan baku (Tabel 1). Hasil pemeriksaan hematologi individual (Tabel 5) dapat dilihat pada lampiran dan dibandingkan

Lebih terperinci

ABSTRAK. Yuvina Ria Octriane, 2014, Pembimbing I : Dr. Meilinah Hidayat, dr., M.Kes. Pembimbing II : Sylvia Soeng, dr., M.Kes.,PA(K).

ABSTRAK. Yuvina Ria Octriane, 2014, Pembimbing I : Dr. Meilinah Hidayat, dr., M.Kes. Pembimbing II : Sylvia Soeng, dr., M.Kes.,PA(K). ABSTRAK AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK ETANOL KEDELAI VARIETAS DETAM 1 (Glycine max L. Merr) DAN DAUN JATI BELANDA (Guazuma ulmifolia) SERTA KOMBINASINYA TERHADAP KADAR MALONDIALDEHYDE (MDA) PLASMA TIKUS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nyeri. Nyeri menjadi penyebab angka kesakitan yang tinggi di seluruh dunia.

BAB I PENDAHULUAN. nyeri. Nyeri menjadi penyebab angka kesakitan yang tinggi di seluruh dunia. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Salah satu alasan utama pasien datang ke layanan kesehatan adalah karena nyeri. Nyeri menjadi penyebab angka kesakitan yang tinggi di seluruh dunia. Prevalensi nyeri

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk menelitinya lebih jauh adalah Coriolus versicolor.

BAB I PENDAHULUAN. untuk menelitinya lebih jauh adalah Coriolus versicolor. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permasalahan Jamur telah menjadi bahan pengobatan tradisional di daerah oriental, seperti Jepang, Cina, Korea, dan daerah Asia lainnya sejak berabad-abad lalu, (Ooi,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Farmakologi. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Biokimia, Kimia dan 3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di beberapa

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh rata-rata jumlah

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh rata-rata jumlah 23 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh rata-rata jumlah eritrosit, kadar hemoglobin, persentase hematokrit, MCV, MCH dan MCHC ayam broiler dengan perlakuan

Lebih terperinci

PENGARUH EKSTRAK CABAI RAWIT (CAPSICUM FRUSTECENS L) TERHADAP JUMLAH LEUKOSIT PADA TIKUS PUTIH JANTAN

PENGARUH EKSTRAK CABAI RAWIT (CAPSICUM FRUSTECENS L) TERHADAP JUMLAH LEUKOSIT PADA TIKUS PUTIH JANTAN Syntax Literate : Jurnal Ilmiah Indonesia ISSN : 2541-0849 e-issn : 2548-1398 Vol. 2, No 9 Sepetember 2017 PENGARUH EKSTRAK CABAI RAWIT (CAPSICUM FRUSTECENS L) TERHADAP JUMLAH LEUKOSIT PADA TIKUS PUTIH

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lingkungan di sekitar manusia banyak mengandung berbagai jenis patogen, misalnya bakteri, virus, protozoa dan parasit yang dapat menyebabkan infeksi pada manusia. Infeksi

Lebih terperinci

PENGARUH EKSTRAK DAUN Apium graviolens TERHADAP PERUBAHAN SGOT/SGPT TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR KARBON TETRAKLORIDA

PENGARUH EKSTRAK DAUN Apium graviolens TERHADAP PERUBAHAN SGOT/SGPT TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR KARBON TETRAKLORIDA PENGARUH EKSTRAK DAUN Apium graviolens TERHADAP PERUBAHAN SGOT/SGPT TIKUS WISTAR JANTAN YANG DIPAPAR KARBON TETRAKLORIDA ARTIKEL KARYA TULIS ILMIAH Diajukan guna memenuhi tugas dan melengkapi syarat dalam

Lebih terperinci

EFEK SUBKRONIS PEMBERIAN KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BIJI KEDELAI

EFEK SUBKRONIS PEMBERIAN KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BIJI KEDELAI ABSTRAK EFEK SUBKRONIS PEMBERIAN KOMBINASI EKSTRAK ETANOL BIJI KEDELAI (Glycine max L.merr) VARIETAS DETAM-1 DAN DAUN JATI BELANDA (Guazuma ulmifolia) TERHADAP FUNGSI HATI DENGAN PARAMETER SGPT PADA TIKUS

Lebih terperinci

EFEK CENDAWAN ULAT CINA

EFEK CENDAWAN ULAT CINA ABSTRAK EFEK CENDAWAN ULAT CINA (Cordyceps sinensis [Berk.] Sacc.) TERHADAP KADAR INTERLEUKIN 1 PADA MENCIT (Mus musculus L.) YANG DIINDUKSI PARASETAMOL Banu Kadgada Kalingga Murda, 2009. Pembimbing I

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk persenyawaan dengan molekul lain seperti PbCl 4 dan PbBr 2.

BAB I PENDAHULUAN. dalam bentuk persenyawaan dengan molekul lain seperti PbCl 4 dan PbBr 2. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Timbal merupakan logam yang secara alamiah dapat ditemukan dalam bentuk persenyawaan dengan molekul lain seperti PbCl 4 dan PbBr 2. Logam ini telah digunakan sejak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tersebar luas di Indonesia, namun penelitian dan pemanfaatan lumut ini

BAB I PENDAHULUAN. tersebar luas di Indonesia, namun penelitian dan pemanfaatan lumut ini 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lumut hati (Marchantia polymorpha L.) merupakan tumbuhan yang tersebar luas di Indonesia, namun penelitian dan pemanfaatan lumut ini masih sangat kurang. Kandungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jumlah banyak akan menimbulkan stres oksidatif yang dapat merusak sel yang pada

BAB I PENDAHULUAN. jumlah banyak akan menimbulkan stres oksidatif yang dapat merusak sel yang pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu penyebab penuaan dini adalah merokok. Dimana asap rokok mengandung komponen yang menyebabkan radikal bebas. Radikal bebas dalam jumlah banyak akan menimbulkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Obat adalah zat yang digunakan untuk terapi, mengurangi rasa nyeri, serta

BAB I PENDAHULUAN. Obat adalah zat yang digunakan untuk terapi, mengurangi rasa nyeri, serta BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obat adalah zat yang digunakan untuk terapi, mengurangi rasa nyeri, serta mengobati dan mencegah penyakit pada manusia maupun hewan (Koga, 2010). Pada saat ini banyak

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Gizi dan Biokimia.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Gizi dan Biokimia. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini adalah penelitian di bidang Gizi dan Biokimia. 3.2 Tempat Dan Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Hewan Coba

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Biokimia, Farmakologi.

BAB III METODE PENELITIAN. Penelitian ini adalah penelitian di bidang Biokimia, Farmakologi. BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Ruang lingkup penelitian Penelitian ini adalah penelitian di bidang Biokimia, Farmakologi. 3.2 Tempat dan waktu penelitian Penelitian, pemeriksaan, dan analisis data ini dilaksanakan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. puyuh (Cortunix cortunix japonica). Produk yang berasal dari puyuh bermanfaat

PENDAHULUAN. puyuh (Cortunix cortunix japonica). Produk yang berasal dari puyuh bermanfaat 1 I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Komoditi unggas yang telah lama berkembang di Indonesia salah satunya ialah puyuh (Cortunix cortunix japonica). Produk yang berasal dari puyuh bermanfaat sebagai sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sekarang para ahli tidak henti-hentinya meneliti mekanisme kerja dari obat

BAB I PENDAHULUAN. sekarang para ahli tidak henti-hentinya meneliti mekanisme kerja dari obat BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Parasetamol atau asetaminofen telah ditemukan sebagai obat analgesik yang efektif lebih dari satu abad yang lalu tepatnya pada tahun 1893, tetapi hingga sekarang para

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penelitian, pengujian dan pengembangan serta penemuan obat-obatan

BAB I PENDAHULUAN. penelitian, pengujian dan pengembangan serta penemuan obat-obatan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemanfaatan obat tradisional di Indonesia saat ini sudah cukup luas. Pengobatan tradisional terus dikembangkan dan dipelihara sebagai warisan budaya bangsa yang

Lebih terperinci

UJI EFEK TOKSISITAS EKSTRAK DAUN SUKUN [ARTOCARPUS ALTILLIS (PARK.) FOSBERG] TERHADAP GINJAL TIKUS PUTIH GALUR WISTAR

UJI EFEK TOKSISITAS EKSTRAK DAUN SUKUN [ARTOCARPUS ALTILLIS (PARK.) FOSBERG] TERHADAP GINJAL TIKUS PUTIH GALUR WISTAR UJI EFEK TOKSISITAS EKSTRAK DAUN SUKUN [ARTOCARPUS ALTILLIS (PARK.) FOSBERG] TERHADAP GINJAL TIKUS PUTIH GALUR WISTAR AGRY JULIDA BATUBARA 2443005098 FAKULTAS FARMASI UNIKA WIDYA MANDALA SURABAYA 2010

Lebih terperinci

ABSTRAK EFEKTIVITAS TEH HIJAU, TEH HITAM, DAN TEH PUTIH DALAM MENURUNKAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PRIA DEWASA MUDA

ABSTRAK EFEKTIVITAS TEH HIJAU, TEH HITAM, DAN TEH PUTIH DALAM MENURUNKAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PRIA DEWASA MUDA ABSTRAK EFEKTIVITAS TEH HIJAU, TEH HITAM, DAN TEH PUTIH DALAM MENURUNKAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PRIA DEWASA MUDA Lie Milka Ardena Lianto.,2016, Pembimbing I : Lusiana Darsono, dr.,m.kes Pembimbing II

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan salah satu negara beriklim tropis dengan keanekaragaman hayati terbesar kedua di dunia setelah Brazil. Indonesia memiliki sekitar 25.000-30.000

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik) atau campuran dari bahan tersebut, yang secara

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Rifampisin (RFP) dan isoniazid (INH) merupakan obat lini pertama untuk

I. PENDAHULUAN. Rifampisin (RFP) dan isoniazid (INH) merupakan obat lini pertama untuk I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rifampisin (RFP) dan isoniazid (INH) merupakan obat lini pertama untuk terapi anti tuberkulosis (TB), tetapi hepatotoksisitas yang dihasilkan dari penggunaan obat

Lebih terperinci

ABSTRAK. EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn.) DALAM MENURUNKAN KADAR TRIGLISERIDA TIKUS WISTAR JANTAN

ABSTRAK. EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn.) DALAM MENURUNKAN KADAR TRIGLISERIDA TIKUS WISTAR JANTAN ABSTRAK EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN JAMBU BIJI (Psidium guajava Linn.) DALAM MENURUNKAN KADAR TRIGLISERIDA TIKUS WISTAR JANTAN Tria Pertiwi, 2014 Pembimbing I Dr. Sugiarto Puradisastra, dr., M.Kes. Pembimbing

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN

HASIL DAN PEMBAHASAN 16 HASIL DAN PEMBAHASAN Jumlah Eritrosit (Sel Darah Merah) Profil parameter eritrosit yang meliputi jumlah eritrosit, konsentrasi hemoglobin, dan nilai hematokrit kucing kampung (Felis domestica) ditampilkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Insidensi dislipidemia cenderung terus meningkat di era modernisasi ini seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat yang hidup dengan sedentary lifestyle. Kesibukan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berat badan, dan sindrom restoran Cina, pada sebagian orang. 2, 3

BAB I PENDAHULUAN. berat badan, dan sindrom restoran Cina, pada sebagian orang. 2, 3 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Survey pada tahun 2007 menyatakan terjadi peningkatan konsumsi MSG, di negara-negara Eropa, rata-rata 0,3-0,5 g/hari sedangkan di Asia dapat mencapai 1,2-1,7 g/hari.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sumber daya hayati Indonesia sangat berlimpah dan beraneka ragam. Sumbangsih potensi sumber daya alam yang ada di Indonesia terhadap kekayaan keanekaragaman sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ginjal mempunyai peran yang sangat penting dalam mengaja kesehatan tubuh secara menyeluruh karena ginjal adalah salah satu organ vital dalam tubuh. Ginjal berfungsi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. konsumsi minuman ini. Secara nasional, prevalensi penduduk laki-laki yang

BAB I PENDAHULUAN. konsumsi minuman ini. Secara nasional, prevalensi penduduk laki-laki yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Minuman beralkohol telah banyak dikenal oleh masyarakat di dunia, salah satunya Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup tinggi angka konsumsi minuman

Lebih terperinci

PENGARUH EKSTRAK BUAH MERAH

PENGARUH EKSTRAK BUAH MERAH ABSTRAK PENGARUH EKSTRAK BUAH MERAH (Pandanus conoideus Lam.) TERHADAP KADAR ALKALI FOSFATASE PLASMA DARAH TIKUS JANTAN GALUR WISTAR (Rattus norvegicus L.) YANG DIINDUKSI KARBON TETRAKLORIDA (CCl 4 ) Adiatma

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. kekayaan lautnya. Di Indonesia terdapat jenis tumbuhan memiliki

I. PENDAHULUAN. kekayaan lautnya. Di Indonesia terdapat jenis tumbuhan memiliki I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia kaya akan sumber daya hayati dan merupakan salah satu negara megabiodiversity terbesar di dunia, menduduki urutan kedua setelah Brazil yang memiliki keanekaragaman

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan meliputi pemeliharaan hewan coba di

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan meliputi pemeliharaan hewan coba di BAB IV METODOLOGI PENELITIAN IV.1. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan meliputi pemeliharaan hewan coba di Laboratorium MIPA UNNES dan dilakukan pemberian warfarin LD

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Obat merupakan suatu bahan atau campuran bahan yang berfungsi untuk digunakan sebagai diagnosis, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. HASIL 1. Penetapan Aktivitas Enzim Alanin Amino Transferase Plasma a. Kurva kalibrasi Persamaan garis hasil pengukuran yaitu : Dengan nilai koefisien relasi (r) = 0,998.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia dikenal sebagai salah satu negara yang kaya akan sumber bahan obat dari alam yang secara turun temurun telah digunakan sebagai ramuan obat tradisional. Pengobatan

Lebih terperinci

HASIL DAN PEMBAHASAN. ternak. Darah terdiri dari dua komponen berupa plasma darah dan bagian padat yang

HASIL DAN PEMBAHASAN. ternak. Darah terdiri dari dua komponen berupa plasma darah dan bagian padat yang 26 IV HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi fisiologis ternak dapat diketahui melalui pengamatan nilai hematologi ternak. Darah terdiri dari dua komponen berupa plasma darah dan bagian padat yang mengandung butir-butir

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. beberapa jenis makan yang kita konsumsi, boraks sering digunakan dalam campuran

BAB I PENDAHULUAN. beberapa jenis makan yang kita konsumsi, boraks sering digunakan dalam campuran BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Akhir- akhir ini sering dibicarakan tentang boraks yang terdapat pada beberapa jenis makan yang kita konsumsi, boraks sering digunakan dalam campuran beberapa bahan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. digambarkan dalam bentuk kerusakan tersebut. Berdasarkan intensitasnya, nyeri

BAB I PENDAHULUAN. digambarkan dalam bentuk kerusakan tersebut. Berdasarkan intensitasnya, nyeri BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nyeri merupakan pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan baik aktual maupun potensial atau yang digambarkan dalam bentuk

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan 30 BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dengan menggunakan pendekatan post test only control group design. Desain penelitian ini memiliki

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini perkembangan penelitian dengan menggunakan bahan alam yang digunakan sebagai salah satu cara untuk menanggulangi berbagai macam penyakit semakin

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Salah satu ciri budaya masyarakat di negara berkembang adalah masih dominannya unsur-unsur tradisional dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan ini didukung

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah kesehatan masyarakat dunia termasuk Indonesia (global epidemic). World

BAB I PENDAHULUAN. masalah kesehatan masyarakat dunia termasuk Indonesia (global epidemic). World BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tuberkulosis (TB) adalah penyakit infeksi kronis menular yang masih merupakan masalah kesehatan masyarakat dunia termasuk Indonesia (global epidemic). World Health Organization

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dibuktikan manfaatnya (Sudewo, 2004; Tjokronegoro, 1992). zingiberaceae, yaitu Curcuma mangga (Temu Mangga). Senyawa fenolik pada

BAB I PENDAHULUAN. dibuktikan manfaatnya (Sudewo, 2004; Tjokronegoro, 1992). zingiberaceae, yaitu Curcuma mangga (Temu Mangga). Senyawa fenolik pada BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia memiliki keanekaragaman hayati berupa ratusan jenis tanaman obat dan telah banyak dimanfaatkan dalam proses penyembuhan berbagai penyakit. Namun sampai sekarang

Lebih terperinci

ABSTRAK. Kata kunci: Rattus sp, asap rokok, ekstrak buah juwet, kualitas spermatozoa, ROS, antioksidan.

ABSTRAK. Kata kunci: Rattus sp, asap rokok, ekstrak buah juwet, kualitas spermatozoa, ROS, antioksidan. ABSTRAK Penelitian yang bertujuan mengetahui kualitas spermatozoa tikus putih jantan dewasa (Rattus sp.) setelah diberikan paparan asap rokok dan ekstrak buah juwet (Syzygium cumini L.) telah dilakukan

Lebih terperinci

PENGARUH EKSTRAK DAUN SUKUN

PENGARUH EKSTRAK DAUN SUKUN ABSTRAK PENGARUH EKSTRAK DAUN SUKUN (Artocarpus altilis, Park. Fsb.) TERHADAP PENURUNAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA MENCIT GALUR SWISS-WEBSTER YANG DIINDUKSI ALOKSAN Elizabeth Tanuwijaya, 2007. Pembimbing

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN (Sari, 2007). Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara termasuk

BAB 1 PENDAHULUAN (Sari, 2007). Parasetamol digunakan secara luas di berbagai negara termasuk BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Parasetamol (asetaminofen) merupakan salah satu obat analgesik dan antipiretik yang banyak digunakan di dunia sebagai obat lini pertama sejak tahun 1950 (Sari, 2007).

Lebih terperinci

Siklus kelamin poliestrus (birahi) g jantan dan betina

Siklus kelamin poliestrus (birahi) g jantan dan betina Lama bunting Kawin sesudah beranak Umur sapih Umur dewasa kelamin Umur dikawinkan Siklus kelamin poliestrus (birahi) Lama estrus Saat perkawinan Berat lahir Berat dewasa Jumlah anak perkelahiran Kecepatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik emosional yang tidak menyenangkan akibat dari kerusakan jaringan yang bersifat subjektif. Secara umum nyeri dibedakan menjadi

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. dan Penyakit Kandungan dan Ilmu Patologi Klinik. Penelitian telah dilaksanakan di bagian Instalasi Rekam Medis RSUP Dr.

BAB IV METODE PENELITIAN. dan Penyakit Kandungan dan Ilmu Patologi Klinik. Penelitian telah dilaksanakan di bagian Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. BAB IV METODE PENELITIAN 4.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini termasuk dalam lingkup penelitian bidang Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan dan Ilmu Patologi Klinik. 4.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Lebih terperinci