PEM ERINTAH KOTA JAYAPURA

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "PEM ERINTAH KOTA JAYAPURA"

Transkripsi

1 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 Daftar Isi BAB 1 PENDAHULUAN LATAR BELAKANG LANDASAN GERAK MAKSUD DAN TUJUAN METODOLOGI DASAR HUKUM DAN KAITANNYA DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAIN... 8 BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH GEOGRAFIS, ADMINISTRATIF DAN KONDISI FISIK DEMOGRAFI KEUANGAN DAN PEREKONOMIAN DAERAH TATA RUANG WILAYAH SOSIAL DAN BUDAYA KELEMBAGAAN PEMERINTAH DAERAH BAB 3 PROFIL SANITASI WILAYAH PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) DAN PROMOSI HIGIENE Tatanan Rumah Tangga Tatanan Sekolah PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK Kelembagaan Sistem dan Cakupan Pelayanan Kesadaran Masyarakat dan PMGK (Peran Masyarakat Gender dan Kemiskinan) Pemetaan Media Partisipasi Dunia Usaha Pendanaan dan Pembiayaan Isu Strategis dan Permasalahan Mendesak PENGELOLAAN PERSAMPAHAN Kelembagaan Sistem dan Cakupan Pelayanan Kesadaran Masyarakat dan PMJK Pemetaan Media Hal 1

2 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) Partisipasi Dunia Usaha Pendanaan dan Pembiayaan Isu Strategis dan Permasalahan Mendesak Pengelolaan Drainase Lingkungan Kelembagaan Sistem dan Cakupan Pelayanan Kesadaran Masyarakat dan PMJK Pemetaan Media Partisipasi Dunia Usaha Pendanaan dan Pembiayaan Isu Strategis dan Permasalahan Mendesak Pengelolaan Komponen Terkait Sanitasi Pengelolaan Air Bersih Pengelolaan Air Limbah Industri Rumah Tangga Pengelolaan Limbah Medis BAB IV PROGRAM PENGEMBANGAN SANITASI SAAT INI DAN YANG DIRENCANAKAN Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)dan Promosi Higiene Peningkatan Pengelolaan Air Limbah Domestik Peningkatan Pengelolaan Persampahan Peningkatan Pengelolaan Drainase Lingkungan Peningkatan Komponen Terkait Sanitasi BAB V INDIKASI PERMASALAHAN DAN OPSI PENGEMBANGAN SANITASI AREA BERESIKO SANITASI Posisi Pengelolaan Sanitasi KotaJayapura saat ini Hal 2

3 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sektor sanitasi merupakan bagian penting dari salah satu pelayanan dasar kepada publik yang harus disediakan oleh pemerintah. Rendahnya kualitas sanitasi menjadi salah satu faktor penyebab menurunnya derajat kesehatan masyarakat. Terkait dengan hal ini, Indonesia termasuk salah satu negara dengan tingkat kepemilikan sistem jaringan air limbah (sewerage) terendah di Asia. Kurang dari 1 kota di Indonesia memiliki sistem jaringan air limbah dengan tingkat pelayanan sekitar 1, 3% dari keseluruhan jumlah populasi. Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah untuk mencapai target Millennium Development Goals (MDGs) tahun 21 sebesar 62,41% untuk Akses Sanitasi dan 68,87% untuk Akses Air Minum Perpipaan. Semakin rendah akses publik terhadap pelayanan dasar akan menyebabkan semakin menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Pengalaman masa lalu menunjukkan adanya pembangunan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan namun tidak berfungsi optimal. Salah satu penyebabnya adalah tidak dilibatkannya masyarakat pada tahap perencanaan, pelaksanaan, ataupun pada kegiatan operasi dan pemeliharaan. Selain itu, pilihan teknologi yang terbatas mempersulit masyarakat untuk menentukan prasarana dan sarana yang hendak dibangun dan digunakan di daerahnya sesuai dengan kebutuhan dan budaya (kultur) setempat, kemampuan masyarakat untuk mengelola prasarana dan kondisi fisik daerah tersebut. Kurangnya keterlibatan masyarakat juga menjadikan pelayanan prasarana dan sarana air minum dan penyehatan lingkungan yang terbangun menjadi tidak berkelanjutan, tidak dapat berfungsi dengan baik, dan tidak adanya perhatian masyarakat untuk menjaga keberlanjutannya. Hal ini mengakibatkan prasarana dan sarana tersebut tidak memberikan manfaat bagi masyarakat pengguna secara berkelanjutan dan berdampak kepada rendahnya efektivitas prasarana dan sarana yang dibangun. Tidak sedikit investasi prasarana dan sarana yang tidak dimanfaatkan oleh masyarakat karena mereka tidak membutuhkan. Sebaliknya banyak masyarakat lainnya yang membutuhkan pelayanan prasarana dan sarana namun tidak mendapatkan pelayanan. Permasalahan di atas yang terus berlanjut, ditambah lagi dengan terbatasnya anggaran pemerintah berdampak hampir disemua sektor, termasuk penurunan keandalan pelayanan prasarana dan sarana perkotaan khususnya sarana Air minum dan penyehatan lingkungan. Dengan adanya otonomi daerah, penyelenggaraan sektor Air minum dan penyehatan lingkungan merupakan tanggung jawab pemerintah daerah. Namun perlu disadari bahwa kesiapan pemerintah daerah masih perlu ditingkatkan dalam memikul tanggung jawab ini. Kemampuan daerah dalam mengembangkan perluasan pelayanan terbatas oleh kemampuan teknis, manajemen dan pembiayaan, sering kali pemerintah daerah tidak mempunyai rencana yang jelas untuk pengembangan penyediaan Air minum dan penyehatan lingkungan di daerah. Rencana pengembangan yang disiapkan sering tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Krisis air tidak selalu dalam bentuk bencana kekeringan atau kekurangan air pada saat musim kering, namun lebih pada terhambatnya akses masyarakat terhadap air sehat untuk kebutuhan sehari-hari. Kota Jayapura yang terletak dikawasan Timur Indonesia merupakan pusat pemukiman terpadat di Provinsi Papua dengan luas wilayah 94 km2, dengan jumlah penduduk 271,12 jiwa pada tahun 211 dengan tingkat pertumbuhan mencapai 4,1 % per tahun. Kota Jayapura terdiri atas (lima) distrik dengan tingkat kepadatan penduduk yang berbeda-beda antara satu distrik (kecamatan) dengan distrik (kecamatan lainnya). Ketersediaan sarana prasarana yang memadai merupakan salah satu faktor penting untuk mendukung perkembangan wilayah. Sarana air bersih, persampahan dan sanitasi lingkungan yang didukung dengan perilaku masyarakat tidak hanya berperan dalam menunjang perekonomian tetapi juga berpengaruh pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat. Hasil studi EHRA 212 menunjukkan bahwa 21,9% masyarakat masih membuang limbah ke sungai / pantai, 91% masyarakat tidak mengolah sampah, resiko banjir di Kota Jayapura sebesar 69,9%, 46,9 masyarakat tidak melakukan PHBS dengan baik dan 46% masyarakat masih belum terlayani air minum Persoalan sanitasi tersebut sudah menjadi isu nasional karena belum adanya penanganan yang serius, hal ini perlu segera di atasi karena penyediaan pelayanan sanitasi dan air minum akan meningkatkan derajat kualitas kesehatan lingkungan. Kondisi tersebut terjadi pula di Kota Jayapura, olehnya itu, Pemerintah Kota Jayapura berencana untuk melakukan upaya guna menyelesaikan masalah tersebut, dan Buku Putih ini merupakan Hal 3

4 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 langkah awal yang dapat dijadikan dasar penyusunan perencanaan berikutnya. Dengan adanya Buku Putih ini maka diharapkan penanganan masalah di bidang sanitasi di Kota Jayapura dapat lebih fokus karena permasalahan yang terjadi telah terindentifikasi. Oleh karena itu Pemerintah Kota Jayapura melakukan upaya upaya secara terpadu dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi yang dapat memberikan gambaran real kondisi dasar sektor Sanitasi dan air minum di Kota Jayapura, termasuk permasalahan serta kebutuhan sanitasi dasar dan air minum, sehingga dokumen ini nantinya dapat diposisikan sebagai acuan yang bersifat strategis dalam perencanaan pembangunan sanitasi di Kota Jayapura. 1.2 LANDASAN GERAK Definisi Sanitasi Sektor sanitasi merupakan salah satu pelayanan publik yang mempunyai kaitan erat dengan kemiskinan. Pembangunan sektor sanitasi di beberapa daerah di Indonesia, seringkali kurang menjadi prioritas dibanding sektor lainnya. Tidak memadainya pembangunan sektor sanitasi akan berdampak pada penurunan kualitas kesehatan masyarakat dan kualitas lingkungan pada umumnya. Sanitasi di Indonesia mencakup (lima) sub sektor yaitu: pengelolaan air limbah, persampahan, drainase, PHBS dan, air minum. Sanitsi didefinisikan sebagai upaya membuang limbah cair domestik dan sampah untuk menjamin kebersihan dan lingkungan hidup sehat, baik di tingkat rumah tangga maupun di lingkungan perumahan (TTPS, 21). Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (28), secara umum sanitasi didefinisikan sebagai usaha untuk membina dan menciptakan suatu keadaan yang baik di bidang kesehatan, terutama kesehatan masyarakat. Sedangkan pengertian yang lebih teknis dari sanitasi adalah upaya pencegahan terjangkitnya dan penularan penyakit melalui penyediaan sarana sanitasi dasar (jamban), pengelolaan air limbah rumah tangga (termasuk sistem jaringan perpipaan air limbah), drainase dan sampah (Bappenas, 23) Ruang Lingkup Ruang lingkup kajian sanitasi meliputi (lima) sub sektor, yaitu: 1) Air Limbah; 2) Persampahan; 3) Drainase; 4) PHBS dan ) Air Minum. 1. Air limbah (sewerage) merupakan air dan cairan yang merupakan sisa dari kegiatan manusia di rumah tangga/limbah domestik dan commercial buildy (kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan keuntungan) atau industri. Pengolahan air limbah dibedakan berdasarkan sumbernya, yaitu : a. Black water adalah air limbah rumah tangga yang bersumber dari toilet atau kakus; b. Grey water adalah air limbah rumah tangga non kakus yang berupa buangan yang berasal dari kamar mandi, dapur (sisa makanan) dan tempat cuci. 2. Pengolahan persampahan adalah pengolahan sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat yang meliputi kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang berupa pengurangan dan penanganan sampah (pemilahan, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan, dan pemrosesan akhir) yang ditampung melalui TPS atau transfer depo ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA). 3. Pengolahan drainase adalah optimalisasi prasarana drainase yang berfungsi untuk mengalirkan air permukaan ke badan air yaitu sumber air permukaan tanah yang berupa sungai, danau, laut dan dibawah permukaan tanah berupa air tanah di dalam tanah atau bangunan. 4. Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui Pendampingan (Advokasi), bina suasana (Social Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama Hal 4

5 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat/dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya.. Air Minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum Wilayah kajian Penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota Jayapura saat ini baru mencakup 3 (tiga) distrik dari (lima) distrik di Kota Jayapura yaitu Distrik Jayapura Utara, Distrik Jayapura Selatan dan Distrik Abepura meliputi 1 (lima belas) kelurahan/kampung dengan sample 1 responden yang menggambarkan data dasar mengenai kondisi obyektif sanitasi dan air minum di Kota Jayapura, termasuk permasalahan serta kebutuhan sanitasi dasar dan air minum, sehingga dokumen ini nantinya dapat diposisikan sebagai acuan yang bersifat strategis dalam perencanaan pembangunan sanitasi di Kota Jayapura Visi Misi KotaJayapura Sebagaimana diketahui bahwa Visi dan Misi RPJMDKota Jayapura adalah: Visi: Terwujudnya Kota Jayapura yang Beriman, Bersatu, Mandiri, Sejahtera dan Modern Berbasis Kearifan Lokal. Secara umum penjelasan visi sebagai berikut: 1. Beriman, memiliki makna implikatif : Masyarakat beriman; Mengandung makna sebagai komunitas dicitrakan oleh sikap dan perilaku positif dilandasi oleh nilai-nilai moral keagamaan yang kuat. Implikasi Lingkungan; Terwujudnya Kota Jayapura yang bersih, rapi, indah, aman dan nyaman. 2. Modern, memiliki konteks makna sebagai berikut : Kota Modern. Sebagai Kota Berkembang, ketersediaan sarana-sarana pelayanan seperti lahan perindustrian, parker, pedagang kaki lima (PKL), ditata secara bijak dan tertib. Masyarakat Modern. Berupaya untuk mengubah perilaku dan paradigm masyarakat agar mampu berfikir bersikap dan bertindak sesuai dengan kemajuan zaman tanpa menghilangkan nilai-nilai budaya local/kearifan lokal. 3. Mandiri, dimaksudkan agar semua warga kota terjamin mata pencahariannya sesuai dengan profesi dan keahlian masing-masing yang membuka peluang untuk meningkatkan pendapatan. 4. Bersatu, dimaksudkan untuk mewujudkan kesatuan pandang, sikap dan perilaku sebagai pelaku pembangunan dan menyatu tanpa perbedaan.. Sejahtera, yakni masyarakat Kota Jayapura yang memiliki kemampuan. 6. Kearifan Lokal, artinya pembangunan yang tidak melupakan nilai-nilai budaya lokal. Misi: Guna mencapai Visi, maka misi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kota Jayapura Tahun adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan kualitas hidup umat beragama; Sebagai konsekwensi logis dari kehendak membangun sumber daya manusia, maka aspek moralitas keagamaan memerlukan perhatian bersama antara pemerintah dan masyarakat. 2. Melanjutkan Penataan kepemerintahan yang baik dengan dukungan kapasitas birokrasi yang profesional; Hal

6 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 Reformasi birokrasi yang sejalan dengan kebijakan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Papua. Dengan tata kepemerintahan yang baik dan benar, transparansi dan akuntabilitas dijunjung tinggi, dimana akses informasi pembangunan dapat dilakukan oleh semua pihak secara multy-cross section. 3. Membangun kota yang bersih, indah, aman, dan nyaman; 4. Peningkatan kualitas sumberdaya masyarakat; Manusia berkualitas adalah manusia yang utuh dimana pencitraan keutuhan itu diwujudkan dengan derajat kesejahteraan lahir dan bathin sehingga dapat menggunakan potensinya secara mandiri dalam memenuhi kebutuhannya;. Mengembangkan potensi ekonomi kota sebagai kota jasa dan perdagangan serta utilitas perkotaan berwawasan lingkungan; Dalam rangka mengoptimalkan potensi sumberdaya alam yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Jayapura, sektor perdagangan dan jasa diposisikan sebagai leading-sector yang merupakan basis peningkatan pertumbuhan ekonomi kota, dimana sektor pertanian (dalam arti luas), pariwisata, industri, dan pertambangan sebagai pendukung utamanya. Pembenahan utilitas perkotaan terkait dengan penyediaan infrastruktur dan penataan lingkungan perkotaan secara memadai, dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup yang nyaman. 6. Meningkatkan kualitas hukum dan demokrasi; Dinamika hukum dan demokrasi yang berkembang di Kota Jayapura memiliki kaitan langsung dengan kondisi nasional dan regional. Hal ini disebabkan oleh posisi Kota Jayapura yang mengemban fungsi sebagai Ibukota Provinsi Papua selain peran dan kontribusinya sebagai pusat perdagangan dan pusat pendidikan dikawasan ini. 7. Memperkuat hak-hak adat dan memberdayakan masyarakat kampung; Sebagai bagian dari upaya mewujudkan masyarakat yang berdaya dengan tetap memberikan perhatian pada hakhak adat secara proporsional di dalam kerangka pembangunan. 1.3 MAKSUD DAN TUJUAN Buku Putih Sanitasi Kota Jayapura merupakan dasar dan acuan dimulainya pembangunan sanitasi yang lebih terintegrasi karena Buku Putih Sanitasi merupakan hasil kerja berbagai komponen Dinas atau kelembagaan lain yang terkait dengan sanitasi. Buku Putih Sanitasi Kota Jayapura inilah yang menyediakan data dasar yang esensial mengenai struktur, situasi dan kebutuhan sanitasi Kota Jayapura, yang nantinya menjadi panduan kebijakan Pemerintah Kota Jayapura dalam melakukan pembangunan layanan sanitasi. Kelompok kerja (POKJA) AMPL Kota Jayapura telah melakukan analisis situasi dengan mengakses data-data tersebut. Dari kegiatan inilah pemetaan sanitasi Kota Jayapura akan disusun. Pemetaan sanitasi merupakan gambaran awal dan rencana dilakukannya zona-zona sanitasi di tingkat kabupaten. Dengan adanya zona sanitasi akan muncul kebijakan serta prioritas dalam penanganan kegiatan pengembangan strategi sanitasi skala kota yang didalamnya mencakup strategi sanitasi, rencana tindak dan anggaran perbaikan maupun peningkatan sanitasi dikota Jayapura. Pada masa mendatang penerapan strategi serta pelaksanaannya dilakukan dengan rencana tindak atau aksi di lapangan. Kemitraan dari berbagai pihak, baik pemerintah, masyarakat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Coorporate Social Responsibilty (CSR) level Kota maupun nasional sangat diperlukan dalam fase ini. Sanitasi di Indonesia memerlukan perhatian khusus, untuk meningkatan kepedulian dan merubah perilaku hidup bersih dan sehat masyarakat di bidang sanitasi. Agar penanganan pembangunan bidang sanitasi dapat lebih baik, perlu pula dilakukan studi pasar, yang terkait dengan sanitation marketing. Begitu pula dengan monitoring dan evaluasi. Monitoring dan evaluasi tidak bisa ditinggalkan dalam implementasi program. Oleh karena itu strategi monitoring dan evaluasi yang tepat perlu dirumuskan dan dijalankan dengan baik agar tujuan pembangunan sektor sanitasi dapat tercapai. Hal 6

7 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) Maksud Adapun maksud dari penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota Jayapura ini dimaksudkan agar Pemerintah Daerah mempunyai kerangka berpikir dan kerangka tindak secara strategis dalam melaksanakan pembangunan dan pengelolaan sanitasi secara komprehensif dan berkelanjutan Tujuan Sedangkan tujuan dari penyusunan dokumen Buku Putih Sanitasi ini adalah: 1. Melakukan analisis dari kondisi dan potensi yang ada di Kota Jayapura serta melakukan identifikasi strategi dan langkah pelaksanaan kebijakan dalam sektor sanitasi. 2. Menghasilkan kebijakan daerah terkait sanitasi yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan Pemerintah Daerah berdasarkan kesepakatan seluruh lintas pelaku(stakeholder) AMPL-BM Kota Jayapura. 3. Sebagai pedoman dalam pengambilan keputusan dan pengorganisasian pelaksanaan pembangunan sanitasi secara efektif, efisien, sistematis, terpadu dan berkelanjutan. 4. Menjadi pedoman bagi para stakeholders non-pemerintah untuk berkontribusi dalam pembangunan pelayanan di bidang sanitas. 1.4 METODOLOGI Untuk lebih memahami proses dan kegiatan penyusunan Buku Putih secara menyeluruh, akan disajikan beberapa hal penting yang berkaitan dengan aspek metodologi yang digunakan dalam penulisan ini. 1. Teknik Pengumpulan Data dan Jenis Data Data yang diperlukan dalam penyusunan Buku Putih Sanitasi ini secara umum meliputi data primer dan data sekunder. a. Data Primer, adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Pada kegiatan ini data primer pada dasarnya dikumpulkan untuk mendukung data sekunder dengan melakukan beberapa survey terkait dengan pengelolaan sanitasi seperti: Enviromental Health Risk Assesment (EHRA), Survey peran media dalam perencanaan sanitasi, survey kelembagaan, survey keterlibatan pihak swasta dalam pengelolaan sanitasi, survay keuangan, survay priority setting area beresiko serta survey peran serta masyarakat dan gender. Pengumpulan data primer dilakukan melalui: Teknik wawancara dengan narasumber yang terdiri dari beragam posisi yang berkaitan dengan tugas dinas/ kantor terkait untuk klarifikasi data-data, pihak swasta, masyarakat sipil, dan tokoh masyarakat. Teknik angket dengan alat kuesioner Observasi, dengan cara mengamati dan mencatat secara sistematis terhadap obyek yang diteliti. b. Data Sekunder, adalah data data yang diperoleh dari instansi terkait dalamkegiatan.teknik pengumpulan data sekunder dengan studi dokumenter yaitu mempelajari arsip dan dokumen yang berkaitan dengan aktivitas program masing-masing dinas/ kantor terkait, baik langsung maupun tidak langsung, misalnya yang berupa data statistik, proposal, laporan, foto dan peta. 2. Pengumpulan Data Proses seleksi dan kompilasi data sekunder berada dalam tahap ini. Teknik kajian dokumen dipergunakan Hal 7

8 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 tim untuk mengkaji data. Banyak dokumen kegiatan program yang mampu memberikan informasi mengenai apa yang terjadi di masa lampau yang erat kaitannya dengan kondisi yang terjadi pada masa kini. 1. DASAR HUKUM DAN KAITANNYA DENGAN DOKUMEN PERENCANAAN LAIN 1..1 Dasar Hukum Buku Putih merupakan gambaran secara umum kondisi Sanitasi kota yang ada dan upaya penanganan sanitasi yang sedang berjalan serta dijadikan sumber data dasar yang esensial mengenai struktur, situasi, dan kebutuhan sanitasi Kota Jayapura. Buku Putih akan diposisikan sebagai acuan perencanaan strategis sanitasi tingkat kota. Rencana pembangunan sanitasi kota dikembangkan atas dasar permasalahan dan program program yang telah dilakukan dan dipaparkan dalam Buku Putih. Didalam penyusunan Buku Putih Sanitasi Kota Jayapura berpijak pada beberapa peraturan perundangundangan yang berlaku di tingkat nasional atau pusat, propinsi maupun daerah. Program Pengembangan Sanitasi Indonesia di Kota Jayapura didasarkan pada aturan-aturan dan produk hukum yang meliputi: 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1966 Tentang Hygiene; 2. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman; 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1992 Tentang Penataan Ruang; 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 24 Tentang Sumber Daya Air; 6. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 24 Tentang Pemerintah Daerah; 7. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 24 Tentang Perimbangan Keuangan Antar Pemerintah Pusat dan Daerah; 8. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 27 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional 2-22; 9. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 28 Tentang Pengelolaan Sampah; 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 29 Tentang Pengesahan Stockholm Convention on Persisten Organic Pollutants. 11. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1982 Tentang Pengaturan Air; 12. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 199 Tentang Pengendalian Pencemaran Air; 13. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 1991 Tentang Sungai; 14. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 1999 Tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan; 1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 82 Tahun 21 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air; 16. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 69 Thn 1996 Tentang Pelaksanaan Hak dan Kewajiban serta bentuk dan Tata Cara Peran serta Masyarakat dalam Penataan Ruang. 17. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2 Tentang Rencana Pembangunan Jangka Panang Menengah Nasional (RPJM) Tahun 24-29; 18. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2 Tentang Badan Pengendalian Dampak Lingkungan; Hal 8

9 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 21 Tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air; 2. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 83 Tahun 22 Tentang Perubahan atas Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 123 Tahun 21 Tentang Tim Koordinasi Pengelolaan Sumber Daya Air; 21. Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 62 Tahun 2 Tentang Koordinasi Penataan Ruang. 22. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 3/MENLH/7/199 Tentang Program Kali Bersih; 23. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 21 Tentang Jenis Usaha dan atau kegiatan yang wajib dilengkapi degan AMDAL; 24. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 23 Tentang Baku Mutu Air Limbah Domestik. 2. Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 12 Tahun 27 Tentang Dokumen Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan Hidup Bagi Usaha dan atau Kegiatan yang Tidak Memiliki Dokumen Pengelolaan Lingkungan Hidup; 26. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 86 Tentang Pedoman Pelaksanaan Lingkungan Hidup dan Upaya Pemantauan Lingkungan Hidup; 27. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 12/Menkes/Per/X/24 Tentang Pedoman Persyaratan Kesehatan Pelayanan Sehat Pakai Air (SPA). 28. Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor Tahun 28 tentang RTRW 29. Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor 4 Tahun 21 tentang Rencana Induk Drainase 3. Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor 1 Tahun 211 tentang Penyelenggaraan Kebersihan. 31. Peraturan Daerah Kota Jayapura Nomor 7 Tahun 212 tentang Pengolahan Sampah Hubungan dengan Dokumen Perencanaan Lainnya Dokumen Buku Putih Sanitasi (BPS) Kota Jayapura ini, memiliki keterkaitan integratif dengan dokumen perencanaan lainnya baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini disebabkan adanya konsekwensi dari penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan dan pembangunan yang seimbang dalam konteks otonomi daerah yang mengenal urusan wajib dan urusan pilihan, serta penyelenggaraan tugas-tugas yang bersifat otonom dan tugas-tugas pembantuan. Keterkaitan beberapa dokumen perencanaan yang merupakan sumber kebijakan daerah dengan BPS, sebagai berikut: 1. Hubungan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah BPS Kota Jayapura merupakan arahan pembangunan berbasis sanitasi sementara Rencana Tata Ruang Wilayah merupakan arahan pembangunan berbasis ruang atau kewilayahan. Walaupun keduanya menggunakan pendekatan yang berbeda tetapi tidak bisa dipisahkan karena akan terjadi berbagai hambatan dan masalah ketika diimplementasikan oleh karena itu harus disesuaikan perencanaannya, jangan ada tumpang tindih atau bertolakbelakang arahannya dalam perencanaan. Dengan kata lain, rencana pemanfaatan ruang terintegrasi ke dalam rencana pembangunan. Disinilah letak keterkaitan BPS dengan RTRW. Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Jayapura telah diperdakan dengan Nomor Tahun 28 yang menyempurnakan Perda Nomor 16 Tahun 199 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Jayapura RTRW Kota Jayapura, merupakan kerangka dasar bagi penyusunan perencanaan pembangunan berbasis wilayah, tidak saja dalam artian phisik, tetapi juga berkaitan dengan dimensi sosial budaya dan ekonomi. Dengan demikian rencana Tata Ruang harus menjadi acuan dalam penyusunan kebijakan dan Hal 9

10 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 program pembangunan. Sementara itu, rencana pembangunan, mencakup berbagai dimensi pembangunan di suatu wilayah. 2. Hubungan dengan RPJPD Kota Jayapura Tahun 2-22 Dokumen RPJPD Kota Jayapura, adalah merupakan dokumen perencanaan yang memayungi berbagai dokumen perencanaan di daerah, memuat rencana jangka panjang pembangunan Kota Jayapura hingga tahun 22, tersusun menurut periodisasi berskala tahunan selama 4 periode. Gambar... Pentahapan pembangunan jangka panjang Kota Jayapura Sebagai dokumen yang memayungi dokumen perencanaan lainnya, maka dengan sendirinya dokumen BPS baik secara langsung maupun tidak langsung adalah merupakan penjabaran teknis dari dokumen RPJPD, dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan sanitasi dan lingkungan. 3. Hubungan dengan RPJMD Kota Jayapura Tahun RPJMD Kota Jayapura Tahun , merupakan penjabaran lima tahunan dari RPJPD Kota Jayapura Tahun Dimana RPJMD ini merupakan visi dan misi dari Kepala Daerah terpilih untuk lima tahun. Dokumen BPS yang merupakan dokumen perencanaan teknis dalam bidang sanitasi merupakan penjabaran lebih lanjut dari dokumen RPJMD Kota Jayapura, sehingga dokumen BPS memiliki keterkaitan langsung dengan pencapaian tujuan dan sasaran pada RPJMD Kota Jayapura. 4. Hubungan dengan Renstra SKPD Renstra SKPD yang adalah penjabaran dari RPJMD merupakan pedoman guna mencapai tujuan dan sasaran yang ditetapkan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masing-masing SKPD. Dokumen BPS yang adalah penjabaran dari RPJMD di bidang sanitasi, turut menjadi pedoman bagi SKPD yang terkait dengan sanitasi dalam menyusun Renstranya Sistematika Dokumen Buku Putih Sanitasi Kota Jayapura ini berisikan kajian dan pemetaan pembangunan layanan sanitasi Kota Jayapura Tahun 212 dan merupakan gambaran awal untuk penyusunan Strategi Sanitasi Kota (SSK). Guna kepentingan tersebut, BukuPutih ini menyajikan data tahun 21 dan data tahun sebelumnya, selain itu Buku ini juga dilengkapi dengan hasil kajian kelembagaan serta hasil survei penilaian resiko kesehatan lingkungan/ EHRA. Sesuai denganformat standar dalam Buku Putih, makadidalamnya dibahas sebagai berikut: Bab1 : Pendahuluan Hal 1

11 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 Berisikan kondisi terkini pembangunan sanitasi yang telah dilakukan, hasil yang telah diperoleh, dan menggambarkan mekanisme perencanaan serta pelaksanaan pembangunan sanitasi selama ini yang telah dilakukan berdasarkan pemanfaatan sumber daya yang telah dimanfaatkan. Bab2 : Gambaran Umum Wilayah Menggambarkan kondisi fisik Kota Jayapura, letak geografi, topografi dan kondisi geohidrologi dengan batas-batas administrasinya; jumlah penduduk dengan kepadatannya, sebarannya; sarana prasarana pendidikan; sarana prasarana kesehatan; kondisi sosial masyarakat; kondisi ekonomi dan perekonomian masyarakat; visi dan misi Kota Jayapura ; institusi dan organisasi Pemda; dan arah pengembangan pembangunan Kota Jayapura serta rencana tata ruang dan wilayah kota. Bab 3 : Profil Sanitasi Wilayah Berisikan kondisi riil kesehatan lingkungan Kota Jayapura, kesehatan dan pola hidup masyarakat, kuantitas dan kualitas air yang dapat diakses masyarakat, pembuangan limbah cair rumah tangga, pembuangan limbah padat/sampah, saluran drainase lingkungan, pencemaran udara, pembuangan limbah industri dan limbah medis. Bab 4 : Program Sanitasi Saat ini dan Yang di Rencanakan Menjelaskan mengenai Rencana Pengembangan dan Pembangunan Sektor Sanitasi yang sedang dan akan dijalankan, berdasarkan perencanaan pembangunan yang saat ini masih berjalan (RPJMD) Kota Jayapura yang, meliputi visi dan misi sanitasi, strategi penanganan sanitasi kota jayapura, rencana peningkatan pengelolaan limbah cair, sampah, saluran drainase lingkungan, rencana pembangunan penyediaan air minum, dan rencana peningkatan kampanye PHBS Bab : Indikasi Permasalahan dan Posisi Pengelolaan Sanitasi Berisikan hasil kajian Pokja Sanitasi Kota Jayapura berdasarkan, analisis data primer dan sekunder, obervasi dan survei lapangan serta merupakan indikasi dan opsi-opsi yang dapat diakomodir dalam SSK (Strategi Sanitasi Kota), yang diambil dari kompilasi dan analisis data sekunder serta analisis data primer di area berisiko tinggi. Hal 11

12 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH 2.1 GEOGRAFIS, ADMINISTRATIF DAN KONDISI FISIK Kondisi Geografis Kota Jayapura yang terletak di timur Indonesia merupakan pusat permukiman terpadat di Provinsi Papua. Dengan luas wilayah hanya 94 km2, kota ini harus menampung penduduk 271,12 jiwa dengan tingkat pertumbuhan per tahun mencapai 4,1% per tahun. Sekitar 94,% penduduk Kota Jayapura terpusat di bagian barat kota yang hanya mencakup 33,33% dari luas wilayah. Kota Jayapura terletak di bagian utara Provinsi Papua pada ,26-3 8,82 Lintang Selatan dan , ,22 Bujur Timur. Secara Geografis, Kota Jayapura terdiri dari (lima) distrik yaitu Distrik Jayapura Utara, Distrik Jayapura Selatan, Distrik Abepura, Distrik Muara Tami dan Distrik Heram. Secara geografis wilayah administrasi Kota Jayapura terletak di bagian utara Provinsi Papua pada , LS dan Bujur Timur. Kota Jayapura berdasarkan kedudukan lokasi memiliki batasan administrasi sebagai berikut: Gambar 2.1Peta Distrik di Kota Jayapura Bagian Utara Bagian Barat : Samudera Pasifik : Kab. Jayapura Hal 12

13 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 Bagian Selatan Bagian Timur : Kabupaten Keerom : Negara Papua New Guinea (PNG). Untuk menjaga keberlanjutan ketersediaan air tanah di wilayah Kota Jayapura, maka perlu pengelolaan dan pemanfaatan alam secara optimal dan tidak menimbulkan dampak terhadap air tanah itu sendiri. Sumber air tanah di Kota Jayapura ada yang termasuk tipe uncounfined aquifer atau sumber air tanah dengan permukaan air tanah bebas. Air tanah pada sumber dangkal ini berasal dari air meteoric (air hujan) yang mengisi formasi aquifer bagian pangkal dan fan. Di samping itu juga terhadap sumber air dalam dengan tipe confined aquifer. Penggunaan air bersih di Kota Jayapura digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga (masak, minum, mandi, dan cuci), untuk kebutuhan industri dan kebutuhan lain. Untuk keperluan tersebut, masyarakat pada umumnya menggunakan air sumur, mata air, dan sumber dari PDAM. Sedangkan untuk keperluan pengairan sawah digunakan sumber air yang berasal dari Ingar ataupun limpahan air yang berasal dari mata air. Sistem pengelolaan dan pemanfaatan sumber air perlu dibatasi guna menjaga kelestariannya. Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menjaga serta membatasi pembangunan pada kawasan-kawasan lindung. Tabel 2.1 Daerah Aliran Sungai (DAS) di Kota Jayapura Nama DAS Luas (Ha) Debit (M 3 /det) Jaringan Drainase Sungai Heram 1 ( S Heram 1 ) 1,928,14 Jaringan Drainase Sungai Heram 2 ( S Heram 2 ),11482 Jaringan Drainase Sungai Heram 3 ( S Heram 3 ),77,4 Jaringan Drainase Sungai Kampwolker ( S Kamp) 1,1376 Jaringan Drainase Sungai Abepura 1 ( S Abe 1 ),1119 Jaringan Drainase Sungai Abepura 2 ( S Abe 2 ),2147 Jaringan Drainase Sungai Abepura 3 ( S Abe 3 ),2984 Jaringan Drainase Sungai Abepura 4 ( S Abe 4 ),83664 Jaringan Drainase Sungai Abepura ( S Abe ),88227 Jaringan Drainase Sungai Acai 1,688 Jaringan Drainase Sungai Simborogonyi ( S Sibor) 9,26971 Jaringan Drainase Wafnan ( S Entrop) 6,918 Jaringan Drainase Sian nan ( S Entrop) 2,8281 Jaringan Drainase Sungai Jayapura Selatan 1 ( S Japsel ),33718 Hal 13

14 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 Jaringan Drainase Sungai Jayapura Selatan 2 ( S Japsel ),969 Jaringan Drainase Sungai Jayapura Selatan 3 ( S Japsel ),16284 Jaringan Drainase Sungai Jayapura Selatan 4 ( S Japsel ),38297 Jaringan Drainase Sungai Anafree ( S Anafree ) 6,926 Keterangan : Untuk debit dari masing masing Daerah Aliran Sungai tersebut diatas belum ada datanya Nama sungai sungai yang mengalir di Kota Jayapura dapat dilihat pada tabel terlampir Administratif Gambaran administrasi pemerintahan di Kota Jayapura disajikan pada Tabel dan Gambar berikut ini: No Tabel 2.2 Nama, luas wilayah per-distrik dan jumlah kelurahan / Kampung Distrik Jumlah Kelurahan Jumlah Kampung Km 2 Luas Wilayah % Thd Total 1. Abepura 8 3 1,7 16,6 2. Jayapura Selatan 2 43,4 4,62 3. Jayapura Utara 7 1 1,43 4. Muara Tami ,7 66,67. Heram ,2 6, , 1, Sumber : Kota Jayapura Dalam Angka, 212 Pemerintah Kota Jayapura terdiri dari distrik dengan 39 Kelurahan/kampung terdiri dari 2 kelurahan dan 14 kampung. Distrik Abepura merupakan distrik dengan jumlah Kelurahan dan Kampung terbanyak dengan rincian 8 jumlah kelurahan dan 3 jumlah kampung. Sedangkan distrik dengan jumlah kelurahan/kampung terkecil yaiu Distrik Heram dengan rincian 3 Kelurahan dan 2 kampung. Nama kampung dan kelurahan serta status pemerintahan wilayah kota jayapura menurut distrik dapat dilihat pada tabel terlampir Hal 14

15 PEMERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 Peta 2.1 PETA ADMINISTRASI Sumber: Bappeda Kota Jayapura Hal 1

16 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) Kondisi Fisik Wilayah A. Kondisi Topografi Topografi daerah Kota Jayapura cukup bervariasi, mulai dari daratan, yang landai sampai berbukit-bukit/gunung, dimana terdapat ±6% daerah tidak layak huni (non budidaya) karena terdiri dari daerah perbukitan yang terjal dengan kemiringan diatas 4%, rawa-rawa berstatus konservasi atau hutan lindung. Kota Jayapura berada pada ketinggian 1 7 M di atas permukaan laut (dpl) dan hanya ± 4% lahan yang layak huni (budidaya) dan hamparan itu sebagian besar di Distrik Muara Tami yang merupakan wilayah perbatasan dengan Negara PNG. Curah hujan rata-rata mm/tahun dan jumlah hari hujan rata-rata bervariasi antara hari hujan/tahun. Iklim Kota Jayapura yang karena pengaruh letaknya, maka dapatlah di kategorikan beriklim tropis, dengan suhu rata-rata 21 C - 31 C, musim Hujan dan Musim Kemarau tidak teratur sebagai akibat pengaruh gerakan angina dari antar Benua Australia dan Asia serta lautan Pasifik dan lautan Hindia. Kelembaban udara rata-rata bervariasi antara 77% - 82%. B. Kondisi Geohidrologi Iklim di Kota Jayapura adalah tropis basah. Suhu udara rata-rata berkisar 3 C dengan suhu udara minimum berkisar 29 C dan suhu udara maksimum 31,8 C. Curah hujan bervariasi antara 4-2 mm/tahun dengan hari hujan rata-rata antara hari hujan/tahun. Kelembaban udara bervariasi antara 79% - 81%. Menurut pencatatan Badan Meteorologi dan Geofisika wilayah V Jayapura Tahun 2 suhu udara rata-rata 23, C - 32,2 C. Kelembaban udara berkisar antara 77% - 82%, sedang curah hujan tertinggi pada bulan Maret 2 yaitu mm dan terendah bulan Desember 2 yaitu 1 mm. Kota Jayapura memiliki 17 sungai/kali, yaitu: i. Distrik Jayapura Utara : Kali Anafre, Kloofkamp, Bahabuaya, APO, Yapis dan Dok IX. ii. Distrik Jayapura Selatan : Kali Acai, Siborogonyi, Entrop I, II, III dan Hanyaan. iii. Distrik Abepura : Kali Kampwalker, Buper iv. Distrik Muara Tami : Sungai Tami, Skamto, Buaya Arah aliran sungai bermuara ke Laut Pasifik kecuali Sungai Kampwolker dan Buper yang bermuara ke Danau Sentani. Sungai-sungai yang terdapat di wilayah kota Jayapura secara umum mengalir ke arah utara dan selatan yang dipisahkan oleh suatu pemisah morfologi yang membentang dari barat ke timur, sehingga memisahkan aliran permukaan (Surface run off) pada dua area tangkapan hujan secara makro. Arah aliran sungai pada umumnya sejajar dengan sungai utama yaitu Kali Kamp Wolker, Kali Acai, Kali Entrop, Kali Anafre, Kali Kloofkamp, Kali APO, Kali Dok IX dan Kali Tami yang menyebar di Kota Jayapura dan sebagian besar bermuara ke lautan Pasifik kecuali Kali Kamp Wolker yang bermuara ke danau Sentani. Sebagian besar alian sungai dapat dijadikan sebagai aliran air bersih yang dikelola oleh pihak PDAM yang meliputi Kali Kujabu, Kali Entrop II, Kali Kloofkamp, Kali APO, juga sebagian masyarakat menggunakan air tanah berupa sumur (air tanah dangakal) yang kedalamannya berkisar antara 1-3 meter namun dengan tingkat kadar kapur yang sangat tinggi. Air tanah di daerah datar yang berada di tepi pantai atau rawa mempunyai tinggi muka air sekitar 1 meter, terdapat di kelurahan Gurabesi, sekitar pasar Hamadi di kelurahan Argapura. C. Kondisi Geologi Kota Jayapura memiliki potensi bahan galian golongan B dan golongan C. Golongan B diantaranya berupa pasir besi yang terdapat di waena, angkasa dan Base-G dengan luasan ± 8. ha; dan nikel yang terdapat di sepanjang kaki pengunungan cycloop dengan luasan ± 18. ha. Golongan C diantaranya adalah batu gamping/batu karang yang terbesar di daerah entrop, polimak, tanah hitam, koyo koso, koya barat, moso dan koya tengah; pasir dan batu (sirtu) tersebar di daerah pasir II, waena, padang bulan dan yoka dengan luas keseluruhan ± 32. ha; bentonit terdapat di daerah Nafri dengan luasan ± 1 ha, tanah liat/batu lempung Hal 16

17 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 terdapat di daerah Nafri, Koya Timur, Koya Barat, Koya Tengah, Holtekamp dan Koya Koso dengan luasan ± 28. ha; dan pasir besi terdapat di daerah angkasa dan waena dengan luasan ± 12. ha. Bahan galian ini tersebar sesuai dengan kondisi geologi (morfologi, stratigrafi dan struktur geologi) daerah Kota Jayapura. Eksploitasi bahan galian golongan B dan C di Kota Jayapura telah dilakukan oleh perorangan maupun perusahaan berbadan hokum, namun kontribusi terhadap pendapatan asli daerah Kota Jayapura dan pengelolaan lingkungan tambang belum optimal. Dengan jumlah usaha yang cukup banyak dan luas lahan yang dikelola cukup besar maka kegiatan ini berpotensi menimbulkan dampak negatif seperti: kerusakan dan pencemaran lingkungan sekitar daerah kegiatan, rusaknya daerah-daerah konservasi dan daerah tangkapan hujan, bencana geologi seperti banjir, gerakan tanah/longsor dan erosi/sedimentasi dan menurunnya kualitas dan muka air tanah sehingga menyebabkan berkurangnya debit air permukaan. Untuk meminimalisasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, maka perlu disusun suatu system pengelolaan dan pemanfaatan bahan galian yang berwawasan lingkungan. D. Kondisi Hidrologi Peta Peta Daerah Aliran Sungai / DAS Sumber: RTRW Kota Jayapura Hal 17

18 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) DEMOGRAFI Bagian ini membahas tentang jumlah dan kepadatan penduduk, persebaran penduduk, struktur kependudukan menurut kelompok umur, pendidikan, dan sosial budaya masyarakat. Berdasarkan Data Kota Jayapura Dalam Angka Tahun 212 jumlah penduduk Kota Jayapura tahun 211 adalah 271,12 jiwa dengan laju pertumbuhan 4,1% per tahun yang tersebar pada (lima) distrik yaitu Distrik Abepura, Distrik Jayapura Selatan, Distrik Jayapura Utara, Distrik Muara Tami dan Distrik Heram. Secara keseluruhan kepadatan penduduk jika dilihat dari penyebaran per- distrik, pada tahun 212 Distrik Abepura yang penduduknya paling banyak di Kota Jayapura yaitu sebanyak jiwa. Sedangkan posisi ke dua Distrik Jayapura Selatan jiwa, dan posisi ke tiga Distrik Jayapura Utara sebanyak sebanyak jiwa. Posisi ke empat adalah Distrik Heram dengan jumlah penduduk jiwa dan distrik yang paling sedikit jumlah penduduknya adalah Distrik Muara Tami dengan jiwa. Hal 18

19 PEMERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) 3121 Tabel 2.9 Jumlah Penduduk Kota Jayapura saat ini dan Proyeksi (lima) Tahun Jumlah Penduduk Jumlah Kepala Keluarga ngkat Pertumbuhan Distrik ABEPURA ,16 4,16 4,16 4,16 4,16 JAYAPURA SELATAN ,2 1,2 1,2 1,2 1,2 JAYAPURA UTARA ,16 4,16 4,16 4,16 4,16 MUARA TAMI ,1,1,1,1,1 HERAM ,2 1,2 1,2 1,2 1,2 TOTAL Sumber: Kota Jayapura Dalam Angka (BPS) dan diolah oleh pokja AMPL. Hal 19

20 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai Kota No. 1 Entrop Tel. (967) KEUANGAN DAN PEREKONOMIAN DAERAH Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi Tabel 2.4 Ringkasan Realisasi APBD tahun terakhir No ANGGARAN (a) (b) (d) (e) (f) (g) A Pendapatan 1 Pendapatan Asli Daerah (PAD) Dana Perimbangan (transfer) Lain-lain Pendapatan yang sah B Jumlah Pendapatan Belanja 1 Belanja Tidak langsung Belanja Langsung Jumlah Belanja Surplus/Defisit Anggaran Sumber: BPKAD Kota Jayapura Tabel 2. Ringkasan Anggaran Sanitasi dan Belanja Modal Sanitasi per penduduk Tahun Terakhir No. Subsektor / SKPD (a) (b) (c) (d) (e) (f) (g )A Air Limbah 1 Dinas PU Badan Lingkungan Hidup Bappeda B Persampahan 1 DKP Bappeda - xxx C Drainase 1. Dinas PU Bappeda D Aspek PHBS 1 Dinas Kesehatan E Total Belanja Modal Sanitasi dari APBD (A s/d D) F Total Belanja Modal Sanitasi dari APBD Murni (Bukan Pendamping) G Total Belanja APBD , H Proporsi Belanja Modal Sanitasi 1,4 terhadap Belanja Total (F:Gx1%) 1,7% 1,17%,73%,62% I Jumlah Penduduk J Belanja Modal Sanitasi per 14,9 Penduduk (E : I) Sumber: Bappeda Kota Jayapura (diolah Pokja AMPL) Hal 2

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Program dan kegiatan Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) diharapkan dapat memberikan pengaruh terhadap kesehatan, meningkatkan produktifitas dan meningkatkan

Lebih terperinci

PENCAPAIAN KINERJA INDIKATOR MACRO PEMBANGUNAN DAERAH KOTA JAYAPURA

PENCAPAIAN KINERJA INDIKATOR MACRO PEMBANGUNAN DAERAH KOTA JAYAPURA PENCAPAIAN KINERJA INDIKATOR MACRO PEMBANGUNAN DAERAH KOTA JAYAPURA Berdasarkan Permen No. 12 thn 2007 ttg Susunan Data A. DATA UMUM 1. GEOGRAFI a. Posisi / Letak Kota Jayapura berdiri sejak tanggal 21

Lebih terperinci

KELOMPOK KERJA SANITASI KABUPATEN BERAU BAB I PENDAHULUAN

KELOMPOK KERJA SANITASI KABUPATEN BERAU BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sanitasi didefinisikan sebagai upaya membuang limbah cair domestik dan sampah untuk menjamin kebersihan dan lingkungan hidup sehat, baik ditingkat rumah tangga maupun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN 1

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG LAPORAN FINAL BUKU PUTIH SANITASI TABANAN 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup, kondisi lingkungan permukiman serta kenyamanan

Lebih terperinci

PERCEPATAN PEMBANGUNAN SANITASI PERMUKIMAN

PERCEPATAN PEMBANGUNAN SANITASI PERMUKIMAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat, karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG

BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di dalam kehidupan masyarakat sangatlah dipengaruhi oleh faktor ekonomi, pendidikan, lingkungan sosial, budaya dan faktor lainnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG

BAB I PENDAHULUAN BUKU PUTIH SANITASI KAB. SIDENRENG RAPPANG BAB I PENDAHULUAN i BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam rangka pencapaian target RPJMN 2010-2014 dan MDGs 2015 pemerintah memperbaiki kondisi sanitasi di Indonesia dengan mengarusutamakan percepatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan di Kabupaten Pasuruan dilaksanakan secara partisipatif, transparan dan akuntabel dengan berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan pengertian dasar pembangunan

Lebih terperinci

Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kepulauan Aru 2014 BAB 1. PENDAHULUAN

Buku Putih Sanitasi Kabupaten Kepulauan Aru 2014 BAB 1. PENDAHULUAN BAB 1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Secara Nasional Pemerintah Indonesia menaruh perhatian yang sangat serius dalam mencapai salah satu target Millenium Development Goals (MDGs) khususnya yang terkait

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. Bab Latar Belakang. BPS Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung

PENDAHULUAN. Bab Latar Belakang. BPS Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung Bab - 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sanitasi merupakan salah satu pelayanan dasar yang kurang mendapatkan perhatian dan belum menjadi prioritas pembangunan di daerah. Dari berbagai kajian terungkap

Lebih terperinci

Pendahuluan BAB 1 PENDAHULUAN

Pendahuluan BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dengan berakhirnya masa berlaku RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Kota Tahun 2005-2010, maka untuk menjamin kesinambungan arah pembangunan Kota dalam

Lebih terperinci

PROGRAM PPSP KABUPATEN BATANG HARI TAHUN 2013

PROGRAM PPSP KABUPATEN BATANG HARI TAHUN 2013 Bab 1: Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Kurangnya sikap kepedulian masyarakat dan pemerintah terhadap peranan penyehatan lingkungan dalam mendukung kualitas lingkungan menyebabkan masih rendahnya cakupan

Lebih terperinci

Buku Putih Sanitasi Kota Bogor

Buku Putih Sanitasi Kota Bogor BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kondisi sanitasi merupakan salah satu komponen yang ikut mempengaruhi kondisi kesehatan masyarakat dan lingkungan yang secara tidak langsung juga turut berkontribusi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Untuk mengembangkan layanan sanitasi Kabupaten/Kota memang tidak mudah mengingat permasalahan yang terjadi sangat komplek, dibutuhkan waktu yang lama, belum lagi persoalan

Lebih terperinci

KELOMPOK KERJA PPSP KABUPATEN SOPPENG TAHUN 2012 BAB I PENDAHULUAN

KELOMPOK KERJA PPSP KABUPATEN SOPPENG TAHUN 2012 BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Dalam upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat, Pemerintah Indonesia menetapkan sejumlah kebijakan yang mendukung percepatan kinerja pembangunan air minum dan sanitasi,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Sanitasi merupakan salah satu sektor yang memiliki keterkaitan yang erat dengan kemiskinan, tingkat pendidikan, kepadatan penduduk, perilaku hidup bersih dan sehat,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN BENGKAYANG. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Landasan Gerak

BAB 1 PENDAHULUAN BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN BENGKAYANG. 1.1 Latar Belakang. 1.2 Landasan Gerak BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Buku Putih Sanitasi Kabupaten Bengkayang Tahun berisi hasil pengkajian dan pemetaan sanitasi awal yang memotret kondisi sanitasi dari berbagai aspek, tidak terbatas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pemerintah Republik Indonesia telah memberlakukan kebijakan pembangunan sanitasi sebagai bagian dari strategi nasional bidang sanitasi dan higienitas untuk diterapkan

Lebih terperinci

Strategi Sanitasi Kabupaten Malaka

Strategi Sanitasi Kabupaten Malaka BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan Sanitasi di Indonesia telah ditetapkan dalam misi Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJMPN) tahun 2005 2025 Pemerintah Indonesia. Berbagai langkah

Lebih terperinci

Bab. 1 Pendahuluan Latar Belakang

Bab. 1 Pendahuluan Latar Belakang Bab. 1 Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Sanitasi merupakan suatu kebutuhan dasar manusia dalam kehidupan sehari-hari. Keadaan sanitasi suatu masyarakat, dapat menjadi gambaran tingkat kehidupannya. Bila

Lebih terperinci

PEMUTAKHIRAN SSK LAMPUNG TIMUR Tahun 2016

PEMUTAKHIRAN SSK LAMPUNG TIMUR Tahun 2016 Created on 10/3/2016 at 9:8:38 Page 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Untuk memenuhi target pembangunan sektor sanitasi, yang meliputi pengelolaan air limbah domestik, pengelolaan persampahan, dan

Lebih terperinci

Daftar Isi. S S K K o t a J a y a p u r a Hal 1

Daftar Isi. S S K K o t a J a y a p u r a Hal 1 PEM ERINTAH Kantor Walikota Jalan Balai. 1 Entrop Tel. (967) 53121 Daftar Isi BAB 1. PENDAHULUAN... 3 1.1. LATAR BELAKANG... 3 1.2 WILAYAH CAKUPAN SSK... 4 1.3 MAKSUD DAN TUJUAN... 6 1.3.1 Maksud... 6

Lebih terperinci

PERATURAN WALIKOTA JAYAPURA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN WALIKOTA JAYAPURA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN WALIKOTA JAYAPURA NOMOR 1 TAHUN 2013 TENTANG PENETAPAN BATASAN JUMLAH SURAT PERMINTAAN PEMBAYARAN UANG PERSEDIAAN (SPP-UP), SURAT PERMINTAAN PEMBAYARAN GANTI UANG PERSEDIAAN (SPP-GU DAN SURAT

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada tahun 2015 Kabupaten Gunungkidul melakukan pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK). Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten Gunungkidul dilakukan karena usia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Masalah Sanitasi, khususnya sanitasi di perkotaan adalah isu yang sampai hari ini belum terselesaikan secara maksimal bahkan sehingga sangat memerlukan perhatian semua

Lebih terperinci

BAB PENDAHULUAN. Buku Putih Sanitasi Kabupaten Sinjai

BAB PENDAHULUAN. Buku Putih Sanitasi Kabupaten Sinjai BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sektor sanitasi merupakan salah satu tantangan Pemerintah Daerah yang paling signifikan karena berhubungan langsung dengan pelayanan publik yang mempunyai kaitan erat

Lebih terperinci

BAB 4 STRATEGI SEKTOR SANITASI KABUPATEN GUNUNGKIDUL

BAB 4 STRATEGI SEKTOR SANITASI KABUPATEN GUNUNGKIDUL BAB 4 STRATEGI SEKTOR SANITASI KABUPATEN GUNUNGKIDUL 4.1 SASARAN DAN ARAHAN PENAHAPAN PENCAPAIAN Sasaran Sektor Sanitasi yang hendak dicapai oleh Kabupaten Gunungkidul adalah sebagai berikut : - Meningkatkan

Lebih terperinci

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN MINAHASA UTARA

BUKU PUTIH SANITASI KABUPATEN MINAHASA UTARA 1.1 LATAR BELAKANG Pembangunan sanitasi permukiman di Indonesia bertujuan meningkatkan kondisi dan kualitas pelayanan air limbah, pengelolaan persampahan, drainase, dan kesehatan. Targetnya adalah pada

Lebih terperinci

Universal Access cakupan akses 100% untuk air minum dan sanitasi dalam rangka. 1.1 Latar Belakang

Universal Access cakupan akses 100% untuk air minum dan sanitasi dalam rangka. 1.1 Latar Belakang . Latar Belakang Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat, karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup, kondisi lingkungan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN SSK. I.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN SSK. I.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1. Latar Belakang Kondisi umum sanitasi di Indonesia sampai dengan saat ini masih jauh dari kondisi faktual yang diharapkan untuk mampu mengakomodir kebutuhan dasar bagi masyarakat

Lebih terperinci

BAB 2 KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI

BAB 2 KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI BAB 2 KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI Sebagai sebuah dokumen rencana strategis berjangka menengah yang disusun untuk percepatan pembangunan sektor sanitasi skala kota, kerangka kebijakan pembangunan sanitasi

Lebih terperinci

Mewujudkan Kota Padang sebagai Kota Pendidikan, Perdagangan dan Pariwisata Yang Sejahtera, Religius dan Berbudaya

Mewujudkan Kota Padang sebagai Kota Pendidikan, Perdagangan dan Pariwisata Yang Sejahtera, Religius dan Berbudaya Bab 3 Kerangka Pengembangan Sanitasi 3.1. Visi dan misi sanitasi Sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004, visi dan misi pembangunan jangka menengah adalah visi dan misi kepala daerah

Lebih terperinci

Strategi Sanitasi Kabupaten Empat Lawang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Strategi Sanitasi Kabupaten Empat Lawang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Perilaku hidup bersih dan sehat setiap masyarakat adalah cermin kualitas hidup manusia. Sudah merupakan keharusan dan tanggung jawab baik pemerintah maupun masyarakat

Lebih terperinci

Strategi Sanitasi Kabupaten Pasaman. ( Refisi 2012 ) I.1

Strategi Sanitasi Kabupaten Pasaman. ( Refisi 2012 ) I.1 1.1. Latar Belakang. Dalam kontek Program Pembangunan Sektor Sanitasi Indonesia (ISSDP), sanitasi didefinisikan sebagai tindakan memastikan pembuangan tinja, sullage dan limbah padat agar lingkungan rumah

Lebih terperinci

POKJA PPSP KABUPATEN SAROLANGUN BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang

POKJA PPSP KABUPATEN SAROLANGUN BAB 1 PENDAHULUAN Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pencapaian target MDGs di bidang sanitasi memerlukan kebijakan dan strategi yang efektif. Oleh karena itu, diperlukan berbagai program dan kegiatan yang terukur dan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR...

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... DAFTAR ISI... DAFTAR TABEL... DAFTAR GAMBAR... Halaman BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1 Latar Belakang... I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan... I-3 1.3 Hubungan Antar Dokumen... I-4

Lebih terperinci

Memorandum Program Sanitasi (MPS) Kabupaten Balangan BAB 1 PENDAHULUAN

Memorandum Program Sanitasi (MPS) Kabupaten Balangan BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan yang memiliki fungsi penting karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup serta kondisi lingkungan yang dapat memberikan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) merupakan dokumen perencanaan jangka menengah (5 tahun) yang memberikan arah bagi pengembangan sanitasi di Kabupaten Cilacap karena

Lebih terperinci

GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR : 10 TAHUN 2012 TENTANG

GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR : 10 TAHUN 2012 TENTANG GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR PERATURAN GUBERNUR NUSA TENGGARA TIMUR NOMOR : 10 TAHUN 2012 TENTANG PEMBANGUNAN AIR MINUM DAN PENYEHATAN LINGKUNGAN BERBASIS MASYARAKAT DI PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR DENGAN

Lebih terperinci

BAB KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI

BAB KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI BAB KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI 2.1 Visi Misi Sanitasi Visi Sanitasi Kabupaten Sinjai adalah Kondisi sanitasi yang ingin diwujudkan di kabupaten Sinjai sampai tahun 2017 yang merupakan bagian dari Visi

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Beberapa pokok utama yang telah dicapai dengan penyusunan dokumen ini antara lain:

BAB 1 PENDAHULUAN. Beberapa pokok utama yang telah dicapai dengan penyusunan dokumen ini antara lain: BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Program dan Kegiatan dalam dokumen Memorandum Program Sanitasi ini merupakan hasil konsolidasi dan integrasi dari berbagai dokumen perencanaan terkait pengembangan

Lebih terperinci

RINGKASAN EKSEKUTIF DIAGRAM SISTEM SANITASI PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK KABUPATEN WONOGIRI. (C) Pengangkutan / Pengaliran

RINGKASAN EKSEKUTIF DIAGRAM SISTEM SANITASI PENGELOLAAN AIR LIMBAH DOMESTIK KABUPATEN WONOGIRI. (C) Pengangkutan / Pengaliran RINGKASAN EKSEKUTIF Strategi Sanitasi Kabupaten Wonogiri adalah suatu dokumen perencanaan yang berisi kebijakan dan strategi pembangunan sanitasi secara komprehensif pada tingkat kabupaten yang dimaksudkan

Lebih terperinci

BAB 2 Kerangka Pengembangan Sanitasi

BAB 2 Kerangka Pengembangan Sanitasi BAB 2 Kerangka Pengembangan Sanitasi 2.1. Visi Misi Sanitasi Visi Kabupaten Pohuwato Tabel 2.1: Visi dan Misi Sanitasi Kabupaten/Kota Misi Kabupaten Pohuwato Visi Sanitasi Kabupaten Pohuwato Misi Sanitasi

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso

KATA PENGANTAR. RTRW Kabupaten Bondowoso KATA PENGANTAR Sebagai upaya mewujudkan perencanaan, pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang yang efektif, efisien dan sistematis guna menunjang pembangunan daerah dan mendorong perkembangan wilayah

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SOPPENG

BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SOPPENG BAB II GAMBARAN UMUM KABUPATEN SOPPENG 2.1. Batas Administratif Kabupaten Soppeng merupakan salah satu bagian dari Provinsi Sulawesi Selatan yang secara administratif dibagi menjadi 8 kecamatan, 21 kelurahan,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Millennium Development Goals (Tujuan Pembangunan Milenium, atau MDGs) mengandung delapan tujuan sebagai respon atas permasalahan perkembangan global, dengan target

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004 TENTANG SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa sumber daya air merupakan karunia Tuhan Yang

Lebih terperinci

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar

KAJIAN LINGKUNGAN HIDUP STRATEGIS (KLHS) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Polewali Mandar BAB II PROFIL WILAYAH KAJIAN Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) adalah rangkaian analisis yang sistematis, menyeluruh dan partisipatif untuk memastikan bahwa prinsip pembangunan berkelanjutan telah

Lebih terperinci

Bab I : Pendahuluan Latar Belakang

Bab I : Pendahuluan Latar Belakang Bab I : Pendahuluan 1.1. Latar Belakang Perkembangan pembangunan kota yang terus berkembang dan pertumbuhan populasi penduduk dengan berbagai aktifitasnya yang terus meningkat dengan pesat menyebabkan

Lebih terperinci

PPSP BAB 1 PENDAHULUAN BUKU PUTIH SANITASI I Latar Belakang.

PPSP BAB 1 PENDAHULUAN BUKU PUTIH SANITASI I Latar Belakang. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. World Health Organization (WHO) mendefinisikan sanitasi sebagai suatu upaya pengendalian terhadap seluruh faktor-faktor fisik, kimia dan biologi yang menimbulkan

Lebih terperinci

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN

IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 92 IV. ANALISIS SITUASIONAL DAERAH PENELITIAN 4.1. Kota Bekasi dalam Kebijakan Tata Makro Analisis situasional daerah penelitian diperlukan untuk mengkaji perkembangan kebijakan tata ruang kota yang terjadi

Lebih terperinci

4. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 46 4. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1 Keadaan Geografis 4.1.1 Letak dan Luas Wilayah Kota Jayapura terletak di tepian Teluk Yos Sudarso dan secara geografis berada pada posisi antara 1 0 28 17.26 hingga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sasaran Pembangunan Millennium (Millennium Development Goals atau disingkat dalam bahasa Inggris MDGs) adalah delapan tujuan yang diupayakan untuk dicapai pada tahun

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Latar Belakang 1-1

PENDAHULUAN Latar Belakang 1-1 Bab 1 1.1. Latar Belakang Pertumbuhan ekonomi dan perkembangan wilayah dewasa ini semakin meningkat, namun tidak diimbangi secara optimal dengan penyediaan layanan sektor sanitasi dasar yang layak bagi

Lebih terperinci

Bab 3 Kerangka Pengembangan Sanitasi

Bab 3 Kerangka Pengembangan Sanitasi 3.1. Visi dan misi sanitasi Bab 3 Kerangka Pengembangan Sanitasi Dalam rangka merumuskan visi misi sanitasi Kabupaten Lampung Tengah perlu adanya gambaran Visi dan Misi Kabupaten Lampung Tengah sebagai

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No. 1490, 2014 KEMENPERA. Perumahan. Kawasan Pemukiman. Daerah. Pembangunan. Pengembangan. Rencana. Pedoman. Pencabutan. PERATURAN MENTERI PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

PEMETAAN SISTEM SANITASI KRITERIA PEMILIHAN LOKASI

PEMETAAN SISTEM SANITASI KRITERIA PEMILIHAN LOKASI PEMERINTAH PROPINSI DAERAH KHUSUS IBU KOTA JAKARTA BADAN PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAERAH MATERI SOSIALISASI & FGD Rabu, 30 November 2011 PEMETAAN SISTEM SANITASI KRITERIA PEMILIHAN LOKASI Dalam Rangka

Lebih terperinci

D A F T A R I S I Halaman

D A F T A R I S I Halaman D A F T A R I S I Halaman B A B I PENDAHULUAN I-1 1.1 Latar Belakang I-1 1.2 Dasar Hukum Penyusunan I-2 1.3 Hubungan RPJM dengan Dokumen Perencanaan Lainnya I-3 1.4 Sistematika Penulisan I-7 1.5 Maksud

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang 1.2 Landasan Gerak 1.3 Maksud dan Tujuan 1.4 Metodologi 1.5 Dasar Hukum dan Kaitannya dengan Dokumen Perencanaan Lain

1.1 Latar Belakang 1.2 Landasan Gerak 1.3 Maksud dan Tujuan 1.4 Metodologi 1.5 Dasar Hukum dan Kaitannya dengan Dokumen Perencanaan Lain Kata Pengantar Ringkasan Eksekutif (Executive Summary) Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Peta Daftar Gambar Daftar Isitilah Bab 1 Bab 2 Bab 3 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang 1.2 Landasan Gerak 1.3 Maksud dan

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI

BAB II KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI BAB II KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI 2.1. Visi Misi Sanitasi Visi dan misi sanitasi telah dirumuskan untuk memberi arahan bagi pengembangan sanitasi Kabupaten Tana Toraja dalam rangka mencapai visi dan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 42 TAHUN 2008 TENTANG PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

Strategi Sanitasi Kota Yogyakarta BAB I PENDAHULUAN

Strategi Sanitasi Kota Yogyakarta BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Salah satu penyebab kondisi sanitasi yang buruk adalah kemiskinan. Permasalahan tersebut juga sama dengan permasalahan sosial lainnya yang tidak lepas juga dari persoalan

Lebih terperinci

BAB IV STRATEGI UNTUK KEBERLANJUTAN LAYANAN SANITASI KOTA

BAB IV STRATEGI UNTUK KEBERLANJUTAN LAYANAN SANITASI KOTA BAB IV STRATEGI UNTUK KEBERLANJUTAN LAYANAN SANITASI KOTA Bab empat ini merupakan inti dari Strategi Sanitasi Kota Bontang tahun 2011-2015 yang akan memaparkan antara lain tujuan, sasaran, tahapan pencapaian

Lebih terperinci

BAB II KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI

BAB II KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI BAB II KERANGKA PENGEMBANGAN SANITASI Sanitasi merupakan salah satu sektor pelayanan publik yang mempunyai kaitan erat dengan kemiskinan dan kekumuhan suatu Kota/Kabupaten. Kondisi sanitasi yang tidak

Lebih terperinci

DFAFF BUKU PUTIH SANITASI

DFAFF BUKU PUTIH SANITASI BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. World Health Organization (WHO) mendefinisikan sanitasi sebagai suatu upaya pengendalian terhadap seluruh faktor-faktor fisik, kimia dan biologi yang menimbulkan

Lebih terperinci

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH Kota Metro dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 1999 dengan luas wilayah 6.874 Ha. Kota Metro terdiri dari 5 Kecamatan dengan 22 kelurahan, yang pembentukannya berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan,

BAB I PENDAHULUAN. Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pengelolaan lingkungan termasuk pencegahan, penanggulangan kerusakan, pencemaran, dan pemulihan kualitas lingkungan. Hal tersebut telah menuntut dikembangkannya berbagai

Lebih terperinci

BAB III ISU STRATEGIS & TANTANGAN SEKTOR SANITASI KABUPATEN KLATEN

BAB III ISU STRATEGIS & TANTANGAN SEKTOR SANITASI KABUPATEN KLATEN BAB III ISU STRATEGIS & TANTANGAN SEKTOR SANITASI KABUPATEN KLATEN 3.1. Enabling And Sustainability Aspect 3.1.1 Aspek Non Teknis 1) Kebijakan Daerah dan Kelembagaan Isu strategis aspek Kebijakan Daerah

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang 1.2 Landasan Gerak 1.3 Maksud dan Tujuan 1.4 Metodologi 1.5 Dasar Hukum dan Kaitannya dengan Dokumen Perencanaan Lain

1.1 Latar Belakang 1.2 Landasan Gerak 1.3 Maksud dan Tujuan 1.4 Metodologi 1.5 Dasar Hukum dan Kaitannya dengan Dokumen Perencanaan Lain Kata Pengantar Ringkasan Eksekutif (Executive Summary) Daftar Isi Daftar Tabel Daftar Peta Daftar Gambar Daftar Isitilah Bab 1 Bab 2 Bab 3 Pendahuluan 1.1 Latar Belakang 1.2 Landasan Gerak 1.3 Maksud dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I - 1

BAB I PENDAHULUAN I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kabupaten Karimun sebagai daerah yang sangat berpengaruh pada pasang surut dan yang sebagian besar dikelilingi oleh lautan dan penduduk yang masih banyak mendiami pesisir

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN BUKU PUTIH SANITASI (BPS) KABUPATEN TANA TORAJA

BAB I PENDAHULUAN BUKU PUTIH SANITASI (BPS) KABUPATEN TANA TORAJA BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Sanitasi sebagai salah satu aspek pembangunan memiliki fungsi penting dalam menunjang tingkat kesejahteraan masyarakat, karena berkaitan dengan kesehatan, pola hidup,

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN

PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG NOMOR 12 TAHUN 2011 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH (RPJMD) KOTA SEMARANG TAHUN 2010 2015 PEMERINTAH KOTA SEMARANG TAHUN 2011 PERATURAN DAERAH KOTA SEMARANG

Lebih terperinci

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH

BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH BAB 2 GAMBARAN UMUM WILAYAH Kota Metro dibentuk berdasarkan Undang-Undang No. 12 Tahun 1999 dengan luas wilayah 6.874 Ha. Kota Metro terdiri dari 5 Kecamatan dengan 22 kelurahan, yang pembentukannya berdasarkan

Lebih terperinci

STRATEGI SANITASI KABUPATEN CIAMIS BAB I

STRATEGI SANITASI KABUPATEN CIAMIS BAB I BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sanitasi merupakan salah satu sektor yang memiliki keterkaitan sangat erat dengan kemiskinan. Sanitasi yang tidak memadai atau kurang baik di Kabupaten Ciamis berdampak

Lebih terperinci

1.1 Latar Belakang. 1.2 Wilayah cakupan SSK

1.1 Latar Belakang. 1.2 Wilayah cakupan SSK Bab 1: Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Sektor sanitasi merupakan salah satu sektor pelayanan publik yang mempunyai kaitan erat dengan kesehatan masyarakat. Rendahnya kualitas sanitasi menjadi salah satu

Lebih terperinci

DINAS KESEHATAN KOTA CIMAHI

DINAS KESEHATAN KOTA CIMAHI DINAS KESEHATAN KOTA CIMAHI GAMBARAN UMUM CIMAHI OTONOMI SEJAK TAHUN 2001 LUAS CIMAHI = ± 40,25 Km2 (4.025,75 Ha) WILAYAH: 3 KECAMATAN 15 KELURAHAN 312 RW DAN 1724 RT 14 PUSKESMAS JUMLAH PENDUDUK 2012

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Millenium Development Goals (MDG s) atau tujuan pembangunan millennium adalah upaya untuk memenuhi hak-hak dasar kebutuhan manusia melalui komitmen bersama antara

Lebih terperinci

BAB II ARAH PENGEMBANGAN SANITASI

BAB II ARAH PENGEMBANGAN SANITASI BAB II ARAH PENGEMBANGAN SANITASI 2.1 Visi Misi Sanitasi Visi dan Misi Kabupaten Grobogan sebagaimana tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Tahun 2011 2016 sebagai berikut : V I S

Lebih terperinci

BAB V STRATEGI MONITORING DAN EVALUASI

BAB V STRATEGI MONITORING DAN EVALUASI STRATEGI SANITASI KABUPATEN 2013-2017 BAB V STRATEGI MONITORING DAN EVALUASI Monitoring evaluasi merupakan pengendalian yakni bagian tidak terpisahkan dari upaya mewujudkan tujuan yang akan dicapai. Monitoring

Lebih terperinci

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN

BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN - 115 - BAB VI STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN Visi dan Misi, Tujuan dan Sasaran perlu dipertegas dengan upaya atau cara untuk mencapainya melalui strategi pembangunan daerah dan arah kebijakan yang diambil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang.

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. Millennium Development Goals (Tujuan Pembangunan Milenium, atau MDGs) mengandung delapan tujuan sebagai respon atas permasalahan perkembangan global, dengan target

Lebih terperinci

BAB V. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Banjarbaru Tahun Visi

BAB V. Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Banjarbaru Tahun Visi BAB V Visi, Misi, Tujuan, dan Sasaran 5.1 Visi Visi merupakan arah pembangunan atau kondisi masa depan daerah yang ingin dicapai dalam 5 (lima) tahun mendatang (clarity of direction). Visi juga menjawab

Lebih terperinci

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI

BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI BAB III ISU-ISU STRATEGIS BERDASARKAN TUGAS DAN FUNGSI 3.1. Identifikasi Permasalahan Berdasarkan Tugas dan Fungsi Pelayanan SKPD 3.1.1 Permasalahan Infrastruktur Jalan dan Sumber Daya Air Beberapa permasalahan

Lebih terperinci

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Medan Tahun BAB 1 PENDAHULUAN

Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kota Medan Tahun BAB 1 PENDAHULUAN BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sejalan dengan perkembangan kondisi sosial, ekonomi dan budaya, Kota Medan tumbuh dan berkembang menjadi salah satu kota metropolitan baru di Indonesia, serta menjadi

Lebih terperinci

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN

BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN BAB V VISI, MISI, TUJUAN DAN SASARAN 5.1 Visi Visi merupakan cara pandang ke depan tentang kemana Pemerintah Kabupaten Belitung akan dibawa, diarahkan dan apa yang diinginkan untuk dicapai dalam kurun

Lebih terperinci

SLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015

SLHD Provinsi DKI Jakarta Tahun 2015 1.8. Kebijakan Pembangunan Daerah Berkelanjutan Provinsi DKI Jakarta Pembangunan di DKI Jakarta adalah bagian yang tidak terpisahkan dari pembangunan nasional secara keseluruhan dan pembangunan pada hakekatnya

Lebih terperinci

PROFIL KABUPATEN / KOTA

PROFIL KABUPATEN / KOTA PROFIL KABUPATEN / KOTA KOTA JAWA TIMUR KOTA ADMINISTRASI Profil Wilayah Kota Tuban merupakan ibukota Kabupaten Tuban. Apabila dilihat dari posisi Kota Tuban yang berada di jalan arteri primer yang menghubungkan

Lebih terperinci

Tabel 1.1 Target RPJMN, RPJMD Provinsi dan kondisi Kota Depok. Jawa Barat. Cakupan pelayanan air limbah domestic pada tahun 2013 sebesar 67-72%

Tabel 1.1 Target RPJMN, RPJMD Provinsi dan kondisi Kota Depok. Jawa Barat. Cakupan pelayanan air limbah domestic pada tahun 2013 sebesar 67-72% BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sanitasi merupakan salah satu sektor yang memiliki keterkaitan sangat erat dengan kemiskinan tingkat pendidikan, kepadatan penduduk, daerah kumuh dan akhirnya pada

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN

PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PEMERINTAH KABUPATEN SLEMAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN SLEMAN NOMOR 9 TAHUN 2010 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN JANGKA MENENGAH DAERAH TAHUN 2011-2015 Diperbanyak oleh: Badan Perencanaan Pembangunan Daerah

Lebih terperinci

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK)

STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) STRATEGI SANITASI KABUPATEN (SSK) POKJA SANITASI KABUPATEN BERAU Tahun 2011 I - 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sanitasi didefinisikan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN MEMORANDUM PROGRAM SANITASI (MPS) 1.1 Latar Belakang.

BAB 1 PENDAHULUAN MEMORANDUM PROGRAM SANITASI (MPS) 1.1 Latar Belakang. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang. Pemerintah Indonesia mempunyai komitmen sangat kuat untuk mencapai salah satu target dalam Millenium Development Goals (MDGs), yaitu menurunnya jumlah penduduk yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dinamika pembangunan yang berjalan pesat memberikan dampak tersendiri bagi kelestarian lingkungan hidup Indonesia, khususnya keanekaragaman hayati, luasan hutan dan

Lebih terperinci

KEBIJAKAN DAN PENANGANAN PENYELENGGARAAN AIR MINUM PROVINSI BANTEN Oleh:

KEBIJAKAN DAN PENANGANAN PENYELENGGARAAN AIR MINUM PROVINSI BANTEN Oleh: KEBIJAKAN DAN PENANGANAN PENYELENGGARAAN AIR MINUM PROVINSI BANTEN Oleh: R.D Ambarwati, ST.MT. Definisi Air Minum menurut MDG s adalah air minum perpipaan dan air minum non perpipaan terlindung yang berasal

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2

DAFTAR ISI. BAB II. GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH... II Aspek Geografi Dan Demografi... II-2 DAFTAR ISI DAFTAR ISI Hal DAFTAR ISI... i DAFTAR TABEL... v DAFTAR GAMBAR... xix BAB I. PENDAHULUAN... I-1 1.1. Latar Belakang... I-1 1.2. Dasar Hukum Penyusunan... I-4 1.3. Hubungan Antar Dokumen RPJMD

Lebih terperinci