ANALISIS PENYELESAIAN KREDIT MACET DALAM PRODUK PEMBIAYAAN KPR IB MULTIGUNA (STUDY KASUS PADA PT.BANK SUMUT SYARIAH KCP MARELAN RAYA)

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS PENYELESAIAN KREDIT MACET DALAM PRODUK PEMBIAYAAN KPR IB MULTIGUNA (STUDY KASUS PADA PT.BANK SUMUT SYARIAH KCP MARELAN RAYA)"

Transkripsi

1 Nur Ummi Isela, Analisis Penyelesaian Kredit Macet Dalam 559 ANALISIS PENYELESAIAN KREDIT MACET DALAM PRODUK PEMBIAYAAN KPR IB MULTIGUNA (STUDY KASUS PADA PT.BANK SUMUT SYARIAH KCP MARELAN RAYA) Analysis Of Financial Credit in Settlement In Multipurpose IB KPR Financing Products ( CaseStudy In PT Bank Sumut Syariah KCP MarelanRaya) Nur Ummi Isela¹, Santi arafah M.EI. ² 1 Jurusan Perbankan Syariah Universitas Potensi Utama 2,3 Dosen Jurusan Perbankan Syariah Universitas Potensi Utama 1,2,3 Universitas Potensi Utama, K.L. Yos Sudarso KM 6,5 No. 3A Tj. Mulia Medan 1 ABSTRAK Pembiayaan KPR IB Multiguna salah satu produk dari pembiayaan yang dimiliki oleh PT.BankSumutSyariah KCP Marelan Raya demi memenuhi kebutuhan pokok yang ingin memiliki rumah tempat tinggal sendiri, akan tetapi dalampelaksanaan pembiayaan KPR tersebut bank selalu memiliki pembiayaan bermasalah yaitu kreditmacet, seperti penunggakan pembayarandengan berbagai faktor penyebabnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan analisis penyelesaian kredit macet pada produk KPR IB Multiguna pada PT.Bank Sumut Syariah KantorCabang Pembantu Marelan Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatifyang menggunakan metode deskriptif dan metode study kasus pada PT.Bank Sumut Syariah KCP Marelan Raya dengan sampel karyawan Bank yang bekerja di bagian pemasaran dan penagihan. sedangkan pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara dan observasi. Kemudian data yang di peroleh diolah metode analisis kualitatif yang menggunakan uji kredibilitas,transferability,dependability,confirmability. Hasil penelitian yang dilakukan penulis menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan pemberian pembiayaanya, bank berhak menerima atau menolak pembiayaan yang diajukan calon. Layak atau tidak layaknya calon untuk mendapatkan pembiayaan tersebut tergantung pada penilaian bank yang menggunakan prinsip 5C dalam pemberian pembiayaan. Penyelesaian kredit macet pada PT.BankSumutSyariah KantorCabang Pembantu MarelanRaya menggunakan penyelesaian secara non litigasi dan litigasi, lelang, negoisasi dan penjualan barang jaminan. Kata Kunci: penyelesaian, Kredit Macet, KPR ABSTRACT KPR IB Multiguna Mortgage Financing is a product of financing owned by PT. Bank Sumut Syariah KCP Marelan Raya to meet the basic needs ofcustomers who want to have their own residential homes, but in the implementation of the mortgage financing the bank always has problem financing, namely bad loans, such as arrears of payments with various causes.thisstudy aims todescribe theanalysis ofthe settlement of bad debts on IB Multipurpose KPR products at PT. Bank of North Sumatra Sharia Branch Office Marelan Raya. This study uses a qualitative approach that uses descriptive methods and case study methods at PT.Bank SumutSyariah KCP Marelan Raya with a sample of Bank employees who work in marketing and billing. while data collection is done through interviews and observations. Then the data obtained is processed by a qualitative analysis method that uses the test of credibility, transferability, dependability, confirmability. The results of researchconducted bytheauthor shows that in the implementation of the provision of financing, banks are entitled to accept or reject the financing proposed by

2 560. Jurnal FEB, Vol. 1 No. 1 prospective customers. Eligible or improper prospective customers to obtain financing depends on the assessment of banks that use the 5C principle in providing financing. Settlement of bad loans at PT. Bank of North Sumatra Sharia Branch Office Marelan Raya uses non-litigation and litigation settlement, auctions, negotiations and the sale of collateral. Keywords: Settlement, Bad Credit, KPR 1. PENDAHULUAN Perkembanganperbankan syariah diindonesia menjadi tolak ukur keberhasilan pertumbuhan daneksistensi ekonomi syariah.dalam kehidupan perekonomian Perbankan syariah memegang peranan penting dalam system perekonomian yang beraktifitas menghimpun dana darimasyarakat dalam bentuk pembiayaan kreditataubentuk pembiayaan lainya dalamrangka meningkatkan taraf hidup masyarakat (Dr. ismail 2018: 12). Pembiayaan yang di salurkan oleh banksyariah di harapkan dapat memberikan kontribusipendapatan yang berkelanjutan dan senantiasa berada dalam kualitas yang baik sealama jangkawaktunya. Sebagai salah satu kegiatan bank yang sangat penting dan yang paling utamaadalah menyalurkankredit kepadamasyarakat, baik pemberian kredit perorangan, lembaga,maupun perusahaan (Ikatan Bankkir Indonesia 2015:2) Hadis dan ayat Al-quran mengenai kredit Qs. Al-Baqarah : 212. ي ا ا يه ا ا لذ ين ا م ن وا ا ذ ا ت د اي ن ت م ب د ي ن ا ل ى ا ج ل م س مSى ف اك ت ب وه و ل ي ك ت ب ب ي ن ك م ك ات ب ب ال ع د ل Yang artinya hai orang- orang yang beriman jika kalian semua melakukan utang piutang samapi waktu yang di tentukan hendaklah kamumenuliskannya,dan hendaklah seorang penulis diantara kamu menuliskannyadengan benar (Qs.AlBaqarah : 212). Hadist Aisyah radhiyallahu anha, beliau mengatakan, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam membeli sebagian bahan makanan dari seorang yahudi dengan pembayaran dihutang dan beliau juga menggadaikan perisaikepadanya. (HR.Bukhari: 2096 dan Muslim: 1603). Maksud dari ayat dan hadis tersebut menjelaskan bahwa menulis utang - piutang itu mempunyai ketetapan hukum syariat, yaitu bisa wajib bisajuga sunnah. Maka dengan demikian ayat dan hadis di atas menunjukkan bahwa di perbolehkannya melakukan transaksi kredit Salah satu Bank syariah yang ada di Sumatra Utara yang menyalurkan pemberian KPR yaitu produk pembiayaan KPRIB Multiguna yaitu PT.BankSumutSyariah KCPMarelanRaya. Pembiayaan IB Multiguna adalah pembiayaan yang di berikan kepada yang akan membantu untuk memiliki rumah, kendraan, lahan perkebunan, untuk renovasi rumah dan lainya (Brosur PT.BankSumutSyariah KCPMarelanRaya). Setiap bank yang sedang beroperasi, dalam setiap pemberian pembiayaan melalui kredit pasti pernah mengalami permasalahan kredit yaitu kredit macetsepertipenunggakan pembayarandengan berbagai faktor penyebabnya, keterlambatan dalam pengembalian angsuran/pinjaman baik dalam cicilan maupun bunganya, walaupun sebelum dilakukan pembiayaan bank telah menerapkananalisis pemberianpembiayaan tersebut denganprinsip kehati-hatian. Tabel. 1 Data Perolehan Nasabah PT. BankSumutSyariah KCP Marelan Raya Dalam Produk Pembiayaan KPR IB Multiguna Pada Tahun 2018

3 Nur Ummi Isela, Analisis Penyelesaian Kredit Macet Dalam 561 No Bulan Lancar Dalam perhatian khusus 1 Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember 196 Kurang lancar Diraguka n macet Berdasarkan tabel di atas, kita ketahui data PT. Bank Sumut Syariah KCP MarelanRaya pada periode 2018, pada bulan januari dan februari data yang tergolong kredit macet yaitu sejumlah 52 data perbulanya, pada bulan maret sampai bulan oktober mengalami peningkatan yaitu sejumlah 55 data perbulannya yang tergolong kredit macet, pada bulan November mengalami penurunan yaitu sejumlah 21 data yang dikatakan kredit macet, dan pada akhir bulan desember mengalami penurunan sejumlah 15 data yang tergolong kredit macet. Jadi pada tahun 2018 tersebut pembiayaan KPR pada setiap bulannya tidak dapat ditentukan atau disebut dengan naik turunnya jumlah yang mengalami kredit macet. Tingginya kredit macet pada pemberian kredit KPR pada PT. Bank Sumut Syariah KCP MarelanRaya seharusnya tidak menghambat untuk tetap melakukan pemberian kredit pemilikan rumah, jika terus memegang teguh prinsip kehati-hatian. Pemberian kredit masih tergolong aman dimana pihak bank masih mengetahui lokasi secara pasti, dan bank bisa melakukan eksekusi dengan rumah tersebut jika terjadi wanprestasi oleh debitur sehingga bisa mengatasi kredit macet. Berdasarkan penjelasan tersebut, maka penulis mengajukan penelitian dengan judul Analisis Penyelesaian KreditMacet Dalam Produk Pembiayaan KPR IB Multiguna (Studi Pada PT. Bank SUMUT Syariah KCP Marelan Raya). 1.1 Rumusan Masalah Dari latarbelakang tersebut peneliti merumuskan berbagai masalahyang akan penulis bahas yaitu sebagai berikut: a) Bagaimana cara Bank Sumut Syariah KCP Marelan Raya menyelesaikan kredit macetdalam pembiayaan KPR IB Multiguna?

4 562. Jurnal FEB, Vol. 1 No Batasan Masalah Adapun maksut dari judul saya adalah sebagai berikut: a. Analisis adalah meneliti, menelaah atau mencari informasi menegenai bagaimana penyelesaian kredit macet. b. Penyelesaian adalah upaya yang di lakukan dalam pengelolan sebuah masalah atau peristiwa. c. Kredit macet dimana terjadi seorang tidak membayar utangnya (misalkan pokok dan bunganya) berturut turut selama tiga bulan setelah jatuh tempo (Rahmad 1987:03) d. Produk pembiayaanadalah penyediaan dana atau tagihan yng di persamakan denganberupa transaksi bagihasil (Faturrahman Djamil 2012:64) e. KPR (kepemilikanrumah) adalah suatufasilitas kredit yang di berikan oleh perbankankepada para perorangan yang akan membeli atau merenofasi rumah ( f. IB Multiguna adalah produk yang terdapat pada PT. Bank Sumut Syariah KCP Marelan Raya yang di berikan kepada yang akan membantu untuk memiliki rumah, kendaraan, lahan perkebunan, untuk renovasi rumah dan lainya. g. PT. BankSumut adalah salah satuperusahaan jasa yangbergerak dibidang perbankan yang ada di Sumatra Utara dalam bentukkerja sama yang erat antar bank denganmasyarakat yang berdasarkan prinsip islam Jenis Penelitian 2. METODOLOGI PENELITIAN Penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif adalah suatu pendekatan penelitian yang mengungkap situasi social tertentu dengan mendeskripsikan kenyataan secara benar, di bentuk oleh kata-kata berdasarkan teknik pengumpulan data dan studi kasus yang diproleh dari situasi yang dialami oleh pihak Bank.Biasanya penelitian kualitatif menggunakan dua metode yaitu: 1. Metode deskriptif Merupakan penelitian yang tujuannya untuk menyajikan gambaran lengkap mengenai fenomena atau kenyataan social, dengan cara mendeskripsikan sejumlah variable yang berkenaan dengan masalah dan unit yang di teliti antara fenomena yang di uji. 2. Peneliti menggunakan kaidah-kaidah atau pendapat secara umum dan diambil kesimpulan secara khusus. 2.2 Subjek Penelitian Subjek penelitian adalahindividu atau bendayang di jadikan sumber informasi yang di butuhkan dalampengumpulan datapenelitian atau dengan kata lain yaitu responden atau orang yang memberikan informasi. Dalam hal ini peneliti menjadikan beberapa karyawan PT. BankSumut Syariah KCP MarelanRaya khususnyakaryawan di bagian pembiayaan pemasaran dan penagihan sebagai subjek penelitian. 2.3 Tekhnik PengumpulanData peneliti mengumpulkan data dengan cara sebagai berikut: 1. Studi dokumentasi Teknik ini di lakukan dengan cara mempelajari dan menganalisi beberapa literatur yang berkaitan dengan kredit. Data-data tersebut dapat berupa buku, artikel, brosur tentang IB

5 Nur Ummi Isela, Analisis Penyelesaian Kredit Macet Dalam 563 Multiguna yang di dalamnya produk KPR, yang memiliki relevansi terhadap permasalahan yang di kaji. 2. Wawancara (interview) Wawancaraadalah proses Tanyajawab yang mengarahpada tujuan tertentu.tujuan tertentu ituadalah tujuanpenelitian untuk menggali informasiyang relevandengan fokus penelitian.datayang di peroleh merupakan hasil wawancara yang dilakukan untuk mengetahui secara real/ nyata terhadap apa yang terjadi terhadap kredit macet pada produk pembiayaan KPR IB Multiguna dan bagaimana penyelesaianya yang bersumber langsung pada pihak yang terkait yaitu PT.BankSumut Syariah KCP Marelan Raya. 3. Observasi Teknikpengumpulan data denganmelakukan pengamatansecara langsung kepadaobjek penelitian. Dengantujuan menggali suatu makna fenomena atau mengenai judul skripsi yang ingin di teliti. 2.4 Tekhnik PengolahanData dananalisis Data 1. Teknik PengolahanData. Teknikpengolahan data yangdigunakan penelitidengan studi dokumentasi yang bersumber dari data skunder. Teknik ini dilakukan dengan cara menganlisis beberapa bahan atau sumber yang berkaitan dengan penelitian. Data- data tersebut dapat berupa buku artikel bukti yang telah ada atau arsip baik yangdipublikasikan secara umum yang memiliki relevansi terhadaap permasalahan yang dikaji. 2. Analisis data merupakan tahap selanjutnya yang di selesaikan dalam penelitian setelah di lakukan pengumpulan data yang relevan, maka selanjutnya yang di lakukan adalah mengolah dan menganalisis secara bertahap data-data tersebut, setelah proses pengolahan data berikutnya adalah menganalisis data dan menginterprestasikannya. Datatersebut di interprestasikan atau di simpulkan untuk menjawabkeseluruhan masalahyang di teliti. 2.5 Keabsahan Data Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi: 1. Uji crediability Uji krediability (kredibilitas) atau ujikepercayaan terhadap data hasil penelitian yang disajikan oleh peneliti agar hasilpenelitian yang dilakukan tidak meragukan sebagai sebuah karya ilmiah dilakukan. 2. Transferability Merupakanvaliditas eksternal dalampenelitian kualitatif.validitaseksternal menunjukkan derajat ketetapan atau dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi dimana sampeltersebut diambil. Pertanyaan yangberkaitan dengan nilai transfer samapai saat ini masih dapat diterapkan/diapakai dalam situasilain. 3. Dependability Penelitian yang dependability atau reliabilitas adalah penelitian apabilapenelitian yang dilakukan oleh orang lain dengan proses penelitian yangsama akan memperoleh hasilyang samapula. 4. Confirmability Objektifitas pengujian kualitatifdisebut juga dengan uji confirmability penelitian. Penelitian bisadikatakan objektif apabilahasil penelitian telah disepakati oleh banyak orang. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN

6 564. Jurnal FEB, Vol. 1 No. 1 Dalam penelitian ini penulis melakukan penelitian pada PT. Bank Sumut Syariah KCP Marelan Raya yang berlokasi di kompleks Brayan Trade Center No Helvetia dan telah melakukan wawancara kepada beberapa karyawan tentang Anlisis Penyelesaian Kredit Macet Dalam ProdukPembiayaan KPRIB Multiguna. Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Bapak Bagus Tri Prasetia yang bertugas dibagaian pemasaran dan pembiayaan Bank Sumut Syariah KCP Marelan Raya pada tanggal 05 Agustus 2019, beliau mengatakan bahwa: Setiap bank yang sedang beroperasi, dalam setiap pemberian pembiayaan yang melalui kredit pasti pernah mengalami permasalahan kredit yang sering dikenal dengan kredit macet. Dalam upaya menangangi penyelesaiankreditmacet pada produkpembiayaan KPR ib Multiguna di PT.Bank Sumut SyariahKCP MarelanRaya. Upaya yangkami gunakansecara umum masih sama dengan yang dilakukan oleh bank lainnya, seperti kami memperingatkan nya melalui alat komunikasi seperti yang sekarang kita gunakan, wa sms, ataupun telepon (wawancara Bapak Bagus Tri Prasetya). Berdasarkan hasil temuan, upayayang dilakukan bank dalam menyelesaikan kreditmacet pada produk kpr ib Multiguna yaitu dengan menggunakan cara sebagai berikut : 1. Langkah non litigasi Yaitu langkah upaya penyelesaian sengketa diluarpengadilan yang bersifat tertutup untuk umum. Upaya penyelesaian ini di lakukan Bank Sumut Syariah KCP Marelan Raya dengan tanpa melalui proses lembaga penyelesaian yang ada, yaitu: a. Penagihan secara tatap muka Penagihan ini dilakukan dengan cara melakukan kunjungan langsung kepada yang mengajukan pinjaman, pemilik jaminan, dan pihak terkait. b. Penagihan melalui alat komunikasi Penagihan ini dilakukan melalui alat komunikasi dengan cara menggunakan telepon seluler, telepon pesan singkat yaitu short messaging, bbm, wa dan alat komunikasi lainya kepada dan pihak yang terkait. c. Penagihan melalui korespondensi Pengihan ini dilakukan dengan cara penyampaian surat-surat kepada. Penagihan seperti ini bertujuan untuk: 2. Langkah litigasi Langkah litigasi ini yaitu system penyelesaiaan sengketa melalui peradilan. Sengketa melalui yang terjadi dan diperiksa dan diputuskan oleh hakim. Upaya penyelesaian ini dilakukan oleh PT. Bank Sumut Syariah KCP Marelan Raya apabila langkah non-litigasi tidak tercapai. a. Pengajuan gugatan Pelaksanaan dapat diajukan melalui pengadilan negri atau lembaga penggntinya. Apabila dilakukan melalui peradilan negri wajib memperhatikan prosedur hukum yang berlaku. Dalam proses ini beberapa yang harus diperhatikan yaitu Pihak yang digugat, pembiayaan atau pihak yang terkait benar-benar tidak memiliki iktikad yang tidak baik dan tidak memiliki kemampuan menyelesaikan kewajibanya sesuai dengan ketentuannya. b. Pengajuan eksekusi jaminan Keputusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum, mempunyai sikap mengikat dan wajib dilaksanakan sebagaimana mestinya, maka pihak yang dirugikan dapat mengajukan pelaksanaa pengadilan tersebut. Untuk anggunan berupa tanah, sertifikat hak atas tanah dengan suatu putusan pengadilan dalam sertifikat hak tanggunganny,

7 Nur Ummi Isela, Analisis Penyelesaian Kredit Macet Dalam 565 pelaksanaan eksekusi wajib memperhatikan acuan hukum dan perundang undangan yang berlaku. Munculnya kredit macet disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor penyebab kredit macet pada produk pembiayaan KPR IB Multiguna yang sering terjadi khususnya di BankSumut Syariah KCPMarelanRaya yaitu: 1. Faktor internal (perbankan). Faktor ini merupakan faktor yang disebabkan oleh bank, yaitu sebagai berikut: a. Analisis kredit pembiayaan yang tidak akurat. Faktor ini disebabkan karena ketidaktelitian pihak bank dalam menganalisis. pihak bank tidak teliti dalam menyeleksi calon debitur, bagaimana latar belakang calon, usaha atau bisnis apa yang dijalankan oleh. b. banyaknya yang mengajukan pembiayaan KPR di BankSumut cabang marelan yangtidak di imbangi dengan jumlah SDM yang memadai. Sehingga berakibat terhadap kekuranghati-hatian atau ketidak cermatan dalam melakukan analisis. 2. Faktor eksternal (). Faktor ini disebabkan dari itu sendiri misalnya: a) Kondisi yang sedang mengalami sakit parah dan berkepanjangan, dengan kondisi ini maka penghasilan menjadi terhenti dan uang yang dimiliki lebih diprioritaskan untuk biaya pengobatan terlebih dahulu. b) Nasabah dikeluarkan/di PHK dari pekerjaannya c) Problem keluarga, misalnya perceraian, kematian, sakit yang berkepanjangan atau pemborosan dana oleh salah satu pihak keluarga. Apabila dikaitkan dengan teori dalam pembiayaan kredit yang di ajukan oleh, pihak PT Bank Sumut Syariah KCP Marelan Raya berhak mengetahui layak atau tidak layak seorang calon menerima pembiayaan tersebut. Penilaian tersebut dilakukan dengan berpedoman pada prinsip 5c yaitu sebagai berikut:(wawancara Bapak Bagus Tri Prasetya). 1. Character Karakter atau watak atau calon harus di ketahui oleh pihak bank. Gambaran tentang karakter dari calon dapat di peroleh melalui wawancara, meneliti riwayat hidup calon, keadaan social debitur dan sebagainya. Orang yang memiliki karakter yang baik akan berusaha memenuhi kewajibannya dengan baik. 2. Capacity Yaitu dengan menilai bagaimana kemampuan calon membayar kreditnya. Di lihat dari bagaimana tersebut menjalankan usahanya, atauseberapa besar penghasilanyang diterima tiapbulannya. Bank akan mengetahui kemampuan dalam pengambilan pembiayaan yang di berikan kepada. 3. Capital Mengetahui besar modal yang diajukan oleh dan berapa keuntungan yang akan diperoleh oleh pihak bank. 4. Collateral Jaminanyang diberikan calon kepada pihakbank saat mengajukan kredit. Jaminan ini akan dijadikan pelindung bagi pihakbank jika nantinya tidak membayar pinjaman atau melanggarketentuan-ketentuan yang telah disepakati. 5. Condition Yaitu kondisi perekonomian baik yang bersifat general atau khusus pada bidang usaha yang dijalankan. Jika memang kondisi perekonomian sedang tidak baik atau sector usaha tidak menjanjikan, biasanya bank akan mempertimbangkan kembali dalam memberikan kredit.

8 566. Jurnal FEB, Vol. 1 No. 1 4.KESIMPULAN Setelah melakukan penelitian pada PT.BankSumutSyariah KCP MarelanRaya dalam penyelesaian kredit macet pada produk pembiayaan KPR dengan melalui beberapa metode dapat diambil kesimpulan: 1. Proses penyelesaian kreditmacet pada produk pembiayaan KPR IB Multiguna di Bank Sumut Syariah KCPMarelan Raya yaitu melalui jalur non litigasi, jalur ini ditempuh dengan berbagai cara, dan bank juga menggunakan tahap rescheduling, reconditioning, dan restructuring. 2. Faktor-faktor yangmenyebabkan tidakmempunyai kemampuan untuk membayarangsuran kreditnya yangdapat dijabarkan sebagai berikut: Faktor internal faktor yangmuncul disebabkan oleh bank,biasanya disebabkanoleh ketidak telitian pihak bank dalam menganalisis. Prediksi yang dilakukan bank tidak sesuai dengan yang terjadi. Faktor eksternal timbulnya faktor ini bermulai dari itu sendiri. 3. Dalam pengajuan kredit harus memenuhi persyaratan. Setelah berbagai persyaratan terkumpul, pihak Bank lalu melakukananalisa terhadap pembiayaanyang diajukan.dengan mengunakan prinsip5c. Apakah tersebutbenar-benarlayak untukdiberikan pembiayaanatautidak. Analisis kelayakan pembiayaan ini sangatlah penting demi menimalisir terjadinya pembiayaan bermasalah. 5.SARAN Adapunsaran yang diberikan penulissebagaiberikut: 1. Dalam pemberian pembiayaan kredit, Bank Sumut Syariah KCP Marelan Raya harus lebih berhati-hati dalammenyeleksi calon agar tidak terjadi kredit macet. 2. Pembiayaan yang telah diberikan harus melakukan pembinaan dan pemantauan kepada. Melalui pembinaan, dapatmengoptimalkan kemampuanya untuk memenuhikewajibannya terhadap pihakbank. UCAPAN TERIMAKASIH Penulismengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada UniversitasPotensi Utama, yang telahmembantu penulis dalam menyelesaikankarya tulis ilmiah ini. DAFTAR PUSTAKA [1] AndriSoemitra, Bank & LembagaKeuanganSyariah, Kencana, jakarta, 2107, hal.74. [2] Al-quran surah Al-Baqarah : 212. [3] ARAFAH, S., & TANJUNG, Y. (2019). ANALISISFAKTORDETERMINAN YANG MEMPENGARUHIPEMAKAIANMETODE JIT (STUDIKASUS UD.PUSAKA BAKTI). Bisei:JurnaBisnis dan Ekonomi Islam, 4(01). [4] Arafah, S., &Sembiring, E. A. (2018). ANALISIS PENGARUH KEPUASAN DENGAN PEMAKAIAN METODEPERPEKTUAL TERHADAP PENGGUNAANAPLIKASI QUICKBOOKSACCOUNTINGSYSTEM (Studi Kasus UD. Rizky assila ULFA). Bisei: Jurnal Bisnis dan Ekonomi Islam, 3(2). [5] Arafah,S.(2017). ANALISISFAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHIHARGA SAHAM SYARIAH DI PT. UNILEVER,TBK. Bisei: Jurnal Bisnis dan Ekonomi Islam, 2(2).

9 Nur Ummi Isela, Analisis Penyelesaian Kredit Macet Dalam 567 [6] Brosur PT. Bank Sumut Syariah KCP Marelan Raya. [7] Dr. ismail, AkuntansiBank. Paramedia. jakarta, 2018 Hal.12. [8] Juliana, J., & Arafah, S. (2018). THE MULTIMODAL ANALYSIS OF ADVERTISING TAGLINE" TOLAK ANGIN SIDOMUNCUL THROUGH SYSTEMIC FUNCTIONAL LINGUISTICS APPROACH. Journal MELT (Medium for English Language Teaching), 3(2), [9] Faturrahman Djamil, Penyelesaian pembiayaanbermasalah di bank Syariah, Sinar Grafika, Jakarta, 2012, hal.64 [10] Mandala Manurung. Uang, Perbankan, dan, Ekonomi Moneter. Fakultas Ekonomi UI, Hal.185 [11] Rahmad, Tanya Jawab Perkreditan, CV Remaja Karya, Bandung, 1987.hal 03 [12] Juliana, J., & Arafah, S. (2018). THE MULTIMODAL ANALYSIS OF ADVERTISING TAGLINE" TOLAK ANGIN SIDOMUNCUL THROUGH SYSTEMIC FUNCTIONAL LINGUISTICS APPROACH. Journal MELT (Medium for English Language Teaching), 3(2), [13] Wawancara Kepada Bapak Bagus Tri Prasety, Staff Pemasaran Pembiayaan PT. Bank SumutSyariahKCP MarelanRaya,Analisis Penyelesaian KreditMacet DalamProduk PembiayaanKPR IB Multiguna Pada PT.BankSumutSyariahKCP Marelan Raya, Wawancara Pribadi, 05 Agustus [14] Wawancara Kepada Bapak Ricky Afriano, Staff Colecting PT. BankSumutSyariah KCP MarelanRaya,Analisis Penyelesaian Kredit Macet Dalam ProdukPembiayaan KPRIB Multiguna Pada PT. BankSumutSyariah KCP MarelanRaya, Wawancara Pribadi, 05 Agustus [15] Di akses padatanggal 14 april2019 pada pukul WIB. [16] Pasi, I. R. (2019). PENGARUH PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP PERILAKU MASYARAKAT PADA BANK SYARIAH. JURNAL AL-QASD ISLAMIC ECONOMIC ALTERNATIVE, 1(2), [17] Sembiring, E. A. (2019). PENGARUH METODE PENCATATAN PERSEDIAAN DENGAN SISITEM PERIODIK DAN PERPETUAL BERBASIS SIA TERHADAP STOCK OPNAME PADA PERUSAHAAN DAGANG DI PT JASUM JAYA. Accumulated Journal (Accounting and Management Research Edition), 1(1), [18] Siregar, E. A. (2019). PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH, DANA ALOKASI UMUM DAN DANA ALOKASI KHUSUS TERHADAP INDEKS PEMBANGUNAN MANUSIA DI KABUPATEN DAN KOTA PROVINSI SUMATERA UTARA. Accumulated Journal (Accounting and Management Research Edition), 1(2), [19] Risal, T., & Alexander, A. (2019). Pengaruh Persepsi Bagi Hasil, Promosi dan Kualitas Pelayanan Terhadap Minat Penggunaan Jasa Perbankan Syariah Tabungan Mudharabah Pada Mahasiswa Universitas Potensi Utama. Jurnal Samudra Ekonomika, 3(2), [20] Risal, T. (2019). PENINGKATAN PERAN PERBANKAN SYARIAH DENGAN MENGGERAKKAN SEKTOR RIIL DALAM PEMBANGUNAN. Accumulated Journal (Accounting and Management Research Edition), 1(1), [21] Risal, T. (2019). PENGARUH KUALITAS PELAYANAN TERHADAP LOYALITAS NASABAH DENGAN KEPUASAN SEBAGAI VARIABEL INTERVENING PADA BMT KAMPOENG SYARIAH. JMB (Jurnal Manajemen dan Bisnis), 1(1).

BAB IV ANALISIS EFEKTIVITAS PENANGANAN PEMBIAYAAN MACET DAN EKSEKUSI JAMINAN PRODUK KPR AKAD MURA>BAH}AH DI BNI

BAB IV ANALISIS EFEKTIVITAS PENANGANAN PEMBIAYAAN MACET DAN EKSEKUSI JAMINAN PRODUK KPR AKAD MURA>BAH}AH DI BNI BAB IV ANALISIS EFEKTIVITAS PENANGANAN PEMBIAYAAN MACET DAN EKSEKUSI JAMINAN PRODUK KPR AKAD MURA>BAH}AH DI BNI SYARIAH KANTOR CABANG PEMBANTU MOJOKERTO A. Analisis Mekanisme Penanganan Pembiayaan Macet

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Faktor-faktor yang menyebabkan Pembiayaan KPR bermasalah pada Bank BTN Syariah Cabang Semarang Dari hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan staff bagian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. fatwa MUI yang mengharamkan bunga bank. 1. nilai-nilai syariah berusaha menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi.

BAB I PENDAHULUAN. fatwa MUI yang mengharamkan bunga bank. 1. nilai-nilai syariah berusaha menciptakan suatu keadilan di bidang ekonomi. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lembaga keuangan syariah di Indonesia telah berkembang dengan pesat. Seperti yang telah diketahui bukan hanya lembaga perbankan syariah saja, bahkan lembaga keuangan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Populasi dan Sampel 3.1.1 Populasi Populasi adalah jumlah dari keseleruhan objek yang karakteristiknya hendak diduga. Populasi yang akan digunakan dalam penelitian ini

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS STRATEGI PENCEGAHAN DAN IMPLIKASI PEMBIAYAAN MURA>BAH}AH MULTIGUNA BERMASALAH

BAB IV ANALISIS STRATEGI PENCEGAHAN DAN IMPLIKASI PEMBIAYAAN MURA>BAH}AH MULTIGUNA BERMASALAH BAB IV ANALISIS STRATEGI PENCEGAHAN DAN IMPLIKASI PEMBIAYAAN MURA>BAH}AH MULTIGUNA BERMASALAH A. Strategi Pencegahan Pembiayaan Mura>bah}ah Multiguna Bermasalah Bank BNI Syariah Cabang Surabaya Resiko

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ekonomi suatu negara secara keseluruhan tidak dapat

BAB I PENDAHULUAN. Perkembangan ekonomi suatu negara secara keseluruhan tidak dapat 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ekonomi suatu negara secara keseluruhan tidak dapat dipisahkan dari perkembangan perbankan 1 di negeri yang bersangkutan sebab industri Perbankan yang

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. maupun di luar negeri. Hal ini dikarenakan salah satu tolak ukur kemajuan suatu

BAB 1 PENDAHULUAN. maupun di luar negeri. Hal ini dikarenakan salah satu tolak ukur kemajuan suatu BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring dengan tumbuh dan berkembangnya perekonomian di dunia meskipun kini tengah dilanda krisis ekonomi global, dunia bisnis merupakan dunia yang paling ramai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Peran bank sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu

BAB I PENDAHULUAN. Peran bank sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Peran bank sangat besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Hampir semua sektor usaha sangat membutuhkan bank sebagai mitra dalam melakukan transaksi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA. A. Analisis Faktor-Faktor Pembiayaan Murabahah Bermasalah. Pembiayaan dalam Pasal 1 butir 12 UU No. 10 Tahun 1998 jo. UU No.

BAB IV ANALISIS DATA. A. Analisis Faktor-Faktor Pembiayaan Murabahah Bermasalah. Pembiayaan dalam Pasal 1 butir 12 UU No. 10 Tahun 1998 jo. UU No. BAB IV ANALISIS DATA A. Analisis Faktor-Faktor Pembiayaan Murabahah Bermasalah Pembiayaan dalam Pasal 1 butir 12 UU No. 10 Tahun 1998 jo. UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, adalah penyedianaan uang

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. dengan bantuan software SPSS 16.,0 for windows, maka akan dibahas tentang

BAB V PEMBAHASAN. dengan bantuan software SPSS 16.,0 for windows, maka akan dibahas tentang BAB V PEMBAHASAN Berdasarkan analisis dan pengujian model regresi yang telah dilakukan dengan bantuan software SPSS 16.,0 for windows, maka akan dibahas tentang pengaruh variabel bebas yang berupa modal,

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Prosedur Pemberian Pembiayaan Murabahah di LKS ASRI. Tulungagung dan BMT HARUM Tulungagung

BAB V PEMBAHASAN. A. Prosedur Pemberian Pembiayaan Murabahah di LKS ASRI. Tulungagung dan BMT HARUM Tulungagung BAB V PEMBAHASAN A. Prosedur Pemberian Pembiayaan Murabahah di LKS ASRI Tulungagung dan BMT HARUM Tulungagung Berdasarkan paparan hasil penelitian pada bab sebelumnya, dapat diketahui dalam pelaksanaan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam rangka menyejahterakan hidupnya. Keinginan manusia akan benda

BAB I PENDAHULUAN. dalam rangka menyejahterakan hidupnya. Keinginan manusia akan benda BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kebutuhan merupakan keinginan manusia terhadap barang atau jasa yang dapat memberikan kepuasan jasmani maupun kebutuhan rohani dalam rangka menyejahterakan hidupnya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perantara keuangan antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang

BAB I PENDAHULUAN. perantara keuangan antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Bank adalah lembaga financial intermediary yang berfungsi sebagai perantara keuangan antara pihak yang memiliki dana dan pihak yang memerlukan dana serta sebagai

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Implementasi Minimalisasi Risiko Pembiayaan Murabahah Di Bank. Muamalat Indonesia Cabang Pembantu Tulungagung.

BAB V PEMBAHASAN. A. Implementasi Minimalisasi Risiko Pembiayaan Murabahah Di Bank. Muamalat Indonesia Cabang Pembantu Tulungagung. 1 BAB V PEMBAHASAN A. Implementasi Minimalisasi Risiko Pembiayaan Murabahah Di Bank Muamalat Indonesia Cabang Pembantu Tulungagung. Manajemen risiko adalah proses membangun kontrol untuk meminimalir kemungkinan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan di bidang ekonomi terlihat dalam Undang-Undang Dasar

BAB I PENDAHULUAN. pembangunan di bidang ekonomi terlihat dalam Undang-Undang Dasar 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perekonomian merupakan landasan utama yang menopang kehidupan dari suatu negara. Pemerintah dalam melaksanakan pembangunan di bidang ekonomi terlihat dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. akan berkaitan dengan istri atau suami maupun anak-anak yang masih memiliki

BAB I PENDAHULUAN. akan berkaitan dengan istri atau suami maupun anak-anak yang masih memiliki BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kehidupan manusia penuh dengan ketidakpastian. Ketidakpastian tersebut biasanya berhubungan dengan takdir dan nasib manusia itu sendiri yang telah ditentukan oleh Tuhan.

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN. A. Prosedur Pengelolaan Pembiayaan Murabahah Bermasalah Di BPRS. 1. Penerapan Pembiayaan Murabahah

BAB III PEMBAHASAN. A. Prosedur Pengelolaan Pembiayaan Murabahah Bermasalah Di BPRS. 1. Penerapan Pembiayaan Murabahah BAB III PEMBAHASAN A. Prosedur Pengelolaan Pembiayaan Murabahah Bermasalah Di BPRS Suriyah 1. Penerapan Pembiayaan Murabahah Salah satu akad yang paling populer digunakan oleh perbankan syari ah adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nasabah merupakan kegiatan utama bagi perbankan selain usaha jasa-jasa

BAB I PENDAHULUAN. nasabah merupakan kegiatan utama bagi perbankan selain usaha jasa-jasa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penghimpunan tabungan dari masyarakat dan pemberian kredit kepada nasabah merupakan kegiatan utama bagi perbankan selain usaha jasa-jasa bank lainnya untuk menunjang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Salah satu upaya pemerintah Indonesia dalam rangka mewujudkan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar belakang. Salah satu upaya pemerintah Indonesia dalam rangka mewujudkan 9 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Salah satu upaya pemerintah Indonesia dalam rangka mewujudkan kesejahteraan rakyat yang adil dan makmur sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila dan Undang-Undang Dasar

Lebih terperinci

akan berpengaruh terhadap pertumbuhan bank tersebut, baik dilihat dari sudut pandang operasional bank dan dampak psikologis yang terjadi.

akan berpengaruh terhadap pertumbuhan bank tersebut, baik dilihat dari sudut pandang operasional bank dan dampak psikologis yang terjadi. Perkembangan dunia usaha di Indonesia, tidak terlepas dari peranan pemerintah yang memberikan kesempatan kepada pihak swasta untuk dapat mengembangkan diri seluas-luasnya sejauh tidak menyimpang dari sasaran

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1

BAB I PENDAHULUAN I.1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Pembangunan nasional dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan kehidupan rakyat Indonesia. Untuk mewujudkan suatu pembangunan yang berhasil maka diperlukan

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. Analisis terhadap Penyelesaian Pembiayaan Mud{a>rabah bermasalah pada

BAB V PENUTUP. Analisis terhadap Penyelesaian Pembiayaan Mud{a>rabah bermasalah pada BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan mengenai Analisis terhadap Penyelesaian Pembiayaan Mud{a>rabah bermasalah pada Unit Usaha Syariah PT. Bank Jatim Pusat Tbk.

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Agar bisa memenangkan pesaingan bisnis, perusahanan harus mampu

BAB 1 PENDAHULUAN. Agar bisa memenangkan pesaingan bisnis, perusahanan harus mampu 1 BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan yang terjadi dalam dunia ekonomi membuat perusahaan semakin berlomba-lomba untuk menciptakan ide yang menarik masyarakat. Agar bisa memenangkan pesaingan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. semakin menyatu dengan ekonomi regional dan internasional yang dapat

BAB I PENDAHULUAN. semakin menyatu dengan ekonomi regional dan internasional yang dapat 9 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ekonomi nasional dewasa ini menunjukkan arah yang semakin menyatu dengan ekonomi regional dan internasional yang dapat menunjang sekaligus dapat berdampak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Lembaga perbankan merupakan salah satu lembaga keuangan yang bertindak sebagai sumber permodalan dan perantara keuangan dengan menyediakan mekanisme transaksi

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TERHADAP FAKTOR-FAKTOR PEMBIAYAAN BERMASALAH PRODUK KPR AKAD DAN PENYELESAIANNYA

BAB IV ANALISIS TERHADAP FAKTOR-FAKTOR PEMBIAYAAN BERMASALAH PRODUK KPR AKAD DAN PENYELESAIANNYA 102 BAB IV ANALISIS TERHADAP FAKTOR-FAKTOR PEMBIAYAAN BERMASALAH PRODUK KPR AKAD MURA@BAH}AH DAN PENYELESAIANNYA A. Analisis Faktor-Faktor Pembiayaan Bermasalah Produk KPR Akad Mura@bah}ah Faktor-faktor

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit

BAB II LANDASAN TEORI. bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Bank Menurut Undang-undang No 10 Tahun 1998 Tentang Perbankan,yang dimaksud dengan Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melindungi segenap Bangsa Indonesia, berdasarkan Pancasila dan Undangundang

BAB I PENDAHULUAN. melindungi segenap Bangsa Indonesia, berdasarkan Pancasila dan Undangundang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pemerataan pembangunan di segala bidang pada umumnya merupakan salah satu dari tujuan utama pembangunan nasional. Dalam rangka melindungi segenap Bangsa Indonesia,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan perdagangan sehingga mengakibatkan beragamnya jenis perjanjian

BAB I PENDAHULUAN. dan perdagangan sehingga mengakibatkan beragamnya jenis perjanjian 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Era globalisasi telah banyak mempengaruhi perkembangan ekonomi dan perdagangan sehingga mengakibatkan beragamnya jenis perjanjian dalam masyarakat. Salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Untuk memelihara kesinambungan pembangunan nasional guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Ismail, Perbankan Syariah, Prenadamedia Group, Jakarta, 2011, hlm 29-30

BAB I PENDAHULUAN. 1 Ismail, Perbankan Syariah, Prenadamedia Group, Jakarta, 2011, hlm 29-30 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam suatu Negara maju dan berkembang di Indonesia, sangat membutuhkan bank sebagai tempat untuk melakukan transaksi keuangannya. Mereka menganggap bank merupakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan perekonomian di Indonesia yang semakin maju,

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan perekonomian di Indonesia yang semakin maju, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan perekonomian di Indonesia yang semakin maju, menyebabkan banyak bermunculan bank-bank yang menawarkan berbagai fasilitas layanan seperti menerima

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Pengaruh Character terhadap Tingkat Pengembalian Angsuran. Pembiayaan Murabahah pada BMT As-Salam Kras-Kediri Tahun 2015

BAB V PEMBAHASAN. A. Pengaruh Character terhadap Tingkat Pengembalian Angsuran. Pembiayaan Murabahah pada BMT As-Salam Kras-Kediri Tahun 2015 BAB V PEMBAHASAN A. Pengaruh Character terhadap Tingkat Pengembalian Angsuran Pembiayaan Murabahah pada BMT As-Salam Kras-Kediri Tahun 2015 Hasil pengujian data di atas dapat diketahui tabel Coefficient

Lebih terperinci

MUD}A>RABAH DI BMT UGT SIDOGIRI CABANG JOMBANG

MUD}A>RABAH DI BMT UGT SIDOGIRI CABANG JOMBANG BAB IV ANALISIS PENCEGAHAN DAN STRATEGI PENYELESAIAN PEMBIAYAAN MUD}A>RABAH DI BMT UGT SIDOGIRI CABANG JOMBANG A. Pencegahan Pembiayaan Mud}a>rabah Bermasalah BMT UGT Sidogiri Cabang Jombang Sebagai lembaga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Seiring berkembangnya kebutuhan masyarakat dalam mencapai suatu kebutuhan, maka terjadi peningkatan kebutuhan dari segi finansial. Untuk mendapatkan kebutuhan

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 5/ 19 /PBI/2003 TENTANG PERLAKUAN KHUSUS TERHADAP KREDIT ATAU PEMBIAYAAN BANK PERKREDITAN RAKYAT PASCA TRAGEDI BALI

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 5/ 19 /PBI/2003 TENTANG PERLAKUAN KHUSUS TERHADAP KREDIT ATAU PEMBIAYAAN BANK PERKREDITAN RAKYAT PASCA TRAGEDI BALI PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR : 5/ 19 /PBI/2003 TENTANG PERLAKUAN KHUSUS TERHADAP KREDIT ATAU PEMBIAYAAN BANK PERKREDITAN RAKYAT PASCA TRAGEDI BALI GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia modern sekarang ini, peranan perbankan dalam. memajukan perekonomian suatu negara sangatlah besar. Hampir semua sektor

BAB I PENDAHULUAN. Dalam dunia modern sekarang ini, peranan perbankan dalam. memajukan perekonomian suatu negara sangatlah besar. Hampir semua sektor BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam dunia modern sekarang ini, peranan perbankan dalam memajukan perekonomian suatu negara sangatlah besar. Hampir semua sektor yang berhubungan dengan berbagai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pada bank umum, pinjaman disebut kredit atau loan, sedangkan pada bank syariah

BAB I PENDAHULUAN. pada bank umum, pinjaman disebut kredit atau loan, sedangkan pada bank syariah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Satu hal yang sangat menarik, yang membedakan antara manajemen bank syariah dengan bank umum (konvensional) adalah terletak pada pinjaman dan pemberian balas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian, Fungsi,Jenis dan Sumber Dana Bank. rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. 1. Pengertian, Fungsi,Jenis dan Sumber Dana Bank. rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tinjauan Teoritis 1. Pengertian, Fungsi,Jenis dan Sumber Dana Bank a) Pengertian Bank Menurut Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 tahun

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidup masyarakat. Saat ini perbankan merupakan salah satu unsur pengembangan

BAB I PENDAHULUAN. hidup masyarakat. Saat ini perbankan merupakan salah satu unsur pengembangan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perbankan memiliki peran yang sangat penting dalam rangka mendorong pencapaian tujuan nasional yang berkaitan dalam peningkatan dan pemerataan taraf hidup masyarakat.

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. orang dalam satu departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin penanganan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. orang dalam satu departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin penanganan BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Prosedur Prosedur adalah suatu urutan kegiatan klerikal, biasanya melibatkan beberapa orang dalam satu departemen atau lebih, yang dibuat untuk menjamin penanganan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pembayaran uang, dimana lembaga keuangan memberikan peranan penting dalam

BAB I PENDAHULUAN. pembayaran uang, dimana lembaga keuangan memberikan peranan penting dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kegiatan perekonomian suatu negara tidak terlepas dari lalu lintas pembayaran uang, dimana lembaga keuangan memberikan peranan penting dalam mengatur kegiatan ekonomi

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISA. A. Ketentuan Jaminan Pembiayaan Murabahah di BPRS Asad Alif

BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISA. A. Ketentuan Jaminan Pembiayaan Murabahah di BPRS Asad Alif BAB III PEMBAHASAN DAN ANALISA A. Ketentuan Jaminan Pembiayaan Murabahah di BPRS Asad Alif Kantor Kas Boja Di dalam perbankan syariah maupun konvensional, dikenal dua sistem yaitu funding dan leanding.

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN

BAB IV HASIL PENELITIAN BAB IV HASIL PENELITIAN A. Mekanisme Pembiayaan Akad Murabahah di BMT Harapan Umat Juwana Secara umum pembiayaan murabahah di BMT Harapan Umat dilakukan untuk pembelian secara pesanan dimana pada umumnya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. maupun penjualan secara kredit. Pada dasarnya perusahaan lebih menyukai penjualan

BAB I PENDAHULUAN. maupun penjualan secara kredit. Pada dasarnya perusahaan lebih menyukai penjualan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pada umumnya perusahaan bertujuan menghasilkan laba dalam mempertahankan usahanya. Salah satu kegiatan operasional tersebut adalah penjualan baik berbentuk tunai

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adalah dengan menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali

BAB I PENDAHULUAN. adalah dengan menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali 11 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Bank sebagai lembaga keuangan memiliki banyak kegiatan, salah satunya adalah dengan menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya kembali kepada masyarakat dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemilihan Judul Bank adalah lembaga keuangan yang kegiatannya menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Prosedur Pengajuan Pembiayaan Murabahah di PT BPRS PNM Binama Semarang Dalam proses pengajuan pembiayaan murabahah di PT BPRS PNM Binama Semarang, terdapat beberapa

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Pembiayaan Pembiayaan atau financing, yaitu pendanaan yang diberikan oleh suatu pihak kepada pihak lain untuk mendukung investasi yang telah direncanakan, baik dilakukan

Lebih terperinci

ANALISIS KELAYAKAN PENYALURAN KREDIT BERDASARKAN METODE 5C PADA PT BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) TBK KANTOR CABANG PEMBANTU M.

ANALISIS KELAYAKAN PENYALURAN KREDIT BERDASARKAN METODE 5C PADA PT BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) TBK KANTOR CABANG PEMBANTU M. ANALISIS KELAYAKAN PENYALURAN KREDIT BERDASARKAN METODE 5C PADA PT BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) TBK KANTOR CABANG PEMBANTU M. YAMIN MEDAN TUGAS AKHIR Ditulis untuk Memenuhi Syarat Menyelesaikan Pendidikan

Lebih terperinci

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA. penyajian data. Data yang dihasilkan merupakan hasil dari penelitian

BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA. penyajian data. Data yang dihasilkan merupakan hasil dari penelitian BAB IV PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS DATA A. Penyajian Data Setelah data yang yang diperlukan terkumpul, langkah berikutnya adalah penyajian data. Data yang dihasilkan merupakan hasil dari penelitian dilapangan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Prioritas utama dalam pembangunan negara Indonesia yakni peningkatan kesejahteraan rakyat melalui mengembangkan perekonomian rakyat yang didukung pertumbuhan ekonomi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. khususnya Baitul Maal wa Tamwil (BMT) selalu berupaya untuk. sehingga tercipta pemerataan ekonomi untuk semua kalangan.

BAB I PENDAHULUAN. khususnya Baitul Maal wa Tamwil (BMT) selalu berupaya untuk. sehingga tercipta pemerataan ekonomi untuk semua kalangan. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Lembaga keuangan syariah memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat. Banyaknya lembaga keuangan khususnya Baitul Maal wa Tamwil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tugas yang diemban perbankan nasional tidaklah ringan. 1. perbankan menyatakan bahwa bank adalah : badan usaha yang menghimpun

BAB I PENDAHULUAN. tugas yang diemban perbankan nasional tidaklah ringan. 1. perbankan menyatakan bahwa bank adalah : badan usaha yang menghimpun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri perbankan memegang peranan penting untuk menyukseskan program pembangunan nasional dalam rangka mencapai pemerataan pendapatan, menciptakan pertumbuhan ekonomi,

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PENANGANAN PEMBIAYAAN MURABAHAH BERMASALAH DI BMT NU SEJAHTERA CABANG KENDAL

BAB IV ANALISIS PENANGANAN PEMBIAYAAN MURABAHAH BERMASALAH DI BMT NU SEJAHTERA CABANG KENDAL BAB IV ANALISIS PENANGANAN PEMBIAYAAN MURABAHAH BERMASALAH DI BMT NU SEJAHTERA CABANG KENDAL A. Analisis Faktor-Faktor yang Menyebabkan Terjadinya Pembiayaan Murabahah Bermasalah di BMT NU Sejahtera Cabang

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. diberikan oleh pemilik dana kepada pengguna dana. Bank percaya kepada

BAB II LANDASAN TEORI. diberikan oleh pemilik dana kepada pengguna dana. Bank percaya kepada BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Pembiayaan Pembiayaan dapat diartikan sebagai aktivitas bank syariah dalam menyalurkan dananya kepada pihak nasabah yang membutuhkan dana. Penyaluran dana dalam bentuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan nasional adalah mewujudkan masyarakat adil dan

BAB I PENDAHULUAN. Tujuan pembangunan nasional adalah mewujudkan masyarakat adil dan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Tujuan pembangunan nasional adalah mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Republik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. ke dalam bisnis utama dan bisnis penunjang. Bisnis utama suatu bank adalah

BAB I PENDAHULUAN. ke dalam bisnis utama dan bisnis penunjang. Bisnis utama suatu bank adalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Industri jasa perbankan memiliki kegiatan usaha yang dapat dikelompokkan ke dalam bisnis utama dan bisnis penunjang. Bisnis utama suatu bank adalah menghimpun

Lebih terperinci

PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA PT. BANK PERKREDITAN RAKYAT ULATIDANA RAHAYU DI KABUPATEN GIANYAR

PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA PT. BANK PERKREDITAN RAKYAT ULATIDANA RAHAYU DI KABUPATEN GIANYAR PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA PT. BANK PERKREDITAN RAKYAT ULATIDANA RAHAYU DI KABUPATEN GIANYAR Oleh : I Gede Raka Ramanda A.A Ketut Sukranatha Suatra Putrawan Bagian Hukum Perdata Fakultas Hukum Universitas

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TENTANG PENYELESAIAN WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) PADA PT. BANK

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TENTANG PENYELESAIAN WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) PADA PT. BANK BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TENTANG PENYELESAIAN WANPRESTASI DALAM PERJANJIAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) PADA PT. BANK TABUNGAN NEGARA (PERSERO) TBK. KANTOR CABANG SYARI AH SURABAYA A. Aplikasi Penyelesaian

Lebih terperinci

PENYELESAIAN KREDIT BERMASALAH DALAM PERJANJIAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) PADA PT. BTN (PERSERO) CABANG SURAKARTA

PENYELESAIAN KREDIT BERMASALAH DALAM PERJANJIAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) PADA PT. BTN (PERSERO) CABANG SURAKARTA PENYELESAIAN KREDIT BERMASALAH DALAM PERJANJIAN KREDIT PEMILIKAN RUMAH (KPR) PADA PT. BTN (PERSERO) CABANG SURAKARTA Atina Wulandari (Mahasiswa Program Magister Kenotariatan FH UNS) Email: atinawulan@yahoo.com

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-undang. Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

BAB I PENDAHULUAN. masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-undang. Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. Sebagai negara berkembang, Indonesia berusaha untuk melaksanakan pembangunan di segala bidang guna terwujudnya kesejahteraan masyarakat. Salah satunya adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun

BAB I PENDAHULUAN. berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam rangka pembangunan nasional suatu negara khususnya pembangunan ekonomi guna mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila

Lebih terperinci

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Kredit

BAB 2 LANDASAN TEORI. 2.1 Kredit BAB 2 LANDASAN TEORI 2.1 Kredit 2.1.1 Pengertian Kredit Pengertian kredit secara umum, kredit adalah sesuatu yang mempunyai nilai ekonomis pada saat sekarang ini atas dasar kepercayaan sebagai pengganti

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dalam perekonomian sekarang ini, dimana setiap perusahaan baik itu yang bergerak dibidang industri perdagangan maupun jasa dituntut tidak hanya bertahan tetapi juga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Subagyo, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta, 2002, hlm. 127.

BAB I PENDAHULUAN. Subagyo, Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN, Yogyakarta, 2002, hlm. 127. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Krisis moneter dan ekonomi sejak Juli 1997, yang disusul dengan krisis politik nasional telah menelan korban membawa musibah besar dalam perekonomian nasional. Salah

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan 1 BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini begitu banyak perusahaan yang bergerak dalam dunia bisnis

Bab I Pendahuluan 1 BAB I PENDAHULUAN. Dewasa ini begitu banyak perusahaan yang bergerak dalam dunia bisnis Bab I Pendahuluan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dewasa ini begitu banyak perusahaan yang bergerak dalam dunia bisnis dengan berbagai macam bidang usaha. Dalam menjalankan usahanya setiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perbankan. Sektor perbankan memiliki peran sangat vital antara lain sebagai

BAB I PENDAHULUAN. perbankan. Sektor perbankan memiliki peran sangat vital antara lain sebagai 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan perekonomian nasional senantiasa bergerak cepat terutama setelah krisis 1997. Adanya perkembangan tersebut diperlukan berbagai penyesuaian kebijakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tak lepas dari kebutuhan yang

BAB I PENDAHULUAN. Dalam kehidupan sehari-hari manusia tak lepas dari kebutuhan yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari manusia tak lepas dari kebutuhan yang bermacam-macam. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut manusia harus berusaha dengan cara bekerja.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Di tengah persaingan bisnis saat ini, bisnis perbankan ke depan

BAB I PENDAHULUAN. Di tengah persaingan bisnis saat ini, bisnis perbankan ke depan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di tengah persaingan bisnis saat ini, bisnis perbankan ke depan nampaknya lebih mendapat perhatian dari pelaku ekonomi. Kompleksitas masalah merupakan tantangan bagi

Lebih terperinci

PENYELESAIAN KREDIT MACET DENGAN JAMINAN SERTIFIKAT HAK MILIK ATAS TANAH MENURUT UNDANG - UNDANG NOMOR 04 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN

PENYELESAIAN KREDIT MACET DENGAN JAMINAN SERTIFIKAT HAK MILIK ATAS TANAH MENURUT UNDANG - UNDANG NOMOR 04 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN PENYELESAIAN KREDIT MACET DENGAN JAMINAN SERTIFIKAT HAK MILIK ATAS TANAH MENURUT UNDANG - UNDANG NOMOR 04 TAHUN 1996 TENTANG HAK TANGGUNGAN Oleh Jatmiko Winarno Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Lamongan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang baik tetapi juga pada bentuk produk yang ditawarkan. Upaya bank untuk menarik

BAB I PENDAHULUAN. yang baik tetapi juga pada bentuk produk yang ditawarkan. Upaya bank untuk menarik BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Dunia perbankan masa sekarang ini mengalami kemajuan yang sangat pesat. Hal tersebut dapat dilihat dengan banyaknya bank baru di Indonesia, sehingga persaingan

Lebih terperinci

Syarat dan Ketentuan Umum Fasilitas Commonwealth KTA PT Bank Commonwealth

Syarat dan Ketentuan Umum Fasilitas Commonwealth KTA PT Bank Commonwealth Syarat dan Ketentuan Umum Fasilitas Commonwealth KTA PT Bank Commonwealth Syarat dan Ketentuan Umum untuk Commonwealth KTA PT Bank Commonwealth 1. Definisi Syarat dan Ketentuan Umum ANGSURAN adalah suatu

Lebih terperinci

BAB III PEMBAHASAN. A. Pelaksanaan Pembiayaan Murabahah dengan Jaminan Hak. Tanggungan di BPRS Suriyah Semarang

BAB III PEMBAHASAN. A. Pelaksanaan Pembiayaan Murabahah dengan Jaminan Hak. Tanggungan di BPRS Suriyah Semarang BAB III PEMBAHASAN A. Pelaksanaan Pembiayaan Murabahah dengan Jaminan Hak Tanggungan di BPRS Suriyah Semarang PT. BPRS Suriyah Semarang dalam memberikan Produk Pembiayaan, termasuk Pembiayaan Murabahah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tetapi jika dilihat kondisi UMKM di Indonesia, dapat dikatakan bahwa UMKM kurang

BAB I PENDAHULUAN. tetapi jika dilihat kondisi UMKM di Indonesia, dapat dikatakan bahwa UMKM kurang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) merupakan salah satu bagian penting dari perekonomian suatu negara ataupun daerah, tidak terkecuali di Indonesia. Akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menyalurkan dana dari masyarakat secara efektif dan efisien. Salah satu

BAB I PENDAHULUAN. menyalurkan dana dari masyarakat secara efektif dan efisien. Salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penelitian Kebutuhan masyarakat baik perorangan maupun badan usaha akan penyediaan dana yang cukup besar dapat terpenuhi dengan adanya lembaga perbankan yang

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Mekanisme Pembiayaan Konsumtif di KOPSIM NU Batang

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN. A. Mekanisme Pembiayaan Konsumtif di KOPSIM NU Batang BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN A. Mekanisme Pembiayaan Konsumtif di KOPSIM NU Batang Pembiayaan merupakan suatu hal yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam memenuhi kebutuhan. Menyadari

Lebih terperinci

BAB I. PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi di suatu negara. Sektor perbankan seperti Bank Indonesia

BAB I. PENDAHULUAN. pertumbuhan ekonomi di suatu negara. Sektor perbankan seperti Bank Indonesia BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sektor perbankan menjadi salah satu sektor penting dalam proses pertumbuhan ekonomi di suatu negara. Sektor perbankan seperti Bank Indonesia berperan dalam

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar

I. PENDAHULUAN. Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pembangunan nasional merupakan awal langkah untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Oleh karena

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. segala kebutuhannya tersebut, bank mempunyai fungsi yang beragam dalam

BAB I PENDAHULUAN. segala kebutuhannya tersebut, bank mempunyai fungsi yang beragam dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi yang terjadi, juga terjadi dalam dunia perekonomian, bahkan perkembangan kebutuhan masyarakat semakin tidak

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Sistem adalah sekelompok dua atau lebih komponen-komponen yang saling berkaitan

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Sistem adalah sekelompok dua atau lebih komponen-komponen yang saling berkaitan BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Sistem dan Prosedur Sistem adalah sekelompok dua atau lebih komponen-komponen yang saling berkaitan atau subsistem-subsistem yang bersatu untuk

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT PADA BANK MANDIRI CABANG UBUD

PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT PADA BANK MANDIRI CABANG UBUD PELAKSANAAN PERJANJIAN KREDIT PADA BANK MANDIRI CABANG UBUD Oleh : I MADE SUDIKSA NPM : 1310121081 Pembimbing I : DR. I NYOMAN PUTU BUDIARTHA, SH., MH Pembimbing II : DESAK GEDE DWI ARINI, SH., M.Hum ABSTRACT

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. roda perekonomian dirasakan semakin meningkat. Di satu sisi ada masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. roda perekonomian dirasakan semakin meningkat. Di satu sisi ada masyarakat 9 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Dalam kehidupan sehari-hari keperluan akan dana guna menggerakkan roda perekonomian dirasakan semakin meningkat. Di satu sisi ada masyarakat yang kelebihan dana, tetapi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang dan ditemui disetiap kehidupan semua orang. Kredit terjadi karena adanya

BAB I PENDAHULUAN. orang dan ditemui disetiap kehidupan semua orang. Kredit terjadi karena adanya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kredit pada dasarnya merupakan hal klasik yang diperlukan oleh banyak orang dan ditemui disetiap kehidupan semua orang. Kredit terjadi karena adanya pihak yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. nasional yang merupakan salah satu upaya untuk mencapai masyarakat yang

BAB I PENDAHULUAN. nasional yang merupakan salah satu upaya untuk mencapai masyarakat yang 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pembangunan ekonomi adalah sebagai bagian dari pembangunan nasional yang merupakan salah satu upaya untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi ekonomi suatu negara menjadi lebih maju dan usaha-usaha berkembang

BAB I PENDAHULUAN. Kondisi ekonomi suatu negara menjadi lebih maju dan usaha-usaha berkembang 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Kondisi ekonomi suatu negara menjadi lebih maju dan usaha-usaha berkembang dengan cepat, sumber-sumber dana diperlukan untuk membiayai usaha tersebut. Salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dimaksud dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan

BAB I PENDAHULUAN. dimaksud dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak Tanggungan BAB I PENDAHULUAN Pasal 1 angka 2 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 1999 tentang Jaminan Fidusia menyebutkan bahwa, Jaminan Fidusia adalah hak jaminan atas benda bergerak baik yang berwujud maupun tidak berwujud

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang 1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Semakin tingginya tingkat persaingan antar bank dan resiko perkreditan, menyebabkan pihak manajemen Bank perlu menerapkan suatu pengendalian yang memadai. Pengendalian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari manusia lain

BAB I PENDAHULUAN. Pada kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari manusia lain BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada kehidupan sehari-hari manusia tidak terlepas dari manusia lain sebagai makhluk sosial dimana manusia saling membutuhkan satu dengan yang lainnya, sebuah dimensi

Lebih terperinci

GUBERNUR BANK INDONESIA,

GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 7/17/PBI/2005 TENTANG PERLAKUAN KHUSUS TERHADAP BANK PERKREDITAN RAKYAT PASCA BENCANA ALAM DI PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM DAN KABUPATEN NIAS, PROVINSI SUMATERA UTARA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan kredit bisa dikatakan bukan hal asing dalam masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan kredit bisa dikatakan bukan hal asing dalam masyarakat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kegiatan kredit bisa dikatakan bukan hal asing dalam masyarakat sekarang ini. Kegiatan ini tidak hanya dilakukan oleh masyarakat menengah kebawah melainkan semua kalangan

Lebih terperinci

BAB I PENDHULUAN. Pemerintah, lembaga-lembaga di sektor keuangan dan pelaku-pelaku

BAB I PENDHULUAN. Pemerintah, lembaga-lembaga di sektor keuangan dan pelaku-pelaku BAB I PENDHULUAN 1.1 Latar Belakang Laporan Kerja Praktek Membangun ekonomi di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peranan Pemerintah, lembaga-lembaga di sektor keuangan dan pelaku-pelaku usaha.pemerintah

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Mulyadi (2012:5), prosedur adalah urutan kegiatan klerikal yang

BAB II KAJIAN PUSTAKA. Menurut Mulyadi (2012:5), prosedur adalah urutan kegiatan klerikal yang BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 Pengertian Prosedur Menurut Mulyadi (2012:5), prosedur adalah urutan kegiatan klerikal yang melibatkan beberapa orang dalam suatu departemen atau lebih, yang

Lebih terperinci

PENGARUH NON PERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP TINGKAT RETURN ON ASSET (ROA) BANK SYARIAH

PENGARUH NON PERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP TINGKAT RETURN ON ASSET (ROA) BANK SYARIAH PENGARUH NON PERFORMING FINANCING (NPF) TERHADAP TINGKAT RETURN ON ASSET (ROA) BANK SYARIAH (Studi Kasus pada PT. Bank Muamalat Indonesia, Tbk) Oleh: YAYU RAODATUL JANNAH 103403073 Program Studi Akuntansi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas dan kuantitas barang / jasa yang dihasilkan.

BAB I PENDAHULUAN. meningkatkan kualitas dan kuantitas barang / jasa yang dihasilkan. BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Pertumbuhan ekonomi di Negara Indonesia saat ini dalam posisi yang baik. Pertumbuhan ekonomi yang baik tersebut tentunya didorong oleh perbaikan ekonomi baik secara

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN. A. Kebijakan BMT Citra Keuangan Syariah Cabang Pekalongan Dalam. Upaya Menyelesaikan Pembiayaan Bermasalah.

BAB IV HASIL PENELITIAN. A. Kebijakan BMT Citra Keuangan Syariah Cabang Pekalongan Dalam. Upaya Menyelesaikan Pembiayaan Bermasalah. BAB IV HASIL PENELITIAN A. Kebijakan BMT Citra Keuangan Syariah Cabang Pekalongan Dalam Upaya Menyelesaikan Pembiayaan Bermasalah. Dalam suatu pembiayaan memang mengandung resiko, meskipun BMT Citra Keuangan

Lebih terperinci

PENDAHULUAN. mempengaruhi tingkat kesehatan dunia perbankan. 10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 7 tahun 1992

PENDAHULUAN. mempengaruhi tingkat kesehatan dunia perbankan. 10 tahun 1998 tentang perubahan atas Undang-undang nomor 7 tahun 1992 PENDAHULUAN A. Latar belakang Masalah Kondisi ekonomi nasional semakin hari kian memasuki tahap perkembangan yang berarti. Ekonomi domestik indonesia pun cukup aman dari dampak buruk yang diakibatkan oleh

Lebih terperinci

PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA KSU.TUMBUH KEMBANG, PEMOGAN, DENPASAR SELATAN Oleh: Gde Dianta Yudi Pratama I Ketut Westra Ni Putu Purwanti

PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA KSU.TUMBUH KEMBANG, PEMOGAN, DENPASAR SELATAN Oleh: Gde Dianta Yudi Pratama I Ketut Westra Ni Putu Purwanti 1 PENYELESAIAN KREDIT MACET PADA KSU.TUMBUH KEMBANG, PEMOGAN, DENPASAR SELATAN Oleh: Gde Dianta Yudi Pratama I Ketut Westra Ni Putu Purwanti Program Kekhususan Hukum Bisnis Fakultas Hukum-Universitas Udayana

Lebih terperinci

kemudian hari bagi bank dalam arti luas;

kemudian hari bagi bank dalam arti luas; KAJIAN PUSTAKA Pengertian dasar tentang kredit bermasalah Dalam kasus kredit bermasalah, debitur mengingkari janji membayar bunga dan pokok pinjaman mereka yang telah jatuh tempo, sehingga dalam hal ini

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI AKAD MURABAHAH DALAM PEMBIAYAAN KENDARAAN DI KOPERASI SIMPAN PINJAM (KOSPIN) JASA LAYANAN SYARIAH BULAKAMBA

BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI AKAD MURABAHAH DALAM PEMBIAYAAN KENDARAAN DI KOPERASI SIMPAN PINJAM (KOSPIN) JASA LAYANAN SYARIAH BULAKAMBA BAB IV ANALISIS IMPLEMENTASI AKAD MURABAHAH DALAM PEMBIAYAAN KENDARAAN DI KOPERASI SIMPAN PINJAM (KOSPIN) JASA LAYANAN SYARIAH BULAKAMBA A. Mekanisme Akad Murabahah Dalam Pembiayaan Kendaraan Pembiayaan

Lebih terperinci