ANALISIS ARAH DAN KEKUATAN ANGIN PEMBENTUK BARCHAN DUNE DAN TRANSVERSAL DUNE DI PANTAI PARANGTRITIS, PROPINSI DIY BERDASARKAN DATA GEOLOGI

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS ARAH DAN KEKUATAN ANGIN PEMBENTUK BARCHAN DUNE DAN TRANSVERSAL DUNE DI PANTAI PARANGTRITIS, PROPINSI DIY BERDASARKAN DATA GEOLOGI"

Transkripsi

1 ANALISIS ARAH DAN KEKUATAN ANGIN PEMBENTUK BARCHAN DUNE DAN TRANSVERSAL DUNE DI PANTAI PARANGTRITIS, PROPINSI DIY BERDASARKAN DATA GEOLOGI Dwi Indah Purnamawati 1, Ferdinandus Wunda 2 1,2 Jurusan Teknik Geologi, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta ABSTRACT The aim of this research is to understand and check about sand dune in coast of Parangtritis, also analyze the direction and strength of wind influencing forming of sand dunebarchan dune and transversal dune in research area.there are two phases of this research method. The phases are field researching and laboratory analysis. The direction and strength of wind analysis can be done from sand morphological and texture. The analysis of morphological done at transversal and barchans dune. This analysis done by determining wind direction from strike disseminating at sand dune. Result of the analysis show that wind direction blowing up at N 50 E until N 150 E, or relative from south to north. Texture analysis done to know the speed and strength of wind forming sand dune. This Analysis relied on dominant grain diameter of sand sample taken at dale, back, till the top of sand dune. The result of texture analysis showing that wind strength in research area is range from 4,5-8,4 m/s. Keywords: Barchan dune, transversal dune, morphology, texture, analysis, wind INTISARI Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan meneliti tentang gumuk pasir di Pantai Parangtritis serta menganalisis arah dan kekuataan angin yang mempengaruhi pembentukan gumuk-gumuk pasir Barchan dune dan transversal dunedi daerah penelitian. Metode yang dipakai dalam penelitian analisis arah dan kekuatan angin pembentuk gumuk pasir di Pantai Parangtritis berdasarkan data geologi ini terdiri dari dua tahap yaitu : tahap penelitian lapangan dan analisis laboratorium. Analisis arah dan kekuatan angin pembentuk gumuk pasir di Pantai Parangtritis dapat didekati baik dari aspek morfologi maupun teksturnya. Analisis morfologi dari dua tipe gumuk pasir yaitu transversal dune dan barchans dune dilakukan dengan cara menentukan arah angin dari persebaran jurus pada tubuh gumuk pasir, yang menghasilkan arah angin yang bertiup ke arah N 5 0 E sampai N 15 0 E, atau arah angin relatif bertiup dari arah selatan ke utara.analisis tekstur dilakukan untuk mengetahui kecepatan dan kekuatan angin pembentuk gumuk pasir. Analisis ini didasarkan pada diameter butiran yang dominan dari conto pasir yang diambil pada bagian lembah, punggung, hingga puncak gumuk pasir. Dari analisis tekstur tersebut dapat diketahui kekuatan angin pembentuk gumuk pasir di daerah penelitian adalah berkisar antara 4,5 8,4 m/detik. Kata kunci: Barchan dune, transversal dune, morfologi, tekstur, analisis, angin PENDAHULUAN Daerah pantai landai dan memiliki suplai endapan pasir melimpah, yang terangkut oleh media air (sungai) akan bermuara di pantai. Angin yang berhembus cukup kencang, akan menghasilkan perubahan pada endapan pasir pantai yang bersifat merusak dan membangun. Salah satu contohnya adalah membentuk gumuk pasir yaitu akumulasi dari pasir-pasir pantai, dan terendapkan sepanjang pantai oleh pengerjaan angin, dan kenampakan endapan mempunyai ciri khas baik tingginya maupun pelamparanya (Prasetyadi, 1991). Gumuk pasir di sebelah barat Pantai Parangkusumo, merupakan laboratorium alam di mana keberadaannya sangat diperlukan guna memahami kondisi dan gejala alam yang masih belum diketahui manusia. Kondisi alam sangat banyak ragamnya dan belum banyak dimengerti. Salah satunya adalah fenomena adanya gumuk pasir di daerah tropis.gumuk Pasir di daerah tropis sangat banyak macamnya dan yang paling unik adalah ditemukannya jenis barchan dune dan transversal dune yang di Indonesia hanya terdapat di kawasan wisata Parangtritis, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Keberadaan gumuk pasir dengan tipe barchan di Parangtritis sangat unik dan menarik untuk diteliti, dipahami, dan perlu dilestarikan. Gumuk Pasir ini merupakan fenomena yang menarik dipandang sebagai obyek wisata (Rovicky,2008). B-194

2 Tujuan penelitianadalah untuk mengetahui dan meneliti tentang gumuk pasir di Pantai Parangtritis serta menganalisis arah dan kekuataan angin yang mempengaruhi pembentukan gumukgumuk pasir di daerah penelitian. Dengan mengetahui arah dan kekuatan angin pembentuk gumuk pasir ini, diharapkan hal ini dapat menjelaskan pola sebaran atau akumulasi gumuk-gumuk pasir yang terdapat di daerah penelitian yang memiliki pengaruh terhadap keadaan lingkungan alam di sekitar Pantai Parangtritis. Daerah penelitian terletak lebih kurang 30 km ke arah selatan kota Yogyakarta. Secara administratif termasuk dalam Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul, Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).Lokasi pengukuran dan pengambilan conto pada lokasi pengamatan (LP) satu terletak pada Koordinat E ,6 yaitu transversal dune dan S ,4 serta lokasi pengamatan (LP) dua terletak pada koordinat E ,5 dan S ,4 yaitu barchan dune, dengan elevasi dari m dari permukaan laut. METODE Metode penelitian yang dipakai dalam menganalisis arah dan kekuatan angin pembentuk gumuk pasir di Pantai Parangtritis ini, terdiri dari 2 tahap yaitu:tahap penelitian lapangan dan tahap penelitian laboratiriun 1. Tahap penelitian lapangan dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 16 juni Penelitian ini mencakup penelitian terhadap 2 jenis gumuk pasir (barchans dune dan transversal dune), dengan mengukur kemiringan lereng pada kedua sisi gumuk pasir, mengukur ukuran gumuk pasir, mengukur strikedari 2 jenis gumuk pasir sebanyak 50 data jurus. Diawali dengan tahap orientasi yang bertujuan untuk mencari obyek penelitian dalam hal ini adalah gumuk pasir yang bentuknya benar-benar ideal. Di samping itu juga dibuat jalur-jalur pengamatan dan pengambilan conto (sample) pasir yang akan dianalisis di laboratorium Contoh pasir yang diambil di sepanjang jalur pengamatan sebanyak 30 conto dan disertai pertimbangan bahwa pengaruh angin pada saat penelitian lapangan hanya mempengaruhi endapan pada bagian permukaan saja, maka untuk mendapatkan conto yang mewakili secara keseluruhan,conto pasir yang diambil adalah yang di bagian permukaan gumuk pasirnya. Banyaknya conto yang diambil di setiap lokasi pengambilan conto, kurang lebih sebanyak 500 gram. 2. Tahap penelitian laboratorium. Penelitian laboratorium dilakukan selama kurang lebih 1 minggu dari tanggal juni 2012, meliputi cara sebagai berikut: 1) Contoh (sample) yang diambil dari lapangan dicuci terlebih dahulu dengan mengunakan air bersih, bertujuan agar conto pasir terpisah dengan material pengotor lainya. 2) Contoh pasir dikeringkan di bawah sinar matahari selama 1 hari sampai benar-benar kering. 3) Setelah conto kering, dilakukan proses kuarting yang bertujuan agar memperoleh conto pasir yang representative. Proses kuarting menggunakan karton yang disilangkan saling tegak lurus dan di alasi kertas Koran, kemudian conto pasir dituangkan tepat pada persilangan karton dengan menggunakan corong, maka conto pasir tadi akan terbagi menjadi 4 bagian sesuai dengan kwadran dari persilangan karton tersebut dengan sama banyak. Conto pasir dari kwadran yang berlawanan akan dicampur dan mendapatkan dua bagian, yaitu kwadran I dicampur dengan kwadran III, sedangkan kwadran II dicampur dengan kwadran IV, setelah itu pilih salah satu campuran ditimbang sebanyak 100 gram untuk diayak (Miftahussalam, 2003). 4) Dilanjutkan dengan proses pengayakan conto (100 gram), sebelum dilakukan proses pengayakan, semua saringan atau mesh harus dibersihkan terlebih dahulu dari butiran pasir atau kotoran yang menempel pada celah ayakan, dengan menggunakan kuas. Selanjutnya pililah saringan atau ayakan dari mesh skala yang terkecil, disusun hingga mesh yang berskala besar ( dari nomor mesh> 200, 200, 140, 100, 60, 40, 30, 16, 10 ) pada bagian bottom mesh dialasi kertas koran kemudian diayak dengan menggunakan mesin ayakan (vibrator), conto pasir laludimasukan ke dalam ayakan dan diayak selama + 2 menit. 5) Hasil ayakan dari conto pasir yang tertampung pada setiap ayakan atau mesh ditimbang menggunakan timbangan (Pastikan hasil penimbangan akhir tidak boleh kurang dari 95 gram ( > 95 gram), artinya kehilangan butir pasir tidak boleh lebih dari 5 %. B-195

3 6) Dari hasil pengukuran seluruh conto, dibuat tabel disribusi besar butir dari masing-masing beratnya. Dasar teori Daerah arid angin merupakan salah satu media transportasi yang dapat mengangkut butir butir pasir yang berukuran berbeda beda, kemudian diangkut oleh angin dan pada suatu saat, apabila kekuatan angin tidak sanggup lagi untuk mengangkutnya, akan diendapkan pada suatu tempat tertentu. Endapan butir-butir pasir yang memiliki morfologi khas inilah yang kemudian lazim disebut sebagai dune atau gumuk pasir (Katili,1963). Daerah penelitian memenuhi persyaratan sebagai daerah gumk pasir sebagai berikut: 1. Adanya sumber material pasir. Syarat ini dipenuhi oleh suplai sedimen vulkanik yang diangkut dan terakumulasi secara terus-menerus di muara Sungai Opak yang terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis 2. Adanya angin yang berhembus. Syarat ini terpenuhi seperti halnya di daerah-daerah pantai pada umumnya. Yang dapat dianggap kekhasan dari arah dan kekuatan angin di Pantai Parangtritis adalah kekuatan yang relatif lebih besar dibandingkan dengan daerah pantai lainnya. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya morfologi tebing curam di sebelah utaranya yang terdiri dari batugamping Formasi Wonosari, yang melatar belakangi Pantai Parangtritis. 3. Adanya penghalang. Syarat ini di Pantai Parangtritis dipenuhi dengan terdapatnya kumpulan berbagai jenis tumbuhan atau vegetasi pantai yang tersebar di sana. Setiap kecepatan angin tertentu mempunyai daya angkut terhadap besar butir pasir tertentu pula. Menurut Katili (1963) hubungan antara kecepatan angin dengan besar butir yang dapat diangkut oleh angin adalah sebagai berikut (Tabel 1). Tabel 1. Kecepatan angin dan butiran pasir yang terangkut (Sumber. Katili, 1963:182) No Kecepatan angin Besar butir pasir maximum yang dapat diangkut 1 4,5 6,7 m / detik Diameter 0,25 mm 2 6,7 8,4 m / detik Diameter 0,50 mm ,4 m / detik Diameter 1,00 mm 4 11,4 13,0 m / detik Diameter 1, 50 mm Dari Tabel 1 di atas dapat diketahui bahwa besar butir pasir yang memiliki ukuran 0,25 mm akan terangkut atau digerakkan oleh angin dengan kecepatan 4,5 6,7 m/detik. Karena ada hembusan angin, maka butir butir pasir yang berdiameter tertentu, akan bergerak dan membentur atau terbenturkan dengan sesama butir lainnya. Dengan adanya benturan atau tumbukan di antara butirbutir pasir itu maka pasir-pasir itu akan meloncat ke udara dengan sudut benturan antara Setelah butir-butir pasir tersebut sampai di udara, butir pasir akan dikenai oleh dua gaya, yaitu gaya horizontal (tangensial) dan gaya berat (grafitasi). Gaya berat di sini adalah gaya yang berasal dari butiran pasir itu sendiri yang besarnya berbanding lurus terhadap besar dan berat dari butiran pasirnya. Sedangkan gaya horizontal yang dialami oleh butiran pasir yang meloncat ke udara disebabkan oleh hembusan angin yang mengenai butiran pasir itu. Berdasarkan kriteria tersebut di atas, maka bentuk lintasan yang ditempuh oleh butir pasir tersebut sejenak dilemparkan ke udara akibat adanya benturan sampai jatuh kembali ke permukaan bumi berbentuk parabola. Ketinggian loncatan butir pasir tersebut akibat adanya benturan tidak lebih dari 45 cm dari pemukaan (Flint & Skinner, 1977 dalam Prasetyadi,1991). Bahkan di daerah gurun pasirpun, loncatan butiran pasir tersebut tidak lebih dari 1 m, walaupun angin yang bertiup cukup kencang. Angin yang mengangkut butir-butir pasir dan material lepas lainnya pada suatu saat akan berkurang kecepatannya, sehingga daya angkutnyapun berkurang pula, dan apabila kemudian tidak sanggup lagi untuk mengangkutnya butir-butir pasir tersebut akan diendapkan di suatu tempat sehingga terdapat akumulasi dari butiran pasir tersebut. Apabila butiran pasir tersebut berlangsung terus sehingga membentuk suatu morfologi bukit, maka bukit ini disebut dengan dune atau gumuk B-196

4 pasir. Angin yang berhembus ke arah suatu gumuk pasir mempunyai pola konvergen pada sisi yang berhadapan dengan arah angin dan pola divergen pada daerah gumuk yang berada pada sisi belakang yang merupakan daerah bayangan angin. Kecepatan angin pada daerah tiupan angin memiliki kecepatan yang lebih besar dari pada kecepatan angin di daerah bayangan atau belakang gumuk. Hal ini mengakibatkan butir-butir pasir yang terangkut oleh angin setelah melewati bagian puncaknya, akan jatuh dan diendapkan di belakang/di buritan gumuk pasir. Kenampakan Gumuk Pasir Parangtritis Di daerah-daerah pantai beriklim tropis biasanya jarang dijumpai adanya gumuk pasir. Demikian pula halnya dengan wilayah Kepulauan Indonesia yang beriklim tropis, di daerah pantainya jarang terbentuk gumuk pasir pantai. Dengan terdapatnya gumuk pasir di Pantai Parangtritis dapat dianggap sebagai pengecualian ataupun keistimewaan tersendiri.klasifikasi gumuk pasir pada umumnya didasarkan pada segi morfologi atau bentuknya, atau keadaan butiran material pasir, tekstur dan strukturnya. Dengan demikian berdasarkan kriteria itu, morfologi, tekstur dan strukturnya, dapat diinterpretasikan ataupun ditentukan arah dan kekuatan angin yang membentuk gumuk pasir tersebut. 1. Barchan dune, gumuk pasir ini bentuknya menyerupai bulan sabit dan terbentuk pada daerah yang tidak memiliki barrier. Besarnya kemiringan lereng daerah yang menghadap ke arah datangnya angina, akan memiliki slope atau kemiringan lereng yang lebih landai dibandingkan dengan kemiringan lereng daerah yang membelakangi angina (slip face), sehingga apabila dibuat penampang melintang, akan menghasilkan bentuk penampang yang tidak simetri dan mempunyai ketinggian antara 5-17 m. Gumuk pasir ini merupakan perkembangan, karena proses eolian tersebut terhalangi oleh adanya beberapa tumbuhan, sehingga terbentuklah gumuk pasir seperti ini, dan daerah yang menghadap angin lebih landau, dibandingkan dengan kemiringan lereng daerah yang membelakangi angin (Gambar 1) Wind Gambar 1. Barchan dune. di lokasi penelitian (Sumber: Kamera Peneliti, 2012) 2. Gumuk pasir transversal terbentuk di daerah yang tidak berpenghalang dan memiliki banyak cadangan pasirnya. Bentuknya melintang memanjang, menyerupai ombak di lautan dan tegak lurus terhadap arah angina (Gambar 2). 3. Awalnya, gumuk pasir ini hanya beberapa saja, kemudian karena proses eolian yang terus menerus berlangsung dengan material pasir yang cukup, maka terbentuklah bagian yang lain dari gumuk pasir ini dan menjadi sebuah koloni atau kumpulan dari beberapa gumuk pasir yang memiliki tipe yang sama. ada daerah penelitian, gumuk pasir ini terletak pada koordinat E E 19 0,6 dan S 08 0 E ,44 dengan elevasi 17 m dari permukaan laut. Gumuk pasir transversal ini akan berkembang menjadi bulan sabit apabila pasokan pasirnya berkurang. B-197

5 Wind PEMBAHASAN Gambar 2. Transversal dune di lokasi penelitian (Sumber: Kamera Peneliti, 2012) Keadaan dan Kedudukan Gumuk Pasir di Pantai Parangtritis Gumuk pasir di Pantai Parangtritis membentang hampir sejajar dengan garis pantai Samudera Hindia dan memiliki pelamparan ke arah barat. Untuk menganalisis arah dan kekuatan angin pembentuk gumuk pasir ini, dibuat suatu jalur atau lintasan pengamatan dengan arah N E ke arah N 0 0 E atau arah utara selatan. Arah lintasan pengamatan hampir tegak lurus terhadap arah pelamparan gumuk-gumuk pasir, agar dapat mewakili keadaan gumuk pasir di daerah penelitian. Deretan gumuk pasir di daerah penelitian merupakan deretan gumuk pasir yang memiliki bentuk cukup ideal,seperti jenis transversal dune dan barchan dune.deretan gumuk pasir transversal ini, terdiri dari beberapa gumuk pasir yang saling sejajar dan memiliki jurus pelamparan sekitar N 60 0 E dengan ketinggian berkisar antara 5 40 m dari permukaan laut. Kemiringan lereng pada sisi yang menghadap ke arah angin antara , sedangkan kemiringan lereng bagian lee slope atau pada bagian bayangan angin berkisar antara Material penyusun gumuk pasir terdiri dari butir pasir yang berukuran paling halus, sedang hingga kasar. Analisis Arah dan Kekuatan Angin Analisis arah dan kekuatan angin pembentuk gumuk pasir ini didasarkan pada kolaborasi antara studi pustaka dari beberapa literatur ataupun dari hasil penelitian terdahulu beserta data dari lapangan dan laboratorium. Analisis morfologi yang dilakukan di lapangan adalah dengan mengukur jurus/stike dari morfologi pada tipe gumuk-gumuk pasir yang dominan dijumpai bertipe barchan dune dan transversal dune. Berdasarkan pengukuran jurus tersebut,dapat ditentukan arah angin pembentuknya. 1. Analisis Morfologigumuk pasir dilakukan dengan mengukur jurus tipe-tipe gumuk pasir yang dominan terdapat di daerah penelitian, dalam hal ini adalah gumuk-gumuk pasir bertipe barchans dune dan transversal dune.pengukuran jurus pada transversal dune dilakukan hampir sama dengan pengukuran pada barchan dune, dengan cara mengukur sepanjang tubuh dari gumuk pasir.data yang diambil atau pengukuran dilakukan sebanyak 50 kali. Pada tabel di bawah ini (Tabel 2 dan Tabel 3), adalah hasil pengukuran jurus dari gumuk pasir transversal duneyang terletak pada E E 19 0,6 dan S 08 0 E ,44 dengan elevasi 17 m dari permukaan laut. Arah umum jurus gumuk pasir tipe transversal dune dapat dianalisis menggunakan diagram kipas adalah N E, arah umum angin pembentuk gumuk pasir adalah tegaklurus terhadap arah umum jurus. Disamping itu dengan memperlihatkan pola dari arah lee slope-nya, maka arah umum angin pembentuk gumuk pasir tipe transversal dune adalah sekitar N 15 0 E Pengukuran jurus bertipe barchans dune dilakukan dengan cara mengukur jurus pada bagian bayangan atau slip face yang tegak lurus arah angin pada tubuh gumuk pasir (Tabel 4dan Tabel 5). Pengukuran dilakukan sebanyak 50 kali agar memperoleh data yang yang lebih akurat, yaitu terletak pada E ,5 dan S dengan elevasi 40 m dari permukan laut (Gambar 5). B-198

6 Tabel 2. Data jurus yang diperoleh pada transversal dune No Jurus (N 0 E) No Jurus (N 0 E) No Jurus (N 0 E) Tabel 3. Tabulasi ferkuensi pengolahan data dari jurus gumuk pasir transversal dune Arah Arah Tabulasi Jumlah Prosentasi (%) (N.. 0 E) (N.. 0 E) IIII IIII IIII IIII % IIII IIII IIII IIII IIII IIII % JUMLAH % Tabel 4.Data jurus yang diperoleh dari pengukuran pada barchans dune No Jurus (N 0 E) No Jurus (N 0 E) No Jurus (N 0 E) B-199

7 Tabel 5. Tabulasi ferkuensi pengolahan data dari jurus barchan dune Arah (N.. 0 E) Arah (N.. 0 E) Tabulasi Jumlah Persentase (%) IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII IIII % IIII IIII % JUMLAH % Gambar 5. Lokasi pengamatan untuk pengambilan conto, terletak pada E ,5 dan S dengan elevasi 40 m dari permukan laut, kamera dari selatan ke arah utara (Sumber: Kamera Peneliti, 2012) Arah umum gumuk pasir tipe barchans dune dapat dianalisis menggunakan diagram kipas yaitu memiliki arah sekitar N E. Dengan demikian arah umum angin pembentuk gumuk pasir adalah tegak lurus terhadap arah umum jurusnya, maka arah umum angin pembentuk gumuk pasir barchans dune adalah sekitar N 5 0 E. 2. Analisis tekstur dilakukan untuk menentukan kekuatan angin, dengan tujuan untuk mengetahui besar butir rata-rata yang dapat diangkut oleh media angin dan dapat menentukan besarnya kekuatan atau kecepatan angin pembentuk gumuk pasir. Kecepatan angin dianalisis berdasarkan fraksi umum dari butiran sample yang dianalisis. Kecepatan angin tertentu akan mengangkut ukuran butir pasir tertentu pula. Katili (1963), menggunakan hubungan kecepatan angin dengan besar butir maksimum yang dapat diangkut oleh media angin.kecepatan angin ini berguna juga untuk mengetahui atau menentukan kecepatankecepatan migrasi gumuk pasir. Rahardjo (1978), telah meneliti migrasi gumuk pasir di Pantai B-200

8 Parangtritis berdasarkan ukuran butir penyusunnya. Analisis arah angin pada gumuk pasir dilakukan dengan mengambil conto (sampling) pada permukaanya saja, meliputi area lereng datangnya angin, puncak, dan lembah gumuk pasir. Untuk itu peneliti membuat jalur pengamatan dan sampling yang berarah utara-selatan, dari daerah lembah datangnya angin sampai pada tubuh dari gumuk pasir transversal dune dan barchans dune. Contoh pasir yang diambil di lapangan kemudian dianalisis di laboratorium. Setelah diketahui berat masing-masing fraksi ukuran butir, dimasukan ke dalam tabel distribusi besar butir, harga atau nilai dari besar butir yang paling dominanlah yang akan menentukan kisaran kecepatan angin yang bekerja membentuk gumuk pasir di daerah penelitian (Tabel 6). Tabel 6. Analisis tekstur dari 30 sampel No. Sample No. Mesh Ukuran Butir (mm) Berat (gr) No. Sample No. Mesh Ukuran Butir (mm) Berat (gr) ,250 0,425 40, ,250 0,425 57, ,250 0,425 36, ,250 0,425 45, ,150 0,250 41, ,250 0,425 47, ,250 0,425 47, ,250 0,425 50, ,150 0, ,250 0,425 54, ,150 0, ,150 0,250 59, ,150 0,250 49, ,150 0,250 45, ,250 0,425 47, ,250 0,425 52, ,250 0,425 46, ,250 0,425 49, ,250 0,425 47, ,250 0,425 43, ,150 0,250 44, ,150 0,250 47, ,250 0,425 45, ,250 0,425 49, ,150 0,250 47, ,250 0,425 46, ,150 0,250 37, ,250 0,425 51, ,150 0,250 57, ,150 0,250 47,06 KESIMPULAN Analisis arah dan kekuatan angin pembentuk gumuk pasir di daerah Pantai Parangtritis, dapat didekati baik dari aspek morfologi maupun teksturnya. Analisis morfologi dari 2 tipe gumuk pasir yaitu transversal dune dan barchans dune dilakukan dengan cara menentukan arah angin dari persebaran jurus pada tubuh gumuk pasir, dan dari sini menghasilkan arah angin yang bertiup ke arah N 5 0 E sampai N 15 0 E, atau arah angin relatif bertiup dari arah selatan ke arah utara. Analisis tekstur dilakukan untuk mengetahui kecepatan dan kekuatan angin pembentuk gumuk pasir. Analisis ini didasarkan pada diameter yang dominan dari conto pasir yang diambil pada bagian lembah, punggung, hingga puncak gumuk pasir. Dari analisis tekstur tersebut dapat diketahui kekuatan angin pembentuk gumuk pasir di daerah penelitian adalah berkisar antara 4,5 8,4 m / detik. DAFTAR PUSTAKA Anonim, 2007, Peta Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta,Bakosurtanal. Bandung (http://elantowow.wordpress.com) Katili, J.A, & Marks, P., 1963, Geologi, Kilatmadju, Bandung. Miftahussalam, 2003,. Petunjuk Praktikum Sedimentologi, Laboratorium Teknik Geologi, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, IST.AKPRIND. Yogyakarta. (Tidak diterbitkan.) Prasetyadi, C, 1991,. Analisis Arah dan Kekuatan Angin Pembentuk Gumuk Pasir di Pantai Parangtritis,DIY,. Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Mineral, UPN Veteran, Yogyakarta. (Tidak diterbitkan.) Rahardjo, D., 1978, Migrasi Butir Butir Pasir di Parangtritis ditinjau dari Ukuran butirnya, Jurusan Teknik Geologi, Fakultas Teknik, UGM, Yogyakarta. (Tidak diterbitkan.) Rovicky, 2008,. Gumuk Pasir (Sand Dune), Morfologi hasil ukiran angin. Posted on 9 Juni diakses tanggal 8 Mei 2012, pukul 23:50 B-201

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA

GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA GEOMORFOLOGI BALI DAN NUSA TENGGARA PULAU BALI 1. Letak Geografis, Batas Administrasi, dan Luas Wilayah Secara geografis Provinsi Bali terletak pada 8 3'40" - 8 50'48" Lintang Selatan dan 114 25'53" -

Lebih terperinci

BAB 2 PENAMPANG MELINTANG JALAN

BAB 2 PENAMPANG MELINTANG JALAN BAB 2 PENAMPANG MELINTANG JALAN Penampang melintang jalan adalah potongan melintang tegak lurus sumbu jalan, yang memperlihatkan bagian bagian jalan. Penampang melintang jalan yang akan digunakan harus

Lebih terperinci

Peta, Atlas, dan Globe

Peta, Atlas, dan Globe Bab 6 Sumber: Microsof Encarta, 2008 Peta, Atlas, dan Globe Setelah mempelajari bab ini kalian diharapkan dapat: menyebutkan pengertian peta, atlas dan globe membuat sketsa dan peta wilayah yang menggambarkan

Lebih terperinci

I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan

I.1 Latar Belakang I.2 Maksud dan Tujuan BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Formasi Latih tersusun dari perselang-selingan antara batupasir kuarsa, batulempung, batulanau dan batubara dibagian atas, dan bersisipan dengan serpih pasiran dan

Lebih terperinci

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat

Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat Standar Nasional Indonesia Cara uji sifat kekekalan agregat dengan cara perendaman menggunakan larutan natrium sulfat atau magnesium sulfat ICS 91.100.15 Badan Standardisasi Nasional Daftar Isi Daftar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Geomorfologi merupakan ilmu yang mempelajari bentuklahan dan proses proses yang mempengaruhinya serta menyelidiki hubungan timbal balik antara bentuklahan dan proses

Lebih terperinci

BAB V RENCANA PENANGANAN

BAB V RENCANA PENANGANAN BAB V RENCANA PENANGANAN 5.. UMUM Strategi pengelolaan muara sungai ditentukan berdasarkan beberapa pertimbangan, diantaranya adalah pemanfaatan muara sungai, biaya pekerjaan, dampak bangunan terhadap

Lebih terperinci

TINJAUAN SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS

TINJAUAN SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS Saintek Vol 5, No 1 Tahun 2010 TINJAUAN SIFAT-SIFAT AGREGAT UNTUK CAMPURAN ASPAL PANAS ABSTRAK (STUDI KASUS BEBERAPA QUARRY DI GORONTALO) Fadly Achmad Dosen Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas

Lebih terperinci

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA

BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA BAB IV STUDI KHUSUS GEOKIMIA TANAH DAERAH KAWAH TIMBANG DAN SEKITARNYA IV.1 TINJAUAN UMUM Pengambilan sampel air dan gas adalah metode survei eksplorasi yang paling banyak dilakukan di lapangan geotermal.

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat

III. METODOLOGI PENELITIAN. (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat menggunakan

Lebih terperinci

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT

PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON ABSTRACT Pengaruh Kadar Air.. Kuat Tekan Beton Arusmalem Ginting PENGARUH KADAR AIR AGREGAT TERHADAP KUAT TEKAN BETON Arusmalem Ginting 1, Wawan Gunawan 2, Ismirrozi 3 1 Dosen Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,

Lebih terperinci

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon)

MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) MENGUBAH BENCANA MENJADI BERKAH (Studi Kasus Pengendalian dan Pemanfaatan Banjir di Ambon) Happy Mulya Balai Wilayah Sungai Maluku dan Maluku Utara Dinas PU Propinsi Maluku Maggi_iwm@yahoo.com Tiny Mananoma

Lebih terperinci

TKS-4101: Fisika. KULIAH 3: Gerakan dua dan tiga dimensi J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA

TKS-4101: Fisika. KULIAH 3: Gerakan dua dan tiga dimensi J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA J U R U S A N T E K N I K S I P I L UNIVERSITAS BRAWIJAYA TKS-4101: Fisika KULIAH 3: Gerakan dua dan tiga dimensi Dosen: Tim Dosen Fisika Jurusan Teknik Sipil FT-UB 1 Gerak 2 dimensi lintasan berada dalam

Lebih terperinci

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang

Warta Kebijakan. Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang. Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan tata ruang. Perencanaan Tata Ruang No. 5, Agustus 2002 Warta Kebijakan C I F O R - C e n t e r f o r I n t e r n a t i o n a l F o r e s t r y R e s e a r c h Tata Ruang dan Proses Penataan Ruang Tata Ruang, penataan ruang dan perencanaan

Lebih terperinci

Aliran berubah lambat laun. surut di muara saluran atau. air atau pasang surut air laut. berpengaruh sampai ke hulu dan atau ke hilir.

Aliran berubah lambat laun. surut di muara saluran atau. air atau pasang surut air laut. berpengaruh sampai ke hulu dan atau ke hilir. Aliran berubah lambat laun banyak terjadi akibat pasang surut di muara saluran atau akibat adanya bangunan-bangunan air atau pasang surut air laut terutama pada saat banjir akan berpengaruh sampai ke hulu

Lebih terperinci

Kayu gergajian Bagian 1: Istilah dan definisi

Kayu gergajian Bagian 1: Istilah dan definisi Standar Nasional Indonesia Kayu gergajian Bagian 1: Istilah dan definisi ICS 79.040 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii 1 Ruang lingkup... 1 2 Acuan normatif... 1 3 Istilah

Lebih terperinci

Bab I Pendahuluan. I.1 Maksud dan Tujuan

Bab I Pendahuluan. I.1 Maksud dan Tujuan Bab I Pendahuluan I.1 Maksud dan Tujuan Pemboran pertama kali di lapangan RantauBais di lakukan pada tahun 1940, akan tetapi tidak ditemukan potensi hidrokarbon pada sumur RantauBais#1 ini. Pada perkembangan

Lebih terperinci

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab

Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi. Bab Bab IX Interpretasi Peta Tentang Bentuk dan Pola Muka Bumi Sumber: hiemsafiles.wordpress.com Gb.9.1 Lembah dan pegunungan merupakan contoh bentuk muka bumi Perlu kita ketahui bahwa bentuk permukaan bumi

Lebih terperinci

LAMPIRAN 1 : Prosedur Identifikasi Awan dengan Citra Satelit MTSAT

LAMPIRAN 1 : Prosedur Identifikasi Awan dengan Citra Satelit MTSAT LAMPIRAN 1 : Prosedur Identifikasi Awan dengan Citra Satelit MTSAT 1. Pengertian dasar identifikasi jenis awan dengan satelit Berbeda dengan pengamatan dari permukaan bumi, dimana pengamatan awan menggunakan

Lebih terperinci

UJI BATAS BATAS ATTERBERG ASTM D-4318-00

UJI BATAS BATAS ATTERBERG ASTM D-4318-00 1. LINGKUP Percobaan ini mencakup penentuan batas-batas Atterberg yang meliputi Batas Susut, Batas Plastis, dan Batas Cair. 2. DEFINISI a. Batas Susut (Shrinkage Limit), w S adalah batas kadar air dimana

Lebih terperinci

ILMU UKUR TANAH. Oleh: IDI SUTARDI

ILMU UKUR TANAH. Oleh: IDI SUTARDI ILMU UKUR TANAH Oleh: IDI SUTARDI BANDUNG 2007 1 KATA PENGANTAR Ilmu Ukur Tanah ini disajikan untuk Para Mahasiswa Program Pendidikan Diploma DIII, Jurusan Geologi, Jurusan Tambang mengingat tugas-tugasnya

Lebih terperinci

ANALISIS TEMPAT KERJA

ANALISIS TEMPAT KERJA II. ANALISIS TEMPAT KERJA Untuk dapat membuat rencana kerja yang realistis, rapi, dan teratur, sebelum menjatuhkan pilihan jenis alat yang akan digunakan, perlu dipelajari dan penelitian kondisi lapangan

Lebih terperinci

ANALISA PROSES PRODUKSI SULAMAN KERAWANG KHAS GORONTALO. Hariana Jurusan Teknik Kriya - Universitas Negeri Gorontalo

ANALISA PROSES PRODUKSI SULAMAN KERAWANG KHAS GORONTALO. Hariana Jurusan Teknik Kriya - Universitas Negeri Gorontalo ANALISA PROSES PRODUKSI SULAMAN KERAWANG KHAS GORONTALO Hariana Jurusan Teknik Kriya - Universitas Negeri Gorontalo Trifandi Lasalewo Jurusan Teknik Industri - Universitas Negeri Gorontalo ABSTRAK Setiap

Lebih terperinci

GEOLOGI STRUKTUR. PENDAHULUAN Gaya/ tegasan Hasil tegasan Peta geologi. By : Asri Oktaviani

GEOLOGI STRUKTUR. PENDAHULUAN Gaya/ tegasan Hasil tegasan Peta geologi. By : Asri Oktaviani GEOLOGI STRUKTUR PENDAHULUAN Gaya/ tegasan Hasil tegasan Peta geologi By : Asri Oktaviani http://pelatihan-osn.com Lembaga Pelatihan OSN PEDAHULUAN Geologi : Ilmu yang mempelajari bumi yang berhubungan

Lebih terperinci

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH

BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH 2.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1. Aspek Geografi Kabupaten Musi Rawas merupakan salah satu Kabupaten dalam Provinsi Sumatera Selatan yang secara geografis terletak

Lebih terperinci

Mahasiswa memahami konsep gerak parabola, jenis gerak parabola, emnganalisa dan membuktikan secara matematis gerak parabola

Mahasiswa memahami konsep gerak parabola, jenis gerak parabola, emnganalisa dan membuktikan secara matematis gerak parabola BAB 6. Gerak Parabola Tujuan Umum Mahasiswa memahami konsep gerak parabola, jenis gerak parabola, emnganalisa dan membuktikan secara matematis gerak parabola Tujuan Khusus Mahasiswa dapat memahami tentang

Lebih terperinci

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM

A. KERANGKA RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM LAMPIRAN : PERATURAN DIREKTUR JENDERAL PERLINDUNGAN HUTAN DAN KONSERVASI ALAM NOMOR : P. 01/IV- SET/2012 TANGGAL : 4 Januari 2012 TENTANG : PEDOMAN PENYUSUNAN RENCANA PENGUSAHAAN PARIWISATA ALAM, RENCANA

Lebih terperinci

BAB 4. HASIL DAN ANALISIS PENYELIDIKAN TANAH

BAB 4. HASIL DAN ANALISIS PENYELIDIKAN TANAH BAB 4. HASIL DAN ANALISIS PENYELIDIKAN TANAH 4.1. Pengambilan Sampel Sampel tanah yang digunakan untuk semua pengujian dalam penelitian ini adalah tanah di sekitar jalan dari Semarang menuju Purwodadi

Lebih terperinci

MENENTUKAN BATAS SATUAN BATUAN. Arie Noor Rakhman

MENENTUKAN BATAS SATUAN BATUAN. Arie Noor Rakhman MENENTUKAN BATAS SATUAN BATUAN Arie Noor Rakhman Pemetaan Geologi Kolom Litologi Kolom Stratigrafi Peta Geologi Pemetaan geologi menghasilkan pembagian satuan batuan batas satuan batuan korelasi antar

Lebih terperinci

Cara mempelajari Struktur geologi

Cara mempelajari Struktur geologi Cara mempelajari Struktur geologi Tahapan cara mempelajari : I. Pengenalan struktur: lipatan, rekahan, sesar dalam bentuk 2 demensi untuk dapat dikenali sebagai bentuk 3 demensi II. Rekaman data III. Analisa

Lebih terperinci

STUDI IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN KEBERADAAN HIDROKARBON BERDASARKAN DATA ANOMALI GAYA BERAT PADA DAERAH CEKUNGAN KALIMANTAN TENGAH

STUDI IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN KEBERADAAN HIDROKARBON BERDASARKAN DATA ANOMALI GAYA BERAT PADA DAERAH CEKUNGAN KALIMANTAN TENGAH STUDI IDENTIFIKASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN DAN KEBERADAAN HIDROKARBON BERDASARKAN DATA ANOMALI GAYA BERAT PADA DAERAH CEKUNGAN KALIMANTAN TENGAH Dian Erviantari dan Muh. Sarkowi Program Studi Teknik Geofisika

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PERUBAHAN PERUNTUKAN DAN FUNGSI KAWASAN HUTAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Bendung atau pelimpah adalah bangunan yang melintang sungai yang berfungsi untuk menaikkan elevasi muka air untuk keperluan irigasi, PLTA, dan air bersih dan keperluan

Lebih terperinci

Manusia menciptakan alat-alat tersebut karena menyadari

Manusia menciptakan alat-alat tersebut karena menyadari Setelah mempelajari materi pesawat sederhana dan penerapannya diharapkan ananda mampu 1. Mendefinisikan pesawat sederhana 2. Membedakan jenis-jenis pesawat sederhana 3. Menjelaskan prinsip kerja pesawat

Lebih terperinci

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT

OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT OPTIMALISASI PRODUKSI PERALATAN MEKANIS SEBAGAI UPAYA PENCAPAIAN SASARAN PRODUKSI PENGUPASAN LAPISAN TANAH PENUTUP DI PT. PUTERA BARAMITRA BATULICIN KALIMANTAN SELATAN Oleh Riezki Andaru Munthoha (112070049)

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP,

MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG UPAYA PENGELOLAAN LINGKUNGAN HIDUP DAN UPAYA PEMANTAUAN LINGKUNGAN HIDUP DAN SURAT PERNYATAAN KESANGGUPAN PENGELOLAAN DAN PEMANTAUAN

Lebih terperinci

BAB III. Universitas Sumatera Utara MULAI PENGISIAN MINYAK PELUMAS PENGUJIAN SELESAI STUDI LITERATUR MINYAK PELUMAS SAEE 20 / 0 SAE 15W/40 TIDAK

BAB III. Universitas Sumatera Utara MULAI PENGISIAN MINYAK PELUMAS PENGUJIAN SELESAI STUDI LITERATUR MINYAK PELUMAS SAEE 20 / 0 SAE 15W/40 TIDAK BAB III METODE PENGUJIAN 3.1. Diagram Alir Penelitian MULAI STUDI LITERATUR PERSIAPAN BAHAN PENGUJIAN MINYAK PELUMAS SAE 15W/40 MINYAK PELUMAS SAEE 20 / 0 TIDAK PENGUJIAN KEKENTALAN MINYAK PELUMAS PENGISIAN

Lebih terperinci

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR)

MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) MODUL TRANSPLANTASI KARANG SECARA SEDERHANA PELATIHAN EKOLOGI TERUMBU KARANG ( COREMAP FASE II KABUPATEN SELAYAR YAYASAN LANRA LINK MAKASSAR) Benteng, Selayar 22-24 Agustus 2006 TRANSPLANTASI KARANG Terumbu

Lebih terperinci

PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS

PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS PROGRAM PENGABDIAN MASYARAKAT IPALS (Instalasi Pengolahahan Air Laut Sederhana): Transformasi Air Laut Menjadi Air Tawar dengan Pemisahan Elektron Cl - Menggunakan Variasi Batu Zeolit sebagai Upaya Penyediaan

Lebih terperinci

Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung.

Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. Kembali SNI 03 1746-2000 Tata cara perencanaan dan pemasangan sarana jalan ke luar untuk penyelamatan terhadap bahaya kebakaran pada bangunan gedung. 1. Ruang lingkup. 1.1. Standar ini ditujukan untuk

Lebih terperinci

BAB II STUDI PUSTAKA. 2.1 Tinjauan Umum

BAB II STUDI PUSTAKA. 2.1 Tinjauan Umum 6 BAB II STUDI PUSTAKA 2.1 Tinjauan Umum Dalam suatu perencanaan tentu dibutuhkan pustaka yang bisa dijadikan sebagai acuan dari perencanaan tersebut agar dapat terwujud bangunan pantai yang sesuai dengan

Lebih terperinci

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN

ABSTRAK II. TINJAUAN PUSTAKA I. PENDAHULUAN HUBUNGAN ANTARA TINGKAT KEKERASAN DAN WAKTU PEMECAHAN DAGING BUAH KAKAO (THEOBROMA CACAO L) 1) MUH. IKHSAN (G 411 9 272) 2) JUNAEDI MUHIDONG dan OLLY SANNY HUTABARAT 3) ABSTRAK Permasalahan kakao Indonesia

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN PARI MANTA

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN PARI MANTA KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 4/KEPMEN-KP/2014 TENTANG PENETAPAN STATUS PERLINDUNGAN PENUH IKAN PARI MANTA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN

Lebih terperinci

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014.

III. MATERI DAN METODE. Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014. III. MATERI DAN METODE 3.1. Waktu dan Tempat Penelitian ini dilakukan pada bulan November 2013 - Februari 2014. Penelitian ini dilakukan di kebun percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN SUSKA Riau.

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang I. PENDAHULUAN Latar Belakang Pembangunan dibidang kehutanan saat ini terus ditingkatkan dan diarahkan untuk menjamin kelangsungan tersedianya hasil hutan, demi kepentingan pembangunan industri, perluasan

Lebih terperinci

Prolog Gurn dan Eartixo

Prolog Gurn dan Eartixo Prolog Gurn dan Eartixo (GURN - ERTIXO) Ruang angkasa yang sunyi beberapa juta satuan astronomi dari galaksi Bimasakti. Di suatu tempat yang belum bisa dijangkau oleh manusia Bumi, bintang biru memancarkan

Lebih terperinci

Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan

Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan Perkiraan dan Referensi Harga Satuan Perencanaan No Bidang kategori 1 Pemerintahan Peningkatan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran Pemeliharaan Hydrant Pembangunan Hydrant Kering Pemeliharaan pertitik

Lebih terperinci

Kompetensi Siswa Hakikat Fisika

Kompetensi Siswa Hakikat Fisika MENGUKUR Kompetensi Siswa 1. Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya 2. Mengembangkan perilaku (jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, kerjasama,

Lebih terperinci

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA

TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN BERBASIS MITIGASI BENCANA TPL 106 GEOLOGI PEMUKIMAN PERTEMUAN 13 PERENCANAAN TATA RUANG BERBASIS MITIGASI BENCANA GEOLOGI 1. Pendahuluan Perencanaan tataguna lahan berbasis mitigasi bencana geologi dimaksudkan untuk mengantisipasi

Lebih terperinci

KU = kutub utara bumi KS = kutub selatan bumi

KU = kutub utara bumi KS = kutub selatan bumi BABV TEKANAN UDARA Pada prinsipnya, maka tekanan udara adalah sama dengan berat udara yang berada tegak lurus diatas tempat penilik yang bersangkutan, dengan demikian, maka dapatlah dimengerti bahwa, jika

Lebih terperinci

Pemanfaat tenaga listrik untuk keperluan rumah tangga dan sejenisnya Label tanda hemat energi

Pemanfaat tenaga listrik untuk keperluan rumah tangga dan sejenisnya Label tanda hemat energi Standar Nasional Indonesia Pemanfaat tenaga listrik untuk keperluan rumah tangga dan sejenisnya Label tanda hemat energi ICS 13.020.50 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi...i Prakata...ii

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2010 TENTANG BENDUNGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk menyimpan air yang berlebih pada

Lebih terperinci

MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks) GERAK BENDA DALAM BIDANG DATAR DENGAN PERCEPATAN TETAP

MATA KULIAH : FISIKA DASAR (4 sks) GERAK BENDA DALAM BIDANG DATAR DENGAN PERCEPATAN TETAP MODUL PERTEMUAN KE 4 MATA KULIAH : (4 sks) MATERI KULIAH: Gerak Peluru (Proyektil); Gerak Melinkar Beraturan, Gerak Melinkar Berubah Beraturan, Besaran Anular dan Besaran Tanensial. POKOK BAHASAN: GERAK

Lebih terperinci

DAYA DUKUNG TIANG TERHADAP BEBAN LATERAL DENGAN MENGGUNAKAN MODEL UJI PADA TANAH PASIR

DAYA DUKUNG TIANG TERHADAP BEBAN LATERAL DENGAN MENGGUNAKAN MODEL UJI PADA TANAH PASIR DAYA DUKUNG TIANG TERHADAP BEBAN LATERAL DENGAN MENGGUNAKAN MODEL UJI PADA TANAH PASIR Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Lebih terperinci

TINGKAT KERUSAKAN LAHAN AKIBAT PENAMBANGAN BATUGAMPING DAN PRIORITAS REKLAMASI LAHAN DESA PACAREJO KAB GUNUNGKIDUL DIY

TINGKAT KERUSAKAN LAHAN AKIBAT PENAMBANGAN BATUGAMPING DAN PRIORITAS REKLAMASI LAHAN DESA PACAREJO KAB GUNUNGKIDUL DIY TINGKAT KERUSAKAN LAHAN AKIBAT PENAMBANGAN BATUGAMPING DAN PRIORITAS REKLAMASI LAHAN DESA PACAREJO KAB GUNUNGKIDUL DIY Wisnu Ariyanto wisnuariyanto27@yahoo.co.id Suprapto Dibyosaputro praptodibyo@gmail.com

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September sampai Desember 2012. Cangkang kijing lokal dibawa ke Laboratorium, kemudian analisis kadar air, protein,

Lebih terperinci

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Pasal 6 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan. SALINAN PERATURAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG PEMANFAATAN AIR HUJAN MENTERI NEGARA LINGKUNGAN HIDUP, Menimbang : a. bahwa air hujan merupakan sumber air yang dapat dimanfaatkan

Lebih terperinci

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TEBAK KATA TERHADAP PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI SISTEM PENCERNAAN MAKANAN PADA MANUSIA (Studi Eksperimen Di kelas XI IPA SMA Negeri 4 Tasikmalaya)

Lebih terperinci

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN BAB IV METODOLOGI PENELITIAN 4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di PT. Pertamina EP Asset 2 dengan studi kasus pada Lapangan SBS yang terletak pada jalur Sesar Lematang yang membentuk

Lebih terperinci

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL

MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL MENTERI NEGARA AGRARIA/KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL PERATURAN MENTERI NEGARA AGRARIA/ KEPALA BADAN PERTANAHAN NASIONAL NOMOR 1 TAHUN 1997 TENTANG PEMETAAN PENGGUNAAN TANAH PERDESAAN, PENGGUNAAN TANAH

Lebih terperinci

Observasi Tahap Awal Gempa Jawa Tengah Tanggal 27 Mei 2006 DAMPAK terhadap RUMAH NASKAH hanya untuk tinjauan ulang dan diskusi 19 Juni 2006

Observasi Tahap Awal Gempa Jawa Tengah Tanggal 27 Mei 2006 DAMPAK terhadap RUMAH NASKAH hanya untuk tinjauan ulang dan diskusi 19 Juni 2006 Tinjauan Umum Pada tanggal 27 Mei 2006 pukul 5:54 pagi waktu setempat, gempa dengan magnitudo momen 6,3 menghantam pulau Jawa, Indonesia di dekat Yogyakarta. Daerah yang terkena dampaknya merupakan daerah

Lebih terperinci

PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN..

PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN.. PRAKTIK YANG MENGASYIKKAN MENGHILANGKAN RASA NGANTUK SAAT PROSES PEMBELAJARAN.. Kriiiing..kriiiing bel berbunyi, tanda jam pelajaran ke Sembilan sudah berbunyi, tanda masuk di dua jam terakhir. Aku berfikir

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 26 TAHUN 2008 TENTANG RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 20 ayat (6) Undang-Undang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu Kotamadya dari 33 kabupaten

BAB I PENDAHULUAN. 1.1. Latar Belakang Masalah. Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu Kotamadya dari 33 kabupaten BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kota Tebing Tinggi merupakan salah satu Kotamadya dari 33 kabupaten dan kota di Sumatera Utara. Tebing Tinggi memiliki luas daerah kurang dari 31 km² dan berjarak

Lebih terperinci

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330

Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1 ISSN 1858-4330 STUDI PENGARUH PERIODE TERANG DAN GELAP BULAN TERHADAP RENDEMEN DAN KADAR AIR DAGING RAJUNGAN (Portunus pelagicus L) YANG DI PROSES PADA MINI PLANT PANAIKANG KABUPATEN MAROS STUDY OF LIGHT AND DARK MOON

Lebih terperinci

Identifikasi Struktur. Arie Noor Rakhman, S.T., M.T.

Identifikasi Struktur. Arie Noor Rakhman, S.T., M.T. Identifikasi Struktur Arie Noor Rakhman, S.T., M.T. Dasar Analisis Macam keterakan berdasarkan gaya pembentuknya: Irrotational Strain (pure shear) disebabkan tegasan tekanan (model Moody & Hill, 1956)

Lebih terperinci

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA PERCOBAAN

BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA PERCOBAAN BAB IV PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA PERCOBAAN 4.1 UMUM Pada bab ini berisi pengolahan data dan analisis data percobaan yang dilakukan di laboratorium. Pada umumnya, suatu penelitian perlu dilakukan berulang

Lebih terperinci

Berbagi Pengalaman Menghitung Potensi Kayu dan Karbon di Hutan Desa Talang Tembago

Berbagi Pengalaman Menghitung Potensi Kayu dan Karbon di Hutan Desa Talang Tembago Berbagi Pengalaman Menghitung Potensi Kayu dan Karbon di Hutan Desa Talang Tembago SAMSUN LEMBAGA PENGELOLA HUTAN DESA TALANG TEMBAGO Sekilas Pandang Desa Talang Tembago dan Usulan Hutan Desa Desa Talang

Lebih terperinci

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar

Tabel 1.1. Letak geografi dan administratif Kota Balikpapan. LS BT Utara Timur Selatan Barat. Selat Makasar KOTA BALIKPAPAN I. KEADAAN UMUM KOTA BALIKPAPAN 1.1. LETAK GEOGRAFI DAN ADMINISTRASI Kota Balikpapan mempunyai luas wilayah daratan 503,3 km 2 dan luas pengelolaan laut mencapai 160,1 km 2. Kota Balikpapan

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA)

REPUBLIK INDONESIA 47 TAHUN 1997 (47/1997) 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Menimbang : PP 47/1997, RENCANA TATA RUANG WILAYAH NASIONAL Bentuk: PERATURAN PEMERINTAH (PP) Oleh: PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor: 47 TAHUN 1997 (47/1997) Tanggal: 30 DESEMBER 1997 (JAKARTA) Sumber:

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Botani Tanaman Bayam Bayam (Amaranthus sp.) merupakan tanaman semusim dan tergolong sebagai tumbuhan C4 yang mampu mengikat gas CO 2 secara efisien sehingga memiliki daya adaptasi

Lebih terperinci

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara.

Sumber : Manual Pembibitan Tanaman Hutan, BPTH Bali dan Nusa Tenggara. Penyulaman Penyulaman dilakukan apabila bibit ada yang mati dan perlu dilakukan dengan segera agar bibit sulaman tidak tertinggal jauh dengan bibit lainnya. Penyiangan Penyiangan terhadap gulma dilakukan

Lebih terperinci

Cara uji fisika Bagian 2: Penentuan bobot tuntas pada produk perikanan

Cara uji fisika Bagian 2: Penentuan bobot tuntas pada produk perikanan Standar Nasional Indonesia Cara uji fisika Bagian 2: Penentuan bobot tuntas pada produk perikanan ICS 67.050 Badan Standardisasi Nasional Copyright notice Hak cipta dilindungi undang undang. Dilarang menyalin

Lebih terperinci

BAB 2 ANALISIS VEKTOR

BAB 2 ANALISIS VEKTOR BAB ANALISIS VEKTOR A. Tujuan Umum Mahasiswa memahami pengertian vektor, operasi vektor, penjumlahan, pengurangan, perkalian dan kaedah aljabar vektor. B. Tujuan Khusus Mahasiswa dapat memahami konsep

Lebih terperinci

dengan lintasan melingkar dan kecepatan sudut (ω) di setiap titik pada benda tersebut besarnya

dengan lintasan melingkar dan kecepatan sudut (ω) di setiap titik pada benda tersebut besarnya Setelah proses pembelajaran, diharapkan siswa dapat: 1. Menganalisis gerak melingkar tidak beraturan 2. Membedakan gerak melingkar beraturan, dan gerak melingkar berubah beraturan 3. Merumuskan gerak melingkar

Lebih terperinci

Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 18B, Pasal 20, dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

Pasal 5 ayat (1), Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 18B, Pasal 20, dan Pasal 21 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PEMBENTUKAN KABUPATEN TANAH BUMBU DAN KABUPATEN BALANGAN DI PROVINSI KALIMANTAN SELATAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN

PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.02/MEN/2009 TENTANG TATA CARA PENETAPAN KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang :

Lebih terperinci

JOOB SHEET MENGELAS TINGKAT LANJUT DENGAN PROSES LAS BUSUR KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK PENGELASAN TINGKAT XII PENYUSUN : MUKHTAROM,S.T.

JOOB SHEET MENGELAS TINGKAT LANJUT DENGAN PROSES LAS BUSUR KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK PENGELASAN TINGKAT XII PENYUSUN : MUKHTAROM,S.T. JOOB SHEET MENGELAS TINGKAT LANJUT DENGAN PROSES LAS BUSUR KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNIK PENGELASAN TINGKAT XII PENYUSUN : MUKHTAROM,S.T. SAMBUNGAN TUMPUL KAMPUH V POSISI DI BAWAH TANGAN ( 1G ) TUJUAN : Setelah

Lebih terperinci

Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa

Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa Mata Kuliah : Struktur Beton Lanjutan Kode : TSP 407 SKS : 3 SKS Desain Struktur Beton Bertulang Tahan Gempa Pertemuan - 11 TIU : Mahasiswa dapat mendesain berbagai elemen struktur beton bertulang TIK

Lebih terperinci

DINAMIKA GERAK. 2) Apakah yang menyebabkan benda yang sedang bergerak dapat menjadi diam?

DINAMIKA GERAK. 2) Apakah yang menyebabkan benda yang sedang bergerak dapat menjadi diam? DINAMIKA GERAK KEGIATAN TATAP MUKA A. Pendahuluan Mengapa buah nangka yang tergantung di pohon, bila sudah matang jatuh ke Bumi? Gerak apa yang dialami nangka yang jatuh itu? Ya benar, buah nangka yang

Lebih terperinci

SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR

SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR SUMBER AIR SESUATU YANG DAPAT MENGHASILKAN AIR (AIR HUJAN, AIR TANAH & AIR PERMUKAAN) SIKLUS AIR PEGUNUNGAN udara bersih, bebas polusi air hujan mengandung CO 2, O 2, N 2, debu & partikel dr atmosfer AIR

Lebih terperinci

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT MODUL: PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan sanitasi merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia, karena itu jika kebutuhan tersebut

Lebih terperinci

Bahan Ajar IPA Terpadu

Bahan Ajar IPA Terpadu Setelah mempelajari materi gerak lurus diharapkan ananda mampu 1. Mendefinisikan gaya 2. Mengidentifikasi jenis-jenis gaya dalam kehidupan sehari-hari 3. Mengidentifikasi gaya gesekan yang menguntungkan

Lebih terperinci

Pengkajian salinitas tanah secara cepat di daerah yang terkena dampak tsunami Pengalaman di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam

Pengkajian salinitas tanah secara cepat di daerah yang terkena dampak tsunami Pengalaman di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Pengkajian salinitas tanah secara cepat di daerah yang terkena dampak tsunami Pengalaman di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Tsunami yang terjadi di Samudra Hindia pada tanggal 26 Desember 2004 mengakibatkan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1996 TENTANG PERAIRAN INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: 1. bahwa berdasarkan kenyataan sejarah dan cara pandang

Lebih terperinci

RANCANG BANGUN JALAN USAHATANI

RANCANG BANGUN JALAN USAHATANI RANCANG BANGUN JALAN USAHATANI JALAN USAHA TANI TRANSPORTASI SARANA PRODUKSI PERTANIAN: BENIH PUPUK PESTISIDA MESIN DAN PERALATAN PERTANIAN TRANSPORTASI HASIL PRODUKSI PERTANIAN TRANSPORTASI KEGIATAN OPERASI

Lebih terperinci

Untuk terang ke 3 maka Maka diperoleh : adalah

Untuk terang ke 3 maka Maka diperoleh : adalah JAWABAN LATIHAN UAS 1. INTERFERENSI CELAH GANDA YOUNG Dua buah celah terpisah sejauh 0,08 mm. Sebuah berkas cahaya datang tegak lurus padanya dan membentuk pola gelap terang pada layar yang berjarak 120

Lebih terperinci

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK II PEMBUATAN TAWAS DARI ALUMINIUM DISUSUN OLEH FITRI RAMADHIANI KELOMPOK 4 1. DITA KHOERUNNISA 2. DINI WULANDARI 3. AISAH 4. AHMAD YANDI PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA

Lebih terperinci

PETUNJUK TERTIB PEMANFAATAN JALAN NO. 004/T/BNKT/1990

PETUNJUK TERTIB PEMANFAATAN JALAN NO. 004/T/BNKT/1990 PETUNJUK TERTIB PEMANFAATAN JALAN NO. 004/T/BNKT/1990 DIREKTORAT JENDERAL BINA MARGA DIREKTORAT PEMBINAAN JALAN KOTA PRAKATA Dalam rangka mewujudkan peranan penting jalan dalam mendorong perkembangan kehidupan

Lebih terperinci

Survei: Sebuah Perjalanan Mengenal Nusantara

Survei: Sebuah Perjalanan Mengenal Nusantara Survei: Sebuah Perjalanan Mengenal Nusantara Negara ini luas. Indonesia, dengan segala kekayaannya, hamparan pulau ini layaknya sebuah surga untuk mereka yang merasa memilikinya. Penjelajahan mengelilingi

Lebih terperinci

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar

Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar Standar Nasional Indonesia Produksi benih ikan patin jambal (Pangasius djambal) kelas benih sebar ICS 65.150 Badan Standardisasi Nasional Daftar isi Daftar isi... i Prakata... ii 1 Ruang lingkup... 1

Lebih terperinci

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme :

TANAH. Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah. Hubungan tanah dan organisme : TANAH Apa yang dimaksud dengan tanah? Banyak definisi yang dapat dipakai untuk tanah Hubungan tanah dan organisme : Bagian atas lapisan kerak bumi yang mengalami penghawaan dan dipengaruhi oleh tumbuhan

Lebih terperinci

Lampiran L Contoh pembuatan larutan

Lampiran L Contoh pembuatan larutan Lampiran L Contoh pembuatan larutan 1. Larutan NazCOs 10%, 20%, 30%. Timbang sebanyak 10 gr kristal Na2C03, dilarutkan dengan sedikit akuades dalam gelas piala. Pindah kedalam labu takar 100 ml dan encerkan

Lebih terperinci

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan

Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan Identifikasi Desa Dalam Kawasan Hutan 2007 Kerja sama Pusat Rencana dan Statistik Kehutanan, Departemen Kehutanan dengan Direktorat Statistik Pertanian, Badan Pusat Statistik Jakarta, 2007 KATA PENGANTAR

Lebih terperinci

Pendahuluan. Angka penting dan Pengolahan data

Pendahuluan. Angka penting dan Pengolahan data Angka penting dan Pengolahan data Pendahuluan Pengamatan merupakan hal yang penting dan biasa dilakukan dalam proses pembelajaran. Seperti ilmu pengetahuan lain, fisika berdasar pada pengamatan eksperimen

Lebih terperinci

METODE PENGUJIAN GUMPALAN LEMPUNG DAN BUTIR-BUTIR MUDAH PECAH DALAM AGREGAT

METODE PENGUJIAN GUMPALAN LEMPUNG DAN BUTIR-BUTIR MUDAH PECAH DALAM AGREGAT METODE PENGUJIAN GUMPALAN LEMPUNG DAN BUTIR-BUTIR MUDAH PECAH DALAM AGREGAT BAB I DESKRIPSI 1.1. Maksud dan Tujuan 1.1.1 Maksud Metode Pengujian Gumpalan Lempung dan Butir-butir Mudah Pecah Dalam Agregat

Lebih terperinci

BAB III METODE & DATA PENELITIAN

BAB III METODE & DATA PENELITIAN BAB III METODE & DATA PENELITIAN 3.1 Distribusi Jaringan Tegangan Rendah Pada dasarnya memilih kontruksi jaringan diharapkan memiliki harga yang efisien dan handal. Distribusi jaringan tegangan rendah

Lebih terperinci

Fishing Methods: Gillnetting. By. Ledhyane Ika Harlyan

Fishing Methods: Gillnetting. By. Ledhyane Ika Harlyan Fishing Methods: Gillnetting By. Ledhyane Ika Harlyan Tujuan Instruksional Khusus (Semoga) Mahasiswa dapat: 1. Menyebutkan macam-macam gillnet 2. Teknis tertangkapnya ikan dengan menggunakan gillnet 3.

Lebih terperinci

STUDI EKSPERIMENTAL DAN NUMERIK KARAKTERISTIK ALIRAN DUA FASE AIR-UDARA MELEWATI ELBOW 75⁰ DARI PIPA VERTIKAL MENUJU PIPA DENGAN SUDUT KEMIRINGAN 15

STUDI EKSPERIMENTAL DAN NUMERIK KARAKTERISTIK ALIRAN DUA FASE AIR-UDARA MELEWATI ELBOW 75⁰ DARI PIPA VERTIKAL MENUJU PIPA DENGAN SUDUT KEMIRINGAN 15 STUDI EKSPERIMENTAL DAN NUMERIK KARAKTERISTIK ALIRAN DUA FASE AIR-UDARA MELEWATI ELBOW 75⁰ DARI PIPA VERTIKAL MENUJU PIPA DENGAN SUDUT KEMIRINGAN 15 I Kadek Ervan Hadi Wiryanta 1, Triyogi Yuwono 2 Program

Lebih terperinci