FATWA MUI TENTANG ARAH KIBLAT

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "FATWA MUI TENTANG ARAH KIBLAT"

Transkripsi

1 Abstract FATWA MUI TENTANG ARAH KIBLAT Idrus Dosen Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Ka bah, a central and great building for Islamic people overall the words. Ka bah had builtby Adam before human stands in the word. It s than continued by Ibrahim dan Ismail than becomes kiblah for moslems in praying. Beside Ka bah, there was Baitul Ma mur that placed on seventh sky, Ka bah dan baitul Ma mur stessed moslems kiblah who is praying in earth and on the plane and others planets.based on the astronomic approach that used by MUI knowen that kiblat for Indonesian moslem is in Southest West. Kata Kunci :Arah Kiblat Al-Risalah Volume 10Nomor 1Mei

2 PENDAHULUAN P ersoalan kiblat adalah persoalan azimut yaitu jarak dari titik utara ke lingkaran vertikal melalui benda langit atau melalui suatu tempat yang diukur sepanjang lingkaran horizon menurut arah perputaran jarum jam. Dengan demikian, persoalan arah kiblat erat kaitannya dengan letak geografis suatu tempat yakni berapa derajat jarak suatu tempat dari khatulistiwa yang dikenal dengan istilah lintang dan berapa derajat letak suatu tempat dari garis bujur kota Makkah. 1 Selain itu, kiblat juga terkait dengan arah Ka bah di Makkah.Arah Ka bah ini dapat ditentukan dari setiap titik atau tempat di permukaan Bumi dengan melakukan perhitungan dan pengukuran. Oleh sebab itu, perhitungan arah kiblat pada dasarnya adalah perhitungan untuk mengetahui guna menetapkan ke arah mana Ka bah di Makkah itu dapat dilihat dari suatu tempat di permukaan Bumi, sehingga semua gerakan orang yang sedang melaksanakan shalat, baik ketika berdiri, ruku, maupun sujudnya selalu berimpit dengan arah yang menuju Ka bah. 2 Umat Islam telah bersepakat bahwa menghadap kiblat dalam shalat merupakan syarat sahnya shalat, sebagaimana dalil-dalil syari yang ada. Bagi orang-orang di kota Makkah dan sekitarnya melaksanakan shalat tidak menjadi persoalan namun bagi mereka yang jauh dari Makkah tentu timbul permasalahan tersendiri, terlepas dari perbedaan pendapat para ulama tentang cukup menghadap arahnya saja sekalipun kenyataaannya salah atau menghadap ke arah yang sedekat mungkin dengan posisi Ka bah yang sebenarnya. 3 Permasalahannya, apakah harus menghadap persis kebaitullah atau hanya boleh ke arah taksirannya saja atau boleh ke pinggir Ka bah. Bagi yang melihat Ka bah secara langsung, maka ia wajib menghadap ke arahnya karena tidak ada kesulitan tetapi yang jauh dari Ka bah dapat melakukan shalat berdasarkan sabda Nabi yang menyebutkan bahwa Baitullah merupakan kiblat bagi orang yang shalat di Masjidil Haram, Masjidil Haram merupakan kiblat bagi penduduk kota Makkah dan kota Makkah merupakan kiblat bagi penduduk di Bumi belahan Timur dan Barat dari Umatku. 4 Indonesia yang berada di belahan Timur tentu dapat menghadap ke arah Ka bah yang berada di belahan Barat namun dapat juga menghadap ke arah yang lebih dekat yaitu dengan menyesuaikan antara arah Barat laut atau Utara.Pergerseran kordinat antara Barat ke Barat laut atau Utara disinyalir karena adanya pergeseran lempeng Bumi yang disebabkan seringnya terjadi gempa Bumi di Indonesia.Pertanyaannya, benarkah gempa Bumi menyebabkan terjadi 1 A. Jamil, Ilmu Falak (Teori & Aplikasi), Arah Qiblat, Awal Waktu, dan Awal Tahun (Hisab Kontemporer). (Cet. 1; Jakarta: 2009), h Muhyiddin Khazin, Ilmu Falak, dalam Teori dan Praktik (Cet. 2; Yogyakarta: Buana Pustaka, 2005), h Ibid. 4 Lihat dalam Ali Parman, Ilmu Falak (tt: Tp, 2001), h Al-Risalah Volume 10 Nomor 1 Mei 2010

3 pergeseran lempeng Bumi dan apakah pergeseran lempeng Bumi menyebabkan berubahnya arah kiblat dari Barat ke Barat laut atau Utara. Faktor pergeseran lempeng Bumi inilah yang menjadi pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam mengeluarkan fatwa tentang penetapan arah kiblat yang awalnya menghadap ke arah Barat kemudian berubah menghadap ke arah Barat laut, berdasarkan diktum fatwa MUI No. 3 Tahun 2010 dan No. 5 Tahun Fatwa MUI ini telah menimbulkan keresahan dalam masyarakat,sehingga ditanggapi secara berbeda baik dari kalangan MUI maupun dari kalangan ahli falak dan astronomi MUI.Karena itu, persoalan arah kiblat menarik dikaji tentang bagaimana penetapan arah yang sebenarnya, apakah cukup menghadap ke Barat atau menghadap ke Barat laut. PEMBAHASAN 1. Ka bah sebagai Arah Kiblat dalam Beribadah a. Sejarah Ka bah Ka bahadalah kiblat dan pusat berbagai peribadatan kaum muslimin yang merupakan bangunan suci yang terletak di kota Mekah. Ka bah (Baitul Makmur) pertama kali dibangun dua ribu tahun sebelum penciptaan dunia. 6 Nabi Adam AS dianggap sebagai peletak dasar bangunan Ka bah di Bumi, 7 batu-batu yang dijadikan bangunan Ka bah saat itu diambil dari limasacred mountains (gunung sakral) yaitu Sināi, al-judi, Hira, Olivet dan Lebanon. 8 Setelah Adam wafat, bangunan itu diangkat ke langit dan lokasi itu diangungkan dan disucikan dari masa ke masa oleh umat para Nabi. Pada masa Nabi Ibrahim AS dan putranya Ismail AS, lokasi itu digunakan untuk membangun sebuah rumah ibadah. 9 Dalam pembangunan itu, Nabi Ismail AS menerima Hajar Aswad (batu hitam) dari Jibril di Jabal Qubais, lalu 5 Majelis Ulama Indonesia adalah organisasi keulamaan yang bersifat independen yang tidak berafiliasi kepada salah satu aliran politik mazhab atau aliran keagamaan Islam yang ada di Indonesia, MUI dibentuk pada tanggal 26 Juli 1975 dalam pertemuan ulama nasional. Pembentukan MUI membuka sejarah baru dalam mewujudkan kesatuan umat Islam di Indonesia dalam satu forum tingkat nasional yang dapat menampung, menghimpun dan mempersatukan pendapat dan pemikiran ulama atau ulama Islam secara keseluruhan.muhammad Atho Muzhar, Fatwa-Fatwa Majelis Ulama Indonesia, sebuah Studi tentang Pemikiran Hukum Islam di Indonesia.Seri INIS XVII (Jakarta: INIS, 1993), h Lihat Thomas Patcrick Hughes, Dictionary of Islam (Cet. III; New Delhi: Cosmo Publications, 1982), h Lihat Lexicon Universal Ensyclopedia.Jilid 12 (New York: Lexicon Publications, 1990), h Ibid. 9 Sesungguhnya rumah yang pertama dibangun untuk tempat ibadah manusia adalah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.lihat QS. 3 (96): QS. 2 ( ). Al-Risalah Volume 10Nomor 1Mei

4 meletakkannya di sudut tenggara bangunan.bangunan itu berbentuk kubus yang dalam bahasa Arab disebut muka ab dan dari kata inilah muncul sebutan Ka bah.ketika itu, Ka bah belum berdaun pintu dan belum ditutupi kain.orang yang pertama membuat daun pintu Ka bah dan menutupinya dengan kain adalah Raja Tubba dari Dinasti Himyar sebelum Islam di Najran. 10 Setelah Nabi Ismail AS wafat, pemeliharaan dipegang oleh keturunannya, lalu diurus oleh Bani Jurhum selama 100 tahun, lalu Bani Khuza ah yang kemudian memperkenalkan penyembahan berhala, Hubal merupakan pemimpin berhala yang terdapat di Ka bah dan disampingnya terdapat sejumlah anak panah yang digunakan kahin untuk meramal. Berhala-berhala itu didatangkan dari Moab atau Mesopotamia (kawasan Irak sekarang).selanjutnya, pemeliharaan Ka bah dipegang oleh kabilah-kabilah Quraisy yang merupakan generasi penerus garis keturunan Nabi Ismail AS. 11 Menjelang kedatangan Islam, Ka bah dipelihara oleh Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad saw. Ia menghiasi pintu Ka bah dengan emas yang ditemukan ketika menggali sumur zam zam. 12 Ka bah sebagai bangunan pusaka purbakala semakin rapuh dimakan waktu, sehingga banyak bagian-bagian temboknya yang retak dan bengkok, apalagi beberapa tahun sebelum bi sah, Mekah dilanda banjir hingga menggenangi Ka bah sehingga meretakkan temboknya.pada saat itu, orang-orang Quraisy berpendapat bahwa perlu diadakan renovasi bangunan Ka bah untuk memelihara kedudukannya sebagai tempat yang suci. Dalam merenovasi bangunan Ka bah, para pemimpin kabilah dan pemuka Quraisy membagi sudut Ka bah menjadi empat bagian dan tiap kabilah mandapat satu sudut yang harus dirombak dan dibangun kembali, ketika peletakan Hajar Aswad mereka berselisih tentang siapa yang akan meletakkannya. Akhirnya mereka menunjuk Muhammad bin Abdullah yang dikenal sebagain al-amin(orang dipercaya) saat itu. 13 Setelah penaklukan kota Mekah, pemeliharaan Ka bah dipegang oleh kaum muslimin dan berhala-berhala yang terdapat disekitarnya dihancurkan kemudian Nabi memerintahkan Bilal mengumandangkan azan di atas Ka bah dan kaum muslimin shalat berjama ah. Inilah awal penetapan arah kiblat kaum muslimin yang kemudian diikuti oleh umat Islam sampai saat ini. b. Ka bah dan Baitul Ma mur Istilah Baiutul Ma mur terdapat dalam al-qur an yang dipahami oleh para ahli tafsir sebagai sebuah rumah di langit ke tujuh yang setiap hari dikunjungi oleh para malaikat sebanyak untuk beribadah dan bertawaf di sana 10 Susiknan Azhari, Ilmu Falak, Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern (Cet. 2; Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2007), h Abdul Aziz Dahlan dkk, Ensiklopedia Hukum Islam. Jilid 3 (Cet. I; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 1997), h Susiknan, op. cit., h Pojok sebelah Utara disebut al-ruknul Irāqi, sebelah Barat disebut al-ruknusyi Syam, sebelah Selatan disebut al-ruknul Yaman, dan sebelah Timur disebut al-ruknul Aswadi karena Hajar Aswad terletak pada pojok ini. Ibid. 164 Al-Risalah Volume 10 Nomor 1 Mei 2010

5 sebagaimana penduduk bumi bertawaf di Ka bah. 14 Demikian pula dengan baitul Ma mur yang merupakan Ka bah bagi penduduk langit ke tujuh. Oleh karena itu, di sana didapatkan Ibrahim as kekasih Allah menyandarkan punggungnya di Baitul Ma mur karena ia telah membanguh Ka bah di bumi dan sudah pasti pahala itu diberikan kepadanya sesuai amal ibadahnya. Setiap langit terdapat bait yang di dalamnya para penghuninya beribadah dan mengerjakan shalat sedangkan yang terdapat di langit dunia di sebut Baitul Izzah. Selain itu, Ka bah yang berada di bumi konon sama dengan Baitul ma mur yang ada di langit sebagaimana diriwayatkan oleh Ali ibn Abbas dalam tafsirnya terhadap QS al-thur ayat 4 tersebut. Di langit Baitul Ma mur konon berada tepat di atas Ka bah dan kesucian dan kemuliannya sama dengan kesucian dan kemulian Ka bah di bumi yang terdapat 70 ribu malaikat yang mengerjakan shalat setiap hari di dalamnya. 15 Mengacu pada keterangan di atas, maka dapat dipahami bahwa melaksanakan shalat di atas pesat maupun di luar angkasa tetap harus menghadap ke arah Barat Laut karena pada hakikatnya Ka bah yang berada di bumi merupakan landasan arah kiblat di bumi dan di udara bahkan luar angkasa sampai ke langit ke tujuh tepatnya di Baitul Ma mur. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak perlu bingung tentang arah kiblat ketika ia berada di atas pesawat maupun di planet lain karena sudah sangat jelas arah kiblat yang ada yaitu Ka bah di bumi menjulang ke Baitul Ma mur di atas langit ke tujuh. c. Pengertian Arah Kiblat Kata al-qiblah terulang sebanyak 4 kali dalam al-qur an. 16 Dari segi bahasa, kata al-qiblah terambil dari akar kata qabala-yaqbalu yang berarti menghadap. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kiblat diartikan arah ke Ka bah di Mekah pada waktu shalat. 17 Dalam Kamus al-munawwir kiblat diartikan sebagai Ka bah, 18 dan dalam Ensiklopedia Hukum Islam, kiblat diartikan sebagai bangunan Ka bah atau arah yang dituju kaum muslimin dalam melaksanakan sebagian ibadah. 19 Ka bah ditetapkan oleh Allah Swt. menjadi kiblat umat Islam ketika hidup dan mati, yaitu waktu shalat menghadap kiblat dan ketika mati dibaringkan dalam kubur menghadap kiblat. Sementara yang dimaksud arah kiblat adalah arah atau jarak terdekat sepanjang lingkaran besar yang melewati kota Makkah (Ka bah) dengan tempat kota yang bersangkutan. Dengan demikian, tidak dibenarkan jika orang Makassar dalam melaksanakann shalat menghadap ke arah Timur serong ke Selatan 14 QS at-thur (52): 4 15 Lihat dalam 95.Muhammad Ilyas Abdul Ghani, Sejarah Makkah.Alih bahasa dari judul asli Taarikh Makkah oleh Anang Rizka Mesyhady (Pakistan: Lahore, 1425 H-2004), h Lihat QS.al-Baqarah:2 ( ), QS. 10:(87), QS. 17 Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, 1989), h Achmad Warson Munawwir, Kamus al-munawwir Arab-Indonesia Terlengkap (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Progressif, 1984), h Azis, loc. cit. Al-Risalah Volume 10Nomor 1Mei

6 sekalipun arahnya tetap sampai ke Makkah jika berpatokan pada bulatnya Bumi. 20 Dengan demikian, kiblat atau Ka bah yang dihadapi ketika melaksanakan shalat terletak di dalam Masjidil Haram Makkah yang menjadi pusat arah umat Islam dalam melaksanakan ibadah. Sekalipun pada awalnya, Nabi ketika shalat menghadap Baitul Maqdis karena kedudukannya yang masih dianggap paling istimewa dan Ka bah di Mekkah masih dikotori dengan banyaknya berhala di sekelilingnya. Pemindahan kiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram tidak boleh dianggap ada perbedaan padahal keduanya sama di sisi Allah Proses Penetapan Fatwa MUI tentang Arah Kiblat Pedoman fatwa MUI ditetapkan dalam surat keputusan MUI nomor U- 596/MUI 1997 yang meliputi dasar-dasar umum penetapan fatwa yaitu didasarkan pada dalil ahkam yang kuat dan membawa kemaslahatan umat serta prosedur penetapan fatwa dan teknik serta kewenangan organisasi dalam penetapan fatwa. Prosedur penetapan fatwa yaitu setiap masalah yang dihadapi MUI dibahas dalam rapat komisi fatwa untuk mengetahui substansi masalah, dalam rapat komisi tersebut dihadirkan ahli yang berkaitan dengan masalah yang akan difatwakan untuk didengarkan pendapatnya untuk dipertimbangkan. Setelah mendengar pendapat ahli, ulama melakukan kajian terhadap pendapat para imam mazhab dan fukaha dengan memperhatikan dalil-dalil yang digunakan dengan berbagai cara istidlāl, jika fukaha memiliki ragam pendapat maka komisi mengadakan pemilihan salah pendapat untuk difatwakan, apabila cara ilhāq dan analogi tidak menghasilkan produk yang memuaskan, komisi dapat melakukan ijtihad jamā i dengan menggunakan al-qawāid al-ushuliyyat dan al-qawāid al-fi liyyat. 22 Salah satu fatwa MUI yang telah melalui proses penetapan berdasarkan ketentuan komisi fatwa adalah fatwa yang terkait kiblat. Fatwa MUI No. 3 Tahun 2010 yang menyatakan bahwa kiblat untuk wilayah hukum Indonesia adalah mengarah ke Barat, sebagai konsekuensi dari pergeseran lempeng Bumi.MUI juga menegaskan bahwa pergeseran tersebut tak mempengaruhi arah kiblat. Untuk itu, umat Islam tak perlu bingung dengan arah kiblat apalagi mengubah bahkan membongkar masjid atau musalah agar mengarah ke kiblat. Dalam diktum fatwa MUI No. 03 Tahun 2010 tentang kiblat tersebut disebutkan bahwa; Pertama, tentang ketentuan hukum. Dalam kententuan hukum tersebut disebutkan bahwa: (1) Kiblat bagi orang shalat dan dapat melihat Ka bah adalah menghadap ke bangunan Ka bah (Ainul Ka bah). (2) Kiblat bagi orang yang shalat dan tidak dapat melihat Ka bah adalah arah Ka bah (Jihad al-ka bah). (3). Letak georafis Indonesia yang berada di bagian Timur Ka bah/mekkah, maka kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap ke arah Barat.Kedua, 20 Khazin, op. cit., h Ali Parman, op, cit., h Jaih Mubarok, Metodologi Ijtihad Hukum Islam (Yogyakarta: UI Press, 2002), h Al-Risalah Volume 10 Nomor 1 Mei 2010

7 rekomendasi.mui merekomendasikan agar bangunan masjid/musalah di Indonesia sepanjang kiblatnya menghadap ke arah Barat, tidak perlu diubah, dibongkar, dan sebagainya. 23 Namun fatwa MUI No. 3 Tahun 2010 mendapat respons dan protes dari kalangangan masyarakat, khususnya golongan Syafi i yang menilai bahwa fatwa MUI No. 3 Tahun 2010 tersebut tidak tepat karena seharusnya arah kiblat menghadap ke Barat laut. Dasar pertimbangannya adalah karena letak Indonesia, maka secara umum kiblat menghadap ke Barat laut bukan ke Barat.Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) No. 3 Tahun 2010 tentang kiblat ternyata masih salah.dalam fatwa itu menyebutkan letak geografis Indonesia yang berada di bagian Timur Makkah sehingga arah kiblat menghadap ke arah barat.padahal, berdasarkan hasil penelitian dari ilmu falak dan astronomi, arah yang ditentukan oleh MUI justru menghadap ke Afrika, Somalia Selatan, Kenya dan Tanzania.Menurut kajian ilmu ini, arah Indonesia tidak persis di Timur Makkah. 24 Arah kiblat yang benar adalah menghadap ke Barat laut dengan kemiringan bervariasi, sesuai letak geografis wilayah tempat masjid berada.pelurusan arah kiblat tidak harus dengan merombak bangunan masjid.melainkan, cukup dengan menyesuaikan garis saf salat dengan kiblat yang benar.karena itu, MUI menghimbau agar semua wilayah di Indonesia harus menyesuaikan arah kiblat sesuai dengan ralat dari fatwa MUI tersebut. Alasannya adalah karena Indonesia terletak tidak di Timur pas arah Ka bah tapi agak ke Selatan, jadi arah kiblat kita juga tidak pas ke Barat tetapi agak sedikit mengarah ke arah Barat laut. 25 Atas dasar ini, maka Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemudian meralat fatwa No. 3 Tahun 2010 dengan dikeluarkannya fatwa No. 5 Tahun 2010 dengan menyebutkan bahwa arah kiblat yang sebelumnya disebutkan menghadap ke Barat kini telah direvisi dengan menghadap ke Barat laut. 3. Telaah para Ahli tentang Penetapan Arah Kiblat MUI Penentuan arah kiblat di Indoensia sangat menentukan karena pergeseran arah kiblat sebesar 1 derajat saja bisa melencengkan arah sekitar 100 km dari titik Ka bah.semakin jauh dari Ka bah, maka lencengan arah kiblat semakin besar.karena itu, sangat diajurkan untuk menetapkan arah kiblat. Namun demikian, Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Hasanudin, mengatakan bahwa perbedaan yang terdapat antara Fatwa MUI No. 3 Tahun 2010 tentang kiblat dan Fatwa MUI No. 5 Tahun 2010 tentang arah kiblat saling menyempurnakan. Hasanudin mengemukakan, fatwa MUI No. 3 Tahun 23 = com_ content&view = article&id=249:muiralat-fatwa-arah-kiblat-salat www. Fatwa MUI, Arah Kiblat. Detickom, Rabu, Al-Risalah Volume 10Nomor 1Mei

8 2010 menyatakan kiblat muslim Indonesia adalah arah Barat sedangkan dalam Fatwa MUI No disempurnakan dengan redaksi: kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap ke Barat laut dengan posisi bervariasi sesuai dengan letak kawasan masing-masing. 26 Lebih lanjut Hasanudin mengatakan, madzhab yang sekarang ada dan dianut tentang arah kiblat tidak salah selama merujuk al-qur an dan hadis. Oleh karena itu masyarakat tidak perlu risau dan saling menyalahkan satu sama lain karena tiap-tiap pendapat memiliki argumen dan dalil masing-masing. Dia menyebutkan misalnya, pendapat yang menyatakan arah kiblat ke Barat adalah Madzhab Hanbali yang berpegang pada teks.selain itu, umat muslim tidak perlu membongkar bangunan masjid agar sesuai dengan arah kiblat, umat Muslim cukup menggeser posisi barisan (saf) shalat sesuai dengan arah kiblat. Tidak perlu mengubah posisi masjid karena terlalu memberatkan. 27 Hal yang sama disampaikan oleh Zulfa Mustofa, Ketua Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama LBM PBNU). Dia memaparkan, perbedaan arah kiblat terletak pada persoalan apakah ditentukan secara persesi (tepat) atau kira-kira. Menurutnya, fatwa MUI No. 5 Tahun 2010 muncul setelah perdebatan panjang yang lantas mengakomodir Madzhab Syafii yang notabene madzhab mayoritas muslim Indonesia. Zulfa menjelaskan, Madzhab Syafii memberlakukan syarat ketepatan dan kehati-hatian dalam upaya penentuan arah kiblat.meskipun tidak secara tepat, ujar dia, setidaknya ada usaha agar sebisa mungkin arah kiblat Indonesia sesuai.namun demikian, dia menegaskan selama arah kiblat tidak melenceng jauh dan bertolak belakang dengan teks al-qur an dan hadis maka shalat yang dilakukan tetap sah. 28 Zulfah menambahkan bahwa yang terpenting adalah tidak terjadi konflik dan saling menghormati pendapat satu sama lain. Di samping itu, dia menghimbau agar tidak perlu menggeser posisi masjid karena secara fisik bangunan masjid tidak ada masalah. Menyikapi perubahan fatwa MUI, Zulfah menyerukan agar umat muslim tidak resah karena tradisi merubah fatwa lumrah terjadi. Dia menyebutkan umat Islam leluasa mengikuti pendapat yang lebih maslahat yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan tidak perlu terjadi konflik antar umat. 29 Pandangan berbeda dikemukakan oleh Ali Mustafa Ya qub imam besar masjid Istiqlal yang menegaskan bahwa pendadat yang kuat bagi orang Indonesia tentang arah kiblat adalah menghadap ke Barat berdasarkan ayat al-qur an dan al-hadis. Dia menuturkan bahwa muslim Indonesia berada di Timur Ka bah sehingga arah kiblat yang benar adalah menghadap ke Barat secara mutlak. Ya qub meminta agar masyarakat Indonesia tidak perlu ragu dan bimbang 26http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/10/07/15/ jangan-berpolemik-sikapi-fatwa-mui-tentang-arah-kiblat. 27 Ibid. 28 Ibid. 29 Ibid. 168 Al-Risalah Volume 10 Nomor 1 Mei 2010

9 tentang sah tidaknya shalat mereka. Menurutnya muslim Indonesia tidak perlu merubuhkan masjid dan membangun kembali agar sesuai dengan arah kiblat karena menggeser arah kiblat tidak diperintahkan dalm Islam dan tidak menjadi suatu kewajiban. 30 Perbedaan pendapat ulama di atas disebabkan oleh adanya sudut pandang yang berbeda dalam memahami ayat dan wilayah hukum Indonesia terhadap posisi Ka bah.karena itu, perlu dikaji kembali kedua kemungkinan pendapat tersebut di atas, apakah posisi Ka bah berada di Barat atau Barat laut.untuk menentukan posisi Indonesia, maka dapat digunakan teknologi Google Earth agar posisi Indonesia terhadap Ka bah dapat ditentukan.selanjutnya, para ahli falak seperti Ali Parman mengatakan bahwa dalam menentukan arah kiblat dapat menggunakan dua sistem yaitu teori sudut dan teori bayangan. 31 Teori sudut adalah penentuan arah kiblat dengan memanfaatkan Utara geografis atau menentukan arah dari tempat tinggal seseorang ke kota Makkah (Ka bah) di permukaan Bumi sama dengan menentukan azimutsudut Ka bah karena arah ukur sepanjang horizon yang memperhitungkan Utara Selatan meredian setempat. 32 Sedangkan teori bayangan ialah menentukan arah kibat yang berpedoman pada posisi matahari. Atau dengan kata lain, pada jam (waktu) tertentu untuk tanggal dan bayangan suatu benda (tongkat misalnya) mengarah ke Ka bah. Ada dua cara yang bisa dilakukan bagi mereka yang menganut teori ini yaitu; Pertama; berpedoman pada posisi matahari yang sedang atau hampir persis berada pada titik zenitka bah yang sangat diperhitungkan adalah deklinasi dan lintang tempat. Secara astronomi, keadaan ini dapat terjadi apabila nilai lintang tenpat sama dengan nilai deklinasi matahari pada saat berkulminasi. Saat matahari berkulminasi di Makkah yang nilai deklinasinya hampir sama dengan nilai lintang tempat Makkah (Ka bah). Deklinasi matahari di Makkah yaitu + 21 o 24 o dan lintangnya 21 o 25 o Jadi hampir sama dan cukup dinilai paling dekat. 33 Kedua; berpedoman pada posisi matahari yang sedang persis berada pada azimut Ka bah. Cara ini dikenal dengan istilah bayangan kiblat, maka benda apasaja yang dapat berdiri tegak lurus mengarah ke kiblat pada hari, tanggal dan jam tertentu.untuk mengetahui jam berapa terjadi bayangan arah kiblat, maka data yang harus dipersiapkan adalah data arah kiblat suatu tempat (Makassar 67 o 30 Ibid. 31 Ali Parman, op. cit., h Azimut atau as-samtu adalah arah yaitu harga suatu sudut untuk matahari atau bulan dihitung sepanjang horizon atau ufuk yang biasanya diukur dari titik Utara ke Timur sampai titik perpotongan antara lingkaran vertikal yang melaewati matahari atau bulan itu dengan lingkaran horizon.khazin, op. cit., h Deklinasi adalah jarak dari suatu benda langit ke equator langit diukur melalui lingkaran waktu dan dihitung dengan derajat,menit dan sekon. Berhubungan dengan itu lingkaran waktu dinamakan pula lingkaran deklinasi. Deklinasi matahari berubah-ubah selama satu tahun tetapi pada tanggal-tanggal yang sama bilangan deklinasi itu kira-kira sama. Sayuti Ali, Ilmu Falak.Ed. 1 (Cet. 1; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1997), h. 11. Al-Risalah Volume 10Nomor 1Mei

10 32 o dari Utara ke Barat), data deklinasi matahari yang bersumber dari Almanak Neutika atau Epemeris, data Bujur tempat (Bt), data Bujur Daerah (BD), data perawa waktu (e), data lintang tempat (P). Tujuan disiapkannya data-data ini adalah untuk mencari pada jam berapa bayangan suatu benda mengarah ke arah Ka bah. Aplikasi teori sudut memiliki kesamaan dengan penetapan arah kiblat yang berbasis aplikasi komputer, yaitu Qibla Lacator yang menggunakan piranti peta digital Google.Qibla Lacator ditemukan oleh seorang peneliti dari Universitas Waterloo di Ontario Canada yang bernama Hammed Zarrabi Zadeh bersama Ibnu Mas ud pada tahun Dengan Qibla Lacator dapat diketahui arah kiblat dari manapun umat berada, cara ini dianggap lebih akurat dan mudah dibanding caracara sebelumnya seperti kompas. Selain Qibla Lacator, aplikasi komputer dengan menggunakan Google Earth lebih praktis karena hanya menentukan titik sudut suatu masjid dengan membuat titik sudut tengah pada Ka bah, maka garis lurus akan menlucurke Ka bah. Berbeda dengan teori bayangan,kemudian dikritik olehthomas Jamaluddin (pakar astronomi dan astrofisika) karena tingkat keakuratannya yang meragukan.sekalipun demikian, penentuan arah kiblat dengan menggunakan bayangan matahari dapat mendekati akurasi jika dilakukan dengan cermat dan tepat waktu, yaitu sekitar tanggal Mei pukul 16:18 WIB dan tanggal Juli pukul 16:27 WIB, saat itu matahari tepat berada di atas Makkah.Pada saat itu, matahari yang tampak pada di seluruh penjuru Bumi dapat dijadikan penunjuk lokasi Ka bah begitu pula bayangan benda tegak pada waktu juga dapat menjadi penentu arah ke kibat karena dalam satu tahun, matahari singgah di Bumi sebanyak dua kali tepat di atas Ka bah yang disebut dengan Istiwa A zām(persinggahan utama). Peristiwa persinggahan utama ini terjadi pada tanggal 28 Mei atau 27 di tahun Kabisat pukul 12:18 waktu Makkah dan 16 Juli atau 15 di tahun Kabisat pukul 12: Selain kedua teori tersebut di atas, menentukan dan mengukur arah kiblat dapat juga dilakukan dengan menggunakan kompas, yaitu kompas transparan, kompas magnet dan kompas kiblat, menggunakan busur derajat, rubu mujayyab, rumus segitiga siku-siku, tongkat istiwa. Hanya saja menentukan arah kiblat dengan menggunakan kompas magnet maupun kompas kiblat hasilnya relatif kasar karena pengaruh grafitasi Bumi dan medan magnet. Sedangkan menentukan arah kiblat dengan menggunakan kompas transparan, rumus segitiga, busur derajat, rubu mujayyab, rumus segitiga, hasilya relatif lebih akurat dibandingkan dengan kompas magnet dan kompas kiblat.sementara menentukan arah kiblat dengan tongkat istiwa (bayang-bayang tongkat) merupakan media yang sangat akurat Ibid. 36 A. Jamil, op. cit., h Al-Risalah Volume 10 Nomor 1 Mei 2010

11 PENUTUP Kesimpulan dari pembahasan di atas adalah sebagai berikut; 1. Kedudukan Ka bah bagi kaum muslimin karena menjadi arah kiblat dalam beribadah 2. Penentuan arah kiblat dalam fatwa MUI didasari oleh adanya pergeseran lempeng Bumi, kemudian menjadi sebab perubahan fatwa MUI 3. Para ahli memandang bahwa penentuan arah kiblat dengan menggunakan teori sudut dan bayangan dikritik oleh pakar astronomi bahwa teori ini tidak akurat. Penetapan dan pengukuran arah kiblat dengan menggunakan teori manual telah lama diterapkan para ahli, para pakar astronomi menawarkan pengukuran arah kiblat dengan menggunakan aplikasi komputer dengan menggunakan piranti Google Earth. Al-Risalah Volume 10Nomor 1Mei

12 DAFTAR PUSTAKA Ali, Sayuti. Ilmu Falak.Ed. 1. Cet. 1; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Azhari, Susiknan. IlmuFalak, Perjumpaan Khazanah Islam dan Sains Modern. Cet. 2; Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, Dahlan, Abdul Aziz dkk.ensiklopedia Hukum Islam.Jilid 3.Cet. I; Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, mui- ralat-fatwa-arah-kiblat-salat nusantara /10/07/15/ jangan-berpolemik-sikapi-fatwa-mui-tentang-arah-kiblat. Hughes, Thomas Patcrick. Dictionary of Islam. Cet. III; New Delhi: Cosmo Publications, Jamil, A. Ilmu Falak (Teori & Aplikasi), Arah Qiblat, Awal Waktu, dan Awal Tahun(Hisab Kontemporer). Cet. 1; Jakarta: Khazin, Muhyiddin Ilmu Falak, dalam Teori dan Praktik. Cet. 2; Yogyakarta: Buana Pustaka, Ghani, Muhammad Ilyas Abdul, Sejarah Makkah. Alih Bahasa Anang Rizka Mesyhadydari judul asli Taarikh Makkah (Pakistan: Lahore, 1425 H Lexicon Universal Ensyclopedia. Jilid 12 (New York: Lexicon Publications, Mubarok, Jaih. Kaidah Fikih, Sejarah dan Kaidah Asasi (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, Mubarok,Metodologi Ijtihad Hukum Islam. Yogyakarta: UI Press, Muh. Zuhri, Hukum Islam dalam Lintasan Sejarah (Jakarta: Raja Grafindo Persada, Munawwir, Achmad Warson. Kamus al-munawwir Arab-Indonesia Terlengkap. Cet.I; Yogyakarta: Pustaka Progressif, Muzhar, Muhammad Atho. Fatwa-Fatwa Majelis Ulama Indonesia, sebuah Studi tentang Pemikiran Hukum Islam di Indonesia. Seri INIS XVII. Jakarta: INIS,1993. Parman, Ali. Ilmu Falak.tt: Tp, Shihab, Quraish. Membumikan al-qur an.bandung: Mizan TIM.Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, 1989), h Al-Risalah Volume 10 Nomor 1 Mei 2010

METODE PENGUKURAN ARAH KIBLAT DENGAN SEGITIGA SIKU-SIKU DARI BAYANGAN MATAHARI SETIAP SAAT

METODE PENGUKURAN ARAH KIBLAT DENGAN SEGITIGA SIKU-SIKU DARI BAYANGAN MATAHARI SETIAP SAAT METODE PENGUKURAN ARAH KIBLAT DENGAN SEGITIGA SIKU-SIKU DARI BAYANGAN MATAHARI SETIAP SAAT SINOPSIS Disusun oleh: Slamet Hambali. 085112075 PROGRAM MAGISTR INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) WALISONGO

Lebih terperinci

Cara Mudah Penentuan Arah Kiblat

Cara Mudah Penentuan Arah Kiblat Cara Mudah Penentuan Arah Kiblat * Disampaikan dalam acara Pelatihan Pengukuran Arah Kiblat di FIP UNNES, mangayubagya rehab bangunan musholla FIP UNNES 17/09/2014 Kiblat ke Kabah Posisi Indonesia Pengalaman

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pentingnya menentukan arah Kiblat ketika hendak melaksanakan shalat. Bagi

BAB I PENDAHULUAN. pentingnya menentukan arah Kiblat ketika hendak melaksanakan shalat. Bagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pentingnya mengetahui posisi letak Ka bah sama saja dengan pentingnya menentukan arah Kiblat ketika hendak melaksanakan shalat. Bagi umat Islam mengetahui letak/posisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Arah kiblat merupakan arah yang dituju oleh umat Islam dalam

BAB I PENDAHULUAN. Arah kiblat merupakan arah yang dituju oleh umat Islam dalam BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang masalah Arah kiblat merupakan arah yang dituju oleh umat Islam dalam melaksanakan ibadah khususnya shalat, yaitu menghadap ke arah ka bah di Masjidil Haram. Kata Arah

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. menghadap ke bangunan Ka bah, shalatnya tidak sah. Sedangkan orang. perbedaan pendapat, adapun pendapat itu adalah :

BAB V PENUTUP. menghadap ke bangunan Ka bah, shalatnya tidak sah. Sedangkan orang. perbedaan pendapat, adapun pendapat itu adalah : BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan pembahasan di atas, dapat penulis simpulkan beberapa inti permasalahan ini sebagai berikut : 1. Para ulama madzhab sepakat bahwa orang yang melihat bangunan Ka bah

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS TERHADAP PENENTUAN ARAH KIBLAT MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON. A. Pengecekan Arah Kiblat Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon

BAB IV ANALISIS TERHADAP PENENTUAN ARAH KIBLAT MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON. A. Pengecekan Arah Kiblat Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon BAB IV ANALISIS TERHADAP PENENTUAN ARAH KIBLAT MASJID AGUNG SANG CIPTA RASA CIREBON A. Pengecekan Arah Kiblat Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon Dalam menganalisa arah kiblat Masjid Agung Sang Cipta

Lebih terperinci

BAB V PENUTUP. penulis akan menyimpulkan sebagai jawaban dari beberapa pokok-pokok

BAB V PENUTUP. penulis akan menyimpulkan sebagai jawaban dari beberapa pokok-pokok 102 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan dan analisis dari beberapa bab terdahulu, maka penulis akan menyimpulkan sebagai jawaban dari beberapa pokok-pokok permasalahan yaitu sebagai berikut

Lebih terperinci

KAIDAH FIQHIYAH. Pendahuluan

KAIDAH FIQHIYAH. Pendahuluan KAIDAH FIQHIYAH Pendahuluan Jika dikaitkan dengan kaidah-kaidah ushulliyah yang merupakan pedoman dalam mengali hukum islam yang berasal dari sumbernya, Al-Qur an dan Hadits, kaidah FIQHIYAH merupakan

Lebih terperinci

BAB II HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN ARAH KIBLAT

BAB II HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN ARAH KIBLAT 9 BAB II HAL-HAL YANG BERHUBUNGAN DENGAN ARAH KIBLAT A. Lingkaran Besar (Great Circle) dan Lingkaran Kecil (Small circle). Pada dasarnya bola bumi terbentuk oleh dua macam lingkaran, yaitu lingkaran besar

Lebih terperinci

PENENTUAN ARAH QIBLAT

PENENTUAN ARAH QIBLAT PENENTUAN ARAH QIBLAT (Kajian Terhadap Fatwa MUI Nomor 5 Tahun 2010) Nama : Julia Roma Fitriati NIM : 110 606 974 Fakultas/Jurusan : Syari ah Ahwal Asy-Syakhshiyyah Tebal Skripsi : 71 Halaman Pembimbing

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS FORMULA PENENTUAN ARAH KIBLAT DENGAN THEODOLIT DALAM BUKU EPHEMERIS HISAB RUKYAT 2013

BAB IV ANALISIS FORMULA PENENTUAN ARAH KIBLAT DENGAN THEODOLIT DALAM BUKU EPHEMERIS HISAB RUKYAT 2013 BAB IV ANALISIS FORMULA PENENTUAN ARAH KIBLAT DENGAN THEODOLIT DALAM BUKU EPHEMERIS HISAB RUKYAT 2013 A. Konsep Penentuan Arah Kiblat Dengan Theodolit Dalam Buku Ephemeris Hisab Rukyat 2013 Konsep penentuan

Lebih terperinci

HUKUM DAN HAM DALAM ISLAM

HUKUM DAN HAM DALAM ISLAM HUKUM DAN HAM DALAM ISLAM KELOMPOK 3B : Aria Trimadya 10510016 Hardany Triasmanto 10510020 Diar Luthfi Hawari 10510027 Shendy Arya 10510049 Achmad Noufal 10510058 Muhammad Reza 10510066 Peta Konsep ISLAM

Lebih terperinci

SEGITIGA BOLA DAN ARAH KIBLAT

SEGITIGA BOLA DAN ARAH KIBLAT SEGITIGA BOLA DAN ARAH KIBLAT Pengetahuan tentang arah kiblat yang benar sangat penting bagi ummat Islam. Ketika ummat Islam malaksanakan ibadah shalat, terdapat sebuah kewajiban untuk menghadap kiblat

Lebih terperinci

Salman Alfarisy, Lc.* Sekretaris Asia Pacific Community for Palestine

Salman Alfarisy, Lc.* Sekretaris Asia Pacific Community for Palestine KEUTAMAAN TANAH YANG DIBERKAHI Salman Alfarisy, Lc.* Sekretaris Asia Pacific Community for Palestine http://www.aspacpalestine.com PENDAHULUAN Tanah yang terdapat di dalamnya Baitul Maqdis mempunyai banyak

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PENGGUNAAN DAN AKURASI BENCET DI PONDOK PESANTREN AL-MAHFUDZ SEBLAK DIWEK JOMBANG SEBAGAI PENUNJUK WAKTU SALAT

BAB IV ANALISIS PENGGUNAAN DAN AKURASI BENCET DI PONDOK PESANTREN AL-MAHFUDZ SEBLAK DIWEK JOMBANG SEBAGAI PENUNJUK WAKTU SALAT BAB IV ANALISIS PENGGUNAAN DAN AKURASI BENCET DI PONDOK PESANTREN AL-MAHFUDZ SEBLAK DIWEK JOMBANG SEBAGAI PENUNJUK WAKTU SALAT A. Analisis Bencet di Pondok Pesantren Al-Mahfudz Seblak Diwek Jombang. 1.

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS KOMPARASI ISTIWAAINI KARYA SLAMET HAMBALI SEBAGAI PENENTU ARAH KIBLAT DENGAN THEODOLIT

BAB IV ANALISIS KOMPARASI ISTIWAAINI KARYA SLAMET HAMBALI SEBAGAI PENENTU ARAH KIBLAT DENGAN THEODOLIT BAB IV ANALISIS KOMPARASI ISTIWAAINI KARYA SLAMET HAMBALI SEBAGAI PENENTU ARAH KIBLAT DENGAN THEODOLIT A. Analisis Istiwaaini Dalam Penentuan Arah Kiblat Slamet Hambali menjelaskan bahwa Istiwaaini adalah

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS SISTEM HISAB AWAL BULAN QAMARIAH DR. ING. KHAFID DALAM PROGRAM MAWAAQIT. A. Analisis terhadap Metode Hisab Awal Bulan Qamariah dalam

BAB IV ANALISIS SISTEM HISAB AWAL BULAN QAMARIAH DR. ING. KHAFID DALAM PROGRAM MAWAAQIT. A. Analisis terhadap Metode Hisab Awal Bulan Qamariah dalam 82 BAB IV ANALISIS SISTEM HISAB AWAL BULAN QAMARIAH DR. ING. KHAFID DALAM PROGRAM MAWAAQIT A. Analisis terhadap Metode Hisab Awal Bulan Qamariah dalam Program Mawaaqit Mawaaqit merupakan salah satu contoh

Lebih terperinci

PEDOMAN DAN PERHITUNGAN PENGUKURAN ARAH QIBLAT DI LAPANGAN

PEDOMAN DAN PERHITUNGAN PENGUKURAN ARAH QIBLAT DI LAPANGAN HISAB FALAK : PERHITUNGAN DAN PENGUKURAN ARAH QIBLAT A. Pengertian Qiblat Menurut Syara PEDOMAN DAN PERHITUNGAN PENGUKURAN ARAH QIBLAT DI LAPANGAN Oleh : Drs. Chairul Zen S., al-falaky (Tenaga Ahli Hisab

Lebih terperinci

Tauhid untuk Anak. Tingkat 1. Oleh: Dr. Saleh As-Saleh. Alih bahasa: Ummu Abdullah. Muraja ah: Andy AbuThalib Al-Atsary. Desain Sampul: Ummu Zaidaan

Tauhid untuk Anak. Tingkat 1. Oleh: Dr. Saleh As-Saleh. Alih bahasa: Ummu Abdullah. Muraja ah: Andy AbuThalib Al-Atsary. Desain Sampul: Ummu Zaidaan Tauhid untuk Anak Tingkat 1 Oleh: Dr. Saleh As-Saleh Alih bahasa: Ummu Abdullah Muraja ah: Andy AbuThalib Al-Atsary Desain Sampul: Ummu Zaidaan Sumber: www.understand-islam.net Disebarluaskan melalui:

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS SISTEM HISAB AWAL WAKTU SALAT PROGRAM MAWAAQIT VERSI A. Analisis Sistem Hisab Awal Waktu Salat Program Mawaaqit Versi 2001

BAB IV ANALISIS SISTEM HISAB AWAL WAKTU SALAT PROGRAM MAWAAQIT VERSI A. Analisis Sistem Hisab Awal Waktu Salat Program Mawaaqit Versi 2001 BAB IV ANALISIS SISTEM HISAB AWAL WAKTU SALAT PROGRAM MAWAAQIT VERSI 2001 A. Analisis Sistem Hisab Awal Waktu Salat Program Mawaaqit Versi 2001 Sistem hisab waktu salat di Indonesia sangat beragam dan

Lebih terperinci

www.fiqhindonesia.com

www.fiqhindonesia.com 1 248 Daftar Bahasan Kota Makkah dalam Lintasan Sejarah Keutamaan Kota Makkah Beberapa Hukum Berkaitan Dengan Kota Makkah Rangkaian Ibadah Definisi-Definisi Dasar dalam Kota Makkah Merupakan pecahan kata

Lebih terperinci

APLIKASI SEGITIGA BOLA DALAM RUMUS-RUMUS HISAB RUKYAT

APLIKASI SEGITIGA BOLA DALAM RUMUS-RUMUS HISAB RUKYAT APLIKASI SEGITIGA BOLA DALAM RUMUS-RUMUS HISAB RUKYAT Disampaikan pada : Kegiatan Pembinaan dan Orientasi Hisab Rukyat Hisab dan Rukyat di Lingkungan PA/MA Direktorat Pranata dan Tata Laksana Perkara Perdata

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 17 Tahun 2013 Tentang BERISTRI LEBIH DARI EMPAT DALAM WAKTU BERSAMAAN

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 17 Tahun 2013 Tentang BERISTRI LEBIH DARI EMPAT DALAM WAKTU BERSAMAAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 17 Tahun 2013 Tentang BERISTRI LEBIH DARI EMPAT DALAM WAKTU BERSAMAAN (MUI), setelah : MENIMBANG : a. bahwa dalam Islam, pernikahan adalah merupakan bentuk ibadah yang

Lebih terperinci

Bab 37 Hendaknya Yang Hadir Menyampaikan Ilmu kepada Yang Tidak Hadir Ini adalah perkataan Nabi yang dinukil Ibnu Abbas

Bab 37 Hendaknya Yang Hadir Menyampaikan Ilmu kepada Yang Tidak Hadir Ini adalah perkataan Nabi yang dinukil Ibnu Abbas - - 37 - Bab 37 Hendaknya Yang Hadir Menyampaikan Ilmu kepada Yang Tidak Hadir Ini adalah perkataan Nabi yang dinukil Ibnu Abbas Penjelasan : Berbagai macam cara telah ditunjukkan syariat didalam proses

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN HISAB ARAH KIBLAT KH. NOOR AHMAD SS DALAM KITAB SYAWAARIQUL ANWAAR

BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN HISAB ARAH KIBLAT KH. NOOR AHMAD SS DALAM KITAB SYAWAARIQUL ANWAAR BAB IV ANALISIS PEMIKIRAN HISAB ARAH KIBLAT KH. NOOR AHMAD SS DALAM KITAB SYAWAARIQUL ANWAAR A. Analisis metode hisab arah kiblat KH. Noor Ahmad SS dalam kitab Syawaariqul Anwaar. Rasa keingintahuan manusia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kewajiban umat Islam untuk melaksanakan shalat, rukun kedua dari agama

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Kewajiban umat Islam untuk melaksanakan shalat, rukun kedua dari agama BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Kewajiban umat Islam untuk melaksanakan shalat, rukun kedua dari agama Islam, memberikan pengaruh yang kuat terhadap masjid sebagai bentuk arsitektur Islam yang

Lebih terperinci

Mazhab menurut bahasa: isim makan (kata benda keterangan tempat) dari akar kata dzahab (pergi) (Al-Bakri, I ânah ath- Thalibin, I/12).

Mazhab menurut bahasa: isim makan (kata benda keterangan tempat) dari akar kata dzahab (pergi) (Al-Bakri, I ânah ath- Thalibin, I/12). Mazhab menurut bahasa: isim makan (kata benda keterangan tempat) dari akar kata dzahab (pergi) (Al-Bakri, I ânah ath- Thalibin, I/12). Jadi, mazhab itu secara bahasa artinya, tempat pergi, yaitu jalan

Lebih terperinci

Definisi Khutbah Jumat

Definisi Khutbah Jumat Definisi Khutbah Jumat 1. Definisi khotbah Definisi secara bahasa Khotbah, secara bahasa, adalah 'perkataan yang disampaikan di atas mimbar'. Adapun kata khitbah yang seakar dengan kata khotbah (dalam

Lebih terperinci

Khutbah Jum'at. Isra' Mi'raj. Bersama Dakwah 1

Khutbah Jum'at. Isra' Mi'raj. Bersama Dakwah 1 Bersama Dakwah 1 KHUTBAH PERTAMA * Hari ini kita telah melewati pertengahan Rajab Beberapa hari lagi kita bertemu dengan 27 Rajab, yang oleh sebagian besar muslim di Indonesia diyakini sebagai tanggal

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 14 Tahun 2011 Tentang PENYALURAN HARTA ZAKAT DALAM BENTUK ASET KELOLAAN

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 14 Tahun 2011 Tentang PENYALURAN HARTA ZAKAT DALAM BENTUK ASET KELOLAAN FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 14 Tahun 2011 Tentang PENYALURAN HARTA ZAKAT DALAM BENTUK ASET KELOLAAN (MUI), setelah : MENIMBANG : a. bahwa perkembangan masyarakat telah mendorong munculnya perkembangan

Lebih terperinci

A. Analisis Fungsi dan Kedudukan Deklinasi Bulan dan Lintang Tempat dalam menghitung Ketinggian Hilal menurut Kitab Sullam an-nayyirain

A. Analisis Fungsi dan Kedudukan Deklinasi Bulan dan Lintang Tempat dalam menghitung Ketinggian Hilal menurut Kitab Sullam an-nayyirain BAB IV ANALISIS FUNGSI DAN KEDUDUKAN DEKLINASI BULAN DAN LINTANG TEMPAT DALAM MENGHITUNG KETINGGIAN HILAL DALAM KITAB SULLAM AN-NAYYIRAIN DAN ALMANAK NAUTIKA A. Analisis Fungsi dan Kedudukan Deklinasi

Lebih terperinci

Oleh: Hafidz Abdurrahman

Oleh: Hafidz Abdurrahman Oleh: Hafidz Abdurrahman Ramadhan adalah bulan suci, yang penuh berkah Amal shalih yang dilaksanakan di dalamnya pun dilipatgandakan pahalanya oleh Allah SWT Tanggal 17 Ramadhan tahun pertama kenabian,

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 23 Tahun 2012 Tentang MENYEMIR RAMBUT

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 23 Tahun 2012 Tentang MENYEMIR RAMBUT FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 23 Tahun 2012 Tentang MENYEMIR RAMBUT (MUI) setelah : MENIMBANG : a. bahwa praktik menyemir rambut yang sudah sejak lama dikenal masyarakat pada akhir-akhir ini kembali

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS FATWA MUI NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG KIBLAT (Kiblat Umat Islam Indonesia Menghadap ke Arah Barat)

BAB IV ANALISIS FATWA MUI NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG KIBLAT (Kiblat Umat Islam Indonesia Menghadap ke Arah Barat) BAB IV ANALISIS FATWA MUI NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG KIBLAT (Kiblat Umat Islam Indonesia Menghadap ke Arah Barat) A. Latar Belakang Dikeluarkan Fatwa MUI Nomor 03 Tahun 2010 Tentang Arah Kiblat Indonesia

Lebih terperinci

ARAH KIBLAT DAN PENGUKURANNYA Muh. Ma rufin Sudibyo Diklat Astronomi Islam MGMP MIPA-PAI PPMI Assalaam, Kamis, 20 Oktober 2011

ARAH KIBLAT DAN PENGUKURANNYA Muh. Ma rufin Sudibyo Diklat Astronomi Islam MGMP MIPA-PAI PPMI Assalaam, Kamis, 20 Oktober 2011 ARAH KIBLAT DAN PENGUKURANNYA Muh. Ma rufin Sudibyo Diklat Astronomi Islam MGMP MIPA-PAI PPMI Assalaam, Kamis, 0 Oktober 0. Kiblat Kiblat berasal dari kata Arab al qiblah yang sama maknanya dengan al jihah,

Lebih terperinci

IMKAN RUKYAT: PARAMETER PENAMPAKAN SABIT HILAL DAN RAGAM KRITERIANYA (MENUJU PENYATUAN KALENDER ISLAM DI INDONESIA)

IMKAN RUKYAT: PARAMETER PENAMPAKAN SABIT HILAL DAN RAGAM KRITERIANYA (MENUJU PENYATUAN KALENDER ISLAM DI INDONESIA) IMKAN RUKYAT: PARAMETER PENAMPAKAN SABIT HILAL DAN RAGAM KRITERIANYA (MENUJU PENYATUAN KALENDER ISLAM DI INDONESIA) T. Djamaluddin Peneliti Utama Astronomi dan Astrofisika, LAPAN Bandung Alhamdulillah,

Lebih terperinci

PENGGUNAAN BULU, RAMBUT DAN TANDUK DARI HEWAN HALAL YANG TIDAK DISEMBELIH SECARA SYAR I UNTUK BAHAN PANGAN, OBAT-OBATAN DAN KOSMETIKA

PENGGUNAAN BULU, RAMBUT DAN TANDUK DARI HEWAN HALAL YANG TIDAK DISEMBELIH SECARA SYAR I UNTUK BAHAN PANGAN, OBAT-OBATAN DAN KOSMETIKA FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 47 Tahun 2012 Tentang PENGGUNAAN BULU, RAMBUT DAN TANDUK DARI HEWAN HALAL YANG TIDAK DISEMBELIH SECARA SYAR I UNTUK BAHAN PANGAN, OBAT-OBATAN DAN KOSMETIKA (MUI), setelah

Lebih terperinci

KISI-KISI SOAL UAMBN MADRASAH ALIYAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012

KISI-KISI SOAL UAMBN MADRASAH ALIYAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012 KISI-KISI SOAL UAMBN MADRASAH ALIYAH TAHUN PELAJARAN 2011/2012 Satuan Pendidikan : Madrasah Aliyah (IPA/IPS/BHS) Bentuk Soal : Pilihan Ganda Mata Pelajaran : Sejarah Kebudayaan Islam Jumlah Soal : 50 Butir

Lebih terperinci

VERIFIKASI FATWA MUI NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG ARAH KIBLAT. Agus Yusrun Nafi

VERIFIKASI FATWA MUI NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG ARAH KIBLAT. Agus Yusrun Nafi VERIFIKASI FATWA MUI NOMOR 03 TAHUN 2010 TENTANG ARAH KIBLAT Agus Yusrun Nafi Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Pati Jl. Kampus Raya No. 5 Margorejo Kab. Pati Email: m_agusyusrunnf29@yahoo.com Abstrak

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HEDGING TERHADAP KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK-BBM DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

BAB IV ANALISIS HEDGING TERHADAP KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK-BBM DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM BAB IV ANALISIS HEDGING TERHADAP KENAIKAN HARGA BAHAN BAKAR MINYAK-BBM DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Analisis Hedging Terhadap Dampak Kenaikan Harga BBM Ditinjau Dari Hukum Islam. Sebagaimana dijelaskan

Lebih terperinci

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBLE

CORPORATE SOCIAL RESPONSIBLE CORPORATE SOCIAL RESPONSIBLE LAPORAN PENENTUAN ARAH KIBLAT MASJID SYUHADA PERUMAHAN BEJI PERMAI, DEPOK PT. Mahakarya Geo Survey DAFTAR ISI DAFTAR ISI... 1 DAFTAR GAMBAR... 2 DAFTAR TABEL... 2 1. PENDAHULUAN...

Lebih terperinci

SISTEM KOORDINAT GEOGRAFIK

SISTEM KOORDINAT GEOGRAFIK SISTEM KOORDINAT GEOGRAFIK Oleh: Ir. Djawahir, M.Sc Untuk mengidentifikasi posisi titik di bumi atau yang terkait dengan bumi, dikembangkanlah Sistem Koordinat Geografik dengan mendefinisikan bentuk bumi

Lebih terperinci

Disebarluaskan melalui: website: TIDAK untuk tujuan KOMERSIL

Disebarluaskan melalui: website:    TIDAK untuk tujuan KOMERSIL Judul Penyusun Lay out : Ayo Shalat Bersamaku : Ummu Abdillah al-buthoniyyah : MRM Graph Disebarluaskan melalui: website: http://www.raudhatulmuhibbin.org e-mail: redaksi@raudhatulmuhibbin.org TIDAK untuk

Lebih terperinci

Disebarluaskan melalui: website: TIDAK untuk tujuan KOMERSIL

Disebarluaskan melalui: website:    TIDAK untuk tujuan KOMERSIL Judul Penyusun Lay out : Ayo Shalat Bersamaku : Ummu Abdillah al-buthoniyyah : MRM Graph Disebarluaskan melalui: website: http://www.raudhatulmuhibbin.org e-mail: redaksi@raudhatulmuhibbin.org TIDAK untuk

Lebih terperinci

Anuraga Jayanegara Tanda-tanda kiamat Tanda-tanda kiamat

Anuraga Jayanegara Tanda-tanda kiamat Tanda-tanda kiamat Tanda-tanda kiamat Sesungguhnya setiap makhluk hidup apakah itu manusia, hewan, atau tumbuh-tumbuhan memiliki tanda-tanda dari akhir kesudahan hidupnya di dunia. Tanda-tanda dekatnya kematian manusia adalah

Lebih terperinci

SUJUD SAHWI Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin

SUJUD SAHWI Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin Pendahuluan SUJUD SAHWI Syaikh Muhammad bin Shalih Al- Utsaimin Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad yang telah menyampaikan risalah dengan

Lebih terperinci

PANDANGAN AL-SHAWKÂNÎ TERHADAP MASLAHAH MURSALAH (Kajian Kitab Irshâd al-fuhûl Ilâ Tahqîq Al-Haqq Min Ilm Al-Usûl)

PANDANGAN AL-SHAWKÂNÎ TERHADAP MASLAHAH MURSALAH (Kajian Kitab Irshâd al-fuhûl Ilâ Tahqîq Al-Haqq Min Ilm Al-Usûl) PANDANGAN AL-SHAWKÂNÎ TERHADAP MASLAHAH MURSALAH (Kajian Kitab Irshâd al-fuhûl Ilâ Tahqîq Al-Haqq Min Ilm Al-Usûl) SKRIPSI Diajukan untuk melengkapi sebagian syarat-syarat guna memperoleh gelar sarjana

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 8 Tahun 2011 Tentang AMIL ZAKAT

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 8 Tahun 2011 Tentang AMIL ZAKAT FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 8 Tahun 2011 Tentang AMIL ZAKAT (MUI), setelah : MENIMBANG : a. bahwa kesadaran keagamaan masyarakat telah mendorong peningkatan jumlah pembayar zakat, yang kemudian

Lebih terperinci

MEMILIH PEMIMPIN YANG BENAR PERSPEKTIF ISLAM Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag.

MEMILIH PEMIMPIN YANG BENAR PERSPEKTIF ISLAM Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. MEMILIH PEMIMPIN YANG BENAR PERSPEKTIF ISLAM Oleh: Dr. Marzuki, M.Ag. Islam adalah sebuah totalitas yang padu yang menawarkan pemecahan terhadap semua masalah kehidupan. Sebagai agama rahmatan lil alamin

Lebih terperinci

Shalat Gerhana Bulan Penumbral Tidak Disunnatkan

Shalat Gerhana Bulan Penumbral Tidak Disunnatkan Shalat Gerhana Bulan Penumbral Tidak Disunnatkan Minggu, 20-03-2016 Rama March 19, 2016 Di kalender Muhammadiyah dinyatakan bahwa pada tanggal 23 Maret yang akan datang akan terjadi gerhana bulan penumbral.

Lebih terperinci

Nabi dan para sahabat menjadikan bulan ini bulan meraih kemuliaan tertinggi. Tidak sekadar memperbaiki diri sendiri.

Nabi dan para sahabat menjadikan bulan ini bulan meraih kemuliaan tertinggi. Tidak sekadar memperbaiki diri sendiri. Nabi dan para sahabat menjadikan bulan ini bulan meraih kemuliaan tertinggi. Tidak sekadar memperbaiki diri sendiri. Secara logika, badan orang berpuasa akan jauh lebih lemah dibandingkan dengan yang tidak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN menyebabkan banyak bank yang menjalankan prinsip syariah. Perbankan

BAB I PENDAHULUAN menyebabkan banyak bank yang menjalankan prinsip syariah. Perbankan BAB I PENDAHULUAN A. Konteks Penelitian Sejak dikeluarkannya fatwa bunga bank haram dari MUI pada tahun 2003 menyebabkan banyak bank yang menjalankan prinsip syariah. Perbankan syari ah merupakan lembaga

Lebih terperinci

KONSEP RIBA SESI III ACHMAD ZAKY

KONSEP RIBA SESI III ACHMAD ZAKY KONSEP RIBA SESI III ACHMAD ZAKY Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan rizki-mu yang halal dari rizki-mu yang haram dan cukupkanlah diriku dengan keutamaan-mu dari selain-mu. (HR. At-Tirmidzi dalam Kitabud

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. lain. Kegiatan yang lebih banyak dan efektif ialah jual beli. Disamping sebagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. lain. Kegiatan yang lebih banyak dan efektif ialah jual beli. Disamping sebagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak terlepas dari kegiatan muamalat, dimana sangat banyak sarana yang dapat dilakukan orang untuk mendapatkan rezeki,

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. Berdasarkan laporan hasil penelitian yang diuraikan pada BAB IV terlebih di

BAB V PEMBAHASAN. Berdasarkan laporan hasil penelitian yang diuraikan pada BAB IV terlebih di BAB V PEMBAHASAN A. Analisis Data Berdasarkan laporan hasil penelitian yang diuraikan pada BAB IV terlebih di atas dapat diketahui dengan jelas gambaran tentang program dan peran MUI Kabupaten HSS dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Arah kiblat adalah arah terdekat menuju Ka bah (al-masjid al-haram)

BAB I PENDAHULUAN. Arah kiblat adalah arah terdekat menuju Ka bah (al-masjid al-haram) BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Arah kiblat adalah arah terdekat menuju Ka bah (al-masjid al-haram) melalui lingkaran besar (great circle) bola bumi (Hambali, 2010:8), yang dilakukan oleh kaum

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 41 Tahun 2011 Tentang PENYEMBELIHAN HEWAN DAM ATAS HAJI TAMATTU DI LUAR TANAH HARAM

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 41 Tahun 2011 Tentang PENYEMBELIHAN HEWAN DAM ATAS HAJI TAMATTU DI LUAR TANAH HARAM FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 41 Tahun 2011 Tentang PENYEMBELIHAN HEWAN DAM ATAS HAJI TAMATTU DI LUAR TANAH HARAM (MUI), setelah : MENIMBANG : a. bahwa sesuai dengan program yang telah ditetapkan

Lebih terperinci

FATWA-FATWA LEMBAGA TETAP UNTUK RISET ILMIAH DAN FATWA, KERAJAAN SAUDI ARABIA :

FATWA-FATWA LEMBAGA TETAP UNTUK RISET ILMIAH DAN FATWA, KERAJAAN SAUDI ARABIA : @ @@ @ @ @ @ @ @ @õbnï aë@òîàüèûa@tìzjüû@òàöa Ûa@òävÜÛa@ôëbnÏ @ @òí ìè Ûa@òîi ÈÛa@òØÜà¾a ( ) FATWA-FATWA LEMBAGA TETAP UNTUK RISET ILMIAH DAN FATWA, KERAJAAN SAUDI ARABIA : 1. Shalat di masjid yang terdapat

Lebih terperinci

Prosiding Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika (SNFPF) Ke Volume 6 Nomor ISSN :

Prosiding Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika (SNFPF) Ke Volume 6 Nomor ISSN : Prsiding Seminar Nasinal Fisika dan Pendidikan Fisika (SNFPF) Ke-6 2015 35 Vlume 6 Nmr 1 2015 ISSN : 2302-7827 PENENTUAN ARAH KIBLAT DENGAN METODE SEGITIGA BOLA Suci Nvira Aditiani 1, Dyah Fitriana Masithh

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Paparan Data Masjid Ulul Albab (UIN) Maulana Malik Ibrahim

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. A. Paparan Data Masjid Ulul Albab (UIN) Maulana Malik Ibrahim BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Paparan Data Masjid Ulul Albab (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Di sejumlah perguruan tinggi umum, masjid menjadi alternatif pilihan untuk mengisi waktu di luar

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 09 Tahun 2014 Tentang JUAL BELI TANAH UNTUK KUBURAN DAN BISNIS LAHAN KUBURAN MEWAH

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 09 Tahun 2014 Tentang JUAL BELI TANAH UNTUK KUBURAN DAN BISNIS LAHAN KUBURAN MEWAH FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 09 Tahun 2014 Tentang JUAL BELI TANAH UNTUK KUBURAN DAN BISNIS LAHAN KUBURAN MEWAH (MUI), setelah : MENIMBANG : a. bahwa dewasa ini mulai banyak berkembang usaha properti

Lebih terperinci

SEBAB-SEBAB PARA ULAMA BERBEDA PENDAPAT. (Dirangkum dari kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Raf ul Malaam an Aimatil A laam )

SEBAB-SEBAB PARA ULAMA BERBEDA PENDAPAT. (Dirangkum dari kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Raf ul Malaam an Aimatil A laam ) SEBAB-SEBAB PARA ULAMA BERBEDA PENDAPAT (Dirangkum dari kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Raf ul Malaam an Aimatil A laam ) I. Mukadimah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rohimahulloh berkata : - - :...

Lebih terperinci

BAGI ORANG MUSLIM, SHOLAT SEBAGAI KEWAJIBAN ATAUKAH KEBUTUHAN?

BAGI ORANG MUSLIM, SHOLAT SEBAGAI KEWAJIBAN ATAUKAH KEBUTUHAN? BAGI ORANG MUSLIM, SHOLAT SEBAGAI KEWAJIBAN ATAUKAH KEBUTUHAN? Assalamu alaikum wr. wb. Pertama-tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhannahu wa Ta'ala yang telah menjadikan kita

Lebih terperinci

Menggapai Ridha Allah dengan Birrul Wâlidain. Oleh: Muhsin Hariyanto

Menggapai Ridha Allah dengan Birrul Wâlidain. Oleh: Muhsin Hariyanto Menggapai Ridha Allah dengan Birrul Wâlidain Oleh: Muhsin Hariyanto AL-BAIHAQI, dalam kitab Syu ab al-îmân, mengutip hadis Nabi s.a.w. yang diriwayatkan oleh Abdullah ibn Amr ibn al- Ash: Ridha Allah bergantung

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN PARADIGMA

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN PARADIGMA II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN PARADIGMA A. Tinjauan Pustaka. 1. Konsep Proses. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, proses memiliki arti antara lain runtunan perubahan ( peristiwa ), perkembangan

Lebih terperinci

c. QS. al-ma idah [5]: 6: 78.9&:;8&<,-.,, &DEF2 4A0.0BC 78#1 #F7"; 1, 4&G5)42 # % J5#,#;52 #HI Hai orang yang beriman, janganlah ke

c. QS. al-ma idah [5]: 6: 78.9&:;8&<,-.,, &DEF2 4A0.0BC 78#1 #F7; 1, 4&G5)42 # % J5#,#;52 #HI Hai orang yang beriman, janganlah ke FATWA DEWAN SYARIAH NASIONAL NO. 47/DSN-MUI/II/2005 Tentang PENYELESAIAN PIUTANG MURABAHAH BAGI NASABAH TIDAK MAMPU MEMBAYAR Dewan Syariah Nasional setelah, Menimbang : a. bahwa sistem pembayaran dalam

Lebih terperinci

3 Syarat-Syarat Sahnya Shalat 84 Daftar Bahasan Masuknya waktu shalat Bersih dan suci dari hadats Pakaian dan badan yang suci Menutup aurat Menghadap kiblat Pertama. Masuknya waktu shalat Shalat wajib

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 15 Tahun 2011 Tentang PENARIKAN, PEMELIHARAAN, DAN PENYALURAN HARTA ZAKAT

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 15 Tahun 2011 Tentang PENARIKAN, PEMELIHARAAN, DAN PENYALURAN HARTA ZAKAT FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 15 Tahun 2011 Tentang PENARIKAN, PEMELIHARAAN, DAN PENYALURAN HARTA ZAKAT (MUI), setelah : MENIMBANG : a. bahwa dalam hal operasional penarikan, pemeliharaan, dan penyaluran

Lebih terperinci

Bab I Apa Sih Kuncinya?

Bab I Apa Sih Kuncinya? Bab I Apa Sih Kuncinya? Kesuksesan dan kebahagiaan orang selalu diukur dengan kekayaan di dunia. Jarang orang mengukurnya dengan yang tidak terlihat. Arang lebih cenderung percaya kepada orang sukses dengan

Lebih terperinci

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 52 Tahun 2012 Tentang HUKUM HEWAN TERNAK YANG DIBERI PAKAN DARI BARANG NAJIS

FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 52 Tahun 2012 Tentang HUKUM HEWAN TERNAK YANG DIBERI PAKAN DARI BARANG NAJIS FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 52 Tahun 2012 Tentang HUKUM HEWAN TERNAK YANG DIBERI PAKAN DARI BARANG NAJIS (MUI), setelah : Menimbang : 1. bahwa produk pangan ternak ada yang telah dikembangkan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS HUKUM EKSISTENSI WAKAF UANG DAN PROSES IKRAR WAKAF MENURUT UNDANG UNDANG NO. 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

BAB IV ANALISIS HUKUM EKSISTENSI WAKAF UANG DAN PROSES IKRAR WAKAF MENURUT UNDANG UNDANG NO. 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM BAB IV ANALISIS HUKUM EKSISTENSI WAKAF UANG DAN PROSES IKRAR WAKAF MENURUT UNDANG UNDANG NO. 41 TAHUN 2004 TENTANG WAKAF DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM A. Analisis Eksistensi Wakaf Uang 1. Analisis Wakaf

Lebih terperinci

Disebarluaskan melalui: website: Desember, TIDAK untuk tujuan KOMERSIL

Disebarluaskan melalui: website:    Desember, TIDAK untuk tujuan KOMERSIL Judul Penyusun : Kisah Qurban yang Menakjubkan : Ummu Abdillah al-buthoniyyah Desain Sampul : Ummu Zaidaan al-atsariyyah Disebarluaskan melalui: website: http://www.raudhatulmuhibbin..org e-mail: raudhatul.muhibbin@yahoo.co.id

Lebih terperinci

Disebarluaskan melalui: website: Desember, TIDAK untuk tujuan KOMERSIL

Disebarluaskan melalui: website:    Desember, TIDAK untuk tujuan KOMERSIL Judul Penyusun : Kisah Qurban yang Menakjubkan : Ummu Abdillah al-buthoniyyah Desain Sampul : Ummu Zaidaan al-atsariyyah Disebarluaskan melalui: website: http://www.raudhatulmuhibbin..org e-mail: raudhatul.muhibbin@yahoo.co.id

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS METODE AZIMUTH BULAN SEBAGAI ACUAN PENENTUAN ARAH KIBLAT. A. Analisis Penentuan Arah Kiblat dengan Metode Azimuth Bulan

BAB IV ANALISIS METODE AZIMUTH BULAN SEBAGAI ACUAN PENENTUAN ARAH KIBLAT. A. Analisis Penentuan Arah Kiblat dengan Metode Azimuth Bulan BAB IV ANALISIS METODE AZIMUTH BULAN SEBAGAI ACUAN PENENTUAN ARAH KIBLAT A. Analisis Penentuan Arah Kiblat dengan Metode Azimuth Bulan Pada dasarnya azimuth Bulan adalah busur yang diukur dari titik Utara

Lebih terperinci

PERBEDAAN IDUL FITRI: HISAB, RU YAH LOKAL, DAN RU YAH GLOBAL

PERBEDAAN IDUL FITRI: HISAB, RU YAH LOKAL, DAN RU YAH GLOBAL 1 Anda berada di: Home > Puasa > Perbedaan Idul Fitri: Hisab, Ru yah Lokal, dan Ru yah Global http://www.cantiknya-ilmu.co.cc/2010/07/perbedaan-idul-fitri-hisab-ruyahlokal.html 10-12-2010 20.45 PERBEDAAN

Lebih terperinci

Mencari jawaban terhadap beberapa pertanyaan tentang keislaman. Testimoni di Mesjid Attin Triharyo Soesilo September 2007

Mencari jawaban terhadap beberapa pertanyaan tentang keislaman. Testimoni di Mesjid Attin Triharyo Soesilo September 2007 Mencari jawaban terhadap beberapa pertanyaan tentang keislaman Testimoni di Mesjid Attin Triharyo Soesilo September 2007 Penyebaran Agama Islam Pertanyaan-pertanyaan saya sejak kecil Kenapa agama Islam

Lebih terperinci

CINTA KEPADA ALLAH SWT (Aqidah Islam) Bag. II MANFAAT MENCINTAI ALLAH & BAHAYA MENGINGKARINYA Dalam topik terdahulu telah dijelaskan bahwa Hukum Mencintai Allah SWT adalah WAJIB. Sehingga konsekuensinya

Lebih terperinci

BAB II HISAB AWAL BULAN QAMARIYAH

BAB II HISAB AWAL BULAN QAMARIYAH BAB II HISAB AWAL BULAN QAMARIYAH A. Pengertian Awal Bulan Qamariyah Penanggalan adalah sistem satuan satuan ukuran waktu yang digunakan untuk mencatat peristiwa peristiwa penting, baik mengenai kehidupan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISIS SIYASAH DUSTURIYAH TERHADAP PENYELENGGARAAN SISTEM PRESIDENSIAL DENGAN FORMAT KOALISI

BAB IV ANALISIS SIYASAH DUSTURIYAH TERHADAP PENYELENGGARAAN SISTEM PRESIDENSIAL DENGAN FORMAT KOALISI BAB IV ANALISIS SIYASAH DUSTURIYAH TERHADAP PENYELENGGARAAN SISTEM PRESIDENSIAL DENGAN FORMAT KOALISI A. Analisis terhadap Penyelenggaraan Sistem Presidensial dengan Format Koalisi menurut UUD 1945 Koalisi

Lebih terperinci

BAB V IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH

BAB V IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH Standar Kompetensi (Aqidah) BAB V IMAN KEPADA KITAB-KITAB ALLAH : 2. Meningkatkan keimanan kepada kitab-kitab Allah. Kompetensi Dasar : 2.1. Menjelaskan pengertian beriman kepada kitab-kitab Allah. 2.2.

Lebih terperinci

Adab Membaca Al-Quran, Membaca Sayyidina dalam Shalat, Menjelaskan Hadis dengan Al-Quran

Adab Membaca Al-Quran, Membaca Sayyidina dalam Shalat, Menjelaskan Hadis dengan Al-Quran Adab Membaca Al-Quran, Membaca Sayyidina dalam Shalat, Menjelaskan Hadis dengan Al-Quran MEMBACA AL-QURAN DALAM SATU SURAT PADA WAKTU SALAT TERBALIK URUTANNYA, MEMBACA SAYYIDINA DALAM SHALAT PADA WAKTU

Lebih terperinci

Sukuk Ijarah. 1 Al Ma'ayir as Syar'iyyah, hal Dr. Hamid Mirah, Sukuk al Ijarah, hal

Sukuk Ijarah. 1 Al Ma'ayir as Syar'iyyah, hal Dr. Hamid Mirah, Sukuk al Ijarah, hal Sukuk Ijarah Sukuk berasal dari bahasa Arab bentuk jamak dari kata Shakk yang berarti surat berharga. Secara terminologi AAOIFI mendefinisikan Sukuk dengan, "Beberapa lembar sertifikat dengan nilai sama

Lebih terperinci

Pernikahan dengan Khadijah dan datangnya wahyu pertama.

Pernikahan dengan Khadijah dan datangnya wahyu pertama. Pernikahan dengan Khadijah dan datangnya wahyu pertama. July 23, 2011 by Vien AM Khadijah adalah seorang perempuan terhormat kaya raya yang sukses berkat kelihaiannya dalam menjalankan usaha perdagangannya.

Lebih terperinci

SPIRITUAL SUPPLEMENT

SPIRITUAL SUPPLEMENT SPIRITUAL SUPPLEMENT 1. Lelaki dari Langit Saya mendengar Rasulullah Saw., bersabda, Riya (pamer) sekalipun kecil merupakan syirik. Dan sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang takwa dan tidak dikenal,

Lebih terperinci

Mengapa Umat Islam berkiblat pada Ka'bah?

Mengapa Umat Islam berkiblat pada Ka'bah? Mengapa Umat Islam berkiblat pada Ka'bah? Selasa, 29-03-2011 Ka'bah Bukan Berhala Ada banyak pertanyaan ketika seorang muslim yang bertauhid kepada Tuhan dan tidak menyekutukannya dengan benda apapun ditentang

Lebih terperinci

Merenungi Makna di Balik Penetapan Waktu Shalat Thursday, 25 April :16

Merenungi Makna di Balik Penetapan Waktu Shalat Thursday, 25 April :16 Shalat adalah ibadah yang telah ditentukan waktunya. (QS. An-Nisa: 103). Setiap waktu shalat adalah pembuka titik balik dan cermin bagi umat manusia untuk mengejawantahkan rasa syukur atas kenikmatan yang

Lebih terperinci

HADITS KEduapuluh tujuh Arti Hadits / :

HADITS KEduapuluh tujuh Arti Hadits / : HADITS KEduapuluh tujuh Arti Hadits / : Dari Nawwas bin Sam an radhiallahuanhu, dari Rasulullah shollallohu alaihi wa sallam beliau bersabda: Kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah apa yang

Lebih terperinci

PERHITUNGAN AWAL WAKTU SHALAT DATA EPHEMERIS HISAB RUKYAT Sriyatin Shadiq Al Falaky

PERHITUNGAN AWAL WAKTU SHALAT DATA EPHEMERIS HISAB RUKYAT Sriyatin Shadiq Al Falaky 2 PERHITUNGAN AWAL WAKTU SHALAT DATA EPHEMERIS HISAB RUKYAT Sriyatin Shadiq Al Falaky Contoh Perhitungan Awal Waktu Shalat dengan Data Ephemeris Hisab Rukyat (Hisabwin Version 1.0/1993 atau Winhisab Version

Lebih terperinci

Kaum Muslim telah dilarang untuk merayakan hari raya orang-orang kafir atau musyrik.

Kaum Muslim telah dilarang untuk merayakan hari raya orang-orang kafir atau musyrik. Kaum Muslim telah dilarang untuk merayakan hari raya orang-orang kafir atau musyrik. Kaum Muslim hanya memiliki dua hari raya, tidak ada yang lain. Ini ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadits riyawat

Lebih terperinci

Bismillahirrahmanirrahim

Bismillahirrahmanirrahim Bismillahirrahmanirrahim Allah Ta ala berfirman (yang artinya), Sungguh beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya (QS. Al Mu`minun : 1-2) Allah Ta ala juga

Lebih terperinci

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle

Halal Guide.INFO - Guide to Halal and Islamic Lifestyle Halal Guide.INFO Guide to Halal and Islamic Lifestyle L/C Impor Syariah Kontribusi dari Administrator Sunday, 16 April 2006 Terakhir kali diperbaharui Saturday, 22 April 2006 Fatwa Dewan Syari'ah Nasional

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwariskan. Namun,

BAB I PENDAHULUAN. tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan dan tidak boleh diwariskan. Namun, BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perubahan dan pengalihan harta wakaf, yaitu memanfaatkan benda wakaf berarti menggunakan benda wakaf tersebut, sedangkan benda asalnya/ pokok tetap tidak boleh

Lebih terperinci

Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan

Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan Isilah 10 Hari Awal Dzul Hijjah dengan Ketaatan Khutbah Pertama???????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????.????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Lebih terperinci

Kelemahan Rukyat Menurut Muhammadiyah PERMASALAHAN RUKYAT

Kelemahan Rukyat Menurut Muhammadiyah PERMASALAHAN RUKYAT Kelemahan Rukyat Menurut Muhammadiyah PERMASALAHAN RUKYAT Pertanyaan dari: Seorang mahasiswa S2 Ilmu Falak IAIN Walisanga, Semarang, tidak ada nama, disampaikan lewat pesan pendek (sms) (disidangkan pada

Lebih terperinci

Mengenai Buku Ini

Mengenai Buku Ini Mengenai Buku Ini Judul Asli : Kayfiatu Da watu ila at-tauhid Penulis : Syaikh Ibnu Abdil Aziz Al-Syaikh Dieterjemahkan dari: How to Call to Tauhid, www.salafimanhaj.com, 2004 Alih Bahasa oleh : Ummu Abdullah

Lebih terperinci

Post

Post - 2 - Imam Nasser Mohammad Al-Yamani 29-09 - 1437 AH 04-07 - 2016 AD 11:32 am Urgent Bayan-Keterangan penting kepada semua Umat Muslim di dunia bagi penjelasan pernyataan sebelumnya dan penjelasan lebih

Lebih terperinci

ISRA MI RAJ NABI SAW. DAN PEMBANGUNAN MORALITAS BANGSA

ISRA MI RAJ NABI SAW. DAN PEMBANGUNAN MORALITAS BANGSA ISRA MI RAJ NABI SAW. DAN PEMBANGUNAN MORALITAS BANGSA Oleh: Dr. Marzuki UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2012 12/05/2015 1 Pendahuluan Isra Mi raj terjadi setahun sebelum Nabi saw. hijrah ke Madinah. Nabi

Lebih terperinci

www.fiqhindonesia.com

www.fiqhindonesia.com 13 Shalat Bagi Mereka yang Udzur 128 Daftar Bahasan Pengertian Udzur Shalat Orang Sakit Beberapa Hukum Berkenaan dengan Shalat Orang Sakit Shalat Orang Musafir Makna Safar (Bepergian) Mengqashar Salat

Lebih terperinci

: The Prostration of Forgetfulness : Syaikh Muhammad bin Shalih al-utsaimin

: The Prostration of Forgetfulness : Syaikh Muhammad bin Shalih al-utsaimin Judul Asli Penulis : The Prostration of Forgetfulness : Syaikh Muhammad bin Shalih al-utsaimin Judul Terjemahan : Tata Cara Sujud Sahwi Alih Bahasa : Ummu Abdillah al-buthoniyah Editor : Muhammad Rivai

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Muhammadiyah berasal dari bahasa arab Muhammad, yaitu nama Nabi dan

BAB 1 PENDAHULUAN. Muhammadiyah berasal dari bahasa arab Muhammad, yaitu nama Nabi dan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Muhammadiyah berasal dari bahasa arab Muhammad, yaitu nama Nabi dan Rasul terakhir ; ditambah dengan ya nisbah dan ta marbuthah, menjadi Muhammadiyah artinya

Lebih terperinci