Risiko kesehatan akibat pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga di Kabupaten Badung dan Ubud Propinsi Bali

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Risiko kesehatan akibat pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga di Kabupaten Badung dan Ubud Propinsi Bali"

Transkripsi

1 LAPORAN PENELITIAN Risiko kesehatan akibat pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga di Kabupaten Badung dan Ubud Propinsi Bali PROGRAM INSENTIF RISET TERAPAN Oleh: Hendro Martono dan Tim PUSLITBANG EKOLOGI DAN STATUS KESEHATAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN NOVEMBER 2010

2 KATA PK TGAl,iAR =an memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, laporan Penelitian,.""".._..., k ehatan akibat pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga di up t n Badung dan Ubud Propinsi Bali, telah kami selesaikan. Tujuan dari studi mendapatkan informasi tentang kondisi pengelolaan (penggunaan dan an 1 pestis ida kimia di tingkat rumah tangga. ran penelitian ini memuat informasi tentang pengetahuan, sikap dan perilaku at dalam pengelolaan pestisida/insektisida di tingkat rumah tangga. Dalam i ini juga dikurnpulkan data tentang kondisi upaya pembinaan dan pengawasan pemakaian pestisida kimia di tingkjat rumah tangga. Untuk itu dalam penelitian ini juga dillliilpulkan data kinerja upaya tersebut dari berbagai instansi terkait, terutama instansi kesehatan dan instansi pertanian di tingkat kabupaten. Dengan diketahuinya pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan (penggunaan dan penyimpanan) pestisida/insektisida diharapkan dapat dijadikan sebagai data dasar I masukan bagi peningkatan kinerja upaya pembinaan dan pengawasan penggunaan pestisidalinsektisida di tingkat rumah tangga. Sehingga dampak yang ditimbulkan akibat pemakaian pestisida kimia tersebut dapat dikurangi. Dalam kesempatan ini kami sampaikan ucapan terimakasih kepada Kementrian Riset dan Teknologi yang telah memfasilitasi pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali beserta staf, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung dan Gianyar beserta staf serta Para Pimpinan puskesmas-puskesmas lokasi penelitian dan staf atas bantuan dan kerjasamanya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan lancar. Semoga laporan ini dapat bermanfaat, khususnya bagi upaya penurunan risiko kesehatan akibat penggunaan pestisida kimia di rumah tangga. Jakarta, November 2010 Tim Penelitian 1

3 T DAFTAR 151 Hal T" o\ TA PL GANT AR D.c\FT.-ill I I 0.-\FT..\R. TABEL AB TRAK TIM PE ELITI 11 IV v Vl B.-ill I. PE DAHULUAN 1.1. Latar belakang 1.2. Tujuan Tujuan Umum Tujuan Khusus 1.3. Manfaat penelitian 1.4. Ruang lingkup penelitian BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB BAB III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Konsep V ariabel-variabel 3.3. Definisi Operasional 3.4. Tempat dan waktu 3.5. Disain Penelitian 3.6. Jenis dan Cara Pengumpulan Data 3.7. Populasi dan Sampel 3.8. Pengolahan dan Analisis Data 3.9. Pertimbangan Izin Penelitian Pertimbangan Etik IV. HASIL 4.1. Karakteristik Responden 4.2. Pengetahuan Responden Dalam Penggunaan dan Penyimpanan Pestisida 4.3. Perilaku Responden Terhadap Penggunaan dan Penyimpanan Pestisida 4.4. Gangguan Kesehatan Reponden 4.5. Hasil pengumpulan data kualitatif Hasil wawancara mendalam dengan responden dari instansi terkait di Kabupaten Badung Hasil Wawancara mendalam dengan responden dari instansi terkait di Kabupaten Gianyar

4 BAB. PL fr:\ha A~- 37 3AB T IT.C fpul D SARAN 6.1. Ke impulan 6.:::. aran

5 DAFTAR label Hal -.l. -. ~ - Karah.-teristik Responden di lokasi studi, 2010 Pengetahuan responden terhadap pestisida di lokasi studi, 2010 Pengetahuan responden terhadap penggunaan dan penyimpanan erta peraturan pestisida di lokasi studi, 2010 Pengetahuan responden terhadap bahaya pestisida di lokasi studi ikap responden terhadap pengaturan penggunaan pestisida di lokasi studi, 2010 Perilaku responden terhadap penggunaan pestisida di lokasi studi, 2010 Kejadian keracunan pestisida dan gangguan kesehatan yang dialami ART di lokasi studi, IV

6 AB TRAK Pe er iac ri. o e ehatan akibat pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga..,.ibi an di Kabupaten Badung dan Gianyar, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk an informasi tentang kondisi pengelolaan (penggunaan dan penyimpanan) "si. mia di tingkat rumah tangga, terutama yang berkaitan dengan pengetahuan, perilcil.'u rnasyarakat pengguna pestisida tersebut. Informasi hasil penelitian "rnp an dapat dijadikan masukan bagi pengembangan prograrn/upaya pembinaan e~ahan risiko kesehatan, khususnya dalam rangka meningkatkan kemampuan -_-<>l'fu a~ untuk secara mandiri mengurangi masalah yang mungkin ditimbulkan.. a: -00 responden /rumah tangga dijadikan sam pel dalam penelitian ini dan telah an arai dan diobservasi. Di samping itu juga telah dilakukan wawancara am terhadap beberapa instansi terkait di kedua daerah penelitian tersebut. H -il penelitian mengungkapkan bahwa: Pengguna pestisida kimia di Kabupaten...,... ~ ~ an Gianyar masing-masing sebesar 92,5 % dan 94,0 % responden, tetapi -j responden yang membaca aturan penggunaannya masing-masing sebesar 59,0 dan --.0 %. Proporsi responden yang tidak mencuci tangannya setelah n:e. rgunakan pestisida di Kabupaten Badung sebesar 45,0 %, dan di Kabupaten G"an:ar -ebesar 13,5 %. Poporsi penggunaan masker di Kabupaten Badung sebesar 6,0 - d:m~. an proporsi responden yang menggunakan APD tersebut di Kabupaten ar 19,5 %. Proporsi responden yang melakukan penyimpanan pestisida an di kedua daerah penelitian tersebut ialah: 63,5 % responden di Kabupaten = dan 90.0 % di Kabupaten Gianyar. Di Kabupaten Badung, aplikasi pestisida = _e~'"'.::- dilakukan di ruang keluarga (49,2 %), tetapi di Kabupaten Gianyar tempat - i ida tersering di kamar tidur. Tempat pembuangan sampah merupakan mbuangan pestisida yang sudah tidak dipergunakan lagi (proporsi responden :ren Badung sebesar 35,2 %, dan di Kabupaten Gianyar sebesar 61,7 %). Dan r- responden yang pernah mendapat penyuluhan tentang pestisida di kedua daerah li"ian tersebut masing-masing sebesar 23,5 % (di Kabupaten Badung), dan sebesar :;.0 % re ponden di Kabupaten Gianyar. Berdasarkan data tersebut di atas dapat i-impulkan bahwa pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga masih berisiko erhadap kesehatan dan lingkungan, oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mengatasinya. Kata-kata kunci: risiko, kesehatan, pestisida kimia, rumah tangga. v

7 R-ill I PLIDAHCL N. Bel ang Penggunaan pestisida kimia dari waktu ke waktu terns mengalami peningkatan -egi jumlah maupun jenis. Salah satu jenis pestisida yang paling dekat :.e'2 5 :m masyarakat adalah insektisida karena hampir seluruh rumah tangga baik di maupun di pedesaan menggunakannya. Masyarakat cenderung an pestisida untuk mengendalikan hama/hewan pengganggu seperti nyamuk, lalat, rayap, tikus, dll.) karena dianggap lebih praktis, efektif dan Telab banyak bukti-bukti yang ditemukan pengaruh samping senyawa kimia erhadap kesehatan manusia. Hal penting yang harus diperhatikan adalah -A.LilU.U...U menekan sekecil mungkin kerugian yang mungkin timbul baik terhadap..._.,'-"'"... 5 an maupun kesehatan. Beberapa dampak negatif yang mungkin timbul penggunaan pestisida di antaranya adalah masalah keracuv.an, pencemaran ;:ungan ontaminasi air, tanah, dan udara), perkembangan hama menjadi lebih resi en dan toleran terhadap pestisida, terbunuhnya musuh alami hama tersebut dan organisme bukan sasaran, dan terjadinya residu pestisida pada rantai makanan. Pemakaian pestisida kimia untuk pemberantasan hama tanaman dan vektor penyakit cenderung selalu mengalami kenaikan. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya volume penjualan pestisida secara global. Secara umum dapat dikatakan bahwa porsi terbesar jenis pestisida yang terjual berupa herbisida, kemudian disusul insektisida dan fungisida. Tingginya penggunaan pestisida tersebut bagaimanapun menambah risiko kesehatan yang dihadapi, baik oleh para operator pestisida maupun masyarakat secara luas. Risiko kesehatan yang dialami oleh para pengguna pestisida biasanya berkaitan dengan cara-cara pengamanan pemakaian pestisida tersebut, sedangkan risiko kesehatan yang diderita oleh masyarakat luas umumnya karena terjadinya pencemaran pestisida yang masuk pada rantai makanan, dan keracunan pestisida, baik akibat tertelan atau terhirup pestisida maupun akibat kontak langsung melalui kulit. Dalam tata pergaulan global, Indonesia terikat pada beberapa perjanjian tingkat intemasional di bidang pengendalian masalah lingkungan. Kesepakatankesepakatan tersebut pada hakekatnya merupakan upaya global untuk bersama-sama menanggulangi masalah-masalah lingkungan agar tidak berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan manusia. Salah satu hal yang diatur melalui kesepakatan- 1

8 -~~...uasi. erse ial~ isu ahan ber ahaya dan beracun (B3). egenap 'arahkan un mensiasari agar B3 ridak menimbulkan masalah, mulai dari pengawasan.. sampai dengan rnernpersiapkan langkah-langkah pemulihan _ ~gan dan penanggulangan kasus apabila terjadi masalah, baik terhadap.li..l=u'-'-'-ia rnaupun lingkungan. Salah satu B3 yang harus diatur dan diawasi ialah ;:?'O~~unaan pestisida, yang banya.l( dipakai pada bidang-bidang pertanian, an dan kesehatan. Pemerintah bekerjasarna dengan berbagai pihak selama ini meregulasi peredaran mengawasi penggunaan pestisida agar faktor risiko yang ada tidak em ahayakan kesehatan. Bahkan penerapan pendekatan pemberantasan vektor crpadu juga telah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu. Telah banyak eluarkan peraturan-peraturan di bidang pengelolaan pestisida, termasuk pengelolaan pestisida di tingkat rumah tangga, yang a.l. tertuang dalam Keputusan ie teri Pertanian (No.434.1/Kpts/TP.270/7/2001), Peraturan Menteri Kesehatan, : na pedornan-pedoman maupun petunjuk-petunjuk teknis lainnya. Pemerintahjuga ~bh mengatur peredaran, penyirnpanan dan penggunaan pestisida, mengatur batas "' aran pestisida dalam air minum maupun makanan; tetapi kasus-kasus keracunan - - pen emaran pestisida pada media lingkungan masih terus terjadi. ~ Tujuan l~.l.t ujuan Umum:. fendapatkan informasi tentang kondisi pengelolaan (penggunaan dan penyimpanan) pestisida kimia di tingkat rumah tangga Tujuan Khusus: a. Diperolehnya informasi tentang pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam pengelolaan dan penggunaan pestisida kimia di rumah tangga b. Diperolehnya informasi tentang pengaturan dan pengawasan pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga Manfaat penelitian: 1. Bagi pemerintah (Depatemen Kesehatan, Departemen Pertanian): sebagai dasar untuk penyusunan kebijakan dalam upaya pengamanan risiko pestisida rumah tangga, terutama melalui pengembangan pendekatan berbasis masyarakat, 2

9 ui -ondisi pengelolaan pestisida dan risikonya erhadap esehatan yang mun~kin terjadi,.j. Umu pengetahuan:sebagai referensi pengkajian dan penelitian yang akan datang. la. Ruang lingkup penelitian _ lasalah yang akan diteliti ialah factor-faktor risiko yang berkaitan dengan penggunaan pestisida kimia di tingkat rumah tangga. Faktor-faktor risiko -e- hatan yang diteliti tersebut antara lain meliputi: tingkat pengetahuan dan mahaman masyarakat mengenai risiko bahaya pencemaran dan keracunan - ida kirnia, perilaku yang berkaitan dengan pemakaian dan pengelolaan -ti-ida di rumah tangga, dan observasi kesehatan lingkungan rumah tangga, - ususnya yang berkaitan dengan pemakaian pestisida kimia. Dengan demikian -an didapat informasi kondisi risiko pemakaian pestisida tersebut di tingkat rumah tangga. Selanjutnya dengan berbekal informasi tersebut akan dimungkinkan dirumuskannya tindakan-tindakan koreksi dan pengembangan yang ditujukan untuk menekan risiko kesehatan yang akan terjadi. 3

10 BABII ~JAUAN PUSTAKA Ri iko kesehatan akibat pemakaian pestisida kimia, termasuk di tingkat rumah tangga tidak terlepas dari bahaya pemajanan pestisida tersebut, baik pemajanan melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan maupun melalui kontak kulit. Pemajanan pestisida di rumah tangga dapat berisiko terhadap semua anggota -eluarga. tetapi kelompok usia anak biasanya lebih rentan terhadap risiko tersebut. Anak-anak lebih mudah terpajan pestisida, baik melalui pemafasan, kontak kulit, maupun melalui kecelakaan akibat menelan pestisida (;Goldman LR. 1995; Reigart JRm 1995). Selain itu faktor physiologi anak juga menjadi penyebab mengapa ri iko pajanan pestisida pada anak lebih berat dibandingkan dengan risiko serupa pada orang dewasa. Hal ini terjadi sebab intensitas tingkat pajanan pestisida terhadap anak lebih tinggi, mereka lebih banyak menghirup udara dan lebih banyak mengkonsumsi makanan per kg BB-nya karena tingkat metabolisme mereka lebih tinggi Environmental (Protection Agency, 1998). Untuk menekan risiko kesehatan akibat penggunaan pestisida kimia, khususnya penggunaan pestisida di skala rumah tangga, perlu diupayakan agar tidak terjadi penyimpangan dalam pengelolaan dan penggunaannya. Untuk itu, masyarakat pengguna pestisida hendaknya benar-benar paham bagaimana cara mengelola bahan berbahaya tersebut secara benar, sehingga mereka mampu mencegah terj adinya dampak kesehatan. Dengan mengetahui berbagai informasi yang berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan penggunaan pestisida tersebut, diharapkan akan dapat dijadikan tambahan masukan rancang tindakan korektif untuk mengantisipasi masalah tersebut, terutama dalam rangka memberdayakan masyarakat agar mereka lebih mampu mencegah dan menanggulangi faktor-faktor risiko kesehatan yang mungkin terjadi akibat pemakaian pestisida kimia di rumah tangga. Dengan maksud untuk mencegah dampak negatif yang mungkin dapat ditimbulkan akibat pemakaian pestisida, pemerintah juga telah mengatur peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida Di samping itu, juga telah diatur ketentuan batas cemaran pestisida pada media lingkungan, termasuk dalam air minum dan makanan. Sekalipun dernikian, sampai saat ini masih terdapat kasus-kasus keracunan pestisida dan pencemaran pestisida pada rantai makanan 4

11 aan.: ~...:r::an. Bcr - -an berapa srudi yang dilak'ukan eli berbagai \\ilayah. emaran pestisida k:imia masih terdeteksi pada beberapa jenis media lingk.lllgan. Di samping iul kebiasaan-kebiasaan dalam pemakaian pestisida dan hygiene perorangan para penggunanya juga masih berisiko menimbulkan risiko kesehatan Belum lagi pemanfaatan wadah-wadah pestisida untuk wadah air, makanan/minuman, dan makanan temak yang juga masih sering dijumpai di lapangan. Sesuai dengan tujuan penggunaannya yaitu mengendalikan hama, baik hama tanaman maupun vektor penyakit, pestisida pada umumnya mengandung bahan yang bersifat toksik. Menurut data dari Departemen Pertanian, saat ini lebih dari 200 jenis bahan aktif yang terdaftar dan dijinkan sebagai insektisida. Telah banyak bukti-bukti yang ditemukan pengaruh samping senyawa kimia pestisida terhadap kesehatan manusia. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa jenis penyakit dapat diakibatkan oleh pengaruh samping penggunaan senyawa pestisida antara lain: leukemia, myaloma ganda, lymphomas, sarcomas jaringan lunak, kanker prostat, kulit, melanoma, hati, dan paru, gangguan syaraf, dan neoplasma indung telur (Watterson, 1988). Selain itu, beberapa senyawa pestisida telah terbukti dapat menjadi carsinogenic agent, baik pada hewan dan manusia. Sebanyak 47 jenis bahan aktif pestisida ditemukan terbukti sebagai carsinogenic agent pada hewan, dan 12 jenis lagi terbuti sebagai carsinogenic agent pada manusia (Gosselin, 1984: IARC, 1978: Saleh, 1980). Fakta lain ditemukan pula bahwa temyata tercatat 80 jenis bahan aktif pestisida juga dapat menjadi penyebab atau sebagai faktor mutagenic agent (Moriya, 1983; Weinstein, 1984; Sandhu, 1980; Simmon, 1980). Suatu studi terhadap potensi risiko kesehatan terhadap 30 jenis pestisida yang biasa diaplikasikan untuk pekarangan rumput antara lain mengungkapkan bahwa sebanyak 19 jenis di antaranya berisiko sebagai bahan carciogenic yang dapat menimbulkan kelahiran cacat, 21 j enis di antaranya berpotensi menimbulkan gangguan fungsi reproduksi, dan 15 jenis di antarannya dapat menyebabkan terjadinya neurotoxicity (Beyod Pesticides Factsheet. 2005). Hasil studi lainnya menyatakan bahwa kelompok wanita harnil, bayi, anak-anak, kelompok usia lanjut dan para penderita penyakit kronis merupakan kelompok-kelompok yang paling rentan terdadap pajanan pestisida, yang dapat meningkatkan terjadinya risiko kanker (US EPA. 2002). Selanjutnya hasil studi lainnya juga menyebutkan 5

12 r g BB-nya rerhadap pestisida relatif lebih tinggi dibandingkan orang dewasa yang mengembangkan sistem tubuh yang lebih rentan dan lebih lambat untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh mereka (US EPA. _002), dan patut pula dicatat bahwa berdasarkan hasil studi biomonitoring menyebutkan kandungan pestisida dalam tubuh ibu dapat disalurkan melalui saluran darah placenta dan air susu ibu (D.C., Repetto R. et. al., 1996). Walaupun dampak akibat pajanan pestisida telah terbukti, tetapi sampai saat ini masyarakat belum dapat melepaskan diri dari keterikatan terhadap penggunaan pestisida pestisida, baik untuk mengendalikan hama tanaman maupun untuk mengendalikan vektor penyakit. Hal penting yang harus diperhatikan adalah bagaimana menekan sekecil mungkin kerugian yang mungkin timbul baik terhadap lingkungan maupun kesehatan. Beberapa dampak negatif yang mungkin timbul akibat penggunaan pestisida di antaranya adalah mru;alah keracunan pestisida, pencemaran lingkungan (air, tanah, dan udara), pencemaran rantai makanan, perkembangan hama menjadi lebih resisten dan toleran terhadap pestisida, terbunuhnya musuh alami hama tersebut dan organisme bukan sasaran, dan terjadinya kecelakaan akibat tertelannya pestisida. Penggunaan pestisida kimia dari waktu ke waktu terns mengalami peningkatan baik dari segi jumlah maupun jenis. Salah satu jenis pestisida yang paling dekat dengan masyarakat adalah insektisida karena hampir seluruh rumah tangga baik di perkotaan maupun di pedesaan menggunakannya. Masyarakat cenderung menggunakan pestisida kimia untuk mengendalikan hama/hewan pengganggu (seperti: kecoa, nyamuk, lalat, rayap, tikus, dll.) karena dianggap lebih praktis, efektif dan efisien. Kondisi ini mendorong masyarakat industri untuk memproduksi berbagai jenis pestisida. Menurut Indonesia Biotechnology Information Centre tahun 2009, dalam dua tahun terakhir ini jumlah pestisida di pasaran bertambah sekitar 450 merek menjadi merek dagang berizin dengan berbagai kandungan bahan aktif. Jumlah itu baru di sektor pertanian dan perkebunan, belum termasuk pestisida untuk rumah tangga. Selain dosis dan bahan aktif pestisida, hal yang juga perlu diperhatikan dalam mengevaluasi pemakaian pestisida ialah jenis inert ingredients yang dipakai dalam suatu produk pestisida. Adakalanya bahan-bahan yang disebutkan sebagai inert ingredient pada kemasan pestis ida temyata juga berisiko dapat menimbulkan 6

13 tan. Berda.sar an hasil stu. terungkap bahwa 800 dari 1200 : ri inerediem yang diteliti masuk e dalam kategori unknown toxicity, sebanyak -- termas ' bahan beracun dengan tingkat tinggi yang dapat menimbulkan dampak kesehatan berupa gangguan reproduksi, kelahiran cacat, dan, urotoxicity, dan 64 bahan inert ingridient lainnya berpotensi beracun (Pohl, HR., al.. ~ 000). Selanjutnya berdasarkan hasil studi lainnya juga terungkap bahwa se anyak 394 inert ingredient suatu produk pestisida, dicantumkan sebagai bahan crif produk pestisida lain, dan lebih dari 200 inert ingredient dinilai sebagai ahan pencemar berbahaya (Sturtz, N. Et al. 2000). Bahan aktif produk pestisida biasanya hanya meliputi 5% dari suatu produk pestisida, sedangkan sisanya merupakan inert ingredient (Sturtz, N. Et al., 2000). Jadi sebagaian besar produk pestisida komposisinya memang inert ingredient, walau seperti disebutkan di atas bahan tersebut adakalanya bersifat toksik. Bahan aktif pestisida inilah yang dirancang untuk dapat secara efektif membunuh hama yang menjadi sasaran pemakaian produk pestisida tersebut. Dewasa ini tingkat toksisitas bahan aktif tersebut dibedakan menjadi beberapa kelas, mulai dari yang sangat toksik sampai yang kurang toksik. Di Indonesia saat ini lebih dari 200 jenis bahan aktif yang terdaftar dan dijinkan sebagai insektisida. Beberapa telah dilarang karena diduga dapat membahayakan kesehatan seperti diklorvos, propoksur, klorpirifos. Suatu survei penggunaan pestisida yang diadakan pada tahun 2004 di USA mengungkapkan bahwa 5 juta runah tangga di USA hanya mempergunakan organic lawn pesticides, dan sebanyak 35 juta rumah tangga lainnya mempergunakan dua jenis produk pestisida, baik yang berisi bahan beracun maupun produk yang tidak beracun. Pada tahun tersebut diperkirakan sebanyak 78 juta rumah tangga di USA mempergunakan pestisida, baik untuk keperluan di dalarn rumah maupun di kebun (US EPA, 2005). Hasil survei pemakaian pestisida di USA ini memang tidak bisa serta merta dianalog-kan dengan pola pemakaian di negara-negara lain, termasuk di Indonesia. Hal ini disebabkan jenis dan karakteristik populasi hama yang berbeda. Umurnnya tingkat penggunaan jenis pestisida herbisida dan fungisida pada skala rumah tangga di USA lebih tinggi proporsinya dibandingkan dengan insektisida. Kondisi ini berbeda di negaranegara yang masalah serangga pengganggunya (nyamuk, lalat, dll) lebih menonjol. 7

14 sam_ a tin:' - ns -o -e eharan akibar pemakaian pestisida te e ut erat kaitannya dengan aspek pengelolaan dan penggunaan pestisida di lapangan. termasuk di lingkungan rumah tangga. Sebagai gambaran dapat dikemukakan hasil suatu studi penggunaan pestisida di rumah tangga di USA yang dilaksanakan pada tahun Dari sebanyak 107 rurnah tangga yang diteliti, sebanyak 70% dari responden menyimpan produk-produk pestisida tersebut di dalam rumah, di mana 50% di antaranya disimpan pada tempat yang tingginya kurang dari 4 ft sehingga mudah dijangkau anak-anak (Spitzer, E., Attorney General of NY. 2000). Hasil sebuah studi mengenai pemakaian rodentisida mengungkapkan bahwa sebanyak 69% responden menyimpan pestisida tersebut di tempat yang tidak bisa dijangkau anak-anak (Judith K. Bass et al. 2001). Aspek tempat penyimpanan pestisida tersebut menggambarkan bahwa risiko penyalahgunaan atau kecelakaan penggunaan pestisida yang mungkin akan melibatkan anak-anak masih relatif cukup tinggi. Padahal, seperti yang telah diuraikan di muka tingkat kerentanan kelompok usia anak terhadap pajanan pestisida lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Sasaran aplikasi pestisida biasanya dilakukan di mana ditemuka hama I binatang pengganggu di lingkungan rurnah tangga, atau pada tempat-tempat yang dianggap sering didapati hama tersebut. Lokasi keberadaan hama tersebut sering kali pada tempat-tempat di mana mereka bersarang atau tempat-tempat di mana mereka mendapatkan sumber makanan. Oleh karena itu, aplikasi pestisida juga tidak jarang dilakukan di dapur atau tempat-tempat lain yang memungkinkan hama tersebut lebih mudah untuk melangsungkan kehidupan mereka. Berdasarkan suatu studi di USA temyata memang sebagian besar responden (70%) menyatakan melakukan aplikasi pestisida di dapur, dan sebanyak 55% responden melakukan aplikasi pestisida di kamar mandi (Spitzer, E. 2000). Pada umumnya dapur adalah tempat utama dalam proses penyiapan makanan, sehingga pola aplikasi pestisida tersebut berpotensi meningkatkan risiko terjadinya pencemaran pestisida terhadap makanan. Pola pemilihan produk/jenis pestisida yang dipakai masyarakat tergantung berbagai faktor, antara lain: ketersediaan produk di pasaran, tingkat efektifitas produk dalam membunuh hama, pengetahuan konsumen, jenis bahan aktif, harga dan intensitas promosi produk pestisida tersebut. Jenis produk yang dipakai ini berbanding langsung dengan tingkat risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan. 8

15 emakin g da_ a ra un ahan al."tif arau inert ingredient yang erkandung, semakin besar ri iko ke eharannya Hasil suatu studi penggunaan pestisida di rumah tangga di USA terse but menyebutkan bahwa dari sebanyak 107 rumah tangga yang diteliti, telah ditemukan sebanyak 148 produk pestisida, berarti dalam setiap rumah tangga rata-rata ditemukan 1,4 produk pestisida (Spitzer, E. 2000). Angka ini memang lebih rendah dibandingkan dengan hasil-hasil studi sebelumnya (US EPA. 2004; Judith K. Bass et al. 2001). Produk-produk pestisida yang ditemui sebagian besar berbahan aktif dengan daya racun rendah. Tetapi dalam studi tersebut temyata juga ditemukan empat jenis bahan aktif pestisida yang tergolong pestisida organophospate, yang dapat menyebabkan keracunan pada orang dewasa (Parsons BJ, Day LM, Ozanne-Smith J, Dobbin M., 1996). 9

16 B.-\BIY ~letode PL IELITIA.'" 3.1 Kerangka Konsep Penggunaan Pestisida kimia Jenis, Dosis, Cara, Waktu, Frekuensi, Bahan aktif. Faktor internal: Karakteristik responden (Umur, sex, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan sikap, perilaku), Faktor eksternal: Peratura n/ perizi nan, penyuluhan, pengawasan, juklakfjuknis, Kegiatan pertanian organik, pemberantasan hama terpadu, Harga, ketersediaan pestisida, dan iklan. Risiko kesehatan dan lingkungan: Pencemaran rantai makanan, lingkungan, Resistensi, Dampak kesehatan Variabel 1. Variabel dependen: risiko kesehatan dan lingkungan (a.l. meliputi: pencemaran rantai makanan dan lingkungan, resistensi hama/vektor, dan dampak kesehatan, baik akut maupun kronis ). 2. Variabel independen: penggunaan pestisida kimia (meliputi: jenis, dosis, waktu, frekuensi, dan cara pemakaian pestisida; bahan aktifpestisida). 3. Variabel kontrol: a. Faktor internal: karakteristik responden (meliputi: Jenis kelamin, umur, pendidikan,pekerjaan, sikap, dan perilaku dalam penggunaan pestisida) b. Faktor eksternal: Peraturan-peraturan terkait (Permen, Kepmen, pedoman, juklak, juknis ), penyuluhan, pengawasan, harga dan ketersediaan pestisida, iklan). 10

17 . I) i Ope i nal Pestisida inse lliida adalah emua zat kimia dan bahan lain serta yang dipergunakan untuk menendalikan seranga dan binatan lainnya di dalam dan di sekitar rumah - Pestisida untuk penggunaan umum adalah pestisida yang dalam penggunaannya tidak memerlukan persyaratan dan alat-alat pengamanan khusus di luar yang tertera pada label. 3. Bahan aktif adalah bahan kimia sintetik a tau bahan alami yang terkandung dalam bahan teknis atau formulasi pestisida yang memiliki daya racun atau pengaruh biologis lain terhadap organisme sasaran. 4. Rumah tangga (RT) adalah seorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik rumah. 5. Penggunaan adalah menggunakan pestisida dengan atau tanpa alat dengan maksud menegndalikan serangga atau binatang penggangu iainnya 6. Penyimpanan adalah memiliki pestisida dalam persediaan di halaman atau dalam ruang rumah, pedagang a tau di usaha-usaha pertanian.. 7. Wadah adalah tempat yang terkena langsung pestisida untuk menyimpan selama dalam penanganan. 8. Label adalah tulisan dan dapat disertai dengan gambar atau simbol, yang memberikan keterangan tentang pestisida, dan melekat pada wadah atau pembungkus pestisida. 9. Pemusnahan adalah menghilangkan sifat dan fungsi pestisida. 10. Sertifikat penggunaan adalah surat keterangan yang dikeluarkan olehxetua Komisi Pengawasan Pestisida Propinsi!Kabupaten!Kota atau pejabat yang berwenang yang menyatakan bahwa pemilik sertifikat telah mengetahui tata cara penggunaan pestisida terbatas. 11. Residu pestisida adalah sisa pestisida, termasuk hasil perubahannya yang terdapat pada atau dalam jaringan manusia, hewan, tumbuhan, air, udara atau tanah. 12. Toksisitas akut adalah pengaruh yang merugikan yang timbul segera setelah pemaparan dengan dosis tunggal suatu bahan kimia atau bahan lain, atau pemberian dosis ganda dalam waktu lebih kurang 24 jam. 11

18 13. ah penurunan tin~ a epe aan populasi organisme sasaran rerhadap pestisida yang dapat menyebabkan pestisida ang semula efektif untuk mengendalikan organisme sasaran tersebut menjadi tidak efektif lagi. 14. Pestisida dilarang adalah jenis pestisida yang dilarang untuk semua bidang penggunaan atau bidang penggunaan tertentu dengan tujuan melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup, dan ditetapkan oleh suatu peratuan perundang-undangan Tempat dan waktu Tempat penelitian di Kabupaten Ubud dan Badung, Propinsi Bali. Pemilihan lokasi didasarkan pada karakter daerah urban dan rural yang berlokasi pada daerah tujuan wisata yang penting. Waktu pelaksanaan penelitian adalah selama 11 bulan, terhitung Februari s/d Desember Disain Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan disain potong lin tang (cross sectional) Jenis dan Cara Pengumpulan Data Data yang dikurnpulkan adalah data pnmer dan data sekunder. Data pnmer meliputi data umum (karakteristik responden), pengetahuan terhadap sikap dan perilaku masyarakat terhadap pestisida Genis, jumlah/dosis, manfaat, motivasi, bahaya, kemudahan memperoleh, kepraktisan penggunaan, petunjuk penggunaan dan peny1mpanan, petunjuk pemusnahan, ketuntasan mengendalikan, hama/resistensi, promosi/iklan, penyuluhan, gejala keracunan, residu pestisida) dikumpulkan dari sampel masyarakat dengan cara wawancara menggunakan kuesioner dan observasi lingkungan. Untuk menggali informasi lebih dalam, akan dilakukan pengumpulan data kualitatif institusi pemerintah yang mempunym tupoksi terkait denga pestisiida/insektisida (komisi pestisida, depertemen kesehatan, departemen pertanian, dinas kesehatan, dan dinas pertanian). Data sekunder meliputi jenis dan jumlah pestisida yang diijinkan, dampak kesehatan penggunaan pestisida (hasil penelitian di Indonesia), peraturan yang berlaku (Undang-undang, peraturanlkeputusan menteri, petunjuk umum, petunjuk teknis, petunjuk pelaksanaan) akan dikumpulkan dari institusi yang terkait (Depkes, Deptan, Komisi Pestisida). 12

19 3.-. Popula.si dan ampel 1 Rumah tangga "nit anali is dari studi ini rumah tangga, sehingga populasinya adalah seluruh rumah tangga yang berada 2 di wilayah tersebut. Sampel adalah sebagian rumah tangga yang berada di wilayah tersebut, Untuk menggambarkan kondisi pengelolaan pestisidalinsektisida di tingkat kabupaten/kota, sampel KK di setiap kabupaten/kota terpilih dihitung dengan menggunakan "Penghitungan Besar Sampel Untuk Estimasi Proporsi" dengan formula sebagai berikut:. Z 1-at2 P(1-P) N = d2 x Deft Dengan menggunakan presisi (6%), derajat kepercayaan 95%, desain effect= 2, dan P adalah proporsi KK yang menggunakan pestisidalinsektisida di masingmasing lokasi sebesar 50% maka didapatkan jumlah sampel KK sebesar 200 KK. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data umum (karakteristik responden), pengetahuan terhadap sikap dan perilaku masyarakat terhadap pestisida Genis, jumlah/dosis, manfaat, motivasi, bahaya, kemudahan memperoleh, kepraktisan penggunaan, petunjuk penggunaan dan penytmpanan, petunjuk pemusnahan, ketuntasan mengendalikan, hamalresistensi, promosi/iklan, penyuluhan, gejala keracunan, residu pestisida) dikumpulkan dari sampel masyarakat dengan cara wawancara menggunakan kuesioner dan observasi lingkungan. Untuk menggali informasi lebih dalam, akan dilakukan pengumpulan data kualitatif institusi pemerintah yang mempunyai tupoksi terkait denga pestisiidalinsektisida (komisi pestisida, depertemen kesehatan, departemen pertanian, dinas kesehatan, dan dinas pertanian). Data sekunder meliputi jenis dan jumlah pestisida yang diijinkan, dampak kesehatan penggunaan pestisida (hasil penelitian di Indonesia), peraturan yang berlaku (Undang-undang, peraturan/keputusan menteri, petunjuk umum, petunjuk teknis, petunjuk pelaksanaan) akan dikumpulkan dari institusi yang terkait (Depkes, Deptan, Komisi Pestisida). 13

20 C ra P ~~ :m - 3I!1 l a 3.II1pel Desa -elurahan Pemilihan desa kelurahan di rnasing-masing kabupaten terpilih, dilakukan dengan cara random dengan memperhatikan jumlah penduduk yang ada di desalkelurahan (Probability Proportional to Size). - Pemilihan desalkelurahan yang mewakili daerah perkotaan disetiap kabupaten!k:ota sebanyak 4 desalkelurahan dilakukan dengan cara random dengan memperhatikan jumlah penduduk yang ada di desalkelurahan (Probability Proportional to Size). - Sebelum dilakukan random, untuk setiap kelompok ("pedesaan" dan "perkotaan") terlebih dahulu dibuat daftar desalkelurahan dengan jumlah penduduk yang tinggal di masing-masing kabupaten. - Urutkan desalkelurahan 1 sampai terakhir berdasarkanjumlah penduduk - Pilih desalkelurahan secara proporsional sesuai dengan perbandingan jumlah dalam kelompok "pedesaan" dan "perkotaan". b) Sam pel kepala keluatga (KK) Pemilihan KK di masing-masing desalkelurahan yang terpilih sebagai sampel, dilakukan dengan cara: - Membuat daftar persimpangan jalan desa di desa/kelurahan tersebut. Persimpanganjalan bisa berbentuk pertigaan atau perempatanjalan desa. - Buat nomor urut dari persimpanganjalan tersebut. - Pilih salah satu persimpangan dengan cara random.. - Untuk menentukan arah (ke kanan, ke kiri, ke depan atau kebelakang) juga dilakukan dengan cara random). - Setelah mendapatkan arah jalan tersebut, buat peta gambar dan daftar rumah KK yang ada di pinggir jalan tersebut dan beri nomor urut. - Lakukan random untuk menentukan rumah KK mana yang pertama terpilih sebagai sampel. - Sampel KK kedua dipilih dengan cara memilih rumah yang paling dekat dengan sampel KK pertama (titik jarak rumah pertama digunakan pintu masuk rumah yang utama) - Sampel ketiga sampai ke 50 dipilih seperti sampel ke 2. 14

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NO.KEP. 187/MEN/1999 TENTANG PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I.

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NO.KEP. 187/MEN/1999 TENTANG PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NO.KEP. 187/MEN/1999 TENTANG PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I. Menimbang a. bahwa kegiatan industri yang mengolah, menyimpan,

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK

KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK KEPUTUSAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR KEP. 02/MEN/2007 TENTANG CARA BUDIDAYA IKAN YANG BAIK MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida

Rumah Sehat. edited by Ratna Farida Rumah Sehat edited by Ratna Farida Rumah Adalah tempat untuk tinggal yang dibutuhkan oleh setiap manusia dimanapun dia berada. * Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area sekitarnya

Lebih terperinci

: PT DuPont Agricultural Products Indonesia Beltway Office Park Building A, 5th. Floor, Jalan Ampera Raya No. 9-10, Jakarta 12550, Indonesia

: PT DuPont Agricultural Products Indonesia Beltway Office Park Building A, 5th. Floor, Jalan Ampera Raya No. 9-10, Jakarta 12550, Indonesia Lembar Data Keselamatan ini mengikuti persyaratan peraturan perundangan Republik Indonesia dan mungkin tidak sesuai dengan persyaratan peraturan perundangan di negara lain. 1. IDENTITAS BAHAN DAN PERUSAHAAN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai pembangunan sesuai dengan yang telah digariskan dalam propenas. Pembangunan yang dilaksakan pada hakekatnya

Lebih terperinci

Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan. membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia

Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan. membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun oleh manusia BAB II KAMPANYE CUCI TANGAN DENGAN SABUN UNTUK ANAK ANAK DI BANDUNG 2. 1. Cuci Tangan Dengan Sabun Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari

Lebih terperinci

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2)

CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) CARA CARA PENGENDALIAN OPT DAN APLIKASI PHESTISIDA YANG AMAN BAGI KESEHATAN 1) SUHARNO 2) 1) Judul karya ilmiah di Website 2) Lektor Kepala/Pembina TK.I. Dosen STPP Yogyakarta. I. PENDAHULUAN Penurunan

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN. Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN. Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com) FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI IBU DALAM PEMILIHAN PENOLONG PERSALINAN Lia Amalia (e-mail: lia.amalia29@gmail.com) Jurusan Kesehatan Masyarakat FIKK Universitas Negeri Gorontalo ABSTRAK: Dalam upaya penurunan

Lebih terperinci

: PT DuPont Agricultural Products Indonesia Beltway Office Park Building A, 5th. Floor, Jalan Ampera Raya No. 9-10, Jakarta 12550, Indonesia

: PT DuPont Agricultural Products Indonesia Beltway Office Park Building A, 5th. Floor, Jalan Ampera Raya No. 9-10, Jakarta 12550, Indonesia Lembar Data Keselamatan ini mengikuti persyaratan peraturan perundangan Republik Indonesia dan mungkin tidak sesuai dengan persyaratan peraturan perundangan di negara lain. 1. IDENTITAS BAHAN DAN PERUSAHAAN

Lebih terperinci

Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas

Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas Mengendalikan Gulma pada Tanaman Padi secara Tuntas RAMBASAN 400 SL merupakan herbisida sistemik purna tumbuh yang diformulasi dalam bentuk larutan yang mudah larut dalam air dan dapat ditranslokasikan

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00-

BAB III METODE PENELITIAN. 23 April 2013. Penelitian dilakukan pada saat pagi hari yaitu pada jam 09.00- BAB III METODE PENELITIAN 1.1 Lokasi Dan Waktu Penelitian Lokasi penelitian akan dilakukan di peternakan ayam CV. Malu o Jaya Desa Ulanta, Kecamatan Suwawa dan peternakan ayam Risky Layer Desa Bulango

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 85 TAHUN 1999 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 18 TAHUN 1999 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

DOSIS RENDAH, HASIL LEBIH BAIK

DOSIS RENDAH, HASIL LEBIH BAIK DOSIS RENDAH, HASIL LEBIH BAIK SPEEDUP 480 SL merupakan herbisida purna tumbuh yang diformulasi dalam bentuk larutan yang mudah larut dalam air yang dapat mengendalikan gulma berdaun sempit, berdaun lebar

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani

I. PENDAHULUAN. nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani pada khususnya dan masyarakat

Lebih terperinci

BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT

BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT BAB II CUCI TANGAN PAKAI SABUN UNTUK CEGAH PENYAKIT 2.1 Pengertian Cuci Tangan Menurut Dr. Handrawan Nadesul, (2006) tangan adalah media utama bagi penularan kuman-kuman penyebab penyakit. Akibat kurangnya

Lebih terperinci

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara

PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara PELAKSANAAN PROGRAM PEMANTAUAN LINGKUNGAN H M M C J WIRTJES IV ( YANCE ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara A. Dasar Pemikiran Sejak satu dasawarsa terakhir masyarakat semakin

Lebih terperinci

SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM

SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM DEFINIISI Tempat tempat umum adalah : suatu tempat dimana orang banyak berkumpul untuk melakukan kegiatan baik secara insidentil maupun secara terus menerus. Mengingat banyaknya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu

BAB I PENDAHULUAN. orang tua yang sudah memiliki anak. Enuresis telah menjadi salah satu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Enuresis atau yang lebih kita kenal sehari-hari dengan istilah mengompol, sudah tidak terdengar asing bagi kita khususnya di kalangan orang tua yang sudah memiliki

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG PENGAMANAN ROKOK BAGI KESEHATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG PENGAMANAN ROKOK BAGI KESEHATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG PENGAMANAN ROKOK BAGI KESEHATAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa rokok merupakan salah satu zat adiktif yang bila digunakan

Lebih terperinci

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL

PERAN PEREMPUAN DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL PERAN PEREMPUAN DALAM PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR, SANITASI DAN HIGIENE UNTUK KESEJAHTERAAN MASYARAKAT ETTY HESTHIATI LPPM UNIV. NASIONAL JAKARTA A PERAN PEREMPUAN Perempuan sangat berperan dalam pendidikan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 876/Menkes/SK/VIII/2001 TENTANG PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 876/Menkes/SK/VIII/2001 TENTANG PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 876/Menkes/SK/VIII/2001 TENTANG PEDOMAN TEKNIS ANALISIS DAMPAK KESEHATAN LINGKUNGAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa dengan

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013

HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013 HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP DENGAN PERILAKU MENCUCI TANGAN DENGAN BENAR PADA SISWA KELAS V SDIT AN-NIDA KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2013 Zuraidah, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, Menimbang : Mengingat : a. bahwa keracunan makanan dan minuman, proses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan pekerja dan akhirnya menurunkan produktivitas. tempat kerja harus dikendalikan sehingga memenuhi batas standard aman,

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan pekerja dan akhirnya menurunkan produktivitas. tempat kerja harus dikendalikan sehingga memenuhi batas standard aman, BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tempat kerja merupakan tempat dimana setiap orang mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri maupun keluarga yang sebagian besar waktu pekerja dihabiskan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengambil lokasi di Matahari Department Store Mall Ratu Indah. Waktu yang

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. mengambil lokasi di Matahari Department Store Mall Ratu Indah. Waktu yang 57 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN Lokasi penelitian merupakan suatu tempat atau wilayah dimana penelitian tersebut akan dilakukan. Adapun penelitian yang dilakukan oleh penulis

Lebih terperinci

Strategi Sanitasi Kabupaten Empat Lawang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG

Strategi Sanitasi Kabupaten Empat Lawang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG Perilaku hidup bersih dan sehat setiap masyarakat adalah cermin kualitas hidup manusia. Sudah merupakan keharusan dan tanggung jawab baik pemerintah maupun masyarakat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG. Pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia Sehat,

Lebih terperinci

PT. Kao Indonesia Chemicals

PT. Kao Indonesia Chemicals PT. Kao Indonesia Chemicals RANGKUMAN KESELAMATAN STRATEGI PRODUK GLOBAL EMAL 10P HD Dokumen ini adalah rangkuman komprehensif yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran kepada publik secara umum tentang

Lebih terperinci

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN

BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN BAB 28 PENINGKATAN AKSES MASYARAKAT TERHADAP KESEHATAN YANG BERKUALITAS Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak untuk memperoleh pelayanan kesehatan

Lebih terperinci

Penulisan Tesis Bab I & II. Frida Chairunisa

Penulisan Tesis Bab I & II. Frida Chairunisa Penulisan Tesis Bab I & II Frida Chairunisa Peta Wisata Tesis Pintu gerbang penelitian tesis Bab I Pendahuluan Bab III Metodologi Penelitian Bab V Kesimpulan dan Saran Magister Peneliti Bab II Tinjauan

Lebih terperinci

PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA

PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 651/MPP/ kep/10/2004 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS DEPOT AIR MINUM DAN PERDAGANGANNYA MENTERI PERINDUSTRIAN DAN PERDAGANGAN REPUBLIK

Lebih terperinci

Tahap-Tahap Penelitian Eksperimental. Semester genap

Tahap-Tahap Penelitian Eksperimental. Semester genap Tahap-Tahap Penelitian Eksperimental Semester genap Pendahuluan Penelitian eksperimental merupakan suatu metode penelitian yang meliputi delapan tahap, yaitu: 1. Memilih ide atau topik penelitian 2. Merumuskan

Lebih terperinci

* Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado

* Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sam Ratulangi Manado HUBUNGAN ANTARA HIGIENE SANITASI DEPOT AIR MINUM ISI ULANG DENGAN KUALITAS BAKTERIOLOGI PADA AIR MINUM DI KELURAHAN BAILANG DAN MOLAS KOTA MANADO Metri Karame*, Henry Palandeng*, Ricky C. Sondakh* * Fakultas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pada zaman dahulu, manusia hanya membutuhkan barang barang sehari-hari (barang umum) untuk kelangsungan hidupnya. Orientasi konsumen pada zaman tersebut hanya kepuasaan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 965/MENKES/SK/XI/1992 TENTANG CARA PRODUKSI KOSMETIKA YANG BAIK MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa langkah utama untuk menjamin keamanan kosmetika adalah penerapan

Lebih terperinci

LAPORAN PENILAIAN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KOTA CIREBON

LAPORAN PENILAIAN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KOTA CIREBON LAPORAN PENILAIAN RISIKO KESEHATAN LINGKUNGAN KOTA CIREBON I. PENGANTAR EHRA (Environmental Health Risk Assessment) atau Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan adalah sebuah survey partisipatif di tingkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa

BAB I PENDAHULUAN. keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Anak pada hakikatnya merupakan aset terpenting dalam tercapainya keberhasilan suatu negara, karena merupakan generasi penerus bangsa selanjutnya. Derajat kesehatan anak

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. penjelasan tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih.. Dalam

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS. penjelasan tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih.. Dalam BAB 2 TINJAUAN TEORITIS 21 Pengertian Regresi Linier Pengertian regresi secara umum adalah sebuah alat statistik yang memberikan penjelasan tentang pola hubungan (model) antara dua variabel atau lebih

Lebih terperinci

Lampiran 1 SURAT IJIN SURVEI AWAL PENELITIAN

Lampiran 1 SURAT IJIN SURVEI AWAL PENELITIAN Lampiran 1 60 SURAT IJIN SURVEI AWAL PENELITIAN Lampiran 2 61 SURAT IJIN SURVEI AWAL PENELITIAN Lampiran 3 62 SURAT IJIN PENELITIAN Lampiran 4 63 SURAT IJIN PENELITIAN Lampiran 5 64 LEMBAR KUESIONER DATA

Lebih terperinci

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai

Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar. dimensi produksi dan dimensi konsumsi. Dimensi produksi memandang keadaan sehat sebagai Kesehatan Masyarakat dan Lingkungan Sekitar Sehat merupakan kondisi optimal fisik, mental dan sosial seseorang sehingga dapat memiliki produktivitas, bukan hanya terbebas dari bibit penyakit. Kondisi sehat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR TABLET TAMBAH DARAH BAGI WANITA USIA SUBUR DAN IBU HAMIL

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR TABLET TAMBAH DARAH BAGI WANITA USIA SUBUR DAN IBU HAMIL Menimbang : a. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 88 TAHUN 2014 TENTANG STANDAR TABLET TAMBAH DARAH BAGI WANITA USIA SUBUR DAN IBU HAMIL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KESEHATAN

Lebih terperinci

BAB V HASIL PENELITIAN. A. Gambaran Umum Klinik Herbal Insani Depok. Bulan Maret 2007. Di atas tanah seluas 280 m 2 dengan luas bangunan

BAB V HASIL PENELITIAN. A. Gambaran Umum Klinik Herbal Insani Depok. Bulan Maret 2007. Di atas tanah seluas 280 m 2 dengan luas bangunan BAB V HASIL PENELITIAN Hasil penelitian ini terlebih dahulu akan membahas gambaran umum wilayah penelitian, proses penelitian dan hasil penelitian yang mencakup analisa deskriptif (univariat) serta analisa

Lebih terperinci

Langkah-langkah Anti Nyamuk

Langkah-langkah Anti Nyamuk Nasehat untuk rumah tangga Langkah-langkah Anti Nyamuk Arahan 1. Informasi di bawah ini adalah untuk membantu masyarakat mencegah dan mengendalikan pembiakan nyamuk Aedes albopictus, di rumah dan lingkungan

Lebih terperinci

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT

PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT MODUL: PENYARINGAN (FILTRASI) AIR DENGAN METODE SARINGAN PASIR CEPAT I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan sanitasi merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia, karena itu jika kebutuhan tersebut

Lebih terperinci

pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012

pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012 pengumpulan data penelitian Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) Delayota Experiment Team (D Expert) 2012 Variabel: suatu objek yang dapat memiliki lebih dari satu nilai. Contoh variabel: Jenis kelamin: ada dua

Lebih terperinci

PADI SEHAT, HASIL PANEN MENINGKAT

PADI SEHAT, HASIL PANEN MENINGKAT PADI SEHAT, HASIL PANEN MENINGKAT Fungisida sistemik dan zat pengatur tumbuh tanaman untuk mengendalikan penyakit bercak daun Cercospora sp. dan penyakit busuk upih Rhizoctonia solani serta meningkatkan

Lebih terperinci

REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014

REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014 ST2013-SBK.S REPUBLIK INDONESIA SENSUS PERTANIAN 2013 SURVEI RUMAH TANGGA USAHA BUDIDAYA TANAMAN KEHUTANAN TAHUN 2014 RAHASIA Jenis tanaman kehutanan terpilih...... 6 1 I. PENGENALAN TEMPAT 101. Provinsi

Lebih terperinci

PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP DAYA TAHAN JANTUNG PARU

PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP DAYA TAHAN JANTUNG PARU PENGARUH KEBIASAAN MEROKOK TERHADAP DAYA TAHAN JANTUNG PARU SKRIPSI Disusun Untuk Memenuhi Persyaratan Dalam Mendapatkan Gelar Sarjana Sains Terapan Fisioterapi Disusun Oleh : DIMAS SONDANG IRAWAN J 110050028

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.15/MEN/2011 TENTANG PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE DALAM WILAYAH NEGARA REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

OVERVIEW KLB KERACUNAN PANGAN

OVERVIEW KLB KERACUNAN PANGAN OVERVIEW KLB KERACUNAN PANGAN Kejadian Luar Biasa (KLB) Keracunan Pangan adalah suatu kejadian dimana terdapat dua orang atau lebih yang menderita sakit dengan gejala yang sama atau hampir sama setelah

Lebih terperinci

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT

ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT ASPEK PERAN SERTA MASYARAKAT A. PENDAHULUAN Pembinaan masyarakat dalam pengelolaan sampah adalah dengan melakukan perubahan bentuk perilaku yang didasarkan pada kebutuhan atas kondisi lingkungan yang bersih

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 101 TAHUN 2014 TENTANG PENGELOLAAN LIMBAH BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk

Lebih terperinci

TINGKAT KEMAMPUAN AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA LANSIA DENGAN PENYAKIT KRONIS DI KELURAHAN GEDUNG JOHOR KECAMATAN MEDAN JOHOR MEDAN

TINGKAT KEMAMPUAN AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA LANSIA DENGAN PENYAKIT KRONIS DI KELURAHAN GEDUNG JOHOR KECAMATAN MEDAN JOHOR MEDAN TINGKAT KEMAMPUAN AKTIVITAS SEHARI-HARI PADA LANSIA DENGAN PENYAKIT KRONIS DI KELURAHAN GEDUNG JOHOR KECAMATAN MEDAN JOHOR MEDAN SKRIPSI Oleh Desyi Prana Napitupulu 061101083 Fakultas Keperawatan Universitas

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 33 TAHUN 2014 TENTANG JAMINAN PRODUK HALAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Undang-Undang Dasar Negara

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan

BAB 1 PENDAHULUAN. beberapa zat gizi tidak terpenuhi atau zat-zat gizi tersebut hilang dengan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Keadaan gizi kurang dapat ditemukan pada setiap kelompok masyarakat. Pada hakekatnya keadaan gizi kurang dapat dilihat sebagai suatu proses kurang asupan makanan ketika

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 24/Permentan/SR.140/4/2011 TENTANG SYARAT DAN TATACARA PENDAFTARAN PESTISIDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 24/Permentan/SR.140/4/2011 TENTANG SYARAT DAN TATACARA PENDAFTARAN PESTISIDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 24/Permentan/SR.140/4/2011 TENTANG SYARAT DAN TATACARA PENDAFTARAN PESTISIDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa dengan Peraturan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR PER.17/MEN/2010 TENTANG PENGENDALIAN MUTU DAN KEAMANAN HASIL PERIKANAN YANG MASUK KE DALAM WILAYAH REPUBLIK INDONESIA DENGAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia

BAB I PENDAHULUAN. mencapai 1,2 milyar. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lanjut usia 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini, di seluruh dunia jumlah orang lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata 60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Stres muncul sejalan dengan peristiwa dan perjalanan kehidupan yang dilalui oleh individu dan terjadinya tidak dapat dihindari sepenuhnya. Pada umumnya, individu yang

Lebih terperinci

Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat

Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Bab 11 Bagaimana menjelaskan kepada dokter saat berobat Waktu memeriksa ke dokter menerangkan secara jelas beberapa hal dibawah ini 1.Menjelaskan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menular maupun tidak menular (Widyaningtyas, 2006). bayi dan menempati posisi pertama angka kesakitan balita.

BAB I PENDAHULUAN. menular maupun tidak menular (Widyaningtyas, 2006). bayi dan menempati posisi pertama angka kesakitan balita. BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pengetahuan yang ibu peroleh dapat menentukan peran sakit maupun peran sehat bagi anaknya. Banyak ibu yang belum mengerti serta memahami tentang kesehatan anaknya, termasuk

Lebih terperinci

HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH

HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH HUBUNGAN IBU HAMIL PEROKOK PASIF DENGAN KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RSU MEURAXA BANDA ACEH NURLAILA RAMADHAN 1 1 Tenaga Pengajar Pada STiKes Ubudiyah Banda Aceh Abtract

Lebih terperinci

GAMBARAN KELUARGA BERENCANA DAN KESEHATAN REPRODUKSI DI PROPINSI BENGKULU TAHUN 2007 (SURVEI DEMOGRAFI KESEHATAN INDONESIA 2007)

GAMBARAN KELUARGA BERENCANA DAN KESEHATAN REPRODUKSI DI PROPINSI BENGKULU TAHUN 2007 (SURVEI DEMOGRAFI KESEHATAN INDONESIA 2007) GAMBARAN KELUARGA BERENCANA DAN KESEHATAN REPRODUKSI DI PROPINSI BENGKULU TAHUN 2007 (SURVEI DEMOGRAFI KESEHATAN INDONESIA 2007) I. Pendahuluan Propinsi Bengkulu telah berhasil melaksanakan Program Keluarga

Lebih terperinci

ISU LINGKUNGAN HIDUP;

ISU LINGKUNGAN HIDUP; ISU LINGKUNGAN HIDUP; Mewaspadai Dampak Kemajuan Teknologi dan Polusi Lingkungan Global yang Mengancam Kehidupan, oleh Mukhlis Akhadi Hak Cipta 2014 pada penulis GRAHA ILMU Ruko Jambusari 7A Yogyakarta

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2015 TENTANG KETAHANAN PANGAN DAN GIZI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

ABSTRAK. PERANAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM MENUNJANG TERPENUHINYA PESANAN (Studi kasus pada PT. Sari Keramik Indonesia)

ABSTRAK. PERANAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM MENUNJANG TERPENUHINYA PESANAN (Studi kasus pada PT. Sari Keramik Indonesia) ABSTRAK PERANAN PENGENDALIAN PRODUKSI DALAM MENUNJANG TERPENUHINYA PESANAN (Studi kasus pada PT. Sari Keramik Indonesia) Seiring dengan semakin ketatnya dunia usaha, maka perusahaan dituntut untuk dapat

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG

PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2013 TENTANG PENCANTUMAN INFORMASI KANDUNGAN GULA, GARAM, DAN LEMAK SERTA PESAN KESEHATAN UNTUK PANGAN OLAHAN DAN PANGAN SIAP SAJI DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEHTAHUN 2012

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEHTAHUN 2012 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUH PENGELOLAAN SAMPAH MEDIS DI BADAN LAYANAN UMUM DAERAH RUMAH SAKIT UMUM DAERAH dr. ZAINOEL ABIDIN BANDA ACEHTAHUN Aulia Andarnita Mahasiswa S Kesehatan Masyarakat U budiyah

Lebih terperinci

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.12.10.12459 TAHUN 2010 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS KOSMETIKA

PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR HK.03.1.23.12.10.12459 TAHUN 2010 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS KOSMETIKA PERATURAN KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN NOMOR HK.03.1.23.12.10.12459 TAHUN 2010 TENTANG PERSYARATAN TEKNIS KOSMETIKA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KEPALA BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN, Menimbang

Lebih terperinci

CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014. Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1

CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014. Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1 CONTOH SOAL UJIAN SARINGAN MASUK (USM) IPA TERPADU 2014 Institut Teknologi Del (IT Del) Contoh Soal USM IT Del 1 Pencemaran Udara Pencemaran udara adalah kehadiran satu atau lebih substansi fisik, kimia

Lebih terperinci

STRUKTUR ONGKOS USAHA PETERNAKAN JAWA TENGAH TAHUN 2014

STRUKTUR ONGKOS USAHA PETERNAKAN JAWA TENGAH TAHUN 2014 No. 78/12/33 Th. VIII, 23 Desember 2014 STRUKTUR ONGKOS USAHA PETERNAKAN JAWA TENGAH TAHUN 2014 TOTAL BIAYA PRODUKSI UNTUK USAHA SAPI POTONG SEBESAR 4,67 JUTA RUPIAH PER EKOR PER TAHUN, USAHA SAPI PERAH

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Alat kesehatan meliputi barang, instrumen atau alat lain yang termasuk tiap komponen, bagian atau perlengkapannya yang diproduksi, dijual atau dimaksudkan untuk digunakan

Lebih terperinci

Imelda Erman, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik Kesehatan Palembang ABSTRAK

Imelda Erman, Yeni Elviani Dosen Prodi Keperawatan Lubuklinggau Politeknik Kesehatan Palembang ABSTRAK HUBUNGAN PARITAS DAN SIKAP AKSEPTOR KB DENGAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI JANGKA PANJANG DI KELURAHAN MUARA ENIM WILAYAH KERJA PUSKESMAS PERUMNAS KOTA LUBUKLINGGAU TAHUN 2012 Imelda Erman, Yeni Elviani

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per

BAB I PENDAHULUAN. anak-anak dan dewasa muda. Penyakit ini mencapai lebih dari 13 juta kematian per 11 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pemakaian antibiotik pada saat ini sangat tinggi, hal ini disebabkan penyakit infeksi masih mendominasi. Penyakit infeksi sekarang pembunuh terbesar di dunia anak-anak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025

BAB I PENDAHULUAN. penduduk lansia terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2025 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Di seluruh dunia pertumbuhan penduduk lansia umur 60 tahun ke atas sangat cepat, bahkan lebih cepat dibandingkan dengan kelompok usia lainnya. Semakin meningkatnya usia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Air merupakan kebutuhan utama seluruh makhluk hidup. Bagi manusia selain untuk minum, mandi dan mencuci, air bermanfaat juga sebagai sarana transportasi, sebagai sarana

Lebih terperinci

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI

KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI KARAKTERISASI FISIK DAN ph PADA PEMBUATAN SERBUK TOMAT APEL LIRA BUDHIARTI DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2008 ABSTRAK LIRA BUDHIARTI. Karakterisasi

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian tentang kebijakan (Policy Research),

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian ini adalah penelitian tentang kebijakan (Policy Research), 45 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian tentang kebijakan (Policy Research), menurut Majchrzak yang dikutip dari Riduwan (2007) penelitian kebijakan adalah

Lebih terperinci

Jurnal Kesehatan Kartika 27

Jurnal Kesehatan Kartika 27 HUBUNGAN MOTIVASI KERJA BIDAN DALAM PELAYANAN ANTENATAL DENGAN KEPATUHAN PENDOKUMENTASIAN KARTU IBU HAMIL DI PUSKESMAS UPTD KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2008 Oleh : Yulia Sari dan Rusnadiah STIKES A. Yani Cimahi

Lebih terperinci

Masalah Gizi di Indonesia dan Posisinya secara Global

Masalah Gizi di Indonesia dan Posisinya secara Global Masalah Gizi di Indonesia dan Posisinya secara Global Endang L. Achadi FKM UI Disampaikan pd Diseminasi Global Nutrition Report Dalam Rangka Peringatan Hari Gizi Nasional 2015 Diselenggarakan oleh Kementerian

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan (2011), dalam survey yang

BAB I PENDAHULUAN. Menurut Direktorat Jenderal Peternakan (2011), dalam survey yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pangan asal hewan dibutuhkan manusia sebagai sumber protein hewani yang didapat dari susu, daging dan telur. Protein hewani merupakan zat yang penting bagi tubuh manusia

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.749, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Wajib Lapor. Pecandu Narkotika. Tata Cara. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 37 TAHUN 2013 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN

Lebih terperinci

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA

UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA MODUL: UJI & ANALISIS AIR SEDERHANA I. DESKRIPSI SINGKAT A ir dan kesehatan merupakan dua hal yang saling berhubungan. Kualitas air yang dikonsumsi masyarakat dapat menentukan derajat kesehatan masyarakat.

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Dalara suatu penelitian ilmiah salah satu unsur yang cukup penting adalah

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Dalara suatu penelitian ilmiah salah satu unsur yang cukup penting adalah BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian Dalara suatu penelitian ilmiah salah satu unsur yang cukup penting adalah metodologi karena ketepatan metodologi yang digunakan untuk memecahkan

Lebih terperinci

Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, ** *) Balai Litbang Biomedis Papua **) Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih

Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, ** *) Balai Litbang Biomedis Papua **) Fakultas Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Cenderawasih Analisis Hubungan Tingkat Kecukupan Gizi Terhadap Status Gizi pada Murid Sekolah Dasar di SD Inpres Dobonsolo dan SD Inpres Komba, Kabupaten Jayapura, Papua Semuel Sandy, M.Sc*, Maxi Irmanto, M.Kes, **

Lebih terperinci

PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR. Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar

PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR. Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar PETUNJUK PENGAMBILAN SAMPEL DNA SATWA LIAR Petunjuk Penggunaan Kit (Alat Bantu) untuk Pengambilan Sampel DNA Satwa Liar Panduan ini dirancang untuk melengkapi Kit atau Alat Bantu Pengambilan Sampel DNA

Lebih terperinci

ENOK ILA KARTILA SKRIPSI

ENOK ILA KARTILA SKRIPSI SIKAP DAN TINDAKAN MASYARAKAT BANTARAN SUNGAI CILIWUNG DALAM AKTIVITAS PEMBUANGAN SAMPAH RUMAH TANGGA (Kasus di Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor) ENOK ILA KARTILA SKRIPSI PROGRAM

Lebih terperinci

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT

SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT SITUASI UPAYA KESEHATAN JAKARTA PUSAT A.UPAYA KESEHATAN IBU DAN ANAK Salah satu komponen penting dalam pelayanan kesehatan kepada masyarakat adalah pelayanan kesehatan dasar. UU no.3 tahun 2009 tentang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 82 TAHUN 2000 TENTANG KARANTINA HEWAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang perkarantinaan hewan

Lebih terperinci

STRATEGI KOMUNIKASI DAN TINGKAT KESADARAN KESEHATAN

STRATEGI KOMUNIKASI DAN TINGKAT KESADARAN KESEHATAN STRATEGI KOMUNIKASI DAN TINGKAT KESADARAN KESEHATAN (Studi Korelasional Pengaruh Strategi Komunikasi Tim Penggerak PKK Pokja IV Terhadap Tingkat Kesadaran Masyarakat Mengenai Kesehatan di Kelurahan Dendang

Lebih terperinci

Lembar Data Keamanan Bahan Ethanol 95/E5

Lembar Data Keamanan Bahan Ethanol 95/E5 1. Identitas Bahan dan Perusahaan Nama dagang Synonim Code Produksi 1806 Penggunaan Bahan pelarut, bahan mentah untuk tinta cetak dan aditif tinta cetak Perusahaan Sasol Solvents A division of Sasol Chemical

Lebih terperinci

NASKAH PUBLIKASI. Disusun Oleh: NANDA HASRI PERMATASARI A510110084 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

NASKAH PUBLIKASI. Disusun Oleh: NANDA HASRI PERMATASARI A510110084 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PERSEPSI MAHASISWA PEROKOK MENGENAI GAMBAR PERINGATAN BAHAYA MEROKOK PADA KEMASAN ROKOK BAGI MAHASISWA PRODI PGSD FKIP UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA TAHUN 2014/2015 NASKAH PUBLIKASI Disusun Oleh:

Lebih terperinci

Pemetaan Biplot untuk Masalah Putus Sekolah Pendidikan Dasar pada Masyarakat Miskin antar Kecamatan di Kabupaten Ogan Ilir

Pemetaan Biplot untuk Masalah Putus Sekolah Pendidikan Dasar pada Masyarakat Miskin antar Kecamatan di Kabupaten Ogan Ilir Jurnal Penelitian Sains Volume 14 Nomer 2(A) 14203 Pemetaan Biplot untuk Masalah Putus Sekolah Pendidikan Dasar pada Masyarakat Miskin antar Kecamatan di Kabupaten Ogan Ilir Dian Cahyawati S. dan Oki Dwipurwani

Lebih terperinci

III. METODOLOGI PENELITIAN. (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat

III. METODOLOGI PENELITIAN. (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat III. METODOLOGI PENELITIAN A. Metode Penelitian Metode penelitian adalah cara yang dipakai dalam mengumpulkan data (Suharsimi Arikunto, 2006:219). Dalam melakukan penelitian, haruslah dapat menggunakan

Lebih terperinci

SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007

SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007 SURVEY GLOBAL KESEHATAN BERBASIS SEKOLAH DI INDONESIA TAHUN 2007 Survei ini merupakan survey mengenai kesehatan dan hal-hal yang yang mempengaruhi kesehatan. Informasi yang anda berikan akan digunakan

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH KABUPATEN JEPARA NOMOR 13 TAHUN 2010 TENTANG LEMBAGA KEMASYARAKATAN DESA DAN KELURAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI JEPARA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka pemberdayaan masyarakat

Lebih terperinci

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) SISWA SMAN 2 JEMBER

BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) SISWA SMAN 2 JEMBER BEBERAPA FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEBIASAAN KONSUMSI MAKANAN CEPAT SAJI (FAST FOOD) SISWA SMAN 2 JEMBER SKRIPSI diajukan guna memenuhi tugas akhir dan memenuhi syarat-syarat untuk menyelesaikan Pendidikan

Lebih terperinci

APAKAH RUMAH KITA AMAN UNTUK ANAK-ANAK KITA

APAKAH RUMAH KITA AMAN UNTUK ANAK-ANAK KITA APAKAH RUMAH KITA AMAN UNTUK ANAK-ANAK KITA Rumah merupakan tempat yang paling aman bagi seluruh keluarga, tetapi bila kita perhatikan sekelilingnya baru kita sadari ternyata dirumah ada berbagai bahan-bahan

Lebih terperinci