Risiko kesehatan akibat pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga di Kabupaten Badung dan Ubud Propinsi Bali

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Risiko kesehatan akibat pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga di Kabupaten Badung dan Ubud Propinsi Bali"

Transkripsi

1 LAPORAN PENELITIAN Risiko kesehatan akibat pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga di Kabupaten Badung dan Ubud Propinsi Bali PROGRAM INSENTIF RISET TERAPAN Oleh: Hendro Martono dan Tim PUSLITBANG EKOLOGI DAN STATUS KESEHATAN BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN NOVEMBER 2010

2 KATA PK TGAl,iAR =an memanjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, laporan Penelitian,.""".._..., k ehatan akibat pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga di up t n Badung dan Ubud Propinsi Bali, telah kami selesaikan. Tujuan dari studi mendapatkan informasi tentang kondisi pengelolaan (penggunaan dan an 1 pestis ida kimia di tingkat rumah tangga. ran penelitian ini memuat informasi tentang pengetahuan, sikap dan perilaku at dalam pengelolaan pestisida/insektisida di tingkat rumah tangga. Dalam i ini juga dikurnpulkan data tentang kondisi upaya pembinaan dan pengawasan pemakaian pestisida kimia di tingkjat rumah tangga. Untuk itu dalam penelitian ini juga dillliilpulkan data kinerja upaya tersebut dari berbagai instansi terkait, terutama instansi kesehatan dan instansi pertanian di tingkat kabupaten. Dengan diketahuinya pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat terhadap pengelolaan (penggunaan dan penyimpanan) pestisida/insektisida diharapkan dapat dijadikan sebagai data dasar I masukan bagi peningkatan kinerja upaya pembinaan dan pengawasan penggunaan pestisidalinsektisida di tingkat rumah tangga. Sehingga dampak yang ditimbulkan akibat pemakaian pestisida kimia tersebut dapat dikurangi. Dalam kesempatan ini kami sampaikan ucapan terimakasih kepada Kementrian Riset dan Teknologi yang telah memfasilitasi pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terimakasih juga kami sampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali beserta staf, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung dan Gianyar beserta staf serta Para Pimpinan puskesmas-puskesmas lokasi penelitian dan staf atas bantuan dan kerjasamanya sehingga penelitian ini dapat diselesaikan dengan lancar. Semoga laporan ini dapat bermanfaat, khususnya bagi upaya penurunan risiko kesehatan akibat penggunaan pestisida kimia di rumah tangga. Jakarta, November 2010 Tim Penelitian 1

3 T DAFTAR 151 Hal T" o\ TA PL GANT AR D.c\FT.-ill I I 0.-\FT..\R. TABEL AB TRAK TIM PE ELITI 11 IV v Vl B.-ill I. PE DAHULUAN 1.1. Latar belakang 1.2. Tujuan Tujuan Umum Tujuan Khusus 1.3. Manfaat penelitian 1.4. Ruang lingkup penelitian BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 4 BAB BAB III. METODE PENELITIAN 3.1. Kerangka Konsep V ariabel-variabel 3.3. Definisi Operasional 3.4. Tempat dan waktu 3.5. Disain Penelitian 3.6. Jenis dan Cara Pengumpulan Data 3.7. Populasi dan Sampel 3.8. Pengolahan dan Analisis Data 3.9. Pertimbangan Izin Penelitian Pertimbangan Etik IV. HASIL 4.1. Karakteristik Responden 4.2. Pengetahuan Responden Dalam Penggunaan dan Penyimpanan Pestisida 4.3. Perilaku Responden Terhadap Penggunaan dan Penyimpanan Pestisida 4.4. Gangguan Kesehatan Reponden 4.5. Hasil pengumpulan data kualitatif Hasil wawancara mendalam dengan responden dari instansi terkait di Kabupaten Badung Hasil Wawancara mendalam dengan responden dari instansi terkait di Kabupaten Gianyar

4 BAB. PL fr:\ha A~- 37 3AB T IT.C fpul D SARAN 6.1. Ke impulan 6.:::. aran

5 DAFTAR label Hal -.l. -. ~ - Karah.-teristik Responden di lokasi studi, 2010 Pengetahuan responden terhadap pestisida di lokasi studi, 2010 Pengetahuan responden terhadap penggunaan dan penyimpanan erta peraturan pestisida di lokasi studi, 2010 Pengetahuan responden terhadap bahaya pestisida di lokasi studi ikap responden terhadap pengaturan penggunaan pestisida di lokasi studi, 2010 Perilaku responden terhadap penggunaan pestisida di lokasi studi, 2010 Kejadian keracunan pestisida dan gangguan kesehatan yang dialami ART di lokasi studi, IV

6 AB TRAK Pe er iac ri. o e ehatan akibat pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga..,.ibi an di Kabupaten Badung dan Gianyar, Bali. Penelitian ini bertujuan untuk an informasi tentang kondisi pengelolaan (penggunaan dan penyimpanan) "si. mia di tingkat rumah tangga, terutama yang berkaitan dengan pengetahuan, perilcil.'u rnasyarakat pengguna pestisida tersebut. Informasi hasil penelitian "rnp an dapat dijadikan masukan bagi pengembangan prograrn/upaya pembinaan e~ahan risiko kesehatan, khususnya dalam rangka meningkatkan kemampuan -_-<>l'fu a~ untuk secara mandiri mengurangi masalah yang mungkin ditimbulkan.. a: -00 responden /rumah tangga dijadikan sam pel dalam penelitian ini dan telah an arai dan diobservasi. Di samping itu juga telah dilakukan wawancara am terhadap beberapa instansi terkait di kedua daerah penelitian tersebut. H -il penelitian mengungkapkan bahwa: Pengguna pestisida kimia di Kabupaten...,... ~ ~ an Gianyar masing-masing sebesar 92,5 % dan 94,0 % responden, tetapi -j responden yang membaca aturan penggunaannya masing-masing sebesar 59,0 dan --.0 %. Proporsi responden yang tidak mencuci tangannya setelah n:e. rgunakan pestisida di Kabupaten Badung sebesar 45,0 %, dan di Kabupaten G"an:ar -ebesar 13,5 %. Poporsi penggunaan masker di Kabupaten Badung sebesar 6,0 - d:m~. an proporsi responden yang menggunakan APD tersebut di Kabupaten ar 19,5 %. Proporsi responden yang melakukan penyimpanan pestisida an di kedua daerah penelitian tersebut ialah: 63,5 % responden di Kabupaten = dan 90.0 % di Kabupaten Gianyar. Di Kabupaten Badung, aplikasi pestisida = _e~'"'.::- dilakukan di ruang keluarga (49,2 %), tetapi di Kabupaten Gianyar tempat - i ida tersering di kamar tidur. Tempat pembuangan sampah merupakan mbuangan pestisida yang sudah tidak dipergunakan lagi (proporsi responden :ren Badung sebesar 35,2 %, dan di Kabupaten Gianyar sebesar 61,7 %). Dan r- responden yang pernah mendapat penyuluhan tentang pestisida di kedua daerah li"ian tersebut masing-masing sebesar 23,5 % (di Kabupaten Badung), dan sebesar :;.0 % re ponden di Kabupaten Gianyar. Berdasarkan data tersebut di atas dapat i-impulkan bahwa pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga masih berisiko erhadap kesehatan dan lingkungan, oleh karena itu perlu dilakukan upaya untuk mengatasinya. Kata-kata kunci: risiko, kesehatan, pestisida kimia, rumah tangga. v

7 R-ill I PLIDAHCL N. Bel ang Penggunaan pestisida kimia dari waktu ke waktu terns mengalami peningkatan -egi jumlah maupun jenis. Salah satu jenis pestisida yang paling dekat :.e'2 5 :m masyarakat adalah insektisida karena hampir seluruh rumah tangga baik di maupun di pedesaan menggunakannya. Masyarakat cenderung an pestisida untuk mengendalikan hama/hewan pengganggu seperti nyamuk, lalat, rayap, tikus, dll.) karena dianggap lebih praktis, efektif dan Telab banyak bukti-bukti yang ditemukan pengaruh samping senyawa kimia erhadap kesehatan manusia. Hal penting yang harus diperhatikan adalah -A.LilU.U...U menekan sekecil mungkin kerugian yang mungkin timbul baik terhadap..._.,'-"'"... 5 an maupun kesehatan. Beberapa dampak negatif yang mungkin timbul penggunaan pestisida di antaranya adalah masalah keracuv.an, pencemaran ;:ungan ontaminasi air, tanah, dan udara), perkembangan hama menjadi lebih resi en dan toleran terhadap pestisida, terbunuhnya musuh alami hama tersebut dan organisme bukan sasaran, dan terjadinya residu pestisida pada rantai makanan. Pemakaian pestisida kimia untuk pemberantasan hama tanaman dan vektor penyakit cenderung selalu mengalami kenaikan. Hal ini ditandai dengan semakin meningkatnya volume penjualan pestisida secara global. Secara umum dapat dikatakan bahwa porsi terbesar jenis pestisida yang terjual berupa herbisida, kemudian disusul insektisida dan fungisida. Tingginya penggunaan pestisida tersebut bagaimanapun menambah risiko kesehatan yang dihadapi, baik oleh para operator pestisida maupun masyarakat secara luas. Risiko kesehatan yang dialami oleh para pengguna pestisida biasanya berkaitan dengan cara-cara pengamanan pemakaian pestisida tersebut, sedangkan risiko kesehatan yang diderita oleh masyarakat luas umumnya karena terjadinya pencemaran pestisida yang masuk pada rantai makanan, dan keracunan pestisida, baik akibat tertelan atau terhirup pestisida maupun akibat kontak langsung melalui kulit. Dalam tata pergaulan global, Indonesia terikat pada beberapa perjanjian tingkat intemasional di bidang pengendalian masalah lingkungan. Kesepakatankesepakatan tersebut pada hakekatnya merupakan upaya global untuk bersama-sama menanggulangi masalah-masalah lingkungan agar tidak berdampak buruk pada lingkungan dan kesehatan manusia. Salah satu hal yang diatur melalui kesepakatan- 1

8 -~~...uasi. erse ial~ isu ahan ber ahaya dan beracun (B3). egenap 'arahkan un mensiasari agar B3 ridak menimbulkan masalah, mulai dari pengawasan.. sampai dengan rnernpersiapkan langkah-langkah pemulihan _ ~gan dan penanggulangan kasus apabila terjadi masalah, baik terhadap.li..l=u'-'-'-ia rnaupun lingkungan. Salah satu B3 yang harus diatur dan diawasi ialah ;:?'O~~unaan pestisida, yang banya.l( dipakai pada bidang-bidang pertanian, an dan kesehatan. Pemerintah bekerjasarna dengan berbagai pihak selama ini meregulasi peredaran mengawasi penggunaan pestisida agar faktor risiko yang ada tidak em ahayakan kesehatan. Bahkan penerapan pendekatan pemberantasan vektor crpadu juga telah dimulai sejak beberapa tahun yang lalu. Telah banyak eluarkan peraturan-peraturan di bidang pengelolaan pestisida, termasuk pengelolaan pestisida di tingkat rumah tangga, yang a.l. tertuang dalam Keputusan ie teri Pertanian (No.434.1/Kpts/TP.270/7/2001), Peraturan Menteri Kesehatan, : na pedornan-pedoman maupun petunjuk-petunjuk teknis lainnya. Pemerintahjuga ~bh mengatur peredaran, penyirnpanan dan penggunaan pestisida, mengatur batas "' aran pestisida dalam air minum maupun makanan; tetapi kasus-kasus keracunan - - pen emaran pestisida pada media lingkungan masih terus terjadi. ~ Tujuan l~.l.t ujuan Umum:. fendapatkan informasi tentang kondisi pengelolaan (penggunaan dan penyimpanan) pestisida kimia di tingkat rumah tangga Tujuan Khusus: a. Diperolehnya informasi tentang pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat dalam pengelolaan dan penggunaan pestisida kimia di rumah tangga b. Diperolehnya informasi tentang pengaturan dan pengawasan pemakaian pestisida kimia di tingkat rumah tangga Manfaat penelitian: 1. Bagi pemerintah (Depatemen Kesehatan, Departemen Pertanian): sebagai dasar untuk penyusunan kebijakan dalam upaya pengamanan risiko pestisida rumah tangga, terutama melalui pengembangan pendekatan berbasis masyarakat, 2

9 ui -ondisi pengelolaan pestisida dan risikonya erhadap esehatan yang mun~kin terjadi,.j. Umu pengetahuan:sebagai referensi pengkajian dan penelitian yang akan datang. la. Ruang lingkup penelitian _ lasalah yang akan diteliti ialah factor-faktor risiko yang berkaitan dengan penggunaan pestisida kimia di tingkat rumah tangga. Faktor-faktor risiko -e- hatan yang diteliti tersebut antara lain meliputi: tingkat pengetahuan dan mahaman masyarakat mengenai risiko bahaya pencemaran dan keracunan - ida kirnia, perilaku yang berkaitan dengan pemakaian dan pengelolaan -ti-ida di rumah tangga, dan observasi kesehatan lingkungan rumah tangga, - ususnya yang berkaitan dengan pemakaian pestisida kimia. Dengan demikian -an didapat informasi kondisi risiko pemakaian pestisida tersebut di tingkat rumah tangga. Selanjutnya dengan berbekal informasi tersebut akan dimungkinkan dirumuskannya tindakan-tindakan koreksi dan pengembangan yang ditujukan untuk menekan risiko kesehatan yang akan terjadi. 3

10 BABII ~JAUAN PUSTAKA Ri iko kesehatan akibat pemakaian pestisida kimia, termasuk di tingkat rumah tangga tidak terlepas dari bahaya pemajanan pestisida tersebut, baik pemajanan melalui saluran pernafasan, saluran pencernaan maupun melalui kontak kulit. Pemajanan pestisida di rumah tangga dapat berisiko terhadap semua anggota -eluarga. tetapi kelompok usia anak biasanya lebih rentan terhadap risiko tersebut. Anak-anak lebih mudah terpajan pestisida, baik melalui pemafasan, kontak kulit, maupun melalui kecelakaan akibat menelan pestisida (;Goldman LR. 1995; Reigart JRm 1995). Selain itu faktor physiologi anak juga menjadi penyebab mengapa ri iko pajanan pestisida pada anak lebih berat dibandingkan dengan risiko serupa pada orang dewasa. Hal ini terjadi sebab intensitas tingkat pajanan pestisida terhadap anak lebih tinggi, mereka lebih banyak menghirup udara dan lebih banyak mengkonsumsi makanan per kg BB-nya karena tingkat metabolisme mereka lebih tinggi Environmental (Protection Agency, 1998). Untuk menekan risiko kesehatan akibat penggunaan pestisida kimia, khususnya penggunaan pestisida di skala rumah tangga, perlu diupayakan agar tidak terjadi penyimpangan dalam pengelolaan dan penggunaannya. Untuk itu, masyarakat pengguna pestisida hendaknya benar-benar paham bagaimana cara mengelola bahan berbahaya tersebut secara benar, sehingga mereka mampu mencegah terj adinya dampak kesehatan. Dengan mengetahui berbagai informasi yang berkaitan dengan berbagai risiko kesehatan penggunaan pestisida tersebut, diharapkan akan dapat dijadikan tambahan masukan rancang tindakan korektif untuk mengantisipasi masalah tersebut, terutama dalam rangka memberdayakan masyarakat agar mereka lebih mampu mencegah dan menanggulangi faktor-faktor risiko kesehatan yang mungkin terjadi akibat pemakaian pestisida kimia di rumah tangga. Dengan maksud untuk mencegah dampak negatif yang mungkin dapat ditimbulkan akibat pemakaian pestisida, pemerintah juga telah mengatur peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida Di samping itu, juga telah diatur ketentuan batas cemaran pestisida pada media lingkungan, termasuk dalam air minum dan makanan. Sekalipun dernikian, sampai saat ini masih terdapat kasus-kasus keracunan pestisida dan pencemaran pestisida pada rantai makanan 4

11 aan.: ~...:r::an. Bcr - -an berapa srudi yang dilak'ukan eli berbagai \\ilayah. emaran pestisida k:imia masih terdeteksi pada beberapa jenis media lingk.lllgan. Di samping iul kebiasaan-kebiasaan dalam pemakaian pestisida dan hygiene perorangan para penggunanya juga masih berisiko menimbulkan risiko kesehatan Belum lagi pemanfaatan wadah-wadah pestisida untuk wadah air, makanan/minuman, dan makanan temak yang juga masih sering dijumpai di lapangan. Sesuai dengan tujuan penggunaannya yaitu mengendalikan hama, baik hama tanaman maupun vektor penyakit, pestisida pada umumnya mengandung bahan yang bersifat toksik. Menurut data dari Departemen Pertanian, saat ini lebih dari 200 jenis bahan aktif yang terdaftar dan dijinkan sebagai insektisida. Telah banyak bukti-bukti yang ditemukan pengaruh samping senyawa kimia pestisida terhadap kesehatan manusia. Berdasarkan hasil penelitian, beberapa jenis penyakit dapat diakibatkan oleh pengaruh samping penggunaan senyawa pestisida antara lain: leukemia, myaloma ganda, lymphomas, sarcomas jaringan lunak, kanker prostat, kulit, melanoma, hati, dan paru, gangguan syaraf, dan neoplasma indung telur (Watterson, 1988). Selain itu, beberapa senyawa pestisida telah terbukti dapat menjadi carsinogenic agent, baik pada hewan dan manusia. Sebanyak 47 jenis bahan aktif pestisida ditemukan terbukti sebagai carsinogenic agent pada hewan, dan 12 jenis lagi terbuti sebagai carsinogenic agent pada manusia (Gosselin, 1984: IARC, 1978: Saleh, 1980). Fakta lain ditemukan pula bahwa temyata tercatat 80 jenis bahan aktif pestisida juga dapat menjadi penyebab atau sebagai faktor mutagenic agent (Moriya, 1983; Weinstein, 1984; Sandhu, 1980; Simmon, 1980). Suatu studi terhadap potensi risiko kesehatan terhadap 30 jenis pestisida yang biasa diaplikasikan untuk pekarangan rumput antara lain mengungkapkan bahwa sebanyak 19 jenis di antaranya berisiko sebagai bahan carciogenic yang dapat menimbulkan kelahiran cacat, 21 j enis di antaranya berpotensi menimbulkan gangguan fungsi reproduksi, dan 15 jenis di antarannya dapat menyebabkan terjadinya neurotoxicity (Beyod Pesticides Factsheet. 2005). Hasil studi lainnya menyatakan bahwa kelompok wanita harnil, bayi, anak-anak, kelompok usia lanjut dan para penderita penyakit kronis merupakan kelompok-kelompok yang paling rentan terdadap pajanan pestisida, yang dapat meningkatkan terjadinya risiko kanker (US EPA. 2002). Selanjutnya hasil studi lainnya juga menyebutkan 5

12 r g BB-nya rerhadap pestisida relatif lebih tinggi dibandingkan orang dewasa yang mengembangkan sistem tubuh yang lebih rentan dan lebih lambat untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh mereka (US EPA. _002), dan patut pula dicatat bahwa berdasarkan hasil studi biomonitoring menyebutkan kandungan pestisida dalam tubuh ibu dapat disalurkan melalui saluran darah placenta dan air susu ibu (D.C., Repetto R. et. al., 1996). Walaupun dampak akibat pajanan pestisida telah terbukti, tetapi sampai saat ini masyarakat belum dapat melepaskan diri dari keterikatan terhadap penggunaan pestisida pestisida, baik untuk mengendalikan hama tanaman maupun untuk mengendalikan vektor penyakit. Hal penting yang harus diperhatikan adalah bagaimana menekan sekecil mungkin kerugian yang mungkin timbul baik terhadap lingkungan maupun kesehatan. Beberapa dampak negatif yang mungkin timbul akibat penggunaan pestisida di antaranya adalah mru;alah keracunan pestisida, pencemaran lingkungan (air, tanah, dan udara), pencemaran rantai makanan, perkembangan hama menjadi lebih resisten dan toleran terhadap pestisida, terbunuhnya musuh alami hama tersebut dan organisme bukan sasaran, dan terjadinya kecelakaan akibat tertelannya pestisida. Penggunaan pestisida kimia dari waktu ke waktu terns mengalami peningkatan baik dari segi jumlah maupun jenis. Salah satu jenis pestisida yang paling dekat dengan masyarakat adalah insektisida karena hampir seluruh rumah tangga baik di perkotaan maupun di pedesaan menggunakannya. Masyarakat cenderung menggunakan pestisida kimia untuk mengendalikan hama/hewan pengganggu (seperti: kecoa, nyamuk, lalat, rayap, tikus, dll.) karena dianggap lebih praktis, efektif dan efisien. Kondisi ini mendorong masyarakat industri untuk memproduksi berbagai jenis pestisida. Menurut Indonesia Biotechnology Information Centre tahun 2009, dalam dua tahun terakhir ini jumlah pestisida di pasaran bertambah sekitar 450 merek menjadi merek dagang berizin dengan berbagai kandungan bahan aktif. Jumlah itu baru di sektor pertanian dan perkebunan, belum termasuk pestisida untuk rumah tangga. Selain dosis dan bahan aktif pestisida, hal yang juga perlu diperhatikan dalam mengevaluasi pemakaian pestisida ialah jenis inert ingredients yang dipakai dalam suatu produk pestisida. Adakalanya bahan-bahan yang disebutkan sebagai inert ingredient pada kemasan pestis ida temyata juga berisiko dapat menimbulkan 6

13 tan. Berda.sar an hasil stu. terungkap bahwa 800 dari 1200 : ri inerediem yang diteliti masuk e dalam kategori unknown toxicity, sebanyak -- termas ' bahan beracun dengan tingkat tinggi yang dapat menimbulkan dampak kesehatan berupa gangguan reproduksi, kelahiran cacat, dan, urotoxicity, dan 64 bahan inert ingridient lainnya berpotensi beracun (Pohl, HR., al.. ~ 000). Selanjutnya berdasarkan hasil studi lainnya juga terungkap bahwa se anyak 394 inert ingredient suatu produk pestisida, dicantumkan sebagai bahan crif produk pestisida lain, dan lebih dari 200 inert ingredient dinilai sebagai ahan pencemar berbahaya (Sturtz, N. Et al. 2000). Bahan aktif produk pestisida biasanya hanya meliputi 5% dari suatu produk pestisida, sedangkan sisanya merupakan inert ingredient (Sturtz, N. Et al., 2000). Jadi sebagaian besar produk pestisida komposisinya memang inert ingredient, walau seperti disebutkan di atas bahan tersebut adakalanya bersifat toksik. Bahan aktif pestisida inilah yang dirancang untuk dapat secara efektif membunuh hama yang menjadi sasaran pemakaian produk pestisida tersebut. Dewasa ini tingkat toksisitas bahan aktif tersebut dibedakan menjadi beberapa kelas, mulai dari yang sangat toksik sampai yang kurang toksik. Di Indonesia saat ini lebih dari 200 jenis bahan aktif yang terdaftar dan dijinkan sebagai insektisida. Beberapa telah dilarang karena diduga dapat membahayakan kesehatan seperti diklorvos, propoksur, klorpirifos. Suatu survei penggunaan pestisida yang diadakan pada tahun 2004 di USA mengungkapkan bahwa 5 juta runah tangga di USA hanya mempergunakan organic lawn pesticides, dan sebanyak 35 juta rumah tangga lainnya mempergunakan dua jenis produk pestisida, baik yang berisi bahan beracun maupun produk yang tidak beracun. Pada tahun tersebut diperkirakan sebanyak 78 juta rumah tangga di USA mempergunakan pestisida, baik untuk keperluan di dalarn rumah maupun di kebun (US EPA, 2005). Hasil survei pemakaian pestisida di USA ini memang tidak bisa serta merta dianalog-kan dengan pola pemakaian di negara-negara lain, termasuk di Indonesia. Hal ini disebabkan jenis dan karakteristik populasi hama yang berbeda. Umurnnya tingkat penggunaan jenis pestisida herbisida dan fungisida pada skala rumah tangga di USA lebih tinggi proporsinya dibandingkan dengan insektisida. Kondisi ini berbeda di negaranegara yang masalah serangga pengganggunya (nyamuk, lalat, dll) lebih menonjol. 7

14 sam_ a tin:' - ns -o -e eharan akibar pemakaian pestisida te e ut erat kaitannya dengan aspek pengelolaan dan penggunaan pestisida di lapangan. termasuk di lingkungan rumah tangga. Sebagai gambaran dapat dikemukakan hasil suatu studi penggunaan pestisida di rumah tangga di USA yang dilaksanakan pada tahun Dari sebanyak 107 rurnah tangga yang diteliti, sebanyak 70% dari responden menyimpan produk-produk pestisida tersebut di dalam rumah, di mana 50% di antaranya disimpan pada tempat yang tingginya kurang dari 4 ft sehingga mudah dijangkau anak-anak (Spitzer, E., Attorney General of NY. 2000). Hasil sebuah studi mengenai pemakaian rodentisida mengungkapkan bahwa sebanyak 69% responden menyimpan pestisida tersebut di tempat yang tidak bisa dijangkau anak-anak (Judith K. Bass et al. 2001). Aspek tempat penyimpanan pestisida tersebut menggambarkan bahwa risiko penyalahgunaan atau kecelakaan penggunaan pestisida yang mungkin akan melibatkan anak-anak masih relatif cukup tinggi. Padahal, seperti yang telah diuraikan di muka tingkat kerentanan kelompok usia anak terhadap pajanan pestisida lebih tinggi dibandingkan orang dewasa. Sasaran aplikasi pestisida biasanya dilakukan di mana ditemuka hama I binatang pengganggu di lingkungan rurnah tangga, atau pada tempat-tempat yang dianggap sering didapati hama tersebut. Lokasi keberadaan hama tersebut sering kali pada tempat-tempat di mana mereka bersarang atau tempat-tempat di mana mereka mendapatkan sumber makanan. Oleh karena itu, aplikasi pestisida juga tidak jarang dilakukan di dapur atau tempat-tempat lain yang memungkinkan hama tersebut lebih mudah untuk melangsungkan kehidupan mereka. Berdasarkan suatu studi di USA temyata memang sebagian besar responden (70%) menyatakan melakukan aplikasi pestisida di dapur, dan sebanyak 55% responden melakukan aplikasi pestisida di kamar mandi (Spitzer, E. 2000). Pada umumnya dapur adalah tempat utama dalam proses penyiapan makanan, sehingga pola aplikasi pestisida tersebut berpotensi meningkatkan risiko terjadinya pencemaran pestisida terhadap makanan. Pola pemilihan produk/jenis pestisida yang dipakai masyarakat tergantung berbagai faktor, antara lain: ketersediaan produk di pasaran, tingkat efektifitas produk dalam membunuh hama, pengetahuan konsumen, jenis bahan aktif, harga dan intensitas promosi produk pestisida tersebut. Jenis produk yang dipakai ini berbanding langsung dengan tingkat risiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan. 8

15 emakin g da_ a ra un ahan al."tif arau inert ingredient yang erkandung, semakin besar ri iko ke eharannya Hasil suatu studi penggunaan pestisida di rumah tangga di USA terse but menyebutkan bahwa dari sebanyak 107 rumah tangga yang diteliti, telah ditemukan sebanyak 148 produk pestisida, berarti dalam setiap rumah tangga rata-rata ditemukan 1,4 produk pestisida (Spitzer, E. 2000). Angka ini memang lebih rendah dibandingkan dengan hasil-hasil studi sebelumnya (US EPA. 2004; Judith K. Bass et al. 2001). Produk-produk pestisida yang ditemui sebagian besar berbahan aktif dengan daya racun rendah. Tetapi dalam studi tersebut temyata juga ditemukan empat jenis bahan aktif pestisida yang tergolong pestisida organophospate, yang dapat menyebabkan keracunan pada orang dewasa (Parsons BJ, Day LM, Ozanne-Smith J, Dobbin M., 1996). 9

16 B.-\BIY ~letode PL IELITIA.'" 3.1 Kerangka Konsep Penggunaan Pestisida kimia Jenis, Dosis, Cara, Waktu, Frekuensi, Bahan aktif. Faktor internal: Karakteristik responden (Umur, sex, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan sikap, perilaku), Faktor eksternal: Peratura n/ perizi nan, penyuluhan, pengawasan, juklakfjuknis, Kegiatan pertanian organik, pemberantasan hama terpadu, Harga, ketersediaan pestisida, dan iklan. Risiko kesehatan dan lingkungan: Pencemaran rantai makanan, lingkungan, Resistensi, Dampak kesehatan Variabel 1. Variabel dependen: risiko kesehatan dan lingkungan (a.l. meliputi: pencemaran rantai makanan dan lingkungan, resistensi hama/vektor, dan dampak kesehatan, baik akut maupun kronis ). 2. Variabel independen: penggunaan pestisida kimia (meliputi: jenis, dosis, waktu, frekuensi, dan cara pemakaian pestisida; bahan aktifpestisida). 3. Variabel kontrol: a. Faktor internal: karakteristik responden (meliputi: Jenis kelamin, umur, pendidikan,pekerjaan, sikap, dan perilaku dalam penggunaan pestisida) b. Faktor eksternal: Peraturan-peraturan terkait (Permen, Kepmen, pedoman, juklak, juknis ), penyuluhan, pengawasan, harga dan ketersediaan pestisida, iklan). 10

17 . I) i Ope i nal Pestisida inse lliida adalah emua zat kimia dan bahan lain serta yang dipergunakan untuk menendalikan seranga dan binatan lainnya di dalam dan di sekitar rumah - Pestisida untuk penggunaan umum adalah pestisida yang dalam penggunaannya tidak memerlukan persyaratan dan alat-alat pengamanan khusus di luar yang tertera pada label. 3. Bahan aktif adalah bahan kimia sintetik a tau bahan alami yang terkandung dalam bahan teknis atau formulasi pestisida yang memiliki daya racun atau pengaruh biologis lain terhadap organisme sasaran. 4. Rumah tangga (RT) adalah seorang atau sekelompok orang yang mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik rumah. 5. Penggunaan adalah menggunakan pestisida dengan atau tanpa alat dengan maksud menegndalikan serangga atau binatang penggangu iainnya 6. Penyimpanan adalah memiliki pestisida dalam persediaan di halaman atau dalam ruang rumah, pedagang a tau di usaha-usaha pertanian.. 7. Wadah adalah tempat yang terkena langsung pestisida untuk menyimpan selama dalam penanganan. 8. Label adalah tulisan dan dapat disertai dengan gambar atau simbol, yang memberikan keterangan tentang pestisida, dan melekat pada wadah atau pembungkus pestisida. 9. Pemusnahan adalah menghilangkan sifat dan fungsi pestisida. 10. Sertifikat penggunaan adalah surat keterangan yang dikeluarkan olehxetua Komisi Pengawasan Pestisida Propinsi!Kabupaten!Kota atau pejabat yang berwenang yang menyatakan bahwa pemilik sertifikat telah mengetahui tata cara penggunaan pestisida terbatas. 11. Residu pestisida adalah sisa pestisida, termasuk hasil perubahannya yang terdapat pada atau dalam jaringan manusia, hewan, tumbuhan, air, udara atau tanah. 12. Toksisitas akut adalah pengaruh yang merugikan yang timbul segera setelah pemaparan dengan dosis tunggal suatu bahan kimia atau bahan lain, atau pemberian dosis ganda dalam waktu lebih kurang 24 jam. 11

18 13. ah penurunan tin~ a epe aan populasi organisme sasaran rerhadap pestisida yang dapat menyebabkan pestisida ang semula efektif untuk mengendalikan organisme sasaran tersebut menjadi tidak efektif lagi. 14. Pestisida dilarang adalah jenis pestisida yang dilarang untuk semua bidang penggunaan atau bidang penggunaan tertentu dengan tujuan melindungi kesehatan manusia dan lingkungan hidup, dan ditetapkan oleh suatu peratuan perundang-undangan Tempat dan waktu Tempat penelitian di Kabupaten Ubud dan Badung, Propinsi Bali. Pemilihan lokasi didasarkan pada karakter daerah urban dan rural yang berlokasi pada daerah tujuan wisata yang penting. Waktu pelaksanaan penelitian adalah selama 11 bulan, terhitung Februari s/d Desember Disain Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan disain potong lin tang (cross sectional) Jenis dan Cara Pengumpulan Data Data yang dikurnpulkan adalah data pnmer dan data sekunder. Data pnmer meliputi data umum (karakteristik responden), pengetahuan terhadap sikap dan perilaku masyarakat terhadap pestisida Genis, jumlah/dosis, manfaat, motivasi, bahaya, kemudahan memperoleh, kepraktisan penggunaan, petunjuk penggunaan dan peny1mpanan, petunjuk pemusnahan, ketuntasan mengendalikan, hama/resistensi, promosi/iklan, penyuluhan, gejala keracunan, residu pestisida) dikumpulkan dari sampel masyarakat dengan cara wawancara menggunakan kuesioner dan observasi lingkungan. Untuk menggali informasi lebih dalam, akan dilakukan pengumpulan data kualitatif institusi pemerintah yang mempunym tupoksi terkait denga pestisiida/insektisida (komisi pestisida, depertemen kesehatan, departemen pertanian, dinas kesehatan, dan dinas pertanian). Data sekunder meliputi jenis dan jumlah pestisida yang diijinkan, dampak kesehatan penggunaan pestisida (hasil penelitian di Indonesia), peraturan yang berlaku (Undang-undang, peraturanlkeputusan menteri, petunjuk umum, petunjuk teknis, petunjuk pelaksanaan) akan dikumpulkan dari institusi yang terkait (Depkes, Deptan, Komisi Pestisida). 12

19 3.-. Popula.si dan ampel 1 Rumah tangga "nit anali is dari studi ini rumah tangga, sehingga populasinya adalah seluruh rumah tangga yang berada 2 di wilayah tersebut. Sampel adalah sebagian rumah tangga yang berada di wilayah tersebut, Untuk menggambarkan kondisi pengelolaan pestisidalinsektisida di tingkat kabupaten/kota, sampel KK di setiap kabupaten/kota terpilih dihitung dengan menggunakan "Penghitungan Besar Sampel Untuk Estimasi Proporsi" dengan formula sebagai berikut:. Z 1-at2 P(1-P) N = d2 x Deft Dengan menggunakan presisi (6%), derajat kepercayaan 95%, desain effect= 2, dan P adalah proporsi KK yang menggunakan pestisidalinsektisida di masingmasing lokasi sebesar 50% maka didapatkan jumlah sampel KK sebesar 200 KK. Data yang dikumpulkan adalah data primer dan data sekunder. Data primer meliputi data umum (karakteristik responden), pengetahuan terhadap sikap dan perilaku masyarakat terhadap pestisida Genis, jumlah/dosis, manfaat, motivasi, bahaya, kemudahan memperoleh, kepraktisan penggunaan, petunjuk penggunaan dan penytmpanan, petunjuk pemusnahan, ketuntasan mengendalikan, hamalresistensi, promosi/iklan, penyuluhan, gejala keracunan, residu pestisida) dikumpulkan dari sampel masyarakat dengan cara wawancara menggunakan kuesioner dan observasi lingkungan. Untuk menggali informasi lebih dalam, akan dilakukan pengumpulan data kualitatif institusi pemerintah yang mempunyai tupoksi terkait denga pestisiidalinsektisida (komisi pestisida, depertemen kesehatan, departemen pertanian, dinas kesehatan, dan dinas pertanian). Data sekunder meliputi jenis dan jumlah pestisida yang diijinkan, dampak kesehatan penggunaan pestisida (hasil penelitian di Indonesia), peraturan yang berlaku (Undang-undang, peraturan/keputusan menteri, petunjuk umum, petunjuk teknis, petunjuk pelaksanaan) akan dikumpulkan dari institusi yang terkait (Depkes, Deptan, Komisi Pestisida). 13

20 C ra P ~~ :m - 3I!1 l a 3.II1pel Desa -elurahan Pemilihan desa kelurahan di rnasing-masing kabupaten terpilih, dilakukan dengan cara random dengan memperhatikan jumlah penduduk yang ada di desalkelurahan (Probability Proportional to Size). - Pemilihan desalkelurahan yang mewakili daerah perkotaan disetiap kabupaten!k:ota sebanyak 4 desalkelurahan dilakukan dengan cara random dengan memperhatikan jumlah penduduk yang ada di desalkelurahan (Probability Proportional to Size). - Sebelum dilakukan random, untuk setiap kelompok ("pedesaan" dan "perkotaan") terlebih dahulu dibuat daftar desalkelurahan dengan jumlah penduduk yang tinggal di masing-masing kabupaten. - Urutkan desalkelurahan 1 sampai terakhir berdasarkanjumlah penduduk - Pilih desalkelurahan secara proporsional sesuai dengan perbandingan jumlah dalam kelompok "pedesaan" dan "perkotaan". b) Sam pel kepala keluatga (KK) Pemilihan KK di masing-masing desalkelurahan yang terpilih sebagai sampel, dilakukan dengan cara: - Membuat daftar persimpangan jalan desa di desa/kelurahan tersebut. Persimpanganjalan bisa berbentuk pertigaan atau perempatanjalan desa. - Buat nomor urut dari persimpanganjalan tersebut. - Pilih salah satu persimpangan dengan cara random.. - Untuk menentukan arah (ke kanan, ke kiri, ke depan atau kebelakang) juga dilakukan dengan cara random). - Setelah mendapatkan arah jalan tersebut, buat peta gambar dan daftar rumah KK yang ada di pinggir jalan tersebut dan beri nomor urut. - Lakukan random untuk menentukan rumah KK mana yang pertama terpilih sebagai sampel. - Sampel KK kedua dipilih dengan cara memilih rumah yang paling dekat dengan sampel KK pertama (titik jarak rumah pertama digunakan pintu masuk rumah yang utama) - Sampel ketiga sampai ke 50 dipilih seperti sampel ke 2. 14

PAPARAN PESTISIDA DI LINGKUNGAN KITA

PAPARAN PESTISIDA DI LINGKUNGAN KITA PAPARAN PESTISIDA DI LINGKUNGAN KITA Penjelasan gambar Zat aktif + pencampur Pestisida Sebagian besar pestisida digunakan di pertanian,perkebunan tetapi bisa digunakan di rumah tangga Kegunaan : - Mencegah

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experiment) Kelompok Intervensi O1 X O2

BAB III METODE PENELITIAN. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experiment) Kelompok Intervensi O1 X O2 BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis Penelitian Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu (Quasi Experiment) dengan rancangan Separate Sample Pretest-Postest (Notoatmodjo, 2005). Pretest Intervensi

Lebih terperinci

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN

SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN LAMPIRAN 1 SURAT PERMOHONAN MENJADI RESPONDEN Kepada Yth: Bapak/Ibu/Sdr/i Calon Responden Di Tempat Dengan hormat, Saya yang bertanda tangan dibawah ini, mahasiswa Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan

Lebih terperinci

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO

BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO BERITA DAERAH KABUPATEN KULON PROGO NOMOR : 42 TAHUN : 2010 SERI : E PERATURAN BUPATI KULON PROGO NOMOR 55 TAHUN 2010 TENTANG PENGAWASAN PESTISIDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KULON PROGO,

Lebih terperinci

PENGETAHUAN DAN PERILAKU MASYARAKAT TENTANG PENGELOLAAN PESTISIDA DI RUMAH TANGGA DI BOGOR, DEPOK, TANGERANG, DAN BEKASI

PENGETAHUAN DAN PERILAKU MASYARAKAT TENTANG PENGELOLAAN PESTISIDA DI RUMAH TANGGA DI BOGOR, DEPOK, TANGERANG, DAN BEKASI Bul. Penelit. Kesehat, Vol. 42, No. 3, September 2014: 203-212 PENGETAHUAN DAN PERILAKU MASYARAKAT TENTANG PENGELOLAAN PESTISIDA DI RUMAH TANGGA DI BOGOR, DEPOK, TANGERANG, DAN BEKASI Rachmalina Soerachman,

Lebih terperinci

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI KESEHATAN NOMOR : 258/MENKES/PER/III/1992 TENTANG PERSYARATAN KESEHATAN PENGELOLAAN PESTISIDA MENTERI KESEHATAN, Menimbang : a. bahwa dengan tersedianya pestisida yang sangat diperlukan

Lebih terperinci

KERACUNAN DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN OLEH BAHAN PENGAWET KAYU

KERACUNAN DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN OLEH BAHAN PENGAWET KAYU KERACUNAN DAN PENCEMARAN LINGKUNGAN OLEH BAHAN PENGAWET KAYU 8 Untuk mengawetkan kayu di samping dengan cara-cara tradisional yang tidak menggunakan racun seperti perendaman dalam air dan pengeringan,

Lebih terperinci

Paparan Pestisida. Dan Keselamatan Kerja

Paparan Pestisida. Dan Keselamatan Kerja Paparan Pestisida Peranan CropLife Indonesia Dalam Meminimalkan Pemalsuan Pestisida Dan Keselamatan Kerja CROPLIFE INDONESIA - vegimpact Deddy Djuniadi Executive Director CropLife Indonesia 19 Juni 2012

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107/Permentan/SR.140/9/2014 TENTANG PENGAWASAN PESTISIDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107/Permentan/SR.140/9/2014 TENTANG PENGAWASAN PESTISIDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 107/Permentan/SR.140/9/2014 TENTANG PENGAWASAN PESTISIDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

LAMPIRAN XI PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 24/Permentan/SR.140/4/2011 TANGGAL : 8 April 2011

LAMPIRAN XI PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 24/Permentan/SR.140/4/2011 TANGGAL : 8 April 2011 LAMPIRAN XI PERATURAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 24/Permentan/SR.140/4/2011 TANGGAL : 8 April 2011 SPESIFIKASI WADAH PESTISIDA a. Volume Volume wadah dinyatakan dengan satuan yang jelas seperti ml (mililiter),

Lebih terperinci

MEMAHAMI LABEL DAN SIMBOL PESTISIDA DENGAN BENAR

MEMAHAMI LABEL DAN SIMBOL PESTISIDA DENGAN BENAR MEMAHAMI LABEL DAN SIMBOL PESTISIDA DENGAN BENAR Dalam konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Penggunaan pestisida merupakan pilihan terakhir dari komponen PHT yang harus diterapkan secara bijaksana. Penggunaan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan produksi pertanian.

BAB 1 PENDAHULUAN. mempunyai peranan yang penting dalam peningkatan produksi pertanian. BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peningkatan kebutuhan masyarakat terhadap hasil pertanian berupa buah dan sayur semakin tinggi sejalan dengan pertambahan penduduk. Untuk mengantisipasi kebutuhan tersebut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berarti bagi pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia Indonesia dan

BAB I PENDAHULUAN. berarti bagi pengembangan dan pembinaan sumber daya manusia Indonesia dan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Kesehatan merupakan salah satu unsur kesejahteraan umum yang harus di wujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia seperti yang tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pangan yang aman,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan manusia akan protein hewani, ini ditandai dengan peningkatan produksi daging

BAB I PENDAHULUAN. kebutuhan manusia akan protein hewani, ini ditandai dengan peningkatan produksi daging BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Peternakan ayam merupakan salah satu sektor yang penting dalam memenuhi kebutuhan manusia akan protein hewani, ini ditandai dengan peningkatan produksi daging dan telur

Lebih terperinci

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Gorontalo dengan batas-batas wilayah sebagai berikut :

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN. Gorontalo dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Letak Geografis Desa Kaliyoso terdapat di Kecamatan Bongomeme Kabupaten Gorontalo dengan batas-batas wilayah sebagai berikut : Sebelah barat

Lebih terperinci

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2

ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2 ARTIKEL PENELITIAN HUBUNGAN KONDISI SANITASI DASAR RUMAH DENGAN KEJADIAN DIARE PADA BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REMBANG 2 Lintang Sekar Langit lintangsekar96@gmail.com Peminatan Kesehatan Lingkungan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Menurut WHO, jumlah perokok di dunia pada tahun 2009 mencapai 1,1

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Menurut WHO, jumlah perokok di dunia pada tahun 2009 mencapai 1,1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut WHO, jumlah perokok di dunia pada tahun 2009 mencapai 1,1 miliar yang terdiri dari 47% pria, 12% wanita dan 41% anak-anak (Wahyono, 2010). Pada tahun 2030, jumlah

Lebih terperinci

Kuesioner Penelitian

Kuesioner Penelitian Lampiran 1. Kuesioner Penelitian PENGETAHUAN, SIKAP, DAN TINDAKAN ANGGOTA KOMUNITAS PEMUDA PEDULI LINGKUNGAN TENTANG PENCEMARAN LINGKUNGAN DI KELURAHAN SEI KERA HILIR I KECAMATAN MEDAN PERJUANGAN KOTA

Lebih terperinci

BAB 4 METODE PENELITIAN

BAB 4 METODE PENELITIAN BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Desain Penelitian Penelitian ini merupakan studi analitik observasional. Disebut analitik karena mejelaskan faktor-faktor risiko dan penyebab terjadinya outcome, dan observasional

Lebih terperinci

Pencemaran Lingkungan

Pencemaran Lingkungan Pencemaran Lingkungan Arsitektur Ekologi dan Berkelanjutan Minggu ke 4 By : Dian P.E. Laksmiyanti, St, MT Email : dianpramita@itats.ac.id http://dosen.itats.ac.id/pramitazone Ini yang sering nampak Pencemaan

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN SELATAN, PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN SELATAN NOMOR 18 TAHUN 2012 TENTANG PENGAWASAN BAHAN TAMBAHAN PANGAN DAN PEREDARAN BAHAN BERBAHAYA YANG DISALAHGUNAKAN DALAM PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. adalah perokok pasif. Bila tidak ditindaklanjuti, angka mortalitas dan morbiditas

I. PENDAHULUAN. adalah perokok pasif. Bila tidak ditindaklanjuti, angka mortalitas dan morbiditas 1 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Rokok telah membunuh 50 persen pemakainya, hampir membunuh enam juta orang setiap tahunnya yang merupakan bekas perokok dan 600.000 diantaranya adalah perokok

Lebih terperinci

PESTISIDA : HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN

PESTISIDA : HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN Peranan CropLife Indonesia Dalam Meminimalkan Pemalsuan Pestisida PESTISIDA : HAL HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN Deddy Djuniadi Executive Director CropLife Indonesia 19 Juni 2012 Peranan CropLife Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN [LN 1996/99, TLN 3656]

UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN [LN 1996/99, TLN 3656] UNDANG-UNDANG NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN [LN 1996/99, TLN 3656] BAB X KETENTUAN PIDANA Pasal 55 Barangsiapa dengan sengaja: a. menyelenggarakan kegiatan atau proses produksi, penyimpanan, pengangkutan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Merokok merupakan suatu hal yang tabu untuk ditinggalkan meski menimbulkan dampak serius bagi kesehatan. Peneliti sering menjumpai orang merokok di rumah, tempat umum

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Visi pembangunan kesehatan yaitu hidup dalam lingkungan dan dengan perilaku hidup sehat diantaranya memiliki kemampuan hidup sehat, memiliki kemampuan untuk

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 21 TAHUN 2012 TENTANG KETAHANAN PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 21 TAHUN 2012 TENTANG KETAHANAN PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, PERATURAN DAERAH KABUPATEN PASURUAN NOMOR 21 TAHUN 2012 TENTANG KETAHANAN PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PASURUAN, Menimbang : a. bahwa ketahanan pangan merupakan hal yang sangat mendasar

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pangan yang aman,

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KETAHANAN PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KETAHANAN PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PEMERINTAH KABUPATEN TULUNGAGUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN TULUNGAGUNG NOMOR 6 TAHUN 2011 TENTANG KETAHANAN PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI TULUNGAGUNG, Menimbang : a. bahwa ketahanan

Lebih terperinci

PENCEGAHAN KERACUNAN SECARA UMUM

PENCEGAHAN KERACUNAN SECARA UMUM PENCEGAHAN KERACUNAN SECARA UMUM Peredaran bahan kimia semakin hari semakin pesat, hal ini disamping memberikan manfaat yang besar juga dapat menimbulkan masalah yang tak kalah besar terhadap manusia terutama

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : a. bahwa pangan yang aman, bermutu dan bergizi sangat penting peranannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pemukiman penduduk serta tempat-tempat umum lainnya. Pada saat ini telah

BAB I PENDAHULUAN. pemukiman penduduk serta tempat-tempat umum lainnya. Pada saat ini telah 1 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Lingkungan mempunyai pengaruh serta kepentingan yang relatif besar dalam hal peranannya sebagai salah satu faktor yang mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat,

Lebih terperinci

: CURZATE 8 / 64 WP Fungisida

: CURZATE 8 / 64 WP Fungisida Lembar Data Keselamatan ini mengikuti persyaratan peraturan perundangan Republik Indonesia dan mungkin tidak sesuai dengan persyaratan peraturan perundangan di negara lain. 1. IDENTITAS BAHAN DAN PERUSAHAAN

Lebih terperinci

SATUAN ACARA PENYULUHAN. Sub Pokok Bahasan : Pegelolaan Sampah : Masyarakat RW 04 Kelurahan Karang Anyar

SATUAN ACARA PENYULUHAN. Sub Pokok Bahasan : Pegelolaan Sampah : Masyarakat RW 04 Kelurahan Karang Anyar SATUAN ACARA PENYULUHAN Pokok Bahasan : Kesehatan Lingkungan Sub Pokok Bahasan : Pegelolaan Sampah Sasaran : Masyarakat RW 04 Kelurahan Karang Anyar Waktu : 25 menit Hari / tanggal : Rabu, 30 April 2014

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. ayat (1) yang menyatakan bahwa Penggunaan pestisida dalam rangka

BAB 1 PENDAHULUAN. ayat (1) yang menyatakan bahwa Penggunaan pestisida dalam rangka BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pestisida telah digunakan sebagai sarana untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) di Indonesia sejak sebelum Perang Dunia ke II (PD II). Berbagai uji

Lebih terperinci

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN

KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS PENELITIAN Kerangka Pemikiran Permukiman adalah suatu suatu ekosistem, dimana masyarakat sebagai komponen sosial sekaligus merupakan komponen biologis, sementara kondisi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pertanian, termasuk perkebunan sebagai sumber penghasilan utama daerah.

BAB I PENDAHULUAN. pertanian, termasuk perkebunan sebagai sumber penghasilan utama daerah. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah salah satu Negara berkembang dan Negara Agraris yang sebagian penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Petani merupakan kelompok kerja

Lebih terperinci

KUESIONER PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PARU DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 DAN RUMAH TAHANAN KELAS 1 MEDAN

KUESIONER PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PARU DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 DAN RUMAH TAHANAN KELAS 1 MEDAN KUESIONER PENGARUH PROMOSI KESEHATAN TERHADAP PERILAKU PENCEGAHAN TUBERKULOSIS PARU DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KELAS 1 DAN RUMAH TAHANAN KELAS 1 MEDAN NOMOR RESPONDEN PETUNJUK PENGISIAN KUESIONER Berikut

Lebih terperinci

KUESIONER PENELITIAN

KUESIONER PENELITIAN Lampiran 5 KUESIONER PENELITIAN PENGARUH LINGKUNGAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH, PERSONAL HYGIENE DAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) TERHADAP KELUHAN KESEHATAN PADA PEMULUNG DI KELURAHAN TERJUN KECAMATAN

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat

BAB I PENDAHULUAN. kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Lingkungan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi status kesehatan masyarakat. Derajat kesehatan masyarakat yang optimal dapat diwujudkan jika masyarakat Indonesia

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kerjanya. Potensi bahaya menunjukkan sesuatu yang potensial untuk mengakibatkan

BAB I PENDAHULUAN. kerjanya. Potensi bahaya menunjukkan sesuatu yang potensial untuk mengakibatkan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tenaga kerja sebagai sumber daya manusia memegang peranan utama dalam proses pembangunan industri. Sehingga peranan sumber daya manusia perlu mendapatkan perhatian

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 1995 TENTANG PERLINDUNGAN TANAMAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa tingkat produksi budidaya tanaman yang mantap sangat menentukan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk makanan dari jasaboga. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik

BAB 1 PENDAHULUAN. termasuk makanan dari jasaboga. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Republik BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Meningkatnya pendapatan masyarakat dan meningkatnya kegiatan pekerjaan di luar rumah, akan meningkatkan kebutuhan jasa pelayanan makanan terolah termasuk makanan dari

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NO.KEP. 187/MEN/1999 TENTANG PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I.

KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NO.KEP. 187/MEN/1999 TENTANG PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I. KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NO.KEP. 187/MEN/1999 TENTANG PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I. Menimbang a. bahwa kegiatan industri yang mengolah, menyimpan,

Lebih terperinci

LAMPIRAN KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT AVIAN INFLUENZA

LAMPIRAN KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT AVIAN INFLUENZA LAMPIRAN KUESIONER GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TERHADAP PENCEGAHAN PENYAKIT AVIAN INFLUENZA (AI) DI RW02 KELURAHAN PANUNGGANGAN WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANUNGGANGAN KOTA TANGERANG

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. pestisida. Pengunaan agrokimia diperkenalkan secara besar-besaran untuk

BAB 1 : PENDAHULUAN. pestisida. Pengunaan agrokimia diperkenalkan secara besar-besaran untuk BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Petani merupakan kelompok tenaga kerja terbesar di Indonesia. Meski ada kecendrungan semakin menurun, angkatan kerja yang bekerja pada sektor pertanian masih berjumlah

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa pangan yang aman,

Lebih terperinci

: Prevathon 50 SC Insektisida

: Prevathon 50 SC Insektisida Lembar Data Keselamatan ini mengikuti persyaratan peraturan perundangan Republik Indonesia dan mungkin tidak sesuai dengan persyaratan peraturan perundangan di negara lain. 1. IDENTITAS BAHAN DAN PERUSAHAAN

Lebih terperinci

AUDIT LIMBAH B3 Bahan Berbahaya dan Beracun

AUDIT LIMBAH B3 Bahan Berbahaya dan Beracun AUDIT LIMBAH B3 Bahan Berbahaya dan Beracun Limbah Sisa suatu usaha dan atau kegiatan Limbah B3 Sisa suatu usaha dan atau kegiatan yang mengandung bahan berbahaya dan atau beracun Sifat, konsentrasi, dan

Lebih terperinci

VT.tBVV^ WALIKOTA BANJARMASIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN TENTANG PERLINDUNGAN PANGAN

VT.tBVV^ WALIKOTA BANJARMASIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN TENTANG PERLINDUNGAN PANGAN VT.tBVV^ WALIKOTA BANJARMASIN PROVINSI KALIMANTAN SELATAN PERATURAN DAERAH KOTA BANJARMASIN NOMOR TAHUN 2015 TENTANG PERLINDUNGAN PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA r> WALIKOTA BANJARMASIN, Menimbang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Indonesia adalah salah satu negara berkembang dan negara agraris yang

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang. Indonesia adalah salah satu negara berkembang dan negara agraris yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Indonesia adalah salah satu negara berkembang dan negara agraris yang sebagian penduduknya memiliki mata pencaharian sebagai petani. Petani merupakan kelompok kerja

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berperilaku sehat. Program PHBS telah dilaksanakan sejak tahun 1996 oleh

BAB I PENDAHULUAN. berperilaku sehat. Program PHBS telah dilaksanakan sejak tahun 1996 oleh BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan perilaku yang dilakukan seseorang untuk selalu memperhatikan kebersihan, kesehatan, dan berperilaku sehat. Program PHBS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pestisida di Indonesia banyak digunakan dan sangat bermanfaat selain itu

BAB I PENDAHULUAN. Pestisida di Indonesia banyak digunakan dan sangat bermanfaat selain itu 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pestisida di Indonesia banyak digunakan dan sangat bermanfaat selain itu pestisida juga dapat menimbulkan keracunan yang membahayakan jiwa si pemakai dan lingkungannya.

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS PERMASALAHAN

BAB 4 ANALISIS PERMASALAHAN 54 BAB 4 ANALISIS PERMASALAHAN 4.1 Permasalahan Yang Dihadapai Konsumen Akibat Penggunaan Produk Plastik Sebagai Kemasan Pangan Plastik merupakan kemasan pangan yang banyak digunakan oleh pelaku usaha

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Indonesia adalah daerah beriklim tropis sehingga menjadi tempat yang cocok untuk perkembangbiakan nyamuk yang dapat menimbulkan masalah kesehatan bagi masyarakat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lagi dengan diberlakukannya perdagangan bebas yang berarti semua produkproduk

BAB I PENDAHULUAN. lagi dengan diberlakukannya perdagangan bebas yang berarti semua produkproduk BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam era globalisasi dengan kemajuan di bidang teknologi telekomunikasi dan transportasi, dunia seakan tanpa batas dan jarak. Dengan demikian pembangunan sumber

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau kaadaan

BAB I PENDAHULUAN. Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau kaadaan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Kesehatan lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi atau kaadaan yang optimum sehingga berpengaruh positif terhadap terwujudnya status kesehatan yang

Lebih terperinci

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penambangan Emas Desa Hulawa

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penambangan Emas Desa Hulawa BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum Penambangan Emas Desa Hulawa Lokasi penambangan Desa Hulawa merupakan lokasi penambangan yang sudah ada sejak zaman Belanda.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012 TENTANG KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk mendorong peran dan membangun komitmen yang menjadi bagian integral

BAB I PENDAHULUAN. untuk mendorong peran dan membangun komitmen yang menjadi bagian integral BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Strategi kebijakan pelaksanaan pengendalian lingkungan sehat diarahkan untuk mendorong peran dan membangun komitmen yang menjadi bagian integral dalam pembangunan kesehatan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dan memberikan pengaruh satu sama lain, mulai dari keturunan,

BAB I PENDAHULUAN. berkaitan dan memberikan pengaruh satu sama lain, mulai dari keturunan, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling berkaitan dan memberikan pengaruh satu sama lain, mulai dari keturunan, lingkungan, perilaku

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA LEMBARAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR : 3 TAHUN 2009 SERI E PERATURAN DAERAH KABUPATEN PURWAKARTA NOMOR 3 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN IBU, BAYI BARU LAHIR, BAYI DAN ANAK BALITA (KIBBLA) DI KABUPATEN

Lebih terperinci

BAB 1 : PENDAHULUAN. yang optimal yang setinggi-tingginya sebagai investasi sumber daya manusia yang produktif

BAB 1 : PENDAHULUAN. yang optimal yang setinggi-tingginya sebagai investasi sumber daya manusia yang produktif BAB 1 : PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan merupakan suatu upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan yang optimal yang setinggi-tingginya sebagai investasi sumber daya manusia yang produktif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan berkesinambungan terus diupayakan untuk mencapai tujuan nasional. Adapun

BAB I PENDAHULUAN. dan berkesinambungan terus diupayakan untuk mencapai tujuan nasional. Adapun BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Pembangunan di Indonesia secara berencana, komprehensif, terpadu, terarah dan berkesinambungan terus diupayakan untuk mencapai tujuan nasional. Adapun tujuan dari

Lebih terperinci

: FERTERRA 0.4 GR Insektisida

: FERTERRA 0.4 GR Insektisida Lembar Data Keselamatan ini mengikuti persyaratan peraturan perundangan Republik Indonesia dan mungkin tidak sesuai dengan persyaratan peraturan perundangan di negara lain. 1. IDENTITAS BAHAN DAN PERUSAHAAN

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.214, 2012 LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LINGKUNGAN HIDUP. Peternakan. Kesehatan. Veteriner. Hewan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5356) PERATURAN PEMERINTAH

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1098/MENKES/SK/VII/2003 TENTANG PERSYARATAN HYGIENE SANITASI RUMAH MAKAN DAN RESTORAN

KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1098/MENKES/SK/VII/2003 TENTANG PERSYARATAN HYGIENE SANITASI RUMAH MAKAN DAN RESTORAN KEPUTUSAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 1098/MENKES/SK/VII/2003 TENTANG PERSYARATAN HYGIENE SANITASI RUMAH MAKAN DAN RESTORAN Menimbang MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA a. Bahwa masyarakat

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 522 TAHUN : 2001 SERI : C PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 18 TAHUN 2001 TENTANG IJIN PENGELOLAAN SUMBER DAYA AIR DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. rangka mewujudkan pertanian sebagai leading sector melalui suatu

BAB I PENDAHULUAN. rangka mewujudkan pertanian sebagai leading sector melalui suatu BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Petani adalah sektor yang sangat penting di Indonesia dalam rangka mewujudkan pertanian sebagai leading sector melalui suatu proses yang berencana, sistematis, dengan

Lebih terperinci

I. Data Responden Penjamah Makanan 1. Nama : 2. Umur : 3. Jenis Kelamin : 4. Pendidikan :

I. Data Responden Penjamah Makanan 1. Nama : 2. Umur : 3. Jenis Kelamin : 4. Pendidikan : KUESIONER HIGIENE SANITASI PENGELOLAAN MAKANAN DAN PEMERIKSAAN Escherichia coli PADA PERALATAN MAKAN DI INSTALASI GIZI RUMAH SAKIT UMUM MAYJEN H.A THALIB KABUPATEN KERINCI TAHUN 0 I. Data Responden Penjamah

Lebih terperinci

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG

HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN TEMANGGUNG Volume, Nomor, Tahun 0, Halaman 535-54 Online di http://ejournals.undip.ac.id/index.php/jkm HUBUNGAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN DIARE DIDUGA AKIBAT INFEKSI DI DESA GONDOSULI KECAMATAN BULU KABUPATEN

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai

I. PENDAHULUAN. Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia merupakan negara berkembang dan sedang berusaha mencapai pembangunan sesuai dengan yang telah digariskan dalam propenas. Pembangunan yang dilaksakan pada hakekatnya

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang : a. bahwa pangan merupakan kebutuhan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. meningkatnya pendapatan masyarakat. Di sisi lain menimbulkan dampak

BAB 1 PENDAHULUAN. meningkatnya pendapatan masyarakat. Di sisi lain menimbulkan dampak BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor industri saat ini makin berkembang, dari satu sisi memberi dampak positif berupa bertambah luasnya lapangan kerja yang tersedia dan meningkatnya pendapatan masyarakat.

Lebih terperinci

: DuPont Ammate 150EC Insektisida

: DuPont Ammate 150EC Insektisida Lembar Data Keselamatan ini mengikuti persyaratan peraturan perundangan Republik Indonesia dan mungkin tidak sesuai dengan persyaratan peraturan perundangan di negara lain. 1. IDENTITAS BAHAN DAN PERUSAHAAN

Lebih terperinci

Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 Tentang : Perlindungan Tanaman

Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 Tentang : Perlindungan Tanaman Peraturan Pemerintah No. 6 Tahun 1995 Tentang : Perlindungan Tanaman Oleh : PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Nomor : 6 TAHUN 1995 (6/1995) Tanggal : 28 PEBRUARI 1995 (JAKARTA) Sumber : LN 1995/12; TLN NO. 3586

Lebih terperinci

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NOMOR : KEP. 187 / MEN /1999 T E N T A N G

MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NOMOR : KEP. 187 / MEN /1999 T E N T A N G MENTERI TENAGA KERJA REPUBLIK INDONESIA KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA R.I. NOMOR : KEP. 187 / MEN /1999 T E N T A N G PENGENDALIAN BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI TEMPAT KERJA MENTERI TENAGA KERJA R.I. Menimbang

Lebih terperinci

HIGIENE SANITASI PANGAN

HIGIENE SANITASI PANGAN HIGIENE SANITASI PANGAN Oleh Mahmud Yunus, SKM.,M.Kes KA. SUBDIT HIGIENE SANITASI PANGAN DIREKTORAT PENYEHATAN LINGKUNGAN, DITJEN PP & PL KEMENTERIAN KESEHATAN RI Disampaikan pada Workshop Peringatan Hari

Lebih terperinci

HUBUNGAN PENGETAHUAN, MOTIVASI, DAN PERAN PETUGAS TERHADAP KONDISI HYGIENE

HUBUNGAN PENGETAHUAN, MOTIVASI, DAN PERAN PETUGAS TERHADAP KONDISI HYGIENE HUBUNGAN PENGETAHUAN, MOTIVASI, DAN PERAN PETUGAS TERHADAP KONDISI HYGIENE SANITASI MAKANAN JAJANAN KAKI LIMA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS AUR DURI KOTA JAMBI TAHUN 2014 1* Erris, 2 Marinawati 1 Poltekes

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lebih dari 2 miliar atau 42% penduduk bumi memiliki resiko terkena malaria. WHO

BAB I PENDAHULUAN. lebih dari 2 miliar atau 42% penduduk bumi memiliki resiko terkena malaria. WHO BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Malaria merupakan penyakit menular yang dominan di daerah tropis dan sub tropis dan dapat mematikan. Setidaknya 270 penduduk dunia menderita malaria dan lebih dari

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masalah ganda (Double Burden). Disamping masalah penyakit menular dan

BAB I PENDAHULUAN. masalah ganda (Double Burden). Disamping masalah penyakit menular dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan kesehatan di Indonesian saat ini dihadapkan pada dua masalah ganda (Double Burden). Disamping masalah penyakit menular dan kekurangan gizi terjadi pula

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA,

PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, PERATURAN DAERAH KABUPATEN SUMBAWA NOMOR 4 TAHUN 2013 TENTANG SERTIFIKASI LAIK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI SUMBAWA, Menimbang : Mengingat : a. bahwa keracunan makanan dan minuman, proses

Lebih terperinci

1. Menurut bapak/ ibu apakah kegunaan air bagi tubuh kita? a. Melarutkan dan membawa sari-sari makanan, oksigen dan hormon ke. tubuh yang membutuhkan.

1. Menurut bapak/ ibu apakah kegunaan air bagi tubuh kita? a. Melarutkan dan membawa sari-sari makanan, oksigen dan hormon ke. tubuh yang membutuhkan. Lampiran 1 KUESIONER PENELITIAN ANALISIS KUALITAS AIR SUNGAI, PERILAKU DAN KELUHAN KESEHATAN KULIT PADA MASYARAKAT DI SEKITAR SUNGAI BABURA KECAMATAN MEDAN BARU TAHUN 2012 Identitas Responden : 1. Nomor

Lebih terperinci

KEBIJAKAN PROGRAM PENYEHATAN LINGKUNGAN

KEBIJAKAN PROGRAM PENYEHATAN LINGKUNGAN KEBIJAKAN INDONESIA SEHAT 2010 PROGRAM PENYEHATAN LINGKUNGAN Direktorat Penyehatan Lingkungan Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan 1 Regulasi Undang-Undang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 1996 TENTANG PANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya

Lebih terperinci

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA

BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA BERITA NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.127, 2013 KEMENTERIAN KESEHATAN. Keracunan Pangan. Kejadian Luar Biasa. PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2013 TENTANG KEJADIAN LUAR BIASA

Lebih terperinci

BAB I PEDAHULUAN. banyak terdapat ternak sapi adalah di TPA Suwung Denpasar. Sekitar 300 ekor sapi

BAB I PEDAHULUAN. banyak terdapat ternak sapi adalah di TPA Suwung Denpasar. Sekitar 300 ekor sapi BAB I PEDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Semakin berkurangnya lahan sebagai tempat merumputnya sapi, maka banyak peternak mencari alternatif lain termasuk melepas ternak sapinya di tempat pembuangan sampah

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. produksi pertanian baik secara kuantitas maupun kualitas. Pada tahun 1984

I. PENDAHULUAN. produksi pertanian baik secara kuantitas maupun kualitas. Pada tahun 1984 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pembangunan pertanian merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang memiliki tujuan meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani pada khususnya dan masyarakat

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : c. d. bahwa dengan meningkatnya kegiatan pembangunan

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 42/Permentan/SR.140/5/2007 TENTANG PENGAWASAN PESTISIDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN,

KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 42/Permentan/SR.140/5/2007 TENTANG PENGAWASAN PESTISIDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, KEPUTUSAN MENTERI PERTANIAN NOMOR : 42/Permentan/SR.140/5/2007 TENTANG PENGAWASAN PESTISIDA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PERTANIAN, Menimbang : a. bahwa pestisida dapat memberikan manfaat

Lebih terperinci

BAB V PEMBAHASAN. A. Pemantauan Vektor Penyakit dan Binatang Pengganggu. dan binatang pengganggu lainnya yaitu pemantauan vektor penyakit dan

BAB V PEMBAHASAN. A. Pemantauan Vektor Penyakit dan Binatang Pengganggu. dan binatang pengganggu lainnya yaitu pemantauan vektor penyakit dan BAB V PEMBAHASAN A. Pemantauan Vektor Penyakit dan Binatang Pengganggu Dari hasil wawancara dengan petugas kesehatan lingkungan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Surakarta tentang pemantauan vektor penyakit

Lebih terperinci

Volume VI Nomor 4, November 2016 ISSN: PENDAHULUAN

Volume VI Nomor 4, November 2016 ISSN: PENDAHULUAN PENDAHULUAN HUBUNGAN SUMBER AIR MINUM TERHADAP KEJADIAN DIARE PADA KELUARGA Devy Mulia Sari (Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga) ABSTRAK Penyakit diare menjadi suatu permasalahan kesehatan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. karena itu, upaya perlindungan terhadap tenaga kerja sangat perlu. Dengan cara

BAB 1 PENDAHULUAN. karena itu, upaya perlindungan terhadap tenaga kerja sangat perlu. Dengan cara BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Peranan tenaga kerja sebagai sumber daya manusia adalah sangat penting. Oleh karena itu, upaya perlindungan terhadap tenaga kerja sangat perlu. Dengan cara memelihara

Lebih terperinci

LAPORAN KEMAJUAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM

LAPORAN KEMAJUAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM LAPORAN KEMAJUAN PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA JUDUL PROGRAM PENYULUHAN PROGRAM 5T CARA CERDAS PETANI MENGGUNAKAN PESTISIDA GUNA MEMINIMALISASI PENCEMARAN LINGKUNGAN BIDANG KEGIATAN: PKM-M Diusulkan oleh:

Lebih terperinci

LEMBAR OBSERVASI ANALISIS

LEMBAR OBSERVASI ANALISIS LEMBAR OBSERVASI ANALISIS HIGIENE SANITASI, KANDUNGAN ZAT WARNA SINTETIS, PEMANIS BUATAN, DAN BAKTERI Eschericia coli PADA MINUMAN ES JERUK PERAS YANG DIJUAL PEDAGANG KELILING DI KEC. MEDAN BARU KOTA MEDAN

Lebih terperinci

II. KETENTUAN HUKUM TERKAIT KEAMANAN PANGAN. A. UU Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

II. KETENTUAN HUKUM TERKAIT KEAMANAN PANGAN. A. UU Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 II. KETENTUAN HUKUM TERKAIT KEAMANAN PANGAN A. UU Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 dalam BAB XA mengenai Hak Asasi Manusia pada pasal

Lebih terperinci

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 38 TAHUN 2012 TENTANG

BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 38 TAHUN 2012 TENTANG BUPATI SITUBONDO PERATURAN BUPATI SITUBONDO NOMOR 38 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENERBITAN SERTIFIKAT PRODUKSI PANGAN INDUSTRI RUMAH TANGGA DAN SERTIFIKAT LAIK HYGIENE SANITASI JASABOGA, DEPOT AIRMINUM

Lebih terperinci