Stres akibat kerja dan penatalaksanaannya

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Stres akibat kerja dan penatalaksanaannya"

Transkripsi

1 Universa Medicina Vol.24 No.3 Stres akibat kerja dan penatalaksanaannya Ridwan Harrianto Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Bagian Kesehatan Kerja Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti ABSTRAK Istilah stres akibat kerja menyatakan timbulnya sejumlah gejala-gejala mental dan fisik akibat adanya kondisi-kondisi yang mengancam di tempat kerja. Sesungguhnya gejala-gejala ini bukanlah respon yang patologis terhadap stres. Masalah baru terjadi bila pekerja berupaya menanggulangi gejala-gejala tersebut dengan mekanisme penanggulangan yang salah dan tidak stabil. Tetapi biasanya para pekerja cenderung memilih cara-cara yang dapat mengatasi masalah dalam jangka pendek, karena berupaya untuk melarikan diri dari situasi-situasi yang kurang menyenangkan. Sayangnya cara penanggulangan ini pada jangka panjang akan mengakibatkan menurunnya penampilan diri di tempat kerja, minum alkohol berlebihan dan seringkali tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Dengan mencari akar masalah dan membantu pasien dengan cara penanggulangan stres yang benar merupakan kunci dari penatalaksanaan stres akibat kerja. Kegagalan dalam melaksanakan hal ini akan mengakibatkan timbulnya masalah sekunder, misalnya: penggunaan berulang obat-obatan untuk meredam gejala-gejala yang timbul, tetapi tak dapat mengatasi masalah untuk jangka panjang serta dapat mengakibatkan ketergantungan obat-obat tersebut. Kata kunci: Stres, kerja, mekanisme penanggulangan ABSTRACT Management of stress at work The term occupational stress implies a set of mental and physical response to threatening situations at work. It is essentially a physiological rather than a pathological response to threats. Problem may arise when a worker is trying to cope with turbulence and instability coping mechanism. Unfortunately people tend to prefer short-term relief solutions and try to escape uncomfortable situations with a quick remedy, but they usually lead to secondary problems such as long-term reduction in performance at work, drinking excessively, and absenteeism. Understanding the underlying causes and helping the patient cope are a key issues. Failure to do so, is often results in repeated resorts to medication of symptom control with little long-term relief and the risk of drug dependence for patient. Key words: Occupational, stress, coping mechanism 145

2 Harrianto PENDAHULUAN Pekerjaan merupakan bagian yang memegang peranan penting bagi kehidupan manusia yang dapat memberikan kepuasan dan tantangan, sebaliknya dapat pula merupakan gangguan dan ancaman. Terjadinya gangguan kesehatan akibat lingkungan kerja fisik yang buruk telah lama diketahui, juga telah pula dipahami bahwa desain dan organisasi kerja yang tidak memadai seperti kecepatan dan beban kerja yang berlebihan merupakan faktorfaktor lain yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan akibat kerja. Tetapi beberapa penelitian membuktikan bahwa faktor-faktor penyebab gangguan kesehatan tersebut tidak murni faktor fisik tetapi disertai juga unsur psikologis. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan angka kejadian penyakit penyumbatan pembuluh darah jantung antara pekerja-pekerja kerah biru (blue collar) dan kerah putih (white collar). Hal ini membuktikan bahwa jenis pekerjaan menimbulkan gangguan kesehatan yang berbeda. (1) Hasil penelitian Labour Force Survey pada tahun 1990 menunjukkan kasus stres akibat kerja di Inggris. (2) Sedangkan pada tahun 1995 Survey of self reported workrelated ill health (SWI) di Inggris (2) menyatakan invidu yang percaya bahwa dirinya menderita gangguan kesehatan akibat stres di tempat kerjanya, tetapi dari sejumlah ini hanya yang sungguhsungguh sakit. Dengan mempertimbangkan perbedaan-perbedaan metode penelitian, diperkirakan dari tahun 1990 sampai tahun 1995 terjadi peningkatan kasus stres akibat kerja kira-kira sebesar 30%. (2) Penelitian lain pada tahun 1985 ditemukan kasus tuntutan hak asuransi gangguan kesehatan akibat stres di tempat kerja sebesar 15% dari seluruh kasus gangguan kesehatan akibat kerja dibandingkan Stres akibat kerja hanya ditemukan 5% saja pada tahun (3) Lebih menakjubkan lagi dari hasil Survei Statistik Kesehatan di Australia Barat (4) yang menemukan peningkatan kasus stres akibat kerja yang fantastis, yaitu dari ditemukannya sebanyak 380 kasus tuntutan hak asuransi gangguan kesehatan akibat stres di tempat kerja pada kurun waktu 1994/95 dibandingkan dengan ditemukan hanya 205 kasus pada kurun waktu 1993/94. Pada survei ini juga diyatakan bahwa pekerja laki-laki kehilangan kira-kira 50,8 hari kerja setiap kasus tuntutan hak asuransi, sedang pekerja wanita kehilangan kira-kira 58,5 hari kerja. Dengan demikian harus diakui bahwa stres akibat kerja merupakan masalah kesehatan kerja yang penting, yang secara bermakna akan menyebabkan penurunan produktivitas kerja. Patogenesis Setiap aktivitas normal akan menghasilkan stres, dan stres tak dapat dihindari. Stres dapat ditoleransi hanya dalam waktu yang terbatas. Tidak pernah ada dua orang yang identik, maka stres yang sama akan berpengaruh secara berbeda terhadap masing-masing individu, serta berat ringannya juga sangat bervariasi. Hubungan antara masing-masing perubahan patologis seorang individu tidak banyak diketahui secara detail, tetapi sebagian besar peneliti mengakui bahwa rangsangan psikologis dalam hal ini termasuk stres akibat pekerjaan, atau yang disebut stresor penting sebagai faktor penyerta dari timbulnya suatu penyakit tertentu, seperti penyakit jantung iskemik, hipertensi esensial, gangguan saluran cerna serta beberapa penyakit neuropsikiatris. (5) Selanjutnya peranan faktor psikologis menjadi jelas setelah pada penelitian lain terbukti secara bermakna adanya beberapa stresor psikologis sebagai penyebab terjadinya penyakit penyumbatan pembuluh jantung, (1) seperti: 146

3 Universa Medicina Vol.24 No.3 1. perubahan jenis pekerjaan 2. perubahan besar-besaran pada jadwal kerja 3. perubahan dalam derajat tanggung jawab 4. ketidak sesuaian dengan atasan 5. ketidak sesuaian dengan teman-teman sekerja Pekerjaan itu sendiri tidak selalu sebagai sumber penyebab satu-satunya gangguangangguan psikologis, tetapi dapat merupakan status dari kerentanan terhadap kegagalankegagalan tertentu di lingkungan pekerjaan yang penuh dengan stresor-stresor fisik, emosional dan mental. Stresor fisik di tempat kerja misalnya bising, penerangan yang kurang memadai, temperatur ruangan yang terlalu tinggi serta bahaya-bahaya kerja fisik lainnya, atau bahaya-bahaya kerja kimiawi, misalnya debu kerja yang berlebihan, bahaya kerja ergonomis, misalnya meja kerja yang terlalu tinggi/terlalu rendah, jangkauan yang jauh, bekerja dengan posisi sulit dan lain-lain. Stresor emosional atau mental, bisa merupakan kondisi yang tidak menyenangkan atau bahkan kondisi yang menyenangkan misalnya suatu promosi dapat mengakibatkan timbulnya stres akibat kehilangan posisi. Masalah-masalah dalam pekerjaan lainnya seperti dipindahkan bagian, menganggur dan pensiun seringkali juga menimbulkan kerentanan untuk timbulnya gangguan psikologis. Kondisi-kondisi lainnya seperti terlalu banyak tugas, atau sebaliknya tidak diberi tugas, tidak punya kekuasaan untuk melaksanakan tugas atau atasan yang tidak mendukung dalam melaksanakan tugas juga menjadi subjek konflik di tempat kerja. Sifat stresor adalah bertambah terus dan bertumbuh. Respon individu dalam menghadapi stresor tergantung pada nilai-nilai, pengalaman dan daya penyesuaian dirinya. Suatu stresor tunggal dapat menjadi majemuk jika terjadi kegagalan elemen-elemen dari sistem pendukung emosi misalnya jika mobil mogok di jalan pada saat akan menghadiri rapat yang penting. Manusia dalam menghadapai stresor akan menampilkan tiga tahap reaksi tubuh: (5-7) (i) Reaksi alarm (tanda bahaya) Respon yang datangnya dengan cepat untuk menghadapai suatu tantangan atau ancaman. Pada tahap ini tubuh belum dapat beradaptasi terhadap paparan ancaman bahaya. Terjadi mobilisasi dari sistim saraf otonom yang mencetuskan respon stres dalam bentuk respon perlawanan (fight) atau respon menghindar (flight). Bermacam-macam sistem tubuh ikut mengkoordinasi kesiap-siagaan untuk bereaksi, mempengaruhi kejiwaan (sistem limbik), pengaturan sistem kardiovaskuler, pernafasan, ketegangan otot serta aktivitas-aktivitas motorik yang halus. (ii) Tahap kebal (resisten) Reaksi alarm tidak dapat dipelihara untuk jangka waktu yang tidak terbatas. Pemaparan yang berkepanjangan terhadap stresor-stresor menyebabkan individu menjadi kebal. Pada tahap ini sesungguhnya tubuh sudah dapat beradaptasi, di mana individu mengembangkan suatu strategi perjuangan untuk bertahan hidup dan membina daya perlawanan justru untuk meredam respon dari stresor yang telah dimulai pada tahap sebelumnya. Mekanisme penanggulangan ini bisa menguntungkan atau tidak menguntungkan bagi perkembangan mental individu. Ternyata individu cenderung untuk lebih baik melaksanakan penanggulangan dengan cara yang cepat dari pada cara yang lebih lama dalam menangani masalah tersebut dan mencoba melarikan diri dari kondisi yang kurang menyenangkan. Sayangnya cara penanggulangan yang cepat walaupun paling mudah biasanya tidak memadai, karena dengan cara ini biasanya pada jangka panjang akan timbul masalah-masalah sekunder dalam bentuk 147

4 Harrianto menurunnya penampilan diri. Pada tahap ini individu sungguh-sungguh membutuhkan pertolongan untuk mengidentifikasi cara-cara penanggulangan yang dapat mendorong dirinya Stres akibat kerja memahami keuntungan-keuntungan dari caracara penanggulangan yang lebih lama. Contoh-contoh mekanisme strategi penanggulangan: (6) Stresor psikologis : konflik dengan manajer Stresor fisik : pekerjaan angkat beban oleh perawat tua 148

5 Universa Medicina Vol.24 No.3 (iii) Tahap kelelahan Respon terhadap stres pada dasarnya sehat dan penting untuk menimbulkan daya motivasi dan adaptasi seseorang. Bila beban mental terlalu berat atau tidak dapat menemukan solusi yang memadai maka individu tersebut akan menanggung banyak kesukaran. Stres yang lama dan berkelanjutan dapat menimbulkan masalah-masalah yang menahun yang pada akhirnya menyebabkan individu akan menderita suatu kelelahan yang berat seakan-akan semua cadangan energi menghilang, sehingga timbul depresi yang sungguh-sungguh. (5) Gejala-gejala fisik dari tahap awal kelelahan tampak sebagai perasaan lelah yang berlebihan, lemah dan tidak punya daya. Tanda-tanda non-spesifik lainnya biasanya dalam bentuk penglihatan yang kabur, rasa pusing, vertigo, tangan tremor, nyeri otot, palpitasi, napas terasa berat, nyeri dada, sesak napas atau gangguan pernafasan yang lain, gejala-gejala gangguan saluran cerna seperti rasa kering di mulut, rasa leher tercekik, mualmual atau muntah, konstipasi yang menahun, diare atau sakit perut yang melilit. Berat badan bertambah atau menjadi kurus, perubahan corak makan dalam bentuk berkurangnya nafsu makan atau nafsu makan menjadi lebih besar atau makan coklat secara berlebihan. Individu ini biasanya kalau di tempat kerja bisa menyembunyikan gejala-gejalanya kecuali kalau terasa sangat berat, pada keadaan ini cederung untuk bolos kerja. Tetapi sayangnya gejala-gejala ini tidak hanya timbul di tempat kerja, bisa juga di rumah atau di mana saja, sehingga individu menjadi sangat menderita. Gejala-gejala emosi dari stres pada tahap kelelahan berhubungan dengan sindrom depresi dan frustrasi, manifestasinya dalam bentuk tangisan yang tak terkontrol, perasaan takut mati, tidak berani bicara di depan publik, mudah terkejut, tidak suka berteman atau bertemu keluarga atau menyalurkan hobinya, kurang perhatian pada hal-hal personal seperti olah raga, pakaian dan makan. Pada kasuskasus yang ekstrem bisa merusak diri atau percobaan bunuh diri. Mudah marah, dingin dan kaku pada orang lain serta disertai perasaan bersalah yang berlebihan. Serangan panik dan gelisah dapat mengakibatkan kesulitan melaksanakan pekerjaan, yang akan menambah stres di tempat kerja karena gejalagejala tersebut terlihat oleh teman-teman kerjanya. (6) Disfungsi mental pada tahap kelelahan tampak sebagai gangguan tidur seperti sulit bangun dari tidur, bangun tidur terlalu dini yang disertai dengan mimpi-mimpi buruk, hilangnya daya konsentrasi dan koordinasi. Hal ini mendorong timbulnya gangguan penampilan di tempat kerja serta daya untuk mempertimbangkan suatu masalah, sehingga tidak jarang timbul perilaku negatif dalam melaksanakan pekerjaan atau seringkali timbul keragu-raguan dalam memutuskan suatu masalah. Di tempat kerja tanda-tanda disfungsi mental biasanya lebih mudah tampak daripada tanda-tanda gangguan fisik karena gejalagejala tersebut berhubungan langsung dengan penampilan kerja dan jelas dapat dirasakan oleh teman sekerja. Hal ini mengakibatkan hilangnya rasa percaya diri dan gangguan kontrol individu, sehingga makin mendorong penurunan penampilan dirinya. (7) Penyalahgunaan alkohol dan obat-obat penenang serta obat-obatan yang lain, merokok berlebihan seringkali menjadi solusi yang diambil oleh individu ini. Jenis stresor dan hubungannya dengan spesifikasi jenis pekerjaan Stresor seringkali berhubungan langsung dengan sistem tugas, volume pekerjaan, lingkungan tempat kerja atau sebagai akibat ketidak-keharmonisan hubungan dengan individu lain di tempat kerja serta faktor-faktor 149

6 Harrianto budaya organisasi tempat kerja, beberapa stresor juga berhubungan pada identifikasi dari peranan seseorang di organisasi tempat kerja. Sistem tugas a. Kerja lembur Menurut beberapa penelitian, kerja lembur yang terlalu sering, apalagi kalau tanpa kontrol jumlah jam kerja yang berlebih-lebihan ternyata tidak hanya mengurangi kuantitas dan kualitas hasil kerja, juga seringkali meningkatkan kuantitas absen dengan alasan sakit atau kecelakaan kerja. (5-7) Misalnya: pekerja-pekerja di industri pengemasan buah kaleng yang biasanya banyak berhubungan dengan musim buah. b. Tugas kerja malam Kerja malam merupakan tugas yang berat bagi individu pekerja, seringkali mengakibatkan timbulnya gangguan fisik akibat kurang tidur serta perubahan tingkah laku yang dapat mendorong individu untuk penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang serta perubahan kebiasaan makan. Misalnya: polisi, perawat, satpam, anggota pemadam kebakaran, pekerja-pekerja di industri pelayanan (hotel, transportasi, dan lain-lain), termasuk pekerja dengan tugas malam lainnya. Penelitian yang dilaksanakan oleh Bilat dkk (8) pada tahun 2002 ditemukan bahwa cuti sakit perawat wanita dan pekerja rumah sakit lainnya mencapai lebih dari 13% dari seluruh jumlah hari kerja akibat jadwal kerja malam yang terlalu sering di rumah sakit. c. Kecepatan mesin Kecepatan kerja yang didasarkan sematamata pada kapasitas kecepatan mesin sangat menguras energi fisik dan psikologis individu pekerja karena harus terpaku untuk menyesuaikan kecepatan mesin, ban berjalan atau proses produksi, sehingga sedetik pun tak Stres akibat kerja memungkinkan pekerja untuk meninggalkan tempat kerjanya tanpa digantikan atau ditolong temannya. Misalnya produk-produk kontrol kualitas yang dihasilkan oleh mesin-mesin yang berkecepatan tinggi dan produk-produk yang harus berdasarkan jadwal yang ketat. d. Gerakan yang berulang secara monoton Pekerjaan-pekerjaan yang harus dilaksanakan dengan gerakan anggauta badan yang berulang secara monoton, yang kadangkadang pula disertai posisi kerja yang sulit, atau sambil membawa beban atau menahan beban seringkali sangat memberatkan individu pekerja. Misalnya pekerjaan-pekerjaan di industri penggergajian kayu, pengemasan, pemilihan dan asembling pada ban berjalan. Walsh dkk (9) menyimpulkan dalam penelitiannya bahwa pekerjaan yang banyak menggerakkan tangan berulang dan membosankan seperti pada para pekerja penggergajian kayu lebih banyak menimbulkan penyakit-penyakit psikosomatik dan gejala-gejala stres mental lainnya sehingga meningkatkan frekuensi cuti sakit. (9) e. Kekangan-kekangan Tidak adanya kebebasan bekerja, misalnya tahapan-tahapan pekerjaan yang mempunyai jadwal tugas yang ketat dan detail. Misalnya pemeliharaan/perawatan/pengujian mesin kapal terbang yang harus mengikuti/berdasarkan checklist yang ketat, pekerjaan mencocokkan/ memasang/merakit elemen-elemen jadi bangunan rumah/mesin-mesin, pekerjan akunting. f. Komunikasi yang menjemukan/ membebankan Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan kontak yang memberatkan karena memerlukan negosiasi untuk perihal yang sulit diterima atau tidak selaras dengan kehendak lawan bicara. Misalnya manajer pemasaran, personil promosi obat-obatan. 150

7 Universa Medicina Vol.24 No.3 Volume pekerjaan a. Volume pekerjaan yang berlebihan Volume pekerjaan yang terlalu banyak, yang dibatasi oleh waktu. Misalnya : i. Tergesa-gesa karena dibatasi oleh waktu, misalnya petugas pelayanan pelanggan yang harus melayani pelanggan dengan antrian yang panjang untuk menunggu pelayanan, sekretaris dengan tugas yang bertumpuk. ii. Permintaan-permintaan untuk pengambilan keputusan yang rumit, misalnya petugas kontrol kualitas, pekerjaan yang harus membutuhkan masukan informasi yang banyak. b. Volume pekerjaan yang sangat kurang Kurang rangsangan untuk bekerja, kurang variasi, tidak ada kreativitas atau tuntutan untuk mengatasi masalah. Misalnya: i. Tuntutan pekerjaan yang memerlukan perhatian penuh tetapi kurang rangsangan untuk bekerja. Pekerja harus tetap waspada dan harus selalu siap untuk bereaksi bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Walaupun keadaan tersebut jarang sekali terjadi, seperti tugas pengawasan mesin dan peralatan pada penggunaan reguler, tugas menjaga pintu kereta api. ii. Tuntutan untuk membeda-bedakan secara tepat biasanya membutuhkan konsentrasi, perasaan dan konsentrasi penglihatan yang intens. iii. Tidak diberi tugas karena atasan pilih kasih, atau kemampuan kalah bersaing dengan yang lain. c. Tanggung jawab untuk keselamatan dan kesejahteraan diri sendiri, organisasi tempat kerja dan masyarakat umum. Misalnya: i. Tanggung jawab untuk bekerja dengan aman merupakan faktor stres psikis dari ii. iii. pekerja karena harus bekerja selalu dengan hati-hati agar tidak membahayakan orang di sekitarnya atau pun membahayakan diri sendiri, seperti: operator mesin derek, pekerja yang menangani bahan-bahan kimia yang berbahaya atau yang mudah meledak, pilot. Tanggung jawab pekerjan terhadap kesejahteraan masyarakat misalnya pekerja-pekerja di sektor kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan lainnya. Tanggung jawab terhadap peralatan dan bahan-bahan kerja yang bernilai tinggi. d. Kondisi fisik/lingkungan tempat kerja Adanya ancaman terpapar kondisi fisik tempat kerja yang kurang menyenangkan atau kontak dengan bahan-bahan beracun. Misalnya: i. Tempat kerja yang sunyi/terpencil, seperti pekerjaan-pekerjan menyendiri yang tak mempunyai kesempatan berkomunikasi dengan orang lain atau pekerjan-pekerjan yang pada situasi sulit atau terancam bahaya tak memungkinkan untuk mencari pertolongan dari teman kerja atau siapapun. Misalnya: tugas-tugas pengawasan/penjagaan yaitu penjaga mercu suar, tugas jaga malam, operator telegraf, pekerjaan-pekerjaan yang tidak kontak langsung dengan langganan. ii. Tempat kerja yang jauh atau sulit dijangkau iii. Pemaparan di tempat kerja Pemaparan di tempat kerja umumnya pemaparan fisik dan pemaparan kimiawi, seperti suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, tempat kerja yang sempit berdesakan, ventilasi buruk, penerangan yang kurang baik, vibrasi, masalahmasalah ergonomi, tempat kerja yang bising, bau-bau yang tidak enak, debu-debu kerja dan substansi kimia yang berbahaya. 151

8 Harrianto Organisasi tempat kerja i. Perubahan-perubahan Perubahan-perubahan yang terjadi di tempat kerja merupakan salah satu penyebab utama dari stres. Perubahan seringkali berarti terjadi suatu kehilangan, seperti diberlakukan teknik yang baru di tempat kerja, ganti supervisor, restrukturisasi organisasi, diberi tugas baru yang sukar dilaksanakan, pindah bagian, dan dibebas tugaskan sebagai pimpinan. ii. iii. Manajemen yang otokratis Pada perusahaan dengan manajemen yang otokratis, biasanya komunikasi atasan dan bawahan tidak berjalan dengan baik. Seringkali para pekerja dibebani oleh dua perasaan yang berlawanan, yang mendorong timbulnya stres. Perasaan tersebut biasanya timbul bila para pekerja mengerti apa yang mereka harus perbuat tetapi pada kenyataannya hal itu tak dapat dilaksanakan. Komunikasi yang buruk juga biasanya mencetuskan timbulnya perasaan ketidak puasan, kurangnya penghargaan, konflik pada rantai komando atau konflik perbedaan tuntutan para pekerja pada manajemen bisa menimbulkan konflik dengan teman sekerja. Juga bila pekerja harus mengerjakan perintah yang tak disukainya atau bila perintah tidak tercantum dalam deskripsi pekerjaan, kurangnya dukungan dana atau fasilitas lainnya dari manajemen guna menyelesaikan tugas atau tidak diberinya kekuasaan untuk memutuskan masalah dalam menyelesaikan tugas merupakan stresor psikologis yang penting. Pengembangan karir. Stres akibat kerja Ancaman dipecat, diturunkan pangkat, dipensiunkan lebih dini karena sakit, ada hambatan untuk promosi atau mendapat promosi untuk pekerjaan yang kurang dikuasai, dapat menimbulkan kecemasan yang hebat. PENATALAKSANAAN STRES Dokter perusahaan seringkali sukar mendiagnosis atau menggambarkan dengan jelas berkembangnya stres seorang individu di tempat kerja, karena gejala-gejala yang timbul terutama mempengaruhi kondisi fisik, sehingga pada awalnya seringkali dipikirkan penyakitpenyakit organis sebagai penyebabnya. Misalnya gejala sakit kepala biasanya dipikirkan sebagai akibat penyakit tekanan darah tinggi, napsu makan berlebihan akibat riwayat obesitas dalam keluarga dan sakit pinggang akibat perkapuran tulang belakang atau akibat skoliosis. Yang lebih menyulitkan, para pasien itu sendiri menolak untuk menghubungkan gejala-gejala yang timbul sebagai akibat stres di tempat kerja. Perubahan perilaku di tempat kerja sehingga seringkali orang-orang di sekitarnya mencemoohkan, biasanya tidak diceritakan oleh pasien. Biasanya pasien menolak bila dikatakan perubahan perilakunya adalah kontraproduktif. Pasien biasanya menuntut cepat sembuh sehingga seringkali mencari pengobatan yang mudah dari gangguan yang dirasakannya dan mengharapkan dokternya membuat keajaiban untuk menghilangkan gejala yang dideritanya. Selain itu karena stres dapat juga merupakan bagian dari masalah di luar lingkungan pekerjaan, jadi masalah di belakang layar dalam keluarga atau lingkungan sosial dapat bermanifest sebagai gejala-gejala stres di tempat kerja, sehingga lebih mempersulit pengungkapan gejala-gejala penyakit ini. 152

9 Universa Medicina Vol.24 No.3 Jika seseorang mempunyai gejala-gejala stres yang berkepanjangan sukar untuk dicari akar masalahnya atau pencetus timbulnya gejala-gejala tersebut. Tetapi pertanyaanpertanyaan yang berhubungan dengan gejalagejala dini (reaksi alarm) dapat menolong untuk mengidentifikasi akar masalah tersebut. Misalnya; restrukturisasi yang baru terjadi di lingkungan tempat kerja, kesulitan-kesulitan khusus terutama dalam hubungan interpersonal, saat timbulnya gejala dalam hubungan terhadap stresor, deskripsi menyeluruh tentang tempat kerja serta penyalahgunaan alkohol dan obat-obat terlarang. Bila pasien menemui dokter pada saat gejala-gejala stres baru timbul, beberapa pertanyaan langsung pada akar masalah tersebut dapat menolong untuk mengidentifikasi situasi-situasi pencetus stres. Pada saat ini nasehat medis yang memadai dapat mengatasi masalah-masalah jangka pendek atau jangka panjang. Untuk selajutnya pasien ini membutuhkan perhatian yang lebih besar dan membutuhkan pemeriksaan selanjutnya, guna mencegah berkembangnya penyakit ini. Anxiolitika, antidepresan dan ß-blocker dapat mengatasi gejala-gejala stres untuk jangka pendek, tetapi tidak dapat dipakai untuk jangka panjang karena pasien tidak diobati pada akar masalahnya, juga bahaya ketergantungan obat-obat tersebut serta depresi miokard akibat ß-blocker perlu mendapat perhatian. Guna mendorong terjadinya perubahan perilaku kerja dan persepsi terhadap responrespon biologis, pasien dinasehatkan untuk datang diam-diam secara reguler biasanya 1 jam dalam seminggu, untuk bimbingan dan konseling oleh dokter perusahaan, terutama untuk kasus-kasus dengan akar masalah psikologis seperti kesulitan-kesulitan interpersonal atau perilaku ketergantungan alkohol/obat-obat terlarang. (6) Istilah konseling harus dibedakan dengan memberi nasehat. Suatu nasehat terbatas pada satu paket solusi yang diberikan pada pasien untuk mengatasi masalah, sedang seorang konselor membantu pasien dengan memberikan sejumlah pilihan solusi untuk mengatasi masalahnya. Konselor akan membantu menyeleksi solusi-solusi tersebut sampai pasien memperoleh pilihan terbaik dan selanjutnya melaksanakannya dengan usahausaha pasien itu sendiri. (7) Penelitian oleh Walsh dkk (9) pada tahun 2005 melaporkan bahwa bimbingan dan konseling yang dilakukan dokter perusahaan pada karyawan kantor pos di Ingris berhasil mengurangi cuti sakit dan secara bermakna dapat mengatasi gejala-gejala kecemasan, depresi dan dapat meningkatkan harga diri. (10) Pelatihan Manajemen Stres dapat dilaksanakan secara berkelompok 6 sampai 12 pekerja yang ada indikasi mempunyai gejalagejala stres akibat kerja. Materi-materi pelatihan yang perlu diajarkan seperti: teknik fisiologis untuk mengurangi serangan stres misalnya teknik relaksasi, biofeedback, meditasi atau latihan pernafasan, teknik psikologis dan kognitif pembentukan diri kembali, macam-macam keterampilan kerja misalnya manajemen waktu, skala prioritas, keterampilan interpersonal misalnya pelatihan berpidato, presentasi, tatacara mengikuti rapat, dan lain-lain. (6,10) Pasien perlu dianjurkan untuk menciptakan keseimbangan stres di tempat kerja, dengan demikian gaya hidup yang sehat dan aktivitas relaksasi di tempat kerja sangat dibutuhkan. Beberapa teknik relaksasi di tempat kerja dapat dianjurkan, seperti istirahat pendek tapi sering misalnya 5 menit setiap jam kerja lebih berguna daripada istirahat panjang tapi jarang, sedikit latihan fisik secara reguler 153

10 Harrianto sangat berguna pada pekerja komputer, olah pernafasan yang rutin bermanfaat untuk mencegah serangan stres yang datangnya mendadak atau serangan panik. Gaya hidup yang sehat di luar tempat kerja harus dianjurkan seperti: olah raga rutin, makanan sehat, berhenti merokok dan minum alkohol, penyaluran hobi serta pasien dianjurkan memperbanyak berkomunikasi dengan keluarga dan teman-temannya. Penatalaksanaan stres di tempat kerja secara menyeluruh tidak hanya membutuhkan kooperasi dan partisipasi pasien tapi juga partisipasi aktif organisasi tempat kerja, seperti: melaksanakan perbaikan tempat kerja seoptimal mungkin, menciptakan manajemen yang terbuka, terlaksananya komunikasi dua arah antara pekerja dan pimpinan, memberikan tugas-tugas dan otoritas tugas yang jelas, memberikan target-target yang menantang tapi mampu dicapai, jadwal kerja yang fleksibel tapi terencana, memberikan teguran pada pekerja yang salah secara wajar, adil tanpa kekerasan. (4) KESIMPULAN Semua pekerjaan menanggung beban tanggung jawab, masalah-masalah, tuntutantuntutan, kesulitan-kesulitan dan tekanantekanan yang mencetuskan timbulnya stres psikologis pada individu pekerja. Pada akhirnya bila stres berkepanjangan akan menghasilkan respon tubuh dalam bentuk gangguan faal tubuh, gangguan emosional dan perubahan tingkah laku serta menurunnya produktivitas kerja. Dengan mencari akar masalah dan membimbing pasien dengan solusi-solusi cara penanggulangan stres yang benar, besar kemungkinan kasus-kasus ini dapat diatasi dan akibat buruknya pada organisasi tempat kerja Stres akibat kerja dapat dikurangi. Biasanya pasien menolak bila gejala-gejala penyakitnya dihubungkan dengan stres psikologis maka tidak banyak dokter yang dapat mendiagnosis gangguan kesehatan ini. Karena dokter perusahaan yang paling tahu tentang lingkungan tempat kerja, dengan demikian untuk kasus-kasus ini peranan seorang dokter perusahaan menjadi sangat penting. Kalau dulu tanggung jawabnya semata-mata terbatas pada gangguan kesehatan yang dihasilkan akibat proses-proses industri, tetapi sekarang mencakup segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan termasuk juga stres akibat kerja. Daftar Pustaka 1. Fingret A. Occupational mental health: a brief history. Occup Med Journal 2000; 50: Smith A. The scale of perceived occupational stress. Occup Med J 2000; 50: Marchand A, Demers A, Durand F. Do occupation and work conditions really matter? A longitudinal analysis of psychological distress experiences among canadian workers. Sociol Health Illn 2005; 27: Work Safe Western Australia and Work Cover WA. Increase in stress. A guide to work related stress. Safeline 1996; 32: Elo AI, Leppanen A, Jahkola A. Validity of a single-item measure of stress symptoms. Scand J Work Environ Health 2003; 29: Oncul J. Stress at work. BMJ 1996; 313: Deva MP. Presentation and management of anxiety disorders in family practice. Med Progress 2001; 28: Bilat C, Michelsen H. Gender differences in the effects from working conditions on mental health: a 4 years follow-up. Int Arch Occup Environ Health 2002; 75: Walsh L, Turner S, Lines S, Hussey L, Chen Y, Agius R. The incidence of work-related illness in the UK health and social work sector: The Health Occupation Reporting network Occup Med J 2005; 55: Reynolds S. Intervention: what work, what doesn t. Occup Med J 2000; 50:

BAB I PENDAHULUAN. merupakan faktor-faktor yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. merupakan faktor-faktor yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Pekerjaan merupakan bagian yang memegang peranan penting bagi kehidupan manusia, yaitu dapat memberikan kepuasan, tantangan, bahkan dapat pula menjadi gangguan dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stres Kerja 2.1.1 Pengertian Stres Kerja Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Stepen P. Robbins (2003 : 793), bahwa stress kerja adalah kondisi dinamik yang didalamnya individu

Lebih terperinci

PSIKOLOGI UMUM 2. Stress & Coping Stress

PSIKOLOGI UMUM 2. Stress & Coping Stress PSIKOLOGI UMUM 2 Stress & Coping Stress Pengertian Stress, Stressor & Coping Stress Istilah stress diperkenalkan oleh Selye pada tahun 1930 dalam bidang psikologi dan kedokteran. Ia mendefinisikan stress

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit merupakan suatu lembaga yang memberikan pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit merupakan suatu lembaga yang memberikan pelayanan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Rumah sakit merupakan suatu lembaga yang memberikan pelayanan kesehatan dengan usaha menyeluruh, yaitu usaha promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kualitas yang melayani, sehingga masalah-masalah yang terkait dengan sumber

BAB I PENDAHULUAN. kualitas yang melayani, sehingga masalah-masalah yang terkait dengan sumber 1 BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Masalah Fungsi utama Rumah Sakit yakni melayani masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan. Seiring dengan berjalannya waktu dan semakin majunya teknologi kedokteran,

Lebih terperinci

FRUSTRASI & STRESS LIA AULIA FACHRIAL, M.SI

FRUSTRASI & STRESS LIA AULIA FACHRIAL, M.SI FRUSTRASI & STRESS LIA AULIA FACHRIAL, M.SI TUJUAN PEMBELAJARAN Mampu membedakan antara frustrasi dan stress Mengerti gejala stress Mampu menjelaskan terjadinya stress Menguraikan cara-cara mengatasi stress

Lebih terperinci

PROSES TERJADINYA MASALAH

PROSES TERJADINYA MASALAH PROSES TERJADINYA MASALAH ` PREDISPOSISI PRESIPITASI BIOLOGIS GABA pada sistem limbik: Neurotransmiter inhibitor Norepineprin pada locus cereleus Serotonin PERILAKU Frustasi yang disebabkan karena kegagalan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan industri yang cukup pesat seperti sekarang ini, perkembangan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Perkembangan industri yang cukup pesat seperti sekarang ini, perkembangan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan industri yang cukup pesat seperti sekarang ini, perkembangan teknologi yang meningkat dan kompleks, serta manusia yang selalu berkembang, menunjukkan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS)

Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS) Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS) Nomor Responden : Nama Responden : Tanggal Pemeriksaan : Skor : 0 = tidak ada 1 = ringan 2 = sedang 3 = berat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dalam tahap perkembangannya akan mengalami masa berhentinya haid yang dibagi

BAB I PENDAHULUAN. dalam tahap perkembangannya akan mengalami masa berhentinya haid yang dibagi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sudah menjadi kodrat alam bahwa dengan bertambahnya usia, setiap wanita dalam tahap perkembangannya akan mengalami masa berhentinya haid yang dibagi dalam beberapa fase,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memiliki prioritas tertinggi dalam hirarki Maslow. Dimana seseorang memiliki

BAB I PENDAHULUAN. memiliki prioritas tertinggi dalam hirarki Maslow. Dimana seseorang memiliki 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Tidur merupakan aktivitas yang dilakukan setiap hari dan juga salah stau kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Menurut Teori Hirarki Maslow tentang kebutuhan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat 2010 adalah meningkatkan kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud kesehatan masyarakat

Lebih terperinci

LAMPIRAN. Lampiran 1. Kuesioner Penelitian KUESIONER. 1. Jenis Kelamin : 2. Usia : Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A)

LAMPIRAN. Lampiran 1. Kuesioner Penelitian KUESIONER. 1. Jenis Kelamin : 2. Usia : Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) LAMPIRAN Lampiran 1. Kuesioner Penelitian KUESIONER DATA UMUM RESPONDEN NOMOR PIN: 1. Jenis Kelamin : 2. Usia : Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) Silakan anda memberi tanda di kolom isi sesuai

Lebih terperinci

LAMPIRAN A PEDOMAN OBSERVASI DAN WAWANCARA

LAMPIRAN A PEDOMAN OBSERVASI DAN WAWANCARA LAMPIRAN 193 194 LAMPIRAN A PEDOMAN OBSERVASI DAN WAWANCARA 195 LAMPIRAN A PEDOMAN OBSERVASI d. Kesan umum, meliputi keadaan fisik dan penampilan subyek e. Keadaan emosi, meliputi ekspresi, bahasa tubuh,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI

BAB II TINJAUAN TEORI BAB II TINJAUAN TEORI A. Teori 1. Kecemasan Situasi yang mengancam atau yang dapat menimbulkan stres dapat menimbulkan kecemasan pada diri individu. Atkinson, dkk (1999, p.212) menjelaskan kecemasan merupakan

Lebih terperinci

Kata Pengantar. Jawaban dari setiap pernyataan tidak menunjukkan benar atau salah, melainkan hanya pendapat dan persepsi saudara/i belaka.

Kata Pengantar. Jawaban dari setiap pernyataan tidak menunjukkan benar atau salah, melainkan hanya pendapat dan persepsi saudara/i belaka. LAMPIRAN Kata Pengantar Melalui kuesioner ini, kami dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha bermaksud untuk melakukan penelitian mengenai Derajat kecemasan pada siswa kelas XI SMA Santa

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 1. Beban Kerja 1.1 Defenisi Beban kerja Beban kerja adalah kemampuan tubuh pekerja dalam menerima pekerjaan. Dari sudut pandang ergonomi, setiap beban kerja yang diterima seseorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang dengan sekelompok

BAB I PENDAHULUAN. sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang dengan sekelompok 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Organisasi adalah satu sistem, yang terdiri dari pola aktivitas kerja sama yang dilakukan secara teratur dan berulang-ulang dengan sekelompok orang untuk mencapai

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. tekanan mental atau beban kehidupan. Dalam buku Stress and Health, Rice (1992)

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA. tekanan mental atau beban kehidupan. Dalam buku Stress and Health, Rice (1992) BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stres 2.1.1 Definisi Stres dan Jenis Stres Menurut WHO (2003) stres adalah reaksi atau respon tubuh terhadap tekanan mental atau beban kehidupan. Dalam buku Stress and Health,

Lebih terperinci

Konsep Krisis danangsetyobudibaskoro.wordpress.com

Konsep Krisis danangsetyobudibaskoro.wordpress.com Konsep Krisis danangsetyobudibaskoro.wordpress.com Krisis merupakan suatu titik balik yang memungkinkan individu untuk tumbuh dan berkembang, atau menyebabkan dirinya merasa tidak puas, gagal, dan kehidupannya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalami peningkatan. Penyakit-penyakit kronis tersebut, di antaranya: kanker,

BAB I PENDAHULUAN. mengalami peningkatan. Penyakit-penyakit kronis tersebut, di antaranya: kanker, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Jumlah penderita penyakit kronis yang dapat menyebabkan kematian kini mengalami peningkatan. Penyakit-penyakit kronis tersebut, di antaranya: kanker, HIV/AIDS,

Lebih terperinci

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin. angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik.

Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin. angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik. Pengertian Kecemasan Kecemasan atau dalam Bahasa Inggrisnya anxiety berasal dari Bahasa Latin angustus yang berarti kaku, dan ango, anci yang berarti mencekik. Menurut Freud (dalam Alwisol, 2005:28) mengatakan

Lebih terperinci

STRESS DALAM PEKERJAAN. Armaidi Darmawan, dr, M.Epid Bagian Kedokteran Komunitas/Keluarga FKIK Unja

STRESS DALAM PEKERJAAN. Armaidi Darmawan, dr, M.Epid Bagian Kedokteran Komunitas/Keluarga FKIK Unja STRESS DALAM PEKERJAAN Armaidi Darmawan, dr, M.Epid Bagian Kedokteran Komunitas/Keluarga FKIK Unja Definisi STRESS?? Tekanan adalah kekuatan atau perangsang yang menekan individu yang menimbulkan tanggapan

Lebih terperinci

PEDOMAN WAWANCARA DAN OBSERVASI

PEDOMAN WAWANCARA DAN OBSERVASI PEDOMAN WAWANCARA DAN OBSERVASI Pedoman Wawancara 1. Latar belakang berkaitan dengan timbulnya kecemasan - Kapan anda mulai mendaftar skripsi? - Bagaimana perasaan anda ketika pertama kali mendaftar skripsi?

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Stres Kerja 2.1.1. Pengertian Stres Menurut Vaughan dan Hogh (2002) stres adalah suatu kondisi psikologis yang terjadi ketika suatu stimulus diterima sebagai suatu hambatan atau

Lebih terperinci

KECEMASAN (ANSIETAS) Niken Andalasari

KECEMASAN (ANSIETAS) Niken Andalasari KECEMASAN (ANSIETAS) Niken Andalasari 1. Definisi Kecemasan mengandung arti sesuatu yang tidak jelas dan berhubungan dengna perasaan yang tidak menentu dan tidak berdaya (stuart & sundeeen,1995). Kecemasan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. masa dewasa awal adalah bekerja dan berkarier. Hal ini berarti bahwa semua

BAB I PENDAHULUAN. masa dewasa awal adalah bekerja dan berkarier. Hal ini berarti bahwa semua 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Secara normatif pria dan wanita mempunyai status atau kedudukan dan peranan (hak dan kewajiban) yang sama. Akan tetapi, saat ini terjadi pergeseran dimana

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan fisik yang tidak sehat, dan stress (Widyanto, 2014).

BAB I PENDAHULUAN. lingkungan fisik yang tidak sehat, dan stress (Widyanto, 2014). BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Lanjut usia merupakan individu yang berada pada tahapan dewasa akhir yang usianya dimulai dari 60 tahun keatas. Setiap individu mengalami proses penuaan terlihat dari

Lebih terperinci

YOGA: HARMONISASI MANAJEMEN STRESS

YOGA: HARMONISASI MANAJEMEN STRESS YOGA: HARMONISASI MANAJEMEN STRESS Mulyaningrum E-mail : mulyaningrum2001@yahoo.com Abstrak Pada kehidupan modern, terutama di kota, setiap orang menjadi semakin besar peluangnya menghadapi banyak stress.

Lebih terperinci

Strategi pemulihan gangguan jiwa berdasar stress vulnerability model

Strategi pemulihan gangguan jiwa berdasar stress vulnerability model Materi ini merupakan salah satu Bahan kuliah online gratis Bagi anggota keluarga, relawan kesehatan jiwa Dan perawat pendamping Strategi pemulihan gangguan jiwa berdasar stress vulnerability model Oleh:

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan fungsi yang luas sehingga harus memiliki sumberdaya, baik modal

BAB I PENDAHULUAN. melaksanakan fungsi yang luas sehingga harus memiliki sumberdaya, baik modal BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit merupakan suatu institusi atau organisasi pelayanan kesehatan dengan fungsi yang luas dan menyeluruh, padat pakar dan padat modal. Rumah sakit melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kekayaan utama yang paling berharga bagi setiap bangsa adalah sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Kekayaan utama yang paling berharga bagi setiap bangsa adalah sumber daya BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kekayaan utama yang paling berharga bagi setiap bangsa adalah sumber daya manusia. Nuansa pembangunan di masa mendatang terletak pada pembangunan sumber daya manusia,

Lebih terperinci

LEMBAR PENJELASAN KEPADA RESPONDEN

LEMBAR PENJELASAN KEPADA RESPONDEN Lampiran 1 LEMBAR PENJELASAN KEPADA RESPONDEN Saya yang benama Eva Sartika Simbolon sedang menjalani Program Pendidikan D-IV Bidan Pendidik di Fakultas Keperawatan. Untuk memenuhi salah satu syarat menyelesaikan

Lebih terperinci

Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS)

Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS) Lampiran 1. Hamilton Rating Scale For Anxiety (HARS) HAMILTON RATING SCALE FOR ANXIETY (HARS) Nomor Responden : Nama Responden : Tanggal Pemeriksaan : Skor : 0 = tidak ada 1 = ringan 2 = sedang 3 = berat

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Pengertian Komitmen Organisasi. karyawan memihak pada suatu organisasi dan tujuan-tujuannya,

BAB II LANDASAN TEORI. 1. Pengertian Komitmen Organisasi. karyawan memihak pada suatu organisasi dan tujuan-tujuannya, 7 BAB II LANDASAN TEORI A. Komitmen Organisasi 1. Pengertian Komitmen Organisasi Komitmen organisasi merupakan suatu keadaan seorang karyawan memihak pada suatu organisasi dan tujuan-tujuannya, serta berniat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Semakin sulitnya kondisi perekonomian di Indonesia menjadikan. persaingan diantara perusahaan-perusahaan semakin ketat.

BAB I PENDAHULUAN. Semakin sulitnya kondisi perekonomian di Indonesia menjadikan. persaingan diantara perusahaan-perusahaan semakin ketat. BAB I PENDAHULUAN 1.1. LATAR BELAKANG MASALAH Semakin sulitnya kondisi perekonomian di Indonesia menjadikan persaingan diantara perusahaan-perusahaan semakin ketat. Tidak hanya perusahaan-perusahaan dagang

Lebih terperinci

Nama : Eko Darma Satrio. Nim : : Sistem Informasi

Nama : Eko Darma Satrio. Nim : : Sistem Informasi Nama : Eko Darma Satrio Nim : 14121024 Prodi : Sistem Informasi 1. Jelaskan pengertian Perilaku Individu dalam organisasi? Perilaku individu dalam organisasi adalah bentuk interaksi antara karakteristik

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap individu akan mengalami perubahan pada dirinya baik secara fisik

BAB I PENDAHULUAN. Setiap individu akan mengalami perubahan pada dirinya baik secara fisik BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Setiap individu akan mengalami perubahan pada dirinya baik secara fisik maupun emosional. Semakin bertambahnya usia, individu akan mengalami berbagai macam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial yang selalu hidup berkelompok, bersamasama,

BAB I PENDAHULUAN. Manusia adalah makhluk sosial yang selalu hidup berkelompok, bersamasama, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk sosial yang selalu hidup berkelompok, bersamasama, saling berhubungan atau berkomunikasi, dan saling mempengaruhi. Hidupnya selalu

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Rasa Takut dan Cemas Rasa takut dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti objek internal dan hal yang tidak disadari. Menurut Darwin kata takut (fear) berarti hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Bandung. Rumah sakit X merupakan rumah sakit swasta yang cukup terkenal di

BAB I PENDAHULUAN. Bandung. Rumah sakit X merupakan rumah sakit swasta yang cukup terkenal di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Rumah sakit adalah institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan untuk menjaga homeostatis dan kehidupan itu sendiri. Kebutuhan

BAB I PENDAHULUAN. diperlukan untuk menjaga homeostatis dan kehidupan itu sendiri. Kebutuhan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus dipenuhi secara memuaskan melalui proses homeostasis, baik fisiologis maupun psikologis. Kebutuhan merupakan suatu hal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar belakang masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang masalah Manusia mempunyai sifat yang holistik, dalam artian manusia adalah makhluk fisik, psikologis, sekaligus rohani, dan aspek-aspek ini saling berkaitan satu sama

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menempuh berbagai tahapan, antara lain pendekatan dengan seseorang atau

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. menempuh berbagai tahapan, antara lain pendekatan dengan seseorang atau BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dewasa awal adalah masa dimana seseorang memperoleh pasangan hidup, terutama bagi seorang perempuan. Hal ini sesuai dengan teori Hurlock (2002) bahwa tugas masa

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit adalah bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan

BAB I PENDAHULUAN. Rumah sakit adalah bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Rumah sakit adalah bagian integral dari keseluruhan sistem pelayanan kesehatan yang dikembangkan melalui rencana pembangunan kesehatan, sehingga pengembangan rumah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Coping Mechanism adalah tingkah laku atau tindakan penanggulangan

BAB I PENDAHULUAN. Coping Mechanism adalah tingkah laku atau tindakan penanggulangan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Coping Mechanism adalah tingkah laku atau tindakan penanggulangan sembarang perbuatan, dimana individu melakukan interaksi dengan lingkungan sekitarnya dengan tujuan

Lebih terperinci

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia?

Skizofrenia. 1. Apa itu Skizofrenia? 2. Siapa yang lebih rentan terhadap Skizofrenia? Skizofrenia Skizofrenia merupakan salah satu penyakit otak dan tergolong ke dalam jenis gangguan mental yang serius. Sekitar 1% dari populasi dunia menderita penyakit ini. Pasien biasanya menunjukkan gejala

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan hal yang penting karena merupakan bekal bagi

BAB I PENDAHULUAN. Pendidikan merupakan hal yang penting karena merupakan bekal bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan hal yang penting karena merupakan bekal bagi setiap orang untuk menjalani masa depan, khususnya berkaitan dengan pekerjaan. Semakin tinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah membuat sebagian besar wanita ikut

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. sebagai kepala rumah tangga dan pencari nafkah membuat sebagian besar wanita ikut BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkembangan ekonomi di Indonesia yang semakin pesat membuat kebutuhan rumah tangga semakin meningkat. Kurangnya pendapatan yang dihasilkan suami sebagai kepala

Lebih terperinci

RITA ROGAYAH DEPT.PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI FKUI

RITA ROGAYAH DEPT.PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI FKUI RITA ROGAYAH DEPT.PULMONOLOGI DAN ILMU KEDOKTERAN RESPIRASI FKUI TIDUR Tidur suatu periode istirahat bagi tubuh dan jiwa Tidur dibagi menjadi 2 fase : 1. Active sleep / rapid eye movement (REM) 2. Quid

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. timbulnya tuntutan efisiensi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. timbulnya tuntutan efisiensi dalam menyelesaikan suatu pekerjaan. Menambah pengetahuan dengan menghubungkan teori yang didapat dalam perkuliahan dengan kenyataan serta dapat memperdalam pengetahuan penulis dalam bidang manajemen sumber daya manusia. BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Penyakit kronis merupakan penyakit yang berkembang secara perlahan selama bertahuntahun,

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Penyakit kronis merupakan penyakit yang berkembang secara perlahan selama bertahuntahun, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit kronis merupakan penyakit yang berkembang secara perlahan selama bertahuntahun, namun biasanya tidak dapat disembuhkan melainkan hanya diberikan penanganan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kecemasan merupakan suatu emosi yang paling sering di alami oleh manusia. Kadang-kadang kecemasan sering disebut sebagai bentuk ketakutan dan perasaan gugup yang dialami

Lebih terperinci

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Stres 2.1.1 Definisi Stres Menurut American Institute of Stress (2010), tidak ada definisi yang pasti untuk stres karena setiap individu akan memiliki reaksi yang berbeda terhadap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Perubahan gaya hidup menyebabkan terjadi pergeseran penyakit di

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Penelitian. Perubahan gaya hidup menyebabkan terjadi pergeseran penyakit di BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perubahan gaya hidup menyebabkan terjadi pergeseran penyakit di Indonesia. Pergeseran tersebut terjadi dari penyakit menular menjadi penyakit degeneratif.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan lebih lanjut ke perguruan tinggi (www.freelists.org). Perguruan tinggi

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan lebih lanjut ke perguruan tinggi (www.freelists.org). Perguruan tinggi BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pada jaman sekarang ini, semakin banyak individu yang menempuh pendidikan lebih lanjut ke perguruan tinggi (www.freelists.org). Perguruan tinggi (PT) adalah

Lebih terperinci

STRES DALAM ORGANISASI

STRES DALAM ORGANISASI STRES DALAM ORGANISASI Stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses pikiran, dan kondisi fisik seseorang. Stres yang terlalu berat dapat mengancam dan menghambat kemampuan seseorang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penurunan angka kematian ibu merupakan salah satu masalah besar di negeri

BAB I PENDAHULUAN. Penurunan angka kematian ibu merupakan salah satu masalah besar di negeri BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penurunan angka kematian ibu merupakan salah satu masalah besar di negeri ini. Pasalnya, angka kematian ini menunjukkan gambaran derajat kesehatan di suatu wilayah

Lebih terperinci

Cara Mengatasi Kecemasan

Cara Mengatasi Kecemasan Cara Mengatasi Kecemasan S etiap manusia pasti pernah merasa cemas. Perasaan cemas tersebut sering disertai dengan gejala tubuh seperti: jantung berdetak lebih cepat, otot otot menegang, berkeringat, gemetar,

Lebih terperinci

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS I. PENGKAJIAN PASIEN ANSIETAS 1. DEFINISI Ansietas adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. perusahaan untuk mencapai tujuannya, sehingga perusahaan melakukan berbagai

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. perusahaan untuk mencapai tujuannya, sehingga perusahaan melakukan berbagai BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Prestasi kerja karyawan merupakan hal yang sangat penting dalam perusahaan untuk mencapai tujuannya, sehingga perusahaan melakukan berbagai usaha untuk meningkatkannya.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan jenis penyakit yang paling

BAB I PENDAHULUAN. Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan jenis penyakit yang paling 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan jenis penyakit yang paling banyak mengakibatkan kematian mendadak. Menurut data WHO sampai dengan tahun 2008, PJK

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Dewasa ini, di kota-kota metropolitan semakin banyak orang yang mengalami stres. Stres adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami tekanan yang disebabkan oleh

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. periodontal seperti gingiva, ligament periodontal dan tulang alveolar. 1 Penyakit

BAB I PENDAHULUAN. periodontal seperti gingiva, ligament periodontal dan tulang alveolar. 1 Penyakit BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penyakit periodontal dapat diartikan sebagai kelainan pada jaringan periodontal seperti gingiva, ligament periodontal dan tulang alveolar. 1 Penyakit periodontal, dikenal

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan itu bisa bermacammacam,

BAB I PENDAHULUAN. Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan itu bisa bermacammacam, BAB I PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Kerja merupakan sesuatu yang dibutuhkan oleh manusia. Kebutuhan itu bisa bermacammacam, berkembang dan berubah, bahkan seringkali tidak disadari oleh pelaku-pelakunya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. kecemasan yang tidak terjamin atas prosedur perawatan. 2 Menurut penelitian, 1

BAB I PENDAHULUAN. kecemasan yang tidak terjamin atas prosedur perawatan. 2 Menurut penelitian, 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kecemasan merupakan keadaan emosional yang mempunyai ciri keterangsangan fisiologis, perasaan tegang yang tidak menyenangkan, dan perasaan atau keadaan khawatir dengan

Lebih terperinci

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS

STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS STRATEGI PELAKSANAAN TINDAKAN KEPERAWATAN PADA KLIEN ANSIETAS A. Proses Keperawatan 1. Kondisi Klien Klien sudah beberapa hari mengalami gelisah, sulit tidur, tidak nafsu makan. Klien selalu memikirkan

Lebih terperinci

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1 Kajian pustaka 2.1.1 Kehamilan 2.1.1.1 Definisi Kehamilan adalah suatu keadaan mengandung embrio atau fetus di dalam tubuh, setelah bertemunya sel telur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia memiliki hak untuk dapat hidup sehat. Karena kesehatan

BAB I PENDAHULUAN. Setiap manusia memiliki hak untuk dapat hidup sehat. Karena kesehatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap manusia memiliki hak untuk dapat hidup sehat. Karena kesehatan sangat penting maka pemerintah Indonesia memberikan perhatian berupa subsidi dalam bidang

Lebih terperinci

KESEHATAN JIWA hari-hari produktif 'yang hilang

KESEHATAN JIWA hari-hari produktif 'yang hilang KESEHATAN JIWA Pada saat ini ada kecenderungan penderita dengan gangguan jiwa jumlahnya mengalami peningkatan. Data hasil Survey Kesehatan Rumah Tangga (SK-RT) yang dilakukan Badan Litbang Departemen Kesehatan

Lebih terperinci

BULIMIA NERVOSA. 1. Frekuensi binge eating

BULIMIA NERVOSA. 1. Frekuensi binge eating Kesehatan remaja sangat penting untuk kemajuan suatu bangsa. Hal ini disebabkan karena remaja yang sehat akan melahirkan anak yang sehat, generasi yang sehat, dan manula yang sehat. Sedangkan remaja yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang

BAB I PENDAHULUAN. Obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Obesitas didefinisikan sebagai suatu keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan yang dapat mengganggu kesehatan (WHO, 2014). Obesitas

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pekerjaan berdasarkan jenis kelamin yang sangat luas di semua Negara (Anker,

BAB I PENDAHULUAN. pekerjaan berdasarkan jenis kelamin yang sangat luas di semua Negara (Anker, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dari masa ke masa, perbedaan waktu dan tempat mengelompokan pekerjaan berdasarkan jenis kelamin yang sangat luas di semua Negara (Anker, 1998). Di Eropa, fokus

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi

BAB I PENDAHULUAN. Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Stres senantiasa ada dalam kehidupan manusia yang terkadang menjadi masalah kesehatan mental. Jika sudah menjadi masalah kesehatan mental, stres begitu mengganggu

Lebih terperinci

Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya

Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya Diabetes tipe 2 Pelajari gejalanya Diabetes type 2: apa artinya? Diabetes tipe 2 menyerang orang dari segala usia, dan dengan gejala-gejala awal tidak diketahui. Bahkan, sekitar satu dari tiga orang dengan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kanker merupakan penyakit yang menakutkan karena berpotensi menyebabkan

BAB I PENDAHULUAN. Kanker merupakan penyakit yang menakutkan karena berpotensi menyebabkan BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kanker merupakan penyakit yang menakutkan karena berpotensi menyebabkan kematian. Dewasa ini tehnologi telah berkembang pesat dalam mendiagnosis dan menangani penyakit

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. [CDC], 2013). Data dari Riset Kesehatan Dasar ( 2013), prevalensi. gangguan mental emosional (gejala -gejala depresi

BAB I PENDAHULUAN. [CDC], 2013). Data dari Riset Kesehatan Dasar ( 2013), prevalensi. gangguan mental emosional (gejala -gejala depresi 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kecemasan merupakan jenis gangguan mental paling sering terjadi di dunia dengan prevalensi lebih dari 15%, dengan persentase wanita lebih banyak dibandingkan pria

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan-tujuan organisasi serta memiliki

BAB I PENDAHULUAN. memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan-tujuan organisasi serta memiliki BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sumber Daya Manusia merupakan aset yang sangat berharga dalam suatu kemajuan ilmu, pembangunan, dan teknologi. Oleh karena itu dalam era sekarang ini menuntut

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. secara langsung terhadap sistem pendidikan dan pelayanan kepada masyarakat

BAB I PENDAHULUAN. secara langsung terhadap sistem pendidikan dan pelayanan kepada masyarakat BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perubahan ilmu pengetahuan, teknologi dan globalisasi dunia berdampak secara langsung terhadap sistem pendidikan dan pelayanan kepada masyarakat termasuk pelayanan kesehatan.

Lebih terperinci

EMOSI, STRES DAN KESEHATAN. Unita Werdi Rahajeng, M.Psi., psi

EMOSI, STRES DAN KESEHATAN. Unita Werdi Rahajeng, M.Psi., psi EMOSI, STRES DAN KESEHATAN Unita Werdi Rahajeng, M.Psi., psi unita@ub.ac.id http://www.youtube.com/watch?v=4kbsrxp0wik Respon Perilaku Terhadap Stimuli Emosional Fight vs Flight Fight and Flight Sebagian

Lebih terperinci

Materi 13 KEDARURATAN MEDIS

Materi 13 KEDARURATAN MEDIS Materi 13 KEDARURATAN MEDIS Oleh : Agus Triyono, M.Kes Pengertian Kedaruratan medis adalah keadaan non trauma atau disebut juga kasus medis. Seseorang dengan kedarutan medis dapat juga terjadi cedera.

Lebih terperinci

- Seluruh perilaku, gerak dan aktivitas kita dikontrol oleh otak, yang terdiri dari bermilyard-milyard sel otak.

- Seluruh perilaku, gerak dan aktivitas kita dikontrol oleh otak, yang terdiri dari bermilyard-milyard sel otak. Written by Dr. Aji Hoesodo Stroke adalah kondisi yang disebabkan oleh adanya gangguan peredaran darah di otak. Stroke merupakan suatu kerusakan pada system sentral yang diawali dengan penyakit darah tinggi

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Holmes dan Rahe tahun 1967 dengan menggunakan Live Event Scale atau biasa

BAB I PENDAHULUAN. Holmes dan Rahe tahun 1967 dengan menggunakan Live Event Scale atau biasa BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia pada dasarnya menginginkan dirinya selalu dalam kondisi yang sehat, baik sehat secara fisik maupun secara psikis, karena hanya dalam kondisi yang sehatlah

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori 1. Kecemasan Kecemasan merupakan reaksi emosional yang timbul oleh penyebab yang tidak pasti dan tidak spesifik yang dapat menimbulkan perasaan tidak nyaman dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan. Saat ini pendidikan adalah penting bagi semua orang baik bagi

BAB I PENDAHULUAN. pendidikan. Saat ini pendidikan adalah penting bagi semua orang baik bagi BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manusia pada dasarnya merupakan makhluk hidup yang harus terus berjuang agar dapat mempertahankan hidupnya. Manusia dituntut untuk dapat mengembangkan dirinya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan

BAB I PENDAHULUAN. Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, bertujuan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sekarang ini, persaingan dalam dunia industri semakin meningkat. Salah

BAB I PENDAHULUAN. Sekarang ini, persaingan dalam dunia industri semakin meningkat. Salah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Sekarang ini, persaingan dalam dunia industri semakin meningkat. Salah satu bentuk persaingan yang cukup signifikan dialami oleh semua negara dan tidak terkecuali

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. hidup. Pada manusia, fungsi ini sebagian besar dijalankan oleh ginjal (Brenner,

BAB I PENDAHULUAN. hidup. Pada manusia, fungsi ini sebagian besar dijalankan oleh ginjal (Brenner, BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Mempertahankan volume, komposisi dan distribusi cairan tubuh merupakan fungsi esensial untuk kesejahteraan, yang berarti keselamatan dari seluruh makhluk hidup.

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI. Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang

BAB II TINJAUAN TEORI. Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang BAB II TINJAUAN TEORI A. Kecemasan 1. Definisi Kecemasan Kecemasan adalah respon emosional terhadap penilaian yang menggambarkan keadaan khawatir, gelisah, takut, tidak tentram disertai berbagai keluhan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Stroke merupakan suatu gangguan disfungsi neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan peredaran darah, dan terjadi secara mendadak (dalam beberapa detik) atau setidak-tidaknya

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Seiring perkembangan zaman, tidak dapat dimungkiri bahwa jumlah

BAB I PENDAHULUAN. Seiring perkembangan zaman, tidak dapat dimungkiri bahwa jumlah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Seiring perkembangan zaman, tidak dapat dimungkiri bahwa jumlah manusia semakin bertambah banyak sehingga di berbagai wilayah atau daerah di Indonesia sudah

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. semua orang, hal ini disebabkan oleh tingginya angka kematian yang disebabkan

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. semua orang, hal ini disebabkan oleh tingginya angka kematian yang disebabkan BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Penyakit kanker adalah penyakit yang sangat berbahaya bahkan dapat mengakibatkan kematian. Sampai saat ini kanker masih menjadi momok bagi semua orang, hal ini

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN. tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri,

BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN. tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, BAB II TINJAUAN TEORI PERILAKU KEKERASAN A. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang

Lebih terperinci

MASALAH KELUARGA DAN MEKANISME PENANGGULANGANNYA

MASALAH KELUARGA DAN MEKANISME PENANGGULANGANNYA MASALAH KELUARGA DAN MEKANISME PENANGGULANGANNYA Euis Sunarti 1 A. Masalah keluarga. Menurut Burgess dan Locke (1960) kesulitan perkawinan merupakan sumber utama masalah hubungan suami istri. Sumber masalah

Lebih terperinci

MENGELOLA STRESS DAN MENGENDALIKAN EMOSI. dr Gunawan Setiadi Tirto Jiwo, Pusat Pemulihan dan Pelatihan Gangguan Jiwa

MENGELOLA STRESS DAN MENGENDALIKAN EMOSI. dr Gunawan Setiadi Tirto Jiwo, Pusat Pemulihan dan Pelatihan Gangguan Jiwa MENGELOLA STRESS DAN MENGENDALIKAN EMOSI dr Gunawan Setiadi Tirto Jiwo, Pusat Pemulihan dan Pelatihan Gangguan Jiwa STRESS Segala kejadian (masa lalu/ masa datang) yang menimbulkan perasaan tidak enak

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari. kesehatan dan Keadaan Sejahtera Badan, Jiwa dan Sosial yang

BAB I PENDAHULUAN. keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari. kesehatan dan Keadaan Sejahtera Badan, Jiwa dan Sosial yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Menurut World Health Organization (WHO) kesehatan adalah keadaan sempurna baik fisik, mental dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat, juga dapat diukur

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Terdapat beberapa karakteristik anak autis, yaitu selektif berlebihan

BAB I PENDAHULUAN. Terdapat beberapa karakteristik anak autis, yaitu selektif berlebihan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Anak adalah dambaan dalam setiap keluarga dan setiap orang tua pasti memiliki keinginan untuk mempunyai anak yang sempurna, tanpa cacat. Bagi ibu yang sedang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. memproduksi barang atau jasa, serta mempunyai tujuan tertentu yang ingin

BAB I PENDAHULUAN. memproduksi barang atau jasa, serta mempunyai tujuan tertentu yang ingin BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Perusahaan merupakan salah satu bentuk organisasi yang didirikan untuk memproduksi barang atau jasa, serta mempunyai tujuan tertentu yang ingin dicapai. Tiap

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Zaman semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu.

BAB I PENDAHULUAN. Zaman semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Zaman semakin berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Pertumbuhan di berbagai aspek pun ikut terjadi seperti kemajuan teknologi, pendidikan, kesehatan,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Siswa yang memasuki lingkungan sekolah baru, memiliki harapan dan tuntutan untuk mencapai kesuksesan akademik serta dapat mengatasi hambatan yang ada. Kemampuan

Lebih terperinci