ANALISIS PERILAKU STRUKTUR PERKANTORAN BETON BERTULANG TAHAN GEMPA 8 LANTAI MENGGUNAKAN METODE PUSHOVER ANALYSIS

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "ANALISIS PERILAKU STRUKTUR PERKANTORAN BETON BERTULANG TAHAN GEMPA 8 LANTAI MENGGUNAKAN METODE PUSHOVER ANALYSIS"

Transkripsi

1 ANALISIS PERILAKU STRUKTUR PERKANTORAN BETON BERTULANG TAHAN GEMPA 8 LANTAI MENGGUNAKAN METODE PUSHOVER ANALYSIS LAPORAN TUGAS AKHIR Oleh: Rinda Fitri Nabhilla FAKULTAS PERENCANAAN INFRASTRUKTUR PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS PERTAMINA

2 Analisis Perilaku Struktur Perkantoran Beton Bertulang Tahan Gempa 8 lantai Rinda Fitri Nabhilla Menggunakan Metode Pushover analysis

3 ANALISIS PERILAKU STRUKTUR PERKANTORAN BETON BERTULANG TAHAN GEMPA 8 LANTAI MENGGUNAKAN METODE PUSHOVER ANALYSIS LAPORAN TUGAS AKHIR Oleh: Rinda Fitri Nabhilla FAKULTAS PERENCANAAN INFRASTRUKTUR PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS PERTAMINA

4 4

5 L Universitas Pertamina - i

6 LEMBAR PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa Tugas Akhir berjudul Analisis Perilaku Struktur Perkantoran Beton Bertulang Tahan Gempa 8 Lantai Menggunakan Metode Pushover analysis ini adalah benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri dan tidak mengandung materi yang ditulis oleh orang lain kecuali telah dikutip sebagai referensi yang sumbernya telah dituliskan secara jelas sesuai dengan kaidah penulisan karya ilmiah. Apabila dikemudian hari ditemukan adanya kecurangan dalam karya ini, saya bersedia menerima sanksi dari Universitas Pertamina sesuai dengan peraturan yang berlaku. Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui untuk memberikan kepada Universitas Pertamina hak bebas royalti noneksklusif (non-exclusive royalty-free right) atas Tugas Akhir ini beserta perangkat yang ada. Dengan hak bebas royalti noneksklusif ini Universitas Pertamina berhak menyimpan, mengalih media/format-kan, mengelola dalam bentuk pangkatan data (database), merawat, dan mempublikasikan Tugas Akhir saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis/pencipta dan sebagai pemilik Hak Cipta. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya Jakarta, 6 Agustus 2020 Yang membuat pernyataan, Rinda Fitri Nabhilla Universitas Pertamina - ii

7 ABSTRAK Rinda Fitri Nabhilla Analisis Perilaku Struktur Perkantoran Beton Bertulang Tahan Gempa 8 Lantai Menggunakan Metode Pushover analysis. Tugas akhir ini mengenai perancangan struktur bangunan perkantoran beton bertulang tahan gempa yang mengacu pada SNI-2847:2013, SNI-1727:2013, dan SNI 1726:2012 yang kemudian struktur dievaluasi terhadap beban gempa dan akan diketahui level kinerja struktur dengan mengacu pada ATC-40. Metode yang dipergunakan dalam perancangan struktur adalah Strength Design Method dimana elemen-elemen struktur didesain agar kapasitas penampang dapat menajan bebanbeban terfaktor yang bekerja, sedangkan dalam melakukan evaluasi struktur menggunakan metode Pushover analysis dimana struktur diberikan beban lateral statik yang ditingkatkan secara bertahap sampai terjadi keruntuhan pada elemen struktur. Hasil dalam perancangan struktur didapatkan dimensi pada struktur primer dan sekunder serta hasil perancangan menunjukkan bahwa struktur mampu menahan beban-beban yang berada pada struktur. Hasil dari Pushover analysis didapatkan target perpindahan sebesar m dan kondisi struktur berada pada tingkat Immediately Occupancy (IO). Kata kunci (sentence case): Perancangan, beton bertulang, gempa, strength design method, pushover analysis Universitas Pertamina - iii

8 ABSTRACT Rinda Fitri Nabhilla Structural Behavior Analysis Of 8 Story Office Reinforced Concrete Earthquake-Resistant Using The Pushover analysis Method. This thesis is about structural designing of office buildings with reinforced concrete earthquake-resistant referring to SNI-2847:2013, SNI-1727:2013, and SNI 1726:2012 as well evaluating structure according to the earthquake load to determine structural performance level referring to ATC-40. Method used for the structural design is Strength Design Method where structural elements is designed so that the cross section capacity is the applied factored loads, method used in evaluating the structure is Pushover analysis where static lateral load is given to the structure and escalates gradually until reaches the failure point of the structure element. Results obtained from this structural design is the dimensions of primary structure and secondary structure along with indicating the structure is capable to withstand the structural applied loads. Results obtained from the Pushover analysis indicates displacement target of m and structure condition level is Immediately Occupancy (IO). Keywords (sentence case): Design, reinforced concrete, earthquake, strength design method, pushover analysis Universitas Pertamina - iv

9 Assalamu alaikum wr.wb. KATA PENGANTAR Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan rahmat, taufik serta hidayah Nya yang telah dikaruniakan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul Analisis Perilaku Struktur Perkantoran Beton Bertulang Tahan Gempa 8 Lantai Menggunakan Metode Pushover analysis sebagai syarat wajib untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang membantu dalam penyusunan skripsi ini dari awal hingga akhir selesai laporan ini, baik moril maupun materil terutama kepada: 1. Ibu Gati Annisa H., MT., M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan danarahan selama penyusunan Tugas Akhir ini. 2. Bapak Dr. Arianta selaku Ketua Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina dan Dosen Penguji Ibu Ranny Adriana, M.T selaku Dosen Penguji Bapak Wirman Hidayat, M.T. selaku dosen wali yang telah memberikan bimbingan dan masukan selama proses perkuliahan. 5. Seluruh dosen pengajar dan staff Program Studi Teknik Sipil. 6. Kedua Orang Tua tercinta yang selalu menjadi panutan dan memberi dukungan tanpa kenal lelah. 7. Sahabat Sejati yang selalu mendampingi, memotivasi, dan memberi bantuan. Universitas Pertamina - v

10 8. Seluruh teman teman seperjuangan di Program Studi Teknik Sipil Universitas Pertamina. Dengan segala kerendahan hati, penulis menerima kritik dan saran yang membangun yang menjadikan skripsi ini lebih baik lagi. Mengingat penulis sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikan skripsi ini dengan baik, penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak khususnya bagi diri sendiri serta perkembangan ilmu teknik sipil. Dan semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat-nya kepada kita semua. Aamiin. Wassalamu alaikum wr.wb. Jakarta, 6 Agustus 2020 Penulis, Rinda Fitri Nabhilla Universitas Pertamina - vi

11 DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN... i LEMBAR PERNYATAAN... ii ABSTRAK... iii ABSTRACT... iv KATA PENGANTAR... v DAFTAR ISI... vii DAFTAR GAMBAR... ix DAFTAR TABEL... x BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Batasan Masalah Tujuan Perancangan Manfaat Perancangan Penulis Instansi Terkait atau Masyarakat Umum... 3 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Perancangan Struktur Pembebanan Pengaruh Gempa Pada Struktur Pushover analysis BAB III KONSEP PERANCANGAN Diagram Alir Perancangan Pertimbangan Perancangan Spesifikasi Struktur Spesifikasi Material Analisis Teknis Studi Literatur Prarencana (Preliminary Design) Perhitungan Pembebanan Pemodelan dan Kontrol Desain Analisis Struktur Analisis Pushover Peralatan dan Bahan BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Universitas Pertamina - vii

12 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN Universitas Pertamina - viii

13 DAFTAR GAMBAR Gambar 1.1 Peta Tektonik Wilayah Indonesia... 1 Gambar 2.1 Penampang Seimbang dan Penampang Terkendali Tarik... 6 Gambar 2.2 Ilustrasi Kurva Kapasitas dari Hasil Analisis Pushover Gambar 2.3 Posisi Sumbu Lokal dari Struktur Balok Gambar 2.4 Posisi Sumbu Lokal dari Struktur Kolom Gambar 2.5 Grafik Performance Point dengan Metode Spektrum Kapasitas Gambar 3.1 Diagram Alir Perancangan Gambar 4.1 Denah Struktur Gedung Kantor Gambar 4.2 Pembebanan Pelat Tangga dan Pelat Bordes Gambar 4.3 Pemodelan Struktur Bangunan Gambar 4.4 Respon Spektra Desain Kota Serang Gambar 4.5 Kebutuhan Tulangan Balok Gambar 4.6 Rasio Tulangan Hasil Analisis Gambar 4.7 Kurva Kapasitas Pushover Arah X Gambar 4.8 Kurva Kapasitas Pushover Arah Y Gambar 4.9 Distribusi Sendi Plastis Step 1 Pushover Arah X Gambar 4.10 Distribusi Sendi Plastis Step 2 Pushover Arah X Gambar 4.11 Distribusi Sendi Plastis Step 18 Pushover Arah X Gambar 4.12 Distribusi Sendi Plastis Step 1 Pushover Arah Y Gambar 4.13 Distribusi Sendi Plastis Step 2 Pushover Arah Y Gambar 4.14 Distribusi Sendi Plastis Step 23 Pushover Arah Y Gambar 4.15 Kurva Spektrum Kapasitas ATC-40 Pushover Arah X Gambar 4.16 Kurva Spektrum Kapasitas ATC-40 Pushover Arah Y Gambar 4.17 Kurva Koefisien Perpindahan FEMA 356 arah X Gambar 4.18 Kurva Koefisien Perpindahan FEMA 356 arah Y Gambar 4.19 Kurva Koefisien Perpindahan yang Diperbaiki FEMA 440 Arah X Gambar 4.20 Kurva Koefisien Perpindahan yang Diperbaiki FEMA 440 Arah Y Universitas Pertamina - ix

14 DAFTAR TABEL Tabel 2.1 Tingkat Kinerja Bangunan Gedung Berdasarkan Batas Deformasi (ATC-40) 17 Tabel 3.1 Spesifikasi Struktur Tabel 3.2 Spesifikasi Material Tabel 4.1 Beban yang Dipikul Kolom Tabel 4.2 Parameter Gempa Kota Serang Tabel 4.3 Berat Struktur Tabel 4.4 Nilai Performance Point ATC-40 Arah X Tabel 4.5 Nilai Performance Point ATC-40 Arah Y Tabel 4.6 Nilai Koefisien Perpindahan FEMA 356 Arah X Tabel 4.7 Nilai Koefisien Perpindahan FEMA 356 Arah Y Tabel 4.8 Nilai Koefisien Perpindahan yang Diperbaiki FEMA 440 Arah X Tabel 4.9 Nilai Koefisien Perpindahan yang Diperbaiki FEMA 440 Arah Y Tabel 4.10 Rangkuman Target Perpindahan (Performance Point) Tabel 5.1 Penulangan Balok Induk Tabel 5.2 Penulangan Kolom Universitas Pertamina - x

15 Universitas Pertamina - xi

16 1.1. Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN Wilayah Indonesia sering terjadi bencana alam, salah satunya adalah gempa bumi. Gempa bumi adalah suatu gejala fisik yang ditandai dengan bergetarnya bumi dengan berbagai intensitas. Getaran gempa dapat disebabkan oleh banyak hal antara lain adalah peristiwa vulkanik yang disebabkan oleh aktivitas desakan magma ke permukaan bumi atau meletusnya gunung berapi dan peristiwa tektonik yang disebabkan oleh gerakan atau benturan antara lempeng-lempeng tektonik yang terdapat di dalam lapisan permukaan bumi (Salim & Siswanto, 2018). Posisi lempengan yang berada disekitar wilayah Indonesia terdapat pada Gambar 1.1, Gambar 1.1 Peta Tektonik Wilayah Indonesia (Sumber: Tim Pusat Studi Gempa Nasional, 2017) Berdasarkan peta tektonik wilayah Indonesia yang terdapat pada Gambar 1.1, Indonesia berada pada pertemuan antarlempeng besar dunia yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, Lempeng Laut Filipina, dan Lempeng Pasifik. Akibat dari peristiwa tektonik yang terjadi, menyebabkan wilayah Indonesia berpotensi untuk mengalami gempa bumi. Hari Jumat, 02 Agustus 2019 pukul 19:03:25 WIB Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) melaporkan terjadi gempa bumi tektonik dengan kekuatan M 6,9 di provinsi Banten. Gempa bumi yang terjadi dirasakan hingga daerah Jakarta, Tangerang, sebagian Jawa Tengah, Lampung, dan Bengkulu. Berdasarkan Laporan Ulasan Guncangan Tanah Akibat Gempabumi 02 Agustus 2019 yang diterbitkan oleh BMKG pada situs bmkg.go.id, menerangkan sebanyak 17 rumah mengalami kerusakan besar, 31 rumah mengalami kerusakan sedang, dan 178 rumah mengalami kerusakan ringan. Selain itu, terdapat empat orang meninggal dan empat orang mengalami luka-luka (Bidang Seismologi Teknik BMKG, 2019). Dengan besarnya angka kerusakan yang terjadi akibat gempa bumi, maka diperlukan perancangan struktur bangunan tahan gempa yang nantinya akan menjadi infrastruktur berkelanjutan. Untuk mencapai hal itu dan menjalankan suatu program pemerintah mengenai pembangunan berkelanjutan dimana salah satu tujuannya adalah membangun infrastruktur yang Universitas Pertamina - 1

17 berkualitas, berkelanjutan dan tahan lama, makan dibutuhkan struktur yang kuat untuk menunjang struktur berkelanjutan. Perencanaan struktur bangunan tahan gempa di Indonesia mengacu pada SNI 1726:2012 (Tata Cara Perenacaan Ketahan Gempa Untuk Struktur Bnagunan Gedung dan Non Gedung). Metode perencanaan struktur bangunan yang digunakan adalah Strength Design Method dimana elemenelemen struktur didesain sehingga kapasitas kekuatan penampang mampu menahan beban-beban terfaktor yang bekerja. Potensi terjadinya keruntuhan pada struktur setelah dilakukan perencanaan sesuai dengan aturan bukan hal yang tidak mungkin terjadi. Konsep baru yang digunakan untuk rekayasa gempa yaitu Performance Based Seismic Evaluation (PBSE), dimana salah satu metode evaluasi pada PBSE adalah Pushover analysis. Diperlukannya perancangan struktur gedung tahan gempa di Kota Serang menjadi latar belakang penulis melakukan perancangan gedung perkantoran 8 lantai dengan kategori risiko gempa II berdasarkan SNI untuk bangunan yang berfungsi sebagai sarana perkantoran. Metode perencanaan strength design method dan SNI 1726:2012 menjadi acuan dalam melakukan perancangan. Selanjutnya, untuk evaluasi struktur terhadap beban gempa pada perencanaan struktur bangunan dalam Tugas Akhir ini menggunakan metode Pushover analysis, yaitu dengan memberikan pola beban statik tertentu dalam arah lateral yang ditingkatkan secara bertahap sampai tercapai keruntuhan pada elemen struktur karena terdapat sendi plastis atau mencapai target perpindahan tertentu Rumusan Masalah Adapun rumusan masalah yang digunakan dalam Tugas Akhir ini adalah: 1. Bagaimana merancang struktur bangunan perkantoran 8 lantai tahan gempa? 2. Bagaimana pola keruntuhan struktur gedung setelah dilakukan analisis dengan metode pushover analysis? 1.3. Batasan Masalah Batasan masalah dalam perancangan ini adalah: 1. Struktur gedung berfungsi sebagai gedung perkantoran dengan ketinggian 8 lantai, dengan kategori risiko II. 2. Material yang digunakan adalah beton bertulang. 3. Struktur bangunan berlokasi di Serang. 4. Tidak memperhitungkan struktur bawah (pondasi). 5. Tidak memperhitungkan Rencana Anggaran Biaya. 6. Analisis struktur menggunakan program bantu analisis struktur SAP Melakukan analisis pushover menggunakan program bantu analisis struktur SAP Tujuan Perancangan Berdasarkan latar belakang serta rumusan masalah diatas, maka tujuan dari perancangan pada tugas akhir ini adalah: 1. Merancang struktur bangunan perkantoran 8 lantai tahan gempa. 2. Mengetahui pola keruntuhan pada struktur ketika gempa terjadi. Universitas Pertamina - 2

18 1.5.Manfaat Perancangan Penulis Manfaat dari perancangan dalam tugas akhir ini adalah dapat menambah pengetahuan penulis dalam bidang ilmu teknik sipil khususnya metode analisis pushover, serta dapat mengembangkan pengetahuan mengenai perancangan struktur gedung tahan gempa Instansi Terkait atau Masyarakat Umum Manfaat perencanaan dalam tugas akhir bagi instansi yang berfokus pada konstruksi bangunan ataupun masyarakat umum yaitu dapat dijadikan sebagai acuan pada pembangunan struktur gedung tahan gempa. Universitas Pertamina - 3

19 Universitas Pertamina - 1

20 BAB II TINJAUAN PUSTAKA Tujuan dari dibangunnya atau dirancangnya bangunan tahan gempa adalah merancang bangunan dimana ketika terjadi gempa bumi memiliki daya tahan atau bangunan tidak mengalami kerusakan atau kehancuran secara struktural yang dapat mengakibatkan runtuhnya bangunan. Konsep dasar perencanaan bangunan tahan gempa adalah sebagai berikut (Imran & Hendrik, 2010): 1. Saat diterpa gempa dengan skala ringan, struktur bangunan dari fungsi bangunan harus dapat tetap berjalan (serviceable) sehingga struktur harus kuat dan tidak ada kerusakan baik pada elemen struktural dan elemen nonstruktural bangunan. 2. Saat diterpa gempa dengan skala medium, struktur diperbolehkan megalami kerusakan pada elemen nonstruktural, tetapi tidak diperbolehkan terjadi kerusakan pada elemen struktural. 3. Saat diterpa gempa dengan skala besar, diperbolehkan terjadi kerusakan pada elemen struktural dan nonstruktural, namun tidak boleh sampai menyebabkan bangunan runtuh sehingga tidak ada korban jiwa Perancangan Struktur 1. Kolom Kolom adalah salah satu komponen struktur vertikal yang secara khusus difungsikan untuk memikul beban aksial tekan (dengan atau tanpa adanya momen lentur) dan memiliki rasio tinggi/panjang terhadap dimensi terkecilnya sebesar 3 atau lebih. Kolom memikul beban vertikal yang berasal dari pelat lantai atau atap dan menyalurkannya ke pondasi (Setiawan, 2016). Ketika beban aksial diberikan dan tegangan beton mencapai 1/3f c maka beton akan berperilaku elastis. Beton akan mencapai kekuatan maksimumnya ketika beban yang diberikan mencapai batas ultimit. Kapasitas beban nominal, P n, dapat dituliskan dalam persamaan 2.1: dimana: f c = Mutu beton f y A g = Mutu baja = luas total penampang kolom A st = luas total tulangan tekan memanjang a. Dimensi Penampang Kolom Pn = 0,85f c (A g A st ) + A st f y (2. 1) Dalam keadaan nyata atau praktik nyata jarang dijumpai kolom yang sempurna atau bahkan tidak dapat dijumpai, maka dari itu di diasumsikan adanya sedikit eksentrisitas. Karena adanya pengasumsian tersebut maka kapasitas beban nominal harus direduksi dengan faktor reduksi, Ø. SNI 2847:2013 Pasal memberikan persamaan untuk desain kolom dengan sengkang spiral dan sengkang persegi. Kolom dengan sengkang spiral, kuat tekan aksial desain sesuai persamaan 2.2: øpn = ø(0,85)[0,85f ca g + A st (f y 0,85f c) (2. 2) Sedangkan untuk kolom dengan sengkan persegi adalah: øpn = ø(0,80)[0,85f ca g + A st (f y 0,85f c) (2. 3) Universitas Pertamina - 4

21 Dengan: Ø = 0,75 untuk sengkang spiral = 0,65 untuk sengkang persegi b. Tulangan pada Kolom Peraturan SNI 2847:2013 memberikan batasan mengenai tulangan di kolom, yaitu: 1. Pasal , mensyaratkan bahwa persentase rasio tulangan memanjang, ρ g, sebesar 1% dengan nilai maksimum 8% terhadap luas total penampang kolom beton. 2. Pasal , menyatakan bahwa minimal harus dipasang empat tulangan longitudinal untuk penampang lingkaran dan segi empat, tiga tulangan longitudinal untuk penampang segitiga, dan minimal satu tulangan di tiap sudutnya untuk kolom dengan bentuk penampang lain. Jarak antartulangan pada kolom tanpa kekangan lateral adalah 150 mm. Apabila lebih harus diberikan sengkang ikat (tie) sehingga jaraknya kembali <150 mm. Selain itu, untuk menentukan tulangan sengkang pada kolom SNI 2847:2013 telah mengatur beberapa hal mengenai tulangan sengkang kolom yaitu: 1. Pasal , tulangan sengkang harus memiliki diameter minimum 10 mm apabila diameter tulangan longitudinal 32 mm. Apabila diameter tulangan longitudinal > 32 mm, maka diameter tulangan sengkang adalah 13 mm. 2. Pasal , Jarak antartulangan sengkang adalah sebagai berikut: a. 16 diameter tulangan longitudinal b. 48 diameter tulangan sengkang c. dimensi terkecil penampang kolom Jarak yang diambil adalah nilai terkecil dari tiga pertimbangan tersebut. 2. Balok Balok merupakan elemen dalam strukur gedung yang akan menopang beban horizontal yang kemudian beban tersebut disalurkan dari lantai ke kolom. Kuat tarik beton polos lebih kecil dari kuat tekannya, sehingga dapat dikatakan bahwa balok beton polos umumnya tidak efesien sebagai kegunaannya pada struktur bangunan. Karena itu, tulangan baja disarankan untuk digunakan pada penampang yang mengalami tegangan tarik. Pada struktur balok beton bertulang, tulangan baja berfungsi sebagai penahan gaya tarik akibat momen lentur dan beton sendiri berfungsi sebagai penahan gaya tekan (Setiawan, 2016). a. Dimensi Penampang Balok Tinggi minimum balok dan pelat yang diizinkan telah diatur di SNI 2847:2013 Pasal 9.5, dalam perencanaan ini, dimensi tinggi balok utama yang digunakan menggunakan persamaan: h = l 16 (2. 4) Dimana l merupakan bentang terpanjang balok, sedangkan untuk lebar balok utama menggunakan persamaan: b = 2 3 h (2. 5) Bentang balok ideal adalah 4 meter. Apabila terdapat balok dengan bentang lebih dari 4 meter, disarankan untuk menambah balok anak. Balok anak merupakan balok yang berfungsi membantu balok utama dalam menyalurkan beban lantai. Penggunaan balok anak ini akan Universitas Pertamina - 5

22 memperkecil luas lantai yang dibebankan ke tiap balok, sehingga tiap balok akan menerima beban lebih kecil. Penggunaan balok anak ini efektif jika memang bentng balok yang digunakan terlampau panjang. Untuk dimensi balok anak, tinggi balok anak ditentukan dengan persamaan: Sedangkan untuk lebar balok anak menggunakan persamaan: h = l 21 (2. 6) b. Tulangan pada Balok b = 2 3 h (2. 7) Terdapat dua jenis balok berdasarkan tulangan longitudinalnya, balok tulangan tunggal dan balok tulangan rangkap. Balok tulangan tunggal merupakan balok yang dilengkapi dengan tulangan tarik yang terletak di bawah. Balok dengan system seperti ini dikategorikan sebagai penampang terkendali tarik. Sedangkan balok tulangan rangkap merupakan balok yang memiliki tulangan tarik di sisi bawah serta tulangan tekan di sisi atas penampang. Penggunaan tulangan tekan pada balok tulangan rangkap akan mengurangi lendutan di waktu mendatang, meningkatkan daktilitas, menghasilkan keruntuhan tarik pada struktur sehingga kehancuran beton dapat dicegah, dan memudahkan dalam fabrikasi. Dalam penentuan luas tulangan tunggal dapat ditentukan ketika penampang persegi dalam kondisi seimbang, yaitu ketika tulangan baja tarik mencapai regangan luluh, ε y, sedangkan beton tertekan mencapai regangan ultimitnya sebasar 0,003. Kondisi seimbang dapat dilihat pada Gambar 2.1. Gambar 2. 1 Penampang Seimbang dan Penampang Terkendali Tarik (Sumber: Setiawan, 2016) Berdasarkan Gambar 2.1, didapatkan persamaan segitiga: c b d = 0,003 0,003+ f y Es (2. 8) Dengan asumsi nilai dari modulus tulangan baja, E s, sebesar Mpa, maka didapatkan dengan menggunakan persamaan kesetimbangan gaya, C = T c b = f y d (2. 9) Universitas Pertamina - 6

23 0,85 f c a b b = A sb f y (2. 10) didapatkan persamaan a b: a b = A sb f y 0,85 f c b (2. 11) Rasio tulangan seimbang, ρ b, dapat digunakan untuk mencari persentase tulangan dibutuhkan. Untuk mendapatkan nilai ρ b dapat menggunakan persamaan 2.12: ρ b = A sb b d (2. 12) dimana: A sb = luas tulangan baja b d = lebar penampang yang tertekan = jarak dari serat tekan terluar ke titik berat tulangan baja tarik Persamaan 2.12 nilai A sb disubtitusi ke dalam Persamaan 2.10, sehingga didapatkan persamaan umum rasio tulangan seimbang, ρ b, yaitu: dimana: β 1 = 0,85 untuk f c 28 Mpa = 0, f c untuk 28 MPa < f c < 56 MPa 7 = 0.65 untuk f c > 56 MPa ρ b = 0,85 β 1 f c f y ( f y ) (2. 13) Dan, nilai rasio tulangan maksimum, ρ maks, dapat dirumuskan dengan persamaan ρ maks = ( 0,003+fy Es 0,008 ) ρ b (2. 14) Setelah mengetahui rasio tulangan, selanjutnya menentukan menentukan besarnya kuat rencana, øm n, dimana dengan mengalikan nilai dari momen nominal, M u dengan faktor reduksinya, seperti persamaan dengan, M n = R u bd 2 (2. 15) R u = ρf y (1 ρf y ) (2. 16) 1.7f c Tulangan minimum dipergunakan ketika momen terfaktor yang bekerja pada balok kecicl, sehingga luas tulangan yang dibutuhkan juga kecil. Untuk mendapatkan tulangan minimum dengan menggunakan perumusan: A smin = f c 4f y b w d 1.4 f y b w d (2. 17) Apabila di represetasikan dengan rasio tulangan, untuk mutu beton > 30 MPa: Universitas Pertamina - 7

24 ρ min = f c 4f y (2. 18) Untuk mutu beton 30 MPa, maka menggunakan perumusan berikut: ρ min = 1,4 f y (2. 19) Penampang dikatakan cukup apabila nilai dari kuat rencana, øm n, nilai dari momen terfaktor, M u, yang bekerja pada penampang. Balok tulangan ganda yaitu balok dimana terdapat tulangan tarik dan tulangan tekan. Penampang persegi dengan tulangan rangkap terdapat dua momen internal. Dimana M u1 adalah momen internal yang dihasilkan dari gaya tekan beton dan gaya tarik ekuivalen pada tulangan baja A s1, sedangkan M u2 adalah momen internal tambahan karena gaya tekan pada tulangan tekan A s dan gaya tarik pada tulangan tarik tambahan A s2 (Setiawan, 2016). Nilai dari M u1 didapat dengan perumusan: M u1 = A s1 f y (d a 2 ) (2. 20) Nilai dari A s1 harus memenuhi syarat ρ 1 < ρ maks, seperti pada peraturan tulangan rangkap tunggal terkendali tarik. Untuk mencari nilai M u2 dianggap bahwa tulangan tekan sudah luluh, sehingga dapat dirumuskan seperti persamaan M u2 = A s f y (d d ) (2. 21) Sehingga, nilai momen nominal, M n, seperti pada persamaan M n = M u1 + M u2 = A s1 f y (d a 2 ) + A s f y (d d ) dimana nilai A s adalah penjumlahan dari A s1 dan A s1, maka didapatkan (2. 22) A s = A s1 + A s2 = A s1 + A s (2. 23) atau A s1 = A s A s (2. 24) Nilai dari syarat maksimum rasio tulangan didapat dengan sayarat pada persamaan (ρ ρ ) < ρ maks = ρ b ( 0,003+fy Es 0,008 ) (2. 25) Adanya tulangan dalam balok ini memunculkan beberapa peraturan yang mengikutinya. SNI 2847:2013 pasal 7.6 mengatur tentang jarak antartulangan yaitu tidak kurang dari 25 mm atau tidak kurang dari diameter tulangan terbesar yang digunakan. Selain itu, tebal selimut beton juga diatur dalam SNI 2847:2013 pasal 7.7 dimana selimut beton minimal tebalnya adalah 40 mm. Selimut beton adalah lapisan beton setelah tulangan terluar terpasang. Tulangan pada balok dapat dipasang dengan konfigurasi satu lapis maupun dua lapis. Banyaknya lapis tulangan dipengaruhi oleh lebar minimal penampang yang dibutuhkan untuk mengakomodir jumlah tulangan yang digunakan. Pada umumnya, untuk menghitung lebar minimal penampang digunakan rumus: b min = nd b + (n 1)s + 2(diameter sengkang) + 2(selimut beton) (2. 26) Universitas Pertamina - 8

25 dengan: n d b s = jumlah tulangan dalam satu lapis = diameter tulanga baja yang digunakan = jarak antartulangan baja Apabila nilai b min lebih besar dibandingkan lebar dari dimensi penampang balok, maka tulangan harus disusun dua lapis. Apabila balok diberi beban, maka akan muncul momen lentur dan gaya geser. Momen lentur akan ditahan oleh tulangan longitudinal (tulangan utama / tulangan lentur). Sedangkan gaya geser harus ditahan oleh tulangan geser (tulangan transversal / tulangan sengkang). Tulangan sengkang akan disusun dalam arah vertikal terhadap sumbu memanjang balok dengan jarak tertentu. Diameter tulangan sengkang pada umumnya ada 10 mm atau 13 mm. Kekuatan dari balok beton bertulang (V n) sebagian disumbangkan oleh kuat geser beton (V c) dan kuat geser tulangan sengkang (V s). V n = V c + V s (2. 27) Berdasarkan SNI 2847:2013 pasal , struktur memerlukan tulangan sengkang apabila V u > 0,5 V c (2. 28) Luas tulangan sengkang minimum berdasarkan pasal adalah: A v min = 0,062 f c ( b ws f yt ) 0,35b ws f yt (2. 29) Jarak maksimum tulangan sengang diatur dalam SNI 2847:2013 pasal yaitu: 1. Tidak lebih dari d/2 atau 600 mm, jika: V s 0,33 f c b w (2. 30) 2. Tidak lebih dari d/4 atau 300 mm, jika: V s > 0,33 f c b w d (2. 31) Prosedur dalam desain tulangan sengkang balok adalah sebagai berikut: 1. Menghitung nilai V u. 2. Menghitung nilai V c. 3. Periksa nilai V u, dimana: - Jika V u < 0,5 V c maka tidak dibutuhkan tulangan sengkang. - Jika 0,5 V c < V u V c maka dibutuhkan tulangan sengkang minimum, dengan diameter minimum sengkang adalah 10 mm dan jarak maksimum antartulangan sengkang ditentukan di langkah 7. - Jika V u > V c maka dibutuhkan tulangan sengkang, sesuai dengan langkah 4 hingga Jika V u > V c, hitung gaya geser (V s) yang akan ditahan oleh tulangan sengkang. 5. Menghitung nilai V c1 dan V c2. Apabila nilai V s<v c2 maka proses desain dapat dilanjutkan. Apabila V s>v c2 maka dimensi penampang harus diperbesar. 6. Menghitung jarak tulangan sengkang (S 1). s 1 = A vf yt d V s (2. 32) 7. Menentukan jarak maksimum tulangan sengkang, yaitu: Universitas Pertamina - 9

26 - s 2 = d 600 mm, jika Vs Vc1 2 - s 2 = d 300 mm, jika Vc1 < Vs 4 - s 3 = A vf yt 0.35b w A v f yt 0,062 f c b w d Nilai s maks atau jarak sengkang maksimum diambil nilai terkecil antara s 2 dan s Jarak antartulangan sengkang diambil yang terkecil antara s 1 dan s maks. 9. Pada umumnya jarak minimum antartulangan sengkang adalah 75 mm untuk d 500 mm dan 100 mm untuk d >500 mm. 3. Pelat Pelat beton dibuat untuk menyediakan suatu permukaan horizontal yang rata salah satunya pada lantai bangunan. Pelat beton ditumpu oleh dinding, balok, kolom, atau dapat juga terletak langsung ditanah. Pada struktur balok-pelat, umumnya balok dan pelat dicor secara bersamaan sehingga menghasilkan suatu kesatuan struktur yang monolit. Pada umumnya struktur pelat betondalam suatu bangunan dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, yaitu: a. Pelat Satu Arah Apabila pelat tertumpu di keempat sisinya, dan rasio bentang panjang terhadap bentang pendek lebih besar atau sama dengan 2, maka hampir 95% beban akan dilimpahkan dalam arah bentang pendek, maka pelat tersebut masuk kedalam pelat satu arah. Sistem pelat satu arah cocok digunakan pada bentang 3-6 meter dengan beban hidup sebesar 2,5-5 kn/m 2. b. Sistem Pelat Rusuk Sistem pelat rusuk terdiri dari pelat beton dengan ketebalan 50 hingga 10 mm., yang ditopang oleh sejumlah rusuk dengan jarak beraturan. Rusuk ditopang oleh balok induk utama yang langsung menumpu pada kolom. Sistem pelat rusuk cocok untuk struktur pelat dengan bentang 6-9 meter dengan beban hidup 3,5-5,5 kn/m 2. c. Pelat Dua Arah Apabila struktur pelat beton ditopang di keempat sisinya, dan rasio antara bentang panjang terhadap bentang pendeknya kurang dari 2, maka pelat tersebut dikategorikan sebagai pelat dua arah. Sistem pelat dua arah dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu: 1. Sistem balok-pelat dua arah 2. Sistem slab datar (flat slab) 3. Sistem pelat datar (flat pelate) 4. Pelat dua arah berusuk dan pelat waffle a. Sistem Pelat Satu Arah Sistem pelat satu arah, hampir seluruh beban dilimpahkan dalam arah pendek. Desain pelat satu arah pada umumnya dapat dilakukan seperti halnya struktur balok yang dianggap memiliki lebar 1 meter. Jika pelat hanya terdiri dari satu bentang saja, dengan anggapan tertumpu sederhana di kedua sisinya, maka momen lentur yang timbul akibat beban q yang terdistribusi adalah M = ql 2 8, dengan L adalah panjang bentang anatara kedua tumpuan. SNI 2847:2013 memberikan beberapa batasan dalam hal desain pelat satu arah, yaitu: 1. Desain dilakukan dengan menggunakan asumsi lebar 1 meter. 2. Ketebalan minimum pelat satu arah yang menggunakan f y = 400 MPa. Untuk f y selain 400 MPa, maka nilai pada Tabel 2.1 harus dikalikan dengan (0,4 + f y/700) 3. Lendutan harus diperiksa apabila pelat memikul konstruksi yang akan mengalami kerusakan akibat lendutan yang besar. Batas lendutan ditentukan sesuai dengan SNI 2847:2013 Pasal 9.5. Universitas Pertamina - 10

27 4. Selimut beton untuk struktur pelat tidak boleh kurang dari 20 mm, untuk pelat yang tidak berhubungan langsung dengan cuaca dan tanah. 5. Struktur pelat satu arah harus disediakan tulangan susut dan suhu yang memiliki arah tegak lurus terhadap tulangan lentur. Rasio luas tulangan terhadap luas bruto penampang beton terdapat pada SNI 2847:2013 Pasal 7.12, namun tidak kurang dari 0, Jarak antartulangan utama pada pelat tidak boleh lebih dari 3 kali ketebalan pelat atau tidak lebih dari 450 mm. b. Sistem Pelat Dua Arah Analisis yang dilakukan pada system pelat dua arah mengacu pada metode penyederhanaan yang diatur pada SNI 2847:2013. Dalam hal analisis, diasumsikan bahwa pelat merupakan balok lebar dan pendek, yang bersama-sama dengan kolom di atas dan di bawahnya membentuk suatu portal kaku. Berdasarkan SNI, diatur bahwa terdapat dua metode pendekatan dalam melakukan analisis dan desai suatu system struktur pelat dua arah, yaitu: a. Metode Perencanaan Langsung (Direct Design Method, DDM) b. Metode Rangka Ekuivalen (Equivalent Frame Method, FEM) Ketebalan minimum pelat dua arah ditentukan dalam SNI 2847:2013 pasal untuk mencegah terjadinya lendutan berlebih. Dalam penentuan ketebalan pelat dapat ditentukan menggunakan rumus empiris sebagai berikut: 1. Untuk 0,2 < α fm < 2,0. h = l n(0.8+ fy 1400 ) 36+5β(α fm 0.2) (2. 33) namun tidak kurang dari 125 mm. 2. Untuk α fm > 2,0. h = l n(0.8+ fy 1400 ) 36+9β (2. 34) namun tidak kurang dari 90 mm. 3. Untuk α fm < 0,2. h = ketebalan minimum pelat tanpa balok (2. 35) dimana: ln β α fm α f = panjang bentang bersih dalam arah memanjang dari konstruksi dua arah, diukur dari muka ke muka tumpuan pada pelat tanpa balok, dan muka ke muka balok atau tumpuan lain pada kasus lainnya (mm). = rasio bentang bersih dalam arah panjang terhadap arah pendek dari pelat dua arah. = nilai rata-rata α f untuk semua balok pada tepi-tepi dari suatu pelat. = rasio kekakuan lentur penampang balok (E cbi b) terhadap kekakuan lentur pelat (E csi s) yang dibatasi secara lateral oleh garis-garis sumbu tengah dari pelat-pelat yang bersebelahan pada tiap sisi balok α f = E cbi b E cs I S (2. 36) Universitas Pertamina - 11

28 I b I s = momen inersia bruto dari penampang balok terhadap sumbu berat. = momen inersia bruto dari penampang pelat. Batasan-batasan dalam menggunakan metode perencanaan langsung pada system dua arah diatur dalam SNI 2847:2013 pasal sebagai berikut: a. Paling sedikit ada 3 bentang menerus dalam setiap arah b. Pelat berbentuk persegi, dengan perbandingan antara bentang panjang terhadap bentang pendek diukur sumbu ke sumbu tumpuan, tidak lebih dari 2. c. Panjang bentang yang bersebelahan, diukur antara sumbu ke sumbu tumpuan, dalam masingmasing arah tidak berbeda lebih dari sepertiga bentang terpanjang. d. Posisi kolom boleh menyimpang maksimum sejauh 10% panjang bentang dari garis-garis yang menghubungkan sumbu-sumbu kolom yang berdekatan. e. Beban yang diperhitungkan hanyalah beban gravitasi dan terbagi merata pada seluruh panel pelat. Sedangkan beban hidup tidak boleh melebihi 2 kali beban mati. f. Untuk panel dengan balok di antara tumpuan pada semua sisinya, kekakuan relative balok dalam dua arah yang tegak lurus, 0,2 < α f1l 2 2 α f1 l 1 2 < 5.0. Momen statik terfaktor total, sebagian harus didistribusikan ke kedua buah lajur kolom dan ke kedua lajur tenga pada panel pelat yang berdekatan. Besarnya distribusi momen ke lajur kolom dan lajur tangah merupakan fungsi dari rasio l 2Il 1, α f dan b t sebagai berikut: α f = E cbi b kekakuan balok = E cs I S kekakuan pelat (2. 37) β = E cbc kekakuan torsi balok tepi = 2E cs I S kekakuan lentur pelat selebar panjang bentang balok (2. 38) dengan, C = kekakuan torsi = (1 0,63x ) y (x3) 3 besaran x dan y adalah dimensi dari setiap komponen balok persegi dengan x < y. Persentase dari momen rencana yang didistribusikan ke lajur kolom dan lajur tengan untuk pelat luar dan pelat dalam, ditampilkan dalam Lampiran Tabel 2.1, Tabel 2.2, Tabel 2.3, dan Tabel 2.4. Setelah semuan momen statik didistribusikan ke lajur tengah dan lajur kolom, maka luas tulangan lentur untuk setiap momen positif dan momen negatif dapat dihitung dengan cara yang sama seperti pada penampang balok, dengan menggunakan persamaan: Mu = Asf y (d a 2 ) = R ubd 2 (2. 39) Setelah nilai Ru diperoleh, maka selanjutnya dapat menghitung rasio tulangan ρ, dengan menggunakan persamaan: Ru = ρf y (1 ρf y 1,7f ) (2. 40) c Dengan nilai = 0,90. Luas tulangan lentur yang dibutuhkan adalah As = ρbd. Jarak antartulangan tidak boleh melebihi batas maksimum yaitu 450 mm atau dua kali ketebalan pelat, dapat dipilih nilai yang lebih kecil dari keduanya. Universitas Pertamina - 12

29 2.2. Pembebanan Suatu struktur bangunan harus dirancang agar kekuatannya tahan terhadap beban yang akan di terima. Dalam perencanaan struktur bangunan di Indonesia, perhitungan pembebanan mengacu pada SNI 1727:2013 tentang Baban Minimum untuk Perencanaan Bangunan Gedung dan Struktur, SNI 1726:2012 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung, dan Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung (PPPURG 1987) untuk menentukan beban yang diizinkan dalam perancangan bangunan. Jenis pembebanan antara lain: 1. Beban Mati Beban mati adalah berat seluruh bahan konstruksi bangunan gedung yang terpasang, termasuk dinding, lantai, atap, plafon, tangga, dinding partisi tetap, finishing, klading gedung dan komponen arsitektural dan structural lainnya serta peralatan layan terpasang lain termasuk beban keran. 2. Beban Hidup Beban hidup adalah semua beban yang terjadi akibat penghuni atau pengguna struktur gedung, termasuk beban-beban pada lantai yang berasal dari barang-barang yang dapat berpindah, mesinmesin, serta peralatan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari gedung dan dapat diganti selama masa hidup dari gedung tersebut, sehingga mengakibatkan perubahan pembebanan lantai dan atap tersebut. 3. Beban Gempa Analisis struktur terhadap beban gempa pada perencanaan struktur bangunan perkantoran ini mengacu pada peraturan SNI 1726:2012. Analisis dilakukan dengan melihat respon spektra yang terdapat pada wilayah Tangerang Selatan yang didapat melalui website Kemudian data respon spektra digunakan dalam perhitungan pada program bantu analisis struktur. 4. Beban Angin Beban angin adalah semua beban yang bekerja pada gedung yang disebabkan oleh selisih tekanan udara. Analisis struktur terhadap beban angin mengacu pada SNI 1727:2013 pasal 26 sampai pasal 31 tentang beban angin Pengaruh Gempa Pada Struktur SNI menjabarkan kategori risiko struktur bangunan gedung dan nongedung dibagi menjadi empat kategori. SNI menerangkan bahwa semakin tinggi kategori risikonya, maka beban gempa yang diberikannya harus semakin besar. Sehingga ketahanan strukturnya akan lebih besar terhadap beban gempa tersebut atau dapat dikatakan lebih. Pengaruh gempa rencana terhadapnya harus dikalikan dengan suatu faktor keutamaan I e menurut SNI 1726:2012 Tabel 2- Faktor keutamaan gempa. Angka dari faktor keutamaan gempa sebanding dengan kategori risiko, dimana semakin tinggi tingkat kategori risiko, semakin besar juga faktor keutamaan gempa yang harus dikalikannya. Spektrum design didapatkan melalui website Pada dasarnya hasil yang di peroleh dari puskim.co.id sudah sesuai pada SNI perancangan gempa. Hasil yang didapatkan pada website ini adalah nilai dari Percepatan batuan dasar pada perioda pendek (0.2 detik), S s, percepatan batuan dasar pada perioda 1 detik, S 1, faktor amplifikasi getaran terkait percepatan pada getaran perioda pendek (Fa), faktor amplifikasi terkait percepatan yang mewakili getaran perioda 1 detik (F v), parameter spektrum respons percepatan pada perioda pendek (S MS) dan perioda 1 detik (S M1), Parameter percepatan spektral desain untuk perioda pendek, S DS dan perioda 1 detik, S D1. Selain itu website menghasilkan perioda getar, T, dan T s. hasil akhir dari website ini adalah spectrum desain yang sesuai dengan SNI 1726:2012 Gambar 1 Spektrum respon desain. Universitas Pertamina - 13

30 2.4. Pushover analysis Pushover analysis adalah suatu analisis statik nonlinear untuk mengetahui pola keruntuhan suatu struktur bangunan. Analisis ini dilakukan dengan memberikan suatu pola beban lateral statik pada struktur, yang kemudian secara bertahap ditingkatkan dengan faktor pengali sampai satu target perpindahan tercapai. Analisa pushover digunakan untuk mengevaluasi suatu struktur bangunan ketika gempa terjadi di lokasi atau di sekitar struktur bangunan tersebut dengan menggunakan level kinerja sehingga struktur dapat direncanakan tahan gempa (Oktopianto & Andayani, 2013). Analisis pushover akan menghasilkan kurva pushover/kapasitas. Kurva kapasitas menggambarkan hubungan antara gaya geser (V) dengan perpindahan pada atap (D) yang terjadi akibat gempa pada struktur. 1. Tingkat Kinerja Struktur Gambar 2.2 Ilustrasi Kurva Kapasitas dari Hasil Analisis Pushover (Sumber: Reza, Suryanita, & Ismeddiyanto, 2013) Tingkat kerusakan dari struktur dapat dilihat dari level dari kinerja suatu struktur. Performance level adalah tingkat atau derajat kerusakan yang ditentukan oleh kerusakan fisik struktur dan elemen struktur, sehingga tidak membahayakan keselamatan pengguna struktur bangunan tersebut. Terdapat beberapa level kinerja struktur yang diatur dalam FEMA 273, dapat dijelaskan sebagai berikut (Federal Emergancy Management Agency, 1997): 1. Immediate Occupancy Performance Level (S-1) Bila terjadi gempa struktur dapat menahan gempa, dimana ketika gempa terjadi tidak terjadi kerusakan pada structural maupun nonstruktural. Sehingga ketika gempa terjadi bangunan masih dapat dipakai. 2. Damage Control Performance Level (S-2) Tingkat kerusakan yang terjadi berada diantara level S-1 dan S-3. Pada tingkat ini kerusakan struktural yang terjadi tidak lebih besar dari tingkal S Life Safety Performance Level (S-3) Dimana ketika gempa terjadi kerusakan yang dialami oleh struktural hanya sedikit, sehingga manusia yang tinggal atau berada pada struktur bangunan tersebut tidak mengalami kecelakaan atau keselamatannya terjaga. 4. Limited Safety Performance Range (S-4) Tingkat kerusakan yang dialami ketika gempa terjadi tidak sebaik tingkat S-3, namun tidak seburuk dengan tingkat S-5. Universitas Pertamina - 14

31 5. Collapse Pervention Performance Level (S-5) Ketika gempa terjadi komponen structural pada bangunan tersebut mengalami kerusakan yang cukup berat, namun belum runtuh. 6. Structural Performace Not Considered (S-6) Pada tingkat ini, struktur sudah dalam kondisi runtuh, sehingga hanya dapat dilakukan evaluasi seismic dan struktur tidak dapat digunakan lagi. 2. Sendi Plastis Ketika suatu struktur diberi beban terus menurus akan terjadi kerusakan struktur pada lokasilokasi tertentu, dimana kerusakan pada titik-titik tertentu dapat di tentukan sehingga ketika gempa terjadi dapat dengan mudah perkiraan lokasi perbaikannya. Pemodelan sendi plastis salah satu yang dapat dilakukan untuk mendefiniskan perilaku nonlinear dan/atau momen rotasi yang dapat ditempatkan pada beberapa lokasi di sepanjang balok atau kolom. Sendi plastis atau hinge adalah bentuk ketidakmampuan elemen struktur (balok dan kolom) menahan gaya dalam. Apabila terjadi suatu keruntuhan, maka ditargetkan agar struktur yang runtuh terdahulu adalah balok, karena apabila runtuh terdahulu adalah kolom, maka besar kemungkinan struktur lagsung hancur. a. Sendi plastis pada struktur balok Pada pemodelan sendi plastis pada struktur balok dimodelkan dengan asumsi tidak terjadi leleh karena aksial, yang berarti sendi plastis hanya terjadi karena momen searah sumbu lokal 3. Pada dasarnya sumbu sistem koordinat lokal dinyatakan dengan sumbu 1, 2, dan 3 sesuai dengan Gambar 2.3 untuk struktur balok. Gambar 2. 3 Posisi Sumbu Lokal dari Struktur Balok b. Sendi plastis pada struktur kolom Sendi plastis pada struktur kolom dimodelkan dengan diasumsikan terjadi interaksi aksial dan momen pada kolom, yang berarti sendi plastis terjadi karena interaksi gaya aksial dan momen sumbu lokal 2 dan sumbu lokal 3. Posisi sumbu lokal pada kolom sesuai dengan Gambar 2.4. Gambar 2. 4 Posisi Sumbu Lokal dari Struktur Kolom Universitas Pertamina - 15

32 3. Pembebanan Pembebanan pada analisis pushover terdapat dua jenis peninjauan, yaitu force-controlled analysis dan deformation-controled analysis. a. Force-controlled, di gunakan apabila pembesaran beban yang akan diberikan kepada struktur yang di perkirakan dapat menahan beban tersebut diketahui diketahui. Dalam kasus ini beban yang diberikan berupa beban gravitasi, atau berupa berat sendiri struktur dan dikontrol oleh gaya. Semua beban akan ditambahkan dari nol hingga perbesaran yang diinginkan. b. Deformation-controlled, digunakan apabila mengetahui sejauh mana struktur akan bergerak, namun tidak mengetahui beban yang harus dimasukkan. Dalam kasus ini joint control dugunakan untuk menganalisis target perpindahannya. 4. Target Peralihan Dalam penentuan target peralihan atau Performance Point, terdapat 2 acuan yang digunakan, yaitu metode spektrum kapasitas yang diatur oleh ATC 40 dan metode koefisien perpindahan yang diatur oleh FEMA 356. a. Metode spektrum kapasitas Dalam metode spektrum kapasitas menyajikan dua buah grafik, yaitu spektrum kapasitas dan spektrum demand, seperti pada Gambar 2.5. Gambar 2. 5 Grafik Performance Point dengan Metode Spektrum Kapasitas Kurva spektrum demand didapatkan dengan mengubah spektrum respons yang menggunakan spektral kecepatan dan periode menjadi Acceleration-Displacement Response Spectra (ADRS) yaitu menggunakan spektral percepatan, S a, dan spektral perpindahan, S d. Kurva kapasitas spektrum didapatkan dengan mengubah kurva kapasitas yang dihasilkan dari hasil pushover dengan satuan yang sama dengan kurva spektrum demand dirubah dengan menggunakan persamaan: S a = V W 1 (2. 41) S d = roof PF1 roof.1 (2. 42) Kinerja bangunan berdasarkan metode spektrum kapasitas, ATC 40 mengatur dengan melihat batas deformasi. Nilai drift digunakan sebagai indicator kinerja struktur, dengan menggunakan persamaan: maximum total drift = D t H (2. 43) maximum inelastic drift = D t D 1 H (2. 44) Universitas Pertamina - 16

33 Dengan: Dt = Nilai Simpangan H = Tinggi struktur Batasan drift untuk berbagai kategori tingkat kinerja terdapat pada Tabel 2.1. Tabel 2. 1 Tingkat Kinerja Bangunan Gedung Berdasarkan Batas Deformasi (ATC-40) Performance Level Interstory drift limit Immediate occupancy Damage control Life safety Structural stability Maximum total drift 0,01 0,01-0,02 0,02 0,33 V i/p i Maximum inelastic drift 0,005 0,005-0,015 No limit No limit b. Metode koefisien perpindahan Metode koefisien perpindahan dilakukan dengan memodifikasi respons elastis linier dari sistem SDOF (Single Degree of Freedom) ekivalen dengan faktor koefisien, sehungga diperoleh perpindahan global maksimum atau yang disebut target perpindahan. Untuk mendapatkan nilai target perpindahan FEMA 356 mengeluarkan rumusan sepeti pada persamaan 2.45 δ t = C 0 C 1 C 2 C 3 S a ( T e 2π )2 g (2. 45) Dimana: δ t = target perpindahan C 0 = koefisien faktor bentuk, untuk merubah struktur SDOF ekivalen menjadi perpindahan atap struktur MDOF C 1 = Faktor modifikasi untuk menghubungkan perpindahan inelastic maksimum dengan perpindahan respons elastis linier C 2 = Koefisien untuk memperhitungkan efek pinched hysteresis shape, dari hubungan beban deformasi akibat degradasi kekakuan dan kekuatan C 3 = Faktor modifiksi untuk memperhitungkan pembesaran lateral akibat adanya efek ΔP S a = Akselerasi spektrum respons pada waktu getar alami fundamental efektif dan rasio redaman pada arah yang ditinjau T e = Waktu getar alami g = Percepatan gravitasi Untuk nilai faktor-faktor pada persamaan 2.45, nilai mengacu pada FEMA 356. c. Metode koefisien perpindahan diperbaiki Metode koefisien perpindahan yang diperbaiki merupakan hasil modifikasi atau perbaikan dari FEMA 356. Perumusan yang digunakan dalam menentukan nilai dari target perpindahan sama dengan aturan FEMA 356, namun terdapat koefisien yang dimodifikasi dan diperbaiki diantaranya adalah dalam perhitungan faktor C 1 dan C 2 menjadi sebagai berikut: C 1 = 1 + R 1 (2. 46) at e 2 dengan nilai konstanta α 130 untuk kelas situs B, 90 untuk kelas situs C, dan 60 untuk kelas situs D. untuk waktu getar kurang dari 0,2 detik maka nilai C 1 dapat digunakan, sedangkan untuk waktu getar lebih dari 1.0 detik maka nilai C 1 adalah 1,0. C 2 = (R 1 T )2 (2. 47) Universitas Pertamina - 17

34 Untuk waktu getar kurang dari 0,2 detik maka nilai C 1 dapat digunakan, sedangkan untuk waktu getar lebih dari 1,0 detik maka nilai C 1 adalah 1,0. Universitas Pertamina - 18

35 Universitas Pertamina - 1

36 3.1. Diagram Alir Perancangan BAB III KONSEP PERANCANGAN Mulai Studi Literatur Preliminary Design Perhitungan Pembebanan Pemodelan pada program bantu analisis struktur (SAP2000) Tidak Kontrol Desain Ya Analisis Struktur Evaluasi Kinerja dengan menggunakan analisis pushover menggunakan program bantu analisis struktur (SAP2000) Selesai Gambar 3. 1 Diagram Alir Perancangan Universitas Pertamina - 18

37 3.2. Pertimbangan Perancangan Perencanaan struktur bangunan 8 lantai yang difungsikan sebagai gedung perkantoran yang masuk kedalam kategori risiko II. Gedung perkantoran dirancang akan terletak di daerah Kota Serang karena letaknya yang berdekatan dengan Provinsi Banten, dimana pada Provinsi Banten rawan akan gempa. Karena hal tersebut, diperlukan perencanaan struktur tahan gempa di daerah sekitar Provinsi Banten. Spesifikasi struktur dan material penyusun perencanaan struktur bangunan perkantoran ini mengacu pada data umum yang digunakan pada perencanaan struktur bertingkat. Struktur bangunan dalam perencanaan ini adalah struktur beton. Struktur beton dipilih karena fleksibel dan umum digunakan di Indonesia. Material beton kuat terhadap beban tekan namun lemah akan tarikan, maka beton dikombinasikan dengan tulangan baja agar struktur kuat terhadap beban tekan maupun tarik Spesifikasi Struktur Perencanaan struktur bangunan dalam tugas akhir ini berfungsi sebagai gedung perkantoran dengan spesifikasi struktur terdapat pada Tabel 3.1. Tabel 3. 1 Spesifikasi Struktur Spesifikasi Struktur Fungsi Struktur Bangunan Lokasi Struktur Bangunan Gedung Perkantoran Kota Serang Spesifikasi Material Jumlah Lantai 8 Lantai Tinggi Lantai 4 Meter/lantai Tinggi Struktur Bangunan 33 Meter Jarak Antarbentang Arah X dan Y 6 Meter Struktur bangunan dirancang dengan struktur beton bertulang, dengan mutu bahan/material struktur yang digunakan dalam perencanaan terdapat pada Tabel 3.2. Tabel 3. 2 Spesifikasi Material Spesifikasi Matrial Mutu Material Mutu beton K-350 (f c) MPa Modulus Elastisitas (ME) MPa Mutu Baja Tulangan Polos BJTP 24 (fy) 240 MPa Mutu Baja Tulangan Deform BJTD 40 (fy) 400 MPa Hasil dari perencanaan gedung perkantoran berupa perilaku linier dari struktur. Untuk mengetahui pola keruntuhan dari struktur menggunakan metode pushover analysis Analisis Teknis Perencanaan ini mengacu pada metode serta peraturan yang berlaku di Indonesia. Analisis struktur dan pola keruntuhan pada perencanaan struktur bangunan dalam tugas akhir ini menggunakan program bantu analisis struktur. Agar perencanaan struktur bangunan perkantoran Universitas Pertamina - 19

38 tahan gempa dapat tercapai, maka diperlukan tahapan-tahapan yang harus dilakukan sesuai dengan analisis teknis yang telah ditetapkan Studi Literatur Studi literatur digunakan sebagai bahan rujukan dalam pembahasan perencanaan ini. Acuan yang digunakan dalam perancangan adalah peraturan SNI 1726:2012 tentang Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung, SNI 2847:2013 tentang Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung, SNI 1727:2013 tentang Beban Minimum Untuk Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur Lain, Federal Emergency Management Agency of Buildings (FEMA-356), serta jurnal-jurnal yang berakitan dengan perencanaan bangunan bertingkat dengan metode pushover analysis Prarencana (Preliminary Design) Preliminary design dilakukan dengan menghitung dimensi-dimensi pada elemen struktur, antara lain adalah balok, kolom, dan pelat agar diperoleh nilai yang optimal. Penentuan dimensidimensi pada elemen struktur mengacu pada peraturan SNI 2847: Perhitungan Pembebanan Pembebanan struktur untuk beban yang bekerja pada perencanaan struktur bangunan 8 lantai dalam tugas akhir ini mengacu pada SNI 1727:2013 dan PPPURG Beban yang bekerja pada struktur dalam perencanaan ini antara lain adalah: 1. Beban Mati 2. Beban Hidup 3. Beban Gempa 4. Beban Angin Kombinasi pembebanan dalam perencanaan struktur bangunan perkantoran 8 lantai mengacu pada kombinasi pembebanan perencanaan ketahanan gempa untuk struktur bangunan pada peraturan SNI 1726:2012, yaitu: 1.4 DL 1.2 DL LL 1.2 DL LL ± 1.3 W 1.2 DL LL ± 1.0 EQ 0.9 DL ± 1.3 W 0.9 DL ± 1.0 EQ Dengan: DL LL WX EQ : Beban Mati : Beban Hidup : Beban Angin : Beban Gempa Pemodelan dan Kontrol Desain Pemodelan struktur bangunan perkantoran 8 lantai dalam perencanaan ini menggunakan pemodelan 3D sesuai dengan data dan informasi dari gambar arsitektur. Pemodelan dilakukan menggunakan program bantu analisis struktur SAP2000. Setelah dilakukan pemodelan, selanjutnya dilakukan kontrol desain struktur bangunan. Kontrol desain dilakukan untuk mengetahui struktur sudah aman Universitas Pertamina - 20

39 dan sudah sesuai persyaratan pada SNI. Terdapat beberapa parameter yang dikontrol diantaranya sebagai berikut: a. Kontrol berat struktur perhitungan manual dengan berat struktur yang dihasilkan SAP2000 b. Kontrol partisi massa struktur c. Kontrol simpangan bangunan akibat beban gempa Analisis Struktur Analisis struktur struktur bangunan perkantoran 8 lantai menggunakan program bantu analisis struktur untuk mendapatkan luas tulangan memanjang minimum dan nilai gaya dalam untuk menentukan tulangan geser. Hasil dari luas tulangan memanjang akan digunakan untuk menentukan konfigurasi tulangan dan gaya dalam untuk menentukan kebutuhan tulangan geser dan jarak antartulangan Analisis Pushover Analisis pushover dilakukan setelah analisis struktur selesai. Analisis pushover menggunakan program bantu analisis struktur yang sama dengan analisis struktur. Hasil yang didapat dari analisis pushover adalah kurva kapasitas yang menunjukkan perilaku struktur saat dikenai gaya geser pada level tertentu. Dalam melakukan pushover analysis terdapat beberapa tahapan yang dilakukan, yaitu: 1. Pemodelan properti sendi plastis. Dalam program bantu analisis struktur penentuan sendi plastis sudah terdapat defult yang dapat digunakan, dimana defult sendi plastis ini mengacu pada FEMA 356. Untuk elemen balok, menggunakan Defult-M3 dengan relative distance nol dan satu. Pemilihan Defult-M3 pada elemen balok karena balok efektif dalam menahan momen dalam arah sumbu kuat, sehingga diharapkan sendi plastis terjadi di elemen balok. Untuk elemen kolom, menggunakan Defult- PMM dengan relative distance nol dan satu. Pemilihan Defult-PMM pada elemen kolom karena pada elemen kolom terdapat hubungan antara gaya aksial dengan momen. 2. Penentuan tipe pembebanan. Terdapat dua tipe pembebanan pushover, yaitu: a. Force-controlled atau digunakan untuk gaya gravitasi, yaitu beban yang diberikan merupakan berat sendiri struktur dan dikontrol oleh gaya. b. Displacement-controlled atau digunakan gaya lateral, yaitu beban yang berasal dari luar berat struktur itu sendiri, seperti gaya angin dan beban gempa bumi yang dikontrol oleh deformasi. 3. Analisis beban dorong. Beban dorong dapat diberikan berdasarkan dua arah, yaitu arah-x dan arah-y. Hasil dari penambahan beban dorong yaitu kurva kapasitas struktur yang menunjukkan hubungan gaya geser dasar terhadap perpindahannya. Pada kurva ini memperlihatkan perubahan perilaku struktur dari liner menjadi struktur yang non-linier. 4. Evaluasi kinerja. Dalam mengevaluasi kinerja terdapat 2 metode yang beracuan pada ATC-40 dan FEMA 356, yaitu: a. Metode spektrum kapasitas, yang mengacu pada ATC-40. Pada metode spektrum kapasitas menyajikan dua buah grafik, yaitu spektrum kapasitas dan spektrum demand. Spektrum kapasitas didapatkan dari kurva kapasitas yang dihasilkan dari analisis pushover, sedangkan spektrum demand didapatkan dengan mengubah spektrum respons menjadi Acceleration-Displacement Response Spevtra (ADRS). Universitas Pertamina - 21

40 b. Metode koefisien perpindahan, yang mengacu pada FEMA 356. Pada metode koefisien perpindahan dilakukan modifikasi pada respon elastis linier dari sistem SDOF ekivalen dengan faktor koefisien, sehingga diperoleh perpindahan global maksimum yang disebut target perpindahan, δt Peralatan dan Bahan Peralatan dan bahan yang digunakan dalam perencanaan struktur bangunan perkantoran 8 lantai adalah laptop serta program bantu analisis struktur Universitas Pertamina - 22

41 Universitas Pertamina - 1

42 BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN Tahap pertama dalam perancangan suatu struktur adalah melakukan preliminary design. Preliminary design dapat disebut juga sebagai proses awal yang digunakan untuk merencanakan dimensi struktur bangunan. Proses preliminary design mengacu pada peraturan yang berlaku pada setiap negara, di negara Indonesia sendiri mengacu pada SNI (Standar Nasional Indonesia). Pada proses preliminary design terdapat beberapa komponen struktur yang ditinjau, yaitu balok, pelat lantai, dan kolom. Denah perkantoran 8 lantai pada perancangan seperti berikut: Gambar 4.1 Denah Struktur Gedung Kantor a. Balok Pada perencanaan dimensi struktur balok menggunakan persamaan 2.4 untuk tinggi balok dan persamaan 2.5 untuk lebar balok yang mangacu pada SNI 2847:2013, dengan rumusan: h = l 16 b = 2 3 h Dengan h adalah tinggi balok, b adalah lebar balok, dan l adalah panjang balok. 1. Balok induk memanjang B1 (l = 6000 mm) h = l 16 h = = 375 mm (dipakai 400 mm) b = 2 3 h b = = 266,667 mm (dipakai 300 mm) 2. Balok induk melintang B2 (l = 5000 mm) h = l 16 h = = 312,5 mm (dipakai 400 mm) b = 2 3 h Universitas Pertamina - 22

43 b = = 266,667 mm (dipakai 300 mm) 3. Balok anak melintang B2 (l = 5000 mm) h = l 21 h = = 238,095 mm (dipakai 300 mm) b = 2 3 h b = = 200 mm 4. Balok induk melintang B3 (l = 2500 mm) h = l 16 h = = 156,25 mm (dipakai 200 mm) b = 2 3 h b = = 133,333 mm (dipakai 150 mm) Berdasarkan perhitungan dimensi balok diatas, maka rekapitulasi dimensi balok terdapat pada Lampiran Tabel - 1. b. Kolom Perhitungan pembebanan kolom mengacu pada Pedoman Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung 1987 (PPPURG 1987). Dalam perencanaan kolom yang memikul beban adalah bentang 6000 mm x 5000 mm. Tabel 4.1 Beban yang Dipikul Kolom Wi Lantai Berat Mati Total (kg) Berat Hidup Total (kg) W W W W W W W W Watap atap Total Berat Mati Total (DL) = Kg Berat Hidup Total (LL) = Kg Dengan menggunakan kombinansi pembenanan W = 1.2DL LL, maka didapatkan: W = 1,2(166452) + 1,6(63000) W(P) = ,4 Kg Universitas Pertamina - 23

44 Mutu beton = 35 Mpa = 350 Kg/cm 2 (1 Mpa =10 Kg/cm 2 ) Luas: A = 3 P f c A = ,4 350 A = 2576,078 cm 2 Dimensi kolom: A = b 2 A = 2576,078 cm 2 Kolom dianggap persegi, sehingga b=h b = 50,755 cm 55 cm h = 50,755 cm 55 cm Maka dalam perencanaan strukur ini dimensi kolom yang digunakan pada bentang 6000 mm x 5000 mm adalah 550 mm x 550 mm. c. Pelat lantai Pada Bab II dijelaskan bahwa terdapat tiga kelompok pelat, yaitu sistem pelat satu arah, pelat rusuk, dan pelat dua arah. Pada perancangan ini menggunakan satu jenis sistem pelat yaitu sistem pelat satu arah. 1. Pelat 5 x 2.5 m Bentang pelat sumbu panjang (Ly) = 5000 mm Bentang pelat sumbu pendek (Lx) = 2500 mm a. Bentang bersih pelat sumbu panjang (Ln) Ly : 5000 mm bw1 balok induk : 300 mm Ln = Ly ( bw + bw ) 2 2 Ln = 5000 ( ) 2 2 Ln = 4700 mm b. Bentang bersih pelat sumbu pendek (Sn) Lx : 2500 mm bw2 balok induk : 300 mm bw3 balok anak : 200 mm Sn = Ly ( bw2 + bw3 ) 2 2 Sn = 2500 ( ) 2 2 Ln = 2250 mm c. Rasio bentang bersih sumbu panjang terhadap bentang bersih sumbu pendek: β = Ln Sn β = β = 2,089 > 2, maka menggunakan sistem pelat satu arah. d. Berdasarkan Tabel 2.2 tebal minimum pelat satu arah dengan nilai fy sebesar 400 MPa adalah: h = l 20 h = l 20 h = h = mm Universitas Pertamina - 24

45 2. Pelat 5 m x 3 m Bentang pelat sumbu panjang (Ly) = 5000 mm Bentang pelat sumbu pendek (Lx) = 3000 mm a. Bentang bersih pelat sumbu panjang (Ln) Ly : 5000 mm bw1 balok induk : 300 mm Ln = Ly ( bw + bw ) 2 2 Ln = 5000 ( ) 2 2 Ln = 4700 mm b. Bentang bersih pelat sumbu pendek (Sn) Lx : 3000 mm bw2 balok induk : 300 mm bw3 balok anak : 200 mm Sn = Ly ( bw2 + bw3 ) 2 2 Sn = 3000 ( ) 2 2 Ln = 1950 mm c. Rasio bentang bersih sumbu panjang terhadap bentang bersih sumbu pendek: β = Ln Sn = = 2,41 > 2, maka menggunakan sistem pelat satu arah. d. Berdasarkan Tabel 2.2 tebal minimum pelat satu arah dengan nilai fy sebesar 400 MPa adalah: h = l 20 = l 20 = = 97,5 mm Berdasarkan perhitungan didapatkan bahwa dalam perencanaan gedung menggunakan sistem pelat satu arah dengan ketebalan 130 mm. d. Tangga Dalam perencanaan gedung Perkantoran 8 Lantai terdapat dua macam tipe tangga, karena terdapat perbedaan elevasi antara lantai satu dengan lantai di atasnya. Berikut merupakan data-data yang diperlukan untuk merencanakan struktur tangga: Tangga Lantai 1 Ruang Tangga: Panjang tangga = 6200 mm Lebar tangga = 1500 mm Tinggi tangga = 5000 mm Tebal pelat tangga = 130 mm Langkah Injakan dan Tanjakan: Tinggi injakan (t) = 200 mm Lebar injakan (i) = 300 mm Jumlah tanjakan = 25 buah Jumlah injakan = 24 buah Universitas Pertamina - 25

46 Jumlah tanjakan H1 = 15 buah Jumlah injakan H1 = 14 buah Jumlah tanjakan H2 = 10 buah Jumlah injakan H2 = 9 buah Ruang Bordes: Panjang bordes = 1500 mm Lebar bordes = 3000 mm Tebal pelat bordes = 130 mm Elevasi bordes = 3000 mm Kemiringan tangga H1 (3000 mm) (α1) elevasi bordes tan 1 = panjang horisontal plat tangga tan 1 = x 14 tan 1 = 0, = 35,54 Kemiringan tangga H2 (2000) (α2) elevasi bordes tan 2 = panjang horisontal plat tangga tan 2 = x 9 tan 2 = 0, = 36,53 Cek syarat: a t + i (2x200) (OK) b. 25 α , (OK) 25 α , (OK) Tangga Lantai 2-8 Ruang Tangga: Panjang tangga = 5000 mm Lebar tangga = 1500 mm Tinggi tangga = 4000 mm Tebal pelat tangga = 130 mm Langkah Injakan dan Tanjakan: Tinggi injakan (t) = 200 mm Lebar injakan (i) = 300 mm Jumlah tanjakan = 20 buah Jumlah injakan = 19 buah Jumlah tanjakan H1 = 10 buah Jumlah injakan H1 = 9 buah Jumlah tanjakan H2 = 10 buah Jumlah injakan H2 = 9 buah Ruang Bordes: Panjang bordes = 1500 mm Lebar bordes = 3100 mm Universitas Pertamina - 26

47 Tebal pelat bordes Elevasi bordes Kemiringan tangga (α) elevasi bordes = 130 mm = 2000 mm tan = panjang horisontal plat tangga tan = x 9 tan = 0,0129 = 36,53 Cek syarat: c t + i (2x200) (OK) d. 25 α (OK) Tabal pelat rata-rata anak tangga (t r) t r = i sin 2 t r = t r = 89,286 mm Tebal pelat rata-rata t = t p + t r t = ,286 t = mm e. Lift Dalam perencanaan gedung perkantoran 8 lantai menggunakan lift yang diproduksi Hyundai dengan spesifikasi sebagai berikut: Tipe lift : Passenger Kapasitas : 1150 kg (17 orang) Kecepatan : 1,75 m/s Lebar pintu (opening width) : 1000 mm Dimensi Sangkar (car size) - Car wide (CA) : 2000 mm - Car dept (CB) : 1350 mm Dimensi ruang luncur (hoist size) - Hoist width (HW) : 2550 mm - Hoist depth (HD) : 2050 mm Dimensi ruang mesin (Machine Room Size) - Machine Width (MW) : 2800 mm - Machine depth (MD) : 3800 mm Beban reaksi ruang mesin R 1 : 6600 kg : 5100 kg R 2 Setelah dilakukan preliminary design langkah selanjutnya adalah melakukan perencanaan struktur sekunder yang meliputi perencanaan penulangan pelat lantai, perencanaan penulangan balok anak, dan perencanaan penulangan pelat tangga. a. Perencanaan Penulangan Pelat Atap dan Lantai Data-data perencanaan yang dibutuhkan dalam perhitungan lantai adalah: Universitas Pertamina - 27

48 Mutu beton (f c) : 35 MPa Tebal pelat (h) : 130 mm Kuat tarik (fy) : 400 MPa Beban Mati Atap : - Pelat lantai 130 cm = 2400 kg/m 3 x 0,13 m = 312kg/m 2 - Plafon dan ME = 25 kg/m 2 - Aspal 1 cm =1400 kg/m 3 x 0,01 m = 14 kg/m 2 + Total beban mati pelat atap = 351 kg/m 2 Beban Hidup Atap = 100 kg/m 2 Beban mati lantai : - Pelat lantai 130 cm = 2400 kg/m 3 x 0,13 m = 312 kg/m 2 - Plafon dan ME = 25 kg/m 2 - Spesi 2cm = 2100 kg/m 3 x 0,02 m = 42 kg/m 2 - Keramik 2cm = 2400 kg/m 3 x 0,02 m = 48 kg/m 2 + Total beban mati lantai = 427 kg/m 2 Beban Hidup Lantai = 250 kg/m 2 Perencanaan Pelat Lantai Beban terfaktor: qu = 1,2 DL + 1,6 LL = 8,951 kn/m 2 Momen-momen yang terjadi: Pada lapangan, Ml = 1 8 q ul 2 Mlx = 1 8 q ul x 2 Pada tumpuan, Mt = 1 24 q ul 2 Mlx = 1 8,951 2, Mlx = 5,664 kn.m Mly = 24,715 kn.m Mtx = 1 24 q ul x 2 Rasio tulangan Tebal pelat (h) Selimut beton Diameter Tul. Mtx = 1 8,591 2, Mtx = 1,888 kn.m Mty = 8,238 kn.m = 130 mm = 20 mm = 13 mm Tinggi efektif (d) = h selimut beton 1 diameter tulangan 2 Tinggi efektif (d) = 103,5 mm Faktor β 1, β 1 = 0, fc 28 7 β 1 = 0, β 1 = 0,8 fc Rasio tulangan seimbang, ρ b = 0.85 β 1 ( 600 ) fy 600+fy ρ b = ( ) ρ b = 0,0357 Rasio tulangan maksimum, ρ maks = 0,75 ρ b ρ maks = 0,75 0,0357 Universitas Pertamina - 28

49 Rasio tulangan minimum, ρ min = 0,0035 Desain Tulangan Lapangan Momen ultimate, Mux = Mlx Mux = 5,664 kn.m Muy = 24,715 kn.m Kuat nominal, Rnx = Mux fy m = 0.85 fc = = 13,445 ρ perlu(x) = 1 m = 1 13,445 = = 0,588 Rny = 2,563 bd ,5 2 2m Rnx (1 1 ) fy 2 13,445 0,588 (1 1 ) = 1, ρ perlu(y) = 6, ρ perlu < ρ min, maka dipakai ρ = 0,0035 Luas perlu, As x = ρ b d = 0, ,5 = 362,25 mm 2 As y = 362,25 mm 2 Luas tulangan, A t = 1 π D2 4 = 1 π = 132,732 mm 2 Trial menentukan jarak antartulangan: S 1 = 250 mm S 2 = 1000 At Asperlu = 366,225 mm S 3 = 2 h = 260 mm S = 250 mm Untuk menentukan jarak tulangan yang sesuai, maka diperlukan trial perhitungan terhadap nilai As tersedia, A s tersedia = 1 π 4 D s S yang digunakan = 150 mm A s tersedia = 1 π 4 D A s tersedia = 884,882 mm As tersedia > As perlu OK! Desain Tulangan Tumpuan Momen ultimate, Mux = Mtx Mux = 1,888 kn.m Muy = 8,238 kn.m Kuat nominal, Rnx = Mux = bd 2 1,888 0, ,5 2 Universitas Pertamina - 29

50 fy m = 0,85 fc = 400 0,85 35 = 13,445 ρ perlu(x) = 1 m = 1 13,445 = 0,196 Rny = 0,854 2m Rnx (1 1 ) fy 2 13,445 0,196 (1 1 ) = 4, ρ perlu(y) = 2, ρ perlu < ρ min, maka dipakai ρ = 0,0035 Luas perlu, As x = ρ b d = 0, ,5 = 362,25 mm 2 As y = 362,25 mm 2 Luas tulangan, A t = 1 π D2 4 = 1 π = 132,732 mm 2 Trial menentukan jarak antartulangan: S 1 = 250 mm S 2 = 1000 At Asperlu = 366,225 mm S 3 = 2 h = 260 mm S = 250 mm Untuk menentukan jarak tulangan yang sesuai, maka diperlukan trial perhitungan terhadap nilai As tersedia, A s tersedia = 1 π 4 D s S yang digunakan = 150 mm A s tersedia = 1 π 4 D A s tersedia = 884,882 mm As tersedia > As perlu OK! Desain Tulangan Susut dan Suhu ρ perlu = 0,0020 As = ρ b d As = 0, ,5 As = 197 mm Direncanakan tulangan lentur ø8-150 mm A s tersedia = 1 π 4 D s A s tersedia = 1 π A s tersedia = 335,103 mm As tersedia > As perlu OK! b. Perencanaan Penulangan Balok Anak Data-data perencanaan yang dibutuhkan dalam perhitungan penulangan balok anak adalah: Tipe balok : BA1 Bentang balok : 5000 mm Jarak antarbalok : 3000 mm Universitas Pertamina - 30

51 Dimensi balok b h : 200 mm : 300 mm Diameter tulangan Lentur Geser Mutu tulangan Lentur Geser Mutu beton Selimut beton Faktor β 1, β 1 = 0,85 0,05 fc 28 7 β 1 = 0,85 0, β 1 = 0,8 Tinggi efektif balok, : 16 mm : 10 mm : 400 MPa : 240 MPa : 35 MPa : 40 mm d = h selimut beton D tul. sengkang 1 D tul. lentur 2 = = 242 mm d = selimut beton + D tul. sengkang + 1 D tul. lentur 2 = = 58 mm Pembebanan Beban mati pelat - Pelat lantai 2400 x 0,13 = 312 kg/m 2 - Plafond dan ME = 25 kg/m 2 - Plesteran (2cm) 2100 x 0,02 = 42 kg/m 2 - Keramik (2cm) 2400 x 0,02 = 48 kg/m 2 + Total beban mati pelat = 427 kg/m 2 Beban sendiri balok, q balok = b h bj beton = 0,2 0, = 144 kg/m Beban mati trapesium, q trapesium = 1 2 q pelat lx ( = ( ) = 563,64 kg/m Beban mati total, q DL = (2 563,64) q DL = 1271,28 kg/m = 12,472 kn/m Beban hidup pelat kantor = 250 kg/m 2 Beban hidup trapesium, q trapesium = 1 2 q pelat lx ( = ( ) lx 2 ly 2) = 330 kg/m = 3,2373 kn/m lx 2 ly 2) Universitas Pertamina - 31

52 Q u = 1.2q DL + 1.6q LL = 1,2(12,472) + 1,6(3,237) = 20,145 kn/m Momen yang Terjadi Bentang bersih balok (Ln) = 4700 mm Momen Tumpuan A, M A = 1 11 Q ul n 2 = 1 20,145 4,72 11 = 40,455 kn.m Momen lapangan A-B, M A B = 1 16 Q ul n 2 Momen tumpuan B, M B = 1 11 Q ul n 2 = 1 20,145 4,72 16 = 27,813 kn.m = 1 20,145 4,72 11 = 40,455 kn.m Desain Tulangan Tumpuan Tumpuan A m = fy 0,85 fc = 400 0,85 35 Rn = = 13,445 = M A b d 2 40,4552 0,9 0,2 0,242 2 = 3837,701 kn/m ρ perlu = 1 2m Rn (1 1 ) m fy = 1 13, , ,701 (1 1 ) 400 x 1000 = 0,0103 Luas perlu, As perlu = ρ perlu b d = 0, = 498,939 mm 2 Kontrol kondisi penampang: As fy a = 0,85 fc b = 498, , = 33,542 mm c = a β 1 = 33,542 0,8 = 41,928 mm 0.375d = 0, = 183,194 mm Universitas Pertamina - 32

53 c 0,375 d 41,928 < 183,194 mm (Memenuhi) Menentukan kebutuhan tulangan terpasang: A s perlu M A fy (d a 2 ) 40,455 A s perlu 400 (424 33,542 ) 2 A s perlu 498,939 mm 2 498, ,939 mm 2 Cek syarat kebutuhan tulangan minimum Berdasarkan SNI Pasal , kebutuhan tulangan minimum tidak boleh kurang dari 0,25 fc fy A s min = 0,25 fc fy b d dan tidak lebih kecil dari 1,4 b d fy b d = 0, = 178,961 mm 2 A s min = 1,4 b d fy = 1, = 169,4 mm 2 A s perlu > A s min maka digunakan As perlu. Menentukan jumlah tulangan utama terpasang: A sperlu N tul = A s tulangan = 498,939 0,25 π 16 2 = 2,482 = 3 buah Kontrol jarak antartulangan: S = b (2 cover) (n D.tul.lentur) (2 tul.geser) n 1 S = 200 (2 40) (2 10) 25 mm 3 1 S = mm (Memenuhi) Maka tulangan yang digunakan adalah 3D16. Desain Tulangan Lapangn m = fy 0,85 fc = 400 0,85 35 Rn = = 13,445 = M BA b d 2 27,813 0,9 0,2 0,242 2 = 2638,419 kn/m ρ perlu = 1 2m Rn (1 1 ) m fy = 1 13, , ,419 (1 1 ) = 0,00692 Luas perlu, As perlu = ρ perlu b d = 0, mm Universitas Pertamina - 33

54 = 334,82 mm 2 Kontrol kondisi penampang: As fy a = 0,85 fc b = 334, , = 22,509 mm c = a β 1 = 22,509 0,8 = 22,136 mm 0,375d = 0, = 183,194 mm c 0,375 d 41,928 < 183,194 mm (Memenuhi) Menentukan kebutuhan tulangan terpasang: A s perlu M BA fy (d a 2 ) 27,813 A s perlu 400 (242 22,509 ) 2 A s perlu 334,82 mm ,939 mm 2 Cek syarat kebutuhan tulangan minimum Berdasarkan SNI Pasal , kebutuhan tulangan minimum tidak boleh kurang dari 0,25 fc fy A s min = 0,25 fc fy b d dan tidak lebih kecil dari 1,4 b d fy b d = 0, = 178,961 mm 2 A s min = 1,4 b d fy = 1, = 169,4 mm 2 A s perlu > A s min maka digunakan As perlu. Menentukan jumlah tulangan utama terpasang: A sperlu N tul = A s tulangan = 334, π 16 2 = 1,665 = 3 buah Kontrol jarak antartulangan: S = b (2 cover) (n D.tul.lentur) (2 tul.geser) n 1 S = 200 (3 40) (2 10) 25 mm 3 1 S = mm (Memenuhi) Maka tulangan yang digunakan adalah 3D16. Menentukan Tulangan Geser Terpasang Gaya geser ultimit, V u = Q u L n 2 = 20,145 4,7 2 = 47340,75 N Kekuatan geser nominal yang diakibatkan oleh beton, 25 mm Universitas Pertamina - 34

55 V c = 0,17 λ fc b d = 0, = 47723,044 N Kriteria kebutuhan tulangan geser: - 0,5 V C = 17896,141 N - V C = 35792,283 N - V u = 47340,75 N V u > V C maka dibutuhkan tulangan geser. Direncanakan tulangan geser = ɸ10 Syarat jarak tulangan geser: S 1 = A V f yt d V s = ( 47340, ,283 0,75 = 296,25 mm S 2 = d mm jika V s 0,33 fcb w d V s 0,33 fcb w d ) ( 47340, ,283 ) 0, , , ,087 S 2 = = 121 mm S 2 = d mm jika V s > 0,33 fcb w d S 3 = A V f yt 0,062 fcbw = 78, , = 256,95 mm S 4 = 600 mm S yang digunakan adalah 100 mm Maka tulangan geser yang digunakan ɸ mm. c. Perencanaan Penulangan Pelat Tangga Pembebanan Pelat Tangga Beban mati (qdl): Pelat lantai 0, cos (36,53) = 654,955 kg/m 2 Penggantung = 10 kg/m 2 Plesteran (2cm) 2100 x 0,02 = 42 kg/m 2 Keramik (2cm) 2400 x 0,02 = 48 kg/m 2 + Total beban mati pelat = 754,955 kg/m 2 Beban hidup (qll) = 300 kg/m 2 Kombinasi beban: Q u = 1,2q DL + 1,6q LL = (1,2 754,955) + (1,6 300) q 1 = 1385,947 kg/m 2 = 13,596 kn/m 2 Pembebanan Pelat Bordes Pelat lantai 2400 x 0,13 = 312 kg/m 2 Penggantung = 10 kg/m 2 Plesteran (2cm) 2100 x 0,02 = 42 kg/m 2 Universitas Pertamina - 35

56 Keramik (2cm) 2400 x 0,02 = 48 kg/m 2 + Total beban mati pelat = 412 kg/m 2 Beban hidup (qll) = 300 kg/m 2 Kombinasi beban: Q u = 1,2q DL + 1,6q LL = (1,2 412) + (1,6 300) q 2 = 974,4 kg/m 2 = 9,559 kn/m 2 Analisa Struktur Tangga Gambar 4.2 Pembebanan Pelat Tangga dan Pelat Bordes Reaksi Perletakan M B = 0 (R C x (L CB + L BA )) (q 2 L CB ( 1 2 L CB + L BA )) (q 1 L BA 1 2 L BA) = 0 (R C (1,5 + 3)) (974,4 1,5 ( 1 2 1,5 + 3)) (1385, ) = 0 R C = 2603,947 kg M A = 0 (R A (L BC + L AB )) (q 2 L BC 1 2 L BC) (q 1 L AB ( 1 2 L AB + L BC )) = 0 (R A (1,5 + 3)) (974,4 1, ,5) (1385,947 3 ( ,5)) = 0 R A = 3015,494 kg Kontrol: V = 0 R A + R C (q 1 x L AB ) (q 2 x L BC ) = , ,494 (1385,947 3) (974,4 1.5) = 0 Gaya Momen (M) Pelat Bordes: M X1 = R C X 1 (0.5 q 2 X1 2 ) = 2603,947 1,5 (0,5 974,4 1,5 2 ) M maks = 2809,7205 kg.m Pelat Tangga: M X2 = R A X 2 (0,5 q 1 X 2 2 ) dy dx = , ,947X 2 = 0 Universitas Pertamina - 36

57 X 2 = 2,176 m M maks = (3015,494 2,176) (0,5 1385,947 2,176 2 ) = 3280,502 kg.m Gaya Lintang (D) D A = R A cos = 3015,494 cos (36,53) = 2423,086 kg D B kiri = D A (q 1 cos L AB ) = 2423,086 (1385,947 cos 36,53 3) = 917,928 kg D C = R C = 2603,947 kg D B kanan = R C + q 2 L BC = 2603,947 + (974,4 1,5) = 1140,347 kg Gaya Normal (N) N A = R A sin = 3015,494 sin (36,53) = 1794,954 kg N B = N A + (q 1 sin L AB ) = 1794,854 + (1385,947 sin 36,53 3) = 680,074 kg N C = 0 kg Penulangan Pelat Tangga Momen lapangan = 3280,502 kg.m Mutu beton (fc) = 35 MPa Mutu baja (fy) = 400 MPa Tebal pelat (t) = 130 mm Selimut beton = 20 mm Diameter tulangan = 13 mm Faktor β 1, β 1 = 0,85 0,05 fc 28 7 β 1 = 0,85 0, β 1 = 0,8 fc Rasio tulangan seimbang, ρ b = 0,85 β 1 ( 600 ) fy 600+fy ρ b = ( ) ρ b = 0,0357 Rasio tulangan maksimum, ρ maks = 0,75 ρ b ρ maks = 0,75 0,0357 Rasio tulangan minimum, ρ min = 0,0035 Dx = tebal pelat tebal selimut beton 1 D. tulangan 2 = = 103,5 mm Mu = 3280,502 kg.m Mn = Mu ø = 3280,502 9,81 1,000 0,8 Universitas Pertamina - 37

58 = ,78 Nmm Rn = Mn bd 2 = , ,5 2 = 3,755 N.mm ρ perlu = 1 2m Rn (1 1 ) m fy = 1 13, ,445 3,755 (1 1 ) 400 = 0,01 Luas perlu, As perlu = ρ perlu b d = 0, ,5 = 1035 mm 2 Smax = 2 tebal pelat = = 260 mm Jadi dipakai tulangan D mm Sehingga As pakai: 1 π = 1106,102 mm2 120 Untuk tulangan pembagi digunakan: A s perlu = 0.2 A s pakai = ,102 = 221,22 mm Maka dipasang tulangan D mm Sehingga As pakai: 1 π = 392,699 mm2 200 Penulangan Pelat Bordes Momen lapangan = 2809,947 kg.m Mutu beton (fc) = 35 MPa Mutu baja (fy) = 400 MPa Tebal pelat (t) = 130 mm Selimut beton = 20 mm Diameter tulangan = 13 mm Faktor β 1, β 1 = 0,85 0,05 fc 28 7 β 1 = 0,85 0, β 1 = 0,8 fc Rasio tulangan seimbang, ρ b = 0,85 β 1 ( 600 ) fy 600+fy ρ b = 0, ( ) ρ b = 0,0357 Rasio tulangan maksimum, ρ maks = 0,75 ρ b ρ maks = 0,75 0,0357 Rasio tulangan minimum, ρ min = 0,0035 Dx = tebal pelat tebal selimut beton 1 D. tulangan 2 = = 103,5 mm Mu = 2890,947 kg.m Mn = Mu ø Universitas Pertamina - 38

59 = 2890,947 9,81 1,000 0,8 = ,09 Nmm Rn = Mn bd 2 = , ,5 2 = 3,217 N.mm ρ perlu = 1 2m Rn (1 1 ) m fy = 1 13, ,445 3,217 (1 1 ) 400 = 0,085 Luas perlu, As perlu = ρ perlu b d = 0, ,5 = 879,75 mm 2 Smax = 2 tebal pelat = = 260 mm Jadi dipakai tulangan D mm Sehingga As pakai: 1 π = 1106,102 mm2 120 Untuk tulangan pembagi digunakan: A s perlu = 0.2 A s pakai = ,882 = 176,976 mm Maka dipasang tulangan D mm Sehingga As pakai: 1 π = 392,699 mm2 200 Proses pemodelan struktur merupakan tahap perancangan untuk mendapatkan gaya dalam dari setiap elemen struktur yang akan digunakan dalam mendesain kebuthan tulangan dan penamang elemen struktur yang ditinjau. Pada tahap pemodelan menggunakan program bantu analisis struktur (SAP2000). Gambar 4.3 Pemodelan Struktur Bangunan Universitas Pertamina - 39

60 Proses pembebanan struktur mengacu pada beberapa standard antara lain adalah SNI 1727:2013, SNI 2847:2013, dan PPPURG Perhitungan pembebanan dalam perancangan ini berupa beban gravitasi (beban hidup dan beban mati yang bekerja pada tiap lantai), beban gempa, dan beban angin. Beban Mati (Dead Load) Beban mati yang bekerja pada pelat atap gedung meliputi: Beban aspal setebal 1cm 1400 x 0,01 = 14 kg/m 2 Beban plafond dan mekanikal = 25 kg/m 2 Total beban mati pada pelat lantai = 39 kg/m 2 Beban mati yang bekerja pada pelat lantai gedung meliputi: Beban plesteran setebal 3cm 2200 x 0,03 = 66 kg/m 2 Beban keramik setebal 2cm 2400 x 0,02 = 40 kg/m 2 Beban plafond dan mekanikal = 25 kg/m 2 Total beban mati pada pelat lantai = 139 kg/m 2 Beban mati yang bekerja pada balok meliputi: Beban dinding pasangan bata 1/2batu 250 x 4 = 1000 kg/m 2 Total beban mati pada balok = 1000 kg/m 2 Beban Hidup (Live Load) Beban hidup pelat lantai = 250 kg/m 2 Beban hidup pelat atap = 100 kg/m 2 Beban hidup pelat balkon = 300 kg/m 2 Beban Angin Kecepatan Angin Berdasarkan data yang didapat dari BMKG, kecepatan angin maksimum di Kota Serang adalah 6 m/s. Faktor Arah Angin Nilai faktor angin (Kd) dilihat dari tipe struktur bangunan yang dirancang. Bangunan gedung dengan sistem penahan beban angin utama memiliki faktor arah angin, Kd 0,85, berdasarkan Tabel pada SNI 1727:2013. Kategori Eksposur Kota Serang merupakan daerah perkotaan dengan kekasaran permukaan B. dengan melihat jenis dari kekasaran permukaan, berdasarkan Pasal 26 ayat 7-3, kategori eksposur pada daerah ini adalah D. Faktor Topografi, K zt Nilai Kzt = 1,0 Faktor Pengaruh Tiupan Angin Faktor efek-tiupan angin untuk suatu bangunan gedung adalah G = 0,85 Koefisien Tekanan Internal Nilai dari koefisien tekanan internal dilihat dari klasifikasi ketertutupan bangunan. Dalam perancangannya bangunan perkantoran ini didesain bangunan gedung tertutup, sehingga nilai dari koefisien tekakan internal adalah Gci = +0,18 dan -0,18. tanda positif dan negatif menandakan tekanan yang bekerja menuju dan menjauhi permukaan internal. Beban Gempa Beban gempa yang digunakan adalah beban gempa di Kota Serang Provinsi Banten dengan jenis batuan adalah batuan sedang. Beban gempa yang dimasukkan dalam perhitungan berupa respon spektrum yang didapat melalui website puskim.go.id. Dengan gambar respon spektra desain terdapat pada Gambar Universitas Pertamina - 40

61 Gambar 4.4 Respon Spektra Desain Kota Serang Selain bentuk respon spektrum dibutuhkan beberapa parameter gempa berada pada Tabel 4.2. Tabel 4.2 Parameter Gempa Kota Serang Parameter Simbol Nilai Respon spektral percepatan gempa MCE R terpetakan untuk perioda pendek S S 0,797 Respon spektral percepatan gempa MCE R terpetakan untuk perioda 1 detik S 1 0,336 Faktor amplifikasi terkait percepatan yang mewakili getaran perioda pendek F A 1,181 Faktor amplifikasi terkait percepatan yang mewakili getaran perioda 1 detik F V 1,728 Spektrum respons percepatan pada perioda pendek S MS 0,942 Spektrum respons percepatan pada perioda 1 detik S M1 0,581 Respons spektral percepatan desain pada perioda pendek S ds 0,628 Respons spektral percepatan desain pada perioda 1 detik S d1 0,387 Perioda (detik) T 0 0,123 Perioda (detik) T s 0,617 Kombinasi Pembebanan Kombinasi pembabanan yang digunakan dalam perancangan ini mengacu pada SNI 1727:2013, yaitu: 1,4 DL 1,2 DL + 1,6 LL 1,2 DL + 1,0 LL ± 1,3 W 1,2 DL + 1,0 LL ± 1,0 EQ 0,9 DL ± 1,3 W 0,9 DL ± 1,0 EQ Dengan: DL : Beban Mati LL : Beban Hidup WX : Beban Angin EQ : Beban Gempa Universitas Pertamina - 41

62 Setelah dilakukan pemodelan struktur dan struktur dibebani sesuai dengan perencanaan langkah selanjutnya adalah dilakukan kontrol hasil dari analisis struktur. Kontrol Antara Berat Struktur Manual dengan SAP2000 Kontrol berat struktur antara berat struktur perhitungan manual dengan hasil dari SAP2000 dilakukan untuk mengetahui apakah pemodelan dengan bantuan program bantu analisis SAP2000 sudah merefleksikan konsep nyata (perhitungan manual). Kontrol dilakukan dengan membandingkan nilai berat struktur dalam hal ini menggunakan kombinasi 1,2DL+1,6LL. Tabel 4.3 Berat Struktur Wi Lantai Berat Mati Struktur (DL) (kg) Berat Hidup Struktur (LL) (kg) Watap Atap , ,5 W , ,75 W , ,75 W , ,75 W , ,75 W , ,625 W , ,625 W , ,625 W Total , ,375 Berat total dengan kombinasi = 1,2DL + 1,6LL = 1,2( ,078) + 1,6( ,375) = ,09 kg = ,91 kn Base reaction pada SAP2000 = ,46 kn Rasio = Base reaction SAP2000 Berat total kombinasi Beban axial SAP2000 = , , ,46 100% 100% = 4,02% Berdasarkan perhitungan didapatkan rasio antara perhitungan manual dengan hasil program bantu analisis struktur bernilai 4,02% atau kurang dari 10%, sehingga dapat dikatakan bahwa hasil perhitungan pada program bantu analisis struktur sudah merefleksikan konsep nyata dengan tepat. Kontrol Rasio Partisi Massa SNI 1726:2012 Pasal menerangkan bahwa jumlah ragam disertakan dalam analisis untuk mendapatkan pasrtipasi massa ragam terkombinasi yang nilainya paling sedikit 90% dari massa aktual dalam arah horizontal orthogonal yang berasal dari respon spektrum yang ditinjau oleh model. Pada SAP2000 didapatkan jumlah respon ragam pada Lampiran 4. Hasil dari Lampiran 4 menerangkan bahwa penjumlahan dari respon ragam total baik pada arah X maupun arah Y telah mencapai 90%, sehingga syarat pada SNI 1726:2012 mengenai analisis jumlah ragam terpenuhi. Kontrol Simpangan Antarlantai Kontrol simpangan antarlantai diperiksa untuk memastikan apakah simpangan antarlantai pada perencanaan sudah sesuai dengan batas izinnya atau belum, karena ketika beban gempa akan menghasilkan simpangan struktur dalam arah lateral. Dalam perhitungan simpangan antai lantai (Δ) diperlukan perhitungan defleksi pusat massa (δ) dengan menggunakan perumusan: δ x = C d δ xe I e Universitas Pertamina - 42

63 Dengan: C d = faktor pembesaran defleksi (5,5) (SNI 1726:2012 pasal 7.2.2) δ xe = defleksi pada lokasi yang disyaratkan I e = faktor keutamaan gempa (1) (SNI 1726:2012 pasal 4.1.2) SNI 1726:2012 mensyarat simpangan antarlantai ijin ( a) adalah 0.020hx dengan faktor redundansi sebesar 1,0. kontrol simpangan antarlantai akibat gaya gempa arah x dan y terdapat pada Lampiran 5 dan Lampiran 6. Berdasarkan Lampiran 5 dan Lampiran 6 yang merupakan hasil perhitungan simpangan antarlantai pada struktur bangunan didapatkan hasil bahwa struktur bangunan perkantoran delapan lantai dalam perencanaan sudah memenuhi persayaratan batas ijin pada SNI 1726:2012 Pasal Setelah didapatkan bahwa kontrol desain struktur sudah memenuhi persyaratan pada SNI maka dapat dilakukan perencanaan struktur primer/struktur utama, berupa perencanaan balok primer dan perencanaan kolom primer. Pada perhitungan penulangan struktur primer menggunakan hasil perhitungan tulangan pada program bantu analisis struktur karena sesuai dengan yang direncanakan dan besar luasan tulangan yang diperlukan dapat menggunakan hasil dari analisis program bantu. a. Penulangan Balok Primer Hasil analisis SAP Data Perencanaan Luas Tulangan Tumpuan: a. Bagian Atas = 2052,971 mm 2 b. Bagian Bawah = 969,627 mm 2 Luas Tulangan Lapangan a. Bagian Atas = 543 mm 2 b. Bagian Bawah = 635 mm 2 Perencanaan Tulangan Tumpuan Bagian Atas : As perlu = 2052,971 mm 2 Diamter Tulangan = 22 mm Jumlah Tulangan = 6 As tersedia = 1 4 π D2 n = 1 4 π = 2280,796 mm 2 As tersedia > As perlu OK! Bagian Bawah: As perlu = 969,627 mm 2 Diamter Tulangan = 22 mm Jumlah Tulangan = 3 Astersedia = 1 4 π D2 n = 1 4 π = 1140,398 mm 2 As tersedia > As perlu OK! Gambar 4.5 Kebutuhan Tulangan Balok Universitas Pertamina - 43

64 Perencanaan Tulangan Lapangan Bagian Atas : As perlu = 543 mm 2 Diamter Tulangan = 22 mm Jumlah Tulangan = 2 Astersedia = 1 4 π D2 n = 1 4 π = 760,265 mm 2 As tersedia > As perlu OK! Bagian Bawah: As perlu = 635 mm 2 Diamter Tulangan = 22 mm Jumlah Tulangan = 2 Astersedia = 1 4 π D2 n = 1 4 π = 760,265 mm 2 As tersedia > As perlu OK! Kebutuhan Tulangan Geser dan Tulangan Torsi a. Nilai gaya geser ultimit yang dihasilkan oleh SAP2000, Vu = ,655 N, dan nilai momen terfaktor Tu = ,375 b. Cek kebutuhan tulangan geser dan tulangan torsi Berdasarkan SNI 2847:2013 tulangan geser dibutuhkan apabila nilai V u > V C, V c = 1 fc b d 6 = = ,95 N Kriteria kebutuhan tulangan geser: - V C = 97393,46 N - V u = ,655 N V u > V C maka dibutuhkan tulangan geser. Berdasarkan SNI 2847:2013 tulangan torsi dapat diabaikan apabila momen terfaktor (Tu) kurang dari: 0,083λ fc( Acp2 Tu Pcp ) = ,375 N.mm ,375 < 0,75 0, ( ( )2 2 ( ) ) ,375 > 27620,70 N.mm Maka tulangan torsi dibutuhkan dalam perancangan ini. c. Desain tulangan geser d = h selimut beton D tul. sengkang 1 D tul. lentur 2 = = 439 mm V s = V u V C A v s = ( , ,46 ) 0,75 = ,93 N = V s 2f yt d Universitas Pertamina - 44

65 = , = 0,85 mm 2 /mm d. Desain tulangan torsi Cek Dimensi Penampang ( Vu b w d )2 + ( T 2 up h ) ( V c + 0,66 fc) 1,7A oh 2 b w d Dimana: xo = b (2 selimut balok) Dgeser = 300 (2 40) 10 = 210 mm yo = h (2 selimut balok) Dgeser = 500 (2 40) 10 = 410 mm Ph = 2 (xo + yo) = 2 ( ) = 1240 mm Aoh = xo yo = = mm 2 Vc = 0,17 fc bw d = 0,17 fc = ,95 N Maka, ( Vu b w d )2 + ( T 2 up h ) 1,7A oh 2 ( V c b w d + 0,66 fc) ( , )2 + ( , , ) 2 0,75 ( , ,66 35) MPa (dimensi penampang mencukupi) Kebutuhan Tulangan Memanjang A l = A t s p h ( f yt f y ) cot 2 θ A t s = T n 2 A o f y cotθ T n = Tu = ,375 0,75 = ,83 N A o = 0,85 A oh = 0, = mm 2 A t s = T n 2 A o f yt cotθ ,83 = cot (45) = 0,21 mm 2 /mm Maka, A l = A t s p h ( f yt f y ) cot 2 θ = 0, ( ) 1 Universitas Pertamina - 45

66 = 156,24 mm 2 A lmin = 0,42 fca cp f y ( A t ) p s h f yt fy = 0, , = 753,36 mm A lmin > A l, maka dipakai = 753,36 mm 2 e. Luas total tulangan sengkang A vt s = A t + A v s s = 0,21 + 0,85 = 1,06 mm 2 /mm s = Av A vt s = 132,73 1,06 = 125,217 mm Syarat jarak tulangan geser: S 1 = A V f yt d V s = 132, ,93 = 156,70 mm S 2 = d mm jika V s 0,33 fcb w d V s 0,33 fcb w d ,93 s 0, ,93 s , ,93 s < ,67 S 2 = = 218 mm S 2 = d mm jika V s > 0,33 fcb w d S 3 = A V f yt 0,062 fcbw = 132, , = 289,49 mm S 4 = 600 mm S yang digunakan adalah 100 mm Maka dispasang tulangan sengkang D mm. Tulangan didistribusikan merata pada keliling penampang balok. A l = 753,36 = 251,12 mm f. Distribusi tukangan memanjang dilakukan sebagai berikut: - Pada sisi atas tersedia tulangan 6D22 (A s = 2280,796) ditambah dengan 1/3A l, sehingga dibutuhkan luas total = 2280, ,12 = 2531,89 mm 2. Maka akan dipasang 7D22 (A s = 2660,93 mm 2 ). - Pada bagian tengah dibutuhkan tulangan seluas 251,12 mm 2. Dipasang 2D16 (A s = 4002,124 mm 2 ) - Pada bagian bawah tersedia tulangan 3D22 (A s = 1140,398 mm 2 ) ditambah dengan 1/3A l, sehingga dibutuhkan luas total = 1140, ,12 = 1391,52 mm 2. Maka akan dipasang 4D22 (A s = 1520,531 mm 2 ) - Universitas Pertamina - 46

67 b. Penulangan Kolom Perencanaan Penulangan Melintang Kolom Data Perencanaan: Mutu beton (fc) = 35 MPa Mutu baja (fy) = 400 MPa Dimensi Kolom h = 550 mm b = 550 mm diameter tulangan: Lentur = 25 mm Geser = 16 mm Selimut beton = 40 mm Tinggi efektif : d = h selimutbeton D. tul. geser 1 D. tul. lentur 2 = = 481,5 mm d" = selimutbeton + D. tul. geser + 1 D. tul. lentur 2 = = 68,5 mm Rasio tulangan : 1% (hasil program bantu analisis struktur) Jumlah tulangan terpasang: As = ρ b d = 1% = 3025 mm As tersedia = 1 4 π D2 n = 1 4 π = 3926,991 mm 2 Astersedia > Asperlu OK! Gambar 4.6 Rasio Tulangan Hasil Analisis Perencanaan Tulangan Geser Panjang I 0 dari muka kolom: Persyaratan panjang I 0 berdasarkan SNI 2847:2013: a. I 0 h = 550 mm b. I ln = = 575 mm c. I mm Maka panjang I 0 yang digunakan adalah 575 mm. Spasi tulangan sepanjang panjang I 0: Dalam SNI 2847:2013 diatur mengenai spasi tulangan sepanjang panjang I 0 tidak boleh melebihi yang terkecil dari: Universitas Pertamina - 47

68 a. S 1 b = = 137,5 mm 4 4 b. S 6 db = 6 20 = 120 mm c. S ( 350 hx 3 ) = ( 350 (0,5 (550 2 (40+13 d. S 150 mm e. S 100 mm Maka spasi tulangan digunakan 100 mm. A SH minimal: A SH = 0,3 Sb cf c [( A g ) 1] f yt A ch Atau A SH = 0,09 Sb cf c f yt Dimana: S = 100 mm bc = ( ) = 457 mm 2 Ag = = mm Ach = (550 40) 2 = mm fyt = 400 MPa Maka: A SH = 0, [( ) 1] = 195,556 mm 2 Atau A SH = 0, = 359,887 mm 2 Maka A SH yang digunakan adalah 359,887 mm 2 Kebutuhan tulangan: n = A SH A V = 359, π D2 n = 359, ,5 = 1,356 2 Maka tulangan dipasang 2D mm, dengan A SH pakai adalah: A SH = 1 4 π D2 n = 1 4 π )) ) = 40,5 mm = 265,5 mm 2 Spasi tulangan diluar I 0: SNI 2847:2013 Pasal mengatur spasi sengkang di luar panjang I 0 sebagai berikut: a. S 6 db = 6 20 = 120 mm b. S 150 mm Maka, dipakai sengkang di luar panjang 2D mm. Analisis pushover dalam perancangan ini digunakan untuk mengetahui level kinerja struktur dan pola keruntuhan struktur bangunan. 1. Pembebanan Pushover Dalam perancangan ini beban pushover didefinisikan oleh beban lateral, yaitu beban gempa pada Kota Serang. Pembebanan diberi dalam 2 arah, yaitu pembabanan arah X dan Universitas Pertamina - 48

69 pembebanan arah Y dengan tipe analisis adalah nonlinear. Aplikasi pembebanan dikontrol oleh perpindahan. 2. Pemodelan Sendi Plastis Sendi plastis diletakkan pada struktur balok dan kolom yang telah dirancang menggunakan program bantu analisis SAP2000. Dalam penentuan sendi plastis menggunakan default yang tersedia pada program yang mengacu pada FEMA 356. Pada elemen blok setiap framenya diletakkan 2 sendi plastis dengan relative distance 0,05 dan 0,95 serta degree of freedom M3. Sedangkan untuk elemen balok menggunakan relative distance yang sama dengan balok, namun untuk degree of freedom menggunakan P-M2-M3. Pada elemen balok dan kolom menggunakan case pembebanan pushover arah X dan arah Y. 3. Analisis Beban Dorong Setelah beban pushover arah X dan Y serta pemodelan sendi plastis dilakukan, kemudian pada program bantu analisis struktur dilakukan running pushover analysis. Hasil dari running pushover analysis berupa kurva kapasitas, yang merupakan kurva hubungan gaya geser (base reaction) terhadap perpindahannya (displacement). Berikut merupakan hasil analisis puhover pada arah X dan arah Y. a. Kurva Kapasitas Arah X Gambar 4.7 Kurva Kapasitas Pushover Arah X Berdasarkan Gambar 4.7 didapatkan hasil pushover analysis pada arah X berhenti pada step ke-18 dengan gaya geser dasar maksimum yang dapat diberikan pada struktur adalah 4201,288 kn dengan perpindahan maksimum yaitu sebesar 0, Universitas Pertamina - 49

70 b. Kurva Kapasitas Arah Y Gambar 4.8 Kurva Kapasitas Pushover Arah Y Berdasarkan Gambar 4.8 didapatkan hasil pushover analysis pada arah Y berhenti pada step ke-23, lalu struktur dapat menerima gaya geser dasar maksimum sebesar 3846,226 Kn dengan nilai perpindahan sebesar 0,09582 m. 4. Distribusi Sendi Plastis Gambar 4.9 Distribusi Sendi Plastis Step 1 Pushover Arah X Pada step satu dapat dilihat bahwa sendi plastis belum terjadi pada elemen struktur. Universitas Pertamina - 50

71 Gambar 4.10 Distribusi Sendi Plastis Step 2 Pushover Arah X Pada step dua mulai muncul sendi plastis pada elemen kolom dengan level B. Gambar 4.11 Distribusi Sendi Plastis Step 18 Pushover Arah X Pada step ke-18 sendi plastis sudah mulai menyebar pada elemen struktur dengan level B dan IO. Universitas Pertamina - 51

72 Gambar 4.12 Distribusi Sendi Plastis Step 1 Pushover Arah Y Pada step satu dapat dilihat bahwa sendi plastis belum terjadi pada elemen struktur. Gambar 4.13 Distribusi Sendi Plastis Step 2 Pushover Arah Y Pada step kedua mulai muncul sendi plastis pada elemen kolom dengan level B. Universitas Pertamina - 52

73 Gambar 4.14 Distribusi Sendi Plastis Step 23 Pushover Arah Y Pada step ke-23 sendi plastis muncul pada elemen struktur dengan level B dan IO. Berdasarkan pada gambar mekanisme distribusi sendi plastis yang terjadi pada struktur bangunan didapatkan sendi plasti mulai muncul pada step kedua pada area kolom bawah yang selanjutnya menyebar keatas dan keseluruh elemen struktur bangunan hingga step ke 18 untuk sumbuh X dan step ke 23 pada sumbu Y. Step pada distribusi sendi plastis menunjukkan bentuk struktur atau perilaku struktur ketika diberi beban. Pada step pertama pada elemen struktur belum terjadi pelelahan ketika diberi beban dorong, lalu pelelehan pertama terjadi pada step kedua akibat beban dorong yang diberikan dengan munculnya sendi plastis pertama pada elemen kolom dilantai dasar dengan level B. Pada step ke-18 pada arah X dan step ke-23 pada arah Y sendi plastis mulai berubah menjadi level IO pada beberapa elemen struktur. 5. Evaluasi Kinerja a. Metode Spektrum Kapasitas (ATC-40) Gambar 4.15 Grafik Spektrum Kapasitas ATC-40 Pushover Arah X Universitas Pertamina - 53

74 Gambar 4.15 menunjukkan hasil dari pushover analysis arah X pada SAP2000 yang mengacu pada ATC-40. Kurva yang berwarna merah merupakan kurva demand yang berasal dari respon spektrum Kota Serang sedangkan kurva yang berwarna hijau merupakan kurva capacity dari struktur yang didapatkan setelah diberikan beban dorong pada struktur. Tabel 4.4 Nilai Performance Point ATC-40 Arah X Performance Point Nilai Simbol Gaya geser dasar V (kn) 1340,086 Target Perpindahan D (m) 0,014 Percepatan spektral Sa 0,029 Perpindahan Spektral Sd 0,011 Waktu getar efektif Teff (detik) 1,264 Redaman efektif Beff 0,05 Berdasarkan Tabel 4.4 nilai perpidahan struktur sebesar 0,014 m dengan gaya geser dasar adalah 1340,086 kn yang didapatkan dari pertemuan antara kurva demand dan kurva capacity pada Gambar 4.15 Dalam penentuan tingkat kinerja suatu struktur bangunan menggunakan metode spektrum kapasitas nilai drift rata-rata tiap lantai diperlukan sebagai indikator kinerja struktur. Perhitungan drift rata-rata menggunakan perumusan 2.43 dengan D atau nilai simpangan atap pada arah X yang dihasilkan oleh SAP2000 adalah 0,22 m dan H atau total ketinggian struktur adalah 33 m. maximum total drift = D H = 0,22 33 = 0,0066 Berdasarkan Tabel 2.1 nilai maximum total drift yang dihasilkan pada pushover arah X adalah 0,0066 dimana nilainya lebih kecil dari 0,01 yang artinya level kinerja struktur berada pada level Immediately Occupancy. Gambar 4.16 Grafik Spektrum Kapasitas ATC-40 Pushover Arah Y Universitas Pertamina - 54

75 Gambar 4.16 menunjukkan hasil dari pushover analysis arah Y pada SAP2000 yang mengacu pada ATC-40. Kurva yang berwarna merah merupakan kurva demand yang berasal dari respon spektrum Kota Serang sedangkan kurva yang berwarna hijau merupakan kurva capacity dari struktur yang didapatkan setelah diberikan beban dorong pada struktur. Tabel 4.5 Nilai Performance Point ATC-40 Arah Y Performance Point Nilai Simbol Gaya geser dasar V (kn) 1355,855 Target Perpindahan D (m) 0,014 Percepatan spektral Sa 0,029 Perpindahan Spektral Sd 0,011 Waktu getar efektif Teff (detik) 1,264 Redaman efektif Beff 0,05 Bedasarkan Tabel 4.5 nilai perpindahan struktur sebesar 0,014 m dengan gaya geser dasar adalah 1355,855 kn yang didapatkan dari pertemuan antara kurva demand dan kurva capacity pada Gambar Perhitungan drift rata-rata untuk mendapatkan level kinerja struktur menggunakan perumusan 2.43 dengan D atau nilai simpangan atap pada arah Y yang dihasilkan oleh SAP2000 adalah 0,09 m dan H atau total ketinggian struktur adalah 33 m. maximum total drift = D H = 0,09 33 = 0,00273 Berdasarkan Tabel 2.1 nilai maximum total drift yang dihasilkan pada pushover arah Y adalah 0,00273 dimana nilainya lebih kecil dari 0,01 yang artinya level kinerja struktur berada pada level Immediately Occupancy. b. Metode Koefisien Perpindahan (FEMA 356) Gambar 4.17 Kurva Koefisien Perpindahan FEMA 356 arah X Universitas Pertamina - 55

76 Gambar 4.17 merupakan hasil dari pushover analysis arah X pada SAP2000 yang mengacu pada FEMA 356. Hasil dari pushover analysis yang mengacu pada FEMA 356 berupa nilai target perpindahan dan gaya geser dasar pada struktur. Tabel 4.6 Nilai Koefisien Perpindahan FEMA 356 Arah X Performance Point Nilai V (kn) 1269,971 D (m) 0,014 Berdasarkan Tabel 4.6 hasil target perpindahan struktur sebesar 0,014 m dengan gaya geser dasar sebesar 1269,971 kn yang didapatkan dari hasil analisis koefisien perpindahan pada SAP2000. Setelah didapatkan hasil dari SAP200 dilakukan perhitungan manual untuk mengetahui target perpindahan. Dalam metode koefisien perpindahan pada FEMA 356 dilakukan modifikasi respons elastis linier dari sistem SDOF ekuivalen dengan faktor-faktor koefisirn yang nantinya akan mendapatkan nilai perpindahan global maksimum. Perhitungan target perpindahan FEMA 356 menggunakan perumusan 2.45 δ t = C 0 C 1 C 2 C 3 S a ( T e 2π )2 g C 0 = 1,3 (FEMA 356 Tabel 3-2 FEMA 356 untuk bangunan 8 lantai) Ts = 0,617 s Te = 1,264 s C 1 = 1,0 (FEMA 356 untuk Te > Ts) C 2 = 1,0 (FEMA 356 Tabel 3-3 untuk rangka Type 1 dan level kinerja adalah IO) C 3 = 1,0 S a = 0,029 Maka, δ t = C 0 C 1 C 2 C 3 S a ( T e 2π )2 g = 1,3 1,0 1,0 1,0 0,029 ( 1,264 2π )2 9,81 = 0,015 m Universitas Pertamina - 56

77 Gambar 4.18 Kurva Koefisien Perpindahan FEMA 356 arah Y Gambar 4.18 merupakan hasil dari pushover analysis arah Y pada SAP2000 yang mengacu pada FEMA 356. Hasil dari pushover analysis yang mengacu pada FEMA 356 berupa nilai target perpindahan dan gaya geser dasar pada struktur. Tabel 4.7 Nilai Koefisien Perpindahan FEMA 356 Arah Y Performance Point Nilai V (kn) 1311,727 D (m) 0,013 Berdasarkan Tabel 4.7 hasil target perpindahan struktur sebesar 0,013 m dengan gaya geser dasar sebesar 1311,727 kn yang didapatkan dari hasil analisis koefisien perpindahan pada SAP2000. Setelah didapatkan hasil dari SAP200 dilakukan perhitungan manual untuk mengetahui target perpindahan. dengan nilai target perpindahan sesuai dengan perumusan δ t = C 0 C 1 C 2 C 3 S a ( T e 2π )2 g C 0 = 1,3 (FEMA 356 Tabel 3-2 FEMA 356 untuk bangunan 8 lantai) Ts = 0,617 s Te = 1,264 s C 1 = 1,0 (FEMA 356 untuk Te > Ts) C 2 = 1,0 (FEMA 356 Tabel 3-3 untuk rangka Type 1 dan level kinerja adalah IO) C 3 = 1,0 S a = 0,029 Maka, δ t = C 0 C 1 C 2 C 3 S a ( T e 2π )2 g = 1,3 1,0 1,0 1,0 0,029 ( 1,264 2π )2 9,81 Universitas Pertamina - 57

78 = 0,015 m c. Metode Koefisien Perpindahan yang Diperbaiki (FEMA 440) Gambar 4.19 Kurva Koefisien Perpindahan yang Diperbaiki FEMA 440 Arah X Gambar 4.19 merupakan hasil dari pushover analysis arah X pada SAP2000 yang mengacu pada FEMA 440. Hasil dari pushover analysis mengacu pada FEMA 440 berupa nilai target perpindahan dan gaya geser dasar pada struktur. Tabel 4.8 Nilai Koefisien Perpindahan yang Diperbaiki FEMA 440 Arah X Performance Point Nilai V (kn) 1269,971 D (m) 0,014 Berdasarkan Tabel 4.8 hasil target perpindahan struktur sebesar 0,014 m dengan gaya geser dasar sebesar 1269,971 kn yang didapatkan dari hasil analisis koefisien perpindahan yang diperbaiki pada SAP2000. Setelah didapatkan hasil dari SAP200 dilakukan perhitungan manual untuk mengetahui target perpindahan. Perhitungan target perpindahan FEMA 440 menggunakan perumusan 2.45 dengan faktor modifikasi C 1 dan C 2 dilakukan perbaikan menggunakan perumusan 2.46 dan 2.47 δ t = C 0 C 1 C 2 C 3 S a ( T e 2π )2 g C 0 = 1,3 Ts = 0,617 s Te = 1,264 s C 1 = 1 + R 1 at e 2 = ,264 2 = 1,0 Universitas Pertamina - 58

79 C 2 = (R 1 T )2 = ( 1 1 1,264 )2 = 1,0 C 3 = 1,0 S a = 0,029 δ t = C 0 C 1 C 2 C 3 S a ( T e 2π )2 g = 1,3 1,0 1,0 1,0 0,029 ( 1,264 2π )2 9,81 = 0,015 m Gambar 4.20 Kurva Koefisien Perpindahan yang Diperbaiki FEMA 440 Arah Y Gambar 4.20 merupakan hasil dari pushover analysis arah Y pada SAP2000 yang mengacu pada FEMA 440. Hasil dari pushover analysis mengacu pada FEMA 440 berupa nilai target perpindahan dan gaya geser dasar pada struktur. Tabel 4.9 Nilai Koefisien Perpindahan yang Diperbaiki FEMA 440 Arah Y Performance Point Nilai V (kn) 1311,727 D (m) 0,013 Berdasarkan Tabel 4.9 hasil target perpindahan struktur sebesar 0,013 m dengan gaya geser dasar sebesar kn yang didapatkan dari hasil analisis koefisien perpindahan yang diperbaiki pada SAP2000. Setelah didapatkan hasil dari SAP200 dilakukan perhitungan manual untuk mengetahui target perpindahan. Perhitungan target perpindahan FEMA 440 menggunakan perumusan 2.45 dengan faktor modifikasi C 1 dan C 2 dilakukan perbaikan menggunakan perumusan 2.46 dan δ t = C 0 C 1 C 2 C 3 S a ( T e 2π )2 g Universitas Pertamina - 59

80 C 0 = 1,3 Ts = 0,617 s Te = 1,264 s C 1 = 1 + R 1 at e 2 = ,264 2 = 1,0 C 2 = (R 1 T )2 = ( 1 1 1,264 )2 = 1.0 C 3 = 1.0 S a = 0,029 δ t = C 0 C 1 C 2 C 3 S a ( T e 2π )2 g = 1,3 1,0 1,0 1,0 0,029 ( 1,264 2π )2 9,81 = 0,015 m d. Nilai Batas SNI-1726:2012 simpangan antarlantai desain tidak boleh melebihi simbangan antarlantai tingkan ijin. Pada SNI 1726:2012 Pasal mengatur pada struktur bangunan perkantoran dengan kategori risiko II simpangan ijin antarlantai adalah 0.02H, dimana: Simpangan ijin = 0,02H = 0,02 33 = 0,66 m 6. Hasil Analisis Pushover Setelah dilakukan analisis, dapat dirangkum target perpindahan dan gaya geser dirangkum pada Tabel Tabel 4.10 Rangkuman Target Perpindahan (Performance Point) Arah ATC-40 FEMA 356 FEMA 440 Batas Ijin X Target perpindahan (m) 0,014 0,015 0,015 0,66 Gaya geser dasar (kn) 1340, , ,971 0,66 Y Target perpindahan (m) 0,014 0,015 0,015 0,66 Gaya geser dasar (kn) 1355, , ,727 0,66 Berdasarkan Tabel 4.10 dapat dilihat bahwa target perpindahan maksimum pada arah X adalah 0,015 dan untuk arah Y adalah 0,015. Serta nilai dari target perpindahan arah X dan arah Y lebih kecil atau tidak lebih besar dari batas ijin pada SNI 1726:2012. Universitas Pertamina - 60

81 Universitas Pertamina - 1

82 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan Setelah dilakukan perhitungan perancangan struktur dalam penyusunan Tugas Akhir didapatkan beberapa hasil analisis, diantaranya sebagai berikut: 1. Perancangan struktur Gedung Perkantoran 8 Lantai di Kota Serang memiliki struktur primer dan sekunder sebagai berikut: a. Struktur Primer, dalam perancangan strutruk primer terdapat lima jenis balok induk dan dua jenis kolom induk dengan hasil analisis sebagai berikut: - Balok Induk Perancangan balok induk terdapat pada Tabel 5.1 sebagai berikut: Tabel 5.1 Penulangan Balok Induk Balok Balok Utama-1 Balok Utama-2 Balok Utama-3 Balok Utama-4 Balok Utama-5 L (mm) h (mm) b (mm) Tulangan Tumpuan Tulangan Lapangan Atas Bawah Atas Bawah Sengkang Tulangan Torsi D22 4D22 3D22 4D22 D D D22 4D22 3D22 4D22 D D D19 4D19 4D19 4D19 D D D22 3D22 4D22 3D22 D D D22 5D22 5D22 5D22 D D22 - Kolom Induk Perancangan struktur kolom terdapat pada Tabel 5.2 sebagi berikut: Tabel 5.2 Penulangan Kolom Dimensi (mm) Tulangan Longitudinal Tulangan Transversal Kolom I 0 Luar I 0 K1 550/550 8D25 2D D K2 650/650 8D28 2D D Pelat lantai menggunakan sistem pelat satu arah dengan tebal pelat lantai dan pelat atap adalah 130 mm, konfigurasi tulangan pokok lapangan dan tumpuan D mm serta tulangan susut dan suhu pada daerah lapangan dan tumpuan adalah ø8-150 mm. b. Struktur Sekunder, dalam perancangan struktur sekunder didapatkan satu jenis balok anak dan tangga dengan hasil analisis sebagai berikut: - Balok Anak berdimensi 200 x 300 mm dengan konfigurasi tulangan pokok pada daerah tumpuan dan lapangan adalah 3D16 dan tulangan geser ø mm. - Tebal pelat tangga dan pelat bordes adalah 130 mm dengan konfigurasi tulangan pokok pelat tangga dan pelat bordes adalah D serta tulangan pembagi D mm. 2. Dalam menentukan nilai dari target peralihan menggunakan 3 metode yaitu: metode spektrum kapasitas yang diatur oleh ATC-40, metode koefisien perpindahan yang Universitas Pertamina - 61

83 mengacu pada FEMA 356, dan metode koefisien perpindahan yang diperbaiki yang mengacu pada FEMA 440. Setelah dilakukan analisis, didapatkan hasil target perpindahan maksimum sebesar 0,015 m pada arah X dan arah Y, nilai tersebut sudah memenuhi nilai batas ijin yang diatur oleh SNI-1726:2012 dimana dalam struktur bangunan ini memiliki simpangan ijin maksimum sebesar 0.66 m. 3. Dalam pendistribusian sendi plastis sudah mulai muncul pada step ke dua yang berada di level B pada struktur kolom pada lantai dasar. Dapat disimpulkan bahwa keadaan kolom tidak memenuhi konsep desain strong colum weak beam atau kolom dalam keadaan lemah. 4. Berdasarkan analisis didapatkan hasil nilai maximum total drift 0,0066 m pada arah X dan 0,00273 m. Berdasarkan kriteria pada ATC-40 kondisi struktur bangunan berada pada tingkat Immediately Occupancy (IO), dimana struktur tidak mengalami kerusakan saat terjadi gempa Saran Setelah dilakukan perancangan dan analisis dalam pengerjaan tugas akhir ini terdapat beberapa saran diantaranya sebagai berikut: 1. Kolom didesain dengan konsep strong colum weak beam agar ketika gempa terjadi struktur kolom aman. 2. Perlu adanya analisis lanjutan mengenai pengaruh penambahan dinding geser terhadap kinerja bangunan. Universitas Pertamina - 62

84 ruktur kolom aman.inerja bangunan. Universitas Pertamina - 63

85 DAFTAR PUSTAKA Bidang Seismologi Teknik BMKG. (2019). Ulasan Guncangan Tanah Akibat Gempabumi Banten 02 Agustus Banten: Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Departemen Pekerja Umum. (1987). Pedoman Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah dan Gedung. Jakarta: Yayasan Badan Penerbit PU. Federal Emergancy Management Agency. (1997). NEHRP Guidelines for The Seismic Rehabilitation of Buildings (FEMA 273). Wahington, D.C: Federal Emergancy Management Agency. Federal Emergency Management Agency. (2000). Prestandard and Commentary For The Seismic Rehabilitation of Buildings (FEMA 356). Washington, D.C.: Federal Emergency Management Agency. Federal Emergency Management Agency. (2005). Prestandard and Commentary For The Seismic Rehabilitation of Buildings (FEMA 440). Washington, D.C.: Federal Emergency Management Agency. Imran, I., & Hendrik, F. (2010). Perencanaan Struktur Gedung Beton Bertulang Tahan Gempa. Bandung: ITB: Institut Teknologi Bandung. Oktopianto, Y., & Andayani, R. (2013). EVALUASI KINERJA STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN PUSHOVER ANALYSIS. Proceeding PESAT (Psikologi, Ekonomi, Sastra, Arsitektur & Teknik Sipil), 64. Redaksi Kumparan. (2019, Agustus 2). Video: Pesantren Nurul Fikri Anyer Rusak Akibat Gempa Banten. Retrieved from Kumparan: Reza, S. F., Suryanita, R., & Ismeddiyanto. (2013). ANALISIS KINERJA STRUKTUR BANGUNAN BERTINGKAT DI WILAYAH GEMPA INDONESIA INTENSITAS TINGGI MENGGUNAKAN ANALISIS STATIS NONLINIER. Jom FTEKNIK, 3. Salim, M. A., & Siswanto, I. B. (2018). Rekayasa Gempa. Yogyakarta: K-Media. Seismic Safety Comission. (1996). Seismic Evaluation and Retrofit of Concrete Buildings. California: Applied Technology Council (ATC 40). Setiawan, A. (2016). Perencanaan Struktur Beton Bertulang Berdasarkan SNI 2847:2013. Jakarta: Penerbit Erlangga. SNI (2012). Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Struktur Bangunan Gedung dan Non Gedung. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional. SNI (2013). Beban Minimum Untuk Perancanga Bangunan Gedung dan Struktur Lain. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional. SNI (2013). Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung. Jakarta: Badan Standarisasi Nasional.

86 Tesfamariam, S., & Goda, K. (2013). Handbook of Seismic Risk Analysis and Management of Civil Infrastructure Systems. Woodhead Publishing. Tim Pusat Studi Gempa Nasional. (2017). Peta Sumber dan Bahaya Gemba Tahun Bandung: Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

87

88

89

90

91

92

93

94

95

96 Lampiran 1 Rekapitulasi Dimensi Balok Jenis balok Panjang h (mm) b (mm) dimensi (mm) bentang (mm) B x 300 B x 300 B2 anak x 200 B x 300

97 Lampiran 2 Perhitungan Beban yang Dipikul Kolom Keterangan Berat Sendiri (kg/m^3) PELAT ATAP B (m) L (m) H (m) xlantai Berat (kg) Beban Mati Pelat Lantai , Penggantung Plafond & ME Balok Induk B ,4 6 0, Balok Induk B ,4 5 0, Balok Anak B ,3 5 0,2 720 Balok Induk B ,2 2,5 0, Spesi (2 cm) , Dacting Plumbing Aspal , Berat Mati Total Beban Hidup Lantai Atap Berat Hidup Total 3000 PELAT LANTAI 8 Keterangan Berat Sendiri (kg/m^3) B (m) L (m) H (m) xlantai Berat (kg) Beban Mati Pelat Lantai , Penggantung Plafon Balok Induk B ,4 6 0, Balok Induk B ,4 5 0, Balok Anak B ,3 5 0,2 720 Balok Induk B ,2 2,5 0, Keramik (2 cm) , Spesi (2 cm) , Dacting Plumbing Partisi Berat Mati Total Beban Hidup Lantai Berat Hidup Total 7500 PELAT LANTAI 7 Keterangan Berat Sendiri (kg/m^3) B (m) L (m) H (m) xlantai Berat (kg) Beban Mati Pelat Lantai , Penggantung

98 Keterangan Berat Sendiri (kg/m^3) B (m) L (m) H (m) xlantai Berat (kg) Plafon Balok Induk B ,4 6 0, Balok Induk B ,4 5 0, Balok Anak B ,3 5 0,2 720 Balok Induk B ,2 2,5 0, Keramik (2 cm) , Spesi (2 cm) , Dacting Plumbing Partisi Berat Mati Total Beban Hidup Lantai Berat Hidup Total 7500 Keterangan Berat Sendiri (kg/m^3) PELAT LANTAI 5-6 B (m) L (m) H (m) xlantai Berat (kg) Beban Mati Pelat Lantai , Penggantung Plafon Balok Induk B ,4 6 0, Balok Induk B ,4 5 0, Balok Anak B ,3 5 0, Balok Induk B ,2 2,5 0, Keramik (2 cm) , Spesi (2 cm) , Dacting Plumbing Partisi Berat Mati Total Beban Hidup Lantai Berat Hidup Total PELAT LANTAI 2-4 Keterangan Berat Sendiri (kg/m^3) B (m) L (m) H (m) xlantai Berat (kg) Beban Mati Pelat Lantai , Penggantung Plafon Balok Induk B ,4 6 0, Balok Induk B ,4 5 0, Balok Anak B ,3 5 0, Balok Induk B ,2 2,5 0,

99 Keterangan Berat Sendiri (kg/m^3) B (m) L (m) H (m) xlantai Berat (kg) Keramik (2 cm) , Spesi (2 cm) , Dacting Plumbing Partisi Berat Mati Total Beban Hidup Lantai Berat Hidup Total Keterangan Berat Sendiri (kg/m^3) PELAT LANTAI 1 B (m) L (m) H (m) xlantai Berat (kg) Beban Mati Pelat Lantai , Penggantung Plafon Balok Induk B ,4 6 0, Balok Induk B ,4 5 0, Balok Anak B ,3 5 0,2 720 Balok Induk B ,2 2,5 0, Keramik (2 cm) , Spesi (2 cm) , Dacting Plumbing Partisi Berat Mati Total Beban Hidup Lantai Berat Hidup Total 7500

100 Lampiran 3 Output nilai Base Reaction pada SAP2000 TABLE: Base Reactions OutputCase CaseType GlobalFX GlobalFY GlobalFZ Text Text Kgf Kgf Kgf 1.2DL+1.6LL Combination -1,108E-07 1,169E ,48

101 Lampiran 4 Modal Participacing Mass Ratio Pada SAP2000 TABLE: Modal Participating Mass Ratios OutputCase StepType StepNum Period SumUX SumUY Text Text Unitless Sec Unitless Unitless MODAL Mode 1 1, , ,00029 MODAL Mode 2 1, , ,85588 MODAL Mode 3 1, , ,86398 MODAL Mode 4 0, , ,86403 MODAL Mode 5 0, , ,93095 MODAL Mode 6 0, , ,9417 MODAL Mode 7 0, , ,96305 MODAL Mode 8 0, , ,96859 MODAL Mode 9 0, , ,97528 MODAL Mode 10 0, , ,97528 MODAL Mode 11 0, ,9758 0,98316 MODAL Mode 12 0, , ,98443

102 Lampiran 5 Kontrol Batas Ijin Simpangan Struktur Akibat Beban Gempa Arah X hx =δxa δxb a a/ρ δxe (mm) δx (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) < a/ρ Lantai OK Lantai ,178 17,479 17, OK Lantai ,474 35,607 18, OK Lantai ,694 53,317 17, OK Lantai ,614 69,377 16, OK Lantai ,08 82,94 13, OK Lantai ,063 93, , OK Lantai , ,761 7, OK Atap , ,612 4, OK

103 Lampiran 6 Kontrol Batas Ijin Simpangan Struktur Akibat Beban Gempa Arah X hx =δxa δxb a a/ρ δxe (mm) δx (mm) (mm) (mm) (mm) (mm) < a/ρ Lantai OK Lantai ,922 16,071 16, OK Lantai ,207 34, , OK Lantai ,447 51, , OK Lantai ,258 67,419 15, OK Lantai ,462 79,541 12, OK Lantai ,152 88,836 9, OK Lantai ,356 95,458 6, OK Atap ,085 99,4675 4, OK

104 Lampiran 7 Penulangan pada Pelat Atap dan Lantai Lokasi As As pakai Tulangan (mm) (mm) Atap Lapangan x Pokok D susut 197 ø Tumpuan x Pokok D susut 197 ø Lapangan y Pokok D susut 197 ø Tumpuan y Pokok D susut 197 ø Lantai Lapangan x Pokok D susut 197 ø Tumpuan x Pokok D susut 197 ø Lapangan y Pokok D susut 197 ø Tumpuan y Pokok D susut 197 ø

105 Lampiran 8 Penulangan Balok Anak Lokasi Tulangan Atap Tumpuan 3D16 Lapangan 3D16 Geser ɸ Lantai Tumpuan 3D16 Lapangan 3D16 Geser ɸ10 100

106 Lampiran 9 Penulangan Anak Tangga dan Bordes Lokasi Tulangan Pelat Tangga Tulangan Pokok D Tulangan Pembagi D Pelat Bordes Tulangan Pokok D Tulangan Pembagi D10 200

107 Lampiran 10 Penulangan Balok Induk Balok Balok Utama-1 Balok Utama-2 Balok Utama-3 Balok Utama-4 Balok Utama-5 L (mm) h (mm) b (mm) Tulangan Tumpuan Tulangan Lapangan Atas Bawah Atas Bawah Sengkang Tulangan Torsi D22 4D22 3D22 4D22 D D D22 4D22 3D22 4D22 D D D19 4D19 4D19 4D19 D D D22 3D22 4D22 3D22 D D D22 5D22 5D22 5D22 D D22

108 Lampiran 11 Penulanga Kolom Dimensi (mm) Tulangan Longitudinal Tulangan Transversal Kolom I 0 Luar I 0 K1 550/550 8D25 2D D K2 650/650 8D28 2D D13-120

109 Lampiran 12 Nilai Displacement dan Base Force pada Kurva Kapasitas Pushover Arah X TABLE: Pushover Capacity Curve Load Case Step Displacement BaseForce Text Unitless m KN PUSH-X PUSH-X 1-0, ,353 PUSH-X 2-0, ,766 PUSH-X 3-0, ,499 PUSH-X 4-0, ,47 PUSH-X 5-0, ,282 PUSH-X 6-0, ,757 PUSH-X 7-0, ,359 PUSH-X 8-0, ,324 PUSH-X 9-0, ,146 PUSH-X 10-0, ,581 PUSH-X 11-0, ,618 PUSH-X 12-0, ,196 PUSH-X 13-0, ,064 PUSH-X 14-0, ,305 PUSH-X 15-0, ,318 PUSH-X 16-0, ,304 PUSH-X 17-0, ,295 PUSH-X 18-0, ,288

110 Lampiran 13 Nilai Displacement dan Base Force pada Kurva Kapasitas Pushover Arah Y Pushover Capacity Curve LoadCase Step Displacement BaseForce Text Unitless m KN PUSH-Y PUSH-Y 1-0, ,169 PUSH-Y 2-0, ,601 PUSH-Y 3-0, ,563 PUSH-Y 4-0, ,54 PUSH-Y 5-0, ,264 PUSH-Y 6-0, ,818 PUSH-Y 7-0, ,692 PUSH-Y 8-0, ,549 PUSH-Y 9-0, ,278 PUSH-Y 10-0, ,159 PUSH-Y 11-0, ,386 PUSH-Y 12-0, ,527 PUSH-Y 13-0, ,325 PUSH-Y 14-0, ,282 PUSH-Y 15-0, ,284 PUSH-Y 16-0, ,303 PUSH-Y 17-0, ,338 PUSH-Y 18-0, ,357 PUSH-Y 19-0, ,882 PUSH-Y 20-0, ,833 PUSH-Y 21-0, ,165 PUSH-Y 22-0, ,219 PUSH-Y 23-0, ,226

111 Lampiran 14 Perencanaan Tangga Lantai 1 Tampak Atas

112 Lampiran 15 Potongan Tangga Lantai 1

113 Lampiran 16 Perencanaan Tangga Lantai 2-8 Tampak Atas

114 Lampiran 17 Potongan Tangga Lantai 2-8

115 Lampiran 18 Brosur Lift

116

117

118

119

120

121

ANALISIS KINERJA STRUKTUR BETON BERTULANG DI WILAYAH GEMPA INDONESIA INTENSITAS TINGGI DENGAN KONDISI TANAH LUNAK

ANALISIS KINERJA STRUKTUR BETON BERTULANG DI WILAYAH GEMPA INDONESIA INTENSITAS TINGGI DENGAN KONDISI TANAH LUNAK ANALISIS KINERJA STRUKTUR BETON BERTULANG DI WILAYAH GEMPA INDONESIA INTENSITAS TINGGI DENGAN KONDISI TANAH LUNAK Sri Fatma Reza 1, Reni Suryanita 2 dan Ismeddiyanto 3 1,2,3 Jurusan Teknik Sipil/Universitas

Lebih terperinci

Pengaruh Core terhadap Kinerja Seismik Gedung Bertingkat

Pengaruh Core terhadap Kinerja Seismik Gedung Bertingkat Reka Racana Teknik Sipil Itenas Vol. 2 No. 1 Jurnal Online Institut Teknologi Nasional Maret 2016 Pengaruh Core terhadap Kinerja Seismik Gedung Bertingkat MEKY SARYUDI 1, BERNARDINUS HERBUDIMAN 2, 1 Mahasiswa,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pergesekan lempeng tektonik (plate tectonic) bumi yang terjadi di daerah patahan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. pergesekan lempeng tektonik (plate tectonic) bumi yang terjadi di daerah patahan BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Gempa adalah fenomena getaran yang diakibatkan oleh benturan atau pergesekan lempeng tektonik (plate tectonic) bumi yang terjadi di daerah patahan (fault zone). Besarnya

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan BAB III LANDASAN TEORI A. Pembebanan Dalam perancangan suatu struktur bangunan harus memenuhi peraturanperaturan yang berlaku sehingga diperoleh suatu struktur bangunan yang aman secara konstruksi. Struktur

Lebih terperinci

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG CONDOTEL MATARAM CITY YOGYAKARTA. Oleh : KEVIN IMMANUEL KUSUMA NPM. :

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG CONDOTEL MATARAM CITY YOGYAKARTA. Oleh : KEVIN IMMANUEL KUSUMA NPM. : PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG CONDOTEL MATARAM CITY YOGYAKARTA Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : KEVIN IMMANUEL

Lebih terperinci

II. KAJIAN LITERATUR. tahan gempa apabila memenuhi kriteria berikut: tanpa terjadinya kerusakan pada elemen struktural.

II. KAJIAN LITERATUR. tahan gempa apabila memenuhi kriteria berikut: tanpa terjadinya kerusakan pada elemen struktural. 5 II. KAJIAN LITERATUR A. Konsep Bangunan Tahan Gempa Secara umum, menurut UBC 1997 bangunan dikatakan sebagai bangunan tahan gempa apabila memenuhi kriteria berikut: 1. Struktur yang direncanakan harus

Lebih terperinci

ANALISIS PERILAKU STRUKTUR PELAT DATAR ( FLAT PLATE ) SEBAGAI STRUKTUR RANGKA TAHAN GEMPA TUGAS AKHIR

ANALISIS PERILAKU STRUKTUR PELAT DATAR ( FLAT PLATE ) SEBAGAI STRUKTUR RANGKA TAHAN GEMPA TUGAS AKHIR ANALISIS PERILAKU STRUKTUR PELAT DATAR ( FLAT PLATE ) SEBAGAI STRUKTUR RANGKA TAHAN GEMPA TUGAS AKHIR SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MENYELESAIKAN PENDIDIKAN SARJANA TEKNIK DI PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

Lebih terperinci

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS STUDENT PARK APARTMENT SETURAN YOGYAKARTA

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS STUDENT PARK APARTMENT SETURAN YOGYAKARTA PERANCANGAN STRUKTUR ATAS STUDENT PARK APARTMENT SETURAN YOGYAKARTA Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh: Cinthya Monalisa

Lebih terperinci

Yogyakarta, Juni Penyusun

Yogyakarta, Juni Penyusun KATA PENGANTAR Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Alhamdulillah, dengan segala kerendahan hati serta puji syukur, kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas segala kasih sayang-nya sehingga

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. untuk bangunan gedung (SNI ) dan tata cara perencanaan gempa

BAB III LANDASAN TEORI. untuk bangunan gedung (SNI ) dan tata cara perencanaan gempa BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Pembebanan Beban yang ditinjau dan dihitung dalam perancangan gedung ini adalah beban hidup, beban mati dan beban gempa. 3.1.1. Kuat Perlu Beban yang digunakan sesuai dalam

Lebih terperinci

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG TRANS NATIONAL CRIME CENTER MABES POLRI JAKARTA. Oleh : LEONARDO TRI PUTRA SIRAIT NPM.

PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG TRANS NATIONAL CRIME CENTER MABES POLRI JAKARTA. Oleh : LEONARDO TRI PUTRA SIRAIT NPM. PERANCANGAN STRUKTUR ATAS GEDUNG TRANS NATIONAL CRIME CENTER MABES POLRI JAKARTA Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. dasar ke permukaan tanah untuk suatu situs, maka situs tersebut harus

BAB III LANDASAN TEORI. dasar ke permukaan tanah untuk suatu situs, maka situs tersebut harus BAB III LANDASAN TEORI 3.1 Perencanaan Beban Gempa 3.1.1 Klasifikasi Situs Dalam perumusan kriteria desain seismik suatu bangunan di permukaan tanah atau penentuan amplifikasi besaran percepatan gempa

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Analisis Statik Beban Dorong (Static Pushover Analysis) Menurut SNI Gempa 03-1726-2002, analisis statik beban dorong (pushover) adalah suatu analisis nonlinier statik, yang

Lebih terperinci

KINERJA STRUKTUR RANGKA BETON BERTULANG DENGAN PERKUATAN BREISING BAJA TIPE X

KINERJA STRUKTUR RANGKA BETON BERTULANG DENGAN PERKUATAN BREISING BAJA TIPE X HALAMAN JUDUL KINERJA STRUKTUR RANGKA BETON BERTULANG DENGAN PERKUATAN BREISING BAJA TIPE X TUGAS AKHIR Oleh: I Gede Agus Hendrawan NIM: 1204105095 JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. geser membentuk struktur kerangka yang disebut juga sistem struktur portal.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. geser membentuk struktur kerangka yang disebut juga sistem struktur portal. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sistem Struktur Bangunan Suatu sistem struktur kerangka terdiri dari rakitan elemen struktur. Dalam sistem struktur konstruksi beton bertulang, elemen balok, kolom, atau dinding

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAFTAR ISI Halaman Judul... i Lembar Pengesahan... ii Kata Pengantar... iii Daftar Isi... iv Daftar Notasi... Daftar Tabel... Daftar Gambar... Abstraksi... BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang Masalah...

Lebih terperinci

ANALISA PERBANDINGAN PERILAKU STRUKTUR PADA GEDUNG DENGAN VARIASI BENTUK PENAMPANG KOLOM BETON BERTULANG

ANALISA PERBANDINGAN PERILAKU STRUKTUR PADA GEDUNG DENGAN VARIASI BENTUK PENAMPANG KOLOM BETON BERTULANG ANALISA PERBANDINGAN PERILAKU STRUKTUR PADA GEDUNG DENGAN VARIASI BENTUK PENAMPANG KOLOM BETON BERTULANG TUGAS AKHIR Oleh: Riskiawan Ertanto NIM: 1104105018 JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Beban Struktur Pada suatu struktur bangunan, terdapat beberapa jenis beban yang bekerja. Struktur bangunan yang direncanakan harus mampu menahan beban-beban yang bekerja pada

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Prosedur Analisis Metodologi penilitian ini yaitu studi kasus terhadap struktur beraturan & gedung beraturan dengan pushover analysis, guna mencapai tujuan yang diharapkan

Lebih terperinci

EVALUASI SENDI PLASTIS DENGAN ANALISIS PUSHOVER PADA GEDUNG TIDAK BERATURAN

EVALUASI SENDI PLASTIS DENGAN ANALISIS PUSHOVER PADA GEDUNG TIDAK BERATURAN EVALUASI SENDI PLASTIS DENGAN ANALISIS PUSHOVER PADA GEDUNG TIDAK BERATURAN DAVID VITORIO LESMANA 0521012 Pembimbing: Olga C. Pattipawaej, Ph.D. FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL UNIVERSITAS KRISTEN

Lebih terperinci

BAB III METODELOGI PENELITIAN

BAB III METODELOGI PENELITIAN BAB III METODELOGI PENELITIAN 3.1 Pendahuluan Pada penelitian ini, Analisis kinerja struktur bangunan bertingkat ketidakberaturan diafragma diawali dengan desain model struktur bangunan sederhanan atau

Lebih terperinci

PERENCANAAN GEDUNG BETON BERTULANG BERATURAN BERDASARKAN SNI DAN FEMA 450

PERENCANAAN GEDUNG BETON BERTULANG BERATURAN BERDASARKAN SNI DAN FEMA 450 PERENCANAAN GEDUNG BETON BERTULANG BERATURAN BERDASARKAN SNI 02-1726-2002 DAN FEMA 450 Eben Tulus NRP: 0221087 Pembimbing: Yosafat Aji Pranata, ST., MT JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci

ANALISA KINERJA STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN KOLOM YANG DIPERKUAT DENGAN LAPIS CARBON FIBER REINFORCED POLYMER (CFRP)

ANALISA KINERJA STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN KOLOM YANG DIPERKUAT DENGAN LAPIS CARBON FIBER REINFORCED POLYMER (CFRP) ANALISA KINERJA STRUKTUR BETON BERTULANG DENGAN KOLOM YANG DIPERKUAT DENGAN LAPIS CARBON FIBER REINFORCED POLYMER (CFRP) TUGAS AKHIR Oleh : I Putu Edi Wiriyawan NIM: 1004105101 JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS

Lebih terperinci

EVALUASI KINERJA STRUKTUR BANGUNAN YANG MENGGUNAKAN SAMBUNGAN LEWATAN (LAP SPLICES) PADA UJUNG KOLOM

EVALUASI KINERJA STRUKTUR BANGUNAN YANG MENGGUNAKAN SAMBUNGAN LEWATAN (LAP SPLICES) PADA UJUNG KOLOM EVALUASI KINERJA STRUKTUR BANGUNAN YANG MENGGUNAKAN SAMBUNGAN LEWATAN (LAP SPLICES) PADA UJUNG KOLOM TUGAS AKHIR Oleh : Desindo Wijaya 100404163 Disetujui : Pembimbing Ir. Besman Surbakti, MT. BIDANG STUDI

Lebih terperinci

EVALUASI KEMAMPUAN STRUKTUR RUMAH TINGGAL SEDERHANA AKIBAT GEMPA

EVALUASI KEMAMPUAN STRUKTUR RUMAH TINGGAL SEDERHANA AKIBAT GEMPA EVALUASI KEMAMPUAN STRUKTUR RUMAH TINGGAL SEDERHANA AKIBAT GEMPA Gerry F. Waworuntu M. D. J. Sumajouw, R. S. Windah Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Sam Ratulangi email: gerrywaw@gmail.com

Lebih terperinci

DAFTAR ISI JUDUL LEMBAR PENGESAHAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR NOTASI

DAFTAR ISI JUDUL LEMBAR PENGESAHAN PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR NOTASI DAFTAR ISI JUDUL i LEMBAR PENGESAHAN ii LEMBAR PENGESAHAN iii PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT iv PERSEMBAHAN v KATA PENGANTAR vi DAFTAR ISI viii DAFTAR GAMBAR xi DAFTAR TABEL xiv DAFTAR NOTASI xvi ABSTRAK xix

Lebih terperinci

PERANCANGAN ULANG STRUKTUR ATAS GEDUNG PERKULIAHAN FMIPA UNIVERSITAS GADJAH MADA

PERANCANGAN ULANG STRUKTUR ATAS GEDUNG PERKULIAHAN FMIPA UNIVERSITAS GADJAH MADA PERANCANGAN ULANG STRUKTUR ATAS GEDUNG PERKULIAHAN FMIPA UNIVERSITAS GADJAH MADA Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh

Lebih terperinci

EVALUASI KINERJA STRUKTUR BANGUNAN BAJA DENGAN MENGGUNAKAN PENGAKU EKSENTRIS (EBF) Ir. Torang Sitorus, MT.

EVALUASI KINERJA STRUKTUR BANGUNAN BAJA DENGAN MENGGUNAKAN PENGAKU EKSENTRIS (EBF) Ir. Torang Sitorus, MT. EVALUASI KINERJA STRUKTUR BANGUNAN BAJA DENGAN MENGGUNAKAN PENGAKU EKSENTRIS (EBF) TUGAS AKHIR Oleh : Cowens 100404171 Disetujui : Pembimbing Ir. Torang Sitorus, MT. BIDANG STUDI STRUKTUR DEPARTEMEN TEKNIK

Lebih terperinci

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN

BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN BAB V ANALISIS DAN PEMBAHASAN Pada bagian ini akan dianalisis periode struktur, displacement, interstory drift, momen kurvatur, parameter aktual non linear, gaya geser lantai, dan distribusi sendi plastis

Lebih terperinci

PERANCANGAN STRUKTUR HOTEL DI JALAN LINGKAR UTARA YOGYAKARTA

PERANCANGAN STRUKTUR HOTEL DI JALAN LINGKAR UTARA YOGYAKARTA PERANCANGAN STRUKTUR HOTEL DI JALAN LINGKAR UTARA YOGYAKARTA Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : PENTAGON PURBA NPM.

Lebih terperinci

EVALUASI BALOK DAN KOLOM PADA RUMAH SEDERHANA

EVALUASI BALOK DAN KOLOM PADA RUMAH SEDERHANA EVALUASI BALOK DAN KOLOM PADA RUMAH SEDERHANA Christy Merril Rantung Marthin D. J. Sumajouw, Reky S. Windah Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Sam Ratulangi Manado email: christyrantung@ymail.com

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Dalam perencanaan suatu struktur bangunan harus memenuhi peraturanperaturan yang berlaku untuk mendapatkan suatu struktur bangunan yang aman secara konstruksi berdasarkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Pembebanan merupakan faktor penting dalam merancang stuktur bangunan. Oleh karena itu, dalam merancang perlu diperhatikan beban-bean yang bekerja pada struktur agar

Lebih terperinci

EVALUASI KINERJA PORTAL BAJA 3 DIMENSI DENGAN PENGAKU LATERAL AKIBAT GEMPA KUAT BERDASARKAN PERFORMANCE BASED DESIGN

EVALUASI KINERJA PORTAL BAJA 3 DIMENSI DENGAN PENGAKU LATERAL AKIBAT GEMPA KUAT BERDASARKAN PERFORMANCE BASED DESIGN TUGAS AKHIR EVALUASI KINERJA PORTAL BAJA 3 DIMENSI DENGAN PENGAKU LATERAL AKIBAT GEMPA KUAT BERDASARKAN PERFORMANCE BASED DESIGN Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Menyelesaikan Pendidikan Program

Lebih terperinci

STUDI EVALUASI KINERJA STRUKTUR BAJA BERTINGKAT RENDAH DENGAN ANALISIS PUSHOVER ABSTRAK

STUDI EVALUASI KINERJA STRUKTUR BAJA BERTINGKAT RENDAH DENGAN ANALISIS PUSHOVER ABSTRAK STUDI EVALUASI KINERJA STRUKTUR BAJA BERTINGKAT RENDAH DENGAN ANALISIS PUSHOVER Choerudin S NRP : 0421027 Pembimbing :Olga Pattipawaej, Ph.D Pembimbing Pendamping :Cindrawaty Lesmana, M.Sc. Eng FAKULTAS

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Konsep Pemilihan Struktur Desain struktur harus memperhatikan beberapa aspek, diantaranya : Aspek Struktural ( kekuatan dan kekakuan struktur) Aspek ini merupakan aspek yang

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. dan pasal SNI 1726:2012 sebagai berikut: 1. U = 1,4 D (3-1) 2. U = 1,2 D + 1,6 L (3-2)

BAB III LANDASAN TEORI. dan pasal SNI 1726:2012 sebagai berikut: 1. U = 1,4 D (3-1) 2. U = 1,2 D + 1,6 L (3-2) 8 BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Elemen Struktur 3.1.1. Kuat Perlu Kuat yang diperlukan untuk beban-beban terfaktor sesuai pasal 4.2.2. dan pasal 7.4.2 SNI 1726:2012 sebagai berikut: 1. U = 1,4 D (3-1) 2.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Negara Indonesia adalah salah satu negara yang dilintasi jalur cincin api dunia. Terdapat empat lempeng tektonik dunia yang ada di Indonesia, yaitu lempeng Pasific,

Lebih terperinci

HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN

HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN KATA PENGANTAR ABSTRAK DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR TABEL DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL... i HALAMAN PENGESAHAN... ii MOTTO DAN PERSEMBAHAN... iii KATA PENGANTAR... vi ABSTRAK... viii DAFTAR ISI... x DAFTAR GAMBAR... xiv DAFTAR TABEL... xvii DAFTAR NOTASI... xviii

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Kerangka Berfikir Sengkang merupakan elemen penting pada kolom untuk menahan beban gempa. Selain menahan gaya geser, sengkang juga berguna untuk menahan tulangan utama dan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tingkat kerawanan yang tinggi terhadap gempa. Hal ini dapat dilihat pada berbagai

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. tingkat kerawanan yang tinggi terhadap gempa. Hal ini dapat dilihat pada berbagai BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Umum Sebagian besar wilayah Indonesia merupakan wilayah yang memiliki tingkat kerawanan yang tinggi terhadap gempa. Hal ini dapat dilihat pada berbagai kejadian gempa dalam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ruang Terbuka Hijau di Jakarta Jakarta adalah ibukota negara republik Indonesia yang memiliki luas sekitar 661,52 km 2 (Anonim, 2011). Semakin banyaknya jumlah penduduk maka

Lebih terperinci

a home base to excellence Mata Kuliah : Struktur Beton Lanjutan Kode : TSP 407 Pelat Pertemuan - 2

a home base to excellence Mata Kuliah : Struktur Beton Lanjutan Kode : TSP 407 Pelat Pertemuan - 2 Mata Kuliah : Struktur Beton Lanjutan Kode : TSP 407 SKS : 3 SKS Pelat Pertemuan - 2 TIU : Mahasiswa dapat mendesain berbagai elemen struktur beton bertulang TIK : Mahasiswa dapat mendesain sistem pelat

Lebih terperinci

BAB II STUDI PUSTAKA

BAB II STUDI PUSTAKA BAB II STUDI PUSTAKA 2.1. TINJAUAN UMUM Pada Studi Pustaka ini akan membahas mengenai dasar-dasar dalam merencanakan struktur untuk bangunan bertingkat. Dasar-dasar perencanaan tersebut berdasarkan referensi-referensi

Lebih terperinci

ANALISIS PERILAKU DAN KINERJA RANGKA BETON BERTULANG DENGAN DAN TANPA BREISING KABEL CFC

ANALISIS PERILAKU DAN KINERJA RANGKA BETON BERTULANG DENGAN DAN TANPA BREISING KABEL CFC ANALISIS PERILAKU DAN KINERJA RANGKA BETON BERTULANG DENGAN DAN TANPA BREISING KABEL CFC TUGAS AKHIR Oleh : P. Adi Yasa NIM: 1204105008 JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS UDAYANA 2016 LEMBAR

Lebih terperinci

ANALISIS DAN DESAIN STRUKTUR TAHAN GEMPA DENGAN SISTEM BALOK ANAK DAN BALOK INDUK MENGGUNAKAN PELAT SEARAH

ANALISIS DAN DESAIN STRUKTUR TAHAN GEMPA DENGAN SISTEM BALOK ANAK DAN BALOK INDUK MENGGUNAKAN PELAT SEARAH ANALISIS DAN DESAIN STRUKTUR TAHAN GEMPA DENGAN SISTEM BALOK ANAK DAN BALOK INDUK MENGGUNAKAN PELAT SEARAH David Bambang H NRP : 0321059 Pembimbing : Daud Rachmat W., Ir., M.Sc. FAKULTAS TEKNIK JURUSAN

Lebih terperinci

) DAN ANALISIS PERKUATAN KAYU GLULAM BANGKIRAI DENGAN PELAT BAJA

) DAN ANALISIS PERKUATAN KAYU GLULAM BANGKIRAI DENGAN PELAT BAJA ABSTRAK STUDI ANALISIS KINERJA BANGUNAN 2 LANTAI DAN 4 LANTAI DARI KAYU GLULAM BANGKIRAI TERHADAP BEBAN SEISMIC DENGAN ANALISIS STATIC NON LINEAR (STATIC PUSHOVER ANALYSIS) DAN ANALISIS PERKUATAN KAYU

Lebih terperinci

KATA KUNCI: sistem rangka baja dan beton komposit, struktur komposit.

KATA KUNCI: sistem rangka baja dan beton komposit, struktur komposit. EVALUASI KINERJA SISTEM RANGKA BAJA DAN BETON KOMPOSIT PEMIKUL MOMEN KHUSUS YANG DIDESAIN BERDASARKAN SNI 1729:2015 Anthony 1, Tri Fena Yunita Savitri 2, Hasan Santoso 3 ABSTRAK : Dalam perencanaannya

Lebih terperinci

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan

BAB 2 DASAR TEORI Dasar Perencanaan Jenis Pembebanan BAB 2 DASAR TEORI 2.1. Dasar Perencanaan 2.1.1 Jenis Pembebanan Dalam merencanakan struktur suatu bangunan bertingkat, digunakan struktur yang mampu mendukung berat sendiri, gaya angin, beban hidup maupun

Lebih terperinci

PERBANDINGAN PERILAKU ANTARA STRUKTUR RANGKA PEMIKUL MOMEN (SRPM) DAN STRUKTUR RANGKA BRESING KONSENTRIK (SRBK) TIPE X-2 LANTAI

PERBANDINGAN PERILAKU ANTARA STRUKTUR RANGKA PEMIKUL MOMEN (SRPM) DAN STRUKTUR RANGKA BRESING KONSENTRIK (SRBK) TIPE X-2 LANTAI PERBANDINGAN PERILAKU ANTARA STRUKTUR RANGKA PEMIKUL MOMEN (SRPM) DAN STRUKTUR RANGKA BRESING KONSENTRIK (SRBK) TIPE X-2 LANTAI TUGAS AKHIR Oleh : I Gede Agus Krisnhawa Putra NIM : 1104105075 JURUSAN TEKNIK

Lebih terperinci

STUDI KOMPARATIF PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG TAHAN GEMPA DENGAN SISTEM RANGKA GEDUNG BERDASARKAN TATA CARA ASCE 7-05 DAN SNI

STUDI KOMPARATIF PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG TAHAN GEMPA DENGAN SISTEM RANGKA GEDUNG BERDASARKAN TATA CARA ASCE 7-05 DAN SNI TUGAS AKHIR ( IG09 1307 ) STUDI KOMPARATIF PERANCANGAN STRUKTUR GEDUNG TAHAN GEMPA DENGAN SISTEM RANGKA GEDUNG BERDASARKAN TATA CARA ASCE 7-05 DAN SNI 03-1726-2002 Yuwanita Tri Sulistyaningsih 3106100037

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN

BAB III METODOLOGI PERENCANAAN BAB III METODOLOGI PERENCANAAN III.. Gambaran umum Metodologi perencanaan desain struktur atas pada proyek gedung perkantoran yang kami lakukan adalah dengan mempelajari data-data yang ada seperti gambar

Lebih terperinci

PERANCANGAN STRUKTUR HOTEL PESONA TUGU YOGYAKARTA

PERANCANGAN STRUKTUR HOTEL PESONA TUGU YOGYAKARTA PERANCANGAN STRUKTUR HOTEL PESONA TUGU YOGYAKARTA Laporan Tugas Akhir sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : YESIA TAHAPARI NPM. : 12 02 14135

Lebih terperinci

PERANCANGAN ULANG STRUKTUR GEDUNG BANK MODERN SOLO

PERANCANGAN ULANG STRUKTUR GEDUNG BANK MODERN SOLO PERANCANGAN ULANG STRUKTUR GEDUNG BANK MODERN SOLO Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : Heroni Wibowo Prasetyo NPM :

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. Mulai. Pengumpulan Data. Preliminary Desain Struktur Model-1. Input Beban Yang Bekerja Pada Struktur

BAB III METODOLOGI. Mulai. Pengumpulan Data. Preliminary Desain Struktur Model-1. Input Beban Yang Bekerja Pada Struktur BAB III METODOLOGI 3.1 Pendekatan Untuk mengetahui pengaruh pemasangan partisi bata terhadap karakteristik struktur pada studi ini melalui beberapa tahapan. Adapun tahapan yang dilakukan untuk penyelesaian

Lebih terperinci

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR NOTASI DAN SIMBOL

DAFTAR ISI KATA PENGANTAR DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR NOTASI DAN SIMBOL DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING HALAMAN PENGESAHAN TIM PENGUJI LEMBAR PERYATAAN ORIGINALITAS LAPORAN LEMBAR PERSEMBAHAN INTISARI ABSTRACT KATA PENGANTAR DAFTAR ISI DAFTAR

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sebagai negara kepulauan yang terletak pada daerah pertemuan 4 (empat)

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang. Sebagai negara kepulauan yang terletak pada daerah pertemuan 4 (empat) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebagai negara kepulauan yang terletak pada daerah pertemuan 4 (empat) lempeng tektonik, yaitu lempeng Indo-Australia, lempeng Eurasia, lempeng Pasifik dan lempeng

Lebih terperinci

L p. L r. L x L y L n. M c. M p. M g. M pr. M n M nc. M nx M ny M lx M ly M tx. xxi

L p. L r. L x L y L n. M c. M p. M g. M pr. M n M nc. M nx M ny M lx M ly M tx. xxi DAFTAR SIMBOL a tinggi balok tegangan persegi ekuivalen pada diagram tegangan suatu penampang beton bertulang A b luas penampang bruto A c luas penampang beton yang menahan penyaluran geser A cp luasan

Lebih terperinci

PERANCANGAN GEDUNG APARTEMEN DI JALAN LAKSAMANA ADISUCIPTO YOGYAKARTA

PERANCANGAN GEDUNG APARTEMEN DI JALAN LAKSAMANA ADISUCIPTO YOGYAKARTA PERANCANGAN GEDUNG APARTEMEN DI JALAN LAKSAMANA ADISUCIPTO YOGYAKARTA Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : GO, DERMAWAN

Lebih terperinci

BAB III METEDOLOGI PENELITIAN. dilakukan setelah mendapat data dari perencanaan arsitek. Analisa dan

BAB III METEDOLOGI PENELITIAN. dilakukan setelah mendapat data dari perencanaan arsitek. Analisa dan BAB III METEDOLOGI PENELITIAN 3.1 Prosedur Penelitian Pada penelitian ini, perencanaan struktur gedung bangunan bertingkat dilakukan setelah mendapat data dari perencanaan arsitek. Analisa dan perhitungan,

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Deskripsi umum Desain struktur merupakan salah satu bagian dari keseluruhan proses perencanaan bangunan. Proses desain merupakan gabungan antara unsur seni dan sains yang membutuhkan

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perancanaan Tahan Gempa Berbasis Kinerja Menurut Muntafi (2012) perancangan bangunan tahan gempa selama ini analisis terhadap gempa menggunakan metode Force Based Design, dan

Lebih terperinci

PERANCANGAN STRUKTUR BANGUNAN RUMAH SUSUN DI YOGYAKARTA

PERANCANGAN STRUKTUR BANGUNAN RUMAH SUSUN DI YOGYAKARTA PERANCANGAN STRUKTUR BANGUNAN RUMAH SUSUN DI YOGYAKARTA Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : AGUSTINUS PUJI RAHARJA

Lebih terperinci

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print)

JURNAL TEKNIK ITS Vol. 5, No. 2, (2016) ISSN: ( Print) A464 Analisis Perbandingan Biaya Perencanaan Gedung Menggunakan Metode Strength Based Design dengan Performance Based Design pada Berbagai Variasi Ketinggian Maheswari Dinda Radito, Shelvy Surya, Data

Lebih terperinci

TESIS EVALUASI KINERJA STRUKTUR GEDUNG BETON BERTULANG SISTEM GANDA DENGAN ANALISIS NONLINEAR STATIK DAN YIELD POINT SPECTRA O L E H

TESIS EVALUASI KINERJA STRUKTUR GEDUNG BETON BERTULANG SISTEM GANDA DENGAN ANALISIS NONLINEAR STATIK DAN YIELD POINT SPECTRA O L E H TESIS EVALUASI KINERJA STRUKTUR GEDUNG BETON BERTULANG SISTEM GANDA DENGAN ANALISIS NONLINEAR STATIK DAN YIELD POINT SPECTRA O L E H Frederikus Dianpratama Ndouk 145 102 156 PROGRAM PASCASARJANA MAGISTER

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. desain untuk pembangunan strukturalnya, terutama bila terletak di wilayah yang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. desain untuk pembangunan strukturalnya, terutama bila terletak di wilayah yang BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Umum Struktur bangunan bertingkat tinggi memiliki tantangan tersendiri dalam desain untuk pembangunan strukturalnya, terutama bila terletak di wilayah yang memiliki faktor resiko

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Umum Beban Gempa Menurut SNI 1726: Perkuatan Struktur Bresing...

DAFTAR ISI. BAB II TINJAUAN PUSTAKA Umum Beban Gempa Menurut SNI 1726: Perkuatan Struktur Bresing... DAFTAR ISI PERNYATAAN... i ABSTRAK... ii UCAPAN TERIMA KASIH... iii DAFTAR ISI... v DAFTAR GAMBAR... vii DAFTAR TABEL... ix BAB I PENDAHULUAN... 1 1.1 Latar Belakang... 1 1.2 Rumusan Masalah... 2 1.3 Tujuan...

Lebih terperinci

ANALISA STRUKTUR DAN KONTROL KEKUATAN BALOK DAN KOLOM PORTAL AS L1-L4 PADA GEDUNG S POLITEKNIK NEGERI MEDAN

ANALISA STRUKTUR DAN KONTROL KEKUATAN BALOK DAN KOLOM PORTAL AS L1-L4 PADA GEDUNG S POLITEKNIK NEGERI MEDAN ANALISA STRUKTUR DAN KONTROL KEKUATAN BALOK DAN KOLOM PORTAL AS L1-L4 PADA GEDUNG S POLITEKNIK NEGERI MEDAN LAPORAN Ditulis untuk Menyelesaikan Mata Kuliah Tugas Akhir Semester VI Pendidikan Program Diploma

Lebih terperinci

DAFTAR NOTASI. Luas penampang tiang pancang (mm²). Luas tulangan tarik non prategang (mm²). Luas tulangan tekan non prategang (mm²).

DAFTAR NOTASI. Luas penampang tiang pancang (mm²). Luas tulangan tarik non prategang (mm²). Luas tulangan tekan non prategang (mm²). DAFTAR NOTASI A cp Ag An Atp Luas yang dibatasi oleh keliling luar penampang beton (mm²). Luas bruto penampang (mm²). Luas bersih penampang (mm²). Luas penampang tiang pancang (mm²). Al Luas total tulangan

Lebih terperinci

DAFTAR ISI. Halaman Judul Pengesahan Persetujuan Surat Pernyataan Kata Pengantar DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN

DAFTAR ISI. Halaman Judul Pengesahan Persetujuan Surat Pernyataan Kata Pengantar DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR DAFTAR NOTASI DAFTAR LAMPIRAN DAFTAR ISI Halaman Judul i Pengesahan ii Persetujuan iii Surat Pernyataan iv Kata Pengantar v DAFTAR ISI vii DAFTAR TABEL x DAFTAR GAMBAR xiv DAFTAR NOTASI xviii DAFTAR LAMPIRAN xxiii ABSTRAK xxiv ABSTRACT

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembebanan Komponen Struktur Pada perencanaan bangunan bertingkat tinggi, komponen struktur direncanakan cukup kuat untuk memikul semua beban kerjanya. Pengertian beban itu

Lebih terperinci

PEMODELAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT BETON BERTULANG RANGKA TERBUKA SIMETRIS DI DAERAH RAWAN GEMPA DENGAN METODA ANALISIS PUSHOVER

PEMODELAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT BETON BERTULANG RANGKA TERBUKA SIMETRIS DI DAERAH RAWAN GEMPA DENGAN METODA ANALISIS PUSHOVER PEMODELAN STRUKTUR BANGUNAN GEDUNG BERTINGKAT BETON BERTULANG RANGKA TERBUKA SIMETRIS DI DAERAH RAWAN GEMPA DENGAN METODA ANALISIS PUSHOVER S-2 Siti Aisyah N. 1* dan Yoga Megantara 2 1 Balai Diklat Wilayah

Lebih terperinci

Studi Assessment Kerentanan Gedung Beton Bertulang Terhadap Beban Gempa Dengan Menggunakan Metode Pushover Analysis

Studi Assessment Kerentanan Gedung Beton Bertulang Terhadap Beban Gempa Dengan Menggunakan Metode Pushover Analysis Studi Assessment Kerentanan Gedung Beton Bertulang Terhadap Beban Gempa Dengan Menggunakan Metode Pushover Analysis Windya Dirgantari, Endah Wahyuni dan Data Iranata Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik

Lebih terperinci

STUDI DESAIN STRUKTUR BETON BERTULANG TAHAN GEMPA UNTUK BENTANG PANJANG DENGAN PROGRAM KOMPUTER

STUDI DESAIN STRUKTUR BETON BERTULANG TAHAN GEMPA UNTUK BENTANG PANJANG DENGAN PROGRAM KOMPUTER STUDI DESAIN STRUKTUR BETON BERTULANG TAHAN GEMPA UNTUK BENTANG PANJANG DENGAN PROGRAM KOMPUTER Andi Algumari NRP : 0321059 Pembimbing : Daud Rachmat W., Ir., M.Sc. FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK SIPIL

Lebih terperinci

d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek

d b = Diameter nominal batang tulangan, kawat atau strand prategang D = Beban mati atau momen dan gaya dalam yang berhubungan dengan beban mati e = Ek DAFTAR NOTASI A g = Luas bruto penampang (mm 2 ) A n = Luas bersih penampang (mm 2 ) A tp = Luas penampang tiang pancang (mm 2 ) A l =Luas total tulangan longitudinal yang menahan torsi (mm 2 ) A s = Luas

Lebih terperinci

BAB II DASAR-DASAR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT

BAB II DASAR-DASAR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT BAB II DASAR-DASAR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG BERTINGKAT 2.1 KONSEP PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG RAWAN GEMPA Pada umumnya struktur gedung berlantai banyak harus kuat dan stabil terhadap berbagai macam

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pembebanan Struktur bangunan yang aman adalah struktur bangunan yang mampu menahan beban-beban yang bekerja pada bangunan. Dalam suatu perancangan struktur harus memperhitungkan

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR KONSTRUKSI BAJA GEDUNG DENGAN PERBESARAN KOLOM

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR KONSTRUKSI BAJA GEDUNG DENGAN PERBESARAN KOLOM TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR KONSTRUKSI BAJA GEDUNG DENGAN PERBESARAN KOLOM Diajukan sebagai syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknik Setrata I (S-1) Disusun oleh : NAMA : WAHYUDIN NIM : 41111110031

Lebih terperinci

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan Pada Pelat Lantai

BAB III LANDASAN TEORI. A. Pembebanan Pada Pelat Lantai 8 BAB III LANDASAN TEORI A. Pembebanan Pada Pelat Lantai Dalam penelitian ini pelat lantai merupakan pelat persegi yang diberi pembebanan secara merata pada seluruh bagian permukaannya. Material yang digunakan

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Prosedur Penelitian Untuk mengetahui penelitian mengenai pengaruh tingkat redundansi pada sendi plastis perlu dipersiapkan tahapan-tahapan untuk memulai proses perancangan,

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERENCANAAN GEDUNG DUAL SYSTEM 22 LANTAI DENGAN OPTIMASI KETINGGIAN SHEAR WALL

TUGAS AKHIR PERENCANAAN GEDUNG DUAL SYSTEM 22 LANTAI DENGAN OPTIMASI KETINGGIAN SHEAR WALL TUGAS AKHIR PERENCANAAN GEDUNG DUAL SYSTEM 22 LANTAI DENGAN OPTIMASI KETINGGIAN SHEAR WALL Diajukan sebagai syarat untuk meraih gelar Sarjana Teknik Strata 1 (S 1) Disusun oleh : Nama : Lenna Hindriyati

Lebih terperinci

STUDI MENENTUKAN PARAMETER DAKTILITAS STRUKTUR GEDUNG TIDAK BERATURAN DENGAN ANALISIS PUSHOVER

STUDI MENENTUKAN PARAMETER DAKTILITAS STRUKTUR GEDUNG TIDAK BERATURAN DENGAN ANALISIS PUSHOVER STUDI MENENTUKAN PARAMETER DAKTILITAS STRUKTUR GEDUNG TIDAK BERATURAN DENGAN ANALISIS PUSHOVER Diva Gracia Caroline NRP : 0521041 Pembimbing : Olga Pattipawaej, Ph.D Pembimbing Pendamping : Yosafat Aji

Lebih terperinci

PERANCANGAN STRUKTUR BANGUNAN RUMAH SUSUN DI SURAKARTA

PERANCANGAN STRUKTUR BANGUNAN RUMAH SUSUN DI SURAKARTA PERANCANGAN STRUKTUR BANGUNAN RUMAH SUSUN DI SURAKARTA Laporan Tugas Akhir Sebagai salah satu sarat untuk memperoleh gelar Sarjana dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta Oleh : Yusup Ruli Setiawan NPM :

Lebih terperinci

a home base to excellence Mata Kuliah : Struktur Beton Lanjutan Kode : TSP 407 Pelat Pertemuan - 1

a home base to excellence Mata Kuliah : Struktur Beton Lanjutan Kode : TSP 407 Pelat Pertemuan - 1 Mata Kuliah : Struktur Beton Lanjutan Kode : TSP 407 SKS : 3 SKS Pelat Pertemuan - 1 TIU : Mahasiswa dapat mendesain berbagai elemen struktur beton bertulang TIK : Mahasiswa dapat mendesain sistem pelat

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Pembebanan Komponen Struktur Pada perencanaan bangunan bertingkat tinggi, komponen struktur direncanakan cukup kuat untuk memikul semua beban kerjanya. Pengertian beban itu

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA STRUKTUR

BAB IV ANALISA STRUKTUR BAB IV ANALISA STRUKTUR 4.1 Data-data Struktur Pada bab ini akan membahas tentang analisa struktur dari struktur bangunan yang direncanakan serta spesifikasi dan material yang digunakan. 1. Bangunan direncanakan

Lebih terperinci

ANALISA PORTAL DENGAN DINDING TEMBOK PADA RUMAH TINGGAL SEDERHANA AKIBAT GEMPA

ANALISA PORTAL DENGAN DINDING TEMBOK PADA RUMAH TINGGAL SEDERHANA AKIBAT GEMPA ANALISA PORTAL DENGAN DINDING TEMBOK PADA RUMAH TINGGAL SEDERHANA AKIBAT GEMPA Rowland Badenpowell Edny Turang Marthin D. J. Sumajouw, Reky S. Windah Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Universitas

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. hingga tinggi, sehingga perencanaan struktur bangunan gedung tahan gempa

BAB 1 PENDAHULUAN. hingga tinggi, sehingga perencanaan struktur bangunan gedung tahan gempa BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia terletak dalam wilayah gempa dengan intensitas gempa moderat hingga tinggi, sehingga perencanaan struktur bangunan gedung tahan gempa menjadi sangat penting

Lebih terperinci

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH SMP SMU MARINA SEMARANG

TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH SMP SMU MARINA SEMARANG TUGAS AKHIR PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG SEKOLAH SMP SMU MARINA SEMARANG Diajukan Sebagai Syarat Untuk Menyelesaikan Pendidikan Tingkat Sarjana Strata 1 (S-1) Pada Fakultas Teknik Program Studi Teknik Sipil

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. adalah kolom. Kolom termasuk struktur utama yang bertujuan menyalurkan beban tekan

BAB I PENDAHULUAN. adalah kolom. Kolom termasuk struktur utama yang bertujuan menyalurkan beban tekan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Di Indonesia sering terjadinya gempa bumi dan hampir selalu menelan korban jiwa. Namun dapat dipastikan bahwa korban jiwa tersebut bukan diakibatkan oleh gempa

Lebih terperinci

UNIVERSITAS MERCU BUANA FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL 2017

UNIVERSITAS MERCU BUANA FAKULTAS TEKNIK PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL 2017 TUGAS AKHIR STUDI ANALISIS PERFORMANCE GEDUNG BERTINGKAT DENGAN LAHAN PARKIR DI BASEMENT, MIDDLE FLOOR, DAN TOP FLOOR Diajukan sebagai persyaratan untuk meraih gelar Strata 1 (S-1) Dosen Pembimbing : Fajar

Lebih terperinci

EVALUASI PERBANDINGAN KONSEP DESAIN DINDING GESER TAHAN GEMPA BERDASARKAN SNI BETON

EVALUASI PERBANDINGAN KONSEP DESAIN DINDING GESER TAHAN GEMPA BERDASARKAN SNI BETON EVALUASI PERBANDINGAN KONSEP DESAIN DINDING GESER TAHAN GEMPA BERDASARKAN SNI BETON TUGAS AKHIR SEBAGAI SALAH SATU SYARAT UNTUK MENYELESAIKAN PENDIDIKAN SARJANA TEKNIK DI PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL oleh

Lebih terperinci

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR SEWAKA DHARMA MENGGUNAKAN SRPMK BERDASARKAN SNI 1726:2012 DAN SNI 2847:2013 ( METODE LRFD )

PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR SEWAKA DHARMA MENGGUNAKAN SRPMK BERDASARKAN SNI 1726:2012 DAN SNI 2847:2013 ( METODE LRFD ) PERENCANAAN STRUKTUR GEDUNG KANTOR SEWAKA DHARMA MENGGUNAKAN SRPMK BERDASARKAN SNI 1726:2012 DAN SNI 2847:2013 ( METODE LRFD ) TUGAS AKHIR (TNR, capital, font 14, bold) Oleh : Sholihin Hidayat 0919151058

Lebih terperinci

Kata kunci : base isolator, perbandingan kinerja, dengan dan tanpa base isolator,

Kata kunci : base isolator, perbandingan kinerja, dengan dan tanpa base isolator, ABSTRAK Upaya mitigasi bencana gempa pada sebuah struktur umumnya masih menggunakan desain yang terjepit pada tanah sehingga pada saat terjadi gempa, percepatan tanah yang terjadi akan langsung memengaruhi

Lebih terperinci

BAB IV PERMODELAN STRUKTUR

BAB IV PERMODELAN STRUKTUR BAB IV PERMODELAN STRUKTUR IV.1 Deskripsi Model Struktur Kasus yang diangkat pada tugas akhir ini adalah mengenai retrofitting struktur bangunan beton bertulang dibawah pengaruh beban gempa kuat. Sebagaimana

Lebih terperinci

DESAIN DINDING GESER TAHAN GEMPA UNTUK GEDUNG BERTINGKAT MENENGAH. Refly. Gusman NRP :

DESAIN DINDING GESER TAHAN GEMPA UNTUK GEDUNG BERTINGKAT MENENGAH. Refly. Gusman NRP : DESAIN DINDING GESER TAHAN GEMPA UNTUK GEDUNG BERTINGKAT MENENGAH Refly. Gusman NRP : 0321052 Pembimbing : Ir. Daud R. Wiyono, M.Sc. Pembimbing Pendamping : Cindrawaty Lesmana, ST., M.Sc.(Eng) FAKULTAS

Lebih terperinci

DAFTAR NOTASI BAB I β adalah faktor yang didefinisikan dalam SNI ps f c adalah kuat tekan beton yang diisyaratkan f y

DAFTAR NOTASI BAB I β adalah faktor yang didefinisikan dalam SNI ps f c adalah kuat tekan beton yang diisyaratkan f y DAFTAR NOTASI BAB I β adalah faktor yang didefinisikan dalam SNI 03-2847-2002 ps. 12.2.7.3 f c adalah kuat tekan beton yang diisyaratkan BAB III A cv A tr b w d d b adalah luas bruto penampang beton yang

Lebih terperinci

BAB III METODE ANALISA STATIK NON LINIER

BAB III METODE ANALISA STATIK NON LINIER BAB III METODE ANALISA STATIK NON LINIER Metode analisa riwayat waktu atau Time History analysis merupakan metode analisa yang paling lengkap dan representatif, akan tetapi metode tersebut terlalu rumit

Lebih terperinci

Kata kunci: Balok, bentang panjang, beton bertulang, baja berlubang, komposit, kombinasi, alternatif, efektif

Kata kunci: Balok, bentang panjang, beton bertulang, baja berlubang, komposit, kombinasi, alternatif, efektif ABSTRAK Ballroom pada Hotel Mantra di Sawangan Bali terbuat dari beton bertulang. Panjang bentang bangunan tersebut 16 meter dengan tinggi balok mencapai 1 m dan tinggi bangunan 5,5 m. Diatas ballroom

Lebih terperinci

PERILAKU DAN KINERJA STRUKTUR RANGKA BAJA DENGAN DINDING PENGISI DAN TANPA DINDING PENGISI

PERILAKU DAN KINERJA STRUKTUR RANGKA BAJA DENGAN DINDING PENGISI DAN TANPA DINDING PENGISI PERILAKU DAN KINERJA STRUKTUR RANGKA BAJA DENGAN DINDING PENGISI DAN TANPA DINDING PENGISI HALAMAN JUDUL (TUGAS AKHIR) Oleh: FIRMAN HADI SUPRAPTO NIM: 1204105043 JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS

Lebih terperinci