Memecah Belenggu Korupsi Sistemik

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "Memecah Belenggu Korupsi Sistemik"

Transkripsi

1 Kerja dalam proses Memecah Belenggu Korupsi Sistemik Menggunakan Teknik Perencanaan Proyek Berorientasi Tujuan untuk Mengkaji Strategistrategi Anti-Korupsi Secara Mendalam Richard Holloway Penasehat Program Anti-KKN Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan di Indonesia Agustus 2002

2 1 DAFTAR ISI Latar Belakang.. 3 Pohon Masalah Korupsi di Indonesia. 7 Pohon Tujuan Pemberantasan Korupsi di Indonesia. 8 Tahap 1: Sektor-sektor Umum. 9 (Pohon Masalah, Pohon Tujuan, Ide-ide Program) Manajemen Sumber Daya Manusia 10 Manajemen Pengeluaran Publik. 13 Manajemen Lingkungan Tata Peraturan 16 Sikap dan Perilaku.. 19 Tahap 2: Sektor-sektor Tata Pemerintahan.. 22 (Pohon Masalah, Pohon Tujuan, Ide-ide Program) Kepegawaian 23 Sektor Peradilan.. 26 Bisnis. 29 Lembaga Legislatif.. 31 Partai Politik. 34 Pemerintah Daerah. 37 Masyarakat Sipil.. 40 Lembaga Audit Publik. 43 Lampiran 1: Strategi Beraras Banyak (Multi Pronged).. 46 Lampiran 2: Akibat-akibat Korupsi pada Indonesia dan pada orang Indonesia 49

3 Memecah Belenggu 2 Korupsi Sistemik Menggunakan Teknik Perencanaan Proyek Berorientasi Tujuan untuk Mengkaji Strategi-strategi Anti-Korupsi Secara Mendalam Latar Belakang Dalam melaksanakan kegiatannya Kemitraan seringkali dihadapkan pada masalah bahwa korupsi di Indonesia telah menyatu dengan sistem (sistemik), bahwa sistem tersebut tampaknya tak dapat ditembus, dan bahwa tampaknya tidak mudah untuk menemukan cara untuk menembus sistem tersebut dan menghancurkannya 1. Banyak usulan strategi anti-korupsi dari pengalaman negara-negara lain, atau teori anti-korupsi, namun tampaknya tak ada yang efektif 2. Penting bagi kita untuk menemukan teknik merancang strategi anti-korupsi yang (a) berdasar pada realitas Indonesia, dan (b) dapat memecahkan belenggu yang seolah tak dapat ditembus dari sistem yang tertutup tersebut. Untuk memberi gambaran akan apa yang saya katakan, ijinkan saya mengambil contoh para pegawai negeri yang mencuri aset Negara untuk dimasukkan ke dalam kantong pribadi mereka sendiri. Pendapatan sangat besar yang diserap para pegawai negeri dari penebangan liar dapat menjadi model sistem yang jungkir-balik tersebut. Jika kita dapat menemukan orang semacam itu, dapat dipastikan bahwa: Perilaku orang tersebut dibiarkan (bahkan mungkin malah dibantu) oleh atasannya yang menerima sebagian dari uang yang didapat. Sangat mungkin pula sang atasan telah membantu terciptanya sistem perilaku yang korup dengan menjual kepada pegawai yang bersangkutan posisi yang kini didudukinya, sehingga (secara implisit) mendorong sang pegawai negeri untuk memulihkan investasi yang telah dikeluarkannya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang korup. Kemungkinan besar beberapa persen dari pendapatan ilegal tersebut juga disalurkan kepada pejabat-pejabat yang lebih senior dalam Departemen orang yang seharusnya menunjukkan komitmen politik untuk menghentikan praktek-praktek korup. Jika seseorang ditemukan telah melakukan korupsi, tidak ada insentif bagi bagian audit internal untuk menanganinya karena mereka seringkali juga mengandalkan pendapatan dari menerima suap untuk mengabaikan kasuskasus semacam itu. Jika pelaku korupsi tersebut diseret ke pengadilan, masyarakat sudah mengetahui bahwa para hakim dapat dibeli oleh penawar tertinggi. Bila masyarakat bergerak dan mengajukan tuntutan-tuntutan melalui DPR, pengalaman memperlihatkan bahwa para anggota DPR juga dapat dibeli, dan bahwa kalangan Eksekutif telah berpengalaman dalam menyepakati 1 Menghancurkan atau menumbangkan (kata Inggris subvert): Robert Klitgaard, guru para aktifis anti-korupsi, belakangan ini telah bergeser dari mengontrol korupsi ke menghancurkan korupsi, menggunakan analogi penghancuran kerajaan-kerajaan kriminal atau mafia. 2 Indonesia dalam hal korupsi diperbandingkan dengan negara-negara bekas Uni Soviet (FSU). Negara-negara tersebut tampaknya juga mengalami korupsi sistemik. Bank Dunia belum lama berselang mengakui bahwa strategi mereka dalam memerangi korupsi di FSU tidak berjalan dengan baik dan perlu diperbaiki.

4 3 pembaruan, tetapi kemudian menunda-nunda dan praktis menetralisir pembaruan semacam itu. Pada saat yang sama retorika anti-korupsi disebarluaskan secara nasional, namun sarana efektif untuk memerangi korupsi tidak disediakan, atau disediakan tetapi tidak diberi dana atau hanya diberi dukungan hukum yang tidak efektif. Akhirnya, hanya ada sedikit sekali lembaga yang tidak dipenuhi praktekpraktek korup, dan sebagai akibatnya hanya ada sedikit model tentang bagaimana lembaga dapat berjalan dengan integritas. Dihadapkan pada situasi semacam ini, apa yang dapat dilakukan para aktifis antikorupsi? Kami beranggapan bahwa jalan untuk memecahkan belenggu ini masih ada namun harus didasarkan pada (a) (b) (c) suatu analisis logis atas realitas korupsi yang kita temukan sehari-hari kemampuan berpikir ke depan melampaui saat ini menuju dunia yang bersih dari korupsi sebagaimana kita kehendaki, dan kemampuan merancang proyek-proyek yang sesuai dengan (a) dan sekaligus mempertimbangkan (b). Teknik yang umum dikenal sebagai Perencanaan Proyek Berorientasi Tujuan memberi kita perangkat untuk melakukan ini. Karya ini masih dalam tahap kerja dalam proses : banyak hal baru akan disumbangkan oleh pihak-pihak lain, dan pembaca yang tertarik diundang untuk turut memberikan sumbangannya. Halamanhalaman berikut menyajikan contoh-contoh untuk bekerja melalui Masalah, Tujuan dan Program-program untuk isu-isu yang termasuk sektor umum dan kemudian sektor lembaga-lembaga tata pemerintahan yang penting. Banyak program yang menawarkan cara-cara mengurangi korupsi mulai dengan model atau contoh-contoh masyarakat atau lembaga-lembaga yang bersih dan mencoba menguraikan dari model-model itu dengan menyesuaikan mereka dengan konteks Indonesia (atau negara lain) 3. Menurut saya ini adalah cara memulai yang keliru. Kita perlu memulai dari masalah-masalah aktual yang disebabkan oleh korupsi di Indonesia, meninjau akibat-akibat yang ditimbulkan oleh masalah-masalah ini, mengkaji apa yang akan terjadi dalam konteks Indonesia dan akhirnya mencoba merancang program-program yang merefleksikan baik masalahmasalah tersebut maupun keadaan di masa depan yang kita inginkan. Ada dua hal yang telah membantu saya dengan proses seperti di atas. Yang pertama adalah serangkaian kegiatan yang didukung Kemitraan dalam beberapa waktu belakangan ini, yang telah mengidentifikasi bagaimana korupsi berlangsung di Indonesia. Hal kedua adalah kerja ADB yang sangat berharga dalam Penilaian Tata Pemerintahan Indonesia 2002 yang ditulis oleh Staffan Synnerstrom dan Owen Podger 4. Kegiatan Kemitraan telah membantu mengklarifikasi cara bagaimana korupsi yang busuk dan meluas berlangsung serta siapa saja pihak-pihak pendukung fanatiknya. Sementara itu kerja ADB telah menyajikan analisis teliti atas struktur-struktur pendukung korupsi yang tidak selalu mudah dipahami. 3 Untuk contoh ini, silahkan melihat model beraras banyak (multi-pronged) yang dipergunakan Bank Dunia di negara-negara bekas Uni Soviet, dalam Lampiran 1. 4 Masih dalam bentuk rancangan.

5 4 Kerja Kemitraan Kemitraan telah menerbitkan 16 esai tentang berbagai aspek dari praktek-praktek korup di Indonesia dalam keempat volume bukunya Mencuri dari Kaum Miskin. Kemitraan juga telah menghasilkan suatu survai persepsi dan pengalaman akan korupsi dari rumah tangga, kalangan bisnis, dan pegawai negeri Indonesia. Lebih lanjut lagi Kemitraan telah melahirkan suatu studi penelitian aksi spesifik atas akibatakibat korupsi terhadap kalangan penghuni daerah kumuh perkotaan yang sangat miskin, dan persepsi mereka tentang korupsi. Kemitraan juga telah membentuk tim penasehat yang kuat dan meminta pandangan mereka atas titik-titik masuk ke dalam isu korupsi yang meluas, dan akhirnya lembaga ini telah mengumpulkan pendapat lebih dari 600 orang dari semua provinsi di Indonesia melalui rangkaian enam lokakarya di tingkat daerah 5, yang selanjutnya melahirkan Suatu Rencana Tindak (Action Plan) untuk Memerangi Korupsi di Indonesia 6 Kerja ADB ADB telah mengkaji faktor-faktor umum dari perilaku korup, khususnya pada Pemerintah Indonesia, dan telah menemukan asal-muasal korupsi pada kegagalan untuk menerapkan standar-standar yang kompeten dalam Manajemen Sumber Daya Manusia, Manajemen Pengeluaran Publik, dan Manajemen Lingkungan Tata Peraturan. ADB kemudian juga memperlihatkan bagaimana keterbatasan pada semua aspek manajemen tersebut telah menimbulkan masalah pada sektor-sektor yang biasanya membentuk tata pemerintahan yang baik dalam sebuah negara, termasuk Indonesia Sektor Peradilan, Kepegawaian, Sektor Bisnis, Lembaga Legislatif, dll. ADB tidak meninjau dengan seksama Sikap-sikap dan Perilaku orang Indonesia norma-norma dan pola hidup harian, dan standar-standar etis yang berlaku maupun tidak berlaku. Oleh karena itu, karya saya melengkapi kerja ADB dengan mengkaji korupsi melalui empat sektor umum: Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen Pengeluaran Publik Manajemen Lingkungan Tata Peraturan Sikap dan Perilaku dan kemudian mengamati bagaimana korupsi berevolusi dari sektor-sektor umum ini ke dalam masalah-masalah spesifik dalam delapan sektor tata pemerintahan yang penting: Kepegawaian Peradilan Bisnis Lembaga legislatif Partai-partai politik Pemerintah Daerah and Desentralisasi Masyarakat Sipil 5 Laporan tentang lokakarya-lokakarya ini tersedia di Kemitraan dalam bahasa Inggris dan Indonesia: Apa yang dapat dilakukan untuk memberantas KKN menurut Indonesia 6 Juga tersedia di Kemitraan

6 Lembaga-lembaga Audit Publik 5 Salah satu alat analisis yang saya lihat sangat berguna adalah pembagian korupsi oleh Bank Dunia menjadi Korupsi State Capture dan Korupsi Administratif. Korupsi State Capture akan tercipta bila orang-orang korup menguasai proses pengaturan dan, dari atas, menciptakan hukum-hukum, kebijakan dan peraturan-peraturan yang secara khusus akan menguntungkan diri mereka sendiri. Korupsi Administratif lahir dari kelicikan dan keserakahan orang dengan cara mendistorsikan hukum-hukum, kebijakan-kebijakan dan peraturan yang berlaku untuk menguntungkan diri mereka sendiri. Buku ini dibagi dalam tiga bagian, dan ditulis sepenuhnya dalam diagram: 1. Sektor-sektor Umum: Pohon Masalah (Sebab, Masalah Utama, Akibat), Pohon Tujuan (Sebab, Tujuan Utama, Hasil), Ide-ide Program (Sasaran, Maksud, Output/Program) 2. Sektor-sektor Tata Pemerintahan: Pohon Masalah (Sebab, Masalah Utama, Akibat), Pohon Tujuan (Sebab, Tujuan Utama, Hasil), Ide-ide Program (Sasaran, Maksud, Output/Program) Ide-ide program berfokus pada seperangkat masalah, dan terinspirasi oleh apa yang mungkin. Pada tahap ini kita menjawab pertanyaan Apa yang mungkin dilakukan tanpa mengulas Bagaimana ini akan dilakukan. Penting diperhatikan bahwa tahap ini juga memberikan asumsi-asumsi yang harus kita buat jika kita berpandangan masih ada kemungkinan untuk mencapai tujuan program-program ini. Bila diteliti secara realistik asumsi-asumsi tersebut wajar-wajar saja, mengingat kompleksitas dan saling keterkaitan dari korupsi di Indonesia Mereka yang tidak asing dengan metodologi akan mengenalnya sebagai GOPP (Goal Oriented Project Planning Perencanaan Proyek Berorientasi Hasil) atau ZOPP (Ziel Orientiert Proyek Planung). Metode ini memberi orang kesempatan untuk memfokuskan diri pada program yang sesuai dengan keunggulan komparatif organisasi mereka dan lebih lanjut menyempurnakan Output dan Input yang perlu. Semoga booklet ini dapat membantu pembaca untuk bergerak mengatasi kesulitankesulitan yang melekat pada korupsi di Indonesia yang begitu kompleks, saling kaitmengkait serta meluas, dan kemudian merumuskan kemungkinan-kemungkinan program yang lebih spesifik, yang lahir dari pengkajian atas masalah-masalah nyata. Akibat-akibat Korupsi pada Indonesia Pada awal booklet saya menyajikan suatu diagram menyeluruh dari situasi korupsi di Indonesia, yang memperlihatkan (dari bawah ke atas) sektor-sektor umum, sektorsektor tata pemerintahan, korupsi state capture dan administratif, masalah utama dan kemudian akibat-akibat. Karena antusiasme untuk memerangi korupsi di Indonesia akan datang dari orang-orang Indonesia yang prihatin dengan akibatakibat korupsi di negara mereka, wajarlah bila kita meninjau lebih dekat akibat-akibat ini, khususnya karena penelitian Kemitraan telah memperlihatkan bahwa sejumlah orang di negara ini tidak terlalu peduli dengan korupsi, dan bahkan memetik

7 6 keuntungan dari korupsi 7. Ini selanjutnya diikuti dengan Pohon Masalah secara keseluruhan di mana kita merumuskan situasi di masa depan yang kita kehendaki. Sumber-sumber Masalah-masalah yang disajikan diidentifikasi dari: Keempat buku Mencuri dari Rakyat yang disunting oleh Yayasan Aksara Survei Korupsi Nasional yang diterbitkan oleh Kemitraan bersama INSIGHT Kaum Miskin Bersuara diterbitkan oleh Kemitraan dan Bank Dunia, Indonesia Penilaian Korupsi Partisipatif oleh Kemitraan dan Bank Dunia di Indonesia Country Governance Assessment Report diterbitkan oleh Bank Pembangunan Asia, Indonesia (masih dalam konsep) Enam Lokakarya regional Anti-KKN yang diselenggarakan Kemitraan Kerja Komite Pengarah Kemitraan untuk Program Anti-KKN Kemitraan 7 Lihat Lampiran 2

8 Akronim dan 7 Singkatan APBD ADB AGO Anti-KKN AusAID BAWASDA BKN BPK BPKP BUMN Bupati CSO Depkeu DPR DPRD FCGI GOI GONGOs GTZ IBRA IrJen KKN LAN LSM non-sipil MENPAN MPR MPs Orde Baru Ormas Pemda SOE TCP3 WB Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Bank Pembangunan Asia Kejaksaan Agung Anti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme Bantuan bilateral Australia Badan Waspada Daerah lembaga audit tingkat Kabupaten Badan Kesejahteran Nasional Badan Pemeriksaan Keuangan Badan Pemeriksaan Keuangan dan Pembangunan Badan Usaha Milik Negara Pimpinan Eksekutif tertinggi di tingkat Kabupaten Civil Society Organisation Organisasi Masyarakat Departemen Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Forum Tata Pemerintahan Perusahaan di Indonesia Pemerintah Indonesia LSM milik pemerintah Bantuan Teknis Pemerintah Jerman BPPN = Badan Penyehatan Perbankan Nasional Inspektorat Jendral lembaga audit internal dalam departemen pemerintah Korupsi, Kolusi dan Nepotisme seruan Reformasi yang diacu oleh Parliamentary Stipulation of 1998 Lembaga Administrasi Negara LSM yang bekerja secara destruktif dan bukan demi pembangunan, misalkan LSM keagamaan yang radikal Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Majelis Perwakilan Rakyat Anggota DPR Periode di bawah pemerintahan Soeharto Organisasi Masyarakat (atau Kemasyarakatan) Pemerintah Daerah State Owned Enterprise = BUMN RUU yang diusulkan DPR untuk mendorong partisipasi publik dalam mendiskusikan RUU-RUU baru World Bank = Bank Dunia

9 Pohon Masalah Korupsi Akibat 8 di Indonesia Modal Finansial - Aset-aset finansial negara telah dicuri - Terus pindahnya asetaset negara ke tangantangan pribadi - Rendahnya pemasukan - Hilangnya investasi luar negeri langsung (DFI) - Informasi keuangan yang tak dapat diandalkan Modal Sosial - Sistem peradilan telah rusak - Lembaga-lembaga negara tidak efektif - Penguasa dahulukan pendapatan pribadi daripada negara - Kurang pemahaman atau kesepakatan tentang praktek tata pemerintahan yang baik - Ketidakpercayaan pada institusiinstitusi publik - Informasi yang tidak dapat diandalkan tentang keadilan dan wewenang dalam organisasi Modal Fisik - Banyak Sumber Daya Alam telah hilang - SDA yang ada alami erosi sehingga tak berkelanjutan - Merosotnya infrastruktur nasional - Konstruksi bermutu rendah karena korupsi standar bangunan - Informasi yang tidak dapat diandalkan Modal Manusia - Kemiskinan meningkat - Orang miskin tak dapat akses pelayanan pemerintah - Keresahan & vigilantisme - Kaum kriminal/preman beraliansi dengan partai politik - Orang tak dapat ambil bagian dalam tata pemerintahan - Penggunaan ketrampilan yang ada tidak efisien - Informasi yang tidak dapat diandalkan tentang kondisi masyarakat Masalah Utama BERLANGSUNGNYA PRAKTEK- PRAKTEK KORUP YANG SISTEMATIK DAN BESAR-BESARAN DI INDONESIA Sebab-Sebab State Capture Aksi-aksi ilegal oleh perusahaan-perusahaan ataupun individu untuk mempengaruhi penyusunan hukum-hukum, kebijakan, peraturanperaturan demi keuntungan mereka Korupsi Administratif Pemberlakuan secara sengaja (baik oleh negara maupun pelaku non-negara) distorsi dalam hukumhukum, kebijakan, peraturan-peraturan yang ada demi keuntungan pribadi Penegakkan Hukum - Keadilan diperdagangkan - Kurang Anggaran - Campur tangan politik - Yurisdiksi Bisnis - Campur tangan politik - Manajemen buruk - Perusahaan-perusahaan besar mempunyai sejarah kebal hukum Partai Politik - Kontribusi tidak dipantau - Memeras uang dari bisnis - Tidak ada kebijakan Audit Publik - Konflik kepentingan di Irjen menghentikan upaya menangkap korupsi - Tidak ada tindak lanjut atas temuan-temuan BPK - BPKP melahirkan konflik kepentingan Kepegawaian - Sistem patronase - Skala gaji yang kacau balau - Kelebihan pegawai - Jual-beli posisi - Dua anggaran Lembaga Legislatif - Anggota DPR menerima suap - Anggota DPR tidak punya kode etik - Anggota DPR tidak mewakili pemilih - Tiada pengawasan Masyarakat Sipil - Campur tangan politik - Modalitas yayasan digunakan dengan lancung - LSM plat merah dan LSM non-sipil Pemerintah Daerah - Mewarisi korupsi dari pemerintah pusat - Golongan Eksekutif menyuap legislatif - Tidak dapat melakukan supervisi terhadap Eksekutif Manajemen Sumber Daya Manusia Kelemahan dalam: Perekrutan Peningkatan karir Staffing Pelatihan Pendelegasian Manajemen Pengeluaran Publik Kelemahan dalam: Anggaran Pembukuan Audit Staffing Supervisi Manajemen Lingkungan Tata Peraturan Kelemahan dalam: Menyusun hukum, kebijakan, peraturanperaturan Mengkomunikasikan hal yang sama Anggaran Supervisi Sikap dan perilaku Kelemahan dalam: Menerima standarstandar etik Bertoleransi terhadap perilaku ilegal Menerima adanya kebal hukum Menjalankan kekuasaan

10 9 Pohon Tujuan Pemberantasan Korupsi di Indonesia Hasil Modal Finansial - Aset-aset finansial negara sebagian besar dapat dikuasai kembali - Diakhirinya perpindahan aset negara ke tangan pribadi - Pendapatan lebih tinggi - Meningkatnya investasi luar negeri langsung (DFI) - Informasi keuangan yang dapat diandalkan. Modal Sosial - Meninggalkan sistem Peradilan yang rusak - Lembaga negara yang efektif - Penguasa memprioritaskan tujuan-tujuan negara di atas pendapatan pribadi - Pemahaman yang jelas dan konsensus tentang praktek tata pemerintahan yang baik - Kepercayaan pada institusi publik - Informasi yang dapat diandalkan tentang keadilan dan kekuasaan dalam organisasi Modal Fisik - Banyak Sumber Daya Alam dipulihkan - Erosi dari SDA yang tersisa dihentikan - Restorasi infrastruktur nasional - Peningkatan kualitas konstruksi - Informasi yang dapat diandalkan Modal Manusia - Kemiskinan berkurang - Kaum miskin mulai akses pelayanan pemerintah - Situasi umum yang lebih damai - Partai politik tidak melibatkan para preman - Masyarakat ikut ambil bagian dalam tata pemerintahan - Ketrampilan yang ada dimanfaatkan dengan efisien - Informasi handal tentang kondisi masyarakat Tujuan Utama JARANG TERJADINYA PRAKTEK- PRAKTEK KORUP DI INDONESIA Sebab-Sebab Tidak ada lagi Korupsi State Capture Penyusunan hukum-hukum, kebijakankebijakan, peraturan-peraturan demi kepentingan pribadi dihindarkan dengan komite-komite pengawas publik Tidak ada lagi Korupsi Administratif Pemantauan publik atas penerapan sengaja dari distorsi-distorsi pada hukum-hukum, kebijakankebijakan, peraturan-peraturan demi keuntungan pribadi Penegakkan Hukum - Keadilan tidak dijual beli - Cukup anggaran - Tiada campur tangan politik - Yurisdiksi yang jelas Bisnis - Tiada campur tangan politik - Manajemen yang baik - Tidak ada perusahaan besar kebal hukum Partai-partai Politik - Kontribusi terpantau - Tidak memeras perusahaan - Kebijakan yang jelas Audit Publik - Irjen mencoba tangkap korupsi - Tindak lanjut dari temuan-temuan BPK - Tiada konflik kepentingan di BPKP Kepegawaian - Manajemen Sumber Daya yang profesional - Gaji dan fasilitas yang transparan - Staffing yang efisien - Perekrutan yang kompetitif - Satu anggaran Lembaga Legislatif - Tidak ada suap - DPR punya Kode Etik - Anggota-anggota DPR mewakili para pemilih - Ada struktur pengawasan yang jelas Masyarakat Sipil - Tiada campur tangan politik - Keterbukaan yang jelas dalam hal identitas hukum - LSM-LSM untuk kepentingan publik - Gerakan LSM Pemerintah Daerah - Pembaruan korupsi dari pemerintah pusat - Kalangan Eksekutif tidak menyuap DPR - DPR dan DPRD melakukan supervisi terhadap Eksekutif Manajemen Sumber Daya Manusia Kekuatan dalam: Perekrutan Peningkatan karir Staffing Pelatihan Pendelegasian Manajemen Pengeluaran Publik Kekuatan dalam: Anggaran Pembukuan Audit Staffing Supervisi Manajemen Lingkungan Tata Peraturan Kekuatan dalam: Membuat hukum-hukum, kebijakan-kebijakan, peraturan-peraturan Mengkomunikasikan yang sama Anggaran Supervisi Sikap dan perilaku Kekuatan dalam: Menerima standarstandar etis Menerapkan perilaku yang legal Menentang kekebalan hukum Menjalankan kekuasaan

11 10 Tahap 1: Pohon Masalah, Pohon Tujuan Pemberantasan Korupsi dan Ide- Ide Program untuk Sektor-sektor Lintas Bidang: Manajemen Sumber Daya Manusia Manajemen Pengeluaran Publik Manajemen Lingkungan Tata Peraturan Sikap dan Perilaku

12 11 Pohon Masalah Sektor Manajemen Sumber Daya Manusia Akibat-akibat Banyak pegawai negeri menghabiskan waktu mereka untuk mencari proyek-proyek yang mendatangkan penghasilan daripada mengerjakan pekerjaan mereka Banyak pegawai negeri tidak kompeten dalam mengerjakan tugas yang dipercayakan kepada mereka Banyak pegawai negeri dipekerjakan dengan tidak produktif Banyak waktu dan talenta pegawai negeri tidak dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya Pemerintah-pemerintah Daerah dibebani dengan jumlah pegawai yang tidak rasional dan yang sebenarnya tidak diminta Para patron (pegawai negeri senior) menguasai hidup para klien (bawahan) dan menyuap mereka agar mendiamkan praktekpraktek korup Masalah Utama BERLANGSUNGNYA PRAKTEK-PRAKTEK KORUP YANG SISTEMATIK DAN BESAR-BESARAN DI INDONESIA Manajemen Sumber Daya Manusia Pegawai negeri yang ada (a) terlalu banyak dan sistem pangkat & golongan tidak berfungsi (b) ada posisi-posisi yang diperjualbelikan (c) training tidak berhubungan dengan fungsi: (d) sistem gaji yang kompleks dan pilih kasih Kemungkinan Pembaruan Internal MENPAN, BKN, LAN belum tertarik pada pembaruan-pembaruan mendasar. Ada terlalu banyak kepentingan yang lebih menginginkan status quo. Kemungkinan Pembaruan Eksternal Banyak donor asing sangat tertarik untuk membantu pembaruan kepegawaian Sebab-Sebab Perekrutan dan pemberian kerja tidak didasarkan atas kesesuaian antara kebutuhan dan ketrampilanketrampilan Prosedur-prosedur perekrutan pegawai baru, mempekerjakan pegawai, promosi, evaluasi yang ada tidak profesional dan mengandung banyak peluang untuk nepotisme Desentralisasi telah memperlihatkan adanya staffing yang tidak merata dan tidak masuk akal Ada sangat banyak pegawai honorer (kontrak) yang digaji sangat rendah dan tidak mempunyai hak sama sekali Gaji terdiri dari gaji pokok dan berbagai tunjangan sebagian besar tergantung patron Sistem kepangkatan dan golongan yang distandarisasi secara berlebihan sehingga menyebabkan alokasi SDM yang tidak rasional Penggajian diambil dari anggaran rutin maupun anggaran pengembangan sehingga seringkali tak berkaitan langsung dengan kinerja Terlalu banyak pelatihan formal yang diarahkan untuk membina kesetiaan, tidak berhubungan dengan tuntutan tugas Hanya ada sedikit pelatihan untuk tugastugas dan peran-peran baru berkaitan dengan reformasi dan desentralisasi Pelatihan yang bersifat etis telah dikalahkan oleh sistem patronase (pimpinan saja deh) Mereka yang dapat posisi dengan membeli harus memeras atau mencuri untuk memulihkan uang yang mereka pakai Perekrutan tenaga baru, posisi-posisi, promosi dan pindah tempat di kalangan pegawai negeri diperjualbelikan oleh staf senior Masuk pegawai negeri perlu membayar suap Sumpah pegawai sering diabaikan

13 12 Pohon Tujuan Pemberantasan Korupsi di Sektor Manajemen Sumber Daya Manusia Hasil-hasil Pegawai negeri (pemerintah) menggunakan waktunya untuk mencoba melayani publik dan melaksanakan pembangunan Para pegawai negeri kompeten dalam melakanakan tugasnya Pegawai negeri turut berkontribusi terhadap pembangunan Pegawai negeri dipekerjakan dengan produktif Distribusi pegawai negeri yang rasional sesuai dengan kebutuhan setiap daerah Pegawai dengan hak-hak finansial dan hukum yang jelas yang tidak berada di bawah kebijaksanaan para pimpinan mereka Tujuan Utama Praktek-praktek korup menjadi langka dalam tata pemerintahan di Indonesia Sebab-sebab Manajemen Sumber Daya Manusia Sistem kepegawaian yang disusun berdasarkan fungsi-fungsi yang dibutuhkan dan diberi penghargaan (gaji) serta susunan staf yang sesuai dengan prinsip-prinsip manajemen Sumber Daya Manusia yang profesional Kemungkinan Pembaruan Internal MENPAN, BKN, LAN tertarik dalam menerapkan langkah-langkah pembaruan Kemungkinan Pembaruan Eksternal Banyak donor asing sangat antusias untuk membantu dalam pembaruan kepegawaian Penunjukkan orang untuk tugas-tugas didasarkan pada kesesuaian antara kebutuhan dan ketrampilan Prosedur-prosedur perekrutan, pemberian pekerjaan, promosi, dan evaluasi ditangani secara profesional dan tanpa nepotisme Kebutuhan staf berkaitan dengan desentralisasi dipertimbangkan dan diformulasikan ulang Pegawai honorer diintegrasikan ke dalam sistem kepegawaian yang formal Komposisi gaji transparan dan jelas, dan dijauhkan dari segala bentuk kebijaksanaan siapapun juga Sistem pangkat dan golongan yang formal, melandasi adanya alokasi sumber daya manusia yang rasional Kinerja dikaitkan dengan jelas pada kerja rutin atau kerja pembangunan, dan gaji dibayarkan sesuai dengan ini Pelatihan formal yang berkaitan dengan tugas yang dibutuhkan untuk meningkatkan produktivitas Diberikan pelatihan kembali untuk tugas dan peran-peran baru pegawai dalam kaitan dengan reformasi dan desentralisasi Diberikan pelatihan etika dan pegawai negeri diwajibkan memegang Kode Etik pegawai Posisi-posisi dalam sistem kepegawaian pemerintah tidak melibatkan investasi keuangan yang kelak harus didapat kembali Seluruh fungsifungsi manajemen sumber daya manusia dikelola dengan profesional dan tanpa suapmenyuap Masuk menjadi pegawai negeri bersifat kompetitif Pegawai negeri mentaati sumpah jabatan mereka

14 13 Strategi-strategi, Ide-ide Program dan Asumsi-asumsi Pembaruan Manajemen Sumber Daya Manusia dalam Rangka Memberantas Korupsi STRATEGI: untuk meningkatkan keprofesionalan pegawai negeri dengan menerapkan prinsip-prinsip dan praktek-praktek manajemen sumber daya manusia (SDM) Tujuan/Hasil/Asumsi Tujuan Indikator Keberhasilan Asumsi-asumsi Sasaran Praktek-praktek korup menjadi langka dalam tata pemerintahan di Indonesia Maksud Untuk menciptakan kepegawaian yang sesuai fungsi-fungsi yang dibutuhkan dan diberi penghargaan serta dilengkapi dengan staf berdasarkan prinsipprinsip SDM Output/Program 1. Pemerintah-pemerintah daerah menegaskan apa dan berapa banyak pegawai negeri yang dibutuhkan dan mewujudkan kuota ini Pegawai negeri yang produktif dan efektif dalam hal pembiayaan serta memiliki semangat kerjay yang tinggi Daerah memiliki pegawai negeri yang terjangkau dari segi pembiayaan dan sesuai kebutuhan mereka Pegawai negeri diberi gaji yang setara dengan pegawai di sektor swasta Indonesia dapat menangani implikasi politik dari pengurangan pegawai negeri dengan baik Tidak ada reaksi politik negatif yang menjadi penghalang 2. Revisi sistem eselon sedemikian rupa sehingga struktur dan posisi mengikuti fungsi dan kebutuhan 3. Pelatihan pegawai negeri diperbarui agar lebih memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakan 4. Pelantikan pegawai negeri secara khusus menyinggung soal korupsi dan kode etik 5. Ujian masuk menjadi pegawai negeri disupervisi untuk menghapus suap-menyuap 6. Jual-beli posisi-posisi pegawai negeri dihentikan Para pegawai negeri bekerja dalam sebuah sistem yang diarahkan untuk menciptakan efisiensi dan produktivitas Semua pegawai negeri mendapat pelatihan yang mereka butuhkan untuk tugas yang harus mereka jalankan Para pegawai negeri benar-benar memahami batas-batas perilaku yang dapat diterima Para pegawai negeri mengetahui bahwa mereka memperoleh pekerjaan secara kompetitif. Negara memperoleh pegawai negeri yang lebih berkualitas Pegawai negeri tidak berhutang budi pada patron ataupun terpaksa melakukan praktekpraktek korup untuk memulihkan kembali investasi mereka Tidak ada reaksi politik negatif yang menjadi penghalang Ada cukup banyak pelatih/ fasilitator untuk pelatihanpelatihan baru tersebut Ada yang bertindak sebagai semacam polisi untuk mengawasi pelanggaran kode etik Ada mekanisme pengawasan yang ditetapkan Tidak ada reaksi politik negatif yang menjadi penghalang

15 14 Pohon Masalah Sektor Manajemen Pengeluaran Publik Akibat-akibat Pendapatan dari luar anggaran yang bersifat tergantung atasan menciptakan sistem patronase Penguasaan BUMN-BUMN secara politis menjadi lebih penting daripada keuntungan atau produktivitas mereka Institusi-institusi publik tidak mau melepaskan pendapatan gelap mereka Sulit untuk mengetahui biasa sesungguhnya dari programprogram Sangat sulit memperoleh pembeli untuk memprivatisasi BUMN Baik lembaga legislatif (pusat/daerah) dan para pejabat Eksekutif berkolusi untuk memperoleh pengh Lembaga legislatif (pusat maupun daerah) tidak terlalu mengetahui dan tidak mampu bertanggung jawab atas keuangan negara Tanpa pemasukan yang lebih besar dari pajak, tidak ada cukup sumber daya untuk menjalankan institusi publik tanpa pendapatan dari luar anggaran BUMN-BUMN menemui kesulitan untuk menjadi badan usaha yang menguntungkan karena dana-dana mereka sering diambil pemerintah Negara hanya memperoleh nilai dan produktivitas yang buruk atas uangnya Masalah Utama BERLANGSUNGNYA PRAKTEK-PRAKTEK KORUP YANG SISTEMATIS DAN BESAR-BESARAN DI INDONESIA Manajemen Pengeluaran Publik Anggaran dan pengeluaran pemerintah RI tidak cukup disupervisi dan ini menyebabkan banyaknya peluang untuk perilaku korup Kemungkinan Pembaruan Internal Sedikit/upaya-upaya pembaruan yang tidak efektif oleh Depkeu & Meneg BUMN Kemungkinan Pembaruan Eksternal Kecil kemungkinan mempengaruhi kecuali menunda bantuan Sebab-sebab DPR/DPRD tidak melihat ataupun menyetujui anggarananggaran yang tidak resmi Pendapatan dari luar anggaran dianggarkan dan dihitung dengan diam-diam Banyak peluang untuk praktekpraktek korup Korupsi sistematik dalam pengadaan barang dan manajemen proyek-proyek publik DPR/DPRD hanya menyetujui anggaran resmi: BPK hanya mengaudit anggaran resmi Pendapatan dari luar anggaran digunakan sebagai tambahan pendapatan pribadi dan menutup kekurangan program Anggaran resmi tidak mencantumkan semua biaya program Kolusi di antara para peserta lelang Tidak ada Komisi Rekening Publik di DPR Kolusi antara Pemda dan DPRD untuk setuju me-mark up anggaran APBD Pendapatan dari luar anggaran tidak diaudit dan dipertanggungjawabkan kepada publik Institusi publik mencari dan menerima pendapatan dari BUMN-BUMN, mengelola bisnis sendiri (legal dan ilegal), dan pemerasan dari publik dan bisnis Tradisi dan praktek umum pembiayaan institusi publik dari sumber-sumber selain Departemen Keuangan Anggaran dengan sengaja dipisahkan ke dalam pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan Mata anggaran tidak berkaitan langsung dengan tujuan-tujuan kinerja Manajemen keuangan yang tersebar di 30,000 rekening Sistem pengontrolan dan manajemen keuangan lemah Kegiatan program yang diproyekkan mengaburkan garis perintah & menciptakan biaya pengelolaan staf yang lebih tinggi Mata anggaran dimark-up untuk menaikkan biaya guna memberikan pendapatan illegal baik bagi DPR/DPRD maupun pegawai negeri Orang tidak mempunyai titik akses untuk memberi komentar atas rancanganrancangan anggaran

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN RENCANA STRATEGIS BADAN PEMERIKSA KEUANGAN 2006-2010 Sambutan Ketua BPK Pengelolaan keuangan negara merupakan suatu kegiatan yang akan mempengaruhi peningkatan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat dan bangsa

Lebih terperinci

Kebijakan Integritas Bisnis

Kebijakan Integritas Bisnis Kebijakan Integritas Bisnis Pendahuluan Integritas dan akuntabilitas merupakan nilainilai inti bagi Anglo American. Memperoleh dan terus mengutamakan kepercayaan adalah hal mendasar bagi kesuksesan bisnis

Lebih terperinci

B. Maksud dan Tujuan Maksud

B. Maksud dan Tujuan Maksud RINGKASAN EKSEKUTIF STUDI IDENTIFIKASI PERMASALAHAN OTONOMI DAERAH DAN PENANGANANNYA DI KOTA BANDUNG (Kantor Litbang dengan Pusat Kajian dan Diklat Aparatur I LAN-RI ) Tahun 2002 A. Latar belakang Hakekat

Lebih terperinci

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas

Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Tahap Konsultasi untuk Mekanisme Akuntabilitas Mendengarkan Masyarakat yang Terkena Dampak Proyek-Proyek Bantuan ADB Apa yang dimaksud dengan Mekanisme Akuntabilitas ADB? Pada bulan Mei 2003, Asian Development

Lebih terperinci

Kode Etik. .1 "Yang Harus Dilakukan"

Kode Etik. .1 Yang Harus Dilakukan Kode Etik Kode Etik Dokumen ini berisi "Kode Etik" yang harus dipatuhi oleh para Direktur, Auditor, Manajer, karyawan Pirelli Group, serta secara umum siapa saja yang bekerja di Italia dan di luar negeri

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PEMERINTAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR PERATURAN DAERAH KABUPATEN KEPULAUAN SELAYAR NOMOR 12 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI KEPULAUAN

Lebih terperinci

UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN

UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN UU 28 Tahun 1999 : Pelembagaan Peran Serta Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan bebas KKN Oleh : Slamet Luwihono U ERGULIRNYA arus reformasi di Indonesia telah menghadirkan harapan

Lebih terperinci

ECD Watch. Panduan OECD. untuk Perusahaan Multi Nasional. alat Bantu untuk pelaksanaan Bisnis yang Bertanggung Jawab

ECD Watch. Panduan OECD. untuk Perusahaan Multi Nasional. alat Bantu untuk pelaksanaan Bisnis yang Bertanggung Jawab ECD Watch Panduan OECD untuk Perusahaan Multi Nasional alat Bantu untuk pelaksanaan Bisnis yang Bertanggung Jawab Tentang Panduan OECD untuk perusahaan Multi nasional Panduan OECD untuk Perusahaan Multi

Lebih terperinci

Kebijakan Anti Korupsi di Seluruh Dunia

Kebijakan Anti Korupsi di Seluruh Dunia Kebijakan Anti Korupsi di Seluruh Dunia I. TUJUAN Undang-undang sebagian besar negara di dunia menetapkan bahwa membayar atau menawarkan pembayaran atau bahkan menerima suap, kickback atau pun bentuk pembayaran

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, LAMPIRAN II: Draft VIII Tgl.17-02-2005 Tgl.25-1-2005 RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PELAYANAN PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 S T U D I K A S U S Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 F R A N C I S I A S S E S E D A TIDAK ADA RINTANGAN HUKUM FORMAL YANG MENGHALANGI PEREMPUAN untuk ambil bagian dalam

Lebih terperinci

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting

b. bahwa Badan Usaha Milik Negara mempunyai peranan penting UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2003 TENTANG BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Badan Usaha Milik Negara merupakan

Lebih terperinci

Trio Hukum dan Lembaga Peradilan

Trio Hukum dan Lembaga Peradilan Trio Hukum dan Lembaga Peradilan Oleh : Drs. M. Amin, SH., MH Telah diterbitkan di Waspada tgl 20 Desember 2010 Dengan terpilihnya Trio Penegak Hukum Indonesia, yakni Bustro Muqaddas (58), sebagai Ketua

Lebih terperinci

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 28 TAHUN 1999 TENTANG PENYELENGGARAAN NEGARA YANG BERSIH DAN BEBAS DARI KORUPSI, KOLUSI, DAN NEPOTISME DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA Presiden Republik Indonesia

Lebih terperinci

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI

BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI BAB 13 REVITALISASI PROSES DESENTRALISASI DAN OTONOMI DAERAH Kebijakan desentralisasi dan otonomi daerah sesuai dengan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-undang Nomor

Lebih terperinci

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia MIGRANT WORKERS ACCESS TO JUSTICE SERIES Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia RINGKASAN EKSEKUTIF Bassina Farbenblum l Eleanor Taylor-Nicholson l Sarah Paoletti Akses

Lebih terperinci

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI Kebijakan Kepatuhan Global Desember 2012 Freeport-McMoRan Copper & Gold PENDAHULUAN Tujuan Tujuan dari Kebijakan Anti-Korupsi ( Kebijakan ) ini adalah untuk membantu memastikan kepatuhan oleh Freeport-McMoRan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 5 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN TATA USAHA NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR... TAHUN... TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR : 790 TAHUN : 2009 PERATURAN DAERAH KABUPATEN SERANG NOMOR 10 TAHUN 2009 TENTANG TATA CARA PENYELESAIAN TUNTUTAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 27 TAHUN 2009 TENTANG MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT, DEWAN PERWAKILAN DAERAH, DAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi

Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi Prototipe Media Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Pendidikan dan Budaya Anti Korupsi Prakata SALAM SEHAT TANPA KORUPSI, Korupsi merupakan perbuatan mengambil sesuatu yang sebenarnya bukan haknya,

Lebih terperinci

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN

PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN PERATURAN DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 01/17/PDK/XII/2012 TENTANG KODE ETIK OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN, Menimbang:

Lebih terperinci

STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA

STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA STANDAR AKADEMIK UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA I. VISI, MISI, DAN TUJUAN UNIVERSITAS A. VISI 1. Visi harus merupakan cita-cita bersama yang dapat memberikan inspirasi, motivasi, dan kekuatan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA www.bpkp.go.id PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG KOMISI KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK PERATURAN PEMERINTAH NOMOR 61 TAHUN 2010 TENTANG PELAKSANAAN UNDANG-UNDANG NOMOR 14 TAHUN 2008 TENTANG KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN

KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN KOMISI XI PILIH AGUS JOKO PRAMONO SEBAGAI ANGGOTA BADAN PEMERIKSA KEUANGAN metrotvnews.com Komisi XI DPR i akhirnya memilih Agus Joko Pramono sebagai Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ii Pengganti

Lebih terperinci

SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de

SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR. www.kas.de SYARAT-SYARAT KEBERHASILAN TATANAN SOSIAL GLOBAL DAN EKONOMI BERORIENTASI PASAR www.kas.de DAFTAR ISI 3 MUKADIMAH 3 KAIDAH- KAIDAH POKOK 1. Kerangka hukum...3 2. Kepemilikan properti dan lapangan kerja...3

Lebih terperinci

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM

PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM 01/01/2014 PIAGAM UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN BAGI PARA SUPPLIER DAN KONTRAKTOR ALSTOM PENDAHULUAN Pembangunan berkelanjutan adalah bagian penggerak bagi strategi Alstom. Ini berarti bahwa Alstom sungguhsungguh

Lebih terperinci

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, SALINAN UNDANG UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2014 TENTANG ADMINISTRASI PEMERINTAHAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha

Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha Tujuan dan Aplikasi Pedoman Perilaku Bisnis menyatakan, CEVA berkomitmen untuk usaha bebas dan persaingan yang sehat. Sebagai perusahaan rantai pasokan global,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49 TAHUN 2009 TENTANG PERUBAHAN KEDUA ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 2 TAHUN 1986 TENTANG PERADILAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK

Lebih terperinci

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN a. Pada akhir Repelita V tahun 1994, 36% dari penduduk perkotaan Indonesia yang berjumlah 67 juta, jiwa atau 24 juta jiwa, telah mendapatkan sambungan air

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2001 TENTANG PEMBINAAN DAN PENGAWASAN ATAS PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Pemerintahan Daerah

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini akan di bahas mengenai latar belakang masalah, rumusan

BAB I PENDAHULUAN. Pada bab ini akan di bahas mengenai latar belakang masalah, rumusan BAB I PENDAHULUAN Pada bab ini akan di bahas mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, motivasi penelitian, batasan penelitan dan sistematika penelitian.

Lebih terperinci

PEMERINGKATAN (RATING) LPZ DI INDONESIA

PEMERINGKATAN (RATING) LPZ DI INDONESIA PEMERINGKATAN (RATING) LPZ DI INDONESIA Oleh Hertanto Widodo Sumber: BUKU KRITIK & OTOKRITIK LSM: Membongkar Kejujuran dan Keterbukaan Lembaga Swadaya Masyarakat Indonesia (Hamid Abidin & Mimin Rukmini)

Lebih terperinci

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS

KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS KEBIJAKAN ANTI PENCUCIAN UANG FXPRIMUS PERNYATAAN DAN PRINSIP KEBIJAKAN Sesuai dengan Undang-undang Intelijen Keuangan dan Anti Pencucian Uang 2002 (FIAMLA 2002), Undang-undang Pencegahan Korupsi 2002

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2002 TENTANG KOMISI PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA KORUPSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN

BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN HUMBANG HASUNDUTAN NOMOR 6 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA TUNTUTAN GANTI KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI HUMBANG HASUNDUTAN,

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 1999 TENTANG PERS DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: a. bahwa kemerdekaan pers merupakan salah satu wujud kedaulatan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9 TAHUN 2009 TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk mewujudkan fungsi dan tujuan

Lebih terperinci

Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Kinerja Pendidikan: Survei Kualitas Tata Kelola Pendidikan pada 50 Pemerintah Daerah di Indonesia

Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Kinerja Pendidikan: Survei Kualitas Tata Kelola Pendidikan pada 50 Pemerintah Daerah di Indonesia Tata Kelola Pemerintahan Daerah dan Kinerja Pendidikan: Survei Kualitas Tata Kelola Pendidikan pada 50 Pemerintah Daerah di Indonesia Wilayah Asia Timur dan Pasifik Pengembangan Manusia Membangun Landasan

Lebih terperinci

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012

PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 PRISAI (Prinsip, Kriteria, Indikator, Safeguards Indonesia) Mei 2012 Apa saja prasyaarat agar REDD bisa berjalan Salah satu syarat utama adalah safeguards atau kerangka pengaman Apa itu Safeguards Safeguards

Lebih terperinci

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN DAERAH PROVINSI KALIMANTAN BARAT NOMOR : 9 TAHUN 2011 TENTANG PENYELESAIAN KERUGIAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR KALIMANTAN BARAT, Menimbang : a. bahwa kekayaan daerah adalah

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA

KEPUTUSAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA KEPUTUSAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA Nomor : KEP-117/M-MBU/2002 TENTANG PENERAPAN PRAKTEK GOOD CORPORATE GOVERNANCE PADA BADAN USAHA MILIK NEGARA (BUMN) MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA, Menimbang

Lebih terperinci

MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI. Komisi Pemberantasan Korupsi

MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI. Komisi Pemberantasan Korupsi MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI BUKU PANDUAN UNTUK MEMAHAMI TINDAK PIDANA KORUPSI KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI REPUBLIK INDONESIA MEMAHAMI UNTUK MEMBASMI Penyusun Desain Sampul & Tata Letak Isi MPRCons Indonesia

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA

PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA PERATURAN MENTERI NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: PER/220/M.PAN/7/2008 TENTANG JABATAN FUNGSIONAL AUDITOR DAN ANGKA KREDITNYA KEMENTERIAN NEGARA PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

Program "Integritas Premium" Program Kepatuhan Antikorupsi

Program Integritas Premium Program Kepatuhan Antikorupsi Program "Integritas Premium" Program Kepatuhan Antikorupsi Tanggal publikasi: Oktober 2013 Daftar Isi Indeks 1 Pendekatan Pirelli untuk memerangi korupsi...4 2 Konteks regulasi...6 3 Program "Integritas

Lebih terperinci

Dikutip dan disarikan dari Buku Panduan Mencegah Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa Publik, TII, 2006

Dikutip dan disarikan dari Buku Panduan Mencegah Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa Publik, TII, 2006 Peluang Korupsi dalam Proses Pengadaan Barang dan Jasa Dikutip dan disarikan dari Buku Panduan Mencegah Korupsi dalam Pengadaan Barang dan Jasa Publik, TII, 2006 Jumlah pengadaan barang dan jasa di lembaga

Lebih terperinci

Nota Kesepahaman. antara. Pemerintah Republik Indonesia. dan. Gerakan Aceh Merdeka

Nota Kesepahaman. antara. Pemerintah Republik Indonesia. dan. Gerakan Aceh Merdeka Nota Kesepahaman antara Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka Pemerintah Republik Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menegaskan komitmen mereka untuk penyelesaian konflik Aceh secara

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 13 TAHUN 2006 TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa salah satu alat

Lebih terperinci

Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Transparansi dan Akuntabilitas di Industri Migas dan Pertambangan: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Pengalaman dari

Lebih terperinci

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati

Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Prinsip Tempat Kerja yang Saling Menghormati Pernyataan Prinsip: Setiap orang berhak mendapatkan perlakuan hormat di tempat kerja 3M. Dihormati berarti diperlakukan secara jujur dan profesional dengan

Lebih terperinci

PEMERINTAH KABUPATEN BATANG HARI

PEMERINTAH KABUPATEN BATANG HARI - 1 - SALINAN PEMERINTAH KABUPATEN BATANG HARI PERATURAN DAERAH KABUPATEN BATANG HARI NOMOR 5 TAHUN 2013 TENTANG BADAN KERJASAMA ANTAR DESA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BATANG HARI, Menimbang

Lebih terperinci

MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA

MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI BADAN USAHA MILIK NEGARA NOMOR : PER - 01/1VIBU/01/2015 TENTANG PEDOMAN PENANGANAN BENTURAN KEPENTINGAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN BADAN USAHA MILIK NEGARA DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Perubahan ini telah memberikan alat kepada publik untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan ekonomi. Kemampuan untuk mengambil keuntungan dari

Perubahan ini telah memberikan alat kepada publik untuk berpartisipasi dalam pembuatan keputusan ekonomi. Kemampuan untuk mengambil keuntungan dari PENGANTAR Sebagai salah satu institusi pembangunan publik yang terbesar di dunia, Kelompok (KBD/World Bank Group/WBG) memiliki dampak besar terhadap kehidupan dan penghidupan jutaan orang di negara-negara

Lebih terperinci

Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi

Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi Pedoman Penerapan Pengecualian Informasi 1. Prinsip- prinsip Kerangka Kerja Hukum dan Gambaran Umum Hak akan informasi dikenal sebagai hak asasi manusia yang mendasar, baik di dalam hukum internasional

Lebih terperinci

Bagian 1: Darimana Anda memulai?

Bagian 1: Darimana Anda memulai? Bagian 1: Darimana Anda memulai? Bagian 1: Darimana Anda memulai? Apakah Anda manajer perusahaan atau staf produksi yang menginginkan perbaikan efisiensi energi? Atau apakah Anda suatu organisasi diluar

Lebih terperinci

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang

RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang RINGKASAN PERBAIKAN PERMOHONAN KEDUA Perkara Nomor 79/PUU-XII/2014 Tugas dan Wewenang DPD Sebagai Pembentuk Undang-Undang I. PEMOHON Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dalam hal ini diwakili oleh Irman Gurman,

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA NOMOR : 12 TAHUN 2006 TENTANG

LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA NOMOR : 12 TAHUN 2006 TENTANG LEMBARAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA NOMOR : 12 TAHUN 2006 TENTANG PERUBAHAN ATAS PERATURAN DAERAH KABUPATEN TOJO UNA-UNA NOMOR 44 TAHUN 2005 TENTANG KEDUDUKAN

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT ADAT

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT ADAT RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG PENGAKUAN DAN PERLINDUNGAN MASYARAKAT ADAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa Negara mengakui

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang Mengingat : a. bahwa untuk mewujudkan perekonomian

Lebih terperinci

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02

ASESMEN MANDIRI. SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 No. Urut 05 ASESMEN MANDIRI SKEMA SERTIFIKASI : Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat ( FPM ) FORM APL-02 Lembaga Sertifikasi Profesi Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat 2013 Nomor Registrasi Pendaftaran

Lebih terperinci

PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR DALAM RANGKA REFORMASI BIROKRASI BIRO KEPEGAWAIAN

PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR DALAM RANGKA REFORMASI BIROKRASI BIRO KEPEGAWAIAN PENATAAN SISTEM MANAJEMEN SDM APARATUR DALAM RANGKA REFORMASI BIROKRASI BIRO KEPEGAWAIAN SEKRETARIAT JENDERAL KEMENTERIAN KESEHATAN OKTOBER 2012 1. Krisis ekonomi Tahun 1997 berkembang menjadi krisis multidimensi.

Lebih terperinci

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014

Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 Panggilan untuk Usulan Badan Pelaksana Nasional Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat dan Masyarakat Lokal Indonesia November 2014 A) Latar Belakang Mekanisme Hibah Khusus untuk Masyarakat Adat

Lebih terperinci

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional

Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional Bahan Diskusi Sessi Kedua Implementasi Konvensi Hak Sipil Politik dalam Hukum Nasional Oleh Agung Putri Seminar Sehari Perlindungan HAM Melalui Hukum Pidana Hotel Nikko Jakarta, 5 Desember 2007 Implementasi

Lebih terperinci

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER

PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER PERNYATAAN KEBIJAKAN HAK ASASI MANUSIA UNILEVER Kami meyakini bahwa bisnis hanya dapat berkembang dalam masyarakat yang melindungi dan menghormati hak asasi manusia. Kami sadar bahwa bisnis memiliki tanggung

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 20 TAHUN 2008 TENTANG TATA CARA PEMBERHENTIAN DENGAN HORMAT, PEMBERHENTIAN TIDAK DENGAN HORMAT, DAN PEMBERHENTIAN SEMENTARA, SERTA HAK JABATAN FUNGSIONAL JAKSA

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2011 TENTANG PENYELENGGARA PEMILIHAN UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemilihan umum

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR : 20 TAHUN 2004 TENTANG RENCANA KERJA PEMERINTAH PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa penyelenggaraan pemerintahan dilaksanakan untuk mencapai

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1999 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN NEGARA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1999 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN NEGARA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 68 TAHUN 1999 TENTANG TATA CARA PELAKSANAAN PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN NEGARA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA Menimbang: Mengingat: Bahwa untuk

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2014 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi

K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi K150 Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 1 K 150 - Konvensi mengenai Administrasi Ketenagakerjaan: Peranan, Fungsi dan Organisasi 2 Pengantar Organisasi Perburuhan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2011 TENTANG PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 22 TAHUN 2004 TENTANG KOMISI YUDISIAL DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, www.bpkp.go.id UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2006 TENTANG BADAN PEMERIKSA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa keuangan negara merupakan

Lebih terperinci

FAKTOR PENILAIAN: PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS

FAKTOR PENILAIAN: PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARIS II. PELAKSANAAN TUGAS DAN TANGGUNG JAWAB DEWAN KOMISARISIS Tujuan Untuk menilai: kecukupan jumlah, komposisi, integritas dan kompetensi anggota Dewan

Lebih terperinci

BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN

BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN BAB 14 PENCIPTAAN TATA PEMERINTAHAN YANG BERSIH DAN BERWIBAWA Salah satu agenda pembangunan nasional adalah menciptakan tata pemerintahan yang bersih, dan berwibawa. Agenda tersebut merupakan upaya untuk

Lebih terperinci

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih

Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pemulihan kerugian Daerah agar dapat berjalan lebih RANCANGAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PENAJAM PASER UTARA NOMOR TAHUN 2013 TENTANG TUNTUTAN PERBENDAHARAAN DAN TUNTUTAN GANTI RUGI KEUANGAN DAN BARANG DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI PENAJAM

Lebih terperinci

KOMUNIKE. Konferensi Tingkat Tinggi G(irls) 20 Toronto, Kanada 15-18 Juni 2010

KOMUNIKE. Konferensi Tingkat Tinggi G(irls) 20 Toronto, Kanada 15-18 Juni 2010 KOMUNIKE Konferensi Tingkat Tinggi G(irls) 20 Toronto, Kanada 15-18 Juni 2010 Pembukaan Kami, 21 orang Delegasi Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G(girls) 20, menyadari bahwa anak perempuan dan perempuan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012

PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 PERATURAN MENTERI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF REPUBLIK INDONESIA NOMOR : PM.07/HK.001/MPEK/2012 TENTANG ORGANISASI DAN TATA KERJA KEMENTERIAN PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF KEMENTERIAN PARIWISATA DAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 2010 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN PERATURAN DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH TENTANG TATA TERTIB DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku

Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku April 1, 2013 Pedoman Etika Usaha dan Tata Perilaku Sulzer 1/12 Sulzer berkomitmen dan mewajibkan para karyawannya untuk menjalankan kegiatan bisnisnya berdasarkan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2008 TENTANG SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2008 TENTANG SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 60 TAHUN 2008 TENTANG SISTEM PENGENDALIAN INTERN PEMERINTAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG UTUSAN KHUSUS PRESIDEN, STAF KHUSUS PRESIDEN, DAN STAF KHUSUS WAKIL PRESIDEN

PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG UTUSAN KHUSUS PRESIDEN, STAF KHUSUS PRESIDEN, DAN STAF KHUSUS WAKIL PRESIDEN PERATURAN PRESIDEN NOMOR 17 TAHUN 2012 TENTANG UTUSAN KHUSUS PRESIDEN, STAF KHUSUS PRESIDEN, DAN STAF KHUSUS WAKIL PRESIDEN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN, Menimbang: a bahwa harapan rakyat

Lebih terperinci

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA

K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA K29 KERJA PAKSA ATAU WAJIB KERJA 1 K 29 - Kerja Paksa atau Wajib Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012

Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012 Latihan: UJI KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH 2012 I. Pilihlah jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (X) huruf A, B, C, atau D pada lembar jawaban! 1. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 2 TAHUN 2003 TENTANG PERATURAN DISIPLIN ANGGOTA KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 32 TAHUN 2004 TENTANG PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan

Lebih terperinci

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI)

KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA. Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) KOVENAN INTERNASIONAL HAK-HAK EKONOMI, SOSIAL DAN BUDAYA Ditetapkan oleh Resolusi Majelis Umum 2200 A (XXI) tertanggal 16 Desember 1966, dan terbuka untuk penandatangan, ratifikasi, dan aksesi MUKADIMAH

Lebih terperinci

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG PERATURAN DAERAH KABUPATEN BADUNG NOMOR 6 TAHUN 2013 TENTANG TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA BUPATI BADUNG, Menimbang : a. bahwa pembangunan ekonomi yang

Lebih terperinci

PERAN BAWASLU Oleh: Nasrullah

PERAN BAWASLU Oleh: Nasrullah PERAN BAWASLU Oleh: Nasrullah Seminar Nasional: Pendidikan Politik Bagi Pemilih Pemula Sukseskan Pemilu 2014. Pusat Study Gender dan Anak (PSGA) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. BAWASLU Menurut UU No.

Lebih terperinci

Peraturan Lembaga Manajemen Kelembagaan dan Organisasi. Peraturan LeIP Tentang Manajemen Kelembagaan dan Organisasi

Peraturan Lembaga Manajemen Kelembagaan dan Organisasi. Peraturan LeIP Tentang Manajemen Kelembagaan dan Organisasi Peraturan Tentang 1. Ruang Lingkup Pengaturan Peraturan ini disusun untuk memberikan panduan kepada Dewan Pengurus dan pegawai tentang susunan, tugas, fungsi dan pengaturan lainnya yang berkaitan dengan

Lebih terperinci

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, RANCANGAN UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR TAHUN TENTANG BADAN HUKUM PENDIDIKAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa untuk mewujudkan fungsi dan tujuan

Lebih terperinci