BUKU PEGANGAN PERENCANAAN PROYEK PARTISIPATIF Bagian 2

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "BUKU PEGANGAN PERENCANAAN PROYEK PARTISIPATIF Bagian 2"

Transkripsi

1 BUKU PEGANGAN PERENCANAAN PROYEK PARTISIPATIF Bagian 2 Instruksi praktis untuk organisasi serikat pekerja/ serikat buruh terkait identifikasi dan perumusan proyek Panduan Nordic-Dutch Trade Union Centres FNV, LOFTF, LOTCO, LO Norway, SASK

2 Daftar Isi Bagian 2 IV Identifikasi proyek 4.1 Pengantar 4.2 Sejarah latar belakang dan pengalaman sebelumnya 4.3 Analisa partisipasi 4.4 Analisa masalah 4.5 Analisa gender 4.6 Analisa tujuan 4.7 Identifikasi kelompok target 4.8 Analisa strategi V Perumusan proyek 5.1 Matriks Perencanaan Proyek 5.2 Input, Anggaran, rencana kerja dan jadwal waktu 5.3 Monitoring dan evaluasi Lampiran Pertanyaan Pengarah 2

3 IV Identifikasi Proyek 4.1 Pengantar Bagian kedua dari Buku Pegangan tentang perencanaan proyek partisipatif dapat digunakan dengan sendirinya dan didesain untuk mendukung perencanaan proyek organisasi-organisasi serikat pekerja/ serikat buruh dengan cara yang sangat runtun dan terstruktur. Ini adalah bagian dari panduan gabungan untuk kerjasama proyek internasional yang dipromosikan oleh pusat-pusat serikat pekerja Nordic-Belanda. Bagian kedua menjelaskan prosedur untuk perencanaan proyek yang partisipatif bersama dengan instruksi yang praktis. Ini fokus pada Pendekatan kerangka Kerja Logis (LFA) sebagai alat untuk merencanakan, monitoring dan evaluasi, karena ini memungkinkan untuk mendesain proyek dengan cara yang sistematis dan logis. Perhatian khusus dalam manual ini diberikan untuk mengintegrasikan pendekatan partisipatif dan analisa gender dalam desain proyek. Bab IV menyediakan instruksi untuk analisa-analisa dalam fase identifikasi proyek. Berdasarkan pada analisa-analisa ini garis besar rencana proyek dibuat. Bab V konsentrasi para pendesainan proyek dengan lebih rinci, yakni tahap perumusan proyek. Dalam lampiran daftar pertanyaan pengarah diberikan untuk memudahkan implementasi dari prosedur perencanaan. Dalam implementasi prosedur perencanaan yang disajikan penting bahwasannya untuk mengingat pengingat-pengingat berikut: Proses dari perencanaan proyek menurut Pendekatan Kerangka Kerja Logis terdiri dari sejumlah elemen utama yang secara luas berinteraksi satu sama lain. Setiap dari mereka harus dipertimbangkan secara seksama sebelum sebuah proyek diimplementasikan. Pengaturannya, dimana elemen perencanaan yang berbeda disajikan, membantu menjaga alur dari aspek yang berbeda dari proses perencanaan. Meskipun demikian proses perencanaan jauh dari linier karena tergantung pada apa yang dikehendaki oleh urutan elemen perencanaan. Ini terdiri dari proses belajar dialektika yakni bersifat siklus dan berubah karena waktu. Pada prakteknya, proses perencanaan melibatkan peralihan ke belakang, ke depan dan ke samping antara elemen perencanaan yang berbeda. Pada titik yang berbeda dalam proses perencanaan mungkin menjadi jelas, bahwa anda akan harus berbelok ke titik yang sebelumnya untuk menggabungkan pemikiran-pemikiran dan fakta-fakta baru yang tidak diketahui sebelumnya. Melakukan hal tersebut akan memperbaiki desain proyek. Banyak dari elemen perencanaan melibatkan analisa masalah yang ingin anda tangani setiap waktu dari sudut yang berbeda, di dalam pendekatan, dalam jangka panjang ini akan terbukti sebagai investasi dalam kualitas dari proyek anda dan oleh sebab itu akan memberikan ganjarannya nanti. 3

4 Meskipun prosedur perencanaan menyediakan sebuah format standar, ini dapat diaplikasikan dengan cara yang lebih atau kurang elaboratif tergantung dari besaran masalah yang ditangani. Ini dimaksudkan untuk difungsikan sebagai kompas; yang merupakan alat untuk membantu menemukan jalan dalam rangka mengatasi isu-isu serikat pekerja/ serikat buruh agar lebih sukses. Arahan umum perlu diikuti, tetapi ada fleksibilitas di dalam cara untuk dapat tiba di tempat tujuan. Cara terbaik untuk membiasakan diri anda dengan LFA adalah dengan melakukannya dalam praktik di bawah arahan seorang professional yang lebih berpengalaman. Dengan begitu maka buku pegangan ini akan menjadi materi rujukan yang signifikan. Dalam setiap paragraf dari bab ini, instruksi utama untuk mengisi bagian yang saling terkait dari Form Aplikasi dirangkum dalam sebuah kotak. Antara tanda kurung anda akan menemukan angkanya, yang cocok dengan bagian dari Form Aplikasi yang akan diisi. Setiap elemen proses perencanaan telah diberi nomor dengan maksud untuk memudahkan pengisian Form Aplikasi. Harap dicatat, bahwa melalui buku pegangan ini istilah proyek digunakan untuk mengartikan semua jenis kegiatan serikat pekerja/ serikat buruh, termasuk proyek, program, penelitian, dsb. 4.2 Sejarah latar belakang dan pengalaman sebelumnya Menganalisa sejarah latar belakang dari situasi problematis dan pengalaman-pengalaman sebelumnya dengan penyelesaian masalah akan memberikan informasi yang berguna untuk proses perencanaan. Partisipasi dari berbagai pihak terkait (atau perwakilannya) adalah sangat penting sekali pada tahap ini. Latar belakang dan pengalaman-pengalaman (1) Mendiskusikan subyek-subyek yang memungkinkan dan kemudian memutuskan,apa yang akan menjadi subyek workshop Mendiskusikan situasi pasar kerja dan serikat pekerja/ buruh di negara terkait Memberikan perhatian khusus kepada daerah atau wilayah dimana masalah yang ditangani oleh proyek anda terjadi Mendiskusikan pengalaman sebelumnya yang relevan, yang telah dipunyai di daerah atau wilayah ini Meringkas informasi tentang sejarah latar belakang dan pengalaman sebelumnya Memasukkan di dalam ringkasan ini Form Aplikasi 4A Dalam mendiskusikan sejarah latar belakang dan pengalaman sebelumnya banyak informasi akan mengemuka. Konsentrasi pada judul utama dan hanya gambaran apa yang benar-benar relevan untuk permasalahan tersebut. Misalnya, adalah penting untuk mengindikasikan apakah bentuk-bentuk proyek sebagai bagian dari sebuah program yang lebih besar atau sebagai kelanjutan dari intervensi sebelumnya. Contoh: sektor transportasi secara historis didominasi oleh lembaga pemerintah dan menjelaskan asal dari serikat pekerja/ buruh yang terlibat. Analisa sejarah memperjelas bahwa pemerintah 4

5 telah menindas serikat pekerja/buruh dan telah menghalangi mereka untuk mewakili kepentingan para anggota mereka dengan efektif. 4.3 Analisa partisipasi Analisa partisipasi bertujuan untuk mendapatkan sebuah gambaran yang jelas tentang pihak-pihak yang terkait dengan situasi permasalahan dan peran mereka dalam merealisasikan perbaikan-perbaikan. Juga, peran mereka dalam merencanakan kebutuhan-kebutuhan proyek sampai mapan dan keterlibatan mereka harus diorganisir. Dalam mengidentifikasi pihak-pihak yang terkait anda perlu mempertimbangkan kelompok, individu atau organisasi mana saja yang dapat mempengaruhi atau dipengaruhi oleh masalah-masalah yang anda ingin tangani dengan proyek anda, baik positif ataupun negatif. Analisa membantu anda untuk mengidentifikasi masalahmasalah dan prioritas-prioritas harus harus dilaksanakan untuk analisa yang lebih mendalam. Analisa partisipasi (2) Mengidentifikasi semua pihak yang terlibat dengan menuliskan semua pihak yang terkena dampak dengan masalah yang anda ingin tangani Buat kategori mereka berdasarkan kriteria tertentu atau pentingnya Diskusikan siapa saja yang memiliki kepentingan dan pandangan yang harus diberikan prioritas, dengan mempertimbangkan aspek gender. Ringkas informasi yang didapat dalam format analisa partisipasi sebagaimana diperlihatkan di tabel di bawah dengan pertanyaan pengarah. Masukkan format yang sudah dilengkapi dalam Form Aplikasi: 4A Contoh: di sektor serikat pekerja transportasi berbagai pihak yang terlibat adalah: - Lembaga pemerintah, perusahaan transportasi pemerintah, pemerintah sebagai pembuat aturan, dan sebagai pembuat kebijakan - Perusahaan bus swasta - Berbagai kategori karyawan dari perusahaan transportasi: o pegawai pemerintah o karyawan sektor swasta o karyawan laki-laki o karyawan perempuan o karyawan menurut posisi mereka dalam organisasi (sopir bus, sekretaris, personil kebersihan, dsb) o karyawan yang merupakan anggota serikat o karyawan yang bukan anggota 5

6 4.4 Analisa masalah Dalam analisa masalah situasi yang ada dianalisa dengan dasar informasi yang tersedia: contoh: masalah-masalah utama yang diidentifikasi dan hubungan tidak resmi diantara mereka. Sebuah alat yang berguna dalam analisa masalah adalah metode pohon masalah. Sebuah contoh dari pohon masalah diberikan di bawah. Analisa masalah (3) Mengidentifikasi masalah-masalah utama yang ada bukan masalah yang mungkin, yang dibayangkan atau yang ada di masa depan Pilih sebuah masalah sentral dan identifikasi sebab (penyebab) dan akibatnya Visualisasi masalah ini, sebab dan akibatnya di dalam pohon masalah sebagaimana dijelaskan (atau gunakan metode lain untuk analisa masalah) Rangkum informasi yang didapat dari analisa masalah yang menyatakan masalah sentral, penyebab (sebab) dan efek (akibat) yang mengikutinya. Masukkan ringkasan narasi analisa masalah di dalam Form Aplikasi: 4A Pengembangan dari sebuah pohon masalah adalah metode yang memperlihatkan hubungan sebab dan akibat antara masalah yang diidentifikasi. Kartu-kartu digunakan untuk menuliskan masalah sentralnya, sebab dan akibatnya dan visualisasikan relasi antar mereka: POHON MASALAH SITUASI SERIKAT PEKERJA TRANSPORTASI Tidak ada jaminan sosial Upah rendah Kondisi kerja buruk Tidak ada tunjangan tenaga kerja akibat Serikat Pekerja Transportasi kekurangan daya tawar Perpecahan Gerakan Serikat Pekerja Transportasi Internal organisasi serikat pekerja transportasi lemah sebab Tidak ada kerja sama antar berbagai SP Tingkat pengorganisiran rendah Kekurangan kepemimpinan kuat SP kurang kapasitas mengorganisir diri SP sibuk selamatkan diri dari tekanan pemerintah Kesadaran berserikat rendah Kepemimpinan SP transportasi tidak efektif Kepemimpinan menua Struktur organisasi SP lemah staf serikat pekerja kurang skill & knowledge 6

7 Metode pohon masalah melibatkan langkah-langkah berikut: Tuliskan masalah di atas kartu dan tempatkan di tengah Identifikasi sebab yang substansial dan langsung dari masalah serta tempat mereka yang sesuai di bawahnya. Identifikasi akibat substansial dan langsung dari masalah serta tempatkan mereka yang sesuai di garis di atasnya. Identifikasi lebih banyak sebab dan akibat sejalan dengan prinsip yang sama untuk membentuk pohon masalah. Kaji kembali pohon masalah, verifikasi keabsahan dan kelengkapannya, dan buat penyesuaian yang perlu. Analisa masalah dapat disimpulkan ketika peserta yakin bahwa semua informasi yang esensial telah dimasukkan dalam pohon masalah. Dalam membuat sebuah pohon masalah saran-saran berikut akan membantu: Periksa subyek atau area masalah dan batasi diskusi hanya pada isu yang akan ditangani di dalam proyek, hindari diskusi yang melenceng. Memastikan informasi dari dan tentang semua stakeholder dimasukkan dalam analisa masalah, juga termasuk mereka yang tidak berpartisipasi secara langsung. Upayakan untuk mencapai kesepakatan yang tidak ngambang tentang pohon masalah di antara para peserta Cakupan, untuk memilah apa yang dapat dan tidak dapat ditangani dalam sebuah proyek Membuat catatan tentang cara analisa masalah dan proses perencanaan berlangsung (kapan, dengan stakeholder yang mana, metode apa yang digunakan, dsb.) 4.5 Analisa gender roles rights problems responsibilities necessities Analisa gender fokus pada peran, hak dan tanggung jawab, masalah dan kebutuhan perempuan dan laki-laki, dan antar-relasi mereka yang dinamis. Tujuan dari analisa gender adalah untuk menyediakan solusi dan mekanisme, yang bermanfaat bagi perempuan dan laki-laki dan kebutuhan mereka. Proyek-proyek serikat pekerja/ serikat buruh dapat dibedakan menjadi tiga kategori menurut jenis dari isu gender yang mereka ingin tangani: - ketidaksetaraan gender di tempat kerja/ tenaga kerja: - ketidaksetaraan gender di serikat pekerja/ serikat buruh: - Ketidaksetaraan gender dan sebagaimana terkait dengan isu yang lebih luas: Tentu saja, dimensi gender sudah dilihat dalam analisa partisipasi dan analisa masalah dengan menanyakan pertanyaan tentang peran-peran spesifik dan kontribusi perempuan dan laki-laki. Meskipun demikian, ini akan terbukti produktif untuk melakukan analisa terpisah tentang gender, karena di dalam diskusi umum dimensi gender sangat mudah terabaikan karena ini bukan topik yang mudah untuk didiskusikan. Analisa gender membantu untuk mendiskusikan isu-isu yang yang dibahas dari sudut pandang berbeda dari laki-laki dan perempuan yang memiliki masalah, kepentingan dan kebutuhan. 7

8 Analisa Gender (4) Identifikasi peran, hak dan tanggung jawab, masalah dan kebutuhankebutuhan perempuan dan laki-laki yang terlibat dalam persoalan yang akan diatasi, sebab dan akibatnya Menggabungkan informasi ini ke dalam pohon masalah dan membuat penyesuaian dimana perlu Merangkum gender utama dan memasukkan rangkuman ini dalam Form Aplikasi: 4A Contoh: Melihat ke belakang pada pohon masalah yang disajikan. Masih ada pertanyaanpertanyaan gender yang harus diklarifikasi, seperti misalnya: apakah perempuan diperbolehkan mengambil posisi kepemimpinan? Jika tidak, mengapa begitu? Dan apa yang dapat dilakukan melalui hal-hal praktis untuk menghapus penghalang-penghalang tersebut, contoh dalam hal pelatihan atau dalam hal kriteria seleksi? Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini berimplikasi pada rangkuman beberapa bagian dari pohon masalah, misalnya dengan spesifikasi-spesifikasi berikut: Skill & pengetahuan yang rendah pada tingkat staf serikat Tambahkan kartu: Partisipasi yang rendah dari staf serikat pekerja/ buruh dalam pelatihan Pemimpin yang menua Tingkat Sebab Kesadaran serikat yang rendah Tingkat unionisasi yang rendah Tingkat Akibat Upah rendah Tambahkan Sesuaikan teks: Sesuaikan teks: kartu: pemimpin Kesadaran Tingkat perempuan serikat pekerja unionisasi yang informal tidak yang rendah, rendah, diakui sebagai khususnya khususnya di pemimpin formal pekerja antara pekerja yang berpotensi perempuan perempuan Sesuaikan teks: upah rendah, khususnya bagi pekerja perempuan Dalam praktik di dalam pohon masalah perubahan-perubahan karena analisa ini dimungkinkan terjadi. Murni hanya terkait penyajian contoh dari pohon masalah diberikan di dalam buku pegangan ini dibuat tersaji di awal. 8

9 4.6 Analisa tujuan Maksud dari analisa tujuan adalah untuk mengungkapkan kontribusi proyek untuk apa: situasi masa depan yang diinginkan. Dalam analisa tujuan yang disajikan di bawah, pohon masalah ditransformasikan ke dalam pohon tujuan dan dianalisa. Analisa tujuan (5) Merumuskan kembali semua elemen dalam pohon masalah ke dalam pernyataanpernyataan positif yang menggambarkan kondisi-kondisi yang diinginkan Menggunakan pernyataan-pernyataan positif untuk membuat pohon tujuan Pastikan pohon tujuan dilengkapi dan bualaht penyesuaian dimana perlu. Berikan ringkasan dari situasi yang diinginkan dihasilkan dari pohon-pohon tujuan Masukkan ringkasan dalam Form Aplikasi: 4A POHON MASALAH DARI KONDISI SERIKAT PEKERJA TRANSPORTASI Jaminan sosial membaik Upah naik Kondisi kerja baik Tunjangan tenaga kerja bertambah Serikat Pekerja Transportasi punya daya tawar kuat akibat Gerakan Serikat Pekerja Transportasi terkonsolidasi Internal organisasi serikat pekerja transportasi kuat sebab Berbagai serikat pekerja transportasi bekerja sama Banyak pekerja menjadi anggota serikat pekerja Kepemimpinan yang kuat SP memiliki kapasitas mengorganisir diri SP setuju akan pentingnya untuk kerja sama Kesadaran berserikat meningkat Kepemimpinan SP transportasi efektif Generasi baru pemimpin terbentuk Struktur organisasi SP membaik staf serikat pekerja memiliki skill & knowledge Penafsiran masing-masing atas permasalahan yang didefinisikan sebelumnya ke dalam situasi memungkinkan terwujudnya tujuan. Sebuah peringkat tujuan akan berkembang, sama seperti hirarki sebab yang menuntun pada masalah. Secara umum tingkatantingkatan berbeda dapat diidentifikasi secara bervariasi sesuai cakupan dan detil. 9

10 Kategori masalah: Jika sebab A, memiliki akibat B JIka posisi tawar serikat pekerja dalam sektor transportasi lemah, maka akibatnya ganda: fasilitas jaminan sosial yang sedikit, upah rendah, kondisi kerja yang buruk dan tidak ada tunjangan tenaga kerja Kategori tujuan: Alat X untuk mencapai akhir Y Posisi tawar yang kuat dari serikat-serikat pekerja dalam sektor transportasi akan menuntun pada situasi dari perbaikan jaminan sosial, upah lebih baik, kondisi kerja yang aman dan adanya tunjangan tenaga kerja Saran untuk membuat pohon tujuan: Bekerja dari arah atas ke bawah, semua masalah dirangkum ke dalam tujuan (pernyataan positif) Memeriksa apakah hirarki masih konsisten dan logis, dengan kata lain: bahwa memenuhi tujuan di satu level (tingkatan) sudah cukup untuk meraih tujuan di level (tingkatan) berikutnya. Bekerja dari arah bawah ke atas, memastikan bahwa hubungan sebab-akibat telah menjadi alat/cara- relasi akhir. Tambahkan tujuantujuan baru dimana perlu. Revisi pernyataan. Tuliskan tujuan pengganti, jika pertanyaan tidak masuk akal, setelah dirangkum dari masalah-masalah, atau tinggalkan kartu yang berisi masalah tidak berubah posisi (tetap di tempatnya) Tarik garis untuk mengindikasikan alat/cara- relasi akhir dalam pohon tujuan. Setiap hubungan sebab-akibat tidak secara otomatis menjadi alat/cara- relasi akhir. Ini tergantung pada kata-katanya. Situasi yang diinginkan yang diupayakan dalam jangka panjang akan dihasilkan dari pernyataan-pernyatan yang divisualisasikan di atas pohon tujuan Tujuan tertentu mungkin terlihat tidak realistis, terlalu ambisius atau tidak memungkinkan dalam konteks serikat pekerja/ serikat buruh. Meskipun demikian, di tahap ini perencanaan semua cara yang mungkin masih dipertimbangkan untuk mencapai situasi di masa depan yang diinginkan. Penyeleksian intervensi-intervensi yang mungkin dilakukan kemudian pada proses perencanaan (analisa strategi). 4.7 Identifikasi kelompok target Segera setelah situasi yang diinginkan di masa depan diidentifikasi, adalah mungkin untuk mengidentifikasi orang dan organisasi yang berbeda akan mendapatkan manfaat darinya. Identifikasi eksplisit dari kelompok target akan memastikan bahwa hasil-hasil yang berasal dari proyek akan disampaikan kepada penerima yang dimaksud. Lebih spesifiknya, adalah perlu untuk menentukan, siapa yang akan mendapatkan manfaat langsung dari proyek dan siapa yang akan mendapatkan manfaat secara tidak langsung. Identifikasi kelompok target (6) Didapatkan dari pohon tujuan, analisa partisipasi dan analisa gender kelompok, lembaga atau individu tersebut akan mendapatkan manfaat secara langsung dan/atau tidak langsung dari situasi masa depan yang 10

11 diinginkan Mengidentifikasi kriteria untuk menyeleksi kelompok target yang akan mendapatkan manfaat dari intervensi proyek (baik secara langsung dan/ataupun tidak langsung) Membuat sebuah keputusan kelompok mana yang akan ditargetkan (penerima manfaat langsung dan tidak langsung) Memberikan deskripsi baik kualitatif maupun kuantitatif dari kelompok target terseleksi menggunakan penamaan dan kriteria seleksi yang sensitif gender Memasukkan diskripsi ini ke dalam Form Aplikasi: 4A Contoh: Dalam kasus yang disajikan di analisa sebelumnya, staf serikat pekerja dapat diidentifikasi sebagai kelompok target yang penting dan dalam kelompok target ini perempuan dapat ditargetkan secara eksplisit untuk mendapatkan manfaat dari proyek. Sebagai penerima manfaat tidak langsung adalah semua anggota serikat pekerja transportasi dapat dimasukkan. 4.8 Analisa strategi Maksud dari analisi strategi adalah untuk menyeleksi arah tindakan terbaik yang digunakan untuk meraih tujuan, mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan dan identitas anda sebagai eksekutor proyek. Setelah mengidentifikasi serangkaian strategi alternatif, kelayakannya diukur. Dari strategi (atau terkadang strategi-strategi) yang paling menjanjikan dan tepat ini diseleksi dan disepakati sepagai strategi proyek. Ini dilakukan dengan dasar pengklasteran, yang sederhananya berarti pengelompokan Analisa strategi (7) Menggunakan pohon tujuan untuk mengidentifikasi kelompok tujuan yang berbeda yang berkontribusi pada tujuan yang lebih tinggi (klastering/ pengelompokan) Mendiskusikan strategi yang berbeda yang dihasilkan dari kegiatan klastering/pengelompokan Membuat keputusan pada strategi untuk intervensi proyek, oleh sebab itu memilih jangkauan (scope) proyek. Jelaskan strategi yang dipilih termasuk kriteria utama untuk pemilihannya Masukkan penjelasan ini dalam Form Aplikasi: 4A 11

12 Klaster 1: kerjasama dan keanggotaan Klaster 2: formasi kepemimpinan Klaster 3: Perbaikan struktur organisasi Klaster-klaster ini menuntun kita pada definisi dari strategi. Saran untuk klastering: Dianggap sebagai klaster (kelompok) yakni tujuan-tujuan yang memiliki sifat yang sama, misalnya kesamaan berdasarkan kemiripan tindakan masa depan yang mungkin, wilayah atau keahlian yang dibutuhkan. Konsentrasi pada klaster (kelompok) yang memiliki pandangan dan nilai praktis yang sama Klaster seharusnya tidak didefinisikan terlalu luas atau terlalu sempit Keluarkan tujuan yang tidak realistis dan prioritaskan tujuan-tujuan yang seharusnya dimasukkan. Saran terkait memilih dan mendefinisikan strategi: mengatasi semua sebab mungkin tidak dilakukan dalam jangkauan (scope) serikat pekerja/ serikat buruh. Fokus pada sebab-sebab yang secara masuk akal anda dapat tangani. Meskipun demikian, jangan abaikan sebab-sebab yang tidak ditangani ini di dalam proyek. Sebab-sebab itu dapat menimbulkan risiko pada kelayakan rencana anda. Pikirkan jika ada aktor-aktor lain hadir siapa yang akan melakukan sebuah strategi. Pendekatan yang paling realistis adalah membuat asumsi satu strategi (maksimal dua) di dalam proyek. 12

13 V Perumusan Proyek Fase perumusan proyek terkonsentrasi pada pendesainan proyek dengan lebih rinci dan menentukan logika intervensi. Dalam bab ini penggunaan apa yang disebut dengan kriteria SMART direkomendasikan untuk menghindari perumusan istilah-istilah yang masih samar. SMART kependekan dari: Spesifik Memungkinkan utk diukur Akseptabel (dapat diterima) Realistis Terikat waktu : merujuk pada satu area kompetensi terbatas yang jelas : memungkinkan pengukuran progres : dapat diterima di lingkungan yang terlibat : apa yang diraih harus dengan cara yang realistis dengan mempertimbangkan asumsi dan prakondisi : merujuk pada batasan waktu pemenuhan 5.1 Matriks Perencanaan Proyek Dalam paragraf ini, Matriks Perencanaan Proyek atau logframe digunakan untuk merangkum desain proyek. Dalam melengkapi matriks perencanaan proyek berguna untuk diingat bahwa : - Struktur yang disajikan ditawarkan untuk menjaga alur pada saat perencaan proses dan harus digunakan dan ditafsirkan dengan tepat; - Dalam praktek, banyak perpindahan antar elemen akan terjadi. Ini berarti bahwa pertama anda bekerja ke arah bawah dari matriks, memulai dengan perumusan intervensi melalui tujuan dan berakhir dengan kegiatan-kegiatan. Setelah itu anda merumuskan ke arah atas mulai pada level (tingkatan) hasil- dengan rumusan dari asumsi. Dengan merumuskan asumsi anda mungkin harus menyesuaikan perumusan tujuan dan hasil. Hal yang sama berlaku setiap anda memulai mendefinisikan indikator. Matriks Perencanaan Proyek Tujuan pengembangan Manfaat apa yang kita harapkan dari proyek di tingkat masyarakat? Indikatorindikator 1 Sumber Verifikasi Asumsi-asumsi Tujuan proyek Bagaimana kelompok target mendapatkan manfaat dari hasil-hasil proyek? Indikatorindikator Sumber Verifikasi Asumsi-asumsi Hasil yang diharapkan Apa yang dibawakan oleh proyek dalam hal barang dan/atau jasa? Indikatorindikator Sumber Verifikasi Asumsi-asumsi Kegiatan Tugas-tugas kongkrit apa yang dilakukan oleh proyek? Input Biaya Asumsi-asumsi 1 Meskipun perumusan indikator di level tujuan pengembangan diinginkan, hal ini sering terbukti menjadi kegiatan yang kompleks. 13

14 - Nomor antara tanda kurung di dalam setiap kotak menunjukkan instruksi untuk mengisi bagian yang sesuai dari Form Aplikasi; - Informasi yang dibutuhkan dapat diperoleh dengan metode lain selain dari yang disajikan dalam manual ini. Tujuan pengembangan Tujuan pengembangan adalah tujuan level tinggi dimana intervensi proyek akan berkontribusi. Ini menentukan, apa yang harus dikontribusikan proyek di level masyarakat pada jangka panjang mis. Setelah proyek selesai. Tujuan pengembangan tidak dapat diraih oleh proyek sendiri, intervensi lain oleh aktor-aktor lain juga akan menuntun pada realisasinya. Tujuan pengembangan (8) Didapatkan dari tujuan pengembangan dari pohon tujuan, lihat perumusan SMART dan sensitif gender, serta buat penyesuaian jika perlu Menggabungkan tujuan pengembangan menurut Intervensi Proyek 4B dalam Form Aplikasi * (* atau menggunakan matriks perencanaan proyek di lampiran) Untuk pembuatan contoh-contoh kami telah memiliki dua strategi berikut: 1. Formasi kepemimpinan dan 2. Perbaikan struktur organisasi untuk meraih organisasi internal yang kuat dari serikat pekerja transportasi. Contoh dari tujuan pengembangan: Kontribusi untuk penentuan upah yang lebih baik, jaminan sosial yang lebih baik, kondisi kerja yang aman dan lebih banyak tunjangan tenaga kerja bagi pekerja transportasi di Thailand. Tujuan proyek Tujuan proyek merujuk pada akibat-akibat, yang diharapkan proyek untuk dibuat bagi penerima manfaat yang dimaksudkan. Secara persis dinyatakan sebagai sebuah kondisi masa depan oleh sebab itu menentukan apa yang akan dicapai di akhir proyek. Ini seharusnya merupakan manfaat yang gamblang (jelas) yang mengungkapkan bagaimana para penerima manfaat tersebut menggunakan hasil-hasil proyek. Harus ada kans yang cukup bahwasannya tujuan-tujuan ini akan direalisasikan oleh intervensi proyek. Hanya satu tujuan proyek dibuat untuk mencegah intervensi proyek menjadi terlalu kompleks dan terlalu sulit dikelola. Alih-alih satu intervensi memasukkan dua tujuan proyek, lebih disukai untuk merencanakan intervensi secara terpisah (paralel dan saling terkait). 14

15 Tujuan proyek (9) Didapat dari satu tujuan proyek dari pohon tujuan, rumuskan dengan SMART dan dengan mempertimbangkan sensitifitas gender, buat penyesuaian bila perlu Gabungkan tujuan proyek di bawah Intervensi Proyek 4B dalam Form Aplikasi Periksa jika logika intervensi masih utuh. Buat penyesuaian jika perlu. Contoh tujuan proyek: Meningkatkan posisi tawar dari serikat pekerja transportasi di 6 wilayah di Thailand, dengan membangun organisasi yang kuat secara internal. Hasil yang diharapkan 0 Hasil yang diharapkan adalah output yang harus dijamin oleh proyek. Output ini menjelaskan hasil aktual yang diharapkan untuk diraih proyek setelah kegiatan-kegiatan proyek selesai. Pengelolaan proyek diharapkan dapat meraih dan menjaga kelangsungan hasil-hasil ini selama masa berlangsung proyek. Dampak gabungan dari hasil yang diharapkan harus cukup untuk meraih tujuan-tujuan proyek. Catat bahwasannya, sementara pengelolaan proyek harus menjamin hasil-hasil yang diharapkan, tujuan proyek berada di luar kendali langsung dari hasil-hasil tersebut. Hasil yang diharapkan (10) Menyeleksi dari pohon tujuan pernyataan-pernyataan setelah alat/cara logika akhir menuntun pada tujuan proyek dan menerjemahkannya menjadi hasil-hasil Menambahkan hasil-hasil tambahan yang perlu untuk merealisasikan tujuan proyek. Menggabungkan hasil-hasil yang dirumuskan dengan sensitifitas gender dan SMART menurut Intervensi Proyek 4B dalam Form Aplikasi Periksa jika logika intervensi masih utuh. Buat penyesuaian jika perlu. Contoh dari hasil yang diharapkan yang berkontribusi pada tujuan proyek: Hasil 1: Formasi kepemimpinan. Sebuah generasi baru dari pemimpin yang kapabel dan inovatif, yang menyertakan perempuan, memenuhi sejumlah besar posisi kepemimpinan dalam serikat pekerja transportasi yang diberikan bantuan. Hasil 2: Kapasitas organisasi. Anggota-anggota dan staf serikat pekerja kunci telah menerima pelatihan professional dalam skill (ketrampilan) organisasi dan mengimplementasikan sebuah struktur organisasi baru yang disetujui. Kegiatan-kegiatan Perlu untuk mengidentifikasi kerja-kerja, investigasi-investigasi dan tugas-tugas yang dilaksanakan oleh staf proyek dan pihak lain yang dilibatkan di dalam proyek. Sebuah kegiatan adalah aksi (tindakan), yang diperlukan untuk mentransformasikan input-input yang diberikan ke hasil-hasil yang diharapkan dalam sebuah periode waktu yang dinyatakan. 15

16 Kegiatan-kegiatan yang disertakan dalam desain proyek harus berorientasi target: tugastugas yang tidak diarahkan untuk memproduksi satu dari hasil-hasil yang diharapkan harus dibuat daftarnya (misalnya tugas-tugas rutin administrasi). Juga pada tahapan desain proyek ini penting untuk menjaga gagasan elemen-elemen utama dari proyek pada tingkat pembuatan keputusan guna menghindari perencanaan rinci (ini adalah sebuah kegiatan terpisah). Kegiatan Menyeleksi dari pernyataan-pernyataan pohon tujuan yang setelah alat logika akhir- menuntun kepada hasil dan menerjemahkannya ke dalam kegiatan-kegiatan. Menambah kegiatan-kegiatan yang perlu untuk merealisasikan tujuan proyek Periksa jika logika intervensi masih utuh. Buat penyesuaian jika perlu. Ringkasan dari kegiatan dimasukkan dalam Form Aplikasi yang dikaitkan dengan hasil-hasil yang diharapkan (10). Ini juga harus digunakan sebagai dasar untuk input yang dikehendaki (15) dan rencana kerja (17) Contoh kegiatan-kegiatan: Di Hasil 1. Formasi kepemimpinan 1.1 Pelatihan pimpinan serikat yang sekarang dalam skill (ketrampilan) kepemimpinan yang efektif 1.2 Formasi dari staf dan calon pemimpin dalam skill kepemimpinan Di hasil 2. Kapasitas organisasi 2.1 Perbaikan dan perubahan struktur organisasi 2.2 Pelatihan staf serikat pekerja dalam skill (ketrampilan) organisasi dan pengetahuan Asumsi dan prakondisi Kolom keempat dari Matriks Perencanaan Proyek memasukkan asumsi dan prakondisi. Ini adalah di luar kendali intervensi langsung, tetapi vital bagi tercapainya implementasi proyek yang sukses. Asumsi dan prakondisi adalah faktor-faktor eksternal, yang menjadi tanggung jawab intervensi proyek, meskipun keduanya berpengaruh terhadap tingkat realisasi penting tertentu dari tujuan pengembangan, tujuan proyek dan hasil-hasil yang diharapkan. Perhatian khusus harus diberikan pada penggabungan langkah-langkah tambahan, asumsi pembunuh (yang mematikan) dan prakondisi-prakondisi. Asumsi dan prakondisi Mengidentifikasi asumsi dan prakondisi dengan menganalisa pohon masalah dari arah bawah dan terus ke atas, dari level (tingkatan) hasil hingga level tujuan. Juga periksa tujuan-tujuan yang tidak dimasukkan dalam desain proyek. Buat kata untuk asumsi dan prakondisi sebagai kondisi-kondisi positif Jelaskan asumsi dan prakondisi secara detail sehingga mereka dapat dimonitor. Masukkan penjelasan di level (tingkatan) mereka di bawah Intervensi Proyek 4B di Form Aplikasi Periksa jika logika intervensi masih utuh. Buat penyesuaian jika perlu. 16

17 Contoh asumsi: Pada level tujuan proyek: - Diasumsikan bahwa sinyal-sinyal positif di dalam lembaga pemerintah menyediakan justifikasi yang cukup untuk membuka negosiasi Di hasil level 1: - Diasumsikan bahwa pemimpin yang sekarang dan orang-orang kunci lainnya di dalam organisasi serikat pekerja tersebut memiliki sikap yang positif terhadap perempuan dalam posisi-posisi kepemimpinan Di hasil level (tingkatn) 1 dan 2: - Diasumsikan bahwa serikat pekerja mempertahankan niatnya untuk tetap bersatu, tidak dimanipulasi (yang menjadi sebab) perpecahan dan mempertahankan motivasi menjadi anggota (asumsi ini berasal dari klaster kerjasama dan keanggotaan ). Indikator pencapaian Setelah logika intervensi dan asumsi yang sesuai di level yang berbeda telah didefinisikan, kita berlanjut dengan mengelaborasi indikator-indikator pencapaian. Indikator-indikator ini dapat dipertimbangkan sebagai pernyataan-pernyataan yang membuatnya mungkin untuk memverifikasi tingkat pencapaian proyek, kelayakannya dan kesinambungan tujuan proyek, tujuan proyek dan hasil yang diharapkan. Mereka juga menyediakan langkah-langkah untuk monitoring selama implementasi proyek. Oleh sebab itu, pernyataan-pernyataan yang demikian harus sepersis mungkin; pernyataan-pernyataan tersebut sering bersifat kuantitatif; tetapi juga dapat diungkapkan dalam istilah-istilah kualitatif. Ini butuh dikenali, meskipun perumusan indikator di level tujuan pengembangan diinginkan, sering terbukti sebagai kegiatan yang kompleks. Kebanyakan blunder waktu dari kegiatan ini dapat dianggap tanpa konsekwensi struktural untuk desain proyek. Indikator pencapaian (11) Merumuskan langkah-langkah yang perlu untuk mengindikasikan bagaimana implementasi proyek akan dimonitor di level yang berbeda dari logika intervensi. Pada saat merumuskan indikator-indikator adalah perlu untuk memastikan bahwa mereka dirumuskan dengan cara yang sebisa mungkin mempertimbangkan sensitifitas gender dan SMART. Memverifikasi, jika tujuan pengembangan, tujuan proyek dan hasil yang diharapkan masih layak dan berkesinambungan Menggabungkan indikator-indikator di level mereka di bawah Intervensi Proyek 4B di Form Aplikasi. Periksa jika logika intervensi masih utuh. Buat penyesuaian jika perlu. Contoh dari indikator pencapaian untuk hasil formasi kepemimpinan1: 17

18 Kuantitatif: - Pada 2005, 30% dari para pemimpin perempuan yang kapabel dan inovatif. - Pada 2005, para pemimpin kapabel dan inovatif baru yang terbentuk telah memenuhi 75% posisi-posisi kepemimpinan dalam serikat pekerja transportasi yang diberikan bantuan. - Para pemimpin yang memiliki tanggung jawab telah memenuhi 80% dari pelatihanpelatihan yang dibutuhkan menurut garis besar panduan kepemimpinan yang kapabel dan inovatif - 30% anggota dari komite seleksi adalah perempuan. - Pasal-pasal dari serikat pekerja menyatakan jangka waktu periode pemenuhan posisi kepemimpinan dengan maksimal 4 tahun. Kualitatif: - Garis besar panduan spesifik untuk kepemimpinan yang kapabel dan inovatif dimasukkan dalam kebijakan resmi organisasi serikat pekerja dan mengindikasikan prosedur-prosedur untuk kepemimpinan dan posisi-posisi kunci lainnya. - Kelompok pemimpin potensial dibentuk dan diperbarui setiap enam bulan, terdiri dari mereka yang berasal dari staf dan anggota serikat pekerja yang telah memperlihatkan kompetensi kapabilitas dan inovatif dalam kepemimpinan (in)formal - Semua anggota dari pemimpin yang potensial dilibatkan paling tidak dalam dua pelatihan skill kepemimpinan dan manajemen & organisasi. - Prosedur seleksi untuk kepemimpinan dan posisi-posisi kunci lainnya dan secara aktif mempromosikan untuk pemilihan perempuan. - Setiap bulan, pemimpin-pemimpin dalam posisi-posisi kunci melaporkan pada pertemuan-pertemuan yang mereka ikut serta di tingkat pemerintah. Sumber-sumber verifikasi Sumber-sumber verifikasi menyatakan bagaimana atau dimana informasi dapat ditemukan untuk memverifikasi realisasi dari tujuan pengembangan, tujuan proyek dan hasil-hasil yang diharapkan. Sumber-sumber verifikasi yang memungkinkan adalah dokumen-dokumen, data registrasi keanggotaan, nota pertemuan-pertemuan, reglementasi, laporan-laporan dan sumber-sumber lain yang menyediakan informasi dan mengijinkan kesimpulan terkait progress actual terhadap tujuan dan hasil. Sumber-sumber verifikasi (12) Mengidentifikasi sumber-sumber verifikasi untuk indikator-indikator pada level tujuan pengembangan, tujuan proyek dan hasil-hasil yang diharapkan Memasukkan sumber-sumber verifikasi di bawah Intervensi Proyek 4B di Form Aplikasi Periksa jika logika intervensi masih utuh. Buat penyesuaian jika perlu. Contoh sumber-sumber verifikasi untuk Hasil 1: - Laporan-laporan evaluasi dari kursus-kursus pelatihan kepemimpinan 18

19 - Anggota dewan penyeleksi pemimpin serikat pekerja untuk posisi-posisi pemimpin serikat pekerja - Catatan internal reunion (penggabungan kembali serikat pekerja) yang menyatakan laporan-laporan tertulis tentang reunion (penggabungan kembali serikat pekerja) yang dihadiri pemerintah. - Pasal-pasal serikat pekerja: durasi posisi kepemimpinan Pemeriksaan kesinambungan Tujuan dari pemeriksaan kesinambungan adalah untuk memastikan perawatan atau peningkatan perubahan-perubahan positif yang dihasilkan oleh proyek setelah proyek dihentikan. Kesinambungan adalah satu permasalahan yang harus diangkat banyak kali selama perencanaan. Karena pentingnya dalam memutuskan logika intervensi, ini berguna untuk memberikan perhatian yang eksplisit terkait permasalahan kesinambungan di fase proses perencanaan Periksa kesinambungan (13) Periksa Intervensi Proyek setelah sekarang dilengkapi. Gunakan pertanyaan pengarah di Lampiran B untuk melihat apakah logika intervensi yang diajukan dan asumsi yang melandasinya memenuhi kriteria dari kesinambungan. Buat penyesuaian-penyesuaian di seluruh proposal, jika perlu Pemeriksaan kesinambungan diberlakukan secara integral ke semua aspek proposal proyek. Oleh sebab itu ini tidak dimasukkan sebagai topic (bahasan) yang terpisah di dalam Form Aplikasi dan konsekwensinya ini tidak diberikan nomor. Kerangka kerja kelembagaan Sebuah diskusi tentang kerangka kerja kelembagaan akan memastikan bahwa semua orang tahu tentang siapa harus merujuk kepada siapa atau komunikasi dengan siapa untuk memastikan implementasi proyek yang mulus. Ini akan menghindari kesalahpahaman di dalam organisasi lapangan dan organisasi pendana. Analisa dari kerangka kerja kelembagaan juga berfungsi untuk mengungkap prakondisi dan asumsi-asumsi dalam hal kapasitas organisasi untuk mengimplementasikan proposal proyek dan asumsi-asumsi. Kerangka kerja kelembagaan (14) Menjelaskan kerangka kerja kelembagaan yang diperlukan untuk mengimplementasikan proyek di bawah 4C Mempertimbangkan kerangka kerja kelembagaan, periksa apakah logika intervensi dan asumsi-asumsi yang melandasinya masih valid Jika perlu, buat penyesuaian-penyesuaian dalam Intervensi Proyek 5.2 Input, anggaran/budget, rencana kerja & jadwal waktu 19

20 Setelah karakteristik-karakteristik utama dari proyek telah ditentukan, maka tahap berikutnya adalah mengidentifikasi cara meentukan proyek yang mana dimaksudkan untuk diimplementasikan dan dimonitor. Hal ini berimplikasi pada perencanaan detail dari hasil yang diharapkan proyek, kegiatan dalam hal input, kerangka kerja, rencana kerja dan jadwal waktu lembaga serta sistim monitoringnya. Input Input adalah alat dan sumberdaya yang dibutuhkan untuk melaksanakan kegiatan proyek yang direncanakan. Termasuk didalamnya sumberdaya manusia, kapasitas administrasi, alat infrastruktur, alat keuangan, dsb. Penilaian sumberdaya yang dibutuhkan diperlukan untuk menemukan bagaimana kesinambungan proyek dapat ditingkatkan. Penggunaan sumberdaya sendiri/ lokal akan menjadi hal terbaik dalam rangka menjamin kesinambungan pencapaian untuk jangka panjang. Input (15) Membuat inventarisasi input yang diperlukan untuk menjalankan proyek yang diusulkan berdasarkan ringkasan kegiatan yang dibuat; Meringkas inventarisasi ini dalam sebuah ringkasan input di bawah 4D Anggaran/Budget Anda perlu menjelaskan sumberdaya finansial untuk mengimplementasikan proyek di dalam level anggaran secara rinci. Ringkasan anggaran memberikan rangkuman dari pengeluaran-pengeluaran yang diharapkan. Anggaran/Budget (16) Membuat inventarisasi dari estimasi biaya dengan menganalisa alat yang diperlukan untuk implementasi proyek. Sebutkan dengan cara yang logis, bagaimana pengeluaran akan dibiayai. Menerjemahkan hasil-hasil ke dalam level anggaran (budget) dan ringkasan budget dengan rinci dan masukkan mereka ke dalam Form Aplikasi 4D Periksa instruksi-instruksi spesifik donor, apakah anda diharapkan mengikuti panduan tentang budgeting yang ditentukan oleh organisasi pendana Jika tidak ada instruksi-instruksi spesifik yang disediakan, pertimbangkan judul-judul anggaran berikut untuk menjelaskan biaya-biaya: - biaya-biaya kegiatan; - biaya-biaya untuk staf, konsultan dan nara sumber; - biaya infrastruktur; - biaya monitoring; - biaya evaluasi; - biaya untuk audit finansial oleh akuntan bersertifikat. 20

BUKU PEGANGAN PERENCANAAN PROYEK PARTISIPATIF Bagian 2

BUKU PEGANGAN PERENCANAAN PROYEK PARTISIPATIF Bagian 2 BUKU PEGANGAN PERENCANAAN PROYEK PARTISIPATIF Bagian 2 Instruksi praktis untuk organisasi serikat pekerja/ serikat buruh terkait identifikasi dan perumusan proyek Panduan Nordic-Dutch Trade Union Centres

Lebih terperinci

MODUL 11: PRAKTIK TERBAIK UNTUK DESAIN PROYEK. USAID Adapt Asia-Pacific

MODUL 11: PRAKTIK TERBAIK UNTUK DESAIN PROYEK. USAID Adapt Asia-Pacific MODUL 11: PRAKTIK TERBAIK UNTUK DESAIN PROYEK University of Hawaii at Manoa Institut Teknologi Bandung Siklus Proyek Policy & Strategy Pre-project discussion & activities Project Identification Pre-feasibility

Lebih terperinci

Kebijakan Gender AIPP Rancangan September 2012

Kebijakan Gender AIPP Rancangan September 2012 Latar belakang dan konteks Kebijakan Gender AIPP Rancangan September 2012 AIPP bekerja untuk mempromosikan hak-hak masyarakat adat. Hak-hak masyarakat adat adalah bagian dari kerangka kerja hak-hak asasi

Lebih terperinci

PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management. Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang

PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management. Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang PROJECT MANAGEMENT BODY OF KNOWLEDGE (PMBOK) PMBOK dikembangkan oleh Project Management Institute (PMI) sebuah organisasi di Amerika yang mengkhususkan diri pada pengembangan manajemen proyek. PMBOK merupakan

Lebih terperinci

METODE ZOPP (ZIEL/Tujuan, ORIENTIERTE/Berorientasi, PROJEKT/Proyek, PLANUNG/Perencanaan)

METODE ZOPP (ZIEL/Tujuan, ORIENTIERTE/Berorientasi, PROJEKT/Proyek, PLANUNG/Perencanaan) METODE ZOPP (ZIEL/Tujuan, ORIENTIERTE/Berorientasi, PROJEKT/Proyek, PLANUNG/Perencanaan) METODE PERENCANAAN PROYEK YANG BERORIENTASI PADA TUJUAN GTZ GmbH Jerman METODE PERENCANAAN PROYEK YANG BERORIENTASI

Lebih terperinci

PENILAIAN MANDIRI TENTANG KOMPETENSI FISPH

PENILAIAN MANDIRI TENTANG KOMPETENSI FISPH Form. 04 FISPH /FISCM PENILAIAN MANDIRI TENTANG KOMPETENSI FISPH Pengantar Tujuan dari penilaian mandiri ini adalah untuk membantu Anda menemukan tingkat kompetensi Anda terhadap dimensi kunci pengajaran

Lebih terperinci

BUKU PEGANGAN PERENCANAAN PROYEK PARTISIPATIF. Bagian 1

BUKU PEGANGAN PERENCANAAN PROYEK PARTISIPATIF. Bagian 1 BUKU PEGANGAN PERENCANAAN PROYEK PARTISIPATIF Bagian 1 Ulasan singkat tentang prinsip-prinsip dasar perencanaan proyek dan Pendekatan Kerangka Kerja Logis (LFA) Guidelines Nordic-Dutch Trade Union Centres

Lebih terperinci

Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan Sosial

Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan Sosial Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan Sosial 2 Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan Sosial Naskah Rekomendasi mengenai Landasan Nasional untuk Perlindungan

Lebih terperinci

MEMBUKA DATA DARI BAWAH TUJUH LANGKAH UNTUK MEMBUKA DATA PEMERINTAH DENGAN SUKSES PANDUAN PELAKSANAAN JAKARTA

MEMBUKA DATA DARI BAWAH TUJUH LANGKAH UNTUK MEMBUKA DATA PEMERINTAH DENGAN SUKSES PANDUAN PELAKSANAAN JAKARTA MEMBUKA DATA DARI BAWAH TUJUH LANGKAH UNTUK MEMBUKA DATA PEMERINTAH DENGAN SUKSES PANDUAN PELAKSANAAN JAKARTA PANDUAN PELAKSANAAN: MEMBUKA DATA DARI BAWAH Tujuh Langkah untuk Membuka Data Pemerintah dengan

Lebih terperinci

Membuka Data. Tujuh Langkah untuk Membuka Data Pemerintah dengan Sukses. 25 Agustus 2015 JAKARTA

Membuka Data. Tujuh Langkah untuk Membuka Data Pemerintah dengan Sukses. 25 Agustus 2015 JAKARTA Membuka Data dari Bawah Tujuh Langkah untuk Membuka Data Pemerintah dengan Sukses Panduan Pelaksanaan 25 Agustus 2015 JAKARTA Panduan Pelaksanaan: Membuka Data dari Bawah Tujuh Langkah untuk Membuka Data

Lebih terperinci

MANAJEMEN LINGKUP (SCOPE) PROYEK

MANAJEMEN LINGKUP (SCOPE) PROYEK MANAJEMEN LINGKUP (SCOPE) PROYEK Pada tahun 1995, hasil studi yang dilakukan CHAOS menyebutkan bahwa keterlibatan user, misi proyek yang jelas, pernyataan kebutuhan proyek yang jelas dan perencanaan proyek

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS METODOLOGI

BAB III ANALISIS METODOLOGI BAB III ANALISIS METODOLOGI Pada bagian ini akan dibahas analisis metodologi pembangunan BCP. Proses analisis dilakukan dengan membandingkan beberapa metodologi pembangunan yang terdapat dalam literatur

Lebih terperinci

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL

PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL PERATURAN DEPARTEMEN AUDIT INTERNAL Bab I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Tujuan Peraturan ini dibuat dengan tujuan menjalankan fungsi pengendalian internal terhadap kegiatan perusahaan dengan sasaran utama keandalan

Lebih terperinci

Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi

Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi Bab IV Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi IV.1 Usulan Perencanaan Investasi Teknologi Informasi dengan Val IT Perencanaan investasi TI yang dilakukan oleh Politeknik Caltex Riau yang dilakukan

Lebih terperinci

R-165 REKOMENDASI PEKERJA DENGAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA, 1981

R-165 REKOMENDASI PEKERJA DENGAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA, 1981 R-165 REKOMENDASI PEKERJA DENGAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA, 1981 2 R-165 Rekomendasi Pekerja dengan Tanggung Jawab Keluarga, 1981 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan

Lebih terperinci

Checklist Audit Mutu ISO 9001:2008

Checklist Audit Mutu ISO 9001:2008 Checklist Audit Mutu ISO 9001:2000 Checklist Audit Mutu ISO 9001:2008 :2008 4. 4.1 4.1 4.1 Sistem Manajemen Mutu Persyaratan Umum Apakah organisasi menetapkan dan mendokumentasikan sistem manajemen mutu

Lebih terperinci

PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROSEDURE (SOP)

PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROSEDURE (SOP) 1 PENYUSUNAN STANDARD OPERATING PROSEDURE (SOP) dr. AGUS DWI PITONO,M.KES Disampaiakn pada Pertemuan Penyusunan SOP Dinas Kesehatan Kota Bima 02 Maret 2015 2 ORGANISASI PEMERINTAH DASAR HUKUM: Peraturan

Lebih terperinci

12. Pencetakan dokumen SOP dan pendistribusian. Setelah SOP mendapat pengesahan dari pejabat yang berwenang, dilengkapi dokumen pendukung lainnya, dilakukan pencetakan selanjutnya dokumen SOP didistribusikan

Lebih terperinci

BAGIAN I. INFORMASI UMUM

BAGIAN I. INFORMASI UMUM Lampiran 2 Format Aplikasi Template berikut harus digunakan untuk elaborasi proposal proyek. Silahkan mengisi SEMUA bagian bawah. Usulan proyek termasuk, rencana kerja kerangka kerja logis dan anggaran

Lebih terperinci

Memanfaatkan Data Terbuka untuk Peningkatan Keterbukaan Fiskal

Memanfaatkan Data Terbuka untuk Peningkatan Keterbukaan Fiskal Memanfaatkan Data Terbuka untuk Peningkatan Keterbukaan Fiskal Lima Langkah untuk Membantu Organisasi Masyarakat Sipil Berhasil Menerapkan Data Terbuka dengan Baik Panduan Pelaksanaan JAKARTA Panduan Pelaksanaan:

Lebih terperinci

MANAJEMEN KUALITAS PROYEK

MANAJEMEN KUALITAS PROYEK MANAJEMEN KUALITAS PROYEK 1. Manajemen Mutu Proyek Proyek Manajemen Mutu mencakup proses yang diperlukan untuk memastikan bahwa proyek akan memenuhi kebutuhan yang dilakukan. Ini mencakup "semua aktivitas

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengetahuan Pengetahuan adalah merupakan hasil dari Tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca

Lebih terperinci

K 95 KONVENSI PERLINDUNGAN UPAH, 1949

K 95 KONVENSI PERLINDUNGAN UPAH, 1949 K 95 KONVENSI PERLINDUNGAN UPAH, 1949 2 K-95 Konvensi Perlindungan Upah, 1949 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi laki-laki

Lebih terperinci

Chapter 5. Contract Review

Chapter 5. Contract Review Chapter 5 Contract Review 5.2 Review kontrak proses dan tahapannya Beberapa situasi dapat memimpin perusahaan perangkat lunak ("pemasok") untuk menandatangani kontrak dengan pelanggan. Yang paling umum

Lebih terperinci

R-166 REKOMENDASI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982

R-166 REKOMENDASI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982 R-166 REKOMENDASI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982 2 R-166 Rekomendasi Pemutusan Hubungan Kerja, 1982 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan

Lebih terperinci

BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User

BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User BAB 2 FASE DEFINISI Memahami Masalah User 2.1. PENDAHULUAN Tujuan dari fase definisi adalah untuk memahami dengan baik masalah-masalah yang dihadapi oleh user dalam memperkirakan biaya dan waktu penyelesaian

Lebih terperinci

Catatan informasi klien

Catatan informasi klien Catatan informasi klien Ikhtisar Untuk semua asesmen yang dilakukan oleh LRQA, tujuan audit ini adalah: penentuan ketaatan sistem manajemen klien, atau bagian darinya, dengan kriteria audit; penentuan

Lebih terperinci

BAB I PENGANTAR MANAJEMEN PROYEK

BAB I PENGANTAR MANAJEMEN PROYEK BAB I PENGANTAR MANAJEMEN PROYEK Teknologi Informasi (TI) sudah menjadi spektrum dalam kegiatan bisnis dunia. Investasi untuk pengembangan teknologi informasi merupakan sebuah fenomena yang diyakini para

Lebih terperinci

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB II TINJAUAN PUSTAKA BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Manajemen Proyek Manajemen proyek adalah semua perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan koordinasi suatu proyek dari awal (gagasan) hingga berakhirnya proyek untuk menjamin

Lebih terperinci

Surat Perjanjian Kerja Sama Terkait Program Pemagangan Keterampilan Orang Asing (Contoh)

Surat Perjanjian Kerja Sama Terkait Program Pemagangan Keterampilan Orang Asing (Contoh) (Tipe Pengawasan Asosiasi) Surat Perjanjian Kerja Sama Terkait Program Pemagangan Keterampilan Orang Asing (Contoh). dari negara. (selanjutnya disebut Lembaga Pengirim) dan. dari negara Jepang (selanjutnya

Lebih terperinci

PENYUSUNAN ANGGARAN A. Hakikat Anggaran

PENYUSUNAN ANGGARAN A. Hakikat Anggaran 1 PENYUSUNAN ANGGARAN A. Hakikat Anggaran Suatu anggaran operasi merupakan pernyataan tentang pendapatan dan beban yang direncanakan untuk satu tahun yang akan datang. Proses penyusunan anggaran merupakan

Lebih terperinci

1. Mengelola penyampaian bantuan

1. Mengelola penyampaian bantuan KODE UNIT : O.842340.004.01 JUDUL UNIT : Pengaturan Bidang Kerja dalam Sektor Penanggulangan Bencana DESKRIPSIUNIT : Unit kompetensi ini mendeskripsikan keterampilan, pengetahuan, dan sikap kerja yang

Lebih terperinci

Chapter 4 SOFTWARE QUALITY ASSURANCE - REVIEW

Chapter 4 SOFTWARE QUALITY ASSURANCE - REVIEW Chapter 4 SOFTWARE QUALITY ASSURANCE - REVIEW Komponen Software quality assurance 1. Pre Project Component 2. Software Project life cycle Component 3. Infrastructure component for error prevention and

Lebih terperinci

LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI POLITEKNIK ATI PADANG

LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI POLITEKNIK ATI PADANG LEMBAGA SERTIFIKASI PROFESI POLITEKNIK ATI PADANG FORMULIR No. Formulir FOR-APL 02 ASESMEN MANDIRI Edisi 1 Revisi 2 Berlaku Efektif Februari 2016 Nama Peserta : Tanggal/Waktu :, Nama Asesor : TUK : Sewaktu/Tempat

Lebih terperinci

Tujuan Review Kontrak. Dibagi menjadi 2, yaitu: Tujuan Review Draft Proposal Tujuan Review Draft Kontrak

Tujuan Review Kontrak. Dibagi menjadi 2, yaitu: Tujuan Review Draft Proposal Tujuan Review Draft Kontrak Tujuan Review Kontrak Dibagi menjadi 2, yaitu: Tujuan Review Draft Proposal Tujuan Review Draft Kontrak Tujuan Review Draft Proposal Tujuan review draft proposal adalah untuk memastikan agar aktivitas-aktivitas

Lebih terperinci

Bab 10 Manajemen Komunikasi Proyek

Bab 10 Manajemen Komunikasi Proyek Bab 10 Manajemen Komunikasi Proyek (Sumber : Buku PMBOK, 2000) Manajemen Komunikasi Proyek termasuk proses yang diperlukan untuk memastikan bahwa informasi dalam proyek dibuat dengan tepat dan cepat, baik

Lebih terperinci

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku.

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku. KODE UNIT : KOM.PR03.001.01 JUDUL UNIT : Melaksanakan Master of Ceremony DESKRIPSI UNIT : Unit ini berkaitan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang harus dimiliki untuk menjadi seorang Master

Lebih terperinci

LAMPIRAN 3 NOTA KESEPAKATAN (MOU) UNTUK MERENCANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA. (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 3 NOTA KESEPAKATAN (MOU) UNTUK MERENCANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA. (Versi Ringkas) LAMPIRAN 3 NOTA KESEPAKATAN (MOU) UNTUK MERENCANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua

Lebih terperinci

Standar Audit SA 230. Dokumentasi Audit

Standar Audit SA 230. Dokumentasi Audit SA 0 Dokumentasi Audit SA Paket 00.indb STANDAR AUDIT 0 DOKUMENTASI AUDIT (Berlaku efektif untuk audit atas laporan keuangan untuk periode yang dimulai pada atau setelah tanggal: (i) Januari 0 (untuk Emiten),

Lebih terperinci

Panduan Permohonan Hibah

Panduan Permohonan Hibah Panduan Permohonan Hibah 1. 2. 3. Sebelum memulai proses permohonan hibah, mohon meninjau inisiatif-inisiatif yang didukung Ford Foundation secara cermat. Selain memberikan suatu ikhtisar tentang prioritas

Lebih terperinci

Kompensasi Finansial Langsung

Kompensasi Finansial Langsung Kompensasi Finansial Langsung Pengertian Kompensasi Kompensasi adalah total dari seluruh imbalan yang diterima para karyawan sebagai pengganti atas layanan mereka. Tujuan umum pemberian kompensasi adalah

Lebih terperinci

8 PRINSIP MANAJEMEN MUTU

8 PRINSIP MANAJEMEN MUTU 8 PRINSIP MANAJEMEN MUTU 1. ORGANISASI YANG BERFOKUS PADA PELANGGAN Mengerti akan kebutuhan-kebutuhan sekarang dan di masa mendatang dari pelanggan untuk memenuhi persyaratan-persyaratan dan melebihi harapan-harapannya

Lebih terperinci

Kompensasi Finansial Langsung

Kompensasi Finansial Langsung MSDM Materi 10 Kompensasi Finansial Langsung http://deden08m.com 1 Pengertian Kompensasi Kompensasi adalah total dari seluruh imbalan yang diterima para karyawan sebagai pengganti atas layanan mereka.

Lebih terperinci

DEPARTEMEN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS KEDOKTERAN

DEPARTEMEN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS KEDOKTERAN DEPARTEMEN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS KEDOKTERAN MANUAL PROSEDUR AUDIT MUTU AKADEMIK INTERNAL (AMAI) FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN Baru FAKULTAS

Lebih terperinci

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1

Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 S T U D I K A S U S Sistem Rekrutmen Anggota Legislatif dan Pemilihan di Indonesia 1 F R A N C I S I A S S E S E D A TIDAK ADA RINTANGAN HUKUM FORMAL YANG MENGHALANGI PEREMPUAN untuk ambil bagian dalam

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI. proses penyusunan perencanaan strategi, terdapat beberapa komponen yang perlu. diperhatikan. Komponen-komponen tersebut adalah :

BAB III METODOLOGI. proses penyusunan perencanaan strategi, terdapat beberapa komponen yang perlu. diperhatikan. Komponen-komponen tersebut adalah : 19 BAB III METODOLOGI 3.1. Komponen Sebuah Perencanaan Penyusunan sebuah perencanaan terdiri atas beberapa komponen. Pada proses penyusunan perencanaan strategi, terdapat beberapa komponen yang perlu diperhatikan.

Lebih terperinci

TIK.JK JUDUL UNIT

TIK.JK JUDUL UNIT III - 5 3.2 Unit - Unit Kompetensi KODE UNIT : TIK.JK01.001.01 JUDUL UNIT : Melakukan komunikasi di tempat kerja URAIAN UNIT : Unit ini menentukan kompetensi yang diperlukan untuk mempersiapkan, merencanakan,

Lebih terperinci

MODUL KULIAH MANAJEMEN INDUSTRI SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9000

MODUL KULIAH MANAJEMEN INDUSTRI SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9000 MODUL KULIAH MANAJEMEN INDUSTRI SISTEM MANAJEMEN MUTU ISO 9000 Oleh : Muhamad Ali, M.T JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK ELEKTRO FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA TAHUN 2011 MODUL IX SISTEM MANAJEMEN

Lebih terperinci

R198 REKOMENDASI MENGENAI HUBUNGAN KERJA

R198 REKOMENDASI MENGENAI HUBUNGAN KERJA R198 REKOMENDASI MENGENAI HUBUNGAN KERJA 1 R-198 Rekomendasi Mengenai Hubungan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan

Lebih terperinci

K 158 KONVENSI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982

K 158 KONVENSI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982 K 158 KONVENSI PEMUTUSAN HUBUNGAN KERJA, 1982 2 K-158 Konvensi Pemutusan Hubungan Kerja, 1982 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan

Lebih terperinci

Manajemen Kesehatan. Ada beberapa langkah perencanaan aktivitas kesehatan, yaitu: 1. Melihat situasi

Manajemen Kesehatan. Ada beberapa langkah perencanaan aktivitas kesehatan, yaitu: 1. Melihat situasi Manajemen Kesehatan Manajamen Pelayanan Kesehatan Pelayanan kesehatan (Heath care) adalah sebuah kumpulan langkah-langkah, barang dan layanan yang dirancang untuk mempromosikan kesehatan, termasuk intervensi

Lebih terperinci

ISO 9001:2000. Persyaratan-persyaratan Sistem Manajemen Mutu

ISO 9001:2000. Persyaratan-persyaratan Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000 Persyaratan-persyaratan Sistem Manajemen Mutu Quality Mangement System ISO 9000 series.. Published by International Organization for Stantardization (ISO) a world wide federation of national

Lebih terperinci

KERTAS KERJA DAN LAPORAN AUDIT MANAJEMEN

KERTAS KERJA DAN LAPORAN AUDIT MANAJEMEN KERTAS KERJA DAN LAPORAN AUDIT MANAJEMEN Pola Relasi Pengendalian Internal dan Jenis Audit SISTEM PENGENDALIAN INTERNAL JENIS DAN RUANG LINGKUP AUDIT untuk membangun dan memastikan Alat Manajemen untuk

Lebih terperinci

R-188 REKOMENDASI AGEN PENEMPATAN KERJA SWASTA, 1997

R-188 REKOMENDASI AGEN PENEMPATAN KERJA SWASTA, 1997 R-188 REKOMENDASI AGEN PENEMPATAN KERJA SWASTA, 1997 2 R-188 Rekomendasi Agen Penempatan kerja Swasta, 1997 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas

Lebih terperinci

ACIAR - SADI. Panduan Referensi untuk Monitoring Outcome

ACIAR - SADI. Panduan Referensi untuk Monitoring Outcome ACIAR - SADI Panduan Referensi untuk Monitoring Outcome Julien de Meyer, Ron Staples Januari 2010 2 Outcome Based Monitoring and Evaluation (OBMNE) Pendahuluan 3 Monitoring Outcome 4 Pendekatan 5 Tahapan

Lebih terperinci

The McGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved.

The McGraw-Hill Companies, Inc. All rights reserved. 17-1 17-2 Bab 17 Mengelola Perubahan dan Inovasi Pengantar 17-3 Manajer yang efektif harus memandang pengelolaan perubahan sebagai tanggung jawab yang utuh Organisasi yang gagal merencanakan, mengantisipasi,

Lebih terperinci

15A. Catatan Sementara NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional

15A. Catatan Sementara NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA. Konferensi Perburuhan Internasional Konferensi Perburuhan Internasional Catatan Sementara 15A Sesi Ke-100, Jenewa, 2011 NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG LAYAK BAGI PEKERJA RUMAH TANGGA 15A/ 1 NASKAH KONVENSI TENTANG PEKERJAAN YANG

Lebih terperinci

Chapter 6. Development and quality plans

Chapter 6. Development and quality plans Chapter 6 Development and quality plans 6.1 Sasaran Rencana Pengembangan dan Kualitas Perencanaan, sebagai suatu proses, memiliki beberapa tujuan, yang dimaksudkan untuk mempersiapkan landasan yang kuat

Lebih terperinci

(2) Pembiayaan pelaksanaan penyusunan SOP administrasi pemerintahanan Satker, Subsatker dan/atau unit kerja di lingkungan Kementerian Pertahanan dibebankan pada anggaran Satker, Subsatker dan/atau unit

Lebih terperinci

PENGANGGARAN PERUSAHAAN

PENGANGGARAN PERUSAHAAN PENGANGGARAN PERUSAHAAN Merupakan suatu proses perencanaan dan pengendalian kegiatan operasi perusahaan yang dinyatakan dalam satuan kegiatan dan satuan uang, yang bertujuan untuk memproyeksikan operasi

Lebih terperinci

KOMENTAR UMUM 9 Pelaksanaan Kovenan di Dalam Negeri 1

KOMENTAR UMUM 9 Pelaksanaan Kovenan di Dalam Negeri 1 1 KOMENTAR UMUM 9 Pelaksanaan Kovenan di Dalam Negeri 1 A. Kewajiban untuk melaksanakan Kovenan dalam tatanan hukum dalam negeri 1. Dalam Komentar Umum No.3 (1990) Komite menanggapi persoalan-persoalan

Lebih terperinci

WALIKOTA PROBOLINGGO

WALIKOTA PROBOLINGGO WALIKOTA PROBOLINGGO SALINAN PERATURAN WALIKOTA PROBOLINGGO NOMOR 13 TAHUN 2012 TENTANG STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DI LINGKUNGAN PEMERINTAH KOTA PROBOLINGGO DENGAN RAHMAT

Lebih terperinci

PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR 5 LAMPIRAN PERATURAN MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA NOMOR 14 TAHUN 2012 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA

Lebih terperinci

MEKANISME KELUHAN PEKERJA

MEKANISME KELUHAN PEKERJA PROSEDUR TPI-HR-Kebijakan-04 Halaman 1 dari 7 MEKANISME KELUHAN PEKERJA Halaman 2 dari 7 Pendahuluan Keluhan didefinisikan sebagai masalah yang nyata atau dirasakan yang dapat memberikan alasan untuk mengajukan

Lebih terperinci

5. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN 6. MANAJEMEN SUMBER DAYA 7. REALISASI PRODUK 8. PENGUKURAN,ANALISA & PERBAIKAN

5. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN 6. MANAJEMEN SUMBER DAYA 7. REALISASI PRODUK 8. PENGUKURAN,ANALISA & PERBAIKAN 5. TANGGUNG JAWAB MANAJEMEN 6. 7. 8. 1.1 UMUM Persyaratan SMM ini untuk organisasi adalah: Yang membutuhkan kemampuan untuk menyediakan produk secara konsisten yang sesuai dengan persyaratan pelanggan

Lebih terperinci

KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN

KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN KETERAMPILAN KONSELING : KLARIFIKASI, MEMBUKA DIRI, MEMBERIKAN DORONGAN, MEMBERIKAN DUKUNGAN, PEMECAHAN MASALAH DAN MENUTUP PERCAKAPAN oleh Rosita E.K., M.Si Konsep dasar dari konseling adalah mengerti

Lebih terperinci

Lihat https://acrobat.adobe.com/sea/en/how-to/pdf-to-word-doc-converter.html untuk informasi lebih lanjut. LAMPIRAN 3

Lihat https://acrobat.adobe.com/sea/en/how-to/pdf-to-word-doc-converter.html untuk informasi lebih lanjut. LAMPIRAN 3 Untuk mengedit teks ini: Buka file ini pada Adobe Acrobat Klik 'Export PDF tool' pada bagian kanan Pilih Microsoft Word' untuk formatnya kemudian pilih Word Document Klik Export. Simpan file dengan memberikan

Lebih terperinci

Studi Kelayakan Bisnis. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM

Studi Kelayakan Bisnis. Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Studi Kelayakan Bisnis Oleh Ruly Wiliandri, SE., MM Pendahuluan Studi kelayakan merupakan salah satu mata kuliah (study) terapan yang bersifat aplikatif. Studi kelayakan dapat dilakukan untuk menilai kelayakan

Lebih terperinci

Oleh : Arief Setyadi. Persyaratan Gender dalam Program Compact

Oleh : Arief Setyadi. Persyaratan Gender dalam Program Compact Oleh : Arief Setyadi Persyaratan Gender dalam Program Compact Perempuan Bekerja Menyiangi Sawah (Foto: Aji) Program Compact memiliki 5 persyaratan pokok, yakni: 1. Analisis ERR di atas 10%, 2. Analisis

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Kerangka Penelitian Kerangka penelitian ini adalah langkah demi langkah dalam penyusunan Tugas Akhir mulai dari tahap persiapan penelitian hingga pembuatan dokumentasi

Lebih terperinci

PENINGKATAN MUTU DAN BENCHMARKING PERGURUAN TINGGI

PENINGKATAN MUTU DAN BENCHMARKING PERGURUAN TINGGI PENINGKATAN MUTU DAN BENCHMARKING PERGURUAN TINGGI R. WASISTO RUSWIDIONO STIE TRISAKTI wasisto@stietrisakti.ac.id PENINGKATAN MUTU P roses penjaminan mutu bukan hanya aktivitas untuk memastikan bahwa yang

Lebih terperinci

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas)

LAMPIRAN 6. PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) LAMPIRAN 6 PERJANJIAN KERJASAMA UNTUK MELAKSANAKAN CSR DALAM MENDUKUNG PENGEMBANGAN MASYARAKAT DI INDONESIA (Versi Ringkas) Pihak Pertama Nama: Perwakilan yang Berwenang: Rincian Kontak: Pihak Kedua Nama:

Lebih terperinci

Outline 0 PENDAHULUAN 0 PERENCANAAN UNTUK IMPLEMENTASI 0 PENGENDALIAN DAN PERAWATAN SOLUSI 0 TINDAK LANJUT IMPLEMENTASI MODEL

Outline 0 PENDAHULUAN 0 PERENCANAAN UNTUK IMPLEMENTASI 0 PENGENDALIAN DAN PERAWATAN SOLUSI 0 TINDAK LANJUT IMPLEMENTASI MODEL Outline 0 PENDAHULUAN 0 PERENCANAAN UNTUK IMPLEMENTASI 0 PENGENDALIAN DAN PERAWATAN SOLUSI 0 TINDAK LANJUT IMPLEMENTASI MODEL Pendahuluan 0 Proyek (misal dalam riset operasi) seringkali ditujukan untuk

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 51/PERMEN-KP/2016 TENTANG PEDOMAN PEMETAAN PELAKSANAAN PENGARUSUTAMAAN GENDER BIDANG KELAUTAN DAN PERIKANAN DI DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN

Lebih terperinci

Silabus Kursus Pelatihan Penilai NKT

Silabus Kursus Pelatihan Penilai NKT Silabus Kursus Pelatihan Penilai NKT Panduan untuk Organisasi Pelatihan Pendahuluan Skema Lisensi Penilai (ALS) HCVRN (High Conservation Value Resource Network)disusun untuk meningkatkan kompetensi penilai

Lebih terperinci

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR : 07 TAHUN 2013 BAB I PENDAHULUAN

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR : 07 TAHUN 2013 BAB I PENDAHULUAN LAMPIRAN PERATURAN DAERAH KABUPATEN PROBOLINGGO NOMOR : 07 TAHUN 2013 Rencana Pembangunan TANGGAL Jangka : 11 Menengah JUNI 2013 Daerah BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perencanaan pembangunan memainkan

Lebih terperinci

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG

MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG MENTERI DALAM NEGERI REPUBLIK INDONESIA PERATURAN MENTERI DALAM NEGERI NOMOR 13 TAHUN 2011 TENTANG PEDOMAN PELAKSANAAN TUGAS KEHUMASAN DI LINGKUNGAN KEMENTERIAN DALAM NEGERI DAN PEMERINTAH DAERAH DENGAN

Lebih terperinci

AUDIT MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IMMI SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IMMI

AUDIT MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IMMI SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IMMI AUDIT MUTU INTERNAL AUDIT MUTU INTERNAL SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IMMI SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN IMMI JL. RAYA TANJUNG BARAT NO. 11 PS. MINGGU JAKARTA SELATAN TELP. 021 781 7823, 781 5142 FAX. -21 781 5144

Lebih terperinci

AFP SMART Strategi Advokasi Berbasis Bukti (bagian 2)

AFP SMART Strategi Advokasi Berbasis Bukti (bagian 2) AFP SMART Strategi Advokasi Berbasis Bukti (bagian 2) Ada sembilan langkah dalam AFP SMART yang terbagi kedalam tiga fase atau tahapan sebagai berikut: Langkah 1. Buat sasaran yang SMART Langkah 4. Tinjau

Lebih terperinci

KLAUSUL-KLAUSUL DALAM DOKUMEN ISO 9001

KLAUSUL-KLAUSUL DALAM DOKUMEN ISO 9001 KLAUSUL-KLAUSUL DALAM DOKUMEN ISO 9001 Oleh: Dimas Rahadian AM, S.TP. M.Sc Email: rahadiandimas@yahoo.com PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA KLAUSUL-KLAUSUL ISO

Lebih terperinci

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku.

2. Pelaksanaan Unit Kompetensi ini berpedoman pada Kode Etik Humas/Public Relations Indonesia yang berlaku. KODE UNIT : KOM.PR01.005.01 JUDUL UNIT : Menyampaikan Presentasi Lisan Dalam Bahasa Inggris DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dibutuhkan profesi humas

Lebih terperinci

PANDUAN SELEKSI PROPOSAL PROGRAM HIBAH KOMPETISI PRIORITAS (PHK PRIORITAS)

PANDUAN SELEKSI PROPOSAL PROGRAM HIBAH KOMPETISI PRIORITAS (PHK PRIORITAS) PANDUAN SELEKSI PROPOSAL PROGRAM HIBAH KOMPETISI PRIORITAS (PHK PRIORITAS) BADAN PENGEMBANGAN AKADEMIK UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA 2016 Daftar Isi 1. Aspek Penilaian Proposal 1 2. Tahapan Seleksi dan Administrasi

Lebih terperinci

K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011

K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 2 K-189: Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi Pekerja Rumah Tangga, 2011 K189 Konvensi tentang Pekerjaan Yang Layak bagi

Lebih terperinci

K81 PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN DALAM INDUSTRI DAN PERDAGANGAN

K81 PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN DALAM INDUSTRI DAN PERDAGANGAN K81 PENGAWASAN KETENAGAKERJAAN DALAM INDUSTRI DAN PERDAGANGAN 1 K-81 Pengawasan Ketenagakerjaan dalam Industri dan Perdagangan 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan

Lebih terperinci

BAB V SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN

BAB V SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN BAB V SISTEM MANAJEMEN LINGKUNGAN I. Persiapan Penerapan a. Langkah-langkah penerapan SML; Tahap 1 : Pengembangan dan komitmen terhadap kebijakan lingkungan Tahap 2 : Perencanaan Aspek lingkungan dan dampak

Lebih terperinci

BAB III ANALISIS. Komunitas belajar dalam Tugas Akhir ini dapat didefinisikan melalui beberapa referensi yang telah dibahas pada Bab II.

BAB III ANALISIS. Komunitas belajar dalam Tugas Akhir ini dapat didefinisikan melalui beberapa referensi yang telah dibahas pada Bab II. BAB III ANALISIS Sesuai dengan permasalahan yang diangkat pada Tugas Akhir ini, maka dilakukan analisis pada beberapa hal sebagai berikut: 1. Analisis komunitas belajar. 2. Analisis penerapan prinsip psikologis

Lebih terperinci

Asesmen Gender Indonesia

Asesmen Gender Indonesia Asesmen Gender Indonesia (Indonesia Country Gender Assessment) Southeast Asia Regional Department Regional and Sustainable Development Department Asian Development Bank Manila, Philippines July 2006 2

Lebih terperinci

ACCESS. Profil Masyarakat Petunjuk. 5 Sesi :

ACCESS. Profil Masyarakat Petunjuk. 5 Sesi : ACCESS Profil Masyarakat Petunjuk 5 Sesi : 1. Analisa Organisasi Pengelola 2. Analisa Pengambilan Keputusan: Matrik Pengambilan Keputusan 3. Analisa Partisipasi : Matrik Partisipasi 4. Analisa Hubungan

Lebih terperinci

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA

K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA K88 LEMBAGA PELAYANAN PENEMPATAN KERJA 1 K-88 Lembaga Pelayanan Penempatan Kerja 2 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan PBB yang bertugas memajukan kesempatan bagi

Lebih terperinci

PRODUK 1: RENCANA KERJA DELAPAN-BULANAN

PRODUK 1: RENCANA KERJA DELAPAN-BULANAN PRODUK 1: RENCANA KERJA DELAPAN-BULANAN Instruksi Penggunaan : Rencana Kerja ini mengikuti Langkah dan yang ada dalam Toolkit ini. Kotak yang diblok warna menunjukkan berapa lama biasanya waktu yang digunakan

Lebih terperinci

BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR

BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR Proposal penelitian untuk menyusun skripsi atau tugas akhir terdiri atas komponen yang sama. Perbedaan di antara keduanya terletak pada kadar

Lebih terperinci

Untuk menggambarkan kegiatan rekayasa persyaratan pokok dan hubungan mereka. Untuk memperkenalkan teknik untuk elisitasi persyaratan dan analisis.

Untuk menggambarkan kegiatan rekayasa persyaratan pokok dan hubungan mereka. Untuk memperkenalkan teknik untuk elisitasi persyaratan dan analisis. Untuk menggambarkan kegiatan rekayasa persyaratan pokok dan hubungan mereka. Untuk memperkenalkan teknik untuk elisitasi persyaratan dan analisis. Untuk menjelaskan validasi persyaratan dan peran tinjauan

Lebih terperinci

Bab 4 Hasil dan Pembahasan

Bab 4 Hasil dan Pembahasan Bab 4 Hasil dan Pembahasan Setelah membuat metode penelitian pada bab sebelumnya, maka pada bab ini akan ditampilkan hasil dari analisis yang dilakukan pada RSUD kota Salatiga. 4.1 Analisis Maturity Level

Lebih terperinci

Standar Jasa Akuntansi dan Review memberikan panduan yang berkaitan dengan laporan keuangan entitas nonpublik yang tidak diaudit.

Standar Jasa Akuntansi dan Review memberikan panduan yang berkaitan dengan laporan keuangan entitas nonpublik yang tidak diaudit. SA Seksi 722 INFORMASI KEUANGAN INTERIM Sumber : PSA No. 73 PENDAHULUAN 01. Seksi ini memberikan pedoman mengenai sifat, saat, dan lingkup prosedur yang harus diterapkan oleh akuntan publik dalam melakukan

Lebih terperinci

BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 34 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN RESPONSIF GENDER (PPRG)

BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 34 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN RESPONSIF GENDER (PPRG) BUPATI MALANG PERATURAN BUPATI MALANG NOMOR 34 TAHUN 2012 TENTANG PETUNJUK TEKNIS PENYUSUNAN PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN RESPONSIF GENDER (PPRG) BUPATI MALANG, Menimbang : a. bahwa dalam rangka mengintegrasikan

Lebih terperinci

Mekanisme Kerjasama Pusat dan Daerah dalam Pengembangan Industri

Mekanisme Kerjasama Pusat dan Daerah dalam Pengembangan Industri Mekanisme Kerjasama Pusat dan Daerah dalam Pengembangan Industri S.B.Hari Lubis Institut Teknologi Bandung harl@melsa.net.id Rapat Kerja Departemen Perindustrian 2008 Jakarta 26-29 Pebruari 2008 Pendahuluan

Lebih terperinci

BAB. II TINJAUAN PUSTAKA. a. INPRES No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam

BAB. II TINJAUAN PUSTAKA. a. INPRES No. 9 Tahun 2000 tentang Pengarusutamaan Gender (PUG) dalam 10 BAB. II TINJAUAN PUSTAKA A. Pengarusutamaan Gender (PUG) 1. Kebijakan Pengarusutamaan Gender Terkait dengan Pengarusutamaan Gender (PUG), terdapat beberapa isitilah yang dapat kita temukan, antara lain

Lebih terperinci

Kerangka Acuan Call for Proposals : Voice Indonesia

Kerangka Acuan Call for Proposals : Voice Indonesia Kerangka Acuan Call for Proposals 2016-2017: Voice Indonesia Kita berjanji bahwa tidak akan ada yang ditinggalkan [dalam perjalanan kolektif untuk mengakhiri kemiskinan dan ketidaksetaraan]. Kita akan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu yang berkembang demikian

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang Masalah. Pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu yang berkembang demikian 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu yang berkembang demikian pesat dengan berbagai aspek permasalahannya. Pendidikan tidak hanya bersinggungan dengan

Lebih terperinci

R-111 REKOMENDASI DISKRIMINASI (PEKERJAAN DAN JABATAN), 1958

R-111 REKOMENDASI DISKRIMINASI (PEKERJAAN DAN JABATAN), 1958 R-111 REKOMENDASI DISKRIMINASI (PEKERJAAN DAN JABATAN), 1958 2 R-111 Rekomendasi Diskriminasi (Pekerjaan dan Jabatan), 1958 Pengantar Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) merupakan merupakan badan

Lebih terperinci