KATA PENGANTAR. Kami panjatkan Puji Dan Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KATA PENGANTAR. Kami panjatkan Puji Dan Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas"

Transkripsi

1 STUDI TENTANG ANALISIS TERHADAP PENYELENGGARAAN PERTANGGUNGAN ASURANSI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERUSAHAAN ASURANSI. Studi tentang analisis terhadap penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor dan pengaruhnya terhadap perusahaan asuransi bertujuan untuk melakukan kajian penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor serta menganalisis hambatan-hambatan pelaksanaannya. Studi ini menggunakan metode pengumpulan data melalui survey dan studi literatur. Dari hasil analisis terhadap data yang dikumpulkan dapat diperoleh kesimpulan bahwa sejak diatur, perusahaan perasuransian mendukung secara positif pelaksanaan PMK No74/PMK.01/2007 jo PMK No. 01/PMK.010/2011 tentang penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyak perusahaan yang berusaha menggunakan tarif asuransi sendiri dibandingkan dengan tarif referensi yang dikeluarkan Bapepam LK, dengan cara meningkatkan kualitas data risk and loss profile perusahaan. Berarti tujuan dibuatnya peraturan ini telah tercapai. Demikian juga dengan perubahan atmosfer yang terjadi setelah dibuatnya peraturan tersebut, perang tarif dapat lebih diminimalisir sehingga dimungkinkan adanya persaingan yang lebih sehat antara perusahaan asuransi. i

2 KATA PENGANTAR Kami panjatkan Puji Dan Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya Studi tentang Analisis terhadap Penyelenggaraan Pertanggungan Asuransi pada Lini Usaha Asuransi Kendaraan Bermotor dan Pengaruhnya terhadap Perusahaan Asuransi. Semoga hasil kajian ini dapat menjadi bahan penelitian awal bagi pengembangan industri Asuransi khususnya di Indonesia. Tujuan dari kegiatan penelitian ini diharapkan dapat melakukan kajian berupa mengeksplorasi penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor serta menganalisis hambatan-hambatan pelaksanaannya. Tim juga berharap kajian ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan dan kompetensi dalam pengambilan keputusan baik dalam perumusan regulasi maupun peluang investasi di Indonesia. Akhir kata Tim Studi mengucapkan terimakasih kepada segenap pihak yang telah membantu penyelesaian studi ini. Kritik maupun saran yang membangun sangat diharapkan dalam penyempurnaan penelitian ini. Jakarta, Desember 2011 Ketua Tim Studi Asuransi ii

3 DAFTAR ISI ABSTRAK..... KATA PENGANTAR.. DAFTAR ISI. DAFTAR GAMBAR.... DAFTAR GRAFIK.. DAFTAR TABEL. i ii iii vi vii Iic w i BAB I LATAR BELAKANG Landasan Pemikiran Masalah Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Objek Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA Penetapan Tarif Premi Perkembangan Industri Kendaraan Bermotor Serta Penetapan Tarif Premi di Indonesia Pengaturan Premi Kendaraan Bermotor di Indonesia 10 BAB III METODOLOGI DAN RESPONDEN Metodologi Studi iii

4 Studi Regulasi mengenai Premi Asuransi Kendaraan Bermotor Focus Group Discussion (FGD) Kuesioner Responden BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Laporan Hasil Focus Group Discussion dengan Biro Perasuransian Praktik Pengenaan Premi Asuransi Kendaraan Bermotor di Industri Praktik Penggunaan Tarif Referensi Penggunaan Tarif Sendiri Berdasarkan Profil Risiko Besaran Tarif Premi Asuransi Kendaraan Bermotor Belanja Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Rangka Memperbaiki Data Profil Risiko Pandangan Industri Mengenai Diberlakukannya PMK Nomor 74/PMK.010/ Kondisi Iklim Usaha Sebelum Ditetapkannya PMK Nomor 74/PMK.010/ Kondisi Iklim Usaha Setelah Ditetapkannya PMK Nomor 74/PMK.010/ Masukan Pelaku Industri bagi Penyempurnaan Penyelenggaraan Pertanggungan Asuransi Kendaraan Bermotor 38 iv

5 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA.. vii v

6 DAFTAR GAMBAR GAMBAR GAMBAR GAMBAR vi

7 DAFTAR GRAFIK GRAFIK GRAFIK GRAFIK GRAFIK GRAFIK vii

8 DAFTAR TABEL TABEL TABEL TABEL TABEL TABEL TABEL TABEL TABEL TABEL viii

9 BAB I LATAR BELAKANG 1. Landasan Pemikiran Pertumbuhan kendaraan bermotor akhir-akhir ini dirasakan sudah sangat fantastis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, rata-rata pertumbuhan kendaraan bermotor selama sepuluh tahun terakhir sekitar 17,6% dengan konsentrasi yang lebih besar lagi di kota-kota besar. Hal ini tentu saja sangat menggembirakan karena bisa menjadi salah satu tolak ukur pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan kendaraan bermotor yang cukup pesat ini tentu saja bisa menarik industri lain yang bersinggungan dengannya untuk ikut tumbuh. Salah satu industri yang ikut serta adalah asuransi pada lini usaha kendaraan bermotor. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan selaku regulator industri perasuransian telah mengeluarkan PMK 74/PMK.01/2007 tentang Penyelenggaraan Pertanggungan Asuransi Pada Lini Usaha Kendaraan Bermotor yang diperbarui dengan PMK No. 01/PMK.010/2011. Dalam PMK ini telah diatur ttentang penetapan premi, biaya akuisisi dan komisi, pembentukan cadangan atas premi yang belum merupakan pendapatan serta pemeliharaan data dan pelaporan. Untuk memperjelas peraturan tersebut, pemerintah juga telah mengeluarkan Peraturan Ketua Bapepam LK No. 06/BL/2008 tentang Referensi Unsur Premi Murni serta unsur biaya administrasi dan biaya umum lainnya pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor tahun

10 Pelaksanaan peraturan tersebut telah dilaksanakan tiga tahun lebih terhitung peraturan mulai diundangkan. Waktu yang cukup untuk dilaksanakan evaluasi efisiensi dan efektifitas penerapan peraturan sehingga didapat tingkat premi wajar yang tidak memberatkan konsumen. Hal ini juga diperlukan untuk mengetahui hambatan-hambatan yang ditemui dalam penerapan peraturan untuk menegakkan praktik usaha yang sehat. Untuk membahas hal-hal tersebut perlu kiranya dilakukan sebuah studi tentang analisis terhadap penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor dan pengaruhnya terhadap perusahaan asuransi. 2. Masalah Penelitian Permasalahan utama yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah mempelajari efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor dan pengaruhnya terhadap perusahaan asuransi penyelenggara. 3. Tujuan Penelitian (1) Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk: (2) Melakukan kajian penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor. (3) Menganalisis hambatan-hambatan pelaksanaan PMK No 01/PMK.010/2011 tentang penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor. 2

11 4. Metode Penelitian Metode studi yang akan digunakan dalam studi ini terdiri dari studi pustaka maupun studi lapangan. (1) Studi Pustaka Studi pustaka dilakukan dengan mempelajari dan mengkaji berbagai literatur, peraturan-peraturan, maupun berita yang berkaitan dengan perkembangan perasuransian dari berbagai sumber. (2) Studi Lapangan Studi lapangan dilakukan melalui wawancara dan penyebaran kuesioner yang berkaitan dengan studi kepada pelaku pasar terkait, antara lain perusahaan asuransi. Studi lapangan ini juga dilakukan dengan mendatangkan narasumber yang kompeten untuk memaparkan dan mendiskusikan materi terkait. 5. Objek Penelitian Yang menjadi objek penelitian adalah produk asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor, dan dilihat dari sisi perusahaan penerbit di Indonesia. 3

12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Penetapan Tarif Premi Premi pada umumnya diartikan sebagai biaya yang harus dibayar kepada perusahaan asuransi untuk memperoleh suatu perlindungan atau jaminan atas risiko yang dapat menimpa suatu objek asuransi. Besarnya biaya yang dibayarkan terdiri dari dua komponen utama yaitu premi murni dan biaya asuransi atau disebut juga loading. Premi murni merupakan nilai sekarang dari klaim yang harus dibayarkan oleh perusahaan asuransi pada yang akan datang. Biaya asuransi (loading) merupakan biaya yang muncul sebagai akibat dari usaha perusahaan untuk memenuhi ketentuan yang terdapat dalam kontrak polis. Biaya asuransi umumnya terbagi atas tiga kelompok utama yaitu: 1. Biaya yang bergantung pada premi seperti komisi agen dan pajak 2. Biaya yang bergantung pada jumlah asuransi seperti biaya underwriting yang dipengaruhi besar polis 3. Biaya yang bergantung pada jumlah polis seperti biaya penyiapan polis untuk diterbitkan, biaya pengiriman tagihan. Terdapat empat tujuan utama dalam penetapan tarif premi yang berlaku umum diantara para akuaris. Adapun empat tujuan penetapan premi tersebut yaitu: 1. dapat menutupi klaim dan biaya terkait. Dalam pencapaian tujuan pertama ini, terdapat dua hal yang harus dihindari. Pertama, tidak diperkenankan adanya 4

13 subsidi antar generasi. Kedua, tidak diperkenankan adanya subsidi antar kelas resiko yang berbeda. 2. dapat membentuk cadangan kerugian atas kejadian yang tidak terduga. 3. memberikan keuntungan yang wajar bagi perusahaan asuransi. 4. memenuhi ketentuan perundangan yang berlaku. Dalam upaya menetapkan premi yang dapat memenuhi keempat tujuan utama diatas, aktuaris melakukan pengawasan terhadap resiko yang mungkin terjadi pada saat penetapan premi. Pengelolaan resiko penetapan premi dilakukan melalui beberapa tahapan seperti yang digambarkan dalam gambar 1. Gambar 1 Siklus Aktuaris 5

14 Tahap Pertama, identifikasi informasi dan data pendukung. Salah satu poin penting dalam penetapan premi adalah tersedianya database yang komprehensif dan muktahir. Aktuaris harus memiliki keyakinan bahwa data tersebut adalah akurat, muktahir dan diperoleh melalui suatu sistem pengolahan data yang dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya. Jenis data yang diperlukan antara lain proposal klaim (tanggal kejadian, lokasi kejadian, sebab dan akibat), pembayaran kerugian dan premi yang diperoleh, demografi pemegang polis. Tahap Kedua, penetapan asumsi Penetapan premi dilakukan berdasarkan suatu asumsi yang telah ditentukan. Sebagai contoh adalah penetapan asumsi biaya operasi. Dalam menentukan besar biaya opersional yang dibebankan kepada pemegang polis baru, perusahaan biasanya menghitung besaran biaya yang rata-rata polis menurut jenis polis dan usia masuk. Hasil perhitungan atas data tersebut menjadi asumsi awal dalam penentuan besaran biaya yang akan dibebankan dalam polis baru. Tahap Ketiga, pembangunan metode perhitungan Penetapan premi menggunakan berbagai macam data yang berasal dari berbagai sumber. Pengolahan data tersebut dilakukan melalui permodelan yang menggunakan disiplin ilmu statistik. Dari berbagai literatur mengenai penghitungan nilai premi, terdapat tiga metode utama yang umum dipakai oleh 6

15 aktuaris dalam penentuan nilai premi. Ketiga metode tersebut adalah metode adhoc, characterization method dan the economic method 1. Metode pertama yaitu metoda ad-hoc. Pada metoda ini, aktuaris mendefinisikan sendiri rumus perhitungan yang diinginkan, kemudian ia menentukan faktor faktor pendukung yang dapat dipergunakan dalam rumus tersebut. Metode ini terdiri dari berbagai macam variasi teknik perhitungan yaitu: a. Net Premium Principle: b. Expected Value Premium Principle c. Variance Premium Principle d. Standard Deviation Premium Principle e. Exponential Premium Principle f. Esscher Premium Principle g. Proportional Hazards Premium Principle h. Principle of Equivalent Utility i. Wang s Premium Principle: j. Swiss Premium Principle k. Dutch Premium Principle: Metode kedua yaitu characterization method. Pada metode ini, aktuaris melakukan dua pekerjaan secara simultan. Pekerjaan pertama adalah menentukan faktor input yang akan digunakan dalam perhitungan. Pekerjaan kedua adalah menentukan rumus perhitungan yang rasional dengan menggunakan faktor input dalam pekerjaan pertama 1 Premium Principles Reproduced from the Encyclopedia of Actuarial Science. John Wiley & Sons, Ltd,

16 Metode ketiga yaitu the economic method. Sesuai dengan namanya, dalam membuat suatu permodelan untuk menghasilkan rumus perhitungan premi, aktuaris mengembangkan rumus perhitungan dengan mengadopsi teori ekonomi tertentu. Contohnya adalah dengan menggabungkan Esscher Premium Principle dan expected utility theory. Tahapan berikutnya adalah analisis profitabilitas, pemantauan data dan asumsi dan pemuktahiran data dan asumsi. Setiap langkah tersebut dilakukan untuk menguji model yang ditetapkan untuk meyelidiki dan memilih suatu rumus yang diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. 2. Perkembangan Industri Kendaraan Bermotor Serta Penetapan Tarif Premi di Indonesia Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sejak tahun 1987 terus bertumbuh. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2009 jumlah kendaraan bermotor yang ada di seluruh Indonesia mencapai 70,7 juta unit. Jumlah ini terdiri dari 18,2 juta unit kendaraan roda empat dan 52,4 juta unit kendaraan roda dua. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor terus terjadi. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan terdapat penambahan 8,1 juta unit kendaraan pada tahun 2010 yang terdiri dari 7,4 juta kendaraan roda dua dan 764,7 ribu kendaraan roda empat dari berbagai tipe. Sehingga populasi kendaraan pada tahun 2010 sebesar 78,8 juta unit. 8

17 Tabel 1 Tahun Mobil Penumpang Bis Truk Sepeda Motor Jumlah Sumber: BPS *) sejak 1999 tidak termasuk Timor-Timur Jumlah kendaraan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus bertumbuh secara signifikan. Data Organisation Internationale des Constructeurs d Automobiles (OICA) menunjukkan pada tahun 2010, produksi kendaraan roda empat di Indonesia meningkat sebesar 51,1 % dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam posisi kedua setelah Thailand dalam hal produksi kendaraan roda empat di kawasan asia oceania. Gambar 2 Country % change THAILAND 999,378 1,644, % INDONESIA 464, , % PAKISTAN 109, , % TAIWAN 226, , % INDIA 2,641,550 3,536, % CHINA 13,790,994 18,264, % PHILIPPINES 50,419 65, % SOUTH KOREA 3,512,926 4,271, % JAPAN 7,934,057 9,625, % MALAYSIA 489, , % 9

18 IRAN 1,394,075 1,599, % VIETNAM 32,969 36, % AUSTRALIA 227, , % Sumber: OICA correspondents survey Produksi kendaraan roda dua juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Berdasarkan data BPS, jumlah kendaraan roda dua pada tahun 2005 sebesar 28,5 juta unit. Produksi kendaraan roda dua pada tahun yang sama sebanyak 5,1 juta unit. Pada tahun 2009 jumlah kendaraan mengalami peningkatan 84 persen dari kondisi pada tahun 2005 menjadi 52,4 juta unit. Produksi kendaraan juga mengalami peningkatan signifikan dengan rata rata pertumbuhan selama tahun 2005 sampai dengan 2010 sebesar 12,8 persen pertahun. Pertumbuhan produksi kendaraan bermotor memberi dampak positif terhadap pertumbuhan premi perusahaan asuransi umum. Secara rata rata, pertumbuhan premi asuransi kendaraan bermotor mengalamai kenaikan sebesar 20,1 persen pertahun. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar 28,3 persen dan terendah pada tahun 2009 sebesar 7,8 persen. 10

19 Gambar 3 Year Net Premi Motor % Shared % changed ,0% ,2% 19,9% ,7% 28,3% ,3% 7,8% ,8% 24,2% average 20,1% Sumber: Buku Perasuransian Indonesia 2010 Pada periode 2006 hingga 2010, premi Asuransi Umum bertumbuh sebesar 94% menjadi Rp.15,7 trilyun dari posisi tahun Kenaikan perolehan premi ini banyak disumbangkan dari lini bisnis asuransi kendaraan bermotor. Data Biro Perasuransian menunjukkan premi kendaraan bermotor menyumbang 43 persen pendapatan premi bersih perusahaan asuransi kerugian. 3. Pengaturan Premi Kendaraan Bermotor di Indonesia Pengaturan mengenai premi asuransi secara umum diatur pada pasal 20, 21 dan pasal 22 Peraturan Pemerintah nomor 73 tahun Pasal 20 mengatur mengenai sifat premi yang dikenakan kepada pemengang polis. Sifat utama premi menurut pasal tersebut adalah mencukupi, tidak berlebihan, dan tidak diskriminatif. Pasal 21 mengatur mengenai cara penetapan premi. Pasal ini mewajibkan perusahaan untuk melakukan analisis resiko yang sehat dalam penetapan nilai premi yang dibebankan. Pasal 22 mengatur mengenai tata cara pembayaran premi, tenggat waktu dan tanggung jawab pembayar premi. Pengaturan lebih lanjut mengenai premi tertuang dalam pasal 19 Keputusan Menteri Keuangan nomor 422/ KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan 11

20 Reasuransi. Pasal tersebut kembali menegaskan penggunaan asumsi yang wajar dan praktek asuransi yang berlaku umum dalam perhitungan tingkat premi. Khusus untuk perusahaan asuransi umum, pasal ini mengamanatkan 2 hal yang harus dipertimbangkan dalam penetapan tarif premi yaitu: 1. Kewajiban Penggunaan data profil resiko selama lima tahun dalam penentuan premi murni 2. Mempertimbangkan faktor loadin yaitu biaya akuisisi, biaya administrasi dan biaya umum lainnya. Selanjutnya pengaturan premi khusus asuransi kendaraan bermotor diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 74/PMK.010/2007 tentang Penyelenggaraan Pertanggungan Asuransi pada Lini Usaha Asuransi Kendaraan Bermotor. Ketentuan ini memberikan petunjuk mengenai unsur-unsur yang diperlukan dalam penetapan premi murni, biaya administrasi dan umum, biaya akuisisi dan keuntungan yang wajar. Pengaturan selengkapnya terdapat pada pasal 2 ayat 2 sebagai berikut: (2) Penetapan tarif premi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup unsurunsur premi murni, biaya administrasi dan umum lain, biaya akuisisi, serta keuntungan, dengan ketentuan sebagai berikut: a. Penetapan unsur premi murni dilakukan berdasarkan perhitungan yang didukung dengan data profil risiko dan kerugian (risk and loss profile) untuk periode paling singkat 5 (lima) tahun; b. Penetapan unsur biaya administrasi dan biaya umum lainnya dilakukan berdasarkan perhitungan yang didukung dengan data biaya administrasi dan biaya umum lainnya yang menjadi bagian lini usaha Asuransi Kendaraan Bermotor untuk periode paling singkat 5 (lima) tahun; c. Penetapan unsur biaya akuisisi dilakukan sesuai dengan ketentuan mengenai biaya akuisisi sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan ini; dan d. Penetapan unsur keuntungan yang wajar. Selain mengatur mengenai penetapan tarif premi, ketentuan ini juga memberikan tarif referensi yang dapat dipergunakan oleh perusahaan yang belum 12

21 memiliki basis data yang mencukupi sesuai dengan ketentuan pasal 2. Penetapan tarif dibagi atas 6 kategori uang pertanggungan,2 (dua) jenis kendaraan untuk jenis pertanggungan total lossonly (TLO) dan pertanggungan comprehensive. 13

22 BAB III METODOLOGI DAN RESPONDEN 1. Metodologi Studi Sebagaimana telah diuraikan dalam Bab I, studi ini memiliki tiga tujuan sebagai berikut.pertama, studi ini bermaksud mengetahui praktik penetapan premi asuransi kendaraan bermotor di kalangan industri setelah diberlakukannya PMK Nomor 74/PMK.010/2007. Kedua, studi ini bermaksud mengevaluasi apakah PMK tersebut dapat mengurangi perang tarif dalam penetapan premi asuransi kendaraan bermotor. Ketiga, studi ini juga ditujukan untuk memberikan masukan bagi penyempurnaan PMK dimaksud. Untuk mencapai ketiga tujuan di atas, studi ini menggunakan tiga metode, sebagaimana diuraikan sebagai berikut: 1.1. Studi Regulasi mengenai Premi Asuransi Kendaraan Bermotor Sebagai perbandingan sekaligus bahan masukan bagi perbaikan atau penyempurnaan regulasi di Indonesia, Tim Studi mengumpulkan berbagai peraturan mengenai tarif premi asuransi kendaraan bermotor yang berlaku di negara-negara lain, baik yang dikeluarkan oleh regulator industri asuransi ataupun asosiasi industri. Negara-negara yang dijadikan referensi dalam studi ini meliputi Australia, Malaysia, dan Singapura. Dari peraturan-peraturan yang berhasil dikumpulkan, Tim membuat ikhtisar atas pasal-pasal peraturan yang dipandang relevan sebagai perbandingan ataupun sebagai masukan bagi penyempurnaan PMK Nomor 74/PMK.010/2007. Hasil dari studi regulasi ini dituangkan dalam Bab II (Tinjauan Pustaka). 13

23 1.2. Focus Group Discussion (FGD) Tim juga menyelenggarakan FGD dengan mengundang Biro Perasuransian, Bapepam-LK, yang merupakan regulator industri asuransi di Indonesia. FGD tersebut dimaksudkan untuk memberikan pemahaman mengenai latar belakang dikeluarkannya PMK Nomor 74/PMK.010/2007 yang mengatur mengenai premi asuransi kendaraan bermotor. Bab IV dari Laporan Studi ini melaporkan hasil FGD tersebut, yang diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai praktik umum di industri asuransi kendaraan bermotor serta pengaruh PMK tersebut dalam mengurangi perang tarif Kuesioner Guna menghimpun informasi dan masukan dari kalangan industri, metode yang digunakan dalam studi ini adalah kuesioner semi-terstruktur (semi-structured questionnaire) yang dikirimkan kepada seluruh perusahaan asuransi yang memiliki lini usaha asuransi kendaraan bermotor. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner terdiri dari pertanyaan tertutup (close-ended question) serta pertanyaan terbuka (open-ended question). Adapun topik-topik pertanyaan yang diajukan meliputi praktik penetapan premi, kondisi bisnis sebelum dan sesudah ditetapkannya PMK Nomor 74/PMK.010/2007, serta menghimpun masukan bagi penyempuraan PMK dimaksud. Penggunaan metode kuesioner ini diharapkan dapat mendukung tercapainya ketiga tujuan studi. Hasil dari penyebaran kuesioner ini selanjutnya akan dianalisis secara kuantitatif maupun kualitatif. Dalam analisis kuantitatif, digunakan statistika 14

24 deskriptif, yaitu data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Dari pertanyaanpertanyaan kuesioner yang bersifat kualitatif, akan dianalisis kesamaan intisari jawaban secara manual sebagai dasar pengambilan kesimpulan. 2. Responden Salah satu metodologi studi adalah kuesioner semi-terstruktur, yang dikirimkan kepada perusahaan-perusahaan asuransi yang memiliki lini usaha asuransi kendaraan bermotor. Hingga akhir Desember 2010, di Indonesia terdapat 87 perusahaan asuransi yang memegang izin usaha asuransi kendaraan bermotor. Mengingat jumlah perusahaan asuransi yang relatif tidak besar, keseluruhan 87 perusahaan tersebut dijadikan sebagai responden dalam studi ini. Dengan demikian, sampel yang digunakan adalah 100% dari populasi. Pengiriman kuesioner dilaksanakan selama bulan Juli Hingga akhir September 2011, Tim Studi telah menerima sebanyak 49 kuesioner, untuk kemudian dijadikan sebagai dasar analisis lebih lanjut. Dengan demikian, tingkat respons pengembalian kuesioner mencapai 60,49%. 15

25 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 1. Laporan Hasil Focus Group Discussion dengan Biro Perasuransian Sebagai pijakan awal pelaksanaan studi tentang Analisis penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor dan pengaruhnya kepada perusahaan asuransi, maka tim studi melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan narasumber dari Biro Perasuransian. Tujuan dilaksanakannya FGD ini adalah untuk mengetahui situasi sebelum lahirnya PMK No 74 Tahun 2007, isi dari peraturan tersebut dan hipotesa awal yang dimiliki oleh Biro Perasuransian terhadap peraturan tersebut, sebelum diadakannya penelitian ini. Bapak Irfan Sitanggang dari Biro Perasuransian menjelaskan situasi sebelum lahirnya PMK No 74 tahun 2007 yaitu sebagai berikut: Lini usaha Asuransi Kendaraan Bermotor sangat memprihatinkan. Penetapan premi yang ada sudah tidak wajar, tidak berdasarkan Risk & Profile. Persaingan yang timbul menjadi tidak sehat. Dikhawatirkan premi yang ada tidak mampu menutup klain yang terjadi. Timbul inisiatif untuk menertibkan praktek yang tidak sehat tersebut. Kemudian dilakukan kajian yang menjadi dasar pembuatan PMK No 74/010/2007 tentang penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor. PMK tersebut mengatur perusahaan asuransi untuk menetapkan premi berdasarkan data risk & profile. Apabila tidak memiliki data tersebut, maka 16

26 perusahaan asuransi dapat menggunakan tarif referensi yang dikeluarkan oleh Biro Perasuransian. Selanjutnya Ibu Eko Martini menjelaskan lebih lanjut mengenai PMK No 74/PMK.010/2007 dan PMK No 01/PMK.010/2011 tentang penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor sebagai berikut: Perusahaan asuransi harus melaporkan data risk & Profile perusahaan. Pada awalnya data agregat yang diminta, setelah keluar PMK , data yang diminta menjadi lebih rinci. Data-data perusahaan yang dikumpulkan oleh Biro Perasuransian kemudian diolah oleh ITB dan PAI yang kemudian didapatkan tarif premi yang bisa dijadikan referensi oleh perusahaan asuransi. Bu Endang Ari kemudian menambahkan mekanisme perusahaan dalam penetapan tarif premi sebagai berikut: Biro perasuransian mewajibkan menjual asuransi kendaraan bermotor dengan premi yang berdasarkan atas data risk & profile selama 5 tahun. Jika tidak ada data, maka perusahaan asuransi wajib menggunakan tarif referensi. Selanjutnya diterbitkan peraturan Ketua Bapepam LK No 07/BL/2009 Tentang REFERENSI UNSUR PREMI MURNI SERTA UNSUR BIAYA ADMINISTRASI DAN BIAYA UMUM LAINNYA PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN Pada peraturan tersebut, perusahaan yang menggunakan data sendiri harus memperkitungkan 17

27 faktor kredibilitas. Jika perusahaan memiliki data, tetapi tidak kredibel, maka perusahaan tersebut juga wajib menggunakan tarif referensi, bukan data perusahaan. Setiap tahun, perusahaan asuransi wajib menyampaikan laporan rencana pengeluaran tarif. Dari laporan tersebut, terihat apakah perusahaan menggunakan premi dengan data sendiri atau dengan tarif referensi. Dari FGD tersebut, telah diambil hipotesa awal bahwa setelah diundangkannya PMK No 74 Tahun 2007, terjadi perubahan yang signifikan mengenai perilaku Perusahaan Asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor dalam menetapkan tarif preminya. 2. Praktik Pengenaan Premi Asuransi Kendaraan Bermotor di Industri Sebagaimana telah dibahas dalam Bab III, Tim Studi mengirimkan kuesioner kepada perusahaan-perusahaan asuransi yang memiliki lini usaha asuransi kendaraan bermotor. Di sini akan dianalisis dan dibahas jawabanjawaban yang diberikan responden atas pertanyaan-pertanyaan terkait praktik pengenaan premi asuransi kendaraan bermotor. Sebagaimana ditentukan dalam PMK Nomor 74/PMK.010/2007, untuk asuransi kendaraan bermotor, perusahaan asuransi menetapkan tarif premi berdasarkan data profil risiko dan kerugian serta data biaya. Apabila data dimaksud belum dimiliki, perusahaan asuransi yang bersangkutan wajib menggunakan tarif referensi yang ditetapkan oleh PMK tersebut. Untuk mengetahui pelaksanaan atas ketentuan PMK tersebut, Tim Studi menanyakan kepada responden, Apa dasar penetapan tarif premi asuransi kendaraan 18

28 bermotor di perusahaan Saudara saat ini? Kepada responden diberikan pilihan Tarif Referensi dan Tarif Sendiri. Grafik 4.1 menyajikan ikhtisar jawaban yang diberikan oleh responden. Dari 49 responden yang mengembalikan kuesioner, 40 responden (81,63%) menetapkan tarif premi sendiri berdasarkan data profil risiko, sedangkan sisanya (sembilan responden atau 18,37%) memilih menggunakan tarif referensi. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar perusahaan asuransi untuk lini usaha asuransi kendaraan bermotor telah memiliki miliki data profil risiko, sehingga sesuai dengan PMK perusahaan-perusahaan tersebut dapat menetapkan tarif premi sendiri berdasarkan data-data yang mereka miliki. Grafik 4.1 Praktik penetapan tarif asuransi kendaraan bermotor (n = 49) Tarif Referensi 18,37% Tarif Sendiri 81,63% 2.1. Praktik Penggunaan Tarif Referensi Meskipun mayoritas perusahaan asuransi telah menetapkan tarif sendiri untuk asuransi kendaraan bermotor, sejumlah perusahaan masih menggunakan tarif referensi yang ditetapkan dalam PMK Nomor 74/PMK.010/2007. Perusahaan-perusahaan semacam ini diduga belum memiliki data profil risiko yang memadai sebagai prasyarat untuk dapat menetapkan tarif sendiri. Karena itu, 19

29 terdapat kemungkinan perusahaan-perusahaan tersebut akan melakukan investasi perbaikan basis data dan infrastruktur sehingga pada masa yang akan datang dapat menetapkan tarif premi sendiri berdasarkan data profil risiko. Hal ini merupakan latar belakang dari diajukannya pertanyaan lanjutan kepada perusahaan asuransi yang menggunakan tarif referensi, Jika saat ini menggunakan tarif referensi, apakah dalam tiga tahun mendatang perusahaan Saudara akan menggunakan tarif sendiri berdasarkan data profil risiko? Dari sembilan responden yang menggunakan tarif referensi, lima responden (55,56%) menjawab Ya, yang berarti mereka akan tetap menggunakan tarif referensi hingga setidaknya tiga tahun mendatang. Empat perusahaan yang lain (44,44%) menjawab Tidak, yang menunjukkan bahwa hingga tiga tahun mendatang mereka akan beralih menggunakan tarif sendiri berdasarkan data profil risiko. Dengan demikian, proporsi perusahaan yang memberikan jawaban Ya dan Tidak relatif berimbang, sebagaimana ditunjukkan dalam Grafik 4.2. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat sebagian pelaku industri yang tetap ingin menggunakan tarif referensi hingga beberapa tahun mendatang, dan belum merencanakan untuk beralih menggunakan tarif sendiri berdasarkan data profil risiko. Terdapat kemungkinan hal ini dikarenakan tidak adanya klausul yang mengatur bahwa perusahaan asuransi harus memiliki data profil risiko dan kerugian yang sesuai dengan persyaratan Bapepam LK. Sampai saat ini perusahaan hanya wajib memiliki Sistem Informasi yang dapat menghasilkan data profil risiko dan wajib memelihara data profil risiko (pasal 6 PMK No 74 Tahun 2007) 20

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 74 /PMK.010/2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PERTANGGUNGAN ASURANSI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 74 /PMK.010/2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PERTANGGUNGAN ASURANSI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 74 /PMK.010/2007 TENTANG PENYELENGGARAAN PERTANGGUNGAN ASURANSI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR Peraturan ini telah diketik ulang, bila ada keraguan mengenai

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN -1-

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN -1- KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN -1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 07 /BL/2012 TENTANG REFERENSI

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR : PER- 04/BL/2011 TENTANG REFERENSI

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. mempertahankan kelangsungan kinerjanya. Perkembangan ilmu pengetahuan

I. PENDAHULUAN. mempertahankan kelangsungan kinerjanya. Perkembangan ilmu pengetahuan I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan dituntut untuk senantiasa meningkatkan produktivitas, kualitas produk yang dihasilkan, efisiensi dan yang paling penting inovasi untuk dapat mempertahankan

Lebih terperinci

PENETAPAN TARIF PREMI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2014

PENETAPAN TARIF PREMI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2014 PENETAPAN TARIF PREMI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2014 I. KETENTUAN UMUM 1. Otoritas Jasa Keuangan yang selanjutnya disingkat OJK adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur

Lebih terperinci

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,

MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 422/KMK.06/2003 TAHUN 2003 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERUSAHAAN ASURANSI DAN PERUSAHAAN REASURANSI MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang:

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 23 /POJK.05/2015 TENTANG PRODUK ASURANSI DAN PEMASARAN PRODUK ASURANSI

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 23 /POJK.05/2015 TENTANG PRODUK ASURANSI DAN PEMASARAN PRODUK ASURANSI OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 23 /POJK.05/2015 TENTANG PRODUK ASURANSI DAN PEMASARAN PRODUK ASURANSI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER

Lebih terperinci

-1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 09/BL/2012 TENTANG

-1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 09/BL/2012 TENTANG -1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 09/BL/2012 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN CADANGAN TEKNIS BAGI PERUSAHAAN ASURANSI DAN PERUSAHAAN REASURANSI KETUA BADAN

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR.../POJK.05/2014

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR.../POJK.05/2014 OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA RANCANGAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR.../POJK.05/2014 TENTANG PEMELIHARAAN DAN PELAPORAN DATA RISIKO ASURANSI SERTA PENERAPAN TARIF PREMI UNTUK LINI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mekanisme asuransi atau pertanggungan. Undang-Undang Republik Indonesia

BAB I PENDAHULUAN. mekanisme asuransi atau pertanggungan. Undang-Undang Republik Indonesia BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Asuransi atau pertanggungan timbul karena kebutuhan manusia. Manusia selalu dihadapkan dengan berbagai risiko dalam kehidupan sehari-hari, seperti risiko

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

I. PENDAHULUAN Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perusahaan asuransi merupakan salah satu bentuk lembaga keuangan non bank yang memberikan jasa perlindungan kepada masyarakat dalam hampir semua aspek kehidupan baik

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 69 /POJK.05/2016 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERUSAHAAN ASURANSI, PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH, PERUSAHAAN REASURANSI,

Lebih terperinci

LAMPIRAN II SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 18 /SEOJK.05/2016 TENTANG PELAPORAN PRODUK ASURANSI BAGI PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH DAN

LAMPIRAN II SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 18 /SEOJK.05/2016 TENTANG PELAPORAN PRODUK ASURANSI BAGI PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH DAN LAMPIRAN II SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 18 /SEOJK.05/2016 TENTANG PELAPORAN PRODUK ASURANSI BAGI PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH DAN PERUSAHAAN ASURANSI YANG MENYELENGGARAKAN SEBAGIAN USAHANYA

Lebih terperinci

Membangkitkan Data Klaim Individu Pemegang Polis Asuransi Kendaraan Bermotor Berdasarkan Data Klaim Agregat

Membangkitkan Data Klaim Individu Pemegang Polis Asuransi Kendaraan Bermotor Berdasarkan Data Klaim Agregat Statistika, Vol. 12 No. 1, 43 49 Mei 2012 Membangkitkan Data Individu Pemegang Polis Asuransi Bermotor Berdasarkan Data Agregat Program Studi Statistika, Universitas Islam Bandung, Jl. Purnawarman 63 Bandung.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. mengalokasikan dana dari pihak yang mengalami surplus dana kepada pihak yang

BAB I PENDAHULUAN. mengalokasikan dana dari pihak yang mengalami surplus dana kepada pihak yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Stabilitas sistem keuangan memegang peran penting dalam perekonomian. Sebagai bagian dari sistem perekonomian, sistem keuangan berfungsi mengalokasikan dana dari pihak

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 168/PMK.010/2010 TENTANG PEMERIKSAAN PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 168/PMK.010/2010 TENTANG PEMERIKSAAN PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 168/PMK.010/2010 TENTANG PEMERIKSAAN PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dalam rangka meningkatkan

Lebih terperinci

LAMPIRAN III SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 18 /SEOJK.05/2016 TENTANG PELAPORAN PRODUK ASURANSI BAGI PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH DAN

LAMPIRAN III SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 18 /SEOJK.05/2016 TENTANG PELAPORAN PRODUK ASURANSI BAGI PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH DAN LAMPIRAN III SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 18 /SEOJK.05/2016 TENTANG PELAPORAN PRODUK ASURANSI BAGI PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH DAN PERUSAHAAN ASURANSI YANG MENYELENGGARAKAN SEBAGIAN USAHANYA

Lebih terperinci

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI

TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI TAMBAHAN LEMBARAN NEGARA RI No.5618 EKONOMI. Asuransi. Penyelenggaraan. Pencabutan. (Penjelasan Atas Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 337). PENJELASAN ATAS UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Banyaknya perusahaan leasing yang menyebar di lingkungan masyarakat dengan penawaran Down Payment yang begitu rendah hal ini menyebabkan semakin mudahnya masyarakat

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 11/PMK.010/2011 TENTANG KESEHATAN KEUANGAN USAHA ASURANSI DAN USAHA REASURANSI DENGAN PRINSIP SYARIAH

SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 11/PMK.010/2011 TENTANG KESEHATAN KEUANGAN USAHA ASURANSI DAN USAHA REASURANSI DENGAN PRINSIP SYARIAH MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 11/PMK.010/2011 TENTANG KESEHATAN KEUANGAN USAHA ASURANSI DAN USAHA REASURANSI DENGAN PRINSIP SYARIAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN -1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 10/BL/2012 TENTANG LAPORAN

Lebih terperinci

PENETAPAN TARIF PREMI PADA RISIKO KHUSUS BANJIR UNTUK LINI USAHA ASURANSI HARTA BENDA DAN ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2014

PENETAPAN TARIF PREMI PADA RISIKO KHUSUS BANJIR UNTUK LINI USAHA ASURANSI HARTA BENDA DAN ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2014 PENETAPAN TARIF PREMI PADA RISIKO KHUSUS BANJIR UNTUK LINI USAHA ASURANSI HARTA BENDA DAN ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2014 I. KETENTUAN UMUM 1. Otoritas Jasa Keuangan yang selanjutnya disingkat OJK

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 11/PMK.010/2011 TENTANG KESEHATAN KEUANGAN USAHA ASURANSI DAN USAHA REASURANSI DENGAN PRINSIP SYARIAH

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 11/PMK.010/2011 TENTANG KESEHATAN KEUANGAN USAHA ASURANSI DAN USAHA REASURANSI DENGAN PRINSIP SYARIAH PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 11/PMK.010/2011 TENTANG KESEHATAN KEUANGAN USAHA ASURANSI DAN USAHA REASURANSI DENGAN PRINSIP SYARIAH Peraturan ini telah diketik ulang, bila ada keraguan mengenai isinya

Lebih terperinci

ANALISIS KINERJA KEUANGAN BERDASARKAN EARLY WARNING SYSTEM PADA PT. ASURANSI CENTRAL ASIA CABANG PALEMBANG

ANALISIS KINERJA KEUANGAN BERDASARKAN EARLY WARNING SYSTEM PADA PT. ASURANSI CENTRAL ASIA CABANG PALEMBANG ANALISIS KINERJA KEUANGAN BERDASARKAN EARLY WARNING SYSTEM PADA PT. ASURANSI CENTRAL ASIA CABANG PALEMBANG Maria Indah Agustina Jurusan Akuntansi POLTEK PalComTech Palembang Abstrak Asuransi merupakan

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang 1 I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sejak liberalisasi perbankan tahun 1988, persyaratan pembukaan bank dipermudah, bahkan setoran modal untuk mendirikan bank relatif dalam jumlah yang kecil. Kebijakan

Lebih terperinci

BAB IV ANALISA DAN HASIL PEMBAHASAN. 4.1 Analisis Rasio Keuangan PT. Asuransi Ramayana Tbk

BAB IV ANALISA DAN HASIL PEMBAHASAN. 4.1 Analisis Rasio Keuangan PT. Asuransi Ramayana Tbk BAB IV ANALISA DAN HASIL PEMBAHASAN 4.1 Analisis Rasio Keuangan PT. Asuransi Ramayana Tbk Laporan keuangan merupakan salah satu sumber informasi penting bagi para pemakai laporan keuangan dalam rangka

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : /PMK.010/2012 TENTANG PRODUK ASURANSI DAN PEMASARAN PRODUK ASURANSI

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : /PMK.010/2012 TENTANG PRODUK ASURANSI DAN PEMASARAN PRODUK ASURANSI RANCANGAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : /PMK.010/2012 TENTANG PRODUK ASURANSI DAN PEMASARAN PRODUK ASURANSI MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa semakin beragam dan kompleksnya Produk Asuransi dan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Usulan kerangka..., Charly Buchari, FE UI, 2009

BAB I PENDAHULUAN. 1 Universitas Indonesia. Usulan kerangka..., Charly Buchari, FE UI, 2009 BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Industri asuransi umum di Indonesia menunjukkan perkembangan yang cukup pesat, dimana industri ini mampu mencatatkan pertumbuhan premi bruto 2008 sebesar 24,7% terhadap

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 14 /POJK.05/2015 TENTANG RETENSI SENDIRI DAN DUKUNGAN REASURANSI DALAM NEGERI

PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 14 /POJK.05/2015 TENTANG RETENSI SENDIRI DAN DUKUNGAN REASURANSI DALAM NEGERI PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 14 /POJK.05/2015 TENTANG RETENSI SENDIRI DAN DUKUNGAN REASURANSI DALAM NEGERI I. UMUM Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan

BAB I PENDAHULUAN. Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Industri perbankan memegang peranan penting dalam menunjang kegiatan perekonomian. Begitu penting perannya sehingga ada anggapan bahwa bank merupakan "nyawa

Lebih terperinci

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA No.337, 2014 EKONOMI. Asuransi. Penyelenggaraan. Pencabutan. (Penjelasan Dalam Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5618). UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA

Lebih terperinci

LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 18 /SEOJK.05/2016 TENTANG PELAPORAN PRODUK ASURANSI BAGI PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH DAN

LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 18 /SEOJK.05/2016 TENTANG PELAPORAN PRODUK ASURANSI BAGI PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH DAN LAMPIRAN I SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 18 /SEOJK.05/2016 TENTANG PELAPORAN PRODUK ASURANSI BAGI PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH DAN PERUSAHAAN ASURANSI YANG MENYELENGGARAKAN SEBAGIAN USAHANYA

Lebih terperinci

PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 23/POJK.05/2015 TENTANG PRODUK ASURANSI DAN PEMASARAN PRODUK ASURANSI

PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 23/POJK.05/2015 TENTANG PRODUK ASURANSI DAN PEMASARAN PRODUK ASURANSI PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 23/POJK.05/2015 TENTANG PRODUK ASURANSI DAN PEMASARAN PRODUK ASURANSI I. UMUM Perkembangan industri perasuransian saat ini cukup pesat sehingga mendorong

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Dilihat dari kondisi masyarakat saat ini, jarang sekali orang tidak

BAB I PENDAHULUAN. Dilihat dari kondisi masyarakat saat ini, jarang sekali orang tidak BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dilihat dari kondisi masyarakat saat ini, jarang sekali orang tidak mengenal bank dan tidak berhubungan dengan bank. Perbankan sendiri memegang peranan penting

Lebih terperinci

II. TINJAUAN PUSTAKA PSAK 28: Akuntansi Asuransi Kerugian (Revisi 2012) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 28 bertujuan untuk

II. TINJAUAN PUSTAKA PSAK 28: Akuntansi Asuransi Kerugian (Revisi 2012) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 28 bertujuan untuk 7 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Landasan Teori 2.1.1 PSAK 28: Akuntansi Asuransi Kerugian (Revisi 2012) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 28 bertujuan untuk mengatur bagaimana perlakuan akuntansi

Lebih terperinci

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.05/2016 TENTANG

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.05/2016 TENTANG Yth. 1. Direksi Perusahaan Asuransi, 2. Direksi Perusahaan Reasuransi, 3. Direksi Perusahaan Asuransi Syariah, dan 4. Direksi Perusahaan Reasuransi Syariah di tempat. SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2014 TENTANG PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2014 TENTANG PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2014 TENTANG PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa industri perasuransian yang sehat, dapat diandalkan,

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53/PMK.010/2012 TENTANG KESEHATAN KEUANGAN PERUSAHAAN ASURANSI DAN PERUSAHAAN REASURANSI

PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53/PMK.010/2012 TENTANG KESEHATAN KEUANGAN PERUSAHAAN ASURANSI DAN PERUSAHAAN REASURANSI PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 53/PMK.010/2012 TENTANG KESEHATAN KEUANGAN PERUSAHAAN ASURANSI DAN PERUSAHAAN REASURANSI Keputusan ini telah diketik ulang, bila ada keraguan mengenai

Lebih terperinci

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2014 TENTANG PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2014 TENTANG PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 40 TAHUN 2014 TENTANG PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa industri perasuransian yang sehat, dapat diandalkan,

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN Peraturan ini telah diketik ulang, bila ada keraguan mengenai isinya harap merujuk kepada teks aslinya.

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. berbeda dalam hal apa yang dijual, namun sama-sama memiliki kesamaan

BAB 1 PENDAHULUAN. berbeda dalam hal apa yang dijual, namun sama-sama memiliki kesamaan BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Setiap perusahaan yang menjual produk atau jasa sangat membutuhkan pelanggan untuk kelangsungan usaha mereka, walaupun produk dan jasa berbeda dalam hal apa

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa peranan usaha perasuransian di Indonesia dalam menunjang

Lebih terperinci

Metodologi Pemeringkatan Kemampuan Membayar Klaim untuk Perusahaan Asuransi Umum*

Metodologi Pemeringkatan Kemampuan Membayar Klaim untuk Perusahaan Asuransi Umum* Fitur Pemeringkatan ICRA Indonesia Desember 2014 Metodologi Pemeringkatan Kemampuan Membayar Klaim untuk Perusahaan Asuransi Umum* Pemeringkatan ICRA Indonesia untuk kemampuan membayar klaim (atau Claims

Lebih terperinci

... Hubungi Kami : Mohon Kirimkan. eksemplar. Posisi : Nama (Mr/Mrs/Ms) Nama Perusahaan. Alamat. Tanggal : / / Telepon/Fax. Tanda Tangan : E mail

... Hubungi Kami : Mohon Kirimkan. eksemplar. Posisi : Nama (Mr/Mrs/Ms) Nama Perusahaan. Alamat. Tanggal : / / Telepon/Fax. Tanda Tangan : E mail Hubungi Kami 021 31930 108 021 31930 109 021 31930 070 marketing@cdmione.com W alaupun pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2014 lalu hanya sebesar 5,02%, namun industri asuransi Indonesia secara umum

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 426 /KMK.06/2003

KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 426 /KMK.06/2003 KEPUTUSAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 426 /KMK.06/2003 TENTANG PERIZINAN USAHA DAN KELEMBAGAAN PERUSAHAAN ASURANSI DAN PERUSAHAAN REASURANSI Keputusan ini telah diketik ulang, bila ada keraguan

Lebih terperinci

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 124 /PMK.010/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN LINI USAHA ASURANSI KREDIT DAN SURETYSHIP

PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 124 /PMK.010/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN LINI USAHA ASURANSI KREDIT DAN SURETYSHIP PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR 124 /PMK.010/2008 TENTANG PENYELENGGARAAN LINI USAHA ASURANSI KREDIT DAN SURETYSHIP Naskah Peraturan ini telah diketik ulang, bila ada keraguan mengenai isinya harap merujuk

Lebih terperinci

BAB 4 ANALISIS PEMBAHASAN

BAB 4 ANALISIS PEMBAHASAN BAB 4 ANALISIS PEMBAHASAN 4.1. Strategi Sekuritisasi Aset pada Piutang Pembiayaan Konsumen Seperti telah diuraikan maka salah satu aset yang memungkinkan untuk disekuritisasi oleh Perseroan adalah piutang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 14 /POJK.05/2015 TENTANG RETENSI SENDIRI DAN DUKUNGAN REASURANSI DALAM NEGERI

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 14 /POJK.05/2015 TENTANG RETENSI SENDIRI DAN DUKUNGAN REASURANSI DALAM NEGERI OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 14 /POJK.05/2015 TENTANG RETENSI SENDIRI DAN DUKUNGAN REASURANSI DALAM NEGERI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

Pelanggan Membayar Lebih Mahal untuk Membeli Entry SUV; Studi J.D. Power Menyimpulkan Bahwa Kepuasan Meningkat Seiring Dengan Popularitas

Pelanggan Membayar Lebih Mahal untuk Membeli Entry SUV; Studi J.D. Power Menyimpulkan Bahwa Kepuasan Meningkat Seiring Dengan Popularitas Pelanggan Membayar Lebih Mahal untuk Membeli Entry SUV; Studi J.D. Power Menyimpulkan Bahwa Kepuasan Meningkat Seiring Dengan Popularitas Daihatsu Menempati Posisi Tertinggi di antara Merek Mobil Lainnya

Lebih terperinci

1 PENDAHULUAN Latar Belakang

1 PENDAHULUAN Latar Belakang 1 1 PENDAHULUAN Latar Belakang Persaingan bisnis pada era globalisasi saat ini menuntut perusahaan untuk meningkatkan daya saing dan keunggulan kompetitif. Pasar yang semakin luas dan selera konsumen yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan dana pensiun. (Tariqullah Khan dan Habib Ahmed, 2008: 48) (2012), tiga diantaranya merupakan asuransi jiwa syariah.

BAB I PENDAHULUAN. dan dana pensiun. (Tariqullah Khan dan Habib Ahmed, 2008: 48) (2012), tiga diantaranya merupakan asuransi jiwa syariah. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Lembaga intermediasi secara umum dapat diklasifikasikan ke dalam tiga bentuk, yaitu lembaga depositori, lembaga intermediasi investasi, dan lembaga intermediasi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. suatu perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor internal dan eksternal yang

BAB I PENDAHULUAN. suatu perusahaan harus memperhatikan faktor-faktor internal dan eksternal yang BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada era globalisasi saat ini, persaingan usaha semakin kompetitif dan kreatif. Untuk dapat bertahan dalam persaingan usaha yang ketat, pihak manajemen dalam

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Kemudian dalam

BAB I PENDAHULUAN. Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha Perasuransian. Kemudian dalam BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Keberadaan industri perusahaan asuransi di Indonesia sangat membantu pemerintah dalam menanggulangi risiko yang dihadapi oleh masyarakat setiap saat, kemudian

Lebih terperinci

PERAMALAN PERMINTAAN BAN MOBIL PENUMPANG PT GOODYEAR INDONESIA TBK. Oleh RUDI AWALUDIN A

PERAMALAN PERMINTAAN BAN MOBIL PENUMPANG PT GOODYEAR INDONESIA TBK. Oleh RUDI AWALUDIN A PERAMALAN PERMINTAAN BAN MOBIL PENUMPANG PT GOODYEAR INDONESIA TBK Oleh RUDI AWALUDIN A 14102569 PROGRAM SARJANA EKSTENSI MANAJEMEN AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006 PERAMALAN

Lebih terperinci

PENDAHULUAN Asuransi merupakan salah satu alternatif untuk mengalihkan dan mengendalikan risiko finansial dari hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh kar

PENDAHULUAN Asuransi merupakan salah satu alternatif untuk mengalihkan dan mengendalikan risiko finansial dari hal-hal yang tidak diinginkan. Oleh kar ANALISIS PENGARUH RBC, RASIO UNDERWRITING, RASIO HASIL INVESTASI, RASIO PENERIMAAN PREMI, DAN RASIO BEBAN KLAIM TERHADAP LABA PERUSAHAAN ASURANSI (Studi Kasus Pada 9 Perusahaan Asuransi Kerugian Yang Terdaftar

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. berkembang dan memberikan kontribusinya pada perekonomian nasional.

BAB I PENDAHULUAN. berkembang dan memberikan kontribusinya pada perekonomian nasional. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Manufaktur merupakan sektor industri yang penting di lingkup perekonomian Indonesia, jumlah perusahaannya yang sangat besar dibagi menjadi sektor-sektor, salah

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2015 TENTANG

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2015 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2015 TENTANG PEMELIHARAAN DAN PELAPORAN DATA RISIKO ASURANSI SERTA PENERAPAN TARIF PREMI DAN KONTRIBUSI

Lebih terperinci

OJK DIALOGUE. 1 Februari 2016

OJK DIALOGUE. 1 Februari 2016 OJK DIALOGUE 1 Februari 2016 Perasuransian 1 Gambaran Kondisi Perasuransian 2015 Statistika Perasuransian - 1 Jiwa 50 Umum 76 Reasuransi 6 Pelaku Usaha Perasuransian Wajib 3 Keterangan: PPA: Perusahaan

Lebih terperinci

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN CADANGAN TEKNIS BAGI PERUSAHAAN ASURANSI DAN PERUSAHAAN REASURANSI

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN CADANGAN TEKNIS BAGI PERUSAHAAN ASURANSI DAN PERUSAHAAN REASURANSI Yth. 1. Direksi Perusahaan Asuransi; dan 2. Direksi Perusahaan Reasuransi, di tempat. SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.05/2016 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN CADANGAN TEKNIS BAGI PERUSAHAAN

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR KEP-104/BL/2006 TENTANG PRODUK UNIT

Lebih terperinci

SALINAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 21/SEOJK.05/2015 TENTANG

SALINAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 21/SEOJK.05/2015 TENTANG Yth. 1. Direksi Perusahaan Asuransi Umum; dan 2. Direksi Perusahan Asuransi Umum Syariah, di tempat. SALINAN SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 21/SEOJK.05/2015 TENTANG PENETAPAN TARIF PREMI ATAU

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. yang memuaskan dalam usaha pengembangan ekonomi suatu negara.

BAB I PENDAHULUAN. yang memuaskan dalam usaha pengembangan ekonomi suatu negara. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Dalam aspek perekonomian, jasa angkutan yang cukup serta memadai sangat diperlukan sebagai penunjang pembangunan ekonomi. Tanpa adanya transportasi sebagai

Lebih terperinci

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA NOMOR 1 TAHUN 2010 TENTANG TATA CARA PENANGANAN PERKARA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA KOMISI PENGAWAS PERSAINGAN USAHA, Menimbang Mengingat : a. bahwa dalam

Lebih terperinci

BAB 4 PEMBAHASAN. 4.1 Analisis Proses Bisnis Asuransi Kerugian Proses Bisnis Asuransi Kerugian Secara Umum

BAB 4 PEMBAHASAN. 4.1 Analisis Proses Bisnis Asuransi Kerugian Proses Bisnis Asuransi Kerugian Secara Umum BAB 4 PEMBAHASAN 4.1 Analisis Proses Bisnis Asuransi Kerugian 4.1.1 Proses Bisnis Asuransi Kerugian Secara Umum Pada subbab ini penulis akan membahas mengenai bagaimana suatu perusahaan asuransi kerugian

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR: 1/POJK.07/2013 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN SEKTOR JASA KEUANGAN

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR: 1/POJK.07/2013 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN SEKTOR JASA KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR: 1/POJK.07/2013 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN SEKTOR JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jenis polis, salah satunya pada saat sekarang ini yaitu BNI Life Insurance.

BAB I PENDAHULUAN. jenis polis, salah satunya pada saat sekarang ini yaitu BNI Life Insurance. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Di zaman sekarang asuransi memegang peranan penting dalam memberikan kepastian proteksi bagi manusia yang bersifat komersial maupun bukan komersial. Asuransi dapat memberikan

Lebih terperinci

BAB I PERUSAHAAN ASURANSI

BAB I PERUSAHAAN ASURANSI BAB I PERUSAHAAN ASURANSI A. Pengertian Perusahaan Asuransi 1. Pengertian Perusahaan Kegiatan ekonomi yang berkembang akan membawa perkembangan pula dalam kegiatan bisnis, kegiatan ekonomi yang meningkat

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan merupakan tujuan dari suatu negara

BAB I PENDAHULUAN. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan merupakan tujuan dari suatu negara BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Modal manusia berperan penting dalam pembangunan ekonomi. Pembangunan ekonomi yang berkelanjutan merupakan tujuan dari suatu negara maka modal manusia merupakan faktor

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi informasi baik itu telekomunikasi, komputer,

I. PENDAHULUAN. Perkembangan teknologi informasi baik itu telekomunikasi, komputer, I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Perkembangan teknologi informasi baik itu telekomunikasi, komputer, teknologi perangkat keras dan perangkat lunak saat ini berkembang sangat pesat dan cepat. Teknologi-teknologi

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 1992 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa peranan usaha perasuransian

Lebih terperinci

Sub Sektor Bank BAB I PENDAHULUAN

Sub Sektor Bank BAB I PENDAHULUAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Sebagai lembaga keuangan yang memegang peranan penting dalam mendukung perekonomian di Indonesia, bank merupakan salah satu lembaga yang menjadi fondasi

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN MENTERI PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA NOMOR 49/PRT/M/2015 TENTANG TATA CARA PENGGUNAAN PATEN BIDANG PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

- 2 - PASAL DEMI PASAL. Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Huruf a Angka 1

- 2 - PASAL DEMI PASAL. Pasal 1 Cukup jelas. Pasal 2 Cukup jelas. Pasal 3 Cukup jelas. Pasal 4 Huruf a Angka 1 PENJELASAN ATAS PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 69 /POJK.05/2016 TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERUSAHAAN ASURANSI, PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH, PERUSAHAAN REASURANSI, DAN PERUSAHAAN REASURANSI

Lebih terperinci

Jumlah kendaraan bermotor

Jumlah kendaraan bermotor BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Jumlah penduduk Indonesia yang semakin meningkat setiap tahunnya menjadikan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia (Detikfinance,

Lebih terperinci

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.05/2016 TENTANG

SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.05/2016 TENTANG Yth. 1. Direksi Perusahaan Asuransi Umum; dan 2. Direksi Perusahan Asuransi Umum Syariah, di tempat. SURAT EDARAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR /SEOJK.05/2016 TENTANG PENETAPAN TARIF PREMI ATAU KONTRIBUSI

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. menggandrungi dan menyadari bahwa memiliki bisnis sendiri merupakan hal yang

BAB I PENDAHULUAN. menggandrungi dan menyadari bahwa memiliki bisnis sendiri merupakan hal yang BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar belakang Pada awal abad ini di belahan dunia manapun sudah mulai banyak yang menggandrungi dan menyadari bahwa memiliki bisnis sendiri merupakan hal yang menyenangkan, lebih

Lebih terperinci

2015 PENGARUH LIKUIDITAS DAN EFISIENSI OPERASIONAL TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN ASURANSI KERUGIAN DI BURSA EFEK INDONESIA

2015 PENGARUH LIKUIDITAS DAN EFISIENSI OPERASIONAL TERHADAP PROFITABILITAS PERUSAHAAN ASURANSI KERUGIAN DI BURSA EFEK INDONESIA BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang masalah Persaingan dunia usaha di Indonesia semakin ketat, salah satunya di bidang jasa yaitu usaha asuransi yang semakin berkembang. Dalam menjalankan kegiatan operasionalnya,

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Sebanyak 81 perusahaan asuransi umum (General Insurance) bersaing dengan ketat untuk

BAB I PENDAHULUAN. Sebanyak 81 perusahaan asuransi umum (General Insurance) bersaing dengan ketat untuk BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sebanyak 81 perusahaan asuransi umum (General Insurance) bersaing dengan ketat untuk memperebutkan pangsa pasar bisnis asuransi. (Sumber: Media Asuransi Edisi 293 Juni

Lebih terperinci

Buletin Teknis ini bukan bagian dari Standar Akuntansi Keuangan.

Buletin Teknis ini bukan bagian dari Standar Akuntansi Keuangan. EXPOSURE DRAFT BULETIN TEKNIS 8 DIKELUARKAN OLEH KONTRAK ASURANSI DEWAN STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN IKATAN AKUNTAN INDONESIA TANGGAL 19 OKTOBER 2012 Buletin Teknis ini bukan bagian dari Standar Akuntansi

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 73 /POJK.05/2016 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 73 /POJK.05/2016 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 73 /POJK.05/2016 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG

Lebih terperinci

KONTEN TENTANG AIA LATAR BELAKANG STUDI RANGKUMAN. HASIL TEMUAN PENTING Kualitas hidup Keamanan finansial Pensiun Keluarga dan pendidikan

KONTEN TENTANG AIA LATAR BELAKANG STUDI RANGKUMAN. HASIL TEMUAN PENTING Kualitas hidup Keamanan finansial Pensiun Keluarga dan pendidikan Laporan Indonesia 2014 KONTEN TENTANG AIA LATAR BELAKANG STUDI RANGKUMAN HASIL TEMUAN PENTING Kualitas hidup Keamanan finansial Pensiun Keluarga dan pendidikan 4 6 8 10 12 16 18 20 LAPORAN INDONESIA TENTANG

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya daya beli masyarakat. Tabel 1.1 Tren Penjualan Industri Komponen Otomotif

BAB I PENDAHULUAN. meningkatnya daya beli masyarakat. Tabel 1.1 Tren Penjualan Industri Komponen Otomotif 1.1. Latar Belakang Masalah BAB I PENDAHULUAN Perkembangan pasar komponen otomotif di Indonesia selama ini cukup baik, terutama pasar komponen untuk purna jual.pasar komponen otomotif untuk purna jual

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. karena ada orang yang harus tetap hidup. Sekarang ini banyak orang mulai

BAB I PENDAHULUAN. karena ada orang yang harus tetap hidup. Sekarang ini banyak orang mulai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Asuransi diambil bukan karena ada orang yang akan meninggal, tetapi karena ada orang yang harus tetap hidup. Sekarang ini banyak orang mulai mempertimbangkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan maka kewajiban akan pendanaan juga semakin besar jumlahnya. Hal

BAB I PENDAHULUAN. perusahaan maka kewajiban akan pendanaan juga semakin besar jumlahnya. Hal BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perusahaan semakin lama akan semakin berkembang seiring dengan meningkatnya produktivitas dan performa perusahaan. Modal investasi dulunya dapat dipenuhi dengan utang

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang: bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ( Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia Tahun 2013 )

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ( Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia Tahun 2013 ) BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Fenomena kenaikan jumlah populasi kendaraan pada tiap tahunnya di Indonesia yang terdiri dari mobil penumpang, bis, truk, dan sepeda motor membawa berbagai

Lebih terperinci

BAB II LANDASAN TEORI

BAB II LANDASAN TEORI BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian dan Manfaat Manajemen Keuangan Dalam Perusahaan. Manajemen Keuangan merupakan salah satu fungsi yang penting (strategik) bagi keberhasilan perusahaan. Hampir semua

Lebih terperinci

WEALTH ASSURANCE BANGUN MASA DEPAN ANDA MULAI SEKARANG

WEALTH ASSURANCE BANGUN MASA DEPAN ANDA MULAI SEKARANG Manulife Indonesia Didirikan pada tahun 1985, PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia) merupakan bagian dari Manulife Financial Corporation, grup penyedia layanan keuangan dari Kanada yang

Lebih terperinci

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 28 /POJK.05/2015 TENTANG PEMBUBARAN, LIKUIDASI, DAN KEPAILITAN PERUSAHAAN ASURANSI, PERUSAHAAN ASURANSI SYARIAH,

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 23 BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian Dalam penelitian ini, penelitian yang dilakukan adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis, factual dan

Lebih terperinci

Peluang Perusahaan Asuransi di Indonesia Menghadapi ASEAN Economic Community 2015

Peluang Perusahaan Asuransi di Indonesia Menghadapi ASEAN Economic Community 2015 Peluang Perusahaan Asuransi... Peluang Perusahaan Asuransi di Indonesia Menghadapi ASEAN Economic Community 2015 Hadi Peristiwo Abstrak Asuransi adalah suatu kesediaan oleh individu maupun badan hukum

Lebih terperinci

I. PENDAHULUAN. melakukan berbagai transaksi bisnis dan pembayaran-pembayaran tagihan.

I. PENDAHULUAN. melakukan berbagai transaksi bisnis dan pembayaran-pembayaran tagihan. I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perbankan Indonesia telah memainkan berbagai peranan penting dalam menggerakkan roda perekonomian Indonesia. Salah satu fungsi dari perbankan adalah intermediasi keuangan,

Lebih terperinci

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH POLIS ASURANSI JIWASRAYA DI SURABAYA SKRIPSI

ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH POLIS ASURANSI JIWASRAYA DI SURABAYA SKRIPSI ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JUMLAH POLIS ASURANSI JIWASRAYA DI SURABAYA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Ekonomi Pembangunan Oleh

Lebih terperinci

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3

IV. GAMBARAN UMUM. 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3 IV. GAMBARAN UMUM 4.1 Gambaran Umum Perekonomian di Negara-negara ASEAN+3 4.1.1 Produk Domestik Bruto (PDB) Selama kurun waktu tahun 2001-2010, PDB negara-negara ASEAN+3 terus menunjukkan tren yang meningkat

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. bisnis di Indonesia khususnya di industri sepeda motor. Persaingan ketat yang

BAB 1 PENDAHULUAN. bisnis di Indonesia khususnya di industri sepeda motor. Persaingan ketat yang BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Era globalisasi memberikan peluang dan tantangan bisnis baru bagi pelaku bisnis di Indonesia khususnya di industri sepeda motor. Persaingan ketat yang muncul

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Menurut Hurriyati (2005, p.49) : untuk bauran pemasaran jasa mengacu

BAB I PENDAHULUAN UKDW. Menurut Hurriyati (2005, p.49) : untuk bauran pemasaran jasa mengacu 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Pemasaran merupakan aspek yang sangat penting bagi semua perusahaan yang tetap ingin survive dalam menciptakan keunggulan kompetitif yang berkesinambungan.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. dan giro yang merupakan kewajiban bank sebab harus dikembalikan sesuai

BAB I PENDAHULUAN. dan giro yang merupakan kewajiban bank sebab harus dikembalikan sesuai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Perbankan merupakan salah satu institusi yang sangat berperan untuk menunjang pembangunan nasional khususnya dalam bidang perekonomian suatu negara. Masyarakat

Lebih terperinci