KATA PENGANTAR. Kami panjatkan Puji Dan Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas

Ukuran: px
Mulai penontonan dengan halaman:

Download "KATA PENGANTAR. Kami panjatkan Puji Dan Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas"

Transkripsi

1 STUDI TENTANG ANALISIS TERHADAP PENYELENGGARAAN PERTANGGUNGAN ASURANSI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERUSAHAAN ASURANSI. Studi tentang analisis terhadap penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor dan pengaruhnya terhadap perusahaan asuransi bertujuan untuk melakukan kajian penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor serta menganalisis hambatan-hambatan pelaksanaannya. Studi ini menggunakan metode pengumpulan data melalui survey dan studi literatur. Dari hasil analisis terhadap data yang dikumpulkan dapat diperoleh kesimpulan bahwa sejak diatur, perusahaan perasuransian mendukung secara positif pelaksanaan PMK No74/PMK.01/2007 jo PMK No. 01/PMK.010/2011 tentang penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor. Hal ini dapat dilihat dari semakin banyak perusahaan yang berusaha menggunakan tarif asuransi sendiri dibandingkan dengan tarif referensi yang dikeluarkan Bapepam LK, dengan cara meningkatkan kualitas data risk and loss profile perusahaan. Berarti tujuan dibuatnya peraturan ini telah tercapai. Demikian juga dengan perubahan atmosfer yang terjadi setelah dibuatnya peraturan tersebut, perang tarif dapat lebih diminimalisir sehingga dimungkinkan adanya persaingan yang lebih sehat antara perusahaan asuransi. i

2 KATA PENGANTAR Kami panjatkan Puji Dan Syukur Kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya Studi tentang Analisis terhadap Penyelenggaraan Pertanggungan Asuransi pada Lini Usaha Asuransi Kendaraan Bermotor dan Pengaruhnya terhadap Perusahaan Asuransi. Semoga hasil kajian ini dapat menjadi bahan penelitian awal bagi pengembangan industri Asuransi khususnya di Indonesia. Tujuan dari kegiatan penelitian ini diharapkan dapat melakukan kajian berupa mengeksplorasi penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor serta menganalisis hambatan-hambatan pelaksanaannya. Tim juga berharap kajian ini dapat memberikan manfaat bagi pihak-pihak yang memiliki kepentingan dan kompetensi dalam pengambilan keputusan baik dalam perumusan regulasi maupun peluang investasi di Indonesia. Akhir kata Tim Studi mengucapkan terimakasih kepada segenap pihak yang telah membantu penyelesaian studi ini. Kritik maupun saran yang membangun sangat diharapkan dalam penyempurnaan penelitian ini. Jakarta, Desember 2011 Ketua Tim Studi Asuransi ii

3 DAFTAR ISI ABSTRAK..... KATA PENGANTAR.. DAFTAR ISI. DAFTAR GAMBAR.... DAFTAR GRAFIK.. DAFTAR TABEL. i ii iii vi vii Iic w i BAB I LATAR BELAKANG Landasan Pemikiran Masalah Penelitian Tujuan Penelitian Metode Penelitian Objek Penelitian BAB II TINJAUAN PUSTAKA Penetapan Tarif Premi Perkembangan Industri Kendaraan Bermotor Serta Penetapan Tarif Premi di Indonesia Pengaturan Premi Kendaraan Bermotor di Indonesia 10 BAB III METODOLOGI DAN RESPONDEN Metodologi Studi iii

4 Studi Regulasi mengenai Premi Asuransi Kendaraan Bermotor Focus Group Discussion (FGD) Kuesioner Responden BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN Laporan Hasil Focus Group Discussion dengan Biro Perasuransian Praktik Pengenaan Premi Asuransi Kendaraan Bermotor di Industri Praktik Penggunaan Tarif Referensi Penggunaan Tarif Sendiri Berdasarkan Profil Risiko Besaran Tarif Premi Asuransi Kendaraan Bermotor Belanja Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Rangka Memperbaiki Data Profil Risiko Pandangan Industri Mengenai Diberlakukannya PMK Nomor 74/PMK.010/ Kondisi Iklim Usaha Sebelum Ditetapkannya PMK Nomor 74/PMK.010/ Kondisi Iklim Usaha Setelah Ditetapkannya PMK Nomor 74/PMK.010/ Masukan Pelaku Industri bagi Penyempurnaan Penyelenggaraan Pertanggungan Asuransi Kendaraan Bermotor 38 iv

5 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Saran DAFTAR PUSTAKA.. vii v

6 DAFTAR GAMBAR GAMBAR GAMBAR GAMBAR vi

7 DAFTAR GRAFIK GRAFIK GRAFIK GRAFIK GRAFIK GRAFIK vii

8 DAFTAR TABEL TABEL TABEL TABEL TABEL TABEL TABEL TABEL TABEL TABEL viii

9 BAB I LATAR BELAKANG 1. Landasan Pemikiran Pertumbuhan kendaraan bermotor akhir-akhir ini dirasakan sudah sangat fantastis. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, rata-rata pertumbuhan kendaraan bermotor selama sepuluh tahun terakhir sekitar 17,6% dengan konsentrasi yang lebih besar lagi di kota-kota besar. Hal ini tentu saja sangat menggembirakan karena bisa menjadi salah satu tolak ukur pertumbuhan ekonomi Indonesia. Pertumbuhan kendaraan bermotor yang cukup pesat ini tentu saja bisa menarik industri lain yang bersinggungan dengannya untuk ikut tumbuh. Salah satu industri yang ikut serta adalah asuransi pada lini usaha kendaraan bermotor. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan selaku regulator industri perasuransian telah mengeluarkan PMK 74/PMK.01/2007 tentang Penyelenggaraan Pertanggungan Asuransi Pada Lini Usaha Kendaraan Bermotor yang diperbarui dengan PMK No. 01/PMK.010/2011. Dalam PMK ini telah diatur ttentang penetapan premi, biaya akuisisi dan komisi, pembentukan cadangan atas premi yang belum merupakan pendapatan serta pemeliharaan data dan pelaporan. Untuk memperjelas peraturan tersebut, pemerintah juga telah mengeluarkan Peraturan Ketua Bapepam LK No. 06/BL/2008 tentang Referensi Unsur Premi Murni serta unsur biaya administrasi dan biaya umum lainnya pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor tahun

10 Pelaksanaan peraturan tersebut telah dilaksanakan tiga tahun lebih terhitung peraturan mulai diundangkan. Waktu yang cukup untuk dilaksanakan evaluasi efisiensi dan efektifitas penerapan peraturan sehingga didapat tingkat premi wajar yang tidak memberatkan konsumen. Hal ini juga diperlukan untuk mengetahui hambatan-hambatan yang ditemui dalam penerapan peraturan untuk menegakkan praktik usaha yang sehat. Untuk membahas hal-hal tersebut perlu kiranya dilakukan sebuah studi tentang analisis terhadap penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor dan pengaruhnya terhadap perusahaan asuransi. 2. Masalah Penelitian Permasalahan utama yang akan diangkat dalam penelitian ini adalah mempelajari efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor dan pengaruhnya terhadap perusahaan asuransi penyelenggara. 3. Tujuan Penelitian (1) Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk: (2) Melakukan kajian penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor. (3) Menganalisis hambatan-hambatan pelaksanaan PMK No 01/PMK.010/2011 tentang penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor. 2

11 4. Metode Penelitian Metode studi yang akan digunakan dalam studi ini terdiri dari studi pustaka maupun studi lapangan. (1) Studi Pustaka Studi pustaka dilakukan dengan mempelajari dan mengkaji berbagai literatur, peraturan-peraturan, maupun berita yang berkaitan dengan perkembangan perasuransian dari berbagai sumber. (2) Studi Lapangan Studi lapangan dilakukan melalui wawancara dan penyebaran kuesioner yang berkaitan dengan studi kepada pelaku pasar terkait, antara lain perusahaan asuransi. Studi lapangan ini juga dilakukan dengan mendatangkan narasumber yang kompeten untuk memaparkan dan mendiskusikan materi terkait. 5. Objek Penelitian Yang menjadi objek penelitian adalah produk asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor, dan dilihat dari sisi perusahaan penerbit di Indonesia. 3

12 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1. Penetapan Tarif Premi Premi pada umumnya diartikan sebagai biaya yang harus dibayar kepada perusahaan asuransi untuk memperoleh suatu perlindungan atau jaminan atas risiko yang dapat menimpa suatu objek asuransi. Besarnya biaya yang dibayarkan terdiri dari dua komponen utama yaitu premi murni dan biaya asuransi atau disebut juga loading. Premi murni merupakan nilai sekarang dari klaim yang harus dibayarkan oleh perusahaan asuransi pada yang akan datang. Biaya asuransi (loading) merupakan biaya yang muncul sebagai akibat dari usaha perusahaan untuk memenuhi ketentuan yang terdapat dalam kontrak polis. Biaya asuransi umumnya terbagi atas tiga kelompok utama yaitu: 1. Biaya yang bergantung pada premi seperti komisi agen dan pajak 2. Biaya yang bergantung pada jumlah asuransi seperti biaya underwriting yang dipengaruhi besar polis 3. Biaya yang bergantung pada jumlah polis seperti biaya penyiapan polis untuk diterbitkan, biaya pengiriman tagihan. Terdapat empat tujuan utama dalam penetapan tarif premi yang berlaku umum diantara para akuaris. Adapun empat tujuan penetapan premi tersebut yaitu: 1. dapat menutupi klaim dan biaya terkait. Dalam pencapaian tujuan pertama ini, terdapat dua hal yang harus dihindari. Pertama, tidak diperkenankan adanya 4

13 subsidi antar generasi. Kedua, tidak diperkenankan adanya subsidi antar kelas resiko yang berbeda. 2. dapat membentuk cadangan kerugian atas kejadian yang tidak terduga. 3. memberikan keuntungan yang wajar bagi perusahaan asuransi. 4. memenuhi ketentuan perundangan yang berlaku. Dalam upaya menetapkan premi yang dapat memenuhi keempat tujuan utama diatas, aktuaris melakukan pengawasan terhadap resiko yang mungkin terjadi pada saat penetapan premi. Pengelolaan resiko penetapan premi dilakukan melalui beberapa tahapan seperti yang digambarkan dalam gambar 1. Gambar 1 Siklus Aktuaris 5

14 Tahap Pertama, identifikasi informasi dan data pendukung. Salah satu poin penting dalam penetapan premi adalah tersedianya database yang komprehensif dan muktahir. Aktuaris harus memiliki keyakinan bahwa data tersebut adalah akurat, muktahir dan diperoleh melalui suatu sistem pengolahan data yang dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya. Jenis data yang diperlukan antara lain proposal klaim (tanggal kejadian, lokasi kejadian, sebab dan akibat), pembayaran kerugian dan premi yang diperoleh, demografi pemegang polis. Tahap Kedua, penetapan asumsi Penetapan premi dilakukan berdasarkan suatu asumsi yang telah ditentukan. Sebagai contoh adalah penetapan asumsi biaya operasi. Dalam menentukan besar biaya opersional yang dibebankan kepada pemegang polis baru, perusahaan biasanya menghitung besaran biaya yang rata-rata polis menurut jenis polis dan usia masuk. Hasil perhitungan atas data tersebut menjadi asumsi awal dalam penentuan besaran biaya yang akan dibebankan dalam polis baru. Tahap Ketiga, pembangunan metode perhitungan Penetapan premi menggunakan berbagai macam data yang berasal dari berbagai sumber. Pengolahan data tersebut dilakukan melalui permodelan yang menggunakan disiplin ilmu statistik. Dari berbagai literatur mengenai penghitungan nilai premi, terdapat tiga metode utama yang umum dipakai oleh 6

15 aktuaris dalam penentuan nilai premi. Ketiga metode tersebut adalah metode adhoc, characterization method dan the economic method 1. Metode pertama yaitu metoda ad-hoc. Pada metoda ini, aktuaris mendefinisikan sendiri rumus perhitungan yang diinginkan, kemudian ia menentukan faktor faktor pendukung yang dapat dipergunakan dalam rumus tersebut. Metode ini terdiri dari berbagai macam variasi teknik perhitungan yaitu: a. Net Premium Principle: b. Expected Value Premium Principle c. Variance Premium Principle d. Standard Deviation Premium Principle e. Exponential Premium Principle f. Esscher Premium Principle g. Proportional Hazards Premium Principle h. Principle of Equivalent Utility i. Wang s Premium Principle: j. Swiss Premium Principle k. Dutch Premium Principle: Metode kedua yaitu characterization method. Pada metode ini, aktuaris melakukan dua pekerjaan secara simultan. Pekerjaan pertama adalah menentukan faktor input yang akan digunakan dalam perhitungan. Pekerjaan kedua adalah menentukan rumus perhitungan yang rasional dengan menggunakan faktor input dalam pekerjaan pertama 1 Premium Principles Reproduced from the Encyclopedia of Actuarial Science. John Wiley & Sons, Ltd,

16 Metode ketiga yaitu the economic method. Sesuai dengan namanya, dalam membuat suatu permodelan untuk menghasilkan rumus perhitungan premi, aktuaris mengembangkan rumus perhitungan dengan mengadopsi teori ekonomi tertentu. Contohnya adalah dengan menggabungkan Esscher Premium Principle dan expected utility theory. Tahapan berikutnya adalah analisis profitabilitas, pemantauan data dan asumsi dan pemuktahiran data dan asumsi. Setiap langkah tersebut dilakukan untuk menguji model yang ditetapkan untuk meyelidiki dan memilih suatu rumus yang diharapkan dapat memberikan keuntungan bagi perusahaan. 2. Perkembangan Industri Kendaraan Bermotor Serta Penetapan Tarif Premi di Indonesia Jumlah kendaraan bermotor di Indonesia sejak tahun 1987 terus bertumbuh. Berdasarkan data BPS, pada tahun 2009 jumlah kendaraan bermotor yang ada di seluruh Indonesia mencapai 70,7 juta unit. Jumlah ini terdiri dari 18,2 juta unit kendaraan roda empat dan 52,4 juta unit kendaraan roda dua. Peningkatan jumlah kendaraan bermotor terus terjadi. Data dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) dan Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) menunjukkan terdapat penambahan 8,1 juta unit kendaraan pada tahun 2010 yang terdiri dari 7,4 juta kendaraan roda dua dan 764,7 ribu kendaraan roda empat dari berbagai tipe. Sehingga populasi kendaraan pada tahun 2010 sebesar 78,8 juta unit. 8

17 Tabel 1 Tahun Mobil Penumpang Bis Truk Sepeda Motor Jumlah Sumber: BPS *) sejak 1999 tidak termasuk Timor-Timur Jumlah kendaraan di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir terus bertumbuh secara signifikan. Data Organisation Internationale des Constructeurs d Automobiles (OICA) menunjukkan pada tahun 2010, produksi kendaraan roda empat di Indonesia meningkat sebesar 51,1 % dibanding tahun sebelumnya. Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam posisi kedua setelah Thailand dalam hal produksi kendaraan roda empat di kawasan asia oceania. Gambar 2 Country % change THAILAND 999,378 1,644, % INDONESIA 464, , % PAKISTAN 109, , % TAIWAN 226, , % INDIA 2,641,550 3,536, % CHINA 13,790,994 18,264, % PHILIPPINES 50,419 65, % SOUTH KOREA 3,512,926 4,271, % JAPAN 7,934,057 9,625, % MALAYSIA 489, , % 9

18 IRAN 1,394,075 1,599, % VIETNAM 32,969 36, % AUSTRALIA 227, , % Sumber: OICA correspondents survey Produksi kendaraan roda dua juga menunjukkan pertumbuhan yang signifikan. Berdasarkan data BPS, jumlah kendaraan roda dua pada tahun 2005 sebesar 28,5 juta unit. Produksi kendaraan roda dua pada tahun yang sama sebanyak 5,1 juta unit. Pada tahun 2009 jumlah kendaraan mengalami peningkatan 84 persen dari kondisi pada tahun 2005 menjadi 52,4 juta unit. Produksi kendaraan juga mengalami peningkatan signifikan dengan rata rata pertumbuhan selama tahun 2005 sampai dengan 2010 sebesar 12,8 persen pertahun. Pertumbuhan produksi kendaraan bermotor memberi dampak positif terhadap pertumbuhan premi perusahaan asuransi umum. Secara rata rata, pertumbuhan premi asuransi kendaraan bermotor mengalamai kenaikan sebesar 20,1 persen pertahun. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2008 sebesar 28,3 persen dan terendah pada tahun 2009 sebesar 7,8 persen. 10

19 Gambar 3 Year Net Premi Motor % Shared % changed ,0% ,2% 19,9% ,7% 28,3% ,3% 7,8% ,8% 24,2% average 20,1% Sumber: Buku Perasuransian Indonesia 2010 Pada periode 2006 hingga 2010, premi Asuransi Umum bertumbuh sebesar 94% menjadi Rp.15,7 trilyun dari posisi tahun Kenaikan perolehan premi ini banyak disumbangkan dari lini bisnis asuransi kendaraan bermotor. Data Biro Perasuransian menunjukkan premi kendaraan bermotor menyumbang 43 persen pendapatan premi bersih perusahaan asuransi kerugian. 3. Pengaturan Premi Kendaraan Bermotor di Indonesia Pengaturan mengenai premi asuransi secara umum diatur pada pasal 20, 21 dan pasal 22 Peraturan Pemerintah nomor 73 tahun Pasal 20 mengatur mengenai sifat premi yang dikenakan kepada pemengang polis. Sifat utama premi menurut pasal tersebut adalah mencukupi, tidak berlebihan, dan tidak diskriminatif. Pasal 21 mengatur mengenai cara penetapan premi. Pasal ini mewajibkan perusahaan untuk melakukan analisis resiko yang sehat dalam penetapan nilai premi yang dibebankan. Pasal 22 mengatur mengenai tata cara pembayaran premi, tenggat waktu dan tanggung jawab pembayar premi. Pengaturan lebih lanjut mengenai premi tertuang dalam pasal 19 Keputusan Menteri Keuangan nomor 422/ KMK.06/2003 tanggal 30 September 2003 tentang Penyelenggaraan Usaha Perusahaan Asuransi dan Perusahaan 11

20 Reasuransi. Pasal tersebut kembali menegaskan penggunaan asumsi yang wajar dan praktek asuransi yang berlaku umum dalam perhitungan tingkat premi. Khusus untuk perusahaan asuransi umum, pasal ini mengamanatkan 2 hal yang harus dipertimbangkan dalam penetapan tarif premi yaitu: 1. Kewajiban Penggunaan data profil resiko selama lima tahun dalam penentuan premi murni 2. Mempertimbangkan faktor loadin yaitu biaya akuisisi, biaya administrasi dan biaya umum lainnya. Selanjutnya pengaturan premi khusus asuransi kendaraan bermotor diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 74/PMK.010/2007 tentang Penyelenggaraan Pertanggungan Asuransi pada Lini Usaha Asuransi Kendaraan Bermotor. Ketentuan ini memberikan petunjuk mengenai unsur-unsur yang diperlukan dalam penetapan premi murni, biaya administrasi dan umum, biaya akuisisi dan keuntungan yang wajar. Pengaturan selengkapnya terdapat pada pasal 2 ayat 2 sebagai berikut: (2) Penetapan tarif premi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup unsurunsur premi murni, biaya administrasi dan umum lain, biaya akuisisi, serta keuntungan, dengan ketentuan sebagai berikut: a. Penetapan unsur premi murni dilakukan berdasarkan perhitungan yang didukung dengan data profil risiko dan kerugian (risk and loss profile) untuk periode paling singkat 5 (lima) tahun; b. Penetapan unsur biaya administrasi dan biaya umum lainnya dilakukan berdasarkan perhitungan yang didukung dengan data biaya administrasi dan biaya umum lainnya yang menjadi bagian lini usaha Asuransi Kendaraan Bermotor untuk periode paling singkat 5 (lima) tahun; c. Penetapan unsur biaya akuisisi dilakukan sesuai dengan ketentuan mengenai biaya akuisisi sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan ini; dan d. Penetapan unsur keuntungan yang wajar. Selain mengatur mengenai penetapan tarif premi, ketentuan ini juga memberikan tarif referensi yang dapat dipergunakan oleh perusahaan yang belum 12

21 memiliki basis data yang mencukupi sesuai dengan ketentuan pasal 2. Penetapan tarif dibagi atas 6 kategori uang pertanggungan,2 (dua) jenis kendaraan untuk jenis pertanggungan total lossonly (TLO) dan pertanggungan comprehensive. 13

22 BAB III METODOLOGI DAN RESPONDEN 1. Metodologi Studi Sebagaimana telah diuraikan dalam Bab I, studi ini memiliki tiga tujuan sebagai berikut.pertama, studi ini bermaksud mengetahui praktik penetapan premi asuransi kendaraan bermotor di kalangan industri setelah diberlakukannya PMK Nomor 74/PMK.010/2007. Kedua, studi ini bermaksud mengevaluasi apakah PMK tersebut dapat mengurangi perang tarif dalam penetapan premi asuransi kendaraan bermotor. Ketiga, studi ini juga ditujukan untuk memberikan masukan bagi penyempurnaan PMK dimaksud. Untuk mencapai ketiga tujuan di atas, studi ini menggunakan tiga metode, sebagaimana diuraikan sebagai berikut: 1.1. Studi Regulasi mengenai Premi Asuransi Kendaraan Bermotor Sebagai perbandingan sekaligus bahan masukan bagi perbaikan atau penyempurnaan regulasi di Indonesia, Tim Studi mengumpulkan berbagai peraturan mengenai tarif premi asuransi kendaraan bermotor yang berlaku di negara-negara lain, baik yang dikeluarkan oleh regulator industri asuransi ataupun asosiasi industri. Negara-negara yang dijadikan referensi dalam studi ini meliputi Australia, Malaysia, dan Singapura. Dari peraturan-peraturan yang berhasil dikumpulkan, Tim membuat ikhtisar atas pasal-pasal peraturan yang dipandang relevan sebagai perbandingan ataupun sebagai masukan bagi penyempurnaan PMK Nomor 74/PMK.010/2007. Hasil dari studi regulasi ini dituangkan dalam Bab II (Tinjauan Pustaka). 13

23 1.2. Focus Group Discussion (FGD) Tim juga menyelenggarakan FGD dengan mengundang Biro Perasuransian, Bapepam-LK, yang merupakan regulator industri asuransi di Indonesia. FGD tersebut dimaksudkan untuk memberikan pemahaman mengenai latar belakang dikeluarkannya PMK Nomor 74/PMK.010/2007 yang mengatur mengenai premi asuransi kendaraan bermotor. Bab IV dari Laporan Studi ini melaporkan hasil FGD tersebut, yang diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai praktik umum di industri asuransi kendaraan bermotor serta pengaruh PMK tersebut dalam mengurangi perang tarif Kuesioner Guna menghimpun informasi dan masukan dari kalangan industri, metode yang digunakan dalam studi ini adalah kuesioner semi-terstruktur (semi-structured questionnaire) yang dikirimkan kepada seluruh perusahaan asuransi yang memiliki lini usaha asuransi kendaraan bermotor. Pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner terdiri dari pertanyaan tertutup (close-ended question) serta pertanyaan terbuka (open-ended question). Adapun topik-topik pertanyaan yang diajukan meliputi praktik penetapan premi, kondisi bisnis sebelum dan sesudah ditetapkannya PMK Nomor 74/PMK.010/2007, serta menghimpun masukan bagi penyempuraan PMK dimaksud. Penggunaan metode kuesioner ini diharapkan dapat mendukung tercapainya ketiga tujuan studi. Hasil dari penyebaran kuesioner ini selanjutnya akan dianalisis secara kuantitatif maupun kualitatif. Dalam analisis kuantitatif, digunakan statistika 14

24 deskriptif, yaitu data disajikan dalam bentuk tabel dan grafik. Dari pertanyaanpertanyaan kuesioner yang bersifat kualitatif, akan dianalisis kesamaan intisari jawaban secara manual sebagai dasar pengambilan kesimpulan. 2. Responden Salah satu metodologi studi adalah kuesioner semi-terstruktur, yang dikirimkan kepada perusahaan-perusahaan asuransi yang memiliki lini usaha asuransi kendaraan bermotor. Hingga akhir Desember 2010, di Indonesia terdapat 87 perusahaan asuransi yang memegang izin usaha asuransi kendaraan bermotor. Mengingat jumlah perusahaan asuransi yang relatif tidak besar, keseluruhan 87 perusahaan tersebut dijadikan sebagai responden dalam studi ini. Dengan demikian, sampel yang digunakan adalah 100% dari populasi. Pengiriman kuesioner dilaksanakan selama bulan Juli Hingga akhir September 2011, Tim Studi telah menerima sebanyak 49 kuesioner, untuk kemudian dijadikan sebagai dasar analisis lebih lanjut. Dengan demikian, tingkat respons pengembalian kuesioner mencapai 60,49%. 15

25 BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN 1. Laporan Hasil Focus Group Discussion dengan Biro Perasuransian Sebagai pijakan awal pelaksanaan studi tentang Analisis penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor dan pengaruhnya kepada perusahaan asuransi, maka tim studi melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan narasumber dari Biro Perasuransian. Tujuan dilaksanakannya FGD ini adalah untuk mengetahui situasi sebelum lahirnya PMK No 74 Tahun 2007, isi dari peraturan tersebut dan hipotesa awal yang dimiliki oleh Biro Perasuransian terhadap peraturan tersebut, sebelum diadakannya penelitian ini. Bapak Irfan Sitanggang dari Biro Perasuransian menjelaskan situasi sebelum lahirnya PMK No 74 tahun 2007 yaitu sebagai berikut: Lini usaha Asuransi Kendaraan Bermotor sangat memprihatinkan. Penetapan premi yang ada sudah tidak wajar, tidak berdasarkan Risk & Profile. Persaingan yang timbul menjadi tidak sehat. Dikhawatirkan premi yang ada tidak mampu menutup klain yang terjadi. Timbul inisiatif untuk menertibkan praktek yang tidak sehat tersebut. Kemudian dilakukan kajian yang menjadi dasar pembuatan PMK No 74/010/2007 tentang penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor. PMK tersebut mengatur perusahaan asuransi untuk menetapkan premi berdasarkan data risk & profile. Apabila tidak memiliki data tersebut, maka 16

26 perusahaan asuransi dapat menggunakan tarif referensi yang dikeluarkan oleh Biro Perasuransian. Selanjutnya Ibu Eko Martini menjelaskan lebih lanjut mengenai PMK No 74/PMK.010/2007 dan PMK No 01/PMK.010/2011 tentang penyelenggaraan pertanggungan asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor sebagai berikut: Perusahaan asuransi harus melaporkan data risk & Profile perusahaan. Pada awalnya data agregat yang diminta, setelah keluar PMK , data yang diminta menjadi lebih rinci. Data-data perusahaan yang dikumpulkan oleh Biro Perasuransian kemudian diolah oleh ITB dan PAI yang kemudian didapatkan tarif premi yang bisa dijadikan referensi oleh perusahaan asuransi. Bu Endang Ari kemudian menambahkan mekanisme perusahaan dalam penetapan tarif premi sebagai berikut: Biro perasuransian mewajibkan menjual asuransi kendaraan bermotor dengan premi yang berdasarkan atas data risk & profile selama 5 tahun. Jika tidak ada data, maka perusahaan asuransi wajib menggunakan tarif referensi. Selanjutnya diterbitkan peraturan Ketua Bapepam LK No 07/BL/2009 Tentang REFERENSI UNSUR PREMI MURNI SERTA UNSUR BIAYA ADMINISTRASI DAN BIAYA UMUM LAINNYA PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN Pada peraturan tersebut, perusahaan yang menggunakan data sendiri harus memperkitungkan 17

27 faktor kredibilitas. Jika perusahaan memiliki data, tetapi tidak kredibel, maka perusahaan tersebut juga wajib menggunakan tarif referensi, bukan data perusahaan. Setiap tahun, perusahaan asuransi wajib menyampaikan laporan rencana pengeluaran tarif. Dari laporan tersebut, terihat apakah perusahaan menggunakan premi dengan data sendiri atau dengan tarif referensi. Dari FGD tersebut, telah diambil hipotesa awal bahwa setelah diundangkannya PMK No 74 Tahun 2007, terjadi perubahan yang signifikan mengenai perilaku Perusahaan Asuransi pada lini usaha asuransi kendaraan bermotor dalam menetapkan tarif preminya. 2. Praktik Pengenaan Premi Asuransi Kendaraan Bermotor di Industri Sebagaimana telah dibahas dalam Bab III, Tim Studi mengirimkan kuesioner kepada perusahaan-perusahaan asuransi yang memiliki lini usaha asuransi kendaraan bermotor. Di sini akan dianalisis dan dibahas jawabanjawaban yang diberikan responden atas pertanyaan-pertanyaan terkait praktik pengenaan premi asuransi kendaraan bermotor. Sebagaimana ditentukan dalam PMK Nomor 74/PMK.010/2007, untuk asuransi kendaraan bermotor, perusahaan asuransi menetapkan tarif premi berdasarkan data profil risiko dan kerugian serta data biaya. Apabila data dimaksud belum dimiliki, perusahaan asuransi yang bersangkutan wajib menggunakan tarif referensi yang ditetapkan oleh PMK tersebut. Untuk mengetahui pelaksanaan atas ketentuan PMK tersebut, Tim Studi menanyakan kepada responden, Apa dasar penetapan tarif premi asuransi kendaraan 18

28 bermotor di perusahaan Saudara saat ini? Kepada responden diberikan pilihan Tarif Referensi dan Tarif Sendiri. Grafik 4.1 menyajikan ikhtisar jawaban yang diberikan oleh responden. Dari 49 responden yang mengembalikan kuesioner, 40 responden (81,63%) menetapkan tarif premi sendiri berdasarkan data profil risiko, sedangkan sisanya (sembilan responden atau 18,37%) memilih menggunakan tarif referensi. Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian besar perusahaan asuransi untuk lini usaha asuransi kendaraan bermotor telah memiliki miliki data profil risiko, sehingga sesuai dengan PMK perusahaan-perusahaan tersebut dapat menetapkan tarif premi sendiri berdasarkan data-data yang mereka miliki. Grafik 4.1 Praktik penetapan tarif asuransi kendaraan bermotor (n = 49) Tarif Referensi 18,37% Tarif Sendiri 81,63% 2.1. Praktik Penggunaan Tarif Referensi Meskipun mayoritas perusahaan asuransi telah menetapkan tarif sendiri untuk asuransi kendaraan bermotor, sejumlah perusahaan masih menggunakan tarif referensi yang ditetapkan dalam PMK Nomor 74/PMK.010/2007. Perusahaan-perusahaan semacam ini diduga belum memiliki data profil risiko yang memadai sebagai prasyarat untuk dapat menetapkan tarif sendiri. Karena itu, 19

29 terdapat kemungkinan perusahaan-perusahaan tersebut akan melakukan investasi perbaikan basis data dan infrastruktur sehingga pada masa yang akan datang dapat menetapkan tarif premi sendiri berdasarkan data profil risiko. Hal ini merupakan latar belakang dari diajukannya pertanyaan lanjutan kepada perusahaan asuransi yang menggunakan tarif referensi, Jika saat ini menggunakan tarif referensi, apakah dalam tiga tahun mendatang perusahaan Saudara akan menggunakan tarif sendiri berdasarkan data profil risiko? Dari sembilan responden yang menggunakan tarif referensi, lima responden (55,56%) menjawab Ya, yang berarti mereka akan tetap menggunakan tarif referensi hingga setidaknya tiga tahun mendatang. Empat perusahaan yang lain (44,44%) menjawab Tidak, yang menunjukkan bahwa hingga tiga tahun mendatang mereka akan beralih menggunakan tarif sendiri berdasarkan data profil risiko. Dengan demikian, proporsi perusahaan yang memberikan jawaban Ya dan Tidak relatif berimbang, sebagaimana ditunjukkan dalam Grafik 4.2. Hal ini mengindikasikan bahwa terdapat sebagian pelaku industri yang tetap ingin menggunakan tarif referensi hingga beberapa tahun mendatang, dan belum merencanakan untuk beralih menggunakan tarif sendiri berdasarkan data profil risiko. Terdapat kemungkinan hal ini dikarenakan tidak adanya klausul yang mengatur bahwa perusahaan asuransi harus memiliki data profil risiko dan kerugian yang sesuai dengan persyaratan Bapepam LK. Sampai saat ini perusahaan hanya wajib memiliki Sistem Informasi yang dapat menghasilkan data profil risiko dan wajib memelihara data profil risiko (pasal 6 PMK No 74 Tahun 2007) 20

PENETAPAN TARIF PREMI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2014

PENETAPAN TARIF PREMI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2014 PENETAPAN TARIF PREMI PADA LINI USAHA ASURANSI KENDARAAN BERMOTOR TAHUN 2014 I. KETENTUAN UMUM 1. Otoritas Jasa Keuangan yang selanjutnya disingkat OJK adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur

Lebih terperinci

-1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 09/BL/2012 TENTANG

-1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 09/BL/2012 TENTANG -1- SALINAN PERATURAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR: PER- 09/BL/2012 TENTANG PEDOMAN PEMBENTUKAN CADANGAN TEKNIS BAGI PERUSAHAAN ASURANSI DAN PERUSAHAAN REASURANSI KETUA BADAN

Lebih terperinci

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : /PMK.010/2012 TENTANG PRODUK ASURANSI DAN PEMASARAN PRODUK ASURANSI

RANCANGAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : /PMK.010/2012 TENTANG PRODUK ASURANSI DAN PEMASARAN PRODUK ASURANSI RANCANGAN PERATURAN MENTERI KEUANGAN NOMOR : /PMK.010/2012 TENTANG PRODUK ASURANSI DAN PEMASARAN PRODUK ASURANSI MENTERI KEUANGAN, Menimbang : a. bahwa semakin beragam dan kompleksnya Produk Asuransi dan

Lebih terperinci

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN

DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN DEPARTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN SALINAN KEPUTUSAN KETUA BADAN PENGAWAS PASAR MODAL DAN LEMBAGA KEUANGAN NOMOR KEP-104/BL/2006 TENTANG PRODUK UNIT

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA SALINAN PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 11 TAHUN 2014 TENTANG PUNGUTAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. http://www.linkedin.com/company/pt-jasa-raharja-persero- diakes pada tanggal 24 April 2014

BAB I PENDAHULUAN. http://www.linkedin.com/company/pt-jasa-raharja-persero- diakes pada tanggal 24 April 2014 BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Sebagai Negara berkembang Indonesia terus mengalami perkembangan dalam berbagai bidang, salah satunya dalam bidang pembangunan. Pembangunan menandakan majunya suatu

Lebih terperinci

PEDOMAN UMUM PENYUSUNAN INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT UNIT PELAYANAN INSTANSI PEMERINTAH

PEDOMAN UMUM PENYUSUNAN INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT UNIT PELAYANAN INSTANSI PEMERINTAH KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR: KEP/5/M.PAN//00 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYUSUNAN INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT UNIT PELAYANAN INSTANSI PEMERINTAH KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA

Lebih terperinci

KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR : KEP/25/M.PAN/2/2004

KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR : KEP/25/M.PAN/2/2004 KEPUTUSAN MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA NOMOR : KEP/5/M.PAN//00 TENTANG PEDOMAN UMUM PENYUSUNAN INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT UNIT PELAYANAN INSTANSI PEMERINTAH MENTERI PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA,

Lebih terperinci

RENCANA KORPORASI PERUSAHAAN ASURANSI UMUM / PERUSAHAAN REASURANSI / PERUSAHAAN ASURANSI JIWA 1 Tahun 2

RENCANA KORPORASI PERUSAHAAN ASURANSI UMUM / PERUSAHAAN REASURANSI / PERUSAHAAN ASURANSI JIWA 1 Tahun 2 Lampiran 7 Surat Edaran OJK Nomor.. Tanggal RENCANA KORPORASI PERUSAHAAN ASURANSI UMUM / PERUSAHAAN REASURANSI / PERUSAHAAN ASURANSI JIWA 1 Tahun 2 PT. XYZ (alamat perusahaan) ¹ Tulis salah satu sesuai

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN KOMISIONER OTORITAS JASA KEUANGAN OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 2/POJK.05/2014 TENTANG TATA KELOLA PERUSAHAAN YANG BAIK BAGI PERUSAHAAN PERASURANSIAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN

ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN 4 ANALISA DAN PEMBAHASAN MANAJEMEN IKHTISAR 2014 adalah tahun di mana Perseroan kembali mencapai rekor pertumbuhan dan proitabilitas. Perseroan mempertahankan posisinya sebagai Operator berskala terkemuka

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya

BAB I PENDAHULUAN. Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Investasi adalah komitmen atas sejumlah dana atau sumber daya lainnya yang dilakukan pada saat ini, dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan di masa datang. 1 Dalam

Lebih terperinci

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI

Ketua Komisi VI DPR RI. Anggota Komisi VI DPR RI PEMBERDAYAAAN KOPERASI & UMKM DALAM RANGKA PENINGKATAN PEREKONOMIAN MASYARAKAT 1) Ir. H. Airlangga Hartarto, MMT., MBA Ketua Komisi VI DPR RI 2) A. Muhajir, SH., MH Anggota Komisi VI DPR RI Disampaikan

Lebih terperinci

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA

PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA PERHITUNGAN HARGA SEWA DAN SEWA-BELI RUMAH SUSUN SEDERHANA SERTA DAYA BELI MASYARAKAT BERPENDAPATAN RENDAH DI DKI JAKARTA Jenis : Tugas Akhir Tahun : 2008 Penulis : Soly Iman Santoso Pembimbing : Ir. Haryo

Lebih terperinci

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM MEMILIH PRODUK PT. ASURANSI JIWA CENTRAL ASIA RAYA CABANG SURAKARTA

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM MEMILIH PRODUK PT. ASURANSI JIWA CENTRAL ASIA RAYA CABANG SURAKARTA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM MEMILIH PRODUK PT. ASURANSI JIWA CENTRAL ASIA RAYA CABANG SURAKARTA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Syarat-syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana

Lebih terperinci

PRINSIP PRIVASI UNILEVER

PRINSIP PRIVASI UNILEVER PRINSIP PRIVASI UNILEVER Unilever menerapkan kebijakan tentang privasi secara khusus. Lima prinsip berikut melandasi pendekatan kami dalam menghormati privasi Anda. 1. Kami menghargai kepercayaan yang

Lebih terperinci

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF

KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN RINGKASAN EKSEKUTIF KERANGKA KEBIJAKAN SEKTOR AIR MINUM PERKOTAAN a. Pada akhir Repelita V tahun 1994, 36% dari penduduk perkotaan Indonesia yang berjumlah 67 juta, jiwa atau 24 juta jiwa, telah mendapatkan sambungan air

Lebih terperinci

KAJIAN KEBIJAKAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI ATAS PENYERAHAN JASA KEPELABUHANAN TERTENTU KEPADA PERUSAHAAN ANGKUTAN LAUT YANG MELAKUKAN KEGIATAN ANGKUTAN LAUT LUAR NEGERI Angkutan Laut Luar Negeri memiliki

Lebih terperinci

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12

SOP-6 PENELAAHAN MUTU. Halaman 1 dari 12 SOP-6 PENELAAHAN MUTU Halaman 1 dari 12 Histori Tanggal Versi Pengkinian Oleh Catatan 00 Halaman 2 dari 12 KETENTUAN 1.1 Penelaahan Mutu dilakukan untuk memastikan pelaksanaan kerja oleh Penilai telah

Lebih terperinci

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 15 TAHUN 2007 TENTANG TATA CARA MEMPEROLEH INFORMASI KETENAGAKERJAAN DAN PENYUSUNAN SERTA PELAKSANAAN PERENCANAAN TENAGA KERJA DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI

PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI PENERAPAN PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN UU NOMOR 28 TAHUN 2009 TERKAIT BBM BERSUBSIDI 1. Permasalahan Penerapan aturan PBBKB yang baru merupakan kebijakan yang diperkirakan berdampak

Lebih terperinci

LAMPIRAN KHUSUS SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN

LAMPIRAN KHUSUS SPT TAHUNAN PAJAK PENGHASILAN WAJIB PAJAK BADAN DAFTAR PENYUSUTAN DAN AMORTISASI FISKAL 1A BULAN / HARGA NILAI SISA BUKU FISKAL METODE PENYUSUTAN / AMORTISASI KELOMPOK / JENIS HARTA TAHUN PEROLEHAN AWAL TAHUN PENYUSUTAN / AMORTISASI FISKAL TAHUN INI

Lebih terperinci

Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha

Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha Prosedur dan Kebijakan Hukum Persaingan Usaha Tujuan dan Aplikasi Pedoman Perilaku Bisnis menyatakan, CEVA berkomitmen untuk usaha bebas dan persaingan yang sehat. Sebagai perusahaan rantai pasokan global,

Lebih terperinci

Susanti, Liberti Pandiangan

Susanti, Liberti Pandiangan PENGARUH PENERAPAN EKSTENSIFIKASI WAJIB PAJAK TERHADAP PENINGKATAN PENERIMAAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA SERPONG PADA TAHUN 2010-2012 Susanti, Liberti Pandiangan Universitas

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 6 TAHUN 2008 TENTANG PEDOMAN EVALUASI PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa

Lebih terperinci

TAHAP-TAHAP PENELITIAN

TAHAP-TAHAP PENELITIAN TAHAP-TAHAP PENELITIAN Tiga tahap utama penelitian yaitu: tahap perencanaan, tahap pelaksanaan, tahap penulisan laporan. A. TAHAP PERENCANAAN 1. Pemilihan masalah, dengan kriteria: Merupakan tajuk penting,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan ekonomi dan teknologi pada saat ini membawa banyak

BAB 1 PENDAHULUAN. A. Latar Belakang. Perkembangan ekonomi dan teknologi pada saat ini membawa banyak BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang Perkembangan ekonomi dan teknologi pada saat ini membawa banyak perusahaan di Indonesia untuk lebih maksimal, baik fungsi dan peran pemasaran dalam memasuki era globalisasi.

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. molding) dan pembuatan checking fixture. Injection molding/plastic molding

BAB I PENDAHULUAN. molding) dan pembuatan checking fixture. Injection molding/plastic molding BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Industri komponen otomotif di Indonesia berkembang seiring dengan perkembangan industri otomotif. Industri penunjang komponen otomotif juga ikut berkembang salah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pengguna teknologi internet terus meningkat dari tahun ke tahun.

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah. Pengguna teknologi internet terus meningkat dari tahun ke tahun. 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah Pengguna teknologi internet terus meningkat dari tahun ke tahun. Kebutuhan internet sudah hampir diperlakukan sebagai salah satu kebutuhan sehari-hari. Beragam

Lebih terperinci

Layanan Pengoptimalan Cepat Dell Compellent Keterangan

Layanan Pengoptimalan Cepat Dell Compellent Keterangan Layanan Pengoptimalan Cepat Dell Compellent Keterangan Ikhtisar Layanan Keterangan Layanan ini ("Keterangan Layanan") ditujukan untuk Anda, yakni pelanggan ("Anda" atau "Pelanggan") dan pihak Dell yang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 1/POJK.05/2015 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 1/POJK.05/2015 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 1/POJK.05/2015 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA

Lebih terperinci

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI

Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI Perkembangan Ekspor Indonesia Biro Riset LMFEUI Pengembangan ekspor tidak hanya dilihat sebagai salah satu upaya meningkatkan pendapatan negara, tetapi juga untuk mengembangkan ekonomi nasional. Perkembangan

Lebih terperinci

KESEMPATAN KERJA PERDAGANGAN. Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja. Jakarta, 5 Juli 2013

KESEMPATAN KERJA PERDAGANGAN. Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja. Jakarta, 5 Juli 2013 KESEMPATAN KERJA MENGHADAPI LIBERALISASI PERDAGANGAN Rahma Iryanti Direktur Tenaga Kerja dan Pengembangan Kesempatan Kerja Jakarta, 5 Juli 2013 1 MATERI PEMAPARAN Sekilas mengenai Liberalisasi Perdagangan

Lebih terperinci

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia

Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia MIGRANT WORKERS ACCESS TO JUSTICE SERIES Akses Buruh Migran Terhadap Keadilan di Negara Asal: Studi Kasus Indonesia RINGKASAN EKSEKUTIF Bassina Farbenblum l Eleanor Taylor-Nicholson l Sarah Paoletti Akses

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah

BAB I PENDAHULUAN. Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Sarana pelayanan kesehatan menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269/MENKES/PER/III/2008 Pasal 1 ayat 3 adalah tempat penyelenggaraan upaya pelayanan

Lebih terperinci

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK

PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK PERTUMBUHAN LEBIH BAIK, IKLIM LEBIH BAIK The New Climate Economy Report RINGKASAN EKSEKUTIF Komisi Global untuk Ekonomi dan Iklim didirikan untuk menguji kemungkinan tercapainya pertumbuhan ekonomi yang

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. jasa kebersihan dan perawatan untuk mobil dan sepeda motor. Menurut data

BAB I PENDAHULUAN. jasa kebersihan dan perawatan untuk mobil dan sepeda motor. Menurut data BAB I PENDAHULUAN Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor turut mendukung berkembangnya bisnis jasa kebersihan dan perawatan untuk mobil dan sepeda motor. Menurut data Badan Pusat Statistik (2012) jumlah

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Pendahuluan Kebijakan anggaran mendasarkan pada pendekatan kinerja dan berkomitmen untuk menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Anggaran kinerja adalah

Lebih terperinci

SEKILAS TENTANG PERAN LEMBAGA PEMERINGKAT EFEK DALAM INDUSTRI PASAR MODAL

SEKILAS TENTANG PERAN LEMBAGA PEMERINGKAT EFEK DALAM INDUSTRI PASAR MODAL SEKILAS TENTANG PERAN LEMBAGA PEMERINGKAT EFEK DALAM INDUSTRI PASAR MODAL oleh : Sungkana Pendahuluan Seiring dengan semakin menigkatnya industri Pasar Modal, peran penting perusahaan Pemeringkat Efek

Lebih terperinci

PERSAINGAN USAHA DALAM INDUSTRI TELEKOMUNIKASI INDONESIA

PERSAINGAN USAHA DALAM INDUSTRI TELEKOMUNIKASI INDONESIA PERSAINGAN USAHA DALAM INDUSTRI TELEKOMUNIKASI INDONESIA Latar belakang Perkembangan berbagai aspek kehidupan dan sektor ekonomi di dunia dewasa ini terasa begitu cepat, kecepatan perubahan tersebut sering

Lebih terperinci

KATA PENGANTAR. Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan YME, karena hanya. dengan berkat dan rahmatnya, kami dapat melaksanakan penulisan

KATA PENGANTAR. Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan YME, karena hanya. dengan berkat dan rahmatnya, kami dapat melaksanakan penulisan KATA PENGANTAR Dengan mengucap puji syukur kepada Tuhan YME, karena hanya dengan berkat dan rahmatnya, kami dapat melaksanakan penulisan Market Brief perdagangan produk automotive parts di Hungaria. Tulisan

Lebih terperinci

UNIVERSITAS INDONESIA EVALUASI ATAS KEBIJAKAN AMDAL DALAM PEMBANGUNAN TATA RUANG KOTA SURAKARTA

UNIVERSITAS INDONESIA EVALUASI ATAS KEBIJAKAN AMDAL DALAM PEMBANGUNAN TATA RUANG KOTA SURAKARTA UNIVERSITAS INDONESIA EVALUASI ATAS KEBIJAKAN AMDAL DALAM PEMBANGUNAN TATA RUANG KOTA SURAKARTA TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Ekonomi CAROLINA VIVIEN CHRISTIANTI

Lebih terperinci

Syarat dan Ketentuan untuk Kontes Microsoft Get2Modern SMB IT Makeover

Syarat dan Ketentuan untuk Kontes Microsoft Get2Modern SMB IT Makeover Syarat dan Ketentuan untuk Kontes Microsoft Get2Modern SMB IT Makeover CATATAN PENTING: HARAP MEMBACA SYARAT DAN KETENTUAN INI SEBELUM MENGIKUTI KONTES. SYARAT DAN KETENTUAN INI MERUPAKAN PERJANJIAN PENGIKAT

Lebih terperinci

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA KMA NOMOR 23 TAHUN 2014

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA KMA NOMOR 23 TAHUN 2014 KATA PENGANTAR Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT pada tahun anggaran 2014 kami dapat menyusun buku Keputusan Menteri Agama RI Nomor Tahun 2014 tentang Tata Cara Pelaksanaan Penggunaan,

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN

BAB III METODE PENELITIAN 27 BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif karena dalam pelaksanaannya meliputi data, analisis dan interpretasi tentang arti dan data yang

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 11/POJK.05/2014 TENTANG PEMERIKSAAN LANGSUNG LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 11/POJK.05/2014 TENTANG PEMERIKSAAN LANGSUNG LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 11/POJK.05/2014 TENTANG PEMERIKSAAN LANGSUNG LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA DEWAN

Lebih terperinci

Teknik Untuk Melakukan Analisa Pasar

Teknik Untuk Melakukan Analisa Pasar Module: 3 Revised: CIPSED Project State University of Gorontalo [UNG] Entrepreneurship ToT Program Teknik Untuk Melakukan Analisa Pasar Canada Indonesia Private Sector Enterprise Development [CIPSED] Project

Lebih terperinci

Hal-hal yang Perlu dipahami dalam Trading

Hal-hal yang Perlu dipahami dalam Trading Hal-hal yang Perlu dipahami dalam Trading By admin. Filed in forex online, investasi, marketiva indonesia, trading indeks, trading komoditi, trading valas online Forex atau Foreign Exchange atau biasa

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada masa sekarang ini, di mana pertumbuhan ekonomi yang terjadi dan sangat

BAB 1 PENDAHULUAN. Pada masa sekarang ini, di mana pertumbuhan ekonomi yang terjadi dan sangat BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Pada masa sekarang ini, di mana pertumbuhan ekonomi yang terjadi dan sangat berkembang pesat memacu timbulnya persaingan bisnis yang sangat ketat di antara

Lebih terperinci

Menimbang : a. bahwa pelayanan kepada masyarakat oleh aparatur pemerintah perlu terus ditingkatkan, sehingga mencapai kualitas yang diharapkan;

Menimbang : a. bahwa pelayanan kepada masyarakat oleh aparatur pemerintah perlu terus ditingkatkan, sehingga mencapai kualitas yang diharapkan; GUBERNUR BALI PERATURAN GUBERNUR BALI NOMOR30TAHUN 2014 TENTANG PEDOMAN PENYUSUNAN INDEKS KEPUASAN MASYARAKAT UNIT PELAYANAN DI INSTANSI PEMERINTAH PROVINSI BALI DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR

Lebih terperinci

PRUmy child. Perlindungan dari sebelum ia lahir MKT/BRCH083 (03/14)

PRUmy child. Perlindungan dari sebelum ia lahir MKT/BRCH083 (03/14) MKT/BRCH083 (03/14) PRUmy child PT Prudential Life Assurance Prudential Tower Jl. Jend. Sudirman Kav. 79, Jakarta 12910, Indonesia Tel: (62 21) 2995 8888 Fax: (62 21) 2995 8800 Customer Line: 500085 Email:

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN 2010 TENTANG USAHA BUDIDAYA TANAMAN DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan

Lebih terperinci

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 5 TAHUN 1999 TENTANG LARANGAN PRAKTEK MONOPOLI DAN PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Lebih terperinci

NEWS UPDATE 7 September ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

NEWS UPDATE 7 September ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- NEWS UPDATE 7 September ---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- KERJA SAMA PRUDENTIAL INDONESIA DAN UNIVERSITAS INDONESIA

Lebih terperinci

SAMBUTAN KETUA SENAT AKADEMIK ITB Dies Natalis ke-56 Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Senin 2 Maret 2015

SAMBUTAN KETUA SENAT AKADEMIK ITB Dies Natalis ke-56 Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Senin 2 Maret 2015 1 SAMBUTAN KETUA SENAT AKADEMIK ITB Dies Natalis ke-56 Aula Barat Institut Teknologi Bandung, Senin 2 Maret 2015 Pertama tama marilah kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT atas rakhmat dan hidayah-nya,

Lebih terperinci

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 PERSEDIAAN Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 14 tentang Persediaan disetujui dalam Rapat Komite Prinsip Akuntansi Indonesia pada tanggal

Lebih terperinci

ACE LIFE DAN BANK CTBC LUNCURKAN EMPAT PRODUK BANCASSURANCE

ACE LIFE DAN BANK CTBC LUNCURKAN EMPAT PRODUK BANCASSURANCE 1 Press Statement UNTUK DISIARKAN SEGERA Kontak Media: Priska Rosalina +62 21 2356 8888 priska.rosalina@acegroup.com ACE LIFE DAN BANK CTBC LUNCURKAN EMPAT PRODUK BANCASSURANCE Jakarta, 19 Juni 2014 PT

Lebih terperinci

Skripsi. Ekonomi. Fakultas. Disusun oleh: NPM : 10 03

Skripsi. Ekonomi. Fakultas. Disusun oleh: NPM : 10 03 PENGARUH ORIENTASI PEMBELIAN, KEPERCAYAAN, DAN PENGALAMAN PEMBELIAN ONLINE TERHADAP NIAT BELI ONLINE Skripsi Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Mencapai Derajat Sarjanaa Ekonomi (S1) Pada Program Studi

Lebih terperinci

Panduan Penerapan Penilaian Indonesia 18 (PPPI 18) Penilaian Dalam Rangka Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum

Panduan Penerapan Penilaian Indonesia 18 (PPPI 18) Penilaian Dalam Rangka Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Panduan Penerapan Penilaian Indonesia 18 (PPPI 18) Penilaian Dalam Rangka Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum Komentar atas draf ini dapat diberikan sampai dengan tanggal 10 Desember

Lebih terperinci

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian atas Pengukuran profitabilitas perusahaan ini adalah jenis penelitian

BAB IV METODE PENELITIAN. Penelitian atas Pengukuran profitabilitas perusahaan ini adalah jenis penelitian BAB IV METODE PENELITIAN 4.1. Jenis dan Ruang Lingkup Penelitian Penelitian atas Pengukuran profitabilitas perusahaan ini adalah jenis penelitian komparatif yakni penelitian yang dilakukan dengan maksud

Lebih terperinci

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN

BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN - 61 - BAB III GAMBARAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAERAH DAN KERANGKA PENDANAAN Dasar yuridis pengelolaan keuangan Pemerintah Kota Tasikmalaya mengacu pada batasan pengelolaan keuangan daerah yang tercantum

Lebih terperinci

White Paper. Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian Sistem Jaminan Sosial Nasional

White Paper. Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian Sistem Jaminan Sosial Nasional White Paper Jaminan Hari Tua, Jaminan Pensiun, dan Jaminan Kematian Sistem Jaminan Sosial Nasional Disusun oleh Departemen Keuangan Republik Indonesia Dibantu oleh Bank Pembangunan Asia (Asian Development

Lebih terperinci

KETENTUAN SALING PIKUL RISIKO

KETENTUAN SALING PIKUL RISIKO Lampiran yang merupakan satu kesatuan dan tidak terpisahkan dari Kesepakatan Bersama Antar Perusahaan Asuransi Anggota AAUI Mengenai Pemberlakuan Ketentuan Saling Pikul Risiko (Knock For Knock Agreement)

Lebih terperinci

BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR

BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR BAGIAN II DESKRIPSI KOMPONEN PROPOSAL SKRIPSI ATAU TUGAS AKHIR Proposal penelitian untuk menyusun skripsi atau tugas akhir terdiri atas komponen yang sama. Perbedaan di antara keduanya terletak pada kadar

Lebih terperinci

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK

Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Briefing October 2014 Reformasi Sistem Tata Kelola Sektor Migas: Pertimbangan untuk Pemerintah Jokowi - JK Patrick Heller dan Poppy Ismalina Universitas Gadjah Mada Memaksimalkan keuntungan dari sektor

Lebih terperinci

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 30 TAHUN 2011 TENTANG PINJAMAN DAERAH DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa untuk meningkatkan efektivitas dan

Lebih terperinci

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya

enyatukan dan Memadukan Sumber Daya M enyatukan dan Memadukan Sumber Daya Keunggulan kompetitif BCA lebih dari keterpaduan kekuatan basis nasabah yang besar, jaringan layanan yang luas maupun keragaman jasa dan produk perbankannya. Disamping

Lebih terperinci

PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI

PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI PENGARUH PERTUMBUHAN DANA PIHAK KETIGA DAN AKTIVA PRODUKTIF TERHADAP NET INTEREST MARGIN PADA BANK PEMERINTAH RANGKUMAN SKRIPSI Oleh : ADITYA RAHMAN HAKIM 2005210181 SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN. I.1 Latar Belakang BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Peranan teknologi informasi dalam dunia bisnis mempunyai peranan penting untuk suatu perusahaan dan para manajer bisnisnya. Dalam pengambilan keputusan strategis, teknologi

Lebih terperinci

3.1 KERANGKA ANALISIS KAJIAN

3.1 KERANGKA ANALISIS KAJIAN Metodologi kajian yang akan dilakukan sangatlah erat kaitannya dengan tujuan yang akan dicapai dan ketersedian data dan informasi yang didapat serta beberapa pertimbangan lainnya, seprti pemenuhan tujuan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. terhadap PDB nasional. Hal ini merupakan tantangan berat, mengingat perekonomian

BAB I PENDAHULUAN. terhadap PDB nasional. Hal ini merupakan tantangan berat, mengingat perekonomian BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Sektor konstruksi adalah salah satu sektor andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan selalu dituntut untuk tetap meningkatkan kontribusinya melalui tolak ukur

Lebih terperinci

STUDI PRAKTEK ESTIMASI BIAYA TIDAK LANGSUNG PADA PROYEK KONSTRUKSI

STUDI PRAKTEK ESTIMASI BIAYA TIDAK LANGSUNG PADA PROYEK KONSTRUKSI Konferensi Nasional Teknik Sipil 4 (KoNTekS 4) Sanur-Bali, 2-3 Juni 2010 STUDI PRAKTEK ESTIMASI BIAYA TIDAK LANGSUNG PADA PROYEK KONSTRUKSI Biemo W. Soemardi 1 dan Rani G. Kusumawardani 2 1 Kelompok Keahlian

Lebih terperinci

Keuntungan kita ialah tahu waktu dan tempat yang tepat untuk berinvestasi.

Keuntungan kita ialah tahu waktu dan tempat yang tepat untuk berinvestasi. Keuntungan kita ialah tahu waktu dan tempat yang tepat untuk berinvestasi. Berinvestasi selama 5 tahun dengan akses ketujuh pasar Asia dengan perlindungan modal 100% pada saat jatuh tempo. Setelah tiga

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Hongkong, dan Australia. Selama periode Januari-November 2012, data

BAB I PENDAHULUAN. Hongkong, dan Australia. Selama periode Januari-November 2012, data 1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Industri fashion di Indonesia saat ini berkembang dengan sangat pesat. Kondisi tersebut sejalan dengan semakin berkembangnya kesadaran masyarakat akan fashion yang

Lebih terperinci

ARTI PENTING MANAJEMEN KEUANGAN INTERNASIONAL

ARTI PENTING MANAJEMEN KEUANGAN INTERNASIONAL MATERI 1 ARTI PENTING MANAJEMEN KEUANGAN INTERNASIONAL by Prof. Dr. Deden Mulyana, SE., M.Si. http://www.deden08m.com 1 Maximazing Profit Introduction Tujuan Perusahaan Optimizing shareholders wealth Optimizing

Lebih terperinci

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH BAB V ARAH KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH 5.1. Arah Pengelolaan Pendapatan Daerah Dalam pengelolaan anggaran pendapatan daerah harus diperhatikan upaya untuk peningkatan pendapatan pajak dan retribusi daerah

Lebih terperinci

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi

Bab1 PENDAHULUAN. Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi Bab1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Penelitian Di dalam suatu perusahaan tentu tidak akan lepas dari faktor akuntansi manajemen, menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat menuntut perusahaan untuk

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. untuk dapat terus berkembang. Hal ini disebabkan oleh persaingan bisnis yang

BAB I PENDAHULUAN. untuk dapat terus berkembang. Hal ini disebabkan oleh persaingan bisnis yang BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Penelitian Pada era globalisasi ini, sebuah organisasi atau perusahaan dituntut untuk dapat terus berkembang. Hal ini disebabkan oleh persaingan bisnis yang semakin

Lebih terperinci

STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP)

STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP) DAFTAR ISI: STANDARD OPERATING PROCEDURES (SOP) Hal 1. Penanganan Bisnis Baru (New Business).( 2 5 ) I. Prospect / Calon Nasabah II. Presentasi Mengenai Fungsi dan Peranan Pialang Asuransi III. Risk Survey/Collecting

Lebih terperinci

No. 14/37/DPNP Jakarta, 27 Desember 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA

No. 14/37/DPNP Jakarta, 27 Desember 2012. Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA No. 14/37/DPNP Jakarta, 27 Desember 2012 S U R A T E D A R A N Kepada SEMUA BANK UMUM YANG MELAKSANAKAN KEGIATAN USAHA SECARA KONVENSIONAL DI INDONESIA Perihal : Kewajiban Penyediaan Modal Minimum sesuai

Lebih terperinci

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN DAN KUALITAS PRODUK TABUNGAN ib HASANAH TERHADAP KEPUASAN NASABAH PADA BANK BNI SYARIAH

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN DAN KUALITAS PRODUK TABUNGAN ib HASANAH TERHADAP KEPUASAN NASABAH PADA BANK BNI SYARIAH PENGARUH KUALITAS PELAYANAN DAN KUALITAS PRODUK TABUNGAN ib HASANAH TERHADAP KEPUASAN NASABAH PADA BANK BNI SYARIAH SKRIPSI N a m a : Hikmawati N I M : 43111110164 FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS

Lebih terperinci

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI

KEBIJAAKAN ANTI-KORUPSI Kebijakan Kepatuhan Global Desember 2012 Freeport-McMoRan Copper & Gold PENDAHULUAN Tujuan Tujuan dari Kebijakan Anti-Korupsi ( Kebijakan ) ini adalah untuk membantu memastikan kepatuhan oleh Freeport-McMoRan

Lebih terperinci

BAB III DISAIN PRODUK

BAB III DISAIN PRODUK BAB III DISAIN PRODUK 3.1. Pendahuluan Salah satu karakteristik manusia adalah mereka selalu berusaha mencitakan sesuatu, baik alat atau benda lainnya untuk membantu kehidupan mereka. Untuk mewejudkan

Lebih terperinci

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 10/POJK.05/2014 TENTANG PENILAIAN TINGKAT RISIKO LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK

SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 10/POJK.05/2014 TENTANG PENILAIAN TINGKAT RISIKO LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK OTORITAS JASA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA SALINAN PERATURAN OTORITAS JASA KEUANGAN NOMOR 10/POJK.05/2014 TENTANG PENILAIAN TINGKAT RISIKO LEMBAGA JASA KEUANGAN NON-BANK DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Lebih terperinci

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21

TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 TANYA JAWAB PERATURAN BANK INDONESIA NO.16/21 21/PBI/2014 TENTANG PENERAPAN PRINSIP KEHATI-HATIAN HATIAN DALAM PENGELOLAAN UTANG LUAR NEGERI KORPORASI NONBANK 1. Q: Apa latar belakang diterbitkannya PBI

Lebih terperinci

Pembayaran Premi Rp.350.000/Bulan dan Mulai Masuk Usia Tertanggung : 1 Tahun

Pembayaran Premi Rp.350.000/Bulan dan Mulai Masuk Usia Tertanggung : 1 Tahun Pembayaran Rp.350.000/Bulan dan Mulai Masuk Usia Tertanggung : 1 Tahun Biaya Asuransi Tahun Ke-1 Rp.29.610 Top 1 1 4,200 - - 1,431 1,539 1,620 22,431 22,539 22,620 2 2 4,200 - - 4,506 4,970 5,329 25,506

Lebih terperinci

PENGUKURAN TINGKAT MOTIVASI DAN DEMOTIVASI PEKERJA KONSTRUKSI PADA SUATU PROYEK DI SURABAYA

PENGUKURAN TINGKAT MOTIVASI DAN DEMOTIVASI PEKERJA KONSTRUKSI PADA SUATU PROYEK DI SURABAYA PENGUKURAN TINGKAT MOTIVASI DAN DEMOTIVASI PEKERJA KONSTRUKSI PADA SUATU PROYEK DI SURABAYA William Liedianto 1 dan Andi 2 ABSTRAK : Performa kerja seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu

Lebih terperinci

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Dalara suatu penelitian ilmiah salah satu unsur yang cukup penting adalah

BAB III METODE PENELITIAN. A. Identifikasi Variabel Penelitian. Dalara suatu penelitian ilmiah salah satu unsur yang cukup penting adalah BAB III METODE PENELITIAN A. Identifikasi Variabel Penelitian Dalara suatu penelitian ilmiah salah satu unsur yang cukup penting adalah metodologi karena ketepatan metodologi yang digunakan untuk memecahkan

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kerja Praktek. Arus barang domestik dan internasional dalam era globalisasi dewasa ini

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Kerja Praktek. Arus barang domestik dan internasional dalam era globalisasi dewasa ini 1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Kerja Praktek Arus barang domestik dan internasional dalam era globalisasi dewasa ini semakin meningkat karena wilayah perdagangan dan kebutuhan konsumen akan barang

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

BAB III METODOLOGI PENELITIAN BAB III METODOLOGI PENELITIAN A. SUBJEK PENELITIAN Subyek dari penelitian tindakan kelas ini adalah peserta didik kelas VIIA MTs NU Tamrinut Thullab Undaan Lor Kudus tahun pelajaran 2009/2010 dengan jumlah

Lebih terperinci

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan ekonomi tidak akan pernah terlepas dari aktivitas investasi. Berbagai

BAB I PENDAHULUAN. Kegiatan ekonomi tidak akan pernah terlepas dari aktivitas investasi. Berbagai BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian Kegiatan ekonomi tidak akan pernah terlepas dari aktivitas investasi. Berbagai kegiatan investasi di seluruh dunia yang dilaksanakan dalam skala internasional,

Lebih terperinci

BAB 1 PENDAHULUAN. di bidang bisnis yang terjadi pada jaman sekarang. Pengertian e-commerce

BAB 1 PENDAHULUAN. di bidang bisnis yang terjadi pada jaman sekarang. Pengertian e-commerce BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang E-commerce merupakan salah satu contoh pemakaian teknologi informasi di bidang bisnis yang terjadi pada jaman sekarang. Pengertian e-commerce sendiri adalah sebuah

Lebih terperinci

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO

DAMPAK PERTUMBUHAN INDUSTRI TERHADAP TINGKAT PENGANGGURAN TERBUKA DI KABUPATEN SIDOARJO Judul : Dampak Pertumbuhan Industri Terhadap Tingkat Pengangguran Terbuka di Kabupaten Sidoarjo SKPD : Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Sidoarjo Kerjasama Dengan : - Latar Belakang Pembangunan

Lebih terperinci

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH

RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH RANCANGAN KERANGKA EKONOMI DAERAH DAN KEBIJAKAN KEUANGAN DAERAH A. Arah Kebijakan Ekonomi Daerah 1. Kondisi Ekonomi Daerah Tahun 2011 dan Perkiraan Tahun 2012 Kondisi makro ekonomi Kabupaten Kebumen Tahun

Lebih terperinci

INVESTASI SKRIPSI. Oleh : /AK. Kepada

INVESTASI SKRIPSI. Oleh : /AK. Kepada PENGUKURAN KINERJA EVA DAN FVA TERHADAP KEPUTUSAN INVESTASI AKTIVAA TETAP SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan Dalam Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi Oleh : IDFI DWI KARLINA

Lebih terperinci

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

BAB III METODOLOGI PENELITIAN. 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel 3.1.1 Definisi Konseptual Kepemimpinan merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan kinerja organisasi

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/ 1 /PBI/2011 TENTANG PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/ 1 /PBI/2011 TENTANG PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 13/ 1 /PBI/2011 TENTANG PENILAIAN TINGKAT KESEHATAN BANK UMUM DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa kesehatan bank merupakan sarana

Lebih terperinci

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA,

PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA, PERATURAN BANK INDONESIA NOMOR: 5/8/PBI/2003 TENTANG PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO BAGI BANK UMUM GUBERNUR BANK INDONESIA, Menimbang: a. bahwa situasi lingkungan eksternal dan internal perbankan mengalami

Lebih terperinci

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III

LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - TAHUN ANGGARAN 2013 - TRIWULAN III LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE - 1 LAPORAN MONITORING REALISASI APBD DAN DANA IDLE TAHUN 2013 TRIWULAN III KATA PENGANTAR Kualitas belanja yang baik merupakan kondisi ideal yang ingin

Lebih terperinci